Keep calm! Jangan panik saat anak demam. Terdengar ringan namun ternyata sulit sekali dipraktikkan. Ketika suhu tubuh anak mulai naik, secara spontan kita meresponnya secara berlebihan. Padahal, kebanyakan demam yang dialami anak-anak tak selalu menandakan penyakit berbahaya, lho!



Demam sebenarnya bukanlah penyakit yang harus ditakutkan. Sebab demam sendiri ternyata sangat berguna bagi tubuh manusia. Ingat, Allah tidak menciptakan sesuatu melainkan menyertakan pula manfaat di dalamnya. Termasuk demam.

Demam adalah alarm atau respon positif dari tubuh manusia saat melawan infeksi. Jadi, kalau anak demam jangan buru-buru menurunkan demamnya, sebab demam sendiri berguna untuk melawan virus atau bakteri yang sedang menyerang tubuh manusia. Hal penting yang harus dilakukan adalah memikirkan penyebab demam. Selama penyebabnya belum diatasi, maka demam pun akan tetap muncul.

Lalu apa saja yang harus dilakukan saat anak-anak kita yang sebelumnya aktif berlarian ke sana ke mari  tiba-tiba menggigil karena suhu tubuhnya tinggi?

1.      Pastikan anak tidak kurang cairan. Karena dehidrasi sangat berbahaya bagi tubuh.
2.      Ukur suhu dengan termometer bukan dengan perasaan. Disebut demam bila suhu tubuh mencapai >38’c.
3.      Kompres hangat serta berendam di dalam bak berisi air hangat sangat efektif membuat anak nyaman. Ingat! Jangan kompres dengan air dingin. Karena kompres dengan air dingin justru memicu tubuh untuk menaikkan suhu.
4.      Memakai pakaian tipis dan nyaman, serta jaga ruangan agar tidak pengap.
5.      Jika demam tinggi, bisa memberikan obat penurun panas. Tapi ingat, obat penurun panas tidak berfungsi menghilangkan demam, namun hanya menurunkan beberapa derajat saja. Selama infeksi masih terjadi dan penyebab demam belum diatasi, akan tetap terjadi demam.
6.      Amati perilaku anak. Jika demam yang disebabkan virus, biasanya anak-anak akan ceria kembali saat demam turun. Itu tandanya mereka masih oke. Berbeda dengan demam berdarah, meskipun sebabnya virus, namun suhu tubuh yang menurun diikuti pula oleh kondisi anak yang semakin lemas dan tak bertenaga. Jadi perhatikan betul klinis mereka.
7.      Pelajari tanda gawat darurat. Misalnya saja segera ke dokter saat anak sesak, kejang, lemas dan tidak mau minum.
8.      Segera ke dokter saat demam lebih dari 72 jam. Kebanyakan orangtua bahkan sudah memeriksakan kondisi anaknya ketika demam baru terjadi sehari. Padahal, beberapa demam yang disebabkan virus akan turun sebelum 72 jam. Bahkan saat 72 jam. Misalnya saja roseola. Penyakit yang disebabkan virus ini tidak menunjukkan gejala lain selain demam tinggi selama 2-3 hari. Setelah demam turun, muncullah ruam. Begitu juga demam berdarah, hasil periksa darah akan diketahui setelah demam berlangsung 72 jam. Sebelum itu tidak bisa diketahui. Kondisi ini akan membuat anak trauma karena harus bolak balik melakukan pengambilan darah. Jadi, periksa darah di waktu yang tepat, ya!
9.      Orangtua juga harus pandai meskipun bukan dokter atau tenaga medis. Menjadi konsumen kesehatan yang aktif nyatanya sangat dibutuhkan saat ini. Sebab tak banyak tenaga kesehatan yang mampu mengedukasi pasiennya. Jadi, tetaplah rasional dengan ikut aktif belajar dan banyak bertanya. Pasien juga punya hak untuk tahu.
10.  Mengerti dan memahami bahwa kebanyakan anak-anak demam disebabkan infeksi virus yang tak memerlukan obat. Virus bisa sembuh hanya dengan daya tahan tubuh. Infeksi virus tidak bisa disembuhkan dengan antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak bijak bisa memicu resistensi yang justru sangat berbahaya. Dan ternyata, kebanyakan tenaga kesehatan begitu mudah memberikan antibiotik meskipun penyakitnya disebabkan oleh virus. Jadi penting sekali bagi orangtua untuk mengetahui ini.

Beberapa informasi di atas mungkin bisa berguna mengurangi kecemasan saat anak-anak demam. Keep calm ya, Mom! Panik boleh saja asal tidak berlebihan dan tetap rasioanl!
View Post


Roti termasuk salah satu makanan mengandung karbohidrat yang bisa dinikmati oleh semua kalangan. Anak-anak hingga dewasa menyukai makanan yang berasal dari tepung-tepungan ini. Di supermarket besar hingga di warung-warung kecil yang berdiri di pinggiran jalan pun menyediakan roti dengan berbagai varian rasa.

 
sumber
Ternyata, membuat roti itu tak sesulit yang dibayangkan. Bahkan semua ibu-ibu bisa melakukannya di rumah. Tak perlu peralatan khusus, bahkan beberapa orang bisa membuat roti dengan pan.

Membuat roti sendiri di rumah tentu terjamin kualitasnya. Sebab, kita memilih sendiri bahan-bahannya, tidak mengandung pengawet, menghindari penggunaan bahan aditif yang berbahaya jika dikonsumsi selama jangka panjang, dan yang lebih menakjubkan tentu saja bisa menikmati roti hangat yang baru keluar dari oven. Nikmatnya tiada duanya!

Untuk yang belum pernah mencoba, rasanya sulit sekali memulai. Karena perasaan takut gagal atau pun merasa tak mampu membuatnya. Padahal, jika dicoba, kesulitan itu akan bisa ditaklukkan ketimbang hanya menimbang dalam angan. Membuat roti butuh pengalaman, gagal dan berhasil terkadang memiliki nilai yang sama. Yang sudah berhasil biasanya pernah gagal. Setelah gagal, dia pun bisa mengetahui di mana letak kesalahannya.

Pertama membuat roti, hasilnya bantat bahkan cenderung keras setelah dingin. Percobaan kedua, hasilnya sudah jauh lebih baik tapi ternyata kurang matang karena terlalu sebentar saat memanggang. Percobaan ketiga mulailah ada kemajuan karena sudah mulai paham kesalahan yang dilakukan sebelumnya. Ini hanya sebuah perumpaan. Kenyataannya, banyak sekali ibu-ibu yang berhasil saat membuat roti pertamanya. Amazing, ya!

Saya pun termasuk yang sering gagal saat membuat roti. Tapi, rasa penasaran mengalahkan semuanya. Beberapa kali gagal tak membuat saya enggan mencoba. Sekarang, setidaknya saya bisa menyajikan roti yang layak dimakan buat anak-anak di rumah. Mereka yang pecinta roti selalu berebut saat melihat roti yang baru keluar dari oven.

Selain pengalaman, beberapa tips ini mungkin bisa membantu para ibu yang ingin mencoba membuat dan menyajikan roti homemade di rumah;

1.      Pilih resep terpercaya. Jangan asal memilih resep. Karena beberapa resep yang ditampilkan di internet terkadang belum teruji di dapur.
2.      Menimbang dan menakar bahan dengan benar. Kalau kelebihan tepung bisa keras, kalau kurang pun bisa lengket dan sulit dibentuk. Jadi takarannya harus pas, sehingga hasilnya pun pas!
3.      Memilih bahan yang masih fresh. Penting diperhatikan saat menggunakan ragi instan, harus dilihat betul apakah ragi masih berfungsi atau tidak. Terutama untuk ragi yang kemasannya sudah terbuka. Caranya mudah, masukkan 1sdt ragi ke dalam sedikit air hangat bersama 1 sdt gula. Aduk dan biarkan 5 menit. Kalau ragi aktif, maka campuran tadi akan berbuih.
4.      Menguleni bahan dengan tepat dan pastikan adonannya kalis elastis. Untuk alatnya bisa pakai manual dengan tangan supaya ibu-ibu lebih berotot atau bisa memakai mixer roti. Kalis elastis yang dimaksud di sini jika dibentangkan tidak mudah sobek dan bisa setipis mungkin ketika ditarik.
5.      Jangan over proofing. Proofing pun harus tepat. Kalau tidak roti bisa kurang mengembang.
6.      Jangan over baking. Sebab setiap oven memiliki panas yang berbeda. Kalau sampai over saat memanggang, roti bisa keras dan kering.
7.      Kenali oven ibu-ibu! Karena beberapa oven kadang membuat roti tidak matang merata. Oven kompor misalnya, harus dipindah dari atas ke bawah, atau dibalik antara posisi loyang dari depan ke belakang.
8.      Buatlah roti pertama Anda! Kalau tak dicoba, pasti tak akan ada hasilnya, kan?

Semoga beberapa tips tadi membantu para ibu-ibu yang masih galau ketika hendak membuat roti sendiri di rumah. Ternyata membuat roti itu mudah. Dengan bahan dan peralatan yang tersedia di rumah, kita pun bisa menyajikan roti lezat ala bakery!
View Post


Suka gemes kalau ada bidan atau rumah sakit yang membekali ibu melahirkan dengan susu formula. Atau lebih parahnya, rumah sakit yang tak pro ASI, tak rawat gabung, memberikan susu formula pada bayi baru lahir tanpa izin dan persetujuan orangtua. Gemes karena hak anak terenggut. Gemes karena pihak rumah sakit yang seharusnya memberikan edukasi justru mencari kesempatan dalam kesempitan dengan mengambil keuntungan secara sepihak tanpa memikirkan perasaan ibu atau pun masalah yang akan ditimbulkan setelahnya. Misalnya saja, bayi jadi rewel ketika menyusu langsung karena sejak awal sudah terbiasa minum susu dari dot. Ketika minum dari dot, aliran susu keluar dengan mudah tanpa usaha. Sedangkan ketika menyusu langsung, bayi butuh sedikit kesabaran serta usaha untuk bisa minum. Begitu juga bingung puting menjadi masalah besar bagi ibu-ibu yang bayinya mengenal dot terlalu dini.

sumber

Alasan klasik lainnya adalah ASI belum keluar sehingga bayi harus segera diberikan susu formula. Padahal, bayi baru lahir bisa bertahan tanpa asupan apa pun selama 24-48 jam. Saat baru lahir, lambung bayi pun hanya sebesar kelereng. ASI yang keluar pada hari-hari pertama_biasanya berwarna kuning disebut kolostrum_meskipun jumlahnya sedikit namun kaya akan nutrisi dan bisa memenuhi kebutuhan bayi. Hisapan mulut bayi baru lahir pada kenyataannya justru sangat bermanfaat memperbanyak produksi ASI itu sendiri. Menyusui sesegera mungkin adalah jalan terbaik jika memang sejak awal sudah merencanakan pemberian ASI ekslusif selama 6 bulan.

Walaupun ASI bermasalah, solusinya buka memberikan susu formula, tapi tetap memberikan ASI dari ibu lain. Terdengar merepotkan, ya? Tapi, bagi saya, ASI itu penting. Bahkan di dalam Alquran disebutkan secara jelas. ASI pun amat bermanfaat bagi ibu dan anak. Selain hemat, kandungan ASI tak bisa disamakan dengan susu formula yang sudah mengalami proses panjang sehingga banyak sekali vitaminnya yang rusak. Promosi susu formula pun amat gencar sehingga bagi ibu yang kurang memahami pentingnya ASI akan dengan mudah memberikannya pada buah hati. Sayang sekali.

Di Indonesia sendiri, para tenaga kesehatan dan produsen susu formula rupanya kurang bisa menaati SK pemasaran susu formula. Banyak sekali peraturan Internasional yang dilanggar, misalnya saja mengiklankan susu formula kepada masyarakat, memberikan sampel gratis atau pun hadiah pada ibu atau pun petugas kesehatan, membuat iklan susu formula di sarana kesehatan dan beberapa pelanggaran lain yang sama sekali tidak disadari oleh masyarakat.

Bagi ibu hamil yang berkomitmen ingin memberikan ASI sejak melahirkan, beberapa tips ini mungkin bisa membantu.

1.      Mencari dokter kandungan yang pro ASI. Dokter kandungan adalah orang pertama yang membantu proses persalinan dan mengantarkan bayi lahir ke dunia. Ketika dokter kandungan tak pro ASI, maka bisa dipastikan IMD tidak akan diutamakan. Sebaliknya, ketika dokter kandungan benar-benar mengedukasi soal pentingnya ASI, maka sejak awal pemeriksaan pun akan dijelaskan betapa pentingnya proses IMD sesaat setelah melahirkan. Saya pun menanyakan hal serupa kepada dokter kandungan saat itu. Dokter kandungan menjelaskan dan menyambut baik rencana saya memberikan ASI.
2.      Memilih rumah sakit pro ASI dan rooming in. Rumah sakit yang pro ASI tentu saja menjadi pilihan utama. Begitu juga rawat gabung yang sering diabaikan. Pengalaman saya, sebelum melahirkan, bidan di rumah sakit sudah mengajari bagaimana menyusui dan dokter kandungan sudah sejak awal menjelaskan pentingnya ASI. Setelah melahirkan, bidan di rumah sakit pun tak segan membantu proses menyusui. Bahkan beberapa hari paska persalinan, petugas rumah sakit datang ke rumah dan memeriksa kondisi saya serta mengajari proses pelekatan yang baik saat menyusui.
3.      IMD. Memberikan ASI sesaat setelah melahirkan. Diskusikan dengan dokter kandungan, serta ajak suami untuk bekerjasama saat proses persalinan berlangsung.
4.      Mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang pemberian ASI. Banyak ibu-ibu yang kurang memahami mengenai pentingnya ASI, kecukupan dan beberapa masalah lain dikarenakan minimnya informasi. Zaman sekarang, tidak ada yang tak bisa dijangkau dengan majunya teknologi. Sharing pengalaman dan banyak sekali informasi tentang ASI bertebaran di internet.
5.      Mengetahui manfaat ASI bagi ibu dan anak. Salah satu di antara manfaat ASI bagi anak adalah mengandung antibodi yang amat baik bagi daya tahan tubuh, selain itu juga menurunkan risiko alergi. Sedangkan bagi ibu sendiri, manfaat ASI bisa membakar kalori dan menurunkan berat badan setelah kenaikan drastis saat hamil, yang tak kalah penting pula menurunkan risiko kanker ovarium dan kanker payudara.
6.      Percaya diri. Tidak mengkhawatirkan tentang banyak sedikitnya ASI. Percaya dan yakin bisa menyusui serta selalu rileks menjalani proses yang bagi sebagian ibu menjadi amat melelahkan.
7.      Berikan ASI sesering mungkin tanpa harus memberikan jadwal. Sebab produksi ASI sesuai dengan permintaan (on demand)
8.      Menjaga kesehatan fisik maupun mental. Pantang stres. Sebaiknya juga menjaga pola makan yang baik, banyak minum dan istirahat yang cukup.
9.      Mengajak suami dan keluarga untuk membantu saat proses menyusui. Penting sekali edukasi kepada keluarga terutama nenek atau kakek yang biasanya selalu khawatir ketika melihat cucunya menangis. Ajari mereka bahwa proses menyusui memang tak selalu mudah, bayi selalu menangis juga bukan selalu karena ASI yang tak cukup.
10.  Mengetahui teknik dan pelekatan yang tepat saat menyusui. Biasanya bidan atau konselor laktasi bisa mengajari.

Semoga 10 tips di atas berguna dan ada lebih banyak ibu yang mengerti dan paham akan pentingnya pemberian ASI bagi buah hatinya.
View Post


            Aku nyaris meninggalkan kedai kopi di daerah Menteng, andai saja Ririn tak segera muncul. Dia sudah membuatku menunggu terlalu lama. Tiga puluh menit bukan waktu sebentar apalagi saat berada di kedai kopi yang ramai pengunjung. Rata-rata mereka datang bersama sahabat atau bahkan pacar. Sedangkan aku? Bisa dibayangkan, duduk sendirian di dekat jendela demi menatap sunset di sore hari, berharap jendela kaca itu cukup jelas menangkap bayangan Ririn yang sudah membuatku kesal. Tapi nyatanya, hingga secangkir espresso pesananku hampir tandas, Ririn belum juga menampakkan batang hidungnya. Entah di mana dia sekarang.

sumber

            Lima belas menit sebelumnya, dia sempat mengirim pesan singkat. Katanya jalanan ibu kota macet parah. Dia tak bisa berkutik. Berada di dalam taksi, tak bisa belok kanan apalagi kiri. Di sekelilingnya dipenuhi kendaraan bermotor. Di depannya berbaris puluhan kendaraan roda empat yang mulai ribut membunyikan klakson.
            Awalnya aku tersenyum membacanya, Ririn pasti jauh lebih jenuh dariku. Tapi, lama-lama aku juga suntuk. Menyapu pandangan ke sekeliling, tak ada seorang pun yang kukenal. Akhirnya, tanpa berpikir panjang, aku pun beranjak.
            Beruntung, sebelum aku benar-benar meninggalkan tempat duduk, Ririn segera muncul di ambang pintu, melambaikan tangan dan berlari kecil sambil menjinjing rok berwarna gelap yang menutupi mata kaki.
            “Maafin aku, Ta. Jangan marah, ya? Kamu manis, deh!”
            Aku kembali duduk dengan wajah terlipat, mengusap pipi yang panas karena cubitan kecilnya.
            “Terlambat lima menit wajar, Rin. Kalau setengah jam bukan telat namanya.” Ucapku ketus.
            “Aku kan udah minta maaf, Ta,” ucapnya memelas.
            Kali ini aku maafkan, “Ya…ya. Kamu boleh traktir aku hari ini.”
            Ririn mendelik. Bibirnya manyun persis ikan mas koki. Aku tertawa.
            “Lalu, apa yang bisa aku bantu, Ta? Mencarikan jodoh buat kamu?” Ririn terkikik. Puas sudah meledek.
            “Aku masih waras, Rin. Nggak mungkin nyuruh orang jomblo mencarikan aku jodoh.” Kali ini gantian aku yang menertawakan. Dia membalas cubitan kecil di lenganku.
            Dulu, kami disebut sahabat sehidup semati. Karena selalu bergandengan ke mana pun pergi. Di mana ada aku, di situ ada Ririn. Kami merasa sangat cocok, Ririn yang jahil dan konyol namun bisa serius. Sedangkan aku yang lebih bawel bahkan ketus. Tak jarang kami sering ribut. Tapi, itu bukan masalah besar. Keributan kecil seperti sore ini tentu bukan alasan buat kami saling menjauh.
            Mencari teman banyak memang mudah. Bahkan saat SMA hingga masuk perguruan tinggi, aku punya banyak kenalan. Namun, mereka tak lebih dari sekadar teman ketawa ketiwi. Belum pernah ada yang seperti Ririn. Yang mengerti hitam putih dalam diriku. Memahami jatuh bangun serta perjuangan mempertahankan prinsip semisal saat tiba-tiba aku memutuskan untuk berhijab. Orang pertama yang menyetujui tanpa mempertanyakan alasan hanyalah Ririn, sedangkan keluarga justru mencari lebih banyak alasan saat melihatku menutup aurat. Mereka khawatir aku lepas tutup. Lantas khawatir dicibir oleh orang lain. Ah, entahlah. Aku tak mengerti kenapa sebuah kebaikan yang dimulai dengan tulus harus selalu dipertanyakan kenapa dan kenapa? Bukankah lebih baik mendukung dan mengiyakan supaya semangat yang sudah membara tak berubah arang dalam sekejap?
            “Kamu berubah ya, Ta?”
            Aku mengeryitkan dahi lantas menaikkan sebelah alis dan menanyakan maksud pertanyaannya barusan. Sepertinya tak ada yang berubah dariku. Beberapa bulan dan tak bertemu, Ririn bahkan sudah mulai pangling. Apa karena aku memakai pemerah bibir yang kuoles tipis sebelum berangkat?
            “Penampilanmu sudah jauh lebih...” Ririn menghentikan ucapannya lantas menunjukku dengan gaya menilai, “lebih dewasa dan jibabmu itu,” sekali lagi dia diam.
            Mataku terbeliak lantas menutup mulut dengan telunjuk, “Sssst…Apa sih, Rin.”
            Aku tertawa lantas memesan secangkir kopi yang sama untuknya. Sejak beberapa bulan terakhir, aku mulai merubah tampilan hijab yang awalnya hanya sekadar menutup kepala menjadi serupa sahabat yang sedang duduk di depanku, Ririn.
            “Sejak kapan kamu?” Ririn kembali mempertanyakan.
            Aku tersenyum lantas menemukan seutas senyum serupa dari kedua bibirnya.
            “Aku bahagia banget melihat kamu seperti ini, Ta!” Serunya tanpa ragu lantas menarik pergelangan tanganku.
            Aku juga merasa lebih bahagia seperti ini. Sejak awal, aku bahkan tak terlalu paham untuk apa memakai hijab. Hanya sebab kewajiban atau adakah manfaat lainnya? Lama-lama aku merasa penasaran dengan gaya berhijab Ririn yang jauh dari kata populer apalagi fashionable.
            Seperti hari ini, ketika mataku tanpa sengaja menemukannya di depan pintu kedai, seorang gadis berhijab lebar dengan gamis longgar berwarna senada, begitu menarik namun tak sedikit pun berlebihan. Ririn melambaikan tangan dan dengan senyum hangatnya segera berlari menemuiku. Meminta maaf dan segera merayu.
            Dia belum juga berubah. Sederhana, apa adanya. Sesuatu yang kukira dulu akan segera tergerus waktu. Setelah keluar dari perguruan tinggi, kupikir dia akan berubah jadi wanita dewasa yang modis. Nyatanya dia tetap sama.
            Suatu kali aku pernah menanyakan, kenapa kita harus menutup aurat dan memilih berhijab sedangkan di luar sana banyak muslimah bahkan tak sungkan membuka aurat?
            Dia menjawab antusias, “Sebab berhijab adalah sebuah kemuliaan yang Allah berikan kepada kita. Dengan hijab, kita terlindungi dari berbagai pandangan buruk. Hijab berfungsi menutupi bukan menarik perhatian.”
            Aku sempat terperangah sebab sebelumnya merasa hijab menjadi salah satu cara terbaik untuk eksis. Bukan karena aku ingin populer dengan hijab, namun pemandangan yang terpampang di depan mata mengatakan hal serupa.
            “Jadi, alasan apa yang mempertemukan kita sekarang? Kamu kangen?” Ririn terkikik lantas menyesap espresso yang baru diantarkan oleh pramusaji.
            “Aku mau menikah.”
            “What? Dengan siapa?” Ririn terlonjak kaget lantas tersenyum dengan rona bahagia.
            “Dengan mas Arya, senior kita.”
            Untuk beberapa saat aku melihatnya tertegun lantas tersenyum pasi.
            “Itu kabar bahagia, Ta. Aku senang mendengarnya.”
            Suasana beku kembali mencair. Tanpa ragu aku pun mulai menceritakan pertemuanku dengan mas Arya yang terbilang singkat. Lamaran dan menentukan tanggal pernikahan yang berselang tak lebih dari tiga bulan.
            “Datang ya, Rin.” Ucapku sungguh-sungguh sambil tersenyum hangat. Benar-benar mengharapkan kedatangannya di acara bahagiaku nanti.
            Langit berubah senja. Satu jam berada di kedai kopi bersama Ririn membuatku sedikit lega. Pertemuan pertama setelah sekian lama hanya berbalas pesan singkat lewat handphone dan media sosial. Rasanya rinduku terobati sudah.
***
            Rasanya tak mudah mendengar sahabat akan menikah dengan orang yang dulu sempat mampir dalam kehidupanku. Ya, Tata bukan lagi sekadar teman, dia lebih dari itu. Aku sudah menganggapnya saudara. Dia memang terkesan ketus dan disiplin, namun sebenarnya orangnya baik dan hangat.
            Mas Arya sempat berniat meminangku. Hingga penolakan orangtua membuatnya segera mundur. Mungkin apa yang Tata ucapkan benar adanya. Jodoh memang tak bisa dipaksakan. Dia datang tanpa persetujuan dan mencari pelabuhannya tanpa pernah bisa ditebak. Sekarang, aku harus menyiapkan diri dan hati saat tiba di resepsi pernikahan mereka. Menyembunyikan perasaan yang sebenarnya masih sama. Ah, mungkin ada orang yang lebih baik yang sedang Allah siapkan untukku…
***
            Kedua gadis berhijab lebar itu meninggalkan kedai dengan secangkir kopi yang sudah tandas. Membawa perasaan dan cerita berbeda…
View Post