Sunday, September 26, 2021

Kesehatan Mental Ibu Rumah Tangga

Kesehatan mental ibu rumah tangga


Pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga itu sering dianggap sepele alias dianggap 'nggak kerja'. Padahal, pekerjaan IRT itu banyak banget dan kayak nggak ada habisnya. Benar-benar sangat melelahkan. Sebagai IRT, saya merasakan betuk capek lelahnya ngerjain pekerjaan rumah sendirian. Memang, untuk saat ini saya memilih mengerjakan semuanya sendiri karena merasa lebih nyaman seperti itu, tapi bukan berarti saya nggak punya rasa capek. Kalau sudah di puncak, bisa uring-uringan juga :D


Pekerjaan rumah tangga itu sepele, sih memang. Hanya nyuci, masak, setrika, nyapu, nyepel, beres-beres, ngurusin anak-anak, eh nggak tahunya banyak juga, ya selain itu…kwkwk. Apalagi kalau kita nggak sekadar ngerjain pekerjaan rumah alias punya pekerjaan sampingan. Seperti yang saya kerjakan saat ini, menulis, menggambar, dll. Itu artinya saya punya lebih banyak pekerjaan untuk dikerjakan dalam sehari-hari. 


Kenapa masih ngerjain yang lain kalau ngerasa sudah capek? Karena saya senang punya kegiatan lain, me time dengan ngerjain hobi, atau mendapatkan penghasilan dari hobi yang saya punya. Semua itu membuat saya merasa lebih berharga dan nggak selalu tergantung sama orang lain, terutama pasangan. 


Bayangkan, saya lahir bukan dari keluarga berada. Serba kekurangan dari kecil dan nggak pernah kuliah. Kemudian, dari hobi, saya bisa menghasilkan, membahagiakan diri sendiri, dan juga orang terdekat, kenapa nggak dikerjain? Jelas ini adalah hal ajaib yang sering saya syukuri. Namun terkadang, semua itu membuat saya kelelahan dan akhirnya nggak bisa memaksakan diri untuk mengerjakan semuanya. Sudahlah, mengalah dulu dan istirahat :)


Butuh Support Pasangan

Senangnya kalau punya pasangan yang mengerti dan memahami kesulitan kita. Pagi-pagi, tanpa diminta, dia sudah mau berbagi tugas dengan menyelesaikan pekerjaan sederhana di rumah seperti menyapu atau menyiram tanaman. Meskipun itu sepele dan bisa dikerjakan istrinya kapan saja, tapi tetap saja terasa sangat membantu.


Meskipun istri jarang mengeluhkan beratnya pekerjaan rumah tangga yang tanpa jeda, bukan berarti perempuan selalu kuat-kuat saja mengerjakan semua sendirian. Ada saatnya benar-benar nggak sanggup dan pengin dibantuin. Di sinilah pengertian suami dibutuhkan.


Sayangnya, nggak semua pasangan paham dengan masalah ini. Lebih sulitnya lagi, kebanyakan perempuan juga malas selalu minta tolong karena merasa sudah pernah mengatakan hal yang sama atau sudah ngasih kode, tapi kodenya nggak nyampe…kwkwk. Ujungnya jadi salah paham, ya?


Baik suami ataupun istri, sama-sama butuh support. Mungkin Ibu Rumah Tangga lebih rentan stres karena selalu di rumah dan jarang bertemu dengan orang lain selain anak-anaknya. Mungkin istri lebih banyak pengin curhat sama pasangannya karena seharian sudah menahan lelah, tapi nggak tahu mau cerita sama siapa. Saat pasangannya ada, dia pasti pengin banget didengarkan dan dimengerti. Supaya bebannya berkurang dan lelahnya hilang. Sederhana, kan?


Saat IRT Punya Masalah, Anak-Anak Menjadi Sasaran Kemarahan

Sering dengar berita tentang kekerasan orang tua terutama ibu kepada anaknya karena punya masalah ekonomi atau punya masalah dengan suaminya? Kadang, hampir nggak percaya, kok bisa, sih tega kayak gitu? Namun, masuk akal ketika kita mengalaminya sendiri. Ternyata, jadi ibu itu butuh bahagia seutuhnya. Bahagia yang nggak setengah-setengah apalagi sambil menahan beban pikiran.


Kalau sudah stres, anak-anak sering jadi sasaran kemarahan kita. Ujung-ujungnya mereka yang nggak bersalah menjadi korban. Itulah kenapa, banyak ibu mulai menyadari pentingnya memabahagiakan diri sendiri. Karena jika kita nggak bahagia, kita pun sulit membahagiakan orang lain walaupun itu anak-anak kita sendiri.


Seorang konseling kesehatan mental klinis di Atlanta mengatakan bahwa perasaan terisolasi, terlalu banyak di rumah hingga kurangnya interaksi sosial membuat Ibu Rumah Tangga sering mengalami depresi.


Pekerjaan rumah tangga bukanlah pekerjaan mudah. Mendampingi anak-anak, mengurus segala kebutuhan anggota keluarga, dan yang lainnya membuat kita sering mengabaikan kebutuhan sendiri. Apalagi jika kita masih punya pekerjaan lain, waktu istirahat pun akhirnya berkurang dan itu membuat lelah kita semakin bertambah.


Jika sudah terlalu capek, kita sering melampiaskan emosi kepada anak-anak yang nggak tahu apa-apa. Tentu saja ini nggak baik buat kesehatan mental mereka. Kita pun tidak boleh terus menerus melakukannya. Ambil jeda dan bicarakan dengan pasangan kita.


Jangan ragu membicarakan tugas rumah tangga bersama pasangan. Berbagi tugas dengan suami bukanlah hal yang salah, kok. Nggak menunjukkan kita manja juga. Tugas rumah tangga bukan hanya kewajiban seorang istri, tapi tugas semua anggota keluarga. Misalnya, anak-anak bisa membereskan kamar mereka sendiri, juga peralatan sekolah, pakaian, dan juga selalu membereskan mainana setelah bermain.


Sedangkan suami bisa mengambil perannya sendiri. Nggak perlu dia repot-repot masak, cukup bantu pekerjaan sederhana seperti menyapu, menyiapkan meja makan mungkin, dan pekerjaan mudah lainnya. Seperti Rasulullah SAW, nggak malu dan nggak segan mengerjakan pekerjaan rumah, bahkan menjahit pakaiannya yang sobek. 


Jangan Segan Meminta Bantuan

Jika kita tidak punya ART, jangan segan meminta tolong kepada pasangan kita. Nggak masalah meminta suami membantu karena urusan rumah tangga bukanlah urusan kita sendiri. Kita punya pasangan bukan hanya sebagai status apalagi pajangan. Ingat, ya, pasangan itu bukan pajangan. Jadi, belajarlah menjadi pasangan yang baik. Karena tanpa support dari pasangan, kita nggak akan mampu melakukan semuanya sendiri atau mengerjakan semuanya dengan mental yang sehat. Sedangkan kita butuh ‘bahagia’ bukan sebaliknya saat menjadi IRT.


Memang, kendala yang sering dihadapi adalah kesulitan komunikasi alias pasangan seringnya nggak peka meskipun kita sudah minta tolong. Tinggal diulang saja, jika belum dikerjakan, bisa lebih keras lagi mungkin minta tolongnya, atau sambil teriak pun boleh kali, ya? Kwkwk.


Kebanyakan dari kita, setelah sekali meminta tolong, akhirnya menyerah dan memilih mengerjakan semuanya sendiri. Rasanya capek bolak balik minta tolong, tapi nggak didengarkan. Iya, nggak, sih? Namun, kitanya tertekan nggak, tuh? Kalau iya, mending dibicarakan lagi daripada jadi stres dan akhirnya membuat anak jadi sasaran emosi saking lelahnya kita ngerjain semuanya sendiri.


Hei, teman-teman yang merasa capek dengan pekerjaan rumah tangga yang nggak pernah ada habisnya, semoga lelah kita menjadi pemberat di akhirat nanti. Semoga kita bisa belajar lebih ikhlas, lebih rida dengan semuanya. Dan semoga, pasangan kita mengerti dan memahami lelahnya kita sehingga kita nggak pernah merasa sendirian melewati semuanya :)


Salam hangat.


Saturday, September 18, 2021

Hari Pertama Si Bungsu Masuk Sekolah ‘Asli’

Hari Pertama Si Bungsu Masuk Sekolah ‘Asli’
PTM terbatas dimulai


Asli? Pasti banyak yang bertanya-tanya, memangnya selama ini sekolahnya palsu? Hihi. Sekolah asli yang dimaksud oleh si bungsu adalah sekolah tatap muka, bukan online pakai Zoom atau video call. Jujur, awal dengar istilah ini langsung dari si adek, antara kaget dan pengin ngakak juga. Kok, bisa anak seumur dia ngomong begitu tanpa diajarin…kwkwk. 


Anak-anak saya termasuk yang gampangan banget masuk sekolahnya. Kalau ingat sejarah sekolahnya si kakak, nggak ada rewel-rewelnya memang. Masyaallah. Bikin bersyukur banget karena waktu itu saya baru melahirkan adiknya dan nggak mungkin sering-sering nemenin ke sekolah. Jadi, hari pertama masuk sekolah sudah diserahkan sama ojek :(


Sedangkan saya dari kecil rewel banget kalau mau sekolah, kalau nggak ditemanin duduk sebangku ya nggak akan mau sekolah. Nggak pernah kebayang kalau anak-anak saya mau sekolah tanpa beban. Kirain drama juga kayak emaknya…hihi.


Waktu kakaknya mau sekolah, setiap hari disugesti biar berani dan mau sendiri ke sekolahnya. Namun, buat si adek, masuk sekolahnya saja tanpa direncanakan. Selama ini dia masih masuk online karena nggak ada yang mengantar ke sekolah. Ternyata, setiap hari gurunya selalu menanyakan kapan mau ke sekolah? Proses belajar yang nggak bisa blendend learning seperti kakaknya bikin sekolahnya nggak nyaman. Video call setelah semua kelas berakhir, beberapa kali juga mesti masuk malam. Kasihan sama si adek, sekaligus juga bingung kalau masuk tatap muka bakalan diantar siapa? Dan sejujurnya, memang masih parno sama covid-19.


Cuek Bebek Saat Pertama Masuk Sekolah

Hari Pertama Si Bungsu Masuk Sekolah ‘Asli’


Akhirnya masuk sekolah meski waktunya terbatas. Sebisa ayahnya saja untuk antar jemput. Nggak masalah hanya sebentar yang penting tetap masuk, terutama buat sosialisasi sama teman-temannya. Begitu kata gurunya. Akhirnya, dia masuk sekolah juga. Bismillah.


Hari pertama masuk sekolah, dia happy bukan main. Tertawa dan riang sepanjang hari…kwkwk. Pas tiba di depan sekolah, langsung turun dan cuek banget sama emak bapaknya. Nggak ada adegan sedih-sedihan ditinggal di sekolah meski hari pertama. Nggak ada pengin dipeluk dan cium dulu…kwkwk. Pandangan lurus ke depan. Pokoknya kelihatan banget memang mau sekolah asli! :D


Sebenarnya, kondisi seperti ini pasti diharapkan oleh semua orang tua. Mana ada yang pengin anaknya berangkat sekolah sambil nangis atau minta ditemani sepanjang hari. Namun, saat itu benar-benar terjadi dalam hidup kita, kok, rasanya nggak siap, ya? Kwkwk. Kenapa ini anak nggak ada berat-beratnya pisah sama emak bapaknya, sih? Padahal, hari-hari sebelumnya memang dimotivasi supaya bisa sekolah sendiri. Giliran terjadi, rasanya kok, begini? Haha.


Hari berikutnya, semua tetap sama. Dia pulang dengan wajah happy. Semoga hari-hari selanjutnya semua tetap baik-baik saja terutama buat sekolah yang sudah mulai tatap muka.


Persiapan Belajar Tatap Muka

Hari Pertama Si Bungsu Masuk Sekolah ‘Asli’


Sebelum si bungsu masuk sekolah, kebetulan di milis sehat ada yang buka obrolan tentang PTM. Dokter Wati sendiri waktu itu yang menanyakan pengalaman orang tua mengenai PTM ini. Saya baca-baca beberapa sharing dari orang tua yang anaknya mulai masuk sekolah tatap muka. Sebagian besar memang masih belum mengizinkan jika masih memungkinkan belajar dari rumah.


Nah, persiapannya kira-kira apa saja sebelum mulai PTM, baik bagi orang tua ataupun pihak sekolah? Saya rangkum menjadi satu dalam postingan kali ini, ya.


  • Hanya anak yang benar-benar sehatlah yang diizinkan masuk sekolah. Kalau merasa sumeng, meler, apalagi batuk, sebaiknya jangan memaksakan diri untuk masuk sekolah demi menjaga diri sendiri dan juga orang lain. Jangan sampai ada orang tua yang nggak tega melarang anaknya masuk hanya karena anaknya kagi happy bisa ketemu teman dan gurunya. Karena, pernah ada pengalaman serupa juga dulu di mana orang tua nggak tega anaknya di rumah terus waktu itu. Padahal, anaknya memang habis kena cacar air. Dari pihak sekolah pun sudah diberikan aturan kapan bolehnya anak masuk jika terinfeksi virus ini.
  • Disiplin menerapkan protokol kesehatan dengan rajin mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak. Kesulitannya memang karena sebagian nggak terbiasa memakai masker. Masih ada aja anak yang iseng melorotin maskernya. Nah, pas ada yang sharing di milis Sehat soal ini, sekolah biasanya ngasih sangsi bagi yang melanggar dengan tidak diizinkannya ikut tatap muka lagi. Begitu katanya.
  • Sudah makan dari rumah, membawa bekal dan minum sendiri. Untuk makan di sekolah ini agak riskan dan bikin was-was memang. Namun, anak yang masuk sekolah dengan waktu yang cukup lama tentu kasihan juga kalau nggak bisa makan. Solusinya, mungkin pas sama-sama makan dan buka masker, ventilasinya dibuka dan mematikan AC. Bisa juga ditambah memakai face shield.
  • Bukan hanya murid, guru-guru pun tetap disiplin menggunakan masker walaupun sedang berkumpul dengan teman sesama guru. Pernah baca kasus di luar negeri tentang adanya penularan Covid-19 akibat kelalaian guru yang lengah membuka masker. Memang, masker ini adalah hal yang penting saat ini. Lucunya, pernah waktu ke sekolah sebelum PTM, saya dan suami bertemu guru dan ngobrol sebentar dengan beliau dalam keadaan beliau nggak pakai masker. Mungkin beliau nggak sadar kalau nggak pakai masker, ya? :D
  • Tidak boleh meminjam alat tulis temannya. Wajib bawa alat tulis sendiri dari rumah. 
  • Ventilasi udara di kelas harus bagus. Jika kelas pakai AC, setelah beberapa lama, jendela dan pintunya dibuka untuk memperbaiki sirkulasi udara. Ini adalah solusi yang diberikan dari sekolah anak saya kemarin.
  • Penyemprotan disinfektan dilakukan teratur. Kalau di sekolah si kakak, penyemprotan dilakukan setelah kelas usai. Sedangkan di sekolah lain seperti yang saya baca di milis Sehat, penyemprotan juga dilakukan setiap ganti mata pelajaran. Jadi, tiap ganti guru akan disemprot. 
  • Handsanitizer tersedia di setiap pintu kelas. Kalau di sekolah di kakak, masih pakai botol manual. Sekolah lain sudah ada juga yang memakai model otomatis sehingga jauh lebih aman. Namun, harganya juga lumayan pastinya.
  • Masuk seminggu sekali. Jika kondisi membaik, akan diperpanjang waktunya. Semoga seterusnya bisa membaik, ya. Adaptasi dari pandemi ke endemi ini lumayan berat ternyata. Apalagi kalau masih ada hawa-hawa parno-an seperti saya. 
  • Siswa dan siswi diantar jemput oleh orang serumah atau orang yang sudah sangat kita percaya. Kita nggak serumah, tapi tahu dia taat prokes, ya nggak masalah diminta antar jemput. Kira-kira seperti itu. Kebetulan, yang rutin antar jemput anak-anak memang belum taat prokes. Saya melihat sendiri beliaunya seperti apa. Sehingga masih ragu dan akhirnya memutuskan si kakak belajar online dulu.
  • Sistem belajar blended learning sehingga tidak ada perbedaan waktu antara siswa yang belajar di rumah dengan yang di sekolah. Nah, hal ini nggak bisa diterapkan untuk anak saya yang masih TK. Akhirnya, dia harus masuk juga.


Hmm, kira-kira apalagi yang belum diulas, ya? Teman-teman, adakah aturan lain yang mungkin terlewat saya ulas karena poinnya lumayan banyak? Semoga nggak ada yang terlewat dan kita semua selalu sehat, ya. Keadaan Indonesia sudah membaik, semoga terus seperti ini. Aamiin.


Salam hangat.


Wednesday, September 1, 2021

Sudah Siapkah Kita Melakukan Pembelajaran Tatap Muka?

Sudah Siapkah Kita Melakukan Pembelajaran Tatap Muka?
PTM terbatas sudah dimulai


Rencana PTM atau Pembelajaran Tatap Muka terbatas di Jakarta sudah bukan sekadar wacana lagi. Bulan ini, beberapa sekolah mulai melakukannya. Jujur, senang, tapi sekaligus ragu juga. Apakah kita sudah siap melakukan PTM dalam waktu dekat?


Di sekolah si sulung, PTM belum dimulai. Minggu depan rencananya baru akan direalisasikan. Saya mungkin termasuk orang tua yang belum mau mengizinkan anak-anak melakukan PTM terutama dalam waktu dekat. Lho, kenapa? Emang anaknya nggak jenuh sekolah online terus? Jenuh, tapi PTM bukan pilihan terbaik buat saya untuk saat ini.


Alasannya banyak. Karena yang antar jemput belum ada. Kalau dulu, anak saya diantar jemput oleh ojek langganan. Sekarang, saya belum siap melepas anak-anak bersama ojek tersebut karena beliau belum melakukan prokes dengan baik. Dari sekolah pun biasanya diwajibkan diantar jemput oleh orang serumah yang artinya hanya ada suami saya. Maafkan, ya, Mas. Istrimu belum bisa naik motor :(


Kedua, apakah semua pihak sudah siap melakukan prokes ketat? Baik dari pihak sekolah ataupun anak-anak?


Selain tenaga pendidik dan petugas mesti divaksin penuh (melihat aturan yang diberikan bagi sekolah di DKI), anak-anak pun mestinya sudah siap selalu memakai masker dan nggak ada ceritanya ‘melorotin’ masker terutama ketika bersama teman-temannya. Begitu juga dengan gurunya. Semua pihak mesti jujur dan bertanggung jawab. Dari sini saya belum yakin semua sudah sepenuhnya siap.


Minggu lalu, anak-anak kelas lima sebagian masuk ke sekolah untuk try out. Dari sini saya melihat, dari foto-foto bersama di kelas, ada anak yang belum disiplin memakai masker. Begitu juga waktu ke TK si bungsu. Ada kelas yang nggak jaga jarak. Padahal, terutama untuk usia dini yang belum bisa vaksin, memakai masker dan jaga jarak adalah hal yang sangat penting.


Pandemi Belum Usai, Tapi Sekolah Harus Segera Dimulai

Saya paham, tidak semua anak bisa sekolah online dengan nyaman. Ya, hampir semua akan mengatakan ‘yes’. Namun, dalam kondisi tertentu, bagi saya, masuk sekolah untuk saat ini bukan jawabannya. Anak-anak saya masih bisa diarahkan saat sekolah online, mereka pun menikmati meskipun pasti nggak semenyenangkan saat ada di sekolah dan bertemu langsung dengan teman-temannya.


Bagi sebagian yang lain, sulit banget mengarahkan anak-anaknya buat belajar online. Jadi, bagi yang sudah siap, ini solusinya. Sekolah online buat usia dini kayak nggak ngaruh. Seperti nggak sekolah. Selain waktunya sangat terbatas, prosesnya agak riweh karena berisik dan sebagainya. Berbeda dengan anak yang sudah lebih besar.


Makanya saya nggak heran, kenapa TK si bungsu sudah memaksa masuk sebelum wacana PTM dimulai saat ini. Sejauh ini, semua berjalan aman. Jika ada yang sakit, mesti jujur dan tidak memaksa masuk. Meskipun itu hanya sekadar flu sedikit atau apa pun. Tetaplah di rumah. Itulah salah satu aturannya.


Saya pribadi masih ingin melihat kondisi ke depannya. Jika memang terus membaik sesuai harapan kita, kenapa nggak? Masuk sekolah adalah hak anak-anak. Mereka butuh bersosialisasi dengan guru dan teman-temannya. Meski hanya sebentar, itu sangat berpengaruh buat mereka. Parno’an emaknya dihilangkan dulu kalau memang nggak ada masalah di sekolah.


Mungkin, kita nggak akan benar-benar bisa hidup normal seperti dulu, tapi kita bisa beraktivitas seperti biasa dengan tetap memakai masker dan jaga jarak. Adaptasinya berat juga. Semoga kita bisaaa.


Enjoy Saat Sekolah Online, Kenapa Tidak?

Waktu awal-awal sekolah online, stres parah, sih. Karena anak-anak waktu itu belum siap dan gurunya pun belum seluwes saat ini. Semua sedang beradaptasi. Termasuk orang tuanya anak-anak.


Yang saya ingat dari awal-awal sekolah online, isinya tugas aja. Sedangkan anak-anak kurang paham sama pelajaran. Ya, Allah. Ini drama banget suka bikin anak nangis…kwkwk. Begitu juga teman-temannya yang lain. Ceritanya hampir sama :D


Dari sini, bisa kebayang, orang tua yang ngomel karena gurunya nagihin tugas, sedangkan anak-anaknya lelah dan jenuh plus nggak paham. Pokoknya dramatis sekali. Tapi, tahun ini, semua berbeda. Terima kasih sekali kepada wali kelas si sulung yang kreatif banget. Anak-anak sekarang harus melek semua, nggak ada yang bisa ngelamun karena bu guru bakalan nunjuk muridnya satu per satu. Kalau anak-anak jenuh, suka ngadain tebak-tebakan dan sejenisnya. Bikin mereka happy walaupun hanya bisa sekolah online.


Berasa banget, saat ini sekolahnya si sulung benar-benar bekerja keras buat beradaptasi di masa pandemi. Ekskul mulai masuk lagi. Sekolah pulangnya lebih siang. Setiap pelajaran ada penjelasan lewat zoom. Mungkin yang bikin khawatir, mata lelahnya aja karena hampir seharian menghadap layar.


Saya nggak tahu gimana ceritanya ada anak yang nggak semangat sekolah, selalu diam saat ditanya gurunya, atau enggan mengerjakan tugas. Karena setiap anak terlahir berbeda dan unik. Bisa banget memang kondisi itu terjadi. Mungkin jadi nggak mood sekolah karena jenuh sekolahnya online mulu, bisa juga malah main gadget. Namun, untuk anak-anak saya, semua itu memang nggak terjadi di saat ini. Iyap, kalau kemarin-kemarin ya kayak kurang motivasi buat sekolah sama nangis aja bawaannya :D


Yang pasti, saya nggak bisa maksa anak-anak buat belajar terus menerus. Kalau anak-anak udah kelihatan capek, jenuh, mau nangis, stop dulu, deh belajarnya. Nanti bisa dilanjutkan. Ini berlaku buat si bungsu dan sulung. 


Saya lihat, makin ke sini, si sulung makin semangat sekolah dan belajar. Kadang, buat pelaran besoknya, dia sudah pelajari malam harinya. Ini nggak pernah terjadi sebelumnya. Iya, nggak pernah…kwkwk. Dan semua terjadi tanpa saya minta. Masyaallah tabarakallah.


Sedangkan si bungsu, dia ini sangat berbeda. Beda banget pokoknya. Hatinya lebih sensitiF, yang artinya nggak bisa diomelin dikit bisa mewek. Misalnya dia kesulitan, dia kayak insecure walaupun dia nggak tahu apa itu insecure…kwkwk. 


Misalnya saat belajar mengaji, setaip ganti halaman dan masuk materi baru, dia pasti tiba-tiba down karena ngerasa kesulitan. Kalau mood dia baik, dia hanya bilang, ngajinya sampai sini aja. Maksudnya hanya beberapa baris dan nggak mau sampai selesai. Saya selalu turutin itu. Besoknya, jika dia merasa lebih percaya diri dan bisa, dia minta sampai selesai.


Pastinya setiap anak itu berbeda cara mengatasinya. Pun beda banget ceritanya. Nggak bisa disamaratakan, bahkan yang sekandung saja beda banget. Buat saya, sejauh ini, saya merasa sudah bersyukur banget dengan mereka. Enjoy saat sekolah online, walaupun sekolahnya sendirian seperti si bungsu…kwkwk. Namun, dia bisa mengikuti pelajarannya dengan baik. 


Sampai kapankah kita hidup seperti ini? Entahlah. Hanya Allah yang tahu. Tapi, setiap pandemi pasti ada ujungnya. Kita sama-sama berharap, ujung dari pandemi nggak akan jauh-jauh dari tahun ini. Supaya semua lekas kembali normal. Terutama untuk anak-anak yang sedang sekolah.


Salam,


Sunday, August 22, 2021

Ketika Kita Memutuskan Memilih Sekolah Online

Ketika Kita Memutuskan Memilih Sekolah Online
Dilemanya sekolah online


Mestinya, bulan ini, sekolah masih full online terutama di Jakarta. Namun, berbeda dengan sekolah si bungsu yang memutuskan tatap muka terbatas mulai minggu lalu. Ini sekolah pertama bagi anak saya setelah tahun lalu batal masuk TK A. Saya tahu, dia sangat antusias untuk sekolah. Ingin bermain di sekolah dan bertemu langsung dengan guru-gurunya. Namun, sebagai orang tua, saya belum siap melepaskan dia ke sekolah walaupun katanya semua sesuai dengan prokes.


Kenapa? Karena anak SD saja masih sekolah online, kenapa TK malah masuk? Rasanya agak aneh mengingat mestinya yang masuk sekolah bertahap mulai dari SMA, SMP, SD, dan seterusnya. Kasus positif baru turun setelah naik sangat tinggi pada bulan Juli lalu terutama di Jakarta. Deg-degannya belum selesai. Khawatirnya belum hilang. 


Selain itu, anak-anak mesti diantar oleh orang serumah. Di rumah, hanya suami yang bisa mengantarkan anak-anak ke sekolah di pagi hari sebelum dia pergi ke kantor. Itu pun kalau nggak kerja ke luar kota, ya. Pulangnya nggak mungkin dijemput karena suami saya nggak bisa WFH.


Saya juga masih kenyang banget, selama sekolah terutama saat TK hingga SD, dua anak saya bolak balik saja ping pong sakit. Mulainya dari common cold, tapi keduanya punya riwayat penyakit yang nggak sederhana. Misalnya si kakak, dari batuk pilek aja bisa kejang demam jika sakitnya disertai demam. Ini terjadi sampai dia berusia enam tahun. Sedangkan si kecil, tiap common cold, disertai juga OMA (Otitis Media Akut). Bayangin aja, sudah demam tinggi, pernah kejang demam juga, masih OMA yang menurut dokter dulu nggak bisa sembuh. Qadarallah, Allah angkat penyakitnya.


Dan sekarang, kita berhadapan dengan Covid-19. Andai nggak berbahaya buat anak-anak saya yang nggak punya penyakit berat, tapi ini riskan sekali buat saya dan suami. Kita juga nggak benar-benar tahu bagaimana anak-anak lain dan lingkungan mereka. Daripada saya kepikiran dan panik nggak jelas, mending si bungsu tetap sekolah online. Kemarin dia sempat curhat, maunya sekolah asli, gurunya yang asli. Kalau nunggu corona, keburu jadi tulang. Anak enam tahun bilang begitu,antara sedih dan gemaaas dengarnya...kwkwk.


Negatifnya Sekolah Online

Ketika Kita Memutuskan Memilih Sekolah Online


Suatu hari, seorang teman bercerita tentang anaknya yang mendapatkan pesan dengan kata-kata kasar dari temannya lewat handphone. Negatifnya sekolah online kayak gitu, menurut dia. Buat saya, antara setuju dan nggak juga. Karena semua hal memang punya risiko, ada baik dan buruknya. Ada nilai lebih dan kurangnya. Untuk saat ini, sehat adalah yang paling utama. Makanya saya nggak buru-buru pengin anak sekolah offline.


Mari kita lihat cerita lainnya, dari seorang teman yang sering mengeluh tentang anaknya. Dia sudah dibelikan handphone saat masih SD kelas 4. Alasannya supaya tidak nelangsa ketika bermain dengan temannya. Juga karena sekolah online. Jadi, ketika dia bermain dengan teman-temannya di luar rumah, sudah bisa dipastikan dia akan membawa handphone dan bermain game.


Masalahnya di mana? Anak ini ternyata jadi kecanduan gadget pakai banget. Dia jadi malas belajar, dia nggak mau dibatasi saat bermain game, kalau ibunya menyembunyikan gadget itu, dia akan balas mengambil handphone ibunya. Sungguh sangat dramatis, ya? Hihi.


Bagaimana cara orang tua membatasi anaknya saat bermain gadget? Setiap orang tua pasti punya cara masing-masing. Namun, saya mesti bilang, sebelum memberikan gadget kepada anak-anak, edukasi dulu baik dan buruknya pakai gadget terutama untuk bermain game dalam waktu yang lama. Juga dengan bahaya pornografi yang mengintai di zaman sekarang. 


Kebanyakan dari kita justru sebaliknya, ngasih gadget dulu, kalau ketahuan ada masalah, baru dimarahin, dll. Akhirnya orang tua sendiri yang stres.


Meskipun saat ini anak-anak sekolah online, saya tidak setuju ketika anak-anak diberikan handphone sendiri. Saya tidak melakukan itu. Bukan berarti cara saya adalah yang paling benar. Ini adalah yang saya lakukan dan terapkan kepada anak-anak. Walaupun handphone di rumah ada lebih dari satu, tapi anak-anak tetap meminjam salah satunya untuk kebutuhan belajar di sekolah atau meminta izin terlebih dulu jika mau bermain gadget. 


Di rumah, anak-anak nggak dikasih game. Bukan karena mereka nggak tahu apa itu game, bukan karena mereka polos banget dan nggak tahu apa-apa…kwkwk. Sekali waktu kadang mereka main di rumah saudara dan ikutan main game atau sekadar melihat, kadang main di Google ketika internetnya mati *pernah, nggak, sih? kadang anak saya yang 10 tahun bikin game sendiri di laptop dengan PowerPoint untuk dimainkan dengan adiknya. Namun, semua saya batasi. Di handphone, nggak ada yang pasang aplikasi game online, baik saya ataupun suami. 


Jadi, anak saya nggak banyak main gadget dan nggak suka merengek minta handphone bukan karena mereka nggak tahu apa-apa, mereka sangat tahu, tapi mereka paham nggak semua yang dilihat dan mereka tahu boleh dilakukan apalagi kalau berlebihan.


Edukasi Sejak Dini Tentang Penggunaan Gadget

Ketika Kita Memutuskan Memilih Sekolah Online


Saya bukan orang tua yang jago banget ilmu parentingnya. Saya hanya melakukan dan mengusahakan apa yang saya bisa. Saya punya banyak trauma masa kecil dan butuh waktu banget untuk sembuh ketika menjadi seorang Ibu. Saat punya anak, saya hanya melakukan apa yang saya pikir baik. Memang, nggak mudah menjadi orang tua.


Ketika anak saya mulai sekolah, saya tahu dia akan bermain dengan teman-temannya yang entah siapa saja dan nggak tahu bagaimana lingkungan mereka. Otomatis, anak saya yang terbiasa di rumah, sekali waktu mungkin akan mendengar kata-kata kasar dari temannya atau hal kurang baik. Dan itu memang terjadi.


Saya mengedukasi mereka sejak dini, melalui buku yang saya tulis dan digambar sendiri. Misalnya untuk penggunaan gadget, saya informasikan kepada mereka bahwa di internet, di handphone, nggak semua isinya bagus dan nggak semua boleh dilihat. Misalnya apa saja yang nggak boleh, alasannya kenapa? Kita mesti menjabarkannya sesuai dengan usia mereka.


Anak-anak yang bicara kasar ataupun mesum bukan semata-mata karena kesalahan sekolah online di masa pandemi. Namun, karena orang tua dan lingkungan mereka. Sekolah online hanya sebagian kecilnya saja. Setuju nggak, sih?


Ketika anak-anak melakukan hal yang nggak seharusnya, yang mesti dipertanyakan bukan sekolah online-nya, melainkan orang tua dan lingkungannya. Ingat, kita sebagai orang tua adalah madrasah pertama buat mereka. Terutama di usia dini, mereka akan lebih banyak bersama kita ketimbang orang lain. Jadi, jangan serta merta menyalahkan orang atau benda-benda elektronik. Karena kalau kitanya nggak ngasih, anak kita juga nggak akan punya.


Ketika Memutuskan Sekolah Online

Ketika Kita Memutuskan Memilih Sekolah Online


Saat saya memustuskan memilih sekolah online, artinya saya siap mendampingi anak-anak bahkan mungkin lebih daripada guru mereka. Terutama anak usia TK, jangan harap bisa dapat lebih banyak dari sekolah karena mereka nggak bakalan betah zoom terlalu lama. Tugas kitalah yang membantu lebih banyak.


Anak saya misalnya, sudah belajar membaca di rumah, juga belajar mengaji bersama saya. Belajar menulis pun saya usahakan selalu dilatih walau di luar jam sekolah yang hanya satu jam saja per harinya. Meskipun dia lebih senang menggambar dan membuat komik :(


Tugas kita sebagai orang tua jadi lebih berat, ya? Tapi, memang itulah yang sebenarnya menjadi tanggung jawab kita dan benar-benar berasa ketika pandemi. Anak-anak yang masuk sekolah, mereka bisa belajar shalat bersama teman-temannya dengan lebih mudah. Mengulang doa setiap hari bersama-sama sehingga hapalan menjadi lebih gampang diingat. Namun, bagaimana sekarang? Jika bukan orang tuanya, anak-anak nggak akan bisa mengejar ketertinggalan. Orang tua mesti punya waktu lebih banyak supaya bisa membantu anak-anak. Bukan hanya sekadar ngasih fasilitas berupa gadget atau laptop, tapi mereka butuh didampingi, butuh juga diedukasi karena mereka generasi pintar, beda dengan emaknya yang pegang komputer aja deg-degan…kwkwk.


Kemarin, saya sempat ngobrol dengan si sulung, dia lagi senang bikin karakter dari buku Plants vs Zombies. Dia punya banyak banget komiknya. Dia gambar karakter dari buku itu sampai jumlahnya banyak banget. Kemudian dia membuat semacam permainan dengan gambar-gambar yang telah dibuatnya.


Bunda: Dapat ide dari mana bikin permainan kayak gitu?

Kakak: Dulu kan, kita pernah lihat di rumah Mas Vero. Memang ada game-nya, Bun.

Bunda: Kenapa kamu mesti bikin? Kenapa nggak main game-nya aja? *mancing banget emaknya...kwkwk

Kakak: Kan, nggak boleh main game kata Bunda.

Bunda: Kenapa nggak minta sambil maksa? Kwkwk

Kakak: Tetap aja nggak bakalan boleh.


Jadi, dia nyari solusi dari keinginannya yang nggak bisa saya penuhi. Saya yakin, jangankan anak-anak, kita saja senang main game. Sampai-sampai banyak bapak-bapak yang kecanduan game. Apalagi mereka. Mereka juga pengin, tapi saya selalu menjelaskan alasan kenapa game itu nggak selalu baik untuk dimainkan. Alhamdulillah, mereka menerimanya. Jadi, nggak ada ceritanya kita ngumpet-ngumpet. Karena hampir nggak pernah main game, si sulung jadi kreatif banget dan senang bikin game-game sendiri. 


Apakah main game itu salah? Nggak juga, kok. Saya nggak menyalahkan orang tua yang ngasih akses main game kepada anaknya. Namun, untuk anak-anak saya, kami sepakat itu nggak bagus buat mereka apalagi jika dimainkan terlalu sering. Kami sebagai orang tua pun nggak main itu. 


Jadi, gimana? Sudah siap sekolah online atau malah pengin tatap muka di masa pandemi seperti sekarang? Saya pribadi masih memilih skeolah online dengan banyak sekali pertimbangan. Insyaallah, secepatnya kita bisa melepas anak-anak sekolah dengan aman, ya. 


Salam hangat,


Friday, August 13, 2021

Resep Sandwich Isi Mentimun

Resep sandwich isi mentimun
Sandwich isi mentimun


Sudah masuk level berapa nih PPKM-nya? Nggak terlalu ngeh dan mengerti soal level-level PPKM, yang jelas, kondisi Covid-19, terutama di bulan Juli kemarin rasanya amat mengerikan. Sebaik-baiknya kasus turun di Jakarta saat ini, jumlahnya masih 2x lipat tahun lalu saat baru pandemi. Bagaimana dengan kondisi teman-teman? Sehat-sehat semua, ya *peluk dari jauh.


Kalau soal diminta tetap di rumah, saya juga sangat manut, kok dengan anjuran pemerintah. Bahkan waktu bulan Juli kemarin, sempat 2 minggu benar-benar nggak keluar rumah karena sudah belanja bahan makanan lebih dan nggak ada alasan untuk keluar lagi. Bisa benar-benar sampai 2 mingguan. Bangga banget masyaallah sama diri sendiri…kwkwk *LOL


Namun, ternyata ada saatnya benar-benar merasa bosan dan jenuh. Pokoknya jenuh saja secara tiba-tiba dan nggak tahu mau ngapain. Mungkin itulah yang dirasakan juga oleh si bungsu waktu kakaknya sekolah, sedangkan dia nggak ada teman main lagi.


Kalau sudah jenuh, mau jalan keluar rumah parno, tetap di rumah pun nggak tahu mau ngapain. Ada yang ngalamin juga? Bayangkan, sudah hampir dua tahun kita masih ada dalam kondisi pandemi. Luar biasa, ya? Karena izin Allah, kita masih bertahan sampai sekarang. Benar-benar kondisi yang nggak mudah bagi hampir semua orang.


Bersyukur, punya banyak kegiatan yang bisa saya kerjakan dari rumah. Sangat membantu mengobati rasa jenuh akibat selalu di rumah dan kurang berinteraksi dengan orang lain. Mau nggak mau, jenuh itu pasti ada. Mau sesabar apa pun di rumah, pasti tiba-tiba ada rasa bosan. Diapain kalau sudah begini? Dijalanin sampai hilang :D


Tahun ini, Allah ngasih rezeki kepada saya lewat menggambar. Jadi, kegiatan yang biasanya ngeblog dan menulis saja, sekarang lebih padat karena mesti ngerjain ilustrasi. Dengan banyak kegiatan, kadang bikin happy, tapi kadang bikin jenuh kalau sudah capek. Namanya manusia, ya? Nggak mau sok selalu baik-baik saja…kwkwk.


Kalau sedang longgar, saya sering bikin camilan untuk anak-anak. Paling sering memang bikin roti, karena sudah ngerasa ahli daripada bikin cake…kwkwk. Selama ini, masih merasa kurang mahir setiap kali membuat cake, terutama kalau harus ngaduk pakai teknik aduk balik yang nggak bisa pakai kekuatan otot, tapi mesti pelan, santai. Namun, karena agak deg-degan, malah yang ada sering bantet...huuuaaa. Nggak paham, sering begini walau rasanya tetap enak dan manusiawi, tetap saja sedih kalau hasilnya gagal :(


Manfaat Mentimun Bagi Kesehatan

Resep Sandwich Isi Mentimun


Ada yang suka makan mentimun untuk lalapan? Saya juga suka karena mudah disantap tanpa perlu dimasak. Kalau Ibu, sering dibuat sayur bening untuk menurunkan tekanan darah. Saya yang nggak punya hipertensi juga senang makan sayur bening mentimun dicampur bayam karena rasanya lebih segar. Atau bisa juga ditumis. Hmm, jadi lapar!


Selain itu, adakah yang tahu manfaat mentimun buat kesehatan? Kita ulas bersama, yuk!


  • Mentimun dapat mengurangi kadar gula sebagaimana disebutkan dari American Diabetes Association karena mentimun tidak mengandung tepung. Selain itu, mentimun juga diketahui dapat mengurangi risiko komplikasi akibat diabetes.
  • Serat yang terdapat di dalam sayuran, termasuk yang terkandung dalam mentimun juga berguna untuk menjaga kesehatan jantung. 
  • Kandungan vitamin K yang ada di dalam mentimun bermanfaat untuk menjaga kepadatan tulang. 
  • Kandungan air serta serat di dalam mentimun bisa membantu melancarkan pencernaan. Makanlah sayuran yang banyak supaya pencernaan kita sehat :)


Ternyata banyak sekali manfaat mentimun bagi kesehatan. Tapi, sebagian besar anak-anak malas sekali makan mentimun karena rasanya memang nggak seenak brokoli atau bayam. Belum lagi teksturnya memang agak lebih keras saat dikonsumsi mentah.


Nah, kali ini saya mau berbagi resep sandwich isi mentimun yang segar sekali. Resep asli saya dapatkan dari Cookpad. Waktu itu saya recook dari resep Akari Papa. Ada bahan-bahan yang saya ubah sesuai stok di rumah. 


Untuk adonan rotinya, saya pakai resep andalan dari NCC. Pakai dua kuning telur akan jauh lebih lembut dan padat rotinya dibanding pakai 1 kuning telur. Nggak pakai pelembut, sudah lembut alami asalkan ngulennya dengan baik dan benar. Ingat, pakai hati, ya bikinnya…kwkwk. 


Resep adonan rotinya bisa teman-teman baca di sini. Sedangkan untuk isiannya, ini resepnya,


Bahan:

Mentimun, secukupnya

Mayonnaise, secukupnya

Yogurt, secukupnya

Sedikit blackpaper bubuk

Sedikit garam


Cara membuat:

  • Iris tipis mentimun. Kalau mau, buang saja bijinya. Saya pakai mentimun kecil yang biasa untuk lalapan. 
  • Campurkan dengan sedikit garam, kemudian remas-remas sampai keluar airnya. Cuci bersih dan tiriskan.
  • Campur dengan bahan sisa. Karena kemarin saya nggak punya yogurt, akhirnya dicampur dengan sedikit susu kental manis. Rasanya tetap enak dan segar. Tapi, lebih segar pakai yogurt, ya. Sedangkan untuk mericanya, kemarin saya ganti dengan merica bubuk biasa karena nggak ada blackpaper.
  • Belah roti dan berikan isian sesuai selera. Sajikan.


Voila! Sandwich rumahan ala Jepang sudah jadi. Asli ini enak banget dan tetap cocok buat anak-anak. Anak-anak di rumah nggak ada yang doyan makan mentimun, tapi waktu dibuatkan sandwich ini, mereka habiskan dong :D


Resepnya sangat simple. Mungkin yang lama bikin rotinya. Tapi, kalau bikjn roti sendiri, benar-benar jadinya puas saja daripada harus beli jadi.


Kalau sudah mulai masuk sekolah, kita bisa bikinin bekal sekolah berisi sandwich isi mentimun ini. Atau pengin juga dong piknik ala-ala…kwkwk. Kapan dong pandeminya berlalu? Gimana, mudah sekali resepnya, kan? Rugi kalau nggak mau nyoba karena asli seger banget *Yes, sales roti :D


Salam hangat, 


Sunday, August 8, 2021

Pengalaman Vaksin AstraZeneca Dosis Pertama

Pengalaman Vaksin AstraZeneca Dosis Pertama
Pengalaman vaksin Covid-19

 

Alhamdulillah, setelah sekian lama menanti, menimbang, dan memikirkan dengan matang, akhirnya saya siap divaksin. Sebenarnya sudah mau vaksin sekitar bulan Juli lalu, tapi karena si Mas sedang ke luar kota selama hampir sebulan, akhirnya baru bisa vaksin bareng awal Agustus kemarin.


Mulai tanggal 1 Agustus 2021, di RPTRA Bunga Rampai dekat rumah mengadakan vaksin. Jadilah kita nyoba ambil nomor pada hari pertama. Di sini, sebaiknya ambil nomor selepas Subuh. Antre parah. Awalnya, petugas RT bilang, di RPTRA bakalan dapat vaksin Sinovac. Nggak tahunya pas sampai lokasi, bapak polisi bilang, “ASTRAAA!”. Jujur langsung deg-degan :D


Boleh pilih-pilih vaksin nggak, sih? Kalau jumlah vaksin di Indonesia sudah benar-benar melimpah, semua daerah terpenuhi, mungkin bisalah kita milih vaksin seperti sedang memilih baju di mall. Namun, kondisi kita nggak sebagus itu. Masih banyak daerah yang belum menerima vaksin, bahkan keluarga saya sendiri di kampung. Jadi, kalau kondisi kita memungkinkan secara medis bisa menerima semua jenis vaksin, sebaiknya vaksin saja dengan yang sudah ada. Karena semua vaksin itu sama. Sama-sama vaksinnya...hihi. Kalau ada yang paling baik, siapa yang nggak mau? Tapi, milihnya nggak semudah memilih permen di supermarket :(


Takut Disuntik!

Pengalaman vaksin astrazeneca dosis pertama


Saya ini penakut sekali kalau sama jarum suntik. Waktu melahirkan nggak nangis, tapi waktu mau diinfus gula sebelum melahirkan malah mewek saking takutnya. Jadi, sebisa mungkin saya menghindari pengobatan menggunakan jarum suntik. Terakhir disuntik vaksin saat mau umroh dan ke Turki sekitar tahun 2017an. Alhamdulillah, nggak pingsan, kok. Cuma narik napasnya agak panjangan saking deg-degannya…kwkwk.


Waktu mau vaksin, jujur bukan hanya jarum suntiknya yang bikin ngeri. Tapi juga kabar-kabar segala macam yang liarnya minta ampun. Pasti semua paham, di Indonesia, berita-berita segala macam ada. Mulai dari yang baik, negatif, sampai hoax


Jadi, nggak semudah itu mau vaksin walau vaksinnya sudah ada. Setiap orang punya kondisi berbeda-beda. Saran saya, jika kita khawatir karena ada suatu penyakit penyerta sehingga takut mau vaksin, jangan hanya diangan-angan sendiri, tapi konsultasikan dengan dokternya sebelum vaksin. Serahkan pada ahlinya. Dengan catatan, kita memang siap dan mau divaksin. Jika nggak pengin, tentu saja nggak ada yang bisa memaksa.


Punya Urtikaria dan Alergi Berat, Apa Bisa Tetap Vaksin?

Pengalaman Vaksin AstraZeneca Dosis Pertama


Saya nggak mau bahas yang di luar kemampuan saya, sebab saya bukan dokter. Jadi, jika teman-teman ragu mau vaksin karena punya alergi atau apa, coba konsultasi dulu dengan dokter. Saya akan bercerita murni hanya dari pengalaman pribadi.


Qadarallah, saya ini punya urtikaria dan dermatitis lumayan berat. Kayaknya seumur hidup ya akan begini. Sekali waktu, jika cuaca panas atau terlalu dingin, alergi saya muncul. Atau ketika kurang fit dan salah makan, bisa tiga malam jadi zombie karena urtikaria. Saking gatalnya, sampai luka dan berdarah-darah. 


Saya punya salep khusus dan sampai sekarang masih punya dan pakai. Nah, kekhawatiran saya muncul waktu baca kertas skrining untuk vaksin. Di sana disebutkan, bagi yang punya alergi berat, termasuk urtikaria disebabkan vaksin, mesti dapat vasinnya di Rumah Sakit.


Wah, saya termasuk nggak boleh atau gimana, nih? Awalnya mikir kayaknya saya nggak bisa dapat vaksin. Saya menyimpulkan sendiri, tapi tetap datang ke RPTRA setelah dapat nomor antreannya. Pengin tahu nanti sama dokternya bakalan dirujuk ke mana. 


Padahal, urtikaria yang dimaksud disebabkan vaksin. Lha, saya kan nggak…kwkwk. Pertengahan menanti antrean, karena lama banget, akhirnya dapat ilham. Nyolek si Mas. Kayaknya aku bisa vaksin, deh, Mas. Kan nggak bisanya gara-gara vaksin bukan karena makanan atau cuaca. Mas mulai sadar juga, karena dari tadi dia yang ngeyel nggak bisa…kwkwk.


Alhamdulillah, untuk kasus saya, apalagi saya nggak ada riwayat sesak, walaupun di tanggal tua, akhirnya saya bisa divaksin juga. Alhamdulillah, lega!


Oleng Setelah Vaksin

Pengalaman Vaksin AstraZeneca Dosis Pertama


Bagi yang mau vaksin, ingat, ya. Kalian mesti makan dulu. Jangan datang di saat perut kosong. Begitu juga malam sebelumnya, usahakan istirahat yang cukup dan jangan begadang. Biar kita divaksin dalam keadaan fit. Karena tubuh setiap orang berbeda-beda reaksinya. Minimal kita sudah usaha dengan maksimal supaya meminimalisir terjadinya KIPI setelah vaksin.


Pagi hari, saya sarapan buah. Sayangnya, antrean vaksinnya nggak jelas banget waktu itu. Dokternya datang telat. Mestinya vaksin dimulai jam 8an pagi, malah baru dimulai sekitar pukul 10an. Kebayang dong nungguin berapa jam sambil ninggalin anak-anak pula di rumah. Pengin mewek di tempat :(


Ternyata, dokternya pun hanya satu. Waktu mau tiba giliran, dihentikan karena semua mau istirahat. Akhirnya, perut yang sudah kenyang, jadi lapar lagi…kwkwk. Saya dan si Mas lekas pulang untuk shalat dan makan siang. Kemudian kembali sebelum pukul 1 siang.


Hari pertama setelah vaksin, saya baik-baik saja. Alhamdulillah, nggak ada gejala berarti sampai malam hari. Namun, sebelum Subuh, saya menggigil. Suhu badan nggak tinggi, jadi nggak ada demam. Tapi, bekas suntikan sakitnya minta ampun. Kena singkap sama lengan baju aja ngilu banget, ya, Allah. Mulai deh meriang panas dingin. Kepala keliyengan dan perut agak mual. Sorenya, saya muntah :D


Qadarallah, saya juga mau datang bulan hari itu. Tanpa meriang aja, datang bulan udah bikin nggak enak, selalu keliyengan, dan nyeri semua badan. Ditambah meriang setelah vaksin, nikmatnyaaa. Seharian nggak bisa makan kecuali masuk biskuit, buah. Makin lapar makin mual. Sorenya, saya merasa sedikit membaik setelah muntah dan akhirnya bisa makan meskipun cuma pakai Qtela*mohon maaf sebut merek...kwkwk. Meski cuma keripik tapi bisa masuk dengan nasi. Berasa hamil muda :D


Hari kedua, masih lemas. Dibawa nyapu bentar sudah nggak nyaman dan keringat dingin. Jadi, lebih banyak istirahat. Kondisi bekas suntikan masih sama sakitnya. Barulah hari ketiga saya sudah merasa jauh lebih baik. Bisa masak meski nggak macam-macam. Lidah masih hambar, bekas suntikan kayaknya yang paling awet.


Saat saya menulis ini, sudah lewat 7 hari setelah vaksin. Baru hari ini saya bisa tidur miring ke kiri…kwkwk. Bekas suntikan saya lebam seperti dipukul. Kabar baiknya, nggak semua orang bakalan kena KIPI, kok. Alhamdulillah, qadarallah, suami saya nggak kena KIPI. Hanya sakit bekas suntikan saja. 


Jadi, setiap orang akan berbeda kondisinya. Hanya dari awal kita mesti tahu, KIPI ini wajar banget terjadi setelah vaksin. Selama gejalanya ringan, kita cukup istirahat dan minum obat pereda nyeri atau penurun panas seperti paracetamol. Dan, bersabarlah, ya :D


Jarak Antarvaksin pada Vaksin AstraZeneca

Pengalaman Vaksin AstraZeneca Dosis Pertama


Saya baru dapat vaksin tanggal 01 Agustus 2021 untuk dosis pertama. Saya mesti menunggu selama 3 bulan untuk mendapatkan vaksin dosis kedua. Semoga dalam rentang waktu 3 bulan ini, baik saya dan suami dalam keadaan sehat. Aamiin.


Jaraknya memang agak jauh daripada vaksin Sinovac. Kalau Sinovac cukup menunggu sekitar 28 hari. Biar lupa dululah ya ngilunya setelah divaksin…kwkwk. Tarik napas dulu sebelum dapat vaksin dosis kedua. Semangat :)


Doakan Semoga Pandemi Lekas Berakhir

Pengalaman Vaksin AstraZeneca Dosis Pertama


Yuk, sama-sama kita doakan semoga kita bisa melewati masa pandemi dalam kondisi sehat. Di luar sana, memang sudah lumayan banyak yang telah mendapatkan vaksin, terutama di Jakarta. Namun, ada orang yang masih belum mau dan belum siap menerima vaksin. Nggak bisa juga dipaksa untuk siap karena memang kita nggak tahu apa yang mereka takutkan. Sedangkan berita macam-macam dengan mudahnya bisa kita dengar.


Semoga, status Covid-19 yang melandai terutama di Jakarta saat ini bisa terus dipertahankan hingga pandemi benar-benar selesai. Bayangkan saja, sudah dua tahun nggak pulang ke rumah orang tua dan bertemu mereka. Memaksa untuk pulang justru lebih riskan, terutama saat ini di sana justru kasus positif makin banyak. 


Saya sangat berharap, tahun depan kita sudah bisa mudik dengan aman, tidak ngumpet-ngumpet mudiknya apalagi sampai dikepung sama petugas...kwkwk. Dua tahun bertahan di Jakarta, jarang keluar kecuali perlu, bukan lagi bosan yang ditakutkan, tapi lebih ke rasa khawatir dengan keluarga yang sedang jauh. Terutama orang tua yang sudah sepuh. 


Kemarin, Ibu sedang sakit hingga beberapa minggu dengan batuk yang parah, rasanya pengin lari pulang. Namun, apa yang bisa dilakukan? Di sana hampir semua sakit dalam waktu yang cukup lama. Nggak hanya keluarga, tetangga juga. Kebayang nggak sih deg-degan banget mikirinnya. 


Saya percaya, setelah kesulitan akan ada kemudahan. Semoga, setelah hampir dua tahun kita berjuang sama-sama, dengan korban yang nggak sedikit, kondisi negeri kita segera membaik dan pulih. Begitu juga dengan negara lainnya. Saat ini, kita menghadapi masa-masa sulit, artinya Allah sudah paham bahwa kita mampu. Semoga kita bisa melewati semuanya dalam kondisi sehat. Bisa, yuk, insyaallah.



Salam hangat, 



Tuesday, August 3, 2021

LingoAce: Kursus Mandarin Terfavorit untuk Anak Usia 6-15 Tahun

LingoAce: Kursus Mandarin Terfavorit untuk Anak Usia 6-15 Tahun


Suka terkagum-kagum melihat ada remaja atau bahkan anak-anak yang sudah mahir menggunakan bahasa asing. Teman-teman pasti kenal siapa Fiki Naki yang menguasai berbagai macam bahasa di usianya yang masih muda. Bahasa asingnya benar-benar bagus nggak sekadar bisa. Saking fasihnya, bahkan sampai orang bule nggak yakin dia benar-benar dari Indonesia.


Ada nggak sih keinginan ‘terpendam’ sebagai orang tua, pengin juga punya anak bisa mahir bahasa asing selain mahir menguasai bahasanya sendiri? Jujur saja, saya mau dan pengin. Salah satu hal yang sedang diusahakan memang dengan membiasakan bicara bahasa asing di rumah meskipun dengan kosa kata yang sedikit. Nggak masalah sedikit, asalkan konsisten, nantinya akan bisa juga, kok.


Nah, memulainya kadang susah. Bicara jadi mesti mikir lama dulu. Mau minta tolong jadi susah menyampaikan dan sebagainya. Tantangannya memang di sini, selain dari orang tua yang memang nggak jago-jago banget bahasa asingnya, konsisten juga sangat diperlukan.


Jadi ingat waktu di pesantren dulu, kami dibiasakan berbicara bahasa asing sesuai dengan pilihan kamar masing-masing. Jadi, ada kamar-kamar bahasa yang bisa dipilih saat mendaftar. Setiap hari kami diwajibkan berbicara dengan bahasa tersebut, walau dicampur-campur bahasa Indonesia pun nggak masalah. Awalnya malu, nggak pede, tapi lama-lama terbiasa dan makin hari makin banyak kosa kata dihafal sehingga membuat bahasa kami makin baik.


Nah, kalau buat anak-anak, kira-kira apa manfaatnya bisa berbahasa asing, ya? Apakah sekadar gaya-gayaan biar dianggap keren? Atau ada manfaat lebihnya? Kita ulas bersama, yuk :)


  • Belajar berbagai macam bahasa terutama di usia dini ternyata dapat meningkatkan kemampuan otak anak. Bahkan meski di usia kurang dari satu tahun. Selain itu, anak-anak juga dilatih lebih mandiri dan percaya diri.
  • Salah satu hambatan sulitnya belajar bahasa asing adalah rasa malu. Tidak banyak orang yang berhasil menguasai bahasa asing karena masih malu-malu dan kurang percaya diri. Jadi, belajar bahasa asing sejak dini benar-benar membantu anak-anak lebih percaya diri sejak awal.
  • Belajar bahasa asing sejak dini rupanya dapat mengasah kemampuan akademik. Ternyata tidak hanya berpengaruh dalam bidang bahasanya saja, anak yang belajar bahasa asing juga bisa membantunya lebih unggul di bidang lainnya seperti Matematika.
  • Dengan menguasai satu bahasa asing, artinya kita telah memudahkan anak-anak supaya bisa menguasai bahasa asing yang lain. Bahagia sekali jika anak-anak bisa menguasai banyak bahasa dengan prestasi akademik yang tak kalah baiknya, kan?


Ternyata banyak sekali manfaat belajar bahasa asing di usia dini. Jadi nggak sabar pengin ngajarin anak-anak berbagai macam bahasa dengan cara menyenangkan, ya? Hmm, tapi, kira-kira bahasa apa saja yang asyik untuk dipelajari selain bahasa Indonesia?


Seiring dengan bertumbuhnya perekonomian Tiongkok, bahasa Mandarin sekarang menjadi salah satu bahasa yang banyak digunakan di seluruh dunia. Sebab itulah belajar bahasa Mandarin sangat penting lebih khusus lagi untuk anak-anak yang masih usia dini. 


Mengajari anak bahasa Mandarin sejak sekarang memiliki manfaat yang luar biasa untuk perkembangan bahasa anak, lho. Berikut beberapa poin yang menjadi alasan mengapa penting bagi orang tua untuk mengajari anak bahasa Mandarin sejak kecil.


Manfaat Belajar Bahasa Mandarin Sejak Usia Dini

LingoAce: Kursus Mandarin Terfavorit untuk Anak Usia 6-15 Tahun


Bahasa Mandarin memang berbeda dengan bahasa pada umumnya, sebab itulah dibutuhkan lebih banyak waktu serta latihan untuk mempelajarinya.


Mengajari anak bahasa Mandarin sejak dini bukan hanya menjadikan anak tersebut memiliki kesempatan yang lebih, tetapi juga terdapat manfaat-manfaat lain yang akan kami sebutkan di bawah ini,


1. Anak kecil dapat dengan mudah mempelajari pelafalan

Bahasa Mandarin sendiri termasuk dari bahasa tonal di mana intonasi turun naik suara bisa mengubah makna. Hal ini tentu berbeda dengan bahasa Indonesia sehingga diperlukan kebiasaan peserta latihan untuk mengaplikasikan perbedaan pengucapan tersebut.


Membiasakan anak usia dini dengan bahasa Mandarin akan membuatnya dapat menguasai tonal atau intonasi dengan baik.


2. Anak dapat menyerap ilmu lebih cepat ketimbang orang tua

Ibaratnya anak itu seperti spons yang memiliki kemampuan untuk menyerap ilmu atau hal-hal baru dengan begitu baik. Ada banyak orang tua yang beranggapan jika mengajari anak bahasa kedua di usia yang terlalu dini tidak dapat berdampak besar terhadap anak tersebut.


Justru sebenarnya, anak kecil memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menguasai bahasa kedua. Hal tersebut karena memang anak kecil belum menguasai dengan sempurna bahasa ibunya sehingga dapat memberikan fleksibilitas terhadap anak tersebut untuk mempelajari bahasa lain.


3. Skill motor dan kognitif dapat meningkat cepat

Cara penulisan bahasa yang tersebar di seluruh dunia umumnya dimulai dari kiri ke kanan. Berbeda dengan bahasa Mandarin, penulisan yang dilakukan justru dari kiri ke kanan seperti halnya bahasa Arab.


Skil motor, persepsi spesial, kemampuan arsitek serta koordinasi tangan dan mata dapat terasah dengan baik jika orang tua membiasakan anaknya belajar bahasa Mandarin sejak dini. Selain hal tersebut, ternyata bahasa Mandarin juga dapat digunakan untuk meningkatkan daya kritis serta kemampuan berpikir logis bagi anak.


Belajar Bahasa Mandarin Terbaik Di LingoAce

LingoAce: Kursus Mandarin Terfavorit untuk Anak Usia 6-15 Tahun


Beberapa manfaat mengajari anak bahasa Mandarin sejak dini perlu disadari oleh orang tua agar dapat memaksimalkan potensi anak. Karena itulah hal-hal di atas perlu menjadi pertimbangan bagi orang tua untuk mengursuskan anaknya mempelajari bahasa Mandarin.


Hal yang menjadi pertanyaan adalah di manakah tempat kursus bahasa Mandarin terbaik untuk anak-anak kita? Jawabannya tentu saja LingoAce yang merupakan tempat belajar bahasa Mandarin dan telah dipercaya oleh banyak orang tua dari seluruh dunia.


Beberapa poin penting mengapa kita perlu mengursuskan anak bahasa Mandarin di LingoAce adalah sebagai berikut:


1. Kurikulum yang telah disesuaikan dengan standar Internasional


Jika anak-anak belum memiliki bahasa Mandarin yang mumpuni maka tidak perlu khawatir. Hal tersebut karena LingoAce telah menggunakan kurikulum standar internasional sehingga anak-anak dapat belajar bahasa Mandarin dari tingkat awal.


2. Belajar langsung dari native speaker


Guru-guru di LingoAce merupakan native speaker yang telah berpengalaman di dalam mengajarkan bahasa Mandarin. Sangat penting bagi anak untuk mempelajari bahasa Mandarin langsung dari native speaker karena dapat mendengar pengucapan bahasa yang benar dan sesuai dengan penutur bahasa aslinya.


3. Kelas free trial


Jika belum yakin untuk membeli kelas kursus bahasa Mandarin, kita dapat mencoba kelas gratis di LingoAce. Kelas ini ditujukan agar kita dapat mempertimbangkan apakah akan mengkhususkan anak di LingoAce atau tidak.


Pasti jadi nggak sabar pengin segera mendaftarkan anak-anak belajar bahasa mandarin di LingoAce, kan? Mumpung masih banyak di rumah saja dan banyak waktu luang, nggak ada salahnya diisi dengan hal-hal positif dan bergizi seperti belajar bahasa asing sejak dini. Yuk, buruan daftar!


Salam hangat,