Friday, February 28, 2020

Ngaji Literasi, Mulai dari Workshop Menulis Hingga Bazar Buku

Ngaji Literasi merupakan program kerja sama antara penerbit Quanta dan penerbit Kompas Gramedia, Toko Buku Gramedia dengan pesantren. Saya tahu program Ngaji Literasi pertama kali dari akun Instagram Quanta. Saat itu ada beberapa penulis yang diajak kerja sama, mulai dari mengadakan bedah buku sampai mengisi workshop kepenulisan.

Sebagai seorang penulis, jujur saya suka dengan program semacam ini. Kenapa? Karena waktu dulu mengenyam pendidikan di pesantren, saya paling senang jika ada penulis datang ke pondok pesantren dan sharing soal dunia kepenulisan. Bayangkan saja, zaman dulu mau jadi penulis sama sekali nggak tahu mau lewat mana. Beda dengan sekarang, mau ikut kelas online ada, mau ikut seminar ada, mau cari informasi di internet sangat mudah. Sangat berbeda dengan zaman saya dulu yang impiannya ada, tapi nggak tahu jalannya harus lewat mana...haha.

Dulu, waktu saya masih SMA (di pesantren saya masuk Madrasah Aliyah), ada beberapa penulis dari Yogyakarta yang datang ke pesantren dan sharing. Mereka hanya berdua. Keduanya juga berasal dari pesantren. Yups! Novel-novel mereka dulu tentang dunia pesantren plus jatuh cintanya pula.

Saya ingat beberapa di antaranya adalah Love in Pesantren (Shacree M Daroini), Pangeran Bersarung (Mahbub Jamaludin), dll. Nah, kedua penulis inilah yang datang waktu itu. Setelah sharing, mereka meminta kami mengajukan pertanyaan. Pertanyaan yang terpilih bakalan dikasih hadiah novel. Wow banget, kan? Apalagi buat saya yang dulu nggak punya uang untuk membeli buku...haha.

Sayangnya, karena saya terlalu pemalu, introvert yang suka pengen pingsan tiap pegang mik, akhirnya pertanyaan yang sudah saya tulis dibacakan oleh salah satu teman kelas. Dan voila! Pertanyaan saya terpilih untuk mendapatkan hadiah sebuah novel dong. Tapi, novel itu nggak pernah jadi milik saya...kwkwk. Karena teman saya merasa dia dong yang berhak dapat. Kan, dia yang capek keluarin suaranya buat ajuin pertanyaan. Gubrak! :D

Akhirnya Mbak Muyass abegeh hanya bisa mengelus dada karena nyesel seumur hidup...kwkwk. Saya nggak tahu kenapa saya terlahir seperti ini. Mungkin karena itulah saya lebih banyak menulis di buku harian sejak SMP. Nggak banyak teman, beberapa aja yang akrab, selebihnya sekadar kenal dan say hello aja waktu ketemu.

Ngaji Literasi, Berdakwah Melalui Tulisan


Kembali lagi soal Ngaji Literasi. Demi menghadapi dunia yang seolah tanpa batas, saat ini literasi menjadi salah satu ‘senjata’ penting untuk dimiliki oleh setiap orang, khususnya generasi milenial.

Penerbit Kompas Gramedia berusaha mengambil peran aktif dalam mempersiapkan mereka melalui program NGAJI LITERASI yang memiliki beberapa tujuan,

  • Membantu program literasi yang dijalankan oleh pemerintah.

  • Menumbuhkan budaya membaca dan menulis di Pesantren.

  • Melatih kemampuan soft skill para santri.


Itulah beberapa penjelasan mengenai latar belakang Ngaji Literasi yang saya dapatkan dari salah satu editor Quanta. Waktu itu tanpa sengaja kami ngobrol soal Ngaji Literasi dan saya akhirnya bertanya bagaimana cara pesantren mengadakan kerja sama semacam ini? Maka dapatlah saya beberapa informasinya yang saat ini saya coba tulis kembali dalam postingan ini.



 










View this post on Instagram























 

A post shared by Penerbit Quanta (@quantabooks) on





Beberapa Penerbit yang Terlibat Dalam Ngaji Literasi


Teman-teman pasti bertanya, kira-kira penerbit mana saja yang terlibat dalam program keren ini, kan? Beberapa di antara yang saya tahu adalah,

  • Elex Media Komputindo


Berdiri sejak tahun 1985, Elex Media Komputindo menerbitkan kurang lebih 2.200 judul setiap tahunnya. Mulai dari buku fiksi, non-fiksi, juga non-books.

  • Quanta dan Laiqa


Quanta merupakan imprint yang menerbitkan buku non-fiksi islami. Mulai dari motivasi untuk remaja, fikih, buku anak islami (Quanta Kids), sampai parenting islami.

Sedangkan Laiqa merupakan lini di bawah redaksi novel Elex Media Komputindo yang menerbitkan novel bernuansa islami (fiksi).

Saya sendiri sudah menerbitkan beberapa buku di Quanta, Quanta Kids, serta Elex Kids. Selama menerbitkan buku di Elex Media, saya merasa kerja sama terjalin sangat baik. Editornya pun ramah, akhirnya bikin happy tiap mau nulis buku.

Variasi Program Ngaji Literasi


Mbak, Mbak...Apa saja program yang ditawarkan oleh Ngaji Literasi ini? Di sana ada beberapa penjelasan yang menguraikan beberapa variasi program Ngaji Literasi seperti,

  • Workshop atau Talkshow


Kegiatan ini merupakan pelatihan menulis atau talkshow terkait tema yang diminta pihak pesantren dengan menghadirkan praktisi (penulis).

  • Bicara Buku


Kegiatan ini merupakan kegiatan bedah buku pilihan Quanta dengan menghadirkan penulis.

  • Bazar Buku


Kegiatan bazar buku-buku pilihan Quanta dan Laiqa untuk meramaikan acara.

  • Co-Publishing


Kerja sama pihak pesantren dengan Quanta untuk menerbitkan karya dalam bentuk buku.

Selain itu, saat melihat beberapa video mengenai Ngaji Literasi ini, ada juga Editor’s Clinic gitu. Buat yang suka nulis pasti seneng banget bisa duduk menjadi salah satu orang yang di-review tulisannya.

Di sini juga disebutkan beberapa penulis keren yang bisa mengisi acara, salah satunya Ahmad Fuadi, penulis novel best seller ‘Negeri 5 Menara’. Pengen banget ketemu langsung...huaa...haha. Impian emak-emak yang belum kesampaian. Semoga suatu saat bisa bertemu pas ngisi acara bareng... *gubrak :D

Skema Kerja Sama


Saya hanya menuliskan kembali yang sudah saya dapat dari penerbit kemarin, siapa tahu ini bisa membantu teman-teman yang ingin mengadakan acara serupa di pesantrennya. Jika ada yang butuh kontak, bisa langsung menghubungi pihak Quanta (bisa lewat akun Instagram).

Berikut skema kerja sama yang disebutkan,

Dari pihak pesantren



  • Menyiapkan tempat untuk acara.

  • Menyiapkan tempat untuk bazar.

  • Menyediakan peserta acara.

  • Pihak pesantren sebagai pelaksana teknis acara.

  • Menyediakan meja dan space untuk display buku dan booksigning.


Dari pihak penerbit



  • Menyediakan pembicara.

  • Menyiapkan bazar buku.

  • Menyediakan backdrop dan banner acara.

  • Menyiapkan doorprize.


Lantas, program Ngaji Literasi sebenarnya bertujuan untuk apa?

Untuk pihak pesantren



  • Membantu program literasi yang dicanangkan oleh pemerintah.

  • Memupuk bibit-bibit unggul penulis dari kalangan santri dan asatidz.

  • Menumbuhkan budaya baca dan menulis di pesantren.

  • Melatih kemampuan softskill para santri.


Untuk pihak penerbit



  • Mensosialisasikan dunia kepenulisan dan penerbitan kepada para santri.

  • Mendapatkan naskah/penulis yang berkualitas dan potensial.

  • Mendapatkan media branding dan promosi di pesantren-pesantren.

  • Menjalin kerja sama yang saling menguntungkan antar kedua belah pihak.



Andai Sejak Dulu Ada Ngaji Literasi


Teman-teman yang senang menulis pasti seru banget membayangkan program semacam ini. Begitu juga saya. Waktu lihat video beberapa program yang sudah berjalan di beberapa pesantren, rasanya pengen banget program ini diadakan di pesantren saat dulu saya masih mengenyam pendidikan. Jadi, pengen duduk lagi di aula untuk mendengar sharing dari para penulis sambil tak lupa membayangkan impian sekian tahun ke depan.

Sayangnya, hari ini dan kemarin selalu berbeda, selalu berganti, dan selalu berubah. Banyak yang bisa dibayangkan, tetapi tidak bisa direalisasikan. Kira-kira itulah gambaran sekarang. Sedih waktu tahu mading di pesantren saya dulu (yang jumlahnya banyak), sekarang hanya tersisa satu. Minat membaca serta menulis mungkin juga tak sebaik dulu. Karenanya, adanya program seperti bisa sangat membantu menumbuhkan budaya menulis dan membaca yang sebelumnya sempat surut.

Semoga program ini bisa dimanfaatkan dengan baik oleh teman-teman yang ingin memajukan pesantrennya lewat dunia literasi. Karena, santri pasti bisa membagikan banyak hal, mengolah ide menjadi lebih unik dan berfaedah tentunya. Yuk, ah tetap semangat menulisnya. Sama seperti pengarang kitab kuning zaman dulu, para ulama itu juga menulis. Tanpa pamrih hingga bisa kita pelajari sampai sekarang. Nggak mengharap royalti ataupun yang lain. Hanya berharap ilmunya berkah dan bermanfaat. Maka seperti itulah seharusnya seorang santri saat berniat menggoreskan penanya demi mengabadikan sejarah :)

Salam hangat,

Featured image: Photo by Fotografierende on Pexels

 

Monday, February 24, 2020

Ketika Hobi Dijadikan Pekerjaan

Pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar. Kata Kang Ridwan Kamil begitu. Kemarin-kemarin saya setuju sekali dengan quote tersebut, bahkan saya menuliskannya juga di dalam salah satu buku saya yang terbit setahun yang lalu. Karena saya merasa bahwa pekerjaan yang menyenangkan adalah aktivitas yang berasal dari kesenangan kita. Benar, kan?

Namun, setelah melihat postingan salah satu ilustrator favorit saya di Instagram, jiwa labil saya muncul lagi...haha. Iya, katanya hobi harusnya tetap dijadikan hobi karena itu adalah bentuk pelarian kita dari suntuknya ngerjain kewajiban atau pekerjaan. Kalau hobi kita jadikan pekerjaan, saat kita suntuk dan jenuh, mau ngapain coba?

Saya juga pernah membaca caption salah satu postingan dari blogger senior, Mbak Annisast. Beliau, kan suka menggambar dan gambarnya bagus. Tapi, walaupun bikin buku, setahu saya beliau tetap memakai jasa ilustrator. Beliau katakan bahwa hobinya (menggambar) akan tetap jadi hobi jangan dibuat pekerjaan, meski mendatangkan keuntungan misal, tapi itu nggak akan nyaman pada akhirnya.

Apakah saya mulai merasakan penat yang tidak berkesudahan? Kwkwk. Kenapa tiba-tiba membahas tema semacam ini? Apakah saya merasa hobi menulis yang sekarang saya geluti telah menjadi beban? Kadang iya, kadang nggak. Kalau dikejar deadline, saya merasa diuber setan...haha. Tapi, kalau saya menyelesaikan naskah sesuai target tanpa beban deadline dari editor, semua berjalan lebih nyaman dan enteng.

Dan, sebenarnya pelarian saya bukan menulis buku memang. Karena menulis buku seolah sudah saya anggap sebagai pekerjaan (meskipun banyak orang memandang ini sebelah mata). Pelarian terindah saya adalah curhat di blog...kwkwk. Dan, setelah biasa mengisi blog hanya seminggu sekali, rasanya membuat saya kehilangan banyak hal. Apalagi setelah kemarin saya curhat soal blog ini yang kayaknya nggak bekembang alias tetap aja di tempat. Kemudian saya merasa kehilangan kesenangan saya selama ini, yang biasa cuek dan nggak peduli sama DA, tiba-tiba rempong mikirin DA. Kayaknya saya salah memang terlalu ribet memikirkan blog, padahal seharusnya blog cukup jadi tempat curhat yang berfaedah sama seperti dulu.

Tidak Mau Menjadikan Hobi Sebagai Pekerjaan


Kita harus punya hobi yang memang benar-benar hobi, yang bisa dikerjakan dengan senang hati dan mengusir penat di hati *eaaa...haha. Karena kalau semua hobi kita jadikan pekerjaan, betapa beratnya beban hidup ini? Cukup berat badan aja yang berlebihan, beban hidup jangan...haha.

Selain ngisi blog, saya juga suka baking dan menggambar. Sayangnya, akhir-akhir ini memang berkurang sekali porsinya karena saya lebih mementingkan prioritas. Prioritas sampai detik ini adalah menulis buku. Nggak mau sekadar jalan memang, saya benar-benar berusaha istikamah menulis buku meskipun pada akhirnya nggak mungkin juga bisa terbit setiap bulan...haha *dikira penerbit emaknya..kwkwk.

Tapi, ini adalah bentuk ikhtiar saya untuk memperbaiki kualitas tulisan dan sengaja fokus di nonfiksi. Karena memang bukan saatnya lagi main-main dan nyoba-nyoba seperti dulu. Saya pikir akan lebih baik jika saya fokus dan nggak rakus ambil semua genre :)

Hobi Harus Menyenangkan


Ya, kali ada hobi yang nyiksa...kwkwk. Maksud saya, semisal persoalan saya kemarin, hobi ngeblog yang biasa saya jadikan pelarian dari penatnya menulis naskah akhirnya menjadi agak horor dan serius sebab saya nggak lagi ngisi blog dengan senang hati, ada target yang mungkin terlalu tinggi (walaupun saya tahu sebenarnya perlu banget ada target meski ini sekadar kesenangan). Dan pada akhirnya, saya merasa lelah dan berat saat ngisi blog.

Beda aja dengan dulu yang nggak ada beban sama sekali. Dan saya nggak mau seperti ini terus..huhu. Beberapa teman menasihati,
"Nggak usah dibikin ribet ngeblog, mah. Kan, sekadar kesenangan. Kembali lagi ke tujuan awal bukan demi uang, tapi untuk menghibur diri."

But, ini nggak semudah seperti yang kamu katakan karena mungkin saya orangnya nggak selalu pasrah dengan posisi yang sama dalam perjalanan ngeblog. Masa iya ngeblog nggak ada target? Kalau begini terus berasa nggak berkembang aja :(

Tapi, ngejar sesuatu yang agak sulit diraih memang bikin beban hidup bertambah...haha. Meskipun saya percaya, asal dijalanin, jalan terus, pasti nanti kita akan sampai di tempat tujuan. Insya Allah :)

Butuh Waktu Untuk Ikhlas dengan Semua Hasil yang Kurang Memuaskan


Pada akhirnya memang waktulah yang akan menyembuhkan. Ini bukan soal jatuh hati saat SMA, ini tentang usaha-usaha yang pernah saya lakukan demi kemajuan blog ini. Bela-belain sampai migrasi ke wordpress, dan bisa kamu lihat, saya seperti masih di posisi yang sama. Apalagi saat mendengar nasihat blogger senior, yang mana mereka lebih suka kalau kita membuat blog baru ketimbang membenahi yang sudah ada. Rasanya penuh beban banget pokoknya pas denger...haha.

Tapi, sebenarnya nggak masalah juga kalau saat ini hasilnya masih begini-begini aja. Karena jika mau menoleh ke belakang sebentar, blog ini banyak banget jasanya... :(

Kenapa saya kurang menghargai beberapa tahun penuh drama dan beberapa tahun menyenangkan? Qadarallah, dengan blog ini saya bisa memenangkan beberapa kompetisi ngeblog yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan. Blog ini menemani perjalanan menulis saya, lho. Kenapa juga harus saya tangisi? Penting saya sudah berusaha maksimal untuk membuatnya menjadi lebih baik dan lebih baik *berasa lagi ngomongin pacar...kwkwk.

Dan saya rasa, nggak perlu menjadikan semua hobi sebagai pekerjaan. Sebab kita butuh ruang untuk rehat dan melakukan kesenangan demi menjaga kewarasan. Dan blog adalah tempat paling menyenangkan untuk pulang setelah lelah-lelah ria menulis naskah.

Saya cinta dengan hobi saya dan saya menyukai pekerjaan saya sekarang :)

Salam hangat,

Featured image: Photo by Isabelle Taylor on Pexels

 

Monday, February 17, 2020

Belajar Dari Masa Lalu, Udah Ketawain Aja!

Katanya, masa lalu adalah milikmu, sedangkan masa depan adalah milik kita *eaa. Tapi, pernah nyesel nggak, sih dengan beberapa kejadian yang pernah terjadi sekian tahun silam? Kenapa, kok pahit banget tahun kemarin? Kenapa dulu kena PHP ikhwan, ustadz pula*eh..kwkwk. Kenapa dulu artikel nggak dibayar? Kan, mending ngisi blog aja kalau memang begitu ending-nya. Whatever you say, itu udah kejadian dan sebenarnya nggak perlu disesali segitunya. Biarkan dia jadi warna warni di dalam hidup kita. Bijak banget, kan, Gaes? Haha.

Ah, Mbak Muyass bisa ngomong gitu karena nggak pernah ngalamin sendiri, kan?

Tunggu dulu, kayaknya hampir semua orang di dalam hidupnya selalu merasakan perasaan berbeda yang saling bersisian. Hari ini happy, besok nyesek. Termasuk juga saya. Tapi, beberapa bulan terakhir saya merasa perlu banget membenahi cara berpikir saya yang salah selama ini.

Contohnya dalam kasus di atas. Nggak harus kita benci sama masa lalu kita apalagi sampai menyalahkan takdir. Karena Allah yang mau kita menjalani hal semacam itu, terus kita mau apa? Menolak apalagi melawan akan membuat hati semakin sesak. Sedangkan penerimaan kita dalam setiap masalah, apalagi sama masa lalu yang udah lewat, akan membuat langkah kita jauh lebih ringan. Iya, berdamai aja.

Dan satu lagi, waktu memang benar-benar ampuh menghapus semua luka. Setahun lalu, kita nangis kalau inget seseorang, entah saking dzalimnya dia sama kita atau bisa jadi kita yang melakukan kesalahan sama orang lain. Hari ini, kita bisa lihat hal menyakitkan itu nggak terlalu perih lagi diingat. Bahkan jika mau memaafkan, kita bisa jauh lebih santai ketika mengingatnya lagi.

Tapi, buat melupakan apalagi santai memang susah, Bambang! Ya, nggak akan semudah itu tiba-tiba kita amnesia dari sakit hati yang baru kemarin. Tapi, percayakah kamu bahwa semua rasa sakit itu akan Allah gantikan dengan bahagia di hari yang lain? Asal kamu pastikan bukan kamu yang nyebelin sama orang, asal kamu pastikan juga bahwa kamu nggak jahat juga sama yang lain. Kalau memang kamu benar-benar sebaik itu, maka nggak perlu khawatir dengan rasa sakit yang tumpang tindih datang silih berganti. Allah ganti dengan yang lebih baik, insya Allah.

Melihat Masalah dari Sudut Pandang Berbeda


Yups! Kalau dulu gampang banget baper kalau disentil orang, mulai sekarang pikirkan sisi berbeda selain sakit hatinya. Misalnya saja, ketika saya sempat aktif menulis artikel dulu, kemudian merasakan fee yang nggak cair, bukan hanya dari satu platform saja, bahkan dua sekaligus, sebenarnya itu mengajarkan saya, “Jangan sampai kamu ngelakuin hal yang sama karena itu menyakitkan banget!”

Atau ketika ingin belajar menulis, beberapa penulis senior mungkin terlalu sibuk menanggapi pertanyaan saya atau bahkan saya belum nanya aja udah ogah duluan...kwkwk. Sampai di titik sekarang saya selalu ingat kejadian itu dan berpikir keras supaya tidak melakukan kesalahan yang sama pada orang lain.

Terasa sakit nggak kalau diingat? Kejadian setahun silam bisa saya senyumin, kejadian dua hari yang lalu masih ngilu. Nah, di sini memang benar-benar butuh proses, ya. Tapi, selama kita belajar untuk mencari hikmahnya, insya Allah nggak akan ada penyesalan berat atau terlalu sedih. Just do it!

Masalah yang Allah antarkan itu sebenarnya mengajarkan kita untuk lebih kuat, lebih sabar, lebih neriman sama takdir Allah. Jangan hanya memandang masalah dari sisi negatifnya saja, karena Allah kirimkan itu sebenarnya buat pengingat dan pembelajaran supaya kita hidup lebih baik lagi.

Maafkan, Lupakan



What? Nggak salah denger? Nggak gampang maafin orang yang udah nyakitin kita. Ini bencinya udah sampai ubun-ubun, lho. Kwkwk. Please, jangan nelen saya...haha. Saya paham banget ketika kita disakitin, alami banget setelah itu kita benci sama orang tersebut. Apalagi kamu udah di-PHP sekian lama. Tega banget, kan si ikhwan ini mendekati kamu, ngasih harapan, abis itu kabur aja tanpa permisi. Salah kamu di mana?

Tapi, dendam akan membuat beban hidup kita semakin berat. Nggak mudah memang memaafkan orang lain, tapi coba kita pakai lagi poin pertama tadi, lihatlah masalah dari sudut pandang berbeda. Jangan lihat negatifnya saja, tapi lihat sisi positifnya.

O, rupanya Allah sedang melindungi kamu dengan cara menyakitkan itu. Sebab ikhwan itu ternyata memang tak layak mendampingi kamu. Ada seseorang yang jauh lebih baik yang kemarin mungkin masih Allah sembunyikan hingga membuat kamu berpikir jelek terus sama Allah, kemudian dia muncul dan membahagiakan kamu. Sesempurna itu. Barulah kamu sadar bahwa Allah sayang banget sama kamu. Iya, kan?

Berterima kasihlah pada orang-orang yang membuatmu belajar untuk berpikir lebih dewasa lagi dari sebelumnya. Kemudian katakan pada diri kamu, kamu maafin orang-orang yang nyebelin itu...haha. Dan katakan pada Allah,

“Saya memaafkan dia. Seburuk apa pun sikapnya pada saya selama ini. Saya berharap Engkau memberikan kebaikan dan hidayah padanya.”

Tahukah setelahnya kamu merasakan apa? Lega! Beban kamu berkurang. Rasa sakitmu perlahan hilang. Ajaib banget, kan? Dan sebenarnya ini sudah saya lakukan. Insya Allah antigagal pokoknya *dikira bikin kue cubit antigagal? Kwkwk.

Ketawain Aja



Kalau disenyumin terlalu sederhana dan manis, ya udah, ketawain aja masa lalu kamu yang ngilu itu. Kalau kamu sudah melewati tahapan-tahapan dari mulai poin pertama hingga kedua, maka kamu akan berada di poin ketiga, dan benar kamu bisa menertawakan masa lalu itu, lho.

Dulu, kita nyesek nangis sehari semalam karena perlakuan buruk orang terhadap kita. Apalagi orang itu sudah kamu anggap orang tua, guru, dan sangat kamu hormati. Tiba-tiba dia nendang kamu, wajar dong kalau kesal dan sakit hati? Tapi, itu dulu, kok. Sekarang jangan mau terus menerus terkurung dalam rasa yang sama. Rugi saja hidup kita kalau terus menangisi hal serupa.

Padahal kamu bisa lihat sekarang, Allah ganti semuanya yang hilang dengan yang lebih baik. Hidup kamu semakin istimewa dan luar biasa. Hal-hal sepele di masa lalu tak usah kamu bawa-bawa. Tinggalkan saja, buang masa lalu pada tempatnya. Cukup ambil hikmah di balik masalah itu. Sederhana, ya?

Sekarang, saya bisa menertawakan dan lebih santai ketika mengingat yang sudah-sudah. Kadang juga lucu dan menggemaskan *sambil ngasah pisau...kwkwk, dan saya pikir lagi, nggak berguna juga dibawa terus rasa sakit itu. Apalagi jika mereka tidak berpengaruh terhadap masa depan kita, mereka hanya numpang lewat di dalam hidup kita. Lantas buat apa dipikirkan berat-berat?

Hari ini kamu menangis, besok kamu harus belajar tersenyum. Awalnya memang harus dipaksa, kemudian pelan-pelan kamu akan terbiasa. Lantas waktu akan memudarkan semua luka. Dan Allah selipkan hikmah di dalamnya, masya Allah, kan?

Semoga kamu bisa memaafkan masalah yang sudah-sudah, kalau dulu sering dibawa ngambek, sampai nangis guling-guling karena kesal dan sakit hati, mulai sekarang cukup dinikmati aja rasa sakitnya. Nangis manusiawi, tapi nggak perlu lama-lama. Karena kamu nggak nangis aja Ibu Kota udah banjir, apalagi ditambah air matamu itu. Sungguh mengerikan...*auto digetok royalti...haha.

Salam hangat,

Featured image: Photo by Oliur Rahman on Pexels

 

Monday, February 10, 2020

Tempat-tempat yang Ingin Dikunjungi di Tahun 2020, Impian Adalah Kendaraan Untuk Mewujudkannya

Dulu, saya tidak mengerti betapa pentingnya sebuah impian bagi seseorang. Orang-orang yang punya impian jelas punya tujuan setiap kali ia melangkahkah kaki. Mereka tahu apa yang dilakukan, demi apa mereka memperjuangkan. Mereka paham target ke depannya apa, tahapan-tahapan yang harus dilalui mesti gimana. Mereka nggak akan bingung, karena mereka tahu, perjalanan yang ditempuh jelas tujuannya.

Berbeda dengan orang-orang yang menjalani hidup sekadar mengalir saja seperti air. Nggak ada impian, nggak ada target, nggak ada tujuan. Sama-sama muterin mall beberapa jam, si A dapat sepatu yang diinginkan, sedangkan si B hanya muter nggak jelas. Pulang nggak bawa apa pun. Karena si B nggak punya tujuan sejak berangkat dari rumah. So, perjalanan yang dia tempuh seperti hanya membuang waktu dan percuma.

Dan saya merasa beruntung! Yess! I’m one of the lucky ones. Meski dulu nggak terlalu paham pentingnya punya impian, tapi kenyataannya saya benar-benar memilikinya. Dulu, saya nggak seyakin ini, nggak percaya jika impian saja bisa mewujudkan keinginan kita yang dulu seperti mustahil, kemudian begitu ajaibnya Allah jadikan nyata di depan mata.

Impian bukan lagi sekadar guyonan, Gaes. Catat baik-baik di halaman-halaman buku harian kamu, foto dan jadikan wallpaper ponsel kamu, gambar gede-gede dan tulis terus tempel di dinding kamar, di cermin, di mana pun kamu mudah melihatnya. Sehingga mudah pula kamu mengingat dan mendoakannya. Yess, sesimpel itu, kok memulainya.

Awalnya akan canggung dan malu-malu sendiri. Ini, sih saya...kwkwk. Apalagi kadang orang tertawa mendengarnya. Dan sering orang menertawakan impian saya, bahkan kadang suami saya sendiri...kwkwk. Tapi, candaan pun sebisa mungkin adalah hal-hal positif aja. Misalnya tentang buku yang kita tulis bakalan best seller bahkan bisa dicetak dan dijual juga di luar negeri.

Ya Allah, jangankan orang, saya aja tertawa mendengar keinginan yang kayaknya terlalu ngawur itu. But, it happened! Itu benar-benar terjadi pada saya. Salah satu buku saya insya Allah akan dicetak dan dijual di Malaysia. Dulu, impian masih sekadar bisa punya buku. Terbit indie pun nggak masalah. Kemudian target naik lagi, kalau bisa terbit mayor dong. Setelah terbit mayor, pengennya best seller (insya Allah menuju best seller, doain, Gaes), dan dikontrak penerbit di luar negeri? Malah sempat nggak berani terbesit keinginan ini.

Waktu ikut kelas dan membaca salah satu buku Ahmad Rifa’i, beliau sempat menyebutkan salah satu bukunya, kalau nggak salah buku pertama yang dulu dia cetak mandiri (kemudian sekarang terbit mayor) diterbitkan juga di Malaysia. Saat itu saya jujur kagum banget. Gimana bisa buku kita dikontrak oleh penerbit dari luar Indonesia? Pasti itu keren banget! Saya pengen, tapi kemarin merasa itu cita-cita yang ketinggian. Dan, ternyata saya salah.

Pengen ya pengen aja, sih! Apa susahnya? Penting kita berusaha dengan sungguh-sungguh. Insya Allah ada hasil terbaik serta keberuntungan yang Allah selipkan. Dan tentu saja, seperti Amrazing bilang di salah satu postingan Instagramnya, keberuntungan itu bukan milik orang yang kerjanya hanya mengeluh dan memaki, orang seperti ini hanya fokus pada hal negatif. Mereka nggak akan beruntung.

Begitu juga orang-orang yang nggak berani mengambil risiko, apa-apa serba takut, nggak percaya diri dan sering merendahkan diri, “Ah, aku mah nggak akan bisa!”. Orang-orang semacam ini tentu nggak akan beruntung, Gaes. How about you?

Panjang kali lebar saya jelaskan soal impian, lalu apa hubungannya dengan keinginan traveling ke berbagai tempat? Apakah bisa juga diwujudkan dengan impian? Saya rasa itu bukan hal mustahil dan sangat mungkin terjadi.

Saya, nggak nge-fans berat dengan Wirda Mansur. Tapi, saya suka cara dia bicara tentang impian. Optimis banget! Dan sebenarnya itu telah Rasulullah saw ajarkan pada kita sebagai umatnya. Kita itu, memang dilarang pesimis. Nggak boleh sama sekali.

Wirda ini bercerita banyak hal soal impiannya (saya membaca salah satu bukunya). Termasuk keinginan keliling dunia. Dia tempel peta dunia besar-besar di kamarnya, Gaes. Kemudian menandai negara yang pengen dia kunjungi. Atau, dia memasang wallpaper di ponselnya, tentu saja gambar benda atau apa pun yang sedang dia incar...kwkwk. Misalnya sempat dia pengen laptop saat itu.

Itu agak konyol memang, tapi saya melihat banyak orang berhasil mewujudkan impiannya dengan cara-cara yang kurang lebih sama. Iya, memang nggak hanya dilihat, harus didoakan, diusahakan juga. Karenanya, semakin mudah kita lihat, semakin gampang kita jumpai, maka semakin banyak dan sering pula kita mendoakannya.

Dan, beberapa tempat ini menjadi salah satu negara yang pengen banget saya kunjungi di tahun 2020, nggak boleh lewat pokoknya, nggak mau tahu *eh maksa...haha.

Madinah


Kamu tahu, menuliskan namanya saja bikin mata saya panas. Betapa saya rindu dengan tempat tenang ini. Saya kangeen berat. Pengen banget kembali ke Madinah dengan menggandeng tangan ibu saya. Pengen banget ke sana dengan lebih menyenangkan bersama si Mas juga.

Setiap saya melihat foto payung-payung raksasa di pelataran masjidnya, saya langsung bilang dalam hati, pokoknya tahun ini harus kembali lagi ke sana. Dan saya mau keinginan ini terwujud tahun ini, nggak boleh lewat pokoknya :D

Berbeda banget dengan kota Makkah yang ramai banget. Madinah ini adem gitu suasananya. Nyaman, tenangnya berasa parah. Beberapa tahun lalu, saya dan Mas berangkat bareng dari hotel nggak jauh dari masjid Nabawi untuk melaksanakan shalat berjamaah sambil jalan kaki *abaikan dua anak saya yang ikut sambil narik-narikin mukena...kwkwk. Nanti kita ketemuan di tempat yang sama setelah shalat jamaah usai. Di sini, saya berani sendirian, sedangkan di Makkah, sungguh saya tak percaya diri...kwkwk. Khawatir nyasar aja :(

Makkah


Kalau sudah ke Madinah sudah pasti lanjut juga dong ke Makkah. Yess! Kita mau umroh. Pengennya, sebelum tiba antrean haji beberapa tahun mendatang, mau balik umroh lagi. Kalau bisa tahun ini. Please, Allah, saya mau tahun ini sambil menggandeng tangan ibu saya. Kita mau thawaf bareng, mau shalat dhuha bareng di dekat Ka’bah.

Kenapa saya pengen ngajakin ibu? Beliau sendiri sudah pernah haji dan umroh. Malah dulu cukup lama juga tinggal di sana melebihi waktu orang berhaji...hihi. Tapi, itu sudah terjadi sekian tahun lalu, saat saya masih kelas 3 SD kalau nggak salah.

Dan, di usia beliau yang tak lagi muda, beliau pengen umroh sekali lagi. Sebagai anak, saya pengen banget mewujudkan impian itu. Ngebayanginnya udah nyata banget di depan mata. Udah kayak slide-slide berjalan. Insya Allah, semoga Allah mampukan.

Turki!



Nulis Turki perlu banget harus dengan tanda seru. Karena sebenarnya bukan hanya saya saja yang pengen balik lagi ke Turki, si Mas pun pengen juga...kwkwk. Kayaknya dulu berasa kurang lama aja mainnya, kurang santai juga.

Dan, jika Allah berkehendak, pengennya ke Turki benar-benar full jelajah Turki aja. Nggak disambi  tujuan lainnya. Biar lebih puas, lebih menikmati.

Tujuan utama datang ketika musim tulip, nggak mau pas musim dingin yang bikin meler hidung dan bikin beku badan *yaelah anak Malang cemen amat...kwkwk. Malang memang dingin, tapi jangan dibandingin dengan negara bersalju seperti ini, Gaes. Nggak sebanding dinginnya. Baru keluar bus aja mulut udah ngepul...haha.

Jepang


Ow, ow, ow! Ngapain, Bu jauh-jauh ke Jepang? Balas dendam! Nah, lho...kwkwk. Dulu, si Mas ke Jepang nggak ngajak-ngajak soalnya, Gaes. Jadi, irinya kebawa sampai sekarang *nggak ding!

Pengen aja pergi ke Jepang yang udaranya bersih, suasananya juga pasti asyik banget. Bunga sakura, pemandangan yang beda dari yang lain. Banyak banget yang menarik perhatian saya meskipun jujur saya belum tahu banyak soal negara satu ini. Tapi, jika ada kesempatan, Jepang menjadi salah satu tujuan wisata yang tak terbantahkan lagi!

Tahun depan kita tambahkan list baru ya, Gaes. Nggak ada yang salah, kok dengan impian. Justru kamu yang berani bermimpi bakalan selangkah lebih maju ketimbang mereka yang nggak pernah berani memulai.

Bermimpi aja nggak berani, bagaimana bisa mewujudkan? Kita sering berhasil bukan semata-mata karena kerja keras saja. Keberuntungan juga sering datang menghampiri kita. Dan buat saya, beruntung nggak bisa juga datang tiba-tiba. Kita pun harus mengundangnya dengan cara-cara yang pantas. Seperti yang disebutkan sebelumnya, orang yang kerjanya ngeluh mana bisa mendapat keberuntungan. Ya, lakukan hal-hal positif aja dalam hidup kita. Nggak usah ragu-ragu membahagiakan orang lain, bantu-bantu orang nggak usah banyak perhitungan, sesekali kasih kejutan kepada orang lain, nanti Allah kasih kejutan balik ke kamu :)

Salam hangat,

Featured image: Photo by Belle Co on Pexels

 

Monday, February 3, 2020

Ketika Ngeblog Tak Semudah Membalikkan Telapak Tangan

Semakin ke sini, ngeblog seperti tak sesederhana ketika pertama kali saya mempunyai blog. Bukan hanya cara ngeblognya yang berbeda, mungkin keinginannya juga nggak sesederhana sekadar mencurahkan hati dan perasaan. Ya, makin ke sini, semakin banyak yang mesti dipikirkan dan diperhitungkan. Akhirnya, belajar lagi dan lagi.

Padahal, ngeblog sekadar nulis, kan? Dulu saya juga berpikir sesederhana itu. Tapi, makin ke sini saya bukan hanya belajar nulis karena merasa punya blog, saya belajar banyak hal yang biasanya ujung-ujungnya banyak lupa juga gimana memulai dan mengatasinya...kwkwk. Saking seriusnya atau saking stresnya :D

Blog ini misalnya, dibandingkan adiknya si Estrilook, blog ini jauh lebih rumit perjalanannya, Gaes. Usia domain udah lumayan, dua tahun lebih. Tapi, DA blog ini nggak sebaik adiknya yang baru lahir kemarin. Bahkan meski saya akhirnya migrasi ke wordpress.

Bayangin aja, kemarin setelah migrasi saya sempat cek DA blog ini naik jadi 10, kemudian turun lagi jadi 9. Nggak lama, turun lagi jadi 8, sekarang naik lagi jadi 9. Apa nggak main-main ini namanya? Kwkwk.

Sebelumnya, dulu blog ini DA bisa sampai angka 17. Hingga akhirnya terjadi terjun bebas bareng-bareng itu, kan. Dan, sejak saat itu lumayan susah naiknya :(

Ngeblog mah yang ikhlas atuh! Jadi nggak pusing mikirin DA mulu!

Buat saya, meski ngeblog belum sehebat apa, tapi jujur aja saya punya target. Minimal DA blog ini layak karena saya ngisinya pun nggak main-main*serius banget jawabnya...haha. Tapi, itulah yang saya rasakan. Saya nggak mau ngeblog jadi sekadar jalan, makannya saya sampai belain migrasi segala, beli template lagi, keluar uang lagi. Banyak yang sudah saya lakukan untuk blog ini.

Hingga akhirnya saya sadar, ngeblog memang nggak semudah membalikkan telapak tangan. Saya yang gaptek benar-benar belajar nyisirin apa-apa yang mesti dibenahi. Sesekali saya bertanya pada teman yang mengerti, di lain waktu saya berusaha mencari jalan keluarnya sendiri. Nggak mungkin aja saya berdiam diri. Masa, sih harus saya diemin?

DA Itu Katanya Misteri


Seorang teman bilang, agak susah memprediksi gimana cara menaikkan DA blog. Karena sebagian dicoba dengan cara A ternyata berhasil, sebagian lagi nggak menghasilkan apa-apa meski diterapkan cara serupa.

Meski udah bolak balik googling cara menaikkan DA, tetap aja nggak dapat jalan keluar yang benar...hahaha. Berasa sesat banget ini perjalanan ngeblognya. Belum lagi setelah menengok spam score udah berapa biji aja. Oooh, sungguh semakin takut buka blog lama-lama :(

Beberapa senior menyarankan, mending bikin blog baru aja lagi. Apalagi jika DA masih di bawah 15. Abis itu jangan sembarangan sebar-sebar url blog ke sembarang tempat...kwkwk. Kadang mikir juga, kenapa baru tahu ilmu semacam ini sekarang. Kenapa nggak dari dulu aja, sih!

Tapi, beras sudah jadi bubur manado, Sodaraaa! Daripada mikir macam-macam, akhirnya saya diam ajalah dari kemarin...kwkwk. Nggak update postingan baru di blog, malah update postingan lama sambil senyum-senyum sendiri karena banyak postingan lucu...kwkwk. Lumayan sekali menghibur diri.

Backlink ‘Nggak Jelas’ Perlu Dibersihkan


Dulu, saya merasa semua baik-baik saja. Hingga akhirnya saya sadar, bahwa blog saya sebenarnya sedang sakit, Gaes. Kenapa bisa sampai mikir demikian? Karena perasaan udah lumayan bekerja keras ngidupin blog, tapi kondisinya semakin buruk...kwkwk. Prediksi Mbah Mijan apa, nih? Haha.

Ya, kali blog anak saya yang nggak aktif aja DA bisa naik, masa blog emaknya diam di tempat? Akhirnya nyoba cari tahu, mendengarkan juga sharing dan diskusi teman-teman di grup blogger, mulai paham kayaknya mesti ada yang diperbuat untuk memperbaiki masa depan blog ini atau enyahkan aja sekalian? Huhu.

Pertama yang saya lakukan adalah buang-buangin broken link. Karena sudah pakai wordpress, buang broken link jauh lebih mudah. Tapi, ketika menggunakan blogspot, kita bakal lumayan susah menghapus broken link sebab nggak ada plugin khusus seperti yang bisa kita gunakan di wordpress.

Setelah banyak broken link dihapus, saatnya menengok backlink yang kurang berkualitas. Masuk ke Google Search Console *ciee bisa...kwkwk, kemudian klik ‘link’ dan periksa backlink dari website luar yang masuk ke blog kita. Jeng jeng jeng! Amajing banget....haha. Banyak banget backlink nggak jelas masuk ke blog ini. Rata-rata alamatnya nggak bisa dibuka. Jumlahnya nggak satu dua pula.

Ada juga yang mengarah pada situs nggak banget gitu...huhu. Semalam, untuk kedua kalinya saya update daftar file berisi domain yang harus dihapus atau disavow. Awalnya nggak paham apa itu disavow, googling akhirnya ketemu. Pertama kali coba sekitar bulan Desember tahun 2019 kemarin. Hanya saja sebelumnya saya nggak cek sedetail semalam, jadi masih ada backlink buruk yang mesti dihapus. Biar sekalian, langsung masukkan aja domainnya.

Total ada sekitar 36 domain saya hapus. Saya berharap setelah ini ada hal baik terjadi *udah kayak apaan aja...haha. Ya, ya, saya juga paham pasti nggak akan sesederhana ini juga mengatasi blog yang udah kadung sakit. Tapi, usaha itu perlu ya, Gaes *biarlah menghibur diri.

Ngeblog Nggak Sesederhana Update Postingan Tiap Hari


Memang ada blog yang update tiap hari dengan postingan sederhana, pendek, nggak macam-macam, DA-nya juga mulus naik. Tapi, buat blog saya itu kayaknya nggak bisa juga diterapkan. Selain saya juga nggak akan sempat update tiap hari, pastinya saya akan melewatkan banyak hal, misal karena terlalu sibuk update artikel, jadi nggak sempat blogwalking, nggak sempat bersih-bersih, dll.

Padahal, ngeblog, kan nggak sesederhana update postingan tiap hari. Ada banyak hal yang perlu kita kerjakan juga selain itu. Apalagi saya masih suka nggak bisaan bagi waktu ngeblog sama nulis buku, giliran nulis buku, blognya jarang update. Giliran update blog, jadi lupa nulis buku...haha.

Kembali pada Tujuan Semula


Akhirnya, saya harus paksakan, mungkin blog ini nggak sebagus adiknya, nggak sebaik dan sehebat punya orang lain juga. Tapi, penting bisa digunakan untuk berbagi cerita, terutama curhatan semacam ini...hehe. Karena kalau dibuang, sungguh sangat disayangkan. Lebay banget! Iya, memang...hiks.

Padahal, postingan mah bisa aja dipindah. Masalahnya, belum kepikiran bikin blog baru lagi yang bisa disayang-sayang seperti ini. Apa benar saya nggak mau maju, Gaes? Tapi, migrasi aja bukti bahwa saya serius membenahi. Akhir kata, saya pengen lebih sabar lagi. Besok-besok saya datang dan curhat lagi, ya...kwkwk.

Gimana dengan teman-teman yang lain, apa kendala ngeblog terberat selama ini?

Salam hangat,

Featured image: Photo by Jessica Lewis on Pexels