Top Social

(Review) 5 Minutes Daily Facial Mask dengan BEAU Youth Mask

review BEAU youth mask
BEAU Youth Mask, bikin wajah lembut dalam 5 menit


Meskipun bukan termasuk orang yang senang memakai make up, tetapi saya suka menggunakan produk perawatan kulit wajah, salah satunya masker wajah. Kenapa harus pakai masker? Karena ini termasuk salah satu perawatan yang mudah dilakukan di rumah, nggak mengeluarkan uang banyak, jadi, emak-emak bisa tetap hemat dan menabung demi kesejahteraan bersama *apa sih..hihi

Memangnya apa manfaat memakai masker wajah? Selain membuat wajah bersih, kulit mati terangkat, biasanya kulit juga jadi lembut seperti kulit bayi. Itu yang nggak bisa didapat jika hanya mencuci wajah dengan facial wash, ya.

Beruntung banget kemarin saya bisa nyobain salah satu produk terbaik dari BEAU Kirana. Salah satu produk yang saya coba adalah BEAU Youth Mask ini, Guys. BEAU Youth Mask bisa digunakan setiap hari, lho. Bisa disesuaikan dengan kebutuhanmu. Jadi, kalau pengen dan lagi rajin pakai masker, bisa banget dipakai tanpa khawatir.

review BEAU youth mask

Kandungan BEAU Youth Mask

BEAU Youth Mask mengandung 5 bahan aktif:
Collagen
Centella
Green Tea
Allantoin
Lime Pearl Extract

Manfaat BEAU Youth Mask

Apa manfaat yang bisa kamu dapatkan jika memakai produk dari BEAU Kirana ini? BEAU Kirana mengklaim manfaat dari masker ini yakni dapat membuat kulit jadi glowing, awet muda, kencang, dan cerah.

Kemasan BEAU Youth Mask

BEAU Youth Mask ini dikemas dalam bentuk tube 100ml. Nggak terlalu besar, nggak terlalu mungil. Pas aja kalau kamu mau bawa ke mana-mana. Mudah diselipkan ke dalam ransel kesayanganmu.

Warna kemasan yang dipilih pun nggak sembarangan. Dominan putih dan emas. Bikin produk ini kelihatan mewah banget, beda banget sama produk kecantikan lain.

Tutup berupa ulir juga membuat masker satu ini anti tumpah. Dijamin rapat, kok. Jadi, nggak perlu khawatir bakalan bocor dan mengotori isi ransel kamu, ya!

review BEAU youth mask


Tekstur dan Aroma

Teksturnya lumayan padat. Sempat susah pas mau make karena nggak mudah dipencet dan dikeluarkan dari tube-nya. Kirain dengan tekstur sepadat ini, maskernya bakalan sudah diaplikasikan ke wajah. Ternyata saya salah, Guys! Masker yang punya butiran lembut di dalamnya ini justru enak ketika dioleskan ke wajah.

Ketika pertama membuka kemasannya, langsung penasaran seperti apa aromanya? Ternyata soft banget. Saya pribadi suka dengan baunya yang nggak terlalu wangi dan tajam. Justru aroma seperti ini yang bikin saya betah memakai masker.

review BEAU youth mask


Cara Memakai BEAU Youth Mask

1. Bersihkan wajahmu dari kotoran dan bekas make up.
2. Aplikasikan masker wajah ini pada kulitmu yang sudah bersih. Biarkan selama 5 menit saja.
3. Bilas dengan air bersih.
4. Gunakan setiap hari sesuai kebutuhan.

Pendapat Saya

Pas awal olesin masker ke wajah, sempat kaget juga karena rasanya agak hangat-hangat gimana gitu. Lama-lama ketika dipakai kok jadi enak banget. Dalam 5 menit saja, masker ini sudah bisa dibilas. Itulah yang bikin saya senang. Nggak perlu menunggu lama-lama terutama buat kamu yang sibuk dan nggak punya banyak waktu.

Setelah dibilas, kulit rasanya lembut. Produk ini bisa digunakan oleh semua jenis kulit. Kulit saya sendiri bukan termasuk yang bermasalah. Nggak berjerawat juga, nggak terlalu berminyak, cenderung normal. Jadi, nggak ada masalah selama mencoba produknya.

Kira-kira itulah review dari saya tentang produk perawatan dari BEAU Kirana ini. Semoga bisa jadi referensi, siapa tahu kamu mau nyoba juga, ‘kan? Jadi, rasa penasaran kamu bisa terjawab, deh.

Salam,

Cara Membuat Granola Homemade dengan Bahan Sederhana, Enak Serta Ekonomis!

cara membuat granola
Ternyata bikin granola sendiri lebih sehat dan mudah, lho

Bukan hanya saya, ternyata ada banyak teman yang belum mengenal apa itu granola? Awalnya saya tahu sejak kepo-kepoin akun Instagram orang-orang yang sedang menjani diet sehat. Sebagian dari mereka membuat postingan tentang cara membuat granola homemade.

Penasaran, saya pun mulai melihat beberapa videonya. Kebanyakan dari mereka membuat granola dengan tambahan kacang almond yang saya tahu harganya bikin kantong kering, Guys…kwkwk. Emak-emak perhitungan banget dong dengan pengeluaran bulanan. Saya nggak mau pola makan JSR yang saya jalani sekarang justru membuat suami merasa saya jadi boros. Saya sendiri juga nggak  mau seperti itu. Hidup sehat kok malah boros?

Oke, putar otak. Granola buatan sendiri bisa tetap sehat dan enak meski dengan bahan sederhana dan ada di sekitar kita. Yup! Nggak perlu pakai kacang-kacangan yang harganya selangit serta buah kering yang bikin kantong menjerit. Saya selalu berusaha memanfaatkan bahan-bahan yang ada di rumah, termasuk soal menu harian. Nggak mau sampai mengeluarkan uang banyak hanya demi M-A-K-A-N. Kayaknya lebay aja gitu apalagi jika hanya buat saya? Haha. Kecuali jika memang tidak memberatkan. Kondisi setiap orang pastilah berbeda, bahkan sempat ada yang menanyakan langsung pada saya, apakah nggak bikin boros hidup sehat seperti ini? Jawabannya tergantung bagaimana kita membuat menu setiap hari.

Apa, sih, Granola Itu?

Granola merupakan makanan yang terdiri dari kacang-kacangan, oat, buah kering, serta lemak baik dari butter atau minyak zaitun, dan tak lupa pemanis yang biasanya terdiri dari madu atau brown sugar.

Granola memang sangat populer untuk saat ini terutama buat sarapan sehat bagi orang yang sedang menjalankan diet. Sarapan granola Insya Allah nggak bikin gemuk karena kandungan seratnya yang tinggi. Tapi, menurut saya, kita juga perlu memerhatikan komposisi granola itu sendiri. Misalnya, ada granola yang menggunakan brown sugar. Saya tahunya brown sugar ini berbeda dengan gula aren yang dibolehkan dalam JSR. Brown sugar ini dibuat dari gula pasir. Dalam resep kali ini, saya skip brown sugar karena belum 100% memahami apakah termasuk boleh dikonsumsi seperti gula aren atau tidak dalam JSR.

Jangan sampai kita salah konsumsi granola sehingga kalori yang masuk ke dalam tubuh justru lebih banyak dari apa yang dibayangkan. Alih-alih mau diet, malah salah makan. Jadi, memang lebih aman bikin granola sendiri ketimbang beli jadi. Bahan-bahan yang dipakai jelas dan pastinya masih fresh.

Nah, kalau orang lain membuat granola rata-rata buat sarapan, kalau saya pribadi buat camilan. Kadang bosan juga ngemil kacang tanah sangrai terus, ‘kan? Perlu ada camilan sehat lain yang bisa dikonsumsi tanpa rasa bersalah, bisa dibawa ke mana-mana dan yang penting murah, Guys!

Bagaimana Cara Menyajikan Granola?

Penyajian granola itu mudah banget. Bisa disajikan sebagai sereal yang dicampur dengan susu cair rendah lemak, bisa juga dimakan bersama yogurt, atau dibuat snack seperti yang saya lakukan saat ini. Soal rasa, saya nggak terlalu mempermasalahkan apakah enak seperti makanan ringan yang banyak dijual di supermarket atau malah hambar? Yang penting dalam pikiran saya saat ini, makanan ini harus sehat apalagi jika memang berniat mengonsumsinya setiap hari.

Bagi orang lain mungkin rasanya biasa aja, malah bisa jadi nggak enak. Tapi, buat saya sih oke-oke aja, kok. Secara saya pemakan segala…kwkwk. Tapi, anak-anak pun komentarnya sama. Begitu juga Mas di rumah. Yummy!

Bagaimana Cara Membuat Granola Homemade?

Siapkan bahan-bahan yang ada di rumah. Kenapa saya sebut ekonomis? Karena saya hanya menggunakan kacang-kacangan yang murah meriah dan mudah dijumpai di sekitar kita. Nggak pakai buah kering yang bermacam-macam juga. Jika mau alternatif buah kering yang tidak terlalu mahal, bisa pakai kismis, ya.

Bahan:

500 gr rolled oat
Satu mangkuk kacang tanah sangrai (sudah dikupas), kemudian cincang kasar
Secukupnya wijen
Secukupnya kurma cincang
Secukupnya minyak zaitun
125ml madu (boleh lebih)
Sedikit kayu manis bubuk

Cara Membuat:

1. Panggang rolled oat selama 12 menit. Kamu bisa mengaduknya beberapa kali supaya semua bagian terpanggang dengan rata. Suhu oven bisa pakai 180’C, ya. Saya pakai api atas dan bawah. Keluarkan dari oven setelah 12 menit lamanya.
2. Campur rolled oat yang sudah dipanggang dengan kacang tanah sangrai yang telah dicincang dan wijen. Aduk rata.
3. Campur minyak zaitun (saya tidak menakarnya, kurang lebih 100ml) dan madu. Aduk rata. Kemudian tuang pada campuran rolled oat. Aduk sampai rata.
4. Taruh di atas loyang. Ratakan dan sebisa mungkin jangan tebal-tebal supaya semua bagian garingnya merata.
5. Panggang selama kurang lebih 30 menit. Jangan lupa sambil sesekali diaduk, ya.
Keluarkan dari oven dan aduk-aduk. Masukkan cincangan kurma atau buah-buahan kering lainnya yang kamu pakai. Tambahkan kayu manis bubuk secukupnya saja.

Cara membuat granola
Setelah dicampur dengan minyak zaitun dan madu. Siap dipanggang

Cara membuat granola
Garing dan ada manis-manisnya gitu :D

Voila! Granola homemade dan ekonomis buatanmu sudah siap! Masukkan ke dalam toples selai ukuran sedang dan mudah dibawa ke mana pun. Sangat mudah, ‘kan?

Untuk komposisi bahannya, semua terserah kamu, kok. Bisa kacang-kacangannya dibanyakin, jenisnya dibanyakin, atau dikurangi, semua terserah, ya. Jika mau lebih manis, madunya bisa ditambah. Saya sendiri memang sengaja tidak menambahkan pemanis lain selain madu karena takut malah bikin camilan ini jadi nggak sehat lagi. Sedikit madu sudah sangat cukup.

Oya, rolled oat itu memang teksturnya berbeda dengan oat instan yang sering kita jumpai. Lebih kasar dan justru menurut saya lebih gurih gitu (apakah ini hanya perasaan saya saja? hehe). Harga rolled oat ini terbilang sangat murah, kok. Per kilonya hanya Rp. 30 ribu saja. Saya suka banget sama tekstur oat yang masih utuh, gede-gede pula. Ngelihatnya aja udah bahagia apalagi pas mengunyahnya…haha. Lebay, ya?

Senang sekali bisa berkreasi di dapur lagi dengan menu-menu sederhana dan pastinya lebih sehat. Blog saya pun lebih sering update soal JSR dan menu-menu sehat ketimbang roti yang dulunya hampir nggak pernah ketinggalan setiap minggunya. Sekarang, anak-anak juga Masya Allah pintar, jika bukan termasuk menu sehat, mereka akan mikir dua kali untuk menyantapnya.

Hidup sehat buat saya nggak harus mahal, bahkan memang nggak boleh mahal sebab semua orang bisa melakukan dan mendapatkannya. Semoga bermanfaat dan selamat mencoba, ya!

Salam,

Satu Slice Pizza Tidak Akan Membuatmu Gendut, Satu Baskom Salad Tidak Akan Membuatmu Kurus

Diet JSR
Makan sepotong pizza nggak akan bikin kamu gendut, kok (Foto: pexels)


Saya ambil kalimat dari Sabrina Chairunnisa pada salah satu postingan di akun Instagramnya. Pas baca postingan itu, saya sangat setuju dengan apa yang dia tulis. Saya memang sangat pemula dalam hal ini. Bukan pelaku diet X yang sudah bertahun-tahun. Baru lahir kemarin, Guys! Mungkin nggak pantas bicara soal ini karena dianggap terlalu prematur…hihi. Tapi, seiring berjalannya waktu, di bulan kedua saya belajar tidak makan nasi dan mengonsumsi makanan lebih sehat (real food), saya menyadari bahwa diet bukan hanya soal menurunkan berat badan, lebih dari itu, kita sedang berjuang untuk hidup sehat dan lebih baik.

Jika hanya ingin langsing, sekarang saya sudah bisa makan bebas seperti beberapa bulan yang lalu. Makan bakso, nasi padang, somay, es buah, sirup, dan semua makanan yang dulu akrab banget di lidah. Tapi, mengingat kesehatan harus dijaga mulai sekarang, bahkan jauh-jauh hari sebelum kita sakit, saya jadi ngeri kembali ke pola makan seperti dulu. Nggak pengen. Selera makan hilang melihat makanan yang dulu kayaknya enak banget dimakan setiap akhir pekan.

Selama menjalankan JSR, saya nggak mau kaku dengan diri sendiri terutama karena sadar saya ini pemula banget. Kalau tiba-tiba nggak ada makanan yang sesuai dengan pola makan JSR, kemudian saya lapar, nggak masalah saya makan secukupnya, sekadar mengganjal perut atau menghilangkan rasa kepengen. Saya khawatir, jika terlalu kaku sama pola makan, ujung-ujungnya malah gagal dan balik lagi ke pola makan sebelumnya. Ngerasa gagal dietnya, kemudian balas dendam dan enggan hidup sehat. Nggak mau seperti itu.

Dan Sabrina mengatakan hal serupa soal itu. Makan satu potong pizza tidak akan membuat kamu gendut. Kalau memang kenyataannya nggak ada makanan sama sekali, kamu mau bunuh diri dengan tidak makan sama sekali? Nggak juga, ‘kan?

Selama pulang kampung, ada kondisi di mana saya memberikan ‘maaf’ pada diri sendiri karena dengan sadar makan ayam dalam kuah opor, misalnya. Makan kerupuk tepung beras buatan Ibu satu hingga dua. Itu saya makan dengan sadar. Ya, anggap saja itu adalah cheat day yang tidak bisa tiap hari saya lakukan. Setelah itu, apakah saya kalap dan makan yang lebih dan lebih lagi? Alhamdulillah, nggak. Cukup segitu saja. Makan tetap sayuran, minum nggak pernah pakai gula apalagi sirup-sirup. Konsisten seperti ini memang berat terutama bagi pemula dan sendirian memulainya.

Saya melakukan OCD dan JSR selalu sendirian. Hanya saya yang melakukannya di rumah. Suami dan anak-anak tetap makan seperti biasa, tetapi dengan menu semakin hari semakin dibuat lebih sehat mengikuti pola makan saya. Misalnya, mereka tetap makan nasi, tetapi sekarang ganti nasi jagung. Mereka tetap minum manis, tetapi sangat jarang dan diganti dengan jus sayuran dan buah. Mereka tetap makan gorengan, tetapi saya buat menu minim digoreng kecuali terpaksa. Dan, Alhamdulillah itu berhasil diterapkan tanpa memaksa.

Program Diet Terbaik Dilakukan Seumur Hidup

JSR sendiri memang tidak bisa disebut diet, tetapi, pendapat saya, tidak berbeda jauh dengan diet yang punya sebutan lain. Intinya kembali ke pola makan yang baik, sehat, clean food, dan real food.

Nah, diet itu nggak bisa dilakukan secara musiman. Karena mau menikah, kita diet supaya baju pengantin pas dan tampak menarik ketika dikenakan. Atau ketika mau lebaran, sekalianlah diet mumpung puasa juga, ‘kan?

Ternyata memang tidak bisa seperti itu. Diet terbaik ya perlu dilakukan seumur hidup. Pola makan baik yang intinya membuat kita sehat yang harus dikerjakan dengan konsisten, seimbang, dan pastinya bukan musiman. Meskipun kata orang-orang saya tetap kecil (tambah tinggi mustahil, dong…haha), tetapi saya tetap pada pola makan JSR seperti sekarang disebabkan karena keinginan untuk hidup sehat. Iya, kurusnya udah terpenuhi, tetapi tujuannya bukan sekadar langsing untuk sekarang, tetapi juga tetap sehat hingga hari tua nanti, Aamiin, Insya Allah.

Jadi, yang punya keinginan kurus, kempesin perut, atau sehat kembali karena berat badan berlebihan, cobalah nikmati program diet yang namanya bisa apa pun itu. Nikmati dan jadikan sebagai gaya hidup tanpa batas waktu atau target tertentu. Biarpun sudah kurus dan langsing, tetaplah pada jalur tersebut.

Jika suatu saat ada waktu di mana kamu terpaksa makan sepotong pizza entah karena kelaparan atau keinginan yang besar, pengeen banget, ya udah, maafin diri kamu. Udah cukup satu potong saja, jangan lebih. Kemudian kembali lagi pada pola makan sebelumnya.

Jadi kurus dan langsing itu memang nikmat banget. Terutama mengingat kita bisa lebih sehat. Tetapi, ada tahapan dan proses tertentu yang pada setiap orang akan berbeda-beda. Pahami dirimu, pahami kebutuhanmu.

Olahraga Hanya Berpengaruh Sekitar 20%, Selebihnya Adalah Makanan yang Masuk ke Dalam Tubuhmu


Kalau kamu nggak mampu olahraga seperti orang-orang di Instagram, yang sampai lompat-lompat dan jengkulitan, please, tetap jaga pola makan kamu. Sebab, olahraga katanya hanya berpengaruh sekitar 20% saja, lho (ini menurut dr. Zaidul Akbar, ya), selebihnya adalah makanan yang masuk ke dalam tubuh.

Saya juga bukan termasuk orang yang kuat olahraga. Paling suka hanya angkat barbel 3 Kg, itu pun hanya beberapa menit. Selebihnya lari naik turun tangga (sambil bawa cucian kotor*eh). Bukan tipe orang yang suka olahraga dan kayaknya nggak bisa juga dipaksa secara saya justru lebih banyak duduk di depan laptop demi menyelesaikan tulisan ketimbang menghabiskan waktu buat lompat-lompat. Tapi, karena sudah banyak mendengar pengalaman orang-orang yang seperti saya, saya pun tetap percaya diri melanjutkannya. Dan hasilnya, BB tetap turun meskipun olahraga hanya bikin keringetan jempol…kwkwk.

Setiap orang pasti punya pengalaman berbeda saat diet. Yang paling sedih, jika nggak bisa konsisten, ya. Coba deh kamu cari pola makan yang paling pas dengan diri kamu, tubuh kamu, dan kebutuhanmu. Kemudian nikmati dan jadikan itu sebagai gaya hidup yang mustahil kamu tinggalkan. Iya, cheat day pun jangan berat-berat. Kok, bisa? Karena udah menemukan ‘rasa nyaman’ sama pola diet yang kamu pilih, kamu juga jadi mikir dong kalau kebanyakan melanggar? Dengan begitu, semoga kamu kuat menjalankan program diet itu. Sehat-sehat, ya? Sebab sehat itu mahal harganya.

Salam,

(Review) Pengalaman Berkesan Saat Menginap di Grand Surya Hotel Kediri

Review Grand Surya Hotel Kediri
Pengalaman berkesan saat menginap di Grand Surya Hotel Kediri


Bagi saya pribadi, pengalaman traveling ke Kediri saat lebaran kemarin menjadi pengalaman pertama mengunjungi Kota Kediri. Biasanya mainnya di sekitar rumah, teras, dan dapur saja, ‘kan? Haha. Tapi, karena kebetulan ada acara bareng kerabat yang lain, akhirnya sampailah si ‘anak rumahan’ ini ke Kota Kediri.

Rencana ke Kediri sebenarnya tidak direncanakan jauh-jauh hari. Justru malah mendadak banget. Ngapain aja ke sana? Mengunjungi kerabat, main ke Gunung Kelud dan suami ikutan gowes bersama tim suami yang lain. Nah, selama para suami bersepeda di Kota Kediri, saya dan ibu-ibu yang lain tetap menjaga kedamaian anak-anak dengan tidak keluar sehingga dikhawatirkan justru akan timbul kericuhan di luar…kwkwk. Secara, anak dua aja kerjanya ribut mulu. Baru masuk mobil saja sudah rebutan tempat duduk, apa kabar kalau perginya tanpa Mas?

Selama di Kediri, saya sempat menginap semalam di Grand Surya Hotel Kediri. Lokasinya tepat berada di Jl. Dhoho No. 95, Pakelan, Kecamatan Kota Kediri, Kemasan, Jawa Timur. Letak Kota Kediri sendiri dari Malang ternyata lumayan banget meskipun sudah melewati jalan tol yang mulus, ya. Kirain hanya tiga jaman, lho. Ternyata lebih!

Saya berangkat sekitar pukul 11 siang. Sampai di lokasi saat adzan Magrib. Waktu kurang dari satu jam digunakan untuk shalat Dhuhur di tengah jalan. Bisa hitung berapa jam lamanya? Anak-anak ribut, akur lagi, ribut lagi, akur lagi, eh belum sampai juga, lho…haha. Mungkin yang berat memang bukan rindu, tetapi menahan ngomel ketika mereka berdua ribut, Subhanallah *curhat colongan…kwkwk.

Dan seperti apa suasana hotel yang termasuk sangat lumayan di Kota Kediri ini? Yuk, simak review jujur tanpa pamrih dari saya…hehe.

Fasilitas Grand Surya Hotel Kediri

Ketika pertama membuka pintu, sudah ketahuan kamarnya lumayan luas, jika anak-anak kejar-kejaran dan terjadi baku hantam, Insya Allah masih ada lokasi aman untuk bersembunyi. Tempat tidur, kursi, dan fasilitas lainnya terbilang sangat lumayan, kok.

Review Grand Surya Hotel Kediri
Ada sofa yang nyaman untuk bersandar ketika di sia sedang bersepeda :D

Review Grand Surya Hotel Kediri
Bagi kamu yang suka menulis, bisa banget ngeblog santai di sini

Review Grand Surya Hotel Kediri
Bangku tempat tas saya ini, lho yang saya maksud. Unik banget, ya ada bangku di sini

Saya juga tertarik dengan bangku yang posisinya menempel dengan dinding kamar mandi. Terkesan unik dan lucu banget seperti bangku-bangku di taman dengan lampur di atasnya. Terdapat sajadah juga, lho. Di mana sangat jarang saya temukan di hotel lain. Petunjuk arah kiblat memang pasti ada di hampir semua hotel, tetapi kalau sajadah, sangat jarang disediakan.

Review Grand Surya Hotel Kediri
Peralatan mandinya lengkap

Review Grand Surya Hotel Kediri
Kamar mandinya terawat dengan baik

Poin paling penting adalah kamar mandi. Karena saya orangnya suka risih kalau sampai kamar mandinya kurang bersih…haha. Di sini, perlengkapan mandi disediakan lengkap, ya. Sedangkan kondisi kamar mandinya lumayan bersih dan terjaga sehingga bagi kamu yang seperti saya, suka geli-geli kalau lihat kamar mandi kotor, bisa bernapas lega.

Makanan di Grand Surya Hotel Kediri

Saya pribadi belum mencoba makanan di sini karena memang sengaja tidak memesan makanan. Kemarin sempat pesan nasi goreng buat anak-anak dengan harga Rp. 60 ribu untuk satu piring. Isinya banyak banget. Ditambah telur, sate ayam, dan topping udang goreng tepung di atasnya. Iya, lumayan harganya, tetapi dengan porsi sekian dan tambahan lauk lengkap, kayaknya masih terbilang wajar.

Kamu yang ingin makan menu lain pun bisa banget memesan langsung. Menunya bervasiasi banget. Kebetulan saya sedang ikut JSR, sehingga nggak terlalu memusingkan juga soal sarapan. Saya juga tidak mencoba menu sarapan yang dipesankan untuk anak-anak…hehe. Cuma lihat penampilannya saja yang kayaknya sih enak, ya.

Pelayan Ramah dan Baik 


Review Grand Surya Hotel Kediri
Menarik banget, dibuat dari botol air mineral bekas, lho

Iya, sih, di mana-mana pastilah pelayan akan melayani dengan baik, ramah, dan pasti lekas tanggap. Uniknya, di sini, kamu bisa memberikan penilaian lebih terhadap karyawan tertentu yang menurut kamu patut diacungi jempol. Tinggal tulis saja siapa nama karyawan yang menurut kamu sangat baik, sopan, dan telah membantumu semaksimal mungkin.

Pelayanan seperti ini memang sangat diperlukan saat menginap di sebuah hotel, ya. Kebayang dong, udah capek, pelayannya kurang tanggap, jadi malas banget, ‘kan jadinya?

Selama menginap di Grand Surya Hotel Kediri, saya merasa sangat nyaman. Pengalaman pertama yang tak terlupakan pastinya serta memberikan kesan baik. Semoga suatu saat saya bisa traveling lagi ke Kota Kediri dan bisa menginap kembali di Grand Surya Hotel Kediri. Semoga bermanfaat, dan jangan lupa bersyukur.

Salam,

Urap Sayur Ala JSR (Jurus Sehat Rasulullah), Tanpa Gula dan Garam Ternyata Nggak Buruk, lho!

Resep JSR
Urap sayur tanpa gula dan garam ternyata tetap enak, lho!


Makan tanpa gula dan garam pastinya membuat hidup rasanya hambar, ya. Itulah yang saya rasakan ketika pertama kali mencoba meninggalkan gula dan garam yang sebelumnya sangat akrab dengan hidup kita. Gimana masakan tanpa garam? Hambar dong? Padahal, justru tanpa gula dan garam, kita bisa merasakan rasa alami makanan itu sendiri. Kita terlalu takut dan parno duluan, sehingga keinginan untuk hidup lebih sehat jadi terhembat karena khawatir tidak mampu memuaskan lidah.

Padahal, apa yang enak di lidah belum tentu baik bagi tubuh kita. Nggak berbeda seperti ketika memberikan MPASI kepada bayi enam bulan ke atas. Zaman si sulung baru MPASI, saya nggak memberikan dia gula dan garam hingga usianya mencapai 1,5 tahun. Kebiasaan baik ini mestinya terus dilakukan bahkan saya sebagai orang tua juga harus ikut makan seperti si sulung. Kenapa ujung-ujungnya malah diubah sehingga sekarang jadi rewel dan pilah pilih makanan? Di sini saya merasa aneh…kwkwk.

Sejak ikut JSR, saya memang benar-benar menghindari dan meninggalkan gula. Meskipun masih boleh konsumsi gula aren, tetapi saya memilih tidak mengonsumsinya. Sedangkan untuk garam, saya pakai garam pink atau garam Himalaya. Itu pun jumlahnya sangat sedikit dan tidak setiap masak saya pakai. Lebih sering saya makan tanpa garam.

Ternyata, jika terbiasa, makan tanpa gula dan garam bukan hal buruk apalagi mengerikan, kok. Sebab setiap makanan entah itu sayuran atau daging-dagingan memiliki rasa alami yang unik dan sangat bersahabat dengan lidah. Hanya karena lidah kita sudah dicemari banyak perasa, maka makan makanan hambar tanpa gula dan garam seperti sesuatu yang menakutkan dan hampir semua orang enggan mencoba.

Jika hanya dikonsumsi sendiri, saya lebih memilih tidak menambahkan garam dalam menu harian. Kecuali jika menu itu akan disantap bersama Mas, maka saya dengan senang hati akan menambahkan garam Himalaya ke dalamnya. Takutlah diprotes…kwkwk.

Karena bosan dan bingung mencari menu simpel dan cocok, akhirnya saya mencari referensi dari menu-menu harian. Memilih yang cocok dengan JSR kemudian dihilangkan penggunakan gula dan garamnya. Salah satu menu yang kemarin sempat saya buat adalah urap sayuran ini.

Jujur saja, lidah saya ini ‘ndeso’ banget. Dibanding makan salad sayur, saya lebih suka makan sayuran rebus dicocol sambal atau sayuran dibuat urap. Saya makan sayuran dalam porsi yang lumayan, ya. Kalau masih lapar, nggak masalah kamu nambah, asalkan jangan berlebihan. Pastikan kamu memahami kebutuhan nutrisi pada tubuhmu sendiri. Kondisi orang akan berbeda-beda, sehingga tidak semua bisa disamaratakan.

Misalnya saja saya, saat ini, makan berat berupa sayuran saat siang hari sudah sangat cukup. Saya jarang menambahkan sumber karbohidrat seperti kentang, ubi, atau singkong. Tanpa itu saya sudah merasa kenyang hingga malam hari. Alhamdulillah. Tapi, bagi kamu yang belum terbiasa, jangan memaksakan diri untuk jadi seperti saya, ya. Sesuaikan dengan kebutuhanmu sendiri. Iyap! Kamu harus paham betul dengan kondisi tubuhnya.

Alhamdulillah, selama menjalani JSR, saya hampir tidak pernah keliyengan karena lapar…hehe. Sempat pusing jika terlalu sering konsumsi kayu manis dalam infused water. Selebihnya saya merasa sangat nyaman.

Bagi kamu yang sudah mulai hidup sehat, baik itu JSR atau sejenisnya (karena nama tak selalu sama meski pola makannya sejenis), mungkin resep urap sayuran satu ini bisa jadi referensi menarik.

Bahan:

Sayuran rebus secukupnya
Kelapa muda parut

Bumbu, haluskan:

Cabai merah keriting
Bawang putih
Sedikit kencur
Daun jeruk

Cara Membuat:

1. Haluskan bumbu, kemudian campurlah dengan kelapa muda parut. 
2. Aduk rata kemudian sangrai di atas teflon hingga bumbu matang dan tidak langu.
Sajikan bersama sayuran rebus favoritmu.

Voila! Urap sayur ala JSR pun sudah bisa kamu santap.  Nikmati setiap suapannya, Insya Allah akan terasa nikmat. Syukuri nikmat terindah yang sudah Allah beri. Insya Allah apa pun yang dikonsumsi akan sangat nikmat di lidah terlebih jika kita pandai-pandai bersyukur.

Salam,

Tips Traveling Mudah dengan Pola Makan ala JSR (Jurus Sehat Rasulullah)

JSR
Ternyata bukan hal sulit untuk menjalankan JSR saat traveling (Foto: pexels)

Assalamualaikum! Alhamdulillah, senang pake banget akhirnya bisa menulis lagi dan posting tulisan baru di blog. Saat mudik ke Malang kemarin, saya memang sengaja tidak membawa laptop dan tidak juga memaksakan diri untuk menulis pakai handphone. Alasannya karena benar-benar ingin berlibur serta berkumpul bersama orang tua dan saudara. Tanpa menulis saja sudah banyak waktu tersita di jalan apalagi kalau harus menulis? Lagian, momen pulang ke kampung halaman tidak terjadi setiap saat. Bahkan hanya setahun sekali.

Saat mudik kemarin, sempat khawatir dengan pola makan ala JSR yang baru saja saya jalani. Takut banget tergoda makan makanan yang aneh-aneh. Masa saya kuat nggak makan menu yang biasa tersaji di meja makan terutama jika itu adalah masakan Ibu? Rasanya hampir mustahil. Tapi, saya coba meyakinkan diri bahwa semua itu bisa saja terjadi jika saya memang benar-benar ‘niat’ untuk makan apa yang sekarang saya konsumsi setiap hari.

Soal godaan makan nasi bukan hal berat untuk saat ini. Justru makan kerupuk dan gorenganlah yang selalu melambai-lambai minta dikunyah…haha. Apalagi ibu suka bikin kerupuk tepung beras yang enak banget. Hadeh, akhirnya beneran saya makan satu hingga dua kerupuk…kwkwk. Tapi, setelah itu nggak bablas, kok. Saya tetap sadar bahwa apa yang saya lakukan selama ini bukan hanya berdampak baik pada penurunan berat badan, tetapi juga membuat kondisi tubuh jauh lebih sehat.

Menjalani pola makan ala JSR bukan sesuatu yang harus dipaksakan, diratapi, apalagi dibuat sedih. Sejak awal saya memang ingin menurunkan berat badan, tetapi seiring berjalannya waktu, saya tidak hanya ingin kurus dan langsing, tetapi juga mau sehat. Saat lebaran kemarin, banyak banget saudara yang menderita diabetes, kolesterol, berat badan lebih dari normal, bahkan ada juga yang kena struk hingga kanker. Entah awalnya dari berat badan berlebih atau pola makan yang tidak benar, yang jelas, kedua hal ini saling berkaitan satu sama lain.

Melihat kondisi seperti ini, diam-diam saya bersyukur bisa mengenal JSR. Tanpa harus menanti saya sakit, saya sudah bisa memulai semuanya dengan senang hati. Nggak pernah merasa terpaksa untuk menjalankannya. Saya pun tidak mau kaku sama diri sendiri, terutama saya sadar bahwa saya adalah pemula dalam hal ini. Belum ada hitungan tahun, jadi semua dijalankan harus dengan senang hati.

Saat melihat ibu memasak opor ayam kampung, saya kangen dan pengen banget makan seperti dulu-dulu. Dua potong ayam bukan dosa besar. Ya, saya juga mau ibu melihat saya makan masakannya. Sebab beliau memang sengaja memasak itu demi menyambut kedatangan saya. Rasanya? Enak banget, Masya Allah.

Selain saya, ibu pun sudah banyak berubah. Selain rajin minum jus sayuran setiap hari, beliau juga mengurangi garam dan menghindari penyedap rasa. Beliau sadar itu tidak selalu baik bagi kondisi kesehatan terutama saat ini ketika beliau sudah berusia lanjut. Kemarin saya pun sempat membantu ibu membuat jus sayuran. Jujur saja, untuk minum jus sayur dan ampasnya sekaligus bukan hal mudah. Mungkin jika dipaksa saya bisa mual hingga muntah, tetapi, karena keinginan kuat untuk sehat, ibu meminumnya dengan senang hati dan tanpa beban. Setiap hari.

Qadarallah, Ibu merasa jauh lebih sehat jika minum jus. Karena itu, tidak ada alasan untuk menghindarinya. Sekarang saya jadi punya teman sehati, ‘kan saat mudik?

Selain mudik ke rumah orang tua dan mertua, saya juga sempat traveling ke Kediri selama dua malam. Ya, total 3 hari plus di jalan. Kebayang dong, saya sempat panik dan khawatir, bakalan makan apa nanti saat dalam perjalanan? Karena sudah hitungan bulan kedua menjalankan JSR, saya jadi lebih percaya diri. Iya, nggak mau ribet apalagi dibikin ribet. Hidup saja sudah berat, kenapa makan pun dibikin berat? Haha. Jadi, saya bikin semua berjalan dengan sangat santai dan mudah. Alhamdulillah, semua berjalan sesuai rencana.

Nah, kira-kira persiapan apa dan makanan seperti apa yang harus dibawa saat traveling? Simak pengalaman singkat saya selama menjalankan JSR dan harus traveling beberapa hari.

1. Bawa Camilan Wajib


kacang tanah sangrai untuk JSR
Kacang tanah sangrai rasanya enak dan murah meriah (Foto: pexels)

Makanlah apa pun yang ada di sekitarmu. Nggak usah ribet nyari ke negeri orang untuk menyantap kacang-kacangan. Jangan pula mencari yang mahal jika hanya ingin ngemil. Itulah alasan kenapa saya selalu membuat kacang tanah sangrai sendiri. Sebab kacang tanah adalah kacang-kacangan yang mudah dijumpai di sekitar kita. Pastilah Allah sangat paham dengan kebutuhan kita. Tanpa harus makan kacang almond pun, Insya Allah kebutuhan nutrisi kita telah terpenuhi.

Kalau harus mengonsumsi kacang almond yang per kilonya mencapai Rp. 200 ribu, rasanya sangat memberatkan buat saya pribadi. Solusinya, saya membuat kacang tanah sangrai sebagai pengganti dan saat ini menjadi camilan wajib yang bisa mengalihkan pandangan dari gorengan dan kerupuk. Simpel, tapi enak banget dan nggak bisa berhenti makan…haha.

Jadi, camilan wajib bagi saya adalah kacang tanah sangrai yang selalu saya buat sendiri. Sangrai kacang tanah di atas api kecil sampai krispi. Simpan dalam toples selai ukuran sedang. Percayalah, rasanya nggak buruk. Bahkan suami dan anak-anak pun doyan.

Saat lebaran, saya selalu bawa toples berisi kacang tanah ini ke mana pun. Saat orang lain makan kue lebaran, saya dengan nyaman mengunyah kacang tanah serta buah. Orang-orang sempat membicarakan pola makan saya yang mungkin bagi mereka cenderung aneh dan di luar kebiasaan. Eh, istrinya Q nggak makan nasi, cuma makan buah dan sayur. Padahal, saya juga makan daging, telur, dan ayam. Cuma mau menjelaskan juga terlalu ribet..hihi. Jadi, saya diamkan saja selama tidak mengganggu.

Kenapa harus kacang tanah sangrai? Kenapa nggak yang lainnya? Karena mudah dibuat dan mudah dibawa ke mana-mana. Rasanya bisa menggantikan makanan lain yang enak di lidah. Jujur saja, saya sama sekali tidak menyentuh kue lebaran seperti nastar dan kawan-kawannya. Terlebih kemarin di kampung mertua, sedang ada panen jeruk berlimpah. Setiap pergi ke rumah saudara, selalu ada jeruk atau kurma. Jadi, itu benar-benar real food yang bisa memanjakan lidah saya.  Jika pun ingin ngemil, kacang tanah ini sudah bisa menggantikan semua yang saya inginkan. Saya sudah merasa sangat cukup dengan ini, tidak menginginkan lebih.

Nah, buat kamu, bisa jadi ada camilan lain yang mungkin lebih enak daripada kacang tanah sangrai. Yang penting, jangan hanya sekadar ikut-ikutan orang lain, jadilah diri sendiri dengan kondisi kantong sendiri juga…hihi. Bagi orang lain, ngemil kacang almond bisa jadi hal biasa dan tidak memberatkan, tetapi buat saya, bisa jadi ngunyah sambil nangis karena memikirkan harganya yang T-E-R-L-A-L-U. Mustahil saya ngemil cuma 7 butir sehari, anak-anak dan Mas pastilah pengen nyomot juga, ‘kan? Kwkwk, sekilo pastilah nggak sampai seminggu. Miris juga, ‘kan? Mending saya pakai untuk beli buah aja...haha *emak hemat dan pelit beda tipis.

2. Bawa Kurma


kurma JSR
Makan kurma tidak akan membuat dirimu gendut (Foto: pexels)

Kurma merupakan salah satu jenis makanan real food yang sangat bagus untuk tubuh. Seperti saat puasa, kondisi kita akan membaik setelah makan kurma karena kandungan nutrisinya yang sangat bagus. Saya pun tak pernah lepas membawa kurma ke mana-mana sejak ikut JSR. Selain bisa langsung dimakan, kamu juga bisa merendamnya menjadi infused water yang mudah. Saya mengharuskan diri membawa kurma ke mana pun. Sejak ikut JSR, saya jatuh hati pada buah dengan rasa manis ini. Padahal seharusnya sudah dari dulu, ya? 'kan sudah jelas banyak dalil yang menganjurkannya. Sayangnya, karena kebanyakan makan makanan 'aneh-aneh', lidah jadi kurang peka sama makanan sehat seperti ini. Hiks.

3. Bawa dan Konsumsi Buah-buahan


traveling JSR
Makan buah-buahan yang mudah dijumpai saat traveling (Foto: pexels)


Saat pergi ke Kediri, saya bawa pisang dan jeruk. Setiap lapar, saya makan. Bahkan sepanjang perjalanan sepertinya ngunyah terus tanpa jeda. Makan kacanglah, ganti buah, begitu sampai lelah…haha. Padahal, prinsipnya JSR nggak seperti itu, ya. Makan jangan berlebihan. Karena ngantuk banget dan harus nemenin Mas tetap melek saat nyetir, alhasil saya ‘mengharuskan’ diri untuk ngunyah terus sambil nyuapin Mas…wkwk.

Makan buah itu adalah sesuatu yang paling simpel terutama saat traveling. Di jalan kita mudah menemukan buah. Di supermarket pun demikian. di hotel apalagi. Jadi, nggak ada alasan untuk makan yang lain kecuali kamu merasa sangat pengen dan percaya bisa mengontrol diri.

Waktu tiba di Gunung Kelud, semua orang makan gorengan, bakso, dan mie instan. Saya ngapain? Ngunyah nanas. Di Gunung Kelud banyak banget nanas madu yang dijual dengan harga sangat murah. Saya membeli saat di jalan menuju Gunung Kelud. Pilih yang sudah dikupas dan dipotong. Saya bisa habis sekantong…kwkwk. Masya Allah, nikmat banget.

Karena sudah menyiapkan diri sejak awal, saya pun nggak tergoda dengan mie kemasan gelas dan bakso. Dulu mungkin makanan itu bisa membuat saya happy, tetapi sekarang saya bisa mengontrol diri dan mengatakan bahwa makanan yang enak di lidah tidak selalu baik dan dibutuhkan oleh tubuh saya saat ini. Saya merasa bangga karena bisa menolak semua itu tanpa drama. Saya apresiasi niat dan keteguhan diri ini *lebay…haha. Tapi, dengan begitu saya bisa lebih semangat menjalani semuanya.

4. Pilih Menu Berbahan Sayuran Saat Mengunjungi Rumah Makan


sayuran JSR
Selain buah, kamu bisa konsumsi sayuran, lho (Foto: pexels)

Sebenarnya, saya nggak mewajiban diri makan pagi, siang, apalagi malam. Pagi bisa hanya dengan minum air putih hangat plus jeruk nipis. Bisa juga dengan mengonsumsi beberapa butir kurma kemudian disambung makan sore harinya.

Tapi, karena yang lain terbiasa makan tiga kali sehari, setiap mampir ke rumah makan saya pun ikut dipesankan makanan…hihi. Ibu sudah tahu kalau saya tidak makan nasi dan kawan-kawannya. Jadi, beliau selalu memesankan menu berbahan sayur seperti gado-gado atau pecel.

Meskipun dulu saya penggemar pecel dan gado-gado, tetapi sekarang saya coba menghindari bumbunya yang manis itu. Jadi, makan sayurannya saja. Bisa ditambahkan kacang tanah sangrai yang selalu saya bawa. Udah, begitu saja sangat enak buat saya.

Bisa jadi karena saya tipe ‘pemakan segala’ kwkwk, bahkan makan bayam rebus hangat-hangat tanpa apa pun bisa sangat nikmat. Jadi, nggak ada masalah soal menu makanan seperti ini.

Kamu bisa memesan tumis kangkung misalnya. Menu ini banyak dan mudah dijumpai di mana-mana. Bilang saja tanpa kecap dan gula. Supaya kamu bisa makan tanpa rasa bersalah…kwkwk.

Selebihnya, luruskan niat kamu. Alasan ingin langsing bukan sesuatu yang salah. Saya pun sangat bersyukur, bahkan setelah mudik dan mengunyah tanpa henti, berat badan saya tetap stabil bahkan turun beberapa ons ketimbang saat bulan Ramadhan kemarin. Saya bisa menurunkan total 6 kg lebih sejak April kemarin hingga sekarang. Berat badan saat ini 42,7 kg. Angka yang bahkan nggak pernah saya bayangkan bisa sangat mudah dicapai dengan cara semudah dan senyaman ini.

Mau sehat ataupun langsing, sama-sama harus dijalani dengan benar. Jangan pakai cara aneh-aneh yang justru bikin tubuh kita sakit. Saya percaya sekali, dengan pola makan ala JSR seperti yang saya terapkan saat ini, kondisi tubuh dan batin jauh lebih baik. Mood jadi lebih bagus. Semoga ke depannya saya bisa tetap istiqomah. Langsing itu memang bonus, tetapi nggak ada salahnya jika itu jadi alasan utama kamu mengubah pola hidupmu menjadi lebih baik. Suatu saat kamu akan menyadari bahwa kesehatan itu tak kalah pentingnya! Tetap bersyukur dan sehat, ya.

Salam,

Tentang Jurus Sehat Rasulullah (JSR) dan 5 Menu Real Food Super Enak Serta Mudah!

JSR
Kembali ke real food dan ikuti pola makan yang diajarkan Rasulullah saw, Insya Allah akan mendatangkan kebaikan bukan hanya bagi kesehatan fisik, melainkan juga bagi batin kita (Foto: pexels)


Apa, sih, JSR itu? Kenapa banyak banget tagar JSR di mana-mana? Apa hanya saya saja yang baru tahu dan merasa JSR ini lagi nge-trend? Awalnya saya nggak paham juga, apa itu JSR? Meski sudah beberapa kali melihat video dr. Zaidul Akbar, tetap saja saya belum memahami singkatan JSR hingga saya follow akun Instagram beliau. Barulah ngeh, ternyata JSR itu adalah Jurus Sehat Rasulullah yang diambil dari judul buku dr. Zaid. Oalah…begitu…hehe.

Apa, sih, JSR Itu?

Meskipun sering dianggap diet, tetapi nyatanya JSR bukan termasuk diet, lho. Jadi apa JSR itu? Secara mudah bisa didefinisikan sebagai perubahan pola makan mengikuti sunah Rasulullah saw. Iya, kita yang biasanya makan sampai kenyang, makan ini dan itu yang ternyata nggak sehat meskipun enak di lidah, berubah menjadi makan yang apa adanya dan alami atau real food. Kita juga dianjurkan bersahabat dengan rasa lapar, karena seperti Rasulullah saw, selama hidupnya tidak pernah makan sampai kenyang. Berbeda sekali dengan kita yang seumur hidup bahkan jarang banget kelaparan.

Rasa lapar diketahui sangat berguna bagi tubuh karena bisa meningkatkan hormon HGH yang diketahui dapat membakar cadangan lemak di dalam tubuh. Jadi, adanya kewajiban berpuasa serta anjuran puasa sunah bukannya tanpa alasan. Allah paling mengerti dan memahami makhluk ciptaan-Nya. Adanya kewajiban puasa terutama dalam bulan Ramadhan pastinya sangat berkaitan dengan kesehatan kita. Sayangnya, karena salah makan, berlebihan, dan cenderung kalap ketika berbuka, ujung-ujungnya bukannya tambah sehat selama Ramadhan, malah jadi sakit atau berat badan naik.

Antara Ramadhan dan lebaran, terdapat banyak makanan yang sebenarnya justru jadi musuh bagi tubuh kita. Terutama gula. Selama Ramadhan, biasanya boros banget konsumsi gula pasir di rumah. Entah buat teh hangat, es belewah, atau camilan mengandung gula. Ketika lebaran, kue-kue yang disajikan di atas meja ruang tamu juga tak kalah manisnya, merupakan makanan yang sebenarnya tidak layak disebut makanan. Sudah diolah berlebihan dan tinggal gulanya aja. Ngeri banget, ‘kan?

Ketika saya baru belajar tentang JSR, rasanya terlihat sangat sok sehat…kwkwk. Paling ujung-ujungnya buyar semua, 'kan? Apalagi saya termasuk orang yang nggak pernah betah ikutan program diet jenis apa pun. Ada nggak yakin di awal itu pasti. Tapi, setiap hari saya antusias banget mendegarkan kajian dr. Zaid di Youtube, hingga akhirnya mulai menerapkan pelan-pelan.

Hindari 5 Jenis Makanan Ini Saat Ikut JSR


JSR
Hindari 5 jenis makanan dan perbanyaklah konsumsi real food dan infused water (Foto: pexels)

Mengingatkan kembali, ada 5 jenis makanan yang dianjurkan untuk dihindari saat ikut JSR.

1. Nasi putih
2. Tepung-tepungan mengandung gluten
3. Minyak atau makanan yang diolah memakai minyak sawit
4. Susu dan produk turunannya
5. Gula

Jika kamu ingin menumis misalnya, disarankan memakai minyak kelapa. Jika ingin konsumsi gula, disarankan memakai gula aren. Jika ingin makan nasi, ganti saja dengan nasi merah. Tapi, karena sebelum ikut JSR saya sudah tidak makan nasi meski baru banget, akhirnya nggak mengganti nasi putih dengan jenis nasi yang lain juga. Tetap tanpa nasi.

Sumber karbo saya ganti dengan singkong, ubi, atau kentang. Kita juga nggak dilarang konsumsi protein hewani, hanya saja ada baiknya tidak terlalu sering. Saya pribadi tidak terlalu pengen makan ayam, daging, atau telur. Selama ikut JSR, yang paling penting adalah konsumsi sayuran. Jika mentah saya buat menjadi jus sayuran plus buah. Jika ingin konsumsi matang, saya rebus sebentar saja.

Justru dengan Ikut JSR, Hidup jadi Lebih Mudah

Karena makanan yang dikonsumsi berubah jadi simpel, akhirnya hidup kita pun jauh lebih mudah. Contohnya, saat Ramadhan, biasanya saya sibuk membuat takjil seperti kolak atau es buah. Nah, sejak ikut JSR, saya lebih suka membuat jus sayuran dan ditambah buah. Jika ingin berbeda, saya buat buah potong yang dicampur cincangan kurma, dikucuri jeruk nipis serta sedikit madu. Ini bahkan semua orang suka banget, bukan saya saja.

Terus saat berbuka makan apa aja? Makanan beratnya apa? Makan itu nggak harus berupa karbo dan lauk, ‘kan? Iya, kita mungkin terlalu terpatok sama hal semacam ini sehingga jika makan sayur saja atau buah saja jadi terasa nggak makan. Padahal, makan nggak harus seperti itu.

Saya kadang konsumsi singkong kukus, kadang saya cukup hanya dengan sayuran rebus plus buah. Jika belum sanggup makan sedikit, jangan dipaksa berubah cepat, pelan-pelan saja dan bertahap. Saya dulunya suka makan meski tubuh nggak seheboh apa gedenya…haha. Porsi makan saya banyak terutama nasi. Karena sejak kecil sudah dibiasakan makan kenyang, tapi, nggak boleh ngemil. Jadi, saat makan berat adalah hal yang paling ditunggu. Selebihnya nggak bisa jajan, ‘kan?

Nah, untuk mengubah menjadi seperti sekarang, pastinya butuh usaha banget. Dimulai dari mengurangi porsi nasi, mengubah menu menjadi lebih sederhana, hindari minuman manis (ini nggak terlalu sulit buat saya), pelan-pelan ajarkan diri kita merasa kenyang dengan makanan yang ada di depan mata (jadi, nggak perlu pengen mie instan juga…kwkwk), dan maafkan diri kamu jika memang saat mencoba masih suka nyomot bakso goreng (saya banget…haha), coba lagi. Insya Allah, setelah merasakan enaknya ikut JSR, pastilah keinginan untuk konsisten itu bakalan datang dengan sendirinya. Percayalah!

 Kenapa Harus Ikut JSR?


JSR
Kenapa harus ikut JSR? (Foto: pexels)

Pastilah bukan hanya sekadar untuk gaya-gayaan. Yaiyalah, nggak bisa makan nasi padang masa dibuat gaya? Itu favorit saya banget yang sekarang sudah jadi mantan…haha. Sadar atau tidak, selama ini kita terlalu banyak mengonsumsi makanan yang bukan benar-benar makanan. Misalnya, suka minum jus dalam kemasan, itu beneran jus atau hanya berisi gula dan perasa? Kebayang, selain itu masih banyak banget makanan yang tak layak masuk ke dalam tubuh? Iya, makan mie instan nggak bikin kita mati mendadak, tetapi menimbun racun yang suatu saat akan mencelakakan kita sendiri.

Selama ini kita nggak mau membuka mata akan hal itu. Karena merasa tubuh baik-baik saja, kita pun akhirnya mencari pembenaran sendiri. Makan sedikit nggak masalah, ‘kan? Ujung-ujungnya malah terbiasa makan tanpa rasa bersalah.

Usia saya 29 tahun saat ini. Sudah mau kepala tiga. Mengingat ini, saya khawatir akan kondisi kesehatan yang pastinya akan menurun seiring berjalannya waktu. Kalau dulu kita bisa makan mie instan tanpa khawatir kolesterol dan ini itu, berbeda ketika usia kita sudah lebih dewasa, kondisi tubuh akan menurun sehingga pada akhirnya nggak bakalan kuat juga menghadapi cobaan seperti itu setiap saat.

Keanyataannya juga, kita sering menyaksikan dengan mata sendiri, orang sakit struk atau penyakit tidak menular lainnya terjadi bukan hanya pada mereka yang berusia lanjut atau lansia, melainkan juga dialami oleh orang yang usianya masih terbilang sangat muda. Salah siapa? Apa yang salah dalam hidup kita sehingga banyak terjadi masalah seperti ini? Pernah mikir begitu nggak, sih?

Dengan ikut JSR, kita bisa memperbaiki semuanya. Karena semua masalah kebanyakan datang dari sistem pencernaan yang kurang baik. Pencernaan yang kurang baik menimbulkan banyak masalah baru dalam hidup kita. Padahal ini sudah diatur juga dalam Islam, lho. Saya saja yang masih mengabaikan dan lalai. Dzalim sekali sama badan sendiri. Sedih dan miris.

Dimulai dari makan hanya real food, makanan yang tumbuh di tanah, disinari matahari. Kemudian sering berpuasa sunah, makan tidak berlebihan, dan perbaiki niat. Sebab JSR bukan diet. Jadi, niatkan untuk taat pada apa yang Allah perintahkan, sehat itu adalah hasil dari ketaatanmu.

Setelah ikut JSR, banyak yang akhirnya sehat dari diabetes, susah hamil, qadarallah bisa hamil, langsing pun sudah pasti. Sebab, jika kita sudah makan real food, berat badan akan normal dengan sendirinya.

Tapi, apakah semudah itu mengikuti JSR?

5 Menu Real Food yang Sehat dan Mudah Dibuat

Karena mencoba itu tidak akan selalu mudah, maka sejak awal kamu harus pandai-pandai mencari tahu menu yang cocok untuk dirimu sendiri. Kalau masih suka ngemil, selain buah, adakah camilan sehat lain yang masih bisa dikonsumsi? Saat ini, banyak banget yang sudah berkreasi dengan catatan tetap pada jalur JSR. Karena meski tak makan nasi, sejatinya makanan lainnya tetap nikmat parah…hihi. Apalagi jika sudah terbiasa makan tanpa gula dan garam, makanan alami akan terasa banget ‘rasa aslinya’ di lidah.

Di bawah ini saya mau berbagi beberapa menu atau camilan yang bisa dicoba bagi kamu yang ikut JSR.

1. Kacang Tanah Sangrai

Percayalah, kacang tanah sangrai ini tak kalah dengan kacang almond…hihi. Jika telaten, kamu bisa buang kulitnya supaya tidak ada rasa getir. Karena malas, saya tidak membuangnya…hehe. Bikinnya mudah banget, cukup taruh kacang tanah tanpa kulit di atas teflon atau penggorengan, nyalakan api kecil saja. Aduk-aduk terus sampai kacang krispi dan jangan sampai gosong, ya. Harus sabar supaya kacangnya tetap cantik tapi krispi.

2. Jus Sayur dan Buah

Jika makan sayuran sebaskom terasa tidak mudah, ada baiknya kamu menjadikannya sebagai jus supaya lebih mudah dikonsumsi. Jangan buru-buru eneg melihat jus berwarna hijau, sebab jika ditambah sebutir apel atau nanas, rasanya akan sangat enak. Percaya!

Jus ini bisa kamu kreasikan sendiri. Saya biasa memakai apel, tomat, sayuran hijau seperti bayam atau pokcoy, mentimun, seledri, belimbing, atau apa pun yang ada di sekitar kita. Kamu bisa menambahkan sedikit madu dan garam Himalaya atau him salt. Saya pribadi, cukup jus saja tanpa tambahan apa pun, rasanya sangat enak, kok.

3. Terancam

Buat saya, makan terancam adalah sesuatu yang istimewa banget. Ketika pertama kali mencium aromanya, langsung terbawa pada suasana rumah dan melihat orang tua. Ini makanan zaman saya kecil, terutama ada saat Ramadhan karena Bapak suka banget.

Dan menu ini nggak masalah dimakan karena sesuai dengan jalur JSR…kwkwk. Saya pakai kelapa parut (masih muda), tempe kukus, sayuran seperti mentimun, kemangi, atau sayur rebus seperti bayam. Bumbunya cukup pakai bawang merah dan kencur bakar. Haluskan bumbu, beri sedikit garam Himalaya, masukkan kelapa parut dan tempe kukus, campur dan penyet-penyet tempenya, masukkan sayuran. Sesimpel ini.

Kalau makan terancam, saya tidak menambah karbo lagi. Karena saya makan sayur agak banyakan dan pasti udah kenyang.

4. Takjil Simpel dengan Potongan Buah

Coba ganti es buah atau kolak dengan menu satu ini. Cukup potong-potong semangka, bisa tambahkan melon, kemudian taburi cincangan kurma, kucuri jeruk nipis, dan beri sedikit madu. Jika mau, boleh tambahkan garam Himalaya. Aduk dan konsumsi dingin. Segar sekali, lho.

5. Infused Water

Tidak setiap kita merasa lapar menandakan kita benar-benar lapar, lho. Bisa jadi itu sinyal kalau kita butuh cairan. Karena itu, coba banyak minum air, terutama air rendaman buah, sayur, dan rempah.

Dr. Zaid senang banget berbagi resep infused water, lho. Sejak ikut JSR, saya pun jadi senang sekali minum infused water. Saat sahur, saya hanya minum air rendaman kurma (pakai 3 butir kurma). Rasanya masih bertenaga sampai berbuka, Masya Allah.

Pilih Buah Lokal


JSR
Pilihlah buah lokal dan ada di sekitar kita (Foto: pexels)

Pasti kamu juga sudah tahu, buah lokal kondisinya lebih segar dibanding dengan buah impor. Minim juga obat atau lilin yang dibuat sebagai pengawet buah biar tidak mudah busuk.

Banyak faktor kenapa kita disarankan memilih buah lokal. Selain membantu petani di negeri sendiri, buah lokal juga terjangkau dan mudah dicari. Allah pasti paham banget dengan kondisi tubuh kita. Sayur dan buah yang tumbuh di sekitar kita diciptakan berbeda dengan di tempat lain pastilah sudah disesuaikan juga dengan kebutuhan. Masa iya, nyari vitamin C aja harus nyari buah dari Belanda? Nggak banget, ‘kan? Ini contoh aja...kwkwk.

Karena itu, biasakan mencari buah lokal saja. Gizinya tak akan kalah dengan yang impor. Dan pastinya sesuai dengan kantong. Ada apa saja? Ada salak, jambu merah, tomat, mentimun, apel malang, dan masih banyak lagi.

JSR Bisa Berhasil Jika Didukung Kondisi Hati yang Bersih

Katanya percuma makan sehat, tetapi batin dan hati kita kotor. Tetap nggak bakalan sehat. Hiks. Jadi, jika ikut JSR, hati kita pun harus dikelola supaya tetap bersih, positif, dan banyak bersyukur. Sering kali kita kebanyakan mengeluh, ‘kan, ya? Malu lama-lama jika mengeluh dijadikan kebiasaan, hingga kita lupa nikmat lain jauh lebih besar.

Mengeluh bukan hanya perkara kurang bersyukur, melainkan termasuk dosa, lho. Saya pernah mengikuti kajian dan membahas soal ini. Ternyata mengeluh itu buruk sekali. Tapi, kenapa malah jadi kebiasaan yang tidak ada habisnya kita lakukan?

Meski tidak ikut JSR, ada baiknya kita kurangi mengeluh. Banyakin bersyukur, sebab dengan bersyukur, hidup jadi lebih indah. Cobain, deh.

Bersih hati juga bisa meliputi bersih dari rasa iri dengki. Kita yang diperlakukan demikian pun jangan nelangsa kebangetan. Kita masih punya Allah, yang iri sama kita mungkin dapat mengusik ketenangan hati, tetapi sejatinya tidak mengubah apa pun di sisi Allah. Kalau kitanya baik, sudah pasti tetap akan baik di mata Allah.

Ada baiknya kita mulai mengikuti pola hidup sehat seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw, dan mulailah memperbaikin kondisi hati supaya tidak gampang sakit hati. Memang tidak mudah, saya pribadi pun belum sepenuhnya bisa. Tapi, sejak ikut JSR, rasanya semua lebih baik.

Dr. Zaid pun pernah mengatakan bahwa mood seseorang, baik buruknya bisa dipengaruhi juga oleh makanan yang dikonsumsi. Karena itu, cobalah makan makanan yang baik dan real food, dan clean food. Pikirkan makanan apa yang dibutuhkan oleh tubuh kita, bukan hanya makanan yang sekadar kita inginkan saja.

Salam sehat,

Custom Post Signature

Custom Post  Signature