Top Social

Muyass.com

- Bermimpi, Menulis, Berbagi -

Apa Jenis Tema Blog yang Paling Kamu Sukai?


Ketika menulis di blog, pertama kalinya saya sering banget menulis fiksi. Zaman dulu saya masih senang sekali menulis fiksi, belum mulai menulis buku. Hampir semua tulisan saya adalah cerpen, lho. Hal ini memang wajar, sebab saat SMA dan masuk pesantren, saya memang senang menulis cerpen hingga novela dengan tulisan tangan hingga jadi beberapa novela dan kumpulan cerpen.

Begitu juga saat saya mulai menulis di blog, hampir semua isinya cerpen, sehingga tak salah ketika baru mulai membuat blog, saya membuat kategori cerpen yang nantinya memang saya peruntukkan untuk cerpen saya yang biasa ditulis ketika sedang pengen dan senggang.

Seiring berjalannya waktu, saya tak lagi hanya menjadi penulis fiksi, bahkan sudah menulis nonfiksi hingga buku anak yang meskipun termasuk fiksi, tetapi jenisnya sudah sangat berbeda. Lalu, apa saja kategori blog yang saya sukai selain fiksi? Dan kenapa saya memilih itu?

  • Kesehatan

Kenapa saya menulis tentang kesehatan padahal saya pribadi bukan ahli medis? Itu bermula saat saya baru menikah dan hamil anak pertama. Untuk pertama kalinya saya diperkenalkan pada milis kesehatan yang akhirnya membuat saya benar-benar harus belajar dari nol. Milis Sehat merupakan salah satu milis kesehatan yang benar-benar mengedukasi kita sebagai konsumen kesehatan. Nggak hanya bisa konsultasi pada dokter langsung, tetapi juga tahu bagaimana mengatasi penyakit yang biasa dialami oleh anak-anak pada umumnya. Sejak saat itulah, saya merasa senang menulis kategori satu ini di blog.

  • Traveling

Bukan termasuk orang yang senang traveling, tetapi ada beberapa perjalanan yang bisa saya ulas. Dan meskipun kadang tidak pergi langsung ke tempatnya, saya senang menulis ulasan beberapa tempat. Saya senang melihat dan membaca artikel tema traveling, tetapi saya termasuk orang yang cukup rempong ketika diajak bepergian...kwkwk.

  • Artikel

Kenapa ada kategori ini di blog saya? Semua berawal saat saya mulai belajar menulis artikel di beberapa media. Sejak saat itu saya jadi candu dan senang sekali menulis artikel, terkadang saya pun menulisnya di blog. Sebab itulah saya membuat kategori satu ini.

  • Kuliner

Sudah bisa ditebak dong kenapa saya menulis kuliner? Kalau yang baru main ke sini, pasti belum paham. Sebab saya senang memasak, karena itulah saya sering mengabadikan resep dan foto masakan saya di blog. Jadi, nggak heran ya kalau sekarang ada 'kuliner' di blog saya.

  • Review

Beberapa kali sempat mendapatkan produk untuk di-review, jadi saya pun nggak lagi menganggap ini asing. Bahkan saat ini sudah mengikuti kelas Blogger Review biar tambah pinter ketika nge-review produk..hehe.

Karena banyak banget kategori yang saya tulis, blog saya pun lebih mirip gado-gado. Buat saya, blog itu adalah rumah yang nyaman buat saya singgah. Saya tidak membatasi kategori blog sehingga pada akhirnya menjadi campur-campur seperti sekarang.

Karena pernah menulis buku atau artikel, saya pun tak jarang menulis tips menulis buku atau artikel. Atau lebih enak dibilang dunia literasi. Selain itu, saya juga menulis tentang parenting meskipun jumlahnya tidak banyak.

Jujur saja, saya pribadi menyukai tema lifestyle ketimbang yang lainnya. Sebab lifestyle itu cakupannya banyak. Selebihnya, saya menulis apa pun yang saya mau. Kalau kamu gimana? Tema blog apa yang paling kamu sukai?

#Day2 #bloggerperempuan #BPN30DayBlogChallenge2018

Manfaat Kiranti Untuk Atasi Nyeri Saat Datang Bulan, Segar dan Nggak Bikin Eneg!


Nyeri haid atau dismenore merupakan nyeri yang timbul saat terjadinya menstruasi. Nyeri ini bisa saja menetap, tetapi untuk nyeri haid normal biasanya akan hilang dalam beberapa hari saat datang bulan. Nyeri haid biasa muncul pada awal masa menstruasi saja. Hal semacam ini wajar terjadi meskipun pada sebagian wanita rasa sakitnya bikin ngilu dan sulit beraktivitas.

Saya termasuk wanita yang sering banget mengalami yang namanya nyeri haid. Rasa sakitnya nggak karuan, bikin lemes karena tidak hanya ada rasa tidak nyaman di bagian perut, tetapi juga pinggang dan bagian kaki ikut merasakan nyeri. mirip seperti saat akan melahirkan walaupun kadar sakitnya tentu jauh lebih sedikit, ya.

Saat sedang nyeri haid, aktivitas yang biasanya berjalan normal berubah nggak menyenangkan, bahkan saya cenderung lebih banyak tiduran karena cukup tidak tahan dengan rasa sakitnya. Lalu kenapa bisa terjadi yang namanya nyeri haid saat datang bulan?

  • Terjadi Kontraksi Semakin Kencang Saat Datang Bulan

Saat dalam keadaan normal, rahim kita akan mengalami kontraksi, tetapi terjadi sangat halus sehingga tidak mengganggu aktivitas. Sedangkan saat mengalami datang bulan, kontraksi rahim cenderung lebih kencang karena adanya peluruhan pada dinding rahim. Kontraksi tersebut bertujuan untuk menekan dinding rahim, sehingga dapat memutuskan suplai darah dan oksigen. Tanpa adanya oksigen, jaringan rahim pun akan mengeluarkan bahan kimia yang menyebabkan nyeri.


  • Wanita Berusia di Bawah 20 Tahun

Ternyata usia seseorang memengaruhi rasa nyeri yang ditimbulkan saat sedang datang bulan. Semakin matang usianya, rasa nyeri itu pun akan semakin berkurang. Saya pun merasakannya, saat SMP hingga SMA, nyeri haid begitu menyiksa, setelah menikah dan memiliki buah hati, nyeri haid semakin berkurang sakitnya, tetapi tetap saja bikin susah bergerak karena rasanya seluruh badan mau rontok.

  • Siklus yang Tidak Teratur

Bagi kamu yang memiliki siklus datang bulan tidak teratur, kemungkinan besar akan mengalami yang namanya nyeri saat datang bulan. Hal ini masih terbilang wajar terjadi dan tidak ada yang perlu dikawatirkan selama kondisi itu tidak menetap dan menghilang setelah datang bulan selesai.

  • Riwayat Keluarga

Ternyata nyeri haid juga dipengaruhi oleh keturunan, lho. Jika keluarga kamu memiliki kesamaan, muncul nyeri saat datang bulan, bisa jadi kamu pun akan mengalami hal serupa, dan tentu saja itu sangatlah menyiksa.

Tapi, sejak masuk SMA, saya mulai mengonsumsi produk herbal penghilang nyeri saat datang bulan. Salah satunya adalah kiranti. Kiranti merupakan produk herbal yang telah mendapatkan predikat dari BPOM RI sebagai salah satu produk herbal berstandar dan mendapatkan sertifikasi untuk pembuatan obat herbal yang baik atau CPOTB.

Kiranti juga sudah punya sertifikat halal dari MUI, lho. Jadi, saya pribadi tidak khawatir lagi saat mengonsumsi kiranti ketika memang benar-benar dibutuhkan saat nyeri haid datang.

Kandungan Kiranti


Kiranti ini bisa berguna mengatasi nyeri haid, rasa letih, lesu, dan rasa tidak nyaman saat datang bulan. Saya pribadi pun merasakan khasiat kiranti. Lalu apa saja kandungan herbal yang terdapat di dalam kiranti?

  • Kiranti mengandung kunyit. Untuk produk kiranti, kunyit yang dipakai adalah bagian rimpangnya. Kunyit memang merupakan salah satu jenis tanaman herbal yang banyak digunakan untuk pengobatan, termasuk diare, sakit perut, hingga penyakit kulit.
  • Kiranti juga dibuat dari kencur yang memiliki rasa sedikit pedas dan menghangatkan.
  • Di dalam kiranti juga mengandung jahe yang bermanfaat untuk berbagai macam penyakit seperti batuk, menghangatkan tubuh, melancarkan pencernaan, dan mengurangi rasa nyeri.
  • Terdapat asam jawa yang dipercaya dapat mengatasi sakit perut. Di dalam kiranti, asam jawa digunakan untuk memberikan rasa segar sehingga minuman ini begitu menggoda rasanya terutama ketika disajikan dingin.
  • Rasa manis dari kiranti didapat dari gula jawa yang ternyata berkhasiat juga untuk melancarkan peredaran darah.
  • Kiranti juga mengandung kayu manis dan paullina cupana yang memiliki khasiat tak berbeda jauh dari beberapa bahan herbal lainnya.

Anjuran Minum Kiranti


Saya pribadi minm kiranti hanya satu botol saja per hari. Jika esoknya sudah membaik, saya tidak akan meminumnya lagi. Di kemasannya dijelaskan aturan minum kiranti diperbolehkan hingga 2 botol per harinya.

Meskipun dibuat dari bahan-bahan herbal dan telah teruji, tetapi saya pribadi tidak mau berlebihan ketika mengonsumsinya. Herbal ataupun kimia sama-sama memperberat kerja ginjal sehingga memang sebaiknya dikurangi jika tidak perlu. 

Saya sangat senang mengonsumsi kiranti karena terasa khasiatnya. Sebatas mengurangi rasa sakit sehingga saya bisa beraktivitas normal saja, tidak melulu harus diminum apalagi jika berlebihan setiap harinya.

Kiranti ini lebih enak diminum dalam keadaan dingin. Saya biasa menambahkan es batu ke dalam segelas kiranti, sehingga rasanya semakin segar. Meskipun termasuk jamu, tetapi kiranti punya varian yang nggak bikin bosan dan eneg, salah satunya adalah kiranti plus jus jeruk yang segernya kebangetan. Nah, supaya lebih berkhasiat lagi, kamu bisa menambahkan daun mint juga ke dalamnya, lho. Rasanya jadi semakin enak. 

Buat kamu yang bingung dengan nyeri haid yang menyiksa, kayaknya nggak ada salahnya mencoba produk herbal satu ini. Selain rasanya yang enak, manfaatnya pun terasa banget. Selamat mencoba!

7 Alasan Kenapa Menulis di Blog Begitu Menyenangkan



Kenapa menulis di blog begitu menyenangkan bagi sebagian orang, terutama bagi mereka yang memiliki hobi menulis? Pertanyaan itu mungkin pernah terlintas di benak kamu. Tahun 2017, saya mulai rutin mengisi blog. Meski tidak selalu mengisinya setiap hari, tetapi rutinitas mengisi blog minimal beberapa kali dalam seminggu tidak bisa ditinggalkan.


Awalnya saya memiliki blog sejak mulai menulis buku. Menulis membuat saya candu mengisi blog. Blog menjadi salah satu media yang begitu nyaman buat saya. Kenapa? Karena ketika menulis di blog, kita tak perlu khawatir akan adanya aturan. Suka-suka kita aja mau menulis apa, tetapi tetap yang sopan dan bermanfaat, ya.

Dan pada akhirnya, blog menjadi salah satu tempat paling nyaman untuk menyimpan tulisan saya yang tidak bisa dikirimkan ke media atau ditulis menjadi buku. Sharing tentang dunia kesehatan menjadi jauh lebih menyenangkan ketika ditulis di blog, sharing dunia literasi pun tak kalah serunya.

Lalu apa saja alasan kenapa saya bisa bertahan mengisi blog padahal belum sebaik yang lain?

Blog Menjadi Tempat Paling Nyaman Untuk Mengekspresikan Perasaan

Berbeda dengan orang lain pada umumnya, belakangan saya justru sangat jarang menulis status di media sosial. Selain waktu yang semakin sempit, menulis status kadang nggak selalu efektif untuk menyampaikan banyak hal. Yang ada ujung-ujungnya malah curhat…he. Sedangkan ketika menulis di blog, saya harus pastikan bahwa apa yang saya tulis benar-benar ada manfaatnya.

Ngeblog itu asyik banget, apalagi kalau sudah terbiasa. Saya yakin, orang yang pertama kali mencoba akan merasa candu. Terutama jika hobinya menulis seperti saya. Rasanya ngeblog benar-benar asyik dan tak tergantikan.

Menjadi Media Untuk Berbagi

Blog menjadi salah satu media untuk berbagi. Karena itu saya bertahan mengisi blog sampai sekarang. Selain menulis artikel di media dan menulis buku, blog juga jadi media yang sama menariknya untuk berbagi banyak hal, termasuk pengalaman pribadi yang bisa jadi bermanfaat untuk orang lain. Justru menariknya ngeblog itu memang ada pada sisi ‘personal’.

Bertemu Banyak Teman dengan Passion dan Hobi yang Sama

Teman-teman sesama blogger justru rata-rata bukan teman-teman dekat saya di sosial media. Ya, saya jadi punya teman-teman baru sesama blogger yang nggak kalah asyiknya. Kami saling berkunjung dan menyapa. Pengalaman yang mereka tulis di blog menjadi pelajaran berharga untuk saya sebagai pembaca.

Menyimpan Kenangan

Saya memang jarang mengumbar kehidupan pribadi di sosial media, termasuk tentang perkembangan anak-anak. Share foto pun hampir tidak pernah saya lakukan. Tapi pengalaman saat menjaga anak yang sedang sakit, bepergian bersama keluarga, dan pengalaman menyenangkan lainnya bisa saya simpan dengan menuliskannya di blog.

Cara Asyik Berkomunitas

Komunitas blogger itu banyak banget dan seru-seru, lho. Kegiatan ngeblog semakin mengasyikkan. Tidak hanya itu, kamu bakalan punya kesempatan untuk mengikuti event-event seru seperti yang kali ini saya ikuti bersama Blogger Perempuan. Hal semacam ini menjadi amunisi di saat kita sedang malas menulis.

Tujuan Dipinang Penerbit

Pernah dengar nggak kalau ada penerbit yang mencari penulis dengan melihat blognya? Dulunya saya pun punya alasan untuk itu. Menulis di blog dijadikan sebagai tempat menyimpan tulisan karena bukannya mustahil ada penerbit yang meminang penulis dengan melihat tulisannya di blog. Sayangnya, saya belum pernah merasakan itu..he. Buku-buku saya diterima setelah mengajukan naskah, bukan karena melihat blog saya yang masih bayi ini.

Mendapatkan Penghasilan dari Ngeblog

Sudah dapat apa saja sejak ngeblog? Pertanyaan itu kadang mampir pada saya. Orang-orang mungkin bingung, kenapa sih begitu seriusnya mengisi blog kalau memang nggak dapat apa-apa? Kenyataannya, semua tak melulu soal materi. Tapi, selama ngeblog sudah pernah merasakan dapat penghasilan. Dan ternyata itu memang benar-benar nyata.

Jika kamu merawat blog kamu dengan baik, mengisinya dengan hal bermanfaat dan menarik, bukannya tidak mungkin blog memberikan kamu keuntungan lebih selain membuatmu senang.

Nah, itu dia beberapa alasan kenapa saya menulis di blog hingga sekarang. Semakin senang menulis, semakin senang mengisi blog. Ngisi blog seperti jadi pengalih penat saat mengerjakan naskah buku atau menulis artikel di media. Banyak pengalaman menyenangkan terjadi, termasuk saat mengenal banyak orang dengan passion dan hobi serupa.

#Day1 #BPN30DayBlogChallenge2018 #bloggerperempuan

Belajar Berkomunikasi dengan Baik pada Anak-anak, Karena Mereka adalah Masa Depan Kita

Foto: Dokumentasi pribadi

PAS atau Penilaian Akhir Semester di sekolah si sulung semakin dekat. Alhamdulillah, kemarin bisa hadir dalam parenting sebelum ujian dimulai. Menariknya, kali ini ada Ustadz Eri Setiawan yang merupakan wakil pimpinan Pesantren Al-Quran Terpadu Ruhul Jadid serta Master Trainer “Super Study Skills” yang sudah tak diragukan lagi kemampuannya.
Tema kali ini adalah tentang komunikasi yang tepat antara orang tua dan anak. Wah, bener-bener jleb banget parenting yang diadakan pada Sabtu, 17 November kemarin. Kebayang, zaman sekarang gimana cara berkomunikasi dengan anak-anak? Ada yang bilang, beda banget dengan anak-anak zaman dulu yakni di masa kita. Kalau dinasihati pasti takutnya setengah mati, nurut, dan diem aja. Lain dulu lain sekarang, kalau dinasihati anak-anak zaman sekarang cenderung lebih banyak membantah, atau masuk telinga kanan, dan keluar dari telinga kiri.
Padahal, kita pun harus menyadari bahwa semua itu tidak melulu soal mereka yang hidup di zaman sekarang, tetapi juga sebab orang tuanya pula yang hidup pada zaman ini. Kalau orang tua zaman dulu udah pasti lebih banyak fokus sama anak, nggak main smartphone, nggak banyak nonton drakor..hehe. 
Nah, karena itulah banyak komunikasi yang keliru. Anak-anak dinomor duakan, dikalahkan dengan dunia maya yang sebenarnya bikin candu dan nggak banyak gunanya. Keberadaan anak-anak menjadi tidak penting, nggak berarti. Kalau nyuapin sambil buru-buru, karena keburu pengen pasang foto selfie di sosial media. Jangan-jangan itu saya? Kwkwk.

Apa Saja Kesalahan Orang Tua Saat Berkomunikasi dengan Anak-anak?

Foto: Dokumentasi pribadi

Pernahkah kamu menyadari, jika kita sering sekali abai sebagai orang tua. Kita sering nggak konsisten sama aturan yang kita buat sendiri, kita sering memerintah, tetapi kita lupa ngasih contohnya. Dan lebih parah, kita nggak sadar kalau kita sudah salah sehingga nggak habis-habis menyalahkan anak. Lalu, apa saja kesalahan populer orang tua dalam membesarkan anak-anak?

1. Memerintah


Kalau soal memerintah, kita paling jago. Tapi, giliran ngasih contoh ternyata nggak bisa. Dan gaya mendidik seperti ini pasti tidak dilakukan oleh sedikit orang tua saja, tetapi banyak. Contohnya seperti, “Bunda nggak mau tahu dan nggak mau denger lagi. Cepetan kamu masuk kamar, kerjakan PR kamu dan bereskan kamar kamu sekarang!”
Terus mukanya sambil dimiring-miringin, matanya melotot, duh, kek zombie banget..kwkwk. Gimana anak-anak nyaman kalau punya orang tua begini. Pasti komunikasi jadi nggak efektif lagi.

2. Menyalahkan

Padahal orang tua itu bukan malaikat, tapi hobi banget ngerasa paling benar, sedangkan anak-anak kita yang masih kecil selalu salah. Pliss, sadari kesalahan kecil yang mereka lakukan kadang wajar aja dilakukan oleh anak seusianya, tetapi kadang kita sering berlebihan ngasih label. Yang nakal, yang bandel, nggak mau dengerin. Ujung-ujungnya kita sendiri yang menyesal karena sudah mengatakan itu sehingga menjadi sugesti bagi anak-anak. Dan akhirnya? Mereka benar-benar nakal gara-gara orang tuanya sendiri!

Contoh kecil misalnya ketika mereka berlarian di teras, tentu itu wajar dong. Tapi, orang tua mulai gusar melihat, sehingga melarang mereka berlarian dengan alasan takut jatuh.  Kalimat itu ternyata bisa jadi sugesti, lho. Ketika mereka jatuh, kita biasanya mengatakan, “Nah, jatuh ‘kan? Apa Bunda bilang. Nggak mau denger!” bilangnya sambil manyun pula, udah gitu nggak nolongin. Gemes nggak lihat ibu begini? 

3. Meremehkan


Sering kita nggak sadar rupanya ucapan kita ternyata sedang menyakiti anak sendiri. Salah satunya dengan meremehkan kemampuan mereka. Padahal anak-anak bukan orang tua yang lebih banyak serba bisanya. Wajar mereka kadang masih belajar mengenakan baju atau sepatu. Tapi, tanpa hati orang tua sering berkata, “Pakai sepatu aja nggak bisa! Kamu bisanya apa, sih?”

4. Membandingkan

Percaya, deh, yang namanya dibandingkan dengan orang lain apalagi saudara sendiri itu rasanya nggak enak banget. Bisa-bisa anak dendam banget sama orang tuanya karena dibandingkan secara terus menerus. Gaya seperti ini sering tidak disadari, nyeplos gitu aja tanpa saringan..hehe. Padahal, percayalah setiap anak itu unik. Ada yang usia satu tahun sudah bisa berlarian, ada yang usia 16 bulan baru bisa berjalan. Itu contoh anak-anak saya sendiri. Selain itu, kemampuan mereka yang lain pun pastilah berbeda. Percayalah, nggak enak kok dibanding-bandingin dengan istri tetangga, begitu kata ustadz Eri kemarin. Jadi sadar kalau digituin, ya?

5. Memberi Cap

Ucapan adalah doa. Dan ucapan yang sering dilontarkan kepada anak-anak bisa jadi sugesti. Kalau baik, tentu akan menumbuhkan rasa percaya diri, ibaratnya vitamin bikin sehat. Kalau kalimatnya negatif, tentu seperti racun, bikin sakit, bikin kerdil sehingga anak-anak tumbuh tidak sebagaimana mestinya. Meskipun mereka nggak bisa diem, sering nyubitin anak tetangga, dan bikin heboh satu kelas, pliss jangan sebut mereka nakal atau bandel. Sebab itu akan tertanam dalam alam bawah sadar mereka dan membuat mereka benar-benar menjadi apa yang orang tua sebutkan.

6. Mengancam

Karena merasa kita lebih berkuasa, bisa melalukan apa pun, kita pun nggak sadar kalau kita sering mengancam anak-anak demi memuaskan keinginan kita. Ujung-ujungnya ngancem supaya mereka menurut. Padahal yang seperti ini justru berbahaya. Mereka takut dan menurut hanya karena ada kita, kalau nggak ada kita?

7. Membohongi

Yah, kena sentil! Membohongi ini sering dilakukan untuk meredam ketakutan dan kekalutan anak-anak. Semisal ketika diajak ke dokter, supaya mereka tidak takut, kita pun membohongi mereka dengan mengatakan bahwa disuntik itu tidak sakit, hanya seperti digigit semut. Padahal tahukan rasanya? Sampai sekarang saja saya tidak berani dan takut banget disuntik..hihi. Lalu harusnya bagaimana? Silakan disebutkan saja sewajarnya, tanpa menakuti juga. Karena jika sering diancam demi dengan alasan akan ada dokter datang menyuntik mereka, maka anak-anak pun akan trauma ketika benar-benar diajak ke dokter. Bahkan dokter pun kesel ketemu orang tua yang begini sama anaknya…hehe.

8. Menghibur

Kesalahan populer yang saya pun pernah melakukan adalah menghibur. Duh, sejak ada si bungsu, drama kakak adik ini kental banget di rumah. Kayaknya jarang denger mereka nggak ribut dan berebut. Sampai sampah pun kalau di pegang salah satu dari mereka, pasti berubah jadi emas..haha. Dan ternyata itu nggak boleh dilakukan. Misalnya kakak menghabiskan susu UHT si bungsu, saya akan bilang, “Besok kita beli lagi, ya? Besok Bunda belikan yang lebih besar ukurannya.” Dan ini cukup ampuh bikin mereka diam. Tapi rupanya tidak baik bagi mereka.

10. Menasihati

“Makannya kalau makan jangan sambil jalan, nanti tersedak.”
Duh, itu saya yang sering bilang. Sok bijak banget kayak mamah Dedeh..haha. Padahal cara seperti ini nggak dibolehkan, lho.

11. Mengeritik

Sering nyindir anak-anak dan mengeritik? Mengatakan jika tulisan mereka seperti anak TK padahal dia sudah SD, lho. Sakit nggak digituin? Pastinya sakit banget, tetapi kadang kita tak menyadari bahwa itu sebenarnya melukai mereka, ya.

12. Menyindir

“Bagus, ya. Habis mandi dan ganti baju malah main lumpur.”
Yang denger langsung melirik dan kabur kayaknya. Haha. Kalau kotor ya dicuci lagi saja ‘kan? Pasti anak sesimpel itu mikirnya. Tapi, emaknya sering berlebihan mikirnya, sehingga suka berlebihan pula ngasih reaksi sama anak-anak.

13. Menganalisa

Suka menganalisa? Kayaknya saya juga pernah melalukan ini. Kalau kebanyakan salah gini, bisa jadi nilai rapot saya merah semua karena banyak salah dalam mendidik anak-anak...hiks. Contoh menganalisa itu seperti apa? Misalnya ketika buku anak kita hilang, kemudian kita mengatakan berarti buku itu bukan diambil temanmu, tetapi tertinggal di kelas.”
Nah, lho. Jleb banget ‘kan semuanya? Belajar jadi orang tua memang nggak ada sekolahnya, tetapi pada kenyataanya ujianya pun nggak ada kelarnya, ya. Sebagai orang tua, kita perlu memosisikan diri supaya menjadi orang tua yang dapat mengambil hati mereka, asyik diajak curhat, nyaman, dan bikin mereka aman.
Ketika anak menerima kita, merasa nyaman dan aman dengan kita, maka mereka tak perlu mencari orang lain. Anak-anak yang kebanyakan berulah dan bertingkah, cenderung membantah biasanya disebabkan karena mereka merasa tidak lagi berhaga di mata orang tua. Sehingga mereka mencari orang lain yang dapat mendengar dan mengakui keberadaan mereka. Dan itu bahaya banget, jangan sampai terjadi pada anak-anak kita.
Anak itu adalah masa depan kita. Jika sejak kecil kita menjadikan mereka penting, berharga, maka saat dewasa nanti, mereka pun akan menyanyangi dan menghormati kita. Anak-anak yang tumbuh dengan utuh, akan menjadi pribadi penuh syukur, bahagia, dan luar biasa meskipun mereka kehilangan mata untuk melihat.
Apakah saya terlambat? Apakah kita terlambat memperbaiki yang sudah terjadi? Tidak ada kata terlambat. Cobalah meminta maaf jika selama ini sering berbuat salah kepada anak-anak. Maaf itu akan mengurangi luka mereka. Berikan kasih sayang, rasa nyaman. Dengarkan mereka, beri kesempatan mereka untuk bicara, jangan selalu menyalahkan tanpa mau mencari tahu dulu masalahnya.
Di akhir parenting kemarin, saya nggak sanggup nahan tangis. Nyesek banget lihat ada orang tua begitu hebatnya membesarkan anaknya dengan utuh meskipun anak itu spesial, kekurangan, dan tidak sesempurna anak-anak kita. Lalu, kenapa kita tidak bisa sedangkan anak-anak di rumah sempurna tanpa cacat?

Bahaya Memuji dan Penyakit yang Ditimbulkannya


Foto: Intipesan.com
“Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu (berulang kali beliau mengucapkan perkataan itu). Jika salah seorang di antara kalian terpaksa/harus memuji, maka ucapkanlah, ”’Saya kira si fulan demikian kondisinya.” -Jika dia menganggapnya demikian-. Adapun yang mengetahui kondisi sebenarnya adalah Allah dan  janganlah mensucikan seorang di hadapan Allah.” (Shahih Bukhari)
Pasti kamu tidak asing dengan kata pujian. Memuji orang lain adalah hal yang lumrah kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Tapi, tahukah kamu ternyata memuji itu tidak sebaik kedengarannya? Bahkan Rasulullah saw memerintahkan melemparkan pasir kepada wajah orang yang memuji, saking nggak baiknya kebiasaan satu ini.
Di dalam Islam, orang yang memuji orang di hadapannya diibaratkan sama dengan menyembelihnya. Padahal selama ini kita sering banget memuji orang yang kita anggap baik, menginsipirasi, dan pastinya bikin kita kagum. Karena kalimat pujian seolah layak sekali kita ucapkan.
'Ain itu tidak hanya akan membuat seseorang menjadi sakit tanpa sebab, tetapi juga mampu merusak benda, bahkan meruntuhkan gedung. Subhanallah, ngeri banget, ‘kan? Walaupun orang yang memuji kita tidak berniat buruk, tetap saja 'ain bisa muncul. Karena itu, mulai sekarang sebaiknya kurangi memuji orang lain, terutama orang-orang yang kita sayangi, jangan sampai terkena penyakit 'ain yang membahayakan.

Apakah Penyakit 'Ain Itu?

Penyakit ‘ain merupakan penyakit yang bisa menjangkiti badan maupun jiwa seseorang disebabkan oleh adanya pandangan mata dari orang yang dengki bahkan kagum sekalipun, sehingga dimanfaatkan oleh setan untuk menimbulkan penyakit pada seseorang.
Orang yang kena penyakit ‘ain ini susah banget obatnya, lho. Kadang tiba-tiba mereka demam tanpa sebab, bisa juga sakit yang tidak bisa dijelaskan secara medis. Yang lebih susah, ketika si sakit tidak menyadari jika dirinya kena penyakit ‘ain atau bahkan tidak bisa menerka dari siapa dia mendapatkan penyakit itu.
Seorang ustadz pernah berkisah tentang salah satu jamaahnya yang terkena penyakit ‘ain. Beliau adalah seorang ibu muda dan baru saja melahirkan. Tepat di depan rumahnya, tinggal keluarga lain yang juga baru memiliki buah hati. Suatu saat, tetangganya harus berobat ke rumah sakit, karena itu dia menitipkan bayinya pada ibu muda ini. Karena usia bayinya sama, dan dia pun menyusui, maka dia meminta izin pada tetangganya untuk menyusui bayi itu ketika menangis (sehingga kedua bayi itu menjadi saudara sesusuan).
Saat bayinya menangis, qadarallah bayi tetangganya pun ikut menangis. Dia pun terpaksa menyusuinya sekaligus. Kebayang gimana repotnya. Tak lama berselang, ada tetangga lain lewat dan melihat ibu muda ini menyusui dua bayi sekaligus. Terlontarlah pujian pada saat itu, “Hebat banget bisa menyusui dua bayi!”
Tak lama berselang, ibu mudah ini tiba-tiba saja lumpuh, nggak bisa ngapa-ngapain, lho. Duh, kebayang kagetnya. Karena sudah paham dan mengerti ilmu agam, dia pun mengingat apa yang sebelumnya terjadi. Suaminya pun kemudian memanggil tetangganya yang memuji tadi, menyuruhnya berwudhu dan meminta air wudhunya ditampung di dalam wadah untuk kemudian diguyurkan kepada ibu muda yang terkena penyakit ‘ain tadi. Berkat izin Allah, ibu ini pun sembuh dari sakitnya yang tiba-tiba.
Subhanallah, ngeri banget, ya? Dan ‘ain itu juga bisa terjadi lewat khayalan orang buta, nggak melulu melihat langsung. Karenanya, foto-foto yang di-upload di sosial media dan video pun tak luput dari penyakit ini. Kalau dulu, saya terbiasa menyimpan foto keluarga di sosial media, sekarang benar-benar tidak berani, terutama anak-anak kita. Kita tak pernah tahu siapa saja yang akan melihatnya. Nggak pernah tahu siapa saja yang punya pandangan dengki kepada kita, bahkan sekadar takjub bisa juga kena.

Apa yang Bisa Dilakukan Untuk Menangkal dan Menyembuhkan Penyakit ‘Ain?

Jika kamu hendak memuji, jangan lupa ucapkan Masya Allah, begitu juga ketika kamu mendapatkan pujian. Jika seperti ini tak mengapa. Anak kecil yang dapat pujian juga bisa terkena penyakit ‘ain. Karenanya ketika ada orang memujinya, katakanlah Masya Allah. Ajarkan dia juga untuk mengucapkan kalimat yang sama setiap kali dipuji orang.
Jika dia belum memahami dan menerapkan, lalukan ruqyah syari dengan membaca surat Al-Fatihah, surat Al-Ikhlas sebanyak 3x, surat Al-Falaq sebanyak 3x, surat An-Naas sebanyak 3x, kemudian jangan lupa baca 2 ayat terakhir surat Al-Baqarah, dan ayat kursi. Kemudian tiupkan pada kepala mereka sebelum keluar rumah.
Tidak hanya itu, orang tua yang sering membanggakan anak-anaknya di depan orang lain juga bisa menyebabkan ‘ain pada keluarganya sendiri. Hal ini justru lebih susah diterka karena itu keluarganya sendiri. Karena itu, jangan terlalu sering memuji anak-anak di depan orang lain, tak lupa selalu ucapkan juga Masya Allah. 
Saat pergi ke Turki, setiap orang Turki yang kami temui, baik pedagang atau orang yang kebetulan bertemu di tempat wisata sering dibuat gemas sama anak-anak, mereka nggak bilang apa-apa selain Masya Allah berkali-kali sambil nyubitin pipi di kecil. Rasanya itu berbeda banget dengan kita di sini. Butuh membiasakan diri saja karena ternyata efeknya tidak ringan.
Jika tahu siapa pelaku ain, bolehlah kita memintanya berwudhu dan menampung airnya untuk diguyurkan atau dibuat mandi, tetapi jika tidak, kamu bisa melakukan ruqyah pada orang yang kena penyakit ini.
“’Ain bukan hanya lewat jalan melihat. Bahkan orang buta sekali pun bisa membayangkan sesuatu lalu ia bisa memberikan pengaruh ‘ain meskipun ia tidak melihat. Banyak kasus yang terjadi yang menunjukkan bahwa ‘ain bisa menimpa seseorang hanya lewat khayalan tanpa melihat.”Zaadul Ma’ad (4: 153)
Sekilas rasanya itu cuma hayalan saja, ya? Tetapi, nyatanya banyak hadits yang berkaitan dengan ini. Saat ini, yang benar-benar saya coba untuk hindari adalah memajang foto di sosial media. Itulah kenapa saya jarang banget berkisah tentang anak-anak meskipun di blog pribadi, apalagi sampai mengunggah foto mereka, semua itu saya lakukan supaya terhindar dari penyakit ‘ain. Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari 'ain. Aamiin.

7 Hal yang Bikin Kamu Gagal jadi Penulis



Penulis merupakan profesi yang banyak disukai saat ini. Kenapa? Karena menjadi penulis tidak perlu terlalu repot untuk keluar rumah seperti pegawai kantoran, penulis juga punya waktu cukup fleksibel, sehingga mereka yang berprofesi sebagai penulis bisa mengatur waktu dengan lebih mudah.

Profesi sebagai penulis tidak harus dengan menulis buku. Kamu yang punya cita-cita menjadi penulis atau sekadar punya hobi menulis bisa menulis apa pun, termasuk menjadi blogger ataupun penulis artikel di berbagai media yang saat ini penghasilannya pun amat menjanjikan.

Sayangnya, untuk jadi penulis dibutuhkan kesabaran demi melalui proses yang cukup panjang. Kamu pasti tidak asing dengan penulis besar seperti Tere Liye. Sebelum sehebat sekarang, naskah beliau juga pernah ditolak penerbit, lho. Kamu apa kabar? Ditolak adalah bagian dari risiko karena sudah mengajukan naskah. Ditolak bukan hal memalukan. Itu hal yang biasa terjadi dalam dunia literasi. Jika tak mau ditolak, maka jangan menawarkan  naskah. Atau, pastikan naskah kamu sudah layak supaya tak seorang editor pun dapat menolaknya.

Saya dan teman-teman belakangan mulai menyadari ada banyak hal berbeda di antara penulis sekarang dan penulis pada zaman kami baru memulai karier. Dulu, nggak perlu dibayar, sekadar bisa menulis saja sudah merasa bahagia banget. Semangat untuk menulis itu nggak ada habisnya. Masya Allah.

Jika ada kesempatan menulis buku atau artikel di media, kami tidak akan bertanya apakah boleh mengirimkan tulisan yang sudah pernah diposting di Facebook? Atau bolehkan kami kirimkan tulisan yang sudah pernah diposting di Blog? Kenapa nggak akan bertanya begitu? Karena kami tahu, menulis itu bagian dari cara kami belajar. Jika kami hanya mengambil dan mengirim ulang tulisan yang sudah ada, itu artinya kami kehilangan kesempatan untuk belajar. Jika ada event seperti itu, kami pasti akan bersemangat menulis yang baru dan terbaik untuk dikirimkan. Dan semangat seperti itu ternyata sekarang banyak berkurang dari teman-teman. Mungkin bukan kamu, tetapi ada beberapa yang seperti ini.

Jika mau jadi penulis, baik menulis buku ataupun artikel, sebaiknya hindari beberapa hal yang bikin kamu gagal jadi penulis.

Malas Mencari Tahu

Jika mau menulis buku, kamu jangan malas mencari tahu seperti apa naskah-naskah yang lolos dan diterbitkan di penerbit yang kamu tuju. Jangan malas mencari tahu tema-tema apa yang mereka sukai. Jangan malas mencari tahu syarat untuk mengirimkan naskah, termasuk bagaimana cara mengajukan naskah dengan sopan sehingga editor tertarik melirik naskahmu.

Jika kamu mau jadi penulis artikel, silakan baca lebih banyak artikel yang terbit di media, supaya kamu tahu seperti apa artikel-artikel yang banyak dicari dan diminati oleh pembaca. Bahkan menulis itu nggak harus ikut kelas menulis, dengan otodidak saja kamu bisa kuasai dan pelajari semua. Asalkan kamu nggak malas mencari tahu.

Jika ada syarat atau ketentuan, silakan dicari tahu. Jangan sampai kamu bertanya sesuatu yang sebenarnya sudah dijelaskan sebelumnya. Bikin kesel dan males banget jika ada penulis seperti ini. Iya, nggak? Hehe.

Malas Membaca

Kamu tahu kenapa kamu sering berhenti menulis di tengah jalan? Padahal sebelumnya ide sudah ada, bahkan kamu sudah menulis hampir separuhnya? Yup! Kebanyakan dari penulis yang idenya mampet di tengah jalan biasanya dikarenakan kurang referensi. Mencari sumber atau referensi itu penting bagi penulis supaya apa yang kita tulis benar-benar berupa fakta bukan hanya sekadar fiksi tanpa logika.

Bahkan penulis fiksi pun harus punya sumber sebelum menulis ceritanya, jangan sampai ada Monas di Sumatera, ya. Hehe. Kalau sudah mengumpulkan banyak sumber, kamu pasti akan lebih mudah menuntaskan tulisanmu.

Selain itu, membaca juga sangat penting bukan hanya ketika kita butuh referensi saja, tetapi membaca bisa membuka wawasan dan memberikan ide-ide baru. Menulis dan membaca menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Jika kamu mau jadi penulis, kamu harus rajin membaca. Mustahil ada orang pandai menulis, tetapi sehari-hari nggak pernah membaca.

Beberapa penulis favorit saya seperti Bernard Batubara sering menunjukkan buku-buku yang dia baca. Dan itu nggak terbatas pada satu jenis buku saja, tetapi banyak banget. Nah, kalau kita apa kabar? Sudah membaca berapa buku dalam sebulan terakhir?

Mudah Menyerah

Nah, lho. Gimana mau sukses kalau ditolak sekali, nyeseknya berbulan-bulan? Gimana mau sukses kalau hanya mencoba satu atau dua kali? Ketika aktif menulis artikel dan mengirimkannya ke media, saya menulis artikel setiap hari. Tidak peduli apakah artikel saya diterima atau ditolak. Saya tetap mengharuskan diri untuk mengirimnya setiap hari. Jika ada waktu lebih, saya akan mengirimkan dua artikel dalam sehari pada satu media, bahkan bisa lebih.

Gampang? Ternyata tidak. Saya harus kehilangan waktu istirahat. Ketika semua tidur nyenyak, saya harus menulis bahkan sampai merasa mual karena menahan kantuk. Jika ditolak pun saya berusaha tidak mempermasalahkan itu, jangan dibuat baper aja. Kenapa? Karena kita sedang berproses. Ketika saya memimpikan sesuatu, saya tidak malu-malu menulisnya, saya tidak malu-malu menyebutnya, saya tidak malu-malu menunjukkannya kepada orang lain, saya tidak segan memperjuangkannya, dan saya tidak pernah tanggung-tanggung ketika meminta kepada Allah. Kenapa? Karena sejak awal saya yakin akan mendapatkannya!

Enggan Mencoba

Bagaimana kamu tahu hasilnya, jika selama ini kamu hanya diam dan malas mencoba? Jujur saja saya kadang kesal kepada orang yang katanya pengen jadi penulis, tetapi ternyata nggak pernah memulai. Atau sudah memulai, tetapi hanya sekadarnya saja.

Buat saya, tugas kita hanyalah menulis. Selebihnya biarkan orang lain menilai. Biarkan editor yang memutuskan apakah akan menerima naskah kita atau menolaknya. Jika ditolak? Perbaiki dan kirim lagi. Jika ditolak lagi? Bisa jadi penerbit memang tidak cocok dengan tema yang kamu kirimkan, tidak melulu tulisan kamu buruk, lho. Makannya penting banget pada poin pertama kamu pelajari. Yup! Mencari tahu naskah-naskah yang diterima penerbit itu apa saja.

Jika sudah tahu, kamu bisa menulis yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Jika memang naskah kamu menarik dan layak, tentu saja mereka tidak punya alasan lagi untuk menolaknya.

Gagal Mengatur Waktu

Mengatur waktu itu penting banget, apalagi banyak penulis yang ternyata tidak hanya berprofesi sebagai penulis, tetapi juga mengajar misalnya. Lalu kapan mereka menulis? Kapan mereka istirahat? Kapan mereka menemani anak-anak hingga memasak?

Jawabannya mereka punya waktu untuk semua itu karena mereka pandai mengaturnya. Jika ada waktu senggang meski sebentar, mereka akan menulis. Jika anak-anak tidur, mereka akan melanjutkan naskah yang harus segera dikirimkan. Jika kamu beralasan sibuk, ternyata mereka yang sukses juga lebih sibuk daripada kamu, lho. Malu banget ‘kan kalau sampai beralasan begitu, tetapi nyatanya kamu hanya sibuk main sosial media? Jleb banget nggak, sih?

Belajar Bisa dari Siapa Saja, Tetapi Kamu Tidak Mau Seperti Itu

Di atas langit masih ada langit. Jangan merasa karena sudah ada di atas, kamu tidak mau belajar dari junior kamu. Duh, kamu salah besar. Belajar itu bisa dari siapa saja. Jangan lihat siapa yang menyampaikan, tetapi lihat apa yang disampaikan.

Banyak senior yang gengsi banget dan kesel kalau juniornya lebih maju. Banyak senior yang nggak mau membantu juniornya maju supaya bisa seperti dirinya. Yang seperti ini banyak! Padahal seharusnya tidak melulu seperti itu. Yang namanya belajar itu bisa dari siapa saja, lho. Nggak harus dari senior kamu, bisa jadi ilmu dan pengalaman itu datang dari orang-orang yang ilmunya di bawah kamu. Jadi, jangan gengsi dan malas belajar dari siapa pun, ya!

Malas Menulis

What? Mau jadi penulis tapi malas menulis? Mending ditenggelamkan aja orang seperti ini. Hehe. Mana ada orang mau jadi atlet renang tapi malas berenang. Mustahil, ‘kan? Kalau kamu mau jadi penulis, usahakan menulislah setiap hari. Jika waktu kamu nggak banyak, tulislah setengah halaman, asalkan setiap hari, setengah halaman itu bisa jadi buku, lho.

Menulis malas, tapi nyetatus di sosial media rajin. Kamu penulis buku apa penulis status? Hehe. Yuk, ah rajin menulis. Biasakan menulis setiap hari. Jika kamu memang mencintai dan ingin menekuninya, kamu harus membiasakan diri untuk melakukannya setiap hari. Jangan ditunda, sebab menunda-nunda pekerjaa itu adalah sifat yang sangat buruk dan merugikan. Sebab kita tidak pernah tahu, ke depannya akan seperti apa. Entah kamu malah sakit, mati lampu, atau harus pergi kondangan…hehe.

Nah, itulah beberapa hal yang ternyata sangat buruk dan sebaiknya dihindari jika memang mau jadi penulis. Jika kamu merasa masih begitu-begitu saja, coba cari tahu dan perbaiki kesalahan kamu. Kenapa ‘dia’ sudah melambung tinggi, sedangkan kamu masih nyaman di posisi yang sama? Mungkin ada yang salah dengan kamu. Yuk, perbaiki diri!

Resep Kue Cubit Mudah dan Cepat Bikinnya, Bisa Jadi Teman Ngeteh!



Siapa yang sedang bingung mencari resep kue cubit yang mudah dan cepat bikinnya? Saya pribadi suka bikin kue cubit karena toppingnya bisa suka-suka, selain itu, bikin kue cubit nggak butuh banyak bahan dan prosesnya terbilang mudah ketimbang kita membuat cake yang ujung-ujungnya bantat.

Topping kue cubit umunya adalah mesis cokelat, tetapi nggak menutup kemungkinan bisa pilih berbagai macam jenis topping yang nggak kalah lezat seperti pisang, parutan keju, atau malah keju oles yang super yummy. Kue cubit bentuknya mungil, sehingga cocok banget dibuat menjadi bekal untuk anak-anak.

Kenapa Disebut Kue Cubit?

Tahu nggak sih asal mula nama kue cubit? Kenapa dinamakan kue cubit? Apakah karena makannya sambil nyubitin orang? Pastinya nggak, ya. Kue cubit merupakan adonan yang dituang ke dalam cetakan, yang setelah matang diangkat menggunakan penjepit sehingga namanya pun disebut kue cubit.

Ternyata begitulah sejarah kue cubit yang sekarang banyak banget dijual di pinggir jalan. Kue cubit yang dijual pun beragam, lho. Ada yang terasa santannya, ada yang dicampur parutan kelapa sehingga bikin semakin legit aja. Kue cubit ini favorit anak-anak banget. Kalau kebetulan kita jalan keluar, biasanya anak-anak minta dibelikan.

Tapi, sekali-kali kadang pengen bikin sendiri juga. Malah lebih asyik karena toppingnya bisa macam-macam. Yang paling favorit pakai keju oles dan kue cubitnya dibuat rasa pandan. Hmm, ngiler sendiri ngebayanginnya… haha.

Resep Kue Cubit Mudah dan Cepat Bikinnya

Seperti yang saya bilang di awal, kue cubit ini bikinnya benar-benar simpel banget. Bahkan bisa tanpa mixer, tapi kemarin karena malas ngocok dengan wisk dan takut kelamaan, alhasil saya pakai mixer aja.

Resep ini menggunakan susu cair, kadang kalau bikin rasa pandan, saya lebih suka mencampurnya dengan santan, lho. Rasanya jauh lebih enak dan gurih. Nah, kalau nggak punya santan atau susu cair? Boleh juga pakai air, tapi pasti rasanya kurang gurih, ya.

Resep kue cubit mudah ini saya ambil dari Kokiku TV kemudian saya tulis kembali di Cookpad. Seperti apa bahan-bahan dan cara membuatnya? Yuk, segera bikin!

Bahan yang Harus Disiapkan:

200 gr terigu protein sedang
3 butir telur
100 gr margarin atau butter lelehkan
100 gr gula pasir
Sedikit vanilla cair
100 ml susu cair
¼ sdt baking soda
½ sdt baking powder
Secukupnya pewarna makanan
Secukupnya mesis cokelat untuk topping

Lakukan Langkah-langkah Mudah Ini:

1. Mixer telur dan gula menggunakan kecepatan sedang-tinggi hingga gula benar-benar larut dan telur mengembang.

2. Masukkan terigu dan mixer kembali dengan kecepatan rendah asal rata.

3. Masukkan susu cair dan mixer lagi sampai rata.

4. Masukkan bahan sisa selain butter cair. Mixer rata kembali, tetapi jangan over mix.

5. Masukkan butter cair dan mixer dengan kecepatan rendah hingga tercampur.

6. Panaskan cetakan (saya pakai cetakan takoyaki). Kemudian olesi dengan butter.

7. Tuang adonan, jangan penuh-penuh karena akan mengembang.

8. Setelah keluar gelembung, taburi dengan topping.

9. Tutup dan biarkan sampai matang. Nggak butuh waktu lama untuk matang, ya.


Voila! Kue cubit buatan kamu pun siap disantap atau dijadikan bekal sekolah untuk anak-anak tercinta. Kalau hujan-hujan, cocok banget dong dijadikan teman ngeteh sore. Gampang banget ternyata, ya? Nggak harus punya keahlian khusus untuk membuatnya. Siapa pun kamu insya Allah berhasil.

Yang paling penting mungkin jangan sampai menakar bahan sembarangan. Kadang jarang juga yang punya timbangan bahan kue, padahal ini penting banget. Saya pribadi memakai timbangan digital yang saya beli di salah satu toko online. Harganya bahkan nggak sampai Rp. 50 ribu, lho. Murah banget dan Masya Allah tetap bisa dipakai sampai sekarang. Timbangan ini saya gunakan sejak awal saya belajar nge-baking.

Selain itu, cetakan sebaiknya yang anti lengket supaya kue cubit nggak rusak ketika diangkat. Cetakan kue cubit biasanya banyak sekali jenisnya, ada yang berbentuk lucu seperti bintang atau hati. Tapi, di rumah saya membeli cetakan takoyaki yang serba guna banget. Kadang saya pakai untuk membuat bolu tanpa oven, atau membuat bika ambon yang super yummy. Ukurannya mungil banget memang, sekali suap aja. Dan justru itu jadi disukai sama anak-anak.

Nah, gimana? Tertarik buat bikin kue cubit mudah dan nggak butuh waktu lama ini? Yuk, bikin sesuai selera, beri topping yang kamu suka. Dan sajikan untuk keluarga tercinta! Selamat mencoba.

[Review] Rahasia dalam Semangkuk Sup, Kumpulan Cerita untuk Anak Saleh



“Ketika bersin, Rasulullah saw menganjurkan agar memelankan suara, menutup mulut, dan membaca tahmid. Seperti itulah yang Umar tahu dari Ustaz Subhan di Sekolah.”(Hal 86)

Umar dan Fatimah memiliki banyak cerita menarik dan penuh pesan moral. Di dalam buku Rahasia dalam Semangkuk Sup mereka tidak hanya bermain dan bersenang-senang layaknya anak 7 tahun pada umumnya, tetapi juga mengajarkan banyak pesan kebaikan termasuk tentang keutamaan berakhlak mulia.

Umar yang merupakan kakak kandung dari Fatimah kadang juga teledor dan lalai. Seperti saat dia keasyikan bermain sehingga harus tidur terlalu larut dan imbasnya dia bangun kesiangan. Masalah sederhana ini juga sering dilakukan oleh anak-anak. Mereka yang sudah asyik bermain kadang susah sekali ketika diingatkan untuk berhenti sekadar shalat atau mengerjakan tugas sekolah.

Umar, seperti layaknya anak-anak pada umumnya, ternyata juga tidak terlalu suka menyantap sayuran, lho. Dia suka makan sup krim buatan Ummi, tetapi ketika sesuatu berwarna oranye menyembul dari sendok, Umar pun urung menyantapnya. Umar sempat menolak menghabiskan sup krim yang sudah dibuatkan Ummi, dia sungguh tidak menyukai sayuran termasuk wortel yang ternyata Ummi campurkan ke dalam supnya.

Tapi, setelah mencobanya, ternyata rasanya tidak terlalu buruk. Justru Umar jadi suka menyantap sayur terutama setelah tahu manfaat besar yang terkandung di dalamnya.

Buku Rahasia dalam Semangkuk Sup ini adalah buku solo pertama saya yang terbit pada awal 2018 kemarin. Ini juga kali pertama saya berani menulis cerita untuk anak-anak yang sebelumnya tidak pernah saya jamah. Dulu, saya paling suka menulis cerpen romance. Selain itu, saya juga pernah menyelesaikan buku nonfiksi Islami. Jadi, menulis cerita untuk anak-anak adalah hal baru pada saat itu.

Buku Rahasia dalam Semangkuk Sup ini tidak hanya berisi 30 kisah teladan untuk anak-anak, tetapi juga berisi hadits dan fakta-fakta di dalamnya. Buku yang saya rampungkan sekitar 2 minggu dengan tebal 248 halaman ini saya tulis dalam bimbingan menulis di Sekolah Perempuan pada saat itu.

Di antara 30 kisah menarik di dalam buku Rahasia dalam Semangkuk Sup adalah kisah tentang Umar yang tidak suka makan sayur, Umar yang bangun kesiangan, adab masuk dan keluar kamar mandi, adab bersin, adab makan dan minum, larangan marah, dan masih banyak lagi cerita menarik lainnya.

Menulis cerita-cerita anak itu kalau dibayangkan mudah banget, tetapi ketika dicoba ternyata nggak semudah yang dibayangkan. Kisah-kisah di dalam Rahasia dalam Semangkuk Sup ini mungkin masih belum wow banget dibanding buku-buku kumpulan cerita anak lainnya, tetapi saat membuatnya saya harus memastikan bahwa ada pesan moral di dalamnya.

Selain itu, saya juga berusaha mengambil dalil-dalil shahih, sampai-sampai ada satu doa yang saya ragu apakah itu dalilnya benar atau tidak, hingga harus bertanya kepada ustadzah saya, dan ustadzah saya pun kemudian bertanya kepada rekannya yang saat itu sedang belajar dan tinggal di Mesir.

Kelebihan Buku Rahasia dalam Semangkuk Sup

Apa saja kelebihan dari buku dengan cover berwarna cerah ini? Selain kisah-kisahnya yang bisa menginspirasi anak-anak untuk melakukan kebaikan, buku ini juga berisi adab-adab yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Ceritanya dikisahkan senatural mungkin, sehingga tak berbeda dengan kejadian-kejadian sehari-hari yang sering dialami oleh anak-anak. Misalnya saja seperti tertib saat mengantre atau memberikan tempat duduk pada orang lain ketika naik angkutan umum.

Selain itu, dalil-dalil yang disebutkan insya Allah shahih. Buku ini bisa jadi teman baik buat anak-anak kita di rumah. Mereka bisa belajar dari kisah Umar dan Fatimah yang kadang serius, konyol, dan seru.

Kelemahan dari Buku Rahasia dalam Semangkuk Sup


Jika cerita anak-anak pada umumnya dipenuhi ilustrasi, lain lagi dengan buku satu ini. Karena terbit indie, buku ini pun tak memasukkan banyak ilustrasi kecuali beberapa gambar sederhana pada setiap ceritanya.

Di Mana Kamu Bisa Mendapatkan Buku Rahasia dalam Semangkuk Sup?

Buku ini diterbitkan di Bitread dan bisa dipesan langsung di sini, atau bisa juga membaca versi digitalnya di Gramedia Digital.  

Membacakan buku-buku yang dipenuhi pesan moral akan membantu membentuk karakter anak menjadi lebih positif. Jangan sampai kita lupa membacakan cerita penuh teladan kepada mereka. Suatu saat kita akan takjub ketika mengetahui bagaimana anak-anak belajar banyak dari itu semua.

Custom Post Signature

Custom Post  Signature