Top Social

Cara Menulis Banyak Artikel Hanya dalam Sehari



Kemarin sempat ada yang meminta topik satu ini dibahas. Tapi, sebelumnya saya juga mau cerita lebih dulu, kenapa tiba-tiba ada pertanyaan seperti itu. Bisa jadi karena saya sempat bercerita tentang jumlah artikel saya di media yang sudah lebih dari 1000 artikel dan masih sempat ngisi blog juga dalam setahun terakhir.

Artikel terbanyak saya ada di UC News. Platform satu ini memang menjadi media pertama yang saya coba. Jadi, baru belajar nulis artikel memang ketika bergabung bersama UC News. Yap! Saya paham, platform satu ini penuh dengan kontroversi. Yang artikel orang dicopaslah, judul nggak sesuai sama isi, dan fee tidak dibayarkan. Untuk fee yang tidak cair, saya pribadi hanya mengalami sekali. Selebihnya, Alhamdulillah lancar.

Nah, artikel saya yang jumlahnya 1000 itu saya kumpulkan dari menulis harian yang biasanya dikerjakan sehari maksimal hanya bisa kirim 5 artikel di UC News (jika sudah mencapai poin tertentu). Dan juga dari proyek menulis artikel. Nah, dari proyek ini, saya dibantu juga oleh teman-teman saya dari GSM untuk mengisi. Kalau nggak salah ada sekitar 100an artikel yang mereka bantu untuk beberapa kali proyek. Sisanya saya tulis sendiri semua. Nah, itulah kenapa kok banyak banget artikelnya? Karena dulu saya ngebut nulisnya sebab sedang ikutan proyek di UC News sehingga dalam sehari saya boleh kirim berapa pun yang saya mau dan saya bisa. Jadi, sudah kebayang dong dari mana itu artikel kenapa bisa bejibun? Hihi. Belum di platform lainnya.

Lalu, pertanyaan intinya, gimana kita bisa menulis artikel lebih dari satu dalam sehari? Saya juga bingung dan pengen nanya, kenapa teman-teman tidak bisa melakukannya? Apakah karena kendala waktu, kurang pede, mentok ide atau apa? Minimal menulis artikel cukup 300 kata. Insya Allah dua artikel sehari itu tidak mustahil.

Jika kita sudah biasa menulis, Insya Allah kita pun akan lebih mudah menyelesaikannya. Jadi, kunci pertama yang harus kamu pegang adalah konsisten menulis setiap hari. Karena tanpa melatih kemampuanmu sendiri, mustahil kamu bisa berhasil menyelesaikan tulisan dalam waktu singkat. Sebab menulis itu butuh jam terbang, nggak sekadar suka aja, butuh banget dilatih supaya semakin mahir.

Selain itu, saya coba berikan beberapa tips supaya kamu bisa menulis artikel setiap hari lebih dari satu.

Banyak Membaca Artikel Sejenis
Salah satu cara yang bisa kamu lakukan supaya pandai dan lebih cepat menyelesaikan tulisan adalah dengan banyak membaca jenis artikel yang menarik atau sesuai dengan keinginanmu. Jika kamu ingin menulis artikel untuk platform remaja, sebut saja Hipwee, kamu juga harus membaca artikel-artikel yang terbit di sana. Dengan begitu, kamu sudah ada bayangan dong gimana menyelesaikan tulisan kamu selanjutnya? Gimana membuat sapaan, gimana membuat pembuka dan penutup. Ya, semua ini bukan rahasia, sebab sejatinya memang sering dilakukan, tetapi kadang kamu nggak sadar apa manfaat dari banyak membaca itu.

Sering Berlatih
Nggak ada cara yang lebih baik daripada berlatih secara terus menerus sehingga kamu bisa menguasai rahasia menulis dalam waktu singkat. Jujur saja, beberapa media itu punya karakter sendiri. Artikel bagus belum tentu cocok masuk ke UC News, bisa jadi hanya dihinggapi lalat, semua itu terjadi karena pembaca di sana memang sukanya yang berbeda daripada itu. Kadang artikel simpel, tema ringan justru diserbu pembaca. Begitu juga dengan platform lain, Hipwee misalnya, lumayan susah masuknya karena nggak semua tulisan rapi bisa terbit. Yap! Nggak sekadar rapi saja.

Jadi, kamu harus berlatih dan mempelajari karakter media tersebut. Jika tujuan kamu masuk UC News, tema yang diangkat bisa banyak hal, sayangnya salah langkah dikit saja bisa kena offline. Ada trik-trik tertentu yang harus kamu ketahui ketika masuk ke platform ini dan bertahan di sana demi mengumpulkan dollar.

Luangkan Waktu Untuk Menulis
Bagaimana kamu bisa menyelesaikan banyak tulisan, kalau kamu masih menunda pekerjaan, masih malas meluangkan waktu untuk menulis, minimal buat ngisi blog deh. Gimana kamu bisa menulis lebih dari satu kalau kamu saja enggan memberikan waktu buat diri kamu sendiri?

Jangan menunggu waktu luang, sebab sehari-hari kita memang akan repot nggak ada habisnya. Saya pun merasa capek dan lelah seharian, tetapi saya berusaha meluangkan waktu ketika anak-anak tidur atau sedang bermain bersama ayahnya, saya segera menyelesaikan target. Saya juga nggak sepandai apa mengatur waktu, tapi saya berusaha dan tidak menyerah.

Me time buat saya adalah menulis. Waktu istirahat saya habis untuk menulis, ketika sudah jenuh, saya tidak memaksa. Lebih baik saya ambil jeda, kalau ngantuk saya memilih tidur. Kemudian saya bisa melanjutkan lagi. Ada banyak cara yang bisa kamu lakukan sesuai dengan kemampuan dan kondisi kamu. Jadi, luangkan waktu, meski itu akan mengurangi waktu istirahat dan tidur kamu. Itu jika kamu memang benar-benar ingin melakukannya.

Ikuti Tantangan



Saya tipe orang yang suka mengikuti tantangan. Kalau nggak ada tantangan kadang males mau ngebut nulis. Seperti ketika ada kompetisi, PR kelas menulis dengan deadline, dan keinginan untuk mencoba mengetahui seberapa bisa saya untuk menaklukkan sebuah media.

Dengan ikut tantangan, saya memaksa diri lebih cepat mengerjakan semuanya. Misalnya dalam 3 hari harus nulis 50 artikel, berarti sebelum mulai, saya sudah menyiapkan beberapa artikel sehingga dalam 3 hari hanya mengerjakan separuhnya misalnya. Itu triknya supaya kita mampu.

Untuk bulan Januari 2019, demi membantu para blogger aktif mengisi blognya, Estrilook mengadakan ODOP atau One Day One Post dengan mengisi blog masing-masing selama 31 hari tanpa terputus. Dan cara ini memang terbilang cukup efektif menantang saya dan para blogger lain supaya lebih konsisten mengisi blog. Banyak banget yang ikut ODOP karena telah lama nggak ngisi blognya. Mereka ingin aktif lagi.

Kalau kamu tertarik untuk bergabung, kamu bisa masuk ke FB Grup Estrilook Community. Di sana juga ada blogwalking setiap Senin dan Kamis. Selain bisa ikut kelas bedah artikel (free) setiap dua minggu sekali, kamu juga bisa lebih semangat karena dapat berkumpul dengan orang-orang yang memiliki hobi dan passion yang sama.

Fokus
Saya ini nggak bisa fokus ketika terlalu banyak yang dikerjakan. Saya tidak tahu bagaimana dengan yang lainnya. Kalau saya pribadi, lebih baik saya mengejar satu target saja, baru kemudian ganti target lain jika mau. Dengan fokus, kita bisa mengerjakan lebih banyak artikel karena tidak sibuk ingin membereskan yang lain juga. Pikiran pun tidak terpecah. Dan ingat, jangan tergesa, lakukan dengan senang hati dan nikmatilah.

Ikut Kelas Menulis Online


Saya ini, termasuk orang yang senang banget ikut kelas menulis online. Karena sadar masih banyak kekurangan, jadi saya berusaha memperbaiki dengan banyak ikut kelas. Saya juga nggak pilih-pilih kelas. Selama itu bermanfaat buat saya, buat passion menulis saya, Insya Allah akan saya ikuti. Percayalah, uang yang kamu habiskan untuk kelas menulis itu sejatinya tidak hilang, justru menjadi semakin berkembang dan melekat pada diri kamu.

Dengan ikut banyak kelas menulis, kita jadi mengerti apa yang kurang dari diri kita, dan apa yang salah dan perlu dibenahi. Nah, hari ini Estrilook kembali meluncurkan kelas menulis artikel.

Buat kamu yang ingin ikut, bisa banget mengirimkan email ke muyass04@gmail.com. Kelas diadakan di whatsapp. Materi diberikan selama 3 hari. Sedangkan masa pendampingan diberikan selama dua minggu atau hingga akhir Januari 2019.

Nah, kira-kira itu yang saya lakukan selama ini. Kenapa saya bisa menulis artikel lebih dari satu dalam sehari? Dan kadang masih menulis naskah buku. Nggak ada yang khusus selain keinginan dan usaha yang kuat. Saya percaya, semua usaha yang kamu lakukan akan berbuah manis nantinya. Jangan mudah menyerah, dan kuy, semangat!

Cara Memelihara Kelinci yang Masih Kecil Khusus Buat Kamu yang Masih Pemula



Drama banget ketika memelihara kelinci apalagi yang usianya masih terbilang kecil, yakni usia dua bulan. Kenapa memelihara kelinci saja harus pake drama? Saya mau bercerita dari awal kenapa tiba-tiba di rumah mau memelihara kelinci, padahal saya paling enggan kalau ada hewan di rumah.

Awalnya ketika kami berbelanja ke pasar tradisional dekat rumah, tiba-tiba si sulung merengek minta dibelikan kelinci yang dijual di dekat tempat parkir. What? Sempat kaget dan nolak langsung karena kebayang gimana itu kotoran dan bau pesing dari kencingnya. Hiks. Tapi, ternyata sulung benar-benar pengen, sampai akhirnya dia mau berjanji membersihkan dan memberi makan sendiri. Perjanjian itu dilakukan bersama ayahnya, sedangkan emaknya sudah mau jantungan dan memilih diam daripada akhirnya bawel…kwkwk.

Setelah itu, akhirnya si sulung berhasil membawa pulang seekor kelinci lokal berwarna putih yang usianya sekitar 2-3 bulanan. Wah, saya sih nggak kebayang aja gimana ngurus kelinci, secara ini di Jakarta, mana ada lahan berupa tanah buat ngelepas dia jalan-jalan…haha. Jauh banget bayangan emaknya sampai-sampai super lebay begitu.

Karena melihat si sulung serius dan mau menepati janjinya, akhirnya suami memutuskan membelikan kandangnya juga. Si sulung saat itu berusia tujuh tahun. Ya, usia segitu dia mana pernah mau pergi ke warung untuk membeli apa pun. Jangankan sayur buat emaknya, beli permen buat dia sendiri saja nggak mau. Dan ajaibnya, dia berubah ketika punya kelinci.

Pagi-pagi dia sudah bangun dan segera membersihkan kandang kelincinya. Dia juga nggak ragu lari ke warung untuk membeli pakan bagi kelincinya. Yap! Saat itu karena ketidaktahuan kami, kelinci kecil itu makan wortel dan sawi putih. Di film kartun 'kan memang kelinci makannya wortel…kwkwk.  Mana tahu kalau ternyata itu sangat dilarang karena bikin kelinci diare…hiks.

Saat itu, umur kelinci ini bisa dibilang lumayan lama bersama kami. Nggak cepat sakit, tetapi lama-lama kelihatan kalau dia diare. Tapi, kami nggak pernah tertarik mencari tahu, jadi ya hanya didiamkan, bahkan biar bersih sama suami dimandiin, padahal itu juga nggak boleh, lho. Hiks.

Nggak lama kemudian, si kelinci putih kesayangan sulung ini pun akhirnya mati. Saya dan suami biasa saja. Nggak ada yang aneh karena sebelumnya memang dia tampak sakit. Tapi, hal berbeda terjadi sama sulung. Dia masuk kamar dan nggak nyangka banget dia menangis sedih, bahkan bisa dibilang super sedih. Saya nggak pernah membayangkan dia bakalan sesedih itu, karena selama ini dia anaknya cuek banget.

Kisah si sulung sempat saya ikutkan kompetisi menulis di DIVA Press dan Masya Allah terpilih serta sudah terbit. Bukunya bisa kamu cari di toko buku (baca: nggak lupa promo…kwkwk).



Dan kejadian itu terjadi lama banget. Udah lama banget kandang yang dibeliin ayahnya juga nggak dipakai dan dibiarkan di lantai atas. Sampai berdebu. Hingga suatu hari, saya iseng buka Tokopedia dan nyari-nyari yang jual kelinci. Ternyata banyak, Saudaraa! Si sulung yang ada di sebelah saya langsung heboh minta dibelikan, nggak mau nunda, maksa pake banget, bahkan sampai rela pake uangnya sendiri. Duh, gimana emaknya bisa nolak sedangkan mata dia aja berbinar-binar penuh harap? Hehe.

Kelinci lokal berusi 2-3 bulan dihargai Rp. 45-60 ribu, sama seperti ketika kami beli di pasar tradisional dulu. Sedangkan kelinci berbulu tebal dan mini dutch dihargai Rp. 150 ribu per ekor untuk usia 2 bulanan. Wah, itu emang gambarnya bikin gemas banget, lho. Apalagi yang bulunya sampai menjuntai dan telinganya beda sehingga mirip sama anjing kecil.

Saya mikir gimana milihnya? Kalau yang bulu tebal khawatir susah dirawat, padahalkan sama saja, ya…haha. Kalau yang mini ducth yang mirip panda ini kayaknya lebih pas secara dia bulunya pendek, tetapi ukuran dan wajahnya so cute!

Yap! Seperti yang kamu kira, akhirnya saya benar-benar memilih kelinci mini ducth itu, lho. Sepasang kelinci dihargai Rp. 280 ribu. Sebelum membeli, saya menanyakan juga semua kebutuhannya, termasuk makanan dan cara merawatnya. Karena penjualnya cukup responsif, akhirnya semua pertanyaan terjawab sudah.

Jadi, perawatan yang saya lakukan pada kelinci pertama dulu semuanya 100% salah. Duh, jadi sedih juga kenapa nggak mencari tahu..hiks. Untuk kelinci kedua ini saya sudah yakin bakalan bisa merawatnya sampai besar, tapi ternyata apa yang terjadi? Kelinci ini diambil sekitar pukul 4 sore oleh ojek online. Hingga pukul 6 dia belum juga datang. Nggak lama berselang dengan adzan Maghrib, akhirnya sampai juga. Kebayang dong berapa jam perjalanan?

Kelinci sampai rumah tampak oke aja, lho. Sayangnya, makanan yang saya beli nggak keangkut karena ojek online satunya membatalkannya tiba-tiba. Jadi, pas sampai rumah hanya diberi air mineral dan sisa rumput kering dari penjualnya. Nggak nyangka, kelinci warna abu-abu putih yang paling saya suka malah mati besoknya. Iya, secepat itu matinya. Kaget banget dan segera menghubungi penjualnya.

Karena tidak ada kesalahan yang saya lakukan, penjualnya ngasih ganti tanpa saya minta. Mungkin dia juga kaget, kok cepet banget matinya..hehe. Pagi itu juga, sambil mengantarkan makanan dan obat diare yang saya pesan, kelinci pengganti datang.  Dan waktunya cukup satu jam perjalanan saja. Warnanya sama seperti yang masih hidup, yakni hitam dan putih.

Keduanya tampak sehat-sehat saja, hingga malam kok kayaknya kelinci yang datang pertama menggigil dan nggak doyan makan sama sekali. Beda banget dengan yang baru datang, lahap! Ketika suami pulang dari kantor, dia pun membantu memberikan obat diare, karena ketahuan dia diare walau hanya makan rumput kering dan pelet. Entah kenapa, bisa juga dingin atau entahlah.

Setelah memberikan obat, suami membuat rumah-rumahan yang diisi dengan rumput kering. Supaya kelinci-kelinci itu bisa tidur di sana dan nggak kedinginan. Rumahnya oke banget…haha. Lucu dan gemesin. Sayangnya, besoknya yang sakit kembali tumbang. Yap! Kelinci yang diberi nama Comel itu pun mati menyusul Cimol. Hiks. Super sedih dan kayaknya takut banget tiap bangun tidur khawatir mati lagi dan lagi.

Dan ternyata hanya tersisa satu kelinci saja, lho. Sedih parah karena jujur saya suka banget  malah sama kelinci ini, imut dan menggemaskan. Sebelumnya, karena khawatir kedinginan, saya membungkus kandang mereka dengan kain gorden mungil. Jadi semua tertutup supaya nggak kena angin, dan kalau malam masuk rumah. Kebetulan di dalam rumah ada taman kecil yang lantainya bukan keramik, ruangan ini atapnya tembus ke langit tapi disertai penutup.

Jujur saja, saya sangat tidak setuju kalau sampai kandang kelinci ini masuk ke rumah dan ada di lantai keramik. Najisnya itu, lho nggak banget. Bagi muslim, bakalan ribet deh nanti mau shalat kalau ada najis di mana-mana. Walaupun pakai kandang, kencing kelincinya suka keluar batas gitu. Jadi, saya sangat resah…kwkwk. Bersyukur ada taman kecil ini, jadi kalau pagi saya siram lantai pavingnya dan kelinci dibawa ke luar.

Hingga saat ini, terhitung ada semingguan, kelinci satu ini masih sehat, Masya Allah. Saya pribadi sangat berharap dia bisa tumbuh besar karena saya juga jadi suka, bahka pagi-pagi dan malam saya lebih rajin membersihkan daripada sulung…haha.

Walaupun masih pemula, bahkan karena pemula ini saya mau berbagi tips bagaimana merawat kelinci tanpa induk, yang masih berusia 2-3 bulan, yang masih mungil dan imut banget.


Kelinci Kecil Hanya Makan Pelet dan Rumput Kering
Kelinci saya sekarang hanya makan pelet dan rumput kering. Saya juga membelinya di tokopedia ketika membeli kelincinya juga. Ternyata kelinci kecil nggak bisa makan sayuran karena bikin dia diare dan sakit. Sebelumnya, saya merasa sotoy banget karena kayaknya di mana-mana, kelinci itu makan wortel, ya? Haha, ternyata saya salah.

Untuk 1 Kilogram pelet harganya Rp. 29.500, sedangkan untuk 1 kilogram rumput Hay Timothy harganya Rp. 35 ribu. Ini jumlahnya banyak banget. Dibungkus plastik berukuran besar. Dan kayaknya ini bisa dipakai sampai beberapa minggu.

Berikan Hanya Air Matang
Manja banget kelincinya, ya? Karena trauma sering mati, sejak awal beli yang baru, saya langsung memberikan air mineral yang biasa kami minum. Penjualnya juga menyarankan hal serupa.

Berikan Tatakan Kelinci di Dalam Kandang
Tatakan kelinci itu yang berwarna putih. Itu tebal banget dan emang nyaman kalau kita coba…kwkwk. Kalau nggak pakai itu, kaki-kaki kelinci mudah terperosok dan langsung kena alas kandang yang dipenuhi dengan kotoran dan kencing. Selain itu, kata penjualnya tatakan ini juga bisa menghindarkan kelinci dari penyakit atau kaki bengkok. Kalau dilihat, memang dia tampak lebih nyaman dengan tidur di atasnya. Harga satu tatakan kelinci ini adalah Rp. 30 ribu. Ada yang juga yang menjualnya hingga Rp. 35 ribu. Plastiknya asli tebal banget memang. Saya kemarin beli dua, tetapi ternyata kandangnya nggak muat, akhirnya dikasih satu, dan di sebelahnya diberi rumah buatan suami. Seperti arsitek aja bikin rumah...haha.

Jangan Sampai Kelinci Kedinginan Apalagi Kena Tampias Hujan
Karena masih kecil, jadi mereka seperti bayi juga nggak bisa kena dingin. Kalau kamu memelihara kelinci seperti ini, sebaiknya kandangnya diberi penutup. Saya kemarin menggunakan gorden kecil dan ditutup melingkar hingga bagian atasnya. Tenang, dia masih bisa bernapas karena bagian bawahnya kan juga longgar.

Kalau malam, usahakan dimasukkan ke dalam rumah, apalagi sekarang musim hujan, jangan sampai kena tampias hujan dan angin.

Bersihkan Kandang Kelinci Dua Kali Sehari
Ini aturan dari mana? Dari saya sendiri…hehe. Karena nggak suka kotor, saya berusaha sesering mungkin membersihkan kandangnya. Pertama pagi, dan kedua ketika sore supaya ketika kita tinggal tidur, kandangnya sudah bersih dan dipastikan jumlah makanannya cukup. Jangan sampai air minum habis atau makanan juga habis.

Buatkan Rumah dan Isi dengan Rumput Supaya Lebih Hangat
Ini memang ide suami. Dadakan banget. Sampai rumah, malam-malam setelah dari kantor langsung bikin. Hasilnya ternyata berguna banget. Kelincinya hampir selalu di dalam rumahnya. Setiap hari, saya membuang alasnya yang berupa koran dan sisa rumput kering. Kemudian menggantinya dengan yang baru. Jujur saja, kandangnya memang cenderung bersih, apalagi pakai tatakan dan rumah-rumahan ini. Dan pastinya bisa membantu bikin dia hangat.

Jangan Mandikan Kelinci
Teman saya mengatakan bahwa kelinci itu sebaiknya memang nggak perlu mandi. Kalaupun mandi, kamu harus punya hair dryer supaya kelinci lekas bisa dikeringkan setelah mandi. Kelinci memang sangat sensitif, makannya nggak jarang cepat mati. Ada baiknya memang biarkan saja dia nggak mandi yang penting pemiliknya mandi..hehe.

Berikan Obat Ketika Dia Sakit
Yang paling saya takutkan, kelinci diare dan mati. Karena sebelumnya memang kejadiannya seperti ini. Jadi, kalau kamu membeli kelinci, coba beli juga obat diare. Ada juga obat penyakit lain, tetapi paling mendesak menurut penjual adalah obat diare ini. Hagranya murah, satu botol kecil seukuran obat tetas mata harganya Rp. 20 ribu saja. Diberikan 3 tetes sebanyak dua kali sehari. Berikan langsung ke mulutnya.

Selebihnya, banyaklah berdoa supaya kelinci kamu sehat. Saya juga sempat membaca, kalau kelinci kecil itu rawan stres. Jadi, ada baiknya jangan terlalu sering diajakin main, dan hindarkan dari cahaya juga. Semoga bermanfaat, barangkali kamu tertarik memeliharanya juga.

[Skincare Review] Peel Off Mask Everwhite Cucumber & Aloe Vera, Let It Glow!



Akhir-akhir ini jadi seneng banget lihat-lihat produk kecantikan, iya, sekadar lihat-lihat aja di toko online. Terus ada yang kepincut dan dibeli…haha. Salah satunya adalah peel off mask dari Everwhite ini.

Awalnya nggak sengaja jalan-jalan ke toko online dan nyari pembersih komedo. Eh malah ketemu video review dari salah satu beauty vlogger yang super menghibur, yakni Rachel Goddard. Dari sekali nonton dan akhirnya ngakak sendiri, akhirnya penasaran dan lihat-lihat review beberapa produk kecantikan lainnya. Bukannya nyari pembersih komedo, malah nyasar ke mana-mana dan akhirnya saya lihat video review skincare satu ini.

Everwhite ini merupakan produk lokal yang memiliki beberapa jenis masker. Salah satu yang saya coba kemarin adalah Everwhite Peel Off Mask Cucumber & Aloe Vera. Awalnya saya membeli dan tertarik pengen nyoba ya gara-gara video Rachel itu. Baru kali ini saya coba-coba karena tertarik dengan review beauty vlogger. Biasanya saya malas banget beli skincare mengingat wajah saya memang sensitif banget, jadi agak takut mau nyoba-nyoba. Tapi, kayaknya belakangan saya mulai ngerasa memerlukannya mengingat usia saya juga sudah bertambah mendekati kepala tiga.

Salah satu hal yang bikin tertarik, karena masker satu ini nggak ribet seperti masker-masker lain. Emang masker lain ribet? Pakai ini nggak jauh beda seperti pakai pelembab gitu. Ya, nggak ada ritual nyampur masker dengan air dulu. Ini ritual jadul kali ya..haha. Saya kurang update memang soal skincare, jadi nggak banyak tahu ternyata sekarang sudah banyak sekali masker praktis dan nyaman dipakai di mana pun.

Selain masker peel off, Everwhite juga punya masker clay seperti varian green tea, milk & oat, charcoal, dan strawberry. Kali ini saya memang hanya tertarik membeli masker peel off, jadi saya coba review masker peel off-nya dulu, ya.


Kemasan
Masker peel off dari Everwhite ini dikemas dalam bentuk tube 125 ml dengan harga Rp. 76 ribu saja, lho. Kemasannya sampai di rumah tanpa box, tetapi pada bagian tutupnya rapat sehingga tidak mudah bocor. Warna kemasannya juga manis banget yakni hijau toska. Kemasannya nggak terlalu besar, dan nggak terlalu kecil, sedang saja sehingga cukup mudah juga dibawa traveling atau berlibur. Jadi, kita bisa pakai kapan pun.

Kemasan masker satu ini memang terbilang unik, ya. Kayaknya nggak hanya saya saja yang penasaran dibuatnya, semua orang juga pasti pengen banget nyobain. Kalau dibawa pergi cukup diselipkan di dalam ransel kamu.

Ingredients
Masker dari Everwhite ini mengandung aqua, polyvinyl alcohol, ascorbic acid, propylene glycol, glycerin, cucumber extract, aloe vera extract, chamomile extract, sodium alginate, allantoin, citronellol, tocopheryl acetate, corn cob powder, fragrance, components and finished fragrances, phenoxyethanol.

Masker ini juga sudah dilengkapi dengan nomor BPOM (NA18180200984). Jadi, kamu nggak perlu khawatir meskipun ketika sampai tidak dilengkapi dengan box. Biar lebih aman, biasanya penjual melengkapinya dengan bubble wrap.

Tekstur dan Aroma
Tekstur dari masker ini sedikit kental, bening, dan baunya itu segar banget emang. Selain itu, ada sensasi dingin juga ketika dipakai sehingga nyaman banget di wajah. Tapi, ketika baru pakai, saya ngerasa aromanya terlalu tajam, nggak lama aroma itu hilang dengan sendirinya.

Kalau kamu pakai, hindari penggunaan di dekat bibir dan mata. Kamu juga harus kasih jarak dekat bulu mata ketika merem, asli kemarin pas saya pakai kok nempel ketika mata saya berkedip…hehe. Terlalu dekat mata pakainya.

Masker ini selain kental juga lengket, jadi lebih enak kalau rambut kamu diikat atau pakai bando dulu supaya nggak ada rambut yang ikut menempel ke masker.

Manfaat Everwhite Peel Off Mask
1. Membantu mencerahkan kulit

2. Membantu mengangkat kotoran dan sel kulit mati

3. Membantu mengontrol minyak berlebih

4. Menutrisi kulit

Cara Memakai Everwhite Peel Off Mask
Seperti yang saya katakan di awal, cara memakai masker ini  benar-benar simpel dan mudah. Nggak perlu alat, cukup pakai tangan saja. Pastikan sebelum memakai masker, kamu sudah mencuci wajahmu. Kemudian kamu bisa oleskan pada seluruh wajah. Saya lebih suka agak tebal supaya ketika mongering bisa ditarik tanpa sobek. Ingat, hindari area mata dan bibir, ya.

Diamkan sampai kering sekitar 15 menit. Setelah itu bisa langsung kamu bilas atau ditarik dulu sambil main-main…haha. Nggaklah, ya. Anak-anak saya soalnya jadi tertarik pengen narik maskernya juga..hihi. Setelah itu bisa cuci muka dan keringkan dengan handuk lembut.

Kamu bisa memakainya minimal seminggu dua kali atau sesuai kebutuhan. Saya pribadi malah pengennya setiap hari…hihi.

Pendapat Saya
Selama memakai masker ini saya merasa oke dan nyaman-nyaman saja. Apalagi setelah dibilas, kulit memang terasa lebih bersih dan lembut. Selain praktis, sensasi dingin ketika memakai masker ini bikin wajah jadi lebih fresh saja. Harganya juga cukup terjangkau untuk ukuran 125 ml.

Sayangnya, yang bikin saya ragu karena baru sadar kalau skicare satu ini belum ada label halalnya. Bagi kita yang muslimah, label halal itu sangat penting, ya. Karena jarang banget belanja produk skincare, saya jadi nggak terlalu ngeh dengan label halal itu. Baru sadar setelah memakainya beberapa kali. Dan akhirnya saya beranikan diri untuk me-rewiev di sini.

Kira-kira segitu dulu, ya review tentang skincare dari Everwhite ini. Semoga bermanfaat dan silakan dicoba jika penasaran. Sekadar info, masker ini juga lumayan lama keringnya. Jadi, kamu bisa pakai sambil memasak supaya lekas kering. ‘Kan jadi nggak berasa lama, ya…hehe.

2018 Year in Review Blog Challenge, Mengulas Perjalanan Ngeblog Selama Setahun Terakhir



Bicara tentang ngeblog, sebenarnya saya belum bisa menjadi blogger yang benar-benar fokus pada dunia ngeblog ini. Ya, selama ini saya memang cukup rutin mengisinya, tetapi dibandingkan yang lain, blog saya belum sebagus apa kemajuannya. Semua itu terjadi karena saya memang nggak hanya fokus ngeblog, tetapi setahun terakhir lebih banyak menghabiskan waktu untuk menulis buku dan artikel.

Ngeblog itu adalah sesuatu yang menyenangkan buat saya. Nulis di blog itu berbeda dengan nulis artikel atau buku. Kalau sudah suntuk dan capek nulis yang lain, saya larinya ke blog. Tapi, bukan berarti blog hanya menjadi tempat sampah atau pelarian saja. Saya tetap mengisinya dengan sungguh-sungguh, hanya saja saya belum benar-benar fokus pada satu hal ini dan belum sepenuhnya menguasai.

Melihat jumlah postingan tahun ini, ternyata saya cukup kecewa karena isinya nggak lebih banyak daripada tahun kemarin. Maunya ngejar minimal sama. Tapi, kayaknya saya belum bisa memastikan apakah itu bisa terwujud atau nggak hingga akhir bulan Desember.

Selama setahun ini, apakah hal yang paling menyenangkan dari ngisi blog?

View Satu Postingan Mencapai 1000 Lebih
Wah, seneng banget pas tahu ada salah satu postingan saya yang jumlah view-nya mencapai 1000 lebih. Saya juga nggak kebayang karena memang niat awal hanya sekadar menulis dan berbagi pengalaman saja. Nggak nyangka, baru terbit, ratusan view udah muncul dengan cepatnya. Nggak nyangka banget buat saya yang masih remahan.Biasanya maksimal hanya 500an lebih saja.

Kalau view ribuan terjadi di platform tertentu di mana saya suka mengirimkan artikel, rasanya itu wajar aja karena selama ini bahkan ada artikel saya yang dibaca hingga ratusan ribu kali. Tapi, ini di blog saya, lho. Yup! Blog yang saya bangun sejak setahun silam dan bersyukur tidak sampai ada sarang laba-laba walaupun  saya sibuk banget ngirim artikel ke media yang jumlahnya hingga saat ini mencapai 1000 lebih. Coba 1000 artikel itu ada di blog sendiri...hoho.

Berpenghasilan dari Ngeblog
Dulu, belum pernah ngebayangin dapat fee dari hasil ngeblog. Ya, karena memang masih menulis suka-suka, jadinya saya tidak banyak berharap, membayangkan mau mendapatkan apa saja nggak pernah.

Dan tahun ini, saya memang mulai merasakan betapa manisnya sebuah pekerjaan yang dilakukan dengan hati, kemudian dirawat dengan sungguh-sungguh, ternyata akan menghasilkan juga. Dan tentu saja kitalah yang akhirnya memetik manisnya itu.

Penghasilan dari blog juga nggak bisa disebut main-main. Karena ada banyak cara yang bisa kamu lakukan untuk berpenghasilan dari blog, dan semua itu nyata adanya. Kamu juga pasti sudah merasakannya, ya. Selamat!

Meski Sibuk, Blog Tidak Dipenuhi Sarang Laba-laba
Walaupun setahun ini saya benar-benar nggak bisa fokus karena harus ngejar nulis buku, artikel dan bikin website, tetapi saya bersyukur, blog ini nggak sampai telantar. Sesibuk apa pun itu, saya berusaha banget untuk tetap mengisinya. Seperti saat ini, walaupun super ngantuk dan lelah, tapi saya berusa mengisi, apalagi ingat banget postingan tahun ini kurang 40an artikel dibanding tahun kemarin. Kuy, semangatlah!

Postingan Blog Lebih Mendalam
Nggak lebih banyak, tetapi postingan sekarang memang jauh lebih mendalam, panjang hingga ada yang hampir 2000 kata. Ini bukan asal nulis saja, tetapi memang mulai belajar ngeblog dan nulis suatu tema dengan lebih detail dan nggak ragu dibikin panjang.

DA Blog Naik
Wah, asyik banget! Tahun ini DA blog saya naik meskipun masih lebih layak disebut remahan rengginang, tetapi setidaknya usaha selama ini nggak sia-sia dan benar-benar terjadi. Saya berusaha aktif menulis dan BW, walaupun kadang BW telat, tetapi saya selalu membalas setiap kunjungan, Insya Allah.

Tapi, dari semua kemajuan itu, mungkin yang bikin saya kecewa adalah jumlah postingan yang lebih sedikit daripada tahun kemarin. Agak nyesek juga kenapa nggak bisa capai target minimal harus sama banyak. Semoga tahun depan bisa lebih baik lagi ngeblognya. Karena sekarang tidak banyak target yang ingin saya capai berhubung waktu saya pun terbatas setelah anak-anak beranjak lebih besar.

#BloggerPerempuan #BPN2018Year in Review

Manajemen Waktu Buat IRT Tanpa ART yang Hobi Menulis, Pilih Pekerjaan atau Anak-anak?



Kenapa membahas manajemen waktu buat IRT tanpa ART? Kebetulan di wag Estrilook.com, saya meminta semua member untuk mengajukan pertanyaan. Apa pun itu. Dan salah satu pertanyaan menarik yang sudah dibahas adalah manajemen waktu atau cara mengatur waktu saya sebagai IRT tanpa ART, yang masih harus ngerjain pekerjaan rumah, mengurus anak-anak yang jauh dari eyangnya, dan menyempatkan menulis buku atau artikel.

Kalau dibayangkan memang rumit dan bikin pusing. Tapi, percayalah saya juga hanya memiliki waktu 24 jam, kesibukan sama-sama menumpuknya, bahkan kalau saya sudah di dapur dan memasak, setelah selesai sudah siang aja. Rasanya memang luar biasa melelahkan. Tapi, sekali lagi menulis merupakan sesuatu yang saya sukai, sudah bukan sekadar hobi, tetapi sudah jadi passion. Nggak nulis sehari rasanya ada yang hilang aja. Lebay nggak, sih? Gimana dengan teman-teman yang juga suka menulis juga?

Saya pribadi bukan termasuk orang yang pandai mengatur waktu. Ya, masih suka berantakan mengatur jadwal menulis dan mengurus semua keperluan sehari-hari. Tapi, setidaknya dalam sehari saya tetap menulis minimal di blog dan mengirimkan artikel ke media online.

Lalu sebenarnya seperti apa cara mengatur waktu buat ibu-ibu yang suka menulis, tetapi tidak juga mau mengorbankan waktu bersama anak-anak dan setrikaan sehingga jadi menumpuk dan bikin nggak mood?

1. Dahulukan yang Jadi Prioritas


Apa yang jadi prioritas utama seorang IRT? Selain mengurus keperluan suami, IRT juga punya tanggung jawab mengurus anak dan memenuhi semua kebutuhannya. Kelihatannya IRT ini sepele banget kerjaannya. Kelihatannya malah kayak pengangguran aja yang nggak ada kegiatan. Bahkan saya sempat ditampar keras (baca: ditegur dengan nyelekit…kwkwk) karena saya termasuk IRT yang jarang banget keluar rumah. Saya juga tidak suka ikut arisan bersama ibu-ibu di kompleks karena saya memang tidak suka. Alasannya simpel aja…haha. Jadi, kelihatannya nganggur banget hidup kamu, Muyass! Netizen menjadi maha tahu segalanya. Tapi, sejak saya kecil hingga beranjak remaja, saya terdidik seperti ini. Bahkan untuk mengetahui dan jalan-jalan di kota kelahiran saya pun tidak pernah benar-benar terjadi kecuali hingga saya keluar dari pesantren dan menikah. Kemudian saya ikut suami dan merantau di Jakarta. Anak yang empat tahun di pesantren tiba-tiba ada di Ibu Kota, ngapain aja kalau suami kerja?

Merajut, menyulam, bikin bunga-bunga dari kertas krep…kwkwk. Itu terjadi sebelum saya menekuni kegiatan menulis. Dan itu terjadi hingga hampir sepuluh tahun saya di sini. Masih sama, tidak suka keluar rumah kecuali memang perlu banget. Karena faktanya mengurus rumah itu nggak mudah. Saya tidak sedang mencoba mengeluh, tetapi kenyataan berkata, buat masak aja kadang di dapur sampai beberapa jam, terus anak-anak apa kabar? Belum ngeberesin cucian dan setrikaan. Sisa waktu istirahat saya dibuat melakukan kegiatan yang paling saya sukai, menulis! Itu adalah me time ala saya.

Dan saya harus memilih mana yang jadi prioritas, anak-anak atau passion saya? Anak-anak tetap yang utama. Walau sekarang masih belum bisa jadi ibu yang terbaik, tetapi mereka memang sudah jadi amanah dan kewajiban saya. Jika mereka sudah jadi prioritas, maka selanjutnya bisa diurutkan apa saja yang memang harus dikerjakan.

Anak-anak yang pertama, kemudian kerjaan rumah seperti memasak dan membereskan cucian menjadi yang kedua, kalau yang kedua diganti yang lain, gimana anak-anak dan suami makan dan ganti pakaian? Haha. Lalu menulisnya kapan? Ketika anak-anak tidur, tidak membutuhkan saya di dekatnya. Itu memang hanya terjadi saat mereka tidur atau asyik bersama dengan kakaknya atau ayahnya. Selebihnya saya harus mengurangi waktu istirahat untuk menyelesaikan buku, artikel, atau ngisi blog. Ini nggak drama, lho. Nggak, saya menikmati semuanya.

Belakangan saya memang mulai mengurangi banyak target, bukan cepat merasa puas karena sudah ada beberapa buku solo di-acc penerbit, tetapi memang waktu saya semakin sempit setelah bungsu beranjak besar. Dia yang biasanya tidur siang dari pukul 10 sampai 12, kini sudah pensiun, saudaraaa. Iya, dia sudah nggak suka tidur siang, bahkan kadang saya yang kecapean kemudian ketiduran, dan dia dengan muka sedih bilang, ‘Adek nggak bisa merem sendiri.’ Duh, piye kamu, Nak? Haha. Emaknya tepar.

Kalau saya memaksakan diri dengan keadaan saya sekarang, saya percaya dan yakin, semua yang saya rencanakan bukannya jadi baik, malah berantakan karena suntuk nggak bisa capai target. So, mungkin ini adalah saat yang tepat untuk lebih santai dan terus menulis sesuai kemampuan. Begitu juga dengan teman-teman, jangan suntuk kalau ada yang nggak tercapai, apalagi sampai ngomelin anak-anak. Pelan-pelan mungkin kamu bisa mengatur waktu dan kerjakan semua sesuai kemampuanmu.

2. Ukur Kemampuan Diri


Ada banyak perempuan yang tetap bisa menulis dan produktif ngurus ini dan itu, tetapi itu bukan saya yang sekarang. Dulu, saya bisa mengejar banyak target karena memang keadaannya memungkinkan. Si sulung masih santai sekolahnya, si adik masih bayi dan imut. Dan sekarang? Semua sedang butuh saya banget. Akhirnya saya harus sadar diri, bahwa kemampuan saya tidak lagi seperti dulu.

Saya tetap punya target, tetapi saya tidak mengambil terlalu banyak. Saya sadar kemampuan saya menyelesaikannya seberapa besar. Saya harus tahu apa yang harus saya selesaikan sekarang, dan apa yang bisa ditunda dulu.

Kalau sekarang saya ingin menyelesaikan satu buku, berarti saya harus memilih tidak terlalu aktif menulis artikel dan ngeblog. Begitu juga sebaliknya. Semua tetap berjalan, tetapi waktunya harus diatur sesuai kemampuan.

3. Kamu Bukan Wonder Women


Saat diskusi tadi, ada yang mengatakan bahwa kalau memang sudah capek banget, apalagi sampai sakit, ya sebaiknya istirahat, jangan dipaksa. Ini memang ada benarnya, karena kesehatan kita memang utama. Karena kalau seorang ibu sakit, siapa yang bakal mengurus keluarga? Atau, walaupun sakit, kadang kita tetap memaksa bekerja karena memang tidak ada gantinya. So, kamu bukan wonder women yang bisa begadang sepanjang malam dan besoknya masih bisa melek segar? Kamu butuh istirahat, kamu butuh tidur cukup, bahkan kalau kurang tidur jadi susah menulis karena lesu.

4. Konsisten dan Disiplin Menyelesaikan Target


Bagi yang punya waktu sedikit, disiplin dan konsisten adalah hal yang sangat penting. Kalau kamu tidak menggunakan waktu dengan baik, target kamu akan berantakan dan tak ada mimpi yang benar-benar berhasil dicapai. Mengecewakan, ya?

Walaupun kamu hanya bisa menyelesaikan satu sampai dua halaman per hari, tetapi jika kamu konsisten dan disiplin menyelesaikannya, kamu pasti bisa mencapai keinginan dan memiliki buku solo sebulan atau dua bulan kemudian. Untuk memulai, memang berat banget. Tapi, kalau sudah jadi kebiasaan, Insya Allah semua akan berjalan dengan mudah.

5. Hindari Sikap Menunda-nunda Pekerjaan


Kamu punya waktu cukup sebenarnya untuk menyelesaikan tulisan kamu, walaupun itu harus dikerjakan malam hari setelah semua tidur. Tapi, karena kamu menunda terus menerus, akhirnya semua itu tak pernah beres. Bahkan seharusnya sudah istirahat, malah sibuk ngurusin setrikaan, dan ini saya banget..haha.

Itulah beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika ingin mengatur waktu dan memilih mengutamakan antara menulis atau anak-anak? Karena terlalu banyak target yang tidak bisa terpenuhi bikin kita suntuk. Padahal, sejatinya menulis adalah hal menyenangkan dan bikin kita gembira. Masalahnya, kalau tidak bisa mengatur waktu, bukan hanya target menulis yang berantakan, tetapi rumah juga berantakan, dan anak-anak bakal kehilangan kita sebagai sosok Ibu. Ingat, kemampuan kita hanya kita sendiri yang tahu, bukan orang lain. Bisa jadi mereka dapat mengerjakan banyak hal dalam sehari, tetapi belum tentu kita bisa seperti mereka. Jadi, usaha itu harus, tetapi memaksa menjadi mereka itu tidak perlu. Kamu punya jalan sendiri untuk mencapai kesuksesan dengan tidak menomorduakan keluarga dan kewajiban sebagai seorang ibu.

Custom Post Signature

Custom Post  Signature