Thursday, February 22, 2018

Tentang Rendi dan Pengantin Wanita yang Terluka pada Malam Pertama


Rupanya menunggu itu sunyi, menunggu itu sepi, dan menunggu kamu serupa mimpi yang tak pernah ada ujungnya…


Sinta belajar dari masa lalu, bahwa hidup tak selamanya memihak meski telah dikejar dan diperjuangkan setengah mati. Seharusnya hari ini dia duduk di pelaminan, bersama lelaki bernama Rendi yang sempat menyematkan sebuah cincin emas berukuran sedang di jari manisnya.

Tetapi, apa yang dia harapkan pada akhirnya tak pernah berujung nyata. Sinta duduk di bibir ranjang yang mulai berderit karena dimakan usia. Menatap jendela yang menganga serta menampakkan senja di ujung peraduannya. Kedua matanya terbuka tanpa embun. Kosong.


Begitukah hidup? Selalu membuat hari-harinya suram. Undangan yang disebar hingga kampung sebelah, rupanya tak juga membuat impiannya terwujud. Sudah sejak lama dia ingin menikah. Tepat pada usia ketiga puluh, ketika semua orang mulai panik menyebutnya perawan tua, dan ibu serta bapak mulai kalang kabut mencarikan jodoh, lelaki bertubuh tegap itu datang tanpa diminta.


Seolah malaikat penyelamat, dia bersedia menikahi Sinta tanpa syarat apapun. Katanya dia sudah jatuh hati sejak pertemuan tanpa sengaja di madrasah, tepat saat Sinta mengantar kue basah untuk para guru yang sedang mengadakan rapat. Dan seorang guru matematika pengganti berwajah teduh itu menyapanya tanpa alasan. Tiba-tiba dan tentu tanpa diminta.


Sinta sempat tergagap dan tidak bisa berkata. Lelaki tampan itu sopan dan berkenalan dengan santun. Menyebutkan nama tanpa mengulurkan tangan. Tidak bertanya alamat apalagi status. Segera berlalu meninggalkan debar tak keruan di hati Sinta.


Begitukah cinta?


Datang dan pergi serupa angin. Meninggalkan duka atau suka siapa yang peduli? Sinta menarik selimut yang sempat menutupi kedua kakinya, beranjak demi menutup jendela, sebab malam mulai menjemput, dan masa lalu yang kelam itu tak kunjung hilang dari ingatannya.


Rendi adalah cinta pertama. Lelaki baik hati yang bersedia mencintai tanpa pernah meminta apapun padanya, termasuk menerima keinginan Sinta untuk tetap tinggal di rumah orang tua. Ibu dan bapak sudah tua, sendiri mereka pastinya tak akan sanggup. Maka Sinta meminta Rendi untuk ikut tinggal setelah pernikahan mereka resmi digelar.


Tetapi, sehari sebelumnya, lelaki itu datang dan berpamitan akan pergi sebentar ke kampung sebelah. Membeli sesuatu yang katanya bisa membuat permaisurinya gembira. Tetapi hingga keesokan harinya, lelaki yang disebut sebagai pemuda pemalu itu tak kunjung kembali. Keluarga kalang kabut menanti, mencari ke sana dan ke sini. Bukan lagi soal hati Sinta yang ngilu, tetapi ini tentang pernikahan dan resepi yang akan kehilangan mempelai prianya.


Apa kata orang nanti? Kasak kusuk di belakang Sinta membuat luka semakin menganga. Katanya Rendi pergi bersama wanita lain, tetapi gadis tiga puluh tahun bermata indah itu tak bergitu saja memercayainya. Rendi adalah orang baik, tidak mungkin kabur setelah semua ikrar cintanya di depan bapak dan ibu. Mustahil! Pasti sedang terjadi sesuatu yang buruk padanya.


Maka firasat itu terus mengembang serupa semak belukar merusak dan mencabik hingga ulu hati. Tak ada yang benar-benar tiba, sama seperti tak pernah ada yang hilang sejak kepergiannya. Sinta menutup jendela kamar, jantungnya berdetak lebih cepat. Entah kenapa, senja begitu menyayat hati. Ada yang hilang, meski yakin lelaki itu akan kembali, tetapi pikiran buruk mengoyak tanpa ampun.


Saat Sinta berbalik, ibu sudah berdiri di depan pintu kamar dengan mata sembab. Mengucapkan dua patah kata. Dan pertanyaan selanjutnya sungguh menyayat.


“Bagaimana Rendi bisa mati?!”


Tak ada yang bisa menjawab. Lelaki itu memilih pergi, dan meninggalkan luka menganga yang tak tahu kapan bisa disembuhkan. Sinta tersungkur bersimbah tangis. Tak ada yang benar-benar memihak. Dia kehilangan semuanya, termasuk rencana bahagia untuk berumah tangga.


Seperti inilah hidup, datang dan pergi serupa mimpi. Luka dan suka seolah tak berarti. Meski telah kehilangan, selalu saja ada banyak hal yang bisa disyukuri. Termasuk kesempatan untuk bertemu lelaki yang telah mencintainya setulus hati...

 

Monday, February 5, 2018

Cerbung Tentang Kita; Menjaga Hati

Ini bukan tentang seberapa tampan dirimu saat lima puluh tahun setelah kita resmi menikah. Ini bukan tentang seberapa gagah dirimu setelah masa tua menjemput. Ini tentang bagaimana kita berdua mampu menjaga hati, meski sampai wajah ini tak lagi nyaman dipandang sebab kerutan dan rambut memutih menjadi pemandangan yang membosankan. Bukankah begitu, Mas? Dan jiwa yang telah terikat dan tertambat seharusnya tak memusingkan masalah fisik. Sebab siapa pun yang kamu pilih kelak, dia pun akan mengalami hal yang sama. Tetapi hati yang suci tak akan berubah meski masa telah tenggelamkan banyak ingatan tentang indahnya kebersamaan kita…

(Raina)

Mengingat banyak hal tentang kebersamaan kita memang bukan hal mudah. Terlebih itu tentang setia yang dulu selalu kamu agung-agungkan. Memang terpikat wanita lain tak selalu karena salah dia, bisa jadi aku memang kurang bersyukur memiliki pasangan sebaik dirimu sehingga Allah menegurku. Kadang kita harus kehilangan dulu supaya tahu betapa berartinya seseorang dalam hidup kita.


Tapi, jika harus menunggu luka, rasanya terlalu menyesakkan. Aku tak pernah benar-benar ingin meninggalkanmu, Mas. Masalah bertubi yang datang menghantam biduk rumah tangga kita membuat segalanya jadi aneh, entah kenapa meski kesal dan benci, aku sering merindukanmu diam-diam.


Setelah menikah, memang bukan masalah siapa aku dulu, dan siapa kamu kemarin, yang terpenting adalah siapa kita saat ini. Dan masa lalumu itu memang cukup rumit, Mas. Dan ternyata tak semudah yang aku bayangkan bisa memaafkan semua itu, terlebih ketika orang lain dalam kehidupanmu dulu tiba-tiba saja muncul. Apa yang harus aku katakan terlebih ketika melihat kamu bercengkerama berdua dengannya? Aku memang cengeng, tak bisa menahan sesak yang tiba-tiba menghantam. Suamiku tertawa lepas bersama wanita lain. Kenyataan yang tak pernah membuat hati baik-baik saja.


Menyalahkan dia sebagai penyebab semua ini rasanya terlalu jauh. Aku belajar untuk tidak mengkambinghitamkan siapa pun, termasuk perempuan itu. Masalah ini bisa jadi kita berdua memang sudah memulainya lebih dulu, dan dia masuk di antara celah kecil yang telah kubuka.


Selama beberapa hari menjaga buah hati kita di rumah sakit, kamu selalu menunjukkan penyesalan yang pada akhirnya membuatku luluh. Sayangnya, luka itu memang bisa dengan mudah sembuh tetapi akan sangat sulit sekali dilupakan. Jika saja kamu tahu, hal semacam ini sebenarnya tak banyak merubah keadaan kita. Atau memang aku saja yang sulit memaafkan?


Ketika kamu tertidur pulas di sofa berwarna abu-abu itu, aku merasakan ada banyak penat menggelayuti wajahmu, Mas. Sepertinya kita terlalu lama berkonflik sampai tak tahu jika kebersamaan kita saat ini adalah kebahagiaan yang tak terkira. Ketika diam-diam aku menatap wajahmu lekat, sepasang mata itu terbuka, kemudian tersenyum. Aku bisa meraba jantungku yang sempat lepas kendali dan segera berpaling, pura-pura mengantuk dan tertidur. Tetapi diam-diam kamu menatapku. Balasan yang tak pernah kusangka sejak terjaga satu jam sebelumnya.


Karena merasa risih diperhatikan terlalu lama, aku pun memberanikan diri membuka mata dan memelototimu, kamu balas tertawa. Dan enyah sudah rasa sakit yang kemarin serupa batu besar menghantam hati. Sesederhana itulah penyelesaian dalam hubungan kita. Ketika gunung es sudah mencair, apapun akan terasa lebih ringan. Bukan begitu, Mas?


Ini bukan tentang seberapa cantik dirimu setelah usia setengah abad pernikahan kita, tetapi seberapa kuat aku menahan diri untuk tidak berpaling kepada perempuan lain. Menjadi bagian dari keluarga kecil kita sejatinya sudah merupakan hadiah tak terkira, tetapi dalam beberapa keadaan, aku sering lupa dan mengabaikan apa itu setia. Aku rindu bersitatap denganmu, aku rindu mendengar omelanmu setiap pagi, ketika kamu merapikan kancing kemejaku dan bersiap menyiapkan sarapan. Bukankah kamu memang istri yang sangat cerewet? Setidaknya karena itulah aku masih bertahan di sini, Rai. Jangan lelah menemaniku, mungkin suatu saat aku akan membuatmu kesal lagi, tetapi jangan pernah habis memaafkan semua kesalahanku, sebab kenyataannya aku tak pernah bisa berpaling.

(Bagas)


 
-Tamat-

Thursday, February 1, 2018

Banana Muffin, Super Simpel dan Yummy!

Banana muffin ini sebenarnya dibuat demi memanfaatkan pisang yang sudah menghitam dan nggak ada lagi yang mau menyentuhnya. Huhu, kasihankan si pisang kalau sampai nggak dimakan dan akhirnya terbuang sia-sia. Mubadzir banget.

Resep ini pertama kali saya dapatkan di Cookpad dari akunnya ci Tintin Rayner. Membuat ini gampang banget, lho. Hanya tinggal diaduk saja tidak perlu pakai mixer. Tapi, perlu diingat mengaduknya santai dan secukupnya saja, supaya hasilnya tidak bantat. Cara mengaduk cake seperti ini memang tidak terlalu familiar buat saya, sebab saya sebenarnya jarang banget bikin kue*terumata pada zaman dahulu kala...kwkwk. Jadi, teknik mengaduk saya pikir ya hanya bisa dilakukan dengan satu cara yakni sembarangan saja. Ternyata nggak seperti itu, Sodara. Ada cara sendiri, jangan sampai over mix ketika mengaduk sehingga membuat cake malah gagal mengembang dengan baik atau terburuknya jadi bantat. Minimal kita ngaduknya jangan pake tenaga seperti saat mengulen roti. Melainkan harus pakai hati. Emang bisa ngaduk pakai hati? hehe.


Teman-teman bisa menggunakan jenis pisang apa saja. Kebetulan di rumah ada pisang ambon berukuran cukup besar. Nanti pisangnya cukup dilumatkan saja dengan garpu. Saya pun menghancurkannya nggak sampai halus banget kok. Masih ada bagian pisang yang belum halus bukan masalah asal nggak besar-besar banget, ya. Dan justru tekstur kasarnya ini semakin enak ketika dimakan. Masih ada rasa pisang aslinya. Kalau ditambahkan pisang lebih dari ukuran resep biar lebih nendang gimana? Saran saya jangan deh. Kecuali memang sengaja mau mencoba-coba tanpa takut gagal. Kalau nggak, ya mending ikutin resepnya aja apalagi jika kita baru nyoba-nyoba bikin kue.


Kalau mau mencoba, sambil menyiapkan bahan sebaiknya sambil panaskan ovennya ya suhu 180’C. Saya pakai oven listrik, dan nggak masalah kalau teman-teman mau bikin pakai oven tangkring dan yang lainnya. Asalnya suhunya dikira-kirakan saja ya supaya sesuai dan hampir sama. Daripada kelamaan, mending kita cobain yuk resepnya :)


Bahan A:

3 buah pisang ambon besar

1 butir telur ukuran besar

100-110 gr gula pasir

85 gr butter atau margarin, cairkan

1 sdt vanilla essence

Bahan B:

190 gr terigu serbaguna

1 sdt baking powder double action (sy pakai 1 ½ sdt yang biasa)

½ sdt baking soda

Secukupnya chocohip atau kismis


Cara membuat:

1. Lumatkan pisang kemudian campur dengan bahan A sampai gula larut. Gunakan wisk.

2. Ayak bahan B kemudian buatlah lubang di tengah dan tuang bahan A. Aduk dengan wisk pelan sampai rata.

3. Masukkan chocochip dan aduk kemudian tuang dalam cup yang sudah disiapkan. Jangan terlalu penuh karena nanti akan mengembang, ya.

4. Panggang selama kurang lebih 25-30 menit tergantung ovennya, ya.

5. Angkat dan sajikan.


Mudah banget, lho. Rasanya pun enak. Kemarin jadinya 9 cup kecil dan 3 cup besar. Besoknya dibawa untuk bekal si sulung dan dibawa sama paksu buat dimakan bareng temennya..he. Alhamdulillah, senanngnya baking kalau laris manis seperti ini, ya. Capeknya terbayar sudah. Padahal kalau bikin ini sih nggak capek…hihi. Lebih capek kalau bikin roti, kan? Mesti ngulen sampai berjam-jam. Masih harus nunggu proofing dan mengembang sempurna baru dipanggang. Jenis cake kayak gini benar-benar solusi kalau kitanya lagi nggak pengen masak lama-lama atau sedang terburu-buru. Karena bikinnya nggak ribet dan bahannya simpel. 

Gimana, udah siap nyobain nggak di rumah? Semoga berhasil dan selamat mencoba, happy baking!