Friday, September 30, 2022

Cara Memulai Bisnis Jual Daging Sapi, Agar Untung dan Laris Manis

Cara Memulai Bisnis Jual Daging Sapi, Agar Untung dan Laris Manis
Photo by Alireza Nikzad on Unsplash


Waktu baru menikah dan mesti pindah ke Jakarta, saya nggak punya banyak kegiatan di rumah. Selain belum punya teman dan sering sendirian saat suami ngantor, saya jadi iseng dan pengin punya kegiatan yang berguna. Akhirnya, saya habiskan waktu untuk merajut, membuat bunga dari kertas krep atau koran, atau membuat tas-tas handamade. Jujur, bosan banget di rumah tanpa kegiatan. Hanya nonton televisi, masak sebentar dan beberes. Kalau terlalu lama begini, pasti bikin stres.


Kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya ada kegiatan lain yang bisa kita kerjakan selain hanya merajut dan menyulam. Salah satunya berjualan. Teman-teman mungkin saja belum tahu, namun faktanya bisnis jual daging sapi sekarang ini memang memiliki target pasar yang sangat luas. Pasalnya, hingga kini masyarakat Indonesia diketahui masih begitu menyukai menu yang berbahan dasar daging sapi. Kan enak bisa jadi juragan daging, ya...hehe.


Apalagi saat bertepatan dengan perayaan hari raya. Konsumsi daging sapi biasanya meningkat tajam. Terutama untuk daging sapi yang permintaannya luar biasa tinggi. Tak jarang, para penjual sampai kehabisan stok daging untuk dijual. Jadi, nggak ada salahnya kalau kita memulai bisnis ini sebagai ladang penghasilan sambil menghabiskan waktu luang. 


Begini Cara Memulai Bisnis Jual Daging Sapi yang Tepat

Cara Memulai Bisnis Jual Daging Sapi, Agar Untung dan Laris Manis
Photo by Vitoria Shes on Unsplash


Untuk cara memulai bisnis tersebut, teman-teman dapat menyimak penjelasan berikut, 


Lihat Pasar dan Persaingan

Untuk memulai bisnis jual daging sapi, paling tidak kita harus perhatikan dulu target market. Selain itu, perhatikan juga orang-orang yang sebelumnya sudah lebih dulu berkecimpung di dunia bisnis tersebut.


Misalnya, ketika kita ingin menjual daging sapi, maka silahkan dilihat seberapa luas pasar dan target market yang bisa dijangkau. Berapa jumlah kompetitor, semua harus dipikirkan. Analisa juga terkait kelebihan dan kekurangan para kompetitor tersebut. Hal ini berguna untuk memperkirakan apakah bisnis kita ke depan bisa bertahan atau tidak.


Memilih Supplier yang Tepat

Berikutnya, silahkan memilih supplier yang tepat. Pastikan supplier tersebut bisa menyediakan daging dengan jaminan kualitas tinggi dan harganya murah. Sebab, bagaimanapun juga, kita akan menjualnya kembali sehingga butuh harga murah untuk mendapatkan keuntungan tinggi.


Beberapa cara yang bisa dilakukan yaitu mendatangi peternak sapi atau rumah pemotongan hewan. Selain itu, tidak ada salahnya juga kita mencari supplier yang menyediakan daging sapi impor. Biasanya daging seperti ini berasal dari luar negeri. Namun jangan khawatir karena kualitasnya cukup baik dan harganya cenderung lebih murah dari daging lokal.


Mencari Tempat Usaha

Langkah berikutnya untuk memilih bisnis jual daging sapi adalah mencari tempat usaha. Umumnya, tempat menjual daging adalah pasar. Namun, kita bisa pilih lapak-lapak pasar yang lebih sering dilewati orang.


Hal ini sangat penting, karena semakin sering lapak jualan kita dilewati orang maka peluang daging dibeli juga makin tinggi. Perlu diingat, kita harus jual daging sapi secepat mungkin karena merupakan komoditas yang tidak bertahan lama. Kecuali kita melakukan langkah-langkah pengawetan khusus.


Mengutamakan Kualitas dan Kejujuran

Saat ini, banyak ditemukan kasus penjual daging sapi yang ternyata tidak jujur. Seperti menjual daging sapi gelonggongan atau daging yang diberi air supaya bobotnya jadi lebih berat saat ditimbang.


Bukan hanya itu saja, ada juga yang justru mengoplos daging sapi dengan daging babi yang cukup meresahkan. Terutama bagi kaum muslim yang memang tak mengonsumsi daging babi. Oleh sebab itu, awali dengan niat berjualan dengan berlandaskan kejujuran.


Ingat, berbohong dan ketahuan dapat menyebabkan risiko besar seperti terkena pasal pidana dalam undang-undang perlindungan konsumen. Bahkan, jika tidak ada yang tahu pun, kita harus ingat jika setiap perbuatan di dunia kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Serem juga, kan?


Melakukan Pemasaran dengan Baik

Biasanya, penjual daging sapi memang hanya mengandalkan pembeli yang lewat lapak saja. Dengan cara ini, mungkin bisnis kita nggak akan berkembang. Maka, cobalah strategi lain seperti jemput bola. Misalnya, dengan mendatangi tempat-tempat yang berpotensi membutuhkan stok daging sapi seperti warung makan, catering, restoran, dan lainnya.


Tawarkan harga lebih murah dengan yang biasa mereka beli. Namun tetap jangan pernah turunkan kualitas daging kita. Caranya, kembali lagi kita harus jeli mencari supplier yang tepat. Supaya dapat harga lebih murah dan mendapatkan keuntungan tinggi.


Cara memulai bisnis jual daging sapi sudah dijelaskan di atas. Dari semua penjelasan tersebut, hal paling penting adalah mencari daging dengan kualitas terbaik. Jika teman-teman masih bingung, Sayurbox bisa jadi rekomendasi yang tepat. Produk daging dijamin fresh dan banyak promo menarik yang bisa membuat kita lebih hemat saat berbelanja. Yuk, mulai belanja daging untuk dijual kembali di Sayurbox dengan kunjungi aplikasi atau websitenya di https://www.sayurbox.com/category/anekadaging-1-0d447988 sekarang, 


Salam hangat,


Monday, September 19, 2022

Belajar Konsisten Menulis Setiap Hari, Sulitkah?

Belajar Konsisten Menulis Setiap Hari, Sulitkah?
Photo by Kaitlyn Baker on Unsplash


Menulis merupakan kegiatan yang saya lakukan hampir setiap hari. Iya, kalau memang sedang tidak ada hal mendesak, saya memang merutinkan menulis setiap hari terutama setelah pandemi mulai reda. Saat masih pandemi, saya banyak berkutat dengan ilustrasi sampai-sampai nggak ada waktu untuk menulis buku lagi. Sedih? Banget. 


Makannya awal tahun ini saya mulai mengurangi mengerjakan ilustrasi. Hanya menerima beberapa pekerjaan yang memang saya mau kerjakan supaya ada waktu lagi untuk menulis.


Namun, terkadang saya harus mengerjakan naskah sekaligus membuat ilustrasi buku. Misalnya seperti beberapa bulan lalu saat saya harus mengerjakan ilustrasi untuk buku Bunda Helvy Tiana Rosa, di sisi lain saya sudah ada kerjaan menggarap naskah. Awalnya saya kira nggak akan bisa mengerjakan semuanya tepat waktu, qadarallah dengan lebih disiplin dan banyak berdoa akhirnya pekerjaan itu selesai tepat waktu juga. Masya Allah, legaaa.


Beberapa orang bertanya, memangnya nggak capek menulis setiap hari? Penulis lain juga melakukan hal yang sama, kok. Saya bukan orang yang paling rajin, yang lebih rajin masih lebih banyak lagi. Kalau ditanya capek atau nggak, yang jelas pasti lebih capek karena kita mesti melakukan hal lain selain pekerjaan rumah. Saya seorang Ibu Rumah Tangga yang punya tanggung jawab di rumah. Mencuci, menyetrika, memasak, beres-beres rumah, mendampingi anak belajar dan mengaji, dan banyak lainnya. Sama seperti ibu lain di luar sana yang memilih mengurus semua sendiri tanpa asisten rumah tangga.


Ketika saya memutuskan tetap berkarya di usia saya yang segini, yang sudah nggak 17 tahun ini, otomatis saya sudah harus siap lebih capek. Apalagi kalau ada kerjaan yang tiba-tiba datang sekaligus. Benar-benar harus membagi waktu dan disiplin dengan jadwal yang telah dibuat.


Namun, capeknya tetap menyenangkan karena saya mengerjakan hal yang benar-benar saya sukai. Kalau ditanya bosan atau nggak, pasti ada bosan dan pengin berhentinya. Nggak masalah, ambil jeda dan istirahat. Nggak udah dibawa pusing. Nanti juga bisa balik lagi ke laptop :D


Jangan Kerjakan Sekaligus

Belajar Konsisten Menulis Setiap Hari, Sulitkah?
Photo by Richa Sharma on Unsplash


Adakah orang-orang seperti saya, yang kalau ngerjain apa-apa maunya sekaligus beres? Mulai dari menggambar, menulis, beres-beres rumah, dan yang lainnya?


Ternyata ini nggak terlalu berguna ketika kita mesti mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus. Bikin saya capek dan stres. Saya harus menyadari bahwa tidak semua pekerjaan bisa dikerjakan sekaligus dan mestinya saya belajar mencicil pekerjaan supaya semua bisa dibereskan dalam waktu yang tepat.


Contohnya begini, saya dari dulu nggak terbiasa menulis buku sekaligus mengerjakan gambar. Kalau sudah menerima orderan ilustrasi, saya akan fokus di pekerjaan ini sampai beres. Memang benar, kalau fokus jadi cepat selesai. Namun, cara ini nggak bisa saya lakukan kalau saya punya lebih dari satu pekerjaan.


Waktu saya mesti merampungkan naskah dan membuat ilustrasi untuk buku lain, saya belajar mencicil pekerjaan. Pagi-pagi sebelum Subuh saya menulis beberapa halaman untuk naskah saya, sedangkan siangnya saya mencicil ilustrasi. Sebulan itu saya melakukan hal yang sama setiap hari dan Alhamdulillah, dua-duanya rampung.


Andai saya hanya fokus mengerjakan satu hal dulu, saya nggak yakin target saya bakalan selesai tepat waktu. Mungkin agak molor-molor dikit...hehe.


Nah, cara ini bisa kita terapkan. Di sela-sela kesibukan mengurus rumah, sempakant menulis meski hanya sedikit. Mencicil setiap hari lama-lama akan jadi bukit, lho. Nggak berat, kok asal kita senang mengerjakannya. Makannya pastikan kamu benar-benar suka menulis sebelum memutuskan jadi penulis.


Membuat Target

Belajar Konsisten Menulis Setiap Hari, Sulitkah?
Photo by Hannah Grace on Unsplash


Berapa lama kamu akan menyelesaikan naskahmu? Sebulan? Dua bulan? Buatlah target sesuai kemampuan dan kerjakan dengan konsisten. Jika ditanya apakah sibuk dan capek? Semua orang juga sibuk dan capek, sih. Tinggal bagaimana kita mau melakukannya atau tidak.


Target dibuat supaya memudahkan kita supaya mau disiplin waktu. Kalau sehari mesti mengerjakan dua halaman, kerjakan dua halaman atau lebih. Lakukan secara terus menerus sampai naskahmu selesai.


Bukankah buku yang bagus adalah yang sudah selesai ditulis? Bukan hanya yang selesai diangankan apalagi hanya dibayangkan. Nggak ada kriteria naskah bagus atau nggak. Ini soal proses. Makin hari akan semakin bagus. Bertambah hari, bulan, hingga tahun, yakin deh tulisan kita akan ada peningkatan kualitas asal tetap mau menulis, membaca, dan terus belajar. Seperti itulah kata bang Tere Liye :D


Menjadi penulis merupakan hal yang membahagiakan, tapi jangan hanya jadi gaya-gayaan. Kalau kita bisa menikmatinya, insya Allah ada banyak hal yang bisa jadi pembelajaran. Memang butuh sabar, apalagi kalau masuk jalur penerbit mayor. Menunggu buku terbit hingga bertahun-tahun itu lumrah dialami semua penulis. Jangan takut, jika sudah jadi rezekimu, insya Allah bukumu akan terbit juga. Banyak-banyak sabar, ya :)


Salam hangat,


Monday, September 12, 2022

Haruskah Orang Tua Menekankan Nilai Akademik Terbaik pada Anak?

Haruskah Orang Tua Menekankan Nilai Akademik Terbaik pada Anak?
Photo by Annie Spratt on Unsplash


Mengharapkan anak berhasil meraih nilai akademik terbaik di kelasnya merupakan hal yang wajar. Sebagai orang tua, siapa sih yang nggak pengin anaknya menjadi juara? 


Waktu saya sekolah dulu, orang terdekat pernah bilang, “Masa kamu nggak bisa seperti si A yang dapat peringkat pertama?”


Padahal, peringkat saya nggak buruk-buruk amat. Masih tiga besar. Entah alasan apa tepatnya, saya jadi lebih serius belajar dan bisa dikatakan mati-matian. Belajar sampai tengah malam, sampai sarapan pun di kamar karena sambil menghafal materi pelajaran.


Tahun-tahun berikutnya, waktu masih SMP, saya berhasil mendapatkan nilai terbaik, bahkan sampai kelulusan. Sampai-sampai kepala sekolah ngasih saya uang karena nilai UN saya terbaik di antara dua sekolah dalam satu yayasan. Namun, jangan kira saya tetap jadi orang yang pintar dengan nilai akademik terbaik. Waktu SMA, saya sudah nggak sesakti itu…kwkwk.


Setelah punya anak, saya juga senang ketika anak saya dapat juara. Saya senang dia mau belajar tanpa harus capek-capek diminta. Namun, makin ke sini saya makin santai. Apalagi sudah banyak yang bilang, nilai akademik bukan segalanya. Nggak pandai Matematika bukan berarti bodoh. Setiap anak punya potensinya masing-masing. Jika si A pandai Matematika, bisa jadi anak kita justru lemah dalam berhitung, tapi bagus di bidang seni. Ada juga yang unggul justru di bidang olahraga. 


Anak saya juga begitu. Saya memaklumi kalau dia harus bekerja lebih keras untuk menghafalkan perkalian karena dia nggak terlalu unggul dalam berhitung. Tapi, saya bersyukur dia mau berusaha. Ketika ada orang yang bilang, "Anakmu enak bisa Matematika." Dia nggak tahu, anak saya pernah sampai bolak balik video call sama walasnya, sampai mau nangis karena belum paham, dia juga pernah belajar Matematika sama ayahnya sampai larut malam karena merasa belum bisa-bisa. Saya suruh tidur nggak mau. Orang-orang nggak lihat yang begini kecuali kita orang tuanya.


Tapi, si sulung ini senang kalau ada kelas IT. Di rumah, dia suka bikin game sendiri sampai ada level-levelnya. Anak-anak saya nggak ada yang main games di handphone. Mereka bukan pecandu game, tapi karena dibatasi itu, karena kata Bunda main game nggak baik apalagi kalau keseringan, mereka jadi bikin permainan sendiri, entah itu dibikin di laptop atau di buku yang digambar dengan begitu detailnya.


Sampai di sini mestinya kita sudah paham, setiap anak itu cerdas dan pintar sesuai bidang yang dikuasainya. Nggak perlu membandingkan anak kita dengan anak orang. Apalagi memaksanya berkompetisi mati-matian dengan teman-temannya. Hingga ada anak yang kecewa berat ketika nilainya tidak sempurna. Sampai-sampai ada yang mendoakan nilai si sulung jelek, bukan dengan nada bercanda, diucapkan beberapa kali, di depan putra saya langsung. Agak kaget, tapi saya jadi tahu, ada anak yang seambis itu pada nilai. 


Biarkan Mereka Menikmati Prosesnya

Haruskah Orang Tua Menekankan Nilai Akademik Terbaik pada Anak?
Photo by Ismail Salad Osman on Unsplash


Dikutip dari id.quora.com, ada satu artikel menarik yang ditulis oleh Zhaza Afililla yang merupakan dokter hewan, dia membahas tentang banyaknya orang tua yang selalu terpaku pada nilai akademik. Masih banyak orang tua yang nggak paham dengan proses belajar putra-putrinya. Mereka selalu berorientasi pada hasil. Pokoknya kamu harus juara. Pokoknya nilai kamu harus sempurna kalau mau berhasil. Kira-kira seperti itu gambarannya.


Ada cerita dari teman saya tentang teman anaknya yang selalu dimarahi ketika tidak mendapatkan nilai sempurna. Makannya dia suka nangis kalau dapat nilai 90. Anaknya masih kelas 4 SD. Masih kecil, tapi mesti dapat tuntutan seberat itu dari orang tuanya.


Usia sekolah apalagi masih usia SD mestinya adalah masa belajar yang menyenangkan, santai-santai. Meskipun tuntutan dari sekolah cukup berat, tapi jangan sampai orang tua menambahkan tuntutan yang lebih berat lagi pada anak.


Seorang dosen psikologi pernah mengatakan, anak usia segitu jangan ditambah les macam-macam. Capek. Apalagi yang sekolahnya full day seperti anak saya. Pagi berangkat, sore sampai rumah. Dia hanya punya waktu sedikit untuk istirahat, belum lagi kalau diberi PR banyak dari gurunya. Bukannya pintar, malah stres.


Kita tahu banget kalau semua hal itu nggak bisa tercapai dengan sekali kedipan mata. Semua itu butuh proses. Sedikit saya ceritakan tentang anak saya yang paling kecil. Semua anak saya memang belajar mengaji di rumah bersama saya.


Namun, si bungsu nggak sama seperti si sulung. Dia butuh waktu lebih banyak supaya bisa menamatkan buku Iqro'. Satu halaman kadang diulang sampai seminggu lebih. Karena dia masih terbata-bata, kadang juga lupa materi sebelumnya. Setiap pindah halaman baru, dia selalu suntuk karena merasa itu sulit dan nggak mampu. Saya nggak pernah maksa dia harus bisa. Nggak pernah marah juga. Saya ikuti maunya apa. Kalau hari ini dia hanya mau baca setengah halaman, itu nggak masalah. Kadang satu baris juga sudah cukup. Kadang juga nggak jadi ngaji. Besoknya ketika merasa sudah lebih mengerti, lebih tenang, dia akan minta membaca sampai selesai.


Ketika dia harus mengaji dengan metode berbeda seperti saat di TK ataupun SD, tidak banyak perubahan yang mesti dibenahi karena mungkin dasarnya sudah benar.  


Orang-orang melihat hasilnya. Dia sudah cepat bisa. Dia sudah hafal dan lulus banyak surat. Sekali lagi, kebanyakan orang hanya mau melihat hasilnya tanpa melihat prosesnya. Padahal, dia kadang sampai nangis waktu belajar ngaji karena merasa kesulitan mengikuti, tapi dia mau belajar dan tekun. Dia rela nggak main dulu biar bisa menghafal surat-surat pendek. Tanpa harus saya temani, dia mengulang-ulang hafalannya sendiri. Saya nggak pernah memaksa. Saya pikir, mungkin karena sudah ada contoh dari kakaknya yang setiap hari menambah hafalan, dia jadi punya semangat buat menghafal juga.


Apakah saya memberi anak-anak reward besar ketika mereka berhasil mencapai suatu target? Nggak sama sekali. Tapi, untuk menghargai usaha mereka, saya selalu ngasih sesuatu. Misalnya buku bacaan kesukaan mereka setelah ujian meskipun mereka nggak dapat nilai terbaik di kelas. Saya bilang, ini hadiah karena kalian sudah berusaha dan mau belajar. Dan memang saya juga tidak pernah menanyakan peringkat anak-anak selama ambil rapot. Lucunya, kadang mereka malah tahu dari temannya di kelas :D


Ambisi Akademik Tak Sejalan dengan Kebutuhan Anak

Haruskah Orang Tua Menekankan Nilai Akademik Terbaik pada Anak?
Photo by Volodymyr Hryshchenko on Unsplash


Kenapa sih tiba-tiba saya bahas tema ini? Sebenarnya ide ini muncul waktu parenting kelas atas kemarin. Walas si kakak bilang, nilai akademik itu bukan segalanya, bukan yang utama. Jangan bebani mereka dengan belajar di bimbel khususnya di kelas 6 karena mereka sudah sangat capek. Kecuali memang anaknya mau, ya.


Jadilah saya pengin cerita lebih banyak soal ini. Tentang ambisi akademik, memberikan tekanan pada anak, tapi orang tua menikmatinya sebagai kompetisi. 


Namun, terkadang ambisi akademik tidak sejalan dengan kebutuhan anak seperti ditulis oleh Zhaza Afililla. Iya, kita mau anak pintar, tapi kita nggak pernah mendampingi dia belajar. Kita mau dia jadi anak hebat, tapi kita nggak ngasih kasih sayang sama mereka.


Kepala sekolah di sekolah si kakak pernah bilang, ketika orang tua menyerahkan anak-anaknya di sekolah, jangan serahkan tanggung jawab mendidik seluruhnya kepada sekolah. Orang tua juga masih punya tanggung jawab dan kewajiban untuk mendampingi anak-anaknya di rumah. Bahkan, sudah jelas, anak-anak yang di rumahnya jarang diperhatikan dan didampingi, dia cenderung ketinggalan. Kasihan, katanya.


Jika kita mau nilai anak-anak bagus, pelan-pelan kita juga mesti usaha supaya anak-anak mau belajar dengan happy, tanpa mesti dipaksa. Diberikan pendampingan, dibantu, jangan hanya dituntut. Kita juga mesti ngasih lebih banyak waktu buat mereka. Terutama anak yang masih usia kelas 1 SD. Benar-benar harus didampingi pake banget.


Suasana Rumah yang Kondusif

Haruskah Orang Tua Menekankan Nilai Akademik Terbaik pada Anak?
Photo by Ben White on Unsplash


Masalah terbesar bagi orang tua dan anak-anak di zaman sekarang adalah gadget, nonton televisi, dan main games. Siapa sih yang nggak punya masalah soal ini? Anak kecanduan gadget sejak usia dini, kencanduan main games, sampai lebih parah sudah terpapar pornografi.


Anak-anak yang kesulitan belajar di rumah mungkin disebabkan oleh kecanduan main gadget atau nonton kartun di televisi dan kurangnya pendampingan dari orang tua. Sedikit cerita, si sulung dulu pernah sangat senang nonton kartun di televisi sampai-sampai ketika dimatikan kita mesti ribut dulu…kwkwk. Saya nggak mau ini terulang karena capek banget mengatasinya.


Tahun-tahun pandemi ketika semua anak hampir seluruhnya malah jadi senang main gadget, anak saya malah nggak terpapar itu. Televisi di rumah tiba-tiba mati saking lamanya nggak dinyalain. Ya Allah, pengin ngakak sih kok bisa sampai rusak begini? Beberapa tahun kemudian saya belum mengizinkan suami membeli televisi lagi. Alhamdulillah, semua menurut...kwkwk.


Anak-anak pegang hp sekadar buat zoom, cek jadwal, dan sebagainya. Anak-anak boleh kok nonton, tapi saya batasi ketika hari libur dan kami sepakat nontonnya juga hanya 2 atau 3 kartun pendek. Benar, ini kesepakatan kami bersama. Ketika mereka melanggar aturan di rumah, misalnya bertengkar antara kakak adek, hari libur nggak boleh nonton. Alhamdulillah mereka sadar diri kalau salah. 


Di rumah, handphone, laptop, ataupun tablet nggak pernah disembunyikan. Mereka tahu tempatnya di mana. Apalagi pekerjaan saya memang membutuhkan gadget. Letaknya di atas meja, kadang di kamar. Mereka bisa ambil dan pakai ketika mau, tapi saya bersyukur mereka selalu minta izin dulu dan memakainya sesuai kebutuhan.


Anak-anak yang nggak kecanduan Hp biasanya cenderung lebih kreatif. Ketika anak-anak saya nyandu nonton mulu seperti dulu, mereka selalu ngeluh bosan, mau ngapain lagi, nih? Keponakan saya juga begitu.


Ketika mereka sudah nggak kecanduan gadget, mereka bisa melakukan banyak hal. Idenya jadi banyak. Main lego jadi nggak membosankan. Baca buku jadi menyenangkan. Hari-harinya penuh semangat. Mulai dari bikin game sendiri di laptop sampai bikin permainan di buku semacam ular tangga. Ada aja idenya :D


Supaya anak belajarnya nyaman, kita juga mesti menciptakan suasana yang baik buat mereka. Ngasih perhatian, ngasih waktu, ngasih apresiasi dan menghargai usaha mereka. Paling penting, jangan membandingkan anak kita dengan anak orang lain. Saya sudah tahu rasanya dan itu nggak enak, bestie :D


Dear Ayah dan Bunda, yuk nikmati peran kita mumpung anak-anak masih di dekat kita. Mereka masih mau curhat ke kita, mereka masih senang kita cium dan peluk, mereka masih menjadikan kita sebagai tempat bertanya itu hal luar biasa, lho. Jangan bikin mereka benci sama temannya hanya karena nilai akademik :) 


Salam hangat,