Top Social

- Bermimpi, Menulis, Berbagi -

Musim Hujan

sumber


Musim hujan tiba-tiba saja datang setelah sebelumnya kemarau panjang seolah tak akan pernah berakhir. Sumur-sumur dan pompa air tetangga sebelah rumah mulai mengering dan hanya menyisakan satu dua tetes saja. Kemarin, sebelum pagi beranjak hangat seperti biasa, hujan mengguyur deras kota. Tidak hanya di Jakarta, ternyata hujan merata hampir di semua tempat. Alhamdulillah, kota Jakarta yang pengap dengan asap knalpot dan sedikitnya udara bersih kini mulai segar lagi. Aroma tanah menyentuh cuping hidung. Hmm, sepertinya musim hujan baru saja dimulai.

Nah, saat musim hujan seperti sekarang kita harus lebih waspada terutama pada nyamuk-nyamuk yang seharian saja sudah bertambah puluhan di rumah. Sore tadi, saat kakak mengeluh banyak nyamuk, saya segera mengambil obat nyamuk dan menyemprot sekitar ruang tengah. Nggak lama nyamuk-nyamuk sudah tergeletak tak berdaya dan pusing dibuatnya. Akibat iseng dan kurang kerjaan, akhirnya terkumpullah sekitar 20 lebih ekor nyamuk. Iya, ekornya saja…he.

Sempat ada trauma sih sama nyamuk sebab si kakak dulu sempat kena DBD. Tapi, kenanya ternyata bukan di rumah sendiri tapi di rumah utinya. Kejadian itu benar-benar membuat saya lebih hati-hati apalagi saat keluar rumah. Selalu oleskan obat nyamuk sebagai langkah pencegahan. Mencegah jauh lebih baik daripada mengobati, kan?

Saya sampai tidak mau menampung air di dalam bak mandi dan memilih memakai shower saja. Karena telur nyamuk di sini cepat sekali munculnya. Belum seminggu dikuras sudah ada jentik. Itukan menyeramkan sekali. Lagi-lagi karena saya mengurus rumah sendiri, akhirnya saya memutuskan nggak usahlah menampung air toh nggak terlalu penting juga. Anak-anak juga selalu pakai shower.

Saat musim hujan, penyakit juga mulai menjangkiti orang dewasa dan anak-anak. Entah batuk pilek disertai demam, diare dan muntah atau disebut juga dalam bahasa medisnya gastroenteritis. Wajar banget terjadi dan biasanya hampir semu disebabkan oleh virus yang nggak butuh obat.

Kebetulan beberapa hari ini saya juga sedang flu berat dan batuk. Si bungsu demam dan kakak baru saja enakan. Saat seperti ini penting sekali terutama bagi dewasa yang sedang sakit untuk menahan diri supaya jangan terlalu dekat denan anak-anak. Kasihan jika mereka tertular. Usahakan pakai masker dan rajinlah mencuci tangan.

Kebanyak mengeluh kenapa sih obat sudah habis tapi anak saya masih flu dan batuk? Bu, batuk pilek itu disebut juga common cold yang penyebabnya adalah virus. Kalau sudah jelas virus tentu nggak butuh obat. Terlalu banyak obat justru akan memperberat kerja ginjal. Kasihan kan anak-anak sekecil itu harus menghabiskan obat sekantong hanya demi memenuhi kepanikan orang tuanya?

Kalau sempat main-main deh ke web resminya AAP, kids health, mayo clinic. Kalau kesulitan menerjemahkan bisa pakai terjemahan dari google atau masuk saja web milis sehat. Belajar itu bisa dari mana saja. Nggak harus jadi dokterkan buat ngerti apa itu common cold dan gastro…he.

Saya juga sangat menyarankan supaya kalau membaca dan belajar jangan setengah-setengah. Kalau hanya tahu common cold nggak perlu obat, saat anak sesak dia biarkan di rumah. Padahal itu sudah termasuk tanda gawat darurat dan harus ke dokter. Jadi, plis belajarlah yang lengkap.

Saat musim hujan juga, saya bakal kedatangan tamu baru. Yup, baru seharian hujan, malamnya sudah kena urtikaria. Kalau kemarau sepanas kemarin, dermatitisnya kambuh. Masya Allah, nikmatnya..he. Ini alergi yang entah kapan akan berakhir.


Semoga musim hujan membawa berkah. Meski kadang suka nggak tega lihat si kakak yang kehujanan berangkat sekolah. Semoga semua sehat-sehat , ya…Amiin.

Review Buku 'Yuk, Jadi Anak Muslim Gaul'



Judul Buku                : Yuk, Jadi Anak Muslim Gaul
Pengarang Buku       : Nagiga Nur Ayati
Penerbit Buku           : Qibla
Kota Terbit                : Jakarta
Tahun Terbit             : 2017
Tebal Buku                : 124 halaman
ISBN                           : 978-602-394-517-7

Zaman sekarang, belajar tentang akhlak mulia sudah dikalahkan dengan kegemaran bermain game selama berjam-jam. Anak-anak lebih suka membuka internet ketimbang membaca buku. Anak-anak lebih dekat dengan gadget ketimbang orang tua. Sayangnya, ketika terjadi hal seperti ini, orang tua sendiri kerap tidak ngeh dengan kesalahannya sendiri. Sering kita menyalahkan anak-anak karena mereka terlalu banyak bermain gadget. Sering juga kita menyalahkan gadget ketika anak-anak melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan. Lebih tepatnya kita menyalahkan benda canggih itu atas sebuah kelalaian yang dengan sengaja kita lakukan. Ya, tentu kita sengaja memberikan mereka fasilitas tanpa pendampingan dan batasan. Dan akibatnya tentu sangat tidak diharapkan oleh siapa pun.

Ketika anak-anak tidak mau shalat dan mengaji, maka yang disalahkan adalah gadget. Ketika anak-anak malas belajar, maka yang disalahkan pula benda canggih itu lagi. Padahal yang bermain gadget tidak semuanya malas shalat. Yang pandai memainkan gadget juga tidak selalu malas belajar. Jadi sebenarnya yang patut disalahkan siapa? Mari coba kita pikirkan...

Di saat banyak yang tidak peduli dengan moral anak-anak dan seperti apa mereka saat ini, ternyata masih ada juga yang ingin memperbaiki keadaan dan mengajak anak-anak untuk belajar lebih banyak tentang akhlak mulia seperti yang sering dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Salah satunya komik anak berjudul, Yuk, Jadi Anak Muslim Gaul.

Komik setebal 124 halaman ini berisi cerita tentang tatakrama sesuai tuntunan islam yang biasa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasanya tidak berat. Gambar-gambarnya pun sederhana dan tidak berlebihan untuk sebuah komik anak.

Komik ini menceritakan banyak kisah tentang bagaimana menjadi ‘gaul’ ala islam. Gaul yang seperti apa, sih? Zaman sekarang, anak-anak menyebut dirinya gaul jika sudah punya gaya seperti tokoh idolanya. Sedangkan tokoh yang diidolakan ternyata tidak selalu baik menurut pandangan islam.

Dalam komik dengan cover putih dan tosca ini, anak-anak akan belajar bagaimana seharusnya menjadi seorang muslim yang baik sesuai dengan ajaran islam. Yang biasanya malas mengucap salam, sekarang akan menjadi gemar melakukannya sebab salam merupakan doa. Tidak sekadar sapaan seperti layaknya selamat pagi dan selamat malam.

'Assalamualaikum' menunjukkan kehangatan kita sebagai saudara sesama muslim. Di dalamnya berisi sebuah doa bagi saudara kita lainnya. Dengan kata lain, mengucap dan menjawab salam itu sangat keren. Yang gemar melakukannya jelas merupakan anak muslim gaul.

Begitu juga dengan kebiasaan menolong teman dan tersenyum kepada siapa pun. Tidak banyak anak-anak sekarang yang peka ketika melihat temannya dalam kesulitan. Dan di dalam komik sederhana ini, anak-anak akan diajarkan bagaimana caranya menjadi seorang teman yang baik dan gemar menolong.

Di dalam komik ini tidak hanya mengajarkan tentang bagaimana seharusnya seorang muslim mengucap salam dan menolong. Di dalam bab-bab lainnya menjelaskan lebih banyak lagi tentang akhlak mulia seperti saling memaafkan, mendoakan serta bersikap baik kepada teman. Dan yang penting, membaca sebuah komik akan jauh lebih menyenangkan ketimbang hanya melihat dan mendengarkan sebuah nasihat terlebih jika nasihat itu tidak diikuti dengan teladan yang baik dari orang tua.


Yuk ajak anak kita gemar membaca dengan memberikan mereka bacaan terbaik yang bukan hanya sekadar buku tapi juga ilmu. Dan jangan lupa, orang tua tetap adalah teladan terbaik yang bisa membuat seorang anak menjadi muslim yang tidak hanya gaul namun juga berakhlak mulia.

Mango Sticky Rice





Assalamualaikum…kali ini kita bakalan kulineran sama mangga dan ketan. Pas pertama lihat ini di IG. Ada yang jualan dan sukses bikin saya pengen banget bikin. Alhasil saya pun belanja kebutuhan buat bikin ini. Nggak sempat merendam ketan juga. Kalau teman-teman mau coba, nanti rendam beras ketannya semalaman. Besoknya baru dimasak, ya.

Memasak ketannya pun biasanya harus pakai santan supaya lebih gurih. Tapi saya sendiri memilih tidak pakai santan karena nantinya akan diberi kuah santan. Jadi sebenarnya ini nggak sama dengan yang pakai saus santan kental yang diberi maizena, ya. Yang saya buat ini malah lebih mirip sama kolak…hehe. Karena saya pengennya seperti ini, nggak mau yang pakai saus kental dari santan seperti yang kita lihat dari Bangkok. Jadi, makannya kayak sambil berendam di kolam santan. Apa sih…he.

Nah, kalau teman-teman mau yang pakai saus kental, tinggal masak saja santannya dan beri larutan maizena (1sdm maizena dilarutkan dengan sedikit air). Aduk-aduk saja dan jangan lupa beri susu kental manis, gula dan daun pandan.

Nah, kalau saya buat ini sangat biasa saja. Saya hanya memasak ketannya seperti kita memasak nasi dengan diaron. Kita masukkan beras ketan yang sudah dicuci bersih dalam kukusan yang telah panas. Tutup. Setelah setengah matang, kita beri air panas dan aduk-aduk. Tutup lagi. Kalau masih keras juga beri air panas lagi aduk lagi. Nah, sampai ketannya matang. Karena saya tidak merendam ketannya, jadi agak lama matangnya.

Kuahnya saya pakai parutan kelapa yang diberi air hangat (air matang). Peras santan sedang-kental, ya. Lalu beri gula dan siramkan pada ketannya. Beri topping mangga dan diberi susu kental manis. Selesai. Hasilnya legit dan enak.



Resepnya? Saya kemarin nggak pakai takaran, jadi sebagai seorang perempuan yang kemarin nggak lihat resep, saya jujur saja pakai perasaan…he. Kemarin saya hanya pakai 1 ½ cup beras ketan. Dan untuk airnya sesuai selera karena nggak matang-matang, ya saya lakukan hal yang sama berulang.

Oke, untuk ketan yang dimasak dengan santan, caranya juga hampir sama saja. Kita kukus beras ketan. Sambil mengukus, kita rebus santan dengan daun pandan. Aduk terus jangan sampai santan pecah, ya. Beri sedikit garam dan gula secukupnya. Tambahkan daun pandan simpulkan. Setelah mendidih, masukkan kukusan berasnya yang masih setengah mateng dan cenderung mentah ke dalam rebusan santan. Aduk terus sampai santan sat dan ketan matang.

Saya sarankan jangan pakai santan terlalu banyak kalau takut kelembekan. Lebih baik nantinya ditambah jika kurang. Untuk rebusan santan ini bisa juga diambil sebagian dan dibuat saus. Hanya tinggal menambahkan larutan maizena dan susu kental manis saja. Nggak susah. Dan saya yakin resep mango sticky rice ini sudah banyak banget di internet. Jangan takut ketannya jadi bubur karena kelembekan, biasanya abis jadi bubur malah naik haji, kan? Kayak tukang bubur naik haji itu…he. Nggak nyambung…he.


Sebenarnya ini sedang posting resep apa tips, ya? He. Entahlah…Sepertinya ini sebuah jebakan, ya? Selamat mencoba yaaa tips dari saya... :D

Roti Manis Isi Kacang Hijau



Assalamualaikum…kemarin saya sempat membuat roti setelah lama tidak baking. Alasannya sih karena nggak punya stok terigu protein tinggi di rumah. Terigu protein tinggi ini agak susah nyarinya ketimbang jenis terigu lain. Karena males mau pergi jauhan dikit dan nunggu paksu libur, alhasil nggak baking beberapa hari. Alasan yang nggak  banget, kan?

Sebelum membuat roti, saya membuat isiannya dulu. Kali ini saya buat dari kacang hijau. Maunya simpel dan dapat banyak dalam waktu cepat…he. Tapi tetap harus enak. Nah, selama ini isiannya kadang saya isi dengan mesis coklat, kadang selai coklat, kadang keju oles, kadang juga isian keju manis homemade. Yang terakhir ini bikinnya gampang juga dan enak. Insya Allah next saya bagi resepnya, yaa…

Saya hanya pakai resep ini saja ketika membuat roti. Kadang hanya modifikasi pada jumlah kuning telur dan airnya. Resep ini sudah cocok banget. Saya lebih suka tekstur roti yang lembut daripada kokoh gitu. Jadi saya suka pakai air agak banyak dan kuning telur ditambahkan. Semua tergantung selera saja, ya.

Kemarin saya buat sekaligus adonan dengan terigu 500gr. Lumayan pegel nih ngulennya karena saya pakai handmixer bukan pakai mixer roti. Kalau pakai tangan bisa nggak? Sangat bisa. Sebelum pakai hand mixer, dulu saya selalu pakai tangan untuk ngulen roti. Asalkan sabar dan sampai kalis insya Allah rotinya tetap empuk.

Nah, tanda kalis banget itu sudah sering saya sebutkan di antaranya nggak lengket, adonan terlihat agak mengkilat dan bisa dibentangkan (ditarik) bisa sampai tipis dan tidak mudah sobek. Kalau belum bisa dibentangkan lebar dan tipis, sebaiknya lanjut ngulennya ya sampai kekar lengannya…he.

Kalau pakai hand mixer juga ada triknya. Karena beberapa orang sampai patah lho mixernya. Kebetulan itu temen saya juga yang mengalami waktu mencoba salah satu resep roti saya. Saya kurang paham kenapa bisa sampai patah. Karena selama ini saya pakai hampir setiap hari dan kadang dengan adonan 500rg juga nggak masalah kecuali panas, yaa…he. Maksa kan sebenarnya pakai hand mixer, tapi buat emak-emak yang ditongkrongin bocah setiap saat, ini akan sangat membantu.

Sebelumnya saya bukannya nggak pernah gagal, lho. Karena saya juga sempat merusak satu hand mixer dan agak trauma waktu punya yang baru. Jadi, adonan rotinya naik sampai masuk dalam mixer dan itu bikin mixer gosong dan berasap…haha. Setelah itu diperbaiki dan bolak balik dibongkar pun tetap panas setiap dipakai. Alhasil saya harus ganti mixer baru.

Nah, sebelum mencoba, saya akhirnya googling dulu dong. Nggak mau kejadian sama terulang lagi. Karena sebagian orang ada juga yang bermasalah seperti saya. Setelah saya belajar teknik yang tepat, saya pun mulai pakai hand mixer lagi dan sampai sekarang alhamdulillah nggak masalah.

Nah, tekniknya saya sebutkan, ya. Pertama hati-hati pasang spiralnya. Yang ada plastik putihnya itu harus bagian kiri. Sebab sebelumnya saya pasang asal dan akhirnya itu adonan naik sempurna ke atas. Nggak bisa dicegah. Mungkin itu tumbal…haha. Entah saya yang ceroboh banget atau gimana. Setahu saya sebelumnya spiralnya dipasang di mana saja boleh...he. 

Kedua, kalau mengaduk pakai speed rendah aja. Apalagi kalau pertama masukin adonan. Nggak usah pakai speed tinggi karena memang adonan roti ini berat ketimbang adonan putih telur buat cake. Pastilah sangat berbeda.

Ketiga, jangan lupa selalu matikan dan istirahatkan mixernya. Jangan sampai kepanasan dan gosong. Jadi setelah mixer beberapa saat, matikan. Apalagi di akhir biasanya mixer tambah panas. Matikan agak lama bukan masalah kok sampai suhunya turun. Agak ngeri juga kan kalau sampai meledak. DUAAR!!

Nah, lho…hehe. Keempat jangan lupa kalau kita sebenarnya sedang mengaduk adonan roti yang berat banget. Jadi saran saya jangan paksa mixer bergerak sesuai kemauan kita tapi kitalah yang ngikutin gerakan mixer ke mana. Sambil diputar bowl-nya juga oke. Jadi jangan memaksa mixer berdiri tegak kayak kita sedang mixer putih telur. Bisa encok mixernya.

Nah, kira-kira begitu tips ala saya bagi yang ingin mencoba mengulen dengan hand mixer. Kalau ada rezeki alangkah bahagianya punya mixer roti yang harganya aja setara dengan motor matix…kwkwkwk. Suami langsung ngumpet di bawah ranjang takut ditodong, yaaa….he. Buat roti yang hanya dikonsumsi untuk keluarga, pakai hand mixer saja sudah cukup. Meski agak berkorban pegang sih bukan masalah. Anak-anak saya malah nongkrongin di depan saya, lalu minta adonan yang masih mentah. Kadang si bungsu berebutan mau ngulen juga. Pokoknya rame dan riweh. Tapi entah kenapa saya hampir setiap hari bikinnya. Mungkin karena senang juga dan suka ketika keluarga saya juga menyukainya.

Paksu termasuk yang selera makannya cukup baik ketimbang saya dan anak-anak. Nah, kalau ada makanan kurang cocok di lidahnya, dia hanya akan mengendusnya. Serius! Tapi, kalau enak dia nggak bakalan komen dan diam seribu bahasa sambil ngunyah. Dan bersyukurnya, paksu termasuk yang sangat menikmati roti buatan saya sekarang. So, apa alasan saya malas baking kalau semuanya suka dan jelas bahannya nggak pakai pengawet dan bread improver? Yuk, ah bikin sendiri di rumah. Kalau sekali sudah berhasil, yang kedua pasti bakalan ketagihan…cus ah…

Bahan Isian:
250gr kacang hijau, rendam sehari semalam
Secukupnya gula pasir

Bahan Roti:
450gr terigu protein tinggi (contoh merek Cakra)
50gr terigu protein sedang atau rendah (contoh Segitiga)
3 kuning telur
125ml air hangat kuku
2sdt ragi instan atau Fermipan
125-130ml air es
2 sachet susu bubuk
60gr gula pasir
90-100gr gular pasir (tergantung selera)
100gr butter atau margarin
1/4sdt garam

Cara Membuat:
·         Bahan isian: Rebus rendaman kacang hijau sampai empuk. Matikan. Tujuan direndam lama supaya kacang hijau cepat empuk saat direbus dan belum sampai pecah kulitnya dia sudah empuk banget.
·         Haluskan dengan chopper jadi tanpa air ya supaya pas dikeringkan cepat prosesnya.
·         Masukkan dalam wajan atau teflon. Nyalakan api kecil. Masukkan gula pasir secukupnya saja. Aduk terus sampai mengental. Matikan.
·         Bahan roti: Campur air hangat dengan 1sdm gula pasir dan ragi. Aduk rata dan biarkan sampai berbusa. Nah, dengan cara seperti ini, ragi akan terlihat apakah aktif atau mati. Kalau sampai 5 menit belum juga berbusa, maka kita harus menggantinya dengan ragi baru. Tandanya ragi itu mati dan tidak berfungsi lagi.
·         Campur semua bahan sisa kecuali butter dan garam. Ingat, butter dan garam selalu kita campur di akhir, ya. Aduk semua bahan sisa dan campuran ragi. Uleni sampai rata saja. Nah, setelah itu baru masukkan butter dan garam. Uleni sampai kalis elastis kurang lebih setengah sampai satu jam. Ah, lama sekali…hihi. Tergantung tingkat kesabaran…hehe. Nggak juga. Tergantung seperti apa ngulennya dan alat apa yang digunakan. Ini hanya perkiraan saja selama ini.
·         Bulatkan adonan. Olesi permukaannya dengan minyak. Jadi caranya, kita olesi tangan dengan minyak sayur. Lalu bulatkan adonan. Diamkan dengan ditutup lap bersih selama 1 jam atau tergantung suhu juga. Diamkan sampai mengembang 2x lipat.
·         Setelah mengembang, tinju adonan untuk membuang udara. Timbang sesuai selera. Biasanya roti ukuran sedang beratnya 35-40gr. Bulatkan dan diamkan 10 menit. Kalau tangan agak lengket balur saja dengan terigu sedikit saja.
·         Beri isian dan mulai bentuk sesuai selera. Bisa dibuat roti sobek, roti jamur dengan dimasukkan loyang cup cake, atau juga bisa dibuat roti jomblo alias satu-satu…he.
·         Diamkan lagi selama 1 jam atau sampai mengembang 2x lipat.
·         Panaskan oven suhu 180’C selama 10 menit sebelum digunakan. Panggang selama 15 menit-20 menit untuk api atas bawah. Kalau ovennya kecil dan atasnya cepat gosong, gunakan 15 menit api bawah, dan 10 menit api atas. Saran saya kenali oven masing-masing, ya. Supaya nanti matangnya merata dan tidak over juga. Kalau kelamaan roti bisa kering. Kalau kurang juga roti bisa mimpes dan nggak mateng.
·         Setelah keluar dari oven, olesi atasnya dengan margarin atau butter.

Ini roti jamur yang saya maksud. Jangan lupa pakai cup kertas, ya.


Ini hasilnya setelah dipanggang

Ini roti jumbo banget, pakai 65gr adonan

Untuk loyang ini, bulatkan adonan roti dan beri jarak, ya.

Seratnya bagus banget, kelihatankan empuknya ^^


Meski lumayan panjang perjalanannya, tapi percayalah, hasilnya sebanding dengan apa yang kita usahakan. Apalagi kalau makan roti panas-panas, hmm, rasanya enaak banget! Kemarin paksu baru pulang ngantor saya sodorin satu loyang roti keset, dan setelah kembali saya lihat, sudah kosong loyangnya…he. Yuk, ah bikin. Ini rasanya pas banget dipadu dengan isian kacang hijau yang lembut dan manis. Selamat mencoba…


Baca juga resep Roti Empuk Isi Sosis

Gara-Gara Diet

sumber


Belakangan Kinanti lebih sibuk berolah raga ketimbang memasak dan mengurus rumah. Biasanya pagi-pagi sekali, wanita tiga puluhan itu sudah beradu dengan adonan tepung dan panasnya kompor. Sekarang, dia lebih rajin lari pagi di sekitar komplek rumahnya dan membeli sarapan di warung depan yang buka setelah Shubuh.

Suaminya, Pras tidak pernah protes. Toh selama ini dia juga tidak pernah memaksa Kinanti memasak untuk keluarga. Nasi uduk dan teman-temannya sudah cukup nikmat disantap saat sarapan sebelum dia bertolak ke tempat kerja.

Sayangnya tidak begitu dengan Adi, putra sulung mereka. Dia yang pertama protes dengan wajah sumpek.

“Apa tidak ada makanan lain selain nasi uduk, Um? Adi bosan sekali sarapan nasi uduk setiap hari. Belum lagi bekal sekolah Adi juga isinya sama.”

Pras hanya tersenyum dan menaikkan kedua bahunya. Itu di luar kuasa Pras. Anak sulung mereka tentu sudah bisa protes sekarang. Berbeda ketika dia masih balita. Makan apa pun dia terima. Bahkan meski sebulan penuh makan nasi uduk. Tapi sekarang, Adi sudah jadi anak SD kelas dua. Selera makannya pun semakin baik. Terlebih ketika Kinanti lebih rajin berada di dapur dan membuatkan anak-anaknya camilan lezat melebihi yang ada di kantin sekolah.

“Mungkin Umi sedang tidak punya waktu, Di.” Pras menengahi. Khawatir menyinggung istrinya yang sepekan terakhir terlihat lebih sensitif.

“Memangnya Umi sibuk apa, Bi? Adi lihat setiap pagi Umi cuma lari pagi, push up dan senam.” Katanya sambil memasukkan bihun ke dalam mulut dengan wajah cemberut.

“Makan nasi uduk juga sudah cukupkan? Lagipula Abi tidak suka melihat Umi kelamaan di dapur.” Kinanti balas komentar.

Pras menoleh. Semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran istrinya.

***

“Kok nggak ada sarapan di meja makan?” Adi semakin lesu.

Kemarin masih untung ada nasi uduk walaupun sudah seminggu makan menu sama. Sekarang, justru teh hangat dan sarapan pun sudah tidak muncul lagi di atas meja makan keluarga Pras. Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan Kinantinya?

Pras mengusap kepala sulungnya. Mengecupnya pelan dan membisikkan sesuatu. Lantas sumringah di wajah Adi sudah cukup melegakan perasaan Pras. Hari ini, Pras memutuskan mengajak Adi sarapan di luar. Mungkin istrinya sedang lelah dan tak ingin memasak ataupun membeli sarapan untuk mereka. Bukan masalah. Menjadi ibu rumah tangga, meski kadang terlihat sepele, namun kenyataannya tidaklah semudah yang dibayangkan kebanyakan orang. Mereka bergelut dengan rutinitas yang sama setiap hari. Jarang bergaul dengan teman-teman sebab mengurus rumah saja kadang tidak mengizinkan para istri untuk beristirahat. Pras sangat memahami itu. Dan Kinanti mungkin juga sedang merasakan hal yang sama, bosan dan lelah.

Sebelum keduanya berangkat, Kinanti muncul di depan pintu dengan napas terengah. Dia membungkuk sambil menahan perutnya yang nyeri.

“Kalau lari jangan terlalu capek, nanti bisa sakit.” Pras menyodorkan segelas air putih.

Kinanti menepis, “Kinanti melakukan semua ini hanya demi mas Pras.” Katanya dengan ketus.

Pras melihat istrinya berlalu ke belakang tanpa mencium tangannya. Wanita itu kadang bersikap aneh tanpa sebuah alasan yang jelas. Pras menarik napas dan menggandeng tangan Adi. Deru motor terdengar keras sebelum akhirnya bayangan mereka hilang di ujung jalan.

Kinanti muncul dari kamar mandi dengan wajah sembab. Kedua matanya merah bukan karena terlalu lelah dan kurang tidur. Semalam dia bahkan tidak sempat menunggu Pras pulang. Setelah shalat Isya dia terlelap dengan keletihan tak tertahan.

“Ada apa, Mi?” Naura keluar dari kamar dengan wajah masih mengantuk.

Kinanti menggeleng sambil merengkuh bungsunya, “Hanya kelilipan, Sayang.”

Naura menerima jawaban itu tanpa protes. Tapi kemudian gadis kecil lima tahun itu mendengar bunyi perutnya sendiri yang keroncongan. Lapar sekali. Berharap bisa makan setangkup roti buatan ibunya yang biasa tersaji di meja makan hampir setiap pagi. Sayangnya, ketika langkah kecil itu terhenti di dekat meja makan, hanya segelas air putih yang tampak di sana.

“Kapan Umi masak lagi?”

Kinanti terperangah mendengar pertanyaan itu muncul dari gadis kecilnya. Kapan Kinanti masak lagi? Kapan dia membuat roti lagi? Kapan dia mau berhenti dan berdamai dengan perasaannya yang tak karuan? Rasanya seperti digerogoti. Hari-hari setelah kejadian seminggu kemarin, membuatnya kehilangan waktu menikmati kebersamaan yang hangat bersama anak-anak dan mas Prasnya.

Belum sempat Kinanti menjawab, air matanya menderas melebihi anak sungai. Dadanya tiba-tiba saja sesak. Jika bukan karena Pras, dia tidak akan melakukan ini. Semua kerja kerasnya hanya untuk Prasnya yang tampan. Seharian minum air putih hangat tanpa sesuap nasi juga karena Prasnya. Apa pun akan dia lakukan untuk Pras. Hanya untuk lelaki yang delapan tahun telah menikahinya.

Naura mendekati ibunya. Menarik baju Kinanti yang sebagian basah terkena air mata. Naura ingin bertanya ada apa dan kenapa tiba-tiba ibunya menangis? Apa karena Naura memintanya membuat roti lagi? Apa ibunya sedih dengan permintaannya barusan?

“Maafkan Umi, Sayang.” Kinanti merengkuh Naura dan tersedu lama.

***

“Lelaki zaman sekarang nggak bisaan kalau lihat wanita cantik. Apalagi kalau lihat janda kayak Noni tetangga baru kita.” Tukas Bu Retno sambil mencubit lengan Kinanti.

“Insya Allah mas Pras tidak seperti itu, Bu.” Jawabnya sambil tersenyum getir.

Ya, Kinanti yakin mas Prasnya adalah lelaki yang baik dan setia. Dia tidak pernah protes dan mengeluh meski setelah melahirkan Naura, tubuhnya tak seramping dulu. Mas Prasnya tidak akan protes meski Kinanti tidak pandai memakai make up. Kinanti juga punya tubuh mungil dan pendek, tidak seperti teman-teman Pras di kantornya yang tinggi bak foto model. Kinanti jauh jika dibanding mereka. Tapi yang membuatnya lega adalah Pras tidak pernah sekalipun mengeluh apalagi mengatakan terang-terangan tentang kekurangannya itu. Kinanti anggap itu bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

“Tapi saya lihat Jeng Kinanti lebaran ya dibandingkan dulu,” Bu Yatno menambahkan sambil melihat tubuh Kinanti dari ujung kepala hingga kaki.

“Laki-laki sukanya main belakang, Jeng. Mana ada yang terang-terangan.”

Hati Kinanti mencelos. Cukup. Meski telah berjanji akan selalu memercayai Pras, rupaynya pagi itu dia tak sanggup menahan gelisah akibat ucapan para tetangganya. Kinanti segera membayar belanjaannya dan lekas berlalu.

Di rumah, dia berdiri di depan cermin. Memerhatikan dengan seksama. Kinanti terpaku dengan sedikit kerutan di sekitar mata. Tidak, itu tidak hanya sedikit, bahkan lebih banyak daripada yang pernah dilihatnya kemarin. Dengan gelisah Kinanti menarik kelopak mata. Tersenyum sendiri di depan cermin. Kemudian murung setelah menyadari bahwa tidak banyak lagi pakaian lama yang bisa dikenakannya setelah Naura lahir. Tercenung melihat koleksi gamisnya hanya tergantung sia-sia tanpa pernah terjamah. Kinanti menyadari, dia harus berubah demi lelaki yang sangat dicintainya.

***

Kinanti mengerti betapa suaminya sangat sibuk akhir-akhir ini. Selalu pulang telat. Berangkat pagi-pagi sekali dan malamnya mereka hanya menyapa serta basa basi sebentar sebelum akhirnya Pras melanjutkan pekerjaannya. Di balik pintu kamar, Kinanti mengelus dada. Suaminya sudah berubah. Perubahan yang sebelumnya tidak pernah sempat dia lihat. Jangan-jangan sudah sejak lama mas Prasnya seperti itu. Kinanti mungkin saja tidak menyadari sebab terlalu sibuk dengan kegiatannya setiap hari.

Bu Yatno bilang, lelaki sukanya main belakang. Tiba-tiba tayangan infotaiment tentang salah satu artis papan atas yang berpoligami melintas dalam pikirannya. Padahal istrinya sudah cukup cantik bahkan sangat cantik dibanding Kinanti. Tapi lelaki yang tidak pandai bersyukur justru memilih berpoligami di belakang mereka. Mempermainkan syariat tanpa mengerti ilmunya. Tidak, Kinanti tidak bisa menunggu sampai semua itu terjadi padanya. Dia harus berubah.

Besok, dia akan lari pagi menyusuri komplek rumah. Kinanti juga berjanji tidak akan makan sebelum tubuhnya kembali normal seperti ketika dia memiliki Adi. Kinanti tidak bisa membayangkan jika mas Prasnya tiba-tiba jatuh ke pelukan wanita lain hanya karena Kinanti tidak pandai merawat diri. Lelaki mana yang suka melihat wanita berdaster yang selalu bermain tepung di dapur? Dan Pras tentu sudah mulai jengah dengan hobinya itu.

***

“Mas pulang telat lagi?” Kinanti berkacak pinggang di depan pintu. Membuat Pras kaget dan berhenti menguap.

“Mas sudah bilang, seminggu ini ada audit. Jadi mas sibuk sekali.” Pras tersenyum sambil mengusap kepala Kinanti. Tak terbersit sedikit pun kemarahan meski nyatanya dia sudah sangat lelah apalagi ketika disambut dengan kalimat ajakan perang seperti yang Kinanti lakukan saat ini.

Kinanti menarik napas panjang, mengikuti Pras dari belakang, “Mas ganti parfum, ya? Kok wanginya beda.”

Pras tertawa, “Bukannya ini parfum yang Kinan belikan kemarin? Mas kan tidak pernah suka pakai parfum. Karena Kinan yang minta, makannya mas pakai,” katanya sambil menggamit dagu istrinya.

Kinanti hampir lupa, bukannya memang dia yang selalu memerhatikan penampilan Pras? Mulai dari sepatu, celana sampai kemeja bahkan parfum. Mendadak dia menyesali itu. Harusnya biarkan saja Pras tidak pakai parfum, dengan begitu, suaminya yang ganteng itu tidak akan bisa tebar pesona.

“Mas,” Kinanti menarik lengan suaminya.

“Ya?” Lelaki berwajah teduh itu urung membuka tudung saji di meja makan demi melihat wajah Kinanti yang selalu murung beberapa hari terakhir.

“Kinanti jelek, ya? Gendut? Kulit Kinanti juga tidak putih. Mas Pras…”

Sebelum kalimatnya selesai, Kinanti justru menangis sambil memeluk suaminya. Membuat Pras menahan tawa. Sejak kapan Kinanti menjadi sedetail itu menilai penampilan? Biasanya dia selalu percaya diri. Merasa menjadi ratu di dalam rumah sebab kenyataannya Pras memang selalu memperlakukannya demikian.

Pras menyukai Kinanti apa adanya. Jika hanya karena cantik saja, tentu Pras tidak akan memilihnya sebagai pendamping. Tapi Pras punya alasan lain kenapa dia bersikeras menikahi Kinanti meski dulu orang tuanya sangat tidak setuju dengan pilihannya itu.

“Kinanti punya kecantikan di sini, Buk. Jika hanya ingin yang cantik, Pras bisa memilih yang lain. Tapi yang punya kecantikan dari hati tentu tidak mudah menemukannya. Dan Pras sudah melihatnya pada Kinanti.” Katanya meyakinkan.

Sebab itulah, Pras tidak pernah protes meski akhir-akhir ini Kinanti sangat sibuk di dapur sampai-sampai dia melupakan kemeja Pras. Biasanya Kinanti selalu menggantungnya di lemari. Pras hanya tinggal memakainya. Dan yang lebih parah, istrinya itu justru sibuk dengan kegiatan barunya, lari pagi dan senam. Sesuatu yang sama sekali tidak pernah dilakukan Kinanti sebelumnya. Tapi sekali lagi Pras tidak pernah protes dan mempertanyakan.

“Ada apa? Memangnya mas salah, ya?” Pras mengangkat wajah Kinanti.

Kinanti menggeleng. Tak kuasa menjawab. Suaminya itu, meski pendiam dan jarang bicara, bukan berarti dia tak pernah peduli. Mas Prasnya memang bukan lelaki romantis yang setiap hari membawakannya bunga. Tetapi lelaki yang usianya terpaut sepuluh tahun dengannnya itu tahu bagaimana cara menyenangkan hatinya.

Tanpa basa basi, Pras membelikan oven listrik untuk Kinanti setelah melihat dirinya begitu bersemangat membuat roti. Melihat ketekunan Kinanti, Pras menghadiahkannya sesuatu yang sangat Kinanti inginkan sejak lama. Pras bahkan tak mengatakan apa pun meski Kinanti bersorak senang dan memeluknya. Lelaki itu hanya tersenyum datar sambil bercanda.

“Jadi kapan mas bisa makan roti buatan Kinan lagi?” Pras mencubit hidung Kinanti, “Mas bosan lihat Kinan lari pagi setiap hari, Adi juga kasihan kalau setiap pagi makannya nasi uduk.” Pras menarik napas dan melihat mata istrinya yang sembab.

“Mas, sebenarnya Kinanti hanya takut kalau mas Pras berpaling ke lain hati. Lihat, Kinanti sekarang tidak seramping dulu. Bahkan baju-baju lama Kinanti sudah tidak muat lagi.” Kinanti setengah merajuk. Membuat Pras tersenyum geli.

“Terus?” Pras balik bertanya.

Kinanti jadi bingung harus menjawab apa, “Kenapa mas Pras tidak memuji Kinanti? Apa benar Kinanti sudah sejelek dan segendut kata orang-orang?” Kinanti manyun.

“Mas tidak suka berbohong. Kalau memang gemuk kenapa harus dibilang kurus?” Celetuk Pras sambil tertawa dan memamerkan deretan giginya yang putih tanpa bekas nikotin.

“Jadi Kinanti memang seburuk itu ya, di mata mas Pras...” Kali ini Kinanti menangis lagi.

Pras tertawa, “Jangan terlalu sibuk dengan anggapan orang. Kinan yang paling tahu siapa diri Kinan sendiri. Dan mas Pras tidak bilang kalau Kinan gendut. Hanya mungkin agak berisi ketimbang dulu.”

Belum sempat Kinanti merasa lega, tiba-tiba kalimat terakhir Pras membuatnya terkaget-kaget. Dengan sebal dia memukul suaminya.

“Tampil cantik memang perlu, tapi jangan abaikan kewajiban. Kasihan Adi kalau setiap hari makannya nasi uduk sama nasi goreng terus.” Pras nyengir. Diikuti oleh anggukan kecil Kinanti.

Mas Prasnya itu, meski tak banyak bicara dan menebar kalimat gombal, nyatanya dia paling tahu bagaimana memperlakukan Kinanti, menegur tanpa perlu melukai, dan mencintai meski tanpa menyatakan. Jika selalu mengikuti pendapat orang lain tentu akan sangat melelahkan. Dan seperti yang Pras bilang, sampai kapan pun kitalah yang paling mengerti siapa dan sebaik apa kualitas diri. Orang lain hanya melihat cover, bukan isi. Lalu kenapa sampai dibawa mimpi?



Baca juga cerpen Suamiku

Sosis Solo



Assalamualaikum…setelah bermasak-masak ria hari ini, tiba gilirannya buat posting di blog. Alhamdulillah, setiap hari ahad, ada posting rame-rame di cookpad dengan tema yang telah ditentukan. Nah, tema hari ini adalah risoles dan kawan-kawannya. Bisa lumpia, sosis solo dan apa pun teman serta sahabat dan kerabatnya Si Risoles…he.

Kali ini saya buat sosi solo. Biasanya saya beli jadi, tapi sekarang coba buat sendiri dan alhamdulillah bahkan lebih enak ini daripada biasa saya beli (muji diri sendiri...he). Isian yang saya suka manis tapi tidak terlalu manis dan gurih. Kalau terlalu manis jadi eneg. Dan saat membuat sendiri kita bisa sesuaikan dengan selera kita.

Isian ayam dalam sosis solo itu bisa dicincang halus atau bisa juga dihaluskan. Nah, kalau saya karena yang makan anak-anak juga, maka saya lebih suka menghaluskan isiannya supaya anak-anak juga nggak kesulitan saat mengunyah. Maklum ada bayinya..he.

Bahan kulitnya saya pakai resepnya mba Diyah Kuntari di cookpad. Lumayan mulus dan minim robek. Sebisa mungkin kulitnya dibuat tipis ya supaya tidak gampang pecah saat kita beri isian.

Langsung aja yuk kita coba buat,

Bahan kulit:
130gr terigu serbaguna
325ml air
2 butir telur
Sejumput garam
2sdm minyak goreng

Bahan Isian:
1 pasang dada ayam, ambil dagingnya
5 siung bawang merah
2 siung bawang putih
1/4sdt ketumbar
Sedikit merica bubuk
½ bulatan kecil gula merah
Secukupnya gula pasir
Secukupnya garam
1 bungkus kecil santan kara
50ml air

Bahan pelapis:
1-2 butir telur, kocok lepas atau boleh pakai putih telur saja




Cara Membuat:
·         Bahan kulit; campur semua bahan kecuali minyak. Aduk rata sampai tidak bergerindil. Kalau perlu disaring.
·         Masukkan minyak dan aduk sampai licin.
·    Panaskan teflon, tuang satu sendok sayur ke dalam teflon dan putar teflon sampai rata dan tipis. Diamkan sampai pinggirannya mongering. Angkat. Lakukan sampai adonan habis.
·       Bahan isian; rebus daging ayam, haluskan dengan chopper boleh juga disuwir. Sisihkan.
·     Haluskan bumbu, tumis dengan api kecil supaya bumbu matang. Masukkan air dan santan. Bumbui dengan garam, merica bubuk, gula pasir dan gula merah. Tes rasa.
·      Masukkan ayam yang telah dihaluskan. Aduk sampai mengering dengan api kecil supaya tidak gosong.Angkat dan sisihkan.
·       Ambil satu kulit risol. Beri isian 1-2sdm ayam. Gulung rapi. Lakukan sampai adonan selesai.
·       Ambil 1 butir telur dan kocok lepas. Celupkan risoles dan goreng sampai keemasan.




Gampang ya ternyata membuatnya…yuk ah, kita coba buat sebagai camilan bergizi untuk anak-anak di rumah. Selamat mencoba J


Baca juga resep Donat Empuk NCC

Custom Post Signature

Custom Post  Signature