Tuesday, June 15, 2021

Resep Membuat Kue Lumpur Tanpa Oven

Resep Membuat Kue Lumpur Tanpa Oven
Yuk, sajikan kue lumpur tanpa oven di rumah (Photo: Asianfoodnetwork.com)


Saya senang memasak atau membuat kue, terutama selama pandemi. Kemudahan mencari informasi di dunia maya, termasuk mencari resep yang mudah dicoba, menjadikan saya semakin rajin menyajikan makanan di meja makan. Iya, masak sendiri itu lebih nyaman dalam kondisi seperti sekarang. Selain lebih terjamin kebersihan serta bahan-bahannya, aktivitas ini bisa menjadi salah satu alternatif untuk menghilangkan kebosanan. 


Males di rumah terlalu lama, tapi mau keluar rumah juga parno. Akhirnya, saya melakukan banyak hobi lama, termasuk nge-baking. Sekalian ajak anak-anak juga biar terhibur. Agak riweh memang kalau mau masak bareng mereka, tapi happy banget apalagi kalau mereka ikut senang dan menikmati juga.


Dapur jadi berantakan? Itu salah satu risikonya…hihi. Ajak anak-anak juga untuk membantu membereskan. Mereka akan dengan senang hati membantu, kok asal kita mau ngasih kesempatan. Dan inilah yang saya terapkan kepada anak-anak. 


Salah satu peralatan yang diperlukan bagi yang suka bereksperimen di dapur untuk membuat kue adalah oven. Dengan oven, akan memudahkan kita membuat berbagai macam kue yang bisa dinikmati sendiri maupun dijual. 


Misalnya, saya sering membuat roti sendiri, entah itu roti tawar atau roti manis isi berbagai macam selai. Bikinnya nggak terlalu sulit, kok. Butuh lebih sabar saja karena mesti proofing hingga beberapa kali untuk menghasilkan roti yang lembut.


Biasanya, anak-anak ikut bantu membentuk adonan roti menjadi bentuk yang mereka inginkan. Saya bebaskan mereka dan dengan senang hati saya berikan sebagian adonan supaya mereka senang bisa dapat bagian ‘membantu’ sambil bersenang-senang. 


Selain roti, saya juga senang membuat bolu pakai oven. Pokoknya, oven ini berguna banget karena banyak sekali jenis kue yang bisa kita buat di rumah. Termasuk juga kue kering yang biasa menghiasi meja tamu saat lebaran dan nggak bisa mudik seperti dua tahun terakhir.


Baking Tanpa Oven, Bisa Nggak, ya?

Resep Membuat Kue Lumpur Tanpa Oven
Ada banyak resep kue tanpa oven yang bisa kita coba (Photo by Kristina Tripcovic on Unsplash)


Akan tetapi, bagi pencinta kue yang tidak mempunyai oven di rumah, tidak perlu khawatir. Masih ada banyak varian kue yang bisa dibuat tanpa menggunakan bantuan oven dan cukup menggunakan rice cooker ataupun kompor yang ada di rumah. Terutama untuk ibu-ibu muda yang baru menikah dan belum jago nge-baking. Nggak perlu khawatir nggak bisa bikin kue, karena memasak atau ngebaking nggak harus pakai peralatan mahal dan merepotkan. Cukup dengan perkakas yang ada di rumah saja dan manfaatkan dengan sebaik-baiknya.


Waktu awal menikah, saya juga nggak jago masak, kok. Malah serba nggak bisa apa-apa karena selain masih muda, saya juga nggak ada pengalaman sering masak sendiri selama masa sekolah. Di pesantren, kami tidak diperkenankan memasak sendiri karena khawatir membuat kami kehabisan waktu dan capek. Sedangkan aktivitas belajar padat banget selain sekolah formal.


Pas udah nikah, kayak nggak tahu apa-apa selain masak nasi pakai rice cooker…kwkwk. Sedangkan sosial media nggak semudah sekarang, apa-apa serba susah. Beli buku resep pun sering nggak jelas isinya. Selalu nggak berhasil pokoknya.


Namun, kita nggak boleh menyerah. Semua akan bisa karena terbiasa. Saya pun percaya meski lebih banyak nggak percayanya, terutama ketika melihat hasil masakan nggak ada yang bener…hihi. Sudah capek-capek bikin sesuai resep, kok hasilnya gini? Hiks. Sering banget ngalamin semua itu.


Seiring berjalannya waktu, akhirnya pinter juga, kok. Masih ingat juga pertama kali bikin roti dan berhasil, terharu banget dan bangga banget, lho. Sebelumnya, entah berapa kali gagal bikin roti. Padahal, ngulennya aja sudah sampai tengah malam, tapi ujung-ujungnya bantetlah atau malah nggak matang dengan sempurna.


Setelah berhasil, akhirnya berani nyoba lebih banyak resep lagi. Karena aktivitas lumayan padat, tapi mesti nyiapin sarapan serta bekal sekolah untuk anak, akhirnya lebih banyak nyoba resep-resep simpel yang nggak membutuhkan oven untuk proses memasaknya. Iya, cukup pakai Teflon, cetakan kue cubit, dll.


Resep Kue Tanpa Oven

Resep Membuat Kue Lumpur Tanpa Oven
Senangnya bisa ajak anak-anak membantu di dapur (Photo by Hannah Tasker on Unsplash)


Salah satu kue yang tidak membutuhkan oven untuk membuatnya adalah kue lumpur yang mempunyai rasa enak dan tampilan sederhana. Siapa yang nggak tahu kue lumpur? Biasanya, kue lumpur jadi kue wajib dalam acara hajatan dalam keluarga besar saya. Selain mudah dibuat, rasanya juga enak. lembut dan gurih.

 

Untuk membuat kue lumpur, kita hanya membutuhkan bahan sederhana, yaitu:

  • Gula pasir 250 gram
  • Telur 2 butir
  • Kuning telur 1 butir
  • Santan 500 ml
  • Tepung terigu serbaguna 250 gram
  • Kentang kukus 500 gram, lumatkan hingga halus
  • Margarin blueband 100 gram, cairkan terlebih dahulu
  • Vanili ½ sendok teh
  • Daun pandan 2 lembar, simpulkan
  • Kismis secukupnya untuk topping

 

Cara membuat kue lumpur tanpa oven:

  • Rebus santan terlebih dahulu. Tambahkan garam dan daun pandan. Aduk hingga mendidih dan angkat. Biarkan hingga dingin.
  • Kocok telur. Tambahkan gula, kemudian masukkan vanili.
  • Tuang santan pada adonan yang dibuat sedikit demi sedikit. Masukkan terigu dan kentang.
  • Aduk rata dan campurkan blueband yang telah dicairkan.
  • Panaskan cetakan dan olesi dengan margarin. Tuang adonan yang telah dibuat secukupnya saja.
  • Masak setengah matang, kemudian berikan topping berupa kismis.
  • Tunggu hingga matang dan kue lumpur siap dinikmati.

 

Resep membuat kue lumpur di atas mudah untuk diikuti karena mempunyai bahan dan peralatan yang sederhana. Untuk mendapatkan bahan tersebut juga sangat mudah, salah satunya bisa didapatkan dari TokoWahab yang merupakan distributor bahan kue online, sehingga menawarkan banyak sekali bahan yang bisa dipilih dan didapatkan. Mulai dari coklat lengkap, keju,  tepung, berbagai bahan topping, mentega dan banyak bahan kue lainnya.


Belanja Online Lebih Aman

Resep Membuat Kue Lumpur Tanpa Oven
Belanja online di masa pandemi lebih banyak diminati (Photo by Lucrezia Carnelos on Unsplash)


Teman-teman pasti setuju, jika belanja online sangat membantu terutama dalam kondisi pandemi seperti sekarang. Saya, selama dua tahun ini, benar-benar nggak pernah pergi ke pasar untuk sekadar belanja kebutuhan sehari-hari. Mending beli online jika berupa bahan-bahan kering seperti bahan-bahan kue, dll.


Buat saya, selain hemat waktu, juga hemat tenaga dan tentu saja jauh lebih aman. Jika teman-teman punya toko bahan-bahan kue, bisa banget belanja grosir di TokoWahab. Selain menjual bahan-bahan kue yang kita butuhkan, TokoWahab juga menjual peralatan kue, lho. Kerennya, bisa kirim ke seluruh wilayah di Indonesia.


Selain kue lumpur, ada banyak resep kue-kue tradisional tanpa oven. Misalnya kue cubit, kue cucur, bolu kukus, dll. Yuk, kita mencoba berbagai resep sederhana di rumah. Lumayan banget buat ngisi waktu kosong dan menghibur diri.


Salam hangat,


Saturday, June 12, 2021

Cerita di Balik Proses Menulis Buku Belajar Jadi Lebih Baik

Cerita di Balik Proses Menulis Buku Belajar Jadi Lebih Baik


Sudah baca buku terbaru saya yang terbit di Genta Hidayah? Judulnya Belajar Jadi Lebih Baik. Buku ini seperti jawaban atas doa-doa saya. Juga atas impian yang malu-malu saya sampaikan. Karena merasa minder dan hampir nggak percaya bisa melakukannya. Sampai detik ini, rasanya kayak mimpi bisa ngerjain ilustrasi sendiri. Pernah ada di posisi seperti saya? :D


Tahun lalu, saya pernah menulis caption di Instagram, berharap tahun 2021 ada buku terbit dan saya ilustrasikan sendiri. Dan buku Belajar Jadi Lebih Baik seolah menjadi jawaban atas keinginan yang malu-malu saya ungkapkan pada tahun sebelumnya.


Gambar-gambar yang saya buat dalam buku ini memang terbilang terlalu cepat pengerjaannya, kayak di-uber-uber waktu cetak. Gambarnya sudah pasti masih jauh sekali dari sempurna. Namun, saya bersyukur bisa menyelesaikan semuanya tepat waktu.


Dalam usia saya yang sudah nggak lagi muda, rupanya saya masih senang mengejar impian. Kadang, suka lupa sama umur kalau sudah ngerjain banyak hal yang saya suka. Apalagi kerjaan saya memang bukan pegawai kantoran. Saya bekerja di rumah, waktunya fleksibel, dikerjakan saat saya longgar dari kewajiban mengurus rumah dan anak-anak, pokoknya senyamannya aja dikerjain. Dan ya, sepertinya inilah hidup yang saya inginkan, masyaallah.


Saya bersyukur sekali karena punya pasangan yang sangat mendukung. Mas tahu saya nggak suka keluar rumah, pekerjaan saya sebagai penulis dan ilustrator sudah yang paling nyaman. Nggak harus interaksi dengan banyak orang secara langsung sebab itu bukan 'saya' banget. Saya pun bersyukur karena Mas ngasih izin dan juga membantu ketika saya membutuhkan.


Usia Bukan Alasan Untuk Berhenti Bermimpi

Cerita di Balik Proses Menulis Buku Belajar Jadi Lebih Baik


Saya menikah di usia 19 tahun. Kemudian ikut suami ke Jakarta dan menetap hingga sekarang. Waktu awal menikah, saya nggak kepikiran mau ngapain aja di rumah. Demi mengusir rasa bosan, saya melakukan banyak hal, misalnya bikin kerajinan dari kertas krep, bikin bunga koran, merajut, menyulam, ya ampun banyak banget hal yang saya kerjakan selain menulis waktu itu :D


Sambil nunggu Mas pulang kerja, saya ngerjain semua itu bergantian. Sesukanya aja. Sampai rumah penuh dengan bunga-bunga kertas buatan saya…kwkwk. Belum kebayang bakalan nulis lagi dan nggak tahu juga mau di kemanain tulisannya. Nggak kenal penerbit, nggak tahu apa-apa pokoknya. Intinya, tahun-tahun awal menikah, saya nggak kepikiran bakalan nulis cerita lagi seperti saat di pesantren.


Waktu berlalu begitu lambat. Iya, kalau sekarang ngebayangin kayaknya lambat karena itu bukan tahun-tahun yang mudah terutama untuk ibu muda seperti saya. Setelah anak-anak cukup besar, saya mulai menulis lagi dan mulai belajar lagi hingga sekarang.


Pencarian atas sesuatu yang saya inginkan rupanya nggak semudah yang orang bayangkan. Saya sempat rehat sekian tahun dan berhenti menulis, saya pernah gagal menerbitkan buku meski telah menunggu hingga sekian tahun. Banyak hal telah saya lalui dan saya beryukur bisa tetap menulis hingga sekarang. Rasanya, bahagia.


Ternyata, makin bertambah usia, makin senang saya mengejar impian yang telah lama terlupakan. Salah satunya menjadi penulis. Perjalanan menjadi penulis buku nggak serta merta terjadi begitu saja. Saya pernah fokus menulis artikel selama beberapa bulan, saya pernah hanya fokus ngeblog sampai puas, saya pernah hanya fokus menulis buku dan mengabaikan blog, hingga akhirnya saya tahu, saya senang melakukan semuanya. Nah, lho. Repot, kan kalau semua dikerjain? Kwkwk.


Akhirnya, harus pandai-pandai bagi waktu. Nggak semua bisa kita kerjakan sesuka hati karena waktu kita amat terbatas. Terutama karena saya sudah menjadi seornag ibu dan punya dua anak laki-laki yang sedang tumbuh. Di rumah nggak ada yang bantuin, kalau nulis mulu, bisa-bisa rumah berantakan dan anak-anak nggak makan…kwkwk. 


Solusinya gimana? Kalau saya sedang sibuk mengurus blog, saya nggak akan memaksa diri menyelesaikan naskah dalam waktu yang sama. Ketika saya sibuk menulis artikel, saya nggak mungkin ngeblog sering-sering. Dan itulah yang saya kerjakan sampai sekarang. 


Lakukan sesuai porsi kemampuan kita. Setiap orang punya kemampuan berbeda, jadi jangan melihat orang lain, lihatlah diri kita sendiri, mampu nggak ngerjain semuanya? Kira-kira ada kewajiban yang diabaikan nggak kalau maksa ambil semua pekerjaan?


Impian memang menjadi salah satu alasan bagi kita untuk tetap bersemangat menjalani hidup. Namun, kita tidak boleh egois juga dengan kehidupan nyata. Apa gunanya kita berhasil, tapi di sisi lain ada bagian yang ‘gagal’? 


Pintar-pintar saja membagi waktu, jadi ibu-ibu bukan alasan untuk berhenti bermimpi *eaa. 


Menulis Buku Sekaligus Bikin Ilustrasi

Cerita di Balik Proses Menulis Buku Belajar Jadi Lebih Baik


Buku terbaru saya ini disertai ilustrasi pada setiap babnya. Jadi, teman-teman bakalan menemukan banyak ilustrasi khas saya. Iya, saya tahu belum bagus, tapi saya sudah berani menyelesaikan semua, lho. Saya juga telah memulainya, gimana dengan kamu? :D


Saya itu sangat percaya, semua hal bisa dikerjakan bukan hanya tergantung pada bakat seseorang, melainkan juga dari usaha dan latihan yang gigih. Dan semua dimulai dari bawah alias nol.


Penulis hebat, nggak mungkin tiba-tiba jadi hebat. Dia mulai belajar dari nol, dia membuang rasa takut serta ragu, belajar setiap hari tanpa kenal lelah, hingga akhirnya kita bisa lihat penulis-penulis hebat seperti Tere Liye atau Asma Nadia. 


Buat saya, segala sesuatu itu nggak harus sempurna. Ketika saya membuat buku ini, saya tahu gambar saya nggak sebaik milik orang lain, bahkan saya baru belajar banget. Tapi, kesempatan saya datang di saat itu, kalau saya menyerah, sudah pasti saya akan gagal dan siapa yang menjamin saya bakalan bisa dapat kesempatan yang sama di lain waktu?


Saya abaikan perasaan insecure dan meletakkan pada tempatnya. Karena yang saya butuhkan saat itu bukan rasa minder, melainkan keberanian dan komitmen untuk menyelesaikan semuanya tepat waktu. Soal bagus atau nggak, itu urusan belakangan. Karena mau bagus itu butuh proses dan jangan harap bisa sebentar. Dan saya menikmati prosesnya. Dijalanin aja apa susahnya, sih?


Tentang Buku Belajar Jadi Lebih Baik

Cerita di Balik Proses Menulis Buku Belajar Jadi Lebih Baik


Apa istimewanya buku ini? Selain berisi motivasi terutama bagi para remaja milenial, buku ini juga dilengkapi dengan quote serta ilustrasi pada setiap babnya. Buku ini ditulis dengan sangat ringkas, mudah dibawa karena ukurannya yang mungil, dan begitu spesial buat saya karena untuk pertama kalinya saya bisa membuat ilustrasi untuk buku saya sendiri. Eits, masih ada lagi, kita juga bisa share ilustrasi serta quote dalam buku ini lewat aplikasi yang telah disediakan. 


Gimana ceritanya bisa terbit? Ada banyak calon penulis yang pengin tahu dan tentunya pengin juga menerbitkan buku di penerbit mayor. Saya mau ceritakan sedikit prosesnya. 


  • Pertama, kita harus menyelesaikan satu naskah hingga rampung. Jangan lupa lakukan editing sebelum mengirimkannya pada penerbit. Kebanyakan, penulis baru masih acak-acakan tulisannya. Jujur, ini bikin mumet juga. Jadi, banyak belajar editing naskah sendiri supaya lebih rapi ketika diajukan pada penerbit.
  • Kedua, lengkapi naskah kamu dengan outline-nya juga. Dalam outline disertakan target pembaca, alternatif judul, dll. Outline biasanya kita buat sebelum mengerjakan naskah. Nanti, kirimkan juga outline ini saat melakukan pengajuan naskah, ya.
  • Ketiga, ajukan pada penerbit yang kamu inginkan. Kalau kamu pengin bikin buku disertai ilustrasi, kirimkan sampel gambarmu dan jelaskan konsep buku yang kamu inginkan. Supaya penerbit ada bayangan. Nggak usah takut apalagi malu, toh kita nggak kenal sama editonya, kok. Kecuali kalau kita mesti bertatap muka. Mungkin bisa pingsan duluan saking takutnya…kwkwk. Santai dan berdoalah :)
  • Keempat, sabar menunggu jawaban yang memang tidak sebentar. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, tanyakan kembali bagaimana hasilnya. Rata-rata penerbit butuh waktu sekitar 3 bulan untuk me-review naskahmu.


Lama, ya prosesnya? Nggak ada keberhasilan yang dicapai dalam waktu sekejap. Semua butuh proses yang nggak sebentar dan butuh kesabaran yang sangat besar. Kalau memang ingin, saya yakin kamu akan menunggu dengan sabar sambil menulis lagi dan terus belajar. Kalau memang cinta menulis, nggak akan kebanyakan alasan. Yuk, tetap semangat mengejar impian!


Salam hangat,


Tuesday, June 8, 2021

Pandai Membaca dan Pentingnya Budaya Literasi dalam Keluarga

Pandai Membaca dan Pentingnya Budaya Literasi dalam Keluarga


Waktu awal pandemi tahun lalu, mestinya si bungsu bisa sekolah untuk pertama kalinya. Dia sudah menunggu cukup lama dan sangat antusias. Melihat kakaknya sudah sekolah, dia pun ingin seperti kakaknya. Saya sebagai orang tua pun ikut senang andai dia bisa segera sekolah sesuai waktu dan usianya.


Sayangnya, masuk sekolah pertama kali dan mesti online seperti nggak masuk akal buat saya. Apalagi jika pihak sekolah belum sepenuhnya siap membantu anak-anak belajar online di rumah. Memaksa offline saja? Rasanya lebih nggak masuk akal lagi. Anak-anak usia TK lebih riskan tertular jika harus masuk sekolah.


Saya nggak mau ambil risiko, karena taruhannya nyawa. Anak-anak mungkin lebih kuat imunnya dibanding orang dewasa, tapi bagaimana jika mereka menularkan kepada yang lain terutama orang tua? Belum lagi, kebanyakan anak-anak usia TK, jangankan memakai masker dengan disiplin, rajin cuci tangan dan nggak sembarangan pegang-pegang pun sulit dihindarkan. Kebanyakan dari mereka belum mengerti. Tahu sendiri, edukasi soal apa pun nggak bisa instan caranya. Harus dibiasakan sejak lama terutama dari keluarga. Dan Indonesia sangat tidak terbiasa soal ini.


Sejauh pengalaman saya dulu ketika si Kakak baru masuk sekolah dan sering tertular batuk dan flu, tidak ada yang memakai masker. Ini mungkin terlihat aneh, ngapain anak kecil dipakaikan masker segala, sih? Sampai-sampai anak saya sering ditertawakan.


Saya ingin meminimalisir penularan virus kepada anak-anak yang sehat. Karena ruangan memakai AC dan berkumpul saat sekolah sangat memungkinkan menularkan virus. Saya ngerasain banget capeknya ketika anak sakit. Karena anak-anak saya nggak hanya sekadar flu dan batuk kalau sudah ketularan, tapi juga punya riwayat kejang demam serta otitis media akut.


Ketika salah satu dari anak-anak saya flu, mereka akan demam, tak jarang kejang demam terutama si sulung. Sedangkan si bungsu hampir setiap minggu mesti ke dokter THT untuk membersihkan cairan di telinganya yang keluar terus menerus ketika sedang kena common cold. Kebayang, gimana beratnya saya saat itu?


Tak jarang, saya juga sakit bersamaan dengan anak-anak. Itulah kenapa sejak dulu saya selalu mengajarkan anak-anak untuk menjaga kebersihan, rajin cuci tangan setelah pegang hidung atau mulut saat common cold serta memakai masker supaya tidak menularkan virus pada anggota keluarga yang lain.


Ketika pandemi dan si sulung akhirnya harus sekolah dari rumah, kondisi bolak balik kena batuk pilek atau common cold ini jauh berkurang atas izin Allah. Kami sehat, tidak flu atau batuk. Pengalaman inilah yang membuat saya mengurungkan niat untuk menyekolahkan di bungsu tahun lalu dan insyaallah dia baru masuk sekolah tahun ini.


Selama di rumah, dia sering merasa bosan terutama ketika kakaknya mulai zoom bersama teman-temannya. Dia mau ngapain? Setiap hari mainnya sama si Kakak. Akhirnya kepikiran juga supaya dia ikut belajar di rumah bersama saya.


Pandai membaca bukan prioritas utama saya. Saya bukan termasuk orang tua yang terburu-buru ingin anaknya lancar membaca. Tapi, saya ingin anak-anak senang melakukannya, bukan sekadar bisa. Budaya literasi di rumah sudah saya bangun sejak dini. Terutama saat si Kakak masih kecil.


Budaya Membaca Sejak Dini

Pandai Membaca dan Pentingnya Budaya Literasi dalam Keluarga


Dulu, waktu hamil anak pertama, saya hanya punya satu dua buku bacaan untuk anak-anak. Makin besar usia si sulung, makin banyak buku anak-anak yang saya beli untuk dia. Main gede lagi, dia makin senang beli buku sendiri setiap kami jalan-jalan ke mall. Kadang pakai uang saya, kadang dia pakai uang tabungannya untuk membeli buku yang dia suka.


Saat si bungsu lahir, buku bacaan anak yang kami punya sudah satu lemari lebih. Meski sudah disiapkan lemari khusus, buku-buku itu selalu berpindah-pindah tempat, ada di kamar saya, ada di ruang tengah, ada di kamar anak-anak, ada juga di lantai atas, dan tentu banyak di bawah bantal :(


Nggak bisa dihindari, jangan harap bisa rapi, karena anak-anak senang membaca buku di mana-mana. Sebelum tidur, saya biasa membacakan buku untuk mereka. Setelah Kakak sudah besar dan bisa membaca sendiri, tugas membacakan buku hanya dilakukan untuk di bungsu. Si Kakak sudah beda buku bacaannya dan lebih senang membaca sendiri.


Saya akui, anak-anak sangat senang dengan buku. Ketika ada buku baru, mereka nggak akan berhenti membaca sampai bukunya habis. Untuk si sulung, sampai takjub juga karena kemarin saya belikan buku Muhammad Al Fatih 1453 karya Ustadz Felix yang bentuknya bukan berupa buku anak-anak, tapi dia habiskan juga. Padahal, saya saja belum selesai baca.


Budaya literasi yang baik seperti ini tentu membuat semua jauh lebih seimbang. Andai anak saya sudah bisa membaca sejak dini, sepertinya bukan masalah karena dia senang melakukannya dan bukan sekadar bisa baca, tapi juga suka dan cinta :)


Belajar Membaca Tanpa Mengeja

Pandai Membaca dan Pentingnya Budaya Literasi dalam Keluarga


Beberapa bulan yang lalu, saya lupa tepatnya kapan, akhirnya saya membelikan si bungsu buku cara membaca berjudul 'Abacaga; Cara Praktis Belajar Membaca untuk Anak'. Model bukunya tuh unik dan beda dengan buku-buku lainnya. Kalau menurut saya, buku ini lebih mirip seperti buku Iqra’ yang buat ngaji. 


Warnanya pun dibedakan antara abu-abu dan hitam. Seingat saya, dalam waktu sebulanan atau lebih seidikit, si bungsu sudah menyelesaikan buku ini dan sekarang sudah bisa baca buku sendiri. Masyaallah.


Pandai Membaca dan Pentingnya Budaya Literasi dalam Keluarga


Waktu pertama kali dia bisa baca, dia takjub banget sampai meluk saya dengan spontan. Itu bikin saya jadi terharu. Kenapa? Karena, selama ini si Kakak belajarnya di sekolah dan banyak dibantu sama bu guru. Sedangkan si bungsu benar-benar belajar dengan saya di rumah. Rasanya terharu banget.


Saya itu nggak bisa mengeja. Jadi, jangan berpikir bahwa saya akan mengajarkan anak saya belajar membaca dengan mengeja. Nggak sama sekali. Dia belajar mengenal huruf kemudian membaca. Dan itu jauh lebih mudah buat saya secara saya nggak bisa ngeja...kwkwk.


Buku ini termasuk best seller. Dan menurut saya, sangat membantu dan recommended banget, sih. Kalau mengikuti panduannya, sehari anak-anak hanya diminta membaca selama 10 menit untuk 1 halaman. Simpel banget. 


Cinta Membaca Sejak Dini

Pandai Membaca dan Pentingnya Budaya Literasi dalam Keluarga


Setiap anak itu istimewa dan nggak akan sama dengan yang lainnya meskipun itu adalah saudara kembarnya sendiri. Begitu juga dengan anak saya yang bungsu ini. Kedua anak saya belajar mengaji bersama saya sejak kecil. Ini adalah kebiasaan orang tua yang diwariskan pada saya...hehe. Saya terbiasa mengaji bersama Ibu meskipun di halaman ada musholla. Ibu lebih senang mengajari saya mengaji sendiri di rumah.


Dan kebiasaan ini juga saya lakukan pada anak-anak. Buat si bungsu, belajar mengaji ini butuh waktu lebih lama ketimbang si sulung. Ngajinya pun nggak bisa anteng sambil duduk. Kadang sambil miring, tengkurap, dll. Semua saya ikuti dan saya telateni. 


Satu halaman bisa diulang hingga seminggu, lho. Karena saya mau memastikan dia benar-benar hapal dan paham dan nggak sekadar bisa baca saja. Kalau sampai salah, pemahaman itu akan dia pakai sampai besar nanti, Itu fatal banget. Alhamdulillah, saat ini dia sudah hampir rampung Iqra’ 4. Saya sabarin banget pokoknya. Sebab, dia berbeda dengan si sulung. Cara ngajarinnya juga beda. Cara meresponnya juga beda.


Ketika dia baru pindah ke halaman baru, dia langsung kusut banget wajahnya. Ngerasa nggak bisa duluan padahal belum dicoba. Jadi, saya biarkan dia membaca sebanyak yang dia mau. Misal hanya 2 baris, nggak masalah asal dia mau bukan dipaksa. Besoknya dia akan menambah jumlahnya sendiri hingga selesai.

 

Begitu juga saat belajar membaca. Saya nggak memaksa, dia lakukan sesuka hatinya. Kalau lagi nggak mau, ya sudah biarkan saja. Nanti dia akan minta sendiri. Sekarang, dia sudah bisa baca meski belum masuk sekolah. Dia juga sudah pandai menulis, meskipun belum sepenuhnya sesuai KBBI :D


Melatih Anak-anak Cinta Membaca 

Pandai Membaca dan Pentingnya Budaya Literasi dalam Keluarga


Gimana, sih caranya membudayakan literasi sejak dini? Biar anak suka membaca tanpa terpaksa? Berikan buku yang sesuai dengan usia mereka sejak dini. Jangan malas membacakan buku setiap hari.


Saking seringnya dibacakan buku, anak saya sampai hafal teks dalam buku-buku miliknya. Lucunya, ketika disuruh membaca sendiri, dia justru menghafalkannya…kwkwk.


“Wah, hebat. Adek sudah bisa baca?”

“Nggak, kok. Adek nggak baca. Adek hafal.”


Ngakak banget pas dengar dia bilang begitu. Jangan remehkan budaya literasi seperti ini. Karena banyak sekali manfaatnya, lho. Ayo, kita cari tahu manfaat membacakan buku untuk anak sejak dini,


  • Budaya membacakan buku sejak dini bisa membantu mereka mengenal kosa kata baru.
  • Membentuk bonding yang kuat antara orang tua dan anak-anak.
  • Membacakan buku sejak dini juga bisa membantu anak supaya lebih siap untuk membaca sendiri. 
  • Membuat otaknya aktif dan membantu memancing respon anak.
  • Membangkitkan minat baca sekaligus mengenalkan hal baru.
  • Meningkatkan imajinasi pada anak dan bisa membuat mereka lebih kritis.


Anak-anak yang biasa dibacakan buku sejak dini biasanya cenderung lebih mudah membaca sendiri ketika sudah siap. Setiap anak punya kemampuan yang berbeda-beda. Tugas kita bukan memaksa mereka supaya lekas bisa, tapi membantu mereka supaya senang dan siap melakukannya. Karena bisa dan mampunya mereka ada saatnya. Nggak perlu terburu-buru. Lakukan semuanya dengan menyenangkan dan sejak dini. Ingat, nggak ada yang instan di dunia ini, bahkan mi instan saja mesti direbus dulu, lho sebelum dimakan :D


Salam hangat,


Sunday, May 16, 2021

Lagi-lagi Nggak Mudik ke Kampung Halaman

Lagi-lagi nggak mudik


Taqabbalallahu minna wa minkum! Selamat Idulfitri, teman-teman. Sebulan ini belum ngisi blog sama sekali. Bukan karena sibuk mempersiapkan diri untuk mudik atau berhari raya, tapi nggak tahu dari kemarin sibuk ngapain aja selain sibuk jagain hati yang sudah dua tahun nggak bisa mudik…kwkwk. Sedih? Pastilah. Setahun nggak pulang aja rasanya aneh apalagi sampai sekarang ternyata nggak bisa mudik juga. Tapi, mau gimana lagi, ternyata harapan untuk pulang ke kampung halaman benar-benar nggak kesampean di tahun sekarang.


Dulu, harapannya tahun ini sudah bisa berpuasa tanpa parno dengan covid-19. Faktanya, covid-19 belum pulang kampung juga, lho. Nggak bisa juga bersikeras buat pulang, sementara di sana sini banyak kasus yang lumayan bikin keberanian turun sampai 180 derajat saking parnonya.


Kasus covid-19 nggak hanya mengancam lansia dengan penyakit beratnya, tapi juga yang masih muda bahkan yang belum 40 tahun. Qadarallah, memang sudah takdir Allah. Tapi, jadi nggak boleh seenaknya atau kita dianggap nantang maut dan nggak mau ikhtiar. Belum lagi pulang kampung fokusnya mengunjungi orang tua. Orang tua sudah sepuh, was-was banget dari kota pulang ke kampung, takut bahayain yang ada di sana.


Memang, banyak orang mudik, walaupun sambil maksa, nggak bisa disalahkan juga. Nggak mau nyalahin mereka juga karena paham banget rasanya jadi anak rantau memang nggak mudah. Banyak doain aja semoga mereka baik-baik aja dan kasus covid-19 segera turun dan hilang segera.


Lebaran di Jakarta, Ngapain Aja?

Lagi-lagi nggak mudik


Tahun ini memang sudah nggak separno dulu. Meskipun jujur, saya masih belum pengin ikut ngumpul-ngumpul. Saya memang lebih senang di rumah aja, karena suka gugup kalau ketemu banyak orang. Anak introvert, biasalah...kwkw. Namun, kelamaan di rumah aja juga salah. Akhirnya jadi serba salah....haha.


Lebaran hari pertama, shalat di masjid dekat rumah dibatasi khusus bagi jamaah laki-laki saja karena kondisinya bakalan penuh jika tidak dibatasi. Sedangkan masjid-masjid yang lain sengaja buka shaf sampai ke jalan-jalan, masuk gang-gang gitu juga supaya bisa jaga jarak.


Masak ketupat dan bikin opor sudah jadi tradisi sejak saya mulai rajin masak...kwkwk. Jadi, saya masak dong untuk lebaran tahun ini. Nggak bikin menu banyak karena serumah makannya hanya sedikit-sedikit asal incip. Besoknya aja sudah minta nasi goreng semua. Bisa kebuang kalau masak kebanyakan :(


Waktu menulis ini, masih ada sisa ketupat dan opor ayam di dapur. Nasibnya hanya diangetin tiap pagi dan sore hari. Sedangkan kami serumah mulai berpaling makan bakso dan nasi goreng.


Lebaran hari pertama saya mengunjungi tetangga dekat dan sekadar bermaaf-maafan dari teras saja. Nggak ada masuk-masuk ke rumah orang apalagi sampai duduk dan ikut makan rendang. Nggak sopan banget itu…kwkwk. Kemudian saya pergi ke rumah saudara yang nggak jauh dari rumah. Pulang dan nge-zoom dengan keluarga lain.


Hari kedua sibuk nyuci, lupakanlah. Hari ketiga saya pergi ke Bintaro dan silaturahim ke rumah saudara hingga sore. Main hena dan seru-seruan. Cukup jadi hiburan juga karena jarang ketemu saudara dan kurang banget ketawa selama dua tahun belakangan…hihi. 


Seru nggak sih lebaran di Jakarta? Seru-seru aja asal semua sehat, kan? Banyak sekali hal yang saya alami selama pandemi, sampai sekarang saya bersyukur dan sangat bersyukur. Memang, kesehatan adalah yang paling berharga. Jadi, ketika semua sehat, rasanya nggak pengin macam-macam juga. Hal sederhana saja bisa sangat istimewa, kok.


Gimana Perasaannya Nggak Mudik-mudik Seperti Bang Toyyib?

Nggak mudik


Sempat yang suka nangis gitu kalau lihat foto orang tua dan mertua. Nyesek sebentar kemudian diam dan yaudahlah, mau gimana lagi? Dua tahun bukan waktu sebentar. Tiap mau mudik, dari dulu sejak saya merantau, Ibu selalu menghitung hari, kurang sekian hari kamu mudik, nih. Selalu begitu. Dan sekarang, mau ngitung sampai kapan lagi ya, kayaknya nggak sampai-sampai itu hari. Sedangkan orang tua sudah sepuh semua. 


Sebenarnya, bukan semata-mata karena ada larangan mudik, tapi pandeminya juga belum selesai. Jangan sampai kenapa-kenapa di jalan atau malah bikin kenapa-kenapa orang di rumah. Suka gemas kalau ada yang nyeletuk, 


“Itu yang lain mudik nggak apa-apa. Mudik aja, jalan tol juga nggak ditutup.”


Dengan entengnya bilang begitu. Ya, Allah, belum dilempar sampai Papua dan Kalimantan kali ya itu orang…kwkwk. Jadi dia nggak tahu susahnya jadi anak rantau. Bukan soal jalan tol ditutup atau nggak, tapi covid-19 aja belum kelar. Banyak banget pertimbangan, nggak mau tebak-tebakan nasib karena ini berhubungan sama hidup dan mati kita atau orang lain.


Wisata atau Diam di Rumah?

Nggak mudik


Gimana rasanya wisata sambil berdesak-desakan? Mending di rumah aja kalau memang nggak boleh mudik, sebaiknya memang nggak perlu main ke tempat wisata dulu. Namun, faktanya, yang berwisata membludak. Hayoloh, bukan salah saya karena saya hanya di rumah aja…kwkwk.


Nyari hiburan sebentar rasanya nggak setimpal sama deg-degannya kalau wisata sampai berdesakan begitu. Saya pribadi memang kurang suka ke mana-mana, ditambah sekarang masih ada covid-19, makin nggak pengin ke mana-mana kecuali terpaksa. Walau dibayarin, mending di rumah saja selonjoran yang penting aman.


Tapi, nggak semua orang berpikiran hal yang sama. Jadi, jangan heran kalau masih banyak orang senang liburan di tengah pandemi seperti sekarang. Malah bikin merinding dan makin parno aja. 


Pandemi Mau Sampai Kapan, ya?

Nggak mudik


Nggak tahu dan nggak mau berharap terlalu banyak. Bisa tetap bertahan sampai detik ini saja adalah anugerah yang luar biasa, ya. Bisa tetap sehat dan nggak kurang apa pun, meskipun hampir semua tahu, pandemi seolah menghentak hidup hampir semua orang, tapi masih banyak hal yang patut saya syukuri.


Daripada terus menerus meratapi yang telah hilang, mending fokus pada hal-hal yang lebih penting. Di waktu pandemi, saya memang sempat mengalami banyak hal yang kurang mengenakkan. Namun, Allah ganti semua yang hilang serta rasa sakit dengan hal yang jauh lebih baik.


Fokus saja dengan hal-hal positif yang ada di depan mata. Nggak usah membalas orang-orang yang mencibir dan menjelekkan di belakang, nanti kita jadi sama buruknya dengan mereka. Pada akhirnya, waktu terbukti bisa menyembuhkan luka.


Bahasannya jadi agak serius dan dalam, ya…kwkwk. Makin ke sini memang makin menyadari, orang-orang yang mampir dalam hidup kita, entah dia saudara ataupun teman-teman dekat, pada akhirnya akan menepi dan memilih pergi atau kitalah yang memilih mengakhiri. Punya banyak teman, bukan berarti hidup kita selalu lebih baik. Makin ke sini makin sadar juga, hal yang paling baik adalah punya teman yang benar-benar tulus meskipun itu hanya sedikit.


Makin dewasa juga makin paham, siapa dan seperti apa teman-teman yang tepat buat kita. Ada hubungannya sama pandemi? Ada aja kalau dihubungkan…kwkwk. Ngerasa aja, selama setahun terakhir, ada banyak sekali perubahan dalam hidup saya. Selalu berdoa sama Allah, semoga Allah kirimkan orang-orang yang tulus, nggak toxic, nggak bikin drama, dan sakit hati, dan tentunya tulus memang pengin berteman baik. 


Tetap semangat, ya. Kamu nggak sendiri. Minimal ada satu atau dua teman yang layak kamu andalkan, kok selain Allah dan juga keluarga.


Salam hangat,

Sunday, April 25, 2021

Pengalaman Membuat Ilustrasi Buku Anak dan Terbit di Luar Negeri

Ilustrasi buku anak


Hai, hai! Gimana kabarnya, nih? Masih semangat mengejar impian atau malah sudah menyerah di tengah jalan? Jangan dulu menyerah, bisa jadi impian kamu hanya berjarak satu jengkal saja dari hadapanmu. Iya, hanya satu jengkal. Namun, karena kamu memutuskan menyerah dan berbalik arah, akhirnya impian itu nggak pernah bisa kamu raih. Jadi, please, tetap melangkah ke depan dan fokus dengan target yang ingin dicapai *ceramah mulu 


Sejak kecil, saya senang sekali menggambar. Impian masa kecil berputar-putar antara pengin jadi pelukis, komikus, dan sejenisnya. Meskipun nggak punya kesempatan untuk belajar lebih serius apalagi sampai kuliah, tapi kerjaan sehari-hari memang menggambar. Nggak ada hari tanpa menggambar. Meskipun gambarnya nggak pakai ilmu alias sesuka hati aja :D


Saat SMA, saya pengin jadi penulis. Impian yang berkutat dengan hobi menggambar pelan-pelan lenyap. Mungkin, karena dulu nggak kebayang ada profesi tukang gambar atau ilustrator. Sehari-hari lebih banyak baca buku seperti novel dan puisi. Jadi, impian akhirnya bergeser dan lebih lekat dengan dunia menulis.


Apakah setelah itu nggak suka menggambar? Nggak juga. Sampai saya menikah dan punya anak, saya tetap senang menggambar. Hingga waktu berjalan begitu cepat dan mengantarkan saya pada posisi sekarang ini di mana akhirnya saya berhasil menerbitkan buku serta bisa membuat ilustrasi untuk buku anak-anak. Rasanya gimana, ya? Nggak bisa digambarkan saking kagetnya :D


Mulai Serius Belajar Gambar Digital

Ilustrasi buku anak
Ilustrasi untuk buku 'Pelangi Cerita Bintang'


Saya masih ingat betul, karena alasan pandemi dan merasa banyak buku gagal terbit sesuai waktu yang ditentukan, akhirnya saya mencari pelarian dengan belajar menggambar digital, tepatnya pada bulan Mei 2020 lalu. Benar, baru kemarin rasanya nyoba buka lagi aplikasi menggambar dan tablet yang sudah lama disimpan di lemari.


Waktu itu, nggak kebayang kalau bisa sampai seperti sekarang. Dulu cuma pengin ngisi feed Instagram sekaligus buat branding sebagai penulis. Jadi, memang hampir nggak pernah share gambar anak-anak apalagi nulis 'DM for Commissions' di bio. Sebab sejak awal memang belum kepikiran bakalan ngerjain ilustrasi untuk buku orang lain. Ahhh, rasanya masih nggak percaya :D


Apa kendalanya waktu belajar menggambar digital? Mempelajari dan mengenal aplikasi itu butuh waktu banget. Saya hanya pakai satu aplikasi waktu itu yakni Ibis Paint X. Sebelumnya sudah pernah nyoba, tapi sekadarnya saja. Meski sudah pakai Ibis Paint X sekian bulan, saya belum sepenuhnya tahu apa saja fitur di aplikasi ini. 


Akhir tahun 2020, saya memutuskan ganti tablet serta aplikasi karena tablet saya jadi berat. Sampai sekarang, saya pakai aplikasi Procreate di Ipad 8.


Ganti aplikasi aja butuh waktu banget untuk menyesuaikan diri. Pegang pencil dari Samsung jadi Apple pencil aja bikin pegel karena ukurannya berbeda jauh. Diketawain ini sama senior…kwkwk. Tapi, serius memang ini yang saya keluhkan waktu pertama kali pakai Ipad. Ukuran Apple pencil mirip pensilnya tukang saking gedenya. Sedangkan punya Samsung mungil banget sampai bisa diselipin ke tabletnya. Receh banget bahasan ini...kwkwk.


Saya ingat betul, selama berbulan-bulan bahkan sampai sekarang, hampir nggak pernah saya absen menggambar. Bisa dilihat di feed Instagram saya, itu tiap hari posting gambar. Secara nggak langsung saya sedang berlatih. Memang sekadar buat ngisi feed, tapi saya juga pengin meningkatkan kemampuan dan nggak mau gampang berpuas diri.


Akhirnya selalu belajar dan belajar. Ikutan kelas online juga beberapa kali. Namun, hal yang paling penting adalah praktik. Mesti banyak latihan kalau mau bisa. Mesti latihan sesering mungkin kalau mau dapat hasil yang maksimal. 


Inget banget dulu sering begadang hanya demi menyelesaikan satu gambar. Nggak bosan memang karena sudah suka. Nggak ada capeknya karena lagi semangat-semangatnya. Untungnya saya nggak gampang insecure. Posting ya posting aja nggak pernah kepikiran mau minder karena gambarnya belum bagus. Kalau dilihat sekarang, kelihatan banget gambar lama benar-benar jauh dari sempurna. Namun, saya berusaha tetap disiplin berlatih. Gambar dan posting *eaaa...kwkwk.


Pertama Kali Dapat Tawaran Membuat Ilustrasi Buku Anak

Ilustrasi buku anak


Sebelum saya pakai procreate, saya sudah pernah menerima pesanan gambar dari orang luar negeri. Waktu itu ada penerbit dari UK dan orang Austria yang pesan gambar untuk buku aktivitas. Jadi, sebelum mengerjakan gambar untuk buku anak-anak, saya sudah memberanikan diri menerima pesanan orang. Itu pun setelah diomelin sama Ibu...kwkwk. Ibu gemes banget sama saya karena selalu nolakin orang yang mau pesan gambar. Waktu itu saya merasa belum berani. Ternyata, kalau nggak diambil kesempatan itu, kitanya jadi nggak bergerak alias belajarnya ya gitu-gitu aja.


Singkat cerita, waktu itu, ada DM dari orang Mesir. Dia bertanya apakah saya bisa membuat gambar untuk buku anak-anak? Sejujurnya saya kaget karena nggak ada gambar di feed yang menjelaskan bahwa saya ilustrator buku anak-anak. Bahkan di bio juga nggak ada kalimat seperti itu. Feed Instagram saya lebih terlihat seperti akun dakwah dan motivasi. Setuju? Kwkwk. Namun, orang Mesir ini justru bertanya hal yang berbeda.


Setelah dia meminta contoh dan saya berikan, dia setuju dan berjanji akan kembali setelah menyelesaikan ceritanya. Dan datanglah dia sekitar bulan Desember 2020 lalu. Dan untuk pertama kalinya saya memberanikan diri membuat ilustrasi untuk buku anak-anak.


Apakah ini kebetulan? Sejujurnya saya nggak percaya dengan yang namanya kebetulan. Saya percaya Allah sudah mengatur semuanya dengan sangat indah. Dulu, meskipun bukan hal yang sering saya ucapkan, tapi saya pernah berkata bahwa saya pengin suatu saat bisa menulis buku dan membuat ilustrasinya sendiri. Tahun ini, Allah mudahkan jalan itu dan saya akhirnya benar-benar bisa menulis buku dan membuat ilustrasinya sendiri. Rasanya terharu banget dan nggak jarang saya nangis sendiri. Allah baik banget....


Membuat Ilustrasi Buku Anak dan Terbit di Luar Negeri

Ilustrasi buku anak


Waktu itu, saya butuh waktu sekitar sebulanan untuk menyelesaikan ilustrasinya. Dan tentu saja ada banyak revisi di sana sini. Saya memang nggak banyak mengeluh, selain merasa itu akan menjadi beban, saya juga menganggap semua itu adalah proses pembelajaran untuk pengalaman pertama yang sangat berharga ini.


Kalau saya ngeluh mulu, ya, Allah, malu banget sama Allah yang sudah ngasih kesempatan ini. Nggak semua orang punya kesempatan yang sama, lho. Meskipun kadang revisi serta permintaannya sangat lumayan, tapi tetap dikerjakan. Dibikin happy aja gitu. Kekuatan berpikir positif itu luar biasa. Jangan salah....kwkwk. Dan akhirnya, dia pun mengirimkan buku terbitnya ke Indonesia.


Proses pengiriman buku ini juga lumayan unik. Jadi, dia memang dengan senang hati memberikan buku terbit, tapi masalahnya ongkos kirimnya mahal banget. Itu yang membuat dia nggak ngasih buku sejak awal.


Qadarallah, saya punya klien orang asli Indonesia yang menetap di Kairo. Kami kenal karena beliau memesan gambar untuk bukunya. Dari situ saya bertanya harga pengiriman barang dari Mesir ke Indonesia. Dan beliau bilang harganya akan mahal kalau pakai pengiriman resmi, tapi orang Indonesia biasanya pakai Jastip. Jadi, barang-barang akan dititipkan ke bagasi orang Indonesia yang mau mudik. Harganya sangat manusiawi.


Akhirnya, buku-buku dari klien saya dititipkan pada klien saya satunya ini. Dan bukan hanya saya, teman-teman ilustrator lainnya juga dikasih percuma. Bahagia yang menular, ya karena kebaikan banyak orang.


Terima kasih sekali untuk Mba Itta di Kairo yang mau repot-repot membantu mengirimkan buku saya dan teman-teman. Allah yang balas, Mbak. Kita sepakat, sih nggak ada yang kebetulan. Kenal Mbak Itta juga nggak lama, baru beberapa minggu saja. Namun, itulah rencana indah yang sudah Allah gariskan. Masyaallah.


Belajar yang Tidak Instan

Cover buku
Cover buku 'Parenting Experiences' 


Meskipun nggak kuliah, tapi kita juga punya kesempatan yang sama untuk belajar asalkan mau. Dulu, selalu minder karena nggak bisa jadi sarjana. Namun, ibu selalu menyemangati dan bilang, yang kuliah juga belum tentu bisa seperti kamu. Ini terdengar berlebihan, tapi jujur sangat membantu saya supaya nggak insecure. Kamu yang sudah sarjana sudah pasti lebih dan lebih banget. Namun, saya paham kenapa Ibu bilang begitu, beliau juga sebenarnya pengin dan tahu bahwa dulu saya sangat dan sangat ingin kuliah, tapi kondisi ekonomi dulu nggak memungkinkan. Kalau saya mengeluh malu belum sarjana, Ibu juga pasti ada rasa nyesel. Dan sekarang, saya nggak pernah memikirkan itu. Sudah jalan takdir dari-Nya. Saya memilih fokus dengan apa yang bisa saya perjuangkan.


Benar, siapa pun kita, dan apa pun latar belakang pendidikan kita, semua punya kesempatan yang sama untuk berhasil meraih apa yang diimpikannya. Asalkan mau, asalkan percaya dan yakin.


Belajarnya nggak bisa instan, ya. Butuh waktu untuk mencapai apa yang pengin kita raih. Kadang, sampai begadang hanya demi menyelesaikan satu gambar. Kukuh banget pengin bisa. Dan ingat, nggak perlu membandingkan diri dengan orang lain. Semua punya cerita perjalanannya masing-masing. Tugas kita hanya usaha dan usaha. 


Saya belajar tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk menyerah. Beruntungnya saya termasuk orang yang hampir selalu percaya diri menunjukkan apa yang bisa saya kerjakan. Nggak gampang minder dengan hal yang kurang perlu karena saya paham betul, semua orang punya waktunya sendiri untuk berhasil. 


Pengalaman mengilustrasikan buku anak di Mesir ini seolah menjadi awalan yang sangat baik. Membuat saya jadi punya pengalaman dan lebih berani menerima tawaran berikutnya. Dari sini saya juga butuh tempat untuk bertanya. Saya butuh teman yang lebih berpengalaman, di mana saya bisa bertanya apa yang belum saya kuasai. Alhamdulillah, setelahnya, ada beberapa buku anak yang saya ilustrasikan lagi, belum cover, dll. Yaelah, sekarang dikerjain semua malah sambil ngerjain buku sendiri...kwkwk. Dan, makin ke sini makin menikmati dan bisa mengatur waktu. 


Pengalaman pertama selalu mendebarkan, tak jarang membuat kita takut. Namun, jika kita tidak pernah berani mengambil kesempatan itu, sampai kapan pun kita akan diam di tempat dan jadi penonton. Nggak pengin, kan? Makanya ambil langkah dan beranilah berubah dari kondisi 'nyamanmu'. Karena semua itu akan jadi pengalaman yang sangat berharga.


Salam hangat,


Thursday, April 8, 2021

Pengalaman Mengatasi Anak Tantrum Tanpa Panik

Mengatasi anak tantrum


Menurut Wikipedia, tantrum adalah ledakan emosi yang biasa terjadi pada anak-anak atau bahkan pada orang dewasa. Biasanya ditandai dengan menangis kencang, guling-guling, membangkang, hingga berteriak. Tantrum sebenarnya umum sekali terjadi pada anak-anak. Hampir semua anak mengalaminya. Namun, cara kita menangani anak tantrum sangat berpengaruh pada kondisi emosinya nanti.


Biasanya, anak menjadi tantrum karena ingin mendapatkan perhatian dari kita sebagai orang tua. Misalnya, nih ada anak minta Kinder Joy yang diletakkan di depan meja kasir supermarket. Trik pemasarannya memang cerdas banget, ya...hehe. Akhirnya dia guling-guling memaksa orang tuanya menuruti. Orang tuanya panik. Mau marah, tapi malu di depan umum. Banyak yang melihat dan memerhatikan. Mau menuruti juga berat. Melihat anaknya sampai histeris, akhirnya diturutin juga daripada malu. Dan, drama pun dimulai.


Sejak kejadian itu, anak akan menghalalkan segala cara untuk mengancam kita supaya semua keinginannya dituruti. Mereka itu pintar. Mereka cerdas. Tahu kapan kita nggak bisa menolak. Tahu kapan kita akan menuruti permintaannya.


Keponakan saya misalnya, karena sekali dua kali permintaannya yang penuh drama dituruti, akhirnya dia menggunakan cara tersebut untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Kalau sedang ada tamu di rumah, dia guling-guling nangis minta ke toko dan membeli camilan.


Sudah menjadi rutinitas. Bahkan saat di jalan, saat naik motor, dia bisa berontak kalau permintaannya nggak dituruti. Ibu saya pun bilang, dia pernah menangis di sekolah dan meminta mainan, sampai jilbab Ibu digilas-gilas di tanah. Nyesek banget dengernya. Nggak seharusnya drama tantrum kayak gini berkepanjangan.


“Tapi, kalau nggak dituruti dia kayak gitu. Bikin bahaya apalagi pas naik motor.” Kata Ibu.


Justru karena selalu dituruti itulah dia jadi semakin heboh tiap minta apa-apa. Dia tahu, dengan cara seperti itu permintaannya nggak akan ditolak. Sebelum kita membahas cara mengatasi anak tantrum tanpa panik, ada baiknya kita mengetahui jenis tantrum yang terjadi pada anak-anak,


1. Tantrum Manipulatif

Tantrum manipulatif terjadi karena keinginan yang tidak dipenuhi. Seperti yang terjadi pada keponakan saya. Tantrum manipulatif sengaja dibuat oleh anak-anak karena keinginannya ditolak. Demi mendapatkan apa yang diinginkan, dia menangis, berontak, berteriak, sampai berbuat kasar. 


2. Tantrum Frustasi

Tantrum frustasi biasa terjadi karena si anak nggak bisa menyampaikan keinginannya dengan baik. Misalnya saja tantrum yang terjadi pada anak usia 18 bulan yang belum bisa mengatakan keinginannya. Tantrum frustasi juga bisa terjadi karena kondisi terlalu lapar, lelah, hingga gagal melakukan sesuatu.


Pasti pernah mengalami dong ketika ada anak usia di bawah 2 tahun yang menangis karena gagal memasang lego. Dia pengen ngusun lego dengan rapi, tapi malah jatuh dan jatuh. Atau ada anak yang terlalu ngantuk serta lelah, jadinya rewel dan menangis terus menerus. Kondisi kayak gini bisa disebut tantrum frustasi.


Penyebab Anak Tantrum


Mengatasi anak tantrum


Setelah tahu jenis-jenis tantrum, kita bisa menyimpulkan penyebab tantrum itu apa saja. Kita bisa memperkirakan sebab apa yang membuat anak begitu rewel dan menangis terus menerus. Bisa jadi karena dia menginginkan sesuatu, tapi nggak bisa menyampaikan dengan baik karena usianya yang masih terlalu kecil atau karena dia sedang mengancam orang tua supaya permintaannya dituruti. 


Beberapa sebab di atas bisa terjadi pada anak-anak kita. Pernah juga terjadi pada anak-anak saya, kok. Meskipun hampir semua orang bilang si sulung sama si bungsu termasuk yang adem ayem dan jarang drama kalau pengen sesuatu, tapi, tetap saja ada kejadian yang pernah kami alami bareng dan kita belajar dari kejadian itu.


Cara Mengatasi Tantrum


Mengatasi anak tantrum


Dulu, baik si kakak ataupun si adek pernah ada masanya minta sesuatu sambil nangis-nangis. Si kakak misalnya, pernah menabung untuk membeli mobil remot. Tapi, waktu kamu ke pasar, tanpa sengaja dia melihat toko penjual mainan, salah satunya ada mobil remot! Dia macet di tengah jalan dan nggak mau bergerak. Saya sudah membaca bahasa tubuhnya. 


Dia mulai menangis, tapi saya ingatkan lagi bahwa uang tabungannya belum cukup untuk membeli mainan. Dia hampir mau guling-guling di lantai. Tapi, saya kuatkan hati dan tidak serta merta menuruti keinginannya. Nggak boleh malu walaupun dilihat banyak orang selama kita nggak berbuat aneh-aneh, nggak kasar sama anak atau membentak. Kalem, slow, jangan panik. 


Akhirnya saya minta kakak pulang dulu untuk menghitung uangnya. Jika uangnya cukup, kita kembali untuk membeli mobilnya. Tapi, kalau nggak cukup, harus sabar dong dan menabung lagi.


Akhirnya dia mau pulang dan membuka celengannya. Seperti yang saya perkirakan, uangnya memang belum cukup. Kita nggak kembali ke pasar dan dia menabung lagi dengan sabar.


“Ya ampun, kenapa sih nggak dituruti aja? Cuma mobil remot aja kenapa nggak dibeliin? Kasihan kan anak udah pengen?”


Sekali kita turuti, kedua hingga seterusnya bisa saja dia melakukan hal yang sama demi mendapatkan apa yang diinginkan. Jangan sampai kita jadi susah sendiri karena salah bereaksi ketika anak tantrum. Jangan sampai kita rempong gara-gara nggak sabar menenangkan si anak. Itulah kenapa komitmen kita sebagai orang tua itu penting banget.


Saat ke supermarket misalnya, sebelum berangkat anak-anak sudah berjanji hanya membeli permen. Tapi, sampai di supermarket, mereka bukan hanya melihat permen, tapi ada es krim, ada mainan banyak banget di pajang di dekat meja kasir. Di sini ketenangan kita diuji.


Saat anak mulai pegang-pegang mainan, saya nggak nuduh mereka minta mainan itu. Karena biasanya kalau si kakak cuma melihat saja, katanya nggak beli, kok. Kan, sejak awal sudah janji hanya beli permen, jadi kita harus percaya bahwa mereka punya komitmen dengan janji itu. Jangan bilang, “Eh, tadi janjinya beli apa malah pegang apa.” Nggak begitu menurut saya.


“Wah, bagus ya mainannya. Kakak boleh lihat, ya.”


Ternyata, karena saya sering banget bilang begitu, dia jadi pinter ngajarin adeknya sendiri...hehe. Pas si bungsu lihat kakaknya pegang mainan dan bilang aku beli yang mana, ya? Si kakak langsung nyeletuk, “Kakak cuma lihat, kok. Kan kita ke sini bukan buat beli mainan.” Adeknya nurut dong sama si kakak :D


Masya Allah tabarakallah, meski kadang tetap ada ngambeknya kalau ada keinginan nggak dituruti, tapi mereka nggak sampai tantrum. Apalagi sampai melakukan hal-hal di luar pikiran kita. Misalnya ada anak pengen sandal baru, tapi sandalnya masih bagus, dia rela menggunting sandalnya supaya dapat yang baru. Idenya agak gimana ya buat anak usia SD. Dan ini real memang terjadi.


So, apa yang mesti kita supaya nggak panik saat menagani anak tantrum?

1. Tetap Tenang dan Jangan Panik

Biasanya, kita cenderung panik saat anak mulai menangis saat menangani anak tantrum manipulatif. Tenang, kita mesti bisa mengendalikan keadaan. Bukan anak yang mengendalikan diri kita. Saat anak mulai menangis dan berteriak, jangan balas berteriak apalagi membentak. Karena kondisi kayak gini bisa memperburuk keadaan. Nggak lucu juga dilihatin banyak orang dan tentu saja nggak bagus buat kondisi anak-anak.


Coba tarik napas dan tetap bicara pelan-pelan aja. Kita juga nggak perlu berbohong demi menenangkan mereka. Berbohong hanya membuat masalah reda sesaat saja, nanti dia menagih dan mengulang hal yang sama. Bahkan bisa jadi lebih parah.


2. Tenangkan Anak dan Berilah Dia Pelukan

Kita bisa memeluknya. Jangan burur-buru menasihati. Jangan buru-buru berkata bijak apalagi sambil ceramah. Kadang, mereka butuh menenangkan diri. Kita cukup memeluknya dan membiarkan dia tenang sesaat.


Setelah kondisinya bisa dikendalikan, kita bisa mengajaknya bicara baik-baik, kenapa kita belum mau menuruti keinginannya.


3. Konsisten

Kalau sekarang bilang nggak, besok pun harus tetap nggak boleh. Jangan plin plan jadi orang tua, karena itu bisa membuat si kecil jadi bingung. Hari ini boleh makan es krim, eh besok nggak boleh. Kalau kita bilang dia boleh beli mainan dengan uang tabungannya, jangan sampai besok kita mengeluarkan uang untuk membelikannya mainan. Akhirnya anak jadi bingung sendiri dan nggak bisa konsisten dengan janjinya.


4. Membeli Ketika Butuh

“Kak, kamu masih punya mainan kayak gini di rumah, lho. Masa mau beli lagi?”


Kalau nggak butuh, jangan dibiasakan membeli barang. Buat saya juga penting. Apa yang kamu butuhkan, ya udah itu yang bisa kamu beli. Kalau di rumah udah ada mobil-mobilan, nggak perlu membeli lagi. Kecuali mobilnya udah rusak. Dengan cara seperti ini, anak juga belajar nggak terlalu konsumtif. Nggak seenaknya membeli barang dan minta orang tua.


Itulah beberapa cara yang saya terapkan kepada anak-anak. Bahkan ketika anak-anak diajak jajan sama kakeknya, mereka membeli secukupnya atau malah ditawarin ini itu nggak mau beli. Sempat kejadian waktu kami pulang kampung dan kakeknya heran kok bisa ada anak nggak mau jajan padahal udah ditawarin ini itu :D


Jadi orang tua memang butuh belajar. Terutama saat punya anak pertama. Kayaknya masih banyak trial dan error-nya. Tapi, jangan takut, tetap lakukan yang terbaik versi kita dengan tetap update ilmu, ya. 


Salam hangat,


Sunday, March 14, 2021

Resep Mexican Coffee Buns

Resep Mexican Coffee Buns


Udah lamaa banget nggak bikin Mexican Coffee Buns atau Roti Boy kw. Ini roti kesukaan suami. Kebetulan, karena kemarin tanggal merah dan Mas libur kerja, akhirnya bikin roti Boy biar bisa incip pas masih anget setelah keluar dari oven. Nggak nyangka, resep topping yang sekarang sangat pas, adonan topping-nya mulus di atas rotinya dan kres nyees manis nggak lebay. Ampun, gimana cara menjelaskan kalau roti ini enak beneran…kwkwk.


Untuk adonan rotinya saya pakai resep biasanya. Resep andalan dengan 2 kuning telur untuk 500 gram tepung terigu. Hasilnya empuk maksimal asal nguleninnya sampai benar-benar kalis, ya. 


Saya ngulen adonan roti pakai Re-Bread dengan 3x ngulen. Jadi. Klik tombolnya sampai 3x, ya. Hasilnya kalis banget. Untuk memanggang, saya tetap pakai oven listrik. Pengalaman memanggang roti pakai Re-Bread hasilnya kurang maksimal karena waktunya berbeda dengan oven listrik.


Jadi, sejauh ini saya hanya memanfaatkan Re-Bread untuk ngulen. Kemarin sempat memanggang kacang tanah juga pakai Re-Bread. Asik banget nggak harus ngaduk mulu di depan kompor. Itu pun masih ada gosong-gosongnya gitu, kan kalau di kompor. Pakai Re-Bread bisa merata dan terus mengaduk sendiri secara pelan-pelan, dikasih irisan bawang putih pun ikutan krispi maksimal. Rasa kacangnya jadi enak banget. Lebaran mesti ganti kacang yang digoreng dengan dipanggang. Lebih sehat, lebih tenang ngunyahnya *mohon maaf bukan endorse :D


Bikin Roti Pakai Tepung Apa?

Ada yang sering kesulitan membedakan jenis tepung terigu? Yups, tepung terigu itu jenisnya nggak hanya satu. Ada beberapa jenis, termasuk di antaranya tepung terigu protein rendah, protein sedang, dan juga protein tinggi.


Untuk membuat roti, sebaiknya kita pakai tepung terigu protein tinggi seperti merek Cakra yang paling gampang dicari. Sebagian bilang, nambahin tepung protein sedang sekitar 50 gram dalam adonan roti kita bakalan bikin rotinya jadi tambah empuk. Fakta atau mitos? Hehe. Dulu-dulu sering nambahin terigu protein sedang, tapi sekarang jarang banget karena nggak mau repot…kwkwk. Hasilnya kurang lebih sama saja.


Resep Mexican Coffee Buns 

Timbang bahan sesuai takaran dan lakukan prosesnya sesuai panduan yang telah saya tulis. Jika di kemudian hari ada adona bantet atau kurang bener, tentu saja itu bukan salah saya dong *nggak mau banget disalahin….kwkwk. Bercanda, ya :D


Pastikan saja ragi instan yang dipakai masih aktif dan ngulennya sudah benar sampai benar-benar kalis. Kalau ini dikerjakan dengan benar, harusnya rotinya empuk maksimal. BTW, resep topping-nya saya ambil dari resep Mbak Fitri Sasmaya yang di-share di Instagram.


Bahan adonan roti

500 gram terigu protein tinggi

90 gram gula pasir

2 sdt ragi instan

2 butir kuning telur

1 sachet susu bubuk

240 ml air dingin

90 gram butter atau margarin

½ sdt garam


Bahan Topping 

60 gram unsalted butter / margarin

50 gram gula kastor / saya pakai gula halus

1 butir putih telur (51 gram)

1 sdt nescafe, tambahkan 1 sdt air panas

½ sdt pasta moka/ saya pakai pasta vanilla :D

60 gram tepung terigu


Cara membuat:

  • Campur semua bahan roti kecuali margarin dan garam. Setelah dicampur rata, masukkan margarin dan garam, uleni hingga kalis elastis, ya. 
  • Diamkan adonan yang sudah kalis selama 30 menit. Jangan lupa tutup atasnya supaya tidak kering.
  • Bagi adonan menjadi beberapa bagian sesuai selera. Saya bikin roti seberat 50 gram. Bulatkan dan lakukan sampai adonan habis.
  • Beri isian berupa keju prochis spready. Nanti kejunya bakalan leleh  dan enak banget :D
  • Diamkan adonan yang telah diberi isian tadi selama 1 jam. Jangan lupa tutup bagian atasnya, ya.
  • Yuk, kita bikin topping-nya. Mixer gula dan margarin. Masukkan telur. Mixer hingga rata. Tambahkan kopi dan pasta moka. Terakhir, masukkan tepung terigu. Masukkan adonan ini ke dalam plastik segitiga. Ikat dan simpan di dalam lemari pendingin.
  • Setelah adonan mengembang 2x lipat, tambahkan topping di atas adonan rotinya. Bikin melingkar dan jangan terlalu banyak supaya tidak melebar ke mana-mana saat dipanggang.
  • Panaskan oven kurang lebih 10 menit sebelum digunakan. Panggang roti selama 15 menit dengan suhu 190’C atau sesuaikan dengan oven masing-masing, ya.


Resep Mexican Coffee buns


Voila! Hasilnya, sih keren banget, rata topping-nya, yummy, dan seenak itulah pokoknya :D Kalau ada roti yang masih sisa, kamu bisa simpan di dalam plastik supaya tidak kering. Ketika mau dimakan, hangatkan lagi dalam oven selama 10 menitan. Topping-nya bakalan krispi lagi nanti.


Enak banget, kan bisa bikin roti sendiri di rumah? Mau pergi dan jajan di luar juga males karena butuh banyak perisiapan kalau perlu pakai APD saking parnonya…haha. Nggaklah, ya. Nggak akan segitunya memang. Tetapi, was-was dan merasa lebih repot memang iya.


Kalau memang tidak mendesak, saya memilih di rumah aja, sih. Makan aja seadanya dan nggak usah kebanyakan gaya biar 'bahagia'. Karena kebutuhan kita sebenarnya relatif kecil, gayanya yang suka bikin ribet sendiri, gayanya selangit *kenapa jadi ceramah? Kwkwk.


Nggak mau coba resep ini? Bolehlah coba resep donat ekonomis atau bolu kering. Yuk, bisa, yuk dicoba, yuk. Supaya tetap waras meski hanya di rumah :D


Salam hangat,