pixabay.com


Assalamualaikum…

Saya percaya dan sangat percaya, bahwa segala sesuatu yang terjadi saat ini meruapakan rangkaian dari puzzle masa lalu baik berupa doa kita sendiri, orang-orang terkasih bahkan celetukan teman atau sahabat, dan bisa jadi gambaran yang sudah kita susun dalam sebuah buku.

Yakin merupakan cara pertama untuk mewujudkannya. Ya, siapa pun yang punya keingian tentu harus yakin bahwa dirinya bisa mencapainya. Entah kenapa, meskipun terdengar mustahil dan rumit, saya selalu berani bermimpi. Kyai saya pernah berpesan, bermimpilah setinggi langit, jika pun harus jatuh, tentunya tak akan jatuh terlalu rendah.

Jadi, saya selalu bermimpi bisa melampaui apa yang mungkin tak pernah dibayangkan oleh saudara saya sebelumnya. Mimpi-mimpi yang sekarang bisa jadi sesuatu yang bagi ibu saya cukup membanggakan meskipun bukan lagi nilai rapor sekolah.

Ini postingan terakhir menutup 2017. Di tengah dentuman kembang api yang entah segemerlap apa di luar sana. Satu kabar gembira menjadi salah satu penutup amat manis. Ya, saya menjadi salah satu pemenang lomba menulis cerpen fiksi yang diadakan oleh Najmu Books bekerjasama dengan IIDN. Semoga akan ada lebih banyak lagi yang bisa dilahirkan pada tahun 2018 mendatang.




Ketika satu pintu rezeki ditutup oleh Allah, percayalah, akan ada pintu-pintu lainnya yang dibuka untuk kita. Jangan menyerah bahkan putus asa, Allah itu ada, Allah melihat setiap jerih payah yang kita lakukan.

Tidak mustahil bagi Allah mengabulkan satu bahkan ratusan mimpi dalam kepala kita. Tidak mustahil. Selama bermanfaat dan baik, jangan pernah berhenti mewujudkannya.

Bismillah, insya Allah 2018 akan jauh lebih baik lagi.






View Post

pixabay.com


Masya Allah, ternyata 2017 sudah mau berakhir. Banyak hal terjadi sepanjang 2017, termasuk mimpi-mimpi yang saya usahakan kemudian Allah wujudkan satu persatu.

Sepanjang 2017, saya memulai kembali kesenangan menulis, baik di blog, menulis buku, bahkan menjadi kontibutor Uc News sampai sekarang. Awalnya hanya ingin ikut lomba-lomba menulis saja, tapi justru ada 6 antologi cerita anak selesai pada tahun ini dan insya Allah akan lahir 2018 mendatang baik di penerbit indie ataupun mayor.

Pada 2017 juga saya berhasil menyelesaikan naskah anak pertama saya bersama Sekolah Perempuan. Saya sengaja mengambil kelas menulis cukup banyak tahun ini karena sadar ada banyak hal yang belum saya miliki, termasuk seluk beluk dunia penerbitan buku.

Yang awalnya hanya suka menulis naskah fiksi, menyelesaikan buku nonfiksi, sekarang justru suka menulis naskah anak. Meskipun ini hanya permulaan dan bagi orang belum seberapa, tapi saya apresiasi kegigihan saya sendiri untuk mendapatkannya.

Menulis itu memang sangat membahagiakan. Dan saya percaya, setiap tulisan kita pastilah memiliki pembacanya sendiri. Meskipun awalnya sulit, tapi saya berhasil menaklukkan kemalasan, ketidak inginan untuk meneruskan, kadang jenuh dan merasa ingin berhenti, tapi toh ketika benar-benar ditinggalkan kita akan benar-benar rindu. Ya, hal semacam ini sering sekali datang tanpa kita sadari. Saat dituruti, ternyata justru menenggelamkan mimpi. Ya, itu ujian sodara-sodara..terutama bagi pemula seperti saya ^^

Menurut salah satu mentor di Sekolah Perempuan, menulis itu bisa di mana saja. Yang penting, jangan berhenti menulis. Yess! Sempat saya merasa fokus pecah sejak menulis di Uc News. Sempat menyesal masuk ke sana. Tapi, setelah saya teruskan, ternyata banyak hal bisa membuat saya berubah, termasuk kemampuan saya menulis artikel yang sejak dulu nol :D

Ketika menulis di sana, saya sadar harus berusaha lebih baik. Ada banyak aturan yang harus dipatuhi supaya nggak kena offline bahkan ditangguhkan akunnya. Ya, aturan semacam itu benar-benar harus dipelajari sebab setiap media tentu punya peraturannya sendiri. Menutup 2017, 100 artikel lebih sudah saya tulis sejak pertengahan November. Ada banyak pengalaman dan 100 ribu lebih viewers. Ada bahagia tersendiri yang tak bisa didapatkan ketika menulis di media lain. Ya, semua membahagiakan.

Hm, yang tak boleh dilupakan tentu saja pengalaman memasak sejak masuk Cookpad dan apresiasi mereka sampai mengunjungi rumah saya. Terima kasih untuk pengalaman membahagiakan yang tidak akan pernah saya dapatkan jika sejak dulu hanya diam dan tidak mau menulis resep di sana :D

Ada sekitar 270 lebih resep yang sudah saya simpan di Cookpad, 2500 lebih pengikut, serta 80an recook. Sekarang saya sudah mulai berkurang posting resepnya karena kurang diusahakan kayaknya..hehe.

Insya Allah 2018 harus lebih giat lagi menulis, mengisi blog, aktif nulis resep dan pastinya harus punya lebih banyak buku lagi, ya. Insya Allah saya bisa!

Salah satu antologi yang siap lahir pada Januari mendatang

Impian punya buku sebenarnya sudah saya tulis sejak SMA ketika saya masuk pesantren. Awal mula mengenal dunia literasi di sana. Menulis di buku tulis sampai berapa biji, dibaca teman-teman dan adik kelas..he. Lucu, sih. Ternyata sejak remaja saya sudah narsis orangnya..he. Dan sekarang saat saya masih remaja juga *uhuk saya masih tetap mencintai hobi ini.

Kesempatan pertama kali menulis buku sekitar tahun 2009. Saat itu seorang penulis dari Malang meminta saya mengirimkan cerita. Karena keterbatasan fasilitas seperti komputer di pesantren, saya pun mengirim buku berisi beberapa tulisan tangan saya sendiri. Dan lahirlah antologi Pleidooi/ Mozaik books pada tahun itu.

Tahun 2014 saya mulai menulis lagi setelah menikah, ternyata dunia kepenulisan sudah berkembang sangat pesat dan cukup mudah diakses. Saya pun giat mengikuti lomba menulis, kebanyakan menang dan terbit indie. Salah satunya lahir antologi di Mafazah Media. Selanjutnya, antologi Seporsi Rasa ikut lahir di Elex Media. Tiga cerpen romance saya termasuk di dalamnya. Ini pun diawali dari lomba menulis dan kami menggarap naskah. Tahun itu juga saya menjadi salah satu pemenang kuis dan bisa ikutan workshop bareng bunda Asma Nadia. Impian anak kampung dan anak pesantren yang super ndeso yang nggak pernah terbayang bisa bertemu langsung sama salah satu penulis favorit saya, cerpen saya dibaca dan dinilai langsung juga oleh beliau. Sesuatu yang tidak boleh saya lupa karena mengingat itu sama dengan mengingat mimpi-mimpi saya yang sebenarnya belum sepenuhnya terwujud.


Pada 2014 untuk pertama kalinya saya menyelesaikan buku nonfiksi islami dan memutuskan menulis naskah islami. Sempat berhenti selama beberapa tahun dan akhirnya saya kembali lagi pada 2017. Dan seperti saya yang biasa, saya nggak pernah malu memposting tulisan sendiri. Karena saya tahu, semua orang juga berproses. Nggak ada yang langsung jadi penulis novel terkenal, beberapa bahkan ditolak belasan penerbit sebelum akhirnya terkenal.

Nah, kebanyakan orang nggak betah di sini. Kurang percaya diri dan minder. Buat saya, siapa pun itu pastilah melewati fase satu ini. Sesuka apa pun kita terhadap dunia menulis, kalau kita sendiri tidak bisa memotivasi diri sendiri, bagaimana mungkin impian itu akan terwujud? Kita bermimpi tapi sejak awal kita patahkan dengan rasa minder dan menyerah, merasa putus asa, tidak mampu. Buat saya itu nggak bisa!

Ketika ada teman-teman yang bertanya, bagaimana tulisannya, apakah layak, apakah harus dilanjutkan, buat saya jawabannya ada pada dia sendiri. Saya sudah sempat menyerah dan buat saya itu hal terbodoh. Saya kehilangan semuanya. Benar-benar kehilangan!

Tentu saja jalan yang harus dilewati tidak akan semulus tepung. Pastinya banyak kerikil dan riak-riak menghantam. Tapi, selama kita tahu apa tujuan kita sebenarnya, insya Allah tidak semudah itu berhenti.


Bismillah, insya Allah 2018 saya bisa menaklukkan semuanya. Begitu juga dengan teman-teman! Terima kasih untuk apresiasinya, sudah membaca dan berkomentar positif di blog saya yang masih gado-gado dan bayi banget.. J
View Post

sumber


Erni mengusap embun yang menutupi kaca jendela mobilnya. Hari masih gelap ketika dia bergegas menyalakan mobil. Sebelah kakinya segera tancap gas sekencangnya menuju rumah sakit.

Ada banyak hal yang harus dia urus akhir-akhir ini. Termasuk kondisi suaminya yang semakin memburuk paska operasi jantung kemarin. Membayangkan saja dia tak pernah berani. Kemudian Tuhan membawanya pada posisi sekarang yang sebenarnya sangat sulit apalagi mengingat betapa rapuhnya Erni.

Gadis dua puluh lima tahun itu pernah sekali membayangkan bagaimana jika lelaki yang menikahinya tiba-tiba saja pergi. Sedangkan di dalam rumah seluas 100 meter persegi tak nampak orang lain selain dia dan Tara, suaminya.

Dan Tuhan, benar-benar menunjukkan betapa senyapnya rumah tanpa lengking tangis bayi itu sekarang. Pembuktian yang cukup menyakitkan. Menyesal karena telah membayangkan banyak hal aneh sejak suaminya terkena serangan jantung pertama kali.

Sepertinya lelaki berperawakan tegap itu cukup sehat bahkan sejak menikah dengannya, Erni lebih ketat menjaga makanan yang akan mereka santap setiap hari. Sayangnya, takdir tak bisa dirubah sesuka hati. Ada saatnya kita harus menerima dan meyakini bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa izin Tuhan.

Erni mengusap embun di pelupuk mata. Pendangannya sedikit kabur sebab tangisnya yang tiba-tiba saja menyesaki rongga dada.

Sejatinya, Tara dan Erni tak pernah benar-benar saling suka. Perjodohan memaksa mereka bertemu lebih cepat. Erni sempat menolak, tapi kedua orang tuanya tak bisa dibantah jika sudah punya keinginan. Termasuk ketika dia harus menikah dengan lelaki masa kecilnya yang sangat menyebalkan itu.

Tara bukan orang asing bagi Erni. Dia merupakan putra dari sahabat karib ayahnya dulu. Sering bertandang ke rumah, bahkan sering menjahili Erni ketika dia masih 7 tahun.

Tara, meskipun menurut teman-teman Erni termasuk lelaki idaman, tapi membayangkan banyak hal konyol saat mereka masih kecil membuatnya mual. Tara kecil yang terpaut 5 tahun dari Erni itu pernah sekali menaruh ulat bulu paling menjijikkan di tas Erni. Dia juga pernah membuat Erni marah karena boneka kesayangannya di gantung di atas pohon. Tara kecil yang menyebalkan kemudian tak lagi muncul di hadapannya sejak mereka masuk bangku kuliah.

Saat Erni kuliah, Tara telah diterima di sebuah perusahaan asing. Mereka tak pernah lagi bertemu, dan kebiasaan jahil masa kecilnya tak lagi menghampiri Erni. Diam-diam Erni bersyukur meskipun tak lama kemudian, keduanya dipertemukan kembali dalam sebuah acara keluarga yang tak pernah Erni sangka.

Ya, lelaki dengan kumis tipis itu tiba-tiba saja membawa serta keluarganya dan meminang Erni. Tragis sekali perjodohan itu. Erni tak pernah sempat mempertimbangkannya. Dan cincin emas putih itu tiba-tiba saja melingkar manis di jarinya.

Sejak saat itu, Tara lebih sering menghubunginya. Sekadar menanyakan kabar dan rencana pernikahan. Erni menarik napas lebih dalam setiap kali menjawab telepon. Sapaan Tara lebih hangat, lebih berempati bahkan diam-diam lelaki itu menyempatkan diri mengirim hadiah kecil saat Erni berulang tahun.

Tara kecil tak lagi sama. Engineer tampan itu telah menjelma pangeran di hati Erni. Pernikahan mereka pun berlangsung manis. Meskipun setelah dua tahun berikutnya, tak ada tangis bayi yang selalu mereka harapkan.

Erni segera turun dari mobil dan mengusap kedua matanya yang basah. Dia pasti bisa menjadi lebih kuat demi lelaki itu.


Setiap rumah tangga punya cobaannya masing-masing. Tuhan hanya sedang menguji mereka berdua. Meskipun kadang menyebalkan, tapi Tara telah mengukir ingatan manis di hati Erni. Gadis dengan blazer berwarna cokelat itu menarik napas dalam sebelum memasuki ruang ICU, menemui suaminya, menemui masa lalunya yang kini justru jadi harapan terbesarnya.

*****

Baca artikel-artikel saya di Uc News klik di sini :)
View Post



Assalamualaikum…saya bahagia sekali, bukan karena bikin bolu, tapi karena ada ponakan baru yang lahir kemarin. Saya hanya punya saudara perempuan. Dan dulu, bapak selalu pengen punya anak laki-laki sampai-sampai saya jadi korbannya. Didandanin laki-laki, usia SD rambut dipotong pendek dan diberi sisa di belakang seperti ekor kuda. Kalau ingat gemes juga sama bapak..hehe. Saya sampai dibully sama teman-teman gara-gara itu.

Dan tahukah teman-teman, saat kami semua telah menikah, kami memiliki anak laki-laki. Ya, saya dan saudara saya punya anak laki-laki semua sampai ada 5 cucu laki-laki. Seolah ini rezeki nomplok buat bapak saya yang dari dulu pengen anak laki-laki. Dan akhirnya kutukan itu *eh rezeki itu berganti juga saat ini. Saya punya ponakan cewek…Senangnya meskipun nggak bisa pulang..he.

Lupakan dulu keriuhan kelahiran princess pertama di keluarga saya, ya! Pagi tadi, saya membuat bolu untuk camilan anak-anak. Bolu ini lembut dan gampang banget bikinnya asal ngaduk telurnya sampai kental berjejak, ya.

Dulu saya nyari-nyari resep ini tapi baru ketemu sekarang di cookpad. Ini resepnya mbak Ni’ma Taltha Muhida. Resepnya benar-benar praktis karena ngaduknya jadi satu. Nggak perlu menyalakan oven juga. Cetakannya boleh pakai cetakan apa saja, boleh cetakan martabak mini, takoyaki seperti punya saya..atau apa saja asal bisa buat manggang, ya!

Proses memanggang dengan cetakan takoyaki


Bahan:
250gr terigu serbaguna
250gr gula pasir
4 butir telur
1 sdt vanilla essence (tambahan dari saya)
180ml santan (Saya pakai kara plus air)
1sdt sp
Sedikit garam (saya skip)
1sdm coklat bubuk (untuk hiasan/tambahan dari saya)

Cara membuat:
1.      Campur santan dan vanilla essence. Aduk dan sisihkan.
2.      Mixer dengan kecepatan tinggi telur dan sp sampai berbusa. Masukkan gula pasir secara bertahap. Mixer sampai gula larut dan adonan menjadi kental berjejak.
3.      Masukkan terigu dengan diayak. Masukkan juga campuran santannya. Mixer kecepatan rendah sampai rata. Stop!
4.      Ambil sedikit adonan dan beri coklat bubuk. Aduk lipat sampai rata. Masukkan plastik segitiga.
5.      Panaskan cetakan, olesi dengan margarin. Tuang adonan. Beri hiasan berupa garis dengan adonan coklat. Tarik garis dengan tusuk gigi. Tutup dan masak dengan api kecil sampai matang.
6.      Angkat dan sajikan.



Inilah bolu enak dan termudah yang pernah saya buat. Buat yang nggak punya oven atau malas keluarin oven, resep ini harus dicoba *maksa :D


Selamat mencoba, happy baking!

Baca artikel-artikel saya di Uc News klik di sini :)
View Post

pixabay.com

Bagaimana bisa aku merindukan orang lain sementara di sisi berbeda ada seorang perempuan dengan setia menunggu…

Raina bergeming. Sudah hampir satu jam sejak kejadian tadi, tak sepatah kata pun ingin ia utarakan. Padahal, dengan cemas seorang lelaki menanti dia bicara. Marah, menangis atau kecewa, apapun itu. Tetapi lelaki yang tak lain adalah Bagas rupanya gagal mendapatkan apapun selain suara hembusan napas yang semakin keras.

Bagas melirik istrinya. Ingin minta maaf sekali lagi, tetapi sepertinya percuma. Kalimat maaf itu terlanjur tak berharga saat ini. Raina bahkan tak menangis. Kedua bola matanya hanya menatap kosong ke arah jendela kaca yang membentang di sisi ranjang putra sulung mereka.

Ada banyak luka terlanjur tergores, dan tentu saja bukan hal mudah untuk menyembuhkannya. Baik Raina ataupun Bagas, kali ini memilih diam dan bicara banyak hal dalam hati. Bagas tak mendengar apapun selain jarum jam yang merangkak pelan. Entah sampai kapan keadaan seperti itu akan berakhir.

Bau obat-obatan membius keduanya. Ruangan yang didominasi warna putih, selang infus yang membelalai di tangan putra mereka, dan perasaan yang pasi setelah keterkejutan Bagas saat mengetahui kehamilan Raina barusan. Banyak hal menindih hati lelaki berhidung mancung itu, membuatnya jadi sesak. Diam-diam Bagas menitikkan air mata. Satu hal yang jarang sekali terjadi meskipun dalam keadaan sesulit apapun.

Memalukan melihat keadaan keluarga kecilnya yang berantakan bahkan semburat kesedihan terpancar dari segala sisi membuatnya menyesal telah menemui Sherly. Masa lalu sebenarnya tak pernah benar-benar bisa dibuang jauh, tapi menata hati dan menyimpan semua yang tak perlu serta tak seharusnya menjadi sebuah keharusan. Kehidupan rumah tangga mereka sejatinya menjadi hal paling manis meskipun tak selalu mudah, tapi Bagas bersyukur bisa melalui semuanya bersama Raina. Dan gadis berlesung pipit itu, entahlah. Mungkin dia sedang menyesali kali pertama menerima pinangan Bagas. Lihat saja, lelaki yang berulang kali dia beri maaf, rupanya sering mengulangi kesalahan. Sungguh menyedihkan membayangkan bagaimana Raina menyimpan rapat-rapat kondisinya saat ini sedangkan banyak kejadian menyakitkan dia alami. Sendiri, ya , hanya sendiri. Dan di mana lelaki itu saat dia butuh?

“Rai,” Bagas tak tahan. Lelaki itu sudah menunggu cukup lama demi mendengar satu kata saja dari perempuan dengan hijab berwarna pastel yang sedang duduk di hadapannya.

Bagas tak menangkap keinginan Raina untuk sekadar menjawab dan membalas sapaannya. Raina hanya diam dan diam sepanjang hari di dalam bangsal yang semakin menyesakkan.

“Rai, mas ingin bicara banyak hal. Tapi bagaimana mas bisa memulai kalau kamu hanya diam seperti patung?”

Terdengar cukup keras menghentak telinga. Tapi, Raina hanya menoleh dan menatap Bagas, sinis.

“Rai, mas ingin bicara.” Bagas mulai memelas.

Raina beranjak, mendekati sofa yang terbaring lesu di hadapannya. Bagas sudah menangkap air mata dalam tatapan Raina. Bagas mendongak demi melihat wajah Raina dengan sempurna. Apa yang ingin dia katakan selain kemarahan dan kecewa?

“Ada banyak waktu Raina habiskan hanya demi menunggu mas kembali. Ada banyak hal Raina harapkan, termasuk bagaimana kita bisa melanjutkan semuanya tanpa harus menyakiti siapa pun termasuk hati Raina sendiri.,” Raina menarik napas demi melanjutkan kalimatnya.

Sedangkan Bagas hanya menatap tanpa berkedip. Dia berada di antara luka dan kecewa yang sedang menganga.

“Raina tak suka diperlakukan seperti ini!” setengah berteriak terdengar dari mulut Raina. Sisanya hanya sesengguk serta tangisan. Semakin lama semakin menyayat hati. Raina jatuh, meringkuk di lantai kamar di mana putranya sedang dirawat. Dan Raka, menangkap kejadian itu dengan sempurna.


*****
View Post




Assalamualaikum…

Hujan-hujan begini enaknya makan yang anget-anget, ya. Tapi, kalau lagi hujan, bawaannya juga malas mau mengerjakan sesuatu. Nah, pagi-pagi saya sudah niat banget bikin roti. Pas banget ada Matcha Latte dari Chocolatos juga. Jadilah roti matcha green tea ini.

Kalau teman-teman punya bubuk green tea, boleh banget dimasukin juga supaya rasa green tea-nya lebih nendang, ya! Sayangnya, saya nggak pernah beli bubuk green tea. Lebih sering beli minumannya begini karena memang suka minum juga.



Isiannya bisa diberi apa saja, ya. Saya isi dengan coklat. Resepnya juga nggak jauh beda sih sama sebelumnya. Cuma dimodifikasi sedikit saja dengan jumlah kuning telur dan bubuk matcha latte ini.

Dan, ternyata cuaca dingin kayak gini bikin proofingnya berlangsung sangat salam. Saya mulai proofing dari jam 6 pagi, sampai setengah 9 belum terlalu ngembang. Jadi, proofing ini bukan tergantung 1 jamnya , ya. Tapi sangat tergantung sama suhu ruangan. Kalau cuacanya anget dan panas, roti bakalan cepat sekali ngembang, belum 1 jam juga sudah bisa dibentuk.

Sedangkan kalau hawa dingin sejuk begini, kita sesuaikan saja, kalau sudah terlihat mengembang dua kali lipat, bolehlah segera dibentuk dan diberi isin baru kemudian proses proofing kedua.

Ketika awal ngulen, adonan ini memang lembek, ya. Sangat tidak disarankan menambahkan terigu sampai dia jadi tidak lengket. Jadi, uleni saja terus sampai benar-benar kalis, jika memang setelah ngulen sekitar setengah jam lebih masih lengket banget, boleh tambah terigu itu pun sedikit saja.

Pengalaman, ada teman yang rebake, dan ternyata dari awal ditambahkan terigu banyak sampai akhirnya bantet. Kelembekan ini memang yang pada akhirnya membuat si roti jadi lembut pake banget. Jadi, tidak semua lembek itu nggak baik, ya..he.



Nah, takaran ini sebenarnya sudah pas dan tidak perlu ditambahkan terigu. Kecuali ketika teman-teman mau membentuk, boleh ditepuk sedikit terigu di telapak tangan untuk memudahkan.

Nah, apa sih gunanya mengolesi tangan dengan minyak saat mau proofing pertama? Ini mencegah adonan supaya tidak kering ketika proofing, ya. Dan nanti hasilnya juga tidak akan terlalu lengket.

Bahan:
250gr terigu protein tinggi
2 kuning telur
1sdt ragi instan
40gr gula pasir
1 sachet susu bubuk
2 sachet matcha latte
125ml air hangat
40gr butter atau margarin
Sejumput garam

Cara membuat:

1.      Campur 1 sdm gula pasir bersama 125ml air hangat dan ragi. Aduk rata. Tunggu sampai berbusa. Sambil menunggu, siapkan bahan lainnya.
2.      Campur semua bahan sisa kecuali butter dan garam. Masukkan juga campuran ragi yang sudah berbusa tadi. Uleni sampai kalis atau rata. Masukkan butter dan garam. Uleni sampai kalis elastis.
3.      Olesi tangan dengan sedikit minyak. Bulatkan adonan dan diamkan selama 1 jam atau sampai mengembang 2x lipat. Tutup atasnya dengan plastik wrap atau kain bersih.
4.      Tinju adonan untuk membuang udaranya. Bentuk dan beri isian sesuai selera. Sebelum digunakan, jangan lupa olesi loyang dengan margarin, ya. Tata adonan di loyang dan beri jarak. Diamkan selama 1 jam atau sampai adonan mengembang 2x lipat dan jangan lupa selalu tutup dengan kain bersih saat proofing.
5.      Panaskan oven suhu 180’C selama kurang lebih 10 menit sebelum digunakan. Panggang roti selama 20 menit atau sesuaikan dengan oven masing-masing.
6.      Keluarkan dari oven dan olesi atasnya dengan butter. Sajikan!



Memulai membuat roti itu memang malas segalanya. Saya pribadi sampai bosan karena terlalu sering membuat roti. Jadi, pagi-pagi memang diniatkan sekali supaya nggak keburu terpikir malasnya..hehe. Kalau sudah proses manggang dan ambil gambar, suka dan senang melihat hasilnya. Kalau ada yang rebake dan berhasil, lebih bahagia lagi. Semoga resep-resepnya bermanfaat, ya buat teman-teman. Ketika telah berkeluarga dan memiliki anak, ada rasa puas ketika berhasil membuat suatu hidangan dan disukai orang. Benar begitu? Tapi, usaha kadang nggak cukup sekali. Biarlah saya saja yang tahu berapa kali saya gagal membuat roti, baik karena keras, gosong, nggak mateng dan macam-macam.


Semoga teman-teman yang pengen banget bikin roti bisa berhasil, ya! Happy baking…
View Post




Setelah beberapa bulan jadi member Cookpad, jujur saja kemampuan masak sudah jauh lebih wajar daripada sebelumnya. Ingat, wajar ya, bukannya baik..he. Soalnya dulu benar-benar nggak bisa masak. Selepas dari pesantren, saya langsung menikah dan diboyonglah ke Jakarta. Sedangkan saat di pesantren, saya dan teman-teman memang dilarang memasak karena kegiatan yang terlalu padat. Jadi, khawatir nggak imbang dan akhirnya justru merepotkan.

Dulu, disuruh bikin sayur bening saja panik, lho. Sekarang, sambil merem juga bisa *bisa bobok maksudnya…he. Nah, kebetulan hari ini saya membuat nasi kebuli mejikom dan memakai resepnya mbak Nur Sabatiana dari Cookpad. Sebelumnya saya pernah posting juga nasi kebuli dengan resep berbeda. Nah, kali ini lebih simpel tapi rasanya nggak kalah enak. Bahkan kalau dirasa-rasa sih nggak kalah sama yang beli.

Biar gampang, masaknya pakai ricecooker aja. Biasanya sekali tekan tombol cook, ketika sudah kembali, nasinya diaduk dulu. Jika hasilnya belum matang sempurna, boleh tekan cook lagi sampai nasinya matang sempurna. Dan perlu diingat, setiap tombol kembali, aduk dulu nasinya, ya supaya matangnya merata.

Buat dagingnya, boleh pakai daging sapi atau daging kambing. Pakai ayam juga enak apalagi dicampur sama tulang-tulangnya. Asalkan daging ayamnya dipotong kecil-kecil seperti saat akan membuat sup ayam. Supaya nanti matang sempurna dan gurihnya lebih terasa.

Untuk pelengkap, boleh pakai apa saja. Bahkan sama sambal dan taburan bawang goreng saja sudah oke banget. Tapi, kalau ingin lebih lengkap, boleh tambahkan lalapan seperti timun, kol, acar juga enak serta emping.

Berikut resep simpelnya, ya..

Bahan:
4 gelas takar beras
¼ sampai ½ kg daging sapi atau kambing, potong-potong
4 siung bawang putih
6 siung bawang merah
1sdt kunyit bubuk atau  ruas kunyit
1/2sdt lada bubuk
1sdt ketumbar bubuk
1 batang kayu manis (saya pakai ukuran kecil)
3sdm margarin
4sdm minyak goreng
Secukupnya air seperti memasak nasi biasa
2 buah pekak
 Buah kapulaga
5 butir cengkeh
sdt kayu manis bubuk (saya skip)
1 sachet bumbu kari instan (sy ganti 4sdm bubuk kari)
Secukupnya garam

Cara membuat:
1.      Haluskan duo bawang kemudian tumis menggunakan margarin dan minyak sampai wangi. Masukkan bumbu lainnya dan aduk rata. Tunggu sampai bumbu layu dan tidak langu.
2.      Masukkan daging, aduk sampai berubah warna. Kemudian tambahkan air dan masak dengan api kecil sampai daging empuk.
3.      Cuci beras kemudian masukkan tumisan daging berbumbu ke dalamnya. Tambahkan air secukupnya. Nasi kebuli itu bentuknya agak ambyar, ya. Jadi coba dikira-kira dan dikenali jenis berasnya. Jangan sampai nanti terlalu lembek.
4.      Masak nasi di mejikom atau ricecooker sampai matang. Jika belum matang, tekan tombol cook lagi sambil diaduk dan biarkan selama 30 menitan.
5.      Sajikan nasi kebuli dengan pelengkap seperti telur dadar, emping serta acar.


Rasanya enak. Yang bikin nasi kebuli ini berasa banget aromanya karena ada bunga pekak sama bubuk karinya itu. Bubuk karinya saya pakai merek koepoe-koepoe. Teman-teman bisa cari yang lainnya juga boleh. Saya pakai yang mudah aja, pas ke supermarket sekalian beli waktu itu.


Selamat mencoba dan happy cooking!
View Post





Rinjani terkejut, untuk pertama kalinya dia mendengar suara sesengguk tangis ibu dari telepon. Biasanya, seminggu dua kali, dia memang selalu menghubungi ibunya demi melepas rindu dan bertanya kabar.

Setelah menikah dan berumah tangga, Rinjani jadi jarang pulang ke rumah karena jaraknya yang tidak mudah ditempuh. Karena itulah, Rinjani selalu berusaha menghubungi ibu meski hanya dengan beberapa kalimat pelepas rindu dan bertanya kabar keluarga.

Tapi, kali ini dia sedikit khawatir sebab tak pernah terjadi sebelumnya. Ibu menangis? Kenapa? Ada apa?

Rinjani sangat paham siapa ibunya. Meskipun bukan orang berada, tapi ibu dan bapak selalu membantu anak-anaknya bahkan yang telah berumah tangga. Beliau juga tidak melepaskan begitu saja ketiga putrinya setelah menikah. Bahkan putri sulungnya dibantu membangun rumah tepat di sebelah rumah ibu. Menutup jendela kamar ibu dari hangatnya sinar mentari pagi, yang selalu Rinjani sesalkan hingga kamar ibu menjadi sangat lembab.

“Apa yang tidak untuk anak?” begitu setiap kali bapak dan ibu bilang.

Tapi, detik ini Rinjani mendengar jika ibu menangis sebab dilukai oleh putri sulungnya sendiri. Bukan hanya kaget, bahkan tak menyangka jika obrolan kemarin siang menjadi petaka di dalam keluarga besar mereka.

Sekar, kakak sulung Rinjani sempat mengeluhkan banyak hal termasuk ekonominya yang begitu sulit. Padahal, Rinjani dan suaminya telah membantu dengan dengan berbagi hasil lewat usaha ternak bebek yang saat itu dipegang langsung oleh suami Sekar. Sayangnya, belakangan Rinjani tahu, mereka tak lagi profesional termasuk tidak lagi mengirimkan laporan keuangan mengenai usaha tersebut. Dan yang lebih manyakitkan, Rinjani tahu bahwa sebagian bebek yang tidak bertelur telah dijual dan diatasnamakan milik Rinjani. Bolehkan melakukannya sedangkan Rinjani saja tidak pernah mendengar rencana itu sebelumnya?

Rinjani, mungkin masih menahan rasa geram dan memaafkan. Bisa saja Sekar sangat tidak paham dengan tindakannya selama ini. Tapi, suara serak ibu di seberang telepon cukup menjelaskan lebih banyak termasuk rasa iri dari saudara kandungnya sendiri.

Sebelum kejadian itu, Sekar pernah menanyakan kenapa Rinjani tidak mau menerima baju baru pemberian bapak? Dengan santai Sekar mengatakan bahwa dia tidak berhak mendapatkannya. Rinjani sudah punya suami, seharusnya dia yang memberikan bapak baju baru. Bukan malah bapak yang membelikan baju baru kepada ketiga putrinya.

Tapi, Sekar ternyata menjadikannya masalah besar. Padahal sebelumnya dia pun ikut menolak ketika Rinjani menolak. Ratih, kakak kedua Rinjani yang saat itu menjadi janda, tentu saja dibelikan baju baru oleh bapak dan ibu. Siapa lagi yang akan membelikannya?

Rinjani merasa semua itu adalah hal wajar termasuk ketika ibu membantu Ratih membeli kebutuhan hidupnya.

Sayangnya, Sekar tidak pernah berpikiran demikian. Entah kerasukan setan dari mana hingga dia akhirnya mengungkit semua hal termasuk biaya rumah sakit bapak yang sempat dia bayarkan beberapa tahun silam. Dan satu hal gila juga terjadi saat itu ketika Sekar tiba-tiba mengatakan akan menyerahkan  anak sulungnya kepada mantan suaminya dulu.

Ibu dan bapak yang sejak dulu mengasuh cucu pertamanya dari Sekar tentu saja tidak rela sebab mereka pun sudah paham bahwa bapak kandungnya memang tak pernah benar-benar menafkahi. Dan hingga detik ini, anak sulung Sekar menjadi tanggungan bapak dan ibu termasuk biaya sekolah dan boardingnya.

Ibu, meskipun sangat baik dan selalu diam diperlakukan seperti apa pun oleh Sekar dan suaminya, namun kali ini beliau sudah cukup memberi kesempatan. Sebelum ibu menangis di telepon, Sekar sempat bicara kasar kepada ibu dan bapak di rumahnya bahkan hingga mengangkat sumpah Quran di kepala.

Seperti tak ada bedanya dengan sinetron hidayah, Sekar gila dalam sekejap. Dia tertawa dan menangis seperti orang tak waras. Dan ibu hanya menangis di pojok kamar tidur Rinjani sambil bicara patah-patah kepada putri bungsunya itu.

Andai semua orang tahu, setiap malam ibu memasak nasi lebih hanya karena Sekar dan suaminya selalu makan di sana, mengantarkan setiap kali Sekar butuh, menjaga anak-anaknya tanpa mengeluh, mungkin orang-orang yang selama ini menuduh mereka bertengkar karena jarak rumah yang terlalu dekat akan bungkam. Apa yang tidak diberikan oleh ibu? Bahkan sebagian biaya pembuatan rumahnya dibantu langsung oleh orang tua sangat berbeda dengan kedua saudara Sekar yang mandiri.

Bukan hanya itu, ketika bapak memberikan uang untuk mengganti biaya rumah sakit yang menurut Sekar dulu telah diberikan, nyatanya gadis tiga puluh tahun itu mengambilnya dengan ringan. Tak merasa berat sedikit pun. Padahal, ibu ingat pernah membayar biaya itu sebelumnya mengingat kehidupan Sekar yang amat sulit setelah membiayai sekolah putra sulungnya.

Bukan hanya itu, ibu juga selalu memberikan hasil panennya kepada Sekar karena pengertian ibu dan belas kasihnya. Sayangnya, Sekar masih saja mengeluhkan tidak pernah diberikan apa-apa oleh ibu dan bapak sedangkan kedua putrinya Rinjani dan Ratih selalu diutamakan. Kalimat yang sungguh tidak berdasar.

Ibu, meskipun tak punya banyak uang, tapi selalu membayar setiap kali meminta tolong kepada suami Sekar. Jika menjadi anak, bagi Rinjani membantu orang tua adalah kewajiban. Bukan sebuah hutang.

Sayangnya, persepsi ini berbeda pada setiap orang. Hingga pada akhirnya, Sekar benar-benar nyata pergi dari rumah tanpa pamit dan menjadi pekerja di negeri orang meninggalkan putra sulunganya serta sang bungsu yang masih kecil.

Mengulang kesalahan di masa lalu. Sungguh tak kurang-kurang ibu merawatnya dari lahir yang selalu sakit-sakitan, sampai dewasa dan berumah tangga tak ada habisnya merepotkan. Jika saat ini ibu menganggapnya bukan anak, itu karena kesalahan besar yang sulit sekali dimaafkan.

Jika sayang anak, tak mungkin meninggalkan darah daging sendiri hanya demi rasa benci, iri dan tertekan yang nyatanya dibuat sendiri. Tak mungkin mengulang masa lalu, sebab dulu dia pernah melakukannya ketika masih bersama suami pertama. Kemudian sejak saat itu, ibulah yang merawat putra sulungnya, mengantarnya sekolah, menemani di sekolah yang tak pernah ibu lakukan saat anak-anaknya masih kecil.

Orang-orang bilang, ibu sangat baik melihat cucu pertamanya selalu tantrum dan meminta mainan di sekolah, jika tidak dituruti, jilbab ibu akan ditarik dan digilas di tanah. Membayangkan saja Rinjani tak sanggup. Kemudian pada saatnya, suami Sekar datang ke rumah, menemui bapak dan ibu bersama ibu kandungnya. Sayangnya, bukan demi meminta maaf karena mereka telah lancang. Tapi  untuk menyerahkan uang dalam amplop sebagai ganti biaya karena ibu telah merawat anak pertama Sekar. Tentu saja bapak membantingnya dalam sekali tatapan tajam menghujam kepada menantunya itu.

Coba, bayangkan, orang tua mana yang tak geram ketika diperlakukan seperti itu? Sekar memang sempat berkata kepada Rinjani bahwa hidup tak berpihak padanya karena dia bukan orang kaya. Dia mengeluhkan banyak hal padahal orang lain bisa jadi memimpikan kehidupan yang dia miliki. Sekar tidak paham, Rinjani dan suaminya pun tidaklah mudah mendapatkan kehidupan sekarang. Apakah ada cara instan di dunia ini? Dan apakah orang miskin tak berhak berbakti kepada orang tua jika hanya yang dipikirkan selalu uang?

Sayangnya, tidak ada bahagia bagi orang yang tak pandai bersyukur. Meski tampilan luar terlihat baik-baik saja, namun tak mungkin Allah berpihak padahnya.

Rinjani tertegun mendengar cerita ibu. Dan lebih tertegun saat pulang ke rumah, suami Sekar sudah membawa truk demi memindahkan semua barangnya. Tanpa pamit, tanpa izin. Mungkin ini cara tersopan seorang menantu setelah dibantu sekian banyak oleh mertuanya. Siapa juga yang mengusirnya meski kenyataanya dia menyebarkan kalimat fitnah bahwa dia telah diusir. Rinjani dan keluarganyalah yang paling tahu, bukan orang lain!

Hal terburuk dalam hidup bukan karena ditinggalkan anak, tapi memendam rasa sakit itu akan jauh lebih sulit. Selama berbulan-bulan ibu begitu kurus karena rasa sakit. Ibu bilang, beliau dulu juga pernah bertengkar dengan orang tua, tapi dengan menyesal beliau meminta maaf dan menunjukkan penyesalannya. Jika saat ini ibu belum bisa memaafkan, mungkin ada yang salah dengan cara Sekar dan suaminya meminta maaf.

Sayangnya, mereka berdua tak sempat mengerti betapa besar rasa cinta bapak dan ibu. Sebelum akhirnya bertengkar, bapak telah mencari sebuah toko di pasar dan akan membayar biayanya selama satu tahun untuk dipergunakan bagi putri sulungnya, Sekar. Bapak tahu Sekar suka sekali berdagang. Tapi, Allah berkehendak lain.

Luka ibu telah menganga. Dan rasa sakit itu sulit sekali ditambal.

Ada banyak orang merasa jauh lebih mengerti masalah di antara keluarga Rinjani. Mereka berkata bahwa pertengkaran ibu dan Sekar disebabkan karena rumah mereka yang saling berdekatan, mereka menuduh bapak dan ibu sangat jahat sampai tak bisa memaafkan, mereka menyuruh ibu dengan mudah melupakan sedangkan mereka sendiri sebenarnya tidak pernah paham masalah yang sebenarnya.

Suami sekar, pernah tidak menegur ibu, meskipun saat masih di rumah, dia menumpang kamar mandi ke rumah ibu. Ibu dan bapak tidak marah.

Sekar dan suaminya pernah menuduh ibu tak adil, padahal setiap panen hanya Sekar yang mendapatkan jatah padi dan uang hasil panen.

Orang-orang tak pernah tahu, bagaimana perilaku suami Sekar, dia bahkan tak pernah meminta maaf ke rumah, padahal dia sering datang ke rumah saudara ibu yang lain.

Orang-orang yang merasa sok tahu dengan kehidupan Rinjani, mungkin belum tahu rasanya disakiti oleh putrinya yang telah hidup di dalam rahim dan ditimang sampai bertahun-tahun.

Orang-orang yang menuduh orang tua Rinjani begitu jahat sampai tak bisa memaafkan, mereka belum tentu bisa sebaik ibu dan bapak saat menghadapi masalah yang sama.

Mereka yang sok tahu dan mendengarkan dari satu pihak, tentu bukanlah orang yang berhak ikut campur dan membuat opini sendiri, sebab mereka bukan orang yang tinggal serumah dengan keluarga Rinjani.

Orang-orang tak akan paham sampai mereka tahu, saat ini ibu dan bapak sedang membiayai sekolah dan boarding putra sulung Sekar seorang diri. Tanpa bantuan dari ibu kandung atau bapak kandungnya yang sebenarnya sangat paham soal agama tapi tak pernah benar menjalankannya.

Jika kalian tak bisa membantu meringankan beban seseorang, janganlah mengusik kehidupan mereka dengan bicara yang tak ada dasarnya. Jika kalian tak tahu apa pun apalagi hanya sekadar mendengar dari mulut ke mulut, coba datangi ibu Rinjani, tanyakan berita apa yang sebenarnya terjadi sehingga beliau begitu sulitnya memaafkan?

Jika kalian tahu, sebenarnya kalian juga punya masalah sendiri yang harus diselesaikan. Orang terpuji dan terpandang, pandai agama dan menjalankan, tentu akan malu ikut campur urusan orang dengan akhlak rendahan.

Rinjani paham, siapa pun yang bicara, ibu pastilah jauh lebih mengerti siapa putri-putrinya. Tanpa mereka bilang pun, ibu tahu karena ibulah yang mengalaminya langsung.

Rinjani menutup telepon. Memeluknya lama, bukan karena khawatir kehilangan saudaranya, tapi khawatir sulit menambal luka hati ibunya.

Selamat hari ibu, semoga luka hati ibu disembuhkan oleh Allah. Mereka yang bicara menyakitkan tentang keluarga kita, sebenarnya hanya tahu seujung kuku tentang masalah di dalam keluarga kita. Semoga ibu selalu sabar, sebab Allah tak akan tinggal diam melihat ibu tersakiti.

Sungguh tidak menyenangkan menjadi duri dalam kehidupan orang lain, begitu juga ketika kita sendiri yang tertusuk duri itu. Kisah Rinjani semoga menjadi pembelajaran, bahwa dunia bisa melenakan, ucapan bisa melukai, rasa sakit tak mudah disembuhkan dan maaf tak bisa dibeli dengan sebongkah emas.


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba menulis #Alumni_SekolahPerempuan menyambut hari Ibu 22 Desember 2017.

(Based on true story)
View Post