Posts with the label Story
Showing posts with label Story. Show all posts
Showing posts with label Story. Show all posts

Thursday, October 17, 2024

Marriage is (not) Scary

Marriage is (not) Scary


Saya lahir dan tumbuh di keluarga yang masih melegalkan perjodohan, nggak mendukung pendidikan tinggi bagi anak perempuannya karena dianggap buruk, dan kalau bisa banyak-banyak di rumah supaya aman. Jadi, sekalinya keluar rame-rame sama teman, bisa kena silent treatment seharian…hehe.

Perjodohan itu boleh, kan? Yes! Tapi, di keluarga besar kami, perjodohannya itu scary banget gitu, lho…kwkwk. Saya masih bisa mengingat dengan detail yang jelas ketika kakak perempuan saya dijemput dari pesantren. Rumah sudah ramai seperti mau hajatan. Kakak saya diajak ke belakang, diberi tahu kalau dia akan dilamar oleh seseorang yang jelas dia nggak pernah kenal. Nangis? Iyalah. Kamu bayangin aja, lagi senang-senangnya sekolah, tiba-tiba disuruh nikah. Serem banget ya Allah :(

Di keluarga besar kami, anak itu harus benar-benar manut sama orang tua. Nggak ada ruang diskusi. Kalau menolak, dianggap membantah. Jadi, orang tua saya sangat takut kepada nenek saya. Saking takutnya, mereka rela menikahkan anak-anaknya dengan orang yang sebenarnya mereka juga nggak kenal baik. Hanya karena dianggap keturunan Kyai, punya nama, lalu oke saja. Padahal, dalam perjalanannya, pernikahan mereka benar-benar scary :(

Saya nggak akan ceritakan detailnya, tapi buat saya pribadi, pernikahan mereka luar biasa bikin trauma. Kakak saya akhirnya bercerai. Kalau saya jadi mereka, mungkin saya nggak akan sanggup menjalani abusive relationship seperti itu.

Menikah dengan Orang yang Tepat

Ketika saya sudah tamat SMA, mulai ada yang datang melamar, tapi saya bersyukur orang tua mulai memberi ruang untuk saya, mau menerima atau menolaknya. Mungkin, karena tidak ada tekanan dari keluarga besar, jadi, mereka bisa lebih leluasa memutuskan.

Saya juga cukup beruntung karena bisa melanjutkan sekolah meski hanya satu tahun, sedangkan saudara saya yang lain harus berhenti belajar setelah lulus SMA. Kalau diingat, dulu banget pernah menelepon di kantor pesantren dan memohon supaya diizinkan untuk kuliah. Waktu itu, hampir semua teman saya sesama D1 di sana mau melanjutkan sekolah. Saya yang cita-citanya setinggi langit sudah pasti pengin juga seperti mereka, tapi Ibu bilang, nggak bisa.

Mencelos hati rasanya. Apa iya se-enggak bisa itu? Apa iya nggak bisa diusahakan? Apa anak kuliah seburuk itu di mata kedua orang tua saya? Sampai sekarang masih nggak habis pikir, kenapa orang tua nggak memberi kesempatan untuk kuliah. Saya tahu semata-mata ini bukan soal biaya, tapi ya sudahlah. Qadarullah.

Lho, emang ada orang yang berpikir anak perempuan yang kuliah itu bakalan nakal? Ya ada bangetlah…kwkwk. Sepupu saya adalah anak perempuan pertama yang kuliah di keluarga besar kami waktu itu. Habislah dirujak…kwkwk. Untungnya, orang tuanya teguh. Lebaran kemarin, kami bahkan membahas hal itu dan saling menertawakannya…kwkwk.

Ketika keinginan kuliah itu gagal, saya nggak punya banyak pilihan selain ya udah nikah aja, kan? Memangnya mau ngapain lagi? Mudah sekali putus asanya, ya? Kwkwk. Kalau ada di posisi saya, pasti akan memikirkan hal yang sama. Memangnya saya bisa apa? Mau seberjuang Zenna dalam Novel JS. Khairen? Meski ekonominya kurang, tapi Zenna didukung sama orang tuanya :(

Saya dan suami hanya bertemu satu kali tanpa sengaja, tanpa ngobrol, dan hanya selintas lalu. Kalau sudah jodoh, memang akan Allah mudahkan. Ya, memang akhirnya semudah itu juga jalannya meski tak pernah saling kenal.

Kata Ibu, memangnya mau cari yang seperti apa lagi? Dia anaknya baik dan tekun. Memangnya masih mau menunggu yang gimana lagi? Kwkwk. Tanpa paksaaan, saya mengiyakan. Mungkin, untuk pertama kalinya di keluarga kami, anak perempuan boleh memutuskan siapa calon suaminya.

Kami menikah setelah saya lulus D1. Kalau dipikir, andai pasangannya nggak tepat, pernikahan akan menjadi hal yang sangat menakutkan. Perjalanan kami tidak mudah, baru kenal pula, saya juga banyak tantrumnya…kwkwk, tapi pernikahan kami terselamatkan mungkin sebagian besar karena suami saya sabarnya lebih luas daripada istrinya…huhu. Berasa sempit banget sabar saya…haha.

Menikah Itu Belajarnya Seumur Hidup

Capek, ya nikah itu? Naik turun seperti roller coaster. Lebih capek lagi ketika kita harus jadi orang tua, tapi kitanya masih ada trauma pengasuhan. Jadi, kalau kita belum beres dengan semua ini, sebaiknya jangan nikah dulu. Beresin dulu semua trauma kamu. Karena nikah nggak menyelesaikan masalah.

Setelah menikah, kita nggak bisa hanya mementingkan diri sendiri. Lebih sulit ketika harus memahami pasangan kita. Akan jauh lebih sulit ketika keduanya hanya mementingkan egonya masing-masing.
Menikah itu belajarnya seumur hidup. Sampai punya anak pun rasanya masih harus banyak belajar. Dan benar saja, ujian pernikahan itu nggak sedikit. Nggak ringan. Kalau nggak kuat-kuat, seperti yang kita lihat, alasan sepele bisa menjadi sebab perceraian.

Menikah tidak seperti pacaran yang bisa putus nyambung sesuka hati. Namun, kalau memang pasangan yang ternyata kita pilih nggak tepat, ada KDRT, tidak menafkahi, ya rugilah dipertahankan. Alasan demi anak-anak itu nggak masuk akal sama sekali. Ketika melihat orang tuanya bertengkar hampir setiap hari, justru malah membuat trauma yang lebih besar bagi anak-anak kita.

Sejak Islam hadir, kaum perempuan dinaikkan derajatnya. Sudah nggak zaman perbudakan lagi. Perempuan dihormati haknya, diberi aturan supaya terjaga kehormatannya. Ketika menikah, ia bukan hanya jadi pemuas nafsu pasangannya saja, melainkan benar-benar dijaga, diberi haknya, dihormati, disayangi. Kalau harus apa-apa sendiri lagi, ya mending sendiri aja nggak, sih? Kwkwk

Lelaki di Indonesia rata-rata ya masih menerapkan budaya patriarki. Pekerjaan rumah tangga dianggap hanya tugas istri. Mendidik anak hanya urusan ibunya. Tugasnya suami mencari nafkah. Kalau benar begitu, apa bedanya sama mesin ATM? Kwkwk. 

Nggak setuju banget dengan budaya seperti ini. Jadi perempuan itu lelah, Bang…huhu. Jadi IRT sering dianggap nggak kerja. Sudah mengerjakan semua hal sendiri, masih juga dianggap kurang. Kamu mau nyari pasangan atau nyari ART?

Sebagai perempuan, kita juga mesti punya batasan sejauh mana kita boleh memperjuangkan dan sejauh mana kita mesti udahan. Kalau rumah tangganya sudah nggak normal, kamu doang yang lelah, menurut saya, perceraian bukan hal yang salah. 

Seperti yang kita lihat beberapa bulan terakhir, kasus-kasus KDRT dan perselingkuhan marak terjadi. Sudah dianiaya sampai lebam, diberi waktu beberapa tahun, tapi nggak ada perubahan, lalu apa yang mau diharapkan?

Marriage is not scary jika pasanganmu tepat. Pasangan yang tepat itu adalah yang sama-sama mau berbenah, mau sama-sama belajar, juga yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Kita kan maunya punya teman hidup, bukan hanya sekadar tinggal bareng. Sad banget kalau apa-apa masing-masing, kan?

Belasan tahun menikah, saya mulai menyadari bahwa sama-sama dewasa itu juga butuh waktu. Dewasa bukan perihal usia, tapi juga soal mindset kita. Pernah suatu hari saya buru-buru mau jemput si adek di sekolah. Waktu itu, suami saya berjanji akan menjemput. Jadi, saya melarang ojeknya datang. Namun, siapa sangka suami saya meeting dadakan sampai sejam lebih, sedangkan anak saya sudah nungguin sampai hampir Magrib. Qadarullah, jam-jam macet itu mengerikan ya. Waktu mau jemput, suami pakai mobil karena memang kebetulan habis dipakai, tapi melihat kondisi lalu lintas yang padat, suami putuskan balik ke rumah ambil motor. Dan jelas, itu butuh waktu lebih lama lagi.

Di jalan, dia sempat nggak ingat kalau sudah janji sama anaknya mau jemput. Saya kesal juga. Kenapa menyanggupi, tapi sebenarnya nggak sanggup? Setelah saya jelaskan, kami sama-sama diam. Asli, capek banget pikiran. Saya nggak pernah ninggalin anak di sekolah sampai jam segitu masalahnya…huhu.

Dari kejadian itu saya berpikir, ternyata begini ya kalau sama-sama sudah dewasa. Nggak ngajak ribut apalagi tantrum sendiri. Ketika marah dan kesal, lebih baik diam dulu daripada bicara banyak dan membuat masalah tambah sulit. 

Menikah nggak sesederhana kamu suka sama pasanganmu saja, tapi lebih dari itu juga harus ada kesiapan mental, finansial, dan paling penting juga soal agama. Percuma anaknya Kyai, tapi kalau nggak mengamalkan yang dipelajari, ujung-ujungnya hanya zalim sama pasangannya. 

Saya bersyukur bisa bertemu pasangan yang tepat (bukan sempurna). Suami saya selalu support mimpi-mimpi saya, bahkan dia izinkan saya kuliah, dia juga mau belajar menjadi orang tua yang baik, nggak gampang tantrum seperti istrinya…kwkwk. Masya Allah tabarakallah. Kalau dipikir, memangnya mau cari yang gimana lagi? Pengin dapat spek Nabi Muhammad, tapi mesti sadar diri juga kalau kita bukan Khadijah, kan? :)


Salam hangat,

Thursday, October 17, 2024

Marriage is (not) Scary

Wednesday, January 31, 2024

Mengajarkan Anak Berbisnis Sejak Dini

Mengajarkan Anak Berbisnis Sejak Dini
Photo by Sigmund on Unsplash


Dulu, ketika si sulung masih duduk di bangku Sekolah Dasar, ada temannya yang berjualan di sekolah. Dia berjualan pudding dan minuman. Kadang, dia membawa pesanan para guru dan teman-temannya. Entah kenapa, saya begitu senang mengetahui bahwa ada anak yang bisa berjualan di sekolah ketika teman-teman seusianya tidak memikirkan hal yang sama.


Saya pernah menawari si sulung berjualan, tetapi dia menolak karena tidak berani dan kurang percaya diri. Tujuannya memang bukan soal uang, tetapi membangun rasa percaya dirinya. 


Anak-anak di rumah sudah terbiasa menabung sejak kecil. Mereka tidak boros, tidak sembarangan membeli barang yang mereka suka dengan uang tabungannya. Saya juga tidak memberikan uang saku untuk mereka, sebab mereka sudah membawa bekal dari rumah. Meski sering disuruh jajan di kantin, mereka tetap menolak. Alasannya, males antre dan berdesak-desakan…kwkwk


Suatu hari, teman saya bercerita. Katanya, salah satu penjual di kantin menanyakan si sulung. Apakah dia anak baru? Kenapa jarang kelihatan? Teman saya tertawa. Si sulung sudah sekolah di tempat yang sama sejak TK sampai SD…huhu. Saking jarangnya jajan di kantin, ibu kantin pun tidak mengenalinya…kwkwk.


Anak-anak membawa uang saku sekitar 5 sampai 10 ribu yang kadang nggak habis dalam satu semester. Uang itu memang sengaja disimpan di tas untuk berjaga-jaga jika mereka butuh membeli air minum.


Setelah si sulung masuk pesantren, saya hampir tak percaya jika dia juga sangat hati-hati dalam mengelola uangnya. Anak kelas 1 SMP dan baru berpisah dari orang tua. Dia tidak pernah pegang uang sendiri. Tidak pernah mengatur kebutuhannya sendiri. Ketika saya menyimpan uang di tabungan santri dengan nominal yang lumayan besar, yang saya harap itu cukup membuatnya tenang selama di sana tanpa harus takut kehabisan uang untuk jajan, terutama di masa-masa awal di pesantren, nyatanya dia hanya mengambil 30 ribu saja dan sisanya masih ada sampai dengan saat ini.


Karena dia malas ambil tabungan santrinya, akhirnya setiap bulan saya beri pegangan uang yang nominalnya terbilang sedikit. Hanya untuk berjaga-jaga jika diperlukan atau ketika dia mau titip beli takjil saat Senin dan Kamis. Sampai kepulangannya di liburan semester pertama kemarin, saya masih belum tahu jika dia harus membayar uang kas kelas dan kamar yang otomatis mengambil uang pegangannya. Jadi, selama ini dia pegang uang lebih sedikit dari yang saya kira. Setiap saya ke pesantren, dia tidak pernah membuka amplopnya. Mau saya kasih berapa pun, dia tidak protes.


Dari sini, saya pikir uang itu hanya dipakai untuk kebutuhannya, bukan untuk membayar kas. Nyatanya saya keliru. Liburan semester pertama kemarin, dia pun masih menyisihkan uangnya untuk ditabung. Masya Allah tabarakallah. Mana nyangka masih nyisa juga? Kwkwk.


Membeli Sesuai Kebutuhan

Waktu kecil, saya membiasakan anak-anak untuk membeli apa yang dibutuhkan, bukan apa yang selalu mereka inginkan. Suatu hari, si sulung pernah hampir gulung-gulung di depan toko mainan hanya karena menginginkan mobil remot. Namun, kami sudah sepakat akan membelinya saat uang tabungannya cukup.


Menepati ucapan kepada anak akan sangat berpengaruh kepada sikapnya juga. Dia yang waktu itu masih kecil, belum juga sekolah, tetapi sebenarnya sudah memahami betul apa itu komitmen. Pada akhirnya, kami pulang ke rumah tanpa drama dan memecahkan celengannya dan menghitungnya. Setelah dihitung, uangnya belum cukup. Jadi, dia menabung kembali sampai keinginannya tercapai.


Ketika pergi ke swalayan, kami juga sepakat membeli hal-hal yang dibutuhkan. Ketika dia meminta sesuatu di luar kesepakatan, tentu saja saya menolak. Nah, hal-hal seperti ini akan mengajarkan anak-anak kita untuk bersikap konsisten dan tidak menjebak emaknya…haha.


Tidak menuruti permintaan anak-anak bukan berarti tidak sayang. Menangis juga bukan hal haram selama ia tidak menyakiti dirinya sendiri, tidak merusak barang, dan sejenisnya. Meski dia laki-laki, jangan pernah melarangnya menangis dan bersedih. Buat saya, semua emosi itu baik asal tidak disampiaskan dengan cara yang keliru.


Balik lagi ke si sulung. Ketika ia masuk pesantren, ternyata dia berhasil mengelola uangnya dengan baik. dia pernah cerita, beberapa temannya sering meminjam uang dengan nominal yang tidak besar untuk jajan. Salah satu temannya juga pernah berkomentar, kenapa uangmu masih ada padahal jumlahnya hampir sama dengan milikku? :D


Jika dilihat, bukan anak saya tidak suka jajan. Dia suka dan mau saja makan camilan seperti susu dan camilan ringan lainnya, tetapi karena dia anaknya agak mageran, males ke mana-mana seperti saya, akhirnya dia memilih tetap di asrama dibanding harus panas-panasan beli makanan di kantin atau swalayan pesantren.


Setiap menjenguk, saya selalu membawakannya makanan ringan secukupnya asal bisa muat di lemari. Sebelum dijenguk lagi, kadang camilannya sudah habis, tetapi ia enggan dikirim via Alfagift misalnya. Alasannya, males kalau ambil paket antre…kwkwk. Benar-benar di luar nurul, kan?


Selama enam bulan pertama di pesantren, kelihatan banget dia kurusan. Selain kurang tidur, dia pasti juga berkurang makan dan ngemilnya. Namun, saya bersyukur dia bisa beradaptasi dengan baik meski saya yakin, itu bukan hal mudah. Makan makanan berat yang mungkin nggak sesuai sama seleranya, tetapi tetap harus dimakan daripada sakit, ketika sakit dia harus mengurus dirinya sendiri, tanpa saya, tanpa minta pulang dan merengek, bahkan selama semester pertama kemarin, meski beberapa kali sakit, dia tidak pernah absen. Tetap masuk sekolah seperti biasa karena takut disuruh tidur di UKS. Benar-benar di luar nurul (yang kedua)…haha.


Berjualan Sesuai Hobi

Awal kembali ke pesantren setelah libur, dia sering telepon. Sepertinya kangen, jadi pengin banyak ngobrol dengan saya. Sampai akhirnya dia cerita kalau di sana, dia berjualan gambar atau nama yang diberi ornamen. Dia kirim beberapa foto. Sejujurnya, saya kaget dan takjub juga, masya Allah. Saya nggak pernah membayangkan dia berjualan gambar dan ada lumayan juga yang beli.


Ketika kami ke pesantren, dia tunjukkan beberapa syarat atau ketentuan jika ada yang mau memesan gambar padanya. Saya dan suami cukup terkejut dengan ketentuan yang dia tulis. Lebih detail dibanding saya yang kerja sebagai illustrator selama beberapa tahun terakhir. Misalnya, jika mau pesan, harga beberapa style dibedakan, kertasnya dari pembeli, revisi hanya boleh saat masih berbentuk sketsa, pembayaran dilakukan setelah gambar selesai, harus sabar menunggu sesuai antrean, mesti digaris bawahi, dilarang keras menagih gambar! Kwkwk. 


Kenapa harus begitu? Katanya, si sulung hanya mengerjakan saat jam kosong di kelas. Jadi, bisa dibayangkan butuh waktu banget untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Soal harga, dia mematok harga yang masuk akal, sih. Meski sebagian orang meremehkan pekerjaan tukang gambar, tetapi saya pribadi mengakui bahwa pekerjaan ini tidak mudah dikerjakan oleh semua orang. Capek, susah, belum lagi harus detail. Jadi, harga yang ditawarkan termasuk manusiawi untuk ukuran gambarnya dia.


Dibanding menjual makanan, justru mengerjakan gambar seperti ini bakalan dapat untung yang utuh, sih…kwkwk. Karena kertasnya saja dari pembeli, sedangkan pensil warna dibawa dari rumah….haha.


Saya harus akui, putra saya lebih berani dibanding saya ketika membuat aturan. Saya pribadi, terkadang masih terpaksa merevisi gambar yang sudah diwarnai. Meski perjanjian di awal nggak boleh, tetap saja kadang saya kerjakan. Inilah pentingnya memberikan batasan pada diri sendiri sehingga orang lain bisa lebih menghargai kita. Bagus, Nak!


Manfaat Belajar Berbisnis Sejak Dini

Kira-kira, apa sih manfaat anak-anak berjualan sejak kecil? Apakah semata-mata demi uang? Meski anak-anak cenderung senang dapat menghasilkan uang sendiri, tetapi lebih dari itu, ada beberapa manfaat yang sangat bagus bagi mereka.


1. Menumbuhkan Rasa Tanggung Jawab

Ketika anak kita berani berjualan, maka mereka telah berani mengambil tanggung jawab lebih dibanding yang lainnya. Dia harus menjaga barang dagangannya, menghitung, juga mengerjakan pekerjaannya jika memang ia berjualan gambar seperti putra saya. 


Berhasil atau tidaknya bisnis mereka, tergantung pada mereka juga. Jika mereka malas-malasan, otomatis mereka tidak akan bisa menjalankan usahanya dengan baik. Meski kesannya sepele, tetapi ada banyak manfaat yang dapat dipelajari dari berjualan di usia kecil.


2. Menumbuhkan Jiwa Berbisnis atau Wirausaha

Sama seperti kita, pasti di awal-awal, mereka cenderung ragu apakah mereka dapat menjalankan usahanya dengan baik? Apakah bisnis mereka akan sukses atau malah gagal?


Meski sangat pemula, tetapi mereka telah berani mengambil risiko dan akhirnya sukses menjalankan bisnis kecilnya dengan percaya diri. Jiwa wirausahanya telah tumbuh dan semoga bisa membuatnya lebih percaya diri di waktu dewasanya nanti.


3. Anak Akan Lebih Menghargai Uang

Ketika tahu tidak mudahnya mendapatkan uang sendiri, anak-anak akan belajar untuk berhemat. Mereka akan belajar menghargai uang karena paham betapa susahnya mengumpulkan uang sedikit demi sedikit.


Sejak masuk pesantren dan harus memegang uang bulanan sendiri, saya melihat si sulung jadi lebih perhitungan bahkan meski itu menggunakan uang saya. Misalnya, ketika kami ke Gramedia, dia menolak membeli beberapa peralatan sekolah karena dirasa terlalu mahal. Katanya, mending beli di toko dekat rumah…kwkw. Padahal, nggak pakai uang dia juga, lho.


Kalau anak kita sudah paham cara menghasilkan uang, insya Allah mereka tidak akan sembarangan menghabiskannya.


4. Melatih Rasa Percaya Diri

Tidak semua anak berani berjualan di sekolah. Kenapa? Karena hampir seluruhnya akan menjawab, maluuu! Itu juga yang dikatakan oleh putra saya dulu.


Padahal, saya pribadi begitu senang melihat ada anak yang masih sekolah, tetapi mau berjualan. Entah karena hobi atau memang demi membantu ekonomi keluarga.


Namun, tiap anak memang punya waktunya masing-masing, ya. Berawal dari seringnya si sulung disuruh menggambar oleh temannya, dia jadi punya ide untuk menjual sekalian gambarnya…haha. Qadarullah, gambarnya memang laku dan sudah ada beberapa orang yang pesan.


Ketika anak berhasil melakukan sesuatu, jangan lupa untuk mengapresiasi usaha dan kerja kerasnya. Penghargaan dari orang tua pasti akan selalu putra putri kita harapkan. Entah itu dengan memberikan pujian ataupun reward.


Setiap orang tumbuh dan berkembang mulai dari nol. Jangan terburu-buru meminta anak-anak kita berhasil, tetapi bersamailah mereka sampai benar-benar berhasil. Bukankah kita juga tidak serta merta menjadi hebat? Dulunya, kita juga pernah menjadi orang yang tidak tahu dan tidak bisa apa-apa.


Salam hangat,


Wednesday, January 31, 2024

Mengajarkan Anak Berbisnis Sejak Dini

Tuesday, August 15, 2023

Panduan Lengkap Sebelum Membeli Rumah Untuk Pasangan Muda yang Baru Menikah

Panduan Lengkap Sebelum Membeli Rumah Untuk Pasangan Muda yang Baru Menikah
Photo by Frames For Your Heart on Unsplash


Membeli rumah di zaman sekarang rasanya lumayan sulit dicapai oleh sebagian pasangan muda yang baru menikah. Harga rumah yang makin tidak masuk akal menjadikan banyak orang akhirnya menunda bahkan memilih mengontrak dibanding segera membeli rumah impiannya.


Saya menikah di usia muda. Pindah ke Jakarta mengikuti suami yang merantau sejak baru selesai kuliah. Kami sama-sama merasakan susahnya mencari rumah untuk tempat tinggal. Bahkan sebelum kami menikah, suami saya sudah pernah hampir membeli rumah yang akhirnya dibatalkan karena beberapa sebab. Ternyata, beli rumah nggak semudah yang saya bayangkan...hehe.


Kami juga sepakat tidak mengontrak karena khawatir uangnya malah habis. Rasanya nggak mungkin seumur hidup mengontrak rumah, kan? Akhirnya, kami bersabar sambil berusaha mencari rumah yang cocok.


Rumah menjadi kebutuhan pokok yang mesti dipenuhi sebelum memenuhi kebutuhan lainnya yang tidak terlalu penting. Seperti memiliki kendaraan roda empat misalnya. Tidak sedikit orang yang memaksakan diri segera punya mobil meski dengan cara kredit, tapi lupa memikirkan betapa pentingnya memiliki rumah sendiri.


Suami saya termasuk orang yang lumayan santai dalam menjalani hidup. Meski punya, dia tidak suka ikut-ikutan orang lain, mesti punya ini dan itu secepatnya, atau mengejar pencapaian orang di luar sana. Itu bukan gaya dia banget.


Saya jadi berkaca dari kisah seorang teman yang memutuskan tidak membeli kendaraan roda empat hanya karena dirasa kurang penting dan minusnya terlalu menghamburkan uang. Meski suaminya seorang profesor, tapi ke mana-mana mereka terbiasa menggunakan transportasi umum, seperti naik KRL, naik sepeda, dsb.


Ternyata selain suami saya, ada juga orang yang hidupnya sesantai itu, ya? hehe. Nggak pusing dengan komentar dan penilaian orang, happy banget sampai kebablasan saking santainya...kwkwk. Itu benar-benar 'sesuatu' banget sih buat saya.


Kami juga sepakat, setelah punya rumah, kami harus punya tabungan untuk naik haji. Bagi kami, ibadah haji itu mesti diusahakan, bukan ditunggu mampu. Saya bersyukur, Tuhan mampukan sesuai rencana kami.


BTW, ketika mencari rumah tempat tinggal, saya dan suami tidak sembarangan memilih. Kami punya kriteria sendiri. Kriteria ini bisa jadi panduan juga untuk teman-teman yang punya rencana mau membeli rumah dalam waktu dekat.


Kriteria Rumah Idaman

Panduan Lengkap Sebelum Membeli Rumah Untuk Pasangan Muda yang Baru Menikah
Photo by Aaron Huber on Unsplash


1. Rumah tersebut dekat dengan fasilitas umum, seperti stasiun, bandara, rumah sakit, sampai dengan masjid.


2. Daerah tempat kami tinggal harus bebas banjir. Maklum, dulu Jakarta masih jadi langganan banjir sehingga beberapa orang kadang menjual murah rumahnya karena lokasinya yang menjadi langganan banjir tiap tahunnya. 


3. Rumah tersebut masih layak huni. Bukan rumah yang mesti dibangun segera. Karena kami juga tidak mungkin punya budget sekaligus untuk renovasi total. 


4. Perhatikan lingkungannya, apakah nyaman untuk tempat tinggal? Bagaimana dengan tetangga di kanan kiri? Apakah lingkungannya cukup aman? Mengingat saya hanya tinggal sendiri ketika suami kerja, poin ini menjadi sangat penting untuk dipertimbangkan.


5. Sesuaikan dengan budget. Jangan memaksakan diri untuk berutang hanya demi rumah yang mewah. Kita juga mesti memikirkan kebutuhan lain di masa depan.


6. Jangan lupa memeriksa legalitas serta kondisi rumah. Perhatikan sertifikat dan surat-surat penting lainnya.


Kami memilih pembayaran cash dibanding KPR. Semua tergantung pilihan masing-masing orang, ya. Dengan KPR, sebagian orang yang kesulitan membeli rumah jadi dimudahkan, tapi minusnya, kamu juga harus membayar bunga kredit pada pihak bank.


Persiapan Sebelum Membeli Rumah

Panduan Lengkap Sebelum Membeli Rumah Untuk Pasangan Muda yang Baru Menikah
Photo by Tierra Mallorca on Unsplash


Membeli rumah merupakan keputusan finansial terbesar yang bisa kita ambil. Nggak mudah membeli rumah, lho. Nggak semua orang mampu. Karena itu, kita mesti mempersiapkan dana sejak jauh-jauh hari sebelumnya.


Ada beberapa hal yang mesti dipertimbangkan sebelum membeli rumah,


1. Tetapkan Tujuan

Ada orang yang mau beli rumah untuk investasi, ada juga yang pengin dijadikan tempat tinggal setelah menikah nanti. Kita harus tahu mana prioritas yang mesti didahulukan. Di mana lokasinya, berapa ukuran rumah yang diharapkan, serta berapa budget yang mesti dikeluarkan untuk membelinya?


Ada pasangan yang sejak jauh-jauh hari sudah sepakat menabung bersama untuk membeli rumah meski belum menikah. Ada juga yang sama-sama menyisihkan gaji bulanannya demi membeli rumah impian mereka. Setiap pasangan punya cara sendiri untuk mewujudkannya, tapi yang pasti, ketika tujuan mereka jelas sejak awal, maka selanjutnya semua bisa diperjuangkan dengan lebih mudah.


2. Tentukan Anggaran yang Dibutuhkan

Setelah dewasa, kita punya banyak kebutuhan yang mesti dipenuhi. Ada yang mesti membiayai adiknya kuliah, ada yang masih harus membantu orang tuanya, belum lagi mempersiapkan dana untuk membeli rumah setelah menikah. 


Sejak awal, kita bisa menentukan besarnya cicilan tidak melebihi 30-40% dari pemasukan dan pemenuhan kebutuhan lainnya. Supaya keuangan kita tetap pada kondisi yang aman. Dengan begitu, nggak ada ceritanya kita sampai kelabakan seperti di saat pandemi kemarin. Jangan sampai cicilanmu lebih besar daripada pemasukanmu. 


3. Jangan Ragu Untuk Mempelajari Pasar Properti

Kita harus tahu harga pasar sehingga penting untuk kita mempelajari pasar properti. Kamu bisa mempelajarinya lewat situs web real estate, melalui agen properti, atau yang lainnya. Dengan begitu, kita bisa memperhitungkan harga yang wajar sebelum membeli rumah.


4. Perhatikan Lokasi yang Kamu Inginkan

Rumah yang besar, bagus, dan mewah tidak berarti akan semakin naik harganya jika berada di lokasi yang tidak tepat. Contohnya, rumah-rumah yang jadi langganan banjir. Meskipun kondisi perumahannya termasuk mewah, tapi karena lokasinya jadi langganan banjir, akhirnya banyak yang memutuskan menjual murah rumah tersebut, bahkan tak jarang rumah-rumah di lokasi itu kosong karena ditinggal begitu saja oleh pemiliknya.


Rumah yang akan kita beli mesti punya kemudahan akses ke mana-mana. Apakah lokasinya juga dekat dengan tempat kerja atau sekolah anak-anak kita?


Membeli rumah merupakan keputusan besar yang bisa dijadikan investasi jangka panjang. Butuh diperhitungkan dengan matang dan jangan terburu-buru. Jika kurang percaya diri, kita bisa menggunakan jasa profesional untuk membantu memprosesnya. Tujuan membeli rumah yang jelas, juga budget yang sesuai akan membantu memudahkan rencana kita.


Rumah yang nyaman bukanlah rumah yang paling mewah, tapi yang sesuai dengan kebutuhan serta budget kita. Setelah punya rumah, kebutuhan lain pun mesti dipenuhi. Karenanya, perhitungkan betul-betul sebelum membelinya.


Salam hangat,

Tuesday, August 15, 2023

Panduan Lengkap Sebelum Membeli Rumah Untuk Pasangan Muda yang Baru Menikah

Friday, June 16, 2023

Alasan Mau Aktif di Media Sosial

Alasan Mau Aktif di Media Sosial
Photo by dole777 on Unsplash


Hai, hai, semua! Kali ini kita ngobrol santai, ya soal media sosial, termasuk TikTok. Sedikit cerita, beberapa bulan lalu, tepatnya di bulan Februari 2023, saya akhirnya memutuskan membuat akun TikTok setelah sebelumnya pernah bikin, tapi akhirnya dihapus.


Banyak orang, termasuk penulis yang males bikin akun di TikTok. Mereka mempertanyakan, memangnya buat apa, sih punya TikTok? Joget-joget? Hehe.


Meski punya akun di TikTok, saya tidak pernah joget-joget, lho, ya…kwkwk. Seperti halnya media sosial lainnya, saya berpikir bahwa semua itu ada positif dan negatifnya juga. Kalau digunakan berlebihan, nggak sebagaimana mestinya, pastinya akan menimbulkan banyak mudharat seperti membuang waktu dengan sia-sia, membuat kita lalai, bahkan bisa menjadi jalan bermaksiat. Naudzubillah.


Namun, jika kita menggunakannya dengan bijak, insya Allah ada manfaat yang bisa didapatkan, kok. Salah satunya misalnya untuk branding.


Sebagai seorang penulis, kebanyakan dari kami pasti diminta aktif di sosial media oleh penerbit. Penerbit lebih suka penulis yang aktif. Memang capek jadinya, mesti bikin konten setiap hari, belum lagi mikir idenya apa, belum lagi mau nulis naskah. Nah, lho, makin banyak aja, ya kerjaannya? 


Dengan aktifnya kita di media sosial, harapannya kita jadi lebih mudah dikenal pembaca, bukunya makin mudah dicari dan ditemukan, kontenannya sekaligus jadi branding dan membuat kita dikenal positif di masyarakat.


Sudah sejak pandemi 2020 lalu saya mulai aktif membuat konten-konten motivasi di Instagram. Sampai dengan saat ini, saya masih melakukan hal yang sama. Mungkin, bedanya sekarang saya lebih senang membuat video-video reels, ya. Ini juga yang jadi alasan kenapa saya mulai membuat akun TikTok. Postingnya bisa sekali bikin untuk dua media sosial berbeda. 


Pastinya butuh waktu, mau lebih capek, dan mesti melawan rasa malas akibat pengin lekas rebahan setelah banyak aktivitas di rumah. Namun, setelah sering mendapatkan DM dari followers saya, rasanya malu ya, kalau mau menyerah. Sebab, banyak yang merasa dikuatkan, disemangati, dan merasa jauh lebih baik setelah melihat konten yang saya buat. Masya Allah ^^


Hanya saja, meski saya punya akun TikTok, saya tidak seaktif ketika menggunakan Instagram. Di TikTok, saya hanya sekadar posting konten kemudian menutupnya. 


Apakah Mungkin Melakukan Perubahan Hanya dengan Konten?

Alasan Mau Aktif di Media Sosial
Photo by Vika Strawberrika on Unsplash


Awalnya, saya kira ini hanya cara untuk branding, supaya bisa dikenal sebagai penulis. Saya nggak pernah menyangka jika semua ini justru bisa mendatangkan banyak hal positif dalam hidup seseorang.


Beberapa pernah DM dan berterima kasih karena merasa bahagia, semangat, dan dikuatkan setelah melihat konten-konten saya di media sosial. Bahkan, pernah ada seorang ibu yang sedang menjalani kemo menghubungi saya juga. 


Tak dipungkiri, hampir sebagian besar waktu kita habiskan di dunia maya. Mau tidak mau, apa yang kita dengar dan lihat akan turut berpengaruh dalam kehidupan di dunia nyata, termasuk pada mood, sampai dengan kesehatan mental.


Hidup sudah melelahkan, jangan suka nonton berita yang bikin stres. Hidup sudah capek banget, jangan ditambah dengan melihat berita-berita yang bikin overthinking. Konten-konten yang saya buat kebanyakan ringan, hanya sekadar pesan dan nasihat sederhana. Gambar-gambarnya dibuat happy, jadi diharapkan bisa membuat orang bahagia, tak melulu sedih, meski pesannya kadang berisi tentang hal-hal yang super mellow.


Apakah semua yang saya usahakan dapat membuat perubahan dalam hidup seseorang? Saya tidak bisa menjawab iya atau tidak, tapi semoga cerita-cerita dari teman-teman yang masuk ke akun Instagram saya benar-benar dapat menggambarkan itu semua.


Saya juga senang ketika teman-teman merasakan hal yang sama. Terima kasih, ya sudah membersamai perjalanan saya. Apresiasi dari teman-teman sangat membantu saya untuk lupa apa itu capek ketika bikin konten terutama saat sudah tengah malam :D


Kapan Waktu yang Tepat untuk Bikin Konten?

Alasan Mau Aktif di Media Sosial
Photo by Bruno Cervera on Unsplash


Jangan lupa, saya ini ibu-ibu, ya…kwkwk. Banyak yang mengeluh tidak punya waktu, tapi saya juga merasakan hal yang sama, kok. Tenang, kamu nggak sendirian :)


Saya yakin, banyak orang di luar sana yang pengin juga melakukan hal yang sama seperti yang kita lakukan, semisal menulis, membuat konten, dll. Namun, kebanyakan masih kesulitan membagi waktu karena sudah punya anak, apalagi yang masih balita.


Tenang, sini kita pelukan dulu. Kamu nggak sendirian. Waktu anak saya masih kecil, saya memutuskan berhenti menulis. Baru beberapa tahun ini saya kembali lagi dari nol setelah merasa benar-benar siap.


Memang tidak mudah, tapi jika kamu ingin, saya akan berbagi tipnya,

1. Waktu tidak bisa diulang, tapi impian kita masih bisa dikejar. Benar nggak, sih? Anak-anak kita yang sedang tumbuh tidak akan bisa diulang kembali masanya. Setelah dia besar, dia akan terus tumbuh, bukan sebaliknya jadi kecil lagi, kan? :D


Jadi, jika kita punya hobi atau apa pun itu, jangan pernah menomorduakan kewajiban pada anak-anak di rumah. Ada yang mesti kerja di luar, ada yang kerja di rumah, ada yang jadi IRT, semuanya akan menomorsatukan keluarga. Begitu juga dengan kita.


Kerjakan semua kewajiban untuk kemudian melanjutkan yang akan kita kejar, termasuk impian kita!


2. Lakukan dari yang kamu mampu. Jangan selalu melihat dan ingin mengejar orang lain. Iya, kamu adalah kamu. Kamu bukan orang lain yang dapat melakukan semua hal. Kita harus bisa mengukur kemampuan diri, jangan sampai kita terlalu tinggi berekspektasi yang kemudian membuat diri kecewa amat besar.


3. Sabar, semua butuh waktu dan proses. Benar, semua orang berlatih dan melakukan repetisi selama bertahun-tahun untuk menjadi versinya sekarang. Begitu juga dengan kita, butuh waktu yang tidak sebentar dan kegagalan yang mungkin tidak bisa hanya satu dua kali sebelum akhirnya sampai di titik yang kita harapkan. Sabar, semua akan sampai pada waktunya nanti.


4. Jangan berhenti belajar. Meskipun kita seorang IRT, tidak ada alasan untuk berhenti belajar dari siapa pun dan kapan pun. Belajar tidak terbatas hanya sampai di bangku sekolah atau kuliah saja, kan? Apakagi di zaman digital seperti sekarang, hampir semua hal dapat kita lakukan dari rumah.


5. Mulailah dari hal kecil. Jangan membuat target terlalu tinggi. Cobalah pelan-pelan saja asal sampai. 


Saya menikah di usia muda. Saya tahu, banyak impian yang belum saya capai waktu itu, tapi ternyata saya tidak gagal. Allah hanya menundanya sebentar sebelum akhirnya satu per satu Dia wujudkan. Tidak ada yang mustahil di dunia ini. Tidak ada yang tidak mungkin bahkan meski awalnya terlihat sangat sulit. 


Saya tidak menyesali takdir saya, kenapa mesti bertemu jodoh di waktu yang rasanya terlalu cepat? Nyatanya suami saya adalah teman berbagi saya, dia menemani perjalanan saya, meski cerita kami tidak sempurna, tapi saya bersyukur dan bahagia, masya Allah.


Semoga teman-teman juga selau mensyukuri semua pemberian Allah yang tidak pernah salah waktu ataupun tempat. Allah paling tahu apa yang kita butuhkan. Yuk, semangat melangkah meski rasanya terlalu pelan. Nanti juga sampai tujuan, insya Allah ^^


Salam hangat,


Friday, June 16, 2023

Alasan Mau Aktif di Media Sosial

Wednesday, May 10, 2023

Kehilangan Barang di KAI, Apa yang Harus Dilakukan Penumpang?

Kehilangan Barang di KAI, Apa yang Harus Dilakukan Penumpang?
Photo by Tomas Anton on Unsplash

 

Tahun ini, seperti biasa saya melakukan rutinitas tahunan ketika lebaran, mudik! Alhamdulillah, sesuai permintaan anak-anak, kami memilih naik kereta api. Sama seperti tahun sebelumnya, saya dan keluarga naik kereta api ekskutif Brawijaya dari Jakarta menuju Malang.


Capek nggak naik kereta? Kenapa nggak naik bus, pesawat, atau bawa kendaraan pribadi? Kebanyakan orang akan mempertanyakan kenapa kami selalu memilih naik kereta akhir-akhir ini?


Sejak anak-anak mulai tumbuh besar, bisa diajak kompromi, nggak rewel di perjalanan, dan bahkan bisa menikmati perjalanan mereka, kami sepakat naik kereta. Naik kereta bisa lebih nyaman dan santai bahkan bisa menginap seperti yang anak-anak harapkan. Kalau dulu, ketika saya masih punya bayi, pesawat jadi satu-satunya pilihan supaya lekas sampai tujuan tanpa banyak kendala. Maunya yang sat set gitu, kan apalagi bawaan bisa 2 koper, belum lagi tentengannya. Bawa balita itu riweh, euy :D


Namun, sejak beberapa tahun terakhir, kami bisa melakukan perjalanan dengan lebih santai, bawa koper pun hanya satu saja sudah cukup. Naik kereta tidak khawatir macet. Benar-benar tepat waktu sampai tujuan. Berbeda dengan bus yang bikin deg-degan terutama di sepuluh terakhir bulan Ramadan.


Sampai saat ini kami belum pernah mudik menggunakan mobil. Kayaknya super capek sih apalagi di keluarga kami hanya suami yang bisa nyetir. Nggak mungkin gantian sama anak-anak apalagi istrinya yang naik sepeda aja nggak jago…kwkwk.


Dan, naik kereta di zaman sekarang itu nyaman! Bahkan yang kelas ekonomi aja sudah tertib, apalagi yang ekskutif. Tempat duduknya lega, bisa selonjoran, pegal-pegal dikit wajar, sih. Menurut saya ini masih sangat nyaman, apalagi sekarang KAI punya banyak menu, ya. Hanya saja untuk nasi goreng saya kurang suka, rasanya terlalu biasa. Menu lainnya mungkin bisa dicoba, seperti nasi ayam geprek? Lumayan kan dimakan waktu sahur, biar nambah mules di jalan…hihi.


Selama beberapa kali mudik naik kereta, baru kali ini saya meninggalkan barang tanpa sengaja di sana. Benar-benar lupa nggak cek meja kecil dekat jendela sebelum keluar. Baru sadar saat sampai di rumah, dan buruknya, sampai saat ini saya belum bisa juga mendapatkan barang saya yang amat berharga itu :(


Tenang, Ini Tip Saat Barang Tertinggal di KAI

Seperti inilah judul yang diterbitkan di laman resmi kai.id. Saya yang kemarin merasa kehilangan barang atau lebih tepatnya tanpa sengaja meninggalkan barang di KAI Brawijaya serasa dapat angin segar. Barang saya bakalan balik, nih. Dari judul sama isinya meyakinkan banget soalnya bakalan dibantu…kwkwk.


Namun, setelah mencoba beberapa cara yang disebutkan di artikel tersebut, tidak ada satu pun yang berhasil. Chat Whatsapp hanya dijawab oleh robot yang berulang kali menjawab dengan kalimat yang sama, diminta menunggu sampai waktunya habis. Begitu juga pesan DM di Instagram, dibaca pun nggak, lho. 


Saya tidak tahu, bagaimana cara mencari barang yang tertinggal di KAI sedangkan kondisi saya sudah tidak di kereta. Berbeda ketika masih di kereta, petugas memang akan mengumumkannya. Jika ditemukan dan belum ada yang ambil, katanya bakalan disimpan di pos pengamanan stasiun dan masuk pendataan sistem Lost and Found milik KAI.


Barang saya ada namanya, tapi memang ditulis pakai bahasa arab. Barang ini bukan besar nilainya, tapi besar kenangannya. Ini yang bikin saya merasa berat banget buat ikhlasin begitu saja.


Namun, setelah melakukan banyak usaha dan hasilnya nihil, saya akhirnya menyerah. Susah sih kalau pelayanannya hanya sekadar wacana alias nggak real di lapangannya. Masa semua cara nggak berhasil sama sekali? 


Kehilangan memang bukan tanggung jawab KAI, tapi sebagaimana dijelaskan, pihak KAI katanya akan dengan senang hati membantu bahkan bersedia menghubungi jika barang ditemukan. Hanya saja, jika mau melapor saja sudah kesulitan, bagaimana kami bisa dibantu?


Jaga Barangmu dan Selalu Periksa Setiap Sudut Sebelum Meninggalkan Gerbong Kereta

Biasanya saya selalu waspada dan hati-hati soal ini. Entah qadarallah kali ini saya teledor tidak cek dulu di dekat tempat duduk. Buru-buru keluar seolah tidak ada barang tertinggal.


Ketika ada di transportasi umum, sebisa mungkin memang tidak mengeluarkan barang-barang kecuali karena perlu banget. Segera kembalikan agar tidak lupa. Hal inilah yang terjadi pada saya waktu kemarin.


Hanya karena saya sempat beresin sampah makanan, saya jadi lupa menaruh barang kembali ke tempatnya. Alhasil, barang saya tertinggal dan sampai saat ini belum ditemukan juga.


Kejadian ini akan jadi pelajaran berharga buat saya supaya ke depannya tidak terulang hal yang sama lagi. Jangan sampai ada barang tertinggal lagi :(


Dari teman-teman di sini, kira-kira ada nggak sih yang pernah tertinggal barangnya di KAI?


Salam hangat,


Wednesday, May 10, 2023

Kehilangan Barang di KAI, Apa yang Harus Dilakukan Penumpang?

Tuesday, December 27, 2022

Kenapa Mesti Menyenangkan Semua Orang?

Kenapa Mesti Menyenangkan Semua Orang?
Photo by Paul Garaizar on Unsplash


Sering berusaha membantu dan menyenangkan orang lain, tapi nyatanya ada saja hal-hal yang membuat sebuah hubungan menjadi renggang. Sering berusaha menjadi teman yang baik, saudara yang baik, tapi pada akhirnya ada saja yang mereka anggap kurang. Terkadang, perasaan bersalah muncul karena merasa belum bisa memberikan yang terbaik bagi mereka. Namun, benarkah perasaan bersalah ini perlu, sedangkan selama ini kita sudah berusaha memberikan semua hal yang kita bisa, semampu kita, bahkan sering kali mengorbankan diri sendiri?


Menjadi baik itu memang sebuah keharusan. Kita memang dituntut menjadi baik kepada semua orang, tapi menyenangkan semua orang, benarkah kita mampu melakukannya?


Karena perasaan orang lain merupakan salah satu yang mustahil kita kendalikan, jadi nggak aneh jika mereka sering merasa kecewa dan merasa tidak puas dengan apa yang kita berikan. Padahal, kita mati-matian lho memperjuangkan diri supaya bisa membuat orang lain senang.


Kita harus punya batasan. Sejauh mana kita bisa membantu dan menyenangkan semua orang. Sejauh mana kita bisa memberikan pertolongan dan meringankan beban orang lain. Jangan hanya karena merasa nggak enak, kita jadi mengorbankan diri sendiri apalagi mengambil alih tanggung jawab orang lain.


Nah, batasan ini yang sering kali nggak kita miliki saking pedulinya kita sama orang dan pengin diterima. Akhirnya, setiap disuruh dan diminta, kita selalu mengiyakan meski sebenarnya nggak sanggup mengerjakan semua seorang diri. Hanya karena jadi orang nggak enakan, kita selalu minta maaf, padahal nggak salah juga.


Masalah seperti ini benar-benar menguras pikiran. Jika kita nggak pandai-pandai menempatkan diri dengan baik, memberikan batasan dan merasa cukup dengan apa yang telah kita berikan, sampai kapan pun kita akan selalu merasa bersalah.


Saya pernah membaca sebuah buku yang menjelaskan bahwa, kebahagiaan orang lain bukan tanggung jawab kita. Ini bukan soal hubungan kita dengan orang tua atau melarang diri kita membantu orang lain yang membutuhkan. Ini tentang yang lain. Seperti orang-orang yang telah kita bantu sepenuh hati, semaksimal mungkin, tapi kok masih nggak disapa? Seperti orang-orang yang berusaha kita prioritaskan karena dia saudara atau teman dekat, tapi kok nggak bisa dipercaya?


Ini tentang hal-hal yang berlebihan atau lebih tepatnya bisa dianggap ‘nggak tahu diri’. Pasti kamu pernah punya teman yang sudah sangat akrab, sering kamu bantu, tapi ada satu momen yang membuat kamu merasa bahwa mestinya dia nggak melakukan itu. Jika setelah itu kamu masih belum menarik diri dan menjauh, selamat! Mungkin kamu termasuk salah satu orang yang masih nggak enakan untuk mengambil sikap.


Kemungkinan besar, orang-orang yang memperlakukan kita dengan tidak pantas setelah menerima banyak hal dari kita, entah itu perhatian atau bantuan, merasa bahwa mereka nggak berlebihan, kok. Makanya nggak pernah ada perasaan nggak enak buat minta tolong, padahal itu tugas mereka yang mestinya jadi tanggung jawab mereka.


Mereka juga nggak sungkan minta ini itu, padahal sudah berkali-kali. Itu pun tanpa apresiasi alias sekadar nyuruh!


Dengan alasan menjadi baik itu harus, bukan berarti kita mau dan harus melakukan semua hal demi orang lain. Sepertinya, ada banyak cara untuk menjadi orang baik, tidak melulu mau dimanfaatkan atau menyenangkan semua orang. Karena pada akhirnya, mereka juga harus belajar menghargai orang lain.


Lakukan Sewajarnya

Kenapa Mesti Menyenangkan Semua Orang?
Photo by Elijah Hiett on Unsplash


Sering kali kita berusaha bersikap sebaik mungkin, sampai nggak bisa menolak hal-hal yang di luar kemampuan kita. Berusaha memenuhi keinginan semua orang, meski itu sebenarnya nggak masuk akal dan memberatkan, tapi kita tetap melakukannya.


Awalnya, kita merasa begitu lega jika bisa membantu orang lain, tapi kok ujungnya jadi gini? Lho, kok aku diginiin? 


Jika masih ada yang membuatmu kecewa, artinya kamu mengharapkan sesuatu dari kebaikanmu. Kalau demikian, cobalah memberikan batasan pada diri sendiri, sejauh mana kita bisa membantu tanpa mengharapkan diperlakukan dengan cara yang sama baiknya.


Contohnya, ketika ada teman atau saudara meminjam uang, kamu pasti mau dengan senang hati membantu. Tetapi, nominal yang diminta besar sekali, kamu nggak mampu atau kamu merasa itu berlebihan, maka bantulah sewajarnya, semampumu, jangan sampai kamu memaksakan diri demi orang lain.


Orang-orang yang mengalami hal seperti ini pasti paham apa yang dimaksud. Ini bukan tentang pemberian kita pada orang tua atau pada orang-orang yang benar-benar membutuhkan. 


Ada yang bilang, nggak apa-apa dimanfaatkan, itu akan jadi urusan mereka dengan Tuhan. Namun, beberapa orang mengatakan, ketika dirinya dikecewakan, padahal sudah berusaha sebaik mungkin memperlakukan orang lain, tapi masih dianggap kurang, maka mau nggak mau kita mesti menjauh pelan-pelan. Tandain aja, deh!


Kamu, termasuk yang mana?


Sebab Kita Bukan Malaikat

Kenapa Mesti Menyenangkan Semua Orang?
Photo by Kasia on Unsplash


Penginnya bisa menyenangkan dan menolong semua orang. Terutama orang-orang terdekat, tapi kenapa sering kali kita justru dikecewakan oleh mereka juga, ya?


Orang-orang terdekat merupakan yang paling sering membuat kita kecewa. Masuk akal, karena kita selalu berusaha untuk mereka, tapi pada beberapa kasus, mereka justru sebaliknya. Tidak peduli, egois, seenaknya sendiri, dan nggak mau tahu dengan susahnya kita.


Ketika kita nggak bisa memberikan apa yang mereka inginkan, tiba-tiba nggak disapa, dimusuhin, diomongin di belakang, dianggap nggak peduli. Kebaikan-kebaikan tak terhitung sebelumnya tiba-tiba nggak dianggap. Kayak jahat banget!


Sampai di sini kita harus paham, kita ini bukan malaikat apalagi Tuhan. Sampai kapan pun kita nggak bisa menyenangkan semua orang. Jika ada yang kecewa, maka biarkan dirimu merasa cukup dengan semua yang sudah dikorbankan.


Iyap, merasalah cukup dan buatlah batasan sebab kita nggak sedang mencukupi kebutuhan anak-anak atau orang tua. Terkadang, tanpa disadari kita selalu membuat orang lain bergantung pada kita sampai-sampai membuat mereka nggak mandiri. 


Jika demikian, kita juga jadi salah dan keliru bersikap. Jangan sampai kebaikan kita malah membuat orang nggak mau berjuang untuk dirinya sendiri. Membuat mereka selalu bergantung merupakan hal yang keliru. Dan untuk memutus rantainya, kita butuh keberanian yang besar karena sadar pasti akan dianggap nggak peduli lagi.


Kita harus belajar untuk merasa cukup bukan hanya pada apa yang telah kita terima dan dapatkan, tapi juga pada apa yang telah kita berikan kepada orang lain. Karena di luar sana, ada lebih banyak orang yang benar-benar butuh dibantu dibanding mereka yang hanya memanfaatkan kita.


Salam hangat,


Tuesday, December 27, 2022

Kenapa Mesti Menyenangkan Semua Orang?

Wednesday, October 19, 2022

Kisah Pippi, Proyek Kolaborasi Bersama Bunda Helvy Tiana Rosa

Kisah Pippi, Proyek Kolaborasi Bersama Bunda Helvy Tiana Rosa


Jadi penulis sekaligus ilustrator ternyata bukan hal mudah, ya? Selain lebih repot membagi waktu, belajar untuk fokus pada dua hal sekaligus juga banyak tantangannya, termasuk mental. Suatu hari saya pernah ngobrol dengan penulis yang senang menggambar seperti saya. Dia pernah menerima proyek pictbook dari salah satu penerbit. Apa yang dirasakan setelah menerima proyek tersebut? Katanya, nangis!


Antara pengin ketawa, tapi takut dosa. Namun, itulah yang saya alami juga setelah menerima proyek-proyek ilustrasi untuk buku-buku anak. Awalnya senang, kemudian pengin menghilang di telan bumi! Kwkwk. Mungkin inilah ujian bagi penulis yang mau jadi ilustrator juga seperti saya…haha.


Beberapa kali saya sempat pengin berhenti mengerjakan ilustrasi untuk buku anak-anak. Bahkan sudah menolak beberapa proyek karena mau fokus mengerjakan naskah, tapi ada saja hal-hal yang tidak dapat saya kendalikan. Termasuk ketika saya akhirnya menerima proyek pictbook dari Bunda Helvy Tiana Rosa. Tepat sebelum ditawari proyek ini, saya benar-benar berniat berhenti mengerjakan ilustrasi buku. Namun, Allah punya rencana lain, saya diberi kesempatan luar biasa sehingga mustahil menolaknya. Akhirnya, saya kembali mengerjakan ilustrasi untuk buku Bunda Helvy.


Meski lumayan capek dan berat, mesti bangun lebih pagi untuk mengerjakan naskah dan siangnya fokus dengan ilustrasi, nyatanya semua pekerjaan bisa diselesaikan tepat waktu. Namun, hari-hari berikutnya terbesit lagi keinginan untuk berhenti menggambar. Padahal nggak ada proyek yang terbengkalai apalagi molor dari DL. Nggak ada kendala berarti karena semua tugas beres, begitu juga dengan tugas rumah tangga.


Saya nggak paham dengan diri sendiri...kwkwk. Nggak paham dengan kegalauan semacam ini kenapa terus menerus hilang timbul. Terkadang, mengerjakan ilustrasi itu butuh lebih banyak sabar memang. Ada klien yang paham dengan capeknya kita, ada yang nggak mau tahu. Sehingga, sering kali saya merasa harus pilih-pilih klien juga supaya nggak merasa terbebani. 


Bekerja sama dengan Bunda Helvy nggak jadi beban, sebab beliau begitu baik. Memberi kebebasan pada saya untuk menuangkan ide dalam gambar. Beliau juga nggak rewel apalagi seenaknya. Beliau berpesan, Muyass harus happy ngerjainnya. Harus nyaman. Biar nggak jadi beban dan hasilnya pun sesuai harapan.


Ikuti Saja Alurnya

Teman saya akhirnya berkomentar, sudahlah, ikuti saja alurnya. Karena dua hal ini memang saya sukai, makanya agak susah juga meninggalkan salah satunya. Meskipun tidak menerima pesanan gambar, nyatanya saya tetap menggambar untuk mengisi feed Instagram. Saya tetap menggambar karena saya memang suka, tapi saya mungkin terlalu lelah kalau mesti mengerjakan semuanya sekaligus.


Sebenarnya, apa pun pekerjaan kita, bahkan meski kita amat menyukainya, tetap saja ada saatnya merasa bosan dan lelah. Apalagi kalau dikerjakan terus menerus. Iya, kan? Menulis pun sama. Terkadang di tengah-tengah menulis naskah saya merasa bosan dan nggak tahu mau mengetik apa. Capek dan mesti ambil jeda.


Begitu juga ketika menggambar. Kadang happy banget ngerjainnya, kadang ngerasa capek banget. Memang semua akan seperti ini, kan?


Tawaran Kolaborasi dari Bunda Helvy Tiana Rosa

Saya nggak pernah kepikiran bakalan dapat tawaran ini. Tiba-tiba beliau mengirimkan pesan di Instagram dan mengajak berkolaborasi mengerjakan pitcbook pertama beliau. Waktu itu saya kaget bukan main. Apa saya bermimpi? 


Kemudian kami lanjut ngobrol dan sempat saya tawarkan ilustrator lain jika ingin membuat komik karena saya pribadi tidak pernah menggarap komik. Namun, beliau berkata, kalau begitu kita bikin pictbook saja!


Waktu pertama kali bertemu di Tamini, saya nggak terlalu canggung karena beliau super ramah terutama untuk saya yang introvert. Beliau selalu mengabari ketika ada perubahan dan hal lainnya. Bukan tipe penulis terkenal yang gengsi mau balas pesan penggemarnya. Benar-benar humble. Rasanya beruntung sekali bisa mendapatkan kesempatan luar biasa ini terutama di saat saya pengin memutuskan berhenti mengerjakan gambar. Seperti ditampar, kenapa mesti berhenti, sih?


Sebenarnya, saya tidak pernah dengan sengaja mengerjakan beberapa proyek sekaligus. Misalnya, ketika mengerjakan ilustrasi untuk buku Pippi, saya nggak sengaja dapat pesanan naskah, pesanan ilustrasi lain dari salah satu penerbit mayor yang waktunya kebetulan selalu bersamaan padahal sudah direncanakan jauh hari sebelumnya.


Ketika kejadian mesti bareng begini, rasanya jadi agak berat dan bikin suntuk, ya? Solusinya, saya mesti pandai-pandai bagi waktu karena saya juga Ibu Rumah Tangga tanpa ART. Ada tugas lain yang mesti diselesaikan. Akhirnya, paling mudah memang dicicil pelan-pelan. Ingat, jangan pernah menumpuk pekerjaan rumah terutama cucian dan setrikaan, asli puyeng kalau sudah menumpuk…kwkwk. *Random banget deh ceritanya...kwkwk.


Buku Pippi Sudah Terbit!

Masya Allah tabarakallah. Saya bersyukur sekali akhirnya buku ini bisa terbit di pertengahan bulan ini. Pas pegang bukunya, rasanya nggak percaya ilustrasi itu sudah jadi buku. Terima kasih untuk Bunda Helvy, juga untuk diri saya yang tidak menyerah. 


Ketika buku sudah terbit, rasanya capek lelahnya hilang semua. Sama halnya seperti seorang ibu yang melahirkan anaknya. Rasa sakitnya hilang seketika. Seajaib itu, ya kalau sudah bahagia?


Buku Pippi berisi kisah nyata masa kecil Bunda Helvy dan Bunda Asma Nadia. Ditulis berima sehingga sangat menarik untuk dibaca. Kata Bunda Helvy, buku anak yang bagus itu yang bisa dinikmati oleh semua usia. Dan buku ini memenuhi kriteria itu. 


Gimana Ceritanya Bisa Dapat Proyek Seperti Ini?

Kok, bisa? Memangnya ngajuin ilustrasi ke penerbit-penerbit gitu? 


Kadang, teman-teman suka bertanya dari mana kita bisa mendapatkan klien dan proyek. Bahkan bisa dari luar negeri. Saya pernah cerita di postingan ini. Rata-rata teman saya juga sama, dapat klien karena tahu di Instagram atau dari mulut ke mulut. Dari klien ke klien yang merekomendasikan jasa kita.


Apa yang paling penting untuk dilakukan? Kerjakan saja semuanya dengan sungguh-sungguh. Share hasil gambar kita ke media sosial dan tunjukkan siapa diri kamu. Orang-orang bisa menilai dari karya kita meskipun nggak pernah kenal. Saya juga yakin, Allah melihat usaha kita sehingga jangan heran kalau ada orang-orang yang dapat proyek-proyek impiannya. Allah nggak tidur, teman. Allah tahu kita berusaha siang malam bahkan sampai begadang.


Yuk, kita nikmati perjalanan ini selagi masih ada kesempatan. Selagi diberi kesehatan dan waktu. Hal yang mesti saya ingat, pekerjaan saya di luar tidak lebih penting daripada tugas saya di rumah mendampingi anak-anak. Saya pernah bilang ke mas suami, saya nggak mau terlalu capek karena nanti jadi ngomel-ngomel mulu…kwkwk. Saya nggak mau terlalu ngoyo karena saya masih punya tanggung jawab mendampingi anak-anak di rumah. Saya mau hidup normal dan wajar sama seperti yang lain.


Ketika semua kewajiban sudah kita selesaikan dengan baik, semoga Allah mudahkan jalan kita. Tetap semangat, yah emak-emak yang menulis dan ngerjain ilustrasi. Semoga usaha kita tidak hanya menyenangkan di dunia, tapi juga berbuah pahala di akhirat. Berkah dan berkah, insya Allah.


BTW, buku Pippi sudah bisa teman-teman dapatkan di toko buku atau di sini! Ada diskon, lho. Selamat membaca kisah Pippi, ya. Semoga teman-teman suka dengan ilustrasi dan ceritanya :)


Salam hangat,


Wednesday, October 19, 2022

Kisah Pippi, Proyek Kolaborasi Bersama Bunda Helvy Tiana Rosa

Friday, August 5, 2022

Kenapa Harga Ilustrasi Itu Mahal?

Kenapa Harga Ilustrasi Itu Mahal?
Photo by Sorin Gheorgita on Unsplash


Sedikit cerita, kemarin sempat bahas tentang harga ilustrasi dengan teman sesama ilustrator. Rata-rata calon klien yang baru tahu dan pengin pakai jasa kami kaget dengan harga satu halaman ilustrasi untuk buku sejenis picture book. Mereka kira harga ilustrasi itu murah meriah dan tidak butuh biaya banyak untuk membuat buku picture book. Namun, faktanya harga yang kami tawarakan nggak sesuai dengan harapan. Terus piye?


“Sudah capek-capek upgrade ilmu, tapi malah dibayar murah? Emmoh!


Begitu kata salah satu ilustrator ketika gambarnya dihargai sangat murah. Kebanyakan orang masih kurang menghargai jasa ilustrator dan mungkin belum sepenuhnya menganggap bahwa membuat gambar itu juga pekerjaan yang tidak mudah. Walaupun ngerjainnya di rumah, bukan berarti bisa disambi leyeh-leyeh sesuka hati apalagi sambil malas-malasan. Saya pribadi merasa membuat gambar ini lebih menguras waktu dan tenaga ketimbang menulis buku. Kayak capeknya berasa banget.


Untuk membuat satu halaman bergambar, kita nggak bisa kerjain sambil sat set sat set. Apalagi jika belum ada deskripsi gambar dari penulis, kita mesti mikir sendirian. Biasanya, penulis sudah menyertakan naskahnya dalam bentuk tabel dan deskripsi ilustrasi sehingga hasilnya nggak terlalu jauh dari keinginan dan bisa meringankan pekerjaan ilustrator juga.


Kenapa Harga Ilustrasi Itu Mahal?

Kenapa, ya kira-kira? Saya hanya ilustrator kemarin sore, benar-benar baru masuk di dunia ilustrasi digital. Baru dua tahun terakhir saya mengerjakan gambar-gambar untuk klien baik dalam maupun luar negeri. Namun, saya juga berjuang untuk sampai di titik ini. Mulai dari upgrade skill, keluar modal untuk alat tempur yang nggak murah, ide, waktu, dan juga tenaga. Apalagi bagi mereka yang menjalani pendidikan formal, semua tidak mudah. Gimana masih bisa bilang kok mahal banget, sih?


Coba deh bayangkan membuat ilustrasi itu nggak pakai alat yang bisa menyulap keinginan sekali jadi. Seperti bim salabim gitu. Kita benar-benar menggambarnya dari awal. Mulai dari halaman kosong sampai jadi sketsa dan diwarnai dengan detail. Wow banget lho ngerjain gambar itu. Walaupun kita senang mengerjakannya, tetap saja memang ini kerjaan yang lumayan capek…hihi.


Bagaimana Menentukan Harga Ilustrasi?

Banyak orang bertanya tentang cara menentukan harga ilustrasi. Saya pribadi kurang jago dan masih selalu takut-takut saat menentukan harga. Biasanya saya bertanya kepada teman supaya harga yang saya tawarkan tidak terlalu mahal. Karena sangat mungkin ada calon klien yang benar-benar baru mengerti dunia ilustrasi dan nggak tahu harga pasaran di luar berapa. Jadi, jangan sampai harga yang kita kasih kemahalan.


Menentukan harga ilustrasi bisa dilihat dari kualitas gambar kita. Kita sangat tahu dan bisa menerka harga yang pantas berapa. Seberapa detail gambar yang diinginkan? Makin detail makin mahal karena butuh waktu lebih lama untuk mengerjakannya. Sampai lupa masak dan nyuci kalau ngerjain beginian tuh…kwkwk.


Di luar sana, ada ilustrator pemula yang ngasih harga sangat tinggi, tapi ada yang sudah bagus gambarnya masih ngasih harga sangat murah meriah. Jadi, semua dikembalikan lagi ke masing-masing orang.


Jika ada calon klien yang baru tanya-tanya soal harga, kemudian dia hilang entah ke mana, ya nggak masalah, berarti dia bukan target pasar kita. Mungkin dia merasa harga yang kita tawarkan terlalu mahal. Nggak masalah, kan? Rezeki kita bukan ada di dia. Iya, dia…eaaa.


Hal-Hal yang Harus Diperhatikan Saat Menerima Pesanan Ilustrasi

Sebelum menerima pesanan gambar, ada baiknya kita menentukan juga jumlah maksimal revisi. Jangan sampai kita mabok karena revisi yang tak terhingga. Ini penting banget karena jujur capek kalau mesti revisi bolak balik, tuh :(


Apalagi terkadang ada klien yang kurang baik attitude-nya, ada yang super rewel dan sering ganti-ganti idenya. Sudah dibuatkan sesuai keinginan pertama, kemudian dia pengin ganti lagi yang berbeda 180 derajat dari gambar pertama. Kalau kita nggak ngasih batasan, bisa nggak kelar-kelar kerjaan, lho. 


Ada juga yang bisa dipertimbangkan, misalnya saja ada klien yang pesan gambar, tapi dia mau sesuai sama budget-nya. Bisa banget kita terima sesuai kemampuan dan kesediaan kita. Dengan harga segitu, kita bisa buat gambar yang lebih simpel, lebih sederhana dari gambar-gamabr dengan harga di atasnya.


Jadi ilustrator itu kelihatannya memang gampang. Apalagi kalau hanya lihat reels di Instagram saat menggambar. Sat set sat set. Coba pergi ke belakang layar dan lihat secara langsung prosesnya…hehe. 


Ngerjain ilustrasi dan ambil pesanan gambar terkadang nggak melulu tentang uang yang didapatkan, tapi juga kita lihat dari pengalaman belajarnya. Dengan mengerjakan proyek A, kita jadi banyak pengalaman dan melatih skill juga. Nggak ada ruginya. Namun, kita juga harus belajar yang lainnya, termasuk soal menentukan harga. Nggak mungkin juga, kan kita terus-terusan ngerjain pesanan ilustrasi pakai harga saudara yang free-nya sampai tujuh turunan? Ngeri…hihi.


Salam hangat,


Friday, August 5, 2022

Kenapa Harga Ilustrasi Itu Mahal?

Saturday, April 2, 2022

Booster Jadi Syarat Mudik, Vaksin Dosis Tiga Diincar Masyarakat

Booster Jadi Syarat Mudik, Vaksin Dosis Tiga Diincar Masyarakat
Photo by Tomas Anton Escobar on Unsplash


Agak terkaget-kaget juga dengan syarat dibolehkannya mudik tahun ini. Yes! Mesti vaksin Booster. Awalnya nggak tertarik mau booster karena sudah merasa cukup dengan vaksin dosis dua, tapi ternyata booster dijadikan syarat wajib mudik. Hiks


Dan sejak saat itu, tempat vaksin Covid-19 selalu penuh bahkan pagi-pagi kuota vaksin yang jumlahnya ratusan sudah habis duluan. Dua hari nyari booster ke mana-mana dan selalu kehabisan, akhirnya sampailah di hari ketiga kami nyari dari jam enam pagi. Alhamdulillah, akhirnya dapat juga.


Tempat vaksin booster sebenarnya lumayan banyak, tapi saya juga butuh vaksin Sinovac untuk si bungsu yang kurang satu dosis lagi. Tempat khusus vaksin booster jelas nggak ada Sinovac untuk anak karena Sinovac nggak dijadikan booster. Alhasil, hanya ada satu tempat yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Di tempat ini, benar-benar mengular antreannya. Ramai sekali walaupun dibuka setiap hari dengan kuota sebanyak 200 sampai 350.


Tahun ini, sudah dari jauh-jauh hari berencana mau mudik naik kereta. Selain karena anak-anak yang pengin banget naik kereta, saya juga kangen menikmati perjalanan pakai kereta yang nyaman terutama di bulan Ramadan nanti.


Pengalaman naik bus waktu pulang kemarin agak melelahkan dan cukup mengagetkan terutama jika ketiduran di malam hari. Terkaget-kaget dengan suara laju busnya yang cukup kencang dan bikin jantungan. Berasa kayak mau nyusruk…kwkwk. 


Booster Pakai Vaksin Jenis Apa?

Booster Jadi Syarat Mudik, Vaksin Dosis Tiga Diincar Masyarakat
Photo by Nick Fewings on Unsplash


Untuk dosis pertama dan kedua, saya menerima vaksin AstraZeneca. Begitu pula ketika booster, saya mendapatkan jenis vaksin Covid-19 yang sama. Kecuali untuk vaksin Sinovac, maka booster bisa mendapatkan Pfizer atau Moderna.


Untuk efek sampingnya hampir nggak ada kecuali ngilu dan nyeri di bekas suntikan. Sedangkan pengalaman vaksin dosis pertama cukup berat efek sampingnya. Sekitar 2 harian teler, meriang, pusing, sampai muntah-muntah.


Untuk vaksin booster peminatnya saat ini lumayan membludak karena semua orang pengin mudik setelah dua tahun nggak bisa mudik. Jadi, siap-siap mental dan harus sabar banget nungguinnya :D


Booster Diperuntukkan Bagi Usia Berapa Tahun?

Booster Jadi Syarat Mudik, Vaksin Dosis Tiga Diincar Masyarakat
Photo by Elena M on Unsplash


Saking takutnya nggak bisa mudik, seorang Ibu di sebelah saya sampai rela antre dua hari dan merayu suaminya supaya mau booster. Padahal, beliau sudah booster kemarin. Namun, hari ini kami bertemu dan beliau mengantre untuk suaminya :D


Khusus booster, nggak semua usia bisa mendapatkannya. Ibu ini sempat bertanya beberapa kali kepada petugas, booster untuk usia 14 tahun apakah sudah ada? Ternyata booster diperuntukkan hanya bagi usia 18 tahun ke atas. Anak-anak usia enam tahun lebih cukup divaksin lengkap saja.


Mungkin, si Ibu masih ragu sehingga beberapa kali bertanya pada petugas yang berbeda. Mungkin beliau khawatir tiba-tiba nggak dibolehin mudik karena anak atau cucunya belum booster.


Saya pun bertanya-tanya, apakah anak-anak yang sudah menerima vaksin lengkap dan belum bisa booster harus melakukan tes antigen? Melihat beberapa berita di media online, kebijakan mencabut hasil tes negatif Covid-19 bagi orang yang telah divaksin lengkap nggak akan berlaku saat mudik. Jadi, mereka yang tidak booster tetap harus melakukan swab antigen? Nggak tega dong kalau anak-anak mesti antigen segala. Bagi infonya jika teman-teman tahu kepastian aturannya seperti apa.


Saya nggak tahu aturan mana yang bakalan dipakai karena sering kali ada aturan yang serba mendadak diterapkan begitu saja. Seperti saat saya mau pulang akhir tahun lalu. Tiba-tiba ada aturan mesti swab antigen walaupun naik bus. Tiba-tiba petugasnya datang dan meminta kami swab, tapi nggak ada nakesnya juga. Bahkan dalam satu rombongan cukup yang swab satu orang saja. Akhirnya, nggak ada satu pun yang swab. Cuma membuang waktu menunggu sampai berjam-jam disebabkan aturan yang serba mendadak tanpa kesiapan.


Untuk mudik tahun ini, saya rasa hampir semua orang benar-benar berusaha memenuhi persyaratan karena kami nggak mau dihalangi di tengah jalan. Apalagi setelah memesan tiket dan menunggu dua tahun sampai pandemi benar-benar mereda. 


Cari Tiket Kereta di Traveloka

Booster Jadi Syarat Mudik, Vaksin Dosis Tiga Diincar Masyarakat
Photo by Gilles Lambert on Unsplash


Sudah sejak lama saya mencari tiket kereta di Traveloka. Sayangnya, sampai beberapa kali saya cek belum muncul juga. Mungkin saat itu masih ada varian Omicron dan belum ada keputusan memperbolehkan mudik dari pemerintah. Masih masa PPKM juga.


Alhamdulillah, setelah rajin cek, akhirnya tiket kereta dari Jakarta menuju Malang tersedia juga. Betapa bahagianya…kwkwk. Benar-benar kangen naik kereta.


Cepat-cepat cari tanggal berangkat dan segera pesan untuk berempat. Untuk harga tiket Ekskutif AA Brawijaya dari Stasiun Gambir sampai Malang Rp. 700.000. Berangkatnya sore hari dan sampai keesokan harinya. Untuk jenis kereta lain, teman-teman bisa melihat langsung di aplikasi Traveloka. Selisih harganya nggak jauh. Ini juga merupakan kali pertama kami naik kereta Brawijaya. Sebelumnya saya terbiasa naik Gajayana mulai dari zaman baru nikah! :D


Harganya lumayan dan nggak beda jauh dengan naik bus dan pesawat, lho. Selisihnya benar-benar sedikit. Jadi, tergantung teman-teman suka naik kendaraan apa karena harganya hampir sama semua...huhu. Buat saya, masih lebih nyaman naik kereta. Suasananya pun lebih menyenangkan buat anak-anak. Dibanding naik pesawat, mereka lebih antusias naik kereta. 


Sebelum mereka berusia lebih besar seperti sekarang, saya lebih suka naik pesawat karena maunya serba cepat. Walaupun tetap seharian prosesnya dari rumah sampai di kampung halaman. Mungkin berasa banget bawa bayi dan gandeng balita, ya. Maunya serba ringkes dan sat set...kwkwk.


Siapa sangka, sekarang anak-anak lebih menikmati perjalanan dengan naik kereta. Sebelum pandemi, untuk pertama kalinya kami mudik naik kereta. Dan mereka happy banget. Tahun berikutnya kami segera membeli tiket kereta, tapi ternyata pandemi dan nggak jadi pulang.


Lebaran kali ini, keinginan mereka terwujud. Semoga perjalanan kali ini menyenangkan dan nyaman. Semoga teman-teman yang berniat mudik untuk berkumpul bersama keluarga juga diberikan kemudahan dan kelancaran. Selamat menikmati riuh ramainya mudik seperti bertahun-tahun sebelumnya. Capek dan ribet, tapi senang bukan main. Anak rantau pasti tahu rasanya :)


Salam hangat,

Saturday, April 2, 2022

Booster Jadi Syarat Mudik, Vaksin Dosis Tiga Diincar Masyarakat