Drama Common Cold Hingga Diagnosa TB


sumber


Alhamdulillah, seminggu ini riweh sama anak sakit, kakak demam seminggu on off sampai belum masuk sekolah hingga sekarang. Dan si adik nyusul demam tinggi mulai jam 1 malam hingga hari ini. Alhamdulillah semua masih mau makan dan minum yang banyak. Semoga besok sudah sehat kembali.

Buat anak-anak, sakit itu adalah hal yang wajar terjadi, terutama common cold. Setidaknya ada hingga 12 kali common cold dalam setahun. Memang ini disebabkan oleh virus yang tidak perlu penanganan khusus, tapi kalau demam tinggi dan hanya sembuh sehari kemudian seminggu sakit lagi begitu selama berbulan-bulan, kira-kira teman-teman akan berpikir apa?

Ya, bahkan saya yang awalnya santai saat anak sakit flu dan batuk, tiba-tiba nggak keruan. Bagaimana tidak, sejak si bungsu lahir dan berusia tiga bulan, dia sudah mulai mengalami demam tinggi yang mana sudah harus dibawa ke dokter untuk usia dia saat itu. Alhamdulillahnya hanya common cold saja. Tetapi menghadapi anak bayi demam itu panik banget apalagi kalau sampai dia merintih terus menerus.

Sedangkan saat memiliki si sulung, dia baru demam usia setahun. Perbedaan yang sangat jauh. Kalau si sulung sering kejang demam, si bungsu justru sering radang telinga, bahkan sangat sering. Dan sebelum itu ketahuan, dramanya bukan main.

Saat usia enam bulan, entah lupa tepatnya, Dhigda nama si bungsu demam hampir sebulan dengan suhu mencapai 39’C lebih. Dan itu hanya terjadi setiap tengah malam. Jadi setiap tengah malam saya menemani dia yang suhunya tinggi selama hampir sebulan penuh.

Membayangkan hal semacam itu rasanya tidak kuat. Tetapi pada saat itu saya bisa melaluinya. Saya jauh dari orang tua, tidak ada pengalaman kuliah apalagi mengenyam sekolah kedokteran, tetapi saat hamil dan memiliki anak, saya merasa harus mempelajarinya demi mereka.

Dalam kondisi tak wajar, common cold tapi terlalu lama, saya pun membawanya ke dokter spesialis anak. Diperiksa darah dan hasilnya tidak ditemukan apa-apa. Kalau menurut dokter itu hanya virus, tetapi dapat antibiotik.

“Inikan virus ya, Dok? Kenapa diresepkan antibiotik?”

“O, kalau saya harus, kan sudah lama.”

Jadi, kalau sudah lama, virus bisa berubah jadi bakteri? Merasa sangat tidak pintar dan menyesal saat itu kenapa saya kurang banyak baca dan membaca. Mana bisa seperti itu? Meskipun pulang tidak saya minumkan obatnya, tetapi tetap saja ada rasa bersalah, kenapa harus cek darah? Padahal anak saya ada ingus sedikit seperti orang flu.

Hingga dua minggu berikutnya, saya membawa pada dokter berbeda. Kembali cek darah dan dikatakan hal yang sama. Sejak itu saya tidak kembali ke rumah sakit yang sama. Bukannya dapat jawaban, justru horror sekali. Merasa jadi ibu aneh sedunia karena termakan rasa panik. Dan hingga minggu ketiga, anak saya masih demam tinggi setiap tengah malam.

Pada akhirnya saya harus memutuskan berkunjung ke dokter lain di rumah sakit berbeda. Di sana, anak-anak saya didiagnosa TB karena seringnya common cold. Apa? Masa iya? Tanpa wawancara, tanpa tanya banyak, langsung diajak tes cukit kulit. Aduh, itu sakitnya sampai ke ulu hati, lho. Kalau iya benar, kalau tidak? Belum lagi nanti harus konsumsi obat selama enam bulan penuh. Bisakah? Kalau benar bukan masalah, kalau salah? Mungkin saya akan jadi ibu paling menyesal di dunia.

Diagnosis TB ini nggak segampang melihat seberapa sering anak terkena common cold. Dalam rumah kami, hanya ada saya, suami dan kedua anak saya. Dan baik saya dan suami, keduanya sehat. Tidak ada pula asisten rumah tangga yang bisa dicurigai terkena TB karena memang tidak pernah mempekerjakan ART. Sedangkan penularan lewat anak-anak tidak mungkin, karena TB hanya ditularkan oleh penderita TB dewasa. Kalau misal tertular di luar? Di jalan? TB hanya menular minimal ketika kita tinggal bersama penderita TB selama kurang lebih enam bulan (kalau tidak salah ingat).

Karena alasan itulah yang saya ketahui sejak lama, akhirnya saya pun berani menolak dan segera pulang dengan alasan akan memikirkannya. Drama ini pun semakin menjadi saja ketika suami saya harus percaya dan bingung dengan diagnosa lainnya. Ada dokter yang bilang kalau si bungsu harus dirawat karena sudah tidak bisa meminum antibiotik, harus infus.

Akhirnya sambil sedikit memaksa, saya mengajak suami pergi ke dokter yang juga ikut bergabung di milis sehat. Beliau adalah dokter Arifiyanto atau dokter Apin yang mana juga merupakan blogger..he.

Saat ke sana, kami menyerahkan hasil tes urin dan tes darah. Beliau santai saja padahal saya sudah mau pingsan dengan drama yang terjadi lama sekali. Beliau mendengarkan saya yang lebih banyak curhat sedangkan suami hanya diam mendengarkan.

Lama-lama beliau bertanya, “Sepertinya ibu ke sini hanya ingin menunjukkan kepada bapak, ya?” sambil tertawa.

Beliau menjelaskan bahwa common cold terutama jika anak sudah sekolah dan memiliki saudara, kadang memang drama banget. Bisa ping pong dan tidak lekas selesai. Kalau nggak mau ketularan, pisah rumah saja. Di sekolah pun sama, ketika ada yang sakit, pastinya dengan mudah menularkan kepada yang lain. Jadi, obatnya sabar saja selama tidak ada komplikasi seperti sesak dan kejang. Dan sabarnya kami itu nggak hanya sebulan dua bulan. Tetapi hampir dua tahun. 

Sepulang dari dokter Api, saya pun lebih lega. Dan kami pulang tidak membawa obat apapun. Hanya zat besi untuk si bungsu yang ASI eksklusif.

Menurut beliau juga, ketika sedang common cold, hal pertama yang harus dicek justru telinganya. atau cek yang tidak menyakitkan seperti cek urin. Karena kebanyakan ISK juga tanpa gejala. 

Bisa jadi adik kena radang telinga akibat flu. Dan benar saja, setelah keesokannya dari dokter apin, anak saya mulai keluar cairan dari telinga, dan sejak saat itu, demamnya turun. Padahal ketika dicek, telinganya baik-baik saja. Ternyata belum kelihatan sodaraaa.. L

Setelah itu, setiap kali common cold, adik selalu kena radang telinga. Menurut dokter THT, dia ada alergi. Wajarlah karena suami juga memiliki alergi pernapasan. Tetapi kalau radang telinganya sebulan tiga kali, apa masih dibilang normal?

Masya Allah, seperti nggak akan berakhir saja drama ini. Saya pun akhirnya pergi ke dokter yang sangat booming bisa menyembuhkan dan mengatasi alergi, tetapi malah berasa mengunjungi dukun karena kita cuma main tebak-tebakan..he.

“Wajahnya mirip siapa ini?”

“BAB-nya seperti kotoran kambingkan?”

“Nggak kok, Dok. Biasa aja.”

“Masa?” Saya iyain ajalah..he.

Padahal di rumah sakit beken itu ada dokter spesialis alergi yang ada di milis sehat juga dan pastinya RUM banget. Tetapi karena merasa pengeen banget cepat sehat, justru tersesat pada jalan yang salah..he.

Dan ujungnya, memang hanya sabar dan sabar. Setelah melewati hal yang sama hampir dua tahun, drama common cold itu pun berakhir. Alhamdulillah, anak-anak seiring waktu mulai berkurang infeksinya. Nggak seperti tahun-tahun sebelumnya. Barakallah, kadang hal semacam ini benar-benar menguras pikiran. Lebih sering ketika adik sakit, saya pun ikut sakit. Pernah suatu malam, Dhigda demam tinggi, batuk hebat dan muntah-muntah, sedangkan saya sendiri demam tinggi dan kepala mau pecah. Dan itu terjadi nggak cuma sekali dua kali.

Kalau kakak sakit, adik pun sakit, lanjut bundanya..he. Sudah kayak orang janjian saja. Dari pengalaman itu saya pun mengambil kesimpulan, bahwa diagnosa TB itu sebenarnya tidak mudah. Ada banyak hal harus dipertimbangkan dan diperhitungkan. Bukan hanya sekadar hasil rontgen dan terdapat flek, kemudian langsung muncul diagnosa TB. Sampai-sampai istilah flek paru itu umum kita dengar padahal sebenarnya itu rancu sekali, lho.

Saya bersyukur sekali, anak-anak tidak sampai salah diagnosa dan sedikit-sedikit saya paham tentang TB lewat milis sehat. Saya bukan ingin menjadi dokter, tetapi dokter-dokter di milis selalu mewajibkan kami anggotanya untuk banyak membaca di web-web resmi. Tetapi, kadang saya juga masih terlewat sampai akhirnya adik harus cek darah 2x dalam satu episode demamnya dulu.


Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat dan tahu apa yang harus dilakukan ketika anak-anak sakit, paling tidak kita punya referensi dokter yang RUM untuk berkonsultasi. 

Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan ke-4 #SatuHariSatuKaryaIIDN

11 comments:

  1. Wah kalo anak udah sakit orang tuanya juga ikut sakit yaa..
    pengetahuan seputar penyakit yang diderita anak harus bener2 diketahui para ibu. Karena hanya ibu yang bisa jd pelindung bagi anaknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali, Mbak..mungkin sayanya terlalu capek..hehe

      Delete
  2. Penting banget y mbak muyas
    paham sedikit tentang penyakit
    sekedar pencegahan untuk anak anak, sebleum benar benar harus di bawa ke rumah sakit/dokter

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali, memang ada kondisi bisa di rawat di rumah dan kondisi darurat. Kebanyakan orang tua nggak tahu dan suka panik *tunjuk muka sendiri :D

      Delete
  3. yang saya salut itu kesabarannya yang tiap malam menunggu si kecil demam lebih dari 2 bulan, enggak salah emang kalau surga itu adanya di telapak kaki ibu.

    next jangan salah ke dokter lagi... apa lagi sampai ke dukun. nanti malah di suruh bawa telor tembuhuk sama ayam item buat nyedot penyakitnya. ha..ha..ha :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, haha..iya, termakan cerita di internet :D

      Delete
  4. Waaah sabarnya luar biasa mbak.. Hhh
    Aku blm punya anak sih, tp kl ada ponakan sakit ikutan khawatir.. Sehat2 trs ya deee

    ReplyDelete
  5. Anaknya temanku didiagnosis TB, mbak karena beratnya nggak naik 2 bulan berturut-turut. Sedih euy pas tahu harus minum obat selama 6 bulan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal berat badan nggak naik2 itu faktornya banyak ya, Mbak..apalagi anak sy dulunya sering sakit, gimana berat mau naik? memang hal kayak gini penting banget...

      Delete
  6. anaknya temanku juga didiagnosa TB, mbak. katanya karena beratnya nggak naik 2 bulan berturut-turut. aku jadinya sempat takut pas nimbang anak dan beratnya nggak naik. sekarang juga anak mulai sering demam. jadi makin waswas deh

    ReplyDelete