Tuesday, May 28, 2024

Diet Bebas Gula, Mulainya Dari Mana?

Diet Bebas Gula, Mulainya Dari Mana?
Photo by Joanna Kosinska on Unsplash


Akhir-akhir ini, angka penderita diabetes makin mengerikan. Tak hanya orang dewasa, anak-anak usia sekolah pun banyak yang terkena diabetes serta gagal ginjal akibat kurangnya konsumsi air putih dan seringnya mengonsumsi jajanan kemasan. Kalau dipikir, zaman kita kecil, makanan kemasan juga sudah banyak dan sering dikonsumsi. Namun, sepertinya tidak sebanyak sekarang jumlah dan jenisnya. 


Sebenarnya, tubuh kita juga butuh gula, tapi dalam jumlah tertentu. Masalahnya, pola hidup kita yang sekarang sudah cenderung berlebihan mengonsumsi gula, baik gula yang terkandung dalam snack ataupun gula tersembunyi yang ada dalam nasi putih makin meningkatkan risiko penyakit berbahaya di kemudian hari.


Konsumsi gula berlebihan bukan hanya menyebabkan diabetes, tapi juga membuat tubuh kita mudah gemuk atau jauh dari berat badan ideal. Terlebih kita itu dikenal malas sekali bergerak dan berolahraga. Kebayang nggak sih bakalan jadi apa makanan yang kita konsumsi sehari-hari dengan kondisi tubuh jarang bergerak seperti ini? Yes, akan jadi lemak!


Sedikit cerita, saya sudah menjalankan beberapa metode diet sehat dan salah satu yang bikin nyaman ya kembali ke makanan alami serta membatasi jam makan. Saya bukan tipe orang yang suka menghitung kalori karena buat saya itu ribet apalagi saya nggak suka melihat angka…kwkwk. Saya lebih senang mengurangi gula, tepung, nasi putih, minyak, dan makanan kemasan dibanding harus menghitung kalori makanan dalam sehari.


Selain itu, membuat jendela makan seperti yang kita pakai saat intermitten fasting itu berguna banget lho mencegah kita ngemil sembarangan di semua waktu. Saya yang dulunya punya magh lumayan berat, saat ini aman-aman saja ketika tidak sarapan di pagi hari dan hanya konsumsi air putih. Tubuh kita, terutama pencernaan butuh banget istirahat. Kebiasaan di Indonesia yang mesti sarapan berat di pagi hari nggak mesti diikuti apalagi di usia kita yang sudah masuk 30an tahun ke atas. Gapapa kok sarapan buah atau sekadar minum air putih atau bisa juga air kelapa murni. Sinyal lapar di pagi hari tidak selalu menunjukkan bahwa kita lapar. Bisa saja itu sinyal haus yang salah kita terjemahkan. Gampangnya begitu.


Kurangi Konsumsi Makanan Kemasan

Saya sering mengikuti postingan seorang dokter di sosial media yang sharing tentang menu makanan sehat untuk mereka serta anaknya yang masih balita. Beliau ini benar-benar menghindari makanan kemasan serta makanan yang diproses berlebihan atau UPF. Anaknya santai banget ngunyah mentimun dengan saus hati ayam homemade, makan ubi rebus, dan sejenisnya. Mereka nggak pernah konsumsi makanan kemasan walaupun orang akan bilang, kasihan banget anaknya nggak pernah dikasih snack, kasihan banget bla bla bla…Untungnya beliau ini dokter, ya. Coba dulu saya waktu si sulung masih balita dan saya batasi konsumsi gula serta garam, diprotes sekomplek, lho….haha. Mental kalau nggak kuat bisa ambyar…kwkwk.


Itulah sulitnya kita menerapkan pola hidup sehat karena masih sering dianggap aneh. Padahal lebih kasihan lho anak yang harus cuci darah seminggu beberapa kali hanya karena dia malas minum air putih dan lebih sering konsumsi jajan kemasan sama minuman kemasan yang dijual di warung-warung. Dia sampai berhenti sekolah dan kasusnya banyak!


Waktu saya ke dokter untuk memeriksakan si bungsu, dokter berpesan jangan konsumsi makanan kemasan apa pun walaupun itu susu atau yogurt! Waktu itu putra saya kambuh Otitis Media-nya. Selama beberapa tahun sejak usia 6 bulanan dia terkena Otitis Media Akut di mana setiap flu telinganya akan keluar cairan. Jadi, dulu saya sampai capek ya bolak balik ke dokter THT buat bersihin telinga yang terjadinya hampir tiap seminggu sekali. Sampai-sampai dokter mau ambil tindakan karena kondisinya nggak membaik. Qadarullah akhirnya berhenti di usia beberapa tahun berikutnya.


Kemarin sempat kaget juga kenapa anak ini tiba-tiba sakit banget telinganya padahal flu dan batuknya juga nggak parah. Ya penyebabnya memang dari common cold, tapi aneh saja kenapa sampai segitunya? Apalagi tiap sakit kondisinya lumayan parah, muntah-muntah, batuknya berat, dan demamnya juga tinggi.


Mau nggak mau setelah mendengar saran dari dokter akhirnya kami coba untuk stop semua makanan kemasan kecuali sesekali. Oiya, sampai saat ini saya masih memberikan susu UHT plain yang kalau di kemasannya disebut nggak ada pengawet dan hanya dibuat dengan susu sapi murni.


Jadi, setelah membatasi makanan kemasan, sekarang makannya apa? Nah, ini yang sering kita cemaskan, ya. Karena selama ini kita memang tidak terbiasa makan makanan sehat, makanya jadi pusing…kwkwk.


Saya coba sharing beberapa hal yang benar-benar kami hindari saat ini. Mulai dari mi instan, cokelat, jajan chiki bermecin berpenyedap, dan semua jenis makanan kemasan lainnya, tapi memang yang paling terasa parah efeknya di anak saya adalah cokelat sama mi instan. Padahal dia nggak ada alergi karena kami sudah pernah cek alergi lengkap. Namun, beberapa kali konsumsi dua jenis makanan itu terlihat sekali kalau batuk parah bahkan mi instan ini efeknya lumayan instan juga…hahaha. 


Anak-anak jarang banget makan mi instan, bahkan putra saya yang di pesantren pun saya batasi meski sudah besar. Kita hanya makan sesekali, misal sebulan sekali buat happy aja, tapi habis makan sudah langsung batuknya rame banget…haha. Saya nggak bisa tiba-tiba melarang si bungsu karena dia juga sudah tahu rasanya mi instan seenak apa…kwkwk. Namun, setelah beberapa kali dia makan dan merasakan sendiri efeknya selalu cepat dan sama, akhirnya dia mau untuk berhenti. Kalau pengin mi, minimal emaknya yang masakin pakai mi telur. Kalau seperti ini, masih aman, insya Allah.


Ke sekolah bawa apa dong? Sampai sejauh ini menunya masih sama dan sederhana…haha. Nggak bisa mikir mau bikinin apa buat dia ke sekolah. Akhirnya hari-hari hanya bawa susu plain, kentang goreng, dan bolu pisang yang saya buat tanpa gula dan tepung. Kami juga konsumsi jus tanpa gula. Kita ganti dengan sedikit madu untuk pemanisnya. 


Karena sudah terbiasa, sekarang dia jadi kurang suka makan snack kemasan. Jadi hilang selera saja kecuali sesekali ya okelah masih pengin. Namun, sudah jauh banget bisa dikontrol.


Jangan Malas Olahraga

Saya pernah bilang ke suami, kita memang punya anak dan sudah tugas mereka menjaga kita ketika sudah tua nanti. Tapii, saya nggak mau jadi orang tua yang merepotkan karena mereka akan punya kehidupan sendiri dan jangan sampai orang tuanya membebani. Jadi, sebisa mungkin kita jaga kesehatan dari sekarang supaya nanti nggak merepotkan anak-anak. Kalau sudah berusaha ternyata tetap sakit, ya itu sudah qadarullah. Namun, penelitian menunjukkan bahwa orang tua yang punya tabungan otot alias suka bergerak dan banyak olahraga punya risiko sakit yang lebih kecil dibanding mereka yang jarang bergerak. 


Kebanyakan orang tua yang jatuh akan sulit berjalan kembali entah karena patah atau kena saraf terjepit, dan sejenisnya. Dokter bilang, mereka yang punya tabungan otot alias suka bergerak akan memiliki risiko patah lebih sedikit dan kemungkinan besar bisa sehat kembali atau bisa berjalan ketika dia rajin olarhaga sejak lama.


Jadi, olahraga itu penting banget, pliss. Kasus ibu saya juga jadi pelajaran berharga banget bahwa kurang bergerak bisa menyebabkan kelumpuhan. Ibu saya lumpuh bukan karena struknya, tapi karena beliau sama sekali tidak mau bergerak. 


Jadi, setiap diajak berjemur, beliau marah dan katanya silau. Setiap diajak belajar jalan beliau bilang capek padahal baru beberapa langkah. Dokter bahkan tidak mengizinkan beliau dipapah karena beliau sebenarnya bisa berjalan. Hanya saja karena kondisinya terkena demensia alzeimer membuat pikirannya tidak seperti beliau yang normal dulu. Beberapa kali beliau ketahuan jalan kaki ke kamar mandi sendiri tanpa sepengetahuan orang rumah, tapi waktu ada kami, beliau seperti orang tidak bisa jalan. Beliau juga pernah hilang dan ternyata sudah ada di rumah kakak saya di sebelah rumah. Beliau bisa jalan dengan normal setelah kena struk ringan, tapi karena demensianya, beliau tidak punya keinginan untuk sembuh lagi.


Saya ingat betul, dulu setelah saya kembali ke Jakarta, setiap pagi saya akan video call supaya Ibu mau diajak jalan di teras dan berjemur. Namun, ternyata itu nggak cukup buat bikin Ibu semangat dan akhirnya sekarang kondisinya benar-benar sudah lumpuh. Kakinya agak bengkok, begitu juga dengan kedua tangannya. Terapi pun sudah tidak berguna untuk saat ini. Beliau hanya mau tidur sepanjang hari. Seperti orang yang nggak mau mendengar dan nggak mau tahu apa pun. Seolah pengin nutup mata atas semua hal. 


Dan, semakin tua kita, semakin memendek otot-otot kita. Meski hanya olahraga ringan, ayo tetap olahraga. Menua itu hal yang pasti begitu juga dengan kematian. Tapi, menikmati masa itu dengan cara seperti apa, kita sendiri yang menentukan.


Diet Bebas Gula, Mulainya dari Mana?

Tadi saya jelaskan tentang anak saya yang mulai membatasi gula dan makanan kemasan. Lalu, bagaimana dengan orang tua seperti kita yang ternyata lebih susah diberi pengertian? Yang paginya bilang mau diet, tapi siangnya minum es teh segelas jumbo, dan malamnya makan mi instan, sini saya jewer…haha.


Lidah yang sudah terbiasa makan makanan manis akan terus meminta jenis makanan yang sama. Sama halnya seperti orang yang kecanduan main games, makin hari makin minta lebih. Dan buat usia kita yang sekarang, rasanya itu nggak bijak sama sekali.


Jadi, kita harus mulai diet bebas gula dari mana? Mulailah dengan intermitten fasting. Dengan membuat jendela makan, kita bisa membatasi camilan, lho. Mulailah sarapan jam 11 atau jam 12 siang hingga jam 6 malam. Antara jam 11 siang hingga jam 6 malam itu kita boleh makan apa pun dalam jumlah wajar, tapi kalau saya pribadi lebih suka makan berat di jam 11 dan kalau mau makan sedikit camilan sekalian saja setelah makan berat dan baru makan lagi di jam 6 sore. Lanjut lagi untuk hari berikutnya dengan cara yang sama.


Selain itu, kita bisa makan makanan yang alami seperti mengganti menu makan dengan sayuran rebus, telur rebus, tahu putih, buah, dan sejenisnya tanpa nasi dan snack kemasan atau minuman manis. Kalau mau tetap pakai karbohidrat, coba ganti nasi putih dengan nasi merah atau kentang kukus. Rasanya gimana? Ya hambarlah kalau nggak biasa…kwkwk. Padahal sebenarnya semua makanan itu punya rasa alaminya masing-masing. Kalau sudah terbiasa, semua akan enak saja, sih.


Jangan lupa untuk tetap minum air putih dan hindari minuman kemasan yang sangat mengerikan jumlah gulanya. Seperti sudah saya sebutkan, saya itu nggak suka ribet kalau diet…kwkwk. Beberapa hal ini saya terapkan sampai sekarang. 


Jadi gemuk itu nggak enak. Bukan berarti kita nggak boleh gemuk atau gemuk itu negatif, ya. Namun, dari segi kesehatan itu mengganggu banget buat saya pribadi. Saya bukan tipe orang yang makan apa saja tetap kurus. Sejauh ini, saya memang menjaga pola makan dan berat badan memang naik turun terus. Saya merasa, bernapas saja bisa menaikkan berat badan, kok…haha. Jadi, kalau saya sendiri nggak mau menjaga diri sendiri, bisa bahaya :(


Kalau teman-teman sudah terlanjur gemuk, jangan putus asa. Menurunkan berat badan itu nggak sesulit yang kita bayangkan asalkan konsisten. Nggak perlu hitung kalori sampai berlembar-lembar, asal konsisten…kwkwk. Benar, asal konsisten insya Allah berat badan berlebihan bisa turun terutama dengan diet bebas gula. Semoga mencerahkan sebagaimana krim pencerah wajah yang teman-teman pakai di rumah.


Salam hangat,


Wednesday, February 21, 2024

Menjadi Orang Tua Saklek Atau Melonggar?

Menjadi Orang Tua Saklek Atau Melonggar?
Photo by Kelly Sikkema on Unsplash


Kita mungkin pernah memberikan aturan kepada anak-anak, tetapi justru kita sendiri yang melanggar atau tidak konsisten dengan aturan tersebut. Teman-teman pernah melakukannya?


Sebagai orang tua, saya selalu berusaha konsisten dengan apa yang saya sampaikan kepada anak-anak, tetapi saya tidak memungkiri jika di lain waktu saya sendirilah yang melanggar aturan tersebut. Saya paham, ketidakkonsistenan kita memberikan aturan justru membuat anak-anak nggak bisa diatur. Seperti saat kita melarang anak-anak membeli mainan saat belanja bulanan ke supermarket, tetapi di lain waktu justru kitalah yang menawarkan mainan lucu kepada mereka saat belanja bulanan. Hah?


Aturan yang tidak konsisten akan membuat anak bingung. Kemarin, kita melarang ini, tetapi besok kita mengizinkannya. Anak-anak jadi kesulitan untuk melakukan hal yang seharusnya, tetapi dalam kasus berbeda, sejujurnya saya suka dengan aturan yang lebih longgar.


Saya membuat aturan bersama di rumah, yakni nonton film kartun di hari libur sekolah dengan jumlah yang kami batasi. Namun, saya pernah mengajak anak-anak nonton film kartun tepat di saat mereka akan ujian.


Saya ingat betul, ketika besoknya mau ujian, mereka harus belajar dengan serius (meski tanpa diminta), sampai capek, sampai kelihatan banget bahwa mereka suntuk. Saya pribadi, andai diminta untuk belajar seperti itu, saya juga akan kelelahan. Jika dipaksa terus menerus menghadapi buku-buku dan mata pelajaran, mereka tidak akan merasa mudah, akan tetapi justru stres dan sulit memahami materi pelajarannya.


Jadi, saya memutuskan bahwa kita harus rehat sebentar sambil nonton kartun pendek yang lucu. Saya melanggar aturan yang kami buat bersama, saya melonggar, tetapi untuk alasan yang masuk akal dan ternyata itu tidak membuat mereka jadi mudah melanggar aturan yang kami sepakati di kemudian hari. Yes, melonggar sesekali menurut saya nggak masalah, asal kita bisa melihat situasinya memang dirasa tepat.


Steril atau Membentuk Imunitas?

Satu lagi yang pengin saya bahas dari aturan-aturan yang sering kita terapkan pada anak-anak. Seperti penggunaan gadget di rumah yang memang tidak dianjurkan terlalu dini diberikan. Nah, ada orang tua yang benar-benar tidak memberikan gadget dan nonton televisi. Sama sekali nggak diberikan sehingga anak-anak hampir tidak tahu film Upin Ipin, dan sebagainya.


Tidak ada yang salah dalam aturan semacam ini, tetapi untuk saya pribadi, saya lebih senang mengedukasi anak-anak soal gadget dan tetap memberikan kelonggaran pada mereka untuk menggunakannnya sesuai kebutuhan, membolehkan mereka nonton film kartun di hari libur dengan aturan film-nya hanya yang aman dan saya edukasi juga mana film kartun yang tidak layak mereka tonton. Sehingga mereka paham kenapa begini boleh, kenapa yang begini nggak boleh. Mereka sudah tahu semua alasannya dan tidak penasaran lagi.


Kenapa saya lebih memilih menumbuhkan imunitas pada mereka dibanding harus benar-benar steril? Karena mereka akan bertemu dengan teman-teman baru di sekolahnya yang mana kita tidak tahu lingkungan mereka seperti apa, apa yang orang tua mereka ajarkan, apa yang mereka dapat dari teman-teman lain di luar. Siapa yang bisa menjamin anak-anak kita akan selalu steril dari hal-hal yang selalu kita sembunyikan karena dianggap tidak aman?


Tema pacarana dan pornografi jangan dianggap tabu. Bahkan meskipun anak-anak kita masih TK dan baru mau masuk SD sekalipun. Jauh-jauh hari, bantu mereka mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh dilihat. Tentunya sampaikan dengan bahasa yang sesuai usia. Jangan sampai mereka tahu lebih dulu dari teman-temannya.


Pengalaman pribadi, saat anak saya masih kelas 1 SD, ada temannya yang bercerita soal adegan pornografi yang akhirnya informasi ini sampai pada kami saat makan malam. Kaget? Bangetlah. Anak sudah masuk SDIT, tetapi masih dapat informasi yang semenakutkan ini? Apalagi usia mereka masih sangat kecil. Akhirnya saya coba sampaikan pada wali kelas dan dikonfirmasi ke anak yang bersangkutan. Alhamdulillah, orang tuanya jadi tahu apa yang sebelumnya mereka tidak ketahui sehingga mereka bisa mengedukasi putranya dan melindunginya dari hal-hal negatif dari teman-temannya di luar sekolah.


Steril ternyata tidak menjamin anak-anak kita selalu aman. Pada akhirnya, mereka akan tahu, entah dari kita atau dari teman-temannya. Jika anak-anak kita tidak paham, tidak mengerti bahwa pornografi itu yang seperti apa dan dampak negatifnya apa, mungkin mereka tidak akan merasa penting untuk melapor kepada orang tuanya.


Membatasi Penggunaan Gadget

Satu lagi, saya tidak benar-benar steril, tetapi kita bantu anak-anak untuk membatasi penggunaan gadget sehingga mereka tidak merasa seolah sedang puasa gadget karena hampir setiap hari ketika butuh, mereka bisa menggunakannya.


Saya merupakan pekerja kreatif. Saya bekerja menggunakan gadget hampir setiap hari. Kalau kita nggak sepakat sejak awal dengan anak-anak, pasti capek harus melarang mereka atau mereka bisa saja memainkannya diam-diam karena merasa orang tuang pegang terus, kok aku nggak boleh? Karena sudah ada aturan yang jelas sejak awal, juga edukasi sejak dini, maka hal-hal seperti itu tidak pernah saya alami.


Anak-anak terbiasa izin ketika akan menggunakan gadget, kita tidak harus ribut soal waktu karena mereka tahu sejauh mana mereka boleh menggunakannya, tidak ada scroll video-video pendek di sosial media kecuali ketika bersama orang tua, no games juga. Jadi, saya merasa terbantu ketika mereka sudah sama-sama paham. Saya tidak harus ngomel pakai otot lagi.


Melonggar atau saklek? Dalam hal tertentu, ada aturan yang benar-benar harus tegas, tetapi ada yang boleh kita langgar demi kebaikan anak-anak juga. Setiap orang punya aturan masing-masing, tetapi buat saya pribadi, komunikasi yang baik dengan anak-anak akan sangat membantu kita untuk mengontrol mereka.


Anak yang nyaman dengan orang tuanya tidak akan takut ketika mau cerita dan melapor, anak-anak yang terbiasa kita dengarkan tidak akan merasakan jarak sehingga mereka akan merasa aman. Dengan begitu, kita akan lebih mudah membuat aturan bersama dan menjalankannya. Insya Allah.


Salam hangat,


Wednesday, January 31, 2024

Mengajarkan Anak Berbisnis Sejak Dini

Mengajarkan Anak Berbisnis Sejak Dini
Photo by Sigmund on Unsplash


Dulu, ketika si sulung masih duduk di bangku Sekolah Dasar, ada temannya yang berjualan di sekolah. Dia berjualan pudding dan minuman. Kadang, dia membawa pesanan para guru dan teman-temannya. Entah kenapa, saya begitu senang mengetahui bahwa ada anak yang bisa berjualan di sekolah ketika teman-teman seusianya tidak memikirkan hal yang sama.


Saya pernah menawari si sulung berjualan, tetapi dia menolak karena tidak berani dan kurang percaya diri. Tujuannya memang bukan soal uang, tetapi membangun rasa percaya dirinya. 


Anak-anak di rumah sudah terbiasa menabung sejak kecil. Mereka tidak boros, tidak sembarangan membeli barang yang mereka suka dengan uang tabungannya. Saya juga tidak memberikan uang saku untuk mereka, sebab mereka sudah membawa bekal dari rumah. Meski sering disuruh jajan di kantin, mereka tetap menolak. Alasannya, males antre dan berdesak-desakan…kwkwk


Suatu hari, teman saya bercerita. Katanya, salah satu penjual di kantin menanyakan si sulung. Apakah dia anak baru? Kenapa jarang kelihatan? Teman saya tertawa. Si sulung sudah sekolah di tempat yang sama sejak TK sampai SD…huhu. Saking jarangnya jajan di kantin, ibu kantin pun tidak mengenalinya…kwkwk.


Anak-anak membawa uang saku sekitar 5 sampai 10 ribu yang kadang nggak habis dalam satu semester. Uang itu memang sengaja disimpan di tas untuk berjaga-jaga jika mereka butuh membeli air minum.


Setelah si sulung masuk pesantren, saya hampir tak percaya jika dia juga sangat hati-hati dalam mengelola uangnya. Anak kelas 1 SMP dan baru berpisah dari orang tua. Dia tidak pernah pegang uang sendiri. Tidak pernah mengatur kebutuhannya sendiri. Ketika saya menyimpan uang di tabungan santri dengan nominal yang lumayan besar, yang saya harap itu cukup membuatnya tenang selama di sana tanpa harus takut kehabisan uang untuk jajan, terutama di masa-masa awal di pesantren, nyatanya dia hanya mengambil 30 ribu saja dan sisanya masih ada sampai dengan saat ini.


Karena dia malas ambil tabungan santrinya, akhirnya setiap bulan saya beri pegangan uang yang nominalnya terbilang sedikit. Hanya untuk berjaga-jaga jika diperlukan atau ketika dia mau titip beli takjil saat Senin dan Kamis. Sampai kepulangannya di liburan semester pertama kemarin, saya masih belum tahu jika dia harus membayar uang kas kelas dan kamar yang otomatis mengambil uang pegangannya. Jadi, selama ini dia pegang uang lebih sedikit dari yang saya kira. Setiap saya ke pesantren, dia tidak pernah membuka amplopnya. Mau saya kasih berapa pun, dia tidak protes.


Dari sini, saya pikir uang itu hanya dipakai untuk kebutuhannya, bukan untuk membayar kas. Nyatanya saya keliru. Liburan semester pertama kemarin, dia pun masih menyisihkan uangnya untuk ditabung. Masya Allah tabarakallah. Mana nyangka masih nyisa juga? Kwkwk.


Membeli Sesuai Kebutuhan

Waktu kecil, saya membiasakan anak-anak untuk membeli apa yang dibutuhkan, bukan apa yang selalu mereka inginkan. Suatu hari, si sulung pernah hampir gulung-gulung di depan toko mainan hanya karena menginginkan mobil remot. Namun, kami sudah sepakat akan membelinya saat uang tabungannya cukup.


Menepati ucapan kepada anak akan sangat berpengaruh kepada sikapnya juga. Dia yang waktu itu masih kecil, belum juga sekolah, tetapi sebenarnya sudah memahami betul apa itu komitmen. Pada akhirnya, kami pulang ke rumah tanpa drama dan memecahkan celengannya dan menghitungnya. Setelah dihitung, uangnya belum cukup. Jadi, dia menabung kembali sampai keinginannya tercapai.


Ketika pergi ke swalayan, kami juga sepakat membeli hal-hal yang dibutuhkan. Ketika dia meminta sesuatu di luar kesepakatan, tentu saja saya menolak. Nah, hal-hal seperti ini akan mengajarkan anak-anak kita untuk bersikap konsisten dan tidak menjebak emaknya…haha.


Tidak menuruti permintaan anak-anak bukan berarti tidak sayang. Menangis juga bukan hal haram selama ia tidak menyakiti dirinya sendiri, tidak merusak barang, dan sejenisnya. Meski dia laki-laki, jangan pernah melarangnya menangis dan bersedih. Buat saya, semua emosi itu baik asal tidak disampiaskan dengan cara yang keliru.


Balik lagi ke si sulung. Ketika ia masuk pesantren, ternyata dia berhasil mengelola uangnya dengan baik. dia pernah cerita, beberapa temannya sering meminjam uang dengan nominal yang tidak besar untuk jajan. Salah satu temannya juga pernah berkomentar, kenapa uangmu masih ada padahal jumlahnya hampir sama dengan milikku? :D


Jika dilihat, bukan anak saya tidak suka jajan. Dia suka dan mau saja makan camilan seperti susu dan camilan ringan lainnya, tetapi karena dia anaknya agak mageran, males ke mana-mana seperti saya, akhirnya dia memilih tetap di asrama dibanding harus panas-panasan beli makanan di kantin atau swalayan pesantren.


Setiap menjenguk, saya selalu membawakannya makanan ringan secukupnya asal bisa muat di lemari. Sebelum dijenguk lagi, kadang camilannya sudah habis, tetapi ia enggan dikirim via Alfagift misalnya. Alasannya, males kalau ambil paket antre…kwkwk. Benar-benar di luar nurul, kan?


Selama enam bulan pertama di pesantren, kelihatan banget dia kurusan. Selain kurang tidur, dia pasti juga berkurang makan dan ngemilnya. Namun, saya bersyukur dia bisa beradaptasi dengan baik meski saya yakin, itu bukan hal mudah. Makan makanan berat yang mungkin nggak sesuai sama seleranya, tetapi tetap harus dimakan daripada sakit, ketika sakit dia harus mengurus dirinya sendiri, tanpa saya, tanpa minta pulang dan merengek, bahkan selama semester pertama kemarin, meski beberapa kali sakit, dia tidak pernah absen. Tetap masuk sekolah seperti biasa karena takut disuruh tidur di UKS. Benar-benar di luar nurul (yang kedua)…haha.


Berjualan Sesuai Hobi

Awal kembali ke pesantren setelah libur, dia sering telepon. Sepertinya kangen, jadi pengin banyak ngobrol dengan saya. Sampai akhirnya dia cerita kalau di sana, dia berjualan gambar atau nama yang diberi ornamen. Dia kirim beberapa foto. Sejujurnya, saya kaget dan takjub juga, masya Allah. Saya nggak pernah membayangkan dia berjualan gambar dan ada lumayan juga yang beli.


Ketika kami ke pesantren, dia tunjukkan beberapa syarat atau ketentuan jika ada yang mau memesan gambar padanya. Saya dan suami cukup terkejut dengan ketentuan yang dia tulis. Lebih detail dibanding saya yang kerja sebagai illustrator selama beberapa tahun terakhir. Misalnya, jika mau pesan, harga beberapa style dibedakan, kertasnya dari pembeli, revisi hanya boleh saat masih berbentuk sketsa, pembayaran dilakukan setelah gambar selesai, harus sabar menunggu sesuai antrean, mesti digaris bawahi, dilarang keras menagih gambar! Kwkwk. 


Kenapa harus begitu? Katanya, si sulung hanya mengerjakan saat jam kosong di kelas. Jadi, bisa dibayangkan butuh waktu banget untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Soal harga, dia mematok harga yang masuk akal, sih. Meski sebagian orang meremehkan pekerjaan tukang gambar, tetapi saya pribadi mengakui bahwa pekerjaan ini tidak mudah dikerjakan oleh semua orang. Capek, susah, belum lagi harus detail. Jadi, harga yang ditawarkan termasuk manusiawi untuk ukuran gambarnya dia.


Dibanding menjual makanan, justru mengerjakan gambar seperti ini bakalan dapat untung yang utuh, sih…kwkwk. Karena kertasnya saja dari pembeli, sedangkan pensil warna dibawa dari rumah….haha.


Saya harus akui, putra saya lebih berani dibanding saya ketika membuat aturan. Saya pribadi, terkadang masih terpaksa merevisi gambar yang sudah diwarnai. Meski perjanjian di awal nggak boleh, tetap saja kadang saya kerjakan. Inilah pentingnya memberikan batasan pada diri sendiri sehingga orang lain bisa lebih menghargai kita. Bagus, Nak!


Manfaat Belajar Berbisnis Sejak Dini

Kira-kira, apa sih manfaat anak-anak berjualan sejak kecil? Apakah semata-mata demi uang? Meski anak-anak cenderung senang dapat menghasilkan uang sendiri, tetapi lebih dari itu, ada beberapa manfaat yang sangat bagus bagi mereka.


1. Menumbuhkan Rasa Tanggung Jawab

Ketika anak kita berani berjualan, maka mereka telah berani mengambil tanggung jawab lebih dibanding yang lainnya. Dia harus menjaga barang dagangannya, menghitung, juga mengerjakan pekerjaannya jika memang ia berjualan gambar seperti putra saya. 


Berhasil atau tidaknya bisnis mereka, tergantung pada mereka juga. Jika mereka malas-malasan, otomatis mereka tidak akan bisa menjalankan usahanya dengan baik. Meski kesannya sepele, tetapi ada banyak manfaat yang dapat dipelajari dari berjualan di usia kecil.


2. Menumbuhkan Jiwa Berbisnis atau Wirausaha

Sama seperti kita, pasti di awal-awal, mereka cenderung ragu apakah mereka dapat menjalankan usahanya dengan baik? Apakah bisnis mereka akan sukses atau malah gagal?


Meski sangat pemula, tetapi mereka telah berani mengambil risiko dan akhirnya sukses menjalankan bisnis kecilnya dengan percaya diri. Jiwa wirausahanya telah tumbuh dan semoga bisa membuatnya lebih percaya diri di waktu dewasanya nanti.


3. Anak Akan Lebih Menghargai Uang

Ketika tahu tidak mudahnya mendapatkan uang sendiri, anak-anak akan belajar untuk berhemat. Mereka akan belajar menghargai uang karena paham betapa susahnya mengumpulkan uang sedikit demi sedikit.


Sejak masuk pesantren dan harus memegang uang bulanan sendiri, saya melihat si sulung jadi lebih perhitungan bahkan meski itu menggunakan uang saya. Misalnya, ketika kami ke Gramedia, dia menolak membeli beberapa peralatan sekolah karena dirasa terlalu mahal. Katanya, mending beli di toko dekat rumah…kwkw. Padahal, nggak pakai uang dia juga, lho.


Kalau anak kita sudah paham cara menghasilkan uang, insya Allah mereka tidak akan sembarangan menghabiskannya.


4. Melatih Rasa Percaya Diri

Tidak semua anak berani berjualan di sekolah. Kenapa? Karena hampir seluruhnya akan menjawab, maluuu! Itu juga yang dikatakan oleh putra saya dulu.


Padahal, saya pribadi begitu senang melihat ada anak yang masih sekolah, tetapi mau berjualan. Entah karena hobi atau memang demi membantu ekonomi keluarga.


Namun, tiap anak memang punya waktunya masing-masing, ya. Berawal dari seringnya si sulung disuruh menggambar oleh temannya, dia jadi punya ide untuk menjual sekalian gambarnya…haha. Qadarullah, gambarnya memang laku dan sudah ada beberapa orang yang pesan.


Ketika anak berhasil melakukan sesuatu, jangan lupa untuk mengapresiasi usaha dan kerja kerasnya. Penghargaan dari orang tua pasti akan selalu putra putri kita harapkan. Entah itu dengan memberikan pujian ataupun reward.


Setiap orang tumbuh dan berkembang mulai dari nol. Jangan terburu-buru meminta anak-anak kita berhasil, tetapi bersamailah mereka sampai benar-benar berhasil. Bukankah kita juga tidak serta merta menjadi hebat? Dulunya, kita juga pernah menjadi orang yang tidak tahu dan tidak bisa apa-apa.


Salam hangat,


Saturday, December 2, 2023

Hai, Nak! Apa Kamu Bahagia Punya Orang Tua Seperti Kami?

Hai, Nak! Apa Kamu Bahagia Punya Orang Tua Seperti Kami?
Photo by Kelly Sikkema on Unsplash


Kebanyakan orang tua menuntut anak-anaknya supaya menjadi baik, penurut, patuh, dan sopan kepada orang tua. Namun, di sisi lain orang tua justru lupa bersikap sama kepada mereka. Meski masih kecil, mereka juga manusia yang jika dibentak akan merasa sakit dan bahkan traumanya bisa dibawa hingga dewasa.


"Hai, Nak! Apa kamu bahagia punya orang tua seperti kami? Apakah kami sudah cukup baik untuk mendengarkan ceritamu sepanjang hari? Apakah kami sudah cukup layak disebut orang tua yang dapat memanusiakan anaknya?"


Saya pernah bertanya kepada si bungsu yang sekarang baru 8 tahun, "Apa kamu senang punya orang tua seperti Bunda?" Tanpa ragu dia menjawab, "Anak-anak nggak bisa milih orang tuanya." Eits, anak segini jawabnya udah baku banget…kwkwk. Berasa lagi ngobrol sama anak SMA…haha.


Kemudian saya tanya, "Andai kamu bisa milih, mau nggak pilih orang tua yang lain? Mungkin seperti ibunya si A atau si B?"


Dia bilang, "Nggak mau. Tetap pilih Bunda. Sayangnya Adek ke Bunda udah sampai garis." Maksudnya, sudah benar-benar maksimal...kwkwk.


"Kalau nggak sukanya apa dari Bunda?" Dia jawab dengan gaya melucu, "Kalau sudah bla bla bla..." *bergaya seperti sedang menceramahi orang…kwkwk. Maksudnya, emaknya cerewet. Dia nggak suka kalau diomelin…haha. Namun, sayang sekali. Itu sudah bawaan dari lahir ya, Nak…kwkwk.


Sebenarnya, kalau kita mau menyadari, meski telah tumbuh dewasa, orang tua seperti kita juga sangat mungkin melakukan kesalahan. Jadi, bukan berarti setelah jadi orang tua kita tidak pernah salah. Hal paling sulit ketika kita tidak menyadari dan menganggap anaklah yang selalu salah.


Gimana perasaan mereka ketika selalu disalahkan? Sedangkan orang tua juga sebenarnya sedang belajar dan tidak pernah mengenyam pendidikan untuk jadi orang tua? Pada akhirnya, anaklah yang akan menanggung beban hingga dewasanya nanti.


Kepada si bungsu saya tidak merasa banyak berutang, tapi kepada si sulung, saya merasa punya banyak sekali utang di masa kecilnya. Makanya sampai saat ini, saya sering minta maaf jika kami pernah punya salah dan pernah tanpa sengaja menyakitinya. Kenapa bisa begitu?


Karena saat si sulung lahir, kami benar-benar baru belajar jadi orang tua. Kemudian dia punya adik di usianya yang masih balita. Dia sebenarnya masih kebingungan, kenapa Bundanya terlihat terlalu sibuk dengan adiknya, sedangkan dia yang biasanya dibacakan buku setiap malam sekarang justru sedang sendirian?


Saya ingat betul, sepulang dari rumah sakit, dia menunggu saya di tempat tidurnya seperti malam-malam sebelumnya. Menanti untuk dibacakan buku, tapi saya tidak bisa lekas menemani karena harus mengurus adiknya yang baru lahir. 


Setelah mereka agak besar, sering kali saya tidak mau mendengarkan penjelasan si sulung dulu, tapi lebih sering menyalahkan ketika adiknya menangis, memintanya selalu mengalah, padahal dia berhak menolak. Awalnya bagi saya ini hal sepele. Hanya soal mainan dan barang-barang remeh. Hingga suatu hari dia pernah bilang, "Kenapa aku terus yang disalahkan?" 


Kalau ingat, nyeseknya sampai ulu hati. Bahkan kalau mengingat kesalahan saya sebagai orang tua, sampai saat ini saya masih sering menangis. 


Ternyata, jadi orang tua itu tidak mudah, ya? Meski telah berhati-hati, terkadang kita tidak bisa mengendalikan diri dan buru-buru mengambil keputusan, hingga sering kali kita lupa mendengarkan anak-anak.


Meski sudah menjadi kakak, bukan berarti anak kita sudah dewasa. Di usia mereka yang masih balita, tidak seharusnya juga selalu berbagi mainannya dengan si adik. Mereka bisa saja merespon permintaan itu dengan cara mempertahankan apa yang dirasa miliknya. Dan itu nggak salah. Dia tidak harus selalu mengalah hanya karena orang tua meminta. Dan terkadang, meski adiknya menangis, bukan berarti selalu kakaknya yang salah.


Siapa sangka, jadi orang tua seberat ini, kan? Terutama setelah anak kita punya saudara, rasanya sangat sulit mengendalikan emosi, terlebih ketika kita belum sepenuhnya selesai dengan diri sendiri. Bagaimana kita bisa memperbaiki semuanya?


Kita Butuh Jeda

Hai, Nak! Apa Kamu Bahagia Punya Orang Tua Seperti Kami?
Photo by Juliane Liebermann on Unsplash


Setelah si sulung masuk pesantren, terasa sekali kehilangannya. Seberat ini ternyata rasanya harus berpisah dengan anak yang telah kita rawat sejak kecil. Melihat baju-bajunya di lemari, ternyata sudah cukup membuat seorang ibu menangis. Bahkan sampai detik ini, saya masih suka mengusap baju-baju dia kemudian menciumnya. Kangen...


Waktu awal-awal dia masuk pesantren, sedikit pun nggak ada keluhan. Saya lumayan kaget melihat perubahannya. Ketika pertama kali menjenguk, saya bilang,


“Nak, terima kasih sudah berusaha, ya. Bunda bangga sama kamu.”


Enam bulan di pesantren, saya tidak merasa dia membebani kami sama sekali. Tidak pernah minta pulang, diberi uang berapa pun tidak pernah protes, bahkan ketika sakit hingga demam, dia tidak memberi tahu saya. Dia minum obat yang saya bawakan dari rumah, tetap sekolah, dan bersikap seolah tidak ada apa-apa. Masya Allah. Ketika dia menelepon, dia tidak akan segera menutup telepon sampai saya bilang sudah. Dia pastikan dulu apakah emaknya sudah selesai kangennya? haha.


Namun, dua bulan terakhir, setiap saya ke pesantren, dia terlihat gusar menanyakan waktu. Jam berapa? Bunda langsung pulang habis salat Ashar?


Dia merasa waktu kami bertemu terlalu singkat. Dia ingin lebih lama ngobrol. Hingga kali terakhir kami menjenguk, dia sesenggukan di bahu saya. Kami memutuskan menunggu sampai dia pulang halaqah. Kami luangkan waktu untuk ngobrol bertiga. Dia terlihat lega karena bisa lebih lama bersama dan bercerita. Ceritanya nggak berat, hanya hal-hal sehari-hari. Tentang pelajaran, guru, dan teman-temannya. Setelah itu, kami segera pamit karena khawatir terjebak macet di jalan. 


Awal-awal dia masuk pesantren, rasanya pengin saya batalkan saking nggak mau kami berpisah. Namun, saya sadar, waktu seperti sekarang justru memberikan jeda untuk saya dan dia sebagai anak dan orang tua. 


Kesalahan Orang Tua

Hai, Nak! Apa Kamu Bahagia Punya Orang Tua Seperti Kami?
Photo by Juliane Liebermann on Unsplash


Apa, sih yang sering luput kita sadari sebagai orang tua? Kadang, bukan kita tidak mengerti, berkali-kali membaca buku parenting pun ternyata tidak cukup untuk mengontrol sikap kita kepada anak-anak. Ada saja hal-hal yang kelepasan. Bisa sepele, bisa juga besar pengaruhnya buat anak-anak.


1. Orang tua sering tidak mau mendengarkan anak-anaknya. Kita cenderung tidak mau meluangkan waktu meski hanya sebentar, bahkan sekadar untuk mendengarkan klarifikasinya. Jika anak sudah merasa tidak pernah didengar, dia akan lebih banyak diam karena merasa semua yang dia lakukan percuma.


2. Anak-anak tidak butuh banyak hadiah, dia butuh ‘kehadiran’ kita sebagai orang tua. Meski kebanyakan ibu ada di rumah, tapi jika kebersamaan tidak berkualitas, saya rasa ini juga akan percuma. Apalagi jika anak-anak menerima kekerasan, akan semakin membuat mereka trauma dan suntuk.


3. Jika melarang, silakan beri alasannya. Saya pernah menonton video seorang ibu yang galak dan sempat viral. Ibu ini suka menasihati dengan suara tinggi, tapi kali itu dia mengatakan bahwa, "Ketika ibu melarang ya udah dengerin. Nggak usah nanya-nanya alasannya kenapa. Nurut aja.” Buat saya, ini kurang tepat. Anak-anak akan mengikuti aturan jika dia tahu alasannya. Kenapa kita tidak boleh main api? Karena akan terbakar dan membahayakan diri. Kenapa kita tidak boleh main pisau? Kenapa anak-anak sebaiknya tidak main gadget? Jika mereka tidak tahu alasannya, bisa jadi mereka justru jadi penasaran dan malah mencoba ketika orang tua tidak mendampingi.


4. Mengungkapkan rasa sayang dengan memanjakan dan menuruti semua keinginan anak saya rasa bukan sikap yang tepat. Meski kita tahu, siapa, sih yang mau anaknya susah? Namun, untuk beberapa hal kita perlu mengajarkan anak supaya mandiri dan bisa menahan diri. Ketika sudah dewasa, dia siap menerima kenyataan bahwa tidak selamanya ia bisa bersama orang tuanya.


5. Jangan malu untuk meminta maaf kepada anak ketika dirasa ada sikap kita yang keliru. Kebanyakan orang tua tidak merasa bersalah setelah marah-marah. Padahal, sikap kasar kita sangat menyakiti hati mereka. Anak-anak itu pemaaf banget, lho. Nggak seperti kita yang kadang pendendam. Coba ajak diskusi dibanding selalu menghakimi mereka. Kira-kira, sikap apa yang bisa menyakiti hatinya dan sikap mana yang tidak kita sukai dari mereka. Kita bisa sama-sama memperbaiki.


6. Pertengkaran antara suami istri bisa menyebabkan trauma bagi anak-anak. Kita mungkin tidak menyadari itu, sebab kita merasa tidak pernah melibatkan mereka. Namun, mereka melihat, mereka juga mendengar. Memang, tidak sepantasnya kita bertengkar di depan anak-anak. Terkadang, ada yang tidak dapat kita kendalikan. Lekas minta maaf dan jelaskan sesuai usia mereka.


Jika disebutkan semua, rasanya tidak cukup 100 sekian halaman, ya? haha. Banyak kesalahan yang kerap kita lakukan tanpa disadari. Kemudian kita memahami, rupanya jadi orang tua itu berat, ya? Mereka tidak bisa memilih dari siapa dilahirkan. Kitalah yang berharap mereka ada.


Saya rasa, tidak ada orang tua yang sempurna. Meski sedikit, orang tua pasti pernah marah dan berselisih paham dengan anaknya. Namun, saya ingin menekankan bahwa masih ada waktu untuk memperbaiki kekeliruan kita. Jangan gengsi untuk minta maaf dan berhentilah melakukan kesalahan.


Salam hangat,


Sunday, November 5, 2023

Resep Roti Sosis Ekonomis Super Lembut, Yummy!

Resep Roti Sosis Ekonomis Super Lembut, Yummy!


Hai, hai! Biasanya, teman-teman blogger yang jarang ngisi blognya selalu mengawali paragraf pertama dengan kalimat seperti ini, “Alhamdulillah, bersyukur banget akhirnya bisa kembali mengisi blog setelah sekian lama menghilang dari planet bumi.” Kwkwk. Dan kalimat ini pula yang saya gunakan untuk mengawali postingan pertama di bulan November ini! :D


Nggak banyak aktivitas baru di beberapa bulan terakhir selain menulis naskah, bikin konten, dan baking. Yes! Kayaknya jadi lumayan sering baking sejak kakak masuk pesantren. Setiap mau ke sana, selalu mikir mau buat apa, ya buat dia? Haha.


Kemarin, setelah membuat donat dua kloter, saya memaksakan diri membuat roti sosis ini. Alasannya, karena saya pikir Kakak nggak akan mau makan donat. Dia nggak terlalu suka, selalu bilang gampang eneg kalau makan donat. Jadi, saya membuat alternatif camilan lain supaya dia bisa makan hasil bikinan emaknya. Sedangkan donatnya bisa buat teman-teman sekamarnya.


Tapi, ternyata, si Kakak kali ini malah makan donat beberapa biji. Katanya enak! Ini beda dengan yang biasanya… haha. Ya tentu, soalnya saya sampai ikutan kelas supaya bisa bikin donat yang enak.


Karena nggak memungkinkan berbagi resep donat dari kelas yang saya ikuti, mari kita coba membuat roti sosis ekonomis ini saja. Resepnya saya pakai dari resepnya ci Tintin Rayner, ya. Hasilnya lembut banget, masya Allah.


Alasan Kenapa Rotimu Selalu Gagal Mengembang

Hayo, ngaku siapa yang rotinya selalu bantet? Beribu kali nyoba beberapa resep *ceilah…kwkwk, saya mulai paham ada beberapa faktor yang bikin roti kita nggak mengembang dengan baik alias bantet.


Hal pertama yang perlu diperiksa adalah ragi. Apakah ragi yang kita gunakan masih aktif atau baru dibuka beberapa hari lalu, tapi disimpan di tempat yang salah. Saya selalu menyimpan ragi yang sudah terbuka di freezer atau bisa juga di kulkas, tentunya dalam kondisi tertutup rapat. Dengan begitu, mau berbulan-bulan sekalipun, ragi yang saya pakai tetap bagus.


Kedua, memang nggak mudah mengadon adonan roti apalagi kalau kita pakai tangan atau hand mixer. Namun, kalau mau telaten, adonan kita bisa banget jadi kalis elastis. Hanya saja butuh waktu yang lebih lama dan yang pasti jangan sampai adonan kita jadi hangat saking lamanya diulen, ya.


Saya pribadi sudah beberapa tahun menggunakan mesin roti Re Bread. Diulen dua kali sudah pas. Adonan biasanya pakai air es supaya tetap dingin saat diulen. Hasilnya, insya Allah selalu bagus. Kalau Re Bread terlalu mahal, ada merek lain yang nggak kalah oke. Contohnya mereka Bread Master yang harganya jauh di bawah Re Bread. Hanya 1 jutaan saja dan insya Allah worth it. Apakah saya sudah coba? Saya sendiri memang tidak pakai, tapi kakak saya kebetulan pakai. Usianya sudah setengah tahunan. Alhamdulillah masih aman. Ini bukan endorse, ya. Hanya mencarikan solusi…kwkwk.


Ketiga, jangan over proofing, ikuti semua aturan dalam resep. Kebiasaan kita, nih yang super sibuk, Sukanya tiba-tiba pergi ke mana dan ninggalin adonan sampai berjam-jam. Kebayang nggak, sih itu adonan sakit hati gara-gara dikacangin? Kwkwk. Jangan bikin aturan sendiri, kalau nggak nurut, ya bisa aja gagal.


Satu lagi, entah kenapa, setiap saya membuat adonan roti yang menggunakan putih telur, hasilnya selalu kurang memuaskan setelah dingin. Berbeda dengan adonan yang hanya menggunakan kuning telur. Saya jadi kapok membuat roti pakai resep yang di dalamnya ada putih telurnya. Mending ganti saja dengan resep lain.


Bahan lainnya gimana? Perbedaan merek tepung yang kita pakai itu nggak hanya sekadar merek, ya. Ada terigu yang khusus dipakai untuk roti, ada juga yang dipakai untuk kue kering. Sedangkan untuk roti dan donat, tepungnya pun bermacam-macam. Ada yang murah, ada yang premium. Makin mahal, insya Allah makin bagus hasil rotinya.


Nah, kira-kira itulah yang saya pahami setelah beberapa tahun bergelut dengan adonan roti. Terlihat susah, tapi sebenarnya jika sudah terbiasa sangat mudah, kok. Yuk, dicoba saja.


Resep Roti Sosis Ekonomis

Resep Roti Sosis Ekonomis Super Lembut, Yummy!


Bahan:

200 gram terigu protein tinggi

100 gram terigu protein sedang

40 gram gula pasir

1 butir kuning telur

6 gram ragi instan

½ sdt garam

60 gram butter atau margarin

150 ml air dingin

1 sachet susu bubuk (optional, tambahan dari saya)


Cara membuat:

  1. Campurkan semua bahan kecuali butter dan garam. Uleni hanya sampai tercampur rata.
  2. Masukkan butter dan garam, uleni kembali sampai benar-benar kalis.
  3. Tutup adonan dengan plastik atau kain basah dan diamkan sampai 30 menit.
  4. Ambil adonan dan timbang masing-masing 40-50 gram. Sesuaikan selera. Saya sesuaikan dengan besar cup.
  5. Bulatkan adonan dan pipihkan atau gilas. Di sini saya beri isian keju spread mengingat adonannya cukup besar. Supaya ketika dimakan tidak kosong dan tetap enak…hehe. Bentuk sesuai selera dan beri topping di atasnya. 
  6. Diamkan kembali sampai mengembang 2x lipat. Bisa 30 menit atau sampai 1 jam tergantung suhu.
  7. Toppingnya bisa pakai saus tomat, saus sambal, potongan sosis, oregano, mayonaise, sampai bawang bombay.
  8. Setelah adonan mengembang, panggang di oven suhu 190-200’C sampai keemasan.


Voila! Roti sosis ekonomis siap disantap. Waktu hangat, asli ini lembut parah. Parah banget kalau nggak nyoba…haha. Setelah dingin, simpan dalam plastik. Rotinya bisa tahan sampai beberapa hari. Punya saya, di atas 3 hari masih aman, tapi kalau bisa segera dihabiskan, ya.


Teman-teman juga bisa jadikan ini sebagai ide jualan atau bekal untuk si kecil di rumah. Sedikit rempong, sih, ya, tapi asli ini worth it banget, kok. Semoga bermanfaat.


Salam hangat,


Tuesday, October 3, 2023

Ikut Kelas Baking, Worth It Nggak, Sih?

Ikut Kelas Baking, Worth It Nggak, Sih?
Percobaan kedua dari kelas baking akhirnya berhasil!


Nggak pernah membayangkan pada akhirnya saya yang sebulan sekali mengulen adonan roti ini mendaftar di kelas baking…hahaha. Belum kepikiran juga buat jualan kue atau open PO roti dan donat, tapi memutuskan ikut kelas baking via daring.


Buat saya pribadi, mengikuti kelas, menambah skill apa pun nggak akan pernah rugi. Meski mungkin nggak kepake sekarang, besok atau kapan pun setelah butuh, kita tinggal mencobanya dan mendapatkan paluang baru dari hasl belajar tersebut.


Untuk ikut kelas baking, memang kebanyakan mesti datang langsung supaya lebih mudah dan benar-benar tahu caranya yang tepat. Namun, saya yang selalu di rumah nggak memungkinkan buat pergi untuk belajar membuat kue. Qadarullah, tanpa sengaja saya melihat sebuah postingan kelas baking online di Instagram. Melihat testimoni anggotanya, saya jadi tertarik dan akhirnya coba daftar langsung.


Karena terlalu sering melihat gambar dan reels tentang donat, alhasil di Instagram saya penuh dengan donat dan donat…haha. Inilah yang akhirnya mempertemukan saya dengan salah satu kelas baking ini.


Ikut Kelas Baking, Worth It Nggak, sih?

Ikut Kelas Baking, Worth It Nggak, Sih?
Donat-donat buatan saya dari hasil kelas baking. Cantik, ya :D


Waktu ikutan kelas baking via daring, saya diberikan materi berupa resep dan teknik yang dikirim memalui link Youtube dan PDF. Mesti lebih jeli membaca semua materi karena bisa jadi ada step yang terlewati karena terburu-buru. Berhubung materinya mesti dibaca dan lumayan banyak, jadi mesti sabar, ya…hehe. Sedangkan untuk penjelasan memalui video sudah sangat jelas dan tinggal diikuti saja langkah-langkahnya. 


Untuk percobaan pertama, donat saya kurang tinggi white ring-nya. Setelah saya cek ulang, ternyata ada step yang ketinggalan…haha. Saya juga kurang lama waktu proofing sehingga donatnya belum benar-benar siap digoreng.


Percobaan berikutnya, donat saya sudah bagus dan tinggi white ring-nya. Soal rasa, karena saya menggunakan resep donat premium, asli ini enak. Belum pernah saya makan donat seenak dan sewangi ini. Sampai 3 hari berikutnya, donatnya masih empuk, lembut, nggak berminyak juga.


Merasa benar-benar beruntung karena sudah memilih keputusan yang tepat…hahaha. Suami yang biasanya malas makan donat, kali ini sekali makan bisa habis 2 dong. Masya Allah banget, akhirnya bisa jadi kang donat…haha.


Kesimpulannya, apakah worth it ikut kelas baking apalagi yang diadakan secara daring begini? Jawabannya worth it banget! Kita nggak perlu keluar rumah, biayayanya jauh lebih terjangkau, tapi memang mesti menyiapkan semua alat dan bahan sendiri. Praktiknya juga bisa dilakukan kapan saja, selonggarnya kita. Tingkat keberhasilannya tinggi, kok. Bisa dibilang resep dan triknya memang antigagal dan bisa langsung dipakai untuk buka usaha. Mantap, kan? hehe.


Keuntungan Mengikuti Kelas Baking

Ikut Kelas Baking, Worth It Nggak, Sih?
Masya Allah, akhirnya bisa jadi penulis sekaligus kang donat...kwkwk.


1. Pembelajaran keterampilan: Kelas baking memberi kita kesempatan untuk belajar keterampilan dasar dan lanjutan dalam membuat berbagai jenis roti, kue, dan produk roti lainnya. Kamu akan mendapatkan panduan dan instruksi langsung dari orang yang telah berpengalaman.


2. Memahami teknik dan resep: Kita akan memahami teknik-teknik penting dalam baking, seperti pengukuran bahan, mencampur, membentuk, dan memanggang. Selain itu, kita akan diberikan resep-resep yang teruji dan terpercaya.


3. Peningkatan kreativitas: Baking juga melibatkan unsur seni dan kreativitas. Kita bisa belajar cara menghias kue, membuat desain yang menarik, dan mengkreasikan variasi resep sesuai selera.


4. Pengetahuan nutrisi: Baking bukan hanya tentang membuat makanan yang enak, tetapi juga tentang memahami nutrisi. Kita akan belajar tentang jenis-jenis bahan makanan, nilai gizi, dan cara menggabungkannya secara seimbang.


5. Pengembangan kepercayaan diri: Memasak di depan orang lain, bahkan dalam kelas, dapat membantu kita mengembangkan kepercayaan diri dalam memasak. Ini juga merupakan kesempatan untuk berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama.


6. Keuntungan kesehatan: Dengan mengikuti kelas baking, kita dapat memilih bahan-bahan yang lebih sehat dan menghindari bahan-bahan tambahan yang tidak diinginkan yang sering ditemukan dalam produk roti komersial.


7. Menyajikan hidangan lezat: Setelah mengikuti kelas, kita akan dapat menyajikan hidangan lezat buatan sendiri kepada keluarga dan teman-teman. Ini dapat meningkatkan kebahagiaan orang-orang di sekitar kita.


8. Peluang bisnis: Jika teman-teman memiliki minat dalam bisnis makanan, mengikuti kelas baking dapat membantu memulai bisnis roti atau kue sendiri. Kita dapat mengembangkan resep sendiri dan mulai menjual produk baru.


9. Hiburan pribadi: Seperti halnya saya, baking juga dapat menjadi hobi yang memuaskan secara pribadi. Banyak orang menemukan kebahagiaan dalam menciptakan karya seni kuliner yang lezat dan indah.


10. Pengetahuan budaya: Baking adalah bagian dari budaya makanan yang beragam di seluruh dunia. Mengikuti kelas baking dapat membantu kita memahami dan menghargai berbagai tradisi kuliner.


Mengikuti kelas baking dapat memberikan banyak manfaat, baik dari segi keterampilan memasak, pemahaman tentang makanan, maupun aspek-aspek lainnya seperti kreativitas, dan kebahagiaan pribadi. Itu juga bisa menjadi langkah pertama dalam menjelajahi karier di dunia kuliner jika teman-teman memiliki minat yang serius.


Buat saya, nggak ada penyesalan setelah mengikuti kelas baking kemarin. Justru saya jadi senang dan happy karena bisa membuat donat terbaik seumur hidup saya…haha. Saya senang ketika orang-orang terdekat mengatakan bahwa donat yang saya buat benar-benar enak dan premium banget, bahkan donat yang sudah terkenal pun masih kalah. Masya Allah.


Resep dan trik dari kelas baking memang merupakan hal yang rahasia. Nggak heran, saya memang nggak pernah menemukan resep dan trik tersebut disebar di Youtube. Meski harus membayar dengan harga yang lumayan, tapi saya pikir ini worth it banget terutama jika teman-teman memang mau buka usaha, ya. Semoga sharing ini bisa bermanfaat dan jadi pencerahakan bagi teman-teman yang mau memulai bisnis kuliner.


Salam hangat,


Thursday, September 7, 2023

Tips Traveling Tetap Menyenangkan Bersama Si Kecil

Tips Traveling Tetap Menyenangkan Bersama Si Kecil
Photo by jeshoots.com on Unsplash


Waktu si Kakak berusia 7 tahunan, kami memberanikan diri mengajak dia umroh dan jalan-jalan ke Turki selama beberapa hari. Selain Kakak, saya juga mempunyai satu batita yang baru berusia 2 tahunan. Sempat kepikiran, gimana caranya kami pergi umroh sambil bawa bocil gini? hihi. Asli, saya takut mereka rewel di perjalanan yang nggak sebentar. Mudik aja repot, apalagi ini?


Namun, karena sudah mempersiapkan semua dengan baik, saya tawakkal saja pada Allah. Si bungsu memang sempat rewel waktu di pesawat dan nggak mau digendong ayahnya ketika kami umroh, tapi ya sudahlah itu jadi bagian unik yang kami nikmati juga...kwkwk. Kalau nggak dibawa pergi, kami juga pasti kepikiran gimana mereka di rumah?


Karena umroh kemarin terlalu riweh, saya jadi kepikiran untuk ajak anak-anak lagi setelah usia mereka sudah lebih besar. Pengin menikmati ibadah bareng di saat mereka juga paham nikmatnya beribadah di tanah suci. Apalagi setelah melihat si Kakak yang masuk pesantren, sudah mau salat sunnah tanpa disuruh, rasanya nyes banget pengin saya bawa umroh lagi...kwkwk.


BTW, traveling bersama si kecil memang bisa jadi pengalaman yang luar biasa. Namun, bisa juga menjadi tantangan yang besar. Untuk memastikan liburan kita berjalan lancar dan menyenangkan, ada beberapa tip dan panduan yang perlu teman-teman pertimbangkan sebelum, selama, dan setelah melakukan perjalanan bersama si kecil. Saya akan share beberapa saran berharga untuk membantu teman-teman merencanakan perjalanan yang menyenangkan bersama keluarga tercinta.


Tips Traveling Tetap Menyenangkan Bersama Si Kecil
Photo by Alvin Mahmudov on Unsplash


1. Rencanakan dengan Matang


Sebelum teman-teman berangkat, rencanakan perjalanan dengan matang. Ini termasuk memilih destinasi yang sesuai dengan kebutuhan dan minat si kecil. Pastikan kita punya rencana perjalanan yang fleksibel sehingga dapat menyesuaikannya jika diperlukan.


Dulu, selain memang diajak umroh bareng keluarga besar lainnya, peri ke Turki juga jadi pengalaman yang menyenangkan buat anak-anak. Mereka bisa naik kereta gantung di Uludag, main salju, dan jalan-jalan dengan keluarga lain yang masih seusia mereka. Meski mereka tak sepenuhnya paham dengan perjalanan umrohnya, tapi jika ditanya sekarang, mereka cukup menikmati perjalanan seminggu lebih beberapa tahun lalu.


Mereka juga antusias banget pengin balik umroh dan ke Turki. Mengulang pengalaman waktu kecil dulu yang mereka rasa sangat menyenangkan. Kalau tempatnya sesuai, kegiatannya cocok buat anak-anak, kenapa nggak, kan?


2. Pilih Akomodasi yang Sesuai


Saat memesan akomodasi, pertimbangkan kenyamanan dan keamanan anak kita. Hotel atau apartemen dengan fasilitas keluarga seperti kolam renang, dapur, atau area bermain dapat menjadi pilihan yang baik.


Sempat beberapa kali kami mengisi liburan ke Bandung beberapa waktu lalu dan menginap semalam di sana. Ternyata, traveling singkat begini juga cukup menarik buat anak-anak. Namun, karena rencananya cukup mendadak, kami kehabisan tiket kereta ke Jakarta dna terpaksa naik kelas ekonomi yang ternyata lumayan bikin pegel buat anak-anak. Karena sudah pengalaman seperti ini, kami jadi lebih hati-hati ketika mau liburan ke luar kota lagi, terutama ketika tidak membawa kendaraan pribadi.


3. Bawa Perlengkapan Penting


Jangan lupa membawa perlengkapan penting seperti popok, botol susu, makanan bayi, dan obat-obatan jika diperlukan. Selalu bawa lebih banyak daripada yang kita butuhkan, khususnya jika teman-teman tidak yakin apakah barang-barang tersebut tersedia di tempat tujuan.


Meski anak-anak sudah cukup besar, tapi saya selalu rempong dengan bawaan seperti ini. Saya orangnya mudah panik, jadi sebisa mungkin semua hal dipersiapkan dengan baik di rumah sebelum melakukan perjalanan. Ketika kita traveling, mungkin ada kondisi yang tak dapat dihindari sehingga membawa perlengkapan banyak bisa sangat membantu ketika benar-benar dibutuhkan.


4. Jadwalkan dengan Bijak


Perjalanan dengan anak kecil seringkali memerlukan jadwal yang lebih fleksibel. Jangan terlalu banyak mengisi jadwal dengan aktivitas karena anak kita mungkin membutuhkan istirahat. Juga, pertimbangkan perbedaan zona waktu jika hendak bepergian ke tempat yang jauh.


Kegiatan yang terlalu padat selama traveling bukan hanya membuat kita capek, tapi juga membuat anak-anak kelelahan dan rentan sakit. Waktu kami ke Turki, agendanya cukup padat karena kami hanya beberapa hari di sana, selebihnya menghabiskan lebih banyak waktu ketika umroh. Anak-anak sempat demam dan pilek. Alhasil, rasanya kurang menyenangkan selama kami keliling beberapa wisata di Turki. Sibuk sama hidung yang meler serta suhu yang sangat dingin..kwkwk.


5. Kenali Aturan Keamanan di Tempat Tujuan


Sebelum berangkat, pelajari aturan keamanan di tempat tujuan, termasuk bagaimana cara mengamankan kursi mobil untuk anak-anak, jika kita bepergian dengan mobil. Pastikan teman-teman juga mematuhi semua peraturan dan rekomendasi keselamatan.


Jika memutuskan melakukan perjalanan ke luar negeri, saya pribadi lebih memilih menggunakan jasa travel ketimbang keteteran di tempat tujuan. Meski harganya lebih mahal, tapi di sana kita sudah dibantu dan tidak kerepotan lagi. Sempat terbesit pengin juga umroh mandiri ala backpacker karena melihat harganya yang murah banget, tapi suami nggak setuju...kwkwk. Memang lebih nyaman bayar lebih, tapi sudah tenang sampai di sana.


6. Persiapkan Aktivitas untuk Anak


Sediakan berbagai aktivitas yang dapat menghibur anak-anak selama perjalanan. Buku, mainan, dan permainan ringan dapat membantu mengatasi kebosanan mereka. Apalagi jika perjalanan cukup panjang, selain hanya tidur, anak-anak juga butuh hiburan lainnya supaya nggak bosan.


Bawaan buat anak-anak memang lumayan banget apalagi jika masih balita, ya. Inilah risikonya membawa bayi dan anak kecil traveling. Repot, tapi benar-benar menyenangkan.


7. Pertimbangkan Kesehatan Si Kecil


Pastikan anak kita dalam kondisi kesehatan yang baik sebelum perjalanan. Konsultasikan dengan dokter jika perlu, dan pastikan teman-teman membawa obat-obatan yang mungkin diperlukan selama perjalanan.


Kedua anak saya ada riwayat kejang demam sejak usia 2 tahun. Jadi, melakukan perjalanan jauh saat mereka kecil benar-benar bikin khawatir. Makanya, saya selalu sedia obat, terutama stesolid rektal khusus diberikan ketika anak sedang kejang. Jujur saja, jika teman-teman sudah sering mampir di blog ini, saya termasuk ibu yang nggak panikan ketika anak kejang demam. Saya tahu harus bagaimana dan mesti mengambil reaksi seperti apa.


Sejauh ini, saya tidak pernah mengizinkan anak kami rawat inap karena kejang demam. Tentunya saya sudah tahu kondisi darurat seperti apa yang mengharuskan mereka rawat inap setelah kejang demam. KD atau kejang demam itu nggak bahaya asal memang murni kejang demam. Lha jadi bahas kejang demam...kwkwk.


8. Pertimbangkan Makanan Untuk Si Kecil


Jika anak kita punya pantangan atau alergi makanan, pastikan teman-teman membawa makanan yang sesuai. Selalu periksa menu restoran atau toko makanan untuk opsi yang aman bagi si kecil. Selain itu, terkadang menu restoran yang kita datangi nggak sesuai buat anak-anak. Waktu sarapan di Turki, kami langsung makan di restoran, bukan di hotel. Menunya nggak cocok buat anak-anak saya karena mereka nggak terbiasa aja dengan menu itu. Ada roti kering, yogurt, telur rebus, buah zaitun, dll. 


Jika kita membawa stok makanan sendiri buat anak-anak, saya rasa ini akan sangat membantu terutama bagi mereka yang suka pilih-pilih makanan.


9. Sabar dan Fleksibilitas


Terakhir, tetap tenang dan fleksibel selama perjalanan. Anak kecil kadang-kadang dapat menjadi rewel atau tidak nyaman selama perjalanan, jadi bersiaplah untuk menghadapinya dengan sabar. Kalau kita dapat bekerja sama dengan pasangan, insya Allah akan lebih mudah mengatasinya.


Liburan bersama anak-anak adalah hal menyenangkan, tapi juga mesti dipertimbangkan repotnya jika tak disiapkan dengan matang.


Traveling bersama anak kecil mungkin memerlukan sedikit perencanaan ekstra, tetapi dengan persiapan yang baik, kita dapat menciptakan kenangan indah bersama keluarga. Dengan mengikuti tip dan panduan di atas, teman-teman dapat memastikan perjalanan bersama si kecil berjalan dengan lancar dan menyenangkan.


Salam hangat,