Tuesday, April 17, 2018

Soto Daging

Roti Gulung Nugget Keju


Assalamualaikum...

Alhamdulillah, pagi ini saya mau share sedikit resep soto daging yang lezat dan yummy banget apalagi kalau dimakan pakai perasan jeruk nipis dan taburan tauge pendek. Duh, nggak usah dibayangin nanti pengen..hehe.

Saya pribadi lebih suka membuat bumbu sendiri. Mau ayam goreng, opor, rawon dan semuanya. Nggak tahu kenapa, kalau beli aromanya bikin ilfeel (udah kayak ketemu orang aja, yaa). Baru buka bungkus bumbunya udah tercium aroma yang nggak enak banget. Ujung-ujungnya masakannya pun jadi kurang sedap. Mungkin ini hanya perasaan saya aja. Karena kebanyakan orang masih nyaman-nyaman aja kok beli atau menggunakan bumbu jadi buat masakannya. Aroma nggak enak mungkin efek terlalu lama dibiarkan di suhu ruang, kan? Jadinya gimana ketika dibuka dari bungskunya.


Kalau tahu resepnya, mending memang bikin supaya lebih fresh aja hasilnya. Saat memakai bumbu jadi kita juga mesti menambahkan bawang-bawangan yang dihaluskan supaya lebih wangi. Itulah yang Ibu pesankan pada saya. Akhirnya jadi pakai dua bumbu dong ya? benar-benar merepotkan...kwkwk *apa saya saja yang mikirnya ribet? :D


Nah, kalau cari resep, saya hanya ubek-ubek Cookpad aja, sih, dan blognya Catatan Nina. Kalau di Cookpad, karena saya sudah lumayan lama juga di sana, jadi udah banyak simpen resep yang udah benar-benar pas di lidah. Aplikasi semacam ini memudahkan banget buat kita terutama yang baru belajar memasak. Saya senang karena dari sini saya bisa mencoba banyak resep dengan lebih mudah. Terima kasih buat yang sudah berbagi resep rahasia atau resep keluarganya. Membuat kebahagiaan baru bagi yang lain. Bahkan tak jarang ada juga yang akhirnya bisa jualan karena dapat resep dari Cookpad.


Untuk kali ini pun saya pakai resepnya mbak Fitri Sasmaya yang mudah dan enak banget. Cocok dengan selera saya pokoknya..he. Resep lainnya mungkin juga nggak beda jauh yaa. Mari kita coba resepnya daripada berlama-lama ngobrolnya.

Resep Soto Daging


Bahan:

300 gram daging sapi, saya lebih suka pakai tetelan

2500 ml air

2 lembar daun salam

3 lembar daun jeruk (saya 5 lembar)

1 batang serai

1sdt gula pasir

1 sdm garam

1 sdt kaldu sapi bubuk (bisa skip)

1 batang daun bawang, iris

1 batang atau lebih daun seledri

Bumbu:

5 bawang merah

4 bawang putih

3 kemiri

1 cm jahe

1 sdt ketumbar

½ sdt kunyit bubuk


Cara Membuat:

  • ·         Didihkan air di dalam panci dan rebus daging dengan api kecil supaya kuahnya bening dan kaldunya gurih. Setelah empuk angkat daging dan potong-potong.

  • ·         Tumis bumbu yang sudah dihaluskan bersama serai, daun jeruk dan daun salam. Tambahkan garam, gula dan kaldu bubuk. Kemudian masukkan irisan daun bawang. Tumis hingga layu dan wangi.

  • ·         Masukkan ke dalam rebusan daging. Didihkan sebentar sampai semuanya pas. Dan hidangkan dengan pelengkap termasuk irisan seledri dan tauge pendek. Jangan lupa juga sambalnya, ya.
 
Itulah resep mudah membuat soto daging yang seger dan yummy banget. Kalau semangkuk soto daging saya kebanyakan masukin taugenya..hehe. Dagingnya ngumpet semua. Tapi, saya memang sukaa banget makan tauge dan sayuran lain. Kalau makan soto saya suka kasih perasan jeruk nipis yang banyak dan tauge melimpah. Setelah itu dikatain sama paksu, kenapa soto isinya tauge semua? Haha. Ada yang suka makan sayur kayak gini nggak sih ketimbang makan daginganya?

Selamat mencoba dan semoga suka resepnya, ya.


Terima kasih sudah berkenan membaca  blog ini dan semoga resepnya bermanfaat ya buat teman-teman terutama yang baru belajar memasak :)

Salam hangat,

 

Friday, February 23, 2018

Tentang Rendi dan Pengantin Wanita yang Terluka pada Malam Pertama

Tentang Rendi dan Pengantin Wanita yang Terluka pada Malam Pertama


Rupanya menunggu itu sunyi, menunggu itu sepi, dan menunggu kamu serupa mimpi yang tak pernah ada ujungnya…


Sinta belajar dari masa lalu, bahwa hidup tak selamanya memihak meski telah dikejar dan diperjuangkan setengah mati. Seharusnya hari ini dia duduk di pelaminan, bersama lelaki bernama Rendi yang sempat menyematkan sebuah cincin emas berukuran sedang di jari manisnya.

Tetapi, apa yang dia harapkan pada akhirnya tak pernah berujung nyata. Sinta duduk di bibir ranjang yang mulai berderit karena dimakan usia. Menatap jendela yang menganga serta menampakkan senja di ujung peraduannya. Kedua matanya terbuka tanpa embun. Kosong.


Begitukah hidup? Selalu membuat hari-harinya suram. Undangan yang disebar hingga kampung sebelah, rupanya tak juga membuat impiannya terwujud. Sudah sejak lama dia ingin menikah. Tepat pada usia ketiga puluh, ketika semua orang mulai panik menyebutnya perawan tua, dan ibu serta bapak mulai kalang kabut mencarikan jodoh, lelaki bertubuh tegap itu datang tanpa diminta.


Seolah malaikat penyelamat, dia bersedia menikahi Sinta tanpa syarat apapun. Katanya dia sudah jatuh hati sejak pertemuan tanpa sengaja di madrasah, tepat saat Sinta mengantar kue basah untuk para guru yang sedang mengadakan rapat. Dan seorang guru matematika pengganti berwajah teduh itu menyapanya tanpa alasan. Tiba-tiba dan tentu tanpa diminta.


Sinta sempat tergagap dan tidak bisa berkata. Lelaki tampan itu sopan dan berkenalan dengan santun. Menyebutkan nama tanpa mengulurkan tangan. Tidak bertanya alamat apalagi status. Segera berlalu meninggalkan debar tak keruan di hati Sinta.


Begitukah cinta?


Datang dan pergi serupa angin. Meninggalkan duka atau suka siapa yang peduli? Sinta menarik selimut yang sempat menutupi kedua kakinya, beranjak demi menutup jendela, sebab malam mulai menjemput, dan masa lalu yang kelam itu tak kunjung hilang dari ingatannya.


Rendi adalah cinta pertama. Lelaki baik hati yang bersedia mencintai tanpa pernah meminta apapun padanya, termasuk menerima keinginan Sinta untuk tetap tinggal di rumah orang tua. Ibu dan bapak sudah tua, sendiri mereka pastinya tak akan sanggup. Maka Sinta meminta Rendi untuk ikut tinggal setelah pernikahan mereka resmi digelar.


Tetapi, sehari sebelumnya, lelaki itu datang dan berpamitan akan pergi sebentar ke kampung sebelah. Membeli sesuatu yang katanya bisa membuat permaisurinya gembira. Tetapi hingga keesokan harinya, lelaki yang disebut sebagai pemuda pemalu itu tak kunjung kembali. Keluarga kalang kabut menanti, mencari ke sana dan ke sini. Bukan lagi soal hati Sinta yang ngilu, tetapi ini tentang pernikahan dan resepi yang akan kehilangan mempelai prianya.


Apa kata orang nanti? Kasak kusuk di belakang Sinta membuat luka semakin menganga. Katanya Rendi pergi bersama wanita lain, tetapi gadis tiga puluh tahun bermata indah itu tak bergitu saja memercayainya. Rendi adalah orang baik, tidak mungkin kabur setelah semua ikrar cintanya di depan bapak dan ibu. Mustahil! Pasti sedang terjadi sesuatu yang buruk padanya.


Maka firasat itu terus mengembang serupa semak belukar merusak dan mencabik hingga ulu hati. Tak ada yang benar-benar tiba, sama seperti tak pernah ada yang hilang sejak kepergiannya. Sinta menutup jendela kamar, jantungnya berdetak lebih cepat. Entah kenapa, senja begitu menyayat hati. Ada yang hilang, meski yakin lelaki itu akan kembali, tetapi pikiran buruk mengoyak tanpa ampun.


Saat Sinta berbalik, ibu sudah berdiri di depan pintu kamar dengan mata sembab. Mengucapkan dua patah kata. Dan pertanyaan selanjutnya sungguh menyayat.


“Bagaimana Rendi bisa mati?!”


Tak ada yang bisa menjawab. Lelaki itu memilih pergi, dan meninggalkan luka menganga yang tak tahu kapan bisa disembuhkan. Sinta tersungkur bersimbah tangis. Tak ada yang benar-benar memihak. Dia kehilangan semuanya, termasuk rencana bahagia untuk berumah tangga.


Seperti inilah hidup, datang dan pergi serupa mimpi. Luka dan suka seolah tak berarti. Meski telah kehilangan, selalu saja ada banyak hal yang bisa disyukuri. Termasuk kesempatan untuk bertemu lelaki yang telah mencintainya setulus hati...

 

Monday, February 5, 2018

Cerbung Tentang Kita; Menjaga Hati

Cerbung Tentang Kita; Menjaga Hati


Ini bukan tentang seberapa tampan dirimu saat lima puluh tahun setelah kita resmi menikah. Ini bukan tentang seberapa gagah dirimu setelah masa tua menjemput. Ini tentang bagaimana kita berdua mampu menjaga hati, meski sampai wajah ini tak lagi nyaman dipandang sebab kerutan dan rambut memutih menjadi pemandangan yang membosankan. Bukankah begitu, Mas? Dan jiwa yang telah terikat dan tertambat seharusnya tak memusingkan masalah fisik. Sebab siapa pun yang kamu pilih kelak, dia pun akan mengalami hal yang sama. Tetapi hati yang suci tak akan berubah meski masa telah tenggelamkan banyak ingatan tentang indahnya kebersamaan kita…

(Raina)

Mengingat banyak hal tentang kebersamaan kita memang bukan hal mudah. Terlebih itu tentang setia yang dulu selalu kamu agung-agungkan. Memang terpikat wanita lain tak selalu karena salah dia, bisa jadi aku memang kurang bersyukur memiliki pasangan sebaik dirimu sehingga Allah menegurku. Kadang kita harus kehilangan dulu supaya tahu betapa berartinya seseorang dalam hidup kita.


Tapi, jika harus menunggu luka, rasanya terlalu menyesakkan. Aku tak pernah benar-benar ingin meninggalkanmu, Mas. Masalah bertubi yang datang menghantam biduk rumah tangga kita membuat segalanya jadi aneh, entah kenapa meski kesal dan benci, aku sering merindukanmu diam-diam.


Setelah menikah, memang bukan masalah siapa aku dulu, dan siapa kamu kemarin, yang terpenting adalah siapa kita saat ini. Dan masa lalumu itu memang cukup rumit, Mas. Dan ternyata tak semudah yang aku bayangkan bisa memaafkan semua itu, terlebih ketika orang lain dalam kehidupanmu dulu tiba-tiba saja muncul. Apa yang harus aku katakan terlebih ketika melihat kamu bercengkerama berdua dengannya? Aku memang cengeng, tak bisa menahan sesak yang tiba-tiba menghantam. Suamiku tertawa lepas bersama wanita lain. Kenyataan yang tak pernah membuat hati baik-baik saja.


Menyalahkan dia sebagai penyebab semua ini rasanya terlalu jauh. Aku belajar untuk tidak mengkambinghitamkan siapa pun, termasuk perempuan itu. Masalah ini bisa jadi kita berdua memang sudah memulainya lebih dulu, dan dia masuk di antara celah kecil yang telah kubuka.


Selama beberapa hari menjaga buah hati kita di rumah sakit, kamu selalu menunjukkan penyesalan yang pada akhirnya membuatku luluh. Sayangnya, luka itu memang bisa dengan mudah sembuh tetapi akan sangat sulit sekali dilupakan. Jika saja kamu tahu, hal semacam ini sebenarnya tak banyak merubah keadaan kita. Atau memang aku saja yang sulit memaafkan?


Ketika kamu tertidur pulas di sofa berwarna abu-abu itu, aku merasakan ada banyak penat menggelayuti wajahmu, Mas. Sepertinya kita terlalu lama berkonflik sampai tak tahu jika kebersamaan kita saat ini adalah kebahagiaan yang tak terkira. Ketika diam-diam aku menatap wajahmu lekat, sepasang mata itu terbuka, kemudian tersenyum. Aku bisa meraba jantungku yang sempat lepas kendali dan segera berpaling, pura-pura mengantuk dan tertidur. Tetapi diam-diam kamu menatapku. Balasan yang tak pernah kusangka sejak terjaga satu jam sebelumnya.


Karena merasa risih diperhatikan terlalu lama, aku pun memberanikan diri membuka mata dan memelototimu, kamu balas tertawa. Dan enyah sudah rasa sakit yang kemarin serupa batu besar menghantam hati. Sesederhana itulah penyelesaian dalam hubungan kita. Ketika gunung es sudah mencair, apapun akan terasa lebih ringan. Bukan begitu, Mas?


Ini bukan tentang seberapa cantik dirimu setelah usia setengah abad pernikahan kita, tetapi seberapa kuat aku menahan diri untuk tidak berpaling kepada perempuan lain. Menjadi bagian dari keluarga kecil kita sejatinya sudah merupakan hadiah tak terkira, tetapi dalam beberapa keadaan, aku sering lupa dan mengabaikan apa itu setia. Aku rindu bersitatap denganmu, aku rindu mendengar omelanmu setiap pagi, ketika kamu merapikan kancing kemejaku dan bersiap menyiapkan sarapan. Bukankah kamu memang istri yang sangat cerewet? Setidaknya karena itulah aku masih bertahan di sini, Rai. Jangan lelah menemaniku, mungkin suatu saat aku akan membuatmu kesal lagi, tetapi jangan pernah habis memaafkan semua kesalahanku, sebab kenyataannya aku tak pernah bisa berpaling.

(Bagas)


 
-Tamat-

Friday, February 2, 2018

Banana Muffin, Super Simpel dan Yummy!

Banana Muffin, Super Simpel dan Yummy!


Banana muffin ini sebenarnya dibuat demi memanfaatkan pisang yang sudah menghitam dan nggak ada lagi yang mau menyentuhnya. Huhu, kasihankan si pisang kalau sampai nggak dimakan dan akhirnya terbuang sia-sia. Mubadzir banget.

Resep ini pertama kali saya dapatkan di Cookpad dari akunnya ci Tintin Rayner. Membuat ini gampang banget, lho. Hanya tinggal diaduk saja tidak perlu pakai mixer. Tapi, perlu diingat mengaduknya santai dan secukupnya saja, supaya hasilnya tidak bantat. Cara mengaduk cake seperti ini memang tidak terlalu familiar buat saya, sebab saya sebenarnya jarang banget bikin kue*terumata pada zaman dahulu kala...kwkwk. Jadi, teknik mengaduk saya pikir ya hanya bisa dilakukan dengan satu cara yakni sembarangan saja. Ternyata nggak seperti itu, Sodara. Ada cara sendiri, jangan sampai over mix ketika mengaduk sehingga membuat cake malah gagal mengembang dengan baik atau terburuknya jadi bantat. Minimal kita ngaduknya jangan pake tenaga seperti saat mengulen roti. Melainkan harus pakai hati. Emang bisa ngaduk pakai hati? hehe.


Teman-teman bisa menggunakan jenis pisang apa saja. Kebetulan di rumah ada pisang ambon berukuran cukup besar. Nanti pisangnya cukup dilumatkan saja dengan garpu. Saya pun menghancurkannya nggak sampai halus banget kok. Masih ada bagian pisang yang belum halus bukan masalah asal nggak besar-besar banget, ya. Dan justru tekstur kasarnya ini semakin enak ketika dimakan. Masih ada rasa pisang aslinya. Kalau ditambahkan pisang lebih dari ukuran resep biar lebih nendang gimana? Saran saya jangan deh. Kecuali memang sengaja mau mencoba-coba tanpa takut gagal. Kalau nggak, ya mending ikutin resepnya aja apalagi jika kita baru nyoba-nyoba bikin kue.


Kalau mau mencoba, sambil menyiapkan bahan sebaiknya sambil panaskan ovennya ya suhu 180’C. Saya pakai oven listrik, dan nggak masalah kalau teman-teman mau bikin pakai oven tangkring dan yang lainnya. Asalnya suhunya dikira-kirakan saja ya supaya sesuai dan hampir sama. Daripada kelamaan, mending kita cobain yuk resepnya :)


Bahan A:

3 buah pisang ambon besar

1 butir telur ukuran besar

100-110 gr gula pasir

85 gr butter atau margarin, cairkan

1 sdt vanilla essence

Bahan B:

190 gr terigu serbaguna

1 sdt baking powder double action (sy pakai 1 ½ sdt yang biasa)

½ sdt baking soda

Secukupnya chocohip atau kismis


Cara membuat:

1. Lumatkan pisang kemudian campur dengan bahan A sampai gula larut. Gunakan wisk.

2. Ayak bahan B kemudian buatlah lubang di tengah dan tuang bahan A. Aduk dengan wisk pelan sampai rata.

3. Masukkan chocochip dan aduk kemudian tuang dalam cup yang sudah disiapkan. Jangan terlalu penuh karena nanti akan mengembang, ya.

4. Panggang selama kurang lebih 25-30 menit tergantung ovennya, ya.

5. Angkat dan sajikan.


Mudah banget, lho. Rasanya pun enak. Kemarin jadinya 9 cup kecil dan 3 cup besar. Besoknya dibawa untuk bekal si sulung dan dibawa sama paksu buat dimakan bareng temennya..he. Alhamdulillah, senanngnya baking kalau laris manis seperti ini, ya. Capeknya terbayar sudah. Padahal kalau bikin ini sih nggak capek…hihi. Lebih capek kalau bikin roti, kan? Mesti ngulen sampai berjam-jam. Masih harus nunggu proofing dan mengembang sempurna baru dipanggang. Jenis cake kayak gini benar-benar solusi kalau kitanya lagi nggak pengen masak lama-lama atau sedang terburu-buru. Karena bikinnya nggak ribet dan bahannya simpel. 

Gimana, udah siap nyobain nggak di rumah? Semoga berhasil dan selamat mencoba, happy baking! 


Monday, January 29, 2018

Resep Bolu Mekar Ekonomis, Mekarnya Ikhlas Banget!

Resep Bolu Mekar Ekonomis, Mekarnya Ikhlas Banget!


Alhamdulillah, senangnya akhirnya bisa posting bolu yang tertawa terbahak setelah sebelumnya saya cuma dilihatin sinis gitu sama si bolu..hihi.

Saya coba ganti resep lain dan hasilnya lembut pake banget dan mekarnya ikhlas banget, alhamdulillah. Kayak saya yang bikin, penuh keikhlasan dan ketenangan.. *apa sih :D Soalnya sempat salah bikin. Bukan salah resepnya, tapi salah sayanya yang kurang mair saat membuatnya. Masa iya bolunya jadi mingkem kan sedih banget. Akhirnya nemu juga resep yang oke dan pas banget buat dicoba. Hasilnya pun seperti yang bisa dilihat, memuaskan sekali.


Sayangnya, bukannya tanpa hambatan, lho. Ternyata panci kukusan saya terlalu imut sampai-sampai dia kepentok tutup yang telah saya bungkus dengan lap bersih..hiks. Nggak tega lihat bagian atasnya kejedot gitu. Belum lagi saking lembut dan mekarnya, beberapa bagiannya patah, ada juga yang tumpah karena pas saya masukin kukusan ternyata cupnya jatuh. Patah hatilah saya..tapi, ternyata itu nggak menyurutkan keihklasan si bolu ini, meskipun sebagian luber, setelah dikukus dia tetap merekah cantik banget..senangnyaa hati ini… :D


Resep ini tergolong ekonomis karena hanya pakai 1 telur saja. Membuatnya pun nggak dipisah-pisah, jadi sekali kocok aja. Rasanya…tadi sudah masukin ke mulut ternyata lupa saya lagi puasa…hehe. Ini memalukan banget, yak *tutup muka pakai panci. Haha. Ada nggak sih pengalaman seru begini gara-gara terlalu antusias bikin kue dan hasilnya cakep sesuai harapan? jangan dimakan ya kuenya jika kalian sedang puasa...haha.


Kalau teman-teman mau mencoba, silakan perhatikan ukuran cup harus sesuai cetakan, kalau bisa gunakan cetakan berlubang yang lumayan tinggi itu, ya. Panci kukusan pastikan sudah benar-benar panas ketika kita memasukkan adonan, tutup dibungkus dengan kain bersih, api harus besar dan jangan memasukkan air terlalu banyak supaya letupannya tidak mengenai bagian dasar cup bolunya. Dan satu lagi, supaya cup kertasnya rapi, masukkan ke dalam cetakan, tumpuk dengan cetakan lainnya sampai habis cetakannya, agak ditekan supaya cup kertasnya jadi rapi.


Untuk warna, teman-teman bisa menggunakan sesuai selera, ya. Saya hanya pakai warna putih tanpa pewarna dan sedikit warna ungu. Lebih cakep kalau pakai warna pastel seperti pink dan hijau muda. Jadi warna bolu kukusnya kalem gitulah yaa. Atau bisa juga bkin versi gula merah, tapi pastinya bukan pakai resep ini :D Yuk ah, daripada kelamaan, kita bikin aja langsung di rumah. Jangan lupa ajak anak-anak dan keluarga besar juga biar menyaksikan keberhasilan bolu kukus mekarnya...kwkwk. Silakan dicoba resepnya…


Bahan:

200gr terigu serbaguna

180-200 gr gula pasir (Saya pakai sekitar 190 gr)

150 ml susu cair

1 butir telur

½ sdm SP

Sedikit vanilla essence


Cara membuat:

1. Campurkan semua bahan kecuali SP. Mixer sampai gula mulai larut sekitar 5 menitan. Kemudian masukkan SP dan mixer sampai kental sekitar 10-15 menit.

2. Ambil sebagian adonan dan beri pewarna makanan. Aduk lipat kemudian dengan spatula.

3. Masukkan adonan putih ke dalam cup sampai seperempatnya. Kemudian tambahkan adonan berwarna ungu hingga penuh. Sayang saya nggak sempat foto pas sudah dimasukkan cup. Sudah heboh sama si adek yang bangun.

4. Masukkan ke dalam panci kukus. Jangan terlalu penuh, sebaiknya beri jarak yang longgar supaya nggak saling nempel dan patah. Kukus selama kurang lebih 15 menit.

5. Keluarkan dan sajikan.

 
Itulah resep mudah membuat bolu mekar yang ikhlasnya kebangetan *lebay. Teman-teman bisa mencobanya, insya Allah untuk resep ini nggak terlalu mengkhawatirkanlah, ya. Jika ragu, sebaiknya baca doa dulu dan tersenyum sebelum mencobanya.. :D

Thursday, January 25, 2018

Drama Common Cold Hingga Diagnosa TB

Drama Common Cold Hingga Diagnosa TB
Photo on Unsplash


Alhamdulillah, seminggu ini riweh sama anak sakit, kakak demam seminggu on off sampai belum masuk sekolah hingga sekarang. Dan si adik nyusul demam tinggi mulai jam 1 malam hingga hari ini. Alhamdulillah semua masih mau makan dan minum yang banyak. Semoga besok sudah sehat kembali.


Buat anak-anak, sakit itu adalah hal yang wajar terjadi, terutama common cold. Setidaknya ada hingga 12 kali common cold dalam setahun. Memang ini disebabkan oleh virus yang tidak perlu penanganan khusus, tapi kalau demam tinggi dan hanya sembuh sehari kemudian seminggu sakit lagi begitu selama berbulan-bulan, kira-kira teman-teman akan berpikir apa?


Ya, bahkan saya yang awalnya santai saat anak sakit flu dan batuk, tiba-tiba nggak keruan. Bagaimana tidak, sejak si bungsu lahir dan berusia tiga bulan, dia sudah mulai mengalami demam tinggi yang mana sudah harus dibawa ke dokter untuk usia dia saat itu. Alhamdulillahnya hanya common cold saja. Tetapi menghadapi anak bayi demam itu panik banget apalagi kalau sampai dia merintih terus menerus.


Sedangkan saat memiliki si sulung, dia baru demam usia setahun. Perbedaan yang sangat jauh. Kalau si sulung sering kejang demam, si bungsu justru sering radang telinga, bahkan sangat sering. Dan sebelum itu ketahuan, dramanya bukan main.


Saat usia enam bulan, entah lupa tepatnya, Dhigda nama si bungsu demam hampir sebulan dengan suhu mencapai 39’C lebih. Dan itu hanya terjadi setiap tengah malam. Jadi setiap tengah malam saya menemani dia yang suhunya tinggi selama hampir sebulan penuh.


Membayangkan hal semacam itu rasanya tidak kuat. Tetapi pada saat itu saya bisa melaluinya. Saya jauh dari orang tua, tidak ada pengalaman kuliah apalagi mengenyam sekolah kedokteran, tetapi saat hamil dan memiliki anak, saya merasa harus mempelajarinya demi mereka.


Dalam kondisi tak wajar, common cold tapi terlalu lama, saya pun membawanya ke dokter spesialis anak. Diperiksa darah dan hasilnya tidak ditemukan apa-apa. Kalau menurut dokter itu hanya virus, tetapi dapat antibiotik.


“Inikan virus ya, Dok? Kenapa diresepkan antibiotik?”


“O, kalau saya harus, kan sudah lama.”


Jadi, kalau sudah lama, virus bisa berubah jadi bakteri? Merasa sangat tidak pintar dan menyesal saat itu kenapa saya kurang banyak baca dan membaca. Mana bisa seperti itu? Meskipun pulang tidak saya minumkan obatnya, tetapi tetap saja ada rasa bersalah, kenapa harus cek darah? Padahal anak saya ada ingus sedikit seperti orang flu.


Hingga dua minggu berikutnya, saya membawa pada dokter berbeda. Kembali cek darah dan dikatakan hal yang sama. Sejak itu saya tidak kembali ke rumah sakit yang sama. Bukannya dapat jawaban, justru horror sekali. Merasa jadi ibu aneh sedunia karena termakan rasa panik. Dan hingga minggu ketiga, anak saya masih demam tinggi setiap tengah malam.


Pada akhirnya saya harus memutuskan berkunjung ke dokter lain di rumah sakit berbeda. Di sana, anak-anak saya didiagnosa TB karena seringnya common cold. Apa? Masa iya? Tanpa wawancara, tanpa tanya banyak, langsung diajak tes cukit kulit. Aduh, itu sakitnya sampai ke ulu hati, lho. Kalau iya benar, kalau tidak? Belum lagi nanti harus konsumsi obat selama enam bulan penuh. Bisakah? Kalau benar bukan masalah, kalau salah? Mungkin saya akan jadi ibu paling menyesal di dunia.


Diagnosis TB ini nggak segampang melihat seberapa sering anak terkena common cold. Dalam rumah kami, hanya ada saya, suami dan kedua anak saya. Dan baik saya dan suami, keduanya sehat. Tidak ada pula asisten rumah tangga yang bisa dicurigai terkena TB karena memang tidak pernah mempekerjakan ART. Sedangkan penularan lewat anak-anak tidak mungkin, karena TB hanya ditularkan oleh penderita TB dewasa. Kalau misal tertular di luar? Di jalan? TB hanya menular minimal ketika kita tinggal bersama penderita TB selama kurang lebih enam bulan (kalau tidak salah ingat).


Karena alasan itulah yang saya ketahui sejak lama, akhirnya saya pun berani menolak dan segera pulang dengan alasan akan memikirkannya. Drama ini pun semakin menjadi saja ketika suami saya harus percaya dan bingung dengan diagnosa lainnya. Ada dokter yang bilang kalau si bungsu harus dirawat karena sudah tidak bisa meminum antibiotik, harus infus.


Akhirnya sambil sedikit memaksa, saya mengajak suami pergi ke dokter yang juga ikut bergabung di milis sehat. Beliau adalah dokter Arifiyanto atau dokter Apin yang mana juga merupakan blogger..he.


Saat ke sana, kami menyerahkan hasil tes urin dan tes darah. Beliau santai saja padahal saya sudah mau pingsan dengan drama yang terjadi lama sekali. Beliau mendengarkan saya yang lebih banyak curhat sedangkan suami hanya diam mendengarkan.


Lama-lama beliau bertanya, “Sepertinya ibu ke sini hanya ingin menunjukkan kepada bapak, ya?” sambil tertawa.


Beliau menjelaskan bahwa common cold terutama jika anak sudah sekolah dan memiliki saudara, kadang memang drama banget. Bisa ping pong dan tidak lekas selesai. Kalau nggak mau ketularan, pisah rumah saja. Di sekolah pun sama, ketika ada yang sakit, pastinya dengan mudah menularkan kepada yang lain. Jadi, obatnya sabar saja selama tidak ada komplikasi seperti sesak dan kejang. Dan sabarnya kami itu nggak hanya sebulan dua bulan. Tetapi hampir dua tahun. 


Sepulang dari dokter Apin, saya pun lebih lega. Dan kami pulang tidak membawa obat apapun. Hanya zat besi untuk si bungsu yang ASI eksklusif.


Menurut beliau juga, ketika sedang common cold, hal pertama yang harus dicek justru telinganya. atau cek yang tidak menyakitkan seperti cek urin. Karena kebanyakan ISK juga tanpa gejala. 

 
Bisa jadi adik kena radang telinga akibat flu. Dan benar saja, setelah keesokannya dari dokter apin, anak saya mulai keluar cairan dari telinga, dan sejak saat itu, demamnya turun. Padahal ketika dicek, telinganya baik-baik saja. Ternyata belum kelihatan sodaraaa.. L


Setelah itu, setiap kali common cold, adik selalu kena radang telinga. Menurut dokter THT, dia ada alergi. Wajarlah karena suami juga memiliki alergi pernapasan. Tetapi kalau radang telinganya sebulan tiga kali, apa masih dibilang normal?


Masya Allah, seperti nggak akan berakhir saja drama ini. Saya pun akhirnya pergi ke dokter yang sangat booming bisa menyembuhkan dan mengatasi alergi, tetapi malah berasa mengunjungi dukun karena kita cuma main tebak-tebakan..he.


“Wajahnya mirip siapa ini?”


“BAB-nya seperti kotoran kambingkan?”


“Nggak kok, Dok. Biasa aja.”


“Masa?” Saya iyain ajalah..he.


Padahal di rumah sakit beken itu ada dokter spesialis alergi yang ada di milis sehat juga dan pastinya RUM banget. Tetapi karena merasa pengeen banget cepat sehat, justru tersesat pada jalan yang salah..he.


Dan ujungnya, memang hanya sabar dan sabar. Setelah melewati hal yang sama hampir dua tahun, drama common cold itu pun berakhir. Alhamdulillah, anak-anak seiring waktu mulai berkurang infeksinya. Nggak seperti tahun-tahun sebelumnya. Barakallah, kadang hal semacam ini benar-benar menguras pikiran. Lebih sering ketika adik sakit, saya pun ikut sakit. Pernah suatu malam, Dhigda demam tinggi, batuk hebat dan muntah-muntah, sedangkan saya sendiri demam tinggi dan kepala mau pecah. Dan itu terjadi nggak cuma sekali dua kali.


Kalau kakak sakit, adik pun sakit, lanjut bundanya..he. Sudah kayak orang janjian saja. Dari pengalaman itu saya pun mengambil kesimpulan, bahwa diagnosa TB itu sebenarnya tidak mudah. Ada banyak hal harus dipertimbangkan dan diperhitungkan. Bukan hanya sekadar hasil rontgen dan terdapat flek, kemudian langsung muncul diagnosa TB. Sampai-sampai istilah flek paru itu umum kita dengar padahal sebenarnya itu rancu sekali, lho.


Saya bersyukur sekali, anak-anak tidak sampai salah diagnosa dan sedikit-sedikit saya paham tentang TB lewat milis sehat. Saya bukan ingin menjadi dokter, tetapi dokter-dokter di milis selalu mewajibkan kami anggotanya untuk banyak membaca di web-web resmi. Tetapi, kadang saya juga masih terlewat sampai akhirnya adik harus cek darah 2x dalam satu episode demamnya dulu.


Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat dan tahu apa yang harus dilakukan ketika anak-anak sakit, paling tidak kita punya referensi dokter yang RUM untuk berkonsultasi. 

 

Sunday, January 21, 2018

Atthar dan Sabiya, Kisah Cinta yang Tiba-tiba

Atthar dan Sabiya, Kisah Cinta yang Tiba-tiba


Kamu bisa bayangkan, bagaimana rasanya menikah dengan orang yang baru saja kamu temui. Ya, hanya bertatap muka beberapa detik, kemudian secara mengejutkan, orang nomor satu dalam hidupmu mengatakan bahwa dia adalah calon suamimu, bukan hanya putra tunggal sahabatnya.

Rasanya mau pingsan ketika mendengar kalimat itu muncul dari mulut ayah. Entah seperti apa wajahku ketika mendengarnya. Kedua mataku spontan terbelalak, menatap ayah dan dia secara bergantian. Aku bisa menangkap dia tersenyum, menertawakan aku atau entahlah. Saat itu aku tak bisa menerjemahkan apapun kecuali ledakan mendadak di rongga dada yang kemudian menimbulkan asap mengepul serta menyesakkan.


Usiaku masih dua puluh dua tahun ketika itu berlangsung. Aku memang memutuskan tidak melanjutkan kuliah setelah menyelesaikan sekolah. Kenapa? Karena aku merasa tidak menginginkannya. Banyak hal menjadi alasan termasuk usaha ayah yang sempat mengalami kebangkrutan. Aku harus memutuskan, mana yang jauh lebih penting.


Aku masih memiliki dua adik perempuan yang belum selesai sekolah. Mereka bahkan masih kelas 3 SMP dan kelas 1 SD. Saat itulah aku tak merasa harus berpikir lebih panjang lagi untuk memutuskan. Suatu saat, jika aku memiliki cukup uang, aku juga ingin seperti teman-teman yang lain, kuliah dan pergi ke kampus serta disebut mahasiswi. Terlalu mulukkah mimpiku?


Jika boleh lagi, aku ingin sekali menjadi dokter. Bukan karena dokter itu tampak keren, tetapi profesi dokter membuat jalan terbuka lebih luas untuk membantu yang lain. Bayangkan saja, aku masih saja mendengar berita bahwa di beberapa daerah terpencil, banyak orang yang kesulitan untuk berobat. Belum lagi mereka yang bahkan harus meninggal karena kesulitan biaya sehingga diusir dari rumah sakit. Miris sekali mendengarnya terlebih karena aku tahu bahwa menjadi orang biasa dan tak punya terkesan sangat sulit mendapatkan apapun, bahkan ketika itu menyangkut nyawa sekalipun.


Tetapi, sebelum impian itu sempat terwujud, dia datang dan meminangku. Tiba-tiba? Kamu coba tanya kenapa dia tiba-tiba datang dan melamarku? Tidak bisakah kita berkenalan dan biarkan aku memikirkannya beberapa hari saja. Atau jika terlalu lama, mungkin sehari, beberapa jam? Tapi, dia tidak begitu. Aku bahkan belum menarik napas, ayah sudah memutuskan.


Aku sebal dan kesal. Seharian mendiamkan ayah dan ibu. Tetapi, tak pernah ada yang berubah. Bahkan tanggal pernikahan kami semakin dekat saja. Dan hari istimewa itu pun datang menghampiri.


Usiaku masih dua puluh dua ketika dia bertandang dalam kehidupanku. Menjadi orang pertama yang membuat hatiku melompat tak karuan. Aku memperkenalkan diri, menyebutkan nama panggilan kesayangan ayah dan ibu.


“Sabiya,” ucapku dengan rasa gugup membuncah.


Dia tersenyum, “Atthar,” kemudian membenarkan posisi duduknya, lalu menatapku lagi, tetapi kali ini sambil menaikkan sebelah alisnya yang tebal.


“Bukankah kita sudah menikah? Kenapa harus canggung seperti ini?” dia berkata sambil tertawa hingga tampak deretan giginya yang putih.


Aku hanya tertawa kecil, tidak ada yang salah. Kami memang belum saling mengenal, bahkan ngobrol berdua saja belum pernah. Dengan balutan kebaya berwarna putih, aku mencuri pandang ke arahnya. Satu hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, jodohku ternyata adalah seorang dokter.


Ya, Atthar merupakan dokter muda yang sedang mengambil spesialis. Wajahnya putih bersih, senyumnya manis, dan tutur katanya lembut serta sopan. Jangan bilang aku sedang memujinya. Aku hanya bicara fakta, jatuh cinta tak semudah membalik telapak tangankan? Sepertinya aku belum jatuh hati. Ya, tentu saja kalian harus percaya.


“Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu? Ada yang aneh?” tanya Atthar tiba-tiba setelah menyesap air putih dari gelas air mineralnya.


Aku gelagapan menanggapinya. Malu rasanya tertangkap basah sedang memerhatikan wajahnya. Setelahnya, wajahku bisa jadi bersemu merah saking malunya. Tak berbeda dengan kepiting rebus. Astaga!


Tetapi orang-orang yang ribut di depan cukup mengejutkan kami. Atthar bangkit dengan wajah kaget. Sebelah tangannya menarik pergelangan tanganku. Teriakan di depan semakin keras terdengar. Suara perempuan menyebut nama Atthar, suamiku.


Aku tak bisa membayangkan kejadian apa yang sebenarnya terjadi. Ini hari pernikahan yang meskipun tak aku harapkan, rupanya menjadi hal manis yang tak terelakkan. Melihat Atthar yang bangkit sambil menarikku, hati tiba-tiba terenyuh.


Tetapi, lamunan sebentar itu buyar seketika. Seorang perempuan bertubuh tinggi dengan wajah tak kalah ayu bak foto model tiba-tiba saja meraih tangan Atthar secara paksa. Tanganku terhempas begitu saja. Dan aku? Jangan tanya, sangat kaget melihat kejadian itu di depan mata.


“Ada apa ini?” aku tak bisa menahan tanya.


Jangan-jangan dia mantan Atthar yang tak terima mantan kekasihnya menikah dengan perempuan lain. Aku menduga banyak hal, termasuk bagaimana cara perempuan itu menatap suamiku. Bukankah akhir-akhir ini muncul banyak cerita mengejutkan tentang kehadiran mantan di resepsi pernikahan mantan kekasihnya? Apakah aku salah satu orang yang akan mengalaminya?


Dan suara Atthar yang tegas memecah sunyi dalam lamunanku.


“Aku bahkan lupa siapa kamu.” Atthar menarik tangannya.


Perempuan itu, dengan wajah berurai air mata, menarik napas dalam-dalam kemudian menatapku sinis.


“Jika bukan karena perempuan ini, semua ini tidak akan terjadi!”


“Apa yang terjadi dulu bukan kesalahan Sabiya. Dia tidak ada sangkut pautnya dengan masa lalu kita. Jika saat ini kamu kembali, aku tak yakin kamu datang karena masih menungguku. Bukankah dulu kamu menolakku karena aku tak punya cukup uang untuk menjadi seperti yang kamu mau?”


Aku terbelalak, menyaksikan adegan sinetron di depan mata. Kerumunan orang membuat napasku semakin sesak. Demi melihat adegan selanjutnya, aku memutuskan bertahan di sana, tepat di sebelah Atthar.


“Aku minta maaf. Aku menyesal!” tangisnya.


Satu dua detik, Atthar menarik napas dan menyuruhnya pergi. Perempuan itu, pastilah menahan malu. Sebelum pergi, dia masih sempat mencibirku. Aku tak tahu apa yang dulu terjadi. Bisa jadi Atthar akan menceritakan secara detail atau bahkan bungkam. Yang jelas, hal semacam ini bukanlah mustahil terjadi.


“Aku minta maaf,” Atthar memohon padaku.


Aku hanya tersenyum kecil dan menggeleng. Kisah ini baru saja dimulai. Entah ada badai apa lagi yang bisa mengguncang hubungan kami. Yang jelas, dalam setiap pernikahan, kamu hanya butuh rasa percaya dan selalu bersyukur atas pasanganmu. Tidak ada yang benar-benar sempurna, termasuk lelaki yang meminangmu dengan tiba-tiba.


Bahagia kita yang ciptakan, jika saat itu aku mau berteriak, bisa jadi semua akan jauh lebih kacau, termasuk resepsi sederhana yang sedang digelar di rumahku saat itu. Tetapi, memikirkan baik-baik sebelum memutuskan membuat kejadian itu jauh lebih mudah diselesaikan. Aku harus memikirkan perasaan ibu dan ayah. Dan aku pun harus mulai memercayai suamiku, meskipun pernikahan kami baru saja terjadi, bahkan hanya lewat beberapa menit saja.


Atthar tersenyum, berterima kasih lewat tatapannya.