Wednesday, January 22, 2020
Ini Alasan Kenapa Naskahmu Nggak Kelar-kelar!
Sulit sekali menjawab, selain miris, malu, terharu...kwkwk, apalagi? Sebenarnya manusiawi bangetlah kalau sebagai penulis terutama yang baru pertama kali menulis buku mengalami yang namanya kegagalan saat menyelesaikan naskah pertamanya. Nggak hanya kamu, saya juga mengalaminya. Ada naskah yang hanya sebatas rencana, ada yang sekadar outline, ada yang baru dimulai beberapa bab kemudian dianggurin. Ya, semua itu kembali pada diri kita, kita sendiri yang memutuskan apakah akan menyelesaikannya atau membiarkannya terbengkalai sepanjang hari.
Saat mengadakan SMB (Sebulan Menulis Buku), saya merasa ini adalah cara yang lumayan efektif membantu terutama penulis pemula untuk merampungkan naskahnya. Selain memang diadakan free, challenge ini juga diawali dengan pembekalan materi yang lumayan sebelumnya. Kita sharing dulu, diskusi dulu mengenai kesulitan para peserta, supaya ketika memulai, semua bisa merampungkan naskahnya tanpa banyak alasan. Nyatanya? Semua tetap tidak mudah bagi sebagian orang.
SMB kedua dimulai bulan Januari 2020. Tinggal beberapa hari lagi. Kali ini saya hanya mengajak peserta dari grup SMB sebelumnya, dan belum berani mengajak peserta dari luar. Karena apa? Belajar dari pengalaman yang lalu, banyak peserta memang seperti menyenangkan, ya. Asyik gitu bisa ngerjain naskah bareng-bareng. Tapi, ternyata dari sekitar 80an orang, hanya 20an saja yang berhasil sampai tuntas.
Sekarang, dari sekitar 20an orang, hanya separuhnya saja yang memenuhi target dua minggu pertama. Selebihnya sudah gugur. Sebenarnya kesulitan kamu apa, sih, saat ngerjain naskah? Saya rasa, inilah beberapa alasan kenapa naskah kita tidak kunjung selesai digarap,
Nggak Konsisten
Konsisten atau istiqomah ini memang berat, Gaes. Kalau gampang namanya isteh manis katanya...kwkwk. Tapi, sebenarnya, orang yang memang punya kemauan kuat pastilah harus kosisten dong. Kalau benar-benar pengen punya buku solo, ya harus benar-benar istiqomah nulisnya. Jangan sehari nulis, sebulan libur *eh.
Nah, kalau kamu nggak konsisten, angot-angotan, males, ya wes, buyar kabeh! Sudah pasti naskah kamu nggak akan selesai dan nggak akan pernah jadi buku solo.
Kebanyakan peserta SMB ya begini, awalnya semangat banget, kemudian semangatnya memudar seiring berjalannya waktu. Bahkan target yang dibuat sendiri saja nggak selesai sampai SMB kedua. Ini agak horor. Mereka yang katanya sanggup ngerjain sehari 2 halaman, kemudian hanya selesai sekitar semingguan, setelah itu ya udah, udahan gitu aja.
Kemudian saya berpikir, mau sekeras apa pun saya atau orang lain membantu, akan percuma kalau orangnya saja tidak ada keinginan buat menyelesaikan. SMB ini sebenarnya sangat membantu karena kita bisa menulis dengan batas waktu. Tapi, pada sebagian orang tetap saja tidak berguna.
Kamu Nggak Benar-benar Ingin Punya Buku Solo
Kalau nulis antologi oke, tapi gimana dengan buku solo? Saya rasa, hampir semua penulis ingin punya buku solo. Sayangnya, sebagian orang yang bilang ingin, rupanya nggak pernah berhasil mewujudkan karena keinginannya mungkin masih setengah hati, nggak sebesar keinginan orang lain. Jadinya ya gitu, nggak serius menyelesaikan naskah. Bisa disebut kamu itu sebenarnya kurang cinta menulis. Karena mereka yang benar-benar suka akan melakukan segala cara supaya impiannya terwujud.
Tapi, apa iya semua orang mau disebut kurang cinta? Kwkwk. Kadang, kita memang benar-benar dihadapkan pada situasi serius di mana keinginan menjadi penulis benar-benar tidak direstui, misal sama pasangan. Sampai-sampai ada lho yang terang-terangan ngelarang nulis buku sama ngeblog. Kurang horor gimana coba?
Atau, kita harus fokus mengurus orang tua, anak, atau pasangan yang sedang sakit. Ya, semua itu memang keadaan darurat yang mesti kita dahulukan. Masalahnya, sebagian besar nggak mengalami masalah apa pun yang menghalanginya menulis, tapi naskah tetap nggak kelar juga. Salahnya di mana kecuali memang karena kamu nggak terlalu cinta dan suka?
Minder yang Lebay
Udah minder, lebay banget pula mindernya...kwkwk. Kamu sebenarnya sudah hebat, tulisanmu juga sudah bagus, tapi karena kamu minder, merasa naskahmu buruk, akhirnya kamu revisi sampai ribuan kali. Nggak lebay gimana ini?
Ketika menulis, jangan pikirkan banyak hal, typo, bahasa yang kurang enak, kalimat tidak baku, atau yang lainnya. Tulis aja dulu dan jangan pikirkan. Nanti akan ada saatnya kamu bisa mengedit secara keseluruhan. Sesimpel itu, kok.
Kalau tiap nulis satu paragraf aja kamu hapusin terus, kapan kelarnya? Atau kamu merasa tema yang dipilih kurang oke, pengen nulis tema lain. Kalau kamu turuti keinginan itu, mungkin sampai kapan pun naskahmu akan tetap hanya berupa rancangan saja.
Kamu Pemalas!
Nggak bisa dong naskah setebal minimal 120 halaman ditulis oleh pemalas? Namanya pemalas, kerjanya ya main sosial media seharian, selonjoran, leyeh-leyeh sambil ngeteh. Kamu nggak sibuk, kamu juga nggak kerja, banyak waktu luang setiap harinya, tapi kenapa naskahmu belum rampung juga?
Salah satu alasannya karena kamu malas memulai apalagi menyelesaikan. Jangankan menulis, mau makan aja males, lho. Kebangetan, kan? Kwkwk. Biasanya, ada aktivitas tertentu yang cenderung membuat seseorang malas melakukan pekerjaannya. Misalnya, nonton Drama Korea. Ini benar-benar bikin mager, kalau nggak kelar, nggak akan kita beranjak. Kadang malah diulang-ulang pula *saya banget...kwkwk.
Akhirnya, biar nggak keterusan, ya, sebaiknya jangan mulai lagi nontonnya kecuali itu kamu jadikan hadiah buat keberhasilanmu menyelesaikan naskah. Naskah aja baru sampai judul, kenapa sibuk mencari hadiah segala? Aneh kamu!
Tema Kurang Dikuasai dan Kurang Disukai
Kalau kamu mau menulis buku, sebaiknya ambil tema-tema yang memang benar-benar kamu kuasai. Jangan menulis buku yang kurang kamu suka, apalagi temanya berat dan bikin kamu mikir keras. Jangan!
Alasan ini sangat memungkinkan kamu menjadi jenuh kemudian udahan. Saya pernah menggarap naskah yang outline-nya sudah di-ACC, tapi karena akhirnya merasa temanya berat, saya pun memutuskan berhenti dulu. Jadi nggak happy gitu ngerjainnya. Jadi nggak semangat karena merasa tema itu tidak saya suka.
Itulah beberapa hal yang mungkin menjadi alasan kenapa naskah kamu nggak kelar-kelar. Mana yang paling tepat dengan kondisi kamu sekarang? Atau malah ada alasan lain yang menyebabkan naskahmu masih terbengkalai sampai sekarang? Misalnya patah hati atau jatuh cinta?
Salam hangat,
Featured image: Photo by Markus Spiske on Pexels
Merasa Tak Sebaik yang Lain? Lakukan Ini Supaya Semangatmu Tetap On!
Kemudian merasa minderlah diri kita hanya disebabkan oleh ucapan merendahkan dari satu dua orang, atau bahkan hanya karena diri sendiri yang sengaja membanding-bandingkan dengan artis atau selebgram. Yaiyalah, nyari mati kita namanya... :D
Belum lagi melihat para selebgram yang update postingan ketika liburan tahun baru kemarin, nyaris semuanya berlibur ke luar negeri, main salju, guling-gulingan di salju, sampai makan malam romantis. Duh, aku kapan, ya bisa seperti mereka? Kenapa hidupku begini amat? Ujungnya jadi panjang lebar menyalahkan nasib diri yang bisa jadi justru amat sempurna bagi orang lain. Ngapain coba?
Atau, kita sering berpikir kenapa ada orang dilimpahkan kekayaan luar biasa, padahal ibadahnya standar aja, bisa jadi mungkin masih lebih taat kita, eh tapi dia punya kehidupan nyaris sempurna, lho. Aku nggak habis pikir kenapa Tuhan baik banget sama orang seperti dia, sedangkan aku yang berusaha mati-matian, ibadah juga sudah sekuat tenaga, ternyata masih susah banget sekadar buat makan aja. Why?
Hei! Mungkin kita terlalu sibuk membandingkan diri dengan kehidupan orang lain sehingga lupa bahwa di dalam kehidupan masing-masing orang sama-sama diberikan kebahagiaan serta ujian. Hanya saja, saat melihat kehidupan yang lain, kita begitu takjub dengan bahagia yang mereka teguk, tapi sama sekali tidak melihat kerja keras mereka, susah payahnya mereka, dan sebagainya.
“Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27)
Allah itu pasti lebih tahu mana yang lebih baik buat kita. Jika kita diberikan ujian melebihi yang lain, sudah pasti Allah telah menakarnya dengan baik, disesuaikan dengan kemampuan kita, mustahil melebihi kemampuan seseorang. Dan lagi, adanya ujian bukan berarti Allah benci kepada seorang hamba, bisa jadi itu adalah salah satu tanda cinta Allah kepada hamba-Nya yang ingin dinaikkan derajatnya. Berpikirlah positif kepada Allah, insya Allah semua baik-baik saja :)
Jangan Melihat Kehidupan Orang Lain Hanya dari Tampilan Luarnya
Apa yang kita lihat tentang kehidupan orang lain, tentang si A yang bertabur kekayaan sampai lupa kapan terakhir kali cuci piring, kapan terakhir ngepel lantai, belum tentu sesempurna yang kamu bayangkan, lho. Kebahagiaan orang itu tidak lantas hanya bergantung dari harta kekayaannya saja. Banyak orang kayak, tapi hatinya sungguh kesepian, kosong, dan hampa.
Tapi, bukan mustahil ada yang kaya raya, tapi hidupnya pun tenteram, berkah namanya. Melihat kehidupan orang lain di atas kita kadang membuat diri susah bersyukur atau sebaliknya membuat kita termotivasi untuk lebih baik lagi. Pandai-pandai saja mengambil pelajaran.
Pastinya, apa yang terlihat dari luar belum tentu sama dalamnya, Gaes. Nggak selalu yang sempurna di luar, kemudian tak bercela. Tanpa kita tahu, banyak orang yang bersedih di balik wajah cerianya yang sering kita lihat di media. Begitulah kehidupan.
Daripada sibuk melihat kehidupan orang lain, mending coba perhatikan kehidupan kita yang sebenarnya nyaris sempurna. Meski tak sehebat apa, tapi kita punya pasangan yang luar biasa. Meski tak sehebat apa, tapi kita tetap bahagia menjalaninya. Anak-anak yang baik juga merupakan berkah. Kesehatan dan iman yang melekat sering tak terhitung oleh jangkauan manusia, padahal senantiasa menjadi nikmat paling besar dalam hidup kita.
Bersyukur dan melihatlah ke bawah ketika kita merasa tidak sebaik yang lain. Maka kita temukan betapa banya karunia Tuhan yang dilimpahkan kepada kita, tidak bisa kita hitung satu per satu saking banyaknya.
Setiap Orang Punya Kelebihan, Setiap dari Kita Unik, Syukuri Itu!
Merasa tidak sehebat yang lain? Bisa jadi karena kita terlalu fokus memerhatikan kelebihan orang, tapi sama sekali tidak menggali lebih dalam tetang kelebihan diri sendiri. Ngapain lihatin orang sampai segitunya, sih? Oke, mereka memang luar biasa hebat, tapi kamu juga tak kalah hebatnya, kok.
Kamu hanya belum memulai, sedangkan mereka sudah melesat kencang. Kita terlalu lama berdiam diri, menghitung-hitung, mempertibangkan ini dan itu, sampai lupa melangkah ke depan. Kenapa terlalu lama berpikir? Jika mau sehebat yang lain, mulailah dengan hal sederhana yang bisa kita kerjakan.
Seorang calon penulis tidak akan pernah jadi penulis kalau dia hanya bermimpi, bergumam, memuji orang berlebihan, sampai lupa sebenarnya dia harus apa dan mau ngapain? Calon penulis akan tetap menjadi ‘calon’ kalau sampai sekarang hanya diam dan berpangku tangan. Sedangkan yang lain sudah berdarah-darah berjuang. Pantas dong kalau sampai sekarang kita masih menjadi ‘calon’?
Setiap dari kita punya kelebihan. Setiap dari kita unik. Dan penting, kita punya potensi besar yang bisa dikembangkan sama seperti yang lain. Bedanya, kamu siap nggak berproses, capek-capek dan berlelah lillah sama seperti yang lain?
Menjadi Diri Sendiri
Si A bisa mengerjakan ini dan itu dalam waktu singkat. Sedangkan kita begitu lambat. Kenapa? Kita terus menghardik diri karena merasa kemampuan tak seberapa hebat. Kita terus mencela diri karena merasa belum sehebat yang lain, baik soal kemampuan dan prestasi. Padahal, berguna saja tidak, kan?
Mereka yang sudah hebat tentu telah melalui proses panjang yang luar biasa melelahkan. Kebanyakan memang mengawali dari nol, dari bawah. Sedangkan kita, lebih sering melihat mereka yang sekarang.
Jadilah diri sendiri dan ukur kemampuan diri. Kita bisa mengerjakan satu per satu, tak perlu lekas berlari kencang, penting tetap berjalan dan menikmati prosesnya. Ini bukan tentang seberapa cepat kita berlari, melainkan tentang konsisten yang perlu dibangun. Bagaimana kita terus mengusahakan, menikmati, dan disiplin meski dilanda kemalasan. Penting tidak berhenti.
Kadang, saya merasa minder, melihat orang lain sehebat itu, kayaknya saya nggak akan mampu. Tapi, semakin saya pikirkan dalam-dalam, semakin saya terpuruk, justru jadi nggak bisa melakukan apa-apa. Sibuk aja memikirkan kehebatan orang, sedangkan mereka sedang bergerak, berusaha, dan bekerja keras.
Saya pun lebih senang fokus pada tujuan, fokus pada target yang saya inginkan, ketimbang memikirkan hal-hal tidak perlu. Sesekali melihat kesuksesan orang itu penting, biar ikut termotivasi, tapi kelamaan melihat sampai lupa action juga nggak akan baik, ya. Yuk, ah, terus melesat ke depan, abaikan pikiran negatif yang mengganggu. Tetap semangat, ya! Kamu hebat, kamu luar biasa!
Salam hangat,
Featured Image: Photo by Samuel Silitonga on Pexels
Monday, January 20, 2020
Anak Demam 39 Derajat, Perlukah Panik dan Langsung ke Dokter?
Saya sempat mikir, apa dia sedang batuk pilek? Kayaknya nggak juga. Saat sampai di rumah, dia lemas, tapi suhunya sudah mulai turun karena sempat minum penurun panas di sekolahnya. Dia tidur pulas setelah saya buatkan minum hangat.
Siangnya, suhunya naik lagi. Lumayan, 38,7. Belum kelihatan tanda-tanda batuk pilek dan lainnya. Nggak curiga DBD karena demam sempat turun meski akhirnya naik lagi. Ini memang bukan kali pertama dia demam seperti tanpa sebab, karena kadang sebabnya nyusul belakangan. Masih observasi aja karena melihat kondisinya masih oke, mau minum, bahkan sore sempat makan nasi plus telur. Nasi sisa sedikit.
Dia mengeluh pusing dan agak mual. Sayangnya, malam suhunya naik hingga 39,4. Bahkan lebih kayaknya. Di sini emaknya pengen nangis...kwkwk. Kebayang banyak hal, takut karena sejak usia dua tahun dia sering alami kejang demam bahkan sampai usianya enam tahun. Sedih, karena besoknya dia ada sertifikasi hapalan Alquran. Dan dia sudah mempersiapkan baik-baik sejak lama.
Soal penyebab demam, sekitar sore sudah ketebak kayaknya karena masalah perut. Diare, meski nggak sampai bolak balik ke kamar mandi (masih layak disebut diare nggak, ya? Secara nggak bolak balik juga). Jadi, yang masih kepikiran ya demamnya itu yang nggak turun.
Perawatan di rumah seperti biasa,
- Kompres air hangat. Ingat, ya, jangan kompres dengan air dingin karena justru ini memicu suhu tubuh semakin naik.
- Banyak minum, mulai dari air hangat, air putih, sampai air zam-zam dikeluarin semua...kwkwk.
- Minum obat penurun panas, saya pakai sanmol (mengandung paracetamol) yang paling aman setiap empat jam sekali.
- Pakai baju yang longgar, nggak usah sampai berlapis-lapis.
- Sebaiknya nggak perlu nyalain AC karena bikin dia meggigigil, kecuali kalau sudah enakan. Mending nyalakan kipas hanya supaya kamar nggak pengap aja.
- Makan setiap dia merasa enakan. Kalau sedang demam tinggi saya nggak pernah memaksa dia makan, karena pasti nggak masuk juga, yang ada mual, eneg. Jadi, tiap demam turun, saya tawarkan dia makan. Ketika demam, cukup fokus sama cairannya, kecuali dia memang mau makan, ya (tanpa dipaksa).
Ujian Orang Sakit
Saya katakan bahwa dia mungkin besok bisa ikut sertifikasi atau tidak. Tergantung kondisi dia gimana, intinya saya nggak mau memaksa. Kemudian dia langsung sesenggukan, merasa mungkin bakalan batal datang untuk ujian. Dan seketika hati emaknya mewek juga (nangisnya di belakang...kwkwk). Karena tahu dia emang pengen banget ikut. Kedua, dia memang sudah bersungguh-sungguh meskipun kadang harus sering diingatkan, setidaknya dia sudah berusaha banget sejak liburan kemarin. Ketiga, saya ingat dosa-dosa sendiri, jangan-jangan ini karena perbuatan saya yang buruk, entah ada ucapan kurang baik, perlakukan buruk sama orang, sama dia, atau apa pun.
Akhirnya banyak-banyak inget dosa sambil banyak doa semoga dia bisa sehat lagi besoknya. Jujur aja, sempat agak pesimis, secara malam dia suhunya masih setinggi itu, apa iya besoknya dia bisa sehat? Tapi, saya berusaha berpikir positif, yang sembuhkan Allah, bukan saya. Jadi, nggak ada yang mustahil.
Berpikir Positif Dalam Kondisi Seburuk Apa pun
Dan ternyata ini tidak mudah. Kita akan sulit sekali berpikir baik dalam kondisi yang buruk. Berbeda ketika kita dalam kondisi senang, gembira, dan bahagia, pasti akan sangat mudah memikirkan hal-hal baik.
Saat si sulung sakit, saya berusaha membangun pikiran positif, nggak berguna juga memikirkan hal-hal negatif. Meskipun sebenarnya ini sangat berlawanan dengan pribadi saya yang suka panikan. Voila! Ternyata saya berhasil meskipun itu nggak mudah.
Apa yang kita pikirkan akan terjadi, nggak menunggu seribu tahun lagi, Gaes. Tapi bakalan terjadi dalam waktu dekat, bahkan saat itu juga. Jadi, jangan sampai kita memikirkan hal buruk, mereka-reka, berandai-andai nasib buruk di waktu yang akan datang. Masa depan itu adalah hal gaib, nggak kita ketahui pasti. Jadi, kenapa kita menghabiskan waktu untuk memikirkan hal buruk, yang bahkan kita sendiri saja sebenarnya tidak pernah ingin?
Pelajari Tanda Gawat Darurat Saat Anak Demam
Tidak semua penyakit berat ditandai dengan demam tinggi. Demam tinggi juga bukan ciri dari sakit berat. Nggak selalu. Kadang, karena pilek saja, anak bisa demam tinggi. Penting kita tahu cara menangani selama di rumah, jangan panik (meskipun saya masih suka panik...kwkwk), minimal kita tahu apa yang mesti dilakukan saat anak demam tinggi.
Lantas, kapan kita harus segera pergi ke dokter? Dikutip dari buku dr. Wati (Q&A Smart Parents fot Healthy Children), disebutkan kapan waktu yang tepat menghubungi dokter saat anak demam,
- Demam >38’C pada bayi usia 3 bulan, >38,5’C pada bayi usia 3-6 bulan, atau >40’C pada bayi usia >6 bulan.
- Kondisi anak memburuk.
- Tidak mau minum atau susah minum sehingga menyebabkan ia dehidrasi.
- Rewel atau menangis terus menerus, tidak dapat ditenangkan.
- Demam sudah berlangsung selama 72 jam (terutama jika tanpa gejala khas seperti tidak ada batuk pilek dll).
- Tidur terus menerus, lemas, dan sulit dibangunkan.
- Kejang atau kaku kuduk.
- Sakit kepala hebat yang menetap.
- Sesak napas.
- Muntah, diare terus menerus.
Pergi ke Dokter Tidak Selalu Harus Pulang Bawa Obat
Saya pernah berdiskusi dengan seorang dokter spesiali anak senior di rumah sakit Hermina. Tentang obat-obatan yang diresepkan oleh dokter. Sempat saya menolak beberapa obat yang saya rasa tidak perlu. Menurut dokter, baguslah kalau orang tua mengerti, karena kadang para dokter ‘terpaksa’ memberikan resep karena merasa seolah dipaksa memberikan obat-obatan itu.
Kebanyakan orang tua pergi ke dokter karena butuh obat, mereka menuntut itu. Kalau ke dokter kemudian pulang tidak membawa obat rasanya nggak bener kali, ya? Hehe.
Ketika si bungsu demam tinggi di usia 2-3 bulanan, saya bergegas ke dokter. Karena seperti itulah yang saya pelajari di buku dr. Wati. Sekadar memastikan kondisinya baik-baik saja, sakit atau demam biasa atau ada tanda-tanda yang perlu kami waspadai. Karena memang sudah jelas disebabkan batuk pilek, alhamdulillah kami pulang. Hanya diberi penurun panas.
Meskipun saya agak jarang ke dokter, tapi di saat tertentu, dalam kondisi memang perlu, saya nggak akan menahan diri untuk pergi. Kalau harus pergi dan memang butuh berdiskusi, kenapa mesti menahan diri?
Ke dokter nggak selalu karena butuh obat, kalau diagnosa jelas, dan sekadar batuk pilek, ya udah, demam cukup diredakan dengan penurun panas jika diperlukan. Antibiotik dkk bisa kita skip. Kadang, kalau nggak mau ribut sama dokter, saya akan terima resep dan hanya menebus penurun panasnya saja.
Demam Reda Keesokan Harinya
Sabtu, 18 Januari 2020, demam si sulung turun. Tinggal sumeng aja. Meskipun agak pucat, pas mau berangkat sertifikasi juga hujan, kami tetap berangkat. Sambil tak henti-henti bersyukur, saya melihat bahwa pikiran positif akan membawa lebih banyak hal baik dalam hidup kita. Apalagi jika kita ber-husnudzon sama Allah, nggak akan pernah rugi.
Hal-hal baik yang kita kerjakan akan mendatangkan kebaikan serupa, begitu juga hal buruk lainnya. Jangan mengganggu orang lain, jangan jahatin orang, jangan berpikir buruk apalagi mengatakan hal buruk tentang orang lain jika kita mau hidup tenang. Meski masih belajar, tapi saya sangat percaya semua kebaikan memang akan berbalas hal serupa, begitu juga dengan keburukan yang kita kerjakan.
Semua akan baik-baik saja. Ya, akan seperti itu jika kita tetap berbaik hati, jangan membiarkan diri melakukan hal buruk, terutama pada orang lain :)
Salam hangat,
Featured Image: Photo by doctordoctor.com.au
Thursday, January 16, 2020
Review Novel Anak Rantau By Ahmad Fuadi
Setelah sekian lama tidak membaca novel, buku Anak Rantau karya A. Fuadi menjadi pembuka yang cukup manis di tahun 2020. Iya, saya akhirnya membeli novel ini karena sudah lama sekali tidak membaca buku-buku fiksi. Dan buku A. Fuadi menjadi satu-satunya yang peling ingin saya baca. Meski jujur, pasti kalian bilang telaaat banget, sih baru baca buku Anak Rantau!
Ampun, deh! Beberapa bulan terakhir saya memutuskan untuk menulis buku-buku nonfiksi terutama tentang motivasi. Jadi, selama itu pula saya lebih banyak membeli buku-buku nonfiksi. Ternyata mentor saya bilang, biar tulisan kita lebih luwes, sebaiknya baca juga buku-buku fiksi. Sungguh ini adalah kabar gembira. Sekarang jadi nggak merasa berdosa kalau beli buku-buku fiksi..hihi. Baca buku fiksi sekaligus menjadi sarana belajar juga, kan jadinya. Nggak ada ruginya :)
Tentang Anak Rantau
Buku Anak Rantau ini berkisah tentang Hepi, seorang siswa SMP yang ditinggalkan sang ayah, Martiaz, di kampung halamannya. Awalnya Hepi adalah penduduk kota Jakarta. Dia tinggal bersama sang ayah dan kakaknya. Namun, sejak Hepi banyak berulah, bahkan rapornya sampai kosong karena tidak mau mengisi soal-soal ujian, akhirnya Martiaz mengambil keputusan yang cukup berat. Ya, dia menitipkan putranya kepada kedua orang tuanya di Padang.
Masalahnya, bukan hanya tentang Hepi yang belum tahu tentang niat ayahnya, tetapi juga tentang hubungan Martiaz dengan keduanya orang tuanya, terutama Bapaknya begitu buruk. Mereka sudah lama sekali tidak bertemu. Ada sesuatu yang Martiaz sembunyikan dari Hepi, dan itulah satu-satunya alasan kenapa dia tidak pernah mengajak Hepi pulang ke tanah kelahirannya.
“Perasaan Martiaz seperti isi botol limun bergas yang dikocok-kocok 20 kali. Bercampur baur dengan ruap gas yang mendesak-desak untuk meletus dan tumpah ruah. Itu yang dia rasakan ketika menjejakkan kaki di tanah kelahirannya.” (Anak Rantau, hal 16)
Hepi senang-senang saja diajak berlibur ke kampung halaman sang ayah. Sudah sejak lama dia ingin pergi ke sana, apalagi naik pesawat. Wow, siapa yang tak ingin? Dia yang tidak tahu menahu soal niat ayahnya menitipkan dirinya di rumah kakek neneknya tentu senang-senang saja ketika berada di kampung hingga akhirnya, waktu itu pun tiba.
Ayahnya memutuskan pulang dan melarang Hepi untuk ikut. Saat itulah, Hepi mulai merayu dengan berbagai alasan supaya bisa ikut dan kembali ke jakarta. Sayangnya, Martiaz sudah paham betul dengan sifat anaknya. Dia pun lebih kukuh lagi menolak.
Hepi sungguh sangat sebal, kesal, dan sakit hati. Dia sudah ditinggalkan ibunya sejak kecil, sekarang ayahnya pun harus pergi juga? Hepi tetap ingin ikut. Dia sungguh tidak siap dengan kejutan itu. Sangat tidak siap.
Hepi mengikuti ayahnya sambil menyeret koper miliknya. Dia pun memaksa untuk naik bus yang ditumpangi ayahnya. Martiaz sempat kesal dan mangatakan bahwa itu adalah sebuah hukuman yang pantas Hepi terima, karena dia sudah seenaknya, sering bolos, lebih parah sampai tidak mau mengisi lembar jawaban ujian.
“...Kalau memang mau ke Jakarta, boleh, tapi beli tiket sendiri kalau mampu.” (Anak Rantau, hal 54)
Hepi akhirnya harus menerima risiko dari perbuatannya itu. Di atas koper yang baju-bajunya telah berantakan di jalan, dia terpekur dengan mata berkaca-kaca. Kalimat ayahnya sungguh menyakitkan dan menimbulkan dendam di hati Hepi. Dia bertekad akan kembali ke Jakarta. Dia bisa membeli tiket pesawat dengan uangnya sendiri.
Dan petualangan Hepi pun dimulai di kampung halaman sang ayah. Dia akhirnya kembali sekolah, punya beberapa teman seperti Attar dan Zen. Konflik pun tak cukup tentang perjuangan Hepi untuk memperoleh uang demi membeli tiket pesawat supaya bisa kembali ke jakarta, tidak sesederhana itu. Hepi harus melalui banyak sekali permasalahan, mulai dari uang tabungannya yang hilang setelah susah payah bekerja, membongkar pelaku pencurian di kampungnya, masuk ke rumah hitam yang (katanya) pemiliknya bisa menggandakan uang, masuk ke sarang jin, dia pun harus terjebak dalam sarang bandar narkoba yang mengancam nyawanya.
Anak Rantau di Mata Saya
Ketika membaca halaman pertama, kedua dan seterusnya, saya sudah jatuh hati dengan bahasa dalam kalimat-kalimat yang digunakan oleh Ahmad Fuadi di dalam novelnya. Santai, mengalir, kadang serius, bikin deg-degan, kadang kocak dan bikin ketawa. Lengkap!
Awalnya, konflik di dalam buku ini terlihat sangat sederhana, ya, tentang Martiaz dengan sang ayah, tentang Hepi juga dengan ayahnya. Tapi, rupanya banyak sekali petualangan seru yang disajikan oleh Ahmad Fuadi. Novel National Bestseller ini benar-benar bikin penasaran. Dan jujur saja, ketika membaca bab-bab Hepi mendatangi rumah hitam Pandeka Luko, saya ikut seram dan merinding. Banyak hal-hal yang sulit sekali ditebak. Saya kira akan begini, tenyata malah begini.
Seru banget dan bikin jantung mau copot! Padahal ini novel, bukan film! Tapi, ketika Hepi terjebak di sarang bandar narkoba, hati saya patah-patah nggak karuan rasanya. Kayak nyata banget sambil sesekali memejamkan mata *dasar emak-emak...kwkwk.
Sungguh saya suka sekali dengan novel ini. Banyak pelajaran yang bisa kita petik, terutama tentang rindu-dendam dan memaafkan.
Jujur, awalnya saya merasa aneh dengan pemilihan nama Hepi di dalam buku ini. Awalnya saya kira ini nama untuk anak perempuan, ternyata nama Hepi justru milik anak laki-laki. Tahu nama panjangnya siapa? Donwori Bihepi...kwkwk. Kocak banget, kan? :D
Buku ini bukan hanya berkisah tentan Hepi saja, di dalamnya juga banyak diceritakan tentang sejarah, adat, bahkan makanan tradisional juga. Jadi laper, kan? Haha.
Dan penulis novel ini ternyata humble banget, lho. Kok, tahu? Karena beliau dengan senang hati mengomentari postingan saya di Instagram. Sekelas penulis national bestseller gitu mau komentar di akun saya? Auto terharu :(
Itulah sedikit review dari saya tentang novel Anak Rantau. Semoga kamu suka, semoga kamu terhibur *emang sirkus :D
Salam hangat,
Tuesday, January 14, 2020
Motivasi Bagi Penulis Pemula
“Mbak, gimana cara menulis buku? Pengen punya buku solo meski hanya satu.”
“Mbak, bagaimana cara membagi waktu antara menulis buku, ngeblog, sama ngerjain tugas rumah? Saya kok rasanya belum mampu melakukan semuanya sekaligus, ya?”
“Mbak, Mbak, jemurannya belum diangkat udah gerimis, tuh!” :D
Mbak, kita ini manusia biasa. Melihat orang lain seperti serba bisa sebenarnya bukan hal yang tepat. Karena, apa yang kita lihat pasti berbeda dengan kenyataan yang mereka jalani. Rumput tetangga selalu lebih hijau, karena kalau nggak hijau, pasti pepatah ini nggak akan ada *lol. Saya melihat, teman-teman itu terlalu fokus sama pencapaian orang lain dan lupa bertanya tentang prosesnya.
Iya, saya sekarang menjadi penulis buku, beberapa buku saya qadarallah sudah majang di Gramedia, saya juga pernah menang lomba blog dan lumayan rutin ngisi (meskipun nggak selalu), tapi pernah nggak, sih, teman-teman membayangkan proses panjang saya sebelum sampai di titik sekarang?
Teman-teman melihat saya seperti serba bisa, sedangkan saya melihat orang lain serba sempurna. Begitulah kehidupan, ya? Hanya saja kalau kita terlalu fokus dengan semua itu, fokus melihat orang tanpa pandai-pandai mengambil pelajaran, ujung-ujungnya bukan malah termotivasi, tapi justru jadi merasa rendah diri, nggak percaya diri, mau kirim naskah nggak pede, padahal sudah sering menulis, lho. Kadang kita juga jadi lupa mengukur kemampuan diri, hingga semua pekerjaan diambil dan dikerjakan sekaligus, akhirnya buyar karena nggak bisa fokus dan belum mampu sejauh itu.
Karena terlalu sibuk membanding-bandingkan kemampuan dengan orang lain, kita jadi susah mau maju. Orang lain bisa karena memang sebelumnya pernah menjalani proses seperti yang sekarang kita jalani. Orang lain terlihat hebat, bukan berarti sejak lahir dia sudah jago menulis buku. Pasti belajar tengkurap dulu, belajar merangkak, dan berjalan. Belajar nulis malah baru masuk TK atau malah pas masuk SD :D
Memotivasi diri itu bisa dengan kalimat “Kalau dia bisa, insya Allah aku juga bisa.” bukan dengan kalimat semacam ini “Dia jago banget nulisnya. Kirim ke penerbit selalu lolos. Sedangkan aku masih junior. Pemula banget. Malu ah mau coba kirim ke penerbit mayor.” Lho..lho...Gawat!
Jangan seperti itu, ah! Semua orang itu berproses. Jangan jauh-jauhlah, perhatikan saja postingan pertama di blog saya, isinya hanya sedikit, bahasanya masih aneh, nggak bisa langsung nulis panjang 2000 kata tiap postingan dan ngalir seperti sekarang. Ada proses mendaki yang mungkin cukup melelahkan, tetapi sangat indah bagi yang mau menikmati. Dan biasanya teman-teman nggak bisa melihat itu, hanya kita sendirilah yang tahu.
Saya sering mendapati, banyak orang udah tahu ilmunya, tapi kalau disuruh nulis susah disiplinnya, susah percaya dirinya juga kalau mau coba ke penerbit mayor. Tapi, mereka selalu bilang pengen punya buku. Kapan, ya? Tentu saja kamu sendiri yang tahu kapan itu terjadi. Iya, kan?
Menulis Cepat Butuh Proses Nggak Sebentar
“Mbak, kok, bisa menulis sehari sepuluh halaman?”
Sebelum bisa berlari kencang, kita pasti latihan dulu. Sehari dua hari nggak akan pernah cukup. Butuh waktu lama untuk berlatih supaya bisa berlari kencang dan memenangkan perlombaan. Begitu juga dengan menulis. Kenapa bisa menulis dalam jumlah banyak per hari? Karena sudah terbiasa melakukannya. Paling bolong nggak nulis sehari dua hari, itu pun kalau darurat, terlalu capek atau sedang bepergian.
Makannya saya selalu katakan, ikut lomba blog atau menulis buku, meski akhirnya nggak menang dan nggak lolos masuk penerbit, tapi sebenarnya kita nggak pernah rugi. Karena kita sebenarnya sedang berlatih, mengasah kemampuan menulis. Pengen jadi penulis ya harus menulis, masa hanya malas-malasan? Itu namanya pemalas, bukan, sih? *Eh.
Latih aja sering-sering. Mau sukses jangan kebanyakan ngeluh. Mustahil mengharapkan buah apel dari pohon jeruk. Mustahil mengharapkan sukses, tapi setiap hari kita sangat pesimis. Nggak bisa seperti itu. Kalau kita mau sukses, coba kita tulis impian itu di kertas, tempelkan di tempat yang sering kamu lihat. Tulis hal-hal positif, baca berulang-ulang, kalau perlu tulis impian kamu setiap malam menjelang tidur.
Lihat, impian itu punya jalan sendiri untuk terwujud. Peta impian ini saya tulis tahun 2008, ketika kelas 3 SMA. Bahasanya aja masih alay, Gaes. Uniknya, semua terjadi sesuai apa yang saya tulis. Seremnya, pakai gagal beneran juga, lho sebelum akhirnya saya bisa menerbitkan buku-buku lainnya.
Buku ‘Agar Suami Tak Mendua’ adalah buku pertama yang saya tulis. Kemudian saya mundur dari dunia menulis sekitar tiga tahun setelah naskah itu rampung dan tinggal antre cetak. Tahu, nggak? Ternyata buku itu harus gagal terbit setelah saya menunggu sekitar 5 tahunan.
Kemudian, atas saran dari teman-teman, saya tarik naskahnya, saya revisi, kemudian saya ajukan ke penerbit mayor yang lain. Qadarallah, naskah itu diterbitkan oleh Quanta pada tahun 2019.
Saya menyesal, kenapa dulu harus menulis kata ‘gagal’ dalam peta impian itu. Saya nggak pernah menyangka impian itu menjadi nyata seluruhnya. So, kamu yang berniat menulis impian, benar-benar tulis hanya hal positif aja, ya? Jangan kayak saya :D
Punya Buku Butuh Perjuangan
Ya, kali nulis buku beneran kayak goreng bakwan? Sekelas Ahmad Rifa’i Rif’an saja saya yakin, pasti mengorbankan banyak hal supaya tulisannya benar-benar menjadi naskah utuh. Dia bercerita, bahwa dia benar-benar memanfaatkan waktu dengan sangat baik. Ya, kalau nggak butuh, jangan buang-buang waktu.
Sambil nunggu pesawat misal, beliau menulis. Kita ngapain? Dan saya yakin, beliau juga nggak suka nonton Drama Korea yang benar-benar menyita waktu...kwkwk. Karena, saya yang jarang nonton, ketika udah nonton susah banget mau udahan. Malah kadang diulang lagi sampai bosan, penyakit banget, kan? Kwkwk.
Kalau ditanya gimana saya membagi waktu? Bisa menulis buku, masih ngeblog juga? Ya, kita tentukan saja mana pekerjaan yang mesti diprioritaskan terlebih dulu. Sebenarnya, saya pengen ngisi blog setiap hari, tapi ternyata saya juga nggak bisa nahan buat nulis buku. Makin ke sini keduanya semakin menarik. Akhirnya saya memutuskan menulis buku sebagai prioritas, kemudian jika masih ada waktu, barulah ngisi blog. Makannya, jangan heran saya jarang banget blogwalking *Maafkan.
Ketika sudah menulis, kadang bosan banget ngerjainnya. Pengen cepat kelar, Gaes. Solusinya? Kita mesti ambil tema yang dikuasai dan kita suka. Kalau nggak suka, bahaya, sih. Bisa jadi kita depresi kali ngerjainnya...kwkwk. Terburuk, nggak kelar bukunya :D
Kesibukan kita itu berbda-beda, karenanya saya bingung juga bagaimana membagi tip sehari-hari kepada teman-teman. Karena, ada orang yang udah punya ART aja masih merasa kerepotan. Itu karena memang kehidupan kita brbeda, kemampuan, emosi, kesabaran, kesibukannya pun beda banget. Jadi, jangan suka minder kenapa belum sehebat si A, mending berusahalah untuk memaksimalkan waktu yang kita punya.
Hanya Kita yang Bisa Mengusahakan
Kita nggak bisa terus menerus bergantung kepada orang lain, mustahil. Kita harus berusaha sendiri. Coba terus sampai kita berhasil. Karena ini adalah impian kita, maka kita sendirilah yang harus mengusahakannya.
Berapa banyak calon penulis yang ikut kelas menulis online supaya bisa menulis satu buku? Tapi, berapa banyak yang berhasil menuntaskannya? Ternyata hanya sedikit. Saat kita masuk kelas menulis, bayangannya apa? Langsung bisa menulis buku?
Padahal, kalau mental kita masih begini-begini aja, nggak pernah mengusahakan dengan lebih gigih, hasilnya percuma saja. Mau ikut puluhan sampai ratusan kelas, hasilnya nggak akan beda jauh. Ini bukan tentang orang lain, mereka hanya membantu dari belakang, kitalah yang harus melangkah ke depan. Kalau kitanya aja nggak mau usaha, sepuluh tahun lagi pun akan tetap seperti ini.
Jangan Terlalu Banyak Target, Fokuskan Pada yang Paling Ingin Kamu Wujudkan
Lihat, blogger-blogger yang keren itu punya manajemen waktu yang bagus. Mereka punya waktu khusus buat nulis, jawab komentar di blog, dan blogwalking. Nggak asal ngeblog aja. Makannya, saya tarik napas, nggak akan sanggup ngerjain seluruhnya dengan sempurna. Saya fokuskan dulu target saya satu per satu. Biar saya tetap bisa menikmati hidup *eaa.
Saran saya, kalau kita masih belajar, mending fokuskan saja target kamu pada satu hal. Baru bikin target lagi. Karena kebanyakan target malah bikin kita nggak fokus, ujungnya malah buyar semua. Lagi pula, kita harus ingat dengan kemampuan diri sendiri. Kenapa si A bisa mengerjakan ini dan itu sekaligus? Karena memang dia sudah berlatih cukup lama. Jika kita belum mampu, mending fokus salah satunya saja dulu.
Saya pernah bertanya ketika masuk kelas Ahmad Rifa'i Rif'an. Apa beliau pernah menulis dua buku dalam waktu bersamaan? jawabannya, pernah. Kelebihannya memang jadi tidak mudah jenuh (lho, beliau aja jenuh, apalagi kita..kwkwk), tapi, kekurangannya jadi susah fokus, dan akhirnya naskahnya nggak pernah kelar.
Setelah beliau menjawab demikian, saya putuskan hanya mengerjakan satu naskah saja dalam satu waktu. Awalnya saya mau coba ngerjain dua naskah sekaligus, kemudian urung mendengar jawaban beliau. Memang ketika dicoba, fokus pada satu hal akan jauh lebih maksimal hasilnya, insya Allah.
Dan, pada akhirnya kita sendirilah yang harus pandai-pandai mengusahakan. Mulai dari belajar disiplin dengan target sendiri, dengan jadwal menulis, mau membuang kebiasaan tidak perlu dan memakan banyak waktu, sehingga waktu kita bisa lebih efektif dan maksimal digunakan. Memang, akhirnya waktu istirahat berkurang. Kalau ada waktu sedikit jadi buat menulis, sayang buat hal yang kurang penting.
"Ah, aku, kan juga butuh me time!"
Bagi kami, menulis itulah waktu untuk bersenang-senang. Kok, bisa? Karena kami suka, kami cinta. Nggak akan terbebani dengan hal yang kami sukai *eaaa :D
Salam hangat,
Featured image: Photo by Ylanite Koppens on Pexels
Thursday, January 9, 2020
Media Sosial Hanya Untuk Main-main? Ini Manfaat Media Sosial Bagi yang Bijak Menggunakannya
Pernahkah kamu mendengar komentar seperti ini? Bagi sebagian orang, mungkin orang-orang yang kerjanya pegang ponsel, main sosial media, sampai rela update status plus bikin feed Instagram jadi menarik adalah pekerjaan membuang-buan waktu. Yaelah, ngapain sih, emang ada gunanya?
Dulu, saya juga berpikir, media sosial itu ya gunanya nggak lebih dari sekadar itu-itu saja. Main-main, mengomentari status teman, dsb. Tapi, lama-lama saya paham, orang yang bijak menggunakan sosial media bisa memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk banyak hal, termasuk mencari penghasilan, menyebarkan hal baik, berbagi tip yang mungkin berguna buat orang, dan penting buat penulis dan yang lainnya adalah media untuk branding.
Yups! Media sosial memang nggak jarang membawa dampak buruk, terutama buat yang nggak bijak memakainya. Mungkin orang yang berkomentar negatif tentang kita yang menggunakan media sosial, selama ini cenderung melihat kenyataan bahwa banyak orang di sekitarnya yang menghabiskan waktu buat bermain-main saja, nggak lebih daripada itu. Padahal, zaman sekarang media sosial juga jadi sumber penghasilan bagi sebagian orang, dan itu bagus-bagus saja, kan?
Anak-anak zaman sekarang memang cenderung menghabiskan waktu untuk bermain Facebook atau Instagram. Nggak harus mereka yang masih remaja, yang sudah berumur saja senang, lho. Tapi, kencenderungan pada sebagian orang juga nggak bisa disamaratakan pada yang lainnya. Tergantung kitanya saja, pintar-pintar pakai sosial media atau nggak.
Kalau belum paham manfaat media sosial, sini merapat, saya beri tahu beberapa manfaat positif punya media sosial,
Meskipun sekarang media sosial banyak digunakan untuk hal negatif seperti buat tempat ngeluh, nyindir teman, nggak jarang ngejek sampai menjatuhkan yang lain, tapi nggak semua juga, kok melakukan hal serupa. Lagian, dibuatnya media sosial ini memang nggak bertujuan untuk itu, kitanya aja yang kurang pintar memanfaatkan sehingga jadi tempat melakukan hal negatif.
Media sosial seharusnya dijadikan media untuk bersenang-senang, membagikan hal positif, saling memotivasi, atau media membagikan hal-hal yang bermanfaat. Saya yakin, pemilik Facebook juga kesel kali kalau tahu penduduknya menggunakan Facebook buat media yang nggak perlu :D
Dengan Facebook atau Instagram misal, kita bisa terhubung dengan teman-teman lama. Misalnya saya, baru-baru ini akhirnya bisa berkomunikasi lagi dengan teman-teman zaman MI atau SD dulu, lho. Ajaib banget bisa mendengar kabar mereka lagi setelah sekian lama berpisah. Karena saya ini berganti-ganti sekolah mulai dari MI, Mts, dan MA, jadi kebayang berapa tahun nggak ketemu lagi? Terakhir kayaknya emang pas perpisahan waktu MI sebelum akhirnya saya jatuh pingsan di panggung *gubrak...kwkwk.
Nggak semua orang alay juga, pakai media sosial buat yang nggak perlu. Kalau sebagian orang melakukan itu untuk hal negatif, ya bukan berarti semua orang sama. Poin ini penting banget, sih. Karena sungguh nggak nyaman juga kalau disebut main media sosial hanya untuk membuang waktu *emak sensi...kwkwk.
Nggak jarang memang banyak teman-teman sesama penulis mengeluhkan hal serupa, sungkan sama orang karena kita dianggap pegang ponsel hanya main-main media sosial dan yang lainnya. Padahal, banyak di antara teman-teman saya yang pegang ponsel bukan untuk itu, melainkan buat nulis naskah sampai ngeblog.
Kenapa harus pakai ponsel? Karena tahu sendiri emak-emak sibuk apalagi tanpa ART. Waktu sedikit benar-benar kami manfaatkan dengan baik supaya nggak terbuang percuma. Daripada buat hal-hal nggak penting, mending buat yang bermanfaat seperti menulis. Dan faktanya, nggak semua orang juga punya laptop.
Salah satu hal yang kami lakukan sebagai penulis adalah branding. Dan biasanya memang kami lakukan di media sosial. Branding ini penting banget buat kami, bahkan zaman sekarang penerbit lebih memilih penulis yang dikenal baik di sosial media ketimbang yang tidak. Target pasar pun bisa terpenuhi dengan baik kalau kita pintar-pintar mengenalkan diri kepada publik. Bahkan zaman sekarang, yang pengikutnya banyak bakalan lebih unggul ketimbang penulis yang hanya bisa menulis, tapi branding-nya jelek. Aih, sedih, euy!
Apakah semua ini hanya main-main dan menghabiskan waktu atau kami matre banget gitu karena berharap buku-buku kami laku dengan adanya branding ini?
Saya, sih manusia*siapa juga yang bilang dedemit. Tujuan menulis selain buat bersenang-senang, menyalurkan passion juga biar dapat penghasilan sendiri. Saya ini nggak pernah kuliah karena keterbatasan ekonomi dan keburu nikah juga. Selain itu, orang-orang sering meremehkan karena dianggap anak kampung yang nggak bisa apa-apa. Setelah bisa menulis dan mendapatkan penghasilan, bukan hanya saya yang senang karena bisa membuktikan bahwa saya mampu, melainkan juga orang tua bangga bukan main.
Seumur hidup saya belum pernah membelikan sesuatu yang berharga kepada orang tua dari jerih payah sendiri. Saya juga belum pernah ngasih mereka uang dari keringat sendiri. Tapi, sejak menulis, saya bisa memberikan sesuatu buat mereka. Dan itu jadi hal yang menyenangkan buat saya pribadi.
Nulis buat berbagi aja, ikhlas, jangan niat karena uang. Begitu orang bilang. Sebelumnya, saya merasa keinginan semacam ini seperti dosa besar. Tapi, setelah mendengar penjelasan dari Ahmad Rifa’i Rif’an (perasaan disebut mulu...kwkwk), saya pun merasa niat ini sah-sah saja dilakukan. Sedekah emang nggak butuh uang? Ngasih orang tua kebahagiaan memang nggak selalu uang, tapi kalau bisa kenapa nggak?
Tapi, semakin lama, kita pasti akan menemukan ‘sesuatu’ yang lebih bernilai dari sekadar uang. Dulu-dulu, ngapain nulis artikel banyak-banyak kalau bukan demi dolar? Nulis sampai lembur, bangun awal-awal, dan menyempatkan menulis di mana-mana. Semua itu saya lakukan memang untuk dapat penghasilan.
Tapi, setelah memutuskan menulis buku, saya memang menjadi lebih senang menulis bukan hanya sekadar untuk penghasilan. Makin ke sini makin paham niat terbaiknya apa. Makin ke sini makin mengerti bahwa kalau tujuannya hanya uang, suatu saat akan berhenti ketika tujuan itu nggak tercapai. Dan pada akhirnya saya masih di sini meski penghasilan menulis buku nggak sebanyak menulis artikel.
Saya yakin, semua orang akan berproses, begitu juga dengan niat kita. Makin hari kita makin dewasa, makin hari kita makin paham apa yang sebenarnya kita cari. Dan tujuan punya buku best seller bukan hanya sekadar uang dan uang, dengan ini kita bisa menyebarkan manfaat lebih luas. Kalau buku kita bisa dibaca lebih banyak orang, kenapa nggak?
Jadi, nggak ngarep uang? Nggak mau muna, saya ini manusia, Gaes...kwkwk. Lagian, banyak orang menggantungkan hidup dari menulis dan itu terpenuhi. Lantas, kenapa saya gengsi mengakui? Kwkwk. Siapa yang nggak suka dapat uang? Siapa? Apalagi itu dari kerja keras kita sendiri. Nggak ada yang salah. Sama saja kita rela capek-capek jualan baju, jualan makanan, bikin toko online, dll. Tujuannya, kan sama saja. Dan mulia-mulia saja selama dilakukan dengan baik.
Kita akan tahu, bukan hanya uang yang diharapkan ketika telah menulis bertahun-tahun. Katanya, kerja aja yang bener dulu, uang mah nanti datang sendiri *eaa. Niatnya juga dibenerin dulu, rezeki akan datang bagi orang yang bersungguh-sungguh. Insya Allah.
Nggak semua orang yang punya media sosial dipakai untuk menyebar hoax dan memfitnah. Masih banyak orang yang pakai media sosial untuk berbagi hal bermanfaat dan berfaedah. Misalnya, tentang tip menulis, penulis pemula tentu butuh ini. Atau tentang mengatasi kepanikan saat anak kejang demam. Banyak orang tua di luar sana yang butuh informasi yang benar. Zaman sekarang hal paling mudah untuk dapat informasi, ya, googling atau tanya sama teman. Nanya juga di media sosial...kwkwk.
So, saya pribadi nyaman-nyaman aja punya media sosial selama memang kita bisa bijak menggunakannya. Dan insya Allah ini nggak akan jadi dosa jika kita nggak seenaknya memakai. Berapa banyak orang yang menggantungkan hidup dengan media sosial? Zaman sekarang kita bisa dapat uang tanpa perlu kerja di kantoran, kok.
Jangan men-judge orang yang punya media sosial hanya bikin dosa. Please, ucapan semacam itu juga kayaknya nggak positif dan nggak bijak banget didengar. Jangankan yang punya media sosial, yang nggak punya aja pasti pernah main-main juga, kan? Beda aja tempat nongkrongnya...hihi.
Salam hangat,
Featured Image: Photo by Pixabay on Pexels
Dulu, saya juga berpikir, media sosial itu ya gunanya nggak lebih dari sekadar itu-itu saja. Main-main, mengomentari status teman, dsb. Tapi, lama-lama saya paham, orang yang bijak menggunakan sosial media bisa memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk banyak hal, termasuk mencari penghasilan, menyebarkan hal baik, berbagi tip yang mungkin berguna buat orang, dan penting buat penulis dan yang lainnya adalah media untuk branding.
Yups! Media sosial memang nggak jarang membawa dampak buruk, terutama buat yang nggak bijak memakainya. Mungkin orang yang berkomentar negatif tentang kita yang menggunakan media sosial, selama ini cenderung melihat kenyataan bahwa banyak orang di sekitarnya yang menghabiskan waktu buat bermain-main saja, nggak lebih daripada itu. Padahal, zaman sekarang media sosial juga jadi sumber penghasilan bagi sebagian orang, dan itu bagus-bagus saja, kan?
Anak-anak zaman sekarang memang cenderung menghabiskan waktu untuk bermain Facebook atau Instagram. Nggak harus mereka yang masih remaja, yang sudah berumur saja senang, lho. Tapi, kencenderungan pada sebagian orang juga nggak bisa disamaratakan pada yang lainnya. Tergantung kitanya saja, pintar-pintar pakai sosial media atau nggak.
Kalau belum paham manfaat media sosial, sini merapat, saya beri tahu beberapa manfaat positif punya media sosial,
Menghubungkan Kita dengan Teman Lama yang Terpisah Jarak dan Mustahil Buat Bertemu
Meskipun sekarang media sosial banyak digunakan untuk hal negatif seperti buat tempat ngeluh, nyindir teman, nggak jarang ngejek sampai menjatuhkan yang lain, tapi nggak semua juga, kok melakukan hal serupa. Lagian, dibuatnya media sosial ini memang nggak bertujuan untuk itu, kitanya aja yang kurang pintar memanfaatkan sehingga jadi tempat melakukan hal negatif.
Media sosial seharusnya dijadikan media untuk bersenang-senang, membagikan hal positif, saling memotivasi, atau media membagikan hal-hal yang bermanfaat. Saya yakin, pemilik Facebook juga kesel kali kalau tahu penduduknya menggunakan Facebook buat media yang nggak perlu :D
Dengan Facebook atau Instagram misal, kita bisa terhubung dengan teman-teman lama. Misalnya saya, baru-baru ini akhirnya bisa berkomunikasi lagi dengan teman-teman zaman MI atau SD dulu, lho. Ajaib banget bisa mendengar kabar mereka lagi setelah sekian lama berpisah. Karena saya ini berganti-ganti sekolah mulai dari MI, Mts, dan MA, jadi kebayang berapa tahun nggak ketemu lagi? Terakhir kayaknya emang pas perpisahan waktu MI sebelum akhirnya saya jatuh pingsan di panggung *gubrak...kwkwk.
Media Untuk Branding
Nggak semua orang alay juga, pakai media sosial buat yang nggak perlu. Kalau sebagian orang melakukan itu untuk hal negatif, ya bukan berarti semua orang sama. Poin ini penting banget, sih. Karena sungguh nggak nyaman juga kalau disebut main media sosial hanya untuk membuang waktu *emak sensi...kwkwk.
Nggak jarang memang banyak teman-teman sesama penulis mengeluhkan hal serupa, sungkan sama orang karena kita dianggap pegang ponsel hanya main-main media sosial dan yang lainnya. Padahal, banyak di antara teman-teman saya yang pegang ponsel bukan untuk itu, melainkan buat nulis naskah sampai ngeblog.
Kenapa harus pakai ponsel? Karena tahu sendiri emak-emak sibuk apalagi tanpa ART. Waktu sedikit benar-benar kami manfaatkan dengan baik supaya nggak terbuang percuma. Daripada buat hal-hal nggak penting, mending buat yang bermanfaat seperti menulis. Dan faktanya, nggak semua orang juga punya laptop.
Salah satu hal yang kami lakukan sebagai penulis adalah branding. Dan biasanya memang kami lakukan di media sosial. Branding ini penting banget buat kami, bahkan zaman sekarang penerbit lebih memilih penulis yang dikenal baik di sosial media ketimbang yang tidak. Target pasar pun bisa terpenuhi dengan baik kalau kita pintar-pintar mengenalkan diri kepada publik. Bahkan zaman sekarang, yang pengikutnya banyak bakalan lebih unggul ketimbang penulis yang hanya bisa menulis, tapi branding-nya jelek. Aih, sedih, euy!
Apakah semua ini hanya main-main dan menghabiskan waktu atau kami matre banget gitu karena berharap buku-buku kami laku dengan adanya branding ini?
Mencari Penghasilan
Saya, sih manusia*siapa juga yang bilang dedemit. Tujuan menulis selain buat bersenang-senang, menyalurkan passion juga biar dapat penghasilan sendiri. Saya ini nggak pernah kuliah karena keterbatasan ekonomi dan keburu nikah juga. Selain itu, orang-orang sering meremehkan karena dianggap anak kampung yang nggak bisa apa-apa. Setelah bisa menulis dan mendapatkan penghasilan, bukan hanya saya yang senang karena bisa membuktikan bahwa saya mampu, melainkan juga orang tua bangga bukan main.
Seumur hidup saya belum pernah membelikan sesuatu yang berharga kepada orang tua dari jerih payah sendiri. Saya juga belum pernah ngasih mereka uang dari keringat sendiri. Tapi, sejak menulis, saya bisa memberikan sesuatu buat mereka. Dan itu jadi hal yang menyenangkan buat saya pribadi.
Nulis buat berbagi aja, ikhlas, jangan niat karena uang. Begitu orang bilang. Sebelumnya, saya merasa keinginan semacam ini seperti dosa besar. Tapi, setelah mendengar penjelasan dari Ahmad Rifa’i Rif’an (perasaan disebut mulu...kwkwk), saya pun merasa niat ini sah-sah saja dilakukan. Sedekah emang nggak butuh uang? Ngasih orang tua kebahagiaan memang nggak selalu uang, tapi kalau bisa kenapa nggak?
Tapi, semakin lama, kita pasti akan menemukan ‘sesuatu’ yang lebih bernilai dari sekadar uang. Dulu-dulu, ngapain nulis artikel banyak-banyak kalau bukan demi dolar? Nulis sampai lembur, bangun awal-awal, dan menyempatkan menulis di mana-mana. Semua itu saya lakukan memang untuk dapat penghasilan.
Tapi, setelah memutuskan menulis buku, saya memang menjadi lebih senang menulis bukan hanya sekadar untuk penghasilan. Makin ke sini makin paham niat terbaiknya apa. Makin ke sini makin mengerti bahwa kalau tujuannya hanya uang, suatu saat akan berhenti ketika tujuan itu nggak tercapai. Dan pada akhirnya saya masih di sini meski penghasilan menulis buku nggak sebanyak menulis artikel.
Saya yakin, semua orang akan berproses, begitu juga dengan niat kita. Makin hari kita makin dewasa, makin hari kita makin paham apa yang sebenarnya kita cari. Dan tujuan punya buku best seller bukan hanya sekadar uang dan uang, dengan ini kita bisa menyebarkan manfaat lebih luas. Kalau buku kita bisa dibaca lebih banyak orang, kenapa nggak?
Jadi, nggak ngarep uang? Nggak mau muna, saya ini manusia, Gaes...kwkwk. Lagian, banyak orang menggantungkan hidup dari menulis dan itu terpenuhi. Lantas, kenapa saya gengsi mengakui? Kwkwk. Siapa yang nggak suka dapat uang? Siapa? Apalagi itu dari kerja keras kita sendiri. Nggak ada yang salah. Sama saja kita rela capek-capek jualan baju, jualan makanan, bikin toko online, dll. Tujuannya, kan sama saja. Dan mulia-mulia saja selama dilakukan dengan baik.
Kita akan tahu, bukan hanya uang yang diharapkan ketika telah menulis bertahun-tahun. Katanya, kerja aja yang bener dulu, uang mah nanti datang sendiri *eaa. Niatnya juga dibenerin dulu, rezeki akan datang bagi orang yang bersungguh-sungguh. Insya Allah.
Berbagi Informasi yang Bermanfaat dan Berfaedah
Nggak semua orang yang punya media sosial dipakai untuk menyebar hoax dan memfitnah. Masih banyak orang yang pakai media sosial untuk berbagi hal bermanfaat dan berfaedah. Misalnya, tentang tip menulis, penulis pemula tentu butuh ini. Atau tentang mengatasi kepanikan saat anak kejang demam. Banyak orang tua di luar sana yang butuh informasi yang benar. Zaman sekarang hal paling mudah untuk dapat informasi, ya, googling atau tanya sama teman. Nanya juga di media sosial...kwkwk.
So, saya pribadi nyaman-nyaman aja punya media sosial selama memang kita bisa bijak menggunakannya. Dan insya Allah ini nggak akan jadi dosa jika kita nggak seenaknya memakai. Berapa banyak orang yang menggantungkan hidup dengan media sosial? Zaman sekarang kita bisa dapat uang tanpa perlu kerja di kantoran, kok.
Jangan men-judge orang yang punya media sosial hanya bikin dosa. Please, ucapan semacam itu juga kayaknya nggak positif dan nggak bijak banget didengar. Jangankan yang punya media sosial, yang nggak punya aja pasti pernah main-main juga, kan? Beda aja tempat nongkrongnya...hihi.
Salam hangat,
Featured Image: Photo by Pixabay on Pexels
Thursday, January 2, 2020
Tidak Hanya Menelurkan Buku, Penulis Juga Harus Punya Etika
Saya, bukan karena sudah paling baik maka menulis postingan ini. Menurut mas Ahmad Rifa’i, tulisan kita bukan hanya tentang apa yang sudah kita lakukan dan amalkan, tetapi juga tentang harapan besar kita ke depan, tentang apa yang ingin sekali kita wujudkan. Begitu juga dengan tulisan ini. Saya berharap ini juga jadi pengingat buat diri sendiri, sekaligus meluapkan keresahan yang timbul belakangan setelah melihat banyak postingan teman-teman sesama penulis yang penuh drama bahkan udah horor jenisnya :D
Karena jujur, saya jarang nulis status di sosial media terutama Facebook kecuali buat promosi buku atau pengumuman event menulis. Mungkin blog jadi tempat paling nyaman aja buat curhat. Misal ada sesuatu yang mengganjal, saya akan utarakan di blog ini. Tentunya postingan ini sangat jauh dari kesan mirip dengan lambe turah, Gaes...kwkwk.
Menjadi penulis itu berat. Bukan hanya tentang tanggung jawab kita terhadap apa yang kita tulis, tetapi juga tentang diri kita di tengah-tengah masyarakat. Biasanya penulis bakal jadi panutan, meskipun fans belum sebanyak apa. Atau setidaknya kalimat-kalimat kita diikuti oleh teman-teman terdekat. So, dalam hal ini saya mulai berpikir bahwa apa yang kita lakukan dan kita ucapkan sebaiknya dipikirkan seribu kali sebelum ditunjukkan ke publik.
Status Kita Menunjukkan Siapa Diri Kita
Kebanyakan di antara kita, hanya saling kenal lewat sosial media. Kita menjadi begitu akrab, padahal ketemu pun tidak. Biasanya, hal itu terjadi karena kita punya banyak kesamaan, misal sama-sama suka baca buku, sama-sama suka menulis, dan sama-sama punya keinginan untuk maju bareng tanpa harus saling sikut sana, sikut sini *eaaa.
Tapi, sekilas kita bisa membaca karakter seseorang dari status-statusnya. Bahkan tak jarang saya suka unfriend orang karena melihat statusnya yang kurang pantas. Kira-kira kita tipe yang mana, nih?
- Tipe pertama
Ada orang yang blak-blakan banget di dunia maya, sebagian besar masalah dalam kehidupan nyatanya dia umbar. Nggak main akting-aktingan, ya itulah dia. Apa yang dia ceritakan juga tidak menyinggung orang lain, murni tentang dirinya.
Dia menjadikan itu sebagai terapi, bukankah kadang kita merasa lega sendiri setelah menceritakan satu masalah tertentu kepada orang lain meski tahu tidak ada solusi setelahnya? Satu hal, apa yang dia tuliskan meski terkesan blak-blakan, tetapi selalu ada faedah atau manfaat yang bisa dipetik. Dan saya, senang juga membacanya meski biasanya ditulis panjang-panjang...hehe.
- Tipe kedua
Kedua, berhati-hati betul menulis status. Kalau dirasa nggak ada manfaat dan tujuan, ya mending nggak usah nyetatus. Mungkin saya mulai ada di posisi ini. Kadang sampai mati gaya aja mau nyetatus yang receh...haha. Di Twitter mungkin saya masih suka nyetatus tentang hal sepele. Tapi, untuk Facebook dan Instagram, ditata betul. Di Instagram bahkan dari foto-fotonya aja udah khusus tentang buku aja. Kalau dulu, semua saya posting :D
Emang bisa terus-menerus berpura-pura baik-baik aja? Kalau saya sedang resah sendiri, saya harus tetap menceritakannya, tapi mungkin hanya kepada orang-orang terdekat, kemudian merasa cukup setelahnya. Nggak perlu harus posting di Facebook dan media sosial lainnya. Itu cara saya, ya. Beberapa tahun yang lalu, sudah pasti saya belum sebijak ini...kwkwk.
- Tipe ketiga
Nyetatus sambil julid, sambil nyindir temannya sendiri. Dan, ternyata yang begini mulai banyak, nggak peduli sekolahnya setinggi langit atau yang mungkin belum lulus SMA. Entahlah. Tapi, sebagian penulis pun ada yang melakukannya.
Dulu, saya termasuk orang yang suka tersinggung dan baper ketika ada status orang lain bicara ini dan itu. Saya juga kadang berdebat di kolom komentar untuk sesuatu yang tidak perlu. Saya tidak malu mengakuinya, karena saya pernah seperti itu.
Sekarang, apalagi sebentar lagi udah mau kepala tiga, rasanya ingin hidup damai aja. Jika nggak perlu banget, diemin aja. Kalau nggak merasa salah, kenapa harus ngelunjak? Atau, kalau orang nggak nunjuk langsung ke depan muka kita, kenapa kita harus merasa tersinggung dengan status orang lain? Kan, ada banyak orang di dunia maya ini, nggak perlu diambil pusing apalagi sampai dibikin ribut.
- Tipe keempat
Keempat, tipe ikut campur, tapi nggak mau tahu masalah yang sebenarnya. Nah, nah, karena merasa udah dekat, udah kenal, ketika ada teman nyetatus tentang si A atau si B, tanpa konfirmasi kepada pihak satunya, kita merasa halal ikut caci maki juga di kolom komentar. Bahkan untuk saat ini, banyak juga yang nggak baca caption sampai tuntas, buru-buru aja komentar.
Sedih melihat banyak teman-teman terjebak dalam masalah seperti ini. Kemarin pun saya sempat melakukan kesalahan, ya masuk poin keempat ini, kemudian nyesel meskipun saya berkomentar juga nggak kasar. Hanya merasa, kok saya kurang memperhatikan masalah sebenarnya sih sebelum memutuskan berkomentar? Semoga ke depannya tidak terulang.
- Tipe kelima
Kelima, tipe masa bodo. Bodo amat di A nyetatus apa, bodo amat si B nyetatus apa. Enaklah, santuy hidup orang ini...haha.
Nggak mesti jadi penulis juga sih untuk menjadi santun. Siapa pun yang merasa umat Rasulullah saw, sudah pasti harus belajar menjaga lisan. Terutama saya sendiri. Etika itu kan identik dengan sopan, santun, penuh empati, sebelum bicara dipikirkan akibatnya, apakah ada yang terluka karena ucapan kita atau nggak. Rasul pernah bersabda, dan menjadi moto yang selalu kita dengungkan, bahkan jadi lagu manis juga dalam film animasi Nussa dan Rara...hihi.
Berkata baik atau diam.
Suami saya kemarin bilang setelah saya terciprat minyak panas, “Bunda habis mikir jelek atau ada perasaan kurang baik nggak sama orang? Karena selama ini ayah selalu kena masalah setiap kesel sama orang. Ban bocorlah, ada aja. Jadi, sekarang walaupun ada orang berbuat dzalim sama ayah, ya udah mending santai aja.”
Jleb! Sempet ngapain, ya, sebelum akhirnya saya terkena minyak panas? Akhirnya jadi mikir, pasti ada penyakit hati. Ditelusuri emang benar sih abis mikir kurang baik sama orang lain. Dan, saya belajar dari semua itu.
Jangan Lupa Diri
Setelah ikut kelasnya mas Rifa’i, saya seperti dapat hidayah, lho...kwkwk. Itu kelas menulis, tapi sarat makna kehidupan *eaaa. Sejak terjun ke dunia literasi, sudah tak terhitung pengalaman manis dan pahit saya rasakan. Dan semua itu jadi pembelajaran tersendiri buat saya pribadi.
Saat jadi penulis, rasanya bangga ya bisa dikenal orang, banyak pengikut *jelas bukan saya karena pengikut saya itu biasanya dari hasil follow loop...kwkwk. Belum lagi bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah sendiri, dari rumah pula nggak perlu capek ke tempat kerja setiap pagi dan pulang menjelang malam. Ada banyak kebanggaan, belum lagi kalau buku kita cetak berkali-kali, best seller! Aih, siapa tak senang?
Tapi, apa yang kita punya semua murni adalah milik Allah yang hanya sekadar dititipkan, dan sewaktu-waktu bisa saja Allah ambil sesuka hati. Bukankah sudah banyak cerita dari orang-orang hebat yang sedang naik daun, kemudian diembus kabar negatif sekejap hilanglah semua kepopulerannya.
Maka, jangan sampai kita lupa diri. Jadi penulis harus punya etika, bukan hanya gengsi mau plagiat tulisan orang, tetapi juga bersikap santun kepada sesama. Kalau nggak suka mending nggak usah komentar, apalagi sampai merendahkan. Kita pernah ada di titik terendah itu, lho. Sekarang Allah angkat derajat kita, bukan berarti kita boleh seenaknya.
Perih rasanya melihat para penulis saling hujat menghujat. Kemudian tak kalah miris di kolom komentar banyak juga yang ikut caci tanpa hati. Please, kita perbaiki lagi etika kepada orang lain. Jangan suka baperan kalau teman nulis status ini, jangan main nyerobot kayak kereta nyamber. Karena ujungnya bakal ada keributan, yang ribut nggak hanya dua orang, melainkan satu kompleks sosial media yang saling bertaut.
Diam Itu Emas
Bukan saya tak ikut kesal membaca status A yang memaki dan mengejek si B, tapi saya mencoba menata hati supaya nggak memperkeruh masalah orang. Kalau satu komentar saya justru bikin orang tambah panas, bukannya malah dosa juga saya ini?
Jadi, saya percaya, diam itu emas. Kalau memang nggak diperlukan, nggak berfaedah, mending kita diam. Jangan sampai ikut membakar sekam, kemudian menjadilah besar apinya. Saya harus contoh suami sendiri, yang amat slow hidupnya, luv luv *eaa :D
Emang nggak susah tahan mulut? Kan ikut kesal juga ada orang didzalimi tanpa sebab? Awalnya susah dan gatel juga, sih. Tapi, belakangan saya berhasil juga mengendalikan diri. Karena sadar banyak orang mungkin akan melihat dan tak mustahil meniru apa yang kita perbuat. Dan satu lagi, saya mungkin menghindari masalah karena sadar saya ini mudah baper dan mudah suntuk.
Komunikasi tanpa batas membuat kita harus benar-benar berhati-hati ketika berbicara dan berkomentar. Sebagai penulis, jangan hanya bangga bisa menulis buku, tapi juga luruskan niat kemudian tata lagi etika kita kepada teman-teman yang lain. Mau jadi jahat atau baik, selamanya sudah pasti ada yang memuji dan mencaci. Ukuran banyak yang mendukung bukan berarti kita ada di posisi yang benar. Nggak selalu begitu, kok.
Saya berharap, setelah ini kita lebih pandai lagi menata hati. Kalau kata bungsu saya yang 4 tahun, “Ngapain marahin kakak? Biar Allah aja yang bales.” Kwkwk. Waktu kemarin saya sempat emosi sama kakaknya yang sedang menghapal untuk sertifikasi juz, sebab dia ngomel-ngomel karena ada yang lupa ayatnya. Saya meminta dia berhenti hapalan, rehat dulu. Baru lanjutkan kalau udah nggak capek. Malah tambah ngamuk dia. Kan esmosi emaknya serba salah*ealah malah curhat..kwkwk.
Eh, tiba-tiba si bungsu yang belum masuk TK berpertuah di depan saya sambil nyium-nyium. Aduh, emak malu, Gaes. Ayahnya pun ikut dinasihati, “Ayah nggak usah marahin kakak. Biar Allah aja yang marahin.” Si ayah ketawa, kan, gawat kalau Allah yang marahin. Lagian ayah ngerti juga nggak masalahnya apa. Marah juga nggak pernah :D
Hidup orang dewasa mungkin terlalu rumit, ya. Beda banget sama anak kecil yang masih polos. Tahun ini, semoga kita menjadi manusia lebih baik, menjaga lisan, menjaga hati, menjaga perilaku. Bukan hanya karena orang-orang melihat dan bebas mengomentari, tetapi juga karena kita punya Allah yang selalu mengawasi. Tetap sabar, ya!
Salam hangat,
Featured image: Photo by Min An on Pexels
Subscribe to:
Posts (Atom)
Hey there!
Part of
