Tuesday, February 5, 2019
7 Kesalahan Blogger Pemula yang Harus Kamu Hindari Jika Ingin Naik Kelas
![]() |
Bicara tentang kesalahan, sebenarnya melakukan kesalahan nggak melulu membuat seorang gagal meraih impiannya. Justru dari kesalahan itulah kita belajar membenahi. Jangan melulu menganggap kesalahan atau kegagalan hanya memberikan dampak negatif dalam kehidupanmu, sebab jika kita pandai mengambil hikmah, pastilah ada ‘sesuatu’ yang bisa kamu ambil makna positifnya.
Begitu juga ketika kamu baru ngeblog. Jangan takut melakukan kesalahan sehingga kamu nggak pernah berani memulai. Entah merasa malu, nggak pede, menganggap tulisanmu belum bagus, dan banyak banget alasan lain yang dulunya malah nggak pernah saya pikirkan, lho.
Di zaman secanggih seperti saat ini, ketika internet begitu mudah dijangkau, informasi begitu gampangnya dicari, dan interaksi dengan sesama blogger menjadi satu hal yang nggak sulit didapat, seharusnya blogger pemula punya stok semangat dan rasa optimis lebih dong. Iya, harusnya kamu dan saya bisa menjaga ‘nyala’ dalam mimpi itu supaya jangan sampai redup.
Saya yakin, hanya sedikit yang mengharap materi dari ngeblog. Kebanyakan dari kita para blogger pemula hanya berharap bisa membagikan sesuatu yang bermanfaat serta menyalurkan hobi sehingga menjadi me time yang nggak mahal, tapi menyenangkan banget.
Yang namanya membangun komunitas itu pasti bakalan bertemu dengan banyak penulis yang punya latar belakang berbeda. Kebanyakan dari blogger pemula yang saya temui selalu punya alasan untuk menyerah. Yup! Seharusnya alasan yang membuat kamu gagal itu dijauhkan sejauh-jauhnya supaya nggak jadi penghalang bagi mimpimu yang mulai tumbuh dan menjadi kuncup.
Nah, kira-kira kesalahan apa yang perlu kamu benahi ketika berniat menjadi blogger yang bisa naik kelas, minimal nggak jalan di tempat?
1. Banyak membuat alasan
Entah kenapa kebanyakan dari blogger pemula itu seneng banget bikin alasan yang membuat mereka jadi enggan menulis dan update postingan di blognya. Alasannya bisa bermacam-macam, mulai dari malas, nggak bisa mengatur waktu, atau nggak pede dengan tulisannya sendiri.
Saya selalu katakan, jangan terlalu banyak mikir ketika menulis. Tulis dan selesaikan. Edit dan terbitkan. Sebab terlalu banyak menimbang akan membuat kamu gagal menyelesaikan tulisan. Ya, tugas penulis itu sebenarnya simpel. Selain rajin membaca, kamu hanya perlu menulis, menulis, dan menulis! Jangan dibikin berat dengan berbagai macam alasan apalagi kalau blog kamu sudah rapi dan siap diisi.
2. Menunggu sempat, bukan menyempatkan
Sama seperti membaca Alquran, kalau kita hanya menunggu sempat, pasti nggak akan ada waktu untuk membacanya. Berbeda ketika kita memang sengaja menyempatkan dan meluangkan waktu untuk membaca dan mengkaji Alquran, Insya Allah justru Allah lapangkan waktu kita.
Nggak berbeda dengan menulis. Menunggu sempat itu adalah sebuah kemustahilan. Sebab hampir semua dari kita sudah pasti sibuknya minta ampun, ya. Apalagi buat kamu yang bekerja. Iya, kalau saya hanya IRT dan di rumah saja. Tapi, bagi yang kerja sekaligus jadi IRT, pasti nggak mudah meluangkan waktu.
Tapi, jika kita memang berniat ingin menjadi blogger, sebaiknya atur waktu dan bikin jadwal menulis supaya blog kamu tetap update. Seminggu minimal satu postingan bisa, kan? Sesuaikan dengan padatnya kesibukan kamu, sebab kamu bukan saya, bukan juga orang lain. Kamu sendiri yang paling tahu seberapa besar kemampuanmu dalam mengerjakan sesuatu. Jangan pula memaksa jadi orang lain, sebab itu hanya bikin capek. Jadilah diri kamu sendiri dan berbanggalah dengan usaha serta kerja kerasmu selama ini!
3. Terlalu banyak pertimbangan
Padahal tulisanmu sudah rampung, tetapi karena terlalu banyak pertimbangan, akhirnya malah nggak selesai. Hapus, tulis lagi. Mikir, hapus, tulis lagi. Kapan selesainya?
Menulis di blog memang bebas, tetapi kamu pasti sudah tahu batasannya dong. Selama nggak keluar dari batasan itu, kenapa harus berlama-lama memikirkannya? Edit dan segera terbitkan. Biarkan pembaca yang menilainya.
4. Nggak percaya diri
Mungkin saya termasuk orang yang sangat dan sangat kepedean, termasuk ketika menulis topik ini…kwkwk. Kayaknya nggak pernah minder aja selama belajar menulis sejak zaman masih di pesantren hingga sekarang. Saya selalu percaya diri dengan tulisan saya, bahkan ketika cerpen saya dibaca langsung oleh Asma Nadia dan sedikit ditertawakan di depan publik…hihi. Saya merasa nggak ada yang salah dengan semua itu selama bukan sesuatu yang negatif, kenapa harus malu?
Masalah bahasanya masih kaku, kalimatnya masih pendek, dan ceritanya masih begitu saja, itu bukan suatu hal yang perlu dipikirkan. Sebab masalahmu itu akan hilang seiring berjalannya waktu. Semakin sering menulis, semakin baik pula hasilnya. Dan menurut saya, itu bisa kamu cuekin sambil lalu.
Pede aja, apa susahnya, sih? Saya berkali-kali gagal dan kalah dalam sebuah kompetisi lomba menulis di beberapa penerbit mayor. Nggak terhitung berapa banyak naskah saya yang ditolak karena pastinya belum pantas untuk menang. Tapi, qadarallah, Allah nggak pernah bikin saya minder hanya karena saya sering banget kalah. Saya percaya, usaha itu nggak akan sia-sia, kok. Terbukti, 2017-2018, beberapa naskah saya terpilih sebagai salah satu pemenangnya dan sekarang sudah dibukukan dan mejeng di toko buku.
Nah, itulah proses. Siapa yang mampu melewatinya, dialah pemenangnya. Sebab kita nggak pernah tahu, pada langkah ke berapa kemenangan itu akan kita raih. Jangan-jangan hanya selangkah lagi di depan kita. Siapa yang tahu?
5. Malas mencari tahu
Ketika banyak orang sibuk bertanya, seorang yang memang serius ingin belajar pasti mati-matian mencari tahu. Zaman sekarang apa yang nggak bisa dicari di Google? Kalau hanya tutorial membuat blog mah nggak perlu sampai ikutan kelas berbayar hingga ratusan ribu…hihi.
Kadang gemas dan super gemas jika kita-kita yang ngakunya blogger dan suka membaca kadang malas banget membaca bahkan sekadar peraturan Blogwalking misalnya. Ya ampun, ini jadinya curhat, ya…kwkwk. Karena kebetulan setiap Senin dan Kamis saya atau teman saya sesama tim di Estrilook akan memposting peraturan blogwalking di Grup, nah, rupanya kami harus berkali-kali mengingatkan mereka tentang ini dan itu padahal sudah ada aturannya yang super panjang dan detail banget! Kita sampai gemas. Kamu boleh jadi pemula, tapi nggak ada alasan buat malas mencari tahu.
6. Enggan berlatih
Impian kamu sudah bagus, tetapi latihan kamu hanya sebulan sekali? Jangan harap kamu bisa berhasil di kemudian hari *Jahad! Haha. Iya, dong. Kalau kamu mau sukses, apa pun impian kamu, pastinya kamu harus banyak berlatih. Sebab bermimpi saja tidak akan membawamu pada kenyataan manis itu.
Latihan merupakan bagian dari proses yang harus kamu lalui ketika ingin jadi blogger yang baik. Selain banyak berlatih, kamu juga butuh belajar dari blogger lain yang lebih senior. Kamu bisa membaca blog-blog mereka atau ikutan komunitas blogger. Simpel, kan?
7. Blog penuh dengan curhatan
Curhat di blog itu nggak salah. Benar, karena saya juga sering melakukan itu. Tapi, usahakan curhatan kamu dibalut dalam tema yang lebih menarik dan bermanfaat. Misalnya ketika saya mau curhat soal anak-anak yang sering banget kejang demam, maka saya memilih menulis dengan tema Tips Tetap Tenang Saat Anak Kejang Demam atau saya akan mengulas apa kejang itu dan bagaimana mengatasinya.
Jangan bikin blog jadi kaku seperti artikel di media, sebab ciri khas blog memang terletak pada cerita-cerita personalnya. Tapi, kalau mau lebih baik, memang harus pandai-pandai menulis tema, jangan asal curhat aja, ya.
Semoga setelah membaca postingan ini kamu nggak pengen nge-getok saya yang dianggap sangat menyebalkan dan sok tahu…kwkwk. Apalagi kamu juga tahu sendiri saya pun masih amatiran. Tapi, Insya Allah, apa yang saya sampaikan panjang lebar itu memang benar adanya.
Yang bisa mengubah kamu adalah diri kamu sendiri. Bukan orang lain. Cobalah benahi manajemen waktumu dan luangkan waktu satu jam sehari untuk berlatih menulis. Awalnya pasti harus dipaksa dulu, setelah terbiasa, semua akan berjalan lebih mudah bahkan lebih dari apa yang kamu pikirkan.
Salam,
Saturday, February 2, 2019
Mengajarkan Anak Mencintai Dunia Literasi Sejak Dini
![]() |
| Photo on Unsplash |
Alby adalah sulung saya yang sekarang berusia delapan tahun. Saat usia dua tahun, dia bahkan sudah menghapal kalimat-kalimat dalam buku-buku yang sering saya bacakan meski sebenarnya dia belum bisa membaca. Itu karena setiap hari saya bacakan buku, nggak nyangka sampai masuk TK dia semakin antusias belajar membaca.
Jika kebanyakan anak-anak belajar membaca dengan mengeja, lain dengan Alby. Seingat saya, saya tak banyak mengajarkannya membaca, begitu juga di sekolahnya. Semuanya berjalan santai. Tetapi, masuk TK B, masya Allah tiba-tiba dia sudah bisa membaca dengan lancar tanpa mengeja. Sempet takjub juga waktu dia membaca buku pertamanya sendiri, yakni buku cerita Spot dan Arlo. Belakangan saya membaca postingan teman, ternyata anak yang sejak kecil sering dibacakan buku, dan dikenalkan dengan buku akan lebih mudah belajar membaca ketimbang yang tidak. Sepertinya alasan inilah yang menyebabkan kenapa Alby bisa membaca tanpa repot diajari.
Lain cerita lagi ketika sudah kelas dua SD seperti sekarang, bukan lagi senang membaca, Alby sudah mulai suka menulis cerita. Sebelum tahu kalau ibunya suka ngeblog, dia sudah menghabiskan banyak buku untuk menulis dan menggambar. Dulu waktu masih TK, dia suka membuat komik. Sekarang dia lebih suka menulis cerita pendek dan mulai merengek minta dibikinin blog.
Awalnya saya pikir buat apaan? Lagian dia belum butuh juga. Tapi, lama-lama mikir juga, kenapa nggak? Toh semua tetap dalam pengawasan kita sebagai orang tua. Tanpa berlama-lama, akhirnya saya pun membuatkannya blog yang nggak jauh beda dengan blog emaknya, biar happy!
Bagi yang penasaran dengan tulisan Alby, bisa baca di sini. Baru ada beberapa postingan di sana. Saya juga membatasinya memegang laptop sehingga kebanyakan dia harus menulis di buku tulis. Bukan bermaksud pelit, tetapi anak seusianya masih butuh mengembangkan motorik misalnya saja dengan banyak berlatih menulis. Gurunya juga sudah berpesan supaya anak-anak sering disuruh latihan menulis di buku karena banyak yang belum rapi.
Akhirnya seperti kebiasaan yang lalu, dia tetap menulis di buku kesayangannya, kemudian saya memindahkannya atau jika ada waktu dia boleh memindahkannya sendiri. Menulis pun tak boleh mengalahkan rutinitas lain seperti menghapal Alquran atau belajar. Dia tetap bisa melakukannya, tetapi selesaikan dulu kewajiban yang lain.
Kegiatan menulis sebenarnya memang tak bisa dipisahkan dari kegiatan membaca. Alby termasuk anak yang suka sekali membaca. Setiap ke toko buku, kami bisa menghabiskan uang lebih banyak untuk membeli buku daripada belanja hal lain. Kadang dia membeli buku sendiri dengan uang tabungannya. Nggak sayang uangnya buat beli buku? Dia pasti bilang nggaklah. Kan dia suka…hehe.
Jika tidak ada buku baru, buku lama baginya adalah buku baru juga. Dia bisa membaca bukunya sampai berkali-kali apalagi yang dia suka. Berawal dari suka membaca, saya percaya dia semakin mudah menuliskan kalimat demi kalimat dalam ceritanya.
Sebulan yang lalu kalau nggak salah, di sekolah ada tugas menulis cerita saat liburan. Masing-masing anak pasti ceritnya seru banget, ya. Sedangkan Alby waktu liburan nggak banyak pergi ke mana-mana karena Ayahnya juga sempat repot waktu itu. Qadarallah nggak nyangka juga, ternyata tugas ini dilombakan dan Alby dapat juara III.
Diam-diam dan tanpa sengaja sebenarnya saya sudah mengajarinya mencinta dunia literasi sejak kecil. Melihat saya suka beli buku dan membaca buku, pastilah menular juga. Begitu juga sekarang dengan adiknya yang masih tiga tahun. Setiap mau tidur harus dibacakan beberapa buku. Semua mengalir saja dengan sendirinya tanpa ada paksaan. Nyaman dan santai.
Menulis sebenarnya banyak sekali manfaatnya, termasuk mengutarakan perasaan yang tak bisa disampaikan kepada orang lain. Saya pun dulunya suka sekali menulis buku harian, hingga buku harian di rumah banyak bukan main. Karena saya terlalu pemalu untuk bicara dan mengungkapkan banyak hal. Dengan menulis semua menjadi lebih mudah.
Buat teman-teman yang ingin mengajarkan anaknya belajar mencintai dunia literasi, coba beberapa tips ini.
Jangan segan membeli buku untuk anak-anak sedini mungkin
Ngapain beli buku banyak-banyak padahal anaknya aja masih belum bisa membaca? Justru karena masih kecil, kita buat mereka akrab dengan buku. Apalagi zaman sekarang di mana gadget begitu mudah dijangkau. Gantikan dengan buku yang bisa mengisi hari-hari mereka tidak hanya dengan cerita, tetapi juga dengan pengatahuan.
Bacakan buku minimal sebelum tidur meski anak belum bisa membaca
Maka jadilah orang tua yang gemar membacakan buku untuk anaknya jika ingin anak-anak mencintai buku. Semua itu bisa dilakukan dengan kebiasaan kecil seperti rutinitas membacakan buku atau bercerita sebelum tidur. Sampai saya dan si bungsu punya cerita yang baginya sangat menarik, yakni kisah kelinci kecil yang tak lain adalah dirinya. Dia suka sekali dengan cerita yang saya buat. Sekali-kali jangan malu mendongeng dengan penuh ekspresi, ya!
Jangan melulu membelikan komik
Komik itu memang seru dibaca, tetapi jika ingin anak-anak benar-benar suka membaca, sebaiknya belikan buku sesuai usianya selain komik. Satu atau dua komik di lemarinya bolehlah, tapi jangan terlalu banyak karena nanti dia akan capek dengan buku yang jarang ada gambarnya seperti chapter book untuk anak usia lebih besar.
Berikan teladan bagi anak-anak
Jika ingin anak-anak suka membaca, ibu juga harus suka membaca meski itu sekadar buku resep masakan, ya...haha. Sebab satu teladan lebih baik daripada seribu nasihat. Jangan sampai emaknya banyak nonton drama Korea, kemudian mengharap anaknya suka buku. Kayaknya itu kurang tepat, ya!
Biarkan mereka menulis ceritanya sendiri!
Jangan banyak mengubah apa yang sudah mereka tulis. Sesekali saya hanya membenarkan huruf kapital setelah tanda titik atau menambahkan spasi pada penggunaan ‘di’ yang kurang tepat. Saya tidak ikut campur dengan alur cerita yang sudah dibuatnya, itu bukan hak saya sebagai pembaca. Biarkan mereka berimajinasi tanpa batas sesuai usianya.
Berikan pujian atas usahanya
Hargai mereka yang telah dengan susah payah membuat ceritanya sendiri, jangan merendahkannya meski tulisannya belum sempurna. Bahkan kita yang dewasa juga belum tentu bisa menulis seperti dia, lho. Jadi, jangan pernah lupa memuji usahanya itu!
Itulah beberapa tips yang bisa kamu coba untuk melatih anak mencintai dunia literasi dan buku sejak dini. Jangan lupa, belanja buku setiap main ke mall supaya mereka tahu bahwa membeli buku itu menyenangkan, lho. Berikan juga dia kesempatan untuk memilih buku yang disukai, jangan selalu memaksakan kehendak. Selamat bersenang-senang dengan anak dan tumpukan buku penuh imajinasi di dalamnya!
Salam,
Thursday, January 31, 2019
Waffle Pancake Durian, Empuk Berhari-hari
Jenis makanan apakah ini? Kenapa ada waffle tapi berbentuk pancake? Hihi. Ini sungguh pancake yang super empuk dan enak banget dari segi rasa juga. Sebenarnya, awalnya saya memang membuat adonan waffle, sudah dicetak dan dipanggang dua kali, kemudian sisa adonan saya masukkan ke dalam kulkas dengan catatan tetap ditutup. Kenapa dimasukkan kulkas? Karena mau dipanggang semua sayang kalau nggak langsung dimakan. Jadi, niatnya mau dipanggang malamnya pas suami datang. Ternyata setelah memanggang lagi untuk suami, adonannya masih nyisa juga. Akhirnya masuk kulkas lagi sampai hari ketiga belum juga saya sentuh.
Nah, karena sudah tiga hari, takut keburu basi dan nggak enak, saya pun akhirnya memanggangnya sampai habis tapi dengan teflon mini saja, malas keluarin cetakan waffle lagi..hihi. Akhirnya jadilah waffle pancake super empuk ini!
Kebetulan ada durian di rumah. Malam sepulang dari kantor, paksu bawa durian 3 buah. Banyak juga. Dimakan begitu saja sudah bosan duluan. Meskipun doyan, tapi kalau kebanyakan ya auto nggak kuat. Atau memang kami hanya sekadar suka aja kali, ya? hehe. Akhirnya kepikiran untuk dibuat isian pancake yang ternyata enak banget dan pas di lidah. Biar beda aja saat dikonsumsi, biar nggak bosan dan nggak eneg. Anak-anak pun jdi tertarik buat menyantapnya :)
Nah, buat teman-teman yang suka durian dan mau mencoba, silakan cek resep lengkapnya, ya!
Bahan biang:
1 sdt ragi instan
2 sdm gula pasir
8 sdm air dingin
4 sdm tepung terigu
½ sdt baking powder
Bahan adonan:
3 butir telur
125 gr tepung terigu
½ sdt garam
1 bungkus santan kara ukuran kecil
30 ml air
50 gr mentega atau margarin, lelehkan
150 gr gula halus atau 140 gr gula pasir
Sedikit vanilla essence
½ sdt baking powder
Bahan isian:
Secukupnya susu kental manis
Secukupnya daging durian
Cara membuat:
1. Campurkan seluruh bahan biang hingga rata. Diamkan selama 15 menit.
2. Mixer telur dan gula halus sampai mengembang dan kental.
3. Masukkan terigu, vanilla cair, garam, baking powder, dan bahan biang. Mixer kecepatan rendah sampai rata.
4. Masukkan santan, air, dan mentega cair. Aduk rata dan jangan over mix. Diamkan selama 30 menit.
5. Panaskan teflon, olesi dengan margarin. Tuang satu sendok sayur adonan ke dalamnya. Setelah bagian permukaan berlubang dan mulai kering, balik dan angkat setelah matang.
6. Ingat, gunakan api kecil saja supaya adonan tidak gosong, ya.
7. Untuk bahan isian, aduk rata susu kental manis dan duriannya.
8. Oleskan bahan isian pada lembaran pancake yang sudah matang. Sajikan!
![]() |
![]() |
Voila! Waffle Pancake Durian buatanmu pun siap dihidangkan untuk keluarga tercinta. Kuy, isi duriannya yang banyak biar lebih nendang. Asli pancake ini empyuuk banget dan bisa dinikmati terutama di musim hujan seperti sekarang. Lihat aja penampilannya cakep dan legit banget, kan? Satu potong nggak akan pernah cukup, deh. Harus berpotong-potong biar puas..hehe.
Jika adonan kamu masih tersisa, silakan disimpan di kulkas dalam keadaan ditutup. Tapi, jangan lebih dari 3 hari, ya. Khawatir sudah tidak enak lagi nantinya. Gimana, gampang banget kan dibuatnya? Insya Allah antigagal deh asal kamu mengikuti step by stepnya :)
Selamat mencoba ya dan tetap happy saat baking dan bereksperimen di rumah!
Salam,
Wednesday, January 30, 2019
3 Tempat Paling Memikat yang Harus Kamu Kunjungi Meski Hanya Sekali Seumur Hidup
Jangan tanya sudah berapa tempat yang saya kunjungi, sudah berapa pulau yang saya datangi, jangan tanya, sebab saya bukan seorang traveler sejati. Saya hanya gadis kecil yang bermain sekadar keluar teras saja was-was minta ampun, khawatir, dan takut berlebihan. Sebab itulah, ketika dewasa dan menetap di Jakarta, saya tak banyak keinginan melancong ke mana-mana, lebih nyaman di rumah meski kadang suka iri juga lihat teman-teman yang lain berpose penuh tawa saat traveling.
Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Ibu Kota, rasanya ini mimpi. Kenapa anak kampung bisa sampai Jakarta? Stres bukan main dan butuh waktu lama banget untuk adaptasi. Sampai akhirnya jatuh sakit berkali-kali. Penyebabnya salah satunya adalah stres karena harus bertemu dengan orang-orang baru, termasuk suami yang baru saja kenal…kwkwk.
Namun, tahukan kamu, gadis kecil yang hanya kenal orang tua dan teman dekatnya ini tidak pernah malu bermimpi meski pada kenyataannya semua orang dengan lantang mengatakan ITU MUSTAHIL! Jadi, meski dunia saya terbatas hanya begitu saja, akan tetapi impian saya melaju secepat angin, menemui banyak hal yang bisa jadi tidak pernah dibayangkan oleh orang lain *eaa.
Lahir dan besar di Malang tidak berarti saya sering jalan-jalan ke kota Malang. Saya ingat, hanya sekali main ke Malang saat SMA, itu pun bersama guru saya di pesantren. Kali kedua saya pergi bersama teman kalau nggak salah waktu masih STIKK demi bertemu almarhumah Ratna Indraswari Ibrahim yang saat itu menjadi satu-satunya penulis yang bisa saya tanya-tanya, Masya Allah.
Siapa sangka, gadis penakut ini justru sampai pada tempat-tempat melampaui impiannya. Lalu, apa saja tempat-tempat paling memikat yang harus kamu kunjungi juga?
1. Kota Suci Makkah
Sebagai seorang muslim, saya yakin, semua dari kita sangat ingin berkunjung ke kota suci Makkah. Tak terkecuali saya. Tapi, ibadah umroh bukan satu hal yang utama waktu itu sebab ada yang lebih baik diperjuangkan terlebih dahulu, yakni kewajiban menunaikan ibadah haji.Setelah Allah mudahkan mendaftar haji dengan masa tunggu yang lumayan banget yakni sampai 15 tahun, Allah kembali memberikan kejutan dengan keberangkatan saya, suami, dan anak-anak untuk melaksanakan ibadah umroh bersama. Nggak pernah kebayang bisa semudah dan secepat ini prosesnya. Sebelumnya, saya tak henti berdoa semoga Allah berangkatkan kami berempat umroh dalam waktu dekat. Qadarallah, Allah kabulkan dalam waktu secepat itu tanpa diduga.
Kami berangkat akhir Februari 2018 silam. Berangkat dari Jakarta bersama rombongan dari Malang. Yup! Saya memakai travel dari Malang karena keberangkatan kami bersama keluarga besar dari Malang juga. Rasanya gimana? Deg-degan banget karena belum pernah melakukan perjalanan sejauh ini, apalagi harus bawa dua anak, yang satu bahkan terbilang masih bayi pula…hehe.
Dengan pesawat Turkish Airlines, kami berangkat malam hari dari Jakarta menuju Turki selama kurang lebih 12-13 jam perjalanan. Sebelum melaksanakan ibadah umroh, kami traveling dulu di Turki dan menginap selama 3 hari 2 malam. Selepas dari Turki kami ke Madinah, barulah kami melaksanakan ibadah umroh serta berkunjung ke Makkah.
Masya Allah, buat kami yang muslim, tidak ada kota impian seindah kota suci Makkah. Tiba tengah malam di kota Makkah langsung menuju hotel tempat kami menginap. Kebetulan kami menginap di Swissotel Makkah yang terletak di gedung Zam Zam Tower. Setelah makan, kami langsung bersiap untuk melaksanakan ibadah umroh.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di Masjidil Haram, sebab letak hotel kami yang sangat dekat. Melihat Ka’bah di depan mata, hal pertama yang terjadi adalah menangis. Allah, begitu baiknya Engkau membawa kami ke sini dengan begitu mudah. Masih suka nggak percaya aja bisa sampai ke sana bareng anak-anak dan suami.
![]() |
Kota suci Makkah itu indahnya bukan main. hati deg-degan nggak ada habisnya setiap satu jengkal demi sejengkal langkah menyentuh lantai masjid. Mata terus panas berair penuh haru.
Selama di sana, kami nggak banyak jalan-jalan jauh. Kayaknya waktu cepat banget bergulir, tiba-tiba saja sudah masuk waktu Dhuhur, tiba-tiba saja sudah Ashar. Dan kami harus datang lebih awal ke Masjidil Haram jika ingin kebagian tempat di depan.
![]() |
Lucunya di Swissotel Makkah, ada menu khusus buat anak-anak. Nggak hanya ada aneka cake dan roti yang mungil, bahkan telur rebusnya pun berwarna warni. Tempatnya dipenuhi sama balon dan beberapa koki memakai pakaian lengkapnya. Buat yang bawa anak kecil seperti kami, pasti sangat membantu menghibur mereka banget.
Kota Suci Makkah menjadi salah satu tempat paling memikat yang harus kamu kunjungi. Pliss, jangan segan meminta pada Allah, sebab Allah pemilik segala yang di langit dan bumi. Sulit bagi kita, tetapi tidak bagi Allah. Jadi, memohonlah tanpa keraguan sedikit pun.
2. Kota Madinah
Selepas dari Turki, kami mengunjungi kota Madinah. Kota paling tentram dan tenang menurut saya. Suasananya itu kalem dan adem banget. Tempat di mana Rasulullah saw dimakamkan. Tempat di mana kamu akan sangat merindukannya tiada henti.
Hotel kami pun tak sejauh apa, cukup dekat dengan masjid Nabawi. Di sini, saya berani pergi ke masjid Nabawi sendiri. Berbeda ketika di Makkah yang benar-benar takut nyasar kalau sampai nggak bareng yang lain.
Biasanya saya berangkat bersama suami dan anak-anak. Anak-anak dibawa suami, dan saya sendiri. Nanti kita janjian di pintu yang sama. Karena saya orangnya kurang 'peka' sama lokasi, jadi rasa takut itu ada ketika harus sendirian di tempat asing.
![]() |
Dan tahukah kamu, betapa luas dan megahnya masjid Nabawi itu? Rasa kagum tak habis-habisnya. Banyak Askar masih remaja, tetapi suaranya lantang banget dan super galak terutama ketika kita mau ke Raudhah. Ya, saya bisa kebayang kalau jadi mereka pasti gemas banget sama jamaah dari negara lain selain Indonesia yang susah banget diatur. Disuruh antri, askar meleng dikit mereka udah nyerobot lari. Subhanallah, lucu dan bikin gemas..haha. Bahkan sempat ada kejadian di mana ada jamaah dari negara lain yang marah pada pemilik travel yang kami ikuti hanya karena ingin maju sedangkan kami berjuang berdesakan dan memberikan tempat lebih dulu pada lansia. Kejadian ini sempat bikin nangis orang-orang juga. Kenapa ibadah harus dilakukan dengan cara seperti itu? Bukannya sok baik, tapi ngapain gitu ibadah dengan cara menyakiti orang?
Nah, kalau masjid-masjid di Indonesia kadang ada yang melarang membawa anak-anak, lain lagi dengan di Madinah. Anak-anak justru begitu disayang, setiap pemeriksaan, para askar menyapa ramah pada anak-anak. Mereka yang membawa anak pasti akan diutamakan, jadi, jangan khawatir, justru semua jadi sangat dimudahkan.
![]() |
Ketika shalat, nggak sedikit anak-anak yang teriak nyaring banget, nangis kenceng banget sampai lari-larian. Nggak ada yang marah, orang tua mereka menjaga sebisanya sambil shalat. Bahkan pulang dari shalat berjamaah nggak sedikit yang membagikan uang atau cokelat kepada anak-anak. Nggak kebayang betapa indahnya kalau bisa menikmati Ramadhan di sana. Semoga suatu hari bisa merasakannya, Insya Allah.
3. Turki
Mimpi apa kamu gadis penakut kenapa bisa sampai ke Turki? Mimpi yang tak pernah takut didengungkan kayaknya, ya…hehe.
Kami sampai di Turki saat Shubuh. Tiba di bandara dan langsung shalat. Sombong ya di bandara bilang nggak dingin, mana buktinya katanya dingin? Biasa aja padahal katanya sedang musim salju. Hampir semua orang berkomentar begitu. Tapi, pihak travel hanya tertawa, “Tunggu setelah keluar.” sambil tertawa.
Sebelum menuju bus, kami berkenalan dulu dengan guide bernama Ilker yang asli orang Turki. Setelah itu, kami pun keluar dari bandara menuju bus bersama.
Dan, OMG itu dinginnya minta ampun padahal nggak ada salju juga yang kelihatan di luar. Anginnya nusuk dan mulut langsung berasap…haha. Anak-anak langsung mirip boneka beku. Keluar dari bandara bersama guide kita langsung naik bus tanpa istirahat dan langsung traveling mengunjungi beberapa tempat. Sebelumnya sempat sarapan buat mengganjal perut.
![]() |
Mungkin saya termasuk yang beruntung bisa di Turki dalam waktu cukup lama yakni sekitar 3 hari 2 malam. Berpindah-pindah hotel beberapa kali karena travel bisa jadi mempertimbangkan juga dengan lokasi paling dekat dengan beberapa wisata yang akan kami kunjungi. Selebihnya kami makan dengan dengan menu yang lebih layak buat orang Indonesia...kwkwk. Yang selalu bilang kangen nasi dan sejenisnya. Di hotel sudah pasti menunya lebih beragam, sedangkan sisanya kami makan di rumah makan yang menjual menu Indonesia. Lumayan meski tak semewah rasa khas Indonesia banget.
Banyak banget bangunan bersejarah yang berdiri di sisi kanan dan kiri jalan. Setiap melintasi tempat-tempat tertentu selalu dibuat takjub bukan main. Sayangnya, karena musim dingin, jujur saja jadi kurang menikmati apalagi si bungsu udah mulai pilek waktu itu. Rasanya semua dari kami pengen banget cepat masuk bus supaya bisa menghangatkan badan…haha.
![]() |
Ke mana saja di Turki? Nggak berbeda dengan travel lainnya, kami mengunjungi Masjid Biru, museum Topkapi, Grand Bazaar, Hagia Sophia, gunung bersalju Uludag, naik kapal melihat selat Bosphorus, museum Panorama, dan beberapa tempat lainnya.
Yang datang ke Turki pas musim semi pasti bahagia banget karena bakalan banyak bunga tulip di sana. Yup! di Turki biasa mengadakan festival tulip. Kamu bisa melihat bermacam-macam tulip di sini. Di mana-mana pasti banyak banget tulipnya. Semoga suatu saat bisa ke sana lagi saat musim semi, Insya Allah.
Tahukah kamu jika Tulip sebenarnya bukan berasal dari Belanda melainkan dari Turki? Nah, itu dia kenapa di Turki ada festival tulip yang begitu megah karena memang asal tulip itu dari Turki. Guide kami juga berkisah tentang hal serupa. Kalau kamu googling, bakalan muncul tuh sejarah yang sebenarnya. Selain pemimpinnya yang dikenal shaleh, Turki juga menyimpan banyak sejarah termasuk sejarah penaklukan Konstantinopel oleh sultan Al Fatih.
Nah, ini dia beberapa tempat yang sempat kami kunjungi saat berada di Turki
Masjid Sultan Ahmed (Masjid Biru)
Karena musim dingin, ragu banget mau beli es krim Turki yang terkenal lengket itu. Namanya Dondurma. Akhirnya kami hanya membeli Simit si roti keras khas Turki yang berbentuk bulat dengan olesan Nutella serta Kastanye bakar yang masih panas.
Hagia Sophia
Waktu mau ke Hagia Sophia, kondisi hujan. Kalau hujan biasa di Indonesia, dinginnya masih bisa ditoleran sama kulit kita, berbeda ketika di Turki. Dinginnya menusuk tulang sehingga banyak dari kami para ibu yang urung pergi karena kasihan sama anak-anak. Jadi, beberapa dari kami menunggu di rumah makan setelah kami selesai makan siang dalam perjalanan.
Gunung Salju Uludag
Salah satu yang paling membuat kami semua antusias adalah tujuan bermain salju di Uludag ini. Sayangnya, pas sudah masuk kereta gantung, saya mulai mual dan panik….kwkwk. Apalagi pas keretanya berhenti ketika ada angin sampai semua normal baru berjalan lagi.
Masya Allah, anak-anak semua senang banget, tak terkecuali emak bapaknya. Sayangnya, lupa nggak bawa Marjan waktu itu, ya sekalian aja jual es serut…kwkwk. Ada satu minuman yang entah apa namanya. Susu kental dengan bubuk kayu manis yang bisa menghangatkan. Rasanya enak!
![]() |
| Anak-anak main lempar-lemparan salju :) |
Karena kondisi saat antri di dalam ramai bukan main, saya sarankan jika main ke sini berhati-hati dengan barang bawaan. Guide kami juga berkali-kali mengingatkan itu, sebab bukan hal mustahil ada yang berbuat kurang baik.
Museum Panorama 1453 Turki
Kesan pertama saat masuk ke museum Panorama adalah apa, ya, banyak banget anak sekolah…hehe. Di sini kamu bisa melihat sejarah penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al Fatih. Yang paling ‘Wow’ itu ketika naik ke lantai paling atas di mana terdapat suara riuh khas peperangan dan bunyi meriam. Karena belum ketebak di atas itu apa, kagetlah ketika muncul seorang bertubuh besar berpakaian khas gitu. Bayangan saya itu raksasa atau apa…kwkwk. Katrok banget, ya…hihi.
Di sini rasanya bisa melihat pengepungan secara langsung. Karena berupa diorama pengepungan Konstantinopel dengan menampilkan pasukan Byzantium dengan Kekaisaran Ottoman. Lebih unik lagi, diorama lukisannya berbentuk 3D, terasa nyata banget. Bahkan karung, meriam, pedang yang tergolek hingga tongnya dibuat asli.
Sebenarnya ada beberapa videonya, tetapi kepotong dan kurang asyik dilihat karena nggak lama setelah kami di atas, anak-anak sekolah ramai menyerbu. Sehingga kebanyakan dari kami memutuskan segera turun karena terlalu sesak. Teman-teman mungkin bisa punya bayangan dengan foto replikanya, ya seperti yang sempat kami ambil.
![]() |
Kondisinya sama persis seperti pada foto. Langit-langitnya dibuat berbentuk setengah lingkaran dan ketika kamu masuk, maka kamu akan ada di posisi tepat di tengahnya. Jadi, bisa kebayang meriam dan beberapa benda khas pengepungan zaman itu, ya.
Grand Bazaar
Pengen membeli oleh-oleh khas Turki? Datang saja ke Grand Bazaar. Di sini kamu bisa menemukan banyak sekali souvenir khas Turki baik berupa gantungan kunci, kaos, hijab, kalung, hingga keramik. Harganya terbilang murah asal kamu bisa menawar, ya.
Museum Topkapi
Kamu bisa mengenang Rasulullah saw. melalui beberapa peninggalannya yang ada di Museum Topkapi ini. Insya Allah nanti saya ulas lebih jauh soal museum ini.
Di sini, kita bisa mengambil gambar menarik di halaman luar museum. Di sana, banyak bangku dengan latar pohon dan burung-burung. Karena musim dingin, anak-anak susah banget diajak foto. Yang ada si bungsu nggak jauh beda seperti orang-orangan sawah kata orang-orang karena jalannya yang kaku dengan jaket tebal. Belum lagi hidungnya mulai meler saking dinginnya.
Selat Bosphorus
Sebenarnya, selat Bosphorus bukan merupakan tujuan yang dijanjikan pada waktu itu. Pihak travel tidak bisa berjanji karena khawatir cuaca tidak bersahabat. Sebab khawatir hujan atau salju turun. Pada hari di mana kami hendak ke sana, hujan lebat turun, jadi urung. Keesokannya, qadarallah cuaca membaik sehingga kami pun bisa berangkat.
Kami naik satu kapal di mana hanya ada rombongan kami saja di dalamnya. Dinginnya minta ampun karena waktu itu salju turun meski tipis-tipis alias sedikit. Selat Bosphorus merupakan selat yang memisahkan Turki bagian Eropa dan Turki bagian Asia.
Masya Allah, kira-kira itulah beberapa tempat yang telah membuat saya jatuh cinta. Semoga teman-teman yang ingin ke sana disegerakan juga oleh Allah. Aamiin.
Salam,
Sunday, January 27, 2019
5 Cara yang Bisa Kamu Lakukan Supaya Traffic Pengunjung Blog Tetap Stabil
![]() |
| Photo on Unsplash |
Pengunjung atau pembaca blog kita memang penting. Iya, kalau setelah kita posting kemudian nggak ada yang mau membaca, lalu ngapain kita capek-capek menyiapkan artikel ini dan itu, mencari gambar, dan mempromosikannya di sosial media?
Percaya nggak sih kalau kita hanya mengejar traffic pengunjung di blog, ujung-ujungnya kita pasti capek dan jika hasilnya nggak sesuai sama keinginan pasti bikin malas mau menulis dan update postingan baru. Setiap tulisan itu pasti akan menemukan pembacanya sendiri, kok. Entah kalimat ini muncul dari mana, tetapi saya pegang kalimat ini hingga sekarang.
Jangan pernah kecewa jika setelah posting sebuah artikel di blog, ternyata pembacanya hanya segelintir saja, bahkan nggak ada yang mau berkomentar meski kamu sudah sebar link artikelnya di mana-mana bahkan hingga ke beberapa grup whatsapp sekalipun. Jangan sedih hanya karena itu. Seharusnya kamu lebih sedih melihat blog kamu belum ada postingan baru setelah seminggu berlalu padahal kamu nggak sibuk-sibuk amat, kamu juga punya waktu buat berkomentar di akun sosial media teman, kamu punya waktu menonton drama Korea pula, lalu kenapa postingan di blog nggak ada yang baru? Oke, ini hanya guyonan saja, silakan dianggap serius *eh…hehe.
Saya yakin semua blogger senang kalau melihat postingan di blognya ramai dikunjungi oleh pembaca. Tapi, untuk mendapatkan itu semua pasti butuh usaha dong. Nggak mungkin tiba-tiba datang tanpa kamu usahakan, apalagi jika sehari-hari kamu hanya posting seadanya, mana bisa blog kamu disukai pembaca?
Lalu apa yang perlu kamu lakukan supaya pembaca di blog kamu tetap stabil bahkan bisa bertambah?
1. Rajin update postingan di blog
Ya, kali ada orang suka jalan-jalan ke blog yang penuh dengan sarang laba-laba. Niatnya ingin blogwalking pun akhirnya batal sudah karena nggak ada yang bisa dikomentari lagi. Kalau kamu nggak rajin menulis dan posting di blog, orang-orang bisa jadi akan melupakan blog kamu. Karena saat ini banyak banget blog yang kece badai dan rutin posting artikel setiap hari. Mending main ke blog mereka daripada main ke blog yang penuh sarang laba-laba, kan?
Mengejar traffic pengunjung di blog nggak perlu membabi buta sampai posting sehari 10 artikel. Nggak begitu juga. Yang penting usahakan blog kamu tetap update minimal seminggu sekali. Kalau bisa setiap hari. Biar lebih semangat, kamu bisa ikutan beberapa komunitas yang aktif mengajak kamu tetap semangat menulis dan posting artikel di blog sehari satu postingan seperti yang diadakan oleh Estrilook Community. Saat ini, kami sudah masuk hari ke-27. Kalau dilihat di blog saya, Alhamdulillah saya berhasil menulis lebih dari target meski di awal sempat ketinggalan.
Tahun ini saya banyak melepaskan pekerjaan…hehe. Nggak perlu ditutupi, ya. Yang biasanya saya suka mengirimkan artikel di beberapa media, sekarang sudah saya kurangi. Lebih fokus mengisi blog dan menulis buku. Insya Allah aktivitas baru ini lebih menyenangkan untuk saya kerjakan. Dan jujur saja, saya merasa menikmati sebab lebih santai dan nggak pusing mikirin ini dan itu. Apaan sih dari tadi ini dan itu? Kwkwk.
2. Buat artikel yang dibutuhkan oleh pembaca sepanjang masa
Nah, lho, artikel jenis apa yang abadi sepanjang masa itu? Sebenarnya saya belum sepenuhnya melakukan ini. Postingan di blog saya masih gado-gado dan saya mengangkat banyak tema sesuai dengan keinginan saya pastinya. Tapi, ada beberapa contoh artikel yang memang akan dibutuhkan oleh pembaca tanpa batas waktu, misalnya artikel berupa tutorial, panduan, kesehatan atau artikel berupa listicle seperti yang pernah saya tulis mengenai beberapa media yang mau menerima dan menerbitkan artikel penulis.
Nah, menurut blogger yang udah mastah, dengan artikel seperti itu, blog yang jarang update akan tetap stabil jumlah pembacanya. Tapi, jangan sampai setelah menulis itu kamu jadi malas posting artikel baru. Buat saya pribadi, tulis saja apa yang bermanfaat, lebih baik posting rutin daripada jarang update sebab tujuan kita ngeblog memang buat menyalurkan hobi dan membantu kita konsisten menulis. Kalau malah jadi malas, mending tulis apa yang bermanfaat dan lupakan, tulis lagi, posting, dan lupakan asal jangan sampai kamu jadi amnesia karena ini…hihi.
3. Rajin share di sosial media
Kalau kamu nggak rajin share postingan blog sendiri, lalu dari mana orang akan mengenal dan membaca blog kamu? Usahakan setiap posting, segera share di sosial media baik itu di Facebook, Twitter, atau Instagram. Kalau nggak ada yang like dan berkomentar di sosial media gimana? Saya nggak lagi memusingkan soal itu. Kenapa? Malah jadi nggak fokus menulis, mending share dan lupakan saja.
4. Tulis artikel yang bermanfaat
Apa pun itu, kalau isi artikel kamu bermanfaat, orang pasti bakalan suka. Tentu saja postingan kamu nggak boleh hanya sekadar curhatan tanpa makna apalagi yang isinya hanya ngomongin kejelekan orang lain. Ada baiknya ulas tema yang dibutuhkan oleh pembacamu. Bagaimana kita bisa tahu apa yang dibutuhkan oleh pembaca tanpa harus bertanya?
Kamu bisa cek beberapa postingan kamu yang mengangkat beberapa tema. Kira-kira tema apa yang paling banyak disukai dan banyak dikunjungi? Dengan cara ini kamu bisa mengerucutkan ide kamu, ekskusi tema-tema itu supaya pembaca kamu kembali lagi karena merasa kamu sangat tahu apa yang mereka inginkan *ceilah.
5. Buat artikel lebih menarik dengan gambar-gambar terbaikmu
Pengalaman visual seseorang itu nggak bisa disepelekan, lho. Misalnya saja saya, akan sangat suka berkunjung ke blog yang gambarnya bening, bagus, dan rapi. Meski itu blog pribadi dan nggak ada yang bisa melarang kamu posting apa pun, ada baiknya kamu pikirkan dulu, kira-kira foto seperti yang kamu miliki itu enak dilihat atau nggak? Kalau memang tidak layak, mending kamu cari gambar-gambar free, yang tentu saja tetap mampu mewakili artikel kamu. Sebab pengalaman visual itu nggak bisa dinomorduakan. Minimal kamu harus belajar mengambil foto yang jelas meski nggak sebagus foto-foto blogger lain.
Setelah kamu tahu beberapa cara menaikkan traffic pengunjung blog, kamu bisa mulai rajin mengunjungi blog blogger lain juga dan ucapkan salam perkenalan kepada mereka. Jika mereka nggak balas mengunjungi blog kamu gimana? Pliss, jangan baper deh jadi blogger. Bisa jadi mereka masih sibuk dan lain waktu sudah merencakan akan berkunjung, bisa jadi mereka nggak ngeh juga sama komentar kamu di blog mereka.
Saya yakin, setiap blogger akan dengan senang hati saling berkunjung ke blog teman-teman lainnya sebab dengan begitu, kita nggak hanya akan dapat teman baru, tetapi kita juga bakalan dapat pengalaman baru juga dari postingan yang kita baca dari blog mereka.
Terlepas dari mengerti soal SEO atau nggak, jujur saja saya nggak ingin dipusingkan dengan itu. Ngeblog adalah sesuatu yang saya sukai, saya nikmati untuk mengisi waktu me time ketika seisi rumah sudah terlelap. Sebab dengan ngeblog, passion saya tersalurkan dan bisa jadi pengalih dari penat mengerjakan naskah buku. Happy blogging, jangan terlalu mengkhawatirkan banyak hal. Lakukan apa yang kamu anggap baik dan bermanfaat, sebab meski hanya dari satu postingan, bisa jadi amal jariyah yang tak ada putus-putusnya.
Salam,
Saturday, January 26, 2019
Cara Membuat Outline Buku dan Mengajukannya ke Penerbit
![]() |
| Photo on Unsplash |
Jika dulu menulis buku adalah impian dan masih belum kebayang gimana mewujudkannya, maka sekarang cobalah merealisasikan mimpimu supaya jadi kenyataan. Jika kemarin-kemarin banyak orang posting foto untuk #10yearschallenge, maka saya berbeda. Saya sekarang dan 10 tahun lalu dalam versi berbeda. Yup! Dulu, 10 tahun silam, saya masih bermimpi menulis buku, cerita-cerita yang saya tulis masih sebatas di buku tulis, maka sekarang, setelah 10 tahun berjalan, karya-karya saya sudah majang di toko buku. Yeay! Seneng banget nggak, sih? Hihi. Masya Allah. Luar biasa senangnya.
Sepuluh tahun itu lama, lho. Iya, saya juga sadar sepuluh tahun itu lama. Dan bagaimana saya bisa menjaga mimpi itu hingga sekarang? Jujur saja, saya sudah pernah merasakan banyak hal selama nyemplung di dunia literasi ini. Baik tiba-tiba ingin berhenti, bosan, nggak kuat dijulitin orang, ngejar fee, buku gagal terbit, fee nggak dibayar, sampai akhirnya ada di posisi seperti sekarang, menikmati dan melakukan apa yang saya bisa tanpa memaksa harus seperti orang lain. Buat saya, ini posisi paling nyaman, sih. Di mana saya nggak ragu dan khawatir siapa yang akan membaca tulisan saya. Di mana saya nggak terlalu memedulikan apa yang akan saya dapatkan. Lepas aja. Saya menulis karena suka, kembali pada tujuan awal. Jika saya nggak bisa menikmati karena terlalu sibuk memikirkan hal yang nggak perlu, buat apa?
Begitu juga dengan kamu. Setelah kamu memberanikan diri bermimpi menyelesaikan sebuah naskah, jangan sampai mimpi itu kamu kubur dalam-dalam hanya karena kamu takut nggak bisa menyelesaikannya.
Sebab ada orang yang memang sejak awal untuk sekadar bermimpi saja ragu, lho. Kayaknya nggak mungkin aku bisa menulis buku, kayaknya mustahil aku bisa menulis sebanyak itu, ngisi blog aja nggak bisa rutin, istiqomah menulis saja belum.
Percayalah, semua orang itu berproses untuk sampai pada apa yang diimpikannya. Melihat orang lain sukses, memang terlihat mudah bagi kita. Tapi, ketika kamu bertanya prosesnya, pasti kamu nggak akan bilang itu mudah…hehe. Begitu juga dengan kamu. Percayalah, meski tak selalu mulus, tetapi jika kamu berani bermimpi, Insya Allah suatu saat mimpi itu akan terwujud nyata.
Nah, sebelum menulis naskah utuh, ada baiknya kamu menulis rancangan atau outline dulu supaya proses menulisnya bisa lebih mudah diselesaikan. Memang ada penulis yang nggak suka bikin rancangan, tapi kalau saya pribadi lebih suka pakai outline terutama untuk naskah nonfiksi.
Saat ini, kamu bisa mengirimkan naskah utuh kepada penerbit atau cukup sekadar outline dan contoh beberapa bab. Memang tidak semua penerbit mau menerima outline. Tapi, ada beberapa yang bersedia mempertimbangkannya, kok.
Lalu, apa saja yang harus kamu masukkan ke dalam outline sebuah naskah yang akan diajukan ke penerbit?
1. Judul dan alternatif judul
Tulis judul yang kamu inginkan dan sertakan minimal 3 alternatif judul lainnya sebagai pertimbangan jika judul pertama yang kamu pilih tidak cocok buat penerbit. Kalau kamu bingung bagaimana cara membuat judul yang bermacam-macam, coba ditulis saja yang ada di pikiran kamu. Tulis semua baru kemudian kamu pilih mana yang paling tepat.
2. Target pembaca
Nah, setelah membuat judul, kamu bisa menuliskan target pembaca bagi buku kamu. Misalnya untuk buku motivasi bisa kamu cantumkan usia 15-35 tahun, begitu juga dengan buku anak-anak, harus benar-benar cocok dengan target usia mereka.
3. Sebutkan genre
Yang berikutnya perlu kamu sertakan juga ada genre dari naskah yang kamu buat. Genre itu apa sih? Genre itu bisa diartikan kategori. Misalnya genre fiksi atau nonfiksi. Genre nonfiksi bisa berupa tips, trik, atau motivasi. Sedangkan fiksi bisa berupa fantasi, horor, romance, dan misteri. Jadi, cobalah menjelaskan dengan lebih detail jangan sekadar menulis fiksi atau nonfiksi saja.
4. Jumlah Halaman
Naskah belum selesai kenapa harus menyebutkan jumlah halaman? Jika kamu membuat outline tanpa naskah utuh, kamu bisa perkirakan jumlahnya dengan menghitung tiap bab akan terdiri dari berapa halaman.
5. Tema naskah
Selain menyebutkan genre, kamu juga harus menuliskan tema dari naskah yang akan kamu buat. Misalnya naskah dengan tema kumpulan kisah inspiratif bagi muslimah yang masih single.
6. Kelebihan naskah
Apa yang bisa membuat naskah kamu dipilih oleh editor? Kalau naskah kamu biasa saja, tentu editor malas menerima. So, kamu harus menemukan apa kelebihan atau keunikan dari naskah yang kamu buat. Sebutkan beberapa yang bisa menjadi pembeda dari buku-buku sejenisnya.
7. Kompetitor buku sejenis
Menurut salah satu editor yang menjadi teman saya, pentingnya menyebutkan kompetitor buku sejenis ini adalah untuk menghindari adanya plagiat. Sebab, akan sangat sulit mendeteksi plagiat pada buku, berbeda dengan artikel yang bisa kamu cek sendiri. Nah, karena itulah, ada baiknya kamu sebutkan beberapa jenis buku yang menjadi kompetitor dari naskah yang akan kamu tulis, sertakan juga nama penulis dan penerbitnya.
8. Nama Penulis
Jangan lupa selipkan nama kamu juga, ya sebagai penulis naskah.
9. Buatlah sinopsis
Yup! Saatnya kamu membuat sinopsis semenarik mungkin untuk menarik minat editor pada naskah kamu. Buat maksimal 2 halaman saja.
10. Pengantar dari penulis
Setelah membuat sinopsis, kamu bisa lanjutkan dengan membuat kata pengantar yang kemudian bisa kamu lanjutkan dengan menulis judul dari setiap bab dan sub bab pada outline kamu.
11. Bab dan deskripsi singkat
Supaya editor tahu gambaran naskahmu seperti apa, kamu bisa menuliskan judul-judul bab yang akan kamu masukkan ke dalam bukumu. Jangan lupa, berikan juga deskripsi singkat tentang apa yang ingin kamu tulis pada setiap babnya.
12. Profil penulis
Tuliskan profil kamu, lengkap dengan buku-buku yang pernah kamu tulis baik buku solo ataupun antologi. Jika bukunya masih proses editing atau proses terbit? Boleh ditulis juga asalkan kamu sebutkan juga bahwa bukunya belum terbit.
13. Contoh naskah
Jika kamu hanya sekadar ingin mengirimkan ajuan berupa outline, kamu bisa memberikan beberapa contoh dari bab yang akan kamu tulis. Tulis minimal 10-15 halaman. Lebih banyak atau utuh justru lebih baik, ya.
14. Kirim ajuan naskah atau outline kamu ke penerbit
Setelah semua beres, kamu bisa kirimkan pada penerbit yang kamu inginkan. Bismillah, setelah dikirimkan, lupakan, dan buatlah yang baru. Jangan pikirkan apakah naskahmu akan diterima atau ditolak. Jangan juga banyak bertanya. Biasanya penerbit akan memberikan konfirmasi maksimal 3 bulan setelah kamu mengirimkannya. Jika dalam batas itu kamu belum mendapatkan balasan dan kamu ingin mengirimkannya pada penerbit lain, coba kirimkan surat penarikan terlebih dahulu.
Ada editor yang berkenan membalas dan memberikan masukan, ada pula yang tidak membalasnya sama sekali. Nggak usah baper, itulah dunia kepenulisan, kuatkan mental kamu dan teruskan naskahmu yang lain. Masih ada kesempatan selama kamu mau berusaha!
Kuy, bikin outline kamu dan segera kirimkan. Siapa tahu kamu beruntung dan bisa menerbitkan bukumu di penerbit mayor. Ingat, selama kamu masih mau berjuang dan berusaha, Insya Allah kesempatan itu terbuka lebar untukmu.
Salam,
Subscribe to:
Posts (Atom)
Hey there!
Part of




.jpg)
.jpg)










%20(1)%20(1).png)



%20(1).png)


.jpg)


