Wednesday, December 29, 2021

7 Cara Berpikir Positif dalam Keadaan Sulit, Bahagia Tidak Harus Bergantung Pada Orang Lain

7 Cara Berpikir Positif dalam Keadaan Sulit, Bahagia Tidak Harus Bergantung Pada Orang Lain
Photo by Havilah Galaxy on Unsplash


Bagaimana rasanya menjadi orang yang suka overthinking? Semua hal sepele dibikin rumit. Semua masalah kecil dibesar-besarkan. Berbicara kepada diri sendiri ke sana kemari, tanpa peduli apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Jadi overthinking itu nggak enak. Percaya, deh. Buat kamu yang merasa terkurung dalam situasi yang seperti ini, sulit berpikir positif, apa-apa bawaannya negative thinking terus, mending mulai sekarang diubah lagi cara berpikirnya. Nggak semua hal yang kamu takutkan bakalan terjadi, kok. Kadang, ada hal-hal yang meleset dari perkiraan kita. Jadi, kenapa mesti berburuk sangka pada semua hal yang belum terjadi? Nggak seharusnya kita menghabiskan waktu untuk memikirkan hal yang tidak perlu.


Waktu Ibu sakit dan terkena serangan stroke pertamanya hingga tidak sadarkan diri, rasanya nggak bisa berpikir selain merasa takut dan berkata pada diri sendiri, 'saya nggak pernah siap dengan keadaan seburuk ini. Saya nggak siap dengan semua hal yang serba mengejutkan, apalagi menyangkut kondisi buruk yang terjadi pada orang tua.'


Namun, makin ditangisi, makin buntu saja pikiran. Makin nggak bisa ngapa-ngapain sampai mual-mual. Akhirnya, saya memilih menerima semuanya dengan lebih lapang. Menerima keadaan buruk yang tidak pernah saya kehendaki, tapi Allah menginginkan semuanya terjadi.


Beberapa hari setelah tiba di Malang dan menemani Ibu di Rumah Sakit, suami sudah bilang bakalan balik ke Jakarta dalam waktu yang lebih cepat. Entah sehari atau dua hari kemudian. Kondisi Ibu waktu itu belum pulih. Ibu sudah sadar, tapi masih dirawat. Saya dan Kakak mesti bergantian menjaga karena nggak mungkin orang lain yang masuk ke ruang rawat inap. Aturan di ruang stroke cukup ketat sehingga tidak diizinkan terlalu sering ditunggu oleh orang yang berbeda.


Dan lagi, rasanya belum siap pulang kalau Ibu belum kembali ke rumah dalam kondisi yang stabil. Sempat bilang sama suami, saya nggak bisa mikir untuk saat ini. Maunya makan es krim dan menjalani semuanya dengan baik di waktu-waktu yang serba terbatas. Dijalani saja dulu, nggak mau berpikir begini dan begitu karena kenyataannya saya nggak cukup pintar buat mencari solusi.


Saya pasrahkan semuanya pada Allah. Dia yang membuat masalah atau musibah menimpa keluarga kami, maka hanya Dia pula yang dapat menyelesaikannya. Setiap salat saya berdoa dan percaya dengan yakin bahwa Allah akan memberikan solusi atas semua masalah yang sedang kami hadapi.


Qadarallah, siangnya ada chat dari dokter mengenai kondisi Ibu yang dibolehkan pulang bahkan sejak hari sebelumnya. Bersyukur sekali rasanya, meski tidak bisa menemani lebih lama, setidaknya Ibu bisa istirahat di rumah. Kakak saya juga nggak akan terlalu repot karena sebelumnya mesti bolak balik RS dengan kondisi punya balita.


Hari-hari berikutnya, Ibu mengalami banyak perubahan yang baik. Bahkan di hari sebelum saya berangkat dan kembali ke Jakarta, Ibu mau jalan kaki sambil dipapah. Benar, kan? Ketika kita menyerahkan semuanya kepada Allah, ketika kita sudah berusaha dan kemudian pasrah, Allah bakalan menyelesaikan semuanya. Nggak mungkin Allah zalim sama kita. Nggak mungkin juga Allah membebankan masalah melebihi kekuatan kita. 


Cara Membangun Pikiran Positif di Saat Sulit

7 Cara Berpikir Positif dalam Keadaan Sulit, Bahagia Tidak Harus Bergantung Pada Orang Lain
Photo by Jamie Brown on Unsplash


Berpikir positif di saat sulit merupakan salah satu hal yang sangat dan sangat tidak mudah. Ketika semua baik-baik saja, kita bisa dengan tenang mengatakan aku berbaik sangka kepada semua ketentuan Allah. Namun, di saat yang serba nggak mudah, ada masalah, ada musibah, diuji dengan hal-hal yang di luar kendali manusia, rasanya nggak akan mampu berpikir positif. Sama sekali nggak mungkin. Apalagi bagi orang yang suka overthinking, sudah, deh, bakalan kelar urusan saking paniknya.


Hei, kita hidup tidak bergantung pada kemampuan sendiri. Bahkan untuk urusan sepele semisal mengatur ritme jantung pun mesti Allah yang atur dan kehendaki. Jadi, kenapa kita mesti khawatir berlebihan ketika diuji oleh Allah? Apakah Allah akan meninggalkan kita? Sama sekali nggak, kok.


Bangunlah rasa percaya dan yakin bahwa semua akan baik-baik saja atas izin-Nya. Allah tentu sangat paham apa yang terbaik bagi kita sehingga mustahil kita ditelantarkan begitu saja ketika sedang mengalami musibah.


7 Cara Berpikir Positif, Tidak Semua yang Kita Takutkan Akan Terjadi

7 Cara Berpikir Positif dalam Keadaan Sulit, Bahagia Tidak Harus Bergantung Pada Orang Lain
Photo  by Vladislav Klapin on Unsplash


Apa yang kita pikirkan, tidak sepenuhnya akan terjadi. Jika demikian, kenapa tidak belajar berbaik sangka saja kepada Allah? Bukankah Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya? 


Jika berpikir baik dapat memperbaiki keadaan, minimal kita bisa hidup menjadi lebih tenang sambil menjalani semua kesulitan, kenapa mesti mengurung diri dalam pikiran negatif? Tidak semua hal bisa kita kendalikan, tapi tentu Allah punya kendali atas semuanya.


1. Jangan Menggantungkan Kebahagiaan Kepada Orang Lain

Meski itu adalah pasangan kita sendiri. Jangan pernah bergantung pada orang lain. Jangan menggantungkan kebahagiaan kepada mereka yang entah di waktu yang tidak kita tahu bisa jadi malah membuat diri kecewa.


Ketika kita bergantung kepada makhluk, otomatis kebahagiaan kita tergantung juga padanya. Kenapa tidak membangun kebahagiaan kita sendiri? Allah nggak akan suka kalau kita terlalu berlebihan bergantung pada manusia. Suatu saat, kita akan kecewa. Bahkan bisa jadi sangat kecewa.


2. Pikiran Negatif Tidak Menyelesaikan Masalah

True? Pikiran negatif tidak pernah berdampak baik bagi kehidupan kita kecuali hanya memperburuk keadaan. Dulu, kamu pernah menjadi overthinking hingga membuat masalah sepele menjadi rumit. Namun, hari ini belajarlah untuk selalu berbaik sangka kepada semua hal. Baik itu tentang dirimu ataupun yang berhubungan dengan orang lain.


Makin negatif dan overthinking, makin buruk keadaan dan hati menjadi lebih gelisah. Mending lepasin saja pikiran negatif itu dan mulailah berpikir hal-hal yang baik yang bisa terjadi di waktu yang akan datang.


3. Yakinlah Semua Akan Baik-Baik Saja

Yakinlah bahwa semua akan baik-baik saja. Pikirkan kemungkinan baik yang bisa terjadi dan singkirkan kemungkinan terburuk yang bisa kamu pikirkan di saat menghadapi masalah. Tak semestinya kita membebani diri dengan keyakinan yang negatif. Punya masalah saja sudah berat, ditambah overthinking pula, makin rumit dan ribet saja masalahnya nanti.


Please, belajarlah mengatakan pada diri sendiri, di saat yang sulit sekalipun, semua akan baik-baik saja. Nggak masalah merasa sedih dan buruk, tapi semua akan baik-baik saja. Ada Allah. Kamu nggak sendirian, kan?


4. Menerima Keadaan dengan Hati Lapang

Ketika sedang tertimpa musibah, pasti rasanya nggak enak. Nangis seharian. Makan nggak enak, bahkan nggak sadar kalau belum makan. Dalam kondisi sesulit itu, tidak seharusnya kita menolak masalah atau keadaan yang buruk. 


Apa yang sudah terjadi merupakan takdir. Yakinlah semua takdir Allah itu baik, sebab tidak ada keburukan yang bisa disandarkan kepada-Nya. Artinya, semua hal yang saat ini terlihat nggak nyaman, bikin nangis nggak habis-habis, insya Allah punya hikmah dan tujuan yang baik ke depannya nanti. Jadi, yuk, diterima dulu masalahnya dengan sabar, kemudian berdoalah kepada Allah. Itulah yang diajarkan di dalam Islam.


Ketika kita bisa menerima semuanya, menerima yang buruk dan juga yang baik, insya Allah kita akan terhindari dari sikap menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, apalagi Tuhan.


5. Jalani Sesuai Alurnya

Ketika melihat Ibu tidak sadarkan diri di bangsal rumah sakit, hati mulai bertanya-tanya, kenapa bisa sampai kejadian seperti ini? Namun, saya sadar betul, semua hal hanya terjadi kalau Allah mengizinkan. 


Maka, saya mencoba untuk mengikuti alurnya. Jalani saja dengan baik semaksimal yang kita bisa. Ikhtiar lewat perantara medis dan juga berdoa kepada Allah. Kita nggak bisa mengubah semua hal sesuai dengan yang kita mau dan inginkan. Kalau Allah berkehendak yang di luar kemauan kita, kita mesti menerimanya dan ikuti saja jalannya. Yakinlah, Allah akan menolong.


6. Jangan Berandai-andai Jika Begini dan Begitu

Kebanyakan orang yang overthinking sering berandai-andai ketika menghadapi suatu masalah. Bagaimana kalau keadaan memburuk, nggak sesuai harapan, atau sejenisnya. Pikirannya jalan ke mana-mana, terutama menjadi negative thinking. Stop, kitalah yang dapat mengendalikan pikiran sendiri.


Jangan berandai-andai jika begini dan begitu. Namun, cobalah lakukan hal terbaik yang bisa dikerjakan saat itu juga tanpa banyak berpikir ke depannya akan seperti apa. Jangan takut. Jangan khawatir, toh semua milik Allah. Semua hanya titipan. Jika ada yang terjadi di luar kendali manusia, memang itu sudah jadi fitrahnya kita sebagai hamba yang tidak berdaya kecuali atas pertolongan-Nya.


7. Tidak Butuh Penilaian Orang Lain

Waktu Ibu dirawat kemarin, banyak banget pelajaran berharga yang saya dapatkan. Salah satunya jangan terlalu peduli dengan penilaian orang lain. Kita yang menjalani semua kesulitan, bukan mereka.


Jadi, ketika ada pendapat yang menyudutkan, nggak sesuai dengan yang telah kita usahakan, lepaskan dan tetaplah melangkah ke depan. Fokus kita adalah tentang masalah kita, tentang ibu saya misalnya, tentang kesembuhan beliau, bukan tugas saya memenuhi keinginan orang lain yang memaksa mau menjenguk, padahal nakesnya melarang.


Nggak masalah orang lain nggak setuju. Itu bukan urusan kita dan tidak perlu dipikirkan serius. Karena sampai kapan pun pasti akan ada saja orang yang tidak menyukai kita, bahkan meski tanpa alasan.


Buat kamu yang suka overthinking, sedang mengalami kesulitan, dan berusaha keras untuk melewati semuanya dengan baik, percayalah bahwa semua hal terjadi bukan atas kendali kita, tapi atas kehendak-Nya. Jangan takut melangkah ke depan, jangan pedulikan omongan orang lain yang menjatuhkan. Kita mesti tahu betul dan yakin dengan keputusan yang kita ambil, kemudian berpikirlah yang baik karena Allah tentu sesuai dengan prasangka kita. Percayalah, Allah nggak akan zalim pada hamba-Nya apalagi jika kamu taat dan tidak ingkar :)


Salam hangat,


Saturday, December 25, 2021

Serangan Stroke Hingga Tak Sadarkan Diri

Serangan Stroke Hingga Tak Sadarkan Diri
Photo by Olga Kononenko on Unsplash


Jam dua dini hari saya baru sampai di Jakarta setelah menempuh perjalanan belasan jam dari Malang. Setelah dua tahun tidak bisa mudik karena pandemi, akhirnya saya bisa pulang, tapi dalam kondisi yang tidak diharapkan.


Kamis minggu lalu, tiba-tiba saya dapat telepon dari kakak di kampung. Katanya Ibu tiba-tiba tidak sadarkan diri. Tanpa jatuh sebelumnya. Benar-benar tertidur pulas dari malamnya hingga keesokan harinya tidak bisa dibangunkan.


Jangan tanya bagaimana rasanya, tiba-tiba mual-mual dan tak bisa berhenti menangis. Kejadian yang nggak pernah disangka. Dengan kondisi Ibu yang sebenarnya bisa dibilang stabil dengan riwayat hipertensi. Rasanya seperti mimpi. Belum lagi kondisi saya yang tinggal berjauhan. Rasanya panik bukan main.


Keesokan harinya, saya bergegas menuju Malang demi melihat kondisi Ibu yang hingga hari kedua belum juga bangun. Ibu masih tertidur pulas, tapi seluruh tubuhnya bisa bergerak spontan dengan normal semisal menggaruk, menarik selimut, dan tidur miring. Namun, kondisinya tertidur. Benar-benar tidur pulas :(


Waktu pertama menginjakkan kaki di rumah sakit, hampir seharian saya selalu menangis. Ingat segala macam. Ingat kalau kemarin telat banget kirim-kirim buku terbit, padahal Ibu mungkin sudah lama pengin lihat. Ingat kalau selama dua tahun tidak bisa pulang, padahal Ibu jauh lebih kangen dan pasti menanti kami pulang. Ingat segala macam yang mungkin belum tertunaikan dengan baik sebagai seorang anak.


Semua Ada Waktunya

Sebelumnya, saya sempat menulis dan menyelesaikan sebuah buku berjudul ‘Semua Ada Waktunya’. Selang beberapa hari, saya dapat kabar kalau Ibu tiba-tiba jatuh sakit. Apa yang saya alami seperti berkisah tentang buku yang sudah saya tulis. Tentang kesabaran, menerima semua takdir Allah tanpa terkecuali, berbaik sangka pada Allah, juga adanya keajaiban.


Setelah cukup tenang, saya berusaha menerima semua yang sudah terjadi. Meyakini bahwa semua takdir Allah itu baik. Sebab, tidak ada kejelekan yang bisa disandarkan kepada Allah. Maka, apa pun yang terjadi dan telah ditetapkan, pasti itu yang terbaik dan terdapat banyak sekali hikmah di dalamnya.


Menerima keadaan buruk dan sulit dengan sabar adalah sebuah cara untuk berdamai dengan masalah dan ujian. Masalah itu akan selalu muncul, sebab kita masih hidup. Karena masih hidup, maka Allah akan menguji kita.


Mau diterima ataupun ditolak, masalah akan selalu datang sesuai kehendak-Nya. Nggak ada cara terbaik menghadapi semuanya selain dengan menerimanya. Diterima dulu dengan lapang, kemudian berdoa (salat).


Musibah ini ada sebab-sebabnya. Ada asal mulanya kenapa sampai terjadi hal yang tidak kami inginkan. Sejak dulu, Ibu memang punya riwayat hipertensi. Namun, karena takut berobat ke dokter yang lebih mengerti dan paham, akhirnya Ibu hanya berobat seadanya saja. Dikasih resep Captopril, minumnya juga hanya pas sakit. Padahal, kami kenal banyak dokter yang lebih ahli, tapi ya nggak mudah meminta orang tua untuk berobat apalagi minum obat terus menerus. Dan ini merupakan salah satu alasan kenapa Ibu mengalami stroke.


Bagi teman-teman yang memiliki orang tua dengan riwayat hipertensi, usahakan cek lab dan minum obat hipertensi sesuai resep dokter dengan teratur. Jangan sekali-kali menghentikannya meskipun kondisi sudah stabil.


Ceritanya, Ibu suka sekali minum jus, bahkan jauh-jauh sebelum saya suka minum jus buah. Tensi Ibu termasuk stabil dan tidak pernah tinggi. Namun, beberapa bulan terakhir, Ibu berhenti minum jus karena merasa tubuhnya lebih kurus.


Ibu juga tidak menggantinya dengan minum obat. Qadarallah, akhirnya terjadi hal yang benar-benar kami takutkan. Stroke dengan adanya sumbatan saraf. Kondisinya diperburuk karena psikisnya sedang tidak baik.


So, kalau punya orang tua, banyak-banyak diajakin ngobrol, ya? Makin sepuh, makin mudah mikir. Makin sensitif juga. Kalau kita bisa membuat mereka happy, insya Allah kondisi kesehatan pun akan jauh lebih baik.


Hilang Ingatan

Setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit Wafa Husada Kepanjen, akhirnya Ibu mulai sadar. Mau membuka mata meski sebentar. Namun, Ibu kehilangan ingatannya. Ibu nggak ingat kepada saya ataupun yang lain. Rasanya nyesek banget. Bayangin aja, ketika saya ada di depan Ibu, Ibu nggak tahu siapa saya. Bahkan sempat nggak percaya, kok bisa ada di sini?


Namun, kondisinya makin baik dari hari ke hari. Hingga akhirnya Ibu bisa mengingat hampir semua orang, meskipun ada hal-hal yang belum sepenuhnya diingat. Jadi, ingatannya belum kembali sempurna.


Ketika teman-teman punya orang tua dengan kondisi serupa, hal yang paling penting dilakukan adalah menemani dan ngajakin ngobrol. Jangan malas menyahut ketika orang tua mengatakan sesuatu meskipun itu nggak nyambung atau ngambang gitu seperti ngelantur. Saya selalu menjawab apa yang Ibu tanyakan meskipun itu terdengar aneh. Jangan pernah membuat mereka merasa sendiri.


Semisal, suami kamu sudah dapat seribu harinya, ya? Saya tertawa dan menjawab, mungkin suami orang yang sudah dapat seribu harinya. Suami saya masih hidup, kan, Bu? Ibu ikut tertawa.


Hindari menanyakan hal-hal yang sensitif, semisal kenapa bisa seperti ini? Apa yang dipikirkan? Apalagi sampai menyalahkan orang tua dan menganggap mereka manja. Percayalah, memotivasi mereka jauh lebih baik. Semisal, ayo, Bu sehat. Ibu pasti bisa. Ibu sudah bisa makan, pintar. Bentar lagi pulih, dll.


Istirahat yang Cukup

Saat dirawat di Rumah Sakit Wafa Husada, Ibu masuk di ruang khusus Stroke. Ruangan khusus seperti ini tidak bisa dikunjungi sembarang orang karena orang-orang di dalamnya memang sedang mengalami sakit yang berbeda alias butuh tenang. Nggak bisa dikunjungi sering-sering apalagi oleh banyak orang sekaligus. Kondisi mereka bisa drop.


Pasien lain di sebelah Ibu juga nggak pernah dapat kunjungan. Yang jagain juga hanya orang-orang itu saja. Namun, ada hal-hal yang benar-benar MENYEBALKAN buat saya waktu itu. Ketika kami mengalami musibah, tapi ada orang-orang yang nggak punya attitude memaki-maki di depan saya. Benar-benar di depan mata saya sendiri.


Saya dan kakak saya mesti genose dulu supaya bisa bergantian menjaga di dalam. Itu pun nggak bisa seenaknya ganti. Minimal mesti di dalam selama 3 jam, baru boleh ganti orang lain. Suster-surter juga sudah hapal sekali kepada penunggu pasien karena selama 24 jam mereka ada di ruangan.


Waktu Ibu belum sadar, keluarga Bapak dan Ibu datang bergantian. Saya bersyukur, semua peduli dan mau mendoakan. Namun, ada hal-hal yang kurang berkenan buat saya pribadi. Salah satunya ketika mereka tidak mau mengerti dan memaksa masuk untuk melihat kondisi Ibu.


Orang-orang mengira kami melarang karena kondisi pandemi. Membandingkan kondisi Ibu dengan pasien lain yang tidak mengalami stroke sehingga boleh dikunjungi di jam-jam besuk. Padahal, peraturan itu ada dari rumah sakit. Tiap ada yang nyelonong masuk, pasti saya dan kakak saya yang diomelin suster. Kemudian ruangan dikunci. Herman banget memang sama orang-orang yang super ngeyel begini, ya, Allah :(


Kejadian paling buruk waktu saya mesti menjelaskan kepada orang-orang yang nggak mau mendengar bahkan sebelum kami bicara. Ada yang nyahut di depan mata saya,


“Kenapa nggak boleh masuk? Bilang kami dari keluarga Kapolres!”

“Udah cepat pulang kalau nggak bisa masuk! Ngapain lama-lama di sini nanti malah nularin penyakit!”


Kira-kira gimana rasanya kalau ada di posisi ini? Males dan capek hati ngeladenin, tapi, kok omongannya nggak ada akhlak? Keluarga kapolres? Emang kalau keluarga kapolres bisa seenaknya? Apalagi kalau hanya ngaku-ngaku keluarga kapolres? Kwkwk. Duh, miris banget kalau pulang kampung. Lingkungannya toxic banget :(


Kadang, nggak harus pintar, kok buat mengerti orang lain. Cukup merasa jadi manusia aja. Saya dan keluarga sedang bekerja keras mengobati Ibu. Kondisinya belum stabil waktu itu bahkan sempat demam setelah dijenguk orang-orang.


Doa-doa bisa dikirimkan, tidak perlu sampai memperburuk keadaan. Kami sudah capek, masih capek hati pula menghadapi orang-ornag yang ngeyelnya minta ampun. Yuk, belajar lagi menghargai orang lain :)


Ada lagi yang lebih parah, waktu kami memohon dengan segala kerendahan hati supaya jangan memaksa menjenguk dulu.


“Si A nggak dijenguk juga mati. Malah mati duluan.”


Terima kasih banyak untuk komentarnya yang sangat tidak berempati kepada keluarga kami. Kami tidak butuh dijenguk dengan caci maki apalagi sampai mengungkit kematian. Manusia itu tugasnya berusaha. Allah yang menentukan. Soal umur, itu urusan Allah. Kenapa kita mesti merasa paling tahu segalanya? Dokter bukan. Dukun kali, ya? kwkwk.


Berasa banget pulang kampung itu nggak sehat buat mental. Astagfirullah. Miris banget ada orang macam begini :(


Semua Normal

Beberapa hari setelah dirawat, Ibu akhirnya sadar lebih lama daripada sebelumnya. Makin hari makin bagus kondisinya. Kalau dihitung, nggak ada lima hari Ibu sudah bisa ngobrol lagi meski ingatan belum sepenuhnya pulih. 


Waktu itu, sempat kaget karena dokter nge-chat ke saudara kami yang sama-sama dokter syaraf dan update soal kondisi Ibu waktu itu. Dokter bilang, kondisi Ibu semua normal bahkan mestinya bisa pulang di hari sebelumnya. Namun, dokter tahu kalau kami masih panik dan belum siap sehingga dokter tunggu sampai 24 jam berikutnya.


Jadi, kami sama sekali nggak minta pulang paksa. Ya, ngapain? Kalau kondisi belum baik, mending Ibu dirawat oleh ahlinya. Apalagi kami mengenal dengan baik dokter yang menangani Ibu sambil dipantau juga oleh keluarga kami sesama dokter. Jadi, agak aneh karena banyak pertanyaan hilir mudik menanyakan, apakah dibawa pulang paksa? Jangan menyamaratakan kondisi satu orang dengan orang lain. Setiap pasien kondisinya berbeda-beda. Dokter tentu sangat paham karena mereka sudah merawat pasien dengan kasus yang sama selama bertahun-tahun.


Qadarallah, kondisi Ibu normal-normal saja setelah sadar. Semua anggota tubuh bergerak normal, hanya saja butuh dilatih. Nggak bisa tiba-tiba bisa jalan sendiri. Butuh dibantu dulu. Butuh dilatih dulu. Ibu juga butuh banyak istirahat. Tidur malam nggak boleh lebih dari jam sembilan malam.


Akhirnya, kami bisa pulang ke rumah. Ibu jauh lebih baik kondisinya dari hari ke hari. Bahkan di hari terakhir saya di sana, suami berhasil mengajak Ibu latihan jalan hanya dengan dipegangi saja tangannya. Benar-benar berasa kejaiban banget, masya Allah.


Untuk saat ini, Ibu hanya butuh distimulasi dengan gerakan dan juga diajak ngobrol hal-hal yang menyenangkan. Saya melarang orang-orang menangis di depan Ibu. Karena Ibu memang baik-baik saja. Saya nggak mau Ibu merasa ‘sakit’ dengan kondisinya yang sekarang. Saya juga nggak suka kalau orang-orang menceritakan orang lain yang sakit keras atau meninggal. Sangat tidak etis dibicarakan di depan orang yang sedang berjuang untuk sembuh.


Namun, saya tidak bisa lama-lama di sana. Saya tidak bisa menjaga Ibu lebih lama karena saya juga sudah punya kewajiban dan mesti pulang ke Jakarta. Melihat kondisi Ibu makin baik sebelum saya pulang, rasanya sangat lega. Insya Allah makin membaik dengan dukungan keluarga dan ketelatenan.


Di hari Ibu kemarin, rasanya nyesek mesti melihat Ibu sendiri terbaring di bangsal rumah sakit dalam kondisi tidak sadarkan diri. Jangan begini lagi, ya, Bu. Saya jauh dan nggak bisa selau jagain. Ibu mesti sehat karena hanya Ibu yang selalu memotivasi saya supaya mau mencoba banyak hal, bahkan yang saya takuti. Hingga saya bisa seperti sekarang.


Saya ikhlas dengan semua kejadian ini, insya Allah. Saya menerima dan tak apa merasa nggak baik-baik saja. Nggak masalah merasa sedih, tapi semua mesti dihadapi. Menangis bukan solusi. Saya berusaha kuat dan tidak menangis lagi supaya Ibu juga merasakan hal yang sama.


Terima kasih sudah membaca curhatan saya. Mohon doanya untuk kesembuhan Ibu. Tetap semangat, ya untuk teman-teman yang sedang merawat orang tua. Jalan ninja kita menuju surga mesti dijaga baik-baik. Maksimalkan waktu kita mumpung orang tua masih ada. 


Salam hangat,


Monday, December 6, 2021

Cara Menghadapi Anak yang Stres Saat Belajar

Cara Menghadapi Anak yang Stres Saat Belajar
Photo on Unsplash


Penilaian akhir semester satu sudah dimulai sejak minggu lalu. Besok, adalah hari terakhir si sulung melaksanakan ujian. Sepanjang hari selama ujian, dia tampak santai dan terlihat sudah sangat siap, kecuali untuk pelajaran Matematika. Adakah yang anaknya senasib begini?


Si sulung sama seperti saya, kurang pandai dalam berhitung, tapi gigih banget usahanya, masya Allah. Waktu mau ujian Matematika kemarin, dia sampai stres saking paniknya…kwkwk. Dia sempat menangis karena merasa ada materi yang belum dikuasai. Bayangkan, ini anak sudah belajar dari siang sampai malam menjelang Magrib, tapi bukannya selesai, malah nangis. Saya pun ikut kasihan melihatnya.


Ketika anak-anak kita mengalami hal serupa seperti yang dialami oleh si sulung, jangan buru-buru memarahinya. Karena belum tentu dia nggak bisa karena sebelumnya malas belajar, bisa jadi dia memang kurang mampu memahami materinya dengan sempurna. Waktu dijelaskan oleh gurunya, bahkan saat diberikan pertanyaan, si sulung selalu bisa menjawab. Namun, saat menghadapi soal yang dibalik sedikit, diubah sedikit saja, dia bingung dan panik. Ketika sudah panik, dia nggak bisa fokus, apalagi kalau sampai menangis. Parahnya lagi, dia selalu fokus hanya pada satu soal yang dia nggak bisa. Kemudian mengabaikan soal-soal lainnya, bahkan bisa sampai habis waktunya :(


Dan malam itu, setelah ayahnya pulang ngantor, kami mengajak anak-anak jalan-jalan sebentar ke luar. Mampir ke tempat mainan dan melihat-melihat sambil bercanda, kemudian mampir ke minimarket untuk membeli makanan ringan pilihan mereka. 


Pulangnya, perasaan si sulung sudah jauh lebih baik. Dia happy dan belajar lagi sampai jam 11 malam. Yup, benar-benar sampai selarut itu.


Saya bersyukur, meskipun capek sepulang kerja, ayahnya tidak ngomel melihat anaknya menangis dan sesekali pengin merobek bukunya. Sambil tersenyum, si Mas langsung ngajakin kami keluar. Itu solusi terbaik karena jika hanya di rumah, si sulung nggak akan bisa tenang dan santai. Terlalu fokus dengan pelajarannya saja.


Ini bukan kali pertama anak saya menangis dan panik saat belajar. Untuk pelajaran Matematika, dia hampir selalu seperti itu. Padahal, ketika dilihat hasil ulangannya, nilainya nggak buruk-buruk banget. Hanya saja, lengahnya dia suka nggak segera mengisi soal lain yang lebih mudah, fokus di soal yang sulit, meskipun itu hanya satu, itulah penyebab utama stresnya saat ulangan atau ujian.


Ketika teman-teman mengalami hal yang sama, apa yang mesti dilakukan supaya hati anak nggak terluka, juga jangan sampai menambah rasa kecewanya?


Bersikap Tenanglah dan Jangan Ikutan Panik

Nilai akademik bukan segalanya. Saya selalu bilang kepada si sulung bahwa kami, orang tuanya, nggak pernah menuntut dia mesti dapat nilai sempurna. Ketika kena remedial pun, kami nggak pernah marah. Pesan saya satu, setelah usaha, ya sudah, pasrahkan saja pada Allah. Yang penting sudah belajar dan usaha. Namun, meskipun selalu saya jelaskan hal yang sama, dia selalu saja panik kalau belum bisa mengerjakan soal, meski itu hanya satu saja…kwkwk.


Bekerja Sama Dengan Pasangan

Karena ketika kita nggak kompak, satunya menenangkan, tapi satunya lagi malah ngomel-ngomel, anak bisa down saat itu juga. Bekerja samalah dengan pasangan supaya masa-masa seperti ini bisa diatasi dengan baik. 


Di rumah, si sulung lebih sering belajar Matematika dengan ayahnya. Urusan berhitung saya serahkan pada si Mas karena dia lebih mengerti. Urusan lain bolehlah ke saya…kwkwk. Hal ini bisa sangat membantu sehingga anak nggak akan merasa sendirian. Kebayang nggak, sih kalau orang tuanya nggak mau mendampingi belajar? Stresnya bisa lebih parah lagi.


Beri Jeda

Ketika sudah jenuh belajar, minta anak untuk istirahat dan tinggalkan buku-bukunya. Lupakan dulu walau hanya sebentar. Bisa diajak nonton atau jalan-jalan sebentar. Anak-anak butuh jeda. Ketika kita terus memaksakan, anak bukannya jadi pintar, malah akan jadi semakin stres. Ingat, nilai bukan segalanya. Anak-anak juga butuh bahagia, nggak harus selalu berprestasi saja.


Jangan Disindir

Jangan menyindirnya ketika dia tidak bisa. Misalnya, ketika ada anak yang nggak bisa berhitung, jangan selalu menyalahkan dia dengan ucapan seperti ini, ‘makanya belajar. Main terooos, sih!’. Anak yang merasa sudah belajar, tapi belum bisa juga, tentu akan bertambah kesal dan kecewa. Sudah nggak bisa, masih kena fitnah juga, kan? Miris banget :(


Banyak hal bisa kita lakukan selama mendampingi anak-anak belajar di rumah. Salah satunya dengan tidak selalu memaksanya harus bisa segalanya. Kita saja banyak nggak bisanya, masa anak kecil disuruh bisa semuanya? Ah, keterlaluan, deh kita tuh. Belajar mengerti mereka, jangan hanya minta dimengerti. Anak-anak juga manusia. Mereka punya perasaan yang mesti dijaga. Jangan buat mereka terluka hanya karena nggak bisa Matematika! 


Salam hangat,