Monday, June 29, 2020

Tips Tetap Fokus Menulis Naskah dengan Satu Tema

tips fokus menulis naskah satu tema



Seminggu terakhir banyak yang menanyakan gimana caranya supaya kita bisa fokus menulis satu tema saja? Biar nggak tergoda buat gonta ganti tema, padahal naskah pertama baru sepuluh halaman, tiba-tiba pengen ganti tema lagi.

Saya selalu mengatakan bahwa mengganti tema sebelum naskah selesai akan membuat kita tidak akan pernah menyelesaikan naskah. Meski nggak semua orang begini, tapi rata-rata akan kejadian juga. Terutama buat pemula seperti kita.

Sebenarnya apa sih yang membuat kita nggak bisa fokus dengan satu tema? Pasti ada alasannya, kan? Nggak mungkin tiba-tiba pengen ganti. Saya coba rangkum beberapa alasan yang sering disebutkan oleh teman-teman,

Tema pertama terlalu sulit dan butuh banyak referensi


Jadi, sebenarnya kita nggak siap menulis tema tersebut sebab kurang referensi. Pertimbangan ambil tema X kurang matang. Sehingga, kita merasa mati gaya di tengah jalan. Nggak tahu mau menulis apa selanjutnya. Nggak tahu gimana ngelanjutin naskahnya. Karena kurang referensi dan bahan. Masa iya diisi curhatan semua? Hihi.

Tema terlalu sulit juga bikin kita serba susah menyelesaikan naskah. Solusinya? Cobalah cari tema-tema yang kita kuasai. Tema sulit meski kelihatan bagus, tapi mungkin butuh waktu dan referensi yang cukup banyak dan makan waktu untuk mengumpulkannya. So, sambil tetap berlatih, ada baiknya kita kerjakan yang paling mudah dulu saja.

Tergoda dengan tema lain


Saking banyaknya ide, sampai nggak fokus ngerjain naskah satu, dan tergoda buat menulis yang lain. Ah, kayaknya ini lebih menarik, mending ganti aja! Sepertinya tema sebelumnya kurang bagus, saya pengen ubah aja, deh. Lagian baru selesai dua bab.


Karena nggak sabar dan mudah banget tergoda, akhirnya beralih menulis tema lain. Padahal, ujung-ujungnya akan sama aja. Nggak kelar juga. Nangis bombay akhirnya.

Solusinya, coba deh simpan dulu ide baru yang terlihat sangat menarik itu. Kemudian fokus lagi dengan naskah yang sedang diselesaikan. Inilah ujiannya buat penulis terutama pemula. Bisa setia nggak nih sama tema pertama atau mulai beralih dengan tema lain?

Jangan korbankan naskah pertamamu demi tema baru yang kenyataannya tak seindah yang kamu bayangkan...kwkwk. Jujur, hal seperti ini sangat merugikan buat kita. Karena jarang banget yang akhirnya dapat menyelesaikan naskahnya tepat waktu. Gara-gara nggak setia gini!

Kayaknya lebih cocok dijadikan fiksi daripada nonfiksi, so, saya rombak aja, deh!


Nah, ada juga yang mengatakan hal kayak gini. Udah nulis berapa halaman, kemudian diubah lagi naskahnya dari awal. Itulah kenapa, saat menulis kita dianjurkan untuk menulis aja, nggak usah ngedit kebanyakan. Karena akhirnya jadi nggak puas-puas sama naskah yang ditulis.

Akhirnya malah diubah dan bikin naskah nggak pernah beres. Tema pertama kamu sudah sangat menarik karena kamu memutuskan mengambil tema tersebut dengan banyak pertimbangan pastinya. Nggak asal ambil tema. Ini naskah pertama kamu. Maka kamu harus yakin tema itu memang layak diselesaikan dan jadi buku pertama yang berhasil diselesaikan.

Andai di tengah jalan ada jalan cerita yang menurut kamu agak ambyar, ya udahlah biarin dulu kemudian lanjutkan saja sampai selesai. Fokus dan fokuslah dengan tema pertama kamu. Jangan main ubah sana sini seenaknya.

Bagaimana supaya kita bisa fokus dengan satu tema?



Gimana caranya supaya kita bisa fokus dengan satu tema? Karena memang sangat tidak mudah menyelesaikan satu naskah hingga tuntas. Tapi, buat yang niat banget, sudah pasti hal semacam ini bukan halangan berarti.

Terus, bagi pemula, gimana caranya supaya bisa fokus menyelesaikan satu naskah hingga tuntas tanpa mengubah tema lagi?

  • Cobalah lebih santai dan jangan terlalu banyak ambil target


Misal, hari ini kamu harus menulis 10 halaman, mesti isi blog dan blogwalking segala, kemudian harus edit artikel buat dikirim ke media. Kira-kira target sebanyak itu bakalan bikin stres nggak saking banyaknya? Sudah bisa ditebak kayaknya bikin ambyar...kwkwk.

Jadi, ketika kita menulis buku, coba jangan ambil target pekerjaan terlalu banyak. Biar bisa fokus dan disiplin dengan naskah yang sedang ditulis. Target hari ini cukuplah menulis 2 halaman. Besok 2 halaman berikutnya. Selingi dengan membaca buku. Asal rutin, insya Allah naskahmu akan segera selesai. Santai banget, kan?

  • Pengen nulis buku atau sekadar ikut-ikutan teman?


"Kak, aku pengen jadi penulis kayak kakak."

Adek manis, hampir semua orang berkata seperti itu, tapi sedikit saja yang berhasil menyelesaikannya karena sejak awal niatnya aja udah kurang benar. Sekadar ikut-ikutan teman, biar keren, biar gaya, padahal, kalau bekal awalnya seperti itu, kena ombak kecil aja udah oleng itu impian!

Please, pahamilah bahwa menulis itu bukan hal mudah, tapi bagi yang serius, nggak akan ada masalah. Jadi, perbaiki dulu niat dan keinginannya. Saya percaya, bagi yang berusaha pastilah Allah kasih jalan.

Kalau sudah benar niatnya, dia pasti punya komitmen buat menyelesaikan naskahnya. Pokoknya kelarin dulu satu naskah. Masalah hasilnya bagus atau nggak, itu urusan belakangan. Penting dikerjakan dulu sampai tuntas. sebab apa? Sebab ini adalah impian kamu!

  • Ngedit ada waktunya


Yups! Ngedit itu ada waktunya sendiri, kok. Jadi, kamu nggak perlu repot-repot ngedit naskah yang baru setengah jalan itu. Karena nanti bakalan bikin kamu galau dan ujungnya pengen mengubah tema atau jalan cerita, dll.

Ngedit itu sebaiknya dilakukan setelah naskah selesai. Kalau belum selesai, sudah pasti bakalan menyulitkan. Kalau saya biasanya edit naskah benar-benar setelah naskah selesai dan diendapkan beberapa hari. Nggak pernah langsung edit apa yang sudah ditulis kecuali buat postingan di blog. Kalau untuk naskah, karena panjang banget, saya memilih fokus selesaikan naskahnya dulu aja daripada pusing ngedit.

  • Selesaikan satu naskah dalam satu waktu


Sehebat apa pun kamu, sebaiknya jangan mengerjakan dua naskah dalam waktu bersamaan. Meskipun alasannya biar nggak bosan, sebaiknya jangan lakukan itu. Hasilnya nggak akan maksimal dan biasanya nggak ada satu naskah pun yang selesai :D

Bukan saya yang bilang, mentor saya mas Ahmad Rifa’i Rif’an yang mengatakan hal ini. Saya dulu pernah mencoba juga, dan memang akhirnya gagal. Jadi, mending kerjakan satu naskah aja supaya lebih fokus.

Melihat buku-buku majang di Gramedia memang sering bikin kita pengen banget menulis buku. Tapi, kalau cara yang ditempuh keliru, sampai kapan pun nggak bakalan selesai naskah-naskahmu.

Orang lain mungkin bisa fokus kerjakan dua tema dalam satu waktu, kita? Mending cari jalan amannya aja. Nggak usah terlalu rakus dengan ide-ide yang berkeliaran di kepala. Cukup satu saja dulu. Karena ide sebanyak apa pun nggak bakalan berguna kalau nggak pernah kamu selesaikan hingga tuntas. Ide semenarik apa pun nggak bakalan jadi keren kalau sekadar dikerjakan setengahnya saja.

Jadi, ide paling bagus adalah yang bisa kamu tuntaskan naskahnya secara utuh. Semoga postingan ini membantu bagi teman-teman yang berencana menulis buku. Tetap semangat dan percayalah akan ada jalannya bagi yang mau bersungguh-sungguh.

Salam hangat,

Featured image: Photo by Vlada Karpovich on Pexels

 

Monday, June 22, 2020

7 Tips Menjaga Kesehatan Saat Pandemi dan Pilihan Rumah Sakit yang Menyediakan Rapid Test di Jakarta

rumah sakit jakarta yang menyediakan rapid test



Meski hampir semua orang sudah mulai beraktivitas normal seperti biasa, bukan berarti keadaan telah pulih seperti semula, lho. Kangen? Benar, pengen ngemall, traveling, dan pulang kampung bertemu orang tua yang sudah rindu setengah mati. Pengen jalan-jalan santai meski hanya ke tempat terdekat, yang penting bisa menghirup udara segar setelah berbulan-bulan hanya di rumah.

Eits, tapi, memangnya keadaan sudah senormal itu, ya? Ternyata nggak. New normal yang kita jalani sekarang tidak bisa diartikan sesederhana itu. Kita bisa beraktivitas kembali, boleh keluar rumah, tapi tetap harus menjaga keselamatan diri dan orang di sekitar kita. Jadi, mesti pakai masker, tetap rajin cuci tangan, jaga jarak, dan pastinya nggak usah keluar kecuali terpaksa.

Saat pandemi seperti sekarang, stres itu sudah pasti ada. Apalagi di bulan-bulan pertama covid-19 mulai menginfeksi masyarakat di Indonesia. Rasanya nggak percaya virus ini masuk ke negeri kita. Entah sudah berapa banyak korban meninggal akibat covid-19. Semakin hari, jumlah kasus positif covid-19 pun semakin meningkat. Akhirnya kita pun jadi ikutan parno.

Bersin sekali aja takut, kena common cold rasa kena penyakit apaan. Dan kepanikan semacam ini juga sempat terjadi pada saya dan keluarga. Stres dan terlalu banyak pikiran akibat memikirkan kesehatan di masa pandemi tentu tidak baik bagi kesehatan. Bukannya tambah sehat, yang ada imunitas kita jadi terganggu. Jadi, saya pun belajar lebih santai, tapi tetap waspada dan berhati-hati.

Selama pandemi seperti ini, banyak hal berubah dalam hidup kita. Salah satu alasannya karena ingin lebih peduli soal kesehatan. Jajan jadi nggak sembarangan, tidur yang cukup, serta takut begadang, dan banyak hal baru yang berusaha saya ubah.

Di bawah ini, ada 7 tips menjaga kesehatan selama pandemi. Beberapa mungkin sudah kamu terapkan, tapi tidak ada salahnya jika saya menyebutkan kembali sesuai dengan pengalaman pribadi selama lebih dari tiga bulan tetap di rumah dalam kondisi yang Alhamdulillah sangat baik atas izin Allah.


1. Jaga Pola Makan


Makanan yang baik akan membantu meningkatkan imunitas tubuh kita. Sebaliknya, makanan yang nggak layak masuk ke badan justru bisa menyebabkan imunitas menurun dan membuat kita gampang sakit.

Jadi, selama pandemi, bahkan mungkin jauh-jauh sebelum covid-19 menyerang negeri kita, saya sudah belajar menjaga pola makan. Berusaha mengurangi makanan atau minuman mengandung gula, konsumsi lebih banyak sayur dan buah, makan secukupnya, dan perbanyak minum air putih.

Salah satu hal yang saya lakukan hampir setiap hari adalah minum jus buah dan sayur di pagi hari. Memang, agak merepotkan menyiapkan jus setiap pagi. Belum lagi kita harus menyiapkan sarapan secara bersamaan, belum lagi harus nyuci juicer yang faktanya lebih ribet daripada nyuci blender :(

Namun, andai kamu merasakan langsung manfaatnya, kayaknya nggak ada hal paling berharga selain bisa beraktivitas normal dan punya tubuh sehat. Semua yang begitu merepotkan itu terbayarkan sudah saat tubuh kita lebih fit, nggak ringkih, nggak gampang sakit, bahkan alergi pun bisa berkurang atas izin Allah.

Makanya, saya masih tetap rutin menyiapkan jus di pagi hari untuk keluarga kecil kami.

2. Istirahat yang Cukup


Nabi Muhammad saw tidak suka begadang, beliau lebih senang tidur lebih awal dan bangun lebih pagi. Berbeda dengan manusia di zaman sekarang yang hobinya begadang. Termasuk saya juga, sih...hihi.

Jadi, tidur yang baik maksimal sekitar pukul 9 malam nggak bisa digantikan dengan tidur yang lama setelah Shalat Subuh. Begadang semalaman karena nonton drakor, besoknya mengganti waktu istirahat dengan tidur sepanjang siang. No, no, ternyata itu nggak bisa digantikan. Kita tetap harus tidur yang cukup di waktu yang tepat. Jadi, ketika pandemi seperti sekarang, usahakan tidur yang teratur di malam hari, ya. Jangan terlalu lama melek malam karena itu benar-benar nggak bagus buat kesehatan, bahkan buat mood kamu juga, lho!

3. Rajin Puasa Sunah


Puasa yang dianjurkan di dalam agama Islam rupanya bukan sekadar ritual ibadah saja, melainkan dapat juga dilakukan untuk menjaga kesehatan. Yups! Niatkan puasa karena Allah, bonusnya kamu bisa lebih sehat.

Setelah Ramadhan berakhir, kita bisa tetap istikamah mengamalkan ibadah puasa sunah, minimal setiap Senin dan Kamis. Merasa berat dan kesulitan melakukannya? Cobalah dipaksakan. Lambung kita juga butuh istirahat, kan? Jangan melulu disuapin seblak dan bakso pedas terus dong. Kasihan, kan? :D

4. Usahakan Memasak Menu Makanmu Sendiri


Yups! Selama lebih dari tiga bulan kemarin, saya sangat jarang membeli makanan matang di luar. Bisa dihitung mungkin hanya sekali atau dua kali saja. Bukan karena sedang rajin memasak di dapur, tapi karena ingin benar-benar menjaga kesehatan dengan meminimalisir jajan di luar.

Dengan memasak sendiri, kita jadi tahu kualitas dari bahan serta kebersihan dari makanan yang akan disantap oleh keluarga. Lagi pula, saat pandemi seperti ini, orang-orang yang biasa menjual makanan kesulitan masuk ke perumahan kami. Mereka hanya bisa melintas di jalan raya sebab akses masuk ke rumah warga ditutup sejak adanya covid-19 di Indonesia.

Hal ini turut menjadi alasan kenapa saya lebih senang masak sendiri, daripada menunggu yang nggak pasti? *maksudnya nungguin penjual makanan yang nggak lewat-lewat, ya...hihi.

5. Tetap di Rumah dan Kurangi Aktivitas di Luar


Mungkin, banyak orang di luar sana begitu santuy menghadapi pandemi. Mereka bahkan tenang dan bahagia saat bisa keluar rumah tanpa perlengkapan yang baik, misalnya bepergian tanpa menggunakan masker, nggak bawa handsanitizer, dan cuek nggak rajin cuci tangan.

Namun, bagi kita yang mengerti aturan dan paham akan pentingnya menjaga kesehatan, keselamatan diri sendiri, dan orang lain, ada baiknya tetap di rumah dan jangan keluar kecuali memang ada kebutuhan yang mendesak.

Misalnya, orang yang bekerja, mereka tetap harus keluar rumah demi mencari nafkah bagi keluarganya. Tapi, nggak penting banget kalau ada orang atau sekelompok orang yang ramai-ramai keluar rumah demi membeli baju di mall, tas baru, dan sendal baru. Sungguh bikin hati potek seketika.

6. Berpikir Positif dan Kurangi Penyebab Stres


Dampak pandemi menyebar luas ke mana-mana. Bukan hanya mereka yang sejak awal kurang mampu, tapi berdampak pada kalangan menengah ke atas juga. Banyak orang akhirnya kehilangan pekerjaan dan mata pancarian. Banyak orang akhirnya harus kembali ke kampung halaman karena kesulitan mencari pekerjaan.

Belum lagi korban covid-19 terus meningkat. Bikin panik dan nggak bisa berpikir positif. Akhirnya menghayal ke mana-mana, yang nggak perlu pun dipikirkan hingga membuat stres.

Entah bagaimana caranya, kita mesti tetap tenang menghadapi kondisi seperti sekarang. Saya yakin, tidak ada orang yang benar-benar siap. Musibah dan ujian semacam ini datang serba dadakan. Nggak minta persetujuan dari kita. Tapi, bukan berarti keadaan tidak akan membaik. Kita harus yakin pandemi akan berakhir. Kita juga mesti yakin akan tetap baik-baik saja selama kita juga berusaha menjaga diri. Insya Allah.

7. Konsumsi Obat-obatan Seperlunya


Meskipun ingin tetap sehat dan menjaga daya tahan tubuh supaya tidak gampang sakit, bukan berarti kita boleh konsumsi obat-obatan atau vitamin berlebihan, ya. Kita harus tetap bijak menggunakan obat karena selain bisa memberatkan fungsi ginjal, obat-obatan yang dikonsumsi tidak seharusnya justru bisa merugikan kesehatan.

Kalau sedang demam dan kena common cold misalnya, nggak perlu panik dan buru-buru menelan antibiotik. Sebab penyakit yang disebabkan oleh virus nggak akan mempan dengan antbiotik. Malah justru penggunaan antibiotik yang tidak sesuai kebutuhan bisa membuat bakteri jahat jadi kebal.

Jadi, gunakan obat-obatan dengan bijak dan sewajarnya.

Memastikan Kondisi Kesehatan Lewat Rapid Test


Jadi, nggak jauh dari tempat saya tinggal, terdapat banyak kasus positif covid-19. Tepatnya di pasar Perumnas Klender, Jakarta Timur. Ada belasan orang terinfeksi corona. Dan tentu saja itu membuat saya pribadi cukup was-was.

Selain diadakan penyemprotan secara rutin setiap pagi, di sana juga diadakan rapid test terutama bagi para pedagang yang punya kios dan berjualan di pasar. Masalahnya, nggak semua orang melakukan rapid test ini. Sebagian memilih tutup toko, lho.

Andai kita merasa khawatir dengan keselamatan diri sebab mungkin pernah bersinggungan dengan lokasi yang terdapat kasus positif covid-19, ada baiknya kita coba melakukan tes sendiri ke rumah sakit.

Di Jakarta, ada beberapa rumah sakit yang menyediakan rapid test hingga PCR swab test, lho. Rapid test bisa kita temukan di beberapa rumah sakit dengan harga bervariasi. Sebelum mendatangi rumah sakit, ada baiknya kita mencari informasi selengkap mungkin. Mulai dari mencari rumah sakit terdekat, harga rapid test, hingga mencari waktu yang sesuai.

Di mana kita bisa mencari tahu informasi mengenai covid test JakartaKita bisa dengan mudah menemukannya di Halodoc.com. Halodoc merupakan aplikasi kesehatan yang memberikan solusi kesehatan lengkap bagi masyarakat. Berisi fitur-fitur yang membantu penggunanya memperoleh layanan medis di mana saja dan kapan saja.

Bukan hanya bisa berkonsultasi dengan para dokter, di Halodoc kita juga bisa memesan obat tanpa harus keluar rumah. Dalam hal ini, Halodoc bekerja sama dengan 1000 apotek di seluruh Indonesia. Luar biasa sekali ya pelayanan dari Halodoc ini?

Di saat pandemi seperti sekarang, Halodoc bisa membantumu memberikan informasi mengenai rumah sakit yang menyediakan rapid test hingga PCR swab test di Jakarta. Kita bisa membuat janji langsung untuk melakukan rapid test lewat Halodoc, lho.

Menjaga kesehatan selama masa pandemi bisa kita lakukan dengan 7 tips mudah di atas. Jika perlu, kita bisa melakukan rapid test hingga PCR swab test di beberapa rumah sakit di Jakarta. Semoga saya dan kamu selalu dalam keadaan sehat, ya. Tetap berpikir positif dan banyak-banyaklah bersyukur :)

Salam hangat,

Featured image: Photo by Gustavo Fring on Pexels

 

Thursday, June 18, 2020

Kembali Beraktivitas Saat ‘New Normal’, Perlukah Tunda Masuk Sekolah?

Perlukah tunda masuk sekolah saat pandemi?



Alhamdulillah, beberapa hari terakhir sepertinya kita mulai bisa beraktivitas seperti biasa meski tetap harus waspada dan hati-hati. Setelah tiga bulan lebih nggak pernah pergi jauh sambil berkendara, kemarin akhirnya memberanikan diri pergi sebentar baeng suami. Bukan ngemall, bukan ke pasar juga, apalagi traveling naik kapal pesiar...kwkwk, tapi beli sapu yang udah patah, tapi nggak bisa nyari gantinya karena tukang sapu keliling juga kena dampak corona sampai nggak bisa lewat depan rumah :(

Pas keluar rumah, rasanya biasa aja ternyata. Meskipun sudah berbulan-bulan hanya di rumah aja, keluar rumah pun nggak jadi hal istimewa. Apalagi di masa pandemi yang belum berakhir sepenuhnya. Malah serba ribet rasanya.

Di Jakarta, sudah mulai masa transisi PSBB. Orang-orang bahkan sudah biasa aja sejak Ramadhan kemarin, bisa jadi sebelumnya juga. Jadi, memang nggak semua orang tetap di rumah kecuali ada keperluan mendesak, sebagian memang tampak sangat santuy dengan covid-19 ini.

Sampai sekarang, masih ada juga, kok orang yang nggak pakai masker saat keluar rumah. Dan ya, memang susah ngatur orang yang nggak pengen diatur kali, ya? Hihi. Ya sudahlah, mending kita jaga diri sendiri, keluarga, dan orang terdekat aja. Orang lain mungkin punya pertimbangan sendiri kenapa bisa sesantai itu di masa pandemi seperti sekarang.

Pandemi Belum Berakhir, Bijakkah Anak-anak Masuk Sekolah Lebih Dini?


Tahun ini, rencananya si bungsu akan masuk TK A. Segala persiapan sudah dilakukan termasuk sudah mendaftarkan diri di salah satu TK Islam. Daftarnya sebelum pandemi, jadi belum kebayang kalau akan terjadi hal seperti sekarang. Di mana hampir semua orang tua akan memilih supaya anaknya ditunda jangan masuk sekolah dulu.

Tapi, gimana dengan anak-anak yang sudah mendaftarkan diri? Nggak sekadar daftar, sudah bayar juga. Atau anak-anak yang sudah waktunya masuk SD kelas 1? Pasti nggak mudah memutuskan.

Saya termasuk salah satu orang tua yang ikut serta menandatangai petisi tunda masuk sekolah bersama mba Watiek Ideo. Alasannya sederhana, karena keselamatan anak-anak jauh lebih penting daripada apa pun.

Mereka memang punya hak belajar, tapi belajar nggak mesti di sekolah. Peran orang tua selama di rumah sangat penting dalam hal ini. Rasanya potek hati saya ketika mendengar ada sekolah yang memutuskan tetap masuk meskipun berjanji bertanggung jawab atas keselamatan siswa sisiwinya, tapi soal nyawa, apa iya bisa dikembalikan dengan mudah?

Barang hilang bisa dicari dan diganti, nyawa hilang mau dicari ke mana?

Kebanyakan dari Kita Tidak Terbiasa Hidup Bersih


Iya, memang itulah faktanya. Negara kita, masyarakat kita itu nggak terlalu disiplin soal kebersihan. Masih menyepelekan saat anak sakit batuk dan pilek, dibiarkan masuk sekolah tanpa masker, bahkan beberapa orang tua nggak paham kalau anaknya bisa menularkan penyakit pada temannya dalam kasus sakit selain batuk dan pilek. Misalnya cacar air, flu singapura, dll.

Saya mengedukasi anak-anak untuk menjaga kebersihan, kalau sakit selalu mengusahakan pakai masker meski itu nggak nyaman buat mereka, tapi itu baik buat teman-temannya. Jangan sampai batuk pilek itu ping pong di kelas. Hingga mengganggu waktu belajar karena nggak nyaman banget ketika kena common cold.

Akan menjadi percuma saat yang peduli hanya sebagian orang saja. Sedangkan yang lain bebas bersin dan buang ingus sembarangan, apalagi kelasnya pakai AC. Sudah jadi kebiasaan saat anak masuk sekolah, dia selalu kena batuk pilek. Sudah jelas tertular dari teman-temannya secara bergantian.

Dulu, anak saya juga pernah tertular flu singapur dari teman bermainnya. Ternyata orang tuanya nggak paham kalau flu singapur menular dengan mudah. Eh, anak ini malah makan bareng dengan anak saya :(

Belum lagi ada anak yang memaksa masuk sekolah padahal baru terkena cacar air. Hal-hal kayak gini bikin saya sebagai orang tua selalu was-was, jangan sampai sekolah nggak bijak ambil keputusan saat pandemi. Sebab corona nggak sesederhana batuk pilek. Menular dengan mudah, sembuhnya nggak semudah yang dibayangkan.

Pihak Sekolah Tidak Boleh Memaksa Orang Tua


Sudah jelas kemarin, ya? Anak-anak usia TK hingga SD akan masuk sekitar bulan November. Itu pun kalau keadaan memang benar-benar aman. Tapi, ada sekolah yang berencana tetap masuk di bulan Agustus. Buat saya ini horor banget.

Pihak sekolah sejatinya tidak boleh memaksa orang tua menyekolahkan anak-anaknya apalagi jika dilakukan lebih awal dari anjuran semestinya. Pihak sekolah mesti mencari solusi terbaik, gimana kegiatan belajar buat anak usia dini tetap berjalan meski tidak bertatap muka. Gimana solusinya buat orang tua dan murid yang nggak mau masuk karena alasan keselamatan?

Saya sempat ingin cancel memasukkan si bungsu ke TK A. Tapi, entah bagaimana kebijakan dari sekolahnya untuk tahun ajaran baru nanti. Yang jelas, saya nggak mungkin megantar dia sekolah langsung dan lagi, saya lebih memilih mencegah daripada mengobati. Sekali lagi, ini corona bukan common cold, ya bu :)

Edukasi Soal Kebersihan Nggak Bisa Dilakukan dengan Instan


Ini soal kebiasaan. Ngajarin anak disiplin menjaga kebersihan nggak bisa semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi buat anak TK dan SD. Butuh waktu nggak sebentar, kalau semua serba dadakan, pastinya akan ambyar tanpa kendali. Itulah yang saya takutkan.

Jangankan mereka, kita saja yang sudah dewasa akan kesulitan jika tidak terbiasa sejak awal. Sejak ada corona, kita jadi rajin cuci tangan, sebelumnya? Cuma kita yang tahu :D

Jadi, kalau ngajarin disiplin cuci tangan, jangan pegang-pegang sembarangan, tetap pakai masker dan nggak boleh sembarangan pegang wajah hanya beberapa minggu sebelum masuk sekolah, kira-kira akan efektif atau nggak? Jawabannya, bisa iya pada sebagian anak, bisa juga nggak bagi sebagian yang lain.

So, memang mengajarkan hal seperti ini jangan nunggu pandemi. Jauh-jauh hari sebaiknya kita sudah belajar lebih disiplin. Sekolah ngajarinnya bagus, tapi belum tentu kita di rumah sebaik itu diajarkan, maka butuh waktu lumayan buat adaptasi. Dan saya pikir nggak bijak dilakukan saat pandemi. Karena nyawa bukan bahan coba-coba.

Saya berharap, pihak sekolah benar-benar bijak ambil keputusan soal ini. Jangan buru-buru masuk sekolah, sebab angka penularan corona di Indonesia masih terbilang cukup tinggi. Orang tua di rumah pun bisa diajak kerjasama supaya kegiatan belajar tetap berjalan meskipun nggak akan semaksimal saat masuk sekolah.

Saya yakin, tidak semua orang setuju dengan pendapat ini. Semua orang tua punya pertimbangan masing-masing, hanya saja saya lebih senang menunda masuk sekolah saat pandemi sebab new normal bukan berarti kita sudah aman tanpa corona, lho. Dan perlu diulangi, corona nggak sesederhana common cold.

Angka kematian pada anak-anak disebabkan corona juga cukup tinggi di Indonesia. Jadi, sangat lucu kalau pihak sekolah lebih mengkhawatirkan keselamatan guru-gurunya yang katanya sudah berusia di atas 40 tahun dan meremehkan keselamatan anak-anak. Keduanya sama-sama mesti dilindungi dan punya hak untuk tetap sehat. Jadi, alangkah lebih baiknya jika sekolah ditunda dulu. Di beberapa negara yang sudah sangat disiplin soal kebersihan masih saja terkena corona dan akhirnya menutup sekolah kembali, bagaimana dengan negara kita?

Salam hangat,

Featured image: Photo by August de Richelieu on Pexels

 

Monday, June 15, 2020

Resep Ogura Pandan, Super Soft & Fluffy Cake!

Resep Ogura Pandan super soft



Selama pandemi hampir semua orang jadi rajin nge-baking. Ngaku, deh! Bisa jadi kamu adalah salah satunya. Yups! Rasanya happy bisa membuat kue hampir setiap hari, apalagi kalau keluarga makannya lahap dan doyan. Tapi, memang bakalan banyak banget waktu habis di dapur. Mau gimana lagi, mungkin inilah saatnya kita bisa maksimal di rumah dengan melakukan banyak hal positif. Nggak repot keluar melulu, kan?

Dan lagi, meski nggak menyenangkan sebab pandemi berdampak pada banyak hal, tapi jika mau ambil sisi positifnya, waktu kayak sekarang itu anugerah banget. Kapan lagi bisa berlama-lama dengan anak-anak yang selalu di rumah sepanjang hari hingga beberapa bulan lamanya? Nggak bisa mudik memang menyedihkan, tapi sebenarnya bikin kita lebih nyaman menghabiskan Ramadhan dengan khusyu tanpa riweh dengan persiapan mudik. Kamu yang biasa mudik pasti tahu seberapa rempongnya, kan? Apalagi kalau punya balita.

Kalau mau mengeluh, kenapa harus ada corona, mungkin mau sampai kapan pun sifat manusia memang seperti itu. Tanpa corona sekalipun, ada aja yang dikeluhkan. Nggak habis-habis itu ngeluh sampai orang di luar sana udah sampai bulan, kita masih ngeluhin hal yang sama aja :(

Ngomong-ngomong soal nge-baking, kemarin saya sempat membuat Ogura Pandan, lho. Soal bolu-boluan kayak gini sebenarnya saya agak kurang percaya diri bikinnya, tapi karena benar-benar pengen makan bolu lembut, saya coba juga resep ini.

Resep asli ogura ini memakai tiga rasa. Cokelat, vanila, dan moka. Tapi, berhubung saya nggak pernah keluar rumah kecuali ke depan, jadi nggak ada bahan-bahan seberagam itu. Akhirnya pakai bahan yang ada aja. Cuma pakai vanila sama pandan. Pengaruhnya di beda rasanya aja nanti. Lembutnya tetap dapat asal prosesnya dilakukan dengan benar, ya.

Resep ini saya dapatkan dari resep-resep terbaiknya ci Tintin Rayner. Yups! Beliau seorang penulis buku resep juga, resep-resepnya benar-benar menakjubkan, sih. Saya juga punya buku beliau. Jika melihat hasilnya, kayaknya nggak percaya kalau semua itu dibuat dari hasil coba-coba atau belajar otodidak. Kelihatan sempurna banget meski kesempurnaan itu hanya milik Allah, ya :)

Apa bedanya Ogura dengan bolu lainnya? Sama-sama bolu panggang, tapi ogura ini dipanggang dengan sistem Au Bain Marie. Kamu tahu nggak, nih maksudnya? Jangan-jangan saya doang yang nggak paham...kwkwk.

Jadi, sistem Au Bain Marie ini merupakan proses pemanggangan dengan mengalasi loyang utama dengan loyang lain yang telah diisi air setinggi 1 sentimeter. Dengan cara ini, bagian bawahnya nggak gosong gitu dan cake ini jadi super lembut. Atasnya keemasan, tapi bagian bawahnya kayak dikukus.


Daripada berlama-lama, yuk ah cobain resepnya. BTW, saya tulis resep aslinya, ya. Untuk modifikasi dari saya hanya berbeda di pembagian adonan menjadi dua dengan rasa vanila dan pandan. Selebihnya semua sama :)

Bahan A


5 butir kuning telur

1 butir telur utuh

80 gram tepung terigu protein rendah seperti Kunci Biru

80 cc susu (saya pakai santan instan)

60 cc minyak goreng

Bahan B


5 butir putih telur

½ sdt air jeruk nipis

95 gram gula pasir

Tambahan: pasta vanila, moka, dan cokelat (saya pakai pandan dan vanila)

Cara membuat:


  • Aduk bahan A dengan wisk sampai rata dan tidak bergerindil.

  • Kocok dengan mixer kecepatan tinggi bahan B hingga soft peak mengembang kaku.

  • Masukkan bahan B ke dalam bahan A secara bertahap. Bisa 3x dengan spatula. Aduk lipat dan nggak boleh ngaduk pakai otot. Jangan juga diaduk  kelamaan atau sampai over mix.

  • Bagi adonan menjadi tiga dan masing-masing bagian tambahkan pasta sebanyak 1 sdt.

  • Tuang adonan selang seling ke dalam loyang yang telah dialasi kertas roti. Ukuran loyang yang dipakai dalam resep ini yakni 20x20.

  • Panaskan oven selama 10 menit sebelum memanggang. Panggang adonan Ogura dengan suhu 160-170’C selama kurang lebih 50 menit atau sesuai oven masing-masing.

  • Jangan lupa panggang dengan sistem Au Bain Marie, ya. Setelah matang, angkat dan dinginkan.

Resep ogura pandan

Resep ogura pandan



Voila!
Ogura pandannya sudah siap disantap. Sekali bikin, ludes dalam beberapa menit saja dong :D

Bolu ini sebenarnya lumayan lebih sehat karena nggak pakai pengembang dan bahan sejenis. Jadi, misal bikin sering-sering juga nggak masalah asal nggak sedang diet, ya. Lumayan banget ngobatin rasa kangen makan bolu. Awalnya pengen pergi dan beli di toko kue langganan, tapi kabarnya di sana menjelang lebaran ramai banget*meski pandemi sekalipun. Maju mundur buat pergi dan akhirnya ngeri sendiri...kwkwk. Akhirnya bikin ajalah daripada deg-degan mulu setiap mau keluar rumah.

Di luar sana memang banyak orang sudah jalan-jalan santai bahkan sebelum transisi PSBB seperti sekarang. Tapi, saya termasuk salah satu yang patuh banget nggak pergi-pergi kecuali jalan kaki ke supermarket depan atau belanja sayuran dekat rumah. So, nggak heran kalau selama PSBB di Jakarta akhirnya banyak camilan dibikin di rumah demi ngobatin rasa kangen saya karena nggak bisa beli di luar.

Kalau kamu, apa kue terenak yang pernah dibuat selama pandemi ini?

Salam hangat,

 

Thursday, June 11, 2020

Pengalaman Saat Anak Terbentur Hingga Memar dan Lebam

Pengalaman saat anak terbentur hingga memar



Tepatnya Selasa malam usai makan malam, kami masih belum beranjak dari meja makan dan masih ngobrol santai. Dari awal sudah gemas melihat tingkah laku si bungsu yang melangkah santuy di atas kursi, pindah ke kursi satunya. Sampai ditegur juga sama ayahnya. Akhirnya dia turun dari kursi, tapi sambil melompat.

Sayangnya, pendaratannya kurang bagus. Bukannya melompat dan landing dengan posisi jongkok atau berdiri, dia malah sujud...Hiks. habislah itu kening sampai saya lihat melengkung ke dalam. Saking sakitnya, dia sampai menggenggam jari-jari tangannya dan mengerang kesakitan.

Gimana reaksi saya? Kaget, panik, dan kebayang macam-macam, nih. Sebab ada pengalaman kurang mengenakkan dari keluarga dekat, kejadian terbentur kursi pada kepala bagian belakangnya, reaksinya sampai muntah-muntah dan harus operasi. Jangan sampai itu terjadi pada anak-anak kita, ya. Naudzubillah :(

Hal Pertama yang Saya Lakukan Saat Anak Terbentur


Setelah beberapa lama, bagian keningnya yang melengkung ke dalam mulai bengkak dan membiru. Saya langsung ambil es batu kemudian saya bungkus dengan kain. Es batu itu saya gunakan untuk kompres supaya bekas benturan nggak semakin membengkak dan supaya berkurang rasa sakitnya.

Si bungsu ini termasuk tahan sakit, ngelopekin luka sampai berdarah aja dia santuy, jadi ketika dia mengerang kesakitan sampai merem-merem dan menggenggam jemari, saya yakin itu sakit banget. Sampai-sampai saya tanyakan, apa masih bisa lihat Bunda? Apa mau muntah? Ya Allah, takut banget kenapa-napa :(

Bagian kepala ini sangat rawan dan memang mesti kita jaga saat mereka beraktivitas. Sayangnya, meski udah dijagain di dekat kita, ada saja kejadian nggak mengenakkan seperti ini. Dan buat saya, ini horor banget.

Panik Boleh, Gegabah Jangan



Hampir semua ibu panik ketika melihat anaknya sakit atau terluka. Dan buat saya itu sangat wajar, kok. Saya juga begitu. Ketika suami saya santai dan tenang, saya sudah mewek duluan.

Sejak menjadi seorang ibu, banyak pelajaran saya dapatkan. Menjadi ibu dari anak yang langganan kejang demam sejak usia 2 tahun sampai 6 tahun, pernah si bungsu matanya kena pasir hingga tidak bisa melihat selama hampir 2 minggu dengan perjuangan pengobatan ke sana sini yang luar biasa menguras air mata, belum lagi dia demam tanpa sebab jelas selama hampir sebulan. Jadi ibu serumit ini ternyata.

Dan nggak mungkin saya katakan bahwa saya tegar melaluinya. Saya mewek hampir di setiap kejadian. Saya gemetar setiap anak kejang apalagi sering dalam kondisi sendirian tanpa suami. Tapi yang paling saya syukuri, setidaknya saya mengerti apa yang mesti dilakukan sebagai pertolongan pertama.

Saya sangat berharap supaya banyak ibu di luar sana yang peduli masalah kesehatan anak. Saya tahu, kondisi anak-anak lain di luar sana bisa jadi jauh lebih buruk, tapi bukan berarti kita boleh menyerahkan sepenuhnya urusan semacam ini kepada tenaga medis. Bukan sok pintar, tapi setidaknya kita tahu apa yang mesti dilakukan untuk pertolongan pertama dan tahu kapan mesti ke dokter. Jangan terlalu cepat sehingga tak berguna, jangan pula terlambat sehingga meninggalkan penyesalan.

Nggak mudah tetap di rumah saat anak kesakitan, tapi tidak setiap anak sakit butuh pergi ke dokter. Benar, kan? Ada saat mereka masih bisa kita rawat di rumah. Dan jangan pikir rumah sakit sebagai tempat aman, ya. Justru di sanalah risiko penularan penyakit lebih tinggi terjadi. Makannya, kalau nggak perlu banget, saya jarang ke dokter.

Ah, Mbak sombong banget, nih! Sok pinter! Kan dokter udah sekolah, udah punya tugas sendiri. Masa kita mesti belajar juga soal kesehatan kayak gini?

Banyak orang yang merasa saya begitu. Bahkan dulu suami saya sendiri...kwkwk. Karena sering ngeyel nggak mau anak dirawat saat kejang demam (kondisinya sudah sadar dan tidak demam lagi), nggak mau minumin antibiotik seperti yang disarankan dokter (padahal hanya batpil), dan banyak penolakan lain yang saya lakukan, padahal saya bukan tenaga kesehatan. Sok pinter banget, Bun?

Dan tahu nggak? Ngajakin suami buat belajar RUM (Rational use of medicine) itu nggak gampang. Butuh waktu bertahun-tahun untuk mengedukasinya sampai akhirnya sekarang dialah yang lebih santai daripada saya. Ah, ngapain ke dokter, kan nggak kenapa-napa cuma pilek :D

Sayanya butuh konsultasi karena anak muntah terus misal, tapi memang masih minum banyak dan akhirnya memang semua baik-baik saja.

Hal-hal kayak gini sudah saya lalui ketika awal-awal menjadi seorang ibu. Entah gimana pengalaman ibu-ibu lain di luar sana, apakah seheboh yang saya alami atau nggak? Hihi. Setidaknya saya belajar bahwa jadi orang tua juga perlu belajar soal kesehatan terutama menyangkut kondisi anak-anak. Alasannya karena tidak setiap mereka sakit butuh ke dokter dan minum obat. Alasan lainnya karena tidak semua dokter bisa RUM sama pasiennya. Cukup sederhana, ya?

Tanda Gawat Darurat Saat Anak Terbentur


Saya ingat betul, hal yang mesti kita observasi setelah anak terbentur adalah melihat kondisinya apakah sadar dan baik-baik saja? Muntahkah setelah terbentur? Paling ingat soal muntah ini. Makanya di awal saya katakan, jangan sampai dia muntah karena artinya ada sesuatu yang nggak beres :(

Alhamdulillah, nggak lama setelah menangis dia mulai tenang. Sempat saya minumkan Sanmol sirup dan mengajaknya tidur. Sayangnya, dia masih main lego di kamar kemudian tidur pulas sampai pagi.

Di sini saya coba jelaskan tanda gawat darurat setelah kepala terbentur dirangkum dari website milis sehat,

Segera ke dokter bila,


  • Benturan terjadi cukup keras misal kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari tempat tinggi.

  • Anak mulai kehilangan kesadaran.

  • Anak terlihat lemas, kurang beraktivitas seperti biasanya.

  • Muntah terjadi hingga beberapa kali.


Ciri-ciri cedera kepala berat,



  • Anak mulai kehilangan kesadaran lebih dari 30 menit.

  • Anak tidak merespon panggilan atau mengantuk.

  • Pupil matanya nggak simetris.

  • Lemah pada tangan atau tungkai.

  • Terdapat benda asing mengenai kepala atau menancap di kepala.

  • Anak mengalami kejang (terutama di beberapa bagian saja).


Jika terjadi tanda-tanda gawat darurat seperti disebutkan di atas, kita harus segera pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.

Ciri-ciri cedera kepala ringan,


  • Muntah terjadi minimal satu kali.

  • Masih sadar penuh dan dapat berikteraksi seperti biasa.

  • Terdapat memar.

  • Semua masih dalam batas normal.


Jika terjadi cedera kepala ringan, cukup kompres memarnya dengan es dan bersihkan luka jika ada luka. Berikan paracetamol untuk meringankan sakit kepala. Kita harus melakukan observasi di rumah dan perhatikan tanda gawat darurat lain yang bisa jadi muncul setelahnya, misalnya terjadi penurunan kesadaran, anak mengantuk secara terus menerus, muntah beberapa kali bahkan mungkin tidak berhenti, sakit kepala terus menerus, kejang, terjadi perdarahan pada hidung dan telinga, dan perilaku yang muncul tidak seperti biasanya.

Jika terjadi hal-hal seperti saya sebutkan di atas, segeralah ke dokter untuk meminta pertolongan.

Di website milis sehat disebutkan efek jangka panjang dari cedera kepala berat yakni mengalami gangguan ingatan. Saya teringat dengan kecelakaan yang terjadi kepada Bapak beberapa tahun yang lalu. Saat beliau mengendarai motor dan ditabrak oleh bocah ugal-ugalan dan menyebabkan Bapak terbentur batu dan pingsan seketika itu :(

Saat dibawa ke rumah sakit, Bapak sadar dan langsung muntah-muntah. Sakit kepala terus menerus dalam jangka waktu lumayan lama. Ini menunjukkan cedera kepala berat dan sampai sekarang, Bapak mudah sekali lupa orangnya. Semoga nggak terjadi hal serupa ya, Rabb. Naudzubillah.

Punya anak kecil memang rentan mengalami hal semacam ini. Sebab mereka masih suka mencoba hal-hal baru, buat mereka seru, bagi emaknya horor maksimal. Saat si bungsu terbentur, saya nggak bisa nahan nangis. Niatnya pengen nenangin, malah mewek.

Sebenarnya, ketimbang kakaknya, dia jauh lebih tenang orangnya. Nggak grasak grusuk gitu. Jarang terjadi hal aneh pada keseharian. Tapi, saat seperti ini terjadi, tetap saja panik banget lihatnya. Belum lagi ingat rumah sakit nggak senyaman dulu saat sebelum ada wabah corona.

Esoknya tahu nggak apa yang terjadi? Pagi-pagi bangun tidur tiba-tiba dia udah nangkring dong di atas motor trail ayahnya yang tingginya nggak ketulungan, tanpa suara, tanpa bisik-bisik...kwkwk. Emaknya auto teriak. Soalnya saya yang udah dewasa aja naik motor itu hampir encok karena terlalu tinggi, eh, tiba-tiba anak 5 tahun udah di atasnya aja :D

Semoga kita bisa mempelajari tanda-tanda gawat darurat di atas, ya. Karena observasi di rumah itu penting, nggak perlu buru-buru ke dokter. Meski awalnya menakutkan dan bikin panik, tapi kalau kondisinya masih baik-baik aja, insya Allah nggak masalah tetap di rumah sambil terus observasi.

Semoga ulasan di atas bermanfaat. Sampai sekarang saya masih bergabung di milis sehat dan bersyukur banget bisa ikut belajar pada dokter-dokter yang baik hati. Alhamdulillah.

Salam hangat,

Featured image: Photo by Pixabay on Pexels

 

Monday, June 8, 2020

Tingkatkan Kualitas Makanan Pakai Bahan Tambahan Pangan

Tingkatkan kualitas makanan pakai bahan tambahan pangan



Gimana kabar kalian setelah beberapa bulan stay at home selama pandemi covid-19? Banyak hal positif yang bisa kita pelajari, meskipun nggak bisa dipungkiri, hampir semua orang yang menahan diri untuk tetap di rumah mulai merasa bosan dan jenuh. Eh, tapi karena kebanyakan di rumah, emak-emak jadi rajin belajar masak sendiri, lho. Hayo lho, ngaku aja...hihi.

Pandemi covid-19 memaksa kita untuk lebih kreatif dan mandiri tentunya. Walaupun bisa aja kita memesan makanan di luar, tapi demi menjaga kebersihan dan memastikan semua anggota keluarga tetap aman, kita pun memilih turun langsung ke dapur dan membuat menu sendiri.

Salah satu hal yang sering saya coba di dapur akhir-akhir ini adalah bakiing! Yups! Anak-anak malah doyan banget ngemil. Nggak bisa diam sebentar, bawaan pengen minta ini dan itu. Tapi, kali ini saya nggak ingin share resep, kok. Saya mau mengenalkan bahan tambahan pangan atau BTP yang biasa kita gunakan di dapur.

Dalam industri pangan, penggunaan bahan tambahan pangan bukanlah hal yang asing. Produk bahan pangan ini digunakan sebagai bahan pangan utama, berperan sebagai tambahan yang akan memengaruhi tekstur, rasa, warna, dan sifat dari makanan pokok tersebut.

Definisi lebih lengkap dari bahan tambahan pangan berdasarkan peraturan dari Menkes RI No.722/Menkes/Per/IX/88 adalah bahan makanan yang berperan sebagai tambahan untuk jenis makanan dasar yang memiliki sedikit atau bahkan tidak ada kandungan gizi satu pun.

Sedangkan tujuan dari bahan makanan ini adalah untuk membantu mengubah sifat atau karakter dari makanan pokok tersebut. Perubahan karakter tersebut meliputi, pengawet, penyedap rasa, anti penggumpalan, pengemulsi, dan pewarna. Untuk tahu lebih lanjut tentang jenis-jenis BTP yang aman untuk digunakan, simak informasi berikut, ya.

Pewarna Makanan



Pewarna makanan merupakan salah satu dari bahan tambahan pangan yang kerap digunakan dalam industri pangan. Produk tambahan pangan ini digunakan untuk memberikan ataupun memperbaiki warna dari suatu bahan pangan. Pewarna makanan terbagi menjadi dua jenis, yaitu pewarna makanan alami dan pewarna makanan sintetis.

Pewarna makanan alami didapat dari ekstraksi buah-buahan dan sayuran. Beberapa jenis bahan makanan yang kerap digunakan sebagai pewarna makanan alami adalah wortel, tomat, kunyit, gula aren, dan bayam.

Sedangkan pewarna makanan sintetis dibuat dari senyawa bahan-bahan kimia dengan hasil warna yang lebih kuat dan mencolok jika dibandingkan dengan pewarna makanan alami. Walaupun jika dilihat dari segi kesehatan, pewarna makanan alami memiliki nutrisi yang sedikit lebih banyak dan aman untuk dikonsumsi dalam jumlah yang banyak dibandingkan pewarna makanan sintetis.

Penyedap Makanan



Untuk membuat rasa makanan menjadi lebih sedap, maka sedikit taburan dari penyedap makanan sangatlah dibutuhkan. Perisa makanan memiliki peranan yang sangat penting dalam meningkatkan citarasa asli dari makanan tersebut.

Di dalam beberapa jenis makanan, fungsi dari penyedap makanan adalah menambahkan rasa lain pada makanan. Sedangkan dari segi definisi, penyedap makanan merupakan bahan tambahan pangan yang berbentuk preparat konsentrat tanpa adanya ajudan perisa.

Penyedap  makanan sendiri terbagi menjadi 2 jenis, yaitu penyedap rasa alami dan penyedap rasa buatan. Garam, gula, dan merica merupakan beberapa contoh jenis penyedap rasa alami yang dapat kita gunakan untuk menambah citarasa makanan.

Sedangkan untuk penyedap rasa buatan, produk dari Wiberg Berger & Co menawarkan berbagai produk bumbu penyedap organik dengan kualitas yang terbaik. Salah satunya adalah bumbu tunggal atau single spice yang diproses dari rempah-rempah berbentuk utuh yang diproses dengan berbagai macam cara untuk memudahkan penggunaan.

Beberapa produk bumbu penyedap makanan yang dapat kita gunakan antara lain bumbu Garlic Powder, Coriander Whole, Paprika Delicacy Rio, dan lain sebagainya.

Pengembang




Bagi kamu yang menggeluti bidang bakery tentunya akan menggunakan produk pengembang dari waktu ke waktu. Dikenal juga dengan sebutan rising agent, produk bahan pangan tambahan ini merupakan senyawa kimia tunggal yang akan melepaskan gas saat dicampurkan ke dalam adonan dan disimpan di dalam suhu tertentu.

Gas tersebut secara otomatis akan membuat adonan menjadi lebih bervolume. Beberapa contoh dari bahan pengembang yang lazim digunakan untuk proses pembuatan kue dan roti antara lain garam karbonat dan amonium.

Menggunakan bahan tambahan makanan di dalam produksi makanan memang tidak dapat terpisahkan. Saya pun selalu membutuhkan itu terutama saat membuat kue dan roti. BTP sangat membantu membuat adonan mengembang maksimal dan menjadikannya lebih empuk *Jadi ngebayangin ngemil kue cubit pandi dengan topping keju lumer :D

Untuk mendapatkan berbagai produk BTP dari merk-merk mendunia, kamu dapat mengakses situs resmi dari Markaindo. Selain itu, kamu juga bisa menghubungi melalui telepon ke +62 – 2187920515. Kita juga dapat melakukan konsultasi produk dengan para pakar terpercaya di situs tersebut untuk mendapatkan produk pangan terbaik. Menarik sekali, ya?

Salam hangat,

Featured image: Photo by Pixabay on Pexels

 

Thursday, June 4, 2020

Liebster Award dan Hal-hal yang Jarang Orang Tahu Tentang Saya

liebster award



Liebster Award? Sebenarnya dulu ada yang pernah colek saya untuk join Liebster Award juga, tapi keduluan sama Bun Hastin, nih...hihi. Akhirnya saya menerima tantangannya juga meskipun saya deg-degan takut dijebak sama pertanyaan yang berujung sama curhat *eaaa.

Hastin Pratiwi, saya selalu memanggilnya Bun Has. Nggak tahu kenapa, saya suka nyebutnya begitu. Tempat curhat, berkeluh kesah, yang ngajarin saya supaya ikhlas sama hal-hal yang mengecewakan, entah itu disebabkan oleh kesalahan saya pribadi atau orang lain, yang mau nasihatin tanpa menjatuhkan, sehingga nggak terdengar nyebelin di telinga, dan akhirnya iya-iya aja kayak dihipnotis...kwkwk.

Kami kenal cukup lama lewat dunia maya, tapi belum sekalipun bertemu dan bertatap muka. Beliau adalah seorang penulis buku, blogger, dan juga editor, Masya Allah. Selain ngedit buku, beliau juga biasa ngedit hati orang...kwkwk. Maksudnya yang awalnya kesel, jadi ikhlas. Ngedit juga, kan namanya? *Abis ini dikeplak..hihi.

Kamu bisa membaca tulisan-tulisan Bun Has di www.hastinpratiwi.com. Nanti kamu bakalan paham seberapa kalemnya Bun Has, beda sama saya :D

Saya merasa terhura saat Bun Has mengajak saya untuk ikutan Liebster Award ini. Karena Liebster Award yang berarti ‘tersayang’ dalam bahasa Jerman ini merupakan bentuk silaturahmi di antara para blogger. Liebster Award adalah bentuk penghargaan, juga rasa sayang kita kepada sesama blogger *aih manis bener...hihi.

Terima kasih ya, Bun sudah nyolek saya buat ikutan Liebster Award. Saya anggap ini sebagai tanda sayang kepada saya yang masih bocah ini, yang butuh banyak dinasihatin :)

Daripada penasaran, kita lihat dulu aturan mainnya, ya!



  1. Pasang logo Liebster Award di blog kamu.

  2. Ucapkan terima kasih kepada blogger yang sudah memberikan Liebster Award.

  3. Sematkan link blog teman yang sudah memberikan Liebster Award.

  4. Tulislah 7 fakta tentang diri sendiri (sebagai tantangan) .

  5. Jawablah 7 pertanyaan dari blogger yang memberikan Liebster Award.

  6. Tulislah nama blogger selanjutnya yang akan kamu berikan Liebster Award.

  7. Sematkan link blog penerima Liebster Award berikutnya.

  8. Berikan 7 pertanyaan sebagai tantangan pada penerima Liebster Award yang sudah kamu tunjuk.

  9. Menuliskan aturan Liebster Award.


7 Hal Tentang Saya yang Jarang Orang Tahu



Kebanyakan saya kenal sama teman-teman blogger lewat dunia maya. Jadi, hampir semua nggak pernah bertatap muka. Ada hal-hal yang orang lain nggak tahu dari saya, bukan sengaja menyembunyikan dan pura-pura paling baik, tapi memang nggak semua sisi kehidupan bisa diumbar, kan? Eh, tapi kali ini saya mau berbagi lebih banyak.

1. Nggak Sebaik yang Orang Kira

Sejujurnya saya nggak ingin menulis sisi negatif dari diri saya, tapi belakangan saya belajar berdamai dengan semua itu. Iya, saya nggak sebaik yang kamu kira. Saya juga punya sisi negatif, yang tanpa bisa dicegah kadang melukai hati orang. Suka gegabah kalau ngapa-ngapain. Entah karena apa, saya ingin masalah selesai saat itu juga tanpa memikirkan jangka panjangnya. Ujung-ujungnya jadi bertindak bodoh.

2. Hobi Menggambar Sejak Kecil

Beralih ke hal-hal positif aja, ya...kwkwk. Kalau teman-teman lihat feed Instagram saya sekarang, isinya gambar semua. Ada yang bertanya gimana memulainya? Jujur saja, saya suka menggambar sejak kecil. Bahkan sejak SD udah pernah ada yang order gambar saya *matre banget, kan? Kwkwk. Sempat punya cita-cita pengen jadi pelukis, komikus juga, tapi nggak kesampean.

Dan sekarang saya memulai hal yang sama. Menyenangkan diri sendiri di masa pandemi dengan membuat gambar dan menuliskan kalimat positif. Dan itu cukup jadi hiburan tanpa harus nonton drakor :D

3. Suka Detail Ngasih Informasi

Saya merasa, kadang ada orang suka dijelaskan dengan detail mengenai suatu hal yang dia tanyakan, tapi ada yang kayaknya ngerasa saya berlebihan kalau ngasih informasi. Misal ada yang nanya alas fotonya beli di mana, Mbak Muy? Saya bakalan jawab di marketplace A, sekalian saya sematkan link-nya.

Atau ada yang nanya soal jasa desain blog yang membantu saya, selain sebutkan nama, saya juga ngasih kontaknya sekalian walaupun orangnya belum minta...kwkwk. Di satu sisi saya tahu memang ada yang butuh informasi sedetail itu, tapi di sisi lain saya rasa ada yang berpikir bahwa saya berlebihan banget, deh. Malah ujungnya kayak sok akrab gitu nggak, sih? Haha. Au ah, saya nggak bisa berpura-pura. Udah bawaannya begitu :D

4. Sebenarnya Nggak Jago Masak dan Nggak Multilalenan

Karena sering posting resep di blog atau pajang foto masakan, beberapa mungkin berpikir bahwa saya bisa masak apa aja, jago istilahnya. Padahal, dulu saya nggak bisa apa-apa terutama ketika baru menikah. Kenapa? Karena sejak SMA saya menyelesaikan pendidikan di pesantren hingga D1. Di sana nggak diperbolehkan masak kecuali masak mi rebus atau bikin roti bakar pakai setrikaan...kwkwk. Kemampuan memasak saya buruk banget ya, Rabb. Apalagi pas baru nikah, masak ini itu nggak ada yang enak... :(

Soal orang suka bilang saya bisa ini bisa, itu, masya Allah saya berterima kasih dan saya aamiin-kan. Tapi, sebenarnya ada lebih banyak hal nggak bisa saya lakukan, tapi orang-orang nggak banyak tahu :D

Contohnya saya nggak bisa naik sepeda kecuali dibonceng *nggak usah ketawa! Apalagi naik motor, jangan harap itu motor bisa jalan. Geser lima senti pun nggak akan...hiks. Dan banyak hal lain yang justru saya ingin lakukan, tapi belum bisa. Pas lihat orang kadang iri juga, dia bisa ini dan itu. Tapi, saya nggak mau fokus sama kekurangan saya, saya memilih memaksimalkan hal yang sekiranya saya mampu.

5. Nggak Bisa Hapal Jalan

Tinggal dan menetap di Jakarta sudah 10 tahun lebih, tapi urusan hapal jalan nggak bisa sampai sekarang. Meskipun yang dekat, kecuali yang sangat dekat dan sering dikunjungi, ya. Kalau hanya dikunjungi sebulan sekali misal, nggak bakalan hapal.

Saya pikir ini terjadi karena saya terlalu polos dan jarang banget keluar rumah sejak dulu. Tapi, kayaknya ini kondisi nggak normal, sih...haha. Alhasil, saya memang jarang pergi sendiri kecuali terpaksa dan memang orang introvert lebih happy di rumah aja, tapi nggak kayak pas pandemi juga, sih :D

6. Hobi Beres-beres Rumah

Kwkwk, hobi macam apa ini? Jadi, meskipun melelahkan, ketika melihat rumah bersih, hati jadi lega dan bahagia. Kamu ngerasa kayak gini juga nggak, sih? Sampai Ibu selalu bilang, kamu ini terlalu rajin, rumah udah bersih nggak kemasukan debu aja dipel setiap hari...kwkwk. Soalnya tiap lagi nelpon pas beres-beres, entah ngepel, atau yang lainnya.

Di rumah nggak ada ART, jadi mau nggak mau harus saya sendiri yang membersihkan. Pernah suatu kali saya coba agak cuek soal kondisi rumah, eh tiba-tiba ada tamu dong masuk...kwkwk. Nggak banget dan bikin trauma :D

7. Belajar B Aja!

Dulu, apa-apa selalu dipikir serius, ribet, dll. Takut sama penilaian orang, takut disebut nggak baik sama orang, takut disebut bukan ‘orang’ kwkwk. Akhirnya lelah sendiri. Dan, sekarang saya berusaha menerima bahwa saya memang nggak sebaik malaikat.

Jadi, andai ada yang menyebut saya bla bla bla, ya udah nggak perlu dipikir ribet, biasa aja. Nggak perlu dibalas nanti kita malah nggak ada beda. Andai benar, berarti saya harus berbenah dan terima kasih banget pada orang yang sudah mengingatkan. Andai ada bagian yang salah, itu urusan dia sama Allah :)

Dan benar, enteng banget rasanya.

Itulah 7 hal yang saya umbar, termasuk aib saya sendiri...kwkwk. Please, adik-adik yang suka mampir ke sini, ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk dari saya. Insya Allah saya berusaha berbenah :)

7 Jawaban dari Pertanyaan si Pemberi Liebster Award


Ini adalah 7 pertanyaan yang diberikan oleh Bun Has kepada saya. Saya merasa agak dijebak di sini, ya, Bun...kwkwk. Karena saya introvert, maka saya jawabnya mikir dulu beberapa detik :D

1. Apa arti kesuksean untukmu?

Sukses itu bisa menjadi manusia yang baik sekaligus hamba yang taat. Sekadar kaya raya kalau nggak ada akhlak sama Allah buat apa? Nggak ada artinya nanti setelah mati. Dulu, arti sukses buat saya sederhana banget, bisa dapat apa yang saya impikan, saya cita-citakan, saya katakan saya pantas dapat itu karena saya bekerja keras untuk mendapatkannya. Eh, tapi semua itu salah. Apalagi setelah berumur begini...kwkwk.

2. Apakah kamu bahagia dengan kehidupanmu sekarang? Kalau iya, apa yang membuatmu bahagia? Kalau tidak, mengapa?

Alhamdulillah, bahagia. Karena saya sudah merasa cukup dengan pemberian Allah. Karena, walaupun sebanyak apa saya miliki ini dan itu, kalau nggak pernah merasa cukup, pasti nggak ada yang namanya bahagia di dalam hidup.

3. Hal terbesar apa yang memotivasimu untuk selalu menjadi lebih baik?

Setelah berusia 30 tahun, saya jadi sering ingat mati, Bun. Saya paham hidup ini sebentar, tapi godaannya luar biasa. Saya nggak mau begini-begini aja. Nggak masalah saya pernah salah, saya ber-husnuzhan pada Allah bahwa saya bisa dimaafkan karena kasih sayang Allah itu luas banget. Nggak berarti saya meremehkan kesalahan yang lalu, insya Allah nggak. Saya hanya nggak mau membenci diri sendiri yang justru nanti malah membuat saya nggak mau berubah.

Dan lagi, masih ada orang-orang yang peduli dengan saya meskipun tahu kelakuan saya nggak bener-bener banget...kwkwk. Saya nggak pengen ngecewain mereka dan jangan sampai saya nyakitin mereka juga  atau lagi. Naudzubillah.

4. Apa tujuan hidupmu?

Pertanyaanmu horor-horor ya, Bun? Bikin ingat mati semua :(

Tujuan hidup semua orang pastilah bukan di dunia meskipun kita sering merasa bisa kekal dan berlama-lama di dunia. Tahu nggak, Bun? Meskipun saya anak pesantren, saya juga masih tertatih belajar soal agama. Jadi, kadang orang-orang terlalu tinggi menilai sehingga ketika santri ngelakuin kesalahan dikit aja, auto dihujat...kwkwk. Nggak masalah. Namanya juga hidup selalu berproses. Saya ingin menjadi manusia lebih baik, membantu anak-anak menjadi hafidz meskipun kadang sering jadi ribut..hihi. Dan mati masuk surgalah, Bun :D*abis ini dikeplak...kwkwk.

5. Kata-kata motivasi apa yang menjadi prinsip hidupmu?

“Tuhan nggak menjanjikan langit selalu biru, bunga selalu mekar, mentari selalu bersinar. Tapi, kita selalu yakin, selalu ada pelangi setelah badai.”

Berusaha berhusnuzhan kepada Allah, nggak usah memaki-maki masalah apalagi yang kita timbulkan sendiri meskipun kadang kita nggak bisa mencegahnya. Karena ada hikmah di balik semua itu. Kadang kita mesti disentil dulu supaya sadar, tapi akhirnya kita jadi belajar. Daripada harus selalu merasa paling benar, kemudian menjadi takabur. Naudzubillah.

6. Adakah hal yang kamu sesali dalam hidup ini? Jika ada, apakah itu?

Nanya apa ngajak curhat, nih orang? Kwkwk. Salah memilih teman. Nggak usah nanya lagi :D

7. Apa keinginan yang belum tercapai?

Sebentar saya mikir dulu, Bun...kwkwk. Alhamdulillah, banyak hal sudah saya dapatkan dalam hidup ini. Memang ada beberapa yang belum tercapai, tapi kalau dihitung, lebih banyak udahnya daripada yang belum. Saya nggak pengen jadi manusia kurang syukur yang fokus dengan apa yang belum saya punya teruus, jet pribadi, pulau pribadi...kwkwk. Saya ingin menjadi manusia yang selalu merasa cukup dengan apa yang sudah Allah kasih.

Selebihnya saya menuliskan impian di buku meskipun nggak rutin setiap malam. Misalnya, pengen banget buku saya best seller. Aamiin.

Penerima Liebster Award Berikutnya


Awalnya saya agak kesulitan memilih siapa blogger yang bakalan dapat Liebster Award berikutnya. Karena takut mereka nggak mau...hihi. Alhamdulillah seorang teman sesama blogger dari Bandung mengiyakan. Yups! Dia adalah mbak Lia Yuliani, pemilik blog liayuliani.com.

Beliau adalah teman baik, teman curhat, penulis buku, dan blogger juga, tapi sekalipun nggak pernah bertemu. Insya Allah semoga suatu saat bisa kopdaran ya, Mbak :)

Dan inilah 7 pertanyaan buat Mba Lia dari saya,

  1. Apa, sih sesuatu yang membuatmu merasa begitu bersyukur, Mbak?

  2. Impian apa yang masih terus diperjuangkan sampai sekarang?

  3. Kapan mulai ngeblog?

  4. Kalau lagi nggak mood nulis, mesti ngapain?

  5. Mending masak atau nulis?

  6. Apa yang memotivasimu untuk terus menulis, Mbak?

  7. Destinasi wisata mana yang paling ingin dikunjungi bersama pasangan?


Itulah 7 pertanyaan yang cukup mudah karena nggak ada yang perlu dijawab pakai rumus Fisika apalagi Matematika, ya...haha.

Terima kasih sudah membaca postingan ini dan semoga ada kebaikan yang bisa diambil dari apa yang saya tulis. Ingat, tinggalkan yang buruk dari saya dan ambil aja yang baik-baik, ya :)

Salam hangat,

Featured image: Photo by Freestocks.org on Pexels

 

Monday, June 1, 2020

Dua Aplikasi Menggambar yang Cocok Bagi Pemula, Kamu Lebih Suka yang Mana?

dua aplikasi menggambar digital



Sejak pandemi covid-19 tahun ini, saya jadi memberanikan diri memulai hobi lama. Yups! Menggambar! Niat baik dan tulus murni dari dalam hati terdalam pun seolah disambut ramah oleh semesta *nggak jelas banget...kwkwk. Jadi, pas nyoba gambar-gambar lagi, nggak sengaja melihat pengumuman kelas @adelenaamir. Rupanya beliau bikin kelas menggambar bermodal HP dan jari aja.

Kenapa saya tertarik? Karena selama ini saya hanya belajar otodidak dengan aplikasi Ibis Paint X. Belum pernah ikut kelas kecuali dasar banget seperti di kelas pak Maman tahun lalu. Itu juga belum nyoba versi digitalnya. Jadi, pas ada yang bikin kelas kayak gini, rasanya tertarik banget buat nyoba.

Emang bisa menggambar digital bermodal HP dan jari aja? Ternyata bisa dan pada jago-jago banget. Pas saya nyoba, yasalam, susah...kwkwk. Saya terbiasa pakai stylus di tablet. Pas nyoba pakai jari, rasanya gemas pengen nyakar-nyakar layar HP *bar-bar banget...kwkwk.

Tapi, setelah nyoba hapus, gores, hapus, gores, akhirnya jadi dan lumayan juga. Lumayan belepotan :D

Daripada nggak jelas cerita ngalor ngidul, yuk, ah kita kenalan dengan dua aplikasi menggambar yang sekarang lagi banyak dipakai terutama oleh emak-emak yang hobi gambar.

Ibis Paint X


Aplikasi ini sudah sering saya share di blog ini. Bisa kamu baca-baca di sini. Aplikasi inilah yang pertama kali saya coba sejak lama. Baru kenal Ibis ya nggak langsung jago ngegambar juga. Butuh latihan apalagi dulu belum punya tablet. Pas udah beli juga akhirnya nggak ngelanjutin buat belajar gambar karena kayak bikin lupa waktu banget.

Sampai setahun kemarin saya benar-benar hanya fokus sama ngeblog dan nulis buku. Siapa sangka, pas pandemi saya seperti butuh menghibur diri tanpa harus nonton Drakor...haha. Akhirnya nyoba buka Ibis Paint X lagi dan keterusan sampai sekarang.

Pas awal-awal nyoba kemarin, belum punya style menggambar khusus. Jadi, masih nyoba berbagai macam model dan akhirnya nggak jelas aja dilihatnya...hihi. Tapi, sekarang sudah ada style yang saya rasa lebih cocok dan suka aja lihatnya. Beberapa hasil menggambar lewat aplikasi Ibis Paint X bisa kamu lihat di Instagram saya di sini.

Jangan hanya menggambar tanpa ada pesan moral di dalamnya. Pasti kamu sudah tahu kalau sekarang memang banyak pemilik akun di Instagram membuat kata-kata indah buat para followers-nya, ada yang bikin dalam bentuk komik, dll. Saya pikir itulah yang mesti kita lakukan.

Kemarin sempat ada teman berkomentar setelah melihat status saya di Whatsapp,

“Mbak, terus menulis kayak gini, ya. Mbak nggak tahu seberapa berartinya hal kayak gini buat orang lain, bikin termotivasi dan nenangin hati.”

Kira-kira seperti itulah yang dia katakan dan sungguh membuat saya terenyuh. Selama ini saya hanya fokus membuat hal serupa untuk memotivasi diri sendiri, karena nggak jarang juga kita sering mengalami sesuatu yang kurang menyenangkan, tapi nggak tahu mau nyari motivasi ke mana. Akhirnya kita sendirilah yang mesti memotivasi diri sendiri.

So, pastikan apa yang kita kerjakan bermanfaat, baik bagi diri kita sendiri ataupun orang lain. Bisa jadi apa yang kita buat bisa mengubah seseorang menjadi lebih baik, hal-hal sepele yang kita buat bisa jadi memotivasi orang lain. Jadi, semangatlah berkarya untuk kebaikan :)

Medibang Paint


Waktu saya pakai Ibis, teman-teman udah banyak banget yang pakai Medibang. Sayangnya, dulu saya selalu gagal memahami Medibang Paint ini. Kayaknya terlalu sulit buat pemula dan yang gaptek seperti saya. Karena nggak mau terlalu repot, akhirnya saya meninggalkan aplikasi ini dan nggak pernah nyoba lagi *gampang banget nyerah anaknya...kwkwk.

Aplikasi Medibang punya bagian yang agak berbeda dengan Ibis Paint, tapi kalau dipelajari, sebenarnya pakai Medibang juga nggak sesulit yang dibayangkan, kok. Dan hari ini saya nyoba pakai Medibang di kelas menggambar bersama @adelenaamir di hari pertama. Seperti saya katakan sebelumnya, karena ini pakai HP dan jari, saya agak kesulitan...kwkwk. Kayak gemas dan pengen nyerah *jangan ditiru, ya...haha.

Medibang Paint ini bisa dipakai tanpa Login sebenarnya, tapi sebaiknya kamu Login dulu supaya bisa memaksimalkan penggunaan aplikasi menggambar satu ini.

Untuk mulai menggambar, kita perlu melakukan beberapa hal,


  • Klik New Canvas

  • Edit size dan pilih ukuran yang kamu inginkan, kemudian klik Create

  • Voila! Kamu sudah punya canvas dan siap menggambar. Untuk memulainya, kamu klik gambar pena di bagian bawah, jenis pen, pensil, atau kuasnya bisa kamu temukan di sebelahnya pada gambar palet warna, jadi di bagian ini kamu bisa pilih warna, nambah palet warna sendiri juga, dan ubah ukuran pennya.

  • Untuk menambahkan layer, kamu bisa klik gambar di sebelah palet warna, ada gambar persegi bersusun gitu *semoga kamu memahami kode-kode ini, ya...kwkwk, soalnya lagi males masukin gambar. Ketika kamu klik itu, bakalan muncul bagian layer yang bisa kamu tambahkan, kamu ubah namanya, kamu masukin gambar atau foto, dan kamu geser sesuka hati seperti halnya di Ibis.

  • Saat kamu klik bagian layer, bakalan muncul opacity di bagian atas, itu bisa kamu ubah supaya bisa jadi blur gitu khusus buat line art atau sketsa yang udah kamu buat atau ketika kamu masukin foto buat dibikin sketsa.

  • Supaya hasilnya lebih bagus, kamu harus aktifin Fade In/Out di bagian Pen dengan klik roda bergerigi dan ceklis bagian yang saya sebutkan tadi.


Kira-kira itulah hal pertama yang harus kamu pelajari saat hendak menggambar di aplikasi Medibang Paint. Nggak terlalu sulit kalau sering dilatih. Jadi, latihannya nggak bisa sekali dua kali. Butuh berkali-kali.

Untuk referensi gambar, kamu bisa cari di Pinterest. Ini memang sumber paling banyak dipakai oleh ilustrator, begitu juga ketika saya belajar di kelasnya Pak Maman Mantox. Bisa nyari-nyari model gambar yang kamu butuhkan, bisa juga nyari palet warna dari gambar yang udah jadi.

Antara kedua aplikasi ini, mana yang paling saya suka? Saya pribadi masih lebih suka sama Ibis Paint X meskipun nggak banyak orang suka...kwkwk. Nggak tahu kenapa, kayaknya lebih simpel aja dipakai dan nggak terlalu ribet. Apalagi sekarang saya pakai style menggambar yang cukup mudah, sehingga nggak terlalu butuh banyak tools gitu.

Sampai sekarang, menggambar jadi hiburan yang lumayan banget saat harus di rumah selama berbulan-bulan ini. Gimana dengan kamu? Apa hiburan selama di rumah aja? Selain Drakor ya pastinya? Haha.

Salam hangat,

Featured Image: Photo by Bongkarn Thanyakij on Pexels