Top Social

Cara Mengirimkan Naskah ke Penerbit Mayor

Foto: Pexels.com

Kemarin, saya sempat mengadakan sharing di wag Estrilook Community tentang buku terbaru saya yang terbit di Quanta. Salah satu pertanyaan yang menarik adalah Bagaimana cara menerbitkan buku di penerbit mayor?

Dua tahun yang lalu, pertanyaan itu pun mampir di benak saya. Bagaimana cara mengirimkan naskah ke penerbit mayor? Apa saja yang harus dikirim? Apakah cukup naskah dan perkenalan atau ada hal lain yang perlu dikirimkan juga?

Kadang mencari di Google pun jawabannya nggak maksimal, sebab tidak banyak yang membahas soal ini. Pada dasarnya, sebelum kamu mengirimkan naskah ke penerbit mayor, kamu harus tahu dulu karakter penerbit tersebut. Jangan sampai kamu salah mengirimkan naskah pada penerbit. Satu contoh mudah misalnya, kamu mengirimkan naskah islami pada penerbit yang nggak pernah menerbitkan naskah islami. Bukan karena mereka anti Islam…haha, tapi memang kamu sendiri yang tidak mempelajarinya sehingga kamu pun siap bunuh diri di sana alias ditolak mentah-mentah.

Biasanya, ada penerbit yang memang khusus menerbitkan naskah islami, ada juga khusus menerbitkan naskah anak-anak, ada juga yang memilih fokus menerbitkan buku-buku seputar pendidikan saja. Nah, ini harus benar-benar kamu pelajari. Naskah ditolak kadang nggak berarti naskah kamu buruk, lho. Bisa jadi karena tidak sesuai saja dengan keinginan penerbit.

Penting sebelum memutuskan mengirimkan naskah ke penerbit mayor, kamu sudah membaca beberapa buku yang diterbitkan oleh mereka. Kamu bisa membeli atau melihat-lihat di toko buku. Supaya apa? Supaya naskah kamu tepat sasaran aja…hehe.

Setelah itu, kamu bisa mencari email penerbit dari teman-teman lain sesama penulis yang pernah menerbitkan naskahnya di sana, kamu juga bisa menghubungi penerbit langsung untuk menanyakan email. Banyak jalan menuju Roma. Katanya, Orang sukses mencari jalan, orang gagal mencari alasan!

Nah, kamu termasuk orang sukses, akan sukses, atau malah sebaliknya? Hmm, daripada kamu galau, mending perhatikan apa saja yang perlu dipersiapkan ketika hendak mengirimkan naskah ke penerbit mayor.

Siapkan outline lengkap

Foto: Pexels.com
Sebelum mengirimkan naskah utuh, kamu juga perlu membuat outline. Apa sih outline itu dan isinya apa saja? Outline merupakan kerangka atau garis besar dari naskah yang kamu buat. Outline terdiri dari banyak hal, termasuk judul, alternatif judul. Selengkapnya kamu bisa membacanya di sini.

Sebagian penerbit mayor juga mau menerima outline dan beberapa halaman (10-15 halaman) contoh naskah kamu, lho. Dengan cara ini, kamu nggak perlu mengerjakan naskah utuh sekaligus kemudian mengirimnya ke penerbit. Kamu cukup mengerjakan sebagian saja dan kirimkan kepada penerbit. Setelah mereka mempertimbangkannya, naskah kamu bisa diterima atau sebaliknya. Jika diterima, kamu harus segera menyelesaikannya. Lebih mudah ya?

Tapi, buat saya, untuk mengerjakan outline yang sudah lama ditulis butuh energi baru. Udah nggak fresh aja gitu. Apalagi kalau tiba-tiba ada beberapa outline yang diterima sekaligus, mabuk beneran…haha.

Kirimkan naskah utuh

Foto: Pexels.com
Kebanyakan penerbit mau menerima dan mempertimbangkan naskah utuh karena naskah yang hanya berupa outline dan beberapa contoh nggak bisa dilihat secara menyeluruh, apakah layak atau tidak.

Kalau dipikir, memang benar adanya. Tapi, kadang kitanya malas mengerjakannya ya kalau belum pasti diterima…haha. Padahal ‘kan bisa jadi sarana belajar juga yang pastinya nggak akan sia-sia. Jadi, ada baiknya kamu mengirimkan naskah utuh atau yang sudah selesai dan dilengkapi juga dengan kata pengantar serta blurb ke penerbit. Itu bisa jadi nilai lebih. Kalau bisa, kamu juga dapat melengkapinya dengan endorsement dari penulis senior yang kamu kenal.


Lengkapi data diri dan portfolio

Foto: Pexels.com
Jangan minder hanya karena kamu seorang pemula. Nggak perlu khawatir portfolio kamu belum seberapa. Kebanyakan penerbit akan mempertimbangkan naskah kamu, bukan tentang siapa dirimu. Jika naskah kamu memang layak, pastinya editor akan menerimanya, kok.

Karena alasan itulah, saya nggak pernah minder mengirimkan naskah kepada penerbit mayor. Ditolak berkali-kali sampai editor malas jawab juga pernah…kwkwk. Dikasih alasan bahkan diberi saran juga pernah. Nggak dibalas juga pernah. Apa pun itu, ya nggak perlu dijadikan alasan untuk menyerah. Jika ditolak, saya yakin memang naskah saya nggak layak. Sudah. Lupakan dan menulislah yang baru. Perbaiki yang perlu dan kirim kembali.

Selama kamu berusaha, pasti Allah kasih jalan, kok. Kenapa kamu mudah banget menyerah? Pikirkan segala kemungkinan bukan dengan bersandar pada logika dan akal kita, tetapi pada Allah yang punya semesta.

Perkenalkan diri dan tawarkan naskah kamu dengan sopan

Foto: Pexels.com
Kamu bisa memperkenalkan diri (bisa ditulis di badan email) kepada penerbit secara singkat. Tunjukkan bawah kamu ingin mengirimkan naskah dan berharap bisa diterbitkan. Nggak usah lebay juga kata-katanya, santun dan efektif saja kalimatnya.

Tahap ini menjadi awal perkenalan kamu dengan editor. Kalau di sini sikap kamu sudah tidak menyenangkan, bisa jadi berikutnya editor malas membuka naskah kamu. Miris banget, kan?

Butuh waktu 1-3 bulan untuk mendapatkan jawaban

Foto: Pexels.com
Ya, itulah beratnya menulis buku. Menulisnya saja sudah butuh waktu panjang, kemudian harus menunggu jawaban iya atau tidak saja hingga berbulan-bulan. Masya Allah. Memang rasanya berat dan panjang banget prosesnya. Tapi, jika kamu sudah berhasil melakukannya satu kali saja, berikutnya pasti akan ketagihan.

Selama menunggu, jangan cerewet dan banyak bertanya. Biarkan saja naskah kamu mencari jodohnya sendiri. Kadang editor akan meresponnya secara langsung. Kadang mereka diam sampai 3 bulan ke depan bahkan selamanya..haha. Jika sampai 3 bulan tidak ada jawaban, kamu bisa menanyakannya pada penerbit atau langsung menarik naskah kamu dengan mengirimkan surat penarikan lewat email baru kemudian bisa kamu kirimkan ke penerbit lain.

Selamat! Naskah kamu diterima!

Foto: Pexels.com
Dari semua tahapan di atas, ada satu tahap yang harus benar-benar kamu nanti dan kamu usahakan. Ya, tahapan di mana naskah kamu diterima oleh penerbit. Ngapain juga setelah perjuangan panjang tiba-tiba kamu nggak mau mencoba lagi? Ditolak sekali mah biasa. Lihat saja, penulis setenar Tere Liye saja pernah ditolak. Malu juga ngapain, ketemu editornya saja tidak pernah…kwkwk. Ini yang dikatakan ibu pada saya kemarin, “Pantaslah kamu nggak malu kirim naskah, kamu ‘kan nggak pernah ketemu juga sama yang punya.”

Haha…iya, bener banget. Kalau jadi penulis, hati mah dikuatin biar nggak gampang luka (meski ini susaaah), telinga disumpel kapas biar nggak bisa mendengar orang meremehkan kamu, semangat kamu pun harus dipompa terus biar nggak pernah putus asa. Mau nggak mau, setiap yang mau berhasil harus melalui banyak cobaan dan ujian. Ini bukan lagi drama di sinetron azab atau hidayah, ya. Ini kenyataan yang harus kamu terima.

Ingat, keberhasilan itu ada di tangan kamu, bukan di tangan orang-orang yang meremehkan dan menertawakanmu. Semua orang bebas mangatakan apa pun tentang dirimu, kamu juga mustahil melarang mereka. Tapi, kamu bisa mengendalikan diri dan hati kamu supaya tidak mudah terluka atas apa yang telah mereka katakan. Orang lain memang pandai berkata, tapi belum tentu mereka bisa sebaik dirimu!

Salam,

Begini Cara Memulai Profesi Sebagai Penulis Khusus Buat Kamu yang Pemula

Foto: Pexels.com

Beberapa hari ini saya sempat bertemu sama teman-teman yang sebenarnya pengen banget jadi penulis, tetapi nggak tahu harus memulai dari mana. Hmm, menjadi penulis buku atau seorang blogger tidak mengharuskan kamu memiliki bakat. Kamu yang merasa hanya punya kemampuan pas-pasan pun bisa menekuni profesi satu ini asalkan kamu punya keinginan kuat. Semuanya bisa dipelajari satu per satu asal kamu mau serius menekuninya.

Masalahnya, yang saya lihat selama ini tidak demikian. Ada orang yang katanya mau jadi penulis, tetapi sama sekali tidak meluangkan waktu untuk hobinya. Bahkan seminggu sekali posting pun nggak ada waktu. Kadang, saya pun merasa berlebihan ketika menjelaskan sesuatu yang berhubungan dengan profesi sebagai penulis. Yup! Rupanya saya sendiri jauh lebih bersemangat daripada mereka yang katanya ingin belajar…kwkwk.

Bukannya nggak merasa, saya merasa banget, lho. Iya, saya ini menggebu banget (untuk menjelaskan) ketika ada orang yang bertanya, ‘Bagaimana saya harus memulai? Dari mana saya mulai? Saya ingin jadi penulis, tetapi nggak tahu caranya?’ dan seabrek kalimat serupa yang rupanya justru membuat saya pribadi yang lebih bersemangat.

Karena ini adalah profesi yang menjadi keseharian saya, tak berbeda dengan makan tiga kali sehari, rasanya tidak ada alasan untuk berhenti menyemangati seseorang yang baru saja masuk ke dunia literasi dan mencoba serius di dalamnya, meskipun pada akhirnya banyak yang juga yang tumbang di tengah jalan. Itu bukan masalah, dan saya pikir tidak ada yang sia-sia.


Meski saya sudah berusaha membantu seseorang semaksimal yang saya bisa, pada akhirnya, tetap pribadi masing-masinglah yang menentukan kesuksesannya sendiri. Benar, kan?

Walaupun kita sampai jungkir balik menyemangati, kalau orangnya aja lempeng, melempem, mana bisa berhasil? Pada akhirnya kita sendirilah yang menentukan keberhasilan itu. Mau berjuang lebih, mau berusaha lebih, atau hanya diam di tempat?

Menulis memang bukan aktivitas yang mudah dikerjakan secara rutin. Jujur saja, apalagi dalam kondisi badan capek setelah mengerjakan banyak hal, godaan untuk istirahat dan tidur lebih cepat itu susah banget ditolak. Beberapa hari ini saya bahkan ketiduran tanpa saya ingin…haha. Ya, tidur karena ketiduran dan tahu-tahu udah pagi. Ish, kesel bukan main karena rencananya mau menulis. Semalam, hingga jam 10 malam, anak-anak masih minta dibacakan buku dan bercerita, saya pun ikut tepar setelahnya.

Kalau sudah begitu, masa iya mau menyesal dan menyalahkan diri sendiri? Kalau tidak ada pekerjaan yang darurat, ya terima saja, sebab tubuh kita juga butuh istirahat, kan? Kita bukan robot, yang bisa mengerjakan banyak hal tanpa merasa lelah atau mengantuk. Kita manusia yang nggak jauh dari capek. Anggap saja itu vitamin yang bisa menyehatkan dan bikin hari esok jauh lebih baik.

Bicara tentang kebingungan seorang pemula yang ingin menulis, saya pikir nggak banyak trik khusus yang bisa dilakukan kecuali banyak belajar dan berlatih. Semua yang saya kerjakan selama ini dilakukan secara otodidak. Baik saat menulis artikel atau buku. Saya juga ikut kelas menulis online, tapi jika kamu memang tidak punya kesempatan untuk ikut kelas, kamu bisa belajar dari internet. Zaman sekarang, informasi apa yang nggak ada di Google? Semua  bisa dengan mudah kamu cari.

Tapi, jika kamu mau belajar dari saya, beberapa tahapan ini rasanya sangat cocok buat penulis yang masih pemula dan nggak tahu mau memulai dari mana.

Bikin blog

Foto: Pexels.com
Kemarin ada seorang teman yang bingung mau mulai menulis dari mana, saya sarankan mulailah menulis di blog hingga lancar. Bikin blog nggak harus berbayar, kamu bisa banget bikin yang free pakai Blogspot untuk sementara waktu. Blogspot jauh lebih simpel daripada Wordpress. Tutorialnya pun seabrek di Google jika kamu ingin mencari.

Kamu yang suka bingung mau menulis dari mana, mulailah menjadi blogger dan isilah blog kamu sesering mungkin. Jika tidak ada alasan darurat jangan tinggalkan hobi menulis itu, sebab akan membuatmu lebih sulit menyelesaikan tulisan.

Ini tidak hanya saya alami sendiri, teman saya pun mengakuinya. Jika kita berhenti menulis terlalu lama, maka kita harus memulai semuanya dari nol lagi. Susah menyelesaikan tulisan, jadi malas, ide menumpuk, tetapi nggak ada yang bisa dituntaskan. Itulah kenapa, terutama bagi kamu yang pemula, menulis dengan rutin seperti yang dianjurkan oleh Tere Liye adalah prioritas dan nggak bisa disebut main-main.

Setelah menulis menjadi bagian dari diri kamu yang nggak terpisahkan, sekali waktu kamu bisa mencari jeda. Tapi, bukan berarti kamu berhenti juga, ya.

Tulis pengalaman pribadi dan paling lekat dengan kehidupan kamu

Foto: Pexels.com
Setelah blog kamu jadi, kamu bisa mulai menulis apa pun asal bermanfaat dan bukan sekadar curhat. Jadikan itu latihan yang tiada henti. Kerjakan sebisa mungkin setiap hari meskipun hanya satu paragraf per hari. Tentu itu jauh lebih baik demi melatih kemampuan menulismu.

Ambil tema sehari-hari yang biasa kamu kerjakan. Yang lekat dengan kehidupan kamu dan kamu kuasai. Misalnya, kamu menulis tentang pendidikan karena selama ini kamu memang berprofesi sebagai guru. Itu adalah pilihan tepat karena pastinya tema itu akan sangat kamu kuasai.

Kalau di awal kamu ambil tema-tema yang sulit, khawatir kamu justru lebih berat mencari referensi dan akhirnya batal menulis. Mending ambil tema-tema yang lekat dengan kehidupan kamu, bahkan hal kecil bisa jadi ide menarik jika kamu pandai mengemasnya.

Menulislah setiap hari

Foto: Pexels.com
Seperti saya katakan sebelumnya, menulis setiap hari adalah latihan yang wajib dan kudu banget kamu kerjakan jika memang ingin sukses dan berhasil. Orang yang suka kehabisan ide biasanya karena kurangnya membaca dan jarangnya berlatih.

Jika kamu sudah terbiasa menulis, ide kecil dan sederhana sekalipun bisa jadi tulisan menarik. Percaya, kamu memang harus melakukan tahapan ketiga ini jika memang serius ingin jadi penulis. Gimana, sanggupkah?

Jangan malas belajar

Foto: Pexels.com
Jika kamu ingin menulis artikel, kamu harus membaca dan belajar dari artikel penulis lain. Jika kamu ingin menulis cerita anak, kamu wajib membaca buku-buku kumpulan cerita anak yang mudah ditemukan di toko buku.

Jalan-jalan ke toko buku pun menjadi agenda yang wajib kamu lakukan supaya kamu tahu, tulisan seperti apa sedang banyak dicari saat ini. Saat datang ke toko buku, ide-ide baru bermunculan. Kamu jadi tahu, kira-kira apa yang akan kamu tulis selanjutnya.

Mulailah!

Foto: Pexels.com
Dari sekian banyak trik dan tahapan yang telah kamu pelajari, tidak ada yang bisa terjadi jika kamu nggak pernah memulainya. Impian sebagai penulis hanya akan jadi angan, lama-lama menguap atau ditelan angin.

Jika kamu tidak pernah memulai, lalu kapan kamu tahu, apakah kamu berhasil atau tidak? Jika kamu tidak pernah berani memulainya, kamu tidak akan pernah merasakan seperti apa perjuangannya. Impian hanya jadi impian. Dan buat saya, itu menyakitkan.

Iya, menyakitkan banget punya impian tapi nggak pernah kita perjuangkan dan nggak pernah kita cecap proses dan perjalanannya. Jatuh dan bangun itu hal biasa. Kadang menangis, kecewa, melakukan kesalahan, gaptek, sama sekali nggak mengerti, merasa bodoh, adalah hal yang nggak perlu kamu takutkan, apalagi kamu anggap memalukan.

Setiap penulis yang karyanya sudah majang di toko buku atau blogger yang telah sukses, pasti pernah mengalami yang namanya gagal dan jatuh. Mereka semua juga memulai dari nol, dan kita nggak pernah bertanya, berapa lama mereka berproses hingga sampai pada posisi sekarang? Kita nggak pernah bertanya tentang itu. Kita hanya fokus dan peduli bahwa mereka sudah sukses tanpa mau tahu seperti apa perjalanan panjang di balik semua keberhasilan itu.

Dan kita pun akhirnya ingin seperti mereka dengan cara yang instan. Kalau susah sedikit mengeluh, capek dikit berhenti, nggak mau belajar dan berlatih, bahkan membaca saja malas. Ya sudah, mungkin kamu harus rela mengubur impianmu dalam-dalam. Supaya nggak hanya merepotkan orang lain di sekeilingmu *jahad…kwkwkwk.

Apa sih, serius banget membaca omelan saya…haha. Jangan diambil hati, ya. Itu hanya kalimat yang tiba-tiba saja meluncur tanpa mau dibatasi…haha. Never give up! Semua yang mau berusaha dan berjuang Insya Allah punya kesempatan dan harapan yang sama besar. Jangan sampai rasa malas dan putus asa masuk melalui kisi-kisi jendela kamarmu. Jangan beri celah sedikit pun dalam hatimu untuk menyerah. Sebab jika itu terjadi, impianmu hanya akan jadi sekadar impian. Miris banget, kan?

Salam,

Buku ‘Agar Suami Tak Mendua’ dan Perjuangan Selama Hampir 5 Tahun




Kangen banget mengisi blog yang sebulan kemarin bisa hampir setiap hari, minggu-minggu ini sedikit agak berkurang karena saya memilih fokus mengerjakan naskah buku yang outline-nya kemarin baru saja di-acc. Karena jumlahnya lumayan, sekaligus 3 outline, jadi agak menyita waktu. Sebisa mungkin nggak saya bikin santai selama saya bisa. Alhamdulillah, tinggal satu naskah lagi yang harus dirampungkan.

Sebelum menulis ini, saya kerjakan dulu beberapa bagian dari naskah saya, menulis di blog adalah bonusnya…haha. Ya, itu cara saya supaya nggak melulu menunda pekerjaan yang sebenarnya jadi prioritas. Jika saya telah menyelesaikan naskah, biasanya saya akan memberikan hadiah kepada diri sendiri dengan jalan-jalan ke toko buku dan membeli beberapa yang saya suka. Sederhana banget tapi itu yang saya kerjakan setahun terakhir.

Perjuangan selama hampir 5 tahun akhirnya berbuah manis


Beberapa hari yang lalu, seorang berdiri di depan pintu pagar rumah sambil membawa paket. Bukan ojol atau kurir lain yang biasa mangantar barang ke rumah. Dia juga tidak membuka helm dan maskernya. Pakai kacamata hitam pula, jadi agak ngeri nyemperin dan ragu mau buka gembok…kwkwk.

“Paket, Mbak.”

Owh, ternyata paket. Tapi, dari siapa ya? Kayaknya saya nggak merasa pesan buku selama beberapa hari ini. Kemudian saya menanyakan, dari mana? Gramedia. Nah, lho. Sejak kapan saya belanja buku di sana? Kwkwk, semakin misterius saja. Semoga itu bukan bom *lebay..kwkwk.


Saat dia mengambil pulpen, barulah saya paham itu paket dari penerbit Elex Media. Yess! Ternyata itu buku bukti terbit. Masya Allah. Rasanya pengen lompat-lompat kalau saja nggak ingat ada masnya masih mematung melihat saya kebingungan plus pakai kacamata pinky yang nggak banget…kwkwk.

Buru-buru saya masuk rumah setelah menerima paket dan membukanya. Allahu Akbar. Itu naskah pertama saya. Itu buku yang saya tulis tahun 2014 silam kini sudah menjelma menjadi buku yang cantik dan manis sekali. Saya menangis sambil memeluk si bungsu dan nggak tahu mau berkata apa.

Sempat menyerah dan mencoba ikhlas


Bahkan dua tahun kemarin, saya menyerah dan tidak mengharapkan buku itu terbit lagi. Saya ikhlaskan itu di penerbit pertama yang menurut saya sangat tidak amanah karena tidak memberikan kabar sejak 2014-2017. Terakhir buku itu saya dengar sudah antre cetak, bahkan saya cek sendiri sudah terdaftar ISBN-nya. Saya tanyakan berulang kali, tapi jawabannya sama. Hingga 2017 saya kembali memastikan kabarnya yang ternyata qadarallah gagal terbit tanpa alasan jelas. Ya, menurut mereka itu adalah hal biasa. Banyak buku penulis yang akhirnya gagal terbit. Owh, mungkin itu tidak biasa buat saya, terutama jika tidak diberikan kabar. Kami penulis tidak sekadar mengejar royalti, tapi ketika kami kirimkan naskah, kami sangat berharap buku bisa terbit.

Gimana rasanya? Sedih, kesel, tapi nggak bisa ngapa-ngapain. Tapi, Gusti Allah mboten sare. Apa yang sudah menjadi rezeki saya tidak akan ke mana-mana, tidak akan pula tertukar. Apa yang telah menjadi hak saya, Insya Allah akan kembali pada saya. Saya tanamkan itu dalam hati meski saya tidak tahu bagaimana caranya supaya buku itu terbit.

Hingga suatu hari, seorang teman menganjurkan saya menarik naskah itu dan mengirimkannya ke salah satu penerbit mayor. Dan saya melakukannya. Sekitar bulan Juli 2018, naskah itu saya kirimkan dengan catatan telah memiliki ISBN dan gagal terbit. Alhamdulillah, sekitar dua bulanan, naskah saya mendapatkan kabar baik dan diterima di Quanta, lini dari Elex Media.

Masya Allah, bahagia banget rasanya saat itu. Saya bilang siap merivisi jika ada yang perlu diperbaiki. Alhamdulillah, tidak ada revisi. Kontak sama editor sangat jarang. Beliau hanya menghubungi ketika meminta sinopsis dan data diri. Saya pun tak mau cerewet sehingga tidak pernah menanyakan bagaimana kabar naskah saya. Ya, itu 'kan baru beberapa bulan lewat, sedangkan sebelumnya saya sudah melewati waktu bertahun-tahun…hihi.

Sekitar Januari lalu, editor kembali menghubungi saya dan memberikan contoh cover. Itu artinya buku saya siap terbit. Tapi, saya nggak cocok dengan cover pertama dan memutuskan meminta revisi atau ganti dengan beberapa contoh seperti yang saya inginkan. Alhamdulillah, hasilnya sesuai keinginan, lebih menjual, terlihat manis, dan islami. Dan editor bilang buku itu akan segera terbit.

Waktu kayaknya berlalu lambat banget. Nungguin beberapa minggu aja kayaknya lama banget. Saya tidak sabar menunggu buku itu terbit. Dan Alhamdulillah, beberapa hari lalu, buku ini sudah terbit dan saya bisa memeluknya *lebay nggak sih…haha.

Buku ini terdiri dari 400 halaman. Berisi kisah fiksi inspiratif di setiap bab serta ulasan disertai dalil. Di setiap bab, kamu juga bisa membaca quote yang Insya Allah bikin sadar diri…haha. Judulnya memang bikin deg-degan kata orang…haha. Tapi, ini bukan berarti kami para perempuan menentang poligami, ya. Buku ini lebih fokus menjelaskan lebih detail kewajiban dan peran seorang istri kepada pasangannya.

Tadi sempat baca-baca lagi  sekilas dan merasa ada cerita yang lucu tapi manis, serta ulasan yang mak jleb. Jadi, berkaca-kaca lagi, ini buku pertama saya yang harusnya terbit beberapa tahun lalu, tapi Allah Mahabaik. Dan saya percaya, Allah tahu yang terbaik buat saya meski dulu saya merasa ini nggak adil banget!

Buku ini saya tulis selama dua minggu. Dan kini sudah bisa kamu dapatkan di toko buku seperti Gramedia dan kawan-kawannya. Jika kamu malas atau jarang keluar, kamu bisa pesan langsung di Gramedia online. Kemarin saya cek sudah masuk dan tersedia.

Kalau kamu ketemu buku ini, jangan lupa foto dan tag saya. Suatu kebahagiaan tersendiri bagi penulis jika ada bukunya yang dibeli dan dibaca sehingga bisa lebih bermanfaat. Dan sekadar info, penulis itu nggak punya stok banyak buku karena kami memang bukan toko buku *yaiyalah…haha. Kami hanya mendapatkan 6 pcs buku sebagai bukti terbit dengan syarat satu buku dikembalikan lagi pada penerbit bersama surat perjanjian.

Kadang kaget juga ketika ada yang sampai inbox minta dikirimkan buku. Bukannya kami pelit, terutama seperti kami yang pemula, royalti belum seberapa, kebayang kalau harus membagikan buku kepada semua orang? Haha. But, it’s oke. Mungkin mereka belum memahami dunia penerbitan, saya memaklumi. Jika saya ingin punya lebih, saya pun harus membelinya sama seperti pembaca lain. Tapi, yang istimewa tentu saja tentang apa yang kita tulis, yang kemudian dicetak dan berharap bisa jadi lebih bermanfaat bagi banyak orang sehingga bernilai pahala. Ustadz saya bilang, ini dakwah lewat buku. Masya Allah semoga demikian adanya.

Tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada keluarga terutama ibu yang tak pernah lepas mendoakan,  kepada teman, serta mentor saya yang telah mendoakan dan mendukung saya selama ini. Alhamdulillah, perjuangan panjang berbuah manis. Sebab yang namanya rezeki tidak akan berlalu dan berpaling. Apa yang sudah jadi hak kita akan kembali juga pada kita. 


Istri itu ibarat sebuah rumah. Tempat berteduh dari panas, tempat berlabuh saat lelah, dan tempat yang damai saat gelisah. Meski kita semua tak bisa menyajikan kehidupan yang sempurna bagi suami, tetap berusaha menjadi istri yang selalu ada saat suami butuhkan, itu sebaik-baiknya seorang istri. Buku ini membuat degup jantung saya berdebar kencang, sudahkah saya menjadi perempuan istimewa di mata suami? Bismillah, semoga bukan hanya saya, tapi kita semua, para perempuan sholehah pembaca buku ini. (Indari Mastuti, CEO INDSCRIPT Corp)

Salam,

Dari Ngeblog Hingga Menulis Buku

Foto: Pexels.com

Memangnya bisa blogger menulis buku? Kayaknya ini bukan rahasia lagi, sudah banyak blogger yang melanjutkan hobi menulisnya dengan menulis buku. Ngeblog dan nulis buku itu punya keistimewaan tersendiri. Buat saya, keduanya sama-sama menarik dan menyenangkan. Bedanya, kalau mau menulis buku, butuh motivasi kuat dulu supaya bisa kelarin naskah yang lumayan bikin ngos-ngosan. Sedangkan ngeblog, lebih santai karena kita nggak dituntut menulis dalam jumlah yang banyak.

Saya bersyukur banget pada akhirnya bisa menikmati keduanya. Meski kenyataannya, ilmu ngeblog saya belum ada apa-apanya. Masih remahan rengginang di dalam kaleng Khong Guan…haha. Saya masih harus belajar lebih banyak lagi. Tapi, sebisa mungkin saya berusaha aktif mengisi blog. Kalau bisa setiap hari, kalau terpaksa libur, minimal seminggu sekali. Yang paling penting, saya menikmatinya.

Kayaknya udah lama nggak mendengar kabar naskah di-acc oleh penerbit mayor. Terakhir kali ketika saya mengirimkan naskah nonfiksi ke penerbit indie lewat jalur seleksi dan lolos. Setelah itu saya sibuk dengan website Estrilook, sibuk ngadain event, dan membuat kelas menulis artikel. Intinya sok sibuk banget…hihi.


Sejak Januari lalu, saya sudah membuat outline untuk naskah baru. Sudah ada beberapa bab yang saya tulis. Kemudian saya tinggalkan karena merasa ada ide lain yang lebih menarik dan harus segera dituntaskan. Ini penyakit penulis pemula seperti saya. Suka bingung mau merampungkan yang mana dulu. Akhirnya malah nggak ada yang selesai. Miris banget!

Hingga tadi pagi, saya masih serius mengerjakan satu naskah anak. Sudah hampir setengahnya rampung hingga kemudian dapat kabar bahwa 3 naskah saya diterima oleh penerbit mayor. Masya Allah. Rasanya udah lama banget nggak dapat labar gembira seperti ini.

Tiga naskah yang diterima oleh penerbit mayor ini tidak semua saya tulis sendiri. Dua dari tiga naskah saya tulis bersama seorang teman. Bikin buku duet juga asyik, lho. Malah enak bisa lekas rampung…hehe.

Berbeda dengan ngeblog yang bisa langsung kita terbitkan kapan pun kita mau, menulis buku apalagi untuk penerbit mayor benar-benar harus sabar. Butuh waktu yang kadang nggak jelas meski naskah dan ilustrasi sudah selesai dikerjakan. Kalau nggak sabar, kamu bisa tanyakan ke editor. Tapi, setahu saya, memang butuh waktu berbulan-bulan, bahkan hingga setahun demi melihat buku kita terbit dan dipajang di toko buku.

Kenapa bisa lama banget? Karena naskah yang masuk ke meja redaksi itu banyak banget. Editor harus melihat satu per satu. Kebayang dong ribetnya? Setelah diterima (waktu maksimal 3 bulan), naskah kamu akan diedit (ini juga nggak sebentar), kemudian naskah masuk tahap layout. Meski  naskah kamu udah rapi, segalanya udah matang dan bisa segera diproses, tetapi kenyataannya juga butuh waktu nggak sebentar. 

Seperti buku Agar Suami Tak Mendua yang saya tulis dan akan diterbitkan oleh Quanta. Sekitar Januari lalu, editor sudah memberikan gambar untuk cover bukunya. Sempat revisi sekali dan kemudian editor bilang akan segera terbit. Padahal sudah ‘akan’ segera terbit, tapi hingga sekarang belum juga terbit, lho. Kalau dihitung, yang cepat aja bisa hampir setengah tahun, apalagi yang perlu revisi dan perbaikan sana sini, kan?

Jadi, butuh banget kesabaran ketika kita mau menulis buku. Itulah bedanya dengan ngeblog. Belum lagi merampungkan naskahnya. Seperti buku saya yang kayaknya berisi 400 halaman…kwkwk. Duh, kenapa bisa setebal itu, ya? Kayaknya dulu biasa aja pas kirim…hihi. Kaget juga.

Dari ngeblog apa bisa sampai menulis buku? Bisa banget dong. Dengan ngeblog, kita belajar konsisten menulis. Jadi, kita nggak perlu banyak persiapan lagi. Cukup tuliskan satu bab per bab dari calon buku kamu sesuai jadwal yang telah kamu buat.

Biar nggak molor dan melenceng dari rencana, kamu harus tentukan jadwal, kapan kamu akan menyelesaikannya. Jika sehari kamu bisa menyelesaikan tiga halaman, berarti selama 15 hari kamu sudah dapat berapa halaman? Wah, udah banyak aja, ya? Yup! Hanya butuh sabar dan konsisten, jangan tergiur dengan ide baru yang bermunculan. Catat aja dulu ide lainnya supaya nggak menguap. Kerjakan setelah naskah kamu selesai.

Pernah jenuh nggak? Kadang jenuh karena nggak sabaran pengen banget segera pindah tema baru. Tapi, kalau kita pindah, akhirnya naskah nggak akan pernah rampung. Persiapkan dulu semuanya dengan matang, termasuk sumber referensinya. Ketika sudah memulai, kamu bisa lebih mudah mengerjakannya.

Siapa yang pengen punya buku solo juga? Siapa yang pengen lihat bukunya majang di toko buku? Siapa? Yuk, dicoba. Saya yakin, semua orang yang mau berusaha punya kesempatan yang sama besar, kok. Nggak usah minder, mulai saja dulu. Menulis bukan bakat, jika diulang-ulang, kamu akan mahir dengan sendirinya. Itulah alasan kenapa kita harus sering-sering menulis. Semangat!

Salam,

5 Hal yang Bikin Kangen Pesantren, Sederhana Tapi Keren



Tanggal 10 Maret 2019, Pondok Pesantren An-Nur III ‘Murah Banyu’ akan mengadakan reuni akbar. Seluruh alumni bakalan berkumpul dan mengikuti beberapa event menarik yang telah diadakan oleh panitia. Sebagai alumni, saya bahkan tidak pernah datang meski hanya sekali. Sejak boyong selepas STIKK (Sekolah Tinggi Ilmu Kitab Kuning) pada 2009, saya langsung pindah ke Jakarta dan menetap di sini.

Saya nggak pernah pulang sendirian. Bukannya dilarang sama suami, tetapi saya sejak kecil memang anak rumahan banget. Terbukti waktu di pondok saya nggak pernah bolos keluar*alasan…haha. Selain nggak pernah berpikir untuk pulang sendiri, saya juga memikirkan anak-anak yang sudah sekolah, suami yang ngantor lima hari dalam seminggu dan jarang ambil cuti panjang kecuali pas lebaran, dan rumah yang perlu diurus. Emak-emak mikirnya banyak banget emang, ya…haha.

Ketemu dan ngumpul bareng teman-teman memang merupakan suatu yang menyenangkan, terlebih sejak dulu kita nggak hanya satu kelas, tetapi juga satu kamar terutama saat STIKK. Kita udah ngerasain seneng bareng, nangis bareng, ‘gila’ bareng, bahkan baik bareng *kalau ingat.


Setelah kita menikah dan berkeluarga, bertemu dan ngobrol bareng adalah sesuatu yang sulit banget ditemui. Kita sudah sibuk sendiri, kita sudah punya pekerjaan yang menyita waktu, pokoknya serba ribet kalau sudah jadi emak-emak. Apalagi yang jarang keluar rumah sendiri seperti saya…huhu.

Lalu apa sih yang bikin saya kangen pesantren lagi setelah hampir sepuluh tahun menjadi alumni?

Selalu ingat pesan Kyai Qusyairi

Foto: Pexels.com
Saya yakin, hampir semua santri mengingat pesan-pesan Kyai, dan saya pun yakin, pesan yang kami ingat tidak selalu sama. Saya masih ingat, saat kami ngaji di jerambah depan kamar, Kyai pernah berpesan, “Jangan mudah menyalahkan orang (dalam hal agama) ketika kamu keluar dari pesantren. Karena di luar itu macam-macam isinya.”

Dan setelah tinggal dan menetap di Jakarta, saya baru sadar, rupanya banyak orang yang berbeda pandangan dengan saya meski akidah kami sama. Bahkan saya sempat ditolak oleh lingkungan saya sendiri. Tahun-tahun itu bukan hal yang mudah. Saya pernah menangis di jalan selepas pulang kajian. Alasannya bukan hanya karena saya cengeng, tetapi karena sempat ditertawakan dan ditegur secara blak-blakan di depan umum karena saya belum memakai hijab syar’i, padahal saya santri. Saya belum terbiasa menutup aurat dengan sempurna, termasuk nggak terbiasa memakai kaos kaki. Kalau mau egois, saya pasti tidak akan peduli dan keluar dari kajian saat itu juga. Bisa saja saya merasa paling benar mengingat saya santri. Tapi, qadarallah saya nggak seperti itu.

Pelan-pelan saya belajar dan tetap ikut kajian. Nggak mau menutup diri apalagi dendam. Saya yakin, cara mereka mengingatkan memang cenderung menyakitkan, tetapi bisa jadi memang ini yang terbaik menurut Allah. Mungkin dulu udah disentil tapi nggak merasa.

Pelan-pelan saya mengubah penampilan bukan karena takut dimusuhi, tetapi karena sadar saya salah. Yang biasanya canggung pakai hijau menutup dada, sekarang malah nggak nyaman kalau pakai hijab pendek apalagi pakaian ketat. Yang biasanya nggak pernah pakai kaos kaki kecuali waktu sekolah, sekarang berusaha memakai setiap keluar rumah.

Saya tinggal di lingkungan yang bukan ‘dunia’ saya dulu. Saya dekat dengan orang salaf, saya dekat dengan mereka yang nggak mau disebut NU atau Muhammadiyah, saya pun sering mendengarkan kajian dari ustadz-ustadz salaf. Saya benar-benar di luar lingkungan saya dulu. Terus kamu mau sok benar dan menyalahkan yang berbeda dengan kamu? Rasanya itu gila. Saya belajar untuk tidak mendebat orang yang berbeda pandangan. Saya belajar menerima jika yang lain berbeda dan mengambil apa yang baik. Toh, selama ini ustadz-ustadz yang saya ikuti tidak pernah mengajarkan yang aneh-aneh, nggak pernah nyuruh musuhan apalagi merendahkan, justru membantu saya lebih berhati-hati dalam menjalani hidup, terutama berhati-hati soal akidah.

Pesan Kyai dulu mungkin tak langsung saya terapkan saat pindah ke Jakarta. Ada saatnya saya merasa egois dan mau benar sendiri dan menyalahkan mereka yang berbeda. Tapi, belakangan saya mulai menyadari, yang begitu itu tidak tepat. Proses yang saya lalui tidak mudah, berbeda jika saya tinggal di lingkungan sendiri.


Saya sempat menuliskan perjalanan ini dalam sebuah antologi dan bisa dibeli di toko buku kesayangan kamu *tetap promosi…kwkwk.

Minim fasilitas, tetapi kreasi tak terbatas

Foto: Pexels.com
Zaman dulu, kita nggak banyak punya fasilitas seperti saat ini. Tapi, kreativitas justru sangat tinggi. Saya merupakan tim kaligrafi yang bertugas membuat dekorasi panggung ketika ada acara. Saya yang suka melek malam dan tidur setelah Shubuh karena semalam suntuk mengerjakan dekorasi panggung bersama ustadzah dan santri lain. Zaman dulu, semua dikerjakan manual. Motong Styrofoam sampai menjadi huruf dan diberi warna. Disusun dengan susah payah meski kenyataannya hanya dipakai semalam saja.

Saya masih ingat ketika hendak pergi mengikuti kompetisi kaligrafi, Kyai sempat bertanya, yang intinya seperti ini, “Sudah yakin bakal menang? Kalau tidak yakin, ngapain berangkat.” Jleb! Jujur saja saya percaya diri, tapi yang amatiran seperti saya masa iya bisa menang melawan peserta senior lainnya? Pertanyaan itu sebenarnya nggak sesederhana yang kita dengar. Jika boleh saya memaknai, maka saya akan katakan seperti ini,

Setiap impian itu butuh proses yang tidak mudah. Yakin menjadi salah satu kunci meraih mimpi. Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Maka yakinlah bahwa kita pun mampu meraih apa yang kita inginkan meski semua orang menertawakan.

Yakin menjadi salah satu kunci keluasan hati. Bagaimana kita bisa sukses kalau hati kita sempit? Dikit-dikit mikir nggak bakalan bisa, mustahil, nggak mungkin. Yang begini memang akan membuat kita gagal duluan bahkan sebelum maju ke medan tempur. Seperti itulah yang saya pelajari dari buku Hijrah Rezeki yang ditulis oleh ustadz Arafat.

Maka tak berbeda dengan pertanyaan Kyai dulu, kalau nggak yakin, ya nggak perlu pergi. Maka yakinlah! Sebab ada Allah. Kalau kita hanya berpegang pada logika dan kemampuan kita sendiri, rasanya tak mungkin juga saya bisa seperti saat ini. Sebab Allah izinkan, saya pun mampu mendapatkan satu demi satu impian yang dulu sempat saya tuliskan dalam buku harian.

Sering dapat tugas di tempat sampah hingga sempat menemukan segepok uang

Foto: Pexels.com
Saya sampai sekarang masih heran, kenapa zaman masih jadi santri selalu dikasih piket di tempat sampah yang kayaknya lebih sering daripada yang lain. Ini kayak nggak wajar banget…haha. Atau hanya perasaan saya saja?

Tempat sampah itu empuk ketika dipijak karena di bawahnya nggak langsung menyentuh tanah melainkan sampah plastik yang susah banget didaur ulang. Plastik botol air mineral dan gelas-gelas minuman ringan, hingga benda-benda menjijikkan lainnya. Pijakan kami hangat…kwkwk. Karena di bawahnya kayaknya terjadi proses fermentasi *mirip bikin roti. Kadang ulat gendut-gendut keluar tanpa malu. Bikin geli dan ngeri.

Pernah suatu saat saya menemukan amplop berwarna cokelat. Biasanya saya abaikan dan langsung dibakar karena merasa semua yang ada di sana adalah sampah. Tapi, kayaknya amplop itu berbeda. Tebal dan bersih. Akhirnya saya beranikan diri membukanya, dan ternyata, isianya uang, Dilaan!

Saya pun langsung menyerahkannya kepada ustadzah yang saat itu juga sedang bertugas di sana. Beliau langsung menyerahkannya kepada Kyai yang sedang berkeliling sambil naik sepeda. Piket di tempat sampah nggak bikin kangen juga sih, tapi, menyembulkan kenangan tersendiri. Kalau disuruh kembali, kayaknya mending saya lanjut mencuci baju di rumah, deh.

Dipanggil Cah Ayu

Foto: Pexels.com
Ngerasa spesial banget kalau jadi santri Kyai Qusyairi. Setiap ditegur selalu dipanggil Cah Ayu. Beliau merupakan pribadi yang ramah dan hangat, Masya Allah. Saya sempat ditegur ketika memberikan gunting kepada beliau, karena posisi ngasihnya kebalik.

Kemudian dibenarkan oleh beliau, katanya jangan sampai salah ketika ngasih ke mertua nanti..hehe. Malu, ya? Banget. Tapi, panggilan itu ngangenin banget. Jadi ingat zaman dulu masih di sana*usap air mata.

Masa-masa masuk STIKK (Sekolah Tinggi Ilmu Kitab Kuning)

Foto: Pexels.com
Waktu kami STIKK, rasanya hubungan dengan teman satu kamar lebih dekat, lebih drama, dan lebih segalanya…haha. Satu angkatan nggak lebih dari 15 orang, dan semuanya nggak ada yang mau jadi ustadzah...kwkwk. Ampuun, saya dulu boyong karena diajak nikah sama kang mas *alasan.

STIKK itu adalah waktu ketika kita hampir jadi senior, tapi bukan juga junior. Jadi, gilanya kadang kelewat gitu…kwkwk. Ingat teman bawa televisi ke kamar, ada juga yang bawa radio besar milik pesantren juga dalam ransel, ya Allah, bikin ngakak.

Jadi, kangen waktu masuk pesantren, nangis di awal, sempat nangis di depan Kyai juga waktu baru jadi santri, sempat dipanggil ke ndalem saat baru menikah dan diberi nasihat bareng mas, dan banyak banget kenangan manis yang tak bisa dilupakan. Meski jarang pulang, tetapi saya dan mas yang sama-sama merupakan alumni An-Nur selalu mengusahakan untuk sowan.

Semoga Allah senantiasa menjaga kesehatan Kyai Qusyairi dan mengangkat penyakitnya. Masya Allah, terima kasih, Kyai atas semua yang telah diberikan selama ada di pesantren.

Salam,

Tips Aman Menggoreng Ikan Tanpa Takut Meletup-letup

Foto: Pexels.com

Pernah punya pengalaman buruk saat menggoreng ikan atau makanan lain yang mudah meletup atau meletus? Saya biasanya akan melindungi tangan kanan menggunakan lap kering, dibungkus rapi biar nggak kena minyak. Jujur saja, hampir setiap menggoreng ikan, ayam, atau ati ampela, tangan saya selalu kena letupan minyaknya yang lompat ke mana-mana. Sungguh mengerikan setiap menggoreng beberapa jenis makanan tersebut. Meski terlihat berbahaya, tak jarang bikin kulit melepuh, tapi tetap saja akan kita ulangi lagi, kan?

Ati ampela dan ikan pindang merupakan makan kesukaan paksu. Tapi, kedua jenis makanan ini malah paling sering meletus ketika digoreng. Selain menutup tangan menggunakan lap, saya juga menutup teflon rapat-rapat supaya minyak tidak lompat ke mana-mana.

Saya bukan wanita lebay. Ngepel lantai atas dan bawah sambil masak dan nyuci aja dikerjain sendiri…kwkwk. Tapi, urusan menggoreng ini benar-benar bikin ngeri. Kebayang lengan saya yang sering banget melepuh bahkan menggelembung berisi air karena kena minyak panas…huhu. Kadang wajah juga kena.


Ada yang menyarankan supaya saya membelah jantung yang ikut digoreng bersama ati ampela ayam. Katanya kalau dibelah nggak bakalan sampai meletus. Tapi, ternyata itu nggak berguna. Sampai pada saatnya saya melihat postingan Instagram @Umi_Halim di Instagram. Di sana beliau menjelaskan gimana caranya supaya kita tetap aman ketika menggoreng ikan atau ayam tanpa takut kena letupan minyak.

Dan saat itu juga saya merasa sangat tertolong dengan postingan tersebut. Saya coba ketika menggoreng ati ampela yang telah diungkep. Awalnya masih ngeri, jadi masih ditutup teflonnya rapat-rapat. Siapa tahu tipsnya nggak bekerja pada saya. Siapa tahu, kan? Haha.

Dan, ternyata tipsnya berguna banget. Selain simpel dan mudah, cara ini memang benar-benar efektif mengurangi letupan, bahkan memang sama sekali nggak ada letupan. Jika ada, pasti ledakannya kecil banget, nggak sampai melompat ke mana-mana.

Nah, seperti apa tisp aman menggoreng ikan atau ayam tanpa meletup-letup?

Foto: Pexels.com
Ternyata cukup tambahkan satu sendok makan tepung terigu ke dalam minyak yang telah panas, sesaat sebelum kita menggoreng ikan atau ayam. Tabur aja satu sendok atau kurang sedikit pun nggak masalah. Kemudian masukkan ayam atau ikan dan goreng seperti biasa.

Untuk proses menggoreng berikutnya, jika memang khawatir, boleh tambahkan sedikit tepung lagi. Masukkan lagi ikan atau ayamnya dan goreng sampai matang dan keemasan.

Tips ini benar-benar ampuh dan bisa kamu coba. Sampai sekarang, saya selalu menggunakan cara ini ketika hendak menggoreng  makanan yang gampang meletus. Tips ini benar-benar membantu banget buat kita-kita yang senang memasak. Jadi, nggak perlu pakai helm lagi 'kan sekarang? Haha.

Semoga tipsnya bermanfaat dan selamat mencoba, ya!

Salam,

Custom Post Signature

Custom Post  Signature