Tuesday, May 7, 2019
Asyiknya Mengunjungi Candi Kidal di Malang! Wisata Edukasi yang Menyimpan Legenda Tentang Garuda
![]() |
| Foto: Dok pribadi |
Salah satu yang menarik dan tidak banyak orang tahu adalah Candi Kidal di Tumpang, Malang. Sudah lama sekali saya tidak mengunjungi Candi Kidal. Beberapa foto yang saya abadikan ini diambil pada tahun 2009 saat saya dan mas baru saja menikah *cieee…haha.
Kami main ke Candi Kidal karena lokasinya yang dekat dengan rumah kakak ipar. Jadi, sekalian mampir dan sekalian main ke Candi Kidal. Dan itulah kali pertama saya main ke sana dan melihat langsung candi khas Jawa Timuran dengan bentuk ramping dan tinggi tersebut.
Candi Kidal Menyimpan Legenda Tentang Garuda
Garudeya atau Garuda digambarkan dalam bentuk relief yang dipahatkan pada bangunan candi. Ada tiga relief yang menggambarkan legenda tentang Garuda. Bagi kamu yang belum tahu, pasti membaca legenda ini akan sangat menarik. Gimana kalau bisa melihat langsung bangunan candinya sekaligus belajar mengenal sejarah dibangunnya Candi Kidal ini? Pastinya akan jadi momen berharga dan tak terlupakan.
Garuda merupakan anak angkat dari Winata. Winata memiliki saudara bernama Kadru. Berbeda dengan Winata, Kadru punya anak angkat berupa 3 ekor ular. Kadru sangat pemalas, dia tidak mau letih mengasuh anak angkatnya yang sangat merepotkan, lari ke semak, susah ditemukan. Akhirnya Kadru punya inisiatif memanfaatkan Winata demi kepentingan pribadinya. Dia mengajak Winata bertaruh, dan ternyata Kadrulah pemenangnya. Tugas mengasuh ketiga anak ular itu pun diserahkan pada Winata. Sejak saat itu, Winata harus melayani Kadru dan ketiga anak angkatnya.
Karena tugasnya yang berat, akhirnya Winata meminta bantuan pada Garuda. Pada relief yang dipahatkan di Candi Kidal digambarkan dengan sosok Garuda serta tiga ekor ular di atasnya. Setelah besar, Garuda mencari tahu, kenapa Winata harus mengurusi ketiga ular itu sedangkan Kadru tidak? Winata pun akhirnya bercerita tentang nasib malang yang menimpanya.
Demi menolong sang ibu, Garuda menanyakan kepada ketiga ular tersebut, bagaimana dia bisa membebaskan Winata dari perbudakan yang dilakukan oleh Kadru? Ular-ular itu pun meminta tebusan berupa air suci amerta yang disimpan di kahyangan dan dijaga oleh para dewa. Dengan susah payah Garuda meminjam air suci tersebut. Kisah Garuda dengan air suci ini diabadikan dengan relief berupa gambar Garuda membawa kendi di atas kepalanya. Menarik sekali, ya?
Selanjutnya dengan air itu, Garuda dapat membebaskan ibunya dari perbudakan. Kisah ini pun diabadikan dalam relief berupa Garuda menggendong seorang wanita yang tak lain adalah ibu angkatnya.
Wah, benar-benar legenda yang sarat akan pesan moral. Setelah mengetahui kisah ini, saya jadi tertarik dan ingin sekali berkunjung lagi ke Candi Kidal. Apalagi Candi Kidal belum banyak diketahui orang banyak karena letaknya yang terdapat di desa terpencil. Semoga dengan terdaftarnya Candi Kidal sebagai salah satu Cagar Budaya berupa bangunan, para wisatawan akan semakin ramai berdatangan ke sana untuk berwisata edukasi. Berwisata sambil belajar. Menarik sekali, kan?
Ketika mudik lebaran nanti, mungkin akan sangat menarik jika saya dan anak-anak bisa berkunjung lagi ke sana. Buat kamu yang penasaran seperti apa Candi Kidal ini, datanglah ke kota Malang dan kunjungi desa Rejokidal, Tumpang dan lihat langsung seperti apa candi khas Jawa Timuran ini, ya!
Salam,
Resep Dough Enak untuk Dua Jenis Roti Sekaligus, Mudah Banget!
Harus ya, menuliskan judul Mudah Banget? haha. Karena resep ini memang tidak sulit apalagi buat pemula. Adonan yang ingin saya share kali ini pun jumlahnya sedikit sehingga akan sangat mudah jika diulen hanya dengan tangan. Sebagian orang justru suka mengulen dengan tangan, lho meskipun dia punya mixer roti sekalipun. Alasannya bisa karena hasil yang didapatkan berbeda.
Tapi, tolong jangan tanyakan pada saya, terutama ketika seperti sekarang, saat anak sudah dua, cucian numpuk dan setrikaan menunggu untuk diselesaikan…kwkwk. Jelas saya memilih menggunakan mixer karena lebih cepat dan menghemat tenaga. Zaman bungsu masih kecil, saya masih oke mengulen roti pakai tangan bahkan hingga tengah malam baru ngoven. Sungguh perjuangan yang tidak mudah.
Resep dough ini pernah saya share sebelumnya. Adonan killer soft bread dengan satu kali proofing saja. Jadi, sangat menghemat waktu dan tenaga. Karena dalam proses membuat roti itu benar-benar butuh waktu sampai setengah hari hingga roti dipanggang dan matang. Benar-benar capek, tetapi memang hasilnya sangat memuaskan jika kita bisa menyantap roti yang baru keluar dari oven.
Mungkin teman-teman bosan dengan postingan saya yang berupa roti seperti ini…kwkwk. Apa nggak ada camilan lain yang bisa dipamerkan di blog ini? Karena saya orangnya sangat rendah hati dan tidak sombong, maka saya menyimpan semua resep camilan selain roti. Iyap! Saya simpan di dalam hati karena masih berupa keinginan dan belum dicoba…kwkwk.
Semakin ke sini saya ingin enjoy menjalani peran saya sebagai seorang istri, seorang ibu yang mengurus semua pekerjaan rumah sendiri dan keperluan suami serta anak-anak. Kalau saya capek, ya udah, beli aja rotinya. Kalau nggak memungkinkan untuk masak sendiri, mending beli saja daripada masak, tapi malah dongkol karena menahan lelah. Dengan cara seperti ini, saya merasa jauh lebih baik. Jadi seorang IRT itu rawan stres. Saya pernah membaca sebuah artikel terkait topik tersebut. Sehari-hari kita hanya berputar di dalam rumah. Bertemu orang yang sama setiap hari. Melakukan pekerjaan yang sama, bahkan meski sering disebut nganggur, tapi kenyataannya pekerjaan kita nggak ada habisnya.
Jadi, kita sendiri yang harus pandai-pandai mengatur mood, mengerjakan pekerjaan yang menjadi prioritas, dan menikmati peran kita tanpa banyak mengeluh. Kalau kitanya bahagia, Insya Allah, seisi rumah juga bakalan happy! Walaupun saya tidak mengharamkan membeli makan di luar, tetapi tidak berarti saya selalu membeli makan, lho. Saya justru lebih senang jika di rumah ada masakan karena nggak bakalan pusing mau beli makan apa? Kalaupun beli, pastinya itu sangat jarang. Hanya ketika saya capek, sakit pun kadang masih masak, dan ketika sangat ingin saja. Selebihnya ya mending masak sendiri karena hanya kita sendiri yang paham apa yang dibutuhkan dan terbaik untuk anak-anak.
Nggak pengen juga dilihat sebagai ibu yang sempurna banget sampai nggak mau jajan di luar. Nggak segitunya juga, kok. Sekali dua kali dalam sebulan kami masih jajan di luar. Kalau teman-teman gimana? Apakah sesantai saya? Hehe.
Kembali lagi ke resep dough ini. Selain simpel, adonannya bisa dibuat dua jenis roti sekaligus, lho. Bisa roti manis dengan isian berupa selai cokelat dan teman-temannya, bisa juga dibuat gurih dengan isian keju dan sosis.
Nah, kali ini saya bikin sekaligus dua jenis roti dari satu adonan ini, ya. Teman-teman bisa menggunakan santan atau air biasa. Kalau pakai santan, rotinya jadi gurih dan wangi gitu. Enak banget. Kalaupun nggak ada, teman-teman bisa tambahkan susu bubuk sedikit lebih banyak. Oke, langsung catat resepnya, ya!
Bahan:
130 gram terigu protein tinggi
1 butir kuning telur
2 gram ragi instan yang masih aktif
60-70 ml santan hangat (Bisa pakai santan instan kemasan)
20 gram margarin
Sejumput garam
30 gram gula pasir (Untuk roti dengan isian gurih, kurangi gula pasirnya)
Secukupnya mesis cokelat, sosis, dan kejur cheddar parut, oregano
Cara Memasak:
1. Campur semua bahan kecuali margarin dan garam. Uleni sampai kalis. Masukkan margarin dan garam. Uleni sampai kalis elastis. Perlu diingat, ketika memasukkan santan, pelan-pelan saja supaya tidak kebanyakan. Biasanya saya pakai sekitar 65 ml santan.
2. Langsung bentuk adonannya sesuai selera, ya. Beri isian, dan biarkan selama kurang lebih satu jam atau sampai mengembang dua kali lipat. Waktu yang dibutuhkan sangat tergantung dengan suhu udara. Jika panas, adonan akan mudah mengembang. Jika musim hujan, agak lebih lama mengembang. Jangan lupa tutup adonan dengan kain bersih supaya tidak kering dan dapat mengembang dengan maksimal.
4. Nyalakan oven 10 menit sebelum digunakan. Panggang adonan roti selama kurang lebih 10-15 menit atau sesuaikan dengan oven masing-masing.
Voila! Roti buatanmu sudah siap disajikan. Jangan lupa, sesaat setelah keluar dari oven, olesi bagian permukaan roti dengan margarin supaya lembab dan wangi. Gimana, gampang banget, kan sesuai dengan judulnya? Kwkwk. Semoga nggak bosan melihat postingan tentang roti ini, ya. Selamat mencoba!
Salam,
Monday, May 6, 2019
(Review) Pengalaman Menginap di Ibis Trans Studio Bandung dengan Cuma-cuma!
![]() |
| Foto: Dok pribadi |
Main ke Bandung bisa dibilang cuma-cuma saja. Memang kami ini mental gratisan kayaknya, ya...kwkwk. Rencana main ke Trans Studio Bandung (TSB) sebenarnya sudah dilakukan jauh-jauh hari karena ada event family gathering dari kantornya mas. Tapi, menginapnya agak dadakan meskipun sejak awal memang ada niat ingin menginap karena nggak pengen terlalu capek di jalan sekalian ngajak anak-anak main.
Nggak lama berselang saat kami akan berangkat ke Bandung, saya dapat kabar baik dari Tiket.com, nih. Saya di-mention dan ternyata saya termasuk salah satu pemenang kompetisi ngeblog bersama Tiket.com yang diadakan tak lama sebelum pengumuman tersebut. Meskipun bukan termasuk 3 besar, tetapi hadiah yang diberikan sangat lumayan dan bisa dipakai untuk liburan! Alhamdulillah.
Sempat ragu, mau ke mana saya dan keluarga dengan hadiah berupa voucher tersebut mengingat bulan Ramadhan sudah dekat dan setelahnya kami akan mudik ke Malang. Hadiah yang awalnya direncanakan digunakan untuk pergi ke Malang akhirnya mustahil dipakai. ‘Kan baru juga mudik, masa balik lagi dalam waktu dekat sebelum bulan Juli? Sempat mikir kayaknya nggak usah dipakai vouchernya. Udah biarin hangus aja, deh. Kenapa begitu? karena sejak awal yang saya bayangkan voucher itu hanya bisa dipakai untuk tiket kereta atau pesawat..hihi.
Tapi, setelah membaca syarat dan ketentuan yang diberikan, saya nggak mikir dua kali untuk menggunakannya selama ada di Bandung. Yup! Akhirnya voucher dari Tiket.com dapat digunakan dengan mudah untuk menginap semalam di Ibis Trans Studio Bandung.
Lokasi Hotel Ibis TSB dari Trans Studio Bandung Sangat Dekat
Lebay banget, ‘kan sub judul pertama ini? Yaiyalah dekat...Haha. Jujur saja, sejak awal mencari hotel, saya hanya mencari yang terdekat dari Trans Studio Bandung. Tidak mencari yang harus bagaimana fasilitasnya. Karena yang terbayang sebelum berangkat pun adalah ekspresi lelah, letih, lesu emak-emak dengan dua anak yang aktifnya masya Allah. Belum lagi di TSB nggak banyak permainan yang cocok untuk mereka, alhasil kami malah hanya mondar mandir sampai bosan alias menyeterika jalan…kwkwk.
“Kayaknya dari tadi kalian hanya mondar mandir?” komentar salah satu teman mas yang mungkin mulai gemas melihat kami tak tentu arah…haha. Anak-anak sudah ngajakin istirahat di hotel. Bagi mereka, tidak ada yang menarik lagi untuk dilihat. Sedangkan saya, jujur saja kesemutan dari ujung kaki hingga ke pipi, dan sampai malamnya pun masih terasa banget. Seperti kena minuman soda…haha. Gara-gara saya jarang banget traveling, jauh dan capek sedikit langsung bereaksi ke tubuh. Subhanallah…apakah ini termasuk tanda-tanda usia saya yang sudah kepala dua? Eits…beberapa tahun yang lalu maksudnya. Netizen dilarang julid, ya…haha.
Beruntung sekali lokasi hotel kami nggak terlalu jauh dari TSB. Cukup berjalan kaki saja, kok. Lokasinya saling berdempetan dengan mall TSB. Sebelum ke hotel, kami mencari makan dulu supaya ketika malam atau sore saat anak-anak lapar, mereka bisa segera makan tanpa harus mencari makan di luar lagi. Jujur saja, sejak sampai di hotel Ibis, saya tidak membayangkan ingin keluar lagi untuk jalan-jalan melihat pemandangan malam di kota Bandung. Bisa jadi karena saya mungkin termasuk orang yang kurang suka dengan keramaian, kurang mampu berbaur, introvert banget pokoknya. Kalau bisa leyeh-leyeh di rumah, mending saya kerjain itu daripada harus bertemu orang banyak *curhat, Mah…haha.
Ups! Ada Tamu Tak Diundang Tiba-tiba Masuk ke Kamar!
Proses untuk check in sangat mudah dan sama sekali tidak ada kesulitan. Kami mendapatkan dua kamar secara cuma-cuma karena melakukan transaksi dengan voucher dari Tiket.com, dan tak lama kemudian kami sudah sampai di kamar. Alhamdulillah…
Dua kamar kami saling berdempetan alias satu dinding pemisah saja. Rencananya memang pintu bagian dalam (connecting door) akan dibuka supaya saling terhubung dengan kamar kedua. Sebelum petugas hotel datang dan membukakan pintu tersebut, suami menunggu di kamar sebelah, sedangkan saya dan anak-anak istirahat di kamar pertama.
Sambil menikmati kentang goreng yang dibeli di mall TSB, tiba-tiba pintu kamar kami terbuka dan seorang perempuan paruh baya bersama pasangan dan anaknya muncul sambil terbelalak. Sedangkan saya tertegun. Kok, bisa masuk?
Sejak kejadian itu, hidup saya rasanya tidak tenang, Sodarah *lebay…kwkwk. Kaget banget dan sempat bertanya juga sama si sulung, kok, bisa, ya? Dia juga bingung. Karena selama menginap di beberapa hotel, baik di Jakarta atau di negara lain, belum pernah sampai terjadi hal seperti ini, lho.
Suami pun datang dan mengatakan bahwa mereka memegang kunci kamar yang sama dengan yang kami pakai. Subhanallah. Untung saat itu saya menggunakan hijab. Nggak kebayang kalau saya dalam kondisi tidak menutup aurat. Jujur saja di sini agak kecewa dengan kejadian tersebut, setelahnya jadi was-was dan mengunci kamar rapat-rapat dari dalam, khawatir ada orang lain punya kunci yang sama lagi.
Petugas hotel juga manusia, saya memaklumi hal itu apalagi pekerjaan mereka pastinya tidaklah mudah. Mengurusi banyak orang dan sebagainya. Tapi, semoga kejadian seperti ini tidak terjadi pada orang lain. Cukuplah saya yang merasa sangat ‘ajaib’. Mirip seperti sinetron gitu. Mereka buka pintu dan pandangan kami saling bertemu. Terus sama-sama kaget, kok, bisa? Haha.
Respon Petugas Hotel yang Cukup Lambat Membuat Kami Sempat Gemas
Untuk membuka connecting door, kami harus menghubungi petugas hotel karena merekalah yang nantinya akan membukakan dua kunci pintu dari kedua kamar kami. Saya tidak menghitung berapa kali suami menelepon dan menunggu hingga menelepon kembali dan menunggu lagi. Kami sampai di kamar sore hari sekitar pukul 5 lebih. Hingga adzan Maghrib, petugas yang kami tunggu belum juga datang.
Saya tidak mengerti, seharusnya seperti apa. Tapi, sepertinya buat kami pribadi, kejadian seperti ini cukup mengganggu karena terkesan sangat lambat. Mau mandi, khawatir petugas hotel datang. Mau makan pun demikian. Saya hanya katakan, “Sabar. Allah sudah berikan nikmat lebih banyak. Jangan sampai mengeluh hanya karena hal kecil seperti ini.”
Dan akhirnya, petugas itu pun datang dan membantu kami. Alhamdulillah. Sabar, Bos. Ini ujian…hehe.
Fasilitas yang Kami Dapatkan Selama Menginap di Ibis TSB
Tak berbeda dengan hotel-hotel lain, kita di Ibis TSB juga mendapatkan fasilitas berupa tempat tidur, kamar mandi dengan perlengkapan mandi (tanpa sikat gigi), tanpa bak di kamar mandi, ada kulkas kecil, lemari gantungan baju, sofa dan meja, sandal, Wi-Fi, televisi, brankas, hair dryer, serta sarapan untuk keesokan harinya.
Fasilitas ini akan berbeda jika kamu memilih kamar dengan tarif berbeda. Sepertinya begitu, ya. Saya juga belum cek kamar-kamar lain di Ibis ini. Waktu memilih dengan aplikasi tiket.com, kamar ini sudah termasuk yang lumayan. Ada satu lagi kamar selisih 100 ribuan di atasnya, tetapi kayaknya fasilitasnya pun nggak jauh beda.
Sarapan Pagi Nyaman dan Kenyang
Keesokan harinya, kami segera sarapan dan siap-siap kembali ke Jakarta. Bagaimana suasana sarapan di Ibis TSB? Makanannya lumayan enak. Ada beberapa pilihan menu untuk anak-anak seperti kentang panggang, sosis, telur, bubur ayam, atau sereal. Saya sendiri tidak berkeliling. Hanya mengambil sayuran, sedikit bihun (biar kelihatan elegan…kwkwk jadi nggak pakai nasi), dan ikan. Sebenarnya saya tidak terbiasa sarapan sejak mengikuti OCD sebulanan ini. Jadi, saat mau sarapan sempat ragu mau sarapan atau nggak. Akhirnya memutuskan sarapan tanpa nasi dan makan buah.
Anak-anak senang sekali makan-makan di tempat seperti ini. Mau di mana pun dan seperti apa pun, suasana seperti itu seperti bikin mood mereka naik. Sempat heran juga, kenapa mereka malah lebih heboh mau ke hotel ketimbang main di TSB? Haha. Sungguh dunia mereka susah sekali ditebak, Sodarah. Bisa jadi ketika di hotel mereka merasa seperti raja, ya.
Itulah pengalaman selama menginap di Ibis TSB semalam dengan cuma-cuma. Tidak terlalu buruk, tetapi tidak bisa juga dikatakan sempurna setelah beberapa kejadian itu menimpa kami…hehe. Semoga hal seperti itu tidak terulang lagi, ya.
Next, kita traveling ke mana lagi, ya?
Salam,
Friday, May 3, 2019
Barang-barang Remeh yang Harus Kamu Bawa Saat Traveling Bersama si Kecil
Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi kota Bandung bersama suami dan anak-anak. Jarang banget saya dan suami mengajak anak-anak traveling bareng. Karena selain terkendala waktu, saya juga termasuk orang yang agak mudah 'panik' kalau rempong dikit...huhu. Tapi, kali ini berusaha slow dan menikmati. Perjalanan kali ini pun sambil mengorbankan kesempatan untuk mengikuti final Jakarta Writingthon Festival..hiks. Kalau nggak dinikmati benar-benar, rugi banget pokoknya.
Saya pergi ke Bandung sebenarnya bukan karena ada acara sendiri atau rencana traveling sendiri. Qadarallah, ini dalam rangka acara family gathering dari kantor paksu. Ya udah, kenapa nggak sekalian nginep aja di Bandung meski hanya semalam? Jadi, jauh-jauh hari rencana itu sudah kami buat.
Berangkat dari Jakarta sudah pasti bareng rombongan, ya. Di sanalah saya merasa sebagai orang yang bisa menyiapkan semua kebutuhan anak-anak terlengkap...kwkwk. Sempat ada orang nyari kantong kresek untuk anaknya yang mau muntah, saya berikan. Sempat ada yang sakit perut karena mabuk, saya sedia minyak kayu putih. Kok lama-lama berasa palugada....haha.
Saya termasuk orang yang nggak bisa santai saat terjadi sesuatu. Saya pahami betul bahwa anak-anak bahkan saya juga mudah sekali mual dan muntah. Apalagi dalam perjalanan jauh seperti saat itu. Meskipun kalau hanya naik bus nggak akan masalah, tetap saya menyiapkan segala sesuatunya dengan baik.
Kecuali kita nggak traveling bersama anak-anak, bawaan bisa dikurangi dan disusutkan. Nah, kalau ada anak-anak, nggak bisa menghemat barang bawaan dong. Baju mereka saya sediakan lebih. Kantong kresek selalu beli untuk persediaan. Entah itu buat membungkus makanan, pakaian basah, atau yang lainnya. Wajib dan harus banget ada di ransel.
Barang-barang itu kayaknya remeh banget. Kesannya nggak berguna, tapi kalau nggak ada, kita pun bingung. Contohnya pas ingin muntah, tetapi malah nggak sedia kantong kresek. Habis sudah nasib kita...haha. Saya tahu dan sadar betul harus menghemat penggunaan kantong kresek karena itu bisa menjadi salah satu cara untuk menyelamatkan bumi kita. Tapi, meski sudah mulai mengurangi, di sisi lain saya tetap butuh. Belum sepenuhnya lepas.
Di negara kita kayaknya lumayan parah. nih soal penggunaan kantong kresek. Mengedukasi masyarakat itu benar-benar nggak mudah. Kok tahu? Selain saya sendiri yang belum bisa benar-benar berhenti memakainya, orang-orang di sekitar saya juga terlihat sulit sekali lepas dari kantong kresek. Contohnya, di salah satu warung sayur dekat rumah, penjualnya resik, bersih banget. Setiap ada pembeli membeli ikan atau daging akan dibungkus kantong kresek dua kali. Nanti tomat dibungkus sendiri juga kalau belinya nggak satuan. Pernah saya nolak pakai terlalu banyak kantong kresek, penjualnya ikut nolak. Alasannya biar bersih dan mudah.
Kami pun sempat ngobrol tentang supermarket yang mulai menerapkan kantong kresek berbayar. Saya sedikit menjelaskan betapa penuhnya sampah di Jakarta. Qadarallah, saya memang sempat membaca postingan pak Anies Baswedan tentang tumpukan sampah di Bandar Gebang. Tapi, mereka nggak ada yang menanggapi serius, hanya bercanda dan tertawa...haduh. Di situ saya merasa jadi makhluk aneh dan asing yang sok peduli lingkungan.. Kwkwk. Nggak ada yang mendukung.. Huhu.
Waktu saya berkunjung ke Turki, para penjual makanan di pinggir jalan tuh nggak ada yang pakai kantong kresek, lho. Makannya kantong kresek yang saya bawa terasa sangat berharga di sana. Di sisi lain saya merasa betapa buruknya kita di Indonesia yang masih seenaknya pakai kantong kresek tanpa peduli lingkungan bahkan memakainya secara berlebihan...Hiks.
Kalaupun kita masih pakai kantong kresek, minimal kita mulai mengurangi. Pakai kantong kresek lama untuk dipakai belanja lagi. Yang bikin nggak jalan karena hal seperti ini di negeri kita dianggap aneh. Jadi, kalau kitanya nggak pede, ya, wes buyar semua. Akhirnya kita kembali lagi pada kebiasaan lama. Yakni pakai kantong kresek seenaknya lagi.
Btw, saya mengetik dalam perjalanan pulang dari Bandung naik kereta, lho.. Kwkwk. Nggak bawa laptop, bosan setelah ketiduran ketiduran. Jadi, ngetik aja pakai handphone. Dan kita kembali lagi pada pembahasan tentang barang-barang remeh yang harus dibawa saat traveling bersama anak-anak. Apa saja, ya? Yuk intip beberapa barang wajib yang selalu ada di ransel saya selama traveling!
1. Minyak Telon atau Minyak Kayu Putih
Bukan hanya untuk sakit perut, minyak telon dan minyak kayu putih juga berguna banget di saat anak-anak digigit serangga. Iya, kan? Nyamuk tempatnya di mana-mana. Sangat mungkin anak-anak digigit nyamuk dan serangga lain saat traveling. Selain itu, kamu juga butuh minyak telon selepas anak-anak mandi atau berenang. Kecil dan memang bukan benda yang wajib dipakai setiap saat, tetapi saat terjadi sesuatu seperti beberapa kondisi di atas, kita nggak bakalan pusing dan panik mencarinya dalam waktu mendadak.
2. Kantong Kresek
Ngefans banget saya sama kantong kresek meskipun mulai mengurangi.. Hiks. Tapi, tetap merasa sangat butuh dalam kondisi tertentu seperti yang saya sebutkan di atas. Saya biasa membeli beberapa kanting kresek baru ukuran sedang dan kecil. Menyimpannya di dalam ransel dan usahakan mudah diambil ketika kita butuh.
3. Kaos Kaki
Meskipun nggak pakai sepatu, usahakan selalu membawa kaos kaki untuk anak-anak. Iya, meskipun kalau bobok masih bisa pakai selimut, tetapi buat saya nggak ada salahnya membawa kaos kaki, lho. Misal saja ketika di kendaraan anak-anak kedinginan, kita bisa memakaikan kaos kaki untuk mereka. Remeh, sih dan nggak banyak juga yang butuh. Tapi, dibawa pun nggak ada salahnya karena posisinya juga bisa banget diselipkan di beberapa tempat yang masih longgar.
4. Tas Kain Serbaguna
Punya tas kain yang bisa dilipat jadi kecil banget? Yup! Itu dia yang saya maksud. Saya selalu membawa beberapa atau minimal satu tas kain lipat di dalam ransel. Jika kita butuh, bisa segera digunakan tanpa bingung dan khawatir mencari kantong kresek ukuran besar. Ukuran tas kain yang saya bawa agak besar. Bahkan Punya juga yang bisa dibuat ransel. Ingat banget waktu saya umroh dan ke Turki. Saya nyesel banget nggak bawa ransel waktu itu. Terlalu patuh sama aturan Travel.. Kwkwk. Bukan salah travelnya. Salah saya kurang merencanakan dengan baik. Jadi, dari pihak Travel memberikan satu koper dan satu tas selempang. Saya pun memakai keduanya. Eh ternyata yang lain banyak yang pakai ransel.. Kwkwk. Terutama yang bawa anak. Akhirnya saya memberdayakan tas kain berupa ransel dan beneran dipakai mulai ke Turki sampai umroh.
5. Peralatan Mandi
Meskipun kamu menginap di hotel, nggak usah mikir dua kali untuk membawa peralatan mandi minimal sikat gigi dan pasta gigi. Selama menginap di beberapa hotel, baru kali ini ketika di Bandung saya nggak dapat fasilitas sikat gigi...Kwkwk. Sempat kaget kalau nggak mau disebut lebay.. Haha. Bayangin, saya dengan pedenya nggak bawa tuh sikat gigi.. Hiks. Akhirnya pusing harus mencari sendiri.
6. Bawa Baju Ganti Lebih
Pernah kejadian waktu saya ke Puncak. Si sulung memang mudah sekali muntah. Waktu kami mencari sarapan ke kafe yang letaknya agak jauh dari penginapan, qadarallah dia muntah dan kena ke bajunya. Padahal sudah disediakan kantong kresek. Tapi dia menahan dan akhirnya nggak kuat malah ke mana-mana.. Hiks. Ujung-ujungnya pinjam baju ayahnya yang saat itu pakai dua kaos. Setelahnya, saya nggak abai lagi meskipun nggak jauh perginya. Tetap harus bawa baju ganti di tas minimal satu setel.
7. Obat-obatan
Kita nggak pernah tahu kapan anak-anak demam. Malah mereka memang sering sakit tiba-tiba, kan? Awalnya sehat dan lincah, tiba-tiba jatuh sakit, demam tinggi. Buat saya yang punya anak-anak yang pernah bahkan sering banget kejang demam, bawa obat penurun panas dan obat kejang adalah hal wajib. Kebayang kalau kita sedang menginap di suatu daerah yang di sana jauh dari supermarket, apotek, dan dokter, mau ngapain kita? So, jangan anggap remeh lagi deh obat-obatan ini.
8. Selalu Bawa Makan Sendiri
Setiap pergi untuk acara family gathering, saya selalu bawakan anak-anak bekal nasi. Meskipun sudah tahu akan diberikan snack seperti roti dan air mineral, tetapi, tetap bawa bekal. Nah, kejadian juga family gathering yang sekarang ini. Ternyata snack baru dibagikan di rest area.. Kwkwk. Jauh, Sodarah. Yang nggak bawa makanan sudah pasti mual apalagi anak-anak. Beruntung saya bawa nasi, jadi anak-anak sudah saya suapi sejak tiba di bus sekitar pukul 05.30 WIB. Sedangkan yang nggak bawa sarapan, hanya mengunyah aneka makanan ringan seperti Chiki.
Kira-kira itulah beberapa barang remeh yang harus kamu bawa saat hendak traveling bersama anak-anak. Kecil sih, nggak selalu juga dibutuhkan, tapi kalau lupa nggak dibawa, bikin kita panik juga, kan? Yuk, persiapkan dengan baik rencana traveling kamu berikutnya. Sekitar satu jam lagi saya akan tiba di Jakarta. Anak-anak dan suami tidur nyenyak. Mari nikmati perjalanannya. Apa pun itu, jangan lupa bersyukur.
Salam,
Schotel Pasta Saus Keju yang Ngeju Banget!
![]() |
| Photo: Dok pribadi |
Sebelumnya, saya pribadi sering salah sebut aneka jenis pasta. Kalau yang biasa dipakai untuk shcotel saya sebut makaroni. Selain jenis pasta untuk spageti, saya pun menyebutnya dengan nama yang sama, lho. Tapi, apakah kamu tahu sebenarnya beberapa pasta tersebut punya nama sendiri?
Karena sejak kecil sudah menyebutnya demikian, jadi sampai sekarang pun tidak ada yang berubah meskipun sudah mengenali nama-nama pasta sesuai dengan jenisnya. Kembali lagi pada jenis pasta yang saya pakai untuk shcotel ini, meski agak kurang umum, tetapi nyatanya enak banget. Selain pakai pasta, saya juga sering menggunakan kentang yang sebelumnya sudah dikukus dan dihancurkan kasar sebagai pengganti makaroni.
Yang bikin lezat itu rasa ngejunya yang kebangetan serta saus putih (keju) yang saya buat sendiri untuk topping-nya. Resep ini awalnya saya buat karena kecewa dengan schotel yang pernah saya beli. Kok kayaknya kurang ngeju, kok kayaknya kurang lembab dan terlalu kering. Akhirnya mencari cara sendiri untuk membuat schotel. Sok tahu banget, ‘kan? Haha.
Ini adalah resep yang pernah saya unggah pertama kali di Cookpad. Pertama kali punya akun Cookpad, saya menulis resep ini, lho. Fotonya masih jadul gitu dan masih seadanya. Meski sekarang pun tetap seadanya, sih. Paling hanya menambahkan aksesori yang saya punya di rumah sebagai pemanis.
Untuk kejunya kemarin saya pakai dua jenis keju, ya. Satu keju cheddar dan satunya keju Kraft Quick Melt. Keju leleh dari Kraft ini memang menolong banget bagi kita yang nggak punya stok keju mozzarella. Harganya pun lebih terjangkau ketimbang keju mozzarella. Siapa di sini yang suka mengonsumsi dan memakai keju Kraft Quick Melt untuk aneka jenis masakan di rumah?
Keju ini cocok banget dipakai untuk topping pizza homemade, shcotel seperti yang saya buat ini, atau aneka jenis makanan lain yang tak kalah enaknya jika ditambahkan keju leleh.
Daripada kamu penasaran, langsung yuk kita buat saja shcotel pastanya!
Bahan:
Secukupnya pasta atau aneka jenis pasta sesuai selera
Secukupnya keju cheddar, parut. Semakin banyak semakin enak
Secukupnya kornet atau potongan sosis
Secukupnya keju Kraft Quick Melt
1 butir telur (Sesuaikan jumlahnya dengan jumlah pasta)
Secukupnya susu cair (Jangan terlalu banyak)
Sedikit merica bubuk dan kaldu bubuk jika suka
Sejumput garam
Bahan untuk Saus Keju
2 sdm margarin
Secukupnya bawang bombay cincang
2 sdm tepung terigu
Secukupnya susu cair
Secukupnya keju Kraft Quick Melt
Sedikit garam dan kaldu bubuk
Cara Membuat:
1. Rebus pasta sampai matang atau sesuai selera.
2. Campur pasta yang telah direbus dengan semua bahan kecuali saus keju.
3. Buat saus kejunya dengan memanaskan margarin, masukkan cincangan bawang bombay,
masukkan juga merica bubuk dan kaldu bubuk. Aduk rata dan tunggu sampai bawang bombay layu.
4. Segera masukkan terigu dan aduk cepat. Tuang susu cair secukupnya sampai kekentalan yang diinginkan. Jangan terlalu cair, ya. Teksturnya harus kental.
5. Masukkan keju ke dalamnya dan aduk sampai keju meleleh dan rata.
6. Tes rasa, jika sudah pas siramkan ke atas adonan pasta dan tadi dan panggang hingga keemasan dan bagian dalam (telur) matang.
7. Sajikan selagi panas dengan saus favorit kamu!
Voila! Schotel pasta kamu pun siap dihidangkan! Anak-anak doyan banget menu satu ini. Tapi, mohon maaf banget meskipun sudah beberapa kali membuat, saya tetap nggak hapal takarannya alias selalu menakarnya dengan hati yang bersih…kwkwk. Saking malasnya mau menakar ya, Allah. Schotel satu ini lembab karena adonan pastanya nggak hanya menggunakan telur, tetapi juga ditambah sedikit susu cair di dalamnya. Saus keju karena bikin sendiri, jadi bisa melimpah! Kan sedap banget…hihi.
Yuk, ah bikin sendiri di rumah. Ketimbang beli, jujur saja ini jauh lebih enak. Kamu bisa menambahkan aneka isian di dalamnya seperti daging ayam, daging asap, kornet, ataupun sosis. Bahkan tanpa isian itu pun, rasanya tetap nendang karena tertolong banget sama saus kejunya yang gurih itu.
Semoga resepnya bisa dicoba di rumah dan bermanfaat buat kamu yang baru belajar memasak. Happy cooking!
Salam,
7 Tips Menurunkan Berat Badan Selama Bulan Puasa
![]() |
| Photo by Total Shapes on Unsplash |
Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan, ya. Pastinya momen puasa tahun ini selalu dinanti seperti tahun-tahun sebelumnya. Suasana Ramadhan sudah kental banget, nih. Dimulai dari munculnya kurma di supermarket hingga banyaknya jumlah sirup yang dijual di toko. Kamu merasa nggak, sih, kalau kedua jenis makanan ini jumlahnya jadi banyak ketika Ramadhan tiba saja? Belum lagi iklan sirup di televisi yang dibuat bersambung dan seru. Lucu dan kocak memang, tetapi ada hal lain yang lebih menarik untuk kita bahas, lho. Apa? Salah satunya adalah menurunkan berat badan saat bulan puasa.
Ngapain diet segala saat Ramadhan? ‘Kan sudah pasti berat badan akan turun karena kita makan lebih sedikit daripada biasanya. Eits! Siapa bilang? Tidak semudah itu, Ferguso…haha. Kenyataannya, masih banyak orang yang berat badannya justru naik saat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan sebulan penuh. Miris banget, ‘kan? Pastinya termasuk saya juga…kwkwk.
Kalau kamu termasuk orang yang memiliki berat badan ideal atau cenderung kurus dan normal, tips di bawah ini tidak berlaku. Tips yang akan saya share kali ini khusus buat kamu yang merasa badannya sudah mulai berat, nggak fit, ngerjain sesuatu jadi malas, dan pengen banget menurunkan berat badan minimal biar terasa sehat.
Sejatinya diet itu memang jangan ngejar kurus dan langsing saja. Karena kalau sudah salah niat, ujung-ujungnya jika target nggak terpenuhi malah jadi rusak pola makanmu disebabkan balas dendam. Ada yang begini nggak, ya? Atau hanya saya saja? Haha.
Selama sebulan kemarin saya memang menerapkan OCD. Memang nggak ketat banget alias nggak kaku sama diri sendiri. Apalagi sampai menyiksa diri sendiri karena keinginan menurunkan berat badan. Saya masih makan nasi padang, masih makan cokelat dan cake, saya juga masih makan menu enak lainnya. Itulah enaknya OCD memang, ya. Tapi, jujur setelah sebulan menjalankan OCD, nafsu ngemil dan makan berlebihan jauh lebih mudah untuk dikontrol. Makan jadi lebih sedikit dan susah makan banyak seperti dulu. Badan jadi enteng dan pastinya merasa jauh lebih sehat daripada sebelum-sebelumnya.
Saya juga sempat memikirkan soal usia yang tahun depan Insya Allah akan memasuki kepala tiga. Setelah itu, pastinya kondisi tubuh saya tidak akan sebaik saat saya masih remaja. Pernah ngobrol sama sahabat yang badannya mungil dan terlihat ideal, tetapi ternyata kolesterolnya tinggi. Bisa dipastikan juga dipengaruhi faktor usia sehingga apa yang tampak dari luar tak sama dengan yang benar-benar terjadi di dalamnya.
Kebayang saja yang kurus bisa sampai seperti itu, apalagi yang gemuk? Hiks. Karena itu juga akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti OCD dan hasilnya memang jauh lebih nyaman untuk saat ini. Makan ya tetap makan seperti biasa. Bedanya porsi nasi jadi sedikit, bukan karena lebay menghindari nasi, tetap makan nasi, tetapi karena sejak awal mengurangi porsi makan, alhasil jadi berpengaruh juga sama jumlah nasi di piring saya yang awalnya bisa penuh sekarang cukup 3 sdm saja. Kalau masih lapar banget? Nambah lagi nggak masalah asalkan tahu porsinya.
Di dalam Islam pun sebenarnya kita juga diajarkan untuk tidak berlebihan, ‘kan? Jadi, banyak sekali hal positif yang saya dapatkan selama menjalankan OCD ini. Tapi, yang mungkin sering bikin galau adalah sisa makanan yang ternyata semakin menumpuk dan menggunung di kulkas…kwkwk. Anak-anak makan nggak habis, saya simpan, karena mustahil saya menghabiskannya seperti yang sudah-sudah. Yang ada malah percuma saya menjalankan OCD jika akhirnya masuk mulut saya lagi. Itu ujian banget terutama di awal-awal…haha. Apalagi saya selalu diajarkan oleh orang tua untuk selalu menghargai makanan dan tidak mudah membuangnya. Sehingga tak salah jika dulu saya jadi ‘tempat sampah’ di rumah…kwkwk.
Apa yang Menyebabkan Berat Badan Naik Meskipun Telah Berpuasa Selama Sebulan Penuh?
Banyak dari kita yang salah menerapkan pola makan yang sehat saat bulan Ramadhan. Buka puasa memang sebaiknya dengan yang manis-manis, karena itu bisa mengembalikan energi kita yang sudah berkurang selama seharian penuh. Tapi, tidak dengan makan kolak satu mangkuk penuh juga kali, makan es buah, dan sirup yang kadar gulanya tinggi banget.
Kebiasaan ini memang terus kita lakukan, ya. Kita pikir, setelah seharian berpuasa, selebihnya boleh makan sepuasnya. Padahal nggak begitu juga. Karena itulah, berat badan kita justru bertambah selama bulan puasa. Subhanallah, saya banget ini…kwkwk.
Di Jakarta, saya baru tahu kalau buka puasa itu juga identik dengan makan gorengan, lho. Kalau di kampung halaman dulu, kita nggak terlalu suka makan gorengan buat camilan saat berbuka. Paling gorengan seperti tempe atau bakwan itu dimakan sebagai lauk pelengkap saja. Nggak banyak ngemil pokoknya.
Tapi, di Jakarta, apalagi kalau kita ngabuburit, duh gorengan menggoda banget dan melambai-lambai minta dibawa pulang…kwkwk. Nah, kebiasaan begini juga mempengaruhi berat badan kita meskipun sebulan penuh puasa tanpa bolong. Miris tapi enak, ya? Siapa yang mampu menolak gorengan? Haha.
Ada baiknya kita tetap mengonsumsi makanan yang ada di rumah, tetapi dengan porsi secukupnya saja. Berbuka dengan yang manis tidak selalu harus dengan sirup satu gelas penuh plus es batu yang banyak, tetapi bisa juga dengan kurma atau buah yang kandungan gulanya alami.
Sejak menjalankan OCD, saya juga mengurangi minuman manis apalagi minuman ringan kemasan. Mending minum air putih, boleh dingin atau hangat. Malah disarankan air putih dingin karena itu bagus untuk orang yang sedang diet.
Tips Menurunkan Berat Badan Saat Bulan Puasa
Tips ini memang belum saya jalankan karena saya baru menjalankan OCD pada April lalu. Jadi, tahun kemarin saya masih sembarangan banget makan dan minum terutama saat bulan Ramadhan. Tapi, setelah menjalankan OCD, saya merasa semuanya berubah drastis, sih. Insya Allah, di bulan Ramadhan ini saya bisa menerapkan cara ini dengan lebih mudah dan pastinya tanpa menyiksa diri. Apa saja yang bisa kita lakukan untuk menurunkan berat badan saat bulan puasa?
1. Ganti Segelas Sirup Manis denga 1-3 Butir Kurma
Zaman dulu, yang manis-manis itu adanya buat segar atau kurma. Belum ada sirup pastinya, ya apalagi es buah dengan siraman susu kental manis..haha. Kita bisa mulai mengubah kebiasaan berbuka dengan yang manis menjadi lebih sehat. Contohnya dengan sebutir kurma atau potongan buah dalam jumlah sewajarnya saja.
Jangan suka lebay kalau makan terutama saat baru berbuka puasa. Ada baiknya setelah membatalkan puasa, kita shalat Maghrib dulu supaya nafsu untuk makan kembali normal. Kalau langsung berbuka, pastinya jiwa kalapnya masih kental banget, Sodarah…haha.
2. Minum Lebih Banyak Sebelum Makan
Ada banyak manfaat yang bisa dipetik saat kita minum lebih banyak sebelum makan, misalnya 30 menit sebelum makan. Salah satunya bermanfaat menurunkan berat badan dan melancarkan proses pencernaan. Banyak minum air putih atau minuman lain tanpa kalori sebenarnya dilakukan oleh kami yang menjalankan OCD setiap hari.
Yang baru saya tahu adalah, ketika kita merasa lapar, belum tentu itu tanda kalau kita benar-benar lapar dan butuh makan, lho. Bisa jadi itu sinyal dehidrasi atau kurang cairan. Jadi, ketika menjalankan OCD, diharuskan minum air putih yang banyak setiap hari. Hasilnya? Memang rasa lapar jarang muncul.
Nah, saat berpuasa pun demikian, kita harus pintar-pintar mengatur waktu untuk minum air putih supaya saat nanti sedang berpuasa, kebutuhan cairan di dalam tubuh tetap tercukupi. Bisa dicicil hingga menjelang tidur dan saat sahur, ya.
3. Kurangi Gorengan
Bisakah kita menghindari gorengan? Karena saya merasa tidak akan mampu, maka saya katakan kurangi dan batasi saja konsumsi gorengan saat bulan puasa…hehe. Mudah menyerah sekali saya ini…kwkwk. Sekali waktu kita pasti ingin menyantap gorengan atau fast food di mall, ‘kan? Nggak perlu terlalu ketat membatasi diri karena saya pribadi khawatirnya justru kita malah lebih kalap setelahnya. Kecuali kita sudah memulainya sejak lama.
Jadi, mending mengurangi dan tahu apa yang harus dilakukan ketika berhadapan dengan makanan favorit kita. Bagi yang sudah biasa diet, hal semacam ini nggak akan terlalu sulit dihindari, kok. Saya yang baru diet sebulan aja dengan aturan yang masih longgar mampu menahan diri, apalagi kamu yang sudah diet bertahun-tahun.
4. Konsumsi Protein dalam Jumlah yang Cukup
Jangan takut mengonsumsi protein saat sahur dan berbuka. Sebab kita juga butuh protein yang cukup, lho. Bahkan protein memang disarankan karena membuat kita lebih tahan lapar. Protein nggak harus yang mahal, kok. Telur atau ayam juga bisa kita konsumsi dengan catatan tetap dalam jumlah yang wajar terutama buat kamu yang seperti saya, malas olah raga dan kerjaannya hanya duduk di depan laptop sambil mengerjakan naskah yang sudah mepet deadline…kwkwk.
5. Konsumsi Karbohidrat Kompleks
Ada baiknya kita konsumsi karbohidrat kompleks yakni karbohidrat yang mengandung serat tinggi sehingga lebih sulit dicerna tubuh dan dapat bertahan lebih lama. Nah, kita kayaknya agak kesulitan menerapkan ini, ya? Terutama bagi kita pencinta nasi putih, nggak ada nasi nggak kenyang…kwkwk. Tapi, sebelum kamu menyerah oleh keadaan (halah), kita cari tahu dulu apa saja makanan yang termasuk dalam jenis karbohidrat kompleks ini, ya!
a. Beras Merah
Kayaknya agak susah bagi saya untuk makan beras merah…haha. Nggak suka. Hambar dan agak gimana…hiks. Tapi, beras merah memang bagus banget dikonsumsi, lho.
Bagi yang tidak bisa lepas dari nasi, konsumsi beras merah sepertinya bisa jadi solusi karena mengandung serat lebih banyak ketimbang beras putih yang biasa kita konsumsi. Tapi, kalau saya masih belum kepikiran untuk pindah haluan ke sini. Secara saya masih suka makan nasi padang sebungkus berdua sama suami. Kalau nasi padangnya jadi nasi merah, ‘kan aneh, ya? Haha.
b. Oatmeal
Ada teman yang bercerita bahwa suaminya suka konsumsi oatmeal bersama menu lain yang biasa kita konsumsi. Intinya oatmeal menjadi pengganti nasi. Memang sangat baik terutama bagi yang sedang menjalankan program diet, tetapi saya nggak suka oatmeal, Sodarah…haha. Ini ceritanya diet tapi nggak mau diatur? Iya, itulah saya…haha.
Oatmeal ini dapat membuat kita kenyang lebih lama dan mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Sangat berguna apalagi jika dikonsumsi dengan rutin dan tentunya dalam porsi yang wajar juga, ya.
c. Biji-bijian dan Kacang-kacangan
Kedua jenis makanan ini termasuk dalam jenis karbohidrat kompleks yang mengandung serat tinggi dan baik untuk pencernaan serta dapat mengontrol kadar kolesterol dalam darah.
Nah, untuk jenis karbohidrat kompleks yang mengandung pati lebih banyak termasuk juga di dalamnya sereal, oat, jagung, kentang, dan gandum.
Kamu mau konsumsi yang mana? Kacang-kacangan termasuk juga gado-gado bumbu kacang dengan isian lontong, tempe, tahu, dan aneka sayuran plus kerupuk nggak ya? Haha. Halu banget ini, mah…kwkwk.
Dan masih banyak lagi jenis karbohidrat kompleks yang sangat dianjurkan bagi kita yang sedang menjalankan diet atau ingin tubuh lebih sehat. Oke, kita lanjut pada poin berikutnya, ya!
6. Olahraga Sebelum Berbuka
What? Apakah kamu ingin kita pingsan, Guys? Haha. Nggak usah lebay, deh. Kita nggak perlu olahraga di siang hari yang bikin kita tiba-tiba ingin pingsan. Cukup olahraga ringan sekitar 30 menit sebelum berbuka. Kenapa? Karena setelah seharian menahan lapar, nggak ada makanan yang dibakar di dalam tubuh. Saat kita olahraga, yang dibakar nyatanya adalah lemak, Sodarah! Jadi, olahraga saat berpuasa itu nggak boleh dihentikan apalagi dilupakan karena sangat berguna menurunkan berat badan.
Apa kabar dengan saya? Apakah saya mampu melakukannya? Biasanya saya justru mager menjelang berbuka. Atau menyiapkan sambal terasi dan lalapannya. Kebayang yang ada diet malah gagal, ya? Haha.
7. Makan Secukupnya
Sebenarnya, ini tidak hanya berlaku saat puasa saja, lho. Bahkan untuk sehari-hari pun kita harus menerapkan ini. Makan secukupnya saja, sewajarnya, jangan berlebihan dan mengikuti hawa nafsu. Apalagi saat berbuka, rasanya semua makanan ingin sekali disantap saat itu juga. Kenyataannya, setelah itu kita sakit perut dan kenyang tak wajar alias berlebihan banget. Jangan lakukan itu, ya.
Jika tips di atas bisa kita terapkan saat bulan Ramadhan nanti, saya percaya berat badan kita Insya Allah akan turun, minimal nggak naik seperti tahun kemarin. Memang butuh perjuangan untuk melakukannya. Karena itu tidak mudah, ada baiknya kita juga belajar mengontrol makan kita, jangan seadanya dimasukkan ke dalam perut semua. Kontrol dan kontrol. Santap makanan sewajarnya dan jangan lupa baca basmalah pastinya…hehe.
Sebagian orang mungkin mirip dengan saya, susah mengunyah makanan dengan pelan dan dalam waktu cukup lama. Kayaknya baru ngunyah beberapa kali, makanan di mulut sudah turun saja ke perut…kwkwk. Ada yang begini?
Awalnya saya merasa bahwa ini adalah kebiasaan buruk sejak kecil yang bisa jadi diajarkan atau dibiasakan karena melihat orang-orang di sekitar saya melakukan hal yang sama. Tapi, kenyataan lain saya lihat pada kedua putra saya. Si sulung cenderung seperti ayahnya, ngunyah lamaa banget sampai halus baru ditelan, sedangkan si bungsu (apalagi kalau lagi makan rawon), Masya Allah sekali hingga dua kali kunyah saja lenyap dari mulut…kwkwk. Yah, bisa jadi itu memang karena kebiasaan melihat cara orang tuanya makan.
Kebiasaan mengunyah terlalu cepat itu memang bikin gemuk. Jadi, ada baiknya kita belajar untuk mengunyah makanan hingga benar-benar lumat, bukan hanya supaya kita nggak gemuk saja, tetapi juga supaya pencernaan kita lebih sehat.
Ada banyak PR yang harus saya kerjakan selain menurunkan berat badan. Yakni mulai menjaga pola makan supaya lebih sehat, mengunyah makanan lebih lama, dan olahraga. Oke, yang terakhir ini agak berat…haha. Nggak yakin gitu bisa atau nggak secara kerjaan saya hanya mondar mandir di dalam rumah. Ya Allah, ujian banget, ‘kan?
Yuk, tetap semangat menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan nanti. Semoga segala salah dan khilaf saya dimaafkan. Selamat menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan bagi teman-teman yang menjalankan.
Salam,
Thursday, May 2, 2019
Kelola Keuangan Sesuai Syariat Islam, #AyoHijrah Bersama Bank Muamalat Indonesia
![]() |
Punya mobil sepertinya menjadi hal wajib bagi hampir semua orang, ya. Bahkan punya mobil mengalahkan kebutuhan punya rumah sendiri. Apakah iya sedarurat itu atau hanya terdesak oleh gaya hidup yang berlebihan?
Setelah menikah dan memiliki rumah sendiri, seseorang menganjurkan saya dan suami mengambil kredit mobil supaya uang kami tidak lari ke mana-mana. Iya, sih, uangnya jadi fokus pada tagihan bulanan untuk melunasi kendaraan roda empat tersebut, tetapi, kami masih memikirkannya dua kali, bahkan seribu kali jika perlu. Sebab kami sadar kewajiban haji belum ditunaikan saat itu dan kami takut melakukan perkara riba.
Sadar akan hal itu, saya memutuskan segera membuka tabungan haji bersama suami. Uang tabungan itu didapatkan dari hasil patungan kami berdua. Dari uang tabungan saya yang disisihkan setiap bulan dari sisa uang belanja bulanan dan sebagian memakai uang tabungan suami. Alhamdulillah, niat baik selalu dimudahkan oleh Allah.
Saya tidak khawatir nantinya akan seperti apa. Tidak peduli juga kami akan mampu melunasinya tahun ke berapa dan kapan akan mendapatkan nomor antrean. Yang pasti, niat untuk menunaikan kewajiban sudah terpatri di hati. Saya percaya, Allah akan membantu. Tidak ada keraguan soal itu.
Haji memang wajib bagi yang mampu. Tapi, bagi saya, sejauh ini saya memahami, mampu itu tidak menanti bintang jatuh dari langit, melainkan harus diusahakan semampu kita. Kalau hanya diam dan menunggu, hampir semua orang akan lepas dari kewajiban menunaikan ibadah haji.
Masih lekat di ingatan, tentang ceramah seorang ustadz yang mengisi kajian di tempat saya belajar, beliau mengatakan bahwa haji itu harus diusahakan. Meskipun kita hanya bisa menyisihkan Rp. 5 ribu per hari. Yang penting itu niat dan usahanya. Masalah nanti akan berangkat atau tidak, itu sudah bukan urusan kita. Kewajiban kita hanya berikhtiar semampunya.
Masa kita kalah sama tukang becak yang sehari-hari penghasilannya tak seberapa? Sudah berapa tukang becak yang mampu naik haji dengan cara menyisihkan penghasilannya sehari-hari?
Mendengar kalimat itu, saya pun tertegun. Merasa ditampar keras-keras. Insya Allah, saya dan suami jauh lebih mampu. Lalu kenapa kami menunggu terlalu lama untuk menunaikan niat tersebut? Akhirnya tanpa pikir panjang, niat untuk membuka tabungan haji pun terwujud.
Allah itu Mahabaik. Selang beberapa bulan, Allah memberikan rezeki tak terduga. Kalau diingat, rasanya seperti mustahil terjadi. Tiba-tiba suami mendapatkan rezeki yang dengannya kami mampu melunasi tabungan haji hingga bisa mendapatkan nomor antrean pada 2014 silam. Tidak hanya itu, dengan rezeki tersebut, kedua mertua pun bisa berangkat umroh secepat mungkin tanpa harus menunggu lebih lama.
Mertua saya sangat ingin melihat Ka’bah. Harapan yang terus tertanam di dalam hati mereka, namun tak pernah diutarakan kepada anak-anaknya karena khawatir akan merepotkan. Alhamdulillah, qadarallah, impian itu tak perlu dikubur dalam-dalam, sebab pada akhirnya kedua mertua saya bisa berangkat umroh bersama pada tahun yang sama di mana saya berhasil mendaftar haji.
Awalnya, saya dan suami berniat memberangkatkan mertua naik haji, tetapi mengingat antrean haji yang begitu panjang mengular hingga belasan tahun, rasanya tak tega membuat mereka menunggu terlalu lama.
Tahun 2018, Bapak mertua meninggal setelah sakit beberapa bulan. Meski sewajarnya saya dan suami merasa sedih, tetapi di sisi lain kami merasa bersyukur karena pada akhirnya beliau sudah mendapatkan apa yang sudah lama diimpikan, yakni melihat Ka’bah dan beribadah langsung di sana. Tidak ada kebagiaan yang lebih besar selain itu. Setelah beliau pergi, tidak ada yang bisa kami berikan dan kami lakukan selain memohonkan ampun dan senantiasa mendoakan.
#AyoHijrah ke Arah yang Lebih Baik
Sampai saat ini, saya dan suami belum membeli mobil pribadi. Sebagian orang mungkin gemas, kenapa nggak kredit saja jika bulanan cukup untuk menutupi? Apa susahnya ambil kredit mobil? Hampir semua orang melakukannya, lho!
Tapi, kami tidak. Jujur saja, setelah beberapa tahun menikah, kami belajar tentang banyak hal. Termasuk memahami haramnya riba dalam kredit mobil yang saat ini dilakukan oleh banyak orang, bahkan oleh mereka yang memahami aturan agama Islam itu sendiri. Seolah seperti hal lumrah dan tak patut ditakuti dosanya.
Banyak kejadian buruk menimpa orang-orang di sekitar saya. Mereka yang sering mengambil pinjaman dari bank bahkan untuk urusan yang tidak darurat, hingga mereka yang akhirnya dikejar-kejar hutang karena mengambil kredit mobil mewah, padahal sejatinya tak mampu. Itu cukup jadi pelajaran berharga bagi saya bahwa tidak seharunya kita melanggar aturan yang sudah ditetapkan oleh Allah.
Allah memberikan batasan supaya kita bisa hidup lebih baik. Tapi, kenapa kita senang sekali melanggarnya? Jujur saja, ngeri membayangkan mereka yang siang malam tidur tak tenang karena bingung bagaimana cara melunasi hutang serta bunga pinjaman yang semakin menumpuk.
Kenapa kita harus takut pada riba?
a. Orang yang berani makan riba akan mendapatkan siksaan berat di neraka. Mungkin kita butuh mengingat dan memahami kembali, bahwa pemakan riba itu sangat mengerikan siksanya nanti. Tidak main-main. Lantas bagaimana kita berani melakukan riba?
“Kami mendatangi sungai yang airnya merah seperti darah. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang yang berenang di dalamnya, dan di tepi sungai ada orang yang mengumpulkan batu banyak sekali. Lalu orang yang berenang itu mendatangi orang yang telah mengumpulkan batu, sembari membuka mulutnya dan orang yang mengumpulkan batu tadi akhirnya menyuapi batu ke dalam mulutnya. Orang yang berenang tersebut akhirnya pergi menjauh sambil berenang. Kemudian ia kembali lagi pada orang yang mengumpulkan batu. Setiap ia kembali, ia membuka mulutnya lantas disuapi batu ke dalam mulutnya. Aku berkata kepada keduanya, “Apa yang sedang mereka lakukan berdua?” Mereka berdua berkata kepadaku, “Berangkatlah, berangkatlah.” Maka kami pun berangkat.”“Adapun orang yang datang dan berenang di sungai lalu disuapi batu, itulah pemakan riba.” (HR. Bukhari)
b. Seringan-ringannya dosa riba itu seumpama menzinai ibu kandung sendiri. Betapa beratnya dosa riba sampai-sampai yang paling ringan saja semengerikan itu?
“Riba itu ada tujuh puluh dosa. Yang paling ringan adalah seperti seseorang menzinai ibu kandungnya sendiri.”(HR. Ibnu Majah)
c. Para pemakan riba kelak di hari kiamat diancam dengan perut membesar dan berisi ular-ular. Astahgfirullah.
“Pada malam Isra’, aku mendatangi suatu kaum yang perutnya sebesar rumah dan dipenuhi dengan ular-ular. Ular tersebut terlihat dari luar. Akupun bertanya, “Siapakah mereka wahai Jibril?” “Mereka adalah para pemakan riba,” jawab beliau.”
(HR. Ibnu Majah)
d. Riba akan menghilangkan berkah harta yang kita miliki. Meskipun terlihat lebih banyak, namun kenyataannya justru membuat harta menjadi sedikit. Pengalaman seorang kerabat yang gemar memakan harta riba, tampak mewah, kaya raya, dan punya segalanya dibandingkan yang lain. Sayangnya, ada saja musibah yang membuat mereka kehilangan harta dan tak pernah tanggung-tanggumg jumlahnya. Hal semacam ini bukan lagi kisah fiksi, melainkan kisah nyata yang bisa kita jadikan pelajaran hidup, bahwa mereka yang berani makan riba tentu tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali keburukan yang ditimpakan oleh Allah baik di dunia hingga akhirat.
“Riba membuat sesuatu jadi bertambah banyak. Namun ujungnya riba makin membuat sedikit (sedikit jumlah, maupun sedikit berkah, -pen.).”
(HR. Ibnu Majah)
e. Harta yang kamu infakkan atau kamu sedekahkan dari hasil riba tidak akan diterima oleh Allah meskipun jumlahnya besar sekalipun.
“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia bertambah pada harta manusia, Maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (QS. Ar-Ruum: 39)
Pastinya kita tak ingin menjadi bagian dari orang yang tertolak amalannya karena melakukan riba, mengejar kenikmatan dunia dan melupakan akhirat. Sebab itulah, ada baiknya kita hidup apa adanya asalkan berkah, Insya Allah semua terasa cukup dan nikmat.
f. Tahukah kamu, jika doa mereka yang melakukan riba sulit dikabulkan oleh Allah? Banyak sekali kerugian mereka yang memakan harta riba, tetapi sedikit saja yang sadar akan hal itu. Mereka mengambil jalan pintas, tanpa sadar justru terjerumus dalam kesesatan yang nyata, semakin lama semakin terlena dan tak sadar dengan perbuatan dosa yang telah dilakukannya.
“Wahai Rabbku, wahai Rabbku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?”
(HR. Muslim)
Itulah beberapa alasan kenapa kita harus berhati-hati dengan riba. Saat ini, bunga bank yang sejatinya termasuk riba justru tidak lagi ditakuti oleh sebagian besar orang Islam. Entah karena namanya yang berbeda, tidak memahami, atau pura-pura tidak mengerti sehingga tidak sedikit orang yang pada akhirnya terjerumus dalam dosa riba yang menyesatkan.
Hidup lebih baik bukan karena materi melimpah, melainkan karena hidup menjadi berkah, harta yang dimiliki menjadi alat untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menjauhkan kita dari perkara yang haram. Jangan takut jika kita berbeda dari orang-orang di sekitar kita. Beda itu perlu untuk memisahkan mana yang benar dan salah. Saya berani hijrah ke arah lebih baik, kalau kamu?
#AyoHijrah Bersama Bank Muamalat Indonesia
Pada tanggal 08 Oktober 2018 lalu, PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. me-lauching kampanye #AyoHijrah yang difokuskan pada pengelolaan keuangan yang sesuai dengan tuntunan agama Islam.
BankMuamalat Indonesia merupakan bank pertama murni syariah yang mencoba memperluas fungsi dari yang awalnya hanya menjadi penyedia layanan perbankan syariah, kemudian menjadi agen penggerak semangat umat supaya terus menerus meningkatkan kualitas diri ke arah yang lebih baik. Hijrah di sini bukan hanya tentang ibadah, melainkan juga dalam hal mengelola keuangan sesuai dengan prinsip agama Islam.
Agama Islam adalah agama yang sempurna. Segala hal diatur di dalamnya dengan baik, bahkan dari hal terkecil sekalipun seperti adab ke kamar mandi, adab sebelum tidur, hingga sesuatu yang lebih besar seperti aturan menjalani hidup dengan batasan dan ketentuan yang telah ditetapkan dalam Islam dengan tujuan supaya hidup lebih berkah.
Melalui gerakan #AyoHijrah ini, Bank Muamalat mengajak seluruh marsyarakat untuk hijrah khususnya dalam hal pelayanan perbankan. Membuat kita lebih berhati-hati terhadap riba dan menjalankan syariat Islam dengan kaffah.
Apa Saja Bentuk Gerakan #AyoHijrah yang Digagas oleh Bank Muamalat Indonesia?
Kegiatan #AyoHijrah secara umum dikemas dalam kegiatan-kegiatan mengajak masyarakat untuk terus meningkatkan kualitas diri dalam segala hal, termasuk berpindah menggunakan bank syariah supaya hidup lebih tenang dan berkah pastinya.
Beberapa kegiatan yang sudah dilaksanakan di antaranya,
- Mengadakan seminar atau edukasi tentang perbankan syariah.
- Open Booth di pusat kegiatan masyarakat.
- Mengadakan kajian islami dengan pemateri dari kalangan ulama.
- Memaksimalkan masjid sebagai salah satu agen perbankan syariah.
Kenapa Kamu Harus Hijrah ke Bank Muamalat Indonesia?
Ini alasan kenapa kamu harus hijrah ke Bank Muamalat Indonesia, bukan yang lain.
- Bank Muamalat merupakan bank pertama murni syariah yang telah berdiri sejak lama, yakni sejak tahun 1992.
- Tidak menginduk dari bank lain sehingga terjaga kemurnian syariahnya.
- Pengelolaan dana di Bank Muamalat didasarkan pada prinsip-prinsip ekonomi syariah yang diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah.
- Bank Muamalat memiliki fasilitas lengkap seperti mobile banking, Internet banking Muamalat, jaringan ATM dan kantor cabang hingga ke luar negeri.
Lengkap banget, kan? Jadi, tidak ada alasan lagi untuk menundanya. #AyoHijrah ke Bank Muamalat Indonesia supaya hidup lebih tenang dan berkah. Selaras dengan gerakan #AyoHijrah, beberapa produk Bank Muamalat pun mengalami perubahan nama, lho. Berikut di antaranya,
- Tabungan iB Hijrah
- Tabungan iB Hijrah Haji dan Umroh
- Tabungan iB Hijrah Rencana
- Tabungan iB Hijrah Prima
- Tabungan iB Hijrah Prima Berhadiah
- Deposito iB Hijrah
- Giro iB Hijrah
- Hingga pembiayaan rumah iB Hijrah dengan angsuran ringan yang sedang dalam proses pengajuan kepada regulator.
Dengan gerakan #AyoHijrah yang dicetuskan oleh Bank Muamalat Indonesia, diharapkan nantinya Bank Muamalat dapat menjadi ekosistem ekonomi syariah dan mampu membangun industri yang halal dengan memanfaatkan kemajuan teknologi.
Kamu bisa mempelajari gerakan #AyoHijrah serta produk dan programnya di sini. #AyoHijrah bersama Bank Muamalat Indonesia. Berani lebih baik untuk meningkatkan kualitas diri. Hidup pun Insya Allah menjadi tenang dan berkah.
Salam,
Subscribe to:
Posts (Atom)
Hey there!
Part of



%20Pengalaman%20Menginap%20di%20Ibis%20Trans%20Studio%20Bandung%20dengan%20Cuma-cuma.jpg)
%20Pengalaman%20Menginap%20di%20Ibis%20Trans%20Studio%20Bandung%20dengan%20Cuma-cuma%20(1).jpg)


.jpg)

