Posts with the label Traveling
Showing posts with label Traveling. Show all posts
Showing posts with label Traveling. Show all posts
Monday, September 2, 2019
Melihat Bukti Sejarah Perbankan Indonesia Lewat Cagar Budaya De Javasche Bank di Surabaya, Apik dan Masih Terjaga
![]() |
| (Foto: idntimes.com) |
Selama ratusan tahun, Belanda telah menjajah Indonesia. Dari pengalaman pahit sebagai nagara terjajah, rupanya Belanda tidak hanya meninggalkan kenangan buruk, tetapi juga mewariskan bangunan bersejarah berupa gedung De Javasche Bank yang pernah menjadi bank terkemuka pada zaman kolonial Belanda.
De Javasche Bank atau DJB bukan Museum Bank Indonesia, lho. Meskipun saat kita melakukan pencarian di Google, rupanya banyak artikel yang mengaitkan bangunan ini dengan BI, bahkan tidak sedikit juga masyarakat kita yang menganggap keduanya sama, tetapi faktanya De Javasche Bank bukan Museum Bank Indonesia. Museum Bank Indonesia hanya ada satu-satunya di Jakarta. Lantas kenapa De Javasche Bank selalu dikaitkan dengan Bank Indonesia?
Bank Indonesia dulunya sempat beroperasi di gedung De Javasche Bank sambil menunggu selesainya pembangunan gedung BI di Jalan Pahlawan. Tepat pada tanggal 1 Juli 1953, De Javasche bank resmi berubah nama menjadi Bank Indonesia. Karena kejadian inilah, banyak dari masyarakat kita menganggap bahwa bangunan De Javasche bank sebagai bangunan atau kantor dari Bank Indonesia.
Pada tahun 2012, De Javasche Bank diresmikan sebagai cagar budaya. Koleksi barang peninggalan yang bisa dilihat di dalam gedung De Javasche Bank memang sengaja dikirim ke sana supaya masyarakat bisa menikmati wisata edukasi bukan hanya berupa gedung saja, melainkan juga dengan melihat barang-barang bersejarah lainnya. Tapi, akhirnya justru banyak orang menganggapnya sebagai museum, padahal barang-barang itu sengaja dikirim hanya demi menarik wisatawan saja.
Sejarah Lahirnya De Javasche Bank Surabaya
De Javasche Bank didirikan pada tahun 1928 di Batavia. Gedung bergaya arsitektur konservatif neo renaissance ini merupakan perwakilan dari gedung DJB yang ada di Batavia. Dibangun pada tahun 1929, gedung ini dilengkapi dengan ukiran Jepara pada setiap pilarnya. Uniknya, meski tanpa lampu dan lilin, gedung DJB bisa tampak sangat terang, lho. Semua ini dikerjakan dengan sangat detail oleh Belanda sehingga menghasilkan bangunan bersejarah yang sangat menarik dilihat hingga saat ini.
Bagian-bagian dari Gedung De Javasche Bank
Gedung De Javasche Bank terdiri dari tiga lantai. Pertama, ruang bawah tanah atau basement yang digunakan sebagai tempat penyimpanan uang, emas, serta dokumen penting. Lantai dua digunakan sebagai kantor serta teller. Sedangkan untuk lantai tiga dipakai sebagai tempat dokumentasi.
Gedung De Javasche Bank dulunya memiliki satu pintu masuk berupa pintu putar bagi para nasabah dan petugas yang letaknya terdapat di lantai dua. Namun, saat ini pintu masuk justru berada di lantai basement dan ini menjadi salah satu keunikan tersendiri bagi gedung DJB.
Keunikan dari Gedung De Javasche Bank
Saat berwisata edukasi di gedung DJB, kamu akan melihat banyak sekali keunikan yang sekaligus menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Gedung DJB disebut memiliki CCTV tradisional berupa kaca datar yang diletakkan di sudut-sudut ruangan, sehingga petugas keamanan bank tidak perlu mengitari lorong ruangan untuk memeriksa para teller yang bertugas di brankas, melainkan cukup dengan melihat bayangan melalui kaca-kaca tersebut.
Saking ketatnya keamanan zaman dulu, para teller yang bekerja di brankas milik De Javasche Bank sampai dilarang menggunakan pakaian yang memiliki kantong, lho. Keberadaan CCTV tradisional ini sangat membantu para petugas keamanan memantau para teller sehingga tidak ada kesempatan bagi mereka untuk melakukan tindak kejahatan.
Tidak hanya itu, di gedung DJB kamu bisa melihat mesin uang zaman dulu yang menjadi koleksi istimewa dari gedung ini. Para pelajar wajib berwisata ke gedung DJB karena bisa melihat langsung bukti sejarah pada zaman kolonial Belanda sekaligus menambah pengetahuan tentang sejarah perbankan di negeri tercinta yang selama ini banyak diabaikan.
De Javasche Bank di Masa Kini
Gedung De Javasche Bank di masa kini tidak banyak mengalami perubahan di sana sini. Kondisinya masih sama seperti zaman dulu, hanya saja ada penambahan seperti AC, alat keamanan, serta pintu basement.
Kondisi bangunannya kokoh dan masih berdiri gagah. Semua bagiannya pun tetap berfungsi dengan sempurna. Contohnya saja pintu dorong yang terbuat dari baja, sampai sekarang pintu tersebut masih bisa digunakan sebagaimana mestinya. Tidak hanya itu, salah satu koleksi gedung DJB berupa kaca patri yang merupakan kerajinan turun temurun di Eropa masih terjaga sampai sekarang dan belum pernah pecah sama sekali, lho. Kaca ini bahkan hanya bisa ditemukan di beberapa negara saja di dunia.
Berkunjung ke gedung DJB tidak hanya memperlihatkan tentang sejarah perbankan pada zaman kolonial Belanda saja, melainkan juga menyuguhkan spot foto yang instagramable banget. Kamu bisa menyewa tempat untuk foto komersil atau pre wedding dengan mengurus surat izin sebelumnya ke BI Surabaya.
Berkunjung ke gedung DJB tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis. Cukup isi data diri kamu di buku tamu dan bersiaplah menjelajahi keunikan dari cagar budaya De Javasche Bank. Jangan sungkan bertanya kepada pengelola DJB tentang informasi yang kamu butuhkan sehingga tidak terjadi kesalahpahaman mengenai sejarah DJB yang sebenarnya.
Gedung DJB buka setiap hari selain hari Senin, mulai pukul 08.00 sampai pukul 16.00 WIB. Yuk, dolan nang Suroboyo dan lestarikan cagar budaya De Javasche Bank ini. Kalau bukan kita yang mengunjungi dan melestarikannya, lantas siapa lagi?
Salam,
Saturday, July 6, 2019
Traveling Murah Meriah di Kota Jakarta? Naik KRL dan ke Kota Tua Aja!
Blog ini sungguh miris kalau sudah masuk kategori Traveling, ya? Sangat jarang update karena jujur saja saya ini anak rumahan yang jarang banget traveling. Dulu, sebelum menikah, suami saya suka banget jalan-jalan. Setelah menikah dan punya anak, Mas lebih happy di rumah. Entah karena memang pengen berkualitas kebersamaannya atau emang tujuan hemat lebih utama? Kwkwk.
Sebenarnya, Mas sering ngajak jalan. Tapi, kalau agak jauhan, saya mikir dua kali. Mungkin memang bukan jiwa traveler, jadi ya gitulah mikirnya serba ribet. Belakangan, sejak ikut Diet Kenyang dan mendengar banyak video Dewi Hughes, saya belajar mengelola pikiran. Biasanya ketakutan dan kekhawatiran suka muncul berlebihan bahkan sebelum hal itu benar-benar terjadi.
Salah satu contoh ketika saya mau mudik kemarin, baru tahu kalau tempat duduk kami terpisah satu gerbong, Guys. Di stasiun hampir nangis sesenggukan saking kagetnya. Mata udah panas. Saya nggak mau pisah duduk dari Mas. Lebay, ‘kan? Sampai Mas usap-usap kepala istrinya berkali-kali…kwkwk. Akhirnya saya dapat lebih tenang setelah mensugesti pikiran bahwa semua akan baik-baik saja, kok. Nggak ada hal buruk yang akan terjadi. Ini hanya perjalanan singkat. Tarik napas panjang, embuskan. Pas naik kereta, saya sudah menerimanya dengan senang hati. Alhamdulillah, keadaan memang sesuai yang saya pikirkan. Apa yang kamu pikirkan, terjadi sekarang! Begitu kata Dewi Hughes, Guys…hihi.
Dari pengalaman itu, saya belajar menjalani apa pun dengan happy. Disyukuri sebesar-besarnya. Bisa main sama anak dan suami bukan hal mudah bagi sebagian orang. Tapi, lihat! Saya bisa mendapatkannya di setiap akhir pekan tanpa terganggu.
Kemarin, Mas ngajak pergi ke Kota Tua. Iya, ini lokasinya nggak terlalu jauh dari rumah. Lumayanlah terutama kalau ditempuh dengan KRL, sangat singkat rasanya. Pergi ke Kota Tua bukan kali pertama. Dulu juga pernah ke sana bersama keluarga yang lain. Sekadar jalan dan melihat keramaian. Foto cantik, makan dan pulang udah sangat nikmat…haha. Sederhana sekali emak satu ini, ya?
Pergi ke Kota Tua Naik KRL Sangat Terjangkau
Dari stasiun Klender Baru menuju Stasiun Jakarta Kota yang letaknya di Kelurahan Pinangsia, Kawasan Kota Tua hanya perlu membayar sebesar 3 ribu rupiah untuk sekali perjalanan. Jadi, kalau bolak balik, hanya perlu membayar 6 ribu rupiah saja per orang.
Dengan kondisi KRL yang super nyaman, kita nggak perlu ngeluh meskipun harus sambil berdiri karena penumpang penuh misalnya. Saya pun tetap happy dan sangat menikmati perjalanan singkat ini.
Sejak kemarin mudik dengan kereta, saya jadi suka banget ke mana-mana naik kereta, ya? Anak-anak pun sudah besar. Perjalanan naik kereta seperti wisata tersendiri buat saya dan anak-anak. Ya, mereka jarang naik kereta. Kalau naik pesawat kayaknya udah biasa dan nggak terlalu spesial. Beda dengan kereta yang bisa melihat pemandangan, waktunya cukup lama sehingga mereka bisa melakukan banyak hal.
Stasiun-stasiun sekarang pun sudah dibangun. Sudah lebih nyaman daripada sebelumnya. Bersih, dekat juga dari rumah. Jadi, nggak ada alasan buat ngeluh, sih. Pokoknya happy banget dan ketagihan naik kereta meskipun saya berangkat sekitar jam 8an pagi dan sebelum Dhuhur udah balik pulang…haha.
Kota Tua, Wisata Menarik dan Cocok untuk Keluarga
Sampai di Stasiun Jakarta Kota, kita langsung menyeberang menuju Kota Tua. Lokasinya cuma beberapa ratus meter saja dari stasiun akhir ini. Sampai di sana, kamu bisa melihat para pedagang menggelar berbagai macam jenis dagangannya. Mulai dari pecel, gorengan, mainan, topi, kacamata, kaos, dan masih banyak banget.
Tapi, karena fokus kita main, ya lewati dulu para pedagangnya, ya…hihi. Kemarin, kami hanya berkeliling sebentar dan berfoto-foto. Kami juga sempat berkunjung ke Taman Apung yang letaknya sangat dekat dari Kota Tua.
Kondisinya sangat bersih dan terjaga. Jujur saja, ini baru pertama kali saya melihat Taman Apung. Lucu, sih, dan bisa juga buat foto-foto. Sayangnya, pintu pagarnya dikunci, jadi kita nggak bisa masuk dan berfoto di tengah.
Setelah dari Taman Apung main ke mana? Ngajakin makan siang dan segera pulang. Niat traveling nggak, sih? Karena dulu sudah pernah berkeliling, dan kali ini hanya dalam rangka mengantarkan keponakan, jadinya kami menawarkan apakah dia mau masuk dan berkeliling atau sekadar tahu aja? Dia udah males dan ngajakin pulang juga, Guys…kwkwk. Alhasil, habis foto-foto ria, kami ke stasiun dan mencari makan siang di sana.
Makan Siang di Stasiun Jakarta Kota
Kalau di sekitar Kota Tua, mungkin kamu nggak bakalan banyak menemukan tempat makan yang lumayan enak. Jadi, saya sarankan pergilah ke Stasiun Kota. Di sana, jumlah tempat makan jauh lebih banyak dan beragam.
Kita akhirnya memilih A&W, karena di sinilah yang paling sepi. Sedangkan sebelahnya ramai banget, Guys. Mana tahan sambil bawa dua anak yang tingkahnya ajaib, Masya Allah. Meskipun sedang menjalankan diet sehat, saya nggak pernah bingung ketika pergi ke tempat-tempat seperti ini. Prinsip saya tidak mau membuat semua jadi ribet. Makan ya makan saja.
Karena tidak makan nasi, saya pesan sup dan tetap makan ayamnya. Sebelumnya saya juga bawa kurma. Jadi, pas semua jajan, saya makan kurma. Pas semua orang makan siang, saya juga makan dong…hihi. Masa iya saya harus bawa sayur dan lalapan ke sana? Jangan biarkan diri kita sampai kelaparan hanya karena memaksakan diri untuk tetap makan sehat. Sepotong pizza tidak akan bikin gendut, begitu juga semangkuk salad mustahil bikin kurus dalam sekejap. Karena saya pegang prinsip ini, mudik, traveling, dan ke mana pun tetap nyaman dengan pola makan seperti ini. Alhamdulillah, sampai detik ini berat badan tetap stabil bahkan cenderung turun perlahan.
Tapi, ingat juga. Ini hanya sesekali saja. Saya juga nggak menahan diri ketika pengen makan sesuatu. Ya, makan saja. Setelah itu ya udah. Makannya pun dalam jumlah sedikit dan itu bagi saya cukup.
Kira-kira itulah cerita singkat perjalanan saya dan keluarga kecil ke Kota Tua di Jakarta menggunakan transportasi KRL yang murah meriah. Gimana? masih ada waktu, lho sebelum liburan sekolah usai untuk mengajak buah hati ke wisata favorit mereka.
Salam,
Monday, June 17, 2019
(Review) Pengalaman Berkesan Saat Menginap di Grand Surya Hotel Kediri
![]() |
| Foto: Dok pribadi |
Rencana ke Kediri sebenarnya tidak direncanakan jauh-jauh hari. Justru malah mendadak banget. Ngapain aja ke sana? Mengunjungi kerabat, main ke Gunung Kelud dan suami ikutan gowes bersama tim suami yang lain. Nah, selama para suami bersepeda di Kota Kediri, saya dan ibu-ibu yang lain tetap menjaga kedamaian anak-anak dengan tidak keluar sehingga dikhawatirkan justru akan timbul kericuhan di luar…kwkwk. Secara, anak dua aja kerjanya ribut mulu. Baru masuk mobil saja sudah rebutan tempat duduk, apa kabar kalau perginya tanpa Mas?
Selama di Kediri, saya sempat menginap semalam di Grand Surya Hotel Kediri. Lokasinya tepat berada di Jl. Dhoho No. 95, Pakelan, Kecamatan Kota Kediri, Kemasan, Jawa Timur. Letak Kota Kediri sendiri dari Malang ternyata lumayan banget meskipun sudah melewati jalan tol yang mulus, ya. Kirain hanya tiga jaman, lho. Ternyata lebih!
Saya berangkat sekitar pukul 11 siang. Sampai di lokasi saat adzan Magrib. Waktu kurang dari satu jam digunakan untuk shalat Dhuhur di tengah jalan. Bisa hitung berapa jam lamanya? Anak-anak ribut, akur lagi, ribut lagi, akur lagi, eh belum sampai juga, lho…haha. Mungkin yang berat memang bukan rindu, tetapi menahan ngomel ketika mereka berdua ribut, Subhanallah *curhat colongan…kwkwk.
Dan seperti apa suasana hotel yang termasuk sangat lumayan di Kota Kediri ini? Yuk, simak review jujur tanpa pamrih dari saya…hehe.
Fasilitas Grand Surya Hotel Kediri
Ketika pertama membuka pintu, sudah ketahuan kamarnya lumayan luas, jika anak-anak kejar-kejaran dan terjadi baku hantam, Insya Allah masih ada lokasi aman untuk bersembunyi. Tempat tidur, kursi, dan fasilitas lainnya terbilang sangat lumayan, kok.
Saya juga tertarik dengan bangku yang posisinya menempel dengan dinding kamar mandi. Terkesan unik dan lucu banget seperti bangku-bangku di taman dengan lampur di atasnya. Terdapat sajadah juga, lho. Di mana sangat jarang saya temukan di hotel lain. Petunjuk arah kiblat memang pasti ada di hampir semua hotel, tetapi kalau sajadah, sangat jarang disediakan.
Poin paling penting adalah kamar mandi. Karena saya orangnya suka risih kalau sampai kamar mandinya kurang bersih…haha. Di sini, perlengkapan mandi disediakan lengkap, ya. Sedangkan kondisi kamar mandinya lumayan bersih dan terjaga sehingga bagi kamu yang seperti saya, suka geli-geli kalau lihat kamar mandi kotor, bisa bernapas lega.
Makanan di Grand Surya Hotel Kediri
Saya pribadi belum mencoba makanan di sini karena memang sengaja tidak memesan makanan. Kemarin sempat pesan nasi goreng buat anak-anak dengan harga Rp. 60 ribu untuk satu piring. Isinya banyak banget. Ditambah telur, sate ayam, dan topping udang goreng tepung di atasnya. Iya, lumayan harganya, tetapi dengan porsi sekian dan tambahan lauk lengkap, kayaknya masih terbilang wajar.
Kamu yang ingin makan menu lain pun bisa banget memesan langsung. Menunya bervasiasi banget. Kebetulan saya sedang ikut JSR, sehingga nggak terlalu memusingkan juga soal sarapan. Saya juga tidak mencoba menu sarapan yang dipesankan untuk anak-anak…hehe. Cuma lihat penampilannya saja yang kayaknya sih enak, ya.
Pelayan Ramah dan Baik
Iya, sih, di mana-mana pastilah pelayan akan melayani dengan baik, ramah, dan pasti lekas tanggap. Uniknya, di sini, kamu bisa memberikan penilaian lebih terhadap karyawan tertentu yang menurut kamu patut diacungi jempol. Tinggal tulis saja siapa nama karyawan yang menurut kamu sangat baik, sopan, dan telah membantumu semaksimal mungkin.
Pelayanan seperti ini memang sangat diperlukan saat menginap di sebuah hotel, ya. Kebayang dong, udah capek, pelayannya kurang tanggap, jadi malas banget, ‘kan jadinya?
Selama menginap di Grand Surya Hotel Kediri, saya merasa sangat nyaman. Pengalaman pertama yang tak terlupakan pastinya serta memberikan kesan baik. Semoga suatu saat saya bisa traveling lagi ke Kota Kediri dan bisa menginap kembali di Grand Surya Hotel Kediri. Semoga bermanfaat, dan jangan lupa bersyukur.
Salam,
Saturday, June 15, 2019
Tips Traveling Mudah dengan Pola Makan ala JSR (Jurus Sehat Rasulullah)
![]() |
| Tip traveling ala JSR |
Assalamualaikum! Alhamdulillah, senang pake banget akhirnya bisa menulis lagi dan posting tulisan baru di blog. Saat mudik ke Malang kemarin, saya memang sengaja tidak membawa laptop dan tidak juga memaksakan diri untuk menulis pakai handphone. Alasannya karena benar-benar ingin berlibur serta berkumpul bersama orang tua dan saudara. Tanpa menulis saja sudah banyak waktu tersita di jalan apalagi kalau harus menulis? Lagian, momen pulang ke kampung halaman tidak terjadi setiap saat. Bahkan hanya setahun sekali.
Saat mudik kemarin, sempat khawatir dengan pola makan ala JSR yang baru saja saya jalani. Takut banget tergoda makan makanan yang aneh-aneh. Masa saya kuat nggak makan menu yang biasa tersaji di meja makan terutama jika itu adalah masakan Ibu? Rasanya hampir mustahil. Tapi, saya coba meyakinkan diri bahwa semua itu bisa saja terjadi jika saya memang benar-benar ‘niat’ untuk makan apa yang sekarang saya konsumsi setiap hari.
Soal godaan makan nasi bukan hal berat untuk saat ini. Justru makan kerupuk dan gorenganlah yang selalu melambai-lambai minta dikunyah…haha. Apalagi ibu suka bikin kerupuk tepung beras yang enak banget. Hadeh, akhirnya beneran saya makan satu hingga dua kerupuk…kwkwk. Tapi, setelah itu nggak bablas, kok. Saya tetap sadar bahwa apa yang saya lakukan selama ini bukan hanya berdampak baik pada penurunan berat badan, tetapi juga membuat kondisi tubuh jauh lebih sehat.
Menjalani pola makan ala JSR bukan sesuatu yang harus dipaksakan, diratapi, apalagi dibuat sedih. Sejak awal saya memang ingin menurunkan berat badan, tetapi seiring berjalannya waktu, saya tidak hanya ingin kurus dan langsing, tetapi juga mau sehat. Saat lebaran kemarin, banyak banget saudara yang menderita diabetes, kolesterol, berat badan lebih dari normal, bahkan ada juga yang kena struk hingga kanker. Entah awalnya dari berat badan berlebih atau pola makan yang tidak benar, yang jelas, kedua hal ini saling berkaitan satu sama lain.
Melihat kondisi seperti ini, diam-diam saya bersyukur bisa mengenal JSR. Tanpa harus menanti saya sakit, saya sudah bisa memulai semuanya dengan senang hati. Nggak pernah merasa terpaksa untuk menjalankannya. Saya pun tidak mau kaku sama diri sendiri, terutama saya sadar bahwa saya adalah pemula dalam hal ini. Belum ada hitungan tahun, jadi semua dijalankan harus dengan senang hati.
Saat melihat ibu memasak opor ayam kampung, saya kangen dan pengen banget makan seperti dulu-dulu. Dua potong ayam bukan dosa besar. Ya, saya juga mau ibu melihat saya makan masakannya. Sebab beliau memang sengaja memasak itu demi menyambut kedatangan saya. Rasanya? Enak banget, Masya Allah.
Selain saya, ibu pun sudah banyak berubah. Selain rajin minum jus sayuran setiap hari, beliau juga mengurangi garam dan menghindari penyedap rasa. Beliau sadar itu tidak selalu baik bagi kondisi kesehatan terutama saat ini ketika beliau sudah berusia lanjut. Kemarin saya pun sempat membantu ibu membuat jus sayuran. Jujur saja, untuk minum jus sayur dan ampasnya sekaligus bukan hal mudah. Mungkin jika dipaksa saya bisa mual hingga muntah, tetapi, karena keinginan kuat untuk sehat, ibu meminumnya dengan senang hati dan tanpa beban. Setiap hari.
Qadarallah, Ibu merasa jauh lebih sehat jika minum jus. Karena itu, tidak ada alasan untuk menghindarinya. Sekarang saya jadi punya teman sehati, ‘kan saat mudik?
Selain mudik ke rumah orang tua dan mertua, saya juga sempat traveling ke Kediri selama dua malam. Ya, total 3 hari plus di jalan. Kebayang dong, saya sempat panik dan khawatir, bakalan makan apa nanti saat dalam perjalanan? Karena sudah hitungan bulan kedua menjalankan JSR, saya jadi lebih percaya diri. Iya, nggak mau ribet apalagi dibikin ribet. Hidup saja sudah berat, kenapa makan pun dibikin berat? Haha. Jadi, saya bikin semua berjalan dengan sangat santai dan mudah. Alhamdulillah, semua berjalan sesuai rencana.
Nah, kira-kira persiapan apa dan makanan seperti apa yang harus dibawa saat traveling? Simak pengalaman singkat saya selama menjalankan JSR dan harus traveling beberapa hari.
1. Bawa Camilan Wajib
Makanlah apa pun yang ada di sekitarmu. Nggak usah ribet nyari ke negeri orang untuk menyantap kacang-kacangan. Jangan pula mencari yang mahal jika hanya ingin ngemil. Itulah alasan kenapa saya selalu membuat kacang tanah sangrai sendiri. Sebab kacang tanah adalah kacang-kacangan yang mudah dijumpai di sekitar kita. Pastilah Allah sangat paham dengan kebutuhan kita. Tanpa harus makan kacang almond pun, Insya Allah kebutuhan nutrisi kita telah terpenuhi.
Kalau harus mengonsumsi kacang almond yang per kilonya mencapai Rp. 200 ribu, rasanya sangat memberatkan buat saya pribadi. Solusinya, saya membuat kacang tanah sangrai sebagai pengganti dan saat ini menjadi camilan wajib yang bisa mengalihkan pandangan dari gorengan dan kerupuk. Simpel, tapi enak banget dan nggak bisa berhenti makan…haha.
Jadi, camilan wajib bagi saya adalah kacang tanah sangrai yang selalu saya buat sendiri. Sangrai kacang tanah di atas api kecil sampai krispi. Simpan dalam toples selai ukuran sedang. Percayalah, rasanya nggak buruk. Bahkan suami dan anak-anak pun doyan.
Saat lebaran, saya selalu bawa toples berisi kacang tanah ini ke mana pun. Saat orang lain makan kue lebaran, saya dengan nyaman mengunyah kacang tanah serta buah. Orang-orang sempat membicarakan pola makan saya yang mungkin bagi mereka cenderung aneh dan di luar kebiasaan. Eh, istrinya Q nggak makan nasi, cuma makan buah dan sayur. Padahal, saya juga makan daging, telur, dan ayam. Cuma mau menjelaskan juga terlalu ribet..hihi. Jadi, saya diamkan saja selama tidak mengganggu.
Kenapa harus kacang tanah sangrai? Kenapa nggak yang lainnya? Karena mudah dibuat dan mudah dibawa ke mana-mana. Rasanya bisa menggantikan makanan lain yang enak di lidah. Jujur saja, saya sama sekali tidak menyentuh kue lebaran seperti nastar dan kawan-kawannya. Terlebih kemarin di kampung mertua, sedang ada panen jeruk berlimpah. Setiap pergi ke rumah saudara, selalu ada jeruk atau kurma. Jadi, itu benar-benar real food yang bisa memanjakan lidah saya. Jika pun ingin ngemil, kacang tanah ini sudah bisa menggantikan semua yang saya inginkan. Saya sudah merasa sangat cukup dengan ini, tidak menginginkan lebih.
Nah, buat kamu, bisa jadi ada camilan lain yang mungkin lebih enak daripada kacang tanah sangrai. Yang penting, jangan hanya sekadar ikut-ikutan orang lain, jadilah diri sendiri dengan kondisi kantong sendiri juga…hihi. Bagi orang lain, ngemil kacang almond bisa jadi hal biasa dan tidak memberatkan, tetapi buat saya, bisa jadi ngunyah sambil nangis karena memikirkan harganya yang T-E-R-L-A-L-U. Mustahil saya ngemil cuma 7 butir sehari, anak-anak dan Mas pastilah pengen nyomot juga, ‘kan? Kwkwk, sekilo pastilah nggak sampai seminggu. Miris juga, ‘kan? Mending saya pakai untuk beli buah aja...haha *emak hemat dan pelit beda tipis.
2. Bawa Kurma
Kurma merupakan salah satu jenis makanan real food yang sangat bagus untuk tubuh. Seperti saat puasa, kondisi kita akan membaik setelah makan kurma karena kandungan nutrisinya yang sangat bagus. Saya pun tak pernah lepas membawa kurma ke mana-mana sejak ikut JSR. Selain bisa langsung dimakan, kamu juga bisa merendamnya menjadi infused water yang mudah. Saya mengharuskan diri membawa kurma ke mana pun. Sejak ikut JSR, saya jatuh hati pada buah dengan rasa manis ini. Padahal seharusnya sudah dari dulu, ya? 'kan sudah jelas banyak dalil yang menganjurkannya. Sayangnya, karena kebanyakan makan makanan 'aneh-aneh', lidah jadi kurang peka sama makanan sehat seperti ini. Hiks.
3. Bawa dan Konsumsi Buah-buahan
Saat pergi ke Kediri, saya bawa pisang dan jeruk. Setiap lapar, saya makan. Bahkan sepanjang perjalanan sepertinya ngunyah terus tanpa jeda. Makan kacanglah, ganti buah, begitu sampai lelah…haha. Padahal, prinsipnya JSR nggak seperti itu, ya. Makan jangan berlebihan. Karena ngantuk banget dan harus nemenin Mas tetap melek saat nyetir, alhasil saya ‘mengharuskan’ diri untuk ngunyah terus sambil nyuapin Mas…wkwk.
Makan buah itu adalah sesuatu yang paling simpel terutama saat traveling. Di jalan kita mudah menemukan buah. Di supermarket pun demikian. di hotel apalagi. Jadi, nggak ada alasan untuk makan yang lain kecuali kamu merasa sangat pengen dan percaya bisa mengontrol diri.
Waktu tiba di Gunung Kelud, semua orang makan gorengan, bakso, dan mie instan. Saya ngapain? Ngunyah nanas. Di Gunung Kelud banyak banget nanas madu yang dijual dengan harga sangat murah. Saya membeli saat di jalan menuju Gunung Kelud. Pilih yang sudah dikupas dan dipotong. Saya bisa habis sekantong…kwkwk. Masya Allah, nikmat banget.
Karena sudah menyiapkan diri sejak awal, saya pun nggak tergoda dengan mie kemasan gelas dan bakso. Dulu mungkin makanan itu bisa membuat saya happy, tetapi sekarang saya bisa mengontrol diri dan mengatakan bahwa makanan yang enak di lidah tidak selalu baik dan dibutuhkan oleh tubuh saya saat ini. Saya merasa bangga karena bisa menolak semua itu tanpa drama. Saya apresiasi niat dan keteguhan diri ini *lebay…haha. Tapi, dengan begitu saya bisa lebih semangat menjalani semuanya.
4. Pilih Menu Berbahan Sayuran Saat Mengunjungi Rumah Makan
Sebenarnya, saya nggak mewajiban diri makan pagi, siang, apalagi malam. Pagi bisa hanya dengan minum air putih hangat plus jeruk nipis. Bisa juga dengan mengonsumsi beberapa butir kurma kemudian disambung makan sore harinya.
Tapi, karena yang lain terbiasa makan tiga kali sehari, setiap mampir ke rumah makan saya pun ikut dipesankan makanan…hihi. Ibu sudah tahu kalau saya tidak makan nasi dan kawan-kawannya. Jadi, beliau selalu memesankan menu berbahan sayur seperti gado-gado atau pecel.
Meskipun dulu saya penggemar pecel dan gado-gado, tetapi sekarang saya coba menghindari bumbunya yang manis itu. Jadi, makan sayurannya saja. Bisa ditambahkan kacang tanah sangrai yang selalu saya bawa. Udah, begitu saja sangat enak buat saya.
Bisa jadi karena saya tipe ‘pemakan segala’ kwkwk, bahkan makan bayam rebus hangat-hangat tanpa apa pun bisa sangat nikmat. Jadi, nggak ada masalah soal menu makanan seperti ini.
Kamu bisa memesan tumis kangkung misalnya. Menu ini banyak dan mudah dijumpai di mana-mana. Bilang saja tanpa kecap dan gula. Supaya kamu bisa makan tanpa rasa bersalah…kwkwk.
Selebihnya, luruskan niat kamu. Alasan ingin langsing bukan sesuatu yang salah. Saya pun sangat bersyukur, bahkan setelah mudik dan mengunyah tanpa henti, berat badan saya tetap stabil bahkan turun beberapa ons ketimbang saat bulan Ramadhan kemarin. Saya bisa menurunkan total 6 kg lebih sejak April kemarin hingga sekarang. Berat badan saat ini 42,7 kg. Angka yang bahkan nggak pernah saya bayangkan bisa sangat mudah dicapai dengan cara semudah dan senyaman ini.
Mau sehat ataupun langsing, sama-sama harus dijalani dengan benar. Jangan pakai cara aneh-aneh yang justru bikin tubuh kita sakit. Saya percaya sekali, dengan pola makan ala JSR seperti yang saya terapkan saat ini, kondisi tubuh dan batin jauh lebih baik. Mood jadi lebih bagus. Semoga ke depannya saya bisa tetap istiqomah. Langsing itu memang bonus, tetapi nggak ada salahnya jika itu jadi alasan utama kamu mengubah pola hidupmu menjadi lebih baik. Suatu saat kamu akan menyadari bahwa kesehatan itu tak kalah pentingnya! Tetap bersyukur dan sehat, ya.
Salam,
Tuesday, May 7, 2019
Asyiknya Mengunjungi Candi Kidal di Malang! Wisata Edukasi yang Menyimpan Legenda Tentang Garuda
![]() |
| Foto: Dok pribadi |
Salah satu yang menarik dan tidak banyak orang tahu adalah Candi Kidal di Tumpang, Malang. Sudah lama sekali saya tidak mengunjungi Candi Kidal. Beberapa foto yang saya abadikan ini diambil pada tahun 2009 saat saya dan mas baru saja menikah *cieee…haha.
Kami main ke Candi Kidal karena lokasinya yang dekat dengan rumah kakak ipar. Jadi, sekalian mampir dan sekalian main ke Candi Kidal. Dan itulah kali pertama saya main ke sana dan melihat langsung candi khas Jawa Timuran dengan bentuk ramping dan tinggi tersebut.
Candi Kidal Menyimpan Legenda Tentang Garuda
Garudeya atau Garuda digambarkan dalam bentuk relief yang dipahatkan pada bangunan candi. Ada tiga relief yang menggambarkan legenda tentang Garuda. Bagi kamu yang belum tahu, pasti membaca legenda ini akan sangat menarik. Gimana kalau bisa melihat langsung bangunan candinya sekaligus belajar mengenal sejarah dibangunnya Candi Kidal ini? Pastinya akan jadi momen berharga dan tak terlupakan.
Garuda merupakan anak angkat dari Winata. Winata memiliki saudara bernama Kadru. Berbeda dengan Winata, Kadru punya anak angkat berupa 3 ekor ular. Kadru sangat pemalas, dia tidak mau letih mengasuh anak angkatnya yang sangat merepotkan, lari ke semak, susah ditemukan. Akhirnya Kadru punya inisiatif memanfaatkan Winata demi kepentingan pribadinya. Dia mengajak Winata bertaruh, dan ternyata Kadrulah pemenangnya. Tugas mengasuh ketiga anak ular itu pun diserahkan pada Winata. Sejak saat itu, Winata harus melayani Kadru dan ketiga anak angkatnya.
Karena tugasnya yang berat, akhirnya Winata meminta bantuan pada Garuda. Pada relief yang dipahatkan di Candi Kidal digambarkan dengan sosok Garuda serta tiga ekor ular di atasnya. Setelah besar, Garuda mencari tahu, kenapa Winata harus mengurusi ketiga ular itu sedangkan Kadru tidak? Winata pun akhirnya bercerita tentang nasib malang yang menimpanya.
Demi menolong sang ibu, Garuda menanyakan kepada ketiga ular tersebut, bagaimana dia bisa membebaskan Winata dari perbudakan yang dilakukan oleh Kadru? Ular-ular itu pun meminta tebusan berupa air suci amerta yang disimpan di kahyangan dan dijaga oleh para dewa. Dengan susah payah Garuda meminjam air suci tersebut. Kisah Garuda dengan air suci ini diabadikan dengan relief berupa gambar Garuda membawa kendi di atas kepalanya. Menarik sekali, ya?
Selanjutnya dengan air itu, Garuda dapat membebaskan ibunya dari perbudakan. Kisah ini pun diabadikan dalam relief berupa Garuda menggendong seorang wanita yang tak lain adalah ibu angkatnya.
Wah, benar-benar legenda yang sarat akan pesan moral. Setelah mengetahui kisah ini, saya jadi tertarik dan ingin sekali berkunjung lagi ke Candi Kidal. Apalagi Candi Kidal belum banyak diketahui orang banyak karena letaknya yang terdapat di desa terpencil. Semoga dengan terdaftarnya Candi Kidal sebagai salah satu Cagar Budaya berupa bangunan, para wisatawan akan semakin ramai berdatangan ke sana untuk berwisata edukasi. Berwisata sambil belajar. Menarik sekali, kan?
Ketika mudik lebaran nanti, mungkin akan sangat menarik jika saya dan anak-anak bisa berkunjung lagi ke sana. Buat kamu yang penasaran seperti apa Candi Kidal ini, datanglah ke kota Malang dan kunjungi desa Rejokidal, Tumpang dan lihat langsung seperti apa candi khas Jawa Timuran ini, ya!
Salam,
Monday, May 6, 2019
(Review) Pengalaman Menginap di Ibis Trans Studio Bandung dengan Cuma-cuma!
![]() |
| Foto: Dok pribadi |
Main ke Bandung bisa dibilang cuma-cuma saja. Memang kami ini mental gratisan kayaknya, ya...kwkwk. Rencana main ke Trans Studio Bandung (TSB) sebenarnya sudah dilakukan jauh-jauh hari karena ada event family gathering dari kantornya mas. Tapi, menginapnya agak dadakan meskipun sejak awal memang ada niat ingin menginap karena nggak pengen terlalu capek di jalan sekalian ngajak anak-anak main.
Nggak lama berselang saat kami akan berangkat ke Bandung, saya dapat kabar baik dari Tiket.com, nih. Saya di-mention dan ternyata saya termasuk salah satu pemenang kompetisi ngeblog bersama Tiket.com yang diadakan tak lama sebelum pengumuman tersebut. Meskipun bukan termasuk 3 besar, tetapi hadiah yang diberikan sangat lumayan dan bisa dipakai untuk liburan! Alhamdulillah.
Sempat ragu, mau ke mana saya dan keluarga dengan hadiah berupa voucher tersebut mengingat bulan Ramadhan sudah dekat dan setelahnya kami akan mudik ke Malang. Hadiah yang awalnya direncanakan digunakan untuk pergi ke Malang akhirnya mustahil dipakai. ‘Kan baru juga mudik, masa balik lagi dalam waktu dekat sebelum bulan Juli? Sempat mikir kayaknya nggak usah dipakai vouchernya. Udah biarin hangus aja, deh. Kenapa begitu? karena sejak awal yang saya bayangkan voucher itu hanya bisa dipakai untuk tiket kereta atau pesawat..hihi.
Tapi, setelah membaca syarat dan ketentuan yang diberikan, saya nggak mikir dua kali untuk menggunakannya selama ada di Bandung. Yup! Akhirnya voucher dari Tiket.com dapat digunakan dengan mudah untuk menginap semalam di Ibis Trans Studio Bandung.
Lokasi Hotel Ibis TSB dari Trans Studio Bandung Sangat Dekat
Lebay banget, ‘kan sub judul pertama ini? Yaiyalah dekat...Haha. Jujur saja, sejak awal mencari hotel, saya hanya mencari yang terdekat dari Trans Studio Bandung. Tidak mencari yang harus bagaimana fasilitasnya. Karena yang terbayang sebelum berangkat pun adalah ekspresi lelah, letih, lesu emak-emak dengan dua anak yang aktifnya masya Allah. Belum lagi di TSB nggak banyak permainan yang cocok untuk mereka, alhasil kami malah hanya mondar mandir sampai bosan alias menyeterika jalan…kwkwk.
“Kayaknya dari tadi kalian hanya mondar mandir?” komentar salah satu teman mas yang mungkin mulai gemas melihat kami tak tentu arah…haha. Anak-anak sudah ngajakin istirahat di hotel. Bagi mereka, tidak ada yang menarik lagi untuk dilihat. Sedangkan saya, jujur saja kesemutan dari ujung kaki hingga ke pipi, dan sampai malamnya pun masih terasa banget. Seperti kena minuman soda…haha. Gara-gara saya jarang banget traveling, jauh dan capek sedikit langsung bereaksi ke tubuh. Subhanallah…apakah ini termasuk tanda-tanda usia saya yang sudah kepala dua? Eits…beberapa tahun yang lalu maksudnya. Netizen dilarang julid, ya…haha.
Beruntung sekali lokasi hotel kami nggak terlalu jauh dari TSB. Cukup berjalan kaki saja, kok. Lokasinya saling berdempetan dengan mall TSB. Sebelum ke hotel, kami mencari makan dulu supaya ketika malam atau sore saat anak-anak lapar, mereka bisa segera makan tanpa harus mencari makan di luar lagi. Jujur saja, sejak sampai di hotel Ibis, saya tidak membayangkan ingin keluar lagi untuk jalan-jalan melihat pemandangan malam di kota Bandung. Bisa jadi karena saya mungkin termasuk orang yang kurang suka dengan keramaian, kurang mampu berbaur, introvert banget pokoknya. Kalau bisa leyeh-leyeh di rumah, mending saya kerjain itu daripada harus bertemu orang banyak *curhat, Mah…haha.
Ups! Ada Tamu Tak Diundang Tiba-tiba Masuk ke Kamar!
Proses untuk check in sangat mudah dan sama sekali tidak ada kesulitan. Kami mendapatkan dua kamar secara cuma-cuma karena melakukan transaksi dengan voucher dari Tiket.com, dan tak lama kemudian kami sudah sampai di kamar. Alhamdulillah…
Dua kamar kami saling berdempetan alias satu dinding pemisah saja. Rencananya memang pintu bagian dalam (connecting door) akan dibuka supaya saling terhubung dengan kamar kedua. Sebelum petugas hotel datang dan membukakan pintu tersebut, suami menunggu di kamar sebelah, sedangkan saya dan anak-anak istirahat di kamar pertama.
Sambil menikmati kentang goreng yang dibeli di mall TSB, tiba-tiba pintu kamar kami terbuka dan seorang perempuan paruh baya bersama pasangan dan anaknya muncul sambil terbelalak. Sedangkan saya tertegun. Kok, bisa masuk?
Sejak kejadian itu, hidup saya rasanya tidak tenang, Sodarah *lebay…kwkwk. Kaget banget dan sempat bertanya juga sama si sulung, kok, bisa, ya? Dia juga bingung. Karena selama menginap di beberapa hotel, baik di Jakarta atau di negara lain, belum pernah sampai terjadi hal seperti ini, lho.
Suami pun datang dan mengatakan bahwa mereka memegang kunci kamar yang sama dengan yang kami pakai. Subhanallah. Untung saat itu saya menggunakan hijab. Nggak kebayang kalau saya dalam kondisi tidak menutup aurat. Jujur saja di sini agak kecewa dengan kejadian tersebut, setelahnya jadi was-was dan mengunci kamar rapat-rapat dari dalam, khawatir ada orang lain punya kunci yang sama lagi.
Petugas hotel juga manusia, saya memaklumi hal itu apalagi pekerjaan mereka pastinya tidaklah mudah. Mengurusi banyak orang dan sebagainya. Tapi, semoga kejadian seperti ini tidak terjadi pada orang lain. Cukuplah saya yang merasa sangat ‘ajaib’. Mirip seperti sinetron gitu. Mereka buka pintu dan pandangan kami saling bertemu. Terus sama-sama kaget, kok, bisa? Haha.
Respon Petugas Hotel yang Cukup Lambat Membuat Kami Sempat Gemas
Untuk membuka connecting door, kami harus menghubungi petugas hotel karena merekalah yang nantinya akan membukakan dua kunci pintu dari kedua kamar kami. Saya tidak menghitung berapa kali suami menelepon dan menunggu hingga menelepon kembali dan menunggu lagi. Kami sampai di kamar sore hari sekitar pukul 5 lebih. Hingga adzan Maghrib, petugas yang kami tunggu belum juga datang.
Saya tidak mengerti, seharusnya seperti apa. Tapi, sepertinya buat kami pribadi, kejadian seperti ini cukup mengganggu karena terkesan sangat lambat. Mau mandi, khawatir petugas hotel datang. Mau makan pun demikian. Saya hanya katakan, “Sabar. Allah sudah berikan nikmat lebih banyak. Jangan sampai mengeluh hanya karena hal kecil seperti ini.”
Dan akhirnya, petugas itu pun datang dan membantu kami. Alhamdulillah. Sabar, Bos. Ini ujian…hehe.
Fasilitas yang Kami Dapatkan Selama Menginap di Ibis TSB
Tak berbeda dengan hotel-hotel lain, kita di Ibis TSB juga mendapatkan fasilitas berupa tempat tidur, kamar mandi dengan perlengkapan mandi (tanpa sikat gigi), tanpa bak di kamar mandi, ada kulkas kecil, lemari gantungan baju, sofa dan meja, sandal, Wi-Fi, televisi, brankas, hair dryer, serta sarapan untuk keesokan harinya.
Fasilitas ini akan berbeda jika kamu memilih kamar dengan tarif berbeda. Sepertinya begitu, ya. Saya juga belum cek kamar-kamar lain di Ibis ini. Waktu memilih dengan aplikasi tiket.com, kamar ini sudah termasuk yang lumayan. Ada satu lagi kamar selisih 100 ribuan di atasnya, tetapi kayaknya fasilitasnya pun nggak jauh beda.
Sarapan Pagi Nyaman dan Kenyang
Keesokan harinya, kami segera sarapan dan siap-siap kembali ke Jakarta. Bagaimana suasana sarapan di Ibis TSB? Makanannya lumayan enak. Ada beberapa pilihan menu untuk anak-anak seperti kentang panggang, sosis, telur, bubur ayam, atau sereal. Saya sendiri tidak berkeliling. Hanya mengambil sayuran, sedikit bihun (biar kelihatan elegan…kwkwk jadi nggak pakai nasi), dan ikan. Sebenarnya saya tidak terbiasa sarapan sejak mengikuti OCD sebulanan ini. Jadi, saat mau sarapan sempat ragu mau sarapan atau nggak. Akhirnya memutuskan sarapan tanpa nasi dan makan buah.
Anak-anak senang sekali makan-makan di tempat seperti ini. Mau di mana pun dan seperti apa pun, suasana seperti itu seperti bikin mood mereka naik. Sempat heran juga, kenapa mereka malah lebih heboh mau ke hotel ketimbang main di TSB? Haha. Sungguh dunia mereka susah sekali ditebak, Sodarah. Bisa jadi ketika di hotel mereka merasa seperti raja, ya.
Itulah pengalaman selama menginap di Ibis TSB semalam dengan cuma-cuma. Tidak terlalu buruk, tetapi tidak bisa juga dikatakan sempurna setelah beberapa kejadian itu menimpa kami…hehe. Semoga hal seperti itu tidak terulang lagi, ya.
Next, kita traveling ke mana lagi, ya?
Salam,
Saturday, April 13, 2019
7 Tips Memilih Travel Umroh yang Tepat Untuk Menemani PerjalananI badahmu ke Tanah Suci
Melaksanakan ibadah umroh merupakan impian semua muslim di dunia. Termasuk juga saya. Membayangkan dapat melihat Ka'bah secara langsung kerap membuat mata basah. Gimana sih rasanya bisa menginjakkan kaki di kota suci Makkah? Bagaimana rasanya bisa bersujud di depan Ka'bah? Bagaimana rasanya meneguk segelas air Zam-zam langsung dari tempatnya? Masya Allah, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar bagi kita sesama muslim selain dapat pergi ke rumah Allah dan beribadah langsung di sana.
Umroh itu bukan haji. Jadi, nggak butuh antrean panjang untuk berangkat. Jika ada travel umroh yang menjanjikanmu berangkat 1 hingga 2 tahun lagi, kayaknya jangan gampang dipercaya, ya? Sebab itu bukan alasan tepat mengingat umroh memang tidak perlu mengantre.
Setelah mendaftar haji, tidak ada keinginan lain yang lebih besar bagi saya selain lekas berangkat umroh. Menunggu antrean haji butuh waktu sangat lama. Belasan tahun. Jika ada rezeki, pastilah pergi umroh menjadi salah satu keinginan yang harus segera diwujudkan. Kenapa saya sangat ingin pergi umroh?
a. Sebab umroh merupakan jihad
“Wahai Rasulullah, apakah wanita juga wajib berjihad?” Beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya. Dia wajib berjihad tanpa ada peperangan di dalamnya, yakni dengan haji dan ‘umroh.”
(HR. Ibnu Majah)
b. Pergi umroh dapat membuka pintu rezeki dan menghapus dosa-dosa
“Ikutkanlah umroh kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.”
(HR. An-Nasai)
c. Mengikuti sunnah Rasulullah saw
Ibadah umroh merupakan ibadah yang juga dilakukan oleh Rasulullah saw semasa beliau masih hidup. Hal ini juga diikuti oleh para sahabat. Pastinya terdapat banyak kebaikan di dalam ibadah umroh ini sehingga ditunjukkan langsung oleh beliau.
Tapi, pergi umroh tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh biaya yang tidak sedikit. Kadang suka nggak tega juga, ketika ada orang yang sudah berusia lanjut, sampai menjual sawah dan hewan ternaknya demi berangkat umroh atau haji, tetapi malah tertipu travel yang tidak amanah.
Kita yang tidak ikut tertimpa musibah seperti itu saja kadang nggak habis pikir, kenapa masih ada orang yang mengambil kesempatan di balik perjuangan orang lain? Karena itulah, buat saya pribadi, memilih travel umroh yang amanah dan bertanggung jawab sangat diperlukan. Kita harus tahu betul travel umroh yang dipilih, jangan sampai hanya menipu dan mengambil untung demi kepentingan pribadi mereka.
Mencari travel umroh terdengar mudah, tapi kenyataannya tidak demikian. Sebab kebanyakan travel umroh yang akhirnya terbongkar ketidakjujurannya juga awalnya memiliki nama besar, sehingga mudah sekali mencari calon jamaah. Nah, kalau sudah begini, pastinya kita sendiri yang lumayan mengerti pun bisa juga tertipu.
Lalu, apa saja yang harus kita lakukan supaya bisa memilih travel umroh yang tepat, amanah, bertanggung jawab, serta bisa memberikan kenyamanan selama berangkat umroh ke tanah suci Makkah?
1. Pilihlah hanya travel umroh resmi yang sudah terdaftar di Kementrian Agama
Pastikan travel umroh yang kamu pilih memang sudah terdaftar di Kementrian Agama. Jangan mudah tergiur oleh harga murah, sebab bagaimanapun, berangkat umroh pasti butuh dana yang lumayan. Jadi, pilih harga yang wajar saja dan masuk akal dan pastikan benar-benar resmi.Bagaimana kamu bisa tahu jika travel umroh yang dipilih sudah benar-benar terdaftar di Kementrian Agama?
1. Lihat tanda daftar perusahaan travel umroh
2. Travel umroh yang kamu pilih harus punya surat izin tetap usaha pariwisata
3. Lebih mudahnya, cek langsung nama travel umroh pilihanmu di website resmi Kemenag atau bisa datang langsung ke Kemenag.
2. Ketahui rekam jejak travel umroh yang kamu pilih
Selain bisa bertanya terlebih dulu kepada orang-orang terdekat yang pernah menggunakan travel umroh tersebut, kamu juga bisa memperhatikan perkembangan travel umroh itu dari tahun ke tahun.
Jika memang baik, pastinya penyelenggaraan Ibadan umroh dari travel tersebut akan dilakukan scara rutin dari tahun ke tahun. Semakin banyak keberangkatan, semakin baik juga kerjanya.
3. Abaikan harga murah dan tidak masuk akal
Seperti saya katakan sebelumnya, jangan mudah percaya dengan travel umroh yang menawarkan harga murah dan tidak wajar. Sebesar apa pun impianmu, jangan mudah tergiur dengan yang demikian. Karena tidak sedikit yang hanya sekadar menipu saja.
Kamu bisa periksa dan bandingkan harga travel umroh tersebut dengan harga-harga di perusahaan travel umroh lainnya. Jika ada selisih, pastinya tidak akan terlalu jauh, kok. So, tetap berhati-hati, ya dalam memilih travel umroh demi keamanan.
4. Cari tahu fasilitas yang diberikan
Bagi orang yang belum pernah pergi umroh, mungkin fasilitas bukan sesuatu yang perlu dipertimbankan. Dianggap sama rata. Tapi, sebenarnya, hal semacam ini sangat penting untuk dipastikan, lho. Kamu bisa bayangkan, jika harganya sama, kenapa kamu memilih travel A yang memberikan penginapan dengan jarak jauh dari masjid Nabawai atau masjid Al-Haram? Ya, mending ambil travel satu B yang memberikan fasilitas lebih baik, lebih dekat dengan masjid sehingga ibadah bisa lebih mudah dan tenaga kita pun tidak terkuras habis untuk perjalanan jauh setiap harinya.
Nyatanya, ada juga, lho travel umroh yang memberikan penginapan berupan rumah (kontrak) kepada jamaahnya. Padahal harganya sama saja dengan travel umroh lainnya. Meskipun kita tidak mengejar fasilitas dan mengutamakn ibadah, tetapi sadar atau tidak, hal seperti ini juga mempengaruhi kenyamanan ibadah kita nantinya.
5. Pastikan ada pembimbing umroh untuk menyempurnakan perjalanan ibadahmu
Poin satu ini juga tidak bisa dinomorduakan, lho. Berada di tempat asing pastinya membuat kita serba bingung. Meskipun sudah belajar sebelum berangkat, tetapi keberadaan pembimbing umroh sangat diperlukan.
Pembimbing umroh bisa mengarahkan kita saat beribadah, menjadi tempat bertanya, mengatur barisan ketika sedang melaksanakan ibadah umroh sehingga tidak terpisah dan membuat panik beberapa jamaah. Hal seperti ini perlu kamu pastikan sebelum memutuskan memilih travel umroh yang tepat.
6. Pastikan kamu bisa segera berangkat tanpa menunda selama bertahun-tahun
Umroh itu bukan haji. Jadi, nggak butuh antrean panjang untuk berangkat. Jika ada travel umroh yang menjanjikanmu berangkat 1 hingga 2 tahun lagi, kayaknya jangan gampang dipercaya, ya? Sebab itu bukan alasan tepat mengingat umroh memang tidak perlu mengantre.
Di sinilah pentingnya kamu mengetahui rekam jejak travel umroh tersebut sebelum memutuskan memilihnya.
7. Pilih travel umroh terbaik lewat Blibli.com yang menawarkan berbagai macam kemudahan
Mencari travel umroh yang tepat memang bukan hal mudah. Sebab itu, kamu harus benar-benar berhati-hati mencarinya. Sudah mencari ke mana-mana, tapi kayaknya belum dapat yang tepat dan pas di hati. Tenang, sekarang kamu bisa bernapas lega. Sebab, Blibli.com memberikanmu banyak pilihan travel umroh yang amanah, lho. Insya Allah, ibadah umroh akan lebih nyaman dan berkesan nantinya.
Kenapa harus pilih travel umroh dari Blibli.com?
1. Sebab, travel umroh yang terdaftar di Blibli.com bisa dipercaya karena seluruhnya sudah terdaftar di Kementrian Agama dan bekerja sama dengan PPIU (Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umroh)
2. Blibli.com memberikanmu banyak pilihan. Kamu bisa memilih salah satu paket umroh dan haji dari banyak Penyelenggara Perjalanan Ibadah umroh.
3. Terdapat banyak penawaran khusus atau promosi yang bisa kamu gunakan saat membeli paket umroh.
Jika ada yang lebih mudah, kenapa harus memilih yang sulit? Blibli.com benar-benar memberikan kemudahan bagi kita yang punya impian umroh ke tanah suci Makkah. Nggak harus cek ini dan itu, cukup pilih travel umroh yang sesuai keinginanmu dan jangan lupa, gunakan juga promonya supaya kamu dapat penawaran istimewa.
Gimana, masih bingung nyari travel umroh yang tepat untuk menemani perjalanan ibadahmu? Saya sih tidak lagi!
Salam,
Sunday, March 31, 2019
Impian Traveling Mengelilingi Kota Malang Bersama Keluarga dengan Harga Gledek Tiket dari Tiket.com
Walaupun tinggal dan menetap di Jakarta, nyatanya saya adalah orang kelahiran Malang, Jawa Timur. Yup! Meski dibesarkan di Malang, rupanya saya belum pernah travaling di kota kelahiran saya sendiri. Miris dan bikin nangis bombay memang. Sejak kecil orang tua selalu membatasi gerak gerik putri bungsunya ini…hiks.
Saya terbiasa bermain hanya di rumah, paling jauh ke teras atau halaman bersama anak tetangga. Kadang saya harus melompat dari jendela karena semua pintu dikunci…haha. Saya tidak marah pada orang tua. Itu adalah cara mereka menjaga saya, anak gadis memang nggak boleh main keluar sembarangan. Mereka punya cara sendiri untuk mendidik putrinya. Dan sampai sekarang saya tidak pernah menyesali itu.
Saat masuk SMA, saya memutuskan masuk pesantren. Hanya pulang ketika libur lebaran dan ketika sakit saja. Semakin kurang piknik saja hidup ini. Hanya tahu halaman rumah dan pesantren. Itu saja selama bertahun-tahun, hingga akhirnya pangeran berkuda putih datang untuk melamar dan membawa serta saya pindah dan menetap di Jakarta.
Sudah hampir 10 tahun saya menetap di Jakarta. Ke Malang hanya menyambangi keluarga, ikut mudik seperti orang-orang merantau pada umumnya. Pengennya bisa main-main ke Malang, karena di sana banyak banget wisata menarik dan unik. Sayangnya, karena selalu pulang saat lebaran, ide buat traveling kayaknya hampir selalu mustahil kami wujudkan. Menguap begitu saja bersama angin.
Kami hanya sibuk berkeliling mengunjungi keluarga besar. Selebihnya melepas kangen bersama orang tua dan mertua. Impian buat traveling kandas sudah sejak bertahun-tahun silam. Nggak berani berharap terlalu besar. Kesibukan suami dan anak-anak yang sudah mulai sekolah membuat impian itu hanya sekadar impian. Sedih nggak, sih?
Kenapa harus memilih kota Malang sebagai destinasi liburan impian keluarga?
Kenapa bukan Jabodetabek saja? Kan lumayan lebih dekat dan hemat. Kalau sekadar keliling Jakarta dan sekitarnya, mungkin sudah lumayan lebih sering. Alasannya bukan karena suami suka ngajakin traveling, tetapi lebih karena sering diajakin jalan sama keluarga atau acara kantor…kwkwk. Memang nggak modal banget, ya?
Jadi, sempat terbesit keinginan buat traveling ke luar kota bersama keluarga kecil kami saja. Iya, hanya berempat bersama anak-anak saja, nggak ada campur tangan orang lain…kwkwk. Sudah pasti rasanya beda dong kalau harus jalan bersama rombongan atau hanya kami saja.
Lantas kenapa harus kota Malang?
1. Malang punya sejuta wisata menarik dan seru
Lebay banget sampai menulis angka sejuta? Apa pernah menghitung sebelumnya? Hihi. Nggak juga, sih. Tapi, kenyataannya wisata Malang semakin menjamur saja. Jumlahnya tak terhitung. Banyak banget terutama di kota Batu.
Destinasi wisata di Malang pastinya banyak pilihan, terutama yang paling nyaman buat anak-anak. Kita bisa memilih banyak lokasi yang cocok untuk mereka. Seru banget pastinya jika bisa mengunjungi Museum Angkut, melihat sunset di Bromo, dan seru-seruan di Jatim Park. Sedih banget sebagai orang yang lahir dan besar di Malang, melihat pintu gerbang Jatim Park saja tidak pernah…kwkwk.
2. Liburan sekaligus menyambangi orang tua
Kalau punya uang, ada waktu, memang lebih utama pulang ke Malang karena di sana kami bisa sekaligus menyambangi orang tua. Saya pribadi jarang pulang ke Malang kecuali saat lebaran. Alasannya seperti yang saya sebutkan sebelumnya, suami sibuk bekerja dan anak-anak mulai sekolah. Ketika anak-anak liburan kenaikan kelas, ayahnya ternyata belum libur…haha. Selalu terbentur jadwal yang kurang pas.
Kalau ada kesempatan, saya yakin suami bisa mengusahakan cuti beberapa hari. Jadi, nggak salah saya memilih Malang sebagai destinasi wisata dikarenakan saya bisa menyelam sambil minum air…kwkwk. Bisa traveling dan memberikan kejutan juga pada orang tua. Ini adalah keinginan sederhana seorang perantau yang nggak kenal jalanan ibu kota sebab baru tinggal dan menetap selama 10 tahun. Iya, baru 10 tahun, kok…haha.
3. Malang punya hawa sejuk
Jakarta dan Malang punya perbedaan cuaca yang cukup jauh. Saat baru pindah ke Jakarta, dermatitis saya kambuh parah. Butuh waktu hingga berbulan-bulan supaya bisa menyesuaikan kondisi cuaca ibu kota yang panasnya minta ampun.
Berbeda dengan Jakarta, di Malang cuacanya sejuk dan cenderung dingin. Bahkan kalau pagi dinginnya melebihi ketika menginap di puncak. Siap-siap saja bawa jaket tebal dan pakai baju berlapis *lebay!
4. Pengen traveling berempat
Sudah sejak lama saya dan suami berencana traveling hanya berempat. Seperti yang saya katakan sebelumnya, biasanya kami traveling bareng sama rombongan. Ini sudah bisa dipastikan alasannya. Kenapa selalu traveling bersama rombongan? Bisa jadi karena suami memang nggak mau keluar modal…kwkwk. Jadi, kita hanya liburan saat ada yang ngajakin saja. Manusiawi nggak, sih buat seorang istri?
5. Traveling sekaligus kopdaran
Ini mau traveling atau mau reunian? Haha. Karena didikan orang tua yang selalu membatasi saya sejak kecil, maka hingga sedewasa ini pun, saya tidak pernah berani pergi sendirian ke mana pun. Ya, kecuali ke tukang sayur atau swalayan dekat rumah…kwkwk.
Karena itu, kalau ada kesempatan pulang ke Malang selain lebaran, saya ingin kopdaran bersama teman-teman dan mengunjungi pesantren. Banyak sekali agenda yang tertunda disebabkan ketidakberanian saya untuk pulang sendirian ke Malang. Masa iya, kalau mau kopdaran harus bawa dua anak sama suami? Hiks. Kenyataannya memang begitu.
Jika ada agenda lain seperti traveling ke Malang, bisa saja saya mencari celah untuk bertemu teman-teman lama meski hanya sebentar.
6. Kuliner kota Malang selalu ngangenin
Sebagai penikmat kuliner kota Malang, rasanya nggak ada alasan yang lebih tepat untuk datang lagi ke sana selain mencicipi masakan khas Malang yang beragam. Rawon, cwi mi malang, dan nasi buk selalu bikin kangen. Nggak ada makanan seenak itu di Jakarta meski sudah keliling ke beberapa titik *sudah kayak kampanye saja…kwkwk.
Dengan #tiketcomotw semua menjadi lebih mudah
Gimana perasaan kamu saat tahu ada diskon hingga 50% untuk tiket pesawat atau hotel yang akan kamu gunakan saat traveling? Jangan tanya saya, sudah pasti akan senang banget. Harga gledek tiket pesawat atau hotel diskon hingga 50% bisa kamu dapatkan di aplikasi tiket.com saja, lho. Kapan lagi kita bisa traveling dengan hotel dan tiket pesawat harga promo seperti ini?
Online Tiket Week (OTW) bersama #tiketcomotw dengan harga gledek bisa berupa hotel domestik atau internasional, serta tiket pesawat. Mau nunggu apalagi, lekas pasang aplikasi tiket.com di smartphone kamu dan dapatkan harga gledek untuk wujudkan impianmu!
Sepertinya tidak ada alasan lagi untuk menunda traveling mengelilingi kota Malang bersama keluarga. Kalau kamu kapan traveling ke kota impianmu?
Salam,
Monday, February 11, 2019
Traveling ke Turki dan Mengunjungi Museum Topkapi Palace Istanbul
![]() |
Dari sanalah saya pun dibuat penasaran pakai banget. Setelah ada kabar kami akan berangkat umroh dan berkunjung ke Turki selama beberapa hari, saya pun begitu antusias ingin banget mampir dan melihat langsung seperti apa megahnya museum Topkapi Palace ini.
Perjalanan dari bandara Soekarno Hatta menuju Turki kami tempuh dalam kurun waktu 12 atau 13 jam. Awalnya, khawatir membayangkan gimana kondisi anak-anak selama di pesawat dalam waktu yang cukup lama. Apalagi saat itu si bungsu masih berusia 2 tahunan. Qadarallah, perjalanan kami cukup menyenangkan. Si sulung yang sudah lebih besar tampak santai dan malah susah tidur selama di pesawat, dia sibuk main game yang ada di sandaran kursi tepat di hadapannya. Sedangkan si bungsu, agak rewel karena kurang nyaman tidur di pesawat. Tapi, ya semua masih bisa diatasi meski pas mau landing dia malah nangis kejer hanya karena mau cuci tangan di wastafel…kwkwk.
Kami tiba di Bandara Ataturk Istanbul saat Shubuh. Segera salat dan melanjutkan perjalanan tanpa istirahat dulu di hotel. Perjalanan cukup panjang dari Indonesia ke Turki dilanjutkan lagi traveling hingga malam hari.Perjalanan dari bandara Soekarno Hatta menuju Turki kami tempuh dalam kurun waktu 12 atau 13 jam. Awalnya, khawatir membayangkan gimana kondisi anak-anak selama di pesawat dalam waktu yang cukup lama. Apalagi saat itu si bungsu masih berusia 2 tahunan. Qadarallah, perjalanan kami cukup menyenangkan. Si sulung yang sudah lebih besar tampak santai dan malah susah tidur selama di pesawat, dia sibuk main game yang ada di sandaran kursi tepat di hadapannya. Sedangkan si bungsu, agak rewel karena kurang nyaman tidur di pesawat. Tapi, ya semua masih bisa diatasi meski pas mau landing dia malah nangis kejer hanya karena mau cuci tangan di wastafel…kwkwk.
Capek banget, tapi, mungkin pihak travel juga mempertimbangkan waktu kami yang pastinya akan terbuang sia-sia jika kami harus istirahat dulu. Berada di Turki selama 3 hari 2 malam itu benar-benar diisi dengan traveling. Jadwal kunjungan ke sana sini benar-benar padat banget. Kayaknya waktu istirahat hanya sedikit. Malam sampai hotel, pagi sudah berangkat lagi dan langsung pindah ke hotel berikutnya. Di bus, kami juga bisa lebih santai karena jarak antara satu tempat ke tempat lainnya kadang lumayan jauh.
Saya lupa tepatnya hari ke berapa saat berkunjung ke museum Topkapi ini. Yang pasti, saat kami ke sana memang sedang musim dingin. Pakai jaket tebal pun rasanya nggak bisa menghilangkan hawa dingin yang menusuk. Bisa kebayang ya orang-orang di Timur Tengah yang sedang menghadapi konflik dan harus bertahan hidup di musim dingin yang kabarnya kali ini cukup ekstrem? musim dingin biasa saja rasanya nggak betah lama-lama di luar. Bagaimana dengan mereka yang harus tidur di tenda berupa terpal tanpa penghangat ruangan? Hiks. Sedih banget mengetahui itu.
Buat kami yang nggak terbiasa, apalagi sudah lama di Jakarta yang panas, musim dingin seperti mimpi buruk. Nggak lama di Turki, si bungsu sudah meler hidungnya. Flu dan mulai rewel. Tapi, selama di perjalanan dia cukup menikmati dan lebih banyak tidur di bus. Masuk ke museum Topkapi kayak nggak terlalu fokus karena sibuk memperhatikan kondisi anak-anak. Mereka nggak terbiasa dengan suhu sedingin itu, jadi lumayan agak rewel. Begitu juga dengan emaknya yang sibuk menggosok-gosok tangan demi menghilangkan dingin. Padahal sudah pakai sarung tangan…haha.
Apa sih Topkapi Palace Itu?
Topkapi Palace merupakan istana yang dibangun tepat di atas bukit pada masa pemerintahan Sultan Mahmed II. Istana ini juga menjadi kediaman resmi Sultan Utsmaniyah selama 600 tahun lebih. Tepatnya pada tahun 1465-1856.
Museum ini memang benar-benar menjadi daya tarik tersendiri bagi para traveler ketika berkunjung ke Turki. Bagaimana tidak, di dalam museum ini kamu bisa melihat langsung koleksi benda-benda bersejarah termasuk pedang Rasulullah saw. Sayangnya, ketika masuk ke dalam, kita dilarang mengambil gambar.
Topkapi Palace ini terletak di pinggir pantai selat Bosphorus, bahkan lokasinya nggak jauh dari Hagia Sophia. Topkapi dikelilingi oleh tembok besar yang di dalamnya terdapat bangunan tempat Raja, keluarga, serta para pembantunya tinggal.
Total luas dari Topkapi Palace ini kurang lebih 700.000 meter persegi. Topkapi juga dikelilingi oleh benteng sepanjang 5 kilometer. Luas banget dan nggak mungkin mengelilingi seluruhnya dalam waktu singkat.
Saya nggak banyak mengambil foto selama ada di sana. Selain karena rempong dengan si bungsu, saya juga kurang antusias terlalu lama memegang handphone karena benar-benar kedinginan…kwkwk. Jika ada rezeki, saya ingin main ke Turki selain di musim dingin. Sungguh, main salju itu memang asyik, tapi kedinginan itu nggak banget. Apalagi saya lupa nggak bawa Marjan *lol.
Ada Apa Saja di Topkapi Palace?
Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, kebanyakan dari kita terutama yang muslim pasti penasaran banget dengan benda-benda peninggalan Rasulullah saw. Seperti apa pedangnya?
Benda-benda peninggalan Rasulullah saw disimpan di dalam ruangan khusus bernama Pavilion of Holy Mantle dan Holy Relics. Di sana, kamu bisa melihat jubah peninggalan Rasulullah saw, helai janggut, patahan gigi saat perang Uhud, pedang, bahkan hingga cetakan telapak kaki Rasulullah saw.
Selain itu, kamu juga bisa melihat surban Nabi Ibrahim, pedang Nabi Dawud hingga tongkat Nabi Musa. Lebih menarik lagi, di sini kamu pun bisa melihat kunci Ka’bah dan semuanya asli, nggak ada replikanya.
Kabarnya, semua benda bersejarah ini sebagian memang sengaja diamankan dari beberapa negara karena khawatir dihancurkan oleh penjajah.
Benda-benda peninggalan Rasulullah saw disimpan di dalam ruangan khusus bernama Pavilion of Holy Mantle dan Holy Relics. Di sana, kamu bisa melihat jubah peninggalan Rasulullah saw, helai janggut, patahan gigi saat perang Uhud, pedang, bahkan hingga cetakan telapak kaki Rasulullah saw.
Selain itu, kamu juga bisa melihat surban Nabi Ibrahim, pedang Nabi Dawud hingga tongkat Nabi Musa. Lebih menarik lagi, di sini kamu pun bisa melihat kunci Ka’bah dan semuanya asli, nggak ada replikanya.
Kabarnya, semua benda bersejarah ini sebagian memang sengaja diamankan dari beberapa negara karena khawatir dihancurkan oleh penjajah.
Istana Topkapi Dijadikan Museum pada Tahun 1924
Istana Topkapi akhirnya dijadikan museum pada tahun 1924 berdasarkan dekrit pemerintah setelah jatuhnya Utsmaniyah pada tahun 1921. Topkapi menjadi salah satu wilayah yang amat bersejarah di Istanbul serta resmi menjadi bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO.
Karena penuh dengan benda-benda bersejarah, maka tak heran jika di sini juga sering terjadi perampokan seperti yang terjadi pada tahun 1999. Saat itu, sebuah Alquran pada abad ke-17 dicuri. Biasanya, petugas museum disuap oleh para turis untuk mengambil benda-benda bersejarah. Nggak heran, ketika berkunjung ke sana banyak juga petugas keamanan seperti tentara dengan senjatanya yang berjalan ke sana kemari serta berjaga di beberapa titik di lokasi itu.
Jika kamu berkunjung ke Turki, pastikan kamu berkunjung ke Topkapi Palace dan melihat langsung peninggalan sejarah berupa benda-benda peninggalan para Nabi dan tentunya benda peninggalan Rasulullah saw. Saat kami ke sana, wisatawan cukup ramai, bahkan kami berjalan pelan karena padat merayap seperti jalanan di Ibu Kota…hehe.
Dan perlu diingat juga, bahwa di sana nggak berbeda dengan di negara kita, ada orang-orang berwajah manis yang kadang memang punya niat nggak baik. Sehingga di mana pun kita berada, harus tetap berhati-hati dan menjaga diri. Bahkan guide kami pun mengatakan itu berkali-kali setiap kami berkunjung ke beberapa lokasi di Turki.
Salam hangat,
Subscribe to:
Posts (Atom)
Hey there!
Part of






.png)
%20(1).png)
%20(1).png)
%20Pengalaman%20Berkesan%20Saat%20Menginap%20di%20Grand%20Surya%20Hotel%20Kediri.jpg)
%20Pengalaman%20Berkesan%20Saat%20Menginap%20di%20Grand%20Surya%20Hotel%20Kediri%20(1).jpg)


%20Pengalaman%20Menginap%20di%20Ibis%20Trans%20Studio%20Bandung%20dengan%20Cuma-cuma.jpg)
%20Pengalaman%20Menginap%20di%20Ibis%20Trans%20Studio%20Bandung%20dengan%20Cuma-cuma%20(1).jpg)




.jpg)
.jpg)
.jpg)