Top Social

Yuk, Kenalan dengan LRT Jakarta, Moda Transportasi Publik yang Ramah Lingkungan, Gesit, dan Cocok untuk Wilayah Perkotaan


Foto: merdeka.com

LRT atau Light Rail Transit merupakan moda transportasi publik yang sebentar lagi bisa dinikmati oleh kamu yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Bagi kita yang tinggal di ibu kota, punya transportasi ramah lingkungan merupakan impian yang tak terbantahkan lagi. Di satu sisi, Jakarta sudah sangat maju dengan munculnya gedung-gedung pencakar langit di sana sini, tetapi di sisi lain, kemajuan itu mengikis lahan-lahan hijau yang semakin hari semakin sedikit jumlahnya.

Meski sangat bersyukur Jakarta bisa tumbuh semegah ini, tetapi kita pun menyadari, bahwa kebutuhan udara bersih di Jakarta semakin berkurang saja jumlahnya. Selain lahan hijau yang mulai sedikit, asap kendaraan pun menjadi salah satu faktor yang dapat memperburuk kualitas udara di ibu kota.

Di mana-mana macet, udara panas, asap pun membubung tinggi hingga tak sadar sering membuat sebagian pengendara merasa tak nyaman dan akhirnya mengumpat dan memaki keadaan bahkan pengendara lainnya. Itu adalah pemandangan umum yang sering sekali terjadi. Kamu sendiri pasti pernah merasakan betapa mengerikannya ketika terjebak macet di jalan, terlebih ketika kamu naik motor.

Kita tak bisa menyalahkan siapa pun, tetapi setidaknya kita bisa mencoba cara terbaik untuk mengurangi kemacetan, meminimlisir polusi udara yang ternyata banyak disumbangkan dari kendaraan bermotor baik roda empat maupun roda dua, serta mulai mencoba transportasi publik yang ramah lingkungan.

Kehadiran LRT Jakarta seperti membawa harapan baru bagi warga Jakarta, tak terkecuali bagi saya sendiri. Pasalnya, LRT Jakarta disebut-sebut ramah lingkungan, lho. Rasanya tidak sabar ingin segera mencoba moda transportasi publik satu ini. Tidak hanya hadir di Indonesia, LRT sendiri sebenarnya sudah digunakan di negara-negara lainnya, seperti di Malaysia, Filipina, atau Singapura. Dan sebentar lagi, LRT akan hadir di negeri kita tercinta.

Sambil menanti LRT siap beroperasi, kita kenalan dulu, yuk dengan moda transportasi publik satu ini yang diperuntukkan bagi masyarakat menuju era mobilitas ramah lingkungan!

Tentang Light Rail Transit (LRT)

Foto: economy.okezone.com
Terdengar masih asing di telinga. Bahkan tidak semua warga Jakarta tahu apa itu LRT. LRT atau Light Rail Transit merupakan kereta api ringan yang bisa mengangkut hingga 270 penumpang dalam setiap rangkaian kereta LRT. Dalam satu rangkaian kereta LRT terdiri dari dua kereta. Memiliki spesifikasi yang lebih kecil dibanding MRT dan KRL, namun pergerakannya yang gesit sangat cocok digunakan di wilayah perkotaan seperti Jakarta.

LRT Jakarta fase 1 akan menghubungkan Kelapa Gading dengan Velodrome (Rawamangun). Sedangkan pembangunan LRT fase 2 akan ditargetkan hingga ke Jakarta Utara tepatnya di Jakarta International Stadium. Rencananya, LRT tidak hanya akan menghubungkan beberapa wilayah di Jakarta saja, tetapi juga kota-kota lain di sekitarnya seperti Bekasi dan Bogor.

LRT Jakarta sudah melakukan uji coba untuk umum selama dua pekan tepatnya pada Maret lalu. Hampir semua orang antusias mencoba. Dan tidak sedikit juga yang merasa puas dengan adanya LRT Jakarta ini. Kamu sudah pernah ikut uji cobanya belum, nih? Kalau belum, sabar dulu, ya. Kita doakan semoga LRT Jakarta segera beroperasi dalam waktu dekat dan bisa memudahkan semua orang di ibu kota untuk mencapai tujuannya masing-masing.

Sama Seperti KRL dan MRT, LRT juga Memanfaatkan Tenaga Listrik

Foto: pegipegi.com
LRT Jakarta ini sebenarnya tak berbeda jauh dari KRL dan MRT, lho.  Ketiganya sama-sama digerakkan oleh tenaga listrik. Meskipun punya kemiripan dan nyaris sama karena mampu mengangkut orang banyak di atas rel, namun ketiganya punya perbedaan yang menjadi keunggulan masing-masing.

KRL punya kapasitan lebih besar dibandingkan MRT dan LRT. Bahkan LRT sendiri termasuk kereta listrik yang memiliki kapasitas paling kecil di antara ketiganya. Tapi, perlu kamu tahu, LRT punya keunggulan mengangkut sejumlah penumpang dari segi frekuensi perjalanan yang ditempuhnya dalam sehari.

Berbeda dari KRL dan MRT yang menggunakan listrik aliran atas (LAA), LRT sendiri akan menggunakan listrik aliran bawah (LAB). Nantinya, rel yang dipakai untuk LRT Jakarta akan memiliki rel ketiga yang mempunyai aliran listrik dan dapat membantu menggerakkan LRT tersebut sebagaimana mestinya.

LRT Jakarta akan beroperasi di atas rel ringan dan pastinya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Tidak mengacu pada berat fisik, LRT yang diharapkan bisa segera beroperasi di Jakarta ini dapat berjalan bersamaan dengan kendaraan lain atau berada di lintasan khusus. Pastinya, LRT akan lebih maksimal beroperasi jika dijalankan di lintasan khusus (trem), ya.

LRT Jakarta Punya Fasilitas Berstandar Internasional

Foto: economy.okezone.com
Betapa bangganya kita sebagai warga ibu kota karena sebentar lagi bisa menikmati transportasi publik ramah lingkungan yang berstandar internasional. PT LRT Jakarta sudah sejak lama mempersiapkan fasilitas LRT Jakarta dengan standar kelas dunia, lho.

Apa saja yang bisa kamu temukan di LRT Jakarta ini? Kamu bisa menggunakan eskalator, lift, ada juga CCTV, mushalla, ruang menyusui, hingga klinik. Tidak hanya itu, di dalam kereta kamu bisa menemukan tombol passenger Emergency Intercom, alat pemadam kebakaran, hingga area khusus difabel.

Yuk, ke Stasiun LRT Jakarta dengan JAK-24

Foto: lrtjakarta.co.id
Masih bingung bagaimana cara supaya kamu bisa sampai ke stasiun LRT Jakarta dengan lebih mudah? Salah satu solusi yang bisa kamu coba adalah dengan menggunakan JAK Lingko dengan nomor trayek JAK-24.

Tapi, apa kamu tahu apa itu JAK Lingko? JAK Lingko sebelumnya disebut OK Trip yang merupakan program transportasi satu harga untuk satu kali perjalanan. JAK Lingko diluncurkan oleh Pemprov DKI Jakarta pada masa pemerintahan Anies Baswedan serta Sandiaga Uno.

Dengan JAK Lingko, kamu bisa melakukan perjalanan menggunakan berbagai macam layanan transportasi publik mulai dari mini bus hingga Transjakarta dengan hanya satu kali pembayaran saja. Harganya pun sangat terjangkau, yakni sebesar Rp. 5000 saja, lho.

Nah, untuk menjangkau stasiun LRT Jakarta, kamu bisa menggunakan fasilitas JAK Lingko. Pastikan kamu memilih nomor trayek JAK-24 untuk sampai di stasiun LRT Jakarta. JAK Lingko dengan nomor trayek JAK-24 ini rupanya sudah melayani integrasi dengan stasiun LRT Jakarta Boulevard Utara.

Seribu Beton Sejuta Pohon

Foto: lrtjakarta.co.id
Seperti kita tahu, Jakarta melakukan pembangunan yang begitu pesat dari waktu ke waktu. Lahan terbuka hijau yang dulunya masih mudah dijumpai kini sudah berubah menjadi barisan gedung-gedung pencakar langit. Sadar akan hal itu, PT LRT Jakarta menggelar acara bersama Komunitas Wartawan dengan mengangkat tema Seribu Beton Sejuta Pohon.

PT LRT Jakarta ingin adanya keselarasan antara berdirinya beton dan penanaman pohon dengan jumlah yang lebih banyak. Moda transportasi publik seperti LRT ini dibuat ramah lingkungan dengan harapan mampu mengurangi produksi karbon emisi banyak kendaraan pribadi di ibu kota.

Sejalan dengan tujuan itulah, PT LRT Jakarta ingin supaya area Depo (tempat penyimpanan dan perawatan kereta) memiliki lebih banyak ruang terbuka hijau. Ini merupakan langkah awal yang baik mengingat Jakarta sangat minim lahan terbuka hijau.

Semua orang pastinya ingin supaya LRT Jakarta bisa segera beroperasi sebagaimana mestinya dan dapat memudahkan warga ibu kota mencapai tujuan dengan nyaman dan menyenangkan. Perjalanan menuju tempat kerja akan jauh lebih mudah dengan adanya moda transportasi publik seperti LRT ini. Yuk, kita gunakan fasilitas ini dengan sebaik-baiknya dan jangan lupa, patuhi aturan selama menggunakan LRT Jakarta demi kenyamanan dan keselamatan bersama.

Salam,

Tentang Rencana Manusia dan Kehendak Tuhan

Foto: Pexels.com
Mah, curhat dong! Hari ini pengen banget curhat, tetapi nggak terbiasa curhat di sosial media. Jadi, curhatnya di blog saja biar lebih kelihatan kalau saya itu blogger…kwkwk *blogger KW :D

Kemarin saya sempat di-mention oleh seorang blogger senior yang keren banget, yang ternyata juga adalah tetangga saya, lho. Iya, mbak Damar Aisyah yang super kece. Ternyata saya dan beliau sama-sama masuk final dalam kompetisi menulis tema Hikayat Kotaku dalam Jakarta Writingthon Festival yang diadakan oleh Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Administrasi Jakarta Timur bekerja sama juga dengan iJakarta.


Awalnya sempat ragu mau ikutan karena syaratnya maksimal berusia 23 tahun. Tapi, ternyata selain diperpanjang deadline-nya, ada revisi juga untuk usia peserta. Maksimal yang bisa ikutan berusia 35 tahun. Alhamdulillah, masih masuk. Lomba sekarang sensi semua, sukanya sama yang muda-muda gitu, yang emak-emak jadi minder dan mundur teratur…haha.

Dan akhirnya saya pun mengirimkan naskah saya berdekatan dengan deadline yang telah ditentukan. Sejak awal agak minder dan nggak yakin bisa masuk final. Saya juga kurang tahu tanggal pengumumannya sehingga benar-benar nggak nyangka ketika nama saya disebut juga di sana.

Masya Allah. Senang sekali bisa terpilih dan berkesempatan mengikuti kelas menulis bersama mentor-mentor terpilih selama dua hari. Tapi, ketika melihat tanggalnya, hati saya langsung retak, hancur berkeping…lebay, ya? Hehe. Tanggal 27-28 April Insya Allah bertepatan saya harus ke Bandung karena ada acara yang sudah sejak lama diagendakan bersama keluarga. Maunya saya batal ke Bandung dan membiarkan anak-anak saja yang pergi besama ayahnya, tapi ternyata mereka menolak dan sedih kalau bundanya nggak ikut. Hiks.

Seharian rasanya gemas sendiri karena sudah sampai di tahap final, tetapi malah terkendala waktu yang bertabrakan. Yang awalnya mau menulis jadi nggak fokus mau ngapain...haha.

Bisa masuk final dalam Jakarta Writingthon Festival adalah impian saya, tetapi itu hanya menjadi rencana dan keinginan manusia saja. Sedangkan Allah berkehendak lain setelahnya. Namanya bukan rezeki, ya. Jadi, walaupun sudah di depan mata, saya tetap gugur dan tidak bisa bergabung. Sedih banget rasanya…hiks.

Sorenya sempat menghubungi mbak Damar dan ngobrol sebentar. Dan akhirnya sampai pada keputusan, oke, saya ikhlas dan melepaskan salah satu. Nggak mungkin badan saya dibelah jadi dua…hehe. Saya memutuskan melepaskan kelas menulis sebagai syarat wajib masuk final dalam Jakarta Writingthon Festival tersebut.

Manusia Hanya Bisa Berencana, Allah yang Menentukan

Foto: Pexels.com
Kita bisa merencanakan apa pun semau kita. Tapi, kenyataannya semua tidak akan terjadi tanpa izin dari Allah. Bahkan daun kering yang lepas dari ranting sebuah pohon sekalipun tidak akan jatuh tanpa izin Allah.

Saya pun akhirnya menyadari itu. Tidak semua yang kita mau akan terwujud. Allah akan menentukan dan saya yakin itulah yang terbaik dan harus ikhlas saya terima. Saya berterima kasih dan bersyukur pada Allah karena sudah sampai pada titik sekarang. Setiap perjalanan selalu memberikan hikmah tersendiri. Ya, apa pun itu, Allah paling paham apa yang saya butuhkan.

Tak Perlu Berlarut-larut dalam Kesedihan

Foto: Pexels.com
Iya, yang bukan rezeki tak perlu ditangisi. Meskipun kita kejar sampai ujung langit, tetap saja mustahil didapat. Sebab itulah, saya berusaha melupakan dan mengikhlaskan sesuatu yang bukan milik saya. Insya Allah akan ada kesempatan lain. Insya Allah akan diganti dengan kebahagiaan yang lain.

Masih banyak hal yang perlu disyukuri. Sebab nikmat tak sekadar apa yang hilang dari diri kita, tetapi juga banyak hal yang kita gunakan setiap hari, tapi tak pernah kita sadari manfaatnya. Contohnya? Bisa bernapas dengan lega tanpa selang oksigen. Coba saja satu menit saja kita sesak dan sulit bernapas, tersiksa banget, kan? Apakah ini terlalu hiperbola contohnya? Haha.

Coba Lagi dan Lagi

Foto: Pexels.com
Yang terngiang sekarang adalah kalimat dari ustadz Arafat dan selalu saya tekankan di hati. Iya, Allah itu ingin melihat usaha kita, bukan hasil yang akan kita raih. Jadi, kenapa tidak mencoba lagi? Masih banyak kesempatan, kok.

Sekarang, kompetisi bertebaran di mana-mana. Ambil peluang dan coba lagi. Jangan berdiam diri kemudian mengharapkan emas jatuh dari langit. Hidup ini tentang seberapa besar perjuangan kita, bukan seberapa banyak hasil yang kita raih.

Jadi, apakah saya masih galau dan sedih? Alhamdulillah sudah nggak lagi. Saya yakin, itu bukan rezeki saya sehingga mustahil saya rengkuh untuk saat ini. Ditangisi pun percuma. Dikejar pun untuk apa? Saya tetap melangkah ke depan dan fokus dengan sesuatu yang ingin saya raih daripada harus menangisi yang sudah berlalu.

Yuk, tetap semangat! Sesi curhatan kali ini sudah ditutup dan berganti lembaran baru yang lebih baik lagi, Insya Allah J

Salam,

Peran Keluarga dan Masyarakat dalam Menumbuhkan Budaya Literasi Sejak Dini

Peran keluarga dalam menumbuhkan budaya literasi pada anak-anak harus dimulai sejak dini (Foto: Pexels.com)

Budaya literasi yang mencakup kegiatan membaca dan menulis saat ini memang sudah semakin sulit ditemukan dalam lingkungan keluarga ataupun masyarakat. Sebagian besar aktivitas kita sehari-hari justru didominasi oleh gawai ketimbang buku. Kamu bisa melihat di sekelilingmu, betapa sulitnya menemukan penumpang KRL (kereta rel listrik) yang membaca buku. Sebagian besar dari mereka terpaku menatap gawai di sepanjang perjalanan, bisa jadi termasuk kita sendiri.

Tapi, apakah lunturnya budaya literasi di rumah ataupun di masyarakat seratus persen disebabkan oleh gawai? Saya pribadi tidak sepakat dengan itu meskipun kemunculan gawai pada zaman sekarang memang cukup mempengaruhi budaya baca dan menulis seseorang. Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan gawai, sebab, kemunculan gawai juga nyatanya bermanfaat jika digunakan dengan baik dan efisien.

Munculnya gawai juga berpengaruh pada budaya literasi pada anak-anak kita. Kebanyakan anak-anak zaman sekarang memang lebih senang bermain gawai ketimbang membaca cerita dongeng. Tapi, bukan berarti semua anak bisa disamaratakan. Masih banyak anak-anak yang suka membaca buku, berlama-lama di perpustakaan daerah, atau gemar menulis cerita mereka sendiri.

Anak-anak yang senang membaca atau menulis tidak muncul begitu saja, lho. Ada peran orang tua di rumah serta masyarakat yang turut andil besar dalam menumbuhkan budaya literasi bagi mereka. Sebagai orang tua, saya pribadi melakukan banyak cara supaya anak-anak suka membaca sejak usia dini. Hal semacam ini tidak bisa dilakukan dengan tiba-tiba. Tapi, harus ditumbuhkan pelan-pelan dan tentu saja dengan cara yang menyenangkan.

Kita tidak hanya ingin anak-anak pandai membaca, tetapi juga menyukai dan mencintai aktivitas tersebut. Lantas apa saja yang bisa kita lakukan sebagai orang tua untuk menumbuhkan budaya literasi dalam lingkungan terkecil yakni keluarga?

1. Perkenalkan Buku pada Anak-anak Sejak Usia Dini

Perkenalkan buku pada anak-anak sejak usia dini (Foto: Pexels.com)
Membelikan buku cerita atau dongeng untuk anak-anak jangan menunggu mereka masuk sekolah. Saya bahkan sudah membeli buku cerita untuk anak-anak sejak si sulung masih di dalam kandungan. Sebenarnya, agak terdengar konyol juga, tetapi saya meyakini bahwa bayi di dalam rahim kita juga mendengar ketika kita membacakannya buku.

Setelah anak-anak lahir, saya semakin sering membelikan buku bacaan untuk mereka. Meskipun mereka belum pandai membaca, bahkan hanya sekadar dimainkan dan dibuka tutup saja. Fokus saya hanya ingin membuat mereka akrab dengan buku. Tidak ada target lebih.

2. Bacakan Buku Sebelum Anak-anak Beranjak Tidur

Bacakan buku setiap anak hendak tidur (Foto: orami.co.id)
Sebelum tidur, ada baiknya kita membacakan mereka buku cerita. Meskipun mereka belum bisa membaca. Usia 2-3 tahun, anak-anak saya bahkan sudah bisa menghapal satu buku jenis picbook berseri. Mereka belum bisa membaca, tetapi hapal seluruh kalimat dalam buku yang biasa saya bacakan setiap hari menjelang tidur.

Ketika saya membuka halaman pertama, anak-anak akan melihat gambar dan membaca dengan spontan kalimat yang selalu didengarnya setiap hari. Tidak hanya sekadar membacakan, saya juga sering menceritakan ulang apa yang sudah saya bacakan untuk mereka. Kegiatan sederhana ini semakin membuat mereka mengerti isi dari cerita tersebut.

Terdengar sangat sepele, tetapi aktivitas sederhana seperti ini buat saya tidak hanya membantu mereka mencintai buku, menumbuhkan budaya literasi, tetapi juga menjaga bonding antara orang tua dan anak.

3. Jadikan Buku Sebagai Hadiah yang Paling Anak-anak Sukai

Jadikan buku sebagai hadiah atas prestasi yang telah dicapai oleh si kecil (Foto: moneysmart.id)
Bagi anak-anak, hadiah paling bagus tidak hanya berupa mainan saja, lho. Kebiasaan masyarakat kita yang lebih sering membelikan mainan daripada buku memang berpengaruh juga pada cara pandang si kecil. Apakah setiap anak-anak berprestasi harus selalu diberikan hadiah berupa mainan? Saya rasa tidak.

Setiap bermain ke mal, saya selalu mampir ke toko buku dan mencari buku-buku yang saya inginkan. Saya beri kesempatana kepada anak-anak untuk memilih satu buku yang mereka sukai. Jika mereka inginkan lebih, mereka bisa membeli menggunakan uang tabungannya. Kegiatan seperti ini selalu kami lakukan setiap bulan. Hampir tidak pernah melewatkan toko buku setiap kali main ke mal. Dan reaksi mereka? Alhamdulillah senang sekali.

Apakah anak-anak tidak meminta mainan setiap kali pergi ke mal? Sekali dua kali mereka meminta mainan, tetapi tidak selalu saya mengabulkan keinginan itu. Anak-anak saya juga sama seperti anak-anak yang lain. Pernah mematung di depan mainan yang dipajang dalam etalase toko, pernah menangis meminta mainan, tetapi saya dan suami selalu konsisten menolak jika memang dirasa berlebihan.

Alhamdulillah, ke depannya mereka semakin paham, bahwa tidak semua yang mereka inginkan harus dibeli dan dibawa pulang. Wajar saja mereka menyukai mobil-mobilan yang dijual dan dipajang di toko, tetapi mereka hanya sekadar bilang suka, mengatakan bagus, tidak lebih.

Karena sejak awal saya lebih sering mengajak mereka membeli buku, mereka pun jadi paham, bahwa yang menyenangkan bagi mereka tidak selalu berupa mainan. Buku pun tak kalah menariknya.

4. Mencari Buku Harga Diskon atau Main ke Perpustakaan

Optimalkan peran perpustakaan untuk menumbuhkan budaya literasi (Foto: Pexels.com)
Buku untuk anak-anak harganya memang mahal. Satu buku untuk si bungsu atau si sulung bisa mencapai Rp. 50-100 ribu bahkan lebih. Nggak heran, ditambah belanjaan buku milik ibunya, jumlahnya bisa mencapai ratusan ribu. Karena itulah, saya dan anak-anak membiasakan diri menabung sebelum membeli buku.

Jadi, solusinya apa supaya kita tetap bisa membaca buku baru tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam? Kita bisa membeli buku harga diskon yang dijual di beberapa tempat. Kalau di toko buku, kita tidak bisa mendapatkan harga diskon. Di sana hanya dijual buku-buku yang baru terbit. Saya sering membeli buku di sekolah si sulung ketika ada event atau seminar parenting. Di sana, ada seorang penjual buku yang menjual buku anak-anak harga diskon. Masih segel, tetapi memang terbitan lama. Harganya bisa setengahnya, lho.

Jika tidak berminat membeli buku baru, kita bisa ajak anak-anak bermain ke perpustakaan yang saat ini semakin mudah dijumpai. Di Jakarta misalnya, sudah ada RPTRA terdekat dari rumah yang juga memiliki fasilitas berupa perpustakaan untuk anak-anak. Meskipun masih terbilang kecil, tetapi adanya perpustakaan ini bisa menjadi cara masyarakat menumbuhkan budaya literasi bagi anak-anak yang tinggal di sekitarnya. Anak-anak tidak hanya diberi fasilitas berupa taman bermain, tetapi juga disuguhkan taman memabaca yang bersih dan juga nyaman.

5. Membuat Buku Sendiri

Ajak anak membuat buku sendiri (Foto: birdandlittlebird.com)
Sejak si sulung masuk TK, saya sering iseng membuat buku sendiri. Saya ketik ceritanya dan saya gambar manual ilustrasinya. Sederhana memang, tetapi anak-anak tidak peduli sebagus apa buku itu, yang mereka sukai adalah isi ceritanya.

Kita bisa membuat cerita sendiri berdasarkan pengalaman atau keinginan anak-anak. Cerita yang sudah kamu ketik bisa di-print dan dijilid. Tawarkan mereka untuk membuat ilustrasi sendiri, biarkan mereka mewarnai gambarnya, berikan kesempatan untuk mereka supaya bisa terlibat langsung. Gambar mereka memang tidak sebagus ilustrasi dalam buku yang dibeli di toko buku, tetapi mereka akan bangga dengan apa yang mereka buat sendiri. Sesimpel itu, kok.

6. Tempel-tempel dan Gunting

Manfaat majalah bekas atau koran untuk membuat buku baru (Foto: Pexels.com)
Anak-anak senang sekali menempel stiker di buku. Hmm, sekali-kali cobalah mencari gambar di majalah bekas dan tempelkan di buku kosong. Bantu mereka membuat cerita sesuai dengan gambar. Biaya untuk memiliki buku sendiri tidaklah mahal jika kita mampu memanfaatkan barang-barang tak terpakai yang ada di sekitar kita.

Kita bisa membantu menggunting gambarnya, biarkan mereka menempel. Jika mereka sudah pandai membaca dan menulis, biarkan mereka menulis ceritanya sendiri.

7. Beri Sugesti Positif pada Anak-anak dengan Bercerita Sambil Menggambar

Jadikan bercerita dan menggambar sebagai budaya sekaligus cara menanamkan pendidikan budi pekerti (Foto: Pexels.com)
Saya punya kebiasaan aneh di rumah bersama anak-anak. Salah satunya adalah mengajarkan mereka tentang banyak hal lewat cerita dan menggambar. Jangan dibayangkan gambar buatan saya rapi dan bagus. Tidak. Gambar saya sangat sederhana, sekadar bisa menggambarkan apa yang ingin saya sampaikan kepada mereka.

Misalnya ketika si sulung belum masuk TK, saya sering bercerita sambil menggambar langsung tentang bagaimana dia di sekolah nanti, dengan siapa dia, siapa yang akan menjemputnya pulang, meyakinkan dia berani di sekolah tanpa saya, dan banyak hal yang ternyata lebih disukai anak-anak ketimbang sekadar dinasihati.

Saya pikir, cara seperti ini bisa dilakukan sambil menanamkan sugesti positif bagi mereka. Misalnya dengan kalimat seperti ini,

“Di sekolah nanti, Bunda tidak bisa ikut menemani, ya?” sambil menggambar ilustrasi si sulung di sekolah bersama guru dan teman-teman barunya.“Kamu akan bersama Ibu guru dan teman-teman barumu. Nanti, saat pulang sekolah, Bunda akan datang menjemputmu lagi. Jangan khawatir, ya.” Sambil menggambar Bunda datang ke sekolah dan menjemputnya.

Kegiatan seperti ini selalu saya ulang-ulang setiap hari, sampai dia hapal dan mengerti. Ajaibnya, saat masuk sekolah pertama kali, dia dengan santai dan senang hati berbaur dengan teman-teman barunya. Besoknya, saya sudah tidak lagi mengantarnya ke sekolah. Masya Allah.

8. Jadilah Contoh

Jadilah contoh bagi anak-anak (Foto: Pexels.com)
Anak-anak lebih senang melihat contoh ketimbang mendengarkan nasihat orang tuanya. Jadi, saya pribadi lebih senang memberikan contoh kepada mereka ketimbang hanya menyuruh mereka sering membaca buku. Anak-anak akan menyontek kebiasaan kita, termasuk kegemaran kita membaca buku.

Qadarallah, karena saya seorang penulis buku islami dan buku anak-anak, akhirnya di rumah selalu dipenuhi tumpukan buku di mana-mana. Saya butuh membaca sebagai referensi dan anak-anak melihatnya sebagai sesuatu yang menyenangkan dan patut ditiru. Selama ini, saya merasa tidak terlalu sulit menumbuhkan budaya membaca pada anak-anak. Semua berjalan alami dan menyenangkan.

Ketika kita menginginkan anak-anak suka membaca, kita sendiri perlu membiasakannya juga, jangan hanya sekadar pandai berkata, tetapi malah malas praktiknya. Jika begitu, mereka hanya akan menertawakan kita ‘kan?

9. Main Gawai Sambil Membaca Buku di Perpustakaan Digital

Manfaatkan gawai untuk kegiatan positif (Foto: Pexels.com)
Saya tidak melarang anak-anak bermain gawai asalkan mereka tahu waktu dan pastinya bermain sewajarnya. Mereka juga harus tahu teknologi, mereka juga harus paham bahaya yang bisa mereka temukan dalam dunia secanggih dan sehebat saat ini. Jika dipergunakan dengan baik, gawai akan memberikan mereka manfaat, tetapi jika salah digunakan, tentu saja akan merugikan.

Anak-anak juga harus punya kegiatan lain selain hanya bermain gawai. Misalnya saja bersepeda, bermain bola, berlarian di halaman rumah, bermain dengan teman-teman sebayanya, atau membaca buku.

Nah, saat ini kita juga bisa membaca buku di perpustakaan digital yang bisa diakses dengan mudah lewat gawai. Tapi, membaca di perpustakaan digital harus dibatasi karena tentu saja mempengaruhi kesehatan mata mereka.

10. Biarkan Anak-anak Menulis Ceritanya Sendiri

Beri kesempatan mereka menulis ceritanya sendiria atau berikan buku harian (Foto: Pexels.com)
Ternyata, tidak hanya senang membaca, mereka yang mencintai buku juga bisa menulis cerita sendiri, lho. Ini terbukti pada si sulung yang sekarang sudah duduk di bangku Sekolah Dasar. Dia sering membuat komik atau menulis cerita pendek tentang petualangan monster serangga atau banyak cerita seru lainnya.

Berikan mereka kesempatan untuk menuliskan cerita mereka sendiri, jangan lupa berikan apresiasi dan pujian atas kerja keras mereka. Jangan selalu fokus pada hasil yang mereka capai, tetapi hargai prosesnya juga.

Kira-kira itulah yang saya terapkan selama ini pada anak-anak. Alhamdulillah, si sulung sekarang sudah berusia 8 tahun, sedangkan si bungsu hampir 4 tahun. Keduanya sama-sama senang  bermain seperti anak seusianya, mereka juga mengenal gawai, tetapi yang paling membuat saya senang, mereka juga senang sekali membaca dan dibacakan buku. Budaya literasi seperti ini tidak bisa kita tunggu sampai mereka masuk sekolah, pastinya harus sejak dini diajarkan terutama dalam lingkungan terdekat yakni keluarga.

Lantas bagaimana peran masyarakat dalam menumbuhkan budaya literasi?

1. Buatlah Taman Membaca Sebanyak Mungkin

Peran penting taman membaca (Foto: Pexels.com)
Untuk menumbuhkan budaya literasi sejak dini, kita harus membuat taman membaca sebanyak mungkin supaya bisa lebih mudah diakses oleh masyarakat. Saat ini, jumlah taman membaca atau perpustakaan di sekitar kita sangatlah sedikit. 

Selain itu, kita perlu mengedukasi masyarakat tentang pentingnya budaya literasi. Kebanyakan dari mereka tidak peduli bahkan tidak mengerti manfaat dari membaca bagi anak-anak.

Membuat taman membaca tidak perlu lahan besar dan luas, lho. Cukup pinjamkan sedikit saja ruang yang kita miliki untuk anak-anak di sekitar kita. Kita bisa menata koleksi buku di teras rumah dan biarkan anak-anak membacanya dengan senang hati setiap akhir pekan. Sederhana, tetapi jika banyak masyarakat yang mau berperan aktif melakukannya, manfaatnya tentu saja sangat besar.

2. Mendampingi Anak-anak Membaca Buku

Dampingi anak-anak membaca buku atau bacakan buku untuk mereka (Foto: Pexels.com)
Di Jakarta, terdapat program Baca Jakarta yang dilaksanakan selama sebulan penuh. Program ini dilaksanakan dengan tujuan mendampingi anak-anak supaya  mampu menyelesaikan tantangan 30 hari membaca. Ternyata adanya 800-an relawan dalam program membaca ini sangat membantu sekali dalam proses tumbuhnya budaya literasi di dalam masyarakat, lho.

Tanpa pendamping, buku-buku yang banyak kita sumbangkan hanya menumpuk tanpa arti. Buat saya, pendampingan ini sangat penting karena anak-anak juga sangat butuh ditemani dan didengarkan.

Itulah peran keluarga dan masyarakat yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan budaya literasi di sekitar kita. Budaya membaca dan menulis tidak bisa tumbuh dengan tiba-tiba, butuh peran keluarga yang menjadi sekolah pertama bagi anak-anak serta peran aktif masyarakat di sekitar kita. Lakukan semuanya dengan menyenangkan tanpa memaksa. Yuk, jadi #SahabatKeluarga dan bangun budaya #LiterasiKeluarga di rumah!

Salam,

Short Coacing#5 Bersama Indscript Creative: Mengembangkan Passion Menjadi Profesi

Foto: Pexels.com

Hai...Hai! Iya, kamu yang suka menulis dan sedang rajin-rajinnya belajar konsisten mengisi blog, atau kamu yang ngakunya senang menulis, tetapi nggak tahu mau mulai dari mana, atau kamu juga yang sudah memilih menulis sebagai passion. Kali ini saya mau berbagi tentang passion yang dapat dikembangkan menjadi sebuah profesi.

Tapi, kali ini berbagi atau sharingnya bukan di blog, melainkan di grup wa. Kamu bisa join di sini. Short coacing#5 bersama Indscript Creative ini memang rutin diadakan. Dan kabar baiknya, kamu bisa bergabung gratis, lho.

Masalahnya, sharing kali ini bakalan diisi oleh saya sendiri…kwkwk. Duh, malu dan deg-degan sebenarnya. Mau menolak takut kwalat. Apalagi janji bikin kelas berbagi bersama Sekolah Perempuan juga belum ketemu waktunya…hiks.


Dalam sharing kali ini, nggak akan jauh-jauh dari topik menulis, pengalaman saya selama menulis dan menghasilkan. Kayaknya nggak bakalan juga dong menyinggung soal resep…kwkwk.
Sebenarnya apa sih passion itu? Passion itu berbeda dengan hobi. Meskipun kayaknya sering disebut kembaran, tetapi keduanya sangat berbeda. Hobi itu lebih identik dengan kesenangan yang tidak kamu anggap serius. Sekadar suka menyanyi di kamar mandi, tapi nggak pernah ingin mendalami sampai ikut les. Sekadarnya saja. Sedangkan passion adalah kebalikannya.


Setelah kamu menemukan apa passion-mu, kamu bisa menekuninya lebih jauh. Misalnya saya yang suka menulis dan baru menyadari beberapa tahun terakhir kalau itulah passion saya. Ketika saya mulai menikmati, menyukai, berkorban banyak hal demi mendalaminya, maka saya nggak mau passion itu hanya sekadarnya saja, tapi saya mau passion ini juga bisa menghasilkan baik berupa karya nyata seperti buku ataupun mendapatkan penghasilan tambahan berupa materi.

Masalahnya, meski zaman sekarang sudah sangat canggih, semua informasi mudah didapatkan, tetapi rupanya masih banyak yang bingung memulainya. Gimana mengubah passion menjadi profesi dan menghasilkan? Gimana caranya? Apakah dengan menulis buku? Hmm, tapi nggak semua orang mampu menulis buku, itu terlalu sulit terutama buat pemula. Lalu apa dong?

Buat saya, jalan untuk mendapatkan penghasilan dari menulis bisa dengan banyak cara. Tapi, yang paling penting dan perlu kamu persiapkan adalah mental kamu dulu. Jangan sampai tumbang di tengah jalan seperti kebanyakan penulis pemula yang saya temui. Bikin blog gampang, tapi mengisinya dengan konsisten itu susah! Bahkan buat yang biasa menulis sekalipun, ternyata itu nggak mudah.

Kebanyakan orang yang saya temui begitu mudah memberikan alasan untuk gagal ketimbang berusaha untuk menang. Masa sih kamu selemah itu? Jujur saja, suka sedih melihat ada orang yang ingin belajar menulis, tetapi pada akhirnya justru diam-diam menyerah. Apakah sesulit itu membangun niat kuat untuk mengembangkan hobi atau passion kamu? Jangan terlalu diambil pusing soal teori menulis. Saya berani katakan bahwa semua itu bisa banget kamu pelajari sambil berjalan, kok. Dan masalahnya lagi-lagi semangatmu itu, lho.

Karena alasan itu juga, dalam buku ‘Berani Nulis Artikel, Ubah Hobi jadi Profesi’ yang baru terbit kemarin, saya tidak panjang lebar menulis tentang teori, melainkan lebih banyak memberikan motivasi. Sampai-sampai salah satu teman saya mengatakan bahwa buku ini lebih cocok disebut buku motivasi…haha.



Ada yang penasaran dan pengen punya bukunya? Kamu bisa cek di Shopee. Klik link ini. Nggak lupa promosi, ya. Pokoknya nggak mau rugi…haha.

Bagi kamu yang ingin mengikuti sharing saya bersama Indscript Creative, bisa join pada link yang sudah disebutkan di atas. Insya Allah, kita akan ngobrol lebih jauh, tidak hanya tentang semangatmu yang suka kendor, tetapi juga tentang banyak hal seputar dunia kepenulisan.

Kuy, semangat dan jangan lupa bersyukur.

Salam,

Kurangnya Edukasi Tentang Pemberian ASI Sejak Dini Membuat Banyak Ibu Baru Melahirkan Menyerah pada Susu Formula

Foto: kumparan.com

“Kok nggak ngasih ASI?”
“Kok nggak ditambah sufor? Nanti anakmu kurang, lho minumnya.”

Netizen maha benar, ya. Begini salah, begitu pun salah. Ngasih ASI aja salah, ngasi sufor juga salah. Pernah mendengar komentar semacam itu juga, kan? Kesel, kan dengernya. Tanpa bertanya kenapa, komentar semacam itu semakin panjang lebar, tak jarang menyinggung perasaan seorang ibu yang masih perih luka jahitannya.

Menjadi seorang ibu paska melahirkan itu nggak mudah, lho. Anak nangis kita juga pusing dan berusaha sebaik mungkin memberikan ASI. Bayi baru lahir masih belajar menyusu, wajar jika belum benar menyusu secara langsung, masih menangis karena pelekatan kurang tepat. Zaman melahirkan si sulung, sempat stres juga karena dia agak kesulitan minum ASI secara langsung. Karena di kanan kiri banyak komentar negatif, akhirnya menyerah dengan memberikan ASIP pakai botol. Alhasil, bukannya semakin pintar menyusu, dia malah bingung puting dan membuat emaknya semakin stres.

Saat kamu melihat seorang ibu yang melahirkan secara normal atau caesar, tak perlu menanggapi berlebihan. Sebab keduanya sama-sama bertaruh nyawa dan menginginkan yang terbaik. Kita nggak pantas jadi hakim di tengah kebahagiaan seseorang. Bahkan belakangan saya jarang bertanya tentang proses kelahiran, khawatir malah membuat seorang ibu menjadi nelangsa kalau saja dia gagal melahirkan normal. Nggak semua ibu melahirkan caesar sanggup dikomentari berlebihan. Iya, cukup kita bicara yang ringan dan jauhi obrolan sensitif.

Begitu juga soal pemberian ASI. Saat ini, memang sudah banyak perempuan yang belajar tentang pemberian ASI yang benar bahkan jauh sebelum melahirkan. Tapi, tak sedikit juga yang kurang tahu soal itu. Jangan pukul rata semua orang. Nggak semuanya paham gimana dan kapan dia harus memberikan ASI serta kapan harus menambah sufor atau susu formula bagi bayinya.

Kurangnya edukasi bagi mereka yang baru melahirkan membuat sebagian besar ibu gagal memberikan ASI, belum lagi kurangnya dukungan dari keluarga, pastinya membuat seorang ibu menyerah begitu saja.

Memberikan sufor atau ASI bukan tentang siapa yang terbaik, kok. Semuanya sama-sama sedang mengusahakan yang paling baik bagi buah hati. Tapi, ada baiknya kamu mengetahui poin-poin penting berikut sebelum memutuskan memberikan sufor bagi bayimu.

Buat Persiapan Matang Baik Saat Melahirkan atau Saat Pemberian ASI

Foto: bundanet.com
Apa saja yang bisa kamu lakukan sebelum bayimu benar-benar lahir ke dunia?

1. Cari informasi sebanyak mungkin tentang pemberian ASI dan proses menyusui yang kelihatannya mudah, tetapi sebenarnya nggak segampang itu juga. Kamu bisa membaca banyak informasi di website milis sehat atau website terpercaya lainnya, bertanyalah juga pada temanmu yang sudah berpengalaman.

2. Ajak suami saling bantu dan mendukung keputusanmu memberikan ASI esklusif sampai 6 bulan. Komitmen itu perlu, lho. Jangan lupa juga beri edukasi pada keluarga besarmu. Terutama kepada orang tua dan mertuamu. Supaya nanti tidak ada pendapat yang saling berbenturan dan malah merugikan bayi dan dirimu.

3. Carilah rumah sakit dan dokter yang pro ASI, mendukung sepenuhnya program early latch-on di mana bayimu harus segera disusui dalam waktu kurang dari satu jam paska melahirkan. Pastikan juga rumah sakit yang kamu pilih memiliki program rawat gabung.

4. Belajar pijat PD di klinik laktasi yang biasa disediakan oleh rumah sakit terkait. Kamu juga harus belajar menyusui dengan benar (pelekatan yang tepat) sebelum melahirkan. Semua itu biasanya dapat kamu pelajari di klinik laktasi, lho.

Sejak bayi lahir, jangan buru-buru memberikan sufor dengan alasan ASI belum keluar. Bayi bisa bertahan 48 jam sejak lahir tanpa apa pun. Jadi, terus susui saja karena isapan bayi baru lahir itulah yang membantu ASI cepat keluar. Banyak sekali poin-poin penting yang mesti dipelajari. Iya, memberikan ASI itu memang tidak gampang. Jadi, siapkan baik-baik sejak dini. Jangan sampai kamu salah memilih rumah sakit dan dokter, jangan sampai pasangan tidak mendukung atau malah tidak tahu menahu soal ASI ekslusif. Yuk pelajari dulu sebelum terlambat. Masih ada waktu sampai kamu melahirkan nanti.

Salam,

Kumpulan Template Blog Cantik dan Kece dari Vefio Themes Seharga 5-6$, Kamu Pilih yang Mana, nih?



Zaman sekarang, template blog cantik nggak melulu dari Jasa Website terkenal dan populer, Sodarah. Iya, kamu juga bisa mencari dan membelinya sendiri, kok. Salah satunya di Etsy. Yup! Di Etsy dijual banyak banget template keren dan pastinya bikin blog kamu semakin cantik. Kalau bisa cari yang jarang dipake orang lain, apalagi yang udah dijual sama Jasa Website karena biasanya yang begitu udah pasaran, sebab dia beli satu kemudian dipakai oleh sejuta umat.

Template-template yang saya sebutkan nanti memang harganya murah meriah, tapi jangan salah, yang nge-fans banyak, lho…haha. Template yang saya suka kira-kira memang nggak jauh berbeda dengan yang saya pakai sekarang. Rapi, bersih, nggak banyak hiasan di sana sini. Nah, kalau kamu tertarik selain yang akan saya sebutkan, kamu bisa cari sendiri di Etsy, kok. Gampang banget caranya, sama seperti ketika kamu belanja online saja. Cuma, kalau di Etsy, kamu harus bayar menggunakan PayPal, ya.

Sebenarnya apa gunanya punya blog dengan template rapi dan cantik? 'Kan yang penting isinya? Menurut saya, tampilan blog juga berpengaruh banget buat blogger karena itu menjadi salah satu kelebihan yang nantinya disukai oleh pembaca. Coba kamu tanya pada diri kamu sendiri, ketika kamu membuka blog seseorang, pastinya kamu juga akan memerhatikan template blognya, 'kan? Kalau bagus, maka kamu pun akan nyaman membaca artikel di dalamnya. Bagus itu nggak selalu dihujani salju atau ada bintang-bintang…hihi. Zaman sekarang, kayaknya orang lebih suka yang minimalis, bersih, dan rapi


Nah, jika kamu nggak bisa memasang template blog sendiri, kamu bisa pakai Jasa Website. Iya, kamu bisa membayar jasanya saja, sedangkan template blog dari kamu sendiri. Seperti yang saya lakukan pada template sekarang. Saya memakai jasa seorang blogger wanita dari IIDN, sedangkan template-nya saya beli sendiri di Etsy.

Nggak usah panjang lebar menjelaskan lagi, berikut beberapa jenis template yang bisa kamu beli dan gunakan untuk blog kesayangan kamu!

1. Rainbow Cake


Bagi kamu yang suka warna pink soft gitu, kayaknya cocok banget pakai template blog satu ini. Tampilannya nggak jauh berbeda dengan template blog saya sekarang, tetapi yang bikin manis itu bagian header-nya. Nggak terlalu polos dan pakai header minimalis pun tetap keren karena sudah ada warna-warna lain di sana.

Template ini bisa kamu dapatkan hanya seharga 5$ saja, lho. Kalau nggak punya atau nggak bisa bayar pakai paypal sendiri? Tenang, sekarang sudah banyak jasa paypal yang bisa bantu kamu, kok. Coba googling sendiri dan dapatkan template blog impian kamu!

Untuk demonya, kamu bisa lihat di sini. Jika suka, kamu bisa membelinya di sini. Mudah, 'kan?

2. Beauty Sea


Template responsive satu ini juga oke banget untuk blog kamu, lho. Tampilannya manis, dan yang pasti nggak ngebosenin karena template-template dari Vefio selalu terlihat rapi. Untuk template satu ini, kamu bisa mendapatkannya dengan harga 5$ saja! Murah banget, kan?

Kamu bisa cek demonya di sini. Jika tertarik, kamu bisa beli di sini.

3. Adelyn


Nah, kalau mau yang sedikit berbeda, kamu bisa pakai template Adelyn. Lihat tampilannya di sini. Minimalis banget dan selalu rapi seperti template sebelumnya. Template ini bisa kamu dapatkan dengan hanya membayar 6$ saja. Waduh, bisa kalap memang kalau melihat template yang dijual di Etsy…haha. Cek di sini jika mau membelinya, ya!

4. Beleza


Mau yang dominan putih dan minimalis? Coba kamu cek tampilan template Beleza satu ini.  Biasanya masih bisa diubah warnanya juga pada beberapa bagian, kok. Demonya cek di sini. Harganya juga nggak mahal, hanya 5$ saja, kok. Tampilannya juga rapi dan cantik banget, bikin postigan kamu jauh lebih menarik untuk dibaca. Jika tertarik, klik di sini.

5. Candy Fountain


Masih suka yang pinky? Cobain template Candy Fountain satu ini. Tampilannya bisa kamu lihat di sini. Hasilnya seperti keinginan kamu, ‘kan? Minimalis dan rapi! Harganya juga hanya 5$ saja. Coba cek di sini jika tertarik membelinya. 

Masih kurang? Kamu bisa cek template lainnya di sini. Meskipun banyak yang bilang template sejenis yang saya pakai ini murah atau malah murahan, tetapi hampir semua mengakui kalau template dari Vefio itu rapi, Sodarah. Sampai-sampai ada juga yang menjualnya juga, lho…haha.

Untuk template wordpress, kamu bisa cari juga di Etsy. Surga banget buat yang suka ngeblog seperti kita. Gimana, tertarik buat mencoba salah satu dari template di atas? Cuss, beli, deh! Kamu bisa cek dulu sebelum membelinya, biasanya warna-warna dalam template bisa kamu ubah, dan cek juga fasilitas lain yang diberikan jika kamu membeli template tersebut.

Salam,

Custom Post Signature

Custom Post  Signature