Friday, April 30, 2021

Menjalani Hidup 'Berbeda' dengan Penuh Syukur


Penuh syukur


 “Andaikan kita bisa mengubah sikap, kita tidak hanya akan melihat hidup secara berbeda, tetapi hidup itu sendiri pun akan menjadi sesuatu yang berbeda.”

(Katherine Mansfield)


Saya percaya, di dalam hidup ini nggak ada yang namanya kebetulan. Meksipun saya sering terlambat menyadarinya, tapi saya selalu percaya semua sudah diatur sedemikian indah oleh Allah. Seperti saat saya mendapat hadiah salah satu buku Chikcken Soup for the Soul yang berjudul Kekuatan Berpikir Positif dari Gramedia Pustaka Utama sekitar bulan Agustus 2020 lalu. Sekali lagi, ini bukan kebetulan. Di antara tumpukan buku yang dikirimkan oleh Gramedia Pustaka Utama, buku inilah yang paling berperan mengubah mindset saya, terutama ketika melewati masa-masa sulit selama pandemi.


Hidup di masa pandemi bukan sesuatu yang mudah. Saya nggak pernah membayangkan harus mengalaminya di saat semua baik-baik saja dan nyaris sempurna. Tiba-tiba, seperti dentuman, bukan hanya mengubah, tapi juga membuat yang utuh menjadi berantakan. 


Awal pandemi tahun lalu, si Mas mulai bekerja dari rumah seperti orang kebanyakan. Merasa jauh lebih tenang karena itu adalah masa-masa paling parno, ya. Nggak kebayang kalau harus keluar rumah dan bekerja hingga sore. Apalagi dia ada alergi dingin sama debu. Kena debu sedikit saja bisa membuatnya bersin-bersin. Namun, bersin-bersin di masa pandemi bukan hal sederhana. Pasti bikin parno orang serumah.


Namun, bukan itu masalah yang tersulit. Bukan tentang saya yang selalu was-was kalau mesti keluar rumah atau mengantarkan si Mas yang mau berangkat bekerja hingga pintu pagar. Ini bukan hanya tentang orang lain yang saya lihat di berita, kehilangan pekerjaan hingga kesulitan memenuhi biaya hidupnya. Ini tentang kami, tentang saya dan si Mas yang ternyata mesti mengalami juga yang namanya PHK. Ya, si Mas kena PHK masal dan kantornya tutup.


Sejak awal, Mas memang sudah sering menceritakan kondisi tempat kerjanya yang ‘kurang baik’. Ibaratnya manusia, dia sudah nggak sehat lagi. Sudah ada gejala, tapi nggak tahu sampai kapan bisa bertahan. Tanpa aba-aba sebelumnya, tiba-tiba muncullah keputusan besar dari perusahaan.


Gimana rasanya waktu tahu suami di-PHK? Dibilang kaget banget, ya nggak juga karena sudah jauh-jauh hari Mas menceritakan kondisi tempat kerjanya. Tujuannya juga supaya saya nggak terlalu terkejut ketika itu benar-benar terjadi. Namun, siapa, sih yang benar-benar siap kehilangan? 


Mas sudah belasan tahun bekerja di sana. Mulai dari selesai kuliah hingga menikah dengan saya dan sekarang punya anak-anak. Pekerjaannya sebagai engineer adalah passion-nya. Saya tahu betul itu. Dia bukan hanya bekerja, tapi merasa memiliki sehingga tak setengah hati dia melakukan semuanya. 


Sekitar enam tahun lalu waktu dia mesti pindah kantor, dia memilih ikut membangun kantor yang baru bersama timnya ketimbang memilih ke kantor satunya yang jelas sudah lebih gagah berdiri. Dia sampai jarang pulang ke rumah dan lebih banyak tidur di sana. 


Berhenti bekerja pasti akan terjadi. Mas bilang, ini hanya soal waktu saja. Walaupun bukan sekarang, suatu saat pasti akan pensiun. Namun, setelah PHK, hampir semua yang sudah dirumahkan benar-benar kesulitan masuk ke sana. Sekadar buat beres-beres barangnya aja susah. Itulah yang disesalkan oleh banyak orang waktu itu. Padahal, kantor itu dibangun bareng oleh orang-orang lama hingga bisa bertahan dalam waktu nggak sebentar.


Namun, it’s okay. Nggak perlu menyesali banyak hal karena kita nggak mungkin mengendalikan sikap orang. Kita hanya bisa mengatur sikap kita sendiri, bagaimana kita bereaksi ketika mengalami suatu masalah atau ketika diperlakukan kurang layak oleh orang lain. Diterima saja dan mari berdamai dengan semua yang sudah terjadi.


Saya adalah tipe orang yang gampang banget mewek dan panik. Mudah takut juga dengan sesuatu yang belum terjadi. Tapi, setahun belakangan, saya belajar untuk berpikir lebih positif akan banyak hal.


Ketika kami harus mengalami masa sulit itu bersama, saya berusaha mengatakan pada diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Nggak usah takut dengan masa depan, karena rezeki itu sudah Allah atur. Nggak usah takut besok-besok mau kerja apa, saya percaya Allah akan gantikan yang telah hilang dengan yang lebih baik.


Meskipun sudah sepositif itu, tapi tetap saja bawaannya mellow kalau ingat suami sudah di-PHK. Kalau dekat-dekat suami, saya nggak akan memperlihatkan muka sedih, tapi berusaha se-happy mungkin dan menunjukkan, ‘Udah nggak masalah, kita bisa lewatin semua bareng’. Saya nggak mau dia merasa semakin buruk, dan kenyataannya memang semua baik-baik saja, kok. 


Sedikit pun saya nggak pernah berburuk sangka pada takdir Allah. Setiap sujud, saya menangis sejadinya dan berkata dengan yakin,


Saya percaya Engkau akan ngasih yang lebih baik. Saya percaya dan sangat percaya….


Di luar salat, saya akan menahan kesedihan itu dan berusaha lebih tegar meski kenyataannya saya cengeng parah. Berusaha sebisa mungkin tetap bersyukur karena nikmat Allah begitu luas untuk saya dan keluarga. Kesedihan ini hanyalah bagian kecil yang insyaallah akan ada masanya juga untuk berakhir.


Saya sering bilang pada Mas, ‘kita itu beruntung banget, lho. Lihat tetangga kita, dia kena PHK dan pesangonnya yang nggak seberapa malah dicicil entah sampai kapan. Kita nggak sampai mengalami hal seburuk itu. Kita beruntung, sangat beruntung. Banyak banget hal yang sudah kita capai dan miliki. Kalau dihitung juga nggak akan mampu saking banyaknya hadiah yang sudah Allah kasih. Alhamdulillah banget.’


Bersyukur sekali, kami hidup bukan karena ‘apa kata orang’. Kami terbiasa hidup biasa-biasa saja dan sewajarnya. Waktu kena PHK, nggak pusing mikirin cicilan ini dan itu. Tabungan pun lebih dari cukup. Hanya saja, melihat suami yang biasanya bekerja, tiba-tiba hanya di rumah itu bikin nyesek. Nelangsa banget rasanya.


“Alhamdulillah, bisa ngumpul lebih lama sama keluarga. Di tengah pandemi yang sedang heboh-hebohnya pula,” ucap saya suatu hari. Itu juga sebuah keberuntungan. Tak seharusnya saya banyak mengeluh.


Pernah Ingin di-PHK Dini

Penuh syukur



Satu tahun sebelumnya, Mas pernah pengin di-PHK dini. Waktu itu, saya lihat dia benar-benar nggak happy dengan pekerjaannya. Dia bekerja pada orang yang ‘kurang menyenangkan’. Gimana rasanya harus kerja, tapi nggak dihargai?


Datanglah tawaran dari bosnya yang lama. Orang yang dia segani dan sudah bertahun-tahun dia kenal. Waktu itu, dia mau saja pindah meskipun jarak kantornya lebih jauh dari rumah. Saya tahu, dia pengin nyaman kerja, nggak mau tertekan. Itu saja. Namun, usaha habis-habisan nggak bisa mewujudkan keinginan si Mas. 


Hampir setiap hari dia memohon untuk di-PHK dini, tapi bosnya selalu menolak. Dan ternyata, waktu pandemi, setelah tawaran kerja itu nggak berlaku lagi, Mas di-PHK. Kalau mau kesal, mungkin kami akan menyalahkan si bosnya yang keras kepala banget nggak ngasih izin Mas berhenti sejak awal. Diminta tetap membantu, tapi kurang dihargai, aneh banget, kan?


Alih-alih kesal, saya justru bersyukur Mas nggak jadi kerja di tempat lain. Iya, karena jaraknya jauh banget di Tangerang sana. Sedangkan rumah kami di Jakarta. Mas nggak mungkin pulang pergi dalam kondisi pandemi, minimal dia harus mencari tempat tinggal di sana dan pulang hanya seminggu sekali. 


Dulunya kami pikir, berhenti lebih awal adalah jalan yang paling baik. Jadi kami minta sama Allah supaya dikasih yang terbaik. Ternyata sesuatu yang kita anggap baik belum tentu baik juga di sisi Allah. Benar, doa kami tidak tertolak untuk segera di-PHK, tapi di saat nggak ada pekerjaan pengganti, rasanya itu cukup berat. Namun, Allah buktikan bahwa rencana-Nya nggak pernah keliru. 


“Aku itu sudah yang paling tahu dan paham. Kamu jangan sok tahu!”


Rasanya seperti ditampar. PLAK! Tiga bulanan setelah di-PHK, Mas dapat tawaran kerja dari bosnya yang lain. Bukan hanya dia tahu betul siapa yang menawarkan pekerjaan, tapi jarak kantor dengan rumah kami dekatnya minta ampun. Setiap hari, dia bersepeda menuju kantornya yang baru. Dia nggak perlu macet-macetan di jalan hingga berjam-jam. Dia nggak perlu pulang sampai larut karena jarak kantor yang sangat jauh. Banyak sekali hal yang dulunya nggak pernah kami sadari, sekarang terbuka begitu luasnya.


Gimana, rencana Allah lebih baik, kan daripada rencana manusia? Duh, malunya sama Allah.


Hidup Itu Pilihan

Hidup penuh syukur


Hidup itu adalah pilihan. Bagaimana kita mau merespon suatu kejadian, itu juga pilihan. Apakah mau terus menerus menyesali nasib yang mungkin sedang kurang beruntung atau justru menerimanya dengan penuh syukur? 


Waktu Mas kena PHK, nggak berselang lama saya dapat kiriman buku dari Gramedia Pustaka Utama. Judulnya sudah ketebak, benar-benar sesuai dengan kondisi saya dan si Mas waktu itu. Kekuatan Berpikir Positif yang terbit pertama kali pada 2014 ini mengisahkan banyak pengalaman buruk, tapi berubah menjadi menakjubkan ketika disikapi dengan amat positif.


Iya, setiap hari saya membaca buku setebal hampir 500 halaman ini sedikit demi sedikit. Saya merasa ada banyak hal ajaib terjadi setelahnya. Bagaimana saya menyikapi keadaan yang kurang menyenangkan, bagaimana saya bisa lebih banyak bersyukur dan menerima keadaan.


Saya belajar bersabar dan meyakinkan diri bahwa rencana Allah itu sudah pasti yang paling baik dan mustahil Allah dzalim pada hamba-Nya. Saya belajar banyak hal dan merasa jauh lebih bahagia dengan keadaan sekarang.


Buku Kekuatan Berpikir Positif ini juga mengisahkan seorang wanita yang selalu merasa begitu buruk dan bermental negatif hanya karena dia senang membaca buku-buku yang bertema serupa. Rak bukunya dipenuhi dengan bacaan yang mengerdilkan harapannya sehingga dia merasa keadaannya sulit diubah.


Namun, pada suatu hari, dia menemukan sebuah buku yang mengubah mindset-nya. Ternyata, ketika kita membaca buku-buku yang berisi kalimat-kalimat positif dan memotivasi, pola pikir kita pun akan berubah dengan begitu ajaibnya.


Maka, dia segera pergi ke toko buku bekas dan mencari buku-buku terbaik yang bisa ditemukannya kemudian mengganti semua buku yang telah memenuhi rak bukunya dalam waktu yang cukup lama. Dia memutuskan untuk mengubah pola pikirnya yang salah.


Kebayang apa yang dia dapatkan setelah itu? Dia akhirnya bertemu dengan pria yang tepat. Dia nggak jomlo lagi seperti yang diucapkan teman-temannya. Dia kebagian stok pria baik yang menurut temannya sudah habis…haha. Mereka pun akhirnya menikah dan hidup bahagia. Ini bukan kisah dalam dongeng yang dibacakan oleh orang tua kita semasa kecil. Cerita ini ditulis dari kisah nyata dan pengalaman hidup yang begitu berharga.


Di halaman lainnya, ada kisah seorang wanita yang merasa begitu terpuruk karena telah kehilangan pekerjaan di masa-masa yang begitu sulit. Kemudian dia berhenti di sebuah halte dengan perasaan yang amat kalut. Tanpa sengaja, datanglah seorang gelandangan dan duduk di sebelahnya. Mereka ngobrol sebentar. Gelandangan itu tidak punya rumah, dia bekerja serabutan, tidak punya keluarga, dan benar-benar sendirian.


Sampai di sini, wanita yang telah kehilangan pekerjaannya itu merasa hidupnya jauh lebih baik dan beruntung. Jika si gelandangan saja bisa merasa baik-baik saja dengan keadaannya yang jauh dari sempurna, lantas kenapa dia merasa begitu hancur padahal dia masih punya rumah yang hangat untuk pulang, dia masih punya suami dan anak-anak yang selalu mendukungnya bahkan dalam keadaan yang paling sulit sekalipun. Hidupnya baik-baik saja, kenapa dia mesti merasa nelangsa dan hancur? Setelah obrolan singkat itu, dia pulang dengan perasaan yang jauh lebih baik.


Banyak sekali kisah menakjubkan dalam buku ini yang akhirnya bisa mengubah mindset saya. Dulu, hanya karena mesti duduk terpisah gerbong dengan si Mas saja, saya bisa panik dan mau menangis, lho. Dada rasanya sesak dan pikiran dipenuhi oleh rasa takut yang berlebihan. Saya merasa semua akan berjalan sangat menakutkan dan hal buruk akan terjadi.


Yups! Itu hanya bayangan. Sesuatu yang belum terjadi, lho. Waktu itu saya sudah belajar ngobrol dengan diri sendiri. Di salah satu stasiun di Kota Bandung, saya menutup mata yang sudah berkaca-kaca. Saya menarik napas panjang dan berkata pada diri sendiri,


“Semua akan baik-baik saja. Ini adalah hal menyenangkan dan tidak ada yang perlu ditakutkan.”


Air mata saya urung jatuh. Meskipun masih takut dan was-was, saya merasa bahwa perasaan ini jauh lebih baik. Kami pun naik kereta dan duduk berbeda gerbong. Dan hal yang saya takutkan tidak pernah terjadi. Semua baik-baik saja. Anak-anak happy, saya pun tidak sampai pingsan di kereta…haha.


Dari sebuah buku saya bisa mengambil banyak sekali pelajaran. Waktu kecil hingga sedewasa ini, yang saya tahu, dalam sebuah permainan pasti ada menang dan kalahnya. Semua orang pasti setuju. Namun, setelah membaca buku ini, saya jadi tahu bahwa semua orang bisa saja jadi pemenang asalkan dia tetap meneruskan perjalanan.


Seorang anak yang dikalahkan oleh ibunya dalam permainan ular tangga misalnya, dia juga bisa menang asal terus melempar dadu dan berjalan hingga finish. Itulah yang dikisahkan di dalam buku bersampul putih ini.


Jadi, saya pun tidak mau berhenti hanya karena saya pernah kalah atau gagal ketika melakukan suatu hal. Hidup akan terus berlanjut dan pandemi mestinya bukan alasan bagi kita untuk berhenti berjuang. Justru karena pandemi, saya pun bisa mencapai impian masa kecil yang belum terwujud. Karena alasan sedang pandemi, saya mengeluarkan tablet dan mulai menggambar lagi.


Awal tahun ini, sebuah buku cerita anak yang saya ilustrasikan telah terbit di Mesir dengan Bahasa Arab. Menyusul buku-buku lainnya yang terbit di Indonesia dan Malaysia. Bahkan tahun ini juga, saya berhasil menerbitkan sebuah buku solo yang saya ilustrasikan sendiri. Impian ini memang bukan keinginan yang paling sering saya ucapkan, tapi pernah menjadi yang paling saya inginkan terutama ketika masih kecil dulu.


Lihatlah, semua terjadi begitu cepat bukan karena saya memang kukuh dan gigih sekali berusaha, tapi juga karena ada Allah yang menjadi sebaik-baik perencana. Semua terjadi di saat yang sangat tepat dan ketika saya pun telah amat siap. 


Awalnya, saya berpikir bahwa pandemi ini benar-benar mengubah hal baik menjadi buruk bahkan sangat buruk. Kemungkinan besar tahun ini tidak ada buku saya yang terbit karena kebanyakan penerbit menunda jadwal terbit hingga berbulan-bulan. Ternyata, saya salah lagi. Tahun ini, justru rasanya jauh lebih baik dan tentu saja lebih banyak bersyukur.


Kita punya pilihan untuk menjalani hidup yang tidak kekal ini. Apakah kita akan menghabiskannya dengan penuh syukur atau justru mengeluh tanpa ada habisnya? Pikirkanlah hal-hal baik dan jangan sekali-kali berburuk sangka pada Allah. Kadang, hidup berjalan tidak sesuai rencana, tapi semua akan baik-baik saja karena Allah adalah sebaik-baik perencana. Apa yang kita anggap buruk, belum tentu buruk pada akhirnya. Maka bersabarlah sedikit dan biarkan Allah menjalankan rencana-Nya yang amat indah dan sempurna.


Salam hangat,





Sunday, April 25, 2021

Pengalaman Membuat Ilustrasi Buku Anak dan Terbit di Luar Negeri

Ilustrasi buku anak


Hai, hai! Gimana kabarnya, nih? Masih semangat mengejar impian atau malah sudah menyerah di tengah jalan? Jangan dulu menyerah, bisa jadi impian kamu hanya berjarak satu jengkal saja dari hadapanmu. Iya, hanya satu jengkal. Namun, karena kamu memutuskan menyerah dan berbalik arah, akhirnya impian itu nggak pernah bisa kamu raih. Jadi, please, tetap melangkah ke depan dan fokus dengan target yang ingin dicapai *ceramah mulu 


Sejak kecil, saya senang sekali menggambar. Impian masa kecil berputar-putar antara pengin jadi pelukis, komikus, dan sejenisnya. Meskipun nggak punya kesempatan untuk belajar lebih serius apalagi sampai kuliah, tapi kerjaan sehari-hari memang menggambar. Nggak ada hari tanpa menggambar. Meskipun gambarnya nggak pakai ilmu alias sesuka hati aja :D


Saat SMA, saya pengin jadi penulis. Impian yang berkutat dengan hobi menggambar pelan-pelan lenyap. Mungkin, karena dulu nggak kebayang ada profesi tukang gambar atau ilustrator. Sehari-hari lebih banyak baca buku seperti novel dan puisi. Jadi, impian akhirnya bergeser dan lebih lekat dengan dunia menulis.


Apakah setelah itu nggak suka menggambar? Nggak juga. Sampai saya menikah dan punya anak, saya tetap senang menggambar. Hingga waktu berjalan begitu cepat dan mengantarkan saya pada posisi sekarang ini di mana akhirnya saya berhasil menerbitkan buku serta bisa membuat ilustrasi untuk buku anak-anak. Rasanya gimana, ya? Nggak bisa digambarkan saking kagetnya :D


Mulai Serius Belajar Gambar Digital

Ilustrasi buku anak
Ilustrasi untuk buku 'Pelangi Cerita Bintang'


Saya masih ingat betul, karena alasan pandemi dan merasa banyak buku gagal terbit sesuai waktu yang ditentukan, akhirnya saya mencari pelarian dengan belajar menggambar digital, tepatnya pada bulan Mei 2020 lalu. Benar, baru kemarin rasanya nyoba buka lagi aplikasi menggambar dan tablet yang sudah lama disimpan di lemari.


Waktu itu, nggak kebayang kalau bisa sampai seperti sekarang. Dulu cuma pengin ngisi feed Instagram sekaligus buat branding sebagai penulis. Jadi, memang hampir nggak pernah share gambar anak-anak apalagi nulis 'DM for Commissions' di bio. Sebab sejak awal memang belum kepikiran bakalan ngerjain ilustrasi untuk buku orang lain. Ahhh, rasanya masih nggak percaya :D


Apa kendalanya waktu belajar menggambar digital? Mempelajari dan mengenal aplikasi itu butuh waktu banget. Saya hanya pakai satu aplikasi waktu itu yakni Ibis Paint X. Sebelumnya sudah pernah nyoba, tapi sekadarnya saja. Meski sudah pakai Ibis Paint X sekian bulan, saya belum sepenuhnya tahu apa saja fitur di aplikasi ini. 


Akhir tahun 2020, saya memutuskan ganti tablet serta aplikasi karena tablet saya jadi berat. Sampai sekarang, saya pakai aplikasi Procreate di Ipad 8.


Ganti aplikasi aja butuh waktu banget untuk menyesuaikan diri. Pegang pencil dari Samsung jadi Apple pencil aja bikin pegel karena ukurannya berbeda jauh. Diketawain ini sama senior…kwkwk. Tapi, serius memang ini yang saya keluhkan waktu pertama kali pakai Ipad. Ukuran Apple pencil mirip pensilnya tukang saking gedenya. Sedangkan punya Samsung mungil banget sampai bisa diselipin ke tabletnya. Receh banget bahasan ini...kwkwk.


Saya ingat betul, selama berbulan-bulan bahkan sampai sekarang, hampir nggak pernah saya absen menggambar. Bisa dilihat di feed Instagram saya, itu tiap hari posting gambar. Secara nggak langsung saya sedang berlatih. Memang sekadar buat ngisi feed, tapi saya juga pengin meningkatkan kemampuan dan nggak mau gampang berpuas diri.


Akhirnya selalu belajar dan belajar. Ikutan kelas online juga beberapa kali. Namun, hal yang paling penting adalah praktik. Mesti banyak latihan kalau mau bisa. Mesti latihan sesering mungkin kalau mau dapat hasil yang maksimal. 


Inget banget dulu sering begadang hanya demi menyelesaikan satu gambar. Nggak bosan memang karena sudah suka. Nggak ada capeknya karena lagi semangat-semangatnya. Untungnya saya nggak gampang insecure. Posting ya posting aja nggak pernah kepikiran mau minder karena gambarnya belum bagus. Kalau dilihat sekarang, kelihatan banget gambar lama benar-benar jauh dari sempurna. Namun, saya berusaha tetap disiplin berlatih. Gambar dan posting *eaaa...kwkwk.


Pertama Kali Dapat Tawaran Membuat Ilustrasi Buku Anak

Ilustrasi buku anak


Sebelum saya pakai procreate, saya sudah pernah menerima pesanan gambar dari orang luar negeri. Waktu itu ada penerbit dari UK dan orang Austria yang pesan gambar untuk buku aktivitas. Jadi, sebelum mengerjakan gambar untuk buku anak-anak, saya sudah memberanikan diri menerima pesanan orang. Itu pun setelah diomelin sama Ibu...kwkwk. Ibu gemes banget sama saya karena selalu nolakin orang yang mau pesan gambar. Waktu itu saya merasa belum berani. Ternyata, kalau nggak diambil kesempatan itu, kitanya jadi nggak bergerak alias belajarnya ya gitu-gitu aja.


Singkat cerita, waktu itu, ada DM dari orang Mesir. Dia bertanya apakah saya bisa membuat gambar untuk buku anak-anak? Sejujurnya saya kaget karena nggak ada gambar di feed yang menjelaskan bahwa saya ilustrator buku anak-anak. Bahkan di bio juga nggak ada kalimat seperti itu. Feed Instagram saya lebih terlihat seperti akun dakwah dan motivasi. Setuju? Kwkwk. Namun, orang Mesir ini justru bertanya hal yang berbeda.


Setelah dia meminta contoh dan saya berikan, dia setuju dan berjanji akan kembali setelah menyelesaikan ceritanya. Dan datanglah dia sekitar bulan Desember 2020 lalu. Dan untuk pertama kalinya saya memberanikan diri membuat ilustrasi untuk buku anak-anak.


Apakah ini kebetulan? Sejujurnya saya nggak percaya dengan yang namanya kebetulan. Saya percaya Allah sudah mengatur semuanya dengan sangat indah. Dulu, meskipun bukan hal yang sering saya ucapkan, tapi saya pernah berkata bahwa saya pengin suatu saat bisa menulis buku dan membuat ilustrasinya sendiri. Tahun ini, Allah mudahkan jalan itu dan saya akhirnya benar-benar bisa menulis buku dan membuat ilustrasinya sendiri. Rasanya terharu banget dan nggak jarang saya nangis sendiri. Allah baik banget....


Membuat Ilustrasi Buku Anak dan Terbit di Luar Negeri

Ilustrasi buku anak


Waktu itu, saya butuh waktu sekitar sebulanan untuk menyelesaikan ilustrasinya. Dan tentu saja ada banyak revisi di sana sini. Saya memang nggak banyak mengeluh, selain merasa itu akan menjadi beban, saya juga menganggap semua itu adalah proses pembelajaran untuk pengalaman pertama yang sangat berharga ini.


Kalau saya ngeluh mulu, ya, Allah, malu banget sama Allah yang sudah ngasih kesempatan ini. Nggak semua orang punya kesempatan yang sama, lho. Meskipun kadang revisi serta permintaannya sangat lumayan, tapi tetap dikerjakan. Dibikin happy aja gitu. Kekuatan berpikir positif itu luar biasa. Jangan salah....kwkwk. Dan akhirnya, dia pun mengirimkan buku terbitnya ke Indonesia.


Proses pengiriman buku ini juga lumayan unik. Jadi, dia memang dengan senang hati memberikan buku terbit, tapi masalahnya ongkos kirimnya mahal banget. Itu yang membuat dia nggak ngasih buku sejak awal.


Qadarallah, saya punya klien orang asli Indonesia yang menetap di Kairo. Kami kenal karena beliau memesan gambar untuk bukunya. Dari situ saya bertanya harga pengiriman barang dari Mesir ke Indonesia. Dan beliau bilang harganya akan mahal kalau pakai pengiriman resmi, tapi orang Indonesia biasanya pakai Jastip. Jadi, barang-barang akan dititipkan ke bagasi orang Indonesia yang mau mudik. Harganya sangat manusiawi.


Akhirnya, buku-buku dari klien saya dititipkan pada klien saya satunya ini. Dan bukan hanya saya, teman-teman ilustrator lainnya juga dikasih percuma. Bahagia yang menular, ya karena kebaikan banyak orang.


Terima kasih sekali untuk Mba Itta di Kairo yang mau repot-repot membantu mengirimkan buku saya dan teman-teman. Allah yang balas, Mbak. Kita sepakat, sih nggak ada yang kebetulan. Kenal Mbak Itta juga nggak lama, baru beberapa minggu saja. Namun, itulah rencana indah yang sudah Allah gariskan. Masyaallah.


Belajar yang Tidak Instan

Cover buku
Cover buku 'Parenting Experiences' 


Meskipun nggak kuliah, tapi kita juga punya kesempatan yang sama untuk belajar asalkan mau. Dulu, selalu minder karena nggak bisa jadi sarjana. Namun, ibu selalu menyemangati dan bilang, yang kuliah juga belum tentu bisa seperti kamu. Ini terdengar berlebihan, tapi jujur sangat membantu saya supaya nggak insecure. Kamu yang sudah sarjana sudah pasti lebih dan lebih banget. Namun, saya paham kenapa Ibu bilang begitu, beliau juga sebenarnya pengin dan tahu bahwa dulu saya sangat dan sangat ingin kuliah, tapi kondisi ekonomi dulu nggak memungkinkan. Kalau saya mengeluh malu belum sarjana, Ibu juga pasti ada rasa nyesel. Dan sekarang, saya nggak pernah memikirkan itu. Sudah jalan takdir dari-Nya. Saya memilih fokus dengan apa yang bisa saya perjuangkan.


Benar, siapa pun kita, dan apa pun latar belakang pendidikan kita, semua punya kesempatan yang sama untuk berhasil meraih apa yang diimpikannya. Asalkan mau, asalkan percaya dan yakin.


Belajarnya nggak bisa instan, ya. Butuh waktu untuk mencapai apa yang pengin kita raih. Kadang, sampai begadang hanya demi menyelesaikan satu gambar. Kukuh banget pengin bisa. Dan ingat, nggak perlu membandingkan diri dengan orang lain. Semua punya cerita perjalanannya masing-masing. Tugas kita hanya usaha dan usaha. 


Saya belajar tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk menyerah. Beruntungnya saya termasuk orang yang hampir selalu percaya diri menunjukkan apa yang bisa saya kerjakan. Nggak gampang minder dengan hal yang kurang perlu karena saya paham betul, semua orang punya waktunya sendiri untuk berhasil. 


Pengalaman mengilustrasikan buku anak di Mesir ini seolah menjadi awalan yang sangat baik. Membuat saya jadi punya pengalaman dan lebih berani menerima tawaran berikutnya. Dari sini saya juga butuh tempat untuk bertanya. Saya butuh teman yang lebih berpengalaman, di mana saya bisa bertanya apa yang belum saya kuasai. Alhamdulillah, setelahnya, ada beberapa buku anak yang saya ilustrasikan lagi, belum cover, dll. Yaelah, sekarang dikerjain semua malah sambil ngerjain buku sendiri...kwkwk. Dan, makin ke sini makin menikmati dan bisa mengatur waktu. 


Pengalaman pertama selalu mendebarkan, tak jarang membuat kita takut. Namun, jika kita tidak pernah berani mengambil kesempatan itu, sampai kapan pun kita akan diam di tempat dan jadi penonton. Nggak pengin, kan? Makanya ambil langkah dan beranilah berubah dari kondisi 'nyamanmu'. Karena semua itu akan jadi pengalaman yang sangat berharga.


Salam hangat,


Thursday, April 8, 2021

Pengalaman Mengatasi Anak Tantrum Tanpa Panik

Mengatasi anak tantrum


Menurut Wikipedia, tantrum adalah ledakan emosi yang biasa terjadi pada anak-anak atau bahkan pada orang dewasa. Biasanya ditandai dengan menangis kencang, guling-guling, membangkang, hingga berteriak. Tantrum sebenarnya umum sekali terjadi pada anak-anak. Hampir semua anak mengalaminya. Namun, cara kita menangani anak tantrum sangat berpengaruh pada kondisi emosinya nanti.


Biasanya, anak menjadi tantrum karena ingin mendapatkan perhatian dari kita sebagai orang tua. Misalnya, nih ada anak minta Kinder Joy yang diletakkan di depan meja kasir supermarket. Trik pemasarannya memang cerdas banget, ya...hehe. Akhirnya dia guling-guling memaksa orang tuanya menuruti. Orang tuanya panik. Mau marah, tapi malu di depan umum. Banyak yang melihat dan memerhatikan. Mau menuruti juga berat. Melihat anaknya sampai histeris, akhirnya diturutin juga daripada malu. Dan, drama pun dimulai.


Sejak kejadian itu, anak akan menghalalkan segala cara untuk mengancam kita supaya semua keinginannya dituruti. Mereka itu pintar. Mereka cerdas. Tahu kapan kita nggak bisa menolak. Tahu kapan kita akan menuruti permintaannya.


Keponakan saya misalnya, karena sekali dua kali permintaannya yang penuh drama dituruti, akhirnya dia menggunakan cara tersebut untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Kalau sedang ada tamu di rumah, dia guling-guling nangis minta ke toko dan membeli camilan.


Sudah menjadi rutinitas. Bahkan saat di jalan, saat naik motor, dia bisa berontak kalau permintaannya nggak dituruti. Ibu saya pun bilang, dia pernah menangis di sekolah dan meminta mainan, sampai jilbab Ibu digilas-gilas di tanah. Nyesek banget dengernya. Nggak seharusnya drama tantrum kayak gini berkepanjangan.


“Tapi, kalau nggak dituruti dia kayak gitu. Bikin bahaya apalagi pas naik motor.” Kata Ibu.


Justru karena selalu dituruti itulah dia jadi semakin heboh tiap minta apa-apa. Dia tahu, dengan cara seperti itu permintaannya nggak akan ditolak. Sebelum kita membahas cara mengatasi anak tantrum tanpa panik, ada baiknya kita mengetahui jenis tantrum yang terjadi pada anak-anak,


1. Tantrum Manipulatif

Tantrum manipulatif terjadi karena keinginan yang tidak dipenuhi. Seperti yang terjadi pada keponakan saya. Tantrum manipulatif sengaja dibuat oleh anak-anak karena keinginannya ditolak. Demi mendapatkan apa yang diinginkan, dia menangis, berontak, berteriak, sampai berbuat kasar. 


2. Tantrum Frustasi

Tantrum frustasi biasa terjadi karena si anak nggak bisa menyampaikan keinginannya dengan baik. Misalnya saja tantrum yang terjadi pada anak usia 18 bulan yang belum bisa mengatakan keinginannya. Tantrum frustasi juga bisa terjadi karena kondisi terlalu lapar, lelah, hingga gagal melakukan sesuatu.


Pasti pernah mengalami dong ketika ada anak usia di bawah 2 tahun yang menangis karena gagal memasang lego. Dia pengen ngusun lego dengan rapi, tapi malah jatuh dan jatuh. Atau ada anak yang terlalu ngantuk serta lelah, jadinya rewel dan menangis terus menerus. Kondisi kayak gini bisa disebut tantrum frustasi.


Penyebab Anak Tantrum


Mengatasi anak tantrum


Setelah tahu jenis-jenis tantrum, kita bisa menyimpulkan penyebab tantrum itu apa saja. Kita bisa memperkirakan sebab apa yang membuat anak begitu rewel dan menangis terus menerus. Bisa jadi karena dia menginginkan sesuatu, tapi nggak bisa menyampaikan dengan baik karena usianya yang masih terlalu kecil atau karena dia sedang mengancam orang tua supaya permintaannya dituruti. 


Beberapa sebab di atas bisa terjadi pada anak-anak kita. Pernah juga terjadi pada anak-anak saya, kok. Meskipun hampir semua orang bilang si sulung sama si bungsu termasuk yang adem ayem dan jarang drama kalau pengen sesuatu, tapi, tetap saja ada kejadian yang pernah kami alami bareng dan kita belajar dari kejadian itu.


Cara Mengatasi Tantrum


Mengatasi anak tantrum


Dulu, baik si kakak ataupun si adek pernah ada masanya minta sesuatu sambil nangis-nangis. Si kakak misalnya, pernah menabung untuk membeli mobil remot. Tapi, waktu kamu ke pasar, tanpa sengaja dia melihat toko penjual mainan, salah satunya ada mobil remot! Dia macet di tengah jalan dan nggak mau bergerak. Saya sudah membaca bahasa tubuhnya. 


Dia mulai menangis, tapi saya ingatkan lagi bahwa uang tabungannya belum cukup untuk membeli mainan. Dia hampir mau guling-guling di lantai. Tapi, saya kuatkan hati dan tidak serta merta menuruti keinginannya. Nggak boleh malu walaupun dilihat banyak orang selama kita nggak berbuat aneh-aneh, nggak kasar sama anak atau membentak. Kalem, slow, jangan panik. 


Akhirnya saya minta kakak pulang dulu untuk menghitung uangnya. Jika uangnya cukup, kita kembali untuk membeli mobilnya. Tapi, kalau nggak cukup, harus sabar dong dan menabung lagi.


Akhirnya dia mau pulang dan membuka celengannya. Seperti yang saya perkirakan, uangnya memang belum cukup. Kita nggak kembali ke pasar dan dia menabung lagi dengan sabar.


“Ya ampun, kenapa sih nggak dituruti aja? Cuma mobil remot aja kenapa nggak dibeliin? Kasihan kan anak udah pengen?”


Sekali kita turuti, kedua hingga seterusnya bisa saja dia melakukan hal yang sama demi mendapatkan apa yang diinginkan. Jangan sampai kita jadi susah sendiri karena salah bereaksi ketika anak tantrum. Jangan sampai kita rempong gara-gara nggak sabar menenangkan si anak. Itulah kenapa komitmen kita sebagai orang tua itu penting banget.


Saat ke supermarket misalnya, sebelum berangkat anak-anak sudah berjanji hanya membeli permen. Tapi, sampai di supermarket, mereka bukan hanya melihat permen, tapi ada es krim, ada mainan banyak banget di pajang di dekat meja kasir. Di sini ketenangan kita diuji.


Saat anak mulai pegang-pegang mainan, saya nggak nuduh mereka minta mainan itu. Karena biasanya kalau si kakak cuma melihat saja, katanya nggak beli, kok. Kan, sejak awal sudah janji hanya beli permen, jadi kita harus percaya bahwa mereka punya komitmen dengan janji itu. Jangan bilang, “Eh, tadi janjinya beli apa malah pegang apa.” Nggak begitu menurut saya.


“Wah, bagus ya mainannya. Kakak boleh lihat, ya.”


Ternyata, karena saya sering banget bilang begitu, dia jadi pinter ngajarin adeknya sendiri...hehe. Pas si bungsu lihat kakaknya pegang mainan dan bilang aku beli yang mana, ya? Si kakak langsung nyeletuk, “Kakak cuma lihat, kok. Kan kita ke sini bukan buat beli mainan.” Adeknya nurut dong sama si kakak :D


Masya Allah tabarakallah, meski kadang tetap ada ngambeknya kalau ada keinginan nggak dituruti, tapi mereka nggak sampai tantrum. Apalagi sampai melakukan hal-hal di luar pikiran kita. Misalnya ada anak pengen sandal baru, tapi sandalnya masih bagus, dia rela menggunting sandalnya supaya dapat yang baru. Idenya agak gimana ya buat anak usia SD. Dan ini real memang terjadi.


So, apa yang mesti kita supaya nggak panik saat menagani anak tantrum?

1. Tetap Tenang dan Jangan Panik

Biasanya, kita cenderung panik saat anak mulai menangis saat menangani anak tantrum manipulatif. Tenang, kita mesti bisa mengendalikan keadaan. Bukan anak yang mengendalikan diri kita. Saat anak mulai menangis dan berteriak, jangan balas berteriak apalagi membentak. Karena kondisi kayak gini bisa memperburuk keadaan. Nggak lucu juga dilihatin banyak orang dan tentu saja nggak bagus buat kondisi anak-anak.


Coba tarik napas dan tetap bicara pelan-pelan aja. Kita juga nggak perlu berbohong demi menenangkan mereka. Berbohong hanya membuat masalah reda sesaat saja, nanti dia menagih dan mengulang hal yang sama. Bahkan bisa jadi lebih parah.


2. Tenangkan Anak dan Berilah Dia Pelukan

Kita bisa memeluknya. Jangan burur-buru menasihati. Jangan buru-buru berkata bijak apalagi sambil ceramah. Kadang, mereka butuh menenangkan diri. Kita cukup memeluknya dan membiarkan dia tenang sesaat.


Setelah kondisinya bisa dikendalikan, kita bisa mengajaknya bicara baik-baik, kenapa kita belum mau menuruti keinginannya.


3. Konsisten

Kalau sekarang bilang nggak, besok pun harus tetap nggak boleh. Jangan plin plan jadi orang tua, karena itu bisa membuat si kecil jadi bingung. Hari ini boleh makan es krim, eh besok nggak boleh. Kalau kita bilang dia boleh beli mainan dengan uang tabungannya, jangan sampai besok kita mengeluarkan uang untuk membelikannya mainan. Akhirnya anak jadi bingung sendiri dan nggak bisa konsisten dengan janjinya.


4. Membeli Ketika Butuh

“Kak, kamu masih punya mainan kayak gini di rumah, lho. Masa mau beli lagi?”


Kalau nggak butuh, jangan dibiasakan membeli barang. Buat saya juga penting. Apa yang kamu butuhkan, ya udah itu yang bisa kamu beli. Kalau di rumah udah ada mobil-mobilan, nggak perlu membeli lagi. Kecuali mobilnya udah rusak. Dengan cara seperti ini, anak juga belajar nggak terlalu konsumtif. Nggak seenaknya membeli barang dan minta orang tua.


Itulah beberapa cara yang saya terapkan kepada anak-anak. Bahkan ketika anak-anak diajak jajan sama kakeknya, mereka membeli secukupnya atau malah ditawarin ini itu nggak mau beli. Sempat kejadian waktu kami pulang kampung dan kakeknya heran kok bisa ada anak nggak mau jajan padahal udah ditawarin ini itu :D


Jadi orang tua memang butuh belajar. Terutama saat punya anak pertama. Kayaknya masih banyak trial dan error-nya. Tapi, jangan takut, tetap lakukan yang terbaik versi kita dengan tetap update ilmu, ya. 


Salam hangat,


Sunday, March 14, 2021

Resep Mexican Coffee Buns

Resep Mexican Coffee Buns


Udah lamaa banget nggak bikin Mexican Coffee Buns atau Roti Boy kw. Ini roti kesukaan suami. Kebetulan, karena kemarin tanggal merah dan Mas libur kerja, akhirnya bikin roti Boy biar bisa incip pas masih anget setelah keluar dari oven. Nggak nyangka, resep topping yang sekarang sangat pas, adonan topping-nya mulus di atas rotinya dan kres nyees manis nggak lebay. Ampun, gimana cara menjelaskan kalau roti ini enak beneran…kwkwk.


Untuk adonan rotinya saya pakai resep biasanya. Resep andalan dengan 2 kuning telur untuk 500 gram tepung terigu. Hasilnya empuk maksimal asal nguleninnya sampai benar-benar kalis, ya. 


Saya ngulen adonan roti pakai Re-Bread dengan 3x ngulen. Jadi. Klik tombolnya sampai 3x, ya. Hasilnya kalis banget. Untuk memanggang, saya tetap pakai oven listrik. Pengalaman memanggang roti pakai Re-Bread hasilnya kurang maksimal karena waktunya berbeda dengan oven listrik.


Jadi, sejauh ini saya hanya memanfaatkan Re-Bread untuk ngulen. Kemarin sempat memanggang kacang tanah juga pakai Re-Bread. Asik banget nggak harus ngaduk mulu di depan kompor. Itu pun masih ada gosong-gosongnya gitu, kan kalau di kompor. Pakai Re-Bread bisa merata dan terus mengaduk sendiri secara pelan-pelan, dikasih irisan bawang putih pun ikutan krispi maksimal. Rasa kacangnya jadi enak banget. Lebaran mesti ganti kacang yang digoreng dengan dipanggang. Lebih sehat, lebih tenang ngunyahnya *mohon maaf bukan endorse :D


Bikin Roti Pakai Tepung Apa?

Ada yang sering kesulitan membedakan jenis tepung terigu? Yups, tepung terigu itu jenisnya nggak hanya satu. Ada beberapa jenis, termasuk di antaranya tepung terigu protein rendah, protein sedang, dan juga protein tinggi.


Untuk membuat roti, sebaiknya kita pakai tepung terigu protein tinggi seperti merek Cakra yang paling gampang dicari. Sebagian bilang, nambahin tepung protein sedang sekitar 50 gram dalam adonan roti kita bakalan bikin rotinya jadi tambah empuk. Fakta atau mitos? Hehe. Dulu-dulu sering nambahin terigu protein sedang, tapi sekarang jarang banget karena nggak mau repot…kwkwk. Hasilnya kurang lebih sama saja.


Resep Mexican Coffee Buns 

Timbang bahan sesuai takaran dan lakukan prosesnya sesuai panduan yang telah saya tulis. Jika di kemudian hari ada adona bantet atau kurang bener, tentu saja itu bukan salah saya dong *nggak mau banget disalahin….kwkwk. Bercanda, ya :D


Pastikan saja ragi instan yang dipakai masih aktif dan ngulennya sudah benar sampai benar-benar kalis. Kalau ini dikerjakan dengan benar, harusnya rotinya empuk maksimal. BTW, resep topping-nya saya ambil dari resep Mbak Fitri Sasmaya yang di-share di Instagram.


Bahan adonan roti

500 gram terigu protein tinggi

90 gram gula pasir

2 sdt ragi instan

2 butir kuning telur

1 sachet susu bubuk

240 ml air dingin

90 gram butter atau margarin

½ sdt garam


Bahan Topping 

60 gram unsalted butter / margarin

50 gram gula kastor / saya pakai gula halus

1 butir putih telur (51 gram)

1 sdt nescafe, tambahkan 1 sdt air panas

½ sdt pasta moka/ saya pakai pasta vanilla :D

60 gram tepung terigu


Cara membuat:

  • Campur semua bahan roti kecuali margarin dan garam. Setelah dicampur rata, masukkan margarin dan garam, uleni hingga kalis elastis, ya. 
  • Diamkan adonan yang sudah kalis selama 30 menit. Jangan lupa tutup atasnya supaya tidak kering.
  • Bagi adonan menjadi beberapa bagian sesuai selera. Saya bikin roti seberat 50 gram. Bulatkan dan lakukan sampai adonan habis.
  • Beri isian berupa keju prochis spready. Nanti kejunya bakalan leleh  dan enak banget :D
  • Diamkan adonan yang telah diberi isian tadi selama 1 jam. Jangan lupa tutup bagian atasnya, ya.
  • Yuk, kita bikin topping-nya. Mixer gula dan margarin. Masukkan telur. Mixer hingga rata. Tambahkan kopi dan pasta moka. Terakhir, masukkan tepung terigu. Masukkan adonan ini ke dalam plastik segitiga. Ikat dan simpan di dalam lemari pendingin.
  • Setelah adonan mengembang 2x lipat, tambahkan topping di atas adonan rotinya. Bikin melingkar dan jangan terlalu banyak supaya tidak melebar ke mana-mana saat dipanggang.
  • Panaskan oven kurang lebih 10 menit sebelum digunakan. Panggang roti selama 15 menit dengan suhu 190’C atau sesuaikan dengan oven masing-masing, ya.


Resep Mexican Coffee buns


Voila! Hasilnya, sih keren banget, rata topping-nya, yummy, dan seenak itulah pokoknya :D Kalau ada roti yang masih sisa, kamu bisa simpan di dalam plastik supaya tidak kering. Ketika mau dimakan, hangatkan lagi dalam oven selama 10 menitan. Topping-nya bakalan krispi lagi nanti.


Enak banget, kan bisa bikin roti sendiri di rumah? Mau pergi dan jajan di luar juga males karena butuh banyak perisiapan kalau perlu pakai APD saking parnonya…haha. Nggaklah, ya. Nggak akan segitunya memang. Tetapi, was-was dan merasa lebih repot memang iya.


Kalau memang tidak mendesak, saya memilih di rumah aja, sih. Makan aja seadanya dan nggak usah kebanyakan gaya biar 'bahagia'. Karena kebutuhan kita sebenarnya relatif kecil, gayanya yang suka bikin ribet sendiri, gayanya selangit *kenapa jadi ceramah? Kwkwk.


Nggak mau coba resep ini? Bolehlah coba resep donat ekonomis atau bolu kering. Yuk, bisa, yuk dicoba, yuk. Supaya tetap waras meski hanya di rumah :D


Salam hangat,


Wednesday, March 10, 2021

Serba Serbi Sekolah Online

serba serbi sekolah online


Setahun sudah kita melewati pandemi. Bukan hanya orang dewasa saja yang mesti beradaptasi dengan lingkungan kerja, lebih banyak di rumah, bahkan tak jarang ada yang diberhentikan dari pekerjaannya. Anak-anak, terutama usia skeolah juga mesti beradaptasi dengan proses belajarnya. Karena mustahil datang ke sekolah dan bertatap muka. Maka, sejak beberapa bulan yang lalu, terhitung sudah setahunan, anak-anak harus sekolah online di rumah.


Masalahnya, sekolah di rumah juga nggak bisa semudah yang dibayangkan. Banyak sekali permasalahan yang dihadapi, terutama bagi daerah terpencil yang susah sinyal dan sebagian besar kesulitan ekonomi sehingga tak jarang kita bisa melihat dan membaca berita tentang anak-anak yang akhirnya berhenti sekolah dan memilih membantu orang tuanya bekerja. 


Ada juga yang mesti berjalan jauh hanya demi mengambil materi pelajaran karena dia nggak punya fasilitas. Belum lagi yang mesti menjual harta bendanya demi membeli handphone. Nelangsa dan sedih setiap baca berita kayak gini.


Buat kita yang punya fasilitas, bukan tidak mungkin ada kendala lain yang membuat belajar online terasa begitu kaku dan gerah kayak di musim panas di tengah kota Jakarta… hihi. Selain orang tua juga harus memerhatikan anak-anaknya, guru juga mesti memberikan kelonggaran sedikit sebab ada banyak kendala yang kita hadapi dalam pembelajaran jarak jauh ini.


Internet Tidak Stabil, Belajar pun Tersendat

Waktu awal semester 2 kemarin, ada aturan di mana anak-anak yang terlambat masuk zoom selama 5 menit tidak akan dibolehkan bergabung. Masalahnya, keterlambatan itu tidak selamanya disebabkan karena anak-anaknya yang malas belajar. Tidak jarang juga disebabkan oleh internet yang kurang stabil. Kalau sudah susah, jangankan 5 menit, seharian aja kadang nggak bisa ngapa-ngapain.


Di sini, sempat ada hal yang kurang mengenakkan di mana ada anak yang akhirnya tidak bisa mendapatkan haknya untuk belajar. Padahal sudah stand by tepat waktu. Komunikasi dengan wali kelas berjalan kurang baik, sehingga ada salah paham.


Di sinilah saya sebut kayak kaku banget ini pembelajaran jarak jauhnya. Anak-anak yang mestinya dapat hak belajar jadi nggak bisa. 


Belum lagi kalau sinyal nggak bagus dan mesti zoom, sering keluar masuk sendiri dan pasti bikin nggak fokus. Mau bagaimana lagi, inilah kendala yang dihadapi saat harus belajar online di rumah.


Bersyukur, semakin hari, komunikasi dengan guru semakin baik. Sehingga jika ada kendala seperti itu, guru bisa memaklumi dan memberikan izin supaya anak-anak bisa ikut belajar bersama.


Waktu Belajar Menjadi Tidak Pasti

Kenapa begitu? Anak-anak memang masuk dari jam 7 pagi sampai jam 12 siang. Saat ini, rata-rata semua mata pelajaran menggunakan zoom. Mungkin biar lebih berasa sekolahnya, ya. Namun, karena belajar online inilah, ada aja murid yang molor ngerjain tugas dan tak jarang guru mesti mengingatkan atau harus memeriksa tugas hingga larut malam.


Padahal, sudah dikasih batas waktu juga, sih. Namun, ada saja yang terlambat entah kenapa. Ada juga yang anaknya memang nggak mau mengerjakan tugas kecuali setelah malam hari. Agak riweh banget di sini pasti. Karena guru kayak nggak ada jam istirahatnya :D


Mau bagaimana lagi, setiap anak punya kondisi berbeda. Ada yang memang disiplin tanpa diminta, ada yang mesti dirayu setengah mati. Semester 2 ini berjalan lebih baik dan lebih disiplin kalau dilihat. Mungkin karena semester 1 kemarin terlalu santuy, akhirnya semester 2 ini aturan menjadi lebih ketat dan gurunya jadi jauh lebih kaku sehingga muridnya mau nggak mau jadi ngikutin juga :D


Sulit Bertanya Jika Kurang Mengerti

Ada saat di mana pertanyaan sempat nggak dijawab. Mungkin sudah kebanyakan pesan yang masuk atau terlewat. Ini memang jadi risiko dari pembelajaran jarak jauh begini. Beruntungnya, sekarang kita bisa belajar dari Youtube, ya. Di sana, sudah banyak guru-guru yang bikin video dengan penjelasan yang kadang lebih simple sehingga mudah dipahami. 


Terutama untuk mata pelajaran Matematika, di mana saya benar-benar nggak suka kecuali dulu kayaknya memang karena terpaksa…kwkwk. Belajar dari Youtube ini sangat membantu.


Jika gurunya merespon, beruntung sekali. Dulu, pernah beberapa kali dalam sehari harus video call sama gurunya si sulung. Karena dia kurang memahami pelajaran berhitung. 


Terlalu Lama Menatap Layar

Waktu awal-awal sekolah online, zoom ini nggak terlalu sering digunakan. Namun, di semester 2 tahun ini, hampir semua mata pelajaran memakai zoom yang tentu saja mengharuskan anak-anak menghadap layer dalam waktu yang cukup lama.


Kasihan juga sebenarnya, tapi mau gimana lagi? Sekolah menerapkan hal seperti itu yang dinilai lebih efektif mungkin untuk belajar online. Sangat berharap pandemi segera berakhir, semua orang pun akan mengaminkan. 


Nggak kebayang, setelah ini si bungsu juga bakalan masuk sekolah TK setelah tahun lalu saya cancel karena kondisi yang tidak memungkinkan. Nggak nyangka, tahun ini pun ternyata masih pandemi juga :(


Anak TK gimana belajar online, ya? Selama di rumah, saya coba mengajarinya mengaji seperti kebiasaan yang saya lakukan kepada kakaknya dulu. Alhamdulillah, untuk ngaji Iqra semua berjalan dengan baik. Namun, yang jadi pikiran soal membaca ABC itu, lho. Dia kurang suka dan saya nggak memaksakannya.


Hari ini, saya membeli sebuah buku untuk si bungsu. Buku belajar membaca yang ternyata isinya bedaa banget dengan buku-buku kebanyakan. Seharian ini dia bawa ke mana-mana (maksudnya tetap di dalam rumah…kwkwk). Dia happy banget belajarnya. Insyaallah next saya review bukunya, ya.


Saya berharap si bungsu segera bisa membaca. Kok, gitu? Karena dia senang sekali dibacakan buku dan sering ribut sama kakaknya karena kakaknya nggak mau bacain… kwkwk. Setiap hari, terutama menjelang tidur, dia bawakan buku-bukunya yang banyak dan meminta saya membacakannya. Itu rutinitias yang setiap hari saya lakukan, bahkan dari saat si sulung masih dalam perut emaknya.


Dulu, koleksi buku belum sebanyak sekarang. Masih terbatas banget. Alhamdulillah, sejak si sulung lahir, saya lebih rajin beli buku bacaan buat anak-anak. Dan sejak si sulung semakin besar, dia juga seneng banget belanja buku.


Saya, tidak mau bergantung terlalu banyak pada sekolah. Karena kondisi sekarang memang mengharuskan saya sebagai orang tua ikut aktif juga membantu anak-anak belajar di rumah. Walaupun dia sekolah, walaupun ada gurunya, bukan berarti di rumah nggak perlu dibantu. Saat pandemi seperti sekarang, saya berusaha melakukan apa yang saya bisa, walaupun ngajarin orang bukan keahlian, tapi mesti dilakukan.


Membantu anak supaya disiplin dan tahu tanggung jawabnya adalah hal yang tidak mudah. Awal-awal sekolah online sedikit-sedikit panggil 'Bundaaaa'. Sekarang, dia lebih mandiri dan tahu apa yang mesti dilakukan. 


Lucunya, dia sampai pasang alarm, lho buat jadwal nge-zoom supaya nggak telat sampai ada alarm sekitar jam 12 siang yang mengingatkan supaya dia lekas menyelesaikan tugas. Sempat takjub dia punya ide begini…kwkwkwk.


Namun, jangan kira semua berjalan semulus itu, ya. Masih ada saja hambatannya. Sejauh ini, saya berysukur anak-anak sangat mengerti dan memahami apa yang mesti dilakukan. Ini sangat membantu saya sebagai orang tua sehingga apa-apa tidak selalu meminta tolong kecuali terpaksa.


Semoga postingan ini bermanfaat *sebagai media curhat...kwkwk. Jangan lelah dan patah, ya. Semoga kita bisa melalui ujian ini dengan sabar. Aamiin.


Salam hangat,

Featured image: Photo by Paige Cody on Unsplash

Sunday, March 7, 2021

Susahnya Jadi Orang yang Nggak Enakan

Susahnya jadi orang nggak enakan

Jujur, nggak enak banget jadi orang yang nggak enakan. Nah, lho! Ribet banget ngomongnya, ya? Hihi. Saya juga pernah menjadi orang yang nggak enakan. Dan sungguh itu sangat menyengsarakan perasaan. Lebih parahnya, ada aja orang yang seenaknya memperlakukan orang yang nggak enakan ini *hadeh ribet kwkwk.


Pernah seorang followers saya di Instagram curhat soal ‘nggak enakan’ ini. Dia merasa bersalah banget waktu ada teman kerjanya minta tolong, dan kebetulan dia nggak bisa bantu karena suatu hal. Dia merasa bersalah, padahal dia nggak salah juga, kan? Dia bukannya pelit dan nggak mau bantu, hanya saja kondisinya sedang tidak memungkinkan. Lebih nggak enaknya lagi, dia baca status temannya itu yang bicara soal kejadian tersebut. Semakin nggak enak, kan perasaan kalau begini?


Begitulah derita orang yang nggak enakan. Ketika orang yang 'seenaknya' sudah nyenyak tidur dan rebahan, kita masih aja mikirin sampai keesokan harinya. Perasaan nggak enak ini benar-benar menggangu banget. Mau ngapa-ngapain kepikiran terus. Diiyain salah, ditolak juga salah. Sampai lupa sama urusannya sendiri.


Repotnya Jadi Orang Nggak Enakan


Susahnya jadi orang nggak enakan


Kamu ngerasa nggak, sih, jadi orang nggak enakan itu….


  • Susah banget mau nolak permintaan teman, padahal kondisinya memang nggak memungkinkan. Akhirnya diiyain aja dan tahu, kan? Kita sendiri yang kerepotan.
  • Mau mengutarakan pendapat rasanya berat, takutnya ada yang kurang setuju. Mending diem aja lebih aman.
  • Walaupun nggak suka, kita memilih tetap melakukannya demi menjaga perasaan orang lain. Lupa kalau perasaannya sendiri juga butuh dijaga supaya nggak luka :(
  • Lebih banyak ngalah demi orang lain. Ya udahlah, nggak masalah. Demi teman.
  • Hampir semua kesulitan mesti kita beresin sendiri. Salah siapa, kenapa mesti diiyain semua?
  • Paling tega sama diri sendiri. Lupa kalau diri sendiri juga butuh dicintai. Nggak masalah bucin sama diri sendiri daripada dikerjain orang terus, kan? :D
  • Rela mau mengorbankan diri sendiri demi orang lain. Iya, demi orang lain nggak masalah, deh kita dikorbanin. Sekalian aja nggak nunggu Iduladha? *eh
  • Kita memang dianjurkan untuk membantu orang lain, tapi tidak semua masalah orang bisa kita selesaikan semudah itu. Please, deh. Bagi yang seenaknya sebaiknya berpikir juga :(
  • Kesal dan sebal, tapi mau gimana lagi. Telan aja sendiri. Benar-benar nggak enak banget!
  • Ada yang bercandanya keterlaluan, tapi mau gimana lagi, mau protes juga nggak enak, kan? Telan aja rasa nggak enak itu terus. Gemes :D
  • Jangankan marah, protes aja nggak berani. Pengin bilang ‘berhentilah menertawakan masalahku.’ Padahal, marah di tempatnya itu nggak selalu buruk, kok apalagi jika tidak berlebihan. Nggak masalah marah sekali-kali, ya? Tapi, masih mikir lagi…kwkwk.
  • Saat ada teman mau pinjam uang, kita sulit menolak, takut dikatain pelit dan bukan teman baik. Padahal, kalau itu berlebihan dan menyulitkan buat kita, nggak ada salahnya menolak dan bantu semampu kita. Jadi baik itu nggak bisa selalu menyenangkan semua orang. 


Itulah beberapa penderitaan orang yang nggak enakan. Masih mau jadi orang nggak enakan? Kenapa nggak jadi orang yang 'enakan' aja asal jangan seenaknya. Iya, kan? :D


Hargai Diri Sendiri


Susahnya jadi orang nggak enakan


Selain kita sendiri, kira-kira siapa orang yang paling bisa menghargai diri kita? Kayaknya nggak ada yang lebih pantas dan layak selain kita sendiri, deh. Kalau kita aja sudah nggak peduli dengan perasaan sendiri dan selalu merasa nggak enakan pada orang lain, ujung-ujungnya kitalah yang nggak dihargai.


Kita punya masalah, kita punya kesulitan juga, nggak ada salahnya menolak permintaan orang apalagi jika itu terlihat ‘sangat berlebihan.’


“Kasih harga temanlah! Lagian cuma gambar begitu doang.”

“Kak, boleh nggak minta gambarnya dan saya ganti watermark-nya dengan nama Instagran saya?”

“Minjem duit 30 juta. Lagi butuh, nih. Itu, kan kecil buat kamu.”


Hei, sejak kapan kita berteman? *gubrak :D


Ini hanya fiktif dan memang nggak mustahil terjadi, sebagian besar juga saya alami sendiri. Dan rasanya agak takjub juga dengan kelakuan orang-orang yang baru saya jumpai, bahkan dengan orang-orang terdekat. 


Beberapa hari yang lalu saya sempat melihat Story Instagram salah seorang ilustrator. Waktu itu dia cerita ada orang yang izin minta gambarnya buat jualan. Dan ditolak. Dan respon dari yang minta nggak sopan banget :D


Banyak orang minta izin dulu pada saya dengan permintaan yang wajar. Ada yang minta gambar buat cover novel online tanpa menghapus watermark, saya sangat menghargai dan saya tidak melarangnya. Banyak banget orang yang minta izin dulu buat ini dan itu. Selama itu wajar, saya nggak akan menolak.


Memang, banyak sekali kejutan waktu awal rajin posting gambar di Instagram. Ada yang ambil caption seenaknya, ada yang edit gambar dan hapus watermark, dan sebagainya. Kaget iya. Selama ini mainnya di blog sama nulis buku. Jarang ketahuan ada yang begini. Namun, saya tahu ini adalah risiko ketika saya posting karya di sosial media di mana semua orang bebas melihat dan mengambilnya.


Contoh di blog misalnya, kita pakai anticopas pun bakalan mustahil buat melindungi konten dari orang yang memang berniat buruk buat nyuri tulisan kita. Kayak mudah aja buat yang sudah jago.


Dan itu memang jadi risiko buat kita. Nulis buku aja bisa dibajak, apalagi hanya postingan di sosial media, kan? 


Poinnya apa? Andai ada yang minta izin untuk hal yang mungkin di luar batas wajar, nggak masalah, kok kita tolak. Apalagi kalau kita memang nggak mungkin membantu karena kondisinya memang nggak memungkinkan. Jangan takut bilang nggak bisa. Jangan merasa nggak enak untuk mengatakan tidak. Iya, kamu juga butuh dihargai karena kamu juga punya keterbatasan. Nggak mungkin bisa membantu semua orang.


Kita Juga Perlu Menjaga Perasaan Sendiri


Susahnya jadi orang nggak enakan


Jangan mentang-mentang karena kita bersaudara, kita teman dekat, kita tetangga, kita kenal sudah lama dan sebagainya, kamu jadi seenaknya bersikap sama semua orang. 


Kita sudah mati-matian menjaga perasaan orang lain, mengalah supaya nggak ada masalah, tapi orang lain justru seenaknya. Apakah di sini kita masih perlu jadi orang nggak enakan? 


"Ya, udahlah ngalah aja daripada dilihat orang nggak enak. Kita udah dewasa dan sudah sama-sama ngerti."


Weeei, kenapa kita mesti menjaga perasaan orang terus? Perasaan kita juga butuh dijaga. Ya, Allah, maafkan saya ngegas....kwkwk. Nggak peduli kita pernah dekat dan akrab, kalau berhadapan dengan orang yang seenaknya, apalagi sudah kita bantu segala macam dengan ringannya, saya, sih memilih udahanlah nggak enakannya. Kayaknya nggak perlu banget jadi orang nggak enakan hanya demi menjaga perasaan orang yang ‘seenaknya’ sama kita.


Insyaallah ada jalan lain untuk berbuat baik, nggak harus lewat jalan itu terus kalau akhirnya bikin kita jadi kurang ikhlas. Kecuali kamu memang berniat membantu dan benar-benar membantu :D 


Menjadi ‘enakan’ dari ‘nggak enakan’ ini memang nggak gampang. Pastinya butuh waktu untuk bersikap lebih santai supaya nggak takut sama omongan orang. Jangan sampai kita melakukan sesuatu karena orang lain, tapi kerjakanlah karena kita memang ingin dan mampu melakukannya. Jangan sampai kita pengin bantu orang, tapi justru membuat ruwet hidup sendiri.


Buat yang masih nggak enakan, cobalah belajar mencintai diri kamu sendiri. Sedangkan buat yang seenaknya, please, deh hargai orang lain :)

Salam hangat,

Image: Photo on Unsplash

Thursday, March 4, 2021

Pandemi Sudah Berlangsung Selama Setahun, Perlukah Vaksin Covid 19?

 

Vaksin Covid 19


Sudah setahun kita hidup dalam kondisi penuh kekhawatiran akibat adanya wabah Covid 19. Dua belas bulan sudah kita melewati pandemi. Seperti bisa kita lihat sekarang, kasus positif masih tinggi di mana-mana. Rasanya sampai lupa apa itu bosan diam di rumah? Hal paling penting yang saya utamakan adalan kesehatan keluarga. Lupakan dulu jalan-jalan dan berliburnya.

Nggak peduli kita di rumah sudah berbulan-bulan melakukan rutinitas yang sama, bahkan tak jarang saking bosannya sudah mulai tidak tahu harus melakukan apa. Belum lagi sekolah si sulung aktifnya nggak ketulungan, tapi kesannya jadi agak kaku sejak semester 2 ini.

Karena sekolahnya nggak bisa tatap muka alias mesti online, mau nggak mau kita harus selalu terhubung dengan internet. Nah, kendalanya di sini. Meskipun tinggal di kota besar seperti Jakarta, jangan harap internet bisa selalu lancar aman dan jaya, ya. Sekali waktu, terutama saat hujan turun menderas, internet jadi ikut bermasalah.

Kalau sudah bermasalah, anak-anak jadi terganggu belajarnya, kadang sambil ngambek juga karena nggak bisa ikut nge-zoom bareng guru dan teman-temannya. Pandemi mau sampai kapan, ya? Keadaan yang serba sulit bukan hanya buat anak-anak, tapi juga bagi kita yang sudah dewasa.

Pakai Masker, Tapi….


Fakta Vaksin Covid 19


Sejak pandemi, saya memang jarang sekali pergi ke luar rumah kecuali ada kebutuhan mendesak. Bahkan belanja untuk makan sehari-hari saja saya rela seminggu sekali. Belanja sekaligus banyak buat kebutuhan seminggu. Biar nggak riweh cuci-cuci sayur dan kebutuhan lainnya. Supaya nggak terlalu sering kontak dengan orang lain di luar juga.

Meskipun cukup merepotkan, tapi untuk hari berikutnya sangat memudahkan. Semua bahan tinggal ambil di lemari pendingin. Dalam kondisi bersih juga. Nggak harus bolak balik mandi dan ganti baju karena memang hanya di rumah. Kalau bisa seperti ini, kenapa mesti keluar setiap hari? Akhirnya saya pun terbiasa melakukannya selama setahun ini.

Nah, seminggu yang lalu, kebetulan saya mesti ke bank untuk mengurus kartu ATM. Datang pagi sebelum bank buka, tapi ternyata orang-orang sudah antre lebih dulu sudah banyak sekali jumlahnya. Akhirnya, dari jam 8 pagi, baru bisa masuk sekitar jam 1 siang.

Menunggu sekian jam sambil membaca komik Conan, saya masih agak terheran-heran dengan orang-orang di luar sana. Oke, semua memakai masker kecuali beberapa anak kecil. Namun, kebiasaan mereka masih sama. Nggak bisa jaga jarak, masih sembarangan pegang sana sini sebelum cuci tangan atau minimal pakai hand sanitizer.

Kondisi seperti ini mungkin sulit sekali diubah bagi masyarakat kita. Padahal, bukan hanya mesti memakai masker saja, ada banyak protokol kesehatan yang mesti dilakukan supaya terhindar dari Covid 19. Bukan salah mereka, mungkin memang kurang sekali edukasi.

Pada akhirnya, kita tak bisa memaksa orang untuk selalu disiplin. Kitalah yang mesti menjaga diri sendiri dan memikirkan kesehatan orang terdekat.

Setahun Hidup Bersama Covid 19


Fakta vaksin Covid 19


Nggak nyangka sudah setahun kita melewati pandemi. Benar-benar banyak hal telah saya lalui. Dari pandemi kita belajar, bahwa kesehatan adalah salah satu hal yang sering kita abaikan, tapi berasa banget begitu penting ketika kita jatuh sakit.

Kita itu sering nggak peduli sama kesehatan. Karena merasa hari ini baik-baik saja, maka kita boleh sembaranga kurang istirahat, makan seenaknya, dan yang lainnya. Saat kita sakit, barulah berasa kalau selama ini kita kurang banget perhatian sama kesehatan.

Orang-orang di luar sana, mungkin juga termasuk saya sudah merasa jenuh dengan Covid 19. Namun, kita harus sehat dan melewati ujian ini dengan baik. Karena kita punya keluarga, kita punya pasangan, kita punya anak-anak. Kita tidak mungkin seenaknya hanya karena mulai ‘jenuh’ dengan pandemi. Setidaknya demi diri sendiri dan demi orang-orang yang menyayangi kita, kita harus ikhtiar supaya terhindar dari Covid 19.

Ada beberapa hal yang saya lakukan selama pandemi yang sebagian sudah saya terapkan sebelumnya,


  • Rutin konsumsi jus buah dan sayur

Tubuh butuh vitamin, terutama vitamin C untuk menjaga daya tahan tubuh. Saya memang bukan termasuk orang yang senang konsumsi obat. Bukan anti dengan obat, tapi lebih ke rasional memakai obat-obatan.

Sebelum pandemi, kebutuhan vitamin terutama vitamin C saya dapatkan dari jus buah dan sayur. Ini memang sederhana, tapi atas izin Allah, hal sederhana ini sangat membantu mencukupi kebutuhan vitamin keluarga saya.

Minum jus tomat dengan tambahan buah dan sayur lain nggak terlalu buruk, kok untuk dikonsumsi setiap hari. Saya biasa menghabiskan minimal 4 kilogram tomat setiap minggu. Tomat ini nantinya akan dicampur dengan buah dan sayuran lainnya.

Sekadar tip, jika kamu tidak terlalu suka dengan rasa sayur, boleh tambahkan buah apel, nanas, atau jeruk nipis ke dalamnya. Rasanya akan jauh lebih baik. Saya pribadi tidak mau merepotkan diri dengan membeli bahan-bahan yang mahal, cukup yang murah meriah dan ada di sekitar kita.

  • Istirahat yang cukup

Meskipun saya tahu, saya kurang banget, sih istirahatnya. Namun, saya usahakan selalu istirahat yang cukup terutama di malam hari.

Tidur malam itu nggak bisa diganti dengan tidur siang, lho. Kamu harus tahu itu. Kebutuhan tidur di malam hari nggak bisa kita bayar dengan tidur dari pagi sampai siang. Mending kita tidur lebih awal dan bangun lebih cepat untuk membereskan pekerjaan yang masih tertunda.

Yup, jangankan kamu, saya juga masih kesulitan untuk tidur cukup, kok…hehe.

  • Usahakan tetap di rumah

Sebenarnya, pengin, kok jalan-jalan ke luar, tapi, selain takut dan merasa horor sendiri, saya juga merasa kesenangan sesaat itu nggak sebanding aja sama risikonya. Kalau nggak benar-benar butuh, nggak akan mau keluar rumah pokoknya…kwkwk.

Herannya, anak-anak saya pun melakukan hal yang sama. Kemarin, sengaja suami ngajak anak-anak buat belanja kebutuhan rumah bulanan ke supermarket. Meskipun ini nggak serius, tapi anak-anak dengan serius nolak, lho. Agak takjub juga, sih dengan penolakan mereka karena selama ini saya tidak pernah menakut-nakuti. Hanya edukasi secukupnya saja dan bersyukurnya mereka sudah benar-benar paham.

Perlu Vaksin Nggak, sih?


Sudah setahun pandemi terjadi, benar, sudah setahun, lho. Dan sekarang, banyak orang yang sudah mulai mendapatkan vaksin. Seorang teman di Kuwait bahkan sudah lebih dulu melakuka vaksin Covid 19 di negaranya. Benar, itu wajib dan kudu banget dilakukan atau kita akan kesulitan melakukan banyak aktivitas.

Begitu juga di Indonesia. Vaksin mulai diberikan kepada orang-orang yang diprioritaskan, terutama bagi kalangan medis. Sampai di sini, apakah kamu paham apa, sih itu vaksin? Kenapa ada orang yang sudah diberikan vaksin, tapi malah masih positif Covid 19?

Vaksin merupakan virus atau bakteri yang telah dilemahkan atau bahkan sudah mati, bisa juga merupakan bagian dari virus atau bakteri yang diberikan dengan tujuan supaya terbentuk sistem kekebalan tubuh sehingga mampu melawan saat terkena penyakit yang sama.

Jadi, vaksinasi memang tidak 100% melindungi kita dari virus Covid 19, tapi diharapkan andai terkena virus tersebut, gejalanya akan jauh lebih ringan karena tubuh telah membentuk antibodi. Itulah kenapa ada orang yang sudah menerima vaksin Covid 19, tapi masih kena Covid 19 juga.

Pemberian vaksin Covid 19 ini dinilai paling efektif untuk mengatasi pandemi. Kita tentu berharap, semua akan kembali normal seperti dulu lagi. Di mana kita bisa hidup tanpa kekhawatiran seperti sekarang. Saking parnonya sekarang, suami bersin aja horor. Sedangkan suami saya ini punya alergi debu dan dingin. Kalau sudah bersin, berhentinya butuh waktu banget…kwkwk.

Manfaat Vaksin Covid 19


Fakta vaksin covid 19


Jika kita sudah memahami apa itu vaksin, sekarang kita pelajari apa saja manfaatnya?

  • Dengan adanya vaksin Covid 19, diharapkan angka kematian akan menurun. Karena vaksin bisa membentuk antibodi sehingga dapat meringankan gejala saat terpapar virus tersebut. Lebih dari itu, orang-orang yang sudah divaksin juga bisa melindungi anggota keluarganya dari virus Covid 19, terutama anggota keluarga yang rentan seperti lansia misalnya. Hal ini terjadi karena orang yang sudah divaksin memiliki risiko yang sangat kecil untuk menularkan virus Covid 19.

  • Vaksin Covid 19 diharapkan bisa menekan angka penularan sehingga kegiatan ekonomi dan sosial di dalam masyarakat bisa kembali seperti semula. Meskipun bagi kita, butuh waktu yang tidak sebentar untuk melakukan vaksin pada semua orang.

Fakta dan Mitos Tentang Vaksin Covid 19


Di masyarakat, banyak beredar informasi yang sebagian memang tidak sesuai dengan fakta. Buruknya, kita sering ikut membagikannya. Salah satunya informasi tentang vaksin Covid 19. Daripada kita salah mencerna informasi yang kurang tepat, lebih baik kita pelajari fakta tentang vaksin Covid 19,

  • Memengaruhi kesuburan
Ada yang bilang kalau vaksin Covid 19 ini bisa memengaruhi kesuburan seseorang. Dengan kata lain, kita akan kesulitan mendapatkan keturunan jika menggunakan vaksin ini. Fakta atau mitos, ya?

WHO telah mengatakan dengan jelas bahwa vaksin Covid 19 tidak memengaruhi kesuburan seseorang. Berita yang beredar tersebut sama sekali tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. So, jangan ikut menyebarkan, ya.

  • Telah melalui uji klinis yang ketat
Vaksin Covid 19 telah melalui uji klinis yang sangat ketat, telah diuji coba pada puluhan ribu orang. Sudah terbukti aman dengan dosis yang telah ditentukan.

  • Tidak mengubah struktur DNA manusia
Vaksin Covid 19 tidak bisa mengubah DNA seseorang. Vaksin yang beredar saat ini berbasis mRNA yang mustahil bisa mengubah DNA manusia. Hal ini telah ditegaskan juga oleh WHO.

Itulah beberapa hal yang bisa kita ketahui tentang Vaksin Covid 19. Jangan sampai termakan informasi hoax yang beredar saat ini, ya. Kita butuh informasi yang benar dan tepat terutama dalam kondisi pandemi seperti saat ini. Selengkapnya kamu bisa membacanya di Halodoc.com.

Halodoc merupakan aplikasi serta situs web kesehatan yang telah didirikan sejak 2016 silam. Halodoc menawarkan banyak kemudahan bagi kita yang bukan hanya butuh informasi seputar kesehatan, tapi juga butuh konsultasi langsung dengan para dokter. Ada ratusan dokter terpercaya yang siap membantumu terutama di masa pandemi seperti saat ini di mana kita tidak mungkin sering-sering berkunjung ke rumah sakit untuk berkonsultasi secara langsung.

Kenapa Harus Halodoc?


Bukan hanya bisa berkonsultasi langsung dengan para dokter, kita juga bisa mengakses informasi mengenai apotek hingga asuransi kesehatan dengan mudah di aplikasi Halodoc. Kebayang nggak, sih, betapa mudahnya kebutuhan kita segera bisa dipenuhi.

Membeli obat pun tak perlu mengantre di apotek yang punya risiko tinggi untuk penularan Covid 19. Mending cari obatnya lewat aplikasi Halodoc aja dan tungguin di rumah sambil istirahat. Beres, kan?

Janjian dengan dokter di rumah sakit kini tak perlu antre lagi. Kita bisa menggunakan aplikasi Halodoc untuk membuat janji dengan dokter langganan di rumah sakit. Ini bisa menurunkan risiko tertular penyakit terutama di masa pandemi seperti sekarang.

Banyak sekali kemudahan yang bisa kita dapatkan dari aplikasi Halodoc. Yuk, bagikan informasi yang tepat kepada orang-orang yang kamu sayangi supaya manfaatnya semakin luas. Jangan sampai kita menjadi salah satu orang yang menyebarkan berita hoax, ya.

Salam hangat,

Monday, January 18, 2021

Tips Supaya Tetap Semangat Berkarya

Tips tetap konsisten berkarya



Mengawali tahun 2021, apa harapan kamu ke depan? Masih ada harapan setinggi langitkah untuk impianmu yang belum terwujud?


Tahun 2020, sudah pasti banyak rencana yang mungkin sulit diwujudkan. Pandemi tiba-tiba mampir dan membuat semuanya kelabakan. Bukan hal mudah melewati satu tahun pertama dalam kondisi wabah seperti ini. Namun, lihat, deh, kita bisa sampai di tahun berikutnya dalam kondisi sehat dan tidak kurang satu hal apa pun. Betapa kita sangat beruntung. 


Masih semangatkah kamu untuk terus berkarya? Menulis, membuat ilustrasi, atau apa pun passion kamu, jangan sampai semangat itu surut begitu saja. Buat saya, di masa pandemi seperti sekarang, hobi ataupun passion bisa sangat membantu mengisi waktu luang selama di rumah. Jalan-jalan nggak pernah, ke mall apalagi. Benar-benar di rumah aja, lho. Kalau nggak ada kesibukan sama sekali, mungkin bakalan mudah buat pikiran jadi stres. Mungkin jadi susah buat happy.


Itulah kenapa saya berusaha untuk tetap konsisten melakukan hal yang saya senangi, meskipun kondisi sekarang seperti mengubah mood, tapi urusan berkarya sekuat tenaga tetap dilakukan. Benar-benar membantu, bikin saya jadi sibuk dengan hal baru dan lupa dengan keadaan yang serba sulit seperti ini.


Waktu Pertama Pandemi Muncul di Indonesia


Tips tetap semangat berkarya


Waktu pertama kali tahu kabar bahwa covid-19 sudah masuk Indonesia, saya masih agak santai. Nggak ada pikiran borong masker hingga saya sadar masker dir supermarket udah nggak tersisa sama sekali. Telat banget bangunnya, kan? Kwkwk.


Dan masih nggak nyangka kalau pandemi bisa memberi dampak seburuk saat ini. Baik buat kesehatan atau pekerjaan orang-orang di sekitar saya. Seburuk ini, lho efeknya? Lekaslah pulang ke kampung halamanmu, please :(


Awal tahun lalu, saya masih beruntung karena dua buku solo bisa terbit di awal tahun. Meskipun jangan berharap penjualan di bulan-bulan selanjutnya bakalan sebaik seperti sebelum pandemi. Setidaknya itu buku yang sudah disiapkan bisa lahir dalam bentuk cetak dan sempat masuk Gramedia. 


Sebab, ada banyak buku yang akhirnya gagal terbit dalam bentu cetak. Kebanyakan buku diterbitkan dalam bentuk ebook. Buat siapa pun, ebook ini nggak sama seperti buku fisik. Nggak ada aroma kertasnya, nggak bisa dipeluk, nggak bisa diajakin foto dengan leluasa, pokoknya, rata-rata penulis nggak pengin bukunya dicetak dalam bentu ebook. Qadarallah, saya masih seberuntung itu.


Bulan-bulan berikutnya, penerbit mulai menunda waktu terbit dan seperti kita tahu sekarang, penerbit hanya menerbitkan sedikit saja buku dalam bentuk fisik. Kayaknya benar-benar dipilih banget temanya. Lalu, saya ngapain dong? Mana naskah-naskah yang sudah di-ACC masih banyak banget di beberapa penerbit mayor. Bahkan, Agustus tahun lalu, harusnya naskah saya ada yang terbit, akhirnya gagal. Dan nggak ada kabar sampai sekarang. 


Satu lagi saya ingat, karena pandemi, ada beberapa lomba blog yang hadiahnya nggak nyampe ke tangan…kwkwk. Sebenarnya ini nggak masuk akal sama sekali, tapi nggak masalah. Sesuatu yang hilang akan digantikan dengan yang lebih baik. Bukan begitu? :D


Apakah pandemi benar-benar membuat hari-hari saya menjadi begitu buruk? Nyatanya nggak. Apa yang hilang akan Allah gantikan dengan yang lebih baik. Nggak terlalu aktif menulis dan ngeblog, akhirnya membuat saya berani belajar ilustrasi. Benar-benar karena pandemi, sih ini.


Karena sudah berani memulai, akhirnya saya mendapati hal baru yang sangat menyenangkan. Itulah kenapa, jangan takut memulai hal baru yang kamu sukai. Karena kita nggak pernah tahu, kejutan apa yang akan Allah berikan.


Semangat, Semangat!


Tips tetap semangat berkarya


Ketika saya buka question di story Instagram, ada yang nanya,


“Waktu pertama kali upload gambar di Instagram, sebulan berapa postingan?”


Saya jawab, sehari 1 gambar. Berlebihan nggak, sih? Memangnya nggak ada kerjaan lain, ya? Masa tiap hari gambar mulu? Kwkwk. Dikira menggambar habis 24 jam mungkin, ya? Nggaklah :D


Sebenarnya saya nggak nyangka, dari menggambar yang hasilnya masih sederhana banget, bisa membuat banyak orang suka, masyaallah. Awalnya, upload gambar sering-sering ya karena pengin latihan juga. Toh belum punya proyek juga, kan? Nggak ada yang mesti dikerjakan waktu itu. Makanya, waktu luang dipakai untuk menggambar.


Dan ternyata bisa tetap konsisten sampai sekarang. Apa nggak bosan? Pernah bosan, kok. Tapi, lebih banyak senangnya. Manfaatnya apa buat kita? Nggak ada yang bayar, nggak pernah nerima iklan lewat juga…kwkwk.


Saya jelaskan manfaatnya kalau kamu mau konsisten berkarya,


1. Bisa konsisten berlatih


Supaya bisa menggambar, kita harus ngapain? Latihan. Bukan banyak nanya, bukan banyak nonton youtube juga. Jawabannya, latihan. Tanpa latihan, mustahil gambar kita bakalan bagus. Buat yang pemula, narik garis lurus aja ndredeg, Rek (ini pengalaman saya...kwkwk). Gimana mau bagus kalau nggak pernah latihan? Mungkin impian bakalan jadi sekadar impian, jadi bunga tidur saja kalau kita nggak mau berlatih meningkatkan kemampuan.


Kalau hasilnya belum bagus, nggak masalah, upload aja di sosial media. Dari sini kita bisa lihat hasilnya dari waktu ke waktu. Yakin, deh, nggak bakalan hasilnya selalu sama kalau kamu latihan terus.


Malu? Kalau nggak percaya diri dengan karya yang kamu buat, lalu siapa lagi yang mau menghargainya? Nggak bisalah kita terus menerus memelihara rasa malu kalau bukan pada tempatnya. Akhirnya kita jadi nggak berkembang. Sibuk sama malu muluuuu. 


Kalaupun hasilnya belum bagus, nanti bakalan ada yang ngasih masukan, kok. Seiring berjalannya waktu, kamu pun harus percaya bahwa usaha keras itu nggak akan mengkhianati hasil. 


2. Branding


Jangan mau jadi biasa saja. Bermimpilah yang muluk. Bermimpilah yang tinggi. Salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah dengan branding di sosial media. Perlihatkan karyamu pada orang lain. Biarkan mereka tahu kalau kamu punya kelebihan, meskipun belum sebanyak yang lain. Kenapa nggak? :)


Manfaatnya apa buat kita? Lebih mudah dikenal oleh banyak orang. Dan ini beneran masyaallah banget dampaknya kalau kamu bisa ngerasain langsung. Dari sini juga, mungkin bakalan ada yang nawarin kamu proyek membuat ilustrasi untuk buku atau yang lain.

 

Apakah ini terlihat mudah? Kalau diceritakan iya, tapi saat dijalani mungkin nggak semudah ini. Kuncinya, konsisten aja berkarya, ya. Nggak usah peduliin ucapan yang nggak perlu kamu dengar. 


Saya mau cerita satu hal, pernah ada seorang wanita dari Turki yang kirim foto bersama pasangannya. Katanya, itu foto tujuh tahun lalu ketika pertama kali bertemu suaminya di Masjid Biru, Turki. Dan itu mirip banget dengan gambar yang pernah saya buat. Dia terharu banget karena bisa mirip gitu dengan fotonya.

Kaget juga, tapi ikut senang. Saya memang cukup sering menggambar karakter dengan latar belakang masjid-masjid di Turki. Karena jatuh cinta banget sama negara satu ini. Terutama setelah saya pernah menginjakkan kaki di sana beberapa tahun lalu. Bukannya puas, malah pengen datang lagi dan lebih lama traveling di sana. Sampai bela-belain nabung biar bisa berangkat lagi. Tabungannya nyampe, covid-19 pun datang :D


Tips Konsisten Berkarya Tanpa Alasan


Konsisten berkarya


Gimana caranya supaya kita tetap konsisten berkarya? Soalnya suka nggak mood, kadang repot juga bagi waktu. Gimana caranya?


  • Lakukan karena kamu benar-benar suka. Jangan karena ikut-ikutan orang lain. Jangan karena pengen disebut keren dan hebat. Namun, benar-benar karena pengin dan suka. Karena poin ini penting sekali dicari. Kalau kita nggak bosan, bisa saja kita berhenti kalau memang nggak benar-benar suka melakukannya.
  • Bagi waktumu dengan baik. Jangan kebanyakan gambar sampai lupa kewajibanmu yang lain. Kerjakan apa yang menjadi prioritasmu. Kalau memang nggak mungkin menggambar setiap hari, coba lakukan beberapa hari sekali, tapi pastikan tetap konsisten.
  • Menyempatkan, bukan menunggu sempat. Karena bakalan susah kalau kita hanya nyari waktu luang. Kayaknya, hidup kita sibuk banget. Kalau nggak disempatkan, bakalan susah dong.
  • Berkarya nggak tergantung pada mood. Jujur saja, jarang saya menggambar ketika waktu benar-benar lapang. Pasti nyari waktu sedikit, bahkan meski itu sudah larut dan capek. Makanya, suka nggak detail gambar macam-macam karena waktu terbatas. Namun, happy banget bikinnya, sambil latihan juga. Nggak berasa capeknya. Buat yang suka nggak mood, coba balik lagi ke poin pertama, ya :)
  • Banyakin latihan demi meningkatkan kemampuan. Jangan mudah puas dengan hasil yang kamu dapat sekarang. Orang lain semakin semangat belajar, kamu jangan mau kalah, ya.
  • Punya tujuan jelas dan target yang pasti. Tujuan kamu apa, sih? Kalau nggak punya target jelas atau nggak tahu yang dilakukan buat apa, ya bakalan sulit untuk konsisten berkarya. Namun, ketika kamu tahu pasti apa tujuan kamu, insyaallah bakalan susah untuk berhenti sampai keinginan kamu tercapai.


Apalagi, ya? Coba kamu tambahkan sendiri di kolom komentar. Siapa tahu kamu punya tip yang lebih ngena lagi.

 

Nggak harus sehebat yang lain untuk memulai semua ini. Karena orang yang hebat pun memulainya dari titik yang sama, dari bawah, dari nol. Jadi, nggak usah minder apalagi insecure segala. Terus berkarya, yang positif dan bermanfaat buat semua orang, biar kerja kerasmu nggak hanya sekadar keren saja, tapi juga berpahala. Aaamiin. Semoga, ya? :)

Salam hangat,