Sunday, July 26, 2020

Pengalaman Berkebun Ala Hidroponik dan Berhasil Panen

berkebun ala hidroponik



Yeay!
Alhamdulillah, akhirnya bisa update lagi soal hobi baru di masa pandemi. Yups! Berkebun ala hidroponik. Gimana perkembangannya? Beneran berhasil panen dan sesuai harapan setelah sebulanan?

Awalnya, saya sempat berpikir bahwa berkebun ala hidroponik ini cukup repot, mahal, dan tentu saja susah. Tapi, setelah mencobanya sendiri, kayaknya nggak sesulit yang dibayangkan. Bahkan dibanding saya berkebun pakai tanah di dalam pot, hasilnya sering nggak maksimal dan nggak pernah bisa panen. Paling ngeselin hamanya itu. Sayuran udah tinggi lebat, ada aja hamanya. Akhirnya nggak bisa dipanen. Atau, itu sayuran nggak berkembang alias kecil terus...hehe. Subhanallah, nguji kesabaran banget ya kamu, Sayur! :D

Ada beberapa catatan penting yang bisa saya share pada teman-teman yang berniat mau berkebun ala hidroponik,

Semai Benih Jangan di Tempat Gelap atau Tertutup


Jadi, sebelum saya nyoba menanam sayuran ala hidroponik, saya sempatkan nonton beberapa video di Youtube. Katanya, ketika menyemai benih sebaiknya ditutup. Jangan kena sinar matahari dulu. Dari situ saya berpikir bahwa benih-benih yang saya semai sebaiknya tetap berada di tempat gelap sampai siap dipindah ke netpot dan diletakkan di pipa. Kali aja ada yang berpikir sepolos saya...hehe. Membiarkan benih yang sudah tumbuh ada di dalam rumah sampai tinggi, tapi warnanya putih nggak ada ijo-ijo daunnya sama sekali. Tahu nggak, itu benih yang tumbuh mirip toge :D

Akhirnya, pada percobaan berikutnya, saya semai benih-benih sayuran di teras rumah. Awalnya ditutup kertas supaya gelap. Esoknya ketika biji-bijinya mulai pecah, saya biarkan terbuka dan terkena cahaya matahari terutama pagi. Dan kelihatan banget bedanya. Dua sampai tiga hari sudah muncul daun kecil dan nggak tinggi kurus gitu batangnya. Tumbuh seimbang nggak kayak kekurangan gizi. Ya Allah, pengen ketawa sendiri melihat kepolosan diri ini...hihi.

Nggak Harus Pakai Pompa


Jadi, pas suami bikinin rak-rak berisi pipa yang siap dipakai untuk berkebun ala hidroponik, rencananya bakalan pakai pompa supaya airnya bisa muter. Awal-awal mindahin bayam, pompanya dibiarkan nggak nyala. Toh baru percobaan, bahkan saya  sendiri saja nggak yakin itu bayam bakalan gendut dan subur. Pas dipindah kurus banget soalnya :D

Ternyata, meskipun tanpa pompa menyala, hasilnya tetap maksimal, kok. Alhamdulillah, atas izin Allah, itu bayam subur banget, masya Allah.

Saya juga coba membuat di gelas air mineral yang disusun dan menggunakan media tanam tanah bukan rockwool. Hasilnya juga lumayan subur dan gendut-gendut.

Nggak usah repot-repot menyiapkan pompa kalau hanya berkebun sekadarnya seperti saya. Kalau hanya buat suka-suka dan menyenangkan hati, manfaatkan saja barang yang ada. Insya Allah hasilnya tetap maksimal, kok.

Perhatikan Tempat Air Nutrisi



Ini yang nggak kalah penting, ya. Soalnya banyak orang yang menanam dengan wadah dari botol bekas. Misal botol bekas air mineral, botol bekas minyak goreng, atau sejenisnya. Karena wadah yang dipakai transparan, ketika kena matahari bakalan gampang banget berlumut. Nah, kalau ada lumut, kita mesti rajin membersihkan karena bisa menghambat perkembangan si sayuran sendiri.

Solusinya, sebaiknya cat botol tempat air nutrisinya atau kalau saya pakai lakban biar gampang...hehe. Ketahuan banget malesnya, ya :D

Dengan begitu, botolnya jadi bersih dan nggak gampang lumutan. Menghemat energi juga supaya nggak terlalu sering membersihkan.

Harus Pakai Air Nutrisi?


Salah satu bagian penting dari hidroponik adalah air nutrisi yang digunakan untuk menanam sayuran. Emang nggak bisa pakai air biasa? Emang itu ada pupuknya? Pupuknya ditaruh di air aja atau disemprotkan ke sayurannya juga?

Kalau kita pakai air biasa, hasilnya nggak akan sebagus ketika menggunakan air nutrisi. Air nutrisi berupa AB mix ini bisa kita dapatkan di toko online. Harganya lumayan terjangkau dan digunakan hanya sedikit untuk campuran air nutrisinya nanti.

Jadi, dalam satu kemasan AB mix ini ada dua jenis pupuk. Kita bisa membeli jenis bubuk dan mencampurnya sendiri dengan air atau bisa beli yang cair. Nantinya, setiap 1 liter air bisa kita tambahkan 5 ml nutrisi A dan 5 ml nutrisi B. Ini sesuai takaran dalam kemasan yang saya pakai.

Sebenarnya, semakin besar usia sayuran, semakin tinggi kadar ppm pada air nutrisi yang diberikan. Masalahnya, ini agak ribet dan rempong kalau harus ngukur-ngukur airnya. Padahal saya sudah punya TDS, tapi nggak kepake juga dari kemarin.

Saya tetap pakai takaran dalam kemasan saja. Dan hasilnya tetap oke, kok. TDS jadi nggak terlalu penting, sama seperti pompa tadi, ya.

Awas Jentik Nyamuk!


Jadi, kemarin sempat ada jentik nyamuk di dalam air nutrisi. Kaget banget. Kirain nyamuk nggak bisa bertelur di air nutrisi karena ada pupuknya *polosnya daku :D

Jadi, setengah harian saya menguras semua pipa dan menggantinya dengan air nutrisi yang baru. Celah-celah kecil pada lubang netpot benear-benar harus ditutup apalagi pompa saya nggak nyala. Air jadi nggak berputar. Pastikan banget hidroponik kita bersih dari jentik. Jangan sampai jadi sumber penyakit, ya.

Cukup Mendapat Sinar Matahari



Dari sharing teman-teman, saya tahu bahwa kebutuhan sinar matahari untuk hidroponik ini begitu penting. Kalau kurang sinar matahari, tanaman bakalan layu dan lunglai gitu. Nggak sehat.

Jadi, saya usahakan betul rak hidroponik kena cahaya matahari terutama di pagi hari. Sampai saya letakkan dekat pagar rumah, karena di sinilah posisi paling pas supaya tanaman saya kena sinar matahari dengan maksimal.

Kalau kena hujan gimana? Qadarallah teras saya sudah tertutup bagian atasnya. Jadi nggak kena tampias air hujan kalau musim hujan. Jika hidroponik kena air hujan, kita mesti perhatikan air nutrisinya yang sudah berubah.

Semakin Besar Umur Tanaman, Semakin Banyak Menyerap Nutrisi


Kalau kata suami, semakin gendut ya semakin banyak minumnya *ngeledek banget, kan? Hehe.

Tapi, memang benar. Tadi, waktu saya cek, ternyata air nutrisi untuk bayam yang siap panen udah habis. Padahal, yang lainnya masih banyak. Artinya, kita mesti perhatikan betul air nutrisi bagi sayuran yang sudah tumbuh subur dan besar. Jangan sampai telat karena akhirnya jadi layu.

Nyoba Pakai Toples Selai, Bisa Nggak, ya?



Tadi, saya iseng menanam pakai toples selai. Karena kemarin suami sempat beli netpot lagi dalam jumlah banyak, akhirnya nyari tempat yang cocok buat menanam, tapi pengen yang mungil, kalau bisa cantik ketika diletakkan di meja atau di tempat lain.

Pilihannya jatuh ke toples selai...hehe. Ternyata netpot bisa masuk sempurna ke dalam toples selai ini. Tapi, karena wadahnya bening, kita mesti hati-hati supaya airnya nggak naik suhunya ketika kena panas dan gimana caranya biar nggak gampang berlumut. Saya buat lingkaran seperti pipa paralon dari kardus bekas yang nantinya bakalan saya pakai untuk menutup atau membungkus si toples ini. Biar nggak kena sinar matahari langsung. Hasilnya? Kita lihat beberapa minggu ke depan ya :D

Tadi saya tanam selada. Kebayang kalau sampai lebat betapa lucunya ini. Bisa dipindah ke meja buat pajangan juga. Ngehalu dulu, yaaa...hehe.

Yeay! Akhirnya Panen!


Alhamdulillah banget. Sore ini akhirnya panen juga setelah sekian lama menimbang dan memikirkan. Soalnya udah lebat malah sayang kalau dipanen. Soalnya, udah cantik masa mau dimasak? Hehe.

Tapi, waktu lihat beberapa daun mulai kering bagian tepinya karena umurnya udah lumayan, kok sayang juga ya kalau nanti nggak bisa dimakan dan kebuang? Akhirnya dipanen juga sore tadi :D

Lihat hasilnya, segendut ini bayam hasil hidroponik saya dong. Masya Allah tabarakallah. Senang dan happy banget bisa metik sayuran sendiri di halaman setelah penantian panjang *kayak nungguin jodoh aja...hehe.

Hari ini baru panen bayam, sayuran lainnya belum cukup besar karena umurnya memang nggak sama. Next saya akan sharing lagi untuk panen berikutnya. Ada selada, pokcoy, dan kangkung. Kalau seledri nggak subur-subur, nih. Masih mau dipelajari lagi karena bayam sudah panen, seledri masih mungil banget :D

Semoga postingan ini berguna ya buat teman-teman yang mau mencoba. Jangan patah semangat, kita coba terus sampai berhasil panen *kompor banget...hehe.

Salam hangat,

 

Saturday, July 18, 2020

Mi Serdadu, Mi Sayur dengan Bahan-bahan Alami Tanpa Pengawet dan MSG

review mie serdadu



Siapa, sih yang nggak suka makan mi? Hampir semua orang suka mengonsumsi mi, terutama mi instan dengan aneka rasa yang super yummy itu. Tapi, mengonsumsi mi instan terlalu sering pasti bikin deg-degan juga, ya? Khawatir dengan kesehatan, apalagi jika diberikan kepada anak-anak.

Tapi, makan mi instan itu enak banget, lho. Terutama jika dikonsumsi saat hujan. Apalagi jika ditambah irisan cabai rawit, potongan daun bawang, potongan sawi, dan telur setengah matang. Dimakan saat masih mengepul, duh siapa bisa nolak? Eits, meski enak di lidah, tapi belum tentu layak dikonsumsi apalagi dalam jangka panjang.

Ingat, kesehatan itu sangat penting. Jangan sampai karena terlalu sering mengonsumsi ‘sampah’ alias makanan yang nggak ada manfaatnya bagi tubuh, kita jadi menyesal di kemudian hari. Jangan abaikan lagi bahaya mengonsumsi mi instan terlalu sering. Nggak makan sama sekali memang susah, ya. Boleh, deh sebulan dua kali, atau tiga kali? *nawar...hihi.

Bahaya Konsumsi Mi Instan



Kamu pernah dengar nggak, sih kalau Indonesia menempati urutan teratas setelah Cina yang paling banyak mengonsumsi mi instan? Selain enak, mi instan punya harga murah meriah. Cocok buat anak kos terutama di akhir bulan, kan? Selain itu, kita memang doyan makan mecin kali, ya? Hehe. Alhasil negara kita termasuk yang paling banyak mengonsumsi mi instan. Miris banget, ya?

Padahal, sudah banyak penelitian yang menyebutkan bahwa mi instan punya efek buruk bagi kesehatan, terutama jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Beberapa alasan yang patut dipertimbangkan sebelum mengonsumsi mi instan,

  • Makanan dengan sumber nutrisi rendah


Mengenyangkan, tapi nggak ada nilai gizinya. Enak di lidah, tapi minim vitamin, protein, dan serat di dalamnya. Mi instan yang diolah sedemikian rupa, dengan proses yang sangat panjang, ditambah pengawet, plus mecin yang melimpah itu tentu telah kehilangan nilai gizi dan sebenarnya nggak layak dijadikan makanan favorit bagi banyak orang. Isinya cuma karbohidrat sama lemak tok. Bayangkan jika kita mengonsumsinya dalam jangka waktu yang lama? Selain bisa menimbulkan sindrom metabolik, konsumsi mi instan terlalu sering juga bisa meningkatan risiko kegemukan.

Waktu menjalani diet sehat beberapa bulan yang lalu, mi instan menjadi salah satu musuh terbesar saya. Kenapa? Karena mi instan termasuk ‘sampah’ yang nggak layak dimasukkan ke dalam tubuh. Efek terlalu sering mengonsumsi makanan kurang sehat bisa membuat kita jadi ringkih dan gampang sakit.

Sebenarnya, tubuh kita ini diciptakan sangat pintar. Tubuh kita bisa memperbaiki dirinya sendiri ketika ada masalah. Tapi, karena kita terlalu sering konsumsi ‘sampah’ akhirnya tubuh jadi nggak bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

Efek yang paling terlihat adalah kita jadi gampang sakit, dikit-dikit pusing, dikit-dikit kena common cold, dan nggak ringan pula. Waktu mulai diet, berasa banget perbedaannya. Saya yang dulunya sering batuk pilek sampai demam berhar-hari, qadarallah jadi lebih sehat. Nggak pernah lagi ngeluh pusing. Misalnya kurang sehat pun, kondisinya nggak seberat apa. Nggak perlu minum obat pun bisa membaik sendiri atas izin Allah.

  • Mengandung MSG dan garam cukup tinggi


Yups! Selain mengandung karbohidrat tinggi, mi instan juga mengandung garam yang lumayan berlebihan buat tubuh kita. Satu bungkus mi instan bisa mengandung 860 mg garam. Masalahnya, ini baru mi instan. Belum menu lain yang kita makan seharian. Padahal, dalam sehari kita hanya layak mengonsumsi maksimal 2.400 mg garam saja.

Belum lagi kandungan MSG di dalamnya. Meskipun banyak sumber mengatakan bahwa MSG aman dikonsumsi, tapi nggak boleh berlebihan juga dong. Sedangkan di dalam sebungkus mi instan kita bisa menilai sendiri betapa banyak jumlah MSG di dalamnya. Benar, enak di lidah, tapi nggak baik buat tubuh.

Tetap Makan Mi, Tapi Tetap Sehat


Gimana dong, mi instan itu enak banget. Susah buat move on! Kalau sama sekali nggak makan mi, hidup jadi hambar. Apalagi ketika akhir bulan...kwkwk. Jangan kebanyakan alasan, deh. Mau sehat kok perhitungan banget? Mau langsing, tapi nggak bisa mengendalikan diri? Ada beberapa solusi yang bisa kita lakukan supaya tetap sehat, tapi tetap bisa makan mi!

  • Batasi konsumsi mi instan


Boleh makan mi instan, tapi jangan tiap hari atau tiap akhir pekan juga kali. Sediakan hanya tiga bungkus mi instan di rumah *antara pelit dan hemat itu beda tipis...hihi. Supaya kita nggak gampang tergoda mengonsumsi mi instan apalagi jika kamu nggak bisa mengendalikan diri. Laper dikit larinya ke mi instan. No, kesehatan adalah nomor satu. Oke, sekarang kamu masih muda dan sehat, tapi gimana setelahnya? Saat ini banyak orang terkena penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dll. Bukan karena mereka dapat penyakit itu dari tetangga, melainkan karena nggak bisa menjaga pola makan yang sehat. Efeknya baru berasa pas udah tua.

Saya cerita sedikit tentang Ibu yang mengalami hipertensi sejak lama. Hampir selalu konsumsi obat hipertensi. Tidur malam susah banget nyenyaknya. Tapi, qadarallah setelah rajin minum jus seledri dkk, beliau nggak ketergantungan obat lagi. Bahkan darahnya normal.

Konsumsi jusnya nggak tanggung-tanggung, sama ampas-ampasnya...kwkwk. Saya nggak kebayang gimana rasanya, tapi kata Ibu, mending minum jus daripada sakit. Nggak masalah nggak enak, asal tetap sehat.

  • Bikin mi sendiri


Masih ingat dengan postingan saya sebelumnya? Yups! Saya membuat mi sayur sendiri di rumah bersama anak-anak waktu itu. Alasannya, sih iseng aja sambil mengisi waktu libur si sulung. Tapi, alasan lain yang sering orang pikirkan ketika membuat mi sendiri karena lebih sehat buat dikonsumsi, kita tahu kualitas dari bahan-bahannya, kita tahu mi itu sehat tanpa pengawet dan MSG karena kita bikin sendiri *ya pastilah...hihi.

Masalahnya, nggak semua orang bisa bikin mi sendiri. Selain butuh alat khusus, makan waktu dan tenaga juga terutama buat orang sibuk *ataupun sok sibuk. Tapi, jangan menyerah pada mi instan, ya. Kita bisa cari alternaif lain yang lebih baik.

Mi Serdadu, Maksimalkan Bahan Alami dengan Rasa Super Yummy!



Oke, kita nggak bisa menghindari mi. Karena mi merupakan salah satu makanan super enak yang nggak bisa ditolak oleh siapa pun. Termasuk saya pribadi..hehe. Tapi, kita bisa memilih mengonsumsi mi yang lebih sehat, nggak susah bikin sendiri, sehingga nggak makan waktu dan tenaga juga. Emang ada? Ada dong! Salah satunya adalah Mi Serdadu. Mi pelangi dengan bahan alami, tanpa pengawet, dan tanpa tambahan MSG juga *udah mirip iklan aja ya...haha.

Sebenarnya udah lama denger nama Mi Serdadu ini. Tapi, waktu mudik ke Malang, suami nggak pernah ngajakin makan Mi Serdadu di sana, lho. Padahal Mi Serdadu ini bisa kita jumpai di Malang, tepatnya di Perum Griya Shanta K407, Malang atau di Kota Batu tepatnya di Jl. KH. Agus Salim.

Tapi, nggak perlu jauh-jauh datang ke Kota Malang, kita juga bisa menyantap Mi Serdadu di rumah. Solusinya, cukup pesan Mi Serdadu versi frozennya aja. Sampai di Jakarta masih bagus kondisinya, bisa disimpan kembali di frezer atau segera dimasak jika mau dikonsumsi.

Tapi, mahal nggak, nih? Insya Allah sangat terjangkau, kok. Karena yang punya Mi Serdadu berusaha membuat hidangan sehat untuk semua kalangan. Jadi, bukan hanya kalangan Sultan aja yang bisa makan mi ini...hihi. Bahkan kalau kita mampir ke kedai Mi Serdadu di Kota Batu, di sana bakalan banyak para pelajar yang datang dan memesan mi ini. So, udah kebayang dong kalau Mi Serdadu nggak semahal Oreo Supreme? *lol.

Varian Mi di Dalam Mi Serdadu



Menariknya, dalam satu kemasan, terdapat berbagai macam jenis mi, lho. Dan semuanya dibuat dari bahan alami. Misalnya untuk mi warna merah, dibuat dari campuran buah naga dan buah bit, ada juga mi warna oren, terbuat dari campuran wortel, mi warna hitam dibuat dari campuran merang, sedangkan mi warna hijau terbuat dari campuran sawi. Nah, kebetulan saya dapat varian mi pelanginya. Jadi, dalam satu kemasan lengkap isinya warna warni gitu.

Mi Serdadu Bisa Dikonsumsi Anak-anak atau Nggak, nih?


Awalnya saya pikir Mi Serdadu ini nggak bisa dikonsumsi oleh anak-anak terutama yang belum suka makan pedas. Tapi, pas saya masak dan mulai memasukkan bumbu-bumbunya, ternyata cabainya terpisah. Jadi, bagi yang nggak suka pedas bisa di-skip cabainya biar nggak kepedesan.

BTW, jika ada yang alergi dengan ayam, bisa tetap konsumsi Mi Serdadu ini karena minyak yang digunakan dalam bumbunya terbuat dari minyak bawang yang dibuat dari bawang merah plus bawang putih yang digoreng dengan minyak nabati. Cocok buat yang alergi ayam ataupun bagi vegetarian.

Ada Apa Aja Dalam Sebungkus Mi Serdadu?



Dalam satu paket Mi Serdadu frozen kita udah dapat paket komplit. Tinggal rebus dan campur dengan bumbu nggak berbeda dengan mi instan. Bedanya ini versi sehat!

Di dalam satu bungkus Mi Serdadu terdapat,

  • Mi pelangi

  • Sambal super pedas

  • Kecap asin

  • Minyak bawang

  • Bawang goreng

  • Topping ayam cincang


Jika kamu pengen menambahkan sayuran, boleh banget ditambah sawi rebus (jangan kayak saya ya dimakan mentah karena lupa direbus...kwkwk), telur rebus, dll.

Makan mi jadi nggak ngerasa berdosa lagi ya kalau kayak gini caranya? Buat anak-anak pun aman karena dibuat tanpa bahan pengawet, pengenyal, dan tanpa tambahan MSG.

Kemasan Mi Serdadu Frozen


Kemasannya aman dan higienis banget. Misalnya kamu pengen beli lewat jasa pengiriman pun nggak masalah karena paket frozen dari Mi Serdadu ini dikemas dengan sangat baik. Simpel juga karena ringkes gitu, lho. Mungil, tapi pas direbus hasilnya cukup buat seporsi yang mengenyangkan.

Kalau kangen Kota Malang dan pengen makan mi khas Malang, cobain Mi Serdadu, dijamin terobati, deh rasa kangennya. Apalagi kemarin nggak jadi mudik karena pandemi *udah nggak usah curhat...kwkwk.

Mi Serdadu di Lidah Saya


Rasa dari mi sehat nggak bakalan sama dengan mi instan pada umumnya. Jadi, kamu yang berharap mi ini akan setara gurihnya dengan mi instan ya nggak usah ngarep kayak gitu. Rasa gurih alami dari Mi Serdadu buat saya udah pas. Andai kamu suka asin, tinggal ditambahkan kecap asin aja. Mi-nya juga enak, walaupun frozen, tapi mi-nya tetap oke ketika direbus. Nggak ngerumpel kayak orang-orang lagi jalan di mall rebutan diskon*lol.

Sebelum direbus, sebaiknya dikeluarkan dulu dari frezer dan biarkan sampai nggak beku. Biar nggak ribet dan lama. Di dalam kemasan Mi Serdadu juga sudah ada panduan menyajikannya. Jadi, kamu yang belum bisa rebus air dan belum jago masak mi instan nggak usah takut dan grogi, tinggal ikutin aja panduannya. Kalau masih salah ya keterlaluan, sih...kwkwk.

Kalau bisa beralih ke makanan yang lebih sehat kenapa nggak? Apalagi kalau kita benar-benar doyan, hampir tiap hari makan mi instan, horor juga mengingat efek jangka panjangnya. Yuk, tetap sehat, tapi bisa tetap makan mi!

Salam hangat,

 

Thursday, July 9, 2020

Cara Bertanam Hidroponik dan Alat-Alat yang Dibutuhkan untuk Pemula

cara bertanam hidroponik



Hai, hai! Alhamdulillah, pengen banget cerita tentang coba-coba saya bertanam hidroponik selama masa pandemi. Belum panen sih, malah baru mulai, tapi nggak masalah ya kita coba diskusi soal hidroponik, karena jujur saja, ini adalah hobi baru saya dan suami. Dikerjakan dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa...hihi.

Awalnya, nggak kepikiran mau coba menanam sayuran dengan metode hidroponik. Malas karena jarang banget berhasil bercocok tanam meskipun saya anak seorang petani...huhu. Tapi, melihat beberapa video di Youtube dan Instagram, tiba-tiba jadi pengen pake banget.

Belum lagi tetangga di kanan kiri udah menanam kangkung meskipun dengan metode yang paling sederhana seperti memanfaatkan sampah plastik. Ini yang bikin iri, jangan sampai tetangga panen kangkung dan saya nggak dibagi, daripada saya ngiler, mending saya coba berkebun sendiri juga dong *lol

Kalau di kampung, mungkin saya nggak akan pilih metode hidroponik, sebab tanah di kampung halaman udah subur banget plus pekarangan luaaaas. Qadarallah, setiap orang tua saya menanam sayuran, sudah pasti bakalan subur. Sedangkan anak bungsunya di Jakarta ini selalu gagal panen karena ada aja kendalanya.

Dan lagi, lahan untuk berkebun di sini itu sempit banget. Saya punya taman, tapi kecil. Sisanya lantai semua...kwkwk. Nggak ada pekarangan yang bisa ditanami sayuran di sini. Satu-satunya cara berkebun yang paling mudah tanpa banyak makan lahan ya pakai metode hidroponik.

Awalnya mikir kalau hidroponik ini susah banget, ya dan butuh biaya yang sangat lumayan terutama untuk membeli pipa paralonnya itu. Tapi, rupanya suami saya bisa bikin sendiri. Seharian aja kelar dong *auto terharu...hihi. Setelah itu datang tetangga minta dibuatkan :D


Manfaatkan sampah plastik


Buat pemula, nggak usah repot dan ribet membeli pipa-pipa yang harganya bisa satu juta lebih itu. Kalau hanya mau coba-coba dan iseng-iseng, mending manfaatkan sampah plastik. Beberapa orang juga memanfaatkan sampah styrofoam sebagai tempat menanam. Ada juga yang beli baru, tapi tentunya hanya menghabiskan biaya sangat minim.

Jika mau lebih niat dikit, bisa beli paket hemat hidroponiknya. Satu paket ini berisi bak kecil semacam nampan dengan ukuran lumayan tinggi sebagai tempat nutrisi, di atasnya ada penutup dengan 9 lubang, netpot, hingga benih dan nutrisinya sekaligus. Kamu bisa mendapatkannya di marketplace dengan harga sekitar 100 ribuan.

Pilih benih berkualitas



Iya, percuma kalau semua bahan sudah disiapkan, tapi benih yang dipakai kadaluarsa atau kualitasnya nggak bagus. Pasti akan berpengaruh banget dengan proses tumbuhnya nanti. Saya membeli benih dengan label panah merah. Hasilnya bagus dan kayaknya umum dipakai oleh banyak orang juga.

Nah, ketika proses semai benih, nggak perlu langsung diberi air nutrisi. Cukup pakai air biasa saja. Kebetulan saya pakai media tanamnya berupa tanah dan di bagian bawahnya tetap diberi air. Setelah lumayan besar, barulah kita berikan nutrisi.

Ribet? Nggak juga, kok. Hanya kita mesti akrab aja dengan istilah baru dalam metode hidroponik ini. Salah satunya air nutrisi.

Apa sih air nutrisi itu?


Jadi, dalam metode hidroponik, sayuran sangat bergantung pada air nutrisi. Karena kita nggak pakai tanah (meskipun beberapa orang tetap pakai tanah campuran untuk media tanam). Air nutrisi ini berisi pupuk khusus hidroponik berisi pupuk A yang mengandung kalium ditambah pupuk B mengandung sulfat dan fosfat.

Kita bisa membelinya dalam bentuk paket. Satu kemasan sudah berisi dua jenis pupuk, yakni pupuk A dan pupuk B. Kebetulan saya pakai kemasan bukan cair alias harus dicampur sendiri dengan air.

Satu kemasan untuk 500 ml bisa kita beli seharga 20 ribu saja. Nantinya akan kita campurkan masing-masing pupuk dengan 500 ml air yang kemudian bisa kita gunakan untuk membuat air nutrisi setiap 1 liter diberi masing-masing 5 ml nutrisi.

Butuh TDS meter untuk mengukur ppm dalam larutan nutrisi


TDS itu apa sih? TDS merupakan alat yang digunakan untuk mengukur ppm atau part per million. Ppm ini menunjukkan kepekatan larutan nutrisi yang sudah kita siapkan. Dan saya belum punya dong...hihi.

Seberapa pentingkah memiliki TDS? Termasuk sangat penting kalau kita memang niat banget buat berkebun ala hidroponik. Tapi, kalau sekadar coba-coba sih nggak masalah belum punya. Qadarallah, kemarin waktu pesan netpot sekalian pesan TDS, tapi kehabisan. Akhirnya diganti sama pot warna warni *emak-emak tetap happy..kwkwk.

Media tanam hidroponik


Media tanam hidroponik ini bermacam-macam, ya. Yang paling banyak dipakai adalah rockwool, semacam spons gitu. Beberapa juga memakai sekam bakar, arang, hingga tanah yang sudah dicampur-campur :D

Untuk sementara waktu, saya masih pakai media tanam berupa tanah sebelum nanti benih yang sudah disemai dipindahkan ke netpot di pipa paralon. Nanti saya akan pakai rockwool karena netpot itu bolong tengahe...kwkwk. Nggak mungkin diisi tanah. Kecuali jika kita bikin netpot sendiri gitu.

Karena pakai tanah, saya gunakan juga kain flanel supaya air nutrisi bisa diserap tanah. Soalnya benihnya masih kecil dan akarnya belum sampai ke air nutrisi, perlu banget kita beri kain flanel.

Cahaya matahari yang cukup



Kebetulan di teras, cahaya matahari masuk cukup untuk pertumbuhan tanaman hidroponik yang saya miliki. Semoga saja, ya...kwkwk. Soalnya saya juga baru mencoba. Masih deg-degan juga ketika nanti mau dipindah ke netpot.

Benih-benih seledri sudah mulai terlihat bentuk daun seledrinya *selama ini lebih mirip apa emang, Mbak? Haha. Nggak mirip seledri awalnya. Jadi, agak bingung juga sebab seledri ini pertumbuhannya sangat lama. Takutnya yang tumbuh malah suket...kwkwk.

Butuh sabar dan sabar ketika berkebun, ya. Bayangannya pengen cepat panen sayuran segar seperti orang lain. Tapi, faktanya tak secepat itu. Kadang tak segemuk itu juga hasilnya...kwkwk.

Next insya Allah akan saya update lagi perkembangan dari tanaman saya ini. Untuk kali ini, kayaknya cukup sampai di sini. Semoga bermanfaat dan menjadi penyemangat buat teman-teman yang masih ragu mencoba di rumah. Yuk, manfaatkan bahan-bahan bekas dulu sebagai permulaan.

Salam hangat,

Featured image: Photo by Quang Nguyen Vinh on Pexels

 

Monday, July 6, 2020

Resep Biji Salak Ubi Kuning, Mudah dan Lembut

resep biji salak ubi kuning



Siapa yang suka makan biji salak? Kalau di kampung halaman, ada hari tertentu membuat biji salak kemudian di antar ke tetangga dekat. Namanya bukan biji salak, tapi tajin grendul..hihi. Rata-rata nggak pakai ubi. Jadi, tekstur biji salaknya nggak selembut biji salak yang diberi campuran ubi.

Sejak tinggal dan menetap di Jakarta, jadi sering makan biji salak. Apalagi pas Ramadan, yang jualan banyak banget di mana-mana. Benar-benar beda dengan di kampung halaman yang mesti nunggu hari tertentu dan itu pun hanya setahun sekali.

Biji salak ini saya buat pas Ramadan kemarin sebenarnya. Ambil gambarnya pun nggak niat banget...hihi. Asal jepret aja kemarin. Tapi, soal rasa Alhamdulillah enak banget. Lembut nggak susah dikunyah. Anak-anak juga doyan.

Tapi, saya nggak pakai resep sendiri. Nyontek resep di Instagram dari akun @aguswatis. Bikinnya nggak susah-susah banget, cuma memang agak berasa lelah ya kalau ngebuletin biji salak sendiri...hehe. Satu resep pakai hampir sekilo tapioka dan ubi. Kemarin saya bikin setengah resep dan ternyata banyak banget hasilnya.


Bahan biji salak:


500 gram ubi kuning

400 gram tepung tapioka

½ sdt garam

Cara membuat:



  • Rebus air hingga mendidih sambil mengukus ubi.

  • Kukus ubi hingga matang lalu haluskan, tambahkan tepung tapioka ke dalamnya. Tambahkan juga garam. Uleni hingga bisa dibentuk.

  • Bulat-bulatkan adonan hingga habis.

  • Rebus adonan biji salak yang sudah dibentuk hingga matang dan mengapung. Sisihkan.


Bahan kuah gula:


350 gram gula aren (saya pakai campuran gula aren dan gula merah)

800 ml air

2 lembar daun pandan, simpulkan

400 ml santan

½ sdt garam

Secukupnya larutan tapioka

Cara membuat:


  • Rebus gula aren sampai mendidih. Saring.

  • Masukkan biji salak yang sudah direbus, rebus kembali.

  • Tuang larutan tapioka, aduk hingga mengental. Matikan api.


Bahan kuah santan:


Secukupnya santan kental

Sedikit garam

Cara membuat:



  • Rebus santan hingga mendidih. Tambahkan sedikit garam. Angkat.


Penyajian:



  • Sajikan biji salak dalam mangkuk, jangan lupa tambahkan siraman kuah santan ke dalamnya.


Voila! Biji salak buatanmu sudah bisa disantap selagi hangat. Kemarin, saya sempat menambahkan air juga ke dalam adonan biji salaknya supaya lebih mudah dibentuk. Kamu juga bisa olesi tangan dengan sedikit air supaya lebih mudah membulatkan adonan.

Lumayan banget bisa bikin sendiri di rumah, ya. Karena saat awal pandemi hingga sekarang, bisa dihitung berapa kali saya membeli makan di luar. Hampir nggak pernah. Selalu bikin sendiri meskipun agak capek, tapi lega aja menyantap makanan yang dimasak sendiri.

Memang, pandemi ngajarin kita banyak hal. Nggak selalu negatif memang, meskipun dampak negatifnya juga begitu nyata terlihat di mana-mana. Tapi, sisi positifnya termasuk membuat kita emak-emak jadi rajin di dapur. Bahkan, waktu terasa berlalu begitu cepat. Apalagi anak-anak dikit-dikit minta camilan. Masya Allah, bikin roti bisa setengah hari...kwkwk. Besoknya bikin apa lagi.

Namun, ada kepuasan tersendiri jika kita bisa menyajikan menu di meja makan dari hasil tangan kita. Apalagi kalau mereka suka dan doyan makannya. Lega dan happy. Bagi yang punya aktivitas lain seperti menulis dan ngeblog begini, harus pandai-pandai bagi waktu, keteteran banget ngerjain semuanya sendiri...hihi.

Malam udah tepar dan ngantuk. Nidurin anak-anak bisa ketiduran juga, padahal nggak pengen tidur, tugas lain masih banyak *curhat, Mah :D

Tapi, semua mesti disyukuri dan dinikmati. Pandemi seperti ini jadi momen buat mendekatkan kita sama keluarga. Alhamdulillah, Allah datangkan musibah menyertakan juga hikmah di balik semuanya. Tetap semangat, ya semua. Semoga hari-hari ke depan semakin baik dan mendatangkan hal-hal baik.

Salam hangat,

 

Thursday, July 2, 2020

Cara Menggambar Digital Khusus Pemula

cara menggambar digital husus pemula



Kak, pengen banget bisa gambar. Gimana caranya? Ajarin dong!


Kalau disuruh ngajarin gambar, jujur saya juga bingung gimana cara ngajarinnya. Apalagi saya baru mulai sering menggambar sebulan terakhir ini aja. Selebihnya hanya hobi masa kecil, impian yang belum kesampean dan kayaknya baru Allah kasih jalan di waktu sekarang.

Saya juga nggak nyangka, qadarallah ketika pandemi banyak sekali hal berubah secara drastis. Mulai dari anak yang mesti sekolah di rumah, ditambah drama dengan adiknya yang semakin meningkat karena ketemu sehari semalam tanpa jeda, kajian yang libur dan benar-benar bikin saya diam manis di rumah, dan aktivitas yang rasanya nggak pas dikerjakan saat pandemi.

Akhirnya, saya nyoba cari pelarian, nyari hiburan. Mulai nyoba-nyoba lagi gambar dari yang sederhana. Mulai lagi buka aplikasi menggambar yang selama ini nggak pernah saya sentuh karena kesibukan menulis naskah dan ngeblog yang lumayan banget kejar-kejaran.

Voila! Ternyata saya cukup betah menggambar sampai detik ini. Malah semakin suka karena ternyata banyak teman-teman baru yang menyukainya dan seolah jadi dukungan tersendiri buat saya yang baru memulai semuanya.

Dulu, saya katakan bahwa menggambar adalah hal menyenangkan, tapi nggak bisa saya kerjakan karena terlalu bikin candu sampai-sampai saya nggak bisa ngerjain kerjaan lain. Kalau sudah duduk buka tablet, udah nggak inget mau isi blog atau ngerjain naskah...hihi. Parah banget, kan?

Akhirnya saya memutuskan mengubur keinginan buat serius di bidang ini. Nggak usah dicoba-coba lagi deh daripada ganggu aktivitas lain. Saya pernah ambil keputusan seperti itu saking galaunya dulu harus fokus ngapain aja.

Tapi, mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk memulai semuanya. Alhamdulillah, udah lumayan bisa bagi waktu. Menggambar sebisa mungkin saya kerjakan setiap hari, tapi memang hanya membuat gambar-gambar sederhana seperti bikin untuk pelengkap quotes gitu aja, sih. Jadi, nggak kelamaan megang tablet.

Hanya saja, belakangan saya pun jadi rajin bikin sketsa di buku. Bikin sketsa bisa di aplikasi langsung atau bisa di buku, tapi rasanya di buku bisa jadi latihan yang sangat membantu. Karena selama ini kemampuan menggambar saya nggak sebaik apa, nggak pernah belajar sampai mendalam. Jadi, mesti diasah lagi. Nggak boleh bosen belajar. Alhamdulillah, semoga bisa terus belajar dan menjadikan kegiatan baru ini sebagai salah satu hiburan yang menyenangkan buat keseharian saya.


Kak, pengen diajarin gambar!


Sejak saya rajin posting gambar digital di Instagram, ternyata banyak yang nge-dm dan nanya gimana caranya gambar kayak gitu? Pakai aplikasi apa? Edit gambar pakai apa? Brush-nya pakai yang mana? Font pakai apa, Kak? Hehe.

Saya ini, nggak pernah detail menghapal sesuatu. Malah cenderung nggak bisa menghapal. Meski saya pakai font x atau brush Y, tetap saja saya nggak tahu nama-nama mereka. Biasanya saya pakai dilihat dari gambar yang ditampilkan, bukan dari namanya apa. Jadi, ketika ada yang nanya, saya harus buka tablet dulu biar tahu namanya. Aneh? Tapi, itulah saya :)

Gimana memulainya? Cobalah teman-teman belajar menggambar di buku dulu sampai luwes dan nyaman. Apa yang mau digambar? Bisa cari referensi di Pinterest. Waktu belajar menggambar dengan Pak Maman Mantox dulu, beliau ngasih materi dari gambar-gambar di pinterest. Kemudian kami diminta mengulangnya dan dibuat versi sendiri. Capek memang, tapi nggak ada cara terbaik selain rajin berlatih dan mengulang.

Nggak ada cara instan yang bisa dilakukan. Karena baik menulis atau menggambar sama-sama butuh praktik nyata. Pengen jago nulis, silakan menulis setiap hari. Pengen bisa gambar dan kreatif, coba latihan aja terus. Ide-ide baru bakalan muncul sendiri kalau kita rajin berlatih.

Nyari style sendiri gimana caranya?


Awal-awal menggambar kemarin, saya pun sempat bingung mau nyari ciri khas sendiri khusus untuk gambar yang akan saya posting di Instagram. Nyoba-nyoba berbagai macam style, menirukan ilustrator lain, dan ternyata tanpa sengaja muncul style yang sekarang saya pakai.

Nggak usah pusing mikirin style aku yang kayak apa, ya? Penting terus aja latihan, nanti kekhasan dari kamu bakalan muncul sendiri, kok.

Kita juga bisa mencari warna-warna yang sesuai dan simpan di aplikasi menggambar seperti di Ibis paint x atau di Medibang paint. Sangat membantu kalau kita punya palet warna sendiri. Dan nyimpennya simpel.

Cara menggambar digital


Selama ini saya memakai aplikasi Ibis paint x untuk menggambar digital. Kenapa pakai Ibis? Karena menurut saya aplikasi ini sangat simpel. Mudah sekali dipelajari bagi pemula seperti saya terutama karena saya ini gaptek banget.

Saya malah lebih sering diajarin sama si sulung di rumah. Dia lebih jago daripada emaknya sendiri. Tanya ini dan itu dia yang bantu. Kalau nyari tutorialnya, mungkin ada beberapa akun ilustrator yang membagikan di sosial media terutama di Instagram, tapi dulu saya belum ketemu yang lengkap. Akhirnya memang nyoba-nyoba sendiri.

Tambahkan kata-kata mutiara


Supaya gambar yang kita share di sosial media lebih berfaedah, coba kita tambahkan kata-kata mutiara penggugah hati yang lara *eh. Misalnya motivasi biar semangat mengejar mimpi, motivasi biar rajin ibadah dan berjuang buat jadi shalehah.

Jadi, apa yang kita bagikan ada manfaatnya buat orang lain. Sekalian bisa jadi cara kita mengajak orang lain menuju kebaikan. Nggak harus jadi sempurna buat bikin hal kayak gini, sekalian aja buat mengingatkan diri sendiri. Semoga dengan cara seperti ini, kita bisa juga belajar buat jadi lebih baik :)

Konsisten itu penting


Mbak, rajin banget gambarnya! Hihi. Sempat ada yang bilang begitu karena setiap hari saya usahakan selalu posting gambar baru minimal 1 sehari. Tapi, memulai apa pun memang harus konsisten. Sama dengan menulis, ya harus konsisten dilakukan.

Terasa banget sih kalau kita rajin mencoba, nggak setengah-setengah, hasilnya pun kelihatan. Yang dulunya gambarnya kurang oke, pelan-pelan udah lumayan berkembang meski belum sempurna. Bismillah, kalau sudah dimulai, mestinya pantang buat ditinggalkan *bukan kata saya...hihi.

Jangan nyerah meski ada yang nyinyirin


Sampai kapan pun, bakalan ada aja orang yang nggak suka dengan apa yang kita kerjakan. Jadi, ketika ada yang mengomentari karya kita, tapi dengan cara yang kurang sopan, ya udah dilihat kemudian empas. Nggak usah dimasukin dalam hati apalagi sampai dibalas ngegas di kolom komentar.

Nggak usah juga berhenti hanya karena ada orang yang komennya jahat. Asal yang kita lakukan baik dan nggak mengganggu orang, kenapa mesti nyerah? Hal kayak gini sebenarnya bikin kita yang pemula gampang banget minder. Termasuk buat saya pribadi. Sudah berani posting di sosial media bukan karena sudah merasa sempurna, tapi kalau nggak dicoba lekas, memangnya mau nunggu sampai kapan?

Kalau lihat karya orang lain, rasanya punya diri sendiri jauh banget hasilnya. Tapi, kembali lagi pada proses yang mesti kita tempuh. Ibaratnya kita baru aja melangkah, sedangkan para senior kita sudah hampir sampai tujuan. Jadi, maklumi hal-hal yang kurang sempurna dari karya kita sendiri, usaha dan latihan akan menyempurnakan semuanya :)

Itu adalah beberapa hal yang perlu saya sampaikan terutama buat teman-teman yang baru belajar dan sedang senang mencoba seperti saya. Nggak ada cara instan buat jadi hebat. Setiap orang butuh berproses, tapi proses itu nggak akan sama pada setiap orang. Bisa jadi si A udah jago dalam seminggu, sedangkan si B sampai setahun juga masih begitu aja.

Jadi, bersabar dan rajin berlatih, ya. Insya Allah kerja keras kita ada hasilnya, kok. Tetap semangat mencoba!

Salam hangat,

Featured Image: Photo by Ivan Samkov on Pexels