sumber


Beberapa hari ini saya sempat membaca status seorang teman yang menanyakan tentang mpasi pertama bagi buah hatinya. Tergelitik membaca beberapa komentar, akhirnya saya memutuskan membuat tulisan ini.

Pengalaman saya sebagai seorang ibu, mpasi merupakan masa seru mengenalkan bukan hanya rasa namun juga tekstur makanan. Tahu nggak sih, ternyata makan itu bukan hanya soal menambah asupan bagi bayi namun juga tentang mengenalkan rasa, tekstur serta merangsang pertumbuhan gigi. Jadi, jangan melewatkan mpasi hanya karena anaknya menolak. Ingat lho, ASI saja nggak cukup buat anak usia 6 bulan!

Bayi asi memiliki risiko lebih besar terkena kekurangan zat besi. Biasanya dokter akan menyarankan pemberian zat besi pada bayi usia 4 bulan hingga 2 tahun.

Pemberian zat besi tambahan ini juga harus didukung dengan mpasi yang kaya akan zat besi seperti daging merah (yang paling bagus), ayam, hati ayam atau bayam.

20 tips Mpasi ini bisa jadi pilihan dan pembelajaran supaya orang tua nggak sembarangan ketika memberikan makanan pendamping ASI pertama buat buah hatinya.

1.     Untuk pemberian mpasi pertama, saya menyarankan memberikan bubur beras saring atau yang sangat lembut. Perkenalkan makanan pokok di rumah. Kalau di rumah biasa makan beras merah, nggak ada salahnya kok memberikan bayi beras merah juga nggak harus beras putih. Tapi, hati-hati juga karena beras merah bisa menyebabkan sembelit pada beberapa bayi.
2.     Perkenalkan satu persatu jenis makanan supaya anak mengenal rasa. Jangan semuanya dicampur sehingga anak nggak tahu bedanya rasa makanan yang satu  dengan lainnya. Misalnya dengan menghaluskan dengan blender beras, wortel dan bayam. Sebaiknya pisahkan pure sayurannya.
3.     Haluskan nggak harus diblender. Saya termasuk yang kurang setuju jika makanan bayi harus halus sehalus blenderan jus. Kenapa? Karena buburnya jadi nggak punya tekstur. Meskipun mau menghasilkan bubur halus sebaiknya cara yang dilakukan adalah menyaringanya. Ini juga bisa membuat kandungan vitamin di dalam makanan nggak rusak. Untuk daging bolehlah di haluskan dengan blender mengingat susahnya menghaluskan dengan saringan.
4.     Berikan jeda pada setiap menu baru. Ini dilakukan untuk menimalisir adanya alergi makanan pada bayi. Misalnya hari ini makan ayam, selama 3-4 hari sebisa mungkin jangan menambah jenis makanan baru seperti telur misalnya. Karena jika sampai terjadi alergi, akan terlalu sulit bagi kita mengetahui penyebabnya. Jadi sabar, kenalkan satu persatu makanan.
5.     Seafood dan makanan yang memicu alergi tertinggi sebaiknya diberikan saat usianya 1 tahun. Kenapa? Karena saat satu tahun itulah anak-anak sudah punya imunitas yang bagus. Sehingga nggak mudah muncul alergi.
6.     Perhatikan frekuensi pemberian Mpasi. Mpasi itu diberikan bertahap, ya. Misalnya seminggu pertama makan sekali sehari. Lalu tambah camilan. Seminggu kemudian makan dua kali plus camilan sehari. Sampai akhirnya makan 3 kali sehari.
7.     Berikan sedikit demi sedikit. Jangan dibayangkan perut bayi segede perut anak-anak TK, ya! Ketika memberikan Mpasi pertama, sebaiknya berikan sedikit demi sedikit. Misalnya beberapa hari 1 sendok makan, ditambah lagi 2 sendok dan seterusnya.
8.     Hindari makanan yang memicu sembelit untuk menu Mpasi pertama. Jadi awal-awal sebaiknya nggak memperkenalkan dulu yang namanya pisang, beras merah, kacang hijau. Karena kebanyakan bayi justru sembelit ketika menkonsumsi makanan itu.
9.     Hindari pemberian gula dan garam untuk satu tahun pertama. Biarkan bayi merasakan rasa makanan yang original. Supaya saat besar nanti dia nggak jadi pemilih. Dan tentunya ini jauh lebih sehat, ya! Lidah bayi jelas nggak sama dengan lidah kita. Dia hanya kenal rasa ASI selama enam bulan pertama. Jadi nggak masalah makan makanan tanpa gula dan garam.
10.            Tingkatkan tekstur. Makanan bayi jangan terus menerus halus, ya! Karena usia satu tahun nantinya dia harus sudah bisa makan nasi atau makanan keluarga. Kebanyakan anak yang nggak dikenalkan tekstur sejak awal akan menolak makanan yang lebih kasar karena malas mengunyah.  Apalagi kalaus setiap hari makanannya cuma diblender. Bisa jadi dia muntah dan menolak makanan padat jika dilakukan tiba-tiba.
11.            Makanan buatan ibu tentu jauh lebih sehat ketimbang beli instan. Jadi, jangan malas masak dan Googling resep!
12.            Jadilah ibu yang kreatif. Kadang anak-anak butuh variasi menu. Jangan cuma makan sop aja sebulan, bosanlah, Bunda! Berikan menu beragam pula supaya anak mengenal rasa lebih banyak.
13.            Makan itu proses belajar yang menyenangkan. Jadi, jangan sampai proses makan itu jadi menakutkan hanya gara-gara kita memaksanya makan semangkuk sampai habis! No, nggak bener. Bayi itu pintar, dia nggak akan membiarkan dirinya kelaparan. Jadi, kalau memang anak sedang susah makan, perlu dipikirkan apa penyebabnya. Misalnya sedang tumbuh gigi, solusinya berikan makanan dingin seperti pudding untuk menghilangkan nyeri, atau mungkin sedang sakit seperti flu, atau mungkin bosan dengan menunya. Pikirkan, ya!
14.            Jangan sibuk membeli ikan salmon. Sebab makanan di sekitar kita adalah yang terbaik. Ada ikan bandenga juga yang nggak kalah bergizinya. Berikan jenis makanan yang biasa kita konsumsi. Nggak harus kok beli ikan salmon jika memang susah dan memberatkan. Sebab makanan pengganti lainnya juga punya nilai gizi yang tak kalah bagusnya.
15.            Sugesti! Lho, kenapa ada sugesti di sini? Sengaja saya lakukan karena saya punya pengalaman buruk mpasi pada anak-anak. Hampir semua anak saya susah makan saat usianya 6 bulan hingga 2 tahun. Nah, saya pernah membaca buku tentang hypnoparenting. Memberikan sugesti positif supaya anak mau makan itu akan membantu, lho! Misalnya, “Adek sehat, makan yang banyak, ya!” atau “Adek pintar, makan sampai habis.”
16.             Pemberian makanan kaya zat besi akan lebih mudah diserap jika  disandingkan dengan makanan yang mengandung vitamin C. Misalnya daging dengan tomat.
17.            Jangan malas mencari bacaan yang tepat, ya! Googling website shahih yang mengajarkan tentang Mpasi. Saya biasanya dibantu dari milis sehat untuk mendapatkan bacaan yang tepat.
18.            Makan bersama lebih asyik! Anak kecil biasanya suka meniru. Makanlah juga di hadapannya dan ajak dia makan bersama.
19.            Jika nafsu makan berkurang perlu dikhawatirkan juga adanya anemia defiensi besi. Biasnaya dokter akan melakukan skiring zat besi.

20.            Berdoa dulu sebelum makan! Jangan lupa, ya…
View Post
sumber


Suamiku itu, beberapa kali tampak sedang akrab menelepon seorang perempuan. Suaranya yang renyah seolah mengetuk gendang telinga berkali-kali. Tawanya yang khas membuatku mundur selangkah, mengamankan hati yang tiba-tiba dipenuhi gemuruh. Waspada, Aisya!

Aku memberanikan diri, menanyakan setelah teleponnya terputus. Kemudian jawaban yang terbata tak bisa menjelaskan selain keterkejutannya atas pertanyaan yang aku ajukan.

“Ada apa, Sayang?” tanyanya dengan tatapan digelayuti rasa heran.

“Siapa perempuan itu, Mas?”

Dan dia, hanya bisa menggerakkan kedua bibirnya berkali-kali, tanpa suara, tanpa kepastian. Gemuruh yang awalnya telah tenang, kini melompat-lompat hingga membuat dada sesak. Suamiku, benarkah cinta tak lagi sama di antara kita?

Aku menerka, tentang sikapmu yang akhir-akhir ini berubah. Kegugupanmu saat menerima telepon dari seseorang. Seorang perempuan yang punya suara menggoda melebihi panggilanku. Belum habis rasa penasaranku, sikapmu yang selalu menghindar ketika bicara lewat telepon, semakin menjauh sampai kamu harus naik ke lantai atas. Ah, diam-diam aku mengikuti, dan suaramu dengan dia semakin menyayat hati. Benarkah cinta di antara kita tak lagi sama?

“Cukup, Mas! Aisya tahu semuanya.” Suaraku mengentak-entak. Dengan tangis yang semakin deras, kutarik kemejamu hingga berantakan. Aku benci menahan semua ini. Hatiku berserak hingga sulit disatukan. Bagaimana bisa kamu lakukan ini, padaku yang hampir setiap saat memikirkanmu?

Suamiku, tampak gelisah. Matanya menyiratkan rasa bersalah. Mungkin setelah ini dia akan meminta maaf, memutuskan hubungan manis dengan kekasih barunya. Harusnya dia melakukannya, atau aku yang akan…

“Sayang,” suaranya khas. Suamiku telah berdiri di belakangku sambil melingkarkan lengannya. Lamunanku buyar seketika. Tentang keberanianku bertanya, sampai merenggut kemeja rapinya. Tangis yang seolah nyata, kini jelas hanya sebuah hayalan.

“Mas mau bicara,” katanya lagi sambil setengah berbisik di telinga.

Mungkin ini sudah saatnya aku tahu semuanya. Allah, jika memang Engkau izinkan kami bersama, maka bantulah hamba supaya tetap sabar mendengar semua pengakuannya. Tentang khilaf serta cinta yang tak pernah kusangka telah dibaginya dengan orang lain.

“Mas naik jabatan. Insya Allah kita bisa menabung lebih untuk memberangkatkan Mak ke Mekkah. Secepatnya!”

Aku tersenyum hambar. Bukan saja karena tatapannya yang menyiratkan ketulusan, namun juga kutemukan embun di kedua sudut matanya yang sekarang telah basah. Aku malu telah berprasangka buruk. Merasa berdosa telah menuduhnya membagi cinta. Walaupun benar cinta itu telah terbagi dua, tapi murni hanya untukku dan ibunya. Tapi, ada yang mengganjal.

"Siapa perempuan di telepon itu, Mas?" Tiba-tiba saja aku punya keberanian lebih untuk bertanya. Tentang keraguan serta gelisah yang masuk dalam pikiran sejak akhir-akhir ini. Aku butuh jawaban tegas, bukan sekadar keinginan memberangkatkan Mak naik haji.

"Perempuan? Maksudnya Sarah? Dia tim Mas di kantor. Sengaja Mas merahasiakan karena ingin ngasih Aisya kejutan. Nggak masalahkan?"

"Kejutan apa?"

"Aisya cemburu, ya?" Terdengar tawanya lepas.

"Proyek Mas berhasil. Dan itu berkat kerja sama tim." Mas menatap keraguan di mataku, "Dia sudah tua, Aisya. Besok Mas kenalkan." Ucapnya tanpa ragu.

Aku tersipu. Memaki diri yang terlalu ceroboh saat berprasangka.


Suamiku itu, menggamit daguku, mengecup keningku lama, “Terima kasih sudah mendoakan, Mas.”
View Post
sumber


Sejak awal, saya memutuskan untuk menjaga rasa percaya diri si kakak dengan tidak ikut-ikut menertawakan tahi lalat di pipinya. Mungkin karena pengalaman masa kecil saya yang kurang menyenangkan tentang tahi lalat.

Saya juga punya tahi lalat di atas bibir. Sejak kecil, banyak sekali yang suka menggoda atau lebih tepatnya menertawakan. Meski hanya pura-pura menanyakan ada benda apa di atas bibir, tapi hal yang seharusnya lucu itu tak cukup membuat saya tertawa. Mungkin seperti dibully, rasanya itu menyakitkan. Terutama ketika anggota keluarga ikut-ikutan menertawakan tanpa merasa perlu menahan diri.

Dari rasa sakit hati itu, saya mati-matian ingin membuangnya. Akibatnya, kelas enam SD, saya beberapa kali melakukan percobaan bunuh 'tahi lalat'..hehe. Kalau sekarang, bisa saja langsung melakukan pembedahan dengan dokter kulit. Tapi dulu, saya harus melakukannya dengan penuh rasa sakit. Nggak usah nanya tentang caranya, ya. Nanti malah ikut-ikutan...hehe.

Sekali dua kali saya gagal. Nggak menyerah. Kemudian setelah berkali-kali, barulah saya bisa benar-benar melenyapkan tahi lalat itu. Saya rasa, bukan karena keberadaannya yang mengganggu, tapi lebih dari itu karena hati saya terluka...hiks.

Dan si kakak, ternyata juga punya tahi lalat sejak usianya masih 3 bulanan. Awalnya ada bekas seperti gigitan serangga. Lama-lama merah dan seperti bercak. Hingga sekarang sangat jelas terlihat kalau itu adalah tahi lalat.

Namun, pengalaman buruk semasa kecil membuat saya berpikir keras. Sebisa mungkin saya melibatkan 'tahi lalat' itu dalam setiap kegiatan kakak. Terutama saat dia menggambar wajahnya sendiri. Ada wajah dengan tahi lalat di pipi sebelah kanan, itulah dia. Jika dia lupa, maka saya pura-pura tidak mengenali gambarnya.

Tapi, kejadian saat TK lumayan menyentak. Dia malu memberikan tahi lalat pada gambar wajahnya. Alasannya karena banyak yang menertawakan. Ah, saya tahu rasanya seperti itu. Dan itu benar-benar nggak enak. Pelan-pelan saya mencoba membangunkan lagi rasa percaya dirinya.

Dan ketika memasuki sekolah dasar, banyak juga kakak kelas dan teman baru yang menertawakan. Kalau menurut saya, mereka hanya baru saja melihat sesuatu yang jarang ditemui. Makannya merasa seru dan lucu aja buat tertawa ketika melihat si kakak. Setelah terbiasa bertemu, semua akan berangsur hilang. Insya Allah kakak bisa melalui semuanya, ya. Jangan malu dengan tahi lalat itu, asal kakak shaleh dan baik, insya Allah segala mimpi kakak akan terwujud, bukan hanya menjadi penghafal Quran tapi juga arsitek. Tahi lalat bukan halangan buat kamu sukses, Nak!

Dan komentar guru-gurunya pun cukup menenangkan. Banyak dari teman-teman yang sering berkomentar tentang tahi lalat di pipi kakak, tapi karena kakaknya cuek, maka teman-temannya pun akhirnya berhenti sendiri bahkan bilang, "Ssst, udah jangan ngomongin itu mulu." Hihi. Great, kak!


Dan saya, selalu suka membuat buku cerita sendiri. Termasuk tentang si tahi lalat ini. Biasanya saya akan menambahkan ilustrasi sendiri. Mencetaknya dalam bentuk buku. Yuk, Bunda...ajarkan anak kita tetap bersyukur dan bahagia dengan segala yang dimiliki...


Si Hitam Manis Bernama Tahi Lalat



Daftar Isi
Tahukah Kamu?
Kenapa Aku Punya Tahi Lalat?
Ketika Teman-Teman Menertawakanku
Bersyukur


Tahukah Kamu?

Bunda bilang, tahi lalat di pipiku telah ada sejak aku masih kecil.

“Bukan sejak lahir, Bun?” Tanyaku.

Bunda menggeleng, “Tidak. Tahi lalat kakak baru muncul saat usia tiga bulan.”

Aku semakin bingung. Sebenarnya dari mana datangnya tahi lalat?

“Mungkin lalat membuang kotorannya tanpa izin ya, Bun?”

Bunda tertawa. Aku ikut tersenyum.

“Tahi lalat itu bukan kotoran lalat, Sayang.”

“Lalu apa, Bunda? Kalau bukan kotoran lalat, kenapa dinamakan begitu?”

Sejenak Bunda tampak berpikir, “Mungkin karena warnanya hitam dan kecil. Mirip seperti lalat yang sedang menempel di badan kita.”

Bunda menggeser duduknya, mengusap kepalaku.

“Tahi lalat itu sebenarnya daging yang berwarna gelap. Ada yang besar, ada juga yang kecil.”

“Kenapa hanya berwarna gelap? Kenapa bukan hijau atau merah?”

“Karena tahi lalat mengandung zat warna kulit yang berlebihan. Kalau semakin banyak pasti akan semakin hitam.”

“Ooo…”

“Jadi. Sekarang kakak sudah paham apa itu tahi lalat?”

Aku mengangguk.

“Dan orang yang punya tahi lalat itu terlihat lebih manis.” Kata Bunda sambil mencubit daguku, “Seperti kakak.”

Aku jadi heran, “Jadi tahi lalat itu rasanya manis?”

Bunda tertawa sambil mencubit pipiku gemas.


Tahukah Kamu?
Tahi lalat di dalam medis disebut Nevus. Tahi lalat bukanlah kotoran lalat. Melainkan tumor jinak yang secara alami bisa muncul pada tubuh manusia. Hampir semua orang punya tahi lalat. Di mana letak tahi lalatmu?


Kenapa Aku Punya Tahi Lalat?

“Bunda, kenapa kakak punya tahi lalat?”

“Tahi lalat muncul karena banyak hal. Bisa karena kulit kakak terlalu sering kena panas matahari, bisa karena kosmetik bayi atau juga karena Ayah dan Bunda juga punya tahi lalat.”

“Benarkah? Jadi kakak punya tahi lalat biar bisa kompakan sama Ayah dan Bunda, ya?”

Bunda mengangguk, “Bisa jadi.”


Ketika Teman-Teman Menertawakanku

Punya tahi lalat bukanlah hal memalukan. Sama seperti temanmu yang lain. Coba tanyakan, bukankah teman-temanmu juga memiliki tahi lalat di tubuhnya? Mungkin saja letaknya tersembunyi, misalnya di kepala, jempol tangan ataupun di bawah telapak kaki. Wah, ternyata semua orang juga punya tahi lalat, ya!

Tapi Kakak pulang dengan wajah murung siang itu. Gambarnya ditertawakan bukan hanya oleh teman sekelasnya namun juga oleh ibu guru.

“Kakak nggak mau gambar wajah sendiri.”

“Kenapa?”

“Ibu guru menertawakan gambar Kakak.”

“Mungkin ibu guru hanya terlalu senang melihat gambar Kakak yang bagus.”

Kakak menggeleng. Lalu menangis.

“Kenapa sih Kakak harus punya tahi lalat, Bun?”

“Bukan masalah punya tahi lalat, Nak. Lihat Ayah, punya tahi lalat juga. Tapi Ayah tetap jadi hebat walaupun punya tahi lalat, kan?”

Kakak mengangguk. Pelan-pelan mengusap wajahnya yang basah.

“Teman-teman yang menertawakan Kakak juga bukan berarti mengejek. Mungkin saja mereka tak tahu apa itu tahi lalat sehingga merasa itu lucu.”

“Ada juga yang menyentuh tahi lalat Kakak, Bun.”

“Benarkah? Mungkin mereka hanya ingin tahu bagaimana rasanya punya tahi lalat.” Bunda tersenyum sambil memeluk Kakak.


Bersyukur

Kakak tersenyum sambil berhambur dalam pelukan Bunda.

“Alhamdulillah, Kakak juara satu!”

Bunda menarik piala dari tangan Kakak, dengan wajah antusias membaca tulisan yang menempel pada salah satu sisi piala.

“Masya Allah, Hebat. Anak Bunda juara.”

“Kakak senang, Bun.”

Bunda mengangguk, “Punya tahi lalat tetap bisa juara, kan? Bersyukur ya, Nak. Karena Allah telah memberimu banyak kelebihan. Satu tahi lalat saja tak akan merusak kebahagiaanmu.”

Kakak mengangguk. Mulai saat ini, syukuri apa yang kamu miliki, Nak. Gambarlah wajahmu, lengkap dengan tahi lalat di pipi sebelah kanan. Itu pemberian Allah, bukan hal memalukan.
View Post
sumber


Jika aku punya kedua kaki untuk melangkah, maka jarak terlampau jauh yang telah terentang angkuh di antara kita tak akan membusungkan dadanya penuh kesombongan. Jika saja… Maka dengan susah payah kamu menghiburku. Bukan masalah, sepasang sayap bahkan jauh lebih berharga ketimbang sepasang kaki. Benarkah? Bukankah mengepakkannya saja aku tak mampu? Maka dengan wajah berbinar kamu mengatakan lagi, jangan khawatir, di antara kita memang mustahil bahkan hanya untuk sekadar  bejabat tangan, tapi lihatlah, hati tak pernah berhenti untuk tetap saling menautkan harapan. Dan tahukah kamu? Bahkan hal-hal yang mustahil bisa nyata ketika harapan itu kamu ciptakan!
View Post
sumber

Sebelum menjawab, ada baiknya kita mengenal dulu perbedaan dari kedua bahan makanan tersebut. Selama ini, siapa yang masih belum paham apa itu butter dan margarin? Atau mungkin malah menganggap kedua bahan ini sama?

Dulu, saya juga berpikir demikian. Butter atau margarin adalah dua jenis bahan yang sama baik dari kandungan dan cara pembuatannya. Yang lebih mencolok dari kedua bahan ini jelas dari aroma dan warna, ya. Butter jelas lebih pucat dan beraroma wangi banget. Sedangkan margarin punya warna lebih mencolok dan wanginya nggak terlalu kentara.

Lalu, setelah tahu ada perbedaan mencolok dari keduanya, maka saya pun mulai menyimpulkan kalau kedua bahan ini sebenarnya berbeda. Setelah banyak browsing dan mengunjungi mbah google, akhirnya saya bisa menyimpulkan bahwa butter jelas bukan margarin. Dan margarin juga bukan butter. Lalu apa perbedaan di antara kedua bahan makanan tersebut?

1.      Bahan dasar
Butter atau biasa kita sebut mentega terbuat dari lemak hewani seperti susu sapi. Mentega yang sering kita jumpai saat ini, kebanyakan terbuat dari susu sapi yang telah diolah dengan cara dipisahkan dari buttermilk-nya. Mentega bisa juga dibuat dari susu kambing, kerbau atau pun domba.

Sedangkan margarin biasanya terbuat dari lemak nabati seperti tumbuh-tumbuhan.

2.      Warna
Butter memiliki warna yang lebih pucat ketimbang margarin. Sedangkan margarine memiliki warna yang lebih mencolok. Ketika kita perhatikan margarin berwarna lebih kuning ketimbang butter, ya? Sekarang sudah mulai paham ya, perbedaan keduanya. Oke, lanjut yang ketiga.

3.      Aroma
Butter atau mentega memiliki aroma lebih wangi ketimbang margarin. Ketika membuat cookis atau pun roti, hasil akhir yang dihasilkan oleh kue berbahan dasar butter pastilah lebih tercium gurih dan wangi ketimbang yang hanya memakai margarin. Karena itu, banyak penjual-penjual roti yang memilih menggunakan butter ketimbang margarin karena hasil akhirnya sangat berbeda. Meski harga butter jauh lebih mahal ketimbang margarin, ya.

4.      Kandungan Lemak atau Kolesterol
Butter memiliki kandungan lemak jenuh yang lebih banyak ketimbang margarin. Margarin mengandung lemak jenuh yang lebih sedikit dikarenakan bahan dasarnya yang terdiri dari lemak nabati seperti minyak sayur. Sedangkan lemak jenuh yang dihasilkan oleh butter atau mentega jauh lebih tinggi karena bahan dasarnya yang terdiri dari lemak hewani seperti susu.

5.      Tekstur
Tekstur butter lembut dan cenderung tidak tahan dengan suhu ruang. Dia akan lebih mudah mencair ketimbang margarin yang bisa tetap mempertahankan teksturnya meski berada di suhu ruangan.

Namun, kelebihan butter yang cenderung lebih lembut ini juga kurang cocok ketika dipakai membuat cookies. Cookies yang dihasilkan biasanya lebih rapuh berbeda dengan yang memakai margarin.

Nah, biasanya solusinya supaya bisa mendapatkan tekstur cookies yang kokoh tapi wangi adalah dengan mencampur kedua bahan tersebut. Dengan mencampur keduanya, maka dapat dihasilkan kue-kue kering yang renyah namun tetap memiliki wangi khas butter.

Sayangnya buat pemula yang sering mencoba resep-resep baru, memilih butter sebagai bahan pembuatan cake, roti dan cookies cenderung bikin kantong seret. Sebab butter harganya memang jauh lebih mahal ketimbang margarin. Mencarinya pun nggak semudah menemukan margarin.

Dan yang lebih parah, kalau percobaan cake gagal rasanya bikin miris hati mengingat harganya yang nggak murah. Buat ibu-ibu yang suka mencoba resep-resep seperti saya, ada baiknya memilih bahan yang sesuai kebutuhan namun juga bersahabat di kantong.

Salah satunya adalah memakai Blue Band Cake and Cookie. Aroma butternya khas banget. Membuat cookies juga jadi lebih praktis karena nggak perlu menimbang dua bahan berbeda. Cukup satu bahan saja bisa menghasilkan cookies yang renyah, kokoh namun tetap memiliki wangi butter.


Saya juga selalu pakai Blue Band Cake and Cookie setiap membuat roti atau pun cake. Hasil rotinya jauh lebih enak dan wangi ketimbang yang hanya memakai margarin. Hmm, jadi sekarang sudah tahu ya, lebih baik butter atau margarin? Kalau saya, sih, pilih keduanya!
View Post
sumber


“Semua sakit hati dan sengsara yang aku rasakan adalah sebuah kesalahan besar yang diam-diam telah Ibu lakukan. Jika bukan karenamu, Bu, mungkin nasib baik masih bersamaku.” Terdengar kecewa sekaligus nada tinggi yang sedikit ditekannya. Perempuan tiga puluh tahun itu menunjuk jantung Rosmina. Memecah sunyi. Merobek ketenangan yang terpaksa ditanam meski sejak lama sakit hati memaksa meluap dan mengalirkan riak dalam tatap matanya.

Tubuh Rosmina seketika menggigil. Gemuruh di dada memuncak. Jika tak ingat perempuan itu lahir dari rahimnya, mungkin sejak tadi sebelah tangannya menampar Atika penuh amarah.

“Atika menyesal telah dilahirkan dari rahim Ibu!”

Rosmina terbeliak. Kini gemuruh itu begitu deras mengalirkan embun yang sejak tadi ditahannya. Slide-slide masa lalu bergantian mengetuk ingatan. Dua kali dua puluh empat jam menanti putri sulungnya lahir ke dunia sembari menahan sakitnya kontraksi bertubi. Wanita berkulit putih itu hanya meringis menahan ngilu serupa belati membeset kulit dari tulang-tulangnya.

Kini, lihatlah! Gadis mungil yang dulu begitu dirindunya melaknat ibu kandungnya sendiri!

Durhaka! Kata tertahan yang hanya sempat berteriak dalam tenggorokan. Tercekat oleh isak. Namun, perih dan sakit itu meneriakkannya jauh ke langit. Menembus lapisan ketujuh. ‘Arsy terguncang. Tuhan tak akan berpangku tangan, Atika!

***

Danu memahami, setiap jengkal dari nasib buruk yang kini diterimanya adalah balasan atas apa yang telah dilakukannya selama bertahun silam. Sejatinya lelaki bertubuh tinggi itu hafal betul siapa orang yang paling bersalah dalam urusan rumah tangganya.

Bukan wanita ayu yang telah dinikahinya. Bukan pula orang tua yang telah menjodohkan. Tapi dirinya. Ya, dirinya sendiri yang tak pernah sedikit pun punya niat untuk menafkahi keluarga. Meski gajinya cukup untuk membelikan istrinya sekarung beras, tapi dia memilih membeli kemeja-kemeja bermerek atau menghabiskan uangnya untuk mentraktir teman.

Selama bertahun-tahun, Danu tak pernah merasa bertanggung jawab atas keluarga kecilnya. Bahkan dengan pandangan tak berdosa, dia melepas istrinya pergi ke luar negeri. Merantau dan terseok di negeri orang demi memenuhi ambisinya sebagai suami. Tidakkah Danu memiliki hati?

Keluarga kecilnya pelan-pelan terguncang. Layar yang dikembang hati-hati kini koyak oleh kegamangan perempuan berhidung mancung yang enam tahun silam telah dinikahinya. Sudah cukup pengorbanan perempuan berperawakan ramping itu selama ini. Berdagang keliling, menjahit baju-baju pesanan atau bahkan rela berhutang pada tetangga demi membeli sebotol susu untuk putranya. Semua telah dia lakukan. Hingga akhirnya, lelaki yang begitu ia hormati meminta lebih.

Perempuan yang hanya lulusan SMA itu tak bisa menolak. Atas nama rasa hormat serta taat kepada suami, dia rela meninggalkan rumah dan anaknya yang baru berusia 2 tahun. Permintaan yang amat berat namun sungguh dia tak bisa mengelak ketika berkali-kali Danu memaksa. Dia tetap akan pergi. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Suami dan anaknya akan baik-baik saja. Semua demi keluarga kecil mereka. Kalimat-kalimat itu terus menerus dia pupuk hingga tak ada lagi celah bagi keraguan. Dia harus pergi demi orang-orang yang dicinta. Begitulah, hati pun mengalah menahan rindu dan meninggalkan kebersamaan yang kelu.

Tapi, kenyataan pahit mengoyak hati. Kabar burung tentang pernikahan Danu dengan wanita lain merenggut semua kepercayaan yang selama bertahun-tahun berusaha dia jaga. Tidakkah lelaki pintar itu tahu diri? Rupanya cinta saja tak cukup dijadikan alasan untuk memperjuangkan kehidupan mereka. Butuh kewarasan yang pelan-pelan mulai menghilang dari akal Danu.

Detik itu, perempuan yang kali ini merasa jauh lebih tegar dengan tegas menggugat cerai! Adakah wanita lain yang mau berkorban sebesar yang telah dilakukannya? Dan Danu mulai mengerti sekarang, tak ada satu pun wanita selain dia yang mau tetap tinggal.

***

“Menikah saja dengan suamiku. Ambil saja semua kebahagiaan yang aku punya!” Tarikan nafasnya bahkan terlalu kuat untuk disembunyikan.

Kemudian perempuan tiga puluh tahun itu melanjutkan caci makinya, “Tak seharusnya kamu ada di sini, Raifa! Janda tidak tahu diri!”

Raifa menutup wajahnya dengan bantal. Makian-makian saudara kandungnya begitu lekat hingga sulit baginya untuk lupa. Siapa sangka, kakak perempuan yang begitu dihormatinya tiba-tiba saja datang dan menikam.

Raifa menahan perih. Tak pernah terlontar keinginan untuk menceritakan semua sakit hati itu pada adik bungsu apalagi orang tua. Luka-luka yang telah memenuhi hati, kini bertambah dengan kebencian serta fitnah saudara kandungnya sendiri.

Jika bisa, ingin rasanya melawan semua tuduhan yang ditujukan padanya. Kebaikan Ibu yang disebut hanya untuknya atau perhatian kakak iparnya. Raifa tak pernah meminta ibu membeda-bedakan kasih di antara mereka. Seharusnya saudara sulungnya tahu, pahit hidup berumah tangga juga pernah dialami Raifa. 

Sekarang, sendiri dia harus melewati sepi. Tanpa lelaki yang dulu pernah singgah dalam lamunannya. Dia bahkan jauh lebih kesepian ketimbang seekor burung yang tengah kedinginan di dalam sarangnya.

Dan siapa? Raifa mengulang kembali ingatan tentang suami saudaranya. Bahkan jika gila pun, Raifa lebih memilih jadi janda ketimbang merebut suami orang!

***

Lelaki itu begitu keras kepala. Tidak pernah dia merasa sebahagia ini. Jatuh cinta pada pandangan pertama. Mungkin kalimat itu begitu tepat untuknya. Meski sejak lama dia selalu mengelak, namun hari ini, ketika sepasang mata mereka saling bertemu, bayangan perempuan dengan pasmina abu-abu itu tak bisa lagi menjauh dari pikirannya.

Siapa dia? Pertanyaan yang selanjutnya begitu lekat dan memaksanya untuk terus bertanya. Apa yang membuatya pergi sejauh ini? Berada di luar negeri bukanlah sebuah keinginan besar jika hanya berniat mencari pekerjaan. Banyak tenaga kerja yang berangkat dengan alasan yang hampir sama. Memenuhi kebutuhan keluarga. Meski sebenarnya Hilmi sering menerka, bukan kebutuhan yang membuat mereka nekat pergi sampai-sampai harus meninggalkan yang dicinta, tapi kebanyakan demi memenuhi gaya hidup yang tak biasa.

Hilmi terus saja memandang diam-diam ke arah wanita itu. Namun, perempuan yang terlihat kerepotan dengan koper besarnya memilih diam. Semakin membuat Hilmi penasaran. Dan sebelum perempuan berparas ayu itu benar-benar pergi, di belakangnya, Hilmi tampak girang mengepalkan tangan penuh kemenangan. Sebuah nomor yang baru saja didapatnya diam-diam. Bukan Hilmi jika tak keras kepala.

***

Mereka tiga bersaudara. Perempuan-perempuan berhati malaikat, begitu ucap Bapak setiap kali menatap ketiga putrinya. Meski anak-anaknya terpaut usia yang lumayan jauh, tak sedikit pun menyurutkan kasih lelaki yang kini telah dipenuhi kerutan halus itu. Mereka tetap membutuhkan orang tua kendati usia telah beranjak dewasa bahkan hingga mereka berumah tangga. Tetaplah orang tua adalah tempat paling nyaman untuk pulang dan bersandar.

Tapi hari ini, tiba-tiba hatinya seolah ditusuk berkali-kali. Kebencian mendalam kepada sosok lelaki yang tak lama menjadi pendamping putri sulungnya. Diam-diam menantu barunya menjadi belati dalam keluarga besar mereka. Meruntuhkan semua rasa hormat si sulung terhadap dirinya.

Ini bukan hanya sekadar kesalahan kecil. Makian-makian terdengar jelas melintas di hadapannya. Lelaki yang dulu dianggapnya sebagai malaikat penolong bagi putri sulungnya kini tak berbeda dengan iblis! Lihat saja, putri sulungnya kini beringas. Berani memaki dan mengentak-entak ketenangan yang selama bertahun-tahun selalu dijaga di dalam rumah mereka.

“Suami macam apa kamu!” ucapannya terngiang kembali. Mengutuk menantu baru yang merusak tabiat putri sulungnya.

Mata tua Bapak menatap halaman rumah yang lengang. Tak akan ada lagi suara anak kecil yang biasa riuh memanggil. Mereka telah pergi setelah puas menyakiti. Dan di sudut ruangan yang lain, seorang perempuan terisak tiada henti.

***

Rosmina mulai mengeja takdir. Dulu, tak terbesit keinginan untuk menyakiti orang tua meski dahulu sang ibunda begitu keras mendidiknya. Sebab menjadi seorang anak adalah sebuah bakti yang tak kenal lelah. Membalas sejengkal pun tak mampu meski telah memberi seribu kebaikan serta kebahagiaan. Orang tua tetaplah harus dihormati meski kadang terjadi selisih paham di antara mereka dan anak-anaknya.

Bagi Rosmina, itu bukan alasan untuk tidak berbakti. Tapi sayang, Atika tak pernah memahami betapa cintanya begitu besar padanya. Perjodohan Atika dengan Danu adalah sebuah kesalahan. Kesalahan yang tak pernah sengaja dia lakukan.

Siapa sangka, lelaki yang katanya keturunan kyai itu ternyata tak becus menafkahi bahkan cenderung mendzalimi istri. Tak sedikit pun Rosmina berkeinginan meninggalkan Atika dalam rumah tangga yang jauh dari bahagia. Dengan hati-hati wanita paruh baya itu membantu tanpa berkeinginan mencampuri urusan rumah tangga putri sulungnya.

Namun ketika Danu memintanya pergi dan bekerja di luar negeri, Rosmina adalah orang pertama yang menolaknya.

“Meski hidup kekurangan, bukan berarti kami mengizinkanmu menjadi TKW.” Ucap suami Rosmina sambil menatap putri sulungnya lekat. Seolah ingin mengalirkan energi penuh kasih yang tak pernah benar-benar ditinggalkan meski Atika telah berumah tangga.

Namun, Atika lebih memilih mendengarkan Danu. Memaksa orang tua menerima keputusannya. Dengan berat hati, Atika menitipkan buah hatinya pada Rosmina. Membiarkan semua berjalan seperti mimpi hingga pada akhirnya lelaki yang awalnya begitu ia benci_karena sebuah perjodohan tanpa persetujuan Atika_memilih berpoligami. Meninggalkan janji suci yang bertahun-tahun dia tanam dalam hati.

Atika menahan rasa sakit yang diam-diam dipendamnya. Hingga perlahan luka itu mulai mengering setelah pertemuan indahnya dengan Hilmi, lelaki yang ditemuinya di sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja.

Atika mulai merajut kembali kebahagiaannya yang sempat koyak oleh pengkhianatan Danu. Hilmi menyembuhkan bukan hanya luka Atika namun juga rasa bersalah yang dialami oleh ibu mertuanya, Rosmina.

Tapi, punya rumah serta seorang anak dari Hilmi saja rupanya tak membuat Atika bersyukur. Selalu saja mengeluh karena merasa Rosmina berlaku kurang adil di antara dia, Raifa serta adik bungsunya. Padahal, Rosmina telah memberikan kebahagiaan lebih banyak pada putri sulungnya. Sesuatu yang tak pernah diberikan kepada anak-anaknya yang lain. Rosmina tak pernah menyangka ketika tiba-tiba Atika mengkal hati. Memarahi Rosmina yang telah dianggapnya menjadi orang yang paling bersalah atas semua masa lalu kelam yang menimpanya.

Putrinya itu, diam-diam menagih dendam lama.

Atika sejatinya telah punya segalanya. Jika dulu dia memiliki Danu yang tak layak dihormati, maka kali ini Tuhan telah menggantinya dengan lelaki bertanggung jawab seperti Hilmi. Sayangnya, Hilmi dan Atika mulai terbuai perasaan serakah. Kehidupan mereka yang terlihat megah di mata orang lain rupanya tak disyukuri sedikit pun oleh sepasang suami istri itu. Atika jengkel kenapa Rosmina terlihat lebih peduli kepada Raifa yang telah janda atau perasaan kesal setiap kali Rosmina menyebut kebaikan adik bungsunya. Lalu Atika dianggapnya apa?

Berkali-kali Atika meluapkan emosi. Buta oleh kesalahpahaman serta rasa iri. Hingga kalimat menyakitkan itu menutup semua pintu maaf seorang ibu kepada anaknya.

“Atika menyesal telah dilahirkan dari rahim Ibu!”

Cukup! Untuk kali ini sakit hatinya tak lagi bisa disembuhkan. Rosmina terisak di dalam kamar. Memandang jendela dengan tatapan nanar. Di tempat lain, Atika sedang berteriak sambil tertawa. Kewarasan yang hilang tiba-tiba sesaat setelah sumpah serapahnya kepada Rosmina, ibu kandungnya.


-Tamat-
View Post