Posts with the label Health
Showing posts with label Health. Show all posts
Showing posts with label Health. Show all posts

Tuesday, May 28, 2024

Diet Bebas Gula, Mulainya Dari Mana?

Diet Bebas Gula, Mulainya Dari Mana?
Photo by Joanna Kosinska on Unsplash


Akhir-akhir ini, angka penderita diabetes makin mengerikan. Tak hanya orang dewasa, anak-anak usia sekolah pun banyak yang terkena diabetes serta gagal ginjal akibat kurangnya konsumsi air putih dan seringnya mengonsumsi jajanan kemasan. Kalau dipikir, zaman kita kecil, makanan kemasan juga sudah banyak dan sering dikonsumsi. Namun, sepertinya tidak sebanyak sekarang jumlah dan jenisnya. 


Sebenarnya, tubuh kita juga butuh gula, tapi dalam jumlah tertentu. Masalahnya, pola hidup kita yang sekarang sudah cenderung berlebihan mengonsumsi gula, baik gula yang terkandung dalam snack ataupun gula tersembunyi yang ada dalam nasi putih makin meningkatkan risiko penyakit berbahaya di kemudian hari.


Konsumsi gula berlebihan bukan hanya menyebabkan diabetes, tapi juga membuat tubuh kita mudah gemuk atau jauh dari berat badan ideal. Terlebih kita itu dikenal malas sekali bergerak dan berolahraga. Kebayang nggak sih bakalan jadi apa makanan yang kita konsumsi sehari-hari dengan kondisi tubuh jarang bergerak seperti ini? Yes, akan jadi lemak!


Sedikit cerita, saya sudah menjalankan beberapa metode diet sehat dan salah satu yang bikin nyaman ya kembali ke makanan alami serta membatasi jam makan. Saya bukan tipe orang yang suka menghitung kalori karena buat saya itu ribet apalagi saya nggak suka melihat angka…kwkwk. Saya lebih senang mengurangi gula, tepung, nasi putih, minyak, dan makanan kemasan dibanding harus menghitung kalori makanan dalam sehari.


Selain itu, membuat jendela makan seperti yang kita pakai saat intermitten fasting itu berguna banget lho mencegah kita ngemil sembarangan di semua waktu. Saya yang dulunya punya magh lumayan berat, saat ini aman-aman saja ketika tidak sarapan di pagi hari dan hanya konsumsi air putih. Tubuh kita, terutama pencernaan butuh banget istirahat. Kebiasaan di Indonesia yang mesti sarapan berat di pagi hari nggak mesti diikuti apalagi di usia kita yang sudah masuk 30an tahun ke atas. Gapapa kok sarapan buah atau sekadar minum air putih atau bisa juga air kelapa murni. Sinyal lapar di pagi hari tidak selalu menunjukkan bahwa kita lapar. Bisa saja itu sinyal haus yang salah kita terjemahkan. Gampangnya begitu.


Kurangi Konsumsi Makanan Kemasan

Saya sering mengikuti postingan seorang dokter di sosial media yang sharing tentang menu makanan sehat untuk mereka serta anaknya yang masih balita. Beliau ini benar-benar menghindari makanan kemasan serta makanan yang diproses berlebihan atau UPF. Anaknya santai banget ngunyah mentimun dengan saus hati ayam homemade, makan ubi rebus, dan sejenisnya. Mereka nggak pernah konsumsi makanan kemasan walaupun orang akan bilang, kasihan banget anaknya nggak pernah dikasih snack, kasihan banget bla bla bla…Untungnya beliau ini dokter, ya. Coba dulu saya waktu si sulung masih balita dan saya batasi konsumsi gula serta garam, diprotes sekomplek, lho….haha. Mental kalau nggak kuat bisa ambyar…kwkwk.


Itulah sulitnya kita menerapkan pola hidup sehat karena masih sering dianggap aneh. Padahal lebih kasihan lho anak yang harus cuci darah seminggu beberapa kali hanya karena dia malas minum air putih dan lebih sering konsumsi jajan kemasan sama minuman kemasan yang dijual di warung-warung. Dia sampai berhenti sekolah dan kasusnya banyak!


Waktu saya ke dokter untuk memeriksakan si bungsu, dokter berpesan jangan konsumsi makanan kemasan apa pun walaupun itu susu atau yogurt! Waktu itu putra saya kambuh Otitis Media-nya. Selama beberapa tahun sejak usia 6 bulanan dia terkena Otitis Media Akut di mana setiap flu telinganya akan keluar cairan. Jadi, dulu saya sampai capek ya bolak balik ke dokter THT buat bersihin telinga yang terjadinya hampir tiap seminggu sekali. Sampai-sampai dokter mau ambil tindakan karena kondisinya nggak membaik. Qadarullah akhirnya berhenti di usia beberapa tahun berikutnya.


Kemarin sempat kaget juga kenapa anak ini tiba-tiba sakit banget telinganya padahal flu dan batuknya juga nggak parah. Ya penyebabnya memang dari common cold, tapi aneh saja kenapa sampai segitunya? Apalagi tiap sakit kondisinya lumayan parah, muntah-muntah, batuknya berat, dan demamnya juga tinggi.


Mau nggak mau setelah mendengar saran dari dokter akhirnya kami coba untuk stop semua makanan kemasan kecuali sesekali. Oiya, sampai saat ini saya masih memberikan susu UHT plain yang kalau di kemasannya disebut nggak ada pengawet dan hanya dibuat dengan susu sapi murni.


Jadi, setelah membatasi makanan kemasan, sekarang makannya apa? Nah, ini yang sering kita cemaskan, ya. Karena selama ini kita memang tidak terbiasa makan makanan sehat, makanya jadi pusing…kwkwk.


Saya coba sharing beberapa hal yang benar-benar kami hindari saat ini. Mulai dari mi instan, cokelat, jajan chiki bermecin berpenyedap, dan semua jenis makanan kemasan lainnya, tapi memang yang paling terasa parah efeknya di anak saya adalah cokelat sama mi instan. Padahal dia nggak ada alergi karena kami sudah pernah cek alergi lengkap. Namun, beberapa kali konsumsi dua jenis makanan itu terlihat sekali kalau batuk parah bahkan mi instan ini efeknya lumayan instan juga…hahaha. 


Anak-anak jarang banget makan mi instan, bahkan putra saya yang di pesantren pun saya batasi meski sudah besar. Kita hanya makan sesekali, misal sebulan sekali buat happy aja, tapi habis makan sudah langsung batuknya rame banget…haha. Saya nggak bisa tiba-tiba melarang si bungsu karena dia juga sudah tahu rasanya mi instan seenak apa…kwkwk. Namun, setelah beberapa kali dia makan dan merasakan sendiri efeknya selalu cepat dan sama, akhirnya dia mau untuk berhenti. Kalau pengin mi, minimal emaknya yang masakin pakai mi telur. Kalau seperti ini, masih aman, insya Allah.


Ke sekolah bawa apa dong? Sampai sejauh ini menunya masih sama dan sederhana…haha. Nggak bisa mikir mau bikinin apa buat dia ke sekolah. Akhirnya hari-hari hanya bawa susu plain, kentang goreng, dan bolu pisang yang saya buat tanpa gula dan tepung. Kami juga konsumsi jus tanpa gula. Kita ganti dengan sedikit madu untuk pemanisnya. 


Karena sudah terbiasa, sekarang dia jadi kurang suka makan snack kemasan. Jadi hilang selera saja kecuali sesekali ya okelah masih pengin. Namun, sudah jauh banget bisa dikontrol.


Jangan Malas Olahraga

Saya pernah bilang ke suami, kita memang punya anak dan sudah tugas mereka menjaga kita ketika sudah tua nanti. Tapii, saya nggak mau jadi orang tua yang merepotkan karena mereka akan punya kehidupan sendiri dan jangan sampai orang tuanya membebani. Jadi, sebisa mungkin kita jaga kesehatan dari sekarang supaya nanti nggak merepotkan anak-anak. Kalau sudah berusaha ternyata tetap sakit, ya itu sudah qadarullah. Namun, penelitian menunjukkan bahwa orang tua yang punya tabungan otot alias suka bergerak dan banyak olahraga punya risiko sakit yang lebih kecil dibanding mereka yang jarang bergerak. 


Kebanyakan orang tua yang jatuh akan sulit berjalan kembali entah karena patah atau kena saraf terjepit, dan sejenisnya. Dokter bilang, mereka yang punya tabungan otot alias suka bergerak akan memiliki risiko patah lebih sedikit dan kemungkinan besar bisa sehat kembali atau bisa berjalan ketika dia rajin olarhaga sejak lama.


Jadi, olahraga itu penting banget, pliss. Kasus ibu saya juga jadi pelajaran berharga banget bahwa kurang bergerak bisa menyebabkan kelumpuhan. Ibu saya lumpuh bukan karena struknya, tapi karena beliau sama sekali tidak mau bergerak. 


Jadi, setiap diajak berjemur, beliau marah dan katanya silau. Setiap diajak belajar jalan beliau bilang capek padahal baru beberapa langkah. Dokter bahkan tidak mengizinkan beliau dipapah karena beliau sebenarnya bisa berjalan. Hanya saja karena kondisinya terkena demensia alzeimer membuat pikirannya tidak seperti beliau yang normal dulu. Beberapa kali beliau ketahuan jalan kaki ke kamar mandi sendiri tanpa sepengetahuan orang rumah, tapi waktu ada kami, beliau seperti orang tidak bisa jalan. Beliau juga pernah hilang dan ternyata sudah ada di rumah kakak saya di sebelah rumah. Beliau bisa jalan dengan normal setelah kena struk ringan, tapi karena demensianya, beliau tidak punya keinginan untuk sembuh lagi.


Saya ingat betul, dulu setelah saya kembali ke Jakarta, setiap pagi saya akan video call supaya Ibu mau diajak jalan di teras dan berjemur. Namun, ternyata itu nggak cukup buat bikin Ibu semangat dan akhirnya sekarang kondisinya benar-benar sudah lumpuh. Kakinya agak bengkok, begitu juga dengan kedua tangannya. Terapi pun sudah tidak berguna untuk saat ini. Beliau hanya mau tidur sepanjang hari. Seperti orang yang nggak mau mendengar dan nggak mau tahu apa pun. Seolah pengin nutup mata atas semua hal. 


Dan, semakin tua kita, semakin memendek otot-otot kita. Meski hanya olahraga ringan, ayo tetap olahraga. Menua itu hal yang pasti begitu juga dengan kematian. Tapi, menikmati masa itu dengan cara seperti apa, kita sendiri yang menentukan.


Diet Bebas Gula, Mulainya dari Mana?

Tadi saya jelaskan tentang anak saya yang mulai membatasi gula dan makanan kemasan. Lalu, bagaimana dengan orang tua seperti kita yang ternyata lebih susah diberi pengertian? Yang paginya bilang mau diet, tapi siangnya minum es teh segelas jumbo, dan malamnya makan mi instan, sini saya jewer…haha.


Lidah yang sudah terbiasa makan makanan manis akan terus meminta jenis makanan yang sama. Sama halnya seperti orang yang kecanduan main games, makin hari makin minta lebih. Dan buat usia kita yang sekarang, rasanya itu nggak bijak sama sekali.


Jadi, kita harus mulai diet bebas gula dari mana? Mulailah dengan intermitten fasting. Dengan membuat jendela makan, kita bisa membatasi camilan, lho. Mulailah sarapan jam 11 atau jam 12 siang hingga jam 6 malam. Antara jam 11 siang hingga jam 6 malam itu kita boleh makan apa pun dalam jumlah wajar, tapi kalau saya pribadi lebih suka makan berat di jam 11 dan kalau mau makan sedikit camilan sekalian saja setelah makan berat dan baru makan lagi di jam 6 sore. Lanjut lagi untuk hari berikutnya dengan cara yang sama.


Selain itu, kita bisa makan makanan yang alami seperti mengganti menu makan dengan sayuran rebus, telur rebus, tahu putih, buah, dan sejenisnya tanpa nasi dan snack kemasan atau minuman manis. Kalau mau tetap pakai karbohidrat, coba ganti nasi putih dengan nasi merah atau kentang kukus. Rasanya gimana? Ya hambarlah kalau nggak biasa…kwkwk. Padahal sebenarnya semua makanan itu punya rasa alaminya masing-masing. Kalau sudah terbiasa, semua akan enak saja, sih.


Jangan lupa untuk tetap minum air putih dan hindari minuman kemasan yang sangat mengerikan jumlah gulanya. Seperti sudah saya sebutkan, saya itu nggak suka ribet kalau diet…kwkwk. Beberapa hal ini saya terapkan sampai sekarang. 


Jadi gemuk itu nggak enak. Bukan berarti kita nggak boleh gemuk atau gemuk itu negatif, ya. Namun, dari segi kesehatan itu mengganggu banget buat saya pribadi. Saya bukan tipe orang yang makan apa saja tetap kurus. Sejauh ini, saya memang menjaga pola makan dan berat badan memang naik turun terus. Saya merasa, bernapas saja bisa menaikkan berat badan, kok…haha. Jadi, kalau saya sendiri nggak mau menjaga diri sendiri, bisa bahaya :(


Kalau teman-teman sudah terlanjur gemuk, jangan putus asa. Menurunkan berat badan itu nggak sesulit yang kita bayangkan asalkan konsisten. Nggak perlu hitung kalori sampai berlembar-lembar, asal konsisten…kwkwk. Benar, asal konsisten insya Allah berat badan berlebihan bisa turun terutama dengan diet bebas gula. Semoga mencerahkan sebagaimana krim pencerah wajah yang teman-teman pakai di rumah.


Salam hangat,


Tuesday, May 28, 2024

Diet Bebas Gula, Mulainya Dari Mana?

Thursday, June 22, 2023

Konsultasi Kesehatan Online Bersama Halodoc, Mudah dan Cepat!

Konsultasi Kesehatan Online Bersama Halodoc, Mudah dan Cepat!
Photo by National Cancer Institute on Unsplash


Sejak pandemi sampai sekarang, jujur saya jadi jarang pergi ke dokter lagi. Alhamdulillah, selain kami sekeluarga memang dalam keadaan sehat, opsi pergi ke dokter menjadi ke sekian mengingat saat ini kita bisa konsultasi dokter via online.


Waktu si adek masuk semester dua kemarin, dia sempat kena common cold yang bikin badannya menggigil, kemudian tiba-tiba suhunya naik secara mendadak. Tengah malam pula waktu itu. Meski sering menangani anak sakit seorang diri, tapi baru kali ini saya lihat anak sampai mengalami hal seperti itu. Tentu saja saya panik luar biasa. Bersyukurnya, si Mas bisa lebih tenang, meminta saya memberikan obat penurun panas pada adek, kemudian semua berangsur membaik.


Besoknya, saya masih kepikiran, tapi malas mau ke dokter. Kenapa? Karena kondisi adek sebenarnya normal saja, ada batuk pilek, ada demam yang artinya itu hanya virus. Dia masih mau makan dan minum, masih sadar, dan tidak ada kejang.


Akhirnya, saya memutuskan untuk konsultasi dengan salah satu dokter spesialis di aplikasi Halodoc. Setelah mendengar penjelasan dokter dan memastikan anak saya baik-baik saja, saya pun jadi lebih tenang.


Saya sempat diresepkan beberapa obat yang jika ditotal habis sekitar 700k lebih, tapi tidak satu pun saya tebus karena sepengetahuan saya, semua obat itu nggak diperlukan. Termasuk antibiotik, obat batuk untuk penderita asma, dll. Jadi, seperti overtreatment gitu, lho. Sampai saat ini memang saya masih kesulitan mencari dokter yang RUM. Gapapa juga, terkadang saya hanya butuh konsultasi dan meyakinkan diri bawah treatment saya di rumah sudah tepat.


Saya nggak merasa rugi konsultasi di Halodoc, selain harganya yang murah, kita juga nggak butuh antre terlalu lama seperti saat pergi ke rumah sakit. Karena memang saya hanya butuh konsultasi, nggak melulu butuh obat.


Konsultasi ke Dokter Jadi Lebih Fleksibel

Konsultasi Kesehatan Online Bersama Halodoc, Mudah dan Cepat!
Photo by Zhen H on Unsplash


Kalau konsultasi dokter via online, rasanya waktu jadi lebih fleksibel. Kita nggak harus buru-buru ke rumah sakit dan mendaftar, nggak perlu keluar rumah, nggak perlu antre berjam-jam, dan yang pasti bisa konsultasi kapan pun sesuai kebutuhan kita.


Selain ke dokter spesialis anak, saya juga pernah konsultasi ke beberapa dokter spesialis lain, salah satunya dokter kulit.


Saya dan si bungsu memang punya kulit yang sensitif. Waktu udara panas seperti kemarin, dermatitis saya dan si adek jadi kambuh, sedangkan persediaan salep dari dokter langganan saya sudah habis. Waktu itu sudah sempat mau pergi ke dokter untuk minta obat, tapi kemudian nekat coba konsultasi di Halodoc.


Harga konsultasi dokter via Halodoc cukup beragam. Bahkan bisa hanya 50k saja, lho. Meskipun awalnya saya nggak yakin, tapi ternyata worth it banget, sih. Saya mengirimkan foto kondisi kulit saya yang beruntusan, merah, dan gatal. Kemudian menceritakan detail riwayat kesehatan kulit saya. 


Tak lama, saya diresepkan salep yang bisa dijumpai dengan mudah di apotek. Bukan salep racikan seperti dari dokter saya sebelumnya yang ketika habis nggak bisa beli bebas di luar.


Qadarallah, saya yang biasanya susah cocok sama obat salep tertentu, kali ini beneran cocok. Dermatitis saya berangsur hilang setelah hanya pemakaian salep kedua kali. Asli nggak nyangka banget dapat yang cocok…hihi.


Konsultasi Dokter Jadi Mudah dan Cepat

Konsultasi Kesehatan Online Bersama Halodoc, Mudah dan Cepat!
Photo by Matteo Fusco on Unsplash


Konsultasi via aplikasi Halodoc cukup mudah, kok. Kita hanya perlu mengunduh aplikasi Halodoc dan lanjut memilih dokter yang dibutuhkan. Ada banyak dokter berpengalaman yang siap melayani kita kapan pun. Pagi, siang, dan sore.


Harganya sangat terjangkau sampai bikin terharu, lho…kwkwk. Biasanya, jika kita pergi ke dokter bisa habis ratusan ribu plus obat, tapi di Halodoc kadang nggak sampai 100 ribu sudah sekaligus dapat obatnya juga.


Hanya saja, saya perlu menekankan juga pada temna-teman di rumah, konsultasi dokter via online tentu saja hanya bisa kita lakukan jika kondisi pasien tidak dalan keadaan darurat. Tidak sedang sesak atau membutuhkan penanganan segera. 


Kita harus tahu kapan mesti ke rumah sakit dan kapan bisa tetap melakukan treatment di rumah. Inilah pentingnya kita ikut belajar tentang dunia kesehatan meskipun hanya hal-hal dasar saja seperti tanda-tanda gawat darurat, dll.


Dalam kondisi ringan, konsultasi dokter via online sangat membantu menghemat waktu serta biaya. Kita pun bisa lebih tenang meski hanya di rumah.


Semoga sharing kali ini bisa bermanfaat, ya untuk teman-teman di rumah. Tetap sehat dan happy.


Salam hangat,


Thursday, June 22, 2023

Konsultasi Kesehatan Online Bersama Halodoc, Mudah dan Cepat!

Tuesday, May 16, 2023

Bikin Nggak Pede! Ini Dia Cara Atasi Gejala Panu dengan Cepat dan Aman

Bikin Nggak Pede! Ini Dia Cara Atasi Gejala Panu dengan Cepat dan Aman
Photo by triocean on IStockphoto


Sudah bukan rahasia, jika panu sering menimbulkan rasa nggak pede. Siapa sih yang mau punya panu apalagi di bagian tubuh yang mudah terlihat. Rasanya pengin mengurung diri di kamar saja sepanjang hari daripada jadi bahan tertawaan orang-orang di sekitar.


Panu merupakan infeksi jamur pada kulit yang disebabkan oleh Malassezia. Gejalanya berupa bercak berwarna lebih terang atau lebih gelap pada kulit. Karena perbedaan warna bercak yang mecolok antara panu dan kulit kita, makanya gejala panu begitu kentara dan siapa pun pasti dapat menebaknya.


Dalam kondisi seperti ini, kita mungkin merasa kurang nyaman ketika harus berinteraksi dengan orang-orang di sekitar, tapi jangan khawatir, pada umumnya panu tidak akan menular pada orang lain. Panu tidak seperti penyakit kulit lain yang mudah menular, kok. Hanya saja, munculnya panu memang sangat memengaruhi penampilan kita.


Kebanyakan remaja hingga dewasa yang tinggal di iklim subtropis lebih sering terkena panu. Biasanya panu muncul di sekitar dada, punggung, pundak, hingga leher. Kamu pasti sering melihat ada orang yang punya panu di sekitar punggungnya. Kebanyakan memang panu muncul di beberapa bagian tubuh tersebut sehingga mudah saja terlihat terutama ketika mengenakan pakaian tidak tertutup.


Supaya Terhindar dari Panu, Yuk, Kenali Penyebabnya

Bikin Nggak Pede! Ini Dia Cara Atasi Gejala Panu dengan Cepat dan Aman
Photo by triocean on IStockphoto


Perubahan hormon atau lemahnya sistem kekebalan tubuh pada manusia dapat memicu timbulnya infeksi jamur secara abnormal. Infeksi jamur yang tumbuh secara abnormal inilah yang akhirnya memicu timbulnya panu yang cukup mengganggu penampilan.


Cuaca lembap, kulit berminyak, serta penggunaan obat imunosupresan juga diketahui jadi penyebab munculnya panu pada kulit. Kondisi ini tentu tidak kita harapkan. 


Oleh karena itu, sebisa mungkin kita dapat menerapkan gaya hidup sehat supaya daya tahan tubuh meningkat. Dengan begitu, diharapkan kita bisa terhindar dari penyakit yang tidak diinginkan, termasuk salah satunya infeksi jamur penyebab panu tersebut.


Kenali Gejala Panu pada Kulit

Bikin Nggak Pede! Ini Dia Cara Atasi Gejala Panu dengan Cepat dan Aman
Photo on bisniskuy


Perlu diketahui, ada beberapa gejala panu yang mesti kita waspadai. Beberapa di antaranya seperti,


1. Munculnya bercak berwarna lebih terang atau lebih gelap dari kulit sekitarnya. Bercak tersebut juga bisa berwarna pucat, merah muda, atau cenderung lebih cokelat. Gejala seperti ini tentu sangat terlihat dan mudah sekali dikenali. 


2. Bercak-bercak pada kulit bisa menyebar ke bagian tubuh sekitarnya. Hal ini tentu makin membuat kita kurang pede.


3. Gejala lain yang menjadi kurang nyaman ketika seseorang terkena panu yakni ketika muncul rasa gatal pada area bercak-bercak, apalagi jika sudah menyebar. Tentu gejala ini sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Membuat kita jadi sulit fokus dan berkonsentrasi akibat rasa gatal yang mengganggu.


4. Gejala tersebut bisa berkurang ketika udara dingin atau justru makin menjadi ketika cuaca lembap. Hal ini bisa dijadikan tanda-tanda yang mesti diwaspadai, ya.


5. Kulit yang terkena panu cenderung kering, gatal, dan bersisik. 


6. Gejala panu makin parah ketika terkena matahari atau saat berjemur.


Meski tidak membahayakan, tapi kita juga tidak mau punya kulit bermasalah seperti ini, kan? Panu bukan hanya membuat kita jadi nggak pede, tapi juga sering kali menggangu aktivitas sehari-hari. Kondisi seperti ini mesti segera diatasi supaya tidak makin parah.


Cara Mengobati dan Mencegah Munculnya Panu pada Kulit

Bikin Nggak Pede! Ini Dia Cara Atasi Gejala Panu dengan Cepat dan Aman
Photo by Christin Hume on Unsplash


Pada kondisi ringan, penggunaan lotion antijamur bisa digunakan untuk meringankan gejala panu. Lotion serta salep antijamur bisa juga dibeli bebas di apotek terdekat. Namun, jika kondisi kulit tidak membaik setelah beberapa hari pengobatan, ada baiknya teman-teman segera berkonsultasi dengan dokter supaya mendapatkan penanganan yang tepat.


Untuk mengatasi gejala panu yang cukup berat, teman-teman dapat menggunakan obat antijamur yang diresepkan oleh dokter dalam bentuk obat oles atau minum.


Pada kondisi tertentu, infeksi jamur yang menyebabkan panu bisa muncul berulang dalam kondisi lembap. Dokter mungkin akan menyarankan kita untuk minum obat demi mencegah terjadinya hal yang sama.


Untuk mencegah munculnya panu, ada baiknya kita berhati-hati dalam menggunakan produk kecantikan, terutama yang menyebabkan kulit berminyak. Selain itu, pilihlah pakaian yang tepat ketika pergi keluar rumah sehingga kulit dapat bernafas dengan baik. Jangan lupa, gunakan sampo antijamur serta tabir surya ketika terpapar sinar matahari.


Jika pakaian kita basah karena keringat, jangan ragu untuk segera menggantinya. Sebab, menjaga kebersihan kulit tentu sangat berguna mencegah terjadinya infeksi jamur yang menggangu, salah satunya panu.


Bagaimana, cukup menakutkan juga ya jika ada panu di kulit kita? Selain warna bercak yang biasanya cukup mencolok dan mudah sekali terlihat, rasa gatal yang mengganggu tentu saja membuat kita merasa tidak nyaman terutama saat cuaca panas dan lembap.


Perhatikan kebersihan tubuh dan jangan lupa selalu jaga kesehatan supaya daya tahan tubuh meningkat. Tentu kondisi ini akan sangat membantu kita dalam mencegah terjadinya infeksi pada kulit.


Semoga informasi ini bermanfaat, terutama di cuaca super panas seperti sekarang, ya. 


Salam hangat,


Tuesday, May 16, 2023

Bikin Nggak Pede! Ini Dia Cara Atasi Gejala Panu dengan Cepat dan Aman

Cara Ampuh Melindungi Anak dari Gigitan Nyamuk

Cara Ampuh Melindungi Anak dari Gigitan Nyamuk
Photo by Mithil Girish on Unsplash


Sebal nggak sih kalau anak kita terganggu saat bermain hanya gara-gara gigitan nyamuk? Terlebih jika nyamuk itu membawa virus penyebab DBD. Bukan hanya bikin panik kita sebagai orang tua, tapi juga membahayakan buah hati.


Saya punya pengalaman buruk sewaktu si sulung masih kecil. Waktu itu, kami sempat menginap di rumah paman yang kebetulan sedang ke luar negeri. Ceritanya kita jagain rumah kosong yang jaraknya memang nggak terlalu jauh dari rumah kami.


Merupakan hal biasa ketika sore hari banyak nyamuk berkeliaran di sana, sebab banyak pohon dan rimbun tanaman di mana-mana. Waktu itu saya ingat betul, si sulung sempat digigit nyamuk. Namun, saya benar-benar nggak nyangka kalau itu nyamuk DBD. Besoknya, si sulung demam tinggi sampai kejang demam. Saya observasi kondisinya yang makin lemah dari hari ke hari. Sampai mengangkat tangannya saja dia tidak kuat.


Akhirnya kami membawanya ke rumah sakit setelah menunggu selama 3x24 jam sebelum cek darah. Kenapa mesti menunggu sekian hari sebelum cek darah? Karena menurut yang saya pelajari dari beberapa dokter spesialis anak, cek darah terutama untuk melihat apakah itu DBD atau bukan memang harus menunggu 72 jam supaya bisa efektif. 


Hal inilah yang terjadi pada pasien anak di sebelah si sulung yang terlambat ditangai hanya karena salah diagnosa. Ketika demam hari pertama si anak sudah dibawa ke rumah sakit dan cek darah. Dokternya bilang, hasilnya bukan DBD sehingga mereka membawanya pulang ke rumah. Sampai hari ke sekian kondisinya makin memburuk dan akhirnya dia dibawa ke rumah sakit di mana si sulung dirawat, tapi dalam kondisi sudah kritis hingga harus masuk ICU.


Waktu si sulung dibawa ke rumah sakit, dia langsung cek darah dan diketahui terkena DBD. Jujur, meski sudah menebak sejak awal setelah observasi dan melihat bitnik-bintik di badannya, saya tetap belum siap. Namun, saya bersyukur kami membawanya ke dokter tepat waktu sehingga si sulung bisa segera ditangani dengan baik.


Hanya karena nyamuk, nyawa anak kita dan mungkin kita juga bisa terancam. Itulah kenapa sebal rasanya kalau ada nyamuk di mana-mana. Apalagi buat si bungsu yang bar-bar banget ketika menggaruk bekas gigitan nyamuk hingga membekas di kaki. 


Saya berusaha membersihkan lingkungan rumah supaya tidak menjadi sarang nyamuk. Salah satunya dengan tidak menumpuk barang pada satu tempat, dibersihkan secara rutin, juga tidak menanam tanaman yang terlalu rimbun supaya nyamuk tidak betah.


Cara Ampuh Melindungi Anak dari Gigitan Nyamuk 

Cara Ampuh Melindungi Anak dari Gigitan Nyamuk
Photo by Alexander Dummer on Unsplash


Jangan sampai kejadian yang menimpa si sulung terjadi juga pada teman-teman di rumah. Mencegah tentu lebih baik daripada mengobati. Sebelum terlambat, yuk terapkan cara agar anak tidak digigit nyamuk seperti yang telah saya rangkum berikut,


1. Bersihkan genangan air supaya tidak jadi sarang nyamuk. Nyamuk senang sekali mendapati kaleng bekas yang terisi air, gelas air mineral yang tak dibereskan, atau benda lain yang dapat menampung air. Hati-hati ya, teman-teman. Terkadang kita terlalu meremehkan hal semacam ini, tapi ternyata bisa berakibat fatal.


2. Jika punya bak di kamar mandi, jangan lupa dibersihkan secara rutin supaya tidak jadi tempat berkembang biaknya jentik penyebab DBD. Saya pribadi sudah tidak menggunakan bak di rumah dan memilih menggunakan shower ketika mandi. Alasannya simpel, males mau menguras sedangkan jentiknya terlalu cepat berkembang. Takutnya saya lengah ketika sedang capek dan malas menguras yang akhirnya bisa membahayakan orang serumah.


3. Jika punya tanaman, jangan lupa dicek apakah ada pot yang alasnya tergenang atau hidroponik yang jarang dibersihkan. Pengalaman saya waktu punya tanaman hidroponik mesti rajin-rajin dibersihkan atau menaburkan obat jentik ke dalam air tanaman kita. Waktu itu sempat saya tidak tahu, ternyata jentiknya sudah sehat-sehat di situ…hiks. Sejak saat itu saya rajin membersihkan dan menaburkan obat.


4. Gunakan pakaian serba panjang terutama ketika bermain di luar rumah saat pagi dan sore hari. Pilih juga pakaian berwarna cerah. Biarkan anak-anak bermain, tapi jangan lupa untuk selalu menjaga mereka di mana pun. Pakaian panjang dapat mencegah gigitan nyamuk yang lebih banyak. Meskipun agak panas sedikit, ya? hehe.


5. Ada baiknya tetap bermain di rumah di saat nyamuk banyak berkeliaran terutama saat pagi dan sore hari. Mending main di tempat yang aman supaya anak terhindar dari gigitan nyamuk yang menyebalkan.


6. Jangan lupa gunakan kelambu saat anak tidur. Kita bisa pakai tirai magnet yang bisa dipasang untuk menutup pintu dan jendela. Cara ini dapat mencegah nyamuk masuk, lho. Saya sudah menerapkan cara ini sejak lama. Anak-anak jadi lebih santai bermain di kamar meski jendela dan pintunya tetap dibuka.


7. Pasang kipas angin terutama saat anak bermain. Selain bisa menghindari udara pengap, kipas angin juga bisa mengusir nyamuk supaya tidak mudah mendekat. Anak-anak bisa bermain dengan nyaman di dalam rumah.


8. Jangan lupa gunakan lotion anti nyamuk yang aman terutama untuk anak-anak. Cara ini mungkin bisa dibilang yang paling ampuh dapat mencegah anak digigit nyamuk. Saya rutin membawa lotion anti nyamuk terutama saat bepergian di sore hari. Saya tidak ingin kejadian yang sama menimpa keluarga kami.


9. Jangan lupa gunakan salep yang dapat meredakan gatal-gatal akibat gigitan nyamuk. Inilah salah satu benda wajib yang mesti saya bawa ke mana-mana karena si bungsu yang bar-bar banget ketika menggaruk dan akhirnya menyisakan banyak bekas luka di kedua kakinya. Salep Pereda gatal bisa mengurangi rasa gatal akibat gigitan serangga sehingga si bungsu tidak sembarangan lagi menggaruk.


Banyak cara dapat kita lakukan untuk melindungi anak-anak kita dari gigitan nyamuk nakal. Jangan lupa selalu disiplin menjaga kebersihan lingkungan rumah supaya tidak jadi sarang nyamuk.


Tetap sehat, tetap waspada, ya :)


Salam hangat,


Cara Ampuh Melindungi Anak dari Gigitan Nyamuk

Tuesday, October 4, 2022

Bawa Virus dari Sekolah. Benarkah Anak-Anak Menularkan Penyakit?

Bawa Virus dari Sekolah. Benarkah Anak-Anak Menularkan Penyakit?
Photo by Vitolda Klein on Unsplash


Musim sakit. Hampir semua anak kena common cold. Namanya virus, sudah pasti akan sangat mudah menular terutama pada usia kelas 1 SD. Imunitas mereka masih rendah. Apalagi kalau kelasnya pakai AC dan sirkulasi udaranya nggak bagus. Sudah tentu satu sama lain dapat menularkan virus. Baru sembuh dua hari, eh tahu-tahu sudah meler lagi.


Apalagi setelah pandemi, di mana selama lebih dari dua tahun kita begitu steril dan bersih karena selalu ada di rumah. Ketika sekolah mulai mengadakan tatap muka kembali, interaksi antara murid dan guru nggak bisa dihindari. Kalau akhirnya ada saja yang sakit kena common cold itu memang wajar, sih. Karena kita baru belajar beradaptasi lagi. Kejadian ini pun ada di mana-mana nggak hanya di Jakarta.


Waktu zaman si sulung masih kelas 1 atau 2 SD, kejadian seperti ini juga pernah terjadi, kok. Hanya saja nggak seheboh sekarang karena sebelumnya kita nggak mengalami pandemi. Makin besar usia anak, makin kuat juga imunitas mereka sehingga akan lebih kebal terhadap virus penyakit.


Dulunya, saya termasuk orang tua yang super parno. Bisa dilihat ketika saya bercerita di blog ini saat si bungsu masih TK dan mesti berhadapan dengan pandemi serta masa transisi. Saya termasuk orang tua yang sulit mengizinkan anak untuk tatap muka. Gurunya bilang, nggak masalah kalau mau masuk, anak sakit common cold itu biasa. Lama-lama dia akan kebal. 


Hanya saja waktu itu saya merasa ngeri dengan Covid, sehingga saya masih ragu mengizinkan anak-anak untuk ikut pembelajaran offline seperti teman-temannya di sekolah.


Virus Mudah Menular

Ini perlu dipahami baik-baik, bahwa yang namanya virus itu sangat mudah menular terutama jika daya tahan tubuh kita lemah.


Saya cukup hafal dengan tubuh sendiri, setiap kali saya makan sembarangan, nggak jaga makan sehat, di situ saya mudah sekali tertular common cold. Gampang pilek ataupun batuk. Namun, ketika saya bisa menjaga pola hidup sehat, sejauh ini jarang banget tertular sakit.


Ketika anak-anak mulai masuk sekolah, kita nggak bisa memastikan satu per satu siapa di antara mereka yang sedang membawa virus. Karena gejalanya muncul belakangan. Dia sudah terpapar, sudah bisa menularkan, tapi belum ketahuan kalau sedang sakit sehingga tetap masuk sekolah seperti biasa.


Di sisi lain, anak-anak usia kelas 1 SD belum sepenuhnya paham kalau sakitnya bisa menular ke teman-temannya. Karena itu perlu sekali diedukasi baik oleh orang tua ataupun guru dengan cara tetap rajin pakai masker, tidak batuk sembarangan apalagi di depan wajah temannya, tidak asal comot makanan temannya. Terkadang hal kecil semacam ini belum dipahami oleh mereka sehingga wajar kalau virusnya jadi lebih mudah menular.


Sebelum pandemi, saya sudah membiasakan si sulung memakai masker setiap kali kena common cold. Nggak hanya saat ke sekolah, bahkan saat di rumah pun saya menerapkan hal yang sama. Saya mungkin terlalu parno dan steril…kwkwk. Dulu si kakak sampai sering ditertawakan setiap ke sekolah karena pakai masker, bahkan oleh gurunya sendiri. Namun, siapa sangka pandemi memaksa semua orang mengenakan masker?


Hal serupa saya terapkan pada si bungsu. Sampai-sampai guru TK-nya bingung karena dia sering menolak minum, meniup benda saat belajar di sekolah karena nggak mau buka masker kecuali terpaksa. Mau sih disuruh, tapi benar-benar dengan muka nggak santai :D


Virus memang mudah menular, tapi ternyata terlalu parno juga nggak baik. Nggak mungkin kita terus menerus menghindari virus karena sebenarnya dia ada di mana-mana. Di rumah, di jalan, di pasar, di mana pun. Bukan hanya ada di sekolah yang dibawa oleh anak-anak. Kita pun berpotensi membawa virus dan menularkannya kepada mereka.


Susahnya Sekolah di Zaman Sekarang

Masuk sekolah mesti benar-benar sehat. Itu baik, sih. Hanya saja yang saya pikirkan adalah ketika baru masuk dua hari, tapi kena common cold lagi dua minggu…kwkwk. Bisa dihitung berapa hari anak-anak bisa masuk sekolah? Karena hampir semua anak selalu mengeluhkan hal yang sama. Baru sehat sebentar sudah sakit lagi. Sedangkan yang boleh masuk sekolah hanya yang benar-benar sehat. Ini aturan yang diterapkan dihampir  semua sekolah.


Untuk sembuh dari common cold nggak bisa hanya sehari dua hari atau seminggu. Biasanya butuh waktu dua minggu bahkan kalau batuk masih nyisa di minggu ketiga yang sebenarnya dia udah nggak menular lagi.


Nggak masalah kalau anak nggak diizinkan masuk karena takut membawa virus dan menularkan pada temannya apalagi ke gurunya, tapi perlu dipikirkan kembali bagaimana murid-muridnya bisa tetap mendapatkan haknya untuk belajar. Kalau sakit hanya sehari dua hari atau maksimal sebulan sekali masih oke. Tapi, kalau setiap minggu mesti kena common cold gimana? Sedangkan masa pemulihan itu kan butuh waktu, tapi nggak menularkan juga.


Anak-anak yang dianggap sehat saja yang boleh masuk sekolah nggak menjamin juga mereka nggak sedang membawa virus karena terkadang gejalanya muncul kemudian. Selamanya kita nggak akan bisa mencegah virus datang apalagi di lingkungan sekolah. Dokter Apin yang merupakan dokter spesialis anak pun nggak menyarankan apa pun selain ya banyak bersabar karena usia segini memang rentan tertular dan menularkan virus.


Jaga Daya Tahan Tubuh

Kita nggak bisa menyalahkan siapa pun dalam kasus seperti ini. Anak-anak pun nggak mau bolak balik sakit apalagi dianggap membawa virus. Orang tuanya pun super capek kalau anaknya sakit apalagi jika ada riwayat kejang demam atau Otitis Media akut seperti anak saya.


Apa yang dapat kita usahakan supaya nggak gampang sakit dan tertular? Jaga pola hidup sehat terutama untuk orang dewasa. Anak-anak memang rentan karena imunitasnya beda dengan orang dewasa. Kalau mau diambil sisi positifnya, imunitas mereka jadi lebih baik setelah sakit dan sepertinya ini hal wajar dan alami terjadi pada kita sebagai manusia yang sedang tumbuh.


Kata dokter Apin, kitanya memang kudu sabar aja. Dulu waktu saya konsultasi juga gitu, memangnya mau pisah rumah? Nggak mungkin juga. Nggak mungkin pisah rumah dengan si sulung biar si bungsu nggak ketularan. Sama halnya nggak mungkin juga terus menerus meminta hanya ‘anak sehat’ aja yang sekolah, sedangkan yang sudah pecicilan, tapi masih batuk-batuk dikit nggak diizinkan masuk.


Ini aturan memang sudah diterapkan di sekolah-sekolah. Cuma kecewa sekali kalau nggak ada solusi buat yang masih masa pemulihan, yang sudah pecicilan, dan ngerasa sudah oke badannya, tapi nggak bisa juga benar-benar disebut sembuh.


Salam hangat,


Tuesday, October 4, 2022

Bawa Virus dari Sekolah. Benarkah Anak-Anak Menularkan Penyakit?

Tuesday, August 30, 2022

Pentingnya Second Opinion Untuk Diagnosis Penyakit

Pentingnya Second Opinion Untuk Diagnosis Penyakit
Photo by Marcelo Leal on Unsplash


Second opinion, mencari pendapat kedua, atau bisa diartikan mencari pendapat dokter berbeda mengenai penyakit yang sama setelah sebelumnya telah didiagnosis oleh dokter lain merupakan hal yang perlu dilakukan oleh kita sebagai pasien. Kesalahan diagnosis, overtreatment, atau bahkan overdiagnosis sering terjadi di mana-mana. Nggak hanya di Indonesia, bahkan dari beberapa sumber yang saya baca, hal semacam ini juga terjadi di luar negeri sekalipun.


Karena itu, nggak ada salahnya kita melakukan second opinion dengan mendatangi dokter-dokter lain untuk berkonsultasi. Hal inilah yang saya lakukan kepada anak saya saat dia mengalami demam sampai berhari-hari, tanpa gejala, tapi belum ketahuan juga diagnosis pastinya setelah melakukan cek urin dan cek darah lebih dari satu kali.


Saya bukan tipe orang tua yang mudah panik saat anak demam. Saya sudah terbiasa melakukan treatment sendiri di rumah ketika anak sedang sakit dan tahu kapan mesti ke dokter. Anak-anak saya, terutama si sulung punya riwayat kejang demam sejak dua tahun sampai terakhir di usianya enam tahun. 


Ketika anak demam lebih dari seminggu tanpa gejala baik itu batuk ataupun pilek, saya berusaha mencari beberapa dokter untuk berkonsultasi dan mencari jawaban serta treatment yang tepat untuk sakitnya. Mulai dari mendatangi dokter spesialis anak dekat rumah sampai ke Menteng hingga akhirnya mencari salah satu dokter dari Milis Sehat, yakni dokter Apin.


Sebelum ada diagnosis pasti, sudah ada beberapa dokter yang melakukan cek darah, memberikan antibiotik, hingga meminta rawat inap. Namun, saya memang waktu itu nggak menelannya mentah-mentah. Walaupun saya hanya Ibu Rumah Tangga biasa, tapi rasanya semua yang dianjurkan kurang tepat buat anak saya mengingat diagnosisnya aja belum jelas apa? Semua ini karena saya juga ikut belajar di Milis Sehat bersama beberapa dokter yang RUM. Nggak semudah itu ngasih antibiotik kalau diagnosisnya saja belum jelas. Nggak semudah itu meminta rawat inap sedangkan anaknya dalam kondisi baik?


Pengalaman ini benar-benar jadi pelajaran buat saya bahwa kita itu jangan suka pasrah hanya sama satu dokter saja. Nggak ada salahnya kok second opinion ke dokter-dokter lain karena bisa banget pendapat mereka berbeda. 


Bagi pasien, second opinion ini nggak ada ruginya, justru sangat baik apalagi jika menyangkut nyawa pasien, kondisi yang terus memburuk, atau dokter pertama sudah salah treatment. Seperti yang dialami oleh ibu saya sendiri.


Demensia Hingga Tak Bisa Bergerak Sama Sekali

Saya ingin menulis pengalaman ini supaya jadi pelajaran bagi banyak orang, bahwa second opinion itu bukan hal sia-sia. Kita nggak harus menerima begitu saja diagnosis serta treatment dari dokter pertama apalagi kalau kondisi pasien makin hari makin buruk. Kita boleh konsultasi ke dokter lain dan terus berikhtiar lagi demi kesembuhan orang-orang yang kita sayang.


Second opinion ini merupakan hak pasien yang tertuang dalam Undang-Undang no. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, bagian empat pasal 32 poin H tentang hak pasien seperti dikutip dari kompas.com: 


"Setiap pasien memiliki hak meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain yang mempunyai Surat Izin Praktik (SIP) baik di dalam maupun di luar Rumah Sakit."


Ibu saya sempat kena serangan struk ringan pada Desember tahun lalu. Setelah tidur di malam hari, sampai besoknya Ibu nggak sadarkan diri atau bisa dibilang terus tertidur seperti sangat nyenyak. Akhirnya Ibu dibawa ke rumah sakit dan diketahui ada sedikit sumbatan pada saraf di kepalanya. Meski ada sumbatan sedikit, sebenarnya ini masih aman. Begitu kata dokternya.


Setelah beberapa hari, Ibu mulai bangun, tapi tidak sepenuhnya ingat dengan semua kejadian yang dialami, terutama hal-hal yang baru. Seperti kejadian beberapa tahun belakangan. Contoh kecilnya saja, Ibu lupa dan tidak ingat bahwa saya menulis buku dan membuat ilustrasi. Padahal sebelumnya, Ibu sangat antusias setiap mendengar cerita dari saya tentang pengalaman saya menulis. Bahkan Ibu selalu men-support saya supaya terus berkarya.


Setelah beberapa hari dirawat, dokter menyatakan tidak ada masalah yang berat pada Ibu karena kondisi semuanya normal. Makanya, Ibu bisa pulang lebih cepat dibanding pasien struk lainnya. Dokter meyakinkan bahwa Ibu akan kembali pulih asal rajin dilatih. 


Terapinya sederhana saja, diajak gerak, jalan-jalan pagi, jangan tidur terlalu lama, diajak ngobrol hal-hal ringan dan disukai, dijaga sama orang yang disayang, jangan bertemu dengan orang-orang yang tidak disenangi. Simpel, ya? Nggak juga ternyata :(


Saya tidak tinggal di rumah Ibu. Saya sudah berumah tangga dan menetap di Jakarta sejak belasan tahun lalu. Namun, kami coba terus memantau kondisinya. Kendala yang kami temui dalam perjalanan selanjutnya adalah, ternyata Ibu susah diajak bergerak, senam, dan ngobrol. Ibu lebih senang tidur, diam, dan malas beraktivitas. Dokter pertama pernah bilang, jangan dibantu terlalu banyak karena Ibu sebenarnya bisa melakukannya sendiri. Hanya saja Ibu merasa ‘nyaman’ dengan kondisinya sekarang karena merasa diperhatikan. Akhirnya, Ibu senang diperlakukan seperti layaknya orang sakit.


Masalahnya muncul dari sini. Ketika Ibu susah dipaksa, kemudian harus pindah dokter di rumah sakit lain yang lebih dekat, dan dokter kedua selalu mengatakan bahwa kondisi Ibu ini normal. Nggak apa. Harus sabar. Nggak apa-apa kalau nggak mau jalan jangan dipaksa, nggak apa-apa kalau tidur lama, biarkan jangan dipaksa, dan semua yang katanya jangan dipaksa ini ternyata menimbulkan banyak hal fatal terjadi pada Ibu saya.


Diagnosis dari dokter saraf kedua adalah demensia. Bagi kita orang awam, demensia ini seperti pikun. Saya yakin demensia ini memang benar-benar Ibu alami. Kenapa? Karena Ibu nggak bisa mengingat hal-hal baru yang terjadi beberapa tahun belakangan, tapi bisa ingat dengan kejadian yang sudah sangat lama. Bagi yang nggak tahu apa itu demensia, silakan cari di Google :)


Saya nggak masalah kalau Ibu lupa beberapa hal. Namun, saya sangat takut karena Ibu sering kali diam dan lebih suka tidur. Saya pikir Ibu ini depresi sehingga pernah saya ceritakan kepada kerabat kami yang dokter saraf juga, kemudian coba kami bawa ke Psikiater, tapi hasilnya nggak ada depresi katanya.


Masalahnya, kondisi Ibu terus memburuk. Ibu makin nggak bisa jalan dan kata dokter kedua yang pegang Ibu berbulan-bulan sampai hampir setahun ini mengatakan itu wajar. Selalu itu yang dikatakan sehingga keluarga merasa semua itu normal. Saya sudah sering sampaikan kepada Bapak supaya cari dokter lain atau kembali ke dokter pertama. Bahkan terakhir kemarin sempat diminta dirawat oleh kerabat kami sendiri di salah satu Rumah Sakit di Malang, tapi Bapak selalu menolak. Katanya obatnya sama saja, kok. Huft…


Sebelumnya, karena kondisi Ibu terus memburuk, Ibu saya dibawa ke dokter lain untuk second opinion. Namun, bahkan kondisi Ibu nggak diperiksa langsung. Saya kaget dan merasa aneh sih kenapa bisa nggak cek langsung, tapi sudah ngasih obat? Apakah memang boleh begini? Sedangkan kerabat kami yang dokter saraf di Rumah Sakit lain bahkan nggak berani mendiagnosis dan memberikan treatment sebelum cek dari awal lagi secara langsung. Padahal, dia tahu persis kondisi Ibu dari awal sakit. 


Sampai akhirnya, kondisi terakhir kemarin Ibu sudah kesulitan menelan dan ada sesak. Saat itulah baru diputuskan dibawa ke Rumah Sakit lain. Sejujurnya, saya sendiri merasa kok kalau ini terlambat. Namun, qadarallah baru ditangani oleh dokter berbeda setelah kondisinya semakin memburuk seperti itu. 


Jangan Takut Pergi ke Dokter

Zaman sekarang, semua informasi bisa kita ketahui dengan luas di dunia maya. Bagi pasien, memang sudah seharusnya mencari tahu sendiri tentang penyakit yang diderita, obat-obatan yang akan dikonsumsi, serta hal lainnya. Jadi konsumen kesehatan itu harus pinter. Begitu yang diajarkan di Milis Sehat.


Saat aktif belajar di Milis Sehat, saya sangat kaku terutama sama dokter yang gampang banget ngasih antibiotik. Karena nyari dokter yang RUM itu susahnya subhanallah dan saat itu saya lagi senang-senangnya debat dan ngeyel…kwkwk. Kalau hanya batuk pilek, kenapa kok dikasih antibiotik segala? Sampai akhirnya saya bisa menemukan dokter-dokter yang nggak overtreatment, enak diajak diskusi, dan bikin tenang. Lebih penting lagi, nggak masalah ke dokter dan nggak bawa pulang obat sekantong kresek. Kalau memang nggak perlu, kenapa mesti dikasih? Kita menjadi salah satu penyebab seorang dokter bisa RUM atau nggak, lho. Salah satu dokter spesialis anak di Hermina Jatinegara bilang sendiri ke saya dan mengatakan apa yang saya lakukan sudah benar.


Berkaca dari kejadian Ibu, rasanya pengin banget puter waktu. Orang-orang di kampung itu takut kalau berurusan dengan Rumah Sakit dan dokter. Ini cerita dari Ibu saya sendiri karena memang banyak cerita-cerita horor berlarian ke mana-mana. Padahal, belum tentu benar, lho.


Orang-orang juga lebih percaya sama selain dokter buat ngobatin penyakit. Apalagi kalau dokter spesialisnya masih muda, sangat diragukan sama mereka. Padahal, dokter mudanya sudah lompat kelas beberapa tahun, jadi wajar sudah pakai jas putih di usia muda...kwkwk. 


Agak berat sih memaksa keluarga kita supaya mendengarkan apa yang kita arahkan, sedangkan mereka sendiri nggak percaya. Jadi, pada akhirnya kayak bertentangan, kan?


Saya berharap kondisi seperti ini tidak terjadi kepada yang lain. Semoga bisa jadi pelajaran serta pengalaman berharga. Kondisi Ibu saya memang sudah sangat menurun dibandingkan yang dulu. Sekarang hanya bisa minum susu lewat selang. Sudah nggak bisa makan sama sekali. Namun, saya masih berharap dengan sangat semoga Ibu bisa membaik dan pulih lagi atas izin Allah.


Salam hangat,


Tuesday, August 30, 2022

Pentingnya Second Opinion Untuk Diagnosis Penyakit

Wednesday, August 17, 2022

Cara Menaikkan Berat Badan Anak Plus Resep Makanan Sehat & Lezat

Cara Menaikkan Berat Badan Anak Plus Resep Makanan Sehat & Lezat
Photo by Tanaphong Toochinda on Unsplash


Sejak punya anak pertama hingga kedua, masalah 'berat badan kurang' selalu menghantui hari-hari kami. Terutama waktu si bungsu berusia mulai enam bulan ke atas, dia dan kakaknya sering sekali kena batuk pilek dan diperparah alergi. Hal semacam ini sudah tentu memengaruhi berat badannya, kan? Gimana nggak kurus, sakit-sakitan dan mereka reflek muntahnya mudah sekali. Nggak harus dalam kondisi sakit, makan menu yang nggak disukai, kekenyangan sedikit, makan sebutir nasi keras, bisa muntah, lho.


Jadi ingat zaman menyusui dulu, mereka ini kalau gumoh nggak main-main. Bukan yang sekadar keluar ASI sedikit dari mulutnya, melainkan bisa muntah hebat sampai dari hidung. Padahal, ini hanya gumoh, lho. Apakah kondisi ini normal? Sejauh ini kalau ke dokter sih katanya nggak ada masalah dan baik-baik saja. Jadi, ya dijalani saja dengan legowo.


Waktu usia sekitar 6 bulan, si bungsu pernah demam sampai berhari-berhari tanpa gejala. Jadi, nggak ada batuk pilek, nggak ada diare, dan yang lainnya. Hanya demam terutama ketika jam 2 malam. Saya bawa ke rumah sakit ke mana-mana. Bolak balik cek darah dan cek urin sesuai saran dokter, semua hasilnya normal. 


Terakhir waktu itu saya bawa ke dr. Apin di Rumah Sakit Pasar Rebo. Saya percaya nih sama dr. Apin karena beliau salah satu dokter yang aktif di Milis Sehat. Dari sekian banyak dokter spesialis anak, rata-rata mereka nggak ngasih diagnosa pasti, tapi memberikan antibiotik tanpa tahu penyebab sakit anak saya ini apa. Katanya, bisa aja virusnya udah berubah jadi bakteri. Emang bisa, ya? :)


Namun, saat sampai di ruang dr. Apin, beliau lihat hasil cek darah dan urin, kemudian membolak balik si bungsu dan berkata, nggak masalah, kok ini. Dia baik-baik aja. Hanya memang usia sekolah dan ada adik di rumah memang rentan buat kena batuk pilek yang ping pong. Kesannya nggak sembuh-sembuh. Memangnya mau pisah rumah biar nggak ketularan? katanya. Beliau juga bilang ke saya, “Ibu ke sini hanya mau buktiin ke Bapak kan kalau anaknya baik-baik aja?”


Mungkin rata-rata anggota Milis Sehat awalnya seperti saya. Mau RUM dan nerapin di keluarga itu berat banget. Penuh ujian terutama dari pasangan. Dan benar, dr. Apin bisa menebak tujuan saya ke sana. Pulangnya kami hanya dibawakan oleh-oleh zat besi karena si bungsu memang anak ASI.


Keesokan harinya, barulah ketahuan kalau anak saya kena radang telinga atau OMA. Dan radang telinganya si bungsu ini termasuk yang berat. Setiap seminggu sekali saya selalu ke dokter THT untuk membersihkan telinganya dan mengobati batuk pileknya yang seperti nggak ada jeda.


Karena kemungkinan besar ada alergi, saya sampai cari banyak dokter alergi untuk memeriksa anak saya. Kami sempat ke RS. Bunda Menteng dan kemudian berakhir cek alergi lengkap di RS. Hermina Jatingera.


Di RS. Hermina, saya konsultasi dengan dr. Herbowo dan mulai program menaikkan berat badan anak. Mereka sempat dikasih resep susu berkalori tinggi, Nutrini Drink. Namun, setelah minum dalam waktu cukup lama, berat badan mereka nggak naik banyak juga. Capek, kan hayati :(


Berat Badan Juga Dipengaruhi Genetik

Cara Menaikkan Berat Badan Anak Plus Resep Makanan Sehat & Lezat
Photo by Tong Nguyen Van on Unsplash


Saya sebenarnya bukan orang yang selalu kurus. Jadi, nggak mungkin kurusnya anak-anak ini diturunkan dari saya…kwkwk. Namun, suami saya mulai bujang sampai sekarang tubuhnya nggak pernah gemuk. Justru berat badannya nyaris sama dengan saya yang tingginya nggak seberapa ini…hiks.


Dokter bilang, anak-anak kami berat badannya termasuk kecil, tapi masih normal. Namun, mereka masuk kategori yang kecil banget gitu, lho…kwkwk. Kalau pergi ke Posyandu bisa bahaya…kwkwk. Bukannya sehat malah dibully seperti teman saya yang saking takutnya sampai-sampai setiap ke Posyandu anaknya dikasih minum yang banyaak dulu biar berat badannya naik. Padahal, kalau dia konsultasi ke dokter spesialis anak, katanya anaknya masih normal, kok walaupun memang kecil. Persis seperti saya, kan? 


Kerabat kami yang anaknya seusia si bungsu juga punya tubuh yang nggak gemuk bahkan nyaris sama seperti anak saya. Padahal, kedua orang tuanya tipe gemuk. Mereka keluarga dokter yang artinya nggak mungkin mereka nggak tahu dan nggak usaha buat gemukin anaknya. Tapi, nyatanya anak-anak kami memang segini-segini aja. Waktu lebaran kemarin beliau bilang, leganya ada yang samaan…kwkwk.


Momen Masuk SD

Waktu si kakak masuk SD, fokus orang-orang bukan ke berat badannya, melainkan ke tahi lalatnya yang ada di pipi. Dari teman sekelas, kakak kelas, sampai wali murid pernah menertawakan dia. It’s okay, ya, Mas. Saya bilang, ketika kamu jadi orang hebat, orang-orang udah nggak akan lihat fisik kamu lagi. Mereka akan fokus pada hal-hal baikmu saja. Jadi, lakukan yang terbaik buat diri kamu. Bunda dan Ayah menerima kamu apa adanya, Nak *sad.


Namun, saat si bungsu masuk SD, fokus orang-orang pasti tertuju sama badan dia yang mungil dan mukanya yang masih baby face…kwkwk. Nggak mungkin anak saya nggak merasa. Namun, insya Allah semua orang tidak mengejek fisiknya, hanya kaget kenapa ada anak SD sekecil dia…kwkwk.


Pernah suatu hari temannya bertanya dengan polosnya, kok kamu kecil? Kamu beneran udah tujuh tahun?


Si bungsu bercerita dan berkata, tapi dia beneran nanya, kok, Bun. Jadi, adek nggak marah.


Setelah banyak kejadian serta komentar serupa, saya akhirnya mulai bersemangat lagi buat naikin berat badan anak-anak. Jadi ingat lagi momen dulu di mana saya sampai mati-matian ke sana kemari buat naikin berat badan mereka yang hasilnya nggak seberapa. Sampai akhirnya saya capek dan ya udahlah emang udah takdir kali :(


Naik 1 kg Dalam Sebulan

Anak saya ini tipe anak-anak yang makannya nggak bisa banyak sekaligus. Mereka nggak seperti anak-anak kebanyakan yang bisa makan burger masih ditambah nasi dan ayam juga. Anak saya makan porsi kecil saja perutnya sudah keras. Jika dipaksa bisa muntah.


Jadi, saya siasati dengan makan porsi kecil, tapi lebih sering. Menunya juga dibanyakin pakai protein hewani terutama daging merah. Menurut dokter spesiali anak yang menangani anak saya, mereka nggak butuh banyak sayur dan buah. Makan dalam jumlah wajar aja, tapi untuk daging merah sebaiknya dibanyakin. Ikan, telur, ayam juga boleh.


Saya sempat searching di Youtube juga tentang hal ini. Ada pengalaman ibu muda dengan balitanya yang berhasil menaikkan berat badan dengan memberikan menu daging setiap hari selama minimal 6 bulan. Hasilnya memang jadi chubby gitu pipinya…kwkwk.


Dia susah makan, makannya nggak bisa banyak. Jadi, daging sapinya dihaluskan kemudian diberikan sedikit tepung beras dan beberapa jenis saus supaya ada rasa. 


Kebayang makan daging mulu, apa nggak eneg, ya? Awalnya memang terpaksa katanya. Tapi ternyata jadi kebiasaan. Begitu juga dengan anak saya. Awalnya dia makan malas-malasan, setelah rajin diberikan makan lebih sering, dia jadi anak yang mudah lapar dan senang ngemil.


Begini jam makannya, pagi hari dia makan nasi dan lauk, istirahat pertama di sekolah dia makan camilan plus susu UHT, siang makan berat di sekolah. Jumlah makan di sekolah nggak pernah saya bawakan banyak karena dia kadang nggak bisa kalau terlalu kenyang, khawatir muntah. Jadi, saya berikan makan berat di sore hari atau diganti camilan, tapi yang mengandung karbohidrat gitu seperti kentang, sereal, roti, atau bahkan olahan daging. Pulang sekolah dia minum susu kurma yang saya buat sendiri. Malamnya dia makan berat seperti biasa. Untuk susu kurma saya buat dari 7 butir kurma ditambah 4 sdm susu formula. Kemudian haluskan dan saring. Jadikan dua gelas. 


Selama sebulan terakhir, baik si bungsu yang sudah 7 tahun dan kakaknya yang 11 tahun sama-sama sudah naik berat badannya sampai 1 kg lebih. Rasanya kayak mimpi. Terharu…huhu. Mari kita update sebulan ke depan, ya. Insya Allah akan saya ceritakan kembali hasilnya.


Namun, ternyata capek banget mesti bolak balik nyiapin makan, tuh…kwkwk.


Resep Makanan Sehat Untuk Menaikkan Berat Badan Anak

Cara Menaikkan Berat Badan Anak Plus Resep Makanan Sehat & Lezat
Photo: Dok pribadi


Anak-anak harus makan apa saja supaya berat badannya cepat naik? Seperti saya ceritakan sebelumnya, dari dokter spesialis anak yang menangani anak saya dan juga cerita dari teman-teman saya yang lain, berat badan anak bisa naik lebih cepat kalau kita kasih mereka banyak protein hewani, terutama daging merah.


Nah, PR banget kan ngasih anak kecil makan daging karena rata-rata mereka nggak bisa ngunyah daging dan menelannya? Solusinya memang mesti diolah, dihaluskan, dan dibuat berbagai macam menu yang enak buat mereka.


Beberapa resep yang akan saya share ini tidak memiliki takaran…kwkwk. Karena saya lebih sering pakai perasaan kalau masak, sih. Gimana dong? Tapi, siapa tahu idenya bisa dipakai, ya :D


1. Rolade Daging Sapi

Saya sering bikin nugget ayam udang sendiri di rumah. Jadi, rolade ini sebenarnya resepnya nggak beda jauh-jauh dari nugget atau chicken egg rolls gitu. Bahan utamanya saja diganti dengan daging sapi segar dan pilih bagian yang nggak banyak lemak, ya. 


Bahan-bahannya simpel, ada daging, telur, terigu, saus tiram sedikit, bawang putih, garam, merica bubuk, dan pakai es batu ketika menghaluskan dagingnya, ya.


Bahan-bahan yang tercampur rata itu kemudian dikukus dan dipotong-potong setelah dingin. Goreng langsung ketika akan menyantap. Bisa juga dicelup ke kocokan telur atau tepung bumbu. Hasilnya enak. Anak-anak doyan. Mereka makan dengan nasi hangat atau dicamil bersama kentang goreng. Dengan begini, anak-anak bisa makan daging, kan?


Catatan: Jumlah tepung terigu hanya sedikit. Hanya supaya daging merekat. Untuk 1kg daging bisa pakai maksimal 5 sdm.


2. Bakso Sapi

Resep bakso sudah banyak, ya? Di sini saya juga pernah share. Bakso sapi bisa disantap begitu saja atau bisa pakai nasi hangat. Bakso bisa dikreasikan dengan tahu yang lembut dan ditambahkan sayuran seperti sawi hijau. Yummy!


3. Spageti Daging Giling

Ini menu simpel banget sih karena saya pakai saus spageti yang sudah siap pakai. Supaya anak-anak bisa makan daging, kita bisa campurkan daging giling ke dalam saus spagetinya. Cara bikinnya juga gampang banget, kok. 


Haluskan daging dan juga bawang bombay kemudian tumis sampai matang dan harum. Bumbui dengan garam dan merica bubuk. Olahan daging ini bisa langsung dicampurkan ke dalam tumisan saus spageti, ya. Tinggal aduk ke spageti.


4. Risoles Rogut Isi Daging Sapi

Eneg nggak tuh makan daging mulu? Kwkwk. Salah satu menu enak lainnya yaitu risoles isi daging sapi cincang atau daging sapi giling. Resep risoles rogut bisa pakai resep yang teman-teman punya, tapi ganti isian rogut berupa sayuran atau daging ayam dengan daging sapi giling. Dagingnya yang banyak, ya dan tambahkan juga potongan wortel yang diriis dadu kecil. Asli ini enak dan kita bisa simpan buat stok di kulkas.


5. Perkedel Daging

Suka bikin perkedel kentang? Kali ini kita campur juga perkedel kentangnya dengan daging giling, ya? Jangan pakai daging yang banyak lemak atau urat supaya tidak alot. Jangan lupa tumis dulu dagingnya seperti saat kita membuat tumisan daging untuk campuran spageti, ya.


Daging yang sudah ditumis dengan bawang bombay ini wangi dan enak banget. Bisa disimpan di kulkas dan digunakan untuk campuran berbagai macam menu.


Gimana? Sudah cukup banyak, kan resepnya? Hehe. Semoga bisa membantu teman-teman yang punya masalah sama seperti saya. Jangan menyerah, ya. Memang rasanya capek dan melelahkan sekali, tapi kalau ada hasilnya, kita pun jadi ikut lega.


Saya nggak tahu anak saya ini bisa naik berat badannya karena susu kurma yang rutin diberikan setiap hari atau karena memperbanyak jumlah makan? Intinya semua dicoba dan dicoba. Asal sehat dan aman, insya Allah nggak masalah dikonsumsi.


Salam hangat,


Wednesday, August 17, 2022

Cara Menaikkan Berat Badan Anak Plus Resep Makanan Sehat & Lezat

Monday, August 1, 2022

Iritasi Kulit Bayi: Jenis, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Iritasi Kulit Bayi: Jenis, Penyebab dan Cara Mengatasinya
Photo by Jonathan Borba on Unsplash


Kulit bayi yang masih sangat lembut dan sensitif rentan mengalami berbagai masalah kesehatan, salah satunya adalah iritasi. Meskipun iritasi kulit bayi sering diidentikkan dengan ruam popok, nyatanya ini bukanlah satu-satunya masalah yang mengancam kesehatan kulit si Kecil. Iritasi kulit memiliki cakupan yang luas dengan sebab yang beragam sehingga orang tua perlu tahu hal apa saja yang dapat menjadi pemicu jadi dapat menghindarinya. Kabar baiknya adalah sebagian besar iritasi kulit bayi tidak berbahaya, kecuali terdapat infeksi lanjutan seperti jamur atau bakteri.


Mengenal Iritasi Kulit Bayi

Iritasi kulit bayi terjadi sebagai reaksi alergi ketika kulit buah hati yang masih sensitif bersentuhan dengan iritan, misalnya cuaca, bahan kimia tertentu, permukaan popok atau kain, air liur dan juga kotoran. Mengingat bayi memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih berkembang, iritasi wajar terjadi kendati tidak boleh didiamkan atau dibiarkan begitu saja. Sebagian jenis iritasi memang dapat mereda dengan sendirinya dalam beberapa hari. Namun, biasanya iritasi seperti ruam menimbulkan rasa tidak nyaman seperti panas, gatal hingga perih yang membuat buah hati merasa tidak nyaman. Itulah sebabnya, orang tua perlu mempersiapkan perawatan kulit bayi untuk situasi seperti ini salah satunya salep ruam. 


Jenis dan Penyebab Iritasi Kulit Bayi

https://www.bepanthen.co.id/memahami-kulit-bayi-anda/kulit-bayi/masalah-kulit-bayi
Photo by Picsea on Unsplash


Iritasi kulit bayi ada banyak macamnya, dengan faktor pemicu yang berbeda-beda. Berikut ini adalah beberapa jenis iritasi kulit yang sering dialami oleh buah hati terutama yang berusia di bawah 2 tahun.


1. Ruam popok

Ruam popok bisa dibilang merupakan iritasi kulit yang paling sering terjadi pada bayi karena berkaitan dengan penggunaan popok sehari-hari. Ruam popok biasanya ditandai dengan kulit kemerahan yang mengilap, kulit kering dan mengelupas hingga lecet yang akan terasa perih saat disentuh atau terkena air. Tidak heran bila bayi akan mudah rewel dan menangis terutama ketika berganti popok atau mandi. 


Ruam popok dipicu oleh banyak hal, terutama masalah kebersihan diri. Jarang mengganti popok, popok yang terlalu ketat, permukaan kulit bayi yang terlalu lembab hingga reaksi alergi terhadap antibiotik ditengarai menjadi pemicu yang paling umum. Selama tidak terjadi infeksi lanjutan seperti jamur dan bakteri, ruam popok biasanya dapat sembuh sendirinya atau diobati dengan salep ruam.


2. Heat rash

Iritasi kulit kedua yang sering dialami terutama bagi bayi yang tinggal di daerah panas adalah heat rash. Cuaca yang panas membuat buah hati gerah, lebih mudah berkeringat dan dalam jumlah banyak. Jika keringat ini tidak dapat menguap sempurna, kelembapan akibat keringat akan “meracuni” kulitnya sehingga heat rash terjadi. Ruam karena cuaca panas ini ditandai dengan kulit kemerahan terutama di bagian ketiak, dada, leher, tangan dan kaki. 


3. Eczema

Iritasi kulit selanjutnya adalah eczema. Dibandingkan dengan jenis iritasi lain, eczema tidak semata-mata disebabkan oleh lingkungan sekitar atau cara perawatan bayi yang kurang tepat, namun juga faktor keturunan. Eczema ditandai dengan kulit kemerahan, kering hingga mengelupas yang akan semakin parah jika ternyata buah hati alergi dengan bahan kimia tertentu yang ada pada kain atau detergen yang biasa digunakan. Pada beberapa kasus, eczema akan mereda seiring pertambahan usia si Kecil dan menguatnya sistem kekebalan tubuhnya.


4. Infeksi jamur

Iritasi kulit yang terakhir adalah yang disebabkan oleh jamur. Biasanya, infeksi jamur muncul di area yang mudah berkeringat, lembap dan juga tertutup sehingga menciptakan kondisi hangat yang disukai jamur untuk berkembang biak. Salah satu infeksi jamur yang sering terjadi adalah saat ruam popok muncul. Kulit bayi yang terlalu lama tertutup oleh popok basah akan terasa lembap dan basah karena tidak ada sirkulasi udara. Alhasil, jamur memperparah ruam yang terjadi dan ditandai dengan kemerahan yang disertai bintik menyebar atau bintik berair yang gatal dan juga perih. Umumnya, infeksi jamur ini membandel dan butuh waktu lebih lama untuk pulih.


Cara Mengatasi Iritasi Kulit Bayi

Iritasi Kulit Bayi: Jenis, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Photo by Ignacio Campo on Unsplash


Penanganan iritasi kulit bayi tergantung dari kondisi kulit buah hati dan jenis iritasinya sendiri. Namun, jika dilihat secara umum sebenarnya ada perawatan yang bisa dilakukan supaya bayi terhindar dari iritasi atau jika terlanjur terjadi, iritasi dapat mereda dalam waktu singkat.


- Pastikan tubuh bayi selalu kering dan bersih, terutama di area yang tertutup popok maupun pakaian. Ketika permukaan kulit tidak mendapatkan sirkulasi udara yang baik, permukaannya kulitnya akan terlalu lembab dan gesekan dengan permukaan popok atau kain membuatnya meradang. Untuk itu, rutinlah mengganti popok misalnya 2 jam sekali tanpa menunggu penuh. Dan juga, jika cuaca panas dan si Kecil berkeringat, segera ganti bajunya dan taburkan bedak yang aman untuk bayi agar kelembabannya terserap.


- Hindari produk berbahan kimia, seperti parfum atau paraben yang berpotensi memicu alergi karena menyebabkan kulit kering. Sekarang ada banyak produk dengan kandungan alami dan aman. Jika buah hati sering mengalami ruam apalagi eczema, pertimbangkan untuk memilih produk berbahan alami agar kemungkinan alergi serta iritasi dapat ditekan.


- Mengoleskan salep ruam. Salep ruam dikenal juga sebagai barrier ointment di mana fungsinya bukan hanya meredakan iritasi dan peradangan ringan pada kulit namun juga menguatkan skin barrier sehingga kulit bayi tidak mudah iritasi ketika bersentuhan dengan permukaan popok.


Bepanthen adalah salep ruam dengan kandungan alami dan aman untuk kulit buah hati. Diperkaya dengan dekspanthenol dan juga lanolin, penggunaan rutin sesuai aturan dapat membantu meredakan iritasi kulit bayi seperti ruam sekaligus memberikan perlindungan dengan meningkatkan skin barrier. Pastikan kulit si Kecil dalam kondisi kering dan bersih sebelum mengaplikasikannya ya.


Salam hangat,

Monday, August 1, 2022

Iritasi Kulit Bayi: Jenis, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Monday, February 21, 2022

Pengalaman Vaksin Covid-19 Bagi Anak Usia 6 Sampai 11 Tahun

Pengalaman Vaksin Covid-19 Bagi Anak-Anak
Photo by CDC on Unsplash


Saat ini, vaksin Covid-19 tidak hanya diperuntukkan bagi dewasa dan anak-anak usia 12 tahun ke atas. Anak usia 6 tahun pun sudah bisa divaksinasi, lho. Anak saya yang usia 6 dan 11 tahun sudah menerima vaksin sejak bulan lalu. Vaksinasi kebanyakan memang dilakukan di sekolah. Seperti si Kakak yang mendapat vaksin pertamanya di sekolah, sedangkan untuk vaksin kedua kami mencari di tempat lain.


Tujuan diadakannya vaksin bagi anak usia 6 sampai 11 tahun tentu supaya mereka terlindungi dari virus Covid-19 yang sempat menggila pada pertengahan tahun lalu. Vaksin Covid-19 bagi anak usia 6 tahun memang belum seluruhnya diwajibkan. Tergantung kebijakan sekolah masing-masing.


Seperti di sekolah anak saya, sebagian besar memang sudah menerima vaksin, tapi menurut gurunya, masih ada orang tua yang belum mengizinkan anaknya divaksin. Jadi, sekolah belum sepenuhnya mewajibkan. Namun, karena ada yang belum menerima vaksin, sekolah akhirnya mengambil keputusan untuk tetap melakukan pembelajaran terbatas selama pandemi ini.


Ditambah beberapa minggu terakhir ada kasus positif sehingga sekolah juga mengambil kebijakan menutup sekolah sementara waktu dan baru mulai offline hari ini. Itu pun atas persetujuan orang tua.


Jangan Menakuti Anak-Anak

Tidak semua anak usia besar berani disuntik. Saya jadi ingat pengalaman pribadi, setiap ada vaksin di sekolah, saya pasti nangis. Sampai saya berusia sedewasa sekarang, saya tetap takut dengan yang namanya jarum suntik.


Saya tidak ingat, apakah ada pengalaman traumatik yang membuat saya sepenakut ini. Ataukah orang tua dulu pernah menakuti saya? Yang jelas, sampai sekarang saya memilih untuk tidak disuntik kecuali terpaksa…kwkwk.


Sepertinya rasa takut saya menurun pada si Sulung. Kalau nggak terpaksa, dia nggak akan mau disuntik. Namun, karena sudah setengah wajib, akhirnya terpaksa dia mengiyakan. 


Waktu mau vaksin, kebetulan tidak didampingi oleh saya ataupun ayahnya. Namun, waktu sampai di rumah, dengan bangga dia bilang ‘ternyata nggak sakit, ya.’


Alhamdulillah, untuk anak-anak sepertinya tidak ada efek macam-macam setelah vaksin, seperti meriang atau demam. Vaksinnya pun masih seluruhnya pakai Sinovac.


Orang tua tentu juga ketar ketir soal ini. Nggak semua orang tua mengizinkan anaknya divaksin. Namun, bagi orang tua yang anaknya akan menerima vaksin, ada baiknya sejak awal tidak ditakut-takuti. 


Kalau mereka ketakutan, bisa kasihan. Sempat ada anak usia SD yang sampai mual-mual saking takutnya, lho. Ini kan nggak nyaman banget buat dia. Walaupun alasannya belum tentu karena ditakut-takuti, ya.


Saya hanya sampaikan bahwa sampai kapan pun kita akan tetap menerima vaksin Covid-19 karena kondisi pandemi yang belum berakhir. Jadi, pilihannya hanya dua, mau sekarang atau di waktu yang lain. Sejujurnya saya juga tidak mau disalahkan oleh orang tua lainnya. Karena berasa banget nih kalau nggak vaksin, kelihatan jadi minoritas…kwkwk.


Kasus Omicron Makin Meningkat

Setelah vaksin, bukan berarti jadi nggak disiplin prokes. Sampai saat ini, saya masih nyaman pakai dobel masker ke mana-mana. Begitu juga dengan anak-anak. Jadi, vaksin tidak sepenuhnya mencegah kita tertular. Makanya, aneh kalau ada orang kesal karena tertular, padahal dia sudah vaksin. Mungkin masih salah memahami manfaat vaksin.


Untuk sementara waktu, meski anak-anak sudah menerima vaksin, saya tetap memilih PJJ sementara waktu. Bukan masih parno seperti yang sudah-sudah, tapi untuk saat ini merasa lebih nyaman seperti itu. 


Di beberapa negara lain mungkin sudah membebaskan warganya untuk melepas masker, tidak mewajibkan swab kecuali bagi yang bergejala, tidak ada kewajiban swab bagi pendatang kecuali jika ia bekerja di tempat yang mengharuskannya lebih berhati-hati seperti di panti jompo misalnya, dan tentunya karantina bagi yang positif menjadi lebih singkat.


Hal ini terjadi karena mereka sudah melihat fakta bahwa varian Omicron masih bisa dikendalikan dan tidak seberbahaya varian Delta. Nah, di Indonesia belum terjadi kelonggaran seperti ini. 


Faktanya, Omicron ini memang sedang mewabah di Indonesia dan kebanyakan merasakan gejala seperti flu berat hingga demam tinggi. Jadi, untuk sementara waktu, nggak ada salahnya tetap berhati-hati.


Efek Samping Setelah Vaksin

Adakah efek samping yang dirasakan oleh anak-anak setelah vaksin? Hanya si bungsu saja yang merasakan sedikit pusing. Mungkin juga karena grogi, sih…hihi. Meskipun cukup deg-degan, tapi si adek yang berusia 6 tahun nggak berontak apalagi nangis. Dia hanya menarik napas dalam-dalam sambil merem-merem…hihi.


Usahakan anak-anak makan yang cukup sebelum vaksin, istirahat dan tidur juga cukup, makan makanan bergizi juga sebagai salah satu cara menguatkan imunitas sebelum menerima vaksin. 


Setelah menerima vaksin, tentu kita semua merasa sangat lega. Karena merasa sudah beres dari kewajiban…kwkwk. Kita tinggal menunggu waktu sampai pandemi benar-benar berakhir. Semoga tahun ini terakhir kalinya kita mendengar varian baru muncul. Jangan ada lagi deh varian baru apalagi menjelang Ramadhan dan lebaran. Karena kami pengin mudik dengan nyaman tanpa ketakutan apalagi aturan yang ribet bin sulit :(


Semoga anak-anak senantiasa sehat, ya. Tentu mereka berharap bisa kembali ke sekolah dan belajar dengan normal. Begitu juga dengan orang tua. Karena nggak semua orang tua betah mendampingi anaknya belajar di rumah. Ada anak-anak yang memang nggak bisa belajar di rumah, mesti datang ke sekolah. Beruntung jika sekolah aktif dan mau memfasilitasi.


Salam hangat,

Monday, February 21, 2022

Pengalaman Vaksin Covid-19 Bagi Anak Usia 6 Sampai 11 Tahun