Top Social

Cara Membuat Outline Buku dan Mengajukannya ke Penerbit



Siapa di antara kamu yang suka dan ingin menulis buku? Yup! Satu buku sebelum mati, bisa! Begitulah yang diteriakkan oleh kami para peserta seminar Asma Nadia pada 2014 silam. Sebuah keberuntungan bisa berada di sana dan duduk di antara banyaknya orang yang sedang bersemangat menulis buku.

Jika dulu menulis buku adalah impian dan masih belum kebayang gimana mewujudkannya, maka sekarang cobalah merealisasikan mimpimu supaya jadi kenyataan. Jika kemarin-kemarin banyak orang posting foto untuk #10yearschallenge, maka saya berbeda. Saya sekarang dan 10 tahun lalu dalam versi berbeda. Yup! Dulu, 10 tahun silam, saya masih bermimpi menulis buku, cerita-cerita yang saya tulis masih sebatas di buku tulis, maka sekarang, setelah 10 tahun berjalan, karya-karya saya sudah majang di toko buku. Yeay! Seneng banget nggak, sih? Hihi. Masya Allah. Luar biasa senangnya.


Sepuluh tahun itu lama, lho. Iya, saya juga sadar sepuluh tahun itu lama. Dan bagaimana saya bisa menjaga mimpi itu hingga sekarang? Jujur saja, saya sudah pernah merasakan banyak hal selama nyemplung di dunia literasi ini. Baik tiba-tiba ingin berhenti, bosan, nggak kuat dijulitin orang, ngejar fee, buku gagal terbit, fee nggak dibayar, sampai akhirnya ada di posisi seperti sekarang, menikmati dan melakukan apa yang saya bisa tanpa memaksa harus seperti orang lain. Buat saya, ini posisi paling nyaman, sih. Di mana saya nggak ragu dan khawatir siapa yang akan membaca tulisan saya. Di mana saya nggak terlalu memedulikan apa yang akan saya dapatkan. Lepas aja. Saya menulis karena suka, kembali pada tujuan awal. Jika saya nggak bisa menikmati karena terlalu sibuk memikirkan hal yang nggak perlu, buat apa?

Begitu juga dengan kamu. Setelah kamu memberanikan diri bermimpi menyelesaikan sebuah naskah, jangan sampai mimpi itu kamu kubur dalam-dalam hanya karena kamu takut nggak bisa menyelesaikannya.

Sebab ada orang yang memang sejak awal untuk sekadar bermimpi saja ragu, lho. Kayaknya nggak mungkin aku bisa menulis buku, kayaknya mustahil aku bisa menulis sebanyak itu, ngisi blog aja nggak bisa rutin, istiqomah menulis saja belum.

Percayalah, semua orang itu berproses untuk sampai pada apa yang diimpikannya. Melihat orang lain sukses, memang terlihat mudah bagi kita. Tapi, ketika kamu bertanya prosesnya, pasti kamu nggak akan bilang itu mudah…hehe. Begitu juga dengan kamu. Percayalah, meski tak selalu mulus, tetapi jika kamu berani bermimpi, Insya Allah suatu saat mimpi itu akan terwujud nyata.

Nah, sebelum menulis naskah utuh, ada baiknya kamu menulis rancangan atau outline dulu supaya proses menulisnya bisa lebih mudah diselesaikan. Memang ada penulis yang nggak suka bikin rancangan, tapi kalau saya pribadi lebih suka pakai outline terutama untuk naskah nonfiksi.

Saat ini, kamu bisa mengirimkan naskah utuh kepada penerbit atau cukup sekadar outline dan contoh beberapa bab. Memang tidak semua penerbit mau menerima outline. Tapi, ada beberapa yang bersedia mempertimbangkannya, kok.

Lalu, apa saja yang harus kamu masukkan ke dalam outline sebuah naskah yang akan diajukan ke penerbit?

1. Judul dan alternatif judul
Tulis judul yang kamu inginkan dan sertakan minimal 3 alternatif judul lainnya sebagai pertimbangan jika judul pertama yang kamu pilih tidak cocok buat penerbit. Kalau kamu bingung bagaimana cara membuat judul yang bermacam-macam, coba ditulis saja yang ada di pikiran kamu. Tulis semua baru kemudian kamu pilih mana yang paling tepat.

2. Target pembaca
Nah, setelah membuat judul, kamu bisa menuliskan target pembaca bagi buku kamu. Misalnya untuk buku motivasi bisa kamu cantumkan usia 15-35 tahun, begitu juga dengan buku anak-anak, harus benar-benar cocok dengan  target usia mereka.

3. Sebutkan genre
Yang berikutnya perlu kamu sertakan juga ada genre dari naskah yang kamu buat. Genre itu apa sih? Genre itu bisa diartikan kategori. Misalnya genre fiksi atau nonfiksi. Genre nonfiksi bisa berupa tips, trik, atau motivasi. Sedangkan fiksi bisa berupa fantasi, horor, romance, dan misteri. Jadi, cobalah menjelaskan dengan lebih detail jangan sekadar menulis fiksi atau nonfiksi saja.

4. Jumlah Halaman
Naskah belum selesai kenapa harus menyebutkan jumlah halaman? Jika kamu membuat outline tanpa naskah utuh, kamu bisa perkirakan jumlahnya dengan menghitung tiap bab akan terdiri dari berapa halaman.

5. Tema naskah
Selain menyebutkan genre, kamu juga harus menuliskan tema dari naskah yang akan kamu buat. Misalnya naskah dengan tema kumpulan kisah inspiratif bagi muslimah yang masih single.

6. Kelebihan naskah
Apa yang bisa membuat naskah kamu dipilih oleh editor? Kalau naskah kamu biasa saja, tentu editor malas menerima. So, kamu harus menemukan apa kelebihan atau keunikan dari naskah yang kamu buat. Sebutkan beberapa yang bisa menjadi pembeda dari buku-buku sejenisnya.

7. Kompetitor buku sejenis
Menurut salah satu editor yang menjadi teman saya, pentingnya menyebutkan kompetitor buku sejenis ini adalah untuk menghindari adanya plagiat. Sebab, akan sangat sulit mendeteksi plagiat pada buku, berbeda dengan artikel yang bisa kamu cek sendiri. Nah, karena itulah, ada baiknya kamu sebutkan beberapa jenis buku yang menjadi kompetitor dari naskah yang akan kamu tulis, sertakan juga nama penulis dan penerbitnya.

8. Nama Penulis
Jangan lupa selipkan nama kamu juga, ya sebagai penulis naskah.

9. Buatlah sinopsis
Yup! Saatnya kamu membuat sinopsis semenarik mungkin untuk menarik minat editor pada naskah kamu. Buat maksimal 2 halaman saja.

10. Pengantar dari penulis
Setelah membuat sinopsis, kamu bisa lanjutkan dengan membuat kata pengantar yang kemudian bisa kamu lanjutkan dengan menulis judul dari setiap bab dan sub bab pada outline kamu.

11. Bab dan deskripsi singkat
Supaya editor tahu gambaran naskahmu seperti apa, kamu bisa menuliskan judul-judul bab yang akan kamu masukkan ke dalam bukumu. Jangan lupa, berikan juga deskripsi singkat tentang apa yang ingin kamu tulis pada setiap babnya.

12. Profil penulis
Tuliskan profil kamu, lengkap dengan buku-buku yang pernah kamu tulis baik buku solo ataupun antologi. Jika bukunya masih proses editing atau proses terbit? Boleh ditulis juga asalkan kamu sebutkan juga bahwa bukunya belum terbit.

13. Contoh naskah
Jika kamu hanya sekadar ingin mengirimkan ajuan berupa outline, kamu bisa memberikan beberapa contoh dari bab yang akan kamu tulis. Tulis minimal 10-15 halaman. Lebih banyak atau utuh justru lebih baik, ya.

14. Kirim ajuan naskah atau outline kamu ke penerbit
Setelah semua beres, kamu bisa kirimkan pada penerbit yang kamu inginkan. Bismillah, setelah dikirimkan, lupakan, dan buatlah yang baru. Jangan pikirkan apakah naskahmu akan diterima atau ditolak. Jangan juga banyak bertanya. Biasanya penerbit akan memberikan konfirmasi maksimal 3 bulan setelah kamu mengirimkannya. Jika dalam batas itu kamu belum mendapatkan balasan dan kamu ingin mengirimkannya pada penerbit lain, coba kirimkan surat penarikan terlebih dahulu.

Ada editor yang berkenan membalas dan memberikan masukan, ada pula yang tidak membalasnya sama sekali. Nggak usah baper, itulah dunia kepenulisan, kuatkan mental kamu dan teruskan naskahmu yang lain. Masih ada kesempatan selama kamu mau berusaha!

Kuy, bikin outline kamu dan segera kirimkan. Siapa tahu kamu beruntung dan bisa menerbitkan bukumu di penerbit mayor. Ingat, selama kamu masih mau berjuang dan berusaha, Insya Allah kesempatan itu terbuka lebar untukmu.

Tulisan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Estrilook Community #Day26

Salam,
8 comments on "Cara Membuat Outline Buku dan Mengajukannya ke Penerbit"
  1. Memang mimpi bakal cuma jadi mimpi kalau tidak ada action.. Harus mulai serius menyusun sebuah buku nih :) Terimakasih mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, semoga terwujud apalagi tembus media mah udah biasa nih, Mas. Pasti juga bisa bikin buku...


      Delete
  2. wah ternyata ada sebanyak ini item untuk membuat sebuah buku. Saya sendiri baru mau belajar tentang ini mengingat pasti butuh waktu untuk mencurahkan dalam sebuah tulisan. Semangat menulis mba :)

    ReplyDelete
  3. Wow makasih mba btw di rumah ada buku mba lho sebg kontributor penulis, tar aku baca ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masa sih, Mbak? Makasih yaa udah baca bukunya...


      Delete

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature