Rawon Iga

Rawon merupakan salah satu jenis makanan khas Jawa Timur. Rawon biasanya memiliki kuah berwarna kehitaman dengan isian berupa daging atau pun iga sapi. Zaman sekarang, rawon sudah banyak sekali variasinya. Termasuk salah satunya rawon setan dan juga rawon dengkul.

Salah satu ciri khas dari masakan satu ini adalah menggunakan kluwek sebagai salah satu bumbu utamanya. Rawon di Surabaya lebih terlihat pekat sedangkan rawon ala kota Malang biasanya lebih kemerahan dan bening. Saya pribadi lebih suka dengan jenis rawon di kota Malang.

Kluwek sendiri sebenarnya mengandung racun berupa asam sianida yang cukup tinggi. Karenanya, kluwek di beberapa daerah juga disebut ‘kepayang’ karena efeknya yang bisa membuat orang mabuk.

Tapi, jangan khawatir. Kluwek yang kita lihat di pasaran itu telah melalui beberapa proses panjang sehingga sudah aman dikonsumsi. Dilansir kompasiana.com, kluwek diproses dengan cara direbus. Setelah direbus, kluwek-kluwek ini nantinya akan diperam selama kurang lebih 40 hari di dalam tanah. Hasilnya, kluwek ini berubah warna dari yang awalnya kekuningan menjadi kehitaman. Barulah setelah itu kluwek sudah bisa dikonsumsi untuk digunakan sebagai bumbu berbagai macam masakan.

Selain rawon, kluwek juga bisa digunakan untuk membuat nasi kluwek, sayur pucung betawi, atau pallu kaloa yang merupakan salah satu kuliner khas Makasar. Selain enak dibuat sebagai bumbu masakan, rupanya kluwek juga memiliki banyak manfaat lho, termasuk salah satunya menurunkan kadar kolesterol. Sayangnya, khusus menu rawon iga satu ini, saya tidak yakin akan menurunkan kolesterol, bukan karena khasiat kluweknya yang hilang, tapi lebih karena rawon memang menggunakan daging serta lemak sapi yang tentu saja bisa mengacaukan kesehatan teman-teman.

khasiat.co.id

Kemarin sempat membuat rawon iga ini untuk keluarga di rumah. Biasanya, saya membeli langsung bumbunya. Tapi, belakangan saya lebih suka membuatnya sendiri menggunakan resep dari mbak Nina (Catatan Nina) yang sudah sesuai banget dengan selera saya. Nah, berikut resepnya, ya.

Bahan:
500gr iga sapi
1 batang serai, memarkan
5 daun jeruk
1 ruas lengkuas
2 batang daun bawang, iris
1sdt gula pasir
3sdt garam
1/2sdt merica bubuk
2sdm minyak untuk menumis
2 liter air atau lebih

Bumbu halus:
7 siung bawang merah
5 siung bawang putih
5 buah kluwek, ambil isinya dan beri sedikit air panas bila perlu (sy pakai 4 buah)
1sdt ketumbar
4 buah kemiri, sangrai (sy gunakan 3 buah)
1cm kunyit

Pelengkap:
tauge pendek
telur asin
tempe goreng
sambel terasi
kerupuk

Cara membuat:
1.      Didihkan air dan rebus iga sampai setengah empuk.
2.      Haluskan bumbu, dan tumis bersama serai, lengkuas dengan api kecil saja supaya bumbunya matang merata dan tidak gosong. Kemudian masukkan ke dalam rebusan iga.
3.      Bumbui dengan garam, gula pasir serta merica bubuk. Masak sampai daging iga empuk dan bumbunya meresap. Jika air mulai menyusut, tambahkan saja air panas lagi hingga iga empuk.
4.      Jika sudah pas semuanya, masukkan daun bawang dan tunggu mendidih baru dimatikan.
5.      Sajikan dengan pelengkap.


Nah, itulah salah satu resep rawon yang sudah menjadi andalan saya selama ini. Ternyata, kluek di dalam kuah rawon juga banyak manfaatnya ya, selain memang enak disantap dengan nasi panas dan pelengkap terlebih saat musim hujan seperti ini. Selamat mencoba, semoga bermanfaat ^^

Baca juga resep Bika Ambon Ekonomis
View Post


Monosodium glutamat


Sering dengar generasi mecin, ya? Hm, sepertinya saat ini memang tepat sekali disebut generasi mecin. Jika melihat jajanan anak-anak sekarang, terutama di sekolah-sekolah, sepertinya mustahil ada jajanan yang terhindar dari bahan penyedap tambahan satu ini.

Contohnya saja cilor. Tahu cilor? Awalnya saya nggak paham jenis makanan apa ini. Nah, kebetulan kemarin saya membelikan saudara yang doyan banget makan cilor. Pas penjualnya mulai membuat cilor, saya biasa saja. karena kalau dilihat bahannya juga aman. Salah satunya adalah aci serta telur yang dikocok lepas. Setelah matang inilah saya langsung dag dig dug melihat berapa banyak bumbu penyedap yang dimasukkan ke dalam sebungkus kecil cilor yang telah digoreng. Masya Allah, itu isinya mecin semua, saya cuma geleng-geleng kepala.

Selama ini, saya memang tidak pernah membawakan si sulung uang jajan, selain memang karena selalu bawa dua bekal berupa camilan dan makanan berat, dan alasan lainnya karena takut dia jajan sembarangan. Alhamdulillah, sekolah si kakak memang tidak ada banyak penjual terutama abang-abang seperti di sekolah lainnya. Di sana, hanya ada kantin dengan dua sampai tiga ibu penjual makanan dan kalau dilihat, jajanannya pun lumayan sehat. Misalnya saja nasi goreng, waffle, susu, atau nasi kuning.

Jadi ketika saya melihat proses pembuatan cilor, terbayang berapa banyak kandungan MSG di dalamnya. Lalu, seberapa sering anak-anak jajan makanan seperti ini jika pedagangnya mangkal setiap hari di depan gerbang sekolah?

Zaman saya sekolah, jajanan tidak semenyeramkan sekarang. Dulu, lebih banyak gorengan dan cilok atau bakso kampung mirip cilok dengan isian lemak. Jajanan mengandung banyak MSG mungkin hanya sebatas snack ringan saja. Kalau sekarang, rasanya hampir semua jajanan terlihat menakutkan, itu pendapat saya pribadi. Saya juga jarang keluar rumah, jarang jajan di luar. Kalaupun membeli, sekarang jadi lebih banyak hati-hati dan akhirnya lebih suka masak sendiri meskipun agak melelahkan.

Nah, sebenarnya konsumsi MSG secara berlebihan itu dibolehkan atau tidak ya, dalam dunia medis?

MSG sebenarnya merupakan bahan penyedap makanan yang aman dikonsumsi asalkan tidak berlebihan. Batas penggunaan MSG pada orang dewasa tidak lebih dari 2 sendok teh atau 6 gram sehari, sedangkan untuk anak-anak tidak boleh lebih dari 2 gram sehari.

Anak-anak di bawah satu tahun sebaiknya tidak mengkonsumsinya, bahkan memang dilarang terutama bagi yang masih di bawah 3 bulan. Ibu hamil juga sebaiknya tidak mengonsumsi makanan mengandung MSG sebab itu bisa berbahaya juga buat janinnya.

MSG juga punya dampak buruk bagi otak manusia. Glutamat yang terdapat dalam MSG ternyata bisa membuat saraf otak menjadi lebih aktif. Kalau kita mengonsumsi MSG berlebihan, otak bisa kelelahan bahkan sel-sel sarafnya bisa mati. Seram juga, ya?

Selain itu, MSG juga menyebabkan banyak penyakit seperti obesitas, masalah jantung, mual-mual, mati rasa dan sebagainya.

Sebenarnya, kita bisa saja makan makanan gurih alami tanpa MSG. Sebab ada banyak jenis bahan makanan yang mengandung penyedap alami seperti bawang-bawangan, tomat, jamur atau juga daging serta udang.

Jika sudah terbiasa mengonsumsi makanan dengan tambahan MSG, memang jadi hambar jika makan tanpa penyedap. Tapi, mengingat betapa besar dampak negative yang ditimbulkannya, saya pribadi lebih memilih mengurangi dan menggantinya dengan bahan alami.

Misalnya saja untuk  memasak, kita gunakan lebih banyak bawang supaya lebih gurih. Bisa juga membuat penyedap alami sendiri dari daging ayam serta wortel yang dikeringkan. Walaupun agak sulit, tapi insya Allah hati juga jadi lebih tenang.


Kesehatan itu menjadi harta tak ternilai dalam kehidupan kita. Banyak uang tapi tak sehat, bagaimana menikmatinya? Menjaga kesehatan menjadi sangat penting bukan hanya untuk jangka pendek saja, tapi untuk jangka panjang dan tanamkan kebiasaan hidup sehat kepada anak-anak kita juga. 
View Post



Assalamualaikum…alhamdulillah, berjumpa lagi dengan resep roti, yaa..hihi. Memang blog ini gado-gado banget, kadang isinya ceramah, kadang isinya beberes dapur, kadang kegiatan memasak. Tapi, apa pun itu semoga bermanfaat, ya. Barangkali ada yang ingin membuat roti boy di rumah? Nah, saya bagikan resepnya di postingan kali ini, ya.

Sebenarnya, ini bukan pertama kali saya buat Mexican bun atau roti boy ini. Dulu pernah bikin, tapi hasilnya meleleh luber toppingnya, nggak bisa krispi dan tebal. Jadinya trauma mau bikin lagi. Padahal paksu suka sekali dengan roti ini dan sudah lama pesan minta dibuatkan.


Nah, kemarin sore tiba-tiba pengen banget bikin. Alhamdulillah, qadarallah semua bahan ada di rumah. Untuk adonan rotinya, saya pakai resep biasanya tapi dikurangi kuning telurnya. Tenang saja, tetap empuk tapi tetap kokoh. Sedangkan isiannya bisa memakai butter yang dicampur dengan gula halus atau keju parut saja juga enak. Tapi, kemarin saya sudah tidak sempat dan sudah riweh sama bocah yang nyamilin adonan roti mentah yang sudah diulen…he. Jadilah roti saya tanpa isian.

Bahan roti:
500gr terigu protein tinggi seperti Cakra
90gr gula pasir
2 kuning telur, beri putihnya sedikit saja
2sdt ragi instan
2 sachet susu bubuk
130ml air hangat
120ml air dingin atau suhu ruang
90gr butter
1/4sdt garam
Bahan topping:
100gr butter atau margarin
100gr terigu kunci biru
100gr gula halus
1/4sdt baking powder
25gr tepung maizena
1 butir putih telur
Sedikit vanila cair
1 sachet kopi instan, campur sedikit saja air panas

Cara membuat:
1.      Untuk adonan roti: campur 130ml air hangat bersama 1sdm gula pasir dan 2sdt ragi instan. Aduk rata dan biarkan sampai berbusa. Sambil menunggu, kita siapkan bahan lainnya.
2.      Campur semua bahan sisa kecuali butter dan garam. Masukkan juga campuran ragi yang telah berbusa. Uleni sampai rata. Masukkan butter dan garam. Uleni sampai kalis elastis.
3.      Olesi tangan dengan sedikit minyak, bulatkan adonan dan diamkan sampai satu jam atau hingga adonan mengembang 2 kali lipat sesuai suhu ruangan. Jangan lupa selalu tutup dengan kain bersih setiap kali proses proofing berlangsung.
4.      Tinju adonan  untuk membuang udara. Bagi adonan seberat 40gr. Beri isian dan bulatkan. Diamkan lagi satu jam atau sampai mengembang 2 kali lipat, ya.
5.      Bahan topping: mixer butter dan gula halus sampai lembut. Masukkan putih telur, mixer sampai mengembang dan rata.
6.      Masukkan terigu, maizena serta baking powder sambil diayak. Masukkan juga kopi yang sudah dicampur air dan vanila cair. Mixer sampai rata. Masukkan dalam plastik segitiga. Lubangi ukuran sedang saja, ya. Semprotkan pada adonan ketika akan dipanggang. Setiap akan memanggang, semprotkan, lakukan sampai adonan habis.
7.      Panaskan oven 10 menit sebelum digunakan. Saya pakai suhu 180’C atau sesuaikan dengan oven masing-masing. Panggang adonan selama kurang lebih 20 menit atau tergantung ovennya. Sajikan selagi hangat.


Hasilnya krispi dan rotinya lembut banget meskipun punya saya kelihatan abstrak gitu bentuknya, hehe. Jadi, kemarin saya tidak menimbang butter untuk topping sesuai takarannya. Jadinya terlalu padat. Kalau mau coba, ikutin resepnya, ya.

Mungkin sudah sering saya singgung di postingan sebelumnya bahwa roti empuk akan sangat bisa dihasilkan dari adonan yang kalis. Meskipun tanpa telur, roti juga bisa tetap empuk. Tapi, semua kembali lagi pada selera masing-masing, ya. Kalau saya pribadi sudah klik dengan resep roti ini. Kadang hanya main pada takaran air dan jumlah kuning telur saja. Selamat mencoba, semoga berhasil…

Baca juga resep Donat Empuk NCC
View Post

Mie ayam bakso dan pangsit 'Yusuf Islam'


“Allah memberi rezeki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 553)

Rezeki telah ditentukan oleh Allah, tugas manusia hanya berusaha dan berikhtiar untuk memperolehnya. Saya sangat setuju dengan kalimat bahwa rezeki seseorang tidak akan tertukar dengan milik yang lain. Begitu pun jumlahnya. Allah menakar jumlah rezeki seseorang sesuai dengan yang Dia kehendaki. Lalu kenapa banyak orang merasa khawatir akan hal ini?

Minggu pagi, saya penasaran dengan penjual buah di sebelah Rumah Sakit Islam, Pondok Kopi, Jakarta Timur. Pagi-pagi sekali, tempat dia berjualan yang hanya berupa gerobak dan hamparan tanah selalu penuh sesak oleh pembeli. Beberapa orang mengatakan bahwa buah yang dijual harganya sangat terjangkau dan kualitasnya bagus. Bukan asal buah yang dia jual.

Penasaran, akhirnya saya pun pergi ke sana. Benar saja, pukul enam pagi, ibu-ibu dan bapak-bapak sudah antre membayar. Penjual yang disebut mereka ‘Mamang’ duduk di tanah sambil menghitung barang belanjaan orang-orang yang sudah mengantre.

Saya perhatikan, buah-buahannya bagus dan masih sangat segar. Ada jeruk, pisang, apel merah, buah pir, delima merah, nanas berukuran besar, mangga, buah naga, salak bahkan ada jambu biji.

Tidak heran jika banyak sekali orang yang datang sebab jenis buahnya memang cukup beragam. Saya tidak sempat memilih banyak, hanya mengambil pisang lumut, anggur merah, pir serta kelengkeng. Segera saja saya antre sebab benar-benar sesak. Kebayangkan kalau yang antre ibu-ibu? Senggol bacok, lho :D

Hal yang menarik, ternyata si Mamang ini nggak terlalu pandai berhitung, lho. Sesekali dia mengeluarkan kalkulator dari smartphone-nya. Tapi, lebih sering dia menghitung suka-suka. Kata orang-orang, harganya sesuai yang dia mau saja. Orang mengulurkan uang Rp.50.000, meskipun kurang 5 ribu misalnya, tetap saja dia ambil dan tidak peduli, cepat menyuruh pulang dan segera ganti pembeli lainnya. Belum lagi ibu-ibu yang selalu meminta gratisan, entah 2 buah mangga, pir bahkan jeruk. Kadang dia menghitung pisang dengan harga Rp.20.000, kadang dia hitung Rp.10.000, masya Allah, si Mamang ini benar-benar kelewatan saya pikir..hihi.

Jika ada orang membeli buah dan timbangan menunjukkan lebih dua ons misalnya, itu tidak akan dia hitung. Dia lewatkan saja, dibulatkan. Karena terlalu banyaknya pembeli, dan barang dagangan yang tumpah ruah di tanah serta di taruh sembarangan di gerobak, bisa saja ada orang yang mencurinya. Itu sangat mungkin terjadi. Dia hanya bersama seorang asisten yang sesekali berada di pojok menghampar buah-buah salak, sesekali pindah mengeluarkan buah jeruk. Sedangkan si Mamang, hanya duduk di sebelah peti uangnya yang terbuka. Sudah kayak orang nggak doyan uang, dia tinggal ke sebelah demi membuka kardus berisi buah-buahan. Nggak ditutup lagi uangnya..hihi. Sepertinya bukan saya saja yang heran, hampir semua pembeli juga heran bahkan tertawa melihatnya.

Selain pedagang buah ini, saya juga tertarik untuk menceritakan penjual mie ayam yang letaknya juga tidak jauh dari Rumah Sakit Islam, Pondok Kopi. Jika Anda berkunjung ke sini, pastilah familiar dengan mie ayam M.Yusuf Islam.

Dulunya, dia hanya menjual mie ayam di warung tenda di pinggir jalan. Pemiliknya seorang China muslim yang ramah dan bersahaja. Pembelinya bukan orang biasa, lebih banyak parkiran di pinggir jalan ini penuh dengan mobil mewah, lho. Rahasianya? Memang mie ayam serta baksonya enak banget. Harganya juga lumayan terjangkau antara 24-30 ribu saja.

Teman saya yang tinggal cukup jauh juga sempat menceritakan mie ayam satu ini, katanya di dekat Rumah Sakit Islam, Pondok Kopi, ada mie ayam enak. Dan benarlah mie ayam itu adalah mie ayam Yusuf Islam.

Sekarang, apa yang menarik?

Kedai Mie Ayam 'Yusuf Islam'


Saat kemarin saya ke sana, mie ayam satu ini sudah tutup. Tenda di pinggir jalan sudah hilang. Tapi, bukan karena bangkrut, ya. Justru dia pindah ke seberang jalan, di sebuah rumah yang lebih mirip restoran besar, bersih, nyaman dan yang pasti tempat parkirnya jauh lebih luas sekarang.

Penunjuk arah menuju mushalla

Saya sempat melihat ada Mushalla yang disediakan, tepatnya di lantai atas. Saat ke sana, saya sempat melihat pemiliknya masih seperti dulu, pakai kaos putih, mengantarkan pesanan pembeli, membersihkan meja, persis seperti karyawan lainnya. Padahal, kalau dilihat, di sana karyawannya juga cukup banyak bahkan dari sebelum dia pindah.

Kokohnya tetap ramah, bahkan sangat ramah pada anak kecil. Tidak ada yang berubah dengan pribadi beliau. Jika teman-teman bertemu, pastilah tak mengira jika dia adalah pemilik tempat makan tersebut.

Masya Allah, belajar dari kedua pedagang tadi, benarlah jika rezeki itu telah diatur oleh Allah dan jangan pernah mengkhawatirkannya. Meskipun bukan orang dalam, saya percaya pemilik rumah makan mie ayam itu tidak hanya sekadar menacari uang, saya perhatikan dia juga sangat peduli dengan karyawannya.

Jika hanya mengharap uang, mungkin si Mamang bakalan capek buka tutup peti kayu yang berisi uang itu, dia juga pastilah menghitung semua kelebihan timbangan buahnya. Tapi, kenyataannya, dia justru sering memberikan bonus kepada pembeli, bahkan memberikan harga sangat murah. Jika pun dia naikkan, insya Allah masih cukup terjangkau daripada tempat lainnya. Tapi, si Mamang tidak melakukannya.


Benarlah, keberkahan rezeki membawa kelapangan serta ketentraman dalam hidup. Jika Allah menutup satu pintu rezeki, pastilah Allah membukakan pintu lainnya untuk kita. Perbaikilah akhlak kita kepada sesama, terutama kepada orang tua. Perbaikilah ibadah kita, insya Allah rezeki dimudahkan oleh Allah, bahkan mungkin bisa sangat mudah menghampiri tanpa kita duga. 

Tumpuk tengah

Setelah makan, tidak lupa tumpuk tengah, supaya pelayan lebih mudah membersihkannya nanti. Saat pulang, jangan lupa berterima kasih dan lemparkan senyum, semoga rezeki kita diberkahi Allah, dan yang sedang sulit dimudahkan. Amiin.
View Post



Dalam banyak hal, saya termasuk orang tua yang lebih banyak merepotkan orang lain termasuk sangat merepotkan guru-guru anak saya.

Saat pertama masuk sekolah di TK, saya hanya sekali mengantarnya, kemudian menitipkan kepada bu guru yang telah berkenalan sebelumnya. Si sulung, entah karena memang sudah lama saya kondisikan bahwa saya tidak bisa selalu mengantarnya sekolah sebab saya baru melahirkan adiknya saat itu, sedangkan ayah juga harus berangkat kantor dari pukul enam pagi, maka sebelum melahirkan anak kedua, saya selalu menceritakan banyak hal menyenangkan tentang keadaan sekolah kepadanya, termasuk orang selain orang tua yang bisa diandalkannya di sekolah, salah satunya adalah ibu guru.

Saya memang bersyukur, dia tidak banyak merepotkan, tapi tentu saja ibu guru yang menjadi kerepotan sebab sejak hari kedua dia sudah tidak saya antar sekolah. Banyak kejadian tidak menyenangkan sempat dia lakukan, termasuk suka ngobrol sama temannya di kelas…he.

Saya lebih bersyukur lagi, sebab sekolah kakak memang sangat membantu saya sebagai orang tua, guru-guru di sana benar-benar enak diajak ngobrol soal anak-anak. Bahkan mungkin si kakak lebih penurut pada gurunya ketimbang sama saya..he. Kasihan ya emak satu ini.

Setelah masuk SD pun, bukannya tidak banyak merepotkan, apalagi anak baru peralihan dari TK ke SD itu luar biasa. Belum lagi ketika anak saya masih merasa menjadi anak TK, masih lebih suka bermain-main, dan kejadian lama pun terulang, dia suka ngobrol lagi sama teman-temannya. Aduh, mas…mungkin mau jadi wartawan ya, suka ngobrol terus di kelas..haha.

Selain itu, anak-anak usia dini biasanya masih suka melakukan hal-hal di luar dugaan, seperti masih suka BAB atau BAK di celana. Terbayang menjadi guru TK dan SD yang masih awal itu benar-benar luar biasa. Terima kasih ya, bu, sudah menjaga anak saya selama ini.

Buat saya, guru bukan hanya yang mengajar saya di sekolah, tapi juga orang-orang yang pernah menyematkan ilmu berharga dalam diri saya. Termasuk orang-orang yang telah memberikan waktu mengajarkan banyak hal dalam dunia kepenulisan kepada saya selama ini.

Tidak pernah terhitung seberapa banyak, tapi saya benar-benar berterima kasih kepada siapa pun yang telah meluangkan waktunya demi mengoreksi kesalahan saya selama ini. Terima kasih untuk banyak hal yang kadang masih belum sempurna saya terapkan sampai sekarang.

Buat saya, guru bukan hanya mereka yang mengajarkan baca tulis di sekolah, tapi semua orang yang dengan suka rela dan senang hati berbagi ilmunya meskipun sedikit saja kepada orang lain.

Seseorang bisa menjadi apa pun yang mereka inginkan, tapi tidak semua orang bisa membantu orang lain menjadi seperti apa yang mereka impikan.

Butuh lebih banyak kelapangan untuk berbagi banyak hal kepada orang lain, juga butuh banyak waktu. Dan seorang guru nyatanya tidak pernah memperhitungkan semua itu, mereka memberi tanpa pernah meminta imbalan.


Terima kasih kepada guru-guru tercinta, buat saya, beliau amat berharga.
View Post

pixabay.com


Raina merasa oksigen di sekitarnya tiba-tiba hilang. Sesak napas. Tidak bisa menyangkal rasa sakit hati dan cemburu yang dirasakannya saat ini. Hampir tidak bisa dipercaya, seorang Bagas Permadi yang dulu begitu ia kagumi, rupanya kini telah menggoreskan luka amat dalam. Apakah dia saja yang terlalu curiga?

Tapi, Bagas terlihat sangat akrab bicara, bahkan wajahnya yang beberapa hari terakhir terlihat mendung, kembali cerah dengan menampilkan deretan giginya yang bersih tanpa bekas nikotin.

Lelakinya tertawa, bahkan begitu gembira. Entah apa yang mereka bicarakan barusan, yang jelas, Raina merasa apa yang dilakukan Bagas merupakan sebuah kesalahan besar yang bisa mengancam hubungan mereka berdua. Tidakkah Bagas tahu, Raina amat benci dengan wanita itu?

Dia yang menggoyahkan keyakinan Raina ketika Bagas pertama kali berniat melamarnya. Dan sekarang, dia juga yang mengguncang ketenangan rumah tangga yang telah mereka bangun, bahkan anggota baru akan hadir melengkapi kegembiraan. Raina mengusap perutnya yang tak nampak berubah. Air matanya semakin deras.

Usia kandungannya sudah memasuki dua bulan. Dan Raina masih merahasiakan semuanya dari Bagas. Bahkan hingga sekarang, Raina tak pernah punya keinginan untuk bicara dengan lelaki itu. Entah sampai kapan dia akan memaafkan.

“Rai,” suara Bagas terdengar parau. Dia menyusul istrinya dengan perasaan tumpang tindih. Antara terkejut, takut dan menyesal.

Raina mengatakan dalam hati sekeras-kerasnya, percuma! Bicara tentang apa pun saat ini hanya akan membuat keadaan semakin sulit. Raina sedang marah, bahkan sedang amat marah. Dan Bagas datang menambah kemarahan itu.

“Mas bisa jelasin semua,” Bagas memilih membungkukkan badannya, mencari wajah Raina yang sudah basah oleh air mata.

“Mas tidak akan menikahi Sherly, tidak akan, Rai.”

Tapi, dia menjenguknya. Kenyataan yang akhirnya membuat Raina merasa muak bahkan tiba-tiba mual. Raina menarik napas, sulit sekali berdamai dengan masalah. Bahkan ketika Raina mencoba berpikir postif, hal buruk justru menusuknya dari belakang. Dia merasa kesakitan lagi.

“Mas hanya ingin memastikan kondisi Sherly membaik, itu saja. Tolong jangan berpikir buruk tentang mas. Mas nggak seperti itu,” Bagas memohon.

Tapi Raina tak ingin mendengar apa pun. Dia bahkan lebih suka mendengar tetesan hujan ketimbang penjelasan yang baginya tidak masuk akal. Tidakkah Allah begitu baik, hingga memperlihatkan semuanya secara gamblang?

Jika saja Raka tidak masuk rumah sakit, mungkin lelaki tampan di depannya juga tak akan menceritakan pertemuan mereka padanya. Jika bukan karena Raina yang memergokinya, mungkin Bagas akan menyimpannya rapat-rapat.

Sherly tiba-tiba menjadi sosok penting dalam hidup Bagas. lelaki itu dulu hanya ingin menjalin hubungan baik, tak terpikir akan menyukai pertemuan tanpa sengaja itu. Benar Raina bilang, jangan bermain api. Sebab api yang awalnya hanya berupa asap, bisa jadi akan membakarmu hidup-hidup.

Dan Bagas sudah terbakar tanpa pernah dia sadari.

Raina bergeming. Bagas masih mengelu dan memohon. Lelaki itu sekarang tidak lagi terlihat menyenangkan bagi Raina. Wajah tampannya bukan lagi kerinduan yang setiap malam membangunkan tidur lelapnya. Raina melihat wajah Bagas sekali lagi, hampir tak percaya lelaki yang dulunya begitu shaleh itu, kini mengkhianati pernikahan mereka.

Raina menutup matanya rapat-rapat. Sulit sekali memaafkan. Jika boleh memilih, Raina tidak ingin ada di tempat ini, dalam situasi yang amat menyakitkan.

Raina bangkit. Percuma. Tidak menyelesaikan masalah jika hanya bicara dengan amarah. Dia harus segera kembali ke kamar Raka. Sudah terlalu lama dia meninggalkan putranya sendiri.

“Rai, mau ke mana? Kita harus bicara, mas nggak mau kamu diamkan terus menerus. Mas mau kamu bicara!”

Bagi Raina, suara Bagas terdengar sedikit membentak. Lelaki itu bahkan menarik pergelangan tangannya, memaksa dia berhenti dan bicara.

“Raka dirawat. Raina harus segera kembali.”

Bagas sempat tak percaya, hingga sosok wanita berlesung pipit itu benar-benar pergi meninggalkannya sendiri. Bagas mengepalkan kedua tangan dan memukul udara. Dia benar-benar telah melakukan kesalahan besar. Lihat saja, gadis berlesung pipit yang dulu begitu dia kagumi, kini memilih pergi dan membawa lukanya sendiri. Tidakkah itu terdengar amat menyakitkan? Dan lebih buruknya, dia menangis karena perbuatan bodoh suaminya!

****



View Post

Pixabay.com


Raina mondar mandir di depan kamar. Menghubungi sebuah nomor yang selama sebulan hampir tidak pernah dilakukannya. Wajahnya terlihat gusar. Sebelah tangannya mengepal. Kesal! Di mana dia saat Raina begitu membutuhkannya?

Raina kembali ke kamar Raka. Bocah malang itu sedang merintih sambil setengah tertidur. Wajahnya memerah sebab suhu tubuh yang begitu tinggi. Entah sakit apa dia. Sejak semalam, demamnya belum juga turun. Raina ingin segera memberitahukan kondisi putranya pada Bagas, sayangnya, lelaki itu tidak juga menjawab telepon. Bahkan pesan singkat hingga puluhan belum juga dibalas.

Raina bimbang, dia tidak bisa membiarkan putranya menahan sakit terlalu lama. Raka mulai lemas, susah minum bahkan sesekali hanya bangun dan lebih banyak tidur. Raina khawatir kondisi Raka semakin memburuk. Takut dia dehidrasi, dan itu sangat  berbahaya.

Tanpa pikir panjang, Raina segera membopong Raka ke dalam mobil. Perutnya sedikit nyeri ketika menyadari, tubuh Raka sudah mulai terasa berat. Tapi, Raina tidak sempat berpikir panjang. Segera tancap gas menuju rumah sakit terdekat.

Nanti Bagas juga akan tahu. Raina sudah berusaha menghubungi, tapi dia mungkin saja terlalu sibuk mengurus pasien-pasiennya. Sampai-sampai tidak mendengar telepon berdering. Sudahlah, Raina memutuskan fokus memikirkan kondisi Raka ketimbang memikirkan Bagas yang nyatanya pastilah baik-baik saja.

Jalanan cukup lengang, hanya ada beberapa kendaraan bermotor. Hujan rintik mulai turun. Raina memandang keluar kaca jendela mobilnya sambil menunggu lampu merah berganti hijau. Entah kenapa, tiba-tiba perasaannya sunyi. Ada yang hilang namun entah apa. Baginya, rumit sekali memikirkan kejadian kemarin, saat tiba-tiba Bagas meminta izin ingin menikahi Sherly. Bukan hal mudah mendengar kabar buruk itu meski nyatanya sampai saat ini dia juga tidak pernah lagi mendengar kelanjutan cerita antara Bagas dan Sherly. Mungkin saja Bagas sudah lupa dan benar-benar menyesali ide gilanya itu.

Sesekali Raka merintih, membuyarkan lamunan Raina. Dia bergegas menuju rumah sakit. Sepuluh menit kemudian, Raka sudah masuk UGD dan ditangani oleh beberapa dokter.

Raina tidak menyadari, wajahnya tampak lebih pucat. Bahkan tubuhnya terasa menggigil. Dia bersyukur Raka segera dibawa ke dokter. Putranya benar-benar kekurangan cairan, dan itu yang membuat Raka cukup lemas sejak pagi tadi.

Raina mengangguk saja ketika dokter menyarankan putranya segera dirawat. Biasanya dia selalu meminta izin tentang apa pun kepada Bagas, kali ini dia benar-benar lupa. Sebab kepalanya yang sudah berdenyut berkali-kali sampai rasa khawatir yang berlebihan kepada putra sulungnya. Dan yang tak disadarinya, rasa mual yang mulai muncul sejak Raka masuk ruang perawatan.

Raina berkali-kali masuk kamar mandi. Dia muntah-muntah hebat. Belum lagi tadi pagi tidak sempat makan apa pun, termasuk setangkup roti yang disajikan di meja makan, sisa Bagas sebelum berangkat ke rumah sakit.

Raina menyerah, dia harus makan. Tidak baik membuat kondisi tubuhnya semakin buruk. Setelah memastikan Raka membaik dan bisa tidur, Raina segera pergi menuju kantin rumah sakit.

Mungkin dia bisa membeli teh hangat dan camilan sambil menunggu Bagas menghubunginya. Raina menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Betapa tidak mudah menghadapi semua ini hanya sendiri. Kondisinya yang sudah lemah, ditambah pertengkarannya dengan sang suami membuat semua energi dalam dirinya hilang seluruhnya. Raina mengusap sudut matanya yang tiba-tiba basah. Ingin sekali menukar cerita dengan yang lain, sayangnya, menyesali takdir merupakan kekufuran. Sama sekali tidak bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan.

Dia telah memiliki semuanya, kebahagiaan kemarin bahkan lebih mahal ketimbang tangisnya hari ini. Raina, bersyukurlah, bersyukur. Hanya itu yang dia ucapkan berkali-kali di dalam hati.

Pemandangan rumah sakit justru membuat hatinya semakin pahit. Selang-selang infus membelalai di mana-mana. Wajah-wajah semakin menyayat hati. Tapi tunggu, di antara beberapa bangsal yang terbuka sedikit pintunya, dia menangkap bayangan seseorang yang amat dikenalnya.

Raina menghentikan langkah. Kembali dengan rasa gugup yang membuncah. Dia mengintip dengan rasa takut yang amat sangat. Sekeping hatinya tiba-tiba patah. Terjatuh dan berantakan meninggalkan ngilu tak tertahan.

“Mas, Bagas,” desahnya.

Lelaki dengan kemeja rapi itu terlihat tertawa bersama seorang pasien yang entah siapa. Sebuah papan nama terbaca jelas oleh Raina. Pasien itu bukan hanya dia kenal, tapi juga menjadi bagian dari masa sulitnya saat ini. Raina mendekap hatinya sendiri. Terisak di lantai rumah sakit.

Entah Raina harus apa, bangun untuk berdiri saja rasanya teramat sulit. Sebelum dia berhasil berdiri dan berlari sekencang yang dia inginkan, sebuah suara menghentikan tangisnya.

“Rai, sedang apa di sini?”


Bagas tak sempat mendengar jawaban Raina. Gadis itu sudah berlari bersama seluruh kenangan manis yang kini telah luruh bersama derasnya guyuran hujan yang memekakkan telinga.
View Post

Musim hujan sudah datang. Siapkan payung sebelum hujan, ya! Biasanya kita jadi mudah kena flu. Apalagi yang punya alergi seperti paksu. Aduh, jangankan musim hujan, kena hawa dingin dari AC saja bisa bersin-bersin sampai pagi..he. Apalagi sudah musim hujan seperti sekarang. Jakarta yang biasanya pengap berubah jadi sejuk. Mandi maghrib biasanya segar, sore aja sekarang sudah dingin bukan main.

Di rumah, saya tidak mengonsumsi vitamin tertentu. Apalagi vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh seperti merek *m*n*s, soalnya itu tidak dianjurkan walaupun dijual bebas, ya. Saya lebih suka mengonsumsi buah lebih banyak, minum air putih yang banyak, makan sayur serta mengonsumsi madu dan minyak zaitun.

Anak-anak juga terbiasa dengan itu. Tapi, sekarang saya nggak mau bahas soal vitamin dan teman-temannya. Saya mau membahas makanan apa saja yang enak dimakan saat hujan plus dibuat sendiri di rumah.

Nah, ini versi saya sendiri, ya. Kalau teman-teman kira-kira suka makan apa ya, ketika hujan? Biasanya yang berkuah lebih menghangatkan, atau yang pedas pun bisa membuat keringat mengucur, yaa…he.

1.      Bakso

Foto: Koleksi pribadi


Siapa sih yang nggak suka makan bakso? Sejak ikutan cookpad, saya sudah terbiasa membuat bakso sendiri di rumah. Bahannya mudah, hasilnya pun nggak kalah sama bakso yang dijual. Intip resepnya di sini, ya.

2.      Seblak Aci

Foto: Koleksi pribadi

Seblak itu sebenarnya makanan yang baru saya kenal. Pertama makan ternyata enak banget, ya..he. Biasanya seblak dibuat dari kerupuk yang direbus, belakangan sudah mulai banyak jenisnya. Mulai dari seblak ceker pedas atau seblak Aci yang biasa saya buat ini. Resepnya intip di sini, ya.

3.      Cwi Mie Malang plus pangsit rebus

Foto: Koleksi pribadi

Kebayang nggak sih makan cwi mie Malang yang gurih banget plus pangsit rebus yang panas. Bikin nelen ludah, kan..he. Resep cwi mie Malang bisa dilihat di sini, ya. Nah, untuk pangsit rebusnya memang belum saya posting di blog, tapi sudah pernah saya tulis di cookpad. Lihat di sini. Isian pangsit rebus bisa ditambah ayam atau udang, ya. Kebetulan pas buat nggak ada stok ayam sama udang di rumah. Jadinya polosan aja.


Itulah 3 jenis makanan yang buat saya enak banget dimakan selagi panas, dengan cabe atau sambal yang banyak. Huhah huhah, yaaa. Semoga di musim hujan ini tidak banyak yang kena banjir. Kasihan kalau setiap tahun harus kebanjiran. Selamat mencoba resepnya, ya!
View Post