Tuesday, June 15, 2021

Resep Membuat Kue Lumpur Tanpa Oven

Resep Membuat Kue Lumpur Tanpa Oven
Yuk, sajikan kue lumpur tanpa oven di rumah (Photo: Asianfoodnetwork.com)


Saya senang memasak atau membuat kue, terutama selama pandemi. Kemudahan mencari informasi di dunia maya, termasuk mencari resep yang mudah dicoba, menjadikan saya semakin rajin menyajikan makanan di meja makan. Iya, masak sendiri itu lebih nyaman dalam kondisi seperti sekarang. Selain lebih terjamin kebersihan serta bahan-bahannya, aktivitas ini bisa menjadi salah satu alternatif untuk menghilangkan kebosanan. 


Males di rumah terlalu lama, tapi mau keluar rumah juga parno. Akhirnya, saya melakukan banyak hobi lama, termasuk nge-baking. Sekalian ajak anak-anak juga biar terhibur. Agak riweh memang kalau mau masak bareng mereka, tapi happy banget apalagi kalau mereka ikut senang dan menikmati juga.


Dapur jadi berantakan? Itu salah satu risikonya…hihi. Ajak anak-anak juga untuk membantu membereskan. Mereka akan dengan senang hati membantu, kok asal kita mau ngasih kesempatan. Dan inilah yang saya terapkan kepada anak-anak. 


Salah satu peralatan yang diperlukan bagi yang suka bereksperimen di dapur untuk membuat kue adalah oven. Dengan oven, akan memudahkan kita membuat berbagai macam kue yang bisa dinikmati sendiri maupun dijual. 


Misalnya, saya sering membuat roti sendiri, entah itu roti tawar atau roti manis isi berbagai macam selai. Bikinnya nggak terlalu sulit, kok. Butuh lebih sabar saja karena mesti proofing hingga beberapa kali untuk menghasilkan roti yang lembut.


Biasanya, anak-anak ikut bantu membentuk adonan roti menjadi bentuk yang mereka inginkan. Saya bebaskan mereka dan dengan senang hati saya berikan sebagian adonan supaya mereka senang bisa dapat bagian ‘membantu’ sambil bersenang-senang. 


Selain roti, saya juga senang membuat bolu pakai oven. Pokoknya, oven ini berguna banget karena banyak sekali jenis kue yang bisa kita buat di rumah. Termasuk juga kue kering yang biasa menghiasi meja tamu saat lebaran dan nggak bisa mudik seperti dua tahun terakhir.


Baking Tanpa Oven, Bisa Nggak, ya?

Resep Membuat Kue Lumpur Tanpa Oven
Ada banyak resep kue tanpa oven yang bisa kita coba (Photo by Kristina Tripcovic on Unsplash)


Akan tetapi, bagi pencinta kue yang tidak mempunyai oven di rumah, tidak perlu khawatir. Masih ada banyak varian kue yang bisa dibuat tanpa menggunakan bantuan oven dan cukup menggunakan rice cooker ataupun kompor yang ada di rumah. Terutama untuk ibu-ibu muda yang baru menikah dan belum jago nge-baking. Nggak perlu khawatir nggak bisa bikin kue, karena memasak atau ngebaking nggak harus pakai peralatan mahal dan merepotkan. Cukup dengan perkakas yang ada di rumah saja dan manfaatkan dengan sebaik-baiknya.


Waktu awal menikah, saya juga nggak jago masak, kok. Malah serba nggak bisa apa-apa karena selain masih muda, saya juga nggak ada pengalaman sering masak sendiri selama masa sekolah. Di pesantren, kami tidak diperkenankan memasak sendiri karena khawatir membuat kami kehabisan waktu dan capek. Sedangkan aktivitas belajar padat banget selain sekolah formal.


Pas udah nikah, kayak nggak tahu apa-apa selain masak nasi pakai rice cooker…kwkwk. Sedangkan sosial media nggak semudah sekarang, apa-apa serba susah. Beli buku resep pun sering nggak jelas isinya. Selalu nggak berhasil pokoknya.


Namun, kita nggak boleh menyerah. Semua akan bisa karena terbiasa. Saya pun percaya meski lebih banyak nggak percayanya, terutama ketika melihat hasil masakan nggak ada yang bener…hihi. Sudah capek-capek bikin sesuai resep, kok hasilnya gini? Hiks. Sering banget ngalamin semua itu.


Seiring berjalannya waktu, akhirnya pinter juga, kok. Masih ingat juga pertama kali bikin roti dan berhasil, terharu banget dan bangga banget, lho. Sebelumnya, entah berapa kali gagal bikin roti. Padahal, ngulennya aja sudah sampai tengah malam, tapi ujung-ujungnya bantetlah atau malah nggak matang dengan sempurna.


Setelah berhasil, akhirnya berani nyoba lebih banyak resep lagi. Karena aktivitas lumayan padat, tapi mesti nyiapin sarapan serta bekal sekolah untuk anak, akhirnya lebih banyak nyoba resep-resep simpel yang nggak membutuhkan oven untuk proses memasaknya. Iya, cukup pakai Teflon, cetakan kue cubit, dll.


Resep Kue Tanpa Oven

Resep Membuat Kue Lumpur Tanpa Oven
Senangnya bisa ajak anak-anak membantu di dapur (Photo by Hannah Tasker on Unsplash)


Salah satu kue yang tidak membutuhkan oven untuk membuatnya adalah kue lumpur yang mempunyai rasa enak dan tampilan sederhana. Siapa yang nggak tahu kue lumpur? Biasanya, kue lumpur jadi kue wajib dalam acara hajatan dalam keluarga besar saya. Selain mudah dibuat, rasanya juga enak. lembut dan gurih.

 

Untuk membuat kue lumpur, kita hanya membutuhkan bahan sederhana, yaitu:

  • Gula pasir 250 gram
  • Telur 2 butir
  • Kuning telur 1 butir
  • Santan 500 ml
  • Tepung terigu serbaguna 250 gram
  • Kentang kukus 500 gram, lumatkan hingga halus
  • Margarin blueband 100 gram, cairkan terlebih dahulu
  • Vanili ½ sendok teh
  • Daun pandan 2 lembar, simpulkan
  • Kismis secukupnya untuk topping

 

Cara membuat kue lumpur tanpa oven:

  • Rebus santan terlebih dahulu. Tambahkan garam dan daun pandan. Aduk hingga mendidih dan angkat. Biarkan hingga dingin.
  • Kocok telur. Tambahkan gula, kemudian masukkan vanili.
  • Tuang santan pada adonan yang dibuat sedikit demi sedikit. Masukkan terigu dan kentang.
  • Aduk rata dan campurkan blueband yang telah dicairkan.
  • Panaskan cetakan dan olesi dengan margarin. Tuang adonan yang telah dibuat secukupnya saja.
  • Masak setengah matang, kemudian berikan topping berupa kismis.
  • Tunggu hingga matang dan kue lumpur siap dinikmati.

 

Resep membuat kue lumpur di atas mudah untuk diikuti karena mempunyai bahan dan peralatan yang sederhana. Untuk mendapatkan bahan tersebut juga sangat mudah, salah satunya bisa didapatkan dari TokoWahab yang merupakan distributor bahan kue online, sehingga menawarkan banyak sekali bahan yang bisa dipilih dan didapatkan. Mulai dari coklat lengkap, keju,  tepung, berbagai bahan topping, mentega dan banyak bahan kue lainnya.


Belanja Online Lebih Aman

Resep Membuat Kue Lumpur Tanpa Oven
Belanja online di masa pandemi lebih banyak diminati (Photo by Lucrezia Carnelos on Unsplash)


Teman-teman pasti setuju, jika belanja online sangat membantu terutama dalam kondisi pandemi seperti sekarang. Saya, selama dua tahun ini, benar-benar nggak pernah pergi ke pasar untuk sekadar belanja kebutuhan sehari-hari. Mending beli online jika berupa bahan-bahan kering seperti bahan-bahan kue, dll.


Buat saya, selain hemat waktu, juga hemat tenaga dan tentu saja jauh lebih aman. Jika teman-teman punya toko bahan-bahan kue, bisa banget belanja grosir di TokoWahab. Selain menjual bahan-bahan kue yang kita butuhkan, TokoWahab juga menjual peralatan kue, lho. Kerennya, bisa kirim ke seluruh wilayah di Indonesia.


Selain kue lumpur, ada banyak resep kue-kue tradisional tanpa oven. Misalnya kue cubit, kue cucur, bolu kukus, dll. Yuk, kita mencoba berbagai resep sederhana di rumah. Lumayan banget buat ngisi waktu kosong dan menghibur diri.


Salam hangat,


Saturday, June 12, 2021

Cerita di Balik Proses Menulis Buku Belajar Jadi Lebih Baik

Cerita di Balik Proses Menulis Buku Belajar Jadi Lebih Baik


Sudah baca buku terbaru saya yang terbit di Genta Hidayah? Judulnya Belajar Jadi Lebih Baik. Buku ini seperti jawaban atas doa-doa saya. Juga atas impian yang malu-malu saya sampaikan. Karena merasa minder dan hampir nggak percaya bisa melakukannya. Sampai detik ini, rasanya kayak mimpi bisa ngerjain ilustrasi sendiri. Pernah ada di posisi seperti saya? :D


Tahun lalu, saya pernah menulis caption di Instagram, berharap tahun 2021 ada buku terbit dan saya ilustrasikan sendiri. Dan buku Belajar Jadi Lebih Baik seolah menjadi jawaban atas keinginan yang malu-malu saya ungkapkan pada tahun sebelumnya.


Gambar-gambar yang saya buat dalam buku ini memang terbilang terlalu cepat pengerjaannya, kayak di-uber-uber waktu cetak. Gambarnya sudah pasti masih jauh sekali dari sempurna. Namun, saya bersyukur bisa menyelesaikan semuanya tepat waktu.


Dalam usia saya yang sudah nggak lagi muda, rupanya saya masih senang mengejar impian. Kadang, suka lupa sama umur kalau sudah ngerjain banyak hal yang saya suka. Apalagi kerjaan saya memang bukan pegawai kantoran. Saya bekerja di rumah, waktunya fleksibel, dikerjakan saat saya longgar dari kewajiban mengurus rumah dan anak-anak, pokoknya senyamannya aja dikerjain. Dan ya, sepertinya inilah hidup yang saya inginkan, masyaallah.


Saya bersyukur sekali karena punya pasangan yang sangat mendukung. Mas tahu saya nggak suka keluar rumah, pekerjaan saya sebagai penulis dan ilustrator sudah yang paling nyaman. Nggak harus interaksi dengan banyak orang secara langsung sebab itu bukan 'saya' banget. Saya pun bersyukur karena Mas ngasih izin dan juga membantu ketika saya membutuhkan.


Usia Bukan Alasan Untuk Berhenti Bermimpi

Cerita di Balik Proses Menulis Buku Belajar Jadi Lebih Baik


Saya menikah di usia 19 tahun. Kemudian ikut suami ke Jakarta dan menetap hingga sekarang. Waktu awal menikah, saya nggak kepikiran mau ngapain aja di rumah. Demi mengusir rasa bosan, saya melakukan banyak hal, misalnya bikin kerajinan dari kertas krep, bikin bunga koran, merajut, menyulam, ya ampun banyak banget hal yang saya kerjakan selain menulis waktu itu :D


Sambil nunggu Mas pulang kerja, saya ngerjain semua itu bergantian. Sesukanya aja. Sampai rumah penuh dengan bunga-bunga kertas buatan saya…kwkwk. Belum kebayang bakalan nulis lagi dan nggak tahu juga mau di kemanain tulisannya. Nggak kenal penerbit, nggak tahu apa-apa pokoknya. Intinya, tahun-tahun awal menikah, saya nggak kepikiran bakalan nulis cerita lagi seperti saat di pesantren.


Waktu berlalu begitu lambat. Iya, kalau sekarang ngebayangin kayaknya lambat karena itu bukan tahun-tahun yang mudah terutama untuk ibu muda seperti saya. Setelah anak-anak cukup besar, saya mulai menulis lagi dan mulai belajar lagi hingga sekarang.


Pencarian atas sesuatu yang saya inginkan rupanya nggak semudah yang orang bayangkan. Saya sempat rehat sekian tahun dan berhenti menulis, saya pernah gagal menerbitkan buku meski telah menunggu hingga sekian tahun. Banyak hal telah saya lalui dan saya beryukur bisa tetap menulis hingga sekarang. Rasanya, bahagia.


Ternyata, makin bertambah usia, makin senang saya mengejar impian yang telah lama terlupakan. Salah satunya menjadi penulis. Perjalanan menjadi penulis buku nggak serta merta terjadi begitu saja. Saya pernah fokus menulis artikel selama beberapa bulan, saya pernah hanya fokus ngeblog sampai puas, saya pernah hanya fokus menulis buku dan mengabaikan blog, hingga akhirnya saya tahu, saya senang melakukan semuanya. Nah, lho. Repot, kan kalau semua dikerjain? Kwkwk.


Akhirnya, harus pandai-pandai bagi waktu. Nggak semua bisa kita kerjakan sesuka hati karena waktu kita amat terbatas. Terutama karena saya sudah menjadi seornag ibu dan punya dua anak laki-laki yang sedang tumbuh. Di rumah nggak ada yang bantuin, kalau nulis mulu, bisa-bisa rumah berantakan dan anak-anak nggak makan…kwkwk. 


Solusinya gimana? Kalau saya sedang sibuk mengurus blog, saya nggak akan memaksa diri menyelesaikan naskah dalam waktu yang sama. Ketika saya sibuk menulis artikel, saya nggak mungkin ngeblog sering-sering. Dan itulah yang saya kerjakan sampai sekarang. 


Lakukan sesuai porsi kemampuan kita. Setiap orang punya kemampuan berbeda, jadi jangan melihat orang lain, lihatlah diri kita sendiri, mampu nggak ngerjain semuanya? Kira-kira ada kewajiban yang diabaikan nggak kalau maksa ambil semua pekerjaan?


Impian memang menjadi salah satu alasan bagi kita untuk tetap bersemangat menjalani hidup. Namun, kita tidak boleh egois juga dengan kehidupan nyata. Apa gunanya kita berhasil, tapi di sisi lain ada bagian yang ‘gagal’? 


Pintar-pintar saja membagi waktu, jadi ibu-ibu bukan alasan untuk berhenti bermimpi *eaa. 


Menulis Buku Sekaligus Bikin Ilustrasi

Cerita di Balik Proses Menulis Buku Belajar Jadi Lebih Baik


Buku terbaru saya ini disertai ilustrasi pada setiap babnya. Jadi, teman-teman bakalan menemukan banyak ilustrasi khas saya. Iya, saya tahu belum bagus, tapi saya sudah berani menyelesaikan semua, lho. Saya juga telah memulainya, gimana dengan kamu? :D


Saya itu sangat percaya, semua hal bisa dikerjakan bukan hanya tergantung pada bakat seseorang, melainkan juga dari usaha dan latihan yang gigih. Dan semua dimulai dari bawah alias nol.


Penulis hebat, nggak mungkin tiba-tiba jadi hebat. Dia mulai belajar dari nol, dia membuang rasa takut serta ragu, belajar setiap hari tanpa kenal lelah, hingga akhirnya kita bisa lihat penulis-penulis hebat seperti Tere Liye atau Asma Nadia. 


Buat saya, segala sesuatu itu nggak harus sempurna. Ketika saya membuat buku ini, saya tahu gambar saya nggak sebaik milik orang lain, bahkan saya baru belajar banget. Tapi, kesempatan saya datang di saat itu, kalau saya menyerah, sudah pasti saya akan gagal dan siapa yang menjamin saya bakalan bisa dapat kesempatan yang sama di lain waktu?


Saya abaikan perasaan insecure dan meletakkan pada tempatnya. Karena yang saya butuhkan saat itu bukan rasa minder, melainkan keberanian dan komitmen untuk menyelesaikan semuanya tepat waktu. Soal bagus atau nggak, itu urusan belakangan. Karena mau bagus itu butuh proses dan jangan harap bisa sebentar. Dan saya menikmati prosesnya. Dijalanin aja apa susahnya, sih?


Tentang Buku Belajar Jadi Lebih Baik

Cerita di Balik Proses Menulis Buku Belajar Jadi Lebih Baik


Apa istimewanya buku ini? Selain berisi motivasi terutama bagi para remaja milenial, buku ini juga dilengkapi dengan quote serta ilustrasi pada setiap babnya. Buku ini ditulis dengan sangat ringkas, mudah dibawa karena ukurannya yang mungil, dan begitu spesial buat saya karena untuk pertama kalinya saya bisa membuat ilustrasi untuk buku saya sendiri. Eits, masih ada lagi, kita juga bisa share ilustrasi serta quote dalam buku ini lewat aplikasi yang telah disediakan. 


Gimana ceritanya bisa terbit? Ada banyak calon penulis yang pengin tahu dan tentunya pengin juga menerbitkan buku di penerbit mayor. Saya mau ceritakan sedikit prosesnya. 


  • Pertama, kita harus menyelesaikan satu naskah hingga rampung. Jangan lupa lakukan editing sebelum mengirimkannya pada penerbit. Kebanyakan, penulis baru masih acak-acakan tulisannya. Jujur, ini bikin mumet juga. Jadi, banyak belajar editing naskah sendiri supaya lebih rapi ketika diajukan pada penerbit.
  • Kedua, lengkapi naskah kamu dengan outline-nya juga. Dalam outline disertakan target pembaca, alternatif judul, dll. Outline biasanya kita buat sebelum mengerjakan naskah. Nanti, kirimkan juga outline ini saat melakukan pengajuan naskah, ya.
  • Ketiga, ajukan pada penerbit yang kamu inginkan. Kalau kamu pengin bikin buku disertai ilustrasi, kirimkan sampel gambarmu dan jelaskan konsep buku yang kamu inginkan. Supaya penerbit ada bayangan. Nggak usah takut apalagi malu, toh kita nggak kenal sama editonya, kok. Kecuali kalau kita mesti bertatap muka. Mungkin bisa pingsan duluan saking takutnya…kwkwk. Santai dan berdoalah :)
  • Keempat, sabar menunggu jawaban yang memang tidak sebentar. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, tanyakan kembali bagaimana hasilnya. Rata-rata penerbit butuh waktu sekitar 3 bulan untuk me-review naskahmu.


Lama, ya prosesnya? Nggak ada keberhasilan yang dicapai dalam waktu sekejap. Semua butuh proses yang nggak sebentar dan butuh kesabaran yang sangat besar. Kalau memang ingin, saya yakin kamu akan menunggu dengan sabar sambil menulis lagi dan terus belajar. Kalau memang cinta menulis, nggak akan kebanyakan alasan. Yuk, tetap semangat mengejar impian!


Salam hangat,


Tuesday, June 8, 2021

Pandai Membaca dan Pentingnya Budaya Literasi dalam Keluarga

Pandai Membaca dan Pentingnya Budaya Literasi dalam Keluarga


Waktu awal pandemi tahun lalu, mestinya si bungsu bisa sekolah untuk pertama kalinya. Dia sudah menunggu cukup lama dan sangat antusias. Melihat kakaknya sudah sekolah, dia pun ingin seperti kakaknya. Saya sebagai orang tua pun ikut senang andai dia bisa segera sekolah sesuai waktu dan usianya.


Sayangnya, masuk sekolah pertama kali dan mesti online seperti nggak masuk akal buat saya. Apalagi jika pihak sekolah belum sepenuhnya siap membantu anak-anak belajar online di rumah. Memaksa offline saja? Rasanya lebih nggak masuk akal lagi. Anak-anak usia TK lebih riskan tertular jika harus masuk sekolah.


Saya nggak mau ambil risiko, karena taruhannya nyawa. Anak-anak mungkin lebih kuat imunnya dibanding orang dewasa, tapi bagaimana jika mereka menularkan kepada yang lain terutama orang tua? Belum lagi, kebanyakan anak-anak usia TK, jangankan memakai masker dengan disiplin, rajin cuci tangan dan nggak sembarangan pegang-pegang pun sulit dihindarkan. Kebanyakan dari mereka belum mengerti. Tahu sendiri, edukasi soal apa pun nggak bisa instan caranya. Harus dibiasakan sejak lama terutama dari keluarga. Dan Indonesia sangat tidak terbiasa soal ini.


Sejauh pengalaman saya dulu ketika si Kakak baru masuk sekolah dan sering tertular batuk dan flu, tidak ada yang memakai masker. Ini mungkin terlihat aneh, ngapain anak kecil dipakaikan masker segala, sih? Sampai-sampai anak saya sering ditertawakan.


Saya ingin meminimalisir penularan virus kepada anak-anak yang sehat. Karena ruangan memakai AC dan berkumpul saat sekolah sangat memungkinkan menularkan virus. Saya ngerasain banget capeknya ketika anak sakit. Karena anak-anak saya nggak hanya sekadar flu dan batuk kalau sudah ketularan, tapi juga punya riwayat kejang demam serta otitis media akut.


Ketika salah satu dari anak-anak saya flu, mereka akan demam, tak jarang kejang demam terutama si sulung. Sedangkan si bungsu hampir setiap minggu mesti ke dokter THT untuk membersihkan cairan di telinganya yang keluar terus menerus ketika sedang kena common cold. Kebayang, gimana beratnya saya saat itu?


Tak jarang, saya juga sakit bersamaan dengan anak-anak. Itulah kenapa sejak dulu saya selalu mengajarkan anak-anak untuk menjaga kebersihan, rajin cuci tangan setelah pegang hidung atau mulut saat common cold serta memakai masker supaya tidak menularkan virus pada anggota keluarga yang lain.


Ketika pandemi dan si sulung akhirnya harus sekolah dari rumah, kondisi bolak balik kena batuk pilek atau common cold ini jauh berkurang atas izin Allah. Kami sehat, tidak flu atau batuk. Pengalaman inilah yang membuat saya mengurungkan niat untuk menyekolahkan di bungsu tahun lalu dan insyaallah dia baru masuk sekolah tahun ini.


Selama di rumah, dia sering merasa bosan terutama ketika kakaknya mulai zoom bersama teman-temannya. Dia mau ngapain? Setiap hari mainnya sama si Kakak. Akhirnya kepikiran juga supaya dia ikut belajar di rumah bersama saya.


Pandai membaca bukan prioritas utama saya. Saya bukan termasuk orang tua yang terburu-buru ingin anaknya lancar membaca. Tapi, saya ingin anak-anak senang melakukannya, bukan sekadar bisa. Budaya literasi di rumah sudah saya bangun sejak dini. Terutama saat si Kakak masih kecil.


Budaya Membaca Sejak Dini

Pandai Membaca dan Pentingnya Budaya Literasi dalam Keluarga


Dulu, waktu hamil anak pertama, saya hanya punya satu dua buku bacaan untuk anak-anak. Makin besar usia si sulung, makin banyak buku anak-anak yang saya beli untuk dia. Main gede lagi, dia makin senang beli buku sendiri setiap kami jalan-jalan ke mall. Kadang pakai uang saya, kadang dia pakai uang tabungannya untuk membeli buku yang dia suka.


Saat si bungsu lahir, buku bacaan anak yang kami punya sudah satu lemari lebih. Meski sudah disiapkan lemari khusus, buku-buku itu selalu berpindah-pindah tempat, ada di kamar saya, ada di ruang tengah, ada di kamar anak-anak, ada juga di lantai atas, dan tentu banyak di bawah bantal :(


Nggak bisa dihindari, jangan harap bisa rapi, karena anak-anak senang membaca buku di mana-mana. Sebelum tidur, saya biasa membacakan buku untuk mereka. Setelah Kakak sudah besar dan bisa membaca sendiri, tugas membacakan buku hanya dilakukan untuk di bungsu. Si Kakak sudah beda buku bacaannya dan lebih senang membaca sendiri.


Saya akui, anak-anak sangat senang dengan buku. Ketika ada buku baru, mereka nggak akan berhenti membaca sampai bukunya habis. Untuk si sulung, sampai takjub juga karena kemarin saya belikan buku Muhammad Al Fatih 1453 karya Ustadz Felix yang bentuknya bukan berupa buku anak-anak, tapi dia habiskan juga. Padahal, saya saja belum selesai baca.


Budaya literasi yang baik seperti ini tentu membuat semua jauh lebih seimbang. Andai anak saya sudah bisa membaca sejak dini, sepertinya bukan masalah karena dia senang melakukannya dan bukan sekadar bisa baca, tapi juga suka dan cinta :)


Belajar Membaca Tanpa Mengeja

Pandai Membaca dan Pentingnya Budaya Literasi dalam Keluarga


Beberapa bulan yang lalu, saya lupa tepatnya kapan, akhirnya saya membelikan si bungsu buku cara membaca berjudul 'Abacaga; Cara Praktis Belajar Membaca untuk Anak'. Model bukunya tuh unik dan beda dengan buku-buku lainnya. Kalau menurut saya, buku ini lebih mirip seperti buku Iqra’ yang buat ngaji. 


Warnanya pun dibedakan antara abu-abu dan hitam. Seingat saya, dalam waktu sebulanan atau lebih seidikit, si bungsu sudah menyelesaikan buku ini dan sekarang sudah bisa baca buku sendiri. Masyaallah.


Pandai Membaca dan Pentingnya Budaya Literasi dalam Keluarga


Waktu pertama kali dia bisa baca, dia takjub banget sampai meluk saya dengan spontan. Itu bikin saya jadi terharu. Kenapa? Karena, selama ini si Kakak belajarnya di sekolah dan banyak dibantu sama bu guru. Sedangkan si bungsu benar-benar belajar dengan saya di rumah. Rasanya terharu banget.


Saya itu nggak bisa mengeja. Jadi, jangan berpikir bahwa saya akan mengajarkan anak saya belajar membaca dengan mengeja. Nggak sama sekali. Dia belajar mengenal huruf kemudian membaca. Dan itu jauh lebih mudah buat saya secara saya nggak bisa ngeja...kwkwk.


Buku ini termasuk best seller. Dan menurut saya, sangat membantu dan recommended banget, sih. Kalau mengikuti panduannya, sehari anak-anak hanya diminta membaca selama 10 menit untuk 1 halaman. Simpel banget. 


Cinta Membaca Sejak Dini

Pandai Membaca dan Pentingnya Budaya Literasi dalam Keluarga


Setiap anak itu istimewa dan nggak akan sama dengan yang lainnya meskipun itu adalah saudara kembarnya sendiri. Begitu juga dengan anak saya yang bungsu ini. Kedua anak saya belajar mengaji bersama saya sejak kecil. Ini adalah kebiasaan orang tua yang diwariskan pada saya...hehe. Saya terbiasa mengaji bersama Ibu meskipun di halaman ada musholla. Ibu lebih senang mengajari saya mengaji sendiri di rumah.


Dan kebiasaan ini juga saya lakukan pada anak-anak. Buat si bungsu, belajar mengaji ini butuh waktu lebih lama ketimbang si sulung. Ngajinya pun nggak bisa anteng sambil duduk. Kadang sambil miring, tengkurap, dll. Semua saya ikuti dan saya telateni. 


Satu halaman bisa diulang hingga seminggu, lho. Karena saya mau memastikan dia benar-benar hapal dan paham dan nggak sekadar bisa baca saja. Kalau sampai salah, pemahaman itu akan dia pakai sampai besar nanti, Itu fatal banget. Alhamdulillah, saat ini dia sudah hampir rampung Iqra’ 4. Saya sabarin banget pokoknya. Sebab, dia berbeda dengan si sulung. Cara ngajarinnya juga beda. Cara meresponnya juga beda.


Ketika dia baru pindah ke halaman baru, dia langsung kusut banget wajahnya. Ngerasa nggak bisa duluan padahal belum dicoba. Jadi, saya biarkan dia membaca sebanyak yang dia mau. Misal hanya 2 baris, nggak masalah asal dia mau bukan dipaksa. Besoknya dia akan menambah jumlahnya sendiri hingga selesai.

 

Begitu juga saat belajar membaca. Saya nggak memaksa, dia lakukan sesuka hatinya. Kalau lagi nggak mau, ya sudah biarkan saja. Nanti dia akan minta sendiri. Sekarang, dia sudah bisa baca meski belum masuk sekolah. Dia juga sudah pandai menulis, meskipun belum sepenuhnya sesuai KBBI :D


Melatih Anak-anak Cinta Membaca 

Pandai Membaca dan Pentingnya Budaya Literasi dalam Keluarga


Gimana, sih caranya membudayakan literasi sejak dini? Biar anak suka membaca tanpa terpaksa? Berikan buku yang sesuai dengan usia mereka sejak dini. Jangan malas membacakan buku setiap hari.


Saking seringnya dibacakan buku, anak saya sampai hafal teks dalam buku-buku miliknya. Lucunya, ketika disuruh membaca sendiri, dia justru menghafalkannya…kwkwk.


“Wah, hebat. Adek sudah bisa baca?”

“Nggak, kok. Adek nggak baca. Adek hafal.”


Ngakak banget pas dengar dia bilang begitu. Jangan remehkan budaya literasi seperti ini. Karena banyak sekali manfaatnya, lho. Ayo, kita cari tahu manfaat membacakan buku untuk anak sejak dini,


  • Budaya membacakan buku sejak dini bisa membantu mereka mengenal kosa kata baru.
  • Membentuk bonding yang kuat antara orang tua dan anak-anak.
  • Membacakan buku sejak dini juga bisa membantu anak supaya lebih siap untuk membaca sendiri. 
  • Membuat otaknya aktif dan membantu memancing respon anak.
  • Membangkitkan minat baca sekaligus mengenalkan hal baru.
  • Meningkatkan imajinasi pada anak dan bisa membuat mereka lebih kritis.


Anak-anak yang biasa dibacakan buku sejak dini biasanya cenderung lebih mudah membaca sendiri ketika sudah siap. Setiap anak punya kemampuan yang berbeda-beda. Tugas kita bukan memaksa mereka supaya lekas bisa, tapi membantu mereka supaya senang dan siap melakukannya. Karena bisa dan mampunya mereka ada saatnya. Nggak perlu terburu-buru. Lakukan semuanya dengan menyenangkan dan sejak dini. Ingat, nggak ada yang instan di dunia ini, bahkan mi instan saja mesti direbus dulu, lho sebelum dimakan :D


Salam hangat,