Top Social

Memaknai Arti Kehilangan

Arti kehilangan
Kehilangan tidak selalu bermakna menyedihkan dan menyakitkan (Foto: Unsplash) 

Hari ini, belajar dari seseorang tentang arti kehilangan. Meski kehilangan lebih identik dengan hal menyedihkan, menyakitkan, tetapi bagi orang-orang yang pandai mengambil hikmah dari setiap kejadian, neriman dengan kehendak Allah dan ketetapannya, kehilangan tidak melulu bermakna negatif.

Bukankah hidup memang senantiasa mengajari kita supaya bisa mudah melepaskan, supaya lebih ringan mengatakan ikhlas tanpa embel-embel lain di belakangnya? Ya, hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita kumpulkan, bukan tentang seberapa banyak yang kita terima, tetapi tentang seberapa banyak yang bisa kita ikhlaskan, kita lepaskan, dan kita relakan.

Bukankah dunia ini hanya persinggahan dan apa yang sekarang di genggaman hanya titipan? Begitu juga tentang kematian orang-orang yang kita sayangi. Satu per satu hanya menunggu giliran. Ada yang meninggalkan, dan ada juga yang ditinggalkan.

Tahun 2009, beberapa bulan setelah menikah, saya mengalami pendarahan yang akhirnya membuat saya harus ikhlas melepaskan janin yang masih berusia beberapa bulan di dalam Rahim. Saat itu, ikhlas bagi saya mustahil diucapkan. Gimana sih rasanya pengen hamil, kemudian Allah kasih, tapi Allah ambil lagi tanpa persetujuan saya? Kok rasanya tega banget. Apalagi saat itu nggak ada kejadian aneh sebelumnya, saya nggak jatuh, saya nggak terbentur, saya baik-baik saja. Hanya saja tiba-tiba terasa mulas dan akhirnya keluar darah seperti menstruasi.

Malam saat cek ke dokter kandungan, saya masih diberi obat penguat. Masih bisa dipertahankan. Besoknya saat cek kembali, janin udah nggak utuh, lebih banyak luruh. Napas tiba-tiba sesak. Belum lagi harus menjalani tindakan kuretase. Antara serem sama sedih jadi satu. Ujung-ujungnya seperti orang linglung, aneh aja rasanya. Ibarat orang berdiri, kaki kayak nggak napak di tanah.

Saat itu, sekali lagi masih bertanya-tanya, kenapa sih harus diambil lagi? Kenapa harus keguguran, kan, saya nggak ngapa-ngapain? Salah saya apa?

Pertama kali siuman usai dikuret, saya menangis hebat. Padahal, kondisi setengah sadar. Tapi, tangis menderas begitu saja. Dalam hati menjerit tak terima. Tapi, mengingkari yang terjadi pun tak berani. Belum sembuh luka hati, komentar negatif menghampiri.

“Makannya jangan suka menunda-nunda kalau sudah menikah. Jangan melawan apa yang sudah Allah tentukan. Kamu salah sejak awal.”

Mungkin kalimat seperti itu ada benarnya. Saya khilaf sempat pengen menunda nggak hamil dulu, tapi, nggak ada niat buat melawan apa yang Allah takdirkan, sama sekali nggak ada pikiran seperti itu. Sayangnya, nasihat yang datang di waktu yang salah justru menjadi mata pisau yang mencabik ketenangan hati yang sudah dengan susah payah saya tata selama beberapa hari usai kehilangan.

Andai saya yang dulu adalah saya yang sekarang, pastilah saya buang jauh-jauh komentar semacam itu dari hidup saya. Daripada menyalahkan diri sendiri, lebih baik saya mengambil hikmah atas setiap musibah yang datang menimpa. Allah mungkin memang ingin menegur saya, saya akan perbaiki. Tapi, Allah tidak sedang menghukum saya, Allah mungkin mau saya lebih sabar. Dengan ujian seperti itu, saya belajar menjadi lebih kuat. Bisa juga, Allah ingin menggantinya dengan yang lebih baik, tapi memang bukan sekarang saatnya.

Banyak sekali kemungkinan yang terjadi. Dan untuk saat ini, saya memilih berprasangka baik kepada Allah, pemilik diri yang penuh khilaf ini. Mau sekarang atau kapan pun, milik kita akan meninggalkan kita atau sebaliknya, kita yang pergi duluan. Lantas kenapa harus berlarut-larut menangisi hal yang telah lalu? Memperbaikinya pun mustahil kita lakukan.

Dan saya hampir tak percaya, pagi tadi, saya melihat sahabat saya begitu tegar menghadapi rasa sakit bernama ‘kehilangan’. Bayinya berumus 10 bulan, beberapa minggu lalu meninggal, mendadak pula. Innalillahi wa inna ilaihi raajiun.

Berdamai dengan Rasa Sakit


Arti kehilangan
Ambil hikmah dari setiap musibah (Foto: Umsplash) 

Saat baru sampai, bahkan sebelum-sebelumnya pun saya tidak pernah berani bertanya, kenapa putranya meninggal. Saya khawatir dia bersedih mengingat kejadian menyedihkan itu. Sepertinya pertanyaan semacam itu tidak patut saya lontarkan demi menjaga hati keluarga yang ditinggalkan.

Tapi, dia memulai cerita terlebih dulu. Mengalirlah cerita menyedihkan itu. Allah, kenapa jadi saya yang menangis, sedangkan dia masih bisa menahan?

Dia mungkin sudah kehilangan, tetapi dia begitu legowo menerima itu. Wajar jika hari-hari pertama dia menangis, dia seorang ibu, dia yang mengandung dan melahirkan, kemudian apa yang dia sayangi diambil oleh pemilik-Nya, bagaimana nggak sedih?

Tapi, dia bisa berdamai dengan rasa sakit itu. Dia sudah memberikan yang terbaik, dia sempat melarikan bayinya ke rumah sakit, qadarallah memang tidak tertolong. Dia justru lega, mungkin yang demikian jauh lebih baik melihat kondisi bayinya diketahui terjadi komplikasi dari paru-paru dan ginjal. Dengan begini dia minim merasakan sakit. Ya sudah, mungkin ini sudah jalannya. Dia katakana itu dengan ringan, Masya Allah.

Kehilangan, jika dilawan akan semakin menyakitkan. Sebaliknya, ketika kita menerimanya, justru ia memberikan pembelajaran dan mengajari kita lebih kuat. Kehilangan tidak selalu negatif maknanya bagi yang mau mengambil hikmahnya.

Di dunia ini, seharusnya kita memang belajar banyak melepaskan. Supaya kita tidak terlalu lekat dengan dunia dan sadar semua yang kita punya hanya sebatas titipan saja. Semoga kita bisa memetik hikmahnya. Semoga kita bisa mengambil pelajaran berharga darinya.

Salam,

Resep Fuyunghai Homemade, Mudah dan Favorit Banget!

Fuyunghai porsi kecil 


Fuyunghai adalah makanan favorit anak saya ketika makan di resto. Kayaknya dia tipe orang yang nggak ada bosannya sama menu satu ini. Memang, ketika disajikan di resto, fuyunghai biasa bisa jadi menggiurkan banget. Padahal, kan isinya kebanyakan tepung bukan udang sama ayam…hihi.

Sempat nyoba bikin pakai resep di google, hasilnya mirip telur dadar, Guys. Akhirnya malas mau nyobain lagi karena ngerasa nggak mampu bikin seperti di resto favorit anak-anak. Kesulitan bikin fuyunghai emang di sini, keberhasilan kita dilihat dari seberapa mirip hasilnya dengan telur dadar. Kalau mirip banget berarti gagal…kwkwk. Soalnya kalau fuyunghai beneran pasti mengembang gitu dan tebal.

Karena anak-anak doyan, akhirnya nyari resep lagi dan kali ini jatuh cinta sama resepnya ci Xander’s kitchen yang udah nggak diragukan lagi ya. Bukunya aja sampai mega best seller, Guys. Pertama nyoba, langsung berhasil dong! Happy banget, apalagi suami juga doyan ternyata.

Suami saya, seperti semua tahu, dia tipe pemilih banget sama makanan. Biasanya nggak suka makan menu berbahan dasar udang, tetapi ketika saya membuat resep ini pakai udang 100%, dia tetap doyan dan nggak ngeluh geli atau gimana…kwkwk. Senang banget emak-emak bisa melihat seisi rumah puas makan menu yang dimasak sendiri.

Foto di atas sengaja saya bikin ukuran kecil karena mau dibawa si sulung ke sekolah. Dan memang lebih tipis daripada yang pertama saya buat karena saya kurangi takaran tepungnya. Tenang aja, resep asli hasilnya sangat bagus. Hanya saja pertama bikin saya nggak sempat foto dengan maksimal, keburu habis. Yang di atas juga foto seadanya, malah kelihatan sandal jepitnya…kwkwk. Nggak masalah, ya, yang penting fuyunghai-nya berhasil.

Isiannya bisa apa saja, mulai dari udang, ayam, wortel, kol, serta irisan daun bawang. Kalau saya pribadi lebih senang banyakin udangnya daripada ayamnya. Tergantung selera saja. Semakin banyak tepungnya, semakin tebal pula hasilnya. Cuslah catat resepnya, ya!

Bahan:
200 gram udang cincang
1 buah wortel, iris kecil memanjang atau cincang
Beberapa lembar kol, cincang
1 batang daun bawang, iris
2 sdm tepung terigu
1 sdm tepung sagu
Secukupnya garam
Secukupnya merica bubuk
5 butir telur
Secukupnya minyak untuk menggoreng

Bahan Saus:
2 siung bawang putih, cincang halus
2 sdm kacang polong kalengan
200 ml kaldu atau air
3 sdm gula pasir
1 sdm cuka
4 sdm saus tomat
Kaldu bubuk jika suka
1 sdm tepung maizena, larutkan dengan sedikit air

Cara membuat:
1. Kocok telur dalam wadah terpisah.
2. Campur semua bahan fuyunghai. Masukkan telur ke dalam campuran sayur dan udang.
3. Bagi adonan menjadi dua.
4. Panaskan minyak dan goreng sampai keemasan. Gunakan api kecil cenderung sedang biar nggak gosong, ya. Balik dan angkat setelah matang.
5. Untuk saus: Tumis bawang putih sampai harum. Masukkan kacang polong, masukkan air atau air kaldu yang telah dicampur dengan bahan lainnya.
6. Aduk sampai mengental.
7. Sajikan fuyunghai bersama siraman saus di atasnya.

Voila! Fuyunghai terenak di dunia siap disantap. Nggak kalah enak dengan menu resto, lho. Satu resep ini hasilnya banyak banget. Pertama bikin saya pakai 3 telur atau setengah resep saja. Itu pun sudah cukup untuk makan malam bersama keluarga tercinta.

Kalau bisa bikin sendiri, kenapa nggak? Justru kalau bikin sendiri kita bisa memastikan bahannya. Misalnya ingin dibanyakin udangnya, silakan. Atau suka banyakan ayamnya, bisa juga, atau malah ganti udang sama ayam? Semua oke aja. Tapi, memang mending udang aja sih sesuai resep karena tekstur dada ayam agak keras, jadi kurang enak dibuat fuyunghai.

Gimana, sudah penasaran pengen nyobain di rumah? Semoga berhasil, ya!

Salam,

Resep Pecel Sehat ala JSR (Jurus Sehat Rasulullah)

pecel jsr
Pecel sehat dan nikmat, Guys 


Pernah kebayang nggak sih, kalau diet itu sepertinya sangat identik dengan menu yang hambar dan nggak enak. Dulu saya sempat membayangkan seperti itu. Karena memang banyak orang di sekitar saya yang menu dietnya nggak enak pake banget. Misalnya mereka menghindari gorengan dan larinya ke menu kukusan yang sangat-sangat nggak manusiawi…kwkwk. Padahal, meskipun diet, kita tetap berhak makan enak, lho *sambil kibarin bendera rumah makan padang…kwkwkwk.

Selama menjalankan JSR dan Diet Kenyang, menu saya enak-enak banget. Makannya sampai sekarang saya masih betah nggak pindah ke lain hati apalagi pindah rumah…hihi. Iya, saya sering bikin menu yang sewajarnya, tetapi diolah dengan lebih sehat. Contohnya bikin pecel sendiri. Makan pecel memang sehat, karena sebagian besar kan isinya sayuran. Tapi, bumbu kacangnya yang manis dan digoreng itulah yang mesti kita batasi.

Lantas, kenapa sih kita nggak bikin sendiri aja sesuai selera? Bisa makan sepuasnya tanpa khawatir merusak program diet kita? Solusinya ganti deh gulanya dengan kurma yang sama manisnya. Kalau emang mau dapetin manisnya, nggak perlu repot-repot pakai gula, kan buah-buahan juga manis dan segar malah. Selain pakai kurma, kita juga bisa pakai nanas madu dan apel. Pernah bikin juga dan segar banget.

Tapi, buat yang lebih mirip sama bumbu pecel biasa, resep ini benar-benar cocok buat ngobatin kangen kita sama pecel yang biasa kita beli. Rasanya enak, sedap dengan aroma kencur dan daun jeruk yang pas. Nggak salah kalau ini jadi menu andalan saya. Makan somay KW pakai bumbu ini, makan rujak buah pakai bumbu ini, gado-gado juga bisa pakai bumbu ini, apalagi pecel. Penasaran? Catat ya resepnya!

Bahan:

Secukupnya sayuran rebus dan mentah sesuai selera

Haluskan Bumbu:

1 genggam kacang tanah sangrai
5 cabai rawit merah (sesuai selera)
1 ruas kencur
4 lembar daun jeruk
5-7 butir kurma
1 siung bawang putih
Secukupnya air
Sedikit garam Himalaya (untuk JSR jika suka)

 Cara membuat:

1. Campur semua bahan dan haluskan sampai rata.
2. Cicipi, dan sajikan bersama sayuran mentah dan rebus.

Voila! Bumbu pecelnya udah jadi aja, kan? Soal tingkat halus nggaknya, kamu bisa sesuaikan dengan selera, ya. Resep ini dibuat dengan beberapa bahan mentah seperti bawang putih, kencur, dll. Jadi, sebisa mungkin nggak kamu diamkan lama-lama, sebaiknya langsung saja dikonsumsi. Bikin buat sekali makan aja, ya. Biar segar juga.

Banyak resep lain yang bisa kita modifikasi sesuai selera. Makannya, saya nggak bingung untuk harian mau makan apa kalau nggak makan nasi? Masih banyak menu yang bisa kita coba, Guys. Dan semuanya benar-benar enak dan mudah dibuat.

Saya juga termasuk orang yang suka banget makan sayuran, jadi, nggak pernah bosan makan menu seperti ini bahkan meski setiap hari. Tinggal sesuaikan saja hari ini mau makan sayur apa, jika bosan, bisa ganti sayuran lain. Selain pecel, bisa juga dibuat urap. Kalau udah ngerasa kurus, sebaiknya banyakin deh makan karbohidratnya. Bisa pakai kentang kukus, nasi jagung murni, atau singkong.

Nah, kalau teman-teman punya resep apa nih yang bisa dicoba? Kuncinya kalau saya pribadi, mending makan sesuai selera dan yang saya suka, tetapi dimodifikasi aja sedikit diolah dengan benar, nggak usah terlalu kaku sama diri sendiri, insya Allah dietmu tetap berjalan menyenangkan.

Semoga bermanfaat dan menginspirasi :)

Salam,

Mengajari Anak Makan Sendiri, Perlukah?

mengajari anak makan sendiri
Bagaimana cara mengajari anak supaya pandai makan sendiri? (Foto: Unsplash)


Saya sudah punya dua anak, keduanya sekarang sudah bisa dan Masya Allah pintar makan sendiri. Tapi, benarkah mereka bisa makan sendiri dengan mudah? Tiba-tiba bisa? Ah, dunia ini kenyataannya tidak seindah cerita dongeng, nggak semudah itu, Ferguso…kwkwk.

Anak pertama saya, bahkan sampai kelas 2 SD masih sering disuapi. Sampai-sampai ayahnya gemas, udahlah, biarin aja nggak usah makan sekalian kalau nggak mau makan sendiri…kwkwk. Sampai saya pengen nyerah, anak ini kapan ya bisa makan sendiri? Perasaan udah diajarin, kalau di sekolah pun makan sendiri meski akhirnya jadi sering nggak habis. Saya berpikir, mungkin ini ngaruh juga dari keseharian dia di rumah yang jarang makan sendiri. Alhamdulillah, selama kelas 2 SD, pelan-pelan dia belajar lebih mandiri dan akhirnya sampai sekarang sudah bisa makan sendiri setiap hari.

Berbeda dengan si bungsu, usianya lebih kecil, tetapi seusia ini dia sudah sering makan sendiri dengan rapi dan habis pula. Kemampuan motorik kasarnya sepertinya lebih bagus, menulis dan menggambar pun sudah pandai tanpa diajari. Setiap anak memang unik, meski kemampuan mereka berbeda dalam tahapan usianya, tetapi keduanya tetap istimewa.

Sebenarnya, ada cara-cara yang bisa kita usahakan supaya mereka bisa lekas mandiri, supaya mereka senang makan sendiri di meja makan bersama kita. Kira-kira apa ya? Saya bagikan gratis buat kamu semua *kalau bayar emang ada yang nanya? Kwkwk.

1. Ajarkan Makan di Meja Makan

Kalau di komplek, sudah biasa kan, ibu ngejarin anaknya yang lari-larian atau main sepeda demi menyuapi mereka? Iya, yang begitu sering banget. Selain nggak higienis karena makanan terbuka, kondisi ini juga bisa mempengaruhi kemampuan mereka untuk belajar makan sendiri. Kalau makan sambil lari-larian terus, kapan mereka belajar makan sendiri?

Ah, yang penting, kan, bisa habis makannya dengan lahap?

Sebenarnya cara itu salah besar, ya. Mereka jadi nggak menikmati makanan mereka karena sebenarnya mereka makan dengan tidak sadar. Mereka habiskan karena mereka sibuk main, ya memang nggak sadar, kan? Mending kita ajarin makan dengan tertib di rumah. Buat saya ini sangat membantu. Kalau menurut kamu?

2. Berikan Peralatan Makan Sendiri

Usaha dikit bolehlah, ya? Nggak ada salahnya kita berikan peralatan makan sendiri yang lucu dan unyu supaya mereka lebih semangat makan sendiri. Penting untuk diingat, sekarang memang banyak banget peralatan makan yang lucu dan murah, tetapi tidak semuanya aman dan layak dipakai terutama untuk kondisi makanan panas karena sebagian akan bereaksi negatif dan menimbulkan hal buruk yang nggak kita inginkan.

Belilah peralatan makan yang aman, mahal memang, tetapi demi kesehatan kenapa nggak?

3. Makan Bersama

Yup! Ajak makan bareng di meja makan. Dengan melihat orang lain makan, biasanya anak-anak akan lebih antusias mencoba sendiri, lho. Makanlah bareng minimal bareng emaknya…hihi.

Apalagi kalau sudah punya saudara, biasanya adik senang sekali mengikuti apa yang kakaknya lakukan. Contohnya anak saya. Dia bahkan sampai menunggu kakaknya memilih makanan lebih dulu, barulah dia mengikuti. Separah ini, lho…kwkwk.

4. Coba dengan Menu Favorit Mereka

Coba deh dengan menu favorit mereka dulu, biar lebih semangat makan sendiri. Atau tawarkan, siang ini dia mau makan dengan menu apa? Biasanya, kalau sesuai permintaan, anak-anak jadi lebih tertarik untuk menyantapnya.

5. Beri Mereka Kesempatan, Belepotan Dikit Bukan Masalah

Jangan marahi kalau mereka makan dengan belepotan. Toh meja kotor bisa dibersihkan, kalau hati mereka yang tercabik, bagaimana membenahinya?

Percayalah, memang semua yang sempurna itu butuh proses yang tidak mudah. Sama seperti kita, pasti nggak langsung bisa ngurus anak. Banyak kesalahan kecil di sana sini, tapi justru dengan begitu kita belajar banyak hal dan akhirnya bisa membenahinya.

Gimana, sudah siap mental lihat meja makan berantakan? Kwkwk. Setiap anak itu unik, mereka punya kemampuan berbeda, jadi nggak perlu membandingkan mereka satu sama lain, biarkan mereka menikmati prosesnya. Karena itulah yang terpenting.

Salam,

Bersabar Saat Berproses Demi Mencapai Impian

impian
Seberapa sabar kamu saat berproses? (Foto: Unsplash)


Banyak di antara kita yang begitu bersemangat ketika ditanya, cita-citamu ingin menjadi apa? Impian yang ingin kamu wujudkan apa aja, ya? Kira-kira impian apa yang paling ingin kamu capai sekarang? Semua begitu antusias menjawab, tetapi tidak banyak yang benar-benar bersabar dalam prosesnya. Itulah kenapa, meski banyak orang bisa bermimpi apa pun, tetapi yang sukses tak bisa disamakan jumlahnya. Sering kali justru lebih sedikit ketimbang mereka yang awalnya berani bermimpi.

Pak Anies Baswedan pernah berkata,"lokasi lahir boleh di mana saja, tetapi jangan lupa, impian harus digantungkan setinggi langit." Kira-kira seperti itu kalimatnya. Sampai-sampai saya sempat membuatkan ilustrasi dari kata-kata tersebut saking merasa terinspirasi banget *atau bawaan orang ngefans emang begini, ya? Kwkwkwk.

Karena saya merasakan betul saat ada di bawah, buat bayar sekolah aja orang tua harus berhutang ke sana kemari. Bahkan sampai detik ini ketika ada yang tahu saya di Jakarta, mereka sampai detail nanyain, ngapain di Jakarta? Apa yang salah gitu dengan anak petani yang tinggal di Jakarta? Kwkwk. Suka sebel kalau ada yang sampai inbox nanya begitu. Keponya bikin orang hilang mood, apalagi kalau yang nanyain orang terhormat…hihi *ampun jadi curhat.

Jadi, dulu saya sempat pengen banget ingin kuliah. Pengen banget ngerasain jadi mahasiswi dan berharap itu bisa memudahkan saya untuk menjadi seorang penulis buku. Nyatanya, sudah tahu sekolah aja sampai kesulitan membayar SPP, malah mau kuliah. Nggak tahu diri banget, kan? Kwkwk. Impian tidak berhenti nyatanya meski sudah seperti itu.

Saya tetap di pesantren dan melanjutkan impian saya tanpa khawatir nggak bisa mencapai apa yang saya inginkan. Kalau sejak dulu saya minder, nggak mungkin saya seperti sekarang dan begitu percaya diri meski diri belum sehebat apa. Kalau diingat lagi, proses untuk jadi seperti ini saja luar biasa sulitnya, tetapi sayanya aja yang nggak ngerasa susah ngejalaninnya. Bayangin aja, demi nge-print kumpulan cerpen saya yang nggak seberapa, saya harus menabung dulu, itu pun akhirnya saya bayar dengan recehan. Karena saya memang hanya bisa mengumpulkan receh demi receh saat itu.  Kalau udah minder, udah nggak mungkin saya lakukan itu. Nggak tahu malu banget pokoknya kalau udah berhubungan sama mimpi jadi penulis…kwkwk. Kamu juga boleh menertawakan, karena saya pun tertawa kalau ingat :)

Tapi, dari situ saya akhirnya sadar, bahwa setiap impian butuh proses yang tidak sebentar. Butuh sabar buat melalui itu semua sampai akhirnya saya benar-benar bisa punya buku yang terbit mayor, ada di toko buku seluruh Indonesia. Bagi orang lain itu hal biasa, bagi saya yang berjuang benar-benar dari bawah, rasanya itu ajaib banget. Belum lagi ketika orang tua bilang bahwa mereka bangga banget, sampai semua orang dikasih tahu soal itu, rasanya gemetar dan happy banget, Masya Allah.

Dan saya pun mengamati banyak orang yang bilang punya impian, tetapi nggak pernah mencoba buat mencapainya, saya mau bilang kamu berkhianat dengan impianmu sendiri! Padahal, andai kamu memang benar-benar ingin, seharusnya kamu perjuangkan itu hingga kamu nggak mampu melakukan apa pun lagi setelahnya. Nyatanya, kebanyakan hanya bicara dan kemudian melupakannya. Lupa sambil lalu, kemudian bilang ingin, tetapi…tetapi…duh. Gemas saya sama orang seperti itu.

Sadarlah saya bahwa tidak semua orang bisa sebaik yang lain bukan karena nggak mampu, tetapi karena tidak mau mengusahakannya. Setiap orang berhak memilih dan memutuskan. Saya pribadi memilih melanjutkan impian yang telah terpatri di dalam diri. Andai suatu saat saya berhenti, itu memang ketika saya benar-benar sudah tak mampu mengusahakannya lagi, bukan ketika saya ingin menyerah.

Bagaimana dengan kamu? Apa impianmu yang belum terwujud? Percayalah, ada Allah yang akan memampukan dan mewujudkan keinginan kita. Jangan hanya sekadarnya, sebab yang hebat tak pernah melakukan itu.

Salam,

Sudah Menikah, Tapi Nggak Bisa Masak? Catat Tips Ini Biar Kamu Sejago Chef!

belajar masak
Berlatih tiada henti merupakan kunci kesuksesan (Foto: Unsplash)


Postingan ini sebenarnya mengingatkan saya akan masa lalu. Saya masuk pesantren sejak SMA. Tapi, di pesantren kami dilarang memasak sendiri karena waktu belajar yang lumayan padat. Mulai dari sekolah diniyah sejak pagi hingga siang, sekolah umum dari siang sampai sore, lanjut sekolah diniyah malam sampai pukul 9an malam. Kebayang jam berapa kami mau masak? Kwkwk. Alhasil saya memang termasuk orang yang nggak jago masak sama sekali bahkan sampai menikah.

Menyebalkannya, ternyata suami saya termasuk orang yang pilah pilih sama makanan, Guys *semoga beliau nggak baca postingan ini kwkwk. Makanan yang dia suka nggak aneh-aneh, tetapi dia juga nggak gampang melahap semua makanan. Padahal, saya termasuk tipe pemakan segala, terutama sayuran. Ketemu orang seperti ini, rasanya pengen pingsan…kwkwk. Ya, itu pengalaman dulu. Sampai kadang sedih dan pengen nangis karena nggak tahu mau masak apaan.

Tapi, seiring berjalannya waktu, kemampuan memasak kita akan berkembang dengan sendirinya meskipun tanpa ikut ajang Master Chef. Percayalah, dengan banyak belajar dan berlatih, kita bakalan peka dengan keinginan pasangan atau anak-anak.

Bagi kamu yang nggak jago masak setelah menikah, percayalah, ini bukan aib, Guys. Ini kesempatan buat belajar dengan lebih serius, bukan malah mengandalkan warteg atau penjual nasi uduk di depan rumahmu *ini mah saya…kwkwk.

Lalu apa yang harus kita lakukan supaya bisa memasak menu kesukaan suami dan anak-anak? Bisa sejago chef tanpa perlu kursus masak?

1. Jam Terbang Itu Perlu

Semakin sering masak keasinan, semakin pahamlah kita akan takaran garam yang semestinya. Semakin sering masak sampai gosong, semakin pintarlah kita masak dengan lihai dan sempurna. Jangan takut gagal pokoknya. Jam terbang itu perlu. Berlatih itu penting meski tak selalu bagus hasilnya. Namanya juga latihan, gosong dan keasinan hal biasa dong.

Tapi, coba deh kamu evaluasi juga kesalahannya terletak di mana, ya? Mungkin kamu terlalu lama memasak, terlalu banyak memasukkan garam, atau apalah sampai-sampai masakanmu nggak seenak masakan ibu mertuamu *horror…kwkwk.

Saya percaya, semakin sering kita mencoba, semakin pandailah pula kita nanti. Tetap tenang dan sabar, ya!

2. Belajarlah dari Ibumu

Waktu baru pindah ke Jakarta mengikuti suami, saya sering banget nelpon orang tua hanya demi menanyakan resep ini dan itu. Meskipun udah sesuai resep, hasilnya nggak seenak masakan ibu saya dong…hiks. Kalau inget itu rasanya gemas, kok bisa, ya?

Tapi, itulah pengalaman yang nantinya akan mengajarkan kita supaya lebih pandai di kemudian hari. Saya bertanya banyak resep andalan ibu. Meski akhirnya gagal, setidaknya nggak terlalu gagal bangetlah ya karena ada orang yang bisa ditanyai kapan pun kita butuhkan. Atau, belajarlah dari ibu mertuamu, tanyakan menu kesukaan suami kamu apa saja dan bagaimana memasaknya?

3. Pakai Aplikasi Memasak

Misalnya dengan mengunduh Cookpad. Jujur saja, saya banyak belajar dari Cookpad. Karena di sana banyak banget referensi resep yang bisa kita coba plus tips dan triknya. Percayalah, kamu yang nggak bisa masak akhirnya akan bisa juga ketika banyak belajar dari aplikasi semacam ini. Saya pun belajar membuat roti dari aplikasi ini, lho. Sangat membantu dan bikin ketagihan buat masak.

4. Cari Resep Anti Gagal

Pernah saya mencoba berbagai resep roti, yang akhirnya justru hampir seluruhnya gagal hasilnya. Akhirnya saya tahu, ternyata ada resep-resep anti gagal yang mestinya kita coba dulu sebelum nyoba resep lainnya.

Jujur saja, cara ini sangat membantu dan akhirnya justru bikin kita lebih bersemangat lagi untuk mencoba resep-resep lainnya. Penting diingat juga, kamu harus mengikuti resepnya dengan benar, baik takaran dan bahan-bahan yang digunakan.

Itulah beberapa tips yang bisa kamu coba supaya bisa sejago chef saat belajar memasak. Kamu juga bisa mencari referensi resep di blog ini, lho. Banyak resep-resep mudah yang patut kamu coba. Semoga bermanfaat, tetap semangat dan jadilah terbaik sesuai kemampuanmu.

Salam,

Anak Terlewat Santai Saat Ujian? Bantu Dia Belajar Maksimal dengan 5 Cara Ini

bantu anak saat ujian
Bantu anak maksimalkan waktu belajarnya terutama saat ujian (Foto: Unsplash)


Sudah mendekati PTS atau Penilaian Tengah Semester. Minggu depan di sekolah sulung sudah mulai ujian tertulis. Mulai deg-degan banget emaknya terutama saat melihat kisi-kisi PTS tahun ini. Subhanallah, dulu emaknya belajar materi serumit itu kelas berapa ya? Ini anak baru kelas 3 SD udah bikin ngilu gigi…kwkwk.

Jujur saja, tidak mau mengulang kesalahan di masa lalu (saat saya kecil) yang menganggap peringkat pertama sebagai satu-satunya prestasi, sekarang saya berusaha membuat anak tetap ceria menjalani hari-harinya di sekolah. Belum lagi dia harus sekolah full day juga, kan? Jadinya, tetap serius, tetapi santai. Gimana ya menjelaskannya? Kwkwk. Intinya saya nggak mau terlalu memaksa dia belajar terutama di usia SD karena dia masih butuh bermain juga. Tapi, saya juga tidak ingin dia tumbuh menjadi anak yang tidak bertanggung jawab dengan tugasnya.

Selama ini, saya memang lumayan banyak membantu dia belajar terutama saat ujian. Sejak kelas 1 SD, saya hobi banget bikin latihan soal ketika ujian. Dengan senang hati dia mengerjakannya karena bagi dia, ujian itu adalah hal menyenangkan…kwkwk. Dia sendiri yang mengatakan itu pada saya.

Tapi, akhir-akhir ini saya mulai mengurangi itu. Dia cukup belajar dari buku-bukunya sendiri. Sekilas saya lihat dengan cara seperti ini justru agak mempersulit dia belajar. Karena dia harus menyisir satu per satu materi di buku yang jumlahnya aduhai. Akhirnya, tahun ini kepikiran lagi untuk merangkum materi sesuai kisi-kisi dan membuat beberapa soal latihannya juga. Dan kegiatan ini baru saya lakukan dua hari ini.

Bagaimana dengan anak-anak yang terlalu santai? Kan, ada tuh anak yang benar-benar nggak peduli dengan PR, ujian, ataupun tugas sekolah. Apa iya harus kita turuti sesuai kemauannya atau ada cara lain yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan waktu belajarnya di rumah terutama menjelang ujian?

1. Motivasi Anak Supaya Lebih Bersemangat Belajar

Kadang, ada anak yang tidak mau belajar bukan karena dia malas atau enggan, melainkan dia trauma dan sebel dengan orang tuanya yang ternyata kurang menghargai kerja keras mereka. Pernah menyindir anak karena nilai mereka tidak terlalu bagus? Padahal dia udah belajar sampai tengah malam. Atau pernahkah kamu membandingkan dia dengan anak tetangga yang nilailanya lebih tinggi? Coba koreksi cara kita mendidik mereka. Belum tentu mereka enggan belajar karena malas, bisa jadi karena kita sendiri yang telah melakukan kesalahan.

Motivasi anak-anak supaya lebih bersemangat. Jangan remehkan kerja keras mereka. Setiap anak itu cerdas dan unik. Tidak adil membandingkan dia dengan yang lain. Rasanya, cara terbaik adalah menjadi teman dia, mengerti perasaannya dan buatlah dia termotivasi tanpa memaksa.

2. Hargai Kerja Keras Mereka

Hargai kerja keras mereka, seberapa pun hasilnya. Dengan penghargaan yang layak, mereka akan merasa lebih dimengerti. Sangat penting membuat mereka merasa berharga dan memiliki orang-orang yang menghargai kerja keras mereka. Dengan begitu, tanpa perlu kita minta, mereka akan lebih giat lagi berusaha ke depannya, insya Allah.

Meremehkan kemampuan anak-anak dan kerja keras mereka hanya akan membuat mereka kurang percaya diri dan minder. Dan itu adalah sikap egois orang tua yang sebaiknya kita hindari.

3. Beri Kepercayaan

Bener kamu udah bisa?
Apa iya kamu udah belajar sungguh-sungguh barusan?

Daripada mengatakan hal demikian, mending ajak mereka belajar bersama. Bahas materi dan soal-soal bersama. Tanpa kita tanya, kita tahu seberapa mampu mereka. Kalau kita tidak memberikan kepercayaan kepada mereka, bagaimana mereka bisa serius belajar, toh akhirnya hanya dianggap berbohong atau sekadarnya. Jangan sampai, deh, kita begitu kepada anak-anak.

4. Buatlah Rangkuman Materi dan Latihan Soal

Bikin rangkuman itu penting. Kalau mereka sudah lebih besar, kita bisa meminta mereka membuat sendiri dengan menyicilnya setiap hari sebelum ujian. Tapi, untuk anak yang lebih kecil, nggak ada salahnya kita bikin latihan soal sekaligus rangkuman materi sesuai dengan kisi-kisi. Mungkin kita butuh mengorbankan waktu me time, tapi, jujur ini nggak akan memakan waktu lama, kok. Dan manfaatnya sangat besar buat mereka.

Dengan latihan soal, mereka bisa mengetes kemampuan diri sendiri, seberapa mampu sih mereka saat melaksanakan ujian nanti? Dengan latihan soal, mereka punya kesempatan untuk mencari jawaban yang tepat andai ada soal yang belum bisa dijawab.

Dan ini selalu saya kerjakan sejak sulung mulai masuk SD. Hasilnya, sangat lumayan membantu dia belajar meskipun minim didampingi sekalipun.

5. Doakan Mereka Tiada Henti

Jangan berhenti mendoakan anak-anak kita. Setelah usaha maksimal, saatnya kita serahkan semuanya pada Allah swt. Jangan sampai kamu rajin nyetatus di FB, tapi malah lupa mendoakan anak-anak sendiri *jangan lempar saya pakai panci…kwkwk.

Semoga tips-tips di atas bisa membantumu memaksimalkan waktu belajar anak-anak menjelang ujian. Hargai kerja keras mereka apa pun hasilnya. Belum tentu kita dulu sebaik mereka, lho…hehe.

Salam,

Batuk Pilek dan Antibiotik

batuk pilek anak
Batuk pilek tidak membutuhkan antibiotik (Foto: Unsplash)


Musim kemarau tahun ini terasa begitu lama, ya? Puncaknya sejak bulan Juli kemarin, parahnya sampai sekarang pun masih berlanjut. Di Jakarta, kemarin sampat diguyur hujan meski tidak lebat, setidaknya bisa mengurangi panas serta polusi udara yang sekarang benar-benar lagi di level buruk banget. Emang, iya, ya? Kalau dihirup sih nggak berasa, ya. Bukan seperti kabut asap di daerah lain. Tapi, melihat debu di rumah yang hitam, rasanya ini memang luar biasa buruk.

Dan, kondisi seperti ini biasanya diikuti oleh batuk pilek baik dialami orang dewasa ataupun anak-anak. Termasuk anak-anak di rumah. Mulai dari sulung sampai si bungsu, semuanya gantian aja batuk pilek atau common cold.

Saya pribadi termasuk orang yang lumayan tenang ketika anak-anak kena batuk pilek, asal nggak radang telinga dan demam, kayaknya masih slow dan nggak ke dokter. Masalahnya, kalau demam, kadang kejang demam. Kalau batuk pilek, kadang ke radang telinga juga sehingga saya merasa harus berkonsultasi dengan dokter untuk mengatasi masalah seperti ini.

Masalahnya, tidak semua dokter merasa perlu berdiskusi dengan pasiennya. Ada yang main horor-horor-an dulu…kwkwk, ada yang nakuti padahal nggak seserem itu. Ada yang juga yang menjelaskan dengan sangat baik, tetapi ujung-ujungnya ngasih antibiotik dan ketahuan nggak RUM (Rational Use of Medicine).

Dan faktanya, hamper semua dokter yang saya temui memang nggak RUM. Coba deh kasih saya referensi dokter di sekitar Jakarta Timur yang RUM? Masa iya saya harus ke RS. Pasar Rebo demi menemui dokter Apin yang jauhnya minta ampun. Sedih kalau udah percaya ternyata salah ngasih obat juga. Ujung-ujungnya jadi malas ke dokter…hiks.

Kemarin, terakhir ke dokter saya merasa itu adalah dokter yang terbaik dan lumayan. Ngasih antibiotik iya, tetapi saya tahu antibiotik nggak diperlukan untuk kasus anak saya. Beliau menjelaskan bahwa ketika dia kena radang telinga, memberikan obat Rhinos yang biasa untuk gejala alergi rhinitis itu wajib meski anaknya nggak flu sekalipun. Karena obat ini bisa membantu membuka saluran telinganya yang tersumbat.

Faktanya? Baru aja kemarin saya membaca salah satu email anggota di milis sehat yang mengeluhkan kondisi sama seperti si bungsu, batuk pilek, sakit telinga dan kehilangan pendengaran. Kemudian dokter wati selaku pengasuh milis sehat memberikan link dari RCH tentang otitis media di mana pemberian antibiotik tidak diperlukan serta nggak butuh juga yang namanya Rhinos, Guys. Pas baca itu rasanya tertampar keras, karena selama beberapa minggu ini si bungsu sudah habis 2 botol Rhinos…*pengen nyakar tembok.

Seketika langsung ilfeel sama dokter kemarin. Kok, bisa sih ngasih obat yang sebenarnya nggak perlu? Bahkan penjelasannya itu sangat masuk akal disbanding dokter lain yang biasa hanya main horor-horor-an gitu. Saya sempat percaya dia RUM meski sempat ngasih AB, minimal dia bener ngasih obat yang nyambung ketimbang sebelumnya yang ngasih obat buat infeksi usus…kwkwk. Ternyata nggak begitu juga.

Batuk Pilek Tidak Memerlukan Antibiotik

Batuk pilek itu disebabkan virus. Nggak perlu antibiotik yang fungsinya buat infeksi bakteri. Dan yang namanya infeksi virus lama nggak bisa berubah jadi infeksi bakteri juga kali. Biasanya ketika ditanya, kenapa kok dikasih AB? Bukannya ini cuma infeksi virus? Dokter dengan gugup mengatakan, infeksinya kan udah lama, jadi khawatir jadi infeksi bakteri (ini pun tanpa pemeriksaan lebih). Super gemas nggak sih? Kwkwk.

Kalau memang benar infeksi bakteri, seharusnya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut demi memastikan bakteri apa sih yang sedang menginfeksi? Biar AB yang dikasih nggak mubadzir gitu. Sayangnya, nggak ada dokter begini…huaaa.

Baca-baca Lagi Banyak Referensi Sebelum Menebus Obat

Ini perlu banget ketika kita mau menebus obat. Jangan seperti saya kemarin yang karena terburu-buru, akhirnya ditebus semua. Benar nggak bayar karena memang ditanggung oleh asuransi kantor suami seluruhnya, tapi ngapain juga nebus obat yang nggak perlu, kan?

Jangan sampai juga kita salah ngasih obat ke anak hanya karena kepanikan kita. Tetangga sebelah dulu akhirnya kehilangan anaknya karena lalai tidak membaca label obat. Anaknya keracunan obat dan akhirnya meninggal. Yang ngasih obat ini dokter, lho dan faktanya nggak sesuai sama usia bayi. Orang tuanya sempat membaca label obatnya, tetapi anaknya udah menelan obat itu. Saat itu dia baru sadar ada yang salah...hiks.

Jadi, kayaknya hal semacam ini yang menjadi begitu lumrah di Negara kita nggak bisa dibilang sederhana kasusnya. Apalagi kalau sudah melibatkan nyawa. Apalagi membeli AB di negeri ini begitu mudahnya, nggak seperti di Negara lain. AB itu memang berguna kalau dipakai sebagaimana mestinya. Tapi, kalau dipakai tanpa diagnosis yang tepat, ujung-ujungnya hanya merugikan manusia. Terjadi resistensi, menurunkan imunitas, dan masih banyak lagi.

Semoga ke depannya saya bisa menemukan dokter RUM yang nggak jauh dari rumah. Terkadang saya ke dokter lebih banyak karena butuh diskusi bukan semata-mata meminta obat.

Salam,

Tips Mengikuti Lomba Blog

lomba blog
Yuk, asah kemampuan menulis dengan mengikuti lomba blog (Foto: Unsplash)


Beberapa hari ini sempat gemas sendiri karena laptop sempat rusak..hiks. Sampai sekarang lappy lama nggak bisa nyambung sama wifi di rumah. Alhasil nggak bisa ngepost di blog. Pagi ini belajar make laptop lain, kalau nggak terpaksa saya nggak mau make…kwkwk. Alhamdulillah, daripada nangis bombay nggak bisa posting di blog kan, mending kita belajar ngetik pake laptop lainnya aja. Dan pembahasan sekarang sebenarnya sudah saya tulis dari kemarin-kemarin, tapi hanya disimpan, nggak bisa posting. Sedih nggak sih *lebay…kwkwk.

Kemarin, saya sempat memenangkan lomba blog tema cagar budaya di Kota Surabaya. Bukan juara pertama, Alhamdulillah jadi juara ke-3. Akhirnya sempat mikir mau nulis tema ini. Mungkin kemampuan menulis teman-teman sudah keren, tetapi kadang masih banyak yang berpikir minder ikutan lomba blog. Padahal ngapain minder? Kadang bingung juga, kenapa ada orang berpikir seperti itu, sedangkan saya yang kemampuan menulis begini-begini aja pedenya selangit. Segala lomba diikuti…kwkwk. Menang kalah hal biasa, sering kalah apalagi udah sangat biasa..hihi. Tapi, bagi saya ikutan lomba nulis itu seru banget. Ya, buat serius atau seru-seruan dan bikin happy tetap aja menyenangkan gitu.

Kalau kalah gimana? Belum ikutan aja udah deg-degan setengah mati!

Tenang, semua orang pasti mengalami hal demikian, kok. Tapi, lomba blog bukan hal mengerikan dalam hidup kamu. Nggak perlu dibawa horror, karena kisah hidup kamu aja udah horror…kwkwk. Dibawa santai aja, tetapi kalau memang berniat ingin menang, serius dikit perlu, ya. Cobalah ikutan lomba blog yang sekarang banyak banget bertebaran di dunia maya. Sekali dua kali ikutan, pasti ujung-ujungnya bikin kamu ketagihan. Apalagi bagi yang merasa belum bisa konsisten mengisi blog, ikut lomba blog bisa mengajarimu supaya konsisten dengan jadwal yang ditentukan. Cari lomba blog dengan tema yang kamu kuasai, bisa juga memberikan tantangan kepada diri sendiri dengan mengikuti lomba yang temanya belum pernah kamu ekskusi. Pasti asyik, meski sedikit bikin pusing…hihi.

Saya senang mengikuti lomba, mau lomba blog atau lomba menulis yang lain, selama ada waktu dan masih bisa menulis sesuai tema, insya Allah selalu saya ikuti. Kenapa? Karena bagi saya nggak pernah rugi ikutan kompetisi, selain bisa mengisi blog sendiri, blog kita juga jadi dikenal lebih banyak orang, lho.

Kalah sudah biasa, menang pun Alhamdulillah banget. Meski bukan blogger senior, mengisi blog sekadar karena suka menulis dan ingin menjaga konsistensi serta mengasah kemampuan menulis, tetapi, ada saatnya kita menang sambil bergumam, kok bisa saya menang, ya? Kok, kayaknya nggak nyangka banget melihat saya masih bukan siapa-siapa gitu. Jadi, bagi saya, nggak ada yang mustahil selama kita mencoba. Meski saingan kita blogger senior yang sering menang lomba sekalipun, kalau udah rezeki, bisa aja kok, kita yang menang. Allah itu melihat usaha dan kerja keras kita. Jangan remehkan usaha kamu yang sampai bermata panda itu demi mengikuti sebuah kompetisi, kalau kalah, minimal kamu belajar banyak hal dari perjuangan itu.

Kali ini saya mau berbagi beberapa tips sederhana yang biasa saya kerjakan ketika mengikuti lomba blog. Apa saja?

Baca Syarat dan Ketentuan Kompetisi Blog dengan Seksama


lomba blog
Baca syaratnya dengan teliti (Foto: Unsplash)

Jangan lupa baca syarat dan ketentuan lomba dengan seksama. Bacanya diurut dari atas sampai ke bawah. Karena biasanya, lomba mencantumkan syarat yang sangat panjang mengular dan bikin pusing…kwkwk. Penting bagi kamu mengikutinya satu per satu dan jangan sampai ada yang terlewat karena itu juga sangat menentukan.

Biasanya, lomba blog mengharuskan kamu mengikuti akun sosial media mereka, menyertakan link dalam postingan yang kamu ikut sertakan, memasukkan kata kunci, mengisi formulir perndataran, menyesuaikan tema kompetisi, dan masih banyak lagi yang lainnya. Setiap lomba akan memberikan syarat dan ketentuan yang berbeda. Penting bagi kamu selalu memerhatikannya dengan teliti, termasuk batas waktu pengirimannya.

Cari Sumber Referensi Sebanyak Mungkin


lomba blog
Baca buku atau cari di internet (Foto: Unsplash)

Nah, poin ini menjadi sangat penting karena nantinya akan sangat berpengaruh terhadap naskah yang akan kamu tulis. Semakin detail, tentu akan semakin baik. Sumber referensi bisa kamu dapatkan di buku-buku atau di internet. Kalau berniat mencari, insya Allah informasi mudah banget didapatkan, kok.

Tulis naskah kamu dengan bahasa sederhana dan jangan bertele-tele, ya. Apalagi sampai mengulang-ulang informasi hanya demi mengejar panjang naskah, biar kelihatan keren, biar kelihatan banyak banget, akhirnya malah susah dimengerti dan membosankan. Nggak perlu sampai seperti itu.

Mending tulis dengan kalimat efekti saja. Sesuai syarat minimal berapa kata, daripada malah bikin ilfeel, kan?

Persiapkan Jauh-jauh Hari, Jangan Mepet Deadline!


lomba blog
Jangan terburu-buru, persiapan matang itu perlu (Foto: Pexels)

Coba deh jangan suka mepet kalau kirim karya, beneran bikin pusing. Bisa jadi persiapan juga jadi setengah-setengah, naskah kamu pun jadi nggak maksimal hasilnya. Setiap lomba biasa memberikan jangka waktu yang lumayan panjang, kok. Minimal seminggu dan udah ada pengumuman.

Jangan juga menunda-nunda waktu. Kalau sudah oke, sebaiknya segera ekskusi biar nggak lupa. Akhirnya malah nyesel karena nggak sempet ikutan, dan lebih nyesel lagi lihat teman sendiri menang, padahal kamu merasa layak jadi pemenang juga…kwkwk. Ngenes amat hidupmu, ya…hahah.

Rezeki itu sudah ada yang ngatur. Jangan karena pemula, kamu jadi enggan ikutan kompetisi blog. Bersaing sama mastah bukan berarti selalu kalah. Allah lihat usaha kamu. Kalau masih kalah, mungkin Allah pengen kamu usaha lagi. Allah mau kamu belajar lagi. Allah mau kamu lebih gigih atau Allah mau kamu belajar bersabar dalam proses.

Semoga postingan ini bermanfaat dan menjadi pengingat saat kamu minder. Yuk, semangat menulisnya :)

Salam,

Hidup Tanpa Ketergantungan dengan Sosial Media

sosial media
Gimana hidup kamu tanpa sosial media? (Foto: Unsplash)


Sekadar ingin berbagi, selama masa menepi, memberi jarak antara diri dengan dunia maya atau sosial media, apa yang saya dapatkan ketika memutuskan menghapus sosial media (dari posnel) yang ternyata telah dilakukan lebih dulu oleh teman-teman sesama blogger yang lain?

Rasanya lega banget. Hidup nggak sibuk ngecek sosial media terus, bahkan untuk urusan nggak perlu kadang sering saya buka. Setelah saya hapus, malas buka sosial media terutama Facebook dan Instagram. Sekadar buka untuk cek notifikasi penting terutama grup yang sedang saya kelola, cek lomba-lomba, serta share postingan blog yang baru. Ternyata waktu jadi lebih efisien untuk menulis dan hal-hal lain.

Kata seorang teman, menepi itu memang perlu. Sebelumnya, saya juga pernah memutuskan tidak memakai internet sama sekali selama beberapa hari ketika liburan. Nggak ada yang berkurang kecuali nggak bisa update status…kwkwk. Dan semua berjalan baik-baik saja. Maka sejak saya menghapus akun sosial media dari ponsel, nggak ada hal aneh terjadi, karena nggak kecanduan juga, rasanya ya bukan beban tanpa melihat sosial media.

Saya katakan bahwa saya tetap butuh sosial media. Iya, kalau digunakan dengan bijak, sebenarnya nggak ada yang salah dengan ini. Benar, kan? Tapi, karena kitanya sendiri yang salah memanfaatkan, akhirnya sosial media justru menjadi korban disalahkan selama ini…kwkwk.

Hidup Tetap Berjalan Sebagaimana Mestinya


sosial media
Hidupmu tetap baik-baik saja (Foto: Unsplash)

Hidup tetap berjalan sebagaimana mestinya. Nggak ada yang berubah kecuali waktu terasa lebih luang ketimbang biasanya yang sibuk mengomentari postingan teman dan membaca status yang lain.

Hidup saya tetap berjalan dengan baik. Justru dengan cara seperti ini, saya merasa nggak banyak mendapatkan energi negatif dari postingan-postingan ‘nyampah’ yang banyak muncul di beranda. Saya nggak menyalahkan kamu yang suka nyetatus, nggak. Saya menyalahkan diri sendiri yang suka terbawa emosi kalau ada orang curhat, kemudian ikut kesel…kwkwk. Baper ini bawaan lahir kali, ya? Atau postingan aneh yang sangat tidak berfaedah, yang justru bikin mood kita buruk. Apa pun itu, kayaknya hidup lebih enteng saja tanpa sosial media di ponsel.

Sesekali saya tetap membutuhkannya, dan seperti saya katakan, semoga saya bisa menggunakannya dengan bijak. Karena sudah bukan usianya lagi saya main-main sosial media apalagi posting-posting yang kurang perlu.

Mengurangi Selfie


sosial media
Jadi berkurang narsisnya (Foto: Unsplash)

Kalau ingat perjalanan dari dulu hingga sekarang, banyak sekali pelajaran yang bisa diambil. Bagi seorang muslimah, jika tidak digunakan dengan baik, sosial media bisa jadi fitnah. Bukannya nggak sedikit akhirnya banyak ikhwan yang suka nyapa-nyapa kurang kerjaan di DM atau inbox…kwkwk. Jangan membantu setan katanya, bantu juga supaya para ikhwan nggak kena fitnah dengan mengurangi posting foto di sosial media.

Meski kamu bercadar, meski kamu berhijab syar’i, akan menjadi lebih baik jika kita nikmati foto-foto pribadi bersama orang-orang yang memang berhak melihatnya. Bukan bermaksud menggurui, tetapi pengalaman sebelum-sebelumnya, tidak sedikit juga yang akhirnya menimbulkan hal yang tidak diinginkan. Jika kamu merasa cantik, tutupilah karena wanita seluruhnya adalah aurat, simpanlah untuk dirimu sendiri :)

Mengurangi Berdebat dan Membuang Waktu


sosial media
Gunakan waktu untuk yang bermanfaat (Foto: Unsplash)

Masih ingat banget, ketika dulu baru-baru belajar menulis. Sempat ada CEO sebuah penerbit mayor yang nyeletuk kurang enak tentang para penulis pemula. Rasanya geram dan sakit banget. Saat itu memang akhirnya ramai banget yang nyetatus. Termasuk saya.

Akhirnya apa? Akhirnya nyesel sendiri pernah nyetatus seperti dulu. Status penuh rasa marah dan tidak terima. Ngapain? Buat apa? Berdebat hanya membuang waktu dan sebenarnya nggak berguna kecuali dengan ilmu. Tapi, faktanya yang kita lihat di lapangan (lapangan bola..kwkwk), kebanyakan debat itu hanya sekadar supaya bisa menang sendiri. Buat pembuktian aja supaya kita terlihat paling hebat dan menang.

Ujung-ujungnya, mau hoax atau bukan, tetap saja dibelain setengah mati. Seperti waktu pemilu kemarin. Bersyukur saya nggak ikut-ikutan hal semacam itu. Kalau dilihat, lucu dan memalukan…hiks.

Apa sih arti sosial media buat kamu? Sekadar camilan atau makanan pokok? Kalau camilan, kenapa justru menjadi dominan di dalam hidup kita mengalahkan hal lain yang sebenarnya jauh lebih penting? Kadang bingung sendiri ya menjawabnya. Pelan-pelan saya memang belajar agak menjauh dari keramaian di luar. Nggak mau sok dewasa juga, tetapi toh akhirnya saya juga berpikir bahwa saya tidak lagi layak kalau hanya sekadar main-main seperti itu terus. Keputusan terbaik ada di tangan kita, bukan orang lain.

Apa pun keputusanmu, main sosial media atau mengurangi, semoga selalu lebih banyak manfaat dan faedahnya ketimbang mudharatnya.

Salam,

Custom Post Signature

Custom Post  Signature