Sunday, March 31, 2019

Impian Traveling Mengelilingi Kota Malang Bersama Keluarga dengan Harga Gledek Tiket dari Tiket.com

Walaupun tinggal dan menetap di Jakarta, nyatanya saya adalah orang kelahiran Malang, Jawa Timur. Yup! Meski dibesarkan di Malang, rupanya saya belum pernah travaling di kota kelahiran saya sendiri. Miris dan bikin nangis bombay memang. Sejak kecil orang tua selalu membatasi gerak gerik putri bungsunya ini…hiks.


Saya terbiasa bermain hanya di rumah, paling jauh ke teras atau halaman bersama anak tetangga. Kadang saya harus melompat dari jendela karena semua pintu dikunci…haha. Saya tidak marah pada orang tua. Itu adalah cara mereka menjaga saya, anak gadis memang nggak boleh main keluar sembarangan. Mereka punya cara sendiri untuk mendidik putrinya. Dan sampai sekarang saya tidak pernah menyesali itu.


Saat masuk SMA, saya memutuskan masuk pesantren. Hanya pulang ketika libur lebaran dan ketika sakit saja. Semakin kurang piknik saja hidup ini. Hanya tahu halaman rumah dan pesantren. Itu saja selama bertahun-tahun, hingga akhirnya pangeran berkuda putih datang untuk melamar dan membawa serta saya pindah dan menetap di Jakarta.


Sudah hampir 10 tahun saya menetap di Jakarta. Ke Malang hanya menyambangi keluarga, ikut mudik seperti orang-orang merantau pada umumnya. Pengennya bisa main-main ke Malang, karena di sana banyak banget wisata menarik dan unik. Sayangnya, karena selalu pulang saat lebaran, ide buat traveling kayaknya hampir selalu mustahil kami wujudkan. Menguap begitu saja bersama angin.


Kami hanya sibuk berkeliling mengunjungi keluarga besar. Selebihnya melepas kangen bersama orang tua dan mertua. Impian buat traveling kandas sudah sejak bertahun-tahun silam. Nggak berani berharap terlalu besar. Kesibukan suami dan anak-anak yang sudah mulai sekolah membuat impian itu hanya sekadar impian. Sedih nggak, sih?


Kenapa harus memilih kota Malang sebagai destinasi liburan impian keluarga?

Kenapa bukan Jabodetabek saja? Kan lumayan lebih dekat dan hemat. Kalau sekadar keliling Jakarta dan sekitarnya, mungkin sudah lumayan lebih sering. Alasannya bukan karena suami suka ngajakin traveling, tetapi lebih karena sering diajakin jalan sama keluarga atau acara kantor…kwkwk. Memang nggak modal banget, ya?


Jadi, sempat terbesit keinginan buat traveling ke luar kota bersama keluarga kecil kami saja. Iya, hanya berempat bersama anak-anak saja, nggak ada campur tangan orang lain…kwkwk. Sudah pasti rasanya beda dong kalau harus jalan bersama rombongan atau hanya kami saja.


Lantas kenapa harus kota Malang?


1. Malang punya sejuta wisata menarik dan seru

Lebay banget sampai menulis angka sejuta? Apa pernah menghitung sebelumnya? Hihi. Nggak juga, sih. Tapi, kenyataannya wisata Malang semakin menjamur saja. Jumlahnya tak terhitung. Banyak banget terutama di kota Batu.


Destinasi wisata di Malang pastinya banyak pilihan, terutama yang paling nyaman buat anak-anak. Kita bisa memilih banyak lokasi yang cocok untuk mereka. Seru banget pastinya jika bisa mengunjungi Museum Angkut, melihat sunset di Bromo, dan seru-seruan di Jatim Park. Sedih banget sebagai orang yang lahir dan besar di Malang, melihat pintu gerbang Jatim Park saja tidak pernah…kwkwk.


2. Liburan sekaligus menyambangi orang tua

Kalau punya uang, ada waktu, memang lebih utama pulang ke Malang karena di sana kami bisa sekaligus menyambangi orang tua. Saya pribadi jarang pulang ke Malang kecuali saat lebaran. Alasannya seperti yang saya sebutkan sebelumnya, suami sibuk bekerja dan anak-anak mulai sekolah. Ketika anak-anak liburan kenaikan kelas, ayahnya ternyata belum libur…haha. Selalu terbentur jadwal yang kurang pas.


Kalau ada kesempatan, saya yakin suami bisa mengusahakan cuti beberapa hari. Jadi, nggak salah saya memilih Malang sebagai destinasi wisata dikarenakan saya bisa menyelam sambil minum air…kwkwk. Bisa traveling dan memberikan kejutan juga pada orang tua. Ini adalah keinginan sederhana seorang perantau yang nggak kenal jalanan ibu kota sebab baru tinggal dan menetap selama 10 tahun. Iya, baru 10 tahun, kok…haha.


3. Malang punya hawa sejuk

Jakarta dan Malang punya perbedaan cuaca yang cukup jauh. Saat baru pindah ke Jakarta, dermatitis saya kambuh parah. Butuh waktu hingga berbulan-bulan supaya bisa menyesuaikan kondisi cuaca ibu kota yang panasnya minta ampun.


Berbeda dengan Jakarta, di Malang cuacanya sejuk dan cenderung dingin. Bahkan kalau pagi dinginnya melebihi ketika menginap di puncak. Siap-siap saja bawa jaket tebal dan pakai baju berlapis *lebay!


4. Pengen traveling berempat

Sudah sejak lama saya dan suami berencana traveling hanya berempat. Seperti yang saya katakan sebelumnya, biasanya kami traveling bareng sama rombongan. Ini sudah bisa dipastikan alasannya. Kenapa selalu traveling bersama rombongan? Bisa jadi karena suami memang nggak mau keluar modal…kwkwk. Jadi, kita hanya liburan saat ada yang ngajakin saja. Manusiawi nggak, sih buat seorang istri?


5. Traveling sekaligus kopdaran

Ini mau traveling atau mau reunian? Haha. Karena didikan orang tua yang selalu membatasi saya sejak kecil, maka hingga sedewasa ini pun, saya tidak pernah berani pergi sendirian ke mana pun. Ya, kecuali ke tukang sayur atau swalayan dekat rumah…kwkwk.


Karena itu, kalau ada kesempatan pulang ke Malang selain lebaran, saya ingin kopdaran bersama teman-teman dan mengunjungi pesantren. Banyak sekali agenda yang tertunda disebabkan ketidakberanian saya untuk pulang sendirian ke Malang. Masa iya, kalau mau kopdaran harus bawa dua anak sama suami? Hiks. Kenyataannya memang begitu.


Jika ada agenda lain seperti traveling ke Malang, bisa saja saya mencari celah untuk bertemu teman-teman lama meski hanya sebentar.


6. Kuliner kota Malang selalu ngangenin

Sebagai penikmat kuliner kota Malang, rasanya nggak ada alasan yang lebih tepat untuk datang lagi ke sana selain mencicipi masakan khas Malang yang beragam. Rawon, cwi mi malang, dan nasi buk selalu bikin kangen. Nggak ada makanan seenak itu di Jakarta meski sudah keliling ke beberapa titik *sudah kayak kampanye saja…kwkwk.


Dengan #tiketcomotw semua menjadi lebih mudah


Gimana perasaan kamu saat tahu ada diskon hingga 50% untuk tiket pesawat atau hotel yang akan kamu gunakan saat traveling? Jangan tanya saya, sudah pasti akan senang banget. Harga gledek tiket pesawat atau hotel diskon hingga 50% bisa kamu dapatkan di aplikasi tiket.com saja, lho. Kapan lagi kita bisa traveling dengan hotel dan tiket pesawat harga promo seperti ini?


Online Tiket Week (OTW) bersama #tiketcomotw dengan harga gledek bisa berupa hotel domestik atau internasional, serta tiket pesawat. Mau nunggu apalagi, lekas pasang aplikasi tiket.com di smartphone kamu dan dapatkan harga gledek untuk wujudkan impianmu!


Sepertinya tidak ada alasan lagi untuk menunda traveling mengelilingi kota Malang bersama keluarga. Kalau kamu kapan traveling ke kota impianmu?


Salam,

Thursday, March 28, 2019

EF Adults dan Beragam Keunggulan yang Ditawarkannya

Menguasai bahasa inggris merupakan suatu keharusan bagi setiap orang saat ini. Karena, bahasa inggris merupakan bahasa internasional yang mulai banyak digunakan dalam berbagai aspek kehidupan. Tak hanya untuk berinteraksi dengan orang asing, bahasa inggris juga digunakan untuk memudahkan kamu mendapatkan pekerjaan mengingat beberapa perusahaan mengharuskan calon karyawannya untuk menguasai bahasa inggris dengan baik. Sebelum lanjut, cek link berikut https://www.ef.co.id/englishfirst/adults/courses/ terlebih dahulu, ya.

Kayaknya berasa banget kalau kita nggak menguasai bahasa asing terutama bahasa Inggris karena hampir semua pekerjaan kita bersinggungan dengan hal ini. Saya merasakan betul keterbatasan dalam berbahasa Inggris begitu mengganggu dan bikin saya nggak pede melakukan banyak hal terutama ketika berhubungan dengan pekerjaan yang menyangkut orang lain. Komunikasi nggak nyaman karena saya nggak ngerti sepenuhnya apa yang orang lain katakan.


Atau lebih buruk ketika harus pergi ke luar negeri dan butuh berbicara dengan orang luar, akan jadi gagap dan kesulitan untuk mengatakan apa yang kita perlukan. Nggak nyaman banget pokoknya karena bahasa Inggris memang sudah menyatu dengan kehidupan kita sehingga akan sangat sulit memisahkannnya begitu saja.


Masih enak kalau ada teman dan dibantu langsung. Tapi, bagaimana kalau nggak ada teman dan kondisi kita sendiri? Jadi horor dong ngebayanginnya. Ternyata nggak gampang ya nggak menguasai bahasa asing terutama bahasa Inggris?


Pengennya di rumah saya dan anak-anak bisa aktif berbahasa asing meskipun dengan obrolan sederhana. Tujuannya buat melatih anak-anak supaya terbiasa dan lancara berbicara bahasa asing ketika mereka benar- benar membutuhkannya. Jangan sampai jadi gagap seperti emaknya ini kan, ya? :D


Kami pun berusaha mengajari mereka supaya bisa berbahasa asing sejak dini. Salah satunya bisa dilakukan dengan mencarikan tempat belajar bahasa asing yang tepat. Semakin dini semakin baik bagi mereka nantinya. Karena, mau jadi apa pun dan di mana pun mereka tinggal, akan butuh lancar berbahasa asing meski seadanya.


Untuk menguasai bahasa inggris, ada berbagai cara yang dapat dilakukan, salah satunya yakni dengan mengikuti les bahasa inggris di EF. EF atau English First merupakan salah satu tempat belajar bahasa inggris terbaik yang ada di Indonesia. Lalu, apa sajakah keunggulan dari tempat les English First? Artikel berikut akan mengulas berbagai keunggulan les bahasa inggris di English First yang membuat banyak orang memilihnya.

Keunggulan English First


Kelas Bisnis


Tidak semua orang memerlukan bahasa inggris bisnis. Namun, jika kamu merupakan seorang pebisnis atau karyawan yang bekerja di perusahaan multinasional, program bahasa inggris bisnis merupakan program yang wajib untuk kamu ikuti. Karena, di kelas ini, kamu akan diajarkan beragam hal seputar bahasa inggris dalam aktivitas bisnis. Hal ini sangat penting karena bahasa inggris untuk bisnis tidaklah sama dengan bahasa inggris di kehidupan sehari-hari. Itu disebabkan karena bahasa inggris untuk bisnis biasanya dibuat lebih formal atau lebih sopan dari bahasa inggris sehari-hari.


Kualitas Pengajar

Keunggulan lain English First Adults yang tak bisa kamu dapatkan ditempat lain adalah pengajar yang berkualitas. English First sebagai lembaga les bahasa inggris terbaik di Indonesia memperhatikan betul kualitas pengajar yang digunakan di tiap kelasnya. Tak tanggung-tanggung, English First Adults bahkan menghadirkan native speaker untuk mengajar bahasa inggris dengan baik dan benar kepada para peserta les bahasa inggris tersebut.



Itulah beragam keunggulan dari English First Adults. Masih ada beragam keunggulan lainnya yang  akan membuatmu tertarik untuk bergabung dengan English First Adults. Oleh karena itu, cobalah untuk bergabung bersama English First Adults dan rasakan kualitas terbaiknya seperti yang diulas pada laman berikut https://www.ef.co.id/englishfirst/adults/courses/business-english/


Salam,

Wednesday, March 27, 2019

Foot Plaster, Pilihan Nyaman Pengganti Kaos Kaki

Kamu yang sering gonta ganti sepatu, tentunya sudah tidak asing lagi dengan produk plaster khusus kaki. Plaster kaki dihadirkan sebagai pelindung kulit kaki dari risiko lecet akibat gesekan antara kulit dengan sepatu. Plaster kaki semakin diminati karena bisa ditempelkan tepat di bagian kulit yang biasa mengalami lecet akibat tergesek dengan sepatu.


Awalnya merasa heran juga karena ada produk plaster kaki seperti ini. Sejak kecil kayaknya kita nggak terlalu familiar dengan produk semacam ini, ya? Bahkan kita jarang pakai plaster karena setiap kena luka cukup dibilas dengan air dan sabun. Namun, perkembangan zaman dan teknologi membuat semuanya berubah. Hingga ada produk semacam ini dan sangat dibutuhkan.

Jadi ingat ketika kaki lecet akibat pemakaian sepatu, tentunya sampai berdarah, tapi karena dulu kesulitan nyari plaster kaki kayak gini, akhirnya dibiarkan saja. Mana mungkin kita pakai sumpelan dari kain, kan? Bisa diketawain banyak orang karen dianggap nggak wajar :D

Eh, nggak tahunya sekarang ada produk bagus kayak gini berupa plaster kaki yang pastinya sangat berguna buat kita terutama yang sering beraktifitas di luar dna merasakan sakit akibat pemakaian sepatu yang terlalu lama sampai bikin lecet dna berdarah. Tenang, bisa deh sekarang mulai hunting produk ini dan simpan juga untuk stok di rumah jika sewaktu-waktu membutuhkan.
Berbeda halnya dengan kaos kaki yang akan terlihat jelas saat digunakan, foot plaster didesain dengan ukuran yang mungil yang bisa terselip sempurna di dalam sepatu dan tidak terlihat dari luar. Dengan begitu, penampilanmu akan tetap menawan meski memakai beberapa lembar foot plaster sekaligus. Nggak akan kelihatan dan memalukan kok saat memakainya, jadi kita tetap percaya diri dan insya Allah nggak ketahuan sama tetangga sebelah *eh :D

Nyaman dengan Foot Plaster


Foot plaster yang banyak beredar di pasaran berwarna polos cokelat dengan tekstur permukaan agak licin agar kaki bisa lebih fleksibel selama menggunakan sepatu. Dengan begitu, penggunaan foot plaster akan sama nyamannya dengan ketika kamu menggunakan kaos kaki dalam hal perlindungan kaki dari resiko lecet. Yup, jadinya aman banget kaki kita dari lecet. Nggak bakalan kejadian lagi kaki lecet karena sepatu :)

Foot plaster juga masih disediakan dalam satu jenis ukuran. Kamu yang memiliki ukuran kaki cukup besar tak perlu khawatir jika foot plaster yang kamu pakai tidak dapat melindungi bagian kaki yang kamu inginkan. Meski ukuran foot plaster belum begitu banyak variasinya, namun bentuknya telah dirancang sedemikian rupa supaya dapat dengan baik melindungi bagian kaki yang sering mengalami lecet saat memakai sepatu.

Sedangkan bagi kamu yang memiliki ukuran kaki kecil, juga tidak perlu khawatir jika foot plaster yang dipakai dirasa terlalu lebar di kakimu. Sebelum menempelkan foot plaster ke kaki, kamu bisa menentukan seberapa besar foot plaster yang dibutuhkan. Dari situ, kamu bisa memberikan sedikit perubahan pada foot plaster dengan memotong sedikit pinggiran foot plaster atau mungkin mengguntingnya menjadi dua bagian, dan menyimpan bagian yang tidak terpakai untuk dikenakan di kesempatan lain.

Foot plaster yang diproduksi oleh setiap merek dagang bisa jadi berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Demi keamanan dan kenyamananmu, akan lebih baik memilih merek dagang yang telah terpercaya seperti Hansaplast. Pasti merek satu ini sudah nggak asing lagi dong buat kamu. Klik https://www.id.hansaplast.co.id/products/Foot-Care/Plasters-Pads/foot-plaster untuk mengetahui lebih lanjut mengenai produk foot plaster dari Hansaplast ini, ya!

Salam,

Tuesday, March 26, 2019

Panduan Menulis Artikel Terlengkap Khusus Buat Pemula

Tahun ini aktivitas menulis artikel sudah jauh berkurang ketimbang tahun kemarin. Biasanya hampir setiap hari saya menulis artikel untuk dikirimkan ke beberapa media. Yag paling parah ketika aktif banget di UC News. Sehari bisa mengerjakan lebih dari 10 artikel pendek. Kok bisa banyak banget? Yup! Karena saat itu saya dan teman-teman sering mengerjakan proyek menulis artikel. Kadang 50 artikel untuk tiga hari dengan fee 100$. Kadang 100 artikel selama seminggu dengan fee berbeda. Dan pastinya semua juga ada target viewers hingga ratusan ribu.


Sebenarnya sejak awal saya tidak pernah membayangkan bisa menjadi penulis artikel. Saat masih di pesantren, saya hanya suka menulis puisi dan cerpen. Setelah berjalan, saya mulai penasaran dengan jenis tulisan nonfiksi. Salah satunya artikel ini. Belajarlah saya secara otodidak. Belum pernah masuk kelas menulis artikel kecuali setelah saya menekuni lebih jauh. Semua saya pelajari sendiri dengan membaca banyak artikel yang terbit di media.


Kenyataannya? Memang tidak mudah. Tapi, saya termasuk orang yang percaya bahwa kemampuan menulis tidak diturunkan sejak lahir. Iya, jika kamu ingin menjadi penulis, kamu bisa mempelajarinya. Ilmu menulis bisa dipelajari dan tidak tergantung pada bakat seseorang. Selama mau berusaha, mau mencari tahu, Insya Allah kamu juga bisa sebaik penulis lainnya.


Sebenarnya apa untungnya bisa menulis artikel terutama yang bisa terbit di media? Selain bisa dikenal oleh banyak orang, penulis artikel juga bisa mendapatkan banyak penghasilan. Jika dulu artikel saya hanya dihargai sebutir debu, sekarang satu artikel saja bisa dihargai hampir Rp. 500 ribu. Masya Allah. Nggak pernah membayangkan sebelumnya bakalan dapat penghasilan yang lumayan dalam waktu yang cukup singkat.


Tapi, jika kita menulis hanya karena uang dan uang, seperti yang sering saya katakan, itu bakalan bikin kita capek, hambar, dan nggak terlalu menikmati passion kita sendiri. Apalagi kalau sampai bertemu dengan platform yang nggak amanah alias nggak mau membayar hak kita sebagai kontributor. Emangnya ada? Banyak!


Jadi, mulai sekarang, sebelum kamu benar-benar berniat serius menekuni profesi ini, cobalah luruskan niatmu dulu. Sebenarnya saya menulis untuk apa? Apa hanya sekadar untuk mencari materi, biar tenar, atau apa?


Apa pun alasannya, tetap jadilah bermanfaat bagi orang-orang di sekitar kamu. Pastikan setelah berhasil, jangan pelit-pelit berbagi ilmu pada juniormu. Ketika telah sukses, ujian kamu adalah mudah meremehkan orang yang belum paham, merendahkan, dan mengabaikan. Ingat, sukses kita bukan hanya karena usaha kita, tetapi sebab ada campur tangan Allah di sana. Tetap santun dan senang berbagi ilmu, Insya Allah apa yang kamu kerjakan tidak hanya akan memberikanmu kepuasan materi, tetapi juga bisa jadi amal jariyah untuk akhiratmu kelak.


Tapi, saya belum bisa menulis artikel. Bagaimana saya bisa memulainya?

Pada postingan kali ini, saya mau berbagi panduan lengkap bahkan mungkin paling lengkap yang pernah saya tulis, yang biasanya hanya saya berikan di kelas menulis artikel online saja. Silakan simak baik-baik dan perhatikan apa saja yang perlu kamu kerjakan supaya artikel kamu layak terbit dan bisa dibaca banyak orang.


1. Buat artikel bentuk listicle


Apa sih artikel jenis listicle itu? Listicle merupakan artikel bentuk daftar atau mencantumkan poin-poin di dalamnya. Contohnya ‘7 Hal yang BikinKesendirianmu Lebih Bermakna, Bukan Hanya Sekadar Jomblo Aja!' atau 'Hindari 5 Kesalahan yang Bisa Membuat Kamu Gagal jadi Penulis' yang diterbitkan oleh dua platform berbeda.


Kedua jenis artikel itu memuat daftar atau poin-poin tertentu. Kenapa harus pakai listicle? Karena pembaca di dunia maya itu biasanya hanya meluangkan waktu sebentar untuk membaca artikel di smartphone-nya. Mereka juga akan jenuh dan bosan jika artikel yang disuguhkan tidak berupa daftar. Coba kamu bayangkan jika tulisanmu padat merayap seperti jalanan ibu kota, pastinya bikin puyeng dan nggak bisa fokus pada poin tertentu yang ingin disampaikan.


Dan lagi, artikel jenis listicle ini lebih mudah ditulis terutama bagi pemula karena kamu nggak perlu  menulis poin tertentu sepanjang rel kereta api. Cukup tulis penjelasan singkat pada tiap poin. Karena itu, buat pemula dan ingin menulis untuk media seperti Estrilook, IDN Times atau Hipwee, sangat disarankan menulis dalam bentuk listicle.



2. Bagian-bagian artikel bentuk listicle

Apa saja yang perlu kamu tulis dalam artikel bentuk daftar selain poin-poin? Pertama kamu harus membuat minimal dua paragraf pembuka. Menjelaskan secara singkat dan menarik apa yang akan kamu bahas selanjutnya. Kedua, kamu harus membuat daftar berupa poin-poin yang akan kamu angkat pada artikel tersebut. Urutannya apakah ada aturannya? Itu semua tergantung pada tema yang kamu angkat. Ketiga, kamu harus membuat minimal satu paragraf penutup. Jangan main pergi saja tanpa salam penutup, ya.


Pengalaman selama menerima artikel dari para kontributor di website Estrilook, ada beberapa artikel yang tidak menggunakan paragraf penutup. Iya, jadinya editor juga malas dong mau menerima karena di platform kami sudah ada panduan menulisnya juga. Jadi, perhatikan baik-baik apa yang akan kamu tulis nanti.


3. Tulis artikel minimal 300 kata

Ya Allah, buat pemula, menulis 300 kata itu susah banget! Baru menulis satu kalimat saja sudah dihapus tulis beberapa kali. Eits! Kalau mau jadi penulis, tolong jangan mengeluh. Kalau kebanyakan mengeluh, mending kamu ambil bantal dan selimut, kemudian tidur yang nyenyak…haha.


Awalnya pasti nggak mudah menulis dalam jumlah yang banyak. 300 kata itu standar yang diberikan di beberapa media. Minimal 300 kata. Bahkan kalau sekarang, blogger cenderung menulis minimal 500 kata supaya lebih mudah dikenali oleh mesin pencari. Yang pemula pastinya sering mentok menulis di angka 100 atau bahkan kurang.


Kenapa bisa begitu? Karena kamu tidak terbiasa menulis setiap hari. Jika kamu membiasakan diri menulis lebih sering, membaca lebih banyak buku, pastinya kemampuanmu menulis akan semakin bertambah juga, kok.


Nah, mulai sekarang, banyaklah berlatih supaya tulisanmu bisa panjang mengular, tetapi poin-poin pentingnya bisa tetap didapatkan.


4. Tulis judulmu semenarik mungkin dan dengan ejaan yang tepat


Bagaimana cara menulis judul yang tepat? Judul harus ditulis dengan huruf besar kecuali kata penghubung. Kata penghubung itu apa saja? Seperti ‘yang’, ‘di’, atau ‘dan’ serta masih banyak yang lain.


Penulisan judul yang kurang tepat akan membuat artikelmu kurang  menarik. Pemilihan kata yang kurang tepat juga bisa membuat orang malas membaca artikelmu. Judul itu ibaratnya pandangan pertama. Kalau judulmu menarik, orang akan melanjutkan membaca isinya. Jika tidak, kamu harus rela ditinggalkan oleh mereka.



5. Bagaimana cara menulis sub judul pada daftar artikelmu?

Sebenarnya, ada dua cara menulis sub judul pada poin-poin dalam artikel. Pertama sama seperti membuat judul utama, kedua seperti yang saya tulis dalam postingan ini. Lalu yang benar yang mana? Saya sebenarnya lebih cenderung yang pertama. Beberapa editor yang saya tanya juga menjawab hal yang sama. Tapi, setiap kali saya kirimkan artikel ke beberapa media, selalu mereka ubah jadi seperti yang saya pakai sekarang ini. Jadi, kamu bisa pertimbangkan keduanya. Selalu pakai bold supaya bisa lebih fokus.



6. Cantumkan sumber referensi

Sumber referensi ini biasanya bisa kamu tulis ketika mengutip sebuah kalimat dari artikel lain. Jangan gengsi menulis sumber artikel, sebab itu adalah sebuah keharusan, kecuali kamu menulis artikel berupa pengalaman pribadi dan tidak memakai referensi artikel lain sama sekali.


Di beberapa media terutama di UC News, menyebutkan sumber referensi itu perlu dan wajib. Kalau tidak, artikel kamu tidak akan lolos dan ditolak seketika.


Nah, untuk penulisan sumber referensi ini, kamu bisa melakukannya dengan dua cara. Pertama, sumber yang ditulis di dalam artikel secara langsung. Contohnya, “Common cold merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus seperti dilansir muyass.com."


Dan yang kedua ditulis di akhir paragraf penutup atau di akhir. Misalnya setelah paragraf penutup, kamu sebutkan semua sumber referensi yang sudah dipakai dengan cara seperti ini,

Sumber:

www.muyass.com

dll


7. Gunakan gambar menarik dan cantumkan sumbernya

Artikel tanpa gambar itu akan sangat hambar. Iya, seperti sayur tanpa garam. Pengalaman visual seseorang itu amatlah penting. Saya pribadi entah karena merupakan tipe belajar visual atau gimana, ketika membaca artikel tertentu, gambar itu akan sangat menentukan juga apakah artikel menarik atau tidak.



Jadi, setiap kamu menulis artikel, baik di platform tertentu ataupun di blog, cobalah perhatikan gambar yang kamu pilih. Jika kamu masih bingung bagaimana cara mendapatkan gambar yang bagus. Situs gambar gratisan itu bisa banget kamu pakai untuk keperluan menulis artikel. Jika tidak ada yang cocok, kamu bisa mencarinya di Google.


Tapi, jangan lupa, kamu juga harus menuliskan sumbernya di bawah foto tersebut. Misalnya seperti sumber gambar yang saya pakai dalam postingan ini. Kamu bisa cek langsung, ya!


8. Pakai aplikasi serba bisa ‘Canva’

Untuk mengubah ukuran gambar, mencari gambar-gambar lucu dan menarik, serta menambahkan text pada gambar, kamu bisa banget pakai aplikasi Canva yang bisa digunakan di smartphone hingga di laptop. Bagi seorang blogger, aplikasi satu ini berharga banget karena saya rasa memang serba bisa dan dapat diandalkan *seperti teman hidup kwkwk. Selain itu, buat saya pribadi yang suka menggambar, ada satu lagi aplikasi menarik lainnya, yakni Ibis Paint X. Saya menggambar dan membuat header blog ini dengan Ibis juga. Kedua aplikasi ini perlu kamu tahu. Jika memang nantinya tidak diperlukan saat menulis artikel, keduanya bisa berguna ketika kamu mulai ngeblog.

9. Apa itu rewrite?

Apa itu rewrite? Jika kamu merupakan penulis pemula dan ingin sekali menulis artikel, kamu bisa membuat artikel rewrite. Iya, kamu bisa menulis artikel dengan tema yang sama seperti yang ditulis oleh orang lain, tapi dengan gayamu sendiri, dengan bahasamu sendiri. Rewrite juga punya aturan, nggak sembaranga artikel bisa kamu pakai seenaknya.



Ada baiknya kamu tetap membuat artikel yang unik dan berbeda. Bagaimana caranya? Coba kamu cari minimal 5 artikel dengan tema yang sama, tetapi dengan gaya berbeda. Baca semua artikel tersebut dengan sungguh-sungguh hingga kamu paham maksudnya.


Setelah itu, tutup semua artikel itu dan mulailah menulis. Meski hal semacam ini dibolehkan, tetapi seorang penulis yang baik tetap harus menjaga etika jangan asal nyontek artikel orang lain. Bagi kami yang berjuang keras untuk menulis, disontek itu sakit banget, lho…haha. Saya juga pernah blogwalking ke blog seseorang, dan karena dia pernah nyeletuk suka copas, akhirnya saya benar-benar cek artikelnya. Dan jeng jeng…haha. Beneran dia hanya copas dari artikel lain.


Meski itu bukan artikel saya yang dicopas, saya merasa itu nggak beretika. Iya, untuk apa disebut blogger kalau kerjanya hanya sontek sana sini. Mending jadi diri kamu sendiri dan tulis apa yang kamu mampu dan kamu kuasai. Itu jauh lebih baik.



10. Pastikan artikelmu lolos cek plagiat

Zaman sudah secanggih ini. Nggak akan sulit melihat artikel seseorang, apakah itu hasil copy paste dari artikel orang lain atau benar-benar hasil jerih payah sendiri. Iya, saya bahkan bisa tahu artikel itu awalnya ambil dari situs mana. Bisa dari Facebook, artikel di beberapa media, atau situs lain.



Sebelumnya, apakah kamu paham apa itu plagiat? Plagiat adalah pencurian karya orang lain. Yang namanya mencuri sudah pasti nggak ada izin, ya. Dan pencurian karya berupa tulisan itu banyak banget terjadi terutama artikel di media online. Jadi, sebelum kamu mengirimkan artikel, cobalah langsung cek sendiri apakah artikel kamu masih termasuk artikel plagiat atau tidak.


Cara ceknya bagaimana? Copas saja artikel kamu ke sini dan klik ‘chek plagiarism’. Pastikan artikelmu lolos 100%, jika pun terdeteksi plagiat, itu hanya untuk kutipan sedikit atau berupa hadist serta ayat Alquran. Selebihnya usahakan tidak ada.



11. Bagaimana supaya artikelmu tidak termasuk plagiat?

Seperti yang saya katakan sebelumnya pada poin ke-9, kamu harus membaca baik-baik semua sumber referensi dan tutuplah. Tulis dengan gaya bahasamu sendiri. Ada baiknya kamu hanya menulis apa yang kamu kuasai, jadi nggak ribet-ribet mencari sumber referensi, kan? Dengan begitu, artikelmu bisa lebih mudah diselesaikan tanpa harus sontek ke sana kemari. 



12. Bagaimana saya mendapatkan ide?

Bagaimana saya bisa mencari ide? Buntu! Mentok! Haha. Ide itu ada di mana-mana. Iya, semua bisa jadi ide tulisan yang menarik asalkan kamu mampu mengolahnya dengan benar. Sebaiknya, jangan ribet-ribet mencari ide yang berat, karena justru nanti hasilnya garing banget. Coba kamu ambil tema yang kamu kuasai.



Misalnya, untuk seorang guru, kamu bisa menulis tentang pendidikan, seorang dokter bisa menulis artikel kesehatan, seorang IRT tanpa ART bisa menulis managemen waktu atau parenting, dan masih banyak lagi ide menarik lainnya yang bisa kamu tulis.



13. Modal menulis artikel yang harus kamu punya

Saya nggak punya bakat menulis, bisanya baca tulisan orang saja. Yup! Itu selalu dikatakan oleh mereka yang ingin memulai, tapi kadang belum percaya diri. Menulis itu bukan bakat, tetapi kemampuan yang bisa dipelajari, kok. Kamu hanya perlu berani memulai saja. Modalnya apa? Banyak menulis dan banyak membaca! Iya, kerjakan saja keduanya tanpa banyak alasan.


14. Dapatkah saya menulis artikel lewat smartphone?

Sejak mengenal UC News, saya dipertemukan dengan teman-teman yang aktif menulis dengan hanya bermodalkan smartphone saja. Jujur saja, mereka keren banget. Saya pribadi mencoba beberapa kali sudah pusing karena harus lebih telaten.



Jadi, jika kamu nggak memakai laptop, nggak ada masalah. Itu bukan alasan untuk berhenti berkarya. Zaman dulu masih di pesantren, saya bahkan hanya menggunakan buku tulis dan pulpen saja. Itu bisa jadi beberapa novela dan kumpulan cerpen.


Lalu bagaimana cara mengirimkannya? Kalau mau kirim ke platform tertentu, kamu bisa langsung menulis di website mereka. Misalnya seperti di Estrilook.com, UC News, IDN Times, atau Hipwee. Nah, jika kamu harus mengirimkan artikel lewat email, tentu kamu harus menyimpannya dulu di ms word menggunakan aplikasi WPS Office. WPS ini bisa kamu gunakan dengan mudah. Kamu bisa menulis dan menyimpannya di smartphone kemudian mengirimkan file-nya lewat email atau Whatsapp.




15. Lupakan dulu SEO dan fokuslah menulis

Ya, ya. Kalau jadi blogger memang penting tahu SEO karena itu jalan terbaik untuk meraih posisi page one Google. Tapi, buat kamu yang berniat mengirimkan artikel ke media online, ada baiknya kamu abaikan dulu SEO ini sebelum buyar semangat menulismu. Biasanya di beberapa media sudah ada sendiri yang mengatur SEO ini, jadi kamu hanya perlu menulis dan menulis saja, ya!


Eh, memangnya SEO itu apa? SEO adalah search engine optimization yang merupakan pengoptimalan mesin penelusur dan berguna meningkatkan peringkat website atau blog kita.


16. Jangan malas mengedit artikelmu sendiri


Setelah berhasil menulis artikel, kamu perlu mengeditnya dulu sebelum dikirimkan ke media. Iya, editor tugasnya hanya membenahi sedikit saja kesalahan pada tulisan kamu, bukan mengubah. Dan perlu kamu ingat, editor itu sangat eneg kalau sampai melihat artikel orang yang berantakan..haha. 


Bayangkan saja, mereka harus menerima banyak banget artikel, kalau di platform populer seperti Hipwee dan IDN Times, sehari bisa berapa artikel masuk, dan tiba-tiba bertemu artikel yang berantakan, nggak diedit, pastinya mereka langsung auto nolak..hehe.


Bisa mengedit tulisan sendiri itu perlu banget. Saya termasuk orang yang tidak menomorduakan ilmu ini. Sempat ikutan kelas editor juga karena merasa ngedit naskah minimal punya kita sendiri adalah hal penting. Ini juga menentukan apakah naskah kita akan diterima atau ditolak.


Sampai sekarang, ketika menulis, saya masih membuka KBBI online juga untuk membenahi dan memeriksa kata-kata yang nggak sesuai ejaan. Capek, ya? Kalau kamu memang suka menulis, hal semacam ini menyenangkan, kok.


17. Tunjukkan artikelmu pada orang lain, tanyakan pendapat mereka

Ada baiknya kamu tunjukkan dulu pada teman dekatmu dan minta dia membacanya. Biasanya, ketika baru menulis, kita nggak peka sama kesalahan sendiri. Sedangkan orang lain tentu sangat pandai menilai apakah artikel kita layak, nyaman dibaca, atau bikin mual? Hihi.



18. Beberapa jenis artikel yang bisa kamu tulis

Untuk pembahasan satu ini, saya hanya akan membahas beberapa kategori artikel yang biasa terbit di media. Kamu bisa menulis artikel traveling, kuliner, parenting, kesehatan, dunia hiburan, atau inspirasi. Banyak banget ide yang bisa kamu ulik dari beberapa kategori tersebut.


Karena alasan kecintaan saya pada profesi satu ini, akhirnya saya memutuskan menulis banyak hal dalam buku yang Insya Allah akan terbit dalam waktu dekat. Yup! Buku 'Jago Nulis Artikel, Ubah Hobi jadi Profesi' merupakan buku keempat saya setelah 'Agar Suami Tak Mendua'.


Nah, kira-kira itulah beberapa poin yang harus kamu pahami sebelum memutuskan menulis artikel. Satu postingan ini sudah lebih dari 2500 kata…kwkwkwk. Mohon maaf jika terlalu panjang karena keadaan yang memaksa *drama deh. Semoga postingan ini bisa bermanfaat dan dapat memotivasi kamu. Yuk, terus berkarya dan jangan lupa bahagia.


Salam,

Sunday, March 24, 2019

Indahnya Berbagi, Datangkan Keberkahan dan Lapangkan Rezeki

Harta itu hanyalah titipan. Manusia hanya menjadi wakil. Jika Allah menitipkan rezeki untukmu, maka jangan sia-siakan kesempatan. Manfaatkan harta itu supaya bisa berguna bagi orang-orang yang membutuhkan.


Kebanyakan orang enggan dan takut berbagi. Sebab logikanya, ketika kita mengambil uang di dompet kemudian membagikannya kepada orang lain, tentu saja uang di dompet kita akan berkurang. Bagaimana jika dikerjakan setiap hari? Pastinya akan habis dalam waktu singkat. Orang-orang pun menjadi khawatir, bagaimana dia bisa makan besok? Bagaimana dia harus membayar kontrakan bulan depan sedangkan tanggal gajian saja masih jauh. Karena terlalu banyak mengkhawatirkan ini dan itu, akhirnya dia pun enggan berbagi.


Padahal, jika kita tawakal, menyerahkan semuanya pada Allah, pada Rabb yang menciptakan kita dan menjamin rezeki kita, pikiran seperti itu tidak akan datang. Urusan bersedekah, membagikan sebagian harta yang kita miliki pada mereka yang berhak tidak bisa disandarkan pada logika manusia. Pikiran kita tidak akan sampai ke sana.


Sedangkan Allah sesungguhnya telah menjamin akan melapangkan rezeki bagi orang-orang yang mau berbagi. Masya Allah, tapi kadang kita sendiri yang tidak percaya dengan janji Allah. Padahal, Allah tidak akan mengingkari janji-Nya, berbeda dengan manusia yang bisa jadi akan ingkar.


Infaqkanlah hartamu. Janganlah kamu menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan barokah rezeki tersebut. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Tahukah kamu? Sesungguhnya rezeki itu bergerak. Jika kamu punya uang, jangan biarkan dia diam di dalam rekening, sedekahkan sebagian uang itu, tunaikan zakatnya, maka rezeki lain Insya Allah akan datang.

Apakah besok uang kita akan bertambah berkali lipat? Rezeki itu tidak selalu berupa harta melimpah. Kadang, ada orang kaya, punya mobil banyak, uang banyak, tetapi tidak bisa menikmati karena penyakitnya yang sulit sekali diobati. Dia justru sibuk bolak balik ke rumah sakit. Dia tidak sempat makan di restoran mewah karena dokter melarangnya makan di luar. Dia tidak bisa menikmati mewahnya mobil termahal di garasinya karena dia tidak mungkin pergi traveling keliling Indonesia disebabkan penyakitnya.

Iya, rezeki itu memang tidak selalu berupa harta. Kesehatanmu juga merupakan rezeki. Sholeh dan sholehahnya putra putrimu juga adalah rezeki. Kita tidak perlu punya harta banyak, asalkan berkah, kita akan merasa tenang dan selalu merasa cukup dengannya.

Utamakan keluarga dan orang terdekatmu
Cobalah tengok orang-orang di sekitarmu, utamakan keluarga dekatmu sendiri. Bisa jadi ada saudaramu yang sedang kesulitan membayar SPP anaknya, atau malah orang tuamu masih punya keinginan yang belum terwujud hingga memasuki usia senja?

Sejak menikah dan menetap di Jakarta, saya dan suami berjuang untuk memiliki rumah sendiri tanpa harus merepotkan orang tua. Nyatanya tinggal di Ibu Kota dan jauh dari orang tua bukanlah perkara mudah. Kami memutuskan tidak akan membeli rumah dengan bantuan Bank meski sebenarnya terasa mustahil untuk membelinya dengan hanya bermodal uang tabungan yang ada.

Tapi, Masya Allah, Allah bantu niat baik kami supaya terhindar dari riba. Hingga berselang beberapa bulan setelah menikah, kami pun bisa segera membeli rumah tanpa pinjaman dari Bank sepeser pun. Allah kirimkan orang-orang baik di sekitar kami. Allah bantu kami dengan cara yang rasanya mustahil terjadi saat itu.

Selang beberapa tahun, Allah memberikan kami rezeki yang insya Allah sangat cukup bahkan berlebih. Jika mengikuti gengsi sebagai orang yang merantau di Ibu Kota, mungkin saat itu kami sudah memilih membeli sebuah mobil. Tapi, kami sadar, setelah memiliki rumah, bukan mobil tujuan utamanya, melainkan kewajiban menunaikan ibadah haji.

Haji memang diperuntukkan bagi orang yang mampu. Tapi, mampu di sini tentu saja harus diusahakan, tidak datang begitu saja. Sebelumnya, saya dan suami menyisihkan tabungan kami untuk membuka tabungan haji. Tidak banyak nominalnya, tetapi kami memberanikan diri memulainya. Saya pribadi percaya, Allah akan membantu niat baik dan kesungguhan kami.

Dan benar saja, 2014 kami diberikan kesempatan untuk mendaftar. Kami sempat memikirkan dua pilihan, apakah akan mendaftarkan haji bagi kami pribadi atau bagi mertua yang sangat ingin melihat Kakbah?

Usia mertua sudah sangat sepuh. Antrian haji bisa mencapai belasan tahun saat itu. Rasanya itu terlalu lama bagi mereka. Mustahil mereka harus mengubur lagi keinginan yang sudah lama disimpan. Mereka memang tidak pernah meminta pada kami. Mereka juga tidak pernah mengeluhkan apa pun. Tapi, kami paham mereka sangat ingin berangkat ke Mekkah dan melihat Kakbah.

Haji tentu saja tidak wajib bagi mereka berdua mengingat kondisi ekonomi memang sangat tidak memungkinkan. Saya berusaha memberikan saran terbaik pada suami, memberangkatkan umroh bagi mertua secepatnya.

Qadarallah, kedua mertua saat itu akhirnya bisa berangkat umroh dan bisa melihat Kakbah secara langsung. Dan kami, Alhamdulillah juga bisa langsung mendaftar haji. Betapa Allah sangat memudahkan urusan kami saat itu. Kalau mau pakai logika manusia, rasanya itu tidak bisa kami lakukan bersama sekaligus.

Orang tua atau mertua bukan termasuk orang yang berhak mendapatkan sedekah dari kita. Sebab mereka adalah kewajiban dan tanggung jawab kita. Saya sangat percaya, pintu rezeki kita datang lebih lebar dari mereka. Sebelum kita memuaskan keinginan pribadi, coba lihatlah orang tua sendiri, apakah mereka sedang kesulitan dan membutuhkan? Apakah ada keinginan yang belum tercapai? Jika ada, maka mengalahlah demi mereka.

Awal tahun 2018 lalu, bapak mertua akhirnya meninggal setelah sakit beberapa bulan. Jika ingat, pastinya kami sangat bersyukur karena beliau sudah berangkat umroh dan melihat Kakbah. Jika saja harus menunggu antrean haji, tentu saja beliau belum juga berangkat.

Orang tua pastinya pantang sekali mengeluh pada anaknya. Bahkan meski tak punya sebutir beras untuk makan sekalipun, mereka tidak akan meminta pada anak-anaknya. Maka tugas kita sebagai anak yang harus memahami keinginan dan kebutuhan mereka.

Melihat mertua sudah berangkat umroh, saya pun terbesit keinginan untuk berangkat. Tapi, tentu saja itu bukan keinginan yang mudah diwujudkan. Apalagi saya berkeinginan bisa berangkat bersama suami sekaligus anak-anak. Hampir sebulan penuh impian itu selalu saya lantunkan dalam doa usai shalat fardhu. Meski terdengar sangat mustahil, tapi saya tidak pernah ragu memintanya pada Allah. Sebab Allah yang punya langit dan bumi. Tidak sulit bagi Allah mewujudkan keinginan seorang hamba, sangat tidak sulit.

Qadarallah sebelum mertua sakit, ada kerabat mengajak kami umroh bersama. Awalnya suami menolak karena merasa itu terlalu berat apalagi jika harus membawa serta anak-anak. Tapi, pada akhirnya suami mengiyakan. Masya Allah, rasanya hampir tak percaya jika saya benar-benar akan berangkat umroh bersama keluarga kecil kami. Yang awalnya sulit kemudian dimudahkan. Yang awalnya seperti mustahil tiba-tiba Allah wujudkan. Yang awalnya tidak ada, kemudian Allah berikan.

Ketika kita membantu orang lain, maka jangan khawatirkan apa pun, sebab Allahlah yang akan membantu kita nanti. Dan itu sungguh sangat nyata terjadi. Selang hanya beberapa minggu setelah bapak mertua meninggal, kami pun berangkat umroh sekaligus ke Turki. Rasanya masih tidak percaya meski sebenarnya sejak lama saya memimpikan dan selalu berdoa. Bukan hanya umroh, kami bahkan menginap di Turki selama 3 hari dua malam.

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al Baqarah: 261)

Betapa nyata janji Allah bagi orang-orang yang memercainya. Dan akan terdengar sangat mustahil bagi orang-orang yang mengingkari kebenarannya.

Bantulah orang lain sebisamu
Membantu tidak  harus ketika kita punya banyak uang. Justru ketika kita sedang kesulitan, sebisa mungkin banyaklah bersedekah dan membagikan harta. Tidak harus berupa uang berjuta-juta. Lakukan sebisamu. Jangan khawatir, Allah sudah menjamin rezekimu.

Zaman sekarang, kamu tidak perlu mengunjungi daerah tertentu untuk menyampaikan donasi kepada mereka yang membutuhkan. Iya, saat ini sungguh banyak orang-orang yang sedang kesulitan, baik di negeri sendiri ataupun di negara lain seperti Timur Tengah.

Nah, tugas kita yang mampu dan lapang adalah saling membantu baik moril ataupun materiil. Tapi, bagaimana kita bisa menyalurkan bantuan atau donasi pada lembaga yang tepat?

Alhamdulillah, saat ini kamu bisa berdonasi dengan mudah lewat Dompet Dhuafa. Dompet Dhuafa merupakan Lembaga Filantropi Islam yang bersumber dari dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf atau dana-dana halal lainnya. Dana yang kamu kirimkan, baik berupa zakat, infak, sedekah atau dana lainnya akan dipergunakan dalam pemberdayaan kaum dhuafa melalui kegiatan humanitarian serta wirausaha sosial profetik.

Tidak hanya membangun lembaga-lembaga kesehatan yang diperuntukkan bagi mereka yang membutuhkan, Dompet Dhuafa juga membuka program-program pemberdayaan masyarakat sehingga dapat melahirkan entrepreneur dan membuka lapangan kerja baru, memutus rantai kemiskinan yang saat ini jumlahnya cukup tinggi di negara kita.

Meski zaman sudah semakin canggih, namun nyatanya, masih banyak anak yang putus sekolah akibat kurang mampu. Melalui Dompet Dhuafa, anak-anak yang putus sekolah bisa dibantu melanjutkan pendidikannya melalui beasiswa serta program pendidikan.

Tidak hanya itu, Dompet Dhuafa juga merangkul para relawan untuk terjun langsung membantu saudara-saudara kita yang sedang mengalami bencana atau musibah. Sebab kita adalah saudara. Sudah sepatutnya kita saling membantu meringankan beban orang lain yang sangat membutuhkan.

Jangan takut berbagi. Sebab dengan berbagi, kita bisa membantu meringankan beban saudara-sadara kita yang sedang ditimpa kesulitan. Dan dengan membantu meringankan kesulitan orang lain, kita bisa merasa jauh lebih bahagia dan berarti.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

Salam,

Monday, March 18, 2019

Pengalaman Sunat Anak dengan Metode Smart Klamp di Rumah Sunat dr. Mahdian (Rumah Sunatan Cipinang)






Punya anak cowok memang ada ujiannya sendiri, ya. Salah satunya harus menjalankan kewajiban khitan. Kalau ditanya kapan seorang ibu siap lihat anaknya dikhitan atau disunat, jawaban saya sampai kapan pun nggak akan pernah siap. Gimana mau siap, lihat anak sendiri teriak-teriak kesakitan…hiks. Masih untung ibunya nggak pingsan di dalam…haha.


Anak sulung saya dikhitan saat usianya satu tahun. Tepat di hari lahirnya, saya memutuskan untuk mengkhitan sulung tanpa banyak rencana sebelumnya. Alasan utamanya karena saya takut dia terkena ISK (Infeksi Saluran Kemih). Kenapa sampai kepikiran ke sana? Karena sejak awal dokter anak langganan sudah mengatakan bahwa dia kena fimosis.


Membaca banyak kisah mengerikan tentang ISK, saya jadi ngeri sendiri. Daripada harus dua kali kesakitan, karena ISK dan khitan, mending langsung saja dikhitan. Toh mau sampai kapan, anak lanang tetap harus khitan, kan?


Dulu pertama kali saya kenal metode Smart klamp pada tahun 2012. Metode ini bekerja seperti tali pusar pada bayi. Saya browsing-browsing sendiri dan terdamparlah di website Rumah Sunatan. Kayaknya metode ini benar-benar memudahkan ketimbang harus sunat dengan metode konvensional. Saya pun membaca banyak artikel terkait, hingga akhirnya saya yakin mengkhitan si sulung dengan metode satu ini di Rumah Sunatan.


Apa keuntungan dari metode Smart Klamp ini?

1. Prosesnya lumayan cepat dan mudah. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit sampai semua selesai. Proses khitannya sendiri hanya berlangsung kurang lebih 5 menit saja.


2. Selesai dikhitan, anak sudah bisa pakai popok dan celana seperti biasa. Kebayang memudahkan banget, kan? Mereka bisa langsung jalan, main, dan beraktivitas seperti biasa.


3. Meminimalisir risiko perdarahan. Setelah dikhitan, nggak ada darah keluar. Kencing pun seperti biasa. Dengan begitu, sunat metode smart klamp ini dinilai lebih aman terutama buat anak-anak yang nggak bisa diam.


4. Tidak menggunakan jahitan. Karena tanpa jahitan, kita nggak perlu bolak balik ganti perban. Cukup bersihkan tabung dengan NaCl supaya steril terutama setelah mandi dan BAK. Setelah itu, teteskan obat yang sudah diberikan oleh dokter.

Kenapa harus di Rumah Sunat dr. Mahdian?

 
1. Klinik ini merupakan klinik pertama yang mengembangkan konsep layanan khusus sunat dengan fasilitas bermain dan ruang tindakan. Saat menunggu atau antre, anak-anak bisa main-main dengan nyaman di lantai bawah. Ruangannya cukup luas dan nyaman. Ada kamar mandi serta tempat berfoto.


2. Berdiri sejak 2006 dan konsisten mengembangkan tindakan sunat terbaik.


3. Menggunakan metode Smart Klamp yang direkomendasikan di dunia bahkan oleh WHO.


4. Bekerjasama dengan negara Turki dan Malaysia untuk meningkatkan mutu pelayanan.


5. Dokter sunat di klinik ini memiliki sertifikasi dan jam terbang tertinggi dalam penggunaan metode Smart Klamp di Indonesia.


6. Ada pelayanan Emergency  Call 24 jam selama 7 hari.


7. Klinik sunat pertama yang memakai “Circumcision Kit” sekali pakai.


Saat si sulung dikhitan, saya tidak berani masuk. Usia satu tahun belum banyak memahami apa-apa. Bilang sakit pun belum bisa. Saat itu, dia lumayan rewel dan sering menangis. Obat pereda nyeri hanya diberikan berupa sirup paracetamol. Dulu juga dibekali antibiotik yang menurut saya itu nggak tepat dan sempat saya protes *dasar emak cerewet…kwkwk.


Seminggu berlalu, tabung sudah bisa dilepas. Sempat bermasalah karena ada sedikit luka yang masih basah dan agak lama meski nggak parah. Akhirnya malah kering setelah sering dioles gamat. Sejauh ini, walaupun dia rewel selama 2-3 hari pertama, tapi selebihnya dia baik-baik saja. Saya yakin, nggak akan mudah menghilangkan trauma saat dikhitan, apalagi ketika melihat tabung menempel di tubuhnya, dia bisa teriak nangis seketika…hehe. Kalau sudah begitu, emaknya pengen pingsan…haha.


Tapi, kemarin, saat saya memutuskan mengkhitan si bungsu yang sudah 3,5 tahun, saya beranikan diri masuk ke ruangan dan menemaninya saat dikhitan. Kok bisa tiba-tiba diajakin sunat?


Awalnya dia mau dan setuju kalau akan segera sunat. Bahkan di hari H, dia malah buru-buru dan nggak mau menunggu. Memangnya sunat harus daftar? Kalau langsung datang nggak boleh, ya? Tanyanya. Sampai segitunya. Akhirnya saya pun yakin, ini saat yang tepat untuk khitan.


Sempat agak bingung, Rumah Sunatan sekarang sudah berubah nama menjadi Rumah Sunat dr. Mahdian. Saya pikir itu rumah sunat berbeda, ternyata sama seperti yang lama, hanya saja namanya diubah.


Sebelumnya, saat masih berusia 4 bulan, saya sempat membawanya ke sana. Tapi, dokter bilang masalahnya tidak serius, artinya masih wajar. Sehingga kami pun disuruh pulang lagi dan berpikir ulang. Ya sudah, saya pun memutuskan menundanya karena yakin, anak bungsu saya baik-baik saja.


Tapi, tahun ini kayaknya sudah takdirnya dia disunat. Semua berjalan cepat banget. Nggak direncanakan jauh-jauh hari. Sabtu saya sampaikan pada suami kalau bungsu mau sunat, Ahadnya kita berangkat ke Rumah Sunatan. Sampai sekarang pun rasanya seperti mimpi, terlebih saya masuk ke dalam ruangan saat proses khitan berlangsung. Nggak banyak drama, nangis iya karena tiba-tiba dia nyesel sudah ngajakin sunat…haha. Tapi, mau gimana, kita sudah sampai, sudah daftar juga, ya sudah, kita jalankan saja.


Awalnya dia menangis, akhirnya harus dipegang erat karena nggak mungkin nungguin terlalu lama. Cukup dipegang sama suami bagian tangan, kaki sama perawatnya, dan dokter mengekskusi. Teriak-teriak terutama saat dibius kayaknya wajar, ya. Dia sempat bilang pusing, sumuk (berkeringat), dan sakit. Sunat pada anak hanya butuh bius lokal, ya. Dan prosesnya nggak lama, kok. Yang bikin lama itu dramanya, Sodarah.


Sejak awal saya katakan bahwa sunat itu sakit, Nanti dia bakalan disuntik. Saya tidak menutupi apa pun darinya, berkali-kali saya tanyakan apakah dia serius ingin sunat? Hingga akhirnya dia sadar, keputusannya mungkin salah…kwkwk.


Selesai sunat, bungsu langsung pakai popok dan celana. Dia ngambek, marah banget dan bilang hanya sayang Bunda…kwkwk. Lucunya, pas keluar ruangan, saya menemukan si sulung sedang sujud sambil menangis sedih mendengar adiknya nangis-nangis. Ini pemandangan yang jarang banget terjadi. Waktu tahu adiknya mau sunat, dialah yang merasa lebih khawatir dan takut daripada yang lain. Syukurlah, dia sendiri sudah sunat. Kalau belum, apa kabar dunia?


Ketika mau pulang dan masuk mobil, bungsu masih nangis sambil marah. Akhirnya diajakin nonton di tablet (fasilitas yang ada hanya ketika sunat...kwkwk) dan nggak lama dia tertidur. Sampai rumah dia masih tidur dan bangun untuk makan. Apakah nangis dan rewel terus? Justru kalau si bungsu lebih anteng dan langsung beraktivitas seperti biasa. Senyum, jalan, duduk, dan tiduran tanpa banyak mengeluh. Sampai hari kedua ini pun, dia masih seperti biasa kecuali saat akan BAK serta dini hari.


Waktu hari pertama kemarin, dia nggak mau BAK karena ketakutan, itu wajar banget. Saya biarkan sampai akhirnya dia kebelet sendiri, barulah mau ke kamar mandi. Alhamdulillah BAK lancar. Waktu mau dibersihkan dengan NaCl dan diberi obat, dia nangis lagi karena takut. Dan sudah pasti 1-2 hari ini masih ngilu dong.


Mau seaman apa pun, yang namanya sunat itu pastilah sakit. Walau nggak berdarah sekarang, walau boleh main, berenang, mandi, sampai ke mal…kwkw. Yang namanya sunat sudah pasti sakit. Udah jangan berharap terlalu besar, nanti malah kaget…haha.


Bekal obat kali ini berbeda dengan si sulung dulu. Harga obat-obatan nggak masuk dalam harga paket. Harga paket sunat anak metode Smart Klamp adalah Rp. 1.650.000. Itu hanya dibekali sirup pereda nyeri atau paracetamol saja.


Kemudian kita ditawari satu kantong obat-obatan KPPK (Kit Perawatan Pasca Khitan) seharga Rp. 150.000. Isinya ada obat merah, kasa steril, tisu basah steril, kotak obat kecil, obat sunat, cotton bud, masker, NaCl, irrigation syringe, sabun mandi antiseptik, dan hand sanitizer.


Nah, selain itu, kita juga dibekali 2 tablet ibuprofen rektal seharga Rp. 90.000. Jadi, total harga sunat di Rumah Sunat dr. Mahdian tahun ini Rp. 1.890.000. Lumayan jauh daripada dulu yang masih sekitar satu jutaan. Terang saja, jaraknya juga sudah beberapa tahun.


Ibuprofen rektal itu diberikan jam 10 malam sebanyak ¼ tablet saja dan nanti sebelum datang saat kontrol untuk lepas tabung. Dan, karena semalam bungsu nggak mau pakai, akhirnya obat ini dipakai dini hari tadi ketika dia teriak kesakitan dan pasrah…hiks.


Saya pribadi lebih memilih ke Rumah Sunatan ketimbang ke rumah sakit yang justru lebih ribet. Harus ada dokter anak, harus ada dokter bedah juga, dan yang pasti nggak bisa minta pakai Smart Klamp. Karena itu, saya sudah langganan sejak anak pertama di Rumah Sunatan. Alhamdulillah, sejauh ini mereka baik dan ramah. Konsultasi gratis dan yang pasti nggak terlalu jauh dari rumah.


Insya Allah, Ahad depan tabung akan dilepas. Semoga nggak ada masalah, lekas sehat dan bisa beraktivitas seperti semula. Jujur saja, sebagai ibu saya merasa sangat lega karena tuntas sudah kewajiban mengkhitan si kecil.


Tahun ini saya selangkah lebih berani…kwkwk. Kalau dulu, masuk ruangan sunat nggak berani, saya juga meminta suami cuti beberapa hari supaya bisa menemani saya mengurus anak mengingat saya hanya sendirian di rumah. Tiap memeriksa tabung Smart Klamp, air mata mengalir..hiks. Tapi, sekarang, saya lebih kuat, di ruang sunat juga nggak nangis, saya pasrah saja pada Allah. Berusaha tidak membedakan masalah menjadi kecil atau besar, saya yakin semua baik-baik saja. Dan yang pasti proses penyembuhan itu butuh waktu. Jadi, sabar saja, Insya Allah akan tiba saatnya untuk sembuh.


Salam,

 

Resep Bolu Pisang Lembut

Apa yang akan kamu lakukan jika terdapat buah pisang yang sudah mulai menghitam dan matang banget, tetapi nggak ada yang sudi menyentuh? Kadang tersisa beberapa buah pisang, kadang malah banyak seperti yang kemarin terjadi di rumah.


Biasanya saya megolahnya menjadi banana muffin, tapi kali ini pengen yang beda. Dan akhirnya saya menemukan resep bolu pisang lembut milik @ayudiahrespatih. Melihat tekstur bolunya bikin jatuh hati. Asli kayaknya enak banget.


Menurut pemilik resep, tekstur bolu pisang ini lembut, tetapi tidak beremah. Nah, pas banget ya dengan keinginan kita? Kadang ada bolu yang lembut tapi sedikit beremah sehingga bikin ribet makannya apalagi ketika dikonsumsi oleh anak-anak. Bisa bikin berantakan di rumah.


Nah, kebetulan kemarin ada pisang ambon lumut yang manis dan enak banget. Tapi, kayaknya anak-anak udah bosen makan saking banyaknya. Suami juga udah malas nyentuh. Jadi, harus diolah supaya laku dan nggak terbuang percuma.


Nah, saya pun akhirnya membuat bolu pisang lembut tersebut. Tapi, tolong jangan ditiru, ya…haha. Saya tambahkan 3 buah pisang melebihi takaran yang sebenarnya. Alhasil teksturnya jadi lebih padat meski tetap lembut dan tidak bantat.


Bolu ini dibuat dengan cara mengocok putih telur secara terpisah. Nah, bagi yang belum pengalaman, sebaiknya berhati-hati saat mengaduk putih telur yang sudah kaku bersama adonan lain supaya tidak pecah.


Jadi, kamu bisa pakai teknik aduk balik. Bisa cek di Instagram atau Youtube pasti banyak dicontohin supaya lebih mudah memahaminya. Saya pribadi belum berhasil membuat videonya mengingat belum ada yang membantu merekam saat saya baking kemarin.

Bahan:

250 gram pisang matang

120 gram gula pasir

3 kuning telur

3 putih telur

120 ml minyak (Bisa pakai mentega)

130 gram terigu

½ sdt baking powder

½ sdt kayu manis bubuk


Cara membuat:


1. Panaskan oven suhu 150’C. Biasanya suhu oven itu berbeda-beda, jadi pastikan kamu paham banget dengan karakter ovenmu sendiri.

2. Siapkan loyang dan olesi margarin serta taburi dengan terigu.

3. Haluskan pisang dengan garpu sampai benar-benar lumat. Masukkan kuning telur dan gula pasir. Aduk sampai rata.

4. Masukkan minyak, aduk lagi sampai rata.

5. Ayak terigu, baking powder, dan kayu manis bubuk. Masukkan dalam adonan pisang dan campur rata.

6. Mixer putel dengan kecepatan tinggi sampai mengembang dan kaku. Masukkan bertahap dalam adonan pisang. Aduk balik sampai putih telur habis.

7. Tuangkan ke dalam loyang. Kamu bisa tambahkan irisan pisang di atasnya, baru kemudian siap dipanggang selama 50 menit (sesuai oven masing-masing).


Voila! Bolu pisang lembut buatan kamu pun sudah siap disantap. Siapa sangka, ternyata yang doyan tanpa banyak tanya adalah si bungsu. Dia menghabiskan hampir setengah loyang sendiri…kwkwk.


Aromanya enak banget, perpaduan antara pisang dan kayu manis itu pas banget. Anak-anak juga suka. Satu loyang ludes dimakan anak-anak. Kalau yang bikin hanya incip sedikit udah kenyang karena sudah capek membuat. Kamu juga suka gitu?


Mengolah kembali makanan yang sudah nggak disentuh seperti ini memang berguna banget. Nah, kalau kamu punya tips atau resep apa, nih selain bolu pisang dan banana muffin seperti yang sering saya posting?


Yuk, dicoba di rumah. Siapa tahu ada pisang yang mulai menghitam dan masak serta tidak ada yang mau mengonsumsinya lagi!


Salam,

Saturday, March 16, 2019

Cara Mengatasi Luka Bakar pada Anak

Luka bakar sama seperti luka biasa, sama-sama bikin ngilu apalagi kalau sampai itu terjadi pada anak-anak. Tapi, cara menangani luka bakar pastinya berbeda dengan luka-luka pada umumnya, apalagi luka di hati yang bikin nyeri *apa sih kwkwk.


Nah, biasanya karena kurang hati-hati, anak-anak sering jadi korban. Baik karena air panas, knalpot, atau api. Sebagai orang tua, kita harus pandai-pandai menjaga mereka. Karena sadar betul tidak mungkin 24 jam kita bisa memerhatikan dari dekat, ada baiknya kita buat kondisi rumah seaman mungkin. Jangan sampai ada barang-barang yang berpotensi melukai mereka ketika kita lengah.


Kadang kita perlu meninggalkan mereka sendiri ketika ada pekerjaan mendesak seperti harus mandi sebentar, memasak, mencuci, dan banyak aktivitas lainnya. Nah, di saat seperti itu, kalau kita nggak perhatian dengan lingkungan sekitar, pastinya bukan mustahil akan terjadi hal yang tidak diinginkan terlebih kalau anak masih belum mengerti arti bahaya.

 
Dulu, karena saya tinggal hanya dengan suami dan mustahil menitipkan anak pada orang lain, suami akhirnya membuat pagar pendek yang tidak bisa dilalui oleh si kecil. Pagar itu bisa terbuat dari kayu, bambu atau bahkan yang terakhir suami bikin dari sambungan pipa paralon. Asli ini berguna banget ketika saya harus memasak di dapur. Dia tidak harus kecolongan  naik tangga diam-diam terutama setelah anak mulai merangkak. Pagar begini bisa jadi pegangan juga buat mereka berdiri. Dan pastinya kita masih bisa ngobrol dan melihat mereka dengan langsung.


Anak-anak yang sudah lebih besar pastinya sudah malas banget kalau disuruh duduk di kereta bayi atau di bouncer. Kejadian buruk sempat terjadi waktu si bungsu menemani saya membersihkan rumah. Dia saya dudukkan di bouncer dan nggak lupa pasang sabuknya supaya aman. Nggak pernah kebayang ternyata nggak lama saya balik muka dan menyalakan penyedot debu, dia udah terjungkal. Harus ketawa apa sedih? Ketawa sambil pengen nangis…hiks. Ternyata dia nggak lepas dari sabuknya, dia justru maksa mau makan jempol kakinya sehingga berat bertumpu ke depan dan jadilah dia terjungkal ke depan. Duh, saking aktifnya, Masya Allah.


Akhirnya setelah kejadian itu saya nggak pernah membiarkan dia di ayunan atau bouncer ketika saya bekerja. Saya pakai gendongan belakang yang mudah. Dulu masih viral banget gendongan bayi ERGO Baby yang nyaman  banget meski harganya selangit. Saya sih beli yang KW aja yang penting fungsinya sama..hehe. Katanya bedanya hanya di bahan. Yang lain pasti bedalah secara harganya jauh. Tapi, sampai bulukan gendongan itu tetap berfungsi dengan baik, Alhamdulillah.


Nah, di rumah, saya juga tidak berani menaruh gunting atau pisau di sembarang tempat. Benda-benda tajam selalu ditaruh di tempat lebih tinggi. Kulit mereka masih tipis, kena goreng bukan karena pisau saja bisa luka, ya.


Di rumah juga tidak membiarkan dispenser menyala. Dicabut saja kabelnya daripada si kecil main air panas. Kita juga harus perhatikan betul di mana menyimpan air panas setelah direbus. Jangan sampai terjangkau tangan mungil mereka. Kejadian tetangga dekat rumah, waktu itu nggak sengaja kesiram air panas yang ada di tangga kalau nggak salah. Habis badannya melepuh. Duh, ngeri ngebayanginnya.


Lalu apa yang harus kita lakukan ketika anak terkena luka bakar? Orang zaman dulu selalu menyuruh mengoleskan pasta gigi, ya? Itu berguna atau malah merugikan?


Dulu, mana tahu itu berguna atau tidak. Yang penting dengerin orang tua ngomong aja..hehe. Ternyata memberikan mentega, kecap, pasta gigi atau minyak itu tidak disarankan. Cara terbaik yang bisa kamu lakukan di antaranya,


1. Siram luka bakar dengan air mengalir seperti air keran. Luka bakar, kena air panas, kena knalpot dan letupan minyak bisa kamu atasi dengan cara ini.


2. Jika masih terasa panas, kamu bisa kompres dengan NaCl 0,9%.


3. Jika muncul gelembung atau kulitmu terkelupas, angkat kulitnya dan bersihkan dengan NaCl 0,9% baru kemudian bisa kamu berikan salep antiseptik.


4. Jika ada nyeri bisa ditangani dengan pemberian obat nyeri seperti paracetamol.


5. Jika luka bakar terasa nyeri, itu tandanya luka itu tidak dalam. Jika luka bakarnya cukup parah dan mengenai banyak area di tubuh, nggak usah mikir dua kali, segera bawa ke rumah sakit untuk ditangani.


Semua informasi itu saya dapatkan buku Q&A Smart Parents for Healthy Children yang ditulis oleh dokter Wati, pengasuh milis sehat. Insya Allah informasi ini bisa dipertanggung jawabkan dan bisa diterapkan. Semoga kita bisa lebih berhati-hati lagi, jangan sampai anak kita terkena luka bakar hanya karena kelalaian orang tua.


Salam,

Wednesday, March 13, 2019

Cara Merampungkan Naskah Buku Tanpa Banyak Alasan

Segala sesuatu yang kita kerjakan memang harus dinikmati dan disyukuri. Rezeki nggak akan ke mana, ya? Meski hampir semua blogger terhempas penuh drama karena DA terjun bebas, tapi sebagian besar dari kita pun sadar, bahwa DA bukan segalanya, kok.


Kalau tidak dinikmati, sudah hampir semua blogger pensiun kali, ya. Dan sejak melihat DA saya turun hingga ke angka 9, saya pun pasrah dan memutuskan untuk fokus menulis saja. Apalagi belakangan udah jarang banget bisa ngisi blog setiap hari. Jadi, nggak ada jalan lain selain dinikmati saja. Toh tujuan awal ngeblog memang buat menulis, tidak lebih. Ketika mulai paham sedikit demi sedikit, dapat job jadi mencemari niat yang sebenarnya…kwkwk.


Lupakan soal DA. Kita bahas bagaimana menuntaskan naskah yang sudah setengah jalan atau bahkan masih baru judul aja, nih? Tega banget baru judul udah minta lekas rampung…hahaha. Bermimpi, kan gratis, nggak ada yang melarang, asal jangan kelamaan bermimpinya supaya nggak tertinggal sama yang lain.

 
Di saat kita sedang bersantai nonton drama Korea, bisa jadi orang di sebelahmu sedang serius merampungkan naskahnya. Jadi, wajar jika kamu masih duduk di sofa, eh dia udah naik tangga *ngapain? Benerin genteng? Haha.


Saya percaya, rezeki itu memang bergerak, dia akan datang ketika kita terus bergerak atau mengusahakannya. Setelah membaca buku ustadz Arafat yang berjudul Hijrah Rezeki, saya pun yakin, rezeki itu akan menghampiri saya jika saya mau usaha.


Salah satu usaha yang bisa kamu lakukan demi melihat bukumu terbit dan majang di toko buku adalah dengan merampungkan naskah kamu sendiri. Iyalah, kesuksesan itu ada di tangan kamu, bukan di tangan mereka yang meremehkanmu! *perlu banget pakai tanda seru, ya? Hahaha.


Ketika menyusun outline, biasanya kita bersemangat banget. Kayaknya naskah itu akan selesai seminggu ke depan. Rasanya nggak bakalan kena rasa malas apalagi mengingat ide yang kamu temukan benar-benar cemerlang banget.


Sayangnya, ketika baru mulai satu hingga dua bab, ternyata kamu sudah galau nggak jelas. Pengen nulis ide lain aja, deh. Padahal yang pertama saja baru tiga bab, lho. Duh, mulai berat. Akhirnya istirahat sejenak, main-main Instagram sampai lewat satu hingga dua jam berlalu tanpa faedah…hehe. Iya, itu saya banget…haha. Gimana dengan kamu?


Lalu apa yang bisa kita lakukan supaya naskah yang sudah kita buat kerangkanya bisa berhasil diselesaikan? Mungkin kamu bisa mencoba beberapa tips ini.


Ingat lagi tujuan awal kamu menulis 

Kamu ingat-ingat lagi deh apa tujuan kamu menulis naskah itu? Pastinya ingin mengirimkankannya ke penerbit, mendengar kabar bahwa naskah kamu diterima, dan akhirnya majang di toko buku.


Nah, kalau sekarang kamu menyerah, lalu kapan mimpi itu bisa kamu wujudkan? Sebaiknya kamu lihat teman-teman penulis di sekeliling kamu, jadikan mereka sebagai pelecut semangat, kalau mereka bisa, kenapa kamu tidak?


Kita diciptakan sama. Memiliki 24 jam yang sama, punya kesibukan segunung, bahkan kadang kurang tidur hingga punya mata panda, tapi kenapa kamu menyerah secepat ini? Ayolah, tidak inginkah kamu punya satu buku saja seumur hidupmu? Iya, satu saja. Jika setelahnya kamu ingin lagi, kenapa tidak?


Disiplin mematuhi jadwal yang sudah kamu buat sendiri


Hal paling berat dalam aktivitas satu ini adalah disiplin mematuhi jadwal yang sudah kamu buat sendiri. Kalau ada orang yang menagih, itu pasti akan jauh lebih mudah. Tapi, kalau harus mematuhi aturan yang sudah dibuat sendiri, kayaknya sekali dua kali nggak patuh boleh kali, ya?


Nah, karena alasan inilah kita jadi cenderung meremehkan. Padahal naskah itu bisa kelar sebulan atau dua bulan, tetapi karena kamu suka nggak disiplin, akhirnya malah nggak kelar-kelar bahkan sampai tahun depan.


Memang nggak disiplin dalam menulis tema lain itu godaan banget. Apalagi kalau profesi kita nggak hanya sekadar jadi penulis buku, tetapi juga blogger. Ketika kita menulis naskah, tiba-tiba godaan untuk menulis di blog begitu besar…haha. Alhasil kita malah keasyikan ngeblog dan lupa soal naskah. Itulah yang saya alami meski ngeblog masih sebatas jadi blogger remahan, tapi karena seperti rekreasi, ya menyenangkan banget sampai lupa segalanya…haha.


Kalau sudah begitu, mending kamu jadikan ativitas lain sebagai reward ketika kamu telah berhasil menyelesaikan naskah kamu. Misalnya saja, kamu bisa mulai ngeblog setelah target 2-3 bab naskah kamu hari ini selesai. Atau kamu bisa menyelesaikan membaca buku favorit kamu setelah naskah kamu rampung. Itu benar-benar efektif buat saya pribadi.


Konsisten menulis


Meski kamu sudah terbiasa menulis buku, tapi kalau kamu nggak konsisten, kemampuan menulis itu bisa ditelan angin. Iya, jadi beda aja hasilnya. Sekian lama menulis artikel bisa menghilangkan kemampuan saya menulis naskah anak. Jadi kaku lagi, jadi aneh bahasanya apalagi kalau kamu kurang membaca. Jadi, konsistenlah menulis setiap hari. Jika harus terpaksa berhenti sejenak, jangan terlalu lama karena itu akan mengurangi kemampuanmu. Itu sejauh yang saya alami.


Perbanyak referensi

Kalau kamu tidak ada referensi sebelumnya, dijamin naskah kamu aneh dan garing..hehe. Bukan hanya itu, bisa jadi malah diam di tempat karena nggak tahu apa yang akan kamu kerjakan selanjutnya.


Referensi bisa kamu dapatkan dari buku-buku, majalah, artikel di media online (tapi harus hati-hati mencari sumber), serta dari perpustakaan digital. Salah satunya dengan membaca buku di aplikasi iJakarta. Bukan promosi, ya…haha. Tapi, ini pengalaman saya selama ini. Saya pasang aplikasi ini mulai dari pertama saya tahu sampai saat ini.


Alhamdulillah sangat membantu sekali. Banyak buku-buku yang bisa kita baca dan dijadikan referensi. Nggak perlu melulu membeli buku, apalagi kalau kehabisan ide, bisa baca-baca di sana. Cukup korbankan kuota internet kamu, nggak perlu korbankan diri kamu *apa sih…kwkwk.


Komitmen menyelesaikan naskah

Kalau kamu nggak bisa berkomitmen pada diri sendiri, terus siapa yang bakalan menyelesaikan naskahmu? Kamu harus berjanji pada diri kamu sendiri, bahwa kamu akan merampungkan naskah itu. Jangan kebanyakan berpikir, tapi kerjakan.


Selama ini banyak naskah yang gagal saya rampungkan karena saya mengkhianati janji itu. Iya, sedih banget, kan kalau sampai dikhianati? Makannya naskahnya hanya berupa judul dan kerangka…hehe. Miris banget.


Mulailah dan Pikirkan Kemudian

Seperti yang saya katakan sebelumnya, kalau kebanyakan mikir, gimana hasilnya, berantakan atau tidak, dibaca lagi berulang padahal baru juga satu halaman, itu bakalan bikin lama. Percaya!


Ketika saya menulis naskah, saya tidak membacanya sebelum semua bab selesai saya tulis. Kalau saya bingung mengedit sebelum semua rampung, sudah bisa dipastikan satu bab saja tidak akan pernah selesai atau selesai tapi lama banget.


Karena itu, mulailah dulu. Kerjakan dulu tulisan kamu, baru diedit setelah diendapkan beberapa hari. Jangan kebanyakan nengok naskah yang baru saja ditulis. Biarkan semua selesai dan indah pada waktunya *eaa.


Buat target dan perhitungkan kemampuanmu

Kamu yang paling tahu seberapa besar kemampuanmu saat menulis. Sehari bisa jadi temanmu menyelesaikan dua halaman, tapi kamu ternyata hanya bisa satu halaman per hari. Itu sudah oke asalkan konsisten, kamu akan merampungkan bukumu juga, kok.


Jika kerangka naskahmu terdiri dari 10 bab, dan setiap bab terdiri dari 3 sub bab, maka kamu bisa membaginya menjadi beberapa hari sesuai kemampuan. Pastikan setiap sub bab sudah jelas terdiri dari berapa halaman sehingga sehari kamu bisa kerjakan berapa sesuai kemampuan. Bisa jadi satu bab sehari atau berapa halaman sehari. Simpel.


Anggap targetmu sebagai hutang yang harus dibayar ketika kamu tinggalkan

Jika sehari kamu tidak menulis apa yang telah ditargetkan, maka kamu harus membayarnya di hari berikutnya. Iya, anggap saja kamu sudah berhutang dan kamu harus membayarnya supaya target tetap tercapai.


Ya, memang tidak ada yang semudah membalikkan telapak tangan, tapi ketika target itu tercapai, kamu akan merasa sangat lega.


Yakinlah kamu pasti bisa menyelesaikannya

Meskipun awalnya tampak tidak mudah bahkan kayaknya nggak mungkin, tapi yakinlah bahwa kamu akan melampaui pikiranmu itu. Kalau kamu nggak yakin, lalu bagaimana kamu bisa melakukan semuanya? Penting banget kamu yakin dan teruslah berdoa supaya dimudahkan semua prosesnya.


Itulah beberapa hal yang bisa kamu terapkan supaya naskah kamu selesai dan tidak hanya tersimpan berupa file kosong di laptopmu. Kebayang senangnya bisa menulis buku? Iya, buku kamu bakal majang di toko buku dan dibaca oleh banyak orang. Tolonglah dirimu sendiri sebelum kamu menolong orang lain. Yup! Bantu kamu menyelesaikan targetmu dan raihlah impianmu sebelum kamu membantu mewujudkan impian orang lain.


Salam,