Top Social

Aktivitas Menulis Semakin Mudah dan Nyaman dengan Seri ASUS ZenBook Terbaru, Laptop Premium Paling Tipis dan Ringkas di Kelasnya!


Saya mulai suka menulis sejak masuk SMA. Awalnya sih karena suka membaca cerpen-cerpen di mading pesantren yang terbit setiap awal bulan. Ternyata, saya tak hanya sekadar suka membaca cerpen-cerpen di mading dan majalah jadul di perpustakaan saja, saya pun ingin menjadi penulis yang bisa menuliskan cerita yang sama menariknya dengan apa yang pernah saya baca sebelumnya.

Mimpi itu memang tidak mudah diwujudkan. Apalagi saat itu, jangankan punya smartphone, menulis pakai komputer tabung jadul saja susahnya minta ampun. Tapi, tidak ingin menyerah oleh keadaan, saya pun tetap menulis meski hanya dengan pulpen dan buku tulis.

Belakangan saya pun berpikir, selain memiliki ide menarik dan keinginan kuat menulis sebuah naskah utuh, seorang penulis juga butuh fasilitas untuk menulis buku, salah satunya adalah laptop. Untuk saat ini, hampir semua orang sudah punya laptop, termasuk saya pribadi.

Tapi, ternyata memilih laptop yang tepat tidaklah mudah. Sebagai seorang perempuan, saya lebih suka laptop yang tipis. Tapi, yang tipis saja rupanya tidak berarti ringkas dan mudah diselipkan ke dalam ransel. Padahal, tipis dan ringkas merupakan kriteria laptop idaman saya karena memang aktivitas sebagai seorang ibu mengharuskan saya membawa banyak barang ke mana pun saya pergi.

Kebanyakan laptop yang ada, meskipun tipis, tetapi memiliki dimensi yang cukup besar. Hal ini disebabkan karena layar laptop yang memiliki desain dengan bezel lebar sehingga membuat body-nya pun ikut melebar. Nah, di sinilah masalahnya. Pada akhirnya tetap saja butuh space yang luas untuk membawanya.

Jika kerjanya hanya di rumah sih nggak masalah, ya. Sayangnya, kadang saya pribadi harus pergi keluar kota, liburan ke kampung halaman yang membutuhkan waktu beberapa minggu. Mau nggak mau saya tetap harus membawa laptop meskipun jujur saja itu sangat merepotkan karena ukuran laptop yang besar dan sangat berat.

ASUS hadirkan ZenBook UX333, UX433, dan UX533, laptop ultra tipis dan paling ringkas di kelasnya!

Tapi, itu sih dulu, ya. Sekarang saya sudah nggak khawatir lagi jika harus bepergian cukup lama, sedangkan deadline menumpuk, saya masih bisa tetap menulis meskipun tidak selalu di rumah. Karena, sekarang ASUS telah menghadirkan seri ZenBook Classic terbaru yaitu UX333, UX433, dan UX533 yang sangat tipis dan juga ringkas sehingga sangat mudah diselipkan ke dalam ransel kesayangan saya.

Seolah sangat paham dengan kebutuhan orang-orang di zaman milenial seperti sekarang, ASUS yang merupakan produsen laptop terkemuka berupaya mengembangkan berbagai cara supaya bisa menciptakan laptop yang tidak hanya tipis, tetapi juga ringkas dan mudah dibawa terutama oleh kamu yang nggak mau repot seperti saya. Yap! Bayangkan saja, body laptop yang ditawarkan oleh ASUS kali ini ukurannya bahkan lebih kecil daripada kertas A4, lho.

Melalui teknologi eksklusif NanoEdge Display, ASUS membuat bezel empat sisi layar laptop menjadi ukuran yang kamu inginkan yakni 2,8 milimeter hingga 5,9 milimeter saja, lho. Ukuran ini jauh lebih kecil daripada laptop konvensional yang biasa saya pakai yang bezelnya bisa mencapai 20 milimeter.

Meskipun terbilang sangat tipis dan juga ringkas, tetapi berkat teknologi NanoEdge Display, laptop seri ZenBook Classic ini memiliki screen-to-body ratio hingga 92%. Kamu tetap bisa memakai laptop dengan layar yang sangat lega dan hampir tanpa batas sehingga dapat meminimalisir penggunaan rangka. Kebayang betapa nyamannya menulis buku atau bahkan ngeblog dengan layar selega itu?

Kenapa ZenBook Classic ini bisa jadi pilihan yang paling tepat buat kamu yang ingin merasakan bekerja dengan lebih leluasa? Karena layar pada tipe ZenBook Classic terbaru ini mengusung resolusi Full HD (1920x1080 pixel) dengan tingkat reproduksi warna yang cukup tinggi yakni mencapai 100% dalam color space sRGB.

Lebih istimewanya lagi, layar tersebut memiliki viewing angel yang sangat lebar hingga mencapai 178 derajat. Wow banget, kan? Nggak hanya itu, ASUS juga ingin pengalaman visual kamu semakin berkesan, sehingga ASUS pun melengkapi ZenBook Classic terbarunya dengan teknologi visual eksklusif seperti ASUS Splendid serta ASUS Tru2Life. Kedua teknologi visual ini tentu saja akan menyempurnakan pengalaman visual kamu.

ASUS hadirkan ZenBook tipis dan paling ringkas untuk segmen 13 inci, 14 inci, dan 15 inci


Apa sih pembeda yang bisa kamu temukan dari ketiga jenis laptop ZenBook Classic terbaru dari ASUS ini? Selain memiliki kesamaan yakni telah diperkuat oleh prosesor terbaru dari Intel Core generasi ke-8, baik Core i5 dan Core i7, satu hal yang jadi pembeda di antara ketiganya adalah terletak pada ukurannya. ZenBook UX333 mengusung layar 13 inci, sedangkan UX433 mengusung layar  14 inci. Keduanya pun telah dilengkapi dengan fitur unik NumberPad yang merupakan tombol numpad yang terintegrasi dengan touchpad.

Nah, untuk ZenBook UX533 mengusung layar 15 inci yang dilengkapi dengan tombol numpad fisik. Jadi, kamu bisa pilih mana yang paling sesuai dengan kebutuhan kamu karena pilihan yang ditawarkan cukup beragam dan pastinya semua akan memberikan pengalaman yang tak akan terlupakan.

Teknologi ErgoLift Design membuat ZenBook Classic terbaru ini semakin ergonomis dan sangat nyaman untuk mengetik


Salah satu yang paling penting bagi penulis ketika hendak memilih laptop untuk membantu aktivitas menulis supaya berjalan dengan baik adalah dengan memilih laptop yang nyaman digunakan untuk mengetik. Karena mengetik memang menjadi suatu pekerjaan yang paling dominan bagi kamu yang berprofesi sebagai seorang penulis. Nggak ada yang lebih menyenangkan selain memiliki laptop yang bisa meringankan pekerjaan kamu, kan?

Nah, seri ZenBook Classic ini pun rupanya tidak hanya disertai dengan teknologi NanoEdge Display saja, lho. ASUS juga melengkapi laptop terbarunya dengan teknologi ErgoLift Design yang dapat membuat body ketiga ZenBook Classic terbarunya terangkat dan membentuk sudut 3 derajat. Karena posisi itulah, ZenBook Classic terbaru ini pun menjadi semakin ergonomis dan sangat nyaman digunakan untuk mengetik terutama buat kamu yang berprofesi sebagai penulis.

Keuntungan lain dari teknologi ErgoLift Design ini adalah adanya rongga ekstra di bawah body sehingga membuat sirkulasi udara semakin lancar dan audio yang dimilikinya menjadi jauh lebih baik untuk dinikmati.

Karena jika aktivitas mengetik terganggu, naskah-naskah yang memiliki deadline mepet pun akan gagal diselesaikan. Karena itulah, memang tak salah jika saya memilih salah satu di antara ketiga ZenBook Classic terbaru dari ASUS ini, ya!

ASUS hadirkan full-size backlit keyboard untuk pengalaman mengetik yang lebih nyaman dan menyenangkan


Supaya kegiatan mengetik kamu semakin mudah dan menyenangkan, ASUS pun menghadirkan full-size backlit keyboard khusus agar pengalaman mengetik kamu semakin nyaman. Udah kebayang nggak sih ngetik naskah tengah malam dengan mata mengantuk pula? Semua itu bisa jadi lebih mudah jika keyboard laptop yang digunakan tetap nyaman, ya.

Keyboard ZenBook Classic terbaru akan semakin nyaman saat ditekan karena adanya key travel sejauh 1,4 milimeter. Kamu benar-benar akan dimanjakan banget dengan adanya seri ZenBook Classic ini.

Buat kamu yang sering merasa khawatir tidak bisa mengetik dalam keadaan gelap, dengan ZenBook Classic terbaru dari ASUS ini kamu nggak perlu lagi khawatir mengetik tengah malam sekalipun karena jajaran ZenBook Classic ini telah dilengkapi juga dengan LED backlit yang memudahkan kamu mengetik meski dalam keadaan gelap.

Spesifikasi ZenBook Classic dapat  disandingkan dengan laptop premium yang ukurannya jauh lebih besar


Inilah yang dinamakan kecil-kecil cabai rawit, ya! Meskipun tipis dan ringkas, bahkan termasuk kecil dibandingkan laptop premium sekelasnya, tetapi ZenBook Classic ini punya spesifikasi yang tak kalah performanya dengan laptop premium yang ukurannya bahkan jauh lebih besar.

Selain telah diperkuat oleh Intel Core generasi ke-8, ZenBook Classic ini juga telah disematkan discrete GPU NVIDIA yang membuat ZenBook terbaru ini semakin powerful saja dalam performa grafisnya.

Untuk ZenBook UX533, ASUS menyematkan GPU NVIDIA GeForce GTX 1050 Max-Q yang bisa membantu menjalankan berbagai macam aplikasi yang butuh performa grafis ekstra semisal video editor. Atau jika kamu suka bermain game, GTX 1050 ini juga bisa membantu kamu menjalankan berbagai macam game favorit kamu. Seru banget, ya!

Nggak kalah kece dan kerennya, khusus untuk ZenBook Classic UX333 dan UX433, ASUS menyematkan GPU NVIDIA MX150 yang benar-benar bisa diandalkan untuk menemanimu bekerja seharian. Bahkan dengan GPU inilah, kedua ZenBook Classic terbaru ini menjadi lebih hemat daya sehingga bisa menemani kamu bekerja atau bahkan sekadar mencari hiburan hingga seharian.

Dengan adanya NVMe SSD sebesar 512MG pada jajaran ZenBook Classic terbaru membuat kecepatannya semakin maksimal bahkan lebih cepat dibandingkan dengan  SSD SATA standar pada umumnya. Kamu pun nggak perlu khawatir lagi, dengan RAM berkapasitas hingga 16GB, ZenBook Classic terbaru dari ASUS ini pastinya bisa menemani segala aktivitas menulis kamu sehari-hari. Bahkan saat deadline menumpuk pun, kamu masih bisa merasa lega dan jauh lebih tenang.

Sistem keamanan ekstra dengan konektivitas lengkap


Selama ini saya juga sering khawatir mengenai keamanan dari laptop yang saya miliki. Maunya sih punya laptop yang canggih sehingga bisa lebih aman meski selalu dibawa ke mana-mana. Sayangnya, sampai detik ini pun saya pribadi belum menemukan yang sesuai kecuali setelah mengetahui seri ZenBook Classic terbaru dari ASUS ini.

Keamanan yang dibekali pada jajaran ZenBook Classic terbaru ini rupanya menggunakan face recognition atau sistem pengenal wajah yang terintegrasi dengan Windows Hello. Fitur ini memungkinkan kamu masuk ke dalam sistem tanpa perlu repot memasukkan pin atau password, lho.

Jadi, buat yang pelupa dengan pin sendiri, apalagi yang sudah emak-emak seperti saya yang mulai rawan pelupa, jajaran laptop dari ASUS ini benar-benar bisa jadi pilihan terbaik deh. Jangan sampai aktivitas menulismu jadi terhambat hanya karena kamu lupa pin atau password kamu sendiri, ya. Kan jadi ngeselin banget jika sampai itu terjadi.

Untuk menjaga keamanan, ketiga ZenBook Classic ini menggunakan kamera infra merah yang bisa memindai wajah penggunanya dengan akurat. Jadi, nggak bakalan bisa salah orang, ya!

Lalu gimana kalau laptop kamu nggak bisa mengenali wajah kamu yang memakai topi atau kacamata, sedangkan sebelumnya kamu nggak menggunakan itu? Rupanya, dengan kamera dari ZenBook Classic terbaru ini tetap bisa mengenali wajah seseorang meskipun dengan memakai aksesori juga, lho. Jadi, semakin yakin ya kalau seri terbaru dari ASUS ini nggak bakalan salah orang dan pastinya sangat aman.

Memiliki fitur konektivitas yang lengkap


Selain menjamin sistem keamanan yang sangat canggih, jajaran ZenBook Classic ini juga dilengkapi dengan fitur konektivitas yang lengkap dengan mengandalkan dual-band WiFi 802.11ac (2x2) untuk kenektivitas lebih cepat dan tentu saja stabil.

Buat kamu yang suka mengirimkan hasil ilustrasi seperti saya dari tablet ke laptop, jangan khawatir, karena ZenBook Classic terbaru ini juga dilengkapi dengan Bluetooth 5.0 yang bisa kamu gunakan untuk menghubungkan berbagai macam perangkat eksternal lainnya.

Selain itu, untuk konektivitas melalui kabel, kamu bisa menggunakan serangkaian port mulai dari USB Type-A dan Type-C, HDMI, serta combo-audio jack untuk kebutuhan data, audio, dan video kamu

Seri ZenBook Classic dari ASUS ini terbukti lebih elegan dan kokoh


Seri ASUS ZenBook Classic terbaru kali ini tidak hanya canggih, tetapi juga sangat elegan berkat bezel-nya sangat tipis. Tentunya ini juga menjadi kelebihan tersendiri buat saya yang sedang mencari-cari lalptop yang tepat untuk membantu aktivitas menulis menjadi semakin mudah dan nyaman pastinya.

Tidak hanya tampil lebih elegan, seri ZenBook Classic terbaru ini juga tampil dengan body lebih kokoh daripada sebelumnya, lho. Yang lebih amazing lagi, rupanya seri ZenBook ini juga telah mengantongi sertifkasi standar militer MIL-STD-810G. Ketiganya telah lolos melalui pengujian ekstrem mulai dari uji suhu dan kelembapan, uji getaran, uji ketinggian, hingga uji banting sekalipun.

Berat ASUS seri ZenBook Classic


Eits, jangan bayangin yang serem-serem deh pada seri ASUS kali ini. Sebab ketiga laptop canggih ini kayaknya nggak bakalan bikin bahu kamu sakit karena terlalu berat saat menggendongnya di dalam ransel.

Untuk seri UX333 dan UX433 rupanya hanya memiliki berat 1,19 kg dengan baterainya, lho. Sedangkan untuk seri UX533 juga memiliki berat yang nggak berbeda jauh yakni hanya 1,67 kg dengan baterai. Asyik banget nggak bikin tas jebol deh!

Pilihan warna seri ZenBook Classic terbaru dari ASUS


Saya yakin, bagi seorang perempuan, memilih laptop itu nggak bisa hanya sekadar canggih dan keren saja, laptop yang dipilih pun harus memiliki warna favorit kamu juga, kan? Yup! Biar seragam nih sama tas, bahkan kembaran warna dengan beberapa aksesori yang selalu kamu bawa pergi.

Nah, kali ini ASUS pada seri ZenBook-nya telah memberikan beberapa pilihan warna yang begitu menarik dan tentu saja sangat elegan. Kamu bisa memilih warna Royal Blue yang memiliki kesan mewah serta premium. Ada juga Icicle Silver yang hadir dengan kesan unik dan elegan.

Buat kamu pencinta warna merah, jangan khawatir, kabarnya ASUS seri ZenBook ini juga akan hadir dalam warna Burgundy red untuk  ZenBook 13 UX333, lho.

So, kamu bakal pilih warna apa nih untuk calon laptop kesayangan kamu nanti? Pasti bakalan bingung dengan ketiga warna yang sangat menggoda ini, ya?
  
Nah, itu dia beberapa kelebihan dari seri ZenBook yang bisa kamu lihat dan pertimbangkan. Kira-kira, kamu akan pilih ZenBook yang mana nih untuk menemani aktivitas menulis kamu sehari-hari serta tetap ringkas ketika dibawa pergi? Saya sih mupeng ketiganya karena seri ASUS kali ini memang benar-benar sempurna untuk perempuan yang berprofesi sebagai penulis seperti saya. Bagaimana dengan kamu?

Salam,

DBD Mengintai di Musim Hujan, Waspada dan Kenali Tanda-tandanya

Foto: Koleksi Pribadi

Musim hujan sudah tiba sejak beberapa bulan yang lalu. Tapi, cuaca kadang tidak menentu, sekarang panas, besok hujan lebat. Bahkan kemarin-kemarin musim hujan seolah enyah begitu saja tanpa pamit, ya.

Di Jakarta, seminggu terakhir hujan mulai mengguyur ibu kota. Kalau sudah musim hujan begini, penyakit yang disebabkan virus seperti common cold gampang banget muncul terutama pada anak-anak. Selain common cold, DBD atau Demam Berdarah Dengue juga ikut mewabah tanpa disadari.

Sebenarnya penyebabnya apa sih? Seperti yang kamu tahu, penyebab DBD ini sebenarnya hanyalah virus. Sayangnya, virus dari Demam Berdarah Dengue tentu berbeda dengan virus penyebab common cold. Nah, supaya kamu lebih paham dan bisa lebih waspada akan penyakit ini, kamu bisa simak ulasannya, ya!

Apa sih Demam Berdarah Dengue itu?
DBD atau Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk. Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit menular yang dulunya biasa disebut break-bone yang disertai dengan nyeri otot sehingga membuat tulang terasa sakit seperti retak.

Demam Berdarah Dengue ini bisa ringan saja atau justru parah. Demam Berdarah Dengue ringan biasanya disertai demam tinggi, nyeri sendi, dan ruam. Walaupun ringan, tetapi tentu saja sakitnya nggak main-main. Itulah yang dialami oleh si sulung yang saat itu berusia 3 tahun. Pada fase demam, bahkan ngangkat tangan saja nggak kuat saking lemasnya. Ngeri sih ngebayangin lagi kejadian itu.

Sedangkan untuk Demam Berdarah Dengue berat atau parah biasanya disertai juga dengan perdarahan hingga kematian. Itulah kenapa jika terkena DBD mau nggak mau memang harus dirawat. Ketika dirawat, ambil darah sehari dua kali. Sampai jari-jari anak saya luka semua karena terlalu sering ambil darah. But, it’s oke. Memang itu cara terbaik yang bisa kami usahakan untuk kesembuhannya. Bukan sesuatu yang berlebihan karena cek trombosit itu penting. Sejak dia dirawat, saya berusaha meminta dokter untuk tetap RUM (Rational use of medicine). Jangan sampai karena panik, anak jadi minum obat-obatan yang nggak perlu seperti antibiotik. Kenapa nggak? Karena DBD penyebabnya bukan bakteri, sehingga minum antibiotik justru akan membuat bakteri baik di dalam tubuhnya mati semua. Rugi banget, kan?

Apa penyebab Demam Berdarah Dengue?

Foto: Pexels.com
Seperti dijelaskan sebelumnya, Demam Berdarah Dengue disebabkan oleh virus yang dibawa oleh nyamuk.Virus ini disebarkan lewat gigitan nyamuk. Perlu diwaspadai juga jangan sampai ada genangan air terutama di saat musim hujan seperti sekarang ini. Karena genangan air yang dibiarkan akan menjadi tempat paling nyaman untuk perkembangbiakan jentik penyebab DBD.

Kalau ada batok kelapa di belakang rumah, coba cek dan buang airnya. Letakkan dalam posisi tengkurap. Kenapa contohnya harus batok kelapa? Karena di kampung tepatnya di rumah ibu banyak banget batok kelapa dibiarkan menampung air. Selain itu, bak mandi harus dikuras rutin supaya nggak ada jentik yang hidup. Saya pribadi sudah pensiun aja pakai bak, karena belum seminggu jentik sudah banyak. Ngeri aja jangan sampai lengah. Jadi, mandi cukup pakai shower saja.



Kalau dulu, si sulung kena DBD nggak di rumah, tetapi di rumah Budhe saya, ketika itu kami memang sering ke sana. Kok tahu bukan di rumah? Karena nggak lama kemudian Pakdhe saya kena DBD juga. Dan di sekitar sana ada beberapa orang juga yang kena.

Virus dengue ini juga ada beberapa macam jenisnya. Termasuk di antaranya adalah virus DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Nyamuk pembawa beberapa jenis virus ini masuk ke dalam famili Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini bisa membawa virus penyebab Demam Berdarah Dengue kepada orang dengan gigitannya hingga mampu mentransfer darah orang yang terkena infeksi kepada orang lain. Ngeri banget, ya!

3 fase Demam Berdarah Dengue yang wajib kamu tahu
Ketika seseorang terkena Demam Berdarah Dengue, pasien itu akan mengalami 3 fase yang harus diwaspadai oleh orang-orang di sekitarnya. Hal ini bisa kamu ketahui supaya bisa lebih berhati-hati lagi terutama di musim hujan seperti sekarang di mana sudah banyak sekali orang terkena Demam Berdarah Dengue dan bisa jadi nggak semua dari mereka paham gejala dan ketiga fase yang akan dialami.

1. Fase demam
Fase demam pada Demam Berdarah Dengue sebenarnya bisa dibedakan dengan demam-demam biasa pada umumnya. Untuk demam pada DBD biasanya terjadi tiba-tiba dengan suhu yang tinggi seperti hingga 40’C, mual hebat, dan pasti manteng tinggi serta lemas parah.

Demam ini tentu saja tidak disertai dengan gejala penyakit yang disebabkan oleh virus biasa seperti common cold atau batuk dan pilek. Ya, pastikan nggak ada batuk dan pilek jika memang mencurigai seseorang terkena Demam Berdarah Dengue. Lagipula, demam karena virus batuk pilek (ISPA) bisa naik turun dan terjadi selama 1-2 minggu.

Jadi, kalau anak mengalami demam naik turun dalam waktu cukup lama misal hingga 2 minggu, bisa dipastikan itu bukan Demam Berdarah Dengue. Lalu buat orang awam mungkin bisa jadi susah membedakan, apalagi kadang nggak semua orang juga punya pengukur suhu di rumah sehingga nggak tahu pola demam naik turunnya seperti apa.

Ada baiknya jika seseorang mengalami demam, segera bawa ke dokter jika demam masih berlangsung setelah 72 jam dalam kondisi demam tinggi dan lemas. Pastikan selama di rumah tidak ada tanda gawat darurat seperti kekurangan cairan atau dehidrasi, kejang, sesak napas, dan  kesadaran menurun.

Kenapa harus menunggu selama 72 jam baru dibawa ke dokter? Kenapa nggak lekas-lekas saja supaya bisa segera ditangani? Karena diagnosis dari Demam Berdarah Dengue biasanya susah dilihat sebelum 72 jam. Pada akhirnya penderita Demam Berdarah Dengue harus melakukan cek darah ulang atau malah terlambat ditangani karena sejak awal merasa tidak terkena DBD.

Pemeriksaan lab yang dilihat dari cek darah untuk menentukan seseorang terkena DBD atau tidak adalah penurunan jumlah trombositnya. Paling sering seseorang dicurigai kena DBD karena jumlah trombosit menurun. Padahal, sakit biasa pun trombosit juga bisa turun.

Dan inilah yang terjadi pada pasien anak yang sekamar dengan si sulung dulu. Saya membawa si sulung ke rumah sakit dan langsung cek darah setelah demamnya berlangsung selama 72 jam. Dan ketahuan trombositnya memang menurun. Langsung diminta rawat inap. Jujur saja, saya nggak pernah mau anak rawat inap kalau memang tidak ada indikasi serius. Seperti waktu dia kena kejang demam, saya gigih nolak nggak mau rawat karena memang kondisinya sadar dan mau minum. Nah, saat dokter anak mengatakan harus rawat inap, saya sudah ketakutan duluan nih, takut dokternya nggak RUM aja. Dokter anak yang bukan langganan saya pun mengerti dengan gelagat saya dan mengatakan, jika pun dirawat anak saya hanya perlu infus cairan sebab DBD memang sebabnya virus, nggak ada obat-obat khusus yang terbukti bisa menaikkan trombosit.

Selain dari trombosit menurun yang ketahuan lewat cek darah tersebut, di rumah saya sudah memeriksa anggota badan di sulung yang mulai ruam. Paling kelihatan di bagian kakinya. Anaknya pun lemas bukan main, demam manteng tinggi bahkan pada demam hari pertama dia sempat kejang demam.

Drama banget waktu itu, sedih, nggak tahu mau ngomong apa, sedangkan si sulung hanya diam saking lemasnya. Mau infus saya nangis, bahkan belum masuk ruang rawat saja saya sudah nangis di depan pintu…kwkwk. Belum lagi rumah sakit penuh. Pesan kamar VIP juga penuh waktu itu. Jadi, dapat kamar kelas 1 yang ternyata sebelahnya kosong tapi ada pasiennya. Kan, jadi bertanya siapa di sebelah dan sakit apa?

Ternyata pasien di sebelah kami adalah anak-anak juga yang sama-sama terkena demam berdarah dengue. Hanya saja dia kondisinya lebih parah sehingga harus dibawa ke ICU selama beberapa hari. Ketika dia boleh keluar dari ICU dan kembali ke kamar rawat biasa, saya lihat dia dipasang selang di mana-mana. Hiks. Sedih dan takut ingat anak sendiri yang sebenarnya Alhamdulillah kondisinya semakin membaik meski ada fase yang memang bikin ngeri.

Setelah ngobrol dengan orang tua pasien di sebelah kami, tahulah saya kenapa dia sampai terlambat ditangani. Orang tuanya pun bercerita.

“Ketika demam hari pertama, kami membawa anak kami ke rumah sakit dan langsung cek darah. Katanya semua normal dan kami boleh pulang. Jadi, selama di rumah tentu saja merasa lebih santai karena tahu kalau anak kami tidak terkena DBD. Tapi, kondisinya semakin memburuk sehingga baru dibawa ke rumah sakit pada fase kritis. Sudah terlembat. Ketika sampai di rumah sakit, kondisinya sudah memburuk sehingga harus dirawat di ICU. Mungkin rumah sakit yang pertama kurang bagus sehingga tidak tahu kalau anak saya kena DBD.” katanya. 

Itulah sebabnya kenapa kita juga nggak boleh buru-buru membawa anak ke doker saat demam kecuali ada tanda gawat darurat. Hal seperti itu justru merugikan kita sendiri dan sungguh kasihan anak-anak yang akan trauma jika harus cek darah bolak balik di rumah sakit. Bukan karena rumah sakitnya yang kurang bagus, tetapi waktunya yang kurang tepat.

2. Fase kritis
Nah, seperti saya jelaskan sebelumnya, fase kritis pada Demam Berdarah Dengue ini sering membuat orang terkecoh. Fase kritis ditandai dengan demam yang mulai turun hingga 37’C bahkan hingga suhu normal. Hal ini justru sangat berbahaya jika tidak segera ditangani. Karena itu, bawalah anak yang demam tanpa gejala seperti batuk, pilek, diare pada waktu yang tepat. Jangan terlalu cepat, jangan pula terlambat sebab fase kritis hanya berlangsung tidak lebih dari 24-38 jam saja.

3. Fase penyembuhan
Pada fase ini pasien DBD sudah merasa lebih baik dan tinggal menunggu pulih. Trombosit pun mulai naik lagi. Makan sudah enak, badan sudah tidak nyeri dan lemas. Jika anak-anak, biasanya mereka sudah mau bangun dan bermain lagi.

Pada musim hujan seperti sekarang, pasien DBD semakin meningkat. Entah yang benar-benar terkena DBD atau yang salah diagnosis seperti karena penurunan jumlah trombosit yang sebenarnya masih bisa dikatakan wajar.

Akhir-akhir ini, banyak juga pasien yang mengeluhkan demam tinggi padahal penyebabnya hanya virus batuk dan pilek saja. lalu gimana sih membedakannya? Seperti kemarin yang dialami oleh Dhigdaya, bungsu saya yang demam hingga 39.9’C?

Untuk demam biasa, meskipun tinggi, biasanya ketika demam turun, anak aktif lagi. Jika seperti ini, sebenarnya orang tua nggak perlu khawatir asalkan bisa dipastikan kebutuhan cairannya terpenuhi. Hari ini demam, besok sampai siang turun, malam demam lagi, insya Allah ini bukan tanda dari DBD. Bahkan anak-anak saya sudah beberapa kali demam tinggi hanya pada malam hari saja dan berlangsung lebih dari seminggu.

Tingginya demam tidak selalu menunjukkan bahwa penyakitnya berat. Pastikan saja anak tidak dehidrasi, tidak sesak napas, atau menurun kesadarannya. Sakit itu memang nggak enak, tetapi lebih nggak enak lagi jika harus minum obat atau rawat inap tanpa diagnosis yang benar.

#Day19 #ODOP #Estrilookcommunity

Salam,

Cinta Kamu dan Dia



Rayna
“Kenapa aku harus jatuh hati padamu di saat bersamaan aku mulai mengenal-Nya?”
Ini hari pertama aku tiba di pesantren yang menurut Bokap, ini adalah tempat paling baik buat bocah urakan seperti aku. Namaku Rayna. Kamu bisa bayangkan, anak paling populer di SMA Negeri 1 Jakarta harus dipaksa pindah ke pesantren yang letaknya pun jauh banget dari sudut kota. Ini bukan lagi Jakarta di mana kamu bisa nongkrong dengan santai di kafe favorit kamu. Ini pesantren yang letaknya di pelosok, bahkan bisa jadi nggak banyak makhluk bumi yang tahu keberadaannya.

Aku datang dengan menenteng tas jinjing berisi segala keperluan. Semalam aku sudah mengemasi barang-barang, termasuk smartphone juga sih. Tapi, apa kata Bokap?

“Ngapain ke pesantren bawa smartphone? Kamu mau belajar agama apa main game?”

What? Jadi nanti di pesantren aku ngapain aja nih? Nggak ada musik, nggak ada smartphone juga? Apa kabar teman-temanku di Jakarta yang sedang asyik nongkrong di kafe setiap weekend. Aku sedih banget! Dan juga kesal pada Bokap. Ngapain sih bawa aku ke pesantren? Toh di kota aku nggak nakal-nakal amat. Nggak pernah minum alkohol, nggak juga ke diskotek setiap malam Minggu. Nggak pernah! Aku tahu cara menjaga diri, nggak sembarangan juga jalan sama cowok. Hanya karena kemarin aku bolos tiga hari karena mengikuti keinginan Rachel nginep di Puncak, dan oke aku bohong sih sama Bokap dan bilang kami ada kegiatan dari sekolah. Dan ujung-ujungnya saat Bokap tahu, tanpa tanya ini dan itu, Bokap langsung bawa aku ke sini.

Rasanya asing banget! Bokap masih mengurus pendaftaranku di pesantren sekaligus aku harus pindah sekolah juga. Menurut informasi yang aku dapat dari Bokap waktu di perjalanan barusan, sekolah formal di sini ternyata nggak beda jauh dengan sekolah di kota. Bedanya cuma satu, cowok sekolahnya pagi, sedangkan cewek masuk sekolah formalnya siang hari. Ya, buat aku nggak masalah sih. Selama ini aku juga nggak terlalu peduli kalau soal itu.

“Jadi, jangan harap kamu bisa naksir apalagi pacaran di sini, ya. Nggak ada kesempatan buat melirik cowok, Ray! Kamu harus fokus belajar agama di sini.” Tegur Nyokap.

Tapi, aku nggak bisa terima juga sih, “Kalau nggak ada cowok, ustadznya juga boleh sih, Mah.”

Sontak Nyokap melotot sambil meninggalkan bekas cubitan berupa lebam membiru di lenganku. Ish, aku hanya bercanda, kenapa harus dibuat serius, sih. Lagian sejak kapan aku jatuh hati sama seseorang? Perasaan nggak pernah. Eh, pernah sih waktu masih SMP, cinta monyet. Itu juga aku diam-diam aja sukanya nggak pernah mengutarakan secara terang-terangan pada kakak kelasku. Duh, apa kabar Nyokap kok nggak tahu anaknya seperti apa selama ini?

Dan setelah sampai di sini, aku memerhatikan banyak hal, termasuk gedung sekolah yang berdiri tidak jauh dari kantor pesantren, santri-santri yang kayaknya seusiaku atau malah yang lebih kecil juga lebih banyak. Miris banget! Ngapain masih kecil sudah masuk pesantren? Pasti mereka bakalan kehilangan masa-masa menyenangkan saat masih remaja. Seperti aku yang merasa tiba-tiba dirampas kebebasanku ketika masuk ke penjara ini. Ya, ya. Penjara suci, tapi nggak gini-gini amat sih.

Eits, nggak lama Bokap sudah selesai mengurus semua administrasi dan mengurus keperluanku. Sambil masih kerepotan membenahi jilbab instan yang baru saja kupakai hari ini, sembari kesulitan melangkah karena tiba-tiba harus memakai rok yang super feminim dan nggak banget. Oke, ini hari paling menyebalkan yang pernah ada dalam hidupku. Sebenarnya aku tuh nggak salah apa-apa kok. Di puncak kemarin pun aku nggak ngapa-ngapain selain hanya tidur, makan, dan jalan sama yang lain. Kenapa aku harus dapat hukuman sekejam ini sih, Tuhan?

“Ray! Bengog aja! Tuh kamar kamu.” Celetuk Nyokap sambil mencubit lenganku, lagi.

“Mah, aku pulang aja deh. Beneran, Rayna janji deh nggak akan macam-macam di rumah. Rayna nggak pengen tinggal jauh dari Mamah sama Papah. Rayna pengen pulang aja, Mah. Sita aja deh fasilitas punya Rayna, Ray nggak butuh. Pliss, Mah. Ray pengen pulang aja dan tidur di kasur Ray yang empuk itu. Janji deh nggak akan ke puncak lagi tanpa izin. Mah, pliss!”

“Telat! Kita sudah sampai di sini, ngapain kamu pulang? Mending kamu coba aja deh tinggal di sini, perbaiki salat kamu, ngaji kamu, dan satu lagi, sikap kamu sama orang tua. Jangan cengengesan aja, Ray. Malu!” bisik Mamah tanpa ampun.



Dan ketika kaki kananku melangkah ke dalam kamar berukuran 6x4 itu, mataku memicing dan membayangkan banyak hal mengerikan. What? Kamar sesempit ini harus dihuni oleh 25 orang? Nggak salah, Ray? Terus aku harus tidur di sebalah mana? Kasur-kasur berbaris saling tindih, bahkan tampak nggak terurus. Ih, beneran aku pengen banget kabur kalau nggak ingat sebagai anak itu nggak boleh membangkang sama orang tua.


Baiklah, aku mengalah. Mamah bilang minimal enam bulan aku bisa betah di sini, setelah itu aku boleh memilih, akan melanjutkan atau keluar saja. Tapi, aku jadi berpikir ulang, enam bulan kalau tinggal di rumah sendiri dan bisa keluyuran ke sana kemari sih pasti rasanya cepat banget berlalu. Lha ini kan di tempat berbeda. Penjara, Ray! Penjara gitu. Apa kabar aku selama enam bulan ke depan?

Aku merengek mengajak Nyokap segera keluar, pengen banget lari dan masuk mobil terus ninggalin Bokap dan Nyokap. Sekalian aja mereka yang menginap di pesantren. Kenapa harus aku? Tapi urung.

Tiba-tiba mataku basah. Nggak tahu harus ngomong apa. Nyokap memelukku erat. Rasanya berat banget, nggak pernah Nyokap mendekapku seerat ini. Nggak pernah Nyokap mengusap kepalaku seperti ini. Aku menangis bukan karena aku takut ditinggal mereka pergi atau aku nggak bisa lagi tidur di kamarku yang dingin dan kasurku yang empuk, aku hanya sedih kenapa tiba-tiba aku merasa sayang banget sama Nyokap dan merasa bersalah karena selama ini belum bisa membahagiakan mereka. Sebenarnya, semua yang Bokap dan Nyokap lakuin semata-mata demi kebaikanku. Nggak ada keinginan lebih.

“Udah, Ray. Mama tinggal dulu, ya. Bulan depan Mama datang lagi untuk menjenguk kamu.” Ucap Mama sambil mengusap matanya yang ikut basah.

“Mah, Ray janji bakalan jadi anak yang baik dan penurut. Maafkan Ray udah ngecewain Mamah selama ini. Ray memang nggak bisa nyenengin Mamah sama Papah.”

“Kamu ngomong apa sih. Selama ini kamu sudah melakukan yang terbaik kok.”

“Terus ngapain Ray dibawa ke sini kalau Ray udah jadi anak baik? Apa nggak ada tempat yang lebih layak apa?” Protesku, sewot lagi.

Hush! Diem kamu. Nanti didenger yang lain nggak enak, Ray. Ini tempat yang tepat buat kamu. Kalau di kota, kapan kamu sempat ngaji?”

“Oke. Ray bakal buktiin kalau Ray bisa jadi anak yang membanggakan buat Mamah dan Papah.” Jawabku penuh yakin.

Setelah memperkenalkan diri kepada semua penghuni kamar baruku, Mamah segera keluar dan menyusul Bapak yang sudah menunggu di mobil. Aku nggak sempat mengantar, segera sibuk dengan teman-teman baruku yang ternyata, nggak terlalu buruk juga kok.

Ah, ini hari pertamaku di pesantren. Aku nggak akan lupa gimana dan kenapa aku bisa sampai ke sini. Selamanya akan aku ingat, dan kalau bisa, aku harus segera keluar sih dari sini. Tapi, Ray, barusan aja kamu baru bilang kalau kamu bakalan jadi anak baik? Itu artinya kamu harus tetap di sini dong. OMG! Rasanya aku pengen pingsan aja deh kalau ingat…hiks.

****

Gus Arif
“Butuh waktu lama untuk mengenal siapa dia dan kenapa dia bisa masuk ke dalam rongga hatiku.”
Hari ini ada murid baru. Karena Abah tidak ada di rumah, terpaksa aku yang menemui orang tuanya. Rupanya tamu dari Jakarta. Aku tahu, setelah mendengar cerita dari ayahnya, gadis yang masih SMA dan bernama Rayna itu bukan anak sembarangan. Ya, dia cerdas dan pintar. Selalu juara dan sangat populer di sekolahnya. Sayangnya, ayahnya sungguh tak ingin Rayna salah dalam bergaul, hingga dengan alasan yang tak masuk akal pun, dia harus dibawa ke pesantren ini supaya bisa belajar agama.

Sepintas aku sempat melihat dia menyeret tas jinjingnya dengan malas. Aku tersenyum. Senyum yang tiba-tiba saja menyungging tanpa persetujuan sebelumnya. Seperti santri baru pada umumnya, dia pun terlihat malas-malasan untuk menuju kamar di mana dia akan tinggal lebih lama di sini.

Aku membayangkan bagaimana nanti dia bertahan di sini? Sedangkan kehidupannya di Jakarta cukup mewah dan semua fasilitas pun ada. Di sini, jangankan mendengarkan musik dan bermain smartphone, menghubungi orang tua sering-sering saja sangat dilarang. Kenapa? Karena itu membuat para santri ingin pulang dan tidak betah di pesantren.

Mungkin Rayna berbeda, entahlah. Aku merasa ada sesuatu yang istimewa ada padanya. Tak perlu dipikirkan, Gus. Kamu harus mengajar santri putra pagi ini. Murid-muridmu sudah menunggu sejak tadi.

Aku terperangah dan segera beranjak, mengambil sepeda dan mengendarainya menuju pesantren putra. Hari ini aku harus mengajar di dua kelas. Jangan sampai aku terlambat hanya karena memikirkan santri baru itu.

Bersambung….

#Day18 #ODOP #Estrilookcommunity

Salam,

[Review] Hummingbird Eatery, Restoran di Bandung yang Homy Banget!

Foto: martanegara-asri.blogspot.com

Apa? Kamu jalan ke Bandung? Nggak salah nih? Padahal biasanya main ke rumah tetangga saja jarang banget, lho…Haha. Ini ceritanya dialog di hati saya yang masih nggak percaya bisa pergi dengan jarak yang lebih jauh daripada sekadar main di halaman atau mampir ke pasar tradisional dekat rumah…kwkwk.

Saya nggak akan ke  Bandung kalau nggak ada yang ngajakin. Yup! Kebetulan beberapa bulan yang lalu memang diajak kerabat untuk liburan dan main ke Bandung meski hanya menginap semalam. Ya, hanya semalam saja kok. Kami semobil waktu itu. Anak-anak sudah pasti ikut semua. Kami berangkat pagi dan pertama kali mencari sarapan sekitar pukul 9 pagi. Ini kali kedua saya pergi ke Bandung. Tapi, baru pertama kali saya makan di Hummingbird Eatery yang super homy banget.

Ketika baru sampai, restoran ini sudah padat dan ramai oleh pengunjung. Kami lewat pintu belakang dan anak-anak sempat macet sebentar untuk bermain. Ada rumah-rumahan dan sedikit permainan di sana. Suasanya sih adem banget, nggak kayak restoran lain yang bisa kami kunjungi.

Nggak lama kami langsung masuk dan memesan makanan untuk mengganjal perut yang kosong. Jujur saja, saya suka banget nih sama interiornya. Buat yang suka berfoto, restoran ini bakalan menarik banget karena banyak pajangan unik vintage gitu. Menurut saya, ruangannya instagramable banget. Cocok buat mempercantik feed instagram kamu.


Buat kamu yang penasaran, Hummingbird ini menyediakan berbagai macam menu, termasuk menu sarapan, Western, Indonesian food, cake, dan cookies.

Foto: Koleksi Pribadi

Sedangkan untuk harga, ya pas dengan porsi yang lumayan besar. Bahkan saya berbagi satu piring dengan si sulung karena memang nggak mungkin ngabisin satu porsi sarapan yang kami pesan saat itu.

Foto: Koleksi Pribadi
Buat kamu yang membawa serta anak-anak atau bersama keluarga, restoran ini menjadi pilihan yang sangat tepat karena suasananya yang hangat dan nyaman banget meski harus membawa anak kecil sekalipun. Mereka bisa bermain sambil melihat dekorasi dindingnya yang dipenuhi oleh gambar burung Hummingbird.

Untuk menu, selain porsi ukuran besar, rasa dari setiap menu yang kami coba rasanya enak. Anak-anak sih doyan banget ya makan di Hummingbird. Hal ini membuat restoran yang terletak di Jl. Progo No.14, Bandung ini begitu istimewa dan layak kamu coba deh.

Jika kamu main ke Bandung, jangan lupa mampir ke Hummingbird Eatery, ya. Suasana dan menunya nggak akan membuat kamu nyesel deh!

#Day17 #ODOP #Estrilookcommunity

Salam,

Ini Alasan Kenapa Kamu Nggak Boleh Sering Ganti Template Blog



Sebagai seorang blogger yang termasuk baru, baru dua tahunan, tetapi belum maju-maju…hihi, saya termasuk orang yang senang sekali mengganti theme atau template blog. Nggak sekali dua kali, bisa berkali-kali. Kenapa sih bisa begitu? Karena awalnya memang saya memakai theme gratisan, dan selama itu saya selalu merasa nggak puas dengan hasilnya. Ada saja alasan untuk mengganti dengan yang baru.

Hingga suatu waktu, saya ngobrol soal ini dengan teman-teman di grup literasi, dan ada yang nyeletuk bahwa kami sebagai blogger sebaiknya jangan suka ganti-ganti theme, apalagi terlalu sering. Katanya itu bikin blog kita jadi nggak dikenali sama Google. Wah, kebayang nggak sih kaget juga…haha. Memang dasarnya amatiran, jadi jalan-jalan ke wesbite yang menyediakan theme gratisan, bawaannya selalu ingin ganti.

Dan akirnya saya pun insaf, Sodaraah. Saya pikir, theme 'kan nggak harus sering ganti, asal sudah rapi, kita pasti nyaman dan nggak bakalan ingin theme yang lain. Akhirnya saya memakai jasa Mbak Widi Utami (blogger juga) untuk mengganti theme blog saya. Beliau bilang, bisa pasang theme, tapi theme biasanya blogger sendiri yang beli, dia yang pasang saja.

Saat itu saya mikir, memang benar juga mending beli saja theme, sekali, tapi puas sekalian daripada pakai gratisan tapi nggak puas. Dan akhirnya saya pun mencari blognya mbak Annisast, saya klik link di blognya menuju toko yang menjual theme di Etsy. Dan harganya lumayan murah sih daripada yang lain. Antara 5-6 $ saja.

Setelah melihat semua yang dijual, saya tertarik pada theme yang sekarang juga masih saya pakai ini. Setelah memilih, bingung deh mau bayar pakai apa karena di Etsy ditulis hanya bisa pakai PayPal. Sedangkan saya ngerti PayPal saja tidak lho…kwkwk. Qadarallah terpikir mencari jasa PayPal, entah dari mana datangnya pikiran itu. Dan dapatlah jasa yang amanah. Kita hanya membayar jasa PayPal 3$ saja ditambah harga theme. Nggak lama setelah menunggu antrian, theme pilihan saya pun bisa saya pakai hari itu juga. Karena belum pengalaman mengubah theme kecuali yang free buat nyoba-nyoba saja, akhirnya saya tetap pakai jasa Mbak Widi Utami untuk membantu memasang theme ini. Alhamdulillah, saya sih suka sampai sekarang dengan theme ini.

Untuk Header, saya sudah pernah kasih tutorialnya, ya. Saya buat sendiri memakai aplikasi menggambar bernama Ibis Paint X. Yup! Text dan gambarnya hanya pakai satu aplikasi itu saja. Simpel dan bagus lho (memuji diri sendiri...haha).



Hari ini semua ramai membicarakan theme blog, ada yang ganti theme, ada yang bingung beberapa bagian hilang, sedangkan saya pribadi, dari kemarin sudah mengubah 3 blog punya teman dengan theme gratisan. Header saya buat dengan Ibis Paint X, hasilnya bisa dibilang cukup memuaskan. Nggak apalah memuji diri sendiri ya, haha.

Karena semua ramai membicarakan theme blog, saya pun jadi ingat kenapa sih kita sebagai blogger nggak boleh kebanyakan ganti theme?

1. Traffic Blog Kamu Menurun
Huhu…Ternyata memang benar, gonta ganti theme blog terlalu sering itu membuat traffic blog kita menurun. Saya pribadi sudah merasakannya. Hal ini bisa disebabkan karena pembaca jadi malas balik ke blog kita yang sering banget diganti-ganti theme bahkan headernya seperti punya saya…haha. Sedih banget, ya. Kayak harus memulai lagi dari nol.

Kebayang dong ketika kamu sedang ingin berkunjung ke blog temanmu, tapi sedang berantakan, postingan menumpuk dengan gambar, dan banyak sekali perubahan yang bikin kepala kamu jadi pusing. Ujung-ujungnya pasti malas balik lagi, ‘kan?

2. Blog Terlihat Belum Profesional
Gimana mau tampak profesional kalau theme selalu diganti? Julukan nggak konsisten itu menjadi salah satu hal yang pastinya cocok banget diberikan kepada kita. Selain itu, kita jadi kelihatan nggak punya karakter.

Biasanya setiap blogger punya ciri khasnya sendiri, termasuk theme yang dipakai dan seperti apa dia menulis. Yang unik dan konsisten akan lebih dikenal. Lalu bagaimana dengan kita yang nggak bisa setia sama satu theme saja? Yang ada semua kabur karena malas melihat theme di blog kita yang selalu berubah.

Tujuan untuk menggati theme tentu memang ingin tampak profesional, karena itu, saat berkali-kali mengganti theme, label yang tepat  buat kita adalah blogger yang belum profesional…hehe.

3. Bikin Candu dan Menghabiskan Banyak Waktu
Huft! Poin nomor 3 ini benar-benar terjadi kepada hampir semua orang yang ingin mengubah theme pada blognya. Yang bisa saja butuh waktu, apalagi kita yang sekadar bisa. Menghabiskan waktu banget dan bikin capek.

Kalau nggak selesai, kita merasa nggak akan puas deh. Pasti benar-benar akan kita kerjakan sampai selesai dan tuntas. Habis selesai, kemudian ingin ganti lagi. Begitulah yang terjadi jika kita sering mengganti theme blog.

4. Blog Tampak Berantakan, Bahkan Tak Jarang jadi Buruk Sekali Tampilannya
Ketika kamu mengganti theme blog, sudah bisa dipastikan tampilan blog kita akan berantakan pakai banget. Semua bagian saling menumpuk, bahkan ada widget yang jumlahnya lebih dari satu. Biasanya sih saya hapus dan cek setiap bagiannya. Nggak banyak paham juga sih karena saya juga hanya belajar otodidak, jika theme yang dipilih punya tingkat kesulitan yang bikin pusing, biasanya saya bakal ubah lagi theme-nya..haha. Bakalan ganti berapa kali ‘kan?

5. Mempengaruhi SEO Blog Kamu
Apakah sudah ada bayangan mengerikan ketika kamu sering mengganti theme blog? Selain yang saya jelaskan di atas, ternyata sering mengubah theme blog bisa mempengaruhi kualitas SEO pada blog kamu lho. Mesin pencari Google pun butuh waktu minimal seminggu untuk meng-crawl postingan-postingan yang ada pada theme baru blog kamu. Hal inilah yang menyebabkan kualitas SEO pada blog kamu menurun.

Itulah beberapa alasan kenapa kamu nggak boleh terlalu sering mengganti theme blog. Pilih satu, sekalian aja yang bagus, yang free pun kalau oke nggak masalah asal bukan theme bajakan yang malah bikin blog kamu jadi riskan dimasuki penyusup…hehe. Kuy, ah jangan sibuk membenahi blog saja, benahi juga postingannya dengan rajin posting dan blogwalking.

#ODOP #EstrilookCommunity #Day16

Salam,

Custom Post Signature

Custom Post  Signature