Top Social

- Bermimpi, Menulis, Berbagi -

Roti Empuk Isi Sosis



Assalamualaikum…alhamdulillah, semoga yang puasa Arafah diberikan kelancaran dan ibadahanya diterima oleh Allah swt. Amiin.

O ya, kemarin kebetulan saya membuat roti yang kali ini nggak manis alias gurih, yang saya beri isian sosis dan saya taburi dengan keju parut dan oregano. Sudah beberapa hari saya cuma buat roti yang manis dan isiannya coklat mulu, ya Allah bosen saya…beneran. Itu sih permintaan si sulung aja. Jadi kalau lagi bikin, dan ada si kakak, pastilah dia langsung todong nyuruh isiin coklat.

Dan kemarin, sengaja saya buatnya pagi setelah dia berangkat sekolah. Saya mau yang gurih aja. Akhirnya saya putuskan membuat isian sosis ini. Kakak pulang rotinya udah nangkring cantik di atas oven…hehe. Tapi ternyata dia nggak protes juga sih, enak katanya.

“Semua roti yang bunda bikin Alby suka…”

Pinter banget muji, karena mau dibuatin terus tiap hari kan, Kak? Hehe.

Kalau buat roti, saya hanya berputar pada resep itu-itu aja. Ada yang pakai kuning telur satu, dua bahkan tiga. Ada yang pakai terigu 150gr, 250gr sampai yang 500gr. Semua tergantung selera.

Kalau mau lembut pakai airnya lebih banyak, misal kemarin 250gr terigu, saya pakai 120ml air hangat. Supaya kokoh aja dan nggak terlalu lembut agar jelas bentuknya. Biasanya saking lembutnya itu roti jadi dipegang dikit udah nggak balik..hehe. Kalau untuk isian manis saya lebih suka airnya 125ml-130ml. Begitu. Gampang kok, hanya main di air aja. Tambahan kuning telur juga berpengaruh yaa, kalau kuning telur 2 tentu beda dong lembutnya sama yang kuning telurnya hanya satu.



Langsung yuk kita buat.

Bahan:
200gr terigu cakra
50gr terigu segitiga
3sdm gula pasir
1sdt ragi
1 sachet susu bubuk 27gr
2 kuning telur
120-125ml air hangat
40gr butter atau margarin
Sejumput garam

Pelengkap:
Secukupnya sosis untuk isian
Secukupnya keju parut untuk taburan
Secukupnya oregano untuk taburan

Cara membuat:
1.      Campur ragi dengan air hangat dan 1sdm gula pasir. Aduk rata dan diamkan sampai berbusa.
2.      Selagi menunggu, kita campur semua  bahan sisa kecuali margarin dan garam. Jadi masukkan margarin dan garamnya terakhir saja ya supaya raginya bisa bekerja dengan baik.
3.      Masukkan campuran ragi ke dalam campuran terigu. Uleni sampai rata aja.
4.      Masukkan margarin dan garam. Uleni sampai kalis elastic atau sampai bisa dibentangkan sampai tipis dan tidak mudah sobek.
5.      Bulatkan adonan dan olesi sisi luarnya dengan minyak goreng dikiit aja ya tipis. Diamkan satu jam dan jangan lupa tutup atasnya dengan lap bersih.
6.      Setelah mengembang 2x lipat atau satu jam, tinju adonan. Timbanga sesuai selera, kemarin saya nggak timbang..hehe. Hasilnya jadi 13 pcs roti. Biasanya saya buat dengan berat sekitar 40gr.
7.      Gilas adonan menyerupai segitiga. Taruh sosis di bagian unjung yang besar. Gulung sampai. Tata di loyang, kalau nggak pakai kertas sebaiknya loyanga diolesi margarin ya. Diamkan selama satu jam. Tutup juga ya biar atasnya nggak kering.
8.      Panaskan oven suhu 180’C atau sesuaikan dengan oven masing-masing minimal 10 menit sebelum memanggang.
9.      Taburi bagian atas roti dengan oregano dan keju parut.
10.  Panggang selama kurang lebih 15 menit atau sesuai ovennya karena tiap oven berbeda sekali.
11.  Setelah matang keluarkan dari oven. Olesi atasnya dengan margarin.



Nah, gampangkan? Kalau sudah terlatih, bakalan tahu deh celahnya gimana. Misalnya kebanyakan air, nanti juga bakalan tahur sampai sebatas mana nambah tepungnya dan lain-lain. Intinya sih memang harus belajar ya, anak kecil saja tidak langsung lari, tapi dia merangkak dulu, merambat, berpegangan baru jalan pelan.

Yang mau coba pun demikian, kalau sekarang kok keras, mungkin ngulennya kurang kalis, atau takarannya kurang pas, bisa juga terlalu lama manggang jadi kering rotinya. Macam-macam. Jadi, saran saya dicoba saja dulu, lama-lama bakalan mahir sendiri kok.


Selamat mencoba, yaaa…^^

Baca juga resep Roti Manis Isi Coklat

Ketika Saya Menulis...


Assalamualaikum…alhamdulillah kita bertemu lagi setelah sekian lama hanya melihat postingan resep roti dan masakan…hehe. Nah, kali ini saya mau sharing tentang dunia kepenulisan.

Yup, saya suka menulis sejak SD. Sejak kecil saya suka menulis buku harian. Sampai akhirnya ketika sudah masuk pesantren, buku harian saya semakin menumpuk dan tebal-tebal sekali…hehe.

Memangnya menulis apa di buku harian kok bisa sampai banyak? Saya menulis apa pun yang saya suka. Saya mencurahkan isi hati, saya menulis tentang teman dan banyak kejadian lucu yang kalau dibaca lagi saat ini benar-benar bikin ngakak. Antara malu dan memalukan, kira-kira seperti itu, ya…

Ternyata di pesantren keinginan menulis jadi jauh lebih menggebu. Karena di sana, ada lebih banyak kegiatan dan kesempatan yang bisa saya ambil. Misalnya saja saya menulis cerpen di mading, saya ikut les jurnalistik, beberapa kali pula di sana di adakan jumpa penulis, salah satunya dulu adalah penulis novel pesantren dari Yogyakarta, ada juga penulis senior dari kota Malang. Nah, ternyata di sekeliling saya waktu itu amat mendukung keinginan saya untuk menjadi penulis.

Akhirnya saya dengan amat percaya diri menulis banyak sekali cerita di buku, menulisnya dengan tangan pula. Semacam novella. Sampai sekarang pun masih saya simpan. Dan, kabar bahagianya, itu buku cerita sampai lemes, lecek, kusut dan lembut gara-gara dibaca banyak teman dan adik kelas…haha.

Setelah keluar dari pesantren saya pun kembali ingin menulis. Dan Alhamdulillah beberapa buku antologi sudah terbit. Kalau diceritakan nggak sesederhana itu sih, tapi saya sudah sering bahas jadi khawatir bosen…hihi.

Alhamdulillah, tahun 2017 ini saya kembali menulis setelah beberapa tahun berhenti sama sekali. Saya awali dengan mengikuti sekolah perempuan, ikutan training copy writing, ikutan lomba menulis, ikut kelas berbisnis tulisan dan terakhir saya terdaftar di KMO.

Nah, KMO ini memang baru saya tahu karena cukup ramai di perbincangkan. Awalnya saya pikir sama saja seperti grup kepenulisan lainnya. Jadi saya malas mau ikutan kalau isinya hanya biasa-biasa saja. Saya nggak mau dong, soalnya saya kan luar biasa masak ikutan yang biasa? hehe…

Setelah ikut kelas berbisnis tulisan, barulah saya tahu ternyata founder KMO adalah mas Tendi Murti yang saat itu jadi salah satau mentor juga di KBT. Dari sana saya tahu bahwa beliau termasuk yang luar biasa menginspirasi. Saya pun banyak bertanya di grup KBT dan Alhamdulillah segera dapat info kalau KMO segera dibuka lagi, yesss!

Tanpa ragu segera daftar, karena biasanya saya ikutan kelas bayar semua, untuk yang satu ini nggak mikir dua kali karena gratis dan sepertinya peraturannya ketat..emak-emak doyan gratisan, ya? Eits, nggak juga sih. Saya pikir yang berbayar juga nggak bisa disamakan dengan yang gratisan. Dan yang gratisan juga nggak selalu murahan. Betul?

Dan, akhirnya di antara keriuhan, semalam materi pertama di kelas yang saya ikuti pun dimulai. Alhamdulillah, malam yang riweh karena saya pas juga harus ngisi sharing juga di salah satu grup TNB milik anak buahnya mbak Diah_salah satu konsultan favorit saya di Indscript, kebayangkan hanphone bunyi tang ting tung aja nggak ada habisnya…haha. Tapi, kesan saya sih asyik! Iya, KMO itu asyik karena nanti di sana kita bakalan absen setiap kali datang. Dan lagi, kita juga bakalan dikasih dua poin yang ibaratnya adalah nyawa kita. Kalau sampai lupa absen atau nggak hadir, diambil satu poin, kalau sampai nggak ngerjain tugas, bakalan ditendang keluar. Hoho..ini menantang banget, lho. Setelah sekian lama berhenti menulis, KMO salah satu yang bisa membuat semangat menulis saya menyala kembali.

Terima kasih ya, mas Tendi. Setelah sebelumnya sempat minta pendapat tentang ide dan outline naskah kedua saya bareng teman, akhirnya saya bisa bertemu kembali di KMO. Saya pikir kang Tendi ini bisa memberikan materi yang isinya sangat dan sangat berisi alias daging semua!


Semangat menulis…^^

Sambal Goreng Ati Ampela



Suka makan sambal goreng ati ampela? Saya termasuk yang menyukai salah  satu jenis masakan nusantara ini. Selain enak, ternyata membuatnya pun lumayan mudah. Kadang ati ampela bisa diganti juga dengan hati sapi. Tapi cari hati sapi kalau di tempat belanja saja agak susah karena kurang peminat jadi yang jualan pun malas belanja kecuali ada yang nitip.

Kemarin punya beberapa kentang di rumah. Pergi belanja beli ati ampela dan akhirnya kepikiran buat dimasak balado atau sambal goreng ati ampela seperti ini.

Kalau saya, ati ampelanya diungkep dulu sampai matang, lalu digoreng sebentar sampai agak kering aja. Potong-potong lalu campur dengan potongan kentang goreng. Kalau mau bisa juga ditambah potongan wortel, pete atau cabe rawit utuh.

Bahan:
5 pasang ati ampela
3 kentang ukuran kecil
Bumbu ungkepan ati:
2 siung bawang putih
1/4sdt merica butir
Sedikit garam
Bumbu haluskan sambal goreng:
1 genggam cabe merah keriting
2 siung bawang putih
7 siung bawang merah
Secukupnya garam
1/2sdm gula merah
½ bawang bombay, iris



Cara membuat:
1.      Ungkep ati ampela dengan bumbu halus dan beri sedikit air sampai air sat. Goreng sebentar. Angkat dan potong-potong.
2.      Kupas kentang, potong dadu lalu goreng sampai matang dan keemasan.
3.      Haluskan bawang putih, bawang merah dan cabe.
4.      Panaskan minyak, tumis irisan bawang Bombay. Setelah layu, masukkan bumbu halus, tumis sampai harum dan bumbu matang supaya tidak langu. Masukkan garam dan gula merah. Tes rasa.
5.      Masukkan ati ampela dan kentang goreng. Aduk rata dan tes rata.

Note: Boleh tambah kaldu bubuk jika suka.


Yuk. Dicoba, lumayan buat tambahan lauk bersama opor ayam buat Iduladha…

5 Cara Sukses Belajar Bisnis Hanya dari Rumah!

sumber


Zaman sekarang, siapa sih yang nggak mau punya usaha dan penghasilan sendiri? Bahkan ibu rumah tangga pun rela menambah rutinitas hariannya dengan berjualan atau ikutan bisnis MLM.

Iya, Saya juga ingin jago berbisnis. Ingin punya usaha sendiri. Tapi bagaimana cara memulainya sedangkan saya sama sekali tidak tahu menahu tentang ilmu berjualan yang asyik, saya juga gaptek, rutinitas harian saya juga hanya berputar di dalam rumah, mustahil datang menghadiri seminar wirausaha mandiri. Lalu bagaimana?

Saya pun awalnya merasakan hal yang sama. Sebagai seorang ibu rumah tangga, hampir semua waktu saya habiskan hanya di dalam rumah. Rasanya sulit sekali mengembangkan sebuah usaha. Bahkan bermimpi saja terasa sangat sulit.

Eits, tapi itu dulu. Zaman sekarang, untuk upgrade ilmu apa pun nggak perlu pusing-pusing keluar rumah. Termasuk salah satunya belajar tentang ilmu bisnis. Nggak perlu repot setiap hari menghadiri seminar wirausaha sebab hanya dari rumah saja kita bisa mengetahui tips dan trik sukses memulai usaha dan melesatkannya.

1.      Ikutan komunitas bisnis. Sekarang sudah banyak sekali komunitas yang diperuntukkan bagi ibu rumah tangga yang ingin memulai bisnis serta usaha. Biasanya komunitas seperti ini akan banyak kita jumpai di grup Facebook. Gabung dan berbaurlah dengan mereka. Hal ringan seperti ini nyatanya bukan hanya bisa menambah wawasan, tapi juga bisa meluaskan jaringan bisnis kita nantinya.

2.      Ikutan Training online. Sudah banyak lho training online yang dikhususkan bagi orang yang benar-benar serius ingin mengembangkan usahanya. Training online seperti ini nggak mengharuskan kita datang dan bertatap muka langsung dengan para couch. Kita cukup duduk manis di rumah dan serap semua ilmunya. Gampangkan?

3.      Perbanyak teman dan belajarlah dari mereka. Jangan hanya melihat seseorang dari suksesnya saat ini. Tapi cobalah belajar dan tanyakan bagaimana caranya mereka bisa bertahan hingga seperti sekarang. Semua keberhasilan itu pastilah merupakan proses panjang, jatuh dan bangun, pahit serta manis yang sangat tidak mudah dicapai.

4.      Banyak baca buku. Iya, dengan buku, bahkan dunia pun bisa kita jelajahi. Kalau memang ingin tahu cara sukses berbisnis, maka pilihlah buku-buku yang memaparkan banyak hal tentang cara memulai serta mengembangkan sebuah usaha supaya sukses dan berkah.


5.      Belajar langsung dari ahlinya. Gimana caranya? Benar nggak harus keluar rumah? Iya, yakin yang satu ini pun cukup dilakukan di rumah. Gabung dan ikutan grup-grup orang ternama yang ahli di dalam bisnis dan sudah jelas pengalaman serta hasilnya.

Nah, kabar baiknya semua ilmu menjadi sukses dalam berbisnis itu bisa kita dapatkan hanya dengan join channel telegram kang Dewa Eka Prayoga. Di sana kita hanya akan dapat daging! Serius, hanya daging. Saya bicara seperti ini bukan karena Iduladha semakin dekat, tapi memang kenyataan itulah yang saya rasakan ketika pertama kali belajar langsung dari kang Dewa.

Tahu siapa kang Dewa? Iya, dialah pemuda yang berhasil meraih 1 milyar pertamanya pada usia 21 tahun. Dia juga yang punya julukan Dewa selling. Hmm, dan ternyata kang Dewa juga yang ceritanya ditulis oleh Asma Nadia dalam novel terbarunya yang sebentar lagi bakalan terbit.

Yakin nggak mau join channelnya?

Chiffon Pandan Tepung Beras




Membayangkan membuat chiffon atau cake lain kayaknya ribet banget, yaa. Belum lagi kalau harus memisahkan putih telur dengan kuning telur. Mengaduk lipat dan yang pasti groginya nggak ketulungan karena takut gagal.

Tenang. Saya juga begitu, kok. Soalnya saya sendiri sangat tidak jago membuat cake, bahkan memasak pun baru tertarik beberapa bulan terakhir ini. Hihi. Jangan diketawain, ya. Biar saya sendiri yang ketawa…hihi.

Meskipun membuat cake dan chiffon itu agak susah, tapi tetap saja selalu menggoda ketika melihatnya. Betul, ya? Kalaua da yang posting resep cake, pastilah begitu tertarik dan pengeen banget nyoba bikin walaupun di rumah kurang menyukai yang namanya cake-cake segala macam. Lebih laris bikin roti. Sekali bikin, sehari itu juga lenyap…haha.

Tapi, buat kamu dan kamu yang pengen banget nyoba bikin chiffon antigagal apalagi buat pemula, maka saya rekomendasikan resep chiffon tepung beras satu ini. Yup, chiifon ini resepnya dari ci yNy ci Cookpad. Bikinnya gampang karena semua kocok jadi satu. Jadi nggak khawatir putih telur pecah dan bantet. Gimana, mau coba?

Bahan:
3 butir telur, pisah kuning dan putihnya
90gr tepung beras
1 bungkus santan kara 65ml
40ml minyak goreng
100gr gula pasir
Secukupnya pasta pandan
Sedikit garam



Cara membuat:
1.      Panaskan oven suhu 180’C
2.      Mixer putih telur dan garam sampai berbusa. Lalu masukkan gula pasir jadi tiga tahap sambil terus dimixer dengan kecepatan tinggi sampai kaku atau soft peak
3.      Turunkan kecepatan jadi sedang. Masukkan kuning telur satu persatu. Mixer asal tercampur saja jangan lama-lama.
4.      Masukkan santan, minyak dan pasta pandan. Mixer kecepatan rendah asal rata. Jangan over mix.
5.      Masukkan tepung beras. Mixer sampai rata dan stop.
6.      Tuang adonan dalam loyang. Goyang ke kanan dan kiri. Hentakkan dua sampai tiga kali pelan saja supaya gelembung udaranya hilang.
7.      Panggang suhu 180’C selama 35-40 menit tergantung oven masing-masing ya.
8.      Keluarkan dari oven. Tes tusuk jika ragu. Dinginkan lalu keluarkan dari loyang. Potong-potong dan sajikan.


Hasilnya wangi dan kempus-kempus banget. Manisnya pas dan mengembang dengan bagus meskipun tanpa obat. Ini cocok banget buat pemula yang takut gagal..yuk dicoba, siapa tahu berjodoh *eaaa :D

Note: Saya pakai loyang biasa. Nggak punya loyang chiffon... ^^

Di antara Dua Hati



Terkesiap. Wajahnya yang ayu tiba-tiba berubah sendu. Seperti ditampar petir di siang bolong, semua kegembiaraan yang sejak awal disulam berubah jadi berita duka yang tak bisa lagi terelakkan.

Raina, berdiri dengan kedua kaki gemetar. Butiran bening berdesakan di antara kedua sudut mata. Sudah sejak lima detik yang lalu, napasnya berubah sesak. Dia membuang pandangan. Mencoba melawan sakit yang tiba-tiba meremukkan ulu hati. Raina menatap kedua orang di depannya sekali lagi. Tidakkah ini hanya mimpi?

***

Raina sudah menyiapkan semua keperluan suaminya. Koper kecil berwarna hitam itu sudah sesak dengan beberpa kemeja, celana panjang, beberapa kaos oblong serta perlengkapan mandi. Tak lupa Raina menyelipkan kantong kecil berisi obat-obatan.

“Obatnya Rai taruh di bagian depan ya, Mas.” Raina setengah berteriak. Berharap Angga mendengar meski dari dalam kamar mandi.

“Kamu tadi bilang apa?”

Tiba-tiba Angga muncul dari balik pintu kamar mandi dengan rambut ikalnya yang basah. Raina tersenyum dan mengulangi ucapannya lagi. Sekali bahkan lebih pun Raina dengan senang hati akan menerangkan pada suaminya. Lelaki itu sudah terbiasa hidup dengannya. Semua kebutuhan Angga selalu disiapkan oleh Raina. Lelaki berperawakan tinggi itu hanya terima beres saja.

Sebagai seorang istri, Raina sama sekali tak pernah merasa keberatan. Itu memang sudah tugasnya sebagai perempuan yang telah menikah dan membina rumah tangga. Memasak, membereskan rumah dan mengurus anak-anak.

Raina bahkan rela resign dari tempat kerja demi keluarga kecilnya. Dia juga menolak ketika Angga menawarinya seorang ART. Raina mau melakukan semuanya sendiri. Wanita berperawakan mungil itu yakin bisa mengerjakan semua tugasnya dengan baik. Jadi tak perlu ada ART di rumah.

“Mas pergi beberapa hari. Apa tidak sebaiknya kamu mencari ART supaya rumah ini tidak terlalu sepi dan ada yang bisa membantumu di rumah?” Angga duduk di bibir ranjang sambil mengeringkan rambut hitamnya dengan sebuah handuk.

Raina menatap wajah suaminya, “Rai bisa melakukan semuanya sendiri, Mas. Mas jaga kesehatan, ya.”

“Bagaimana Mas bisa tanpa kamu, Rai.”

Ah, lelaki itu selalu saja bisa membuat hatinya meleleh. Angga memang sedang tidak menggombal. Tapi, kata-kata yang diucapkannya barusan terdengar sangat berlebihan di telinga. Bukankah semua istri juga melakukan hal yang sama?

“Jangan bilang begitu, Mas.” Raina tersipu, “O ya, jangan lupa juga pakai baju hangatnya, ya. Di sana udaranya dingin. Jangan sampai asmanya kambuh, ya.”

Angga menerima sweter tebal berwarna biru tua. Itu baju hangat pemberian Raina yang selalu dia pakai. Angga bilang sweter itu akan selalu dia bawa ke mana pun, sebab dengan baju tebal itu dia bisa merasakan kehadiran Raina.

Raina bukannya tidak senang dengan semua perlakuan manis suaminya, hanya saja baginya itu sangat berlebihan. Bukankah pergi beberapa hari untuk tugas ke luar kota sudah jadi hal biasa bagi beberapa orang? Tapi lelaki berkulit putih bersih itu terlalu lebay ketika mau berpisah dengan istrinya. Katanya dia akan sangat rindu serta kehilangan. Katanya dia akan sangat kesepian setiap kali ingin memejamkan mata dan tak menemukan Raina di sampingnya. Dan semua ucapan manis itu lama kelamaan terasa seperti rayuan gombal seorang lelaki kepada kekasihnya. Lebay dan berlebihan!

“Jangan berlebihan,” Raina menarik tangan Angga dan menggenggamnya lama, “Mas hanya akan pergi beberapa hari saja.” Katanya sambil tersenyum.

“Mas pasti akan sering menelepon.”

“Jangan sering-sering nanti mengganggu pekerjaan Mas di sana.”

Angga menggeleng, “Mas akan telpon setiap lima menit sekali.”

Ah, lelaki berwajah tampan itu selalu saja berlebihan. Benarkan?

“Sudah cepat tidur,” Raina mendorong Angga dan menyuruhnya segera tidur. Besok pagi-pagi sekali lelaki itu harus segera berangkat ke bandara. Jangan sampai karena terlalu banyak akting dia jadi bangun kesiangan dan ketinggalan pesawat.

“Mas mau melihat wajah Rai lama-lama. Besok kan Mas harus berangkat.” Katanya dengan wajah jenaka. Sebelah matanya mengerling manja.

Raina tertawa. Dia bisa pastikan dalam beberapa detik saja lelaki di hadapannya itu bahkan sudah mengeluarkan suara dengkuran lembut. Iya, itu hanya rayuan gombal seorang suami kepada istri. Bahkan tak perlu waktu lama untuk lelaki itu segera tertidur nyenyak dan tak ingat lagi dengan apa yang telah diucapkannya barusan.

***

Seorang lelaki gagah sedang berdiri di depan sebuah restoran ternama di ibu kota. Lelaki tampan dengan kemeja berwarna biru cerah itu melambaikan tangan kepada seorang perempuan yang baru saja turun dari sebuah taksi.

Perempuan itu balas melambaikan sebelah tangannya sambil melempar senyum hangat. Rambutnya yang tergerai hingga bahu bergoyang seiring kedua langkah yang semakin cepat. Ada cahaya di dalam bola matanya. Ada rindu yang telah lama disimpannya.

Perempuan itu kini telah berdiri di depan lelaki berkemeja rapi. Menyambut uluran tangan dan menerima kecupan di kedua pipinya.

Di antara lalu lalang kendaraan serta bising knalpot, seorang perempuan menatap keduanya dengan perasaan dipenuhi luka. Tak perlu memastikan terlalu lama, lelaki itu sudah bisa dengan mudah dikenalinya.

***

“Jadi isrti harus pandai merawat diri.”

“Iya, zaman sekarang perempuan di luar ganas-ganas!” Yang lain menimpali.

“Apalagi saya lihat kamu jarang banget melakukan perawatan.”

“Mending pekerjakan saja pembantu di rumah. Ngapain capek-capek mengurus semua sendiri?”

Wanita itu hanya tersenyum hambar. Tak pernah sekalipun ingin menanggapi omongan tetangga. Dia segera membayar belanjaan dan bergegas kembali ke rumah.

Tapi, ucapan mereka ada benarnya juga. Dia memang jarang sekali pergi ke salon. Bahkan wajahnya terlihat mulai berkerut. Hanya sedikit, tapi mungkin bisa jadi lebih parah jika tak segera dirawat.

Ah, kenapa dia harus mengkhawatirkan semua itu. Bukankah suaminya adalah lelaki setia dan selalu bersikap manis padanya?

***

Raina menangis. Wajahnya dipenuhi hujan. Lelaki di hadapannya sudah tak bisa lagi berkata-kata. Bahkan untuk meminta maaf pun lidahnya kelu.

Salahnya kenapa mudah sekali tergoda. Padahal Raina sudah mengorbankan semuanya demi keluarga mereka. Lihatlah, wanita berparas ayu itu selalu bangun lebih awal demi menyiapkan segala keperluan dia dan kedua anaknya.

Perempuan yang sempat singgah di hatinya memang terlihat lebih cantik dan menarik, tapi bukan berarti bisa menyingkirkan sosok Raina dari kehidupannya. Tidak. Angga benar-benar menyesali semua kesalahannya.

Perempuan itu adalah rekan satu kantor. Mereka kenal belum lama, tapi kedekatan itu berubah menjadi spesial ketika suatu hari Angga bermaksud mengantarnya pulang. Awalnya iba, tapi justru muncul rasa di antara keduanya.

Angga menatap wajah Raina yang masih dipenuhi hujan. Bahkan kini jauh lebih deras. Napasnya patah-patah. Bahkan dia tak sanggup menatap wajah suaminya. Ini terlalu sulit untuk dicerna. Bagaimana bisa lelakinya jatuh cinta kepada perempuan lain?

Dan Raina, tidak perlu menunggu lama untuk mengingat dan memastikan siapa lelaki yang merangkul seorang gadis di depan restoran kemarin.

***

Raina membuka pintu. Suara bel berbunyi dua kali sebelum akhirnya dia membuka kunci dan menatap seorang lelaki yang amat dikenalnya. Raina menarik napas panjang. Tiba-tiba saja sesak.

Lelaki itu tak sendiri, sebab di sampingnya, seorang perempuan dengan rambut tergerai hingga bahu tampak salah tingkah.

Raina ingin mempersilakan perempuan itu masuk. Tapi rupanya duri menancap dalam di antara tenggorokan serta lidahnya. Membuatnya sulit sekali tersenyum apalagi menyapa.

“Rai,” Angga angkat bicara.

Raina ingin memaki tapi makian tak pernah muncul dari mulutnya. Dia memilih diam dengan tarikan napas berat dan menunggu lelaki itu bicara.

“Mas tak bisa tanpa kamu, Rai. Mas menyesal.” Suaranya terdengar memohon.

Perempuan itu, perempuan yang sempat dilihatnya di depan sebuah restoran bersama Angga kini mendekat dan tiba-tiba memeluknya.

“Maaf, Mbak. Saya minta maaf karena sudah jatuh cinta pada orang yang salah,” suara tangisnya berhamburan, saling tindih dengan gemuruh di dada Raina.

Mereka, begitu mudahnya meminta maaf. Raina mungkin bisa saja memberi kesempatan kedua bahkan ketiga untuk lelaki pertama dan terakhir dalam hidupnya. Sayangnya, luka hati yang mereka sayat tak pernah kembali menutup apalagi mengering.

Raina menggangguk. Menatap kosong pintu rumahnya yang terbuka lebar. Bayangan masa lalu berhamburan. Seorang lelaki yang mengecup kening istrinya setiap kali akan berangkat kerja, dua gadis kecil berkuncir kuda yang menari-nari di antara keduanya. Semua keindahan itu mungkin belum bisa dia lupakan saat ini. Namun, sakit hati yang lebih besar nyatanya telah meruntuhkan banyak sekali harapan.


“Kenapa Mas bisa semudah itu jatuh hati sedangkan Rai bahkan tak butuh orang lain selain Mas untuk mengisi satu ruang kosong di dalam hati Rai.”

5 Benda Ini Wajib Ada dalam Kotak Obat

Pernah nggak sih mengalami kepanikan waktu anak tiba-tiba demam tinggi, tengah malam pula dan sendirian juga nggak ada suami yang bisa dimintai tolong? Belum lagi ketika kita mencari obat penurun panas dan thermometer di kotak obat, ternayata kedua benda itu nggak ada, entah karena kita yang memang tidak menyiapkan, tidak membeli karena memang merasa nggak perlu atau mungkin karena kehabisan dan belum sempat membeli?

Semua kemungkinan itu bisa saja terjadi dalam kehidupan kita. Untuk demam sendiri, pertolongan pertama adalah memberikan dia cairan yang cukup, ya. Jangan sampai terjadi dehidrasi. Sebab dehidrasi walaupun kedengerannya ringan, akibatnya sangat berbahaya, lho.

Kita sering dengar kata dehidrasi dalam beberapa iklan minuman ringan, iya kan? Tapi dehidrasi saat sakit dan yang sebenarnya tidaklah sesantai itu, ya. Suami saya pernah dirawat karena dehidrasi. Sebenarnya dia memang sudah demam dan diare. Tapi, ampun sulitnya minum oralit dan air. Makan memang susah, tapi yang lebih saya takutkan adalah dehidrasinya.

Dan kejadian juga, ternyata dia mengalami dehidrasi walau bukan yang parah banget, tapi cukup bikin dia kayak orang nggak bisa jalan, tersiksa banget. Nah, pas udah masuk cairan infus, barulah dia merasa membaik. Wajahnya jadi segar lagi dan bisa senyum. Kalau ingat kejadian itu bikin baper dan gimana ya, secara saya punya balita dan sedang hamil anak kedua yang masih empat bulan waktu itu. Membayangkan harus dirawat itu serem. Gimana anak saya? Sedangkan saya tinggal berjauhan dengan orang tua dan mertua. Nggak mungkin juga ajak anak nginep di rumah sakit kan?

Tapi Alhamdulillah, jadi setiap pagi saya menitipkan anak saya ke rumah bude yang sudah kayak eyangnya anak-anak. Lalu saya berangkat ke rumah sakit dan menemani suami. Sorenya saya jemput si kakak lagi dan pulang istirahat di rumah. Besoknya begitu lagi.

Kegiatan seperti itu saya lakukan selama hampir seminggu. Naik turun lantai dua. Mual yang biasanya datang tiap hari, kali ini hilang sama sekali, mungkin saking paniknya, nggak pernah yang namanya mengurus paksu di rumah sakit, mengurus administrasi bahkan saya juga sambil kontrol kehamilan di lantai dasar.

Dan mungkin yang saya lupa, saat itu kandungan saya memang sedang bermasalah, plasenta di bawah dan janin sungsang. Tapi, nggak perlu dibuat panik juga. Mungkin karena kaget melihat paksu dirawat, akhirnya yang biasanya jadi pikiran malah nggak saya pikir sama sekali.

Yang lucu waktu suster bertanya, ini siapa? Iya, saya memang datang setiap pagi sampai sore. Jadi kalau malam susterkan nggak lihat keberadaan saya. Dikira kami pacaran kali, ya? Hahaha.

Nah, pengalaman itu jadi pelajaran berharga. Kalau anak-anak memang mau dan senang minum saat mereka sakit, tapi kalau paksu, gimana mau memaksa?

Kembali ke perlangkapan yang harus ada di dalam kotak obat. Buat saya, persiapan itu harus banget dilakukan. Sebab saya sendiri memang bukan orang yang suka dan mudah keluar rumah apalagi kalau sampai ke apotek yang lumayan jauh dari rumah. Jadi, saya selalu prepare semua isi kotak obat. Kalau ada yang kosong, saya akan segera membelinya

1.      Thermometer. Kalau mengukur demam nggak boleh pakai yang namanya perasaan, ya? Tapi harus pakai thermometer. Harganya murah kok. Jadi benda satu ini wajib banget ada dalam kotak obat di rumah kita. Sebab, patokan suhu saat demam misalnya yang sudah 40’C lebih, sudah harus kita bawa ke dokter. Kalau kita nggak tahu secara benar, bisa saja masih 38-39 kita sudah panik membawa anak ke dokter, padahal cuma flu aja. Bisa juga malah santai-santai aja ketika suhu mereka sudah dalam batasan yang harus banget diperiksakan. Jadi, keberadaan benda satu ini sangat penting, ya.
2.      Penurun demam. Benda kedua adalah obat penurun demam yang paling aman yaitu paracetamol. Mereknya bisa bermacam-macam, ya. Ada yang paracetamol tablet, sirup. Atau juga dalam merek lain seperti sanmol, panadol biru atau tempra. Tapi, saya sarankan beli yang generik saja, ya. Sebab khasiatnya sama aja, kok.
3.      Oralit. Memang bisa membuat oralit sendiri, tapi memang harus dengan takaran yang sesuai dengan anjuran dokter. Kalau mau lebih praktis, beli saja oralit dalam kemasan.  Sebab benda satu ini terbilang penting karena oralit itu berbeda banget dengan minuman yang katanya dalam iklan mengandung ion dan bla bla bla.
4.      Obat kejang. Anak saya yang besar punya riwayat kejang. Terakhir dia kejang demam saat usianya sudah 6 tahun. Dan itu benar-benar mengagetkan setelah beberapa tahun kejadian itu nggak pernah terulang, tiba-tiba aja terjadi. Alhamdulillah, saya masih punya stok stesolid rektal di kulkas. Jadi, bisa segera diberikan. Kejadian seperti ini ngga terduga banget. Apalagi hampir semua kejadian, saya selalu berdua sama anak. Kadang suami sedang di kantor, lebih parahnya kadang sedang tugas ke luar negeri, pokoknya yang nggak bisa dipanggil cepet aja…hehe.
5.      Obat merah dan kasa steril. Sederhana aja, ya. Kalau punya anak kecil apalagi yang petakilan dan aktif banget, maka benda wajib kelima ini harus kita siapkan. Karena kadang kejadian itu memang tiba-tiba banget. Bahkan sampai nggak tahu sebabnya apa. Misalnya aja saat adik jarinya berdarah-darah. Saya heran, kenapa ada darah di lantai. Yang pertama saya periksa si kakak, karena adiknya santai aja. Nggak ada luka. Dan akhirnya si adik, ternyata jari dia yang tertoreh benda tajam yang entah apa itu. Sebab di rumah sudah disetting seaman mungkin, mulai dari nggak ada kursi dan meja, nggak ada benda tajam yang mudah dijangkau alias jauh dan susah diambil buah anak-anak, dan pagar supaya mereka nggak seenaknya naik ke anak tangga. Dan sampai sekarang saya nggak tahu sebabnya. Alhamdulillah, ketika harus terburu-buru, dua benda ini lumayan bisa diandalkan.


Selebihnya tergantung dari kebutuhan masing-masing ya. Tapi, lima benda di atas memang selalu saya siapkan. Kalau di rumah teman-teman, obat atau benda apa saja yang harus ada dalam kotak obat?

Custom Post Signature

Custom Post  Signature