Friday, July 30, 2021

Melepas Anak di Hari Pertama Sekolah

Melepas Anak di Hari Pertama Sekolah
Kangen banget bisa antar anak masuk sekolah, ya :)


Hari pertama sekolah merupakan hal yang ditunggu-tunggu, entah bagi anak-anak ataupun orang tua. Buat saya, hari pertama skeolah bukanlah hal yang menyenangkan karena saya mesti berpisah dari orang tua dan duduk di bangku kelas bersama orang-orang baru. Saya tidak suka melakukannya, makanya saya selalu menangis hingga akhirnya batal masuk TK…hehe.


Saya masih ingat betul, Bapaklah yang selalu mengantarkan saya ke sekolah dan menenami di dalam kelas. Sering saya tidak mau ditinggal dan lebih banyak mesti ditemani. Hal itu membuat Bapak akhirnya lelah dan memutuskan tidak lagi menyekolahkan saya.


Setelah menjadi orang tua, saya tidak mau punya anak yang seperti itu. Iya, yang seperti saya saat masih kecil, suka merengek di dalam kelas karena takut ditinggalkan. Perasaan takut ini menyiksa sekali dan tentu saja membuat hari-hari di sekolah menjadi tidak menyenangkan.


Waktu si sulung mau masuk TK, qadarallah saya sedang hamil besar dan akan melahirkan. Perhitungannya, saya melahirkan dan dia masuk sekolah dengan jarak hanya beberapa hari saja. Siapa yang akan menemani jika dia tidak mau ditinggalkan? Perjuangan pun dimulai.


Banyak cara bisa kita lakukan untuk meyakinkan anak-anak supaya bisa berani selama di sekolah dan mau bermain dengan teman-temannya. Minimal tidak menangis saat ditinggalkan. Anak saya, dua-duanya bukan termasuk yang saya lepas ketika bermain apalagi di luar rumah. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di rumah ketimbang bermain di luar bersama teman-temannya.


Sejujurnya, saya tidak yakin dia akan seberani itu saat masuk sekolah di hari pertama. Tapi, saya berhasil membuat dia merasa aman dan nyaman, sehingga mulai hari pertama hingga masuk SD kelas lima seperti sekarang, dia tidak pernah merepotkan sama sekali. Mau diajak kerja sama tanpa drama, mau ditinggal bahkan ketika bukan Ayah dan Bunda yang mengantarkannya ke sekolah.


Jangan Berbohong

Melepas Anak di Hari Pertama Sekolah


Saya tidak mau berbohong apalagi mengancamnya. Sejak awal saya jujur pada dia sehingga dia percaya dan berani berangkat sekolah sendiri. Jangan sampai kita bilang akan menunggunya di luar, sementara kita pulang ke rumah. Jika dia tahu, pastilah sangat kecewa bahkan mungkin marah.


Saya selalu bilang,


“Kamu akan diantar oleh ojek yang sudah kamu kenal. Kamu akan diantar sampai ke sekolah dan belajar bersama ibu guru dan teman-temanmu. Ibu guru adalah orang yang bisa kamu percaya untuk dimintai pertolongan saat kamu merasa kesulitan. Jangan khawatir, kamu akan dijemput tepat waktu. Jika ojek atau Ayah Bunda belum datang menjemput, tetaplah bersama Ibu guru di kelas.”


Kalimat senada selalu saya ulang-ulang karena tidak mudah menanamkan rasa percaya diri pada anak terutama saat dia mesti masuk dalam lingkungannya yang baru. Saya tidak bercerita tentang orang lain, saya bercerita tentang diri saya yang sendiri yang selalu kesulitan beradaptasi di lingkungan baru. Sering membuat saya stres hingga sakit tanpa sebab. Hanya karena saya selalu merasa takut berlebihan setiap bersama orang yang baru saya kenal. Saya pun paham ketakutan yang dihadapi oleh anak saya nanti. Maka saya selalu mengatakan hal yang serupa hampir setiap hari, sampai akhirnya dia memahami dan sangat percaya bahwa semua akan baik-baik saja meski tanpa bundanya.


Sugesti Positif Secara Rutin

Melepas Anak di Hari Pertama Sekolah


Komunikasi dengan anak tentu tidak sama seperti saat kita berbicara pada orang dewasa. Apa yang kita sampaikan bisa jadi sulit dipahami oleh mereka. Saya selalu berusaha sesering mungkin menjelaskan bagaimana nanti dia akan berangkat ke sekolah, bersama siapa, di sana akan ngapain aja, dan siapa saja orang yang akan menemaninya.


Ide mudahnya, saya lakukan sesering mungkin dengan bercerita sambil menggambar. Ini sekolah. Kamu akan berangkat bersama ojek. Kamu akan bertemu guru-guru dan teman-teman. Kamu akan belajar di sini sampai siang hari. Jika kamu ingin ke kamar mandi, kamu bisa meminta bantuan kepada ibu guru. Nanti, ojek akan menjemput dan mengantarkanmu pulang ke rumah. Kira-kira seperti itu ceritanya.


Saat hendak tidur, saya selalu berbisik di telinganya, Kakak anak baik, kakak hebat, kakak berani ke sekolah sendiri. Dan seterusnya. Semua itu dilakukan tidak hanya seklai dua kali, tapi sampai berminggu-minggu hingga hitungan bulan. Dan, voila! Semua berhasil sesuai yang saya harapkan, masyaallah.


Komunikasi dengan Guru

Melepas Anak di Hari Pertama Sekolah


Saya yakin, semua orang tua pasti akan berkomunikasi dengan guru dari anak-anaknya. Dan itulah yang saya lakukan ketika anak saya akan masuk sekolah. Dari awal saya telah menjelaskan bagaimana kondisi saya. Saya menitipkan si sulung kepada guru kelasnya sekaligus memperkenalkannya lebih awal sebelum dia masuk sekolah.


Jadi, saat dia sudah masuk sekolah, sudah ada orang yang dikenalnya dengan baik dan pastilah sudah amat dia percaya. Ini benar-benar membantu. Semua guru berusaha membantu anak-anak supaya bisa lepas dari orang tuanya saat sekolah terutama di hari-hari pertama. Jadi, sebaiknya orang tua jangan terlalu khawatir. Sudah, titipkan saja dan lepaskan anak-anak. Andai pun ditemani, sekolah biasanya hanya memberikan waktu tidak lebih dari seminggu.


Percayalah, walaupun anak menangis, dia akan belajar mengatasi ketakutannya. Guru-guru pun akan menemani dan menghibur. Karena karakter setiap anak berbeda, maka tidak semuanya bisa lepas dari pelukan kita dengan mudah terutama saat pertama sekolah.


Kalau orang tua tidak berani melepaskan anak-anak, maka anak-anak pun akan merasa berat untuk ditinggal pergi. So, bekerja samalah dengan baik.


Sekolah Adalah Tempat Belajar dan Bermain

Melepas Anak di Hari Pertama Sekolah


Sekolah bukan penjara. Jadi, jangan sampai anak merasa takut saat mau sekolah. Masih zaman nggak sih ada anak takut ditinggal sendirian saat sekolah di minggu-minggu pertama? Karena rasa-rasanya di zaman sekarang anak-anak tumbuh dengan rasa percaya diri yang lebih tinggi. Nggak sama dengan dulu.


Jangan suka mengancam, misalnya dengan berkata, jangan nangis, ya. Nanti Ibu nggak akan jemput kamu, lho. Jangan nakal, ya. Nanti Ibu akan tinggalkan kamu di sekolah.


Jangan jadikan sekolah sebagai ancaman apalagi tempat belajar rasa penjara. Sekolah adalah tempat bermain dan belajar. Mereka akan senang di sana. Dan itulah yang mesti ditanamkan. Berhati-hatilah dengan ucapan sendiri, meski sedang lelah dan kesal, jangan sampai mengancam anak-anak sehingga membuat mereka trauma. Nanti, kita sendiri yang menyesal karena kurang berhati-hati saat bicara.


BWT, tahun kemarin harusnya jadi tahun pertama untuk si bungsu masuk sekolah. Qadarallah bertepatan dengan pandemi sehingga dia batal saya sekolahkan. Baru tahun ini dia masuk sekolah dan langsung TK B. Kangen banget melihat anak-anak bisa belajar maksimal bersama guru dan teman-temannya tanpa harus capek-capek menatap layar.


Buat anak TK, sekolah online sangat melelahkan. Namun, masuk sekolah bukan tanpa risiko. Saya belum ada niatan memasukkan anak sekolah walaupun di sekolah sudah sesuai protokol kesehatan. Masih parno banget pokoknya.


Sekolah sekarang, benar-benar tergantung sama kita sebagai orang tua. Mendampingi belajar di rumah harus, ngajarin semuanya mulai dari membaca, menulis, dan mengaji. Pintar-pintar orang tuanya ngajarin supaya anaknya nggak bosan.


Semoga pandemi lekas usai dan anak-anak bisa segera kembali ke sekolah dengan aman. Paling terasa untuk anak usia TK karena waktunya sedikit dan kasihan sekali kalau mesti nge-zoom terus. Tetap semangat, ya. Semoga kita semua sehat.


Salam hangat,

Friday, July 23, 2021

Resep Bolu Kukus Super Lembut dan Nyokelat Banget

Resep Bolu Kukus Super Lembut dan Nyokelat Banget
Bolu kukus cokelat super lembut



Sudah sekian purnama saya nggak posting resep. Sempat foto-foto beberapa camilan yang saya buat di rumah, tapi sampai sekarang belum di-post juga di blog. Akhirnya sampai menumpuk di handphone dan makin lupa mau posting :(


Kali ini saya mau sharing resep bolu kukus super lembut dari Ci Tintin Rayner. Anak-anak suka banget makan bolu kukus. Mungkin karena teksturnya yang super lembut, begitu masuk mulut udah nggak bisa berkata apa-apa lagi…kwkwk. 


Kebetulan saya bikin bolu kukusnya yang versi cokelat. Selain dikasih cokelat bubuk, saya tambahkan juga mesis di dalam adonan. Jadinya nyokelat banget. Resep aslinya pakai chocochips, tapi saya sedang nggak punya, akhirnya masukin mesis aja. Hasilnya, tetap enaknya.


Aneka Jenis Bolu Khas Indonesia

Apa kamu pernah menghitung ada berapa jenis bolu khas Indonesia? Selain yang dikukus, kebanyakan bolu juga dipanggang. Jenisnya beragam banget, lho. Saya pun nggak hapal satu per satu jenisnya. Dilansir dari idntimes, kita ulas, yuk beberapa jenis bolu khas Indonesia yang menjadi idola!


  • Bolu Klemben

Bolu Klemben berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur. Tekstur luarnya agak garing gitu, lho. Kalau saya menyebutnya bolu jadul. Waktu kecil, saya sering makan bolu ini ketika berkunjung ke rumah saudara saat hari raya. Ibu saya nggak pernah bikin atau membelinya. Jadi, saya hanya bisa makan ketika bertamu ke rumah orang. Asli ini enak banget, lho :D


  • Bolu Peca

Sampai saya menulis postingan ini, sekalipun saya nggak pernah makan kue bernama bolu Peca yang katanya berasal dari Sulawesi Selatan. Dari penampilannya pun baru banget saya tahu ada kue semacam ini di Indonesia :(


Bolu Peca disajikan bersama kuah gula merah yang manis dan legit. Kayaknya cocok banget, ya disantap bersama teh panas yang agak tawar supaya seimbang rasanya.


  • Bolu Kemojo

Sudah tahu bolu ini? Saya juga belum pernah makan. Namun, melihat bentuknya, sudah sering saya lihat walau hanya dari mbah Google…kwkwk. Bolu Kemojo berasal dari Riau. Bolu Kemojo identik dengan bentuknya yang menyerupai bunga dengan warna hijau yang cantik. Kemojo berarti kamboja, ya. Makanya kayak bunga gitu bentuknya. 


  • Bolu Macan

Bentuknya cantik banget dengan teksturnya yang lembut, bikin nagih di setiap gigitannya. Ngaku deh kalau kalian juga baru tahu kalau bolu ini berasal dari Bangka Belitung. Kirain dari luar negeri gitu :(


Kalau kamu mau coba, bisa banget mengunjungi pusat oleh-oleh di Bangka Belitung saat berkunjung ke sana. Mungkin setelah pandemi kita bisa traveling lagi, ya.


  • Bolu Bhoi

Bolu Bhoi hampir mirip dengan bolu Klemben. Teksturnya pun sama, garing di luar dan empuk di dalam. Yang membedakan adalah bentuknya. Bolu Bhoi biasanya berbentuk ikan atau hewan jenis lainnya. Lucu banget sih bentuk ikan, apalagi kalau rasanya enak. Hmm, mana bisa nolak, yaa :)


  • Bolu Suri

Sekilas mirip banget dengan bika ambon. Hanya saja serat bika ambon lebih banyak, ya daripada bolu Suri. Bikin bolu Suri pun sama seperti bolu panggang lainnya. Bolu Suri berasal dari Palembang dan teskturnya lebih lembut daripada bika ambon. Jadi, penasaran, kan?


Resep Bolu Kukus Cokelat ala Tintin Rayner

Kamu kenal Ci Tintin? Saya juga nggak, sih…kwkwk. Tapi, ngefans melihat dia nge-baking sejago itu sampai-sampai saya beli bukunya juga. Dan beneran, semua resep yang saya coba enak banget. Memang, bikin camilan sendiri biasanya bahannya premium, tapi kalau nggak ada di rumah, saya biasa ganti dengan bahan sejenis yang rasa dan manfaatnya hampir sama.


Karena kalau bahan-bahannya kemahalan semua, kayaknya agak berat juga di kantong, ya…hihi. Saya juga memilih resep-resep dengan bahan yang mudah dicari dan cara buatnya simple. Mungkin karena fokus saya bukan nge-baking, jadi nggak mau habis waktu buat masak aja di dapur, sedangkan pekerjaan lain melambai-lambai di belakang. So, disesuaikan saja dengan kondisi kita di rumah.


Kalau lagi mau cepat dan nggak repot, saya pilih bikin kue cubit aja karena bisa pakai takaran sendok dan tanpa mixer. Bikinnya sebentar dengan rasa yang nggak kalah enak dengan camilan lainnya.


Kalau sedang punya waktu luang, bisalah bikin yang lebih ribet kayak bolu-boluan atau roti yang butuh waktu nggak sebentar. Walau kelihatannya sederhana, tetap saja makan waktu lumayan. Nah, kalau sudah kayak gini, otomatis nggak bisa dipake ngerjain yang lain. Harus kelar dulu urusan perkueannya.


Buat teman-teman yang mau coba resep ini, sebaiknya pakai cokelat bubuk kualitas bagus. Karena rasanya bakalan ngaruh banget dari si cokelat bubuknya. Saya pakai setengah resep dari resep asli karena hasilnya lumayan banyak. Di bawah ini saya tulis resep aslinya, ya.


Bahan A:

200 gram gula tepung

2 butir telur

160 ml air


Bahan B:

200 gram tepung terigu

25 gram cokelat bubuk

½ sdt garam

1 sdt baking powder


Bahan C:

10 gram cake emulsifier


Bahan D:

25 gram chocochips (saya pakai mesis)

½ sdt cokelat essens (saya skip)


Cara membuat:

  • Mixer bahan A selama 5 menit dengan kecepatan tinggi.
  • Masukkan bahan B, mixer lagi dengan kecepatan rendah selama 1 menit.
  • Masukkan bahan C, mixer kembali selama 5 menit dengan kecepatan tinggi.
  • Tambahkan pasta cokelat ke dalam adonan dan masukkan juga chocochips. Aduk rata.
  • Siapkan cetakan bolu kukus yang telah dialasi dengan kertas. Tuang adonan sampai penuh.
  • Kukus selama 15 menit dan jangan lupa bungkus tutup dandangnya dengan kain bersih supaya tidak ada sisa uap air yang menetes.


Voila! Bolu kukus lembut dan nyokelat ini pun siap disajikan. Tip yang perlu teman-teman ingat, panaskan dandang sebelum mengukus bolu dan jangan diintip-intip selama proses mengukus. Perhatikan juga jarak antara tiap cup bolunya. Jangan terlalu rapat supaya hasilnya bagus.


Kalau dandang yang kita pakai tidak terlalu tinggi ukurannya, sebaiknya pakai cup ukuran kecil supaya mekarnya nggak penyok kena tutup dandang. Gampang banget, kan?


Bolu ini beneran lembut banget dan nggak eneg sama sekali. Kayak bikin nagih gitu. Makan satu nggak akan cukup :D


Lumayan banget kalau bisa bikin-bikin camilan sendiri, terutama di masa pandemi seperti sekarang. Orang jualan makanan pun jarang dan hampir nggak ada. Kelebihan lainnya kalau bikin sendiri juga jadi lebih hemat dan bahannya bisa kita sesuaikan. Makin premium bahannya pasti makin enak…hihi.


Yuk, di coba dan ajak anak-anak juga untuk membuatnya sendiri. Seru banget walau agak belepotan gitu kalau bareng anak-anak. Tinggal minta mereka membantu beres-beres setelah membuat bolunya. Kotor itu baik :D


Salam hangat,


Saturday, July 17, 2021

Resepsi Hingga Liburan Tetap Nyaman di Jayakarta Hotel Bandung

Resepsi Hingga Liburan Tetap Nyaman di Jayakarta Hotel Bandung
Hotel Jayakarta, Bandung


Awal bulan Juni lalu, saya sempat pergi dan menginap di Bandung selama beberapa hari. Jujur, ini pertama kalinya pergi agak jauhan dan menginap pula di tengah pandemi. Saya tidak sedang pergi berlibur tanpa keperluan, kok. Karena selama pandemi, saya betah banget jaga diri di rumah dan hampir nggak pernah berani pergi jauh tanpa keperluan. Jadi, ini pertama kalinya dan deg-degan karena selama ini saya agak parno-an juga.


Namun, Juni kemarin, ada keluarga dekat yang melangsungkan akad nikah di Bandung. Resepsinya sederhana dan hanya dihadiri keluarga dekat. Bersyukurnya, kondisi bulan Juni lalu nggak seburuk hari ini. Orang-orang liburan juga banyak, pun dengan yang menikah dan mengadakan resepsi di sana.


Saya tiba di Bandung tanggal 04 Juni. Berangkat setelah Subuh dan siangnya langsung check in di hotel Jayakarta. Ini adalah pengalaman pertama saya menginap di hotel Jayakarta. Alhamdulillah, sejauh ini cukup nyaman. Pelayanannya baik dan ramah. Namun, mungkin karena pandemi, kondisi hotel pasti nggak akan sebaik dulu. Yang berasa banget kondisi kamar ada beberapa bagian yang kelihatan nggak terawat. Misalnya, kulkas dan lemari kecil yang kurang terawat bahkan kulkasnya juga mati :(


Pengalaman berikutnya yang kurang nyaman banget di tengah pandemi adalah kondisi gelas yang disediakan tampak belum diganti saat kami check in di sana. Nggak banget di tengah pandemi seperti ini pula. Jujur, agak kecewa. Mungkin petugas hotelnya lupa mengganti baru karena memang ketika dilihat dari jauh seperti bersih dan tertata, tapi kalau kita ambil dan diperhatikan, kelihatan banget bekas dipakai minum teh. Besoknya, saat kamar dibersihkan, cangkir-cangkir pun diganti. Kayaknya memang terlewat untuk hari pertama ketika saya baru masuk.


Protokol Kesehatan di Hotel Jayakarta

Resepsi Hingga Liburan Tetap Nyaman di Jayakarta Hotel Bandung


Hotel Jayakarta ini telah menerapkan protokol kesehatan selama pandemi. Contohnya, kamar disemprot dengan disinfektan saat dibersihkan dan kita juga dicek suhu serta harus membersihkan tangan dengan handsanitizer saat masuk ke hotel ataupun ketika hendak makan. Namun, tidak ada pemeriksaan khusus lainnya. So, memang kitanya sendiri yang perlu berhati-hati terutama ketika pandemi memburuk seperti sekarang.


Kemarin, akad nikah diadakan di dalam ruangan dengan jumlah undangan terbatas. Kalau nggak salah nggak sampai 30 orang. Setelah akad selesai, semua tamu undangan serta pengantinnya pindah ke luar ruangan. Ini jauh lebih nyaman dan bisa banget dijadikan solusi bagi para calon pengantin yang pengin tetap mengadakan resepsi sederhana di tengah pandemi.


Resepsi Hingga Liburan Tetap Nyaman di Jayakarta Hotel Bandung


Sebisa mungkin, terutama bagi yang dari luar kota, tetap melakukan swab antigen sebelum mengikuti acara. Jadi, kitanya bisa lebih tenang dan nggak terlalu parno. 


Waktu menginap di Jayakarta, karena saya agak parno-an, pas masuk kamar tetap semprat semprot sana sini. Kenapa? Karena hampir dua tahun saya nggak pernah ke mana-mana. Sekadar mudik ke rumah orang tua pun tidak, lho. Ketika sampai di tempat orang apalagi namanya hotel, bawaan pengin semprot mulu atau malah nggak bisa bobok nanti :D


Kok, segitunya? Karena saya nyaman seperti itu, jadi saya melakukannya. Kalau teman-teman gimana?


Kamar Luas dan Nyaman

Resepsi Hingga Liburan Tetap Nyaman di Jayakarta Hotel Bandung


Kamar di Jayakarta luas, lho. Dengan harga nggak sampai 600 ribu sudah termasuk sarapan, kita bisa bobok dengan nyaman. Teman-teman bisa lihat seperti apa isi kamar yang kemarin saya tempati dari foto-foto yang saya unggah. Kebetulan, saya ambil fotonya telat setelah kamar berantakan, jadi kurang jelas kalau dari sisi tempat tidur. Nggak kepikiran mau review kemarin :D


Teman-teman bisa lihat, kondisinya nyaman dengan harga yang menurut saya lumayan terjangkau. Andai nggak sedang pandemi, saya pengin nginep lebih lama sekalian liburan. 


Pandemi aja, orang-orang ramai sekali yang datang. Waktu Jumat siang hingga Sabtu pagi, kondisi masih sepi-sepi aja. Saya pikir, suasana sepi itu bakalan bertahan sampai besoknya lagi. Nggak tahunya, sorean dikit sudah ramai. Waktu saya pergi keluar sebentar dan kembali sekitar pukul 10an, parkiran aja penuh, lho.


Entah itu isinya orang liburan atau keluarga-keluarga yang besoknya mau mengadakan resepsi juga. Yang jelas, saya lihat orang-orang hidupnya jauh lebih santai ketimbang saya…kwkwk. Saya yang benar-benar di rumah dan nggak berkeinginan untuk liburan, saya yang benar-benar keluar hanya ketika butuh seperti saat belanja bulanan dan belanja sayuran, saya yang nggak pengin apa-apa waktu pandemi, dan melihat kenyataan di luar nggak semenyeramkan seperti yang saya bayangkan. Kaget dong...hihi.


Namun, itu kemarin ketika pandemi belum memasuki gelombang Delta seperti sekarang. Bagaimana dengan saat ini? Bahkan untuk beli kebutuhan pokok saja saya memilih online. Tukang sayur langganan pun sekarang jadi antar-antar belanjaan orang karena nggak banyak yang berani keluar meski sekadar untuk membeli kebutuhan pokok sehari-hari.


Menu Sarapan yang Enak dan Bervariasi

Resepsi Hingga Liburan Tetap Nyaman di Jayakarta Hotel Bandung


Sarapannya gimana? Hmm, lumayan banyak jenisnya dan enak. Buat anak-anak misalnya, mereka bisa sarapan kentang dan sosis. Ada juga nasi goreng, sereal atau roti.  Mereka bebas mau sarapan apa di pagi hari. Usahakan datang lebih pagi biar nggak terlalu ramai aja.


Kebanyakan tamu hotel turun dari kamar agak siangan. Biar nyaman, enaknya memang lebih pagi dari yang lain. Bisa lebih santai dan nyaman saat makan karena nggak banyak orang. 


Anak-anak happy bisa menginap di sini. Karena selama ini hanya di rumah dan jarang banget keluar. Suasana tempat makannya pun enak dan adem. Dekat dengan kolam renang dan berasa bangetlah lagi di Bandung.


Kolam renang pun cukup ramai, lho meski sedang pandemi. Anak-anak nggak mau berenang katanya ngeri lagi ada Corona :D


Emaknya pun meriang kalau sampai mereka minta berenang…kwkwk. Nggak dulu, deh kalau berenang karena bakalan berbaur dengan orang-orang yang entah siapa aja. Sehat itu mahal banget harganya.


Insiden Terkunci dan Nggak Bisa Masuk Kamar

Resepsi Hingga Liburan Tetap Nyaman di Jayakarta Hotel Bandung


Ada kejadian lucu dan cukup bikin panik juga. Sore di hari Sabtu saya kopdaran dengan teman sesama blogger dari Bandung. Dia rela nyamperin panas-panas pula ke hotel hanya demi bertemu saya. Anak-anak saya biarkan di kamar karena mereka mau istirahat dan sudah mandi setelah makan siang.


Saya pergi hanya sebentar, tapi anak-anak yang sudah kenyang dan keenakan di kamar malah ketiduran dan susah banget dibangunkan. Masalahnya, mereka ngunci kamar dari dalam sehingga saya kesulitan untuk masuk.


Teriak-teriak beberapa kali sambil dibantu oleh petugas pun nggak berhasil. Sampai saudara di kamar sebelah ikut kebangun dan keluar…kwkwk. Malah anak saya tetap tidur dengan pulasnya :(


Setelah berjuang lumayan lama, akhirnya si bungsu bangun. Namun, dia nggak bisa buka kunci dan kesulitan membangunkan kakaknya. Pelajaran bangetlah sebagai orang tua…hiks. Akhirnya si bungsu mencet hidung si Kakak dan bangunlah dia dengan bete…kwkwk.


Kenapa bisa tidur sampai kayak gitu? Kami pun kesal dan terheran-heran. Sampai-sampai petugas hotel curiga dikira itu bukan kamar kami…kwkwk.


Itulah pengalaman saya selama menginap di hotel Jayakarta Bandung. Next, kalau pandemi sudah pergi, kita liburan, ya. Saat ini, lebih aman tetap di rumah demi kebaikan bersama kecuali bagi yang mendesak. Karena tidak semua orang bisa tetap di rumah. So, buat yang memungkinkan, tetaplah di rumah dan jangan lupa bantu kanan kirimu. Siapa tahu ada yang membutuhkan bantuan.


Salam hangat, 


Thursday, July 8, 2021

Curhatan di Masa Pandemi

Curhatan di masa pandemi
Indonesia, lekas pulih, ya :)


Akhir-akhir ini, kondisi Jakarta dan daerah lain bisa dikatakan dalam keadaan ‘nggak baik-baik aja’. Kasus positif Covid-19 bukan lagi tentang orang di bumi belahan lain. Bukan tentang mereka yang ada di India apalagi Cina. Tapi, makin ke sini makin dekat dengan lingkungan kita. Entah teman-teman sesama wali murid di sekolah sulung, teman kajian, hingga keluarga.


Mulai parno banget dan panik, tapi berusaha menenangkan diri dengan banyak melakukan hal baru yang bikin sibuk. Contohnya beres-beres rumah yang biasanya nggak pernah dikerjain sampai berjam-jam. Namun, kali ini, dari pagi sampai sore baru kelar. Atau banyakin belanja buku dan baca-baca sebanyak mungkin. Semata-mata biar nggak kebanyakan pikiran.


Makin kaget waktu dengar keluarga mau ngadain acara rame-rame di kampung. Jujur kecewa banget, di saat saya yang merantau nggak bisa pulang sampai dua tahun, di sana malah mau ngadain acara dengan ngundang orang yang nggak sedikit? Please, semoga semua sehat-sehat.


Kalau edukasi dari saya sudah banyak banget, tiap telepon pasti mewanti-wanti supaya lebih banyak di rumah ketimbang keluar apalagi kalau nggak penting. Masalahnya, kondisi di sana berbeda. Pakai masker aja diketawain seolah aib. Akhirnya semua ikut-ikutan. Misal ada yang kena pun rame-rame nggak percaya. Padahal, kena Covid-19 itu bukan aib. Makin jujur kita, makin banyak yang bisa diselamatkan.


Urut kening dulu. Itulah salah satu alasan kenapa saya masih belum berani pulang, karena prokes di sana masih kurang banget. Dan alasan yang lebih penting, pengin jagain orang tua dan mertua jangan sampai kena virus. Meskipun naik kendaraan pribadi, bukan berarti kami aman seratus persen. Mencegah lebih baik daripada mengobati.


Untuk saat ini, di kampung pun nggak bisa dikatakan aman. Kalau dulu, kota-kota besar saja yang genting. Sekarang, di sana pun berbahaya dan rumah sakit mulai kewalahan. Apa yang terjadi dengan Indonesia? Kenapa bisa sampai seperti ini? Sini, yuk, cerita :(


Baca Berita di Sosial Media Bikin Parno Nggak Habis-habis

Saat ini, informasi tersebar begitu mudah. Untungnya, kita memang jadi tahu lebih cepat tentang kabar paling baru. Namun, jangan salah. Karena informasi seolah nggak bisa disaring mana hoax, mana bukan, mana yang mesti dibaca dan lihat, dan mana bukan, akhirnya penuh isi kepala gara-gara berita yang berseliweran.


Informasi tentang situasi saat ini benar-benar bikin mewek. Kalau lihat-lihat foto entah di UGD atau di pemakaman Covid-19, pasti meleleh air mata. Mulai cemas banget dengan kondisi sekarang yang satu per satu mulai kena dan nggak sedikit juga yang meninggal.


Mau kena Covid-19 atau nggak, kenapa rata-rata meninggalnya sekarang? Siaran berita kematian masa iya hampir tiap hari? Ya, Allah. Jujur ini makin bikin parno selain lihat berita di sosial media.


Saya mulai belajar buat banyakin skip lihat berita-berita, tapi tetap menjaga diri dan berhati-hati banget selama di rumah. Saya hanya keluar rumah seminggu sekali untuk belanja sayur dan kebutuhan pokok di dekat rumah. Biasanya sudah pesan sehari sebelumnya. Sekarang, saya juga sudah nggak berani belanja ke supermarket. Memilih belanja online kayaknya lebih bijak meskipun mesti keluar uang lebih untuk ojeknya. 


Penting banget menjaga kewarasan jangan sampai stres. Beberapa hari ini lumayan banget kepikiran dan stres juga. Sampai susah tidur, deg-degan mulu, mau bercanda kok susah dan kayak gimana, ya. Kamu mungkin tahu rasanya kayak apa.


Kematian Sudah Pasti Waktunya

Kemarin, nggak sengaja dengerin ceramah Ustadz Adiwarman Azwar Karim tentang kematian. Kenapa mesti takut dan khawatir? Kalau belum waktunya, nggak akan dijemput, kok. Dan lagi, hidup itu mesti rida. Mau enak atau nggak, ya harus rida karena semua adalah pemberian dari Allah.


Salah satu hal yang ditakutkan dalam kondisi seperti ini adalah kematian. Kayak kematian dimajuin gitu lho jadwalnya. Padahal, kematian sudah ditentukan, nggak akan lebih maju waktunya ataupun bisa dimundurkan.


Ketakutan berlebihan akan kematian ya memang nggak perlu. Disiapin aja dalam kondisi apa pun. Entah kita duluan atau mereka. Nyesek banget nggak, sih bahas kematian dalam keadaan pandemi yang makin memburuk gini? :(


Kesedihan Nggak Selalu Harus Diperlihatkan

Kamu pasti tahu, ada orang-orang yang sengaja menyimpan kesedihannya supaya tetap waras aja. Itu cara dia supaya tetap tenang. Jadi, bukan berarti yang statusnya 'haha hihi' nggak berduka atas keadaan saat ini. Ada kalanya mereka hanya ingin mengimbangi berita-berita duka yang makin banyak setiap hari.


Saya pun sedih kalau kebanyakan baca berita duka. Memang akan merasa lebih terhibur dan lupa kalau ada status receh di sosial media. Karena makin ke sini beritanya makin nggak karuan. Kematian makin banyak, kasus positif pun meningkat.


Kita harus apa? Semua orang punya cara masing-masing untuk melewati masa sulitnya sendiri. Setiap dari kita pasti akan merasakan susah senang secara bergiliran. Nggak mungkin ada orang yang hidupnya bahagia doang, sempurna sekali hidupnya kalau begitu.


Untuk mendapatkan kebahagiaan, kita mesti menyelesaikan suatu masalah atau ujian dulu. Kalau hidupnya datar tanpa ujian dan cobaan, justru bahagia itu susah didapat. Karena bakalan hambar aja. Kalau kamu mau bahagia, selesaikan dulu kesulitanmu. Begitu kata Mark Manson, ya :D


Sehat itu Sangat Berharga

Makin ke sini makin sadar diri, bahwa bukan liburan yang paling diinginkan apalagi uang banyak. Karena punya uang banyak sekalipun nggak akan berguna jika kitanya nggak sehat. Karena bisa liburan juga nggak ada bahagianya jika kitanya sakit.


Sehat itu mahal. Kita pun makin sadar, betapa berharganya kesehatan itu. Bernapas yang dulunya semudah menarik dan mengembuskan, sekarang mesti tergantung pada tabung-tabung oksigen. Betapa karunia Allah itu luar biasa banget, tapi sering luput kita sadari.


Berapa banyak orang yang akhirnya meregang nyawa akibat sesak dan kesulitan bernapas? Banyak sekali terutama di masa pandemi ini. Tabung oksigen makin dibutuhkan. Makin dicari di sana sini. Berat ya menghadapi pandemi? :(


Kapan pandemi berakhir? Sangat berharap kita bisa segera hidup normal seperti dulu. Nggak masalah tetap pakai masker dan lebih banyak di rumah asal kondisinya nggak semencekam sekarang. Hidup dalam ketakutan dan kekhawatiran seperti ini sangat tidak nyaman. Belum lagi anak nggak bisa sekolah dan kehilangan waktu emas bersama teman-temannya. 


Mungkin kita bisa berjuang bareng-bareng untuk lebih taat prokes sehingga kasus positif segera menurun dan ICU segera lengang. Harapan akan selalu ada karena kita punya Allah. Sedih, cemas, takut, dan panik itu wajar. Namun, jangan sampai kita melakukan hal-hal aneh seperti menimbun susu beruang, padahal masih ada susu cap singa…kwkwk. Stay safe, teman-teman. Kita berdoa semoga pandemi lekas berakhir dan Indonesia bisa segera pulih. Kita bisa melewati semua ini, insyaallah kita bisa!


Salam hangat,


Monday, June 28, 2021

Perjalanan Menjadi Ilustrator

Cara menjadi ilustrator
Semua dimulai dari sini....


Beberapa orang pernah mengirimkan pesan di akun Instagram saya, menanyakan bagaimana cara menjadi ilustrator. Sejujurnya, saya juga baru memulai dan belum andal kalau diminta tip kecuali tekunlah berlatih :D


Saya lahir dari latar belakang keluarga sederhana. Bahkan mungkin sangat sederhana sampai-sampai untuk jajan es harga seratus rupiah saja pernah susah banget. Ayah saya seorang guru yang kemudian banting stir jadi petani sampai detik ini. Yes, saya anak seorang petani. 


Sejak kecil, Ayah yang telaten ngajarin saya belajar nulis, baca, dan menggambar. Mungkin dari sinilah saya punya hobi menggambar sejak kecil. Saya nggak masuk TK, kecuali hanya beberapa minggu terakhir sebagai syarat supaya bisa punya ijazah…kwkwk. Nggak pernah betah duduk di kelas dan bawaannya nangis kalau ditinggal pergi oleh ayah saya. Jadi, Ayah capek anter dan nemenin, belum lagi malu sama ibu-ibu lainnya, kan? Di mana-mana yang anter sekolah emaknya. Tapi, saya berbeda…hehe.


Saya suka menggambar, tapi saya nggak jago juga, kok. Jadi, kalau kalian merasa belum jago, tapi pengin jadi illustrator, ya kenapa nggak? Semua bisa dipelajari dengan banyak berlatih. Nggak ada yang susah kecuali bagi si pemalas *lol 


Sejak Kapan Bercita-cita Mau Jadi Ilustrator?

Cara menjadi ilustrator


Zaman masih kecil, saya belum tahu dan kenal profesi ilustrator. Tahunya pelukis atau komikus. Sempat pengin jadi keduanya pada masa itu. Namun, saat saya masuk pesantren sambil menyelesaikan SMA, keinginan itu berubah dan luntur. Yup! Saya lebih pengin jadi penulis, meskipun tetap saja saya menggambar hampir setiap hari, terutama ketika ngantuk saat jam pelajaran berlangsung :(


Keinginan jadi ilustrator mungkin muncul beberapa tahun yang lalu, sih. Waktu itu pernah ikut kelasnya Pak Maman Mantox, kita belajar menggambar dari nol dan rasanya sungguh senang, meski lama-lama jadi stres bukan happy :D


Karena makin dipelajari makin tahu banyak banget yang saya 'nggak tahu'. Mesti belajar bikin garis lurus, lingkaran, dll. Kenapa muter-muter di situ aja? Kayak nggak sabar bangetlah pokoknya…kwkwk. Plis, jangan dicontoh *emang bukan teladan banget, sih…hihi.


Waktu itu saya memutuskan rehat dan fokus menulis buku dulu. Pengin, sih tetap pengin. Tapi, setelah melewati proses yang agak njelimet, saya kayak ngerasa nggak dulu, deh. Mulai berpikir bahwa nggak semua yang saya inginkan mesti terjadi. Intinya dulu milih bersyukur sudah bisa menulis buku dan diam-diam rasanya mau nyerah. Ingat, ya, diam-diam aja, kok…haha.


Pandemi datang. Dunia penerbitan seperti kaget dan mulai banyak yang tutup. Sampai ada satu buku yang saya tulis bersama teman mesti ditunda terbit hingga entah kapan. Bersyukur, tahun ini diproses meski akhirnya memilih nggak bisa masuk Gramedia. Daripada nggak terbit-terbit, kan? Curhat, Mah!


Tahun 2020 menjadi awal yang sangat menentukan buat saya…*yaelah, sok serius amat…hihi. Waktu itu, saya mulai ngeluarin tablet lagi dari lemari. Mulai menggambar lagi meskipun dari nol dan nggak tahu harus mulai dari mana. Ketika saya mencoba, saya nggak banyak berpikir macam-macam kecuali, ‘Mari kita mulai dengan sungguh-sungguh!’


Pengin Jadi Ilustrator, Mulainya dari Mana?

Cara menjadi ilustrator


Kalau pengin sesuatu, jangan buru-buru bisa atau segera dapat. Semua orang, hampir semuanya pasti memulai dengan berdarah-darah. Nggak ada yang mudah kecuali kamu memilih untuk rebahan di kamar seharian. 


Waktu mulai menggambar lagi, keinginan saya waktu itu bukan jadi ilustrtor juga. Hanya mau branding saja di sosial media. Karena saya senang menggambar, saya pun bikin kalimat-kalimat motivasi disertai gambar. Kalau penulis lain mungkin bisa pakai canva, dll. 


Nggak nyangka, dari sini akun saya berkembang jauh lebih baik daripada sebelumnya. Saya memang setiap hari posting, kalau bolong pun, paling cuma sehari atau dua hari. Secara nggak langsung, saya juga berlatih. Udah kebayang pengin jadi ilustrator? Belum juga. Sempat ada masa di mana saya selalu menolak ketika ada yang mau pesan gambar. Ya, karena ngerasa belum layak saja dan belum berani, meski pengiin.


Dari hari ke hari saya hanya menggambar setekun mungkin. Latihan itu penting sekali, jangan nyerah karena kamu bukan anak DKV. Jangan merasa gagal hanya karena kamu nggak punya fasilitas. Jangan mudah ngeluh juga, karena pastilah capek ngerjain semuanya dan membangun apa yang kita pengin dari nol.


Ketika kita nggak tahu cara pakai aplikasi menggambar, coba bertanya pada Youtube dan cobalah dipraktikkan. Cari referensi sebanyak mungkin untuk dicoba. Begitulah cara memulainya. Bisa, kan?


Dari Mana Datangnya Klien?

Cara menjadi ilustrator


Dari mata turun ke hati...hihi. Saya baru menerima pesanan gambar sederhana sekitar bulan September 2020 lewat Instagram. Waktu itu saya masih pakai tablet Samsung dengan aplikasi Ibis Pint X. Klien saya datang dari Austria. Dia pesan beberapa gambar untuk lembar aktivitas gitu. Percayalah, gambar saya masih sederhana banget waktu itu :D


Kemudian saya mengerjakan pesanan gambar untuk konten sosial media dari sebuah penerbit islami di UK. Datangnya juga dari Instagram. Saya belum berani masuk ke Fiverr, bahkan sampai sekarang. Kebanyakan klien saya datang dari Instagram atau dari kenalan klien saya yang sudah pernah pesan gambar.


Jadi, branding di sosial media itu penting, ya? Buat saya yang nggak main di Fiverr dan sejenisnya, penting banget. Hasil dari belajar dan latihan kita bisa untuk mengisi feed Instagram sekaligus untuk branding. Isilah dengan hal yang baik-baik karena nanti sosial media kita bakalan jadi cerita ketika kita udah nggak ada :)


So, di akhir tahun 2020, mulai ada lebih banyak klien datang dan menawarkan pekerjaan kepada saya. Desember 2020, pertama kalinya saya berani menerima tawaran untuk mengerjakan picture book dari penulis Mesir.


Ganti Tablet dengan Ipad 8 Pakai Aplikasi Procreate

Cara menjadi ilustrator


Suka ada yang penasaran, beli Ipad dari hasil kerja sendiri atau dibelikan oleh suami? Hihi. Ada yang penasaran juga? :D


Saya bersyukur, suami mengizinkan saya untuk berkarya dari rumah. Dia paham ketika saya punya banyak DL dan nggak kesel gitu bawaannya…kwkwk. Izin dari suami buat saya adalah doa. Kalau dia ridha, insyaallah pekerjaan saya pun akan mudah diselesaikan.


Sebelum saya ganti Ipad 8, suami saya sudah pernah membelikan dua tablet. Pertama banget dulu pakai tablet Advan, kemudian Samsung dengan S pen. Waktu saya bilang mau ganti Ipad, dia kurang setuju. Kenapa? Ya, karena saya belum terlihat seserius itu buat ngerjain ilustrasi. Baru banget nerima beberapa pesanan, yakin tiba-tiba mau ganti Ipad 8 yang harganya nggak murah?


Perasaan suami saya nggak salah, sih. Karena dia sudah pernah habis banyak ngasih modal waktu dulu kala ketika saya pengin jualan online. Dia bikinin segala macam supaya saya senang. Nyatanya? Saya berhenti. Mungkin karena itu bukan passion saya. Perjalanan menemukan passion itu benar-benar nggak mudah. 


Bulan Desember 2020, saya akhirnya beli Ipad 8 + Apple pencil dengan tabungan sendiri. Waktu itu baru banget Ipad 8 muncul, jadi harganya masih lumayan. Namun, saya nggak nyesel beli Ipad. Karena dari sinilah semua benar-benar dimulai :)


Picture Book Pertama

Cara menjadi ilustrator


Akhir Desember 2020 setelah saya membeli Ipad, tiba-tiba ada orang kirim dm ke Instagram dan menawarkan saya pekerjaan. Iyap, saya diminta membuat gambar untuk bukunya. Dan inilah picture book pertama saya :)


Sejujurnya butuh banyak keberanian untuk memulainya. Ya, karena kalau nggak pernah, mana tahu cara dan tip bikin gambar buat picture book. Tapi, kalau nggak pernah dimulai, mungkin saya juga nggak akan belajar sampai sejauh itu.


Saya banyak bertanya kepada teman yang lebih senior. Benar-benar bantuan dari orang lain sangat membantu. Kenapa? Ya, karena nggak semua hal bisa kita temukan di Google atau Youtube. Termasuk soal menentukan harga. Dari klien Indonesia pasti beda harga dengan klien luar negeri. Itu butuh ilmu, nggak sembarangan nentuin *sok tahu ya, saya...haha.


Masyaallah tabarakallah. Dari akhir Desember 2020 hingga Juni 2021, saya telah mengerjakan ilustrasi untuk 5 picture book, ilustrasi untuk 4 buku nonfiksi, sekian banyak cover buku dan foto, serta sekian yang lainnya.


Saya sungguh bahagia mengerjakan semuanya, terutama jika saya mengerjakan ilustrasi untuk buku sendiri…kwkwk. Nggak galau mau revisi…hihi.


Klien saya nggak serta merta datang begitu saja. Apalagi saya bukan ilustrator senior yang telah dikenal banyak orang. Mereka datang dan menawarkan pekerjaan setelah melihat beberapa ilustrasi yang saya buat. Terutama yang telah saya upload di sosial media seperti Instagram dan Facebook.


Jadi, buat yang tidak masuk ke Fiverr, ikut agensi, atau jadi tim illustrator lain, branding di sosial media itu penting. Karena dari sinilah kita akan dikenal sebagai ‘siapa’. 


Ada teman-teman ilustrator yang nggak aktif di sosial media, tapi tetap dapat job. Semua orang punya cara dan rezeki masing-masing. Apa yang saya sampaikan di sini adalah murni dari pengalaman saya dan nggak ada hubungannya dengan orang lain. Yes, ya? :D


Jadi, apa yang saya kerjakan mungkin berbeda dengan mereka di luar sana, tapi saya bahagia menjalaninya. Saya bukan termasuk orang yang senang menerima banyak job sekaligus, saya memilih untuk close pemesanan ketika mengerjakan proyek supaya nggak stres. Saya mesti kelarin satu proyek dulu, ketimbang menumpuk pekerjaan. Saya senang dapat uang dari kerja keras sendiri, tapi saya juga pengin menikmati hidup dengan wajar :)


Apakah cerita saya sudah cukup mencerahkan seperti krim pemutih? Kwkwk. Semoga pikiranmu berubah setelah membaca postingan ini. Dari yang awalnya mau nyerah berubah bersemangat memulai lagi. Setumpuk love buat kamu. Semangat, ya :)


Salam hangat,


Tuesday, June 15, 2021

Resep Membuat Kue Lumpur Tanpa Oven

Resep Membuat Kue Lumpur Tanpa Oven
Yuk, sajikan kue lumpur tanpa oven di rumah (Photo: Asianfoodnetwork.com)


Saya senang memasak atau membuat kue, terutama selama pandemi. Kemudahan mencari informasi di dunia maya, termasuk mencari resep yang mudah dicoba, menjadikan saya semakin rajin menyajikan makanan di meja makan. Iya, masak sendiri itu lebih nyaman dalam kondisi seperti sekarang. Selain lebih terjamin kebersihan serta bahan-bahannya, aktivitas ini bisa menjadi salah satu alternatif untuk menghilangkan kebosanan. 


Males di rumah terlalu lama, tapi mau keluar rumah juga parno. Akhirnya, saya melakukan banyak hobi lama, termasuk nge-baking. Sekalian ajak anak-anak juga biar terhibur. Agak riweh memang kalau mau masak bareng mereka, tapi happy banget apalagi kalau mereka ikut senang dan menikmati juga.


Dapur jadi berantakan? Itu salah satu risikonya…hihi. Ajak anak-anak juga untuk membantu membereskan. Mereka akan dengan senang hati membantu, kok asal kita mau ngasih kesempatan. Dan inilah yang saya terapkan kepada anak-anak. 


Salah satu peralatan yang diperlukan bagi yang suka bereksperimen di dapur untuk membuat kue adalah oven. Dengan oven, akan memudahkan kita membuat berbagai macam kue yang bisa dinikmati sendiri maupun dijual. 


Misalnya, saya sering membuat roti sendiri, entah itu roti tawar atau roti manis isi berbagai macam selai. Bikinnya nggak terlalu sulit, kok. Butuh lebih sabar saja karena mesti proofing hingga beberapa kali untuk menghasilkan roti yang lembut.


Biasanya, anak-anak ikut bantu membentuk adonan roti menjadi bentuk yang mereka inginkan. Saya bebaskan mereka dan dengan senang hati saya berikan sebagian adonan supaya mereka senang bisa dapat bagian ‘membantu’ sambil bersenang-senang. 


Selain roti, saya juga senang membuat bolu pakai oven. Pokoknya, oven ini berguna banget karena banyak sekali jenis kue yang bisa kita buat di rumah. Termasuk juga kue kering yang biasa menghiasi meja tamu saat lebaran dan nggak bisa mudik seperti dua tahun terakhir.


Baking Tanpa Oven, Bisa Nggak, ya?

Resep Membuat Kue Lumpur Tanpa Oven
Ada banyak resep kue tanpa oven yang bisa kita coba (Photo by Kristina Tripcovic on Unsplash)


Akan tetapi, bagi pencinta kue yang tidak mempunyai oven di rumah, tidak perlu khawatir. Masih ada banyak varian kue yang bisa dibuat tanpa menggunakan bantuan oven dan cukup menggunakan rice cooker ataupun kompor yang ada di rumah. Terutama untuk ibu-ibu muda yang baru menikah dan belum jago nge-baking. Nggak perlu khawatir nggak bisa bikin kue, karena memasak atau ngebaking nggak harus pakai peralatan mahal dan merepotkan. Cukup dengan perkakas yang ada di rumah saja dan manfaatkan dengan sebaik-baiknya.


Waktu awal menikah, saya juga nggak jago masak, kok. Malah serba nggak bisa apa-apa karena selain masih muda, saya juga nggak ada pengalaman sering masak sendiri selama masa sekolah. Di pesantren, kami tidak diperkenankan memasak sendiri karena khawatir membuat kami kehabisan waktu dan capek. Sedangkan aktivitas belajar padat banget selain sekolah formal.


Pas udah nikah, kayak nggak tahu apa-apa selain masak nasi pakai rice cooker…kwkwk. Sedangkan sosial media nggak semudah sekarang, apa-apa serba susah. Beli buku resep pun sering nggak jelas isinya. Selalu nggak berhasil pokoknya.


Namun, kita nggak boleh menyerah. Semua akan bisa karena terbiasa. Saya pun percaya meski lebih banyak nggak percayanya, terutama ketika melihat hasil masakan nggak ada yang bener…hihi. Sudah capek-capek bikin sesuai resep, kok hasilnya gini? Hiks. Sering banget ngalamin semua itu.


Seiring berjalannya waktu, akhirnya pinter juga, kok. Masih ingat juga pertama kali bikin roti dan berhasil, terharu banget dan bangga banget, lho. Sebelumnya, entah berapa kali gagal bikin roti. Padahal, ngulennya aja sudah sampai tengah malam, tapi ujung-ujungnya bantetlah atau malah nggak matang dengan sempurna.


Setelah berhasil, akhirnya berani nyoba lebih banyak resep lagi. Karena aktivitas lumayan padat, tapi mesti nyiapin sarapan serta bekal sekolah untuk anak, akhirnya lebih banyak nyoba resep-resep simpel yang nggak membutuhkan oven untuk proses memasaknya. Iya, cukup pakai Teflon, cetakan kue cubit, dll.


Resep Kue Tanpa Oven

Resep Membuat Kue Lumpur Tanpa Oven
Senangnya bisa ajak anak-anak membantu di dapur (Photo by Hannah Tasker on Unsplash)


Salah satu kue yang tidak membutuhkan oven untuk membuatnya adalah kue lumpur yang mempunyai rasa enak dan tampilan sederhana. Siapa yang nggak tahu kue lumpur? Biasanya, kue lumpur jadi kue wajib dalam acara hajatan dalam keluarga besar saya. Selain mudah dibuat, rasanya juga enak. lembut dan gurih.

 

Untuk membuat kue lumpur, kita hanya membutuhkan bahan sederhana, yaitu:

  • Gula pasir 250 gram
  • Telur 2 butir
  • Kuning telur 1 butir
  • Santan 500 ml
  • Tepung terigu serbaguna 250 gram
  • Kentang kukus 500 gram, lumatkan hingga halus
  • Margarin blueband 100 gram, cairkan terlebih dahulu
  • Vanili ½ sendok teh
  • Daun pandan 2 lembar, simpulkan
  • Kismis secukupnya untuk topping

 

Cara membuat kue lumpur tanpa oven:

  • Rebus santan terlebih dahulu. Tambahkan garam dan daun pandan. Aduk hingga mendidih dan angkat. Biarkan hingga dingin.
  • Kocok telur. Tambahkan gula, kemudian masukkan vanili.
  • Tuang santan pada adonan yang dibuat sedikit demi sedikit. Masukkan terigu dan kentang.
  • Aduk rata dan campurkan blueband yang telah dicairkan.
  • Panaskan cetakan dan olesi dengan margarin. Tuang adonan yang telah dibuat secukupnya saja.
  • Masak setengah matang, kemudian berikan topping berupa kismis.
  • Tunggu hingga matang dan kue lumpur siap dinikmati.

 

Resep membuat kue lumpur di atas mudah untuk diikuti karena mempunyai bahan dan peralatan yang sederhana. Untuk mendapatkan bahan tersebut juga sangat mudah, salah satunya bisa didapatkan dari TokoWahab yang merupakan distributor bahan kue online, sehingga menawarkan banyak sekali bahan yang bisa dipilih dan didapatkan. Mulai dari coklat lengkap, keju,  tepung, berbagai bahan topping, mentega dan banyak bahan kue lainnya.


Belanja Online Lebih Aman

Resep Membuat Kue Lumpur Tanpa Oven
Belanja online di masa pandemi lebih banyak diminati (Photo by Lucrezia Carnelos on Unsplash)


Teman-teman pasti setuju, jika belanja online sangat membantu terutama dalam kondisi pandemi seperti sekarang. Saya, selama dua tahun ini, benar-benar nggak pernah pergi ke pasar untuk sekadar belanja kebutuhan sehari-hari. Mending beli online jika berupa bahan-bahan kering seperti bahan-bahan kue, dll.


Buat saya, selain hemat waktu, juga hemat tenaga dan tentu saja jauh lebih aman. Jika teman-teman punya toko bahan-bahan kue, bisa banget belanja grosir di TokoWahab. Selain menjual bahan-bahan kue yang kita butuhkan, TokoWahab juga menjual peralatan kue, lho. Kerennya, bisa kirim ke seluruh wilayah di Indonesia.


Selain kue lumpur, ada banyak resep kue-kue tradisional tanpa oven. Misalnya kue cubit, kue cucur, bolu kukus, dll. Yuk, kita mencoba berbagai resep sederhana di rumah. Lumayan banget buat ngisi waktu kosong dan menghibur diri.


Salam hangat,


Saturday, June 12, 2021

Cerita di Balik Proses Menulis Buku Belajar Jadi Lebih Baik

Cerita di Balik Proses Menulis Buku Belajar Jadi Lebih Baik


Sudah baca buku terbaru saya yang terbit di Genta Hidayah? Judulnya Belajar Jadi Lebih Baik. Buku ini seperti jawaban atas doa-doa saya. Juga atas impian yang malu-malu saya sampaikan. Karena merasa minder dan hampir nggak percaya bisa melakukannya. Sampai detik ini, rasanya kayak mimpi bisa ngerjain ilustrasi sendiri. Pernah ada di posisi seperti saya? :D


Tahun lalu, saya pernah menulis caption di Instagram, berharap tahun 2021 ada buku terbit dan saya ilustrasikan sendiri. Dan buku Belajar Jadi Lebih Baik seolah menjadi jawaban atas keinginan yang malu-malu saya ungkapkan pada tahun sebelumnya.


Gambar-gambar yang saya buat dalam buku ini memang terbilang terlalu cepat pengerjaannya, kayak di-uber-uber waktu cetak. Gambarnya sudah pasti masih jauh sekali dari sempurna. Namun, saya bersyukur bisa menyelesaikan semuanya tepat waktu.


Dalam usia saya yang sudah nggak lagi muda, rupanya saya masih senang mengejar impian. Kadang, suka lupa sama umur kalau sudah ngerjain banyak hal yang saya suka. Apalagi kerjaan saya memang bukan pegawai kantoran. Saya bekerja di rumah, waktunya fleksibel, dikerjakan saat saya longgar dari kewajiban mengurus rumah dan anak-anak, pokoknya senyamannya aja dikerjain. Dan ya, sepertinya inilah hidup yang saya inginkan, masyaallah.


Saya bersyukur sekali karena punya pasangan yang sangat mendukung. Mas tahu saya nggak suka keluar rumah, pekerjaan saya sebagai penulis dan ilustrator sudah yang paling nyaman. Nggak harus interaksi dengan banyak orang secara langsung sebab itu bukan 'saya' banget. Saya pun bersyukur karena Mas ngasih izin dan juga membantu ketika saya membutuhkan.


Usia Bukan Alasan Untuk Berhenti Bermimpi

Cerita di Balik Proses Menulis Buku Belajar Jadi Lebih Baik


Saya menikah di usia 19 tahun. Kemudian ikut suami ke Jakarta dan menetap hingga sekarang. Waktu awal menikah, saya nggak kepikiran mau ngapain aja di rumah. Demi mengusir rasa bosan, saya melakukan banyak hal, misalnya bikin kerajinan dari kertas krep, bikin bunga koran, merajut, menyulam, ya ampun banyak banget hal yang saya kerjakan selain menulis waktu itu :D


Sambil nunggu Mas pulang kerja, saya ngerjain semua itu bergantian. Sesukanya aja. Sampai rumah penuh dengan bunga-bunga kertas buatan saya…kwkwk. Belum kebayang bakalan nulis lagi dan nggak tahu juga mau di kemanain tulisannya. Nggak kenal penerbit, nggak tahu apa-apa pokoknya. Intinya, tahun-tahun awal menikah, saya nggak kepikiran bakalan nulis cerita lagi seperti saat di pesantren.


Waktu berlalu begitu lambat. Iya, kalau sekarang ngebayangin kayaknya lambat karena itu bukan tahun-tahun yang mudah terutama untuk ibu muda seperti saya. Setelah anak-anak cukup besar, saya mulai menulis lagi dan mulai belajar lagi hingga sekarang.


Pencarian atas sesuatu yang saya inginkan rupanya nggak semudah yang orang bayangkan. Saya sempat rehat sekian tahun dan berhenti menulis, saya pernah gagal menerbitkan buku meski telah menunggu hingga sekian tahun. Banyak hal telah saya lalui dan saya beryukur bisa tetap menulis hingga sekarang. Rasanya, bahagia.


Ternyata, makin bertambah usia, makin senang saya mengejar impian yang telah lama terlupakan. Salah satunya menjadi penulis. Perjalanan menjadi penulis buku nggak serta merta terjadi begitu saja. Saya pernah fokus menulis artikel selama beberapa bulan, saya pernah hanya fokus ngeblog sampai puas, saya pernah hanya fokus menulis buku dan mengabaikan blog, hingga akhirnya saya tahu, saya senang melakukan semuanya. Nah, lho. Repot, kan kalau semua dikerjain? Kwkwk.


Akhirnya, harus pandai-pandai bagi waktu. Nggak semua bisa kita kerjakan sesuka hati karena waktu kita amat terbatas. Terutama karena saya sudah menjadi seornag ibu dan punya dua anak laki-laki yang sedang tumbuh. Di rumah nggak ada yang bantuin, kalau nulis mulu, bisa-bisa rumah berantakan dan anak-anak nggak makan…kwkwk. 


Solusinya gimana? Kalau saya sedang sibuk mengurus blog, saya nggak akan memaksa diri menyelesaikan naskah dalam waktu yang sama. Ketika saya sibuk menulis artikel, saya nggak mungkin ngeblog sering-sering. Dan itulah yang saya kerjakan sampai sekarang. 


Lakukan sesuai porsi kemampuan kita. Setiap orang punya kemampuan berbeda, jadi jangan melihat orang lain, lihatlah diri kita sendiri, mampu nggak ngerjain semuanya? Kira-kira ada kewajiban yang diabaikan nggak kalau maksa ambil semua pekerjaan?


Impian memang menjadi salah satu alasan bagi kita untuk tetap bersemangat menjalani hidup. Namun, kita tidak boleh egois juga dengan kehidupan nyata. Apa gunanya kita berhasil, tapi di sisi lain ada bagian yang ‘gagal’? 


Pintar-pintar saja membagi waktu, jadi ibu-ibu bukan alasan untuk berhenti bermimpi *eaa. 


Menulis Buku Sekaligus Bikin Ilustrasi

Cerita di Balik Proses Menulis Buku Belajar Jadi Lebih Baik


Buku terbaru saya ini disertai ilustrasi pada setiap babnya. Jadi, teman-teman bakalan menemukan banyak ilustrasi khas saya. Iya, saya tahu belum bagus, tapi saya sudah berani menyelesaikan semua, lho. Saya juga telah memulainya, gimana dengan kamu? :D


Saya itu sangat percaya, semua hal bisa dikerjakan bukan hanya tergantung pada bakat seseorang, melainkan juga dari usaha dan latihan yang gigih. Dan semua dimulai dari bawah alias nol.


Penulis hebat, nggak mungkin tiba-tiba jadi hebat. Dia mulai belajar dari nol, dia membuang rasa takut serta ragu, belajar setiap hari tanpa kenal lelah, hingga akhirnya kita bisa lihat penulis-penulis hebat seperti Tere Liye atau Asma Nadia. 


Buat saya, segala sesuatu itu nggak harus sempurna. Ketika saya membuat buku ini, saya tahu gambar saya nggak sebaik milik orang lain, bahkan saya baru belajar banget. Tapi, kesempatan saya datang di saat itu, kalau saya menyerah, sudah pasti saya akan gagal dan siapa yang menjamin saya bakalan bisa dapat kesempatan yang sama di lain waktu?


Saya abaikan perasaan insecure dan meletakkan pada tempatnya. Karena yang saya butuhkan saat itu bukan rasa minder, melainkan keberanian dan komitmen untuk menyelesaikan semuanya tepat waktu. Soal bagus atau nggak, itu urusan belakangan. Karena mau bagus itu butuh proses dan jangan harap bisa sebentar. Dan saya menikmati prosesnya. Dijalanin aja apa susahnya, sih?


Tentang Buku Belajar Jadi Lebih Baik

Cerita di Balik Proses Menulis Buku Belajar Jadi Lebih Baik


Apa istimewanya buku ini? Selain berisi motivasi terutama bagi para remaja milenial, buku ini juga dilengkapi dengan quote serta ilustrasi pada setiap babnya. Buku ini ditulis dengan sangat ringkas, mudah dibawa karena ukurannya yang mungil, dan begitu spesial buat saya karena untuk pertama kalinya saya bisa membuat ilustrasi untuk buku saya sendiri. Eits, masih ada lagi, kita juga bisa share ilustrasi serta quote dalam buku ini lewat aplikasi yang telah disediakan. 


Gimana ceritanya bisa terbit? Ada banyak calon penulis yang pengin tahu dan tentunya pengin juga menerbitkan buku di penerbit mayor. Saya mau ceritakan sedikit prosesnya. 


  • Pertama, kita harus menyelesaikan satu naskah hingga rampung. Jangan lupa lakukan editing sebelum mengirimkannya pada penerbit. Kebanyakan, penulis baru masih acak-acakan tulisannya. Jujur, ini bikin mumet juga. Jadi, banyak belajar editing naskah sendiri supaya lebih rapi ketika diajukan pada penerbit.
  • Kedua, lengkapi naskah kamu dengan outline-nya juga. Dalam outline disertakan target pembaca, alternatif judul, dll. Outline biasanya kita buat sebelum mengerjakan naskah. Nanti, kirimkan juga outline ini saat melakukan pengajuan naskah, ya.
  • Ketiga, ajukan pada penerbit yang kamu inginkan. Kalau kamu pengin bikin buku disertai ilustrasi, kirimkan sampel gambarmu dan jelaskan konsep buku yang kamu inginkan. Supaya penerbit ada bayangan. Nggak usah takut apalagi malu, toh kita nggak kenal sama editonya, kok. Kecuali kalau kita mesti bertatap muka. Mungkin bisa pingsan duluan saking takutnya…kwkwk. Santai dan berdoalah :)
  • Keempat, sabar menunggu jawaban yang memang tidak sebentar. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, tanyakan kembali bagaimana hasilnya. Rata-rata penerbit butuh waktu sekitar 3 bulan untuk me-review naskahmu.


Lama, ya prosesnya? Nggak ada keberhasilan yang dicapai dalam waktu sekejap. Semua butuh proses yang nggak sebentar dan butuh kesabaran yang sangat besar. Kalau memang ingin, saya yakin kamu akan menunggu dengan sabar sambil menulis lagi dan terus belajar. Kalau memang cinta menulis, nggak akan kebanyakan alasan. Yuk, tetap semangat mengejar impian!


Salam hangat,