Tuesday, March 31, 2020

Resep English Muffin Simpel, Tanpa Oven, Tanpa Telur

Emang ada roti tanpa oven? Nyatanya ada beberapa resep roti yang saya dapatkan di Youtube dibuat tanpa menggunakan oven. Salah satunya adalah English Muffin ini. English Muffin merupakan roti berbentuk bulat pipih dan biasanya dibelah jadi dua kemudian dipanggang dan dijadikan sebagai pengganti roti burger. Rasanya memang gurih dan nggak manis.

Untuk kali ini, saya membuat English Muffin sekalian diberi isian keju leleh di dalamnya. Karena males banget kalau harus ngisi semacam burger gitu...kwkwk. Kamu bisa buat vesi polosannya dan ketika sudah matang bisa diberi isian seperti burger atau variasi lainnya.

Andai rotimu terlalu banyak, bisa banget disimpan di dalam frezer, lho. Resep ini saya peroleh dari Youtube-nya mbak Nikmatul Rasidah. Sudah sejak lama selalu nyobain resep beliau karena simpel dan memang selalu oke hasilnya.

Kenapa, sih, Mbak Harus Bikin Roti Sendiri?


Kan, bisa cegat tukang roti di depan rumah aja biar nggak repot. Jujur saja, tahun kemarin saya sudah sangat lama tidak membuat roti lagi seperti sebelum-sebelumnya. Karena sedang capek, males juga, dan kayak lagi pengen aja beli...kwkwk. Nggak tahunya keterusan dong malesnya...huhu.

Padahal, bikin roti sendiri itu jauh lebih hemat sebenarnya meskipun kita butuh waktu nggak sebentar juga. Terlebih, sebenarnya orang-orang di rumah lebih senang dibuatkan ketimbang harus beli. Karena makan roti baru keluar dari oven itu beda banget rasanya. Paling doyan si sulung, roti emaknya selalu jadi favorit.

Alasan lain, karena roti buatan sendiri sudah jelas tanpa pengawet, tanpa pelembut juga. Bahan dan kuliatasnya terjamin karena kita tahu sendiri dan memilih sendiri yang terbaik. Tapi, urusan waktu itu memang menjadi alasan ke sekian kenapa saya jadi jarang bikin.

Seharian bisa habis waktu hanya untuk membuat roti? Kadang pernah saya ngoven sampai tengah malam karena mulai bikin adonannya sudah sore. Karena saya belum punya mixer roti yang guede dan mihil, alhasil setiap membuat roti paling hanya diulen pakai hand mixer atau kalau rajin dengan tangan.

Sering Gagal Bikin Roti? Ini Triknya


Jika kamu merasa sering gagal membuat roti, perhatikan ragi yang yang digunakan, apakah masih aktif atau tidak. Rata-rata, selain karena ngulen dan ngovennya kurang tepat, alasan kenapa kamu sering gagal bikin roti sendiri disebabkan oleh ragi yang ternyata sudah nggak bisa dipakai lagi.

Ragi ini menjadi bahan utama yang mesti diperhatikan. Karena kalau raginya sudah mati (bisa karena sudah terlalu lama dibuka dan salah menyimpan), maka roti nggak bisa mengembang. Akhirnya bantatlah, dll.

Biasanya, saya sering membuat roti dengan cara mengaktifkan dulu raginya. Cara ini lebih efektif digunakan untuk membuat ragi sekaligus buat ngecek apakah ragi yang kita pakai masih aktif atau nggak.


Cara untuk mengetahui apakah ragi masih aktif atau tidak

Campur 1 sdm gula pasir, 1 sdt ragi instan bersama 100 ml air hangat atau susu hangat. Kemudian aduk rata dan diamkan minimal 5 menit. Andai ragi aktif, campuran bahan ini akan berbusa seperti pada gambar yang saya tunjukkan. Andai nggak berubah kondisinya atau berbusanya malu-malu, saya sarankan kamu ganti dengan ragi yang baru.

Ragi instan yang sudah dibuka biasanya nggak habis dalam sekali pakai. Bungkus rapat kemudian simpan di frezer, ya. Jangan taruh di suhu ruang karena akan mudah rusak.

English Muffin Tanpa Oven



Yuk, yuk kita buat English Muffin tanpa oven ini. Bahannya mudah sekali dan bisa kamu dapatkan di sekitar kamu atau bahkan di dapur kamu :)

Bahan:


150 ml air hangat

150 ml susu hangat

7 gram ragi instan (2,5 sdt ragi)

2 sdt gula pasir

1 sdt garam

50 gram margarin atau butter, lelehkan

500 gram tepung terigu protein tinggi

1 sdt sp (boleh skip)

Cara membuat:



  • Campur ragi, gula pasir, dan air hangat. Aduk rata dan tunggu sampai berbusa.

  • Campurkan terigu, sp, margarin leleh, garam, dan sisa bahan lainnya. Kemudian uleni sampai kalis elastis. Boleh diuleni dengan tangan atau pakai mixer.

  • Diamkan adonan selama satu jam dan jangan lupa tutup bagian atasnya dengan kain bersih.

  • Tinju adonan dan bagi menjadi beberapa bagian sama besar. Beri isian jika suka kemudian bulatkan dan pipihkan.

  • Diamkan adonan selama 30 menit.

  • Siapkan teflon dan olesi dengan sedikit minyak. Panggang adonan dengan api kecil dan tutup. Supaya nggak ada uap air yanga menetes dari tutupnya, sebaiknya bungkus tutupnya dengan lap bersih.

  • Balik roti setelah beberapa menit (sambil diperiksa ya takut gosong). Setelah kedua sisi keemasan dan matang, angkat.

  • Lakukan hal yang sama sampai adonan habis.

Voila! English Muffin buatan kamu sudah siap. Bisa langsung disantap atau disimpan untuk sarapan esok hari. Jika mau diberi isian seperti burger, belah dulu rotinya dan olesi dengan margarin kemudian panggang.

Simpel banget, kan? Perhatikan adonan yang sudah kamu uleni, pastikan benar-benar kalis elastis. Meski tanpa telur, kalau nguleni adonannya benar, hasilnya akan tetap lembut. Nah, ciri-ciri kalis elastis itu bisa ditunjukkan dengan adonan yang bisa dibentangkan hingga tipis dan nggak mudah sobek.

Andai kamu nguleni pakai tangan, akan butuh waktu lumayan lama. Kemarin saya sempat ngulen dengan tangan, tapi beberapa menit kemudian saya lelaah...kwkwk. Akhirnya ambil mixer dan nguleni lagi. Setelah sekian lama nggak bikin roti, saya merasa tenaga langsung habis dipakai nguleni sebentar doang *manja banget...kwkwk.

Resep ini lumayan banget dipakai untuk mengisi waktu di rumah, ya. Jujur saja, sejak ada wabah covid-19, rasanya pengen sibuk-sibuk happy di rumah. Karena nggak bisa ke mana-mana juga. Akhirnya ngerjain ini itu, rajin ngisi blog lagi, belajar bikin desain grafis pakai Ibis Paint X dan mulai rajin ke dapur serta pegang mixer. Kalau kamu ngapain aja, nih di rumah?

Salam hangat,

Image: Gambar-gambar diolah menggunakan Canva & Ibis Paint X dengan gambar bersumber dari Pexels, Pixabay, dan koleksi pribadi.

 

Saturday, March 28, 2020

Review Natural Republic Aloe Vera, Pelembab Serbaguna Tanpa Lengket di Kulit

Tumben banget saya nge-review produk kecantikan. Apakah sedang dapat hidayah atau gimana, ya? Haha. Soalnya selama ini benar-benar beli produk kecantikan hanya sekadar dikoleksi tanpa pernah dipakai sampai habis. Kalau orang lain sampai koret-koret botol lotion, kalau saya membuang lotion karena kadaluarsa...huhu. Nggak pernah istikamah pakai bedak-bedakan gitu. Kamu gitu juga nggak sih? Atau hanya saya doang, nih? Kwkwk.

Sebelum mewabahnya covid-19, saya sempat iseng-iseng nonton Youtube dan lihat ada beberapa orang yang me-review Natural Republic Aloe Vera ini. Sebenarnya sudah dengar dari lama, tapi belum paham ini produk buat apaan? Dan kayak yang nggak peduli juga, mending beli es krim atau buku gitu...kwkwk.

Tapi, setelah nonton beberapa video itu, akhirnya dapat hidayah buat beli. Baiklah, mungkin inilah jalan yang terbaik yang mesti ditempuh untuk menjadi istri salehah *apaan sih...kwkwk. Berharapnya produk dari Korea ini beneran dipakai sampai habis, jangan hanya dipakai sekali dua kali doang. Sedih dia nanti...huhu.

Baru saya tahu ternyata produk ini juga banyak yang dipalsukan, ya? Kreatif banget, kan? Nggak hanya buku doang yang dibajak, produk begini juga dipalsukan. Heran juga, bikin rugi orang lain aja :(

Sebelum membeli, saya mencoba melihat review dari pemesan yang sudah menerima barangnya. Kebetulan karena belinya online jadi lebih gampang lihat pendapat orang-orang tentang produk yang dijual di toko tersebut.

Apa saja ciri-ciri dari Natural Republic Aloe Vera yang asli?


Kalau baca-baca di beberapa artikel dan melihat videonya di Youtube, Natural Aloe Vera yang asli atau bukan memiliki kemasan yang sangat berbeda secara tampilannya. Misal Pada bagian tutupnya, terdapat banyak perbedaan, misal yang asli kalau diraba gambarnya agak sedikit timbul gitu. Dan itu memang ada di produk yang saya punya.

Sedangkan yang saya perhatikan secara langsung setelah menerima barang terlihat pada bagian tutupnya (pada sisi samping melingkar) terdapat tulisan Natural Republic yang menonjol. Nah, tulisan ini juga bakalan kamu temukan di bagian belakangnya juga. Cukup gampang ya membedakannya?


Terakhir, kamua bisa cek tekstur dari Natural Aloe Vera ini. Yang asli teksturnya lebih cair dan mudah meresap saat digunakan. Aromanya juga khas dari aloe vera dan alcohol.

Itu beberapa poin yang bisa kamu perhatikan sebelum memutuskan membeli produk satu ini. Jangan sampai kita salah beli, ya!

Kandungan dan Klaim


Gel aloe vera Natural Republic ini mengandung:

Aloe vera leaf extract (92%), ethanol, glyceryl polyacrylate, dipropylene glycol, butyleneglycol, glycerin, propylene glycol, 1,2-hexanediol, polyglutamic acid, betaine , Sodium hyaluronate, Karen dulcis extract, spearmint extract, lemon balm extract, carbomer, phage-60 hydrogenated castor oil, triethanolamine, phenoxyethanol, purified water, disodium DTA.

Produk ini diketahui mengandung ekstral aloe vera yang punya segudang manfaat bagi kesehatan kulit hingga rambut. Selain itu, di dalam gel bening ini juga mengandung alkohol. Bagi yang punya kulit sensitif dan nggak bisa bersentuhan dengan alkohol, sebaiknya dipertimbangkan dulu sebelum mencobanya.

Produk ini mengklaim bisa melembabkan kulit kamu, mengencangkan, dan juga menjaga kesehatan kulit. Selain itu, produk ini juga bisa memberikan kelembaban instan bukan hanya bagi wajah saja, tetapi juga untuk rambut, tangan, hingga kaki. Poin plusnya, tanpa meninggalkan rasa lengket di kulit. Hmm, se-amazing itu nggak, sih?

Kemasan


Produk Natural Republic Aloe Vera yang saya beli dikemas dalam bentuk jar berisi 300 ml. Oke, ini emang gendut gitu kemasannya, tapi lega ketika dibuka jadi gampang banget digunakan...haha. Kalau dibawa traveling kayaknya emang agak menyusahkan, ya dengan kemasannya yang segede ini. Mungkin bisalah dipindah ke tempat yang lebih mungil jika mau.

Tekstur dan Aroma


Tekstur dari Natural Republic Aloe Vera gel ini cenderung udah cair saat kena kulit dan mudah banget diaplikasikan tanpa meninggalkan rasa lengket. Benar-benar setelah dipakai dia bakalan cepat kering terus efeknya bisa langsung dirasakan. Lembut dan lembab! Karenanya saya suka pakai sebagai pengganti lotion lama. Jarang pakai untuk wajah memang karena saya agak males...haha. Tapi, pernah beberapa kali saya aplikasikan ke wajah *pas rajin dan inget...kwkwk.

Aromanya wangi segar. Buat saya pribadi ini nggak berlebihan aromanya dan saya suka. Tapi, entah bagi orang yang kurang suka wewangian, ya. Seperti disebutkan di bagian awal, aroma dari Natural Republic Aloe Vera ini khas bau aloe vera yang segar.

Cara Pakai Natural Republic Aloe Vera


Nah, gel serbaguna ini rupanya nggak hanya bisa kamu gunakan untuk kulit wajah, tangan, dan kaki, tetapi juga bisa dipakai di kepala. Yups! Produk yang katanya bisa melembabkan secara instan ini bisa menjaga kesehatan rambut dan mencegahnya supaya tidak rontok. Rambut saya kebetulan rontok banget apalagi kalau dipanjangin...kwkwk. Sempat coba baru sekali dua kali dan belum melihat langsung hasilnya. Yang jelas ini enak banget karena punya efek dingin juga di kulit yang bikin ketagihan mau pakai terus. Secara saya jarang perawatan di salon *bukan jarang tapi nggak pernah kalee...haha.

Selain itu, ada beberapa cara yang bisa kamu lakukan di rumah dengan produk satu ini,

  • Pakai sebagai masker


Biar kulitmu lembab dan terawat, kamu bisa gunakan gel ini sebagai masker. Cukup oleskan pada wajah dan tunggu beberapa saat kemudian bilas dengan air hangat.

  • Gunakan sebagai pelembab kuku


What? Emang bisa, ya? Bisa. Oleskan pada kuku kamu yang cantik dan lentik kemudian biarkan sampai kering. Lakukan teratur jika mau merawat kuku. Berasa jadi ratu nggak, sih pakai produk beginian buat kuku? Secara lima menit kemudian harus bilas cucian sama cuci piring...kwkwk.

  • Berguna banget untuk sleeping mask


Manfaat berikutnya yang bisa kamu coba dari gel pelembab satu ini adalah bisa dipakai sebagai sleeping mask. Tiga puluh menit sebelum tidur, kamu bisa pakai gel ini ke wajah untuk memberikan efek melembabkan dan merawat kulit wajah supaya lebih kencang dan menghindari penuaan. Ingat, tua itu pasti, dewasa itu pilihan *eh...kwkwk.

Pendapat Saya


Saya yang benar-benar jarang suka sama lotion-lotion buat melembabkan kulit gitu akhirnya jatuh hati banget sama produk satu ini. Sebab produk ini nggak licin di kulit dan nggak lengket. Ketika dipakai benar-benar meresap cepat dan melembutkan parah. Aromanya juga enak dan seger banget. Mood booster bangetlah ya terutama dalam suasana penuh tekanan seperti sekarang...huhu.

Sejauh ini, tidak ada efek buruk yang muncul pada saya setelah beberapa minggu pemakaian. Hampir sebulanlah saya pakai produk ini. Sampai sekarang masih suka pakai meski ngga serajin orang-orang yang memakainya mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Saya cukup merasa 'rajin' ketika memakai gel ini sebagai pengganti lotion untuk tangan dan kaki...haha.

Saat baca-baca beberapa review teman-teman di femaledaily, ternyata ada banyak juga yang merasa bahwa produk ini nggak cocok di mereka. Efeknya menimbulkan beruntusan kecil-kecil gitu. Alhamdulillah, pada saya efek semacam itu nggak muncul sama sekali. Meski kulit saya termasuk agak sensitif sejak dulu kala, tapi produk ini masih bisa beradaptasi dengan baik, kok di kulit.

Gimana? Apakah kamu termasuk telat juga mengenal dan tertarik sama produk Natural Republic satu ini? Haha. Nggak apalah, ya telat yang penting sekarang sudah kenal dan menjadi penggemar setia *eaa.

Salam hangat,

 

Tuesday, March 24, 2020

‘Stay At Home’ Bikin Mati Gaya? Yuk, Cobain Resep Martabak Antigagal Ini Buat Mengisi Waktu Luang

Pernah nggak, sih kamu ngebayangin kalau keadaan di Indonesia bakalan sehoror sekarang? Sampai ada larangan shalat Jumat di masjid, sudah pasti kondisi negara kita memang sedang tidak baik-baik aja. Mau melakukan hal-hal kecil aja serba parno, misal ke warung buat beli kebutuhan sehari-hari, nerima paket, apalagi jalan di luar. Nggak bisa sesantai dulu-dulu lagi.

Jadi, berasa banget dong ya kenyamanan dulu itu harusnya nggak sering kita keluhin? Setelah keadaan seburuk sekarang, barulah kita tahu bahwa hidup yang kita punya ternyata luar biasa berharga dan sangat nyaman.

Ini ujian buat semua orang. Biar kita yang biasa menyombongkan diri, belajar untuk rendah hati. Wabah covid-19 mengingatkan kita tentang kisah-kisah orang sombong di masa lalu. Misalnya saja yang paling lekat adalah kisah tentang Raja Namrud yang akhirnya binasa di tangan nyamuk. Nyamuk gitu? Kecil banget, kan? Masa iya bisa ngalahin orang sehebat Namrud?

Namun, buat Allah itu bukan hal sulit. Nggak susah sama sekali. Sama dengan kondisi kita sekarang, ini ujian sekaligus teguran buat semua orang. Padahal covid-19 itu kecil. Bahkan lebih kecil daripada nyamuk. Tapi bisa membuat dunia pontang panting. Kayak, udah selesai aja :(

Apalagi sebentar lagi sudah masuk bulan Ramadan. Suasana Ramadan yang begitu khas dan istimewa bisa jadi akan berbeda. Dan itu jadi pelajaran juga buat kita yang masih diberi umur panjang, jangan menjalani Ramadan dengan seadanya seperti tahun-tahun sebelumnya.

Ramadan memang terasa istimewa, tapi kadang kita lewatin begitu aja. Padahal di situ banyak banget kejutan dan hadiah dari Allah. Ibaratnya mall, lagi bagi-bagi diskon gede! Atau gini, kita ikutan kuis berhadiah pulsa 25 ribu aja hebohnya bukan main, lho. Masa masu dikasih pahala berlipat ganda di bulan Ramadan nggak dimanfaatin dengan baik? What? Kita normal dan nyadar nggak, sih selalu begini dari tahun ke tahun?
Ramadan, maaf kami sedang sibuk...

Mak jleb banget , kan seperti judul buku...huhu. Herannya, dalam kondisi begini aja masih banyak orang memanfaatkan kesempatan. Kemarin saya sempat mencari hand sanitizer buat jaga-jaga aja khawatir butuh. Ini barang udah lama langka banget. Nyari di mana-mana nggak ada. Bahkan sebelum covid-19 dinyatakan sebagai pandemi, ini barang bersama masker udah hilang di pasaran.

Akhirnya kemarin pesan di salah satu marketplace. Barang ready, pas udah bilang mau pesan dua botol isi 500ml, tiba-tiba harga dinaikin seketika itu juga...haha. Sempat nggak sreg tapi akhirnya beli juga.

Selang beberapa hari, pemilik toko menawarkan lagi. Saya cek harganya udah naik dari awal 110 per 500ml, sekarang sudah jadi 175 ribu. Oh, Indonesiaku. Bagaimana urusan bisa selesai kalau semua sibuk mencari keuntungan pribadi aja? Belum lagi masker, dll.

Kayaknya kita nggak hanya repot mengurusi covid-19, tapi juga sibuk mengurusi mental warganya. Belum lagi yang tipu menipu. Oalah, ini resep martabak malah jadi cerita covid-19, ya...haha.

Stay at home, jangan ngeyel. Tetap di rumah kecuali terpaksa harus keluar. Belanja kebutuhan sekaligus buat beberapa hari supaya nggak sering keluar rumah. Jangan jalan-jalan dulu meskipun sudah bosan setengah mati. Sampai mulai meraung-raung nggak jelas...bosan...bosan...kwkwk. Ada yang begini juga?

Alhamdulillah, selain anak-anak yang jelas diliburkan dan sekolah dari rumah, si Mas juga akhirnya ngantor dari rumah. Ini bikin hati lebih tenang. Kalau sudah semua di rumah, otomatis jadi pengen cemal cemil terus, kan? Yups! Kalau beli sungguh sangat tidak disarankan, ini buat saya pribadi. Jadi, kalau pengen makan sesuatu mending masak dan bikin sendiri untuk sementara waktu.

Dan kemarin akhirnya nyobain bikin martabak dari resep ci Tintin Rayner. Saya sudah pernah menuliskan resepnya di sini. Tapi, baking soda saya ganti dengan baking powder karena nggak ada stok di rumah. Hasilnya tetap empuk, lembut, bersarang, dan cantik. Kali ini saya juga bikin versi yang besaran biar lebih mirip sama yang dijual-jual :D

Tip Antigagal


Martabak ini menggunakan ragi instan di dalamnya. Itulah kunci kenapa dia tetap lemes meski udah dingin. Nah, milih raginya yang benar, ya. Karena kalau nggak aktif, martabaknya bisa gagal. Jadi, usahakan pakai ragi baru atau jika kamu mau pakai ragi lama, coba cek dulu apakah masih aktif atau nggak.

Caranya mudah, cukup campurkan sedikit air hangat bersama gula pasir serta ragi. Aduk dan diamkan beberapa menit. Kalau campuran ini berbusa, artinya ragi aktif. Tapi, kalau kalem dan adem ayem, artinya raginya mager...kwkwk. Stop! Jangan pakai ragi yang sudah tidak aktif lagi ya.

Untuk penyimpanan ragi sisa, sebaiknya ikat rapat dan simpan dalam frezer. Ini tip yang saya dapat saat nonton salah satu video mbak Nikmatul Rasidah. Dan selalu saya terapkan sampai sekarang.

Proses Pembuatan


Ada yang bilang, kalau bikin martabak suka nggak matang di tengahnya. Hmm, Sebaiknya kamu pakai api kecil cenderung sedang. Pas adonan mulai berlubang, taburi gula pasir dan tutup teflonnya. Tutup teflon sebelumnya dibungkus dengan kain supaya tidak ada uap air yang jatuh mengenai  adonan martabak.

Yess, sesimpel itu, kok. Dan, voila! Martabak buatanmu sudah jadi. Lihat dong penampakan martabak saya yang sangat cakep *eaa abis ngajari biar endah hati, tiba-tiba sombong sendiri...hihi. Rasanya enak, mirip sama yang dijual. Bikinnya juga mudah tinggal aduk-aduk saja pakai wisk.

Satu resep ini bisa jadi 4 teflon martabak. Banyak banget, kan? Panggang aja semuanya, kemudian beri isian atau topping. Sisanya kita masukkan kotak makan yang ada tutupnya, kemudian simpan di kulkas. Besoknya kalau ingin, bisa kita angetin di atas teflon dengan api kecil.

Gampang banget, kan? Yuk, tetap bergerak di rumah jangan malas-malas seperti saya...hiks. Kita berdoa sama-sama supaya wabah ini segera usai dan kondisi Indonesia kembali membaik.

Salam hangat,

 

Friday, March 20, 2020

Hindari Covid-19 dengan Minum Obat yang Dapat Meningkatkan Daya Tahan Tubuh? Faktanya?

Siang-siang begini, Jakarta sudah diguyur hujan lebat. Padahal beberapa hari terakhir, Ibu Kota panas banget, hujan turun paling berupa gerimis, sampai-sampai bikin pengap. Bersyukur turun hujan, artinya Jakarta jadi lebih adem, kan?

BTW, kamu ngikutin nggak, sih perkembangan covid-19 di Indonesia? Di rumah kebetulan jarang banget nyalain televisi. Sedangkan saya pribadi agak kurang semangat baca-baca informasi yang berseliweran di sosial media, terutama info yang sering di-share di Whatsapp. Why? Karena kebanyakan hoax dan jujur malah bikin kita tambah parno dan khawatir berlebihan.

Saya pribadi sejak awal nggak menganggap remeh virus satu ini. Apalagi melihat perkembangannya semakin melesat aja di negeri kita. Tapi, kebanyakan menyerap informasi nggak jelas bikin kesehatan mental kita juga ikut terganggu. Kadang, ada orang yang senang share informasi bahkan sebelum dia tuntas membacanya *jangan tanya apakah dia tahu itu berita bener atau nggak.

Nah, informasi seperti ini sebenarnya agak kurang berguna juga, menumpuk di dalam grup dan akhirnya malah membuat informasi penting jadi nggak kebaca. Informasi yang  benar juga jadi ikutan kelelep gitu, lho. Lebih parah bikin kita jadi parno. Tanpa informasi semacam itu aja, kita bersin aja takut, kan sekarang? Ngaku, deh kamu...haha.

Kemarin eyang bersin-bersin sampai sampai 3 kali. Kita panik dan buru-buru nanya.

“Eyang flu?”

“Nggak, kok. Abis nuang bon cabe.”

Duh eyang...hihi.

Duh, segitu paniknya kita, sampai hal-hal kecil yang biasa kita anggap biasa sekarang menjadi begitu serius dan horor. Sedikit cerita itu dialami oleh teman saya...haha. Dan saya pun merasa sekhawatir itu kalau dengar suami bersin berkali-kali atau saya bersin mulu.

Covid-19 yang sekarang sedang dibicarakan banyak orang ini merupakan virus yang tingkat penularannya cukup tinggi. Gimana caranya supaya kita terhindar dari covid-19 selain tetap di rumah dan menjaga kebersihan? Beberapa orang menganjurkan kita supaya mengonsumsi vitamin, obat penambah daya tahan tubuh yang sekarang mungkin banyak diincar konsumen kesehatan. Tapi, apakah obat semacam itu benar-benar efektif meningkatkan sistem imunitas di dalam tubuh kita?

Benarkah Sudah Terbukti Dapat Meningkatkan Daya Tahan Tubuh?


Kok kemeruh, Mbak? Punya pabrik obat nggak, dokter bukan, kok ngomongin obat-obatan segala?

Kalau bicara tentang kesehatan, minimal konsumen kesehatan harus ngerti dikit-dikit. Karena yang belajar soal beginian nggak hanya dokter aja, kok. Minimal kamu tahu kapan anakmu harus rawat inap dan kapan kamu harus menolak dokter yang memaksa anakmu dirawat. Itu bekal penting banget, sih buat saya pribadi meskipun pada kasus tertentu bisa jadi saya menyerahkan seluruhnya kepada dokter.

Sama seperti soal obat-obatan. Sedikit-sedikit kita juga harus paham. Setelah periksa ke dokter, cek dulu obat-obatan apa yang memang diperlukan dan mana yang tidak sebelum kamu menebusnya. Bukan, ini bukan nasihat saya, ini nasihat dari beberapa dokter RUM (Rational use of medicine) di milis sehat kepada kami anggota milis sehat yang hampir semuanya merupakan orang tua. Yess! Orang tua yang awalnya suka panikan kalau anaknya demam dan sakit.

Meskipun disebut aman, seaman-amannya obat gitu, sudah pasti ada efek sampingnya. Apalagi kalau kita nggak bijak menggunakannya. Contoh mudahnya antibiotik. Di negeri kita, batpil aja dapat bekal antibiotik, lho. Kadang kita nggak bisa nyalahin dokter selamanya, karena pasiennya pun juga salah, sih. Suka banget nuntut obat kalau datang ke dokter. Padahal, ke sana bisa aja hanya konsultasi aja, kan?

Dokter spesialis anak di Rumah Sakit Hermina Jatinegara pernah bilang ke saya, beliau bakalan ngasih obat tergantung sama pasiennya. Kalau pasiennya minta obat ini itu, beliau tinggal tulis tuh di resep. Tapi, kalau pasiennya bantu dokter supaya tetap RUM, insya Allah obat-obatannya pun akan sesuai sama kebutuhan. Jadi, salah siapa dong?

Kembali lagi soal obat penambah imunitas ini, apakah memang benar sudah terbukti dapat meningkatkan daya tahan tubuh? Baik yang katanya berasal dari herbal atau tidak. Sebelum menulis ini, saya sempat gooling sebentar dan dapatlah satu informasi menarik dari salah satu website yang lumayan bisa dipercaya. Yups! Di Alodokter disebutkan manfaat salah satu obat penambah imunitas. Di sana disebutkan bahwa obat tersebut berasal dari ekstrak tumbuhan bla bla bla yang diduga efektif mengurangi gejala batpil dan diduga mampu memperkuat imun tubuh kita.

Nah, dari sini seharusnya kita paham bahwa obat-obat semacam ini sebenarnya memang belum terbukti bisa meningkatkan daya tahan tubuh. Apakah dulu saya pernah pakai? Pernah, kok. Bahkan sempat konsultasi ke salah satu rumah sakit di Menteng dan dapat oleh-oleh obat ini dari spesialis alergi. Waktu itu anak-anak batpil ping pong sampai parah banget. Saya dan Mas konsultasi ke mana-mana, hingga akhirnya tes alergi di Rumah Sakit Hermina Jatinegara.

Awalnya, saya yang sudah hampir menyerah dengan kondisi anak-anak sempat mencoba segala cara, apa pun itu. Sampai diet ketat seperti yang disuruh salah satu dokter di Menteng. Dan memang sempat nyobain obat yang katanya bisa meningkatkan daya tahan tubuh. Sampai akhirnya sadar juga semua cara itu nggak pernah berguna...kwkwk.

Dulu, di milis sehat sempat ada yang menyinggung soal obat ini dan pahamlah saya bahwa obat semacam ini memang nggak terbukti meningkatkan daya tahan tubuh kita. Kata dokter waktu itu, obat semacam ini selain nggak terbukti, juga kebanyakan hanya bisa dijumpai di negeri kita tercinta. Wow banget, kan?

Dan kemarin, ya, baru kemarin ketika di milis sehat sedang ramai pertanyaan soal covid-19, dokter Wati akhirnya menjawab juga dengan tegas bahwa obat semacam ini memang nggak terbukti bisa meningkatkan daya tahan tubuh. Pinter-pinter orang jual obat aja. Begitu katanya...haha. Mak jleb banget, kan? Kwkwk.

Tingkatkan Daya Tahan Tubuh dengan Rajin Konsumsi Buah dan Sayur


Bukan karena saya pernah diet dan telah menerbitkan buku tentang diet sehat *Buku Simple Diet for Muslimah sudah bisa kamu dapatkan di Gramedia, yaa...kwkwk. Eits, tapi memang cara terbaik untuk meningkatkan daya tahan tubuh tak lain adalah dengan mengonsumsi buah dan sayuran beragam dan lebih banyak, ditambah sumber protein. Nasi ketemu sebulan sekali pun nggak masalah kata dokter Wati. Kuat nggak, nih pisah sama nasi? Hihi.

Belajar dari pengalaman sejak diet tahun lalu, jujur aja atas izin Allah, ketika saya menjaga makanan saya, konsumsi makanan sehat, imunitas memang jauh lebih bagus daripada sebelumnya yang dikit-dikit demam dan batpil.

Konsumsi apa saya waktu diet? Pagi minum jus, makan buah, siang makan berat, itu pun tanpa nasi (kalau kamu udah kurus, nggak perlu musuhan sama nasi...kwkwk), misalnya siang makan telur rebus, sayuran rebus atau lalapan, karbonya kadang kentang kukus atau singkong, malam sih menunya nggak jauh beda. Kebanyakan sayuran. Ngemilnya nggak berhenti, tapi hanya kurma sama kacang tanah...kwkwk. Pernah juga bikin granola sendiri. Simpel bangetlah diet saya waktu itu.

Selama hampir 6 bulan diet, atas izin Allah saya memang tidak pernah sakit yang mengharuskan minum obat. Misal agak pusing, siangan udah baikan sendiri. Misal mau flu, meriang suhu 37an, besoknya udah nggak masalah.

Jadi, memang benar, kok. Kalau kita jaga pola makan, kasih makan badan kita dengan benar, insya Allah dia bakalan sehat atas izin Allah. Jadi, bagi yang sekarang panik dan bingung soal covid-19, salah satu ikhtiar yang bisa kita coba adalah dengan mengonsumsi makanan sehat.

Kalau tubuh kita fit, kena covid-19 insya Allah nggak seberapa parah ngaruh sama kesehatan. Kemarin dokter Windhi di milis sehat juga bilang kalau infeksi covid-19 ini bisa berbeda bentuknya,

  • Sehat


Tapi pembawa virus dan dia bisa menularkan pada orang lain.

  • Sakit Ringan


Demam, batpil.

  • Sakit Sedang


Disertai sesak dan dirawat dengan bantuan oksigen.

  • Sakit Berat


Perlu masuk ICU, ancaman gagal napas dan kematian.

Semua kondisi di atas dapat menularkan kepada orang lain dan yang paling rentan mendapat situasi ‘sakit berat’ adalah manula. Karena itu, jangan egois mentang-mentang kita sehat dan baik-baik aja, hanya bersin-bersin doang, kemudian seenaknya keluar rumah. Ingat, kita punya risiko menularkan covid-19 ini ke orang lain kalau kita memang positif. Dan kalau nggak ada gejala sampai parah, kitanya kan, nggak akan tahu kalau sudah membawa virus tersebut.

Kata orang, orang Indonesia ini ‘merasa’ sakti. Dikasih libur malah pulang kampung, wisata, masih ngumpul-ngumpul di jalan sama temennya. Kenapa sih kita nggak mau tahu dan nggak mau peduli?

Saya tinggal di Jakarta, sudah seminggu ini nggak pernah keluar rumah kecuali ke warung sayur deket rumah buat belanja kebutuhan sehari-hari. Itu pun dua hari sekali aja. Meskipun pengen banget keluar sebentar, sekadar mampir ke supermarket misalnya, tetap itu nggak saya lakukan.

Sebisa mungkin selalu masak makanan sendiri di rumah. Anak sekolah di rumah. Kerjaan semakin menumpuk pokoknya. Tapi, hei, insya Allah kita bisa lewatin ini semua, yaa. Tetap di rumah demi membantu orang-orang yang sedang kepayahan memulihkan keadaan negeri kita, kota kita. Kalau kitanya bandel, mereka akan lebih kewalahan. Kalau kitanya nggak peduli dan mau benar sendiri, bisa-bisa kita juga yang celaka.

Please, apa susahnya menahan diri di saat seperti ini? Tanpa harus melihat berita di telivisi pun kita tahu bahwa kondisi sekarang benar-benar buruk. Shalat Jumat aja harus di rumah. Nggak kebayang beneran bakalan seperti sekarang situasinya. Kemarin kita lihat negara lain yang pontang panting, sekarang kita yang ngerasain. Subhanallah, ya. Semoga wabah ini bisa segera diatasi dan kita bisa puasa Ramadan dengan tenang, bisa tarawih di masjid, dan mudik ke kampung halaman.

Tetap di rumah, ya sampai kondisi membaik :)

Salam hangat,

Featured image: Photo by Polina Tankilevith on Pexels

 

Wednesday, March 11, 2020

Kamu Juga Butuh Jeda Setelah Lelah Bekerja

Pernah nggak, sih memikirkan rutinitas sehari-hari yang selalu sama, terutama ibu rumah tangga, terutama lagi yang jarang banget keluar rumah yang bahkan untuk nganter anaknya sekolah menggunakan ojek langganan...kwkwk. Tentu ini sedikit menjelaskan kehidupan saya secara blak-blakan. Meski saya tidak mengatakan secara langsung entah kepada pasangan atau teman, tapi pada akhirnya saya juga butuh menepi dan mengambil jeda.

Napas dulu, kayaknya kerjaan rumah nggak ada habisnya. Cucian yang lebih menumpuk terutama sejak viralnya wabah corona virus. Membuat emaknya selalu ketar ketir tiap bepergian yang akhirnya bikin serumah jadi lebih sering gonta ganti baju...hihi. Baru sadar penyebab cucian menumpuk kemarin ternyata corona virus.

Beberapa minggu terakhir memang seakan cuek sama blog, menulis naskah pun terkesan lebih santai. Mungkin saya sedang lelah, tapi belum mau jujur sama diri sendiri. Saat tadi pagi ngobrol sama teman, dia bercerita beberapa hari ini dia sama sekali berhenti mengerjakan ilustrasi karena merasa jenuh (dan hanya nonton Youtube), di situ saya baru berani bilang bahwa saya juga merasakan hal serupa...haha. Orang introvert harus ngajak teman dulu. Kamu gitu juga nggak, nih?

Lelah Boleh, Rehat Silakan, Berhenti Jangan


Sebenarnya dua bulan ke depan ada dua naskah yang harusnya segera diselesaikan. Tapi, saya tidak seantusias biasanya sebab waktu seperti tercurah pada hal lain. Yups! Urusan rumah, entah anak-anak, cucian dan setrikaan, atau bebersih yang nggak ada habisnya. Kemudian waktu seperti hilang begitu saja. Tiba-tiba badan udah capek dan pengen cepet-cepet istirahat.

Kadang saya harus bilang, It’s okay. Nggak masalah kamu merasa lelah dan itu sangat manusiawi sekali, karena saya manusia. Saya bukan superhero. Bukan. Jika di saat tertentu saya merasa bosan, jenuh, dan lelah, silakan istirahat dan mencari kesenangan sendiri sebetas bisa melepas penat.

Namun, jangan pernah berhenti karena suatu saat entah saya ataupun kamu akan menyesal setengah mati.

Pikiran Tidak Fokus, Cobalah Selesaikan Pekerjaanmu Satu Per Satu


Kita nggak bisa ambil beberapa pekerjaan sekaligus. Coba selesaikan satu per satu, barulah ambil target baru. Memang benar, rasanya menyenangkan bisa menyelesaikan banyak hal bersamaan, tapi kadang sampai lupa mengistirahatkan badan, tubuh kita juga punya haknya sendiri yang tidak boleh diabaikan.

Mentang-mentang bukan pegawai kantoran, kerjanya jadi seenaknya siang dan malam. Jangan, sebaiknya kita ambil porsi yang pas sesuai dengan kemampuan. Saya merasa selalu gagal setiap mengambil pekerjaan terlalu banyak. Saya harus memerhatikan bahwa pekerjaan yang baik bukan hanya soal kuantitasnya saja, melainkan lebih pada kualitas yang dihasilkan.

Kalau kitanya capek, ngerjain sesuatu seenaknya dan buru-buru, hasilnya hanya seadanya. Nggak pengen jadi seperti ini, kan? Belum lagi nggak fokus sama pekerjaan itu sebenarnya bikin kita stres. Karena beban jadi tambah berat. Apalagi kalau kamu tipe orang yang suka ngemil saat stres, udah beban berat, berat badan pun ikutan naik...haha.

Lakukan Hobimu dengan Leluasa


Bagaimanapun kita mesti punya hobi. Kalau saya pribadi, harus punya hobi selain aktivitas menulis buku yang sudah tak berbeda seperti sebuah pekerjaan tetap saat ini. Hobi saya adalah ngeblog. Di sini saya harus memaksakan diri bahwa ngeblog itu hobi, bukan pekerjaan. Karena kalau semua saya jadikan pekerjaan dan menuntut target, akhirnya saya lelah dan nggak tahu mau mencari pelarian ke mana.

Kemarin-kemarin setelah jarang ngeblog saya jadi mati gaya...haha. Biasanya selalu menulis apa saja, kemudian setelah dijadwal seminggu sekali justru jadi aneh rasanya. Kaku dan seperti pertemuan pertama kali dengan seseorang...haha. Nggak banget, kan?

Kalau zaman dulu, ngeblog masih polos-polosnya, nggak mengharap apa-apa kecuali hanya sekadar bersenang-senang. Semakin ke sini semakin serius dan justru malah bikin suntuk...kwkwk. Pasti karena sudah salah tujuan dan tidak menikmati. Akhirnya, hobi memang tetap harus dijadikan hobi. Penghasilan setelahnya cukup dijadikan bonus saja. Apakah saya ikhlas? Sedikit nggak...haha.

Karena jujur saja saya juga nggak mau ngeblog, tapi posisi masih di tempat yang sama. Pengennya bergerak maju. Tapi, kita nikmati saja seperti apa prosesnya, ya. Karena saya juga nggak ada pilihan. Tenaga saya terbatas jika harus menulis buku dan ngeblog dengan serius secara bersamaan. Ujung-ujungnya nanti saya lupa sama serunya menjalani hidup.

Terima kasih sudah membaca postingan yang murni curhatan ini ya. Siapa tahu kamu bisa berbagi tip melepas penat di tengah jenuhnya aktivitas kerja serba padat. Sampai di sini saya masih menikmati semuanya, tentunya setelah curhat :)

Salam hangat,

*Feature image: Photo by Shohib Tri on Pexels

 

Saturday, March 7, 2020

Tumis Bunga Pepaya dan Tip Supaya Rasanya Tidak Pahit

Suka makan tumis bunga pepaya? Rasa pahit pada bunga pepaya sebenarnya jadi rasa khas yang nggak akan kita dapatkan di sayuran lain. Rasa pahit pada pare misalnya, pasti sudah khas banget, kan? Enak bagi yang suka. Buat saya pribadi, sebenarnya nggak perlu dihilangkan rasa pahitnya, dikurangi aja boleh. Karena sebenarnya lebih enak ada rasa pahit-pahitnya gitu *mirip iklan nggak, sih? haha.

Seperti hidup ini, kadang ada pahitnya juga, kan? Nggak selalu manis dicecap. Suatu hari kita senang, besok kita nangis, besok ketawa lagi. Begitu saja selama masih hidup. Begitu juga dengan tumis bunga pepaya *halu banget perumpamaannya...kwkwk.

BTW, di Jakarta, nyari bunga pepaya ini susah banget kecuali kita memang menanamnya sendiri kali, ya? Haha. Jadi, kita ke tukang sayur, ke pasar, itu jarang banget ketemunya. Kayak langka banget. Misalnya ada, harganya pun mahal. Kenapa mahal? Karena bandingin harganya dengan di kampung halaman yang tinggal metik depan rumah...kwkwk.

Kalau pulang ke rumah ibu di Malang, pasti saya dimasakin bunga pepaya. Di sana melimpah banget, tinggal petik depan rumah. Dan ibu selalu memasaknya dengan daun jambu biji biar rasanya nggak pahit. Ditambahkan kemangi supaya wangi. Dan semuanya metik di halaman. Enak banget, kan hidup di kampung itu?

Kebetulan kemarin saya dapat bunga pepaya di tukang sayur langganan. Nggak mikir lama, langsung aja beli satu bungkus. Pas banget ada kemangi juga, karena saya senang sekali makan kemangi, jadi kemanginya juga dibanyakin...hihi. Saingan jumlahnya dengan bunga pepayanya*hadeh, semoga nggak pada iri-irian, ya mereka...haha.

Saya masak bunga pepayanya sengaja nggak ngilangin rasa pahitnya. Bahkan malah kangen sama pahitnya itu. Karena biasanya setelah kepahitan akan ada rasa manis *eaa..nggak nyambung..kwkwk. Jadi, saya hanya rebus bunga pepayanya sebentar aja sama garam dikit. Nggak diremas-remas juga biar cantik.

Cusllah, yuk, bikin dengan resep sederhana dari saya ini,

Bahan:


1 kantong plastik bunga pepaya, siangi, cuci bersih

2 ikat kecil kemangi

Bumbu:


4 siung bawang merah, iris

2 siung bawang putih, iris

5 buah cabai rawit, iris serong

Sedikit terasi (pilih yang enak)

Sedikit garam

Sedikit kaldu bubuk jika suka (boleh skip)

Cara membuat:



  • Didihkan air dan rebus bunga pepaya sebentar bersama sedikit garam. Angkat dan tiriskan.

  • Tumis bawang dan cabai, setelah layu dan wangi, masukkan terasinya. Tambahkan garam dan kaldu bubuk.

  • Masukkan bunga pepaya dan aduk rata. Masukkan kemangi, aduk sebentar dan angkat.


Voila! Tumis bunga pepayanya siap disantap. Jadinya sepiring kecil ini dan hanya saya yang menghabiskan...haha. Nggak ada yang doyan selain saya.

Btw, terasi yang saya pakai ini kiriman dari ibu di kampung. Sampai sekarang saya belum bisa dapat terasi seenak ini. Ibu biasanya beli banyak, dikukus, kemudian dijemur sampai keriiing banget. Setelah kering disimpan dalam toples kecil gitu sesuai kebutuhan. Dan kemarin saya baru dikirimi lagi. Jujur ini bikin wangi tumisan.

Bumbu yang dipakai ini bisa dibuat berbagai macam variasi menu. Bisa untuk menumis terong, pare, kangkung apalagi. Banyaklah sayuran yang bisa dibuat tumisan semacam ini. Ini juga resep dari ibu yang saya variasikan untuk tumisan bunga pepaya karena jujur saya males ngulek...kwkwk.

Mending nge-baking gitu daripada ngulek. Ngulek pun hasilnya suka nggak halus. Masih halusan hasil ulekan suami...haha. Nggak banget aib begini dibongkar... :D

Semoga resepnya bermanfaat, ya. Selamat makan bersama menu spesial yang bakalan ngabis-ngabisin nasi begini :)

Salam hangat,