Berbohong Kepada Anak, Bolehkah?

Friday, August 29, 2025

 

Berbohong Kepada Anak, Bolehkah?
Photo by Ivan Andriavani on Unsplash


Saat kecil, sering kali kita dijanjikan sesuatu supaya berhenti menangis. Orang tua atau pengasuh menawarkan permen, snack, atau bahkan mainan dan meminta kita diam saat sedang tantrum atau berulah. Kita menurut dan berharap janji itu ditepati. Namun, sering kali kita tidak mendapatkan apa yang telah orang tua janjikan. Mereka berbohong dan kejadian seperti itu menjadi hal biasa yang terus berulang di hari berikutnya. 

Di dalam agama Islam, segala sesuatu diatur dengan sangat detail. Jangankan soal adab kepada anak-anak, urusan ke kamar kecil hingga tidur pun diatur dengan sangat baik. Kita mesti masuk ke kamar kecil dengan mendahulukan kaki kiri dan keluar dengan mendahulukan kaki kanan sambil tak lupa berdoa. Allah telah mengatur hidup manusia dengan sangat baik dan mengarahkan kita kepada hal-hal yang Dia cintai. 

Namun, terkadang manusia itu bebal dan tidak mau patuh dan tunduk sehingga kita pun terjebak dalam kekeliruan yang disebabkan oleh pilihan kita sendiri. Soal kejujuran, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi teladan terbaik hingga beliau diberi gelar Al-Amin oleh penduduk Mekkah karena kejujurannya. 

Sebagai umatnya Rasulullah, kita mestinya juga menjadikan kejujuran sebagai identitas sebagai seorang muslim. Jujur tidak hanya harus kepada sesama orang dewasa atau yang lebih tua, tapi jujurlah juga kepada anak-anak yang bahkan belum tahu apa-apa. 

Dalam sebuah kisah, Rasulullah pernah menegur seseorang yang berjanji akan memberikan kurma kepada seorang anak. Kemudian Rasul memastikan apakah dia benar-benar akan menepati janjinya atau tidak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

“Barang siapa yang berkata kepada anak kecil, “Kemarilah. Saya akan memberimu sesuatu.”, lalu ia tidak memberinya, maka itu adalah sebuah kebohongan.” (HR. Ahmad) 

Meskipun si anak tidak menagihnya karena ia belum mengerti dan memahami sebuah janji, tetap saja orang tua dianggap berbohong dan jelas ia berdosa. Begitulah yang Rasul sampaikan dan harusnya membuat kita berhati-hati supaya tidak berbohong kepada anak-anak meski kondisinya sedang repot sekalipun. 

Orang Tua yang Tidak Konsisten Cenderung membuat anak bingung 


Saat anak-anak masih kecil, saya berusaha konsisten menerapkan aturan di rumah. Ketika ingin membeli mainan, kami membuat kesepakatan supaya mereka menabung dan mengumpulkan uang sampai jumlahnya cukup. Mereka yang belum lima tahun begitu antusias menabung, tapi suatu hari ada saatnya mereka merengek dan memaksa masuk ke toko mainan. 

Saya mengingatkan kembali soal kesepakatan kami yang sudah berjalan. Saya memenuhi keinginannya untuk masuk ke toko mainan, tapi kami tidak bisa membeli mainan saat itu juga karena uangnya belum cukup. Akhirnya, dia setuju dan masuklah kami ke toko mainan sekadar untuk melihat-lihat. 

Saat mau pulang, dia mulai merengek dan tidak sanggup menahan keinginannya untuk membeli mobil remot. Saya ajak dia ngobrol di luar dan menawarkan untuk menghitung jumlah uangnya di celengan. Jika cukup, kami akan kembali ke toko mainan dan membeli mobil remot yang sudah dia pilih, tapi jika belum cukup, saya meminta dia menunggu lagi. 

Masya Allah, saya percaya bahwa komunikasi yang baik dengan anak dapat memudahkan hubungan kita. Obrolan yang baik bisa membuat mereka paham. Tidak perlu marah atau membentak. Tidak harus menariknya keluar toko dan memandangnya dengan sinis. Cukup kita ajak ngobrol dari hati ke hati, insya Allah anak-anak akan mengerti. 

Sesampainya di rumah, kami mengetahui bahwa uang di celengannya belum cukup jumlahnya untuk membeli mainan. Dia setuju untuk menunggu dan menabung lagi. Saya lupa tepatnya kapan akhirnya dia bisa membeli beberapa mainan dari uang tabungannya. Dan itu membuatnya begitu bangga, madya Allah.

Sebenarnya, dia tidak harus selalu menabung untuk membeli sesuatu. Kadang, saya juga membelikan mainan tanpa sebab karena mereka memang masih anak-anak. Namun, kali ini memang saya ingin mengajarkan kepada mereka bagaimana rasanya menunda keinginan dan bersabar sebentar demi mendapatkan apa yang kita mau. Karena saya paham, kita memang tidak akan selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Bukankah hidup tidak selalu bahagia saja isinya? Anak-anak pun harus tahu semuanya supaya mereka tetap bertahan di saat gagal atau jatuh sekalipun. 

Di lain waktu, setiap akan pergi ke swalayan, kami membuat kesepakatan tentang barang yang akan dibeli. Dia boleh membeli snack atau susu, tapi tidak boleh membeli mainan. Jadi, setiap kami pergi ke swalayan atau ke mall, anak-anak tidak selalu pulang membawa mainan. Tanpa tantrum, tanpa menangis. 

Konsisten memberi aturan membuat anak-anak kita tidak bingung. Anak merupakan makhluk kecil yang sangat pintar. Ketika kita tidak konsisten memberi aturan, mereka akan mencari celah dan menjadikan itu sebagai alasan untuk memaksa orang tua menuruti keinginannnya. 

Ada anak yang selalu merengek minta diantar ke toko membeli snack atau mainan setiap kali ada orang bertamu ke rumahnya. Para tamu yang datang selalu mengatakan, "Turuti saja dulu. Kasihan," katanya. Orang tuanya pun jadi tak enak hati. Akhirnya, setiap ada tamu, si anak menangis sampai berguling-guling di lantai meminta ini dan itu. 

Jika kita mengatakan A, tetapkan konsisten mengatakan hal yang sama meski sedang dilihat oleh banyak orang. Ketika kita tidak konsisten, anak-anak merasa bingung, kenapa kemarin A, tapi sekarang jadi B? 
Hal itu membuat mereka akhirnya tidak patuh kepada kita. Namun, jika kita sudah berjanji, tolong jangan main-main dengan janji kita. Anak-anak, terlebih setelah berusia cukup besar pasti akan sangat teliti dengan ucapan kita. Makanya, jangan mudah berbohong kepada anak-anak. 

Setiap kali selesai ujian, saya selalu memberikan reward kepada anak-anak di rumah. Bukan karena nilainya yang bagus, tapi karena mereka sudah berusaha. Sebelum pembagian rapot, mereka sudah mendapatkan apa yang diinginkan. 

Kebanyakan, saya membelikan buku karena mereka suka membaca. Hal ini terus berulang sampai sekarang. 

Terkadang, orang-orang mempertanyakan, kenapa saya bisa membuat kesepakatan bersama anak-anak yang masih kecil? Kapan mereka boleh nonton, berapa lama, dan kenapa mereka bisa disiplin tanpa perlu diingatkan, tanpa harus mencuri-curi kesempatan? 

Sebenarnya, sederhana saja. Bangunlah komunikasi yang baik dengan anak-anak kita. Sebagaimana Rasulullah, kita pun harus berusaha dekat dengan mereka, hadir di rumah, dan ada di saat mereka butuh. 
Bukan hanya punya ayah atau ibu, tapi benar-benar hadir sebagai orang terdekat mereka. Ketika kita berjanji, jangan pernah mengingkarinya. Ketika kita memberi aturan, lakukan dengan disiplin. Andai mereka sudah hebat meski karena hal-hal kecil, jangan lupa berikan apresiasi. 

Rasulullah begitu dekat dengan anak-anak. Beliau bercanda, beliau mau diajak bermain, padahal Rasulullah pemimpin dan seorang rasul, tapi beliau tidak membuat jarak dengan anak-anak. 

Orang tua zaman sekarang sering kali lupa membangun kedekatan dengan anak-anaknya. Mungkin, memang sudah terlalu lelah setelah bekerja atau karena kesibukan lainnya. Namun, anak-anak tetaplah prioritas kita. Mereka adalah tanggung jawab kita dan mesti diberikan haknya, termasuk hak untuk disayangi dan diberi perhatian. 

Jika tangki cinta anak kita penuh, mudah bagi kita untuk berkomunikasi dan bernegosiasi dengan mereka, insya Allah. Apa yang Rasulullah sabdakan itu valid. Jika ada hal-hal yang berantakan dalam proses pengasuhan, mungkin ada hak anak yang tidak dipenuhi. Coba lebih dekat lagi dengan mereka dan bangunlah kelekatan yang baik. Karena bagi anak-anak, kita adalah dunianya. 



Salam hangat,

Comments