Review Buku What’s So Wrong About Your Self Healing

Sunday, March 20, 2022

Review Buku What’s So Wrong About Your Self Healing
Foto: Dok pribadi


Jarang-jarang nge-review buku bacaan sendiri di blog kecuali yang benar-benar saya suka. Iya, yang saya suka pake banget. Dan kali ini, saya mau me-review salah satu buku paling menarik rasanya seumur hidup saya…kwkwk. Yeay, ini adalah salah satu buku dari Ardhi Mohamad. Sepertinya ini bukan buku pertama yang ia tulis, tapi ini buku dia yang pertama saya beli dan baca sampai tuntas.


Buku-buku bertema self healing akhir-akhir ini menjamur banget, kan? Beberapa kali saya membeli buku-buku bertema sejenis, tapi sepertinya ini yang terbaik. Waktu baca sampai panas mata karena related banget dengan kehidupan saya selama ini.


Buku berjudul What’s So Wrong About Your Self Healing ini menarik banget dan sejujurnya ada part yang nggak bisa saya tebak. Saya kira buku ini membahas yang begitu-begitu saja, tapi nyatanya makin ke bab-bab akhir, makin serius dan berhubungan soal kita dalam beragama.


Saya mau membahas beberapa bab yang saya rasa related banget dengan kehidupan saya, sampai-sampai bikin mata panas dan beneran nangis!


Kekecewaan Kita pada Orang Tua

Review Buku What’s So Wrong About Your Self Healing
Photo by Liv Bruce on Unsplash


Sebenarnya, semua masih baik-baik saja sampai akhirnya saya menjadi seorang ibu. Memiliki anak ternyata bukan sesuatu yang mudah terutama bagi orang yang punya trauma di masa kecil. Ada banyak hal tiba-tiba muncul di luar kendali yang sebelumnya nggak pernah terjadi. Ada perasaan gagal jadi orang tua, benci sama diri sendiri, sampai menyalahkan masa lalu. Ingatan masa kecil yang kurang menyenangkan berkelebat satu demi satu. Yang dulunya itu bukan masalah, tiba-tiba jadi musibah.


Dan itu berjalan begitu lama sampai mungkin saya pernah merasa kecewa berat pada orang tua karena saya yang sekarang tak lepas dari masa lalu terutama di masa kecil.


Apa yang saya lihat dari orang tua dulu, tiba-tiba saya lakukan tanpa disadari. Dan itu buruk.


Namun, makin menyalahkan orang tua dan menjadikannya kambing hitam ternyata nggak menyelesaikan masalah. Saya pernah ada di titik merasa diri ini nggak normal, lho. Kayak nggak wajar aja. Sakit banget rasanya.


Pelan-pelan saya sadar bahwa masa kecil yang kurang menyenangkan tak seharusnya dibenci dan disesali. Takdir Allah bukannya nggak pernah salah, kan? Saya memutuskan memaafkan semuanya. Iya, semuanya. Sesuatu yang mungkin orang tua lakukan tanpa sengaja karena mereka juga nggak ngerti. Sesuatu yang membuat saya terluka, tapi mereka nggak sadar bahwa itu cukup menyakitkan buat saya. Sebab menjadi orang tua bukanlah hal mudah. Nggak ada sekolahnya. Apalagi orang tua zaman dulu, jangankan mikirin ilmu parenting, buat makan dan bayar SPP aja perjuangan banget, sih.


Pola asuh orang tua terhadap kita berpengaruh besar terhadap diri kita hari ini.

(What’s So Wrong About Your Self Healing, hal 14)

 

Orang tua adalah hubungan pertama kita. Ikatan emosional pertama yang seharusnya berhasil.

(What’s So Wrong About Your Self Healing, hal 15)


Namun, ada poin yang bisa saya simpulkan waktu itu. Bahwa, mungkin orang tua saya yang seperti itu juga korban dari orang tuanya dulu. Kemudian bayangan yang kurang menyenangkan berkelebat lagi. Bagaimana orang tua saya dibesarkan dengan cara yang 'kurang tepat' terutama buat kesehatan mentalnya. Yang pada akhirnya membuat mereka melakukan hal yang hampir sama pada anak-anaknya, termasuk saya. Dan semua itu membuat saya merasa kasihan kepada mereka. Gimana mereka bisa menjalani semuanya hingga hari ini, itu pasti perjuangan banget.


Buku ini pun menjelaskan hal yang hampir serupa. Itulah kenapa saya merasa apa yang dibahas benar-benar related banget dengan saya hari ini dan kemarin. 


Dikutip dari halaman 26, 

Orang tua kita juga kesulitan, tapi mereka sudah berusaha.


Terima kasih sudah membahas part ini. Bagian ini dalem banget sih buat saya meskipun saya sudah melewati semuanya dan benar-benar sudah berdamai dengan semua itu. Tetap saja masih nyesek kalau ingat. Apalagi ingat bagaimana orang tua harus bersusah payah antara mendidik dan memenuhi kebutuhan hidup kami yang waktu itu memang cukup sulit.


Nulis bagian ini aja sambil nangis banget. Ternyata menjadi orang tua itu nggak mudah. Dan saya tahu, orang tua saya sudah berusaha yang terbaik dengan masa kecilnya yang nggak indah.


Merasa Nggak Punya Teman

Review Buku What’s So Wrong About Your Self Healing
Photo by Andrew Moca on Unsplash


Entah kenapa, di usia-usia bahkan sampai sedewasa hari ini, kadang kita merasa ditinggalkan dan nggak diajak…kwkwk. Apalagi saya termasuk orang yang mereka sebut terlalu polos, terlalu baik, sampai-sampai sering banget dimanfaatin…huhu.


Tapi, Ibu saya saja bilang begitu…kwkwk. Dan saya benar-benar mengalami banyak hal menyakitkan soal pertemanan. Karena saya selalu berharap orang-orang juga sebaik saya saat berteman. Kemudian pada suatu hari saya dikecewakan sampai dibohongi. Ini terjadi saat saya mau melanjutkan ke SMA. Pertama kalinya patah hati soal teman baik yang sering kita sebut sahabat.


Saat itu juga saya memutuskan untuk pergi melanjutkan sekolah tanpa seorang teman yang saya kenal. Awalnya saya nggak pernah ngebayangin harus melanjutkan sekolah sendirian saking selalu bergantungnya saya sama orang lain. Saking merasa sepercaya itu saya sama teman. Saya terlalu takut sendirian. Nyatanya, saya punya teman-teman baru yang nggak kalah asyik dan menyenangkan, kok setelahnya.


Di part ini, penulis membahasa tentang loneliness. Menurut penulis, ini adalah fase pembelajaran. Bahwa sebagai manusia, nggak bisa selalu bersama. Akan ada waktunya renggang, menjauh, berpisah (hal. 92)


Bahkan sekarang saya nggak bisa lagi menaruh percaya terlalu besar terutama kepada teman. Pernah kejadian beberapa tahun lalu dan itu benar-benar bikin trauma sih di usia sedewasa hari ini. Bayangkan, udah jadi emak-emak, tapi pernah nangis kejer dan trauma berat sampai takut punya teman gara-gara  satu orang yang dulu disebut sister fillah…kwkwk.


Pada akhirnya saya memahami bahwa, nggak berteman bukan berarti benci banget, mungkin kita memang nggak cocok, sih. Lebih cocok nggak saling kenal aja *lol


Dan sekarang, ya sudah. It’s okay. Itu akan jadi pelajaran yang benar-benar berharga buat saya sampai hari ini :)


Jangan bergantung sama manusia, nanti kamu sakit :(


Catet, ya...kwkwk.


Kok, Sensitif Banget, sih? Ah, Lebay dan Baperan!

Review Buku What’s So Wrong About Your Self Healing
Photo by Kelly Sikkema on Unsplash


Semua relationship dalam hidup kita adalah hasil dari kita mencoba untuk mencari apa-apa yang hilang dari relationship kita dengan orang tua.

(What’s So Wrong About Your Self Healing, hal 131)


Pernah ada orang yang menyebut saya terlalu sensitif dan baperan. Dia benar. Saya pernah jadi orang sesensitif dan sebaperan itu. Dan saya menerima kekurangan saya. Nggak apa-apa. Ini adalah perjalanan, mustahil saya sempurna dalam satu hari :)


Pada halaman 133, buku ini membahas tema yang sama. Menurut penulis, semua itu ada hubungannya dengan attachment kita pada masa lalu dan dengan orang tua. Apakah waktu kecil kita dihargai? Apakah kita mendapatkan kasih sayang yang cukup?


Saya termasuk orang yang mudah cemas. Saya pernah membahas ini pada postingan lain dalam blog ini. Saya pernah mesti duduk di kereta, tapi beda gerbong dengan suami waktu itu. Tahunya pas udah di stasiun. Itu pun setelah kami menempuh perjalanan dari Jakarta ke Bandung. Kemudian rencana dari Bandung kami lanjut ke Malang. Jadi, ini kondisi udah capek, malah mendengar sesuatu yang nggak saya harapkan.


Di stasiun, isi kepala saya nggak bisa dikendalikan lagi. Takut, cemas, sampai menangis di stasiun. Namun, waktu itu saya memutuskan untuk menarik napas dalam dan mulai mengatakan pada diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Saya nggak serta merta bisa melakukan ini sendiri. Cara ini saya dapatkan dari hasil membaca buku juga waktu itu. Dan beneran berhasil.


Jadi, banyak hal memang muncul begitu saja tanpa bisa kita kendalikan. Iya, nggak semuanya bisa setenang dan nggak sesensitif dirimu, bestie…kwkwk. Semua itu adalah sebab akibat juga. Gimana pengalaman hidupnya, juga masa lalunya terutama dengan orang tuanya. Jadi, lebih baik mungkin kita nggak asal nge-judge seseorang karena kamu nggak pernah tahu seperti apa perjalanan hidupnya.


Coba Lebih Dekat Sama Allah

Review Buku What’s So Wrong About Your Self Healing
Foto: Dok pribadi


Di part akhir memang membahas soal kedekatan kita pada Allah. Karena pada akhirnya, hanya Allah yang nggak akan pernah meninggalkan kita. Ini part yang nggak nyangka bakalan ada dalam buku ini, sih


Tapi, ya semua itu memang akan saling berhubungan dan justru intinya ada di bagian ini.


Kenapa sih kita sering kecewa? Ya, karena kita bergantung sama orang, bukan sama Tuhan.


Ketika kita merasa nggak cukup dengan diri sendiri, ada Allah yang nggak menilai kita dari rupa dan harta kita, melainkan isi hati kita. 

(What’s So Wrong About Your Self Healing, hal 256)


Mungkin itu aja karena postingan ini sudah terlalu panjang...hehe. Waktu baru pertama baca bab-bab awal, saya langsung bilang ke teman, kamu wajib sih beli buku ini. Berasa saya sales, kan? Kwkwk. Tapi, asli buku ini memang worth it banget buat kamu miliki. Mungkin karena penulis punya pendidikan dengan background yang sama seperti apa yang ditulisnya. Bukan orang yang asal bahas. Nggak salah kalau bukunya laris dan sering saya lihat banyak juga yang me-review


Terima kasih sudah menulis buku sebagus ini :)


Salam hangat,


Comments

  1. Wah memotivasu banget ya mbak bukunya.

    Aku sbg orang tua baru sering bgt ngeluh, cape lah, ini lah itu lah, kayaknya orang tuaku juga ga mudah membesarkan aku, pasti byk tantangan juga, tapi mereka ga pernah ngeluh, the did the best, emang akunya yg kurang belajar dari mereka.

    ReplyDelete
  2. Buku2 ttg self healing memang kadang dibutuhin Trutama di masa pandemi gini. Cuma akupun ga selalu Nemu buku yg cocok. Kadang pernah baca, tapi kok ya isinya umum banget, sesuatu yg udah banyak dibahas di mana2.

    Jadi kalo Nemu buku yg isinya lebih personal, ngerasa jleb di hati, pasti akupun bakal inget banget. Dan dibaca berulang tiap kali butuh healing.

    Menarik sih mba, ntr kalo ketemu bukunya aku jadi pengen beli.

    Aku sendiri kalo dibilang masa kecil ga bahagia, ga juga. Tapi ortu memang mendidik kami lumayan keras, dan mungkin beberapa jadi bikin trauma. Cuma tetep sih aku ngerti yg mereka lakuin demi menerapkan disiplin. Cuma Krn aku pada dasarnya suka berontak, jadinya dulu ngerasa kalo papa mama ga sayang lah, ga peduli lah dll 🤣. Eh skr kok ya malah kebawa cara mendidik anak jadi tangan besi juga 😤. Untungnya ada suami yg suka ingetin tiap kali caraku menegur anak terlalu keras. Krn biar gimana aku pun ga mau banget bangt anak dididik dan cara sekeras aku dulu ... Takutnya mereka malah jadi ga mau Deket Ama ortunya..

    ReplyDelete