Top Social

Tentang Jurus Sehat Rasulullah (JSR) dan 5 Menu Real Food Super Enak Serta Mudah!

JSR
Kembali ke real food dan ikuti pola makan yang diajarkan Rasulullah saw, Insya Allah akan mendatangkan kebaikan bukan hanya bagi kesehatan fisik, melainkan juga bagi batin kita (Foto: pexels)


Apa, sih, JSR itu? Kenapa banyak banget tagar JSR di mana-mana? Apa hanya saya saja yang baru tahu dan merasa JSR ini lagi nge-trend? Awalnya saya nggak paham juga, apa itu JSR? Meski sudah beberapa kali melihat video dr. Zaidul Akbar, tetap saja saya belum memahami singkatan JSR hingga saya follow akun Instagram beliau. Barulah ngeh, ternyata JSR itu adalah Jurus Sehat Rasulullah yang diambil dari judul buku dr. Zaid. Oalah…begitu…hehe.

Apa, sih, JSR Itu?

Meskipun sering dianggap diet, tetapi nyatanya JSR bukan termasuk diet, lho. Jadi apa JSR itu? Secara mudah bisa didefinisikan sebagai perubahan pola makan mengikuti sunah Rasulullah saw. Iya, kita yang biasanya makan sampai kenyang, makan ini dan itu yang ternyata nggak sehat meskipun enak di lidah, berubah menjadi makan yang apa adanya dan alami atau real food. Kita juga dianjurkan bersahabat dengan rasa lapar, karena seperti Rasulullah saw, selama hidupnya tidak pernah makan sampai kenyang. Berbeda sekali dengan kita yang seumur hidup bahkan jarang banget kelaparan.

Rasa lapar diketahui sangat berguna bagi tubuh karena bisa meningkatkan hormon HGH yang diketahui dapat membakar cadangan lemak di dalam tubuh. Jadi, adanya kewajiban berpuasa serta anjuran puasa sunah bukannya tanpa alasan. Allah paling mengerti dan memahami makhluk ciptaan-Nya. Adanya kewajiban puasa terutama dalam bulan Ramadhan pastinya sangat berkaitan dengan kesehatan kita. Sayangnya, karena salah makan, berlebihan, dan cenderung kalap ketika berbuka, ujung-ujungnya bukannya tambah sehat selama Ramadhan, malah jadi sakit atau berat badan naik.

Antara Ramadhan dan lebaran, terdapat banyak makanan yang sebenarnya justru jadi musuh bagi tubuh kita. Terutama gula. Selama Ramadhan, biasanya boros banget konsumsi gula pasir di rumah. Entah buat teh hangat, es belewah, atau camilan mengandung gula. Ketika lebaran, kue-kue yang disajikan di atas meja ruang tamu juga tak kalah manisnya, merupakan makanan yang sebenarnya tidak layak disebut makanan. Sudah diolah berlebihan dan tinggal gulanya aja. Ngeri banget, ‘kan?

Ketika saya baru belajar tentang JSR, rasanya terlihat sangat sok sehat…kwkwk. Paling ujung-ujungnya buyar semua, 'kan? Apalagi saya termasuk orang yang nggak pernah betah ikutan program diet jenis apa pun. Ada nggak yakin di awal itu pasti. Tapi, setiap hari saya antusias banget mendegarkan kajian dr. Zaid di Youtube, hingga akhirnya mulai menerapkan pelan-pelan.

Hindari 5 Jenis Makanan Ini Saat Ikut JSR


JSR
Hindari 5 jenis makanan dan perbanyaklah konsumsi real food dan infused water (Foto: pexels)

Mengingatkan kembali, ada 5 jenis makanan yang dianjurkan untuk dihindari saat ikut JSR.

1. Nasi putih
2. Tepung-tepungan mengandung gluten
3. Minyak atau makanan yang diolah memakai minyak sawit
4. Susu dan produk turunannya
5. Gula

Jika kamu ingin menumis misalnya, disarankan memakai minyak kelapa. Jika ingin konsumsi gula, disarankan memakai gula aren. Jika ingin makan nasi, ganti saja dengan nasi merah. Tapi, karena sebelum ikut JSR saya sudah tidak makan nasi meski baru banget, akhirnya nggak mengganti nasi putih dengan jenis nasi yang lain juga. Tetap tanpa nasi.

Sumber karbo saya ganti dengan singkong, ubi, atau kentang. Kita juga nggak dilarang konsumsi protein hewani, hanya saja ada baiknya tidak terlalu sering. Saya pribadi tidak terlalu pengen makan ayam, daging, atau telur. Selama ikut JSR, yang paling penting adalah konsumsi sayuran. Jika mentah saya buat menjadi jus sayuran plus buah. Jika ingin konsumsi matang, saya rebus sebentar saja.

Justru dengan Ikut JSR, Hidup jadi Lebih Mudah

Karena makanan yang dikonsumsi berubah jadi simpel, akhirnya hidup kita pun jauh lebih mudah. Contohnya, saat Ramadhan, biasanya saya sibuk membuat takjil seperti kolak atau es buah. Nah, sejak ikut JSR, saya lebih suka membuat jus sayuran dan ditambah buah. Jika ingin berbeda, saya buat buah potong yang dicampur cincangan kurma, dikucuri jeruk nipis serta sedikit madu. Ini bahkan semua orang suka banget, bukan saya saja.

Terus saat berbuka makan apa aja? Makanan beratnya apa? Makan itu nggak harus berupa karbo dan lauk, ‘kan? Iya, kita mungkin terlalu terpatok sama hal semacam ini sehingga jika makan sayur saja atau buah saja jadi terasa nggak makan. Padahal, makan nggak harus seperti itu.

Saya kadang konsumsi singkong kukus, kadang saya cukup hanya dengan sayuran rebus plus buah. Jika belum sanggup makan sedikit, jangan dipaksa berubah cepat, pelan-pelan saja dan bertahap. Saya dulunya suka makan meski tubuh nggak seheboh apa gedenya…haha. Porsi makan saya banyak terutama nasi. Karena sejak kecil sudah dibiasakan makan kenyang, tapi, nggak boleh ngemil. Jadi, saat makan berat adalah hal yang paling ditunggu. Selebihnya nggak bisa jajan, ‘kan?

Nah, untuk mengubah menjadi seperti sekarang, pastinya butuh usaha banget. Dimulai dari mengurangi porsi nasi, mengubah menu menjadi lebih sederhana, hindari minuman manis (ini nggak terlalu sulit buat saya), pelan-pelan ajarkan diri kita merasa kenyang dengan makanan yang ada di depan mata (jadi, nggak perlu pengen mie instan juga…kwkwk), dan maafkan diri kamu jika memang saat mencoba masih suka nyomot bakso goreng (saya banget…haha), coba lagi. Insya Allah, setelah merasakan enaknya ikut JSR, pastilah keinginan untuk konsisten itu bakalan datang dengan sendirinya. Percayalah!

 Kenapa Harus Ikut JSR?


JSR
Kenapa harus ikut JSR? (Foto: pexels)

Pastilah bukan hanya sekadar untuk gaya-gayaan. Yaiyalah, nggak bisa makan nasi padang masa dibuat gaya? Itu favorit saya banget yang sekarang sudah jadi mantan…haha. Sadar atau tidak, selama ini kita terlalu banyak mengonsumsi makanan yang bukan benar-benar makanan. Misalnya, suka minum jus dalam kemasan, itu beneran jus atau hanya berisi gula dan perasa? Kebayang, selain itu masih banyak banget makanan yang tak layak masuk ke dalam tubuh? Iya, makan mie instan nggak bikin kita mati mendadak, tetapi menimbun racun yang suatu saat akan mencelakakan kita sendiri.

Selama ini kita nggak mau membuka mata akan hal itu. Karena merasa tubuh baik-baik saja, kita pun akhirnya mencari pembenaran sendiri. Makan sedikit nggak masalah, ‘kan? Ujung-ujungnya malah terbiasa makan tanpa rasa bersalah.

Usia saya 29 tahun saat ini. Sudah mau kepala tiga. Mengingat ini, saya khawatir akan kondisi kesehatan yang pastinya akan menurun seiring berjalannya waktu. Kalau dulu kita bisa makan mie instan tanpa khawatir kolesterol dan ini itu, berbeda ketika usia kita sudah lebih dewasa, kondisi tubuh akan menurun sehingga pada akhirnya nggak bakalan kuat juga menghadapi cobaan seperti itu setiap saat.

Keanyataannya juga, kita sering menyaksikan dengan mata sendiri, orang sakit struk atau penyakit tidak menular lainnya terjadi bukan hanya pada mereka yang berusia lanjut atau lansia, melainkan juga dialami oleh orang yang usianya masih terbilang sangat muda. Salah siapa? Apa yang salah dalam hidup kita sehingga banyak terjadi masalah seperti ini? Pernah mikir begitu nggak, sih?

Dengan ikut JSR, kita bisa memperbaiki semuanya. Karena semua masalah kebanyakan datang dari sistem pencernaan yang kurang baik. Pencernaan yang kurang baik menimbulkan banyak masalah baru dalam hidup kita. Padahal ini sudah diatur juga dalam Islam, lho. Saya saja yang masih mengabaikan dan lalai. Dzalim sekali sama badan sendiri. Sedih dan miris.

Dimulai dari makan hanya real food, makanan yang tumbuh di tanah, disinari matahari. Kemudian sering berpuasa sunah, makan tidak berlebihan, dan perbaiki niat. Sebab JSR bukan diet. Jadi, niatkan untuk taat pada apa yang Allah perintahkan, sehat itu adalah hasil dari ketaatanmu.

Setelah ikut JSR, banyak yang akhirnya sehat dari diabetes, susah hamil, qadarallah bisa hamil, langsing pun sudah pasti. Sebab, jika kita sudah makan real food, berat badan akan normal dengan sendirinya.

Tapi, apakah semudah itu mengikuti JSR?

5 Menu Real Food yang Sehat dan Mudah Dibuat

Karena mencoba itu tidak akan selalu mudah, maka sejak awal kamu harus pandai-pandai mencari tahu menu yang cocok untuk dirimu sendiri. Kalau masih suka ngemil, selain buah, adakah camilan sehat lain yang masih bisa dikonsumsi? Saat ini, banyak banget yang sudah berkreasi dengan catatan tetap pada jalur JSR. Karena meski tak makan nasi, sejatinya makanan lainnya tetap nikmat parah…hihi. Apalagi jika sudah terbiasa makan tanpa gula dan garam, makanan alami akan terasa banget ‘rasa aslinya’ di lidah.

Di bawah ini saya mau berbagi beberapa menu atau camilan yang bisa dicoba bagi kamu yang ikut JSR.

1. Kacang Tanah Sangrai

Percayalah, kacang tanah sangrai ini tak kalah dengan kacang almond…hihi. Jika telaten, kamu bisa buang kulitnya supaya tidak ada rasa getir. Karena malas, saya tidak membuangnya…hehe. Bikinnya mudah banget, cukup taruh kacang tanah tanpa kulit di atas teflon atau penggorengan, nyalakan api kecil saja. Aduk-aduk terus sampai kacang krispi dan jangan sampai gosong, ya. Harus sabar supaya kacangnya tetap cantik tapi krispi.

2. Jus Sayur dan Buah

Jika makan sayuran sebaskom terasa tidak mudah, ada baiknya kamu menjadikannya sebagai jus supaya lebih mudah dikonsumsi. Jangan buru-buru eneg melihat jus berwarna hijau, sebab jika ditambah sebutir apel atau nanas, rasanya akan sangat enak. Percaya!

Jus ini bisa kamu kreasikan sendiri. Saya biasa memakai apel, tomat, sayuran hijau seperti bayam atau pokcoy, mentimun, seledri, belimbing, atau apa pun yang ada di sekitar kita. Kamu bisa menambahkan sedikit madu dan garam Himalaya atau him salt. Saya pribadi, cukup jus saja tanpa tambahan apa pun, rasanya sangat enak, kok.

3. Terancam

Buat saya, makan terancam adalah sesuatu yang istimewa banget. Ketika pertama kali mencium aromanya, langsung terbawa pada suasana rumah dan melihat orang tua. Ini makanan zaman saya kecil, terutama ada saat Ramadhan karena Bapak suka banget.

Dan menu ini nggak masalah dimakan karena sesuai dengan jalur JSR…kwkwk. Saya pakai kelapa parut (masih muda), tempe kukus, sayuran seperti mentimun, kemangi, atau sayur rebus seperti bayam. Bumbunya cukup pakai bawang merah dan kencur bakar. Haluskan bumbu, beri sedikit garam Himalaya, masukkan kelapa parut dan tempe kukus, campur dan penyet-penyet tempenya, masukkan sayuran. Sesimpel ini.

Kalau makan terancam, saya tidak menambah karbo lagi. Karena saya makan sayur agak banyakan dan pasti udah kenyang.

4. Takjil Simpel dengan Potongan Buah

Coba ganti es buah atau kolak dengan menu satu ini. Cukup potong-potong semangka, bisa tambahkan melon, kemudian taburi cincangan kurma, kucuri jeruk nipis, dan beri sedikit madu. Jika mau, boleh tambahkan garam Himalaya. Aduk dan konsumsi dingin. Segar sekali, lho.

5. Infused Water

Tidak setiap kita merasa lapar menandakan kita benar-benar lapar, lho. Bisa jadi itu sinyal kalau kita butuh cairan. Karena itu, coba banyak minum air, terutama air rendaman buah, sayur, dan rempah.

Dr. Zaid senang banget berbagi resep infused water, lho. Sejak ikut JSR, saya pun jadi senang sekali minum infused water. Saat sahur, saya hanya minum air rendaman kurma (pakai 3 butir kurma). Rasanya masih bertenaga sampai berbuka, Masya Allah.

Pilih Buah Lokal


JSR
Pilihlah buah lokal dan ada di sekitar kita (Foto: pexels)

Pasti kamu juga sudah tahu, buah lokal kondisinya lebih segar dibanding dengan buah impor. Minim juga obat atau lilin yang dibuat sebagai pengawet buah biar tidak mudah busuk.

Banyak faktor kenapa kita disarankan memilih buah lokal. Selain membantu petani di negeri sendiri, buah lokal juga terjangkau dan mudah dicari. Allah pasti paham banget dengan kondisi tubuh kita. Sayur dan buah yang tumbuh di sekitar kita diciptakan berbeda dengan di tempat lain pastilah sudah disesuaikan juga dengan kebutuhan. Masa iya, nyari vitamin C aja harus nyari buah dari Belanda? Nggak banget, ‘kan? Ini contoh aja...kwkwk.

Karena itu, biasakan mencari buah lokal saja. Gizinya tak akan kalah dengan yang impor. Dan pastinya sesuai dengan kantong. Ada apa saja? Ada salak, jambu merah, tomat, mentimun, apel malang, dan masih banyak lagi.

JSR Bisa Berhasil Jika Didukung Kondisi Hati yang Bersih

Katanya percuma makan sehat, tetapi batin dan hati kita kotor. Tetap nggak bakalan sehat. Hiks. Jadi, jika ikut JSR, hati kita pun harus dikelola supaya tetap bersih, positif, dan banyak bersyukur. Sering kali kita kebanyakan mengeluh, ‘kan, ya? Malu lama-lama jika mengeluh dijadikan kebiasaan, hingga kita lupa nikmat lain jauh lebih besar.

Mengeluh bukan hanya perkara kurang bersyukur, melainkan termasuk dosa, lho. Saya pernah mengikuti kajian dan membahas soal ini. Ternyata mengeluh itu buruk sekali. Tapi, kenapa malah jadi kebiasaan yang tidak ada habisnya kita lakukan?

Meski tidak ikut JSR, ada baiknya kita kurangi mengeluh. Banyakin bersyukur, sebab dengan bersyukur, hidup jadi lebih indah. Cobain, deh.

Bersih hati juga bisa meliputi bersih dari rasa iri dengki. Kita yang diperlakukan demikian pun jangan nelangsa kebangetan. Kita masih punya Allah, yang iri sama kita mungkin dapat mengusik ketenangan hati, tetapi sejatinya tidak mengubah apa pun di sisi Allah. Kalau kitanya baik, sudah pasti tetap akan baik di mata Allah.

Ada baiknya kita mulai mengikuti pola hidup sehat seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw, dan mulailah memperbaikin kondisi hati supaya tidak gampang sakit hati. Memang tidak mudah, saya pribadi pun belum sepenuhnya bisa. Tapi, sejak ikut JSR, rasanya semua lebih baik.

Dr. Zaid pun pernah mengatakan bahwa mood seseorang, baik buruknya bisa dipengaruhi juga oleh makanan yang dikonsumsi. Karena itu, cobalah makan makanan yang baik dan real food, dan clean food. Pikirkan makanan apa yang dibutuhkan oleh tubuh kita, bukan hanya makanan yang sekadar kita inginkan saja.

Salam sehat,

Belajar Ilmu Parenting Langsung dari Syeh Salim, Hafidz Muda dari Gaza yang Datang Langsung ke Indonesia

kajian bersama syeh dari palestina
Bertemu langsung dengan syeh dari Palestina membuat pengalaman berbeda saat penutupan kajian kemarin (Foto: pexels)


Seperti tahun sebelumnya, majelis taklim atau tempat kajian yang sudah saya ikuti sejak 2009 silam, kembali kedatangan tamu istimewa saat penutupan sebelum lebaran. Tanggal 22 Mei kemarin adalah hari terakhir saya mengikuti kajian sebelum akhirnya libur. Tapi, ada yang membuat kajian terakhir itu menjadi sangat spesial. Bukan karena setelahnya saya bisa segera mudik, melainkan ada tamu spesial dari Palestina. Beliau adalah syeh Salim.

Berbeda dari tahun sebelumnya, syeh yang dulu datang cenderung pemalu. Bisa jadi karena beliau masih remaja, yakni berusia 20an lebih sedikit. Sedangkan yang datang tahun ini kalau tidak salah usianya sudah 30an. Di atas saya satu tahun saja. Bukan hanya hafidz, beliau juga sudah menempuh pendidikan S3, lho. Wah, bikin takjub, Masya Allah.

Biasanya, syeh yang datang dari Palestina lebih banyak bercerita tentang kondisi di sana. Bagaimana kejamnya Israel, bagaimana kondisi mereka dan keluarga. Saya membayangkan, tahun ini pun tak akan jauh berbeda. Sebab mereka tinggal di tempat yang sama, ‘kan?

Siapa sangka jika syeh Salim justru bicara soal parenting. Awalnya beliau merasa senang melihat anak asuh pesantren tahfidz yatim dan dhuafa yang dikelola oleh majelis taklim kami ikut hadir di sana. Bahkan ada seorang santri sudah menamatkan hapalannya hingga 30 juz. Selain itu, beliau juga senang saat mendengar kami belajar bahasa Arab setiap minggu demi mendalami Alquran.

Dari sana bisa jadi beliau akhirnya bicara soal parenting. Tentang kita yang sangat sibuk dengan urusan dunia. Yang sangat jarang sempatnya untuk mengurusi pendidikan anak-anak, misalnya mengajari mereka menghapal Alquran. Kata beliau, manusia sibuk itu adalah hal wajar. Kita sibuk nyuci baju, setrika, masak, dan sibuk dengan pekerjaan lain adalah hal lumrah, kok. Tapi, sebisa mungkin kita maksimalkan waktu antara Magrib ke Isya’ untuk membantu mereka menghapalkan Alquran.

Tahapan Mendidik Anak-anak Hingga Dewasa

Kalau kita membaca artikel parenting pasti sudah biasa, ‘kan? Hmm, tapi, kalau yang membahas langsung seorang Hafidz dari Gaza, kayaknya ini ‘beda’ dan menarik sekali. Meski apa yang disampaikan pernah juga saya pelajari di beberapa artikel parenting, tapi, ada poin lebih yang tidak bisa kita dapatkan kecuali dari apa yang beliau sampaikan kemarin.

Mendidik anak-anak soal agama tidak harus dimulai sejak mereka mengerti (seperti usia sekolah). Justru mulailah sejak dini. Meskipun mereka masih kecil (usia balita), tapi jangan remehkan hal itu. Tanamkan ilmu agama dengan mengenalkan kalimat tauhid. Walaupun mereka belum bisa bicara, belum dapat menirukan apa yang kita ucapkan, tetapi hal itu tidak akan sia-sia, lho.

Lalu, tahapan apa yang perlu kita lakukan saat mendidik anak-anak dari usia 0-21 tahun?

1. Usia 0-7 Tahun, Ajari Mereka dengan Kasih Sayang

Sebelum usia 8 tahun adalah masa emas bagi pertumbuhan anak kita. Maksimalkan usia 0-7 tahun dengan mengenalkan mereka pada pendidikan agama. Mulailah dari mengajari mereka hal-hal sederhana seperti membaca basmalah hingga shalat.

Usia 0-7 tahun tidak perlu dipaksakan. Biarkan berjalan alami dan menyenangkan. Kamu pasti paham, meskipun kita ingin anak-anak mengerti ilmu agama bahkan hingga menghapal Alquran, tetapi jangan sekali-kali rebut waktu bermain mereka. Ya, mereka tetap harus bermain seperti anak-anak lainnya. Itu sesuatu yang wajar dan pastinya dibutuhkan juga.

Kalau saya pribadi, mengajarkan Alquran bukan dipaksa belajar membaca huruf hijaiyah, melainkan lebih banyak memperdengarkan murattal Alquran dan diulang-ulang. Anak usia dini memang tajam sekali ingatannya. Mereka bahkan bisa menirukan kebiasaan kita tanpa perlu dilatih sebelumnya, cukup dengan melihat saja. Karena itu, penting bagi kita untuk berhati-hati dalam bersikap. Jangan sampai salah memberikan contoh pada mereka.

2. Usia 7-14 tahun, Ajak Mereka dan Beri Hukuman Ringan Jika Melanggar

Kalau mereka tidak mau shalat padahal mereka sudah paham bahwa shalat itu wajib, nggak masalah memberikan hukuman bagi mereka. Yang pasti hukuman itu bersifat ringan dan tidak menyiksa.

Tapi, jika sejak awal kita sudah membantu mereka melakukan semuanya dengan baik dan menyenangkan, Insya Allah ke depannya pun nggak akan susah buat mereka menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Iya, ‘kan?

Kalau kita terlalu keras pada anak-anak, sudah bisa dipastikan mereka melakukan apa yang disuruh hanya karena takut dan takut. Jika tidak ada orang tua, mereka dengan santai melanggarnya. So, jangan jadi musuh bagi anak-anak. Jadilah teman dan pendengar yang baik.

3. Usia 14-21 Tahun, Berdiskusi dan Jadilah Teman Mereka

Jika kita menemukan teman yang tepat, pasti mau curhat pun nggak akan sungkan, ya? Semua beban bisa dikeluarkan tanpa aling-aling. Nah, maka seperti itulah kita seharusnya memosisikan diri saat anak-anak berusia 14-21 tahun.

Syeh Salim menitikberatkan pendidikan agama dan mengajari mereka menghapal Alquran sejak dini. Kenapa kita harus mengajari mereka menghapalkan Alquran? Sebab banyak sekali keistimewaan yang didapat.

Suatu saat, Alquran itulah yang akan menuntun mereka menjadi anak yang shaleh dan taat. Alquran itu pula yang akan menyelamatkan dunia dan akhirat mereka. Alquran itu juga yang kelak bisa memberikan syafaat kepada penghapalnya dan orang-orang terdekatnya (seperti orang tua).

Syeh Salim sempat bercerita, ada orang tua yang telah meninggal. Kemudian Allah naikkan derajatnya. Orang tua tersebut kaget, amalan apa yang membuatnya seperti itu? Ternyata itu berkat anaknya yang shaleh dan penghapal Alquran. Derajat orang tuanya naik lagi dan lagi. Masya Allah.

Kalau dipikir, kita di dunia hanya sebentar. Kematian itu pasti adanya. Tidak bisa dipilih apalagi ditunda. Semua akan menemui kematian. Tapi, selama hidup, kita diberikan banyak pilihan. Mau ngapain aja di dunia? Sekadar bersenang-senang atau berpeluh-peluh menjadikan anak-anak kita shaleh dan sekaligus menjadi penghapal Alquran? Pilihan itu ada di tangan kita.

Buat menghapalkan Alquran pastilah bukan hal yang mudah terlebih kalau di rumah saya, saya dan suami bukan seorang hafidz dan hafidzah. Saya pribadi memang tidak mendaftarkan si sulung untuk ngaji di TPQ. Selain jarak yang lumayan dengan kondisi saya yang tidak bisa mengendarai motor sendiri (memalukan..hehe), saya juga terbiasa seperti ibu saya dulu, mengajari anak-anak ngaji di rumah. Alhamdulillah, meskipun begitu, pendidikan Alquran di sekolah si sulung sangat maksimal. Itu adalah kelebihan tersendiri yang pada akhirnya membantunya menghapalkan Alquran pelan-pelan. Di usianya yang saat ini 8 tahun lebih, dia sudah hampir menyelesaikan hapalan juz 30. Masya Allah tabarakallah, baru satu juz aja sudah membuat orang tuanya bahagia banget, gimana yang usia segitu sudah hapal 30 juz?

Syeh Salim sempat bicara begini, kita tuh terbiasa memusingkan soal makanan anak-anak, “Udah makan belum mereka?”, “Hari ini mereka makan apa, ya?”, tetapi kita tidak pernah khawatir ketika mereka belum mengaji seharian? Miris banget dan nampar muka saya langsung.

Alquran itu penting. Alquran yang akan menuntun mereka. Jika sejak dini kita didik mereka dengan benar, mengajarkan Alquran hingga mereka dewasa, ketika mereka pergi dari rumah untuk menyelesaikan pendidikan, jangan khawatirkan mereka lagi, Insya Allah mereka akan berpegang teguh pada apa yang kita ajarkan dulu.

Jika ingin anak kita sukses, jangan sibuk menjadikannya dokter dulu, arsitek dulu, tapi bantu dia menghapalkan Alquran dulu. Barulah mereka akan dengan mudah mengejar profesi lain yang diinginkannya.

Semoga kelak kita menjadi orang tua yang mampu mencetak anak-anak generasi  Qurani, ya. Meskipun tidak akan mudah, setidaknya kita harus berusaha dan pantang menyerah.

Salam,

Trik Menghindari Makan Nasi, Dibikin Enjoy dan Menyenangkan Aja!

cara menghindari makan nasi
Sumber karbohidrat tidak harus berupa nasi, lho. Masih banyak jenis sayuran yang tak kalah mengenyangkan (Foto: pexels)


Sudah nggak fokus mau ngapain di rumah, perasaan sama pikiran sudah mudik duluan ke kampung halaman. Apakah kamu merasakan hal yang sama? Akhirnya kegiatan beberapa minggu ini hanyalah ngeblog. Sementara naskah buku dan yang lain disimpan dulu. Kembali serius Insya Allah nanti setelah lebaran.

Kali ini saya mau bahas tentang trik bagaimana cara bisa menghindari nasi. Sebenarnya nggak ada cara khusus selain kemauan yang kuat, tetapi dalam prosesnya saya melakukan banyak tahapan yang mungkin tidak orang ketahui. Meski saya pemula banget dalam hal ini, baik soal OCD, diet kenyang, dan JSR (Jurus Sehat Rasulullah), tetapi saya pengen banget berbagi pada teman-teman. Saya ingin manfaat yang saya dapatkan bisa teman-teman rasakan juga.

Kenapa Harus Menghindari Makan Nasi?

Jika kamu mengikuti OCD, makan apa pun itu diperbolehkan. Nggak ada larangan bahkan yang berlemak sekalipun. Bebas! Tapi, makan hanya pada jendela makan yang sudah kamu tentukan sendiri waktunya.

Sedangkan untuk diet kenyangnya Dewi Hughes, kamu benar-benar harus menghindari nasi. Nah, dari sini saya mempelajarinya. Dewi Hughes sama sekali tidak konsumsi nasi, baik nasi merah, hitam, atau apa pun jenisnya. Karena ketika kamu makan nasi merah misalnya, nantinya kamu bakalan tergoda untuk makan nasi-nasi yang lain. Nah, dikhawatirkan malah kamu sendiri yang melanggar pantangan dalam diet ini. Lagian, karbo itu nggak harus dari nasi, kok. Masih banyak jenis karbo lain yang tentunya lebih menyehatkan.

Kenapa harus meninggalkan nasi terutama nasi putih? Seperti kamu ketahui, nasi putih yang sekarang kita konsumsi sudah tidak lagi memiliki serat dan zat gizi lainnya. Ya, bahkan kandungan glukosanya tinggi banget. Itulah kenapa dokter menyarankan penderita diabetes menghindari nasi. Alasannya karena nasi putih yang cantik, wangi, dan putih di atas meja makan kita tidak baik bagi kesehatan.

Berbeda dengan nasi yang biasa dikonsumsi orang-orang zaman dulu, masih ada kulit arinya, seperti beras pecah kulit kalau nggak salah istilahnya. Karena alasan kesehatan, saya pun mencoba menghindari nasi terutama nasi putih. Jika saya ingin konsumsi nasi di suatu hari (yang entah kapan…hehe), saya lebih memilih makan nasi jagung murni, deh. Tapi, selama menghindari nasi beberapa hari terakhir, masih belum ingin makan nasi.

Jika kamu mempelajari JSR atau Jurus Sehat Rasulullah dari dr. Zaidul Akbar, kamu akan menemukan alasan yang sama seperti yang saya jelaskan sebelumnya, bahwa beliau menganjurkan kita menghindari konsumsi nasi karena alasan kesehatan. Terutama menghindari nasi putih. Sedangkan untuk beras merah dan beras yang masih kaya akan gizi, masih dibolehkan, kok.

Karena dalam JSR kita tidak disarankan kenyang (seperti kebiasaan Rasulullah yang seumur hidupnya tidak pernah kenyang), maka tanpa nasi pun rasanya tetap oke bagi saya. Iyap! Saya mencoba untuk makan makanan sederhana, nggak usah banyak jenisnya, dan penting untuk tidak berlebihan. Sekadar bisa membuat kita kuat berkativitas seharian.

Karena menahan lapar itu sebenarnya bukan hal yang buruk. Itulah kenapa OCD tetap efektif dilakukan meskipun kamu masih dapat makan nasi padang, sebab menahan lapar atau puasa mampu meningkatkan hormon HGH yang diketahui dapat membakar cadangan lemak dalam tubuh.

Tahapan Menghindari Makan Nasi

Mustahil dong saya yang suka makan nasi tiba-tiba berhenti sama sekali tanpa tahapan tertentu sebelumnya. Sejak awal ikut OCD, saya nggak pernah kaku sama diri sendiri. Saya nggak mau grasak grusuk ambil keputusan sehingga di kemudian hari dikhawatirkan malah balas dendam dan ujung-ujungnya malah berdampak lebih buruk. Nggak banget, ‘kan?

Karena itu, saya longgar aja dalam menjalankan OCD. Kadang masih kecolongan makan di luar jendela makan, kadang makan berlebihan. Tapi, kayaknya untuk kali ini komitmen buat lebih sehat dan nurunin BB jauh lebih besar ketimbang sebelumnya, sehingga saat saya menjalankannya dan sesekali melanggar, saya balik lagi ke awal. Alasan lainnya bukan hanya karena komitmen untuk hidup lebih sehat, tetapi juga karena sudah merasakan manfaatnya. Badan enteng dan lebih fit.

Baik OCD, diet kenyang, dan JSR, semua saya ketahui memang membuat kita lebih sehat. Setelah BB turun, masa iya, mau diet terus? Ya, nggak. Tapi, kalau mau sehat terus? Itu sudah pasti. Karena itulah, meski di awal rasanya agak berat, suka lapar tiba-tiba, tapi tetap dijalankan.

Lalu bagaimana tahapan menghindari makan nasi seperti yang saya lakukan sampai benar-benar berhenti? Pertama saya ikut OCD, artinya saya sudah belajar mengurangi makan dan ngemil. Saya hanya makan sekitar pukul 11 siang sampai jam 1 siang. Kadang pilih jam 12 sampai jam 3 siang. Nggak konsisten banget pokoknya…kwkw. Tapi, saya tetap pakai jendela makan.

Setelah beberapa hari menjalankan OCD, kondisi tubuh sudah menyesuaikan diri, sudah jarang merasa lapar. Dari situ saya coba kurangi nasi jadi 3 sdm aja sehari. Meskipun dalam OCD dibolehkan makan berat atau ngemil lebih dari sekali, tetapi saya, kok lebih suka makan berat dan ngemil sedikit dalam satu waktu saja, selebihnya hanya minum air putih. Kalau teman-teman ikut jendela makan 8 jam, teman-teman bisa aja makan berat dua kali. Dan itu nggak masalah. Justru memang harusnya bertahap dulu, dari 8 jam, 6 jam, 4 jam, dan puasa 24 jam atau hanya makan sekali saja.

Nah, setelah melalui proses itu, saya akhirnya memberanikan diri menghindari nasi. Ya, sama sekali nggak makan nasi. Dan itu nggak berat sebenarnya mengingat sebelumnya sudah makan nasi dalam porsi kecil. Dari tahap inilah akhirnya benar-benar nggak makan nasi selama dua mingguan terakhir.

Sebenarnya, yang menggoda banget itu bukan makan nasi buat saya, lho. Justru gorengan atau menu yang digorenglah yang sangat menggoda iman, Sodaraah…kwkwk. Beneran. Saya hobi banget masak. Bikin bakso, terus digoreng kering, bikin sambal. Setelah itu saya hanya bisa menyaksikan gitu? Mana tahan, ‘kan? Akhirnya ambil satu, kemudian dua, kemudian menyesal…haha. Saya yakin, teman-teman pun mampu menghindari makan nasi jika memang ingin. Selain melakukan tahapan tersebut, teman-teman juga harus senang mendengarkan video-video dr. Zaid atau Dewi Hughes. Sugesti itu penting biar kita tetap semangat, apalagi jika hanya saya yang menerapkan ini di rumah. Kebayang dong tiap hari saya makannya beda sama yang lain? Kwkwk. Dan isengnya si Mas, nyodorin Indomie goreng ijolah, es pisang ijolah. Dih, mana tergoda, Mas...kwkwk *sambil nelen ludah.

Sumber Karbohidrat Pengganti Nasi

Nah, setelah menghindari nasi, lalu makan apa coba yang bisa mengenyangkan? Kamu bisa mencari sayuran penuh serat dan tak kalah mengenyangkan. Bisa kentang, ubi, bahkan pisang rebus pun oke.

JSR atau Jurus Sehat Rasulullah sebenarnya berbeda dari OCD dan diet kenyang. Sebab JSR bukan diet, melainkan mengubah pola makan kita menjadi seperti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Selama menjalani JSR, kita boleh makan apa aja asalkan real food, alami, yang tumbuh di tanah dan disinari matahari langsung. Dari JSR, justru saya nggak mau ribet soal makan. Nggak harus begini dan begitu. Yang penting hindari 5 jenis makanan yang sebelumnya pernah saya sebutkan, yakni nasi, gula, gluten pada tepung-tepungan, makanan yang diolah pakai minyak, dan produk dari susu. Jadi, masih bisa makan garam juga. Karena itu saya sempat beli garam Himalaya untuk dikonsumsi sehari-hari.

Saat berbuka makan apa aja, nih? Kadang saya rebus kentang, ubi, edamame, pisang, sayur itu wajib banget. Kalau tidak minum jus sayur dan buah, saya pilih makan buah potong. Menu lain yang bisa teman-teman coba adalah trancam. Dibuat dari parutan kelapa, mentimun, tempe kukus, cabai, bawang merah dan kencur bakar. Simpel, tapi ini favorit saya banget, lho.

Kalau saya pribadi, prinsipnya konsumsi apa yang ada di rumah. Nggak usah ribet-ribet nyari ini dan itu. Jika ada rempah-rempah seperti kunyit dan jahe, gunakan saja untuk infused water. Enak, kok dan pastinya bermanfaat juga bagi tubuh. Jika ada sayur dan buah, kamu bisa gunakan juga untuk direndam dan diminum airnya atau dibuat jus. Apa pun itu, nikmati dan seperti kata Dewi Hughes, ajak ngobrol makananmu, lebih tepatnya berdoa dulu, semoga makanan itu menyehatkan badanmu dan selalu bersyukur. Sebab itu adalah nikmat.

Jika pola makan kita sudah bagus, berat badan bakalan turun dengan sendirinya meskipun kita nggak sering olahraga. Bahkan menurut dr. Zaid, olahraga itu hanya berpengaruh sebanyak 20% saja, lho. Sisanya makanan yang kita konsumsi.

Rasulullah saw sudah mencontohkan seperti apa seharusnya kita menyikapi makanan. Tidak mengeluh, tidak mencela atau memuji berlebihan, makan secukupnya, menu sederhana, berpuasa, tidak pernah kenyang apalagi kekenyangan. Dengan cara seperti itu, Insya Allah kita akan jadi muslim yang sehat, bukan sekadar gemuk, tetapi gampang ngantuk *duh, gueh banget…kwkwk.

Setiap kita melanggar sunah Rasulullah saw, akan timbul masalah baru. Begitu juga ketika kita taat pada apa yang diperintahkan dan dicontohkan, sehat adalah efek, bukan tujuan. Jadikan ketaatan itu sebagai tujuan kita. Insya Allah kita akan tumbuh menjadi muslim yang sehat, kuat, dan maksimal dalam beribadah. Aamiin.

Salam,

Kebiasaan-kebiasaan yang Bisa Membantu Menurunkan Kolestrol

cara menurunkan kolesterol
Ketahui beberapa kebiasaan yang dapat menurunkan kolesterol

Kita semua tentu sepakat bahwa tubuh yang sehat menjadi hal yang sangat berharga. Sebab, saat tubuh kita sehat, kita bisa menjalani berbagai aktivitas secara lebih mudah. Tapi, sayangnya tidak selamanya kita bisa berada dalam kondisi kesehatan terbaik. Karena, seringkali penyakit hadir begitu saja dan menyerang sistem kerja dalam tubuh manusia.

Salah satu penyakit yang perlu diwaspadai adalah kolestrol. Kolestrol biasanya hadir karena kebiasaan yang kita lakukan sehari-hari. Kolestrol dalam tubuh perlu diwaspadai agar tidak mengganggu sistem kerja tubuh lainnya. Lalu, bagaimana cara mencegah kolestrol? Berikut ini beberapa cara menurunkan kolestrol yang bisa Anda lakukan setiap harinya.

Bebas stres


cara menurunkan kolesterol
Hindari stress (Foto: pexels)
Tingkat stress yang Anda rasakan tidak hanya mengganggu psikis atau mental saja, tapi juga dapat mengganggu kesehatan tubuh Anda. Sebab, ketika Anda mengalami stress yang berkepanjangan, maka secara tidak langsung kadar kolestrol dalam tubuh juga akan meningkat. Sehingga, bisa dikatakan kondisi mental memiliki pengaruh yang besar terhadap kesehatan tubuh Anda terutama dalam hal menjaga kandungan kolestrol dalam tubuh.

Agar kolestrol dalam tubuh Anda tetap terjaga, maka sebaiknya mulailah kurangi tingkat stress dalam rutinitas harian Anda. Alihkan hal-hal yang bisa membuat stress dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan seperti berolahraga, mendengarkan musik atau bermain. Dengan menghindari stress, tubuh akan menjadi lebih sehat dan kadar kolestrol dalam tubuh pun bisa terjaga. Sebelum lanjut, kunjungi laman berikut https://www.frisianflag.com/ terlebih dahulu, ya.

Memperhatikan pola makan


cara menurunkan kolesterol
Jaga pola makan (Foto: pexels)
Jika ingin mencegah kolestrol dalam tubuh, maka makanan jadi hal terpenting yang perlu Anda waspadai. Sebab, saat Anda mengonsumsi makanan yang berbahaya maka kadar kolestrol dalam tubuh dapat meningkat secara tajam. Sehingga, Anda sangat dianjurkan untuk memperhatikan betul pola makan sehari-hari agar kadar kolestrol dalam tubuh tetap terjaga.

Untuk menjaga kadar kolestrol dalam tubuh, maka sebaiknya hindari makanan yang memiliki lemak tinggi atau yang digoreng. Sebab, saat Anda menggoreng makanan maka secara tidak langsung minyak yang digunakan untuk menggoreng dapat memicu kolestrol dalam tubuh. Konsumsi makanan yang lebih sehat seperti sayuran atau makanan-makanan yang dikukus. Sehingga, kadar kolestrol dalam tubuh terjaga dan Anda pun dapat menjalani hidup secara lebih sehat.

Salam,

Bukan Sekadar Menyambangi Kampung Halaman, Ini Arti Mudik Bagi Seorang Perantau

mudik
Mudik bukan hanya sekadar rutinias tahunan bagi seorang perantau, ada alasan lebih yang membuat semua perantau begitu bersemangat untuk segera pulang ke kampung halaman (Foto: pexels)


Saya tinggal dan menetap di Jakarta sudah sejak 2009 silam. Baru menikah beberapa bulan, rutinitas baru sebagai perantau yakni mudik telah dilakukan. Mungkin kebanyakan orang-orang di sekitar saya bertanya-tanya (pastinya orang yang hanya mengenal sepintas lalu), Muyass ngapain di Jakarta? Anak kampung ngapain di Ibu Kota?

Lucu, sih, ada orang yang sampai bertanya langsung pada saya bahkan termasuk urusan pribadi yang mestinya hanya ditanyakan oleh orang terdekat. Saya di Jakarta karena ikut suami. Suami saya sudah sejak lulus kuliah diterima bekerja di sebuah perusahaan asing di Jakarta. Dia sudah lebih dulu merantau.

Meski ada yang menyebut kami pacaran sebelum menikah (karena kami lulus dari SMA yang sama), nyatanya jarak usia kami terpaut sangat jauh. Dan sebelum menikah, kami hanya bertemu sekali kemudian resmi di-khitbah dan akhirnya menikah. Masya Allah, memang sesimpel itu pertemuan kami berdua. Netizen bolehlah membuat cerita berbeda sesuai keinginan mereka…haha.

Walaupun tinggal di Ibu Kota, bukan berarti kami merasa jadi orang hebat. Apa bedanya hidup di kampung halaman dengan di Ibu Kota? Kok, bagi saya yang awam sama aja, ya. Makan masih nasi, sayuran masih jenis bayam dan kangkung juga yang dikonsumsi, lalu apa yang membedakan? Pandangan orang-orang saja yang berbeda terhadap seorang perantau.

Kok, bahas sesuatu yang serius seperti ini, sih? Haha. Kadang seorang blogger butuh curhat terselubung, Sodarah…kwkwk. Kembali lagi ke topik tentang mudik. Apa, sih, arti mudik bagi kamu yang merupakan perantau, baik di luar kota ataupun luar negeri?

Kamu yang merantau pasti tahu, mudik bukan hal mudah. Tidak hanya sekadar memesan tiket pesawat, kemudian terbang ke kampung halaman. Tidak sesimpel itu. Buat mudik, kita harus jauh-jauh hari memesan tiket, perjuangan banget membeli tiket mendekati lebaran, selain harganya yang Subhanallah, kadang kita nggak dapat juga waktu yang tepat.

Bahkan tahun ini rasanya menjadi sejarah tersendiri. Yess! Tiket pesawat murah bingits, Sodarah…haha. Sampai-sampai tagar #tiketpesawattidakmahal trending di twitter beberapa minggu lalu. Saking nggak wajarnya itu harga tiket. Dan tahun ini, saya pun memilih naik kereta untuk mudik.

It’s oke! Semua harus dinikmati. Bawaan harus dibikin simpel dan sedikit ketimbang saat naik pesawat. Sekarang anggap saja lagi backpakeran gitu, ya…haha. Sebenarnya agak deg-degan juga mudik tahun ini. Baru kali ini bawa dua anak naik kereta. Semoga mereka betah selama dalam perjalanan.

Soal mudik naik apa, mungkin bukan sesuatu yang terlalu penting untuk dipikirkan. Masalahnya, mudik tahun ini tidak selama seperti tahun sebelumnya. Bukan saya kecewa karena nggak bisa makan Cwi Mie Malang lebih lama, tetapi karena orang tua, terutama Ibu yang sedikit kecewa, Wah, tahun ini bentar banget pulangnya, ya? Kira-kira seperti itu komentarnya. Belum lagi dalam 10 harian itu saya harus keliling ke sana kemari.

Sepuluh hari disebut sebentar? Haha. Iya, biasanya saya mudik sampai 17 harian…kwkwk. Lama banget. Kamu pasti tahu sendiri, yang bikin kita pengen cepat mudik pastinya karena ingin bertemu orang tua, yang lain mungkin bisa dinomorduakan.

Lalu, apa arti mudik buat saya?

Mudik Demi Melepas Rindu pada Orang Tua

Gimana rasanya berpisah dengan orang tua? Apalagi jika sejak awal, kitalah yang paling diharapkan untuk tinggal bersama mereka? Rasanya hancur hati ini. Bukan lebay, tetapi sejak awal saya dan orang tua nggak membayangkan jika pada akhirnya saya harus menikah dengan orang Malang, tetapi malah harus pindah ke Jakarta.

Awalnya orang tua nggak rela, tetapi pastinya demi kebahagiaan kami, beliau merelakan juga. Saya sangat yakin, apa yang saya dapatkan sekarang, kebahagiaan, pencapaian target, berhasil meraih impian, merupakan doa yang sering dilangitkan oleh orang tua, bukan semata-mata hanya karena usaha saya.

Saat mau lebaran, orang tua paling hapal, kapan kita akan pulang. Sampai segitunya. Semua dipersiapkan, padahal kita aja yang mau mudik malah santai-santai, ‘kan? Rasanya tak ada alasan lain selain ingin bertemu orang tua saat mudik.

Waktu Paling Tepat untuk Menyambangi Kampung Halaman

Sebab saat lebaran, anak-anak dan suami liburnya samaan. Berbeda ketika libur kenaikan kelas atau selepas ujian semester, liburnya sering nggak bareng. Sedangkan saya sendiri tidak mungkin pulang ke kampung halaman tanpa suami. Alhasil, mudik hanya dilakukan saat lebaran, ketika mereka yang sekolah dan bekerja sama-sama libur.

Liburan!

Haha. Semangat banget ketika mengetik subjudul satu ini. Iya, benar, mudik juga jadi liburan yang hanya terjadi saat lebaran saja. Pulang kampung biasanya nggak hanya sekadar di rumah, kalau bisa ngajak orang-orang terdekat jalan-jalan dan makan-makan. Jangan sampai momen kebersamaan itu disia-siakan.

Saya pribadi lebih senang tinggal di rumah, karena dengan begitu, saya bisa berlama-lama menemani Ibu. Jika pun ingin pergi, yang dekat-dekat saja sekalian mengajak orang tua jalan. Karena termasuk pribadi yang introvert banget, saya memang nggak suka banyak jalan dan bertemu orang-orang baru. Mau di rumah saja atau jalan ke luar, yang namanya mudik tetaplah menjadi liburan tersendiri.

Mudik menjadi budaya bagi kita yang merantau. Selalu spesial pakai dua telur setiap kali mendekati lebaran. Jika tidak mudik, lebaran rasanya sepi. Di Jakarta, paling hanya ramai saat hari lebaran pertama saja. Selebihnya karena tidak memiliki kerabat dekat, lebaran rasanya hambar parah…haha.

Lalu, bagaimana dengan kamu? Adakah alasan istimewa yang menyebabkan kamu ingin segera mudik tahun ini?

Salam,

Ternyata Seperti Ini Penampakan Garam Himalaya, Si Pinky yang Punya Banyak Manfaat Bagi Tubuh Kita

garam himalaya
Garam Himalaya berbeda dari garam biasa yang sering kamu konsumsi (Foto: rebeccasnaturalfood)


Pernah dengar nggak, sih? Ternyata ada garam selain garam dapur dan warnanya pink cantik gitu? Bahkan seseorang menyebutnya mirip sekali dengan garam yang biasa kita dapatkan saat membeli rujak. Yess! Karena warnanya pink agak jingga mirip dengan garam yang biasa dicampur dengan cabai rawit…hehe.

Tapi, soal rasa, garam ini nggak pedas, kok. Ini memang garam dan asli garam. Bagi saya yang awam, garam ini termasuk baru. Saya pun tahu saat belajar tentang JSR (Jurus Sehat Rasulullah) dari dr. Zaidul Akbar. Menyisir postingan beliau di Instagram dan mendengar beberapa kajian beliau di Youtube. Tergelitik juga karena dr. Zaid tidak menganjurkan kita menghindari garam juga. Masih bolehlah, tetapi disarankan garamnya yang benar-benar alami, asli, bukan yang sudah kebanyakan diproses sehingga justru bukan menyehatkan, malah membahayakan tubuh. Salah satunya yang dianjurkan adalah mengonsumsi garam Himalaya ini.

Sebelum mendengar dari dr. Zaid, sebenarnya saya pernah juga mendapatkan video seorang remaja sedang jalan-jalan di pasar tradisional dan menceritakan manfaat buah dan sayuran segar bagi kesehatan. Dia sempat menyebutkan garam pink atau garam Himalaya ini. Katanya bagus dicampur dengan jus sehingga jusnya bisa lebih awet meskipun tidak langsung dikonsumsi. Dan yang pasti garam ini memang sehat.

garam himalaya
Seperti ini garam Himalaya yang saya punya (Foto: Dokumen pribadi)

Lalu, sebenarnya seperti apa garam Himalaya ini? Baik bentuk dan manfaatnya bagi kesehatan kita? Meskipun kemarin sudah membelinya, tetapi saya memutuskan tidak mengonsumsinya juga kecuali terpaksa banget…hehe. Terus garamnya buat apa? Buat koleksi…kwkwk. Nggak juga dong. Bisa dikonsumsi dalam jumlah kecil, bisa juga dikonsumsi oleh keluarga.

Dari Mana Asal Garam Himalaya?

Garam Himalaya memang tidak mudah didapatkan seperti garam meja atau jenis garam lain yang biasa kita gunakan untuk memasak. Garam Himalaya didapat bukan dari laut, tetapi berasal dari tambang garam terbesar kedua di dunia bernama Khewra Salt Mine yang lokasinya berada di kaki pegunungan Himalaya, Pakistan. Nah, itulah sebabnya kenapa garam ini nggak sembarang bisa kamu dapatkan, tidak semudah saat kamu membeli garam biasa.

Garam Himalaya sendiri merupakan garam paling murni, selain itu, garam Himalaya sudah terkubur selama ribuan tahun tepat di bawah lapisan es, lava, dan salju seperti dilansir hellosehat.com. Jadi, jangan heran jika garam Himalaya warnanya pink. Warna pink ini merupakan kandungan zat besi yang ada di dalamnya. Masya Allah.

Setelah kamu tahu asal usul garam Himalaya, mari kita bahas apa saja manfaatnya bagi kesehatan? Kenapa banyak orang yang sedang diet atau menjalankan pola hidup sehat memilih garam jenis ini untuk dikonsumsi? Bahkan sebagian mencampurnya dengan jus?

Manfaat Garam Himalaya Bagi Kesehatan Tubuh Kita

1. Garam Himalaya Memiliki Kandungan Mineral yang Tinggi

Selain mengandung zat besi, garam ini juga mengandung mineral yang cukup tinggi bahkan sampai 80 mineral yang berbeda. Misalnya mineral magnesium, kalium, kalsium, fosfor, klorida, yodium, hingga seng.

2. Menjaga Keseimbangan Cairan dan Hidrasi

Garam elektrolit yang ada di dalam tubuh kita berguna menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh. Selain itu, garam elektrolit juga mampu menjaga keseimbangan hidrasi. Jika hidrasi dan cairan dalam tubuh terjaga, sinyal saraf kita pun mampu berkomunikasi dengan baik.

3. Garam Himalaya Mengandung Antimikroba

Inilah salah satu alasan kenapa seorang remaja di dalam video yang saya lihat zaman dulu, entah setahun atau dua tahun lalu mengatakan bahwa mencampurkan sedikit garam pink ini ke dalam jus bisa membuat jus lebih awet sehingga tidak harus langsung dihabiskan saat itu juga. Alasannya karena garam Himalaya ini mengandung antimikroba yang mampu mengawetkan makanan.

Sama seperti garam lain yang juga kamu tahu bisa mengawetkan ikan sehingga bisa kita konsumsi menjadi ikan asin yang rasanya Masya Allah bikin nagih. Garam Himalaya pun berfungsi sama yakni mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan melawan infeksi.

4. Garam Himalaya Mampu Menyeimbangkan pH Tubuh Kita

Kandungan natrium yang ada di dalam garam Himalaya ini mampu menyeimbangkan pH di dalam tubuh kita. Natrium sendiri diketahui mampu menetralkan asam dalam tubuh manusia. Jika pH tubuh tidak seimbang, imunitas kita bisa menurun dan menyebabkan tubuh rentan terkena penyakit.

5. Membantu Tubuh Menyerap Nutrisi dengan Lebih Maksimal

Mengonsumsi garam Himalaya mampu membantu tubuh menyerap nutrisi makanan dengan lebih maksimal. Manfaat lain yang bisa didapatkan adalah proses detoksifikasi yang bisa membantu tubuh mengeluarkan racun, garam ini juga mampu menjaga kesehatan anggota tubuhmu seperti pembuluh darah, tulang, ginjal, bahkan empedu.

Ternyata banyak sekali manfaat garam himalaya ini. Bahkan kamu yang memiliki riwayat hipertensi bisa juga mengonsumsi garam ini mengingat kandungan natrium di dalamnya jauh lebih rendah ketimbang garam biasa.

Garam Himalaya ini bisa kamu dapatkan di toko online kesayangan kamu. Banyak yang menjualnya di sana. Kemarin saya dapat kemasan 500 gram dengan harga sekitar Rp. 45 ribuan. Ada yang lebih murah dan ada juga yang lebih mahal. Pastinya ukuran 500 gram ini awet banget, ya?

Semoga ulasan kali ini bermanfaat bagi teman-teman yang ingin belajar hidup lebih sehat. Jangan mendzalimi tubuh kita dengan mengonsumsi makanan tidak sehat atau ‘sampah’ seperti istilah yang diberikan oleh dr. Zaid. Saya masih belajar, tetapi sungguh manfaatnya sudah sangat terasa. Semoga teman-teman juga bisa mengikuti.

Salam,

Tentang OCD, Diet Kenyang, Hingga JSR dr. Zaidul Akbar

JSR dr.zaidul Akbar
Hidup sehat dimulai dari diri kita, bukan orang lain (Foto: pexels)

Alhamdulillah, akhirnya sempat update di blog lagi. Sudah beberapa hari belum bikin postingan baru karena sibuk mendengarkan video dr. Zaidul Akbar. Tiap mau nulis, malah keterusan mendengarkan ceramah, sedangkan saya pribadi orangnya memang bukan tipe audio yang bisa mendengarkan sambil menulis. Kalau sudah menulis, yang didengar pasti nggak bisa fokus, jika sudah mendengar, pasti yang ditulis buyar semua…haha. Alhasil dari kemarin belum sempat menceritakan soal perubahan pola hidup sehat yang baru saya jalani.

Saya mau cerita dari awal, bagaimana saya bisa sampai sekarang, nggak makan nasi sudah hampir dua mingguan, mengonsumsi makanan yang lebih sehat, bukan sekadar ‘sampah’ dalam artian enak di lidah, tetapi tidak menyehatkan. Ya, ya, saya tahu, saya memang masih pemula dalam hal ini. Tapi, sepertinya tidak ada salahnya berbagi sesuatu yang bermanfaat, barangkali setelah membaca postingan ini, kamu jadi bersemangat untuk hidup lebih sehat.

Memulai dengan OCD


JSR dr. Zaidul Akbar
OCD membolehkan kita makan apa pun asalkan patuhi jendela makan yang telah dibuat (Foto: pexels)

Awalnya saya menjalani OCD Deddy Corbuzier pada April lalu. Kenapa memilih OCD? Karena berat badan terus naik meski makannya tetap. Maksudnya tetap banyak…haha. Jadi merasa bersalah sama diri sendiri. Pengen banget berat badan turun, tapi jujur nggak mau berat badan ideal karena pernah berat badan sampai 42 kg, dan tampak sangat tirus alias kurang bahagia…kwkwk. Jangan sampai segitu beratnya. Minimal 43 kg saja sudah cukup.

Selama menjalani OCD, nggak ada rasa berat, kok. Karena kita nggak perlu menahan makan apa pun yang kita suka. Kita cukup menunggu waktunya saja. Saya agak sembarangan memilih jendela makan. Harusnya runut dari jendela makan 8 jam, 6 jam, 4 jam, dan makan hanya sekali dalam sehari (tidak setiap hari). Tapi, kebanyakan saya malah makan berat sekali, abis itu udahan nggak makan lagi. Hanya minum air putih.

Pelan-pelan keinginan ngemil itu mudah sekali dikontrol. Setelah konsisten menjalani OCD, rasa lapar pun mudah sekali dikendalikan. Nggak gampang lapar. Kembali lagi, sinyal lapar belum tentu menunjukkan bahwa kita butuh makan, tetapi bisa karena dehidrasi. Saat OCD, saya berusaha tidak sarapan. Jadi, makannya setelah siang. Minimal jam 10an pagi hingga jam 1 siang.

Percayalah, diet terenak itu ya, OCD ini, Sodaraah. Nggak lemes, bugar, badan enteng, sehat, pokoknya bikin ketagihan. Meski sempat ‘nakal’ dan makan di luar jendela makan beberapa kali, tapi saya memutuskan kembali lagi ke awal. Nggak betah kembali pada pola makan seperti dulu-dulu. Di situ saya merasa bahagia karena dapat mengontrol keinginan makan, tubuh pun mulai menyesuaikan. Ketika kita makan lebih dari sebelumnya, perut sudah sakit dan nggak nyaman duluan.

Dari OCD selama sebulan, berat badan saya turun sekitar 4 kg. Masya Allah. Bukan perubahan drastis, sih, tapi sampai detik ini berat badan masih segitu, bahkan sudah turun 1 kg lagi.

Setelah nyaman menjalani OCD, saya pun ketagihan mencari pengetahuan baru tentang pola makan yang lebih sehat. Hingga akhirnya ketemu juga dengan diet kenyangnya Dewi Hughes. Sempat kaget, wah, Dewi Hughes bisa sekurus itu kira-kira makan apa, ya? Haha. Perubahannya sangat jauh, Masya Allah.

Menghindari Nasi Putih Sejak Tahu Diet Kenyang 


JSR dr. zaidul akbar
Menghindari nasi dan memilih kembali ke real food (Foto: pexels)

Saat mengenal diet kenyang, target menurunkan berat badan tinggal 2 kg lagi. Nggak jauh-jauh banget dari berat badan ideal. Jadi, sebenarnya alasan utama mengikuti diet kenyang sampai nggak makan nasi bukan semata-mata karena ingin kurus, sebab ikutan OCD dan makan nasi saja kayaknya masih bisa dikejar. Tapi, alasan ingin lebih sehat tiba-tiba menjadi impian yang tak terbantahkan lagi beberapa minggu ini.

Akhirnya, hampir setiap hari saya mendengarkan dan melihat video Dewi Hughes. Saya pun memahami, kenapa dia sama sekali tidak makan nasi, bahkan meski itu nasi merah dan teman-temannya. Jadi, sejak saat itu, saya nggak pernah punya keinginan mengganti nasi putih jadi nasi merah, tapi benar-benar menghindari nasi, apa pun jenisnya.

Dan qadarallah, saya berhasil melakukannya hingga detik ini. Nggak menghitung pasti sudah berjalan berapa lama, yang jelas hampir dua mingguan saya tidak menyentuh nasi dan sama sekali tidak ingin mencoba. Alternatif lain kalau benar-benar ingin? Mending makan nasi jagung saja. Itu pun kalau ingin. Tapi, sampai sekarang sepertinya belum pengen…hehe.

Dari Diet Kenyang, Akhirnya Mengenal JSR dr. Zaidul Akbar


JSR dr zaidul akbar
Berat badan akan normal jika kita mengonsumsi real food (Foto: pexels)

Masya Allah, saya sangat percaya bahwa di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Apa pun itu. Akibat sering mencari video Dewi Huhges, saya jadi tertarik melihat salah satu video lain yang ternyata merupakan kajian dari dr. Zaidul Akbar. Sekali melihat, seterusnya saya semakin tertarik mencari video lain dan mulai praktik.

Kenapa harus JSR dr. Zaidul Akbar? Karena sejak awal mengikuti video Dewi Hughes, saya mulai peduli dengan kesehatan. Setelah mendengar pemaparan dr. Zaid, saya jadi lebih penasaran dan tertarik. Tidak hanya saya, suami dan anak-anak pun ikutan heboh dan ingin hidup sehat.

Prinsip dari JSR menurut saya adalah kembali ke real food dan makanlah secukupnya alias tidak kenyang seperti yang selalu Rasulullah saw lakukan. Nabi sering puasa, makan pun nggak macam-macam. Jadi, ikutin sunah Nabi tersebut, kesehatan hanyalah efek dari sebuah ketaatan, Masya Allah.

Sungguh saya jatuh hati sekali dengan JSR ini. Sebab sebelum tahu JSR pun saya sudah menghindari nasi. Setelah mengikuti JSR dr. Zaid, saya jadi lebih yakin untuk meninggalkan nasi. Dalam JSR, dr. Zaid menganjurkan kita meninggalkan 5 jenis makanan yang umum dikonsumsi saat ini. Apa saja?

  1. Nasi putih
  2. Tepung (mengandung gluten)
  3. Gula
  4. Makanan yang diolah dengan minyak
  5. Susu dan produk turunannya


Dari kelima jenis makanan tersebut, nasi putih dan gula sudah saya hindari. Biasanya bulan puasa identik dengan sirup dan es buah, tahun ini di rumah sedikit berbeda karena lebih akrab dengan infuse water berisi rempah dan buah-buahan. Sirup beberapa botol yang saya beli sebelum bulan puasa, nyaris tidak disentuh. Herannya, anak-anak saya juga senang dengan pola hidup seperti ini. Mereka senang minum jus sayuran tanpa gula (diganti madu), mereka juga gemar makan sayur. Sempat nggak nyangka semua jadi mendukung perubahan ini. Alhamdulillah, saya senang sekali semua bisa mengikuti sehingga pelan-pelan kita bisa mengubah ‘sampah’ dalam tubuh menjadi ‘makanan’ yang sebenarnya.

Tubuh Manusia Mampu Menyembuhkan Dirinya Sendiri


Konsumsi makanan sehat dapat membuat tubuh berfungsi sebagaimana mestinya (Foto: pexels)

Masya Allah, Allah sudah menciptakan tubuh manusia dengan sangat sempurna. Jika ada kesalahan, sebenarnya tubuh kita bisa menyembuhkan dirinya sendiri dengan catatan semua dalam keadaan normal. Sedangkan yang terjadi sekarang, akibat makanan tidak alami atau lebih tepat disebut ‘sampah’ sudah merusak semuanya. Dari kebiasaan makan yang kurang baik, kita seperti menabung penyakit di hari tua. Memang, makan mie instan tentu tidak akan menyebabkan kematian, tapi, dari kebiasaan buruk itulah, akan muncul penyakit di kemudian hari yang pastinya tidak diinginkan oleh semua orang.

Saya termasuk orang yang sejak remaja selalu mengeluh sakit sebelum dan saat menstruasi. Zaman masih remaja bahkan sampai nggak bisa bergerak. Saking sakitnya. Beberapa hari yang lalu saya sempat kaget karena nggak sadar ternyata saya datang bulan. Biasanya malam sebelum menstruasi, kondisi saya lemas, kaki keram, badan sakit semua. Nggak jauh beda seperti orang mau melahirkan…haha. Ya Allah, itu menyiksa banget.

Tapi, kemarin, malamnya saya merasa baik-baik saja. Hingga paginya bahkan setelah datang bulan, saya merasa tidak seburuk biasanya. Badan memang masih agak pegal saat datang bulan, tapi nggak separah sebelumnya. Rasanya ini perubahan yang sangat besar mengingat jika kondisi mentsruasi kita menyiksa (sakit) menunjukkan tanda bahwa tubuh kita dalam kondisi kurang baik.

Apa Saja yang Bisa Dikonsumsi Selama Berpuasa?


JSR dr zaidul akbar
Minum air hangat plus perasan jeruk lemon saat berbuka (Foto: pexels)

Saat puasa dan tidak, sebenarnya tidak berbeda jauh. Mungkin bedanya, ketika ikut JSR, kita mau sahur apa, nih?

Saya pribadi sahur dengan rendaman kurma. Pilih saja hitungan ganjil, antara 1 atau 3 butir kurma yang direndam. Saya lebih suka setelahnya diberi air hangat. Cukup itu saja ketika sahur. Dan Alhamdulillah, sampai siang dan kegiatan seberat apa pun, saya merasa bertenaga dan fit.

Ketika berbuka, yang pasti saya tidak minum teh manis dan makan nasi, ya. Saya minum air hangat dan perasan jeruk nipis atau lemon. Biasanya habis dua gelas. Pelan-pelan saja minumnya, ya. Setelah itu bisa makan kurma. Atau bisa juga minum rendaman rempah dan buah seperti yang diajarkan dr. Zaid. Banyak yang bisa dicoba untuk berbuka.

Untuk orang-orang di rumah, takjil masih pakai teh manis, terutama suami. Setelah itu, mereka makan kurma atau buah potong. Sesimpel itu sekarang. Sampai-sampai sirup di dapur yang jumlahnya tidak hanya satu nggak lagi disentuh…hihi.

Untuk menu, saya coba hindari lauk yang digoreng. Misalnya digoreng pun, ya jangan sering-sering. Kalau saya pribadi makannya mudah banget karena memang dasarnya pemakan segala…haha. Wajib ada sayuran rebus atau lalapan, sambal, karbo bisa pakai ubi, kentang, atau pisang kukus. Protein bisa dari kacang-kacangan, seperti tempe atau ikan dipepes (biar nggak digoreng). Banyak dan mudah saja buat saya. Catatan pentingnya, jangan sampai kekenyangan makannya dan kunyah dengan pelan.

Dalam JSR intinya ikuti apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Jika shalatnya benar, Insya Allah tanpa olahraga pun kondisi tubuh kita akan baik, jika makannya benar, nggak berlebihan seperti diajarkan Rasul, Insya Allah kondisi tubuh juga bakalan fit, kok. Jadi, benar dan setuju sekali, jika sehat itu adalah efek dari ketaatan kita, Jika satu saja dilanggar, maka akan ada satu hal lain yang eror atau rusak.

Tidak Hanya Sehat Badan, Hati pun Harus Dibersihkan


jsr dr zaidul akbar
Bersihkan hati juga jika ingin hidup sehat (Foto: pexels)

Nah, lho. Berat, Jenderal! Haha. Kalau hati masih kotor, masih suka iri dengki sama orang, meski sudah makan makanan sehat sekalipun, tubuh akan tetap sakit. Percuma gitu, Sodarah.

Jadi, kita memang harus benar-benar menjadi orang yang bersih lahir dan batin. Jangan menyimpan dendam dan sakit hati seperti saya yang susah sembuhnya ini…kwkwk. Toh kita pun sadar diri, di dunia tidak selamanya. Ngurusin orang iseng kayaknya nggak ada kelarnya, ‘kan? Ngurusin orang iri dengki sama kita nggak akan ada habisnya. Jadi, yuk coba lepas satu-satu apa yang menyebabkan hati kita seburuk ini.

Dan memang benar, kalau kita benar-benar taat pada Allah, hati tentu tak dibiarkan lama-lama kotor, ‘kan? Jika kita benar-benar beriman, tentu kita akan mengikuti sunah Rasululllah saw. Sesimpel itu, tetapi kadang kitanya yang bikin ribet.

Masya Allah, sungguh saya bersyukur karena sudah diperkenalkan dengan JSR dr. Zaid ini. Seperti sangat mencerahkan. Jika teman-teman penasaran, video kajian beliau banyak di Youtube, kok. Tinggal cari saja. Dan kabar baiknya, banyak teman-teman blogger yang tertarik juga mencoba...hehe.

Semoga kita tetap bersemangat untuk hidup lebih sehat dan jangan sampai salah niat. Ingat, kita wajib taat dan efeknya sehat, bukan taat hanya karena ingin sehat.

Salam,

Custom Post Signature

Custom Post  Signature