Bersabar Saat Berproses Demi Mencapai Impian

Thursday, September 19, 2019

mencapai impian



Banyak di antara kita yang begitu bersemangat ketika ditanya, cita-citamu ingin menjadi apa? Impian yang ingin kamu wujudkan apa aja, ya? Kira-kira impian apa yang paling ingin kamu capai sekarang? Semua begitu antusias menjawab, tetapi tidak banyak yang benar-benar bersabar dalam prosesnya. Itulah kenapa, meski banyak orang bisa bermimpi apa pun, tetapi yang sukses tak bisa disamakan jumlahnya. Sering kali justru lebih sedikit ketimbang mereka yang awalnya berani bermimpi.


Pak Anies Baswedan pernah berkata,"lokasi lahir boleh di mana saja, tetapi jangan lupa, impian harus digantungkan setinggi langit." Kira-kira seperti itu kalimatnya. Sampai-sampai saya sempat membuatkan ilustrasi dari kata-kata tersebut saking merasa terinspirasi banget *atau bawaan orang ngefans emang begini, ya? Kwkwkwk.


Karena saya merasakan betul saat ada di bawah, buat bayar sekolah aja orang tua harus berhutang ke sana kemari. Bahkan sampai detik ini ketika ada yang tahu saya di Jakarta, mereka sampai detail nanyain, ngapain di Jakarta? Apa yang salah gitu dengan anak petani yang tinggal di Jakarta? Kwkwk. Suka sebel kalau ada yang sampai inbox nanya begitu. Keponya bikin orang hilang mood, apalagi kalau yang nanyain orang terhormat…hihi *ampun jadi curhat.


Jadi, dulu saya sempat pengen banget ingin kuliah. Pengen banget ngerasain jadi mahasiswi dan berharap itu bisa memudahkan saya untuk menjadi seorang penulis buku. Nyatanya, sudah tahu sekolah aja sampai kesulitan membayar SPP, malah mau kuliah. Nggak tahu diri banget, kan? Kwkwk. Impian tidak berhenti nyatanya meski sudah seperti itu.


Saya tetap di pesantren dan melanjutkan impian saya tanpa khawatir nggak bisa mencapai apa yang saya inginkan. Kalau sejak dulu saya minder, nggak mungkin saya seperti sekarang dan begitu percaya diri meski diri belum sehebat apa. Kalau diingat lagi, proses untuk jadi seperti ini saja luar biasa sulitnya, tetapi sayanya aja yang nggak ngerasa susah ngejalaninnya. Bayangin aja, demi nge-print kumpulan cerpen saya yang nggak seberapa, saya harus menabung dulu, itu pun akhirnya saya bayar dengan recehan. Karena saya memang hanya bisa mengumpulkan receh demi receh saat itu.  Kalau udah minder, udah nggak mungkin saya lakukan itu. Nggak tahu malu banget pokoknya kalau udah berhubungan sama mimpi jadi penulis…kwkwk. Kamu juga boleh menertawakan, karena saya pun tertawa kalau ingat :)


Tapi, dari situ saya akhirnya sadar, bahwa setiap impian butuh proses yang tidak sebentar. Butuh sabar buat melalui itu semua sampai akhirnya saya benar-benar bisa punya buku yang terbit mayor, ada di toko buku seluruh Indonesia. Bagi orang lain itu hal biasa, bagi saya yang berjuang benar-benar dari bawah, rasanya itu ajaib banget. Belum lagi ketika orang tua bilang bahwa mereka bangga banget, sampai semua orang dikasih tahu soal itu, rasanya gemetar dan happy banget, Masya Allah.


Dan saya pun mengamati banyak orang yang bilang punya impian, tetapi nggak pernah mencoba buat mencapainya, saya mau bilang kamu berkhianat dengan impianmu sendiri! Padahal, andai kamu memang benar-benar ingin, seharusnya kamu perjuangkan itu hingga kamu nggak mampu melakukan apa pun lagi setelahnya. Nyatanya, kebanyakan hanya bicara dan kemudian melupakannya. Lupa sambil lalu, kemudian bilang ingin, tetapi…tetapi…duh. Gemas saya sama orang seperti itu.


Sadarlah saya bahwa tidak semua orang bisa sebaik yang lain bukan karena nggak mampu, tetapi karena tidak mau mengusahakannya. Setiap orang berhak memilih dan memutuskan. Saya pribadi memilih melanjutkan impian yang telah terpatri di dalam diri. Andai suatu saat saya berhenti, itu memang ketika saya benar-benar sudah tak mampu mengusahakannya lagi, bukan ketika saya ingin menyerah.


Bagaimana dengan kamu? Apa impianmu yang belum terwujud? Percayalah, ada Allah yang akan memampukan dan mewujudkan keinginan kita. Jangan hanya sekadarnya, sebab yang hebat tak pernah melakukan itu.


Salam,

Comments