Sunday, January 9, 2022

PTM Vs Omicron, Bagaimana Nasib Anak PAUD dan TK?

PTM Vs Omicron, Bagaimana Nasib Anak PAUD dan TK?
Photo by Kelly Sikkema on Unsplash


Libur telah usai. Minggu ini, anak-anak sudah mulai masuk sekolah kembali setelah sekian lama libur. Sebagian besar sekolah sudah dimulai, tapi anak-anak di rumah masih libur sampai hari ini.


Bagaimana rencana PTM 100% yang katanya bakalan dimulai pada semester dua tahun ini? Untuk si kakak yang sudah kelas 5 SD, kabarnya PTM masih berjalan 50% seperti semester pertama lalu, tapi untuk si adek, memang sejak lama sudah full PTM…kwkwk. Kok malah kebalik? Awalnya memang aneh, karena anak TK waktu itu belum bisa vaksin, belajar mengajar belum se-urgent itu juga dibanding anak SD yang belajarnya sudah super serius, tapi itulah pilihan yang diambil oleh sekolah si adek. So, kalau saya memaksa untuk tetap belajar online, anak saya nggak bakalan sekolah :D


Saya berharap, varian omicron ini nggak seheboh Delta kemarin. Menurut banyak sumber, termasuk WHO, varian Omicron lebih ringan dibanding Delta. Namun, semua pihak sebaiknya tetap berhati-hati dan waspada karena sudah ada kasus kematian akibat varian baru ini yang terjadi di beberapa negara.

 

Kabar buruknya, varian Omicron sudah masuk ke Indonesia. Seperti yang kita tahu, kabar terbaru kemarin menyebutkan, salah satu artis yang baru saja pulang dari liburan di luar negeri turut menjadi perhatian karena pulang bawa virus baru ini. Sebelum ini, varian Omicron pun sudah masuk ke Indonesia. Musim liburan, terutama banyaknya orang yang berlibur ke luar negeri turut menyumbangkan banyak kasus jadinya. Hiks :(


Bagaimana Nasib Anak PAUD dan TK?

PTM Vs Omicron, Bagaimana Nasib Anak PAUD dan TK?
Photo by Kelly Sikkema on Unsplash


Tergelitik menulis postingan ini sebagaimana saya juga telah menuliskan kegelisahan saya beberapa bulan lalu tentang sekolah usia dini yang memilih full PTM di sini. Salah satu pertanyaan dari member Milis Sehat menjadi alasan kenapa saya juga turut mengangkat tema serupa. Mungkin bisa jadi pertimbangan bagi banyak pihak supaya bisa menunda full PTM sampai keadaan benar-benar ‘jelas’ baiknya.


Anak-anak usia dini, seperti anak PAUD dan TK masih banyak yang belum disiplin menggunakan masker, ditambah jika pihak sekolah tidak ketat memberikan aturan, makin riskan saja kalau mau full PTM.


Menurut dr. Windhi dari Milis Sehat, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan jika ada anak usia dini masuk sekolah offline atau PTM,


  1. Lansia yang tinggal serumah mesti sudah vaksin lengkap. Sedangkan kita tahu, nggak semua orang mau vaksin, lho. Masih ada banyak orang yang takut menerima vaksin, bahkan nggak percaya sama Covid-19. Saya tidak mengatakan vaksin bisa menyelamatkan hidup kita, tapi manusia wajib berusaha. Allah tentu yang menentukan segalanya.
  2. Semua guru dan staf sekolah wajib vaksin lengkap. Insya Allah untuk yang satu ini, mestinya semua sekolah sudah melakukannya. 
  3. Orang tua murid wajib sudah vaksin lengkap. Sama halnya seperti poin pertama.
  4. Utamakan PTM hanya bagi sekolah menengah atas yang mesti melakukan praktik seperti SMK misalnya. Jadi, untuk anak-anak usia dini memang belum se-urgent itu untuk masuk setiap hari terutama di tengah berseliwerannya kabar makin meningkatnya kasus varian baru di Indonesia.


Apa yang Mesti Orang Tua Lakukan?

https://www.muyass.com/2021/11/anak-tk-full-ptm-di-masa-transisi.html
Photo by Atoms on Unsplash


So, apa yang mesti kita lakukan sebagai orang tua? Waktu si adek mau masuk TK A, saya batalkan karena memang kondisinya sedang tidak memungkinkan. Anak-anak usia segitu juga masih bermain dan bermain saja. Jadi, keputusan paling baik dia belajar di rumah bersama orang tua.


Namun, saat dia sudah waktunya TK B, mau nggak mau saya mesti memasukkannya ke sekolah terutama untuk persiapan masuk SD. Meski dia sudah bisa baca tulis, tapi ada materi-materi yang nggak akan bisa kita berikan sendiri di rumah kecuali kita memang menguasai bidang tersebut. Ada hal-hal yang mesti dia pelajari dan hanya bisa didapat dengan sekolah. Jadi, saya belajar membuat kelonggaran pada diri sendiri supaya anak bisa tetap sekolah. Jangan parno-parno bangetlah pokoknya. Banyak tenangin diri aja karena pihak sekolah memang memilih full PTM.


Anak-anak saya juga sudah sangat dan sangat disiplin. Bahkan waktu kemarin pulang ke rumah Ibu, hampir semua orang heran dan sebagian menertawakan karena anak-anak disiplin banget pakai masker selama di sana. Sedangkan orang dewasa di sana memang sudah tidak ada yang pakai masker, apalagi anak-anaknya :D


Anak-anak juga sudah bisa menerima vaksin di usia 6 hingga 11 tahun. Insya Allah, semua usaha sudah dilakukan. Semoga mereka bisa belajar dengan tenang, nyaman, dan juga happy. Berharap juga semua orang tua dan guru mengerti dan memahami apa yang mesti dilakukan selama anak-anak PTM, termasuk mesti mengajarkan disiplin pakai masker dan rajin cuci tangan.


Salam hangat,


Monday, January 3, 2022

5 Tip Menulis Buku Sekaligus Membuat Ilustrasi, Ternyata Tidak Ada yang Mustahil Selama Mau Mencoba

5 Tip Menulis Buku Sekaligus Membuat Ilustrasi, Ternyata Tidak Ada yang Mustahil Selama Mau Mencoba
Photo by Helena Lopes on Unsplash


Apa nggak capek mesti nulis buku sekaligus membuat ilustrasinya juga? Atau, gimana rasanya jadi penulis sekaligus ilustrator? Apakah memungkinkan menjalankan dua profesi ini sekaligus?


Awalnya, saya tidak pernah berpikir untuk menekuni kedua profesi ini. Sekadar bisa menulis saja sudah Alhamdulillah. Sekadar bisa menerbitkan buku saja sudah senangnya masya Allah. Namun, seiring berjalannya waktu, Allah menuntun saya ke jalan yang berbeda. Saya keluar dari zona nyaman saya selama ini dan mulai menekuni dunia ilustrasi.


Tahun 2021 merupakan awal mula saya membuat ilustrasi untuk buku anak. Terbilang cukup singkat. Saya mulai berlatih pada awal 2020 lalu. Tidak sampai satu tahun, saya sudah berani mengerjakan ilustrasi untuk buku dan yang lainnya. Sangat bersyukur karena Allah memampukan saya dan memberikan kesempatan ini tanpa harus menunggu terlalu lama.


Tahun 2021 lebih banyak saya habiskan untuk mengilustrasikan buku dibandingkan menulis buku. Benar-benar nggak direncanakan sebelumnya, tapi saya menyukainya. Meskipun sering kali terjadi, di tengah-tengah membuat ilustrasi justru merasa kangen menulis buku.


Sama halnya seperti saat nggak ada job, justru malah kangen pengin ngerjain gambar. Namun, waktu ada job, rasanya pengin cepat kelar dan istirahat. Setelah benar-benar ada waktu untuk istirahat, apakah sanggup bertahan dalam waktu yang cukup? Belum habis tiga hari pasti sudah bingung…kwkwk


Dulu, saya pernah berpikir pengin banget nulis buku sekaligus mengilustrasikannya seperti mbak Stella Ernes. Namun, lama-lama merasa nggak memungkinkan untuk belajar dan menjalankan dua profesi ini sekaligus, ditambah saya memang belum belajar menggambar digital waktu itu. Namun, siapa yang bisa mengingkari jika Allah sudah berkehendak? Akhirnya semua terjadi sealami itu. Berjalan sesuai alurnya. Diikuti saja hingga bisa seperti sekarang.


5 Tip Menulis Buku Sekaligus Membuat Ilustrasi

5 Tip Menulis Buku Sekaligus Membuat Ilustrasi, Ternyata Tidak Ada yang Mustahil Selama Mau Mencoba


Menulis buku sambil membuat ilustrasi pastinya membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Apalagi jika kita jadi IRT tanpa ART yang apa-apa serba dikerjakan sendiri. Benar-benar butuh fokus untuk menyelesaikan semuanya *ceritanya curhat…kwkwk.


Kendala yang saya hadapi ketika mengerjakan dua profesi ini sekaligus, ditambah saya terbilang baru juga di dunia ilustrasi, butuh waktu yang tidak sedikit untuk mengerjakan pekerjaan hingga tuntas. Kecepatan kita pun belum sehebat yang lain. Ibaratnya, kita sedang belajar, tapi sambil dibayar.


Ketika saya mampu mengerjakan banyak ilustrasi untuk buku, di sisi lain justru saya tidak terlalu produktif menulis. Karena waktu saya habis untuk menggambar. Memilih salah satu di antara dua profesi ini belum memungkinkan. Karena saya masih sayang keduanya. Saya bersyukur Allah berikan kesempatan untuk menekuni keduanya dan rasanya belum rela melepaskan salah satu. Akhirnya, saya menerima jika tidak bisa banyak menulis buku karena waktu yang terbagi.


Tahun ini, saya berharap bisa lebih produktif menulis dan mengurangi mengerjakan ilustrasi pesanan buku untuk klien. Lebih memilih untuk mengilustrasikan buku-buku sendiri saja jika memungkinkan.


Namun, baru awal tahun saja masih sibuk ngerjain proyek buku milik orang…kwkwk. Tak mengapa, asalkan masih tetap berkarya, entah nanti akan lebih banyak mengerjakan yang mana, saya akan tetap mensyukurinya, insya Allah.


Beberapa tip ini mungkin bisa berguna bagi teman-teman ilustrator yang pengin sekaligus menulis buku atau sebaliknya bagi penulis yang pengin menggambar juga,


1. Komitmen Itu Perlu

Sekadar ingin saja tidak cukup. Untuk menulis buku saja, kita butuh komitmen supaya buku bisa ditulis hingga rampung. Sebagian besar penulis gagal menulis bukunya hingga tuntas karena kurangnya komitmen. Mereka dikalahkan oleh kesibukan, rasa malas, kurang referensi, dan apa pun yang akhirnya membuat mereka bisa beralasan untuk berhenti.


Apalagi ketika mengerjakan ilustrasi sekaligus menulis ceritanya sendiri, sungguh tidak mudah menaklukkan rasa malas dan menyimpan ide-ide yang berkelebat di kepala. Karena ketika mengerjakan gambar, pasti penulis pengin segera nulis buku baru lagi. Susah ditahan, seperti bisul :(


Namun, jika sejak awal ingin mengerjakan keduanya, kita mesti ikhlas melepaskan keinginan ini itu hingga buku kita selesai dikerjakan. Jangan sampai banyak selingkuhnya, bisa-bisa gambar atau buku kita tidak selesai tepat waktu.


2. Lebih Banyak Belajar

Bagi pemula, pasti tidak mudah mengerjakan dua hal sekaligus. Kita butuh waktu yang cukup panjang untuk menekuni keduanya. Saya tidak memulai dua profesi ini sekaligus. Saya belajar menulis dulu, baru belajar membuat ilustrasi. 


Supaya kita lebih luwes menggambar dan menulis, sudah seharusnya kita belajar lebih serius supaya kemampuan kita tidak hanya sekadar bisa saja. Makin ditekuni dan dilatih, makin cepat juga kemampuan kita mengerjakan keduanya.


Jadi, jangan malas belajar, ya. Ikut saja kelar-kelas menulis atau menggambar online yang saat ini sangat mudah ditemukan. Sisanya, kamu bisa berlatih sendiri di rumah.


3. Bukan Sekadar Gaya-gayaan

Kenapa ada orang yang berpikiran mengerjakan dua hal ini sekaligus? Apakah hanya sekadar supaya bisa terlihat keren atau penulis pelit ketika mau membayar ilustrator?


Tidak semua orang bisa menggambar atau menulis. Kebanyakan hanya memilih salah satu profesi ini untuk ditekuni. Namun, ada orang-orang yang memang cinta keduanya. Seperti saya misalnya, sejak kecil memang senang sekali menggambar. Namun, dari dulu saya tidak tahu mau lewat mana jalannya supaya bisa menjadi ilustrator.


Saat SMA, saya mulai menulis, tapi tidak pernah meninggalkan hobi menggambar. Keduanya adalah hal yang saya sukai. Makanya, ketika sekarang saya diberi kesempatan dan kepercayaan, rasa-rasanya sulit memilih di antara keduanya. Keduanya sama-sama menyenangkannya buat saya kecuali ketika sudah jenuh :(


Bagi kamu yang ingin memulai dua profesi ini sekaligus, tanyakan dulu pada diri sendiri, kira-kira alasan apa yang melatar belakangi? Kenapa pengin nyoba menekuni dua-duanya? Yakin suka menggambar? Yakin suka menulis?


Kita tidak harus menjadi orang lain supaya terlihat hebat, lho. Kalau diri kita tidak benar-benar ingin, jangan memaksakan diri untuk mengerjakannya. Pilihlah profesi yang benar-benar nyaman buat kamu. Karena nanti, kamulah yang bakalan menjalaninya. Kamu yang bakalan ngerasain capek dan lelahnya. Jangan sampai hanya karena supaya bisa terlihat keren, kamu malah mengorbankan kebahagiaanmu sendiri.


4. Butuh Berkorban

Ketika kita pengin memulai suatu hal atau ketika kita menginginkan sesuatu, pasti butuh berkorban waktu, tenaga, dan juga uang. Kita nggak bisa menggapai semuanya tanpa berkorban terlebih dulu.


Untuk belajar menulis misalnya, bahkan sampai saat ini tak terhitung sudah berapa kelas saya ikuti. Mulai dari kelas gratisan hingga berbayar jutaan rupiah. Sampai saat ini, bahkan setelah saya menerbitkan buku, saya masih ngejar kelas-kelas berbayar. Terakhir saya mendaftar di kelas menulis bersama pak Bambang Trim. 


Untuk menggambar pun sama, saya juga ikut beberapa kelas, meski tak sebanyak kelas menulis, tapi saya juga pernah belajar di kelas-kelas online.


Rasanya tidak ada hal-hal yang mudah terjadi begitu saja, terutama bagi teman-teman yang seperti saya, hanya IRT, tidak berpendidikan tinggi, bukan anak DKV, kita butuh menyisihkan waktu, tenaga, dan uang untuk menekuni profesi yang kita inginkan. Tidak kuliah tak masalah, tapi bukan berarti kita tidak belajar.


5. Ketika Jenuh, Menepilah

Dua bulan terakhir, saya mesti mengerjakan 100 ilustrasi yang akhirnya rampung di awal tahun ini. Alhamdulillah. Dalam perjalanannya, sudah bisa dibayangkan, rasanya seperti mabuk kendaraan. Iya, jenuh, capek, bosan, pengin lari, pengin kabur…kwkwk. Manusiawi sekali, lho. It’s okay, Muyass. Kamu sudah berusaha dan akhirnya berhasil menyelesaikannya :)


Ketika merasa jenuh, menepilah untuk istirahat. Jangan berpikir bakalan berhenti atau merasa gagal. Semua orang pasti merasa jenuh dan capeklah ketika mengerjakan hal yang sama dalam waktu yang lama. Namun, apakah mereka berhenti? Palingan rehat sebentar untuk memulihkan tenaga dan kemudian melanjutkan kembali impian yang belum dicapai.


Seperti itulah yang mesti dilakukan. Terutama bagi kita yang mau menekuni dua hal sekaligus. Sangat mungkin pengin lompat menulis ketika sedang menggambar atau sebaliknya. Namun, kembali lagi ke poin pertama, komitmen!


Gimana, gimana? Yakin mau nyoba keduanya sekaligus? Menyenangkan mengerjakan semuanya, tapi bukan berarti kita bakalan kerjain dua-duanya terus menerus. Ketika merasa nggak mampu, capek, atau ketika nggak memungkinkan, serahkan ilustrasinya kepada ilustrator lain. Jangan terlalu kaku sama diri sendiri. Tetap bahagia, tetap belajar, ya :)


Salam hangat,


Wednesday, December 29, 2021

7 Cara Berpikir Positif dalam Keadaan Sulit, Bahagia Tidak Harus Bergantung Pada Orang Lain

7 Cara Berpikir Positif dalam Keadaan Sulit, Bahagia Tidak Harus Bergantung Pada Orang Lain
Photo by Havilah Galaxy on Unsplash


Bagaimana rasanya menjadi orang yang suka overthinking? Semua hal sepele dibikin rumit. Semua masalah kecil dibesar-besarkan. Berbicara kepada diri sendiri ke sana kemari, tanpa peduli apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Jadi overthinking itu nggak enak. Percaya, deh. Buat kamu yang merasa terkurung dalam situasi yang seperti ini, sulit berpikir positif, apa-apa bawaannya negative thinking terus, mending mulai sekarang diubah lagi cara berpikirnya. Nggak semua hal yang kamu takutkan bakalan terjadi, kok. Kadang, ada hal-hal yang meleset dari perkiraan kita. Jadi, kenapa mesti berburuk sangka pada semua hal yang belum terjadi? Nggak seharusnya kita menghabiskan waktu untuk memikirkan hal yang tidak perlu.


Waktu Ibu sakit dan terkena serangan stroke pertamanya hingga tidak sadarkan diri, rasanya nggak bisa berpikir selain merasa takut dan berkata pada diri sendiri, 'saya nggak pernah siap dengan keadaan seburuk ini. Saya nggak siap dengan semua hal yang serba mengejutkan, apalagi menyangkut kondisi buruk yang terjadi pada orang tua.'


Namun, makin ditangisi, makin buntu saja pikiran. Makin nggak bisa ngapa-ngapain sampai mual-mual. Akhirnya, saya memilih menerima semuanya dengan lebih lapang. Menerima keadaan buruk yang tidak pernah saya kehendaki, tapi Allah menginginkan semuanya terjadi.


Beberapa hari setelah tiba di Malang dan menemani Ibu di Rumah Sakit, suami sudah bilang bakalan balik ke Jakarta dalam waktu yang lebih cepat. Entah sehari atau dua hari kemudian. Kondisi Ibu waktu itu belum pulih. Ibu sudah sadar, tapi masih dirawat. Saya dan Kakak mesti bergantian menjaga karena nggak mungkin orang lain yang masuk ke ruang rawat inap. Aturan di ruang stroke cukup ketat sehingga tidak diizinkan terlalu sering ditunggu oleh orang yang berbeda.


Dan lagi, rasanya belum siap pulang kalau Ibu belum kembali ke rumah dalam kondisi yang stabil. Sempat bilang sama suami, saya nggak bisa mikir untuk saat ini. Maunya makan es krim dan menjalani semuanya dengan baik di waktu-waktu yang serba terbatas. Dijalani saja dulu, nggak mau berpikir begini dan begitu karena kenyataannya saya nggak cukup pintar buat mencari solusi.


Saya pasrahkan semuanya pada Allah. Dia yang membuat masalah atau musibah menimpa keluarga kami, maka hanya Dia pula yang dapat menyelesaikannya. Setiap salat saya berdoa dan percaya dengan yakin bahwa Allah akan memberikan solusi atas semua masalah yang sedang kami hadapi.


Qadarallah, siangnya ada chat dari dokter mengenai kondisi Ibu yang dibolehkan pulang bahkan sejak hari sebelumnya. Bersyukur sekali rasanya, meski tidak bisa menemani lebih lama, setidaknya Ibu bisa istirahat di rumah. Kakak saya juga nggak akan terlalu repot karena sebelumnya mesti bolak balik RS dengan kondisi punya balita.


Hari-hari berikutnya, Ibu mengalami banyak perubahan yang baik. Bahkan di hari sebelum saya berangkat dan kembali ke Jakarta, Ibu mau jalan kaki sambil dipapah. Benar, kan? Ketika kita menyerahkan semuanya kepada Allah, ketika kita sudah berusaha dan kemudian pasrah, Allah bakalan menyelesaikan semuanya. Nggak mungkin Allah zalim sama kita. Nggak mungkin juga Allah membebankan masalah melebihi kekuatan kita. 


Cara Membangun Pikiran Positif di Saat Sulit

7 Cara Berpikir Positif dalam Keadaan Sulit, Bahagia Tidak Harus Bergantung Pada Orang Lain
Photo by Jamie Brown on Unsplash


Berpikir positif di saat sulit merupakan salah satu hal yang sangat dan sangat tidak mudah. Ketika semua baik-baik saja, kita bisa dengan tenang mengatakan aku berbaik sangka kepada semua ketentuan Allah. Namun, di saat yang serba nggak mudah, ada masalah, ada musibah, diuji dengan hal-hal yang di luar kendali manusia, rasanya nggak akan mampu berpikir positif. Sama sekali nggak mungkin. Apalagi bagi orang yang suka overthinking, sudah, deh, bakalan kelar urusan saking paniknya.


Hei, kita hidup tidak bergantung pada kemampuan sendiri. Bahkan untuk urusan sepele semisal mengatur ritme jantung pun mesti Allah yang atur dan kehendaki. Jadi, kenapa kita mesti khawatir berlebihan ketika diuji oleh Allah? Apakah Allah akan meninggalkan kita? Sama sekali nggak, kok.


Bangunlah rasa percaya dan yakin bahwa semua akan baik-baik saja atas izin-Nya. Allah tentu sangat paham apa yang terbaik bagi kita sehingga mustahil kita ditelantarkan begitu saja ketika sedang mengalami musibah.


7 Cara Berpikir Positif, Tidak Semua yang Kita Takutkan Akan Terjadi

7 Cara Berpikir Positif dalam Keadaan Sulit, Bahagia Tidak Harus Bergantung Pada Orang Lain
Photo  by Vladislav Klapin on Unsplash


Apa yang kita pikirkan, tidak sepenuhnya akan terjadi. Jika demikian, kenapa tidak belajar berbaik sangka saja kepada Allah? Bukankah Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya? 


Jika berpikir baik dapat memperbaiki keadaan, minimal kita bisa hidup menjadi lebih tenang sambil menjalani semua kesulitan, kenapa mesti mengurung diri dalam pikiran negatif? Tidak semua hal bisa kita kendalikan, tapi tentu Allah punya kendali atas semuanya.


1. Jangan Menggantungkan Kebahagiaan Kepada Orang Lain

Meski itu adalah pasangan kita sendiri. Jangan pernah bergantung pada orang lain. Jangan menggantungkan kebahagiaan kepada mereka yang entah di waktu yang tidak kita tahu bisa jadi malah membuat diri kecewa.


Ketika kita bergantung kepada makhluk, otomatis kebahagiaan kita tergantung juga padanya. Kenapa tidak membangun kebahagiaan kita sendiri? Allah nggak akan suka kalau kita terlalu berlebihan bergantung pada manusia. Suatu saat, kita akan kecewa. Bahkan bisa jadi sangat kecewa.


2. Pikiran Negatif Tidak Menyelesaikan Masalah

True? Pikiran negatif tidak pernah berdampak baik bagi kehidupan kita kecuali hanya memperburuk keadaan. Dulu, kamu pernah menjadi overthinking hingga membuat masalah sepele menjadi rumit. Namun, hari ini belajarlah untuk selalu berbaik sangka kepada semua hal. Baik itu tentang dirimu ataupun yang berhubungan dengan orang lain.


Makin negatif dan overthinking, makin buruk keadaan dan hati menjadi lebih gelisah. Mending lepasin saja pikiran negatif itu dan mulailah berpikir hal-hal yang baik yang bisa terjadi di waktu yang akan datang.


3. Yakinlah Semua Akan Baik-Baik Saja

Yakinlah bahwa semua akan baik-baik saja. Pikirkan kemungkinan baik yang bisa terjadi dan singkirkan kemungkinan terburuk yang bisa kamu pikirkan di saat menghadapi masalah. Tak semestinya kita membebani diri dengan keyakinan yang negatif. Punya masalah saja sudah berat, ditambah overthinking pula, makin rumit dan ribet saja masalahnya nanti.


Please, belajarlah mengatakan pada diri sendiri, di saat yang sulit sekalipun, semua akan baik-baik saja. Nggak masalah merasa sedih dan buruk, tapi semua akan baik-baik saja. Ada Allah. Kamu nggak sendirian, kan?


4. Menerima Keadaan dengan Hati Lapang

Ketika sedang tertimpa musibah, pasti rasanya nggak enak. Nangis seharian. Makan nggak enak, bahkan nggak sadar kalau belum makan. Dalam kondisi sesulit itu, tidak seharusnya kita menolak masalah atau keadaan yang buruk. 


Apa yang sudah terjadi merupakan takdir. Yakinlah semua takdir Allah itu baik, sebab tidak ada keburukan yang bisa disandarkan kepada-Nya. Artinya, semua hal yang saat ini terlihat nggak nyaman, bikin nangis nggak habis-habis, insya Allah punya hikmah dan tujuan yang baik ke depannya nanti. Jadi, yuk, diterima dulu masalahnya dengan sabar, kemudian berdoalah kepada Allah. Itulah yang diajarkan di dalam Islam.


Ketika kita bisa menerima semuanya, menerima yang buruk dan juga yang baik, insya Allah kita akan terhindari dari sikap menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, apalagi Tuhan.


5. Jalani Sesuai Alurnya

Ketika melihat Ibu tidak sadarkan diri di bangsal rumah sakit, hati mulai bertanya-tanya, kenapa bisa sampai kejadian seperti ini? Namun, saya sadar betul, semua hal hanya terjadi kalau Allah mengizinkan. 


Maka, saya mencoba untuk mengikuti alurnya. Jalani saja dengan baik semaksimal yang kita bisa. Ikhtiar lewat perantara medis dan juga berdoa kepada Allah. Kita nggak bisa mengubah semua hal sesuai dengan yang kita mau dan inginkan. Kalau Allah berkehendak yang di luar kemauan kita, kita mesti menerimanya dan ikuti saja jalannya. Yakinlah, Allah akan menolong.


6. Jangan Berandai-andai Jika Begini dan Begitu

Kebanyakan orang yang overthinking sering berandai-andai ketika menghadapi suatu masalah. Bagaimana kalau keadaan memburuk, nggak sesuai harapan, atau sejenisnya. Pikirannya jalan ke mana-mana, terutama menjadi negative thinking. Stop, kitalah yang dapat mengendalikan pikiran sendiri.


Jangan berandai-andai jika begini dan begitu. Namun, cobalah lakukan hal terbaik yang bisa dikerjakan saat itu juga tanpa banyak berpikir ke depannya akan seperti apa. Jangan takut. Jangan khawatir, toh semua milik Allah. Semua hanya titipan. Jika ada yang terjadi di luar kendali manusia, memang itu sudah jadi fitrahnya kita sebagai hamba yang tidak berdaya kecuali atas pertolongan-Nya.


7. Tidak Butuh Penilaian Orang Lain

Waktu Ibu dirawat kemarin, banyak banget pelajaran berharga yang saya dapatkan. Salah satunya jangan terlalu peduli dengan penilaian orang lain. Kita yang menjalani semua kesulitan, bukan mereka.


Jadi, ketika ada pendapat yang menyudutkan, nggak sesuai dengan yang telah kita usahakan, lepaskan dan tetaplah melangkah ke depan. Fokus kita adalah tentang masalah kita, tentang ibu saya misalnya, tentang kesembuhan beliau, bukan tugas saya memenuhi keinginan orang lain yang memaksa mau menjenguk, padahal nakesnya melarang.


Nggak masalah orang lain nggak setuju. Itu bukan urusan kita dan tidak perlu dipikirkan serius. Karena sampai kapan pun pasti akan ada saja orang yang tidak menyukai kita, bahkan meski tanpa alasan.


Buat kamu yang suka overthinking, sedang mengalami kesulitan, dan berusaha keras untuk melewati semuanya dengan baik, percayalah bahwa semua hal terjadi bukan atas kendali kita, tapi atas kehendak-Nya. Jangan takut melangkah ke depan, jangan pedulikan omongan orang lain yang menjatuhkan. Kita mesti tahu betul dan yakin dengan keputusan yang kita ambil, kemudian berpikirlah yang baik karena Allah tentu sesuai dengan prasangka kita. Percayalah, Allah nggak akan zalim pada hamba-Nya apalagi jika kamu taat dan tidak ingkar :)


Salam hangat,


Saturday, December 25, 2021

Serangan Stroke Hingga Tak Sadarkan Diri

Serangan Stroke Hingga Tak Sadarkan Diri
Photo by Olga Kononenko on Unsplash


Jam dua dini hari saya baru sampai di Jakarta setelah menempuh perjalanan belasan jam dari Malang. Setelah dua tahun tidak bisa mudik karena pandemi, akhirnya saya bisa pulang, tapi dalam kondisi yang tidak diharapkan.


Kamis minggu lalu, tiba-tiba saya dapat telepon dari kakak di kampung. Katanya Ibu tiba-tiba tidak sadarkan diri. Tanpa jatuh sebelumnya. Benar-benar tertidur pulas dari malamnya hingga keesokan harinya tidak bisa dibangunkan.


Jangan tanya bagaimana rasanya, tiba-tiba mual-mual dan tak bisa berhenti menangis. Kejadian yang nggak pernah disangka. Dengan kondisi Ibu yang sebenarnya bisa dibilang stabil dengan riwayat hipertensi. Rasanya seperti mimpi. Belum lagi kondisi saya yang tinggal berjauhan. Rasanya panik bukan main.


Keesokan harinya, saya bergegas menuju Malang demi melihat kondisi Ibu yang hingga hari kedua belum juga bangun. Ibu masih tertidur pulas, tapi seluruh tubuhnya bisa bergerak spontan dengan normal semisal menggaruk, menarik selimut, dan tidur miring. Namun, kondisinya tertidur. Benar-benar tidur pulas :(


Waktu pertama menginjakkan kaki di rumah sakit, hampir seharian saya selalu menangis. Ingat segala macam. Ingat kalau kemarin telat banget kirim-kirim buku terbit, padahal Ibu mungkin sudah lama pengin lihat. Ingat kalau selama dua tahun tidak bisa pulang, padahal Ibu jauh lebih kangen dan pasti menanti kami pulang. Ingat segala macam yang mungkin belum tertunaikan dengan baik sebagai seorang anak.


Semua Ada Waktunya

Sebelumnya, saya sempat menulis dan menyelesaikan sebuah buku berjudul ‘Semua Ada Waktunya’. Selang beberapa hari, saya dapat kabar kalau Ibu tiba-tiba jatuh sakit. Apa yang saya alami seperti berkisah tentang buku yang sudah saya tulis. Tentang kesabaran, menerima semua takdir Allah tanpa terkecuali, berbaik sangka pada Allah, juga adanya keajaiban.


Setelah cukup tenang, saya berusaha menerima semua yang sudah terjadi. Meyakini bahwa semua takdir Allah itu baik. Sebab, tidak ada kejelekan yang bisa disandarkan kepada Allah. Maka, apa pun yang terjadi dan telah ditetapkan, pasti itu yang terbaik dan terdapat banyak sekali hikmah di dalamnya.


Menerima keadaan buruk dan sulit dengan sabar adalah sebuah cara untuk berdamai dengan masalah dan ujian. Masalah itu akan selalu muncul, sebab kita masih hidup. Karena masih hidup, maka Allah akan menguji kita.


Mau diterima ataupun ditolak, masalah akan selalu datang sesuai kehendak-Nya. Nggak ada cara terbaik menghadapi semuanya selain dengan menerimanya. Diterima dulu dengan lapang, kemudian berdoa (salat).


Musibah ini ada sebab-sebabnya. Ada asal mulanya kenapa sampai terjadi hal yang tidak kami inginkan. Sejak dulu, Ibu memang punya riwayat hipertensi. Namun, karena takut berobat ke dokter yang lebih mengerti dan paham, akhirnya Ibu hanya berobat seadanya saja. Dikasih resep Captopril, minumnya juga hanya pas sakit. Padahal, kami kenal banyak dokter yang lebih ahli, tapi ya nggak mudah meminta orang tua untuk berobat apalagi minum obat terus menerus. Dan ini merupakan salah satu alasan kenapa Ibu mengalami stroke.


Bagi teman-teman yang memiliki orang tua dengan riwayat hipertensi, usahakan cek lab dan minum obat hipertensi sesuai resep dokter dengan teratur. Jangan sekali-kali menghentikannya meskipun kondisi sudah stabil.


Ceritanya, Ibu suka sekali minum jus, bahkan jauh-jauh sebelum saya suka minum jus buah. Tensi Ibu termasuk stabil dan tidak pernah tinggi. Namun, beberapa bulan terakhir, Ibu berhenti minum jus karena merasa tubuhnya lebih kurus.


Ibu juga tidak menggantinya dengan minum obat. Qadarallah, akhirnya terjadi hal yang benar-benar kami takutkan. Stroke dengan adanya sumbatan saraf. Kondisinya diperburuk karena psikisnya sedang tidak baik.


So, kalau punya orang tua, banyak-banyak diajakin ngobrol, ya? Makin sepuh, makin mudah mikir. Makin sensitif juga. Kalau kita bisa membuat mereka happy, insya Allah kondisi kesehatan pun akan jauh lebih baik.


Hilang Ingatan

Setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit Wafa Husada Kepanjen, akhirnya Ibu mulai sadar. Mau membuka mata meski sebentar. Namun, Ibu kehilangan ingatannya. Ibu nggak ingat kepada saya ataupun yang lain. Rasanya nyesek banget. Bayangin aja, ketika saya ada di depan Ibu, Ibu nggak tahu siapa saya. Bahkan sempat nggak percaya, kok bisa ada di sini?


Namun, kondisinya makin baik dari hari ke hari. Hingga akhirnya Ibu bisa mengingat hampir semua orang, meskipun ada hal-hal yang belum sepenuhnya diingat. Jadi, ingatannya belum kembali sempurna.


Ketika teman-teman punya orang tua dengan kondisi serupa, hal yang paling penting dilakukan adalah menemani dan ngajakin ngobrol. Jangan malas menyahut ketika orang tua mengatakan sesuatu meskipun itu nggak nyambung atau ngambang gitu seperti ngelantur. Saya selalu menjawab apa yang Ibu tanyakan meskipun itu terdengar aneh. Jangan pernah membuat mereka merasa sendiri.


Semisal, suami kamu sudah dapat seribu harinya, ya? Saya tertawa dan menjawab, mungkin suami orang yang sudah dapat seribu harinya. Suami saya masih hidup, kan, Bu? Ibu ikut tertawa.


Hindari menanyakan hal-hal yang sensitif, semisal kenapa bisa seperti ini? Apa yang dipikirkan? Apalagi sampai menyalahkan orang tua dan menganggap mereka manja. Percayalah, memotivasi mereka jauh lebih baik. Semisal, ayo, Bu sehat. Ibu pasti bisa. Ibu sudah bisa makan, pintar. Bentar lagi pulih, dll.


Istirahat yang Cukup

Saat dirawat di Rumah Sakit Wafa Husada, Ibu masuk di ruang khusus Stroke. Ruangan khusus seperti ini tidak bisa dikunjungi sembarang orang karena orang-orang di dalamnya memang sedang mengalami sakit yang berbeda alias butuh tenang. Nggak bisa dikunjungi sering-sering apalagi oleh banyak orang sekaligus. Kondisi mereka bisa drop.


Pasien lain di sebelah Ibu juga nggak pernah dapat kunjungan. Yang jagain juga hanya orang-orang itu saja. Namun, ada hal-hal yang benar-benar MENYEBALKAN buat saya waktu itu. Ketika kami mengalami musibah, tapi ada orang-orang yang nggak punya attitude memaki-maki di depan saya. Benar-benar di depan mata saya sendiri.


Saya dan kakak saya mesti genose dulu supaya bisa bergantian menjaga di dalam. Itu pun nggak bisa seenaknya ganti. Minimal mesti di dalam selama 3 jam, baru boleh ganti orang lain. Suster-surter juga sudah hapal sekali kepada penunggu pasien karena selama 24 jam mereka ada di ruangan.


Waktu Ibu belum sadar, keluarga Bapak dan Ibu datang bergantian. Saya bersyukur, semua peduli dan mau mendoakan. Namun, ada hal-hal yang kurang berkenan buat saya pribadi. Salah satunya ketika mereka tidak mau mengerti dan memaksa masuk untuk melihat kondisi Ibu.


Orang-orang mengira kami melarang karena kondisi pandemi. Membandingkan kondisi Ibu dengan pasien lain yang tidak mengalami stroke sehingga boleh dikunjungi di jam-jam besuk. Padahal, peraturan itu ada dari rumah sakit. Tiap ada yang nyelonong masuk, pasti saya dan kakak saya yang diomelin suster. Kemudian ruangan dikunci. Herman banget memang sama orang-orang yang super ngeyel begini, ya, Allah :(


Kejadian paling buruk waktu saya mesti menjelaskan kepada orang-orang yang nggak mau mendengar bahkan sebelum kami bicara. Ada yang nyahut di depan mata saya,


“Kenapa nggak boleh masuk? Bilang kami dari keluarga Kapolres!”

“Udah cepat pulang kalau nggak bisa masuk! Ngapain lama-lama di sini nanti malah nularin penyakit!”


Kira-kira gimana rasanya kalau ada di posisi ini? Males dan capek hati ngeladenin, tapi, kok omongannya nggak ada akhlak? Keluarga kapolres? Emang kalau keluarga kapolres bisa seenaknya? Apalagi kalau hanya ngaku-ngaku keluarga kapolres? Kwkwk. Duh, miris banget kalau pulang kampung. Lingkungannya toxic banget :(


Kadang, nggak harus pintar, kok buat mengerti orang lain. Cukup merasa jadi manusia aja. Saya dan keluarga sedang bekerja keras mengobati Ibu. Kondisinya belum stabil waktu itu bahkan sempat demam setelah dijenguk orang-orang.


Doa-doa bisa dikirimkan, tidak perlu sampai memperburuk keadaan. Kami sudah capek, masih capek hati pula menghadapi orang-ornag yang ngeyelnya minta ampun. Yuk, belajar lagi menghargai orang lain :)


Ada lagi yang lebih parah, waktu kami memohon dengan segala kerendahan hati supaya jangan memaksa menjenguk dulu.


“Si A nggak dijenguk juga mati. Malah mati duluan.”


Terima kasih banyak untuk komentarnya yang sangat tidak berempati kepada keluarga kami. Kami tidak butuh dijenguk dengan caci maki apalagi sampai mengungkit kematian. Manusia itu tugasnya berusaha. Allah yang menentukan. Soal umur, itu urusan Allah. Kenapa kita mesti merasa paling tahu segalanya? Dokter bukan. Dukun kali, ya? kwkwk.


Berasa banget pulang kampung itu nggak sehat buat mental. Astagfirullah. Miris banget ada orang macam begini :(


Semua Normal

Beberapa hari setelah dirawat, Ibu akhirnya sadar lebih lama daripada sebelumnya. Makin hari makin bagus kondisinya. Kalau dihitung, nggak ada lima hari Ibu sudah bisa ngobrol lagi meski ingatan belum sepenuhnya pulih. 


Waktu itu, sempat kaget karena dokter nge-chat ke saudara kami yang sama-sama dokter syaraf dan update soal kondisi Ibu waktu itu. Dokter bilang, kondisi Ibu semua normal bahkan mestinya bisa pulang di hari sebelumnya. Namun, dokter tahu kalau kami masih panik dan belum siap sehingga dokter tunggu sampai 24 jam berikutnya.


Jadi, kami sama sekali nggak minta pulang paksa. Ya, ngapain? Kalau kondisi belum baik, mending Ibu dirawat oleh ahlinya. Apalagi kami mengenal dengan baik dokter yang menangani Ibu sambil dipantau juga oleh keluarga kami sesama dokter. Jadi, agak aneh karena banyak pertanyaan hilir mudik menanyakan, apakah dibawa pulang paksa? Jangan menyamaratakan kondisi satu orang dengan orang lain. Setiap pasien kondisinya berbeda-beda. Dokter tentu sangat paham karena mereka sudah merawat pasien dengan kasus yang sama selama bertahun-tahun.


Qadarallah, kondisi Ibu normal-normal saja setelah sadar. Semua anggota tubuh bergerak normal, hanya saja butuh dilatih. Nggak bisa tiba-tiba bisa jalan sendiri. Butuh dibantu dulu. Butuh dilatih dulu. Ibu juga butuh banyak istirahat. Tidur malam nggak boleh lebih dari jam sembilan malam.


Akhirnya, kami bisa pulang ke rumah. Ibu jauh lebih baik kondisinya dari hari ke hari. Bahkan di hari terakhir saya di sana, suami berhasil mengajak Ibu latihan jalan hanya dengan dipegangi saja tangannya. Benar-benar berasa kejaiban banget, masya Allah.


Untuk saat ini, Ibu hanya butuh distimulasi dengan gerakan dan juga diajak ngobrol hal-hal yang menyenangkan. Saya melarang orang-orang menangis di depan Ibu. Karena Ibu memang baik-baik saja. Saya nggak mau Ibu merasa ‘sakit’ dengan kondisinya yang sekarang. Saya juga nggak suka kalau orang-orang menceritakan orang lain yang sakit keras atau meninggal. Sangat tidak etis dibicarakan di depan orang yang sedang berjuang untuk sembuh.


Namun, saya tidak bisa lama-lama di sana. Saya tidak bisa menjaga Ibu lebih lama karena saya juga sudah punya kewajiban dan mesti pulang ke Jakarta. Melihat kondisi Ibu makin baik sebelum saya pulang, rasanya sangat lega. Insya Allah makin membaik dengan dukungan keluarga dan ketelatenan.


Di hari Ibu kemarin, rasanya nyesek mesti melihat Ibu sendiri terbaring di bangsal rumah sakit dalam kondisi tidak sadarkan diri. Jangan begini lagi, ya, Bu. Saya jauh dan nggak bisa selau jagain. Ibu mesti sehat karena hanya Ibu yang selalu memotivasi saya supaya mau mencoba banyak hal, bahkan yang saya takuti. Hingga saya bisa seperti sekarang.


Saya ikhlas dengan semua kejadian ini, insya Allah. Saya menerima dan tak apa merasa nggak baik-baik saja. Nggak masalah merasa sedih, tapi semua mesti dihadapi. Menangis bukan solusi. Saya berusaha kuat dan tidak menangis lagi supaya Ibu juga merasakan hal yang sama.


Terima kasih sudah membaca curhatan saya. Mohon doanya untuk kesembuhan Ibu. Tetap semangat, ya untuk teman-teman yang sedang merawat orang tua. Jalan ninja kita menuju surga mesti dijaga baik-baik. Maksimalkan waktu kita mumpung orang tua masih ada. 


Salam hangat,


Monday, December 6, 2021

Cara Menghadapi Anak yang Stres Saat Belajar

Cara Menghadapi Anak yang Stres Saat Belajar
Photo on Unsplash


Penilaian akhir semester satu sudah dimulai sejak minggu lalu. Besok, adalah hari terakhir si sulung melaksanakan ujian. Sepanjang hari selama ujian, dia tampak santai dan terlihat sudah sangat siap, kecuali untuk pelajaran Matematika. Adakah yang anaknya senasib begini?


Si sulung sama seperti saya, kurang pandai dalam berhitung, tapi gigih banget usahanya, masya Allah. Waktu mau ujian Matematika kemarin, dia sampai stres saking paniknya…kwkwk. Dia sempat menangis karena merasa ada materi yang belum dikuasai. Bayangkan, ini anak sudah belajar dari siang sampai malam menjelang Magrib, tapi bukannya selesai, malah nangis. Saya pun ikut kasihan melihatnya.


Ketika anak-anak kita mengalami hal serupa seperti yang dialami oleh si sulung, jangan buru-buru memarahinya. Karena belum tentu dia nggak bisa karena sebelumnya malas belajar, bisa jadi dia memang kurang mampu memahami materinya dengan sempurna. Waktu dijelaskan oleh gurunya, bahkan saat diberikan pertanyaan, si sulung selalu bisa menjawab. Namun, saat menghadapi soal yang dibalik sedikit, diubah sedikit saja, dia bingung dan panik. Ketika sudah panik, dia nggak bisa fokus, apalagi kalau sampai menangis. Parahnya lagi, dia selalu fokus hanya pada satu soal yang dia nggak bisa. Kemudian mengabaikan soal-soal lainnya, bahkan bisa sampai habis waktunya :(


Dan malam itu, setelah ayahnya pulang ngantor, kami mengajak anak-anak jalan-jalan sebentar ke luar. Mampir ke tempat mainan dan melihat-melihat sambil bercanda, kemudian mampir ke minimarket untuk membeli makanan ringan pilihan mereka. 


Pulangnya, perasaan si sulung sudah jauh lebih baik. Dia happy dan belajar lagi sampai jam 11 malam. Yup, benar-benar sampai selarut itu.


Saya bersyukur, meskipun capek sepulang kerja, ayahnya tidak ngomel melihat anaknya menangis dan sesekali pengin merobek bukunya. Sambil tersenyum, si Mas langsung ngajakin kami keluar. Itu solusi terbaik karena jika hanya di rumah, si sulung nggak akan bisa tenang dan santai. Terlalu fokus dengan pelajarannya saja.


Ini bukan kali pertama anak saya menangis dan panik saat belajar. Untuk pelajaran Matematika, dia hampir selalu seperti itu. Padahal, ketika dilihat hasil ulangannya, nilainya nggak buruk-buruk banget. Hanya saja, lengahnya dia suka nggak segera mengisi soal lain yang lebih mudah, fokus di soal yang sulit, meskipun itu hanya satu, itulah penyebab utama stresnya saat ulangan atau ujian.


Ketika teman-teman mengalami hal yang sama, apa yang mesti dilakukan supaya hati anak nggak terluka, juga jangan sampai menambah rasa kecewanya?


Bersikap Tenanglah dan Jangan Ikutan Panik

Nilai akademik bukan segalanya. Saya selalu bilang kepada si sulung bahwa kami, orang tuanya, nggak pernah menuntut dia mesti dapat nilai sempurna. Ketika kena remedial pun, kami nggak pernah marah. Pesan saya satu, setelah usaha, ya sudah, pasrahkan saja pada Allah. Yang penting sudah belajar dan usaha. Namun, meskipun selalu saya jelaskan hal yang sama, dia selalu saja panik kalau belum bisa mengerjakan soal, meski itu hanya satu saja…kwkwk.


Bekerja Sama Dengan Pasangan

Karena ketika kita nggak kompak, satunya menenangkan, tapi satunya lagi malah ngomel-ngomel, anak bisa down saat itu juga. Bekerja samalah dengan pasangan supaya masa-masa seperti ini bisa diatasi dengan baik. 


Di rumah, si sulung lebih sering belajar Matematika dengan ayahnya. Urusan berhitung saya serahkan pada si Mas karena dia lebih mengerti. Urusan lain bolehlah ke saya…kwkwk. Hal ini bisa sangat membantu sehingga anak nggak akan merasa sendirian. Kebayang nggak, sih kalau orang tuanya nggak mau mendampingi belajar? Stresnya bisa lebih parah lagi.


Beri Jeda

Ketika sudah jenuh belajar, minta anak untuk istirahat dan tinggalkan buku-bukunya. Lupakan dulu walau hanya sebentar. Bisa diajak nonton atau jalan-jalan sebentar. Anak-anak butuh jeda. Ketika kita terus memaksakan, anak bukannya jadi pintar, malah akan jadi semakin stres. Ingat, nilai bukan segalanya. Anak-anak juga butuh bahagia, nggak harus selalu berprestasi saja.


Jangan Disindir

Jangan menyindirnya ketika dia tidak bisa. Misalnya, ketika ada anak yang nggak bisa berhitung, jangan selalu menyalahkan dia dengan ucapan seperti ini, ‘makanya belajar. Main terooos, sih!’. Anak yang merasa sudah belajar, tapi belum bisa juga, tentu akan bertambah kesal dan kecewa. Sudah nggak bisa, masih kena fitnah juga, kan? Miris banget :(


Banyak hal bisa kita lakukan selama mendampingi anak-anak belajar di rumah. Salah satunya dengan tidak selalu memaksanya harus bisa segalanya. Kita saja banyak nggak bisanya, masa anak kecil disuruh bisa semuanya? Ah, keterlaluan, deh kita tuh. Belajar mengerti mereka, jangan hanya minta dimengerti. Anak-anak juga manusia. Mereka punya perasaan yang mesti dijaga. Jangan buat mereka terluka hanya karena nggak bisa Matematika! 


Salam hangat,


Saturday, November 27, 2021

Vaksin Lengkap AstraZeneca

Vaksin Lengkap AstraZeneca
Photo by Michael Marais on Unsplash


Setelah telat mendapatkan vaksin kedua selama lebih dari tiga minggu, akhirnya Selasa kemarin saya berhasil mendapatkan vaksin lengkap. Yeay! Senang karena akhirnya sudah dapat vaksin kedua setelah muter-muter ke mana-mana. Vaksin kedua lebih sulit didapat karena nggak semua tempat menyediakan. Waktu saya dan suami mencari ke Puskesmas, ternyata khusus AstraZeneca kedua dipindah lagi ke tempat lain. Konyolnya, setelah tinggal belasan tahun di Jakarta, saya baru tahu kalau Puskesmas itu tutup saat weekend…kwkwk. Alhasil, sempat bolak balik ke sana. Berasa banget kelamaan tinggal di goa :(


Mestinya, saya sudah mendapatkan vaksin pertama pada awal bulan ini. Sayangnya, saya dan anak-anak saat itu kena common cold dan tidak memungkinkan untuk vaksin. Saya benar-benar menunggu sampai semua sehat, termasuk anak-anak juga. Khawatirnya nanti saya ketularan common cold lagi ketika akan vaksin. Makanya, telatnya agak lama hampir sebulan. Tapi, itu bukan masalah dan lancar-lancar saja ketika akan menerima vaksin kedua.


Setelah Vaksin AstraZeneca Kedua

Hal yang paling mendebarkan setelah vaksin adalah KIPI! Pada vaksin pertama, saya sempat kena KIPI yang lumayan banget. Mulai dari menggigil sampai muntah-muntah. Di vaksin kedua, saya sudah menyiapkan mental kalau-kalau itu terjadi lagi. Alhamdulillah, kena KIPI, tapi lebih ringan daripada sebelumnya.


Saya hanya meriang-meringa sedikit. Badan sumeng, sedikit pusing dan mual dari hari pertama sampai hari kedua. Selebihnya, Alhamdulillah aman. Bekas suntikan pun nggak senyeri yang pertama dulu. Meskipun dokternya memasukkan jarum suntiknya penuh dengan emosi dan dendam…kwkwk. Benar-benar ngilu, sampai-sampai suami yang nggak takut sama jarum suntik pun ngeluh. Memang sakiiit…kwkwk.


Namun, saya merasa sangat lega karena sudah mendapatkan vaksin lengkap. Semoga pandeminya segera berlalu, ya. Dan kita bisa hidup dengan normal lagi. Tetap semangaat!


Peraturan Mulai Longgar

Di masa-masa sekarang, kondisinya sudah jauh sekali berbeda dengan sebelumnya, kondisnya sudah jauh sekali lebih aman. Bahkan sudah terdengar tukang nasi goreng lewat depan rumah…kwkwk. Soalnya, semasa pandemi, tukang nasi goreng benar-benar lenyap dari tempat saya. Berasa banget ada yang beda *lol.


Namun, peraturan yang longgar jangan juga membuat kita lengah. Kalau saya pribadi, ke mana-mana masih senang pakai masker dobel. Benar-benar terbiasa dengan rutinitas sebelumnya. 


Semoga orang-orang di luar sana juga sama. Jangan sampai kendor soal prokes. Apalagi anak-anak yang sekarang mulai PTM, terutama TK. Sangat berharap mereka tetap disiplin prokes dan nggak sembarangan lepas masker supaya terlatih sampai besar nanti. Karena hal-hal seperti ini nggak bisa ditanamkan dalam waktu singkat. Nggak bisa ngajarinnya dengan instan. Mesti dilatih dengan disiplin dan konsisten.


Seperti anak saya yang sejak jauh sebelum pandemi sudah terbiasa memakai masker ketika kena common cold supaya nggak menular kepada teman-temannya. Hingga saat ini, anak saya termasuk yang disiplin sekali prokesnya. Sampai-sampai dia meolak ketika diminta membuka masker untuk meniup mainan oleh gurunya. Pulang sekolah dia cerita katanya dipaksa membuka masker supaya bisa tiup sedotan. Saya lihat dari fotonya, mukanya bete dan masker hanya dibuka sebatas bisa meniup saja…kwkwk. Gurunya bilang, padahal teman-temannya senang memainkan dan enjoy saja membuka masker. Besoknya, qadarallah anak saya kena common cold lagi setelah seminggu sehat. Benar-enar baru seminggu dia masuk sekolah. hiks. 


Qadarallah, kalau mau dibuat pusing dan overthinking, pasti gemas dengan prokes sekolah yang kurang ketat. Namun, saya longgarkan juga perasaan supaya nggak tertekan. Karena anak saya mesti sekolah juga. It’s okay, ya, Nak. Semoga imunitasmu jadi lebih kuat lagi. Dua harian ini mulai pakai alat nebu lagi karena dia ada riwayat OMA dan mesti benar-benar hati-hati ketika batuk pilek. 


PPKM Level 3 di Bulan Desember

Sudah dengar kabar terbaru ini? PPKM level 3 bakalan diterapkan bulan depan demi menghindari lonjakan para pemudik di hari libur yang cukup panjang. Saya yang nggak bisa mudik setelah dua tahun nggak merasa ada yang salah sih dengan peraturan ini asal memang alasannya benar-benar karena 'pemudik'. Toh, kalau akhir tahun seperti ini, kami juga nggak akan bisa pulang…kwkwk.


Semoga semua pihak bisa bersabar, ya. Jika akhirnya mesti liburan dan mudik, semoga semuanya bisa taat prokes. Biar kondisi tetap aman dan saya bisa punya kesempatan mudik setelah dua tahun nggak bisa bertemu orang tua. Prokes itu nggak susah, kok. Kalau kita terbiasa disiplin, menerapkannya pun nyaman-nyaman saja. Pakai masker, rajin cuci tangan, dan jaga jarak, nggak ada yang sulit :)


Semoga kondisi seperti ini terus membaik dan nggak ada lagi yang namanya gelombang ketiga seperti yang banyak disebut di media. Tetap semangat dan taat prokes, ya. Jangan lupa vaksin lengkap :)


Salam hangat, 


Monday, November 15, 2021

Anak TK Full Tatap Muka Selama Masa Transisi

Anak TK Full Tatap Muka Selama Masa Transisi
Photo by Kelly Sikkema on Unsplash


Sejujurnya saya penasaran, bagaimana sekolah-sekolah usia dini seperti TK atau sejenisnya di masa transisi seperti sekarang? Apakah sudah banyak yang full tatap muka, atau sebagian besar justru masih online?


Waktu pertama kali diumumkan bahwa TKIT si adek mau mengadakan full tatap muka setiap hari dengan waktu yang lumayan lama, dari pukul setengah delapan sampai setengah sepulu, bisa jadi hanya saya saja yang menolak untuk masuk. Karena anak SD saja waktu itu masih full online dan belum mengadakan PTM. Juga, di bulan Juli baru saja terjadi gelombang kedua Covid-19 yang jaraknya sangat dekat dengan PTM yang direncanakan oleh sekolah si adek ini. Tanpa berpikir panjang, saya belum bersedia.


Saya tidak berkenan ikut PTM karena anak-anak saya belum bisa diantar jemput orang tua. Saya nggak bisa ke sekolah sendiri, sedangkan suami saya harus bekerja. Dalam waktu beberapa minggu pertama, si adek masih bisa ikut online meski hanya sendirian. Hari-hari berikutnya mulai ditanyakan kapan mau tatap muka. Lama-lama emaknya sungkan meskipun mestinya ini adalah hak saya sebagai orang tua dan wajar kalau nggak semua orang tua siap dengan PTM terutama di waktu anak SD saja belum full PTM.


PTM Pertama Kali

Setelah terlalu sering ditanya dan diminta masuk dengan alasan anak-anak mesti sosialisasi, akhirnya saya mengambil keputusan untuk ikut PTM, tapi dengan waktu yang terbatas sesuai jam kerja suami. Pagi dia diantar oleh ayahnya, setelah satu jam atau satu jam setengah dia dijemput kembali sebelum ayahnya berangkat ke kantor.


Anak-anak di sekolah lain rata-rata hanya sekolah satu jam dan hanya tatap muka beberapa hari saja dalam seminggu. Sisanya belajar online. Mereka tidak diperkenankan membawa makanan dan hanya boleh membawa minum. Karena waktunya hanya sebentar, masih memungkinkan bagi anak-anak untuk tetap memakai masker dan tidak membukanya sama sekali. Prokes di sekolahnya pun sangat ketat. Kira-kira seperti inilah hasil sharing dari para orang tua di Milis Sehat.


Namun, di sekolah si adek, anak-anak dibolehkan membawa makanan bahkan di jam belajar ada anak yang merengek minta membuka camilannya. Ini cerita dari si adek…hihi. Inilah salah satu alasan lain kenapa saya masih ragu ikut PTM. Karena bagi saya, ini kurang disiplin prokes. Membuat kondisi menjadi riskan dan rentan. Meksi hanya batuk pilek, tapi ketika terjadi di masa pandemi, horornya bukan main :(


Saya merasa lebay banget sebagai orang tua. Ketika orang lain mungkin sudah santai dan nggak peduli, kenapa saya masih separno ini? Banyak faktor kenapa saya merasa masih perlu disiplin prokes, salah satunya karena riwayat penyakit anak-anak saya. 


Common Cold Pertama Setelah PTM

Sekitar tiga minggu yang lalu si adek common cold untuk pertama kalinya. Teman-teman bisa membaca ceritanya di sini. Ini memang common cold plus demam pertama kali selama masa pandemi. Qadarallah, kondisi kesehatan anak-anak benar-benar membaik sejak mereka nggak pernah masuk sekolah. Satu hal yang saya syukuri.


Namun, setelah PTM dimulai lagi, common cold pun mampir kembali. Waktu adek pertama kali mengeluh sakit tenggorokan, hari itu juga saya meliburkannya. Kemudian bergiliran menular kepada saya dan juga kakaknya. Selama common cold, si adek benar-benar nggak ikut PTM. Walau batuk dan demamnya sudah hilang, tapi melernya itu lho masih awet banget. Namun, saya tidak tahu, bagaimana dengan teman-temannya. Apakah sedisiplin ini juga?


Saya nggak berani mengikutkan si adek PTM karena setahu saya, anak-anak yang ikut PTM mesti benar-benar sehat. Namun, saya kecewa karena selama dua minggu penuh nggak ada pembelajaran online sama sekali. Dia memang sudah bisa membaca dan menulis karena sudah lama belajar sendiri di rumah, tapi dia bosan karena nggak sekolah sama sekali...kwkwk.


Sangat berbeda dengan si kakak yang bisa tetap belajar meski dia harus di rumah karena belum sepenuhnya sehat. Kondisi seperti ini akhirnya memaksa saya sebagai orang tua untuk lebih berani mengambil keputusan. Di mana saya yang awalnya nggak berani menggunakan ojek sama sekali, akhirnya saya memutuskan pakai ojek lagi.


Tidak Ada Pilihan

Waktu mau PTM di sekolah kakak, kepala sekolah menyampaikan bahwa semua keputusan dikembalikan kepada orang tua. Kewajiban sekolah menyediakan adanya pembalajaran online dan tatap muka sehingga orang tua bisa leluasa memilih sesuai kondisinya masing-masing.


Buat saya, keputusan ini sangat baik karena tidak semua orang tua bisa mengantar sendiri anak-anaknya sekolah, juga nggak mungkin anak batuk pilek bisa leluasa masuk seperti saat sebelum pandemi. Yes or no? Dekat-dekat sama orang yang batuk-batuk saja parno…kwkwk. Saya nggak mau membahayakan anak sendiri, juga orang lain. Ikut PTM ya hanya ketika sehat. Semua juga pasti paham kalau common cold ini sangat menular terutama di ruangan ber-AC. 


Namun, di sekolah adek, nggak ada pilihan semacam itu. Semua orang ‘dipaksa’ secara halus untuk ikut PTM. Meskipun awalnya kami dibolehkan memilih, tapi ujungnya nggak ada pembelajaran online ketika anak-anak nggak bisa PTM.


Nggak semua orang tua siap dengan kondisi seperti sekarang. Justru masa transisi ini lebih berat dibanding pandemi kemarin. Anak-anak mesti tetap masuk, tapi harus jaga prokes. Anak-anak harus sekolah, padahal kondisi belum sepenuhnya aman dan pandemi belum sepenuhnya berakhir. Anak-anak harus sekolah dan masuk dalam lingkungan yang kita nggak pernah tahu, apakah semua orang benar-benar taat prokes atau nggak? 


Qadarallah, saya salah satu orang tua yang masih parno apalagi ketika melepas anak keluar tanpa saya. Karena saya mengurus mereka sendiri, saya jauh dari orang tua, nggak ada ceritanya saya menitipkan anak-anak ke orang lain dalam waktu lama. Jadi, sangat wajar ketika saya selalu was-was apalagi di masa pandemi seperti sekarang.


Semoga kondisi sekarang benar-benar sepenuhnya aman. Saya berusaha berpikir positif dan mengenyahkan semua ketakutan. Berusaha cuek dan setenang mungkin melepas anak-anak PTM. Karena saya nggak punya pilihan. 


Salam hangat,