Top Social

Tiada Masa Paling Indah, Masa-masa di Sekolah

Pexels.com

Mirip seperti lirik lagu, ya? Nulisnya sambil dinyanyiin juga kayaknya. Coba, siapa bisa membaca judulnya tanpa harus dinyanyiin atau malah semua spontan menyanyikannya? Kenapa harus pakai judul itu? Kayaknya itu sangat mewakili perasaan kita yang sedang kangen sama teman-teman semasa sekolah dulu.

Ketika kita sudah seperti sekarang, berumah tangga bahkan memiliki anak, bisa ketemu dan ngobrol sama sahabat lama itu kayak sesuatu yang langka banget. Pertama karena setelah menikah kita sudah pindah-pindah rumah. Kedua, kontak hilang begitu saja. Ketiga, kita terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing sehingga buat menyapa teman atau sahabat lama itu kayak susah banget.

Untuk teman SD kayaknya hampir nggak pernah ada kontak. Kalau teman SMP masih ada, tapi ya begitulah…haha. Anyep dan hambar karena kurang ‘klop’ aja dibawa ngobrol. Seperti sudah nggak nyambung meski ada satu grup khusus yang saya pun terlibat di dalamnya. Sebagian malah sudah left sejak lama.

Untuk teman SMA, kebetulan dulu saya di pesantren hingga D1. Teman-teman sekamar dan satu kelas itu lumayan banyak. Ketika sudah masuk STIKK (Sekolah Tinggi Ilmu Kitab Kuning), kekompakan kami pun kian erat. Kadang kompak, kadang ribut…kwkwk. Tapi, namanya teman tidur bareng, kesel bareng, nangis bareng, seneng bareng, rasanya semua itu agak susah buat dihilangkan begitu saja.

Saya dan beberapa teman sempat hilang kontak. Nggak terhitung malah berapa lama. Bahkan sampai hitungan tahun nggak ketemu dan nggak berkirim kabar meski hanya lewat sosial media atau Whatsapp. Dan nggak nyangka juga, ada kakak kelas yang kemudian menikah dengan saudara saya, ada adik kelas yang dulu nggak kenal sekarang malah sering ngobrol karena kita punya hobi yang sama seperti menggambar, bahkan sampai masuk kelas gambar bareng. Ya, dulunya kami mau saling sapa aja malu karena beda kamar dan beda kelas. Entah dari mana tiba-tiba dia jadi nempel mulu kayak perangko *maksa….kwkwk.

Beberapa bulan lalu, bahkan beberapa hari yang lalu juga ada beberapa teman yang akhirnya ngumpul bareng saya lagi karena kita punya hobi yang sama lagi, yakni menulis. Mereka ikutan ngeblog dan suka ngobrol bareng lagi karena mulai nyambung lewat passion yang baru kita sadar ternyata sama, lho.

Atau kami yang memang tiba-tiba hilang kontak, kemudian dipertemukan lagi oleh teman yang lain, akhirnya ngumpul bareng dan ‘hangat’ serta ‘cair’ lagi keadaan yang awalnya bisa dibilang kaku karena jarang banget ketemu dan kontak.

Saya yakin, hampir dari kita semua terutama kami yang sudah dewasa bahkan berumah tangga, pelan-pelan mulai menanggalkan ego kami. Kalau dulu kami atau bahkan saya pribadi gampang banget sensi, sekarang kami bisa menahan diri untuk tidak melakukan hal itu atau memancingnya. Semua dibikin lebih santai karena ya, mungkin perjalanan beberapa tahun kemarin sudah terbilang berat dan menjadi pelajaran.

Saya yakin, kalian yang sekarang sedang berjarak dengan sahabat lama pun merasa kangen dan pengen banget kembali menjalin hubungan baik lagi bersama mereka, sayangnya, kadang ego kita masih tinggi, masih nggak mau ngalah dan mulai duluan. Padahal, kalau sudah ketemu dan  mulai bicara, semua akan jadi lebih baik dan membuat kita lebih bahagia.

Ketika sudah bertemu dan berkumpul lagi bersama teman atau sahabat lama, apa yang sebaiknya kita lakukan?

Bertanya kabar pada hal yang wajar dan jangan terlalu menyinggung kehidupan pribadi

Pexels.com
Kecuali memang mereka mau berbagi. Kadang karena terlalu dekat, kita sampai lupa mana itu privasi atau bukan. Jangan asal nanya ini dan itu, apalagi jika memang sebenarnya itu nggak perlu. Misalnya sampai nanya gaji suami atau gaji dia. Jangan tertawa, ini memang bisa terjadi dan pernah terjadi  pada saya meski yang nanya kerabat bukan teman. Sekadar mengingatkan, gaji pribadi atau pasangan mereka adalah sesuatu yang privasi banget, nggak etis dan nggak sopan kalau kita menyinggungnya hanya karena ingin bercanda atau ingin tahu.

Hindari sensi yang keterlaluan apalagi jika hanya ngobrol di sosial media atau whatsapp

Pexel.com
Kenapa? Karena kita tidak sedang bertatap muka, lho. Kita kadang salah paham apakah dia bercanda atau serius. Jadi, tanggalkan sifat sensi itu karena belum tentu mereka berniat jutek atau judes…haha. Semua pesan yang kita baca bisa jadi positif dan negatif, semua itu tergantung pada sudut pandang kita sebagai pembaca. Kalau mau kita anggap positif, ya pesan itu pun akan terasa nyaman aja dibaca. Berbeda jika sebaliknya.

Kopdar dan cari waktu luang untuk bertemu

Pexels.com
Cara ini mungkin agak susah apalagi mengingat rumah kita sudah berjauhan. Apalagi saya *nangis bombay. Semua masih di Malang, sedangkan saya sudah nyempil di Jakarta sendirian…kwkwk. Tapi, jika ada kesempatan, usahakan bertemu karena itu membuat kearaban kita terjalin lebih erat.

Jadilah bermanfaat bagi mereka, bukan sebaliknya

Pexels.com
Kita nggak pernah tahu, dalam kehidupan seseorang, rupanya ada yang sedang berdiri di titik terendah dalam hidupnya. Jadilah bermanfaat dan bantu mereka, meski hanya sekadar memberikan saran dan semangat. Jika lebih, itu lebih baik pastinya. Dan kita tidak pernah tahu, bisa jadi di kemudian hari justru kita sendiri yang butuh bantuan mereka.

Cari passion yang sama untuk dilakukan bersama

Pexels.com
Saya nggak pernah menyangka, jika pertemuan kami dan kedekatan kami diawali oleh hobi dan passion yang sama. Karena sama-sama suka suatu hal kita jadi lebih dekat seperti sekarang. Meski aktivitas kami berbeda, saya hanya IRT sedangkan mereka kebanyakan sibuk ngajar, tapi ada waktu sedikit buat melakukan hobi bersama meski nggak selalu bisa bertemu. Cara ini cukup ampuh bikin kita akrab lagi.

Jangan gengsi, jadilah diri sendiri

Pexels.com
Sensi dan gengsi itu harus dibuang jauh-jauh biar nggak mengikis hubungan baik kita bareng sahabat. Nyari teman banyak di Facebook itu gampang, tapi nyari yang benar-benar ‘sahabat’ dan benar-benar bisa jadi ‘teman’ itu nggak gampang. Karena itu, jauhi sifat sensi dan gengsi. Jadilah apa adanya, jangan ada yang ditutupi atau dilebihkan. Karena ke depannya kita nggak butuh lagi kamu yang sok keren, sok baik, dan sok segalanya. Kita sebagai teman butuh kamu yang apa adanya.

Menilai kehidupan seseorang sukses dan bahagia tak bisa melalui materi saja.  Menjadi bermanfaat bagi orang lain dan punya sahabat baik dan sayang kita adalah harta tak ternilai. Sebagai emak-emak, kita juga perlu menjaga ‘kewarasan’ diri. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah ngobrol santai bareng sahabat lagi, mengingat zaman di sekolah yang penuh drama dan tawa. Adakah yang lebih baik daripada itu?

Salam,

Seblak Super Pedas, Teman Ngemil di Musim Hujan



Dari kemarin pengen banget bikin seblak, tapi ternyata nyari kencur itu susah…haha. Kata penjual sayur kencurnya mahal banget jadi mereka nggak pernah beli buat stok karena pembeli pun malas membeli saking mahalnya.

Nggak sengaja beberapa hari lalu penjual sayur mengeluarkan sedikit kencur. Hanya 3-4 buah kencur berukuran besar. Katanya mau bikin seblak, kemudian saya pun meminta sebagian untuk dibeli karena pengen juga bikin seblak…kwkwk. Alhamdulillah dapat 1 berukuran besar.

Semalam akhirnya bikin deh seblaknya. Nggak pakai isian macam-macam. Hanya pakai sawi hijau, kerupuk, dan telur. Pakai cabai rawit satu genggam…haha. Awalnya merasa itu berlebihan dan takut nggak kuat makannya, eh ternyata nggak terasa pedasnya. Mungkin karena saya suka makan pedas. Ketika dicobain sama suami, dia huhah huhah. Nggak kuat…haha* seneng banget nge-bully suami kwkwk.


Bikin seblak itu nggak susah. Kalau kamu punya sosis, kamu bisa kasih isian sosis di dalamnya. Kalau ada bakso, kamu bisa masukkan juga. Kadang saya bikin cilok dan dimasak jadi seblak. Nggak kalah enaknya. Bisa juga tambahkan mie ke dalamnya. Banyak variasi yang bisa kamu buat. Yang pasti seblak ini enak banget dan bikin nagih!

Bahan:
1-2 genggam kerupuk
1-2 butir telur
Secukupnya sawi hijau
Sedikit air

Haluskan Bumbu:
6 siung bawang merah
2 siung bawah putih
2 ruas kencur atau sesuai selera
Secukupnya cabai rawit merah
Secukupnya gula dan garam

Cara Membuat:
1. Rebus dulu kerupuknya sampai agak lunak, tapi jangan terlalu lembek karena nanti akan dimasak ulang.

2. Haluskan bumbu dan tumis. Beri gula dan garam. Masukkan telur yang telah dikocok lepas, aduk-aduk sampai jadi orak arik. Tambahkan air dan aduk bersama bumbu.

3. Masukkan kerupuk yang sebelumnya telah direbus. Masukkan sawi dan tes rasa. Jika sudah pas matikan api dan sajikan selagi hangat.

Voila! Seblak buatanmu pun siap disantap. Gampang banget, kan? Semakin banyak kencurnya, semakin enak dan khas pula rasanya. Saya pribadi lebih suka kalau sayurnya dibanyakin, karena memang senang makan sayur. Dan lebih suka dengan isian simpel seperti ini daripada ada sosis atau baksonya.

Nah, kalau kamu lebih suka yang seperti apa, nih?

Salam,

Roti Sobek Pandan, Super Lembut dan Gampang Bikinnya!



Hari ini niat banget mau bikin roti pandan. Sudah berapa minggu seisi rumah sakit, jangankan bikin roti, mau masak aja malas…hehe. Alhamdulillah, hari ini semua sudah membaik. Bosan nggak ada kerjaan *sok ganggur, akhirnya keluarin mixer dan takar-takar bahan.

Kali ini bikin roti pakai resep ci Xanders. Ini saya buat versi pandan. Bahan yang nggak ada saya ganti seperti susu cair diganti dengan air, tetapi pada susu bubuk ditambahkan lebih banyak. Selain itu, saya tambahkan juga pasta pandan supaya lebih wangi.

Sebenarnya, awalnya saya ngiler berat melihat salah satu postingan di Instagram. Postingan itu berisi video penjual roti pandan kukus. Roti pandannya diisi mesis cokelat dan parutan keju super banyak, kemudian dikukus. Kebayang aromanya sampai ke rumah…kwkwk. Dan, akhirnya hari ini pun memberanikan diri bikin roti pandan supaya bisa ngerasain seperti apa yang sudah saya lihat sebelumnya. Hasilnya? Lembut dan enak banget!


Sayangnya, entah karena nggak fokus atau gimana, pas ngeluarin kaki mixer malah salah ambil kaki mixer buat ngaduk telur atau adonan cake. Tepung dalam baskom jadi berantakan. Adonan jadi naik. Hiks. Sampai di situ belum sadar juga kalau saya salah ambil kaki mixer. Hingga terbesit pikiran kayaknya mixer rusak deh…kwkwk. Dasar emak-emak, ya. Dirinya yang salah, malah nyalahin mixernya…haha.

Buat kamu yang penasaran dengan resepnya, silakan dicoba di rumah, ya!


Bahan:
450 gram terigu protein tinggi
50 gram terigu protein rendah (bisa pakai protein tinggi seluruhnya)
75 gram margarin
1 butir kuning telur
1 butir telur
225 ml susu cair (saya ganti air)
7 gram fermipan
110 gram gula pasir
15 gram susu bubuk (saya pakai satu sachet kecil)
Sejumput garam
Sedikit pasta pandan


Cara membuat:
1. Campur semua bahan kecuali margarin, garam, dan pasta pandan. Aduk sampai semua tepung tercampur rata.

2. Masukkan margarin dan garam. Mixer sampai rata baru kemudian masukkan pasta pandan.

3. Uleni sampai kalis elastis. Biasanya ditandai dengan adonan mengilap, tidak lengket, dan tidak mudah sobek ketika dibentangkan hingga tipis.

4. Diamkan adonan selama satu jam dan jangan lupa ditutup.

5. Kempeskan adonan dan bentuk sesuai selera. Boleh langsung kasih isian atau bisa diberi isian ketika sudah dipanggang.

6. Panaskan oven 10 menit sebelum digunakan. Panggang selama 15 menit atau sesuaikan dengan suhu oven masing-masing.

7. Keluarkan dari oven dan olesi permukaannya dengan margarin.

8. Sajikan bersama selai kesukaanmu!

Empuk banget...

Jangan lupa kasih selai cokelat atau selai favorit kamu

Voila! Roti sobek pandan buatanmu siap disantap bersama keluarga tercinta. Gimana, gampang banget sebenarnya bikin roti itu. Tapi, kadang persiapan dan prosesnya yang agak lama jadi bikin malas. Padahal, ketika baru keluar dari oven, aroma dan rasanya susah banget ditolak.

Yuk, ah bikin sendiri di rumah. Selamat mencoba semoga berhasil, ya!

Salam,

Traveling ke Turki dan Mengunjungi Museum Topkapi Palace Istanbul



Sebelumnya, saya sempat posting cerita singkat saat saya umroh dan traveling ke Turki. Salah satu lokasi yang kami kunjungi di Turki adalah museum Topkapi Palace di Istanbul ini. Nama Topkapi bergitu familiar karena saya sering banget mengikuti postingan ustadz Felix. Beliau juga sempat mengisi sebuah acara televisi dan menyinggung soal museum ini.

Dari sanalah saya pun dibuat penasaran pake banget. Setelah ada kabar kami akan berangkat umroh dan berkunjung ke Turki selama beberapa hari, saya pun begitu antusias ingin banget mampir dan melihat langsung seperti apa megahnya museum Topkapi Palace ini.

Perjalanan dari bandara Soekarno Hatta menuju Turki kami tempuh dalam kurun waktu 12 atau 13 jam. Awalnya ngebayangin gimana anak-anak selama di pesawat dalam waktu yang cukup lama. Apalagi saat itu Dhigda masih berusia 2 tahunan. Qadarallah, perjalanan kami cukup menyenangkan. Alby yang sudah lebih besar tampak santai dan malah susah tidur selama di pesawat, dia sibuk main game yang ada di sandaran kursi tepat di hadapannya. Sedangkan si bungsu, agak rewel karena kurang nyaman tidur di pesawat. Tapi, ya semua masih bisa diatasi meski pas mau landing dia malah nangis kejer hanya karena mau cuci tangan di wastafel…kwkwk.


Kami tiba di bandara Ataturk Istanbul saat Shubuh. Segera shalat dan melanjutkan perjalanan tanpa istirahat dulu di hotel. Perjalanan cukup panjang dari Indonesia ke Turki dilanjutkan lagi traveling hingga malam hari.

Capek banget. Tapi, mungkin pihak travel juga mempertimbangkan waktu kami yang pastinya akan terbuang sia-sia jika kami harus istirahat dulu. Berada di Turki selama 3 hari 2 malam itu benar-benar diisi dengan traveling. Jadwal kunjungan ke sana sini benar-benar padat banget. Kayaknya waktu istirahat hanya sedikit. Malam sampai hotel, pagi sudah berangkat lagi dan langsung pindah ke hotel berikutnya. Di bus kami juga bisa lebih santai karena jarak antara satu tempat ke tempat lainnya kadang lumayan jauh.

Saya lupa tepatnya hari ke berapa saat berkunjung ke museum Topkapi ini. Yang pasti, saat kami ke sana memang sedang musim dingin. Pakai jaket tebal pun rasanya nggak bisa menghilangkan hawa dingin yang menusuk. Bisa kebayang ya orang-orang di Timur Tengah yang sedang menghadapi konflik dan harus bertahan hidup di musim dingin yang kabarnya kali ini cukup ekstrem. Musim dingin biasa aja rasanya nggak betah lama-lama di luar. Bagaimana dengan mereka yang harus tidur di tenda berupa terpal tanpa penghangat ruangan? Hiks. Sedih banget mengetahui itu.

Buat kami yang nggak terbiasa, apalagi sudah lama di Jakarta yang panas, musim dingin seperti mimpi buruk. Nggak lama di Turki, Dhigda sudah meler hidungnya. Flu dan mulai rewel. Tapi, selama di perjalanan dia cukup menikmati dan lebih banyak tidur di bus. Masuk ke museum Topkapi kayak nggak terlalu fokus karena sibuk memerhatikan kondisi anak-anak. Mereka nggak terbiasa dengan suhu sedingin itu, jadi lumayan agak rewel. Begitu juga dengan emaknya yang sibuk menggosok-gosok tangan demi menghilangkan dingin. Padahal sudah pakai sarung tangan…haha.

Apa sih Topkapi Palace Itu?


Topkapi Palace merupakan istana yang dibangun tepat di atas bukit pada masa pemerintahan Sultan Mahmed II. Istana ini juga menjadi kediaman resmi Sultan Utsmaniyah selama 600 tahun lebih. Tepatnya pada tahun 1465-1856.

Museum ini memang benar-benar menjadi daya tarik tersendiri bagi para traveler ketika berkunjung ke Turki. Bagaimana tidak, di dalam museum ini kamu bisa melihat langsung koleksi benda-benda bersejarah termasuk pedang Rasulullah saw. Sayangnya, ketika masuk ke dalam, kita dilarang mengambil gambar.

Topkapi Palace ini terletak di pinggir pantai selat Bosphorus, bahkan lokasinya nggak jauh dari Hagia Sophia. Topkapi dikelilingi oleh tembok besar yang di dalamnya terdapat bangunan tempat Raja, keluarga, serta para pembantunya tinggal.

Total luas dari Topkapi Palace ini kurang lebih 700.000 meter persegi. Topkapi juga dikelilingi oleh benteng sepanjang 5 kilometer. Luas banget dan nggak mungkin mengelilingi seluruhnya dalam waktu singkat.

Saya nggak banyak mengambil foto selama ada di sana. Selain karena rempong dengan si bungsu, saya juga kurang antusias terlalu lama memegang handphone karena benar-benar kedinginan…kwkwk. Jika ada rezeki, saya ingin main ke Turki selain di musim dingin. Sungguh, main salju itu memang asyik, tapi kedinginan itu nggak banget.

Ada apa saja di Topkapi Palace?


Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, kebanyakan dari kita terutama yang muslim pasti penasaran banget dengan benda-benda peninggalan Rasulullah saw. Seperti apa pedangnya?

Sayangnya, ketika masuk ke dalam, kita dilarang berfoto atau mengambil foto. Jika kamu jalan-jalan ke blog teman-teman yang lain, jawabannya pun akan sama. Kami hanya bisa menceritakan benda-benda apa saja yang kami lihat di sana tanpa bisa menunjukkan gambarnya.

Benda-benda peninggalan Rasulullah saw disimpan di dalam ruangan khusus bernama Pavilion of Holy Mantle dan Holy Relics. Di sana kamu bisa melihat jubah peninggalan Rasulullah saw, helai janggut, patahan gigi saat perang Uhud, pedang, bahkan hingga cetakan telapak kaki Rasulullah saw.

Selain itu, kamu juga bisa melihat surban Nabi Ibrahim, pedang Nabi Dawud hingga tongkat Nabi Musa. Lebih menarik lagi, di sini kamu pun bisa melihat kunci Ka’bah dan semuanya asli, nggak ada replikanya.

Kabarnya, semua benda bersejarah ini sebagian memang sengaja diamankan dari beberapa negara karena khawatir dihancurkan oleh penjajah.

Istana Topkapi dijadikan museum pada tahun 1924


Istana Topkapi akhirnya dijadikan museum pada tahun 1924 berdasarkan dekrit pemerintah setelah jatuhnya Utsmaniyah pada tahun 1921. Topkapi menjadi salah satu wilayah yang amat bersejarah di Istanbul serta resmi menjadi bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO.

Karena penuh dengan benda-benda bersejarah, maka tak heran jika di sini juga sering terjadi perampokan seperti yang terjadi pada tahun 1999. Saat itu, sebuah Alquran pada abad ke-17 dicuri. Biasanya petugas museum disuap oleh para turis untuk mengambil benda-benda bersejarah. Nggak heran, ketika berkunjung ke sana banyak juga petugas keamanan seperti tentara dengan senjatanya yang berjalan ke sana kemari serta berjaga di beberapa titik di lokasi itu.

Jika kamu berkunjung ke Turki, pastikan kamu berkunjung ke Topkapi Palace dan melihat langsung peninggalan sejarah berupa benda-benda peninggalan para Nabi dan tentunya benda peninggalan Rasulullah saw. Saat kami ke sana, wisatawan cukup ramai, bahkan kami berjalan pelan karena padat merayap seperti jalanan di Ibu Kota…hehe.

Dan perlu diingat juga, bahwa di sana nggak berbeda dengan di negara kita, ada orang-orang berwajah manis yang kadang memang punya niat nggak baik. Sehingga di mana pun kita berada harus tetap berhati-hati dan menjaga diri. Bahkan guide kami pun mengatakan itu berkali-kali setiap kami berkunjung ke beberapa lokasi di Turki.

Salam,

Demam Naik Turun Lebih dari Seminggu, Perlukah Panik dan Pergi ke Dokter?



Sudah dua minggu lebih Dhigda demam naik turun setelah terakhir dia demam tinggi dan kejang demam pertama berulang. Awalnya karena Alby yang kena common cold, sudah bisa dipastikan bakalan mudah banget menular ke adiknya. Nggak lama adiknya sakit, kemudian kakaknya lagi meski saya pribadi sudah berhati-hati. Misalnya saja,  Alby sudah dari TK dibiasakan pakai masker jika sakit, rajin cuci tangan, dan tidak boleh memakai peralatan makan yang sama dengan yang dipakai adiknya. Bukannya terlalu lebay, tapi memang common cold itu sebabnya virus sehingga mudah banget menular.

Cuma batuk pilek aja sampai segitunya? Ya, karena kedua anak saya ada riwayat kejang demam. Bahkan Alby dari usia 2 tahun hingga 6 tahun. Disusul adiknya yang kemarin baju aja kena kejang demam saat usianya  3,5 tahun. Jadi, kebayang dong paniknya saya sebagai orang tua jika anak sakit dan demam. Nggak bisa tidur, anak tidur aja kita bingung, lho…haha.

Daaan, kemarin cukup lama juga demam dan batuk pileknya. Kayaknya ping pong. Setelah Dhigda enakan, akhirnya saya pun kena juga. Seminggu meriang bahkan belum benar-benar pulih. Bahkan malah muncul urtikaria karena imunitas yang menurun dan salah makan. Jadi, selepas Isya, seluruh tubuh bentol-bentol besar, panas, dan gatal. Besoknya agak siangan menghilang. Kemudian terulang lagi sampai 3 malam.


Sebenarnya dokter kulit sudah ngasih salep dan obat alergi. Hanya saja saya malas banget memakainya. Kebayang nggak harus pakai salep seluruh tubuh sama wajah yang udah bengkak gitu? Mending digaruk aja…haha *jangan ditiru. Sedangkan kalau minum obat, efeknya itu lemes parah. Nggak bangun hanya bisa tidur aja. Terus gimana nasib di rumah kalau saya tiduran terus? Mending saya gatal-gatal ajalah…kwkwk.

Balik lagi ke Dhigda yang sampai semalam masih demam hingga 39,8. Sudah lebih dari dua minggu begitu. Besoknya suhu normal, malam demam lagi atau selang sehari enakan, besoknya demam lagi.

Karena disertai batuk-batuk dan pilek, jujur saja saya belum ada keinginan buat ke dokter. Hanya dikasih minum yang banyak serta sirup penurun demam, itu pun jika dia mau dipaksa dan suhunya benar-benar tinggi. Kalau nggak, mending nggak usah daripada ribut.

“Adik nggak mau minum obat, minum air putih aja yang banyak.”

Iya, itu memang saya yang ngajarin kalau demam minum yang banyak. Tapi, kalau terlalu tinggi suhunya jujur aja saya parno mengingat dia sudah pernah kejang demam. Kejang demam memang nggak bisa dicegah dan tidak pula memengaruhi otak, tapi kalau udah kejadian saya pasti panik juga.

Masa anak demam lama dibiarin aja?
Yang belum kenal saya pasti akan mengatakan seperti itu. Saya bukannya anti dokter, hanya saja mencoba untuk lebih bijak menggunakan obat. Datang ke dokter juga bukannya tanpa risiko, lho. Di sana sambil menunggu antrean, kita bakalan duduk sama anak-anak yang juga sedang sakit. Jadi, risiko tertular penyakit lain justru lebih besar.

Kalau memang perlu konsultasi atau ada keadaan darurat yang perlu segera ditangani, saya tak akan berpikir dua kali. Tapi, kalau sudah ada batuk dan pilek, saya bakalan mikir berkali-kali untuk datang ke dokter.

Apa tidak perlu cek darah dan curiga DBD?
DBD itu punya demam yang khas. Biasanya pada fase pertama demam akan tinggi  dan manteng. Kalau demamnya turun, keadaan semakin memburuk, bukan semakin lincah seperti demam pada virus biasa.

Cek darah diperlukan jika demam sudah terjadi selama 72 jam tanpa sebab seperti ada tanda common cold. Kalau sudah jelas ada ingus dan batuk, saya pribadi nggak akan berpikir itu DBD. Terlebih saat demam turun, dia baik-baik saja dan lincah seperti biasanya.

Turunnya trombosit dalam jumlah sedikit saat sakit itu wajar terjadi, bukan satu-satunya tanda DBD. Setiap yang sakit biasanya akan mengalami itu, jadi, jangan buru-buru curiga DBD setelah cek darah apalagi jika kamu tahu anak tetap lincah seperti biasa meski demam turun.

Kapan harus pergi ke dokter?
Tidak setiap batuk dan pilek kita meski tenang di rumah. Ya, ada tanda-tanda gawat darurat yang perlu dipelajari dan diwaspadai. Jika itu terjadi, jangan berpikir dua kali untuk pergi ke dokter.

1. Dehidrasi berat pada anak
2. Kesadaran menurun
3. Sesak napas
4. Kejang berulang atau kejang dalam waktu yang cukup lama
5. Demam sangat tinggi hingga 40,5 C
6. Muntah berwarna hijau
7. Terjadi perdarahan baik di saluran cerna atau lainnya.

Jika terjadi tanda darurat pada anak, sebaiknya segera dibawa ke dokter untuk mendapatkan penanganan serius. Jangan anti dengan dokter, tapi jangan pula terlalu parno sampai-sampai kita sebagai orang tua nggak bisa RUM dan bijak pakai obat. Kasihan anak kita. Setiap obat yang masuk ke dalam tubuh meski paling aman sekalipun tetap memberikan efek samping. Jadi, jadilah orang tua yang cerdas dan bijak mengonsumsi obat.

Salam,

Ikutan Tagar 10 Years Challenge, Antara Impian dan Kerja Keras

Pexels.com


Kemarin, hastag 10 years challenge muncul di mana-mana. Ramai-ramai orang mengunggah foto sekarang dan 10 tahun silam. Ramai-ramai juga mereka yang sudah menikah posting foto berdua. Sedangkan bagi seorang jomblo, sekarang dan 10 tahun lalu apa bedanya sih kalau kenyataannya masih tanpa si dia? *eaa…haha.

Apakah saya ikut mengunggah foto juga? Nggak. Karena foto sekarang sama 10 tahun lalu sama aja. Sama-sama bulatnya…kwkwk. Belum tertarik aja ikutan mengunggah foto seperti yang lain. Tapi, selain mengunggah foto, rupanya para netizen juga cukup cerdas dan jeli, lho. Mereka yang tidak mengunggah foto juga turut mengunggah postingan menarik dengan tagar serupa. Misalnya saja, aku vs sekarang dan 10 tahun lalu sama aja dalam hal ibadah. Shalat lima waktu bacanya masih 3 surat Qul aja.

Meski terdengar lucu dan menggelikan, tetapi postingan itu benar adanya. Berapa orang dari kita yang masih seperti itu? Saya nggak akan nunjuk orang lain, saya tunjuk diri sendiri yang hapalan suratnya malah lebih sedikit daripada si sulung *tutup muka pakai teflon.

Ada banyak postingan menarik di balik tagar 10 Years Challenge itu. Tapi, apa yang akan saya ceritakan saat ini pun tak kalah menariknya*semoga. Ini tentang impian dan kerja keras. Tentang 10 tahun silam_saat saya berani bermimpi dan sekarang_ketika satu demi satu impian terwujud nyata *elap mata yang basah.


Saat masih kecil, apa impian kamu? Menjadi dokter? Polisi? Tentara atau guru? Saya ingin menjadi pelukis. Ya, itu impian saya saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Kemudian setelah masuk SMP, impian itu berubah. Komikus menjadi salah satu impian masa kecil. Ya, umur segitu masih labil banget, ya. Sering baca komik dan hobi menggambar menjadi padu padan yang sangat pas sehingga impian menjadi seorang komikus pun terlintas saat itu.

Saat masuk SMA, qadarallah orang tua ingin saya masuk pesantren meski awalnya saya ingin masuk sekolah lain. Nggak ingin mengecewakan, saya pun memilih salah satu pesantren di Bululawang pada saat itu. Yup! An-Nur III menjadi salah satu pesantren yang saya pilih pada akhirnya. Adakah teman atau saudara yang dikenal saat itu? Jujur saja, nggak ada.

Jadi, waktu itu sendirian aja, sok pede padahal ya nggak banget…kwkwk. Sempat menangis saat awal-awal baru tinggal di pesantren. Teman baru dan kegiatan yang lumayan padat membuat saya pelan-pelan menikmati aktivitas menjadi seorang santri. Bangga nggak sih waktu jadi santri? Jujur saja, bangga banget karena merasa diri sudah lebih mendiri. Pisah dari orang tua bukan perkara mudah pastinya.

Apa yang membuatmu selalu ingat dan rindu pesantren?

Pexels.com

Sebab di sana awal mula saya berani bermimpi. Bermimpi lebih serius. Impian yang benar-benar ingin terwujud. Mimpi jadi apa? Seorang penulis.

Semua orang bisa jadi menertawakan saya waktu itu, hanya saja saya mungkin kurang bisa mendengar karena merasa olok-olokan semacam itu tidak penting dimasukkan ke hati. Ya, lebih penting apa yang jadi impian saya. Lebih penting mengusahakan bagaimana supaya impian itu tidak lebur jadi abu.

Saya masih ingat betul, waktu masih di Aliyah, ada dua penulis novel islami dari Yogyakarta datang ke sana. Satu hal yang tidak pernah saya dapatkan sebelumnya, mendengar penulis novel sharing tentang dunia literasi secara langsung. Jangan tanya bagaimana perasaan saya saat itu, bahagia banget dan merasa impian menjadi penulis semakin wajib dan kudu tercapai. Mimpi itu meletup-letup. Nggak peduli saat itu ada laptop atau nggak. Pokoknya saya harus menulis!

Untuk jadi penulis itu nggak gampang. Zaman sekarang, bikin blog aja langsung kalau ingin tulisan dibaca oleh teman-teman. Kalau dulu, komputer hanya milik ustadz, laptop dan koneksi internet malah belum kenal…haha. Perjuangan banget kalau mau belajar menulis.

Eits, tapi saya tidak mau menyerah. Karena terbatas fasilitas, bukan berarti mustahil mencapai impian menjadi penulis. Masih ada buku tulis, maka itulah kali pertama karya saya dibaca oleh teman-teman. Kok pede banget nulis novella dan kumpulan cerpen sebanyak itu dan boleh dibaca oleh teman-teman satu kamar? Bagi saya, nggak ada alasan buat minder. Itu bukan hal memalukan meski tulisan saya lebih mirip tulisan dokter apalagi kalau sudah pegel jari. Belum lagi kalau tinta pulpennya mbleber ke mana-mana…haha.

Di pesantren, saya suka banget membaca majalah Annida atau Horison. Antri buku  kemudian mencatat bagian-bagian yang perlu supaya ketika ingin membaca lagi, saya nggak bingung mencari pinjaman lagi. Asal kamu tahu, kalau ada buku baru, antriannya panjang banget, asli!

Di antara penulis cerpen yang sangat saya kagumi saat itu adalah Asma Nadia dan Afifah Afra. Cerpen-cerpennya bagus banget. Dibaca bikin merinding karena kalimat yang ditulis begitu hidup dan nyata.

Selain menulis cerpen di buku, kadang saya menulis cerpen untuk teman-teman yang kebagian tugas di mading Al-Fikri. Saya bukan anggotanya, tapi sering banget menulis di sana karena permintaan teman-teman. Dan saya senang mengerjakannya.

Dan malam itu, impian menjadi seorang penulis telah selangkah lebih dekat

Pexels.com

Di antara rinai hujan yang berdentum di atas genteng, para santri An-Nur III ramai berkumpul di jerambah sambil menahan dingin. Saya tidak tahu persis, di antara ratusan santri yang datang, berapa orang yang serius dan antusias dengan kedatangan tamu spesial malam itu. Tapi, buat saya, malam itu menjadi begitu istimewa, bahkan sampai sekarang saya masih ingat detail kejadiannya, malam di mana hujan turun dan aliran listrik sempat padam. Serta malam di mana saya melangitkan impian.

Saya masih ingat, alm Ratna Indraswari Ibrahim datang dengan kursi roda bersama mas Ragil. Tidak hanya berdua, ternyata keduanya diajak oleh dua guru jurnalistik kami yakni ustadz Heru Edy Purwanto dan ustadz Solihin. Keduanya adalah wartawan senior yang mengabdikan hidupnya di pesantren.

Kedatangan mereka menjadi motivasi tersendiri bagi saya. Setelah malam itu berakhir, saya pun sempat menelepon alm Ratna Indraswari Ibrahim yang merupakan seorang penulis senior. Ngobrol dan tanya-tanya soal dunia literasi. Sayangnya, nggak bisa ngobrol lama. Mana enak ngobrol di telepon. Nggak menyerah sampai di situ, ketika liburan, saya sempat datang langsung ke rumah beliau. Dan disitulah saya juga mulai mengenal mas Ragil yang pada akhirnya berjasa banget mewujudkan impian saya menulis buku *elap air mata.

Saat masuk STIKK (Sekolah Tinggi Ilmu Kitab Kuning), saya diminta menulis beberapa cerpen oleh mas Ragil. Cerpen itu nggak diketik di komputer, melainkan ditulis di buku. Buat apa? Untuk antologi bersama beberapa penulis senior dari Malang.

Masya Allah, baik banget mas Ragil mau mengajak saya menulis. Padahal saat itu saya hanya remahan rengginang di dalam kaleng Khong Guan *eits sebut merek..haha. Seingat saya, buku itu akhirnya saya titipkan pada ustadz Heru. Sambil malu-malu menitipkan impian itu. Berharap semoga buku berisi cerpen itu nggak ketlisut di antara tumpukan koran…haha.



Tak sampai setahun, buku antologi pertama saya itu pun terbit. Dan inilah penampakan buku pertama saya yang terbit pada 2009 tepat setelah saya menikah dan diboyong oleh suami ke Jakarta. Nggak banyak yang tahu, kalau suami saya juga alumni An-Nur III bahkan dulu kerja jadi TU sambil sekolah…kwkwk *nggak perlu dibahas, ya…hihi.

Bertemu Asma Nadia

Pexels.com

Tahun 2009, mencari komunitas menulis itu sangat susah. Akhirnya saya malah jarang menulis saat itu. Justru mengusir sepi selama suami ngantor dengan membuat banyak kerajinan tangan seperti menyulam atau merajut. Rasanya impian jadi penulis benar-benar sudah ditelantarkan tanpa paksa.

Tapi, rencana Allah lebih indah. Tahun 2013 saya mulai menulis kembali. Saat itu, awal mula bikin blog dan sering banget ikutan kompetisi menulis. Sekitar tahun 2014, saya berhasil memenangkan sebuah kuis yang diselenggarakan oleh Asma Nadia sehingga saya diberi hadiah untuk ikut seminar kepenulisan bersama beliau.




Mimpi apa bisa ketemu Asma Nadia, penulis favorit saya sejak zaman masih di pesantren? Nggak hanya sampai di situ, cerpen saya pun sempat dibacakan di depan para peserta seminar dan sempat ditertawakan juga. Bahkan saya ikut tertawa karena memang cerpennya ‘maksa’ minta ditertawakan…haha.


Rasanya impian jadi penulis semakin cerah aja kalau dibayangkan. Bahkan pada tahun yang sama, saya berhasil menyelesaikan satu buku. Sayangnya, saya harus menyerah dan mundur secara teratur. Hamil anak kedua membuat saya benar-benar menghilang dari dunia literasi. Dan itu adalah pilihan yang sangat buruk!

10 tahun itu bukan waktu sebentar

Pexels.com

Meninggalkan dunia kepenulisan membuat saya amat rindu.  Ternyata saya mulai merasa bahwa hobi masa lalu itu sudah jadi passion. Kalau baca buku, saya nggak akan berhenti sekadar suka dengan ceritanya, tetapi saya juga ingin menulis cerita yang serupa. Itu artinya saya belum benar-benar ikhlas mundur dari dunia kepenulisan.

Maka, pada tahun 2017, setelah merasa keadaan jauh lebih baik dan bisa diatasi, akhirnya saya pun kembali menulis dari nol lagi. Membangun blog saya dari nol. Ikut kelas-kelas menulis dan belajar bersama para senior.

Buku yang sempat saya selesaikan pada tahun 2014, rupanya gagal terbit dan baru dikabari setelah hampir 4 tahun berlalu. Itu pun  karena saya menanyakannya berkali-kali. Sempat kecewa berat dan pengen nyerah. Tapi, yaudahlah, mungkin belum rezeki. Mentor menulis saya bilang, anggap saja itu jamu pahit yang menyehatkan.

Dan itu juga bukan kesalahan saya. Karena pihak agensi dan penerbit pun tak bisa menjelaskan kenapa buku itu bisa gagal terbit bahkan setelah punya nomor ISBN. Nggak mau berlarut-larut, saya pun kembali menulis sebuah buku, yakni Rahasia dalam Semangkuk Sup.

Buku pertama yang berhasil diterbitkan di penerbit indie dan menjadi awal mula saya kembali bersemangat melanjutkan impian yang sempat saya tinggalkan. 

Selama 2017 hingga 2018, masya Allah, ada puluhan antologi yang terbit baik di penerbit mayor dan penerbit indie. Beberapa naskah solo pun di-acc oleh penerbit mayor dan menjadi pelecut semangat tersendiri bagi saya. Nggak mau berada pada zona nyaman, saya pun mencoba menulis artikel dan mengirimkannya ke media online. Hingga saat ini, ada seribu lebih artikel terbit dan dibaca oleh jutaan orang.

Dari hanya menulis artikel, kurang dari setahun saya berhasil mendapatkan fee hingga ribuan dollar. Kadang satu artikel bisa dihargai hampir setengah juta. Wah, itu menggiurkan banget memang. Sayangnya, melulu mengejar materi itu capek. Kata Dilan itu berat…haha. Aktivitas baru itu membuat saya jadi kurang menikmati. Memang, tidak ada yang salah jika ada orang yang menulis karena inginkan materi, seperti kata Kang Ridwan Kamil, “pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar”, tapi, saya pribadi pun menyadari, tujuan awal saya menulis bukan karena materi, tapi karena saya suka dan ingin berbagi.

Satu dua pengalaman menjadi pembelajaran. Karena aktif menulis artikel di salah satu platform, saya pun berkumpul dalam satu grup yang sama bersama Afifah Afra yang tulisannya dulu sering saya baca saat masih di pesantren. Grup khusus dengan member pilihan sebuah platform itu membuat saya sering nggak percaya dengan semua yang terjadi. Mimpi apa kamu, Muy?

Jika dulu lebih sibuk menulis artikel, sekarang lebih senang ngeblog dan menulis buku* meski masih satu bab aja dari kemarin…haha. Sebab kedua hal itu sepertinya sangat cocok bagi saya saat ini. Karena keduanya membuat saya menikmati asyiknya jadi penulis tanpa takut siapa yang akan membaca tulisan saya dan berapa fee yang akan saya dapatkan.

Tahun 2019, kabar baik pun menghampiri. Naskah yang dulu sempat gagal terbit karena alasan yang tidak jelas kini sudah dalam proses terbit di salah satu penerbit mayor. Pada akhirnya saya menarik naskah itu dan mengirimkannya ke penerbit lain. Siapa sangka, ternyata naskah saya pun di-acc.


10 tahun bagi saya bukan waktu yang singkat. Pengalaman punya buku gagal terbit, fee artikel nggak cair, dan kadang dinyinyirin orang pun jadi cerita tersendiri yang saat ini hanya bisa saya tertawakan. Sekarang, bukan saatnya saya meminta bantuan orang lain, tapi, saatnya saya menjadi orang yang lebih bermanfaat bagi orang-orang di sekitar saya.

Tahun 2018, tepatnya pada bulan September, saya pun memberanikan diri membuka Estrilook.com sebagai salah satu media yang bersedia menerima artikel penulis dan membayarnya. Saya dan tim Estrilook pun berusaha semaksimal mungkin membantu para pemula dengan membuka kelas-kelas menulis gratis. Meski nggak pantas disebut senior, tetapi saya bahagia bisa membersamai mereka, kami tumbuh bersama dan maju bersama tanpa ingin manjatuhkan.

Insya Allah saya tidak akan pernah lupa, jika dulunya saya berawal dari mana. Insya Allah saya akan mengenangnya lekat-lekat bahwa saya pernah bermimpi menjadi penulis ketika semua orang bahkan hati kecil saya menganggap itu mustahil. Insya Allah saya pun tidak akan melupakan, betapa besar jasa-jasa Kyai Qusyairi dan ustadz-ustadz di pesantren dulu.

Pencapaian saya selama 10 tahun bisa kamu lihat di sini
Kyai Qusyairi pernah berkata, “Bermimpilah setinggi mungkin. Jika pun kamu jatuh dan gagal, setidaknya kamu masih ada di atas.”


Sebab kalimat itulah, hingga saat ini saya tak pernah menganggap impian setinggi apa pun mustahil buat diraih. Impian dan kerja keras itu saling bertautan. Kamu tak mungkin mendapatkan hasilnya jika sejak awal kamu nggak berani bermimpi. Impian itu menjadi 'pintu ajaib' yang akan mengantarkan semua_keinginan yang menurut orang agak konyol_menjadi kenyataan.

Luaskan hatimu, teman. Jangan pernah takut menjadi seperti orang lain, tetapi jangan pula hanya sekadar ingin tanpa usaha berarti. Sebab impian dan kerja keras itu tak terpisahkan. Allah tak peduli dengan hasil yang kita dapat, Allah hanya ingin melihat apakah kita mau berusaha atau tidak. 

Buat kamu yang sekarang jadi santri dan ingin menjadi penulis, jangan pernah patah semangat hanya karena di pesantren minim fasilitas. Mimpi itu harus kamu pupuk hingga tumbuh subur. Suatu saat akan ada masanya ia akan berbuah manis dan bisa kamu nikmati. Keep strong! Impian itu sebenarnya sangat dekat dengan usahamu. Semakin kamu gigih berusaha, semakin dekat pula ia.

Salam,

Custom Post Signature

Custom Post  Signature