Thursday, June 22, 2023
Baca Novel Fantasi Best Seller di GoodDreamer, Bikin Nggak Mau Skip!
![]() |
| Photo by Dollar Gill on Unsplash |
Baca novel genre fantasi akan membuat imajinasimu berkembang seiring dengan cerita yang dibaca. Sebab, genre fantasi menghadirkan berbagai macam hal yang tidak ada di dunia nyata, seperti makhluk mitologi, dunia sihir dan lainnya.
Nah, buat teman-teman yang sedang mencari rekomendasi novel fantasi di situs baca novel GoodDreamer, yuk langsung cek informasinya di bawah ini,
Rekomendasi Novel Fantasi di Situs Baca Novel GoodDreamer
Berikut beberapa rekomendasi novel fantasi yang bisa kamu temukan di situs baca novel GoodDreamer, yaitu:
● Si Buta Dari Laut Kidul
Rekomendasi novel fantasi pertama berjudul Si Buta Dari Laut Kidul yang ditulis oleh author bernama Kadita.
Si Buta Dari Laut Kidul bercerita tentang seorang lelaki bernama Jaka yang terlahir dengan mata buta, namun memiliki kekebalan dan kekuatan tubuh yang luar biasa. Orang tua dan kakeknya menjadi korban pembunuhan. Lalu, takdir membawa Jaka bertemu dengan sang Penguasa Laut Kidul, yaitu Ratu Laut Kidul. Kemudian, Jaka diangkat menjadi anaknya dan dari sinilah petualangan Jaka akan dimulai.
Cerita ini tak hanya menampilkan cerita fantasi yang seru, namun kamu akan dibawa mengikuti kisah urban legend dari sosok Kanjeng Ratu Kidul.
● Sistem Raja Iblis di Dunia Lain
Baca novel fantasi berjudul Sistem Raja Iblis di Dunia Lain karya Laodekevanhd akan membuatmu ikut berpetualang bersama Lucas Caelum. Sebenarnya, Lucas adalah reinkarnasi dari Lucifer, seorang jenderal perang manusia terkuat yang telah dikhianati oleh rasnya sendiri. Akibat pengkhianatan itu, Lucifer pun menjadi murka dan membinasakan seluruh umat manusia, lalu menjadi raja iblis.
Namun, berkat anomali yang terjadi di langit, Lucifer dikirim ke dunia lain dan berubah menjadi bocah berusia 8 tahun. Walaupun berusia 8 tahun, tetapi ia masih mengingat jati dirinya sebagai raja iblis serta masa lalunya. Dirinya pun diangkat menjadi anak dari keluarga bangsawan kerajaan Calpheon.
Nah, penasaran dengan kelanjutan cerita Lucas atau Lucifer? Langsung saja baca novel ini di GoodDreamer, ya.
● Vampire Madam
Vampire Madam merupakan novel fantasi yang ditulis oleh Lady Akhelois dengan jumlah sebanyak 60 bab. Novel ini bercerita tentang seorang pemilik club terbesar di italy, yaitu Yuriel Salvatrucha. Tak ada yang tahu bahwa sebenarnya wanita cantik itu adalah seorang vampire berusia 528 tahun.
Setelah sekian lama tidak bertemu dengan lelaki yang dapat menarik perhatiannya, Yuriel ditakdirkan bertemu dengan lelaki tampan bernama Ares. Lantas, bagaimana hubungan Yuriel dan Ares nanti? Kalau penasaran, yuk langsung baca novel ini, ya.
● Akademi Ouranos
Rekomendasi baca novel fantasi best seller lainnya adalah Akademi Ouranes yang ditulis oleh Sleeping Igloo. Berkisah tentang lima pemuda yang tak sengaja menemukan brosur misterius, hingga membawa mereka ke sebuah tempat yang tak pernah ada sebelumnya, yaitu Akademi Ouranos.
Kehidupan di Akademi Ouranos sangat tidak bisa dipikirkan oleh akal sehat. Bahkan, disini terdapat lima golongan ras atau dikenal dengan sebutan irgon. So, bagaimana kisah kehidupan baru kelima pemuda tersebut di Akademi Ouranos? Kamu bisa membacanya secara gratis di GoodDreamer.
Itulah beberapa rekomendasi novel fantasi yang bisa kamu baca di situs baca novel online GoodDreamer. Kamu bisa menemukan banyak novel fantasi lainnya yang dapat diakses secara gratis kapan dan dimana saja. Jadi, yuk langsung saja kunjungi situs GoodDreamer hanya di https://gooddreamer.id/ sekarang!
Salam hangat,
Saturday, May 20, 2023
Sharing Tentang Dunia Menulis dan Ilustrasi
![]() |
| Photo by Andrew Neel on Unsplash |
Postingan ini saya khususkan untuk teman-teman yang pernah mengajukan pertanyaan di Instagram. Saya minta maaf karena waktu itu sempat lupa mau jawab padahal sudah mempersilakan teman-teman bertanya. Maunya sekalian dijawab besoknya, tapi bablas lupa…hihi.
Jika teman-teman pernah mampir ke blog saya ini, insya Allah sudah banyak pertanyaan yang terjawab. Namun, sebagian besar mungkin belum pernah membaca postingan-postingan di blog saya yang sebagian besar benar-benar bercerita tentang perjalanan menulis dan menggambar saya selama beberapa tahun terakhir.
Saya akan rangkum beberapa pertanyaan yang saya ingat, sebab beberapa saya belum membaca dan sebagian saya juga lupa *hiks.
Perjalanan menulis saya dimulai sejak saya masuk pesantren. Waktu itu saya ingat, sering ikut mengisi mading pesantren, juga banyak baca majalah di perpustakaan seperti Annida. Selama di pesantren saya terus menulis. Menulis apa pun yang saya suka meski saya juga nggak tahu mau dibawa ke mana tulisan-tulisan sederhana saya.
Setelah menikah, saya sempat memutuskan berhenti menulis dan fokus mengurus anak-anak. Namun, sekitar tahun 2017-2018 saya mulai menulis lagi hingga sekarang. Saya banyak mengikuti kelas-kelas menulis yang diadakan secara daring. Mulai mengajukan naskah ke penerbit mayor hingga akhirnya beberapa buku saya mulai terbit dan masuk Gramedia.
Menulis bukan perjalanan sebentar, ya. Ada naskah yang sampai 5 tahun menunggu antrean, tapi akhirnya gagal terbit tanpa alasan jelas. Ada naskah yang menunggu kepastian sampai setahun lebih. Bahkan meski sudah beberapa kali terbit, bukan berarti naskah saya selalu diterima. Ditolak juga sering dan gapapa.
Waktu pandemi mengubah banyak hal, termasuk dunia penerbitan buku. Penerbit mayor waktu itu sempat membatasi jumlah terbitnya buku dan membuat saya mulai berpikir untuk memulai hal-hal baru yang sebenarnya sejak salam sudah saya suka. Yap, menggambar!
Saya mulai belajar menggambar digital sejak pandemi lalu. Mulai posting konten secara rutin sampai akhirnya bisa seperti sekarang. Siapa sangka, ternyata dunia ilustrasi digital juga banyak memberikan pengalaman berharga untuk saya. Saya bisa mengilustrasikan buku sendiri di penerbit mayor, bisa mengilustrasikan beberapa buku yang terbit di Mesir, hingga yang paling tidak disangka, saya berkolaborasi dengan penulis favorit saya yakni Bunda Helvy Tiana Rosa, sampai-sampai bisa bertemu langsung. Masya Allah.
Kita tidak pernah tahu rencana Allah akan seperti apa ke depan. Tugas kita hanya terus berusaha semaksimal mungkin. Berusaha tanpa banyak tapi. Mencoba hal-hal baru karena mungkin banyak peluang yang bisa kita dapat dari sana.
Kamu Bertanya, saya Menjawab
Please, jangan ngakak. Apaan bikin judul kayak gini? Kwkwk. Bingung mau menulis apaa :D
Silakan ditambahkan jika ada pertanyaan-pertanyaan yang terlewat, insya Allah dengan senang hati saya akan menjawab semampu saya.
Sejak kapan mulai menggambar?
Sejak kecil saya sudah suka menggambar, tapi baru mulai belajar menggambar digital sejak pandemi lalu. Saya juga masih terus belajar dan berusaha konsisten untuk membuat konten-konten positif di sosial media. Namun, saat ini saya memang tidak banyak menerima dan mengerjakan proyek buku karena lebih fokus menulis naskah kembali.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat ilustrasi?
Sebenarnya tergantung seperti apa karya yang mau kita buat. Saya anggap pertanyaan ini ditujukan untuk gambar di Instagram, ya. Biasanya satu jam cukup untuk menghasilkan satu konten, sudah termasuk membuat ilustrasi simpel dan memasukkan teksnya juga.
Kok terbilang cepat? Karena gambarnya simpel-simpel aja dan mungkin sudah terbiasa juga, ya. Kalau teman-teman rutin seperti saya, insya Allah bisa juga pakai kekuatan angin nanti :D
Dari mana idenya?
Dulu, pernah ada yang tanya, kalau buat konten, bikin gambar dulu atau membuat teksnya dulu?
Saya termasuk orang yang nggak mau pusing soal ini. Ketika akan membuat konten, saya bikin gambarnya dulu dengan referensi dari Pinterest misalnya. Kadang saya pengin gambar tema hujan, pantai, atau apalah itu. Kemudian, saya akan buat teksnya setelah semua gambar selesai.
Teksnya mengikuti kata hati aja lagi pengin menulis tentang apa. Dan nggak mau banyak pertimbangan apakah itu bagus atau nggak, yang penting baik, insya Allah segera saya posting supaya nggak galau aja…haha.
Karena ada juga orang yang mikir berkali-kali buat posting kontennya padahal menurut saya sudah bagus. Nah, kebetulan saya bukan tipe yang seperti ini. Bisa jadi karena saya juga sudah lelah mau mikir lagi…hihi.
Bikin kelas dong, Mbak!
Kalian boleh minta apa aja, nanya apa aja, tapi untuk yang satu ini memang saya masih banyak mikirnya, sih. Saya bukan tipe orang yang mudah bicara di depan publik. Saya butuh waktu berhari-hari untuk bisa melakukannya tanpa gugup.
Saya sering mengatakan pada teman-teman, silakan bertanya kepada saya, insya Allah saya jawab dan bantu. Tapi, kalau buka kelas, baik itu kelas menulis atau kelas menggambar, saya masih mikir-mikir lagi. Rasanya butuh energi lebih banyak, sedangkan banyak banget hal yang mesti saya kerjakan.
Sedikit cerita, ada beberapa kali saya ditawari mengisi kelas oleh X. Setelah sekian kali saya menolak, dia aja sampai malas menjawab pesan saya…kwkwk.
Bikinin tutorial menggambar, dong!
Menggambar seperti yang saya lakukan itu nggak terlalu sulit. Seperti biasa cukup bikin sketsanya dulu. Untuk bisa bikin sketsa, teman-teman harus bisa menggambar juga, ya. Latihannya di mana? Bisa belajar dari Youtube, bisa dari pinterest, dan yang lainnya.
Saya juga belajarnya otodidak, kok. Nggak ada pendidikan khusus. Belajar beberapa jenis aplikasi menggambar bisa dari Youtube dan itu lengkap banget dengan catatan teman-teman mau usaha buat nyari dan nyoba, ya :)
Menggambarnya pakai aplikasi apa? Tabletnya apa?
Pertanyaan yang selalu diulang-ulang, tapi dengan senang hati saya jawab, kok. Saya menggambar pakai iPad 8 dengan apple pencil gen 1. Iyap, sejak mulai mengerjakan proyek buku, saya memang pakai iPad karena menurut teman-teman yang berpengalaman, jauh lebih nyaman aja.
Aplikasinya pakai procreate yang hanya bisa digunakan di iPad, ya. Kalian bisa punya dengan sekali bayar seharga 150an ribu. Nggak ada procreate di android. Jika teman-teman pakai android, bisa gunakan ibis paint X atau medibang. Banyak jalan menuju Roma, kan?
Bagaimana cara menulis buku?
Menulis buku dimulai dari membuat outline. Outline bisa kita dapat setelah punya referensi yang cukup, tahu apa yang pengin kita tulis, dan sudah banyak membaca tentunya.
Menulis butuh waktu berapa lama? Tergantung kemampuan masing-masing orang, ya. Beberapa buku saya biasanya selesai dalam waktu sebulan. Teman-teman bisa membaca beberapa postingan saya tentang dunia literasi di blog ini, ya. Insya Allah lengkap.
Bagaimana cara mengajukan naskah ke penerbit?
Saat ini banyak juga penulis yang menerbitkan bukunya sendiri. Artinya, dia membayar dengan harga yang telah disepakati untuk menerbitkan naskahnya. Jadi, naskahnya sudah pasti tebit sesuai permintaan.
Namun, untuk menerbitkan naskah di penerbit mayor, teman-teman butuh waktu untuk mengajukan naskah, menunggu acc, dan prosesnya yang kadang nggak sebentar. Tapi, kita bukan membayar, malah dibayar.
Hal ini sering ditanyakan karena rata-rata banyak yang bingung. Jika teman-teman mau menerbitkan naskah sendiri, saya pesan untuk berhati-hati memilih penerbit indie, ya. Pilih yang sudah jelas dan berpengalaman.
Bukunya bisa dibeli di mana, Mbak?
Buku-buku saya kebanyakan bisa didapatkan di Gramedia dan marketplace seperti shopee. Namun, ada juga yang hanya dijual di marketplace.
Zaman sekarang semua bisa didapat di marketplace, ya. Bahkan Gramedia aja ada di sana :D
Sudah 1000 kata lebih, nih soal curhatan semua isinya…hehe. Adakah pertanyaan yang terlewat? Mungkin masih banyak atau terlewat, silakan bertanya via DM. Dengan senang hati insya Allah saya jawab, ya.
Terima kasih buat teman-teman yang kemarin sempat mengajukan pertanyaan. Semoga nggak kapok, ya…hehe. Tetap semangat dengan impian kalian. Semoga terwujud :)
Salam hangat,
Wednesday, October 19, 2022
Kisah Pippi, Proyek Kolaborasi Bersama Bunda Helvy Tiana Rosa
![]() |
Jadi penulis sekaligus ilustrator ternyata bukan hal mudah, ya? Selain lebih repot membagi waktu, belajar untuk fokus pada dua hal sekaligus juga banyak tantangannya, termasuk mental. Suatu hari saya pernah ngobrol dengan penulis yang senang menggambar seperti saya. Dia pernah menerima proyek pictbook dari salah satu penerbit. Apa yang dirasakan setelah menerima proyek tersebut? Katanya, nangis!
Antara pengin ketawa, tapi takut dosa. Namun, itulah yang saya alami juga setelah menerima proyek-proyek ilustrasi untuk buku-buku anak. Awalnya senang, kemudian pengin menghilang di telan bumi! Kwkwk. Mungkin inilah ujian bagi penulis yang mau jadi ilustrator juga seperti saya…haha.
Beberapa kali saya sempat pengin berhenti mengerjakan ilustrasi untuk buku anak-anak. Bahkan sudah menolak beberapa proyek karena mau fokus mengerjakan naskah, tapi ada saja hal-hal yang tidak dapat saya kendalikan. Termasuk ketika saya akhirnya menerima proyek pictbook dari Bunda Helvy Tiana Rosa. Tepat sebelum ditawari proyek ini, saya benar-benar berniat berhenti mengerjakan ilustrasi buku. Namun, Allah punya rencana lain, saya diberi kesempatan luar biasa sehingga mustahil menolaknya. Akhirnya, saya kembali mengerjakan ilustrasi untuk buku Bunda Helvy.
Meski lumayan capek dan berat, mesti bangun lebih pagi untuk mengerjakan naskah dan siangnya fokus dengan ilustrasi, nyatanya semua pekerjaan bisa diselesaikan tepat waktu. Namun, hari-hari berikutnya terbesit lagi keinginan untuk berhenti menggambar. Padahal nggak ada proyek yang terbengkalai apalagi molor dari DL. Nggak ada kendala berarti karena semua tugas beres, begitu juga dengan tugas rumah tangga.
Saya nggak paham dengan diri sendiri...kwkwk. Nggak paham dengan kegalauan semacam ini kenapa terus menerus hilang timbul. Terkadang, mengerjakan ilustrasi itu butuh lebih banyak sabar memang. Ada klien yang paham dengan capeknya kita, ada yang nggak mau tahu. Sehingga, sering kali saya merasa harus pilih-pilih klien juga supaya nggak merasa terbebani.
Bekerja sama dengan Bunda Helvy nggak jadi beban, sebab beliau begitu baik. Memberi kebebasan pada saya untuk menuangkan ide dalam gambar. Beliau juga nggak rewel apalagi seenaknya. Beliau berpesan, Muyass harus happy ngerjainnya. Harus nyaman. Biar nggak jadi beban dan hasilnya pun sesuai harapan.
Ikuti Saja Alurnya
Teman saya akhirnya berkomentar, sudahlah, ikuti saja alurnya. Karena dua hal ini memang saya sukai, makanya agak susah juga meninggalkan salah satunya. Meskipun tidak menerima pesanan gambar, nyatanya saya tetap menggambar untuk mengisi feed Instagram. Saya tetap menggambar karena saya memang suka, tapi saya mungkin terlalu lelah kalau mesti mengerjakan semuanya sekaligus.
Sebenarnya, apa pun pekerjaan kita, bahkan meski kita amat menyukainya, tetap saja ada saatnya merasa bosan dan lelah. Apalagi kalau dikerjakan terus menerus. Iya, kan? Menulis pun sama. Terkadang di tengah-tengah menulis naskah saya merasa bosan dan nggak tahu mau mengetik apa. Capek dan mesti ambil jeda.
Begitu juga ketika menggambar. Kadang happy banget ngerjainnya, kadang ngerasa capek banget. Memang semua akan seperti ini, kan?
Tawaran Kolaborasi dari Bunda Helvy Tiana Rosa
Saya nggak pernah kepikiran bakalan dapat tawaran ini. Tiba-tiba beliau mengirimkan pesan di Instagram dan mengajak berkolaborasi mengerjakan pitcbook pertama beliau. Waktu itu saya kaget bukan main. Apa saya bermimpi?
Kemudian kami lanjut ngobrol dan sempat saya tawarkan ilustrator lain jika ingin membuat komik karena saya pribadi tidak pernah menggarap komik. Namun, beliau berkata, kalau begitu kita bikin pictbook saja!
Waktu pertama kali bertemu di Tamini, saya nggak terlalu canggung karena beliau super ramah terutama untuk saya yang introvert. Beliau selalu mengabari ketika ada perubahan dan hal lainnya. Bukan tipe penulis terkenal yang gengsi mau balas pesan penggemarnya. Benar-benar humble. Rasanya beruntung sekali bisa mendapatkan kesempatan luar biasa ini terutama di saat saya pengin memutuskan berhenti mengerjakan gambar. Seperti ditampar, kenapa mesti berhenti, sih?
Sebenarnya, saya tidak pernah dengan sengaja mengerjakan beberapa proyek sekaligus. Misalnya, ketika mengerjakan ilustrasi untuk buku Pippi, saya nggak sengaja dapat pesanan naskah, pesanan ilustrasi lain dari salah satu penerbit mayor yang waktunya kebetulan selalu bersamaan padahal sudah direncanakan jauh hari sebelumnya.
Ketika kejadian mesti bareng begini, rasanya jadi agak berat dan bikin suntuk, ya? Solusinya, saya mesti pandai-pandai bagi waktu karena saya juga Ibu Rumah Tangga tanpa ART. Ada tugas lain yang mesti diselesaikan. Akhirnya, paling mudah memang dicicil pelan-pelan. Ingat, jangan pernah menumpuk pekerjaan rumah terutama cucian dan setrikaan, asli puyeng kalau sudah menumpuk…kwkwk. *Random banget deh ceritanya...kwkwk.
Buku Pippi Sudah Terbit!
Masya Allah tabarakallah. Saya bersyukur sekali akhirnya buku ini bisa terbit di pertengahan bulan ini. Pas pegang bukunya, rasanya nggak percaya ilustrasi itu sudah jadi buku. Terima kasih untuk Bunda Helvy, juga untuk diri saya yang tidak menyerah.
Ketika buku sudah terbit, rasanya capek lelahnya hilang semua. Sama halnya seperti seorang ibu yang melahirkan anaknya. Rasa sakitnya hilang seketika. Seajaib itu, ya kalau sudah bahagia?
Buku Pippi berisi kisah nyata masa kecil Bunda Helvy dan Bunda Asma Nadia. Ditulis berima sehingga sangat menarik untuk dibaca. Kata Bunda Helvy, buku anak yang bagus itu yang bisa dinikmati oleh semua usia. Dan buku ini memenuhi kriteria itu.
Gimana Ceritanya Bisa Dapat Proyek Seperti Ini?
Kok, bisa? Memangnya ngajuin ilustrasi ke penerbit-penerbit gitu?
Kadang, teman-teman suka bertanya dari mana kita bisa mendapatkan klien dan proyek. Bahkan bisa dari luar negeri. Saya pernah cerita di postingan ini. Rata-rata teman saya juga sama, dapat klien karena tahu di Instagram atau dari mulut ke mulut. Dari klien ke klien yang merekomendasikan jasa kita.
Apa yang paling penting untuk dilakukan? Kerjakan saja semuanya dengan sungguh-sungguh. Share hasil gambar kita ke media sosial dan tunjukkan siapa diri kamu. Orang-orang bisa menilai dari karya kita meskipun nggak pernah kenal. Saya juga yakin, Allah melihat usaha kita sehingga jangan heran kalau ada orang-orang yang dapat proyek-proyek impiannya. Allah nggak tidur, teman. Allah tahu kita berusaha siang malam bahkan sampai begadang.
Yuk, kita nikmati perjalanan ini selagi masih ada kesempatan. Selagi diberi kesehatan dan waktu. Hal yang mesti saya ingat, pekerjaan saya di luar tidak lebih penting daripada tugas saya di rumah mendampingi anak-anak. Saya pernah bilang ke mas suami, saya nggak mau terlalu capek karena nanti jadi ngomel-ngomel mulu…kwkwk. Saya nggak mau terlalu ngoyo karena saya masih punya tanggung jawab mendampingi anak-anak di rumah. Saya mau hidup normal dan wajar sama seperti yang lain.
Ketika semua kewajiban sudah kita selesaikan dengan baik, semoga Allah mudahkan jalan kita. Tetap semangat, yah emak-emak yang menulis dan ngerjain ilustrasi. Semoga usaha kita tidak hanya menyenangkan di dunia, tapi juga berbuah pahala di akhirat. Berkah dan berkah, insya Allah.
BTW, buku Pippi sudah bisa teman-teman dapatkan di toko buku atau di sini! Ada diskon, lho. Selamat membaca kisah Pippi, ya. Semoga teman-teman suka dengan ilustrasi dan ceritanya :)
Salam hangat,
Wednesday, October 5, 2022
Review Buku Episode yang Sempat Hilang
![]() |
“Jika kelamnya masa lalu bisa menghentikan langkahmu, seharusnya, janji masa depan bisa menggerakkan hatimu.” (Desti Annor)
Kita sering mendengar bahwa yang namanya kesempatan tidak datang dua kali. Maka, manfaatkan peluang serta waktu yang ada dengan maksimal supaya di kemudian hari tidak menyesal.
Namun, ketika kesempatan itu terlewati begitu saja atau sengaja kita lewatkan, apakah mungkin akan datang kesempatan berikutnya? Tidak mungkin kita memutar waktu dan kembali pada masa lalu. Sedangkan sebagai manusia, kita sering salah memperhitungkan sampai-sampai tanpa sengaja melakukan kesalahan.
Saya percaya, Allah akan memberikan kesempatan bukan hanya yang kedua, tapi yang ketiga, dan seterusnya asalkan kita mau benar-benar berusaha. Saat memutuskan berhenti menulis setelah berhasil menyelesaikan buku solo pertama, saya tidak membayangkan ada di posisi sekarang. Saya pikir, akan sulit melakukan hal yang sama di kemudian hari karena saya telah sepenuhnya pergi. Namun, Allah membuat rencana yang jauh lebih baik.
Setelah anak saya tumbuh besar dan lebih mandiri, saya benar-benar punya waktu yang lebih longgar untuk kembali menulis hingga sekarang. Ini bukan kesempatan yang datang kedua kalinya, ini kesempatan berikutnya yang Allah berikan dan saya berhasil mengambil peluang tanpa harus meninggalkan kewajiban saya sebagai seorang ibu. Bukankah waktu yang Allah tentukan selalu tepat?
Seperti disampaikan dalam buku berjudul Episode yang Sempat Hilang karya Desti Annor, kesempatan akan selalu ada selama kita mau berusaha. Tak peduli seburuk apa pun masa lalu kita, asal bisa menyesali yang sudah lalu, juga bersungguh-sungguh memperbaiki di masa sekarang, maka tidak mustahil Allah akan datangkan kesempatan kedua.
Yakin, Kesempatan Bisa Datang Dua Kali!
Selama kita yakin dan percaya, kesempatan itu akan selalu ada. Yakin dulu sama Allah kalau kita masih diberikan kesempatan untuk bertobat dan berbuat baik. Jangan malah menjerumuskan diri dalam lembah kemaksiatan akibat rasa putus asa pada kasih sayang Allah. Sebanyak apa pun dosa yang kita perbuat, bagi Allah tidak sulit mengampuni selama kita mau bertobat. Seburuk apa pun kesalahan di masa lalu, selalu yakinlah bahwa Allah punya ampunan lebih luas dibanding samudera.
Terkadang, kita terjebak dalam perasaan putus asa, merasa sudah terlalu jauh meninggalkan Allah, bermaksiat, dan melakukan dosa. Sampai-sampai tidak yakin dengan luasnya ampunan-Nya. Belum lagi komentar orang yang begitu tajam dan pedasnya, mengatakan bahwa kita sudah menjadi seburuk-buruk manusia, hingga tak mungkin Allah berikan kesempatan kedua.
Hei, Allah bukan manusia dan manusia bukan Tuhan yang bisa menghakimi hidup kita. Tidak ada yang tahu akhir usia seseorang kecuali Tuhannya. Tidak ada yang tahu sedalam apa penyesalan kita kecuali Allah.
Buku Episode yang Sempat Hilang ditulis dengan bahasa yang indah dan menguatkan. Buku ini bisa teman-teman baca ketika merasa hilang semangat dan butuh motivasi. Bukankah teman paling setia adalah buku?
Di beberapa halamannya disertai juga dengan quotes menarik. Buku setebal 198 halaman ini bisa menjadi renungan yang indah, supaya langkah kaki kita tetap gagah melangkah, agar keyakinan kita tidak goyah akan pengharapan yang besar kepada Allah.
Selamanya kita memang tidak akan benar-benar selalu kuat menghadapi ujian dan cobaan, tapi tidak selamanya juga kita jadi manusia yang lemah. Ada saatnya kita gagal, tapi di waktu lain kita boleh memutuskan untuk bangkit dan pantang menyerah. Hidup tidak akan berakhir hanya karena kegagalan sekali atau dua kali saja, kan?
Justru dari kegagalan itu kita bisa belajar tentang perjuangan dan apa arti mempertahankan apa yang telah kita yakini. Yakin saja dulu, sebab Allah bukan manusia yang mudah jenuh dan sulit memaafkan. Karena paham bahwa Allah bukan manusia selemah kita, maka apa sulitnya yakin pada-Nya?
Belajar dari Kisah-Kisah Orang Saleh Terdahulu
Kenapa Allah menceritakan kisah Firaun dalam Alquran? Supaya kita tahu bahwa ada manusia sombong yang pengin disembah sebagai Tuhan, tapi kemudian Allah tenggelamkan dalam lautan. Kenapa Allah ceritakan kisah Qarun dalam Alquran? Supaya kita dapat memetik pelajaran bahwa yang namanya serakah tidak akan pernah mendapatkan tempat dan akan Allah azab.
Kisah-kisah orang terdahulu akan menjadi pelajaran berharga bagi manusia yang mau merenungi kesalahan. Begitu juga dalam buku yang ditulis oleh Desti Annor ini. Ia mengambil kisah-kisah para Nabi serta para sahabat yang bisa dijadikan pelajaran bagi manusia yang mau terus yakin pada ampunan Allah serta datangnya kesempatan kedua.
Atas langkah yang sempat terhenti, karena kelamnya masa lalu.
Atas jalan hidup yang tak seindah orang-orang.
Atas semua mimpi yang gagal menakjubkan pada kesempatan pertama.
(Desti Annor)
Buku ini diterbitkan oleh Quanta, lini buku-buku islami dari Elex Media. Sangat perlu dibaca hingga tuntas supaya hati kita yang patah bisa utuh kembali dengan keyakinan akan adanya kesempatan berikutnya.
Tidak masalah jika dulu sempat ada yang terlewat, tapi berikutnya kita mesti benar-benar menjemput dan memperjuangkan kesempatan itu.
Salam hangat,
Monday, September 19, 2022
Belajar Konsisten Menulis Setiap Hari, Sulitkah?
![]() |
| Photo by Kaitlyn Baker on Unsplash |
Menulis merupakan kegiatan yang saya lakukan hampir setiap hari. Iya, kalau memang sedang tidak ada hal mendesak, saya memang merutinkan menulis setiap hari terutama setelah pandemi mulai reda. Saat masih pandemi, saya banyak berkutat dengan ilustrasi sampai-sampai nggak ada waktu untuk menulis buku lagi. Sedih? Banget.
Makannya awal tahun ini saya mulai mengurangi mengerjakan ilustrasi. Hanya menerima beberapa pekerjaan yang memang saya mau kerjakan supaya ada waktu lagi untuk menulis.
Namun, terkadang saya harus mengerjakan naskah sekaligus membuat ilustrasi buku. Misalnya seperti beberapa bulan lalu saat saya harus mengerjakan ilustrasi untuk buku Bunda Helvy Tiana Rosa, di sisi lain saya sudah ada kerjaan menggarap naskah. Awalnya saya kira nggak akan bisa mengerjakan semuanya tepat waktu, qadarallah dengan lebih disiplin dan banyak berdoa akhirnya pekerjaan itu selesai tepat waktu juga. Masya Allah, legaaa.
Beberapa orang bertanya, memangnya nggak capek menulis setiap hari? Penulis lain juga melakukan hal yang sama, kok. Saya bukan orang yang paling rajin, yang lebih rajin masih lebih banyak lagi. Kalau ditanya capek atau nggak, yang jelas pasti lebih capek karena kita mesti melakukan hal lain selain pekerjaan rumah. Saya seorang Ibu Rumah Tangga yang punya tanggung jawab di rumah. Mencuci, menyetrika, memasak, beres-beres rumah, mendampingi anak belajar dan mengaji, dan banyak lainnya. Sama seperti ibu lain di luar sana yang memilih mengurus semua sendiri tanpa asisten rumah tangga.
Ketika saya memutuskan tetap berkarya di usia saya yang segini, yang sudah nggak 17 tahun ini, otomatis saya sudah harus siap lebih capek. Apalagi kalau ada kerjaan yang tiba-tiba datang sekaligus. Benar-benar harus membagi waktu dan disiplin dengan jadwal yang telah dibuat.
Namun, capeknya tetap menyenangkan karena saya mengerjakan hal yang benar-benar saya sukai. Kalau ditanya bosan atau nggak, pasti ada bosan dan pengin berhentinya. Nggak masalah, ambil jeda dan istirahat. Nggak udah dibawa pusing. Nanti juga bisa balik lagi ke laptop :D
Jangan Kerjakan Sekaligus
Adakah orang-orang seperti saya, yang kalau ngerjain apa-apa maunya sekaligus beres? Mulai dari menggambar, menulis, beres-beres rumah, dan yang lainnya?
Ternyata ini nggak terlalu berguna ketika kita mesti mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus. Bikin saya capek dan stres. Saya harus menyadari bahwa tidak semua pekerjaan bisa dikerjakan sekaligus dan mestinya saya belajar mencicil pekerjaan supaya semua bisa dibereskan dalam waktu yang tepat.
Contohnya begini, saya dari dulu nggak terbiasa menulis buku sekaligus mengerjakan gambar. Kalau sudah menerima orderan ilustrasi, saya akan fokus di pekerjaan ini sampai beres. Memang benar, kalau fokus jadi cepat selesai. Namun, cara ini nggak bisa saya lakukan kalau saya punya lebih dari satu pekerjaan.
Waktu saya mesti merampungkan naskah dan membuat ilustrasi untuk buku lain, saya belajar mencicil pekerjaan. Pagi-pagi sebelum Subuh saya menulis beberapa halaman untuk naskah saya, sedangkan siangnya saya mencicil ilustrasi. Sebulan itu saya melakukan hal yang sama setiap hari dan Alhamdulillah, dua-duanya rampung.
Andai saya hanya fokus mengerjakan satu hal dulu, saya nggak yakin target saya bakalan selesai tepat waktu. Mungkin agak molor-molor dikit...hehe.
Nah, cara ini bisa kita terapkan. Di sela-sela kesibukan mengurus rumah, sempakant menulis meski hanya sedikit. Mencicil setiap hari lama-lama akan jadi bukit, lho. Nggak berat, kok asal kita senang mengerjakannya. Makannya pastikan kamu benar-benar suka menulis sebelum memutuskan jadi penulis.
Membuat Target
Berapa lama kamu akan menyelesaikan naskahmu? Sebulan? Dua bulan? Buatlah target sesuai kemampuan dan kerjakan dengan konsisten. Jika ditanya apakah sibuk dan capek? Semua orang juga sibuk dan capek, sih. Tinggal bagaimana kita mau melakukannya atau tidak.
Target dibuat supaya memudahkan kita supaya mau disiplin waktu. Kalau sehari mesti mengerjakan dua halaman, kerjakan dua halaman atau lebih. Lakukan secara terus menerus sampai naskahmu selesai.
Bukankah buku yang bagus adalah yang sudah selesai ditulis? Bukan hanya yang selesai diangankan apalagi hanya dibayangkan. Nggak ada kriteria naskah bagus atau nggak. Ini soal proses. Makin hari akan semakin bagus. Bertambah hari, bulan, hingga tahun, yakin deh tulisan kita akan ada peningkatan kualitas asal tetap mau menulis, membaca, dan terus belajar. Seperti itulah kata bang Tere Liye :D
Menjadi penulis merupakan hal yang membahagiakan, tapi jangan hanya jadi gaya-gayaan. Kalau kita bisa menikmatinya, insya Allah ada banyak hal yang bisa jadi pembelajaran. Memang butuh sabar, apalagi kalau masuk jalur penerbit mayor. Menunggu buku terbit hingga bertahun-tahun itu lumrah dialami semua penulis. Jangan takut, jika sudah jadi rezekimu, insya Allah bukumu akan terbit juga. Banyak-banyak sabar, ya :)
Salam hangat,
Friday, August 5, 2022
Kenapa Harga Ilustrasi Itu Mahal?
![]() |
| Photo by Sorin Gheorgita on Unsplash |
Sedikit cerita, kemarin sempat bahas tentang harga ilustrasi dengan teman sesama ilustrator. Rata-rata calon klien yang baru tahu dan pengin pakai jasa kami kaget dengan harga satu halaman ilustrasi untuk buku sejenis picture book. Mereka kira harga ilustrasi itu murah meriah dan tidak butuh biaya banyak untuk membuat buku picture book. Namun, faktanya harga yang kami tawarakan nggak sesuai dengan harapan. Terus piye?
“Sudah capek-capek upgrade ilmu, tapi malah dibayar murah? Emmoh!”
Begitu kata salah satu ilustrator ketika gambarnya dihargai sangat murah. Kebanyakan orang masih kurang menghargai jasa ilustrator dan mungkin belum sepenuhnya menganggap bahwa membuat gambar itu juga pekerjaan yang tidak mudah. Walaupun ngerjainnya di rumah, bukan berarti bisa disambi leyeh-leyeh sesuka hati apalagi sambil malas-malasan. Saya pribadi merasa membuat gambar ini lebih menguras waktu dan tenaga ketimbang menulis buku. Kayak capeknya berasa banget.
Untuk membuat satu halaman bergambar, kita nggak bisa kerjain sambil sat set sat set. Apalagi jika belum ada deskripsi gambar dari penulis, kita mesti mikir sendirian. Biasanya, penulis sudah menyertakan naskahnya dalam bentuk tabel dan deskripsi ilustrasi sehingga hasilnya nggak terlalu jauh dari keinginan dan bisa meringankan pekerjaan ilustrator juga.
Kenapa Harga Ilustrasi Itu Mahal?
Kenapa, ya kira-kira? Saya hanya ilustrator kemarin sore, benar-benar baru masuk di dunia ilustrasi digital. Baru dua tahun terakhir saya mengerjakan gambar-gambar untuk klien baik dalam maupun luar negeri. Namun, saya juga berjuang untuk sampai di titik ini. Mulai dari upgrade skill, keluar modal untuk alat tempur yang nggak murah, ide, waktu, dan juga tenaga. Apalagi bagi mereka yang menjalani pendidikan formal, semua tidak mudah. Gimana masih bisa bilang kok mahal banget, sih?
Coba deh bayangkan membuat ilustrasi itu nggak pakai alat yang bisa menyulap keinginan sekali jadi. Seperti bim salabim gitu. Kita benar-benar menggambarnya dari awal. Mulai dari halaman kosong sampai jadi sketsa dan diwarnai dengan detail. Wow banget lho ngerjain gambar itu. Walaupun kita senang mengerjakannya, tetap saja memang ini kerjaan yang lumayan capek…hihi.
Bagaimana Menentukan Harga Ilustrasi?
Banyak orang bertanya tentang cara menentukan harga ilustrasi. Saya pribadi kurang jago dan masih selalu takut-takut saat menentukan harga. Biasanya saya bertanya kepada teman supaya harga yang saya tawarkan tidak terlalu mahal. Karena sangat mungkin ada calon klien yang benar-benar baru mengerti dunia ilustrasi dan nggak tahu harga pasaran di luar berapa. Jadi, jangan sampai harga yang kita kasih kemahalan.
Menentukan harga ilustrasi bisa dilihat dari kualitas gambar kita. Kita sangat tahu dan bisa menerka harga yang pantas berapa. Seberapa detail gambar yang diinginkan? Makin detail makin mahal karena butuh waktu lebih lama untuk mengerjakannya. Sampai lupa masak dan nyuci kalau ngerjain beginian tuh…kwkwk.
Di luar sana, ada ilustrator pemula yang ngasih harga sangat tinggi, tapi ada yang sudah bagus gambarnya masih ngasih harga sangat murah meriah. Jadi, semua dikembalikan lagi ke masing-masing orang.
Jika ada calon klien yang baru tanya-tanya soal harga, kemudian dia hilang entah ke mana, ya nggak masalah, berarti dia bukan target pasar kita. Mungkin dia merasa harga yang kita tawarkan terlalu mahal. Nggak masalah, kan? Rezeki kita bukan ada di dia. Iya, dia…eaaa.
Hal-Hal yang Harus Diperhatikan Saat Menerima Pesanan Ilustrasi
Sebelum menerima pesanan gambar, ada baiknya kita menentukan juga jumlah maksimal revisi. Jangan sampai kita mabok karena revisi yang tak terhingga. Ini penting banget karena jujur capek kalau mesti revisi bolak balik, tuh :(
Apalagi terkadang ada klien yang kurang baik attitude-nya, ada yang super rewel dan sering ganti-ganti idenya. Sudah dibuatkan sesuai keinginan pertama, kemudian dia pengin ganti lagi yang berbeda 180 derajat dari gambar pertama. Kalau kita nggak ngasih batasan, bisa nggak kelar-kelar kerjaan, lho.
Ada juga yang bisa dipertimbangkan, misalnya saja ada klien yang pesan gambar, tapi dia mau sesuai sama budget-nya. Bisa banget kita terima sesuai kemampuan dan kesediaan kita. Dengan harga segitu, kita bisa buat gambar yang lebih simpel, lebih sederhana dari gambar-gamabr dengan harga di atasnya.
Jadi ilustrator itu kelihatannya memang gampang. Apalagi kalau hanya lihat reels di Instagram saat menggambar. Sat set sat set. Coba pergi ke belakang layar dan lihat secara langsung prosesnya…hehe.
Ngerjain ilustrasi dan ambil pesanan gambar terkadang nggak melulu tentang uang yang didapatkan, tapi juga kita lihat dari pengalaman belajarnya. Dengan mengerjakan proyek A, kita jadi banyak pengalaman dan melatih skill juga. Nggak ada ruginya. Namun, kita juga harus belajar yang lainnya, termasuk soal menentukan harga. Nggak mungkin juga, kan kita terus-terusan ngerjain pesanan ilustrasi pakai harga saudara yang free-nya sampai tujuh turunan? Ngeri…hihi.
Salam hangat,
Friday, March 25, 2022
Perjalanan Sebuah Naskah Hingga Terbit Menjadi Buku
![]() |
| Photo by Clay Bank on Unsplash |
Salah satu tema yang cukup sering dibahas di blog ini, tapi masih banyak banget yang suka dm dan nanyain di Instagram. Buat teman-teman yang baru menulis buku atau malah benar-benar baru mau menulis, mungkin postingan ini cukup berguna.
Saya mulai menulis sejak SMA. Bukan menulis buku kemudian dicetak, tapi benar-benar menulis di buku tulis dan buku harian. Apa saja yang ditulis saat itu? Mulai dari cerpen sampai curhatan. Entah kenapa sejak dulu suka aja nulis di buku harian. Ngerasa lega aja.
Hobi ini berlanjut sampai akhirnya saya bisa benar-benar menjadi penulis seperti sekarang. Kalau dibilang mudah, jawabannya nggak. Kalau dibilang cepat, sekali lagi nggak banget…kwkwk. Butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa seperti sekarang. Butuh mengambil jeda beberapa tahun sampai akhirnya yakin bahwa passion saya memang di bidang ini.
Gimana, yakin, masih mau jadi penulis? Kalau sudah mulai goyah, skip aja baca postingan ini, ya :D
Proses Menulis Naskah
Menulis naskah ini nggak gampang. Karena sebagai penulis, baik pemula atau bukan, sering kita memikirkan banyak ide untuk dijadikan buku. Masalahnya, kita nggak akan pernah selesai jika semua ide dituangkan dalam tulisan secara bersamaan. Baru menulis outline untuk satu ide, kita tergoda ngerjain outline untuk ide lainnya. Baru separuh kelarin naskah, eh kita tergoda lagi buat ngerjain ide berikutnya. Kalau seperti ini, naskah kita nggak akan pernah kelar.
Sekadar saran, kalau belum terbiasa menulis beberapa buku sekaligus, sebaiknya pilih fokus menulis hanya untuk satu ide saja. Nggak usah dobel-dobel sampai lupa napas…kwkwk.
Naskah yang bagus memangnya naskah yang seperti apa, sih? Jawabannya adalah naskah yang sudah selesai ditulis sampai halaman akhir. Bukan yang masih di angan-angan. Bukan yang berupa outline aja. Bukan juga yang akhirnya terbit juga. Namun, yang benar-benar telah kamu rampungkan sampai akhir.
Tulislah naskah sampai selesai. Mulai dari outline sampai profil penulis. Lengkapi naskahmu dengan blurb dan sinopsis. Juga target pembaca dan prakata. Saya pribadi lebih suka menulis selengkap mungkin supaya ketika diterima, kita nggak akan bolak balik mesti kirim kekurangannya. Seperti profil penulis, blurb juga. Jadikan saja dalam satu file sehingga editor akan jauh lebih mudah ketika me-review naskah kita dan memprosesnya.
Belajar Self Editing
Jangan berharap editor akan memberi tahumu mana tulisan yang typo atau nggak sesuai sama KBBI. Mungkin ada yang berbaik hati menjelaskan kesalahanmu di mana, tapi sebagian besar nggak akan repot-repot menjelaskan tentang itu.
Jadi penulis bukan hanya tentang kita bisa menulis saja, tapi juga mesti tahu kaidah penulisan yang benar. Semua ini bisa kita pelajari sambil jalan. Kita bisa cari di Google bagaimana penulisan ‘di’ yang dipisah dan mana yang mesti disambung. Kita harus belajar self editing tanpa harus diminta oleh siapa pun. Karena editor nggak akan mau capek-capek benerin typo yang jumlahnya banyak, apalagi kalau nggak rapi, mending di-skip saja naskahnya.
Kalau sudah begini, nanti kitanya juga yang rugi, kan? Jadi, pelajari semua hal yang dirasa perlu. Jangan malas-malas mencari tahu. Buka aja di Google, pasti banyak banget informasi yang kamu butuhkan.
Kebanyakan bertanya kadang bikin gemes, sih. Sejujurnya, saya nggak suka sama orang yang nanya kebanyakan, tapi nggak mau baca kalau dikasih link informasinya. Benar-benar sampai dianterin lho link-nya. Tinggal dibaca. Tapi, katanya pusinglah, bingunglah. Terus mau kamu apa? :(
Ajukan Naskah Lengkap
Kebanyakan penerbit hanya menerima ajuan naskah lengkap. Jadi, pastikan naskah kamu benar-benar sudah rampung sampai akhir. Nggak apa capek di depan, nanti tinggal diajukan. Daripada banyak bikin outline, tapi nggak ada satu pun yang kelar?
Kita juga nggak boleh mengajukan satu naskah pada beberapa penerbit sekaligus dalam waktu yang sama. Ini merupakan salah satu hal yang perlu penulis ingat betul-betul. Jangan karena nggak sabar atau mau sekalian beres, kita jadi kena blacklist sama penerbit. Jadi penulis juga mesti tahu tata krama, ya.
Menunggu review dari editor itu memang nggak sebentar. Ada yang maksimal hanya tiga bulan, tapi ada juga yang sampai satu tahun belum dikasih kepastian. Benar-benar belajar sabar, kan?
Jika sampai tiga bulan naskahmu belum direspon, kamu bisa menanyakannya kembali atau menariknya. Menarik naskah harus disampaikan secara langsung kepada editor, jangan dalam hati, ya? kwkwk.
Setelah Naskah di-ACC, Kita Mesti Ngapain?
Setelah naskah diterima, kita mesti menunggu antrean naskah terbit. Poin ini mesti benar-benar kamu cerna baik-baik. Menunggu naskah terbit apalagi di penerbit mayor, ternyata nggak bisa dikatakan cepat. Seperti nggak bisa dipastikan waktunya. Ada yang duluan, ada yang belakangan.
Beberapa naskah saya bahkan ada yang belum terbit setelah menunggu sekitar empat tahun. Padahal semuanya sudah lengkap. Kita nggak bisa maksa juga. Nggak bisa seenaknya menarik naskah juga apalagi kalau penerbit nggak bilang batalin terbit. Hanya menunggu antrean yang subhanallah :)
Nah, solusinya gimana biar nggak kepikiran terus? Lanjut menulis naskah baru daripada jadi tim galau…kwkwk.
Yeay! Akhirnya Naskahmu Terbit!
Ini adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh semua penulis. Seperti orang melahirkan, rasanya lega banget ketika tahu naskah kita sudah lahir di toko buku Gramedia…kwkwk. Hilang sudah capek lelahnya ngerjain naskah dan lamanya menunggu.
Proses seperti yang telah saya jelaskan dari awal sampai akhir di postingan ini berlaku jika teman-teman menerbitkan buku di penerbit mayor. Kalau mau menerbitkan buku sendiri di penerbit indie, tentu nggak akan serepot ini asal teman-teman mau membayar.
Sebagian orang belum mengerti, mengira terbit buku di penerbit mayor harus mengeluarkan uang. Jawabannya nggak, ya. Justru kitalah yang dibayar. Baik itu berupa royalti setiap enam bulan sekali atau jual putus.
Jadi, proses dari mulai menulis naskah sampai terbit kira-kira butuh berapa lama? Nggak bisa dipastikan karena setiap naskah punya ceritanya sendiri. Mereka punya perjalanannya masing-masing yang nggak bisa disamakan. Ada yang cepat, ada yang luama pake banget.
Salah satu saran yang bisa saya sampaikan, bersabarlah ketika menjadi penulis. Penulis yang konsisten bukan berarti selalu menulis setiap hari, tapi yang terus melakukannya meskipun nggak setiap hari mengetik naskah. Kadang, ada saatnya kita ambil jeda, istirahat bentar. Nggak masalah. Itu menurut saya, ya? Karena saya nggak setiap hari mengetik juga apalagi kalau mesti mengerjakan ilustrasi. Namun, keinginan buat menulis akan muncul terus menerus dan saya akan kembali menulis. Insya Allah.
Jadi, jangan merasa bersalah jika sehari nggak nulis. Setiap orang punya caranya masing-masing. Ada yang bisa setiap hari, ada yang nggak harus setiap hari. Bu Arleen A dalam bukunya juga mengatakan bahwa beliau bukan termasuk penulis yang disiplin, tapi semua orang tahu kalau beliau adalah penulis yang produktif.
Aku sendiri sebenarnya bukan tipe penulis yang disiplin. Namun, aku percaya bahwa jika sebuah cerita memang patut diceritakan, dia tidak akan pernah diam sampai dirinya dituliskan. Pada suatu titik, dorongan menulis itu akan begitu kuat dan menempatkan si cerita di atas segalanya dalam skala prioritas. Sepetri itu yang biasanya terjadi padaku.
(Buku Belajar Menulis Cerita Anak – Arleen A/ hal 29)
Semoga kamu bersabar dengan impianmu, ya. Doakan saya juga :)
Salam hangat,
Sunday, March 20, 2022
Review Buku What’s So Wrong About Your Self Healing
| Foto: Dok pribadi |
Jarang-jarang nge-review buku bacaan sendiri di blog kecuali yang benar-benar saya suka. Iya, yang saya suka pake banget. Dan kali ini, saya mau me-review salah satu buku paling menarik rasanya seumur hidup saya…kwkwk. Yeay, ini adalah salah satu buku dari Ardhi Mohamad. Sepertinya ini bukan buku pertama yang ia tulis, tapi ini buku dia yang pertama saya beli dan baca sampai tuntas.
Buku-buku bertema self healing akhir-akhir ini menjamur banget, kan? Beberapa kali saya membeli buku-buku bertema sejenis, tapi sepertinya ini yang terbaik. Waktu baca sampai panas mata karena related banget dengan kehidupan saya selama ini.
Buku berjudul What’s So Wrong About Your Self Healing ini menarik banget dan sejujurnya ada part yang nggak bisa saya tebak. Saya kira buku ini membahas yang begitu-begitu saja, tapi nyatanya makin ke bab-bab akhir, makin serius dan berhubungan soal kita dalam beragama.
Saya mau membahas beberapa bab yang saya rasa related banget dengan kehidupan saya, sampai-sampai bikin mata panas dan beneran nangis!
Kekecewaan Kita pada Orang Tua
Sebenarnya, semua masih baik-baik saja sampai akhirnya saya menjadi seorang ibu. Memiliki anak ternyata bukan sesuatu yang mudah terutama bagi orang yang punya trauma di masa kecil. Ada banyak hal tiba-tiba muncul di luar kendali yang sebelumnya nggak pernah terjadi. Ada perasaan gagal jadi orang tua, benci sama diri sendiri, sampai menyalahkan masa lalu. Ingatan masa kecil yang kurang menyenangkan berkelebat satu demi satu. Yang dulunya itu bukan masalah, tiba-tiba jadi musibah.
Dan itu berjalan begitu lama sampai mungkin saya pernah merasa kecewa berat pada orang tua karena saya yang sekarang tak lepas dari masa lalu terutama di masa kecil.
Apa yang saya lihat dari orang tua dulu, tiba-tiba saya lakukan tanpa disadari. Dan itu buruk.
Namun, makin menyalahkan orang tua dan menjadikannya kambing hitam ternyata nggak menyelesaikan masalah. Saya pernah ada di titik merasa diri ini nggak normal, lho. Kayak nggak wajar aja. Sakit banget rasanya.
Pelan-pelan saya sadar bahwa masa kecil yang kurang menyenangkan tak seharusnya dibenci dan disesali. Takdir Allah bukannya nggak pernah salah, kan? Saya memutuskan memaafkan semuanya. Iya, semuanya. Sesuatu yang mungkin orang tua lakukan tanpa sengaja karena mereka juga nggak ngerti. Sesuatu yang membuat saya terluka, tapi mereka nggak sadar bahwa itu cukup menyakitkan buat saya. Sebab menjadi orang tua bukanlah hal mudah. Nggak ada sekolahnya. Apalagi orang tua zaman dulu, jangankan mikirin ilmu parenting, buat makan dan bayar SPP aja perjuangan banget, sih.
Pola asuh orang tua terhadap kita berpengaruh besar terhadap diri kita hari ini.
(What’s So Wrong About Your Self Healing, hal 14)
Orang tua adalah hubungan pertama kita. Ikatan emosional pertama yang seharusnya berhasil.
(What’s So Wrong About Your Self Healing, hal 15)
Namun, ada poin yang bisa saya simpulkan waktu itu. Bahwa, mungkin orang tua saya yang seperti itu juga korban dari orang tuanya dulu. Kemudian bayangan yang kurang menyenangkan berkelebat lagi. Bagaimana orang tua saya dibesarkan dengan cara yang 'kurang tepat' terutama buat kesehatan mentalnya. Yang pada akhirnya membuat mereka melakukan hal yang hampir sama pada anak-anaknya, termasuk saya. Dan semua itu membuat saya merasa kasihan kepada mereka. Gimana mereka bisa menjalani semuanya hingga hari ini, itu pasti perjuangan banget.
Buku ini pun menjelaskan hal yang hampir serupa. Itulah kenapa saya merasa apa yang dibahas benar-benar related banget dengan saya hari ini dan kemarin.
Dikutip dari halaman 26,
Orang tua kita juga kesulitan, tapi mereka sudah berusaha.
Terima kasih sudah membahas part ini. Bagian ini dalem banget sih buat saya meskipun saya sudah melewati semuanya dan benar-benar sudah berdamai dengan semua itu. Tetap saja masih nyesek kalau ingat. Apalagi ingat bagaimana orang tua harus bersusah payah antara mendidik dan memenuhi kebutuhan hidup kami yang waktu itu memang cukup sulit.
Nulis bagian ini aja sambil nangis banget. Ternyata menjadi orang tua itu nggak mudah. Dan saya tahu, orang tua saya sudah berusaha yang terbaik dengan masa kecilnya yang nggak indah.
Merasa Nggak Punya Teman
Entah kenapa, di usia-usia bahkan sampai sedewasa hari ini, kadang kita merasa ditinggalkan dan nggak diajak…kwkwk. Apalagi saya termasuk orang yang mereka sebut terlalu polos, terlalu baik, sampai-sampai sering banget dimanfaatin…huhu.
Tapi, Ibu saya saja bilang begitu…kwkwk. Dan saya benar-benar mengalami banyak hal menyakitkan soal pertemanan. Karena saya selalu berharap orang-orang juga sebaik saya saat berteman. Kemudian pada suatu hari saya dikecewakan sampai dibohongi. Ini terjadi saat saya mau melanjutkan ke SMA. Pertama kalinya patah hati soal teman baik yang sering kita sebut sahabat.
Saat itu juga saya memutuskan untuk pergi melanjutkan sekolah tanpa seorang teman yang saya kenal. Awalnya saya nggak pernah ngebayangin harus melanjutkan sekolah sendirian saking selalu bergantungnya saya sama orang lain. Saking merasa sepercaya itu saya sama teman. Saya terlalu takut sendirian. Nyatanya, saya punya teman-teman baru yang nggak kalah asyik dan menyenangkan, kok setelahnya.
Di part ini, penulis membahasa tentang loneliness. Menurut penulis, ini adalah fase pembelajaran. Bahwa sebagai manusia, nggak bisa selalu bersama. Akan ada waktunya renggang, menjauh, berpisah (hal. 92)
Bahkan sekarang saya nggak bisa lagi menaruh percaya terlalu besar terutama kepada teman. Pernah kejadian beberapa tahun lalu dan itu benar-benar bikin trauma sih di usia sedewasa hari ini. Bayangkan, udah jadi emak-emak, tapi pernah nangis kejer dan trauma berat sampai takut punya teman gara-gara satu orang yang dulu disebut sister fillah…kwkwk.
Pada akhirnya saya memahami bahwa, nggak berteman bukan berarti benci banget, mungkin kita memang nggak cocok, sih. Lebih cocok nggak saling kenal aja *lol
Dan sekarang, ya sudah. It’s okay. Itu akan jadi pelajaran yang benar-benar berharga buat saya sampai hari ini :)
Jangan bergantung sama manusia, nanti kamu sakit :(
Catet, ya...kwkwk.
Kok, Sensitif Banget, sih? Ah, Lebay dan Baperan!
Semua relationship dalam hidup kita adalah hasil dari kita mencoba untuk mencari apa-apa yang hilang dari relationship kita dengan orang tua.
(What’s So Wrong About Your Self Healing, hal 131)
Pernah ada orang yang menyebut saya terlalu sensitif dan baperan. Dia benar. Saya pernah jadi orang sesensitif dan sebaperan itu. Dan saya menerima kekurangan saya. Nggak apa-apa. Ini adalah perjalanan, mustahil saya sempurna dalam satu hari :)
Pada halaman 133, buku ini membahas tema yang sama. Menurut penulis, semua itu ada hubungannya dengan attachment kita pada masa lalu dan dengan orang tua. Apakah waktu kecil kita dihargai? Apakah kita mendapatkan kasih sayang yang cukup?
Saya termasuk orang yang mudah cemas. Saya pernah membahas ini pada postingan lain dalam blog ini. Saya pernah mesti duduk di kereta, tapi beda gerbong dengan suami waktu itu. Tahunya pas udah di stasiun. Itu pun setelah kami menempuh perjalanan dari Jakarta ke Bandung. Kemudian rencana dari Bandung kami lanjut ke Malang. Jadi, ini kondisi udah capek, malah mendengar sesuatu yang nggak saya harapkan.
Di stasiun, isi kepala saya nggak bisa dikendalikan lagi. Takut, cemas, sampai menangis di stasiun. Namun, waktu itu saya memutuskan untuk menarik napas dalam dan mulai mengatakan pada diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Saya nggak serta merta bisa melakukan ini sendiri. Cara ini saya dapatkan dari hasil membaca buku juga waktu itu. Dan beneran berhasil.
Jadi, banyak hal memang muncul begitu saja tanpa bisa kita kendalikan. Iya, nggak semuanya bisa setenang dan nggak sesensitif dirimu, bestie…kwkwk. Semua itu adalah sebab akibat juga. Gimana pengalaman hidupnya, juga masa lalunya terutama dengan orang tuanya. Jadi, lebih baik mungkin kita nggak asal nge-judge seseorang karena kamu nggak pernah tahu seperti apa perjalanan hidupnya.
Coba Lebih Dekat Sama Allah
Di part akhir memang membahas soal kedekatan kita pada Allah. Karena pada akhirnya, hanya Allah yang nggak akan pernah meninggalkan kita. Ini part yang nggak nyangka bakalan ada dalam buku ini, sih.
Tapi, ya semua itu memang akan saling berhubungan dan justru intinya ada di bagian ini.
Kenapa sih kita sering kecewa? Ya, karena kita bergantung sama orang, bukan sama Tuhan.
Ketika kita merasa nggak cukup dengan diri sendiri, ada Allah yang nggak menilai kita dari rupa dan harta kita, melainkan isi hati kita.
(What’s So Wrong About Your Self Healing, hal 256)
Mungkin itu aja karena postingan ini sudah terlalu panjang...hehe. Waktu baru pertama baca bab-bab awal, saya langsung bilang ke teman, kamu wajib sih beli buku ini. Berasa saya sales, kan? Kwkwk. Tapi, asli buku ini memang worth it banget buat kamu miliki. Mungkin karena penulis punya pendidikan dengan background yang sama seperti apa yang ditulisnya. Bukan orang yang asal bahas. Nggak salah kalau bukunya laris dan sering saya lihat banyak juga yang me-review.
Terima kasih sudah menulis buku sebagus ini :)
Salam hangat,
Monday, February 14, 2022
Anak Tidak Suka Membaca? Sudah Saatnya Penulis Membuat Buku Ramah Cerna!
| Photo by Mael Balland on Unsplash |
Semalam, saya mengikuti zoom terakhir untuk program magang bersama pak Bambang Trim. Materi telah diberikan selama beberapa minggu. Dan sejujurnya, ini kelas materinya terbaik, sih. Beliau sudah sangat senior dalam bidang kepenulisan. Bukan hanya soal usia, tapi memang benar-benar ahli di bidangnya.
Waktu beliau mulai menulis buku, saya baru lahir. Kebayang banyak sekali hal yang tidak saya tahu. Ibaratnya, saya ini masih bayi yang baru lahir kemarin sore. Saya sedang ada di dunia kepenulisan, sedang belajar, dan qadarallah ketemu sama beliau. Penjelasan mengenai materi terutama tentang buku ramah cerna sangat mudah dipahami. Tentu saja, baru kali ini saya belajar membuat buku semacam ini.
Untuk mencari contoh buku ramah cerna memang cukup sulit ditemukan di Indonesia. Kebanyakan pak Bambang memberikan contoh buku-buku luar negeri. Itulah alasan kenapa saya sempat membeli buku satu set dari Roald Dahl. Beliau sempat merekomendasikan buku-buku ini sebagai contoh bacaan sastra anak yang bagus untuk dipelajari oleh penulis buku anak.
| Minus satu buku karena sedang dibaca anak-anak (Dok pribadi) |
Bagi yang tertarik, coba cari di marketplace gitu. Buku bisa dibeli satuan atau satu paket. Satu paket berisi 18 buku seharga 500an ribu. Untuk jumlah buku sebanyak itu, lumayan terjangkau, sih. Ini bukan promosi, ya. kwkwk. Daripada ada yang tanya, kan? Sekalian saya bantu jawab sesuai pengalaman saja…hehe.
Namun, di Ipusnas saya sempat menemukan buku ramah cerna, tapi memang kalimatnya masih pakai ketentuan yang lama. Seperti untuk pembaca jenjang A belum menggunakan titik dan koma. Sedangkan untuk ketentuan yang baru, penggunaan titik, koma, bahkan huruf kapital sudah diperbolehkan.
Benar-benar hal yang baru sih buat saya. Setelah sekian lama menulis, ikut banyak kelas menulis buku anak, tapi mungkin baru kali ini dapat materi yang berbeda dan benar-benar daging sekali.
Apa Itu Buku Ramah Cerna?
Teman-teman tahu nggak, sih? Ternyata, buku-buku anak yang saat ini banyak beredar di Indonesia benar-benar nggak sesuai sama kemampuan baca anak-anak. Saya merasa beruntung karena anak-anak saya senang membaca sejak dini. Bahkan yang sekarang TK B sudah nyandu banget membaca buku, masya Allah. Namun, anak-anak lain belum tentu seperti dia. Ada yang masih kesulitan membaca, kemudian mendapatkan buku yang menurut orang dewasa menarik dan cantik, tapi sulit dimengerti oleh anak-anak.
Buku-buku jenis picture book yang sekarang banyak kita beli, ternyata konsepnya nggak sesuai dengan buku ramah cerna. Contoh kecilnya saja tentang ilustrasi dan penempatan teks. Untuk buku ramah cerna, gambar akan diletakkan di samping kanan atau kiri saja. Teks akan dibuat terpisah dari gambar. Jadi, jika di kanan ada gambar, di sebelah kiri ada teks. Teksnya juga nggak banyak. Hanya beberapa baris dan belum berbentuk paragraf.
Sedangkan jika buku dibuat dengan ilustrasi spread atau menyebar, teks akan ditempatkan statis. Kalau teks ada di sebelah kanan, seterusnya harus ditaruh di sisi yang sama. Gimana, udah kebayang belum, sih?
Sedangkan buku-buku yang kebanyakan beredar nggak demikian konsepnya. Rata-rata buku yang saya beli, ilustrasi berupa spread dan teks diletakkan di mana saja asal muat. Sebagai ilustrator kemarin sore, jadi ikutan ketampar…kwkwk.
Tingkat Literasi di Indonesia Sangat Rendah
Tahu nggak, sih kenapa tingkat literasi di Indonesia ini sangat rendah? Karena anak-anak tidak menemukan bacaan yang tepat. Buku-buku ramah cerna bagi kita orang dewasa nggak menarik, tapi bagi anak-anak sangat membantu untuk belajar membaca. Gambarnya hanya sedikit dan sederhana, tapi sudah diteliti, kalau konsep buku ramah cerna adalah yang terbaik bagi usia mereka.
Buku-buku anak di Indonesia terbitnya sangat banyak, lho. Berbeda dengan di luar negeri yang cukup terbatas, tapi sangat ketat seleksinya. Saya pernah mendengar tentang ini sebelumnya, tapi lupa sumbernya. Bantu koreksi jika saya salah, ya :)
Setelah belajar di kelas pak Bambang Trim, saya jadi melihat-lihat buku-buku yang sudah pernah saya beli. Sebagian besar memang nggak sesuai dengan konsep buku ramah cerna. Nah, pak Bambang pengin mengubah yang salah ini menjadi benar dengan menghadirkan buku-buku ramah cerna. Bayangkan, kesalahan seperti ini telah dilakukan selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun, ngubahnya gimana? Pelan-pelan pastinya. Dan harus disosialisasikan supaya ada lebih banyak penulis membuat buku yang sesuai dengan kemampuan baca anak.
Buku Anak-anak Lebih Sulit Dibuat Daripada Skripsi
Gimana, gimana? Para ahli sastra menyebutkan bahwa buku anak-anak jauh lebih sulit dibuat ketimbang skripsi. Dan faktanya, memang betul…kwkwk.
Bayangkan, dalam buku ramah cerna, kita dibatasi oleh jumlah kalimat, diksi, dan paragraf. Kita nggak bisa bikin paragraf untuk buku jenjang A misalnya. Kita nggak boleh menulis lebih dari empat kalimat dalam satu halaman. Dalam satu kalimat hanya ada beberapa kata. Sedangkan ada banyak hal yang mau kita ceritakan. Kita nggak leluasa, tapi kita harus ikuti aturan.
Bikin bukunya hanya sebentar, tapi mikirnya bakalan lama. Penelitiannya pun nggak bisa sembarangan asal jadi. Nggak bisa. Harus benar-benar diteliti, sumbernya nggak boleh seluruhnya dari internet. Nah, lho. Rumit, kan?
Meskipun saya belum bisa membuat buku ramah cerna yang sesuai, tapi saya benar-benar terbantu dengan materi yang diberikan oleh pak Bambang dalam kelas beliau kemarin. Belajar juga untuk jadi penulis yang rendah hati meski sudah di atas awan. Jangan sampai masih di bawah, tapi tingkahnya udah di atas awan, ya? kwkwk. Beliau benar-benar mencontohkan bagaimana menjadi penulis yang seharusnya :)
Kelas menulis buku anak sekaligus program magang yang sudah berjalan sebulan benar-benar memberikan kesan yang sangat baik. Bagaimana sebagai penulis kita nggak boleh berhenti belajar. Karena ketika kita sudah merasa pintar, maka saat itu kita nggak mau belajar lagi. Dan tentu saja, kita bukan jadi orang pintar melainkan bodoh :(
Program magang ini sekaligus memberikan kesempatan kepada para peserta untuk menulis buku anak ramah cerna. Kami belajar membuat outline dan membuat naskah yang baik dan benar. Buku-buku ini nantinya juga akan diterbitkan oleh penerbit mayor, insya Allah.
Semoga ke depannya saya bisa lebih banyak belajar lagi. Belajar lagi dan lagi. Nggak masalah nggak punya kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang tinggi, asal belajarnya juga nggak berhenti. Semangat untuk diri saya sendiri...huhu.
*Artikel ini dipilih untuk dimasukkan dalam kampanye "Read A Book Day 2024" dari penerbit bahan ajar pendidikan Twinkl.
Hey there!
Part of


.jpg)

.jpg)



.jpg)
.jpg)


%20(1).png)
%20(1).png)
%20(1).png)
%20(1).png)
%20(1).png)