Top Social

Apa yang Membuatmu Bertahan dan Tetap Menulis?

Foto: Pexels.com

Beberapa hari terakhir sudah pasti pikiran saya nggak fokus mau ngerjain sesuatu dikarenakan si bungsu yang baru saja dikhitan empat hari yang lalu. Bukan karena dia rewel, hari kedua saja sudah tengkurep dan manjat-manjat. Tapi, lebih pada nggak fokus karena merasa masih ada beban…haha. Kalau dia belum sepenuhnya sembuh, lepas tabung khitannya, pastinya saya masih begini, nggak karuan rasanya.

Malam ini, sebelum tidur, saya memutuskan menulis tema sederhana saja. Iya, apa yang membuatmu bertahan sampai sejauh ini untuk tetap menulis? Meski sering dinyinyirin orang? Ada yang iri? Dibohongin? Disakitin sampai dilukai hatinya? Please, paragraf kedua sudah lebih mirip seperti sinetron FTV atau sinetro adzab saja, ya bahsanya? Haha.

Selama dua tahun terakhir, bukannya malas nggak muncul, nggak mood hilang, atau nggak pernah kehilangan ide, bukan. Hal semacam itu pastilah juga bertandang dalam hidup saya. Kadang saya melanjutkan hobi menggambar jika merasa jenuh dengan aktivitas menulis. Nah, ketika saya melakukan hal lain, sadarlah saya bahwa ‘nyamannya’ saya ya hanya di sini, menulis.


Setelah itu, saya kembali pada kenyataan bahwa saya memang belum menemukan hal baru yang bisa menggantikan passion ini. Hal semacam itu akan terus ada, kayak menggoda iman kita saja. Dia datang, berlalu, datang lagi, berlalu lagi…hehe.

Selama kita bisa menghadapinya dengan bijak, nggak grasak grusuk mengambil keputusan, selama itu pula Insya Allah kamu bisa bertahan. Memang tidak akan mudah, kalau mudah, semua orang akan jadi penulis hebat dan dapat penghasilan berjuta-juta. Sayangnya, kita butuh terseok dulu, jatuh dulu, bangkit lagi, malas dulu, tekun lagi, dan seabrek ujian lain yang kadang memang membuat kita seketika menyerah.

Tapi, coba kamu pikirkan lagi, apakah ada hobi lain yang lebih menyenangkan ketimbang menulis? Apakah kamu yakin nggak ingin serius di bidang ini? Apakah kamu siap iri melihat teman-temanmu berhasil jadi blogger atau penulis buku sukses? Jika jawabannya tidak, maka kamu harus perjuangkan hobi menulismu menjadi sedikit lebih serius.

Ketika saya bosan melanjutkan naskah, saya akan mengisi blog. Ketika saya capek menulis artikel, sebaiknya saya menepi dan mengerjakan hal lain yang bisa membuat saya lebih gembira daripada memaksakan diri melakukan sesuatu yang bikin dongkol hati…kwkwk. Iya, nggak ada salahnya kamu istirahat sejenak, toh kita tidak sedang mengejar seseorang, kita tidak sedang bersaing, jika kamu lelah, tidak ada yang menyalahkamu saat istirahat sebentar. Sebab dengan cara ini, kamu justru akan dapat energi baru. Setelahnya, kamu bisa melanjutkan tulisan kamu dengan pikiran yang lebih segar.

Tapi, ada catatannya, juga ya. Jangan terlena berlebihan mengerjakan hal lain. Jika kamu buru-buru mengganti hobi kamu atau berlama-lama dengan hal lain, takutnya nanti malah nggak ada yang bisa ditekuni, hanya sekadar kamu incipi saja di luarnya.

Bagi yang senang menulis, pastinya menulis membuat mereka lebih bahagia. Saya pun merasakan itu. Iya, apalagi setelahnya kamu dapat fee dan hadiah menarik yang nggak pernah kamu bayangkan sebelumnya. Meski alasan utama bukan materi, tetapi adanya hadiah itu akan melecutkan semangat kamu. Benar, kan?

Satu hal yang perlu kamu ingat, jangan sampai kamu tidak menikmati hobi kamu sendiri. Kamu bilang itu hobi, tetapi kamu justru terburu-buru mengerjakannya. Kamu sebut itu hobi, tapi kamu malah suntuk saat mengerjakannya. Jangan sampai begitu, ya!

Jika sejak awal kamu memang menyukai aktivitas menulis, maka jaga semangat dan cinta itu supaya tidak padam. Sebab mencari passion sendiri nyatanya bukan perkara mudah. Kita butuh waktu bertahun-tahun untuk tahu apa passion kita. Setelah itu, masa iya kita nyerah begitu saja hanya karena alasan sepele?

"Lalu, apa yang membuatmu bertahan menulis hingga sekarang?"

Sebab saya tahu sekali apa yang sebenarnya membuat saya gembira dan happy. Ya, dengan menulis! Bagaimana dengan  kamu?

Salam,

Pengalaman Sunat Anak dengan Metode Smart Klamp di Rumah Sunat dr. Mahdian (Rumah Sunatan Cipinang)

Foto: tokopedia

Punya anak cowok memang ada ujiannya sendiri, ya. Salah satunya harus menjalankan kewajiban khitan. Kalau ditanya kapan seorang ibu siap lihat anaknya dikhitan atau disunat, jawaban saya sampai kapan pun nggak akan pernah siap. Gimana mau siap, lihat anak sendiri teriak-teriak kesakitan…hiks. Masih untung ibunya nggak pingsan di dalam…haha.

Anak sulung saya dikhitan saat usianya satu tahun. Tepat di hari lahirnya, saya memutuskan untuk mengkhitan sulung tanpa banyak rencana sebelumnya. Alasan utamanya karena saya takut dia terkena ISK (Infeksi Saluran Kemih). Kenapa sampai kepikiran ke sana? Karena sejak awal dokter anak langganan sudah mengatakan bahwa dia kena fimosis.

Membaca banyak kisah mengerikan tentang ISK, saya jadi ngeri sendiri. Daripada harus dua kali kesakitan, karena ISK dan khitan, mending langsung saja dikhitan. Toh mau sampai kapan, anak lanang tetap harus khitan, kan?

Dulu pertama kali saya kenal metode Smart klamp pada tahun 2012. Metode ini bekerja seperti tali pusar pada bayi. Saya browsing-browsing sendiri dan terdamparlah di website Rumah Sunatan. Kayaknya metode ini benar-benar memudahkan ketimbang harus sunat dengan metode konvensional. Saya pun membaca banyak artikel terkait, hingga akhirnya saya yakin mengkhitan si sulung dengan metode satu ini di Rumah Sunatan.


KPPK , sertifikat, dan bantal bola dari Rumah Sunat dr. Mahdian (Foto: Koleksi pribadi)
Apa keuntungan dari metode Smart Klamp ini?
1. Prosesnya lumayan cepat dan mudah. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit sampai semua selesai. Proses khitannya sendiri hanya berlangsung kurang lebih 5 menit saja.

2. Selesai dikhitan, anak sudah bisa pakai popok dan celana seperti biasa. Kebayang memudahkan banget, kan? Mereka bisa langsung jalan, main, dan beraktivitas seperti biasa.

3. Meminimalisir risiko perdarahan. Setelah dikhitan, nggak ada darah keluar. Kencing pun seperti biasa. Dengan begitu, sunat metode smart klamp ini dinilai lebih aman terutama buat anak-anak yang nggak bisa diam.

4. Tidak menggunakan jahitan. Karena tanpa jahitan, kita nggak perlu bolak balik ganti perban. Cukup bersihkan tabung dengan NaCl supaya steril terutama setelah mandi dan BAK. Setelah itu, teteskan obat yang sudah diberikan oleh dokter.

Foto: rumahsunatan.com
Kenapa harus di Rumah Sunat dr. Mahdian?

1. Klinik ini merupakan klinik pertama yang mengembangkan konsep layanan khusus sunat dengan fasilitas bermain dan ruang tindakan. Saat menunggu atau antre, anak-anak bisa main-main dengan nyaman di lantai bawah. Ruangannya cukup luas dan nyaman. Ada kamar mandi serta tempat berfoto.

2. Berdiri sejak 2006 dan konsisten mengembangkan tindakan sunat terbaik.

3. Menggunakan metode Smart Klamp yang direkomendasikan di dunia bahkan oleh WHO.

4. Bekerjasama dengan negara Turki dan Malaysia untuk meningkatkan mutu pelayanan.

5. Dokter sunat di klinik ini memiliki sertifikasi dan jam terbang tertinggi dalam penggunaan metode Smart Klamp di Indonesia.

6. Ada pelayanan Emergency  Call 24 jam selama 7 hari.

7. Klinik sunat pertama yang memakai “Circumcision Kit” sekali pakai.


Foto: rumahsunatan.com
Saat si sulung dikhitan, saya tidak berani masuk. Usia satu tahun belum banyak memahami apa-apa. Bilang sakit pun belum bisa. Saat itu, dia lumayan rewel dan sering menangis. Obat pereda nyeri hanya diberikan berupa sirup paracetamol. Dulu juga dibekali antibiotik yang menurut saya itu nggak tepat dan sempat saya protes *dasar emak cerewet…kwkwk.

Seminggu berlalu, tabung sudah bisa dilepas. Sempat bermasalah karena ada sedikit luka yang masih basah dan agak lama meski nggak parah. Akhirnya malah kering setelah sering dioles gamat. Sejauh ini, walaupun dia rewel selama 2-3 hari pertama, tapi selebihnya dia baik-baik saja. Saya yakin, nggak akan mudah menghilangkan trauma saat dikhitan, apalagi ketika melihat tabung menempel di tubuhnya, dia bisa teriak nangis seketika…hehe. Kalau sudah begitu, emaknya pengen pingsan…haha.

Tapi, kemarin, saat saya memutuskan mengkhitan si bungsu yang sudah 3,5 tahun, saya beranikan diri masuk ke ruangan dan menemaninya saat dikhitan. Kok bisa tiba-tiba diajakin sunat?

Awalnya dia mau dan setuju kalau akan segera sunat. Bahkan di hari H, dia malah buru-buru dan nggak mau menunggu. Memangnya sunat harus daftar? Kalau langsung datang nggak boleh, ya? Tanyanya. Sampai segitunya. Akhirnya saya pun yakin, ini saat yang tepat untuk khitan.

Sempat agak bingung, Rumah Sunatan sekarang sudah berubah nama menjadi Rumah Sunat dr. Mahdian. Saya pikir itu rumah sunat berbeda, ternyata sama seperti yang lama, hanya saja namanya diubah.

Sebelumnya, saat masih berusia 4 bulan, saya sempat membawanya ke sana. Tapi, dokter bilang masalahnya tidak serius, artinya masih wajar. Sehingga kami pun disuruh pulang lagi dan berpikir ulang. Ya sudah, saya pun memutuskan menundanya karena yakin, anak bungsu saya baik-baik saja.

Tapi, tahun ini kayaknya sudah takdirnya dia disunat. Semua berjalan cepat banget. Nggak direncanakan jauh-jauh hari. Sabtu saya sampaikan pada suami kalau bungsu mau sunat, Ahadnya kita berangkat ke Rumah Sunatan. Sampai sekarang pun rasanya seperti mimpi, terlebih saya masuk ke dalam ruangan saat proses khitan berlangsung. Nggak banyak drama, nangis iya karena tiba-tiba dia nyesel sudah ngajakin sunat…haha. Tapi, mau gimana, kita sudah sampai, sudah daftar juga, ya sudah, kita jalankan saja.

Awalnya dia menangis, akhirnya harus dipegang erat karena nggak mungkin nungguin terlalu lama. Cukup dipegang sama suami bagian tangan, kaki sama perawatnya, dan dokter mengekskusi. Teriak-teriak terutama saat dibius kayaknya wajar, ya. Dia sempat bilang pusing, sumuk (berkeringat), dan sakit. Sunat pada anak hanya butuh bius lokal, ya. Dan prosesnya nggak lama, kok. Yang bikin lama itu dramanya, Sodarah.

Sejak awal saya katakan bahwa sunat itu sakit, Nanti dia bakalan disuntik. Saya tidak menutupi apa pun darinya, berkali-kali saya tanyakan apakah dia serius ingin sunat? Hingga akhirnya dia sadar, keputusannya mungkin salah…kwkwk.

Selesai sunat, bungsu langsung pakai popok dan celana. Dia ngambek, marah banget dan bilang hanya sayang Bunda…kwkwk. Lucunya, pas keluar ruangan, saya menemukan si sulung sedang sujud sambil menangis sedih mendengar adiknya nangis-nangis. Ini pemandangan yang jarang banget terjadi. Waktu tahu adiknya mau sunat, dialah yang merasa lebih khawatir dan takut daripada yang lain. Syukurlah, dia sendiri sudah sunat. Kalau belum, apa kabar dunia?

Ketika mau pulang dan masuk mobil, bungsu masih nangis sambil marah. Akhirnya diajakin nonton di tablet (fasilitas yang ada hanya ketika sunat...kwkwk) dan nggak lama dia tertidur. Sampai rumah dia masih tidur dan bangun untuk makan. Apakah nangis dan rewel terus? Justru kalau si bungsu lebih anteng dan langsung beraktivitas seperti biasa. Senyum, jalan, duduk, dan tiduran tanpa banyak mengeluh. Sampai hari kedua ini pun, dia masih seperti biasa kecuali saat akan BAK serta dini hari.

Waktu hari pertama kemarin, dia nggak mau BAK karena ketakutan, itu wajar banget. Saya biarkan sampai akhirnya dia kebelet sendiri, barulah mau ke kamar mandi. Alhamdulillah BAK lancar. Waktu mau dibersihkan dengan NaCl dan diberi obat, dia nangis lagi karena takut. Dan sudah pasti 1-2 hari ini masih ngilu dong.

Mau seaman apa pun, yang namanya sunat itu pastilah sakit. Walau nggak berdarah sekarang, walau boleh main, berenang, mandi, sampai ke mal…kwkw. Yang namanya sunat sudah pasti sakit. Udah jangan berharap terlalu besar, nanti malah kaget…haha.

Bekal obat kali ini berbeda dengan si sulung dulu. Harga obat-obatan nggak masuk dalam harga paket. Harga paket sunat anak metode Smart Klamp adalah Rp. 1.650.000. Itu hanya dibekali sirup pereda nyeri atau paracetamol saja.

Kemudian kita ditawari satu kantong obat-obatan KPPK (Kit Perawatan Pasca Khitan) seharga Rp. 150.000. Isinya ada obat merah, kasa steril, tisu basah steril, kotak obat kecil, obat sunat, cotton bud, masker, NaCl, irrigation syringe, sabun mandi antiseptik, dan hand sanitizer.

Nah, selain itu, kita juga dibekali 2 tablet ibuprofen rektal seharga Rp. 90.000. Jadi, total harga sunat di Rumah Sunat dr. Mahdian tahun ini Rp. 1.890.000. Lumayan jauh daripada dulu yang masih sekitar satu jutaan. Terang saja, jaraknya juga sudah beberapa tahun...haha.

Ibuprofen rektal itu diberikan jam 10 malam sebanyak ¼ tablet saja dan nanti sebelum datang saat kontrol untuk lepas tabung. Dan, karena semalam bungsu nggak mau pakai, akhirnya obat ini dipakai dini hari tadi ketika dia teriak kesakitan dan pasrah…hiks.

Saya pribadi lebih memilih ke Rumah Sunatan ketimbang ke rumah sakit yang justru lebih ribet. Harus ada dokter anak, harus ada dokter bedah juga, dan yang pasti nggak bisa minta pakai Smart Klamp. Karena itu, saya sudah langganan sejak anak pertama di Rumah Sunatan. Alhamdulillah, sejauh ini mereka baik dan ramah. Konsultasi gratis dan yang pasti nggak terlalu jauh dari rumah.

Insya Allah, Ahad depan tabung akan dilepas. Semoga nggak ada masalah, lekas sehat dan bisa beraktivitas seperti semula. Jujur saja, sebagai ibu saya merasa sangat lega karena tuntas sudah kewajiban mengkhitan si kecil.

Tahun ini saya selangkah lebih berani…kwkwk. Kalau dulu, masuk ruangan sunat nggak berani, saya juga meminta suami cuti beberapa hari supaya bisa menemani saya mengurus anak mengingat saya hanya sendirian di rumah. Tiap memeriksa tabung Smart Klamp, air mata mengalir..hiks. Tapi, sekarang, saya lebih kuat, di ruang sunat juga nggak nangis, saya pasrah saja pada Allah. Berusaha tidak membedakan masalah menjadi kecil atau besar, saya yakin semua baik-baik saja. Dan yang pasti proses penyembuhan itu butuh waktu. Jadi, sabar saja, Insya Allah akan tiba saatnya untuk sembuh.

Salam,

Resep Bolu Pisang Lembut



Apa yang akan kamu lakukan jika terdapat buah pisang yang sudah mulai menghitam dan matang banget, tetapi nggak ada yang sudi menyentuh? Kadang tersisa beberapa buah pisang, kadang malah banyak seperti yang kemarin terjadi di rumah.

Biasanya saya megolahnya menjadi banana muffin, tapi kali ini pengen yang beda. Dan akhirnya saya menemukan resep bolu pisang lembut milik @ayudiahrespatih. Melihat tekstur bolunya bikin jatuh hati. Asli kayaknya enak banget.

Menurut pemilik resep, tekstur bolu pisang ini lembut, tetapi tidak beremah. Nah, pas banget ya dengan keinginan kita? Kadang ada bolu yang lembut tapi sedikit beremah sehingga bikin ribet makannya apalagi ketika dikonsumsi oleh anak-anak. Bisa bikin berantakan di rumah.


Nah, kebetulan kemarin ada pisang ambon lumut yang manis dan enak banget. Tapi, kayaknya anak-anak udah bosen makan saking banyaknya. Suami juga udah malas nyentuh. Jadi, harus diolah supaya laku dan nggak terbuang percuma.

Nah, saya pun akhirnya membuat bolu pisang lembut tersebut. Tapi, tolong jangan ditiru, ya…haha. Saya tambahkan 3 buah pisang melebihi takaran yang sebenarnya. Alhasil teksturnya jadi lebih padat meski tetap lembut dan tidak bantat.

Bolu ini dibuat dengan cara mengocok putih telur secara terpisah. Nah, bagi yang belum pengalaman, sebaiknya berhati-hati saat mengaduk putih telur yang sudah kaku bersama adonan lain supaya tidak pecah.

Jadi, kamu bisa pakai teknik aduk balik. Bisa cek di Instagram atau Youtube pasti banyak dicontohin supaya lebih mudah memahaminya. Saya pribadi belum berhasil membuat videonya mengingat belum ada yang membantu merekam saat saya baking kemarin.


Bahan:
250 gram pisang matang
120 gram gula pasir
3 kuning telur
3 putih telur
120 ml minyak (Bisa pakai mentega)
130 gram terigu
½ sdt baking powder
½ sdt kayu manis bubuk

Cara membuat:
1. Panaskan oven suhu 150’C. Biasanya suhu oven itu berbeda-beda, jadi pastikan kamu paham banget dengan karakter ovenmu sendiri.
2. Siapkan loyang dan olesi margarin serta taburi dengan terigu.
3. Haluskan pisang dengan garpu sampai benar-benar lumat. Masukkan kuning telur dan gula pasir. Aduk sampai rata.
4. Masukkan minyak, aduk lagi sampai rata.
5. Ayak terigu, baking powder, dan kayu manis bubuk. Masukkan dalam adonan pisang dan campur rata.
6. Mixer putel dengan kecepatan tinggi sampai mengembang dan kaku. Masukkan bertahap dalam adonan pisang. Aduk balik sampai putih telur habis.
7. Tuangkan ke dalam loyang. Kamu bisa tambahkan irisan pisang di atasnya, baru kemudian siap dipanggang selama 50 menit (sesuai oven masing-masing).


Voila! Bolu pisang lembut buatan kamu pun sudah siap disantap. Siapa sangka, ternyata yang doyan tanpa banyak tanya adalah si bungsu. Dia menghabiskan hampir setengah loyang sendiri…kwkwk.

Aromanya enak banget, perpaduan antara pisang dan kayu manis itu pas banget. Anak-anak juga suka. Satu loyang ludes dimakan anak-anak. Kalau yang bikin hanya incip sedikit udah kenyang karena sudah capek membuat. Kamu juga suka gitu?

Mengolah kembali makanan yang sudah nggak disentuh seperti ini memang berguna banget. Nah, kalau kamu punya tips atau resep apa, nih selain bolu pisang dan banana muffin seperti yang sering saya posting?

Yuk, dicoba di rumah. Siapa tahu ada pisang yang mulai menghitam dan masak serta tidak ada yang mau mengonsumsinya lagi!

Salam,

Cara Mengatasi Luka Bakar pada Anak

Foto: Pexels.com

Luka bakar sama seperti luka biasa, sama-sama bikin ngilu apalagi kalau sampai itu terjadi pada anak-anak. Tapi, cara menangani luka bakar pastinya berbeda dengan luka-luka pada umumnya, apalagi luka di hati yang bikin nyeri *apa sih kwkwk.

Nah, biasanya karena kurang hati-hati, anak-anak sering jadi korban. Baik karena air panas, knalpot, atau api. Sebagai orang tua, kita harus pandai-pandai menjaga mereka. Karena sadar betul tidak mungkin 24 jam kita bisa memerhatikan dari dekat, ada baiknya kita buat kondisi rumah seaman mungkin. Jangan sampai ada barang-barang yang berpotensi melukai mereka ketika kita lengah.

Kadang kita perlu meninggalkan mereka sendiri ketika ada pekerjaan mendesak seperti harus mandi sebentar, memasak, mencuci, dan banyak aktivitas lainnya. Nah, di saat seperti itu, kalau kita nggak perhatian dengan lingkungan sekitar, pastinya bukan mustahil akan terjadi hal yang tidak diinginkan terlebih kalau anak masih belum mengerti arti bahaya.


Dulu, karena saya tinggal hanya dengan suami dan mustahil menitipkan anak pada orang lain, suami akhirnya membuat pagar pendek yang tidak bisa dilalui oleh si kecil. Pagar itu bisa terbuat dari kayu, bambu atau bahkan yang terakhir suami bikin dari sambungan pipa paralon. Asli ini berguna banget ketika saya harus memasak di dapur. Dia tidak harus kecolongan  naik tangga diam-diam terutama setelah anak mulai merangkak. Pagar begini bisa jadi pegangan juga buat mereka berdiri. Dan pastinya kita masih bisa ngobrol dan melihat mereka dengan langsung.

Anak-anak yang sudah lebih besar pastinya sudah malas banget kalau disuruh duduk di kereta bayi atau di bouncer. Kejadian buruk sempat terjadi waktu si bungsu menemani saya membersihkan rumah. Dia saya dudukkan di bouncer dan nggak lupa pasang sabuknya supaya aman. Nggak pernah kebayang ternyata nggak lama saya balik muka dan menyalakan penyedot debu, dia udah terjungkal. Harus ketawa apa sedih? Ketawa sambil pengen nangis…hiks. Ternyata dia nggak lepas dari sabuknya, dia justru maksa mau makan jempol kakinya sehingga berat bertumpu ke depan dan jadilah dia terjungkal ke depan. Duh, saking aktifnya, Masya Allah.

Akhirnya setelah kejadian itu saya nggak pernah membiarkan dia di ayunan atau bouncer ketika saya bekerja. Saya pakai gendongan belakang yang mudah. Dulu masih viral banget gendongan bayi ERGO Baby yang nyaman  banget meski harganya selangit. Saya sih beli yang KW aja yang penting fungsinya sama..hehe. Katanya bedanya hanya di bahan. Yang lain pasti bedalah secara harganya jauh. Tapi, sampai bulukan gendongan itu tetap berfungsi dengan baik, Alhamdulillah.

Nah, di rumah, saya juga tidak berani menaruh gunting atau pisau di sembarang tempat. Benda-benda tajam selalu ditaruh di tempat lebih tinggi. Kulit mereka masih tipis, kena goreng bukan karena pisau saja bisa luka, ya.

Di rumah juga tidak membiarkan dispenser menyala. Dicabut saja kabelnya daripada si kecil main air panas. Kita juga harus perhatikan betul di mana menyimpan air panas setelah direbus. Jangan sampai terjangkau tangan mungil mereka. Kejadian tetangga dekat rumah, waktu itu nggak sengaja kesiram air panas yang ada di tangga kalau nggak salah. Habis badannya melepuh. Duh, ngeri ngebayanginnya.

Lalu apa yang harus kita lakukan ketika anak terkena luka bakar? Orang zaman dulu selalu menyuruh mengoleskan pasta gigi, ya? Itu berguna atau malah merugikan?

Dulu, mana tahu itu berguna atau tidak. Yang penting dengerin orang tua ngomong aja..hehe. Ternyata memberikan mentega, kecap, pasta gigi atau minyak itu tidak disarankan. Cara terbaik yang bisa kamu lakukan di antaranya,

1. Siram luka bakar dengan air mengalir seperti air keran. Luka bakar, kena air panas, kena knalpot dan letupan minyak bisa kamu atasi dengan cara ini.

2. Jika masih terasa panas, kamu bisa kompres dengan NaCl 0,9%.

3. Jika muncul gelembung atau kulitmu terkelupas, angkat kulitnya dan bersihkan dengan NaCl 0,9% baru kemudian bisa kamu berikan salep antiseptik.

4. Jika ada nyeri bisa ditangani dengan pemberian obat nyeri seperti paracetamol.

5. Jika luka bakar terasa nyeri, itu tandanya luka itu tidak dalam. Jika luka bakarnya cukup parah dan mengenai banyak area di tubuh, nggak usah mikir dua kali, segera bawa ke rumah sakit untuk ditangani.

Semua informasi itu saya dapatkan buku Q&A Smart Parents for Healthy Children yang ditulis oleh dokter Wati, pengasuh milis sehat. Insya Allah informasi ini bisa dipertanggung jawabkan dan bisa diterapkan. Semoga kita bisa lebih berhati-hati lagi, jangan sampai anak kita terkena luka bakar hanya karena kelalaian orang tua.

Salam,

Cara Merampungkan Naskah Buku Tanpa Banyak Alasan

Foto: Pexels.com

Segala sesuatu yang kita kerjakan memang harus dinikmati dan disyukuri. Rezeki nggak akan ke mana, ya? Meski hampir semua blogger terhempas penuh drama karena DA terjun bebas, tapi sebagian besar dari kita pun sadar, bahwa DA bukan segalanya, kok.

Kalau tidak dinikmati, sudah hampir semua blogger pensiun kali, ya. Dan sejak melihat DA saya turun hingga ke angka 9, saya pun pasrah dan memutuskan untuk fokus menulis saja. Apalagi belakangan udah jarang banget bisa ngisi blog setiap hari. Jadi, nggak ada jalan lain selain dinikmati saja. Toh tujuan awal ngeblog memang buat menulis, tidak lebih. Ketika mulai paham sedikit demi sedikit, dapat job jadi mencemari niat yang sebenarnya…kwkwk.

Lupakan soal DA. Kita bahas bagaimana menuntaskan naskah yang sudah setengah jalan atau bahkan masih baru judul aja, nih? Tega banget baru judul udah minta lekas rampung…hahaha. Bermimpi, kan gratis, nggak ada yang melarang, asal jangan kelamaan bermimpinya supaya nggak tertinggal sama yang lain.


Di saat kita sedang bersantai nonton drama Korea, bisa jadi orang di sebelahmu sedang serius merampungkan naskahnya. Jadi, wajar jika kamu masih duduk di sofa, eh dia udah naik tangga *ngapain? Benerin genteng? Haha.

Saya percaya, rezeki itu memang bergerak, dia akan datang ketika kita terus bergerak atau mengusahakannya. Setelah membaca buku ustadz Arafat yang berjudul Hijrah Rezeki, saya pun yakin, rezeki itu akan menghampiri saya jika saya mau usaha.

Salah satu usaha yang bisa kamu lakukan demi melihat bukumu terbit dan majang di toko buku adalah dengan merampungkan naskah kamu sendiri. Iyalah, kesuksesan itu ada di tangan kamu, bukan di tangan mereka yang meremehkanmu! *perlu banget pakai tanda seru, ya? Hahaha.

Ketika menyusun outline, biasanya kita bersemangat banget. Kayaknya naskah itu akan selesai seminggu ke depan. Rasanya nggak bakalan kena rasa malas apalagi mengingat ide yang kamu temukan benar-benar cemerlang banget.

Sayangnya, ketika baru mulai satu hingga dua bab, ternyata kamu sudah galau nggak jelas. Pengen nulis ide lain aja, deh. Padahal yang pertama saja baru tiga bab, lho. Duh, mulai berat. Akhirnya istirahat sejenak, main-main Instagram sampai lewat satu hingga dua jam berlalu tanpa faedah…hehe. Iya, itu saya banget…haha. Gimana dengan kamu?

Lalu apa yang bisa kita lakukan supaya naskah yang sudah kita buat kerangkanya bisa berhasil diselesaikan? Mungkin kamu bisa mencoba beberapa tips ini.

Ingat lagi tujuan awal kamu menulis

Foto: Pexels.com
Kamu ingat-ingat lagi deh apa tujuan kamu menulis naskah itu? Pastinya ingin mengirimkankannya ke penerbit, mendengar kabar bahwa naskah kamu diterima, dan akhirnya majang di toko buku.

Nah, kalau sekarang kamu menyerah, lalu kapan mimpi itu bisa kamu wujudkan? Sebaiknya kamu lihat teman-teman penulis di sekeliling kamu, jadikan mereka sebagai pelecut semangat, kalau mereka bisa, kenapa kamu tidak?

Kita diciptakan sama. Memiliki 24 jam yang sama, punya kesibukan segunung, bahkan kadang kurang tidur hingga punya mata panda, tapi kenapa kamu menyerah secepat ini? Ayolah, tidak inginkah kamu punya satu buku saja seumur hidupmu? Iya, satu saja. Jika setelahnya kamu ingin lagi, kenapa tidak?

Disiplin mematuhi jadwal yang sudah kamu buat sendiri

Foto: Pexels.com
Hal paling berat dalam aktivitas satu ini adalah disiplin mematuhi jadwal yang sudah kamu buat sendiri. Kalau ada orang yang menagih, itu pasti akan jauh lebih mudah. Tapi, kalau harus mematuhi aturan yang sudah dibuat sendiri, kayaknya sekali dua kali nggak patuh boleh kali, ya?

Nah, karena alasan inilah kita jadi cenderung meremehkan. Padahal naskah itu bisa kelar sebulan atau dua bulan, tetapi karena kamu suka nggak disiplin, akhirnya malah nggak kelar-kelar bahkan sampai tahun depan.

Memang nggak disiplin dalam menulis tema lain itu godaan banget. Apalagi kalau profesi kita nggak hanya sekadar jadi penulis buku, tetapi juga blogger. Ketika kita menulis naskah, tiba-tiba godaan untuk menulis di blog begitu besar…haha. Alhasil kita malah keasyikan ngeblog dan lupa soal naskah. Itulah yang saya alami meski ngeblog masih sebatas jadi blogger remahan, tapi karena seperti rekreasi, ya menyenangkan banget sampai lupa segalanya…haha.

Kalau sudah begitu, mending kamu jadikan ativitas lain sebagai reward ketika kamu telah berhasil menyelesaikan naskah kamu. Misalnya saja, kamu bisa mulai ngeblog setelah target 2-3 bab naskah kamu hari ini selesai. Atau kamu bisa menyelesaikan membaca buku favorit kamu setelah naskah kamu rampung. Itu benar-benar efektif buat saya pribadi.

Konsisten menulis

Foto: Pexels.com
Meski kamu sudah terbiasa menulis buku, tapi kalau kamu nggak konsisten, kemampuan menulis itu bisa ditelan angin. Iya, jadi beda aja hasilnya. Sekian lama menulis artikel bisa menghilangkan kemampuan saya menulis naskah anak. Jadi kaku lagi, jadi aneh bahasanya apalagi kalau kamu kurang membaca. Jadi, konsistenlah menulis setiap hari. Jika harus terpaksa berhenti sejenak, jangan terlalu lama karena itu akan mengurangi kemampuanmu. Itu sejauh yang saya alami.

Perbanyak referensi

Foto: Pexels.com
Kalau kamu tidak ada referensi sebelumnya, dijamin naskah kamu aneh dan garing..hehe. Bukan hanya itu, bisa jadi malah diam di tempat karena nggak tahu apa yang akan kamu kerjakan selanjutnya.

Referensi bisa kamu dapatkan dari buku-buku, majalah, artikel di media online (tapi harus hati-hati mencari sumber), serta dari perpustakaan digital. Salah satunya dengan membaca buku di aplikasi iJakarta. Bukan promosi, ya…haha. Tapi, ini pengalaman saya selama ini. Saya pasang aplikasi ini mulai dari pertama saya tahu sampai saat ini.

Alhamdulillah sangat membantu sekali. Banyak buku-buku yang bisa kita baca dan dijadikan referensi. Nggak perlu melulu membeli buku, apalagi kalau kehabisan ide, bisa baca-baca di sana. Cukup korbankan kuota internet kamu, nggak perlu korbankan diri kamu *apa sih…kwkwk.

Komitmen menyelesaikan naskah

Foto: Pexels.com
Kalau kamu nggak bisa berkomitmen pada diri sendiri, terus siapa yang bakalan menyelesaikan naskahmu? Kamu harus berjanji pada diri kamu sendiri, bahwa kamu akan merampungkan naskah itu. Jangan kebanyakan berpikir, tapi kerjakan.

Selama ini banyak naskah yang gagal saya rampungkan karena saya mengkhianati janji itu. Iya, sedih banget, kan kalau sampai dikhianati? Makannya naskahnya hanya berupa judul dan kerangka…hehe. Miris banget.

Mulailah dan Pikirkan Kemudian

Foto: Pexels.com
Seperti yang saya katakan sebelumnya, kalau kebanyakan mikir, gimana hasilnya, berantakan atau tidak, dibaca lagi berulang padahal baru juga satu halaman, itu bakalan bikin lama. Percaya!

Ketika saya menulis naskah, saya tidak membacanya sebelum semua bab selesai saya tulis. Kalau saya bingung mengedit sebelum semua rampung, sudah bisa dipastikan satu bab saja tidak akan pernah selesai atau selesai tapi lama banget.

Karena itu, mulailah dulu. Kerjakan dulu tulisan kamu, baru diedit setelah diendapkan beberapa hari. Jangan kebanyakan nengok naskah yang baru saja ditulis. Biarkan semua selesai dan indah pada waktunya *eaa.

Buat target dan perhitungkan kemampuanmu

Foto: Pexels.com
Kamu yang paling tahu seberapa besar kemampuanmu saat menulis. Sehari bisa jadi temanmu menyelesaikan dua halaman, tapi kamu ternyata hanya bisa satu halaman per hari. Itu sudah oke asalkan konsisten, kamu akan merampungkan bukumu juga, kok.

Jika kerangka naskahmu terdiri dari 10 bab, dan setiap bab terdiri dari 3 sub bab, maka kamu bisa membaginya menjadi beberapa hari sesuai kemampuan. Pastikan setiap sub bab sudah jelas terdiri dari berapa halaman sehingga sehari kamu bisa kerjakan berapa sesuai kemampuan. Bisa jadi satu bab sehari atau berapa halaman sehari. Simpel.

Anggap targetmu sebagai hutang yang harus dibayar ketika kamu tinggalkan

Foto: Pexels.com
Jika sehari kamu tidak menulis apa yang telah ditargetkan, maka kamu harus membayarnya di hari berikutnya. Iya, anggap saja kamu sudah berhutang dan kamu harus membayarnya supaya target tetap tercapai.

Ya, memang tidak ada yang semudah membalikkan telapak tangan, tapi ketika target itu tercapai, kamu akan merasa sangat lega.

Yakinlah kamu pasti bisa menyelesaikannya

Foto: Pexels,com
Meskipun awalnya tampak tidak mudah bahkan kayaknya nggak mungkin, tapi yakinlah bahwa kamu akan melampaui pikiranmu itu. Kalau kamu nggak yakin, lalu bagaimana kamu bisa melakukan semuanya? Penting banget kamu yakin dan teruslah berdoa supaya dimudahkan semua prosesnya.

Itulah beberapa hal yang bisa kamu terapkan supaya naskah kamu selesai dan tidak hanya tersimpan berupa file kosong di laptopmu. Kebayang senangnya bisa menulis buku? Iya, buku kamu bakal majang di toko buku dan dibaca oleh banyak orang. Tolonglah dirimu sendiri sebelum kamu menolong orang lain. Yup! Bantu kamu menyelesaikan targetmu dan raihlah impianmu sebelum kamu membantu mewujudkan impian orang lain.

Salam,

Mudahnya Menjadi Pendekar Anak di Era Modern

Foto: Koleksi pribadi
Ada banyak hal yang bisa dilakukan secara mudah di era modern seperti sekarang ini. Mulai dari mencari alat transportasi, berbelanja sampai menjadi pendekar anak pun bisa dilakukan dengan mudah. Ya, dengan adanya teknologi internet serta gawai yang Anda miliki. Anda bisa menjadi seorang pendekar anak yang menyelamatkan nyawa jutaan anak di Indonesia.

Untuk menjadi seorang pendekar anak, salah satu cara yang bisa Anda lakukan yakni dengan melakukan donasi melalui UNICEF Indonesia. Donasi yang Anda berikan bisa membantu jutaan anak di Indonesia yang belum sejahtera atau bahkan hidup dengan penuh penderitaan. Padahal, harusnya anak-anak memiliki kehidupan yang layak agar proses tumbuh kembangnya dapat berjalan secara optimal. Selain itu, anak-anak juga perlu memiliki kehidupan yang layak agar bisa memiliki masa depan yang cerah karena mereka merupakan generasi penerus bangsa yang akan menjadi pemimpin di masa yang akan datang.

Di era modern seperti sekarang ini, menjadi pendekar anak merupakan hal yang sangat mudah. Anda bisa melakukannya dengan cara donasi online melalui UNICEF Indonesia. Cukup dengan memanfaatkan koneksi internet serta menggunakan gawai yang dimiliki, kunjungi situs resmi UNICEF Indonesia di https://www.supportunicefindonesia.org/. Setelah itu, Anda bisa memilih jenis donasi yang diinginkan apakah ingin menjadi seorang pendekar anak bulanan atau satu kali saja.

Lalu, apa itu pendekar anak bulanan? Pendekar anak bulanan merupakan pilihan berdonasi melalui UNICEF Indonesia untuk membantu anak-anak setiap bulannya. Sebagai pendekar anak, Anda akan dibantu oleh sistem yang bisa melakukan donasi online secara otomatis. Melalui fitur autodebet melalui kartu kredit, Anda bisa menjadi pendekar anak setiap bulannya secara praktis. Jangan khawatir, UNICEF Indonesia merupakan lembaga yang terpercaya dan sebagai pendekar anak, Anda akan mendapatkan laporan perkembangan donasi yang telah dilakukan. Sehingga, sebagai donatur Anda bisa mengetahui sejauh mana perkembangan donasi yang disalurkan.

Demikian ulasan mengenai betapa mudahnya menjadi seorang pendekar anak di era modern seperti sekarang ini. Mau berpartisipasi untuk membantu kehidupan anak-anak di Indonesia? Segera lakukan donasi sekarang juga dan jadilah pendekar anak Indonesia.

Salam,

5 Alasan Kenapa Santri juga Harus Menulis

Foto: Pexels.com

Ada banyak ide yang ingin saya tulis malam ini, termasuk satu naskah buku yang ingin diajukan ke penerbit. Tapi, tema satu ini terlalu menarik untuk saya abaikan begitu saja. Ini tentang saya dan kamu. Iya, kamu. Yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Yang setiap hari memakai sarung, bahkan sekolah pun tetap pakai sarung. Iya, kamu yang bangga dengan identitasmu sebagai santri. Yang senantiasa menjaga nama baik pesantren di mana pun kamu berpijak. Iya, ini buat kamu yang selalu bangga, menyematkan nama pesantrenmu setiap kali mengenalkan diri. Yang selalu ingat pesan Kyai. Yang kadang rindu dan menahan tangis setiap kali melihat foto Kyai diposting di sosial media.

Ini tentang kita. Yang sadar dulu juga nggak sebaik apa. Yang dulu pernah berbuat salah, kadang melanggar aturan dan melakukan hal konyol. Sekarang, kita hanya bisa menertawakan apa yang sudah lewat. Tidak ada kesempatan untuk kembali. Tapi, ada satu hal yang bisa dilakukan untuk menyimpan ingatan itu supaya tidak menguap ditelan waktu. Menulis. Iyap! Menulis!


Ingatan bisa menua. Sedangkan tulisan kita akan tersimpan sebagai sejarah. Kamu bisa bayangkan, jika ulama zaman dulu tidak menulis, kitab-kitab kuning yang setiap hari kita kaji pasti tidak akan ada wujudnya, nggak akan kita pegang dan sentuh.

“Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi, selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”-Pramoedya Ananta Toer

Tapi aku nggak bisa menulis, lho. Masa, sih? Menulis bukan tentang bakat. Sama seperti keahlian lainnya, aktivitas satu ini juga bisa kamu pelajari, kok. Jika kamu merasa tak berbakat, maka cobalah belajar dari penulis lain. Banyak-banyaklah membaca, pelajarilah ilmunya, jangan hanya membayangkan saja. Jika hanya dibayangkan, keinginan kamu hanya jadi keinginan yang tak pernah terwujud. Dan itu pahit banget, sih buat saya…hehe.

Selama beberapa bulan terakhir, saya bersyukur sekali karena bisa dipertemukan dengan teman-teman yang dulu sempat tinggal satu atap di pesantren. Tidur bareng, nangis bareng, konyol bareng, sedih bareng, ribut juga kadang barengan…haha. Dan ternyata, di antara mereka juga ada yang senang menulis. Betapa menyenangkannya bisa bertemu dengan teman lama dan tak disangka kami justru lebih dekat karena punya hobi dan passion yang sama.

Saya percaya, mereka memulainya dengan sangat tidak mudah. Iya, menulis itu bukan hal mudah karena memang tidak akrab dengan kehidupan kita, kita nggak familiar saja dengan aktivitas baru ini. Tapi, selama masih ada keinginan, tentu saja tidak ada yang mustahil. Harapan dan impian itu membuat hidup kita terus berjalan. Iya, karena ada impian, kita terus berusaha melakukan banyak perubahan. Impian apa pun itu akan menuntut kita untuk gigih berusaha. Termasuk saat menulis.

Jangan membayangkan menulis itu ribet. Apalagi membayangkan menulis buku setebal ratusan halaman. Aktivitas baru ini bisa kamu mulai dari hal-hal kecil. Misalnya mulai menulis yang bermanfaat di Facebook atau Twitter*daripada hanya curhat. Lebih nyaman lagi buatlah blog. Pakai yang free saja dulu. Sebab kita tidak sedang berkompetisi dengan orang lain, kita sedang menantang diri sendiri, apakah kita sanggup melawan rasa malas dalam diri? Apakah kita mampu istiqomah menulis atau malah gagal di tengah jalan hanya karena tiba-tiba kita merasa tak sebaik yang lain?

Ujian di awal pastilah tentang konsistensi. Iyap. Sebab semua orang punya kesibukan yang kadang nggak mudah ditinggalkan. Semua orang punya hobi yang kadang susah diganti. Jadi, kalau kamu nggak pandai meluangkan waktu sedikit saja untuk aktivitas baru ini, maka lupakan saja mimpi itu. Jahat, ya? Haha. Iya, saya memang agak sadis kalau soal beginian. Sebab intinya bukan saya atau orang lain yang menentukan keberhasilan kamu. Tapi kamu sendiri. Iya, kamu yang sekarang sedang serius membaca dan menduga-duga..haha.

Lalu, apa saja 5 alasan yang bisa kamu jadikan prioritas, kenapa santri juga harus menulis bukan hanya sekadar pandai membaca kitab kuning?

1. Menulis berbagi manfaat

Foto: Pexels.com
Jika ilmu yang kamu pelajari hanya disimpan sendiri, lalu bagaimana ia dapat bermanfaat bagi orang lain? Padahal, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain, lho.

Nah, di zaman secanggih sekarang, nggak mustahil menjangkau banyak orang dengan satu tulisan kita. Baik lewat postingan di blog, artikel terbit di media, atau dengan cara menerbitkan buku. Dengan cara seperti ini, apa yang kamu tulis akan jauh lebih bermanfaat karena nggak hanya bisa dibaca oleh orang terdekat kamu, tetapi juga oleh mereka yang bahkan nggak kenal sama kamu. Betapa menakjubkannya profesi satu ini.

2. Menulis untuk saling mengingatkan


Foto: Pexels.com
Kita semua wajib berdakwah. Iya, saling mengingatkan satu sama lain tanpa julid…haha. Tapi, dakwah itu nggak terbatas hanya buat mereka yang jadi penceramah saja. Kita yang nggak berbakat bicara di depan publik tentu bisa melakukan cara lain, termasuk dengan menulis.

Kita yang berusaha mengingatkan bukan berarti sudah sempurna. Ini juga bisa jadi pelajaran bagi diri sendiri. Nggak ada salahnya dong mengingatkan mereka yang mungkin belum sempurna menutup aurat dengan cara menulis cerpen atau artikel motivasi. Cara seperti ini nggak akan membuat orang lain kesal karena merasa disindir, justru diam-diam mereka sadar dan segera berbenah.

Sudah banyak penulis yang melakukannya. Dan kamu, iya, kamu yang katanya santri, sudah pasti banyak banget materi yang bisa ditulis dan jadi pengingat bagi diri dan orang lain. Pastinya itu akan jauh lebih berguna jika bisa dibaca oleh banyak orang tidak sekadar kamu pikirkan sendiri.

3. Santri harus berani berkarya


Foto: Pexels.com
Dulu, saya nggak pernah membayangkan akan semudah sekarang. Ketika satu demi satu tahapan telah dilalui, tiba-tiba semua menjadi jauh lebih mudah. Tapi, memang perjuangan selama 10 tahun lebih terbilang berat.

Saya nggak perlu gengsi mengakui, jika dulu saya pernah menabung uang receh hanya demi membukukan kumpulan cerpen saya. Konyol dan memalukan kalau diingat. Orang bebas menertawakan saat itu. Iya, tapi sayangnya saya tidak mendengar ketika mereka meremehkan atau menertawakan apa yang saya kerjakan.

Saya hanya fokus pada impian saya. Saya hanya fokus memikirkan apa yang akan saya tulis lagi dan lagi. Satu peta impian bahkan masih saya simpan hingga saat ini. Dan semuanya memang sudah terwujud.

Meski dulu minim fasilitas, tetapi orang yang niat pasti akan mencari jalan, bukan alasan untuk gagal. Nggak bisa punya laptop, tulis saja di buku! Nggak bisa pakai internet untuk kirim email, kirim saja tulisan tanganmu lewat orang lain. Dan itu benar-benar saya kerjakan tanpa ragu.

Masya Allah. Saat ini saya pun tidak bisa membayangkan seberapa besar energi saya saat itu. Kenapa bisa sampai segitunya ngejar impian sebagai seorang penulis. Kenapa mau capek-capek meluangkan waktu buat menulis, padahal saat itu kita sekolah saja dua kali. Mending tidur saja kalau ada waktu luang.

Dan sekarang saya tahu, tak perlu banyak alasan untuk berkarya. Usahamu menunjukkan seberapa besar impianmu. Bukan salah orang jika kamu masih begini aja? Bukan salah mereka jika kamu masih berjalan di tempat. Itu salah kamu yang nggak mau beranjak dari zona nyamanmu. Iya, nggak mau sedikit repot. Akhirnya kesulitan kecil saja sanggup menghabisi keinginanmu untuk berkarya. Dan santri seharusnya lebih tangguh daripada itu.

4. Menulis adalah memahat peradaban

Foto: Pexels.com
Yup! Seperti itulah yang disampaikan oleh penulis senior Helvy Tiana Rosa. Apa yang kamu sampaikan kepada orang lain mungkin hanya bisa diingat dan dia dengar sendiri, mudah dilupakan dan tidak mustahil hilang ditiup angin. Sedangkan ketika kamu menulis, maka apa yang kamu sampaikan akan tetap ada bahkan hingga ketika kamu meninggal sekalipun. Kamu akan tetap dikenang dan tulisanmu tetap bermanfaat bahkan bisa jadi amal baik yang terus menerus mengirimkan pahala.

5. Menulis adalah warisan ulama

Foto: Pexels.com
Kamu bayangkan saja jika ulama terdahulu tidak menulis, maka apa yang akan kita pelajari di pesantren? Karena ulama menulis, maka kita bisa mempelajari banyak ilmu hingga sekarang bahkan hingga para ulama tersebut wafat.

Menulis curhatan di sosial media adalah hal biasa. Iya, apalagi ketika kamu sedang jatuh hati hingga sakit hati, bisa-bisa jadi satu buku…haha. Tapi, cobalah mengubah kebiasaan itu, nggak semua perlu dipertontonkan di media sosial, apalagi sesuatu yang kurang berfaedah. Cobalah menulis sesuatu yang lebih bermanfaat, yang ketika diposting, kamu nggak akan menyesal selamanya, yang ketika sudah dibaca banyak orang, kamu nggak akan malu karenanya.

Lalu dari mana aku harus memulai? Dari menulis dan menulis! Iya, nggak ada trik khusus yang bisa kamu pelajari, menulislah tanpa memikirkan teori dulu. Tulis dulu apa yang kamu kuasai dan kamu inginkan. Biarkan orang lain membaca dan menilai. Tugas kamu hanya menulis dan menulis. Ide mampet biasanya disebabkan karena kamu malas membaca. Jadi, dua hal ini akan sangat berkaitan erat.

Jika kamu ingin menjadi penulis yang baik, maka bacalah banyak buku berkualitas dan mulailah praktik!

Kamu santri? Yakin udah cukup dengan apa yang kamu miliki sekarang? Apakah kamu tidak ingin memahat peradaban? Minimal tulislah satu buku seumur hidupmu! Iyap! Satu buku seumur hidup, Insya Allah bisa.

Salam,

Custom Post Signature

Custom Post  Signature