Review Novel Anak Rantau By Ahmad Fuadi

Thursday, January 16, 2020

“Kita boleh ditinggalkan, tapi jangan mau merasa ditinggalkan. Kita boleh dibuang, tapi jangan merasa dibuang.” (Anak Rantau, hal 235)

Setelah sekian lama tidak membaca novel, buku Anak Rantau karya A. Fuadi menjadi pembuka yang cukup manis di tahun 2020. Iya, saya akhirnya membeli novel ini karena sudah lama sekali tidak membaca buku-buku fiksi. Dan buku A. Fuadi menjadi satu-satunya yang peling ingin saya baca. Meski jujur, pasti kalian bilang telaaat banget, sih baru baca buku Anak Rantau!

Ampun, deh! Beberapa bulan terakhir saya memutuskan untuk menulis buku-buku nonfiksi terutama tentang motivasi. Jadi, selama itu pula saya lebih banyak membeli buku-buku nonfiksi. Ternyata mentor saya bilang, biar tulisan kita lebih luwes, sebaiknya baca juga buku-buku fiksi. Sungguh ini adalah kabar gembira. Sekarang jadi nggak merasa berdosa kalau beli buku-buku fiksi..hihi. Baca buku fiksi sekaligus menjadi sarana belajar juga, kan jadinya. Nggak ada ruginya :)

Tentang Anak Rantau


Buku Anak Rantau ini berkisah tentang Hepi, seorang siswa SMP yang ditinggalkan sang ayah, Martiaz, di kampung halamannya. Awalnya Hepi adalah penduduk kota Jakarta. Dia tinggal bersama sang ayah dan kakaknya. Namun, sejak Hepi banyak berulah, bahkan rapornya sampai kosong karena tidak mau mengisi soal-soal ujian, akhirnya Martiaz mengambil keputusan yang cukup berat. Ya, dia menitipkan putranya kepada kedua orang tuanya di Padang.

Masalahnya, bukan hanya tentang Hepi yang belum tahu tentang niat ayahnya, tetapi juga tentang hubungan Martiaz dengan keduanya orang tuanya, terutama Bapaknya begitu buruk. Mereka sudah lama sekali tidak bertemu. Ada sesuatu yang Martiaz sembunyikan dari Hepi, dan itulah satu-satunya alasan kenapa dia tidak pernah mengajak Hepi pulang ke tanah kelahirannya.
“Perasaan Martiaz seperti isi botol limun bergas yang dikocok-kocok 20 kali. Bercampur baur dengan ruap gas yang mendesak-desak untuk meletus dan tumpah ruah. Itu yang dia rasakan ketika menjejakkan kaki di tanah kelahirannya.” (Anak Rantau, hal 16)

Hepi senang-senang saja diajak berlibur ke kampung halaman sang ayah. Sudah sejak lama dia ingin pergi ke sana, apalagi naik pesawat. Wow, siapa yang tak ingin? Dia yang tidak tahu menahu soal niat ayahnya menitipkan dirinya di rumah kakek neneknya tentu senang-senang saja ketika berada di kampung hingga akhirnya, waktu itu pun tiba.

Ayahnya memutuskan pulang dan melarang Hepi untuk ikut. Saat itulah, Hepi mulai merayu dengan berbagai alasan supaya bisa ikut dan kembali ke jakarta. Sayangnya, Martiaz sudah paham betul dengan sifat anaknya. Dia pun lebih kukuh lagi menolak.

Hepi sungguh sangat sebal, kesal, dan sakit hati. Dia sudah ditinggalkan ibunya sejak kecil, sekarang ayahnya pun harus pergi juga? Hepi tetap ingin ikut. Dia sungguh tidak siap dengan kejutan itu. Sangat tidak siap.

Hepi mengikuti ayahnya sambil menyeret koper miliknya. Dia pun memaksa untuk naik bus yang ditumpangi ayahnya. Martiaz sempat kesal dan mangatakan bahwa itu adalah sebuah hukuman yang pantas Hepi terima, karena dia sudah seenaknya, sering bolos, lebih parah sampai tidak mau mengisi lembar jawaban ujian.

“...Kalau memang mau ke Jakarta, boleh, tapi beli tiket sendiri kalau mampu.” (Anak Rantau, hal 54)

Hepi akhirnya harus menerima risiko dari perbuatannya itu. Di atas koper yang baju-bajunya telah berantakan di jalan, dia terpekur dengan mata berkaca-kaca. Kalimat ayahnya sungguh menyakitkan dan menimbulkan dendam di hati Hepi. Dia bertekad akan kembali ke Jakarta. Dia bisa membeli tiket pesawat dengan uangnya sendiri.

Dan petualangan Hepi pun dimulai di kampung halaman sang ayah. Dia akhirnya kembali sekolah, punya beberapa teman seperti Attar dan Zen. Konflik pun tak cukup tentang perjuangan Hepi untuk memperoleh uang demi membeli tiket pesawat supaya bisa kembali ke jakarta, tidak sesederhana itu. Hepi harus melalui banyak sekali permasalahan, mulai dari uang tabungannya yang hilang setelah susah payah bekerja, membongkar pelaku pencurian di kampungnya, masuk ke rumah hitam yang (katanya) pemiliknya bisa menggandakan uang, masuk ke sarang jin, dia pun harus terjebak dalam sarang bandar narkoba yang mengancam nyawanya.

Anak Rantau di Mata Saya


 Ketika membaca halaman pertama, kedua dan seterusnya, saya sudah jatuh hati dengan bahasa dalam kalimat-kalimat yang digunakan oleh Ahmad Fuadi di dalam novelnya. Santai, mengalir, kadang serius, bikin deg-degan, kadang kocak dan bikin ketawa. Lengkap!

Awalnya, konflik di dalam buku ini terlihat sangat sederhana, ya, tentang Martiaz dengan sang ayah, tentang Hepi juga dengan ayahnya. Tapi, rupanya banyak sekali petualangan seru yang disajikan oleh Ahmad Fuadi. Novel National Bestseller ini benar-benar bikin penasaran. Dan jujur saja, ketika membaca bab-bab Hepi mendatangi rumah hitam Pandeka Luko, saya ikut seram dan merinding. Banyak hal-hal yang sulit sekali ditebak. Saya kira akan begini, tenyata malah begini.

Seru banget dan bikin jantung mau copot! Padahal ini novel, bukan film! Tapi, ketika Hepi terjebak di sarang bandar narkoba, hati saya patah-patah nggak karuan rasanya. Kayak nyata banget sambil sesekali memejamkan mata *dasar emak-emak...kwkwk.

Sungguh saya suka sekali dengan novel ini. Banyak pelajaran yang bisa kita petik, terutama tentang rindu-dendam dan memaafkan.

Jujur, awalnya saya merasa aneh dengan pemilihan nama Hepi di dalam buku ini. Awalnya saya kira ini nama untuk anak perempuan, ternyata nama Hepi justru milik anak laki-laki. Tahu nama panjangnya siapa? Donwori Bihepi...kwkwk. Kocak banget, kan? :D

Buku ini bukan hanya berkisah tentan Hepi saja, di dalamnya juga banyak diceritakan tentang sejarah, adat, bahkan makanan tradisional juga. Jadi laper, kan? Haha.

Dan penulis novel ini ternyata humble banget, lho. Kok, tahu? Karena beliau dengan senang hati mengomentari postingan saya di Instagram. Sekelas penulis national bestseller gitu mau komentar di akun saya? Auto terharu :(

Itulah sedikit review dari saya tentang novel Anak Rantau. Semoga kamu suka, semoga kamu terhibur *emang sirkus :D

Salam hangat,

 

Comments

  1. Donwori behepi hahah,....
    Kocak banget lah...

    Sama aku pikir hepi juga anak perempuan...
    ternyata hepi si bandel itu ya...

    ReplyDelete
  2. Asli, kocak! wkwkwkwk, Eh, nama si tokoh maksudnya. Btw novel ini tuh udah manggil-manggil terus minta dibeli lho. Tapi aku kok ya belum tergoda. Sik lah, lagi suka yang magis-magis. Ini baru mau putar haluan balik lagi ke novel realis, hahaha. Kadang tuh aku merasa butuh pengalihan dar kehidupan nyata. Makanya lagi suka baca yang fantasi.

    Fotonya kece anet Kakak.

    ReplyDelete
  3. Iya, awalnya saya sedikit kesel kenapa harus ambil nama Hepi :D

    Terima kasih, Mbak :)

    ReplyDelete
  4. Haha..iyaa...semua galfok sama nama Hepi :D

    ReplyDelete
  5. AKu juga punya teman bernama Hepi dan dia laki-laki hehehe :) Wah, mantab pisan ya postingan mbak dikomentari oleh penulis novel sekelas Ahmad Fuadi. Me time di rumah aja ternyata bisa melahap novel2 bagus ya. Wonderful deh :D

    ReplyDelete
  6. hahaha... Baru membatin "telat banget" eh ternyata udah ditulis sendiri.

    Saya juga suka baca novel-novel karya A Fuadi.

    ReplyDelete
  7. Aku syukaaakkk novel A Fuadi, mulai dari Negeri 5 Menara.
    Sekarang daku udah mulai jarang baca novel.
    Sepertinya, abis gini mau shopping novel aahhh

    ReplyDelete
  8. A. Fuadi sudah jaminan fiksi yang dibaca sangat menyenangkan dan seperti ikut ambil bagian di dalam ceritanya.
    Nama Donwori Behepi sungguh ide kocak yang tak terpikirkan oleh siapapun ya.

    ReplyDelete
  9. Novelnya recomended ya kak,membacanya bisa membikin kita hepi betulan wkwkwk. Meski hepi nama tokohnya ya kan. Btw baca novel fiksi membuat kita kaya kosakata yang indah kalau menurutku

    ReplyDelete
  10. Jadi penasaran kenapa ayah Hepi bisa begitu kejam

    Tapi ngga berani masukkan ke list bacaan karena buku yang harus udah dibaca udah numpuk

    Terlalu banyak kepingin :D

    ReplyDelete
  11. Hahaha beneran nama aslinya Donwori Bihepi?
    Ahmad Fuadi memang ramah
    Waktu buming negeri lima menara dia mau foto bareng dan ttd juga padahal saat itu banyak banget penggemarnya.

    ReplyDelete
  12. Wah, saya belum baca buku ini. Keknya seru ya. Dan bisa dibaca bareng anak juga sepertinya.

    Catat dulu di list buku yang ingin dibeli tahun ini.

    ReplyDelete
  13. Judulnya sepertinya serius, tetapi ternyata ceritanya cukup santai ya mbak..
    Dan aku setuju sama mentornya, agar luwes nulis non fiksi perlu juga baca buku fiksi

    ReplyDelete
  14. Nama panjangnya kocak ih Donwori Bihepi hahaha. Duh jadi penasaran pengen baca anak rantau ini deh, baru baca reviewnya aja udah seru nih petualangan Hepi, mau tau yg masuk rumah hitam dan terjebak di sarang bandar narkoba hohoho

    ReplyDelete
  15. Ciri khasnya A. Tua di setiap novelnya itu bikin hati pengennya langsung di film kan hehe.
    Dan btw melihat buku nya ini jadi kangen sama toko buku pengen ke sana buat hunting 😭

    ReplyDelete
  16. A. Fuadi maksudnya .. Kok jadi typo

    ReplyDelete
  17. Iya bener banget. Aku pikir hepi itu nama cewek. Tapi nasibnya gak se hepi namanya ya. Perjalanan hepi seru banget. Kl yang nulis ahmad fuadi memang ceritanya bagus.

    ReplyDelete
  18. Ini kelanjutan dari negeri 5 menara ya kak. Bagus ni novelnya. Apalagi yang 5 menara juga udah difilmkan.

    ReplyDelete