Tuesday, September 29, 2020

Membaca Menyenangkan Sambil Berpetualang Bersama Let’s Read

Review Let's Read



“Babendi-bendi ka Sungai Tanang…”


Kakek senang menyanyi lagu Babendi-bendi setiap membersihkan bendi mainan milik Rio. Bendi itu kereta yang ditarik kuda.

“Kapan kita naik bendi, Kek?” Rio bertanya.

“Wah, kita harus ke Bukittinggi. Di Kota Padang ini, bendi sudah jarang sekali ditemui,” jawab Kakek.

Petualangan Kakek dan Rio pun dimulai. Kebayang, kan, serunya naik bendi di Bukittinggi sambil melihat Jam Gadang hingga menyantap ampiang dadiah? Keseruan cerita ini saya dapatkan dari salah satu buku yang ada di aplikasi Let’s Read.

Buku berjudul Babendi-bendi ini ditulis oleh Khairani. Dilengkapi dengan ilustrasi yang sangat menarik, serasa ikut berpetualang bersama Rio dan sang Kakek ke Bukittinggi. Tentunya sambil naik bendi yang sudah jarang sekali kita jumpai di zaman modern seperti sekarang ini. Apalagi saya tinggal dan menetap di Jakarta. Agak sulit menemukan bendi atau kereta kuda.

Bagi saya, mengenalkan buku bacaan kepada anak-anak bukan sekadar membudayakan membaca di lingkungan terkecil kita, yakni keluarga. Lebih dari itu, anak-anak bisa berimajinasi dan berpetualang ke mana pun mereka mau.

Membaca secara rutin dapat meningkatkan kemampuan perkembangan otak anak untuk berimajinasi dan lebih kreatif. Mereka bisa merasakan apa yang diceritakan oleh penulis, bahkan dapat membayangkan si tokoh hingga suasana dalam cerita.

Sayangnya, saat masih kecil dulu, saya tidak punya banyak buku bacaan. Kalau nggak salah, saya hanya punya satu buku kumpulan cerita fabel yang entah didapat dari mana. Selebihnya, saya numpang membaca di rumah tetangga.

Setelah menjadi seorang ibu, bersyukur sekali karena bisa membelikan buku bacaan untuk anak-anak sejak dini. Mulai dari kehamilan anak pertama, saya sudah menabung dengan membeli beberapa buku bacaan. Setelah si sulung lahir, dia sudah terbiasa dibacakan buku cerita meskipun belum lancar bicara. Seolah saya mau membayar kekurangan masa kecil dulu :)

Buku Adalah Jendela Dunia


Iya, dengan membuka jendela itu satu per satu, kita bisa mengetahui lebih banyak tentang apa saja yang ada di dunia ini. Seperti ketika membaca buku Babendi-bendi, anak-anak jadi tahu sebutan kereta kuda di Sumatera Barat. Mereka bisa melihat Jam Gadang hingga mengetahui makanan tradisional khas daerah Bukittinggi.

Ternyata, makanan khas Sumatera Barat bukan hanya rendang yang sering dijumpai di rumah makan Padang, ya? Ada juga ampiang dadiah yang terbuat dari ampiang (emping) serta dadiah yang merupakan yogurt khas Minangkabau. Sekaya itu, lho kuliner khas Indonesia. Anak-anak jadi lebih kaya pengetahuannya setelah membaca buku ini.


Dan lagi, anak-anak yang sering dibacakan buku sejak kecil juga terbukti lebih kritis dan tahu banyak hal. Kita perlu membudayakan membaca menyenangkan sejak dini. Bahkan sejak anak-anak masih di dalam rahim. Meskipun agak kagok bacain buku waktu anak belum lahir, percayalah ini menjadi awal yang sangat baik.

Mencintai Buku Sejak Dini


'Mencintai buku' tidak sama dengan 'sekadar bisa membaca buku'. Anak yang bisa membaca, belum tentu menyukai dan mencintai buku. Akan sulit meminta anak-anak senang membaca jika sejak kecil kita tidak mengenalkan buku pada mereka.

Karena impian saya sejak dulu pengen banget jadi penulis, maka dengan percaya diri tinggi saya membuat buku-buku bacaan sendiri. Selain lebih hemat, saya juga bisa dengan bebas menuliskan cerita dengan tokoh utama si sulung dan si bungsu. Nggak secantik buku-buku yang majang di toko buku besar memang, tapi siapa sangka ternyata anak-anak begitu antusias membacanya bahkan sampai berebut.

Saya pernah menulis kisah petualangan si sulung di ladang popcorn. Saya ketik ceritanya sendiri, saya tambahkan ilustrasi sederhana di dalamnya. Buku itu begitu menarik buat si sulung. Dia membawanya ke sekolah, sampai-sampai ibu guru membacakan cerita itu di depan murid-murid yang lain.

Setelah beberapa tahun berlalu, saya benar-benar berhasil menjadi penulis buku anak-anak. Lebih menariknya, anak-anak masih antusias ketika tanpa sengaja menemukan buku-buku lama yang pernah saya buat sendiri. Betapa kenangan ini tak bisa dikatakan sederhana buat saya *auto terharu.



Buku bacaan untuk anak-anak memang terbilang mahal. Karena menulis buku cerita untuk usia mereka tidaklah mudah. Ditambah ilustrasi yang menarik, pantaslah jika satu buku bisa dihargai sangat lumayan sehingga tidak semua orang bisa memilikinya. Kalau mau berpikir kreatif, kita bisa membuat buku sendiri bersama anak-anak. Seperti yang pernah saya buat waktu si sulung masih TK. Percayalah, anak-anak akan sangat senang memilikinya meskipun hasilnya tak sesempurna apa.

Membaca Menyenangkan Bersama Let’s Read


Ternyata, agak ‘merepotkan’ juga punya anak-anak yang gemar membaca. Merepotkan dalam tanda kutip, ya? Setiap pergi ke mall, kami lebih betah berlama-lama di toko buku dan asyik memilih buku-buku favorit yang akan dibeli. Hmm, nggak berasa bisa habis ratusan ribu sekali belanja.

Saya meminta mereka menabung supaya bisa membeli buku bacaan sendiri. Ternyata, anak-anak rela menghabiskan uang demi membeli buku bacaan yang sudah lama diinginkan. Lumayan banget bisa menghemat pengeluaran emaknya…hehe.

Namun, sejak pandemi, saya tidak pernah lagi pergi ke toko buku. Buat saya, sangat berisiko apalagi membawa anak-anak usia 9 tahun dan 5 tahun ke tempat umum. Cukuplah bermain di rumah dan membaca buku-buku di rak sampai bosan dan berulang-ulang.

Lama-lama kasihan juga, ya. Mereka butuh bacaan baru. Kalau bisa, jangan sampai bikin kantong kering, tapi berkualitas. Nggak mau asal membelikan buku, saya harus memastikan buku-buku yang mereka baca sesuai dengan usia dan tentunya berisi petualangan menarik yang dapat merangsang imajinasi.



Beruntung, ternyata ada perpustakaan digital gratis untuk anak-anak. Namanya Let's Read!

Unduh Aplikasi Let’s Read dan Bersiaplah Merasakan Petualangan Seru dan Menyenangkan!


Let’s Read merupakan perpustakaan digital gratis untuk anak yang dipersembahkan oleh komunitas literasi dan The Asia Foundation. Menariknya, Let’s Read punya misi membudayakan kegemaran membaca pada anak Indonesia sejak dini, salah satunya melalui pengembangan cerita rakyat yang kaya kearifan lokal.

Meskipun sementara waktu kita hanya bisa berada di rumah, nggak bisa jalan-jalan lagi ke toko buku apalagi traveling keliling dunia, setidaknya dengan membaca, kita bisa mengenalkan budaya daerah lain pada anak-anak. Nggak hanya budaya Indonesia yang begitu beragam dan kaya, tapi juga budaya negara lain yang mungkin belum anak-anak ketahui selama ini.



“Eh, tapi anak-anakku nggak suka membaca. Malah lebih senang main game. Seharian cuma pegang HP, kalau diambil malah nangis.”

Jangan sedih dulu. Tidak ada kata terlambat. Kita bisa memulainya dari sekarang. Saya biasa membacakan cerita sebelum tidur dengan nyaring. Anak-anak dengan senang hati mendengarkan. Karena rutin dibacakan buku terutama sebelum tidur, mereka jadi kecanduan membaca buku sendiri setelah besar.

Kita pun perlu mengenalkan perpustakaan digital kepada anak-anak. Tunjukkan bahwa handphone juga bisa menyajikan buku bacaan menarik buat mereka. Biar nggak asyik main game terus, ya? Tapi, jangan lupa dampingi anak-anak, ya. Yuk, ah lekas unduh aplikasi Let's Read!

Asyiknya Bisa Cetak Buku Kesukaanmu!


Yups! Istimewanya Let’s Read dibanding dengan yang lain, salah satunya karena kita bisa mencetak gratis buku-buku favorit sesuai kebutuhan di website Let's Read. Tapi, bukan untuk diperjualbelikan tentunya.


Karena membaca online kadang tidak bisa kita lakukan setiap saat. Ada saatnya kita butuh membaca buku fisik. Dan Let’s Read benar-benar ngasih kemudahan untuk itu. Anak-anak excited banget begitu tahu buku-buku cerita favorit mereka di Let’s Read bisa dicetak jadi booklet (tinggal di-print).

Saya pikir, ini bisa menjadi solusi juga buat kita sebagai orang tua di masa pandemi seperti sekarang. Dengan begini, kita bisa memenuhi kebutuhan buku bacaan yang terbaik buat anak-anak. Terutama karena mereka mesti di rumah terus selama berbulan-bulan.

Gimana, keseruan petualangan kali ini terasa banget, kan? Padahal, saya baru menceritakan petualangan Rio bersama sang Kakek naik bendi di Bukittinggi. Masih ada banyak cerita menarik lainnya yang bisa kita dapatkan di aplikasi Let’s Read.

Walaupun harus tetap di rumah selama masa pandemi, setidaknya kita bisa mengajak anak-anak tetap berpetualang dan berimajinasi bersama cerita-cerita menarik dari Let’s Read. Yuk, ah kita cari petualangan seru lainnya!

Salam hangat,

 

Sunday, September 27, 2020

Cara Membuat Homemade Ginger Beer

Cara membuat homemade ginger berr



Seminggu terakhir, sempat meriang dan flu. Rasanya nggak nyaman banget setelah sekian lama dikasih sehat sama Allah dan bisa beraktivitas dengan nyaman, tiba-tiba hidung mampet dan badan meriang. Tahulah ya, sakit di masa pandemi seperti sekarang ini benar-benar nggak lucu sama sekali. Mana ada sakit yang lucu? :D

Jujur, sempat parno. Setiap pagi nyari benda yang berbau wangi, sekadar mau ngetes indra penciuman apakah masih berfungsi dengan normal atau nggak. Mulai dari sabun mandi hingga parfum. Subhanallah, rasanya deg-degan ketika lidah mulai hambar dan penciuman nggak tajam. Jelas karena memang sedang flu. Tapi, rasa takut kena corona lebih dominan rasanya, sampai-sampai kayaknya stres sendiri.

Saya hampir tidak pernah konsumsi obat flu dan batuk. Kalau sedang sakit seperti ini, banyakin aja minum air hangat, minum jus, dan tidur yang cukup. Kurang tidur dan cuaca yang nggak menentu akhir-akhir ini kayaknya menjadi salah satu sebab kenapa saya akhirnya jatuh sakit :(

Selain minum jus, saya juga bikin minuman probiotik. Salah satunya ginger beer. Merasa sangat ajaib ketika bisa bikin minuman probiotik sendiri di rumah. Padahal, bahannya sederhana saja. Eh, kok bisa jadi minuman fermentasi menyehatkan kayak gini?

Minuman dari bahan utama jahe ini memang menghangatkan. Setelah minum, badan langsung angeet. Ternyata rasanya juga enak, baik buat kita yang dewasa dan juga anak-anak.

Proses membuat ginger beer memang nggak sebentar. Karena kita butuh membuat biangnya dulu sebelum membuat minuman yang bisa diminum. Tapi, kalau sudah punya biang, kita bisa memakainya dalam jangka waktu yang lumayan lama.

Mengenal Ginger Beer


Ginger beer merupakan minuman fermentasi jahe. Fermentasi terjadi karena adanya kontak antara gula dengan bakteri probiotik yang ada pada jahe.

Biang yang kita pakai untuk membuat ginger beer biasa disebut ginger bug. Ginger bug biasa dibuat dari campuran jahe, gula, dan air yang disimpan selama kurang lebih 5-6 hari. Ginger bug disimpan di dalam wadah tertutup seperti jar dan sejenisnya demi mengaktifkan bakteri probiotik yang ada pada jahe.

Gula di dalam ginger bug ini menjadi makanan bagi bakteri probiotik. Jadi, kalau nggak ada gulanya, bakterinya nggak punya makanan. Tapi, saat menuliskan postingan ini, saya menemukan sebuah artikel dari luar yang membahas tentang ginger beer tanpa gula, melainkan dibuat dengan tambahan madu. Ginger beer dengan madu katanya lebih sehat. Kapan-kapan kita bisa mencobanya juga, ya!

Ginger Bug


Saat membuat ginger bug, kita membutuhkan jar untuk menyimpan ginger bug selama beberapa hari. Jangan lupa cuci tangan sampai bersih, cuci juga jahe tanpa mengupasnya. Karena dari kulit jahe inilah, bakteri-bakteri liar katanya muncul. Amazing banget nggak, sih?

Satu lagi, saat mengaduk ginger bug, cukup pakai pengaduk dari plastik atau kayu seperti sumpit. Jangan gunakan benda berbahan logam, ya. Karena nantinya bisa terjadi reaksi.

Bahan ginger bug:


2 sdm jahe, cincang kasar

100 ml air matang

2 sdm gula pasir

Cara membuat:



  • Campurkan semua bahan dan aduk rata dengan sumpit. Tutup jar dan simpan selama 24 jam.

  • Setelah 24 jam pertama, tambahkan 200ml air, 2 sdm gula pasir, dan 2 sdm jahe cincang. Aduk lagi. Lakukan hal yang sama sampai hari ke-3.

  • Pada hari keempat sampai kelima, cukup tambahkan 100 ml air, 2 sdm jahe cincang dan 2 sdm gula pasir.

  • Pada hari keenam, ginger bug sudah mulai muncul gelembung dan sudah siap dipakai untuk membuat ginger beer.


Homemade Ginger Beer


Ternyata, bikin ginger beer ini gampang banget. Resep ini, mulai dari pembuatan ginger bug sampai ginger beer tanpa sengaja saya dapatkan dari Instagram melalui akun @pekarangan.rinati. Beliau membuat video tutorialnya dan di situlah saya tertarik membuatnya sendiri di rumah.

Ternyata? Yups! Gampang, kok. Begini cara membuat ginger beer-nya!

Bahan:


5 cm potongan jahe

1 lt air matang

100 gr gula pasir

Perasan lemon (optional)

Cara membuat:



  • Rebus semua bahan sampai gula larut, kemudian matikan dan tunggu sampai suhu ruang.

  • Perbandingan antara air jahe dengan ginger bug adalah 80%: 20%. Jika kita pakai 1000 ml air, ginger bug bisa ditambahkan hingga 200 ml-nya.

  • Campur kedua bahan tersebut, kemudian tutup rapat botol. Tambahkan perasan jeruk lemon.

  • Tunggu sampai sekitar 2 hari di suhu ruang. Nanti akan muncul gelembung-gelembung kecil dan siap dikonsumsi.

  • Setelah menjadi ginger beer, kita bisa simpan minuman ini di dalam lemari pendingin.


Gimana dengan ginger bug-nya yang masih tersisa? Mbak Rinati bilang, bisa kita simpan di kulkas jika tidak dipakai. Tapi, kalau mau dipakai, tetap kasih tambahan gula pasir dan air ke dalamnya setidaknya seminggu sekali kasih makan gula si bakterinya.

Semudah ini membuat ginger beer, lho. Gimana, ada yang mau nyoba nggak, nih, di rumah?

Salam hangat,

 

Tuesday, September 22, 2020

Nikah Muda Tanpa Pacaran, Kenapa Nggak?

Nikah muda tanpa pacaran



Nikah muda tanpa pacaran, apa mungkin? Setelah melihat ke-uwuan Rey dan Dinda, kita bisa menjawab pasti bahwa nikah di usia muda tanpa pacaran adalah hal yang sangat mungkin terjadi. Mungkin, sih, iya. Tapi, nyaman apa nggak? Gimana dengan pernikahannya? Apakah rumah tangganya baik-baik aja?

Di dalam Islam, menikah dengan jalan taaruf tidak sama seperti membeli kucing di dalam karung. Nggak asal milih pasangan dan bukan juga tebak-tebakan. Jika di kemudian hari pernikahan itu bermasalah, jangan juga lantas menyalahkan proses taarufnya.

Saya menikah di usia 19 tahun. Nggak pernah ada cita-cita nikah muda juga. Dan nggak kebayang bakalan nikah sama pria yang baru ketemu selintas tanpa tahu nama, siapa dia, dan dari mana asalnya. Tiba-tiba sreg dan mau setelah ditanya. Itulah jodoh, ya? :)

Tahun ini, pernikahan kami memasuki usia 11 tahun, masya Allah. Nggak bisa dikatakan mudah. Setiap pernikahan punya ujiannya masing-masing. Jika bukan dari pasangan, ujian itu datang dari keluarga, hingga orang lain yang tidak kita kenal.

Di tempat saya dibesarkan, nikah setelah lulus SMA itu adalah hal yang wajar. Bahkan kalau telat dikit sudah dikatain nggak laku dan bla bla bla. Setelah lulus SMA, saya masih melanjutkan D1 di STIKK An-Nur 3 (Sekolah Tinggi Ilmu Kitab Kuning di pesantren). Rencana mau kuliah nggak kesampean karena beberapa sebab. Pengen iya, tapi mungkin nggak terwujud saat itu. Malah akhirnya nikah :D

Suami saya merupakan adik dari Ustadz yang mengajar saya di pesantren. Ketemu sekali tanpa ngobrol. Hanya berpapasan kemudian dia memutuskan melamar. Sesimpel itu ya kalau sudah jodoh.

Kalau dipikir, bagaimana kita bisa melabuhkan hati pada orang yang belum kita kenal secara utuh? Minimal kenalan dululah, ngobrol-ngobrol, nunggu seminggu atau sebulan, barulah memutuskan. Nyatanya kami nggak membutuhkan waktu selama itu. Sore kami ketemu, selepas Magrib, lewat perantara Ustadz lain, keinginan melamar itu disampaikan.


Belum Kenal, Takut Salah Pilih


Jangankan yang baru kenal, bagi yang sudah pacaran lama saja belum tentu tahu seluruh baik dan buruk pasangannya kecuali setelah menikah. Jadi, nggak perlu juga mencemaskan ini dan itu jika jodoh itu bertandang dalam hidupmu. Bismillah dan berbaik sangkalah pada Allah.

Cukuplah kita mencari tahu siapa dia dan bagaimana akhlaknya dari orang-orang yang mengenalnya atau dari orang-orang terdekat. Saya pun baru tahu kalau si Mas ini adik Ustadz saya sendiri. Setelah merampungkan kuliah, si Mas pindah dan bekerja di Jakarta. Jadi, benar-benar nggak tahu dan nggak kenal sama sekali.

Saat akan menikah, pasti banyak keraguan, ketakutan, hingga kecemasan berlebihan. Jangan sampai kita salah pilih, karena nikah buat kita, kan cukup sekali seumur hidup. Pikiran kayak gini sering bikin risau. Gimana kalau dia begini dan begitu. Apalagi setelah nikah mesti ikut pindah ke Jakarta dan berjauhan dari orang tua.

Qadarallah, orang tua juga nggak mau saya pindah. Mereka ingin saya tetap tinggal bersama. Terdengar aneh, masa setelah nikah tetap sama orang tua dan LDR-an sama suami? Meski begitu, pernikahan kami terlaksana dan orang tua pun melepas saya ke Jakarta. Hal-hal yang ditakutkan sebelum menikah pun nyatanya nggak terjadi.

Usia Bukan Tolok Ukur


“Nggak mau nikah muda, soalnya masih labil banget. Takutnya malah seenaknya ninggalin pasangan. Belum lagi kalau punya anak.”

Belum tentu yang usia 20 tahun ke atas bisa dewasa dalam berpikir dan bersikap. Pun sama, nggak setiap orang yang masih belasan tahun bersifat kekanakan dan labil. Usia bukan tolok ukur seseorang bisa dikatakan matang dalam berpikir dan bersikap.

Bisa kita lihat, banyak yang nikah di usia muda dan pernikahannya baik-baik saja. Jadi, jangan merisaukan soal usia secara berlebihan. Nggak harus nunggu usia 25 tahun ke atas untuk menikah. Jika jodohmu datang di usia 19 tahun, apa perlu ditolak? Nggak mesti segitunya, kan? *curhat.

Nikah Sudah Pasti Diuji


Seperti saya katakan sebelumnya, setiap pernikahan ada ujiannya masing-masing. Dari awal kita harus tahu, bahwa menikah bukan hanya soal senang-senangnya saja. Bukan soal bahagia-bahagia doang. Bukan hanya soal uwu-uwu di awal dan di mata para netizen. Menikah butuh komitmen. Mudah dijalani saat senang, tapi bagaimana ketika sedang sulit dan kapal diterjang badai? Nah, di sini kita diuji.

Ketika menikah, semua orang akan mengucapkan selamat menempuh hidup baru. Lembaran baru dalam pernikahan baru saja dimulai. Kehidupan baru dengan warna warninya baru saja dibuka.

Karena sadar betul menikah bukan hanya soal senang saja, maka sejak awal kita pun mesti memikirkan masak-masak sebelum menikah. Karena menikah bukan pacaran yang ketika bosan dan lelah bisa dengan mudah ditinggalkan. Tidak juga mudah mengatakan kata putus dan semudah itu juga buat bubaran.

Nikah Bukan Perlombaan


Nikah bukan perlombaan. Siapa duluan, dia yang menang. No, nikah bukan tentang siapa cepat, dia yang dapat. Jadi, menikah di usia berapa pun sebenarnya bukan masalah. Islam juga tidak mempermasalahkan soal itu. Hanya saja kita sendirilah yang sering mempermasalahkannya. Akhirnya, yang belum ketemu jodoh sering kena bully. Padahal, siapa juga yang mau menunda untuk berumah tangga?

Pertanyaan kapan nikah jadi terasa nggak nyaman buat sebagian orang. Kita nggak tahu, seberapa sulit dia mendapatkan jodohnya. Ada yang sudah taaruf kemudian batal menikah. Ada yang sudah menikah, kemudian terpaksa berpisah. Kita mesti peka dengan kondisi orang lain :)

Jangan Buru-Buru Menikah Jika Mau Enaknya Saja


Menikah memang merupakan sunah yang dianjurkan. Tapi, jika belum siap, tidak perlu memaksakan diri. Nggak perlu iri dengan tetangga sebelah yang sudah menikah. Nggak perlu cepet-cepet nikah karena pengen viral. Menikahlah ketika kamu siap. Menikahlah karena pengen ibadah dan memperbaiki diri. Sebab kalau hanya mau enaknya saja, kamu nggak akan dapat apa-apa.
Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu adalah pengekang syahwatnya yang menggelora.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baa’ah merupakan kemampuan untuk berhubungan, tapi disertai kemampuan menafkahi terlebih dulu. Jika belum siap, maka Islam memerintahkan kita supaya menjaga pandangan dan kemaluan. Bukan malah pacaran.

Gimana, gimana? Masih semangat menjemput jodoh? Jangan takut dengan sesuatu yang belum terjadi dan selalu berbaik sangkalah pada Allah. Jika jodohmu belum juga datang, bukan berarti kamu akan men-jomblo selamanya, kok. Jodoh sudah ditetapkan. Tinggal bagaimana cara kita menjemputnya.

Katanya, jodoh adalah cerminan diri. Jika mau yang baik, maka pantaskan dirimu dari sekarang. Sambil nunggu, sambil memperbaiki. Insya Allah akan datang jodohmu di waktu yang tepat.

Salam hangat,

Featured image: Photo by Beatriz Perez Moya on Unsplash

 

Friday, September 18, 2020

Tips Menjaga Kesehatan Anak di Masa Pandemi

tips menjaga kesehatan anak di masa pandemi



Bagaimana cara menjaga kesehatan anak di masa pandemi?
Saat anak diharuskan belajar di rumah, sebenarnya kita begitu dimudahkan untuk menjaga kesehatan mereka. Karena, kita bisa mengontrol dengan siapa mereka berinteraksi. Apalagi ketika pandemi seperti ini, mustahil kita bebaskan anak-anak bermain dengan teman-temannya di luar. Meskipun masih banyak orang tua yang melepaskan anak-anaknya tanpa beban, tapi kalau saya pribadi belum membolehkan anak-anak main dengan yang lain. Cukup dia bermain dengan adiknya di rumah.

Alhamdulillah, si sulung yang sekarang sudah mau 10 tahun menerima dengan legowo larangan bundanya. Sebab, dia memang terbiasa ada di rumah, jarang banget main di luar rumah seperti yang lain.

Saya pribadi berpikir sederhana saja, jika di dalam rumah saja kadang kita nggak bisa mengawasi anak-anak setiap detik, bagaimana ketika mereka di luar rumah? Di tengah pandemi seperti sekarang, anak-anak butuh permainan asyik yang bisa dilakukan di dalam rumah tanpa harus berbaur dengan yang lain. Anak-anak membutuhkan kita orang tuanya sebagai teman bermain. Saya yakin, mereka nggak akan menolak, kok. Dan tentunya, insya Allah ini jauh lebih baik buat mereka.

Drama Common Cold Ping Pong Sudah Reda Sejak Sekolah di Rumah



Salah satu hal positif dari sekolah di rumah, anak-anak jadi lebih terjaga kesehatannya. Salah satunya jadi jarang kena batuk pilek atau common cold yang biasanya terjadi hampir setiap bulan ketika mereka sekolah offline.

Anak saya sendiri mengalami hal yang sama. Hampir setiap bulan dia kena batuk pilek. Kemudian menularkan ke adiknya. Kadang, serumah juga kena. Kalau ping pong, alhasil lama banget kelarnya.

Bahkan yang bikin begitu kerepotan, si bungsu punya riwayat otitis media yang cukup parah. Nggak bisaan kena batuk pilek sedikit, langsung kambuh dan kami pun harus rela bolak balik ke dokter THT untuk membersihkan telinganya yang terus menerus mengeluarkan cairan.

Belum lagi di antara kedua anak saya memang ada alergi tungau debu. Dulu sempat dilakukan tes juga di rumah sakit Hermina Jatinegara. Anak-anak dengan riwayat kesehatan seperti ini jadi rentan dan mudah kena batuk pilek.

Tapi, alhamdulillah banget, seiring berjalannnya waktu, mereka sudah jauh lebih baik kondisi kesehatannya. Sudah jarang kena batuk pilek terutama karena mereka nggak sekolah. Nggak dapat virus ping pong dari teman-teman sekelasnya.

Kalau batuk pilek aja bikin ribet minta ampun karena punya alergi, riwayat kejang demam, dll, apa kabar dengan corona? Hiks.

Tingkatkan Daya Tahan Tubuh dengan Rutin Konsumsi Jus



Saya termasuk orang tua yang nggak pusing memikirkan harga *m*n*s atau sejenisnya yang naik atau mulai langka di pasaran sejak pandemi. Karena sejak lama saya kurang memercayai suplemen kesehatan semacam itu. Beberapa dokter di milis sehat sudah menjelaskan kenapa kita nggak boleh sembarangan pakai obat, meski itu sejenis suplemen atau vitamin penambah imunitas. Yakin nggak, sih, beneran diperlukan buat tubuh kita? Atau justru nantinya bakalan ada efek samping yang nggak diinginkan? Hmm, coba cari tahu sendiri aja :D

Sejak saya menjalankan diet sehat tahun lalu, alhamdulillah ada banyak hal positif didapat. Misalnya, jadi rajin minum jus. Bukan hanya saya, anak-anak pun sudah terbiasa dan merasakan sendiri manfaatnya.

Atas izin Allah, tubuh jauh lebih fit. Jadi, saya memang rutin konsumsi jus setiap pagi. Buat anak-anak, saya berikan satu gelas jus dari buah tomat, wortel, sedikit mentimun, bisa ditambah buah seperti apel, nanas, atau bahkan sayuran hijau seperti bayam dan pokcoy. Yummy!

Ingat, ya, jusnya nggak boleh pakai gula. Kalau mau rasa manis, bisa tambahkan madu sedikit saja. Semakin banyak buahnya, semakin enak rasanya *jelaslah, ya...hehe.

Gitu doang? Yups! Saya nggak melakukan banyak hal, cukup rutin konsumsi makanan sehat seimbang, salah satunya minum jus secara rutin. Jangan lihat hasilnya seminggu dua minggu, cobalah sampai minimal sebulan dan ketahui sendiri manfaatnya buat kesehatan. Insya Allah sangat nyaman :)

Rajin Berjemur di Pagi Hari


Meskipun saya jarang melakukannya karena benar-benar nggak sempat, apalagi kalau si sulung sekolah, tapi saya percaya kalau sinar matahari pagi yag mengandung vitamin D ini begitu baik buat kesehatan kita. Jika ada waktu, rutinlah berjemur di pagi hari.

Bisa juga berjemur di teras sambil senam. Anak-anak biasanya senang senam sambil berjemur. Jadi nggak bosan duduk-duduk sampai berkeringat. Tapi, usahakan jangan jauh-jauh berjemurnya dan hindari kerumunan, ya! *kali aja berjemur sambil ngerumpi :D

Tetap Bahagia di Tengah Pandemi


Salah satu faktor yang bisa menurunkan daya tahan tubuh adalah stres. Saya paham betul, saat anak-anak sekolah di rumah, banyak orang tua mengeluh jadi gampang emosian. Karena mereka mesti membagi waktu antara menemani anak belajar dan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga atau ngantor.

Tapi, sama seperti kita, anak-anak juga butuh bahagia. Biasakan jangan membesar-besarkan hal kecil, biar nggak sering ribut sama anak. Latih diri supaya lebih santai dan banyakin senyum meskipun hati dongkolnya minta ampun. Percaya, deh, dengan kita memaksakan diri tersenyum saja, kondisi hati jadi jauh lebih baik. Anak-anak pun akhirnya berlarian memeluk kita, bukan malah sebel diomelin atau dilarang ini itu. Kalau kondisi hati sudah membaik, baru deh kita bisa menasihati mereka.

Yuk, bahagia bersama. Insya Allah kita bisa melewati semua ini.

Usahakan Masak Menu Makan Berat dan Camilan Sendiri


Adakah yang seperti saya? Merasa takut membeli makanan di luar sejak pandemi? Bahkan mau belanja sayur aja deg-degan banget, lho. Supaya lebih aman, sebaiknya kita memasak menu makan dan camilan sendiri. Nggak masalah agak repot dan rempong, kan? Penting anak-anak terjaga kesehatannya. Daripada kita beli, tapi malah was-was setiap mau menelan makanan. Jadi horor banget, kan?

Bikin menu nggak usah terlalu banyak jenisnya. Secukupnya saja. Begitu juga dengan camilan, karena nggak ada tukang roti lewat, saya pun jadi jarang beli roti kecuali pas ke supermarket. Karena alasan ini juga, saya jadi sering bikin camilan sendiri. Hampir nggak pernah beli. Bisa kehitung belinya berapa kali sejak pandemi.

Kita nggak harus bikin camilan yang susah dibuat, yang simpel-simpel aja seperti kue cubit, bakpao atau donat. Paling gampang bikin kue cubit pandan pakai resep ini  atau coba bikin bakpao dengan bentuk lucu seperti ini. Asli ini resep andalan saya, lho. Cuma diaduk-aduk saja. Prosesnya nggak memakan waktu lama dan pastinya enak menul-menul.

Beberapa hal di atas telah saya terapkan. Sebenarnya, bukan sejak pandemi, tapi sejak lama. Palingan baru-baru ini belajar senyum-senyum sendiri aja dan belajar selalu berpikir positif terhadap segala hal. Agak sulit memang menyesuaikan diri dengan kondisi sekarang. Rasanya pengen teriak udah bosaaan kayak gini terus. Tapi, kalau ini yang terbaik, mari melatih diri kita supaya bisa bersabar dan mengambil pelajaran dari adanya corona. Benar-benar sebuah teguran dan ujian yang luar biasa buat semua orang. Bismillah, insya Allah kita bisa melewati ujian ini dengan baik.

Salam hangat,

Photo: Unsplash

 

Wednesday, September 16, 2020

Sukses Mendampingi Anak Belajar di Rumah Selama Pandemi

mendampingi anak belajar di rumah di masa pandemi


Gimana kondisi hati kita selama mendampingi anak belajar di rumah? Jadi gampang emosi, baru lima menit belajar online, anak-anak sudah ngeluh bosan dan jenuh, ingat cucian belum disentuh, setrikaan numpuk menggunung, eh, menu makan siang pun belum disiapkan. Kebayang dong ya betapa riwehnya hidup kita di masa new normal seperti sekarang.


Kalau kita sebagai Ibu Rumah Tangga aja repotnya minta ampun, gimana dengan wanita karier yang mesti membagi waktu antara pekerjaan rumah, mendampingi anak-anak, dan kerjaan di kantor? Pastinya bukan hal mudah. Bahkan saya nggak bisa membayangkan betapa melelahkannya rutinitas sehari-hari saat pandemi seperti saat ini.


Waktu awal tahun ajaran baru kemarin, jujur agak kaget dengan rutinitas belajar yang baru dimulai. Kayaknya serba kejar-kejaran antara tugas dan materi pelajaran berikutnya. Meskipun diberi waktu lumayan sampai sore hari, tapi tetap saja kayak dikejar hantu saking horornya.


Bersyukur kalau anak-anak manut dan tetap enjoy ngerjain tugas. Tapi, kesenggol dikit mood-nya bisa ambyar...hehe. Ya Allah, repot banget rasanya belajar di masa pandemi seperti ini. Tapi, kalau dikeluhkan terus menerus pun tak akan berguna. Malah yang ada jadi makin capek dan bete. Jadi, kita mesti pintar-pintar membagi waktu. Supaya bisa istirahat dengan ‘layak’. Biar ada waktu me time buat nyenengin hati yang mulai lelah dan emosi...hehe.


Perubahan yang sangat tiba-tiba memang membuat aktivitas harian saya berubah. Kalau dulu, kayaknya jadwal nulis baik buat postingan baru di blog dan untuk naskah bisa lebih mudah dikerjakan walaupun ada saatnya mesti pergi kajian, jalan-jalan dan nyari hiburan di luar rumah. Tapi, saat pandemi, bukannya malah santai dan enak karena di rumah terus, justru jadi aneh, ya? Ibuk-ibuk ngerasai juga nggak, sih?


Belum lagi buku-buku yang bakalan terbit harus tertunda entah sampai kapan. Semua berubah begitu drastis. Ya Allah, luar biasa sekali rasanya ketika pandemi.


Selain harus ikhlas dan belajar menerima, saya sebagai ibuk-ibuk juga mesti menata hati supaya bisa kembali beraktivitas dengan gembira. Jangan sampai kebanyakan ganjalan di pikiran. Mesti dibuat plong ini perasaan. Akhirnya, saya mencari pelarian yang justru menjadi peluang bagi hobi saya yang sempat terlupakan. Yups! Menggambar!


Sekitar dua bulanan ini saya rutin menggambar, akhirnya jadi banyak latihan meskipun dimulai dari gambar paling sederhana dan mungkin bagi orang lain nggak penting banget, ya? Hehe. Tapi, buat saya ini adalah hiburan. Dan nggak nyangka justru jadi peluang terbukanya banyak kesempatan baru.


Mulai membagi waktu lagi untuk ngeblog dan menulis naskah. Meskipun sambil ngos-ngosan karena masa pandemi yang bikin semua hal jadi buyar, tapi akhirnya semua bisa diselesaikan. Alhamdulillah.


BTW, selain memikirkan hati kita sebagai ibuk-ibuk yang mesti ekstra sabar ketika mendampini anak-anak belajar di rumah, kita pun mesti menjaga hati dan mood anak-anak yang mulai lelah dan bosan juga karena berbulan-bulan nggak bisa ketemu teman dan nggak bisa bertatap muka dengan guru mereka.


Jangan Berharap terlalu Tinggi

Di masa pandemi seperti saat ini, pasti ada banyak kesulitan yang dihadapi ketika harus belajar di rumah. Kita sebagai orang tua juga nggak bisa sempurna mendampingi mereka, pun anak-anak nggak bisa semaksimal saat belajar di sekolah bersama gurunya. Cobalah memaklumi kekurangan kita sebagai orang tua, pun kekurangan anak-anak kita yang memang nggak bisa dipaksa untuk terus fokus belajar tanpa jeda.


Suasana belajar di rumah berbeda dengan di sekolah. Sangat terlihat jika kebanyakan murid kurang antusias, tapi, inilah kondisi yang harus kita jalani selama beberapa bulan ke depan. Ada saatnya anak saya yang baru kelar 4 SD ngambek dan nggak mau mengerjakan tugas karena merasa sudah pusing duluan. Ada saatnya dia pengen main melihat adiknya main. Tergodalah dia. Ada saatnya dia kesel karena salah ngerjain tugas. Dan ada saatnya dia jenuh belajar online.


Kita nggak bisa memaksa mereka terus menerus belajar, ada saatnya mereka bakalan lari nyari hiburan. Beri kelonggaran. Maklumi bahwa bukan hanya kita yang merasa jenuh dengan kondisi seperti sekarang, tapi juga mereka merasakan hal yang sama meski tak selalu dapat diungkapkan.


Jangan berharap terlalu tinggi. Kita manusia, pun mereka sama. Butuh dimaklumi rasa lelah dan bosannya.



Mendukung Suasana Belajar dengan Memilih Tempat yang Nyaman


Saya sendiri lumayan sulit beradaptasi dengan tempat baru. Nggak bisa fokus kalau harus ngetik di ruangan lain, padahal biasanya ngetik di kamar bawah misalnya. Saya akan kesulitan beradaptasi dan membiasakan diri. Jadi, benar-benar harus memilih ruangan yang nyaman dan biasa saya pakai sehari-hari.


Kalau anak-anak gimana? Mereka sudah kehilangan waktu belajar bersama teman-teman dan gurunya di kelas. Sekarang, mereka harus berpindah tempat, belajar di rumah dan melihat wajah ibunya yang berwarna warni setiap hari *kadang manis, kadang asem, kadang serem..hehe. Pastinya anak-anak butuh tempat yang nyaman buat belajar juga. Kita bisa tanyakan langsung kepada mereka. Sesekali saya bahkan mengajak si sulung belajar di teras. Lumayan, sekarang udah banyak sayuran tumbuh, jadi lumayan segar :D


Sama seperti kita, mereka pun punya pilihan. Tapi, jangan sampai belajar sambil nonton televisi. Kayaknya akan mengganggu, ya? Di rumah, televisi memang sengaja tidak dinyalakan. Bahkan meski di hari libur. Karena saya pribadi nggak siap harus ribut soal televisi setiap hari. Meskipun saya dan anak-anak sudah membuat perjanjian, hanya boleh nonton hari apa dan berapa lama, tetap saja ada yang melanggar. Dan itu agak mengganggu ketenteraman hati ibuk-ibuk yang sudah lelah dengan banyak pekerjaan rumah...hehe.


Jadi, saat pandemi seperti ini, mereka nggak sibuk nonton mulu. Dan ibuknya juga nggak harus ngomel mulu :D



Orang Tua Bukan Pengganti Guru


Karena pandemi dan harus belajar di rumah, bukan berarti tugas guru bisa ditukar dengan orang tua. Guru tetap menyampaikan materi, sedangkan orang tua bisa mendampingi, menjadi fasilitator belajar bagi anak-anak. Lagian, ibuk-ibuk emang sanggup menjadi pengganti guru selama belajar di rumah? Saya yakin sebagian besar akan menjawab nggak sanggup :D


Saya nggak akan menceritakan orang lain, cukup saya ceritakan kondisi saya sendiri saja...hehe. Saya lemah dalam berhitung. Dari dulu sampai sekarang nggak suka berhitung. Waktu SD, saya ketakutan setiap masuk pelajaran Matematika. Gemeteran karena gurunya galak parah. Suka nyubit sampai biru. Jadi, bukannya fokus belajar, malah fokus sama rasa takut yang sampai sekarang tersimpan jelas di kepala. Ya Allah, padahal gurunya masih saudara sendiri. Subhanallah, ada guru kayak gini *malah ngegibah...hehe.


Saya merasa sangat terbantu ketika guru menyampaikan materi lewat Zoom atau video call. Karena antara guru dan murid bisa saling berinteraksi langsung, ketika nggak paham, mereka bisa langsung bertanya. Hanya saja, jika memakai dua fasilitas ini, ada waktu yang sangat terbatas. So, pandai-pandai kita saja memaksimalkan semuanya.



Anak-anak Butuh Jeda


Anak-anak tidak bisa berkonsentrasi terlalu lama sampai berjam-jam. Jadi, wajar jika mereka butuh jeda setelah beberapa menit belajar. Misalnya sekadar leyeh-leyehan atau bermain sebentar.


Anak-anak butuh jeda setelah 10-30 menit belajar. Jadi, biarkan mereka beristirahat sebentar, bermain-main, mengambil minum atau makan. Jangan terlalu kaku ketika belajar di rumah. Baik ibuk dan anak butuh hiburan, ya? Hehe.



Perhatikan Gaya Belajar Anak

Gaya belajar setiap anak itu berbeda. Ada gaya belajar visual seperti si sulung, ada gaya belajar auditori, dan gaya belajar kinestetik. Ada yang belajar sambil gerak ke sana kemari, ada yang duduk anteng mendengarkan materi dan memerhatikan gambar yang disajikan, dll. Penting bagi kita mengetahui itu, supaya lebih mudah membantu anak-anak memahami materi.


Si sulung yang sekarang sudah kelas 4 SD punya gaya belajar visual. Dia lebih mudah memahami materi yang disampaikan lewat gambar dan suka membaca. Di sekolah, dia bergabung bersama teman-temannya di kelas visual. Hal ini bisa memudahkan mereka memahami materi yang disampaikan oleh gurunya.


Bukan hanya di sekolah, di rumah pun kita harus mengetahui gaya belajar anak masing-masing. Jadi, ketika kita ingin menjelaskan materi dan meminta mereka belajar, prosesnya akan jauh lebih mudah karena sudah tepat cara yang dipilih.


Jangan sampai kita membantu anak-anak dengan gaya belajar visual dibantu dengan gaya belajar kinestetik atau sebaliknya. Hal ini kurang efektif dan ujungnya kita jadi menganggap mereka susah banget paham dan lama banget menghapalnya. Padahal, kita sendiri yang salah :D


Proses belajar di rumah selama pandemi memang bukan hal mudah baik bagi guru, orang tua, juga bagi anak-anak. Ada kesulitan tersendiri yang mesti dihadapi. Sebagai orang tua, pengendalian diri kita untuk tidak membandingan anak dengan yang lain dan tidak gampang emosi akan memudahkan proses belajar online ini. Kita butuh memaklumi diri ketika capek, pun kita mesti mengerti kondisi anak yang mulai jenuh.


Pada akhirnya, menerima dengan legowo kondisi sekarang akan memudahkan kita menjalani hari-hari ke depan. Daripada hanya fokus dengan kesulitan saat belajar online, mending kita pikirkan hal-hal positif yang terjadi saat pandemi. Ini ujian buat semua orang. Bismillah. Allah pasti sertakan hikmah dalam setiap ujian yang kita hadapi. Tetap happy, ya, ibuk. Tetap sabar dan nggak boleh emosian *walaupun saya juga tak henti-henti belajar buat sabar juga :)


Salam hangat,


Photo: Unsplash


 

Tuesday, September 15, 2020

7+ Cara Supaya Kamu Bisa Jadi Penulis dan Punya Buku Solo

cara menulis buku solo



Gimana cara jadi penulis? Bagaimana memulainya? Apa yang mesti saya lakukan pertama kali, karena jujur saya bingung banget dan nggak tahu harus mulai dari mana?


Salah satu cara ampuh buat jadi penulis ya dengan menulis. Tapi, ternyata bagi sebagian orang, jawaban seperti ini kurang berguna. Mereka butuh lebih dari sekadar itu. Kalau hanya nulis dan nulis, anak SD juga bisa nulis, kan? Iya juga, sih. Tapi, yang saya maksud adalah banyakin berlatih. Karena tanpa berlatih, ide sebaik dan sebanyak apa pun nggak akan bisa ditulis dengan baik.

Setelah nyoba praktik, ternyata nulis itu nggak mudah. Yups! Itulah perlunya berlatih. Semakin sering berlatih, semakin mudah buat kita untuk menuliskan ide-ide yang muter di kepala. Karenanya, jangan males latihan! Sampai di sini paham, ya? :D

Buat yang baru mengenal saya, rata-rata masih nanya gimana dulu mulai menulis? Saya mulai menulis sejak masuk SMA di pesantren. Karena sering baca-baca majalah Annida, akhirnya jadi pengen nulis cerita juga. Sejak saat itu, saya suka menulis cerpen di buku tulis.

Sampai beberapa lama, masih seperti itu yang saya kerjakan hampir setiap hari. Nggak bosen, nggak capek walaupun pasti pegel…hehe. Setelah bertemu dengan beberapa penulis dari Yogyakarta yang ngadain acara di pesantren, saya pun semakin tertarik untuk jadi penulis buku. Kemudian saya bertemu dengan beberapa penulis dari kota Malang, dari sinilah impian buat punya buku terbit terwujud, meskipun saat itu masih dalam bentuk antologi.

Jadi, kalau diingat kembali, satu-satunya cara yang paling membantu adalah tetap menulis. Meskipun kita nggak tahu naskah itu akan diterbitkan atau nggak. Tetap menulis, meskipun kita nggak tahu ke depannya bakalan seperti apa. Lakukan terus, meskipun kenal penerbit pun nggak. Karena kita mesti suka dan cinta dulu sama profesi ini. Jangan hanya karena ikut-ikutan teman atau mau terlihat keren, tapi cari lagi alasan kenapa kamu pengen banget jadi penulis. Kalau sudah ketemu alasannya, kira-kira bertahan berapa lama dan betah berapa bulan untuk menulis terus menerus? *nanya apa meruntuhkan harapan? Kwkwk.


1. Menulis Hal Paling Dikuasai dan Disukai


Saya lebih senang menulis tema-tema yang saya suka. Jika saya suka, sudah pasti lebih mudah saya kuasai karena saya sering mencari tahu tanpa dipaksa. Misalnya saat menulis buku ‘Simple Diet for Muslimah’, saya merasa lebih mudah menulis dan menuntaskannya karena saya mengalaminya sendiri, saya menyukai dan melakukannya. Buku itu ditulis berdasarkan pengalaman nyata, nggak asal angkat tema diet. Tema yang kita kuasai memudahkan kita untuk menuliskannya hingga tuntas.

Nggak usah maksa biar keren, ambil tema berat ajalah yang jarang diangkat orang lain. No, terutama buat pemula, sebaiknya nggak memaksakan diri untuk terlihat good looking…kwkwk *apaan, sih? :D Banyak penulis yang sukses mengangkat tema sederhana, tapi dikemas sangat istimewa, sehingga tak mustahil justru banyak yang suka. Tema-tema yang related sama hidup kita juga nggak kalah menarik.

Contohnya menulis pengalaman saat berjuang mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Berapa banyak orang pengen dapat beasiswa? Berapa banyak yang gagal, tapi masih terus berjuang? Sederhana, dialami banyak orang, tapi asal kamu tahu, nggak semua orang mau menuliskan pengalamannya.

2. Tuntaskan Satu Naskah


Jadi penulis sebenarnya nggak harus dengan menulis buku. Bisa jadi blogger atau penulis artikel. Tapi, kebanyakan orang pengen punya buku solo minimal satu seumur hidup. Setelah punya satu,ketagihan menulis buku kedua dan ketiga…eaaa. Nggak kelar-kelar, dong? Hehe.

Jika impian kamu pengen punya buku solo, coba belajarlah menulis satu naskah sampai tuntas. Tolong diingat lagi, tulislah satu naskah hingga tuntas. Setelah itu, carilah penerbit yang mau menerima naskahmu atau bisa kamu terbitkan sendiri lewat jalur indie.

Tapi, beratnya di sini. Kebanyakan orang bosan dan berhenti di tengah jalan ketika menulis buku. Nggak ada ide-lah, mentok dan nggak tahu mau menulis apalagi, capek dan bosan, atau alasan lainnya yang membuat impian jadi penulis sekadar jadi bunga tidur…hiks.

Zaman sekarang, kamu nggak butuh banyak usaha selain melawan rasa malas. Karena hampir semua dari kita bisa mengakses informasi di internet dengan mudah. Satu-satunya yang sering bikin seorang calon penulis gagal di tengah jalan adalah karena dia malas melanjutkan. Milih rebahan dan melupakan impiannya.

Entah, impianmu layak disebut impian atau sekadar pengen biar kayak yang lain? Coba kamu pikirkan sendiri mana yang lebih tepat.

3. Bikin Target dan Disiplinlah


Gimana cara menuntaskan satu naskah? Menulislah setiap hari. Bikin target sehari 2 halaman. Sebulan sudah 60 halaman. Dua bulan kelar 120 halaman dan siap dikirimkan ke penerbit. Gampang banget ya, Mbak ngomongnya? Kwkwk. Iya dong :D

Makanya, cuma kamu yang bisa menyelesaikan targetmu sendiri. Bikin target sendiri sesuai kemampuanmu, bikin catatan hutang sendiri yang mesti dibayar sebelum habis masa menulis selama 2 bulan. Apa pun caranya, nggak mau tahu, pokoknya dua bulan naskahmu harus selesai minima 120 halaman.

Gimana kalau bosan dan mentok idenya? Nggak mau tahu pokoknya harus kelar dalam dua bulan! *maksa, Gaes…kwkwk.

4. Semakin Banyak Membaca, Semakin Baik Kualitas Tulisanmu


Banyak orang pengen jadi penulis, tapi nggak semua orang suka membaca. Padahal, modal besar yang mesti kita punya salah satunya adalah rajin membaca. Coba bikin jadwal membaca rutin sehari minimal satu jam atau lebih. Lakukan setiap hari dan jadikan kebutuhan.

Kamu juga bisa me-review buku-buku yang sudah kamu baca di blog. Sudah punya blog atau belum, nih? Kalau belum, buruan bikin. Blog bisa dijadikan tempat menyimpan tulisanmu, kenangan, pengalaman, bahkan bisa buat mengedukasi banyak orang.

Salah satu cara mudah berlatih menulis salah satunya adalah dengan mengisi blog. Bikin blog nggak harus yang cakep, berbayar, atau pakai template mahal, cukup kamu bisa mengambil manfaatnya. Jika sudah berhasil konsisten, kamu bisa mempertimbangkan untuk mempercantik blog kamu, dsb.

5. Minta Pendapat Orang Terdekat


Jangan ragu meminta pendapat orang terdekat. Minta mereka membaca karyamu dan mintalah kritik dari mereka. Sudah bagus dan mudah dimengerti atau belum? Kira-kira kurangnya apa, ya?

Kalau naskah pertama kamu selesai, kira-kira siapa orang paling tepat yang pengen kamu mintai pendapat? Yang pertama kali membaca naskahmu?

Dulu, saya nggak pernah malu menunjukkan cerpen-cerpen saya kepada teman-teman dan adik kelas. Berasa udah jadi penulis aja ketika banyak yang antre mau membaca. Padahal, bagus juga belum…hihi. Merasa sangat terbantu dengan kepedean yang lumayan tinggi, akhirnya jadi banyak yang membaca dan memberi kritik jika diperlukan.

Dan lagi, jadi lebih semangat untuk terus menulis. Merasa karya sudah diterima. Meskipun hanya untuk teman-teman satu kamar…kwkwk.

6. Ikut Kelas Menulis


Kita nggak bisa belajar sendiri. Butuh mentor, butuh guru, butuh belajar dari orang yang lebih berpengalaman. Jadi, jangan pelit mengeluarkan uang untuk mengikuti kelas menulis. Karena ilmunya bakalan kepake banget sampai nanti-nanti.

Bahkan sekarang mudah banget kita jumpai kelas menulis. Harganya bervariasi, mulai dari seikhlasnya hingga berjuta-juta. Alhamdulillah, saya sudah lumayan banyak ikutan kelas menulis. Beberapa mentor saya misalnya Ahmad Rifa’i Rif’an, Watiek Ideo, dll. Sejauh ini saya merasa semua ilmu yang saya dapatkan begitu berguna.

7. Praktik dan Praktik!


Banyak belajar dan ikut kelas menulis nggak ada gunanya kalau kitanya males praktik. Mau ikutan kelas semahal apa pun, nggak akan ada gunanya kalau kerjanya hanya bermimpi tanpa mau merealisasikannya.

So, setelah gelasmu penuh, praktikin ilmunya dan lakukan sebaik yang kamu bisa. Sayang banget sudah habis uang banyak dan habis waktu berjam-jam hingga berhari-hari, tapi nggak ada hasilnya? Setiap selesai ikutan kelas menulis, berjanjilah untuk menulis satu karya.

Gimana, bisa, kan?

8. Nggak Ada Insecure!


Apaan dikit-dikit insecure, rendah diri, nggak pede. Setiap kali saya merasa jatuh dan nggak percaya diri, saya katakan bahwa semua orang menjalani proses yang nggak sebentar. Wajar dong kalau si A sekeren itu sekarang. Wajar jika si B sehebat itu saat ini. Karena mereka sudah melewati tahun-tahun penuh perjuangan. Sedangkan saya atau kamu? Masih baru seujung kuku, sudah melempem dan nyerah? hiks.

Boleh saja kita menyukai karya orang lain, tapi jangan sampai membuat kita rendah diri. Justru jadikanlah sebagai motivasi untuk terus berjuang. Kadang kita salah menempatkan momen, bukannya jadi termotivasi, malah insecure yang ada. Jadi ribet akhirnya, deh.

9. Cari Jodohmu


Bukan, ini bukan jodoh yang bisa digandeng ke pelaminan. Ini jodoh buat naskah kamu. Jika naskahmu selesai, carilah penerbit yang cocok untuknya. Jangan ragu untuk mengajukannya pada penerbit mayor. Misalnya lewat DPS, kamu bisa baca di sini. Atau, kirimkan pada penerbit langsung seperti bisa kamu coba di sini.

Apa bedanya penerbit indie dan mayor? Saya pernah menuliskannya. Kamu bisa cek langsung di sini.

Gimana kalau ditolak? Nggak ada yang salah dengan yang namanya penolakan. Bahkan saat pandemi seperti saat ini, banyak naskah ditolak dan dipulangkan *eh. Sedih jangan sampai menjadikanmu putus asa. Sebab jodoh ada di tangan Tuhan. Bukan di tangan penerbit pertama yang menolak naskahmu…hihi.

Nggak ada yang salah dengan penolakan, bisa jadi naskahmu tidak sesuai dengan tema yang penerbit butuhkan, bisa jadi memang kurang menarik dan tidak menjual, bisa jadi keren-keren aja, tapi penerbit yang kamu tuju nggak sesuai dengan naskah kamu. Ketika naskah ditolak, nggak ada salahnya menanyakan alasannya.

Entah ini sudah ke berapa kali saya menuliskan tema yang hampir sama. Tentang menulis buku. Saya berharap teman-teman bisa mendapatkan jawaban dalam postingan ini. Dan semoga impian menjadi penulis segera terwujud. Tetap semangat ya buat kamu :)

Salam hangat,

Featured image: Photo by Daria Shevtsova  on Unsplash

 

Saturday, September 5, 2020

Plagiat, Jadi Kebiasaan atau Belum Paham?

plagiat jadi kebiasaan



Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, plagiat diartikan sebagai pengambilan karangan (pendapat dan sebagainya) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dan sebagainya) sendiri, misalnya dengan menerbitkan karya tulis orang lain, tapi atas nama sendiri, atau menjiplak, dsb.

Saya tergelitik mengangkat tema plagiat karena sepertinya masih banyak yang belum paham soal ini. Seorang teman editor kemarin juga bercerita tentang pengalamannya, banyak penulis terutama pemula yang melakukan plagiat. Entah mereka nggak paham atau memang maunya serba instan.

Begitu juga waktu saya memeriksa artikel dari para kontributor di Estrilook. Banyak yang melakukan plagiat. Mengambil artikel di website A, kemudian diubah hanya sedikit bagian saja. Ketika dicek, masih terlihat sama plek dengan aslinya.

Lebih kaget lagi, ternyata di Instagram lebih banyak lagi yang main comot karya orang lain. Ada gambar yang sengaja diedit, kemudian ditambah line art baru tanpa mengubah warna dan bentuknya. Kemudian di-upload di Instagram. Atau sengaja mengambil caption, hingga quote yang saya tulis tanpa izin.

Lucunya, ada yang awalnya nyomot caption, dia sertakan nama saya di bagian tagar, kemudian dia hapus tagar-tagar serta nama saya. Seolah itu caption buatannya sendiri. Meski tak berteman, qadarallah postingannya muncul saat saya membuka Instagram. Ada lagi yang bikin gambar dengan quote milik saya. Saat ini, semuanya sudah dihapus tanpa saya minta :D

Dari sekian banyak kejadian itu, lumayan kaget ternyata di Instagram lebih gemesin nge-jiplaknya. Jika mau lebih santun, silakan di-repost tanpa mengubah apa pun, jangan juga menghilangkan nama ilustratornya. Jangan mengedit gambar tanpa izin, apalagi sampai mengakui karya orang lain sebagai karya kita.

Awalnya saya enggan menulis tentang ini. Namun, tanpa saya duga, beberapa orang kemarin sempat mengirimkan pesan kepada saya dan melaporkan akun Instagram yang menjiplak gambar saya. Saya nggak kaget, soalnya sudah tahu lumayan lama, hanya saya memilih diam. Perasaan nggak nyaman negur orang itu merepotkan. Dia yang salah, dia yang marah, saya yang sakit perut. Bisa begitu di kepala saya isinya...kwkwk.

“Tapi, kalau dibiarin nanti malah seenaknya. Padahal kita bikin gambar itu capek. Mata sampai sepet. Belajar biar hasilnya bagus. Tiba-tiba diambil sama orang lain.” katanya.

Saya pun awalnya gemas, tapi sepertinya mereka memang belum paham soal ini. Semoga setelah menuliskan postingan ini, jadi banyak yang mengerti dan memahami bahwa setiap karya ada pemiliknya. Bahkan sependek quote di Instagram juga.

Dan nggak keren sama sekali mengakui karya orang lain sebagai karya kita. Lebih memalukan ketika ada yang mengenalinya. Jika tidak paham bagaimana? Semoga setelah membaca ini kamu bisa memahami apa itu plagiat.

Rewrite Dibolehkan, Plagiat Jangan!



Waktu menjadi penulis artikel beberapa tahun silam, tak jarang saya dan teman-teman butuh referensi untuk menulis artikel. Sehari kami bisa menulis lebih dari 5 artikel pendek. Kebayang apa aja yang mau ditulis? Pastinya kami butuh referensi. Tapi, bukan berarti artikel orang lain saya copas seenaknya. Ada caranya. Yups! Namanya rewrite.

Berapa banyak orang yang menulis artikel tentang demam? Sangat banyak. Yakin seluruhannya berbeda? Pasti ada poin-poin yang hampir sama. Tapi, biasanya disampaikan dengan bahasa berbeda, kadang sesuai pengalaman pribadi. Saat menulis, kita juga butuh referensi dari sumber yang bisa dipercaya. Dan itu sah-sah saja asal kita tetap menuliskannya dengan gaya bahasa kita sendiri. Atau kita bisa mengutip beberapa kalimat penting dengan menyertakan sumbernya.

Ide-ide baru, kadang datang karena terinspirasi dari karya orang lain. Tapi, bukan berarti kita bisa mengambil karya orang dan mengakuinya sebagai milik kita. Meskipun masih pemula dan baru belajar menulis, tetap saja tidak dihalalkan mengambil karya orang lain dengan alasan apa pun. Mepet deadline-lah, repot ngurus anak jadi nggak sempet, akhirnya ambil tulisan orang aja. Itu bukan alasan :(

Sedih kalau banyak kejadian kayak gini. Hampir semua orang repot dengan urusannya masing-masing. Bukan berarti kita boleh seenaknya juga dengan karya orang. Jika tidak siap dan merasa nggak mampu, jangan diambil deh job-nya. Itu lebih baik.

Jika kamu masih baru belajar menulis, yuk pahami beberapa poin berikut,


  • Rewrite dilakukan dengan memahami isi, bukan menghapal dan menyalinnya. Kalau kita hapalkan, ujung-ujungnya yang kita tulis nggak akan jauh berbeda dari aslinya. Mengubah sedikit bagian dari tulisan orang bisa jadi membuat karya kita lolos dari cek plagiat, tapi apakah itu menjamin nggak akan ada orang yang tahu soal itu? Ujug-ujungnya ketahuan juga, kok. So, rewrite yang benar atau tulis saja pengalamanmu sendiri daripada menulis tema berat, tapi malah hasil copas dari tulisan orang :)

  • Cari dari banyak sumber. Jangan hanya membaca satu artikel, kemudian menuliskannya. Coba banyak baca-baca dulu sebelum memutuskan menulis tema tertentu.

  • Berlatihlah menulis. Kemampuan menulis cepat dengan hasil yang baik didapat dari latihan dalam waktu tidak singkat. Jadi, jam terbang itu memang perlu banget. Makanya, jangan pengen yang instan-instan doang, karena mi instan kalau kebanyakan ujung-ujungnya jadi nggak sehat, kan? Kwkwk.


Setiap Karya Ada Pemiliknya



Karena saya jarang banget belajar menggambar, kecuali beberapa bulan terakhir, saya jadi bertanya-tanya sebenarnya apa yang dibolehkan dan apa yang nggak dibolehkan saat kita menggambar sambil terinspirasi dari karya orang lain?

Salah satu teman yang berprofesi sebagai ilustrator mengatakan nggak masalah kita menggambar mengikuti gambar orang lain asal hasilnya nggak sama. Bisa dicontohkan seperti adanya DTIYS (Draw This in Your Style). Hal semacam ini tentu dibolehkan.

Jadi, janganlah gambar orang diedit kemudian hanya diganti lien art seperti yang terjadi pada beberapa gambar saya. Bahkan warnanya masih sama plek. Meskipun awalnya saya nggak tahu, ternyata ada aja orang yang mengenalinya.

Seorang ilustrator dalam sebuah postingannya pernah menjawab sebuah komentar dari para followers-nya. Beliau mengatakan bahwa hampir semua ilustrator pasti terinspirasi dari karya ilustrator yang lain. Dan itu sah-sah aja. Hanya saja, terinspirasi ini bukan berarti kita ambil gambar orang, kemudian kita pakai dan akui sebagai milik kita.

Setiap orang berproses untuk mengasah kemampuannya. Sedikit cerita tentang perjalanan saya selama belajar menggambar. Dulu, saya ikut kelas menggambar bersama pak Maman Mantox. Latihannya bikin jari kriting...kwkwk.

Saya juga membeli buku-buku tutorial menggambar untuk latihan di rumah. Sayagnya, saya memutuskan rehat dan nggak menggambar lagi setelah itu. Beberapa bulan yang lalu, saya pengen latihan menggambar lagi setelah beberapa lama berhenti. Tujuan saya bukan pengen jadi ilustrator buku anak-anak seperti teman-teman yang lain (meski entah suatu saat akan Allah antarkan langkah saya ke mana). Awalnya sekadar pengen bisa menggambar, hiburan, latihan, kalau ada rezeki, pengen bikin buku dengan gambar sendiri.

Kamu tahu nggak? Saya menggambar hampir setiap hari selama 4 bulan terakhir. Kayaknya memang setiap hari, sih...kwkwk. Satu gambar butuh waktu minimal satu jam. Kalau saya sedang repot, kadang baru bisa mengerjakan setelah anak-anak tidur. BTW, saya sudah ibu-ibu, ya? Hehe. Soalnya banyak yang nanya dan saya merasa aneh dengan pertanyaan itu...kwkwk.

Pernah suatu hari saya pengen menggambar tanpa line art. Ini hal baru buat saya. Karena belum sepenuhnya paham dengan aplikasi yang saya pakai, saya buat ulang line art pertama diganti sesuai warna hijab, pakaian, dll. Jadi, nge-dobelin garis gitu, lho....kwkwk. Dan itu susaaah. Akhirnya sampai tengah malam baru kelar. Subhanallah.

Nggak mau diam di tempat alias puas dengan hasil yang sudah ada, saya belajar lagi di Youtube sampai akhirnya menemukan cara yang tepat dan memang mestinya kayak gitu. Banyak teknik saya temukan tanpa sengaja selama proses belajar. Saya pikir, kalau kita mau usaha, Allah bakalan kasih jalan, kok.

Makanya nggak heran kalau ada teman-teman di Instagram yang sama-sama lagi belajar menggambar bilang bahwa semua karya mereka dibuat dengan susah payah dan nggak instan. Wajar kalau mereka kesel ketika karyanya diambil orang, wajar jika ada yang selalu mengingatkan supaya berhati-hati dengan karya orang, jangan dicomot buat dijual, diedit, dll. Sebab membuatnya nggak mudah.

Ketika belajar menggambar, saya mengorbankan banyak waktu istirahat. Saya juga mengalah untuk mengurangi waktu menulis entah untuk naskah ataupun ngisi blog. Jadi, rasanya keterlaluan ketika ada yang ambil caption di postingan saya tanpa izin. Rasanya lucu saat ada yang pamer gambar dengan quote yang saya buat, padahal sebelumnya ia banyak bertanya-tanya lewat dm soal proses menggambar yang saya kerjakan.

Pernah saya menegur seseorang, sebab dia memang minta izin dulu sebelum posting gambarnya. Tapi, selain yang meminta izin, saya memang banyak diam karena capek dan nggak mau lelah hati. Urusan mereka saja dengan Allah *eh :D

Belajarlah Berproses dan Jangan Berpuas Diri



Sebelum saya menerbitkan buku solo pertama pada tahun 2019, sudah sejak lama saya belajar menulis. Dan bisa saya katakan ini bukan proses singkat. Saya mengikuti banyak kelas online hingga seminar kepenulisan, saya banyak berlatih menulis meski sampai sekarang buku saya belum ada yang best seller....*doain ya, Gaes....kwkwk.

Sekitar 10 tahun lebih impian punya buku solo itu baru tercapai. Iya, SEPULUH TAHUN LEBIH! Pernah gagal terbit setelah beberapa tahun menunggu. Pahit? Capek? Lelah? Kalau ingat apa yang sudah Allah berikan sampai detik ini, saya nggak mau bilang capek, nggak mau bilang lelah, apalagi kesel dengan yang sudah terjadi. Sebab Allah sudah kasih semuanya. Bahkan lebih dari yang saya inginkan.

Saya menyukai semua proses yang telah saya lalui. Sebab dari sana saya banyak belajar untuk tumbuh dan tetap bertahan. So, buat kamu yang punya impian, jangan bilang capek, jangan bilang mau nyerah, terus ikhtiar aja sampai semua tercapai. Allah pasti memudahkan langkah kita asal niatnya baik dan lurus.

Jangan lantas berpuas diri juga jika impianmu sudah tercapai. Belajar lagi, belajar terus, jangan bosan. Sampai sekarang, saya masih berlatih menggambar di buku, lho. Kenapa nggak langsung di tab aja? Karena saya merasa belum luwes menggambar. Saya membuat sketsa ‘orang’-nya di buku. Selebihnya saya buat di tab.

Ketika teman-teman bertanya bagaimana mereka bisa memulai, saya jawab, latihan di buku dulu sebelum di aplikasi. Jangan buru-buru ke aplikasi. Bahkan si Kakak saja saya omelin kalau menggambar di tab...kwkwk. Soalnya dia kelihatan lebih leluasa menggambar di buku ketimbang di tab. Latihan dulu, bagusin gambarnya di buku, nanti ada waktunya kamu bisa pakai tab. Itu omelan sayaaaa :D

Saya memaklumi jika masih banyak yang belum paham plagiat itu apa, baik saat menggambar ataupun menulis. Tapi, setelah membaca ini, semoga teman-teman mendapatkan pencerahan dan mengubah kebiasaan ‘buruk’ itu menjadi lebih baik alias berhenti mengambil karya orang.

Salam hangat,

Featured image: Photo by Christin Hume on Unsplash