Saturday, November 27, 2021

Vaksin Lengkap AstraZeneca

Vaksin Lengkap AstraZeneca
Photo by Michael Marais on Unsplash


Setelah telat mendapatkan vaksin kedua selama lebih dari tiga minggu, akhirnya Selasa kemarin saya berhasil mendapatkan vaksin lengkap. Yeay! Senang karena akhirnya sudah dapat vaksin kedua setelah muter-muter ke mana-mana. Vaksin kedua lebih sulit didapat karena nggak semua tempat menyediakan. Waktu saya dan suami mencari ke Puskesmas, ternyata khusus AstraZeneca kedua dipindah lagi ke tempat lain. Konyolnya, setelah tinggal belasan tahun di Jakarta, saya baru tahu kalau Puskesmas itu tutup saat weekend…kwkwk. Alhasil, sempat bolak balik ke sana. Berasa banget kelamaan tinggal di goa :(


Mestinya, saya sudah mendapatkan vaksin pertama pada awal bulan ini. Sayangnya, saya dan anak-anak saat itu kena common cold dan tidak memungkinkan untuk vaksin. Saya benar-benar menunggu sampai semua sehat, termasuk anak-anak juga. Khawatirnya nanti saya ketularan common cold lagi ketika akan vaksin. Makanya, telatnya agak lama hampir sebulan. Tapi, itu bukan masalah dan lancar-lancar saja ketika akan menerima vaksin kedua.


Setelah Vaksin AstraZeneca Kedua

Hal yang paling mendebarkan setelah vaksin adalah KIPI! Pada vaksin pertama, saya sempat kena KIPI yang lumayan banget. Mulai dari menggigil sampai muntah-muntah. Di vaksin kedua, saya sudah menyiapkan mental kalau-kalau itu terjadi lagi. Alhamdulillah, kena KIPI, tapi lebih ringan daripada sebelumnya.


Saya hanya meriang-meringa sedikit. Badan sumeng, sedikit pusing dan mual dari hari pertama sampai hari kedua. Selebihnya, Alhamdulillah aman. Bekas suntikan pun nggak senyeri yang pertama dulu. Meskipun dokternya memasukkan jarum suntiknya penuh dengan emosi dan dendam…kwkwk. Benar-benar ngilu, sampai-sampai suami yang nggak takut sama jarum suntik pun ngeluh. Memang sakiiit…kwkwk.


Namun, saya merasa sangat lega karena sudah mendapatkan vaksin lengkap. Semoga pandeminya segera berlalu, ya. Dan kita bisa hidup dengan normal lagi. Tetap semangaat!


Peraturan Mulai Longgar

Di masa-masa sekarang, kondisinya sudah jauh sekali berbeda dengan sebelumnya, kondisnya sudah jauh sekali lebih aman. Bahkan sudah terdengar tukang nasi goreng lewat depan rumah…kwkwk. Soalnya, semasa pandemi, tukang nasi goreng benar-benar lenyap dari tempat saya. Berasa banget ada yang beda *lol.


Namun, peraturan yang longgar jangan juga membuat kita lengah. Kalau saya pribadi, ke mana-mana masih senang pakai masker dobel. Benar-benar terbiasa dengan rutinitas sebelumnya. 


Semoga orang-orang di luar sana juga sama. Jangan sampai kendor soal prokes. Apalagi anak-anak yang sekarang mulai PTM, terutama TK. Sangat berharap mereka tetap disiplin prokes dan nggak sembarangan lepas masker supaya terlatih sampai besar nanti. Karena hal-hal seperti ini nggak bisa ditanamkan dalam waktu singkat. Nggak bisa ngajarinnya dengan instan. Mesti dilatih dengan disiplin dan konsisten.


Seperti anak saya yang sejak jauh sebelum pandemi sudah terbiasa memakai masker ketika kena common cold supaya nggak menular kepada teman-temannya. Hingga saat ini, anak saya termasuk yang disiplin sekali prokesnya. Sampai-sampai dia meolak ketika diminta membuka masker untuk meniup mainan oleh gurunya. Pulang sekolah dia cerita katanya dipaksa membuka masker supaya bisa tiup sedotan. Saya lihat dari fotonya, mukanya bete dan masker hanya dibuka sebatas bisa meniup saja…kwkwk. Gurunya bilang, padahal teman-temannya senang memainkan dan enjoy saja membuka masker. Besoknya, qadarallah anak saya kena common cold lagi setelah seminggu sehat. Benar-enar baru seminggu dia masuk sekolah. hiks. 


Qadarallah, kalau mau dibuat pusing dan overthinking, pasti gemas dengan prokes sekolah yang kurang ketat. Namun, saya longgarkan juga perasaan supaya nggak tertekan. Karena anak saya mesti sekolah juga. It’s okay, ya, Nak. Semoga imunitasmu jadi lebih kuat lagi. Dua harian ini mulai pakai alat nebu lagi karena dia ada riwayat OMA dan mesti benar-benar hati-hati ketika batuk pilek. 


PPKM Level 3 di Bulan Desember

Sudah dengar kabar terbaru ini? PPKM level 3 bakalan diterapkan bulan depan demi menghindari lonjakan para pemudik di hari libur yang cukup panjang. Saya yang nggak bisa mudik setelah dua tahun nggak merasa ada yang salah sih dengan peraturan ini asal memang alasannya benar-benar karena 'pemudik'. Toh, kalau akhir tahun seperti ini, kami juga nggak akan bisa pulang…kwkwk.


Semoga semua pihak bisa bersabar, ya. Jika akhirnya mesti liburan dan mudik, semoga semuanya bisa taat prokes. Biar kondisi tetap aman dan saya bisa punya kesempatan mudik setelah dua tahun nggak bisa bertemu orang tua. Prokes itu nggak susah, kok. Kalau kita terbiasa disiplin, menerapkannya pun nyaman-nyaman saja. Pakai masker, rajin cuci tangan, dan jaga jarak, nggak ada yang sulit :)


Semoga kondisi seperti ini terus membaik dan nggak ada lagi yang namanya gelombang ketiga seperti yang banyak disebut di media. Tetap semangat dan taat prokes, ya. Jangan lupa vaksin lengkap :)


Salam hangat, 


Monday, November 15, 2021

Anak TK Full Tatap Muka Selama Masa Transisi

Anak TK Full Tatap Muka Selama Masa Transisi
Photo by Kelly Sikkema on Unsplash


Sejujurnya saya penasaran, bagaimana sekolah-sekolah usia dini seperti TK atau sejenisnya di masa transisi seperti sekarang? Apakah sudah banyak yang full tatap muka, atau sebagian besar justru masih online?


Waktu pertama kali diumumkan bahwa TKIT si adek mau mengadakan full tatap muka setiap hari dengan waktu yang lumayan lama, dari pukul setengah delapan sampai setengah sepulu, bisa jadi hanya saya saja yang menolak untuk masuk. Karena anak SD saja waktu itu masih full online dan belum mengadakan PTM. Juga, di bulan Juli baru saja terjadi gelombang kedua Covid-19 yang jaraknya sangat dekat dengan PTM yang direncanakan oleh sekolah si adek ini. Tanpa berpikir panjang, saya belum bersedia.


Saya tidak berkenan ikut PTM karena anak-anak saya belum bisa diantar jemput orang tua. Saya nggak bisa ke sekolah sendiri, sedangkan suami saya harus bekerja. Dalam waktu beberapa minggu pertama, si adek masih bisa ikut online meski hanya sendirian. Hari-hari berikutnya mulai ditanyakan kapan mau tatap muka. Lama-lama emaknya sungkan meskipun mestinya ini adalah hak saya sebagai orang tua dan wajar kalau nggak semua orang tua siap dengan PTM terutama di waktu anak SD saja belum full PTM.


PTM Pertama Kali

Setelah terlalu sering ditanya dan diminta masuk dengan alasan anak-anak mesti sosialisasi, akhirnya saya mengambil keputusan untuk ikut PTM, tapi dengan waktu yang terbatas sesuai jam kerja suami. Pagi dia diantar oleh ayahnya, setelah satu jam atau satu jam setengah dia dijemput kembali sebelum ayahnya berangkat ke kantor.


Anak-anak di sekolah lain rata-rata hanya sekolah satu jam dan hanya tatap muka beberapa hari saja dalam seminggu. Sisanya belajar online. Mereka tidak diperkenankan membawa makanan dan hanya boleh membawa minum. Karena waktunya hanya sebentar, masih memungkinkan bagi anak-anak untuk tetap memakai masker dan tidak membukanya sama sekali. Prokes di sekolahnya pun sangat ketat. Kira-kira seperti inilah hasil sharing dari para orang tua di Milis Sehat.


Namun, di sekolah si adek, anak-anak dibolehkan membawa makanan bahkan di jam belajar ada anak yang merengek minta membuka camilannya. Ini cerita dari si adek…hihi. Inilah salah satu alasan lain kenapa saya masih ragu ikut PTM. Karena bagi saya, ini kurang disiplin prokes. Membuat kondisi menjadi riskan dan rentan. Meksi hanya batuk pilek, tapi ketika terjadi di masa pandemi, horornya bukan main :(


Saya merasa lebay banget sebagai orang tua. Ketika orang lain mungkin sudah santai dan nggak peduli, kenapa saya masih separno ini? Banyak faktor kenapa saya merasa masih perlu disiplin prokes, salah satunya karena riwayat penyakit anak-anak saya. 


Common Cold Pertama Setelah PTM

Sekitar tiga minggu yang lalu si adek common cold untuk pertama kalinya. Teman-teman bisa membaca ceritanya di sini. Ini memang common cold plus demam pertama kali selama masa pandemi. Qadarallah, kondisi kesehatan anak-anak benar-benar membaik sejak mereka nggak pernah masuk sekolah. Satu hal yang saya syukuri.


Namun, setelah PTM dimulai lagi, common cold pun mampir kembali. Waktu adek pertama kali mengeluh sakit tenggorokan, hari itu juga saya meliburkannya. Kemudian bergiliran menular kepada saya dan juga kakaknya. Selama common cold, si adek benar-benar nggak ikut PTM. Walau batuk dan demamnya sudah hilang, tapi melernya itu lho masih awet banget. Namun, saya tidak tahu, bagaimana dengan teman-temannya. Apakah sedisiplin ini juga?


Saya nggak berani mengikutkan si adek PTM karena setahu saya, anak-anak yang ikut PTM mesti benar-benar sehat. Namun, saya kecewa karena selama dua minggu penuh nggak ada pembelajaran online sama sekali. Dia memang sudah bisa membaca dan menulis karena sudah lama belajar sendiri di rumah, tapi dia bosan karena nggak sekolah sama sekali...kwkwk.


Sangat berbeda dengan si kakak yang bisa tetap belajar meski dia harus di rumah karena belum sepenuhnya sehat. Kondisi seperti ini akhirnya memaksa saya sebagai orang tua untuk lebih berani mengambil keputusan. Di mana saya yang awalnya nggak berani menggunakan ojek sama sekali, akhirnya saya memutuskan pakai ojek lagi.


Tidak Ada Pilihan

Waktu mau PTM di sekolah kakak, kepala sekolah menyampaikan bahwa semua keputusan dikembalikan kepada orang tua. Kewajiban sekolah menyediakan adanya pembalajaran online dan tatap muka sehingga orang tua bisa leluasa memilih sesuai kondisinya masing-masing.


Buat saya, keputusan ini sangat baik karena tidak semua orang tua bisa mengantar sendiri anak-anaknya sekolah, juga nggak mungkin anak batuk pilek bisa leluasa masuk seperti saat sebelum pandemi. Yes or no? Dekat-dekat sama orang yang batuk-batuk saja parno…kwkwk. Saya nggak mau membahayakan anak sendiri, juga orang lain. Ikut PTM ya hanya ketika sehat. Semua juga pasti paham kalau common cold ini sangat menular terutama di ruangan ber-AC. 


Namun, di sekolah adek, nggak ada pilihan semacam itu. Semua orang ‘dipaksa’ secara halus untuk ikut PTM. Meskipun awalnya kami dibolehkan memilih, tapi ujungnya nggak ada pembelajaran online ketika anak-anak nggak bisa PTM.


Nggak semua orang tua siap dengan kondisi seperti sekarang. Justru masa transisi ini lebih berat dibanding pandemi kemarin. Anak-anak mesti tetap masuk, tapi harus jaga prokes. Anak-anak harus sekolah, padahal kondisi belum sepenuhnya aman dan pandemi belum sepenuhnya berakhir. Anak-anak harus sekolah dan masuk dalam lingkungan yang kita nggak pernah tahu, apakah semua orang benar-benar taat prokes atau nggak? 


Qadarallah, saya salah satu orang tua yang masih parno apalagi ketika melepas anak keluar tanpa saya. Karena saya mengurus mereka sendiri, saya jauh dari orang tua, nggak ada ceritanya saya menitipkan anak-anak ke orang lain dalam waktu lama. Jadi, sangat wajar ketika saya selalu was-was apalagi di masa pandemi seperti sekarang.


Semoga kondisi sekarang benar-benar sepenuhnya aman. Saya berusaha berpikir positif dan mengenyahkan semua ketakutan. Berusaha cuek dan setenang mungkin melepas anak-anak PTM. Karena saya nggak punya pilihan. 


Salam hangat, 


Tuesday, November 9, 2021

Manfaat Positif Bermain Game Edukasi Bagi Anak

Manfaat Positif Bermain Game Edukasi Bagi Anak
Photo by Kelly Sikkema on Unsplash


Saat ini, kita tidak bisa memungkiri jika teknologi menjadi salah satu hal yang cukup dominan dalam kehidupan anak-anak. Kalau dulu, kita baru kenal dan punya handphone di usia dewasa, bahkan saya baru punya handphone sendiri setelah menikah. Sedangkan anak-anak sekarang, dari mereka masih bayi pun sudah tahu dan mengenal yang namanya teknologi dari orang tuanya. 


Bagi saya, dunia maya bukan hal yang mesti benar-benar anak-anak hindari. Saya lebih senang mengedukasi mereka tentang manfaat positif serta dampak negatif dari internet sejak dini. Karena mau nggak mau, anak-anak akan tahu semuanya. Pilihannya hanya ada dua, mereka tahu informasi itu dari kita sebagai orang tua atau justru dari teman-temannya di sekolah.


Saya senang, seiring berjalannya waktu, setelah anak-anak mulai sekolah, bahkan setelah melewati masa pandemi yang lumayan berat, mesti berinteraksi dengan gadget dan memakai laptop untuk belajar online setiap hari, anak-anak masih bisa dikontrol ketika memakai internet. Bersyukur sekali karena nggak ada ceritanya mereka diam-diam membuka Youtube sendiri tanpa izin atau merengek memaksa minta nonton berkali-kali sampai lupa belajar. Saya sungguh merasa sangat lega.


Menggunakan Internet dengan Bijak

Manfaat Positif Bermain Game Edukasi Bagi Anak
Photo by Thomas Park on Unsplash


Anak-anak di rumah, meski bebas memegang gadget, tapi mereka sudah tahu batasan. Kapan mereka boleh meminjamnya dari saya atau mencari informasi di internet ketika dibutuhkan. Makanya saya katakan kepada anak-anak, kalian sudah tahu dan mengerti cara menggunakan internet sebagaimana mestinya, insyaallah. Jadi, tetap seperti ini. Walaupun internet itu berguna, tetap saja ada dampak negatif yang akan muncul ketika digunakan dengan tidak bijak.


Si sulung misalnya, dia senang sekali membuat permainan sendiri. Dia tidak serta merta punya ide sebanyak itu untuk membuat mainan bersama adiknya. Dari komik kesayangannya, akhirnya dia punya ide membuat permainan dibantu informasi dari internet. Meskipun butuh internet, tapi permainan yang dia buat betul-betul permainan sederhana yang membutuhkan gerakan fisik. Dan ketika bermain, mereka sangat menikmati itu.


Anak-anak yang diedukasi dengan baik, mengerti apa yang boleh dilihat dan tidak di internet, insyaallah akan mudah diarahkan. Mereka nggak akan melakukan hal-hal yang sudah kita larang karena paham apa alasan dan dampak negatifnya.


Berkali-kali pun saya dan suami tidak mengawasi anak-anak, mereka tetap menggunakan internet sebagaimana mestinya. Saya percaya pada mereka dan mereka pun mampu menjaga kepercayaan kami karena sudah tahu alasannya kenapa kami melarang ini dan membolehkan itu. Tak ada rasa penasaran karena semua informasi dijelaskan dengan baik sesuai usia mereka. 


Game Dalam Pembelajaran Online

Manfaat Positif Bermain Game Edukasi Bagi Anak
Photo by Annie Spratt on Unsplash


Selama pandemi, mau nggak mau, kita mesti selalu terhubung dengan internet terutama bagi anak-anak yang sudah sekolah. Sekolah dilakukan dari rumah, interaksi dihubungkan melalui internet baik dengan video call ataupun zoom. Nah, yang menarik adalah, ada game yang sering dibagikan oleh guru kepada murid-muridnya. Game edukasi yang saya maksud adalah Quizizz.


Quizizz merupakan web tool untuk membuat game interaktif yang banyak digunakan oleh para guru selama pembelajaran online. Sesuai dengan namanya, Quizizz merupakan kuis yang bisa dimainkan di mana saja dan kapan saja. Menariknya, dalam Quizizz terdapat skornya juga. Kalau lihat si Kakak ngerjain kuis di Quizizz, sudah pasti heboh banget bahkan sampai adiknya main juga walaupun dia masih TK…kwkwk.


Sejauh ini, saya merasa bahwa game nggak seluruhnya negatif terutama jika orang tua mau mengarahkan sejak dini dan juga menggunakannya sesuai kebutuhan. Hanya saja, kebanyakan yang kita lihat, anak-anak banyak yang jadi kecanduan, malas belajar, dan juga kurang berinterkasi dengan lingkungannya. 


Itulah pentingnya peran orang tua dalam mengedukasi anak-anak sejak dini. Kita nggak bisa melepaskan anak-anak begitu saja terutama di zaman digital seperti sekarang di mana informasi mudah sekali didapatkan. Jangan sampai anak-anak tidak dibatasi dan tidak didampingi, ya. 


Manfaat Bermain Game Bagi Anak

Manfaat Positif Bermain Game Edukasi Bagi Anak
Photo by jelleke Vanooteghem on Unsplash


Seorang teman pernah bertanya kepada saya, kenapa anak-anak di rumah nggak senang main handphone? Apakah mereka nggak tahu apa itu game? Apakah mereka nggak diberi akses untuk menggunakan handphone saya dan suami?


Saya balas tertawa. Anak-anak di rumah bukan nggak tahu apa itu game. Seperti anak-anak normal pada umumnya, mereka juga senang sekali main game kalau diberikan kesempatan bermain. Hanya saja, kami sudah sepakat bahwa bermain game harus ada batas waktunya. Nggak boleh sampai kecanduan apalagi malas belajar. 


Anak-anak saya sesekali juga bermain game. Namun, saya benar-benar memilih dan memilah permainan apa yang cocok bagi mereka. Mengingat game nggak selalu negatif dampaknya, ada juga, kok manfaat yang bisa kita dapatkan asalkan digunakan dengan tepat.


1. Mengembangkan Kemampuan Bahasa Asing

Saya punya keponakan yang sejak kecil senang sekali main game. Kemampuan Bahasa Inggrisnya sangat bagus hanya karena dia sering sekali memainkan game berbahasa Inggris. Bahkan saat ini dia sedang kuliah di bidang yang disukainya itu.


Main game dengan Bahasa Inggris tentu saja dapat melatih anak-anak mengenal kosa kata baru dan juga melafalkannya dengan benar. Pilihlah permainan yang sesuai dengan usia mereka dan jangan lupa dampingi mereka. Dengan bermain game, anak-anak akan belajar Bahasa Inggris dengan lebih menyenangkan tanpa harus duduk diam dan memperhatikan guru terus menerus.


2. Membantu Keterampilan Motorik dan Mengenalkan Teknologi

Bermain game terutama bagi anak usia sekolah dasar mampu meningkatkan fokus visual dan meningkatkan koordinasi antara tangan dengan mata. Permainan yang tepat mampu memperkuat keseimbangan dan ketangkasan manual.


Pasti kita sering melihat anak-anak usia dini sudah pandai sekali mengoperasikan laptop atau gadget, padahal di usia yang sama, kita tidak bisa melakukan itu. Kebayang dong kalau anak-anak diarahkan dengan tepat, kemampuan mereka akan jadi lebih bagus dan tentu saja baik sekali bagi perkembangan motoriknya.


3. Meningkatkan Kemampuan Membaca

Anak-anak usia TK bisa belajar membaca sambil bermain game edukasi. Anak-anak bisa belajar lebih asyik dan menyenangkan sambil bermain game ketimbang hanya duduk di kursi dan melihat papan. Sesekali, permainan edukasi sangat membantu kemampuan membaca mereka, lho.


Saat bermain game, anak-anak juga mesti membaca perintahnya dengan benar supaya bisa menjawab pertanyaan atau menyelesaikan misi. Dengan begitu, mereka bisa belajar membaca dan mengeja dengan lebih menyenangkan.


Memilih Game Edukasi di Plays.org

Manfaat Positif Bermain Game Edukasi Bagi Anak


Bermain game dengan tetap didampingi oleh orang tua ternyata tidak hanya jadi sesuatu yang menyenangkan bagi anak-anak, tetapi juga dapat meningkat bonding di antara keduanya. Kita bisa memilih game edukasi yang sesuai dengan usia anak-anak dan tentu saja kita perlu membatasi waktunya.


Salah satu situs game online gratis tanpa iklan yang bisa kita coba adalah plays.org. Saya merasa tertarik karena game di situs ini bisa dimainkan di laptop tanpa harus membuat anak-anak menatap layar handphone terlalu lama. Kalau pakai laoptop, mainnya jadi lega, kan?


Situs ini memiliki banyak sekali kategori, tapi ada beberapa kategori yang menarik perhatian saya.


Alphabet

Manfaat Positif Bermain Game Edukasi Bagi Anak


Game edukasi dalam kagetori Alphabet dapat dimainkan oleh anak-anak terutama usia TK hingga SD kelas bawah, ya. Di dalam permainan edukasi gratis ini, kita bisa belajar mengenal huruf kecil dan huruf besar. Selain itu, anak-anak juga bisa belajar menulis dan menggambar serta dapat mengucapkan huruf atau kosa kata secara lantang. 


Game Alphabet ini cocok sekali untuk si bungsu yang sebentar lagi mau masuk Sekolah Dasar. Dia sedang berlatih menulis dan mengenal huruf terutama huruf besar. Karena ketika TK, anak-anak hanya dikenalkan dan dibiasakan menulis huruf kecil saja. Nah, dengan permainan ini, secara nggak langsung dia belajar mengenal huruf besar sekaligus berlatih membaca.


Salah satu permainan yang kami mainkan dalam kategori Alphabet adalah Alphabet Bubble Letter Match Game. Dalam permainan edukasi ini, kita bisa mencocokkan huruf dalam bubble dengan kosa kata yang ada di dalam peti. Setelah semua kata berhasil dicocokkan dengan huruf pertama yang ada di dalam bubble, anak-anak bisa belajar menyebutkan huruf-huruf awalan dan membaca kata dalam Bahasa Inggris. 


Untuk level berikutnya, anak-anak hanya diminta memecahkan bubble berisi huruf sesuai dengan urutannya. Permainannya cukup sederhana terutama untuk anak usia TK, tapi sejujurnya ini menyenangkan dan dapat menjadi hiburan bagi mereka. Tahu sendiri, kan, belajar online itu capek sedangkan kalau masuk pun, mereka nggak bisa belajar dalam waktu yang lama. Pintar-pintar kita saja sebagai orang tua supaya lebih kreatif mencari permainan edukasi bagi mereka.


Math

https://plays.org/alphabet-bubble-letter-match/


Saya termasuk orang yang kurang bisa berhitung. Sejujurnya, saya nggak suka Matematika. Namun, lewat game edukasi yang ada di plays.org, kita bisa mengajari anak-anak berhitung dengan lebih menyenangkan.


Kategori Math atau Matematika berisi game edukasi Matematika yang dapat dimainkan oleh anak-anak. Mereka bisa belajar penjumlahan, pengurangan, pembagian, dan yang lainnya.


Salah satu permainan yang kami mainkan dalam kategori Math adalah Ballon Pop Subtraction Game. Permainan ini merupakan permainan pembelajaran visual yang bisa membantu anak-anak mempelajari dasar-dasar pengurangan dengan meminta mereka meletuskan balon dengan lebah.


Permainan ini sangat menyenangkan karena sesuai dengan usia anak saya dan juga soal pengurangan yang nggak terlalu sulit. Anak saya bisa berlatih berhitung dengan lebih asyik tanpa tertekan. Semoga dia nggak seperti emaknya, ya…hihi.


Itulah beberapa manfaat positif dari game edukasi dan juga beberapa pilihan permainan yang bisa teman-teman coba di rumah. Belajar nggak melulu mesti duduk di bangku sekolah dan memperhatikan papan tulis, ada saatnya kita butuh cara lebih kreatif supaya anak-anak nggak bosan dan tetap semangat belajar. Dan lagi, supaya mereka juga tahu ternyata ada banyak game edukasi yang boleh dimainkan tentunya dengan tetap didampingi oleh orang tua.


Salam hangat,


Friday, November 5, 2021

Waspada Dehidrasi Pada Anak Ketika Demam Atau Diare

Waspada Dehidrasi Pada Anak Ketika Demam Atau Diare
Photo by Kelly Sikkema on Unsplash


Kemarin, nggak sengaja lihat status di beranda Facebook yang membuat saya tertarik membaca sampai selesai. Ternyata tentang anak yang dehidrasi ketika sedang diare dan muntah-muntah. Saya jadi ingat, dulu, suami saya pernah mengalami hal yang hampir sama. Bedanya, saya segera membawanya ke dokter sebelum dehidrasinya tambah parah. Penyebab awalnya juga sama, diare dan muntah-muntah hebat.


Suami saya memang tipe orang yang kurang suka minum apalagi yang nggak manis. PR banget buat saya sebagai istri bahkan sampai hari ini. Ketika dia sakit, saya memberinya larutan oralit hingga air putih. Namun, dia malas sekali meminumnya karena pasti memang sedang nggak enak, tapi mestinya bisa dipaksa sedikit-sedikit. Akhirnya, kondisinya makin buruk. Waktu dibawa ke dokter, dia bahkan nggak bisa jalan sendiri, mesti pakai kursi roda. Waktu itu, kondisi saya juga sedang hamil muda dengan placenta previa. Sangat berharap dia nggak dirawat karena saya hanya sendirian dan ada anak sulung yang masih kecil.


Namun, dokter bilang mesti rawat karena dehidrasinya sudah lumayan parah. Saya pun menurutinya dan Alhamdulillah, setelah diinfus, nggak lama kemudian dia membaik dan segar lagi. Betapa pentingnya cairan dalam tubuh kita. Jangan sampai kejadian juga sama teman-teman, ya.


Waspada Dehidrasi Ketika Demam

Waspada Dehidrasi Pada Anak Ketika Demam Atau Diare
Photo by Peter Oslanec on Unsplash


Anak-anak saya punya riwayat kejang demam. Waktu anak sedang demam, saya pasti memaksa mereka untuk tetap minum. Baik itu ASI, air putih, atau jus buah. Supaya suhunya bisa turun dan lagi agar tidak dehidrasi. Karena dehidrasi memicu kejang. 


Anak-anak terbiasa banyak minum tanpa harus diomelin karena itulah yang saya ajarkan. Namun, untuk suami saya yang sudah dewasa, mana bisa dipaksa? Dan memang sulit sekali memaksa dia untuk banyak minum terutama air putih.


Ketika anak sedang demam, jangan terlalu khawatir soal demamnya. Namun, perhatikan terus kecukupan cairan dalam tubuhnya. Beri minum sedikit, tapi sering supaya tidak mual.


Demam itu alarm tubuh, secara alamiah akan terjadi demam saat ada infeksi baik disebabkan oleh virus ataupun bakteri. Demam itu berjasa membunuh bakteri dan virus, lho. Jangan musuhin demamnya, tapi cari penyebabnya. Selama penyebabnya masih belum diatasi, demam pun masih terjadi.


Kita itu terbiasa panikan kalau anak-anak demam. Ya, wajar saja. Sama seperti saya. Apalagi anak-anak di rumah kalau demam suhunya tinggi banget. Nggak jarang kejang demam. Saya pun tetap observasi penyebabnya apa. Kalau hanya common cold, saya hanya memberikan cairan yang banyak, makan yang lebih sehat, penurun panas supaya anak lebih nyaman dan bisa istirahat juga. Kalau penyebabnya bukan virus, jangan ragu untuk konsultasi ke dokter supaya anak bisa lekas ditangani.


Orang-orang mungkin sering abai soal cairan karena belum mengerti risiko dehidrasi. Tanda-tanda dehidrasi pun mesti kita pelajari dan ketahui terutama sebagai orang tua. Sehingga kita tahu kapan mesti ke dokter dan rawat inap dan kapan cukup ditangani di rumah.


Betapa pentingnya belajar tentang penyakit langganan anak dan cara mengatasinya bagi orang tua. Kalau nggak ikut Milis Sehat, bisa baca-baca di blog dan akun Instagramnya dokter Apin. Beliau dokter Milis Sehat yang selama ini saya ikuti. Dokter-dokter di Milis Sehat sungguh sangat berjasa buat perjalanan saya sebagai orang tua, terutama dalam situasi berat.  Atau beli deh bukunya dokter Apin. Nggak akan pernah rugi, kok. 


Waspada Dehidrasi Ketika Anak Diare dan Muntah-Muntah

Waspada Dehidrasi Pada Anak Ketika Demam Atau Diare
Photo by Minnie Zhou on Unsplash


Diare akut umumnya disebabkan oleh virus dan tidak butuh obat tertentu. Hal yang perlu diperhatikan saat anak diare dan muntah-muntah adalah memastikan dia nggak dehidrasi. Jadi, sama seperti saat mereka demam. Atau lebih bahaya lagi kalau anak diare muntah dan masih demam tinggi juga. Mereka benar-benar butuh cairan yang cukup.


Berikan cairan sedikit, tapi sering. Kalau dimuntahkan lagi? Kasih lagi setelah jeda sebentar. Anak pasti akan lemas, tapi kalau jumlah cairan dalam tubuhnya cukup, insyallah nggak berbahaya buat mereka.


Pemberian oralit juga penting. Oralit nggak bisa digantikan dengan minuman lain. Ingat, ya. Nggak bisa digantikan dengan P*C*R* sekalipun, lho. Usahakan selalu menyediakan oralit di rumah. Oralit termasuk obat wajib yang mesti tersedia di kotak obat. Jangan enteng dan abai soal cairan. Risikonya bisa fatal :(


Prinsip penanganan diare dan muntah adalah mencegah dan menangani dehidrasi. Walaupun intensitas diare dalam sehari lumayan banyak sampai 10x dalam sehari, tapi selama tidak terdapat tanda-tanda dehidrasi, insyaallah kondisi anak akan tetap baik.


Selama menjadi orang tua, sudah berkali-kali kejadian anak diare atau kena gastroenteritis (muntah-muntah tanpa berhenti), tapi Alhamdulillah sejauh ini masih bisa ditangani di rumah karena saya sangat memperhatikan tercukupinya cairan.


Tanda-Tanda Dehidrasi 

Waspada Dehidrasi Pada Anak Ketika Demam Atau Diare
Photo by Johnny McClung on Unsplash


Tanda-tanda dehidrasi saya pelajari dari buku dr. Wati. Bagi yang ikut Milis Sehat, pasti tahu banget siapa dr. Wati ini. Buku beliau bagus sekali, tapi sayangnya sudah nggak cetak ulang. Saya sarankan, teman-teman bisa membeli buku-buku dr. Apin sebagai panduan bagi orang tua ketika anak sakit. Jangan sampai anak terlambat ditangani atau malah overtreatment saking paniknya. Yang rugi bukan hanya orang tua, tapi juga anak-anak.


Ketika orang tua nggak paham tanda-tanda dehidrasi terutama dehidrasi berat, anak bisa dalam kondisi berbahaya dan bisa terlambat mendapatkan pertolongan. Namun, ketika kita tahu dan paham kapan anak perlu dibawa ke rumah sakit, insyaallah kondisi buruk akan bisa diminimalisir.


Saya kutip dari buku dr. Wati tentang tanda-tanda dehidrasi yang perlu orang tua waspadai,


Dehidrasi Ringan

  • Mata kering, saat anak sedang menangis, hanya sedikit keluar air mata atau malah nggak keluar air mata sama sekali.
  • Mulut dan bibir lebih kering.
  • Buang air kecil sedikit lebih jarang. Biasanya saya selalu menghitung berapa kali anak buang air kecil terutama saat demam dan diare. Benar-benar sampai dihitung.


Dehidrasi Sedang

  • Mata cekung.
  • Lemas.
  • Sangat kehausan.
  • Semakin jarang buang air kecil.
  • Kulit kering.


Dehidrasi Berat

  • Pada bayi di bawah usia 6 bulan, ubun-ubun terlihat cekung.
  • Tidak mau minum.
  • Tidak buang air kecil lebih dari 8 jam.
  • Ketika kulit dicubit dengan dua jari, kulit sulit kembali ke bentuk asal.
  • Sangat lemas atau kesadaran menurun.


Itulah beberapa kondisi yang perlu diwaspadai oleh kita sebagai orang tua. Ketika anak sedang demam atau diare, jangan panik berlebihan sampai nggak tahu mau ngapain, dan jangan juga mengentengkan sampai anak jadi terlambat ditangani.


Bagi saya, nggak ada ruginya banyak belajar soal kesehatan terutama hal yang dasar saja pada penyakit langganan anak-anak, karena kita nggak boleh juga hanya bergantung sama dokter. Nggak semuanya mesti ditangani dokter, ada juga yang cukup ditangani di rumah saja.


Jika kita mengerti, kita juga ikut membantu dokter supaya RUM dan nggak overtreatment terutama soal pemberian obat. Karena banyak dokter jadi nggak RUM akibat permintaan orang tua yang berlebihan setiap kali konsultasi. Inilah yang diceritakan oleh salah satu dokter spesialis anak di RS Hermina Jatinegara waktu saya ke sana. Beliau membenarkan apa yang saya lakukan. Kalau memang nggak butuh obat A, ya, ngapain diminta?


Yuk, ah, belajar lagi jadi orang tua yang bijak menggunakan obat dan tahu kapan anak mesti dibawa ke rumah sakit dan rawat inap. Nggak harus menjadi dokter dulu buat belajar semua ini, apalagi jika hanya soal penyakit langganan pada anak dan pertolongan pertama yang bisa kita berikan selama di rumah. Cukup jadi orang tua saja yang mau tetap belajar, insyaallah kita bisa melewati semuanya tanpa harus panik berlebihan dan terlambat mengambil keputusan.


Salam hangat,


Tuesday, November 2, 2021

Common Cold Setelah Masuk Sekolah Offline

Common Cold Setelah Masuk Sekolah Offline
Photo by Atikah Akhtar on Unsplash


Setelah sekian lama hanya di rumah saja, belajar pun di rumah, main juga di rumah, bertemu teman-teman juga hanya via online, akhirnya kita sampai juga pada waktu di mana pandemi pelan-pelan akan pergi. Iya, kita sudah bisa berkativitas di luar secara bertahap. Sekolah-sekolah mulai dibuka untuk pembelajaran tatap muka. Dan inilah hal yang nggak saya suka, common cold lagi!


Jumat lalu, si bungsu yang mesti sekolah setiap hari mengeluh sakit tenggorokan. Hari itu juga saya tidak mengizinkannya sekolah offline. Langsung minta izin. Benar saja, siangnya sudah meler dan demam. Mulai batuk-batuk juga. Kemarin, suaranya malah sempat hilang.


Setelah dua tahun hidup di masa pandemi, benar-benar jarang sakit, baru kali ini dia kena common cold lagi. Dan seperti biasa, sulit dihindarkan supaya nggak menular ke emaknya ataupun kakaknya. Jadi, kami bertiga kompak meriang…kwkwk.


Drama Commond Cold di Masa Lalu

Common Cold Setelah Masuk Sekolah Offline
Photo by Vitolda Klein on Unsplash


Common cold ini pernah menjadi drama berkepanjangan dalam hidup saya. Awal-awal si sulung masuk TK sampai SD rasanya adalah waktu terberat karena mereka mesti bolak balik ke rumah sakit. Mereka hanya kena common cold, tapi risiko lainnya pun nggak bisa dihindari.


Adanya riwayat kejang demam dari saya membuat kedua anak saya harus merasakan sering-sering kena kejang demam juga setiap kali demam, terutama si sulung. Saya orangnya nggak suka yang buru-buru ke dokter kecuali memang diperlukan. Ketika anak-anak kejang demam, saya bisa menangani sendiri di rumah selama gejalanya memang bisa di-treatment di rumah. Saya selalu menyediakan obat kejang di kulkas. Nggak pernah telat stok.


Namun, ada kalanya saya mesti bolak balik periksa untuk memastikan diagnosa, benar nggak, nih anak saya baik-baik saja meskipun kejang demam terus sampai usia lima tahun lebih? Atau si adik yang kena otitis media akut atau OMA yang berkepanjangan. Dokter bilang dia nggak bisa sembuh atau kemungkinannya kecil banget saking seringnya dia kena OMA akibat common cold yang berkepanjangan. Bahkan sempat ada rencana bakalan operasi telinga. Kalau ingat, dulu, kok kuat-kuat saja, ya ngejalaninnya? Kalau ngebayangin di waktu sekarang, rasanya berat banget :D


Kenapa anak-anak bolak balik common cold terutama di waktu sekolah? Karena ketularan dari teman-temannya. Ini hal yang sulit banget dihindarkan ketika anak sudah masuk sekolah. Dan sangat wajar sekali terjadi. Di rumah, anak-anak nggak main di luar. Kemungkinan kenanya paling dari kami, orang tuanya. Namun, ketika sekolah, dengan kelas yang selalu memakai AC, sudah bisa dipastikan akan mudah banget menular.


Setelah beberapa bulan ini mulai masuk offline lagi, akhirnya kejadian dan ngerasain juga kena common cold lagi, tapi Alhamdulillahnya anak-anak sudah lebih strong. Kemarin, ada wali murid yang bilang anaknya batuk juga. Hasil konsultasi juga dengan dokter Apin di RS, ya itu risiko yang nggak bisa dihindari. Lagi pula, anak-anak sakit pun buat menaikkan imunitasnya, kok. Cuma emaknya mulai oleng saja kalau lihat anak-anak sering sakit. Semoga tahun-tahun ini nggak separah dulu.


Nggak Semua Penyakit Butuh Obat

Common Cold Setelah Masuk Sekolah Offline
Photo by Laurynas Mereckas on Unsplash


Nggak dibawa ke dokter? Ke dokter mau ngapain? Curhat? Seperti saya waktu dulu berkonsultasi ke dokter Apin, cuma pengin curhat dan mencari dukungan kalau hal yang saya lakukan sudah benar. Bahkan dokter Apin pun tahu saya ke sana hanya pengin nunjukin ke suami saya yang dulunya belum RUM, biar dia tahu istrinya ini sudah benar menangani anaknya selama sakit…kwkwk. 


Pulang pun kami nggak bawa obat atau antibiotik. Padahal, waktu itu, doker lain sudah minta bolak balik cek darah sampai suruh rawat inap. Namun, dokter Apin hanya membolak balik badan anak saya…kwkwk. 


Nggak setiap sakit butuh obat. Nggak setiap sakit mesti ke dokter terutama di masa pandemi seperti sekarang. Menghindari banget pergi ke dokter kecuali dalam kondisi darurat dan mengharuskan saja.


Nggak ke dokter bukan berarti nggak sayang sama anak-anak. Justru karena sayang sama mereka, kita mesti hati-hati ngasih treatment terutama soal obat-obatan yang meski aman dikonsumsi, tapi tetap punya efek samping dan harus sesuai kebutuhan. Anak common cold nggak butuh antibiotik, tapi berapa banyak dokter yang ngasih oleh-oleh antibiotik setiap saya konsultasi? Obat sekantong buat satu anak dengan diagnosa common cold? Sedangkan kita hanya butuh satu tablet saja? Kira-kira masuk akal nggak, sih? Kecuali ada diagnosa lainnya.


Sampai capek kadang debat sama dokter. 'Anak saya sakit apa, Dok? Common cold. Sebabnya common cold apa, ya, Dok? Virus. Kalau sebab virus, kenapa anak saya diberikan antibiotik? Antibiotik, kan hanya dibutuhkan untuk penyakit yang disebabkan bakteri. Apa nggak berlebihan treatment-nya? 


Hari-hari berikutnya saya nggak mau debat lagi. Cukup nggak tebus obatnya dan pulang membawa obat demam atau obat lain yang jelas memang dibutuhkan.


Perjalanan common cold dalam hidup saya nggak sederhana. Ada anak yang sering kejang demam setiap kali kena common cold, ada anak yang bolak balik ke dokter THT hampir setiap minggu karena kena OMA. Itulah kenapa saya merasa berat kalau di sekolah nggak disiplin terutama soal anak yang sakit atau belum benar-benar sehat, tapi tetap masuk sekolah. Peraturan di zaman pandemi, anak-anak yang masuk hanya yang benar-benar sehat saja. Jangan sampai dia masuk, tapi malah membahayakan teman-temannya.


Saya sadar betul, itulah risiko yang bakalan terjadi dan nggak masalah karena mereka akan tumbuh semakin besar dengan imunitas yang lebih bagus. Namun, kadang jenuh juga kalau keseringan sakit…hiks


Anak-anak saya terbiasa pakai masker setiap mereka kena common cold jauh sebelum masa pandemi, sampai terkenal di sekolah rajin pakai masker. Zaman dulu, kalau hanya flu batuk, kan masih boleh sekolah, ya. Anak-anak saya memakai masker semata-mata demi menjaga teman-temannya yang lain supaya nggak ketularan juga. Semoga teman-temannya juga sama-sama menjaga. Itu saja yang saya harapkan. Kalau sudah diusahakan dan masih kena juga, qadarallah.


Sekian curhatan di pagi yang cerah dengan kondisi badan yang mulai enakan…kwkwk. Semoga anak-anak kita tetap sehat ya, selama pembelajaran tatap muka. 


Salam hangat,


Monday, November 1, 2021

Belajar Online Lebih Mudah Bersama Bimbingan Belajar Kelas Pintar

Belajar Online Lebih Mudah Bersama Bimbingan Belajar Kelas Pintar
Photo by Compare Fibre on Unsplash


Sejak pandemi, tugas mendidik anak-anak sepenuhnya kembali kepada orang tua. Bayangkan, anak-anak yang awalnya bisa masuk sekolah hingga hampir seharian, belajar bersama teman-teman dan gurunya, sekarang mesti selalu di rumah dan lebih banyak berinteraksi dengan orang tua. Bagi yang belum siap, rasanya kelabakan banget menghadapi semua perubahan ini. Apalagi jika anak-anaknya nggak terbiasa disiplin belajar sendiri, yang ada malah ribut hampir setiap hari. Orang tua stres, anak-anak lebih parah lagi.


Keadaan nggak nyaman itu sangat terasa di awal-awal pandemi tahun lalu. Orang tua yang repot sendiri melihat tugas-tugas sekolah anaknya, harus cek tugas-tugas mana yang belum selesai, juga memaksa anak-anaknya supaya tetap disiplin. Dan lagi, guru-guru pun belum sepenuhnya siap beradaptasi dengan pembelajaran online di masa pandemi sehingga mereka lebih banyak ngasih tugas daripada berinteraksi lewat Zoom atau Google Meet. Jadi, kalau dipikir-pikir, yang paling tertekan adalah anak-anak :(


Namun, seiring berjalannya waktu, proses belajar online memang terasa lebih mudah. Anak-anak mulai terbiasa sekolah via Zoom, orang tua lebih santai, dan guru-guru pun semakin kreatif dalam proses belajar mengajar sehingga anak-anak sekarang jadi lebih bersemangat lagi.


Kebetulan, si sulung sudah naik kelas lima tahun ini. Kelihatan banget dia lebih menikmati sekolahnya ketimbang tahun lalu. Keinginan berkompetisi pun makin tumbuh. Nggak malu-malu lagi kalau berebut menjawab pertanyaan bersama teman-temannya. Sangat bersyukur dengan proses yang nggak mudah. Sebab, saya merasakan betul capek lelahnya belajar online tahun lalu. Dia sering menangis karena terlalu banyak mendapatkan tugas, sedangkan materinya kurang diulas. Gimana mau ngerjain tugas kalau dia belum sepenuhnya paham dengan materi pelajarannya? Eh, tapi gurunya sudah nagih-nagih juga. Orang tua jadi serba salah mesti gimana, dong? Benar-benar tahun yang nggak mudah dilupakan…hihi.


Tiga Tipe Gaya Belajar

Belajar Online Lebih Mudah Bersama Bimbingan Belajar Kelas Pintar
Photo by Ben Mullins on Unsplash


Di sekolah si sulung, anak-anak akan dibagi sesuai dengan tipe gaya belajarnya masing-masing. Jadi, anak-anak visual nggak bakalan belajar bersama anak-anak kinestetik dan audio. Begitu juga sebaliknya. Kelas-kelas dibagi sesuai gaya belajar mereka. 


Hal ini memudahkan saya sebagai orang tua untuk mengenal gaya belajar si sulung. Jangan sampai saya mendampingi dengan cara yang nggak tepat sehingga dia malah merasa tambah kesulitan saat harus belajar di rumah.


BTW, gaya belajar itu dibagi menjadi tiga,


Gaya Belajar Visual

Anak dengan tipe visual cenderung fokus pada indera penglihatannya. Mereka bisa belajar lebih mudah dengan mengamati gambar, tulisan, ataupun video. Anak-anak dengan tipe visual juga lebih anteng kalau belajar. Nggak banyak gerak ke sana kemari. Juga nggak banyak bersuara. Mereka jauh lebih tenang dibanding kelas sebelahnya..hihi. 


Gaya Belajar Auditori

Anak dengan tipe auditori bisa lebih fokus belajar dengan mengandalkan pendengaran. Jadi, anak-anak auditori lebih senang mendengarkan penjelasan gurunya tanpa harus melihat gambar ataupun mencatatnya. Anak-anak auditori juga lebih senang membaca keras. Dia juga nggak terlalu mahir menulis, tapi sangat pandai bercerita.


Gaya Belajar Kinestetik

Jika ada anak yang nggak bisa duduk tenang dalam waktu yang lama, kemungkinan besar dia adalah anak kinestetik. Anak-anak dengan tipe belajar kinestetik memang akan lebih banyak bergerak karena dia selalu berorientasi pada fisik. Jadi, kalau ada anak yang belajarnya nggak bisa anteng, bukan berarti nakal, ya. Bisa jadi dia adalah anak kinestetik. Inilah pentingnya mengetahui gaya belajar anak-anak kita sedini mungkin.


Dulu, pernah ada teman sekelas si sulung yang dianggap belum siap masuk SD. Karena dia nggak bisa duduk dengan tenang saat belajar. Lebih banyak bergerak ke sana kemari. Kita sering melabeli anak-anak seperti ini dengan sebutan ‘nakal’. Namun, yang mengejutkan adalah dia diterima di SD bersama teman-temannya yang lain. Saat menjalani psikotes, barulah diketahui kalau dia ini termasuk anak kinestetik yang memang nggak bisa seanteng anak visual. 


Buat saya pribadi, mengetahui tipe belajar anak-anak sangat penting. Jangan sampai kita jadi ngomel-ngomel gara-gara anak kita nggak bisa duduk diam saat belajar. Apalagi sampai kesulitan belajar karena kitanya salah mengerti. Anak kinestetik ataupun audio nggak bisa dong belajar mengandalkan gambar dan tulisan. Begitu juga sebaliknya. Mereka harus belajar dengan metode yang tepat sesuai karakternya masing-masing.


So, anak-anak di rumah termasuk tipe belajar apa, nih?


Bimbingan Belajar Online dengan Melihat Gaya Belajar

Belajar Online Lebih Mudah Bersama Bimbingan Belajar Kelas Pintar
Photo by Thomas Park on Unsplash


Sekolah online di masa pandemi memang nggak mudah. Apalagi kalau kita nggak bisa selalu mendampingi anak-anak belajar di rumah karena mesti bekerja dan lain sebagainya. Kita nggak bisa melakukannya sendirian. Kita butuh pihak lain untuk membantu. Salah satunya dengan menggunakan bimbingan belajar online


Saya merekomendasikan Kelas Pintar sebagai solusinya. Kenapa mesti Kelas Pintar? Karena Kelas Pintar sangat memahami anak-anak dengan gaya belajar yang berbeda-beda. Kelas Pintar menggunakan pendekatan PERSONAL sebagai metode penyampaian materi yang nantinya akan disesuaikan dengan karakter setiap anak. 


Selain itu, Kelas Pintar juga menggunakan metode PINTAR yang menggunakan pendekatan Learn, Practice, serta Test.


Jadi, nggak ada tuh ceritanya anak kesulitan belajar karena salah pakai metode. Kelas Pintar sangat memahami bahwa setiap anak punya gaya belajar yang berbeda sehingga mereka tidak bisa belajar dengan metode yang sama.


Temukan Solusi Belajar di Kelas Pintar

Belajar Online Lebih Mudah Bersama Bimbingan Belajar Kelas Pintar
Photo by Annie Spratt on Unsplash


Fokus utama dari Kelas Pintar adalah menguatkan dan mensinergikan peran guru, sekolah, dan orang tua dalam proses pembelajaran lewat platform yang terintegrasi. Platform ini punya kemampuan merekam proses belajar siswa yang nantinya bisa digunakan oleh guru, sekolah, maupun orang tua dalam memahami karakter setiap anak serta menemukan potensi dan menyelesaikan kesulitan yang mereka hadapi selama ini.


Apa saja yang bisa kita temukan di Kelas Pintar?

Mempelajari materi lengkap dalam bentuk video belajar, audio-visual, juga e-book. Jangan khawatir, anak-anak juga akan mengerjakan soal-soal latihan sebelum evaluasi melalui soal tes yang sangat bervariasi.

Butuh berlatih dengan banyak soal sebelum ulangan harian atau ujian semester? Tenang, anak-anak bisa mengakses puluhan ribu soal LOTS, MOTS, dan HOTS demi meningkatkan kesiapan siswa dalam ulangan harian ataupun ujian semester. Sehingga orang tua tidak perlu terlalu khawatir jika dalam proses belajar tidak selalu dapat mendampingi di rumah.

Guru-guru dari Kelas Pintar siap mendampingi anak-anak belajar dari rumah. Nggak harus selalu orang tua yang mengawasi dan menemani. Dengan adanya guru dari Kelas Pintar, anak-anak akan belajar lebih enjoy tentunya dengan metode yang tepat sesuai dengan karakter setiap anak.


Sebagai orang tua, pastinya kita ingin memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak terutama di masa pandemi seperti sekarang. Kita memang tidak boleh berharap terlalu tinggi kepada mereka dalam situasi yang serba sulit seperti saat ini, tapi nggak ada salahnya jika kita memberikan pendampingan yang terbaik bagi proses belajar mereka selain dari sekolah.


Bagi saya, adanya Kelas Pintar benar-benar menjadi solusi terutama bagi orang tua yang harus bekerja dan tidak ada banyak waktu untuk mendampingi anak-anaknya di rumah. Anak-anak pun akan lebih enjoy belajar dengan metode yang tepat dari Kelas Pintar. Semoga informasi ini membantu, ya.


Salam hangat,


Saturday, October 30, 2021

Perjalanan Menjadi Penulis Buku Best Seller dari Achi TM

Perjalanan Menjadi Penulis Best Seller dari Achi TM
Photo by Road Trip with Raj on Unsplash


Beberapa hari ini lumayan heboh sendiri sama sharing kepenulisan yang diadakan oleh KBM App. Mengenal KBM sudah sekian lama, bahkan pernah ikutan workshop Bunda Asma Nadia bareng teman-teman KBM juga. Namun, seiring berjalannya waktu, saya memang mulai meninggalkan KBM, terutama karena saya sudah tidak lagi menulis cerita fiksi. Kalau teman-teman mengikuti blog ini dari awal, justru isinya cerpen semua. Dari dulu saya memang senang menulis fiksi.


Sejak ada KBM App, saya sudah bergabung dan pernah menulis satu bab nonfiksi. Iya, hanya satu bab, setelah itu saya kabur karena KBM App belum seramai sekarang. Saya pun akhirnya lebih sibuk menulis buku motivasi dan seperti sekarang, saya bahkan nggak ingat pernah pengin nulis di KBM App, lho saking sudah lamanya…hihi.


Dua hari berturut-turut ikutan Indonesia Literacy Fest bersama KBM App, saya jadi pengin mulai lagi menulis di KBM App. Apalagi setelah mendengar sharing para pemateri, ampun jadi lupa capek lelahnya ngerjain ilustrasi buku dan masih ada energi buat nulis yang lain.


Bagi saya, siapa pun pematerinya, akan selalu menarik karena selalu ada ilmu yang bisa didapat. Saya pembaca buku-buku Tere Liye, buku-buku Asma Nadia, Ahmad Fuadi, dan sama sekali nggak tahu bukunya Mba Achi TM. Nggak mengenal juga karena makin ke sini saya memang jadi jarang baca-baca novel. Namun, setelah dengar sharing-nya saya benar-benar merasa termotivasi sekali. Plus momennya tepat banget setelah paginya ada kejadian kurang menyenangkan buat saya…kwkwk.


Kapan Bisa Jadi Penulis Best Seller?

Bagi saya, mungkin inilah impian yang belum bisa diraih sampai saat ini, jadi penulis buku-buku laris atau best seller. Takut bermimpi? Nggak juga. Malah sering menjadi doa. Namun, takdirnya memang belum kesampean.


Pagi itu, seorang marketing dari buku saya yang akan segera terbit menghubungi dan bilang kalau jumlah buku terjual nggak sebanyak apa. Dia nggak pernah memasang target, tapi pernah bilang semoga bisa laku 500 sampai 3000 buku misalnya. Saya merasa ucapan itu jadi doa, sekaligus lumayan jadi beban juga karena saya sadar betul, buku saya nggak mungkin laku segitu banyaknya dalam waktu sekitar sebulan pertama.


Entah karena saya masih suka menyimpan perasaan nggak enakan, akhirnya saya meminta maaf. Perasaan nggak nyaman itu terus muncul sampai sore harinya. Kayak mau udahan saja nulis buku. Ngerasa bersalah karena mungkin nggak bisa memenuhi ekspektasi mereka.


Malam harinya, saya dengar sharing dari mba Achi TM. Untuk pertama kalinya saya tahu beliau. Poin penting yang bikin saya akhirnya nggak mau nyerah adalah ketika Mba Achi bilang pengin udahan nulis setelah 21 novel terbit dan nggak pernah ada yang jadi best seller. Tulisannya laku, tapi bukan yang laku-laku banget. Dia punya pembaca, tapi nggak best seller juga sampai buku ke-21. Mba Achi seperti sedang menasihati saya. Saya nggak percaya kebetulan. Ini bukan kebetulan :D


Waktu dia berniat berhenti menulis, laptopnya hilang. Kejadian itu benar-benar bikin Mba Achi sadar bahwa niatnya sudah salah. Sudah dikasih kemampuan menulis sama Allah, malah mau berhenti. Akhirnya beliau bernadzar bakalan nulis lagi jika laptopnya ketemu. Dan benar, laptoptnya ketemu…kwkwk.


Naskah pertama yang ditulis setelah laptopnya ketemu adalah novel berjudul Insya Allah, Sah! Buku itu bahkan belum cetak, tapi sudah dipinang untuk difilmkan dan best seller. Gimana rasanya, ya? Waktu sudah pasrah, sudah nggak berharap yang muluk, tiba-tiba sama Allah dikasih best seller dan lebih dari itu?


Menulislah dan Cobalah Terus

“Nggak ada yang salah, nggak perlu minta maaf, mungkin ada rasa nggak enak, I feel you, tapi Mbak sudah berusaha, nanti bisa diusahakan lagi.”


Itulah kalimat yang saya dengar dari seorang sahabat setelah saya bercerita tentang kejadian pagi itu. Ngerasa bersalah, ngerasa nggak bisa seperti yang lain, ngerasa nggak bisa apa-apa, kemudian jadi sadar, ya sudah, nggak masalah ngerasa nggak baik-baik saja. Mungkin ada kurangnya saya juga di sini, tapi bukan berarti saya boleh menyalahkan diri sendiri terus menerus.


Menurut Mba Achi TM, buku best seller itu keajaiban yang Allah kasih ke kita. Iya, setelah kita usaha, setelah kita capek-capek, tapi ya kita nggak bisa menentukan kapan waktunya. Jadi, kenapa mesti jadi beban yang akhirnya bikin kita jadi berhenti menulis? Kadang, yang muluk-muluk tanpa tangga pancapaian yang masuk akal bikin kita down.


Saya sudah menerbitkan banyak buku, itu sudah pencapaian luar biasa buat saya yang sebelumnya sama sekali nggak punya buku terbit. Bisa masuk Gramedia dan terbit di luar negeri? Bahkan dulu pengin saja malu-malu saking ngerasa itu nggak mungkin.


Saya jadi lebih bersyukur dengan pencapaian saya saat ini dan juga bersyukur karena saya masih mau berjuang hingga sejauh ini. Meski capek, meski pengin berhenti, meski kadang ngerasa kerjaan rumah saja nggak beres-beres, tapi masih menulis plus ngerjain ilustrasi, ‘Thank you banget sudah berjuang terus!’


Setiap orang punya perjalanannya masing-masing. Kita sering nggak melihat berdarah-darahnya dia sebelum berhasil, pun kadang kita kurang menghargai itu. Sekecil apa pun hasilnya sekarang, jangan pernah menyalahkan diri sendiri, ya. Sudah bilang terima kasih sama diri sendiri karena sudah mau berusaha sampai sejauh ini? Kalau bukan karena keberanian, keinginan yang kuat, disiplin dan, pantang menyerah, pastilah dari dulu kita sudah berhenti menulis. Iya, kan? Namun, lihat kita sekarang, masih mau usaha lagi walaupun perjuangannya nggak semudah sebulan, setahun jadi. Please, jangan nyerah dan hargai kerja kerasmu juga :)


Salam hangat,