Thursday, January 31, 2019

Waffle Pancake Durian, Empuk Berhari-hari

Jenis makanan apakah ini? Kenapa ada waffle tapi berbentuk pancake? Hihi. Ini sungguh pancake yang super empuk dan enak banget dari segi rasa juga. Sebenarnya, awalnya saya memang membuat adonan waffle, sudah dicetak dan dipanggang dua kali, kemudian sisa adonan saya masukkan ke dalam kulkas dengan catatan tetap ditutup. Kenapa dimasukkan kulkas? Karena mau dipanggang semua sayang kalau nggak langsung dimakan. Jadi, niatnya mau dipanggang malamnya pas suami datang. Ternyata setelah memanggang lagi untuk suami, adonannya masih nyisa juga. Akhirnya masuk kulkas lagi sampai hari ketiga belum juga saya sentuh.


Nah, karena sudah tiga hari, takut keburu basi dan nggak enak, saya pun akhirnya memanggangnya sampai habis tapi dengan teflon mini saja, malas keluarin cetakan waffle lagi..hihi. Akhirnya jadilah waffle pancake super empuk ini!

Kebetulan ada durian di rumah. Malam sepulang dari kantor, paksu bawa durian 3 buah. Banyak juga. Dimakan begitu saja sudah bosan duluan. Meskipun doyan, tapi kalau kebanyakan ya auto nggak kuat. Atau memang kami hanya sekadar suka aja kali, ya? hehe. Akhirnya kepikiran untuk dibuat isian pancake yang ternyata enak banget dan pas di lidah. Biar beda aja saat dikonsumsi, biar nggak bosan dan nggak eneg. Anak-anak pun jdi tertarik buat menyantapnya :)


Nah, buat teman-teman yang suka durian dan mau mencoba, silakan cek resep lengkapnya, ya!


Bahan biang:

1 sdt ragi instan

2 sdm gula pasir

8 sdm air dingin

4 sdm tepung terigu

½ sdt baking powder


Bahan adonan:

3 butir telur

125 gr tepung terigu

½ sdt garam

1 bungkus santan kara ukuran kecil

30 ml air

50 gr mentega atau margarin, lelehkan

150 gr gula halus atau 140 gr gula pasir

Sedikit vanilla essence

½ sdt baking powder


Bahan isian:

Secukupnya susu kental manis

Secukupnya daging durian


Cara membuat:

1. Campurkan seluruh bahan biang hingga rata. Diamkan selama 15 menit.


2. Mixer telur dan gula halus sampai mengembang dan kental.


3. Masukkan terigu, vanilla cair, garam, baking powder, dan bahan biang. Mixer kecepatan rendah sampai rata.


4. Masukkan santan, air, dan mentega cair. Aduk rata dan jangan over mix. Diamkan selama 30 menit.


5. Panaskan teflon, olesi dengan margarin. Tuang satu sendok sayur adonan ke dalamnya. Setelah  bagian permukaan berlubang dan mulai kering, balik dan angkat setelah matang.


6. Ingat, gunakan api kecil saja supaya adonan tidak gosong, ya.


7. Untuk bahan isian, aduk rata susu kental manis dan duriannya.


8. Oleskan bahan isian pada lembaran pancake yang sudah matang. Sajikan!

Voila! Waffle Pancake Durian buatanmu pun siap dihidangkan untuk keluarga tercinta. Kuy, isi duriannya yang banyak biar lebih nendang. Asli pancake ini empyuuk banget dan bisa dinikmati terutama di musim hujan seperti sekarang. Lihat aja penampilannya cakep dan legit banget, kan? Satu potong nggak akan pernah cukup, deh. Harus berpotong-potong biar puas..hehe.


Jika adonan kamu masih tersisa, silakan disimpan di kulkas dalam keadaan ditutup. Tapi, jangan lebih dari 3 hari, ya. Khawatir sudah tidak enak lagi nantinya. Gimana, gampang banget kan dibuatnya? Insya Allah antigagal deh asal kamu mengikuti step by stepnya :)


Selamat mencoba ya dan tetap happy saat baking dan bereksperimen di rumah!


Salam,

Wednesday, January 30, 2019

3 Tempat Paling Memikat yang Harus Kamu Kunjungi Meski Hanya Sekali Seumur Hidup

Jangan tanya sudah berapa tempat yang saya kunjungi, sudah berapa pulau yang saya datangi, jangan tanya, sebab saya bukan seorang traveler sejati. Saya hanya gadis kecil yang bermain sekadar keluar teras saja was-was minta ampun, khawatir, dan takut berlebihan. Sebab itulah, ketika dewasa dan menetap di Jakarta, saya tak banyak keinginan melancong ke mana-mana, lebih nyaman di rumah meski kadang suka iri juga lihat teman-teman yang lain berpose penuh tawa saat traveling.

Pembukaan yang cukup dramatis ya, untuk judul yang sebenarnya penuh kebahagiaan…hihi. Itulah kenyataan kenapa saya jarang traveling. Bisa jadi kebiasaan masa kecil yang jarang keluar rumah menjadi salah satu penyebabnya. Kalau pergi tanpa orang yang kita percaya seperti orang tua, rasanya nggak akan pernah aman hidupmu…hihi. Lebay! Iya, saya lebay karena memang tidak terbiasa, jadi sampai saat ini masih butuh orang lain untuk menemani traveling, salah satunya suami. Seolah suami bisa jadi kompas penunjuk arah biar istrinya yang super menyebalkan ini nggak sampai nyasar hingga ke dunia lain *eh.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Ibu Kota, rasanya ini mimpi. Kenapa anak kampung bisa sampai Jakarta? Stres bukan main dan butuh waktu lama banget untuk adaptasi. Sampai akhirnya jatuh sakit berkali-kali. Penyebabnya salah satunya adalah stres karena harus bertemu dengan orang-orang baru, termasuk suami yang baru saja kenal…kwkwk.

Namun, tahukan kamu, gadis kecil yang hanya kenal orang tua dan teman dekatnya ini tidak pernah malu bermimpi meski pada kenyataannya semua orang dengan lantang mengatakan ITU MUSTAHIL! Jadi, meski dunia saya terbatas hanya begitu saja, akan tetapi impian saya melaju secepat angin, menemui banyak hal yang bisa jadi tidak pernah dibayangkan oleh orang lain *eaa.


Lahir dan besar di Malang tidak berarti saya sering jalan-jalan ke kota Malang. Saya ingat, hanya sekali main ke Malang saat SMA, itu pun bersama guru saya di pesantren. Kali kedua saya pergi bersama teman kalau nggak salah waktu masih STIKK demi bertemu almarhumah Ratna Indraswari Ibrahim yang saat itu menjadi satu-satunya penulis yang bisa saya tanya-tanya, Masya Allah.

Siapa sangka, gadis penakut ini justru sampai pada tempat-tempat melampaui impiannya. Lalu, apa saja tempat-tempat paling memikat yang harus kamu kunjungi juga?


1. Kota Suci Makkah

Sebagai seorang muslim, saya yakin, semua dari kita sangat ingin berkunjung ke kota suci Makkah. Tak terkecuali saya. Tapi, ibadah umroh bukan satu hal yang utama waktu itu sebab ada yang lebih baik diperjuangkan terlebih dahulu, yakni kewajiban menunaikan ibadah haji.

Setelah Allah mudahkan mendaftar haji dengan masa tunggu yang lumayan banget yakni sampai 15 tahun, Allah kembali memberikan kejutan dengan keberangkatan saya, suami, dan anak-anak untuk melaksanakan ibadah umroh bersama. Nggak pernah kebayang bisa semudah dan secepat ini prosesnya. Sebelumnya, saya tak henti berdoa semoga Allah berangkatkan kami berempat umroh dalam waktu dekat. Qadarallah, Allah kabulkan dalam waktu secepat itu tanpa diduga.

Kami berangkat akhir Februari 2018 silam. Berangkat dari Jakarta bersama rombongan dari Malang. Yup! Saya memakai travel dari Malang karena keberangkatan kami bersama keluarga besar dari Malang juga. Rasanya gimana? Deg-degan banget karena belum pernah melakukan perjalanan sejauh ini, apalagi harus bawa dua anak, yang satu bahkan terbilang masih bayi pula…hehe.

Dengan pesawat Turkish Airlines, kami berangkat malam hari dari Jakarta menuju Turki selama kurang lebih 12-13 jam perjalanan. Sebelum melaksanakan ibadah umroh, kami traveling dulu di Turki dan menginap selama 3 hari 2 malam. Selepas dari Turki kami ke Madinah, barulah kami melaksanakan ibadah umroh serta berkunjung ke Makkah.

Masya Allah, buat kami yang muslim, tidak ada kota impian seindah kota suci Makkah. Tiba tengah malam di kota Makkah langsung menuju hotel tempat kami menginap. Kebetulan kami menginap di Swissotel Makkah yang terletak di gedung Zam Zam Tower. Setelah makan, kami langsung bersiap untuk melaksanakan ibadah umroh.

Tidak butuh waktu lama untuk sampai di Masjidil Haram, sebab letak hotel kami yang sangat dekat. Melihat Ka’bah di depan mata, hal pertama yang terjadi adalah menangis. Allah, begitu baiknya Engkau membawa kami ke sini dengan begitu mudah. Masih suka nggak percaya aja bisa sampai ke sana bareng anak-anak dan suami.


Kota suci Makkah itu indahnya bukan main. hati deg-degan nggak ada habisnya setiap satu jengkal demi sejengkal langkah menyentuh lantai masjid. Mata terus panas berair penuh haru.

Selama di sana, kami nggak banyak jalan-jalan jauh. Kayaknya waktu cepat banget bergulir, tiba-tiba saja sudah masuk waktu Dhuhur, tiba-tiba saja sudah Ashar. Dan kami harus datang lebih awal ke Masjidil Haram jika ingin kebagian tempat di depan.


Lucunya di Swissotel Makkah, ada menu khusus buat anak-anak. Nggak hanya ada aneka cake dan roti yang mungil, bahkan telur rebusnya pun berwarna warni. Tempatnya dipenuhi sama balon dan beberapa koki memakai pakaian lengkapnya. Buat yang bawa anak kecil seperti kami, pasti sangat membantu menghibur mereka banget.

Kota Suci Makkah menjadi salah satu tempat paling memikat yang harus kamu kunjungi. Pliss, jangan segan meminta pada Allah, sebab Allah pemilik segala yang di langit dan bumi. Sulit bagi kita, tetapi tidak bagi Allah. Jadi, memohonlah tanpa keraguan sedikit pun.


2. Kota Madinah

Selepas dari Turki, kami mengunjungi kota Madinah. Kota paling tentram dan tenang menurut saya. Suasananya itu kalem dan adem banget. Tempat di mana Rasulullah saw dimakamkan. Tempat di mana kamu akan sangat merindukannya tiada henti.


Hotel kami pun tak sejauh apa, cukup dekat dengan masjid Nabawi. Di sini, saya berani pergi ke masjid Nabawi sendiri. Berbeda ketika di Makkah yang benar-benar takut nyasar kalau sampai nggak bareng yang lain.


Biasanya saya berangkat bersama suami dan anak-anak. Anak-anak dibawa suami, dan saya sendiri. Nanti kita janjian di pintu yang sama. Karena saya orangnya kurang 'peka' sama lokasi, jadi rasa takut itu ada ketika harus sendirian di tempat asing.


Dan tahukah kamu, betapa luas dan megahnya masjid Nabawi itu? Rasa kagum tak habis-habisnya. Banyak Askar masih remaja, tetapi suaranya lantang banget dan super galak terutama ketika kita mau ke Raudhah. Ya, saya bisa kebayang kalau jadi mereka pasti gemas banget sama jamaah dari negara lain selain Indonesia yang susah banget diatur. Disuruh antri, askar meleng dikit mereka udah nyerobot lari. Subhanallah, lucu dan bikin gemas..haha. Bahkan sempat ada kejadian di mana ada jamaah dari negara lain yang marah pada pemilik travel yang kami ikuti hanya karena ingin maju sedangkan kami berjuang berdesakan dan memberikan tempat lebih dulu pada lansia. Kejadian ini sempat bikin nangis orang-orang juga. Kenapa ibadah harus dilakukan dengan cara seperti itu? Bukannya sok baik, tapi ngapain gitu ibadah dengan cara menyakiti orang?


Nah, kalau masjid-masjid di Indonesia kadang ada yang melarang membawa anak-anak, lain lagi dengan di Madinah. Anak-anak justru begitu disayang, setiap pemeriksaan, para askar menyapa ramah pada anak-anak. Mereka yang membawa anak pasti akan diutamakan, jadi, jangan khawatir, justru semua jadi sangat dimudahkan.


Ketika shalat, nggak sedikit anak-anak yang teriak nyaring banget, nangis kenceng banget sampai lari-larian. Nggak ada yang marah, orang tua mereka menjaga sebisanya sambil shalat. Bahkan pulang dari shalat berjamaah nggak sedikit yang membagikan uang atau cokelat kepada anak-anak. Nggak kebayang betapa indahnya kalau bisa menikmati Ramadhan di sana. Semoga suatu hari bisa merasakannya, Insya Allah.



3. Turki

Mimpi apa kamu gadis penakut kenapa bisa sampai ke Turki? Mimpi yang tak pernah takut didengungkan kayaknya, ya…hehe.


Kami sampai di Turki saat Shubuh. Tiba di bandara dan langsung shalat. Sombong ya di bandara bilang nggak dingin, mana buktinya katanya dingin? Biasa aja padahal katanya sedang musim salju. Hampir semua orang berkomentar begitu. Tapi, pihak travel hanya tertawa, “Tunggu setelah keluar.” sambil tertawa.

Sebelum menuju bus, kami berkenalan dulu dengan guide bernama Ilker yang asli orang Turki. Setelah itu, kami pun keluar dari bandara menuju bus bersama.


Dan, OMG itu dinginnya minta ampun padahal nggak ada salju juga yang kelihatan di luar. Anginnya nusuk dan mulut langsung berasap…haha. Anak-anak langsung mirip boneka beku. Keluar dari bandara bersama guide kita langsung naik bus tanpa istirahat dan langsung traveling mengunjungi beberapa tempat. Sebelumnya sempat sarapan buat mengganjal perut.


Mungkin saya termasuk yang beruntung bisa di Turki dalam waktu cukup lama yakni sekitar 3 hari 2 malam. Berpindah-pindah hotel beberapa kali karena travel bisa jadi mempertimbangkan juga dengan lokasi paling dekat dengan beberapa wisata yang akan kami kunjungi. Selebihnya kami makan dengan dengan menu yang lebih layak buat orang Indonesia...kwkwk. Yang selalu bilang kangen nasi dan sejenisnya. Di hotel sudah pasti menunya lebih beragam, sedangkan sisanya kami makan di rumah makan yang menjual menu Indonesia. Lumayan meski tak semewah rasa khas Indonesia banget.


Banyak banget bangunan bersejarah yang berdiri di sisi kanan dan kiri jalan. Setiap melintasi tempat-tempat tertentu selalu dibuat takjub bukan main. Sayangnya, karena musim dingin, jujur saja jadi kurang menikmati apalagi si bungsu udah mulai pilek waktu itu. Rasanya semua dari kami pengen banget cepat masuk bus supaya bisa menghangatkan badan…haha.


Ke mana saja di Turki? Nggak berbeda dengan travel lainnya, kami mengunjungi Masjid Biru, museum Topkapi, Grand Bazaar, Hagia Sophia, gunung bersalju Uludag, naik kapal melihat selat Bosphorus, museum Panorama, dan beberapa tempat lainnya.


Yang datang ke Turki pas musim semi pasti bahagia banget karena bakalan banyak bunga tulip di sana. Yup! di Turki biasa mengadakan festival tulip. Kamu bisa melihat bermacam-macam tulip di sini. Di mana-mana pasti banyak banget tulipnya. Semoga suatu saat bisa ke sana lagi saat musim semi, Insya Allah.


Tahukah kamu jika Tulip sebenarnya bukan berasal dari Belanda melainkan dari Turki? Nah, itu dia kenapa di Turki ada festival tulip yang begitu megah karena memang asal tulip itu dari Turki. Guide kami juga berkisah tentang hal serupa. Kalau kamu googling, bakalan muncul tuh sejarah yang sebenarnya. Selain pemimpinnya yang dikenal shaleh, Turki juga menyimpan banyak sejarah termasuk sejarah penaklukan Konstantinopel oleh sultan Al Fatih.

Nah, ini dia beberapa tempat yang sempat kami kunjungi saat berada di Turki


Masjid Sultan Ahmed (Masjid Biru)

Masjid Biru terletak di Istanbul, Turki. Kenapa disebut Masjid Biru? Karena interiornya dominan warna biru. Baik dari luar ataupun dari dalam, sama-sama menakjubkan, Masya Allah. Entah kenapa, suka sekali dengan traveling kami ke Turki karena ke sana tidak hanya jalan-jalan biasa, tetapi juga mengenal sejarah Islam juga pada zaman dulu.

Karena musim dingin, ragu banget mau beli es krim Turki yang terkenal lengket itu. Namanya Dondurma. Akhirnya kami hanya membeli Simit si roti keras khas Turki yang berbentuk bulat dengan olesan Nutella serta Kastanye bakar yang masih panas.


Hagia Sophia


Waktu mau ke Hagia Sophia, kondisi hujan. Kalau hujan biasa di Indonesia, dinginnya masih bisa ditoleran sama kulit kita, berbeda ketika di Turki. Dinginnya menusuk tulang sehingga banyak dari kami para ibu yang urung pergi karena kasihan sama anak-anak. Jadi, beberapa dari kami menunggu di rumah makan setelah kami selesai makan siang dalam perjalanan.


Gunung Salju Uludag

Salah satu yang paling membuat kami semua antusias adalah tujuan bermain salju di Uludag ini. Sayangnya, pas sudah masuk kereta gantung, saya mulai mual dan panik….kwkwk. Apalagi pas keretanya berhenti ketika ada angin sampai semua normal baru berjalan lagi.


Masya Allah, anak-anak semua senang banget, tak terkecuali emak bapaknya. Sayangnya, lupa nggak bawa Marjan waktu itu, ya sekalian aja jual es serut…kwkwk. Ada satu minuman yang entah apa namanya. Susu kental dengan bubuk kayu manis yang bisa menghangatkan. Rasanya enak!

Karena kondisi saat antri di dalam ramai bukan main, saya sarankan jika main ke sini berhati-hati dengan barang bawaan. Guide kami juga berkali-kali mengingatkan itu, sebab bukan hal mustahil ada yang berbuat kurang baik.


Museum Panorama 1453 Turki

Kesan pertama saat masuk ke museum Panorama adalah apa, ya, banyak banget anak sekolah…hehe. Di sini kamu bisa melihat sejarah penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al Fatih. Yang paling ‘Wow’ itu ketika naik ke lantai paling atas di mana terdapat suara riuh khas peperangan dan bunyi meriam. Karena belum ketebak di atas itu apa, kagetlah ketika muncul seorang bertubuh besar berpakaian khas gitu. Bayangan saya itu raksasa atau apa…kwkwk. Katrok banget, ya…hihi.


Di sini rasanya bisa melihat pengepungan secara langsung. Karena berupa diorama pengepungan Konstantinopel dengan menampilkan pasukan Byzantium dengan Kekaisaran Ottoman. Lebih unik lagi, diorama lukisannya berbentuk 3D, terasa nyata banget. Bahkan karung, meriam, pedang yang tergolek hingga tongnya dibuat asli.


Sebenarnya ada beberapa videonya, tetapi kepotong dan kurang asyik dilihat karena nggak lama setelah kami di atas, anak-anak sekolah ramai menyerbu. Sehingga kebanyakan dari kami memutuskan segera turun karena terlalu sesak. Teman-teman mungkin bisa punya bayangan dengan foto replikanya, ya seperti yang sempat kami ambil.


Kondisinya sama persis seperti pada foto. Langit-langitnya dibuat berbentuk setengah lingkaran dan ketika kamu masuk, maka kamu akan ada di posisi tepat di tengahnya. Jadi, bisa kebayang meriam dan beberapa benda khas pengepungan zaman itu, ya.


Grand Bazaar

Pengen membeli oleh-oleh khas Turki? Datang saja ke Grand Bazaar. Di sini kamu bisa menemukan banyak sekali souvenir khas Turki baik berupa gantungan kunci, kaos, hijab, kalung, hingga keramik. Harganya terbilang murah asal kamu bisa menawar, ya.


Museum Topkapi


Kamu bisa mengenang Rasulullah saw. melalui beberapa peninggalannya yang ada di Museum Topkapi ini. Insya Allah nanti saya ulas lebih jauh soal museum ini.

Di sini, kita bisa mengambil gambar menarik di halaman luar museum. Di sana, banyak bangku dengan latar pohon dan burung-burung. Karena musim dingin, anak-anak susah banget diajak foto. Yang ada si bungsu nggak jauh beda seperti orang-orangan sawah kata orang-orang karena jalannya yang kaku dengan jaket tebal. Belum lagi hidungnya mulai meler saking dinginnya.


Selat Bosphorus

Sebenarnya, selat Bosphorus bukan merupakan tujuan yang dijanjikan pada waktu itu. Pihak travel tidak bisa berjanji karena khawatir cuaca tidak bersahabat. Sebab khawatir hujan atau salju turun. Pada hari di mana kami hendak ke sana, hujan lebat turun, jadi urung. Keesokannya, qadarallah cuaca membaik sehingga kami pun bisa berangkat.

 
Kami naik satu kapal di mana hanya ada rombongan kami saja di dalamnya. Dinginnya minta ampun karena waktu itu salju turun meski tipis-tipis alias sedikit. Selat Bosphorus merupakan selat yang memisahkan Turki bagian Eropa dan Turki bagian Asia.


Masya Allah, kira-kira itulah beberapa tempat yang telah membuat saya jatuh cinta. Semoga teman-teman yang ingin ke sana disegerakan juga oleh Allah. Aamiin.


Salam,

Sunday, January 27, 2019

5 Cara yang Bisa Kamu Lakukan Supaya Traffic Pengunjung Blog Tetap Stabil

Setelah menulis tentang topik menurunnya jumlah pengunjung paska ganti template kemarin, kali ini saya ingin membahas sesuatu yang bisa dibilang masih berkaitan dengan postingan beberapa hari yang lalu. Yup! Gimana caranya supaya pengunjung blog kamu tetap stabil dan kalau bisa terus bertambah?


Pengunjung atau pembaca blog kita memang penting. Iya, kalau setelah kita posting kemudian nggak ada yang mau membaca, lalu ngapain kita capek-capek menyiapkan artikel ini dan itu, mencari gambar, dan mempromosikannya di sosial media?


Percaya nggak sih kalau kita hanya mengejar traffic pengunjung di blog, ujung-ujungnya kita pasti capek dan jika hasilnya nggak sesuai sama keinginan pasti bikin malas mau menulis dan update postingan baru. Setiap tulisan itu pasti akan menemukan pembacanya sendiri, kok. Entah kalimat ini muncul dari mana, tetapi saya pegang kalimat ini hingga sekarang.


Jangan pernah kecewa jika setelah posting sebuah artikel di blog, ternyata pembacanya hanya segelintir saja, bahkan nggak ada yang mau berkomentar meski kamu sudah sebar link artikelnya di mana-mana bahkan hingga ke beberapa grup whatsapp sekalipun. Jangan sedih hanya karena itu. Seharusnya kamu lebih sedih melihat blog kamu belum ada postingan baru setelah seminggu berlalu padahal kamu nggak sibuk-sibuk amat, kamu juga punya waktu buat berkomentar di akun sosial media teman, kamu punya waktu menonton drama Korea pula, lalu kenapa postingan di blog nggak ada yang baru? Oke, ini hanya guyonan saja, silakan dianggap serius *eh…hehe.

 
Saya yakin semua blogger senang kalau melihat postingan di blognya ramai dikunjungi oleh pembaca. Tapi, untuk mendapatkan itu semua pasti butuh usaha dong. Nggak mungkin tiba-tiba datang tanpa kamu usahakan, apalagi jika sehari-hari kamu hanya posting seadanya, mana bisa blog kamu disukai pembaca?


Lalu apa yang perlu kamu lakukan supaya pembaca di blog kamu tetap stabil bahkan bisa bertambah?


1. Rajin update postingan di blog

Ya, kali ada orang suka jalan-jalan ke blog yang penuh dengan sarang laba-laba. Niatnya ingin blogwalking pun akhirnya batal sudah karena nggak ada yang bisa dikomentari lagi. Kalau kamu nggak rajin menulis dan posting di blog, orang-orang bisa jadi akan melupakan blog kamu. Karena saat ini banyak banget blog yang kece badai dan rutin posting artikel setiap hari. Mending main ke blog mereka daripada main ke blog yang penuh sarang laba-laba, kan?


Mengejar traffic pengunjung di blog nggak perlu membabi buta sampai posting sehari 10 artikel. Nggak begitu juga. Yang penting usahakan blog kamu tetap update minimal seminggu sekali. Kalau bisa setiap hari. Biar lebih semangat, kamu bisa ikutan beberapa komunitas yang aktif mengajak kamu tetap semangat menulis dan posting artikel di blog sehari satu postingan seperti yang diadakan oleh Estrilook Community. Saat ini, kami sudah masuk hari ke-27. Kalau dilihat di blog saya, Alhamdulillah saya berhasil menulis lebih dari target meski di awal sempat ketinggalan.


Tahun ini saya banyak melepaskan pekerjaan…hehe. Nggak perlu ditutupi, ya. Yang biasanya saya suka mengirimkan artikel di beberapa media, sekarang sudah saya kurangi. Lebih fokus mengisi blog dan menulis buku. Insya Allah aktivitas baru ini lebih menyenangkan untuk saya kerjakan. Dan jujur saja, saya merasa menikmati sebab lebih santai dan nggak pusing mikirin ini dan itu. Apaan sih dari tadi ini dan itu? Kwkwk.


2. Buat artikel yang dibutuhkan oleh pembaca sepanjang masa

Nah, lho, artikel jenis apa yang abadi sepanjang masa itu? Sebenarnya saya belum sepenuhnya melakukan ini. Postingan di blog saya masih gado-gado dan saya mengangkat banyak tema sesuai dengan keinginan saya pastinya. Tapi, ada beberapa contoh artikel yang memang akan dibutuhkan oleh pembaca tanpa batas waktu, misalnya artikel berupa tutorial, panduan, kesehatan atau artikel berupa listicle seperti yang pernah saya tulis mengenai beberapa media yang mau menerima dan menerbitkan artikel penulis.


Nah, menurut blogger yang udah mastah, dengan artikel seperti itu, blog yang jarang update akan tetap stabil jumlah pembacanya. Tapi, jangan sampai setelah menulis itu kamu jadi malas posting artikel baru. Buat saya pribadi, tulis saja apa yang bermanfaat, lebih baik posting rutin daripada jarang update sebab tujuan kita ngeblog memang buat menyalurkan hobi dan membantu kita konsisten menulis. Kalau malah jadi malas, mending tulis apa yang bermanfaat dan lupakan, tulis lagi, posting, dan lupakan asal jangan sampai kamu jadi amnesia karena ini…hihi.


3. Rajin share di sosial media

Kalau kamu nggak rajin share postingan blog sendiri, lalu dari mana orang akan mengenal dan membaca blog kamu? Usahakan setiap posting, segera share di sosial media baik itu di Facebook, Twitter, atau Instagram. Kalau nggak ada yang like dan berkomentar di sosial media gimana? Saya nggak lagi memusingkan soal itu. Kenapa? Malah jadi nggak fokus menulis, mending share dan lupakan saja.


4. Tulis artikel yang bermanfaat

Apa pun itu, kalau isi artikel kamu bermanfaat, orang pasti bakalan suka. Tentu saja postingan kamu nggak boleh hanya sekadar curhatan tanpa makna apalagi yang isinya hanya ngomongin kejelekan orang lain. Ada baiknya ulas tema yang dibutuhkan oleh pembacamu. Bagaimana kita bisa tahu apa yang dibutuhkan oleh pembaca tanpa harus bertanya?


Kamu bisa cek beberapa postingan kamu yang mengangkat beberapa tema. Kira-kira tema apa yang paling banyak disukai dan banyak dikunjungi? Dengan cara ini kamu bisa mengerucutkan ide kamu, ekskusi tema-tema itu supaya pembaca kamu kembali lagi karena merasa kamu sangat tahu apa yang mereka inginkan *ceilah.


5. Buat artikel lebih menarik dengan gambar-gambar terbaikmu

Pengalaman visual seseorang itu nggak bisa disepelekan, lho. Misalnya saja saya, akan sangat suka berkunjung ke blog yang gambarnya bening, bagus, dan rapi. Meski itu blog pribadi dan nggak ada yang bisa melarang kamu posting apa pun, ada baiknya kamu pikirkan dulu, kira-kira foto seperti yang kamu miliki itu enak dilihat atau nggak? Kalau memang tidak layak, mending kamu cari gambar-gambar free, yang tentu saja tetap mampu mewakili artikel kamu. Sebab pengalaman visual itu nggak bisa dinomorduakan. Minimal kamu harus belajar mengambil foto yang jelas meski nggak sebagus foto-foto blogger lain.


Setelah kamu tahu beberapa cara menaikkan traffic pengunjung blog, kamu bisa mulai rajin mengunjungi blog blogger lain juga dan ucapkan salam perkenalan kepada mereka. Jika mereka nggak balas mengunjungi blog kamu gimana? Pliss, jangan baper deh jadi blogger. Bisa jadi mereka masih sibuk dan lain waktu sudah merencakan akan berkunjung, bisa jadi mereka nggak ngeh juga sama komentar kamu di blog mereka.


Saya yakin, setiap blogger akan dengan senang hati saling berkunjung ke blog teman-teman lainnya sebab dengan begitu, kita nggak hanya akan dapat teman baru, tetapi kita juga bakalan dapat pengalaman baru juga dari postingan yang kita baca dari blog mereka.


Terlepas dari mengerti soal SEO atau nggak, jujur saja saya nggak ingin dipusingkan dengan itu. Ngeblog adalah sesuatu yang saya sukai, saya nikmati untuk mengisi waktu me time ketika seisi rumah sudah terlelap. Sebab dengan ngeblog, passion saya tersalurkan dan bisa jadi pengalih dari penat mengerjakan naskah buku. Happy blogging, jangan terlalu mengkhawatirkan banyak hal. Lakukan apa yang kamu anggap baik dan bermanfaat, sebab meski hanya dari satu postingan, bisa jadi amal jariyah yang tak ada putus-putusnya.


Salam,

Saturday, January 26, 2019

Cara Membuat Outline Buku dan Mengajukannya ke Penerbit

Siapa di antara kamu yang suka dan ingin menulis buku? Yup! Satu buku sebelum mati, bisa! Begitulah yang diteriakkan oleh kami para peserta seminar Asma Nadia pada 2014 silam. Sebuah keberuntungan bisa berada di sana dan duduk di antara banyaknya orang yang sedang bersemangat menulis buku.


Jika dulu menulis buku adalah impian dan masih belum kebayang gimana mewujudkannya, maka sekarang cobalah merealisasikan mimpimu supaya jadi kenyataan. Jika kemarin-kemarin banyak orang posting foto untuk #10yearschallenge, maka saya berbeda. Saya sekarang dan 10 tahun lalu dalam versi berbeda. Yup! Dulu, 10 tahun silam, saya masih bermimpi menulis buku, cerita-cerita yang saya tulis masih sebatas di buku tulis, maka sekarang, setelah 10 tahun berjalan, karya-karya saya sudah majang di toko buku. Yeay! Seneng banget nggak, sih? Hihi. Masya Allah. Luar biasa senangnya.

Sepuluh tahun itu lama, lho. Iya, saya juga sadar sepuluh tahun itu lama. Dan bagaimana saya bisa menjaga mimpi itu hingga sekarang? Jujur saja, saya sudah pernah merasakan banyak hal selama nyemplung di dunia literasi ini. Baik tiba-tiba ingin berhenti, bosan, nggak kuat dijulitin orang, ngejar fee, buku gagal terbit, fee nggak dibayar, sampai akhirnya ada di posisi seperti sekarang, menikmati dan melakukan apa yang saya bisa tanpa memaksa harus seperti orang lain. Buat saya, ini posisi paling nyaman, sih. Di mana saya nggak ragu dan khawatir siapa yang akan membaca tulisan saya. Di mana saya nggak terlalu memedulikan apa yang akan saya dapatkan. Lepas aja. Saya menulis karena suka, kembali pada tujuan awal. Jika saya nggak bisa menikmati karena terlalu sibuk memikirkan hal yang nggak perlu, buat apa?


Begitu juga dengan kamu. Setelah kamu memberanikan diri bermimpi menyelesaikan sebuah naskah, jangan sampai mimpi itu kamu kubur dalam-dalam hanya karena kamu takut nggak bisa menyelesaikannya.


Sebab ada orang yang memang sejak awal untuk sekadar bermimpi saja ragu, lho. Kayaknya nggak mungkin aku bisa menulis buku, kayaknya mustahil aku bisa menulis sebanyak itu, ngisi blog aja nggak bisa rutin, istiqomah menulis saja belum.


Percayalah, semua orang itu berproses untuk sampai pada apa yang diimpikannya. Melihat orang lain sukses, memang terlihat mudah bagi kita. Tapi, ketika kamu bertanya prosesnya, pasti kamu nggak akan bilang itu mudah…hehe. Begitu juga dengan kamu. Percayalah, meski tak selalu mulus, tetapi jika kamu berani bermimpi, Insya Allah suatu saat mimpi itu akan terwujud nyata.


Nah, sebelum menulis naskah utuh, ada baiknya kamu menulis rancangan atau outline dulu supaya proses menulisnya bisa lebih mudah diselesaikan. Memang ada penulis yang nggak suka bikin rancangan, tapi kalau saya pribadi lebih suka pakai outline terutama untuk naskah nonfiksi.


Saat ini, kamu bisa mengirimkan naskah utuh kepada penerbit atau cukup sekadar outline dan contoh beberapa bab. Memang tidak semua penerbit mau menerima outline. Tapi, ada beberapa yang bersedia mempertimbangkannya, kok.


Lalu, apa saja yang harus kamu masukkan ke dalam outline sebuah naskah yang akan diajukan ke penerbit?


1. Judul dan alternatif judul

Tulis judul yang kamu inginkan dan sertakan minimal 3 alternatif judul lainnya sebagai pertimbangan jika judul pertama yang kamu pilih tidak cocok buat penerbit. Kalau kamu bingung bagaimana cara membuat judul yang bermacam-macam, coba ditulis saja yang ada di pikiran kamu. Tulis semua baru kemudian kamu pilih mana yang paling tepat.


2. Target pembaca

Nah, setelah membuat judul, kamu bisa menuliskan target pembaca bagi buku kamu. Misalnya untuk buku motivasi bisa kamu cantumkan usia 15-35 tahun, begitu juga dengan buku anak-anak, harus benar-benar cocok dengan  target usia mereka.


3. Sebutkan genre

Yang berikutnya perlu kamu sertakan juga ada genre dari naskah yang kamu buat. Genre itu apa sih? Genre itu bisa diartikan kategori. Misalnya genre fiksi atau nonfiksi. Genre nonfiksi bisa berupa tips, trik, atau motivasi. Sedangkan fiksi bisa berupa fantasi, horor, romance, dan misteri. Jadi, cobalah menjelaskan dengan lebih detail jangan sekadar menulis fiksi atau nonfiksi saja.


4. Jumlah Halaman

Naskah belum selesai kenapa harus menyebutkan jumlah halaman? Jika kamu membuat outline tanpa naskah utuh, kamu bisa perkirakan jumlahnya dengan menghitung tiap bab akan terdiri dari berapa halaman.


5. Tema naskah

Selain menyebutkan genre, kamu juga harus menuliskan tema dari naskah yang akan kamu buat. Misalnya naskah dengan tema kumpulan kisah inspiratif bagi muslimah yang masih single.


6. Kelebihan naskah

Apa yang bisa membuat naskah kamu dipilih oleh editor? Kalau naskah kamu biasa saja, tentu editor malas menerima. So, kamu harus menemukan apa kelebihan atau keunikan dari naskah yang kamu buat. Sebutkan beberapa yang bisa menjadi pembeda dari buku-buku sejenisnya.


7. Kompetitor buku sejenis

Menurut salah satu editor yang menjadi teman saya, pentingnya menyebutkan kompetitor buku sejenis ini adalah untuk menghindari adanya plagiat. Sebab, akan sangat sulit mendeteksi plagiat pada buku, berbeda dengan artikel yang bisa kamu cek sendiri. Nah, karena itulah, ada baiknya kamu sebutkan beberapa jenis buku yang menjadi kompetitor dari naskah yang akan kamu tulis, sertakan juga nama penulis dan penerbitnya.


8. Nama Penulis

Jangan lupa selipkan nama kamu juga, ya sebagai penulis naskah.


9. Buatlah sinopsis

Yup! Saatnya kamu membuat sinopsis semenarik mungkin untuk menarik minat editor pada naskah kamu. Buat maksimal 2 halaman saja.


10. Pengantar dari penulis

Setelah membuat sinopsis, kamu bisa lanjutkan dengan membuat kata pengantar yang kemudian bisa kamu lanjutkan dengan menulis judul dari setiap bab dan sub bab pada outline kamu.


11. Bab dan deskripsi singkat

Supaya editor tahu gambaran naskahmu seperti apa, kamu bisa menuliskan judul-judul bab yang akan kamu masukkan ke dalam bukumu. Jangan lupa, berikan juga deskripsi singkat tentang apa yang ingin kamu tulis pada setiap babnya.


12. Profil penulis

Tuliskan profil kamu, lengkap dengan buku-buku yang pernah kamu tulis baik buku solo ataupun antologi. Jika bukunya masih proses editing atau proses terbit? Boleh ditulis juga asalkan kamu sebutkan juga bahwa bukunya belum terbit.


13. Contoh naskah

Jika kamu hanya sekadar ingin mengirimkan ajuan berupa outline, kamu bisa memberikan beberapa contoh dari bab yang akan kamu tulis. Tulis minimal 10-15 halaman. Lebih banyak atau utuh justru lebih baik, ya.


14. Kirim ajuan naskah atau outline kamu ke penerbit

Setelah semua beres, kamu bisa kirimkan pada penerbit yang kamu inginkan. Bismillah, setelah dikirimkan, lupakan, dan buatlah yang baru. Jangan pikirkan apakah naskahmu akan diterima atau ditolak. Jangan juga banyak bertanya. Biasanya penerbit akan memberikan konfirmasi maksimal 3 bulan setelah kamu mengirimkannya. Jika dalam batas itu kamu belum mendapatkan balasan dan kamu ingin mengirimkannya pada penerbit lain, coba kirimkan surat penarikan terlebih dahulu.


Ada editor yang berkenan membalas dan memberikan masukan, ada pula yang tidak membalasnya sama sekali. Nggak usah baper, itulah dunia kepenulisan, kuatkan mental kamu dan teruskan naskahmu yang lain. Masih ada kesempatan selama kamu mau berusaha!


Kuy, bikin outline kamu dan segera kirimkan. Siapa tahu kamu beruntung dan bisa menerbitkan bukumu di penerbit mayor. Ingat, selama kamu masih mau berjuang dan berusaha, Insya Allah kesempatan itu terbuka lebar untukmu.


Salam,

Friday, January 25, 2019

Chewy Brownies dengan 7 Bahan Ala Erlina Lim

Baru ingat kalau di kulkas masih ada dark chocolate. Udah lama menginap di kulkas karena belum sempat diekskusi. Kemarin sore-sore pengen ngemil, akhirnya buka Cookpad dan ngiler pengen bikin brownies ala Erlina Lim yang ditulis oleh mbak Indry Hapsari.


Dulu saya pernah membuat juga sekali, jadi sudah nggak penasaran karena rasanya memang benar-benar enak dan istimewanya, si shiny crust-nya itu muncul cantik banget di permukaannya.


Membuat brownies ini cukup 7 bahan saja dan tanpa mixer. Hanya aduk-aduk, jadilah brownies yang lembab dan nyokelat. Jadi, kalau kamu malas ngocok sampai pegal, bisa dicoba resep brownies ini, ya.


Perlu diketahui, untuk menghasilkan rasa brownies yang enak, butuh cokelat kualitas bagus, biar rasa nyokelatnya kuat dan warnanya cantik. Kamu bisa pakai beberapa merek cokelat bubuk yang ada di pasaran. Carilah yang lumayan biar rasa browniesmu spesial, ya.


Nah, pertanyaan paling banyak pasti tentang si shiny crust-nya ini. Gimana kalau nggak muncul? Apakah resepnya anti gagal? Perlu kamu tahu, resep yang ditulis oleh mbak Indry ini sudah di-recook oleh 100 orang lebih, lho. Hampir semua berhasil dan muncul si shiny crust-nya itu.

 
Tipsnya apa dong biar nggak gagal?

Perbandingan gula halus dan dark chocolate-nya harus lebih banyak daripada jumlah tepungnya. Kalau sudah pakai takaran pada resep ini, Insya Allah sudah oke. dan sebaiknya memang nggak nyoba-nyoba mengubah takaran kecuali memang siap gagal...kwkwk. Ikuti saja sesuai resepnya :)


Kocok telur dan gula halus sampai benar-benar larut, ya. Jangan sampai ada gula yang masih bergerindil. Ngocoknya pakai wisk, jadi agak pegal juga memang…hehe. Nggak masalah, biar berotot seperti Ade Rai…kwkwk.


Setelah adonan dimasukkan ke dalam loyang, tunggu sebentar, jangan langsung dipanggang, ya. Nggak perlu terlalu lama, asal jangan langsung dimasukkan ke dalam ovennya saja.


Nah, kalau sudah tahu triknya, mari kita coba membuatnya di rumah! Kali ini saya pakai cup biar lebih simpel aja karena nggak punya kertas roti untuk alas loyangnya.


Bahan:

150 gram dark chocolate

50 gram butter atau margarin

40 ml minyak goreng

2 butir telur

150 gram gula halus


Campur rata dan ayak:

100 gram tepung terigu protein sedang

35 gram cokelat bubuk


Topping:

Secukupnya chocochip atau almond slice

Cara membuat:

1. Lelehkan dark chocolate, butter atau margarin, dan minyak dengan cara ditim. Saya memanaskan dandang pengukus, kemudian di atasnya letakkan wadah tahan panas. Nyalakan api dan biarkan sampai meleleh sempurna, matikan api.


2. Kocok telur dan gula halus sampai gula benar-benar larut. Ini juga menentukan si shiny crust muncul, ya. Setelah gula benar-benar larut, masukkan lelehan cokelat ke dalamnya. Aduk rata.


3. Masukkan campuran tepung dan cokelat bubuk yang sudah diayak ke dalamnya. Aduk rata. Adonan nanti akan kental dan berat.


4. Panaskan oven suhu 150 derajat. Sebelum memanggang, panaskan oven hingga 10 menit sebelumnya.


5. Tuang adonan ke dalam cup dan taburi dengan topping. Diamkan sebentar baru dipanggang kurang lebih 30 menit. Bisa sesuaikan dengan oven masing-masing, ya.


6. Keluarkan dari oven dan sajikan!



Voila! Chewy brownies ala Erlina Lim dengan 7 bahan ini sudah bisa disantap oleh keluarga tercinta. Satu resep jadi 12 cup. Rasanya? Nyokelat dan nggak pahit. Enak dan pas rasanya. Jangan sampai kamu penasaran, ya. Cobain, yuk resepnya!


Salam,

Thursday, January 24, 2019

Obat Tanpa Label, Bolehkah?

Pernah nggak sih ketika kamu datang ke dokter, kemudian mendapatkan obat tanpa label? Obatnya bisa dalam bentuk sirup atau tablet yang sengaja dilepas bungkusnya entah karena alasan apa yang tidak diketahui oleh pasien sebab tidak ada konfirmasi juga dari dokter yang bersangkutan.


Saya pernah. Ketika masih kecil, orang tua selalu membawa saya ke bidan yang sudah terkenal banget di tempat kami. Orang tua biasanya tidak langsung membawa saya ke bidan paska demam, biasanya menunggu hingga 3 harian, barulah dibawa ke sana.


Tak jarang, bidan itu dianggap manjur dan tokcer banget. Bahkan sebelum saya minum obatnya, pulang dari sana saja demam sudah ilang, lho. Wah, ajaib banget tuh bidan, ya…hihi. Belakangan setelah menjadi seorang ibu saya pun paham kenapa itu bisa terjadi. Yup! Alasannya tak lain karena memang virusnya sudah mati sehingga demam pun sudah turun. Biasanya pada kasus penyakit karena terinfeksi virus biasa, demam akan hilang setelah 72 jam. Meski tak jarang naik turun juga dalam beberapa minggu. Tapi, zaman dulu jarang banget sakit disebabkan common cold bisa sampai lama demamnya, beda dengan sekarang atau bisa jadi saya yang lupa…hihi.

 
Sebenarnya, memang ada yang salah dalam hal ini. Pertama, sebenarnya bidan tugasnya bukan mengobati pasien, tapi membantu orang melahirkan meski saat ini tak jarang banyak juga bidan yang merangkap sekaligus sebagai tenaga medis yang bisa meresepkan obat buat semua orang yang sakit, tak terkecuali bagi anak-anak. Saya sebenarnya tidak terlalu memerhatikan ini, sampai akhirnya kerabat kami yang seorang dokter dan dosen di salah satu Universitas besar di Malang berkisah tentang bayi yang dilarikan ke ICU akibat salah ditangani oleh bidan. Beliau sempat berkata, “Tugas bidan, kan hanya membantu orang melahirkan, bukan mengobati pasien seperti dokter. Sekolahnya saja beda. Kalau sudah begini, kasihan pasiennya.”


Tercengang sudah saya di kursi belakang tepat di belakang suami yang sedang mengemudikan mobil. Kalimat itu memang benar adanya. Memang ada beberapa bidan yang mampu melakukannya, tetapi tak semua bidan dapat diandalkan untuk meresepkan obat buat orang sakit.


Yang kedua, obat yang diberikan oleh bidan langganan orang tua saya selalu tanpa label. Dulu mana mengerti kalau yang begini ternyata tidak diperbolehkan. Kami berpikir bisa jadi bidan itu nggak mau sampai pasiennya membeli obat sendiri, jadi dibuang labelnya supaya lebih hati-hati dan bisa berkonsultasi dengan bidannya lagi jika sakit.


Jadi, obat racikan sudah jelas nggak bakalan dikasih tahu karena sudah dihaluskan, ya. Nah, tablet-tablet pun dilepas dari bungkusnya dan dimasukkan ke dalam plastik dan hanya diberi aturan minum saja. Begitu juga dengan label sirup obat. Nggak ada label yang bisa kami baca apalagi kami tahu buat apa sebenarnya.


Hanya saja, karena minimnya pengetahuan tentang ini, kami bergeming. Yang penting anak sehat. Yang penting bisa sembuh dan enak makan. Masalah obat apa dan untuk apa, kami tidak terlalu memusingkan itu.


Tapi, setelah mengenal milis sehat dan membaca buku dokter Wati, saya jadi tahu bahwa pemberian obat tanpa label itu sangat tidak dibenarkan. Dan, yang lebih mengejutkan lagi, saya pun menemui hal yang sama di salah satu klinik di Jakarta.


Waktu itu saya dan suami terpaksa datang ke klinik saat si sulung kejang demam karena saya butuh resep obat kejang dari dokter. Kalau ke rumah sakit biasa sudah pasti disuruh rawat inap meski kondisi paska kejang demam baik-baik saja.


Di klinik tersebut, saya mendapatkan beberapa obat termasuk vitamin, antibiotik yang juga tanpa label. Obatnya dalam bentuk sirup. Sempat kesel dan protes sama asistennya yang sudah menyiapkan obat, “Kenapa nggak dikasih label, Mbak? Kayak gini, kan nggak boleh!” ucap saya ketus…hihi. Galak ya, kalau soal beginian mah saya bisa ngamuk. Udah nggak rasional, sakit apa belum jelas udah dapat antibiotik, eh malah ditambah label dibuang pula.


Tapi, karena kondisi anak nggak memungkinkan, dan berkat cubitan dari suami, saya pun diam sambil lihat mbaknya kebingungan mau jawab apaan…hihi. Muyass jahaaat….kwkwk. Saya nggak bermaksud jahat, tetapi membuang label obat itu memang tidak diperbolehkan dan termasuk melanggar kode etik karena dokter tidak memberikan hak pasien.


Yang lebih ngeri sih takut salah obat. Karena pernah ada tetangga juga diresepkan obat untuk usia lebih besar. Qadarallah orang tuanya nggak baca labelnya meski nggak dilepas karena sudah percaya banget, ya sama dokternya. Obat pertama dimuntahkan, tetapi orang tua memaksakan meminumkannya lagi untuk keduanya kalinya. Padahal pemberian obat kedua ini seharusnya tidak boleh, harus tunggu waktu minum obat berikutnya sebab kita nggak pernah bisa memastikan berapa obat yang masuk dan berapa obat yang keluar.


Setelah berhasil meminumkan obat kedua kalinya, barulah dia baca labelnya, ternyata obat itu buat anak usia lebih besar, sedangkan anaknya masih di bawah satu tahun. Ngeri banget, bayi itu keracunan obat, dibawa ke rumah sakit, disedot sampai membiru, qadarallah akhirnya meninggal.


Sebenarnya kejadian di depan mata seperti ini juga jadi trauma tersendiri buat saya, kenapa saya begitu cerewet dan kekeh kalau diberikan obat yang tidak sesuai dengan kondisi anak, atau memaksa melakukan tindakan yang tidak perlu seperti rawat inap tanpa alasan benar. Karena saya sudah melihat banyak hal di depan mata sendiri akibat nggak rasionalnya penanganan dari tenaga medis.


Lanjut pada masalah obat atau sirup obat tanpa label, sebenarnya boleh atau nggak melakukan hal ini? Kalau nggak boleh, kenapa masih banyak tenaga medis yang melakukan hal serupa?


Menghilangkan label pada obat sangat tidak dibenarkan

Menurut dokter Wati yang merupakan pengasuh milis sehat, membuang label atau brosur obat ini sangat tidak dibenarkan, lho. Bahkan ini tidak termasuk ‘art’ dari seorang dokter yang seharusnya mengedukasi pasiennya dengan memberikan informasi yang dibutuhkan.


Seorang pasien berhak mendapatkan informasi lengkap mengenai diagnosis dan cara menangani penyakitnya. Dengan membuang label pada obat dan merahasiakan ketika ditanya, ini menunjukkan bahwa tenaga medis yang dikunjungi tidak profesional karena tidak ada keterbukaan atau transparansi di dalamnya.


Seorang pasien berhak menolak, menerima, dan memilih. Jika perlu, jangan takut lakukan second opinion saja. Dibolehkannya anak rawat jalan atau istirahat di rumah menunjukkan kondisinya tidak terlalu mengkhawatirkan, jadi, sebagai pasien kita masih bisa mencari dokter yang lain atau second opinion. Bahkan saya pun pernah melakukan ini, mulai dari mendatangi rumah sakit yang paling dekat dengan rumah di Duren Sawit, hingga ke rumah sakit Bunda yang jauhnya minta ampun, sampai ke rumah sakit di Jatinegara, hingga ke rumah sakit Pasar Rebo demi mencari second opinion pada dokter Apin yang saya kenal juga di milis sehat.


Memang ini perjuangan banget. Belum lagi merayu suami supaya nggak mudah percaya pada satu dokter saja, ngajak dia supaya mau nganterin istri dan anaknya ke rumah sakit yang jauhnya nggak ketulungan demi sebuah diagnosis yang sebenarnya sudah diberikan oleh beberapa dokter yang lain. Dan hasilnya, anak saya baik-baik saja meski sebelumnya disebut sakitnya parah, harus infus antibiotik, dan rawat inap. Betapa semua perjuangan itu nggak akan sia-sia, kalimat itu yang pengen saya ucapin ke suami yang akhirnya dia pun sudah mulai paham arah pikiran istrinya…kwkwk.


Browsing dulu sebelum menebus obat

Jika tidak benar-benar paham dan tahu apa kandungan dan manfaat obat yang diresepkan oleh dokter, cobalah browsing lebih dulu. Seperti yang saya sebutkan di awal, kondisi di mana kamu boleh pulang dan istirahat di rumah bukan termasuk kondisi emergency, kok. Jika sakitmu berat, sudah bisa dipastikan kamu harus rawat inap.


Jadi, sebelum menebus obatnya, coba kamu cari tahu dulu indikasi pemberian obat itu, efek samping, cara minum, dan interkasi obat tersebut dengan obat lainnya. Sebab dokter juga manusia, tidak mustahil mereka salah juga, kan?


Tidak ada obat rahasia dalam dunia kedokteran


Pernah nggak sih dapat obat puyer tetapi kita nggak tahu isinya apa saja? Puyer itu obat yang diracik atau dihaluskan dari beberapa jenis obat. Padahal penggunaan puyer ini sebenarnya dilarang, hanya saja di Indonesia masih banyak dipakai.


Ya, semua harus jelas dan transparan. Nggak ada obat rahasia dalam dunia medis, pasien harus tahu dan jangan malu bertanya.


Jika dokternya nggak bisa bijak, sebaiknya kita sebagai konsumen kesehatan nih yang harus bijak supaya anak-anak kita nggak sampai salah menelan obat hanya karena kepanikan orang tuanya yang nggak mau sabar mencari tahu dulu atau second opinion*jleb…hehe.


Waktu si bungsu bolak balik sedot telinga karena otitis media akut, saya hanya menebus beberapa jenis obat saja, seperti obat tetes telinga. Padahal obat yang diresepkan banyak, termasuk antibiotik minum. Dalam kondisi begini, jujur saja capek mau rasional mulu, apalagi si bungsu dikit-dikit pilek dan batuk, pastinya disusul telinganya keluar cairan. Sampai dokternya bilang kalau anak saya anak mahal karena sering banget ke THT dan ngabisin uang banyak…hehe.


Saya juga panik, saya juga takut, saya juga khawatir anak saya kenapa-napa karena telinga termasuk organ penting. Tapi, di sisi lain saya pun masih nggak terima kalau dokter meresepkan obat banyak banget termasuk yang sebenarnya nggak perlu. Memang butuh sabar, butuh kuat, biar kita tetap bijak pakai obat.


Mirisnya, banyak pasien yang nggak paham dan harus ngapain kalau ketemu obat atau sirup obat tanpa label. Banyak juga yang nggak suka second opinion karena dianggap ribet dan merepotkan, ngapain juga, kan sudah ke dokter?


Buat saya pribadi, meski bukan tenaga medis, sebagai konsumen kesehatan kita juga harus belajar sih tentang hal ini supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Dokter juga sama seperti saya dan kamu, manusia juga yang bisa melakukan kesalahan. Dan perlu diingat, tidak semua penyakit selalu butuh obat, ya. Kamu bisa datang ke dokter hanya untuk konsultasi, nggak melulu minta resep obat. Jika kamu menolak karena dianggap nggak perlu, itu bukan kesalahan, sebab pasien pun punya hak untuk menolak. So, jadilah orang tua yang cerdas dan tahu apa yang harus dan tidak harus dilakukan saat anakmu sakit.


Salam,

 

Tuesday, January 22, 2019

Martabak Manis Bersarang, Mudah dan Enak Banget!

Alhamdulillah, akhirnya hari ini berhasil meyakinkan diri untuk mencoba salah satu resep dari buku Ci Tintin Rayner berjudul Simple & Moist Cake yang berisi banyak sekali resep cake, cookies, dan kudapan sedap lainnya.

Selama ini saya agak trauma bikin martabak manis sendiri karena hasilnya kering dan nggak lembab, bahkan tak jarang kurang empuk. Biasanya kalau beli rasanya legit masuk sampai ke dalam. Karena sering gagal meski telah mencoba berbagai macam resep, akhirnya malas banget mencoba resep yang lain. Paling sama saja hasilnya.


Tapi, karena anak-anak udah heboh sejak kemarin ingin dibikinin martabak manis seperti di buku ini, alhasil saya pun menurutinya. Saya cek kayaknya ini beda dan bisa jadi memang enak karena ada pemakaian ragi. Biasanya kalau pakai ragi, hasilnya tuh jauh lebih empuk meski seharian daripada yang sekadar pakai baking powder dan baking soda.

Maunya martabaknya dibawa kakak sekolah. Dia juga sudah ganti seragam, tapi tiba-tiba mau mewek karena nggak enak badan, bahunya juga sakit karena tasnya keberatan kemarin. Duh, terus gimana besok-besok bawa tasnya? Karena memang bawaan anak-anak zaman sekarang banyak banget, ya. Dulu sekolah perasaan nggak gini-gini amat. Jadi kepikiran beliin tas yang ada rodanya…hihi. Berlebihan nggak, ya? Apa saya terlalu lebay atau gimana? Soalnya bahunya dari kemarin pulang sekolah nggak boleh disentuh karena sakit.

Lupain drama pagi tadi, akhirnya si kakak istirahat dulu saja di rumah, apalagi dia baru banget batuk-batuk dan meriang. Semoga besok sudah membaik. Daaan, mau nggak mau martabaknya tetap kita masak dong pagi ini.

Awalnya saya memakai cetakan takoyaki karena nggak punya cetakan martabak manis yang kecil itu. Hiks, sedihnya semua kudapan jadi sama kayaknya bentuk dan kelihatannya kalau pakai satu cetakan ini deh. Harus beli cetakan lain.

Satu kali adonan sudah saya tuang, ternyata bentuknya nggak banget. Nggak mirip martabak karena pakai cetakan yang salah. Tiba-tiba ingat saya punya teflon mini. Yup! Ternyata hasilnya lebih oke karena ada pinggirannya yang garing itu.

Nah, kalau teman-teman mau buat, bisa kok pakai teflon besar juga. Adonannya juga lumayan banyak, bisa jadi dua kali panggang kayaknya dengan teflon ukuran sedang. Atau bisa dikira-kira sendiri, ya dan sesuaikan saja dengan cetakan yang ada di rumah. Saya pribadi pakai saja yang ada…hehe. Kalau menuruti ingin, bisa penuh dapur saya…haha.

Dan inilah resep martabak manis bersarang yang bisa kamu coba di rumah diambil dari buku resep cake milik Ci Tintin Rayner!

Bahan yang harus kamu siapkan di rumah:


250 gram tepung terigu protein sedang

15 gram susu bubuk (saya pakai 1 sachet kecil)

¼ sdt baking powder

50 gram gula pasir

¼ sdt garam halus

300 ml air matang

½ sdt ragi instan

3 butir telur

30 gram gula pasir

¾ sdt soda kue

25 gram butter atau margarin, lelehkan

Topping:


Susu kental manis, meises, kejur parut, atau apa pun yang ada di rumahmu!

 

 Cara membuat:

  • Campur tepung terigu, susu bubuk, gula pasir, baking powder, dan garam. Aduk rata.

  • Tuang air sedikit demi sedikit. Saya langsung tuang dan biar lebih cepat saya pakai mixer. Jika tidak punya, bisa pakai wisk seperti pada resep aslinya. Aduk adonan sampai rata dan agak berbusa. Kenapa harus sampai agak lama? Supaya nanti terbentuk sarang atau berlubang sempurna martabaknya.

  • Tambahkan ragi instan, aduk lagi sebentar saja asal rata. Tutup adonan dan diamkan selama 30 menit.

  • Kocok telur dan 30 gram gula pasir. Saya tetap pakai mixer. Aduk sampai berbusa dan gula larut. Masukkan ke dalam adonan tepung sambil terus diaduk.

  • Masukkan soda kue dan butter yang sudah dicairkan sebelumnya. Aduk rata dan siapkan pemanggangnya.

  • Panaskan teflon dengan api kecil agak sedang. Ingat, ya, masukkan adonan setelah teflon benar-benar panas supaya hasilnya nggak bantat. Apinya juga terlalu besar supaya tidak gosong.

  • Setelah muncul lubang, taburi dengan gula pasir dan tutup sampai matang.

  • Dengan bantuan tusuk gigi bersih, kamu bisa bantu lepaskan pinggirannya supaya nggak sobek dan mudah dilepaskan. Oleskan butter atau margarin di atasnya.

  • Beri topping yang kamu suka. Kebetulan banget di rumah juga nggak ada meisis, lho. Hihi, ini ceritanya maksa banget sih bikin martabak manis padahal bahan nggak lengkap, ya. Akhirnya saya tambahkan palm sugar dan chocochips. Hasilnya, enak banget!

Voila! Martabak manis bersarang buatanmu sudah jadi dan siap disantap di cuaca mendung dan gerimis seperti sekarang. Biasanya anak-anak suka banget sama martabak manis yang dijual di sekolah. Yup! Martabak mini yang dijual di sekolah itu memang enak, yang beli bisa sampai antri. Nah, sekarang kita bisa buat sendiri di rumah. Lumayan banget, ya bisa punya camilan sendiri dan bisa puas juga makannya.

Salam hangat,

 

Monday, January 21, 2019

Cara Mengontrol Keinginan Anak, Tidak Semua Harus Dibeli dan Dituruti

Suka kesel nggak sih kalau anak memaksa membeli mainan atau makanan yang sebenarnya terlalu berlebihan? Mainan di rumah masih banyak, bahkan baru kemarin kita membelikannya yang baru, sekarang malah merajuk dan menangis di supermarket karena ingin dibelikan lagi. Kebanyakan dari kita pasti nggak tega melihat anak sendiri sedih gitu, ya? Kadang kita juga malu di depan umum kalau nggak menuruti, takut dibilang nggak sayang, pelitlah, atau seabrek komentar buruk yang akan mampir ke telinga.


Sayangnya, jika sering kita turuti tanpa alasan yang tepat, anak akan menggunakan cara yang sama ketika keinginannya tidak dipenuhi. Yup! Mereka akan menangis lagi di tempat umum, menarik hijab dan gamis emaknya, berteriak, bahkan sampai guling-guling di lantai. Sesuatu yang 'nggak banget' dan benar-benar membuat kita kesal.


Pengalaman ini sebenarnya sudah pernah saya alami. Bukan anak saya sih yang bertingkah seperti itu, tetapi keponakan yang tinggal bersama orang tua saya di kampung.


Setiap keinginannya tidak dipenuhi, dia akan marah, sampai menarik, menjambak jilbab ibu saya dan menggilasnya di tanah. Pernah suatu waktu, ketika naik motor, dia menarik pegangan motor hingga hampir terjatuh, padahal motor sedang melaju. Kebayang nggak sih kalau kamu ada di posisi orang tua saya?

Ketika melihat reaksi keponakan yang selalu berlebihan saat meminta barang tertentu, saya pun berharap semoga anak-anak saya jangan sampai begitu kelak. Anak-anak boleh saja melihat banyak hal, tetapi tidak semua harus dia punya dan dibawa pulang. Nggak semua barang yang dijual di supermarket boleh dibawa pulang juga, kan?


Lalu apa yang bisa kamu lakukan supaya bisa mengontrol keinginan anak yang sering tantrum saat meminta sesuatu yang dia inginkan?


Sekali kamu turuti, maka selanjutnya anak akan melakukan cara yang sama untuk menarik perhatian

Jangan kira karena mereka masih kecil, mereka jadi tidak bisa memahami apa yang sebenarnya orang tuanya takutkan. Anak-anak akan paham saat kita sebagai ibu menuruti keinginannya di tempat umum karena malu pada orang-orang yang menatap dengan iba.


Suatu saat, mereka akan melakukan hal yang sama supaya keinginannya dipenuhi. Ya, sekali, dua kali, kemudian hingga usianya lebih besar pun, dia tetap melakukan cara itu supaya keinginannya dipenuhi.


Lalu bagaimana supaya itu tidak terjadi? Sekali waktu jangan dituruti. Belajarlah cuek dengan pandangan orang di sekitar kita. Nggak masalah anak menangis, yang penting dia tetap aman dan tidak menyakiti dirinya dan orang lain.


Saya pun pernah ada di posisi ini. Ketika itu si sulung baru berusia sekitar 3 tahun. Dia sudah menabung untuk membeli mobil remot, tetapi tabungannya belum cukup. Saat pergi ke pasar, dia minta belok ke tempat mainan, saya bolehkan, tetapi sebatas melihat saja.


Dia setuju. Setelah melihat banyak mobil remot, dia malah tergoda untuk segera membeli meski dia tahu bahwa uang yang dimilikinya belum cukup. Saya tetap pada pendirian di awal, tetap konsisten dengan ucapan saya sebelumnya bahwa dia hanya boleh membeli mainannya ketika uang tabungannya cukup.  Apa yang terjadi? Sudah mulai nangis dan hampir gulung-gulung di lantai. Di situ mental kita diuji. Sekali kita turuti karena kita takut dengan pandangan orang lain, maka setelah itu juga dia akan mengulanginya lagi suatu waktu.


Ajak anak ngobrol dan buat kesepakatan sebelum pergi ke supermarket

Apakah ini efektif? insya Allah cara kedua ini cukup efektif untuk dilakukan. Sebelum pergi ke supermarket, katakan pada mereka bahwa kita ke supermarket hanya untuk membeli kebutuhan pokok seperti gula dan susu. Mereka boleh membeli permen, tetapi tidak boleh membeli mainan apa pun.


Jika saat di supermarket mereka meminta barang yang tidak sesuai dengan perjanjian, maka ingatkan kembali tentang kesepakatan yang sudah dibuat sebelumnya. Kamu juga bisa mengajak mereka ngobrol seperti yang sering saya lakukan kepada dua anak saya.


“Kamu boleh melihat semua mainan ini. Tapi, tidak semua yang kamu inginkan harus dibeli, ya? Kamu bisa menabung jika ingin membelinya.”


Biasanya anak-anak saya luluh walau awalnya sempat nggak mudah juga memberi pengertian seperti itu. Kalau si sulung sudah delapan tahun sekarang. Sudah lebih paham apa yang harus dilakukan, berbeda dengan si bungsu yang sempat mogok nggak mau pulang dan hanya berdiri di depan mainan yang dia inginkan. Sempat pengen ketawa juga. Tapi, itu masanya dia begitu. Lalu apa yang saya lakukan? Saya gendong dan saya ajak dia bicara. Dibantu kakaknya yang Masya Allah sudah lebih paham, semua pun beres.


Tahu apa yang dikatakan kakaknya pada si bungsu?


“Dek, kakak juga cuma lihat saja, kok. Bun, Alby pengen yang ini aja bagus.” Sambil menunjuk mainan berwarna hijau.


Saya tersenyum, dan menjawab keinginannya tanpa menawarkan untuk membelikannya. Alhamdulillah semua tetap baik-baik saja.


Konsisten dengan ucapan sendiri

Sebenarnya, anak jadi berulah dan bertingkah kebanyakan karena memang orang tua tidak bisa konsisten dengan apa yang diucapkannya. Karena rasa sayang berlebihan dan nggak tega, kita sendiri sering melanggar apa yang kita ucapkan pada mereka.


Contoh mudahnya seperti ketika membolehkan mereka membeli mainan hanya ketika uang tabungannya sudah cukup, tapi suatu waktu karena nggak tega, orang tua justru sering melaggarnya dengan membelikan mainan menggunakan uang kita. Anak-anak jadi nggak konsisten juga, nggak mau menepati janjinya karena melihat kita pun nggak konsisten akan hal itu.


Edukasi nenek dan kakeknya supaya prinsip mendidik anak bisa seirama

Gimana bisa konsisten, sedangkan ketika anak-anak menangis sedikit saja, nenek dan kakeknya buru-buru banget mau menuruti karena besarnya rasa sayang mereka kepada cucu-cucunya.


Kita akan tahu rasanya ketika kita sudah jadi nenek dan kakek, ya. Saya paham sekali, mereka akan memberikan apa pun yang diminta cucunya asalkan cucunya nggak nangis. Tapi, sikap seperti ini akan membuat anak-anak jadi susah diatur. Jika orang tua melarang, dia akan lari pada neneknya. Jika kita tidak memberi yang diinginkan, dia akan lari pada kakeknya.


Satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengedukasi orang tua kita sendiri supaya mau bekerjasama, jangan lagi gampang menuruti kemaunan anak-anak sebab itu bukan satu-satunya tanda sayang kok. Justru dengan seperti itu, anak-anak jadi nggak bisa dikontrol keinginannya bahkan cenderung belajar boros.


Orang tua kita akan mengerti jika kita beri pemahaman pelan-pelan pada mereka. Tidak bermaksud mengajari, tapi ajaklah bekerjasama supaya cara mendidik tetap seirama.


Ajarkan menabung sejak dini

Biarkan dia memilih celengan yang disukai dan ajarkan dia rajin menabung sejak dini. Jangan bikin target terlalu tinggi karena anak-anak yang usianya lebih kecil pasti belum mampu untuk sabar menunggu.


Asalkan uangnya sudah cukup untuk membeli sesuatu, ajak mereka membuka celengannya. Katakan jumlah uangnya hanya cukup untuk membeli sesuatu seharga yang dia kumpulkan. Biarkan mereka memilih dan merasakan betapa bahagianya bisa memperoleh mainan dari hasil menabung. Mereka akan belajar pelan-pelan.


Alby, si sulung yang sekarang berusia delapan tahun, sudah saya ajarkan menabung sejak usia 2 tahunan.  Saya belikan celengan yang kecil, kemudian setelah penuh kita buka dan hitung uangnya bersama. Hasilnya dia belikan mainan yang dia mau. Dia jadi percaya dan tahu, ternyata setelah menabung dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.


Itu sih dulu, ya. Sekarang dia sudah malas memakai uang tabungannya. Jarang jajan. Dia hanya mau menabung saja. Dia tetap menabung di rumah. Dia juga menabung di sekolah. Uang dari celengannya saya masukkan ke dalam rekening yang saya punya. Saya biarkan hanya ada uang dia. Sekarang uang di rekening sudah masuk angka juta. Dari mana dapat uang sebanyak itu? Dari recehan yang dia tabung sejak usia 2-3 tahun serta dari uang yang diberikan kerabat saat lebaran. Semua pemasukan dan pengeluaran saya bantu catat dengan baik. Dan sebagai orang tua, saya tidak pernah memakai uangnya kecuali dia ingin mengambilnya untuk membeli sesuatu seperti buku.


Mendidik tak bisa instan

Kok bisa anak izin dulu ketika meminta sesuatu kepada kita sebagai orang tua? Jawabannya karena kita membiasakannya. Mendidik memang nggak bisa dengan cara instan. Kita harus mengajarkannya pelan-pelan saja hingga mereka paham betul apa yang ingin diajarkan oleh orang tuanya.


Kita pastinya pengen anak-anak nggak boros, tetapi sebagai orang tua, kita juga harus membuktikan kalau kita juga nggak boros, ya. Mereka melihat apa yang orang tuanya lakukan. Karena itu, mendidik nggak bisa instan. Semua harus dilakukan pelan dan konsisten. Harus sabar-sabar banget pokoknya, ya.


Ajarkan berbagi

Saya selalu mengajarkan si sulung untuk berbagi uang yang dia punya kepada orang yang membutuhkan. Nggak harus banyak, tetapi dia harus punya keinginan untuk berbagi juga. Jangan sampai hanya terlena mengumpulkan dan mengumpulkan sampai lupa pada orang lain yang sebenarnya butuh uluran tangan kita.


Lalu, setelah melakukan semua itu, apakah anak-anak saya lantas selalu jadi anak penurut dan tidak pernah minta beli sesuatu? Ya, nggak semanis itu juga kenyatannya. Sekali waktu kadang si sulung masih ngambek karena nggak diperbolehkan naik mobil-mobilan ketika main ke mall. Tapi, ya sebatas begitu saja, abis ngobrol lagi, hilang ngambeknya.


Seperti saya katakan barusan, yang namanya mendidik itu nggak bisa dengan instan. Kita juga harus sabar untuk mengajari mereka bersabar, kita pun harus belajar menahan diri supaya mereka tahu cara menahan keinginan itu seperti apa.


Salam,

 

Aktivitas Menulis Semakin Mudah dan Nyaman dengan ASUS Seri ZenBook Terbaru, Laptop Premium Paling Tipis dan Ringkas di Kelasnya!

Saya mulai suka menulis sejak masuk SMA. Awalnya sih karena suka membaca cerpen-cerpen di mading pesantren yang terbit setiap awal bulan. Ternyata, saya tak hanya sekadar suka membaca cerpen-cerpen di mading dan majalah jadul di perpustakaan saja, saya pun ingin menjadi penulis yang bisa menuliskan cerita yang sama menariknya dengan apa yang pernah saya baca sebelumnya.


Mimpi itu memang tidak mudah diwujudkan. Apalagi saat itu, jangankan punya smartphone, menulis pakai komputer tabung jadul saja susahnya minta ampun. Tapi, tidak ingin menyerah oleh keadaan, saya pun tetap menulis meski hanya dengan pulpen dan buku tulis.


Belakangan saya pun berpikir, selain memiliki ide menarik dan keinginan kuat menulis sebuah naskah utuh, seorang penulis juga butuh fasilitas untuk menulis buku, salah satunya adalah laptop. Untuk saat ini, hampir semua orang sudah punya laptop, termasuk saya pribadi.


Tapi, ternyata memilih laptop yang tepat tidaklah mudah. Sebagai seorang perempuan, saya lebih suka laptop yang tipis. Tapi, yang tipis saja rupanya tidak berarti ringkas dan mudah diselipkan ke dalam ransel. Padahal, tipis dan ringkas merupakan kriteria laptop idaman saya karena memang aktivitas sebagai seorang ibu mengharuskan saya membawa banyak barang ke mana pun saya pergi.


Kebanyakan laptop yang ada, meskipun tipis, tetapi memiliki dimensi yang cukup besar. Hal ini disebabkan karena layar laptop yang memiliki desain dengan bezel lebar sehingga membuat body-nya pun ikut melebar. Nah, di sinilah masalahnya. Pada akhirnya tetap saja butuh space yang luas untuk membawanya.


Jika kerjanya hanya di rumah sih nggak masalah, ya. Sayangnya, kadang saya pribadi harus pergi keluar kota, liburan ke kampung halaman yang membutuhkan waktu beberapa minggu. Mau nggak mau saya tetap harus membawa laptop meskipun jujur saja itu sangat merepotkan karena ukuran laptop yang besar dan sangat berat.


ASUS hadirkan ZenBook UX333, UX433, dan UX533, laptop ultra tipis dan paling ringkas di kelasnya!



Tapi, itu sih dulu, ya. Sekarang saya sudah nggak khawatir lagi jika harus bepergian cukup lama, sedangkan deadline menumpuk, saya masih bisa tetap menulis meskipun tidak selalu di rumah. Karena, sekarang ASUS telah menghadirkan seri ZenBook Classic terbaru yaitu UX333, UX433, dan UX533 yang sangat tipis dan juga ringkas sehingga sangat mudah diselipkan ke dalam ransel kesayangan saya.


Seolah sangat paham dengan kebutuhan orang-orang di zaman milenial seperti sekarang, ASUS yang merupakan produsen laptop terkemuka berupaya mengembangkan berbagai cara supaya bisa menciptakan laptop yang tidak hanya tipis, tetapi juga ringkas dan mudah dibawa terutama oleh kamu yang nggak mau repot seperti saya. Yap! Bayangkan saja, body laptop yang ditawarkan oleh ASUS kali ini ukurannya bahkan lebih kecil daripada kertas A4, lho.


Melalui teknologi eksklusif NanoEdge Display, ASUS membuat bezel empat sisi layar laptop menjadi ukuran yang kamu inginkan yakni 2,8 milimeter hingga 5,9 milimeter saja, lho. Ukuran ini jauh lebih kecil daripada laptop konvensional yang biasa saya pakai yang bezelnya bisa mencapai 20 milimeter.


Meskipun terbilang sangat tipis dan juga ringkas, tetapi berkat teknologi NanoEdge Display, laptop seri ZenBook Classic ini memiliki screen-to-body ratio hingga 92%. Kamu tetap bisa memakai laptop dengan layar yang sangat lega dan hampir tanpa batas sehingga dapat meminimalisir penggunaan rangka. Kebayang betapa nyamannya menulis buku atau bahkan ngeblog dengan layar selega itu?


Kenapa ZenBook Classic ini bisa jadi pilihan yang paling tepat buat kamu yang ingin merasakan bekerja dengan lebih leluasa? Karena layar pada tipe ZenBook Classic terbaru ini mengusung resolusi Full HD (1920x1080 pixel) dengan tingkat reproduksi warna yang cukup tinggi yakni mencapai 100% dalam color space sRGB.


Lebih istimewanya lagi, layar tersebut memiliki viewing angel yang sangat lebar hingga mencapai 178 derajat. Wow banget, kan? Nggak hanya itu, ASUS juga ingin pengalaman visual kamu semakin berkesan, sehingga ASUS pun melengkapi ZenBook Classic terbarunya dengan teknologi visual eksklusif seperti ASUS Splendid serta ASUS Tru2Life. Kedua teknologi visual ini tentu saja akan menyempurnakan pengalaman visual kamu.


ASUS hadirkan ZenBook tipis dan paling ringkas untuk segmen 13 inci, 14 inci, dan 15 inci 


Apa sih pembeda yang bisa kamu temukan dari ketiga jenis laptop ZenBook Classic terbaru dari ASUS ini? Selain memiliki kesamaan yakni telah diperkuat oleh prosesor terbaru dari Intel Core generasi ke-8, baik Core i5 dan Core i7, satu hal yang jadi pembeda di antara ketiganya adalah terletak pada ukurannya. ZenBook UX333 mengusung layar 13 inci, sedangkan UX433 mengusung layar  14 inci. Keduanya pun telah dilengkapi dengan fitur unik NumberPad yang merupakan tombol numpad yang terintegrasi dengan touchpad.


Nah, untuk ZenBook UX533 mengusung layar 15 inci yang dilengkapi dengan tombol numpad fisik. Jadi, kamu bisa pilih mana yang paling sesuai dengan kebutuhan kamu karena pilihan yang ditawarkan cukup beragam dan pastinya semua akan memberikan pengalaman yang tak akan terlupakan.


Teknologi ErgoLift Design membuat ZenBook Classic terbaru ini semakin ergonomis dan sangat nyaman untuk mengetik



Salah satu yang paling penting bagi penulis ketika hendak memilih laptop untuk membantu aktivitas menulis supaya berjalan dengan baik adalah dengan memilih laptop yang nyaman digunakan untuk mengetik. Karena mengetik memang menjadi suatu pekerjaan yang paling dominan bagi kamu yang berprofesi sebagai seorang penulis. Nggak ada yang lebih menyenangkan selain memiliki laptop yang bisa meringankan pekerjaan kamu, kan?


Nah, seri ZenBook Classic ini pun rupanya tidak hanya disertai dengan teknologi NanoEdge Display saja, lho. ASUS juga melengkapi laptop terbarunya dengan teknologi ErgoLift Design yang dapat membuat body ketiga ZenBook Classic terbarunya terangkat dan membentuk sudut 3 derajat. Karena posisi itulah, ZenBook Classic terbaru ini pun menjadi semakin ergonomis dan sangat nyaman digunakan untuk mengetik terutama buat kamu yang berprofesi sebagai penulis.


Keuntungan lain dari teknologi ErgoLift Design ini adalah adanya rongga ekstra di bawah body sehingga membuat sirkulasi udara semakin lancar dan audio yang dimilikinya menjadi jauh lebih baik untuk dinikmati.


Karena jika aktivitas mengetik terganggu, naskah-naskah yang memiliki deadline mepet pun akan gagal diselesaikan. Karena itulah, memang tak salah jika saya memilih salah satu di antara ketiga ZenBook Classic terbaru dari ASUS ini, ya!


ASUS hadirkan full-size backlit keyboard untuk pengalaman mengetik yang lebih nyaman dan menyenangkan


Supaya kegiatan mengetik kamu semakin mudah dan menyenangkan, ASUS pun menghadirkan full-size backlit keyboard khusus agar pengalaman mengetik kamu semakin nyaman. Udah kebayang nggak sih ngetik naskah tengah malam dengan mata mengantuk pula? Semua itu bisa jadi lebih mudah jika keyboard laptop yang digunakan tetap nyaman, ya.


Keyboard ZenBook Classic terbaru akan semakin nyaman saat ditekan karena adanya key travel sejauh 1,4 milimeter. Kamu benar-benar akan dimanjakan banget dengan adanya seri ZenBook Classic ini.


Buat kamu yang sering merasa khawatir tidak bisa mengetik dalam keadaan gelap, dengan ZenBook Classic terbaru dari ASUS ini kamu nggak perlu lagi khawatir mengetik tengah malam sekalipun karena jajaran ZenBook Classic ini telah dilengkapi juga dengan LED backlit yang memudahkan kamu mengetik meski dalam keadaan gelap.


Spesifikasi ZenBook Classic dapat  disandingkan dengan laptop premium yang ukurannya jauh lebih besar



Inilah yang dinamakan kecil-kecil cabai rawit, ya! Meskipun tipis dan ringkas, bahkan termasuk kecil dibandingkan laptop premium sekelasnya, tetapi ZenBook Classic ini punya spesifikasi yang tak kalah performanya dengan laptop premium yang ukurannya bahkan jauh lebih besar.


Selain telah diperkuat oleh Intel Core generasi ke-8, ZenBook Classic ini juga telah disematkan discrete GPU NVIDIA yang membuat ZenBook terbaru ini semakin powerful saja dalam performa grafisnya.


Untuk ZenBook UX533, ASUS menyematkan GPU NVIDIA GeForce GTX 1050 Max-Q yang bisa membantu menjalankan berbagai macam aplikasi yang butuh performa grafis ekstra semisal video editor. Atau jika kamu suka bermain game, GTX 1050 ini juga bisa membantu kamu menjalankan berbagai macam game favorit kamu. Seru banget, ya!


Nggak kalah kece dan kerennya, khusus untuk ZenBook Classic UX333 dan UX433, ASUS menyematkan GPU NVIDIA MX150 yang benar-benar bisa diandalkan untuk menemanimu bekerja seharian. Bahkan dengan GPU inilah, kedua ZenBook Classic terbaru ini menjadi lebih hemat daya sehingga bisa menemani kamu bekerja atau bahkan sekadar mencari hiburan hingga seharian.


Dengan adanya NVMe SSD sebesar 512MG pada jajaran ZenBook Classic terbaru membuat kecepatannya semakin maksimal bahkan lebih cepat dibandingkan dengan  SSD SATA standar pada umumnya. Kamu pun nggak perlu khawatir lagi, dengan RAM berkapasitas hingga 16GB, ZenBook Classic terbaru dari ASUS ini pastinya bisa menemani segala aktivitas menulis kamu sehari-hari. Bahkan saat deadline menumpuk pun, kamu masih bisa merasa lega dan jauh lebih tenang.


Sistem keamanan ekstra dengan konektivitas lengkap


Selama ini saya juga sering khawatir mengenai keamanan dari laptop yang saya miliki. Maunya sih punya laptop yang canggih sehingga bisa lebih aman meski selalu dibawa ke mana-mana. Sayangnya, sampai detik ini pun saya pribadi belum menemukan yang sesuai kecuali setelah mengetahui seri ZenBook Classic terbaru dari ASUS ini.


Keamanan yang dibekali pada jajaran ZenBook Classic terbaru ini rupanya menggunakan face recognition atau sistem pengenal wajah yang terintegrasi dengan Windows Hello. Fitur ini memungkinkan kamu masuk ke dalam sistem tanpa perlu repot memasukkan pin atau password, lho.


Jadi, buat yang pelupa dengan pin sendiri, apalagi yang sudah emak-emak seperti saya yang mulai rawan pelupa, jajaran laptop dari ASUS ini benar-benar bisa jadi pilihan terbaik deh. Jangan sampai aktivitas menulismu jadi terhambat hanya karena kamu lupa pin atau password kamu sendiri, ya. Kan jadi ngeselin banget jika sampai itu terjadi.


Untuk menjaga keamanan, ketiga ZenBook Classic ini menggunakan kamera infra merah yang bisa memindai wajah penggunanya dengan akurat. Jadi, nggak bakalan bisa salah orang, ya!


Lalu gimana kalau laptop kamu nggak bisa mengenali wajah kamu yang memakai topi atau kacamata, sedangkan sebelumnya kamu nggak menggunakan itu? Rupanya, dengan kamera dari ZenBook Classic terbaru ini tetap bisa mengenali wajah seseorang meskipun dengan memakai aksesori juga, lho. Jadi, semakin yakin ya kalau seri terbaru dari ASUS ini nggak bakalan salah orang dan pastinya sangat aman.


Memiliki fitur konektivitas yang lengkap



Selain menjamin sistem keamanan yang sangat canggih, jajaran ZenBook Classic ini juga dilengkapi dengan fitur konektivitas yang lengkap dengan mengandalkan dual-band WiFi 802.11ac (2x2) untuk kenektivitas lebih cepat dan tentu saja stabil.


Buat kamu yang suka mengirimkan hasil ilustrasi seperti saya dari tablet ke laptop, jangan khawatir, karena ZenBook Classic terbaru ini juga dilengkapi dengan Bluetooth 5.0 yang bisa kamu gunakan untuk menghubungkan berbagai macam perangkat eksternal lainnya.


Selain itu, untuk konektivitas melalui kabel, kamu bisa menggunakan serangkaian port mulai dari USB Type-A dan Type-C, HDMI, serta combo-audio jack untuk kebutuhan data, audio, dan video kamu


Seri ZenBook Classic dari ASUS ini terbukti lebih elegan dan kokoh



Seri ASUS ZenBook Classic terbaru kali ini tidak hanya canggih, tetapi juga sangat elegan berkat bezel-nya sangat tipis. Tentunya ini juga menjadi kelebihan tersendiri buat saya yang sedang mencari-cari lalptop yang tepat untuk membantu aktivitas menulis menjadi semakin mudah dan nyaman pastinya.


Tidak hanya tampil lebih elegan, seri ZenBook Classic terbaru ini juga tampil dengan body lebih kokoh daripada sebelumnya, lho. Yang lebih amazing lagi, rupanya seri ZenBook ini juga telah mengantongi sertifkasi standar militer MIL-STD-810G. Ketiganya telah lolos melalui pengujian ekstrem mulai dari uji suhu dan kelembapan, uji getaran, uji ketinggian, hingga uji banting sekalipun.


Berat ASUS seri ZenBook Classic



Eits, jangan bayangin yang serem-serem deh pada seri ASUS kali ini. Sebab ketiga laptop canggih ini kayaknya nggak bakalan bikin bahu kamu sakit karena terlalu berat saat menggendongnya di dalam ransel.



Untuk seri UX333 dan UX433 rupanya hanya memiliki berat 1,19 kg dengan baterainya, lho. Sedangkan untuk seri UX533 juga memiliki berat yang nggak berbeda jauh yakni hanya 1,67 kg dengan baterai. Asyik banget nggak bikin tas jebol deh!


Pilihan warna seri ZenBook Classic terbaru dari ASUS



Saya yakin, bagi seorang perempuan, memilih laptop itu nggak bisa hanya sekadar canggih dan keren saja, laptop yang dipilih pun harus memiliki warna favorit kamu juga, kan? Yup! Biar seragam nih sama tas, bahkan kembaran warna dengan beberapa aksesori yang selalu kamu bawa pergi.


Nah, kali ini ASUS pada seri ZenBook-nya telah memberikan beberapa pilihan warna yang begitu menarik dan tentu saja sangat elegan. Kamu bisa memilih warna Royal Blue yang memiliki kesan mewah serta premium. Ada juga Icicle Silver yang hadir dengan kesan unik dan elegan.


Buat kamu pencinta warna merah, jangan khawatir, kabarnya ASUS seri ZenBook ini juga akan hadir dalam warna Burgundy red untuk  ZenBook 13 UX333, lho.


So, kamu bakal pilih warna apa nih untuk calon laptop kesayangan kamu nanti? Pasti bakalan bingung dengan ketiga warna yang sangat menggoda ini, ya?

  
Nah, itu dia beberapa kelebihan dari seri ZenBook yang bisa kamu lihat dan pertimbangkan. Kira-kira, kamu akan pilih ZenBook yang mana nih untuk menemani aktivitas menulis kamu sehari-hari serta tetap ringkas ketika dibawa pergi? Saya sih mupeng ketiganya karena seri ASUS kali ini memang benar-benar sempurna untuk perempuan yang berprofesi sebagai penulis seperti saya. Bagaimana dengan kamu?


Salam,

Friday, January 18, 2019

Cinta Kamu dan Dia

Rayna

“Kenapa aku harus jatuh hati padamu di saat bersamaan aku mulai mengenal-Nya?”

Ini hari pertama aku tiba di pesantren yang menurut Bokap, ini adalah tempat paling baik buat bocah urakan seperti aku. Namaku Rayna. Kamu bisa bayangkan, anak paling populer di SMA Negeri 1 Jakarta harus dipaksa pindah ke pesantren yang letaknya pun jauh banget dari sudut kota. Ini bukan lagi Jakarta di mana kamu bisa nongkrong dengan santai di kafe favorit kamu. Ini pesantren yang letaknya di pelosok, bahkan bisa jadi nggak banyak makhluk bumi yang tahu keberadaannya.


Aku datang dengan menenteng tas jinjing berisi segala keperluan. Semalam aku sudah mengemasi barang-barang, termasuk smartphone juga sih. Tapi, apa kata Bokap?


“Ngapain ke pesantren bawa smartphone? Kamu mau belajar agama apa main game?”


What? Jadi nanti di pesantren aku ngapain aja nih? Nggak ada musik, nggak ada smartphone juga? Apa kabar teman-temanku di Jakarta yang sedang asyik nongkrong di kafe setiap weekend. Aku sedih banget! Dan juga kesal pada Bokap. Ngapain sih bawa aku ke pesantren? Toh di kota aku nggak nakal-nakal amat. Nggak pernah minum alkohol, nggak juga ke diskotek setiap malam Minggu. Nggak pernah! Aku tahu cara menjaga diri, nggak sembarangan juga jalan sama cowok. Hanya karena kemarin aku bolos tiga hari karena mengikuti keinginan Rachel nginep di Puncak, dan oke aku bohong sih sama Bokap dan bilang kami ada kegiatan dari sekolah. Dan ujung-ujungnya saat Bokap tahu, tanpa tanya ini dan itu, Bokap langsung bawa aku ke sini.


Rasanya asing banget! Bokap masih mengurus pendaftaranku di pesantren sekaligus aku harus pindah sekolah juga. Menurut informasi yang aku dapat dari Bokap waktu di perjalanan barusan, sekolah formal di sini ternyata nggak beda jauh dengan sekolah di kota. Bedanya cuma satu, cowok sekolahnya pagi, sedangkan cewek masuk sekolah formalnya siang hari. Ya, buat aku nggak masalah sih. Selama ini aku juga nggak terlalu peduli kalau soal itu.


“Jadi, jangan harap kamu bisa naksir apalagi pacaran di sini, ya. Nggak ada kesempatan buat melirik cowok, Ray! Kamu harus fokus belajar agama di sini.” Tegur Nyokap.


Tapi, aku nggak bisa terima juga sih, “Kalau nggak ada cowok, ustadznya juga boleh sih, Mah.”


Sontak Nyokap melotot sambil meninggalkan bekas cubitan berupa lebam membiru di lenganku. Ish, aku hanya bercanda, kenapa harus dibuat serius, sih. Lagian sejak kapan aku jatuh hati sama seseorang? Perasaan nggak pernah. Eh, pernah sih waktu masih SMP, cinta monyet. Itu juga aku diam-diam aja sukanya nggak pernah mengutarakan secara terang-terangan pada kakak kelasku. Duh, apa kabar Nyokap kok nggak tahu anaknya seperti apa selama ini?


Dan setelah sampai di sini, aku memerhatikan banyak hal, termasuk gedung sekolah yang berdiri tidak jauh dari kantor pesantren, santri-santri yang kayaknya seusiaku atau malah yang lebih kecil juga lebih banyak. Miris banget! Ngapain masih kecil sudah masuk pesantren? Pasti mereka bakalan kehilangan masa-masa menyenangkan saat masih remaja. Seperti aku yang merasa tiba-tiba dirampas kebebasanku ketika masuk ke penjara ini. Ya, ya. Penjara suci, tapi nggak gini-gini amat sih.


Eits, nggak lama Bokap sudah selesai mengurus semua administrasi dan mengurus keperluanku. Sambil masih kerepotan membenahi jilbab instan yang baru saja kupakai hari ini, sembari kesulitan melangkah karena tiba-tiba harus memakai rok yang super feminim dan nggak banget. Oke, ini hari paling menyebalkan yang pernah ada dalam hidupku. Sebenarnya aku tuh nggak salah apa-apa kok. Di puncak kemarin pun aku nggak ngapa-ngapain selain hanya tidur, makan, dan jalan sama yang lain. Kenapa aku harus dapat hukuman sekejam ini sih, Tuhan?


“Ray! Bengog aja! Tuh kamar kamu.” Celetuk Nyokap sambil mencubit lenganku, lagi.


“Mah, aku pulang aja deh. Beneran, Rayna janji deh nggak akan macam-macam di rumah. Rayna nggak pengen tinggal jauh dari Mamah sama Papah. Rayna pengen pulang aja, Mah. Sita aja deh fasilitas punya Rayna, Ray nggak butuh. Pliss, Mah. Ray pengen pulang aja dan tidur di kasur Ray yang empuk itu. Janji deh nggak akan ke puncak lagi tanpa izin. Mah, pliss!”


“Telat! Kita sudah sampai di sini, ngapain kamu pulang? Mending kamu coba aja deh tinggal di sini, perbaiki salat kamu, ngaji kamu, dan satu lagi, sikap kamu sama orang tua. Jangan cengengesan aja, Ray. Malu!” bisik Mamah tanpa ampun.

Dan ketika kaki kananku melangkah ke dalam kamar berukuran 6x4 itu, mataku memicing dan membayangkan banyak hal mengerikan. What? Kamar sesempit ini harus dihuni oleh 25 orang? Nggak salah, Ray? Terus aku harus tidur di sebalah mana? Kasur-kasur berbaris saling tindih, bahkan tampak nggak terurus. Ih, beneran aku pengen banget kabur kalau nggak ingat sebagai anak itu nggak boleh membangkang sama orang tua.


Baiklah, aku mengalah. Mamah bilang minimal enam bulan aku bisa betah di sini, setelah itu aku boleh memilih, akan melanjutkan atau keluar saja. Tapi, aku jadi berpikir ulang, enam bulan kalau tinggal di rumah sendiri dan bisa keluyuran ke sana kemari sih pasti rasanya cepat banget berlalu. Lha ini kan di tempat berbeda. Penjara, Ray! Penjara gitu. Apa kabar aku selama enam bulan ke depan?


Aku merengek mengajak Nyokap segera keluar, pengen banget lari dan masuk mobil terus ninggalin Bokap dan Nyokap. Sekalian aja mereka yang menginap di pesantren. Kenapa harus aku? Tapi urung.


Tiba-tiba mataku basah. Nggak tahu harus ngomong apa. Nyokap memelukku erat. Rasanya berat banget, nggak pernah Nyokap mendekapku seerat ini. Nggak pernah Nyokap mengusap kepalaku seperti ini. Aku menangis bukan karena aku takut ditinggal mereka pergi atau aku nggak bisa lagi tidur di kamarku yang dingin dan kasurku yang empuk, aku hanya sedih kenapa tiba-tiba aku merasa sayang banget sama Nyokap dan merasa bersalah karena selama ini belum bisa membahagiakan mereka. Sebenarnya, semua yang Bokap dan Nyokap lakuin semata-mata demi kebaikanku. Nggak ada keinginan lebih.


“Udah, Ray. Mama tinggal dulu, ya. Bulan depan Mama datang lagi untuk menjenguk kamu.” Ucap Mama sambil mengusap matanya yang ikut basah.


“Mah, Ray janji bakalan jadi anak yang baik dan penurut. Maafkan Ray udah ngecewain Mamah selama ini. Ray memang nggak bisa nyenengin Mamah sama Papah.”


“Kamu ngomong apa sih. Selama ini kamu sudah melakukan yang terbaik kok.”


“Terus ngapain Ray dibawa ke sini kalau Ray udah jadi anak baik? Apa nggak ada tempat yang lebih layak apa?” Protesku, sewot lagi.


Hush! Diem kamu. Nanti didenger yang lain nggak enak, Ray. Ini tempat yang tepat buat kamu. Kalau di kota, kapan kamu sempat ngaji?”


“Oke. Ray bakal buktiin kalau Ray bisa jadi anak yang membanggakan buat Mamah dan Papah.” Jawabku penuh yakin.


Setelah memperkenalkan diri kepada semua penghuni kamar baruku, Mamah segera keluar dan menyusul Bapak yang sudah menunggu di mobil. Aku nggak sempat mengantar, segera sibuk dengan teman-teman baruku yang ternyata, nggak terlalu buruk juga kok.


Ah, ini hari pertamaku di pesantren. Aku nggak akan lupa gimana dan kenapa aku bisa sampai ke sini. Selamanya akan aku ingat, dan kalau bisa, aku harus segera keluar sih dari sini. Tapi, Ray, barusan aja kamu baru bilang kalau kamu bakalan jadi anak baik? Itu artinya kamu harus tetap di sini dong. OMG! Rasanya aku pengen pingsan aja deh kalau ingat…hiks.

 

****


Gus Arif

“Butuh waktu lama untuk mengenal siapa dia dan kenapa dia bisa masuk ke dalam rongga hatiku.”

Hari ini ada murid baru. Karena Abah tidak ada di rumah, terpaksa aku yang menemui orang tuanya. Rupanya tamu dari Jakarta. Aku tahu, setelah mendengar cerita dari ayahnya, gadis yang masih SMA dan bernama Rayna itu bukan anak sembarangan. Ya, dia cerdas dan pintar. Selalu juara dan sangat populer di sekolahnya. Sayangnya, ayahnya sungguh tak ingin Rayna salah dalam bergaul, hingga dengan alasan yang tak masuk akal pun, dia harus dibawa ke pesantren ini supaya bisa belajar agama.


Sepintas aku sempat melihat dia menyeret tas jinjingnya dengan malas. Aku tersenyum. Senyum yang tiba-tiba saja menyungging tanpa persetujuan sebelumnya. Seperti santri baru pada umumnya, dia pun terlihat malas-malasan untuk menuju kamar di mana dia akan tinggal lebih lama di sini.


Aku membayangkan bagaimana nanti dia bertahan di sini? Sedangkan kehidupannya di Jakarta cukup mewah dan semua fasilitas pun ada. Di sini, jangankan mendengarkan musik dan bermain smartphone, menghubungi orang tua sering-sering saja sangat dilarang. Kenapa? Karena itu membuat para santri ingin pulang dan tidak betah di pesantren.


Mungkin Rayna berbeda, entahlah. Aku merasa ada sesuatu yang istimewa ada padanya. Tak perlu dipikirkan, Gus. Kamu harus mengajar santri putra pagi ini. Murid-muridmu sudah menunggu sejak tadi.


Aku terperangah dan segera beranjak, mengambil sepeda dan mengendarainya menuju pesantren putra. Hari ini aku harus mengajar di dua kelas. Jangan sampai aku terlambat hanya karena memikirkan santri baru itu.


Bersambung….


Salam,