Top Social

- Bermimpi, Menulis, Berbagi -

Kejang Demam pada Anak, Penyebab dan Cara Mengatasinya


Pagi-pagi kemarin, tiba-tiba terdengar suara kencang dari tetangga sebelah. Sayup-sayup terdengar oleh telinga seperti sedang membangunkan seseorang. Yang terbayang saat itu apakah ada yang kecelakaan dan pingsan? Hampir meninggal, atau malah apa?
Suami bergegas keluar dan mencari tahu. Ternyata cucu tetangga sebelah sedang kejang. Sampai sekarang saya tidak tahu apakah sebelumnya bayi yang saya tahu baru berusia setahun lebih itu kejang disertai demam atau tiba-tiba saja kejang. Saya kemudian ingat bagaimana saya menangani si sulung yang sering banget kejang demam dari usia dua tahun sampai enam tahun. Lama banget, ya? Betul, lama sekali. Tapi, saat usia empat sampai lima tahun dia tidak mengalami kejang hingga enam tahun usianya, kejang demam  pun kembali terjadi di usia yang menurut saya sudah besar.

Kaget? Panik? Gimana menanganinya? Mengingat saya tidak tinggal bersama orang tua dan suami saya juga ngantornya di luar Jakarta? Meskipun sering sekali saya mengalami dan menghadapi ini sendirian, bahkan terakhir hanya bersama si bungsu yang nggak ngerti apa-apa, tetapi Alhamdulillah saya tidak pernah sampai sepanik apa sehingga berteriak mengagetkan tetangga atau berlarian membawa anak ke tetangga. Jangan sampai itu terjadi.

Qadarallah, saya sangat bersyukur karena bisa mengenal milis sehat. Karena dari sana saya belajar mengatasi semua dengan lebih bijak. Panik boleh, tapi saya tahu apa yang harus saya lakukan, ke dokterkah? Ngasih obatkah? Ditungguin sampai berapa lama? Apa yang berbahaya dan perlu diwaspadai? Dan semua itu saya pelajari pelan-pelan saat bergabung dengan milis kesehatan ini.

Lalu Apa, sih Kejang Demam Itu?

Kejang demam adalah kejang yang timbul akibat demam yang terjadi pada bayi atau anak kecil yang tentu saja tidak disebabkan oleh adanya kelainan pada otak. Sebagian besar kejang demam terjadi saat anak demam dengan suhu di atas 38,3’C. Biasanya kejang demam juga terjadi pada hari pertama anak demam.

Kejang demam ini tidak terjadi pada banyak anak. Hanya satu dari 25-40 anak demam saja yang mengalami kejang demam. Salah satunya adalah putra saya. Kenapa sampai putra saya bisa memiliki risiko besar mengalami kejang demam? Alasannya karena ada riwayat kejang demam dari keluarga terdekat dan itu adalah saya sendiri.

Apakah Kejang Demam Berbahaya?

Sampai saat ini tidak ada bukti yang menyatakan bahwa kejang demam dapat merusak otak. Kejang demam juga tidak memengaruhi inteligensia dan tidak juga dapat meningkatkan risiko epilepsi. Jadi, jika sudah dipastikan itu adalah kejang demam, nggak perlu lagi merasa khawatir karena itu tidak akan memengaruhi kecerdasan seorang anak.

Kejang demam adalah kondisi kegawatdaruratan. Jika memiliki anak dengan riwayat kejang demam, sebaiknya selalu sedia obat kejang seperti diazepam rektal atau stesolid rektal. Obat ini memang tidak bisa sembarangan dibeli di apotek. Harus ada resep dokter dan biasanya disesuaikan dengan berat badan masing-masing anak.

Ingat, obat ini tidak bisa mencegah seorang anak dari kejang demam. Obat ini hanya dipakai saat anak kejang. Sepanik apa pun, jangan sampai salah memberikan obat. Stesolid termasuk obat keras, karena itu tidak sembarangan bisa dibeli. Setelah anak diberi stesolid rektal, biasanya mereka terlihat lemas, tertidur, dan beberapa saat atau tak lama akan sadar lagi. Biasanya saya segera memberikan dia minum sedikit demi sedikit untuk mencegah dehidrasi.

Berapa Dosis Obat Kejang Demam?

Karena termasuk obat keras, harus benar-benar dipastikan dosisnya sudah sesuai petunjuk. Obat Diazepam dengan nama dagang Stesolid ini biasanya dimasukkan lewat anus. Bentuknya memanjang berisi cairan bening dan harus disimpan di lemari pendingin.

Dosis yang semestinya adalah 0,3-0,5 mg/kg/kali. Obat ini hanya tersedia dalam dua jenis, yakni 5 mg dan 10 mg. Jika berat badan anak di bawah 10 kg, bisa pakai sediaan 5 mg. Jika berat badan anak di atas 10 kg, bisa gunakan sediaan 10 mg. Tapi, jika berat badan antara 10-12 kg, akan jauh lebih aman memakai sediaan 5 mg saja.

Jika dalam 4 jam kejang demam kembali terjadi, boleh saja diberikan obat kejang. Sebab obat ini tidak akan lama di dalam tubuh. Dia akan mudah dan segera dibuang dari dalam tubuh anak. Tapi, yang penting adalah atasi penyebab kejangnya. Jangan sampai justru hanya fokus pada kejang demam sehingga mengabaikan penyebab kejang demam yang seharusnya segera diatasi.

Untuk pemberian Diazepam berulang, harus benar-benar diawasi tanda-tanda vitalnya seperti napasnya apakah masih normal atau tidak. Jika kejang demam berulang dalam satu episode demam, perhatikan apakah kejangnya berlangsung lebih dari 15 menit, apakah mengalami kejang fokal (hanya sebagian sisi saja yang kejang). Jika demikian, jangan menunda untuk membawanya ke dokter.

Apakah Kejang Demam Butuh Antibiotik?

Sekali lagi kejang demam itu nggak berbahaya, scarry but harm less. Jadi, apakah butuh antibiotik? Antibiotik itu diperuntukkan untuk infeksi bakteri yang sudah terbukti atau bisa dibuktikan. Tidak hanya sekadar diagnosis saja, lho.

Saat anak kejang demam, cukup berikan Diazepam saja. Sedangkan untuk mengatasi demamnya cukup berikan penurun demam seperti Paracetamol. Jika kejang demam sudah berlalu, tidak ada yang bisa dilakukan orang tua. Mencegahnya pun tidak mungkin.

Saat anak kejang demam, perhatikan penyebab kenapa dia demam. Jika demamnya hanya disebabkan oleh virus seperti common cold, maka tidak butuh antibiotik untuk menyembuhkannya. Virus tidak mempan dengan antibiotik. Penyakit yang disebabkan oleh virus akan sembuh dengan sendirinya.

Meskipun panik dan trauma dengan anak yang mengalami kejang demam, tapi tidak dibenarkan juga memberikan mereka obat-obatan yang sebenarnya tidak diperlukan seperti antibiotik atau diazepam yang kadang diresepkan saat anak mengalami demam tinggi. Padahal sekali lagi itu tidak berguna mencegah dan apa pun alasannya.

Apa yang Harus Dilakukan Saat Anak Mengalami Kejang Demam?

Saat anak mengalami kejang demam, jangan biarkan dia dalam posisi telentang karena berisiko tersedak. Baringkan anak yang kejang di tempat datar dan dengan posisi menyamping. Jangan memasukkan apa pun ke mulutnya seperti yang sering dilakukan oleh orang tua zaman dulu seperti memasukkan sendok ke dalam mulut. Sebab itu bisa menyebabkan jalan napas tersumbat. Ketika anak kejang demam, jangan memegangi mereka terlalu kuat karena bisa menyebabkan patah tulang atau fraktur.

Penyebab Anak Memiliki Risiko Kejang Demam Berulang

Sekali saja terjadi rasanya seperti kehilangan napas. Bagaimana kalau kejang demam berulang? Duh, nyesek banget tapi bagaimanapun harus diingat bahwa jika memang benar-benar terjadi karena demamnya, kejang ini tidak akan membahayakan. Lalu, apa saja yang bisa menyebabkan anak berisiko mengalami kejang demam berulang?

1. Jika kejang terjadi pada usia di bawah 12 bulan. Bahkan putra sulung saya yang kejang saat usia dua tahun pun mengalami kejang demam berulang. 
2. Ada riwayat kejang demam dari keluarga dekat. Jika ayah atau ibunya pernah mengalami kejang demam saat masih kecil, risiko itu bisa terjadi juga pada sang anak. 
3. Kejang terjadi pada suhu tidak terlalu tinggi. Ya, kadang demam tinggi pun tidak selalu terjadi kejang demam, lho. Ini pun saya alami. 
4. Kejang demam terjadi sesaat setelah anak demam.

Apakah Anak yang Kejang Demam Harus Rawat Inap?

Anak yang mengalami kejang demam memang bikin panik. Apalagi jika itu terjadi pertama kali. Belum ada persiapan, apalagi jika sebelumnya tidak pernah mempelajari soal ini. Tapi, apakah semua anak yang mengalami kejang demam harus rawat inap?

Dan ini terjadi ketika si sulung pertama kali kejang pada usia dua tahun. Malam hari dia kejang demam, esoknya berulang. Saya segera membawanya ke UGD karena seperti itulah yang seharusnya.

Sampai di UGD dia dalam keadaan sadar, tapi saya mau memastikan dia baik-baik saja. Ada di UGD dia minum, menangis, dan sadar saat diperiksa dokter. Dokter jaga memaksa rawat inap dan harus infus. Infus? Tapi anak saya tidak dehidrasi? Kalau hanya mau observasi, cukup rawat inap saja, ‘kan?

Karena sudah membaca beberapa kondisi serupa di buku yang ditulis oleh dr. Wati, jadi saya pun tahu apa yang harus dilakukan saat itu. Observasi itu sebenarnya dilakukan untuk mengetahui penyakit penyebab demam sang anak. Nah, saat itu anak saya memang batuk dan pilek sehingga tidak memerlukan penanganan khusus. Lalu kenapa harus ke UGD? Selain untuk memastikan anak saya baik-baik saja, saya juga butuh resep Diazepam yang tidak bisa dibeli bebas tanpa resep dokter. Karena setelah terjadi kejang demam, saya pun harus berhati-hati sebab bisa jadi kejang demam itu berulang. Dan benar saja, dalam setahun, putra saya kadang mengalami 3-4 kali kejang demam. Ngeri? Banget.

Setiap dia demam, rasanya hidup nggak tenang banget. Mau minta temenin siapa kalau sudah begitu? Ya, harus sayalah yang bisa mengatasi dan menjaganya sendiri. Biasanya suami datang dari bekerja saat anak saya sudah sadar dan tidak kejang lagi. Jadi, kebanyakan dari kejangnya dilewati hanya bersama saya.

Kapan Anak Harus Rawat Inap Ketika Terjadi Kejang Demam?

Menurut dr. Wati yang membangun milis sehat, anak harus dirawat jika terjadi tanda gawat darurat seperti kejang terjadi cukup lama, setelah kejang anak tidak sadarkan diri, kejang berulang dalam waktu cukup singkat, kejang fokal atau sebagian, atau penyebab demamnya menyebabkan anak harus dirawat.


Jika mau rawat inap, harus benar-benar dipastikan dan jelas diagnosis dan indikasinya. Karena rawat inap tanpa alasan jelas justru lebih banyak risikonya bagi anak-anak. Misalnya saja terkena bakteri yang lebih berbahaya selama di rumah sakit, biaya, waktu yang nggak sebentar, dan trauma pada anak. Karena itu, penting banget sebagai orang tua memerhatikan dan mempelajari dunia kesehatan walaupun tidak berprofesi sebagai dokter.

Kejang demam memang menakutkan dan bikin trauma, hal ini tidak bisa dipungkiri ataupun dihilangkan dengan mudah dari benak orang tua. Tapi, setidaknya saat itu terjadi, orang tua sudah lebih siap, tahu apa yang harus dilakukan, tahu kapan ke dokter, dan tahu tanda gawat darurat. Semua itu bisa dipelajari. Yuk, jadi orang tua yang cerdas serta bijak dalam menggunakan obat. Jangan sampai anak jadi korban kepanikan orang tuanya sendiri.

Novel 'Pulang', Ini Tentang Memeluk Erat Kenangan dan Berdamai dengan Hati


“Kau boleh melupakan Mamak, kau boleh melupakan seluruh kampung ini. Melupakan seluruh didikan yang Mamak berikan. Melupakan agama yang Mamak ajarkan diam-diam jika bapak kau tidak ada di rumah….” Mamak diam sejenak, menyeka hidung, Mamak tahu kau akan jadi apa di kota sana…. Mamak tahu ….. Tapi, tapi apa pun yang akan kau lakukan di sana, berjanjilah Bujang, kau tidak akan makan daging babi atau daging anjing. Kau akan menjaga perutmu dari makanan haram dan kotor. Kau juga tidak akan menyentuh tuak dan segala minuman haram.” (Hal 24)

Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, kesedihan demi kesedihan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit. Pulang – Novel ‘Pulang’ Tere Liye

***

Novel ‘Pulang’ karya Tere Liye ini berkisah tentang Bujang, remaja berusia lima belas tahun, putra dari Samad, si tukang jagal yang menikah dengan Midah. Samad diceritakan tidak pernah hangat pada putranya, bahkan setiap kali Midah mengajari Bujang tentang agama, belajar shalat, dan mengumandangkan adzan, Samad bisa marah besar, memukul Bujang sebanyak Midah mengajarinya tentang agama kemudian menghukumnya bermalam di luar rumah. Meski tempias hujan mengenai tubuh putranya dan membuatnya menggigil, tak sedikit pun Samad ingin membuka pintu rumahnya dan menyuruh Bujang masuk.

Hingga usianya memasuki lima belas tahun, Bujang tidak pernah menyentuh bangku sekolah. Tidak hanya itu, Midah yang disebut Mamak begitu mencemaskan Bujang sehingga tak pernah mengizinkannya pergi ke rimba. Tapi, takdir berkata lain, saat usianya masih lima belas tahun, Tauke Besar, saudara angkat Samad datang mengunjunginya. Dengan alasan berburu, Tauke pun mengunjungi keluarga Samad dan mengenal Bujang untuk pertama kali.

Bujang yang tak pernah diizinkan menyentuh rimba oleh Mamaknya justru akhirnya pergi menemani Tauke Besar untuk berburu babi. Mamak dengan cemas berpesan agar dia tidak melakukan apa pun selama di hutan. Mamak bilang Bujang hanya boleh menonton, tidak boleh melakukan hal bodoh. Bujang yang tak mengerti pun mengiyakan. Tapi, berbeda dengan rencana Mamak, malam itu, saat gerimis membungkus langit, ketika beberapa kawanan babi dilumpuhkan dan beberapa anak buah Tauke terluka parah, justru muncul pimpinan kawanan babi hutan yang begitu murka.

Di saat genting seperti itu, ketika Tauke Besar tersungkur dan begitu mudahnya dijatuhkan oleh babi hutan raksasa, di saat itu pula Bujang melanggar janjinya kepada Mamak. Dia menggenggam tombak pemberian Bapaknya kuat-kuat, kemudian mengalahkan babi raksasa itu dan menyelamatkan semua orang. Maka sejak saat itulah, rasa takut dari diri Bujang telah diangkat, bahkan sejengkal pun ia tak pernah merasa ketakutan terhadap apa pun.

“Jika manusia memiliki lima emosi, yaitu bahagia, sedih, takut, jijik, dan kemarahan, aku hanya memiliki empat emosi. Aku tidak punya rasa takut.” (Hal 1)

Sejak pertemuan itu pula, Bujang dibawa Tauke Besar dan tinggal bersamanya. Jangan tanya bagaimana perasaan Mamak saat itu, ia bahkan tak terlihat mengantarkan Bujang karena sibuk berkutat dengan rasa sedihnya, mengutarakan semua perasaannya di kamarnya, tepat di atas sajadah dengan air mata meleleh sempurna.

Dan kehidupan Bujang yang sebenarnya pun baru dimulai. Ia pun akhirnya bergabung dengan keluarga Tong yang merupakan organisasi pasar gelap atau Shadow Economy. Bujang yang di dalam darahnya mengalir darah tukang jagal sejak awal diperlihatkan begitu antusias dengan kehidupan barunya. Perkelahian dan segala macam hal yang berghubungan dengan kekerasan begitu memantik semangatnya.

Sayangnya, Tauke Besar tidak sedang ingin menjadikannya tukang pukul seperti Samad, Bapaknya. Tauke justru ingin Bujang_yang begitu genius meski tak pernah mengenyam pendidikan_sekolah, menyelesaikan pendidikan setinggi-tingginya. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh keluarga Tong sebelumnya. Tauke Muda ingin masa depan keluarga Tong lebih baik, tidak melulu tentang perkelahian dan kekerasan. Mereka haruslah berubah demi memenangkan persaingan yang semakin keras.

Tapi, ternyata tak mudah membujuk Bujang untuk belajar. Bahkan ia sempat membuat Tauke marah besar karena menolak sekolah. Tapi, sejak awal Tauke diceritakan berbeda ketika berhadapan dengan Bujang, ia tak pernah sampai hati menghajar Bujang meskipun ia sering membuat Tauke kesal bukan main.

Kemudian apa solusinya? Adalah Kopong yang dulu pernah berhutang budi kepada Samad, meminta Tauke mengizinkannya mengajarkan Bujang berlatih menjadi tukang pukul saat malam hari, dan paginya Bujang bisa belajar. Pilihan itu pun disambut baik oleh Bujang, ia tak lagi keberatan membaca buku setumpuk, sebab ia begitu antusias untuk berlatih bersama Kopong.

Bujang, si Babi Hutan, remaja yang kemudian tumbuh luar biasa. Tangguh, kuat, tak punya rasa takut, dan yang pasti dia genius bukan main. Hanya dia yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi hingga ke luar negeri dalam waktu cukup singkat, membuat Tauke begitu bangga padanya. Bukan hanya itu, Bujang juga menjadi tukang pukul yang begitu disegani dan ditakuti oleh semua orang. Dia berlatih dari guru-guru terbaik yang didatangkan oleh Tauke Besar atas usul Kopong.

Tapi, ketika keberhasilan demi keberhasilan diraih oleh Bujang, satu per satu berita duka menggulung hari bahagianya. Sekejap semua kebahagiaan itu berubah menjadi menyedihkan. Pertama, ketika Mamak meninggal dunia, ia bahkan merasa sangat buruk sampai-sampai dia merobek undangan dari Universitas ternama di luar negeri tepat di hadapan Tauke Besar. Tapi, Tauke cukup sabar sehingga Bujang tak kena pukulannya. Kedua, ketika Samad, Bapak Bujang meninggal. Saat itu tak kalah menyedihkan, apalagi ketika menerima surat dari Samad yang meminta maaf, merasa terlalu egois sehingga sulit sekali mengatakan rindu pada putranya.

Tapi, puncak dari semua kejadian menyakitkan itu adalah ketika Tauke meninggal dunia. Sebelumnya, Tauke yang sudah berusia lanjut memang sakit-sakitan, tapi dia meninggal bukan hanya karena itu, tapi karena adanya pengkhianatan anak buahnya sendiri, yang sudah sangat ia percaya layaknya Bujang.

Tauke berhasil diselamatkan oleh Bujang yang rela mengorbankan nyawanya sekalipun demi melindungi ayah angkatnya itu. Bujang yang tak rela meninggalkan Tauke di lorong darurat meski kaki dan seluruh tubuhnya terluka parah. Maka ia menggendong Tauke Besar menuju tangga darurat yang sebelumnya telah dibuat oleh Kopong yang ternyata berujung di rumah kawan lama Tauke. Sayang, Tauke terlalu kepayahan malam itu, hingga ketika Bujang tak sadarkan diri, Tauke pun meninggal.

“Aku menunduk, menggigit bibir. Kesedihan ini terasa sangat menyakitkan. Inilah hal yang paling kutakutkan dalam hidupku. Sejak aku menyelamatkan Tauke dari serangan babi raksasa di lereng rimba Sumatra, aku tidak lagi memiliki rasa takut kecuali atas tiga hal, kematian orang terdekatku. Ada tiga lapis benteng rasa takutku. Satu lapis terkelupas saat Mamak pergi. Satu lapis lagi terlepas saat Bapak pergi. Malam ini_entah ini malam atau siang di luar sana, lapisan terakhirnya telah rontok, ketika Tauke Besar akhirnya mati. Itulah kenapa aku tidak mau membicarakan soal kematian Tauke. Aku tahu persis, itulah benteng terakhir ketakutan yang kumiliki.Aku menangis tersedu tanpa air mata, tanpa suara. Tauke, hiduplah! Aku menggerakkan tubuh Tauke. Aku memohon. Jika Tauke juga pergi, maka ke mana lagi aku harus pulang?” (Hal 319)

Dan sejak itulah Bujang merasa ketakutan yang sempat hilang dalam dirinya kembali. Bagaimana Bujang menyelesaikan masalah yang begitu pelik dalam dirinya sedangkan di luar sana, ia pun harus segera merebut kekuasaan yang sempat diambil alih oleh rekannya yang kemudian bekhianat. Bagaiman Bujang bisa berdamai dengan semua kenangan pahit itu?

****

Foto: Dokumentasi Pribadi

Tere Liye begitu lihai menuangkan kisah Bujang di dalam novel ‘Pulang’, membuat saya merinding, menangis, dan ketakutan. Novel ini memang sedikit berbeda, banyak sekali adegan perkelahian yang begitu menakutkan. Sampai-sampai saya meringkuk, sedikit bersembunyi dan tidak berani membacanya lebih detail, terlalu jelas bayangannya, termasuk ketika Bujang harus berhadapan dengan Basyir dan menyelamatkan Tauke Besar.

Ada saat-saat di mana jantung saya bedetak begitu cepat, rasanya saya sedang melihat adegan nyata, sampai tangan dan kaki dingin. Mungkin terlalu lebay, tapi ini memang terjadi ketika membaca Novel ‘Pulang’. Benar-benar bikin ngeri.

Pengkhianatan dan memeluk erat kenangan serta kepedihan yang diceritakan dalam Novel ‘Pulang’ mengingatkan saya akan kisah Sri Ningsih dalam Novel Tere liye lainnya, ‘Tentang Kamu’. Di sana juga ada balas dendam dan pengkhianatan, serta bagaimana Sri Ningsih memeluk erat pahit getir hidupnya. Kebanyakan tokoh utama dalam novel-novel Tere Liye selalu digambarkan genius, gagah, keren banget, sehingga tak sulit menyukai tokoh itu. Termasuk di sini Bujang.

Novel ‘Pulang’ ini benar-benar bernyawa. Saya bisa melihat darah yang terkena tempias hujan di kamar Tauke Besar, saya bisa melihat Tauke besar yang berbaring di ranjang sambil membantu Bujang dan Joni. Saya bisa melihat betapa sedihnya Bujang ketika tahu Tauke meninggal. Dan saat membaca bagian ini, saya menangis, benar-benar menangis. Selama ini, dikisahkan Tauke benar-benar perhatian dan sayang dengan Bujang. Begitu juga Bujang yang menghormati Tauke Besar dengan senang hati.

Setiap bab dihubungkan begitu apik, sampai-sampai nggak sadar buku setebal 400 halaman itu pun tandas dini hari ketika semua sedang terlelap, sedangkan saya, sibuk menata perasaan setelah semua yang terjadi pada Bujang. Tere Liye banget yang bisa bikin pembaca sampai seperti ini. Duh, masih pengen nangis.

Novel ini, tak berbeda dengan novel-novel Tere Liye lainnya, begitu sarat makna, pasti ada pesan moralnya, ada kalimat yang bisa membuat pembaca merenung. Dari beberapa novel Tere Liye yang pernah saya baca, hampir semuanya memang membuat saya menangis. Tapi, hanya buku satu ini saja yang berhasil membuat saya meringkuk ketakutan, deg-degan bukan main.

Buku ini layak banget kamu baca. Keren dan menginspirasi. Saya termasuk penggemar beratnya Tere Liye. Dan selalu suka buku-bukunya. Termasuk Novel ‘Pulang’ satu ini. Setelah ini, masih ada sekuelnya yang berjudul ‘Pergi’. Bersiap dengan kisah Bujang selanjutnya!

“Ketahuilah, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah mampu memenangkan seluruh pertempuran….” (Hal 340)

9 Persiapan Mengajak Anak-anak Umroh Plus Turki, Berlipat Repotnya, Berlipat Serunya


Pergi Umroh plus Turki bareng anak-anak? Rasanya itu hanya seperti mimpi di siang bolong. Awalnya hanya ingin pergi umroh, kalau bisa bersama anak-anak juga, tapi Allah justru begitu baik sehingga memberikan kami kesempatan untuk beribadah umroh plus Turki bersama. Alhamdulillah, bahagia tak terkira saat itu.

Saya pribadi termasuk orang yang kurang suka dan selalu ribet kalau harus pergi-pergi. Entah itu hanya sekadar ke luar kota atau liburan mengisi weekend bersama anak-anak. Jadi, ketika suami memutuskan ikut serta untuk mengajak anak-anak beribadah umroh plus Turki, rasanya nggak kebayang aja bawaan akan sebanyak apa. Lebih mirip mau pindahan rumah…he.

Kami harus berangkat menuju Turki pada akhir bulan Februari, dan ternyata di sana sedang musim dingin. Salju sedang turun dan udara pastilah menusuk tulang. Yang terbayang saat itu, bagaimana dengan anak-anak? Bagaimana nanti di jalan? Bagaimana nanti kalau repot bawa dua anak? Tapi, kami harus tetap berangkat, semuanya sudah mulai dipersiapkan dengan matang, termasuk mengurus paspor dan segala keperluannnya.

Dan pilihan terakhir yang harus saya ambil adalah, dibuat santai saja. Kalau saya tetap membawa mental super ribet seperti biasanya, saya yakin, perjalanan umroh plus Turki ini nggak akan nyaman, bikin deg-degan, nggak bakalan saya nikmati saking ribetnya memikirkan ini dan itu. Jadi, saya nggak mau ambil pusing, sebelumnya saya tetap mempersiapkan segalanya dengan matang, dan mencoba memikirkan banyak hal baik, bahwa kami akan pergi beribadah, insya Allah akan dimudahkan.

Foto: Dokumentasi Pribadi
Lalu apa saja yang harus dipersiapkan ketika membawa serta anak-anak untuk beribadah umroh plus Turki yang butuh waktu sekitar 12 hari?

Bawa Pakaian Secukupnya

Saat berangkat, si sulung berusia tujuh tahun, yang artinya sudah lebih mudah buat saya membawanya pergi karena dia sudah lebih mandiri dan bisa melakukan banyak hal tanpa membutuhkan bantuan orang lain. Sedangkan adiknya saat itu berusia 2 tahun lebih. Belum lulus toilet training dan masih ASI. Itu menjadi kesulitan sekaligus kemudah juga buat saya.

Pertama, kalau masih ASI, apa-apa serba mudah aja, deh. Tapi, dia belum lulus toilet training, itu artinya saya harus membawa bawaan lebih karena bakal memasukkan popok berapa biji ke dalam koper? Hehe. Saya menghitung berapa jumlah pakaian dan popok yang akan dibutuhkan selama perjalanan umroh plus Turki yang diperkirakan memakan waktu hampir dua minggu. Dihitung segala kemungkinannya, misalnya kalau sampai ketumpahan minuman, kalau muntah di jalan, dan banyak kemungkinan yang akhirnya bikin bawaannya nggak sedikit.

Buat orang tua, bawa pakaian memang bisa secukupnya saja, tapi buat anak-anak rasanya itu nggak bisa dilakukan dengan mudah. Karena kami berangkat saat di Turki musim dingin, kami harus membawa baju dalam serta jaket musim dingin yang sangat tebal untuk persiapan selama berada di Turki.

Baju-baju dalaman itu bisa menghangatkan. Kamu bisa memakainya sebelum mengenakan pakaian biasa, baru kemudian bisa memakai jaket hangat. Selain itu, butuh sarung tangan dan kaos kaki juga. Di Turki, kamu juga bisa membelinya dengan mudah, misalnya saat berada di hotel, tapi kadang kita nggak punya cukup waktu untuk melakukan itu ketika sudah dalam perjalanan. So, saran saya persiapkan jauh-jauh di rumah supaya nanti saat di sana kita sudah siap.

Untuk ibadah umroh, anak-anak bisa dibelikan kain ihram khusus anak-anak yang bisa dibeli dengan mudah. Kalau dari travel yang saya ikuti, anak-anak dapat kain ihram ukuran orang dewasa, jadi sebagian bisa dipakai, sebagian nggak. Si adik dibelikan kain ihram anak-anak, sedangkan kakak dipakaikan satu kain ihram dewasa yang dibagi menjadi dua. Biar lebih hemat juga, kan? Sayang kalau nggak dipakai. Jadi, rombongan kami yang jumlah anak-anaknya hampir sepuluh orang melakukan hal serupa.

         

Jangan Lupa Membawa Obat-obatan

Saat akan pergi jauh, jangan sampai kamu lupa membawa obat-obatan. Terutama jika ada riwayat penyakit tertentu seperti kejang demam. Obat-obatan yang saya bawa hanya standar saja, termasuk obat flu, penurun panas dan vitamin. Obat-obatan ini sebaiknya juga masuk dalam tas yang selalu kita pakai, jangan simpan di dalam koper karena akan menyulitkan kita ketika mencarinya di saat yang tidak tepat.

Nggak kebayang 'kan lagi di pesawat, terus butuh obat dan obatnya ada di dalam koper? Hiks. Pasti harus repot banget bongkar koper, lebih repot lagi kalau kopernya nggak masuk bagasi. Baiklah, tamat sudah riwayat kita, kan? Jadi, selalu sedia obat-obatan ini di dalam tas yang selalu kita bawa sendiri.

Bawa Camilan dan Lauk yang Bisa Tahan Lama

Kalau bawa anak kecil, jangan sampai kamu lupa membawa makanan ringan dan makanan kering seperti abon untuk di perjalanan. Terutama saat ke Turki, makanan di sana cenderung nggak cocok buat orang Indonesia seperti kami. Karena kadang kami makan tidak di hotel, tapi di rumah makan di dalam perjalanan. Nah, kalau di tempat makan seperti ini, menunya nggak bakalan sebanyak saat ada di hotel. Jadi, kamu butuh makanan yang bisa disantap sama anak-anak.

Sebagian dari kami juga membawa penanak nasi dan beras. Jadi, selama di jalan, selalu ada kotak bekal berisi nasi dan lauk buat anak-anak ketika tiba-tiba lapar atau nggak cocok dengan makanan di sana.

Kamu bisa membawa secukupnya saja, karena faktanya justru nggak bakalan kekurangan makanan insya Allah. Kadang kita jajan di pinggir jalan ketika mengunjungi wisata di Turki. Dingin-dingin, enaknya makan yang hangat seperti jagung bakar dan aneka camilan lain yang mengenyangkan seperti roti khas Turki dengan selai Nutella yang yummy!

Jangan Lupa Membawa Kantong Kresek

Benda satu ini termasuk remeh banget, ya? Tapi, ternyata kita cukup membutuhkan ini ketika berada di perjalanan, lho. Misalnya ketika anak muntah, membungkus baju yang basah dan kotor, membungkus makanan, membuang sampah selama di jalan, atau untuk keperluan lainnya.

Karena anak-anak termasuk yang mudah muntah, baik karena menangis atau mabuk perjalanan, suami menyiapkan kantong kresek yang telah dilipat rapi. Ketika dibutuhkan, kita bisa dengan mudah mengambilnya.

Bawa Mainan atau Buku Kesayangan Anak-anak

Anak-anak itu kadang mudah bosan, lho. Daripada mereka rewel, nggak ada salahnya membawah mainan atau buku kesayangan mereka sehingga mereka bisa dengan mudah memakainya bersama yang lain.

Karena perjalanan umroh plus Turki kali ini bareng sama keluarga lain yang membawa serta anak-anak, perjalanan kami rasanya nggak terlalu sulit. Mereka berbaur satu sama lain, berkumpul, main-main bareng, ke masjid dan shalat bareng. Intinya begitu menyenangkan ketika mereka bisa bertemu teman sebayanya.

Membawa Uang Saku

Ini merupakan salah satu hal yang wajib banget dibawa, ya. Bawalah mata uang negara yang mau kita kunjungi. Bawa secukupnya saja, karena biasanya hanya kita pakai untuk membeli oleh-oleh atau jajan di jalan.  Sedangkan untuk makan biasanya sudah diurus oleh travel yang kita ikuti.

Bawa Kereta Bayi dan Gendongan

Buat yang akan membawa balita, kamu harus perhitungkan betul, jangan sampai melewatkan dua hal ini, lho. Kereta itu begitu dibutuhkan selama di Turki, karena kadang anak capek digendong atau berjalan kaki sehingga dia bisa istirahat di kereta. Begitu juga dengan gendongan.

Sedikit cerita, saat umroh, suami menolak membawa gendongan karena yakin si bungsu bisa digendong sendiri. Selama perjalanan di Turki, si bungsu nempel banget sama ayahnya sehingga dia begitu pede saat umroh bakalan terjadi hal serupa. Ternyata oh ternyata, saat baru memasuki pelataran Kakbah, adik udah minta gendong Bundanya saja. Dan itu terus belanjut sampai sa’i.

Kenapa nggak naik kursi roda? Jalur kursi roda berbeda dengan pejalan kaki. Dan tentu saja saya tidak mau berpisah dari yang lain. Selain saya, ada juga saudara yang mengalami nasib serupa. Entah kenapa ia tidak mau lepas dari gendongan ibunya padahal biasanya mudah saja.

Begitu juga yang terjadi dengan si bungsu, sampai orang lain ingin menggendongnya, membantu saya, melihat adik sepertinya tertidur, tapi saat dipindah, tiba-tiba saja bangun dan menangis kencang. Ujian banget dan sempat rasanya pengen nyerah saat itu. Tapi, Alhamdulillah, akhirnya bisa selesai tanpa banyak kendala.

Berbagi Tugas dengan Suami

Bagaimana ibadah umroh plus Turki membawa serta balita? Sebenarnya sudah banyak sekali yang melakukan ini. Saya mungkin termasuk salah satu yang berkesempatan juga membawa anak-anak saat ibadah umroh dan traveling ke Turki.

Supaya ibadah tetap maksimal, dan perjalanan traveling tetap menyenangkan, cobalah berbagi tugas dengan pasangan kamu. Saat di Turki, adik bersama ayahnya, dan si sulung kebih sering bersama saya. Saat di Mekkah pun sama, kami bergantian shalat dan melakukan ibadah lain. Thawaf sunnah bersama, saya menggendong si bungsu dan ayah menggandeng si sulung. Saat ingin shalat, kami bergantian menjaga si bungsu, sampai kami juga bisa menyentuh Kakbah dan shalat di Hijir Ismail. Ketika itu jangan dibayangkan mudah, ya? Butuh tenaga dan kerja keras buat sampai di sana, bahkan saat akan keluar dari kerumunan saya sampai kesulitan dan dibantu orang lain yang tidak kami kenal. Masya Allah, perjalanan yang tidak mudah.

Persiapkan Mental

Perjalanan ibadah umroh plus Turki merupakan perjalanan yang benar-benar tidak mudah buat kami karena ini kali pertama kami pergi jauh bersama keluarga. Kami harus berada di pesawat selama hampir 13 jam menuju Turki. Bersyukurnya kami berangkat malam hari sehingga anak-anak bisa tidur dengan pulas di pesawat. Selain itu, terjadi drama juga, salah satunya ketika si bungsu tiba-tiba minta cuci tangan di kamar mandi sedangkan saat itu pesawat mau landing. Duh, dia nangis sampai muntah-muntah, disangka orang sedang sakit atau kesakitan telinganya...he.

Tapi, apa pun kesulitan itu, jangan dibawa ribet. Si bungsu sempat demam selama di Madinah dan Mekkah dan susah banget minum penurun panas, tapi saya coba menenangkan diri supaya tidak panik. Mencoba menikmati, dan Alhamdulillah, saat mau pulang, di pesawat selama 13 jam, bungsu suhunya normal dan tidur nyenyak.


Foto: Dokumentasi Pribadi
Itulah beberapa persiapan yang harus dilakukan saat akan melakukan ibadah umroh plus Turki ketika musim dingin. Tetaplah berpikir positif, sebab semua akan berjalan sesuai dengan apa yang kamu pikirkan. Banyaklah berdoa semoga perjalanan menyenangkan itu benar-benar berpahala dan bisa jadi bonding bersama anak-anak. 

Tulisan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Estrilook Community day 7

Beda Antara Passion dan Hobi, Ketahui Masing-masing yang Menjadi Kelebihanmu!


Apa passion kamu? Lalu apa hobi kamu? Tahukah kamu jika passion dan hobi itu berbeda? Passion adalah sesuatu yang nggak pernah bikin kamu bosan untuk melakukannya, bikin kamu selalu bersemangat dan rela melakukan banyak hal untuk mencapainya.

Sedangkan hobi adalah kesenangan, yang tidak selalu kamu lakukan. Kadang-kadang kamu kerjakan itu, kadang juga tidak. Misalnya saja hobi bernyanyi yang sering kamu lakukan di kamar mandi. Pasti kamu senang melakukannya, tapi kamu tidak ingin melakukan lebih daripada itu. Berbeda dengan mereka yang passion-nya bernyanyi. Mereka rela ikut les, mempelajarinya lebih dalam.



Apa Passion Kamu?

Butuh waktu yang cukup lama untuk mengetahui apa passion saya. Sejak lama, saya melakukan banyak hal menyenangkan untuk mengisi waktu. Apa pun saya lakukan, terutama saat baru menikah dan pindah ke Jakarta. Sambil menunggu suami pulang kerja, saya mengerjakan berbagai macam kegiatan, termasuk sesekali menulis, menggambar, membuat berbagai macam kerajinan tangan seperti membuat bunga dari kertas krep, membuat tas rajut, membuat tas atau celemek dengan sulam pita, sampai pada suatu hari saya juga berjualan barang-barang handmade yang sudah saya buat itu. Betapa banyak kegiatan yang saya lakukan, tetapi saya seringkali bosan melakukan itu dalam waktu cukup lama.

Tahun 2014 saya mulai menulis kembali dengan lebih serius, tapi saya harus berhenti saat itu karena kondisi yang tidak memungkinkan. Saya hamil anak kedua, dan mual-mual parah. Entahlah, saya merasa harus fokus saja dengan kehamilan yang saat itu banyak mengalami masalah.


Setelah anak kedua lahir, drama sakit antara adik dan kakanya cukup menyita waktu. Tak jarang saya juga sering ikut sakit ketika mereka sakit. Saya demam tinggi dan harus menjaga bungsu yang demam juga. Duh, rasanya nggak ada pikiran buat melakukan hal lain lagi saat itu.


Seiring waktu, bungsu semakin besar. Saya merasa sudah banyak waktu longgar. Akhirnya saya mulai membuka akun sosial media. Pertama kali sih dimulai ikut bikin akun di Cookpad dan aktif di sana. Setelah itu, tergelitik kembali menulis. Duh, rasanya kangen banget. Karena sudah lama tidak menulis, jari-jari rasanya sudah kaku banget. Mulai lagi dari nol.


Tapi, dari sinilah saya mulai dan bertahan hingga sekarang. Setelah sekian lama mencoba menekuni banyak hal, barulah saya sadar bahwa passion saya adalah menulis, bukan yang lain. Saat menulis, saya bisa terjaga hingga larut, senang dan bersemangat sekali rasanya. Dan itu bisa bertahan dalam waktu yang lama, susah bosan apalagi berhenti.


Belakangan saya mencoba masuk kelas menggambar. Setelah beberapa kali masuk kelas, jujur saya merasa berat melakukan tugas-tugas itu. Sejak kecil memang suka menggambar, tapi belakangan saya paham kalau itu hanyalah hobi. Menggambar butuh waktu lama, menyita sekali apalagi saya belum mahir. Dan saya sedih sekali melewatkan banyak waktu yang biasanya saya isi dengan menulis.



Passion Bukan Hobi


Hobi berbeda dengan passion. Dan sekarang, saya tahu apa hobi saya, saya paham apa passion saya. Keduanya berbeda. Sesekali saya masih menggambar, bahkan ada tugas terakhir kelas menggambar yang belum rampung….hiks. Kemarin menyempatkan diri, tepatnya memaksakan diri untuk ikut kompetisi membuat lembar aktivitas. Kenapa memaksakan diri? Nggak pede aja ikutan kompetisi seperti ini. Karena selama ini memang belum pernah mencobanya.


Tapi, bukan saya kalau menyerah sebelum mencoba *eaa…haha. Pantang banget buat mundur selama masih punya kesempatan. Dan kemarin baru saja diumumkan siapa pemenangnya. Alhamdulillah, saya menang. Girang banget? Hihi, iya banget dan kaget karena buka pengumuman setelah bangun tidur.





Kompetisi ini diadakan oleh Wonderland Creative untuk merayakan hari jadinya yang pertama. Kompetisi menulis cerpen belum menang, tapi terpilih untuk dibukukan. Menyenangkan sekali kalau semua yang kita usahakan mulai terlihat hasilnya, ya.


Dalam kompetisi membuat lembar aktivitas ini saya menggunakan Ibis Paint X. Ini merupakan aplikasi menggambar yang enak banget buat pemula. Apakah aplikasinya nanti jalan sendiri? Seorang teman pernah bertanya demikian. Tentu saja tidak..hihi. Kita tetap harus menggambar manual seperti biasanya.


Selain Ibis, saya juga biasa menggunakan Medibang. Aplikasi kedua ini bahkan juga dipakai oleh penulis komik untuk membuat buku, lho. Jadi, asalkan kita bisa menggunakannya dengan baik, aplikasi simpel begini bisa banget dipakai untuk apa saja.


Bagaimana cara menggunakannya? Saya pribadi belajar secara otodidak dengan membaca beberapa artikel terkait dan juga menonton videonya di Youtube. Zaman sekarang apa sih yang nggak bisa dicari? Kecuali kita nggak niat mencarinya aja, ya? Hehe.


Sampai sekarang masih suka menggambar, tapi tidak selalu saya lakukan apalagi setiap hari. Sedangkan menulis, selalu saya usahakan setiap hari. Bagaimana dengan kamu? Apakah passion dan hobimu?


Postingan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Estrilook Community day 6

Isi Liburan dengan Membuat Roti Karakter Homemade Bersama Si Kecil, Seru dan Mengasyikkan!


Alhamdulillah, kemarin kembali menyalakan oven setelah sekian lama diabaikan, dicuekin. Nggak kebayang bagaimana perasaan si oven saat saya cuekin. Baper nggak, ya? Haha.

Sejak membuka Estrilook.com, rasanya waktu jadi semakin sempit saja. Selain itu, masih banyak tugas revisi naskah, PR kelas menulis dan menggambar yang belum juga dikelarin. Rasanya waktu jadi sedikit sekali. Kalau sudah begini, memang harus pintar-pintar atur waktu biar semua bisa selesai tepat waktu. Kadang ya itu, saya harus mengurangi kegiatan baking yang biasanya lumayan sering saya lakukan.

Nah, kemarin si sulung ada jadwal berenang di sekolah. Tapi, saya tidak bisa mengantar, alhasil dia hanya di rumah saja bersama adiknya. Agak siangan saya ajak membuat roti bersama. Biar dia senang dan nggak bingung ngisi waktu di rumah.

Si sulung ini doyan banget makan roti. Ya roti beli, roti buatan emaknya, pokoknya satu loyang kadang dia yang habisin. Duh, kebayang nggak sih doyannya dia sampai sebegitunya, lho. Kalau sudah makan roti, makan nasinya pun pasti berkurang juga. Tapi, nggak masalah, biasanya saya biarkan saja karena sekarang saya tidak terlalu sering juga bikin roti.


Roti buatan di sulung (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Untuk membuat roti empuk dan mengembang, butuh berapa kali gagal dan jatuh bangun? Hihi. Saya tergelitik membahas ini mengingat ada banyak teman yang mencoba resep saya tapi harus gagal dulu. Yap! Tak terhitung sih berapa banyak adonan bantat dan nggak matang di tangan saya. Nggak terhitung juga berapa kali salah menimbang. Kadang lupa memasukkan air terlalu banyak…hiks.

Semua pengalaman itu justru bisa membuat kita jauh lebih mudah ke depannya saat akan membuat roti lagi. Pengalaman itu bisa jadi pelajaran buat kita. Kalau sebelumnya udah pernah gagal nggak matang padahal warnanya udah cantik, bisa jadi suhu ovennya nggak tepat, ‘kan? Banyak hal bisa banget kamu pelajari dari sebuah kegagalan.

Nah, kali ini saya bikin roti killer soft bread satu kali proofing. Jadi, nggak lama nungguin, setelah diulen sampai kalis, kamu bisa langsung membentuknya dan menunggu proofing selama satu jam atau kurang.

Bahan:
500 gram terigu protein tinggi (Saya pakai Cakra)
8 gram ragi instan
120 air hangat
120 air dingin atau suhu normal
1 sachet susu bubuk
110 gram gula pasir
80 gram butter atau margarin
3 butir kuning telur, beri putihnya sedikit.
Sejumput garam

Cara Membuat:
1. Campur 1 sdm gula pasir bersama ragi dan air hangat. Aduk rata. Cara ini bisa dilakukan juga untuk mengetahui apakah ragi masih aktif atau tidak. Terutama untuk ragi yang sudah lama dibuka kemasannya.

2. Dalam wadah lain, campur terigu, sisa gula pasir, susu bubuk, air dingin, kuning telur, dan campuran ragi yang sudah berbusa (setelah 5-10 menit). Mixer sampai rata.

3. Masukkan butter dan garam. Mixer sampai kalis elastis sehingga adonan bisa ditarik dan dibentangkan hingga tipis tanpa sobek.

4. Bentuk dan beri isian. Tutup dengan kain bersih dan diamkan selama 1 jam atau sampai mengembang dua kali lipat.

5. Panaskan oven 10 menit sebelumnya. Panggang hingga matang kurang lebih 15 menit, tergantung ovennya masing-masing.

6. Setelah matang, keluarkan dari oven dan olesi atasnya dengan butter. Sajikan atau bungkus dengan plastik supaya roti awet dan tidak mengeras saat bersisa.


Setelah dibentuk dan menunggu proofing (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Foto: Dokumentasi Pribadi

Voila! Roti satu kali proofing siap disantap bersama si kecil. Mudah banget, ‘kan? Kamu bisa ajak anak-anak membuat roti bentu karakter sesuai dengan keinginan mereka. Kemarin saya membuat bentuk kura-kura. Saya ambil sedikit adonan dan dicampurkan dengan sedikit cokelat bubuk. Lalu gunakan sebagai hiasan baik mata ataupun motif tempurungnya.

Bagaimana, menarik sekali, ‘kan mengisi liburan atau weekend dengan membuat roti homemade?Meski sedikit repot, tapi hal ini begitu mengasyikkan bagi mereka. Yuk cobain resepnya!

Postingan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Estrilook Community Day 5

Hasil Tidak Akan Mengkhianati Usaha, Tidak Ada Perjuangan yang Sia-sia


“Jika ingin rezeki luas, kamu harus mencintai proses, jangan melihat yang instan saja.”

Seperti itulah sepenggal kalimat dari ustadz Arafat, penulis buku ‘Hijrah Rezeki’ yang kemarin diundang ke Wonderland grup dan sharing. Karena disampaikan dengan bahasa yang renyah, jadinya sharingnya jleb tapi menyenangkan sekali untuk didengar.

Beliau menekankan satu hal, kebanyakan dari kita tidak memedulikan seberapa besar perjuangan orang untuk sampai pada kesuksesan mereka sekarang, tetapi kita hanya melihat dia yang sekarang. Ya, hanya melihat dia sekarang sudah sukses. Padahal, seharusnya kita belajar dari dia, bagaimana dia menjalani proses yang tidak mudah untuk sampai pada kesuksesannya sekarang.

“Allah mencintai usaha kita. Allah mencintai proses! Karena itulah nanti yang diperlihatkan kepada kita adalah usaha. Yang Allah banggakan di hadapan malaikat adalah usaha! Allah tidak lihat kita sudah berhasil apa belum, sebab yang Allah lihat kita mau usaha apa nggak!”

Jleb. Salah satu kalimat ustadz Arafat mengentak-entak hati saya. Kemudian beliau bertanya lagi, sudah seberapa  jauh usahamu? Sudah berapa kali menerima penolakan? Sudah berapa kali dicuekin? Sudah berapa kali jatuh bangun? Sudah berapa kali tulisan kita dinyinyirin orang?

Bagi sebagian orang pertanyaan ini biasa saja, lewat di gendang telinga dan tidak meninggalkan bekas. Sedangkan bagi saya, pertanyaan itu dalam banget mengingat betapa tidak mudahnya saya untuk sampai pada titik saat ini. Hei, saya belum secemerlang apa, tapi untuk punya buku, diterima penerbit mayor dan buku dipajang di toko buku itu rasanya sudah melampaui mimpi-mimpi saya dulu.


Foto: Dokumentasi Pribadi

Beberapa hari yang lalu saya membereskan buku-buku di lemari yang sudah penuh sesak. Dan saya menemukan catatan lama. Buku-buku saat saya masih di pesantren dulu. Satu buku berukuran besar, bahkan warnanya sudah kusam. Buku ini berisi sebagian besar catatan saya saat SMA. Tahukah kamu apa isinya? Di dalamnya ada puisi, penggalan kalimat dari beberapa novel dan buku nonfiksi yang pernah saya baca. Sebagian lagi berisi peta mimpi yang kalau dilihat sekarang itu tampak lucu banget, apalagi bahasanya masih alay, bahasa Inggris campur sari pula...he.

Dulu, untuk membeli buku saya tak mampu. Uang bulanan di pesantren hanya cukup untuk makan dan membayar keperluan sekolah. Jika ada uang jajan tersisa, biasanya saya kumpulkan untuk membeli LKS, supaya orang tua saya tidak terlalu berat membayarnya. Saat saya punya kesempatan meminjam buku dari teman, setelah antre panjang dengan santri lain, saya biasanya akan mencatat kalimat-kalimat yang saya suka supaya bisa dibaca berulang-ulang, karena buat punya bukunya nggak mungkin banget.

Saat membuka itu hati berdesir, ingat aja zaman dulu betapa sulitnya, hanya untuk punya buku saja nggak bisa. Tulisan-tulisannya masih jelas terbaca, sebagian sudah berubah warna. Kemudian saya pindah ke peta mimpi. Di sana saya menuliskan mimpi saya, mulai dari usaha, gagal, bangkit, usaha lagi, buku terbit, dan berbagi. Kata-kata itu saya tulis dan saya gambarkan di peta mimpi. Saya buat pada tahun 2008. Berarti sudah 10 tahun berlalu. Masya Allah. Dan semua itu sudah saya dapatkan.

Jika orang tidak mengenal saya, baru bertemu sekarang, ketika saya sudah punya puluhan antologi dan beberapa buku solo, seribu lebih artikel terbit di media online, pasti semua nggak akan ada yang menyangka kalau dulu saya seperti apa, selelah apa. Pernah jatuh dan merasa gagal pada tahun 2014, itu saat saya benar-benar memutuskan berhenti menulis. Benar-benar berhenti. Kalau diingat sekarang, itu ibaratnya kegagalan terbesar saya karena sempat menyerah.

Tahun 2017 saya kembali, memulai semuanya dari nol. Ikutan kelas-kelas menulis online. Pelan-pelan menulis buku lagi, ikut lomba-lomba menulis. Dan sampai sekarang masih saya kerjakan itu semua. Lalu apa yang saya dapatkan? Tentu saja impian sepuluh tahun lalu itu benar-benar sudah nyata. Saya belum jadi penulis profesional, cerpen saya di kelas menulis online saja masih banyak revisi, tapi sekarang sy sudah punya buku, buku saya terbit, sebagian dipinang oleh penerbit mayor setelah mengalami banyak kendala.

Berapa kali kamu ditolak? Berapa kali kamu dinyinyirin, difitnah, dan diremehkan orang bahkan dibohongi? Yang jelas saya sudah alami itu semua. Lucunya, setiap ada orang melakukan hal itu pada saya, dalam waktu dekat, hanya berjarak hitungan hari, qadarallah ada saja buku saya yang di-acc penerbit mayor. Bahkan beberapa hari lalu itu kembali terjadi. Dan ini bukan hanya saya saja yang mengalami, ada juga teman penulis lebih senior juga mengalami hal yang sama. Rasanya lucu, ya. Habis nangis-nangis, sedih, kesal, tiba-tiba naskah kita di-acc penerbit, sedih dan lelahnya hilang semua.

Itulah proses. Panjang, berliku, kadang bikin kita menyerah, pengen berhenti dan menghilang, atau ingin menepi sejenak. Tapi, kalau kita sudah cinta, kita pasti akan kembali lagi. Ketika mendengar sharing dari ustadz Arafat, campur aduk rasanya. Membayangkan banyak masalah yang saya alami selama menulis.

Lalu bagaimana cara menghadapi itu semua? Bagaimana sikap kita ketika didzalimi orang lain? Kita harus percaya kalau dendam itu adalah sifat tercela. Kita nggak boleh dendam sama orang karena itu menghambat rezeki kita. Kita juga nggak akan sakit hati kalau kita nggak mengizinkan itu terjadi. Jadi, ikhlaskan saja, kalau sudah ikhlas berarti tidak usah diungkit dan diingat (baiklah, saya sedang berusaha keras..he).

Bagaimana dengan perjuanganmu? Apa pun yang kamu impikan, jalannya pastilah tidak selalu mudah. Kadang menanjak, kadang menurun, kadang kita harus beristirahat untuk memulihkan tenaga, tapi jangan pernah kamu berhenti. Saat kamu melakukan itu, maka harapan itu sudah tidak berarti lagi. Yuk, gapai mimpimu, jangan mudah putus asa. Kita tidak pernah tahu, pada langkah ke berapa tujuan itu akan kita capai. Bisa jadi hanya kurang satu langkah di depan kita, jika kamu menyerah, bukankah merugi sekali, ya?

Tulisan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Estrilook Community #Day 4

Custom Post Signature

Custom Post  Signature