Alhamdulillah, mengawali tahun 2018, beberapa buku antologi baik menang lomba di beberapa penerbit sampai kumpulan cerita anak bersama kelas menulis cernak akan terbit. Beberapa justru sudah terbit dan sampai ke rumah dengan selamat, alhamdulillah.

Punya cita-cita menjadi penulis buku memang ada sejak SMA. Entah kenapa, senang sekali membaca puisi, menulis cerpen dan apapun yang berhubungan dengan dunia literasi. Alhamdulillah, tahun ini memang lumayan banyak buku yang akan terbit dan sedang dalam proses. Senang? Tentu saja senang walaupun ini bukan pencapaian akhir yang ingin saya raih. Masih ada banyak mimpi yang belum terwujud, termasuk menulis buku solo yang dulu sempat masuk penerbit dan pada akhirnya gagal terbit. Rasanya kayak bisul yang mengganggu, nggak bisa hilang dan tersimpan sampai sekarang. Bagaimana rasanya menyimpan bisul? Hehe.



Nah, untuk tahun ini, saya memang lebih banyak memberikan konstribusi di media online. Awalnya sih hanya mencoba bagaimana menulis artikel dan diterbitkan di media online. Banyak pengalaman baik bagi saya dan teman-teman yang pada akhirnya membuat kami justru betah di sana. Termasuk setelah kemarin kami dalam sebuah tim berhasil menulis 100 artikel dalam seminggu. Menunggu detik-detik terbitnya beberapa artikel yang penulisannya belum beres rasanya mules juga, yaa..hihi. Terlebih sudah hampir lewat jam 12 malam.

Meskipun begitu, mulai besok saya akan memulai lagi hal yang sama hingga seminggu ke depan. Ya, 100 artikel dalam seminggu dan bertema fashion. Selain itu, saya pun mengikuti semacam kompetisi dengan menulis lebih banyak artikel di akun pribadi saya dan total PV minimal harus mencapai 10 ribu. Alhamdulillah, kemarin untuk 1 artikel sudah lebih dari 20 rb PV bahkan terus bertambah hingga saat ini.


Serunya di mana menulis artikel untuk media online ketimbang menulis buku? Serunya karena ada sensasi ‘WAH” yang nggak bisa didapat ketika menulis buku, terutama jika bukunya gagal masuk penerbit..hehe. Keduanya tentu nggak bisa dibandingkan, ya. Karena keduanya adalah hal berbeda dan sama-sama menyenangkan. Mungkin saya termasuk bukan tipe penyabar sehingga selalu saja ingin mencoba banyak hal. Jika dulu saya suka menulis fiksi berupa cerpen, pelan-pelan saya mulai mencoba menulis nonfiksi, dan buku pertama saya dulu merupakan perpaduan antara fiksi dan nonfiksi.

Setelah itu, saya mencoba mengikuti kelas menulis cerita anak. Dan beberapa buku antologi cerpen anak pun akan segera terbit juga tahun ini. Dan terakhir banget yang saya mulai pertengahan November adalah masuk media online dan menulis artikel di sana sampai sekarang.



Pencapaian apa yang sudah saya dapatkan di Uc News? Pertama, awal mendaftar saya masuk lewat jalur undangan dari KBM (Komunitas Bisa Menulis). Yang awalnya katanya mau dibuatkan grup dan dilatih. Tetapi setelah menulis sekitar 4 artikel dan masuk dengan coba-coba sendiri, sampai detik ini pun belum ada grup yang dijanjikan. Sempat kecewa dan malas mau melanjutkan menulis di sana, tapi Allah membuka jalan lain.

Saat itu, IIDN atau Ibu-ibu Doyan Nulis pun membuka jalur undangan untuk masuk dan bergabung bersama Uc News. Nggak mau ketinggalan saya pun ikut masuk ke dalam grupnya. Dan saat itu, teh Indari (CEO Indscript) meminta saya sharing di grup mengenai bagaimana menulis artikel di Uc News, supaya lolos dan beberapa hal lainnya. Awalnya saya menolak karena jujur saja saya mempelajari semuanya sendiri, jadi nggak bisa dibilang oke kemampuannya..hihi. Tapi, akhirnya saya pun mengiyakan, ya kita sharing bareng, belajar bareng, saya pun nggak banyak pengalaman. Akhirnys masuklah saya di grup baru yang justru menjadi awal mula saya mulai serius di Uc News sampai saat ini.

Awalnya saya hanya bisa posting 1 artikel  saja perhari. Kemudian naik peringkat menjadi lanjutan, perak hingga emas. Ada hal lain juga yang menjadi kendala waktu itu, yaitu mengenai kategori awal yang saya pilih. Saya memilih edukasi dan nggak nyangka ternyata edukasi itu benar-benar berhubungan dengan dunia pendidikan, lho..he. Sayanya aja yang nggak pinter-pinter..kwkwk. Saya pikir edukasi bisa berarti apa saja, termasuk mengedukasi orang tua mengenai dunia medis.

Nah, karena nggak banyak artikel tema pendidikan yang saya tulis, akhirnya peringkat pun susah naik. Hasilnya, artikel saya isinya gado-gado, ada artikel pendidikan, sosial, lifestyle hingga inspirasi. Nggak bangetkan?

Lama-lama saya baru tahu jika rekomendasi dari Uc bisa juga menaikkan peringkat dan poin asalkan konsisten. Akhirnya setelah coba dan mencoba, saya menulis lifestyle setiap hari, alhasil poin naiknya cepat dan peringkat pun ikutan naik juga. Senangnyaaa…*keseringan nyoba-nyoba sih..hihi.

Memang saya merupakan penulis yang naiknya pelan-pelan aja, nggak kayak roket tetapi melajunya pasti *eaaa…hehe. Bulan ini, dua artikel saya masuk 10 kontributor lifestyle terbaik, saya pun terpilih menjadi salah satu peserta training (tapi saya nggak bisa datang), mendapatkan peringkat poin kompetisi, mendapatkan VIP gathering invitation, ikut tim menulis Perempuan Menulis, akun saya sudah diverifikasi dan tentunya pendapatan yang sudah bisa diambil.

Kalau hanya mengejar keuntungan, saya menyarankan jangan masuk di sini, karena butuh kesabaran banget buat mendapatkan keuntungan. Tapi, kalau teman-teman senang melakukannya dan menikmati sebagai sarana belajar, silakan saja. Insya Allah akan menyenangkan karena Uc News memang banyak memberikan bonus dan sering mengadakan kompetisi.

Mungkin ini cuma pembenaran dari saya saja sebagai orang yang sedang senang-senangnya menikmati kegiatan menulis artikel melalui media online, ya, menulis itu nggak harus menjadi penulis buku (ambil kalimat mentor saya), menulis itu bisa di mana saja. Dan saya pun setuju untuk hal ini. Apapun kalau dinikmati tentu akan berbuah manis dan menyenangkan. Jika kita menanam, pastilah nanti akan memetik buahnya. Yang penting menulislah yang bermanfaat.

Terima kasih sudah membaca kisah saya, ini hanya sharing sedikit mengenai pengalaman menulis selama ini. Semangat terus dan pantang menyerah, ya!


Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan hari ke-10 #SatuHariSatuKaryaIIDN bersama komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis
View Post

pixabay.com


Hal yang patut saya syukuri adalah memiliki pasangan yang mau berbagi tugas, bukan hanya soal mengurus rumah, tapi juga mengenai pengasuhan anak-anak.

Mugkin karena sejak SMP suami sudah ikut orang lain, dia pun mejadi pribadi yang sangat mandiri. Untuk menikah dan meminang saya pun, dia sama sekali tidak mau dibantu oleh orang tua. Di sini kadang saya bersyukur, hal yang pada akhirnya mau tak mau membuat saya harus menjadi pribadi yang sama.

Belum lagi karena kami memang tinggal jauh dari orang tua dan mertua, apa-apa benar-benar harus dilakukan sendiri, termasuk ketika anak sakit dan bagaimana model pengasuhan yang kami lakukan. Meskipun tak bisa dibilang sempurna, tetapi suami sudah membantu lebih sejak saya hamil hingga saat ini.

Ketika baru melahirkan, dia mau membantu memandikan bayi merah yang bahkan belum puput tali pusarnya, hal yang neneknya pun nggak berani lakukan. Hingga dia pun mau mengganti popok. Saya berterima kasih, sebab awal persalinan kadang kami hanya berdua saja sampai orang tua datang berkunjung. Jika bukan dia, lalu siapa? Sedangkan jahitan masih perih dan bikin ngilu. Nggak usah dibayangin, yaa..he.

Buat saya, ayah tidak bisa digantikan posisi pengasuhannya oleh seorang ibu. Keduanya memiliki dua hal berbeda yang bisa saling melengkapi tapi tidak bisa saling menggantikan. Saya dan suami pun bukan orang tua yang pandai soal ilmu parenting. Tapi kami sepakat melakukan dan mencari jalan keluarnya berdua.

Dalam keseharian, saya membantu si sulung sendiri. Dia belajar mengulang pelajaran di sekolah bersama saya hingga mengaji pun juga di rumah. Bukannya saya sok pintar sampai tidak memanggilkan guru ngaji atau menyuruh dia ngaji di TPQ mana, dulunya saya pun belajar mengaji bersama ibu meskipun di depan rumah ada mushalla. Jadi hal semacam ini pun ingin saya ulang ketika saya memiliki anak. Alhamdulillah, si sulung mengaji dengan benar di usianya yang saat ini masuk 7 tahun.

Sedangkan suami yang harus berangkat mulai pukul enam pagi hingga jam 7 malam, hanya sebentar bertemu, tetapi meski begitu kebersamaan kami tetap baik. Anak-anak selalu menyambut penuh antusias ketika ayahnya datang. Bisa jadi bukan hanya karena rindu, tapi bosan melihat saya terus seharian..he.

Menjadi orang tua memang tidak ada sekolahnya, tetapi kami sama-sama belajar untuk saling melengkapi dan menyempurnakan. Jika suami tahu sedikit tentang ilmu parenting, dia dengan senang hati membagikannya kepada saya, begitu juga sebaliknya.

Kami pun masih belum bisa disebut orang tua terbaik, sebab kadang masih keceplosan jengkel ketika anak-anak berulah, tetapi semoga kebersamaan dan saling mengingatkan membuat semuanya menjadi jauh lebih baik.


Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan ke-9 #SatuHariSatuKaryaIIDN bersama komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis
View Post

sumber


Bagi umat islam, Makkah merupakan salah satu tempat yang sangat ingin dikunjungi. Termasuk saya. Membayangkan berangkat dan ibadah di sana rasanya sangat membahagiakan, terutama jika kita bisa berangkat bersama pasangan dan anak-anak.

Percayakah teman-teman jika orang yang mampu beribadah dan menjejakkan kakinya di sana bukan hanya karena mereka kaya dan mampu dalam hal biaya? Saya sangat percaya itu. Ibu dan bapak saya hanya seorang petani yang makan siang dan malam berlauk ikan asin dan tempe saja. Tapi, karena keinginan kuat ibu untuk berangkat haji, beliau tidak perlu menjadi orang lain yang lebih mampu. Dan alhamdulillah, beliau menunaikan kewajibannya saat saya masih di bangku Sekolah Dasar.

Memang banyak yang pada akhirnya dikorbankan, tetapi pergi ke Makkah dan melaksanakan ibadah haji bukan hanya sekadar ingin, tetapi memang kewajiban sebagai seorang muslim yang sering kali terkendala oleh biaya.

Sejak menikah dan memiliki rumah, hal pertama yang diharus diperjuangkan bukan memiliki mobil dan kendaraan mewah lainnya. Tetapi daftar haji. Kalau kita mampu membeli mobil, bukankah seharusnya kita juga mampu pergi haji?

Nah, beruntungnya saya di kelilingi oleh orang-orang yang sangat peduli, jadi kami senantiasa diingatkan supaya segera dan lekas-lekas mendaftar. Awalnya saya hanya patungan dengan suami. Menggunakan uang tabungan untuk mendaftar haji. Yang penting kami sudah berusaha meskipun belum sepenuhnya mampu membayar dan mendaftar.

Qadarallah, Allah mudahkan sampai kami bisa mendaftar. Dan masa tunggu yang sangat panjang bukan berarti kita tak mau menunaikan, itu bukan masalah yang kita buat, tetapi memang keadaannya demikian, sehingga jika pun kita belum berangkat, insya Allah niat itu sudah benar-benar terpenuhi.

Dan Makkah menjadi tempat impian di mana kami bisa melihat Ka’bah secara langsung. Melihat teman-teman sudah menunaikan kewajiban dan sampai ke sana, rasanya rindu dan sangat ingin. Belum lagi ketika membaca banyak kisah pengemudi becak yang bisa naik haji berkat tabungannya yang tak bisa dibilang banyak tetapi toh pada akhirnya mereka benar-benar bisa berangkat berkat keinginan yang sangat kuat.

“Allah tidak memanggil yang kaya dan punya, tetapi Allah memanggil mereka yang ingin, yang rindu dan punya usaha keras untuk mencapainya, bahkan jika itu terlihat mustahil sekalipun.”

Bagi saya, Makkah adalah tempat impian yang mungkin saat ini belum bisa saya kunjungi. Saya pun tak pernah berhenti berdoa, berharap supaya masih diberi umur panjang untuk menjejakkan kaki di sana, minum air zam-zam, shalat, membaca Alquran di sana, mendengar suara adzan yang merdu dan melihat kemegahan kota Makkah yang pastinya dirindukan banyak orang.

Semoga keinginan yang kadang terlihat sulit bahkan tidak  mungkin bisa dicapai itu menjadi amat mudah diraih berkat keinginan kita yang kuat. Amiin. Jangan pernah berhenti berdoa, Allahlah pemilik segalanya.


Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan hari ke-8 #SatuHariSatuKaryaIIDN bersama komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis
View Post






Alhamdulillah, senangnya akhirnya bisa posting bolu yang tertawa terbahak setelah sebelumnya saya cuma dilihatin sinis gitu sama si bolu..hihi.

Saya coba ganti resep lain dan hasilnya lembut pake banget dan mekarnya ikhlas banget, alhamdulillah. Kayak saya yang bikin, penuh keikhlasan dan ketenangan.. *apa sih :D

Sayangnya, bukannya tanpa hambatan, lho. Ternyata panci kukusan saya terlalu imut sampai-sampai dia kepentok tutup yang telah saya bungkus dengan lap bersih..hiks. Nggak tega lihat bagian atasnya kejedot gitu. Belum lagi saking lembut dan mekarnya, beberapa bagiannya patah, ada juga yang tumpah karena pas saya masukin kukusan ternyata cupnya jatuh. Patah hatilah saya..tapi, ternyata itu nggak menyurutkan keihklasan si bolu ini, meskipun sebagian luber, setelah dikukus dia tetap merekah cantik banget..senangnyaa hati ini… :D



Resep ini tergolong ekonomis karena hanya pakai 1 telur saja. Membuatnya pun nggak dipisah-pisah, jadi sekali kocok aja. Rasanya…tadi sudah masukin ke mulut ternyata lupa saya lagi puasa…hehe. Ini memalukan banget, yak *tutup muka pakai panci

Lihat, adonannya nanti berubah kental dan putih seperti ini

Kalau teman-teman mau mencoba, silakan perhatikan ukuran cup harus sesuai cetakan, kalau bisa gunakan cetakan berlubang yang lumayan tinggi itu, ya. Panci kukusan pastikan sudah benar-benar panas ketika kita memasukkan adonan, tutup dibungkus dengan kain bersih, api harus besar dan jangan memasukkan air terlalu banyak supaya letupannya tidak mengenai bagian dasar cup bolunya. Dan satu lagi, supaya cup kertasnya rapi, masukkan ke dalam cetakan, tumpuk dengan cetakan lainnya sampai habis cetakannya, agak ditekan supaya cup kertasnya jadi rapi.

Untuk warna, teman-teman bisa menggunakan sesuai selera, ya. Saya hanya pakai warna putih tanpa pewarna dan sedikit warna ungu. Silakan dicoba resepnya…

Bahan:
200gr terigu serbaguna
180-200 gr gula pasir (Saya pakai sekitar 190 gr)
150 ml susu cair
1 butir telur
½ sdm SP
Sedikit vanilla essence

Cara membuat:
1. Campurkan semua bahan kecuali SP. Mixer sampai gula mulai larut sekitar 5 menitan. Kemudian masukkan SP dan mixer sampai kental sekitar 10-15 menit.
2. Ambil sebagian adonan dan beri pewarna makanan. Aduk lipat kemudian dengan spatula.
3. Masukkan adonan putih ke dalam cup sampai seperempatnya. Kemudian tambahkan adonan berwarna ungu hingga penuh. Sayang saya nggak sempat foto pas sudah dimasukkan cup. Sudah heboh sama si adek yang bangun.
4. Masukkan ke dalam panci kukus. Jangan terlalu penuh, sebaiknya beri jarak yang longgar supaya nggak saling nempel dan patah. Kukus selama kurang lebih 15 menit.
5. Keluarkan dan sajikan.




Itulah resep mudah membuat bolu mekar yang ikhlasnya kebangetan *lebay. Teman-teman bisa mencobanya, insya Allah untuk resep ini nggak terlalu mengkhawatirkanlah, ya. Jika ragu, sebaiknya baca doa dulu dan tersenyum sebelum mencobanya.. :D
View Post

sumber


“Jika saya lulusan S1, paling tidak anak saya di atasnya, atau minimal S1 juga,” seperti itulah yang selalu dikatakan oleh suami saya soal pentingnya sebuah pendidikan bagi buah hati kami.

Maka sejak anak pertama lahir, paksu sudah menyiapkan tabungan pendidikan. Paksu paham betul, biaya pendidikan dari tahun ke tahun bukannya semakin murah tapi justru semakin mahal. Siapa pun tahu akan realita itu, ya.

Pendidikan itu memang sangat penting. Jika bisa, sekolah setinggi mungkin. Entah apapun yang mereka inginkan, menjadi dokter ataupun menjadi arsitek (tinggi-tinggi, ya :D), yang penting sekolah dulu dan cari ilmu sebanyak-banyaknya.

Saya dan paksu bukan orang yang lahir dari keluarga kaya dan berada. Jika saya lumayan berkecukupan, maka suami saya lebih minimalis lagi hidupnya. Sejak SMP sudah tidak tinggal bersama orang tua. Ikut kakak sulungnya dan sekolah di sebuhah pesantren.

Sejak masuk SMA, suami mulai bekerja sambil sekolah. Dia bantu-bantu di sekolah, kemudian rezekinya dikuliahkan oleh seorang dermawan. Menjadi sarjana Teknik dari Universitas Brawijaya, Malang dan bekerja di sebuah perusahaan asing di Jakarta. Seperti itulah kisah pendidikannya sejak dulu.

Keinginan dan kerja keras itulah yang pada akhirnya membawanya pada titik terang. Kalau dipikir, anak kampung dan suka main tanah di sawah, mana bisa sampai bekerja di Ibu Kota? Tetapi keinginan itu menembus benteng sekuat apapun.

Benar? Jika dulu dia bisa kuliah berkat bantuan orang lain, maka sejak sekarang kami harus mempersiapkan banyak hal demi pendidikan putra-putra kami. Tidak harus menjadi sarjana teknik, apapun asal bermanfaat bagi dirinya, tentu kami akan sangat mendukung.

Saya, meskipun tidak sampai kuliah, tetapi bapak sangat mengutamakan pendidikan. Jerih payah menyekolahkan saya bukannya mudah, tetapi bapak tidak pernah mengatakan tidak kalau soal pendidikan.

Dulu, bapak seorang guru. Kemudian beliau menjadi petani yang penghasilannya nggak seberapa. Untuk membayar sekolah saya dan saudara, beliau harus berhutang sana sini. Tetapi beliau tidak pernah mengatakan tidak kalau soal pendidikan. Meskipun dalam keadaan sulit, saya berhasil merampungkan sekolah hingga SMA dan masuk D1 syariah di pesantren.

Selain biaya, saya pikir cara berpikir kita pun harus disiapkan. Orang yang punya uang tetapi menganggap remeh pendidikan, tidak mungkin mau sekolah sampai tinggi. Ada orang yang ingin segera berhenti sekolah dan lekas bekerja meskipun itu pekerjaan biasa bahkan cenderung melelahkan dan rendah penghasilannya. Bagaimana membangun hal seperti ini kepada anak-anak? Tentu orang tualah yang wajib mengenalkannya.

Jadi, bagi teman-teman, sepenting apa pendidikan itu?


Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan ketujuh #SatuHariSatuKaryaIIDN bersama komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis
View Post

sumber


Assalamualaikum…

Selama ini, kesannya saya seperti penganut obat tradisional karena jarang banget ke dokter kalau anak sakit. Banyak tetangga dan kerabat suka bertanya ketika anak saya demam dan common cold sudah beberapa hari, “Nggak dibawa ke dokter?”

Sebenarnya, untuk obat tradisional atau herbal, saya pribadi juga bukan penggemar sejatinya. Hanya saja saya berusaha bijak menggunakan obat ketika anak sedang sakit. Di milis sehat, kami benar-benar tidak dianjurkan konsumsi obat tradisional. Kenapa? Karena kebanyakan belum ada uji klinisnya. Meskipun beberapa sudah ada, tapi kalau saya pribadi merasa memerlukan obat, pastinya akan langsung ke dokter terutama jika itu menyangkut hal darurat.

Ini hanya opini saya saja, ya. Sebab meskipun nggak seperti obat, herbal pun juga punya efek yang justru kadang nggak bisa kita prediksi seperti apa. Kecuali jika digunakan hanya sebagai ‘vitamin’ misalnya. Seperti rutin konsumsi jamu beras kencur, tentu itu bukan masalah. Tapi, jika ada keadaan darurat, saya tentu tidak akan memilih herbal.

Selama menjadi kontributor Uc media, saya banyak menulis kategori lifestyle yang banyak membahas manfaat bahan alami seperti sayur dan buah. Dari situ saya banyak belajar apa saja manfaat dari banyak tanaman, semisal bawang putih.

Meskipun sudah ada penelitian, tetapi beberapa di antaranya belum sempurna. Jadi, ketika ingin konsumsi obat herbal tentu harus konsultasi dulu dengan dokter ahli, ya. Saat ini, sudah ada dokter herbal seperti dokter Agus Rahmadi yang merupakan dokter yang menganut Thibbun Nabawi. Beberapa teman kajian saya pun berobat kepada beliau.

Nah, beliau ini memang awalnya seorang dokter umum yang kemudian mempelajari lebih dalam tentang pengobatan herbal. Kalau yang begini, tentu saja bukan masalah, sebab ada yang ahli dan bisa diikuti. Sedangkan kalau hanya ikut-ikutan saja saya khawatir ada efek yang tidak diinginkan. Karena satu tanaman juga bisa jadi baik untuk suatu penyakit tetapi tidak bagus bagi penyakit lainnya. 

Contohnya saja, bawang putih katanya bisa menurunkan kolesterol dan hipertensi, tetapi faktanya penderita maag kadang nggak sanggup memakannya dalam keadaan mentah. Nah, di sinilah yang saya maksud.

Anak demam bisa dibaluri irisan bawang merah dan minyak kelapa, tetapi apakah itu nyaman buat mereka? Sedangkan saya yang sehat saja mau muntah mencium baunya. Saya sendiri kadang juga suka membuat jamu kunyit dan kencur yang diminum anak-anak dan suami. Tetapi itu bukan hal rutin. Hanya sesekali saja.

Saya pribadi bukan anti dokter dan tidak juga anti herbal. Tetapi bijak menggunakan keduanya akan jauh lebih baik bagi kesehatan.  Semoga kita senantiasa dalam keadaan sehat, ya. Amiin.


Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan ke-6 #SatuHariSatuKarya bersama komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis
View Post







Sampai bingung mau memberi judul apa untuk postingan roti. Meskipun telah menggunakan resep berbeda, namanya tetap saja rotikan? Akhirnya judulnya polos banget..he.

Kalau biasanya saya suka membuat roti dengan kuning telur yang lumayan boros, kali ini saya menggunakam resep ci Xanders Kitchen yang hemat telur tapi benar-benar empuk dan enak. Justru roti yang begini teksturnya lembut tapi kokoh, tahan berhari-hari empuknya asalkan dimasukkan ke dalam plastik.

Roti ini bisa dibuat berbagai macam varian. Mulai dari roti keset, roti sisir, roti manis dengan isi, roti burger ataupun yang lainnya. Teman-teman juga bisa menggunakan susu cair seperti resep aslinya, atau bisa juga menggantinya dengan air matang. Untuk percobaan kedua, karena tidak memiliki stok susu cair, akhirnya saya pakai air. Hasilnya tetap enak.

Siap dipanggang ^^

Hal yang harus diperhatikan sekali lagi adalah cara mengulennya, harus benar-benar sampai kalis elastis, ya. Karena kalau nggak kalis, hasil rotinya bisa jadi kurang empuk dan kurang bagus.

Baru keluar oven ^^

Nah, berikut resep dari ci Xander yang merupakan penulis buku yang menghebohkan Gramedia karena sudah cetak ulang ribuan hanya berselang beberapa hari dari pertama kali terbit,

Bahan:
450 gr terigu protein tinggi
50 gr terigu protein rendah
110 gr gula pasir
15 gr susu bubuk (sy 1 sachet)
225 ml susu cair dingin (Tuang perlahan sampai adonan pas)
7 gr ragi instan
1 butir kuning telur
1 butir telur utuh
75 gr margarin
Sejumput garam

 Cara Membuat:
  1. Campur semua bahan kecuali margarin dan garam. Uleni sampai rata. Masukkan margarin dan garam. Uleni sampai kalis elastis.
  2. Diamkan selama 45 menit. Jangan lupa tutup atasnya.
  3. Tinju adonan dan bagi menjadi beberapa bagian. Bisa jadi 50 gr. Bulatkan dan diamkan selama 15 menit. Karena malas, saya skip proofing ini. Jangan ditiru, yaa :D
  4. Gilas adonan hingga tipis kemudian gulung. Letakkan di atas loyang yang sudah diolesi margarin. Beri jarak secukupnya kemudian diamkan selama 1 jam atau sampai mengembang 2 kali lipat.
  5. Panaskan oven suhu 180’ C selama 10 menit sebelum digunakan. Panggang api atas dan bawah selama 15-20 menitan tergantung ovennya masing-masing. Saya pribadi memanggangnya selama 10 menit di rak bawah, kemudian sekitar 8 menitan di rak atas. Pakai otang pun bukan masalah. Sama saja, sesuaikan saja dengan ovennya.
  6. Setelah matang, olesi atasnya dengan margarin.
  7. Sajikan atau simpan di dalam plastik setelah dingin.


Roti keset 

Roti isi keju spread

Roti isi keju


Kemarin saya membuat untuk kedua kalinya tanpa susu cair dan saya beri isian berupa keju spread yang lumer banget. Enaak!

Selamat mencoba!


Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan ke-5 #SatuHariSatuKaryaIIDN bersama komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis
View Post

sumber


Alhamdulillah, seminggu ini riweh sama anak sakit, kakak demam seminggu on off sampai belum masuk sekolah hingga sekarang. Dan si adik nyusul demam tinggi mulai jam 1 malam hingga hari ini. Alhamdulillah semua masih mau makan dan minum yang banyak. Semoga besok sudah sehat kembali.

Buat anak-anak, sakit itu adalah hal yang wajar terjadi, terutama common cold. Setidaknya ada hingga 12 kali common cold dalam setahun. Memang ini disebabkan oleh virus yang tidak perlu penanganan khusus, tapi kalau demam tinggi dan hanya sembuh sehari kemudian seminggu sakit lagi begitu selama berbulan-bulan, kira-kira teman-teman akan berpikir apa?

Ya, bahkan saya yang awalnya santai saat anak sakit flu dan batuk, tiba-tiba nggak keruan. Bagaimana tidak, sejak si bungsu lahir dan berusia tiga bulan, dia sudah mulai mengalami demam tinggi yang mana sudah harus dibawa ke dokter untuk usia dia saat itu. Alhamdulillahnya hanya common cold saja. Tetapi menghadapi anak bayi demam itu panik banget apalagi kalau sampai dia merintih terus menerus.

Sedangkan saat memiliki si sulung, dia baru demam usia setahun. Perbedaan yang sangat jauh. Kalau si sulung sering kejang demam, si bungsu justru sering radang telinga, bahkan sangat sering. Dan sebelum itu ketahuan, dramanya bukan main.

Saat usia enam bulan, entah lupa tepatnya, Dhigda nama si bungsu demam hampir sebulan dengan suhu mencapai 39’C lebih. Dan itu hanya terjadi setiap tengah malam. Jadi setiap tengah malam saya menemani dia yang suhunya tinggi selama hampir sebulan penuh.

Membayangkan hal semacam itu rasanya tidak kuat. Tetapi pada saat itu saya bisa melaluinya. Saya jauh dari orang tua, tidak ada pengalaman kuliah apalagi mengenyam sekolah kedokteran, tetapi saat hamil dan memiliki anak, saya merasa harus mempelajarinya demi mereka.

Dalam kondisi tak wajar, common cold tapi terlalu lama, saya pun membawanya ke dokter spesialis anak. Diperiksa darah dan hasilnya tidak ditemukan apa-apa. Kalau menurut dokter itu hanya virus, tetapi dapat antibiotik.

“Inikan virus ya, Dok? Kenapa diresepkan antibiotik?”

“O, kalau saya harus, kan sudah lama.”

Jadi, kalau sudah lama, virus bisa berubah jadi bakteri? Merasa sangat tidak pintar dan menyesal saat itu kenapa saya kurang banyak baca dan membaca. Mana bisa seperti itu? Meskipun pulang tidak saya minumkan obatnya, tetapi tetap saja ada rasa bersalah, kenapa harus cek darah? Padahal anak saya ada ingus sedikit seperti orang flu.

Hingga dua minggu berikutnya, saya membawa pada dokter berbeda. Kembali cek darah dan dikatakan hal yang sama. Sejak itu saya tidak kembali ke rumah sakit yang sama. Bukannya dapat jawaban, justru horror sekali. Merasa jadi ibu aneh sedunia karena termakan rasa panik. Dan hingga minggu ketiga, anak saya masih demam tinggi setiap tengah malam.

Pada akhirnya saya harus memutuskan berkunjung ke dokter lain di rumah sakit berbeda. Di sana, anak-anak saya didiagnosa TB karena seringnya common cold. Apa? Masa iya? Tanpa wawancara, tanpa tanya banyak, langsung diajak tes cukit kulit. Aduh, itu sakitnya sampai ke ulu hati, lho. Kalau iya benar, kalau tidak? Belum lagi nanti harus konsumsi obat selama enam bulan penuh. Bisakah? Kalau benar bukan masalah, kalau salah? Mungkin saya akan jadi ibu paling menyesal di dunia.

Diagnosis TB ini nggak segampang melihat seberapa sering anak terkena common cold. Dalam rumah kami, hanya ada saya, suami dan kedua anak saya. Dan baik saya dan suami, keduanya sehat. Tidak ada pula asisten rumah tangga yang bisa dicurigai terkena TB karena memang tidak pernah mempekerjakan ART. Sedangkan penularan lewat anak-anak tidak mungkin, karena TB hanya ditularkan oleh penderita TB dewasa. Kalau misal tertular di luar? Di jalan? TB hanya menular minimal ketika kita tinggal bersama penderita TB selama kurang lebih enam bulan (kalau tidak salah ingat).

Karena alasan itulah yang saya ketahui sejak lama, akhirnya saya pun berani menolak dan segera pulang dengan alasan akan memikirkannya. Drama ini pun semakin menjadi saja ketika suami saya harus percaya dan bingung dengan diagnosa lainnya. Ada dokter yang bilang kalau si bungsu harus dirawat karena sudah tidak bisa meminum antibiotik, harus infus.

Akhirnya sambil sedikit memaksa, saya mengajak suami pergi ke dokter yang juga ikut bergabung di milis sehat. Beliau adalah dokter Arifiyanto atau dokter Apin yang mana juga merupakan blogger..he.

Saat ke sana, kami menyerahkan hasil tes urin dan tes darah. Beliau santai saja padahal saya sudah mau pingsan dengan drama yang terjadi lama sekali. Beliau mendengarkan saya yang lebih banyak curhat sedangkan suami hanya diam mendengarkan.

Lama-lama beliau bertanya, “Sepertinya ibu ke sini hanya ingin menunjukkan kepada bapak, ya?” sambil tertawa.

Beliau menjelaskan bahwa common cold terutama jika anak sudah sekolah dan memiliki saudara, kadang memang drama banget. Bisa ping pong dan tidak lekas selesai. Kalau nggak mau ketularan, pisah rumah saja. Di sekolah pun sama, ketika ada yang sakit, pastinya dengan mudah menularkan kepada yang lain. Jadi, obatnya sabar saja selama tidak ada komplikasi seperti sesak dan kejang. Dan sabarnya kami itu nggak hanya sebulan dua bulan. Tetapi hampir dua tahun. 

Sepulang dari dokter Api, saya pun lebih lega. Dan kami pulang tidak membawa obat apapun. Hanya zat besi untuk si bungsu yang ASI eksklusif.

Menurut beliau juga, ketika sedang common cold, hal pertama yang harus dicek justru telinganya. atau cek yang tidak menyakitkan seperti cek urin. Karena kebanyakan ISK juga tanpa gejala. 

Bisa jadi adik kena radang telinga akibat flu. Dan benar saja, setelah keesokannya dari dokter apin, anak saya mulai keluar cairan dari telinga, dan sejak saat itu, demamnya turun. Padahal ketika dicek, telinganya baik-baik saja. Ternyata belum kelihatan sodaraaa.. L

Setelah itu, setiap kali common cold, adik selalu kena radang telinga. Menurut dokter THT, dia ada alergi. Wajarlah karena suami juga memiliki alergi pernapasan. Tetapi kalau radang telinganya sebulan tiga kali, apa masih dibilang normal?

Masya Allah, seperti nggak akan berakhir saja drama ini. Saya pun akhirnya pergi ke dokter yang sangat booming bisa menyembuhkan dan mengatasi alergi, tetapi malah berasa mengunjungi dukun karena kita cuma main tebak-tebakan..he.

“Wajahnya mirip siapa ini?”

“BAB-nya seperti kotoran kambingkan?”

“Nggak kok, Dok. Biasa aja.”

“Masa?” Saya iyain ajalah..he.

Padahal di rumah sakit beken itu ada dokter spesialis alergi yang ada di milis sehat juga dan pastinya RUM banget. Tetapi karena merasa pengeen banget cepat sehat, justru tersesat pada jalan yang salah..he.

Dan ujungnya, memang hanya sabar dan sabar. Setelah melewati hal yang sama hampir dua tahun, drama common cold itu pun berakhir. Alhamdulillah, anak-anak seiring waktu mulai berkurang infeksinya. Nggak seperti tahun-tahun sebelumnya. Barakallah, kadang hal semacam ini benar-benar menguras pikiran. Lebih sering ketika adik sakit, saya pun ikut sakit. Pernah suatu malam, Dhigda demam tinggi, batuk hebat dan muntah-muntah, sedangkan saya sendiri demam tinggi dan kepala mau pecah. Dan itu terjadi nggak cuma sekali dua kali.

Kalau kakak sakit, adik pun sakit, lanjut bundanya..he. Sudah kayak orang janjian saja. Dari pengalaman itu saya pun mengambil kesimpulan, bahwa diagnosa TB itu sebenarnya tidak mudah. Ada banyak hal harus dipertimbangkan dan diperhitungkan. Bukan hanya sekadar hasil rontgen dan terdapat flek, kemudian langsung muncul diagnosa TB. Sampai-sampai istilah flek paru itu umum kita dengar padahal sebenarnya itu rancu sekali, lho.

Saya bersyukur sekali, anak-anak tidak sampai salah diagnosa dan sedikit-sedikit saya paham tentang TB lewat milis sehat. Saya bukan ingin menjadi dokter, tetapi dokter-dokter di milis selalu mewajibkan kami anggotanya untuk banyak membaca di web-web resmi. Tetapi, kadang saya juga masih terlewat sampai akhirnya adik harus cek darah 2x dalam satu episode demamnya dulu.


Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat dan tahu apa yang harus dilakukan ketika anak-anak sakit, paling tidak kita punya referensi dokter yang RUM untuk berkonsultasi. 

Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan ke-4 #SatuHariSatuKaryaIIDN
View Post



Mainan apa yang teman-teman buat untuk buah hati tercinta? Nggak harus selalu bagus, kalau anak-anak saya asalkan diajak terlibat ataupun tahu itu hasil emaknya, pasti girangnya bukan main.

Kebetulan saya suka iseng memanfaatkan mesin jahit portable di rumah yang jarang dipakai. Suka nggak tahan apalagi kalau ada kain sisa bikin apa gitu..he. Bawaannya pengen jahit. Sayangnya, ini boneka sebelum saya memiliki si bungsu. Jadi udah lumayan lecek, yaa. Ketika si bungsu lahir, dialah yang pertama membuat coretan di beberapa bagian boneka yang sudah saya buat. Bagus ya, Nak.. :D

Membuat boneka kain itu mudah banget, bahkan hanya pakai jahitan tangan pun bisa, lho. Sebelum memiliki mesin jahit, saya suka membuat boneka kaos kaki yang entah sudah ke mana barangnya. Lucu dan imut banget. Cuma ukurannya kecil seukuran tangan saja.

Nah, untuk mainan satu ini, saya membuatnya dengan kain sisa dan dakron. Saya kombinasikan beberapa motif dan warna. Jangan ditertawakan, yaa..he. Jadi malu kenapa pilih tema ini, ya :D

Boneka kain sebenarnya sangat cocok buat anak-anak yang punya alergi pernapasan seperti anak-anak saya. Mereka dulunya memang disebut alergi tungau setelah melakukan beberapa kali tes. Jadi, boneka berbulu sangat tidak cocok bagi mereka karena menyimpan debu pada bagian bulu-bulunya. Itu yang disebutkan dokter spesiali alergi.

Kembali lagi soal boneka, buat teman-teman yang ingin membuat boneka kain sendiri, coba cari dulu bentuk yang mudah dibuat. Seperti boneka burung hantu yang saya buat, itu hanya dibuat dari dua lembar kain saja. Motifnya hanya ditumpuk dan dijahit dengan semi bordir. Untuk mata burung hantunya, saya menjahitnya dengan tangan. Bisa juga dengan mesin jika suka.

Yang paling kasihan boneka Spiderman, ya. Kayaknya dia patah tulang makannya bentuknya bengkok nggak keruan..he. Tapi, itu bikinnya lumayan rumit karena beberapa bagian harus disambung-sambung. Belum lagi motif garis hitam di bagian kain merah serupa jaring itu harus dijahit satu persatu sampai membentuk motif yang diinginkan. Dan ada kecoa atau laba-laba itu di bagian dada? Entahlah, saya pribadi saja tidak tahu bentuknya..he.

Spiderman jadi-jadian

Sebelum menyelesaikan semua jahitan, jangan lupa sisakan sedikit bagian saja untuk memasukkan dakronnya, ya. Nanti terakhir, teman-teman bisa memasukkan dakron dan menjahitnya secara tersembunyi dari bagian luar. Mudahkan? Simpel pula.

Kalau teman-teman nggak ada bayangan mau membuat boneka apa, coba cari saja di mbah Google, pastinya banyak banget yang cakep dan bisa ditiru bahkan sebagian ada tutorial lengkapnya.

Anak-anak, sebenarnya nggak benar-benar butuh mainan yang harus bagaimana, kebersamaan dengan orang tua adalah hal penting. Bahkan hanya main kardus yang dibuat bentuk rumah atau topeng saja senangnya bukan main.

Nah, di zaman sekarang, kebersamaan memang sudah mulai langka. Buat menghangatkan air yang terlanjur membeku, coba ajak anak-anak membuat boneka atau mainan lainnya bersama-sama. Beri mereka kesempatan untuk mencoba. Tetap dampingi terutama jika harus menggunakan benda berbahaya seperti jarum dan gunting. Akan jauh lebih asyik jika ibu menjahit, dan anak memasukkan dakron. Nah, senangkan?

Selamat mencoba, ya!


Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan ke-3 #SatuHariSatuKaryaIIDN bersama komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis
View Post

sumber


Assalamualaikum…

Alhamdulillah, kembali ke postingan kedua untuk tantangan #SatuHariSatuKaryaIIDN. Kali ini saya mau bahas soal bekal sehat dan simpel. Nah, untuk bekal sekolah, saya memang selalu membuat sendiri di rumah. Kemampuan memasak yang masih minim membuat saya memilih beberapa bekal yang simpel saja. Karena kalau terlalu ribet khawatir malah kacau..he.

Banyak keuntungan membawa bekal sendiri dari rumah, lho. Kalau saya pribadi memang tidak memberikan uang jajan kepada si sulung yang saat ini sudah kelas 1 Sekolah Dasar. Suami juga tidak setuju jika si kakak jajan di sekolah. Meskipun kantin sekolah masih lumayan terjaga makanannya, tidak ada pedagang dari luar yang mangkal di depan sekolah, dan yang pasti kalau sudah mulai ada jajanan yang kurang baik dikonsumsi anak-anak seperti ciki dan es, akan ada petugas sekolah yang nantinya menegur penjual kantin.

Belakangan banyak sekali anak-anak yang sakit. Selain karena cuaca yang kurang bersahabat, ternyata mereka juga sering jajan es di kantin sekolah. Guru pembimbing pun menyarankan agar anak-anak dibawakan bekal saja dari rumah, sehingga mereka tidak perlu jajan di kantin.

Ya, inilah salah satu keuntungan membawa bekal dari rumah. Selain terjaga kebersihannya, bekal dari rumah juga lebih sehat karena kita jelas tahu bahan-bahannya. Meskipun ada katering di sekolah, saya tetap memilih membawakan bekal untuk si sulung.

Biasanya, dia kurang suka makan makanan berat di sekolah. Alasannya karena sudah tidak hangat lagi. Ya, itu kalau benar-benar berbentuk nasi..he. Coba saja kalau dibuat bola nasi yang diisi keju, dibalut dengan tepung roti dan digoreng. Dia nggak bakalan nolak.

Jadi, saya pun harus putar otak. Untuk buah, dia masih mau membawa pisang, jeruk ataupun melon. Tambahan susu cair juga bisa jadi pilihan.

Si kakak harus membawa dua bekal dalam sehari. Satu bekal berupa camilan yang disantap saat istirahat pertama, yang kedua merupakan makanan berat yang disantap setelah shalat Dhuhur berjamaah di sekolah.



Nah, untuk bekal camilan, saya pribadi nggak banyak variasi. Selain buah, saya siapkan roti homemade dan susu cair. Kadang juga saya tambahkan pudding ataupun jelli. Sedangkan untuk makanan berat, saya biasanya membawakan bekal nasi goreng, bola-bola nasi, kentang goreng, pasta, ataupun bihun goreng yang diberi taburan bawang di atasnya.

Beberapa varian sayuran juga saya masukkan ke dalam campuran nasi goreng. Misalnya saja potongan wortel ataupun buncis. Omelet bayam dan brokoli krispi juga sangat dia suka, lho. Membuatnya pun sangat mudah.

Untuk roti, kadang saya pun menyelipkan sayuran seperti mentimun yang dicampur dengan mayonaise dan yogurt, ada juga potongan tomat di antara dua bagian roti burgernya. Semuanya mudah dan cepat sekali dibuat karena biasanya saya sudah membuat roti sehari sebelumnya.



Nah, buat teman-teman yang ingin membuat bekal sehat dan simpel, coba siapkan beberapa hal ini sebelum mencobanya,

  1.       Biasakan anak makan sayuran dan buah di rumah. Jika mereka tidak mau, coba campurkan beberapa potonga sayuran ke dalam makanan kesukaan mereka, sedikit demi seidkit saja sampai mereka terbiasa dan menyukainya.
  2.       Jangan terlalu sering membeli makanan di luar, terutama jajanan yang kurang sehat. Membawa bekal dari rumah bukan hal mudah, ada banyak anak yang menolak dan memaksa jajan di kantin sekolah. Hal ini memang perlu pembiasaan yang tidak instan.
  3.       Tanyakan sebelum membuat bekal untuk si kecil. Bagi anak yang sudah mulai besar dan bisa memilih, kadang mereka menolak membawa bekal yang tidak mereka suka, lho. Ada teman si sulung yang akhirnya tidak memakan bekalnya karena dia tidak suka dengan bekal yang dibawakan dari rumah.
  4.       . Buatlah berbagai macam varian yang menggungah selera. Nasi tidak harus hanya berbentuk nasi putih, lho. Anda bisa membuat bola-bola nasi, nasi goreng, ataupun makanan berat selain nasi. Makan pasta juga mengenyangkan, tidak harus selalu nasi.
  5.       . Berikan dalam porsi yang pas.


Itulah beberapa hal yang saya lakukan dan terapkan di rumah. Jika terbiasa, anak-anak pun mudah melakukannya. Saya juga selalu menjelaskan betapa pentingnya mengonsumsi makanan sehat. Dia pun pada akhirnya memahami jika apa yang dibeli dan dimakan teman-temannya dari kantin sekolah tidak selalu baik bagi kesehatan. Contohnya saja es yang mengandung pemanis buatan, es batunya juga belum tentu bersih dan sampai sekarang saya suka ragu dengan es yang dijual di luar..he. Mungkin saya terlalu parno, ya. Si kakak juga tidak diperbolehkan banyak mengonsumsi es oleh dokternya, sehingga pemahaman tentang hal ini pun semakin mudah.


Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan ke-2 #SatuHariSatuKaryaIIDN bersama komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis
View Post