Top Social

Batuk Pilek dan Antibiotik

batuk pilek anak
Batuk pilek tidak membutuhkan antibiotik (Foto: Unsplash)


Musim kemarau tahun ini terasa begitu lama, ya? Puncaknya sejak bulan Juli kemarin, parahnya sampai sekarang pun masih berlanjut. Di Jakarta, kemarin sampat diguyur hujan meski tidak lebat, setidaknya bisa mengurangi panas serta polusi udara yang sekarang benar-benar lagi di level buruk banget. Emang, iya, ya? Kalau dihirup sih nggak berasa, ya. Bukan seperti kabut asap di daerah lain. Tapi, melihat debu di rumah yang hitam, rasanya ini memang luar biasa buruk.

Dan, kondisi seperti ini biasanya diikuti oleh batuk pilek baik dialami orang dewasa ataupun anak-anak. Termasuk anak-anak di rumah. Mulai dari sulung sampai si bungsu, semuanya gantian aja batuk pilek atau common cold.

Saya pribadi termasuk orang yang lumayan tenang ketika anak-anak kena batuk pilek, asal nggak radang telinga dan demam, kayaknya masih slow dan nggak ke dokter. Masalahnya, kalau demam, kadang kejang demam. Kalau batuk pilek, kadang ke radang telinga juga sehingga saya merasa harus berkonsultasi dengan dokter untuk mengatasi masalah seperti ini.

Masalahnya, tidak semua dokter merasa perlu berdiskusi dengan pasiennya. Ada yang main horor-horor-an dulu…kwkwk, ada yang nakuti padahal nggak seserem itu. Ada yang juga yang menjelaskan dengan sangat baik, tetapi ujung-ujungnya ngasih antibiotik dan ketahuan nggak RUM (Rational Use of Medicine).

Dan faktanya, hamper semua dokter yang saya temui memang nggak RUM. Coba deh kasih saya referensi dokter di sekitar Jakarta Timur yang RUM? Masa iya saya harus ke RS. Pasar Rebo demi menemui dokter Apin yang jauhnya minta ampun. Sedih kalau udah percaya ternyata salah ngasih obat juga. Ujung-ujungnya jadi malas ke dokter…hiks.

Kemarin, terakhir ke dokter saya merasa itu adalah dokter yang terbaik dan lumayan. Ngasih antibiotik iya, tetapi saya tahu antibiotik nggak diperlukan untuk kasus anak saya. Beliau menjelaskan bahwa ketika dia kena radang telinga, memberikan obat Rhinos yang biasa untuk gejala alergi rhinitis itu wajib meski anaknya nggak flu sekalipun. Karena obat ini bisa membantu membuka saluran telinganya yang tersumbat.

Faktanya? Baru aja kemarin saya membaca salah satu email anggota di milis sehat yang mengeluhkan kondisi sama seperti si bungsu, batuk pilek, sakit telinga dan kehilangan pendengaran. Kemudian dokter wati selaku pengasuh milis sehat memberikan link dari RCH tentang otitis media di mana pemberian antibiotik tidak diperlukan serta nggak butuh juga yang namanya Rhinos, Guys. Pas baca itu rasanya tertampar keras, karena selama beberapa minggu ini si bungsu sudah habis 2 botol Rhinos…*pengen nyakar tembok.

Seketika langsung ilfeel sama dokter kemarin. Kok, bisa sih ngasih obat yang sebenarnya nggak perlu? Bahkan penjelasannya itu sangat masuk akal disbanding dokter lain yang biasa hanya main horor-horor-an gitu. Saya sempat percaya dia RUM meski sempat ngasih AB, minimal dia bener ngasih obat yang nyambung ketimbang sebelumnya yang ngasih obat buat infeksi usus…kwkwk. Ternyata nggak begitu juga.

Batuk Pilek Tidak Memerlukan Antibiotik

Batuk pilek itu disebabkan virus. Nggak perlu antibiotik yang fungsinya buat infeksi bakteri. Dan yang namanya infeksi virus lama nggak bisa berubah jadi infeksi bakteri juga kali. Biasanya ketika ditanya, kenapa kok dikasih AB? Bukannya ini cuma infeksi virus? Dokter dengan gugup mengatakan, infeksinya kan udah lama, jadi khawatir jadi infeksi bakteri (ini pun tanpa pemeriksaan lebih). Super gemas nggak sih? Kwkwk.

Kalau memang benar infeksi bakteri, seharusnya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut demi memastikan bakteri apa sih yang sedang menginfeksi? Biar AB yang dikasih nggak mubadzir gitu. Sayangnya, nggak ada dokter begini…huaaa.

Baca-baca Lagi Banyak Referensi Sebelum Menebus Obat

Ini perlu banget ketika kita mau menebus obat. Jangan seperti saya kemarin yang karena terburu-buru, akhirnya ditebus semua. Benar nggak bayar karena memang ditanggung oleh asuransi kantor suami seluruhnya, tapi ngapain juga nebus obat yang nggak perlu, kan?

Jangan sampai juga kita salah ngasih obat ke anak hanya karena kepanikan kita. Tetangga sebelah dulu akhirnya kehilangan anaknya karena lalai tidak membaca label obat. Anaknya keracunan obat dan akhirnya meninggal. Yang ngasih obat ini dokter, lho dan faktanya nggak sesuai sama usia bayi. Orang tuanya sempat membaca label obatnya, tetapi anaknya udah menelan obat itu. Saat itu dia baru sadar ada yang salah...hiks.

Jadi, kayaknya hal semacam ini yang menjadi begitu lumrah di Negara kita nggak bisa dibilang sederhana kasusnya. Apalagi kalau sudah melibatkan nyawa. Apalagi membeli AB di negeri ini begitu mudahnya, nggak seperti di Negara lain. AB itu memang berguna kalau dipakai sebagaimana mestinya. Tapi, kalau dipakai tanpa diagnosis yang tepat, ujung-ujungnya hanya merugikan manusia. Terjadi resistensi, menurunkan imunitas, dan masih banyak lagi.

Semoga ke depannya saya bisa menemukan dokter RUM yang nggak jauh dari rumah. Terkadang saya ke dokter lebih banyak karena butuh diskusi bukan semata-mata meminta obat.

Salam,

Tips Mengikuti Lomba Blog

lomba blog
Yuk, asah kemampuan menulis dengan mengikuti lomba blog (Foto: Unsplash)


Beberapa hari ini sempat gemas sendiri karena laptop sempat rusak..hiks. Sampai sekarang lappy lama nggak bias nyambung sama wifi di rumah. Alhasil nggak bias ngepost di blog. Pagi ini belajar make laptop lain, kalau nggak terpaksa saya nggak mau make…kwkwk. Alhamdulillah, daripada nangis bombay nggak bias posting di blog kan, mending kita belajar ngetik pake laptop lainnya aja. Dan pembahasan sekarang sebenarnya sudah saya tulis dari kemarin-kemarin, tapi hanya disimpan, nggak bisa posting. Sedih nggak sih *lebay…kwkwk.

Kemarin, saya sempat memenangkan lomba blog tema cagar budaya di Kota Surabaya. Bukan juara pertama, Alhamdulillah jadi juara ke-3. Akhirnya sempat mikir mau nulis tema ini. Mungkin kemampuan menulis teman-teman sudah keren, tetapi kadang masih banyak yang berpikir minder ikutan lomba blog. Padahal ngapain minder? Kadang bingung juga, kenapa ada orang berpikir seperti itu, sedangkan saya yang kemampuan menulis begini-begini aja pedenya selangit. Segala lomba diikuti…kwkwk. Menang kalah hal biasa, sering kalah apalagi udah sangat biasa..hihi. Tapi, bagi saya ikutan lomba nulis itu seru banget. Ya, buat serius atau seru-seruan dan bikin happy tetap aja menyenangkan gitu.

Kalau kalah gimana? Belum ikutan aja udah deg-degan setengah mati!

Tenang, semua orang pasti mengalami hal demikian, kok. Tapi, lomba blog bukan hal mengerikan dalam hidup kamu. Nggak perlu dibawa horror, karena kisah hidup kamu aja udah horror…kwkwk. Dibawa santai aja, tetapi kalau memang berniat ingin menang, serius dikit perlu, ya. Cobalah ikutan lomba blog yang sekarang banyak banget bertebaran di dunia maya. Sekali dua kali ikutan, pasti ujung-ujungnya bikin kamu ketagihan. Apalagi bagi yang merasa belum bisa konsisten mengisi blog, ikut lomba blog bisa mengajarimu supaya konsisten dengan jadwal yang ditentukan. Cari lomba blog dengan tema yang kamu kuasai, bisa juga memberikan tantangan kepada diri sendiri dengan mengikuti lomba yang temanya belum pernah kamu ekskusi. Pasti asyik, meski sedikit bikin pusing…hihi.

Saya senang mengikuti lomba, mau lomba blog atau lomba menulis yang lain, selama ada waktu dan masih bisa menulis sesuai tema, insya Allah selalu saya ikuti. Kenapa? Karena bagi saya nggak pernah rugi ikutan kompetisi, selain bisa mengisi blog sendiri, blog kita juga jadi dikenal lebih banyak orang, lho.

Kalah sudah biasa, menang pun Alhamdulillah banget. Meski bukan blogger senior, mengisi blog sekadar karena suka menulis dan ingin menjaga konsistensi serta mengasah kemampuan menulis, tetapi, ada saatnya kita menang sambil bergumam, kok bisa saya menang, ya? Kok, kayaknya nggak nyangka banget melihat saya masih bukan siapa-siapa gitu. Jadi, bagi saya, nggak ada yang mustahil selama kita mencoba. Meski saingan kita blogger senior yang sering menang lomba sekalipun, kalau udah rezeki, bisa aja kok, kita yang menang. Allah itu melihat usaha dan kerja keras kita. Jangan remehkan usaha kamu yang sampai bermata panda itu demi mengikuti sebuah kompetisi, kalau kalah, minimal kamu belajar banyak hal dari perjuangan itu.

Kali ini saya mau berbagi beberapa tips sederhana yang biasa saya kerjakan ketika mengikuti lomba blog. Apa saja?

Baca Syarat dan Ketentuan Kompetisi Blog dengan Seksama


lomba blog
Baca syaratnya dengan teliti (Foto: Unsplash)

Jangan lupa baca syarat dan ketentuan lomba dengan seksama. Bacanya diurut dari atas sampai ke bawah. Karena biasanya, lomba mencantumkan syarat yang sangat panjang mengular dan bikin pusing…kwkwk. Penting bagi kamu mengikutinya satu per satu dan jangan sampai ada yang terlewat karena itu juga sangat menentukan.

Biasanya, lomba blog mengharuskan kamu mengikuti akun sosial media mereka, menyertakan link dalam postingan yang kamu ikut sertakan, memasukkan kata kunci, mengisi formulir perndataran, menyesuaikan tema kompetisi, dan masih banyak lagi yang lainnya. Setiap lomba akan memberikan syarat dan ketentuan yang berbeda. Penting bagi kamu selalu memerhatikannya dengan teliti, termasuk batas waktu pengirimannya.

Cari Sumber Referensi Sebanyak Mungkin


lomba blog
Baca buku atau cari di internet (Foto: Unsplash)

Nah, poin ini menjadi sangat penting karena nantinya akan sangat berpengaruh terhadap naskah yang akan kamu tulis. Semakin detail, tentu akan semakin baik. Sumber referensi bisa kamu dapatkan di buku-buku atau di internet. Kalau berniat mencari, insya Allah informasi mudah banget didapatkan, kok.

Tulis naskah kamu dengan bahasa sederhana dan jangan bertele-tele, ya. Apalagi sampai mengulang-ulang informasi hanya demi mengejar panjang naskah, biar kelihatan keren, biar kelihatan banyak banget, akhirnya malah susah dimengerti dan membosankan. Nggak perlu sampai seperti itu.

Mending tulis dengan kalimat efekti saja. Sesuai syarat minimal berapa kata, daripada malah bikin ilfeel, kan?

Persiapkan Jauh-jauh Hari, Jangan Mepet Deadline!


lomba blog
Jangan terburu-buru, persiapan matang itu perlu (Foto: Pexels)

Coba deh jangan suka mepet kalau kirim karya, beneran bikin pusing. Bisa jadi persiapan juga jadi setengah-setengah, naskah kamu pun jadi nggak maksimal hasilnya. Setiap lomba biasa memberikan jangka waktu yang lumayan panjang, kok. Minimal seminggu dan udah ada pengumuman.

Jangan juga menunda-nunda waktu. Kalau sudah oke, sebaiknya segera ekskusi biar nggak lupa. Akhirnya malah nyesel karena nggak sempet ikutan, dan lebih nyesel lagi lihat teman sendiri menang, padahal kamu merasa layak jadi pemenang juga…kwkwk. Ngenes amat hidupmu, ya…hahah.

Rezeki itu sudah ada yang ngatur. Jangan karena pemula, kamu jadi enggan ikutan kompetisi blog. Bersaing sama mastah bukan berarti selalu kalah. Allah lihat usaha kamu. Kalau masih kalah, mungkin Allah pengen kamu usaha lagi. Allah mau kamu belajar lagi. Allah mau kamu lebih gigih atau Allah mau kamu belajar bersabar dalam proses.

Semoga postingan ini bermanfaat dan menjadi pengingat saat kamu minder. Yuk, semangat menulisnya :)

Salam,

Hidup Tanpa Ketergantungan dengan Sosial Media

sosial media
Gimana hidup kamu tanpa sosial media? (Foto: Unsplash)


Sekadar ingin berbagi, selama masa menepi, memberi jarak antara diri dengan dunia maya atau sosial media, apa yang saya dapatkan ketika memutuskan menghapus sosial media (dari posnel) yang ternyata telah dilakukan lebih dulu oleh teman-teman sesama blogger yang lain?

Rasanya lega banget. Hidup nggak sibuk ngecek sosial media terus, bahkan untuk urusan nggak perlu kadang sering saya buka. Setelah saya hapus, malas buka sosial media terutama Facebook dan Instagram. Sekadar buka untuk cek notifikasi penting terutama grup yang sedang saya kelola, cek lomba-lomba, serta share postingan blog yang baru. Ternyata waktu jadi lebih efisien untuk menulis dan hal-hal lain.

Kata seorang teman, menepi itu memang perlu. Sebelumnya, saya juga pernah memutuskan tidak memakai internet sama sekali selama beberapa hari ketika liburan. Nggak ada yang berkurang kecuali nggak bisa update status…kwkwk. Dan semua berjalan baik-baik saja. Maka sejak saya menghapus akun sosial media dari ponsel, nggak ada hal aneh terjadi, karena nggak kecanduan juga, rasanya ya bukan beban tanpa melihat sosial media.

Saya katakan bahwa saya tetap butuh sosial media. Iya, kalau digunakan dengan bijak, sebenarnya nggak ada yang salah dengan ini. Benar, kan? Tapi, karena kitanya sendiri yang salah memanfaatkan, akhirnya sosial media justru menjadi korban disalahkan selama ini…kwkwk.

Hidup Tetap Berjalan Sebagaimana Mestinya


sosial media
Hidupmu tetap baik-baik saja (Foto: Unsplash)

Hidup tetap berjalan sebagaimana mestinya. Nggak ada yang berubah kecuali waktu terasa lebih luang ketimbang biasanya yang sibuk mengomentari postingan teman dan membaca status yang lain.

Hidup saya tetap berjalan dengan baik. Justru dengan cara seperti ini, saya merasa nggak banyak mendapatkan energi negatif dari postingan-postingan ‘nyampah’ yang banyak muncul di beranda. Saya nggak menyalahkan kamu yang suka nyetatus, nggak. Saya menyalahkan diri sendiri yang suka terbawa emosi kalau ada orang curhat, kemudian ikut kesel…kwkwk. Baper ini bawaan lahir kali, ya? Atau postingan aneh yang sangat tidak berfaedah, yang justru bikin mood kita buruk. Apa pun itu, kayaknya hidup lebih enteng saja tanpa sosial media di ponsel.

Sesekali saya tetap membutuhkannya, dan seperti saya katakan, semoga saya bisa menggunakannya dengan bijak. Karena sudah bukan usianya lagi saya main-main sosial media apalagi posting-posting yang kurang perlu.

Mengurangi Selfie


sosial media
Jadi berkurang narsisnya (Foto: Unsplash)

Kalau ingat perjalanan dari dulu hingga sekarang, banyak sekali pelajaran yang bisa diambil. Bagi seorang muslimah, jika tidak digunakan dengan baik, sosial media bisa jadi fitnah. Bukannya nggak sedikit akhirnya banyak ikhwan yang suka nyapa-nyapa kurang kerjaan di DM atau inbox…kwkwk. Jangan membantu setan katanya, bantu juga supaya para ikhwan nggak kena fitnah dengan mengurangi posting foto di sosial media.

Meski kamu bercadar, meski kamu berhijab syar’i, akan menjadi lebih baik jika kita nikmati foto-foto pribadi bersama orang-orang yang memang berhak melihatnya. Bukan bermaksud menggurui, tetapi pengalaman sebelum-sebelumnya, tidak sedikit juga yang akhirnya menimbulkan hal yang tidak diinginkan. Jika kamu merasa cantik, tutupilah karena wanita seluruhnya adalah aurat, simpanlah untuk dirimu sendiri :)

Mengurangi Berdebat dan Membuang Waktu


sosial media
Gunakan waktu untuk yang bermanfaat (Foto: Unsplash)

Masih ingat banget, ketika dulu baru-baru belajar menulis. Sempat ada CEO sebuah penerbit mayor yang nyeletuk kurang enak tentang para penulis pemula. Rasanya geram dan sakit banget. Saat itu memang akhirnya ramai banget yang nyetatus. Termasuk saya.

Akhirnya apa? Akhirnya nyesel sendiri pernah nyetatus seperti dulu. Status penuh rasa marah dan tidak terima. Ngapain? Buat apa? Berdebat hanya membuang waktu dan sebenarnya nggak berguna kecuali dengan ilmu. Tapi, faktanya yang kita lihat di lapangan (lapangan bola..kwkwk), kebanyakan debat itu hanya sekadar supaya bisa menang sendiri. Buat pembuktian aja supaya kita terlihat paling hebat dan menang.

Ujung-ujungnya, mau hoax atau bukan, tetap saja dibelain setengah mati. Seperti waktu pemilu kemarin. Bersyukur saya nggak ikut-ikutan hal semacam itu. Kalau dilihat, lucu dan memalukan…hiks.

Apa sih arti sosial media buat kamu? Sekadar camilan atau makanan pokok? Kalau camilan, kenapa justru menjadi dominan di dalam hidup kita mengalahkan hal lain yang sebenarnya jauh lebih penting? Kadang bingung sendiri ya menjawabnya. Pelan-pelan saya memang belajar agak menjauh dari keramaian di luar. Nggak mau sok dewasa juga, tetapi toh akhirnya saya juga berpikir bahwa saya tidak lagi layak kalau hanya sekadar main-main seperti itu terus. Keputusan terbaik ada di tangan kita, bukan orang lain.

Apa pun keputusanmu, main sosial media atau mengurangi, semoga selalu lebih banyak manfaat dan faedahnya ketimbang mudharatnya.

Salam,

Kumpulan Resep Infused Water JSR dr. Zaidul Akbar

infused water jsr
Resep-resep infused water JSR (Foto: Unsplash)


JSR lagi, JSR lagi. Jangan bosan ya? Meskipun namanya JSR aka Jurus Sehat Rasulullah, tetapi nama ini hanya sebutan yang berasal dari judul buku dr. Zaidul Akbar yang terdahulu, bukan mengatakan bahwa semua resep JSR dicontohkan seluruhnya oleh Nabi. Kadang nama ini memang kalau saya rasa kurang tepat dan jadi muncul banyak pendapat. Makannya, saya kadang lebih senang mengatakan bahwa saya sedang ikut Diet Kenyang Dewi Hughes (karena pola makannya hampir sama, kembali ke real food). Dengan begitu, nggak bakalan jadi beban juga di hati. Tapi, orang-orang terlanjur mengenal JSR, sehingga saya pun harus mengulangi penjelasan seperti ini lagi supaya tidak terjadi salah paham.

Kali ini kita bahas tentang infused water yang sebenarnya sudah ramai dicoba orang sejak dulu. Ketika JSR menjadi terkenal, infused water pun ikut naik daun. Sebenarnya apa sih infused water itu, Guys?

Infused water atau disebut juga dengan air detox merupakan campuran air mineral dengan potongan buah, rempah, atau sayuran yang disimpan selama beberapa waktu (minimal 6-12 jam), yang dipercaya mendatangkan banyak manfaat bagi kesehatan. Biasanya, buah atau sayuran yang direndam akan dibuang karena rasanya yang sudah hambar. Kalau kurma, sudah nggak ada manis-manisnya gitu *mirip iklan…hihi. Sedangkan kalau rempah seperti kunyit dan jahe memang selalu saya buang setelahnya.

Jika melihat di beberapa situs kesehatan, sebenarnya klaim tentang manfaat infused water ini belum bisa dibuktikan secara ilmiah. Misalnya disebut bisa menurunkan berat badan, iya kali minum beginian aja bisa kurus, tetapi di belakang ngegado mie ayam dua mangkuk..hihi. Meskipun disebut belum terbukti secara ilmiah, tetapi minum infused water bisa lebih baik ketimbang mengonsumsi minuman soda atau minuman lain yang mengandung gula tinggi terutama bagi kamu yang memang nggak doyan minum air putih. Dengan adanya infused water, air mineralmu bisa lebih enak karena mengandung rasa-rasa yang kamu suka kecuali rasa yang dulu telah hilang *eaaa.

Menurut dr. Zaid, pemahaman bahwa infused water tidak bermanfaat ya sah-sah saja bagi yang percaya. Tapi, beliau percaya bahwa air rendaman buah ini kaya akan manfaat. Nah, kalau kamu bagaimana, Guys?

Terlepas dari pendapat seperti di atas, kita pun harus memahami, bahwa sebelum viral infused water, Rasulullah saw telah terlebih dulu membuat air rendaman kurma atau nabeez. Nabeez atau rendaman kurma ini merupakan minuman kegemaran Rasulullah saw. Bedanya, sekarang kita lebih banyak mengkreasikan jenis air rendaman buah tak terbatas hanya dengan buah kurma saja. Menurut dr. Zaidul Akbar, manfaat infused water ini banyak banget. Kita nggak cuma dapat manfaat dari buahnya saja, tetapi juga dari biji yang sejatinya mustahil kita konsumsi. Saat buah-buahan itu direndam, maka manfaat bijinya pun akan kita dapatkan. Kira-kira seperti itulah yang beliau sampaikan.

Selain itu, bahan-bahan yang dikeringkan untuk membuang air infuse ini terbukti lebih baik, lho. Misal, kurma kering lebih bagus digunakan untuk air infuse ketimbang kurma basah yang mudah sekali berfermentasi. Rempah-rempah seperti kunyit dan jahe juga jauh lebih bagus direndam setelah sebelumnya dikeringkan dulu.

Penting untuk diingat, infused water ini sebaiknya dibuat dari air matang atau air mineral yang biasa kita konsumsi. Pilihlah buah-buahan yang telah dicuci bersih dan sebisa mungkin pilih buah lokal. Lama merendam minimal 6 jam, dan maksimal 12 jam. Lebih dari itu apalagi di suhu ruang, infused water biasanya sudah tidak layak dikonsumsi.

Kalau saya pribadi, lebih suka membuat air rendaman buah dan menyimpannya di kulkas. Setiap hari saya selalu membuat infused water. Paling mudah dan enak bikinnya memang dari buah kurma. Dewi Hughes dalam salah satu vlognya juga menceritakan pengalamannya saat rutin mengonsumsi air seduhan kurma. Awalnya dia kira kurma itu bisa membuat badan gemuk, karena rasanya yang manis. Tapi, setelah dicoba, BB turun normal saja seperti biasa. Sejak tahu faktanya seperti itu, dia tidak ragu lagi makan buah kurma, bahkan setiap hari dia seduh kurma dengan air panas. Dan saya lakukan ini hampir setiap hari *kecuali saya lupa. Hasilnya? Kita jadi lebih sehat, jarang kena common cold atau batuk pilek. Dan saya pribadi merasakan betul khasiatnya.

Setiap sahur, saya pun selalu mengonsumsi seduhan kurma ini. 3 butir kurma dengan segelas air panas itu sudah cukup. Beneran bisa kuat kok puasa seharian. Nggak percaya? Coba deh bandingin ketika kita sahur dengan nasi dibanding sahur pakai buah-buahan, pasti lebih enak dan bertenaga pakai buah. Dan itu fakta yang diamini oleh banyak orang di sekitar saya.

Untuk infused water ala JSR, sebenarnya saya termasuk yang nggak mau pusing lihat menu yang sering di-share orang-orang. Iya, saya bikin sesuai selera, pakai bahan yang ada. Sesimpel itu…hihi. Tapi, karena banyak yang nanya, baiklah saya akan rangkum semua resep infused water yang banyak berseliweran di Instagram. Cuslah, catat resepnya, ya!

1. Infused Water Pepaya
Katanya resep ini bisa digunakan untuk KB alami bagi pria, ya. Mau coba? Silakan dipraktikkan resepnya.

Bahan:
2-3 potong buah pepaya ukuran sedang bersama bijinya
300 ml air

Cara membuat:
1. Rendam campuran air mineral dan buah pepaya beserta bijinya minimal 6-8 jam. 
2. Kemudian minumlah airnya.

Kalau ditanya apakah saya percaya dengan resep seperti ini? Saya dengan jujur mengatakan tidak. Jadi, sebenarnya saya ini JSR aliran sebelah mana kok pilah pilih menu dan resep…kwkwk. Saya nggak mau fanatik, Guys. Iya, kalau saya nggak percaya kenapa harus memaksakan diri untuk mempercayai sesuatu yang buat saya bertentangan dengan apa yang saya ketahui sebelumnya.

Sudah beberapa tahun saya tidak menggunakan KB. Baik alami atau kimia. Alasannya KB kimia hanya mengacak-acak hormon saya. Membuat saya menjadi sakit dari hari ke hari. Resep infused water seperti di atas memang tidak digunakan secara permanen katanya, bukan juga untuk membatasi keturunan, tetapi lebih ke jarak. Tapi, balik lagi saya kurang percaya. Ikhtiar boleh saja. Tapi, andai kamu akhirnya gagal, jangan menyalahkan siapa pun karena Allah Maha Berkehendak. Soalnya saya suka sebal mendengar orang yang hamil (dan ada suaminya), kemudian bilang kebobolan. Nggak ada istilah seperti itu. Allah yang mau itu, dan Allah buktikan bahwa tidak ada yang bisa menghalangi jika Allah sudah berkehendak.

Nah, kalau pakai IUD dan KB jenis lain aja bisa hamil, apalagi pakai bahan alami? Entahlah, saya masih sulit memercai *please, jangan dilempar pakai centong nasi…kwkwk.

2. Infused Water Kurma Cengkeh
Menurut sumber di Instagram, resep ini katanya bisa digunakan untuk batuk berdahak. Terlepas dari resep-resep seperti ini, dari WHO sendiri memang telah menjelaskan bahwa common cold termasuk batuk hanya bisa disembuhkan dengan daya tahan tubuh. Artinya nggak butuh banyak obat-obatan apalagi antibiotik. Obat terbaiknya apa? Cairan. Banyakin minum, apalagi yang bergizi (untuk menaikkan imunitas), termasuk juga bisa mencoba resep ini.

Bahan:
Kurma
Cengkeh
Bunga lawang

Cara membuat:
1. Rendam semua bahan dengan air selama minimal 6 jam.
2. Minum setelah 6 jam, bisa untuk minuman harian.

3. Infused Water Jahe
Bahan:
jahe
kurma

Cara membuat:
1. Boleh pakai air mineral suhu ruang atau menggunakan air panas supaya perut hangat.
2. Konsumsi terutama saat perjalanan. 

Air rendaman ini katanya bisa digunakan untuk anti mual ketika perjalanan jauh. Misal saja kamu suka mabuk kendaraan, buat saja air rendaman ini dengan air hangat.

4. Infused Water Mentimun
Air infuse ini katanya mengandung anti oksidan tinggi. Bisa merawat kecantikan kulit. Kalau kamu mau tahu, kulit cantik tidak hanya dipengaruhi oleh satu dua faktor saja. Seperti saya yang belakangan sejak menjaga pola makan merasa kulit jadi lebih bersih dan nggak berjerawat. Alasannya bukan hanya karena saya makan buah dan sayuran, tetapi karena tubuh saya sehat, dan kondisi seperti ini juga berdampak baik bagi kesehatan kulit kita juga. So, kalau mau kulit kamu bersih dan sehat, jagalah kesehatan kamu dengan menjaga pola makanmu.

Bahan:
Mentimun, iris
Daun mint
Air mineral

Cara membuat:
1. Rendam semua bahan selama kurang lebih 6 jam.
2. Sajikan atau minum setelah didiamkan.

5. Infused Water Rempah
Pernah bikin air rendaman dengan rempah-rempah? Saya suka banget bikin dari potongan kunyit dan jahe. Sesekali saya tambahkan kayu manis. Saat mau diminum, saya tambahkan perasan jeruk nipis dan sedikit madu. Rasanya segar apalagi diminum saat buka puasa. Cobain, yuk!

Bahan:
1-2 ruas jahe
1-2 ruas kunyit
500 ml air mineral
1 buah jeruk nipis
1 sdm madu murni

Cara membuat:
1. Rendam irisan kunyit dan jahe selama 6 jam.
2. Berikan perasan jeruk nipis dan madu. Aduk.
3. Sajikan dingin lebih enak.

6. Infused Water Apel Kayu Manis
Katanya air rendaman satu ini bisa menguruskan badan. Tapi, kalau di belakang seperti saya bilang kamu nggak bisa jaga pola makan, sama saja bohong dong. Saya minum ini bukan karena semata-mata supaya kurus (yaiyalah, badan udah 40 kg gini…kwkwk). Tapi, karena rasanya enaaak banget, Guys. Cobain, yuk!

Bahan:
1 buah kayu manis
1 buah apel, iris
3 butir kurma
500 ml air

Cara membuat:
1. Rendam semua bahan jadi satu. Diamkan minimal 6 jam.
2. Sajikan dingin lebih enak.

7. Infused Water Semangka Kurma
Katanya paduan dua buah ini bagus banget untuk air rendaman. Dr. Zaid pernah memaparkan di salah satu video beliau. Jangan lupa, cuci semangka terutama kulitnya sampai benar-benar bersih, ya. Karena buah ini lumayan pestisidanya. Kalau ingat pestisida ngeri juga, kan? Bisa dicuci bersama garam atau cuka apel. Jangan lupa baca basmalah :)

Bahan:
5 butir kurma
500 ml air
Potongan semangka plus kulitnya

Cara membuat:
1. Campur semua bahan.
2. Rendam selama minimal 6 jam. Sajikan.

8. Infused Water Stroberi
Asem-asem seger itu sudah pasti. Tapi, kadang mencari buah mungil satu ini nggak semudah menyantapnya, ya. Perpaduan dengan daun mint sangat cocok. Apalagi disajikan dingin, hmm.

Bahan:
Beberapa butir buah stroberi
Secukupnya daun mint
500 ml air

Cara membuat:
1. Campur semua bahan. Rendam selama minimal 6 jam.
2. Sajikan dingin.

9. Infused Water Chia Seeds
Bahan:
5 butir kurma
½ sdm chia seeds
500 ml air

Cara membuat:
1. Rendam semua bahan minimal 6 jam.
2. Sajikan dingin.


infused water jsr
Bermacam-macam buah bisa dijadikan air infuse (Foto: Unsplash)


Sebenarnya ada banyak sekali air rendaman yang bisa dicoba. Mulai dari rempah selain jahe dan kunyit seperti ketumbar, kapulaga, cengkeh, dll. Mungkin seluruhnya tidak bisa disebutkan di postingan ini. Saya pribadi mencoba menkreasikannya sendiri. Bisa tomat dengan belimbing, bisa mentimun dengan lemon.

Tapi, selama mencoba mengonsumsi air rendaman, saya kurang suka dengan rasa pahit dari jeruk lemon atau jeruk nipis serta mentimun. Meski sudah dibuah bijinya, tetap pahit. Dan itu bikin jerah….kwkwk. Sekarang saya lebih suka memanfaatkan air perasan jeruk nipis ditambahkan ke dalam air infuse saat akan dikonsumsi. Kalau harus merendam, khawatir terbuang kalau jadinya pahit seperti sebelum-sebelumnya.

Kalau sayuran apakah boleh direndam juga? Bisa saja, misalnya wortel, okra, bahkan ada yang merendam pare. Duh, kalau saya pribadi memang nggak mau macam-macam. Baik untuk jus dan air rendaman, maunya yang manusiawi saja…hehe. Soalnya kadang lidah saya nggak mudah menerima juga.

Andai kamu mau mencoba bahan-bahan yang ada di rumah, nggak ada ketentuan khusus (cmiiw). Pernah di sebuah grup yang diasuh oleh Dewi Hughes, ada yang bertanya tentang jus kentang. Kemudian muncullah bantahan serta ledekan dari yang lain (ini jangan dicontoh, ya…kwkwk), dengan menyertakan link sebuah artikel tentang bahaya konsumsi kentang dalam keadaan mentah.

Iya, meskipun kita mau mengonsumsi makanan alami, tetapi kita juga harus pertimbangkan apakah makanan itu memang layak dikonsumsi mentah atau tidak. Saya nggak mau sampai akhirnya ada yang keracunan gara-gara salah paham…hiks. Zaman sekarang informasi bisa dilihat dengan mudah, tetapi memang perlu memilah-milah juga, mana yang benar dan mana yang salah (berita bohong). Kalau memang tidak biasa kita makan mentah, sebaiknya nggak perlu dikonsumsi mentah.

Kalau jus pare gimana? Wah, kalau pare kan banyak juga yang mengonsumsinya sebagai lalapan. Jadi, kalau kuat sih oke aja. Tapi, saya angkat tangan deh…hihi. Emang ada yang mau? Ada, lho. Tapi, yang jelas itu bukan saya…kwkwk.

Next, kamu bisa berkreasi dengan bahan yang ada di rumahmu. Lokal lebih baik, Rasulullah saw juga selalu mengonsumsi bahan makanan di sekitar beliau. Semakin dekat dengan kita, semakin bagus. Selain segar, Allah sudah menciptakan sesuai dengan kebutuhan kita masing-masing.

Makannya, selama ini saya selalu konsumsi hal-hal sederhana dan yang wajar di sekitar saya. Kecuali kurma. Kurma menjadi makanan wajib buat saya. Tiap 2 bulan sekali saya menghabiskan sekitar 3 kg kurma. Buat dicamil aja? Direndam, diseduh, dibuat bumbu pecel, dicamil pas nulis…kwkwk. Jenis kurma yang biasa saya konsumsi adalah jenis kurma Sukari, ya. Nggak basah, lembut, tetapi kering. Katanya kurma seperti ini lebih cocok direndam.

Hidup sehat bukan alasan untuk menjadi boros. Allah menyukai hamba-hamba yang kuat (imannya), bukan mereka yang lemah. Dengan fisik sehat, kita pasti jadi lebih mudah menjalankan ibadah, lebih maksimal memanfaatkan waktu untuk belajar ilmu agama. Meski maksud dari ‘mukmin yang kuat’ bukan terletak pada fisiknya saja, melainkan pada imannya, tetapi menjaga kesehatan fisik menjadi infestasi berharga buat masa depan kita. Apalagi mengingat bahwa kebanyakan penyakit disebabkan oleh makanan yang masuk ke tubuh, jadi mikir-mikir lagi kalau keseringan makan gorengan, nasi uduk dan lontong sayur tiap sarapan…kwkwk. Mending minum jus buah dan sayur, percayalah itu kenyang, kok.

Gimana, sudah punya gambaran kira-kira besok dan seterusnya mau bikin air rendaman dari bahan apa saja? Asal jangan rendam gula dalam air kamu supaya hidup sehatmu berjalan semestinya…hihi. Semoga bermanfaat, ya.

Salam,

Resep Tumis Bunga Pepaya Tanpa Rasa Pahit

tumis bunga pepaya
Bagaimana cara memasak bunga pepaya supaya tidak pahit?


Suka makan bunga pepaya? Sayangnya, kadang bunga pepaya yang kita masak rasanya pahit, meskipun pahitnya bunga pepaya enak, tetapi kalau terlalu pahit pasti bikin males makan dong.

Sebelum menjalankan JSR, saya memang senang mengonsumsi sayuran. Apa pun. Mulai dari lalapan hingga rebusan dan tumisan. Semua saya suka. Sampai suami sering nyeletuk bahwa saya ini mirip banget sama kambing yang doyan rumput…kwkwk. Antara miris atau terharu itu beda tipis waktu disebut seperti itu… :( 



Sejak ikut JSR, makan sayur semakin sering bahkan sudah menjadi makanan pokok sehari-hari mengingat saya sama sekali tidak makan nasi. Gantinya sayuran yang banyak. Porsi makan sayur saya sebaskom…kwkwk. Baskom kecil ya, Guys. Dan kenyang karena makan sayur itu jauh lebih ringan daripada makan nasi, pasta, dan makanan mengandung tepung gitu. Jika saya makan selain sayuran dan buah, perut rasanya begah dan sampai sakit bahkan. Jadi, saya agak ragu juga makan selain yang biasa saya konsumsi mengingat efeknya nggak nyaman banget.

Nah, ketika pulang kampung kemarin, saya dalam kondisi sedang menjalankan JSR juga dan baru berjalan sebulanan. Kebetulan di rumah ibu banyak banget bunga pepaya. Dipanenlah demi menyambut anak tercinta dari kota perantauan. Ibu memasak bunga pepaya dengan trik khusus yang mungkin sebagian orang sudah tahu.

Bunga pepaya bisa berkurang rasa pahitnya bukan dengan diremas pakai garam dan dicuci bolak balik. Justru dengan cara seperti ini, bunga pepaya kita jadi hancur dan jelek. Nggak segar lagi kelihatannya karena diremat terlalu lama. Solusinya rebuslah bersama daun jambu (Ibu pakai daun jambu biji). Hasilnya, pahitnya jauh banget berkurang, lho.

Nah, semakin enak kalau tumisan bunga pepayanya ditambahkan kemangi dan ikan asin. Duh, bikin ngiler…hihi. Kemarin sengaja tanpa ikan asin bikinnya, cukup dengan kemangi yang wanginya menyebar sekampung, se-RT, bahkan se-RW *lebay!

Cuslah, resepnya silakan dicoba, ya!

Bahan:
-Secukupnya bunga pepaya
-Beberapa lembar daun jambu biji, semakin banyak bunga pepaya, tambahkan juga daun jambunya, ya.
-Secukupnya kemangis (sesuai selera)
-Ikan asin (boleh skip)

Haluskan bumbu:
Beberapa siung bawang merah
Beberapa siung bawang putih
Secukupnya cabai rawit
Sedikit garam dan kaldu bubuk jika suka

Cara membuat:
1. Siangi bunga pepaya yang masih muda dan bagus.
2. Cuci bersih dan rebus bersama daun jeruk hingga setengah matang.
3. Tumis bumbu hingga harum. Masukkan bunga pepaya dan bumbui dengan sedikit garam.
4. Sesaat sebelum diangkat, masukkan daun kemangi. Aduk rata.
5. Jika ingin menambahkan ikan asin, goreng dulu ikan asinnya kemudian campurkan ke dalam tumisan bunga pepaya.

tumis bunga pepaya
Sebanyak ini bisa ludes (Foto: Dokumen Pribadi)

Voila! Tumis bunga pepayanya sudah jadi dan siap disantap bersama makanan favoritmu yang lain seperti nasi atau selada seperti saya. JSR-an kok makan tumisan dan bergaram? Kayaknya ini bukan hal haram dan dr. Zaid saja pernah makan salad sayur sama kuah bubur…hihi.

Saya nggak mau bunuh diri dengan diet atau pola makan seperti yang saya pilih sekarang. Diet atau apa pun istilahnya haruslah nyaman buat kita, jangan sampai menyiksa. Saya tidak makan nasi, dan itu tetap saya lakukan sampai detik ini. Tapi, untuk makanan lain saya tetap sekali-kali konsumsi. Dan itu sama sekali nggak ngaruh ke BB saya yang sekarang sudah menyentuh angka 40 kg, Guys.

Saat pulang kampung dulu, saya nggak mau merepotkan orang tua. Saya mau orang tua happy anaknya pulang. Saya makan semua yang dimasakin Ibu, makannya saya pernah cerita di postingan sebelumnya bahwa saya juga makan ayam dalam kuah opor. Ibu masak buat saya, masa iya saya tolak?

Please, yang pengen langsing jangan membebani diri dengan hal-hal yang terlalu ekstrim gitu. Sekali-kali kadang kita memang perlu cheat day, kok. Dan itu nggak haram selama kamu tahu batasannya. Saya nggak pernah memusingkan soal menu sehari-hari, harus makan apa dan seperti apa. Pokoknya alami, diolah dengan benar, itu yang saya makan sehari-hari terutama di rumah.

Ketika saya berkunjung ke rumah orang lain, sudah pasti saya akan makan apa yang ada (ketika saya harus makan). Ambil makanan yang paling jelas bentuk aslinya dan jangan takut, makan sepotong pizza nggak akan bikin kamu gemuk, begitu juga sebaskom salad mustahil bikin kamu kurus dalam sekejap. Semua butuh proses yang memang tidak mudah.

Ketika banyak orang bertanya seperti apa menu diet harian saya? Saya jawab, simpel aja. Asal alami, diolah dengan benar (tanpa digoreng/maksimal ditumis, tanpa gula, tanpa tepung), itu akan saya makan. Kalau adanya ayam goreng misal ketika pergi? Ya makanlah ayam goreng itu daripada kelaparan. Jangan menyusahkan diri sendiri. Itu penting banget. Biar dietmu menyenangkan dan kamu akan tetap kembali ke pola makan itu setiap kali kamu merasa gagal.

Semoga resep bunga pepaya dan selingan tentang JSR berguna, ya. Soalnya di beberapa postingan saya banyak yang menanyakan soal menu harian JSR seperti apa. Salah satunya tumis bunga pepaya ini plus selada. Porsinya sepiring pun kurang…hihi. Selamat mencoba dan tetap semangat, ya dietnya. Katakan kamu pasti bisa :)

Salam,

Memahami Pentingnya Belajar Bahasa Arab


belajar bahasa arab
Apa tujuan kamu belajar bahasa Arab? (Foto: Unsplash)

Sebenarnya sudah lama banget pengen share pengalaman belajar bahasa Arab selama tinggal di Jakarta. Bukan pengalaman lama, baru beberapa bulan. Tapi, semakin hari justru semakin  menyenangkan. Semakin ditekuni, semakin mengerti kenapa sih kita diharuskan belajar bahasa Arab? Demi apa coba? Hehe.

Selama ini, saya sudah belajar bahasa Arab sejak sekolah di madrasah tingkat SD hingga saya masuk pesantren dan lulus D1. Selama itu pula saya belajar bahasa Arab terutama percakapan sehari-hari. Dulu sih nggak pernah berpikir buat apa saya mempelajari itu. Mungkin sebatas kewajiban karena selalu sekolah di lingkungan agamis seperti madrasah dan pesantren. Happy saja ketika dipraktikkan karena kebetulan di pesantren dulu kita diwajibkan bicara menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris dengan kosa kata semampunya. Sehingga diharapkan lama-lama kita bisa benar-benar sempurna menguasai dua bahasa itu.

Lantas, setelah menikah dan 10 tahun tinggal di Jakarta, saya mulai lupa pelajaran bahasa Arab yang dulu-dulu. Memang benar, ilmu yang tidak diamalkan bakalan hilang. Dan beberapa bulan terakhir, di tempat saya biasa ikut kajian rutin, ternyata diadakan juga kajian khusus untuk belajar bahasa Arab setiap Senin pagi. Awalnya saya ragu mau ikut, tetapi akhirnya ikutan juga daripada kerjanya hanya melihat cucian segunung *curhat…kwkwk.

Sebenarnya saya sangat bersyukur karena Allah berkenan memberikan saya lingkungan yang jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Meskipun kadang ada kesulitan untuk beradaptasi, kadang ada hal tidak menyenangkan, tetapi justru dari lingkungan baru inilah saya ditempa untuk menjadi pribadi lebih matang daripada sebelumnya.

Di Jakarta yang dikenal sebagai kota metropolitan, yang kebayang dulu sih sesuatu yang nggak jelas, hal-hal negatif. Pikiran anak kurang gaul begini, lho. Ketika sudah tinggal di sini, saya justru dihadapkan pada banyak hal menarik. Mulai dari ibu-ibu sepuh yang rajin banget pergi kajian dari ujung hingga ujung, duduk bersebelahan dengan teman yang terkena struk, tapi masih semangat datang dengan kondisi yang tertatih apalagi harus naik tangga pula, bertemu ibu-ibu yang nggak semuda saya, tetapi semangatnya mengejar ilmu agama, masya Allah. Belum lagi rasa malu ini muncul ketika mereka nggak pernah merasa cukup dengan ilmu yang didapat, masih ikut tahsin hingga saya jadi saksi betapa bagusnya bacaan mereka dari sebelum ikut tahsin hingga sekarang. Saya seperti nggak sadar sedang tinggal di mana. Benarkah ini Jakarta?

Belajar Bahasa Arab Langsung dari Ayat Suci Alquran

Kemarin saat belajar bahasa Arab, ustadz sempat cerita tentang perjalanan kami selama beberapa bulan. Iya, katanya kami sudah tepat belajar bahasa Arab langsung praktik ke ayat, bukan dengan percakapan seperti yang selama ini saya tahu. Karena ujung-ujungnya belajar bahasa Arab memang tujuannya buat memahami Alquran, bukan semata-mata biar keren duniawi karena dianggap mampu menguasai bahasa asing. Nggak begitu.

Meskipun tidak salah juga belajar bahasa Arab dimulai dari belajar percakapan, tetapi jauh lebih baik langsung seperti yang dipelajari selama ini. Dari penjelasan sederhana ini, saya merasa sangat beruntung bisa berada di antara orang-orang yang semangat sampai pusing dan bertanya berkali-kali karena nggak mudeng…hihi. Maklum, mereka semua jarang yang sekolah madrasah, belum lagi usianya sepuh semua. Hanya ada dua orang yang seusia saya dan membawa balita juga. Jadi, merasa senasib, kan? Hihi.

Kalau nggak semangat datang, sungguh memalukan kaki yang gagah berdiri ini dibandingkan mereka yang duduk lama aja nggak bisa apalagi berjalan jauh. Allah, baiknya Engkau mempertemukan saya dengan orang-orang baik dan senang menuntut ilmu hingga usia senja :)

Metode Belajar Bahasa Arab

Setelah sekian tahun saya tidak mempelajari bahasa Arab lagi, muka rasa ditampar-tampar ketika ikut belajar bareng seperti ini. Banyak banget pelajaran lama yang akhirnya bisa saya ingat kembali sejak ikut belajar di sini.

Metode belajarnya santai banget, dimulai dari lembar kertas ajaib berisi beberapa baris kalimat (kata bermakna dalam bahasa Arab), seperti min (dari), ila (kepada), qobli (sebelum), dll hingga ada sekitar 15 kolom. Semua kalimat ini akan dibaca berulang-ulang setiap pertemuan sampai semua dari kami benar-benar hapal.

Kemudian ustadz akan memberikan tugas, kadang PR juga, kan seru jadi kayak sekolah lagi…hihi. Tugasnya berupa ayat-ayat Alquran yang nantinya disuruh diterjemahkan hanya dari kalimat yang telah dipelajari saja. Kemudian dibahas dan diterjemah sekaligus diceritakan maksud dari ayat-ayat tersebut.

Kalau dilihat sangat simpel, tetapi dari situ metode sesimpel ini menjadi sangat bermakna buat kami. Karena dari kalimat sesimpel itu kami belajar menerjemah dan memaknai satu per satu kalimat dari ayat-ayat Alquran.

Kami juga ditunjuk satu per satu untuk membaca, kadang maju ke depan mengerjakan beberapa soal. Agak horor juga ya ketika harus membaca satu per satu, secara orang introvert itu pengennya selalu di belakang layar. Suara jadi nggak stabil alias bergetar karena gugup…kwkwk. Ini mah curhat :D

Alhamdulillah, pengalaman berharga seperti ini mungkin nggak akan saya dapatkan ketika saya tetap tinggal di lingkungan yang sama. Dan datang ke kajian seperti ini bukan hanya bermanfaat menambah ilmu pengetahuan agama saja, tetapi juga punya banyak teman seirama yang berlomba menuju kebaikan. Teman-teman shalehah dan saling mengingatkan seperti ini nggak akan mudah kita dapatkan. Ketika kita memiliki meski hanya satu, maka dekaplah ia dan jangan biarkan kita jauh darinya. Semoga kelak kita bisa dikumpulkan di jannah-Nya. Aamiin.

Salam,

Custom Post Signature

Custom Post  Signature