Ini Alasan Kenapa Naskahmu Nggak Kelar-kelar!

Wednesday, January 22, 2020

Ini Alasan Kenapa naskahmu Nggak kelar-kelar



Postingan yang terinspirasi dari artikel yang ditulis oleh penerbit DIVA Press. Isinya kocak, ada benarnya juga, bikin geleng-geleng kepala atau justru sebaliknya, mantuk-mantuk setuju. Ini adalah masalah besar yang sering dihadapi bukan hanya oleh penulis pemula, tapi juga bagi yang sudah pernah menulis buku. Kenapa naskah kita nggak kelar-kelar, Gaes?

Sulit sekali menjawab, selain miris, malu, terharu...kwkwk, apalagi? Sebenarnya manusiawi bangetlah kalau sebagai penulis terutama yang baru pertama kali menulis buku mengalami yang namanya kegagalan saat menyelesaikan naskah pertamanya. Nggak hanya kamu, saya juga mengalaminya. Ada naskah yang hanya sebatas rencana, ada yang sekadar outline, ada yang baru dimulai beberapa bab kemudian dianggurin. Ya, semua itu kembali pada diri kita, kita sendiri yang memutuskan apakah akan menyelesaikannya atau membiarkannya terbengkalai sepanjang hari.

Saat mengadakan SMB (Sebulan Menulis Buku), saya merasa ini adalah cara yang lumayan efektif membantu terutama penulis pemula untuk merampungkan naskahnya. Selain memang diadakan free, challenge ini juga diawali dengan pembekalan materi yang lumayan sebelumnya. Kita sharing dulu, diskusi dulu mengenai kesulitan para peserta, supaya ketika memulai, semua bisa merampungkan naskahnya tanpa banyak alasan. Nyatanya? Semua tetap tidak mudah bagi sebagian orang.

SMB kedua dimulai bulan Januari 2020. Tinggal beberapa hari lagi. Kali ini saya hanya mengajak peserta dari grup SMB sebelumnya, dan belum berani mengajak peserta dari luar. Karena apa? Belajar dari pengalaman yang lalu, banyak peserta memang seperti menyenangkan, ya. Asyik gitu bisa ngerjain naskah bareng-bareng. Tapi, ternyata dari sekitar 80an orang, hanya 20an saja yang berhasil sampai tuntas.

Sekarang, dari sekitar 20an orang, hanya separuhnya saja yang memenuhi target dua minggu pertama. Selebihnya sudah gugur. Sebenarnya kesulitan kamu apa, sih, saat ngerjain naskah? Saya rasa, inilah beberapa alasan kenapa naskah kita tidak kunjung selesai digarap,

Nggak Konsisten


Konsisten atau istiqomah ini memang berat, Gaes. Kalau gampang namanya isteh manis katanya...kwkwk. Tapi, sebenarnya, orang yang memang punya kemauan kuat pastilah harus kosisten dong. Kalau benar-benar pengen punya buku solo, ya harus benar-benar istiqomah nulisnya. Jangan sehari nulis, sebulan libur *eh.

Nah, kalau kamu nggak konsisten, angot-angotan, males, ya wes, buyar kabeh! Sudah pasti naskah kamu nggak akan selesai dan nggak akan pernah jadi buku solo.

Kebanyakan peserta SMB ya begini, awalnya semangat banget, kemudian semangatnya memudar seiring berjalannya waktu. Bahkan target yang dibuat sendiri saja nggak selesai sampai SMB kedua. Ini agak horor. Mereka yang katanya sanggup ngerjain sehari 2 halaman, kemudian hanya selesai sekitar semingguan, setelah itu ya udah, udahan gitu aja.

Kemudian saya berpikir, mau sekeras apa pun saya atau orang lain membantu, akan percuma kalau orangnya saja tidak ada keinginan buat menyelesaikan. SMB ini sebenarnya sangat membantu karena kita bisa menulis dengan batas waktu. Tapi, pada sebagian orang tetap saja tidak berguna.

Kamu Nggak Benar-benar Ingin Punya Buku Solo


Kalau nulis antologi oke, tapi gimana dengan buku solo? Saya rasa, hampir semua penulis ingin punya buku solo. Sayangnya, sebagian orang yang bilang ingin, rupanya nggak pernah berhasil mewujudkan karena keinginannya mungkin masih setengah hati, nggak sebesar keinginan orang lain. Jadinya ya gitu, nggak serius menyelesaikan naskah. Bisa disebut kamu itu sebenarnya kurang cinta menulis. Karena mereka yang benar-benar suka akan melakukan segala cara supaya impiannya terwujud.

Tapi, apa iya semua orang mau disebut kurang cinta? Kwkwk. Kadang, kita memang benar-benar dihadapkan pada situasi serius di mana keinginan menjadi penulis benar-benar tidak direstui, misal sama pasangan. Sampai-sampai ada lho yang terang-terangan ngelarang nulis buku sama ngeblog. Kurang horor gimana coba?

Atau, kita harus fokus mengurus orang tua, anak, atau pasangan yang sedang sakit. Ya, semua itu memang keadaan darurat yang mesti kita dahulukan. Masalahnya, sebagian besar nggak mengalami masalah apa pun yang menghalanginya menulis, tapi naskah tetap nggak kelar juga. Salahnya di mana kecuali memang karena kamu nggak terlalu cinta dan suka?

Minder yang Lebay


Udah minder, lebay banget pula mindernya...kwkwk. Kamu sebenarnya sudah hebat, tulisanmu juga sudah bagus, tapi karena kamu minder, merasa naskahmu buruk, akhirnya kamu revisi sampai ribuan kali. Nggak lebay gimana ini?

Ketika menulis, jangan pikirkan banyak hal, typo, bahasa yang kurang enak, kalimat tidak baku, atau yang lainnya. Tulis aja dulu dan jangan pikirkan. Nanti akan ada saatnya kamu bisa mengedit secara keseluruhan. Sesimpel itu, kok.

Kalau tiap nulis satu paragraf aja kamu hapusin terus, kapan kelarnya? Atau kamu merasa tema yang dipilih kurang oke, pengen nulis tema lain. Kalau kamu turuti keinginan itu, mungkin sampai kapan pun naskahmu akan tetap hanya berupa rancangan saja.

Kamu Pemalas!


Nggak bisa dong naskah setebal minimal 120 halaman ditulis oleh pemalas? Namanya pemalas, kerjanya ya main sosial media seharian, selonjoran, leyeh-leyeh sambil ngeteh. Kamu nggak sibuk, kamu juga nggak kerja, banyak waktu luang setiap harinya, tapi kenapa naskahmu belum rampung juga?

Salah satu alasannya karena kamu malas memulai apalagi menyelesaikan. Jangankan menulis, mau makan aja males, lho. Kebangetan, kan? Kwkwk. Biasanya, ada aktivitas tertentu yang cenderung membuat seseorang malas melakukan pekerjaannya. Misalnya, nonton Drama Korea. Ini benar-benar bikin mager, kalau nggak kelar, nggak akan kita beranjak. Kadang malah diulang-ulang pula *saya banget...kwkwk.

Akhirnya, biar nggak keterusan, ya, sebaiknya jangan mulai lagi nontonnya kecuali itu kamu jadikan hadiah buat keberhasilanmu menyelesaikan naskah. Naskah aja baru sampai judul, kenapa sibuk mencari hadiah segala? Aneh kamu!

Tema Kurang Dikuasai dan Kurang Disukai


Kalau kamu mau menulis buku, sebaiknya ambil tema-tema yang memang benar-benar kamu kuasai. Jangan menulis buku yang kurang kamu suka, apalagi temanya berat dan bikin kamu mikir keras. Jangan!

Alasan ini sangat memungkinkan kamu menjadi jenuh kemudian udahan. Saya pernah menggarap naskah yang outline-nya sudah di-ACC, tapi karena akhirnya merasa temanya berat, saya pun memutuskan berhenti dulu. Jadi nggak happy gitu ngerjainnya. Jadi nggak semangat karena merasa tema itu tidak saya suka.

Itulah beberapa hal yang mungkin menjadi alasan kenapa naskah kamu nggak kelar-kelar. Mana yang paling tepat dengan kondisi kamu sekarang? Atau malah ada alasan lain yang menyebabkan naskahmu masih terbengkalai sampai sekarang? Misalnya patah hati atau jatuh cinta?

Salam hangat,

Featured image: Photo by Markus Spiske on Pexels

 

Comments

  1. Tempat Wisata di BandungJanuary 24, 2020 at 12:28 AM

    Saya ada dialasan yang ke 4 sepertinya. Pemalas. hahahaha.

    ReplyDelete
  2. Aku pun yang penulis kecil-kecilan bikin satu artikel aja susahnya bukan main. Mungkin karena gak istiqamah dan malas juga. Hehehe.😂

    ReplyDelete