Sunday, October 21, 2018

Beda Antara Passion dan Hobi, Ketahui Masing-masing yang Menjadi Kelebihanmu!

Beda Antara Passion dan Hobi, Ketahui Masing-masing yang Menjadi Kelebihanmu!


Apa passion kamu? Lalu apa hobi kamu? Tahukah kamu jika passion dan hobi itu berbeda? Passion adalah sesuatu yang nggak pernah bikin kamu bosan untuk melakukannya, bikin kamu selalu bersemangat dan rela melakukan banyak hal untuk mencapainya.

Sedangkan hobi adalah kesenangan, yang tidak selalu kamu lakukan. Kadang-kadang kamu kerjakan itu, kadang juga tidak. Misalnya saja hobi bernyanyi yang sering kamu lakukan di kamar mandi. Pasti kamu senang melakukannya, tapi kamu tidak ingin melakukan lebih daripada itu. Berbeda dengan mereka yang passion-nya bernyanyi. Mereka rela ikut les, mempelajarinya lebih dalam.


Apa Passion Kamu?


Butuh waktu yang cukup lama untuk mengetahui apa passion saya. Sejak lama, saya melakukan banyak hal menyenangkan untuk mengisi waktu. Apa pun saya lakukan, terutama saat baru menikah dan pindah ke Jakarta. Sambil menunggu suami pulang kerja, saya mengerjakan berbagai macam kegiatan, termasuk sesekali menulis, menggambar, membuat berbagai macam kerajinan tangan seperti membuat bunga dari kertas krep, membuat tas rajut, membuat tas atau celemek dengan sulam pita, sampai pada suatu hari saya juga berjualan barang-barang handmade yang sudah saya buat itu. Betapa banyak kegiatan yang saya lakukan, tetapi saya seringkali bosan melakukan itu dalam waktu cukup lama.

Tahun 2014 saya mulai menulis kembali dengan lebih serius, tapi saya harus berhenti saat itu karena kondisi yang tidak memungkinkan. Saya hamil anak kedua, dan mual-mual parah. Entahlah, saya merasa harus fokus saja dengan kehamilan yang saat itu banyak mengalami masalah.


Setelah anak kedua lahir, drama sakit antara adik dan kakanya cukup menyita waktu. Tak jarang saya juga sering ikut sakit ketika mereka sakit. Saya demam tinggi dan harus menjaga bungsu yang demam juga. Duh, rasanya nggak ada pikiran buat melakukan hal lain lagi saat itu.


Seiring waktu, bungsu semakin besar. Saya merasa sudah banyak waktu longgar. Akhirnya saya mulai membuka akun sosial media. Pertama kali sih dimulai ikut bikin akun di Cookpad dan aktif di sana. Setelah itu, tergelitik kembali menulis. Duh, rasanya kangen banget. Karena sudah lama tidak menulis, jari-jari rasanya sudah kaku banget. Mulai lagi dari nol.


Tapi, dari sinilah saya mulai dan bertahan hingga sekarang. Setelah sekian lama mencoba menekuni banyak hal, barulah saya sadar bahwa passion saya adalah menulis, bukan yang lain. Saat menulis, saya bisa terjaga hingga larut, senang dan bersemangat sekali rasanya. Dan itu bisa bertahan dalam waktu yang lama, susah bosan apalagi berhenti.


Belakangan saya mencoba masuk kelas menggambar. Setelah beberapa kali masuk kelas, jujur saya merasa berat melakukan tugas-tugas itu. Sejak kecil memang suka menggambar, tapi belakangan saya paham kalau itu hanyalah hobi. Menggambar butuh waktu lama, menyita sekali apalagi saya belum mahir. Dan saya sedih sekali melewatkan banyak waktu yang biasanya saya isi dengan menulis.



Passion Bukan Hobi



Hobi berbeda dengan passion. Dan sekarang, saya tahu apa hobi saya, saya paham apa passion saya. Keduanya berbeda. Sesekali saya masih menggambar, bahkan ada tugas terakhir kelas menggambar yang belum rampung….hiks. Kemarin menyempatkan diri, tepatnya memaksakan diri untuk ikut kompetisi membuat lembar aktivitas. Kenapa memaksakan diri? Nggak pede aja ikutan kompetisi seperti ini. Karena selama ini memang belum pernah mencobanya.


Tapi, bukan saya kalau menyerah sebelum mencoba *eaa…haha. Pantang banget buat mundur selama masih punya kesempatan. Dan kemarin baru saja diumumkan siapa pemenangnya. Alhamdulillah, saya menang. Girang banget? Hihi, iya banget dan kaget karena buka pengumuman setelah bangun tidur.

Kompetisi ini diadakan oleh Wonderland Creative untuk merayakan hari jadinya yang pertama. Kompetisi menulis cerpen belum menang, tapi terpilih untuk dibukukan. Menyenangkan sekali kalau semua yang kita usahakan mulai terlihat hasilnya, ya.


Dalam kompetisi membuat lembar aktivitas ini saya menggunakan Ibis Paint X. Ini merupakan aplikasi menggambar yang enak banget buat pemula. Apakah aplikasinya nanti jalan sendiri? Seorang teman pernah bertanya demikian. Tentu saja tidak..hihi. Kita tetap harus menggambar manual seperti biasanya.


Selain Ibis, saya juga biasa menggunakan Medibang. Aplikasi kedua ini bahkan juga dipakai oleh penulis komik untuk membuat buku, lho. Jadi, asalkan kita bisa menggunakannya dengan baik, aplikasi simpel begini bisa banget dipakai untuk apa saja.


Bagaimana cara menggunakannya? Saya pribadi belajar secara otodidak dengan membaca beberapa artikel terkait dan juga menonton videonya di Youtube. Zaman sekarang apa sih yang nggak bisa dicari? Kecuali kita nggak niat mencarinya aja, ya? Hehe.


Sampai sekarang masih suka menggambar, tapi tidak selalu saya lakukan apalagi setiap hari. Sedangkan menulis, selalu saya usahakan setiap hari. Bagaimana dengan kamu? Apakah passion dan hobimu?



Isi Liburan dengan Membuat Roti Karakter Homemade Bersama Si Kecil, Seru dan Mengasyikkan!

Isi Liburan dengan Membuat Roti Karakter Homemade Bersama Si Kecil, Seru dan Mengasyikkan!


Alhamdulillah, kemarin kembali menyalakan oven setelah sekian lama diabaikan, dicuekin. Nggak kebayang bagaimana perasaan si oven saat saya cuekin. Baper nggak, ya? Haha.

Sejak membuka Estrilook.com, rasanya waktu jadi semakin sempit saja. Selain itu, masih banyak tugas revisi naskah, PR kelas menulis dan menggambar yang belum juga dikelarin. Rasanya waktu jadi sedikit sekali. Kalau sudah begini, memang harus pintar-pintar atur waktu biar semua bisa selesai tepat waktu. Kadang ya itu, saya harus mengurangi kegiatan baking yang biasanya lumayan sering saya lakukan.

Nah, kemarin si sulung ada jadwal berenang di sekolah. Tapi, saya tidak bisa mengantar, alhasil dia hanya di rumah saja bersama adiknya. Agak siangan saya ajak membuat roti bersama. Biar dia senang dan nggak bingung ngisi waktu di rumah.

Si sulung ini doyan banget makan roti. Ya roti beli, roti buatan emaknya, pokoknya satu loyang kadang dia yang habisin. Duh, kebayang nggak sih doyannya dia sampai sebegitunya, lho. Kalau sudah makan roti, makan nasinya pun pasti berkurang juga. Tapi, nggak masalah, biasanya saya biarkan saja karena sekarang saya tidak terlalu sering juga bikin roti.

Untuk membuat roti empuk dan mengembang, butuh berapa kali gagal dan jatuh bangun? Hihi. Saya tergelitik membahas ini mengingat ada banyak teman yang mencoba resep saya tapi harus gagal dulu. Yap! Tak terhitung sih berapa banyak adonan bantat dan nggak matang di tangan saya. Nggak terhitung juga berapa kali salah menimbang. Kadang lupa memasukkan air terlalu banyak…hiks.

Semua pengalaman itu justru bisa membuat kita jauh lebih mudah ke depannya saat akan membuat roti lagi. Pengalaman itu bisa jadi pelajaran buat kita. Kalau sebelumnya udah pernah gagal nggak matang padahal warnanya udah cantik, bisa jadi suhu ovennya nggak tepat, ‘kan? Banyak hal bisa banget kamu pelajari dari sebuah kegagalan.

Nah, kali ini saya bikin roti killer soft bread satu kali proofing. Jadi, nggak lama nungguin, setelah diulen sampai kalis, kamu bisa langsung membentuknya dan menunggu proofing selama satu jam atau kurang.

Bahan:
500 gram terigu protein tinggi (Saya pakai Cakra)
8 gram ragi instan
120 air hangat
120 air dingin atau suhu normal
1 sachet susu bubuk
110 gram gula pasir
80 gram butter atau margarin
3 butir kuning telur, beri putihnya sedikit.
Sejumput garam

Cara Membuat:
1. Campur 1 sdm gula pasir bersama ragi dan air hangat. Aduk rata. Cara ini bisa dilakukan juga untuk mengetahui apakah ragi masih aktif atau tidak. Terutama untuk ragi yang sudah lama dibuka kemasannya.

2. Dalam wadah lain, campur terigu, sisa gula pasir, susu bubuk, air dingin, kuning telur, dan campuran ragi yang sudah berbusa (setelah 5-10 menit). Mixer sampai rata.

3. Masukkan butter dan garam. Mixer sampai kalis elastis sehingga adonan bisa ditarik dan dibentangkan hingga tipis tanpa sobek.

4. Bentuk dan beri isian. Tutup dengan kain bersih dan diamkan selama 1 jam atau sampai mengembang dua kali lipat.

5. Panaskan oven 10 menit sebelumnya. Panggang hingga matang kurang lebih 15 menit, tergantung ovennya masing-masing.

6. Setelah matang, keluarkan dari oven dan olesi atasnya dengan butter. Sajikan atau bungkus dengan plastik supaya roti awet dan tidak mengeras saat bersisa.


Voila! Roti satu kali proofing siap disantap bersama si kecil. Mudah banget, ‘kan? Kamu bisa ajak anak-anak membuat roti bentu karakter sesuai dengan keinginan mereka. Kemarin saya membuat bentuk kura-kura. Saya ambil sedikit adonan dan dicampurkan dengan sedikit cokelat bubuk. Lalu gunakan sebagai hiasan baik mata ataupun motif tempurungnya.

Bagaimana, menarik sekali, ‘kan mengisi liburan atau weekend dengan membuat roti homemade? Meski sedikit repot, tapi hal ini begitu mengasyikkan bagi mereka. Yuk cobain resepnya!


Wednesday, October 17, 2018

Hasil Tidak Akan Mengkhianati Usaha, Tidak Ada Perjuangan yang Sia-sia

Hasil Tidak Akan Mengkhianati Usaha, Tidak Ada Perjuangan yang Sia-sia


“Jika ingin rezeki luas, kamu harus mencintai proses, jangan melihat yang instan saja.”

Seperti itulah sepenggal kalimat dari ustadz Arafat, penulis buku ‘Hijrah Rezeki’ yang kemarin diundang ke Wonderland grup dan sharing. Karena disampaikan dengan bahasa yang renyah, jadinya sharingnya jleb tapi menyenangkan sekali untuk didengar.
 
Beliau menekankan satu hal, kebanyakan dari kita tidak memedulikan seberapa besar perjuangan orang untuk sampai pada kesuksesan mereka sekarang, tetapi kita hanya melihat dia yang sekarang. Ya, hanya melihat dia sekarang sudah sukses. Padahal, seharusnya kita belajar dari dia, bagaimana dia menjalani proses yang tidak mudah untuk sampai pada kesuksesannya sekarang.

“Allah mencintai usaha kita. Allah mencintai proses! Karena itulah nanti yang diperlihatkan kepada kita adalah usaha. Yang Allah banggakan di hadapan malaikat adalah usaha! Allah tidak lihat kita sudah berhasil apa belum, sebab yang Allah lihat kita mau usaha apa nggak!”

Jleb. Salah satu kalimat ustadz Arafat mengentak-entak hati saya. Kemudian beliau bertanya lagi, sudah seberapa  jauh usahamu? Sudah berapa kali menerima penolakan? Sudah berapa kali dicuekin? Sudah berapa kali jatuh bangun? Sudah berapa kali tulisan kita dinyinyirin orang?

Bagi sebagian orang pertanyaan ini biasa saja, lewat di gendang telinga dan tidak meninggalkan bekas. Sedangkan bagi saya, pertanyaan itu dalam banget mengingat betapa tidak mudahnya saya untuk sampai pada titik saat ini. Hei, saya belum secemerlang apa, tapi untuk punya buku, diterima penerbit mayor dan buku dipajang di toko buku itu rasanya sudah melampaui mimpi-mimpi saya dulu.

Beberapa hari yang lalu saya membereskan buku-buku di lemari yang sudah penuh sesak. Dan saya menemukan catatan lama. Buku-buku saat saya masih di pesantren dulu. Satu buku berukuran besar, bahkan warnanya sudah kusam. Buku ini berisi sebagian besar catatan saya saat SMA. Tahukah kamu apa isinya? Di dalamnya ada puisi, penggalan kalimat dari beberapa novel dan buku nonfiksi yang pernah saya baca. Sebagian lagi berisi peta mimpi yang kalau dilihat sekarang itu tampak lucu banget, apalagi bahasanya masih alay, bahasa Inggris campur sari pula...he.


Dulu, untuk membeli buku saya tak mampu. Uang bulanan di pesantren hanya cukup untuk makan dan membayar keperluan sekolah. Jika ada uang jajan tersisa, biasanya saya kumpulkan untuk membeli LKS, supaya orang tua saya tidak terlalu berat membayarnya. Saat saya punya kesempatan meminjam buku dari teman, setelah antre panjang dengan santri lain, saya biasanya akan mencatat kalimat-kalimat yang saya suka supaya bisa dibaca berulang-ulang, karena buat punya bukunya nggak mungkin banget.

Saat membuka itu hati berdesir, ingat aja zaman dulu betapa sulitnya, hanya untuk punya buku saja nggak bisa. Tulisan-tulisannya masih jelas terbaca, sebagian sudah berubah warna. Kemudian saya pindah ke peta mimpi. Di sana saya menuliskan mimpi saya, mulai dari usaha, gagal, bangkit, usaha lagi, buku terbit, dan berbagi. Kata-kata itu saya tulis dan saya gambarkan di peta mimpi. Saya buat pada tahun 2008. Berarti sudah 10 tahun berlalu. Masya Allah. Dan semua itu sudah saya dapatkan.

Jika orang tidak mengenal saya, baru bertemu sekarang, ketika saya sudah punya puluhan antologi dan beberapa buku solo, seribu lebih artikel terbit di media online, pasti semua nggak akan ada yang menyangka kalau dulu saya seperti apa, selelah apa. Pernah jatuh dan merasa gagal pada tahun 2014, itu saat saya benar-benar memutuskan berhenti menulis. Benar-benar berhenti. Kalau diingat sekarang, itu ibaratnya kegagalan terbesar saya karena sempat menyerah.


Tahun 2017 saya kembali, memulai semuanya dari nol. Ikutan kelas-kelas menulis online. Pelan-pelan menulis buku lagi, ikut lomba-lomba menulis. Dan sampai sekarang masih saya kerjakan itu semua. Lalu apa yang saya dapatkan? Tentu saja impian sepuluh tahun lalu itu benar-benar sudah nyata. Saya belum jadi penulis profesional, cerpen saya di kelas menulis online saja masih banyak revisi, tapi sekarang sy sudah punya buku, buku saya terbit, sebagian dipinang oleh penerbit mayor setelah mengalami banyak kendala.


Berapa kali kamu ditolak? Berapa kali kamu dinyinyirin, difitnah, dan diremehkan orang bahkan dibohongi? Yang jelas saya sudah alami itu semua. Lucunya, setiap ada orang melakukan hal itu pada saya, dalam waktu dekat, hanya berjarak hitungan hari, qadarallah ada saja buku saya yang di-acc penerbit mayor. Bahkan beberapa hari lalu itu kembali terjadi. Dan ini bukan hanya saya saja yang mengalami, ada juga teman penulis lebih senior juga mengalami hal yang sama. Rasanya lucu, ya. Habis nangis-nangis, sedih, kesal, tiba-tiba naskah kita di-acc penerbit, sedih dan lelahnya hilang semua.

Itulah proses. Panjang, berliku, kadang bikin kita menyerah, pengen berhenti dan menghilang, atau ingin menepi sejenak. Tapi, kalau kita sudah cinta, kita pasti akan kembali lagi. Ketika mendengar sharing dari ustadz Arafat, campur aduk rasanya. Membayangkan banyak masalah yang saya alami selama menulis.

Lalu bagaimana cara menghadapi itu semua? Bagaimana sikap kita ketika didzalimi orang lain? Kita harus percaya kalau dendam itu adalah sifat tercela. Kita nggak boleh dendam sama orang karena itu menghambat rezeki kita. Kita juga nggak akan sakit hati kalau kita nggak mengizinkan itu terjadi. Jadi, ikhlaskan saja, kalau sudah ikhlas berarti tidak usah diungkit dan diingat (baiklah, saya sedang berusaha keras..he).

Bagaimana dengan perjuanganmu? Apa pun yang kamu impikan, jalannya pastilah tidak selalu mudah. Kadang menanjak, kadang menurun, kadang kita harus beristirahat untuk memulihkan tenaga, tapi jangan pernah kamu berhenti. Saat kamu melakukan itu, maka harapan itu sudah tidak berarti lagi. Yuk, gapai mimpimu, jangan mudah putus asa. Kita tidak pernah tahu, pada langkah ke berapa tujuan itu akan kita capai. Bisa jadi hanya kurang satu langkah di depan kita, jika kamu menyerah, bukankah merugi sekali, ya?
 

Sunday, October 14, 2018

Suka Menulis Tapi Bingung Mau Kirim Ke Mana? Cek 7 Penerbit Mayor yang Siap Menerima Naskahmu!

Suka Menulis Tapi Bingung Mau Kirim Ke Mana? Cek 7 Penerbit Mayor yang Siap Menerima Naskahmu!


Punya buku yang diterbitkan di penerbit mayor pastilah impian semua penulis. Karena penerbit mayor punya banyak keunggulan yang bisa membantu mewujudkan impian seorang penulis menjadi nyata. Termasuk mendapatkan penghasilan, buku bisa disebarkan lebih luas sehingga bisa menjangkau pembaca lebih banyak, buku-buku kita bisa berbaris rapi di rak toko buku kesayangan bersama buku-buku para penulis favorit, dan masih banyak alasan kenapa banyak penulis begitu gigih mengirimkan naskah pada penerbit mayor.


Sebelum kamu memutuskan mengirimkan naskah pada penerbit mayor, ada baiknya kamu mengetahui seperti apa karakter naskah yang diterbitkan dan lolos seleksi di sana. Naskah yang ditolak oleh penerbit mayor tidak selalu buruk, kadang memang tidak sesuai saja dengan karakter mereka atau yang mereka inginkan. Jadi, jangan capek mencari jodoh untuk naskah kamu, selama kamu mau berusaha, selama itu pula harapan dan jalan masih terbuka lebar untuk kamu capai.


Selain itu, kamu juga harus mengetahui ketentuan yang mereka berikan. Misalnya jumlah halaman, ukuran, font, dan masih banyak lagi ketentuan yang diajukan oleh penerbit pada mereka yang ingin mengirimkan naskahnya.


Ada beberapa penerbit yang mau menerima rancangan atau outline saja, tetapi ada juga yang hanya menerima naskah lengkap. Buat saya, mengirimkan outline saja memang mudah, tetapi ketika diterima, saya harus menyelesaikan itu, sedangkan bisa jadi saya sedang mengerjakan hal lain. Pernah mengajukan berupa outline yang akhirnya diterima oleh salah satu penerbit mayor, pernah juga mengirimkan naskah lengkap. Nah, menurut saya pribadi, mengirimkan naskah lengkap jauh lebih tenang dan setelahnya pun nggak ada beban lagi.


Nah, buat kamu yang masih bingung mau dikirim ke mana naskah yang telah rampung, yuk, cek beberapa penerbit mayor berikut yang siap menerima naskah kamu!


Quanta


Quanta merupakan salah satu penerbit mayor khusus naskah-naskah islami. Quanta termasuk lini dari Elex Media. Kamu bisa mengirimkan naskah lengkap ataupun berupa outline saja. Mereka menerima naskah anak, naskah fiksi, ataupun nonfiksi.


Berikut alamat email yang bisa kamu gunakan:


linda@elexmedia.id (khusus naskah nonfiksi)

luky@elexmedia.id (khusus naskah nonfiksi)

jarwati@elexmedia.id (khusus naskah anak/Quanta Kids)

dita@elexmedia.id (khusus novel islami)


Elex Kids


Buat kamu yang suka menulis cerita anak, ada baiknya kamu mengirimkan naskahmu pada penerbit mayor satu ini. Sebelum mengirimkan naskah, kamu tentu harus paham seperti apa saja buku-buku yang diterbitkan dan diterima oleh Elex Kids, supaya nanti naskahmu tidak salah sasaran, ya.


Berikut alamat email penerbit Elex Kids yang bisa kamu pakai:

Elexkids17@gmail.com


Ziyad


Pernah membaca buku Ceria Ramadhan? Salah satu penulis beruntung yang masuk dalam buku itu adalah saya. Dan tahukah kamu siapa penerbit buku itu? Yap! Ziyad. Jika kamu punya naskah anak islami, kamu bisa mencoba Ziyad sebagai salah satu alternatif. Kirimkan naskah kamu pada penerbit dan seperti biasa, gunakan kata-kata yang sopan saat mengajukan naskah, ya.


Kirimkan naskahmu melalui email:

publishing@ziyadbooks.com


BIP


Saya termasuk pencinta buku-buku bu Arleen A yang banyak diterbitkan oleh penerbit BIP. BIP menerima berbagai macam jenis naskah, termasuk naskah anak. Kamu bisa cek sendiri syarat-syaratnya di akun sosial media mereka. Untuk mengirimkan naskah anak, kamu bisa kirimkan melalui email berikut:


redaksi.bip.gramedia@gmail.com

redaksi_bip@penerbitbip.id


Jangan lupa isi subjek PN_Fiksi_Anak dan sertakan formulir pengiriman naskah yang bisa kamu dapatkan di bit.ly/formnaskahBIP


Gema Insani


Pasti kamu tak asing lagi dong dengan penerbit satu ini. Kamu bisa mengirimkan naskah bertema parenting, pernikahan, kumpulan kisah inspiratif keluarga, dan perempuan. Kamu juga bisa mengirimkan naskah-naskah anak yang sudah kamu tulis. Tema yang bisa kamu pilih adalah tentang akhlak, aqidah, sirah, ataupun hadits. Syaratnya bisa kamu cek di akun sosial media mereka ya. Berikut email yang bisa kamu gunakan untuk mengirimkan naskah:


penerbitan@gemainsani.co.id


Gramedia Pustaka Utama


Duh, kalau penerbit satu ini sudah nggak asing lagi dong ya buat kamu. Termasuk impian saya banget bisa lolos ke penerbit satu ini. Kamu harus mengirimkan naskan lengkap ke GPU dengan tema seperti hukum, motivasi, traveling, sosial, sains populer, dan pengasuhan anak.


Kirimkan naskahmu ke nonfiksi@gramediapublishers.com

Dan kirimkan naskah fiksi kamu ke fiksi@gramediapublishers.com


Saat ini mereka sedang mencari naskah-naskah nonfiksi dengan tema yang sudah saya sebutkan di atas, lho. So, apa lagi yang kamu tunggu. Lekas kirimkan naskah utuhmu!


Wahyu Media


Wahyu Media menerima naskah-naskah fiksi dan nonfiksi, lho. Kamu bisa mengirimkan naskah-naskah kamu ke Wahyu Media dan jangan lupa cek dulu karakter buku seperti apa yang diterima dan lolos oleh mereka.


Cek syaratnya langsung di website mereka dan kirimkan naskah kamu ke redaksiku@wahyumedia.com


Itulah beberapa penerbit mayor yang bisa kamu pilih untuk naskahmu. Semua penerbit pasti suka dengan naskah-naskah yang telah diketik rapi dan cobalah hindari banyak kesalahan dalam penulisan seminimal mungkin. Kamu juga pasti males dong membaca buku yang berantakan? Sama juga dengan mereka. So, persiapkan naskahmu dengan sebaik-baiknya dan carilah jodoh terbaik untuk mereka!


 

Saturday, October 13, 2018

Minder Kirim Naskah ke Penerbit Mayor? Cobain 5 Penerbit Indie Super Kece Ini dan Ketahui Perbedaannya!

Minder Kirim Naskah ke Penerbit Mayor? Cobain 5 Penerbit Indie Super Kece Ini dan Ketahui Perbedaannya!
Photo on Unsplash


Setelah merampungkan naskah pertama, ada baiknya kamu segera mengirimkannya kepada penerbit. Kadang kamu dilema, mending kirim ke penerbit mayor atau penerbit indie? Nah, kira-kira apakah kamu sudah tahu perbedaan di antara keduanya?


Penerbit indie adalah sebuah alternatif menerbitkan buku dari penulis sendiri. Artinya, kamu sendiri yang memutuskan akan menerbitkan buku itu. Jumlah cetakan buku juga biasanya disesuaikan dengan jumlah pesanan (POD), beban biaya biasanya ditanggung oleh penulis meskipun saat ini juga ada yang bersedia menerbitkan secara cuma-cuma lewat jalur seleksi, dan lagi, buku-buku yang diterbitkan indie biasanya penjualannya hanya melalui media online, tidak dijual di toko-toko buku favoritmu.


Sedangkan penerbit mayor biasanya mencetak buku-buku yang telah diseleksi secara masal dan menjualnya di toko-toko buku seperti yang sering kamu lihat saat berkunjung ke toko buku kesayangan.


Tentu saja penerbit mayor juga punya banyak perbedaan dengan penerbit indie. Di antaranya adalah memberikan royalti kepada penulis, editor akan jadi partner kamu hingga bukumu lahir, penerbit mayor biasanya menanggung semua biaya cetak dan distribusi ke toko buku, buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit mayor biasanya dicetak masal minimal 1000 buku, tidak hanya bisa dibeli online, buku-buku yang terbit mayor juga bisa kamu beli langsung di toko buku kesayangan.


Lalu, mana sih, yang paling cocok buat penulis terutama yang pemula? Menurut saya, keduanya sama-sama oke, tergantung kamu memilihnya. Toh, keduanya memang punya keunggulan masing-masing. Tapi, ada baiknya kamu mengirimkan naskah itu pada penerbit mayor terlebih dahulu, tunggu 3-4 bulan sampai ada kabar atau tarik naskahmu setelah melewati waktu yang ditentukan, perbaiki apa yang menurutmu masih kurang, kemudian kirimkan lagi ke penerbit lain.


Tapi, jika kamu memang ingin menerbitkan buku ke penerbit Indie, beberapa penerbit ini bisa jadi pilihan yang sangat menarik, lho.


Bitread


Pernah dengar nama ‘Bitread’? Yap! Bitread adalah salah satu penerbit indie yang cukup populer terutama di kalangan penulis pemula seperti saya. Menerbitkan buku di sini sungguh menarik. Bukan hanya bisa menerbitkan buku secara cuma-cuma, mereka juga bakal bikinin cover gratis yang super kece. Kalau penulis merasa kurang klik dengan cover mereka, kamu bisa kok mengajukan lagi dan meminta mereka mengubahnya.


Ada beberapa buku yang saya tulis sendiri ataupun antologi yang terbit di Bitread. Kamu cukup mengirimkan naskahmu sesuai ketentuan. Bitread menyediakan template sendiri yang bisa kamu gunakan, kemudian kamu bisa mengirimkannya dan tunggu antrean buat segera diproses.


Kamu nggak perlu membayar sepeser pun untuk menerbitkan buku kecuali kamu memesan ISBN. Harga mengurus ISBN di Bitread sebesar Rp 200 ribu. Setelah semua dirapikan oleh mereka, kamu bakalan dapat konfirmasi sebelum bukumu terbit. Jadi, kamu bisa cek dulu seperti apa bukumu nanti. Jika masih ada kesalahan dalam penulisan ataupun letak, kamu masih bisa memperbaikinya.


Nanti bukumu akan dicetak sesuai pesanan dan spesialnya, mereka nggak membuat batasan untuk itu, lho. Kamu bisa pesan berapa pun. Sebelumnya kamu bisa adakan PO dan mereka bakalan bikin gambar yang kece untuk media promo kamu. Buku yang sudah kamu pesan biasanya akan ready setelah 7-9 harian.


Kamu bisa cek dan mencoba mengirimkan naskahmu ke sini.


Choco Books


Jika kamu punya naskah nonfiksi, kamu bisa banget mengirimkan naskah itu kepada salah satu penerbit indie yang mengkhususkan dirinya pada kategori nonfiksi. Yap! Namanya Choco Books.


Choco Books merupakan salah satu penerbit indie yang menerima naskah nonfiksi lewat jalur seleksi. Jadi, naskah kamu harus lolos seleksi dulu sebelum diterbitkan. Di sini, buku kamu bakal diterbitkan secara cuma-cuma. Per 2019, jika naskah kamu mencapai batas minimum pemesanan, nantinya mereka akan menerbitkan secara masal dan memasukkannya ke toko-toko buku kesayangan. Wah, pasti kece banget, ya?


Satu naskah nonfiksi saya juga lolos seleksi ke Choco Books dan sedang proses editing. Kamu juga pengen? Cek syaratnya.


1. Siapkan naskah yang sudah diketik rapi, pastikan itu bukan plagiat dan ketik di Microsoft Word ukuran A4, spasi 1,5, TNR 12, dan rata kiri dan kanan.

2. Naskah kamu memiliki tebal 70-100 halaman.

3. Jangan lupa lampirkan proposal naskah, sinopsis, biodata penulis, dan jadikan dalam satu file.

4. Cantumkan akun sosial media kamu seperti Instagram, Facebook, dan blog.

5. Kirimkan naskahmu ke redaksichocobooks@gmail.com. Jangan lupa isi subjek dengan Judul Naskah_Nama Penulis_Jenis Naskah.

 

Kamu bisa cek langsung langsung ke webnya ya.


AT Press


Apakah kamu punya naskah fiksi dan merasa pengen diterbitkan pada penerbit indie? Bisa jadi AT Press jawabannya, lho. Telah memiliki beberapa cabang di Nusantara, AT Press punya beberapa paket penerbitan berbeda.


Kamu bisa menerbitkan dengan membayar langsung, bisa juga gratis tapi dengan syarat naskah kamu menarik, diketik rapi, dan pastinya bikin editor tertarik meminang naskahmu. Tapi, jika naskahmu tidak lolos seleksi, kamu bisa memilih beberapa paket penerbitan yang mereka miliki. Harga yang mereka tawarkan pun cukup terjangkau, lho.



Wonderland Creative


Bukan hanya membuka kelas-kelas menulis berkualitas, Wonderland Creative yang didirikan oleh Wulan Mulya Pratiwi, seorang penulis berbakat dalam segala bidang ini juga membuka penerbitan indie, lho. Bagi kamu yang sering ikut kelasnya Wonderland, pasti nggak asing lagi dengan buku-buku terbitan mereka yang murah tapi nggak murahan.


Saya pribadi punya beberapa buku antologi yang diterbitkan di Wonderland Creative. Jika kamu punya naskah anak, Wonderland Creative juga bisa menerbitkannya untukmu. Jangan khawatir, mereka juga punya kerjasama dengan para illustrator, lho. Jadi, bukumu bakalan kece banget di sini.


Untuk kelas-kelas khusus yang diadakan oleh Wonderland, biasanya mereka akan mengadakan proyek antologi yang nantinya bakal diterbitkan oleh Wonderland Creative sendiri, dan itu cuma-cuma saja. Biasanya kita cukup membeli 2-3 buku kita sendiri.


Nah, kalau kamu pengen menerbitkan naskah kamu, cobalah hubungi Mbak Wulan dan diskusikan naskahmu, siapa tahu kamu berjodoh. Untuk harga menerbitkan buku, kamu bisa menanyakan langsung di akun Facebook beliau, ya.


Loka Media


Menjadi bagian tak terpisahkan dari Choco Books, Loka Media yang bekerjasama dengan beberapa toko buku ini menerima naskah fiksi lewat jalur seleksi. Jadi, Loka Media adalah penerbit indie khusus naskah-naskah fiksi tak berbeda dengan Choco Books yang mengkhususkan diri untuk naskah-naskah nonfiksi. Bedanya hanya pada penerimaan jenis naskahnya saja.


Kamu bisa cek langsung ke website mereka untuk mengetahui seperti apa Loka Media. Buku-buku yang mereka terbitkan punya cover-cover super kece, lho. Cobain, siapa tahu naskahmu berjodoh dengan penerbit ini.


Itulah beberapa perbedaan antara penerbit Indie dan penerbit mayor serta beberapa penerbit indie yang bisa saya rekomendasikan. Kira-kira mana yang sesuai dengan diri kamu? Semua penerbit ini pasti punya keunggulannya masing-masing. Dan yang terpenting adalah kamu harus punya naskah lengkap dulu dong sebelum kepo dengan kelimanya. Yuk, tulis bukumu. Minimal satu buku sebelum mati, kamu pasti bisa mewujudkan itu, insya Allah!


Thursday, October 11, 2018

7 Trik Menulis Buku Solo, Babat Kemalasan dan Gapai Impianmu!

7 Trik Menulis Buku Solo, Babat Kemalasan dan Gapai Impianmu!


Siapa sih yang tidak mau punya buku solo? Bahkan satu buku saja seumur hidup itu sudah lebih dari cukup. Saya pun, saat baru mulai meniti karier di dunia literasi, rasanya punya buku solo itu serba mustahil dan sulit. Impian punya buku solo rasanya hanya milik mereka yang sudah cemerlang dan tenar. Sedangkan saya? Bahkan menulis cerpen saja masih belepotan.


Tapi, ternyata anggapan seperti itu tidaklah benar. Meskipun buat memulainya tidaklah mudah, tetapi siapa pun yang berniat dan berusaha pastinya bisa banget punya buku solo. Terutama saat ini banyak banget penerbit mayor dan indie yang ramah buat para penulis pemula.


Waktu masih di pesantren, dengan hanya menulis di buku, saya berhasil menyelesaikan beberapa novela dan kumpulan cerpen. Cerita ini sering saya ulang karena saya mau menunjukkan, ini, lho saya yang dulu, yang nggak punya fasilitas cukup, tetap bisa menyelesaikan beberapa buku hanya bermodalkan buku tulis dan pena. Dan sekarang? Teman-teman bahkan punya lebih dari apa yang saya punya. Terutama sekarang akses internet bisa sangat membantu, kelas-kelas menulis online bisa diikuti dengan mudah baik yang berbayar mapun yang free, dan lagi, banyak komunitas menulis yang bisa menjaga nyala dalam hati kita, supaya impian itu tetap hangat dan segera menemui jalannya.


Rasanya malu kalau sekarang saya malas-malasan, betapa impian bertahun-tahun lalu begitu sulit saya capai, tetapi tak sedikit pun saya ingin menyerah. Sekarang saya sudah punya laptop buat menulis, akses internet begitu mudah dan membantu, tapi kadang saya masih malas buat memulai, rasanya malu banget pada ‘saya’ sepuluh tahun silam. Menulis tema ini serasa menampar diri sendiri. Duh, malu banget.


Belakangan banyak sekali penulis yang ingin mewujudkan impian menulis buku solo. Senang mendengar dan ikut mendoakan semoga mimpi itu segera terwujud dengan izin Allah. Dan kira-kira apa saja yang perlu kita lakukan supaya bisa merampungkan sebuah buku?

 

Tentukan Ide dan Carilah Referensi Sebanyak-banyaknya

 
Saat akan menggarap sebuah novel, Tere Liye mengatakan dia butuh waktu lebih banyak untuk mengumpulkan referensi ketimbang saat menulis naskahnya. Dan itu memang benar sekali. Jika ide sudah ditentukan, dan referensi sudah kamu dapat sebanyak-banyaknya, kamu akan lebih mudah menuangkannya dalam bentuk tulisan.


Referensi bisa kamu dapatkan dari mana saja, buku, obrolan dengan teman lama, dari internet, film, dan banyak sekali sumber lain yang bisa kamu ulik. Jadi, jangan malas mencari sumber atau referensi, ya. Cari sebanyak yang kamu bisa, jangan malas dan cobalah kumpulkan apa pun yang kamu temukan untuk bahan tulisanmu nanti.


Buatlah Outline dari Naskah yang Akan Kamu Kerjakan


Outline itu apa? Rancangan. Jika kamu mau membuat sebuah buku, cobalah tentukan ide dan tema apa yang akan ditulis. Setelah ide itu matang dan telah mencari referensi cukup, maka saatnya kamu membuat outline supaya naskahmu bisa dikerjakan dengan lebih mudah dan nggak berantakan.


Outline itu penting dan akan sangat membantu, lho. Jadi, sebaiknya buat saja oulitne ini. Bikinnya gimana? Buatkan mulai dari bab pertama, kemudian berikan sub judul pada masing-masing bab. Begitu seterusnya sampai bab terakhir. Itu jika bukumu termasuk nonfiksi. Jika fiksi? Buatlah bab per bab juga dengan jalan cerita sesuai keinginan kamu. Jika kumpulan cerita anak? Sebaiknya kumpulkan cerita per tema, misalnya khusus dongeng fabel atau yang lainnya.


Buat Jadwal dan Terget Harian
 

Setelah outline kamu selesai, saatnya kamu mengerjakan naskah kamu. Buatlah jadwal harian, berapa bab bisa kamu kerjakan dalam sehari? Jika kamu sanggup menyelesaikan satu bab per hari, berarti dalam sebulan kamu bisa menyelesaikan 30 bab. Wah, keren banget, ‘kan?


Jadi, sebaiknya kamu perhitungkan jangan terlalu memaksa, karena aktivitas lainnya pun harus tetap berjalan. Hidupmu bukan hanya sekadar tentang buku solo saja. Ada cucian menumpuk, ada setrikaan menjulang, duh jadi ingat kerjaan saya belum beres…hihi.


Satu bab dalam sehari itu sudah lebih daripada cukup. Yang masalah jika kamu sama sekali nggak mau memulai, tetapi pengen punya buku. Itu masalah banget. Jika sudah ketahuan dalam sehari berapa bab yang bisa kamu selesaikan, berarti kamu juga akan tahu, kapan buku solomu bakalan rampung. Bisa sebulan, dua bulan, atau lebih.


Berikan Hukuman Jika Kamu Melanggar
 

Jika dalam sehari kamu harus menyelesaikan satu bab, kemudian kamu tidak menepati, baik karena malas ataupun karena alasan lain yang tidak bisa ditinggalkan, maka hari berikutnya kamu harus membayar itu. Itu hukuman buat kamu karena kamu telah melanggar targetmu sendiri.


Memangnya harus, ya? Harus dong kalau kamu mau bukumu beres dan beneran jadi. Itu selalu saya lakukan setiap membuat buku. Ketika membuat buku tanpa bimbingan orang lain, maka kita sendirilah yang harus pandai-pandai menjaga komitmen itu. Kalau ada yang mengingatkan mungkin bakalan lebih mudah, tapi kalau hanya kita saja yang tahu? Satu-satunya jalan ya kita sendirilah yang harus belajar menepati dan menghukum diri sendiri jika melanggar.


Konsisten Itu Tidak Mudah, Tetapi Bukan Tidak Mungkin

Jangankan untuk membuat buku solo, untuk belajar menulis saja kita harus konsisten sejak awal. Harus menulis setiap hari itu keharusan banget buat penulis, menurut saya. Kalau lama nggak nulis, keahlian itu bakalan memudar, bikin malas, jadi bosan, susah semangat, dan banyak hal negatif yang bakal menghinggapi.


Karena itulah, konsisten itu amat sangat diperlukan. Kalau kamu konsisten mengerjakan satu bab setiap hari dan membayarnya ketika terpaksa tidak mengerjakan, maka bukumu bakalan lahir dalam waktu yang tepat seperti yang sudah kamu tentukan. Kalau kamu nggak konsisten, bisa jadi waktu setahun pun nggak akan pernah cukup buat kamu menyelesaikan buku itu. Jadi, konsisten dan komitmen itu wajib banget hukumnya.


Jangan Malas Mengedit Naskahmu Sendiri
 

Setelah naskah kamu selesai, cobalah tinggalkan sebentar. Lupakan dulu naskah itu, seminggu kemudian kamu bisa mengedit dan membacanya kembali. Setelah mengendapkan naskah, kamu bisa menemukan kesalahanmu dengan lebih mudah.


Meski terkesan remeh, tetapi hal ini cukup penting. Jadi, jangan terburu-buru, endapkan dulu  naskahmu sebelum mengeditnya. Setelah itu, kamu edit sebisamu dan semampumu. Kenapa harus diedit, bukannya penerbit juga punya editor yang nantinya akan mengedit naskah kita?


Ada beberapa orang beranggapan seperti itu. Tapi, berbeda dengan saya. Editor itu kerjaannya nggak sedikit. Dan tahukah kamu berapa jumlah naskah yang masuk ke penerbit? Pasti banyak banget. Kalau kamu mengirimkan tulisanmu yang acak-acakan itu pada penerbit, kira-kira sanggup nggak sih bersaing dengan naskah lain yang lebih rapi? Kalau saya pribadi akan menjawab tidak.


Sejak membangun Estrilook dan mulai me-review artikel teman-teman, saya jadi lebih peka dan mengerti, betapa beratnya tugas seorang editor. Pantas saja editor Estrilook sering ngeluh kalau kebagian naskah dari penerbit yang cukup berantakan, karena bikin pusing banget. So, ada baiknya kamu memperbaiki tulisanmu sebaik mungkin sebelum memutuskan mengirimkannya pada penerbit baik indie ataupun mayor.


Biarkan Naskahmu Mencari Jodohnya

Jodoh itu adalah sebuah misteri. Sudah ditentukan, tetapi susah banget ditebak oleh manusia. Begitu juga dengan jodoh naskah kita. Saya, punya naskah yang berhasil saya rampungkan tahun 2014. Naskah itu sudah masuk antrian cetak dan sudah ber-ISBN. Sebulan, dua bulan, naskah itu tak kunjung ada kabar. Setahun kemudian, tetap saja tak ada kemajuan. Dan akhirnya saya mencoba mengikhlaskan.


Tahun 2017, saya kembali menanyakannya pada salah satu penulis senior yang bertanggung jawab menerima naskah itu. Kamu tahu apa katanya? Naskah itu gagal terbit dan dia tak pernah berusaha mengabari saya. Sakit? Luka? Mungkin jika rasanya seperti sakit fisik, ngilu dan perihnya seperti luka yang dikucuri air jeruk nipis dan ditaburi garam. Naskah pertama saya, impian terbesar saya gagal terbit setelah bertahun-tahun menunggu.


Kemudian saya biarkan. Saya kembali menulis naskah baru. Satu buku solo berhasil lahir dan terbit indie. Kemudian menyusul buku solo berikutnya yang dipinang oleh penerbit mayor. Kemudian terpikir untuk mengirimkan naskah lama yang gagal terbit ke penerbit lain. Dan tahukah kamu? Dua bulan setelah mengirimkan naskah, ternyata naskah itu di-acc dan sedang dalam proses editing saat ini. Saat menerima kabar itu, saya menangis dan rasanya hampir tak percaya. Dua hari yang lalu menyusul kabar bahagia lagi, naskah nonfiksi saya kembali lolos seleksi dan akan diterbitkan. Padahal awalnya akan saya terbitkan sendiri karena merasa naskah itu tak pantas terbit di penerbit lain, nggak pede aja. Tapi, editor Estrilook lebih maksa, dia suruh kirim ke penerbit lain. Dan Alhamdulillah, karena Allah buku itu lolos seleksi.


Dan seperti itulah perjalanan mencari jodoh dari naskah kita. Jika kamu sudah berhasil merampungkan, kamu kirim ke penerbit yang sesuai dengan naskah kamu, kemudian jangan pernah berpikir untuk menunggunya apalagi menanyakannya ke penerbit. Biarkan saja dia mencari jodohnya sendiri. Jika dalam 3-4 bulan belum ada kabar, kamu bisa kirmkan surat penarikan dan kirimkan kembali naskahmu pada penerbit lain. Selama menunggu, kamu harus menulis lagi di sela kesibukanmu yang lain. Dan jangan lupa, banyakin doanya, banyakin sedekahnya sambil menunggu bukumu di-acc.


Berat nggak sih ceritanya? Apakah cukup memotivasi atau justru bikin kamu jadi takut? Hihi. Jangan pernah takut bermimpi, bermimpi itu gratis, tapi buat mewujudkannya memang kamu harus membayarnya dengan proses yang kadang tidak selalu mudah, tetapi itu tak pernah mustahil.


Semoga cerita ini bisa membuat kamu lebih semangat dan percaya diri, setelah ini buku solomu akan rampung dan berbaris rapi di rak toko buku kesayangan kamu. Senang banget kalau bisa melihat buku sendiri dipajang di sana. 


Jika kamu telah berhasil menyelesaikan naskahmu, kasih hadiah dong buat diri kamu sendiri. Kalau saya? Saya membeli dua buku Tere Liye, ‘Pergi’ dan ‘Pulang’. Itu hadiah karena saya berhasil menyelesaikan sebuah buku beberapa bulan lalu. Dan sekarang, insya Allah akan memulai outline baru. Kamu bisa memberikan hadiah berupa apa pun pada dirimu sendiri.

 
Yuk, ah semangat. Ngapain sih malu-malu bermimpi, toh kita tidak sedang mencuri hak orang lain, kita sedang membangun rumah kita sendiri, impian yang bakal bikin senyummu semanis gula batu…hihi. Selamat berjuang!

 

Monday, October 1, 2018

9 Penderitaan yang Akan Kamu Rasakan Ketika Memutuskan Jadi Penulis, Masih Sanggup Bertahan?

9 Penderitaan yang Akan Kamu Rasakan Ketika Memutuskan Jadi Penulis, Masih Sanggup Bertahan?


Kemarin sempat membaca postingan Bu Arleen A, seorang penulis buku anak super kece yang pernah saya tahu, tergelitik setelah membaca satu per satu bagian yang membuat saya harus mengatakan bahwa semua itu memang betul sekali adanya.


Menjadi penulis itu memang nggak main-main, tidak hanya sekadar menulis cerita saja, lho. Ada banyak hal yang perlu teman-teman tahu, mengenai penderitaan di balik semua kesuksesan dan ketenaran seorang penulis. Rupanya ada duka, ada luka, dan bahkan sakit hati yang kadang sulit dilupakan.


Setelah melalui banyak hal sulit, saya harus percaya bahwa tidak ada orang yang benar-benar mudah untuk kita percaya. Ya, memercayai orang itu, yang hanya sekadar kita temui di media sosial, ternyata sangat  tidak mudah. Nggak gampang bilang si A baik, saya pikir butuh waktu lama untuk membuktikan itu semua. Tapi, bukan hak kita juga mengatakan seseorang itu buruk. So, yang paling penting adalah bagaimana kita bersikap kepada orang lain, bagaimana kita berbuat, bagaimana kita memperlakukan orang lain, dan selebihnya kamu pasti tahu bahwa Allah itu nggak tidur, melihat siapa yang sebenarnya melukai dan dilukai. 

Ada orang yang mungkin pernah mengalami ini, ada juga yang merasa karier kepenulisannya lancar dan mulus aja, tetapi nggak sedikit juga yang merasakan pahitnya.



Selalu Dianggap Paling Tahu Padahal Belum Tentu

Kebayang nggak sih, kita yang sebenarnya kadang punya pengetahuan pas-pasan kemudian dianggap paling tahu banyak hal? Apalagi saya selama ini lebih banyak otodidak ketika mempelajari sesuatu, kadang suka bingung kalau ditanya soal teori. Jadi penulis memang sering dianggap paling tahu segalanya, ya. Memang menyenangkan bisa dianggap seperti itu, jadi tempat bertanya, inbox dan wapri masuk banyak banget, tetapi intinya cuma satu, mereka menganggap kita paling tahu banyak hal. Saya pribadi nggak akan malu kalau memang nggak tahu jawabannya, bisa nanya ke google dulu sebelum menyerah, atau langsung bilang aja, “Coba kamu cari sendiri di google.” Hehe. Sadis nggak, sih?


Ditolak Itu Menyakitkan, Tetapi Nggak Bikin Kapok

Saya yang masih pemula entah sudah berapa kali merasakan penolakan dari penerbit ataupun media online. Ditolak itu memang menyakitkan, tetapi karena saya merasa itu hal wajar dan artinya naskah saya memang tidak layak, hal berikutnya yang harus saya lakukan adalah belajar memperbaiki semuanya. Jangan sampai saya kirim lagi, kemudian ditolak lagi, ‘kan?


Bagi yang ingin menjadi penulis, jangan jadikan penolakan dari penerbit sebagai sesuatu yang akan mematahkan semangat untuk mewujudkan impian kamu, ya. Ditolak itu hal biasa, kamu bisa kirimkan lagi. Penerbit juga senang dengan penulis yang pantang  menyerah. Dan lagi, penulis-penulis terkenal yang bukunya banyak dipajang di toko buku, kebanyakan dulunya juga pernah ditolak, lho. Bahkan nggak cukup ditolak sekali. Gimana, masih pengen jadi penulis?


Menunggu Itu Kadang Memang Menyebalkan

Jika kamu punya pengalaman menerbitkan naskah atau buku di penerbit mayor, kamu pasti nggak asing lagi sama yang namanya menunggu. Setelah berbulan-bulan kita selesaikan naskah, yang artinya itu bukan waktu sebentar, kemudian kita harus menunggu lagi selama beberapa bulan supaya tahu apakah naskah kita ditolak atau diterima. Lalu, kabar baiknya naskah kita diterima setelah menunggu selama 2-3 bulan. Lama, ya?


Setelah itu, naskah kita nggak bakalan secepat kilat terbit, lho. Proses editing juga memakan waktu cukup lama. Setelah semua siap, kamu harus menunggu antrean. Kadang bahkan setelah antre bertahun-tahun justru nggak terbit. Ini fakta banget dan pernah saya alami.


Makannya, ketika kita selesai mengirimkan naskah, jangan ditanya kapan itu diterima, kapan akan terbit. Biarkan saja waktu yang menjawabnya … hihi. Saya percaya, setiap tulisan itu pasti ada pembacanya. Jangan pesimis, tapi optimislah dan bayangkan bahwa buku kamu pasti akan terbit meskipun harus menunggu lama, bahkan bertahun-tahun untuk mencari jodohnya.

Sabar Itu Mahal Harganya!

Selain harus menunggu lama, kamu juga harus sabar dengan tidak terlalu banyak bertanya, kapan. nih terbit? Jadi terbit nggak, sih? Sudah hampir setahun kok belum ada kabar? Duh, capek nungguinnya.


Pliss, sabar! Kadang menyebalkan juga mendengar pertanyaan yang sama setiap hari. Lalu bagaimana jika editor atau penerbit yang mendengarnya? Bisa-bisa naskah kita dikembalikan, ya?


Pelajaran banget buat kamu yang memutuskan menerbitkan buku di penerbit mayor, yang namanya menunggu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun itu adalah hal yang wajar banget terjadi. Banyakin aja doanya, banyakin juga sedekahnya, semoga buku yang kamu tulis dengan susah payah itu bisa segera terbit pada saat yang tepat!


Diminta Sharing Padahal Suka Mati Gaya di Depan Publik

Berbagi pengalaman atau cerita di balik terbitnya sebuah karya adalah hal yang wajar. Tapi, tahukah kamu jika bicara di depan orang banyak ternyata tidak selalu dikuasai oleh semua penulis? Bahkan sekadar sharing online aja bikin keringat dingin, lho.


Saya setuju banget pada poin ini yang ditulis oleh bu Arleen dalam postingannya. Saya pribadi termasuk orang yang nggak bisa tampil di depan banyak orang, karena itu saya menulis. Sulit bagi saya untuk tidak gugup, tapi saya menjadi begitu berani ketika menulis. Saya merasa luar biasa ketika menuliskan banyak hal. Jika dipaksa bicara di depan orang banyak, itu benar-benar penderitaan buat saya!


Dikejar-kejar Deadline

Pasti nggak enak banget kerja sambil dikejar-kejar deadline. Kadang kita memang merasa diburu-buru banget ketika menyelesaikan naskah. Karena itu, saya pribadi sekarang lebih suka mengirimkan naskah lengkap ketimbang hanya sekadar rancangan saja. Karena apa, karena kadang mood buat menyelesaikan tema itu juga sudah berubah, kadang ya nggak enak banget diburu-buru. Mending saya rampungkan dulu, baru kemudian saya kirimkan. Selebihnya, tinggal revisi pada bagian tertentu saja.


Dianggap Punya Banyak Buku dan Suka Diminta Oleh Orang Terdekat

Tahukah kamu jika penulis itu sebenarnya sama seperti kalian semua? Kita hanya punya beberapa bukti terbit dan selebihnya jika kami ingin lebih, sama seperti kamu, harus membelinya juga.


Tapi, kadang orang menganggap kita punya buku banyak banget, sehingga dengan ringan mereka meminta buku pada kita. Apalagi bagi pemula, royalti kadang juga belum seberapa, kemudian dimintai buku dari orang sejagad maya, gemas nggak sih?


Plis, belilah buku kami jika kamu memang merasa kita sahabatan *ngancem..haha.


Bertemu Penerbit atau Orang yang Tidak Amanah

Dunia literasi itu kejam! Saya setuju banget dengan kalimat ini. Bagi kita yang pemula, yang sangat berharap buku bisa terbit dan dibaca banyak orang, ternyata kadang harus berhadapan dengan penerbit atau orang yang nggak amanah.


Dan ini memang real banget terjadi dalam dunia literasi. Orang yang kadang kita lihat baik, yang sangat kita harapkan bantuannya justru nggak amanah dan tiba-tiba menghilang serta sulit dihubungi. Tahu-tahu aja kita sudah di-unfollow dan di-delete padahal dia duluan yang dulu ngajak berteman. Nyesek banget nggak sih ketemu orang begini? Lebih parahnya dia masih punya kewajiban yang harus dipenuhi pada kita yang masih prematur di dunia literasi ini? Harus dikejar ke mana orang seperti ini?


Jika pun kita bicara pada semua orang tentang siapa dia, mungkin justru malah kita kali yang dianggap jelek dan buruk karena hampir semua orang melihat dia super duper baik.


Atau, buku yang janji akan diterbitkan, kemudian dalam kurun waktu berbulan-bulan bahkan hampir setahun nggak juga ada kabar, padahal kita sudah memenuhi persyaratan. Ketika kita bicara dan menagih hak kita, kadang tetap kita, lho yang kelihatan salah.


Mereka dengan santai mengatakan sedang menunggu naskah lain dari penulis dalam sebuah antologi bersama. Dalam waktu berbulan-bulan? Melewati deadline? Lucu banget, sih. Tapi, fakta ini memang nyata banget. Buat saya, orang yang amanah itu nggak akan begini. Pasti bakalan dikabari jika ada buku terbit, pasti bakalan ditunjukkan kemajuan dari naskah kita, meskipun itu berjalan lambat, pasti bakalan dikabari kalau naskah gagal terbit, nggak membiarkan penulis bertanya-tanya apalagi sampai buruk sangka. Tapi, itulah dunia literasi. Kadang kita harus bertemu orang yang tidak amanah dan hanya memanfaatkan kita. But, Gusti Allah mboten sare. Allah melihat siapa yang sedang dilukai dan siapa yang sedang melukai.


Sakitnya Dibully Senior hingga Diabaikan

Emang ada ya penulis senior membully juniornya? Lucu nggak sih mendengar poin terakhir ini? But, ini beneran terjadi, lho. Saya pikir, nggak semua senior suka melihat juniornya berhasil apalagi sampai melambung tinggi. Bagi sebagian orang itu menyakitkan. Padahal, seharusnya itu menjadi kabar baik. Senang dong juniornya berhasil? Kan itu juga bagian dari keinginannya saat membimbing juniornya dulu, ‘kan?


Atau diabaikan? Keduanya sama menyakitnya, lho. Semoga jika suatu saat kita sudah senior, jangan merasa berat ketika junior kita lebih sukses daripada kita. Jangan abaikan mereka yang butuh kita bimbing, sebab senior pun dulunya pernah junior, ‘kan? Kenapa juga harus melakukan hal menyakitkan itu pada orang lain?


Nah, dari sekian banyak penderitaan yang saya jabarkan, mana yang menurut kamu paling menyakitkan? *eh maksudnya mana yang pernah kamu alami selama ini? Yang pasti, meskipun harus menghadapi banyak hal sulit, menulis itu tetap menjadi sesuatu yang paling menyenangkan buat saya. Dan bisa jadi juga buat kamu. Apalagi ketika tahu buku kita akhirnya terbit setelah bertahun-tahun melalui medan sulit.