Tuesday, May 17, 2022

Yuk, Kelola Uang Angpau Lebaran Anak-Anak dengan Lebih Bijak!

Yuk, Kelola Uang Angpau Lebaran Anak-Anak dengan Lebih Bijak!
Photo by micheile dot com on Unsplash


Sejak anak-anak masih baru lahir, hampir sebagian besar mereka sudah memiliki uang. Entah diberi oleh kakek dan neneknya atau diberi teman-teman orang tuanya. Begitu juga dengan anak-anak saya.


Meskipun mereka belum paham apa itu uang, saya dan suami tak pernah seenaknya menghabiskan uang mereka apalagi hanya demi kepentingan kami sendiri. Saya lebih senang meminjam untuk kemudian mengembalikannya. Jika saya butuh dan harus memakai uang anak-anak, tanpa mereka minta sekalipun, saya tetap akan mengembalikannya. Kenapa? Karena itu hak mereka. Walaupun mereka bilang pakai saja, ambil saja, saya nggak akan setega itu melakukannya. Sama seperti saya, mereka juga butuh waktu untuk mengumpulkan uang sampai jumlahnya jutaan. 


Terlebih, anak-anak saya nggak suka menghabiskan uang. Lebih senang menabung dan disimpan. Kalaupun mau dipakai untuk membeli buku dan mainan, jumlahnya sangat kecil dibanding uang yang ditabung.


Sejak kecil, saya juga sudah membiasakan anak-anak menabung. Dari uang recehan bisa jadi jutaan rupiah. Sampai kapok nabung uang recehan karena sampai anak saya usia 11 tahun belum juga beres kami tukar…kwkwk. 


Di sekolah, si kakak juga sudah terbiasa menabung sejak TK. Sekali pun saya nggak pernah pakai untuk membayar SPP atau keperluan sekolahnya. Ketika uangnya sudah terkumpul, saya ambil dan dimasukkan tabungannya sendiri. Padahal, nggak sedikit orang tua yang menabung di sekolah buat bayar SPP dan yang lainnya. Menurut saya juga nggak masalah.


Lebaran tahun ini, saya meminta anak-anak memecahkan celengannya masing-masing karena kondisinya sudah penuh banget. Celengannya memang kecil dan sudah lama tidak dibuka. Sudah nggak mungkin diisi lagi, khawatir uangnya malah sobek.


Inilah momen paling seru yang dinanti ketika kita menabung. Apalagi kalau celengannya dipecahkan setelah penuh. Kira-kira berapa, ya isinya?


Uang tabungan ditambah angpau lebaran jumlahnya sangat lumayan. Masing-masing dari mereka mendapatkan 3 juta lebih. Selisihnya hanya sedikit. Dari uang itu, nantinya akan dimasukkan rekening tabungan yang saya pegang. Jumlah uang masing-masing anak saya catat baik-baik. Begitu juga dengan pengeluarannya, misalnya saat mereka mau membeli buku bacaan dan yang lainnya. Mereka yang sudah besar juga tahu berapa jumlah uang mereka.


Dari uang tabungan tersebut, anak-anak saya tawarkan untuk jajan atau membeli mainan. Mereka memilih membeli lego yang harganya hanya 50an ribu saja. Kenapa harus ditawarkan membeli sesuatu yang mereka inginkan? Karena mereka benar-benar 'datar' soal beginian. Nggak seperti anak-anak kebanyakan yang heboh kalau pegang uang banyak. Nggak ada rasa pengin beli apa gitu? Kan, jadi aneh dan nggak menikmati nanti…kwkwk.


Bukan hanya karena uangnya sendiri, mereka memang terbiasa apa-apa ‘biasa aja’. Bahkan ketika ditawari belanja oleh kakeknya atau bersama saya. Mereka sering menolak. Kalaupun mau, mereka sangat tahu batas. Satu pun sudah cukup.


Belanja Secukupnya dan Sebutuhnya

Yuk, Kelola Uang Angpau Lebaran Anak-Anak dengan Lebih Bijak!
Photo by Sasun Bughdaryan on Unsplash


Waktu si Kakak masih kecil, pernah ada drama dia suka minta mainan sampai mau nangis. Namun, saya sebisa mungkin memang nggak pernah mengikuti kemauannya. Kalau sejak awal bilang mau beli pakai uang tabungannya sendiri, sedangkan uangnya belum cukup, dia nggak boleh memaksa. Nangis-nangis di pasar pun tak akan menggoyahkan keputusan saya…kwkwk.


Inilah yang saya pelajari dulu. Anak-anak itu pintarnya bukan main. Nangisnya dijadikan senjata sehingga ketika kemauannya tak dipenuhi, ia akan merengek sampai mempermalukan kita di depan semua orang. Kalau kitanya kuat, mereka akan berhenti. Namun, kalau kita kalah dan menuruti maunya mereka, besoknya mereka akan mengulangi hal yang sama.


Itulah kenapa, untuk saat ini, baik si kakak ataupun adik sama-sama nggak suka drama kalau belanja. Karena dari kecil sudah terbiasa seperti itu. Kalau dari rumah niatnya mau beli makanan, jangan minta mainan ketika tiba di tempat tujuan. Nggak akan saya kasih…hihi. Kenapa saya bisa sekonsisten itu juga sama anak-anak? Karena mereka juga nggak punya tempat pelarian yang bakalan belain seperti nenek atau kakeknya. Saya hidup jauh dari orang tua, sehingga pengasuhan benar-benar dipegang oleh saya dan suami saja.


Sampai mereka besar, ternyata jadi terbiasa main ke mall nggak harus beli pun nggak masalah, melihat mainan nggak harus dibawa pulang, melihat-lihat saja sudah cukup, dan lagi harus tahu mana yang dibutuhkan atau tidak. Saya benar-benar terbantu dengan sikap mereka yang seperti ini. Masya Allah.


Kelola Uang Angpau Anak-Anak dengan Lebih Bijak

Yuk, Kelola Uang Angpau Lebaran Anak-Anak dengan Lebih Bijak!
Photo by Towfiqu Bharbuiya on Unsplash


Ketika anak sudah berusia lebih besar, mereka sudah tahu mau apa dan pengin apa dengan uangnya sendiri. Sebagai orang tua, nggak masalah mengarahkan mereka supaya uangnya bisa dibelanjakan untuk benda-benda yang berguna. Jika mereka mulai berlebihan saat belanja mainan dan yang lainnya, cobalah diingatkan.


Anak-anak di rumah sudah tahu bagaimana cara saya mendapatkan uang. Tidak semudah saat mereka mendapatkan uang angpau lebaran setiap tahun. Hal ini memudahkan mereka memahami nilai uang. Ternyata, mengumpulkan uang itu tak semudah saat mendapatkan angpau lebaran. Dengan begitu, mereka akan jauh lebih berhati-hati dan tak seenaknya menghabiskan uang angpau.


Ajari Anak Menabung Sejak Dini

Yuk, Kelola Uang Angpau Lebaran Anak-Anak dengan Lebih Bijak!
Photo by Andre Taissin on Unsplash


Uang angpau lebaran bisa ditabung di celengan atau dimasukkan dalam rekening bank. Jika celengan sudah penuh, saya lebih suka menyimpannya di bank karena memang jumlahnya tak sedikit. Lebih aman dan tak repot saat menyimpan.


Selain anak-anak, saya juga ikut menabung. Celengan kami sama, lho. Warnanya saja yang berbeda…hehe. Selain dapat uang dari angpau lebaran, anak-anak juga dapat dari kami. Jumlahnya nggak besar. Misal 5 ribu karena habis memijat punggung ayahnya. Kadang juga nggak dibayar. Seikhlasnya…kwkwk. Atau juga dapat dari lomba. Seperti si kakak dan adek, sejak kecil sering ikut lomba. Mereka bisa dapat uang dengan jumlah yang lumayan. Bisa ratusan ribu yang akhirnya langsung masuk celengan nggak pakai nego :D


Namun, kadang ada anak yang kurang paham konsep menabung. Seperti keponakan saya yang pengin nabung, tapi masih boros suka jajan dan maunya dikasih uang terus biar celengannya penuh. Lucunya, kadang ambil-ambil sendiri dari dompet ibunya. Ini agak bahaya, ya konsepnya…hihi. Jadi, nabungnya bukan dari ngumpulin pelan-pelan, melainkan mau langsung banyak.


Berbagi Kepada Orang Lain

Yuk, Kelola Uang Angpau Lebaran Anak-Anak dengan Lebih Bijak!
Photo by Annie Spratt on Unsplash


Pernah kepikiran nggak sih minta anak-anak sedekah dengan uangnya sendiri? Sedekah juga mesti diajarkan kepada anak-anak sejak dini. Ajarkan mereka bagaimana cara berbagi kepada orang yang membutuhkan. Contoh kecil aja, mau nggak si kakak ngasih ke adeknya? Nggak usah semua, sedikit saja.


Lebih enak kalau kita punya celengan sedekah. Jadi, uang-uang yang dikumpulkan di celengan tersebut nantinya akan disumbangkan setelah nilainya terpenuhi.


Gimana, masih ragu mengelola uang angpau anak-anak saat lebaran? Jangan lupa, ajak anak-anak terlibat saat menghitung dan mencatat uang. Biarkan mereka tahu jumlah uang mereka dan jangan lupa, mereka juga berhak membelanjakan uangnya dan menyimpannya.


Salam hangat,


Wednesday, May 11, 2022

Pengalaman Naik KA Brawijaya Saat Mudik Lebaran

Photo: Dok. pribadi


Lebaran tahun ini merupakan lebaran pertama dibolehkannya kita mudik oleh pemerintah setelah beberapa tahun harus lebaran di rumah karena pandemi. Bersyukur, kita telah melewati masa pandemi yang cukup mengerikan serta memakan banyak korban jiwa, termasuk orang terdekat kita. Semoga setelah ini, Corona benar-benar pergi, ya.


Sejak awal, kami memang berencana mudik naik kereta api. Anak-anak sangat antusias mau naik kereta api setelah mereka mencobanya pada lebaran terakhir beberapa tahun lalu sebelum pandemi. Bagi mereka, perjalanan naik kereta itu menyenangkan, meskipun butuh waktu lebih lama daripada naik pesawat. Entah kenapa, mereka benar-benar nggak suka lagi naik pesawat setelah mencoba naik kereta api, lho. Padahal, mudik berkali-kali selama ini selalu naik pesawat. Alasan mereka nggak mau naik pesawat lagi karena takut jatuh…kwkwk. Mungkin benar, tapi alasan lainnya pasti karena pengalaman naik kereta api ternyata seru dan menyenangkan :)


Waktu mendekati lebaran, saya rajin cek aplikasi Traveloka. Beberapa kali saya lihat belum juga tersedia. Tepatnya kapan saya lupa, akhirnya ada juga tiket kereta api dari Jakarta menuju Malang. Yeay! Senangnya karena merasa nggak terlambat dan nggak kehabisan tiket!


Untuk pertama kalinya, saya mencoba memesan tiket KA Brawijaya. KA Brawijaya merupakan layanan kereta api kelas eksekutif yang dioperasikan oleh KAI yang menghubungkan Stasiun Gambir yang ada di Jakarta dan Stasiun Malang. KA Brawijaya yang beroperasi di segmen lintas Jakarta-Malang baru diluncurkan pada 10 Maret 2021 lalu.


Naik KA Brawijaya dari Stasiun Gambir Menuju Stasiun Kota Baru di Malang memakan waktu sekitar 13 jam 13 menit. Dan menakjubkannya, mereka benar-benar tepat waktu. Saya tiba di Stasiun Malang sekitar pukul 5 pagi. Begitu juga saat tiba di Stasiun Jatinegara-Jakarta tepat pukul setengah 5 pagi di mana saya nggak pernah sampai sepagi itu saat mudik naik kereta :D


Harga Tiket KA Brawijaya Mudik 2022

Harga tiket KA Brawijaya dari Stasiun Gambir menuju Stasiun Malang adalah Rp. 700.000 saat mudik tahun ini, ya. Harganya tidak berbeda jauh dengan KA Gajayana yang biasa saya naiki pada mudik sebelumnya. Selisihnya hanya 50k saja.


Karena pengin mencoba KA Brawijaya yang baru dioperasikan tahun lalu, akhirnya saya dan keluarga memilih KA Brawijaya untuk transportasi mudik tahun ini.


Harga tersebut tidak termasuk makan, ya. Teman-teman dapat memesan makanan di kereta untuk berbuka puasa serta santap sahur. Harganya berkisar di atas Rp. 30.000 per porsinya. Ada juga teh panas serta cokelat panas. Kalau nggak sempat bawa bekal dari rumah, beli makanan di kereta sudah lumayan cukup meskipun rasanya menurut saya masih kurang sesuai, sih.


Persyaratan Naik KA pada Mudik 2022

Karena pandemi baru berakhir, di mana saat mudik lebaran tahun ini kita masih diimbau supaya tetap taat prokes dan berhati-hati, maka persyaratan naik KA pun cukup ketat. Salah satunya mesti booster bagi usia 18 tahun ke atas dan vaksin lengkap bagi usia di bawah 18 tahun. Sedangkan bagi orang yang belum memenuhi syarat tersebut, maka harus menyertakan hasil negatif antigen atau PCR.


Awalnya, syarat bagi anak usia di bawah 18 tahun yang belum bisa booster mesti tes antigen. Syarat ini menurut saya agak kurang masuk akal karena usia 6 tahun ke bawah yang belum bisa vaksin malah nggak diharuskan menyertakan hasil tes apa pun. Aneh saja, yang sudah vaksin mestinya sudah lebih aman, kan? Bersyukurnya, syarat ini akhirnya diganti dengan peraturan yang baru di mana untuk usia 18 tahun ke bawah yang sudah vaksin lengkap tidak diharuskan melakukan tes apa pun. Alhamdulillah!


Pengalaman Naik KA Brawijaya dari Jakarta Sampai Malang

Pengalaman Naik KA Brawijaya Saat Mudik Lebaran
Photo on Unsplash


Beberapa hal yang saya rasakan saat naik KA Brawijaya dari Jakarta sampai Malang, juga sebaliknya,


1. Disiplin waktu. KA Brawijaya benar-benar tepat waktu seperti yang saya sampaikan di awal. Sampainya benar-benar sesuai jadwal. Kalaupun telat, paling hanya hitungan menit saja. Datangnya pun lebih cepat. Untuk keberangkatan dari Jakarta, kereta sudah datang jam 3 dengan jadwal keberangkatan sekitar pukul 3 lewat 40 menit. Sebaiknya tidak datang mepet waktu karena kita juga mesti print tiket di stasiun. Nggak enak kalau buru-buru, kan?


2. Tempat duduknya nyaman dan lega! Benar-benar bisa selonjoran dan bersandar dengan nyaman, sih. Tidur pun nggak terlalu pegal. Dengan perjalanan malam, rasanya singkat aja karena tiba-tiba sudah sampai tujuan. 


3. Diberi masker dan tisu basah gratis bagi setiap penumpang. 


4. Disediakan plastik di depan tempat duduk untuk tempat sampah atau kebutuhan lainnya.


5. Anak-anak diberi hadiah. Menurut informasi, hal ini dilakukan supaya anak-anak senang naik kereta. Saya ikut happy juga meskipun bukan hal spesial, tapi siapa sih yang nggak suka dikasih hadiah? Untuk perjalanan pertama, anak-anak dapat kantong berisi buku mewarnai bergambar kereta, gantungan kunci kereta, dan pensil warna. Sedangkan untuk perjalanan pulang dari Malang menuju Jakarta, anak-anak dapat puzzle bergambar kereta. Seru! Berasa naik Turkish Airlines yang suka ngasih hadiah banyak banget buat anak-anak…kwkwk.


6. Bagasinya luas. Cukup banget untuk menaruh koper ukuran sedang seperti yang kami bawa. Untuk perjalanan seminggu lebih kemarin, saya hanya membawa 1 koper saja dengan ukuran sedang untuk pakaian berempat.


7. Dapat selimut yang sudah disterilisasi dan wangi tentunya. Karena KA Brawijaya terbilang baru, AC-nya memang adeeem. Adanya selimut dapat mengurangi rasa dingin selama di kereta. 


8. Nggak diberikan free makan untuk buka puasa seperti halnya kereta Gajayana sebelum pandemi beberapa tahun lalu, tapi kita bisa membeli makanan di kereta dengan menu yang cukup bervariasi seperti nasi goreng, nasi sapi lada hitam, dan juga ada minuman seperti air mineral serta minuman panas.


9. Kamar mandi bersih dan airnya lancar. Meskipun seperti pada umumnya, toilet di kereta memang nggak bisa lega, tapi sudah sangat cukup nyaman buat perjalanan. Disediakan juga tisu dan sabun cair di dalam toilet.


10. Petugas kebersihan berkeliling mengumpulkan sampah dan memeriksa toilet. Kondisi keretanya memang bersih dan nyaman.


11. Petugas menegur penumpang yang nggak disiplin prokes. Sempat ada yang lepas masker dan akhirnya ditegur. Meskipun kondisi sekarang sudah cukup bebas, di kereta tetap ketat prokesnya. Dan bagi saya, ini jauh lebih nyaman, sih.


Perjalanan mudik tahun ini memang cukup melelahkan karena saya mesti ke Jogja beberapa hari kemudian disambung kembali ke Jakarta. Namun, rasanya tetap nyaman meskipun pulangnya harus naik kereta lagi dan menikmati perjalanan selama 13 jam lebih. Capek pasti, tapi memang nggak terlalu dirasakan terutama karena waktu perjalanannya dari sore sampai pagi. Saking capeknya, saya memang lebih banyak tidur dari selepas Magrib sampai tengah malam.terbangun sebentar, tidur lagi. Begitu terus hingga sampai di stasiun Jakarta :D


Semoga tahun depan kita bisa mudik lagi, ya? 


Salam hangat,


Tuesday, April 5, 2022

Tip Mengajarkan Anak Puasa Penuh di Bulan Ramadan

Tip Mengajarkan Anak Puasa Penuh di Bulan Ramadan
Photo by Rauf Alvi on Unsplash


Kamu tim puasa di hari apa? Sabtu atau Minggu? Apa pun pilihanmu, yang penting jangan hanya sekadar asal ikut-ikutan, cari tahu juga alasan dan dalil-dalinya. Tak perlu meributkan perbedaan. Berbeda pendapat di antara para ulama itu adalah hal yang lumrah dan terjadi sejak zaman dulu. 


Tahun ini, bersyukur kita bisa menjalankan ibadah puasa dalam keadaan yang jauh lebih tenang. Kita bisa ke masjid tanpa khawatir Covid-19. Kita bisa bepergian dan juga mudik tanpa perlu khawatir berlebihan. Semoga pandemi benar-benar sudah berakhir, ya!


Tahun ini, si bungsu yang sudah enam tahun mulai belajar puasa penuh. Ternyata dia jauh lebih santai saat puasa tak seperti yang saya takutkan. Nggak banyak mengeluh apalagi uring-uringan, masya Allah. 


Di sini, anak-anak memang terbiasa puasa di usia TK. Nggak menunggu besar dulu untuk belajar berpuasa. Sedangkan di keluarga besar saya, anak-anak belajar puasa di usia SD. Itu pun kadang harus diberi uang sebagai reward dan masih banyak maunya pula...kwkwk.


Maka tidak heran ketika kami pulang kampung, orang tua saya nggak terima cucunya disuruh puasa di usia segini. Sampai rumah dikasih teh dan dipaksa berbuka…kwkwk. Akibatnya terjadi perpecahan pendapat yang tak terelakkan…huhu. 


Tahun ini mungkin ibu saya belum sepenuhnya ingat karena demensia. Mudik mungkin tak akan seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, mudik tetap jadi sesuatu yang menyenangkan bagi kami yang merantau. Ada capeknya, serunya, kangennya, dan takutnya ditanya macam-macam kalau sudah sampai di sana…kwkwk. 


Di postingan kali ini saya akan membagikan sedikit tip yang mungkin berguna bagi teman-teman yang ingin mengajarkan anak-anaknya berpuasa penuh untuk pertama kalinya.


1. Perkenalkan Puasa 

Jangan terburu-buru ingin anak puasa penuh. Mereka butuh waktu dan belajar terlebih dulu. Jangan terlalu antusias dan memaksa, bisa-bisa mereka nggak mau mencoba. 


Di awal, kita bisa mengajari mereka puasa sebisanya. Ajak mereka bangun untuk sahur, mereka akan belajar berpuasa misalnya setengah hari. Berbuka di waktu Dhuhur dan kembali berpuasa sampai Magrib.


2. Sahur dengan Gizi Seimbang

Saya nggak terbiasa makan sahur dengan menu lengkap. Di bulan Ramadan, saya lebih banyak sahur hanya dengan air rendaman kurma. Saya merasa kelaparan justru ketika sahurnya makan nasi…kwkwk.


Tapi, buat anak-anak, usahakan sahur dengan menu lengkap. Banyakin protein dan jangan lupa berikan susu. Meskipun malas karena masih ngantuk, tapi usahakan mereka makan sampai porsi yang cukup.


3. Usahakan Tidur Siang

Anak-anak di sini jarang tidur setelah salat Shubuh. Jadi, setelah Dhuhur, saya paksa mereka tidur siang supaya nggak teler dan nggak terasa laparnya. Tidur siang sangat baik buat mereka. Lumayan bisa nyelimur biar nggak ngerasa lapar dan haus banget.


Usahakan jangan main terlalu heboh juga biar nggak kehausan. Meskipun ini susah juga ya…kwkwk.


4. Puji Usahanya

Hadiah bukan satu-satunya yang anak-anak inginkan dari orang tua. Kadang, mereka nggak butuh itu. Mereka mau dihargai dan diakui usahanya. Jangan lupa, puji mereka jika sudah berhasil puasa penuh. Batal pun tak masalah, jika tak kuat, tak perlu dipaksa. Tetap puji usahanya untuk tetap berpuasa di saat anak-anak lain mungkin nggak berpuasa. Mereka hebat, lho!


Saya tidak menjanjikan hadiah pada anak-anak, tapi setelah mereka mulai berpuasa dan saya lihat mereka menjalankannya dengan baik tanpa banyak mengeluh, saya mau ngasih mereka hadiah buku kesukaan mereka.


Kadang, nggak perlu menunggu momen khusus untuk ngasih mereka sesuatu. Dan saya juga nggak pernah ngasih hal-hal yang luar biasa. Yang wajar-wajar saja. Akhir-akhir ini memang lebih banyak ngasih buku karena anak-anak sudah nggak suka beli mainan. Itu sudah happy banget mereka.


Ada banyak cara yang bisa kita lakukan supaya mereka mau belajar berpuasa. Setiap orang tua pasti punya cara masing-masing. Namun, jangan berharap terlalu besar kepada mereka supaya bisa puasa penuh di usia yang masih terbilang kecil. Fokus kita mengenalkan dan mengajarkannya dengan lebih menyenangkan, tanpa dipaksa dan tentu saja tanpa mereka merasa terpaksa karena takut pada kita. 


Jika mereka banyak mengeluh, terimalah dengan sabar. Namanya juga anak-anak. Kita pun merasa kelaparan dan haus saat puasa, kan? Jadi, maklumi. Jangan berharap mereka bisa menjalankan puasa pertama dengan sempurna.


Anak-Anak Belajar Puasa, Orang Tua Belajar Sabar

Tip Mengajarkan Anak Puasa Penuh di Bulan Ramadan


Waktu zaman si Kakak baru TK A dan mulai belajar puasa, agak lebih riweh rasanya. Dia banyak merengek, tapi tetap mau puasa. Dia mengeluh, tapi tak mau berbuka. Ini benar-benar bikin kepala pusing..kwkwk.


Anak-anak-anak belajar puasa, sedangkan kita mesti belajar sabar. Makin besar usianya, makin pandai ia berpuasa. Di usianya yang sekarang sudah 11 tahun, rasanya tak banyak mendengar ia mengeluh meskipun di awal puasa anak-anak semuanya sedang common cold dan kurang sehat. Alhamdulillah!


Jadi orang tua memang harus banyak sabarnya, ya. Semoga anak-anak kita makin semangat puasanya meskipun sahurnya sambil merem..kwkwk.


Salam hangat,


Saturday, April 2, 2022

Booster Jadi Syarat Mudik, Vaksin Dosis Tiga Diincar Masyarakat

Booster Jadi Syarat Mudik, Vaksin Dosis Tiga Diincar Masyarakat
Photo by Tomas Anton Escobar on Unsplash


Agak terkaget-kaget juga dengan syarat dibolehkannya mudik tahun ini. Yes! Mesti vaksin Booster. Awalnya nggak tertarik mau booster karena sudah merasa cukup dengan vaksin dosis dua, tapi ternyata booster dijadikan syarat wajib mudik. Hiks


Dan sejak saat itu, tempat vaksin Covid-19 selalu penuh bahkan pagi-pagi kuota vaksin yang jumlahnya ratusan sudah habis duluan. Dua hari nyari booster ke mana-mana dan selalu kehabisan, akhirnya sampailah di hari ketiga kami nyari dari jam enam pagi. Alhamdulillah, akhirnya dapat juga.


Tempat vaksin booster sebenarnya lumayan banyak, tapi saya juga butuh vaksin Sinovac untuk si bungsu yang kurang satu dosis lagi. Tempat khusus vaksin booster jelas nggak ada Sinovac untuk anak karena Sinovac nggak dijadikan booster. Alhasil, hanya ada satu tempat yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Di tempat ini, benar-benar mengular antreannya. Ramai sekali walaupun dibuka setiap hari dengan kuota sebanyak 200 sampai 350.


Tahun ini, sudah dari jauh-jauh hari berencana mau mudik naik kereta. Selain karena anak-anak yang pengin banget naik kereta, saya juga kangen menikmati perjalanan pakai kereta yang nyaman terutama di bulan Ramadan nanti.


Pengalaman naik bus waktu pulang kemarin agak melelahkan dan cukup mengagetkan terutama jika ketiduran di malam hari. Terkaget-kaget dengan suara laju busnya yang cukup kencang dan bikin jantungan. Berasa kayak mau nyusruk…kwkwk. 


Booster Pakai Vaksin Jenis Apa?

Booster Jadi Syarat Mudik, Vaksin Dosis Tiga Diincar Masyarakat
Photo by Nick Fewings on Unsplash


Untuk dosis pertama dan kedua, saya menerima vaksin AstraZeneca. Begitu pula ketika booster, saya mendapatkan jenis vaksin Covid-19 yang sama. Kecuali untuk vaksin Sinovac, maka booster bisa mendapatkan Pfizer atau Moderna.


Untuk efek sampingnya hampir nggak ada kecuali ngilu dan nyeri di bekas suntikan. Sedangkan pengalaman vaksin dosis pertama cukup berat efek sampingnya. Sekitar 2 harian teler, meriang, pusing, sampai muntah-muntah.


Untuk vaksin booster peminatnya saat ini lumayan membludak karena semua orang pengin mudik setelah dua tahun nggak bisa mudik. Jadi, siap-siap mental dan harus sabar banget nungguinnya :D


Booster Diperuntukkan Bagi Usia Berapa Tahun?

Booster Jadi Syarat Mudik, Vaksin Dosis Tiga Diincar Masyarakat
Photo by Elena M on Unsplash


Saking takutnya nggak bisa mudik, seorang Ibu di sebelah saya sampai rela antre dua hari dan merayu suaminya supaya mau booster. Padahal, beliau sudah booster kemarin. Namun, hari ini kami bertemu dan beliau mengantre untuk suaminya :D


Khusus booster, nggak semua usia bisa mendapatkannya. Ibu ini sempat bertanya beberapa kali kepada petugas, booster untuk usia 14 tahun apakah sudah ada? Ternyata booster diperuntukkan hanya bagi usia 18 tahun ke atas. Anak-anak usia enam tahun lebih cukup divaksin lengkap saja.


Mungkin, si Ibu masih ragu sehingga beberapa kali bertanya pada petugas yang berbeda. Mungkin beliau khawatir tiba-tiba nggak dibolehin mudik karena anak atau cucunya belum booster.


Saya pun bertanya-tanya, apakah anak-anak yang sudah menerima vaksin lengkap dan belum bisa booster harus melakukan tes antigen? Melihat beberapa berita di media online, kebijakan mencabut hasil tes negatif Covid-19 bagi orang yang telah divaksin lengkap nggak akan berlaku saat mudik. Jadi, mereka yang tidak booster tetap harus melakukan swab antigen? Nggak tega dong kalau anak-anak mesti antigen segala. Bagi infonya jika teman-teman tahu kepastian aturannya seperti apa.


Saya nggak tahu aturan mana yang bakalan dipakai karena sering kali ada aturan yang serba mendadak diterapkan begitu saja. Seperti saat saya mau pulang akhir tahun lalu. Tiba-tiba ada aturan mesti swab antigen walaupun naik bus. Tiba-tiba petugasnya datang dan meminta kami swab, tapi nggak ada nakesnya juga. Bahkan dalam satu rombongan cukup yang swab satu orang saja. Akhirnya, nggak ada satu pun yang swab. Cuma membuang waktu menunggu sampai berjam-jam disebabkan aturan yang serba mendadak tanpa kesiapan.


Untuk mudik tahun ini, saya rasa hampir semua orang benar-benar berusaha memenuhi persyaratan karena kami nggak mau dihalangi di tengah jalan. Apalagi setelah memesan tiket dan menunggu dua tahun sampai pandemi benar-benar mereda. 


Cari Tiket Kereta di Traveloka

Booster Jadi Syarat Mudik, Vaksin Dosis Tiga Diincar Masyarakat
Photo by Gilles Lambert on Unsplash


Sudah sejak lama saya mencari tiket kereta di Traveloka. Sayangnya, sampai beberapa kali saya cek belum muncul juga. Mungkin saat itu masih ada varian Omicron dan belum ada keputusan memperbolehkan mudik dari pemerintah. Masih masa PPKM juga.


Alhamdulillah, setelah rajin cek, akhirnya tiket kereta dari Jakarta menuju Malang tersedia juga. Betapa bahagianya…kwkwk. Benar-benar kangen naik kereta.


Cepat-cepat cari tanggal berangkat dan segera pesan untuk berempat. Untuk harga tiket Ekskutif AA Brawijaya dari Stasiun Gambir sampai Malang Rp. 700.000. Berangkatnya sore hari dan sampai keesokan harinya. Untuk jenis kereta lain, teman-teman bisa melihat langsung di aplikasi Traveloka. Selisih harganya nggak jauh. Ini juga merupakan kali pertama kami naik kereta Brawijaya. Sebelumnya saya terbiasa naik Gajayana mulai dari zaman baru nikah! :D


Harganya lumayan dan nggak beda jauh dengan naik bus dan pesawat, lho. Selisihnya benar-benar sedikit. Jadi, tergantung teman-teman suka naik kendaraan apa karena harganya hampir sama semua...huhu. Buat saya, masih lebih nyaman naik kereta. Suasananya pun lebih menyenangkan buat anak-anak. Dibanding naik pesawat, mereka lebih antusias naik kereta. 


Sebelum mereka berusia lebih besar seperti sekarang, saya lebih suka naik pesawat karena maunya serba cepat. Walaupun tetap seharian prosesnya dari rumah sampai di kampung halaman. Mungkin berasa banget bawa bayi dan gandeng balita, ya. Maunya serba ringkes dan sat set...kwkwk.


Siapa sangka, sekarang anak-anak lebih menikmati perjalanan dengan naik kereta. Sebelum pandemi, untuk pertama kalinya kami mudik naik kereta. Dan mereka happy banget. Tahun berikutnya kami segera membeli tiket kereta, tapi ternyata pandemi dan nggak jadi pulang.


Lebaran kali ini, keinginan mereka terwujud. Semoga perjalanan kali ini menyenangkan dan nyaman. Semoga teman-teman yang berniat mudik untuk berkumpul bersama keluarga juga diberikan kemudahan dan kelancaran. Selamat menikmati riuh ramainya mudik seperti bertahun-tahun sebelumnya. Capek dan ribet, tapi senang bukan main. Anak rantau pasti tahu rasanya :)


Salam hangat,

Sunday, March 27, 2022

Mustahil Menyenangkan Semua Orang, Sedikit Teman Justru Membuat Hidup Lebih Nyaman

Mustahil Menyenangkan Semua Orang, Sedikit Teman Justru Membuat Hidup Lebih Nyaman
Photo by Andrew Moca on Unsplash

 

Selamat! Usiamu sudah semakin dewasa. Kita pun terus bertumbuh di antara luka dan bahagia. Banyak hal telah terjadi, membuat diri semakin menyadari bahwa hidup hanya butuh hal-hal sederhana asal bikin nyaman. Nggak punya banyak teman pun bukan masalah karena nggak semua pertemanan bisa diandalkan.


Ramai bukan berarti nyaman, sepi bukan berarti menyedihkan. Makin dewasa kita makin menyadari bahwa bukan teman-teman yang menghilang, tapi kitalah yang makin peka menilai.


Ada pertemanan yang lebih layak ‘mati’ ketimbang menyulitkan diri. Bukankah memaksakan berada di antara orang-orang yang tak bisa saling menghargai justru hanya dapat melukai? 


Mustahil Menyenangkan Semua Orang

Mustahil Menyenangkan Semua Orang, Sedikit Teman Justru Membuat Hidup Lebih Nyaman
Photo by Kelly Sikkema on Unsplash


Dulu, kita pernah menjadi orang yang selalu siap sedia ada bagi semua orang. Mendengarkan mereka bercerita, mengulurkan tangan saat mereka butuh, rela melakukan banyak hal asal teman-teman kita bahagia dan kita pun sudah merasa cukup dengan perasaan ‘lega’.


Namun, sampai kapan pun kita tak akan mampu menyenangkan semua orang. Meskipun semua hal telah kita lakukan, bahkan ketika kita kerepotan dengan DL yang menumpuk, kita masih sempat-sempatnya meluangkan waktu demi teman yang butuh dibantu, tapi pada akhirnya banyak lelah kita tak begitu berarti bagi mereka. 


Mungkin mereka kira kamu pengangguran yang tak punya pekerjaan. Sehingga bantuanmu tak bernilai kecuali hanya demi mengisi waktu luang. Apalagi jika kamu orangnya nggak enakan. Rela berbohong meskipun sedang banyak pekerjaan yang akhirnya justru menyulitkan diri sendiri. Selamat! Sepertinya kamu lebih mencintai orang lain ketimbang diri sendiri :)


“Ayolah bantuin. Bentar aja bikinnya. Jelek juga nggak apa-apa, kok,” katanya.


Padahal kamu juga tahu, yang disebut ‘bentaran’ itu juga butuh waktu. Yang ia sebut ‘jelek’ juga sebuah pekerjaan. Dan kejadian itu sering berulang sampai akhirnya kamu sadar, pertemanan ini sudah nggak sehat lagi.


Utang adalah Jalan Pintas Memutus Silaturahmi

Mustahil Menyenangkan Semua Orang, Sedikit Teman Justru Membuat Hidup Lebih Nyaman
Photo by Daniel Tafjord on Unsplash


Entah bagaimana ceritanya, dari pertemanan yang sangat akrab kemudian berubah seperti orang yang tak saling kenal hanya karena uang. Uang merupakan alasan paling sensitif kenapa persabahatan bisa jadi renggang. Uang adalah salah satu alasan kenapa tiba-tiba kita bisa tak saling kenal, seperti orang jauh.


Ustadz Khalid Basalamah dalam salah satu ceramahnya pernah berkata, 


"Orang yang memberikan utang kepadamu telah berbesar hati meminjamkan."


Maka, belajarlah menjadi amanah kecuali kamu memang tak mampu membayarnya. Masalah kemudian menjadi rumit ketika kita menagihnya. Sering kali mereka yang menerima utang merasa terzalimi, padahal bisa jadi kita memang butuh dan itu adalah hak kita. Sering kali justru merekalah yang menjauhi kita padahal kita sudah berbesar hati memberikan pinjaman di saat kondisi kita pun tak berlebih.


Utang merupakan salah satu alasan kenapa silaturahmi bisa terputus dengan begitu mudahnya. Orang-orang di zaman sekarang pun menjadi lebih berani ketika berutang. Bahkan kepada teman-teman yang dikenalnya di sosial media. Sebagian memang benar-benar butuh dan terdesak, tapi sebagian yang lain tak seperlu itu. Sebagian bisa dipercaya, sebagian lagi menjauh setelah menerima bantuan.


Bagi kita yang telah berbesar hati meminjamkan, kemudian terkhianati, semoga Allah lapangkan rezeki dan hati. Mari belajar lebih ikhlas lagi.


Pertemanan Seolah Punya Tanggal Kadaluarsa

Mustahil Menyenangkan Semua Orang, Sedikit Teman Justru Membuat Hidup Lebih Nyaman
Photo by Timothy Eberly on Unsplash


Berhenti berharap lebih kepada manusia, nanti kamu sakit :)


Itulah kalimat yang sering kita dengar dan ucapkan. Begitu juga dalam pertemanan. Jangan berharap berlebihan, apalagi meminta mereka melakukan hal sama baiknya seperti yang telah kamu lakukan.


Pertemanan seindah dan selama apa pun seolah punya tanggal kadaluarsanya. Ia akan berakhir pada waktunya. Ia akan merenggang setelah tiba masanya. Jika bukan karena kita yang saling menjauh, setidaknya kematian cukup jadi alasan pasti kita tak akan saling dekat lagi.


Tak perlu memaksakan diri supaya terus saling dekat. Apalagi sampai mengorbankan diri sendiri seolah jadi tumbal supaya bisa terus diterima. Jangan menyakiti diri sendiri dengan pertemanan yang kurnag ‘waras’. Kamu juga berhak memilih. Kamu juga berhak bahagia dengan pilihanmu.


Hubungan pertemanan kadang juga tak butuh alasan untuk merenggang. Sepertinya kesibukan, hobi yang tak lagi sama, atau bahkan tanpa dimulai dengan pertengkaran sekalipun bisa membuat hubungan merenggang kemudian tak lagi saling kenal.


Tak apa. Mungkin kita sedang bertumbuh menjadi lebih dewasa dan mulai menimbang mana yang akhirnya perlu dipertahankan.


Punya Teman Baik Itu Sulit, Pun Sulit Menjadi Teman yang Baik

Mustahil Menyenangkan Semua Orang, Sedikit Teman Justru Membuat Hidup Lebih Nyaman
Photo by Daiga Ellaby on Unsplash


Banyak orang yang melupakan semua kebaikan yang telah diterimanya hanya karena satu kesalahan. Padahal, selamanya manusia tak akan sempurna. Semua pernah berbuat salah dan khilaf, hanya saja salah satu dari kita masih ditutup aibnya.


Menjadi teman yang baik itu sulit, pun sama juga mencari teman yang baik ternyata tak semudah yang kita bayangkan. Tak cukup hanya dengan berbaik hati pada orang lain, tak cukup hanya dengan menyediakan waktu untuk mereka.


Namun, kebaikan yang telah kita lakukan tak akan sia-sia. Semoga Allah datangkan teman-teman yang baik, yang ketulusannya tak memiliki tanggal kadaluarsa, yang bisa menghargai kita, bukan yang datang hanya karena butuh, bukan yang menetap hanya karena ada maunya :)


Zaman dulu kita senang punya banyak teman. Kalau perlu bikin geng biar seru. Zaman-zaman di sekolah pernah seheboh ini. Sehari-hari ngobrolnya sama mereka. Membahas banyak hal. Bahkan keputusan yang kamu ambil pun tak lepas dari saran mereka. Namun, ternyata semua yang dekat bisa menjauh. Semua yang akrab bisa tak saling kenal. Sampai akhirnya kita tahu, tak apa tak saling kenal jika memang itu diperlukan demi menjaga kewarasan diri.


Salam hangat,


Friday, March 25, 2022

Perjalanan Sebuah Naskah Hingga Terbit Menjadi Buku

Perjalanan Sebuah Naskah Hingga Terbit Menjadi Buku
Photo by Clay Bank on Unsplash


Salah satu tema yang cukup sering dibahas di blog ini, tapi masih banyak banget yang suka dm dan nanyain di Instagram. Buat teman-teman yang baru menulis buku atau malah benar-benar baru mau menulis, mungkin postingan ini cukup berguna.


Saya mulai menulis sejak SMA. Bukan menulis buku kemudian dicetak, tapi benar-benar menulis di buku tulis dan buku harian. Apa saja yang ditulis saat itu? Mulai dari cerpen sampai curhatan. Entah kenapa sejak dulu suka aja nulis di buku harian. Ngerasa lega aja.


Hobi ini berlanjut sampai akhirnya saya bisa benar-benar menjadi penulis seperti sekarang. Kalau dibilang mudah, jawabannya nggak. Kalau dibilang cepat, sekali lagi nggak banget…kwkwk. Butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa seperti sekarang. Butuh mengambil jeda beberapa tahun sampai akhirnya yakin bahwa passion saya memang di bidang ini.


Gimana, yakin, masih mau jadi penulis? Kalau sudah mulai goyah, skip aja baca postingan ini, ya :D


Proses Menulis Naskah

Perjalanan Sebuah Naskah Hingga Terbit Menjadi Buku
Photo by Andrew Neel on Unsplash


Menulis naskah ini nggak gampang. Karena sebagai penulis, baik pemula atau bukan, sering kita memikirkan banyak ide untuk dijadikan buku. Masalahnya, kita nggak akan pernah selesai jika semua ide dituangkan dalam tulisan secara bersamaan. Baru menulis outline untuk satu ide, kita tergoda ngerjain outline untuk ide lainnya. Baru separuh kelarin naskah, eh kita tergoda lagi buat ngerjain ide berikutnya. Kalau seperti ini, naskah kita nggak akan pernah kelar.


Sekadar saran, kalau belum terbiasa menulis beberapa buku sekaligus, sebaiknya pilih fokus menulis hanya untuk satu ide saja. Nggak usah dobel-dobel sampai lupa napas…kwkwk. 


Naskah yang bagus memangnya naskah yang seperti apa, sih? Jawabannya adalah naskah yang sudah selesai ditulis sampai halaman akhir. Bukan yang masih di angan-angan. Bukan yang berupa outline aja. Bukan juga yang akhirnya terbit juga. Namun, yang benar-benar telah kamu rampungkan sampai akhir.


Tulislah naskah sampai selesai. Mulai dari outline sampai profil penulis. Lengkapi naskahmu dengan blurb dan sinopsis. Juga target pembaca dan prakata. Saya pribadi lebih suka menulis selengkap mungkin supaya ketika diterima, kita nggak akan bolak balik mesti kirim kekurangannya. Seperti profil penulis, blurb juga. Jadikan saja dalam satu file sehingga editor akan jauh lebih mudah ketika me-review naskah kita dan memprosesnya.


Belajar Self Editing

Perjalanan Sebuah Naskah Hingga Terbit Menjadi Buku
Photo by Cristine Hume on Unsplash


Jangan berharap editor akan memberi tahumu mana tulisan yang typo atau nggak sesuai sama KBBI. Mungkin ada yang berbaik hati menjelaskan kesalahanmu di mana, tapi sebagian besar nggak akan repot-repot menjelaskan tentang itu.


Jadi penulis bukan hanya tentang kita bisa menulis saja, tapi juga mesti tahu kaidah penulisan yang benar. Semua ini bisa kita pelajari sambil jalan. Kita bisa cari di Google bagaimana penulisan ‘di’ yang dipisah dan mana yang mesti disambung. Kita harus belajar self editing tanpa harus diminta oleh siapa pun. Karena editor nggak akan mau capek-capek benerin typo yang jumlahnya banyak, apalagi kalau nggak rapi, mending di-skip saja naskahnya.


Kalau sudah begini, nanti kitanya juga yang rugi, kan? Jadi, pelajari semua hal yang dirasa perlu. Jangan malas-malas mencari tahu. Buka aja di Google, pasti banyak banget informasi yang kamu butuhkan. 


Kebanyakan bertanya kadang bikin gemes, sih. Sejujurnya, saya nggak suka sama orang yang nanya kebanyakan, tapi nggak mau baca kalau dikasih link informasinya. Benar-benar sampai dianterin lho link-nya. Tinggal dibaca. Tapi, katanya pusinglah, bingunglah. Terus mau kamu apa? :(


Ajukan Naskah Lengkap

Perjalanan Sebuah Naskah Hingga Terbit Menjadi Buku
Photo by Rafael Leao on Unsplash


Kebanyakan penerbit hanya menerima ajuan naskah lengkap. Jadi, pastikan naskah kamu benar-benar sudah rampung sampai akhir. Nggak apa capek di depan, nanti tinggal diajukan. Daripada banyak bikin outline, tapi nggak ada satu pun yang kelar?


Kita juga nggak boleh mengajukan satu naskah pada beberapa penerbit sekaligus dalam waktu yang sama. Ini merupakan salah satu hal yang perlu penulis ingat betul-betul. Jangan karena nggak sabar atau mau sekalian beres, kita jadi kena blacklist sama penerbit. Jadi penulis juga mesti tahu tata krama, ya.


Menunggu review dari editor itu memang nggak sebentar. Ada yang maksimal hanya tiga bulan, tapi ada juga yang sampai satu tahun belum dikasih kepastian. Benar-benar belajar sabar, kan?


Jika sampai tiga bulan naskahmu belum direspon, kamu bisa menanyakannya kembali atau menariknya. Menarik naskah harus disampaikan secara langsung kepada editor, jangan dalam hati, ya? kwkwk.


Setelah Naskah di-ACC, Kita Mesti Ngapain?

Perjalanan Sebuah Naskah Hingga Terbit Menjadi Buku
Photo by Markus Spiske on Unsplash


Setelah naskah diterima, kita mesti menunggu antrean naskah terbit. Poin ini mesti benar-benar kamu cerna baik-baik. Menunggu naskah terbit apalagi di penerbit mayor, ternyata nggak bisa dikatakan cepat. Seperti nggak bisa dipastikan waktunya. Ada yang duluan, ada yang belakangan.


Beberapa naskah saya bahkan ada yang belum terbit setelah menunggu sekitar empat tahun. Padahal semuanya sudah lengkap. Kita nggak bisa maksa juga. Nggak bisa seenaknya menarik naskah juga apalagi kalau penerbit nggak bilang batalin terbit. Hanya menunggu antrean yang subhanallah :)


Nah, solusinya gimana biar nggak kepikiran terus? Lanjut menulis naskah baru daripada jadi tim galau…kwkwk.


Yeay! Akhirnya Naskahmu Terbit!

Perjalanan Sebuah Naskah Hingga Terbit Menjadi Buku
Photo by Alice Hampson on Unsplash


Ini adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh semua penulis. Seperti orang melahirkan, rasanya lega banget ketika tahu naskah kita sudah lahir di toko buku Gramedia…kwkwk. Hilang sudah capek lelahnya ngerjain naskah dan lamanya menunggu.


Proses seperti yang telah saya jelaskan dari awal sampai akhir di postingan ini berlaku jika teman-teman menerbitkan buku di penerbit mayor. Kalau mau menerbitkan buku sendiri di penerbit indie, tentu nggak akan serepot ini asal teman-teman mau membayar.


Sebagian orang belum mengerti, mengira terbit buku di penerbit mayor harus mengeluarkan uang. Jawabannya nggak, ya. Justru kitalah yang dibayar. Baik itu berupa royalti setiap enam bulan sekali atau jual putus.


Jadi, proses dari mulai menulis naskah sampai terbit kira-kira butuh berapa lama? Nggak bisa dipastikan karena setiap naskah punya ceritanya sendiri. Mereka punya perjalanannya masing-masing yang nggak bisa disamakan. Ada yang cepat, ada yang luama pake banget.


Salah satu saran yang bisa saya sampaikan, bersabarlah ketika menjadi penulis. Penulis yang konsisten bukan berarti selalu menulis setiap hari, tapi yang terus melakukannya meskipun nggak setiap hari mengetik naskah. Kadang, ada saatnya kita ambil jeda, istirahat bentar. Nggak masalah. Itu menurut saya, ya? Karena saya nggak setiap hari mengetik juga apalagi kalau mesti mengerjakan ilustrasi. Namun, keinginan buat menulis akan muncul terus menerus dan saya akan kembali menulis. Insya Allah.


Jadi, jangan merasa bersalah jika sehari nggak nulis. Setiap orang punya caranya masing-masing. Ada yang bisa setiap hari, ada yang nggak harus setiap hari. Bu Arleen A dalam bukunya juga mengatakan bahwa beliau bukan termasuk penulis yang disiplin, tapi semua orang tahu kalau beliau adalah penulis yang produktif.


Aku sendiri sebenarnya bukan tipe penulis yang disiplin. Namun, aku percaya bahwa jika sebuah cerita memang patut diceritakan, dia tidak akan pernah diam sampai dirinya dituliskan. Pada suatu titik, dorongan menulis itu akan begitu kuat dan menempatkan si cerita di atas segalanya dalam skala prioritas. Sepetri itu yang biasanya terjadi padaku.

(Buku Belajar Menulis Cerita Anak – Arleen A/ hal 29)


Semoga kamu bersabar dengan impianmu, ya. Doakan saya juga :)


Salam hangat,


Wajib Tahu! Ini Perbedaan Shared Hosting dan Cloud Hosting

Wajib Tahu! Ini Perbedaan Shared Hosting dan Cloud Hosting
Photo by Glenn Carsten on Unsplash


Kali ini saya akan membahas tentang shared hosting dan cloud hosting. Apa sih perbedaan di antara keduanya? Adakah yang sudah tahu? Semoga teman-teman nggak mumet duluan, ya? hihi.


Kalau kamu dengar kata ‘hosting’ pasti bayangannya nggak jauh-jauh dari wordpress. Dulu banget, blog ini pernah migrasi ke wordpress sampai akhirnya balik lagi ke blogspot. Benar-benar perjalanan yang menggemaskan karena seneng banget ya pindah-pindah rumah…kwkwk. Daripada mikirin migrasi blog yang benar-benar menyita waktu dan pikiran, mending kita bahas perbedaan antara shared hosting dan cloud hosting.


Web hosting merupakan salah satu komponen penting dalam proses pembuatan website. Di antara sekian banyak layanan web hosting yang tersedia, shared hosting dan cloud hosting menjadi pilihan populer karena bisa diandalkan sekaligus cukup terjangkau dari segi harga. Lantas, kira-kira apa saja sih yang membedakan antara shared hosting dengan cloud hosting? 


Secara umum, kedua layanan tersebut dibedakan dari segi teknologi yang digunakan. Sementara dari segi keandalannya, cloud hosting memiliki nilai jual utama dari segi skalabilitas, fitur, serta sistem keamanannya yang lebih baik. 


Nah, sebelum kamu memilih shared hosting murah bayar tahunan, sebaiknya membaca poin-poin penjelasan yang membedakan antara cloud hosting dan shared hosting di bawah ini.


Perbedaan Shared Hosting dan Cloud Hosting

Wajib Tahu! Ini Perbedaan Shared Hosting dan Cloud Hosting
Photo by Emile Perron on Unsplash


Apa saja perbedaan shared hosting dan cloud hosting? Inilah pembahasan selengkapnya.


1. Skalabilitas

Salah satu perbedaan terbesar antara shared hosting dengan cloud hosting adalah soal skalabilitas. Apa itu skalabilitas? Skalabilitas merupakan kemampuan untuk meningkatkan resource hosting dengan cepat dan fleksibel ketika dibutuhkan.


Sebagai pengguna cloud hosting, kamu akan diberikan kebebasan dalam mengatur resource server seperti RAM, kapasitas penyimpanan, serta bandwidth sesuai keinginan. Dengan kata lain, ketika website sudah tumbuh menjadi lebih besar kamu tidak perlu khawatir terkait kebutuhan resource.


Berlawanan dengan cloud hosting, skalabilitas layanan shared hosting bisa dibilang kurang fleksibel. Seperti kita ketahui, shared hosting pada umumnya masih menggunakan teknologi server konvensional di mana sistem penyimpanan, RAM, dan perangkat lain belum saling terhubung dengan teknologi berbasis cloud.


Dampaknya, jika kita ingin melakukan upgrade maka tidak akan semulus dan secepat seperti ketika menggunakan cloud hosting. Jika sewaktu-waktu ingin upgrade layanan, maka diperlukan proses migrasi atau pindah data dari server lama ke server baru.


2. Performa

Perbedaan selanjutnya antara cloud hosting dan shared hosting bisa dilihat dari segi performa. Perlu kamu ketahui, shared hosting merupakan jenis web hosting di mana seluruh resource yang ada dibagi dan digunakan oleh beberapa pengguna dalam waktu yang sama. Alhasil, performa dari sebuah shared hosting umumnya tidak terlalu bisa diandalkan karena harus berbagi resource secara langsung dengan website lain.


Di sisi lain, layanan cloud hosting bisa dibilang sebagai penyempurna dari shared hosting konvensional, karena seluruh data website beserta resource yang digunakan tidak hanya berada di dalam satu server. 


Cloud hosting memang masih mengadopsi skema berbagi resource, namun pengaturan dan teknologinya sudah jauh lebih unggul dengan memanfaatkan banyak server yang saling terhubung satu sama lain.


3. Kemudahan Pengguna

Tidak bisa dipungkiri, saat ini mayoritas masyarakat di Indonesia masih belum familiar dengan website, apalagi layanan web hosting. Menariknya, baik shared hosting maupun cloud hosting keduanya sama-sama bisa dijalankan tanpa perlu melakukan banyak konfigurasi.


Umumnya, pihak penyedia layanan web hosting paket shared atau cloud hosting sudah termasuk managed service sehingga kita tidak perlu melakukan pemeliharaan dan mengatur operasional server. Sehingga sangat mudah untuk membuat aplikasi apa pun di website.


4. Privasi dan Keamanan Data

Keamanan dan privasi data pengguna tidak hanya dibutuhkan oleh website e-commerce yang menjalankan proses transaksi. Namun, hal ini juga perlu diperhatikan oleh website hiburan yang menyajikan konten berbasis teks, video, atau gambar.


Selain bertujuan melindungi identitas pengguna, keamanan dan privasi dari layanan web hosting mampu meminimalisir potensi website down akibat serangan hacker. Nah, untungnya sistem cloud hosting sudah menggunakan beberapa server yang saling terhubung satu sama lain, sehingga data-data website lebih aman.


Di sisi lain, untuk layanan shared hosting saat ini masih memakai server fisik yang disimpan dalam satu lokasi. Meskipun soal keamanan sudah bisa diandalkan, tapi masih jauh lebih aman jika menggunakan cloud hosting. 


5. Perbedaan Harga

Ingat dengan slogan “Ada harga, ada rupa”? Rupanya hal ini berlaku juga ketika membandingkan antara shared hosting dengan cloud hosting. Sebagai produk paling terjangkau di antara paket web hosting lainnya, shared hosting memang memiliki harga yang sangat ramah untuk kantong pengguna.


Bayangkan saja, saat ini kamu sudah bisa mendapatkan layanan shared hosting mulai dari Rp14 ribuan saja per bulan. Jauh lebih murah dari biaya langganan paket data. 


Adapun untuk harga paket cloud hosting sendiri memang relatif lebih mahal dengan biaya sewa berkisar antara Rp100 ribu sampai Rp200 ribuan per bulan. Akan tetapi, di balik selisih harga tersebut nantinya kamu juga akan mendapatkan banyak benefit menarik. Mulai dari garansi up time server up to 99,9%, unlimited bandwidth, fitur Litespeed web server, hingga gratis domain.


Itulah perbedaan antara shared hosting vs cloud hosting dari segi teknologi, fitur, dan harga. Kesimpulannya, untuk saat ini cloud hosting memang lebih unggul dibandingkan shared hosting, jadi untuk para pebisnis yang ingin serius mengembangkan website sebagai aset digital sebaiknya menggunakan cloud hosting sebagai investasi jangka panjang.


Salam hangat,