Thursday, August 22, 2019

Perlukah Anak SD Diberi PR?

 





Hmm, mari siapkan tisu. Postingan ini bisa saja mengandung bawang merah yang membuat mata perih atau malah hati perih (karena beda pendapat). Jika tidak kuat, saya sarankan kamu segera tutup halaman ini dan carilah tema-tema yang lebih menyenangkan untuk dibaca seperti tips menguruskan badan misalnya?

Ada nggak, sih, ibu-ibu yang ngedumel saat anaknya dikasih PR banyak oleh gurunya? Kenapa sekolah full day kok bisa masih dapat PR sebanyak ini hampir setiap hari pula? Padahal seharian mereka sudah menghabiskan waktu belajar di sekolah. Tolong garis bawahi, ya. Mereka di sekolah dari pagi sampai sore belajar, bukan main-main, lho. Lalu kenapa masih dibebani PR seolah mereka nggak ngapa-ngapain selama seharian? Itu pendapat salah satu orang tua tentang pemberian tugas tambahan di rumah seperti PR. Bagaimana pendapat para guru?


PR itu dibutuhkan bagi siswa supaya mereka bisa belajar di rumah. Kalau tidak ada PR, apa mereka mau belajar? Apa orang tua mau membantu anak-anak mengulang pelajaran yang sudah-sudah? Guru juga harus memastikan materi pembelajaran tuntas saat siswa melaksanakan PTS. PTS sudah sebentar lagi, lho, Bunda. Dan materi belum sepenuhnya selesai dibahas, bahkan banyak siswa yang belum memahami pelajaran sepenuhnya. Dengan adanya PR, anak-anak juga lebih mandiri. Bukannya di rumah itu santai, jadi bisa belajar bareng orang tua?


Sebenarnya apa tujuan anak-anak usia SD diberikan PR? Kalau kita pikir, mereka udah capek dari sekolah, pulang udah sore (bagi yang sudah sekolah full day terutama), tapi masih dibebani pekerjaan rumah yang sebenarnya tidak diperuntukkan sebagai tugas rumah bersama orang tua, tetapi lebih pada jenis tugas akademis yang sebenarnya dari Kemdikbud sendiri sudah terang-terangan dilarang.


Banyak sekali pendapat berbeda akan hal ini. Ada yang menanggapinya santai, ada yang serius mengingat ada yang sampai anaknya jadi school phobia gara-gara PR. Iya, nggak percaya, kan? Masalahnya kita sedang membahas anak-anak yang dunianya tidak seperti orang dewasa. Please, pahami dengan hati jernih, no ngedumel apalagi sampai marah dengan postingan ini. Karena beda pendapat itu wajar, ya. Hanya saja saya berusaha menghadirkan data, bukan hanya emosi. Nggak mau egois sampai menyalahkan anak-anak yang nggak mau belajar di rumah karena memang sudah capek, apalagi malah menyalahkan guru yang sering banget ngasih PR tanpa mengerti porsi untuk usia anak didiknya. Yuk, tarik napas dan kita lanjutkan pembahasan ini.


Riset Pemberian PR

Seorang peneliti bernama Harris Coopers yang telah meneliti pekerjaan rumah atau PR selama 25 tahun menemukan hasil yang mencengangkan. Pemberian PR pada anak-anak usia SD cenderung memberikan dampak negatif ketimbang positif. Dia mengungkapkan bahwa PR yang diberikan kepada anak SMA bisa berdampak positif dan memberikan manfaat, tetapi, manfaat itu menurun jika diberikan kepada anak SMP, bahkan sama sekali tidak bermanfaat andai diberikan kepada anak-anak usia SD. Kok, bisa? Kan ngasih PR supaya mereka pinter, biar mereka lebih paham pelajaran di sekolah. Materi sekarang itu susah banget, lho. Makannya jangan main-main kalau sekolah. Harap sabar, Zubaedah. Kita lanjut lagi, ya!


Berikut merupakan alasan kenapa PR menjadi tidak bermanfaat bagi anak-anak usia SD menurut Coopers seperti dilansir Republika.co.id,
1. Anak-anak usia SD memiliki waktu panjang dalam jenjang pendidikannya ke depan. Jenjang pendidikan mereka masih menanti jauh, setelah SD mereka mau SMP, setelah itu masih masuk SMA dst. Sekarang, mereka baru saja merasakan senangnya sekolah, jadi jangan membuat mereka membenci sekolah dengan beban PR yang begitu banyak. Mereka harusnya happy. Dan itu hak mereka juga.


2. Dampak negatif lain dari pemberian PR adalah rusaknya hubungan personal antara anak dengan orang tua. Tidak seperti anak yang sudah berusia remaja, anak-anak usia SD cenderung masih harus selalu diingatkan akan kewajibannya, termasuk untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Seharian mereka sudah belajar di sekolah, tidak seperti orang dewasa yang mampu mengerjakan banyak tugas, anak SD akan menghindari pekerjaan rumah karena merasa sudah jenuh (bukan malas, ya). Otomatis orang tua perlu mengingatkan supaya mereka mengerjakan tugasnya apalagi jika guru sampai memberikan hukuman di sekolah. Ujung-ujungnya terjadi keributan kecil yang berdampak bagi psikologis mereka. Hubungan kurang menyenangkan seperti ini akan berlanjut sampai mereka berusia remaja di mana mereka seharusnya sudah mulai merasakan manfaat dari PR yang diberikan oleh para guru.


3. Pemberian PR yang tujuannya diberikan demi memberikan rasa tanggung jawab ternyata tidak sepenuhnya berhasil mengingat anak-anak masih harus selalu diingatkan oleh orang tua. Tapi, mereka kan harus belajar bertanggung jawab sejak dini? Iya, tetapi tidak dengan beban PR banyak. Masih banyak hal-hal sederhana yang bisa dilakukan, seperti mengajarkan anak-anak menaruh cucian kotor di keranjang cuciannya sendiri, mencucinya jika dirasa sudah mampu, atau mencuci piring yang telah dia gunakan. Tugas sehari-hari seperti itu juga bisa memupuk tanggung jawab dan kemandirian mereka, tidak hanya dengan adanya PR.


4. PR cenderung menghabiskan sisa waktu anak-anak di luar sekolah yang seharusnya digunakan untuk bermain dan menikmati waktu kecil mereka bersama teman-teman sebayanya. Kehidupan mereka tidak seperti orang dewasa yang diharuskan kerja, kerja, dan kerja! Iya, kan? Mereka juga punya hak untuk bermain. Jangan rampas hak anak-anak demi ambisi orang dewasa semata.


 
5. Pemberian PR yang tidak diperhitungkan juga berdampak bagi kesehatan mereka. Anak-anak jadi kurang tidur. Seharusnya mereka punya cukup waktu untuk istirahat supaya bisa maksimal dan produktif selama di sekolah. Kalau akhirnya di sekolah menjadi tidak maksimal, ujung-ujungnya kita sering menyalahkan mereka. Padahal, sebenarnya siapa yang mesti disalahkan jika terjadi hal seperti ini?


Data lain memberikan kesimpulan bahwa pemberian PR bisa berdampak kurang baik bagi kesehatan seperti yang ditemukan oleh Cheung & Leung – Ngai yang melakukan survey terhadap 1.983 siswa di Hongkong, PR tidak hanya dapat meningkatkan kecemasan dan stres, tetapi juga perubahan fisik seperti sakit perut dan sakit kepala.


Siswa yang dihukum oleh guru, orang tua, atau diejek oleh temannya karena tidak mengerjakan PR menunjukkan peningkatan depresi. Sampai seburuk itu dampaknya jika memang nggak diperhitungkan baik-baik. Masih ada yang meremehkan?


Belajar Tidak Tergantung pada Membaca dan Berhitung Saja, lho


Anak-anak juga butuh belajar di lingkungan keluarga dan masyarakat. Mereka tidak mungkin hanya hidup dengan matematika saja, lho. Dunia mereka luas, banyak hal harus dipelajari. Jadi, jangan heran kalau sampai ada anak yang sudah kuliah tidak bisa membedakan mana jahe dan lengkuas, mana sawi hijau dan bayam :(


Dan ini benar-benar kejadian sama kerabat saya. Hal-hal seperti ini bisa dipelajari di rumah. Kita belajar jangan hanya berpatokan pada bangku sekolah. Di luar pun banyak hal menarik untuk diekplorasi. Karena alasan inilah, Kemdikbud memberikan himbauan dengan melarang pemberian PR kepada anak-anak usia SD. Meskipun larangan memberikan PR sudah diterapkan sejak tahun 2017, tetapi ternyata masih banyak guru yang memberikan PR. Bahkan hingga detik ini. Semua tetap tergantung kebijakan guru dan seharusnya tetap mempertimbangkan kondisi anak-anak juga.


Pendapat Saya Tentang Pemberian PR untuk Anak Usia SD


Buat saya pribadi, pemberian PR tidak seratus persen salah. Tidak juga selalu positif. Andai diberikan dengan porsi yang tepat, sepertinya tetap fun buat anak-anak. Sejak kelas 2 SD, si sulung sudah terbiasa mendapatkan PR. Sempat diberikan terlalu banyak hampir setiap hari dengan alasan supaya mereka bisa belajar lagi di rumah, tetapi faktanya memang lebih banyak ngasih beban ketimbang manfaatnya. Sehingga saat itu akhirnya para wali murid berdiskusi dengan wali kelas, dan terjadilah kesepakatan bahwa kami orang tua setuju saja dengan pemberian PR asalkan tidak terlalu sering. Rasanya adil, sih, mengingat dunia anak-anak bukan hanya bermain dalam angka, perkalian, dan pembagian. Mereka juga butuh melihat indahnya pelangi di luar sana. Mereka juga butuh tertawa lepas bersama teman-teman sebayanya. Saya setuju dengan kalimat yang dituliskan di laman idntimes.com,

PR membuat anak yang tinggal serumah, tetapi merasa asing satu sama lain dengan keluarganya.


Dalem banget maknanya. Selama ini saya tidak banyak memikirkan soal dampak dari pemberian PR kepada anak-anak usia SD. Sampai saya tahu ternyata dampaknya memang tidak sesederhana yang orang dewasa pikirkan. Anak saya sekarang sudah hampir 9 tahun. Dia bukan tipe anak pemalas, dia bertanggung jawab atas tugas-tugas sekolah yang diberikan oleh para gurunya. Dia juga tidak menonton televisi di rumah, karena bagi kami televisi membuat dunia mereka hambar bahkan hilang kalau boleh lebay. Jadi, selama ini kami mematikan televisi dan mereka fun aja.

Ketika masuk kelas 3, saya paham betul materi di kelasnya akan semakin susah dipahami. Bukan hanya bagi mereka, bahkan bagi kami orang tuanya terutama saya yang sangat tidak senang dengan angka-angka dalam pelajaran Matematika. Jadi, harus ada kesadaran orang tua juga di rumah untuk membantu anak-anak, karena kita tahu, tugas mendidik tidak seratus persen menjadi tanggung jawab guru di sekolah, tetapi juga tugas kita. Kalau orang tua mau aktif juga, insya Allah semua akan berjalan lebih baik.



Anak saya sekolah full day, mulai pukul 07.15 WIB, hingga hampir pukul 3 sore. Sampai di rumah menjelang Ashar sekitar pukul 15.15 WIB. Dia menghabiskan 8 jam sehari di sekolah. Kalau sekolah sudah pasti belajar, ya. Mana mungkin hanya dribble bola basket. Tidak seindah itu, Ferguso…hehe. Jadi, ketika dia pulang sekolah, sebagai orang tua saya merasa perlu menurunkan kadar emosi di dalam diri sendiri. Emak-emak jangan banyak nuntut, deh, kalau anaknya baru pulang sekolah apalagi sampai nanyain PR segala. Bisa-bisa terjadi pertumpahan darah yang tidak diinginkan.


Ustadz Eri Setiawan yang merupakan Master Trainer ‘Super Study Skills’ mengatakan bahwa kita sebagai orang tua harus sabar dan berkomunikasi dengan baik pada anak-anak terutama saat mereka pulang sekolah. Beliau bilang, saat anak baru pulang sekolah, jangan disuruh belajar terus, jangan ditanyain ada PR nggak? Udah dikerjain belum PR-nya? Udah belajar belum? Kok, kamu main mulu? Kenapa kamu nggak belajar? Yang seolah-olah kita mengatakan bahwa mereka selama 8 jam di sekolah hanya main dan guyon nggak jelas sama teman-temannya.


Karena kondisi seperti itu, maka wajar jika kita memaksa, ujung-ujungnya ribut. Andai anaknya santai, nggak ngerjain ya udah, kan hanya PR (ada lho anak begini, yang jelas ini bukan anak saya…hiks), nggak merasa PR jadi beban karena ya ngapain juga dipikir berat, hidup aja udah berat, kan? Tapi, masalahnya, ada anak yang panik (seperti anak saya, hiks) bahkan sampai stres kalau PR-nya belum kelar, padahal PR yang perlu diselesaikan sehari itu nggak hanya satu, ada beberapa misal, atau malah bersamaan dengan Penilaian Harian atau PH. Gimana rasanya?


Jika ada PR, sepulang sekolah, anak saya langsung mandi seperti biasa. Biasanya dia istirahat dulu, main-main sebentar sama adiknya. Tapi, saat ingat ada PR, dia akan bilang seperti ini kepada saya,


“Bunda, Alby mau ngerjain PR dulu, ya? Biar nanti Alby bisa santai dan ada waktu buat main.”


Karena selama ini dia mengaji bersama saya, waktunya memang jadi lebih fleksibel. Dia boleh mengubah jam ngajinya kapan saja asal dia tetap mengaji. Jadi, pulang sekolah pukul setengah 4, dia sudah mandi, wangi, rapi dan siap ngerjain PR karena dia pengen banget main setelahnya. Dia berharap ada waktu bermain sore itu. Nggak maksa buat main terus, nggak juga nolak buat ngerjain tugasnya yang kadang bikin dia harus nangis.


Saya pribadi tidak pernah memanjakan dia. Bahkan sejak kecil, ketika dia menginginkan sesuatu, dia belajar harus menabung dulu. Dia memang sedang dalam masa jenuh, kelas 3 ini rawan jenuh karena pelajarannya mulai serius banget. Tapi, dia juga punya hak buat bermain. Kalau sampai akhirnya dia kehilangan waktu bermain, kehilangan haknya, saya merasa egois banget memaksa dia sekolah sampai segitunya.


Pengalaman Pahit Cukup Bagi Saya, Bukan untuk Masa Depan Anak Saya

Dulu, saya sekolah serius banget karena tuntutan dari orang tua. Saya tidak sedang mencari kambing hitam atas masa lalu saya. Saya memaafkan masa lalu saya. Saya berusaha berdamai dengan semua itu. Itu semua karena ketidaktahuan orang tua. Mereka tidak salah :)

Orang tua senang jika saya juara, orang tua membantu saya belajar dan saya suka, kok. Saya nggak merasa terpaksa saat itu. Sampai saat SMP, saya termasuk anak yang jarang keluar kelas saat jam istirahat. Saya dan teman-teman belajar mengisi LKS di kelas, nggak jajan seperti anak-anak lain. Bukan karena nggak pengen dan dianggap sok rajin, tetapi uang jajan saya selalu kurang jika digunakan untuk membeli makanan...hihi. Hanya cukup untuk membeli permen beberapa biji.

Saya happy bisa belajar sampai tengah malam, bahkan saya hapal semua halaman mata pelajaran, letaknya di mana, ada di halaman berapa. Kebayang semua tuh di kepala. Saya melakukan demi apa? Demi orang tua yang sering menyindir saya, kok kamu nggak juara sih kayak si A? Demi membantu orang tua supaya SPP saya gratis selama 6 bulan.

Dan benar, saya yang dulu sering kena cubitan guru SD karena nggak bisa Matematika menjadi pinter banget berhitung. Saya menguasai Fisika. Rasanya itu ajaib banget. Saat Ujian akhir, saya mendapat tugas membantu teman-teman yang lain, minimal kasih jawaban supaya mereka lulus, deh. Sampai akhirnya saya menjadi juara pertama satu yayasan, bukan hanya di sekolah saya, tetapi nilai saya lebih tinggi daripada sekolah lain dalam satu yayasan itu. Hebat, banget, kan? Pasti bangga dong jadi anak sehebat itu. Tapi, tahu nggak sih apa yang terjadi setelahnya? Saya nggak bisa apa-apa. Semua kemampuan saya selama beberapa tahun menjadi juara hilang tak berbekas. Saya seperti orang bodoh yang nggak pernah juara satu. Saya bahkan tidak bisa menghitung angka-angka mudah. Why? Ada apa dengan saya?


Saat saya punya anak, saya tidak mau dia seperti saya. Belajar yang dipaksakan. Mau sebaik apa niatnya kalau nggak sesuai dengan fitrah perkembangan anak-anak, ujung-ujungnya justru bakal merusak anak itu sendiri. Jadi, saya memutuskan untuk tidak melulu menjadikan juara satu di sekolah sebagai suatu kebanggaan. Anak-anak kita semua cerdas. Bisa jadi mereka nggak pandai berhitung, tetapi mereka jago menggambar, mereka suka seni, suka olahraga, mereka suka alam, itu juga bagian dari kecerdasan. Kalau hanya fokus sama nilai akademis, rasa-rasanya kita sebagai orang dewasa jadi begitu egois.


Saya dan teman sekelas juga bisa tertawa lepas dan bilang kalau nilai akademis bagus dan peringkat pertama itu hanya dibutuhkan bagi orang yang mau nyaleg. Iya, kalau kamu nggak pengen nyaleg ya nggak usah sampai segitunya belajar. Bahkan mereka yang belajarnya santai sekarang banyak yang akhirnya ‘jadi’ orang. Dan ini diamini oleh teman-teman saya juga. Kok, bisa nyambung nyaleg sama juara kelas? Itu salah satu cara kami menertawakan kebodohan kami dulu :)


Bagaimana Pendapat Ahli Psikologi Tentang Cara Belajar Anak usia SD?

Saat saya ikut kajian rutin, ustadz saya yang merupakan Dosen Psikologi juga mengatakan bahwa anak SD itu jangan dibuat jenuh. Sekolah santai aja karena jika sampai anak jenuh ketika SD, dampaknya nggak baik buat perkembangan mereka nanti.


Data lain dari Ustadz Eri Setiawan yang juga jelas mengerti soal ini, mengatakan begini,


Sebelum memahami manfaat, efektif atau tidaknya PR bagi anak-anak usia SD, sekolah, guru, dan orang tua, harus memahami tentang tahap perkembangan anak. Karena treatment apa pun yang tidak sesuai dengan tahap perkemgangan anak, maka hanya merusak anak itu sendiri. Memberikan beban PR yang berlebihan tidak sesuai dengan fitrah tahap perkembangan anak di usia 8-9 tahun (kelas 3). Dampaknya, anak mendapatkan pengalaman belajar yang tidak menyenangkan dan itu akan berdampak pada tahap-tahapan selanjutnya. Banyak anak yang akhirnya menderita scholl phobia gara-gara PR.


Dari sini jelas ya bisa diambil kesimpulan bahwa niat baik, sebaik apa pun itu kalau diterapkan tidak sesuai porsinya, nggak melihat apakah sesuai dengan tahapan perkembangan mereka, ujung-ujungnya tidak akan berguna, bahkan merusak diri anak-anak sendiri.


Saya senang anak saya pintar dalam bidang akademis, tetapi sekolah bagi saya semata-mata bukan  hanya untuk itu. Sama seperti saat mau ke dokter, saya tidak selalu bertujuan meminta obat supaya anak saya sembuh sehingga dokter jadi nggak rasional karena konsumen kesehatan nggak rasional juga, nuntut dikasih obat melulu. Kadang saya hanya konsultasi, memantapkan diagnosis, beneran sakit common cold aja atau nggak?

Sama seperti sekolah. Bagi saya, sekolah bukan hanya tempat belajar berhitung dan membaca, sekolah juga menjadi tempat belajar banyak hal. Anak-anak butuh belajar bergaul. Mereka harus belajar menghargai orang lain, bertanggung jawab, dll. Penting bagi saya, sekolah harus bikin mereka happy, jangan sampai tertekan.


Jangan sampai karena beban PR yang berlebihan bagi anak-anak, sampai ada yang mogok sekolah atau minta pindah sekolah, sampai ada yang sama sekali nggak mau ngerjain PR, sekarang dan selamanya *jadi kayak lagu…hehe.

PR sesuai porsi akan tetap bermanfaat. Asal waktu di rumah jangan sampai dihabiskan hanya untuk memahami angka-angka terus. Kan, mereka juga punya hak buat bermain. Ini bukan alasan kami yang malas mengajari mereka. Insya Allah kami para orang tua tidak melepas sepenuhnya meski anak-anak kami sekolahkan. Mereka tetap anak kami, yang bahkan sampai mereka lulus kuliah juga menjadi tanggung jawab kami. Kamu pasti setuju soal ini, kan?


Saya berusaha mencari tahu kepada orang-orang yang memang lebih mamahi seperti kepada ustadz Eri dan beberapa rekan yang berprofesi sebagai guru. Postingan ini saya tutup dengan pendapat-pendapat para orang tua serta guru yang bersedia menyempatkan waktunya demi menjawab keresahan saya. Terima kasih buat kamu yang sudah membaca postingan ini. Mari menjadi orang tua yang lebih baik lagi buat anak-anak. Berikan hak mereka, cintai mereka, dan buat mereka menjadi berharga. Karena sejatinya anak-anak tidak pernah bisa memilih siapa orang tua mereka, tetapi kitalah yang meminta mereka hadir dalam hidup kita.

Pendapat Orang Tua dan Guru Tentang PR untuk Anak SD


Pemberian PR akademis termasuk dalam pelanggaran. Karena kurikulum yang sekarang dianjurkan memberikan PR yang non akademis. Supaya anak nggak stres dan takut sekolah. Masa-masa seperti mereka pasti lebih suka aktivitas daripada ngerjain soal. Larangan PR akademis itu himbauan langsung dari Kemdikbud. Tiap pelatihan kurikulum juga dihimbau tentang itu. Karena kurikulum sekarang itu bukan ngejar keahlian akademis, tetapi lebih pada pembelajaran bermakna. Jadi, siswa diajak mengenal lingkungan dan kemudian bisa mengenal bahkan menciptakan konsep. Dari situ pembelajaran jadi lebih seru, mereka akan selalu ingat. Penting kita bisa ngajar efektif. Karena per tema itu materinya diulang-ulang. Kalau hanya mengikuti buku banget, kapan kelarnya? Waktu pertama pakai kurtilas saya juga kebingungan merasa kurang waktu. Sekarang saya mengajar efektif saja. (Siti Zuhrotul Willadia, Guru)

 

Saya memilih  sekolah anak biar happy, bukan membebani lagi. Realita sekarang, teman-teman saya yang santai di sekolah jauh lebih sukses daripada teman-teman saya yang hanya mementingkan prestasi akademis semata. (Talitha Rahma, Ibu rumah tangga dan mantan wartawan)


Kan sekolah sudah full day. Harusnya pulang itu sudah bebas belajar. Kalau masih ada PR, berarti gurunya tidak bisa memaksimalkan selama KBM berlangsung. Aturan memberikan PR juga tidak boleh lebih dari 10% waktu bermain anak. Kalau sampai menyita seluruh wakyu bermain, itu sudah menyalahi aturan. (NC Suryani, Penulis, guru)


PR tetap perlu, tetapi jangan setiap hari. Untuk sekolah Full day, sebaiknya semua tugas sekolah sudah diselesaikan di sekolah. Jangan ada PR lagi. Paling kalau bikin project akhir gitu nggak masalah, waktunya lebih fleksibel. Manfaat dari pemberian PR itu juga diukur secara umum. Kalau seangkatan yang nilai Matematikanya naik hanya 5 orang, dan ratusan anak lainnya hanya mendapatkan dampak stres, berarti kurang bagus cara ngasih PR-nya. (Farida, Ibu Rumah Tangga)


Saya sebagai orang tua lebih suka ada PR, karena tujuannya supaya bisa review di rumah. Karena kalau nggak ada PR, mereka jadi sulit disuruh belajar di rumah. Selama guru memberikan PR sesuai porsinya dan guru mengapresiasi hasil kerja anak, saya tidak pernah merasa keberatan. (Finika, Ibu Rumah Tangga)


Masih perlu adanya PR biar bisa mengetahui perkembangan belajar anak selama di sekolah. Tapi, kalau bisa tidak setiap hari harus ada PR. Ini kalau versi sekolah anak saya yang tidak full day. (Ratna, Ibu Rumah Tangga)


PR di rumah sebenarnya diberikan dengan tujuan supaya anak-anak lebih paham dengan pelajarannya di sekolah, jadi ngabantu banget selama PR yang diberikan sesuai porsi. Kalau untuk sekolah full day, PR diberikan saat tugas sekolah belum selesai kemudian dilanjutkan di rumah. Jadi, anak tetap komitmen dan disiplin. (Asih, Ibu Rumah Tangga)


Kalau di sekolah saya, khusus kelas 1 dan 2 tidak diberi PR yang berupa pertanyaan yang ahrus mereka jawab secara tertulis. Karena bagi kami semua itu cukup kami lakukan di sekolah. Tapi, PR hanya diberikan dalam bentuk pertanyaan yang membuat anak jadi berinteraksi dengan keluarganya di rumah. Nanti mereka akan mengungkapkan atau menceritakan kembali di sekolah. Untuk kelas 3-6, ada PR tapi tidak boleh lebih dari 15 pertanyaan. Itu hanya mengajarkan mereka bertanggung jawab atas tugas yang diberikan. (Masruraini, Guru)


Anak saya kelas 6 SD. Dia masih sering dapat PR dan bagi saya itu bukan masalah justru membantu mereka ‘terpaksa’ mengulang pelajaran hari itu. Saya masih agak terganggu dengan penggunaan Google untuk mengerjakan PR, karena guru jelas-jelas menyuruh mencari jawaban di Google. Apa tidak ada referensi lain? (Hastie, Orang tua siswa)


PR sangat membantu juga untuk anak supaya belajar di rumah. Tapi, jangan terlalu banyak. Cukup untuk mengulang pelajaran di sekolah. Harapan saya ada metode belajar di sekolah yang bisa membuat mereka benar-benar paham, bukan sekadar bisa. Karena kalau sudah paham secara nalar, Insya Allah bisa lebih bermanfaat untuk masa depannya.(Merti Vera, Ibu Rumah Tangga)


Anak saya sekolah full day. Jadi, jarang banget dapat PR. Kalaupun ada PR, biasanya maksimal 5 pertanyaan, seringnya hanya 3, sih. Menurut gurunya, karena sudah capek di sekolah, maka di rumah saatnya bersosialisasi dengan keluarga. Kecuali orang tua meminta pada wali kelas untuk memberikan PR dengan alasan tertentu. Tanpa PR, orang tua dan anak tetap bisa mengulang pelajaran dengan cara lebih menyenangkan seperti membuat quiz dll. Banyak metode yang dapat dieksplorasi, tergantung pada niat, komitmen, waktu, dan kreativitas. (Devi, Editor, Ibu Rumah Tangga)


Di sekolah anak saya full day, kelas 1-2 tidak diberikan PR sama sekali sekali. Mereka hanya membawa pekerjaan rumah yang merupakan tugas di sekolah yang belum selesai. Saat kelas 3-6, barulah mereka dapat PR, itu pun tidak setiap hari dan hanya untuk anak yang di sekolah tidak begitu memahami. Anak kelas 4 tahun ajaran ini sampai bulan ini bar 1 kali dapat PR. Jadi, hampir nggak pernah ada PR. (Yuni Siti Nuraeni, Ibu Rumah Tangga)


Anak saya sekolah di sekolah alam. PR ada, tetapi tidak banyak dan tidak sering. Alhamdulillah, meski jarang diberikan PR, anak-anak tetap perhatian dengan tugasnya. Sebenarnya yang perlu dibangun minat dan kesadaran belajaranya. Aspek yang dikembangkan jangan hanya dari akademisnya, perlu dikembangkan aspek lain seperti kecerdasan emosi, sosial, dan kepemimpinan.(Citra Retnani, Ibu Rumah Tangga)



Pengalaman anak-anak saya yang sekolah full day, sempat sharing juga dengan orang tua lainnya, ternyata PR menjadi beban bagi mereka. Karena di sekolah belajar sudah full. Berharap saat sampai di rumah, mereka bisa refresh tidak dibebani oleh PR lagi. Sempat ada PR, tetapi itu saat libur saja. (Utami Irga, Orang Tua)

 
Saya kurang setuju dengan pemberian PR bagi anak yang sudah sekolah full day. Karena mereka sudah sekolah sampai sore. Alhamdulillah, kelas 4 ini mulai jarang dapat PR. (Hastin Pratiwi, Editor, Penulis, dan Ibu Rumah Tangga)

Sebenarnya ada banyak alternatif pengganti peran edukatif dari PR dari guru kepada anak didiknya. Misalnya seperti dengan membantu orang tua mengerjakan tugas-tugas rumah, main ke Museum, atau yang lainnya. Bantu mereka memahami konsep bahwa yang namanya belajar itu bisa di mana saja dan kapan saja. Dan yang pasti, belajar itu harus menyenangkan, ya :)

Salam,

Thursday, August 15, 2019

Tips Menulis Buku Bagi Para Blogger






Setelah membuat postingan tentang GWRF 2019 kemarin, seseorang bertanya bagaimana ia bisa menulis buku, sedangkan dia belum pede, belum pernah melakukannya, bahkan membayangkan menulis ratusan lembar rasanya nggak ada dalam kepala. Ya, kadang kita sebagai manusia lebih sering pesimis dan ragu dengan kemampuan sendiri sebelum usaha. Dan tahukah kamu, pikiran seperti itu akan membawa kenyataan yang tak jauh berbeda. Karena kamu tidak berani memikirkan yang lebih besar dari apa yang kamu bisa saat ini, maka kamu pun tidak akan pernah mendapatkan apa yang sempat kamu inginkan. Mimpi sekadar mimpi. Mau maju ragu, mau usaha takut, nggak yakin, nggak pede. Dan banyak banget alasan orang gagal ada di kamu. Iya, di kamu! *emak tiri galak banget…hihi.


Zaman sekarang, apa sih yang nggak bisa kamu dapatkan? Kalaupun kita nggak bisa beli buku referensi untuk menulis buku, setidaknya kita bisa pinjam di perpus digital, daripada quota internet kamu habis untuk nonton Youtube, mending dipakai buat baca-baca buku di perpus digital seperti iJakarta atau iPusnas. Bukunya lengkap, bisa dipinjam kapan aja, bisa dibaca kapan pun asal kamu nggak capek aja pegang gadget lama-lama. Meskipun pinjam di perpus digital mudah, tetapi tetap buku yang benar-benar berbentuk buku lebih menarik buat saya pribadi.


Setelah kamu menjadi blogger, sudah pasti setiap hari telah rajin berlatih menulis. Iya, kan? Ngisi blog hampir setiap hari merupakan latihan biar kamu bisa menulis lebih luwes. Baca-baca buku setiap hari bahkan sering nongki di Gramedia (meskipun nggak pernah beli..hihi), tapi itu bisa menambah wawasan kamu yang nantinya sangat dibutuhkan ketika menulis buku.


Menurut pendapat saya, seorang blogger justru bisa lebih mudah menulis buku karena dia sudah memiliki kemampuan untuk menulis, mencari tema-tema menarik, dan mengumpulkan data. Tinggal usaha sedikit lagi untuk punya buku. Waktu ikut seminar menulis bersama Asma Nadia dulu, kami dibantu memotivasi diri supaya minimal punya satu buku seumur hidup. Waktu itu saya belum punya buku kecuali buku-buku antologi. Waktu itu saya nggak tahu bagaimana mewujudkan impian itu, tetapi saya begitu yakin akan berhasil. Jadi, mimpi dulu, karena setiap orang yang sukses saat ini, setiap mereka yang sudah hebat berawal dari yang kecil. Mereka sempat jatuh bangun juga, mereka pernah ditolak penerbit juga bahkan sampai berkali-kali. Apa yang membedakan dengan orang-orang yang gagal atau malah belum pernah mencoba? Tentu terletak pada impian dan usahanya. Orang yang berani bermimpi akan terus berusaha mewujudkan impiannya. Dia punya alasan yang dapat memotivasi dirinya. Dia tidak pernah memikirkan kegagalan karena yang ada di kepalanya hanya berhasil mewujudkan impian. Sesederhana itu.


Saya pun jadi ingat waktu pertama kali bermimpi menjadi seorang penulis, berawal dari kamar sempit dengan langit-langit berdebu, itu ada di pesantren di mana saya menimba ilmu waktu SMA. Komputer jadul pun tak ada yang bisa dipakai. Buku-buku sangat terbatas untuk dibaca sehingga saya sering meminjam dan segera mencatat poin-poin penting di dalamnya supaya nanti ketika saya butuh, saya tidak bingung mencari atau meminjamnya lagi.


Saya tidak sempat berpikir bagaimana saya bisa gagal. Saya juga tidak berpikir bagaimana saya bisa berhasil yang kemudian justru membuat saya minder karena nggak ada cara yang paling baik selain usaha tanpa memikirkan itu. Akhirnya saya hanya menjalani hari-hari saya dengan menulis dan membaca buku-buku yang ada di sana. Buku-buku kumpulan cerpen yang saya tulis tangan menumpuk. Teman-teman sekamar antre untuk membaca. Dan saat itu, meskipun belum tahu harus apa ke depannya, saya sudah happy dan terus usaha, Masya Allah.


Setahun kemudian, ada tawaran membuat antologi dari orang yang tidak disangka-sangka dan tidak dikenal. Masya Allah, itulah jawaban atas usaha saya selama ini. Sekarang, teman-teman tidak perlu seberat saya dulu untuk membuat buku. Penerbit indie ada di mana-mana. Penerbit mayor melonggarkan aturannya, pemilihan naskah nggak seketat zaman dulu kok. Asal naskah kamu rapi, tema menarik, sesuai dengan yang diinginkan penerbit, insya Allah bisa diterbitkan.


Tapi, saya mulainya dari mana dulu, nih? Nggak pede dan nggak tahu harus bagaimana?



Mulailah Mencari Tema yang Tepat

Kita nggak harus ikutin trend pasar. Tapi, jika mau lebih mudah, memang sebaiknya cari tema-tema menarik yang sekarang sedang banyak diminati oleh para pembaca. Sesuaikan juga target usia pembaca kamu supaya kamu lebih mudah mencari tema yang tepat. Usahakan tema itu benar-benar kamu kuasai. Andai kamu sama sekali tidak mengusai, coba cari banyak buku referensi supaya ketika menulis nanti, kamu tidak kehabisan ide dan nggak mati gaya.


Buat Outline dan Sinopsis Serta Daftar Isi

Kalau kamu sudah tahu mau menulis apa, mulailah membuat outline-nya, ya. Mulailah secara berurutan jangan lompat-lompat. 


Tulis juga daftar isi atau bab-bab dan sub bab yang akan kamu kerjakan. Coba bikin buku yang ringan-ringan saja. Jangan ambil tema berat, supaya kamu lebih mudah mengekskusinya. Bab dan sub bab cukup kamu buat maksimal 3-5 halaman saja ukuran A4. Buat saya, cara ini sangat tepat dipakai oleh penulis pemula, bahkan yang sudah biasa menulis pun memakai cara ini. Jangan kejar per bab dengan banyak halaman karena nantinya bisa bikin mati gaya, mending bikin bab dan sub bab yang banyak supaya ide lebih mengalir.


Disiplin dan Buat Target

Kamu sudah terbiasa menulis di blog dengan jadwal yang rutin. Saat menulis buku pun sama, kamu harus membuat target juga dan disiplinlah dengan aturan yang telah kamu buat sendiri. Kalau kamu membuat target sehari satu sampai dua bab, ya penuhi itu. Andai kamu sehari kurang dari target kamu, ya bayar dong kekurangannya di hari berikutnya. Begitu cara saya menyelesaikan naskah buku.



Saat Jenuh dan Mati Gaya

Ada saatnya kita merasa jenuh dan mati gaya. Duduk di depan laptop sejam juga nggak menghasilkam apa pun. Jangan dipaksa, mending kamu rehat dulu dan mencari cara untuk menyegarkan pikiran kamu. Bisa dengan membaca buku atau tidur juga boleh, kok. Setiap orang punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalah ini. Kalau saya pribadi mending istirahat atau membaca. Setelah itu, kita lebih siap melanjutkan kembali.


Kira-kira itulah beberapa tips yang bisa saya berikan. Setelah naskahmu selesai, terserah kamu mau mengajukannya ke penerbit mayor atau indie. Intinya kamu harus menyelesaikan buku. Itu target pertama yang harus kamu selesaikan. Misalnya nanti kamu akhirnya berjodoh dengan penerbit mayor, masya Allah, bahagia banget pastinya.


Terus naikkan target menulismu. Dari yang awalnya selesai naskah satu buku selama dua bulan, kemudian target terbit mayor, kemudian menulis beberapa buku dalam setahun, kemudian apa lagi? Menulis buku-buku best seller! Kamu harus punya target dan impian untuk mewujudkan semuanya.  Tanpa itu, hidupmu akan hambar. Selamat berjuang, ya :)


Salam,

Wednesday, August 14, 2019

Drama Radang Telinga, Perlukah Antibiotik?







Sebulan terakhir ini saya memang lebih banyak disibukkan dengan sakitnya si bungsu. Common cold sampai Otitis media atau radang telinganya kambuh. Ini mungkin sedikit mengejutkan, karena kejadian radang telinga sudah berlalu beberapa tahun yang lalu. Nggak pernah kambuh-kambuh lagi, lho. Tapi, kemarin saat dia kena batuk pilek, tiba-tiba pendengarannya berkurang dan akhirnya beneran telinganya sakit.


Ketika saya bawa ke THT, dikatakan memang radang telinganya kambuh dan bikin dia jadi susah mendengar. Sempat bikin mellow karena kita ngobrol jadi nggak nyambung. Dia yang biasanya ceria jadi cuma diem aja karena nggak mendengar orang lain bicara.


Dokter THT memang agak horor ya bilangnya, di ruangan terutama kamar tidur nggak boleh ada barang apa pun kecuali kasur sama bantar yang buat bobok, nggak boleh ada debu, dinding kalau perlu dipel juga. Ya Allah, berat banget, Zubaedah….kwkwk. Ini sebenarnya pesan dari beberapa tahun yang lalu karena dia sering kena radang telinga. Masalahnya, apakah benar alergi debu itu berhubungan dengan radang telinganya? Dan apakah setiap batuk pilek lama akan menyebabkan radang telinga? Oke, nanti kita bahas bagian yang ini.


Dokter THT juga sempat meminta si bungsu disinar selama 5x sejak telinganya terasa tidak sakit lagi. Andai kemungkinan terburuknya pendengarannya masih tidak kembali, harus dipasang alat. Deg! Saya kok jadi takut dan merasa terlalu horor. Apakah kondisi si bungsu seburuk itu?


Biasanya saya mengecek obat-obat dulu sebelum menebusnya. Meskipun pakai asuransi dari kantor Mas dan sudah pasti semua ditanggung, tapi kadang saya skip beberapa obat yang memang tidak perlu. Kebetulan saat ke sana kemarin saya hanya berdua. Si bungsu malah sudah rewel ngajakin pulang karena antre lama banget. Dari pagi jam 9an baru selesai jam 2an. Kebayang kan dia pegel minta ampun. Akhirnya semua obatnya ditebus saja sambil mendengarkan arah apoteker soal obat-obat yang kami terima.


Sampai di rumah saya cek semua obat-obat sebelum diminumkan ke si bungsu. Sempat kaget karena ada beberapa obat yang nggak nyambung sama sekali dengan sakitnya di bungsu itu. Nggak hanya itu, bahkan ada dosis yang tidak disesuaikan dengan berat badannya. Untuk kasus ini, dokter pastilah lebih mengerti daripada saya. Saya bukan dokter, saya bahkan tidak pernah makan bangku kuliah* karena itu alot, Guys…kwkwk. Tapi, selama menjadi seorang ibu, saya banyak belajar di milis sehat, bukan asal baca dari sumber yang tidak jelas, melainkan belajar betul-betul dari para dokter yang mengasuh milis sehat. Jadi, saya mungkin sangat hati-hati dengan pemberian obat pada anak-anak. Kalau memang tidak sesuai fungsinya, mending saya skip saja.


Karena benar-benar nggak yakin sama beberapa obat terutama antibiotik yang jelas nggak perlu, akhirnya saya hanya memberikan beberapa obat yang memang benar diperuntukkan bagi kondisi si bungsu sekarang. Masa iya sih saya kasih obat antijamur yang biasa diresepkan bagi pasien yang mau operasi usus gitu? Hiks. Kenapa sih harus bikin dilema gitu ya? Kita mau anak sembuh, tapi dengan cara seperti ini mustahil saya buat anak saya percobaan atas kepanikan saya sebagai orang tua.


Inilah kenapa saya selalu bersyukur karena sempat banyak belajar di milis sehat. Banyak kondisi-kondisi yang kata dokter lain ‘horor’ ternyata tidak selalu seburuk itu. Kenapa sih dokter itu kebanyakan nakut-nakutin, bukan mengedukasi konsumen kesehatan sebagaimana yang diperlukan?


Buat saya, datang ke dokter itu nggak melulu karena kita butuh obat atau minta obat. Kadang kita juga butuh sekadar konsultasi untuk menegakkan diagnosis sebuah penyakit seperti yang pernah saya lakukan ketika zaman si bungsu belum ketahuan radang telinga dulu. Saya datangi beberapa dokter spesialis anak mulai dari yang di Menteng, hingga akhirnya saya bertemu dengan salah satu dokter di milis sehat, dr. Apin di Rumah Sakit Pasar Rebo. Sampai di sana kita nggak cerita yang horor-horor gitu. Malah sekadar memastikan bahwa anak saya baik-baik saja. Nggak ada cek darah seperti yang dilakukan oleh dokter-dokter sebelumnya. Nggak ada juga drama nakut-nakutin pasien. Malah beliau banyak ketawanya dan banyak bercandanya, merasa saya datang hanya demi meyakinkan suami bahwa anak saya memang tidak perlu rawat inap seperti yang dikatakan dokter sebelumnya.


“Kayaknya Ibu ke sini hanya demi meyakinkan suami.”


Kwkwk. Kenapa dokter Apin bisa menebak? Kan jadi malu suami saya…hihi. Dan kita pun pulang dengan sebotol zat besi saja karena bungsu memang ADB saat itu. Nggak ada obat banyak untuk demamnya yang berhari-hari apalagi antibiotik. Diagnosisnya saat itu masih sama seperti yang saya pikirkan, common cold. Besoknya barulah ketahuan kalau dia radang telinga setelah keluar cairan dari telinganya. Jadi, diagnosis dokter-dokter sebelumnya nggak ada yang benar sama sekali. Antibiotik sebanyak itu nggak ada yang sesuai dengan sakitnya. Sedih banget, dulu sempat saya minumkan karena nggak tahu harus ngapain lagi. Dasar naluri saya nggak sreg, setiap minum berharap besoknya dia tidak demam, tetap saja begitu. Obat-obat sebanyak itu ternyata memang benar diberikan hanya demi menenangkan emaknya yang panik…hiks.



Berjemur dan Konsumsi Makanan Sehat


Selama semingguan saya ajak si bungsu berjemur di teras rumah. 10 menit sampai 30 menit, alhamdulillah dia masih bertahan. Sambil bawa mainan dan selalu pakai masker. Itu pesan dokter THT yang saya dengar mengingat kondisi udara di Ibu Kota sangat buruk dan anak begini katanya rentan.


Soal makanan, saya tetap memberikannya jus buah dan sayur hampir setiap hari. Dia juga lebih sering dibuatkan sup supaya menghangatkan tubuhnya. Semua usaha sudah saya lakukan. Fokus sama perawatan dia itu penting, makannya jangan heran memang jadi jarang update postingan baru di blog karena sibuk menemani si bungsu yang kondisinya belum pulih.



Terapi Uap


Nggak pernah punya niatan beli alat nebu karena setahu saya, obat-obat yang dipakai untuk nebu di rumah sakit memakai obat asma. Padahal, hampir semua anak yang dinebu tidak asma, hanya common cold saja.


Tapi, karena ada teman menyarankan untuk nebu sendiri di rumah dengan NaCl, akhirnya saya membeli alatnya. Ternyata nebu bisa pakai NaCl, lho. Saya baru tahu...hihi. Saya pakai merk Omron ukuran kecil yang bisa dibawa ke mana-mana. Kayaknya ini sangat membantu dan berguna banget mengingat yang butuh bukan hanya anak-anak, Mas yang punya alergi debu dan dingin juga butuh.


Hampir setiap hari nebu dan memang lumayan membantu. Sayangnya, setelah agak baikan, si bungsu demam tinggi selama beberapa hari. Sekitar hampir semingguan suhunya naik turun. Yup! Benar, dia kena common cold lagi dan radang telinganya kambuh juga.


Benarkah Radang Telinga Disebabkan Batuk Pilek yang Tidak Kunjung Sembuh?


Setiap batuk pilek, harus segera diobati. Alasannya karena bisa menyebabkan radang telinga. Itu yang saya pahami dari dokter THT-nya dulu. Tapi, kemarin saya sempat berobat ke dokter lain di tempat lain, akhirnya dapat pencerahan.


Tidak setiap batuk pilek yang berlangsung lama menjadi penyebab adanya radang telinga. Si bungsu sudah pasti lebih rentan karena punya riwayat otitis media sejak kecil. Tapi, tidak setiap dia batuk pilek dan nggak cepat diobati akan menyebabkan radang telinga. Lagian saya juga bingung, batuk pilek kan sebabnya virus, diobatinya pakai apa, ya?


Alergi juga tidak langsung berhubungan dengan radang telinganya. Mungkin bisa memicu dia jadi gampang atau lama kena common cold, tapi, nggak perlu sehoror itu juga memikirkannya. Pendengaran si bungsu insya Allah bisa kembali pulih karena usianya yang masih kecil. Gendang telinga sebelah kirinya berlubang, belum menutup sempurna sejak dulu dia kena radang telinga. Sedangkan satunya sudah menutup, dan ini menyebabkan nyeri luar biasa karena adanya cairan yang mendesak atau mendorong gendang telinga tersebut. Sudah pasti ini sangat sakit, kata dokternya. Tapi, anak saya tidak banyak mengeluh, jadi saya kadang salah mengartikan kondisi dia seperti apa.


Obat Flu Tetap Harus Diberikan Karena Itu Bisa Membantu Membuka Sumbatan dalam Telinganya


Ini salah satu yang baru saya tahu dari dokter terakhir yang kami kunjungi. Jika sebelumnya saya agak malas-malasan ngasih obat flu seperti Rhinos, sekarang akhirnya saya kasih rutin seperti anjuran dokter mengingat ini dapat membantu memulihkan radang telinganya.



Radang Telinga Apa Selalu Butuh Antibiotik?



Pemahaman saya soal ini sebenarnya masih sama dengan yang dulu-dulu. Tidak setiap radang telinga butuh antibiotik, tetapi semua dokter yang saya datangi selalu memberikan antibiotik. Penggunaan antibitoik di Indonesia memang super-super bebas banget. Bahkan yang nggak butuh pun dikasih. Nah, ini kadang membuat kita sebagai konsumen kesehatan jadi salah mengerti. Apa iya memang butuh?


Penyebab awal dari radang telinga di bungsu adalah virus. Sehingga seharusnya radang telinganya juga tidak ada hubungannya sama sekali dengan bakteri. Sampai sekarang saya belum memberikannya antibiotik. Demam si bungsu sudah turun. Kondisinya membaik. Sejauh ini dia minum obat flu dan obat untuk radang telinganya saja. Obat penurun panas tetap diberikan terutama ketika dia merasakan nyeri di telinganya.


Bagi saya ini tidak mudah. Selama semingguan dia demam, hati ketar ketir juga, menunggu kapan dia sembuh. Tapi, sembarangan ngobatin juga tidak menyelesaikan masalah. Saat anak sakit seperti inilah, mental kita diuji. Bagi saya, mencari dokter yang RUM di dekat sini sangat sulit. Akhirnya sekadar nyoba-nyoba beberapa dokter hingga dapat yang lumayan banget. Meski nggak sepenuhnya RUM, setidaknya dokter terakhir bisa menjelaskan dengan lebih masuk akal dan meladeni pertanyaan saya dengan sabar. Maklum emak-emak cerewet…hihi.


Semoga ke depannya si bungsu baik-baik saja, kondisinya bisa pulih sesuai dengan harapan. Aamiin. Terima kasih sudah membaca cerita kami dan semoga kita selalu sehat.


Salam,

Monday, August 12, 2019

Mau Tahu Cara Menyewa Generator yang Murah? Ini Caranya!







Dapat dikatakan hampir semua mesin sederhana dan kompleks yang berada di sekitar kita menggunakan listrik sebagai tenaga utama. Namun, ada kalanya daya yang dimiliki tidak cukup untuk menjalankan mesin atau alat tertentu dan PLN sebagai penyalur utama tenaga listrik tidak berjalan baik alias padam. Sewa generator sebagai pembangkit listrik tambahan dan cadangan sangat dibutuhkan.

Atau, di daerah tertentu sering dilakukan pemadaman listrik dalam waktu yang cukup lama. Nah, kondisi kayak gini mau nggak mau memaksa kita untuk mencari solusi. Karena nggak mungkin kita berdiam diri selama berhari-hari bahkan bertahun-tahun dan merasa baik-baik saja saat lampu mati? Saya bayangkan itu sangat sulit.

Di Jakarta, pernah terjami pemadaman cukup lama. Dari sore sampai tengah malam. Mati lampu di hampir seluruh wilayah Jakarta, membuatnya jadi mirip kota mati. Benar-benar nggak pernah terjadi hal kayak gini, Serem aja ngebayanginnya lagi dan tentu saja saya kesulitan beraktivitas tanpa listrik. Karena selama ini kita itu sudah tergantung sama listrik untuk melakukan aktivitas sehari-hari.


Ketika mati listrik, rasanya hampa...huhu. Sepi dan senyap berasa lagi hidup di mana. Sejak tinggal di Jakarta, jarang sekali terjadi pemadaman listrik. Beda dengan di kampung halaman yang memang sering terjadi pemadaman. Ketika Jakarta mengalaminya, rasanya kaget banget. Kok, bisa? Lama pula. Maka saya nggak ada genset di rumah...hiks.

Sewa Generator


Sebagai konsumen, tentunya menginginkan segala sesuatu yang dibeli atau disewa berkualitas dan berharga murah. Termasuk ketika menyewa generator. Bagaimana caranya memilih sewa generator murah tetapi berkualitas? Ini dia beberapa tipsnya.

1. Menentukan Daya Generator yang Dibutuhkan

Setiap peralatan listrik membutuhkan daya yang berbeda-beda. Generator untuk acara pernikahan membutuhkan daya lebih kecil daripada untuk industri. Semakin besar daya yang dimiliki oleh generator tentu saja harganya akan semakin mahal.  Pastikan kamu mengetahui kebutuhan daya yang ingin digunakan sebelum menyewanya.


2. Menentukan Lamanya Waktu Kamu Menggunakan Generator

Berapa lama kamu akan menyewa generator? Ini juga akan mempengaruhi harga sewa. Sewa satu bulan akan lebih mahal dibandingkan sewa satu minggu secara nominal. Namun, umumnya perusahaan penyewaan generator akan memberikan harga khusus pada saat kamu menyewa lebih lama.


3. Mengetahui Jenis-jenis Generator

Jenis generator dapat dilihat dari berbagai sisi. Dari sisi arusnya ada generator AC dan DC. Sementara berdasarkan bahan bakarnya da generator berbahan bakar gas atau elpiji, bensin, dan diesel. Ada pula generator yang tidak bersuara atau silent genset dan sebaliknya.


Setiap jenis generator mempunyai spesifikasi dan daya sendiri dengan kelebihan masing-masing. Harga setiap jenis juga berbeda.


4. Membandingkan Harga Sewa Genset atau Generator

Langkah terakhir agar kamu dapat memperoleh harga sewa genset yang cukup murah adalah membandingkan satu toko dengan toko lainnya. Namun, sebaiknya membandingkan tidak hanya berpatokan pada nominal. Kamu harus juga melihat pelayanan dan fasilitas yang diberikan.


Dengan memperhatikan 4 tips di atas, maka kamu akan memperoleh harga sewa yang terjangkau dengan hasil memuaskan.


Namun, jika kamu tidak ada waktu untuk membandingkan berbagai harga sewa tenaga tambahan daya listrik ini, Sewatama menjadi tempat yang tepat dan terbaik. Kamu dapat menanyakan dan berkonsultasi dengan customer service tentang berbagai keperluan generator. Dengan demikian harga sewa generator murah yang diberikan akan tepat. Kamu juga akan puas dengan pelayanan yang diberikan. Selamat mencoba.


Salam,

Saturday, August 10, 2019

Cerita Seru di Balik Gramedia Writers & Readers Forum 2019







Akhirnya tiba juga saatnya mengisi blog setelah seharian mengejar target menulis naskah buku untuk hari ini. Yup! Nggak perlu panjang kali lebar lagi menjelaskan karena ketika mengetik postingan ini, sudah lewat dini hari, Guys…hihi. Ngantuk parah, tetapi kangen banget pengen ngeblog.


Kemarin, tepatnya pada hari Minggu, 04 Agustus 2019, saya berkesempatan hadir dalam acara Gramedia Writers & Readers Forum 2019 yang diadakan di perpustakaan nasional. Gramedia Writers & Readers Forum atau bisa disingkat dengan GWRF ini merupakan forum yang mempertemukan pembaca dengan penulis favoritnya yang dibagi dalam kelas-kelas tertentu. Karena hanya fokus pada Editor’s Clinic, saya tidak banyak tahu ternyata acara ini sudah dimulai sejak tanggal 2 Agustus lalu dan dihadiri oleh banyak public figure, lho. Ketahuan saya sangat tidak update kalau sudah bicara soal artis dan kawan-kawan….hehe.


Selain itu, di sana diadakan berbagai macam acara seru seperti Editor’s Clinic yang memberikan kesempatan kepada para penulis atau calon penulis untuk bertemu langsung dengan para editor dari beberapa penerbit. Ada juga diskusi inspiratif, talkshow, review film, penghargaan Gramedia Short Film Festival 2019, serta bazar buku murah yang antreannya naudzubillah…kwkwk.

Sebagai salah seorang yang senang menulis, jujur saja ini kali pertama saya datang ke perpustakaan nasional untuk menghadiri acara seperti ini. Awalnya tidak ada niat untuk datang jika memang tidak ada teman-teman dari Estrilook Community yang datang. Minder banget kalau harus tatap muka sama orang-orang yang belum saya kenal. Apalagi kalau harus brtemu dan berdiskusi dengan para editor yang bisa jadi kemarin pernah menolak naskah saya. Trauma nggak, sih? Hehe.

Karena dua teman saya sesama penulis buku Ada Dia di Hatiku (Quanta, 2019) ikut hadir dan bergabung juga, akhirnya saya memaksanakan diri untuk hadir juga.

Ketika sampai di sana, kebanyakan yang datang memang anak muda seumuran saya*uhuk (Keselek kodok…kwkwk). Jarang banget yang sampai bawa balita seperti saya dan teman saya…haha. Ya Allah, rasanya seru banget bawa anak ke tempat seperti ini di mana yang lain begitu serius datang sendiri demi bertemu editor, sedangkan saya malah diskusi sambil dijambakin anak…kwkwk. Itu pengalaman tak terduga yang saya alami. Mas yang ikut datang nggak sadar kalau anaknya sedang jambak-jambakin emaknya, beliau sibuk mengabadikan momen *huft.

Bertemu Editor Quanta dan Elex Media


Ini mungkin cerita yang paling ditunggu-tunggu (oleh saya)…hehe. Nggak sabar mau cerita gimana serunya saya ketika bertemu para editor yang selama ini mengedit naskah saya (dan menolak naskah saya…huhu).

Belum sempat saya duduk, para editor sudah memanggil nama saya. Seperti biasa, nama saya agak susah disebut. Dengan hati berdebar saya pun maju. Nggak nyangka ternyata di depan saya ada mba Dewi Bestari yang memegang buku saya dkk ‘Ada Dia di Hatiku’ (Quanta, 2019), ada juga mbak Jarwati, editor buku duet saya ‘Adab dan Kebiasaan Hebat Anak Muslim’ (Quanta, 2019), serta ada mba Agnes dari Elex Media, entah beliau yang mengurusi 4 naskah anak saya di Elex Media atau bukan. Mau tanya udah lupa aja dari kemarin, padahal naskah saya ada 4 yang di-acc di sana, hanya saja karena lewat agensi, jadi saya tidak tahu siapa editor yang mengambilnya.

Malam sebelumnya, saya sempat menyelesaikan satu outline dan daftar isi. Outline sebenarnya sudah rampung beberapa hari sebelumnya, bahkan judulnya sudah saya dapat jauh-jauh hari, hanya saja saya belum menyelesaikan daftar isi. Nah, karena qadarallah ada acara GWRF ini, akhirnya buru-buru saya rampungkan untuk dibawa ke editor. Sambutannya? Alhamdulillah positif. Mungkin nanti saya ceritakan di postingan yang lain soal naskah saya.

Di sini saya juga mau cerita sama teman-teman tentang kegalauan kita selama ini. Apakah kita bisa mengirimkan outline saja ke penerbit? Nggak usah naskah utuh? Editor dari Quanta mengatakan bahwa bisa saja, tetapi mungkin mereka lebih banyak menolak karena khawatir ketika naskah sudah disetorkan utuh, eh malah nggak sebagus ketika ngasih contoh. Akhirnya editir harus kerja dua kali buat minta revisi dan revisi. Bagi saya ini sangat masuk akal mengingat memang seperti ini adanya.


Saya lebih menyarankan teman-teman untuk mengirimkan naskah utuh kepada penerbit, terlebih kalau kita ini baru menulis, baru aja mau nerbitin buku di sana. Biarkan penerbit tahu kalau kita memang sungguh-sungguh ingin menerbitkan buku. Jangan setengah-setengah.



Menyelesaikan naskah juga bisa jadi sarana kamu belajar menulis, kok. Nggak akan sia-sia, deh, apa yang kamu perjuangkan selama ini. Andai saja kemungkinan terburuknya naskah kamu ditolak, kamu masih bisa menerbitkan naskahmu sendiri ke penerbit indie seperti ke Bitread. Karya kamu bisa jadi portfolio. Nggak akan pernah ada ruginya.

Publish Your Stories 


Kemarin saya dapat selembar kertas bertuliskan ‘publish your stories’ yang diberikan oleh salah satu editor Quanta. Di situ dijelaskan tahapan-tahapan mengirimkan naskah sampai jadi buku. Tahukah kamu apa saja tahapannya? Baiklah, saya akan share mumpung saya lagi baik…hihi.

Kirimkan Naskah ke Penerbit


Kirimkan naskah kamu ke Quanta. Sudah tahu email penerbit Quanta? Catat dan simpan baik-baik, ya!

linda@elexmedia.id

luky@elexmedia.id

jarwati@elexmedia.id

dewibestari@elexmedia.id

hedi@elexmedia.id

Pastikan kamu menulis subjek email dengan: Naskah (judul naskah).

Quanta Menerima Naskah Apa Saja? 


Apa saja naskah yang bisa kamu kirimkan ke Quanta? Pastikan naskah kamu adalah naskag nonfiksi islami, ya. Jangan sampai kamu kirimkan naskah-naskah fiksi fantasi…hihi. Kalau kumpulan puisi boleh, Kak? Resep? Hmmm, kumpulan cerpen? Sekali lagi, nonfiksi islami, Zubaedah…hihi. Contohnya naskah-naskah parenting, motivasi islami, inspirasi, doa-doa, dan pengetahuan islami untuk anak-anak.


Apa Saja Syaratnya?


Kirimkan naskah utuh yang sudah kamu edit, yang sudah rapi banget, yang nggak perlu banyak revisi, kalau bisa yang tidak mudah ditolak penerbit *lha…hehe. Kirimkan minimal 100 halaman full teks dengan font Times New Roman, ukuran 12, spasi 1,5. Margin ikut aturan umum. Sertakan kata pengantar, daftar isi, sinopsis, dan testimony atau endorsement penulis lain yang kamu kenal.

Berapa Lama Kamu Bisa Menunggu?


Editor akan me-review naskah kamu selama 1-2 bulan. Kok lama banget? Kamu pikir hanya naskah kamu saja yang masuk ke penerbit? Ada banyak sekali naskah masuk setiap harinya. Jadi, please, jangan ngeluh apalagi kirim email bolak balik buat menanyakan naskah. Bisa-bisa bikin editor malas ngurusin naskah kamu. Sabar, ya. Ini memang ujian…kwkwk.

Bila diterima, editor akan mengabarkan dalam waktu 1-2 tersebut. Jika ditolak, segera minum antimo, editor bakal ngabarin juga, kok. Kenapa harus minum antimo? Biar nggak mual setelahnya…hihi. Bercanda, kok :)



Naskah yang Diterima Akan Diedit Oleh Editor, Selanjutnya Apa?



Selanjutnya adalah masuk proses layout yang memakan waktu hingga 3 minggu dari naskah selesai diedit oleh editor. Setelah itu, masuk proses proof, naskah akan dikoreksi kembali untuk menghindari kesalahan.

Setelah itu, penerbit akan mengirimkan cover buku dan kamu bisa mempertimbangkan, apakah akan menerima itu atau mengubahnya. Seperti saat buku ‘Agar Suami Tak Mendua’, saya menolak cover yang pertama kali diberikan karena menurut saya pribadi seperti tidak mencerminkan naskah islami, kemudian kayak nggak menjual banget *sotoy…hehe. Akhirnya diganti dengan yang sekarang. Warna pastel, soft banget, Masya Allah, lucu.

Kalau dihitung-hitung, mulai dari mengirimkan naskah hingga terbit memakan waktu kurang lebih 6 bulanan. Selama menunggu, kamu bisa menulis naskah baru. Jadi, jangan terpaku sama naskah ini saja. Kerjakan lagi yang lain. Naskah yang telah dilepas ke penerbit baik sudah diterima atau belum, sebaiknya lupakan.

Drama Mati Lampu


Saya berangkat pukul 10 pagi, padahal acaranya saja dimulai pukul 10 sampai jam 3 sore. Tapi, karena harus menunggu Mas yang bolak balik ke bengkel, akhirnya berangkat lebih siang. Mau jam berapa pun, tetap saya bawa happy karena ini hal baru buat saya, ini kesempatan yang bisa jadi nggak bisa didapatkan oleh orang lain entah karena kondisi jarak yang terlalu jauh atau tidak ada waktu luang. Bahkan saya sangat berterima kasih pada Mas, harusnya saya datang sendiri, kan? Harusnya nggak perlu ngerepotin siapa-siapa, tapi dia mau nganterin padahal sibuk parah.

Pukul 10.30 WIB saya masih di dalam KRL menuju perpustakaan nasional. Kenapa naik KRL? Akhir-akhir ini memang saya, Mas, dan anak-anak hobi banget naik kereta listrik. Selain mudah, suasananya pun nyaman banget. Walaupun kursi penuh, saya tetap menikmatinya. Toh nanti bakalan ada penumpang turun di beberapa stasiun berikutnya. Kami tidak pernah harus berdiri terus menerus, kok. Pengalaman naik kereta lebih menyenangkan ketimbang naik kendaraan pribadi, sih. Anak-anak juga belajar banyak hal. Karena beberapa alasan itulah, kami sering naik kereta ke mana-mana.

Hampir pukul 11 siang saya baru tiba di stasiun Juanda dan harus mencari taksi menuju perpustakaan nasional. Nggak tahu kenapa, di sana sinyal tuh susah banget. Bahkan internet saya pun nggak bisa dipakai sama sekali sejak tiba di stasiun.

Teman saya ternyata sudah tiba duluan di lokasi bahkan sudah berdiskusi bersama editor dari Elex Media dan Quanta. Jadi, agak lumayan deg-degan banget ya secara saya harus maju sendirian. Baru sampai di depan lift menuju lantai berikutnya, listrik mati. Tek! Sempat terjadi kehebohan karena banyak orang yang sedang naik lift. Alhamdulillah, semua bisa diatasi karena sudah pasti di sana pakai genset.

Nggak nyangka saja, ternyata mati listrik masih terus berlanjut sampai saya pulang, lho. Awalnya saya nggak paham kenapa Jakarta bisa mati lampu selama ini. Nggak biasanya mati lampu berjam-jam bahkan hampir sehari semalam.

Saya paham, di luar sana, saat kami warga Jakarta bercerita di sini mati lampu berjam-jam, banyak yang nyinyirin…hihi. Ah, di desa saya sudah biasa mati lampu berjam-jam bahkan berhari-hari. Yess! Saya paham, bahkan di kampung saya saja kalau mati lampu lama juga, kok. Hanya saja, ini Jakarta. Sebagian besar hidup di sini bergantung pada listrik.

Saat saya hendak naik KRL lagi untuk pulang, listrik belum nyala, lho. Itu sudah sore. Stasiun pun ditutup. Penumpang menumpuk di depan stasiun. Lebih kasihan lagi, tukang ojek online ikut menumpuk di sana. Gimana mereka kerja? Kita buka aplikasi pun hanya muter-muter, Guys! Nggak bisa pesan Grab Car atau sejenisnya.

Iya, di kota lain mati lampu biasa. Tapi, di Jakarta tidak biasa. Jadi, maafkan kalau kami kadang lebay menanggapinya kemarin. Benar-benar hal baru dan seperti bikin kota lumpuh. Itu, sih, yang ada di dalam kepala saya. Padahal, ya  nggak seburuk apa juga. Hanya saja tetap membawa dampak kurang menyenangkan bagi sebagian orang.

Saya benar-benar bersyukur, karena saat kami mau pulang dari perpusnas, aplikasi seperti Grab dan Gojek nggak bisa dibuka. Mas tetap usaha. Gagal dong. Coba lagi. Gagal lagi. Parahnya, nggak bisa cancel, nggak dapat mobilnya juga. Subhanallah.

Nggak lama kemudian, saat Mas tutup aplikasinya, ada yang telpon dong. Ternyata itu supir Grab, Masya Allah. Rasanya ajaib banget mengingat di aplikasi Mas nggak muncul apa-apa. Buat nelpon pun susah. Tapi, ini nyambung dan akhirnya kami bisa pulang sekitar pukul 4 sore.

Sampai rumah, lampu masih mati. Baru nyala sekitar pukul 9 atau 10 malam di mana kami semua sudah tepar…hehe. Alhamdulillah, mati lampu hanya saat itu, nggak lagi setelahnya.

Terdengar seru nggak, sih, sesuai sama judulnya? Jujur saja, kangeen berat ngisi blog. Biasanya saya update postingan baru nggak sampai seminggu sekali. Sekarang lama banget rasanya. Selain ada naskah yang harus segera diselesaikan, qadarallah si bungsu juga sakit sudah beberapa minggu ini. Jadi, saya harus selesaikan yang lebih utama.

Saya berharap, postingan ini bermanfaat terutama buat teman-teman yang masih bermimpi ingin menulis buku dan diteribitkan oleh penerbit mayor. Yakin saja, usaha yang keras, dan banyak doa. Insya Allah impianmu akan terwujud. Selamat mencoba!

Salam hangat,

 

Friday, August 2, 2019

Mascara L’Oreal Terbaik untuk Tampil Maksimal







Ada yang suka pakai makeup? Pakai makeup membuat penampilan seeorang bisa berubah drastis. Dahysatnya makeup itu bisa bikin wajah orang yang biasa jadi luar biasa bahkan sampai kita pangling dan nggak bisa mengenalinya.

Soal produk makeup, kira-kira kamu punya apa aja di rumah? Saya nggak punya produk lengkap karena memang kurang bisa bermakeup. Minimal saya melakukan perawatan seperti menggunakan sabun cuci muka, ada krim tabir surya, krim siang dan krim malam. Nggak banyak koleksi kosmetik di rumah karena nggak hobi pakai makeup juga. Eh tapi, kalau ada yang mau ngasih bisa sih saya coba dan memaksakan diri untuk belajar makeup :D

Misalnya Jika kamu menghadiahkan marcara L'Oreal ini. Auto saya coba dan pasti saya belajar memakainya, deh. Minimal bisa buat kondangan, kan, ya? :D

Mascara L’Oreal  terbaik selalu menjadi solusi penting bagi kita yang ingin tampil dengan bulu mata yang terlihat lebat, panjang dan lentik. Mascara dapat dibagi menjadi dua yaitu mascara waterproof (tahan air) dan mascara tidak waterproof. Banyak dari konsumen lebih menyukai menggunakan mascara waterproof karena dirasa lebih praktis dan efisien karena tidak mudah hilang meskipun digunakan beraktivitas berat, seperti berolahraga.
Mascara sendiri tidak hanya memberikan dampak baik sebagai penunjang makeup tetapi juga membawa dampak buruk yaitu mengakibatkan kerontokan dan rapuhnya bulu mata. Namun, risiko buruk tersebut bisa dihindari dengan cara menerapkan cara pemakaian dan membersihkan mascara dengan benar.


Mascara L’Oreal Lash Paradise Terbaik

Bagi kalian yang masih bingung harus menggunakan mascara apa yang memberikan hasil maksimal namun tidak merusak bulu mata, kalian bisa memilih mascara milik L’Oreal Paris.


Mascara L’Oreal Paris salah satunya yaitu Mascara L’oreal Lash Paradise. Mascara ini bersifat waterproof (tahan air) sehingga dapat bertahan hingga seharian penuh. Mascara ini dilengkapi dengan kuas aplikator yang mudah dan dapat menjangkau bagian yang sulit pada bulu mata. Hasil yang ditampilkan yaitu bulu mata terlihat bervolume, panjang dan lentik meski tanpa menggunakan penjepit bulu mata. Mascara ini nyaman digunakan karena terasa ringan dan mudah dibersihkan sehingga tidak mengakibatkan bulu mata rapuh dan rontok.


Kelebihan lainnya yaitu saat diaplikasikan mascara ini tidak melebar ke bawah mata sehingga tidak menjadikan kulit bawah mata menjadi hitam. Maka benar saja jika dikatakan mascara milik L’Oreal ini berkualitas juara dengan berbagai kelebihannya tadi.


Mascara L’oreal ini telah menjadi primadona bagi setiap kaum hawa. Selain produk mascara yang sangat baik. L’Oreal juga memiliki berbagai macam jenis kosmetik dengan kualitas juara. Seperti halnya lipstik loreal matte yang sangat baik kualitasnya. Jenis lipstick matte milik L’Oreal adalah New Color Matte Lipstick. Lipstik ini tidak kalah juaranya dengan mascara andalan L’Oreal. 


L’Oreal selalu memberikan kualitas terbagi dalam produk yang dihasilkannya, hal ini yang menjadikan brand asal Paris ini sangat digemari para kaum hawa. Bisa jadi kamu juga termasuk salah satu penggemarnya, ya? Saya pun snagat tertarik dengan produk dari L'Oreal ini, lho. Benar-benar gemas melihat tampilan produknya plus kelebihan yang dimiliki. Kayaknya besok auto belajar makeup kali, ya? Gimana dengan kamu? Sesekali kita memang butuh bermakeup terutama untuk acara tertentu. Yuk, ah kita beli produknya segera. Menarik dan wajib banget dicoba, deh. 


Salam,

Thursday, August 1, 2019

Resep Kue Cubit Pandan Spesial Isi Keju Lumer







Hai, hai! Iya, kamu. Kamu yang sedang nungguin resep kue cubit pandan ini. Terima kasih sudah berkenan membaca dan mencobanya, ya :) Jujur saja, ini resep saya ngarang sendiri karena selama ini resep kue cubit yang sering saya coba teksturnya padat keras gitu meskipun mengembang, dan lagi, jumlah takarannya banyak banget sampai-sampai setiap bikin selalu terbuang karena semua sudah bosan makan. Sedih banget kalau sampai seperti ini, kan?


Akhirnya kepikiran bikin resep yang simpel pakai takaran sendok saja (dengan alasan sangat malas ambil timbangan dan menakar bahan…hihi), jumlahnya pun dibuat sesedikit mungkin. Dan ternyata, Masya Allah, saya sukses, lho. Kue cubitnya empuk banget, bersarang pula karena pakai ragi supaya lebih empuk. Entah ini layak disebut kue cubit atau malah martabak, ya? Hihi.


Percobaan pertama, saya gagal sebenarnya. Tapi, masih bisa dimakan…hehe. Alasannya, karena saya nggak sempat mendiamkan adonan selama 30 menit, padahal udah dimasukin ragi instan. Pagi tadi terburu-buru karena takut si sulung keburu berangkat sekolah, jadi nggak mikir dua kali, segera panggang. Hasilnya? Mengembang, tetapi kurang lembut.

Karena setelah posting foto banyak yang nanya resepnya, akhirnya sore tadi saya coba bikin lagi. Tentunya dengan persiapan yang lebih matang, ya. Adonan didiamkan selama 30 menit sebelum dipanggang. Alhamdulillah, sesuai harapan. Empuk dan lembut banget, masya Allah.


Bagi yang mau mencoba, silakan dicatat resepnya, ya!


Bahan:


8 sdm tepung terigu

2 sdm gula pasir

½ sdt ragi instan

¼ sdt penuh baking powder

100 ml susu cair

1 butir telur

2 sdm Butter atau margarin, lelehkan

Sedikit pasta pandan


Topping:

Keju spread


Cara membuat:

1. Kosok dengan wisk telur dan gula pasir, pastikan gula benar-benar larut, ya.

2. Masukkan susu cair, ragi, pasta pandan. Aduk rata.

3. Masukkan tepung terigu + ragi instan sambil diayak. Aduk sampai rata dan pastikan tidak bergerindil.

4. Diamkan selama 30 menit sambil ditutup dengan kain bersih.

5. Masukkan baking powder, aduk rata. Diamkan sekitar 10 menit sambil panaskan cetakan takoyaki dengan api kecil cenderung sedang.

6. Masukkan margarin atau butter cair ke dalam adonan. Aduk dan siap dipanggang.

7. Olesi cetakan dengan margarin, tuang adonan. Biarkan sampai muncul gelembung.

8. Beri keju spread. Tunggu sampai matang dan angkat.


Voila! Sesimpel dan semudah ini bikinnya, Guys! Hasilnya enak banget, Masya Allah. Lembut banget dan bersarang gitu. Enak, bikin nagih. Saya yang ikut diet tergoda juga makan satu…hihi. Mana tahan kalau begini terus? Bisa gagal diet saya…haha.


Semoga bermanfaat. Jumlah kue cubitnya hanya untuk sekali panggang, jadinya sepiring ini saja. Buat saya sudah cukup banget karena kalau kebanyakan malah nggak kemakan dan kebuang. Dan itu juga yang alasan kenapa saya bikin resep sendiri, karena pengennya porsi yang pas dan nggak kebanyakan bisa sekali bikin bisa sekali habis *walaupun sayanya cuma kebagian satu atau dua kue doang :(


Kue cubit kalau bikin sendiri enak juga bisa dimodifikasi mejadi berbagai macam jenis rasa serta topping. Enak dimakan hangat dan ya sekali hap aja udah habis...kwkwk. Versi originalnya juga enak banget nggak kalah dengan yang rasa pandan. Sesuaikan saja dengan seleramu di rumah, ya :)


Selamat mencoba, ya!


Salam,

Jurus Sehat Rasulullah (JSR) untuk Promil, Ibu Hamil, Menyusui, dan Anak-anak, Bolehkah?








Assalamualaikum! Alhamdulillah, bisa kembali update postingan terbaru untuk blog ini. Sekarang mau bahas yang nggak jauh-jauh dari apa yang sudah sering dibahas sebelumnya, yakni tentang Jurus Sehat Rasulullah atau JSR dr. Zaidul Akbar khusus buat kamu yang mau promil, sedang hamil, menyusui atau malah untuk anak-anak.


Sebelumnya, apakah kamu tahu apa itu Jurus Sehat Rasulullah atau JSR yang dicetuskan oleh dr. Zaidul Akbar? JSR saat ini lumayan banyak diminati. Diambil dari judul buku dr. Zaidul Akbar yang saat ini sedang revisi. Jadi, yang bingung nyari bukunya, sepertinya sekarang memang belum ada, ya. Bisa coba ikuti postingan beliau di Instagram jika mau belajar lebih jauh tentang JSR.


Saya sudah menjalankan JSR sejak Ramadan kemarin, baru hitungan bulan. Awalnya karena ingin menguruskan badan, kemudian merasa nyaman dengan mengonsumsi makanan sehat, akhirnya keterusan sampai sekarang. Saya pribadi sudah tidak mengonsumsi nasi putih, saya juga tidak mengganti nasi putih dengan nasi merah. Jadi, benar-benar nggak makan nasi. Sumber karbohidrat bisa diganti kentang, ubi, atau singkong. Itu pun kalau sedang ingin.


Kenapa saya tidak makan nasi merah? Karena saya kurang suka. Selain itu, agak merepotkan jika harus memasak nasi merah, sedangkan orang serumah masih makan nasi putih atau nasi jagung. Kemarin, saya mencoba mengonsumsi nasi jagung yang berbentuk lebih halus. Kalau di kampung saya namanya ‘empok’. Dimasak asli tanpa tambahan beras putih. Jika kamu mau, ini bisa jadi alternatif bagus bagi yang nggak suka nasi merah seperti saya. Tapi, saya juga tidak mengonsumsinya setiap hari, sekali-kali saja kalau sedang ingin.


Karena JSR atau Jurus Sehat Rasulullah ini intinya kembali pada yang alami, real food, jadi, sebenarnya siapa pun boleh mencobanya karena memang seharusnya kita seperti ini, lho makannya. Nggak aneh-aneh seperti orang sekarang. Kebanyakan justru mengonsumsi ‘sampah’ ketimbang makanan yang benar.


Jadi, buat yang sedang hamil, menyusui, atau anak-anak, sepertinya bukan masalah jika mencoba JSR atau Jurus Sehat Rasulullah asalkan tetap memenuhi kebutuhan nutrisi bagi tubuhnya. Supaya nggak jomplang banget, coba deh tetap mengonsumsi makanan sehari-hari, yang biasa disajikan di meja makan, tetapi coba olah dengan lebih sehat. Bahasa sederhananya begitu, ya.


Misalnya untuk tempe goreng, bisa diolah jadi tempe kukus, ditumis (sehingga lebih sedikit memakai minyak sawit), atau dibuat trancam. Ayam goreng pun sama, saya biasa mengungkep ayam goreng sendiri. Jika mau makan, saya cukup memanggangnya di atas teflon tanpa minyak. Menunya sama saja karena saya nggak mau ribet sama diri sendiri mengingat di rumah tidak semua orang menjalankan JSR bahkan hanya saya, jadi, saya mencari solusi. Ya, memang akhirnya ada garamnya, tetapi selain itu masih aman. Keuntungannya? Suami dan anak-anak tetap bisa makan menu yang sama.


Gimana, gampang-gampang saja, kan? Jika mengerti makna dari pola makan JSR, sebenarnya nggak akan timbul banyak pertanyaan, asalkan kembali ke yang alami, tanpa gula (kecuali gula aren), tanpa minyak, nasi putih, tepung-tepungan mengandung gluten, pakai garam himalaya, dan hindari produk olahan susu, insya Allah semua aman dikonsumsi. Haya saja, berbeda dengan Diet Kenyang, JSR dianjurkan mengurangi protein hewani. Nah, di sini saya masih belum bisa. Karena saya masih suka makan telur rebus, ayam panggang, sup ikan, dll. Sedangkan jika kamu mengenal Diet Kenyang, makan makanan seperti ini masih diperbolehkan asalkan diolah dengan benar.


JSR untuk Promil


Bagaimana dengan kamu yang berniat melakukan program kehamilan atau promil? Kabar baiknya, qadarallah, setelah kembali pada yang alami, konsumsi makanan lebih sehat, Allah takdirkan mereka yang sebelumnya sulit hamil, dikarunia titipan terindah yang nggak pernah disangka-sangka.


Saya nggak terlalu kaget soal berita seperti ini, soalnya sudah sering mendengar langsung dari Dewi Hughes yang mengatakan bahwa banyak dari mereka yang ikut Diet Kenyang akhirnya berhasil hamil, lho. Masya Allah. Allah karuniakan kehamilan setelah mereka melakukan ikhtiar dengan mengubah pola makan menjadi lebih sehat.


Dan inilah yang terjadi juga pada orang-orang yang menjalankan JSR atau Jurus Sehat Rasulullah dr. Zaidul Akbar. Makan saja yang benar, hindari jajan-jajan yang nggak perlu. Lupain camilan nggak sehat yang hanya enak di lidah, tetapi merusak tubuh.


Jika kita punya barang bagus, pasti dengan sepenuh hati kita akan merawatnya tanpa diminta. Kita jaga, kita beri perawatan terbaik supaya nggak lekas rusak. Benar, kan? Lalu bagaimana dengan tubuh kita yang sudah Allah ciptakan dengan sangat sempurna, menakjubkan, dan luar biasa ini? Ternyata kita dianggap nggak terlalu peka dan peduli sama diri sendiri. Iya, kamu malas jaga badan kamu, kamu enggan menjaga makanan yang masuk ke dalam tubuh kamu, kamu cuek, kamu nggak peduli, sampai-sampai tubuh kamu yang sudah Allah ciptakan dengan sangat ‘pintar’ ini jadi eror. Pernah ngebayangin?


Jika makanan yang masuk ke dalam tubuh sudah benar, Insya Allah yang namanya berat badan akan mengejar berat ideal. Ini benar-benar terbukti pada diri saya sendiri. Berat badan sebelum ikut JSR sudah 49 kg lebih saat itu, sekarang, makan biasa aja nggak sampai nahan lapar, malah kalau dilihat kerjanya ngunyah terus…hihi, qadarallah, berat badan saya sekarang lari ke angka 40,8 kg. Sepertinya ini berat badan terkecil yang pernah saya miliki setelah dewasa. Entah harus senang atau sedih karena dianggap terlalu mungil :(


Jika makanan yang masuk sudah benar, tubuh ‘pintar’ kita insya Allah bisa memperbaiki dirinya sendiri ketika ada masalah. Jadi, nggak dikit-dikit minum obat yang sebenarnya justru adalah racun yang lama-lama bikin tubuh kita tambah sakit.


Masya Allah, betapa hebat ciptaan Allah, ya? Sayangnya, kita sendiri sering nggak peka, kan? Kalau sudah bermasalah, barulah sadar bahwa menjaga kesehatan itu penting dan nggak sebanding dengan makan enak yang kita lakukan setiap hari selama berpuluh-puluh tahun.


Iya, saya paham, yang namanya sakit dan penyakit itu datangnya dari Allah. Nggak mau sombong atau fanatik dengan yang  namanya JSR atau Jurus Sehat Rasulullah, tapi, setidaknya ada ikhtiar kita untuk menjaga kesehatan sebelum sakit itu datang akibat kecerobohan kita sendiri. Jika sudah tahu gorengan itu nggak sehat, cukup makan satu sebulan sekali. Kelamaan? Nggak tahan? Ya udah, seminggu sekali saja…hehe. Jika sudah terbiasa, tanpa gorengan pun hidup tetap happy, kok. Iya, kan?


Begitu juga dengan kamu yang ingin promil. Coba kembali ke real food, nggak perlu aneh-aneh, kok. Tapi, dalam JSR, sepertinya memang ada resep khusus. Saya biasa melihat-lihat di Instagram. Banyak banget teman-teman yang sudah berbaik hati merangkum resep-resep JSR, sehingga bisa dipelajari oleh banyak orang dengan lebih mudah.


Resep Promil JSR


  • Perbaiki pola makan, jangan lagi makan ‘sampah’. Hindari juga MSG, ya.

  • Rutin berpuasa sunah selama 3 bulan.

  • Konsumsi kurma sebanyak 21 butir sehari.

  • Habatussauda serbuk kapsul dikonsumsi sebanyak 3x3 sehari.

  • Beepolen 1 sdm sehari.

  • Madu 5 sdm sehari.

  • Omega 3 2x2 sehari.


 
Nah, resep inilah yang saya dapatkan dari Instagram untuk resep JSR khusus promil. Ini hanya ikhtiar manusia, Allah tetap yang  berkuasa menentukan. Mulailah dari yang termudah seperti mulai mengonsumsi makanan lebih sehat dan mudah dijumpai di sekitar kita. Dan jangan lupa, langitkan doa-doamu, ya :)


JSR untuk Ibu Hamil dan Menyusui


Jika kamu memahami apa itu JSR, pastilah kamu sudah tahu jawabannya. Bolehkah ibu hamil dan menyusui mengikuti JSR? Kebanyakan dari teman-teman masih bingung soal ini. Khawatir asupan nutrisi berkurang.


Karena itu, coba pikirkan sesimpel mungkin. JSR itu balik ke real food, jadi, kamu nggak perlu ngurangi makan apalagi yang sedang hamil dan menyusui, pasti butuh banget nutrisi yang cukup untuk perkembangan janin dan pertumbuhan buah hati yang sedang butuh ASI. Jadi, cukup ganti saja makananmu yang kurang sehat dengan yang lebih sehat.


Makan nasi putih bisa diganti nasi jagung, nasi merah, dan masih banyak pengganti lainnya. Camilan bisa diganti buah-buahan. Banyakin makan sayuran dan buah. Kacang-kacangan pun nggak dilarang. Bukankah masih banyak makanan yang dibolehkan ketimbang yang dilarang atau jadi pantangan dari JSR?


Sejak memulai sampai sekarang, saya nggak mau kaku sama diri sendiri. Dan alhamdulillah, cara ini cukup berhasil untuk saya sehingga saya nggak perlu berpikir untuk berhenti. Misalnya, saya memulainya secara bertahap. Nggak buru-buru karena itu temannya setan *eaa…hehe. Santai saja mulainya, pelan-pelan.


Kalau kamu belum terbiasa makan tanpa nasi, tiba-tiba kamu nggak makan nasi sama sekali, ya percaya keliyengan dan hampir pingsan kali…hihi. Jangan seperti itu. Bertahan kurangi makan nasi dan ganti dengan sumber karbohidrat lainnya. Misalnya karena nggak suka nasi merah, kamu coba masak dulu nasi putih campur nasi merah, bertahap saja semuanya sampai kamu berhasil meninggalkan nasi putih dan menjadikannya sebagai mantan…hihi.


Begitu juga dengan menghindari gula, bisa coba kurangi minuman manis favorit kamu. Ganti dengan seduhan kurma. Nggak kalah bernutrisi dan manisnya, kan? Jadi, sejak kamu memutuskan ikut JSR, jangan ribet-ribet mikirnya. Simpel saja sehingga dalam prosesnya semua jadi lebih mudah.


Mungkin saya termasuk orang yang mengaku ikut pola makan JSR, tapi nggak banyak update resep-resep dari Instagram yang banyak dicoba oleh teman-teman yang lain. Kenapa begitu? Karena sebelum kenal JSR sudah kenal Diet Kenyang, jadi, yang tergambar di dalam pikiran saya, semua makanan itu baik asalkan dikonsumsi tidak berlebihan, alami atau real food, diolah dengan benar. Nah, karena alasan inilah, saya nggak susah nyari menu makan sehari-hari. JSR sama Diet Kenyang itu mirip, kok. 11:12 gitu...hihi.


Makan apa di pagi hari? Ngejus, makan potongan buah, ngemil kurma, kacang tanah sangrai, siangan dikit lapar, rebus sayuran, tempe, telur rebus, bikin sambal JSR…hihi. Seterusnya kalau lapar tetap makan seperti buah, kadang malam masih rebus sayur. Ada saatnya malas makan sehingga saya merasa cukup makan berat sekali saja sehari. Ada saatnya malah kerjanya ngunyah terus, ya, Rabb...


Seperti inilah yang saya jalankan selama beberapa bulan. Alhamdulillah, sangat nyaman dan nggak merasa bersalah meski tengah malam sambil ngetik ngemil karena yang dimakan juga makanan sehat. Jadi, JSR buat ibu hamil dan menyusui dibolehkan, ya? Tergantung kamunya :D


JSR untuk Anak-anak


Mungkin sebagian dari kita mulai bermimpi, pengen banget 'meracuni' anak-anak supaya bisa ikut pola makan JSR seperti emaknya…hihi. Benar nggak, sih? Bisa saja. Saya juga kemarin-kemarin begitu. Sedikit demi sedikit anak-anak bisa mengikuti, tetapi saya pribadi nggak memaksa mereka untuk ikut seperti saya.


Mereka sedang dalam proses pertumbuhan. Mereka juga lagi masanya senang jajan karena melihat temannya makan jajan. Kalau kita paksa mereka makan seperti kita, kira-kira efektif nggak, ya? Jawabannya tergantung…hihi.


Anak-anak di rumah mulai senang minum jus, itu hal baru dan tentu saja kabar baik buat saya pribadi. Tapi, mereka masih konsumsi gula, nasi putih, ya udah, nggak masalah, kan? Poin baiknya, sudah ada jus sayuran dan buah yang masuk setiap hari, lho.


Camilan di rumah juga sebaiknya diganti dengan yang lebih sehat. Isi kulkas coba penuhi dengan buah, sudah pasti semua akan mengunyah buah, kan? Cara-cara sederhana seperti ini bisa kita lakukan. Tapi, kalau disuruh berhenti makan roti atau kue kesukaan mereka, ya mustahil banget. Minimal makanan itu non MSG saja, ya. Dan sebisa mungkin kita buat sendiri sehingga tahu kualitas bahannya, kebersihannya juga terjaga.


Kalau ditanya apakah anak-anak boleh ikut JSR? Jawaban pribadi dari saya, boleh aja asalkan kita tahu pasti kebutuhan nutrisi untuk pertumbuhan mereka terpenuhi. Iya, kan? Jangan batasi karena mereka bukan kita yang sudah hampir kepala 3 yang sudah harus tahu diri soal makanan.


Sejak anak sulung saya masuk sekolah, saya rajin lagi bikin roti, saya rajin lagi bikin camilan. Soalnya dia nggak mau sekadar bawa buah buat camilan di sekolah. Terus, apa saya harus memaksakan dia dan bilang bahwa ini ‘racun’ dan ini ‘sampah’..hihi. Yang ada mereka anggap saya stress. Santai sajalah saya pikir. Pelan-pelan saja kita coba terapkan di rumah, pada anggota keluarga terdekat.


Anak-anak saya di rumah sejak kecil nggak dibiasakan jajan sembarangan. Bahkan sudah masuk sekolah sebesar sekarang juga jarang bawa uang jajan karena selalu saya bekalkan dari rumah.  Tapi, bukan berarti mereka mudah ikut JSR seperti emaknya. Sesekali kami membeli makanan itu bukan dosa. Mereka akan belajar, Insya Allah. Jangan khawatir. Mengedukasi mereka nggak bisa instan, kan? Butuh waktu. Bahkan buat ngajari mereka suka makan buah sama sayuran saja sebagian dari kita sampai suntuk, lho.


Semua yang saya tulis di sini sebagian besar adalah pendapat saya pribadi. Jika ada yang berbeda pendapat, tentu saja sangat diperbolehkan.


Bagi saya yang sudah beberapa bulan menjalankan JSR, tentu bukan hal sulit menghindari nasi. Tapi, bagi yang baru bergabung, pastilah nggak mudah. Bahkan ada banyak orang yang akhirnya gagal menerapkan JSR ini.


Jadi, longgar sedikit ngasih aturan sama diri sendiri. Pengen sehat, pengen langsing, pengen kurusan, bebas! Kamu boleh punya alasan apa pun. Tapi, pasti ujung-ujungnya akan berpikir soal kesehatan.


Begitu juga yang sedang promil, hamil, dan menyusui. Pastilah ingin lebih sehat selama ketiga proses itu berlangsung. Coba diskusikan dulu dengan pasangan dan dokter. Karena bagaimanapun, dokter lebih paham soal kondisi kesehatan kamu terutama bagi yang masih hamil. Ada waktunya kamu bisa menerapkan JSR di saat yang tepat. Sabar dulu, yang penting sehat, happy, dan kondisi kehamilanmu berjalan dengan semestinya.


Semoga kamu tidak bosan dengan tema-tema seperti ini, ya! Yuk, coba mulai ikut JSR. Bisa dimulai dari hal paling sederhana dan mudah yakni dengan mengolah makanan yang kita konsumsi dengan benar, makan sayur dan buah lebih banyak, dan pastinya tetap membangun energi positif di dalam diri kita. Tetap happy, ya.


Salam,