Monday, September 30, 2019

Agar Anak Kecanduan Membaca








Saya pribadi sering gemas ketika melihat anak-anak terlalu fokus bermain gadget, tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya, cenderung tidak acuh dengan orang-orang terdekat terutama orang tua. Saya tidak perlu melihat anak orang, karena anak saya pernah ada di posisi itu meski yang dilihat dan dimainkan bukan game, tetapi sekadar melihat video atau film kartun favorit mereka. Membayangkan sekarang anak-anak tidak pernah meminta menonton televisi atau Youtube seperti dulu rasanya seperti mimpi yang mustahil terjadi.

Saya pribadi termasuk orang tua yang ‘tega’ melihat anak-anak ngambek dan ngamuk karena tontonan mereka saya batasi. Pada akhirnya, ketika tidak satu pun dari saya dan suami yang senang menonton televisi, mereka pun sama sekali tak tartarik meski itu hari libur sekalipun.


Dulu, sempat susah memisahkan anak-anak dari televisi atau gadget karena suami saya sering melihat berita ketika malam hari, ternyata itu memancing anak-anak untuk meminta tontonan lainnya. Ujung-ujungnya sayalah yang banyak bermain drama karena paginya suami sudah berangkat bekerja, sedangkan saya di rumah bersama anak-anak. Kebayang dong sampai tantrum dan segalanya. Tapi, memang konsisten mendidik itu perlu. Dan kompak bersama pasangan itu harus. Kalau sekarang bilang tidak, besok juga katakan hal serupa. Kalau kitanya plin plan, anak-anak malah memainkan kita. Ketidakkompakan dengan pasangan juga bisa mempengaruhi cara mendidik kita.


Dan sekarang? Anak-anak sudah benar-benar nggak tertarik minta nonton televisi lagi. Sehari-hari mereka lebih sering main berdua. Setiap hari Jumat, saya berjanji membolehkan mereka nonton Nusa dan Rara, tetapi tidak nonton yang lain. Hanya Nusa dan Rara yang baru saja, dengan kata lain, cuma nonton sekali aja..hihi. Alhamdulillah, mereka setuju.
 

Sesekali mereka nonton dan asyik banget kalau ke rumah kerabat. Ya udah, nggak masalah. Toh dulu saya juga senang nonton juga, kok. Lalu, apa hubungannya dengan judul di atas? Kebanyakan anak sekarang lebih senang memegang gadget ketimbang membaca buku. Memang tidak semua anak demikian, tetapi sebagian besar iya. Untuk anak-anak di rumah, meski mereka senang nonton film kartun, tetapi mereka juga candu banget sama buku. Tiap bulan kami ada waktu khusus main ke toko buku dan biasanya selalu membeli beberapa buku. Si sulung dan bungsu sama-sama senang membaca dan dibacakan. Memangnya bagaimana cara menumbuhkan kesenangan membaca? Mengalahkan keinginan nonton dan main gadget?


Teladan Lebih Baik daripada Seribu Nasihat


Sebelum meminta anak-anak senang membaca, sebaiknya berkaca dulu, apakah kita sudah memberikan contoh demikian sehingga mereka bisa meniru dengan mudah? Kalau emak bapaknya pegang gadget saja setiap hari, setiap menit, setiap detik, jangan harap anak-anakmu bisa senang membaca. Sudah pasti bakalan senang pegang gadgetlah..hihi. Karena itu, daripada sibuk menasihati ini dan itu, kasih mereka contoh yang baik.


Di rumah, yang suka membaca dan mengumpulkan buku adalah saya. Setiap menjelang tidur, anak-anak selalu dibacakan buku sesuai permintaan mereka. Setelah besar, sulung membaca bukunya sendiri. Setiap membeli buku, sudah pasti dia bakalan diam saja (membaca) sampai bacaannya tuntas. Kalau belum selesai dibaca, jangan harap dia bersuara...kwkwk.


Bacakan Buku Setiap Menjelang Tidur




Kebiasaan baik ini bisa dimulai setiap hari sejak mereka masih kecil dan belum bisa membaca. Meski belum bisa membaca, mereka paham dan senang mendengarkan, kok. Bahkan si bungsu sudah mampu menghapal setiap text pada setiap halaman di buku-buku favoritnya. Dia menirukan bukan karena sudah bisa membaca, tetapi karena dia menghapal text dalam buku tersebut saking seringnya dibacain buku.


Bersenang-senang Bukan dengan Main Game, Tetapi dengan Membeli Buku


Kamu pasti terbiasa main ke mall bersama anak-anak. Yups! Di sana ada sejenis Timezone di mana selalu  menjadi pusat perhatian hampir semua anak, tak terkecuali anak-anak saya. Dulu, kami sesekali mengajak mereka bermain ke sana. Tapi, pelan-pelan kami mengubah kebiasaan itu dengan berbelanja buku. Jadi, ketika melewati tempat permainan tersebut, anak-anak santuy aja, Guys...kwkwk. Lewat ya sekadar lewat saja, lihat ya sekadar lihat saja. Lebih heboh ngajakin beli buku, apalagi kalau tahu emaknya yang beliin...hihi. Ampun, deh, habis jatah sebulan...kwkwk


Nggak ada cara-cara khusus yang saya lakukan kepada mereka. Saya berusaha konsisten dengan apa yang saya ajarkan. Misalnya, nonton itu boleh bagi mereka, tetapi terlalu sering bisa membeirkan dampak negatif seperti menjadi tidak aktif bergerak, jadi malas mau melakukan hal lain bahkan ibadah seperti shalat, dan yang paling penting, nonton dan main gadget nggak banyak faedahnya kecuali membuang waktu. Nah, kalau sekarang dikatakan tidak bermanfaat, besoknya jangan tiba-tiba dikasih nonton, ya.


Saya bersyukur anak-anak bisa mencintai buku. Suka nonton wajar aja, tapi, bisa mengerem keinginan biar nggak heboh dan merasa biasa aja dengan televisi dan gadget adalah sesuatu yang tidak mudah dan butuh proses. Semoga kita sabar dengan mereka, semoga kita nggak mengorbankan waktu berharga mereka hanya demi menenangkan kita pribadi yang pengen tenang saat masak, maka diberilah tontonan televisi dan sejenisnya.


Semoga bermanfaat dan salam,

Sunday, September 29, 2019

Resep Sayur Lodeh Bumbu Iris









Buat pencinta menu bersantan, kayaknya kamu harus coba resep sayur lodeh satu ini. Meski lebih cocok disebut resep bagi yang malas masak, tetapi rasanya nggak mencerminkan itu sama sekali, kok. Sayur lodeh adalah menu favorit suami saya. Kadang, kalau bikin dengan bumbu lengkap yang dihaluskan bosan juga, selain bosan sama rasanya, bosan juga nguleknya...kwkwk. Meski senang memasak, tetapi saya nggak pandai menghaluskan bumbu dengan ulekan...hihi. Saya biasa menghaluskan bumbu dengan chopper kasar-kasar, kemudian saya haluskan lagi pakai ulekan (ribet amat hidup saya, ya?).


Sayur lodeh bakalan lebih sedap dengan tambahan ebi. Lebih enak dihaluskan bersama bumbunya. Tapi, kalau kamu malas ngulek bumbu, pakai resep ini saja. Sekejap jadilah masakan spesial yang insya Allah disukai semua orang.


Isiannya bisa menggunakan apa saja. Bisa tahu putih, tahu goreng, kacang panjang, potongan tempe, terong, dan apa saja asal masih jenis makanan, ya? Hihi. Kalau suka udang, bisa banget ditambahkan udang. Sayangnya, suami saya nggak terlalu suka menyantap udang. Jadi, isiannya hanya tempe, tahu goreng, kacang panjang, terong dan sejenisnya.

 
Kalau mau pedas, kamu bisa tambahkan irisan cabai rawit merah yang banyak, ya? Sedangkan untuk santannya bisa memakai santan instan atau santan segar. Saya lebih sering pakai santau instan karena mudah...hihi. Ketahuan, kan, malas banget ini, mah...kwkwk.


Cuslah kita catat resep mudahnya!


Bahan:


1 buah terong ukurang sedang

Segenggam kacang panjang

Sedikit potongan tempe, potong dadu

2 buah tahu goreng, potong sesuai selera

1 batang daun bawang, iris

4 cabai merah keriting, iris serong

4 siung bawang merah, iris

2 siung bawang putih, iris

5 cabai rawit merah, iris

2 lembar daun salam

1 ruas lengkuas, iris aja

1 bungkus santan instan

Secukupnya air

Secukupnya garam dan gula

Sedikit kaldu bubuk, jika suka

Sedikit minyak untuk menumis


Cara membuat:


1. Tumis bumbu: bawang merah, bawang putih, daun salam, lengkuas dengan sedikit minyak sampai harum. Masukkan irisan cabai. Gunakan api kecil supaya tidak cepat gosong.

2. Tuangkan air dan santan instan ke dalamnya. Aduk rata.

3. Masukkan bahan sisa selain daun bawang.

4. Masukkan gula, garam, dan penyedap.

5. Setelah mendidih dan sayur matang, masukkan irisan daun bawang.

5. Angkat dan sajikan.


Voila! Lodeh bumbu iris buatanmu pun siap dihidangkan di meja makan. Rasanya? Jangan ditanya, deh. Bakalan ngabisin nasi banyak kalau makan dengan menu sederhana satu ini. Menu ndeso seperti ini kadang memang ngangenin banget, lho. Bosan juga kalau setiap hari makan ayam dan daging terus. Sekali-kali bisa menyantap menu sederhana seperti ini. Lengkapi dengan nasi panas, kerupuk, sambal, dan ikan asin.


Akhir-akhir ini selera makan menurun karena bosan dengan menu-menu yang itu-itu saja. Zaman saya kecil, makan daging dan ayam itu jarang banget. Jadi, kalau ada menu itu di meja makan, sudah pasti nggak akan disisain...kwkwk. Beda banget dengan sekarang yang tahu sendiri, menu seperti itu sudah biasa dan menjadi menu harian. Jadi, setiap ketemu daging dan ayam rasanya sampai bosan.


Dan menu sederhana seperti sayur lodeh bumbu iris ini bisa jadi penyelamat di kala nafsu makan menurun karena bosan. Murah meriah, tetapi jangan harap dietmu berhasil kalau menyantap menu seperti ini. Gagal itu jawaban yang tepat kayaknya...hihi. Semoga bermanfaat dan menginspirasi dapur kamu, ya! Selamat mencoba.


Salam,

Baru Pertama Kali Menulis Buku Solo? Tips Ini Bisa Membantumu!









Nggak terasa, besok sudah hari terakhir ODOP (One Day One Post) bersama Estrilook Community. Kalau melihat peserta, kayaknya lebih ramai tahun ini daripada kemarin. Saya senang, meski dengan challenge sederhana seperti ini, ternyata banyak yang merasa terbantu, terlecut semangatnya buat mengisi blog. Abis itu, lemes lagi, ya? Hihi. Masa iya harus nunggu ODOP lagi buat konsisten ngisi blognya? Memang, kesibukan masing-masing kita berbeda. Tapi, kalau memang suka, harusnya kita meluangkan waktu untuk menulis dan ngisi blog. Kalau kamu merasa nggak sanggup, mungkin kamu memang kurang cocok dengan dunia menulis seperti ini.


Dan, bulan depan setelah menyelesaikan ODOP, akan dimulai challenge yang lebih seru lagi, lho. Yups! Sebulan Menulis Buku bersama Estrilook Community. Nggak nyangka, yang gabung banyak banget, Guys. Masya Allah. Semoga semua yang bergabung benar-benar berniat menyelesaikan buku solo mereka, bukan sekadar ngintip aja, ya? Hihi.


Apa, sih, keuntungan mengikuti challenge kali ini? Selain bisa termotivasi karena kita ramai-ramai menggarap buku solo masing-masing, sebisa mungkin saya berusaha mengisi materi tentang literasi terutama tentang menulis dan menerbitkan buku solo (sesuai pengalaman selama ini). Ini bekal buat teman-teman yang mungkin belum pernah menulis buku. Selain saya, ada beberapa editor di grup yang juga memberikan materi terutama tentang penulisan buku fiksi, yakni mbak Salmah yang merupakan editor dari AT Press.


Malam ini mungkin kebanyakan sudah mulai ngebut menggarap outline masing-masing, karena saat saya lihat ketika mereka mengisi data, rupanya masih banyak yang belum menyelesaikan outline-nya. Semoga besok semua sudah beres dan sudah bisa menulis halaman per halaman buku pertama dan ke sekian mereka. Seru, kan? Ah, rugi banget kalau kamu nggak ikutan. Terutama karena tidak dipungut biaya sepeser pun. Cukup bayar dengan niat, ya..hihi. Kapan lagi coba bisa gabung sama orang-orang seirama begini?


Nah, untuk menyelesaikan challenge ODOP, kali ini saya mau berbagi sedikit tips tertama bagi yang beru pertama menulis buku solo. Apa saja, ya? Cuslah, catat tips berikut ini,


1. Buat Naskah Buku Pertama Kamu dari Hal-hal yang Kamu Kuasai


Akan jauh lebih baik jika kamu menulis tentang hal-hal sederhana, tetapi telah kamu kuasai betul-betul. Minimal kamu punya banyak referensi mengenai tema yang akan kamu angkat menjadi sebuah buku. Kenapa? Karena dengan cara seperti ini, kamu bisa menyelesaikan naskahmu dengan lebih mudah, lebih semangat karena apa yang akan dituangkan sudah ada di kepala.


2. Buat Target Tebal Halaman Sesuai Kemampuan


Iyess! Menulis buku yang tebal itu memang keren banget, kok. Tapi, bukan berarti kamu harus menulis setebal buku-buku Tere Liye itu, apalagi jika ini kali pertama kamu menulis buku. Coba tanyakan pada diri kamu, apakah kamu sanggup menulis sebanyak itu? Kalau sanggup, kenapa nggak? Tapi, kalau memang terlalu memberatkan, sebaiknya jangan lakukan itu.


Mending kamu tulis buku yang bagus dengan tebal semanusiawi mungkin, deh. Kita tidak sedang mengejar target halaman yang panjang, tetapi kita mengejar target menyelesaikan satu buku dengan isi yang bagus, bukan bertele-tele demi mengejar panjang halaman. Setuju?


3. Berjanjilah pada Diri Sendiri


Pernahkah kamu mengingkari janjimu sendiri? Rasanya gimana? Kesel, sebel, bete! Ya, begitulah. Makannya, jangan khianati apa yang telah kamu janjikan pada dirimu, termasuk janji menyelesaikan naskah buku.


Memang, akan ada hal-hal yang dikorbankan karena kita harus fokus pada buku selama beberapa hari, bahkan bulan. Tapi, setelah buku kamu selesai, bahagianya pasti nggak habis-habis dirasain. Karena itu, tepati janjimu sendiri. Kalau kamu siap kecewa, nggak masalah nggak ditepati lagi, lagi, dan lagi. Sampai kamu nggak percaya lagi pada dirimu sendiri. Miris, kan?


4. Terbit Indie atau Mayor, yang Penting Kelar Dulu!


Ada nggak, sih, orang yang akhirnya nggak pernah bisa menyelesaikan naskahnya hanya karena dia bingung mau diterbitkan di mana bukunya? Ada! Menurut saya, memang penting mengejar mayor, tetapi lebih penting lagi kamu selesaikan naskahmu, jika ditolak, terbitkan indie. Itu nggak masalah, kok. Besok bikin target lebih tinggi, harus masuk mayor.


Yang penting  naskah kamu harus kelar dulu, ya. Jangan sampai berhenti di tengah kemudian membuat naskah dengan tema baru. Jadi, kapan selesainya buku solomu itu, Guys?


Orang-orang di sekitarmu hanya bisa memotovasi, setelah mereka berhenti memotivasimu, apakah kita juga bakalan berhenti berusaha? Karena itu, andai kamu punya impian, kamulah yang seharusnya punya niat dan keinginan kuat, dorongan terbaik datang dari dirimu sendiri. Cobalah dan cobalah, insya Allah impianmu untuk memiliki buku solo akan terwujud dalam waktu dekat. Semoga, ya :)


Salam,

Saturday, September 28, 2019

Disebut Mengandung Gula Tersembunyi, Ini Pengganti Nasi Putih yang Murah Meriah!

 







Sudah sampai mana dietnya, Guys? Udah kurusan belum? Nggak bosan nanya begini sambil mau nyindir andai aja kamu termasuk yang gagal diet...hihi. Jahat, ya? Maafkan. Tapi, memang keinginan menurunkan berat badan nggak akan terlaksana kalau kita sendiri nggak menginginkannya. Pengen aja nggak bakalan bisa kalau niatnya kurang. Niat aja nggak bakalan bikin kurus kalau kamu nggak mau usaha. So, kamu harus berusaha sendiri, punya niat kuat, jangan khianati janji sama diri sendiri yang katanya mau berjuang, eh baru seminggu udahan aja. Mau diketawain ayam tetangga?

Dulu saya pun seperti itu, kok. Tenang, kamu nggak sendirian karena saya bisa menemani pengalaman pahitmu itu. Tapi, kalau inget masa-masa seperti itu, melelahkan. Kenapa nggak saya coba lebih serius aja supaya keinginan terwujud? Akhirnya, kembali lagi kepada kekuatan kita melawan hawa nafsu. Makan banyak itu, kan nafsu. Kita sering nggak tahan karena nggak kuat melawan. Supaya bisa, bagaimana caranya? Sering puasa sunah biar kamu terbiasa menahan lapar dan mampu mengendalikan hawa nafsu. Ah, malas puasa sunah mulu! Berarti keinginan kamu baru setengah-setengah.


Nggak Makan Nasi Sama dengan Belum Makan


Iyap! Kebiasaan orang Indonesia seperti ini. Kalau belum makan nasi sama aja belum makan. Padahal, meski tanpa nasi, kita nggak bakal mati kelaparan, kok. Makan bahan makanan lain sama mengenyangkan. Dan nggak harus komplit berupa nasi dan lauk.


Awalnya, saya juga merasakan hal yang sama. Kalau nggak makan nasi, kita nggak bakalan kenyang. Setiap hari harus makan nasi karena punya penyakit lambung dan sebagainya. Tapi, setelah ditinggalkan, justru saya merasa jauh lebih baik. Penyakit lambung juga nggak kambuh, Masya Allah. Atas izin Allah, saya merasa jauh lebih nyaman dengan meninggalkan nasi.


Sehari-hari, saya minum jus di pagi hari. Ditambah air putih dan beberapa butir kurma kalau masih lapar. Siangnya, barulah saya makan berat dengan mengonsumsi banyak sayuran, karbohidarat seperti singkong, nasi jagung murni, dan protein. Saya memang nggak membatasi diri soal menu. Semua saya makan asal diolah dengan benar. Sesekali makan yang dilarang pun pernah. Tapi, nggak jadi keseharian juga.


Cari Pengganti Nasi Putih Selain Beras Merah


Sudah pernah makan nasi merah? Kira-kira rasanya enak atau nggak? Saya jawab dengan tegas, nggak! Kwkwk. Saya nggak suka makan nasi merah. Karena, meski bentuknya seperti nasi yang biasa kita makan (hanya saja beda warna), tetapi tetap saja saya nggak bisa suka makan nasi merah.


Akhirnya dulu saya putuskan makan kentang, singkong, dan ubi sebagai pengganti nasi. Seiring berjalannya waktu, saya sering melihat postingan di Instagram yang diunggap oleh para pejuang diet. Di antara menu yang sering di-share adalah nasi jagung instan atau murni. Jadi kepikiran pengen nyoba juga dong. Secara sejak kecil saya sudah biasa makan nasi jagung, bedanya kalau dulu masih dicampur nasi putih. Sekarang murni nasi jagung. Rasanya? Nggak seburuk makan nasi merah.


Cocok untuk Penderita Diabetes


Bagi yang menderita penyakit diabetes, makan nasi jagung sangat dianjurkan. Kenapa? Karena dalam nasi putih terdapat gula tersembunyi yang nggak layak dikonsumsi penderita diabetes, maka nasi jagung jadi pengganti yang sangat tepat. Ada kerabat saya yang mengonsumsi nasi jagung murni, qadarallah penyakit gulanya nggak kambuh meski makan lauknya masih lumayan bebas. Akan lebih baik juga kalau makan yang alami seperti yang dikonsumsi mereka yang ikut JSR dan Diet Kenyang.


Murah Meriah, Tetapi Sulit Didapat


Nasi jagung instan atau empok kalau saya sebut, harganya sangat terjangkau. Sebungkus kecil hanya Rp. 3 ribu rupiah saja, Guys. Tapi, nyari nasi jagung instan nggak mudah. Begitu juga dengan nasi jagung biasa seperti di dalam foto. Di Jakarta, saya akhirnya mendapatkannya lewat toko online yang berlokasi di Jatinegara. Harganya per 500 gram adalah Rp. 12.500 rupiah. Lebih mahal daripada nasi jagung instan yang butirannya lebih halus.


Karena susah didapat, akhirnya hanya bisa pesan online saja. Alhamdulillah, beberapa minggu ini saya konsumsi nasi jagung murni atau instan. Nggak ada masalah sama penurunan berat badan bahkan saya harap sekarang bisa naik berat badan ini...kwkwk. Selain nasi jagung, memang ada nasi shirataki, tetapi pasalnya ini nggak ramah di kantong. Daripada repot nyari nasi yang nggak mudah dijangkau, mending kita konsumsi pangan lokal yang murah meriah ini.


Semoga bermanfaat dan menjawab kegalauan teman-teman yang sedang berusaha berhenti mengonsumsi makan nasi.

Salam,

Friday, September 27, 2019

Wujudkan Impian Menulis Buku Solo dalam Sebulan








Hai, hai! Estrilook hadir lagi dengan challenge menarik selain ODOP (One Day One Post) yang telah berjalan sebulan ini. Iyap! Seperti telah saya janjikan sebelumnya, saya pengen banget bantu teman-teman yang punya impian buat menulis buku solo, tetapi sampai sekarang belum kesampean aja karena beberapa alasan yang kadang nggak masuk akal. Misalnya, 

“Masih minder, Kak.”

“Ah, kayaknya mustahil, deh, saya nulis buku.”

“Nulis satu cerita aja saya diare, apalagi nulis buku, bisa muntaber!”


Hadeh, kalian ini bagaimana, sih? Punya impian, tetapi nggak mau usaha sama saja kalian telah berkhianat pada diri sendiri. Sadis nggak, sih, bahasanya? Hihi. Saya yakin, di luar sana masih banyak orang yang punya impian bisa menulis buku solo, minimal satu buku seumur hidup. Tapi, masih banyak yang belum berani memulai atau malah nggak tahu harus memulainya dari mana.


Zaman saya masih SMA, mencari komunitas menulis itu bukan hal mudah, terutama memang sejak SMA saya tinggal di pesantren. Jangankan ketemu dan berinteraksi dengan penulis, buka internet aja nggak pernah. Tapi, coba lihat sekarang, kamu bisa dengan mudah mendapatkan informasi dari mana saja, apa saja yang dibutuhkan selalu didapatkan, dan impian kamu seharusnya bisa diwujudkan juga dengan lebih mudah dong. Iya, kan?


Sayangnya, sekarang saya lihat, fasilitas yang ada nggak dipergunakan dengan baik, justru malah bikin kita jadi malas. Contoh kecil, kita banyak menggunakan internet untuk bermain sosial media dan menghabiskan waktu hanya untuk hal sepele. Miris banget, kan?


Karena tahu betapa susahnya mencari komunitas menulis, nyari orang yang bisa ditanya tentang dunia literasi, dan tahu tidak mudahnya menulis dan menerbitkan buku, maka saat ini saya pengen banget melakukan sesuatu untuk membantu teman-teman mewujudkan impian memiliki buku solo minimal satu buku sebelum mati (horor...kwkwk).


Mengingat kemampuan saya sangat terbatas, jadi, di sini saya dan tim Estrilook tidak berarti menjadi editor yang bisa mengedit semua naskah teman-teman, tetapi saya dan tim akan membantu menagih dan meminta laporan saja di grup FB Estrilook Community (sama seperti ODOP). Jika merasa perlu review dari saya, boleh hubungi saya langsung. Insya Allah saya akan membantu sebisa saya :)


Emangnya Bisa Menulis Buku Solo dalam Sebulan?



Bisa, kok. Saya menulis buku ‘Agar Suami Tak Mendua’ dengan tebal hampir 400 halaman dalam waktu dua minggu. Dan percayalah, itu naskah atau buku pertama yang saya tulis, Masya Allah. Caranya?


Kamu harus bisa bikin target dan jadwal menulis rutin setiap harinya. Disiplin serta komitmen itu sangat perlu. Sekadar bikin target saja, semua orang juga bisa. Tetapi, yang disiplin buat ngerjain tiap hari, melewati rasa bosan, lelah, malas, dan banyak halangan lain itu sangat sedikit jumlahnya. Dan saya percaya, kamu salah satu orang yang bisa menaklukkan hari-hari menyenangkan itu :)


Saya beri contoh mudah. Misalnya saya mau menulis buku setebal 100 halaman A4 dalam sebulan, maka saya akan bagi 100 halaman selama 30 hari. Kira-kira sebulan saya sanggup menulis berapa halaman, ya? Jika sebulan harus menyelesaikan naskah setebal 100 halaman, berarti per hari saya harus menulis berapa halaman? 3-4 halaman, ya.


Maka saya akan menulis per harinya sebanyak 3-4 halaman selama 1 bulan. Kalau belum sanggup, kurangi tebal naskahnya atau bagi menjadi dua bulan misalnya. Pokoknya sesuaikan sama kemampuan kamu masing-masing, ya.


Setelah target didapat, jadwal udah dibuat, maka selanjutnya hanya butuh disiplin dan konsisten aja ngerjain sampai naskah selesai. Dalam proses itu, terutama pemula, sering pengen ganti tema, ganti naskah baru, bosan menulis tema saja, malas dan mulai lelah...kwkwk. Wajar dan menusiawi banget. Kalau kamu capek, istirahat. Jangan berhenti. Kalau berhenti, itu artinya kamu gagal :)


Tapi Nggak Ada Ide, Nih!



Ah, kamu alasan aja!

Ide itu banyak bertebaran di mana-mana. Kalau mau peka, kamu bisa mendapatkan ide dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar kamu, dari pengalaman kamu, hal-hal yang kamu sukai dan kamu kuasai. Nggak perlu nyari ide aneh-aneh. Mending kamu bercermin, lihat, begitu banyak hal menarik dalam hidupmu yang layak diabadikan menjadi sebuah buku.


Kamu seorang dokter, punya pengalaman unik dan menyenangkan, jatuh bangun, merantau, perjuangan buat kuliah, impian jadi dokter, dan banyak banget. Semua bisa kamu jadikan ide menarik. Tapi, pengalamanku biasa aja, Kak? Buat itu jadi unik dan menarik. Ambil dari sisi berbeda di mana orang kadang nggak kepikiran buat menulis tema itu.


Jika masih takut dan bingung, bikin buku quotes, deh! Kali aja kamu suka menulis kata-kata puitis. Sebulan pasti bisa, kan? Insya Allah :)


Supaya tulisan kamu nggak berhenti atau mandeg di tengah jalan, silakan cari referensi sebanyak mungkin. Bisa dari buku-buku kamu di rumah, majalah, artikel-artikel di media online (tetapi, pastikan kamu memilih sumber yang bisa dipercaya), buku-buku di perpus digital, dan masih banyak lagi. Semakin banyak sumber yang kamu kumpulkan, semakin mudah pula kamu menyelesaikan bukumu. Inilah obat bagi orang yang katanya suka mati gaya!


Bolehkah Menulis Buku Anak? Pendidikan? Atau?


Kami tidak menentukan jenis buku yang ingin kamu tulis karena saya berharap semua orang (dengan jenis buku berbeda) bisa ikut mencobanya juga. Jadi, kamu bisa menulis buku fiksi, nonfiksi, cerita anak (minimal berisi 10 cerita), dll. So, tentukan dari sekarang, kira-kira buku apa yang paling ingin kamu selesaikan.


Tentukan Penerbit yang Akan Kamu Tuju 


Nggak ada salahnya menentukan penerbit yang ingin kamu tuju. Dimulai dari sekarang memang sangat perlu. Kalau kamu berniat menulis buku untuk diajukan kepada penerbit mayor, maka coba pelajari karakter penerbit tersebut sehingga naskahmu bisa punya kesempatan lebih banyak untuk lolos.
 

Tapi, kalau kamu merasa cukup di penerbit indie, kami akan memberikan rekomenasi penerbit mana yang bisa dipertimbangkan. Indie atau mayor sama-sama baiknya. Fokus kita sekarang adalah menyelesaikan target satu buku dalam sebulan.


Bikin Outline!

 

Yup! Jangan lupa bikin outline yang bisa memudahkan kita menyelesaikan buku selama sebulan ke depan. Outline itu rancangan calon buku kita. Berisi bab dan sub bab yang akan kamu tulis untuk naskah kamu nanti. 


Saran saya, buat bab dan sub bab menjadi lebih pendek. Jangan kepanjangan karena itu sangat merepotkan terutama bagi pemula. Misalnya saja, setiap bab dan sub bab hanya berisi 3 halaman. Buat bab dan sub bab yang banyak sampai memenuhi target kamu.


Kenapa harus bikin outline? Kalau nggak ada outline, kamu bisa lupa atau kadang terlewat dengan poin-poin yang ingin ditulis. Adanya outline ini membantu memudahkan kita supaya tetap ada di jalur yang benar...kwkwk. Biar nggak melenceng ke mana-mana. Semoga bisa dipahami, ya? Kita langsung masuk ke syarat dan ketentuan dalam challenge ini.


Syarat dan Ketentuan Mengikuti Challenge Sebulan Menulis Buku bersama Estrilook Community



1. Terbuka untuk umum.


2. Bergabung bersama Estrilook Community, di sini.


3. Share gambar challenge SMB (Sebulan Menulis Buku) serta alasan kenapa kamu ingin ikutan. Tag tiga teman kamu yang hobi menulis, ya :)


4. Komitmen menyelesaikan buku solo dalam sebulan.


5. Untuk buku anak-anak, berisi minimal 10 cerita baik berupa cerpen atau picbook.


6. Untuk naskah fiksi dan nonfiksi, minimal 60 halaman A4.


7. Membuat target dan jadwal menulis sesuai kemampuan masing-masing.


8. Mempunyai outline sebelum challenge dimulai.


9. Menulis setiap hari, kemudian setor laporan di postingan yang telah dibuat oleh admin di FB Grup.


10. Jika ada kekurangan dalam sehari, kamu wajib membayar (menulisnya) di hari berikutnya dan wajib melapor di FB Grup.


11. Jika dalam dua minggu target tidak dipenuhi hingga setengahnya, maka peserta akan gugur dan dianggap gagal.


12. Setiap peserta yang sudah berhasil menyelesaikan target akan kami pandu untuk dikirimkan ke penerbit sesuai pilihannya masing-masing, baik indie atau mayor. Nanti kami bantu kasih rekomenasi penerbitnya, ya.


13. Challenge dimulai sejak tanggal 01 Oktober 2019 hingga 30 Oktober 2019.


Beberapa Pertanyaan Netizen Tentang Challenge Sebulan Menulis Buku


Kak, kalau nulis buku pendidikan boleh, nggak? Cernak? Hmm, atau buku quotes?

Di atas sudah dijelaskan, teman-teman bebas memilih naskah apa yang ingin ditulis.


Ini mau nulis buku antologi atau solo?

Buku solo, ya, Kak.


Tapi, aku nggak ada ide, nih!

Mending kamu berenang aja di pantai.


Buku fiksi atau nonfiksi?

Bebas, Ferguso :(


Bayarnya berapa?

Bayar pake niat aja, Kak.


Kirim outline sama naskahnya ke mana?

Cukup simpan dalam file masing-masing. Kami di sini hanya bertugas menagih saja supaya teman-teman konsisten. Jika ada yang ingin ditanyakan, kami siap membantu. Jika ada yang ingin di-review, insya Allah saya bantu juga.


Jadi, di FB Grup cuma setor laporan aja?

Iyap! Karena itu, penulis harus jujur dengan pencapaiannya setiap hari.


Jadi, kerjaan admin setiap hari cuma nagih aja, nih?

Meski hanya nagih, tapi kalau yang ditagih orang seperti kamu yang sering tiba-tiba amnesia sama impiannya, insya Allah bikin kurus dalam seminggu pertama, Kak. Nggak percaya, kan? kwkwk.


Kira-kira itulah beberapa hal yang harus kamu ketahui sebelum mengikuti challenge ini. Seru, kan? Mungkin sebatas ini yang bisa saya dan tim lakukan untuk membantu teman-teman mewujudkan impian. Semoga teman-teman yang berniat ikut dimudahkan oleh Allah dalam prosesnya.


Selamat bergabung dalam challenge Sebulan Menulis Buku bersama Estrilook Community! Siapkan naskah terbaikmu dari sekarang!


Salam,

Thursday, September 26, 2019

Marak Penculikan Anak, Edukasi Putra Putri Kita Sedini Mungkin







Penculikan anak memang selalu menjadi momok menakutkan bagi kita sebagai orang tua. Bagaimana tidak, kejadian mengerikan ini selalu terjadi setiap tahunnya dengan modus berbeda. Jangan lengah, meski kita telah sepenuhnya mencari lingkungan aman bagi mereka, tetapi mengedukasi anak-anak tetap perlu supaya mereka juga selalu waspada sehingga kejadian mengerikan semacam ini tidak pernah terjadi.


Qadarallah, hari ini si sulung cerita kalau di sekolahnya didatangi dua orang asing yang tiba-tiba menanyakan identitas beberapa anak yang sudah menunggu jemputan di aula dekat masjid. Dua orang ini ternyata selain menanyakan nama dan alamat, juga merekam wajah mereka. Sebagai orang tua, rasanya sangat mengerikan mengetahui hal semacam ini. Pengennya jangan ada orang lain masuk ke sekolah selain mereka yang memang ada kepentingan seperti hendak menjemput anak-anak. Sempat ada yang ngasih ide supaya setiap orang yang menjemput memakai kalung identitas. Sayangnya, belum ada tanggapan lebih jauh.


Biasanya, selain ikut jemputan sekolah, anak-anak dijemput langsung oleh orang tua atau bahkan sudah berani pulang sendiri (untuk mereka yang rumahnya dekat), ada juga yang dijemput menggunakan ojek langganan dan ojek online. Penggunaan kartu identitas ini mungkin bisa membantu, tetapi tidak sepenuhnya dapat digunakan dengan mudah terutama bagi mereka yang dijemput dengan ojek online semisal Gojek dan Grab, ya.



Lalu solusinya apa dong? Saya berharap sekolah bisa menambah lagi kewaspadaan akan hal semacam ini, karena jam pulang sekolah memang jam riweh di mana anak-anak dan orang tua ramai saling menunggu di aula. Kebanyakan memang nggak saling kenal kecuali punya rekan wali murid satu kelas juga. Semoga para guru (tidak hanya di sekolah si sulung, tetapi,  di mana pun), bisa segera merespon baik kalau ada anak yang melapor. Karena lengah sedikit bisa rumit akibatnya, naudzubillah. 

Untuk anak kelas 3 dan seterusnya, sepertinya melapor tentang adanya orang asing yang dicurigai sebagai penculik bukan sesuatu yang tepat jika dikatakan sekadar guyonan saja. Memercayai ucapan mereka dengan merespon cepat adalah cara terbaik untuk menjaga keamanan di lingkungan sekolah. Karena jika sampai anak-anak merasa sudah tidak dipercaya, bisa jadi ke depannya mereka akan diam saja dan malas melapor ketika ada hal yang tidak diinginkan.



Ini memang bukan hanya tugas guru saja, sebagai orang tua, kayaknya kita nggak perlu menunggu terlalu lama buat mengedukasi anak-anak. Kejadian semacam ini tidak hanya bisa terjadi di sekolah, tetapi juga di lingkungan bermain mereka seperti di rumah sendiri. Lantas adakah hal yang bisa diusahakan untuk mengedukasi anak-anak kita?


1. Edukasi dengan Buku Cerita


Untuk  anak usia lebih kecil, membacakan buku cerita berisi edukasi tentang kewaspadaan terhadap keamanan sendiri terutama ketika tidak bersama orang tua adalah cara yang tepat. Saya memiliki salah satu buku seri ‘Waspada, Yuk’ dari Tiga Ananda yang ditulis oleh Lia Herliana berjudul ‘Ketika Yuri Pulang Sendiri’. Buku ini keren banget, meski sederhana, tetapi penulis bisa mengajarkan anak-anak untuk tetap waspada terutama saat tidak bersama orang tua.


Di dalam buku ini juga dijelaskan bagaimana sebaiknya harus bersikap ketika bertemu orang asing yang mengimingi anak-anak dengan permen dan minuman ringan bahkan menawarkan tumpangan. Di dalam buku ini juga diberikan edukasi tentang bagaimana sebaiknya mencari pertolongan atau menyelamatkan diri ketika terjadi situasi buruk yang tidak diinginkan.


Buat anak-anak usia dini, cara seperti ini sangat efektif dan mudah dipahami. Saya berharap sedikit banyak anak-anak saya bisa menjaga diri selama di sekolah dan di rumah (terutama ketika jauh dari saya).



2. Identitas Diri adalah Rahasia



Identitas diri adalah rahasia yang tidak boleh sembarang orang mengetahuinya. Misalnya saat kejadian di sekolah sulung tadi, sempat ada anak yang mau menjawab ketika ditanya mengenaik identitas mereka. Yuk, bantu anak-anak supaya mampu menjaga rahasia termasuk identitas diri yang bisa jadi dimanfaatkan untuk hal yang tidak diinginkan.


Katakan kepada mereka, sebaiknya menghindari orang asing dan tidak memberitahukan identitas kepada sembarang orang apalagi kepada orang yang baru dikenal. Karena tidak sedikit yang akhirnya dijadikan modus penipuan seperti pura-pura menelepon dan mengatakan dari pihak sekolah, terjadi kecelakaan dan sebagainya.



3. Katakan ‘Tidak’ Pada Orang yang Tidak Dikenal



Bantu anak-anak menolak dengan mengatakan ‘tidak’ kepada orang-orang asing yang bermaksud tidak baik kepada mereka. Hal ini juga bisa menjaga mereka dari pelecehan seksual yang marak terjadi sejak lama.


Jika ada orang asing menawari uang, makanan, dan hal lain, bantu edukasi mereka untuk mengatakan ‘tidak’ dan segeralah berlari mencari bantuan. Kalau di sekolah, ya minta tolonglah pada guru. Jika di luar lingkungan sekolah, carilah tempat ramai. Jangan takut melawan dan berteriak sekencangnya jika orang asing memaksa mereka. Mudah? Terdengar seperti itu. Tapi, kenyataannya rasa panik bercampur bingung bisa saja membuat siapa pun lupa seharusnya bersikap seperti apa. Karena itu, tidak ada salahnya kita sering mengulang-ulang pesan ini kepada anak-anak.



4. Tubuhmu Berharga 



Selain penculikan, setiap dari kita tentu merasa khawatir dengan adanya pelecehan seksual seperti yang sempat saya bahas di atas. Hal buruk semacam ini bahkan kadang dilakukan oleh orang terdekat kita sendiri, naudzubillah.

Adakah cara yang bisa dilakukan untuk membuat anak-anak waspada dan mengerti ketika dalam bahaya? Bantu edukasi mereka dengan mengajarkan bahwa tubuh mereka berharga dan tidak boleh disentuh oleh sembarang orang, meskipun itu orang terdekat tanpa alasan jelas.

Misalnya, Ibu boleh membantumu membuka baju untuk mandi, dokter boleh memeriksa bagian tubuhmu saat kamu sakit dsb. Ajarkan kepada mereka bahwa ada bagian tubuh yang tidak boleh disentuh siapa pun kecuali diri mereka sendiri. Ajarkan sedini mungkin dan jangan merasa aneh dengan hal semacam itu.
 

5. Hindari Tempat Sepi


Katakan kepada anak-anak supaya menghindari tempat sepi. Ada baiknya mereka selalu berkelompok ketika bermain dan menunggu dijemput. Kenapa? Karena tempat sepi memudahkan para pelaku kejahatan melakukan tindak kriminal yang tidak kita inginkan. Mengajari anak-anak memang tidak semudah mengedukasi orang dewasa, ya. Tapi, percayalah mereka pintar dan akan mengerti, insya Allah.



Ada banyak cara bisa dilakukan untuk menjaga anak-anak kita. Selain yang disampaikan di atas, tidak ada cara terbaik selain berserah diri dan banyak berdoa kepada Allah supaya anak-anak kita selalu dilindungi. Semoga anak-anak semakin pintar merespon ketika ada hal-hal yang tidak diinginkan. Yuk, waspada dan pandai-pandai mengedukasi anak-anak kita.


Salam,

Wednesday, September 25, 2019

Resep Rawon Tulang Jawa Timur Favorit Keluarga







Rawon adalah menu khas Jawa Timur yang identik dengan kuahnya yang hitam dan pekat. Warna hitam dari kuah rawon berasal dari rempah berupa kluwek yang berbentuk bulatan pipih terbungkus batok. Untuk membuat rawon yang enak, dibutuhkan beberapa butir kluwek berkualitas. Kalau kluweknya bagus, rawonnya pun akan enak dan sedap. Jadi, perlu diperhatikan kualitas kluwek yang kita pilih. Jangan gunakan kluwek dengan rasa getir dan pahit karena nanti akan mempengaruhi kualitas rawon kita.

Setelah batok kluwek dipecahkan, sebaiknya incipi dulu rasanya. Apakah pahit dan getir atau tidak. Kluwek yang basah bisa digunakan langsung, sedangkan jika kamu mendapatkan kluwek dalam kondisi kering, sebaiknya rendam dengan sedikit air panas supaya lebih mudah dihaluskan nantinya.

 

Rawon adalah menu favorit keluarga. Rasanya memang enak dan nggak bikin eneg. Sejak dulu saya terbiasa membuat rawon dengan bumbu buatan sendiri. Karena sebagian orang kadang suka membeli bumbu halus di pasar kemudian ditambah bawang dan kawan-kawannya baru kemudian ditumis. Ketika membeli bumbu halus di pasar, saya merasa baunya kurang wangi. Nggak tahu kenapa, lebih sreg bikin sendiri aja daripada harus beli jadi.


Bumbunya nggak ribet dan mudah didapatkan. Untuk menambah cita rasa gurih pada rawon, sebaiknya gunakan daging sandung lamur dan tulang iga supaya hasilnya lebih gurih alami. Rebuslah dengan api kecil supaya kaldunya benar-benar keluar sehingga kita tidak perlu menambahkan kaldu bubuk atau MSG.


Untuk merebus daging, sebaiknya gunakan sedikit air, setelah mendidih, masukkan potongan daging dan iga ke dalamnya. Setelah mendidih kembali, angkat dan ganti dengan air baru, kemudian rebus kembali sampai daging empuk.


Untuk daging supaya teksturnya bagus, sebaiknya daging telah dipotong-potong sebelum direbus. Karena jika direbus utuh dan dipotong setelah empuk, hasilnya daging jadi berserat dan berantakan (potongannya).


Untuk bumbu, sebaiknya ditumis dengan api kecil sehingga bumbu bisa matang sempurna dan tidak meninggalkan rasa langu yang nantinya akan berpengaruh terhadap rasa rawon. Bikin rawon nggak susah-susah banget, kok. Tapi, beberapa resep nggak terlalu cocok dengan keinginan saya. Nggak sesuai aja sama lidah.


Beberapa bulan ini saya selalu menggunakan resep yang sama setiap membuat rawon. Saya dapatkan dari buku Ci Xanders Kitchen yang udah Mega Best Seller. Kebanyakan resepnya Ci Xanders emang udah terbukti enak, ya. Setelah membeli bukunya, saya nggak pernah pakai resep lain selain yang beliau tulis.


Saya sedikit memodifikasi resep dengan menghilangkan penggunaan cabai merah dan cabai rawit. Anak-anak nggak ada yang doyan pedas sama sekali. Daripada mereka nggak makan, mending skip aja.


Teman-teman bisa menggunakan tetelan, daging khas, atau iga. Saya pribadi lebih suka pakai daging sandung lamur, tetelan, serta iga. Pelengkapnya bisa memakai tauge pendek, bawang goreng, sambal terasi, tempe goreng, serta telur asin. Jangan lupa kerupuknya juga, ya. Lupain deh diet kamu kalau sudah makan menu satu ini.


Cuslah, catat resepnya biar minggu depan bisa dicoba di rumah. Dijamin, meja makanmu bakalan semewah meja makan rumah makan padang sebelah…hihi *nggak nyambung banget…kwkwk.

 
Bahan:

1 kg daging sapi khas, iga atau tetelan

2 liter air

2 batang serai, memarkan

10 lembar daun jeruk

Secukupnya garam

Sedikit gula pasir


Haluskan bumbu: 


7 buah kluwek (saya pakai 5 buah)

10 bawang merah

4 siung bawang putih

3-4 butir kemiri

Seruas jahe

Seruas kunyit

1 sdm ketumbar

2 sdt merica butir


Cara membuat:


1. Rebus daging dengan sedikit air. Kemudian setelah mendidih, buang air rebusan pertama dan ganti dengan yang baru.

2. Saya tambahkan beberapa lembar daun jeruk saat merebus daging.

3. Tumis bumbu sampai harum. Setelah daging setengah empuk, masukkan tumisan bumbu tersebut.

4. Tambahkan irisan daun bawang. Tambahkan garam dan gula secukupnya.

5. Tes rasa dan sajikan rawon iga dengan pelengkap.


Voila! Rawon iga buatan kamu sudah siap disajikan di meja makan. Anak bungsu saya doyan banget, Masya Allah. Kalau makan pakai rawon kayak nggak dikunyah…hihi. Langsung lep-lep aja. Bikinnya gampang, rasanya endes banget. Sempurna deh buat makan malam atau sarapan.


Semoga bermanfaat dan selamat mencoba!


Salam,

Monday, September 23, 2019

JSR (Jurus Sehat Rasulullah) untuk Pemula







Bagaimana memulai JSR atau Jurus Sehat Rasulullah dr. Zaidul Akbar bagi pemula? Sebelum membahas lebih jauh, sebenarnya apa sih JSR itu? JSR adalah judul buku dr. Zaidul Akbar yang saat ini sedang dicari banyak orang terutama mereka yang ingin hidup sehat dan menurunkan berat badan. JSR itu sebutan aja, nggak mewakili bahwa semua resep dan sebagainya dalam pola makan JSR dicontohkan 100% oleh Rasulullah saw. Nggak begitu, ya.

Bagi yang belum memahami seluruhnya, bisa baca-baca beberapa postingan di blog saya mengenai JSR. Buat pemula, pasti masih bingung, gimana memulainya? Bisa nggak, ya? Berhasil nggak, ya? Dan banyak kekhawatiran lain yang sebenarnya nggak perlu dipikirkan berlebihan juga. Santai aja dan bacalah basmalah, semoga niat baik menyehatkan badan dimudahkan oleh Allah.


Bagi yang baru memulai, sebaiknya nggak perlu kaku-kaku banget sama diri sendiri. Khawatirnya kalau terlalu tiba-tiba, justru jadi gagal niat baiknya. Karena itu, dari sekian banyak postingan mengenai JSR, saya nggak bosan mengatakan, santai aja menjalaninya, tetapi serius juga.


Kalau belum bisa berhenti makan nasi putih, nggak masalah, kok. Kurangi aja pelan-pelan porsinya dan ganti dengan bahan makanan lain semisal kentang kukus, sayuran rebus, dan sebagainya. Nggak perlu langsung menghindari nasi 100% kecuali kamu merasa seorang bule yang sarapannya roti…hihi.


Kalau sudah memahami yang semacam ini, kamu tinggal pelajari apa saja yang perlu dihindari atau menjadi pantangan dalam pola makan JSR. Hindari bertahap saja, nggak perlu sekaligus semuanya. Bersabarlah supaya hasilnya sesuai yang diharapkan.


Hindari 5 Jenis Makanan Ini,


1. Nasi putih

2. Minyak sawit dan olahannya

3. Tepung-tepungan terutama yang mengandung gluten

4. Susu dan turunannya

5. Gula pasir


Setelah mengetahui pantangan dalam JSR, saatnya kamu memulai mengurangi semua yang dilarang. Pelan-pelan saja, ya? Nggak usah buru-buru. Kalau di awal masih belum berhenti total makan nasi, maka bisa dikurangi. Gorengan bisa diganti menu kukusan atau maksimal ditumis. Manis-manis coba diganti dengan manisnya buah-buahan. Banyaklah minum air putih setiap hari. Banyak konsumsi makanan alami dan hindari makanan kemasan.


Persiapan Memulai JSR Bagi Pemula 


Apa yang perlu disiapkan di rumah saat akan memulai JSR terutama bagi pemula? Awalnya dulu saya hanya mengubah olahan menu di rumah menjadi lebih sehat. Nggak ada persiapan khusus karena saya belum kebayang bakalan seperti sekarang ini. Jadi, apa yang ada, ya itulah yang saya konsumsi.


Setelah berjalan dan saya lebih banyak memahami seperti apa pola makan JSR, ada bahan-bahan tertentu yang sengaja saya siapkan di rumah sejak ikut JSR yang sebelumnya memang nggak pernah saya beli. Apa saja?


1. Kurma


Meskipun manis, jangan khawatir karena kurma nggak bakalan bikin kita genduts dengan tiba-tiba. Bahkan meski sekali ngemil saya habis banyak, tengah malam pula…hehe. Makan kurma adalah sunah yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Bahkan jika sering konsumsi kurma (terutama seduhan kurma), tubuh jadi lebih fit.


Dalam dua bulan, saya bisa menghabiskan 3kg kurma. Baik dihabiskan dengan cara dimakan lansung, diseduh dengan air panas, dibuat menjadi nabeez, dibuat bumbu pecel dan taburan potongan buah, atau dibuat campuran cookies oat sehat.


Sejak ikut JSR, kurma menjadi bahan pangan pokok bagi saya selain sayuran dan buah segar. Belinya sekaligus 3kg saja kalau boleh kasih saran karena akan jauh lebih murah. Saya menggunakan kurma Sukari karena rasanya tidak terlalu manis.


Tahukah kamu, dulunya saya nggak terlalu suka mengonsumsi kurma. Sekadarnya aja meski tahu Rasulullah saw senantiasa mengonsumsi buah manis satu ini. Tapi, sejak ikut JSR, 3 kg bahkan kebanyakan saya sendirian yang mengonsumsinya…hihi.


Saya tipe orang yang masih suka makan manis-manis, sehingga kurma bisa digunakan sebagai pengganti gula merah dalam bumbu pecel misalnya. Dan itu sangat membantu buat mengganti rasa manis dari gula merah itu. Sebenarnya kita nyari apanya ketika mengonsumsi gula? Nyari manisnya, kan? Kalau hanya mencari manisnya, buah-buahan, kan, rasanya manis juga, lantas kenapa nggak konsumsi buah aja daripada konsumsi gula?


Kira-kira seperti itulah kalimat dr. Zaidul Akbar dalam beberapa videonya. Menurut saya, memag benar juga. Kalau memang bisa begitu, kenapa nggak?


2. Garam Himalaya


Garam biasa sebaiknya diganti dengan garam Himalaya. Ketika awal-awal saya memulai JSR, saya benar-benar menjauhi garam. Ini ada pengaruh juga dari Diet Kenyang yang sama-sama sedang saya praktikkan beberapa bulan silam.


Harus banget ya pakai garam Himalaya? Nggak juga sih. Kalau bisa malah nggak usah pakai garam dalam semua menu makanmu. Garam Himalaya malah kadang saya konsumsi bersama jus di pagi hari. Harganya memang lebih mahal, tetapi jujur aja awet banget nggak habis-habis nih sampai sekarang.


3. Nasi Jagung


Kalau orang Jawa familiar banget sama nasi jagung. Tapi, bagi orang di daerah lain, nasi jagung justru hanya digunakan sebagai pakan ternak…hihi. Buat apa menyiapkan nasi atau beras jagung di rumah? Sebagai pengganti nasi bagi yang ingin meninggalkan nasi tapi masih pengen makan nasi. Nggak usah mahal-mahal seperti nasi dari tetangga sebelah…hihi, cukup nasi jagung murni aja.


Di tempat saya, nasi jagung bentuknya berbutir lebih kasar. Sedangkan nasi empok lebih halus butirannya. Sama-sama berasal dari jagung, tetapi kalau dimasak murni, mending beli empok atau beras jagung instan namanya. Memasaknya lebih cepat dan mudah.


Cukup siram air panas, kemudian kukus sebentar. Kalau beras jagung murni, saya biasa mengukusnya dan menambahkan air sebelumnya mirip seperti masak nasi dalam ricecooker. Daripada nasi merah, jauh lebih sedap makan nasi jagung. Jelas saja ini sangat sehat bahkan dianjurkan dikonsumsi oleh para penderita diabetes.




Belinya di mana? Kalau di kota seperti Jakarta, emang susah. Tapi, setelah berusaha dengan susah payah, akhirnya saya dapat dong beras jagung kualitas bagus di sekitar Jatinegara…hihi. Beli online dan dikirim pakai Gojek. Harganya lumayan mahal ketimbang di kampung, untuk 500 gram harganya Rp. 12.500. Sedangkan untuk beras jagung berbutir halus atau instan, hanya saya temukan di Sidoarjo ( di marketplace). Harganya lebih murah daripada harga beras jagung.


4. Stok Buah dan Sayuran Segar di Rumah


Karena makanan kita nggak akan jauh-jauh dari yang namanya sayuran serta buah, ada baiknya kamu punya banyak stok buah dan sayuran segar di rumah. Supaya ketika lapar, kamu nggak sembarangan nyomot makanan nggak sehat yang biasa dimakan setiap hari.


Makan banyak silakan deh asalkan sehat. Nggak gemuk? Nggak bakalan…hihi. Makan sehat itu seperti apa? Makanan alami yang diolah dengan benar juga. Misal ngemil buah, sayuran rebus, kacang tanah sangrai, minum jus buah dan sayur. Meski tengah malam, saya nggak pernah khawatir. Hanya saja memang saat malam sebaiknya kita beri jeda bagi tubuh kita. Jangan ngunyah mulu, ya…hehe.


Dulu, saya nggak pernah stok tomat segar banyak di rumah karena ngapain juga, beli aja secukupnya setiap hari. Setelah sekian bulan menjalankan JSR, saya jadi nggak banyak variasi ketika membuat jus di pagi hari demi supaya suami sama anak-anak mau minum jus tanpa ngeluh rasanya aneh. Akhirnya jus di pagi hari hanya terdiri dari beberapa buah saja seperti tomat, belimbing, apel, jeruk nipis, wortel, dan mentimun. Sudah nggak berani nambah macam-macam karena terbukti mereka pemilih banget dibandingkan saya yang pemakan segala…hihi.


Sebelumnya, dalam seminggu saya membei 2 kg belimbing dan 3 kg tomat. Kemudian, tomat bertambah menjadi 4 kg per minggu. Eh kurang dong..hihi. Terakhir hari Minggu kemarin saya membeli 6 kg tomat segar dan bagus-bagus banget. Jangan lupa jika ingin konsumsi jus seperti ini, beli buah-buahan yang nanti bisa menambah rasa segar dan manis seperti apel, belimbing, atau nanas madu.


5. Nabung Beli Juicer


Saya mewajibkan diri membuat jus dan mengonsumsinya setiap hari. Jadi, di rumah, setiap pagi selalu ada jus untuk orang serumah. Kenapa harus beli juicer? Karena bikin jus pakai blender nggak seenak menggunakan juicer. Bisa aja kamu pakai blender, tetapi sekaligus dikonsumsi bersama ampasnya atau memisahkannya dan itu butuh waktu juga.


Harga juicer nggak beda jauh dengan blender. Tapi berguna banget terutama bagi yang ingin menurunkan berat badan. Makannya dalam list persiapan ini, saya sangat menganjurkan teman-teman membeli benda satu ini.


6. Rajin Puasa Sunah


Ini memang nggak bisa dibeli, tetapi bisa kamu usahakan. Kenapa sih ada kewajiban berpuasa di dalam agama kita? Pernahkah kamu berpikir demikian? Sebenarnya manfaatnya kembali kepada kita sendiri. Menahan lapar terbukti menyehatkan seperti yang kita praktikkan saat berpuasa.


Kalau mau sehat, taati sunah Rasulullah saw, salah satunya dengan banyak puasa sunah. Sahurnya pakai seduhan kurma saja, insya Allah kuat kok sampai Magrib…hehe. Kalau dibiasakan, puasa sunah nggak berat dijalankan. Rutin aja dan niatkan setiap Senin dan Kamis.


Ikut JSR itu mahal, ya? Banyak yang nyeletuk demikian. Tergantung. Kalau melihat postingan dr. Zaid di IG, memang beliau sering bikin resep dari bahan yang susah dijangkau kecuali bagi yang berduit tebel…hihi. Misalnya kacang almond atau sejenisnya. Tapi, kita nggak perlu menyiksa diri dengan apa-apa yang kita nggak mampu. Kalau merasa beruang (bukan beruang madu, ya), silakan diikuti. Kalau merasa kurang mampu, mending konsumsi apa yang ada di sekitar kita. Toh Rasulullah saw juga mengajarkan demikian. Beliau konsumsi makanan seperti buah-buahan yang ada di daerahnya. Karena Allah pasti telah menyiapkan jenis buah yang berbeda dengan Negara lain tidak lain sudah disesuaikan dengan kebutuhan orang-orang di daerah tersebut.


Semakin lokal, semakin baik…hihi. Semakin segar pula dan minim pengawet. Jadi, kalau ikut JSR dibilang mahal, tergantung seperti apa kita menjalaninya. Kalau saya pribadi, mending sesuaikan dengan isi kantong dan jangan menyiksa diri. Taati perintah Allah dan Rasul Allah, semoga kita senantiasa diberi sehat dan dijauhkan dari segala penyakit. Aamiin.


Semoga usaha kamu memulai hidup sehat dengan JSR berhasil, ya. Tetap sabar dan istiqomah, semoga Allah mudahkan urusanmu.


Salam,

Pilah Pilih Kelas Online Sebelum Memutuskan Bergabung

 








Zaman sekarang, apa sih yang nggak bisa kita cari? Informasi bertebaran di mana-mana. Mau belajar apa pasti ada kelasnya. Baik online atau offline. Pernahkahkah kamu mengikuti kelas online? Bagi saya yang jarang banget keluar rumah dan memang kurang bisa bersosialisasi di luar sendirian, ikut kelas online sangat membantu. Sejak menggeluti dunia literasi, saya rajin banget ikut kelas menulis online. Manfaatnya bisa didapat dengan maksimal asalkan kelasnya memang benar-benar profesional. Jadi, mau langsung ketemuan dan bertatap muka atau hanya online, semuanya bisa sangat membantu mengasah dan menambah kemampuan kita dalam belajar menulis.


Tapi, semakin ke sini semakin banyak saja yang menyelenggarakan kelas online. Nggak masalah, sih. Tapi, yang bikin gemas kalau kelasnya udah berbayar, tetapi nggak profesional. Misalnya materinya sekadarnya aja. Sharing umum yang dikemas dengan menarik seolah-olah bakalan dapat ilmu yang nggak bisa dicari di Google, tapi ketika masuk, ya Allah materinya hanya sekadarnya saja, bahkan yang di Google jauh lebih lengkap bisa kita dapatkan.


Semua orang memang berhak berbisnis, tetapi saya pribadi sedikit risih dengan cara seperti itu. Mungkin pendapat kita berbeda, ya? Tapi, saya punya alasan juga kenapa bisa mengatakan demikian.



  • Tidak Semua Orang Punya Uang


Mengerti kemampuan ekonomi setiap orang itu berbeda, sebaiknya kita jangan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Mentang-mentang temanya oke, lalu dibuatlah kelas berbayar. Kelas online diminati banyak orang karena dianggap sangat mudah diiikuti. Sehingga, dengan materi menarik, siapa pun akan tertarik dan ikutan.


Tapi, ketika sudah masuk kelas, ternyata materinya hanya begitu aja? Nggak detail, nggak ngajarin yang benar-benar dibutuhkan seperti bayangan kebanyakan orang. Dan akhirnya banyak yang kecewa meski dalam diam.


Hal semacam ini sudah berulang terjadi, baik saya alami pribadi atau cerita dari teman-teman langsung. Saya pikir, membuka kelas online sebaiknya dipikirkan masak-masak, apakah layak berbayar atau tidak. Kalau bisa dibagikan free, itu justru lebih baik jika memang merasa materinya kurang sempurna. Paling penting, kan, manfaatnya bisa sampai kepada semua orang. Kalau bicara uang, dibawa beberapa menit ke supermarket aja udah lenyap…kwkwk.



Di sini saya jadi berpikir, bagaimana dengan mereka yang benar-benar niat banget nyisihin uang buat masuk kelas online? Kasihan, bisa aja uang segitu sebenarnya dia butuhkan buat membeli susu anaknya, tetapi karena dia juga butuh bimbingan, akhirnya dipakai untuk masuk kelas online. Saya mungkin tipe orang yang nggak tegaan dan nggak cocok berbisnis seperti ini :(



  • Jujur dengan Kualitas Kelas akan Mempengaruhi Pertimbangan Peserta ke Depannya


Kalau materi hanya disampaikan secara umum, ya katakan seperti itu. Jangan dibuat misteri sehingga orang lain berharap lebih. Dan lagi, kalau membuka kelas seperti ini memang harapan di benak kita pasti bakalan dapat ilmu yang di luar pun nggak akan bisa kita cari sendiri. Karena itulah kami ikutan kelas online.


Kalau kelasnya nggak jujur sejak awal dan bikin orang kecewa, ke depannya pasti pertimbangan untuk ikut kelas selanjutnya akan lebih berat. Kita jadi mudah masuk kelas sudah pasti karena tahu kualitas kelasnya kayak apa. Kalau sudah mengecewakan, yakin berikutnya orang akan mikir dua kali buat ikutan.


Kelas-kelas online yang masih ramai sampai sekarang alasannya nggak jauh-jauh dari kualitas kelasnya yang memang bagus. Contohnya kelas menulis dari Indscript yang beberapa kali saya ikuti, Wonderland Family yang punya spesialisasi cerita anak, serta kelas mba Watiek Idio. Semuanya pernah saya ikuti bahkan lebih dari sekali, bahkannya lagi lebih dari dua dan tiga kali…kwkwk. Ngapain ikut sering-sering? Karena saya percaya kelasnya memang bagus. Materinya nggak akan kita dapat di luar dengan mudah. Jadi, meski kadang harus membayar sampai angka juta, tetap saja dikejar sama orang ramai-ramai.


Kalau sejak awal sudah dinilai ‘kurang baik’ di mata orang lain, ke depannya yang rugi tentu penyelenggara kelas itu sendiri.



  • Jangan Hanya Mengejar Untung


Saya pernah mengadakan kelas berbayar satu kali, meski beberapa orang minta diadakan kembali, saya menolak. Jujur aja, saya bukan orang yang pandai berbisnis. Jadi, kebanyakan nggak teganya sama orang…kwkwk. Kalau bisa dibuat free, kenapa harus berbayar, sih? Itu yang ada di kepala saya.


Karena nggak semua orang punya uang. Nggak semua orang bisa dapat uang dengan mudah, tetapi banyak orang yang butuh ilmu. Solusinya? Sebanyak-banyaknya kita bantu mereka sebisa kita.


Tapi, kelas gratisan bikin orang nggak serius dan malas. Bener. Nggak jarang memang begitu, tetapi pengalaman selama mengadakan kelas gratis di Estrilook Community, ada juga yang serius menekuninya sampai sekarang. Soal serius atau nggak, itu kembali pada penulis masing-masing. Tapi, bagi kita, tujuan utama untuk memberikan banyak manfaat bukan hanya sekadar keuntungan perlu banget diingat lekat-lekat. Nggak usah khawatir sama mereka yang main-main, Allah menilai niat baik kita. Nggak bakalan tertukar di sisi Allah.


Lalu, apa yang bisa kita pertimbangkan sebelum memutuskan ikutan kelas online terutama kelas menulis baik menulis buku atau kelas-kelas khusus blogger?


Ketahui Rekam Jejak Penyelenggara Kelas Online yang Akan Kamu Ikuti



Misalnya saya mau ikutan kelas online seperti Sekolah Perempuan yang harganya sangat lumayan, saya pasti akan cari tahu dulu, minimal saya bertanya kepada teman-teman sesama penulis yang udah ikutan, gimana materinya, kualitas kelas dan mentornya? Saya mungkin tipe orang yang nggak 'eman' sama uang kalau buat belajar menulis. Kenapa? Karena dulu saya rasakan betul betapa sulitnya belajar sebab keterbatasan biaya dan susah nyari informasi. Ketika saya merasa punya sedikit uang, saya manfaatkan untuk mengejar ketertinggalan saya dulu. Jadinya sering banget ikutan kelas menulis online. Tapi, saya nggak mau sembarangan juga ikutan kelas online, saya benar-benar cari tahu dulu seperti apa perjalanan mereka sebelumnya.


Ketahui Mentor yang Akan Mengisi Kelas Online

 

Nanti mentor yang bakalan ngisi kelasnya siapa?

Mentornya siapa, sih?


Pertanyaan itu sering banget ditanyakan. Kalau mentornya kenal, udah pasti mudah tertarik apalagi kalau kita tahu sendiri beliau memang mumpuni di bidangnya. Nggak akan ragu deh ikutan kelasnya.


Jadi, sebelum ikutan kelas online, bisalah tanya-tanya rekam jejak calon mentormu juga. Jangan sampai kamu masuk kelas berbayar, kemudian hanya dapat materi umum yang bahkan di Google aja jauh lebih lengkap didapat.


Sesuaikan dengan Kemampuan

 

Kelas menulis online harganya bermacam-macam. Saya mengikuti dari yang lumayan sekitar 1,5 juta hingga yang seikhlasnya. Harga murah bukan berarti murahan. Meski ingin ikut kelas menulis yang bagus, sebaiknya tetap sesuaikan kemampuan keuangan kita. Nggak sedikit kok yang harganya masuk akal dan kelasnya bagus. Nggak jarang juga yang gratis, tetapi nggak murahan. Pintar-pintar kita saja mencarinya.


Kelas Online Gratis Nggak Berarti Murahan



Saya berani katakan ini karena udah beberapa kali ikutan kelas-kelas free, dan saya juga pernah beberapa kali mengadakan kelas gratis di komunitas Estrilook. Pernah saya ingat ada penulis buku anak favorit saya dan anak-anak mengadakan kelas gratis. Isinya berkuaitas dan beliau sangat terbuka.


Gratis bukan berarti murahan, kok. Jadi, pilah pilih lagi deh kelas online yang akan kamu ikuti sebelum salah memilih.


Saat ini, siapa pun bisa mengadakan kelas online. Dari pengalaman saya dan teman-teman lain yang saling berkisah, nggak semua yang berbayar itu bagus. Ada yang sekadarnya saja, padahal berbayar, lho? Itulah pentingnya bagi kita memilah kembali. Jangan menghamburkan uang sembarangan..hihi. Bagi yang hendak menyelenggarakan kelas online juga sebaiknya menimbang betul apakah harga kelas yang diadakan pantas sesuai dengan kualitas kelasnya? Niat baik akan berbuah baik juga. Percayalah, Allah nggak tidur dan tahu niat baik kita :)


Salam,

Sunday, September 22, 2019

Memaknai Arti Kehilangan








Hari ini, belajar dari seseorang tentang arti kehilangan. Meski kehilangan lebih identik dengan hal menyedihkan, menyakitkan, tetapi bagi orang-orang yang pandai mengambil hikmah dari setiap kejadian, neriman dengan kehendak Allah dan ketetapannya, kehilangan tidak melulu bermakna negatif.


Bukankah hidup memang senantiasa mengajari kita supaya bisa mudah melepaskan, supaya lebih ringan mengatakan ikhlas tanpa embel-embel lain di belakangnya? Ya, hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita kumpulkan, bukan tentang seberapa banyak yang kita terima, tetapi tentang seberapa banyak yang bisa kita ikhlaskan, kita lepaskan, dan kita relakan.


Bukankah dunia ini hanya persinggahan dan apa yang sekarang di genggaman hanya titipan? Begitu juga tentang kematian orang-orang yang kita sayangi. Satu per satu hanya menunggu giliran. Ada yang meninggalkan, dan ada juga yang ditinggalkan.


Tahun 2009, beberapa bulan setelah menikah, saya mengalami pendarahan yang akhirnya membuat saya harus ikhlas melepaskan janin yang masih berusia beberapa bulan di dalam Rahim. Saat itu, ikhlas bagi saya mustahil diucapkan. Gimana sih rasanya pengen hamil, kemudian Allah kasih, tapi Allah ambil lagi tanpa persetujuan saya? Kok rasanya tega banget. Apalagi saat itu nggak ada kejadian aneh sebelumnya, saya nggak jatuh, saya nggak terbentur, saya baik-baik saja. Hanya saja tiba-tiba terasa mulas dan akhirnya keluar darah seperti menstruasi.


Malam saat cek ke dokter kandungan, saya masih diberi obat penguat. Masih bisa dipertahankan. Besoknya saat cek kembali, janin udah nggak utuh, lebih banyak luruh. Napas tiba-tiba sesak. Belum lagi harus menjalani tindakan kuretase. Antara serem sama sedih jadi satu. Ujung-ujungnya seperti orang linglung, aneh aja rasanya. Ibarat orang berdiri, kaki kayak nggak napak di tanah.


Saat itu, sekali lagi masih bertanya-tanya, kenapa sih harus diambil lagi? Kenapa harus keguguran, kan, saya nggak ngapa-ngapain? Salah saya apa?


Pertama kali siuman usai dikuret, saya menangis hebat. Padahal, kondisi setengah sadar. Tapi, tangis menderas begitu saja. Dalam hati menjerit tak terima. Tapi, mengingkari yang terjadi pun tak berani. Belum sembuh luka hati, komentar negatif menghampiri.


“Makannya jangan suka menunda-nunda kalau sudah menikah. Jangan melawan apa yang sudah Allah tentukan. Kamu salah sejak awal.”


Mungkin kalimat seperti itu ada benarnya. Saya khilaf sempat pengen menunda nggak hamil dulu, tapi, nggak ada niat buat melawan apa yang Allah takdirkan, sama sekali nggak ada pikiran seperti itu. Sayangnya, nasihat yang datang di waktu yang salah justru menjadi mata pisau yang mencabik ketenangan hati yang sudah dengan susah payah saya tata selama beberapa hari usai kehilangan.


Andai saya yang dulu adalah saya yang sekarang, pastilah saya buang jauh-jauh komentar semacam itu dari hidup saya. Daripada menyalahkan diri sendiri, lebih baik saya mengambil hikmah atas setiap musibah yang datang menimpa. Allah mungkin memang ingin menegur saya, saya akan perbaiki. Tapi, Allah tidak sedang menghukum saya, Allah mungkin mau saya lebih sabar. Dengan ujian seperti itu, saya belajar menjadi lebih kuat. Bisa juga, Allah ingin menggantinya dengan yang lebih baik, tapi memang bukan sekarang saatnya.


Banyak sekali kemungkinan yang terjadi. Dan untuk saat ini, saya memilih berprasangka baik kepada Allah, pemilik diri yang penuh khilaf ini. Mau sekarang atau kapan pun, milik kita akan meninggalkan kita atau sebaliknya, kita yang pergi duluan. Lantas kenapa harus berlarut-larut menangisi hal yang telah lalu? Memperbaikinya pun mustahil kita lakukan.


Dan saya hampir tak percaya, pagi tadi, saya melihat sahabat saya begitu tegar menghadapi rasa sakit bernama ‘kehilangan’. Bayinya berumus 10 bulan, beberapa minggu lalu meninggal, mendadak pula. Innalillahi wa inna ilaihi raajiun.



Berdamai dengan Rasa Sakit


Saat baru sampai, bahkan sebelum-sebelumnya pun saya tidak pernah berani bertanya, kenapa putranya meninggal. Saya khawatir dia bersedih mengingat kejadian menyedihkan itu. Sepertinya pertanyaan semacam itu tidak patut saya lontarkan demi menjaga hati keluarga yang ditinggalkan.


Tapi, dia memulai cerita terlebih dulu. Mengalirlah cerita menyedihkan itu. Allah, kenapa jadi saya yang menangis, sedangkan dia masih bisa menahan?


Dia mungkin sudah kehilangan, tetapi dia begitu legowo menerima itu. Wajar jika hari-hari pertama dia menangis, dia seorang ibu, dia yang mengandung dan melahirkan, kemudian apa yang dia sayangi diambil oleh pemilik-Nya, bagaimana nggak sedih?


Tapi, dia bisa berdamai dengan rasa sakit itu. Dia sudah memberikan yang terbaik, dia sempat melarikan bayinya ke rumah sakit, qadarallah memang tidak tertolong. Dia justru lega, mungkin yang demikian jauh lebih baik melihat kondisi bayinya diketahui terjadi komplikasi dari paru-paru dan ginjal. Dengan begini dia minim merasakan sakit. Ya sudah, mungkin ini sudah jalannya. Dia katakana itu dengan ringan, Masya Allah.


Kehilangan, jika dilawan akan semakin menyakitkan. Sebaliknya, ketika kita menerimanya, justru ia memberikan pembelajaran dan mengajari kita lebih kuat. Kehilangan tidak selalu negatif maknanya bagi yang mau mengambil hikmahnya.


Di dunia ini, seharusnya kita memang belajar banyak melepaskan. Supaya kita tidak terlalu lekat dengan dunia dan sadar semua yang kita punya hanya sebatas titipan saja. Semoga kita bisa memetik hikmahnya. Semoga kita bisa mengambil pelajaran berharga darinya.


Salam,

Thursday, September 19, 2019

Resep Fuyunghai Homemade, Mudah dan Favorit Banget!

Fuyunghai adalah makanan favorit anak saya ketika makan di resto. Kayaknya dia tipe orang yang nggak ada bosannya sama menu satu ini. Memang, ketika disajikan di resto, fuyunghai biasa bisa jadi menggiurkan banget. Padahal, kan isinya kebanyakan tepung bukan udang sama ayam…hihi.


Sempat nyoba bikin pakai resep di google, hasilnya mirip telur dadar, Guys. Akhirnya malas mau nyobain lagi karena ngerasa nggak mampu bikin seperti di resto favorit anak-anak. Kesulitan bikin fuyunghai emang di sini, keberhasilan kita dilihat dari seberapa mirip hasilnya dengan telur dadar. Kalau mirip banget berarti gagal…kwkwk. Soalnya kalau fuyunghai beneran pasti mengembang gitu dan tebal.


Karena anak-anak doyan, akhirnya nyari resep lagi dan kali ini jatuh cinta sama resepnya ci Xander’s kitchen yang udah nggak diragukan lagi ya. Bukunya aja sampai mega best seller, Guys. Pertama nyoba, langsung berhasil dong! Happy banget, apalagi suami juga doyan ternyata.


Suami saya, seperti semua tahu, dia tipe pemilih banget sama makanan. Biasanya nggak suka makan menu berbahan dasar udang, tetapi ketika saya membuat resep ini pakai udang 100%, dia tetap doyan dan nggak ngeluh geli atau gimana…kwkwk. Senang banget emak-emak bisa melihat seisi rumah puas makan menu yang dimasak sendiri.


Foto di atas sengaja saya bikin ukuran kecil karena mau dibawa si sulung ke sekolah. Dan memang lebih tipis daripada yang pertama saya buat karena saya kurangi takaran tepungnya. Tenang aja, resep asli hasilnya sangat bagus. Hanya saja pertama bikin saya nggak sempat foto dengan maksimal, keburu habis. Yang di atas juga foto seadanya, malah kelihatan sandal jepitnya…kwkwk. Nggak masalah, ya, yang penting fuyunghai-nya berhasil.


Isiannya bisa apa saja, mulai dari udang, ayam, wortel, kol, serta irisan daun bawang. Kalau saya pribadi lebih senang banyakin udangnya daripada ayamnya. Tergantung selera saja. Semakin banyak tepungnya, semakin tebal pula hasilnya. Cuslah catat resepnya, ya!


Bahan:

200 gram udang cincang

1 buah wortel, iris kecil memanjang atau cincang

Beberapa lembar kol, cincang

1 batang daun bawang, iris

2 sdm tepung terigu

1 sdm tepung sagu

Secukupnya garam

Secukupnya merica bubuk

5 butir telur

Secukupnya minyak untuk menggoreng


Bahan Saus:

2 siung bawang putih, cincang halus

2 sdm kacang polong kalengan

200 ml kaldu atau air

3 sdm gula pasir

1 sdm cuka

4 sdm saus tomat

Kaldu bubuk jika suka

1 sdm tepung maizena, larutkan dengan sedikit air


Cara membuat:

1. Kocok telur dalam wadah terpisah.

2. Campur semua bahan fuyunghai. Masukkan telur ke dalam campuran sayur dan udang.

3. Bagi adonan menjadi dua.

4. Panaskan minyak dan goreng sampai keemasan. Gunakan api kecil cenderung sedang biar nggak gosong, ya. Balik dan angkat setelah matang.

5. Untuk saus: Tumis bawang putih sampai harum. Masukkan kacang polong, masukkan air atau air kaldu yang telah dicampur dengan bahan lainnya.

6. Aduk sampai mengental.

7. Sajikan fuyunghai bersama siraman saus di atasnya.


Voila! Fuyunghai terenak di dunia siap disantap. Nggak kalah enak dengan menu resto, lho. Satu resep ini hasilnya banyak banget. Pertama bikin saya pakai 3 telur atau setengah resep saja. Itu pun sudah cukup untuk makan malam bersama keluarga tercinta.


Kalau bisa bikin sendiri, kenapa nggak? Justru kalau bikin sendiri kita bisa memastikan bahannya. Misalnya ingin dibanyakin udangnya, silakan. Atau suka banyakan ayamnya, bisa juga, atau malah ganti udang sama ayam? Semua oke aja. Tapi, memang mending udang aja sih sesuai resep karena tekstur dada ayam agak keras, jadi kurang enak dibuat fuyunghai.


Gimana, sudah penasaran pengen nyobain di rumah? Semoga berhasil, ya!


Salam,

Resep Pecel Sehat ala JSR (Jurus Sehat Rasulullah)








Pernah kebayang nggak sih, kalau diet itu sepertinya sangat identik dengan menu yang hambar dan nggak enak. Dulu saya sempat membayangkan seperti itu. Karena memang banyak orang di sekitar saya yang menu dietnya nggak enak pake banget. Misalnya mereka menghindari gorengan dan larinya ke menu kukusan yang sangat-sangat nggak manusiawi…kwkwk. Padahal, meskipun diet, kita tetap berhak makan enak, lho *sambil kibarin bendera rumah makan padang…kwkwkwk.


Selama menjalankan JSR dan Diet Kenyang, menu saya enak-enak banget. Makannya sampai sekarang saya masih betah nggak pindah ke lain hati apalagi pindah rumah…hihi. Iya, saya sering bikin menu yang sewajarnya, tetapi diolah dengan lebih sehat. Contohnya bikin pecel sendiri. Makan pecel memang sehat, karena sebagian besar kan isinya sayuran. Tapi, bumbu kacangnya yang manis dan digoreng itulah yang mesti kita batasi.


Lantas, kenapa sih kita nggak bikin sendiri aja sesuai selera? Bisa makan sepuasnya tanpa khawatir merusak program diet kita? Solusinya ganti deh gulanya dengan kurma yang sama manisnya. Kalau emang mau dapetin manisnya, nggak perlu repot-repot pakai gula, kan buah-buahan juga manis dan segar malah. Selain pakai kurma, kita juga bisa pakai nanas madu dan apel. Pernah bikin juga dan segar banget.


Tapi, buat yang lebih mirip sama bumbu pecel biasa, resep ini benar-benar cocok buat ngobatin kangen kita sama pecel yang biasa kita beli. Rasanya enak, sedap dengan aroma kencur dan daun jeruk yang pas. Nggak salah kalau ini jadi menu andalan saya. Makan somay KW pakai bumbu ini, makan rujak buah pakai bumbu ini, gado-gado juga bisa pakai bumbu ini, apalagi pecel. Penasaran? Catat ya resepnya!


Bahan:


Secukupnya sayuran rebus dan mentah sesuai selera


Haluskan Bumbu:


1 genggam kacang tanah sangrai

5 cabai rawit merah (sesuai selera)

1 ruas kencur

4 lembar daun jeruk

5-7 butir kurma

1 siung bawang putih

Secukupnya air



Sedikit garam Himalaya (untuk JSR jika suka)


 Cara membuat:


1. Campur semua bahan dan haluskan sampai rata.

2. Cicipi, dan sajikan bersama sayuran mentah dan rebus.


Voila! Bumbu pecelnya udah jadi aja, kan? Soal tingkat halus nggaknya, kamu bisa sesuaikan dengan selera, ya. Resep ini dibuat dengan beberapa bahan mentah seperti bawang putih, kencur, dll. Jadi, sebisa mungkin nggak kamu diamkan lama-lama, sebaiknya langsung saja dikonsumsi. Bikin buat sekali makan aja, ya. Biar segar juga.


Banyak resep lain yang bisa kita modifikasi sesuai selera. Makannya, saya nggak bingung untuk harian mau makan apa kalau nggak makan nasi? Masih banyak menu yang bisa kita coba, Guys. Dan semuanya benar-benar enak dan mudah dibuat.


Saya juga termasuk orang yang suka banget makan sayuran, jadi, nggak pernah bosan makan menu seperti ini bahkan meski setiap hari. Tinggal sesuaikan saja hari ini mau makan sayur apa, jika bosan, bisa ganti sayuran lain. Selain pecel, bisa juga dibuat urap. Kalau udah ngerasa kurus, sebaiknya banyakin deh makan karbohidratnya. Bisa pakai kentang kukus, nasi jagung murni, atau singkong.


Nah, kalau teman-teman punya resep apa nih yang bisa dicoba? Kuncinya kalau saya pribadi, mending makan sesuai selera dan yang saya suka, tetapi dimodifikasi aja sedikit diolah dengan benar, nggak usah terlalu kaku sama diri sendiri, insya Allah dietmu tetap berjalan menyenangkan.


Semoga bermanfaat dan menginspirasi :)


Salam,

Bersabar Saat Berproses Demi Mencapai Impian







Banyak di antara kita yang begitu bersemangat ketika ditanya, cita-citamu ingin menjadi apa? Impian yang ingin kamu wujudkan apa aja, ya? Kira-kira impian apa yang paling ingin kamu capai sekarang? Semua begitu antusias menjawab, tetapi tidak banyak yang benar-benar bersabar dalam prosesnya. Itulah kenapa, meski banyak orang bisa bermimpi apa pun, tetapi yang sukses tak bisa disamakan jumlahnya. Sering kali justru lebih sedikit ketimbang mereka yang awalnya berani bermimpi.


Pak Anies Baswedan pernah berkata,"lokasi lahir boleh di mana saja, tetapi jangan lupa, impian harus digantungkan setinggi langit." Kira-kira seperti itu kalimatnya. Sampai-sampai saya sempat membuatkan ilustrasi dari kata-kata tersebut saking merasa terinspirasi banget *atau bawaan orang ngefans emang begini, ya? Kwkwkwk.


Karena saya merasakan betul saat ada di bawah, buat bayar sekolah aja orang tua harus berhutang ke sana kemari. Bahkan sampai detik ini ketika ada yang tahu saya di Jakarta, mereka sampai detail nanyain, ngapain di Jakarta? Apa yang salah gitu dengan anak petani yang tinggal di Jakarta? Kwkwk. Suka sebel kalau ada yang sampai inbox nanya begitu. Keponya bikin orang hilang mood, apalagi kalau yang nanyain orang terhormat…hihi *ampun jadi curhat.


Jadi, dulu saya sempat pengen banget ingin kuliah. Pengen banget ngerasain jadi mahasiswi dan berharap itu bisa memudahkan saya untuk menjadi seorang penulis buku. Nyatanya, sudah tahu sekolah aja sampai kesulitan membayar SPP, malah mau kuliah. Nggak tahu diri banget, kan? Kwkwk. Impian tidak berhenti nyatanya meski sudah seperti itu.


Saya tetap di pesantren dan melanjutkan impian saya tanpa khawatir nggak bisa mencapai apa yang saya inginkan. Kalau sejak dulu saya minder, nggak mungkin saya seperti sekarang dan begitu percaya diri meski diri belum sehebat apa. Kalau diingat lagi, proses untuk jadi seperti ini saja luar biasa sulitnya, tetapi sayanya aja yang nggak ngerasa susah ngejalaninnya. Bayangin aja, demi nge-print kumpulan cerpen saya yang nggak seberapa, saya harus menabung dulu, itu pun akhirnya saya bayar dengan recehan. Karena saya memang hanya bisa mengumpulkan receh demi receh saat itu.  Kalau udah minder, udah nggak mungkin saya lakukan itu. Nggak tahu malu banget pokoknya kalau udah berhubungan sama mimpi jadi penulis…kwkwk. Kamu juga boleh menertawakan, karena saya pun tertawa kalau ingat :)


Tapi, dari situ saya akhirnya sadar, bahwa setiap impian butuh proses yang tidak sebentar. Butuh sabar buat melalui itu semua sampai akhirnya saya benar-benar bisa punya buku yang terbit mayor, ada di toko buku seluruh Indonesia. Bagi orang lain itu hal biasa, bagi saya yang berjuang benar-benar dari bawah, rasanya itu ajaib banget. Belum lagi ketika orang tua bilang bahwa mereka bangga banget, sampai semua orang dikasih tahu soal itu, rasanya gemetar dan happy banget, Masya Allah.


Dan saya pun mengamati banyak orang yang bilang punya impian, tetapi nggak pernah mencoba buat mencapainya, saya mau bilang kamu berkhianat dengan impianmu sendiri! Padahal, andai kamu memang benar-benar ingin, seharusnya kamu perjuangkan itu hingga kamu nggak mampu melakukan apa pun lagi setelahnya. Nyatanya, kebanyakan hanya bicara dan kemudian melupakannya. Lupa sambil lalu, kemudian bilang ingin, tetapi…tetapi…duh. Gemas saya sama orang seperti itu.


Sadarlah saya bahwa tidak semua orang bisa sebaik yang lain bukan karena nggak mampu, tetapi karena tidak mau mengusahakannya. Setiap orang berhak memilih dan memutuskan. Saya pribadi memilih melanjutkan impian yang telah terpatri di dalam diri. Andai suatu saat saya berhenti, itu memang ketika saya benar-benar sudah tak mampu mengusahakannya lagi, bukan ketika saya ingin menyerah.


Bagaimana dengan kamu? Apa impianmu yang belum terwujud? Percayalah, ada Allah yang akan memampukan dan mewujudkan keinginan kita. Jangan hanya sekadarnya, sebab yang hebat tak pernah melakukan itu.


Salam,