Top Social

Tips Menulis Buku Bagi Para Blogger

cara menulis buku
Impian menjadi penulis bukan lagi sekadar impian, mari wujudkan dengan usaha dan bersabar dalam berproses (Foto: Unsplash)


Setelah membuat postingan tentang GWRF 2019 kemarin, seseorang bertanya bagaimana ia bisa menulis buku, sedangkan dia belum pede, belum pernah melakukannya, bahkan membayangkan menulis ratusan lembar rasanya nggak ada dalam kepala. Ya, kadang kita sebagai manusia lebih sering pesimis dan ragu dengan kemampuan sendiri sebelum usaha. Dan tahukah kamu, pikiran seperti itu akan membawa kenyataan yang tak jauh berbeda. Karena kamu tidak berani memikirkan yang lebih besar dari apa yang kamu bisa saat ini, maka kamu pun tidak akan pernah mendapatkan apa yang sempat kamu inginkan. Mimpi sekadar mimpi. Mau maju ragu, mau usaha takut, nggak yakin, nggak pede. Dan banyak banget alasan orang gagal ada di kamu. Iya, di kamu! *emak tiri galak banget…hihi. 

Cerita Seru di Balik Gramedia Writers & Readers Forum 2019

Zaman sekarang, apa sih yang nggak bisa kamu dapatkan? Kalaupun kita nggak bisa beli buku referensi untuk menulis buku, setidaknya kita bisa pinjam di perpus digital, daripada quota internet kamu habis untuk nonton Youtube, mending dipakai buat baca-baca buku di perpus digital seperti iJakarta atau iPusnas. Bukunya lengkap, bisa dipinjam kapan aja, bisa dibaca kapan pun asal kamu nggak capek aja pegang gadget lama-lama. Meskipun pinjam di perpus digital mudah, tetapi tetap buku yang benar-benar berbentuk buku lebih menarik buat saya pribadi.

Setelah kamu menjadi blogger, sudah pasti setiap hari telah rajin berlatih menulis. Iya, kan? Ngisi blog hampir setiap hari merupakan latihan biar kamu bisa menulis lebih luwes. Baca-baca buku setiap hari bahkan sering nongki di Gramedia (meskipun nggak pernah beli..hihi), tapi itu bisa menambah wawasan kamu yang nantinya sangat dibutuhkan ketika menulis buku.

Menurut pendapat saya, seorang blogger justru bisa lebih mudah menulis buku karena dia sudah memiliki kemampuan untuk menulis, mencari tema-tema menarik, dan mengumpulkan data. Tinggal usaha sedikit lagi untuk punya buku. Waktu ikut seminar menulis bersama Asma Nadia dulu, kami dibantu memotivasi diri supaya minimal punya satu buku seumur hidup. Waktu itu saya belum punya buku kecuali buku-buku antologi. Waktu itu saya nggak tahu bagaimana mewujudkan impian itu, tetapi saya begitu yakin akan berhasil. Jadi, mimpi dulu, karena setiap orang yang sukses saat ini, setiap mereka yang sudah hebat berawal dari yang kecil. Mereka sempat jatuh bangun juga, mereka pernah ditolak penerbit juga bahkan sampai berkali-kali. Apa yang membedakan dengan orang-orang yang gagal atau malah belum pernah mencoba? Tentu terletak pada impian dan usahanya. Orang yang berani bermimpi akan terus berusaha mewujudkan impiannya. Dia punya alasan yang dapat memotivasi dirinya. Dia tidak pernah memikirkan kegagalan karena yang ada di kepalanya hanya berhasil mewujudkan impian. Sesederhana itu.

Saya pun jadi ingat waktu pertama kali bermimpi menjadi seorang penulis, berawal dari kamar sempit dengan langit-langit berdebu, itu ada di pesantren di mana saya menimba ilmu waktu SMA. Komputer jadul pun tak ada yang bisa dipakai. Buku-buku sangat terbatas untuk dibaca sehingga saya sering meminjam dan segera mencatat poin-poin penting di dalamnya supaya nanti ketika saya butuh, saya tidak bingung mencari atau meminjamnya lagi.

Saya tidak sempat berpikir bagaimana saya bisa gagal. Saya juga tidak berpikir bagaimana saya bisa berhasil yang kemudian justru membuat saya minder karena nggak ada cara yang paling baik selain usaha tanpa memikirkan itu. Akhirnya saya hanya menjalani hari-hari saya dengan menulis dan membaca buku-buku yang ada di sana. Buku-buku kumpulan cerpen yang saya tulis tangan menumpuk. Teman-teman sekamar antre untuk membaca. Dan saat itu, meskipun belum tahu harus apa ke depannya, saya sudah happy dan terus usaha, Masya Allah.

Setahun kemudian, ada tawaran membuat antologi dari orang yang tidak disangka-sangka dan tidak dikenal. Masya Allah, itulah jawaban atas usaha saya selama ini. Sekarang, teman-teman tidak perlu seberat saya dulu untuk membuat buku. Penerbit indie ada di mana-mana. Penerbit mayor melonggarkan aturannya, pemilihan naskah nggak seketat zaman dulu kok. Asal naskah kamu rapi, tema menarik, sesuai dengan yang diinginkan penerbit, insya Allah bisa diterbitkan.

Tapi, saya mulainya dari mana dulu, nih? Nggak pede dan nggak tahu harus bagaimana?

Mulailah Mencari Tema yang Tepat


cara menulis buku
Tema buku yang kamu tulis haruslah sesuatu yang kamu sukai (Foto: Pexels)

Kita nggak harus ikutin trend pasar. Tapi, jika mau lebih mudah, memang sebaiknya cari tema-tema menarik yang sekarang sedang banyak diminati oleh para pembaca. Sesuaikan juga target usia pembaca kamu supaya kamu lebih mudah mencari tema yang tepat. Usahakan tema itu benar-benar kamu kuasai. Andai kamu sama sekali tidak mengusai, coba cari banyak buku referensi supaya ketika menulis nanti, kamu tidak kehabisan ide dan nggak mati gaya.

Buat Outline dan Sinopsis Serta Daftar Isi


cara menulis buku
Tulis dengan matang apa yang kamu rencanakan (Foto: Pexels)

Kalau kamu sudah tahu mau menulis apa, mulailah membuat outline-nya, ya. Mulailah secara berurutan jangan lompat-lompat. Cara membuat outline bisa kamu lihat di sini.

Tulis juga daftar isi atau bab-bab dan sub bab yang akan kamu kerjakan. Coba bikin buku yang ringan-ringan saja. Jangan ambil tema berat, supaya kamu lebih mudah mengekskusinya. Bab dan sub bab cukup kamu buat maksimal 3-5 halaman saja ukuran A4. Buat saya, cara ini sangat tepat dipakai oleh penulis pemula, bahkan yang sudah biasa menulis pun memakai cara ini. Jangan kejar per bab dengan banyak halaman karena nantinya bisa bikin mati gaya, mending bikin bab dan sub bab yang banyak supaya ide lebih mengalir.

Disiplin dan Buat Target


cara menulis buku
Kamu yang paling tahu berapa jarak antara impian dan kenyataan (Foto: Pexels)

Kamu sudah terbiasa menulis di blog dengan jadwal yang rutin. Saat menulis buku pun sama, kamu harus membuat target juga dan disiplinlah dengan aturan yang telah kamu buat sendiri. Kalau kamu membuat target sehari satu sampai dua bab, ya penuhi itu. Andai kamu sehari kurang dari target kamu, ya bayar dong kekurangannya di hari berikutnya. Begitu cara saya menyelesaikan naskah buku.

Saat Jenuh dan Mati Gaya


cara menulis buku
Istirahat dan tenangkan pikiran kamu (Foto: Pexels)

Ada saatnya kita merasa jenuh dan mati gaya. Duduk di depan laptop sejam juga nggak menghasilkam apa pun. Jangan dipaksa, mending kamu rehat dulu dan mencari cara untuk menyegarkan pikiran kamu. Bisa dengan membaca buku atau tidur juga boleh, kok. Setiap orang punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalah ini. Kalau saya pribadi mending istirahat atau membaca. Setelah itu, kita lebih siap melanjutkan kembali.

Kira-kira itulah beberapa tips yang bisa saya berikan. Setelah naskahmu selesai, terserah kamu mau mengajukannya ke penerbit mayor atau indie. Intinya kamu harus menyelesaikan buku. Itu target pertama yang harus kamu selesaikan. Misalnya nanti kamu akhirnya berjodoh dengan penerbit mayor, masya Allah, bahagia banget pastinya.

Terus naikkan target menulismu. Dari yang awalnya selesai naskah satu buku selama dua bulan, kemudian target terbit mayor, kemudian menulis beberapa buku dalam setahun, kemudian apa lagi? Menulis buku-buku best seller! Kamu harus punya target dan impian untuk mewujudkan semuanya.  Tanpa itu, hidupmu akan hambar. Selamat berjuang, ya :)

Salam,

Drama Radang Telinga, Perlukah Antibiotik?

radang telinga
Anak-anak yang biasanya ceria harus terganggu dengan radang telinga. Bagaimana mengatasinya? (Foto: Pexels)


Sebulan terakhir ini saya memang lebih banyak disibukkan dengan sakitnya si bungsu. Common cold sampai Otitis media atau radang telinganya kambuh. Ini mungkin sedikit mengejutkan, karena kejadian radang telinga sudah berlalu beberapa tahun yang lalu. Nggak pernah kambuh-kambuh lagi, lho. Tapi, kemarin saat dia kena batuk pilek, tiba-tiba pendengarannya berkurang dan akhirnya beneran telinganya sakit.

Ketika saya bawa ke THT, dikatakan memang radang telinganya kambuh dan bikin dia jadi susah mendengar. Sempat bikin mellow karena kita ngobrol jadi nggak nyambung. Dia yang biasanya ceria jadi cuma diem aja karena nggak mendengar orang lain bicara.

Dokter THT memang agak horor ya bilangnya, di ruangan terutama kamar tidur nggak boleh ada barang apa pun kecuali kasur sama bantar yang buat bobok, nggak boleh ada debu, dinding kalau perlu dipel juga. Ya Allah, berat banget, Zubaedah….kwkwk. Ini sebenarnya pesan dari beberapa tahun yang lalu karena dia sering kena radang telinga. Masalahnya, apakah benar alergi debu itu berhubungan dengan radang telinganya? Dan apakah setiap batuk pilek lama akan menyebabkan radang telinga? Oke, nanti kita bahas bagian yang ini.

Dokter THT juga sempat meminta si bungsu disinar selama 5x sejak telinganya terasa tidak sakit lagi. Andai kemungkinan terburuknya pendengarannya masih tidak kembali, harus dipasang alat. Deg! Saya kok jadi takut dan merasa terlalu horor. Apakah kondisi si bungsu seburuk itu?

Biasanya saya mengecek obat-obat dulu sebelum menebusnya. Meskipun pakai asuransi dari kantor Mas dan sudah pasti semua ditanggung, tapi kadang saya skip beberapa obat yang memang tidak perlu. Kebetulan saat ke sana kemarin saya hanya berdua. Si bungsu malah sudah rewel ngajakin pulang karena antre lama banget. Dari pagi jam 9an baru selesai jam 2an. Kebayang kan dia pegel minta ampun. Akhirnya semua obatnya ditebus saja sambil mendengarkan arah apoteker soal obat-obat yang kami terima.

Sampai di rumah saya cek semua obat-obat sebelum diminumkan ke si bungsu. Sempat kaget karena ada beberapa obat yang nggak nyambung sama sekali dengan sakitnya di bungsu itu. Nggak hanya itu, bahkan ada dosis yang tidak disesuaikan dengan berat badannya. Untuk kasus ini, dokter pastilah lebih mengerti daripada saya. Saya bukan dokter, saya bahkan tidak pernah makan bangku kuliah* karena itu alot, Guys…kwkwk. Tapi, selama menjadi seorang ibu, saya banyak belajar di milis sehat, bukan asal baca dari sumber yang tidak jelas, melainkan belajar betul-betul dari para dokter yang mengasuh milis sehat. Jadi, saya mungkin sangat hati-hati dengan pemberian obat pada anak-anak. Kalau memang tidak sesuai fungsinya, mending saya skip saja.

Karena benar-benar nggak yakin sama beberapa obat terutama antibiotik yang jelas nggak perlu, akhirnya saya hanya memberikan beberapa obat yang memang benar diperuntukkan bagi kondisi si bungsu sekarang. Masa iya sih saya kasih obat antijamur yang biasa diresepkan bagi pasien yang mau operasi usus gitu? Hiks. Kenapa sih harus bikin dilema gitu ya? Kita mau anak sembuh, tapi dengan cara seperti ini mustahil saya buat anak saya percobaan atas kepanikan saya sebagai orang tua.

Inilah kenapa saya selalu bersyukur karena sempat banyak belajar di milis sehat. Banyak kondisi-kondisi yang kata dokter lain ‘horor’ ternyata tidak selalu seburuk itu. Kenapa sih dokter itu kebanyakan nakut-nakutin, bukan mengedukasi konsumen kesehatan sebagaimana yang diperlukan?

Buat saya, datang ke dokter itu nggak melulu karena kita butuh obat atau minta obat. Kadang kita juga butuh sekadar konsultasi untuk menegakkan diagnosis sebuah penyakit seperti yang pernah saya lakukan ketika zaman si bungsu belum ketahuan radang telinga dulu. Saya datangi beberapa dokter spesialis anak mulai dari yang di Menteng, hingga akhirnya saya bertemu dengan salah satu dokter di milis sehat, dr. Apin di Rumah Sakit Pasar Rebo. Sampai di sana kita nggak cerita yang horor-horor gitu. Malah sekadar memastikan bahwa anak saya baik-baik saja. Nggak ada cek darah seperti yang dilakukan oleh dokter-dokter sebelumnya. Nggak ada juga drama nakut-nakutin pasien. Malah beliau banyak ketawanya dan banyak bercandanya, merasa saya datang hanya demi meyakinkan suami bahwa anak saya memang tidak perlu rawat inap seperti yang dikatakan dokter sebelumnya.

“Kayaknya Ibu ke sini hanya demi meyakinkan suami.”

Kwkwk. Kenapa dokter Apin bisa menebak? Kan jadi malu suami saya…hihi. Dan kita pun pulang dengan sebotol zat besi saja karena bungsu memang ADB saat itu. Nggak ada obat banyak untuk demamnya yang berhari-hari apalagi antibiotik. Diagnosisnya saat itu masih sama seperti yang saya pikirkan, common cold. Besoknya barulah ketahuan kalau dia radang telinga setelah keluar cairan dari telinganya. Jadi, diagnosis dokter-dokter sebelumnya nggak ada yang benar sama sekali. Antibiotik sebanyak itu nggak ada yang sesuai dengan sakitnya. Sedih banget, dulu sempat saya minumkan karena nggak tahu harus ngapain lagi. Dasar naluri saya nggak sreg, setiap minum berharap besoknya dia tidak demam, tetap saja begitu. Obat-obat sebanyak itu ternyata memang benar diberikan hanya demi menenangkan emaknya yang panik…hiks.


Berjemur dan Konsumsi Makanan Sehat

Selama semingguan saya ajak si bungsu berjemur di teras rumah. 10 menit sampai 30 menit, alhamdulillah dia masih bertahan. Sambil bawa mainan dan selalu pakai masker. Itu pesan dokter THT yang saya dengar mengingat kondisi udara di Ibu Kota sangat buruk dan anak begini katanya rentan.

Soal makanan, saya tetap memberikannya jus buah dan sayur hampir setiap hari. Dia juga lebih sering dibuatkan sup supaya menghangatkan tubuhnya. Semua usaha sudah saya lakukan. Fokus sama perawatan dia itu penting, makannya jangan heran memang jadi jarang update postingan baru di blog karena sibuk menemani si bungsu yang kondisinya belum pulih.


Terapi Uap

Nggak pernah punya niatan beli alat nebu karena setahu saya, obat-obat yang dipakai untuk nebu di rumah sakit memakai obat asma. Padahal, hampir semua anak yang dinebu tidak asma, hanya common cold saja.

Tapi, karena ada teman menyarankan untuk nebu sendiri di rumah dengan NaCl, akhirnya saya membeli alatnya. Ternyata nebu bisa pakai NaCl, lho. Saya baru tahu...hihi. Saya pakai merk Omron ukuran kecil yang bisa dibawa ke mana-mana. Kayaknya ini sangat membantu dan berguna banget mengingat yang butuh bukan hanya anak-anak, Mas yang punya alergi debu dan dingin juga butuh.

Hampir setiap hari nebu dan memang lumayan membantu. Sayangnya, setelah agak baikan, si bungsu demam tinggi selama beberapa hari. Sekitar hampir semingguan suhunya naik turun. Yup! Benar, dia kena common cold lagi dan radang telinganya kambuh juga.

Benarkah Radang Telinga Disebabkan Batuk Pilek yang Tidak Kunjung Sembuh?

Setiap batuk pilek, harus segera diobati. Alasannya karena bisa menyebabkan radang telinga. Itu yang saya pahami dari dokter THT-nya dulu. Tapi, kemarin saya sempat berobat ke dokter lain di tempat lain, akhirnya dapat pencerahan.

Tidak setiap batuk pilek yang berlangsung lama menjadi penyebab adanya radang telinga. Si bungsu sudah pasti lebih rentan karena punya riwayat otitis media sejak kecil. Tapi, tidak setiap dia batuk pilek dan nggak cepat diobati akan menyebabkan radang telinga. Lagian saya juga bingung, batuk pilek kan sebabnya virus, diobatinya pakai apa, ya?

Alergi juga tidak langsung berhubungan dengan radang telinganya. Mungkin bisa memicu dia jadi gampang atau lama kena common cold, tapi, nggak perlu sehoror itu juga memikirkannya. Pendengaran si bungsu insya Allah bisa kembali pulih karena usianya yang masih kecil. Gendang telinga sebelah kirinya berlubang, belum menutup sempurna sejak dulu dia kena radang telinga. Sedangkan satunya sudah menutup, dan ini menyebabkan nyeri luar biasa karena adanya cairan yang mendesak atau mendorong gendang telinga tersebut. Sudah pasti ini sangat sakit, kata dokternya. Tapi, anak saya tidak banyak mengeluh, jadi saya kadang salah mengartikan kondisi dia seperti apa.

Obat Flu Tetap Harus Diberikan Karena Itu Bisa Membantu Membuka Sumbatan dalam Telinganya

Ini salah satu yang baru saya tahu dari dokter terakhir yang kami kunjungi. Jika sebelumnya saya agak malas-malasan ngasih obat flu seperti Rhinos, sekarang akhirnya saya kasih rutin seperti anjuran dokter mengingat ini dapat membantu memulihkan radang telinganya.


Radang Telinga Apa Selalu Butuh Antibiotik?

Pemahaman saya soal ini sebenarnya masih sama dengan yang dulu-dulu. Tidak setiap radang telinga butuh antibiotik, tetapi semua dokter yang saya datangi selalu memberikan antibiotik. Penggunaan antibitoik di Indonesia memang super-super bebas banget. Bahkan yang nggak butuh pun dikasih. Nah, ini kadang membuat kita sebagai konsumen kesehatan jadi salah mengerti. Apa iya memang butuh?

Penyebab awal dari radang telinga di bungsu adalah virus. Sehingga seharusnya radang telinganya juga tidak ada hubungannya sama sekali dengan bakteri. Sampai sekarang saya belum memberikannya antibiotik. Demam si bungsu sudah turun. Kondisinya membaik. Sejauh ini dia minum obat flu dan obat untuk radang telinganya saja. Obat penurun panas tetap diberikan terutama ketika dia merasakan nyeri di telinganya.

Bagi saya ini tidak mudah. Selama semingguan dia demam, hati ketar ketir juga, menunggu kapan dia sembuh. Tapi, sembarangan ngobatin juga tidak menyelesaikan masalah. Saat anak sakit seperti inilah, mental kita diuji. Bagi saya, mencari dokter yang RUM di dekat sini sangat sulit. Akhirnya sekadar nyoba-nyoba beberapa dokter hingga dapat yang lumayan banget. Meski nggak sepenuhnya RUM, setidaknya dokter terakhir bisa menjelaskan dengan lebih masuk akal dan meladeni pertanyaan saya dengan sabar. Maklum emak-emak cerewet…hihi.

Semoga ke depannya si bungsu baik-baik saja, kondisinya bisa pulih sesuai dengan harapan. Aamiin. Terima kasih sudah membaca cerita kami dan semoga kita selalu sehat.

Salam,

Mau Tahu Cara Menyewa Generator yang Murah? Ini Caranya!

sewa generator
Apa jadinya kalau listrik padam lagi seperti kemarin? Jakarta seperti lumpuh :( (Foto: Pexels)

Dapat dikatakan hampir semua mesin sederhana dan kompleks yang berada di sekitar kita menggunakan listrik sebagai tenaga utama. Namun, ada kalanya daya yang dimiliki tidak cukup untuk menjalankan mesin atau alat tertentu dan PLN sebagai penyalur utama tenaga listrik tidak berjalan baik alias padam. Sewa generator sebagai pembangkit listrik tambahan dan cadangan sangat dibutuhkan.

Sebagai konsumen, tentunya menginginkan segala sesuatu yang dibeli atau disewa berkualitas dan berharga murah. Termasuk ketika menyewa generator. Bagaimana caranya memilih sewa generator murah tetapi berkualitas? Ini dia beberapa tipsnya.

Foto: popularmechanics.com

1. Menentukan Daya Generator yang Dibutuhkan
Setiap peralatan listrik membutuhkan daya yang berbeda-beda. Generator untuk acara pernikahan membutuhkan daya lebih kecil daripada untuk industri. Semakin besar daya yang dimiliki oleh generator tentu saja harganya akan semakin mahal.  Pastikan kamu mengetahui kebutuhan daya yang ingin digunakan sebelum menyewanya.

2. Menentukan Lamanya Waktu Kamu Menggunakan Generator
Berapa lama kamu akan menyewa generator? Ini juga akan mempengaruhi harga sewa. Sewa satu bulan akan lebih mahal dibandingkan sewa satu minggu secara nominal. Namun, umumnya perusahaan penyewaan generator akan memberikan harga khusus pada saat kamu menyewa lebih lama.

3. Mengetahui Jenis-jenis Generator
Jenis generator dapat dilihat dari berbagai sisi. Dari sisi arusnya ada generator AC dan DC. Sementara berdasarkan bahan bakarnya da generator berbahan bakar gas atau elpiji, bensin, dan diesel. Ada pula generator yang tidak bersuara atau silent genset dan sebaliknya.

Setiap jenis generator mempunyai spesifikasi dan daya sendiri dengan kelebihan masing-masing. Harga setiap jenis juga berbeda.

4. Membandingkan Harga Sewa Genset atau Generator
Langkah terakhir agar kamu dapat memperoleh harga sewa genset yang cukup murah adalah membandingkan satu toko dengan toko lainnya. Namun, sebaiknya membandingkan tidak hanya berpatokan pada nominal. Kamu harus juga melihat pelayanan dan fasilitas yang diberikan.

Dengan memperhatikan 4 tips di atas, maka kamu akan memperoleh harga sewa yang terjangkau dengan hasil memuaskan.

Namun, jika kamu tidak ada waktu untuk membandingkan berbagai harga sewa tenaga tambahan daya listrik ini, Sewatama menjadi tempat yang tepat dan terbaik. Kamu dapat menanyakan dan berkonsultasi dengan customer service tentang berbagai keperluan generator. Dengan demikian harga sewa generator murah yang diberikan akan tepat. Kamu juga akan puas dengan pelayanan yang diberikan. Selamat mencoba.

Salam,

Cerita Seru di Balik Gramedia Writers & Readers Forum 2019

GWRF 2019
Gimana keseruan GWRF 2019 di perpusnas? (Foto: Pexels)


Akhirnya tiba juga saatnya mengisi blog setelah seharian mengejar target menulis naskah buku untuk hari ini. Yup! Nggak perlu panjang kali lebar lagi menjelaskan karena ketika mengetik postingan ini, sudah lewat dini hari, Guys…hihi. Ngantuk parah, tetapi kangen banget pengen ngeblog.

Kemarin, tepatnya pada hari Minggu, 04 Agustus 2019, saya berkesempatan hadir dalam acara Gramedia Writers & Readers Forum 2019 yang diadakan di perpustakaan nasional. Gramedia Writers & Readers Forum atau bisa disingkat dengan GWRF ini merupakan forum yang mempertemukan pembaca dengan penulis favoritnya yang dibagi dalam kelas-kelas tertentu. Karena hanya fokus pada Editor’s Clinic, saya tidak banyak tahu ternyata acara ini sudah dimulai sejak tanggal 2 Agustus lalu dan dihadiri oleh banyak public figure, lho. Ketahuan saya sangat tidak update kalau sudah bicara soal artis dan kawan-kawan….hehe.

Selain itu, di sana diadakan berbagai macam acara seru seperti Editor’s Clinic yang memberikan kesempatan kepada para penulis atau calon penulis untuk bertemu langsung dengan para editor dari beberapa penerbit. Ada juga diskusi inspiratif, talkshow, review film, penghargaan Gramedia Short Film Festival 2019, serta bazar buku murah yang antreannya naudzubillah…kwkwk.

Sebagai salah seorang yang senang menulis, jujur saja ini kali pertama saya datang ke perpustakaan nasional untuk menghadiri acara seperti ini. Awalnya tidak ada niat untuk datang jika memang tidak ada teman-teman dari Estrilook Community yang datang. Minder banget kalau harus tatap muka sama orang-orang yang belum saya kenal. Apalagi kalau harus brtemu dan berdiskusi dengan para editor yang bisa jadi kemarin pernah menolak naskah saya. Trauma nggak, sih? Hehe.

Karena dua teman saya sesama penulis buku Ada Dia di Hatiku (Quanta, 2019) ikut hadir dan bergabung juga, akhirnya saya memaksanakan diri untuk hadir juga.

Ketika sampai di sana, kebanyakan yang datang memang anak muda seumuran saya*uhuk (Keselek kodok…kwkwk). Jarang banget yang sampai bawa balita seperti saya dan teman saya…haha. Ya Allah, rasanya seru banget bawa anak ke tempat seperti ini di mana yang lain begitu serius datang sendiri demi bertemu editor, sedangkan saya malah diskusi sambil dijambakin anak…kwkwk. Itu pengalaman tak terduga yang saya alami. Mas yang ikut datang nggak sadar kalau anaknya sedang jambak-jambakin emaknya, beliau sibuk mengabadikan momen *huft.

Bertemu Editor Quanta dan Elex Media


GWRF 2019
Ramai banget suasana  GWRF kemarin, tapi, mana orangnya ya? hihi

Ini mungkin cerita yang paling ditunggu-tunggu (oleh saya)…hehe. Nggak sabar mau cerita gimana serunya saya ketika bertemu para editor yang selama ini mengedit naskah saya (dan menolak naskah saya…huhu).

Belum sempat saya duduk, para editor sudah memanggil nama saya. Seperti biasa, nama saya agak susah disebut. Dengan hati berdebar saya pun maju. Nggak nyangka ternyata di depan saya ada mba Dewi Bestari yang memegang buku saya dkk ‘Ada Dia di Hatiku’ (Quanta, 2019), ada juga mbak Jarwati, editor buku duet saya ‘Adab dan Kebiasaan Hebat Anak Muslim’ (Quanta, 2019), serta ada mba Agnes dari Elex Media, entah beliau yang mengurusi 4 naskah anak saya di Elex Media atau bukan. Mau tanya udah lupa aja dari kemarin, padahal naskah saya ada 4 yang di-acc di sana, hanya saja karena lewat agensi, jadi saya tidak tahu siapa editor yang mengambilnya.

Malam sebelumnya, saya sempat menyelesaikan satu outline dan daftar isi. Outline sebenarnya sudah rampung beberapa hari sebelumnya, bahkan judulnya sudah saya dapat jauh-jauh hari, hanya saja saya belum menyelesaikan daftar isi. Nah, karena qadarallah ada acara GWRF ini, akhirnya buru-buru saya rampungkan untuk dibawa ke editor. Sambutannya? Alhamdulillah positif. Mungkin nanti saya ceritakan di postingan yang lain soal naskah saya.

Di sini saya juga mau cerita sama teman-teman tentang kegalauan kita selama ini. Apakah kita bisa mengirimkan outline saja ke penerbit? Nggak usah naskah utuh? Editor dari Quanta mengatakan bahwa bisa saja, tetapi mungkin mereka lebih banyak menolak karena khawatir ketika naskah sudah disetorkan utuh, eh malah nggak sebagus ketika ngasih contoh. Akhirnya editir harus kerja dua kali buat minta revisi dan revisi. Bagi saya ini sangat masuk akal mengingat memang seperti ini adanya. 


Cara Merampungkan Naskah Buku Tanpa Banyak Alasan

Saya lebih menyarankan teman-teman untuk mengirimkan naskah utuh kepada penerbit, terlebih kalau kita ini baru menulis, baru aja mau nerbitin buku di sana. Biarkan penerbit tahu kalau kita memang sungguh-sungguh ingin menerbitkan buku. Jangan setengah-setengah.

Menyelesaikan naskah juga bisa jadi sarana kamu belajar menulis, kok. Nggak akan sia-sia, deh, apa yang kamu perjuangkan selama ini. Andai saja kemungkinan terburuknya naskah kamu ditolak, kamu masih bisa menerbitkan naskahmu sendiri ke penerbit indie seperti ke Bitread. Karya kamu bisa jadi portfolio. Nggak akan pernah ada ruginya.

Publish Your Stories

GWRF 2019
Suasana di ruang Editor's Clinic

Kemarin saya dapat selembar kertas bertuliskan ‘publish your stories’ yang diberikan oleh salah satu editor Quanta. Di situ dijelaskan tahapan-tahapan mengirimkan naskah sampai jadi buku. Tahukah kamu apa saja tahapannya? Baiklah, saya akan share mumpung saya lagi baik…hihi.

Kirimkan Naskah ke Penerbit


GWRF 2019
Share your stories (Foto: Pexels)

Kirimkan naskah kamu ke Quanta. Sudah tahu email penerbit Quanta? Catat dan simpan baik-baik, ya!

linda@elexmedia.id
luky@elexmedia.id
jarwati@elexmedia.id
dewibestari@elexmedia.id
hedi@elexmedia.id

Pastikan kamu menulis subjek email dengan: Naskah (judul naskah). 


Cara Mengirimkan Naskah ke Penerbit Mayor

Quanta Menerima Naskah Apa Saja?


GWRF 2019
Kirim naskahmu dan terbitkan, yuk! (Foto: Pexels)

Apa saja naskah yang bisa kamu kirimkan ke Quanta? Pastikan naskah kamu adalah naskag nonfiksi islami, ya. Jangan sampai kamu kirimkan naskah-naskah fiksi fantasi…hihi. Kalau kumpulan puisi boleh, Kak? Resep? Hmmm, kumpulan cerpen? Sekali lagi, nonfiksi islami, Zubaedah…hihi. Contohnya naskah-naskah parenting, motivasi islami, inspirasi, doa-doa, dan pengetahuan islami untuk anak-anak.

Apa Saja Syaratnya?

GWRF 2019
Ketahui syarat mengirimkan naskah (Foto: Pexels)

Kirimkan naskah utuh yang sudah kamu edit, yang sudah rapi banget, yang nggak perlu banyak revisi, kalau bisa yang tidak mudah ditolak penerbit *lha…hehe. Kirimkan minimal 100 halaman full teks dengan font Times New Roman, ukuran 12, spasi 1,5. Margin ikut aturan umum. Sertakan kata pengantar, daftar isi, sinopsis, dan testimony atau endorsement penulis lain yang kamu kenal.

Berapa Lama Kamu Bisa Menunggu?


GWRF 2019
Sabar setelah mengirimkan naskah (Foto: Pexels)

Editor akan me-review naskah kamu selama 1-2 bulan. Kok lama banget? Kamu pikir hanya naskah kamu saja yang masuk ke penerbit? Ada banyak sekali naskah masuk setiap harinya. Jadi, please, jangan ngeluh apalagi kirim email bolak balik buat menanyakan naskah. Bisa-bisa bikin editor malas ngurusin naskah kamu. Sabar, ya. Ini memang ujian…kwkwk.

Bila diterima, editor akan mengabarkan dalam waktu 1-2 tersebut. Jika ditolak, segera minum antimo, editor bakal ngabarin juga, kok. Kenapa harus minum antimo? Biar nggak mual setelahnya…hihi. Bercanda, kok :)

Naskah yang Diterima Akan Diedit Oleh Editor, Selanjutnya Apa?

GWRF 2019
Bagaimana nasib naskah kamu? (Foto: Pexels)

Selanjutnya adalah masuk proses layout yang memakan waktu hingga 3 minggu dari naskah selesai diedit oleh editor. Setelah itu, masuk proses proof, naskah akan dikoreksi kembali untuk menghindari kesalahan.

Setelah itu, penerbit akan mengirimkan cover buku dan kamu bisa mempertimbangkan, apakah akan menerima itu atau mengubahnya. Seperti saat buku ‘Agar Suami Tak Mendua’, saya menolak cover yang pertama kali diberikan karena menurut saya pribadi seperti tidak mencerminkan naskah islami, kemudian kayak nggak menjual banget *sotoy…hehe. Akhirnya diganti dengan yang sekarang. Warna pastel, soft banget, Masya Allah, lucu.

Kalau dihitung-hitung, mulai dari mengirimkan naskah hingga terbit memakan waktu kurang lebih 6 bulanan. Selama menunggu, kamu bisa menulis naskah baru. Jadi, jangan terpaku sama naskah ini saja. Kerjakan lagi yang lain. Naskah yang telah dilepas ke penerbit baik sudah diterima atau belum, sebaiknya lupakan.

Drama Mati Lampu


GWRF 2019
Drama mati lampu di GWRF 2019 (Foto: Pexels)

Saya berangkat pukul 10 pagi, padahal acaranya saja dimulai pukul 10 sampai jam 3 sore. Tapi, karena harus menunggu Mas yang bolak balik ke bengkel, akhirnya berangkat lebih siang. Mau jam berapa pun, tetap saya bawa happy karena ini hal baru buat saya, ini kesempatan yang bisa jadi nggak bisa didapatkan oleh orang lain entah karena kondisi jarak yang terlalu jauh atau tidak ada waktu luang. Bahkan saya sangat berterima kasih pada Mas, harusnya saya datang sendiri, kan? Harusnya nggak perlu ngerepotin siapa-siapa, tapi dia mau nganterin padahal sibuk parah.

Pukul 10.30 WIB saya masih di dalam KRL menuju perpustakaan nasional. Kenapa naik KRL? Akhir-akhir ini memang saya, Mas, dan anak-anak hobi banget naik kereta listrik. Selain mudah, suasananya pun nyaman banget. Walaupun kursi penuh, saya tetap menikmatinya. Toh nanti bakalan ada penumpang turun di beberapa stasiun berikutnya. Kami tidak pernah harus berdiri terus menerus, kok. Pengalaman naik kereta lebih menyenangkan ketimbang naik kendaraan pribadi, sih. Anak-anak juga belajar banyak hal. Karena beberapa alasan itulah, kami sering naik kereta ke mana-mana.

Hampir pukul 11 siang saya baru tiba di stasiun Juanda dan harus mencari taksi menuju perpustakaan nasional. Nggak tahu kenapa, di sana sinyal tuh susah banget. Bahkan internet saya pun nggak bisa dipakai sama sekali sejak tiba di stasiun.

Teman saya ternyata sudah tiba duluan di lokasi bahkan sudah berdiskusi bersama editor dari Elex Media dan Quanta. Jadi, agak lumayan deg-degan banget ya secara saya harus maju sendirian. Baru sampai di depan lift menuju lantai berikutnya, listrik mati. Tek! Sempat terjadi kehebohan karena banyak orang yang sedang naik lift. Alhamdulillah, semua bisa diatasi karena sudah pasti di sana pakai genset.

Nggak nyangka saja, ternyata mati listrik masih terus berlanjut sampai saya pulang, lho. Awalnya saya nggak paham kenapa Jakarta bisa mati lampu selama ini. Nggak biasanya mati lampu berjam-jam bahkan hampir sehari semalam.

Saya paham, di luar sana, saat kami warga Jakarta bercerita di sini mati lampu berjam-jam, banyak yang nyinyirin…hihi. Ah, di desa saya sudah biasa mati lampu berjam-jam bahkan berhari-hari. Yess! Saya paham, bahkan di kampung saya saja kalau mati lampu lama juga, kok. Hanya saja, ini Jakarta. Sebagian besar hidup di sini bergantung pada listrik.

Saat saya hendak naik KRL lagi untuk pulang, listrik belum nyala, lho. Itu sudah sore. Stasiun pun ditutup. Penumpang menumpuk di depan stasiun. Lebih kasihan lagi, tukang ojek online ikut menumpuk di sana. Gimana mereka kerja? Kita buka aplikasi pun hanya muter-muter, Guys! Nggak bisa pesan Grab Car atau sejenisnya.

Iya, di kota lain mati lampu biasa. Tapi, di Jakarta tidak biasa. Jadi, maafkan kalau kami kadang lebay menanggapinya kemarin. Benar-benar hal baru dan seperti bikin kota lumpuh. Itu, sih, yang ada di dalam kepala saya. Padahal, ya  nggak seburuk apa juga. Hanya saja tetap membawa dampak kurang menyenangkan bagi sebagian orang.

Saya benar-benar bersyukur, karena saat kami mau pulang dari perpusnas, aplikasi seperti Grab dan Gojek nggak bisa dibuka. Mas tetap usaha. Gagal dong. Coba lagi. Gagal lagi. Parahnya, nggak bisa cancel, nggak dapat mobilnya juga. Subhanallah.

Nggak lama kemudian, saat Mas tutup aplikasinya, ada yang telpon dong. Ternyata itu supir Grab, Masya Allah. Rasanya ajaib banget mengingat di aplikasi Mas nggak muncul apa-apa. Buat nelpon pun susah. Tapi, ini nyambung dan akhirnya kami bisa pulang sekitar pukul 4 sore.

Sampai rumah, lampu masih mati. Baru nyala sekitar pukul 9 atau 10 malam di mana kami semua sudah tepar…hehe. Alhamdulillah, mati lampu hanya saat itu, nggak lagi setelahnya.

Terdengar seru nggak, sih, sesuai sama judulnya? Jujur saja, kangeen berat ngisi blog. Biasanya saya update postingan baru nggak sampai seminggu sekali. Sekarang lama banget rasanya. Selain ada naskah yang harus segera diselesaikan, qadarallah si bungsu juga sakit sudah beberapa minggu ini. Jadi, saya harus selesaikan yang lebih utama.

Saya berharap, postingan ini bermanfaat terutama buat teman-teman yang masih bermimpi ingin menulis buku dan diteribitkan oleh penerbit mayor. Yakin saja, usaha yang keras, dan banyak doa. Insya Allah impianmu akan terwujud. Selamat mencoba!

Salam,

Mascara L’Oreal Terbaik untuk Tampil Maksimal

review maskara loreal
Mascara L'Oreal bisa membuat kita tampil maksimal

Mascara L’Oreal  terbaik selalu menjadi solusi penting bagi kita yang ingin tampil dengan bulu mata yang terlihat lebat, panjang dan lentik. Mascara dapat dibagi menjadi dua yaitu mascara waterproof (tahan air) dan mascara tidak waterproof. Banyak dari konsumen lebih menyukai menggunakan mascara waterproof karena dirasa lebih praktis dan efisien karena tidak mudah hilang meskipun digunakan beraktivitas berat, seperti berolahraga.

Mascara sendiri tidak hanya memberikan dampak baik sebagai penunjang makeup tetapi juga membawa dampak buruk yaitu mengakibatkan kerontokan dan rapuhnya bulu mata. Namun, risiko buruk tersebut bisa dihindari dengan cara menerapkan cara pemakaian dan membersihkan mascara dengan benar.

Mascara L’Oreal Lash Paradise Terbaik


review maskara L'oreal
Mascara L'Oreal solusi tampil maksimal (Foto: projectvanity.com)

Bagi kalian yang masih bingung harus menggunakan mascara apa yang memberikan hasil maksimal namun tidak merusak bulu mata, kalian bisa memilih mascara milik L’Oreal Paris.

Mascara L’Oreal Paris salah satunya yaitu Mascara L’oreal Lash Paradise. Mascara ini bersifat waterproof (tahan air) sehingga dapat bertahan hingga seharian penuh. Mascara ini dilengkapi dengan kuas aplikator yang mudah dan dapat menjangkau bagian yang sulit pada bulu mata. Hasil yang ditampilkan yaitu bulu mata terlihat bervolume, panjang dan lentik meski tanpa menggunakan penjepit bulu mata. Mascara ini nyaman digunakan karena terasa ringan dan mudah dibersihkan sehingga tidak mengakibatkan bulu mata rapuh dan rontok.

Kelebihan lainnya yaitu saat diaplikasikan mascara ini tidak melebar ke bawah mata sehingga tidak menjadikan kulit bawah mata menjadi hitam. Maka benar saja jika dikatakan mascara milik L’Oreal ini berkualitas juara dengan berbagai kelebihannya tadi.

Mascara L’oreal ini telah menjadi primadona bagi setiap kaum hawa. Selain produk mascara yang sangat baik. L’Oreal juga memiliki berbagai macam jenis kosmetik dengan kualitas juara. Seperti halnya lipstik loreal matte yang sangat baik kualitasnya. Jenis lipstick matte milik L’Oreal adalah New Color Matte Lipstick. Lipstik ini tidak kalah juaranya dengan mascara andalan L’Oreal. 

L’Oreal selalu memberikan kualitas terbagi dalam produk yang dihasilkannya, hal ini yang menjadikan brand asal Paris ini sangat digemari para kaum hawa. Gimana? Menarik dan wajib banget dicoba, deh. 

Salam,

Resep Kue Cubit Pandan Spesial Isi Keju Lumer

resep kue cubit pandan
Lembut dan gurihnya keju bikin nagih!


Hai, hai! Iya, kamu. Kamu yang sedang nungguin resep kue cubit pandan ini. Terima kasih sudah berkenan membaca dan mencobanya, ya :) Jujur saja, ini resep saya ngarang sendiri karena selama ini resep kue cubit yang sering saya coba teksturnya padat keras gitu meskipun mengembang, dan lagi, jumlah takarannya banyak banget sampai-sampai setiap bikin selalu terbuang karena semua sudah bosan makan. Sedih banget kalau sampai seperti ini, kan?

Akhirnya kepikiran bikin resep yang simpel pakai takaran sendok saja (dengan alasan sangat malas ambil timbangan dan menakar bahan…hihi), jumlahnya pun dibuat sesedikit mungkin. Dan ternyata, Masya Allah, saya sukses, lho. Kue cubitnya empuk banget, bersarang pula karena pakai ragi supaya lebih empuk. Entah ini layak disebut kue cubit atau malah martabak, ya? Hihi.

Percobaan pertama, saya gagal sebenarnya. Tapi, masih bisa dimakan…hehe. Alasannya, karena saya nggak sempat mendiamkan adonan selama 30 menit, padahal udah dimasukin ragi instan. Pagi tadi terburu-buru karena takut si sulung keburu berangkat sekolah, jadi nggak mikir dua kali, segera panggang. Hasilnya? Mengembang, tetapi kurang lembut.

resep kue cubit pandan
Inilah penampakan kue cubit pertama yang saya sebut gagal, kelihatan kan padat gitu?

Karena setelah posting foto banyak yang nanya resepnya, akhirnya sore tadi saya coba bikin lagi. Tentunya dengan persiapan yang lebih matang, ya. Adonan didiamkan selama 30 menit sebelum dipanggang. Alhamdulillah, sesuai harapan. Empuk dan lembut banget, masya Allah.

Bagi yang mau mencoba, silakan dicatat resepnya, ya!

Bahan:

8 sdm tepung terigu
2 sdm gula pasir
½ sdt ragi instan
¼ sdt penuh baking powder
100 ml susu cair
1 butir telur
2 sdm Butter atau margarin, lelehkan
Sedikit pasta pandan

Topping:
Keju spread

Cara membuat:
1. Kosok dengan wisk telur dan gula pasir, pastikan gula benar-benar larut, ya.
2. Masukkan susu cair, ragi, pasta pandan. Aduk rata.
3. Masukkan tepung terigu sambil diayak. Aduk sampai rata dan pastikan tidak bergerindil.
4. Diamkan selama 30 menit sambil ditutup dengan kain bersih.
5. Masukkan baking powder, aduk rata. Diamkan sekitar 10 menit sambil panaskan cetakan takoyaki dengan api kecil cenderung sedang.
6. Masukkan margarin atau butter cair ke dalam adonan. Aduk dan siap dipanggang.
7. Olesi cetakan dengan margarin, tuang adonan. Biarkan sampai muncul gelembung.
8. Beri keju spread. Tunggu sampai matang dan angkat.


resep kue cubit pandan
Nah, seperti ini penampakan dari dekat. Kelihatan ya lembut? Beda banget dengan hasil percobaan pertama

Voila! Sesimpel dan semudah ini bikinnya, Guys! Hasilnya enak banget, Masya Allah. Lembut banget dan bersarang gitu. Enak, bikin nagih. Saya yang ikut diet tergoda juga makan satu…hihi. Mana tahan kalau begini terus? Bisa gagal diet saya…haha.

Semoga bermanfaat. Jumlah kue cubitnya hanya untuk sekali panggang, jadinya sepiring ini saja. Buat saya sudah cukup banget karena kalau kebanyakan malah nggak kemakan dan kebuang.

Selamat mencoba, ya!

Salam,

Custom Post Signature

Custom Post  Signature