Tuesday, August 30, 2022

Pentingnya Second Opinion Untuk Diagnosis Penyakit

Pentingnya Second Opinion Untuk Diagnosis Penyakit
Photo by Marcelo Leal on Unsplash


Second opinion, mencari pendapat kedua, atau bisa diartikan mencari pendapat dokter berbeda mengenai penyakit yang sama setelah sebelumnya telah didiagnosis oleh dokter lain merupakan hal yang perlu dilakukan oleh kita sebagai pasien. Kesalahan diagnosis, overtreatment, atau bahkan overdiagnosis sering terjadi di mana-mana. Nggak hanya di Indonesia, bahkan dari beberapa sumber yang saya baca, hal semacam ini juga terjadi di luar negeri sekalipun.


Karena itu, nggak ada salahnya kita melakukan second opinion dengan mendatangi dokter-dokter lain untuk berkonsultasi. Hal inilah yang saya lakukan kepada anak saya saat dia mengalami demam sampai berhari-hari, tanpa gejala, tapi belum ketahuan juga diagnosis pastinya setelah melakukan cek urin dan cek darah lebih dari satu kali.


Saya bukan tipe orang tua yang mudah panik saat anak demam. Saya sudah terbiasa melakukan treatment sendiri di rumah ketika anak sedang sakit dan tahu kapan mesti ke dokter. Anak-anak saya, terutama si sulung punya riwayat kejang demam sejak dua tahun sampai terakhir di usianya enam tahun. 


Ketika anak demam lebih dari seminggu tanpa gejala baik itu batuk ataupun pilek, saya berusaha mencari beberapa dokter untuk berkonsultasi dan mencari jawaban serta treatment yang tepat untuk sakitnya. Mulai dari mendatangi dokter spesialis anak dekat rumah sampai ke Menteng hingga akhirnya mencari salah satu dokter dari Milis Sehat, yakni dokter Apin.


Sebelum ada diagnosis pasti, sudah ada beberapa dokter yang melakukan cek darah, memberikan antibiotik, hingga meminta rawat inap. Namun, saya memang waktu itu nggak menelannya mentah-mentah. Walaupun saya hanya Ibu Rumah Tangga biasa, tapi rasanya semua yang dianjurkan kurang tepat buat anak saya mengingat diagnosisnya aja belum jelas apa? Semua ini karena saya juga ikut belajar di Milis Sehat bersama beberapa dokter yang RUM. Nggak semudah itu ngasih antibiotik kalau diagnosisnya saja belum jelas. Nggak semudah itu meminta rawat inap sedangkan anaknya dalam kondisi baik?


Pengalaman ini benar-benar jadi pelajaran buat saya bahwa kita itu jangan suka pasrah hanya sama satu dokter saja. Nggak ada salahnya kok second opinion ke dokter-dokter lain karena bisa banget pendapat mereka berbeda. 


Bagi pasien, second opinion ini nggak ada ruginya, justru sangat baik apalagi jika menyangkut nyawa pasien, kondisi yang terus memburuk, atau dokter pertama sudah salah treatment. Seperti yang dialami oleh ibu saya sendiri.


Demensia Hingga Tak Bisa Bergerak Sama Sekali

Saya ingin menulis pengalaman ini supaya jadi pelajaran bagi banyak orang, bahwa second opinion itu bukan hal sia-sia. Kita nggak harus menerima begitu saja diagnosis serta treatment dari dokter pertama apalagi kalau kondisi pasien makin hari makin buruk. Kita boleh konsultasi ke dokter lain dan terus berikhtiar lagi demi kesembuhan orang-orang yang kita sayang.


Second opinion ini merupakan hak pasien yang tertuang dalam Undang-Undang no. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, bagian empat pasal 32 poin H tentang hak pasien seperti dikutip dari kompas.com: 


"Setiap pasien memiliki hak meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain yang mempunyai Surat Izin Praktik (SIP) baik di dalam maupun di luar Rumah Sakit."


Ibu saya sempat kena serangan struk ringan pada Desember tahun lalu. Setelah tidur di malam hari, sampai besoknya Ibu nggak sadarkan diri atau bisa dibilang terus tertidur seperti sangat nyenyak. Akhirnya Ibu dibawa ke rumah sakit dan diketahui ada sedikit sumbatan pada saraf di kepalanya. Meski ada sumbatan sedikit, sebenarnya ini masih aman. Begitu kata dokternya.


Setelah beberapa hari, Ibu mulai bangun, tapi tidak sepenuhnya ingat dengan semua kejadian yang dialami, terutama hal-hal yang baru. Seperti kejadian beberapa tahun belakangan. Contoh kecilnya saja, Ibu lupa dan tidak ingat bahwa saya menulis buku dan membuat ilustrasi. Padahal sebelumnya, Ibu sangat antusias setiap mendengar cerita dari saya tentang pengalaman saya menulis. Bahkan Ibu selalu men-support saya supaya terus berkarya.


Setelah beberapa hari dirawat, dokter menyatakan tidak ada masalah yang berat pada Ibu karena kondisi semuanya normal. Makanya, Ibu bisa pulang lebih cepat dibanding pasien struk lainnya. Dokter meyakinkan bahwa Ibu akan kembali pulih asal rajin dilatih. 


Terapinya sederhana saja, diajak gerak, jalan-jalan pagi, jangan tidur terlalu lama, diajak ngobrol hal-hal ringan dan disukai, dijaga sama orang yang disayang, jangan bertemu dengan orang-orang yang tidak disenangi. Simpel, ya? Nggak juga ternyata :(


Saya tidak tinggal di rumah Ibu. Saya sudah berumah tangga dan menetap di Jakarta sejak belasan tahun lalu. Namun, kami coba terus memantau kondisinya. Kendala yang kami temui dalam perjalanan selanjutnya adalah, ternyata Ibu susah diajak bergerak, senam, dan ngobrol. Ibu lebih senang tidur, diam, dan malas beraktivitas. Dokter pertama pernah bilang, jangan dibantu terlalu banyak karena Ibu sebenarnya bisa melakukannya sendiri. Hanya saja Ibu merasa ‘nyaman’ dengan kondisinya sekarang karena merasa diperhatikan. Akhirnya, Ibu senang diperlakukan seperti layaknya orang sakit.


Masalahnya muncul dari sini. Ketika Ibu susah dipaksa, kemudian harus pindah dokter di rumah sakit lain yang lebih dekat, dan dokter kedua selalu mengatakan bahwa kondisi Ibu ini normal. Nggak apa. Harus sabar. Nggak apa-apa kalau nggak mau jalan jangan dipaksa, nggak apa-apa kalau tidur lama, biarkan jangan dipaksa, dan semua yang katanya jangan dipaksa ini ternyata menimbulkan banyak hal fatal terjadi pada Ibu saya.


Diagnosis dari dokter saraf kedua adalah demensia. Bagi kita orang awam, demensia ini seperti pikun. Saya yakin demensia ini memang benar-benar Ibu alami. Kenapa? Karena Ibu nggak bisa mengingat hal-hal baru yang terjadi beberapa tahun belakangan, tapi bisa ingat dengan kejadian yang sudah sangat lama. Bagi yang nggak tahu apa itu demensia, silakan cari di Google :)


Saya nggak masalah kalau Ibu lupa beberapa hal. Namun, saya sangat takut karena Ibu sering kali diam dan lebih suka tidur. Saya pikir Ibu ini depresi sehingga pernah saya ceritakan kepada kerabat kami yang dokter saraf juga, kemudian coba kami bawa ke Psikiater, tapi hasilnya nggak ada depresi katanya.


Masalahnya, kondisi Ibu terus memburuk. Ibu makin nggak bisa jalan dan kata dokter kedua yang pegang Ibu berbulan-bulan sampai hampir setahun ini mengatakan itu wajar. Selalu itu yang dikatakan sehingga keluarga merasa semua itu normal. Saya sudah sering sampaikan kepada Bapak supaya cari dokter lain atau kembali ke dokter pertama. Bahkan terakhir kemarin sempat diminta dirawat oleh kerabat kami sendiri di salah satu Rumah Sakit di Malang, tapi Bapak selalu menolak. Katanya obatnya sama saja, kok. Huft…


Sebelumnya, karena kondisi Ibu terus memburuk, Ibu saya dibawa ke dokter lain untuk second opinion. Namun, bahkan kondisi Ibu nggak diperiksa langsung. Saya kaget dan merasa aneh sih kenapa bisa nggak cek langsung, tapi sudah ngasih obat? Apakah memang boleh begini? Sedangkan kerabat kami yang dokter saraf di Rumah Sakit lain bahkan nggak berani mendiagnosis dan memberikan treatment sebelum cek dari awal lagi secara langsung. Padahal, dia tahu persis kondisi Ibu dari awal sakit. 


Sampai akhirnya, kondisi terakhir kemarin Ibu sudah kesulitan menelan dan ada sesak. Saat itulah baru diputuskan dibawa ke Rumah Sakit lain. Sejujurnya, saya sendiri merasa kok kalau ini terlambat. Namun, qadarallah baru ditangani oleh dokter berbeda setelah kondisinya semakin memburuk seperti itu. 


Jangan Takut Pergi ke Dokter

Zaman sekarang, semua informasi bisa kita ketahui dengan luas di dunia maya. Bagi pasien, memang sudah seharusnya mencari tahu sendiri tentang penyakit yang diderita, obat-obatan yang akan dikonsumsi, serta hal lainnya. Jadi konsumen kesehatan itu harus pinter. Begitu yang diajarkan di Milis Sehat.


Saat aktif belajar di Milis Sehat, saya sangat kaku terutama sama dokter yang gampang banget ngasih antibiotik. Karena nyari dokter yang RUM itu susahnya subhanallah dan saat itu saya lagi senang-senangnya debat dan ngeyel…kwkwk. Kalau hanya batuk pilek, kenapa kok dikasih antibiotik segala? Sampai akhirnya saya bisa menemukan dokter-dokter yang nggak overtreatment, enak diajak diskusi, dan bikin tenang. Lebih penting lagi, nggak masalah ke dokter dan nggak bawa pulang obat sekantong kresek. Kalau memang nggak perlu, kenapa mesti dikasih? Kita menjadi salah satu penyebab seorang dokter bisa RUM atau nggak, lho. Salah satu dokter spesialis anak di Hermina Jatinegara bilang sendiri ke saya dan mengatakan apa yang saya lakukan sudah benar.


Berkaca dari kejadian Ibu, rasanya pengin banget puter waktu. Orang-orang di kampung itu takut kalau berurusan dengan Rumah Sakit dan dokter. Ini cerita dari Ibu saya sendiri karena memang banyak cerita-cerita horor berlarian ke mana-mana. Padahal, belum tentu benar, lho.


Orang-orang juga lebih percaya sama selain dokter buat ngobatin penyakit. Apalagi kalau dokter spesialisnya masih muda, sangat diragukan sama mereka. Padahal, dokter mudanya sudah lompat kelas beberapa tahun, jadi wajar sudah pakai jas putih di usia muda...kwkwk. 


Agak berat sih memaksa keluarga kita supaya mendengarkan apa yang kita arahkan, sedangkan mereka sendiri nggak percaya. Jadi, pada akhirnya kayak bertentangan, kan?


Saya berharap kondisi seperti ini tidak terjadi kepada yang lain. Semoga bisa jadi pelajaran serta pengalaman berharga. Kondisi Ibu saya memang sudah sangat menurun dibandingkan yang dulu. Sekarang hanya bisa minum susu lewat selang. Sudah nggak bisa makan sama sekali. Namun, saya masih berharap dengan sangat semoga Ibu bisa membaik dan pulih lagi atas izin Allah.


Salam hangat,


Wednesday, August 17, 2022

Cara Menaikkan Berat Badan Anak Plus Resep Makanan Sehat & Lezat

Cara Menaikkan Berat Badan Anak Plus Resep Makanan Sehat & Lezat
Photo by Tanaphong Toochinda on Unsplash


Sejak punya anak pertama hingga kedua, masalah 'berat badan kurang' selalu menghantui hari-hari kami. Terutama waktu si bungsu berusia mulai enam bulan ke atas, dia dan kakaknya sering sekali kena batuk pilek dan diperparah alergi. Hal semacam ini sudah tentu memengaruhi berat badannya, kan? Gimana nggak kurus, sakit-sakitan dan mereka reflek muntahnya mudah sekali. Nggak harus dalam kondisi sakit, makan menu yang nggak disukai, kekenyangan sedikit, makan sebutir nasi keras, bisa muntah, lho.


Jadi ingat zaman menyusui dulu, mereka ini kalau gumoh nggak main-main. Bukan yang sekadar keluar ASI sedikit dari mulutnya, melainkan bisa muntah hebat sampai dari hidung. Padahal, ini hanya gumoh, lho. Apakah kondisi ini normal? Sejauh ini kalau ke dokter sih katanya nggak ada masalah dan baik-baik saja. Jadi, ya dijalani saja dengan legowo.


Waktu usia sekitar 6 bulan, si bungsu pernah demam sampai berhari-berhari tanpa gejala. Jadi, nggak ada batuk pilek, nggak ada diare, dan yang lainnya. Hanya demam terutama ketika jam 2 malam. Saya bawa ke rumah sakit ke mana-mana. Bolak balik cek darah dan cek urin sesuai saran dokter, semua hasilnya normal. 


Terakhir waktu itu saya bawa ke dr. Apin di Rumah Sakit Pasar Rebo. Saya percaya nih sama dr. Apin karena beliau salah satu dokter yang aktif di Milis Sehat. Dari sekian banyak dokter spesialis anak, rata-rata mereka nggak ngasih diagnosa pasti, tapi memberikan antibiotik tanpa tahu penyebab sakit anak saya ini apa. Katanya, bisa aja virusnya udah berubah jadi bakteri. Emang bisa, ya? :)


Namun, saat sampai di ruang dr. Apin, beliau lihat hasil cek darah dan urin, kemudian membolak balik si bungsu dan berkata, nggak masalah, kok ini. Dia baik-baik aja. Hanya memang usia sekolah dan ada adik di rumah memang rentan buat kena batuk pilek yang ping pong. Kesannya nggak sembuh-sembuh. Memangnya mau pisah rumah biar nggak ketularan? katanya. Beliau juga bilang ke saya, “Ibu ke sini hanya mau buktiin ke Bapak kan kalau anaknya baik-baik aja?”


Mungkin rata-rata anggota Milis Sehat awalnya seperti saya. Mau RUM dan nerapin di keluarga itu berat banget. Penuh ujian terutama dari pasangan. Dan benar, dr. Apin bisa menebak tujuan saya ke sana. Pulangnya kami hanya dibawakan oleh-oleh zat besi karena si bungsu memang anak ASI.


Keesokan harinya, barulah ketahuan kalau anak saya kena radang telinga atau OMA. Dan radang telinganya si bungsu ini termasuk yang berat. Setiap seminggu sekali saya selalu ke dokter THT untuk membersihkan telinganya dan mengobati batuk pileknya yang seperti nggak ada jeda.


Karena kemungkinan besar ada alergi, saya sampai cari banyak dokter alergi untuk memeriksa anak saya. Kami sempat ke RS. Bunda Menteng dan kemudian berakhir cek alergi lengkap di RS. Hermina Jatingera.


Di RS. Hermina, saya konsultasi dengan dr. Herbowo dan mulai program menaikkan berat badan anak. Mereka sempat dikasih resep susu berkalori tinggi, Nutrini Drink. Namun, setelah minum dalam waktu cukup lama, berat badan mereka nggak naik banyak juga. Capek, kan hayati :(


Berat Badan Juga Dipengaruhi Genetik

Cara Menaikkan Berat Badan Anak Plus Resep Makanan Sehat & Lezat
Photo by Tong Nguyen Van on Unsplash


Saya sebenarnya bukan orang yang selalu kurus. Jadi, nggak mungkin kurusnya anak-anak ini diturunkan dari saya…kwkwk. Namun, suami saya mulai bujang sampai sekarang tubuhnya nggak pernah gemuk. Justru berat badannya nyaris sama dengan saya yang tingginya nggak seberapa ini…hiks.


Dokter bilang, anak-anak kami berat badannya termasuk kecil, tapi masih normal. Namun, mereka masuk kategori yang kecil banget gitu, lho…kwkwk. Kalau pergi ke Posyandu bisa bahaya…kwkwk. Bukannya sehat malah dibully seperti teman saya yang saking takutnya sampai-sampai setiap ke Posyandu anaknya dikasih minum yang banyaak dulu biar berat badannya naik. Padahal, kalau dia konsultasi ke dokter spesialis anak, katanya anaknya masih normal, kok walaupun memang kecil. Persis seperti saya, kan? 


Kerabat kami yang anaknya seusia si bungsu juga punya tubuh yang nggak gemuk bahkan nyaris sama seperti anak saya. Padahal, kedua orang tuanya tipe gemuk. Mereka keluarga dokter yang artinya nggak mungkin mereka nggak tahu dan nggak usaha buat gemukin anaknya. Tapi, nyatanya anak-anak kami memang segini-segini aja. Waktu lebaran kemarin beliau bilang, leganya ada yang samaan…kwkwk.


Momen Masuk SD

Waktu si kakak masuk SD, fokus orang-orang bukan ke berat badannya, melainkan ke tahi lalatnya yang ada di pipi. Dari teman sekelas, kakak kelas, sampai wali murid pernah menertawakan dia. It’s okay, ya, Mas. Saya bilang, ketika kamu jadi orang hebat, orang-orang udah nggak akan lihat fisik kamu lagi. Mereka akan fokus pada hal-hal baikmu saja. Jadi, lakukan yang terbaik buat diri kamu. Bunda dan Ayah menerima kamu apa adanya, Nak *sad.


Namun, saat si bungsu masuk SD, fokus orang-orang pasti tertuju sama badan dia yang mungil dan mukanya yang masih baby face…kwkwk. Nggak mungkin anak saya nggak merasa. Namun, insya Allah semua orang tidak mengejek fisiknya, hanya kaget kenapa ada anak SD sekecil dia…kwkwk.


Pernah suatu hari temannya bertanya dengan polosnya, kok kamu kecil? Kamu beneran udah tujuh tahun?


Si bungsu bercerita dan berkata, tapi dia beneran nanya, kok, Bun. Jadi, adek nggak marah.


Setelah banyak kejadian serta komentar serupa, saya akhirnya mulai bersemangat lagi buat naikin berat badan anak-anak. Jadi ingat lagi momen dulu di mana saya sampai mati-matian ke sana kemari buat naikin berat badan mereka yang hasilnya nggak seberapa. Sampai akhirnya saya capek dan ya udahlah emang udah takdir kali :(


Naik 1 kg Dalam Sebulan

Anak saya ini tipe anak-anak yang makannya nggak bisa banyak sekaligus. Mereka nggak seperti anak-anak kebanyakan yang bisa makan burger masih ditambah nasi dan ayam juga. Anak saya makan porsi kecil saja perutnya sudah keras. Jika dipaksa bisa muntah.


Jadi, saya siasati dengan makan porsi kecil, tapi lebih sering. Menunya juga dibanyakin pakai protein hewani terutama daging merah. Menurut dokter spesiali anak yang menangani anak saya, mereka nggak butuh banyak sayur dan buah. Makan dalam jumlah wajar aja, tapi untuk daging merah sebaiknya dibanyakin. Ikan, telur, ayam juga boleh.


Saya sempat searching di Youtube juga tentang hal ini. Ada pengalaman ibu muda dengan balitanya yang berhasil menaikkan berat badan dengan memberikan menu daging setiap hari selama minimal 6 bulan. Hasilnya memang jadi chubby gitu pipinya…kwkwk.


Dia susah makan, makannya nggak bisa banyak. Jadi, daging sapinya dihaluskan kemudian diberikan sedikit tepung beras dan beberapa jenis saus supaya ada rasa. 


Kebayang makan daging mulu, apa nggak eneg, ya? Awalnya memang terpaksa katanya. Tapi ternyata jadi kebiasaan. Begitu juga dengan anak saya. Awalnya dia makan malas-malasan, setelah rajin diberikan makan lebih sering, dia jadi anak yang mudah lapar dan senang ngemil.


Begini jam makannya, pagi hari dia makan nasi dan lauk, istirahat pertama di sekolah dia makan camilan plus susu UHT, siang makan berat di sekolah. Jumlah makan di sekolah nggak pernah saya bawakan banyak karena dia kadang nggak bisa kalau terlalu kenyang, khawatir muntah. Jadi, saya berikan makan berat di sore hari atau diganti camilan, tapi yang mengandung karbohidrat gitu seperti kentang, sereal, roti, atau bahkan olahan daging. Pulang sekolah dia minum susu kurma yang saya buat sendiri. Malamnya dia makan berat seperti biasa. Untuk susu kurma saya buat dari 7 butir kurma ditambah 4 sdm susu formula. Kemudian haluskan dan saring. Jadikan dua gelas. 


Selama sebulan terakhir, baik si bungsu yang sudah 7 tahun dan kakaknya yang 11 tahun sama-sama sudah naik berat badannya sampai 1 kg lebih. Rasanya kayak mimpi. Terharu…huhu. Mari kita update sebulan ke depan, ya. Insya Allah akan saya ceritakan kembali hasilnya.


Namun, ternyata capek banget mesti bolak balik nyiapin makan, tuh…kwkwk.


Resep Makanan Sehat Untuk Menaikkan Berat Badan Anak

Cara Menaikkan Berat Badan Anak Plus Resep Makanan Sehat & Lezat
Photo: Dok pribadi


Anak-anak harus makan apa saja supaya berat badannya cepat naik? Seperti saya ceritakan sebelumnya, dari dokter spesialis anak yang menangani anak saya dan juga cerita dari teman-teman saya yang lain, berat badan anak bisa naik lebih cepat kalau kita kasih mereka banyak protein hewani, terutama daging merah.


Nah, PR banget kan ngasih anak kecil makan daging karena rata-rata mereka nggak bisa ngunyah daging dan menelannya? Solusinya memang mesti diolah, dihaluskan, dan dibuat berbagai macam menu yang enak buat mereka.


Beberapa resep yang akan saya share ini tidak memiliki takaran…kwkwk. Karena saya lebih sering pakai perasaan kalau masak, sih. Gimana dong? Tapi, siapa tahu idenya bisa dipakai, ya :D


1. Rolade Daging Sapi

Saya sering bikin nugget ayam udang sendiri di rumah. Jadi, rolade ini sebenarnya resepnya nggak beda jauh-jauh dari nugget atau chicken egg rolls gitu. Bahan utamanya saja diganti dengan daging sapi segar dan pilih bagian yang nggak banyak lemak, ya. 


Bahan-bahannya simpel, ada daging, telur, terigu, saus tiram sedikit, bawang putih, garam, merica bubuk, dan pakai es batu ketika menghaluskan dagingnya, ya.


Bahan-bahan yang tercampur rata itu kemudian dikukus dan dipotong-potong setelah dingin. Goreng langsung ketika akan menyantap. Bisa juga dicelup ke kocokan telur atau tepung bumbu. Hasilnya enak. Anak-anak doyan. Mereka makan dengan nasi hangat atau dicamil bersama kentang goreng. Dengan begini, anak-anak bisa makan daging, kan?


Catatan: Jumlah tepung terigu hanya sedikit. Hanya supaya daging merekat. Untuk 1kg daging bisa pakai maksimal 5 sdm.


2. Bakso Sapi

Resep bakso sudah banyak, ya? Di sini saya juga pernah share. Bakso sapi bisa disantap begitu saja atau bisa pakai nasi hangat. Bakso bisa dikreasikan dengan tahu yang lembut dan ditambahkan sayuran seperti sawi hijau. Yummy!


3. Spageti Daging Giling

Ini menu simpel banget sih karena saya pakai saus spageti yang sudah siap pakai. Supaya anak-anak bisa makan daging, kita bisa campurkan daging giling ke dalam saus spagetinya. Cara bikinnya juga gampang banget, kok. 


Haluskan daging dan juga bawang bombay kemudian tumis sampai matang dan harum. Bumbui dengan garam dan merica bubuk. Olahan daging ini bisa langsung dicampurkan ke dalam tumisan saus spageti, ya. Tinggal aduk ke spageti.


4. Risoles Rogut Isi Daging Sapi

Eneg nggak tuh makan daging mulu? Kwkwk. Salah satu menu enak lainnya yaitu risoles isi daging sapi cincang atau daging sapi giling. Resep risoles rogut bisa pakai resep yang teman-teman punya, tapi ganti isian rogut berupa sayuran atau daging ayam dengan daging sapi giling. Dagingnya yang banyak, ya dan tambahkan juga potongan wortel yang diriis dadu kecil. Asli ini enak dan kita bisa simpan buat stok di kulkas.


5. Perkedel Daging

Suka bikin perkedel kentang? Kali ini kita campur juga perkedel kentangnya dengan daging giling, ya? Jangan pakai daging yang banyak lemak atau urat supaya tidak alot. Jangan lupa tumis dulu dagingnya seperti saat kita membuat tumisan daging untuk campuran spageti, ya.


Daging yang sudah ditumis dengan bawang bombay ini wangi dan enak banget. Bisa disimpan di kulkas dan digunakan untuk campuran berbagai macam menu.


Gimana? Sudah cukup banyak, kan resepnya? Hehe. Semoga bisa membantu teman-teman yang punya masalah sama seperti saya. Jangan menyerah, ya. Memang rasanya capek dan melelahkan sekali, tapi kalau ada hasilnya, kita pun jadi ikut lega.


Saya nggak tahu anak saya ini bisa naik berat badannya karena susu kurma yang rutin diberikan setiap hari atau karena memperbanyak jumlah makan? Intinya semua dicoba dan dicoba. Asal sehat dan aman, insya Allah nggak masalah dikonsumsi.


Salam hangat,


Friday, August 5, 2022

Kenapa Harga Ilustrasi Itu Mahal?

Kenapa Harga Ilustrasi Itu Mahal?
Photo by Sorin Gheorgita on Unsplash


Sedikit cerita, kemarin sempat bahas tentang harga ilustrasi dengan teman sesama ilustrator. Rata-rata calon klien yang baru tahu dan pengin pakai jasa kami kaget dengan harga satu halaman ilustrasi untuk buku sejenis picture book. Mereka kira harga ilustrasi itu murah meriah dan tidak butuh biaya banyak untuk membuat buku picture book. Namun, faktanya harga yang kami tawarakan nggak sesuai dengan harapan. Terus piye?


“Sudah capek-capek upgrade ilmu, tapi malah dibayar murah? Emmoh!


Begitu kata salah satu ilustrator ketika gambarnya dihargai sangat murah. Kebanyakan orang masih kurang menghargai jasa ilustrator dan mungkin belum sepenuhnya menganggap bahwa membuat gambar itu juga pekerjaan yang tidak mudah. Walaupun ngerjainnya di rumah, bukan berarti bisa disambi leyeh-leyeh sesuka hati apalagi sambil malas-malasan. Saya pribadi merasa membuat gambar ini lebih menguras waktu dan tenaga ketimbang menulis buku. Kayak capeknya berasa banget.


Untuk membuat satu halaman bergambar, kita nggak bisa kerjain sambil sat set sat set. Apalagi jika belum ada deskripsi gambar dari penulis, kita mesti mikir sendirian. Biasanya, penulis sudah menyertakan naskahnya dalam bentuk tabel dan deskripsi ilustrasi sehingga hasilnya nggak terlalu jauh dari keinginan dan bisa meringankan pekerjaan ilustrator juga.


Kenapa Harga Ilustrasi Itu Mahal?

Kenapa, ya kira-kira? Saya hanya ilustrator kemarin sore, benar-benar baru masuk di dunia ilustrasi digital. Baru dua tahun terakhir saya mengerjakan gambar-gambar untuk klien baik dalam maupun luar negeri. Namun, saya juga berjuang untuk sampai di titik ini. Mulai dari upgrade skill, keluar modal untuk alat tempur yang nggak murah, ide, waktu, dan juga tenaga. Apalagi bagi mereka yang menjalani pendidikan formal, semua tidak mudah. Gimana masih bisa bilang kok mahal banget, sih?


Coba deh bayangkan membuat ilustrasi itu nggak pakai alat yang bisa menyulap keinginan sekali jadi. Seperti bim salabim gitu. Kita benar-benar menggambarnya dari awal. Mulai dari halaman kosong sampai jadi sketsa dan diwarnai dengan detail. Wow banget lho ngerjain gambar itu. Walaupun kita senang mengerjakannya, tetap saja memang ini kerjaan yang lumayan capek…hihi.


Bagaimana Menentukan Harga Ilustrasi?

Banyak orang bertanya tentang cara menentukan harga ilustrasi. Saya pribadi kurang jago dan masih selalu takut-takut saat menentukan harga. Biasanya saya bertanya kepada teman supaya harga yang saya tawarkan tidak terlalu mahal. Karena sangat mungkin ada calon klien yang benar-benar baru mengerti dunia ilustrasi dan nggak tahu harga pasaran di luar berapa. Jadi, jangan sampai harga yang kita kasih kemahalan.


Menentukan harga ilustrasi bisa dilihat dari kualitas gambar kita. Kita sangat tahu dan bisa menerka harga yang pantas berapa. Seberapa detail gambar yang diinginkan? Makin detail makin mahal karena butuh waktu lebih lama untuk mengerjakannya. Sampai lupa masak dan nyuci kalau ngerjain beginian tuh…kwkwk.


Di luar sana, ada ilustrator pemula yang ngasih harga sangat tinggi, tapi ada yang sudah bagus gambarnya masih ngasih harga sangat murah meriah. Jadi, semua dikembalikan lagi ke masing-masing orang.


Jika ada calon klien yang baru tanya-tanya soal harga, kemudian dia hilang entah ke mana, ya nggak masalah, berarti dia bukan target pasar kita. Mungkin dia merasa harga yang kita tawarkan terlalu mahal. Nggak masalah, kan? Rezeki kita bukan ada di dia. Iya, dia…eaaa.


Hal-Hal yang Harus Diperhatikan Saat Menerima Pesanan Ilustrasi

Sebelum menerima pesanan gambar, ada baiknya kita menentukan juga jumlah maksimal revisi. Jangan sampai kita mabok karena revisi yang tak terhingga. Ini penting banget karena jujur capek kalau mesti revisi bolak balik, tuh :(


Apalagi terkadang ada klien yang kurang baik attitude-nya, ada yang super rewel dan sering ganti-ganti idenya. Sudah dibuatkan sesuai keinginan pertama, kemudian dia pengin ganti lagi yang berbeda 180 derajat dari gambar pertama. Kalau kita nggak ngasih batasan, bisa nggak kelar-kelar kerjaan, lho. 


Ada juga yang bisa dipertimbangkan, misalnya saja ada klien yang pesan gambar, tapi dia mau sesuai sama budget-nya. Bisa banget kita terima sesuai kemampuan dan kesediaan kita. Dengan harga segitu, kita bisa buat gambar yang lebih simpel, lebih sederhana dari gambar-gamabr dengan harga di atasnya.


Jadi ilustrator itu kelihatannya memang gampang. Apalagi kalau hanya lihat reels di Instagram saat menggambar. Sat set sat set. Coba pergi ke belakang layar dan lihat secara langsung prosesnya…hehe. 


Ngerjain ilustrasi dan ambil pesanan gambar terkadang nggak melulu tentang uang yang didapatkan, tapi juga kita lihat dari pengalaman belajarnya. Dengan mengerjakan proyek A, kita jadi banyak pengalaman dan melatih skill juga. Nggak ada ruginya. Namun, kita juga harus belajar yang lainnya, termasuk soal menentukan harga. Nggak mungkin juga, kan kita terus-terusan ngerjain pesanan ilustrasi pakai harga saudara yang free-nya sampai tujuh turunan? Ngeri…hihi.


Salam hangat,


Monday, August 1, 2022

Iritasi Kulit Bayi: Jenis, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Iritasi Kulit Bayi: Jenis, Penyebab dan Cara Mengatasinya
Photo by Jonathan Borba on Unsplash


Kulit bayi yang masih sangat lembut dan sensitif rentan mengalami berbagai masalah kesehatan, salah satunya adalah iritasi. Meskipun iritasi kulit bayi sering diidentikkan dengan ruam popok, nyatanya ini bukanlah satu-satunya masalah yang mengancam kesehatan kulit si Kecil. Iritasi kulit memiliki cakupan yang luas dengan sebab yang beragam sehingga orang tua perlu tahu hal apa saja yang dapat menjadi pemicu jadi dapat menghindarinya. Kabar baiknya adalah sebagian besar iritasi kulit bayi tidak berbahaya, kecuali terdapat infeksi lanjutan seperti jamur atau bakteri.


Mengenal Iritasi Kulit Bayi

Iritasi kulit bayi terjadi sebagai reaksi alergi ketika kulit buah hati yang masih sensitif bersentuhan dengan iritan, misalnya cuaca, bahan kimia tertentu, permukaan popok atau kain, air liur dan juga kotoran. Mengingat bayi memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih berkembang, iritasi wajar terjadi kendati tidak boleh didiamkan atau dibiarkan begitu saja. Sebagian jenis iritasi memang dapat mereda dengan sendirinya dalam beberapa hari. Namun, biasanya iritasi seperti ruam menimbulkan rasa tidak nyaman seperti panas, gatal hingga perih yang membuat buah hati merasa tidak nyaman. Itulah sebabnya, orang tua perlu mempersiapkan perawatan kulit bayi untuk situasi seperti ini salah satunya salep ruam. 


Jenis dan Penyebab Iritasi Kulit Bayi

https://www.bepanthen.co.id/memahami-kulit-bayi-anda/kulit-bayi/masalah-kulit-bayi
Photo by Picsea on Unsplash


Iritasi kulit bayi ada banyak macamnya, dengan faktor pemicu yang berbeda-beda. Berikut ini adalah beberapa jenis iritasi kulit yang sering dialami oleh buah hati terutama yang berusia di bawah 2 tahun.


1. Ruam popok

Ruam popok bisa dibilang merupakan iritasi kulit yang paling sering terjadi pada bayi karena berkaitan dengan penggunaan popok sehari-hari. Ruam popok biasanya ditandai dengan kulit kemerahan yang mengilap, kulit kering dan mengelupas hingga lecet yang akan terasa perih saat disentuh atau terkena air. Tidak heran bila bayi akan mudah rewel dan menangis terutama ketika berganti popok atau mandi. 


Ruam popok dipicu oleh banyak hal, terutama masalah kebersihan diri. Jarang mengganti popok, popok yang terlalu ketat, permukaan kulit bayi yang terlalu lembab hingga reaksi alergi terhadap antibiotik ditengarai menjadi pemicu yang paling umum. Selama tidak terjadi infeksi lanjutan seperti jamur dan bakteri, ruam popok biasanya dapat sembuh sendirinya atau diobati dengan salep ruam.


2. Heat rash

Iritasi kulit kedua yang sering dialami terutama bagi bayi yang tinggal di daerah panas adalah heat rash. Cuaca yang panas membuat buah hati gerah, lebih mudah berkeringat dan dalam jumlah banyak. Jika keringat ini tidak dapat menguap sempurna, kelembapan akibat keringat akan “meracuni” kulitnya sehingga heat rash terjadi. Ruam karena cuaca panas ini ditandai dengan kulit kemerahan terutama di bagian ketiak, dada, leher, tangan dan kaki. 


3. Eczema

Iritasi kulit selanjutnya adalah eczema. Dibandingkan dengan jenis iritasi lain, eczema tidak semata-mata disebabkan oleh lingkungan sekitar atau cara perawatan bayi yang kurang tepat, namun juga faktor keturunan. Eczema ditandai dengan kulit kemerahan, kering hingga mengelupas yang akan semakin parah jika ternyata buah hati alergi dengan bahan kimia tertentu yang ada pada kain atau detergen yang biasa digunakan. Pada beberapa kasus, eczema akan mereda seiring pertambahan usia si Kecil dan menguatnya sistem kekebalan tubuhnya.


4. Infeksi jamur

Iritasi kulit yang terakhir adalah yang disebabkan oleh jamur. Biasanya, infeksi jamur muncul di area yang mudah berkeringat, lembap dan juga tertutup sehingga menciptakan kondisi hangat yang disukai jamur untuk berkembang biak. Salah satu infeksi jamur yang sering terjadi adalah saat ruam popok muncul. Kulit bayi yang terlalu lama tertutup oleh popok basah akan terasa lembap dan basah karena tidak ada sirkulasi udara. Alhasil, jamur memperparah ruam yang terjadi dan ditandai dengan kemerahan yang disertai bintik menyebar atau bintik berair yang gatal dan juga perih. Umumnya, infeksi jamur ini membandel dan butuh waktu lebih lama untuk pulih.


Cara Mengatasi Iritasi Kulit Bayi

Iritasi Kulit Bayi: Jenis, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Photo by Ignacio Campo on Unsplash


Penanganan iritasi kulit bayi tergantung dari kondisi kulit buah hati dan jenis iritasinya sendiri. Namun, jika dilihat secara umum sebenarnya ada perawatan yang bisa dilakukan supaya bayi terhindar dari iritasi atau jika terlanjur terjadi, iritasi dapat mereda dalam waktu singkat.


- Pastikan tubuh bayi selalu kering dan bersih, terutama di area yang tertutup popok maupun pakaian. Ketika permukaan kulit tidak mendapatkan sirkulasi udara yang baik, permukaannya kulitnya akan terlalu lembab dan gesekan dengan permukaan popok atau kain membuatnya meradang. Untuk itu, rutinlah mengganti popok misalnya 2 jam sekali tanpa menunggu penuh. Dan juga, jika cuaca panas dan si Kecil berkeringat, segera ganti bajunya dan taburkan bedak yang aman untuk bayi agar kelembabannya terserap.


- Hindari produk berbahan kimia, seperti parfum atau paraben yang berpotensi memicu alergi karena menyebabkan kulit kering. Sekarang ada banyak produk dengan kandungan alami dan aman. Jika buah hati sering mengalami ruam apalagi eczema, pertimbangkan untuk memilih produk berbahan alami agar kemungkinan alergi serta iritasi dapat ditekan.


- Mengoleskan salep ruam. Salep ruam dikenal juga sebagai barrier ointment di mana fungsinya bukan hanya meredakan iritasi dan peradangan ringan pada kulit namun juga menguatkan skin barrier sehingga kulit bayi tidak mudah iritasi ketika bersentuhan dengan permukaan popok.


Bepanthen adalah salep ruam dengan kandungan alami dan aman untuk kulit buah hati. Diperkaya dengan dekspanthenol dan juga lanolin, penggunaan rutin sesuai aturan dapat membantu meredakan iritasi kulit bayi seperti ruam sekaligus memberikan perlindungan dengan meningkatkan skin barrier. Pastikan kulit si Kecil dalam kondisi kering dan bersih sebelum mengaplikasikannya ya.


Salam hangat,