Monday, January 29, 2018

Resep Bolu Mekar Ekonomis, Mekarnya Ikhlas Banget!

Alhamdulillah, senangnya akhirnya bisa posting bolu yang tertawa terbahak setelah sebelumnya saya cuma dilihatin sinis gitu sama si bolu..hihi.

Saya coba ganti resep lain dan hasilnya lembut pake banget dan mekarnya ikhlas banget, alhamdulillah. Kayak saya yang bikin, penuh keikhlasan dan ketenangan.. *apa sih :D Soalnya sempat salah bikin. Bukan salah resepnya, tapi salah sayanya yang kurang mair saat membuatnya. Masa iya bolunya jadi mingkem kan sedih banget. Akhirnya nemu juga resep yang oke dan pas banget buat dicoba. Hasilnya pun seperti yang bisa dilihat, memuaskan sekali.


Sayangnya, bukannya tanpa hambatan, lho. Ternyata panci kukusan saya terlalu imut sampai-sampai dia kepentok tutup yang telah saya bungkus dengan lap bersih..hiks. Nggak tega lihat bagian atasnya kejedot gitu. Belum lagi saking lembut dan mekarnya, beberapa bagiannya patah, ada juga yang tumpah karena pas saya masukin kukusan ternyata cupnya jatuh. Patah hatilah saya..tapi, ternyata itu nggak menyurutkan keihklasan si bolu ini, meskipun sebagian luber, setelah dikukus dia tetap merekah cantik banget..senangnyaa hati ini… :D


Resep ini tergolong ekonomis karena hanya pakai 1 telur saja. Membuatnya pun nggak dipisah-pisah, jadi sekali kocok aja. Rasanya…tadi sudah masukin ke mulut ternyata lupa saya lagi puasa…hehe. Ini memalukan banget, yak *tutup muka pakai panci. Haha. Ada nggak sih pengalaman seru begini gara-gara terlalu antusias bikin kue dan hasilnya cakep sesuai harapan? jangan dimakan ya kuenya jika kalian sedang puasa...haha.


Kalau teman-teman mau mencoba, silakan perhatikan ukuran cup harus sesuai cetakan, kalau bisa gunakan cetakan berlubang yang lumayan tinggi itu, ya. Panci kukusan pastikan sudah benar-benar panas ketika kita memasukkan adonan, tutup dibungkus dengan kain bersih, api harus besar dan jangan memasukkan air terlalu banyak supaya letupannya tidak mengenai bagian dasar cup bolunya. Dan satu lagi, supaya cup kertasnya rapi, masukkan ke dalam cetakan, tumpuk dengan cetakan lainnya sampai habis cetakannya, agak ditekan supaya cup kertasnya jadi rapi.


Untuk warna, teman-teman bisa menggunakan sesuai selera, ya. Saya hanya pakai warna putih tanpa pewarna dan sedikit warna ungu. Lebih cakep kalau pakai warna pastel seperti pink dan hijau muda. Jadi warna bolu kukusnya kalem gitulah yaa. Atau bisa juga bkin versi gula merah, tapi pastinya bukan pakai resep ini :D Yuk ah, daripada kelamaan, kita bikin aja langsung di rumah. Jangan lupa ajak anak-anak dan keluarga besar juga biar menyaksikan keberhasilan bolu kukus mekarnya...kwkwk. Silakan dicoba resepnya…


Bahan:

200gr terigu serbaguna

180-200 gr gula pasir (Saya pakai sekitar 190 gr)

150 ml susu cair

1 butir telur

½ sdm SP

Sedikit vanilla essence


Cara membuat:

1. Campurkan semua bahan kecuali SP. Mixer sampai gula mulai larut sekitar 5 menitan. Kemudian masukkan SP dan mixer sampai kental sekitar 10-15 menit.

2. Ambil sebagian adonan dan beri pewarna makanan. Aduk lipat kemudian dengan spatula.

3. Masukkan adonan putih ke dalam cup sampai seperempatnya. Kemudian tambahkan adonan berwarna ungu hingga penuh. Sayang saya nggak sempat foto pas sudah dimasukkan cup. Sudah heboh sama si adek yang bangun.

4. Masukkan ke dalam panci kukus. Jangan terlalu penuh, sebaiknya beri jarak yang longgar supaya nggak saling nempel dan patah. Kukus selama kurang lebih 15 menit.

5. Keluarkan dan sajikan.

 
Itulah resep mudah membuat bolu mekar yang ikhlasnya kebangetan *lebay. Teman-teman bisa mencobanya, insya Allah untuk resep ini nggak terlalu mengkhawatirkanlah, ya. Jika ragu, sebaiknya baca doa dulu dan tersenyum sebelum mencobanya.. :D

Thursday, January 25, 2018

Drama Common Cold Hingga Diagnosa TB

Alhamdulillah, seminggu ini riweh sama anak sakit, kakak demam seminggu on off sampai belum masuk sekolah hingga sekarang. Dan si adik nyusul demam tinggi mulai jam 1 malam hingga hari ini. Alhamdulillah semua masih mau makan dan minum yang banyak. Semoga besok sudah sehat kembali.


Buat anak-anak, sakit itu adalah hal yang wajar terjadi, terutama common cold. Setidaknya ada hingga 12 kali common cold dalam setahun. Memang ini disebabkan oleh virus yang tidak perlu penanganan khusus, tapi kalau demam tinggi dan hanya sembuh sehari kemudian seminggu sakit lagi begitu selama berbulan-bulan, kira-kira teman-teman akan berpikir apa?


Ya, bahkan saya yang awalnya santai saat anak sakit flu dan batuk, tiba-tiba nggak keruan. Bagaimana tidak, sejak si bungsu lahir dan berusia tiga bulan, dia sudah mulai mengalami demam tinggi yang mana sudah harus dibawa ke dokter untuk usia dia saat itu. Alhamdulillahnya hanya common cold saja. Tetapi menghadapi anak bayi demam itu panik banget apalagi kalau sampai dia merintih terus menerus.


Sedangkan saat memiliki si sulung, dia baru demam usia setahun. Perbedaan yang sangat jauh. Kalau si sulung sering kejang demam, si bungsu justru sering radang telinga, bahkan sangat sering. Dan sebelum itu ketahuan, dramanya bukan main.


Saat usia enam bulan, entah lupa tepatnya, Dhigda nama si bungsu demam hampir sebulan dengan suhu mencapai 39’C lebih. Dan itu hanya terjadi setiap tengah malam. Jadi setiap tengah malam saya menemani dia yang suhunya tinggi selama hampir sebulan penuh.


Membayangkan hal semacam itu rasanya tidak kuat. Tetapi pada saat itu saya bisa melaluinya. Saya jauh dari orang tua, tidak ada pengalaman kuliah apalagi mengenyam sekolah kedokteran, tetapi saat hamil dan memiliki anak, saya merasa harus mempelajarinya demi mereka.


Dalam kondisi tak wajar, common cold tapi terlalu lama, saya pun membawanya ke dokter spesialis anak. Diperiksa darah dan hasilnya tidak ditemukan apa-apa. Kalau menurut dokter itu hanya virus, tetapi dapat antibiotik.


“Inikan virus ya, Dok? Kenapa diresepkan antibiotik?”


“O, kalau saya harus, kan sudah lama.”


Jadi, kalau sudah lama, virus bisa berubah jadi bakteri? Merasa sangat tidak pintar dan menyesal saat itu kenapa saya kurang banyak baca dan membaca. Mana bisa seperti itu? Meskipun pulang tidak saya minumkan obatnya, tetapi tetap saja ada rasa bersalah, kenapa harus cek darah? Padahal anak saya ada ingus sedikit seperti orang flu.


Hingga dua minggu berikutnya, saya membawa pada dokter berbeda. Kembali cek darah dan dikatakan hal yang sama. Sejak itu saya tidak kembali ke rumah sakit yang sama. Bukannya dapat jawaban, justru horror sekali. Merasa jadi ibu aneh sedunia karena termakan rasa panik. Dan hingga minggu ketiga, anak saya masih demam tinggi setiap tengah malam.


Pada akhirnya saya harus memutuskan berkunjung ke dokter lain di rumah sakit berbeda. Di sana, anak-anak saya didiagnosa TB karena seringnya common cold. Apa? Masa iya? Tanpa wawancara, tanpa tanya banyak, langsung diajak tes cukit kulit. Aduh, itu sakitnya sampai ke ulu hati, lho. Kalau iya benar, kalau tidak? Belum lagi nanti harus konsumsi obat selama enam bulan penuh. Bisakah? Kalau benar bukan masalah, kalau salah? Mungkin saya akan jadi ibu paling menyesal di dunia.


Diagnosis TB ini nggak segampang melihat seberapa sering anak terkena common cold. Dalam rumah kami, hanya ada saya, suami dan kedua anak saya. Dan baik saya dan suami, keduanya sehat. Tidak ada pula asisten rumah tangga yang bisa dicurigai terkena TB karena memang tidak pernah mempekerjakan ART. Sedangkan penularan lewat anak-anak tidak mungkin, karena TB hanya ditularkan oleh penderita TB dewasa. Kalau misal tertular di luar? Di jalan? TB hanya menular minimal ketika kita tinggal bersama penderita TB selama kurang lebih enam bulan (kalau tidak salah ingat).


Karena alasan itulah yang saya ketahui sejak lama, akhirnya saya pun berani menolak dan segera pulang dengan alasan akan memikirkannya. Drama ini pun semakin menjadi saja ketika suami saya harus percaya dan bingung dengan diagnosa lainnya. Ada dokter yang bilang kalau si bungsu harus dirawat karena sudah tidak bisa meminum antibiotik, harus infus.


Akhirnya sambil sedikit memaksa, saya mengajak suami pergi ke dokter yang juga ikut bergabung di milis sehat. Beliau adalah dokter Arifiyanto atau dokter Apin yang mana juga merupakan blogger..he.


Saat ke sana, kami menyerahkan hasil tes urin dan tes darah. Beliau santai saja padahal saya sudah mau pingsan dengan drama yang terjadi lama sekali. Beliau mendengarkan saya yang lebih banyak curhat sedangkan suami hanya diam mendengarkan.


Lama-lama beliau bertanya, “Sepertinya ibu ke sini hanya ingin menunjukkan kepada bapak, ya?” sambil tertawa.


Beliau menjelaskan bahwa common cold terutama jika anak sudah sekolah dan memiliki saudara, kadang memang drama banget. Bisa ping pong dan tidak lekas selesai. Kalau nggak mau ketularan, pisah rumah saja. Di sekolah pun sama, ketika ada yang sakit, pastinya dengan mudah menularkan kepada yang lain. Jadi, obatnya sabar saja selama tidak ada komplikasi seperti sesak dan kejang. Dan sabarnya kami itu nggak hanya sebulan dua bulan. Tetapi hampir dua tahun. 


Sepulang dari dokter Apin, saya pun lebih lega. Dan kami pulang tidak membawa obat apapun. Hanya zat besi untuk si bungsu yang ASI eksklusif.


Menurut beliau juga, ketika sedang common cold, hal pertama yang harus dicek justru telinganya. atau cek yang tidak menyakitkan seperti cek urin. Karena kebanyakan ISK juga tanpa gejala. 

 
Bisa jadi adik kena radang telinga akibat flu. Dan benar saja, setelah keesokannya dari dokter apin, anak saya mulai keluar cairan dari telinga, dan sejak saat itu, demamnya turun. Padahal ketika dicek, telinganya baik-baik saja. Ternyata belum kelihatan sodaraaa.. L


Setelah itu, setiap kali common cold, adik selalu kena radang telinga. Menurut dokter THT, dia ada alergi. Wajarlah karena suami juga memiliki alergi pernapasan. Tetapi kalau radang telinganya sebulan tiga kali, apa masih dibilang normal?


Masya Allah, seperti nggak akan berakhir saja drama ini. Saya pun akhirnya pergi ke dokter yang sangat booming bisa menyembuhkan dan mengatasi alergi, tetapi malah berasa mengunjungi dukun karena kita cuma main tebak-tebakan..he.


“Wajahnya mirip siapa ini?”


“BAB-nya seperti kotoran kambingkan?”


“Nggak kok, Dok. Biasa aja.”


“Masa?” Saya iyain ajalah..he.


Padahal di rumah sakit beken itu ada dokter spesialis alergi yang ada di milis sehat juga dan pastinya RUM banget. Tetapi karena merasa pengeen banget cepat sehat, justru tersesat pada jalan yang salah..he.


Dan ujungnya, memang hanya sabar dan sabar. Setelah melewati hal yang sama hampir dua tahun, drama common cold itu pun berakhir. Alhamdulillah, anak-anak seiring waktu mulai berkurang infeksinya. Nggak seperti tahun-tahun sebelumnya. Barakallah, kadang hal semacam ini benar-benar menguras pikiran. Lebih sering ketika adik sakit, saya pun ikut sakit. Pernah suatu malam, Dhigda demam tinggi, batuk hebat dan muntah-muntah, sedangkan saya sendiri demam tinggi dan kepala mau pecah. Dan itu terjadi nggak cuma sekali dua kali.


Kalau kakak sakit, adik pun sakit, lanjut bundanya..he. Sudah kayak orang janjian saja. Dari pengalaman itu saya pun mengambil kesimpulan, bahwa diagnosa TB itu sebenarnya tidak mudah. Ada banyak hal harus dipertimbangkan dan diperhitungkan. Bukan hanya sekadar hasil rontgen dan terdapat flek, kemudian langsung muncul diagnosa TB. Sampai-sampai istilah flek paru itu umum kita dengar padahal sebenarnya itu rancu sekali, lho.


Saya bersyukur sekali, anak-anak tidak sampai salah diagnosa dan sedikit-sedikit saya paham tentang TB lewat milis sehat. Saya bukan ingin menjadi dokter, tetapi dokter-dokter di milis selalu mewajibkan kami anggotanya untuk banyak membaca di web-web resmi. Tetapi, kadang saya juga masih terlewat sampai akhirnya adik harus cek darah 2x dalam satu episode demamnya dulu.


Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat dan tahu apa yang harus dilakukan ketika anak-anak sakit, paling tidak kita punya referensi dokter yang RUM untuk berkonsultasi. 

 

Sunday, January 21, 2018

Atthar dan Sabiya, Kisah Cinta yang Tiba-tiba

Kamu bisa bayangkan, bagaimana rasanya menikah dengan orang yang baru saja kamu temui. Ya, hanya bertatap muka beberapa detik, kemudian secara mengejutkan, orang nomor satu dalam hidupmu mengatakan bahwa dia adalah calon suamimu, bukan hanya putra tunggal sahabatnya.

Rasanya mau pingsan ketika mendengar kalimat itu muncul dari mulut ayah. Entah seperti apa wajahku ketika mendengarnya. Kedua mataku spontan terbelalak, menatap ayah dan dia secara bergantian. Aku bisa menangkap dia tersenyum, menertawakan aku atau entahlah. Saat itu aku tak bisa menerjemahkan apapun kecuali ledakan mendadak di rongga dada yang kemudian menimbulkan asap mengepul serta menyesakkan.


Usiaku masih dua puluh dua tahun ketika itu berlangsung. Aku memang memutuskan tidak melanjutkan kuliah setelah menyelesaikan sekolah. Kenapa? Karena aku merasa tidak menginginkannya. Banyak hal menjadi alasan termasuk usaha ayah yang sempat mengalami kebangkrutan. Aku harus memutuskan, mana yang jauh lebih penting.


Aku masih memiliki dua adik perempuan yang belum selesai sekolah. Mereka bahkan masih kelas 3 SMP dan kelas 1 SD. Saat itulah aku tak merasa harus berpikir lebih panjang lagi untuk memutuskan. Suatu saat, jika aku memiliki cukup uang, aku juga ingin seperti teman-teman yang lain, kuliah dan pergi ke kampus serta disebut mahasiswi. Terlalu mulukkah mimpiku?


Jika boleh lagi, aku ingin sekali menjadi dokter. Bukan karena dokter itu tampak keren, tetapi profesi dokter membuat jalan terbuka lebih luas untuk membantu yang lain. Bayangkan saja, aku masih saja mendengar berita bahwa di beberapa daerah terpencil, banyak orang yang kesulitan untuk berobat. Belum lagi mereka yang bahkan harus meninggal karena kesulitan biaya sehingga diusir dari rumah sakit. Miris sekali mendengarnya terlebih karena aku tahu bahwa menjadi orang biasa dan tak punya terkesan sangat sulit mendapatkan apapun, bahkan ketika itu menyangkut nyawa sekalipun.


Tetapi, sebelum impian itu sempat terwujud, dia datang dan meminangku. Tiba-tiba? Kamu coba tanya kenapa dia tiba-tiba datang dan melamarku? Tidak bisakah kita berkenalan dan biarkan aku memikirkannya beberapa hari saja. Atau jika terlalu lama, mungkin sehari, beberapa jam? Tapi, dia tidak begitu. Aku bahkan belum menarik napas, ayah sudah memutuskan.


Aku sebal dan kesal. Seharian mendiamkan ayah dan ibu. Tetapi, tak pernah ada yang berubah. Bahkan tanggal pernikahan kami semakin dekat saja. Dan hari istimewa itu pun datang menghampiri.


Usiaku masih dua puluh dua ketika dia bertandang dalam kehidupanku. Menjadi orang pertama yang membuat hatiku melompat tak karuan. Aku memperkenalkan diri, menyebutkan nama panggilan kesayangan ayah dan ibu.


“Sabiya,” ucapku dengan rasa gugup membuncah.


Dia tersenyum, “Atthar,” kemudian membenarkan posisi duduknya, lalu menatapku lagi, tetapi kali ini sambil menaikkan sebelah alisnya yang tebal.


“Bukankah kita sudah menikah? Kenapa harus canggung seperti ini?” dia berkata sambil tertawa hingga tampak deretan giginya yang putih.


Aku hanya tertawa kecil, tidak ada yang salah. Kami memang belum saling mengenal, bahkan ngobrol berdua saja belum pernah. Dengan balutan kebaya berwarna putih, aku mencuri pandang ke arahnya. Satu hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, jodohku ternyata adalah seorang dokter.


Ya, Atthar merupakan dokter muda yang sedang mengambil spesialis. Wajahnya putih bersih, senyumnya manis, dan tutur katanya lembut serta sopan. Jangan bilang aku sedang memujinya. Aku hanya bicara fakta, jatuh cinta tak semudah membalik telapak tangankan? Sepertinya aku belum jatuh hati. Ya, tentu saja kalian harus percaya.


“Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu? Ada yang aneh?” tanya Atthar tiba-tiba setelah menyesap air putih dari gelas air mineralnya.


Aku gelagapan menanggapinya. Malu rasanya tertangkap basah sedang memerhatikan wajahnya. Setelahnya, wajahku bisa jadi bersemu merah saking malunya. Tak berbeda dengan kepiting rebus. Astaga!


Tetapi orang-orang yang ribut di depan cukup mengejutkan kami. Atthar bangkit dengan wajah kaget. Sebelah tangannya menarik pergelangan tanganku. Teriakan di depan semakin keras terdengar. Suara perempuan menyebut nama Atthar, suamiku.


Aku tak bisa membayangkan kejadian apa yang sebenarnya terjadi. Ini hari pernikahan yang meskipun tak aku harapkan, rupanya menjadi hal manis yang tak terelakkan. Melihat Atthar yang bangkit sambil menarikku, hati tiba-tiba terenyuh.


Tetapi, lamunan sebentar itu buyar seketika. Seorang perempuan bertubuh tinggi dengan wajah tak kalah ayu bak foto model tiba-tiba saja meraih tangan Atthar secara paksa. Tanganku terhempas begitu saja. Dan aku? Jangan tanya, sangat kaget melihat kejadian itu di depan mata.


“Ada apa ini?” aku tak bisa menahan tanya.


Jangan-jangan dia mantan Atthar yang tak terima mantan kekasihnya menikah dengan perempuan lain. Aku menduga banyak hal, termasuk bagaimana cara perempuan itu menatap suamiku. Bukankah akhir-akhir ini muncul banyak cerita mengejutkan tentang kehadiran mantan di resepsi pernikahan mantan kekasihnya? Apakah aku salah satu orang yang akan mengalaminya?


Dan suara Atthar yang tegas memecah sunyi dalam lamunanku.


“Aku bahkan lupa siapa kamu.” Atthar menarik tangannya.


Perempuan itu, dengan wajah berurai air mata, menarik napas dalam-dalam kemudian menatapku sinis.


“Jika bukan karena perempuan ini, semua ini tidak akan terjadi!”


“Apa yang terjadi dulu bukan kesalahan Sabiya. Dia tidak ada sangkut pautnya dengan masa lalu kita. Jika saat ini kamu kembali, aku tak yakin kamu datang karena masih menungguku. Bukankah dulu kamu menolakku karena aku tak punya cukup uang untuk menjadi seperti yang kamu mau?”


Aku terbelalak, menyaksikan adegan sinetron di depan mata. Kerumunan orang membuat napasku semakin sesak. Demi melihat adegan selanjutnya, aku memutuskan bertahan di sana, tepat di sebelah Atthar.


“Aku minta maaf. Aku menyesal!” tangisnya.


Satu dua detik, Atthar menarik napas dan menyuruhnya pergi. Perempuan itu, pastilah menahan malu. Sebelum pergi, dia masih sempat mencibirku. Aku tak tahu apa yang dulu terjadi. Bisa jadi Atthar akan menceritakan secara detail atau bahkan bungkam. Yang jelas, hal semacam ini bukanlah mustahil terjadi.


“Aku minta maaf,” Atthar memohon padaku.


Aku hanya tersenyum kecil dan menggeleng. Kisah ini baru saja dimulai. Entah ada badai apa lagi yang bisa mengguncang hubungan kami. Yang jelas, dalam setiap pernikahan, kamu hanya butuh rasa percaya dan selalu bersyukur atas pasanganmu. Tidak ada yang benar-benar sempurna, termasuk lelaki yang meminangmu dengan tiba-tiba.


Bahagia kita yang ciptakan, jika saat itu aku mau berteriak, bisa jadi semua akan jauh lebih kacau, termasuk resepsi sederhana yang sedang digelar di rumahku saat itu. Tetapi, memikirkan baik-baik sebelum memutuskan membuat kejadian itu jauh lebih mudah diselesaikan. Aku harus memikirkan perasaan ibu dan ayah. Dan aku pun harus mulai memercayai suamiku, meskipun pernikahan kami baru saja terjadi, bahkan hanya lewat beberapa menit saja.


Atthar tersenyum, berterima kasih lewat tatapannya.

Saturday, January 20, 2018

Japanese Cotton Cheese Cake Tanpa Cream Cheese

Assalamualaikum…


Kembali postingan makanan. Jangan bosan, yaa. Kebetulan kemarin menyempatkan membuat cake satu ini. Masih ada keju di kulkas, sayang kalau tidak dimanfaatkan. Atau memang sayanya saja lagi semangat baking, ya..he. Iyup. Senang nyoba-nyoba resep baru termasuk nyoba bikin cake untuk dikonsumsi sendiri. Ada yang punya hobi baru seperti saya?

Japanese cotton cheese cake satu ini nggak pakai krim cheese. Gantinya adalah keju oles yang murah meriah. Rasanya tetap enak, ngeju, dan lembut. Bagi penggemar keju, wajib banget cobain resep satu ini. Cake-nya lembut dan bikin tergoda nih buat makan dan makan lagi. Saya nggak sesuka apa sama keju. Tapi, kalau ada cake kayak gini ya suka banget deh. Begitu juga anak-anak di rumah. Happy bisa bikin sendiri. Ternyata kami bisa, yeay!!


Resep ini bukan hasil wangsit, ya. Ini resepnya Emili’s Kitchen di Cookpad dan saya rebake. Memang terlihat sedikit lebih rumit ketimbang cake lainnya. Apalagi cara memanggangnya pun harus menggunakan teknik au bain marie. Teknik ini membutuhkan dua loyang sekaligus ketika memanggang. Satu loyang berisi air panas kemudian letakkan loyang berisi adonan di atasnya baru kemudian dipanggang.

Teknik Khusus Supaya Cake Cantik


Keuntungan dari teknik satu ini tentu bagian dasar serta sekeliling sisinya mulus tanpa gosong. Jadi, hasil cake bisa cantik banget karena tidak memiliki bagian pinggir yang berwanra gelap. Itu pentinglah ya buat penampilan cake-nya...hehe. Dan memang hasilnya jadi nggak seret gitu ketika dimakan. Semoga teman-teman nggak pusing duluan ketika mau nyoba bikin cake ini, ya? Insya Allah bisa asal ikutin petunjuknya dengan baik dan jangan ubah resep :)

 

Buat teman-teman yang mau mencoba, ikuti step by step-nya dengan baik, ya. Jangan lupa kocok putih telurnya sampai benar-benar kaku, ketika kita balik baskomnya, adonan putih telurnya tidak akan tumpah.

Resep 



Bahan:

Adonan kuning telur

1 bungkus keju spreadable atau keju oles (sy pakai prochiz)

50 ml susu cair

3 butir kuning telur

20 gr butter atau margarin

30 gr terigu protein rendah atau boleh juga terigu serbaguna

10 gr maizena

Adonan putih telur

3 butir putih telur

1 sdm perasan jeruk lemon

75 gr gula castor atau gula halus


Cara membuat:

1.      Masak dengan cara double boiler. Masukkan susu cair, margarin serta keju oles. Saya menaruh panci kecil di atas kukusan supaya lebih mudah. Aduk rata jangan sampai ada bagian yang bergerindil. Matikan api, sisihkan.

2.      Ayak terigu serta maizena dan masukkan ke dalam campuran susu tadi. Aduk cepat sampai rata dan biarkan sampai hangat.

3.      Masukkan kuning telur ke dalam adonan yang sudah mulai dingin. Aduk rata dan sisihkan.

4.      Kocok putih telur sampai berbusa bersama perasan jeruk lemon. Masukkan gula halus secara bertahap dan mixer dengan kecepatan tinggi sampai kaku. Ketika wadah dibalik, adonan putih telur tidak tumpah.

5.      Masukkan secara bertahap adonan putih telur ke dalam adonan terigu yang sudah dingin. Lakukan bertahap dan aduk lipat dengan spatula sampai rata. Jangan pakai tenaga ketika mengaduk, ya.

6.      Panaskan oven suhu 160’C selama 10-15 menit sebelum digunakan.

7.      Olesi loyang dengan minyak kemudian alasi kertas roti dan olesi lagi dengan minyak. Tuang adonan ke dalam loyang. Bisa menggunakan loyang diameter 18 cm.

8.      Letakkan di atas loyang yang sudah diisi air panas setinggi 1 ½ cm. Panggang selama 50 menit atau sesuaikan dengan oven masing-masing.

9.      Keluarkan dari oven dan tunggu sampai dingin baru dinikmati.


Cukup mudah tapi cukup pusing kalau hanya dibaca resepnya, ya..he. Saya pun begitu, tetapi setelah dicoba satu persatu, nggak terlalu susah kok. Yuk, dicoba..


Happy baking!

Monday, January 15, 2018

Resep Pizza Roll Super Empuk Ala Killer Bread

Alhamdulillah, kembali baking setelah sekian lama, sekian menit, sekian ribu detik nggak nyentuh oven dan mixer..he. Nggak tahu kenapa, kayaknya enggan (nggak mau dibilang males) menyentuh tepung-tepung. Padahal, biasanya, pagi-pagi sekali sudah belepotan terigu dan teman-temannya.

Dua hari ini Jakarta diguyur hujan lumayan deras. Kebetulan nggak ada camilan di rumah. Akhirnya sore tadi kepikiran mau bikin pizza sama anak-anak. Kalau pizza biasa kurang enak disimpan. Kalau bikin, pastinya ada sisanyakan? Akhirnya putar otak dan cari-cari resep, jatuhlah pada resep pizza roll miliki ci Tintin Rayner yang super empuk.


Sebenarnya ini roti. Ya, roti pizza yang sangat empuk dan kabar baiknya, hanya satu kali proofing! Yess! Jadi nggak perlu menunggu terlalu lama untuk menyantap roti pizza yang punya serat bagus kayak gini..

Sayangnya, saya menyusun adonan roll-nya nggak pakai jarak, jadilah saling berdesakan dan seperti yang diduga, yang paling menonjol pastilah gosong duluan.

Tekstur Adonan


Bagi teman-teman yang mau membuat, adonan awal pizza ini memang sedikit lembek, ya. Ketika sudah benar-benar kalis, nanti akan bagus dan tidak lengket. Jadi, mohon sabar jangan asal menambah terigu, ya. Nanti hasilnya bisa bantat dan keras, lho!


Adonan ini bisa teman-teman buat menjadi roti apa saja, termasuk menjadi roti sisir yang diberi butter dan gula di kedua sisinya. Langsung saja resepnya dengan sedikit modifikasi menyesuaikan bahan yang ada di rumah,


Bahan:

245 gr terigu protein tinggi (sy gunakan 250 gr)

15 gr susu bubuk (sy 2 sdm)

36 gr gula pasir

6 gr ragi instan (sy 1 sdt penuh)

180 ml (1 telur utuh + 20 gr whip cream bubuk + susu cair)

30 gr butter atau margarin

Sejumput garam

 

Bahan isian dan taburan:

Secukupnya saus tomat

Secukupnya keju parut

Secukupnya sosis

Sedikit oregano

Secukupnya mayonaise


Cara membuat:

·    Campur semua bahan roti kecuali butter dan garam. Karena kebetulan nggak punya persediaan whip cream, jadi saya ganti dengan krimmer bubuk. Kalau tidak ada bisa skip atau ganti susu bubuk pun nggak masalah. Uleni adonan sampai rata kemudian masukkan butter dan garam. Uleni sampai benar-benar kalis, ya!

·      Gilas adonan dan olesi dengan saus. Beri taburan berupa potongan sosis dan taburan keju. Gulung dan potong-potong. Jangan terlalu tebal karena nanti akan mengembang.

·     Olesi loyang dengan sedikit margarin dan tata potongan pizzanya serta beri jarak. Diamkan selama 1 jam dan tutup atasnya dengan lap bersih.

·   Beri taburan keju dan semprotkan saus lagi serta mayonaise. Panaskan oven 10 menit sebelum digunakan. Panggang dengan suhu 180’C atau sesuaikan dengan oven masing-masing selama kurang lebih 25-30 menit atau sampai matang.

·    Olesi atasnya dengan butter atau margarin. Sajikan selagi hangat atau simpan dalam plastik jika ingin disantap esoknya.

Nggak nyangka roti sekali proofing seratnya bisa secantik ini, lho. Meskipun penampakannya nggak jelas, nggak beraturan alias jadi-jadian, tetapi, benar-benar enak. Kalau bukan saya yang memuji, siapa lagi? *narsis :D Saya senang membuat roti, dan mungkin semakin hari semakin paham triknya kayak apa. Sehingga saya selalu membuatnya lagi dan lagi. Kebetulan anak-anak juga suka makan roti, jadinya super excited banget gitu. Ada yang suka bikin karena anak-anaknya doyan nggak sih? Kan rasanya terharu banget kalau mereka suka dan lahap makannya. Sedangkan kitanya udah capek duluan abis bikin kwkwk.

Jangan lupa ikuti petunjuknya dan selamat mencoba! Happy Baking!

Salam hangat,

Saturday, January 13, 2018

Antara Sepi, Sahabat dan Patah Hati

Antara sepi sahabat dan patah hati



Ini rahasia yang nggak pernah gue ceritain kepada siapa pun, termasuk sama sahabat karib gue sendiri. Dalam kehidupan nyata, ternyata banyak hal nggak bisa diprediksi dengan logika, kadang apa yang loe rencakan matang-matang, tiba-tiba buyar dan berantakan hanya karena satu masalah kecil bernama kecerobohan.


Terkadang, apa yang loe sebut paling buruk, ternyata justru jadi salah satu hal yang pada akhirnya amat loe sesali. Ya, nyesel karena dulu loe pernah menolak dan memilih pergi dari kenangan manis yang sempat loe rajut bersama orang yang pernah berlabuh dan menjadi istimewa di hati loe.

Nggak kebayang, kan, gimana, sih, rasanya meninggalkan orang yang loe sayang dalam keadaan tiba-tiba. Belum lagi alasan yang loe anggap benar ternyata hanya sebuah pembenaran akibat ego yang loe besar-besarkan.

*****


Nama gue Feni. Gue lahir tepat ketika langit mendung sempurna. Malam di mana hujan gerimis menjadi guyuran deras dan menyembulkan kilat-kilat yang berlesatan.

Gue lahir beberapa detik sebelum nyokap pergi untuk selamanya. Melahirkan itu butuh pengorbanan. Dan nyokap gue benar-benar mempertaruhkan nyawanya demi mengenalkan gue ke dunia.

Jadi piatu rasanya gimana? Loe tanya sama diri loe sendiri, bagaimana rasanya punya separuh hati yang benar-benar loe sayangi, dan sebagian lagi harus berupa serpihan yang wajah serta suaranya aja nggak bisa loe ingat sebab terlalu cepat dia pergi.

Nggak enak hidup kesepian hanya bersama bokap. Belum lagi kesibukannya yang cukup padat membuat gue benar-benar merasa sendiri. Setiap hari hanya bicara sama asisten rumah tangga yang sudah bertahun-tahun kerja sama almarhumah nyokap. Nggak kebayang, memori gue justru penuh dengan timangan dan nyanyian dari dia.

Namanya bi Surti. Nggak muda dan nggak tua banget buat seumuran dia. Orangnya baik dan tentu saja dia bukan tipe asisten rumah tangga yang galak dan suka nge-bully anak majikannya. Dia sayang banget sama gue, terlebih ketika dia tahu, nyokap udah nggak ada lagi.

Bisa dibilang, bi Surtilah tempat curhat gue selama ini. Ya, mulai dari gimana rindunya gue sama sosok almarhumah nyokap sampai dengan percekcokan kecil dengan bokap yang kadang bikin kepala gue mau pecah!

Gue besar tanpa kasih sayang seorang ibu. Jika selama ini gue nggak berbeda sama berandalan, gue anggap itu wajar terutama jika melihat bokap jarang banget ngasih perhatian. Kalau gue mau cerita, bokap sibuk banget dengan telepon dan berkas-berkasnya. Kalau gue kangen, bokap sibuk keliling ke luar kota. Nggak kebayang, kan, giamana, sih, rasanya jadi orang kayak gue ini?

Bersyukurnya, gue nggak terlalu lama berada dalam masa gelap dan suram itu. Ya, sejak kuliah, gue kenal sama teman-teman yang bukan hanya mau nerima gue apa adanya, tetapi juga membawa gue pada jalan 'kebenaran'. Jika awalnya gue merasa nggak penting banget menutup aurat, maka sejak mengenal mereka_yang awalnya gue anggap aneh_gue jadi peduli dan merasa harus berubah.

Hidup bukan hanya sekarang. Ada hari nanti di mana kita bakal dibangkitkan. Meskipun selama ini shalat gue bolong sana sini, tetapi dalam hati kecil gue percaya banget kalau kehidupan akhirat itu benar-benar ada. Serius, gue masih takut dosa, lho. Meskipun dulu sempat hidup nggak jelas dan nggak keruan.

Teman-teman yang mau deketin gue sejak kuliah nggak cukup banyak. Jika beberapa mahasiswi lain yang berhijab rapat enggan dekat-dekat, sobat karib gue ini beda lagi. Mereka justru sok kenal sok dekat meskipun awalnya gue benar-benar risih sama mereka.

Bayangin aja, gue yang suka berpakaian minim, tiba-tiba diajak ngobrol sama manusia dari planet lain yang berhijab lebar, rasanya gimana coba? Kayak bumi dan langit, kan? Tapi, lama-lama mereka membuat gue betah. Bukan karena mereka yang melulu ngejar-ngejar, tetapi karena mereka menghargai siapa gue apa adanya.

Mereka adalah Alia dan Shela.

Alia yang suka memakai hijab berwarna pastel dengan terusan berwarna senada. Dia berkacamata dan manis banget. Siapa pun suka berteman dengannya termasuk gue.

Shela, meskipun tomboy, tetapi dia tahu batasan. Gayannya berkemeja, tetapi jilbabnya nggak bakalan naik di atas pinggang. Dan gue? Jangan tanya siapa gue sekarang, bahkan dosen dan senior saja nggak ngenalin ketika pertama kali gue kuliah dan memakai hijab.

“Woi!” gue suka mengagetkan teman-teman, termasuk Alia dan Shela. Dan seperti yang gue duga, mereka terkejut dan hampir jantungan.

“Ucapin salam dulu kali, Fen,” Alia membenahi kacamatanya yang tiba-tiba melorot. Nggak kebayang jantungnya pindah ke mana, ya? Hehe.

“Lagian udah secantik bidadari masih aja kelakuan…” Shela berhenti, menutup mulutnya dengan kedua tangan dan buru-buru meminta maaf.

“Gue maafin, loe dan loe!” sahut gue sambil berkacak pinggang.

Keributan kecil memang cukup jadi kenangan manis buat kami bertiga. Selama masa kuliah, kami bagaikan perangko, lengket dan nggak pernah mau jauh. Nggak tahu kenapa, mungkin kami tahu apa yang bisa membuat persahabatan kami sebaik ini.

Dan seperti yang kalian duga, kami tetap berteman bahkan sampai kami bekerja. Itu tahun-tahun di mana gue dan teman-teman sudah bisa memimpikan yang namanya pernikahan. Yup! Kami sudah bisa bercerita gimana sih konsep pernikahan kami nanti. Sayangnya, masalah kami sama, jomlo!

Satu hingga dua tahun bukan masalah berarti. Hingga salah satu dari kami benar-benar telah siap menuju jenjang pernikahan, bahkan udah ngasih undangan!

“Serius, loe bakalan nikah, Li?” Gue hampir nggak percaya. Kita masih dua puluh lima tahun, masih layak, kok, jadi jomlo bahagia…he.

Tetapi, Alia mengangguk pasti. Dia menyerahkan selembar undangan. Dan nggak tahu kenapa, Alia nggak ngajak Shela ketemuan di tempat yang sama. Ini aneh buat gue.

Dan detik yang sama, dada gue tiba-tiba bergemuruh, ada yang salah dengan undangan itu. Ya, selembar undangan dengan warna cokelat muda, ada hiasan berupa pita senada dan ukiran nama. Nama yang sangat gue kenal selain Alia.

“Loe mau nikah sama Doni?”

Gue nggak bisa menebak semerah apa wajah gue ketika menanyakan hal itu kepada Alia.

Dia mengangguk. Bukan karena malu, tetapi karena takut ada yang kecewa dan patah hati. Ya, tentu saja itu gue!

“Maaf ya, Fen. Gue juga nggak nyangka bakalan menikah dengan orang yang pernah jadi masa lalu loe selama ini. Gue nggak pernah bermaksud menyakiti siapa pun. Loe sahabat karib gue, mana mungkin gue menikam loe dari belakang.”

Gue nggak perlu menjawab lebih panjang. Hanya tersenyum dan sebutir embun bergulir tanpa gue minta.

“Semoga loe bahagia, ya. Gue ikut bahagia,” dan embun itu sudah berubah gerimis yang semakin deras. Alia memegang jemari gue, meminta maaf berkali-kali. Gue nggak bisa bilang kalau itu bukan salah dia. Karena tangis gue menjadi.

Entah kenapa, sampai saat ini gue belum siap melupakan Doni meskipun sejak awal gue sendiri yang memutuskan berpisah. Dan rahasia ini selalu gue simpan rapat-rapat, termasuk dari Alia dan bi Surti.

Mungkin kalian bertanya, kenapa bisa kami berpisah padahal nggak butuh waktu lama buat menikah?

Alasannya simpel dan sederhana. Karena saat itu gue melihat Doni belum sebaik yang gue mau. Meskipun dia sudah cukup berusaha, tetapi gue masih ngerasa ‘hijrah’ yang dia tempuh belumlah maksimal. Kayaknya gue merasa jadi sok pinter ketika memutuskan menolaknya dan akhirnya kami batal menikah.

Alasan yang nggak masuk akal. Sebuah kecerobohan yang membuat gue tiba-tiba menyesal. Alia gadis yang baik. Tentu saja dia pantas bersanding dengan Doni yang nggak lama gue tahu sudah hafal setengah dari Alquran.

Dan gue, masih berada pada tempat yang nggak jauh berbeda dari sebelum hijrah dulu. Kadang, ketika loe merasa berada di atas, jangan sekali-kali meremehkan orang lain yang sedang berproses. Belum tentu loe bakal sebaik dia pada akhirnya. Dan kenyataan itu kini menusuk bagaikan sembilu. Gue ingat, nggak satu orang pun boleh menyombongkan diri kecuali Allah. Dan gue, udah bersikap layaknya Firaun yang berlagak seperti Tuhan. Padahal, buat menerima kenyataan saja rasanya sulit.

"Kita tetap sahabat, kan?" Alia menunggu dengan cemas.

Gue mengangguk, dan mengusap tangis terakhir di sore itu.


Salam hangat,

Featured image: Photo by Shohib Tri on Pexels

 

Friday, January 5, 2018

Kata Hati

Ziyad mungkin saja tidak menyadari, sejak obrolan tanpa sengaja dengan Raifa, gadis berparas manis itu pun sempat merasa gugup setiap kembali ke rumah yang sama.


Mungkin lelaki yang sempat salah tingkah di hadapannya telah membuat perubahan besar. Sepanjang jalan pulang, Raifa tak henti-hentinya tersenyum mengingat kejadian itu. Banyak hal menggelikan, termasuk bagaimana Ziyad tak bisa menjawab pertanyaannya, benar-benar serupa anak kecil yang ketahuan mencuri. Ya, tepatnya mencuri pandang ke arahnya.


Tapi, Raifa cukup tahu diri. Ibu Ziyad telah berbaik hati padanya selama ini. Keluarga Ziyad yang terpandang dan dikenal kaya raya itu selalu menawarkan bantuan, bahkan tanpa perhitungan. Jika Raifa jatuh hati pada pemuda tampan itu, bisa jadi keluarganya justru sangat membencinya, menganggap dia tidak tahu diri bahkan seperti orang yang diberi hati tapi malah meminta jantung.

Raifa pun menyimpan rapat-rapat perasaannya. Sayangnya, wanita lima puluh tahun yang biasa dipanggilnya ibu itu tiba-tiba memanggilnya ke ruang tamu, tepat setelah Ziyad kembali ke Jakarta.

Hati Raifa melompat tak beraturan. Bisa jadi pertanda buruk atau justru sebaliknya. Meskipun telah berbaik sangka, tapi gadis desa dengan penampilan sederhana itu tak bisa menyembunyikan ketakutannya.

Ibu hanya berpesan, jika Raifa dan keluarganya butuh sesuatu, beliau akan selalu membantu. Tapi, saat ini ibunda Ziyad merasa tidak lagi membutuhkan tenaga Raifa.

“Mungkin kamu bisa mencari pekerjaan yang jauh lebih baik,” jelas ibunda Ziyad sambil menyerahkan sebuah amplop berukuran sedang.

Sebenarnya Raifa tak bisa menebak, apakah alasan yang sebenarnya disimpan rapat oleh ibunda Ziyad. Bisa jadi beliau memang berkata jujur dan apa adanya, meskipun masih terdengar aneh dan sangat tiba-tiba. Tapi, gadis manis itu tak perlu menanyakan terlalu banyak, bisa-bisa dia dianggap lancang.

Setelah membereskan semua tugasnya, Raifa segera pamit. Meskipun cukup kaget dan sedih, tapi Raifa mencoba menerima semuanya dengan lapang dada. Rezeki dari Allah, yang menjaga dan memberi juga Allah. Raifa tak perlu mengkhawatirkan lebih banyak tentang sesuatu yang sebenarnya bukan menjadi urusannya.

Raifa pulang ke rumah tanpa bisa meninggalkan pertemuan manisnya dengan Ziyad. Entah kenapa, lelaki itu selalu saja muncul dalam pikirannya. Tidak di rumah, di jalan, bahkan ketika dia menyelesaikan semua pekerjaannya di rumah pemuda itu.

Harapan beterbangan serupa bunga kering di musim kemarau. Ada sesuatu yang janggal. Setiap kali Raifa mengingat rumah itu, yang terlintas bukan lagi soal keluarga Ziyad yang telah berbaik hati membantu keluarganya, melainkan lelaki berhidung mancung itulah yang selalu melempar senyum penuh rasa gugup ke arahnya.

Pantaskah gadis desa dan tidak punya apa-apa menyimpan rasa kepada sarjana muda dan berwibawa seperti Ziyad?

Raifa menggelengkan kepalanya berkali-kali. Dia bahkan mengetuk kepalanya sambil memejamkan mata. Membuat pandangan aneh ibu dan bapak tertuju padanya.

“Kamu kenapa?” tanya bapak.

Raifa menggeleng, “Tidak ada, sungguh hanya sedikit pusing.”

Meskipun kabar buruk tadi siang sudah sampai di telinga bapak dan ibu, tetapi keduanya memilih pasrah dan tidak mengumbar rasa sakit serta kecewa. Sebagai manusia, mereka hanya bisa pasrah dengan apa yang telah ditakdirkan, mungkin ada rencana lain yang jauh lebih manis untuk Raifa, putri mereka satu-satunya.

****

Apa yang kamu lakukan ketika tiba-tiba hati dan pikiranmu hanya tertuju pada satu orang? Jika saja semua kisah itu berjalan mulus, pastinya tak perlu ada rasa sakit menusuk hati. Sayangnya, hampir sepanjang hari, Ziyad tak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya. Entah kalimat ibu yang terlalu menyentak, ataukah gadis manis itu yang mengetuk hatinya tiada henti.

Membahagiakan orang tua merupakan kewajiban. Dan kalimat itulah yang selalu terpatri di dalam hati Ziyad selama ini. Jika mencari pasangan, bukan hanya untuk membahagiakan dirinya saja, tapi juga demi menjaga hati kedua orang tua. Jika ibu tidak merestui keinginannya meminang Raifa, lalu apa lagi yang harus dia perjuangkan?

Jika memaksa, pastilah akan ada hati yang tersakiti. Dan Ziyad merasa tidak pantas melakukannya terutama kepada orang yang telah berjasa membesarkannya selama ini.

Ziyad menekan sebuah nomor, tetapi urung dan dengan kasar dia melempar handphone ke tempat tidur. Untuk kedua kalinya, Ziyad  menekan nomor yang sama. Sayangnya, dia pun tak cukup berani melakukannya. Hanya ingin, kemudian urung. Seperti itu hingga dia pun merasa kepalanya cukup pening.

Ketika Ziyad mengambil handphone-nya kembali entah untuk keberapa, tiba-tiba dering telepon mengagetkannya.

Ibu?

Ziyad menjawab telepon dengan nada sewajar mungkin. Ibu pasti tahu dia sedang memikirkan sesuatu. Termasuk masalah kemarin yang sempat disinggungnya.

“Ibu minta maaf,” kalimat pertama yang Ziyad dengar dari ibunya membuat hatinya gelisah, bahkan semakin gelisah.

“Jadi, kapan kamu mau melamar Raifa, Nak?”

“Apa? Ibu bercanda?” Ziyad terperanjat, nyaris tak bisa dipercaya.

“Kapan ibu pernah bercanda denganmu?”

Ziyad tersenyum. Mungkin rona kemerahan di wajahnya tak bisa dilihat oleh sang ibu. Tapi, Ziyad merasa pipinya menghangat. Gadis itu mungkin saja akan terkejut mendengar kabar itu. Sama terkejutnya ketika Ziyad mendengar hal yang sama.

Niat baik tentu akan menemukan jalannya. Tidak baik mengorbankan rasa hormat serta baktimu kepada orang tua hanya karena sebuah rasa. Doa dan kebahagiaan orang tualah yang menghantarkanmu pada kebahagiaan yang sesungguhnya.


Salam hangat,

Tuesday, January 2, 2018

Choco Silky Pudding dengan Vla Vanilla, Mudah dan Enak!

Assalamualaikum…

Alhamdulillah, kali ini saya ingin share salah satu varian pudding favorit keluarga tercinta. Yup, choco silky pudding yang lembut plus vla vanilla yang harum menggoda.

Beberapa waktu lalu, saya sempat membuat pudding ini untuk acara keluarga, sayangnya saya hanya membuat pudding coklatnya saja. Melihat penampilannya, sepertinya masih kurang asyik, akhirnya terpikir untuk membuat vla vanillanya sendiri dan kemudian ditambahkan di atasnya. Hasilnya? Ternyata semua suka dan rasanya memang enak, masya Allah!

Kalau malas, sebenarnya teman-teman bisa membuat vla instan. Tapi, saya pribadi entah kenapa kurang suka dengan vla instan. Ada rasa yang kurang pas di lidah atau memang lidah saya yang ndeso, ya..he. Pokoknya nggak terlalu suka.

Resep ini cukup mudah dan teman-teman bisa mendapatkan kurang lebih sekitar 19 cup pudding berukuran lumayan besar seperti pada gambar.

Bahan pudding:

2 sachet nutrijel coklat berukuran kecil

10 sdm gula pasir atau sesuaikan dengan selera

2 sdm coklat bubuk

2 sdm krimmer bubuk (Boleh skip)

2 sachet susu bubuk rasa coklat

1 kaleng susu kental manis coklat

1500 ml air

1 sdm maizena, larutkan dengan sedikit air

 

Bahan vla:

500 ml susu cair

1 kuning telur

4 sdm gula pasir atau sesuaikan dengan selera

Sejumput garam

1 sdm maizena

1 sdt vanilla essence

Cara membuat:

  1. Campurkan semua bahan pudding kecuali larutan maizena. Aduk rata dengan wisk sampai tidak bergerindil sambil nyalakan api kecil-sedang. Jika perlu ambil saringan dan saring bagian atas yang biasanya masih bergerindil dan tidak tercampur rata. Tekan-tekan dengan sendok supaya semua bahan bisa tercampur.

  2. Sesaat akan mendidih, masukkan larutan maizena. Aduk rata dengan wisk dan biarkan mendidih, matikan.

  3. Tuang pudding dalam cetakan dan biarkan sampai dingin.

  4. Panaskan susu cair untuk membuat vla. Matikan api setelah muncul gelembung-gelembung kecil pada bagian pinggirnya.

  5. Campur kuning telur dan bahan sisa lainnya. Aduk rata dan masukkan ke dalam susu cair yang telah dihangatkan tadi. Aduk cepat dengan wisk sampai rata kemudian nyalakan apinya. Aduk-aduk sampai mendidih dan matikan api.

  6. Tuang vla vanilla ke dalam pudding yang telah dingin. Simpan di dalam kulkas dan sajikan dingin!

Itulah resep mudah membuat choco silky pudding dengan vla vanilla yang lezat. Teman-teman bisa membuat varian rasa lainnya, lho. Misalnya saja pudding rasa jambu ataupun yang lainnya. Sesuaikan saja bahan-bahannya. Misalnya saja coklat bubuk diganti dengan nutrisari. Gampang, kok, dan pastinya anti gagal, ya :D

Yuk, dicoba, lumayan banget bisa makan sepuasnya kalau bikin sendiri..he. Selamat mencoba!


Aneka Rasa Puding


Yups! Kita bisa membuat aneka rasa puding dengan satu resep di atas, lho. Kalau kamu suka varian rasa buah, kamu bisa membuat berbagai macam rasa buah dengan menambahkan serbuk minuman buah ke dalam puding yang dibuat. Susuk kental manis cokelat bisa diganti dengan vanila. Sedangkan nutrijel cokelat bisa banget diganti rasa buah sesuai selera kamu.

Lebih variatif lagi dong rasanya dan pastinya seger banget, lho terutama kalau disantap selagi masih dingin. So, setelah puding mencapai suhu ruang, bisa disimpan di dalam kulkas sebelum disantap. Resep ini menjadi resep andalan banget karena memang secocok itu dan seenak itu.

Seringnya bikin pas lebaran gitu buat dibagikan pada keluarga dekat. Abis makan opor, bisa deh makan puding biar nggak eneg dengan olahan santan. Gimana, ada yang tertarik nyoba nggak nih varian rasa buahnya? Saya pernah coba rasa mangga dan jambu,  sama-sama enak dan yummy!

Sala hangat,

Monday, January 1, 2018

Gadis Pilihan Ibu

“Kamu pikir cari istri itu mudah?”

Ziyad menaikkan kedua alis tebalnya sambil memelototi Karim, sahabatnya.

“Lah, orang ganteng dan mapan seperti kamu juga susah cari pendamping? Hm, apalagi yang modal nekat seperti aku,” celetuk Karim disusul gelak tawa dari keduanya.

Meskipun telah memasuki kepala tiga, sampai detik ini, Ziyad masih belum menentukan siapa calon pendamping hidupnya nanti. Bisa jadi seperti tuduhan kakak iparnya, karena terlalu sibuk mengejar karier, Ziyad jadi lupa bagaimana rasanya jatuh hati.

Ziyad sudah menyangkalnya berkali-kali, tetapi alasan itu memang tampak pas dengan sosok bertubuh tinggi itu. Berangkat pagi, pulang saat semua orang telah terlelap. Bahkan hari libur pun dia korbankan demi menyelesaikan pekerjaan.

“Buat apa, sih kerja siang malam kalau nggak menikmati, Nak?” tanya Ibu suatu kali ketika mereka sedang duduk santai di ruang tamu.

Ziyad terbatuk-batuk mendengarnya, “Saya menikmatinya kok, Bu.”

“Kerja terus nggak nikah-nikah. Terus gimana? Ibu pikir kamu sedang menunggu seseorang,” lanjut Ibu.

Hampir saja sesapan teh manis yang tersisa di mulutnya menyembur keluar, “Seseorang? Sepertinya tidak ada, Bu.”

“Nak, ibu itu yang melahirkan kamu, merawat kamu sampai sebesar ini. Masa ibu sendiri nggak tahu keinginan kamu?”

Ziyad hanya melongo melihat ibu meninggalkan ruang tamu tanpa basa basi lagi. Jantung Ziyad lepas kendali. Melompat tinggi dan mengempas sampai ke dasar. Ziyad menepuk keningnya sendiri, kemudian menyandarkan kepalanya yang tiba-tiba pening pada sofa berwarna toska.

“Sejak kapan ibu tahu semua ini?”

****


Ketika pertama kali bertemu, Ziyad tahu, perempuan berpenampilan sederhana itu adalah wanita baik-baik. Dia sering terlihat datang pagi-pagi ke rumah Ziyad, sekadar membantu ibu yang sudah tua, menyiapkan sarapan untuk Ibu dan Bapak serta secangkir teh hangat untuk dirinya.

Ibu tidak pernah bercerita, entah sejak kapan Ibu mempekerjakan gadis itu. Hanya saja, akhir-akhir ini, saat Ziyad pulang dan mengambil cuti, gadis itu hampir tidak pernah absen datang ke rumah.

Di Jakarta, bukan hal sulit mencari perempuan berwajah cantik, bahkan yang secantik selebriti pun bisa dilihat di mana saja. Sayangnya, Ziyad tidak pernah tertarik. Jangankan jatuh hati, sekadar suka pun tidak bisa.

Namun, diam-diam gadis berjilbab marun itu mengetuk pintu hatinya yang sempat tertutup rapat, bahkan sangat rapat hingga tak seorang pun bisa memasukinya. Ziyad menyadari, sudah beberapa detik dia lewati dengan mencuri pandang ke arah gadis yang tengah sibuk mengaduk teh hangat di meja dapur. Sepasang bola matanya yang bulat kemudian terkejut melihat Ziyad yang sedang berdiri mematung di dekat meja makan.

“Ada yang bisa dibantu, Mas?” katanya gugup hingga nyaris tidak terdengar.

Dan lebih memalukan, bujang 30 tahun itu justru jauh lebih gugup sampai-sampai tidak bisa mengatakan apa pun kecuali gelengan kepala serupa anak kecil yang sedang ditanyai oleh orang asing. Menggelikan, namun cukup meninggalkan kesan tersendiri di hati pemuda berkulit sawo matang itu.

Sejak saat itu, Ziyad ingin tahu lebih banyak tentang gadis desa yang ternyata bernama Raifa.

“Dia masih 20 tahun, Nak. Masa mau kamu nikahin?” kalimat Ibu yang tiba-tiba menyentak kesadaran Ziyad.

Dua puluh tahun sudah cukup umur. Bahkan gadis itu terlihat sangat cekatan ketika membantu Ibu di dapur. Itu yang Ziyad pikirkan saat menyangkal pernyataan ibunya. Dewasa itu bukan soal umur, kan? Banyak gadis berusia di atas 20 tahun yang sifatnya bahkan masih kekanakan.

“Ibu tidak suka?” tiba-tiba Ziyad memotong tanpa basa basi.

Raut wajah Ibu seketika pasi. Sebelum meninggalkan Ziyad, Ibu sempat menatapnya tajam. Pandangan yang tak pernah dia terima selama puluhan tahun tinggal bersama ibunya sendiri.

****


Belakangan, Ibu sering mengirim foto-foto gadis cantik di kampungnya kepada anak bungsunya yang sudah tak lagi muda. Ziyad sempat protes, tapi Ibu semakin menjadi. Sehari bisa ada dua sampai tiga foto.

“Kenapa Ibu tidak bertanya pada Ziyad, sebenarnya siapa yang Ziyad inginkan selain gadis-gadis yang Ibu kenalkan?”

Ibu tiba-tiba saja mendehem. Terdengar suara batuk yang dibuat-buat dari seberang telepon.

“Raifa sudah tidak bekerja di sini. Jadi, kamu lupakan saja gadis itu.”

Meskipun tampak kaget, tapi Ziyad berusaha mengontrol nada suaranya. Bukan hal baik mendebat orang tua terutama pada wanita yang telah melahirkannya.

“Ziyad harus tahu alasannya, Bu.”

“Karena dia tidak pantas buat kamu, buat keluarga kita. Apa kata orang nanti, Nak. Sarjana kok nikahnya sama pembantu.”

Astagfirullah. Rasa sakit melindap hatinya pelan. Meskipun telah tinggal lama dengan Ibu, tak sekalipun terpikir alasan itu bisa muncul dari mulutnya. Walaupun mereka termasuk orang berada di kampungnya, tapi keluarga Ziyad selalu rendah hati dan terlihat sangat berempati kepada orang di sekitarnya. Rasanya janggal sekali ucapan Ibu barusan. Jauh dari kesan santun yang selama ini dilihatnya.

Ziyad memilih segera mengakhiri telepon. Tidak baik banyak bicara ketika sedang marah. Bisa-bisa tanpa sadar dia menyakiti hati ibunya.

Di rumah yang dia sewa dengan ukuran tak seberapa luasnya, Ziyad menatap langit-langit kamar. Mengingat sikap Ibu membuat hatinya ngilu. Masih zamankah mencari pendamping hanya karena kaya dan terpandang? Padahal, akhlak mulia bisa mengalahkan semua.

Meskipun merasa patah hati atas sikap ibunya, tapi Ziyad percaya, jodoh tidak akan ke mana-mana. Dia hanya butuh bersabar hingga Ibu mau mengiyakan keinginannya atau menanti bertambahnya usia Ziyad tanpa seorang perempuan pun mendampingi. Itu bahkan terlihat amat buruk. Ibu tentu tidak ingin itu sampai terjadi.

Pemuda berhidung mancung itu memejamkan mata. Berharap esok ada kabar baik dari seberang telepon, tentang kepastian restu pernikahannya dengan gadis sederhana yang pernah ditemuinya beberapa kali tepat ketika dia pulang saat cuti liburan tahun baru. Perasaan yang mekar serupa kelopak bunga, kini harus menguncup kembali.

Meskipun terdengar sederhana, tapi hati siapa yang bisa menerima? Ketika hal itu terjadi padamu, apa yang bisa kamu lakukan selain menatap langit-langit kamar yang mulai kusam?

Ziyad memutuskan menyudahi lamunannya. Sayangnya, gadis berparas ayu itu justru hadir dalam mimpi. Apakah ada yang bisa menghindari jatuh cinta yang tiba-tiba ini?