Saturday, December 2, 2023

Hai, Nak! Apa Kamu Bahagia Punya Orang Tua Seperti Kami?

Hai, Nak! Apa Kamu Bahagia Punya Orang Tua Seperti Kami?
Photo by Kelly Sikkema on Unsplash


Kebanyakan orang tua menuntut anak-anaknya supaya menjadi baik, penurut, patuh, dan sopan kepada orang tua. Namun, di sisi lain orang tua justru lupa bersikap sama kepada mereka. Meski masih kecil, mereka juga manusia yang jika dibentak akan merasa sakit dan bahkan traumanya bisa dibawa hingga dewasa.


"Hai, Nak! Apa kamu bahagia punya orang tua seperti kami? Apakah kami sudah cukup baik untuk mendengarkan ceritamu sepanjang hari? Apakah kami sudah cukup layak disebut orang tua yang dapat memanusiakan anaknya?"


Saya pernah bertanya kepada si bungsu yang sekarang baru 8 tahun, "Apa kamu senang punya orang tua seperti Bunda?" Tanpa ragu dia menjawab, "Anak-anak nggak bisa milih orang tuanya." Eits, anak segini jawabnya udah baku banget…kwkwk. Berasa lagi ngobrol sama anak SMA…haha.


Kemudian saya tanya, "Andai kamu bisa milih, mau nggak pilih orang tua yang lain? Mungkin seperti ibunya si A atau si B?"


Dia bilang, "Nggak mau. Tetap pilih Bunda. Sayangnya Adek ke Bunda udah sampai garis." Maksudnya, sudah benar-benar maksimal...kwkwk.


"Kalau nggak sukanya apa dari Bunda?" Dia jawab dengan gaya melucu, "Kalau sudah bla bla bla..." *bergaya seperti sedang menceramahi orang…kwkwk. Maksudnya, emaknya cerewet. Dia nggak suka kalau diomelin…haha. Namun, sayang sekali. Itu sudah bawaan dari lahir ya, Nak…kwkwk.


Sebenarnya, kalau kita mau menyadari, meski telah tumbuh dewasa, orang tua seperti kita juga sangat mungkin melakukan kesalahan. Jadi, bukan berarti setelah jadi orang tua kita tidak pernah salah. Hal paling sulit ketika kita tidak menyadari dan menganggap anaklah yang selalu salah.


Gimana perasaan mereka ketika selalu disalahkan? Sedangkan orang tua juga sebenarnya sedang belajar dan tidak pernah mengenyam pendidikan untuk jadi orang tua? Pada akhirnya, anaklah yang akan menanggung beban hingga dewasanya nanti.


Kepada si bungsu saya tidak merasa banyak berutang, tapi kepada si sulung, saya merasa punya banyak sekali utang di masa kecilnya. Makanya sampai saat ini, saya sering minta maaf jika kami pernah punya salah dan pernah tanpa sengaja menyakitinya. Kenapa bisa begitu?


Karena saat si sulung lahir, kami benar-benar baru belajar jadi orang tua. Kemudian dia punya adik di usianya yang masih balita. Dia sebenarnya masih kebingungan, kenapa Bundanya terlihat terlalu sibuk dengan adiknya, sedangkan dia yang biasanya dibacakan buku setiap malam sekarang justru sedang sendirian?


Saya ingat betul, sepulang dari rumah sakit, dia menunggu saya di tempat tidurnya seperti malam-malam sebelumnya. Menanti untuk dibacakan buku, tapi saya tidak bisa lekas menemani karena harus mengurus adiknya yang baru lahir. 


Setelah mereka agak besar, sering kali saya tidak mau mendengarkan penjelasan si sulung dulu, tapi lebih sering menyalahkan ketika adiknya menangis, memintanya selalu mengalah, padahal dia berhak menolak. Awalnya bagi saya ini hal sepele. Hanya soal mainan dan barang-barang remeh. Hingga suatu hari dia pernah bilang, "Kenapa aku terus yang disalahkan?" 


Kalau ingat, nyeseknya sampai ulu hati. Bahkan kalau mengingat kesalahan saya sebagai orang tua, sampai saat ini saya masih sering menangis. 


Ternyata, jadi orang tua itu tidak mudah, ya? Meski telah berhati-hati, terkadang kita tidak bisa mengendalikan diri dan buru-buru mengambil keputusan, hingga sering kali kita lupa mendengarkan anak-anak.


Meski sudah menjadi kakak, bukan berarti anak kita sudah dewasa. Di usia mereka yang masih balita, tidak seharusnya juga selalu berbagi mainannya dengan si adik. Mereka bisa saja merespon permintaan itu dengan cara mempertahankan apa yang dirasa miliknya. Dan itu nggak salah. Dia tidak harus selalu mengalah hanya karena orang tua meminta. Dan terkadang, meski adiknya menangis, bukan berarti selalu kakaknya yang salah.


Siapa sangka, jadi orang tua seberat ini, kan? Terutama setelah anak kita punya saudara, rasanya sangat sulit mengendalikan emosi, terlebih ketika kita belum sepenuhnya selesai dengan diri sendiri. Bagaimana kita bisa memperbaiki semuanya?


Kita Butuh Jeda

Hai, Nak! Apa Kamu Bahagia Punya Orang Tua Seperti Kami?
Photo by Juliane Liebermann on Unsplash


Setelah si sulung masuk pesantren, terasa sekali kehilangannya. Seberat ini ternyata rasanya harus berpisah dengan anak yang telah kita rawat sejak kecil. Melihat baju-bajunya di lemari, ternyata sudah cukup membuat seorang ibu menangis. Bahkan sampai detik ini, saya masih suka mengusap baju-baju dia kemudian menciumnya. Kangen...


Waktu awal-awal dia masuk pesantren, sedikit pun nggak ada keluhan. Saya lumayan kaget melihat perubahannya. Ketika pertama kali menjenguk, saya bilang,


“Nak, terima kasih sudah berusaha, ya. Bunda bangga sama kamu.”


Enam bulan di pesantren, saya tidak merasa dia membebani kami sama sekali. Tidak pernah minta pulang, diberi uang berapa pun tidak pernah protes, bahkan ketika sakit hingga demam, dia tidak memberi tahu saya. Dia minum obat yang saya bawakan dari rumah, tetap sekolah, dan bersikap seolah tidak ada apa-apa. Masya Allah. Ketika dia menelepon, dia tidak akan segera menutup telepon sampai saya bilang sudah. Dia pastikan dulu apakah emaknya sudah selesai kangennya? haha.


Namun, dua bulan terakhir, setiap saya ke pesantren, dia terlihat gusar menanyakan waktu. Jam berapa? Bunda langsung pulang habis salat Ashar?


Dia merasa waktu kami bertemu terlalu singkat. Dia ingin lebih lama ngobrol. Hingga kali terakhir kami menjenguk, dia sesenggukan di bahu saya. Kami memutuskan menunggu sampai dia pulang halaqah. Kami luangkan waktu untuk ngobrol bertiga. Dia terlihat lega karena bisa lebih lama bersama dan bercerita. Ceritanya nggak berat, hanya hal-hal sehari-hari. Tentang pelajaran, guru, dan teman-temannya. Setelah itu, kami segera pamit karena khawatir terjebak macet di jalan. 


Awal-awal dia masuk pesantren, rasanya pengin saya batalkan saking nggak mau kami berpisah. Namun, saya sadar, waktu seperti sekarang justru memberikan jeda untuk saya dan dia sebagai anak dan orang tua. 


Kesalahan Orang Tua

Hai, Nak! Apa Kamu Bahagia Punya Orang Tua Seperti Kami?
Photo by Juliane Liebermann on Unsplash


Apa, sih yang sering luput kita sadari sebagai orang tua? Kadang, bukan kita tidak mengerti, berkali-kali membaca buku parenting pun ternyata tidak cukup untuk mengontrol sikap kita kepada anak-anak. Ada saja hal-hal yang kelepasan. Bisa sepele, bisa juga besar pengaruhnya buat anak-anak.


1. Orang tua sering tidak mau mendengarkan anak-anaknya. Kita cenderung tidak mau meluangkan waktu meski hanya sebentar, bahkan sekadar untuk mendengarkan klarifikasinya. Jika anak sudah merasa tidak pernah didengar, dia akan lebih banyak diam karena merasa semua yang dia lakukan percuma.


2. Anak-anak tidak butuh banyak hadiah, dia butuh ‘kehadiran’ kita sebagai orang tua. Meski kebanyakan ibu ada di rumah, tapi jika kebersamaan tidak berkualitas, saya rasa ini juga akan percuma. Apalagi jika anak-anak menerima kekerasan, akan semakin membuat mereka trauma dan suntuk.


3. Jika melarang, silakan beri alasannya. Saya pernah menonton video seorang ibu yang galak dan sempat viral. Ibu ini suka menasihati dengan suara tinggi, tapi kali itu dia mengatakan bahwa, "Ketika ibu melarang ya udah dengerin. Nggak usah nanya-nanya alasannya kenapa. Nurut aja.” Buat saya, ini kurang tepat. Anak-anak akan mengikuti aturan jika dia tahu alasannya. Kenapa kita tidak boleh main api? Karena akan terbakar dan membahayakan diri. Kenapa kita tidak boleh main pisau? Kenapa anak-anak sebaiknya tidak main gadget? Jika mereka tidak tahu alasannya, bisa jadi mereka justru jadi penasaran dan malah mencoba ketika orang tua tidak mendampingi.


4. Mengungkapkan rasa sayang dengan memanjakan dan menuruti semua keinginan anak saya rasa bukan sikap yang tepat. Meski kita tahu, siapa, sih yang mau anaknya susah? Namun, untuk beberapa hal kita perlu mengajarkan anak supaya mandiri dan bisa menahan diri. Ketika sudah dewasa, dia siap menerima kenyataan bahwa tidak selamanya ia bisa bersama orang tuanya.


5. Jangan malu untuk meminta maaf kepada anak ketika dirasa ada sikap kita yang keliru. Kebanyakan orang tua tidak merasa bersalah setelah marah-marah. Padahal, sikap kasar kita sangat menyakiti hati mereka. Anak-anak itu pemaaf banget, lho. Nggak seperti kita yang kadang pendendam. Coba ajak diskusi dibanding selalu menghakimi mereka. Kira-kira, sikap apa yang bisa menyakiti hatinya dan sikap mana yang tidak kita sukai dari mereka. Kita bisa sama-sama memperbaiki.


6. Pertengkaran antara suami istri bisa menyebabkan trauma bagi anak-anak. Kita mungkin tidak menyadari itu, sebab kita merasa tidak pernah melibatkan mereka. Namun, mereka melihat, mereka juga mendengar. Memang, tidak sepantasnya kita bertengkar di depan anak-anak. Terkadang, ada yang tidak dapat kita kendalikan. Lekas minta maaf dan jelaskan sesuai usia mereka.


Jika disebutkan semua, rasanya tidak cukup 100 sekian halaman, ya? haha. Banyak kesalahan yang kerap kita lakukan tanpa disadari. Kemudian kita memahami, rupanya jadi orang tua itu berat, ya? Mereka tidak bisa memilih dari siapa dilahirkan. Kitalah yang berharap mereka ada.


Saya rasa, tidak ada orang tua yang sempurna. Meski sedikit, orang tua pasti pernah marah dan berselisih paham dengan anaknya. Namun, saya ingin menekankan bahwa masih ada waktu untuk memperbaiki kekeliruan kita. Jangan gengsi untuk minta maaf dan berhentilah melakukan kesalahan.


Salam hangat,


Sunday, November 5, 2023

Resep Roti Sosis Ekonomis Super Lembut, Yummy!

Resep Roti Sosis Ekonomis Super Lembut, Yummy!


Hai, hai! Biasanya, teman-teman blogger yang jarang ngisi blognya selalu mengawali paragraf pertama dengan kalimat seperti ini, “Alhamdulillah, bersyukur banget akhirnya bisa kembali mengisi blog setelah sekian lama menghilang dari planet bumi.” Kwkwk. Dan kalimat ini pula yang saya gunakan untuk mengawali postingan pertama di bulan November ini! :D


Nggak banyak aktivitas baru di beberapa bulan terakhir selain menulis naskah, bikin konten, dan baking. Yes! Kayaknya jadi lumayan sering baking sejak kakak masuk pesantren. Setiap mau ke sana, selalu mikir mau buat apa, ya buat dia? Haha.


Kemarin, setelah membuat donat dua kloter, saya memaksakan diri membuat roti sosis ini. Alasannya, karena saya pikir Kakak nggak akan mau makan donat. Dia nggak terlalu suka, selalu bilang gampang eneg kalau makan donat. Jadi, saya membuat alternatif camilan lain supaya dia bisa makan hasil bikinan emaknya. Sedangkan donatnya bisa buat teman-teman sekamarnya.


Tapi, ternyata, si Kakak kali ini malah makan donat beberapa biji. Katanya enak! Ini beda dengan yang biasanya… haha. Ya tentu, soalnya saya sampai ikutan kelas supaya bisa bikin donat yang enak.


Karena nggak memungkinkan berbagi resep donat dari kelas yang saya ikuti, mari kita coba membuat roti sosis ekonomis ini saja. Resepnya saya pakai dari resepnya ci Tintin Rayner, ya. Hasilnya lembut banget, masya Allah.


Alasan Kenapa Rotimu Selalu Gagal Mengembang

Hayo, ngaku siapa yang rotinya selalu bantet? Beribu kali nyoba beberapa resep *ceilah…kwkwk, saya mulai paham ada beberapa faktor yang bikin roti kita nggak mengembang dengan baik alias bantet.


Hal pertama yang perlu diperiksa adalah ragi. Apakah ragi yang kita gunakan masih aktif atau baru dibuka beberapa hari lalu, tapi disimpan di tempat yang salah. Saya selalu menyimpan ragi yang sudah terbuka di freezer atau bisa juga di kulkas, tentunya dalam kondisi tertutup rapat. Dengan begitu, mau berbulan-bulan sekalipun, ragi yang saya pakai tetap bagus.


Kedua, memang nggak mudah mengadon adonan roti apalagi kalau kita pakai tangan atau hand mixer. Namun, kalau mau telaten, adonan kita bisa banget jadi kalis elastis. Hanya saja butuh waktu yang lebih lama dan yang pasti jangan sampai adonan kita jadi hangat saking lamanya diulen, ya.


Saya pribadi sudah beberapa tahun menggunakan mesin roti Re Bread. Diulen dua kali sudah pas. Adonan biasanya pakai air es supaya tetap dingin saat diulen. Hasilnya, insya Allah selalu bagus. Kalau Re Bread terlalu mahal, ada merek lain yang nggak kalah oke. Contohnya mereka Bread Master yang harganya jauh di bawah Re Bread. Hanya 1 jutaan saja dan insya Allah worth it. Apakah saya sudah coba? Saya sendiri memang tidak pakai, tapi kakak saya kebetulan pakai. Usianya sudah setengah tahunan. Alhamdulillah masih aman. Ini bukan endorse, ya. Hanya mencarikan solusi…kwkwk.


Ketiga, jangan over proofing, ikuti semua aturan dalam resep. Kebiasaan kita, nih yang super sibuk, Sukanya tiba-tiba pergi ke mana dan ninggalin adonan sampai berjam-jam. Kebayang nggak, sih itu adonan sakit hati gara-gara dikacangin? Kwkwk. Jangan bikin aturan sendiri, kalau nggak nurut, ya bisa aja gagal.


Satu lagi, entah kenapa, setiap saya membuat adonan roti yang menggunakan putih telur, hasilnya selalu kurang memuaskan setelah dingin. Berbeda dengan adonan yang hanya menggunakan kuning telur. Saya jadi kapok membuat roti pakai resep yang di dalamnya ada putih telurnya. Mending ganti saja dengan resep lain.


Bahan lainnya gimana? Perbedaan merek tepung yang kita pakai itu nggak hanya sekadar merek, ya. Ada terigu yang khusus dipakai untuk roti, ada juga yang dipakai untuk kue kering. Sedangkan untuk roti dan donat, tepungnya pun bermacam-macam. Ada yang murah, ada yang premium. Makin mahal, insya Allah makin bagus hasil rotinya.


Nah, kira-kira itulah yang saya pahami setelah beberapa tahun bergelut dengan adonan roti. Terlihat susah, tapi sebenarnya jika sudah terbiasa sangat mudah, kok. Yuk, dicoba saja.


Resep Roti Sosis Ekonomis

Resep Roti Sosis Ekonomis Super Lembut, Yummy!


Bahan:

200 gram terigu protein tinggi

100 gram terigu protein sedang

40 gram gula pasir

1 butir kuning telur

6 gram ragi instan

½ sdt garam

60 gram butter atau margarin

150 ml air dingin

1 sachet susu bubuk (optional, tambahan dari saya)


Cara membuat:

  1. Campurkan semua bahan kecuali butter dan garam. Uleni hanya sampai tercampur rata.
  2. Masukkan butter dan garam, uleni kembali sampai benar-benar kalis.
  3. Tutup adonan dengan plastik atau kain basah dan diamkan sampai 30 menit.
  4. Ambil adonan dan timbang masing-masing 40-50 gram. Sesuaikan selera. Saya sesuaikan dengan besar cup.
  5. Bulatkan adonan dan pipihkan atau gilas. Di sini saya beri isian keju spread mengingat adonannya cukup besar. Supaya ketika dimakan tidak kosong dan tetap enak…hehe. Bentuk sesuai selera dan beri topping di atasnya. 
  6. Diamkan kembali sampai mengembang 2x lipat. Bisa 30 menit atau sampai 1 jam tergantung suhu.
  7. Toppingnya bisa pakai saus tomat, saus sambal, potongan sosis, oregano, mayonaise, sampai bawang bombay.
  8. Setelah adonan mengembang, panggang di oven suhu 190-200’C sampai keemasan.


Voila! Roti sosis ekonomis siap disantap. Waktu hangat, asli ini lembut parah. Parah banget kalau nggak nyoba…haha. Setelah dingin, simpan dalam plastik. Rotinya bisa tahan sampai beberapa hari. Punya saya, di atas 3 hari masih aman, tapi kalau bisa segera dihabiskan, ya.


Teman-teman juga bisa jadikan ini sebagai ide jualan atau bekal untuk si kecil di rumah. Sedikit rempong, sih, ya, tapi asli ini worth it banget, kok. Semoga bermanfaat.


Salam hangat,


Tuesday, October 3, 2023

Ikut Kelas Baking, Worth It Nggak, Sih?

Ikut Kelas Baking, Worth It Nggak, Sih?
Percobaan kedua dari kelas baking akhirnya berhasil!


Nggak pernah membayangkan pada akhirnya saya yang sebulan sekali mengulen adonan roti ini mendaftar di kelas baking…hahaha. Belum kepikiran juga buat jualan kue atau open PO roti dan donat, tapi memutuskan ikut kelas baking via daring.


Buat saya pribadi, mengikuti kelas, menambah skill apa pun nggak akan pernah rugi. Meski mungkin nggak kepake sekarang, besok atau kapan pun setelah butuh, kita tinggal mencobanya dan mendapatkan paluang baru dari hasl belajar tersebut.


Untuk ikut kelas baking, memang kebanyakan mesti datang langsung supaya lebih mudah dan benar-benar tahu caranya yang tepat. Namun, saya yang selalu di rumah nggak memungkinkan buat pergi untuk belajar membuat kue. Qadarullah, tanpa sengaja saya melihat sebuah postingan kelas baking online di Instagram. Melihat testimoni anggotanya, saya jadi tertarik dan akhirnya coba daftar langsung.


Karena terlalu sering melihat gambar dan reels tentang donat, alhasil di Instagram saya penuh dengan donat dan donat…haha. Inilah yang akhirnya mempertemukan saya dengan salah satu kelas baking ini.


Ikut Kelas Baking, Worth It Nggak, sih?

Ikut Kelas Baking, Worth It Nggak, Sih?
Donat-donat buatan saya dari hasil kelas baking. Cantik, ya :D


Waktu ikutan kelas baking via daring, saya diberikan materi berupa resep dan teknik yang dikirim memalui link Youtube dan PDF. Mesti lebih jeli membaca semua materi karena bisa jadi ada step yang terlewati karena terburu-buru. Berhubung materinya mesti dibaca dan lumayan banyak, jadi mesti sabar, ya…hehe. Sedangkan untuk penjelasan memalui video sudah sangat jelas dan tinggal diikuti saja langkah-langkahnya. 


Untuk percobaan pertama, donat saya kurang tinggi white ring-nya. Setelah saya cek ulang, ternyata ada step yang ketinggalan…haha. Saya juga kurang lama waktu proofing sehingga donatnya belum benar-benar siap digoreng.


Percobaan berikutnya, donat saya sudah bagus dan tinggi white ring-nya. Soal rasa, karena saya menggunakan resep donat premium, asli ini enak. Belum pernah saya makan donat seenak dan sewangi ini. Sampai 3 hari berikutnya, donatnya masih empuk, lembut, nggak berminyak juga.


Merasa benar-benar beruntung karena sudah memilih keputusan yang tepat…hahaha. Suami yang biasanya malas makan donat, kali ini sekali makan bisa habis 2 dong. Masya Allah banget, akhirnya bisa jadi kang donat…haha.


Kesimpulannya, apakah worth it ikut kelas baking apalagi yang diadakan secara daring begini? Jawabannya worth it banget! Kita nggak perlu keluar rumah, biayayanya jauh lebih terjangkau, tapi memang mesti menyiapkan semua alat dan bahan sendiri. Praktiknya juga bisa dilakukan kapan saja, selonggarnya kita. Tingkat keberhasilannya tinggi, kok. Bisa dibilang resep dan triknya memang antigagal dan bisa langsung dipakai untuk buka usaha. Mantap, kan? hehe.


Keuntungan Mengikuti Kelas Baking

Ikut Kelas Baking, Worth It Nggak, Sih?
Masya Allah, akhirnya bisa jadi penulis sekaligus kang donat...kwkwk.


1. Pembelajaran keterampilan: Kelas baking memberi kita kesempatan untuk belajar keterampilan dasar dan lanjutan dalam membuat berbagai jenis roti, kue, dan produk roti lainnya. Kamu akan mendapatkan panduan dan instruksi langsung dari orang yang telah berpengalaman.


2. Memahami teknik dan resep: Kita akan memahami teknik-teknik penting dalam baking, seperti pengukuran bahan, mencampur, membentuk, dan memanggang. Selain itu, kita akan diberikan resep-resep yang teruji dan terpercaya.


3. Peningkatan kreativitas: Baking juga melibatkan unsur seni dan kreativitas. Kita bisa belajar cara menghias kue, membuat desain yang menarik, dan mengkreasikan variasi resep sesuai selera.


4. Pengetahuan nutrisi: Baking bukan hanya tentang membuat makanan yang enak, tetapi juga tentang memahami nutrisi. Kita akan belajar tentang jenis-jenis bahan makanan, nilai gizi, dan cara menggabungkannya secara seimbang.


5. Pengembangan kepercayaan diri: Memasak di depan orang lain, bahkan dalam kelas, dapat membantu kita mengembangkan kepercayaan diri dalam memasak. Ini juga merupakan kesempatan untuk berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama.


6. Keuntungan kesehatan: Dengan mengikuti kelas baking, kita dapat memilih bahan-bahan yang lebih sehat dan menghindari bahan-bahan tambahan yang tidak diinginkan yang sering ditemukan dalam produk roti komersial.


7. Menyajikan hidangan lezat: Setelah mengikuti kelas, kita akan dapat menyajikan hidangan lezat buatan sendiri kepada keluarga dan teman-teman. Ini dapat meningkatkan kebahagiaan orang-orang di sekitar kita.


8. Peluang bisnis: Jika teman-teman memiliki minat dalam bisnis makanan, mengikuti kelas baking dapat membantu memulai bisnis roti atau kue sendiri. Kita dapat mengembangkan resep sendiri dan mulai menjual produk baru.


9. Hiburan pribadi: Seperti halnya saya, baking juga dapat menjadi hobi yang memuaskan secara pribadi. Banyak orang menemukan kebahagiaan dalam menciptakan karya seni kuliner yang lezat dan indah.


10. Pengetahuan budaya: Baking adalah bagian dari budaya makanan yang beragam di seluruh dunia. Mengikuti kelas baking dapat membantu kita memahami dan menghargai berbagai tradisi kuliner.


Mengikuti kelas baking dapat memberikan banyak manfaat, baik dari segi keterampilan memasak, pemahaman tentang makanan, maupun aspek-aspek lainnya seperti kreativitas, dan kebahagiaan pribadi. Itu juga bisa menjadi langkah pertama dalam menjelajahi karier di dunia kuliner jika teman-teman memiliki minat yang serius.


Buat saya, nggak ada penyesalan setelah mengikuti kelas baking kemarin. Justru saya jadi senang dan happy karena bisa membuat donat terbaik seumur hidup saya…haha. Saya senang ketika orang-orang terdekat mengatakan bahwa donat yang saya buat benar-benar enak dan premium banget, bahkan donat yang sudah terkenal pun masih kalah. Masya Allah.


Resep dan trik dari kelas baking memang merupakan hal yang rahasia. Nggak heran, saya memang nggak pernah menemukan resep dan trik tersebut disebar di Youtube. Meski harus membayar dengan harga yang lumayan, tapi saya pikir ini worth it banget terutama jika teman-teman memang mau buka usaha, ya. Semoga sharing ini bisa bermanfaat dan jadi pencerahakan bagi teman-teman yang mau memulai bisnis kuliner.


Salam hangat,


Thursday, September 7, 2023

Tips Traveling Tetap Menyenangkan Bersama Si Kecil

Tips Traveling Tetap Menyenangkan Bersama Si Kecil
Photo by jeshoots.com on Unsplash


Waktu si Kakak berusia 7 tahunan, kami memberanikan diri mengajak dia umroh dan jalan-jalan ke Turki selama beberapa hari. Selain Kakak, saya juga mempunyai satu batita yang baru berusia 2 tahunan. Sempat kepikiran, gimana caranya kami pergi umroh sambil bawa bocil gini? hihi. Asli, saya takut mereka rewel di perjalanan yang nggak sebentar. Mudik aja repot, apalagi ini?


Namun, karena sudah mempersiapkan semua dengan baik, saya tawakkal saja pada Allah. Si bungsu memang sempat rewel waktu di pesawat dan nggak mau digendong ayahnya ketika kami umroh, tapi ya sudahlah itu jadi bagian unik yang kami nikmati juga...kwkwk. Kalau nggak dibawa pergi, kami juga pasti kepikiran gimana mereka di rumah?


Karena umroh kemarin terlalu riweh, saya jadi kepikiran untuk ajak anak-anak lagi setelah usia mereka sudah lebih besar. Pengin menikmati ibadah bareng di saat mereka juga paham nikmatnya beribadah di tanah suci. Apalagi setelah melihat si Kakak yang masuk pesantren, sudah mau salat sunnah tanpa disuruh, rasanya nyes banget pengin saya bawa umroh lagi...kwkwk.


BTW, traveling bersama si kecil memang bisa jadi pengalaman yang luar biasa. Namun, bisa juga menjadi tantangan yang besar. Untuk memastikan liburan kita berjalan lancar dan menyenangkan, ada beberapa tip dan panduan yang perlu teman-teman pertimbangkan sebelum, selama, dan setelah melakukan perjalanan bersama si kecil. Saya akan share beberapa saran berharga untuk membantu teman-teman merencanakan perjalanan yang menyenangkan bersama keluarga tercinta.


Tips Traveling Tetap Menyenangkan Bersama Si Kecil
Photo by Alvin Mahmudov on Unsplash


1. Rencanakan dengan Matang


Sebelum teman-teman berangkat, rencanakan perjalanan dengan matang. Ini termasuk memilih destinasi yang sesuai dengan kebutuhan dan minat si kecil. Pastikan kita punya rencana perjalanan yang fleksibel sehingga dapat menyesuaikannya jika diperlukan.


Dulu, selain memang diajak umroh bareng keluarga besar lainnya, peri ke Turki juga jadi pengalaman yang menyenangkan buat anak-anak. Mereka bisa naik kereta gantung di Uludag, main salju, dan jalan-jalan dengan keluarga lain yang masih seusia mereka. Meski mereka tak sepenuhnya paham dengan perjalanan umrohnya, tapi jika ditanya sekarang, mereka cukup menikmati perjalanan seminggu lebih beberapa tahun lalu.


Mereka juga antusias banget pengin balik umroh dan ke Turki. Mengulang pengalaman waktu kecil dulu yang mereka rasa sangat menyenangkan. Kalau tempatnya sesuai, kegiatannya cocok buat anak-anak, kenapa nggak, kan?


2. Pilih Akomodasi yang Sesuai


Saat memesan akomodasi, pertimbangkan kenyamanan dan keamanan anak kita. Hotel atau apartemen dengan fasilitas keluarga seperti kolam renang, dapur, atau area bermain dapat menjadi pilihan yang baik.


Sempat beberapa kali kami mengisi liburan ke Bandung beberapa waktu lalu dan menginap semalam di sana. Ternyata, traveling singkat begini juga cukup menarik buat anak-anak. Namun, karena rencananya cukup mendadak, kami kehabisan tiket kereta ke Jakarta dna terpaksa naik kelas ekonomi yang ternyata lumayan bikin pegel buat anak-anak. Karena sudah pengalaman seperti ini, kami jadi lebih hati-hati ketika mau liburan ke luar kota lagi, terutama ketika tidak membawa kendaraan pribadi.


3. Bawa Perlengkapan Penting


Jangan lupa membawa perlengkapan penting seperti popok, botol susu, makanan bayi, dan obat-obatan jika diperlukan. Selalu bawa lebih banyak daripada yang kita butuhkan, khususnya jika teman-teman tidak yakin apakah barang-barang tersebut tersedia di tempat tujuan.


Meski anak-anak sudah cukup besar, tapi saya selalu rempong dengan bawaan seperti ini. Saya orangnya mudah panik, jadi sebisa mungkin semua hal dipersiapkan dengan baik di rumah sebelum melakukan perjalanan. Ketika kita traveling, mungkin ada kondisi yang tak dapat dihindari sehingga membawa perlengkapan banyak bisa sangat membantu ketika benar-benar dibutuhkan.


4. Jadwalkan dengan Bijak


Perjalanan dengan anak kecil seringkali memerlukan jadwal yang lebih fleksibel. Jangan terlalu banyak mengisi jadwal dengan aktivitas karena anak kita mungkin membutuhkan istirahat. Juga, pertimbangkan perbedaan zona waktu jika hendak bepergian ke tempat yang jauh.


Kegiatan yang terlalu padat selama traveling bukan hanya membuat kita capek, tapi juga membuat anak-anak kelelahan dan rentan sakit. Waktu kami ke Turki, agendanya cukup padat karena kami hanya beberapa hari di sana, selebihnya menghabiskan lebih banyak waktu ketika umroh. Anak-anak sempat demam dan pilek. Alhasil, rasanya kurang menyenangkan selama kami keliling beberapa wisata di Turki. Sibuk sama hidung yang meler serta suhu yang sangat dingin..kwkwk.


5. Kenali Aturan Keamanan di Tempat Tujuan


Sebelum berangkat, pelajari aturan keamanan di tempat tujuan, termasuk bagaimana cara mengamankan kursi mobil untuk anak-anak, jika kita bepergian dengan mobil. Pastikan teman-teman juga mematuhi semua peraturan dan rekomendasi keselamatan.


Jika memutuskan melakukan perjalanan ke luar negeri, saya pribadi lebih memilih menggunakan jasa travel ketimbang keteteran di tempat tujuan. Meski harganya lebih mahal, tapi di sana kita sudah dibantu dan tidak kerepotan lagi. Sempat terbesit pengin juga umroh mandiri ala backpacker karena melihat harganya yang murah banget, tapi suami nggak setuju...kwkwk. Memang lebih nyaman bayar lebih, tapi sudah tenang sampai di sana.


6. Persiapkan Aktivitas untuk Anak


Sediakan berbagai aktivitas yang dapat menghibur anak-anak selama perjalanan. Buku, mainan, dan permainan ringan dapat membantu mengatasi kebosanan mereka. Apalagi jika perjalanan cukup panjang, selain hanya tidur, anak-anak juga butuh hiburan lainnya supaya nggak bosan.


Bawaan buat anak-anak memang lumayan banget apalagi jika masih balita, ya. Inilah risikonya membawa bayi dan anak kecil traveling. Repot, tapi benar-benar menyenangkan.


7. Pertimbangkan Kesehatan Si Kecil


Pastikan anak kita dalam kondisi kesehatan yang baik sebelum perjalanan. Konsultasikan dengan dokter jika perlu, dan pastikan teman-teman membawa obat-obatan yang mungkin diperlukan selama perjalanan.


Kedua anak saya ada riwayat kejang demam sejak usia 2 tahun. Jadi, melakukan perjalanan jauh saat mereka kecil benar-benar bikin khawatir. Makanya, saya selalu sedia obat, terutama stesolid rektal khusus diberikan ketika anak sedang kejang. Jujur saja, jika teman-teman sudah sering mampir di blog ini, saya termasuk ibu yang nggak panikan ketika anak kejang demam. Saya tahu harus bagaimana dan mesti mengambil reaksi seperti apa.


Sejauh ini, saya tidak pernah mengizinkan anak kami rawat inap karena kejang demam. Tentunya saya sudah tahu kondisi darurat seperti apa yang mengharuskan mereka rawat inap setelah kejang demam. KD atau kejang demam itu nggak bahaya asal memang murni kejang demam. Lha jadi bahas kejang demam...kwkwk.


8. Pertimbangkan Makanan Untuk Si Kecil


Jika anak kita punya pantangan atau alergi makanan, pastikan teman-teman membawa makanan yang sesuai. Selalu periksa menu restoran atau toko makanan untuk opsi yang aman bagi si kecil. Selain itu, terkadang menu restoran yang kita datangi nggak sesuai buat anak-anak. Waktu sarapan di Turki, kami langsung makan di restoran, bukan di hotel. Menunya nggak cocok buat anak-anak saya karena mereka nggak terbiasa aja dengan menu itu. Ada roti kering, yogurt, telur rebus, buah zaitun, dll. 


Jika kita membawa stok makanan sendiri buat anak-anak, saya rasa ini akan sangat membantu terutama bagi mereka yang suka pilih-pilih makanan.


9. Sabar dan Fleksibilitas


Terakhir, tetap tenang dan fleksibel selama perjalanan. Anak kecil kadang-kadang dapat menjadi rewel atau tidak nyaman selama perjalanan, jadi bersiaplah untuk menghadapinya dengan sabar. Kalau kita dapat bekerja sama dengan pasangan, insya Allah akan lebih mudah mengatasinya.


Liburan bersama anak-anak adalah hal menyenangkan, tapi juga mesti dipertimbangkan repotnya jika tak disiapkan dengan matang.


Traveling bersama anak kecil mungkin memerlukan sedikit perencanaan ekstra, tetapi dengan persiapan yang baik, kita dapat menciptakan kenangan indah bersama keluarga. Dengan mengikuti tip dan panduan di atas, teman-teman dapat memastikan perjalanan bersama si kecil berjalan dengan lancar dan menyenangkan.


Salam hangat,


Tuesday, August 29, 2023

Resep Chocolate Swirl Bread

Resep Chocolate Swirl Bread
Foto: Dok pribadi


Adakah yang pernah nyobain bikin roti tawar sendiri di rumah? Hmm, agak menyusahkan juga, sih memang. Lebih simpel panggil kang roti depan rumah dan beli sebungkus dibanding harus bikin sendiri. Selain sangat memakan waktu, repot juga sama cucian baskom dan kawan-kawannnya…hehe.


Tapi, sesekali boleh dong cobain bikin sendiri di rumah. Hanya saja, saya merasa selalu nggak puas dengan hasilnya. Meski sudah mengikuti resep orang yang sudah jago sekalipun, rotinya nggak pernah selembut merek-merek roti tawar ternama yang biasa kita konsumsi. Beda dengan roti sobek yang sudah dapat teksturnya yang pas.


Kali ini, saya mau bikin roti tawar pakai resepnya ci Luvita Ho. Beberapa kali mengikuti resep beliau, hasilnya lumayan dan cocok dengan selera saya. Kalau lihat-lihat resepnya di Youtube atau Instagram, banyak banget resep yang bikin ngiler.


Berhubung belum pernah cobain resep roti tawarnya, maka kali ini saya mau coba salah satu yang telah ci Luvitas share di youtube-nya. Yes, resep yang saya pilih adalah chocolate swirl bread. Warnanya lucu. Ada cokelatnya gitu. Cantik dan gemas!


Teman-teman mesti ingat, kunci dari roti yang hasilnya bagus itu terletak pada cara kita mangadon adonannya. Kalau adonan diulen sampai benar-benar kalis, hasilnya akan bagus, tapi kalau ngulennya setengah-setengah, biasanya kurang empuk hasilnya.


Di sini, saya menggunakan re Bread untuk mengulen roti. Lumayan membantu kalau lagi pengin bikin roti sendiri di rumah. Nggak perlu capek-capek ngulen pakai tangan, juga bisa digunakan untuk keperluan lain selain membuat roti. Misalnya memanggang kacang atau serundeng. Asyik nggak, tuh?


Kalau re Bread dirasa terlalu mahal, ada lagi alat membuat roti yang harganya lebih ekonomis. Namanya Bread Master. Bentuknya lebih mungil. Kapasitasnya sepertinya sama. Harganya bisa dapat separuhnya re Bread. Asyik, kan? Kemarin sempat nyariin untuk saudara dan sampai saat ini masih kepake. Worth it dengan harga dan fungsinya. 


Resep Roti Tawar Ala Luvita Ho

Resep Chocolate Swirl Bread
Foto: Dok pribadi


Bahan:

300 gram terigu protein tinggi

4 gram ragi instan

3 gram garam

50 gram gula pasir

1 sdm susu bubuk

1 butir telur

130-140 gram air dingin

35 gram mentega tawar

1 ½ sdm cocoa powder, beri sedikit air sampai menjadi pasta


Cara Membuat:

1. Campur terigu dengan ragi instan. Aduk sampai rata. 

2. Masukkan susu bubuk, gula pasir, dan garam. Aduk sampai tercampur.

3. Masukkan telur dan air dingin. Aduk kembali sampai membentuk adonan.

4. Masukkan mentega tawar. Aduk sampai kalis.

5. Bagi adonan menjadi dua bagian. Salah satunya akan dicampur dengan pasta cocoa powder. Bagian ini bisa kita aduk lagi pakai mixer roti hanya sampai tercampur, ya. Bagian lainnya bisa kita diamkan.

6. Diamkan dua adonan tadi sampai mengembang 2x lipat.

7. Kita bisa pakai loyang 20x10 cm. Pilih loyang roti tawar yang berlubang supaya lebih bagus hasilnya.

8. Kempeskan adonan dan gilas sampai tipis. Ukurannya bisa disesuaikan dengan loyang roti tawar yang kita punya. 

9. Setelah kedua adonan digilas tipis, kita bisa tumpuk kedua adonan tersebut dan gilas supaya adonan menempel, kemudian digulung sepanjang loyang. Masukkan dalam loyang dan diamkan sampai mengembang. Kira-kira maksimal sampai menyisakan ruang seukuran 1 ruas jari pada loyangnya.

10. Panggang adonan di suhu 190-200 derajat selama kurang lebih 30-35 menit.

11. Keluarkan adonan daro loyang dan potong-potong setelah dingin.



Resep Chocolate Swirl Bread
Foto: Dok pribadi


Resep Chocolate Swirl Bread
Foto: Dok pribadi


Voila! Roti tawar buatan kita sudah jadi. Terharu, akhirnya bisa bikin roti tawar secantik ini…hihi. Waktu masih hangat, sih oke lumayan lembut, tapi jujur setelah dingin hasilnya nggak selembut di awal. Kurang puas? Sepertinya begitu. Lumayan, sih untuk coba-coba resep di rumah, ya. Olesi dengan selai cokelat dan makan selagi hangat lebih nikmat!


Semoga resep ini bermanfaat dan bisa jadi referensi untuk teman-teman yang pengin bikin roti tawar sendiri di rumah. Selamat mencoba!


Salam hangat,


Tuesday, August 15, 2023

Panduan Lengkap Sebelum Membeli Rumah Untuk Pasangan Muda yang Baru Menikah

Panduan Lengkap Sebelum Membeli Rumah Untuk Pasangan Muda yang Baru Menikah
Photo by Frames For Your Heart on Unsplash


Membeli rumah di zaman sekarang rasanya lumayan sulit dicapai oleh sebagian pasangan muda yang baru menikah. Harga rumah yang makin tidak masuk akal menjadikan banyak orang akhirnya menunda bahkan memilih mengontrak dibanding segera membeli rumah impiannya.


Saya menikah di usia muda. Pindah ke Jakarta mengikuti suami yang merantau sejak baru selesai kuliah. Kami sama-sama merasakan susahnya mencari rumah untuk tempat tinggal. Bahkan sebelum kami menikah, suami saya sudah pernah hampir membeli rumah yang akhirnya dibatalkan karena beberapa sebab. Ternyata, beli rumah nggak semudah yang saya bayangkan...hehe.


Kami juga sepakat tidak mengontrak karena khawatir uangnya malah habis. Rasanya nggak mungkin seumur hidup mengontrak rumah, kan? Akhirnya, kami bersabar sambil berusaha mencari rumah yang cocok.


Rumah menjadi kebutuhan pokok yang mesti dipenuhi sebelum memenuhi kebutuhan lainnya yang tidak terlalu penting. Seperti memiliki kendaraan roda empat misalnya. Tidak sedikit orang yang memaksakan diri segera punya mobil meski dengan cara kredit, tapi lupa memikirkan betapa pentingnya memiliki rumah sendiri.


Suami saya termasuk orang yang lumayan santai dalam menjalani hidup. Meski punya, dia tidak suka ikut-ikutan orang lain, mesti punya ini dan itu secepatnya, atau mengejar pencapaian orang di luar sana. Itu bukan gaya dia banget.


Saya jadi berkaca dari kisah seorang teman yang memutuskan tidak membeli kendaraan roda empat hanya karena dirasa kurang penting dan minusnya terlalu menghamburkan uang. Meski suaminya seorang profesor, tapi ke mana-mana mereka terbiasa menggunakan transportasi umum, seperti naik KRL, naik sepeda, dsb.


Ternyata selain suami saya, ada juga orang yang hidupnya sesantai itu, ya? hehe. Nggak pusing dengan komentar dan penilaian orang, happy banget sampai kebablasan saking santainya...kwkwk. Itu benar-benar 'sesuatu' banget sih buat saya.


Kami juga sepakat, setelah punya rumah, kami harus punya tabungan untuk naik haji. Bagi kami, ibadah haji itu mesti diusahakan, bukan ditunggu mampu. Saya bersyukur, Tuhan mampukan sesuai rencana kami.


BTW, ketika mencari rumah tempat tinggal, saya dan suami tidak sembarangan memilih. Kami punya kriteria sendiri. Kriteria ini bisa jadi panduan juga untuk teman-teman yang punya rencana mau membeli rumah dalam waktu dekat.


Kriteria Rumah Idaman

Panduan Lengkap Sebelum Membeli Rumah Untuk Pasangan Muda yang Baru Menikah
Photo by Aaron Huber on Unsplash


1. Rumah tersebut dekat dengan fasilitas umum, seperti stasiun, bandara, rumah sakit, sampai dengan masjid.


2. Daerah tempat kami tinggal harus bebas banjir. Maklum, dulu Jakarta masih jadi langganan banjir sehingga beberapa orang kadang menjual murah rumahnya karena lokasinya yang menjadi langganan banjir tiap tahunnya. 


3. Rumah tersebut masih layak huni. Bukan rumah yang mesti dibangun segera. Karena kami juga tidak mungkin punya budget sekaligus untuk renovasi total. 


4. Perhatikan lingkungannya, apakah nyaman untuk tempat tinggal? Bagaimana dengan tetangga di kanan kiri? Apakah lingkungannya cukup aman? Mengingat saya hanya tinggal sendiri ketika suami kerja, poin ini menjadi sangat penting untuk dipertimbangkan.


5. Sesuaikan dengan budget. Jangan memaksakan diri untuk berutang hanya demi rumah yang mewah. Kita juga mesti memikirkan kebutuhan lain di masa depan.


6. Jangan lupa memeriksa legalitas serta kondisi rumah. Perhatikan sertifikat dan surat-surat penting lainnya.


Kami memilih pembayaran cash dibanding KPR. Semua tergantung pilihan masing-masing orang, ya. Dengan KPR, sebagian orang yang kesulitan membeli rumah jadi dimudahkan, tapi minusnya, kamu juga harus membayar bunga kredit pada pihak bank.


Persiapan Sebelum Membeli Rumah

Panduan Lengkap Sebelum Membeli Rumah Untuk Pasangan Muda yang Baru Menikah
Photo by Tierra Mallorca on Unsplash


Membeli rumah merupakan keputusan finansial terbesar yang bisa kita ambil. Nggak mudah membeli rumah, lho. Nggak semua orang mampu. Karena itu, kita mesti mempersiapkan dana sejak jauh-jauh hari sebelumnya.


Ada beberapa hal yang mesti dipertimbangkan sebelum membeli rumah,


1. Tetapkan Tujuan

Ada orang yang mau beli rumah untuk investasi, ada juga yang pengin dijadikan tempat tinggal setelah menikah nanti. Kita harus tahu mana prioritas yang mesti didahulukan. Di mana lokasinya, berapa ukuran rumah yang diharapkan, serta berapa budget yang mesti dikeluarkan untuk membelinya?


Ada pasangan yang sejak jauh-jauh hari sudah sepakat menabung bersama untuk membeli rumah meski belum menikah. Ada juga yang sama-sama menyisihkan gaji bulanannya demi membeli rumah impian mereka. Setiap pasangan punya cara sendiri untuk mewujudkannya, tapi yang pasti, ketika tujuan mereka jelas sejak awal, maka selanjutnya semua bisa diperjuangkan dengan lebih mudah.


2. Tentukan Anggaran yang Dibutuhkan

Setelah dewasa, kita punya banyak kebutuhan yang mesti dipenuhi. Ada yang mesti membiayai adiknya kuliah, ada yang masih harus membantu orang tuanya, belum lagi mempersiapkan dana untuk membeli rumah setelah menikah. 


Sejak awal, kita bisa menentukan besarnya cicilan tidak melebihi 30-40% dari pemasukan dan pemenuhan kebutuhan lainnya. Supaya keuangan kita tetap pada kondisi yang aman. Dengan begitu, nggak ada ceritanya kita sampai kelabakan seperti di saat pandemi kemarin. Jangan sampai cicilanmu lebih besar daripada pemasukanmu. 


3. Jangan Ragu Untuk Mempelajari Pasar Properti

Kita harus tahu harga pasar sehingga penting untuk kita mempelajari pasar properti. Kamu bisa mempelajarinya lewat situs web real estate, melalui agen properti, atau yang lainnya. Dengan begitu, kita bisa memperhitungkan harga yang wajar sebelum membeli rumah.


4. Perhatikan Lokasi yang Kamu Inginkan

Rumah yang besar, bagus, dan mewah tidak berarti akan semakin naik harganya jika berada di lokasi yang tidak tepat. Contohnya, rumah-rumah yang jadi langganan banjir. Meskipun kondisi perumahannya termasuk mewah, tapi karena lokasinya jadi langganan banjir, akhirnya banyak yang memutuskan menjual murah rumah tersebut, bahkan tak jarang rumah-rumah di lokasi itu kosong karena ditinggal begitu saja oleh pemiliknya.


Rumah yang akan kita beli mesti punya kemudahan akses ke mana-mana. Apakah lokasinya juga dekat dengan tempat kerja atau sekolah anak-anak kita?


Membeli rumah merupakan keputusan besar yang bisa dijadikan investasi jangka panjang. Butuh diperhitungkan dengan matang dan jangan terburu-buru. Jika kurang percaya diri, kita bisa menggunakan jasa profesional untuk membantu memprosesnya. Tujuan membeli rumah yang jelas, juga budget yang sesuai akan membantu memudahkan rencana kita.


Rumah yang nyaman bukanlah rumah yang paling mewah, tapi yang sesuai dengan kebutuhan serta budget kita. Setelah punya rumah, kebutuhan lain pun mesti dipenuhi. Karenanya, perhitungkan betul-betul sebelum membelinya.


Salam hangat,

Wednesday, July 26, 2023

Kok, Bisa Anak Kecil Suka Membaca?

Kok, Bisa Anak Kecil Suka Membaca?
Photo by Josh Applegate on Unsplash


Pertanyaan itulah yang kerap dilemparkan pada saya sebagai orang tua. Kok, bisa anaknya suka baca begitu? Bacanya sudah lancar, ya?


Bisa jadi karena sebagian besar menganggap si bungsu masih TK kali, ya disebabkan tubuhnya yang mungil? Ketika melihat dia membaca buku, orang-orang pada heran, masih segitu kok, bisa senang sekali membaca buku? Memang bacanya sudah lancar? hehe.


BTW, si adek ini sudah bisa membaca sejak mau masuk SD. Bukan termasuk anak yang diburu-buru supaya bisa lekas baca karena mau SD, tapi memang telah diedukasi sejak dini supaya bisa menyukai dan mencintai buku bahkan sejak dia belum pandai membaca. Proses dia belajar membaca tidak terlalu sulit. Berjalan saja mengikuti kemauannya. Saya mengalami hal yang sama juga pada si Kakak ketika masih kecil. Jika dilihat lagi ke belakang, semua itu bisa jadi disebabkan karena seringnya saya membacakan buku untuk mereka.


Mereka sama-sama suka banget membaca buku. Buku apa saja yang mereka baca di rumah? Saya pribadi selalu berhati-hati ketika memilihkan buku untuk mereka. Ada buku yang kelihatannya cocok buat anak-anak karena bergambar, tapi terkadang bahasanya terlalu kasar dan tidak sesuai dengan usia mereka.


Si Kakak yang sekarang baru masuk SMP misalnya, dia sudah lebih pandai memilih buku mana yang layak untuk dia baca dan adiknya baca. Dia akan bilang buku X nggak sesuai buat adek karena ceritanya bukan untuk anak kecil, semisal dia pernah baca novel anak yang bercerita sedikit tentang perceraian. Buat dia itu nggak sesuai untuk adiknya. So, sampai sekarang adek masih menunggu waktu untuk membaca buku-buku kakaknya yang lain…kwkwk.


Contoh paling mudah dari buku-buku komik pendidikan yang mungkin kurang cocok untuk anak-anak baca semisal ada olokan ‘bodoh’. Untungnya, anak-anak sudah paham kata-kata seperti itu tidak boleh ditiru, tapi mereka juga tahu ada kata-kata itu di muka bumi yang ditinggalinya.


Sama halnya seperti pemberian gadget, memilih buku juga mesti hati-hati. Sesuaikan buku sesuai jenjang usia, supaya anak-anak tidak mudah bosan karena isinya yang terlalu mudah, jangan sampai anak frustasi karena isinya terlalu sulit. Jadi, penting banget memilihkan buku sesuai usia dan kemampuan baca anak, ya. Ada anak yang masih kecil, tapi bacanya sudah lancar. Begitu juga sebaliknya. Ibaratnya kita nggak akan cocok dengan ukuran sepatu orang lain. Sebab, ukuran kaki kita memang berbeda-beda. Mesti menyusuaikan.


Semua Butuh Berlatih

Kok, Bisa Anak Kecil Suka Membaca?
Photo by Picsea on Unsplash


Anak kecil yang selalu bermain gadget, mustahil tiba-tiba suka membaca ketika disodorin buku. Semua butuh berlatih, termasuk kita sebagai orang tua. Kebanyakan orang tua mengeluhkan anaknya yang terlalu sering main gadget. Solusinya, kurangi dan batasi mereka saat memegang gadget. Buatlah kesepakatan bersama dan belajarlah untuk konsisten dalam memberikan aturan pada anak-anak.


Anak-anak yang sudah disiplin, insya Allah tidak akan kesulitan untuk diarahkan. Jika belum waktunya main gadget, dia tidak akan serta merta mengambil diam-diam juga. Jangan lupa berikan kegiatan pengganti, salah satunya bermain bersama orang tua atau teman-temannya.


Jangan sampai kita mengambil ‘barang kesayangannya’ dengan paksa, tapi nggak mau ngasih solusi juga buat mereka. Mereka bisa kesal dan bosan ketika gadget tiba-tiba diambil.


Orang tua butuh berlatih supaya lebih sabar dalam proses yang satu ini, sedangkan anak-anak juga butuh berlatih supaya disiplin dengan aturan yang telah disepakati bersama. Ujiannya, kita kadang nggak sabar ketika anak-anak mulai merengek dan merusuh…kwkwk. Kesabaran emak-emak yang sudah lelah kadang hanya setebal tisu, itu pun dibagi sepuluh…huhu. 


Itulah kenapa saya nggak mau cari masalah dalam hidup *eaaa. Nggak mau coba-coba kasih anak kebebasan pakai gadget karena takut seperti mereka yang malah kesulitan mengendalikan anaknya sendiri. Meskipun ada beberapa smartphone dan tablet yang bisa mereka ambil sesuka hati, tapi mereka tetap akan izin pada saya sebagai kepala suku...kwkwk. Apakah mau membaca buku di ipusnas? Apakah mau googling dan mencari referensi gambar? Apakah mau membuat video? Meski saya bukan ibu yang sempurna apalagi baik, tapi saya bersyukur mereka izin dulu setiap mau meminjam gadget, tidak sembunyi-sembunyi, pun saya tidak pernah menyembunyikannya.


Satu lagi, tidak ada gadget atas nama anak di rumah. Meski si Kakak sudah besar dan kebanyakan temannya punya gadget sendiri, dia tetap hanya boleh pinjam. Titik tanpa koma! Tidak ada batas jika digunakan untuk menghafal Alquran dan murajaah. Karena kebetulan mereka menghafalnya menggunakan aplikasi, ya.


Gimana, agak sulit, ya? Tapi jika kita mau memulainya, satu pesan saya, jangan mau kalah sama anak…kwkwk.


Buku Adalah Benda Istimewa

Kok, Bisa Anak Kecil Suka Membaca?
Photo by Annie Spratt on Unsplash


Apa yang membuat anak suka banget membaca buku? Ke wisuda Kakaknya mesti bawa buku, ambil rapot bawa buku juga, jalan-jalan pun tetap bawa buku. Setiap pergi ke mall, yang dicari toko buku, yang dibeli juga buku. Buku saya jadikan benda istimewa secara tidak langsung dan sepertinya dulu saya tidak menyadarinya juga, ya.


Setiap mereka berhasil melakukan sesuatu atau setelah berusaha, saya menghadiahkan buku. Setiap punya rezeki lebih, saya menawarkan buku, bukan yang lain. Setiap menjelang tidur, saya membiasakan membacakan mereka buku. Setiap hari selama bertahun-tahun sampai akhirnya mereka merasa lebih nyaman membaca sendiri menjelang tidur.


Capek? Mungkin, kebanyakan dari kita sudah terlalu lelah untuk membacakan buku menjelang tidur pada anak-anak. Apalagi setelah aktivitas seharian, tapi percayalah, manfaatnya besar sekali bagi kebiasaan mereka di masa yang akan datang.


Sebelum ramainya read aload, ternyata saya sudah sering membacakan buku secara nyaring sambil ngelawak…kwkwk. Saya nggak tahu bagaimana saya bisa menjadi seperti ini, tapi saya senang melakukannya setiap malam untuk mereka. Bahkan saya ingat betul, si Kakak yang sebenarnya sudah besar dan lancar membaca masih suka mendengarkannya juga.


Saya juga ingat hari Jumat lalu, ketika saya pergi kajian dan si adek menyusul sepulang sekolah. Biasanya, saya membawakan beberapa buku, tapi kali ini saya benar-benar lupa! Alhasil, saya didiamkan…kwkwk. Sampai kajian selesai, dia masih kesal kenapa emaknya lupa? Huhu.


Malamnya saya ajak ngobrol, dia bilang kesal, bukan marah pada saya. Dia bosan karena nggak ada buku yang bisa dibaca. Saya paham, karena buat anak-anak di rumah, membaca buku itu hiburan banget. Nggak peduli buku itu masih baru atau tidak. Anak saya tipe pembaca yang suka mengulang lagi bacaannya meski sebenarnya sudah hafal jalan ceritanya. 


Makanya, setiap mau pergi lama, saya selalu membawakan beberapa buku sekaligus. Seperti ketika mengantre ke dokter gigi, jangan lupa bawa banyak buku ketimbang bawa banyak makanan…hehe.


Teman-teman akan tahu betapa lucunya anak-anak yang sedang cekikikan hanya karena bukunya lucu, mereka yang serius nggak mau pindah tempat hanya karena buku itu baru dibeli dan pengin dibaca sampai habis. Teman-teman bisa membayangkan kegiatan seperti ini menarik sekali untuk diajarkan pada anak-anak.


Buku bukan sembarang benda. Berbeda dengan gadget. Dengan banyak membaca, pengetahuan serta kosa kata anak-anak menjadi luas, imajinasi serta kreativitas mereka makin bagus. Jangan takut, meski nggak sering main gadget, anak-anak saya termasuk yang pandai-pandai saja menggunakan gadget, bikin games sendiri, membantu saya mengedit video animasi, menggambar digital, dan yang lainnya. Asal tetap dibatasi dan dijelaskan alasan kenapa tidak boleh lama-lama main gadget, insya Allah pegang gadget tetap ada nilai positifnya.


Bagaimana buku bisa menjadi benda yang istimewa buat anak-anak kita? Selalu menarik ketika dilihat dan bikin penasaran? Teman-teman bisa share juga pengalamannya, ya!


Anak-Anak Bisa Membaca Buku Apa Saja?

Kok, Bisa Anak Kecil Suka Membaca?
Photo by Michał Parzuchowski on Unsplash


Di awal usianya, kita bisa membacakan picture book pada mereka. Ada banyak penulis buku anak yang bisa saya rekomendasikan, termasuk Mbak Dian Kristiani, Mbak Watiek Ideo, dan Mbak Lia Herliana.


Setelah anak-anak cukup besar, kami mulai memperkenalkan komik. Eits, ini bukan sembarang komik, ya. Ini komik pendidikan. Hanya saja, kebanyakan komik pendidikan terkesan berat bahasanya, juga agak kasar kata-katanya. Sampai akhirnya kami menemukan komik Plant Vs Zombies.


Sejak saat itu, dunia saya berubah…kwkwk. Setiap mau memberikan reward buat anak-anak, saya selalu ditodong mesti membelikan komik Plant…haha. Sampai saat ini sudah ada lebih dari 25 komik Plant tok. Belum yang lain :D


Kebanyakan orang mengira jika anak-anak saya tertarik dengan komik Plant karena menyukai games-nya, tapi itu keliru. Anak-anak hampir tidak pernah bermain games. Saya pikir, jangankan anak-anak, saya saja sebagai orang dewasa sangat menyukai komik satu ini. Dari gaya bahasanya yang ringan, tapi tetap dapat poinnya. Anak-anak jadi tahu banyak hal berkat komik ini. Mana ceritanya kocak, suka bikin ngikik di pojokan…kwkwk.


Untuk usia si Kakak, dia sudah bisa membaca novel anak-anak, termasuk novel Tere Liye, A Fuadi, dan J. K. Rowling. Hanya saja, saat ini dia mesti bersabar dulu karena aturan di pesantren yang melarang membawa buku bacaan sejenis itu. 


Selain buku fiksi, sesekali mereka membaca buku nonfiksi seperti bukunya Jerome Polin dan buku-buku dari Ustadz Felix. Meski untuk usia remaja ke atas, tapi bukunya aman, kok untuk anak-anak. 


Setelah mereka lebih besar, banyak buku yang bisa dibaca di rumah. Memang mesti investasi lumayan untuk membeli buku. Ketika orang-orang membeli perkakas rumah yang glowing atau perhiasan, saya malah membeli buku melulu…hoho. Apalagi ketika anak-anak baca buku barunya nggak sampai sehari, rasanya cepat sekali ya ngabisin uangnya? Haha. Beruntung mereka nggak mudah bosan, sehingga buku-buku lama masih sering dibaca ulang.


Itulah alasan kenapa saya belum menjual komik Plant bekas, ya. Please, yang mau antre jangan berharap dulu…kwkwk.


Semoga postingan sepanjang ini ada manfaatnya selain curhatan semata. Tetap semangat menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita.


Salam hangat,


Thursday, July 20, 2023

Mempersiapkan Anak Masuk Pesantren

Mempersiapkan Anak Masuk Pesantren
Photo by Madrosah Sunnah on Unsplash


Postingan kali ini masih berhubungan dengan postingan sebelumnya yang membahas tentang pendidikan di pesantren. Saya yakin, setiap orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Termasuk juga soal pendidikan. Saya tidak sedang ingin berdebat mengenai mana yang lebih antara sekolah di pesantren atau tidak, ya. Saya hanya mau membahas persiapan, juga sisi positif dari pendidikan di pesantren.


Ditinggal anak ke pesantren itu nggak enak. Kangen sudah pasti, tapi ternyata setelah menghabiskan beberapa hari, melihat kegiatan positif di pesantren yang nggak semua bisa didapat di rumah, ada perasaan lega dan terharu juga.


Waktu masih di rumah, nggak banyak yang disiapkan oleh si Kakak sebelum dia berangkat. Bahasa Arabnya masih standar anak SD, hafalannya nggak dikebut juga, malah cenderung santai karena dia sedang libur sekolah.


Namun, hari-hari sebelumnya saya banyak bercerita tentang kegiatan dan kondisi yang akan dia jalani selama di pesantren. Saya juga membelikan beberapa buku komik tentang kehidupan di pesantren, salah duanya berjudul Pesantren Kereeen! Yang ditulis oleh Mbak Dian K dan Tethy Ezokanzo. Dua penulis favorit saya dan anak-anak, nih.


Dari sini, anak-anak jadi ada bayangan bagaimana kehidupan di pesantren nantinya. Mereka mesti belajar sabar untuk antre kamar mandi, antre ketika mau makan, nggak malas-malasan apalagi buang waktu karena bakal dapat antrean yang lebih banyak dan ujungnya jadi telat ketika mau ke masjid, belajar berbagi dengan banyak teman, mengendalikan diri dan bertanggung jawab dengan dirinya setelah jauh dari orang tua. Kalau dipikir, banyak banget sih pelajaran berharganya dibanding dia ada di rumah terus dan nempel sama emaknya…kwkwk. 


Hanya saja, memang ada banyak hal yang mesti dikorbankan juga, ya. Salah satunya rela nggak baca komik pendidikan dulu, nggak bisa banyak bawa buku bacaan termasuk novel Tere Liye dan Ahmad Fuadi yang jadi favoritnya. Ini paling berasa, sih. Karena selama di rumah, anak-anak sukaa banget baca buku. Ketika bukunya terbatas, otomatis saya harus putar otak dan berusaha mencari gantinya.


Sebelum ke pesantren, si Kakak sempat membawa salah satu buku saya yang berisi kumpulan kisah pilihan dalam Alquran yang super tebal…haha. Karena, dia lebih suka membaca buku-buku yang isinya cerita dibanding nonfiksi.

 

Karena kesulitan mencari buku yang sesuai juga dengan aturan di pesantren dan sesuai dengan usianya, akhirnya beberapa hari lalu saya coba keliling ke toko buku di Senen. Nggak banyak yang didapat, tapi ada beberapa yang bisa dibeli meski lebih cocok buat adeknya…haha.


Mandiri Itu Hal Pasti yang Mesti Dipelajari

Mempersiapkan Anak Masuk Pesantren
Photo by Attareza Naufal on Unsplash


Karena Kakak adalah anak pertama, saya merasa sangat kurang mengajarkan kemandirian untuk dia. Dia juga jarang main dengan anak-anak di luar rumah yang akhirnya membuat dia lebih nyaman jadi anak rumahan…kwkwk. Positifnya, pergaulannya terjaga, tapi jadi kurang mandiri dan lebih nyaman ditemani ketika harus pergi.


Kemandirian ini merupakan hal pasti yang mesti dimiliki oleh anak-anak. Saya berkaca pada diri sendiri yang sampai usia segini masih nggak mau pergi ke mana-mana sendirian…huhu. Dulunya dilarang ke mana-mana tanpa orang tua, gedenya jadi takut mau pergi bahkan meski itu sekadar healing sambil main ke toko buku. Ngga lucu, sih memang, tapi saya tumbuh jadi orang yang lebih nyaman di rumah. Untungnya sekarang bisa belanja online, ya…kwkwk *lega banget :D


Setelah masuk pesantren, ternyata kekhawatiran saya pada si Kakak nggak terbukti juga. Banyak hal yang berubah dengan tiba-tiba. Adaptasinya kayak terlalu kilat. Termasuk urusan makan di mana kalau di rumah, dia senang banget pilih-pilih makan. Ternyata, ketika masuk pesantren, dia bahkan tidak meminta dikirimin kremes ayam atau yang lainnya. Kaget juga dia mau belajar makan menu yang ada di sana. 


Hal lain yang saya lihat, dia bisa lebih santai mengendalikan emosinya, termasuk ketika dia kehilangan barang. Mungkin memang benar, ya. Ketika anak kita lepas, dia jadi bisa hidup serba mandiri, tapi ketika kembali pada kita, dia balik lagi jadi anak-anak yang butuh dibantu semuanya.


Inilah yang memang diinginkan oleh si Kakak ketika masuk pesantren. Supaya bisa jadi anak mandiri. Nggak melulu Buuun, Buuun aja…kwkwk. Kayaknya nangkep kecoa juga jadi jago di sana…haha.


Mempersiapkan Anak Masuk Pesantren

Mempersiapkan Anak Masuk Pesantren
Photo by Madrosah Sunnah on Unsplash


Apa saja yang harus kita siapkan supaya anak-anak siap masuk pesantren?


Hal pertama yang mesti ditanyakan adalah, kenapa anak mau ke pesantren? Apakah karena paksaan orang tua atau kemauan sendiri? Kebanyakan anak yang dipaksa memang nggak akan betah, tapi nggak semua begitu juga. Contohnya saya.


Dulu, saya mau masuk ke MAN, tapi orang tua nggak mengizinkan dan meminta saya masuk pesantren. Agak terpaksa, tapi malah betah. Sesekali bosan ya wajarlah, ya. Nakal sedikit, it’s okay asal jangan banyak-banyak…haha.


Jika anak terpaksa ke pesantren karena kita yang minta, maka cobalah berikan lebih banyak alasan kenapa masuk pesantren itu worth it buat mereka. Saya pun sering berdiskusi soal ini. Si Kakak bukannya sangat suka ke pesantren, tapi dia juga nggak sekeras apa buat nolak. Pelan-pelan, banyak teman sekelasnya yang katanya mau ke pesantren juga. Hal ini yang membuat dia makin mantap dan yakin. Apalagi ada teman sekelas, meski akhirnya nggak bisa satu kelas dan satu asrama, tapi setidaknya dia nggak terlalu asing di sana karena ada orang yang sudah dikenalnya dengan baik.


Bagaimana dengan materi pelajarannya? Sungguh akan sangat berbeda meski si Kakak masuk SDIT sekalipun. Namun, saya percaya mereka bisa beradaptasi pelan-pelan. Sebagai permulaan, wali kelas si Kakak menyampaikan akan mengisi dua bulan pertama full dengan materi Bahasa Arab. Karena bahasa yang aktif dipakai di sana memang Bahasa Arab. Mungkin butuh kesabaran lebih, tapi insya Allah anak-anak bisa mengikuti.


Jauh-jauh hari, jangan ragu untuk berdiskusi tentang pesantren dan apa saja yang akan dijalani oleh mereka di sana nanti. Entah itu rutinitasnya yang akan jauh berbeda dengan di rumah, teman-teman baru, akan tinggal jauh dari orang tua dan bakalan jarang ketemu, dan sebagainya.


Karena pernah mengenyam pendidikan di pesantren, saya jadi sering bercerita tentang banyak hal pada anak-anak. Entah itu kejadian lucu atau yang nggak mau saya ulangi di masa sekarang..kwkwk. Anak-anak juga harus mengerti bahwa kehidupan di sana akan sangat berbeda dengan di rumah, tapi jika mau mengambil sisi positifnya, menyibukkan diri dengan kegiatan yang bermanfaat, insya Allah waktu akan lebih cepat berlalu. Bahkan sejauh pengalaman saya, kalau sudah betah jadi malas mau pulang.


Jangan lupa membiasakan hal-hal baik selama di rumah, termasuk salat yang tidak bolong-bolong, membiasakan murajaah dan hafalan, tidur tidak larut, dan jangan banyak-banyak main gadget. Meski sebenarnya ini juga tetap harus dilakukan walaupun anak nggak akan masuk pesantren, ya.


Selebihnya, banyak-banyaklah berdoa untuk anak-anak kita supaya dimudahkan semua kesulitannya. Karena saya yakin, mereka juga sedang berjuang untuk bertahan di sana, dibetah-betahin supaya tidak banyak mengeluh pada orang tua, dikuat-kuatin supaya bisa bertahan sampai selesai minimal 3 tahun pertama.


Tidak bertemu selama hampir 2 minggu, rasanya masih kangen. Apalagi si Kakak memang sudah sering membantu banyak hal di rumah. Ketika dia masuk pesantren, pasti ada hal yang kurang aja.


Namun, dia sudah berusaha di sana, jangan sampai saya membuat dia jadi ragu. Dia harus tahu semua akan baik-baik saja, insya Allah. Tak ada yang perlu dikhawatirkan berlebihan.


Salam hangat,


Saturday, July 15, 2023

Alasan dan Pertimbangan Orang Tua Menyekolahkan Anak ke Pesantren

Alasan dan Pertimbangan Orang Tua Menyekolahkan Anak ke Pesantren
Photo by sam sul on Unsplash


Nggak ada yang benar-benar mengerti rasanya, kecuali kita yang mengalami semuanya sendiri.


Gimana rasanya ketika anak kita masuk pesantren? Sedikit sharing dari saya sebagai orang tua yang baru ditinggal anak sulung belajar ke pesantren. Sebuah curhatan yang sudah terlalu lelah dipendam sendiri. Sudah capek hari-hari nangis diam-diam di pojokan karena kangen banget sama anak. Apalagi mengingat waktu sebulan sama dengan tiga puluh hari itu nggak sebentar, rasanya pengin dipercepat supaya bisa lekas bertemu.


Dulu, kami sebagai orang tua memang menyarankan si Kakak masuk pesantren setelah lulus SD. Setelah dia masuk kelas 6 dan banyak temannya yang masuk pesantren, pelan-pelan dia juga mau belajar mandiri. Jadi, nggak ada yang memaksa dia mau melanjutkan ke mana. Keputusan diambil bersama dan sesuai dengan keinginannya.


Hampir seminggu dia masuk pesantren, antara masih nggak percaya sama selalu kepikiran gimana dia di sana? Apakah dia makan dengan baik atau malah malas-malasan makan ketika lauknya nggak sesuai selera? Apakah dia tidur dengan cukup? Apakah dia happy di sana bersama teman-teman barunya?


Orang tua selalu serba nggak tegaan, terutama saya sebagai seorang ibu. Padahal di rumah, dia juga tidak dimanja seperti anak sultan. Hanya ketika berpisah, pikiran emaknya jadi serba khawatir. Takut begini dan begitu. Dekat sering rame dan ribut, jauh jadi kangen…Huaaa.


Paling berasa rumah jadi sepi. Si Kakak yang biasa rame sama adeknya, tiba-tiba jadi sunyi. Nggak ada lagi keributan kecil. Lihat tempat tidur dan baju-bajunya jadi bikin kangen. Saya jadi kehilangan asisten yang dengan senang hati selalu bantu nge-print soal-soal adeknya, bantu bikin label nama untuk mapel si adek, bantuin saya ngedit video untuk konten di sosmed, sampai kemarin saya sempat kebingungan karena lupa apa yang diajarkan si Kakak...huhu. Bahkan sambil ngetik cerita ini saja malah jadi mewek sendiri.


Si Kakak, anak sulung yang paling tahu salah dan kurangnya kami sebagai orang tua baru. Dia yang sering mengalah hanya karena sudah jadi Kakak, dia yang tidak banyak minta dan menuntut, tapi diam-diam pengin bahagiain orang tuanya. Dia yang stay cool, kayak orang cuek, tapi sebenarnya baik, hanya saja sedikit kaku. Dia yang nggak punya banyak syarat dan lebih banyak mengiyakan ketika mau masuk pesantren. Tetap kalem sampai detik-detik kepergian kami dari sana.


Kadang, hal kayak gini yang bikin orang tua jadi nelangsa mau meninggalkan anak di pesantren. Malam sebelum keberangkatannya, dia sempat nggak bisa tidur. Terjaga sampai jam 10an malam. Padahal, jam 9 aja biasanya dia sudah tidur selepas membaca buku. 


Malam itu berbeda. Katanya nggak ngantuk, tapi juga nggak kepikiran. Katanya, “Kakak, kan hebat.”


Baiklah, saya percaya dia baik-baik saja, meski ini nggak wajar. Mungkin, dia memikirkan banyak hal, tapi bingung menjelaskan apa yang dia rasakan. Gapapa, semua orang pasti pernah ada dalam kondisi nggak baik-baik saja dalam hidupnya. Bukan hanya dia yang akan belajar beradaptasi, saya juga.


Beberapa hari sebelum dia berangkat, saya sempat nggak tahan dan akhirnya nangis sambil meluk dia. Saya tahu ini nggak baik, tapi saya nggak bisa nahan…huhu. Bahkan meski dia buang muka, pura-pura cuek, saya tetap nggak bisa berhenti nangis…hiks. Cengeng banget emaknya :D


Waktu hari keberangkatan, dia cool amat. Setiap ditanya perasaannya, dia jawab dengan cuek, biasa aja. Harusnya saya happy dong dia begitu. Harusnya, ya. Hanya saja, saya nggak bisa sekuat itu melepas dia secepat ini.


Hampir seharian kami mendampingi Kakak di pesantren, nggak ada yang dia minta. Bahkan ketika ditanya, andai minggu depan boleh jenguk, apa kamu mau Bunda dan Ayah datang? Jawabnya, terserah saja. 


Dan ternyata, dianjurkan sebulan setelah diantar baru boleh dijenguk. Bersyukur anaknya nggak berharap banyak dan minta sering ditengok. Bukan kami nggak sayang dan membiarkan dia sendiri di sana, tapi sejauh pengalaman saya dan ayahnya yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren, memang cara ini bisa membuat anak jadi lebih mudah beradaptasi.


Bayangkan ketika dia sudah belajar beradaptasi dan pelan-pelan melupakan rumahnya, tiba-tiba kita samperin, bikin dia kangen rumah lagi, pengin tidur di kamarnya lagi, dan sebagainya. Apa nggak lebih kasihan?


Sebenarnya kangen, sampai sering nangis malam-malam, tapi saya tahu kami berdua juga sedang belajar beradaptasi, jadi mesti dikuatin. Jangan sampai bikin anak lebih sedih. Asal kondisi dia baik, dia happy, dia aman, nggak ada laporan macam-macam, insya Allah saya bisa tahan sampai sebulan ke depan.


Ada momen paling nyesek, sih waktu antar dia ke pesantren. Yup, ketika saya sudah mau pulang ke rumah. Saya sedih bukan karena dia ikut nangis dan merengek atau apa pun. Dia tenang, benar-benar setenang itu ketika kami berpamitan. Ketika saya sudah masuk mobil dan wajahnya mulai terlihat lebih jauh sambil melambaikan tangan, di situ saya sudah nggak berani noleh lagi. Kemudian suami ingatkan, "Dia santai, kok. Gapapa."


Iya, insya Allah gapapa. Ini hanya sementara waktu.


Alasan Menyekolahkan Anak ke Pesantren

Alasan dan Pertimbangan Orang Tua Menyekolahkan Anak ke Pesantren
Photo by Madrosah Sunnah on Unsplash


Masuk pesantren atau tidak, sebenarnya bukan tentang pendidikan mana yang lebih baik atau tidak. Belajar agama itu kewajiban, tapi nggak melulu bisa ditempuh hanya di pesantren. Saya juga bukan orang tua yang mengharuskan anak ke pesantren hanya karena kami pernah di pesantren. Saya lebih senang keputusan mau belajar di pesantren benar-benar datang dari keinginan dan kesadaran anak sendiri.


Seperti halnya si Kakak, dia sadar betul, tinggal di rumah dan selalu bersama orang tua membuat dia jadi kurang mandiri. Meski setahun terakhir dia belajar banyak hal soal kemandirian dan pekerjaan rumah, tapi dia tahu itu nggak cukup.


Dia tahu, belajar di pesantren berarti berpisah sementara waktu dari orang tua, nggak lagi tidur di kamarnya yang nyaman, harus lebih sabar ketika tinggal bersama banyak santri dengan rutinitas yang sama, nggak bisa banyak me time di rumah sambil baca setumpuk buku-buku komik pendidikannya. Dia tahu itu, tapi dia mau mencoba dan saya bangga, masya Allah.


Alasan ke sekian kenapa kami mau menyekolahkan anak ke pesantren, bukan untuk melepaskan tanggung jawab seperti dikatakan oleh sebagian orang tua, biar nggak ruwet di rumah, biar orang tua nggak repot mendidik anak remajanya. Insya Allah, sampai detik ini kami nggak pernah kepikiran hal itu. Mereka tetap amanah yang Allah berikan kepada kami. Sampai kapan pun, anak-anak adalah tanggung jawab kami.


Sama halnya ketika anak-anak masuk SD, kami nggak melepaskan tanggung jawab mendidik sepenuhnya kepada guru-guru mereka. Saya masih membantu anak-anak belajar mengaji di rumah, mendampingi belajar, membantu murajaah, dll. Saya sadar betul, memang sudah jadi kewajiban kami mendidik mereka, meski saya juga sadar, nggak ada orang tua yang sempurna. Pasti dari sisi kami juga banyak salah dan kurangnya.


Anak-anak butuh belajar ilmu agama lebih dalam. Di mana itu belum mereka dapatkan di rumah. Bukan hanya belajar mengaji, belajar bersosialisasi dengan banyak orang juga perlu. Ketika dia di pesantren, dia akan mendapatkan banyak pengalaman berharga.


Saya sering katakan, jalani saja dulu dan nikmati. Ini mungkin akan jadi pengalaman berharga. Sibukkan diri dengan kegiatan positif. Jangan ragu ikut banyak kegiatan yang kamu suka supaya tidak melulu ingat rumah. Saya yakin, semua itu akan jadi pengalaman berharga yang akan selalu diingat.


Anak Adalah Titipan

Alasan dan Pertimbangan Orang Tua Menyekolahkan Anak ke Pesantren
Photo by Masjid MABA on Unsplash


“Ya, Allah… Anak ini adalah milik-Mu. Dia Hanya diditipkan kepada kami. Dia punya-Mu. Maka tolong, jaga dia ketika kami nggak bisa melihat dan menjaganya secara langsung.”


Ketika mau masuk pesantren, pasti ada rasa khawatir terlebih melihat banyak kisah pilu tentang bullying di beberapa pesantren lainnya. Saya juga nggak bisa pura-pura tidak tahu, sebab saya juga mengikuti beritanya. Apalagi di zaman sekarang, anak SD saja bisa parah banget kalau nge-bully temannya. Naudzubillah.


Saya juga mengkhawatirkan hal yang sama, terutama ketika anak jauh dari pengawasan kami. Hanya saja, mau di mana pun, anak-anak kita nggak akan punya lingkungan yang steril. Teman-temannya dilahirkan dan dibesarkan dari lingkungan berbeda. Hal-hal yang kurang dari pergaulan mereka adalah hal wajar, tapi harapannya, di pesantren bisa lebih aman dan disaring dibandingkan di luar, meski nggak ada jaminan soal itu.


Saya berharap, kebiasaan kami di rumah untuk saling cerita mengenai banyak hal bisa membuat anak lebih terbuka ketika ada sesuatu. Kalaupun nggak betah, dia bisa bilang. Kalaupun ada hal-hal yang begitu berat, semisal tentang pelajaran agama, dia bisa cerita dan kami bisa cari solusinya sama-sama.


Nggak sedikit anak yang kabur dari pesantren karena nggak kuat dengan tekanan dari gurunya yang menuntut terlalu tinggi. Setiap anak ini berbeda kemampuannya. Seperti Kakak, dia nggak terbiasa belajar bahasa Arab yang terlalu sulit. Di sekolah dulu, dia hanya belajar materi sederhana. Waktu dia lihat buku mata pelajarannya di pesantren, dia kaget. Kok gini? Hehe. Gapapa, Bunda sama Ayah juga kaget…kwkwk.


Saya berpesan, kalau nggak mengerti, kamu bisa tanya musrifmu. Kamu bisa belajar dari awal dan saya yakin, nggak semua anak siap juga, kok dengan materi-materi baru seperti itu. Jadi, gapapa :)


Saya merasa, masa di pesantren dulu bukan masa yang melulu indah. Saya sering kebagian piket di tempat sampah *apakah karena saya terlalu rajin? Kwkwk. Ketika musim hujan, pijakan kaki empuk, hangat, dan banyak belatung. Dulu saya happy, lho ngejalaninnya, sedangkan sekarang saya bisa menertawakan semuanya :D


Saya juga punya mimpi jadi penulis ketika ada di pesantren. Qadarallah, banyak kegiatan yang membuat saya makin termotivasi, termasuk ketika bisa berjumpa dengan penulis senior dari Malang, sampai akhirnya saya bisa berjumpa dengan Asma Nadia yang bukunya sering saya baca waktu di pesantren, bisa berkolaborasi dengan Bunda Helvy Tiana Rosa untuk membuat buku anak. Saya tahu, semua ini tidak datang tiba-tiba. Ada doa-doa dari orang tua dan guru-guru saya. Saya tidak berhasil sendirian.


Saya pun berharap, Kakak bisa menikmati waktunya di sana dengan baik dan sebanyak-banyaknya mencari pengalaman berharga untuk bekal hidup, baik di dunia dan akhiratnya. Insya Allah.


Semoga sedikit curhatan ini bisa jadi hiburan juga, ya buat orang tua yang sudah dengan ikhlas melepas anak-anaknya masuk pesantren. Insya Allah, kita bisalah, ya menunggu waktu jenguk sampai bulan depan…kwkwk. *nyari teman :D


Salam hangat,