Top Social

(Review) Pengalaman Menginap di Ibis Trans Studio Bandung dengan Cuma-cuma!


review hotel ibis TSB

Beberapa hari yang lalu, tepatnya akhir bulan April kemarin, saya sempat main ke Bandung dan menginap semalam di hotel Ibis Trans Studio Bandung. Mungkin ini bukan kali pertama saya main ke Bandung bersama suami dan anak-anak, tetapi memang ini kali pertama kami main ke Trans Studio dan menginap di hotel Ibis TSB.

Main ke Bandung bisa dibilang cuma-cuma saja. Memang kami ini mental gratisan kayaknya, ya...kwkwk. Rencana main ke Trans Studio Bandung (TSB) sebenarnya sudah dilakukan jauh-jauh hari karena ada event family gathering dari kantornya mas. Tapi, menginapnya agak dadakan meskipun sejak awal memang ada niat ingin menginap karena nggak pengen terlalu capek di jalan sekalian ngajak anak-anak main.

Nggak lama berselang saat kami akan berangkat ke Bandung, saya dapat kabar baik dari Tiket.com, nih. Saya di-mention dan ternyata saya termasuk salah satu pemenang kompetisi ngeblog bersama Tiket.com yang diadakan tak lama sebelum pengumuman tersebut. Meskipun bukan termasuk 3 besar, tetapi hadiah yang diberikan sangat lumayan dan bisa dipakai untuk liburan! Alhamdulillah.

Sempat ragu, mau ke mana saya dan keluarga dengan hadiah berupa voucher tersebut mengingat bulan Ramadhan sudah dekat dan setelahnya kami akan mudik ke Malang. Hadiah yang awalnya direncanakan digunakan untuk pergi ke Malang akhirnya mustahil dipakai. ‘Kan baru juga mudik, masa balik lagi dalam waktu dekat sebelum bulan Juli? Sempat mikir kayaknya nggak usah dipakai vouchernya. Udah biarin hangus aja, deh. Kenapa begitu? karena sejak awal yang saya bayangkan voucher itu hanya bisa dipakai untuk tiket kereta atau pesawat..hihi.

Tapi, setelah membaca syarat dan ketentuan yang diberikan, saya nggak mikir dua kali untuk menggunakannya selama ada di Bandung. Yup! Akhirnya voucher dari Tiket.com dapat digunakan dengan mudah untuk menginap semalam di Ibis Trans Studio Bandung.

Lokasi Hotel Ibis TSB dari Trans Studio Bandung Sangat Dekat

review hotel ibis TSB


Lebay banget, ‘kan sub judul pertama ini?  Yaiyalah dekat...Haha. Jujur saja, sejak awal mencari hotel, saya hanya mencari yang terdekat dari Trans Studio Bandung. Tidak mencari yang harus bagaimana fasilitasnya. Karena yang terbayang sebelum berangkat pun adalah ekspresi lelah, letih, lesu emak-emak dengan dua anak yang aktifnya masya Allah. Belum lagi di TSB nggak banyak permainan yang cocok untuk mereka, alhasil kami malah hanya mondar mandir sampai bosan alias menyeterika jalan…kwkwk.

“Kayaknya dari tadi kalian hanya mondar mandir?” komentar salah satu teman mas yang mungkin mulai gemas melihat kami tak tentu arah…haha. Anak-anak sudah ngajakin istirahat di hotel. Bagi mereka, tidak ada yang menarik lagi untuk dilihat. Sedangkan saya, jujur saja kesemutan dari ujung kaki hingga ke pipi, dan sampai malamnya pun masih terasa banget. Seperti kena minuman soda…haha. Gara-gara saya jarang banget traveling, jauh dan capek sedikit langsung bereaksi ke tubuh. Subhanallah…apakah ini termasuk tanda-tanda usia saya yang sudah kepala dua? Eits…beberapa tahun yang lalu maksudnya. Netizen dilarang julid, ya…haha.

review hotel ibis TSB
Ketahuan banget pengen mager sampai siap amunisi sebanyak ini :D

Beruntung sekali lokasi hotel kami nggak terlalu jauh dari TSB. Cukup berjalan kaki saja, kok. Lokasinya saling berdempetan dengan mall TSB. Sebelum ke hotel, kami mencari makan dulu supaya ketika malam atau sore saat anak-anak lapar, mereka bisa segera makan tanpa harus mencari makan di luar lagi. Jujur saja, sejak sampai di hotel Ibis, saya tidak membayangkan ingin keluar lagi untuk jalan-jalan melihat pemandangan malam di kota Bandung. Bisa jadi karena saya mungkin termasuk orang yang kurang suka dengan keramaian, kurang mampu berbaur, introvert banget pokoknya. Kalau bisa leyeh-leyeh di rumah, mending saya kerjain itu daripada harus bertemu orang banyak *curhat, Mah…haha.

Ups! Ada Tamu Tak Diundang Tiba-tiba Masuk ke Kamar!


review hotel ibis TSB

Proses untuk check in sangat mudah dan sama sekali tidak ada kesulitan. Kami mendapatkan dua kamar secara cuma-cuma karena melakukan transaksi dengan voucher dari Tiket.com, dan tak lama  kemudian kami sudah sampai di kamar. Alhamdulillah…

Dua kamar kami saling berdempetan alias satu dinding pemisah saja. Rencananya memang pintu bagian dalam (connecting door) akan dibuka supaya saling terhubung dengan kamar kedua. Sebelum petugas hotel datang dan membukakan pintu tersebut, suami menunggu di kamar sebelah, sedangkan saya dan anak-anak istirahat di kamar pertama.

Sambil menikmati kentang goreng yang dibeli di mall TSB, tiba-tiba pintu kamar kami terbuka dan seorang perempuan paruh baya bersama pasangan dan anaknya muncul sambil terbelalak. Sedangkan saya tertegun. Kok, bisa masuk?

Sejak kejadian itu, hidup saya rasanya tidak tenang, Sodarah *lebay…kwkwk. Kaget banget dan sempat bertanya juga sama si sulung, kok, bisa, ya? Dia juga bingung. Karena selama menginap di beberapa hotel, baik di Jakarta atau di negara lain, belum pernah sampai terjadi hal seperti ini, lho.

Suami pun datang dan mengatakan bahwa mereka memegang kunci kamar yang sama dengan yang kami pakai. Subhanallah. Untung saat itu saya menggunakan hijab. Nggak kebayang kalau saya dalam kondisi tidak menutup aurat. Jujur saja di sini agak kecewa dengan kejadian tersebut, setelahnya jadi was-was dan mengunci kamar rapat-rapat dari dalam, khawatir ada orang lain punya kunci yang sama lagi.

Petugas hotel juga manusia, saya memaklumi hal itu apalagi pekerjaan mereka pastinya tidaklah mudah. Mengurusi banyak orang dan sebagainya. Tapi, semoga kejadian seperti ini tidak terjadi pada orang lain. Cukuplah saya yang merasa sangat ‘ajaib’. Mirip seperti sinetron gitu. Mereka buka pintu dan pandangan kami saling bertemu. Terus sama-sama kaget, kok, bisa? Haha.

Respon Petugas Hotel yang Cukup Lambat Membuat Kami Sempat Gemas


review hotel ibis TSB

Untuk membuka connecting door, kami harus menghubungi petugas hotel karena merekalah yang nantinya akan membukakan dua kunci pintu dari kedua kamar kami. Saya tidak menghitung berapa kali suami menelepon dan menunggu hingga menelepon kembali dan menunggu lagi. Kami sampai di kamar sore hari sekitar pukul 5 lebih. Hingga adzan Maghrib, petugas yang kami tunggu belum juga datang.

Saya tidak mengerti, seharusnya seperti apa. Tapi, sepertinya buat kami pribadi, kejadian seperti ini cukup mengganggu karena terkesan sangat lambat. Mau mandi, khawatir petugas hotel datang. Mau makan pun demikian. Saya hanya katakan, “Sabar. Allah sudah berikan nikmat lebih banyak. Jangan sampai mengeluh hanya karena hal kecil seperti ini.”

Dan akhirnya, petugas itu pun datang dan membantu kami. Alhamdulillah. Sabar, Bos. Ini ujian…hehe.

Fasilitas yang Kami Dapatkan Selama Menginap di Ibis TSB


review hotel ibis TSB
Kaget lagi, nggak ada sikat gigi...hihi.

Tak berbeda dengan hotel-hotel lain, kita di Ibis TSB juga mendapatkan fasilitas berupa tempat tidur, kamar mandi dengan perlengkapan mandi (tanpa sikat gigi), tanpa bak di kamar mandi, ada kulkas kecil, lemari gantungan baju, sofa dan meja, sandal, Wi-Fi, televisi, brankas, hair dryer, serta sarapan untuk keesokan harinya.

Fasilitas ini akan berbeda jika kamu memilih kamar dengan tarif berbeda. Sepertinya begitu, ya. Saya juga belum cek kamar-kamar lain di Ibis ini. Waktu memilih dengan aplikasi tiket.com, kamar ini sudah termasuk yang lumayan. Ada satu lagi kamar selisih 100 ribuan di atasnya, tetapi kayaknya fasilitasnya pun nggak jauh beda.

Sarapan Pagi Nyaman dan Kenyang


review hotel ibis TSB

Keesokan harinya, kami segera sarapan dan siap-siap kembali ke Jakarta. Bagaimana suasana sarapan di Ibis TSB? Makanannya lumayan enak. Ada beberapa pilihan menu untuk anak-anak seperti kentang panggang, sosis, telur, bubur ayam, atau sereal. Saya sendiri tidak berkeliling. Hanya mengambil sayuran, sedikit bihun (biar kelihatan elegan…kwkwk jadi nggak pakai nasi), dan ikan. Sebenarnya saya tidak terbiasa sarapan sejak mengikuti OCD sebulanan ini. Jadi, saat mau sarapan sempat ragu mau sarapan atau nggak. Akhirnya memutuskan sarapan tanpa nasi dan makan buah.

Anak-anak senang sekali makan-makan di tempat seperti ini. Mau di mana pun dan seperti apa pun, suasana seperti itu seperti bikin mood mereka naik. Sempat heran juga, kenapa mereka malah lebih heboh mau ke hotel ketimbang main di TSB? Haha. Sungguh dunia mereka susah sekali ditebak, Sodarah. Bisa jadi ketika di hotel mereka merasa seperti raja, ya.

Itulah pengalaman selama menginap di Ibis TSB semalam dengan cuma-cuma. Tidak terlalu buruk, tetapi tidak bisa juga dikatakan sempurna setelah beberapa kejadian itu menimpa kami…hehe. Semoga hal seperti itu tidak terulang lagi, ya.

Next, kita traveling ke mana lagi, ya?

Salam,
1 comment on "(Review) Pengalaman Menginap di Ibis Trans Studio Bandung dengan Cuma-cuma!"
  1. Lucky u mba, mau juga dong staycation sama keluarga ����

    ReplyDelete

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature