Top Social

Dari Ngeblog Hingga Menulis Buku

Foto: Pexels.com

Memangnya bisa blogger menulis buku? Kayaknya ini bukan rahasia lagi, sudah banyak blogger yang melanjutkan hobi menulisnya dengan menulis buku. Ngeblog dan nulis buku itu punya keistimewaan tersendiri. Buat saya, keduanya sama-sama menarik dan menyenangkan. Bedanya, kalau mau menulis buku, butuh motivasi kuat dulu supaya bisa kelarin naskah yang lumayan bikin ngos-ngosan. Sedangkan ngeblog, lebih santai karena kita nggak dituntut menulis dalam jumlah yang banyak.

Saya bersyukur banget pada akhirnya bisa menikmati keduanya. Meski kenyataannya, ilmu ngeblog saya belum ada apa-apanya. Masih remahan rengginang di dalam kaleng Khong Guan…haha. Saya masih harus belajar lebih banyak lagi. Tapi, sebisa mungkin saya berusaha aktif mengisi blog. Kalau bisa setiap hari, kalau terpaksa libur, minimal seminggu sekali. Yang paling penting, saya menikmatinya.

Kayaknya udah lama nggak mendengar kabar naskah di-acc oleh penerbit mayor. Terakhir kali ketika saya mengirimkan naskah nonfiksi ke penerbit indie lewat jalur seleksi dan lolos. Setelah itu saya sibuk dengan website Estrilook, sibuk ngadain event, dan membuat kelas menulis artikel. Intinya sok sibuk banget…hihi.


Sejak Januari lalu, saya sudah membuat outline untuk naskah baru. Sudah ada beberapa bab yang saya tulis. Kemudian saya tinggalkan karena merasa ada ide lain yang lebih menarik dan harus segera dituntaskan. Ini penyakit penulis pemula seperti saya. Suka bingung mau merampungkan yang mana dulu. Akhirnya malah nggak ada yang selesai. Miris banget!

Hingga tadi pagi, saya masih serius mengerjakan satu naskah anak. Sudah hampir setengahnya rampung hingga kemudian dapat kabar bahwa 3 naskah saya diterima oleh penerbit mayor. Masya Allah. Rasanya udah lama banget nggak dapat labar gembira seperti ini.

Tiga naskah yang diterima oleh penerbit mayor ini tidak semua saya tulis sendiri. Dua dari tiga naskah saya tulis bersama seorang teman. Bikin buku duet juga asyik, lho. Malah enak bisa lekas rampung…hehe.

Berbeda dengan ngeblog yang bisa langsung kita terbitkan kapan pun kita mau, menulis buku apalagi untuk penerbit mayor benar-benar harus sabar. Butuh waktu yang kadang nggak jelas meski naskah dan ilustrasi sudah selesai dikerjakan. Kalau nggak sabar, kamu bisa tanyakan ke editor. Tapi, setahu saya, memang butuh waktu berbulan-bulan, bahkan hingga setahun demi melihat buku kita terbit dan dipajang di toko buku.

Kenapa bisa lama banget? Karena naskah yang masuk ke meja redaksi itu banyak banget. Editor harus melihat satu per satu. Kebayang dong ribetnya? Setelah diterima (waktu maksimal 3 bulan), naskah kamu akan diedit (ini juga nggak sebentar), kemudian naskah masuk tahap layout. Meski  naskah kamu udah rapi, segalanya udah matang dan bisa segera diproses, tetapi kenyataannya juga butuh waktu nggak sebentar. 

Seperti buku Agar Suami Tak Mendua yang saya tulis dan akan diterbitkan oleh Quanta. Sekitar Januari lalu, editor sudah memberikan gambar untuk cover bukunya. Sempat revisi sekali dan kemudian editor bilang akan segera terbit. Padahal sudah ‘akan’ segera terbit, tapi hingga sekarang belum juga terbit, lho. Kalau dihitung, yang cepat aja bisa hampir setengah tahun, apalagi yang perlu revisi dan perbaikan sana sini, kan?

Jadi, butuh banget kesabaran ketika kita mau menulis buku. Itulah bedanya dengan ngeblog. Belum lagi merampungkan naskahnya. Seperti buku saya yang kayaknya berisi 400 halaman…kwkwk. Duh, kenapa bisa setebal itu, ya? Kayaknya dulu biasa aja pas kirim…hihi. Kaget juga.

Dari ngeblog apa bisa sampai menulis buku? Bisa banget dong. Dengan ngeblog, kita belajar konsisten menulis. Jadi, kita nggak perlu banyak persiapan lagi. Cukup tuliskan satu bab per bab dari calon buku kamu sesuai jadwal yang telah kamu buat.

Biar nggak molor dan melenceng dari rencana, kamu harus tentukan jadwal, kapan kamu akan menyelesaikannya. Jika sehari kamu bisa menyelesaikan tiga halaman, berarti selama 15 hari kamu sudah dapat berapa halaman? Wah, udah banyak aja, ya? Yup! Hanya butuh sabar dan konsisten, jangan tergiur dengan ide baru yang bermunculan. Catat aja dulu ide lainnya supaya nggak menguap. Kerjakan setelah naskah kamu selesai.

Pernah jenuh nggak? Kadang jenuh karena nggak sabaran pengen banget segera pindah tema baru. Tapi, kalau kita pindah, akhirnya naskah nggak akan pernah rampung. Persiapkan dulu semuanya dengan matang, termasuk sumber referensinya. Ketika sudah memulai, kamu bisa lebih mudah mengerjakannya.

Siapa yang pengen punya buku solo juga? Siapa yang pengen lihat bukunya majang di toko buku? Siapa? Yuk, dicoba. Saya yakin, semua orang yang mau berusaha punya kesempatan yang sama besar, kok. Nggak usah minder, mulai saja dulu. Menulis bukan bakat, jika diulang-ulang, kamu akan mahir dengan sendirinya. Itulah alasan kenapa kita harus sering-sering menulis. Semangat!

Salam,

5 Hal yang Bikin Kangen Pesantren, Sederhana Tapi Keren



Tanggal 10 Maret 2019, Pondok Pesantren An-Nur III ‘Murah Banyu’ akan mengadakan reuni akbar. Seluruh alumni bakalan berkumpul dan mengikuti beberapa event menarik yang telah diadakan oleh panitia. Sebagai alumni, saya bahkan tidak pernah datang meski hanya sekali. Sejak boyong selepas STIKK (Sekolah Tinggi Ilmu Kitab Kuning) pada 2009, saya langsung pindah ke Jakarta dan menetap di sini.

Saya nggak pernah pulang sendirian. Bukannya dilarang sama suami, tetapi saya sejak kecil memang anak rumahan banget. Terbukti waktu di pondok saya nggak pernah bolos keluar*alasan…haha. Selain nggak pernah berpikir untuk pulang sendiri, saya juga memikirkan anak-anak yang sudah sekolah, suami yang ngantor lima hari dalam seminggu dan jarang ambil cuti panjang kecuali pas lebaran, dan rumah yang perlu diurus. Emak-emak mikirnya banyak banget emang, ya…haha.

Ketemu dan ngumpul bareng teman-teman memang merupakan suatu yang menyenangkan, terlebih sejak dulu kita nggak hanya satu kelas, tetapi juga satu kamar terutama saat STIKK. Kita udah ngerasain seneng bareng, nangis bareng, ‘gila’ bareng, bahkan baik bareng *kalau ingat.


Setelah kita menikah dan berkeluarga, bertemu dan ngobrol bareng adalah sesuatu yang sulit banget ditemui. Kita sudah sibuk sendiri, kita sudah punya pekerjaan yang menyita waktu, pokoknya serba ribet kalau sudah jadi emak-emak. Apalagi yang jarang keluar rumah sendiri seperti saya…huhu.

Lalu apa sih yang bikin saya kangen pesantren lagi setelah hampir sepuluh tahun menjadi alumni?

Selalu ingat pesan Kyai Qusyairi

Foto: Pexels.com
Saya yakin, hampir semua santri mengingat pesan-pesan Kyai, dan saya pun yakin, pesan yang kami ingat tidak selalu sama. Saya masih ingat, saat kami ngaji di jerambah depan kamar, Kyai pernah berpesan, “Jangan mudah menyalahkan orang (dalam hal agama) ketika kamu keluar dari pesantren. Karena di luar itu macam-macam isinya.”

Dan setelah tinggal dan menetap di Jakarta, saya baru sadar, rupanya banyak orang yang berbeda pandangan dengan saya meski akidah kami sama. Bahkan saya sempat ditolak oleh lingkungan saya sendiri. Tahun-tahun itu bukan hal yang mudah. Saya pernah menangis di jalan selepas pulang kajian. Alasannya bukan hanya karena saya cengeng, tetapi karena sempat ditertawakan dan ditegur secara blak-blakan di depan umum karena saya belum memakai hijab syar’i, padahal saya santri. Saya belum terbiasa menutup aurat dengan sempurna, termasuk nggak terbiasa memakai kaos kaki. Kalau mau egois, saya pasti tidak akan peduli dan keluar dari kajian saat itu juga. Bisa saja saya merasa paling benar mengingat saya santri. Tapi, qadarallah saya nggak seperti itu.

Pelan-pelan saya belajar dan tetap ikut kajian. Nggak mau menutup diri apalagi dendam. Saya yakin, cara mereka mengingatkan memang cenderung menyakitkan, tetapi bisa jadi memang ini yang terbaik menurut Allah. Mungkin dulu udah disentil tapi nggak merasa.

Pelan-pelan saya mengubah penampilan bukan karena takut dimusuhi, tetapi karena sadar saya salah. Yang biasanya canggung pakai hijau menutup dada, sekarang malah nggak nyaman kalau pakai hijab pendek apalagi pakaian ketat. Yang biasanya nggak pernah pakai kaos kaki kecuali waktu sekolah, sekarang berusaha memakai setiap keluar rumah.

Saya tinggal di lingkungan yang bukan ‘dunia’ saya dulu. Saya dekat dengan orang salaf, saya dekat dengan mereka yang nggak mau disebut NU atau Muhammadiyah, saya pun sering mendengarkan kajian dari ustadz-ustadz salaf. Saya benar-benar di luar lingkungan saya dulu. Terus kamu mau sok benar dan menyalahkan yang berbeda dengan kamu? Rasanya itu gila. Saya belajar untuk tidak mendebat orang yang berbeda pandangan. Saya belajar menerima jika yang lain berbeda dan mengambil apa yang baik. Toh, selama ini ustadz-ustadz yang saya ikuti tidak pernah mengajarkan yang aneh-aneh, nggak pernah nyuruh musuhan apalagi merendahkan, justru membantu saya lebih berhati-hati dalam menjalani hidup, terutama berhati-hati soal akidah.

Pesan Kyai dulu mungkin tak langsung saya terapkan saat pindah ke Jakarta. Ada saatnya saya merasa egois dan mau benar sendiri dan menyalahkan mereka yang berbeda. Tapi, belakangan saya mulai menyadari, yang begitu itu tidak tepat. Proses yang saya lalui tidak mudah, berbeda jika saya tinggal di lingkungan sendiri.


Saya sempat menuliskan perjalanan ini dalam sebuah antologi dan bisa dibeli di toko buku kesayangan kamu *tetap promosi…kwkwk.

Minim fasilitas, tetapi kreasi tak terbatas

Foto: Pexels.com
Zaman dulu, kita nggak banyak punya fasilitas seperti saat ini. Tapi, kreativitas justru sangat tinggi. Saya merupakan tim kaligrafi yang bertugas membuat dekorasi panggung ketika ada acara. Saya yang suka melek malam dan tidur setelah Shubuh karena semalam suntuk mengerjakan dekorasi panggung bersama ustadzah dan santri lain. Zaman dulu, semua dikerjakan manual. Motong Styrofoam sampai menjadi huruf dan diberi warna. Disusun dengan susah payah meski kenyataannya hanya dipakai semalam saja.

Saya masih ingat ketika hendak pergi mengikuti kompetisi kaligrafi, Kyai sempat bertanya, yang intinya seperti ini, “Sudah yakin bakal menang? Kalau tidak yakin, ngapain berangkat.” Jleb! Jujur saja saya percaya diri, tapi yang amatiran seperti saya masa iya bisa menang melawan peserta senior lainnya? Pertanyaan itu sebenarnya nggak sesederhana yang kita dengar. Jika boleh saya memaknai, maka saya akan katakan seperti ini,

Setiap impian itu butuh proses yang tidak mudah. Yakin menjadi salah satu kunci meraih mimpi. Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Maka yakinlah bahwa kita pun mampu meraih apa yang kita inginkan meski semua orang menertawakan.

Yakin menjadi salah satu kunci keluasan hati. Bagaimana kita bisa sukses kalau hati kita sempit? Dikit-dikit mikir nggak bakalan bisa, mustahil, nggak mungkin. Yang begini memang akan membuat kita gagal duluan bahkan sebelum maju ke medan tempur. Seperti itulah yang saya pelajari dari buku Hijrah Rezeki yang ditulis oleh ustadz Arafat.

Maka tak berbeda dengan pertanyaan Kyai dulu, kalau nggak yakin, ya nggak perlu pergi. Maka yakinlah! Sebab ada Allah. Kalau kita hanya berpegang pada logika dan kemampuan kita sendiri, rasanya tak mungkin juga saya bisa seperti saat ini. Sebab Allah izinkan, saya pun mampu mendapatkan satu demi satu impian yang dulu sempat saya tuliskan dalam buku harian.

Sering dapat tugas di tempat sampah hingga sempat menemukan segepok uang

Foto: Pexels.com
Saya sampai sekarang masih heran, kenapa zaman masih jadi santri selalu dikasih piket di tempat sampah yang kayaknya lebih sering daripada yang lain. Ini kayak nggak wajar banget…haha. Atau hanya perasaan saya saja?

Tempat sampah itu empuk ketika dipijak karena di bawahnya nggak langsung menyentuh tanah melainkan sampah plastik yang susah banget didaur ulang. Plastik botol air mineral dan gelas-gelas minuman ringan, hingga benda-benda menjijikkan lainnya. Pijakan kami hangat…kwkwk. Karena di bawahnya kayaknya terjadi proses fermentasi *mirip bikin roti. Kadang ulat gendut-gendut keluar tanpa malu. Bikin geli dan ngeri.

Pernah suatu saat saya menemukan amplop berwarna cokelat. Biasanya saya abaikan dan langsung dibakar karena merasa semua yang ada di sana adalah sampah. Tapi, kayaknya amplop itu berbeda. Tebal dan bersih. Akhirnya saya beranikan diri membukanya, dan ternyata, isianya uang, Dilaan!

Saya pun langsung menyerahkannya kepada ustadzah yang saat itu juga sedang bertugas di sana. Beliau langsung menyerahkannya kepada Kyai yang sedang berkeliling sambil naik sepeda. Piket di tempat sampah nggak bikin kangen juga sih, tapi, menyembulkan kenangan tersendiri. Kalau disuruh kembali, kayaknya mending saya lanjut mencuci baju di rumah, deh.

Dipanggil Cah Ayu

Foto: Pexels.com
Ngerasa spesial banget kalau jadi santri Kyai Qusyairi. Setiap ditegur selalu dipanggil Cah Ayu. Beliau merupakan pribadi yang ramah dan hangat, Masya Allah. Saya sempat ditegur ketika memberikan gunting kepada beliau, karena posisi ngasihnya kebalik.

Kemudian dibenarkan oleh beliau, katanya jangan sampai salah ketika ngasih ke mertua nanti..hehe. Malu, ya? Banget. Tapi, panggilan itu ngangenin banget. Jadi ingat zaman dulu masih di sana*usap air mata.

Masa-masa masuk STIKK (Sekolah Tinggi Ilmu Kitab Kuning)

Foto: Pexels.com
Waktu kami STIKK, rasanya hubungan dengan teman satu kamar lebih dekat, lebih drama, dan lebih segalanya…haha. Satu angkatan nggak lebih dari 15 orang, dan semuanya nggak ada yang mau jadi ustadzah...kwkwk. Ampuun, saya dulu boyong karena diajak nikah sama kang mas *alasan.

STIKK itu adalah waktu ketika kita hampir jadi senior, tapi bukan juga junior. Jadi, gilanya kadang kelewat gitu…kwkwk. Ingat teman bawa televisi ke kamar, ada juga yang bawa radio besar milik pesantren juga dalam ransel, ya Allah, bikin ngakak.

Jadi, kangen waktu masuk pesantren, nangis di awal, sempat nangis di depan Kyai juga waktu baru jadi santri, sempat dipanggil ke ndalem saat baru menikah dan diberi nasihat bareng mas, dan banyak banget kenangan manis yang tak bisa dilupakan. Meski jarang pulang, tetapi saya dan mas yang sama-sama merupakan alumni An-Nur selalu mengusahakan untuk sowan.

Semoga Allah senantiasa menjaga kesehatan Kyai Qusyairi dan mengangkat penyakitnya. Masya Allah, terima kasih, Kyai atas semua yang telah diberikan selama ada di pesantren.

Salam,

Tips Aman Menggoreng Ikan Tanpa Takut Meletup-letup

Foto: Pexels.com

Pernah punya pengalaman buruk saat menggoreng ikan atau makanan lain yang mudah meletup atau meletus? Saya biasanya akan melindungi tangan kanan menggunakan lap kering, dibungkus rapi biar nggak kena minyak. Jujur saja, hampir setiap menggoreng ikan, ayam, atau ati ampela, tangan saya selalu kena letupan minyaknya yang lompat ke mana-mana. Sungguh mengerikan setiap menggoreng beberapa jenis makanan tersebut. Meski terlihat berbahaya, tak jarang bikin kulit melepuh, tapi tetap saja akan kita ulangi lagi, kan?

Ati ampela dan ikan pindang merupakan makan kesukaan paksu. Tapi, kedua jenis makanan ini malah paling sering meletus ketika digoreng. Selain menutup tangan menggunakan lap, saya juga menutup teflon rapat-rapat supaya minyak tidak lompat ke mana-mana.

Saya bukan wanita lebay. Ngepel lantai atas dan bawah sambil masak dan nyuci aja dikerjain sendiri…kwkwk. Tapi, urusan menggoreng ini benar-benar bikin ngeri. Kebayang lengan saya yang sering banget melepuh bahkan menggelembung berisi air karena kena minyak panas…huhu. Kadang wajah juga kena.


Ada yang menyarankan supaya saya membelah jantung yang ikut digoreng bersama ati ampela ayam. Katanya kalau dibelah nggak bakalan sampai meletus. Tapi, ternyata itu nggak berguna. Sampai pada saatnya saya melihat postingan Instagram @Umi_Halim di Instagram. Di sana beliau menjelaskan gimana caranya supaya kita tetap aman ketika menggoreng ikan atau ayam tanpa takut kena letupan minyak.

Dan saat itu juga saya merasa sangat tertolong dengan postingan tersebut. Saya coba ketika menggoreng ati ampela yang telah diungkep. Awalnya masih ngeri, jadi masih ditutup teflonnya rapat-rapat. Siapa tahu tipsnya nggak bekerja pada saya. Siapa tahu, kan? Haha.

Dan, ternyata tipsnya berguna banget. Selain simpel dan mudah, cara ini memang benar-benar efektif mengurangi letupan, bahkan memang sama sekali nggak ada letupan. Jika ada, pasti ledakannya kecil banget, nggak sampai melompat ke mana-mana.

Nah, seperti apa tisp aman menggoreng ikan atau ayam tanpa meletup-letup?

Foto: Pexels.com
Ternyata cukup tambahkan satu sendok makan tepung terigu ke dalam minyak yang telah panas, sesaat sebelum kita menggoreng ikan atau ayam. Tabur aja satu sendok atau kurang sedikit pun nggak masalah. Kemudian masukkan ayam atau ikan dan goreng seperti biasa.

Untuk proses menggoreng berikutnya, jika memang khawatir, boleh tambahkan sedikit tepung lagi. Masukkan lagi ikan atau ayamnya dan goreng sampai matang dan keemasan.

Tips ini benar-benar ampuh dan bisa kamu coba. Sampai sekarang, saya selalu menggunakan cara ini ketika hendak menggoreng  makanan yang gampang meletus. Tips ini benar-benar membantu banget buat kita-kita yang senang memasak. Jadi, nggak perlu pakai helm lagi 'kan sekarang? Haha.

Semoga tipsnya bermanfaat dan selamat mencoba, ya!

Salam,

Pentingnya Blogger Memahami Apa Itu Plagiat dan Rewrite

Foto: Pexels.com

Apakah semua blogger paham apa itu plagiat dan rewrite? Dalam kelas menulis artikel yang tim Estrilook adakan, baik berupa kelas free ataupun berbayar, kami selalu katakan, jangan plagiat! Sebab itu ngeselin banget. Walaupun kamu nggak plagiat artikel saya, tetapi melihat tulisan yang copas seratus persen itu asli bikin gemas. Kamu penulis atau bukan, sih?

Selama memegang Estrilook, beberapa kali saya menemukan artikel kontributor yang terdeteksi plagiat lebih dari 50%. Bagi yang nggak biasa melihat hal ini, pasti santai saja menanggapi. Dianggap enteng. Tapi, bagi kami yang terbiasa menulis pake keringat *plus otot…kwkwk, melihat naskah hasil copas itu bikin geram. Nggak hanya saya, teman-teman satu tim di Estrilook juga merasakan hal yang sama.

Nah, kebetulan kemarin sempat membaca komentar salah satu blogger yang ikut mengomentari sebuah status di sebuah grup, intinya dia bilang, kamu juga plagiat. Nggak ada ide asli di dunia ini. Kamu pakai ide orang, kamu pakai gambar orang.

Eist, ngegas banget komentarnya sambil nahan pengen komentar juga…kwkwk. Di salah satu media pun tulisan saya sempat dikomentari begitu, nggak sekali dua kali, mereka bilang, paling juga artikel copas punya orang, nih, Min. Padahal media itu bakal mendeteksi kalau misal memang ada artikel terbit dan plagiat. Pasti kena sentil dan offline. Saya suka kesel dikatain begitu, tapi orang awam yang tidak pernah menulis, masih lebih mudah dimaafkan. Berbeda dengan mereka yang memang sudah ada di dunia literasi sejak lama dan bahkan berkomitmen fokus di dalamnya. Aneh kalau masih nggak paham apa itu plagiat dan rewrite.


Salah satu mentor menulis saya pernah mengatakan, di dunia ini memang tidak ada ide yang benar-benar orisinil. Semua ide yang ada merupakan modifikasi, dikembangkan kembali dari ide yang sudah ada. Yang begini ini tidak dilarang.

Apa itu rewrite?
Kamu bisa menulis artikel tentang kuliner di kota Malang. Kamu bisa cari ada berapa artikel yang membahas tema serupa, tapi sebagian besar nggak bakalan sama. Susunan kalimat, paragraf pembukanya pun beda. Rewrite merupakan cara kita menulis artikel dengan tema yang sama, tetapi dengan gaya bahasa kita sendiri. Itu boleh dan nggak dianggap plagiat. 

Gimana caranya? Kamu bisa baca sumber referensi sebanyak mungkin, kemudian baca baik-baik sampai kamu benar-benar memahami. Tutup sumber dan tulis dengan gaya bahasa kamu sendiri.

Kalau artikel nggak mau dicopas, jangan menulis dan jangan diterbitkan di blog! Kalimat itu memang benar, tetapi nggak bisa jadi solusi. Saya yakin, semua orang yang benar-benar menulis dengan hati, pasti nggak bakalan rela tulisannya dicopas begitu saja. Kita mungkin saja pada akhirnya bakalan memaafkan, tetapi masih ada rasa nggak nyaman dan kesal pastinya.

Plagiat nggak hanya berupa tulisan
Dan plagiat itu nggak hanya berupa tulisan, lho. Beberapa minggu lalu, tanpa sengaja saya melihat blog salah satu blogger yang memakai header dengan gambar kartun muslimah persis seperti yang saya pakai di blog ini. Ya, itu memang ambil langsung dari blog saya, kemudian disambung dengan text dan dikasih pemanis seperti hiasan bintang gemintang.

Saya lumayan kaget, karena blogger itu sering menanyakan tutorial bikin header pakai Ibis Paint X juga pada saya, dan sering minta saran. Tiba-tiba tanpa ada basa basi langsung memakai gambar saya. Kenapa saya agak kesel? Karena saya bikin gambar itu sendiri dan nggak ambil di Google. Kalau saya ambil di Pexels atau Pixabay, okelah dia ikutan pakai.

Mungkin itu salah satu dari ketidaktahuannya sebagai seorang blogger yang katanya masih pemula. Tapi, kalau keterusan bikin gemas juga dong. Sedangkan selama ini saya sudah biasa diminta membuat gambar khusus buat teman-teman sesama penulis, dan itu saya kasih free! Kenapa dia nggak minta saja?

Lalu apa yang terjadi setelah saya tegur? Dia minta maaf itu sudah pasti. Dan saya tawarkan akan membuatkannya juga. Akhirnya? Saya cek kemarin, header buatan saya sudah dipakai, tapi entah hari ini. Saya tahu, semua orang berawal dari ketidaktahuan kemudian menjadi tahu, tetapi jika tidak paham, ada baiknya bertanya dulu sebelum bertindak. Saya tidak mempermasalahkan itu lagi, ya sudahlah. Tapi, mungkin bisa jadi pelajaran bagi teman-teman yang lain.

Header dengan animasi seperti milik saya mungkin ada beberapa yang punya, tetapi biasanya gambarnya beda. Ketika saya menggambar untuk teman-teman, selalu saya tanyakan, mau warna apa? Mau model seperti apa? Selain biar sesuai sama yang punya, saya juga nggak mungkin bikin gambar yang sama. Masa iya, ada 10 blogger pakai gambar kartun sama semua? Eneg, nggak? Haha.

Memakai gambar dari media atau dari situs penyedia gambar gratisan bukan termasuk yang dilarang. Kalau kamu pakai gambar dari blog orang, tulis sumbernya. Kalau kamu ambil di Google, jangan hanya menulis ‘Sumber: Google.com’ saja, tetapi tulis media yang sudah menerbitkannya. Kalau kamu pernah menulis di Idn Times, di sana sangat detail ngasih informasi soal gambar. Hati-hati banget. Kalau kita ambil di Pexels.com, kita juga harus cantumkan siapa yang punya gambar itu. Nggak boleh hanya asal menulis ‘Sumber: Pexels.com’ saja.

Bagaimana supaya artikel atau gambar kita nggak dicopas?
Lalu gimana caranya supaya artikel kita di blog terhindar dari hal begitu? Gimana biar tulisan kita nggak dicopas sama penulis lain? Kamu bisa cari caranya di Google, banyak banget tutorialnya. Tapi, kalau yang copas ahli pake banget, cara seperti apa pun nggak akan berguna. Tapi, setidaknya hati kita bisa tenang karena sudah berusaha.

Sedangkan untuk gambar pribadi milik kita, tinggal kamu kasih watermark saja. Ya, pada akhirnya kita memang harus ikhlas kalau memang nantinya masih saja ada orang yang iseng dan nggak mau usaha, tetapi mau disebut berkarya. Kita memang ada di dunia yang susah banget menghindari itu. Tapi, setidaknya kita tetap berusaha dong jangan sampai ada orang dengan mudahnya copas atau ambil gambar di blog kita.

Jadi penulis itu memang nggak mudah, tetapi juga nggak susah. Seperti keahlian lain yang sebenarnya nggak tergantung sama bakat, menulis juga bisa dipelajari dan diulang-ulang supaya kamu bisa mahir. Yup! Pekerjaan yang diulang-ulang itu bisa dengan sendirinya membuat kamu pintar, lho. Nggak percaya? Seperti resep dari Tere Liye, kita yang pemula dianjurkan menulis selama 180 hari tanpa berhenti sehari pun. Maka kamu akan sebaik Tere Liye saat menulis.

Pertanyaannya, apakah semua penulis sanggup melakukan itu?

Salam,

Tiada Masa Paling Indah, Masa-masa di Sekolah

Pexels.com

Mirip seperti lirik lagu, ya? Nulisnya sambil dinyanyiin juga kayaknya. Coba, siapa bisa membaca judulnya tanpa harus dinyanyiin atau malah semua spontan menyanyikannya? Kenapa harus pakai judul itu? Kayaknya itu sangat mewakili perasaan kita yang sedang kangen sama teman-teman semasa sekolah dulu.

Ketika kita sudah seperti sekarang, berumah tangga bahkan memiliki anak, bisa ketemu dan ngobrol sama sahabat lama itu kayak sesuatu yang langka banget. Pertama karena setelah menikah kita sudah pindah-pindah rumah. Kedua, kontak hilang begitu saja. Ketiga, kita terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing sehingga buat menyapa teman atau sahabat lama itu kayak susah banget.

Untuk teman SD kayaknya hampir nggak pernah ada kontak. Kalau teman SMP masih ada, tapi ya begitulah…haha. Anyep dan hambar karena kurang ‘klop’ aja dibawa ngobrol. Seperti sudah nggak nyambung meski ada satu grup khusus yang saya pun terlibat di dalamnya. Sebagian malah sudah left sejak lama.

Untuk teman SMA, kebetulan dulu saya di pesantren hingga D1. Teman-teman sekamar dan satu kelas itu lumayan banyak. Ketika sudah masuk STIKK (Sekolah Tinggi Ilmu Kitab Kuning), kekompakan kami pun kian erat. Kadang kompak, kadang ribut…kwkwk. Tapi, namanya teman tidur bareng, kesel bareng, nangis bareng, seneng bareng, rasanya semua itu agak susah buat dihilangkan begitu saja.

Saya dan beberapa teman sempat hilang kontak. Nggak terhitung malah berapa lama. Bahkan sampai hitungan tahun nggak ketemu dan nggak berkirim kabar meski hanya lewat sosial media atau Whatsapp. Dan nggak nyangka juga, ada kakak kelas yang kemudian menikah dengan saudara saya, ada adik kelas yang dulu nggak kenal sekarang malah sering ngobrol karena kita punya hobi yang sama seperti menggambar, bahkan sampai masuk kelas gambar bareng. Ya, dulunya kami mau saling sapa aja malu karena beda kamar dan beda kelas. Entah dari mana tiba-tiba dia jadi nempel mulu kayak perangko *maksa….kwkwk.

Beberapa bulan lalu, bahkan beberapa hari yang lalu juga ada beberapa teman yang akhirnya ngumpul bareng saya lagi karena kita punya hobi yang sama lagi, yakni menulis. Mereka ikutan ngeblog dan suka ngobrol bareng lagi karena mulai nyambung lewat passion yang baru kita sadar ternyata sama, lho.

Atau kami yang memang tiba-tiba hilang kontak, kemudian dipertemukan lagi oleh teman yang lain, akhirnya ngumpul bareng dan ‘hangat’ serta ‘cair’ lagi keadaan yang awalnya bisa dibilang kaku karena jarang banget ketemu dan kontak.

Saya yakin, hampir dari kita semua terutama kami yang sudah dewasa bahkan berumah tangga, pelan-pelan mulai menanggalkan ego kami. Kalau dulu kami atau bahkan saya pribadi gampang banget sensi, sekarang kami bisa menahan diri untuk tidak melakukan hal itu atau memancingnya. Semua dibikin lebih santai karena ya, mungkin perjalanan beberapa tahun kemarin sudah terbilang berat dan menjadi pelajaran.

Saya yakin, kalian yang sekarang sedang berjarak dengan sahabat lama pun merasa kangen dan pengen banget kembali menjalin hubungan baik lagi bersama mereka, sayangnya, kadang ego kita masih tinggi, masih nggak mau ngalah dan mulai duluan. Padahal, kalau sudah ketemu dan  mulai bicara, semua akan jadi lebih baik dan membuat kita lebih bahagia.

Ketika sudah bertemu dan berkumpul lagi bersama teman atau sahabat lama, apa yang sebaiknya kita lakukan?

Bertanya kabar pada hal yang wajar dan jangan terlalu menyinggung kehidupan pribadi

Pexels.com
Kecuali memang mereka mau berbagi. Kadang karena terlalu dekat, kita sampai lupa mana itu privasi atau bukan. Jangan asal nanya ini dan itu, apalagi jika memang sebenarnya itu nggak perlu. Misalnya sampai nanya gaji suami atau gaji dia. Jangan tertawa, ini memang bisa terjadi dan pernah terjadi  pada saya meski yang nanya kerabat bukan teman. Sekadar mengingatkan, gaji pribadi atau pasangan mereka adalah sesuatu yang privasi banget, nggak etis dan nggak sopan kalau kita menyinggungnya hanya karena ingin bercanda atau ingin tahu.

Hindari sensi yang keterlaluan apalagi jika hanya ngobrol di sosial media atau whatsapp

Pexel.com
Kenapa? Karena kita tidak sedang bertatap muka, lho. Kita kadang salah paham apakah dia bercanda atau serius. Jadi, tanggalkan sifat sensi itu karena belum tentu mereka berniat jutek atau judes…haha. Semua pesan yang kita baca bisa jadi positif dan negatif, semua itu tergantung pada sudut pandang kita sebagai pembaca. Kalau mau kita anggap positif, ya pesan itu pun akan terasa nyaman aja dibaca. Berbeda jika sebaliknya.

Kopdar dan cari waktu luang untuk bertemu

Pexels.com
Cara ini mungkin agak susah apalagi mengingat rumah kita sudah berjauhan. Apalagi saya *nangis bombay. Semua masih di Malang, sedangkan saya sudah nyempil di Jakarta sendirian…kwkwk. Tapi, jika ada kesempatan, usahakan bertemu karena itu membuat kearaban kita terjalin lebih erat.

Jadilah bermanfaat bagi mereka, bukan sebaliknya

Pexels.com
Kita nggak pernah tahu, dalam kehidupan seseorang, rupanya ada yang sedang berdiri di titik terendah dalam hidupnya. Jadilah bermanfaat dan bantu mereka, meski hanya sekadar memberikan saran dan semangat. Jika lebih, itu lebih baik pastinya. Dan kita tidak pernah tahu, bisa jadi di kemudian hari justru kita sendiri yang butuh bantuan mereka.

Cari passion yang sama untuk dilakukan bersama

Pexels.com
Saya nggak pernah menyangka, jika pertemuan kami dan kedekatan kami diawali oleh hobi dan passion yang sama. Karena sama-sama suka suatu hal kita jadi lebih dekat seperti sekarang. Meski aktivitas kami berbeda, saya hanya IRT sedangkan mereka kebanyakan sibuk ngajar, tapi ada waktu sedikit buat melakukan hobi bersama meski nggak selalu bisa bertemu. Cara ini cukup ampuh bikin kita akrab lagi.

Jangan gengsi, jadilah diri sendiri

Pexels.com
Sensi dan gengsi itu harus dibuang jauh-jauh biar nggak mengikis hubungan baik kita bareng sahabat. Nyari teman banyak di Facebook itu gampang, tapi nyari yang benar-benar ‘sahabat’ dan benar-benar bisa jadi ‘teman’ itu nggak gampang. Karena itu, jauhi sifat sensi dan gengsi. Jadilah apa adanya, jangan ada yang ditutupi atau dilebihkan. Karena ke depannya kita nggak butuh lagi kamu yang sok keren, sok baik, dan sok segalanya. Kita sebagai teman butuh kamu yang apa adanya.

Menilai kehidupan seseorang sukses dan bahagia tak bisa melalui materi saja.  Menjadi bermanfaat bagi orang lain dan punya sahabat baik dan sayang kita adalah harta tak ternilai. Sebagai emak-emak, kita juga perlu menjaga ‘kewarasan’ diri. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah ngobrol santai bareng sahabat lagi, mengingat zaman di sekolah yang penuh drama dan tawa. Adakah yang lebih baik daripada itu?

Salam,

Seblak Super Pedas, Teman Ngemil di Musim Hujan



Dari kemarin pengen banget bikin seblak, tapi ternyata nyari kencur itu susah…haha. Kata penjual sayur kencurnya mahal banget jadi mereka nggak pernah beli buat stok karena pembeli pun malas membeli saking mahalnya.

Nggak sengaja beberapa hari lalu penjual sayur mengeluarkan sedikit kencur. Hanya 3-4 buah kencur berukuran besar. Katanya mau bikin seblak, kemudian saya pun meminta sebagian untuk dibeli karena pengen juga bikin seblak…kwkwk. Alhamdulillah dapat 1 berukuran besar.

Semalam akhirnya bikin deh seblaknya. Nggak pakai isian macam-macam. Hanya pakai sawi hijau, kerupuk, dan telur. Pakai cabai rawit satu genggam…haha. Awalnya merasa itu berlebihan dan takut nggak kuat makannya, eh ternyata nggak terasa pedasnya. Mungkin karena saya suka makan pedas. Ketika dicobain sama suami, dia huhah huhah. Nggak kuat…haha* seneng banget nge-bully suami kwkwk.


Bikin seblak itu nggak susah. Kalau kamu punya sosis, kamu bisa kasih isian sosis di dalamnya. Kalau ada bakso, kamu bisa masukkan juga. Kadang saya bikin cilok dan dimasak jadi seblak. Nggak kalah enaknya. Bisa juga tambahkan mie ke dalamnya. Banyak variasi yang bisa kamu buat. Yang pasti seblak ini enak banget dan bikin nagih!

Bahan:
1-2 genggam kerupuk
1-2 butir telur
Secukupnya sawi hijau
Sedikit air

Haluskan Bumbu:
6 siung bawang merah
2 siung bawah putih
2 ruas kencur atau sesuai selera
Secukupnya cabai rawit merah
Secukupnya gula dan garam

Cara Membuat:
1. Rebus dulu kerupuknya sampai agak lunak, tapi jangan terlalu lembek karena nanti akan dimasak ulang.

2. Haluskan bumbu dan tumis. Beri gula dan garam. Masukkan telur yang telah dikocok lepas, aduk-aduk sampai jadi orak arik. Tambahkan air dan aduk bersama bumbu.

3. Masukkan kerupuk yang sebelumnya telah direbus. Masukkan sawi dan tes rasa. Jika sudah pas matikan api dan sajikan selagi hangat.

Voila! Seblak buatanmu pun siap disantap. Gampang banget, kan? Semakin banyak kencurnya, semakin enak dan khas pula rasanya. Saya pribadi lebih suka kalau sayurnya dibanyakin, karena memang senang makan sayur. Dan lebih suka dengan isian simpel seperti ini daripada ada sosis atau baksonya.

Nah, kalau kamu lebih suka yang seperti apa, nih?

Salam,

Roti Sobek Pandan, Super Lembut dan Gampang Bikinnya!



Hari ini niat banget mau bikin roti pandan. Sudah berapa minggu seisi rumah sakit, jangankan bikin roti, mau masak aja malas…hehe. Alhamdulillah, hari ini semua sudah membaik. Bosan nggak ada kerjaan *sok ganggur, akhirnya keluarin mixer dan takar-takar bahan.

Kali ini bikin roti pakai resep ci Xanders. Ini saya buat versi pandan. Bahan yang nggak ada saya ganti seperti susu cair diganti dengan air, tetapi pada susu bubuk ditambahkan lebih banyak. Selain itu, saya tambahkan juga pasta pandan supaya lebih wangi.

Sebenarnya, awalnya saya ngiler berat melihat salah satu postingan di Instagram. Postingan itu berisi video penjual roti pandan kukus. Roti pandannya diisi mesis cokelat dan parutan keju super banyak, kemudian dikukus. Kebayang aromanya sampai ke rumah…kwkwk. Dan, akhirnya hari ini pun memberanikan diri bikin roti pandan supaya bisa ngerasain seperti apa yang sudah saya lihat sebelumnya. Hasilnya? Lembut dan enak banget!


Sayangnya, entah karena nggak fokus atau gimana, pas ngeluarin kaki mixer malah salah ambil kaki mixer buat ngaduk telur atau adonan cake. Tepung dalam baskom jadi berantakan. Adonan jadi naik. Hiks. Sampai di situ belum sadar juga kalau saya salah ambil kaki mixer. Hingga terbesit pikiran kayaknya mixer rusak deh…kwkwk. Dasar emak-emak, ya. Dirinya yang salah, malah nyalahin mixernya…haha.

Buat kamu yang penasaran dengan resepnya, silakan dicoba di rumah, ya!


Bahan:
450 gram terigu protein tinggi
50 gram terigu protein rendah (bisa pakai protein tinggi seluruhnya)
75 gram margarin
1 butir kuning telur
1 butir telur
225 ml susu cair (saya ganti air)
7 gram fermipan
110 gram gula pasir
15 gram susu bubuk (saya pakai satu sachet kecil)
Sejumput garam
Sedikit pasta pandan


Cara membuat:
1. Campur semua bahan kecuali margarin, garam, dan pasta pandan. Aduk sampai semua tepung tercampur rata.

2. Masukkan margarin dan garam. Mixer sampai rata baru kemudian masukkan pasta pandan.

3. Uleni sampai kalis elastis. Biasanya ditandai dengan adonan mengilap, tidak lengket, dan tidak mudah sobek ketika dibentangkan hingga tipis.

4. Diamkan adonan selama satu jam dan jangan lupa ditutup.

5. Kempeskan adonan dan bentuk sesuai selera. Boleh langsung kasih isian atau bisa diberi isian ketika sudah dipanggang.

6. Panaskan oven 10 menit sebelum digunakan. Panggang selama 15 menit atau sesuaikan dengan suhu oven masing-masing.

7. Keluarkan dari oven dan olesi permukaannya dengan margarin.

8. Sajikan bersama selai kesukaanmu!

Empuk banget...

Jangan lupa kasih selai cokelat atau selai favorit kamu

Voila! Roti sobek pandan buatanmu siap disantap bersama keluarga tercinta. Gimana, gampang banget sebenarnya bikin roti itu. Tapi, kadang persiapan dan prosesnya yang agak lama jadi bikin malas. Padahal, ketika baru keluar dari oven, aroma dan rasanya susah banget ditolak.

Yuk, ah bikin sendiri di rumah. Selamat mencoba semoga berhasil, ya!

Salam,

Traveling ke Turki dan Mengunjungi Museum Topkapi Palace Istanbul



Sebelumnya, saya sempat posting cerita singkat saat saya umroh dan traveling ke Turki. Salah satu lokasi yang kami kunjungi di Turki adalah museum Topkapi Palace di Istanbul ini. Nama Topkapi bergitu familiar karena saya sering banget mengikuti postingan ustadz Felix. Beliau juga sempat mengisi sebuah acara televisi dan menyinggung soal museum ini.

Dari sanalah saya pun dibuat penasaran pake banget. Setelah ada kabar kami akan berangkat umroh dan berkunjung ke Turki selama beberapa hari, saya pun begitu antusias ingin banget mampir dan melihat langsung seperti apa megahnya museum Topkapi Palace ini.

Perjalanan dari bandara Soekarno Hatta menuju Turki kami tempuh dalam kurun waktu 12 atau 13 jam. Awalnya ngebayangin gimana anak-anak selama di pesawat dalam waktu yang cukup lama. Apalagi saat itu Dhigda masih berusia 2 tahunan. Qadarallah, perjalanan kami cukup menyenangkan. Alby yang sudah lebih besar tampak santai dan malah susah tidur selama di pesawat, dia sibuk main game yang ada di sandaran kursi tepat di hadapannya. Sedangkan si bungsu, agak rewel karena kurang nyaman tidur di pesawat. Tapi, ya semua masih bisa diatasi meski pas mau landing dia malah nangis kejer hanya karena mau cuci tangan di wastafel…kwkwk.


Kami tiba di bandara Ataturk Istanbul saat Shubuh. Segera shalat dan melanjutkan perjalanan tanpa istirahat dulu di hotel. Perjalanan cukup panjang dari Indonesia ke Turki dilanjutkan lagi traveling hingga malam hari.

Capek banget. Tapi, mungkin pihak travel juga mempertimbangkan waktu kami yang pastinya akan terbuang sia-sia jika kami harus istirahat dulu. Berada di Turki selama 3 hari 2 malam itu benar-benar diisi dengan traveling. Jadwal kunjungan ke sana sini benar-benar padat banget. Kayaknya waktu istirahat hanya sedikit. Malam sampai hotel, pagi sudah berangkat lagi dan langsung pindah ke hotel berikutnya. Di bus kami juga bisa lebih santai karena jarak antara satu tempat ke tempat lainnya kadang lumayan jauh.

Saya lupa tepatnya hari ke berapa saat berkunjung ke museum Topkapi ini. Yang pasti, saat kami ke sana memang sedang musim dingin. Pakai jaket tebal pun rasanya nggak bisa menghilangkan hawa dingin yang menusuk. Bisa kebayang ya orang-orang di Timur Tengah yang sedang menghadapi konflik dan harus bertahan hidup di musim dingin yang kabarnya kali ini cukup ekstrem. Musim dingin biasa aja rasanya nggak betah lama-lama di luar. Bagaimana dengan mereka yang harus tidur di tenda berupa terpal tanpa penghangat ruangan? Hiks. Sedih banget mengetahui itu.

Buat kami yang nggak terbiasa, apalagi sudah lama di Jakarta yang panas, musim dingin seperti mimpi buruk. Nggak lama di Turki, Dhigda sudah meler hidungnya. Flu dan mulai rewel. Tapi, selama di perjalanan dia cukup menikmati dan lebih banyak tidur di bus. Masuk ke museum Topkapi kayak nggak terlalu fokus karena sibuk memerhatikan kondisi anak-anak. Mereka nggak terbiasa dengan suhu sedingin itu, jadi lumayan agak rewel. Begitu juga dengan emaknya yang sibuk menggosok-gosok tangan demi menghilangkan dingin. Padahal sudah pakai sarung tangan…haha.

Apa sih Topkapi Palace Itu?


Topkapi Palace merupakan istana yang dibangun tepat di atas bukit pada masa pemerintahan Sultan Mahmed II. Istana ini juga menjadi kediaman resmi Sultan Utsmaniyah selama 600 tahun lebih. Tepatnya pada tahun 1465-1856.

Museum ini memang benar-benar menjadi daya tarik tersendiri bagi para traveler ketika berkunjung ke Turki. Bagaimana tidak, di dalam museum ini kamu bisa melihat langsung koleksi benda-benda bersejarah termasuk pedang Rasulullah saw. Sayangnya, ketika masuk ke dalam, kita dilarang mengambil gambar.

Topkapi Palace ini terletak di pinggir pantai selat Bosphorus, bahkan lokasinya nggak jauh dari Hagia Sophia. Topkapi dikelilingi oleh tembok besar yang di dalamnya terdapat bangunan tempat Raja, keluarga, serta para pembantunya tinggal.

Total luas dari Topkapi Palace ini kurang lebih 700.000 meter persegi. Topkapi juga dikelilingi oleh benteng sepanjang 5 kilometer. Luas banget dan nggak mungkin mengelilingi seluruhnya dalam waktu singkat.

Saya nggak banyak mengambil foto selama ada di sana. Selain karena rempong dengan si bungsu, saya juga kurang antusias terlalu lama memegang handphone karena benar-benar kedinginan…kwkwk. Jika ada rezeki, saya ingin main ke Turki selain di musim dingin. Sungguh, main salju itu memang asyik, tapi kedinginan itu nggak banget.

Ada apa saja di Topkapi Palace?


Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, kebanyakan dari kita terutama yang muslim pasti penasaran banget dengan benda-benda peninggalan Rasulullah saw. Seperti apa pedangnya?

Sayangnya, ketika masuk ke dalam, kita dilarang berfoto atau mengambil foto. Jika kamu jalan-jalan ke blog teman-teman yang lain, jawabannya pun akan sama. Kami hanya bisa menceritakan benda-benda apa saja yang kami lihat di sana tanpa bisa menunjukkan gambarnya.

Benda-benda peninggalan Rasulullah saw disimpan di dalam ruangan khusus bernama Pavilion of Holy Mantle dan Holy Relics. Di sana kamu bisa melihat jubah peninggalan Rasulullah saw, helai janggut, patahan gigi saat perang Uhud, pedang, bahkan hingga cetakan telapak kaki Rasulullah saw.

Selain itu, kamu juga bisa melihat surban Nabi Ibrahim, pedang Nabi Dawud hingga tongkat Nabi Musa. Lebih menarik lagi, di sini kamu pun bisa melihat kunci Ka’bah dan semuanya asli, nggak ada replikanya.

Kabarnya, semua benda bersejarah ini sebagian memang sengaja diamankan dari beberapa negara karena khawatir dihancurkan oleh penjajah.

Istana Topkapi dijadikan museum pada tahun 1924


Istana Topkapi akhirnya dijadikan museum pada tahun 1924 berdasarkan dekrit pemerintah setelah jatuhnya Utsmaniyah pada tahun 1921. Topkapi menjadi salah satu wilayah yang amat bersejarah di Istanbul serta resmi menjadi bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO.

Karena penuh dengan benda-benda bersejarah, maka tak heran jika di sini juga sering terjadi perampokan seperti yang terjadi pada tahun 1999. Saat itu, sebuah Alquran pada abad ke-17 dicuri. Biasanya petugas museum disuap oleh para turis untuk mengambil benda-benda bersejarah. Nggak heran, ketika berkunjung ke sana banyak juga petugas keamanan seperti tentara dengan senjatanya yang berjalan ke sana kemari serta berjaga di beberapa titik di lokasi itu.

Jika kamu berkunjung ke Turki, pastikan kamu berkunjung ke Topkapi Palace dan melihat langsung peninggalan sejarah berupa benda-benda peninggalan para Nabi dan tentunya benda peninggalan Rasulullah saw. Saat kami ke sana, wisatawan cukup ramai, bahkan kami berjalan pelan karena padat merayap seperti jalanan di Ibu Kota…hehe.

Dan perlu diingat juga, bahwa di sana nggak berbeda dengan di negara kita, ada orang-orang berwajah manis yang kadang memang punya niat nggak baik. Sehingga di mana pun kita berada harus tetap berhati-hati dan menjaga diri. Bahkan guide kami pun mengatakan itu berkali-kali setiap kami berkunjung ke beberapa lokasi di Turki.

Salam,

Custom Post Signature

Custom Post  Signature