Wednesday, April 24, 2019

Tentang Rencana Manusia dan Kehendak Tuhan

Mah, curhat dong! Hari ini pengen banget curhat, tetapi nggak terbiasa curhat di sosial media. Jadi, curhatnya di blog saja biar lebih kelihatan kalau saya itu blogger…kwkwk *blogger KW :D


Kemarin saya sempat di-mention oleh seorang blogger senior yang keren banget, yang ternyata juga adalah tetangga saya, lho. Iya, mbak Damar Aisyah yang super kece. Ternyata saya dan beliau sama-sama masuk final dalam kompetisi menulis tema Hikayat Kotaku dalam Jakarta Writingthon Festival yang diadakan oleh Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Administrasi Jakarta Timur bekerja sama juga dengan iJakarta.


Awalnya sempat ragu mau ikutan karena syaratnya maksimal berusia 23 tahun. Tapi, ternyata selain diperpanjang deadline-nya, ada revisi juga untuk usia peserta. Maksimal yang bisa ikutan berusia 35 tahun. Alhamdulillah, masih masuk. Lomba sekarang sensi semua, sukanya sama yang muda-muda gitu, yang emak-emak jadi minder dan mundur teratur…haha.


Dan akhirnya saya pun mengirimkan naskah saya berdekatan dengan deadline yang telah ditentukan. Sejak awal agak minder dan nggak yakin bisa masuk final. Saya juga kurang tahu tanggal pengumumannya sehingga benar-benar nggak nyangka ketika nama saya disebut juga di sana.


Masya Allah. Senang sekali bisa terpilih dan berkesempatan mengikuti kelas menulis bersama mentor-mentor terpilih selama dua hari. Tapi, ketika melihat tanggalnya, hati saya langsung retak, hancur berkeping…lebay, ya? Hehe. Tanggal 27-28 April Insya Allah bertepatan saya harus ke Bandung karena ada acara yang sudah sejak lama diagendakan bersama keluarga. Maunya saya batal ke Bandung dan membiarkan anak-anak saja yang pergi besama ayahnya, tapi ternyata mereka menolak dan sedih kalau bundanya nggak ikut. Hiks.


Seharian rasanya gemas sendiri karena sudah sampai di tahap final, tetapi malah terkendala waktu yang bertabrakan. Yang awalnya mau menulis jadi nggak fokus mau ngapain...haha.


Bisa masuk final dalam Jakarta Writingthon Festival adalah impian saya, tetapi itu hanya menjadi rencana dan keinginan manusia saja. Sedangkan Allah berkehendak lain setelahnya. Namanya bukan rezeki, ya. Jadi, walaupun sudah di depan mata, saya tetap gugur dan tidak bisa bergabung. Sedih banget rasanya…hiks.


Sorenya sempat menghubungi mbak Damar dan ngobrol sebentar. Dan akhirnya sampai pada keputusan, oke, saya ikhlas dan melepaskan salah satu. Nggak mungkin badan saya dibelah jadi dua…hehe. Saya memutuskan melepaskan kelas menulis sebagai syarat wajib masuk final dalam Jakarta Writingthon Festival tersebut.


Manusia Hanya Bisa Berencana, Allah yang Menentukan


Kita bisa merencanakan apa pun semau kita. Tapi, kenyataannya semua tidak akan terjadi tanpa izin dari Allah. Bahkan daun kering yang lepas dari ranting sebuah pohon sekalipun tidak akan jatuh tanpa izin Allah.


Saya pun akhirnya menyadari itu. Tidak semua yang kita mau akan terwujud. Allah akan menentukan dan saya yakin itulah yang terbaik dan harus ikhlas saya terima. Saya berterima kasih dan bersyukur pada Allah karena sudah sampai pada titik sekarang. Setiap perjalanan selalu memberikan hikmah tersendiri. Ya, apa pun itu, Allah paling paham apa yang saya butuhkan.


Tak Perlu Berlarut-larut dalam Kesedihan


Iya, yang bukan rezeki tak perlu ditangisi. Meskipun kita kejar sampai ujung langit, tetap saja mustahil didapat. Sebab itulah, saya berusaha melupakan dan mengikhlaskan sesuatu yang bukan milik saya. Insya Allah akan ada kesempatan lain. Insya Allah akan diganti dengan kebahagiaan yang lain.


Masih banyak hal yang perlu disyukuri. Sebab nikmat tak sekadar apa yang hilang dari diri kita, tetapi juga banyak hal yang kita gunakan setiap hari, tapi tak pernah kita sadari manfaatnya. Contohnya? Bisa bernapas dengan lega tanpa selang oksigen. Coba saja satu menit saja kita sesak dan sulit bernapas, tersiksa banget, kan? Apakah ini terlalu hiperbola contohnya? Haha.


Coba Lagi dan Lagi

Yang terngiang sekarang adalah kalimat dari ustadz Arafat dan selalu saya tekankan di hati. Iya, Allah itu ingin melihat usaha kita, bukan hasil yang akan kita raih. Jadi, kenapa tidak mencoba lagi? Masih banyak kesempatan, kok.


Sekarang, kompetisi bertebaran di mana-mana. Ambil peluang dan coba lagi. Jangan berdiam diri kemudian mengharapkan emas jatuh dari langit. Hidup ini tentang seberapa besar perjuangan kita, bukan seberapa banyak hasil yang kita raih.


Jadi, apakah saya masih galau dan sedih? Alhamdulillah sudah nggak lagi. Saya yakin, itu bukan rezeki saya sehingga mustahil saya rengkuh untuk saat ini. Ditangisi pun percuma. Dikejar pun untuk apa? Saya tetap melangkah ke depan dan fokus dengan sesuatu yang ingin saya raih daripada harus menangisi yang sudah berlalu.


Yuk, tetap semangat! Sesi curhatan kali ini sudah ditutup dan berganti lembaran baru yang lebih baik lagi, Insya Allah J


Salam,

Tuesday, April 23, 2019

Peran Keluarga dan Masyarakat dalam Menumbuhkan Budaya Literasi Sejak Dini

Budaya literasi yang mencakup kegiatan membaca dan menulis saat ini memang sudah semakin sulit ditemukan dalam lingkungan keluarga ataupun masyarakat. Sebagian besar aktivitas kita sehari-hari justru didominasi oleh gawai ketimbang buku. Kamu bisa melihat di sekelilingmu, betapa sulitnya menemukan penumpang KRL (kereta rel listrik) yang membaca buku. Sebagian besar dari mereka terpaku menatap gawai di sepanjang perjalanan, bisa jadi termasuk kita sendiri.


Tapi, apakah lunturnya budaya literasi di rumah ataupun di masyarakat seratus persen disebabkan oleh gawai? Saya pribadi tidak sepakat dengan itu meskipun kemunculan gawai pada zaman sekarang memang cukup mempengaruhi budaya baca dan menulis seseorang. Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan gawai, sebab, kemunculan gawai juga nyatanya bermanfaat jika digunakan dengan baik dan efisien.


Munculnya gawai juga berpengaruh pada budaya literasi pada anak-anak kita. Kebanyakan anak-anak zaman sekarang memang lebih senang bermain gawai ketimbang membaca cerita dongeng. Tapi, bukan berarti semua anak bisa disamaratakan. Masih banyak anak-anak yang suka membaca buku, berlama-lama di perpustakaan daerah, atau gemar menulis cerita mereka sendiri.


Anak-anak yang senang membaca atau menulis tidak muncul begitu saja, lho. Ada peran orang tua di rumah serta masyarakat yang turut andil besar dalam menumbuhkan budaya literasi bagi mereka. Sebagai orang tua, saya pribadi melakukan banyak cara supaya anak-anak suka membaca sejak usia dini. Hal semacam ini tidak bisa dilakukan dengan tiba-tiba. Tapi, harus ditumbuhkan pelan-pelan dan tentu saja dengan cara yang menyenangkan.


Kita tidak hanya ingin anak-anak pandai membaca, tetapi juga menyukai dan mencintai aktivitas tersebut. Lantas apa saja yang bisa kita lakukan sebagai orang tua untuk menumbuhkan budaya literasi dalam lingkungan terkecil yakni keluarga?


1. Perkenalkan Buku pada Anak-anak Sejak Usia Dini

Membelikan buku cerita atau dongeng untuk anak-anak jangan menunggu mereka masuk sekolah. Saya bahkan sudah membeli buku cerita untuk anak-anak sejak si sulung masih di dalam kandungan. Sebenarnya, agak terdengar konyol juga, tetapi saya meyakini bahwa bayi di dalam rahim kita juga mendengar ketika kita membacakannya buku.


Setelah anak-anak lahir, saya semakin sering membelikan buku bacaan untuk mereka. Meskipun mereka belum pandai membaca, bahkan hanya sekadar dimainkan dan dibuka tutup saja. Fokus saya hanya ingin membuat mereka akrab dengan buku. Tidak ada target lebih.


2. Bacakan Buku Sebelum Anak-anak Beranjak Tidur


Sebelum tidur, ada baiknya kita membacakan mereka buku cerita. Meskipun mereka belum bisa membaca. Usia 2-3 tahun, anak-anak saya bahkan sudah bisa menghapal satu buku jenis picbook berseri. Mereka belum bisa membaca, tetapi hapal seluruh kalimat dalam buku yang biasa saya bacakan setiap hari menjelang tidur.


Ketika saya membuka halaman pertama, anak-anak akan melihat gambar dan membaca dengan spontan kalimat yang selalu didengarnya setiap hari. Tidak hanya sekadar membacakan, saya juga sering menceritakan ulang apa yang sudah saya bacakan untuk mereka. Kegiatan sederhana ini semakin membuat mereka mengerti isi dari cerita tersebut.


Terdengar sangat sepele, tetapi aktivitas sederhana seperti ini buat saya tidak hanya membantu mereka mencintai buku, menumbuhkan budaya literasi, tetapi juga menjaga bonding antara orang tua dan anak.


3. Jadikan Buku Sebagai Hadiah yang Paling Anak-anak Sukai


Bagi anak-anak, hadiah paling bagus tidak hanya berupa mainan saja, lho. Kebiasaan masyarakat kita yang lebih sering membelikan mainan daripada buku memang berpengaruh juga pada cara pandang si kecil. Apakah setiap anak-anak berprestasi harus selalu diberikan hadiah berupa mainan? Saya rasa tidak.


Setiap bermain ke mal, saya selalu mampir ke toko buku dan mencari buku-buku yang saya inginkan. Saya beri kesempatana kepada anak-anak untuk memilih satu buku yang mereka sukai. Jika mereka inginkan lebih, mereka bisa membeli menggunakan uang tabungannya. Kegiatan seperti ini selalu kami lakukan setiap bulan. Hampir tidak pernah melewatkan toko buku setiap kali main ke mal. Dan reaksi mereka? Alhamdulillah senang sekali.


Apakah anak-anak tidak meminta mainan setiap kali pergi ke mal? Sekali dua kali mereka meminta mainan, tetapi tidak selalu saya mengabulkan keinginan itu. Anak-anak saya juga sama seperti anak-anak yang lain. Pernah mematung di depan mainan yang dipajang dalam etalase toko, pernah menangis meminta mainan, tetapi saya dan suami selalu konsisten menolak jika memang dirasa berlebihan.


Alhamdulillah, ke depannya mereka semakin paham, bahwa tidak semua yang mereka inginkan harus dibeli dan dibawa pulang. Wajar saja mereka menyukai mobil-mobilan yang dijual dan dipajang di toko, tetapi mereka hanya sekadar bilang suka, mengatakan bagus, tidak lebih.


Karena sejak awal saya lebih sering mengajak mereka membeli buku, mereka pun jadi paham, bahwa yang menyenangkan bagi mereka tidak selalu berupa mainan. Buku pun tak kalah menariknya.


4. Mencari Buku Harga Diskon atau Main ke Perpustakaan


Buku untuk anak-anak harganya memang mahal. Satu buku untuk si bungsu atau si sulung bisa mencapai Rp. 50-100 ribu bahkan lebih. Nggak heran, ditambah belanjaan buku milik ibunya, jumlahnya bisa mencapai ratusan ribu. Karena itulah, saya dan anak-anak membiasakan diri menabung sebelum membeli buku.


Jadi, solusinya apa supaya kita tetap bisa membaca buku baru tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam? Kita bisa membeli buku harga diskon yang dijual di beberapa tempat. Kalau di toko buku, kita tidak bisa mendapatkan harga diskon. Di sana hanya dijual buku-buku yang baru terbit. Saya sering membeli buku di sekolah si sulung ketika ada event atau seminar parenting. Di sana, ada seorang penjual buku yang menjual buku anak-anak harga diskon. Masih segel, tetapi memang terbitan lama. Harganya bisa setengahnya, lho.


Jika tidak berminat membeli buku baru, kita bisa ajak anak-anak bermain ke perpustakaan yang saat ini semakin mudah dijumpai. Di Jakarta misalnya, sudah ada RPTRA terdekat dari rumah yang juga memiliki fasilitas berupa perpustakaan untuk anak-anak. Meskipun masih terbilang kecil, tetapi adanya perpustakaan ini bisa menjadi cara masyarakat menumbuhkan budaya literasi bagi anak-anak yang tinggal di sekitarnya. Anak-anak tidak hanya diberi fasilitas berupa taman bermain, tetapi juga disuguhkan taman memabaca yang bersih dan juga nyaman.


5. Membuat Buku Sendiri


Sejak si sulung masuk TK, saya sering iseng membuat buku sendiri. Saya ketik ceritanya dan saya gambar manual ilustrasinya. Sederhana memang, tetapi anak-anak tidak peduli sebagus apa buku itu, yang mereka sukai adalah isi ceritanya.


Kita bisa membuat cerita sendiri berdasarkan pengalaman atau keinginan anak-anak. Cerita yang sudah kamu ketik bisa di-print dan dijilid. Tawarkan mereka untuk membuat ilustrasi sendiri, biarkan mereka mewarnai gambarnya, berikan kesempatan untuk mereka supaya bisa terlibat langsung. Gambar mereka memang tidak sebagus ilustrasi dalam buku yang dibeli di toko buku, tetapi mereka akan bangga dengan apa yang mereka buat sendiri. Sesimpel itu, kok.


6. Tempel-tempel dan Gunting


Anak-anak senang sekali menempel stiker di buku. Hmm, sekali-kali cobalah mencari gambar di majalah bekas dan tempelkan di buku kosong. Bantu mereka membuat cerita sesuai dengan gambar. Biaya untuk memiliki buku sendiri tidaklah mahal jika kita mampu memanfaatkan barang-barang tak terpakai yang ada di sekitar kita.


Kita bisa membantu menggunting gambarnya, biarkan mereka menempel. Jika mereka sudah pandai membaca dan menulis, biarkan mereka menulis ceritanya sendiri.


7. Beri Sugesti Positif pada Anak-anak dengan Bercerita Sambil Menggambar

Saya punya kebiasaan aneh di rumah bersama anak-anak. Salah satunya adalah mengajarkan mereka tentang banyak hal lewat cerita dan menggambar. Jangan dibayangkan gambar buatan saya rapi dan bagus. Tidak. Gambar saya sangat sederhana, sekadar bisa menggambarkan apa yang ingin saya sampaikan kepada mereka.


Misalnya ketika si sulung belum masuk TK, saya sering bercerita sambil menggambar langsung tentang bagaimana dia di sekolah nanti, dengan siapa dia, siapa yang akan menjemputnya pulang, meyakinkan dia berani di sekolah tanpa saya, dan banyak hal yang ternyata lebih disukai anak-anak ketimbang sekadar dinasihati.


Saya pikir, cara seperti ini bisa dilakukan sambil menanamkan sugesti positif bagi mereka. Misalnya dengan kalimat seperti ini,


“Di sekolah nanti, Bunda tidak bisa ikut menemani, ya?” sambil menggambar ilustrasi si sulung di sekolah bersama guru dan teman-teman barunya.“Kamu akan bersama Ibu guru dan teman-teman barumu. Nanti, saat pulang sekolah, Bunda akan datang menjemputmu lagi. Jangan khawatir, ya.” Sambil menggambar Bunda datang ke sekolah dan menjemputnya.


Kegiatan seperti ini selalu saya ulang-ulang setiap hari, sampai dia hapal dan mengerti. Ajaibnya, saat masuk sekolah pertama kali, dia dengan santai dan senang hati berbaur dengan teman-teman barunya. Besoknya, saya sudah tidak lagi mengantarnya ke sekolah. Masya Allah.


8. Jadilah Contoh


Anak-anak lebih senang melihat contoh ketimbang mendengarkan nasihat orang tuanya. Jadi, saya pribadi lebih senang memberikan contoh kepada mereka ketimbang hanya menyuruh mereka sering membaca buku. Anak-anak akan menyontek kebiasaan kita, termasuk kegemaran kita membaca buku.


Qadarallah, karena saya seorang penulis buku islami dan buku anak-anak, akhirnya di rumah selalu dipenuhi tumpukan buku di mana-mana. Saya butuh membaca sebagai referensi dan anak-anak melihatnya sebagai sesuatu yang menyenangkan dan patut ditiru. Selama ini, saya merasa tidak terlalu sulit menumbuhkan budaya membaca pada anak-anak. Semua berjalan alami dan menyenangkan.


Ketika kita menginginkan anak-anak suka membaca, kita sendiri perlu membiasakannya juga, jangan hanya sekadar pandai berkata, tetapi malah malas praktiknya. Jika begitu, mereka hanya akan menertawakan kita ‘kan?


9. Main Gawai Sambil Membaca Buku di Perpustakaan Digital


Saya tidak melarang anak-anak bermain gawai asalkan mereka tahu waktu dan pastinya bermain sewajarnya. Mereka juga harus tahu teknologi, mereka juga harus paham bahaya yang bisa mereka temukan dalam dunia secanggih dan sehebat saat ini. Jika dipergunakan dengan baik, gawai akan memberikan mereka manfaat, tetapi jika salah digunakan, tentu saja akan merugikan.


Anak-anak juga harus punya kegiatan lain selain hanya bermain gawai. Misalnya saja bersepeda, bermain bola, berlarian di halaman rumah, bermain dengan teman-teman sebayanya, atau membaca buku.


Nah, saat ini kita juga bisa membaca buku di perpustakaan digital yang bisa diakses dengan mudah lewat gawai. Tapi, membaca di perpustakaan digital harus dibatasi karena tentu saja mempengaruhi kesehatan mata mereka.


10. Biarkan Anak-anak Menulis Ceritanya Sendiri


Ternyata, tidak hanya senang membaca, mereka yang mencintai buku juga bisa menulis cerita sendiri, lho. Ini terbukti pada si sulung yang sekarang sudah duduk di bangku Sekolah Dasar. Dia sering membuat komik atau menulis cerita pendek tentang petualangan monster serangga atau banyak cerita seru lainnya.


Berikan mereka kesempatan untuk menuliskan cerita mereka sendiri, jangan lupa berikan apresiasi dan pujian atas kerja keras mereka. Jangan selalu fokus pada hasil yang mereka capai, tetapi hargai prosesnya juga.


Kira-kira itulah yang saya terapkan selama ini pada anak-anak. Alhamdulillah, si sulung sekarang sudah berusia 8 tahun, sedangkan si bungsu hampir 4 tahun. Keduanya sama-sama senang  bermain seperti anak seusianya, mereka juga mengenal gawai, tetapi yang paling membuat saya senang, mereka juga senang sekali membaca dan dibacakan buku. Budaya literasi seperti ini tidak bisa kita tunggu sampai mereka masuk sekolah, pastinya harus sejak dini diajarkan terutama dalam lingkungan terdekat yakni keluarga.


Lantas bagaimana peran masyarakat dalam menumbuhkan budaya literasi?


1. Buatlah Taman Membaca Sebanyak Mungkin


Untuk menumbuhkan budaya literasi sejak dini, kita harus membuat taman membaca sebanyak mungkin supaya bisa lebih mudah diakses oleh masyarakat. Saat ini, jumlah taman membaca atau perpustakaan di sekitar kita sangatlah sedikit. 


Selain itu, kita perlu mengedukasi masyarakat tentang pentingnya budaya literasi. Kebanyakan dari mereka tidak peduli bahkan tidak mengerti manfaat dari membaca bagi anak-anak.


Membuat taman membaca tidak perlu lahan besar dan luas, lho. Cukup pinjamkan sedikit saja ruang yang kita miliki untuk anak-anak di sekitar kita. Kita bisa menata koleksi buku di teras rumah dan biarkan anak-anak membacanya dengan senang hati setiap akhir pekan. Sederhana, tetapi jika banyak masyarakat yang mau berperan aktif melakukannya, manfaatnya tentu saja sangat besar.


2. Mendampingi Anak-anak Membaca Buku


Di Jakarta, terdapat program Baca Jakarta yang dilaksanakan selama sebulan penuh. Program ini dilaksanakan dengan tujuan mendampingi anak-anak supaya  mampu menyelesaikan tantangan 30 hari membaca. Ternyata adanya 800-an relawan dalam program membaca ini sangat membantu sekali dalam proses tumbuhnya budaya literasi di dalam masyarakat, lho.


Tanpa pendamping, buku-buku yang banyak kita sumbangkan hanya menumpuk tanpa arti. Buat saya, pendampingan ini sangat penting karena anak-anak juga sangat butuh ditemani dan didengarkan.


Itulah peran keluarga dan masyarakat yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan budaya literasi di sekitar kita. Budaya membaca dan menulis tidak bisa tumbuh dengan tiba-tiba, butuh peran keluarga yang menjadi sekolah pertama bagi anak-anak serta peran aktif masyarakat di sekitar kita. Lakukan semuanya dengan menyenangkan tanpa memaksa. Yuk, jadi #SahabatKeluarga dan bangun budaya #LiterasiKeluarga di rumah!


Salam,

Monday, April 22, 2019

Kurangnya Edukasi Tentang Pemberian ASI Sejak Dini Membuat Banyak Ibu Baru Melahirkan Menyerah pada Susu Formula

“Kok nggak ngasih ASI?”

“Kok nggak ditambah sufor? Nanti anakmu kurang, lho minumnya.”

Netizen maha benar, ya. Begini salah, begitu pun salah. Ngasih ASI aja salah, ngasi sufor juga salah. Pernah mendengar komentar semacam itu juga, kan? Kesel, kan dengernya. Tanpa bertanya kenapa, komentar semacam itu semakin panjang lebar, tak jarang menyinggung perasaan seorang ibu yang masih perih luka jahitannya.


Menjadi seorang ibu paska melahirkan itu nggak mudah, lho. Anak nangis kita juga pusing dan berusaha sebaik mungkin memberikan ASI. Bayi baru lahir masih belajar menyusu, wajar jika belum benar menyusu secara langsung, masih menangis karena pelekatan kurang tepat. Zaman melahirkan si sulung, sempat stres juga karena dia agak kesulitan minum ASI secara langsung. Karena di kanan kiri banyak komentar negatif, akhirnya menyerah dengan memberikan ASIP pakai botol. Alhasil, bukannya semakin pintar menyusu, dia malah bingung puting dan membuat emaknya semakin stres.


Saat kamu melihat seorang ibu yang melahirkan secara normal atau caesar, tak perlu menanggapi berlebihan. Sebab keduanya sama-sama bertaruh nyawa dan menginginkan yang terbaik. Kita nggak pantas jadi hakim di tengah kebahagiaan seseorang. Bahkan belakangan saya jarang bertanya tentang proses kelahiran, khawatir malah membuat seorang ibu menjadi nelangsa kalau saja dia gagal melahirkan normal. Nggak semua ibu melahirkan caesar sanggup dikomentari berlebihan. Iya, cukup kita bicara yang ringan dan jauhi obrolan sensitif.


Begitu juga soal pemberian ASI. Saat ini, memang sudah banyak perempuan yang belajar tentang pemberian ASI yang benar bahkan jauh sebelum melahirkan. Tapi, tak sedikit juga yang kurang tahu soal itu. Jangan pukul rata semua orang. Nggak semuanya paham gimana dan kapan dia harus memberikan ASI serta kapan harus menambah sufor atau susu formula bagi bayinya.


Kurangnya edukasi bagi mereka yang baru melahirkan membuat sebagian besar ibu gagal memberikan ASI, belum lagi kurangnya dukungan dari keluarga, pastinya membuat seorang ibu menyerah begitu saja.


Memberikan sufor atau ASI bukan tentang siapa yang terbaik, kok. Semuanya sama-sama sedang mengusahakan yang paling baik bagi buah hati. Tapi, ada baiknya kamu mengetahui poin-poin penting berikut sebelum memutuskan memberikan sufor bagi bayimu.


Buat Persiapan Matang Baik Saat Melahirkan atau Saat Pemberian ASI


Apa saja yang bisa kamu lakukan sebelum bayimu benar-benar lahir ke dunia?
 

1. Cari informasi sebanyak mungkin tentang pemberian ASI dan proses menyusui yang kelihatannya mudah, tetapi sebenarnya nggak segampang itu juga. Kamu bisa membaca banyak informasi di website milis sehat atau website terpercaya lainnya, bertanyalah juga pada temanmu yang sudah berpengalaman.


2. Ajak suami saling bantu dan mendukung keputusanmu memberikan ASI esklusif sampai 6 bulan. Komitmen itu perlu, lho. Jangan lupa juga beri edukasi pada keluarga besarmu. Terutama kepada orang tua dan mertuamu. Supaya nanti tidak ada pendapat yang saling berbenturan dan malah merugikan bayi dan dirimu.


3. Carilah rumah sakit dan dokter yang pro ASI, mendukung sepenuhnya program early latch-on di mana bayimu harus segera disusui dalam waktu kurang dari satu jam paska melahirkan. Pastikan juga rumah sakit yang kamu pilih memiliki program rawat gabung.


4. Belajar pijat PD di klinik laktasi yang biasa disediakan oleh rumah sakit terkait. Kamu juga harus belajar menyusui dengan benar (pelekatan yang tepat) sebelum melahirkan. Semua itu biasanya dapat kamu pelajari di klinik laktasi, lho.


Sejak bayi lahir, jangan buru-buru memberikan sufor dengan alasan ASI belum keluar. Bayi bisa bertahan 48 jam sejak lahir tanpa apa pun. Jadi, terus susui saja karena isapan bayi baru lahir itulah yang membantu ASI cepat keluar. Banyak sekali poin-poin penting yang mesti dipelajari. Iya, memberikan ASI itu memang tidak gampang. Jadi, siapkan baik-baik sejak dini. Jangan sampai kamu salah memilih rumah sakit dan dokter, jangan sampai pasangan tidak mendukung atau malah tidak tahu menahu soal ASI ekslusif. Yuk pelajari dulu sebelum terlambat. Masih ada waktu sampai kamu melahirkan nanti.


Salam,

Friday, April 19, 2019

Allah, Terima Kasih Sudah Mengajariku Lebih Kuat daripada Sebelumnya

Setiap manusia pasti diuji sesuai dengan kemampuannya. Tak mungkin Allah memberikan ujian melebihi kemampuan seseorang meskipun tak jarang kita dengar mereka mengeluh tak sanggup, tak kuat menahan rasa sakit yang menyentuh ulu hati. Saking sakitnya tekanan batin seseorang, bisa jadi dia lupa bahwa Allah sejatinya memberikan ujian untuk menguatkan, bukan sebaliknya.


Seperti kata teman saya, saya ini termasuk orang yang bisa melakukan banyak hal, memasak, menulis, menggambar, tapi sangat sulit menahan kesal pada seseorang. Entah harus bangga atau malah miris…kwkwk. Dia tulis itu di blognya, habis dipuji terus diempas! Sakit ‘kan? Untung masih teman, coba kalau orang lain, sudah saya blok dia…haha.

“Setiap orang punya ujian masing-masing.”


Betul, jangan merasa bahwa kita adalah orang paling sengsara di dunia ini. Jangan merasa bahwa kita paling diuji, sedangkan yang lain tampak enak hidupnya. Sebenarnya nggak begitu juga. Setiap orang punya kemampuan berbeda untuk menyelesaikan masalah, tidak semua orang yang punya masalah mau mengumbar rasa sakitnya ke media sosial, dan memang kita juga harus belajar untuk menyimpan baik-baik masalah kita, sebab tidak semua yang kita tahu boleh juga diketahui oleh orang lain. Karena kita nggak pernah masuk dalam kehidupan orang lain, jadi kita nggak pernah paham ternyata mereka yang diam dan tampak baik-baik saja juga sedang mengalami masalah tak berbeda jauh dengan kita, bahkan bisa jadi lebih berat.


Allah, terima kasih sudah memberikanku ujian, meski kadang kita masih mengeluh, menganggap itu terlalu berat dan tak sepantasnya kita pikul. Dengan begitu, kita jadi lebih giat berdoa dan beribadah. Allah tuh sayang sama kita dan nggak pengen kita jauh-jauh dari-Nya. Kadang, dengan adanya masalah, kita jadi lebih dekat, ‘kan?


Saya atau kamu mungkin punya banyak teori atau rumus dalam menghadapi ujian hidup, tetapi tak semua dari kita bisa lulus dengan mulus ketika ujian itu datang. Ya, meskipun kita paham, kalau sedang ada masalah sebaiknya bersabar, banyak berdoa, nggak perlu membalas. Tapi, kenyataannya ketika dapat masalah, semua berantakan…haha. Nangis dan nyesek itu sifat saya…kwkwk. Nggak mau menutupi, saya bukan orang yang kuat, kok. Kena senggol dikit kesel dan nangis. Tapi, waktu akan mengajari kita jauh lebih kuat. Karena itu, kita juga perlu bersyukur, dalam setiap ujian yang dihadapi, terdapat hikmah yang bisa jadi pelajaran berharga, yang bisa jadi nggak semua orang bisa merasakannya.


Lalu, apa yang harus kita lakukan saat sedang menghadapi ujian hidup yang seringkali membuat kita sulit bernapas, bahkan tak tahu bagaimana mencari jalan keluarnya?


1. Ujian menjadi jalan mendekatkan diri kepada-Nya

Karena itulah, harus kita syukuri, ternyata Allah masih sayang pada kita sehingga Dia tak mau kita terlampau jauh berjalan. Allah ingin kita mendekat lagi, Allah mau kita banyak berdoa lagi. Bisa jadi, sebelumnya kita terlalu sibuk mengurusi dunia, sampai-sampai tak pernah khusyu saat berdoa. Dengan adanya masalah, kita jadi lebih serius memohon ampun, kita lebih sering berdzikir. Banyak sekali hikmah yang bisa dipetik andai kita lebih banyak besyukur.


2. Ujian ada sebelum kenaikan kelas

Allah mau menaikkan derajat kamu, tetapi sebelumnya kamu harus melewati ujian. Kalau kata ibu saya, ini ujian bagi kamu karena hidupmu akan jauh lebih baik daripada sekarang. Setiap ada masalah, ibu selalu mengatakan itu sehingga saya pun bisa melihat masalah atau ujian itu dengan lebih positif. Nggak melulu kesel. Belajar pelan-pelan buat bersabar dan menerima apa yang sudah digariskan. Kita nggak bisa mengubah takdir, tapi kita bisa memilih mau menerima dengan lapang atau terus mengingkarinya.


3. Hindari curhat di sosial media

Sebab masalahmu tak melulu harus didengar oleh dunia. Iya, sosial media itu agak mengerikan jika dijadikan tempat curhat. Kita nggak pernah tahu siapa yang benar-benar peduli dan ingin memberikan solusi, kita juga tak pernah tahu siapa saja yang mau memanfaatkan situasi.


Kadang kita bisa jadi menemukan teman-teman baik di sosial media. Tapi, belum tentu dia sebaik yang kamu bayangkan. Karena banyak sekali yang pada akhirnya hanya jadi ‘pemanis’ dalam dunia maya saja. Pikirkan seribu kali jika mau curhat pada seseorang, terutama di sosial media. Dan satu lagi, kadang curhat itu nggak ngasih solusi, malah justru mengumbar aib seseorang. So, mending nggak usah curhat selama kamu merasa masih sanggup menanggungnya sendiri.


4. Orang iri tak harus dari mereka yang lebih buruk keadaannya

Bahkan yang sudah sukses, sekelas mentor, orang kaya raya pun bisa juga iri sama kamu. Ngerasa atau nggak, yang begini memang benar-benar ada. Entah karena kurang bersyukur atau gimana, kadang nggak habis pikir juga kenapa orang seperti mereka yang sudah melesat dan hebat masih iri sama junior atau orang di bawahnya. Jika sudah begitu, sebaiknya kamu jauhi dan nggak usah diambil pusing. Selama kamu tidak melakukan kesalahan, selama itu pula kamu nggak perlu merasa bersalah apalagi menyesali sesuatu. Ya sudah, itu urusan mereka. Semua pasti ada batasnya, kok.


5. Jangan khawatir, menangis tidak selalu menandakan kamu cengeng

Iya, kamu menangis? Nggak masalah dong. Sebab air mata juga mampu mengurangi stres, kok. Nggak masalah disebut cengeng selama kamu tahu batasannya tentu itu akan baik juga bagi kondisi batinmu.


Kadang, setelah menangis kita merasa jauh lebih lega. Kemudian lupakan dan jangan masukkan lagi ke hati jika ada masalah. Serahkan semua pada Allah. Kita nggak perlu pusing nyari jalan keluar, sebab kadang nggak berguna juga. Allah hanya mau kita belajar bersabar, lebih kuat, nanti Allah yang akan bantu menyelesaikannya.


6. Jangan menyesali keadaan, semua orang juga akan diuji

Yang mendapatkan masalah dan ujian bukan hanya kamu saja, kok. Semua orang juga diuji. Karena itu, jangan sampai kamu marah pada Allah yang menciptakanmu. Coba berkaca dan cari tahu, apakah masalah itu muncul karena kesalahan kamu atau bukan. Jika iya, segera perbaiki dirimu. Jika masalah muncul bukan karena kelalaianmu, maka bersabarlah. Jangan bersedih, Allah bersama kita.


Ada banyak cara yang bisa kamu lakukan untuk memperbaiki keadaan saat mengalami masalah atau ujian. Ingat, Allah itu baik, kok. Mereka yang lalai saja masih diberikan rezeki, apalagi kamu yang rajin beribadah dan berdoa. Jangan putus asa, jangan menyerah, Allah selalu bersama hamba-Nya yang bertakwa. Terus tingkatkan ibadah kita, jangan sombong, ikhlaskan jalan hidup yang sudah Allah gariskan. Suatu saat Insya Allah akan berbuah manis.


Salam,

Thursday, April 18, 2019

Capek-capek Menahan Lapar, Sebenarnya Kamu Diet untuk Sehat atau Demi Langsing?

Jarang-jarang banget saya sharing tentang topik diet. Kenapa? Karena saya termasuk penganut ilmu aliran sesat, yang pengen diet, tetapi selalu gagal…haha. Oke, jangan ditiru, ya, Sodaraah.


Sejak kecil, saya selalu tumbuh apa adanya*orangnya tulus soalnya...kwkwk. Nggak pernah berlebihan baik tinggi maupun berat badan. Malah cenderung kurus dan pendek. Nggak pernah ngeluh dan bertanya-tanya juga kenapa saya nggak setinggi bapak? Pastinya karena saya lebih mirip ibu, sehingga badan saya pendek. Itu bukan masalah berarti. Hingga masuk SMP dan lulus pun, saya masih kurus dan mungil. Tapi…seperti petir yang muncul di siang bolong, saya justru gemuk setelah setahun berada di pesantren tepatnya saat SMA. Kutukan atau apa ini? Hihi.


Padahal, kalau dipikir, saya makan di sana nggak seberapa banyak. Asli makannya dikit banget. Nasi hanya ada sehari dua kali. Itu pun ditakar sebesar gelas air mineral yang dibuang separuhnya. Iya, hanya makan segitu doing. Tapi, banyak ngemil kali, ya…kwkwk. Jadinya bulat seperti tahu bulat, digoreng dadakan *ups!


Setelah itu, apakah saya pernah kurus lagi? Pernah. Ketika baru menikah. Tanpa diet, tanpa rekayasa, tanpa sulap, apalagi sihir…haha. Dua bulan setelah menikah dan pulang mudik, ibu kaget melihat anaknya tinggal kulit dan tulang. Apakah gerangan yang terjadi? Mungkin suaminya lupa ngasih makan, ngasihnya emas dan berlian mulu…kwkwk.


Setelah hamil anak pertama pun sempat kurus. Berat badan yang biasanya di atas 45, tiba-tiba berubah jadi 42. Idealnya justru di angka 40an. Tapi, berat badan 42 kg saja sudah kelihatan sangat buruk saking kurusnya…hiks. Kayak nggak bahagia gitulah hidup saya. Ibu saya nelangsa kalau lihat anak bungsunya sekurus ini…kwkwk. Mungkin tulang pipi saya juga nggak cocok untuk pipi chubby gitu. Alhasil, malah dikira kurang sejahtera hidupnya.


Tapi, kutukan itu muncul lagi. Setelah sulung besar, saya sudah gemuk lagi. Dan meskipun sudah punya anak kedua, nggak pernah melewati fase kurus-kurus lagi seperti dulu. Sedih, miris? Ya, sebenarnya nggak ada yang salah, nggak ada juga yang marah. Tapi, berat badan sudah 48 kg ternyata bikin kita serba nggak nyaman. Rasanya berat parah mau ngapa-ngapain. Sedangkan suami saya selalu konsisten di angka 43-45 kg. Kebayang nggak kompaknya kita. Sepertinya sang istri sering nge-bully suaminya…kwkwk. Suami saya tinggi pula, udah mirip angka 10 saja, kan kalau bergandengan?


Yang paling sulit ditahan sebenarnya bukan rasa lapar, melainkan godaan pengen ngemil. Apalagi dulu saya sering banget bikin kue atau roti. Mau nggak mau nyomot roti mulu sampai kenyang…haha. Tapi, saya sadar kok, tubuh kita nggak selamanya bakal seperti ini. Memasuki usia 29, saya ingin bisa hidup lebih sehat. Karena saya mulai paham, jika kerja tubuh nggak akan sebaik saat kita masih muda. Pasti akan mengalami penurunan.


Saya juga bukan orang yang mengerti jenis dan macam-macam diet. Karena selama ini yang ada hanya diet nggak niat…kwkwk. Sempat mencoba beberapa metode diet, seperti hanya makan protein yang akhirnya bikin kaki seperti nggak kuat berpijak meskipun sudah makan beberapa butir telur rebus sekaligus, diet tanpa karbo yang akhirnya nggak betah juga, dan terakhir OCD.


Buat saya, OCD atau Obsessive Corbuzier's Diet ini adalah diet terbaik yang bikin badan nyaman banget dan enteng. Setelah beberapa kali nonton videonya, saya pun sadar, bahwa yang harus kita kejar bukan langsingnya, melainkan sehatnya. Kalau badan sehat, sudah pasti semua aktivitas kita akan terasa nyaman dan ringan.


Seperti apa metode diet OCD ini? Mungkin teman-teman suda familiar dengan diet yang diperkenalkan oleh Deddy Corbuzier ini. Akrab dengan istilah jendela makan dan bertahap, ternyata diet ini benar-benar bikin nafsu ngemil saya berkurang. Punya anak kecil pastinya susah banget ngerem supaya nggak comot makanan mereka sambil nyuapin, meskipun nggak lapar, tapi keinginan ngunyah terus itu sangat mengerikan…hiks.


Hampir sebulan menjalankan diet ini, kadang gagal sehari dua hari, tapi besoknya tetap lanjut lagi karena merasa badan enak banget. Belum sebulan, berat badan turun sekitar 2 kg lebih. Itu pun kadang masih makan di luar jendela makan…haha. Bandel, ya? Tapi, saya tetap melanjutkan karena merasa nyaman banget. Pada akhirnya, saya mengejar kenyamanan alias sehat ketimbang ngejar langsingnya.


Jujur saja, saya belum membaca seluruhnya tentang metode diet ini yang katanya ada e-book-nya. Karena agak susah juga nyarinya. Akhirnya hanya baca-baca dan melihat video di Youtube saja. Intinya, kamu bisa makan pada jendela makan yang kamu pilih. Jika kamu pilih tahap pertama (8 jam), berarti kamu bisa makan hanya dalam waktu tersebut. Misalnya, dari pukul 10 pagi, kamu bisa mulai makan apa pun hingga pukul 6 sore. Selebihnya hanya boleh minum air putih atau yang tidak berkalori.


Enaknya di mana? Mungkin nggak membatasi menunya. Karena jujur saja, saya masih suka beli nasi padang dan makan berdua dengan suami saat akhir pekan, lho…kwkwk. Kalau sampai nggak bisa makan nasi padang, bisa merana hidup saya *lebay…haha.


Tapi, perlu kamu ingat, jendela makan 8 jam, 6 jam, 4 jam, dan puasa 24 jam itu akan berhasil jadi cara menyehatkan badan atau menurunkan berat badan jika kamu makannya nggak berlebihan. Iya, sewajarnya saja. Dan lagi, puasa 24 jam (makan hanya sekali) ini hanya diterapkan sesekali saja. Misalnya seminggu atau dua minggu sekali. Selebihnya kamu bisa pilih jendela makan 4 jam atau yang lainnya.


Awalnya pasti susah nahan godaan ngemil. Iya, karena masih boleh minum air putih di luar jendela makan yang dipilih, jadinya nggak terlalu lapar. Lama-lama malah nggak pengen makan…kwkwk. Jadi beneran bikin ngurangin nafsu ngemil? Pada saya, memang bekerja dengan baik.


Sehari-hari, kita sudah sangat berlebihan mengonsumsi kalori. Sadar atau nggak, kebiasaan buruk seperti ini kalau dipertahankan terus kayaknya kita sendiri yang bakalan rugi. Kesehatan itu mahal harganya, apalagi jika dalam keluarga terdapat riwayat penyakit tertentu, harus benar-benar hati-hati supaya kamu tidak bernasib sama.


Saat melahirkan si bungsu, dokter kandungan sempat menemukan semacam benjolan atau apa, saya lupa tepatnya, dan akhirnya beliau mengguntingnya. Alhamdulillah banget bisa ketahuan pas melahirkan. Dokter sempat komentar, katanya kasus seperti itu disebabkan terlalu banyak konsumsi lemak. Jleb! Oke, saya memang suka banget makan gorengan dan sejenisnya. Tapi, lihat efeknya, mengerikan banget…hiks.


Semakin ke sini, saya pun semakin menyadari jika kesehatan kita harus dijaga mulai sekarang, bukan memperbaikinya nanti setelah terlambat. Makanan sisa anak jangan disayang terus, ujung-ujungnya jadi tempat pembuangan…haha. Sebaiknya ambil sedikit, baru ditambah jika kurang sehingga meminimalisir makanan yang berlebihan kemudian berakhir di tempat sampah. Sayang banget.


Jadi, kamu diet untuk menurunkan berat badan atau pengen sehat? Apa pun alasannya, kamu harus tahu bahwa kesehatan itu penting. Makan berlebihan seperti menjadi sumber dari segala penyakit. Bahkan dalam agama Islam, kita memang tidak dianjurkan untuk berlebihan, termasuk saat makan.


Tapi, kalau soal olahraga, saya masih jauh di ujung planet Mars…kwkwk. Jarang banget olahraga apalagi sering menulis. Kerjaannya duduk berlama-lama di depan laptop dan begadang. Ini nggak banget memang. Jangan ditiru, ya. Yuk, jaga kesehatanmu dan jangan lupa tetap sewajarnya.


Salam,

Wednesday, April 17, 2019

5 Aktivitas di Bulan Ramadhan yang Bikin Kita Kangen dan Pengen Puasa Terus!

Masya Allah, Ramadhan sebentar lagi menyapa. Nggak terasa, ya? Kayaknya baru kemarin kita merayakan Hari Raya Idulfitri. Sekarang sudah menjelang Ramadhan kembali. Ya, memang bulan puasa selalu bikin kangen, bukan hanya karena ritual ibadah yang berbeda dengan hari-hari biasa, melainkan juga banyak momen yang selalu bikin kita kangen, baik suasananya maupun aktivitasnya.


Tahun kemarin, qadarallah saya nggak mudik. Sebelum lebaran saya dan keluarga sempat pulang dua minggu kemudian umroh. Ya, mau diakui atau nggak, capek fisik itu masih terasa banget karena jaraknya berdekatan. Apalagi sepulang umroh, suami meriang parah dan lama banget pulihnya. Kita semua mengira itu disebabkan karena kepalanya yang dibotakin usai umroh…hehe. Bisa juga karena memang capek minta ampun karena kita nggak rehat selama di Turki, dihajar habis buat traveling kemudian lanjut umroh.


Insya Allah tahun ini saya akan mudik, Sodarah. Senang dan nggak bisa ngebayangin harus naik kereta ke Bandung dulu baru Malang…kwkwk. Bawa anak dua dan dalam kondisi berpuasa *lebay…haha. Ini kali pertama kami harus pulang naik kereta sambil bawa anak-anak, sebab sejak punya anak, saya nggak pernah berani pulang naik kereta. Sebab apa? Karena takut anaknya rewel selama sehari semalam perjalanan. Kali ini, kita harus bisa *sambil mewek…huhu.


Suasana Ramadhan di sini dengan di kampung halaman tentu saja sangat berbeda jauh. Iya, mulai dari menunggu adzannya, nyari takjilnya, suasana jalanannya, menu berbuka dan sahurnya, pokoknya semua beda banget!


Daan, saya kangen banget pengen buka puasa dan sahur di rumah bareng orang tua. Apalagi mereka sudah sepuh, pastinya ngumpul bareng anak-anaknya adalah momen yang sangat diharapkan. Saat tua nanti, saya akan tahu banget rasanya. Sadar saya pun akan seperti mereka, saya nggak pengen ngecewain, jangan sampai nyakitin juga. Jika kita nggak bisa membantu, setidaknya jangan merepotkan apalagi nyakitin hati mereka *kenapa jadi mellow…hehe.


Tahun ini saya pulang kurang lebih 10-12 harian. Buat ibu saya, itu singkat banget…hehe. Pengennya nemenin terus, tapi kondisi memaksa kita seperti ini. Ibu diajak tinggal di Jakarta sudah jelas menolak, saya di sana terlalu lama juga mustahil karena di Jakarta sudah punya tanggung jawab juga. Semoga suatu saat bisa berkumpul lebih lama, ya, Bu. Sedih banget sebenarnya harus berpisah dari orang tua. Tapi, keadaan memang memaksa kita seperti ini. Yang penting semua sehat, rukun juga, insya Allah jarak bukan masalah berarti.


Kalau di Jakarta, bulan Ramadhan identik sama penjual takjil yang memenuhi sisi jalan. Rame banget penjual dadakan menuju pasar tradisional di sini. Tapi, kadang saya kurang suka juga sering beli makanan matang karena lebih sering nggak cocoknya di lidah ketimbang cocoknya. Kecuali beli di kedai langganan. Kalau beli di penjual dadakan, kayaknya harus milih banget.


Jadi, tahun kemarin lebih sering masak sendiri ketimbang beli kecuali terpaksa atau pengen banget. Selain itu, apa saja rutinitas di bulan Ramadhan yang selalu ngangenin?


1. Momen buka puasa selalu jadi waktu yang dinanti

Sejak sulung mampu puasa penuh, momen adzan Maghrib selalu jadi waktu yang menarik dan dinanti…haha. Kalau buat orang dewasa, mungkin sekadar haus banget, ya. Tapi, bagi anak-anak, rasanya berlipat antara haus dan juga lapar.


Biasanya anak-anak suka nggak sabaran nungguin adzan dan pengen banget lekas buka puasa. Pas udah berbuka sebelum waktunya, rasanya nggak seseru yang dia pengen. Ya, begitulah godaannya, Nak..hehe. Saya tidak ingin memaksa si sulung puasa penuh. Kalau bisa dan mampu, bisa lanjut, tapi kalau tidak kuat, bisa berhenti. Karena kenyataannya mereka belum wajib. Belajar harus menyenangkan supaya nggak bosan dan ‘kapok’. Jika berhasil beri pujian, jika gagal ya sudah, dia udah  berusaha, kan? Nggak perlu dianggap pusing.


2. Shalat tarawih dan menghatamkan Alquran

Selama di Jakarta, saya nggak pernah ikut shalat tarawih di masjid. Selalu di rumah. Tapi, suasana shalat tarawih di masjid yang terdengar dari pengeras suara sampai juga hangatnya ke hati.


Zaman kecil, saya selalu ikut shalat tarawih di mushola. Dan itu seru banget memang, ya. Zaman dulu kita asyik-asyik banget mainnya, beda sama sekarang yang sudah didominasi sama gadget…haha. Main-main di luar jadi hambar. Anak-anak udah pegang gadget semua…hadeh.


Selain shalat tarawih, kita juga terbiasa kejar-kejaran dan berusaha menghatamkan Alquran. Bulan Ramadhan adalah bulan istimewa, sayang banget kalau nggak diisi dengan kegiatan yang bermanfaat.


3. Nungguin kelanjutan iklan menjelang atau saat Ramadhan

Sekarang iklan-iklan sirup sudah muncul di televisi. Yang paling seru dan bikin penasaran itu adalah iklan Marjan…kwkwk. Asli iklannya selalu bikin penasaran karena dibuat bersambung gitu. Udah tahu belum iklan terbarunya? Haha.


Iklan seperti itu memang sangat identik dengan bulan Ramadhan, lho. Karena rutin dibuat setiap tahun, jadinya selalu dinanti dan jadi kode bahwa Ramadhan sudah dekat.


4. Persiapan mudik

Sejak merantau dan menetap di Jakarta, saya mulai melakukan aktivitas tahunan seperti yang lainnya, mudik! Menyenangkan dan pastinya butuh biaya yang tidak sedikit. Setelah punya anak dua, persiapan mudik pun semakin tidak gampang…haha. Saya orangnya suka panikan, jadi nggak pengen ada sesuatu yang kurang. Misalnya, baju-baju ya harus bawa banyak, takut anak muntahlah, inilah…haha. Jadi, bawaan bejibun.


Setelah mereka agak besar, saya belajar untuk mengurangi barang bawaan biar tidak terlalu merepotkan. Terlebih jika kalau seperti sekarang harus naik kereta. Sebisa mungkin harus simpel dan ringkas.


5. Puasa di kampung halaman

Saya selalu mudik di akhir Ramadhan. Jadi, punya kesempatan untuk puasa di kampung halaman bersama orang tua dan mertua. Di sinilah saya bisa makan makanan kesukaan saya ketika masih kecil.


Makanan apa yang selalu ada saat bulan Ramadhan? Ibu tuh pandai banget memasak. Meskipun masaknya asal-asalan, tapi rasanya enaak banget. Ibu suka bikin cendol sendiri, saat buka puasa, kita biasa makan sayur bening, nasi jagung, sambal dan lalapan. Sederhana tapi entah kenapa lebih enak ketimbang makan daging atau ayam…haha.


Nah, pas sahur, bapak tuh suka banget makan pakai terancam. Tahu, ‘kan? Yang terbuat dari parutan kelapa, tempe kukus, dan mentimun? Terus makannya pakai sayur bening. Atau menu khas seperti bothok daging cincang. Jadi, ngiler…duh.


Itulah beberapa aktivitas seru dan selalu bikin kangen setiap Ramadhan tiba. Gimana, apakah kamu sudah siap melaksanakan ibadah puasa tahun ini? Semoga tahun ini ibadah kita bisa lebih maksimal ketimbang bulan sebelumnya, ya!


Salam,

Monday, April 15, 2019

Tentang Agensi Naskah, Penerbit Mayor, dan Penerbit Indie, Mana yang jadi Pilihanmu?

Bagi yang terbiasa menulis dan mengirimkan naskah ke penerbit, pasti sudah tahu  bedanya penerbit mayor dan penerbit indie. Tapi, kemarin sempat ada yang menanyakan hal ini pada saya, bahkan ternyata dia sama sekali nggak tahu, jika menerbitkan naskah ke penerbit mayor itu nggak butuh biaya plus buku dijual juga di toko buku.


Karena alasan itulah, saya mau berbagi tentang kedua jenis penerbit ini. Semoga postingan ini bermanfaat dan bisa dijadikan pilihan terbaik bagi yang sedang galau ingin mengirimkan naskah. Buat saya pribadi, prioritas utama pastilah ke penerbit mayor dulu. Siapa yang tidak mau lolos di penerbit mayor? Pastinya semua sangat ingin meskipun prosesnya bisa jadi sangat panjang. Tapi, ada kepuasan tersendiri ketika buku terbit dan majang di toko buku.

Selama ini, saya juga pernah menggunakan agensi naskah untuk mengirimkan naskah. Buat saya, memang fee kita jadi berkurang, tapi jawabannya atau kepastian diterima memang memakan waktu jauh lebih singkat ketimbang kita mengirimkan secara mandiri. Tapi, ke depannya sudah pasti tidak mau juga bergantung pada agensi. Meskipun Insya Allah tetap akan menggunakannya.



Lalu apa saja perbedaan di antara agensi naskah, penerbit mayor, dan penerbit indie sejauh pengetahuan saya?

1. Agensi Naskah


Buat penulis pemula, memakai agensi naskah bisa jadi pilihan yang sangat tepat. Alasan dulu kenapa saya menggunakan agensi, karena sejak awal saya kurang percaya diri untuk mengirimkan naskah secara langsung atau mandiri. Padahal, biasanya sok pede saja, kan? Haha. Ada kalanya ingin juga mencoba. Dan qadarallah, naskah kedua diterima oleh salah satu penerbit mayor.

Selanjutnya saya mencoba lagi sekitar awal 2019. Alhamdulillah, 3 naskah sekaligus di-ACC oleh penerbit mayor dan sedang proses pengerjaan ilustrasi untuk saat ini.

Sebelum kamu mengajukan naskah lewat agensi, ada baiknya kamu tahu apa saja yang akan dilakukan oleh sebuah agensi naskah ini? Istilah mudahnya, agensi ini membantu menjembatani penulis dengan penerbit. Naskah kamu yang masuk agensi biasanya akan diedit dan dirapihkan dulu sebelum dikirimkan ke penerbit. Setelah ada kabar diterima, naskah akan diproses dan diserahkan pada penerbit untuk proses layout dll. Enaknya, kalau lewat agensi, kita bisa kirim outline dulu, lho. Setelah jelas diterima, barulah kita selesaikan naskah tersebut sampai lengkap.

Tapi, ketika menggunakan agensi, kita juga harus mau berbagi royalty kepada mereka. Biasanya sebanyak 3% akan diserahkan pada pihak agensi, selebihnya untuk penulis. Komunikasi pun harus berjalan baik. Jangan segan-segan menanyakan kabar buku kamu atau mungkin fee yang sudah berbulan-bulan belum dibayarkan. Karena bukannya nggak mustahil justru ada kesalahan seperti lupa. Sebab saya mengalaminya juga.

Soal uang ini sensitif sekali memang. Kebanyakan orang sungkan menanyakannya pada agensi atau penerbit. Bahkan ilustrator buku saya memilih diam daripada nanya setelah setengah tahun buku terbit. Saya pikir, nggak berlebihan, kok menanyakan hak kita. Kalau kita sudah menunaikan kewajiban, nggak ada yang salah ketika meminta hak di kemudian hari. Dan agensi sebenarnya mesti memperhatikan juga dan mengurusnya. Jangan karena penulis diam, akhirnya jadi dibiarkan. Hal kayak gini benar-benar bikin nggak nyaman.

2. Penerbit Mayor


Kalau belum dicoba, pasti tidak akan pernah tahu, apakah kita berhasil atau sebaliknya. Karena itu, saya selalu mencoba mengirimkan naskah ke penerbit mayor dulu, meskipun kadang nggak pede dan kemungkinan ditolak lebih besar.

Apa keuntungan mengirimkan naskah ke penerbit mayor? Sama seperti ketika mengirimkan ke agensi, kita nggak dipungut bayaran sepeser pun alias free. Justru kita diberi bayaran tergantung kesepakatan bersama penerbit. Ada yang memberikan 10% atau 8%. Bisa juga lebih atau kurang. 10% itu dihitung dari harga jual buku dikalikan jumlah cetak kemudian dikurangi pajak sebanyak 15%. Yup! Pajaknya guede, Sodaraah…haha.

Sistem pembayaran pada penerbit mayor juga bisa dilakukan dengan dua cara. Bisa dengan sistem jual putus atau royalty. Jual putus di sini maksudnya penerbit hanya akan membayar naskahmu sekali saja. Sedangkan sistem royalty akan dibayar bertahap sesuai jumlah penjualan di toko buku. Selain itu, kita juga diberikan sejumlah bukti terbit berupa 5 buku (bisa kurang, bisa juga lebih).

Jadi, sebagai penulis, kita nggak punya keleluasaan memiliki banyak buku kecuali kita membelinya. Karena itu, suka bingung juga ketika banyak teman-teman minta dikasih gratisan. Mati gaya seketika…kwkwk. Karena seperti kamu tahu, penulis bukan pemilik toko buku, ya.

3. Penerbit Indie


Secara umum, penerbit indie ini bisa diartikan media menerbitkan buku secara mandiri. Meskipun jenisnya bisa berbeda, bisa pakai jalur seleksi atau tidak, tetapi buat saya keduanya nggak terlalu banyak perbedaan. Hampir samalah intinya.

“Kak, memang kita bisa ya menerbitkan buku di penerbit indie kemudian didistribusikan ke toko buku?”

Beberapa penerbit indie sudah melakukan ini. Nggak mustahil karena beberapa penerbit indie punya pintu juga ke toko-toko buku. Jadi, kamu nggak perlu khawatir soal itu mengingat semua kemungkinan juga bisa saja terjadi pada penerbit indie. Kemungkinan apa? Kemungkinan buku dijual di toko buku dong…hehe. Tapi, sebelumnya kamu bisa pastikan dengan menanyakannya langsung sebelum memutuskan menerbitkan buku di sana.

Biasanya, ketika ingin menerbitkan buku pada penerbit indie, kita harus membayar sejumlah harga sesuai paket yang diinginkan. Misalnya kita mau cetak berapa dengan harga berapa. Bisa juga kita hanya membayar saat memesan buku dan daftar ISBN seperti yang ada di Bitread.  Teman-teman bisa cari referensi lain karena penerbit Indie jumlahnya sangat banyak untuk saat ini. Jenis dan cara transaksinya pun akan berbeda.

Nah, itu dia sedikit bayangan tentang agensi naskah, penerbit mayor, dan penerbit indie. Kira-kira apakah masih ada yang bingung soal ini? Semoga bisa dipahami dengan mudah, ya. Untuk email-email penerbit, kamu bisa cari di Google atau kunjungi website dan sosial media mereka. Yuk, tetap semangat menulis dan jangan lupa bersyukur.

Salam hangat,

 

Saturday, April 13, 2019

7 Tips Memilih Travel Umroh yang Tepat Untuk Menemani Perjalanan Ibadahmu ke Tanah Suci

Melaksanakan ibadah umroh merupakan impian semua muslim di dunia. Termasuk juga saya. Membayangkan dapat melihat Ka'bah secara langsung kerap membuat mata basah. Gimana sih rasanya bisa menginjakkan kaki di kota suci Makkah? Bagaimana rasanya bisa bersujud di depan Ka'bah? Bagaimana rasanya meneguk segelas air Zam-zam langsung dari tempatnya? Masya Allah, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar bagi kita sesama muslim selain dapat pergi ke rumah Allah dan beribadah langsung di sana.

Setelah mendaftar haji, tidak ada keinginan lain yang lebih besar bagi saya selain lekas berangkat umroh. Menunggu antrean haji butuh waktu sangat lama. Belasan tahun. Jika ada rezeki, pastilah pergi umroh menjadi salah satu keinginan yang harus segera diwujudkan. Kenapa saya sangat ingin pergi umroh?


a. Sebab umroh merupakan jihad

Wahai Rasulullah, apakah wanita juga wajib berjihad?” Beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya. Dia wajib berjihad tanpa ada peperangan di dalamnya, yakni dengan haji dan ‘umroh.”
(HR. Ibnu Majah)

b. Pergi umroh dapat membuka pintu rezeki dan menghapus dosa-dosa

Ikutkanlah umroh kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.”
(HR. An-Nasai)

c. Mengikuti sunnah Rasulullah saw

Ibadah umroh merupakan ibadah yang juga dilakukan oleh Rasulullah saw semasa beliau masih hidup. Hal ini juga diikuti oleh para sahabat. Pastinya terdapat banyak kebaikan di dalam ibadah umroh ini sehingga ditunjukkan langsung oleh beliau.

Tapi, pergi umroh tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh biaya yang tidak sedikit. Kadang suka nggak tega juga, ketika ada orang yang sudah berusia lanjut, sampai menjual sawah dan hewan ternaknya demi berangkat umroh atau haji, tetapi malah tertipu travel yang tidak amanah.

Kita yang tidak ikut tertimpa musibah seperti itu saja kadang nggak habis pikir, kenapa masih ada orang yang mengambil kesempatan di balik perjuangan orang lain? Karena itulah, buat saya pribadi, memilih travel umroh yang amanah dan bertanggung jawab sangat diperlukan. Kita harus tahu betul travel umroh yang dipilih, jangan sampai hanya menipu dan mengambil untung demi kepentingan pribadi mereka.

Mencari travel umroh terdengar mudah, tapi kenyataannya tidak demikian. Sebab kebanyakan travel umroh yang akhirnya terbongkar ketidakjujurannya juga awalnya memiliki nama besar, sehingga mudah sekali mencari calon jamaah. Nah, kalau sudah begini, pastinya kita sendiri yang lumayan mengerti pun bisa juga tertipu.

Lalu, apa saja yang harus kita lakukan supaya bisa memilih travel umroh yang tepat, amanah, bertanggung jawab, serta bisa memberikan kenyamanan selama berangkat umroh ke tanah suci Makkah?

1. Pilihlah hanya travel umroh resmi yang sudah terdaftar di Kementrian Agama
Pastikan travel umroh yang kamu pilih memang sudah terdaftar di Kementrian Agama. Jangan mudah tergiur oleh harga murah, sebab bagaimanapun, berangkat umroh pasti butuh dana yang lumayan. Jadi, pilih harga yang wajar saja dan masuk akal dan pastikan benar-benar resmi.


Bagaimana kamu bisa tahu jika travel umroh yang dipilih sudah benar-benar terdaftar di Kementrian Agama?

1. Lihat tanda daftar perusahaan travel umroh

2. Travel umroh yang kamu pilih harus punya surat izin tetap usaha pariwisata

3. Lebih mudahnya, cek langsung nama travel umroh pilihanmu di website resmi Kemenag atau bisa datang langsung ke Kemenag.

2. Ketahui rekam jejak travel umroh yang kamu pilih
Selain bisa bertanya terlebih dulu kepada orang-orang terdekat yang pernah menggunakan travel umroh tersebut, kamu juga bisa memperhatikan perkembangan travel umroh itu dari tahun ke tahun.

Jika memang baik, pastinya penyelenggaraan Ibadan umroh dari travel tersebut akan dilakukan scara rutin dari tahun ke tahun. Semakin banyak keberangkatan, semakin baik juga kerjanya.

3. Abaikan harga murah dan tidak masuk akal
 
Seperti saya katakan sebelumnya, jangan mudah percaya dengan travel umroh yang menawarkan harga murah dan tidak wajar. Sebesar apa pun impianmu, jangan mudah tergiur dengan yang demikian. Karena tidak sedikit yang hanya sekadar menipu saja.

Kamu bisa periksa dan bandingkan harga travel umroh tersebut dengan harga-harga di perusahaan travel umroh lainnya. Jika ada selisih, pastinya tidak akan terlalu jauh, kok. So, tetap berhati-hati, ya dalam memilih travel umroh demi keamanan.

4. Cari tahu fasilitas yang diberikan
Bagi orang yang belum pernah pergi umroh, mungkin fasilitas bukan sesuatu yang perlu dipertimbankan. Dianggap sama rata. Tapi, sebenarnya, hal semacam ini sangat penting untuk dipastikan, lho. Kamu bisa bayangkan, jika harganya sama, kenapa kamu memilih travel A yang memberikan penginapan dengan jarak jauh dari masjid Nabawai atau masjid Al-Haram? Ya, mending ambil travel satu B yang memberikan fasilitas lebih baik, lebih dekat dengan masjid sehingga ibadah bisa lebih mudah dan tenaga kita pun tidak terkuras habis untuk perjalanan jauh setiap harinya.

Nyatanya, ada juga, lho travel umroh yang memberikan penginapan berupan rumah (kontrak) kepada jamaahnya. Padahal harganya sama saja dengan travel umroh lainnya. Meskipun kita tidak mengejar fasilitas dan mengutamakn ibadah, tetapi sadar atau tidak, hal seperti ini juga mempengaruhi kenyamanan ibadah kita nantinya.

5. Pastikan ada pembimbing umroh untuk menyempurnakan perjalanan ibadahmu
Poin satu ini juga tidak bisa dinomorduakan, lho. Berada di tempat asing pastinya membuat kita serba bingung. Meskipun sudah belajar sebelum berangkat, tetapi keberadaan pembimbing umroh sangat diperlukan.

Pembimbing umroh bisa mengarahkan kita saat beribadah, menjadi tempat bertanya, mengatur barisan ketika sedang melaksanakan ibadah umroh sehingga tidak terpisah dan membuat panik beberapa jamaah. Hal seperti ini perlu kamu pastikan sebelum memutuskan memilih travel umroh yang tepat.

6. Pastikan kamu bisa segera berangkat tanpa menunda selama bertahun-tahun

Umroh itu bukan haji. Jadi, nggak butuh antrean panjang untuk berangkat. Jika ada travel umroh yang menjanjikanmu berangkat 1 hingga 2 tahun lagi, kayaknya jangan gampang dipercaya, ya? Sebab itu bukan alasan tepat mengingat umroh memang tidak perlu mengantre.

Di sinilah pentingnya kamu mengetahui rekam jejak travel umroh tersebut sebelum memutuskan memilihnya.

7. Pilih travel umroh terbaik lewat Blibli.com yang menawarkan berbagai macam kemudahan
Mencari travel umroh yang tepat memang bukan hal mudah. Sebab itu, kamu harus benar-benar berhati-hati mencarinya. Sudah mencari ke mana-mana, tapi kayaknya belum dapat yang tepat dan pas di hati. Tenang, sekarang kamu bisa bernapas lega. Sebab, Blibli.com memberikanmu banyak pilihan travel umroh yang amanah, lho. Insya Allah, ibadah umroh akan lebih nyaman dan berkesan nantinya. 

Kenapa harus pilih travel umroh dari Blibli.com?

1. Sebab, travel umroh yang terdaftar di Blibli.com bisa dipercaya karena seluruhnya sudah terdaftar di Kementrian Agama dan bekerja sama dengan PPIU (Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umroh)

2. Blibli.com memberikanmu banyak pilihan. Kamu bisa memilih salah satu paket umroh dan haji dari banyak Penyelenggara Perjalanan Ibadah umroh.

3. Terdapat banyak penawaran khusus atau promosi yang bisa kamu gunakan saat membeli paket umroh.

Jika ada yang lebih mudah, kenapa harus memilih yang sulit? Blibli.com benar-benar memberikan kemudahan bagi kita yang punya impian umroh ke tanah suci Makkah. Nggak harus cek ini dan itu, cukup pilih travel umroh yang sesuai keinginanmu dan jangan lupa, gunakan juga promonya supaya kamu dapat penawaran istimewa.

Gimana, masih bingung nyari travel umroh yang tepat untuk menemani perjalanan ibadahmu? Saya sih tidak lagi!

Salam,

(Review) Samsung Galaxy Tab A 10.1 with S Pen, Canggih dan Bikin Mupeng

Aaa…pengen teriak ketika pertama kali pegang tablet satu ini. Tablet impian banget meskipun saya telat belinya. Selama ini, punya tablet sejak belajar menggambar digital. Sekadar hobi tapi benar-benar bikin ketagihan saja ketika memulainya. Makannya, kalau nggak ada waktu luang, pekerjaan numpuk, mending jauh-jauh dulu dari tablet…haha.

Dulu, saya pakai tablet merek lain. Beli sekadar bisa dipakai menggambar saja dan dulu nggak peduli deh seberapa canggih dan nyamannya ketika digunakan menggambar. Akhirnya lama-lama sadar juga, pen dari tablet tersebut memang kurang ‘peka’ ketika dipakai menggambar. Saya pun mulai browsing dan mencari tahu yang lebih tepat.

Samsung merupakan salah satu tablet yang jadi idaman. Kebanyakan illustrator yang suka menggambar pakai aplikasi seperti Medibang dan Ibis Paint X memakai tablet Samsung juga. Saya dan teman saya suka kepoin beberapa ilustrator, nanya ke mereka, pakai tablet apa? Haha. Lucu nggak sih kita? Kurang kerjaan atau semacam terlalu berambisi kwkwk.

Harga tablet satu ini lumayan juga ketimbang yang pernah saya punya. Jadi, nggak langsung kebeli saat itu juga seperti waktu membeli gorengan…haha. Soal minta ke suami, hampir nggak pernah tega. Kalau bisa dengan uang sendiri, pastinya akan diusahakan pakai uang sendiri. Tapi, akhirnya malah dibeliin juga, Masya Allah. Tablet yang tertukar ‘kan jadinya? Haha.

Harga tablet Samsung Galaxy Tab A 10.1 with S Pen ini sekitar Rp. 4.799 ribu. Untuk tablet buat saya yang belum benar-benar serius pengen jadi ilustrator kayak berlebihan saja. Harga segitu bisa buat beli laptop baru, kan? Iya, sih. Awalnya sempat mikir begitu, tapi setelah tahu betapa canggihnya benda persegi ini, akhirnya dipelukin terus, jangan sampai dijual lagi sama suami karena istrinya kurang bersyukur…kwkwk.

Kebutuhan menggambar menjadi alasan utama punya tablet


Orang segaptek saya mau ngapain pegang tablet canggih? Ya, nggak ada alasan lain selain memang ingin digunakan belajar menggambar. Karena itu, setiap hari antara menulis dan menggambar seperti kejar-kejaran. Pengen fokus menulis saja, tapi masih nggak ikhlas kalau ninggalin hobi menggambar…haha. Jadi, semua tetap dikerjakan, tetapi dengan prioritas utama menulis.


Tablet yang nyaman akan sangat berpengaruh ketika digunakan untuk menggambar. Kalau pennya tidak berfungsi dengan baik, gambar kita akan belok kanan dan belok kiri alias nggak rapi. Makannya, benar-benar kepengan punya tablet yang bersahabat. Selama beberapa bulan saya dan teman saya kepoin beberapa ilustrator. Ternyata mereka juga pakai Samsung, Sodarah *semakin terpacu buat punya..haha.


Baiklah, akhirnya saya pun yakin menjatuhkan pilihan pada tablet super canggih satu ini!

Spesifikasi Samsung Galaxy Tab A 10.1 with S Pen 2016


Kamu yang hobi menggambar dan pengen banget punya tablet baru, wajib tahu spesifikasi dari tablet satu ini.

Operating System

Android 6.0

Prosesor

CPU Speed: 1,6 GHz

CPU Type: Octa-Core

Display

Ukuran: 10.1” (255.4mm)

Resolusi: 1920x1200 (WUXGA)

Teknologi: TFT

Kedalaman Warna: 16M

Dukungan S Pen: Ya

Kamera

Main Camera-Resolution: CMOS 8.0 MP

Main Camera-Auto Focus: Ya

Front Camera-Resolution: CMOS 2.0 MP

Main Camera-Flash: Ya

Resolution Rekaman Video: FHD (1920x1080) @30fps

Memori

RAM Size (GB): 3 GB

ROM Size (GB): 16 GB

Dukungan Memori Eksternal: MicroSD (Up to 256GB)

Jaringan

Multi-SIM: Single-SIM

SIM Size: Nano-SIM (4FF)

Infra: 2G GSM, 3G WCDMA, 4G LTE FDD, 4G LTE TDD

2G GSM: GSM850, GSM900, DCS1800, PCS1900

3G UMTS: B1(2100), B2(1900), B5(850), B8(900)

4G FDD LTE: B1(2100), B3(1800), B5(850), B7(2600), B8(900), B28(700)

4G TDD LTE: B38(2600), B40(2300)

Konektivitas

ANT+: Ya

Versi USB: USB 2.0

Teknologi Lokasi: GPS, Glonass, Beidou

Earjack: 3.5 mm Stereo

MHL: Tidak

Wi-Fi: 802.11a/b/g/n/ac 2.4G+5GHz, VHT80

Wi-Fi Direct: Ya

Versi Blutooth: Bluetooth V4.2

NFC: Tidak

Porfil Bluetooth: A2DP, AVRCP, DI, HFP, HID, HOGP, HSP, MAP, OPP, PAN, PBAP

PC Sync.: Smart Switch (PC Version)

Informasi Umum

Form Factor: Tablet

Sensors: Accelerometer, Hall Sensor, RGB Light Sensor

Spesifikasi Fisik

Dimension (HxWxD, mm): 254.3x164.2x8.2

Weight (g): 558

Baterai

Internet Usage Time(3G) (Hours): Up to 13

Internet Usage Time(LTE) (Hours): Up to 13

Internet Usage Time(Wi-Fi) (Hours): Up to 14

Video Playback Time (Hours): Up to 13

Standard Battery Capacity (mAh): 7300

Removable: Tidak

Audio Playback Time (Hours): Up to 154

Talk Time (3G WCDMA) (hours): Up to 43

Talk Time (4G LTE) (Hours): Up to 49

Audio dan Video

Video Playing Format: MP4, 3GP, 3G2, WMV, ASF, AVI, FLV, MKV, WEBM

Video Plaing Resolution: FHD (1920x1080) @60fps

Audio Playing Format: MP3, M4A, 3GA, AAC, OGG, OGA, WAV, WMA, AMR, AWB, FLAC, MID, MIDI, XMF, MXMF, IMY, RTTTL, RTX, OTA

Aplikasi dan Layanan

S-Voice: Tidak

Mobile TV: Tidak

 

Keunggulan Samsung Galaxy Tab A 10.1 with S Pen 2016


Apa saja keunggulan dari tablet satu ini? Selain ringan, Samsung Galaxy Tab A ini juga memiliki berbagai macam fitur canggih yang bikin kita nyaman banget. Kameranya bagus, baterainya parah banget awetnya. Bisa berhari-hari dipakai dengan satu kali isi baterai.


Nah, yang paling saya suka pennya itu, lho. ‘Peka’ banget bahkan kita bisa menulis catatan sama seperti sedang menulis di buku. Yup! Senyaman itu memang. Bagi yang suka menggambar, dengan tablet seharga Rp. 4.799 ribu ini kamu bisa menggambar sama seperti ketika menggunakan cat air. Bener banget, bisa campur-campur warna seperti sedang pakai cat air. Bikin terharu banget…haha. Soalnya kalau pakai cat air, kita harus nunggu kering, keringin pakai hair dryer juga..ribet, kan? Kalau pakai tablet ini, semua bisa lebih mudah!


Biasanya, ketika menulis atau menggambar di tablet, tangan lain nggak bisa nyentuh layar kecuali pennya. Tapi, kalau pakai tablet ini, sentuhan bagian telapak tangan kamu yang nggak sengaja menempel di tablet nggak memperngaruhi apa pun, nggak bikin kecoret gitu. Asyik banget, kan?


Kamu yang suka membaca website luar negeri, nggak perlu khawatir jika ada kata-kata yang kurang dipahami, kamu bisa langsung blok kata itu dan langsung bisa muncul terjemahannya. Simple banget!


Tablet ini juga bisa dimanfaatin untuk membuat gift maker, lho. Misalnya saja ketika kamu sedang asyik nonton video, kamu bisa ambil bagian tertentu dan merekamnya. Jadikan itu sebagai gift yang bisa kamu share ke sosial mediamu. Mudah banget pula caranya tinggal klik dan klik saja.


Satu lagi, pen yang dimiliki Samsung Galaxy Tab A 10.1 with S Pen ini bisa kamu gunakan tanpa khawatir kehabisan baterai seperti pen lain. Asyik banget, kan? Jadi, nggak perlu pusing ngisi baterai pennya, cukup tabletnya aja.


Gimana? Tertarik punya tablet Samsung seperti ini? Buat saya, Samsung satu ini menjadi sahabat terbaik untuk belajar menggambar dan mengembangkan kemampuan membuat ilustrasi secara digital. Selain itu, tablet ini juga mudah dibawa ke mana pun kamu mau. Benar-benar istimewa banget.


Salam,


Tuesday, April 9, 2019

Kaos Kaki Boxset Terminal Socks, Nyaman dan Berkualitas

Selama ini, saya jarang dan kurang memperhatikan kebutuhan kaos kaki. Yang penting punya, yang penting bisa dipakai. Nggak peduli apakah kaos kaki itu nyaman, motifnya apa, warnanya apa. Nggak pernah peduli…haha.


Kebutuhan kaos kaki memang penting, tapi kerap kita abaikan. Mentang-mentang jarang terlihat, kita jadi cuek dan nggak peduli. Itu sih saya. Tapi, kemarin akhirnya sadar ketika melihat kaos suami yang sudah nggak jelas bentuk dan wujudnya. Ternyata hal kecil seperti ini juga harus kita perhatikan. Sebab meskipun jarang terlihat, tetapi kaos kaki merupakan kebutuhan yang sering banget kita gunakan dalam aktivitas sehari-hari.


Mencari kaos kaki tidak melulu soal motif dan warnanya yang bagus dan lucu. Kadang, kaos kaki yang ada di pasaran mudah sekali sobek ujungnya meskipun motifnya menarik. Kadang juga cepat melar sebelum waktunya. Buat orang dewasa, motif dan warna bisa dinomorduakan, ya. Yang penting nyaman dan berkualitas. Itu sudah bisa memenuhi kebutuhan kita.


Kaos kaki khusus muslimah atau perempuan kebanyakan panjangnya hampir selutut. Baik yang model jempol atau bukan. Bagian bawahnya berwarna hitam. Buat saya, kaos kaki seperti itu nyaman-nyaman saja digunakan, tapi akan lebih nyaman jika panjangnya dikurangi sedikit saja. Bisa jadi ini disebabkan karena tinggi saya yang nggak seberapa sehingga kaos kaki semacam itu terasa sangat panjang ketika dipakai.


Tapi, sekarang saya nggak perlu pusing memikirkan kaos kaki lagi. Sebab, sudah ada kaos kaki boxset Terminal Socks yang nyaman dan dikemas sangat cantik. Bahkan bisa kamu jadikan kado juga buat orang terkasih.


Kaos kaki Boxset Terminal Socks punya banyak pilihan warna dan motif


Baru kali ini menemukan kaos kaki dikemas dalam box dengan varian warna dan motif yang sangat menggemaskan. Untuk kaos kaki pria, kamu bisa menemukan beberapa motif seperti Diamond, motif lingkar, dan dot jaring.


Sedangkan untuk kaos kaki perempuan, tersedia dalam varian warna yang sangat menggemaskan, cerah, dan pastinya bisa disesuaikan juga panjang dan pendeknya sesuai keinginan.


Saya pribadi langsung jatuh hati ketika kaos kaki ini tiba di rumah. Kemasannya rapi, tertata apik, dan pastinya sangat berkualitas.


Berkualitas dan harga terjangkau

Kaos kaki Terminal Socks dibuat dari katun dan polyester. Sangat nyaman dikenakan dan nggak mudah melar. Kelebihan dari kaos kaki ini adalah dapat mengontrol bau, anti bakteri, daya serap tinggi, lembut, nyaman dikenakan, dan pastinya nggak gampang menyusut ketika dicuci.


Kelebihan tersebut bisa kamu dapatkan dengan harga terjangkau, lho. Satu set kaos kaki Terminal Socks ini bisa kamu peroleh dengan harga 100 sampai 120 ribu saja. Beberapa varian lainnya juga bisa kamu lihat di online shop seperti Tokopedia atau Bukalapak.


Hari gini masih galau mikirin kaos kaki yang melar dan berlubang? Duh, jangan seperti saya yang ketinggalan zaman. Cobain yuk koleksi kaos kaki dari Terminal Socks ini. Warna dan motifnya dijamin bikin hati senang. Dikenakan nyaman dan pastinya ringan di kantong.


Buat kita orang dewasa, kaos kaki adalah kebutuhan yang tak bisa dinomorduakan meskipun jarang terlihat oleh mata. Pria butuh kaos kaki untuk aktivitas sehari-hari seperti ketika ke kantor dan olahraga. Sedangkan kita yang perempuan hampir tak pernah lepas dari kaos kaki karena kebutuhan menutup aurat. Kalau sudah begini, jangan kamu abai lagi.


Yuk, pilih kaos kaki berkualitas dengan harga terbaik di kelasnya! *Sudah mirip kampanye saja, ya...haha.


Salam,

Sunday, April 7, 2019

Lebih Penting Mana, Mengajari Anak Gemar Membaca atau Segera Pandai Membaca?







Saya mungkin termasuk orang tua yang tidak pernah merasakan susahnya ngajarin anak membaca. Sempat membayangkan gimana cara saya mengajari si sulung membaca sedangkan untuk mengeja saja saya nggak pandai? Haha.


Tetangga dekat juga sempat buru-buru cari tempat les membaca sebelum anaknya masuk SD. Saya? Nggak sampai ke sana. Jadi, sebenarnya apa perlu kita mengajari anak segera pandai membaca pada usia dini? Misalnya usia TK?

Saya termasuk orang yang nggak setuju jika ada orang tua mengajari anaknya belajar membaca terlalu dini. Memang kesannya seperti sangat pintar, cerdas, membanggakan. Tapi, sebenarnya itu tidak selalu baik bagi anak-anak, lho.

 
Sejak anak-anak masih kecil, saya membiasakan mereka gemar membaca dimulai dari seringnya saya membacakan buku-buku sebelum mereka beranjak tidur, bahkan jauh sebelum mereka mengenal huruf dan angka. Saya lebih suka melakukan itu ketimbang harus mengenalkan huruf satu per satu.


Ada banyak anak pandai membaca, tetapi belum tentu mereka menyukainya. Kalau sudah begitu, apa yang bisa orang tua lakukan? Bukankah yang penting adalah menanamkan budaya gemar membaca ketimbang hanya sekadar lekas bisa?


Si sulung bisa membaca saat masuk TK B. Itu pun tanpa perjuangan keras dari saya dan guru-gurunya. Masya Allah, gurunya bahkan sempat heran kenapa tiba-tiba dia bisa membaca kalimat pada sebuah papan di tengah jalan tepat saat dia dan teman-temannya pergi berwisata bersama.


Sedangkan saya juga tak pernah menyangka kenapa dia bisa secepat itu pandai membaca padahal sebelumnya tidak bisa. Setelah membaca beberapa sumber, kemungkinan besar itu bisa saja terjadi karena sejak kecil saya sudah mengenalkannya dengan buku, membiasakan membacakan cerita sebelum tidur, kadang meminta dia bercerita sesuai versinya. Kita selalu punya cara untuk bersenang-senang dengan buku.


Si sulung saat ini usianya sudah masuk 8 tahun. Setelah bisa membaca, dia jadi senang sekali berburu buku. Setiap ke mall, saya mengajaknya mampir ke toko buku dan menyuruhnya memilih satu atau dua buku untuk dibaca saat tiba di rumah. Sampai sekarang, kebiasaan kecil seperti ini selalu menarik bagi kami. Jadi, tujuan ke mall nggak pernah mampir beli mainan, tapi beli buku…haha.


Nggak pernah merencakan sebelumnya akan seperti sekarang di mana dia mencintai buku dan suka membaca. Jika sudah membeli buku, dia akan membacanya seharian sampai selesai. Kadang lebih gila daripada emaknya. Kebiasaan membacanya itu kadang bikin takjub juga. Tapi, dia bukan kutu buku juga yang selalu bermain bersama buku. Dia punya kehidupan normal, suka nonton televisi, bermain sepeda, atau membuat prakarya dari barang bekas. Bahkan akhir-akhir ini, dia senang menulis cerita dan membuat komik.


Nggak bisa dipungkiri, kesenangannya membaca diawali dari perkenalannya dengan buku-buku sejak usia dini. Seingat saya, dia dapat menghapal teks pada buku bahkan sebelum usianya 2 tahun. Saat itu dia tidak bisa membaca, dia hanya menghapal saking seringnya dibacakan buku…haha. Dan hal semacam ini terulang pada si bungsu yang sekarang berusia 3,5 tahun.


Sebelum tidur, dia mengambil 4 buku berseri dari Tiga Ananda dan dua kumpulan cerita dari BIP. Dia akan berhenti meminta saya membaca jika semua buku itu sudah saya bacakan…haha. Kadang capek juga, kan? Tapi, bukankah ini yang diinginkan oleh hampir semua orang tua?


Membuat anak-anak senang membaca buku buat saya tidak dengan cara membuat mereka pandai membaca sejak usia dini, melainkan membuat mereka menyukai buku terlebih dulu. Dia kadang menghabiskan satu buku sambil bercerita menggunakan versinya.


Nggak heran, jika belanja buku setiap bulan jauh lebih banyak ketimbang belanja mainan. Sampai akhirnya saya memilih untuk lebih sering membeli buku anak-anak ketimbang buku untuk saya sendiri. Dan ujung-ujungnya saya pun belajar lebih banyak tentang buku anak-anak dari buku-buku mereka. Ketika main ke toko buku, saya langsung menuju rak buku-buku anak. Iya, buku itu bisa jadi bacaan untuk anak-anak, bisa juga untuk referensi saya sebagai penulis buku cerita anak.


Buku adalah jendela dunia. Dengan mengenalkan buku sejak dini pada anak-anak, kita pun akan terbantu karena proses sederhana itu akan membantu mereka pandai membaca tanpa perlu dipaksa, tanpa harus masuk bimbel, dan apa pun itu. Beruntung, sekolah si sulung tidak menilai kemampuan anak-anak dari seberapa pandai mereka membaca, melainkan melalui kesiapan mereka belajar di kelas nanti.


Jadi, nggak heran jika kelas 1 SD masih ada yang belum lancar membaca, tetapi lolos masuk SD di sana. Mereka belajar pelan-pelan. Anak-anak paling nggak boleh dipaksa meski kelihatannya mereka pasti bisa. Jadi, penting mana mengenalkan buku sejak dini dan membuat mereka suka membaca atau membuat mereka segera pandai membaca?


Salam,

Friday, April 5, 2019

Budaya Nonton dan Main Gadget pada Anak, Bisakah Dihindari?

Apa? Kamu sebut itu budaya? Haha. Iya, kebiasaan yang dilakukan hampir oleh semua anak kecil pada zaman sekarang. Teman saya sempat kaget dan berulang kali bertanya, Jadi sampai detik ini anakmu masih dilarang nonton televisi setiap hari dan nggak dikasih gadget?

Yup! Betul sekali. Sebenarnya, saya bukan termasuk orang tua yang berhasil nggak ngasih fasilitas itu sejak mereka lahir. Anak-anak juga sempat merasakan seneng dan hebohnya bisa melihat televisi hampir setiap hari dan nonton video di tablet atau handphone. Masalahnya, emaknya keburu gatel melihat perubahan drastis itu dan segera menjauhkan benda asing tersebut dari jangkauan mereka.


Iya, saya juga pernah salah. Sama seperti kamu. Pernah khilaf dan ngasih kebebasan buat mereka untuk bermain gadget setiap hari. Tapi, di handphone atau tablet saya dan suami memang tidak pernah dipasang aplikasi game. Saya dan suami memang nggak suka main game. Jadi, wajar jika di handphone kami bersih. Lalu gimana dengan anak-anak? Mereka juga nggak akan meminta jika kita juga nggak pernah memainkannya.

Anak-anak main gadget atau nonton televisi itu sudah mejadi kebiasaan yang lumrah terjadi saat ini. Saya pribadi memang punya tablet, tapi sejak awal itu memang dipakai untuk bekerja alias menggambar. Jadi, jika mereka meminjam untuk menggambar, saya membolehkannya. Jika tidak, ya nggak ada yang bisa dilakukan menggunakan barang persegi itu.


Waktu si bungsu kemarin dikhitan, saya sempat memberikan dia tablet untuk nonton beberapa video kartun dari Youtube. Itu adalah kesengajaan memang…haha. Harapannya semoga dia nggak rewel setelah biusnya habis. Ujung-ujungnya saya tarik kembali setelah dia merasa nyaman dan membaik. Jahad, ya? Memang salah dan khilaf yang disengaja ini. Karena merasa saya udah nggak mampu duluan melihat betapa mengerikannya proses khitan...haha. Padahal, anaknya santai saja ternyata...hihi.


Kenapa segitu alerginya sama gadget?

Nggak alergi juga, sih. Saya juga suka main sosial media di handphone dan pada akhirnya saya merasa bahwa itu hanya membuang waktu. Sama ketika anak-anak bermain gadget. Manfaat sama akibat buruknya nggak seimbang sama sekali. Mereka bisa lupa waktu, lupa shalat, mati gaya kalau televisi mati, dan nggak kreatif.


Berasa banget ketika televisi nggak dinyalakan, sulung bingung mau ngapain di rumah. Padahal, jika tidak dibiasakan menonton, dia akan sangat kreatif dan banyak ide. Yang paling gemas mungkin salah satunya ketika dipanggil nggak langsung menyahut alias lama banget…kwkwk. Emaknya emosi, tolooong…haha.



Sejak awal saya memang merasa bahwa gadget itu nggak selalu membawa hal positif terutama bagi mereka yang memang belum membutuhkannya. Akan ada saatnya mereka mengerti dan membutuhkan itu, tetapi bukan saat ini.


Kenapa anak-anak senang sekali bermain gadget dan nonton televisi?

Saya hanya bicara dari apa yang saya pahami selama ini. Iya, ketika anak kebutuhannya tidak dipenuhi, dalam hal ini soal kebersamaan dengan teman, orang tua, maka dia akan mencari hal lain yang lebih menyenangkan dari sekadar hanya duduk diam.


Anak-anak yang cenderung susah dipisahkan dari gadget kebanyakan karena kebutuhannya kurang terpenuhi. Misalnya orang tua sibuk bekerja atau ada di rumah, tetapi tidak sepenuhnya menemani anak-anaknya.


Nonton atau bermain game itu bikin candu. Benar, kan? Coba saja kamu kasih dia nonton dua hari, besoknya pasti akan meminta lagi sampai gulung-gulung di lantai kecuali kamu ganti dengan aktivitas menarik lainnya.


Nonton atau main gadget itu boleh asalkan seimbang dengan kegiatan lainnya

Mustahil banget menghindarkan anak-anak dari aktivitas nonton televisi dan bermain gadget. Bahkan kadang di sekolah bu guru juga ngasih muridnya nonton. Kadang teman atau saudara ngajakin anak kita main gadget. Jadi, mustahil banget menyembunyikan semua itu dari dunia mereka.


Dan menurut saya, hal ini memang nggak perlu disembunyikan sampai segitunya. Sebab mereka juga harus tahu dan paham. Maka tugas kitalah sebagai orang tua untuk pandai-pandai mengedukasi anak-anak supaya mereka paham apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat nonton televisi dan memegang gadget.


Usahakan ajak mereka melakukan kegiatan lainnya. Jangan hanya melulu nonton saja. Ujung-ujungnya mereka akan memilih itu setiap hari. Coba ajak mereka bermain sepeda, biarkan mereka bermain di luar atau temani mereka jika memang kita tidak bisa membiarkan mereka bermain di luar sendiri.


Bagaimana cara mengurangi ketergantungan pada gadget atau nonton televisi?

Orang tua lain mungkin berbeda pandangan dengan saya dalam hal ini. Tapi, saya pribadi cenderung akan mengatakan bahwa alasan terbesar mereka sampai kecanduan adalah kita sendiri sebagai orang tua yang nggak bisa membatasi. Intinya itu salahnya di kita, bukan anak-anak.


Maka, ketika semua sudah terlanjur buruk dan candu, kita juga yang bisa membuang kebiasaan buruk itu dari mereka. Tapi, ternyata itu nggak mudah. Kebanyakan orang tua nggak tega dan banyak alasan lainnya sehingga tetap membiarkan anak-anak bermain gadget setiap hari.


Cobalah ajak mereka bermain dan seru-seruan bareng. Mereka akan sangat mudah lupa jika memang ada kegiatan penggantinya. Yang sulit itu jika kita hanya sekadar melarang dan melarang tanpa ada solusi.


“Kamu bisa bermain sepeda bersama Mama hari ini. Kita bisa balapan!” atau
“Kita baca buku sama-sama, yuk! Setelah itu kita bikin cerita sendiri, gimana?” atau
“Kayaknya kamu udahan nontonnya. Mama pengen bikin sesuatu buat kamu. Bantuin Mama, ya!”


Cara seperti ini akan efektif Insya Allah. Terus berikan kegiatan pengganti sehingga mereka lupa dan sadar bahwa bukan nonton saja yang asyik. Ternyata ada kegiatan lainnya yang lebih seru dan menyenangkan.


Kebersamaan dengan orang tua memang jadi prioritas utama. Mereka yang dibesarkan dengan ‘tidak utuh’ akan mencari pelampiasan lainnya. Jadi, penuhi apa yang menjadi kewajiban kita sebagai orang tua. Jangan abai, jangan lupa!


Salam,