Monday, September 19, 2022

Belajar Konsisten Menulis Setiap Hari, Sulitkah?

Belajar Konsisten Menulis Setiap Hari, Sulitkah?
Photo by Kaitlyn Baker on Unsplash


Menulis merupakan kegiatan yang saya lakukan hampir setiap hari. Iya, kalau memang sedang tidak ada hal mendesak, saya memang merutinkan menulis setiap hari terutama setelah pandemi mulai reda. Saat masih pandemi, saya banyak berkutat dengan ilustrasi sampai-sampai nggak ada waktu untuk menulis buku lagi. Sedih? Banget. 


Makannya awal tahun ini saya mulai mengurangi mengerjakan ilustrasi. Hanya menerima beberapa pekerjaan yang memang saya mau kerjakan supaya ada waktu lagi untuk menulis.


Namun, terkadang saya harus mengerjakan naskah sekaligus membuat ilustrasi buku. Misalnya seperti beberapa bulan lalu saat saya harus mengerjakan ilustrasi untuk buku Bunda Helvy Tiana Rosa, di sisi lain saya sudah ada kerjaan menggarap naskah. Awalnya saya kira nggak akan bisa mengerjakan semuanya tepat waktu, qadarallah dengan lebih disiplin dan banyak berdoa akhirnya pekerjaan itu selesai tepat waktu juga. Masya Allah, legaaa.


Beberapa orang bertanya, memangnya nggak capek menulis setiap hari? Penulis lain juga melakukan hal yang sama, kok. Saya bukan orang yang paling rajin, yang lebih rajin masih lebih banyak lagi. Kalau ditanya capek atau nggak, yang jelas pasti lebih capek karena kita mesti melakukan hal lain selain pekerjaan rumah. Saya seorang Ibu Rumah Tangga yang punya tanggung jawab di rumah. Mencuci, menyetrika, memasak, beres-beres rumah, mendampingi anak belajar dan mengaji, dan banyak lainnya. Sama seperti ibu lain di luar sana yang memilih mengurus semua sendiri tanpa asisten rumah tangga.


Ketika saya memutuskan tetap berkarya di usia saya yang segini, yang sudah nggak 17 tahun ini, otomatis saya sudah harus siap lebih capek. Apalagi kalau ada kerjaan yang tiba-tiba datang sekaligus. Benar-benar harus membagi waktu dan disiplin dengan jadwal yang telah dibuat.


Namun, capeknya tetap menyenangkan karena saya mengerjakan hal yang benar-benar saya sukai. Kalau ditanya bosan atau nggak, pasti ada bosan dan pengin berhentinya. Nggak masalah, ambil jeda dan istirahat. Nggak udah dibawa pusing. Nanti juga bisa balik lagi ke laptop :D


Jangan Kerjakan Sekaligus

Belajar Konsisten Menulis Setiap Hari, Sulitkah?
Photo by Richa Sharma on Unsplash


Adakah orang-orang seperti saya, yang kalau ngerjain apa-apa maunya sekaligus beres? Mulai dari menggambar, menulis, beres-beres rumah, dan yang lainnya?


Ternyata ini nggak terlalu berguna ketika kita mesti mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus. Bikin saya capek dan stres. Saya harus menyadari bahwa tidak semua pekerjaan bisa dikerjakan sekaligus dan mestinya saya belajar mencicil pekerjaan supaya semua bisa dibereskan dalam waktu yang tepat.


Contohnya begini, saya dari dulu nggak terbiasa menulis buku sekaligus mengerjakan gambar. Kalau sudah menerima orderan ilustrasi, saya akan fokus di pekerjaan ini sampai beres. Memang benar, kalau fokus jadi cepat selesai. Namun, cara ini nggak bisa saya lakukan kalau saya punya lebih dari satu pekerjaan.


Waktu saya mesti merampungkan naskah dan membuat ilustrasi untuk buku lain, saya belajar mencicil pekerjaan. Pagi-pagi sebelum Subuh saya menulis beberapa halaman untuk naskah saya, sedangkan siangnya saya mencicil ilustrasi. Sebulan itu saya melakukan hal yang sama setiap hari dan Alhamdulillah, dua-duanya rampung.


Andai saya hanya fokus mengerjakan satu hal dulu, saya nggak yakin target saya bakalan selesai tepat waktu. Mungkin agak molor-molor dikit...hehe.


Nah, cara ini bisa kita terapkan. Di sela-sela kesibukan mengurus rumah, sempakant menulis meski hanya sedikit. Mencicil setiap hari lama-lama akan jadi bukit, lho. Nggak berat, kok asal kita senang mengerjakannya. Makannya pastikan kamu benar-benar suka menulis sebelum memutuskan jadi penulis.


Membuat Target

Belajar Konsisten Menulis Setiap Hari, Sulitkah?
Photo by Hannah Grace on Unsplash


Berapa lama kamu akan menyelesaikan naskahmu? Sebulan? Dua bulan? Buatlah target sesuai kemampuan dan kerjakan dengan konsisten. Jika ditanya apakah sibuk dan capek? Semua orang juga sibuk dan capek, sih. Tinggal bagaimana kita mau melakukannya atau tidak.


Target dibuat supaya memudahkan kita supaya mau disiplin waktu. Kalau sehari mesti mengerjakan dua halaman, kerjakan dua halaman atau lebih. Lakukan secara terus menerus sampai naskahmu selesai.


Bukankah buku yang bagus adalah yang sudah selesai ditulis? Bukan hanya yang selesai diangankan apalagi hanya dibayangkan. Nggak ada kriteria naskah bagus atau nggak. Ini soal proses. Makin hari akan semakin bagus. Bertambah hari, bulan, hingga tahun, yakin deh tulisan kita akan ada peningkatan kualitas asal tetap mau menulis, membaca, dan terus belajar. Seperti itulah kata bang Tere Liye :D


Menjadi penulis merupakan hal yang membahagiakan, tapi jangan hanya jadi gaya-gayaan. Kalau kita bisa menikmatinya, insya Allah ada banyak hal yang bisa jadi pembelajaran. Memang butuh sabar, apalagi kalau masuk jalur penerbit mayor. Menunggu buku terbit hingga bertahun-tahun itu lumrah dialami semua penulis. Jangan takut, jika sudah jadi rezekimu, insya Allah bukumu akan terbit juga. Banyak-banyak sabar, ya :)


Salam hangat,


Monday, September 12, 2022

Haruskah Orang Tua Menekankan Nilai Akademik Terbaik pada Anak?

Haruskah Orang Tua Menekankan Nilai Akademik Terbaik pada Anak?
Photo by Annie Spratt on Unsplash


Mengharapkan anak berhasil meraih nilai akademik terbaik di kelasnya merupakan hal yang wajar. Sebagai orang tua, siapa sih yang nggak pengin anaknya dapat juara? 


Waktu saya sekolah dulu, ibu sering mengatakan, “Masa kamu nggak bisa seperti si A yang dapat peringkat pertama?”


Padahal peringkat saya nggak buruk-buruk amat. Masih tiga besar. Entah alasan apa tepatnya, saya jadi lebih serius belajar dan bisa dikatakan mati-matian. Belajar sampai tengah malam, sampai sarapan pun di kamar karena sambil menghafal materi pelajaran.


Tahun-tahun berikutnya waktu masih SMP saya berhasil mendapatkan nilai terbaik, bahkan sampai kelulusan. Luar biasa waktu itu sampai kepala sekolah ngasih saya uang karena nilai UN saya terbaik di antara dua sekolah dalam satu yayasan. Namun, jangan kira saya tetap jadi orang yang pintar dengan nilai akademik terbaik. Waktu SMA, saya sudah nggak sesakti itu…kwkwk.


Setelah punya anak, saya juga senang ketika anak saya dapat juara. Saya senang dia mau belajar tanpa harus capek-capek diminta. Namun, makin ke sini saya makin santai soal nilai akademik. Apalagi sudah banyak yang bilang, nilai akademik bukan segalanya. Nggak pandai Matematika bukan berarti bodoh. Setiap anak punya potensinya masing-masing. Jika si A pandai Matematika, bisa jadi anak kita justru lemah dalam berhitung, tapi bagus di bidang seni. Ada juga yang unggul di bidang olahraga. 


Anak saya juga begitu. Saya memaklumi kalau dia harus bekerja lebih keras untuk menghafalkan perkalian karena dia nggak unggul dalam berhitung. Tapi, saya bersyukur dia mau berusaha. Ketika ada orang yang bilang kalau anakmu enak bisa Matematika, dia nggak tahu anak saya pernah sampai bolak balik video call sama walasnya sampai mau nangis karena belum paham, dia juga pernah belajar Matematika sama ayahnya sampai larut malam karena merasa belum bisa-bisa. Saya suruh tidur nggak mau. Orang-orang nggak lihat yang begini kecuali kita orang tuanya.


Tapi, si sulung ini senang kalau ada kelas IT. Di rumah, dia bikin game sendiri sampai ada level-levelnya. Anak-anak saya nggak ada yang main game. Mereka bukan pecandu game, tapi karena dibatasi itu, karena kata Bunda main game nggak baik apalagi kalau keseringan, mereka jadi bikin permainan sendiri, entah itu dibikin di laptop atau di buku yang digambar dengan begitu detailnya.


Sampai di sini mestinya kita sudah paham, setiap anak itu cerdas dan pintar sesuai bidang yang dikuasainya. Nggak perlu membandingkan anak kita dengan anak orang. Apalagi memaksanya berkompetisi mati-matian dengan teman-temannya. Hingga ada anak yang kecewa berat ketika nilainya tidak sempurna. Sampai-sampai ada juga yang mendoakan nilai temannya lebih rendah daripada nilainya agar bisa menjadi yang terbaik. Diucapkan di depan anaknya pula. Hei, ada apa ini? 


Biarkan Mereka Menikmati Prosesnya

Haruskah Orang Tua Menekankan Nilai Akademik Terbaik pada Anak?
Photo by Ismail Salad Osman on Unsplash


Dikutip dari id.quora.com, ada satu artikel menarik yang ditulis oleh Zhaza Afililla yang merupakan dokter hewan, dia membahas tentang banyaknya orang tua yang selalu terpaku pada nilai akademik. Masih banyak orang tua yang nggak paham dengan proses belajar putra-putrinya. Mereka selalu berorientasi pada hasil. Pokoknya kamu harus juara. Pokoknya nilai kamu harus sempurna kalau mau berhasil. Kira-kira seperti itu gambarannya.


Ada cerita dari teman saya tentang teman anaknya yang selalu dimarahi ketika tidak mendapatkan nilai sempurna. Makannya dia suka nangis kalau dapat nilai 90. Anaknya masih kelas 4 SD. Masih kecil, tapi mesti dapat tuntutan seberat itu dari orang tuanya.


Usia sekolah apalagi masih usia SD mestinya adalah masa belajar yang menyenangkan, santai-santai. Meskipun tuntutan dari sekolah cukup berat, tapi jangan sampai orang tua menambahkan tuntutan yang lebih berat lagi pada anak.


Seorang dosen psikologi mengatakan, anak usia segitu jangan ditambah les macam-macam. Capek. Apalagi yang sekolahnya full day seperti anak saya. Pagi berangkat, sore sampai rumah. Dia hanya punya waktu sedikit untuk istirahat, belum lagi kalau diberi PR banyak dari gurunya. Bukannya pintar, malah stres.


Kita tahu banget kalau semua hal itu nggak bisa tercapai dengan sekali kedipan mata. Semua itu butuh proses. Sedikit saya ceritakan tentang anak saya yang paling kecil. Semua anak saya memang belajar mengaji di rumah bersama saya. Karena saya pengin seperti Ibu yang ngajarin ngaji anak-anaknya sendiri.


Namun, si bungsu nggak sama seperti si sulung. Dia butuh waktu lebih banyak supaya bisa menamatkan buku Iqro'. Satu halaman kadang diulang sampai seminggu lebih. Karena dia masih terbata-bata, kadang juga lupa materi sebelumnya. Setiap pindah halaman baru, dia selalu mewek karena merasa itu sulit dan nggak mampu. Saya nggak pernah maksa dia harus bisa. Nggak pernah marah juga. Saya ikuti maunya apa. Kalau hari ini dia hanya mau baca setengah halaman, itu nggak masalah. Kadang satu baris juga sudah cukup. Kadang juga nggak jadi ngaji. Besoknya ketika merasa sudah lebih mengerti, lebih tenang, dia akan minta membaca sampai satu halaman penuh. Begitu seterusnya sampai sekarang dia sudah membaca Alquran juz 2.


Ketika dia harus mengaji dengan metode berbeda seperti saat di TK ataupun SD, tidak banyak perubahan yang mesti dibenahi karena mungkin dasarnya sudah benar. BTW, anak saya ini termasuk anak pandemi yang nggak sekolah TK A. Dia langsung masuk TK B waktu itu.


Sekarang dia sudah masuk SD dan belajar mengaji di sekolah pakai metode Qiraati. Jelas ada perbedaan mencolok terutama di gerakan mulut seperti mesti mencucu, mangap, dan meringis. Saya nggak menguasai metode ini sehingga saya serahkan kepada kakaknya yang sudah belajar di sekolah…kwkwk. Jadi, di rumah kami bekerja sama :D


Orang-orang melihat hasilnya. Dia sudah cepat bisa. Dia sudah hafal dan lulus banyak surat. Dia sudah kenaikan jilid. Sekali lagi, kebanyakan orang hanya mau melihat hasilnya tanpa mau tahu prosesnya. Padahal, dia kadang sampai nangis waktu belajar ngaji karena merasa kesulitan mengikuti, tapi dia mau belajar dan tekun. Dia rela nggak main dulu biar bisa menghafal surat-surat pendek. Tanpa harus saya temani, dia mengulang-ulang hafalannya sendiri. Dia anaknya so sweet masya Allah. Pernah pagi-pagi waktu saya tinggal cuci piring, dia mengulang-ulang hafalan sendiri. Saya nggak pernah memaksa. Saya pikir, mungkin karena sudah ada contoh dari kakaknya yang setiap hari menambah hafalan, dia jadi punya semangat buat menghafal juga.


Apakah saya memberi anak-anak reward besar ketika mereka berhasil mencapai suatu target? Nggak sama sekali. Tapi, untuk menghargai usaha mereka, saya selalu ngasih sesuatu. Misalnya buku bacaan kesukaan mereka setelah ujian meskipun mereka nggak dapat nilai terbaik di kelas. Saya bilang, ini hadiah karena kalian sudah berusaha dan mau belajar.


Ambisi Akademik Tak Sejalan dengan Kebutuhan Anak

Haruskah Orang Tua Menekankan Nilai Akademik Terbaik pada Anak?
Photo by Volodymyr Hryshchenko on Unsplash


Kenapa sih tiba-tiba saya bahas tema ini? Sebenarnya ide ini muncul waktu parenting kelas atas kemarin. Walas si kakak bilang, nilai akademik itu bukan segalanya, bukan yang utama. Jangan bebani mereka dengan belajar di bimbel khususnya di kelas 6 karena mereka sudah sangat capek. Kecuali memang anaknya mau, ya.


Jadilah saya pengin cerita lebih banyak soal ini. Tentang ambisi akademik, memberikan tekanan pada anak, tapi orang tua menikmatinya sebagai kompetisi. 


Namun, terkadang ambisi akademik tidak sejalan dengan kebutuhan anak seperti ditulis oleh Zhaza Afililla. Iya, kita mau anak pintar, tapi kita nggak pernah mendampingi dia belajar. Kita mau dia jadi anak hebat, tapi kita nggak ngasih kasih sayang sama mereka.


Kepala sekolah di sekolah si kakak pernah bilang, ketika orang tua menyerahkan anak-anaknya di sekolah, jangan serahkan tanggung jawab mendidik seluruhnya kepada sekolah. Orang tua juga masih punya tanggung jawab dan kewajiban untuk mendampingi anak-anaknya di rumah. Bahkan, sudah jelas, anak-anak yang di rumahnya jarang diperhatikan dan didampingi, dia cenderung ketinggalan. Kasihan, katanya.


Jika kita mau nilai anak-anak bagus, pelan-pelan kita juga mesti usaha supaya anak-anak mau belajar dengan happy, tanpa mesti dipaksa. Diberikan pendampingan, dibantu, jangan hanya dituntut. Kita juga mesti ngasih lebih banyak waktu buat mereka. Terutama anak yang masih usia kelas 1 SD. Benar-benar harus didampingi pake banget.


Suasana Rumah yang Kondusif

Haruskah Orang Tua Menekankan Nilai Akademik Terbaik pada Anak?
Photo by Ben White on Unsplash


Masalah terbesar bagi orang tua dan anak-anak di zaman sekarang adalah gadget, nonton televisi, dan main game. Siapa sih yang nggak punya masalah soal ini? Anak kecanduan gadget sejak usia dini, kencanduan main game, sampai lebih parah sudah terpapar pornografi.


Anak-anak yang kesulitan belajar di rumah mungkin disebabkan oleh kecanduan main gadget atau nonton kartun di televisi dan kurangnya pendampingan dari orang tua. Sedikit cerita, si sulung dulu pernah sangat senang nonton kartun di televisi sampai-sampai ketika dimatikan kita mesti ribut dulu…kwkwk. Saya nggak mau ini terulang karena capek banget mengatasinya.


Tahun-tahun pandemi ketika semua anak hampir seluruhnya malah jadi senang main gadget, anak saya malah nggak terpapar itu. Televisi di rumah tiba-tiba mati saking lamanya nggak dinyalain. Ya Allah, pengin ngakak sih kok bisa sampai rusak begini? Sampai sekarang saya masih nggak mau beli lagi karena sudah nyaman dengan suasana rumah seperti sekarang :D


Anak-anak pegang hp sekadar buat zoom, cek jadwal, dan sebagainya. Anak-anak boleh kok nonton, tapi saya batasi ketika hari libur dan kami sepakat nontonnya juga hanya 2 film kartun pendek. Benar, ini kesepakatan kami bersama. Ketika mereka melanggar aturan di rumah, misalnya ribut mulu antara kakak adek, hari libur nggak boleh nonton. Alhamdulillah mereka sadar diri kalau salah. 


Di rumah, handphone, laptop, ataupun tablet nggak pernah disembunyikan. Mereka tahu tempatnya di mana. Mereka bisa ambil dan pakai ketika mau, tapi saya bersyukur mereka selalu minta izin dulu dan memakainya sesuai kebutuhan.


Anak-anak yang nggak kecanduan hp biasanya cenderung lebih kreatif. Ketika anak-anak saya nyandu nonton mulu seperti dulu, mereka selalu ngeluh bosan, mau ngapain lagi, nih? Keponakan saya juga begitu.


Ketika mereka sudah nggak kecanduan gadget, mereka bisa melakukan banyak hal. Idenya jadi banyak. Main lego jadi nggak membosankan. Baca buku jadi menyenangkan. Hari-harinya penuh semangat. Mulai dari bikin game sendiri di laptop sampai bikin permainan di buku semacam ular tangga. Ada aja idenya :D


Supaya anak belajarnya nyaman, kita juga mesti menciptakan suasana yang baik buat mereka. Ngasih perhatian, ngasih waktu, ngasih apresiasi dan menghargai usaha mereka. Paling penting, jangan membandingkan anak kita dengan anak orang lain. Saya sudah tahu rasanya dan itu nggak enak, bestie :D


Orang Tua Kepo

Haruskah Orang Tua Menekankan Nilai Akademik Terbaik pada Anak?
Photo by Daiga Ellaby on Unsplash


Ini penting dan lucu, sih…kwkwk. Ada orang tua yang sampai minta difotoin rapor teman anaknya biar tahu nilainya, ada juga yang minjam hasil psikotes anak orang biar tahu IQ-nya berapa padahal jelas-jelas di dokumennya tertulis ‘RAHASIA’.


Ambisi akademik bikin para orang tua nggak masuk akal lagi kelakuannya. Pengin tahu nilai anak orang, pengin tahu peringkat anak orang, sampai ada yang tiba-tiba putus silaturahmi dengan sendirinya. Tiba-tiba sudah nggak akrab lagi, sudah nggak mau nyapa lagi.


Faedahnya apa, ya? apa nggak sebaiknya kita fokus sama anak-anak kita? Nggak perlu benci sama orang lain karena dia sering ikut lomba dan juara. Apa salahnya si anak coba? Jika dia memang bersungguh-sungguh dan tekun, keberhasilan itu bonus buat dia.


Satu lagi, jangan mencari tahu sesuatu yang mestinya nggak kita tahu. Ujung-ujungnya jadi membandingkan anak, ujung-ujungnya jadi menuntut anak. Padahal anaknya sudah selalu juara pertama di kelas. Selalu jadi yang terbaik, tapi masih saja nggak merasa cukup. 


Cerita-cerita seperti ini banyak saya dapatkan dari teman-teman sesama ibu juga. Bukan fiktif dan memang terjadi. 


Dear Ayah dan Bunda, yuk nikmati peran kita mumpung anak-anak masih di dekat kita. Mereka masih mau curhat ke kita, mereka masih senang kita cium dan peluk, mereka masih menjadikan kita sebagai tempat bertanya itu hal luar biasa, lho. Jangan bikin mereka benci sama temannya hanya karena nilai akademik. Jangan juga membenci orang tuanya karena mereka nggak pernah bikin salah ke kita :D


Salam hangat,



Tuesday, August 30, 2022

Pentingnya Second Opinion Untuk Diagnosis Penyakit

Pentingnya Second Opinion Untuk Diagnosis Penyakit
Photo by Marcelo Leal on Unsplash


Second opinion, mencari pendapat kedua, atau bisa diartikan mencari pendapat dokter berbeda mengenai penyakit yang sama setelah sebelumnya telah didiagnosis oleh dokter lain merupakan hal yang perlu dilakukan oleh kita sebagai pasien. Kesalahan diagnosis, overtreatment, atau bahkan overdiagnosis sering terjadi di mana-mana. Nggak hanya di Indonesia, bahkan dari beberapa sumber yang saya baca, hal semacam ini juga terjadi di luar negeri sekalipun.


Karena itu, nggak ada salahnya kita melakukan second opinion dengan mendatangi dokter-dokter lain untuk berkonsultasi. Hal inilah yang saya lakukan kepada anak saya saat dia mengalami demam sampai berhari-hari, tanpa gejala, tapi belum ketahuan juga diagnosis pastinya setelah melakukan cek urin dan cek darah lebih dari satu kali.


Saya bukan tipe orang tua yang mudah panik saat anak demam. Saya sudah terbiasa melakukan treatment sendiri di rumah ketika anak sedang sakit dan tahu kapan mesti ke dokter. Anak-anak saya, terutama si sulung punya riwayat kejang demam sejak dua tahun sampai terakhir di usianya enam tahun. 


Ketika anak demam lebih dari seminggu tanpa gejala baik itu batuk ataupun pilek, saya berusaha mencari beberapa dokter untuk berkonsultasi dan mencari jawaban serta treatment yang tepat untuk sakitnya. Mulai dari mendatangi dokter spesialis anak dekat rumah sampai ke Menteng hingga akhirnya mencari salah satu dokter dari Milis Sehat, yakni dokter Apin.


Sebelum ada diagnosis pasti, sudah ada beberapa dokter yang melakukan cek darah, memberikan antibiotik, hingga meminta rawat inap. Namun, saya memang waktu itu nggak menelannya mentah-mentah. Walaupun saya hanya Ibu Rumah Tangga biasa, tapi rasanya semua yang dianjurkan kurang tepat buat anak saya mengingat diagnosisnya aja belum jelas apa? Semua ini karena saya juga ikut belajar di Milis Sehat bersama beberapa dokter yang RUM. Nggak semudah itu ngasih antibiotik kalau diagnosisnya saja belum jelas. Nggak semudah itu meminta rawat inap sedangkan anaknya dalam kondisi baik?


Pengalaman ini benar-benar jadi pelajaran buat saya bahwa kita itu jangan suka pasrah hanya sama satu dokter saja. Nggak ada salahnya kok second opinion ke dokter-dokter lain karena bisa banget pendapat mereka berbeda. 


Bagi pasien, second opinion ini nggak ada ruginya, justru sangat baik apalagi jika menyangkut nyawa pasien, kondisi yang terus memburuk, atau dokter pertama sudah salah treatment. Seperti yang dialami oleh ibu saya sendiri.


Demensia Hingga Tak Bisa Bergerak Sama Sekali

Saya ingin menulis pengalaman ini supaya jadi pelajaran bagi banyak orang, bahwa second opinion itu bukan hal sia-sia. Kita nggak harus menerima begitu saja diagnosis serta treatment dari dokter pertama apalagi kalau kondisi pasien makin hari makin buruk. Kita boleh konsultasi ke dokter lain dan terus berikhtiar lagi demi kesembuhan orang-orang yang kita sayang.


Second opinion ini merupakan hak pasien yang tertuang dalam Undang-Undang no. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, bagian empat pasal 32 poin H tentang hak pasien seperti dikutip dari kompas.com: 


"Setiap pasien memiliki hak meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain yang mempunyai Surat Izin Praktik (SIP) baik di dalam maupun di luar Rumah Sakit."


Ibu saya sempat kena serangan struk ringan pada Desember tahun lalu. Setelah tidur di malam hari, sampai besoknya Ibu nggak sadarkan diri atau bisa dibilang terus tertidur seperti sangat nyenyak. Akhirnya Ibu dibawa ke rumah sakit dan diketahui ada sedikit sumbatan pada saraf di kepalanya. Meski ada sumbatan sedikit, sebenarnya ini masih aman. Begitu kata dokternya.


Setelah beberapa hari, Ibu mulai bangun, tapi tidak sepenuhnya ingat dengan semua kejadian yang dialami, terutama hal-hal yang baru. Seperti kejadian beberapa tahun belakangan. Contoh kecilnya saja, Ibu lupa dan tidak ingat bahwa saya menulis buku dan membuat ilustrasi. Padahal sebelumnya, Ibu sangat antusias setiap mendengar cerita dari saya tentang pengalaman saya menulis. Bahkan Ibu selalu men-support saya supaya terus berkarya.


Setelah beberapa hari dirawat, dokter menyatakan tidak ada masalah yang berat pada Ibu karena kondisi semuanya normal. Makanya, Ibu bisa pulang lebih cepat dibanding pasien struk lainnya. Dokter meyakinkan bahwa Ibu akan kembali pulih asal rajin dilatih. 


Terapinya sederhana saja, diajak gerak, jalan-jalan pagi, jangan tidur terlalu lama, diajak ngobrol hal-hal ringan dan disukai, dijaga sama orang yang disayang, jangan bertemu dengan orang-orang yang tidak disenangi. Simpel, ya? Nggak juga ternyata :(


Saya tidak tinggal di rumah Ibu. Saya sudah berumah tangga dan menetap di Jakarta sejak belasan tahun lalu. Namun, kami coba terus memantau kondisinya. Kendala yang kami temui dalam perjalanan selanjutnya adalah, ternyata Ibu susah diajak bergerak, senam, dan ngobrol. Ibu lebih senang tidur, diam, dan malas beraktivitas. Dokter pertama pernah bilang, jangan dibantu terlalu banyak karena Ibu sebenarnya bisa melakukannya sendiri. Hanya saja Ibu merasa ‘nyaman’ dengan kondisinya sekarang karena merasa diperhatikan. Akhirnya, Ibu senang diperlakukan seperti layaknya orang sakit.


Masalahnya muncul dari sini. Ketika Ibu susah dipaksa, kemudian harus pindah dokter di rumah sakit lain yang lebih dekat, dan dokter kedua selalu mengatakan bahwa kondisi Ibu ini normal. Nggak apa. Harus sabar. Nggak apa-apa kalau nggak mau jalan jangan dipaksa, nggak apa-apa kalau tidur lama, biarkan jangan dipaksa, dan semua yang katanya jangan dipaksa ini ternyata menimbulkan banyak hal fatal terjadi pada Ibu saya.


Diagnosis dari dokter saraf kedua adalah demensia. Bagi kita orang awam, demensia ini seperti pikun. Saya yakin demensia ini memang benar-benar Ibu alami. Kenapa? Karena Ibu nggak bisa mengingat hal-hal baru yang terjadi beberapa tahun belakangan, tapi bisa ingat dengan kejadian yang sudah sangat lama. Bagi yang nggak tahu apa itu demensia, silakan cari di Google :)


Saya nggak masalah kalau Ibu lupa beberapa hal. Namun, saya sangat takut karena Ibu sering kali diam dan lebih suka tidur. Saya pikir Ibu ini depresi sehingga pernah saya ceritakan kepada kerabat kami yang dokter saraf juga, kemudian coba kami bawa ke Psikiater, tapi hasilnya nggak ada depresi katanya.


Masalahnya, kondisi Ibu terus memburuk. Ibu makin nggak bisa jalan dan kata dokter kedua yang pegang Ibu berbulan-bulan sampai hampir setahun ini mengatakan itu wajar. Selalu itu yang dikatakan sehingga keluarga merasa semua itu normal. Saya sudah sering sampaikan kepada Bapak supaya cari dokter lain atau kembali ke dokter pertama. Bahkan terakhir kemarin sempat diminta dirawat oleh kerabat kami sendiri di salah satu Rumah Sakit di Malang, tapi Bapak selalu menolak. Katanya obatnya sama saja, kok. Huft…


Sebelumnya, karena kondisi Ibu terus memburuk, Ibu saya dibawa ke dokter lain untuk second opinion. Namun, bahkan kondisi Ibu nggak diperiksa langsung. Saya kaget dan merasa aneh sih kenapa bisa nggak cek langsung, tapi sudah ngasih obat? Apakah memang boleh begini? Sedangkan kerabat kami yang dokter saraf di Rumah Sakit lain bahkan nggak berani mendiagnosis dan memberikan treatment sebelum cek dari awal lagi secara langsung. Padahal, dia tahu persis kondisi Ibu dari awal sakit. 


Sampai akhirnya, kondisi terakhir kemarin Ibu sudah kesulitan menelan dan ada sesak. Saat itulah baru diputuskan dibawa ke Rumah Sakit lain. Sejujurnya, saya sendiri merasa kok kalau ini terlambat. Namun, qadarallah baru ditangani oleh dokter berbeda setelah kondisinya semakin memburuk seperti itu. 


Jangan Takut Pergi ke Dokter

Zaman sekarang, semua informasi bisa kita ketahui dengan luas di dunia maya. Bagi pasien, memang sudah seharusnya mencari tahu sendiri tentang penyakit yang diderita, obat-obatan yang akan dikonsumsi, serta hal lainnya. Jadi konsumen kesehatan itu harus pinter. Begitu yang diajarkan di Milis Sehat.


Saat aktif belajar di Milis Sehat, saya sangat kaku terutama sama dokter yang gampang banget ngasih antibiotik. Karena nyari dokter yang RUM itu susahnya subhanallah dan saat itu saya lagi senang-senangnya debat dan ngeyel…kwkwk. Kalau hanya batuk pilek, kenapa kok dikasih antibiotik segala? Sampai akhirnya saya bisa menemukan dokter-dokter yang nggak overtreatment, enak diajak diskusi, dan bikin tenang. Lebih penting lagi, nggak masalah ke dokter dan nggak bawa pulang obat sekantong kresek. Kalau memang nggak perlu, kenapa mesti dikasih? Kita menjadi salah satu penyebab seorang dokter bisa RUM atau nggak, lho. Salah satu dokter spesialis anak di Hermina Jatinegara bilang sendiri ke saya dan mengatakan apa yang saya lakukan sudah benar.


Berkaca dari kejadian Ibu, rasanya pengin banget puter waktu. Orang-orang di kampung itu takut kalau berurusan dengan Rumah Sakit dan dokter. Ini cerita dari Ibu saya sendiri karena memang banyak cerita-cerita horor berlarian ke mana-mana. Padahal, belum tentu benar, lho.


Orang-orang juga lebih percaya sama selain dokter buat ngobatin penyakit. Apalagi kalau dokter spesialisnya masih muda, sangat diragukan sama mereka. Padahal, dokter mudanya sudah lompat kelas beberapa tahun, jadi wajar sudah pakai jas putih di usia muda...kwkwk. 


Agak berat sih memaksa keluarga kita supaya mendengarkan apa yang kita arahkan, sedangkan mereka sendiri nggak percaya. Jadi, pada akhirnya kayak bertentangan, kan?


Saya berharap kondisi seperti ini tidak terjadi kepada yang lain. Semoga bisa jadi pelajaran serta pengalaman berharga. Kondisi Ibu saya memang sudah sangat menurun dibandingkan yang dulu. Sekarang hanya bisa minum susu lewat selang. Sudah nggak bisa makan sama sekali. Namun, saya masih berharap dengan sangat semoga Ibu bisa membaik dan pulih lagi atas izin Allah.


Salam hangat,


Wednesday, August 17, 2022

Cara Menaikkan Berat Badan Anak Plus Resep Makanan Sehat & Lezat

Cara Menaikkan Berat Badan Anak Plus Resep Makanan Sehat & Lezat
Photo by Tanaphong Toochinda on Unsplash


Sejak punya anak pertama hingga kedua, masalah 'berat badan kurang' selalu menghantui hari-hari kami. Terutama waktu si bungsu berusia mulai enam bulan ke atas, dia dan kakaknya sering sekali kena batuk pilek dan diperparah alergi. Hal semacam ini sudah tentu memengaruhi berat badannya, kan? Gimana nggak kurus, sakit-sakitan dan mereka reflek muntahnya mudah sekali. Nggak harus dalam kondisi sakit, makan menu yang nggak disukai, kekenyangan sedikit, makan sebutir nasi keras, bisa muntah, lho.


Jadi ingat zaman menyusui dulu, mereka ini kalau gumoh nggak main-main. Bukan yang sekadar keluar ASI sedikit dari mulutnya, melainkan bisa muntah hebat sampai dari hidung. Padahal, ini hanya gumoh, lho. Apakah kondisi ini normal? Sejauh ini kalau ke dokter sih katanya nggak ada masalah dan baik-baik saja. Jadi, ya dijalani saja dengan legowo.


Waktu usia sekitar 6 bulan, si bungsu pernah demam sampai berhari-berhari tanpa gejala. Jadi, nggak ada batuk pilek, nggak ada diare, dan yang lainnya. Hanya demam terutama ketika jam 2 malam. Saya bawa ke rumah sakit ke mana-mana. Bolak balik cek darah dan cek urin sesuai saran dokter, semua hasilnya normal. 


Terakhir waktu itu saya bawa ke dr. Apin di Rumah Sakit Pasar Rebo. Saya percaya nih sama dr. Apin karena beliau salah satu dokter yang aktif di Milis Sehat. Dari sekian banyak dokter spesialis anak, rata-rata mereka nggak ngasih diagnosa pasti, tapi memberikan antibiotik tanpa tahu penyebab sakit anak saya ini apa. Katanya, bisa aja virusnya udah berubah jadi bakteri. Emang bisa, ya? :)


Namun, saat sampai di ruang dr. Apin, beliau lihat hasil cek darah dan urin, kemudian membolak balik si bungsu dan berkata, nggak masalah, kok ini. Dia baik-baik aja. Hanya memang usia sekolah dan ada adik di rumah memang rentan buat kena batuk pilek yang ping pong. Kesannya nggak sembuh-sembuh. Memangnya mau pisah rumah biar nggak ketularan? katanya. Beliau juga bilang ke saya, “Ibu ke sini hanya mau buktiin ke Bapak kan kalau anaknya baik-baik aja?”


Mungkin rata-rata anggota Milis Sehat awalnya seperti saya. Mau RUM dan nerapin di keluarga itu berat banget. Penuh ujian terutama dari pasangan. Dan benar, dr. Apin bisa menebak tujuan saya ke sana. Pulangnya kami hanya dibawakan oleh-oleh zat besi karena si bungsu memang anak ASI.


Keesokan harinya, barulah ketahuan kalau anak saya kena radang telinga atau OMA. Dan radang telinganya si bungsu ini termasuk yang berat. Setiap seminggu sekali saya selalu ke dokter THT untuk membersihkan telinganya dan mengobati batuk pileknya yang seperti nggak ada jeda.


Karena kemungkinan besar ada alergi, saya sampai cari banyak dokter alergi untuk memeriksa anak saya. Kami sempat ke RS. Bunda Menteng dan kemudian berakhir cek alergi lengkap di RS. Hermina Jatingera.


Di RS. Hermina, saya konsultasi dengan dr. Herbowo dan mulai program menaikkan berat badan anak. Mereka sempat dikasih resep susu berkalori tinggi, Nutrini Drink. Namun, setelah minum dalam waktu cukup lama, berat badan mereka nggak naik banyak juga. Capek, kan hayati :(


Berat Badan Juga Dipengaruhi Genetik

Cara Menaikkan Berat Badan Anak Plus Resep Makanan Sehat & Lezat
Photo by Tong Nguyen Van on Unsplash


Saya sebenarnya bukan orang yang selalu kurus. Jadi, nggak mungkin kurusnya anak-anak ini diturunkan dari saya…kwkwk. Namun, suami saya mulai bujang sampai sekarang tubuhnya nggak pernah gemuk. Justru berat badannya nyaris sama dengan saya yang tingginya nggak seberapa ini…hiks.


Dokter bilang, anak-anak kami berat badannya termasuk kecil, tapi masih normal. Namun, mereka masuk kategori yang kecil banget gitu, lho…kwkwk. Kalau pergi ke Posyandu bisa bahaya…kwkwk. Bukannya sehat malah dibully seperti teman saya yang saking takutnya sampai-sampai setiap ke Posyandu anaknya dikasih minum yang banyaak dulu biar berat badannya naik. Padahal, kalau dia konsultasi ke dokter spesialis anak, katanya anaknya masih normal, kok walaupun memang kecil. Persis seperti saya, kan? 


Kerabat kami yang anaknya seusia si bungsu juga punya tubuh yang nggak gemuk bahkan nyaris sama seperti anak saya. Padahal, kedua orang tuanya tipe gemuk. Mereka keluarga dokter yang artinya nggak mungkin mereka nggak tahu dan nggak usaha buat gemukin anaknya. Tapi, nyatanya anak-anak kami memang segini-segini aja. Waktu lebaran kemarin beliau bilang, leganya ada yang samaan…kwkwk.


Momen Masuk SD

Waktu si kakak masuk SD, fokus orang-orang bukan ke berat badannya, melainkan ke tahi lalatnya yang ada di pipi. Dari teman sekelas, kakak kelas, sampai wali murid pernah menertawakan dia. It’s okay, ya, Mas. Saya bilang, ketika kamu jadi orang hebat, orang-orang udah nggak akan lihat fisik kamu lagi. Mereka akan fokus pada hal-hal baikmu saja. Jadi, lakukan yang terbaik buat diri kamu. Bunda dan Ayah menerima kamu apa adanya, Nak *sad.


Namun, saat si bungsu masuk SD, fokus orang-orang pasti tertuju sama badan dia yang mungil dan mukanya yang masih baby face…kwkwk. Nggak mungkin anak saya nggak merasa. Namun, insya Allah semua orang tidak mengejek fisiknya, hanya kaget kenapa ada anak SD sekecil dia…kwkwk.


Pernah suatu hari temannya bertanya dengan polosnya, kok kamu kecil? Kamu beneran udah tujuh tahun?


Si bungsu bercerita dan berkata, tapi dia beneran nanya, kok, Bun. Jadi, adek nggak marah.


Setelah banyak kejadian serta komentar serupa, saya akhirnya mulai bersemangat lagi buat naikin berat badan anak-anak. Jadi ingat lagi momen dulu di mana saya sampai mati-matian ke sana kemari buat naikin berat badan mereka yang hasilnya nggak seberapa. Sampai akhirnya saya capek dan ya udahlah emang udah takdir kali :(


Naik 1 kg Dalam Sebulan

Anak saya ini tipe anak-anak yang makannya nggak bisa banyak sekaligus. Mereka nggak seperti anak-anak kebanyakan yang bisa makan burger masih ditambah nasi dan ayam juga. Anak saya makan porsi kecil saja perutnya sudah keras. Jika dipaksa bisa muntah.


Jadi, saya siasati dengan makan porsi kecil, tapi lebih sering. Menunya juga dibanyakin pakai protein hewani terutama daging merah. Menurut dokter spesiali anak yang menangani anak saya, mereka nggak butuh banyak sayur dan buah. Makan dalam jumlah wajar aja, tapi untuk daging merah sebaiknya dibanyakin. Ikan, telur, ayam juga boleh.


Saya sempat searching di Youtube juga tentang hal ini. Ada pengalaman ibu muda dengan balitanya yang berhasil menaikkan berat badan dengan memberikan menu daging setiap hari selama minimal 6 bulan. Hasilnya memang jadi chubby gitu pipinya…kwkwk.


Dia susah makan, makannya nggak bisa banyak. Jadi, daging sapinya dihaluskan kemudian diberikan sedikit tepung beras dan beberapa jenis saus supaya ada rasa. 


Kebayang makan daging mulu, apa nggak eneg, ya? Awalnya memang terpaksa katanya. Tapi ternyata jadi kebiasaan. Begitu juga dengan anak saya. Awalnya dia makan malas-malasan, setelah rajin diberikan makan lebih sering, dia jadi anak yang mudah lapar dan senang ngemil.


Begini jam makannya, pagi hari dia makan nasi dan lauk, istirahat pertama di sekolah dia makan camilan plus susu UHT, siang makan berat di sekolah. Jumlah makan di sekolah nggak pernah saya bawakan banyak karena dia kadang nggak bisa kalau terlalu kenyang, khawatir muntah. Jadi, saya berikan makan berat di sore hari atau diganti camilan, tapi yang mengandung karbohidrat gitu seperti kentang, sereal, roti, atau bahkan olahan daging. Pulang sekolah dia minum susu kurma yang saya buat sendiri. Malamnya dia makan berat seperti biasa. Untuk susu kurma saya buat dari 7 butir kurma ditambah 4 sdm susu formula. Kemudian haluskan dan saring. Jadikan dua gelas. 


Selama sebulan terakhir, baik si bungsu yang sudah 7 tahun dan kakaknya yang 11 tahun sama-sama sudah naik berat badannya sampai 1 kg lebih. Rasanya kayak mimpi. Terharu…huhu. Mari kita update sebulan ke depan, ya. Insya Allah akan saya ceritakan kembali hasilnya.


Namun, ternyata capek banget mesti bolak balik nyiapin makan, tuh…kwkwk.


Resep Makanan Sehat Untuk Menaikkan Berat Badan Anak

Cara Menaikkan Berat Badan Anak Plus Resep Makanan Sehat & Lezat
Photo: Dok pribadi


Anak-anak harus makan apa saja supaya berat badannya cepat naik? Seperti saya ceritakan sebelumnya, dari dokter spesialis anak yang menangani anak saya dan juga cerita dari teman-teman saya yang lain, berat badan anak bisa naik lebih cepat kalau kita kasih mereka banyak protein hewani, terutama daging merah.


Nah, PR banget kan ngasih anak kecil makan daging karena rata-rata mereka nggak bisa ngunyah daging dan menelannya? Solusinya memang mesti diolah, dihaluskan, dan dibuat berbagai macam menu yang enak buat mereka.


Beberapa resep yang akan saya share ini tidak memiliki takaran…kwkwk. Karena saya lebih sering pakai perasaan kalau masak, sih. Gimana dong? Tapi, siapa tahu idenya bisa dipakai, ya :D


1. Rolade Daging Sapi

Saya sering bikin nugget ayam udang sendiri di rumah. Jadi, rolade ini sebenarnya resepnya nggak beda jauh-jauh dari nugget atau chicken egg rolls gitu. Bahan utamanya saja diganti dengan daging sapi segar dan pilih bagian yang nggak banyak lemak, ya. 


Bahan-bahannya simpel, ada daging, telur, terigu, saus tiram sedikit, bawang putih, garam, merica bubuk, dan pakai es batu ketika menghaluskan dagingnya, ya.


Bahan-bahan yang tercampur rata itu kemudian dikukus dan dipotong-potong setelah dingin. Goreng langsung ketika akan menyantap. Bisa juga dicelup ke kocokan telur atau tepung bumbu. Hasilnya enak. Anak-anak doyan. Mereka makan dengan nasi hangat atau dicamil bersama kentang goreng. Dengan begini, anak-anak bisa makan daging, kan?


Catatan: Jumlah tepung terigu hanya sedikit. Hanya supaya daging merekat. Untuk 1kg daging bisa pakai maksimal 5 sdm.


2. Bakso Sapi

Resep bakso sudah banyak, ya? Di sini saya juga pernah share. Bakso sapi bisa disantap begitu saja atau bisa pakai nasi hangat. Bakso bisa dikreasikan dengan tahu yang lembut dan ditambahkan sayuran seperti sawi hijau. Yummy!


3. Spageti Daging Giling

Ini menu simpel banget sih karena saya pakai saus spageti yang sudah siap pakai. Supaya anak-anak bisa makan daging, kita bisa campurkan daging giling ke dalam saus spagetinya. Cara bikinnya juga gampang banget, kok. 


Haluskan daging dan juga bawang bombay kemudian tumis sampai matang dan harum. Bumbui dengan garam dan merica bubuk. Olahan daging ini bisa langsung dicampurkan ke dalam tumisan saus spageti, ya. Tinggal aduk ke spageti.


4. Risoles Rogut Isi Daging Sapi

Eneg nggak tuh makan daging mulu? Kwkwk. Salah satu menu enak lainnya yaitu risoles isi daging sapi cincang atau daging sapi giling. Resep risoles rogut bisa pakai resep yang teman-teman punya, tapi ganti isian rogut berupa sayuran atau daging ayam dengan daging sapi giling. Dagingnya yang banyak, ya dan tambahkan juga potongan wortel yang diriis dadu kecil. Asli ini enak dan kita bisa simpan buat stok di kulkas.


5. Perkedel Daging

Suka bikin perkedel kentang? Kali ini kita campur juga perkedel kentangnya dengan daging giling, ya? Jangan pakai daging yang banyak lemak atau urat supaya tidak alot. Jangan lupa tumis dulu dagingnya seperti saat kita membuat tumisan daging untuk campuran spageti, ya.


Daging yang sudah ditumis dengan bawang bombay ini wangi dan enak banget. Bisa disimpan di kulkas dan digunakan untuk campuran berbagai macam menu.


Gimana? Sudah cukup banyak, kan resepnya? Hehe. Semoga bisa membantu teman-teman yang punya masalah sama seperti saya. Jangan menyerah, ya. Memang rasanya capek dan melelahkan sekali, tapi kalau ada hasilnya, kita pun jadi ikut lega.


Saya nggak tahu anak saya ini bisa naik berat badannya karena susu kurma yang rutin diberikan setiap hari atau karena memperbanyak jumlah makan? Intinya semua dicoba dan dicoba. Asal sehat dan aman, insya Allah nggak masalah dikonsumsi.


Salam hangat,


Friday, August 5, 2022

Kenapa Harga Ilustrasi Itu Mahal?

Kenapa Harga Ilustrasi Itu Mahal?
Photo by Sorin Gheorgita on Unsplash


Sedikit cerita, kemarin sempat bahas tentang harga ilustrasi dengan teman sesama ilustrator. Rata-rata calon klien yang baru tahu dan pengin pakai jasa kami kaget dengan harga satu halaman ilustrasi untuk buku sejenis picture book. Mereka kira harga ilustrasi itu murah meriah dan tidak butuh biaya banyak untuk membuat buku picture book. Namun, faktanya harga yang kami tawarakan nggak sesuai dengan harapan. Terus piye?


“Sudah capek-capek upgrade ilmu, tapi malah dibayar murah? Emmoh!


Begitu kata salah satu ilustrator ketika gambarnya dihargai sangat murah. Kebanyakan orang masih kurang menghargai jasa ilustrator dan mungkin belum sepenuhnya menganggap bahwa membuat gambar itu juga pekerjaan yang tidak mudah. Walaupun ngerjainnya di rumah, bukan berarti bisa disambi leyeh-leyeh sesuka hati apalagi sambil malas-malasan. Saya pribadi merasa membuat gambar ini lebih menguras waktu dan tenaga ketimbang menulis buku. Kayak capeknya berasa banget.


Untuk membuat satu halaman bergambar, kita nggak bisa kerjain sambil sat set sat set. Apalagi jika belum ada deskripsi gambar dari penulis, kita mesti mikir sendirian. Biasanya, penulis sudah menyertakan naskahnya dalam bentuk tabel dan deskripsi ilustrasi sehingga hasilnya nggak terlalu jauh dari keinginan dan bisa meringankan pekerjaan ilustrator juga.


Kenapa Harga Ilustrasi Itu Mahal?

Kenapa, ya kira-kira? Saya hanya ilustrator kemarin sore, benar-benar baru masuk di dunia ilustrasi digital. Baru dua tahun terakhir saya mengerjakan gambar-gambar untuk klien baik dalam maupun luar negeri. Namun, saya juga berjuang untuk sampai di titik ini. Mulai dari upgrade skill, keluar modal untuk alat tempur yang nggak murah, ide, waktu, dan juga tenaga. Apalagi bagi mereka yang menjalani pendidikan formal, semua tidak mudah. Gimana masih bisa bilang kok mahal banget, sih?


Coba deh bayangkan membuat ilustrasi itu nggak pakai alat yang bisa menyulap keinginan sekali jadi. Seperti bim salabim gitu. Kita benar-benar menggambarnya dari awal. Mulai dari halaman kosong sampai jadi sketsa dan diwarnai dengan detail. Wow banget lho ngerjain gambar itu. Walaupun kita senang mengerjakannya, tetap saja memang ini kerjaan yang lumayan capek…hihi.


Bagaimana Menentukan Harga Ilustrasi?

Banyak orang bertanya tentang cara menentukan harga ilustrasi. Saya pribadi kurang jago dan masih selalu takut-takut saat menentukan harga. Biasanya saya bertanya kepada teman supaya harga yang saya tawarkan tidak terlalu mahal. Karena sangat mungkin ada calon klien yang benar-benar baru mengerti dunia ilustrasi dan nggak tahu harga pasaran di luar berapa. Jadi, jangan sampai harga yang kita kasih kemahalan.


Menentukan harga ilustrasi bisa dilihat dari kualitas gambar kita. Kita sangat tahu dan bisa menerka harga yang pantas berapa. Seberapa detail gambar yang diinginkan? Makin detail makin mahal karena butuh waktu lebih lama untuk mengerjakannya. Sampai lupa masak dan nyuci kalau ngerjain beginian tuh…kwkwk.


Di luar sana, ada ilustrator pemula yang ngasih harga sangat tinggi, tapi ada yang sudah bagus gambarnya masih ngasih harga sangat murah meriah. Jadi, semua dikembalikan lagi ke masing-masing orang.


Jika ada calon klien yang baru tanya-tanya soal harga, kemudian dia hilang entah ke mana, ya nggak masalah, berarti dia bukan target pasar kita. Mungkin dia merasa harga yang kita tawarkan terlalu mahal. Nggak masalah, kan? Rezeki kita bukan ada di dia. Iya, dia…eaaa.


Hal-Hal yang Harus Diperhatikan Saat Menerima Pesanan Ilustrasi

Sebelum menerima pesanan gambar, ada baiknya kita menentukan juga jumlah maksimal revisi. Jangan sampai kita mabok karena revisi yang tak terhingga. Ini penting banget karena jujur capek kalau mesti revisi bolak balik, tuh :(


Apalagi terkadang ada klien yang kurang baik attitude-nya, ada yang super rewel dan sering ganti-ganti idenya. Sudah dibuatkan sesuai keinginan pertama, kemudian dia pengin ganti lagi yang berbeda 180 derajat dari gambar pertama. Kalau kita nggak ngasih batasan, bisa nggak kelar-kelar kerjaan, lho. 


Ada juga yang bisa dipertimbangkan, misalnya saja ada klien yang pesan gambar, tapi dia mau sesuai sama budget-nya. Bisa banget kita terima sesuai kemampuan dan kesediaan kita. Dengan harga segitu, kita bisa buat gambar yang lebih simpel, lebih sederhana dari gambar-gamabr dengan harga di atasnya.


Jadi ilustrator itu kelihatannya memang gampang. Apalagi kalau hanya lihat reels di Instagram saat menggambar. Sat set sat set. Coba pergi ke belakang layar dan lihat secara langsung prosesnya…hehe. 


Ngerjain ilustrasi dan ambil pesanan gambar terkadang nggak melulu tentang uang yang didapatkan, tapi juga kita lihat dari pengalaman belajarnya. Dengan mengerjakan proyek A, kita jadi banyak pengalaman dan melatih skill juga. Nggak ada ruginya. Namun, kita juga harus belajar yang lainnya, termasuk soal menentukan harga. Nggak mungkin juga, kan kita terus-terusan ngerjain pesanan ilustrasi pakai harga saudara yang free-nya sampai tujuh turunan? Ngeri…hihi.


Salam hangat,


Monday, August 1, 2022

Iritasi Kulit Bayi: Jenis, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Iritasi Kulit Bayi: Jenis, Penyebab dan Cara Mengatasinya
Photo by Jonathan Borba on Unsplash


Kulit bayi yang masih sangat lembut dan sensitif rentan mengalami berbagai masalah kesehatan, salah satunya adalah iritasi. Meskipun iritasi kulit bayi sering diidentikkan dengan ruam popok, nyatanya ini bukanlah satu-satunya masalah yang mengancam kesehatan kulit si Kecil. Iritasi kulit memiliki cakupan yang luas dengan sebab yang beragam sehingga orang tua perlu tahu hal apa saja yang dapat menjadi pemicu jadi dapat menghindarinya. Kabar baiknya adalah sebagian besar iritasi kulit bayi tidak berbahaya, kecuali terdapat infeksi lanjutan seperti jamur atau bakteri.


Mengenal Iritasi Kulit Bayi

Iritasi kulit bayi terjadi sebagai reaksi alergi ketika kulit buah hati yang masih sensitif bersentuhan dengan iritan, misalnya cuaca, bahan kimia tertentu, permukaan popok atau kain, air liur dan juga kotoran. Mengingat bayi memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih berkembang, iritasi wajar terjadi kendati tidak boleh didiamkan atau dibiarkan begitu saja. Sebagian jenis iritasi memang dapat mereda dengan sendirinya dalam beberapa hari. Namun, biasanya iritasi seperti ruam menimbulkan rasa tidak nyaman seperti panas, gatal hingga perih yang membuat buah hati merasa tidak nyaman. Itulah sebabnya, orang tua perlu mempersiapkan perawatan kulit bayi untuk situasi seperti ini salah satunya salep ruam. 


Jenis dan Penyebab Iritasi Kulit Bayi

https://www.bepanthen.co.id/memahami-kulit-bayi-anda/kulit-bayi/masalah-kulit-bayi
Photo by Picsea on Unsplash


Iritasi kulit bayi ada banyak macamnya, dengan faktor pemicu yang berbeda-beda. Berikut ini adalah beberapa jenis iritasi kulit yang sering dialami oleh buah hati terutama yang berusia di bawah 2 tahun.


1. Ruam popok

Ruam popok bisa dibilang merupakan iritasi kulit yang paling sering terjadi pada bayi karena berkaitan dengan penggunaan popok sehari-hari. Ruam popok biasanya ditandai dengan kulit kemerahan yang mengilap, kulit kering dan mengelupas hingga lecet yang akan terasa perih saat disentuh atau terkena air. Tidak heran bila bayi akan mudah rewel dan menangis terutama ketika berganti popok atau mandi. 


Ruam popok dipicu oleh banyak hal, terutama masalah kebersihan diri. Jarang mengganti popok, popok yang terlalu ketat, permukaan kulit bayi yang terlalu lembab hingga reaksi alergi terhadap antibiotik ditengarai menjadi pemicu yang paling umum. Selama tidak terjadi infeksi lanjutan seperti jamur dan bakteri, ruam popok biasanya dapat sembuh sendirinya atau diobati dengan salep ruam.


2. Heat rash

Iritasi kulit kedua yang sering dialami terutama bagi bayi yang tinggal di daerah panas adalah heat rash. Cuaca yang panas membuat buah hati gerah, lebih mudah berkeringat dan dalam jumlah banyak. Jika keringat ini tidak dapat menguap sempurna, kelembapan akibat keringat akan “meracuni” kulitnya sehingga heat rash terjadi. Ruam karena cuaca panas ini ditandai dengan kulit kemerahan terutama di bagian ketiak, dada, leher, tangan dan kaki. 


3. Eczema

Iritasi kulit selanjutnya adalah eczema. Dibandingkan dengan jenis iritasi lain, eczema tidak semata-mata disebabkan oleh lingkungan sekitar atau cara perawatan bayi yang kurang tepat, namun juga faktor keturunan. Eczema ditandai dengan kulit kemerahan, kering hingga mengelupas yang akan semakin parah jika ternyata buah hati alergi dengan bahan kimia tertentu yang ada pada kain atau detergen yang biasa digunakan. Pada beberapa kasus, eczema akan mereda seiring pertambahan usia si Kecil dan menguatnya sistem kekebalan tubuhnya.


4. Infeksi jamur

Iritasi kulit yang terakhir adalah yang disebabkan oleh jamur. Biasanya, infeksi jamur muncul di area yang mudah berkeringat, lembap dan juga tertutup sehingga menciptakan kondisi hangat yang disukai jamur untuk berkembang biak. Salah satu infeksi jamur yang sering terjadi adalah saat ruam popok muncul. Kulit bayi yang terlalu lama tertutup oleh popok basah akan terasa lembap dan basah karena tidak ada sirkulasi udara. Alhasil, jamur memperparah ruam yang terjadi dan ditandai dengan kemerahan yang disertai bintik menyebar atau bintik berair yang gatal dan juga perih. Umumnya, infeksi jamur ini membandel dan butuh waktu lebih lama untuk pulih.


Cara Mengatasi Iritasi Kulit Bayi

Iritasi Kulit Bayi: Jenis, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Photo by Ignacio Campo on Unsplash


Penanganan iritasi kulit bayi tergantung dari kondisi kulit buah hati dan jenis iritasinya sendiri. Namun, jika dilihat secara umum sebenarnya ada perawatan yang bisa dilakukan supaya bayi terhindar dari iritasi atau jika terlanjur terjadi, iritasi dapat mereda dalam waktu singkat.


- Pastikan tubuh bayi selalu kering dan bersih, terutama di area yang tertutup popok maupun pakaian. Ketika permukaan kulit tidak mendapatkan sirkulasi udara yang baik, permukaannya kulitnya akan terlalu lembab dan gesekan dengan permukaan popok atau kain membuatnya meradang. Untuk itu, rutinlah mengganti popok misalnya 2 jam sekali tanpa menunggu penuh. Dan juga, jika cuaca panas dan si Kecil berkeringat, segera ganti bajunya dan taburkan bedak yang aman untuk bayi agar kelembabannya terserap.


- Hindari produk berbahan kimia, seperti parfum atau paraben yang berpotensi memicu alergi karena menyebabkan kulit kering. Sekarang ada banyak produk dengan kandungan alami dan aman. Jika buah hati sering mengalami ruam apalagi eczema, pertimbangkan untuk memilih produk berbahan alami agar kemungkinan alergi serta iritasi dapat ditekan.


- Mengoleskan salep ruam. Salep ruam dikenal juga sebagai barrier ointment di mana fungsinya bukan hanya meredakan iritasi dan peradangan ringan pada kulit namun juga menguatkan skin barrier sehingga kulit bayi tidak mudah iritasi ketika bersentuhan dengan permukaan popok.


Bepanthen adalah salep ruam dengan kandungan alami dan aman untuk kulit buah hati. Diperkaya dengan dekspanthenol dan juga lanolin, penggunaan rutin sesuai aturan dapat membantu meredakan iritasi kulit bayi seperti ruam sekaligus memberikan perlindungan dengan meningkatkan skin barrier. Pastikan kulit si Kecil dalam kondisi kering dan bersih sebelum mengaplikasikannya ya.


Salam hangat,

Friday, July 22, 2022

Kiat Supaya Anak Happy Saat Masuk Sekolah

Kiat Supaya Anak Happy Saat Masuk Sekolah
Photo by Jason Sung on Unsplash


Tahun ini, si bungsu sudah mulai masuk Sekolah Dasar setelah sebelumnya masuk TK B di masa pandemi. Si bungsu hanya sekolah TK selama satu tahun karena sempat saya cancel ketika akan masuk TK A di tahun sebelumnya. Kenapa nggak jadi masuk TK A? Kondisi pandemi saat itu tidak memungkinkan anak TK masuk sekolah offline. Saya berpikir, anak TK A sekolah daring gimana ceritanya, ya? Seperti kurang maksimal dan akhirnya pasti lebih banyak proses belajarnya sama orang tua. Kalau akhirnya seperti itu, mending main-main di rumah saja, kan?


Saya bukan seorang guru, jadi banyak nggak tahunya kalau diminta mendampingi anak sekolah di rumah. Apalagi soal materi yang dipelajari, sudah pasti di sekolah sangat lengkap dengan pengalaman guru-gurunya yang luar biasa. Namun, pilihan untuk tetap di rumah waktu itu memang jadi pertimbangan. Lalu, ngapain aja dong selama di rumah selama satu tahun tersebut?


Belajar Baca Tulis

Anak-anak di rumah sudah diberikan buku bacaan sejak masih bayi. Iyap! Walaupun mereka belum bisa membaca, saya sudah rajin membelikan buku dan membacakannya setiap menjelang tidur. Zaman si sulung, buku bacaannya masih satu dua. Sambil menabung, kemudian kami membelikan buku-buku berikutnya sampai akhirnya jumlah buku anak-anak di rumah sudah buanyak! Masya Allah.


Kalau orang lain senang koleksi perkakas dan perhiasan, entah kenapa saya senang sekali koleksi buku bacaan. Selain memang karena saya menulis buku dan banyak belajar dari buku-buku yang saya baca, saya perhatikan anak-anak juga jadi gila baca dengan sendirinya setelah saya akrabkan dengan buku-buku cerita.


Buku bacaan untuk anak-anak memang harganya nggak murah. Sempat menghitung harga seluruh buku bacaan anak-anak yang di rumah nilainya mengerikan juga, tapi jadi nggak terasa karena belinya satu per satu saat punya rezeki lebih atau saat memberikan reward buat anak-anak.


Jenis buku bacaan di rumah juga bermacam-macam, mulai dari picture book berseri, kumpulan cerita, ensiklopedia, komik, sampai novel anak. Dari banyaknya buku tersebut, anak-anak saya bisa membacanya berulang kali tanpa merasa bosan. Padahal, ibunya kalau baca buku cukup sekali dan simpan. Nggak ada keinginan untuk mengulanginya lagi…kwkwk.


Dari kebiasaan sederhana seperti ini akhirnya anak-anak jadi senang membaca. Waktu si bungsu belum bisa membaca, saya bantu dia belajar membaca pakai buku ABACAGA. Ternyata buku ini berguna banget dan simpel penggunaannya. Cukup baca satu sampai dua halaman per hari dan diulang dua sampai tigas kali, anak-anak sudah bisa baca dengan sendirinya.


Karena sudah suka sama buku, si bungsu jadi nggak keberatan untuk belajar baca tulis di rumah walaupun nggak didampingi guru TK, melainkan bareng emaknya melulu…kwkwk. Dia juga punya motivasi unik ketika pengin bisa baca, salah satunya mau bisa baca buku sendiri karena nggak mau bergantung pada saya atau kakaknya. Karena dia sering pengin dibacain buku sama kakaknya, tapi kakaknya males banget baca pakai suara. Maklum anak visual kali, ya? kwkwk. Akhirnya jadi termotivasi gitu hanya karena alasan sederhana begini.


Orang tua mesti telaten ngajarin setiap hari dan jangan dipaksakan kalau anaknya nggak mau. Saya percaya, anak-anak akan bisa baca sendiri pada waktunya. Jadi, nggak pernah maksa mereka belajar baca tulis.


Belajar Baca Alquran

Anak-anak saya sudah dibiasakan membaca Alquran sejak masih kecil. Belajarnya di rumah bersama saya. Namun, kemampuan setiap anak berbeda-beda. Kalau si A bisa cepat, saudaranya bisa jadi nggak akan sama kemampuannya. Dan ini terjadi pada si sulung dan si bungsu..


Namun, saya ajarkan baca Alquran kepada si bungsu dengan sangat telaten dan sabar. Alhamdulillah, si bungsu ini tipe anak yang mau belajar. Namun, sering ngerasa nggak bisa sebelum nyoba. Jadi, kadang mesti disemangati dulu. Satu halaman bisa diulang sampai seminggu atau bahkan lebih. 


Targetnya bukan asal banyak yang dibaca, tapi mesti tahu aturan baca yang benar dan dia happy. Sulit? Heem. Tapi, kami tetap bersemangat dan terus mencobaaaaa :D


Nggak banyak sekolah yang mengajarkan Alquran setiap hari. Saya bersyukur, sekolah si sulung menerapkan itu sampai akhirnya bacaan Alquran si sulung makin baik dari hari ke hari. 


Penting untuk diperhatikan, baca Alquran jangan asal baca. Sebab, sering saya temui, ada anak sudah mulai hafalan surat-surat panjang, tapi bacaannya nggak tepat. Panjang pendeknya nggak diperhatikan, dengungnya hilang entah ke mana. Sampai dengarnya gatel pengin benerin.


Kalau sudah terlanjur salah dan dibiarkan, akhirnya sulit diubah. Apalagi kalau anaknya sudah mulai besar. Makin susah.


Anak Happy Saat Masuk Sekolah Pertama Kali

Kiat Supaya Anak Happy Saat Masuk Sekolah
Photo by Muneer Ahmed on Unsplash


Qadarallah saya nggak bisa dampingi saat anak-anak sekolah pada hari pertama. Mulai dari si sulung sampai si bungsu, saya nggak pernah bisa antar karena ada hal lain. Namun, mereka tetap happy saat masuk sekolah.


Si bungsu ini termasuk mungil dan bahkan paling mungil di antara teman-teman sekelasnya. Emang nggak dikasih makan, Bu? Kwkwk. Waktu masuk SD, banyak yang mengomentari fisiknya dia. Bukan saya nggak peduli dengan berat badannya, tapi kami sudah berusaha dan hasilnya begitu-begitu saja. Sudah banyak dokter kami kunjungi, tapi nggak ada perubahan. Next, kita cerita tentang masalah berat badan ini di postingan lain, ya.


Saya bersyukur anak-anak senang masuk sekolah dan nggak pernah pakai drama. Masya Allah. Mereka tipe anak yang mau bercerita sepulang sekolah dan saya senang mendengarkannya.


Bagaimana cara supaya anak mau sekolah? Ada anak yang mesti nangis setiap ditinggal orang tuanya di kelas. Ada yang teriak-terik dan rewel, tapi ada juga yang manis, kalem, dan anteng aja. Setiap anak memang berbeda. Sejak di rumah sebelum mulai sekolah, kita paling tahu kondisi mereka seperti apa. 


Waktu anak pertama mau sekolah dan kondisi saya akan melahirkan, saya beri sugesti positif dan menceritakan kegiatan di sekolah yang akan dia lakukan nanti. Saya selalu bilang begini,


“Nanti kamu akan diantar dan dijemput lagi. Di sekolah ada bu guru yang menemani dan juga teman-teman. Jika ada apa-apa, guru-gurumu akan membantu. Jadi, jangan khawatir, ya.”


Hal semacam ini terus diulang dan diulang sampai dia masuk sekolah. Hasilnya, Alhamdulillah anak saya semuanya senang masuk sekolah.


Setiap orang tua punya cara sendiri untuk mendidik anak-anaknya. Saya yakin, semua orang tua akan memberikan yang terbaik dan berusaha supaya anak-anaknya bahagia. Begitu juga dengan saya. Semoga kita berhasil mendidik anak-anak dengan baik, ya. 


Salam hangat,


Monday, July 11, 2022

Review Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa Jerome Polin

 

Review Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa Jerome Polin
Kalau kamu cuma suka belajar, di luar sana ada banyak orang belajarnya gila-gilaan :)

Ada yang pernah baca bukunya Jerome Polin? Buku ini kebetulan saya beli beberapa hari yang lalu di sebuah toko buku. Waktu itu saya dan keluarga sedang main ke mall dan seperti biasa, kita mampir ke toko buku dan berlama-lama di sana. Karena sedang libur sekolah, saya kepikiran mencari buku tebal untuk si sulung yang tahun ini mau kelas 6 SD. Sudah lama nggak beli buku baru.


Waktu lihat di rak buku-buku best seller, saya langsung penasaran sama buku ini. Sebenarnya, sudah lama saya tahu kalau Jerome nulis buku juga dari channel Youtube-nya. Namun, belum kepikiran beli sampai akhirnya kemarin lihat langsung di toko buku.


Waktu baca bagian blurb, saya langsung tertarik karena sudah pasti ini buku isinya bukan kumpulan soal yang bikin kepala mumet itu. Mohon maaf, saya memang nggak suka matematika :(


Buku ini, meskipun diselipkan beberapa halaman berisi angka-angka yang rumit dan tidak pernah saya mengerti kenapa mereka ada di dunia ini *tsah…kwkwk, tapi nyatanya ini bukan buku serumit yang dibayangkan. Buku ini menceritakan perjalanan Jerome untuk mendapatkan beasiswa penuh sampai akhirnya bisa kuliah di Jepang.


“Beli ini aja! Cocok, nih buat kamu, Kak.”


Walaupun pada kenyataannya, justru saya duluan yang baca dan melahap buku ini sampai habis. Sehari doang udah kelar saking enaknya dibaca *terharu.


Blurb Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa

“Jadi ini buku latihan soal matematika ya, Jer?”


Bukan!


Kata orang, selama masih hidup, manusia akan terus menghadapi masalah demi masalah. Dan itulah yang akan kuceritakan dalam buku ini, yaitu bagaimana aku menghadapi setiap persoalan di dalam hidupku. Dimulai dari aku yang lahir dekat dengan hari meletusnya kerusuhan di tahun 1998, bagaimana keluargaku berusaha menyekolahkanku dengan kondisi ekonomi yang terbatas, sampai pada akhirnya aku berhasil mendapatkan beasiswa penuh S1 di Jepang.


Manusia tidak akan pernah lepas dari masalah kehidupan, betul. Tapi buku ini tidak hanya berisi cerita sedih dan keluhan ini-itu. Ini adalah catatan perjuanganku sebagai Jerome Polin Sijabat, pelajar Indonesia di Jepang yang iseng memulai petualangan di YouTube lewat channel Nihongo Mantappu.


Yuk, naik roller coaster di kehidupanku yang penuh dengan kalkulasi seperti matematika.


It may not gonna be super fun, but I promise it would worth the ride.


Minasan, let’s go, MANTAPPU JIWA! 


Identitas Buku

Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa

Penulis: Jerome Polin Sijabat

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 9786020632414

Ketebalan: 224 halaman

Ukuran : 13,5 x 20 cm

Sampul: Soft Cover


Review Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa

Review Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa Jerome Polin


Jauh sebelum membeli buku ini, saya sudah sering nonton Jerome di Youtube. Jadi, sebenarnya lumayan mengerti perjalanan hidupnya sampai akhirnya bisa kuliah di Jepang. Namun, saya tidak selalu menonton Youtube. Jadi, ada banyak bagian yang saya memang tidak tahu dan akhirnya bisa membacanya di buku ini.


Saya tidak kenal Jerome, apalagi Jerome, mana kenal dengan saya, kan? kwkwk. Namun, saya suka dengan semangat dia, kegigihannya, juga dengan belajarnya yang gila-gilaan banget. Meskipun bukan remaja seusia Jerome, saya tetap menikmati buku ini. Saya suka dengan orang-orang yang punya impian setinggi langit dan dengan gigih meraihnya. Saya suka dengan mereka yang nggak capek berusaha, bahkan meski semua orang mengatakan mustahil. Sebab, saya percaya, mana ada yang mustahil bagi Tuhan, kan?


Buku ini mengisahkan perjalanan hidup Jerome sampai akhirnya bisa kuliah di Jepang. Asli, konsep buku ini bagus dan gemaas banget. Dibuat dengan matang sekali. Nggak bosan bacanya karena bahasanya Jerome banget dan mudah dipahami. Gambar-gambarnya enak dipandang dan warnanya cerah. Lebih menariknya lagi, saya suka baca-baca #rumusjerome yang berisi quotes motivasi gitu.


Jerome termasuk anak yang beruntung karena bisa sekolah di IPH Schools. IPH Schools merupakan salah satu sekolah swasta bergengsi di Surabaya. Dia masuk di sini bukan karena kaya raya, tapi ia diberikan keringanan biaya dari sekolah dan akhirnya membuat Jerome bisa punya impian main ke Disneyland dan kuliah di luar negeri.


Impiannya tak sekadar diucapkan saja seperti kebanyakan orang sekarang. Punya cita-cita dan keinginan itu mudah. Tinggal disebutkan, tapi untuk mewujudkannya butuh usaha keras. Dan Jerome benar-benar membuktikan bahwa usahanya memang layak diberikan reward.


Jika kamu suka belajar, maka ada orang yang belajarnya lebih dari sekadar suka, lebih gila belajar, yakni Jerome! Ikut lomba-lomba adalah hal biasa baginya. Sampai ke mana-mana ia rela bawa buku dan terus belajar supaya impiannya tercapai. Kalau kita, mungkin sudah teriak-teriak minta healiiiiing! Padahal, dia juga sering gagal, lho. Sering banget, tapi masih mau nyoba lagi.


Jerome juga menceritakan awal mula ia membuat Youtube channel dan akhirnya bertemu Waseda Boys. Dia memulai semuanya dari hal sederhana, dari hal-hal yang ada aja. Saya suka bagian ini karena merasa saya juga melakukan hal yang sama sejak dulu. Bukan orang yang mesti ada fasilitas dulu baru nyoba dan usaha.


Membaca setiap halamannya benar-benar ikut merinding apalagi tiap Jerome cerita kalau dia menang lomba, mendapatkan beasiswa, dan yang lainnya. Mungkin, tema ini benar-benar saya suka. Jadi, meskipun usia saya tidak lagi muda, tapi tidak juga tua *menolak tua...kwkwk, saya tetap sukaaa dan merasa sangat termotivasi.


Apa yang Didapat Setelah Membaca Buku Ini?

Review Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa Jerome Polin


Saya termasuk salah satu orang yang beruntung karena meskipun dari dulu nggak punya apa-apa, sekadar beli buku saja susahnya minta ampun, tapi akhirnya saya bisa mewujudkan impian menjadi penulis buku. Hal ini membuktikan bahwa usaha memang benar-benar memberikan dampak luar biasa dalam hidup. Bukan semata-mata soal bakat saja. Semua hal bisa dipelajari asal kita mau.


Untuk menjadi Jerome yang sekarang, dibutuhkan hari-hari yang berat. Kalau dibayangkan, bisa sampai mual-mual sih rasanya…hehe. Namun, memang itulah yang mesti kita lakukan saat ingin impian terwujud. Bukan hanya rebahan, tiduran, kemudian berharap rembulan jatuh ke pangkuan? Bangunlah!


Dari membaca buku ini saya merasa sangat termotivasi. Kegagalan bukan hal aneh dalam hidup. Satu hal yang mesti dilakukan, cobalah lagi dan ambillah semua peluang. Tidak ada yang tidak mungkin karena kita punya Tuhan.


Apa yang kita anggap buruk hari ini, justru penuh hikmah di hari esok. Itulah sebabnya, kita mesti lebih positif memandang masalah yang datang. Semua pasti ada hikmahnya dan berbaik sangkalah atas semua takdir Tuhan.


Waktu membaca buku ini, jujur sedang ada di tahap mau menyeraaah. Capek dan lelah. Namun, baca perjuangan Jerome, rasanya apa yang saya alami ini nggak ada apa-apanya. Begini aja ngeluh? Ish, malu!


Akhirnya, saya mencoba lagi dan berusaha sampai akhirnya semua terlewati dengan baik. Seperti Jerome, tak mengapa mencoba semua hal. Bisa main piano biar terlihat keren…kwkwk, jago Matematika, tapi juga punya channel Youtube yang inspiratif dan menghibur, pengin jadi Menteri Pendidikan juga. Semua hal bisa dilakukan asalkan kita mau berusaha dengan sungguh-sungguh, bisa mengatur jadwal harian biar nggak sibuk sama sosial media mulu, tetap mencoba meskipun pernah gagal, melakukan yang terbaik karena Tuhanlah yang akan menilai usaha kita. Semua hal bisa dilakukan. Dan satu hal lagi, setinggi apa pun tempat kita berpijak, tetap rendah hati dan lihatlah ke bawah supaya kita tidak mudah keblinger, keplicuk, dan apa pun itu, Gaes.


Salah satu #rumusjerome yang saya suka,


Aku tahu mimpiku layak dibayar sebegitu tinggi. Oleh keringat dan kerja keras. Aku tahu mimpiku layak diperjuangkan. Dan tidak ada yang bisa memperjuangkannya selain oleh aku sendiri.


Seperti sering saya katakan, orang lain juga sedang sibuk dengan impiannya masing-masing. Mustahil berharap terus dibantu dan dimotivasi. Kitalah yang punya impian itu, kita juga yang harus memperjuangkannya.


Kenapa mirip gini, sih? Kwkwk. Mungkin inilah salah satu alasan kenapa saya suka sekali membaca buku ini. Rasanya related banget dengan yang saya rasakan dan alami. Meskipun belum sehebat Jerome, tapi saya akan tetap berusaha. Meskipun sudah jadi emak-emak, tapi saya senang membicarakan soal impian. Tak mengapa sedikit terlambat, daripada tidak sama sekali, kan? Tak mengapa memulainya di usia sekarang, mungkin memang inilah rezeki dan waktu yang telah Tuhan tentukan. 


Terima kasih, Jerome sudah menulis buku yang sangat inspiratif. Pasti ada lebih banyak pembaca yang merasa begitu terbantu dengan cerita kamu dan akhirnya mereka tetap berjuang dan berusaha demi menggapai impiannya.


Salam hangat,


Friday, June 24, 2022

Resep Nasi Uduk Bunga Telang

Resep Nasi Uduk Bunga Telang


Bosan nggak sih makan nasi putih melulu? Sesekali pengin juga makan nasi putih yang diolah lebih spesial seperti nasi uduk biru bunga telang ini. Kebetulan, sekitar seminggu yang lalu saya membeli pohon bunga telang. Nggak disangka, beberapa hari kemudian bunganya lebat dan nggak tahu juga mau diapain…hehe. Akhirnya dikumpulin dan diseduh dengan air panas. Besoknya, saya olah menjadi nasi uduk bunga telang. 


Bunga telang ini lumayan mudah ditemukan di mana-mana, bahkan di jalan pun banyak. Kalau sudah lebat, malah susah diatur karena merambat ke mana-mana. Selain dikonsumsi, kebanyakan orang justru tahunya bunga telang dipakai sebagai tanaman obat, terutama obat mata. Biasanya diberikan kepada bayi yang baru lahir.


Manfaat Bunga Telang

Resep Nasi Uduk Bunga Telang
Photo on halodoc


Dikutip dari beberapa sumber, berikut beberapa manfaat bunga telang:


1. Kandungan asam palmitat di dalam bunga telang berguna sebagai antidepresan karena mengandung antioksidan. Jadi, bisa bermanfaat untuk mengurangi depresi juga, lho.

2. Kandungan flavonoid glikosida yang terdapat di dalam biji bunga telang bermanfaat untuk mempercepat proses penyembuhan luka. Sedangkan bunganya bisa dikonsumsi dan memiliki manfaat yang kurang lebih sama.

3. Meskipun terlihat sepele dan sering dianggap sebagai bunga liar, tapi bunga telang punya manfaat yang luar biasa termasuk dapat menurunkan kolesterol. 

4. Jika kamu punya masalah pada siklus menstruasi yang tidak teratur, coba konsumsi bunga telang. Katanya, bunga telang bermanfaat melancarkan datang bulan, lho.

5. Bunga telang berkhasiat menyembuhkan beberapa jenis sakit mata seperti konjungtivitas.


Dan masih banyak lagi manfaat bunga telang yang lainnya. Namun, yang tak kalah menarik, bunga telang juga sering dikonsumsi seperti diminum, dibuat jelly, atau diolah menjadi makanan seperti nasi uduk.


Daripada berlama-lama, yuk intip resep nasi uduk bunga telang ini.


Bahan:

20 pcs bunga telang

2 cup beras putih

1 bungkus santan instan

1 batang serai

2 lembar daun salam

Secukupnya air

Sedikit garam

Sedikit kaldu bubuk (Optional)


Cara membuat:

  • Seduh bunga telang dengan air panas. Diamkan sampai airnya pekat.
  • Cuci bersih beras dan tambahkan santan serta air bunga telang. Takaran air dan santan sesuaikan dengan takaran masing-masing, ya. Sama halnya seperti saat kita memasak nasi.
  • Masukkan serai yang sudah dimemarkan, daun salam dan garam. Jika suka, bisa ditambahkan kaldu bubuk.
  • Masak nasi dalam rice cooker seperti biasa. Jika sudah matang, aduk-aduk nasi dan tutup kembali.
  • Sajikan dengan pelengkap.


Resep Nasi Uduk Bunga Telang


Voila! Nasi uduk bunga telang sudah siap disajikan. Kita dapat menambahkan pelengkap seperti emping, telur dadar, orek tempe, ayam, dan perkedel. Jangan lupa, sajikan dengan sambal juga, ya!


Sayangnya, nasi bunga telang yang saya buat masih kurang pekat warnanya. Saya hanya pakai beberapa bunga saja nggak sampai 20 pcs. Awalnya nggak niat bikin nasi uduk bunga telang, hanya karena sayang melihat bunga berjatuhan dan setelah diseduh nggak diminum, akhirnya dijadikan nasi uduk ini.


Kalau teman-teman pakai bunga telangnya dalam jumlah cukup, insya Allah hasilnya bagus. Percobaan pertama gagal, tapi rasanya sih nggak masalah. Bunga telang hanya memberi tambahan warna, tidak memengaruhi soal rasa.


Saya rasa, varian nasi uduk biru yang cantik dengan bunga telang ini dapat dijadikan alternatif sarapan yang menarik selain makan nasi goreng dan nasi putih. Selain menarik, manfaatnya juga banyak bagi kesehatan.


Selain dibuat nasi uduk, bunga telang juga bisa dimakan mentah alias dilalap. Siapa nih yang sudah pernah coba? Yuk, cobain di rumah sebagai varian baru menu sarapan di meja makan!


Salam hangat,