Tertanggal 31 Juli 2018, masya Allah, akhirnya saya berhasil menyapih si bungsu. Sebelumnya saya benar-benar tidak siap untuk menyapih. Masalahnya, usia adek sudah 3 tahun lebih. Ini antara lucu dan enggak lucu lagi kalau masih menyusu.

Foto: pexels.com

Saya juga kaget saat semua tiba-tiba terjadi dan berjalan dengan sangat baik bahkan bisa dibilang sangat mudah. Kenapa? Anak yang sudah terbiasa menyusu biasanya susah sekali disapih. Anak saya, keduanya tidak ada yang pernah saya kenalkan dengan dot saat disapih. Jadi, benar-benar full berhenti dan enggak ada gantinya kecuali air putih.

Saat pertama kali sepakat untuk tidak menyusu lagi, adik sempat bingung terutama saat terbangun di tengah malam atau di siang hari. Tapi, saya percaya ini akan berlalu. Jadi, ketika dia menangis, saya menggendongnya sampai dia tertidur, barulah saya pindahkan ke tempat tidur.

Berbeda ketika hendak tidur, adik santai aja. Saya bacakan buku sampai dia benar-benar ngantuk. Dan akhirnya dia pun terbiasa, kalau belum ngantuk banget enggak boleh dong berhenti bacain bukunya..haha. Sampai ngantuk kadang saya duluan yang ketiduran. Tahu aja emaknya banyak tugas malah disuruh baca buku banyak sampai saya sendiri yang jadi ngantuk. Duh, dek..plis… haha.

Ini tepat seminggu dia berhenti menyusu. Dan yang namanya drama gendong-gendong tengah malam atau di siang hari insya Allah sudah berlalu. Semalam dia pulas, bangun sebentar tanpa menangis.

Malam ini, dan siang tadi, baca buku sampai berapa buku, bahkan satu buku dibaca berkali-kali, ujungnya saya duluan yang ketiduran, ditepuk pipi, suruh bangun, bacain lagi..haha. Sampai kadang saya sadar lagi baca apaan tapi nyebutnya apaan..hihi. Ya Allah, godaan banget tidur pas begitu..kwkwk.

Alhamdulillah, barakallah. Weaning with Love itu enggak perlu aneh-aneh. Kalau sudah sama-sama siap, insya Allah mudah. Adek juga sudah bisa bilang, tidak menyusu karena usianya sudah 3 tahun. Yeay! Emaknya girang banget. Soalnya kalau dia sedih, saya jadi bingung harus apa dan gimana, pengen nyusuin lagi, enggak tega. Tapi, kalau sayanya engga kuat, kasihan dia bisa menderita dua kali.

Ya Allah, ternyata yang begini aja bikin saya mewek berkali-kali, apa saya yang lebay banget, ya? Semoga kamu selalu sehat, Nak. Tiga tahun sepertinya sudah lebih daripada cukup untuk bekal kamu. Semoga Allah selalu menjagamu, melindungimu, dan menjadikanmu anak yang cinta sama Allah dan Rasul-Nya. Aamiin.

View Post

Ya Allah, pukul setengah 12 malam, baru saja, adek bangun dan mulai gelisah. Ya, ini hari pertama dia mulai saya sapih. Usianya sudah 3 tahun lebih sodaraah..he. Emaknya aja yang belum siap mental dari kemarin sehingga sampai usia sebesar ini masih saja menyusu.

Foto: pexels.com

Sebenarnya, suami sudah gemas bukan main karena saya tak kunjung menyapih si bungsu. Kesel banget kayaknya si doi karena kelihatan banget yang enggan menyapih adalah sayanya. Anaknya mah santai aja, ya. Masalahnya ini harus ditunggu sampai kapan?

Setiap anak itu berbeda. Kalau si sulung, setelah dua tahun lebih, saya sudah berani nyapih. Dia juga sudah lulus toilet training usia 3 tahun kurang. Nah, si bungsu kebalikannya banget, nih. Usia 3 tahun masih belum lulus keduanya. Gimana nggak gemas ayahnya? Haha.

Siang tadi, entah keberanian dari mana, tiba-tiba saya memutuskan untuk menyapih adik. Oke, semua harus dimulai, kalau nggak bisa sampai kapan? Dan apa yang terjadi? Biasa aja sebenarnya, karena selama ini dia bukan tipe anak yang ngempeng sama emaknya. Pergi sama ayahnya, dia pulas di rumah eyangnya. Bahkan Februari ketika kami ke Turki, dia nempel terus sama ayahnya dan nggak pernah menyusu. Di bis dia pulas duduk di sebelah ayahnya. Hampir nggak pernah nyusu selama perjalanan, kecuali ketika di hotel.

Nah, seperti itu juga yang terjadi selama ini. Kalau ikut kajian, dia gengsi banget mau menyusu di depan ibu-ibu..kwkwk. Ngantuk aja dia nggak mau nyusu. Dia bisa banget jaga image..hihi. Tapi, pas sudah pulang ke rumah, lihat emaknya selonjoran, mulai deh nempel.

Dan ini terjadi sampai dia akhirnya berusia 3 tahun. Duh, yang gemas banyak banget pula. Mulai dari ayah, eyang, sampai tetangga yang tahu..kwkwk.

Masalahnya, saya nggak pernah siap, lho. Nggak pernah bahkan sampai saat ini ketika dia benar-benar saya sapih. Duh, sendu banget rasanya.

Siang tadi, sebelum tidur siang, dia setuju nggak mau menyusu. Kita baca buku yang banyak, yang dia suka, saya bacakan semua. Santai banget, kemudian dia tidur pulas. Lega emaknya. Sejaman kemudian, dia bangun dan mulailah ingat mau menyusu. Duh, harus ditahan nggak boleh lemah..hehe. Akhirnya dia nangis, tapi nggak minta menyusu. Galau tingkat dewa. Bikin nggak tega. Nangisnya lama pula. Dan ini hanya saya yang alami, ayahnya mah cuma dengerin cerita sambil ketawa..haha.

Setelah nangis dia nggak tidur lagi. Saya ajak beli eskrim sambil bilang dia hebat karena sudah berhasil nyapih. Udah santai lagi dong anaknya. Biasa aja sampai sore, bahkan malam ini.

Seperti biasa, sebelum tidur baca bukunya banyakan sampai dia ngantuk banget. Saya harus bersyukur karena anak-anak, dua-duanya, sejak kecil semua suka banget sama buku. Dibacakan mereka anteng bukan main, barakallah. Bahkan kadang saya yang capek bacainnya..he. Dan rupanya ini sangat membantu sekali ketika terjadi hal seperti sekarang.

Dan nggak lama setelah baca buku, adik bobok pulas banget. Nggak nangis, nggak drama. Biasa aja. Tapi, saya sih sebenarnya ragu, ketika bangun tengah malam dia biasanya menyusu, saya yakin dia gelisah. Dan benar saja, meski tak seheboh seperti tadi siang, dia cukup bingung mau ngapain pas tadi bangun. Dipijit, digendong, akhirnya minta turun lagi dan bobok lagi di kasurnya. Dia bilang, “Mau bobok sama Bunda.” Hiks, sedihnya. Ini ngetik sambil nangis ya Allah, saya kok lebay banget jadi ibu, ya. Baru begini aja udah nangis. Dia nggak sedang minta menyusu. Mau nempel aja. Justru bikin saya sedih banget.

Saya bersyukur, telah dititipkan sulung dan bungsu oleh Allah. Meski selama ini saya belum jadi ibu terbaik buat mereka, semoga mereka tahu bahwa saya sayang keduanya. Sulung itu, lebih keras, pendiam kalau nggak kenal banget, lebih mirip emaknya, suka menggambar, suka membaca buku, dan barakallah dia selalu juara di kelas. Banyak prestasinya yang bikin bangga dan haru, dia itu termasuk pemalu, disapa tetangga sampai ratusan kali cuma balas melihat aja. Kadang gemes banget lihatnya, apa susahnya menjawab ‘kan? But, dia punya sesuatu yang membuat saya hampir nggak percaya, dia berani tampil di depan banyak orang, memberikan pesan kesan saat perpisahan di sekolah. Kalau saya mungkin udah demam panggung. Dia juara satu lomba bercerita, pemalu tapi ketika maju di depan umum dia jauh dari kata itu. Dia pandai banget memainkan alat musik, dia hapal dengan mudah sampai bu guru aja bingung, saya pun sama. Barakallah, saya jarang banget cerita tentang kakak. Mungkin suatu saat dia akan membaca tulisan ini. Saat itu dia akan tahu bahwa saya bangga telah memiliki dia.

Berbeda dengan sulung, si bungsu yang sejak lahir aja banyak dramanya, rupanya lebih kuat dan pembawaannya jauh lebih santai. Dia humoris banget, dan kelihatan banget tengil kayak ayahnya..haha. Empatinya tinggi, barakallah. Kalau marah sama kakaknya, nggak lama dia sendiri yang nggak tega. Adik juga jadi kebanggaan bunda. Insya Allah, nggak lama dia akan terbiasa nggak lagi menyusu.

Ini proses menyapih yang tiba-tiba. Sebenarnya, mau menunggu sampai kapan pun, saya nggak akan pernah siap. Nggak tahu kenapa, saya masih pengen banget dia kayak bayi aja. Saya nggak bisa menjelaskan seperti apa rasanya, tetapi saya tahu sedang tidak ingin lepas dari dia. Duh, drama banget nyapih anak. Setelah melahirkan, selain mendidik, menyapih juga menjadi tugas yang sangat berat buat saya. Semoga adik mengerti, bahwa menyapih adalah keharusan, meskipun kita nggak pernah menginginkan. Curhatan yang lebay..hehe.

View Post

Alhamdulillah, akhirnya bisa meluangkan waktu untuk ngisi blog lagi. Liburan sekolah yang amat panjang sudah berakhir. Liburan tahun ini memang sangat panjang, terutama karena sekolah si sulung benar-benar meliburkan tanpa jeda sejak selesai UKK dan langsung ambil rapot. Kayaknya liburnya sekitar sebulan lebih.



Nah, kalau sudah mulai masuk sekolah lagi, itu artinya pagi-pagi harus menyiapkan bekal juga untuk kakak. Bekalnya ada dua jenis, satu snack dan satunya makan siang. Saya jarang banget beli. Lebih seringnya sih bikin karena selera dia yang agak susah, nggak semua makan doyan, pemilih banget.

Biasanya saya selalu menyimpan stok lauk di frezer. Biar nggak pusing kalau pagi-pagi nggak sempat masak macam-macam, bisa segera digoreng. Kadang bikin nugget atau chicken egg rolls.

Nah, kali ini lagi pengen banget bikin chicken egg rolls. Mungkin prosesnya agak lebih merepotkan karena harus bikin kulitnya, tapi sebenarnya semuanya sih mudah saja, kok. Dagingnya bisa ayam dicampur daging sapi, atau kali ini saya mencoba ayam dan udang. Teksturnya pas banget. Padahal sambil ngarang bebas juga sih..hehe.

Oke, nggak usah lama-lama, ya. Yang pengen coba silakan intip bahan dan proses pembuatannya.

Setelah dikukus dan dipotong, hasilnya padat dan pas banget teksturnya



Setelah diberi isian, gulung, ya!

Bahan:
Sepasang dada ayam, ambil dagingnya
500 gram udang, kupas dan cuci bersih
2 buah wortel, parut
1 bungkus keju, parut
2 butir telur
1 sdm tepung terigu
2 sdm tepung maizena
1 sdm kecap inggris
1 sdm saus tiram
6 siung bawang putih
1 sdt merica butir
Secukupnya garam

Bahan kulit:
4 butir telur
20 gram tepung maizena
80 gram tepung terigu
160-180 ml air
¼ sdt garam
1 sdm minyak

Cara membuat:
1. Haluskan bawang putih, merica dan garam. Kemudian campur dengan daging ayam dan uang kupas. Haluskan.
2. Campur dengan semua bahan sisa. Silakan parut wortel dan kejunya juga, ya. Campur semuanya jadi satu. Jika ingin menambahkan penyedap boleh saja. Tapi, sebenarnya ini sudah sangat gurih alami, lho. Selain karena pakai ayam dan udang, saya juga tambahkan keju.
3. Supaya nggak salah menyesuaikan asin dan gurihnya, teman-teman bisa menggoreng sedikit adonannya. Kalau memang sudah pas, sisihkan, ya.
4. Bahan kulit: Kocok lepas telur. Masukkan 1 sdm minyak goreng dan kocok dengan wisk sampai rata, ya.
5. Campurlah tepung dengan air sampai nggak bergerindil. Kalau perlu bisa disaring supaya nanti hasilnya bagus.
6. Campurlah telur kocok dan adonan tepung tadi, tambahkan garam, kocok sampai rata.
Jika teman-teman merasa terlalu kental, bisa pakai air 170 ml atau 180 ml, sesuaikan saja, ya karena ukuran telurnya bisa beda-beda. Jadi, sebaiknya nambahnya dikit-dikit dan coba dibuat dadar.
7. Panaskan teflon, olesi margarin. Tuang satu sendok sayur adonan dan buat dadar tipis, ya. Angkat dan lakukan sampai adonannya habis.
8. Masukkan campuran daging ke dalam dadar. Gulung dan bungkus dengan plastik tahan panas satu persatu supaya ketika dikukus nanti tidak saling menempel. Lakukan semua sampai habis baru kemudian dikukus, ya.
9. Setelah matang dan dingin, potong-potong menyerong. Langsung goreng atau simpan saja di frezer dan bisa digoreng kapan pun diinginkan.

Bekal si sulung pagi tadi. Nasi dan chicken and shrimp egg rolls dan snack berupa donat homemade balut dark cokelat


Voila! Chicken and shrimp egg rolls siap dijadikan bekal sehat buat anak-anak. Meskipun tampak panjang banget prosesnya, tetapi sebenarnya ini mudah. Hanya saja butuh yang namanya sabar..hehe. Hasilnya banyak banget. Sekitar 3 plastik ukuran 2 kg..hehe. Puas-puasin deh, ya makannya.. :D

Selamat mencoba buat teman-teman, dan terima kasih sudah berkunjung di muyassdotcom :D

View Post
Buat yang sudah punya pasangan atau pun masih jomblo, sebenarnya nggak ada yang bisa lebih menyenangkan selain melewatkan akhir pekan bareng teman-teman. Nggak seperti pacar atau gebetan, menghabiskan waktu luang bersama sahabat sejati itu ‘nothing to lose.’ Salah satunya adalah nonton bioskop di CGV. Sebagai teman, hampir pasti selera film kamu dan mereka sama. Sementara kalau lagi pacaran, kayaknya agak sulit disandingkan dengan genre action kesukaanmu.

Artikel ini nggak mengajak kamu membenci momen pergi ke sinema bareng pasangan. Tapi percayalah, ada lebih banyak kesenangan saat nobar bersama teman-teman. Petualangan akhir pekan bakal lebih seru dengan beberapa tips nonton bioskop CGV di bawah ini.



Biar Lebih Seru, Coba Tonton Film Genre yang Benar-Benar Beda


Foto: Pinterest.com


Di dunia sinema, film-film blockbuster dengan budget setinggi langit memang sebuah jaminan untuk tontonan yang berkualitas. Tapi pernahkah kamu mencoba untuk keluar dari batas? Coba ajak teman-teman nonton film dengan genre yang completely different, jauh dari lingkaran favoritmu. Yang mendewakan film Sci-Fi besutan sutradara Michael Bay dengan ledakan-ledakan di sepanjang film, sesekali pilih film horor unyu khas Indonesia. Biar ada pengalaman nonton yang nggak banget, yang bisa kamu tertawakan bersama teman-temanmu sekeluarnya dari bioskop CGV.

Beli Kursi Paling Depan Padahal di Belakang Masih Banyak yang Kosong





Mau yang lebih gila-gilaan? Saat disuruh antri tiket sama teman-teman, Coba beli tiket CGV Cinemas untuk kursi paling depan. Bukan rahasia lagi kalau kursi terdepan bikin mata nggak nyaman karena jarak yang terlalu dekat dengan layar. Bukan karena kualitas gambar, tapi karena mata harus menyesuaikan dengan layar yang begitu lebar. Sudah pasti mereka bakal menggerutu, tapi begitu menyadarinya, dijamin bakal meledaklah tawa.

Sesekali Traktir Mereka dengan Cemilan Khas Bioskop



Foto: Andyka Sanjaya


Karena sekarang ada aturan ketat yang melarang penonton membawa jajanan dari luar, beli cemilan di gerai makanan resmi CGV adalah sebuah ketentuan yang nggak boleh dilanggar. Kalau ada gajian atau bonus dari tempat kerjaan, nggak ada salahnya membelikan teman-teman popcorn atau berbagai jajanan dan minuman. Biar nonton jadi lebih seru dan menyenangkan. Sesekali, bikin mereka bahagia nggak ada salahnya, kan?

Bikin Challenge Supaya Lebih Seru
Nggak ada yang lebih menjengkelkan selain perasaan pengen buang air kecil saat adegan film lagi seru-serunya. Nah, biar nonton bioskop makin seru, bikin challenge minum air terus-terusan sepanjang film. Berani coba aktivitas ekstrim nan mengganggu ini?

Jadi Penonton Bijak, Tetap Jaga Sopan Santun

Foto: coastalliving.com

Meski ada banyak keseruan saat di bioskop, tetap jadilah penonton yang bijak. Taati setiap peraturan yang ada, seperti nggak bawa makanan dari luar CGV Cinemas, nggak berisik dan mengganggu ketertiban, nggak ada deringan smartphone, nggak merokok, duduk di kursi yang sesuai dengan tiket, dan jaga kaki agar tetap sopan.
Itulah lima tips seru-seruan nonton bioskop bareng teman-teman di CGV. Jangan lupa datang tepat waktu biar nggak ketinggalan aksi-aksi seru dari para bintang film favoritmu.

View Post

Kemarin menyempatkan memanaskan oven, membuat cookies buat anak-anak. Yang simpel, yang gampang, dan sebisa mungkin anti gagal, ya…he. Bikin Cookies ini nggak butuh waktu lama, kok. Prosesnya sih sebenarnya ada dua cara. Pertama, adonan cookies bisa disimpan semalaman di kulkas, atau langsung dipanggang dengan catatan segera dipanggang jangan sampai meleleh adonannya.




Nah, karena saya nggak pengen nunggu terlalu lama, akhirnya saya pilih opsi kedua saja. Supaya adonannya tetap bagus, setiap memanggang, saya simpan adonan di kulkas. Saat akan memanggang lagi, saya ambil lagi, dan simpan lagi, begitu seterusnya sampai adonan habis.

Resep ini saya ambil dari resep Ci Tintin Rayner, master banget di Cookpad dan bukunya pun sudah terbit. Ketika memanggang, nggak usah menunggu sampai cookies berwarna kecokelatan, karena meskipun ketika dikeluarkan masih empuk bagian tengahnya, belum mengeras banget, nanti setelah dingin cookies ini akan mengeras sendiri, kok. Kalau terlalu lama justru jadi nggak enak dimakan dan keras.



Biar nggak lama-lama, silakan cek resepnya, ya!

Bahan:
340 gr terigu protein sedang (segitiga)
½ sdt baking powder
½ sdt baking soda
½ sdt garam halus (saya skip karena nggak punya)
170 gr butter suhu ruang ( saya pakai Blue Band Cake and Cookie)
140 gr gula pasir (saya pakai 100 gr)
110 gr gula palem
1 butir telur ukuran besar
½ sdm vanilla essence
152 gr chocohips (saya lebihkan)

Cara membuat:
1. Mixer gula dan butter sampai mengembang sekitar 3 menit. Turunkan kecepatan, masukkan telur, mixer asal rata. Masukkan vanilla essence , mixer sebentar sampai rata.
2. Ayak terigu, garam, soda kue, baking powder, dan masukkan ke dalam campuran gula dan butter. Aduk dengan spatula sampai rata, jangan over, ya.
3. Masukkan chocochips, aduk kembali hingga rata.
4. Bulatkan adonan menggunakan skop es krim, atau pakai tangan. Bisa dipipihkan dengan garpu, atau biarkan tebal juga nggak masalah.
5. Panggang suhu 160 selama 12-15 menit, atau sesuaikan dengan oven masing-masing.
Angkat dan dinginkan, beru kemudian masukkan toples.





Itulah resep chocochips cookies yang bisa teman-teman buat di rumah. Gunakan chocochips kualitas baik jika ingin lebih mantap. Bikin sendiri beda banget dengan yang dijual. Yang ini lebih nagih. Wangi butter, aroma gula palem, cokelat meleleh pas baru keluar oven, duh mana tahan. Anak-anak doyan banget makan ini.

Terima kasih sudah mampir di muyassdotcom, dan tetap semangat belajar masaknya, ya!

View Post

Sembilan bulan terakhir, saya lebih asyik menulis artikel dibanding menulis buku. Padahal, ini pengalaman baru, dunia baru. Keluar dari zona nyaman, mencoba menantang diri sendiri, “Kira-kira kamu bisa nggak bikin artikel dan jebol media?”



Menulis artikel itu sangat menyenangkan. Mungkin karena tak butuh waktu terlalu lama untuk terbit dan melihat karya sendiri segera dibaca orang lain, menjadikan saya segan berhenti.

Saya menikmati kesibukan menulis artikel setiap hari. Saya mencoba masuk banyak platform, mulai dari UC News, Hipwee, Plukme, Basagita, dan Takaitu.com. Ternyata mencoba beberapa media itu sangat menyenangkan. Ada tentangan tersendiri dari tiap platform. Mereka punya gaya sendiri, mereka punya syarat yang beda, mereka punya hal menarik yang bisa dinikmati.

Hampir empat bulan ini, saya memang aktif mengirim artikel di Takaitu.com. Platform remaja no galau milik anak Minang ini sukses membuat saya jatuh hati. Nggak tahu kenapa, setelah lama di UC News, saya akhirnya mencoba masuk di Takaitu.com.

Awalnya memang sulit. Sulit untuk memupuk rasa percaya diri. Gaya artikel di UC News tentu berbeda jauh dengan platform anak negeri satu ini. Nggak kebayang bagaimana saya bisa menulis seperti teman-teman lain. But, bukan saya kalau menyerah sebelum mencoba. Gengsi banget kalau ada teman bisa, dan saya nggak mau mencoba? Haha. Bukan saya banget… hihi.

Beruntung, barakallah, Allah yang mampukan, Allah juga yang mudahkan. Satu artikel pertama saya langsung terbit keesokan harinya. Duh, bahagia banget dong? Secara di Takaitu.com seleksianya lumayan ketat juga, tidak semua artikel terbit. Bahkan ada ratusan artikel menumpuk.

Sejak saat itu, saya mengirimkan artikel hampir setiap hari. Kadang sehari bolong, esoknya kirim lagi. Dan ini juga yang jadi alasan kenapa saya jadi jarang menjamah blog..hehe. Blog jadi diduakan begitu kenal Takaitu.com. Kasihan, ya J

Karena terbiasa mengisi hampir setiap hari, akhirnya nggak enak kalau nggak kirim lagi. Karena sudah terbiasa seperti itu, akhirnya istiqomah menulis artikel, kirim lagi, lagi, dan lagi. Rasanya seperti kebutuhan, kalau nggak kirim artikel seperti kehausan kurang minum.

Bulan April, Takaitu.com mulai bikin hal menarik lagi. Ada kontributor terkece setiap bulannya. Wah, semakin menantang banget, kan? Bikin susah mau jauh-jauh karena saya senang banget yang namanya kompetisi. Mau ngaku nggak ngaku, kalau udah model begini, saya pasti suka..haha.



Kabar baiknya, sejak diresmikan pada bulan Mei, saya terpilih jadi kontributor terkece hingga Juni kemarin. Sebenarnya jadi kontributor terkece itu bukan berarti artikel saya paling bagus, paling baik, paling menarik, atau nggak pernah ditolak. Bukan. Karena yang lebih bagus, lebih baik, lebih rapi tulisannya daripada saya juga banyak banget di Takaitu.com. Hanya saja, kalau saya perhatikan, mungkin saya termasuk yang paling istiqomah kirim artikel. Yap, kirim terus sampai mereka nggak punya alasan untuk nolak…he. Maksa namanya, ya.

Semua berhak jadi terkece, dan semua pantas. Ini soal keberuntungan. Usaha memang tidak ada yang sia-sia. Kadang pernah menulis hingga larut bahkan sampai mual. Terbangun dari tidur dan lari ke depan laptop..hehe. Ada hal-hal yang tak dilihat orang, sekilas mereka hanya tahu artikel saya banyak terbit. Itu saja. Padahal, di balik itu saya berdarah-darah..haha. Luka yang membahagiakan, ya pastinya. Dan ini sudah terjadi sejak saya menulis di UC News. Bukan hal baru lagi.

Apa saya begitu giatnya karena mengejar ‘Terkece’? Karena sudah dua kali, alasan seperti ini sudah nggak terlalu istimewa. Saya sudah berhasil menaklukkan, dan itu sudah lebih daripada cukup. Alasan masih sering kirim artikel, pertama karena memang sudah terbiasa. Kedua, karena jika berhenti sehari, ada yang kurang. Ya, kalau sudah terbiasa menulis akhirnya susah buat berhenti. Cuma, untuk memulainya juga nggak pernah mudah, ya.



Bulan Juli kemarin, pada akhirnya saya mengiyakan untuk berbagi atau sharing di Takaitu Community. Padahal, saya nggak terlalu main banyak teori ketika menulis. Lantas apa yang mau saya bagikan? Jadi pengen ketawa sendiri kalau ingat. Orang aneh kok disuruh sharing? Rasanya kok nggak pantas, ya?

Sore sebelum sharing, akhirnya saya buru-buru membuat sedikit materi. Ringan saja sekadar untuk ngobrol bareng teman-teman yang lain. Kita bicara tentang motivasi menulis, trik biar produktif, dan gaya menulis artikel yang paling banyak digemari.

Dan alhamdulillah, semua berjalan lancar hingga larut malam. Pengalaman baru, punya teman-teman baru. Saya harus lebih banyak bersyukur karena telah dipertemukan dengan orang-orang yang baik hati. Mba editor Takaitu.com juga baik banget. Founder-nya? Duh, jangan dipuji, nanti terbang…haha.

Yang penasaran seperti apa platform satu ini, kunjungi saja website atau gunakan aplikasinya. Coba cari dan baca artikel saya. Artikel yang lain juga, kok..hehe. Saya tidak sedang promosi. Jam 2 dini hari curhat sama layar laptop. Akhirnya nggak karuan apa yang ditulis..haha.

Terima kasih sudah berkunjung di muyassdotcom. Saya senang bisa bertemu kalian semua.

View Post
Kita patut bangga dan bersyukur karena tim Indonesia berhasil menjadi juara pertama dalam kontes robot Internasional yang diadakan di Montreal, Kanada pada 16-22 Juni 2018 kemarin.


Foto: its.ac.id

Tim robot soccer Ichiro dari Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS)  ini mengikuti kontes robot kategori Humanoid League Teensize Soccer Competition pada lomba robot soccer Robo Cup 2018. Kompetisi ini merupakan perlombaan tingkat dunia dan diikuti oleh 35 negara. Seperti apa cerita di balik  keberhasilan mereka dalam kompetisi ini? Simak ulasannya!

Kenalan dengan Ichiro yang keren banget dan berhasil meraih juara pertama kategori Teen size


Foto: its.ac.id


Ichiro merupakan singkatan dari ITS Champion in Robo Cup. Tahukah kamu siapa orang-orang hebat di balik Ichiro ini? Mereka adalah Muhammad Reza Ar Razi, Tommy Pratama, Sulaiman Ali, dan Dany Wicaksono. Keempatnya didampingi langsung oleh Muhtadin yang merupakan dosen di ITS.

Robot Ichiro ini memiliki tinggi 80 cm sehingga ia masuk dalam kategori Teen size. Menariknya, dalam pertandingan robot sepak bola ukuran remaja ini, hanya tiga pemain saja yang diperbolehkan masuk ke lapangan. Dua robot akan bermain dan satu robot menjadi penjaga gawang.

Sebelumnya, Ichiro yang merupakan tim  Indonesia ini lolos dalam babak penyisihan dan mempertemukannya dengan 3 tim lainnya. Indonesia kemudian berhadapan dengan Jerman dengan robotnya WF Wolves.

Pada babak penyisihan, Ichiro berhasil mengalahkan lawannya dengan skor 1-0. Karena sudah memahami kondisi lawan, ketika Ichiro dipertemukan lagi dengan WF Wolves pada babak semifinal, tak sulit baginya untuk menang kembali dengan skor 2-0.

Ichiro tampil memukau dan berhasil mengalahkan MRL HSL dari Iran yang sebelumnya mengalahkan robot dari Australia, Nu Bots tanpa ampun dengan skor 5-0. Ichiro tetap maju serta optimis. Dia pun berhasil mengalahkan MRL HSL dan meraih juara pertama.

Tim Indonesia berhasil meraih 4 penghargaan dalam 4 kategori Robo Cup 2018


Foto: its.ac.id


Itulah kerennya tim ITS ini dalam kompetisi Robo Cup 2018 kemarin. Mereka bukan hanya meraih juara pertama dalam kategori Teen size, tim ini juga berhasil meraih 4 penghargaan sekaligus, lho. Dan inilah empat penghargaan yang membuat kita bangga seperti dikutip dari news.detik.com,
  1. Juara pertama pada kategori Teen Size mengalahkan Iran dengan skor 3-0.
  2. Juara kedua Drop In Games untuk ketagori Teen Size.
  3. Juara kedua Technical Challenge kategori Teen Size.
  4. Juara ketiga Best Humanoid Robot Soccer untuk semua kategori.
Keberhasilan mereka pada Robo Cup 2018 ini membuat semua orang bangga atas prestasi yang berhasil mereka raih. Sebuah piagam penghargaan Pemuda Hebat dan Bantuan Dana Pembinaan diberikan langsung kepada tim Ichiro ITS oleh Kemenpora. Dana itu diharapkan mampu menjaga nyala di hati anggota tim sehingga mereka bisa terus berkarya dan berprestasi mengharumkan nama bangsa. Salut buat mereka!
View Post


Alhamdulillah, setelah lama tidak baking sejak pertengahan Ramadan kemarin, akhirnya pagi ini niat banget singsingkan lengan untuk kembali ngulen roti. Anak-anak sudah sangat kangen makan roti buatan emaknya. Roti-roti yang lewat di depan rumah dicuekin kalau ada stok roti homemade di atas meja.

Roti Gulung Nugget Keju 

Tapi, kayaknya bosen bikin roti yang biasa-biasa saja, ya. Jadi kepikiran bikin yang lebih spesial dan gurih gitu. Hm, akhirnya tercetus ide simpel ini. Yapt! Roti Gulung Nugget Keju yang simpel tapi sangat istimewa.

Kali ini saya menggunakan nugget stik ayam dari So Good yang sangat yummy dan cocok buat stok lauk di rumah. Kalau sedang malas masak dan buru-buru ingin makan, nugget So Good cocok deh dimasak dalam waktu cukup singkat. Anak-anak juga doyan, dicocol pakai sambal tomat dan dinikmati bersama nasi panas, hmm, yummy banget.

Salah satu produk So Good yang selalu jadi favorit di rumah


Banyak ide menarik bisa disajikan dari nugget ayam So Good ini, lho. Produk-produknya lengkap dan jika masih bingung akan dimasak menjadi menu apa, bisa intip deh resep-resep favoritnya di sini.

Nah, pagi ini saya pun telah siap dengan beberapa bahan sederhana untuk membuat roti isi nugget ini. Kita siapkan bahan-bahan ini, ya!

Bahan:
150 gr terigu protein tinggi
1 butir kuning telur
70 ml air hangat
1 sachet susu bubuk
½ sdt ragi instan
3 sdm gula pasir
Sejumput garam
20 gram butter

Bahan isian:
Secukupnya nugget stik ayam So Good yang sudah digoreng
Secukupnya potongan keju
Secukupnya oregano sebagai taburan
Secukupnya keju parut sebagai taburan

Cara membuat:
1. Campur 1 sdm gula pasir bersama ragi instan dan air hangat. Aduk rata dan diamkan sampai berbusa sambil kita siapkan bahan-bahan lainnya. Tujuan mencampur ragi instan dengan air hangat dan gula adalah untuk mengetahui apakah ragi masih aktif atau tidak. Jika campuran ragi berbusa, maka bisa dipastikan ragi bisa dipakai. Untuk itu teman-teman harus menggunakan air hangat kuku, jangan terlalu panas nanti ragi bisa mati, atau terlalu dingin, justru membuat ragi sulit aktif.

2. Siapkan terigu, kuning telur, sisa gula pasir, susu bubuk dalam satu wadah. Masukkan campuran ragi yang telah berbusa. Ulen atau mixer sampai tercampur rata. Baru kemudian masukkan butter dan garam. Mixer kembali sampai adonan kalis elastis ditandai dengan adonan yang sedikit mengkilap, mudah dibentangkan tanpa mudah sobek serta tidak lengket.

3. Siapkan bahan isian. Gilas adonan sesuai selera. Saya isi dengan satu nugget stik ayam So Good serta keju. Gulung sampai rapi. Susun di atas loyang yang telah diolesi dengan sedikit margarin. Jangan lupa beri jarak karena nanti akan mengembang. Lakukan hal yang sama hingga adonan habis. Tutup dengan lap bersih hingga satu jam atau sampai mengembang dua kali lipat.

4. Panaskan oven suhu 180 derajat atau sesuaikan dengan oven masing-masing. Saya pakai api atas dan bawah. Panaskan 10 menit sebelum digunakan.

5. Setelah adonan mengembang, beri taburan berupa keju parut serta oregano di atasnya. Panggang roti selama 15 menit atau sesuai oven masing-masing.

6. Keluarkan roti dari oven dan olesi atasnya dengan butter supaya tidak kering dan lebih wangi.

Setelah diberi isian dan mulai proofing

Setelah mengembang dua kali lipat, beri taburan dan siap dipanggang

Baru keluar dari oven, wanginya ke mana-mana

Ini asli enak banget :)


Sajikan sebagai camilan untuk keluarga tercinta 

Voila! Roti Gulung Nugget Keju siap disantap bersama keluarga tercinta. Hmm, ternyata gurihnya nugget ayam So Good cocok banget dipadu dengan keju dan lembutnya roti. Akan lebih sedap jika diberi tambahan saus sambal di atasnya.

Roti ini cukup singkat waktu pembuatannya karena hanya butuh satu kali proofing, ya. Nggak sampai bikin bosan nungguinnya, kok..hehe. Hasilnya? Tetap lembut meskipun tanpa pelembut roti.

Next bikin sajian spesial apalagi dengan nugget So Good, ya? Jadi banyak ide menarik, nih! Semoga bermanfaat dan selamat mencoba, ya!

View Post

Ini hari kedua si bungsu demam. Tidak pernah ukur karena anaknya masih lincah dan emaknya malas..he. Sekitar 38 derajat sih menurut perkiraan. Padahal aslinya nggak boleh main perasaan saat mengukur suhu. Tapi, yang ini nggak berlaku. Udah nggak peduli.

Sumber: bersamaislam.com

Sejak beberapa bulan lalu, Dhigda susah banget disuruh minum penurun demam. Setiap ditawarin jawabannya selalu nanti dan nanti. Katanya mau minum air putih saja atau menyusu. Sampai akhirnya demamnya turun dan hilang infeksinya.

Demam kali ini pun sama, tidak mau minum obat, sesekali dia berkeringat meski suhunya masih hangat. Masih mau bermain dan sama sekali tidak rewel. Paling minta bacain buku dan nempel aja sambil tiduran. Tidak suka digendong dan makan masih mau.

Demam tanpa gejala. Kemungkinannya bisa banyak hal, termasuk infeksi virus atau bakteri. Saya masih observasi, sejauh ini masih aman, belum ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan, jadi masih di rumah saja tidak ke dokter.

Demam tanpa gejala seperti batuk dan pilek bukan berarti harus selalu panik. Bukan berarti penyakitnya amat parah atau curiga DBD, ya. Semuanya punya gejala dan cirinya sendiri. Demam tanpa gejala bisa juga karena virus seperti roseola yang tandanya justru muncul saat demam mulai turun.

Sedangkan DBD juga ada ciri khasnya yang tak sama dengan penyakit lainnya. Misalnya saja dalam beberapa hari awal demamnya sangat tinggi dan tidak turun. Kondisinya semakin lemah kian hari apalagi ketika demam mulai turun. Saat demam turun, anak tidak akan lincah, lho. Justru semakin tidak berdaya. Muncul bintik-bintik yang identik banget sama DBD. Hari ketiga atau 72 jam dihitung sejak pertama demam, sebaiknya kita mengunjungi dokter. Kenapa harus menunggu lebih lama? Karena  pada hari pertama atau kedua, cek darah tidak akan menunjukkan hasil. Percuma dan kadang justru tersamarkan. Ini malah bahaya, kan.

Ketika anak sakit, sabarin deh jangan panik. Saya di Jakarta hanya tinggal bersama suami. Nggak ada pengalaman punya adik karena saya sendiri bungsu. Menikah ketika usia saya 19 tahun. Terbilang usia sangat muda dan masih labil..hihi. Usia 21 tahun saya melahirkan putra pertama. Dan drama anak sakit itu pun dimulai sejak saat itu.

Masya Allah, tidak ada yang benar-benar mudah. Si sulung punya riwayat kejang demam seperti saya waktu kecil. Usia 2 tahun hingga 6 tahun dia masih mengalami yang namanya kejang demam. Tapi, tidak setiap kejang demam saya membawanya ke dokter. Hanya saat kejang demam pertama saja. Kenapa pelit banget nggak ke dokter? Karena kondisinya memang tidak mengharuskan itu. Saya mempelajari semuanya di milis sehat. Tinggal jauh dari orangtua, ditinggal suami training di luar negeri sampai seminggu bahkan lebih membuat saya harus bisa menjalani semuanya. Jika saya hanya pasrah dan tidak mau tahu, bagaimana saya menghabiskan hari-hari dulu?

Dari milis sehat saya belajar banyak hal. Meski tidak pernah mengenyam bangku kuliah, jauh dari yang namanya paham dunia medis, tapi saya belajar bahwa seorang ibu dan orangtua wajib mengetahui minimal dasarnya saja soal penyakit langganan anak yang umum terjadi.

Saya menjalani banyak hal menyedihkan dan menakutkan ketika anak-anak sakit. Si sulung pernah terkena DBD, dia beberapa kali kejang demam dan itu terjadi lebih banyak ketika suami tidak di rumah, terakhir kemarin malah terjadi saat usia dia sudah beranjak 6 tahun. Setelah beberapa tahun tidak pernah kambuh. Ketika saya tinggal memasak nasi di dapur, sekembalinya dia sudah kejang, menggigit lidah hingga berdarah bahkan terkencing di celana. Saya panik, tapi saya tahu apa yang harus saya lakukan pada saat itu. Mengambil stesolid di kulkas. Nggak lama, kejangnya berhenti. Lemas, seperti tidak sadar itu biasa. Setelah itu dia siuman dan mulai minum. Suami pulang, semua sudah ditangani.

Membayangkan menjalani hal itu rasanya itu bukan saya banget. Hei, gadis kecil yang dulu cengeng bukan main sekarang sudah menjadi seorang ibu. Bahkan hari-harinya dipenuhi drama yang dulunya pasti tidak pernah bisa dibayangkan.

Ketika bungsu lahir, hari pertama kelahirannya saja sudah drama. Injeksi antibiotik atau menerima risiko terkenan sepsis? Saat luka masih perih, harusnya sedang bahagia, saya justru dilema. Dan semua itu telah berlalu pergi. Ketika si bungsu mulai berjalan, tanpa sengaja matanya terkena pasir sebab kakaknya bermain tidak hati-hati. Ya Allah, itu kejadian paling menguras air mata.

Sepanjang hari saya menangis bahkan di ruang tunggu rumah sakit sambil menggendong dia yang tidak bisa melihat dan matanya bengkak. Di Jakarta, saya bahkan tiba-tiba saja berani mau ke JEC yang jaraknya sangat jauh dari rumah, sendiri demi mengobati si bungsu yang tidak ada perubahan ketika saya bawa ke dokter di rumah sakit dekat rumah. Pengalaman berharga banget. Kejadian yang bikin nyesel dan kesel karena ngerasa nggak bener jagain anak..hiks.

Jika ingat semua itu, rasanya itu bukan saya yang menjalaninya, bukan. Tapi, nyatanya saya bisa menyelesaikan itu semua meski harus sambil nangis.

Ketika anak-anak mulai beranjak besar, saya sudah harus lebih tenang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Saya hanya butuh observasi, lihat tanda gawat darurat, kapan saya harus ke dokter, kapan saya bisa menanganinya di rumah. Semua itu bisa kita pelajari dan bisa sangat membantu supaya tidak salah ambil keputusan.

Hidup ini memang penuh ujian, Milea, kata Dilan..hehe. Jika kita tidak mau belajar dari kesalahan, bisa jadi besok kita akan jatuh ke lubang yang sama. Tidak semua dokter itu rasional. Itu saya rasakan banget. Karena saya sudah menjajal dokter dari ujung hingga ujung. Bahkan, yang terkenal saja belum sepenuhnya rasional saat menangani pasiennya. Hei, kita tidak sedang ingin menjadi dokter, tapi belajar dasar-dasar dari penyakit yang dialami oleh anak-anak pada umumnya adalah penting banget.

Kita akan jauh lebih siap dan tahu harus mengambil keputusan. Jadi, saat anak demam tanpa gejala, telah lewat 3 hari, bukan berarti harus cek darah. Bukan berarti dia harus dirawat, ini lebih parah. Bukan berarti kita harus panik dan apalah. Pelajari tandanya, kondisi klinisnya dan pastikan teman-teman tahu kapan harus pergi ke dokter. 

Alhamdulillah, pagi ini si bungsu sudah tidak demam lagi. Tulisan di atas curhatan semalam. Ini hari ke-3. Kemarin sempat berpikir takut kena ISK, karena ISK kadang tanpa gejala. Tapi, dia BAK masih bagus. Duh, ini tugas emak yang belum selesai. Dia belum sunat..hiks.

Kemarin sempat bilang sama suami, kayaknya saya lebih siap deh kalau si bungsu sunat. Karena dia lebih tahan sakit.

Suami nyeletuk sambil ketawa, "Masa? Hm, kita lihat aja nanti, ya?" Haha, ngeselin banget, kan si doi.

Alhamdulillah, si sulung usia satu tahun sudah sunat dengan drama emaknya yang ketakutan. Sekarang diberi rezeki anak cowok lagi yang saat usia 3 bulan udah mau disunat disuruh pulang sama dokternya, suruh mikir ulang. Alhasil hari ini masih ada tugas berat menunggu.

Drama jadi ibu lebih berat nyatanya daripada drama Korea, ya..hihi. Dan problem belum nyapih sampai bungsu mau 3 tahun pun belum terpecahkan sampai sekarang. Ibu macam apa kamu ini? hihi.

Terima kasih sudah membaca curhatan ini, semoga bisa diambil hikmahnya...amiiin.


View Post