Top Social

Mengajarkan Anak Mencintai Dunia Literasi Sejak Dini



Sebenarnya, meski saya sejak lama suka menulis dan suka membaca, tetapi setelah memiliki anak, tidak ada tujuan khusus kenapa sejak awal bahkan sejak hamil membelikan buku, membacakannya bahkan sejak mereka masih di dalam perut. Kurang kerjaan kali ya kata sebagian orang. Belum lahir aja kok repot membacakan buku? Dulu buat latihan, gimana rasanya membacakan buku buat anak sendiri? Dan ketika dicoba, ternyata grogi dan malu sendiri…hihi.

Alby adalah sulung saya yang sekarang berusia delapan tahun. Saat usia dua tahun, dia bahkan sudah menghapal kalimat-kalimat dalam buku-buku yang sering saya bacakan meski sebenarnya dia belum bisa membaca. Itu karena setiap hari saya bacakan buku, nggak nyangka sampai masuk TK dia semakin antusias belajar membaca.

Jika kebanyakan anak-anak belajar membaca dengan mengeja, lain dengan Alby. Seingat saya, saya tak banyak mengajarkannya membaca, begitu juga di sekolahnya. Semuanya berjalan santai. Tetapi, masuk TK B, masya Allah tiba-tiba dia sudah bisa membaca dengan lancar tanpa mengeja. Sempet takjub juga waktu dia membaca buku pertamanya sendiri, yakni buku cerita Spot dan Arlo. Belakangan saya membaca postingan teman, ternyata anak yang sejak kecil sering dibacakan buku, dan dikenalkan dengan buku akan lebih mudah belajar membaca ketimbang yang tidak. Sepertinya alasan inilah yang menyebabkan kenapa Alby bisa membaca tanpa repot diajari.


Lain cerita lagi ketika sudah kelas dua SD seperti sekarang, bukan lagi senang membaca, Alby sudah mulai suka menulis cerita. Sebelum tahu kalau ibunya suka ngeblog, dia sudah menghabiskan banyak buku untuk menulis dan menggambar. Dulu waktu masih TK, dia suka membuat komik. Sekarang dia lebih suka menulis cerita pendek dan mulai merengek minta dibikinin blog.

Awalnya saya pikir buat apaan? Lagian dia belum butuh juga. Tapi, lama-lama mikir juga, kenapa nggak? Toh semua tetap dalam pengawasan kita sebagai orang tua. Tanpa berlama-lama, akhirnya saya pun membuatkannya blog yang nggak jauh beda dengan blog emaknya, biar happy!

Bagi yang penasaran dengan tulisan Alby, bisa baca di sini. Baru ada beberapa postingan di sana. Saya juga membatasinya memegang laptop sehingga kebanyakan dia harus menulis di buku tulis. Bukan bermaksud pelit, tetapi anak seusianya masih butuh mengembangkan motorik misalnya saja dengan banyak berlatih menulis. Gurunya juga sudah berpesan supaya anak-anak sering disuruh latihan menulis di buku karena banyak yang belum rapi.

Akhirnya seperti kebiasaan yang lalu, dia tetap menulis di buku kesayangannya, kemudian saya memindahkannya atau jika ada waktu dia boleh memindahkannya sendiri. Menulis pun tak boleh mengalahkan rutinitas lain seperti menghapal Alquran atau belajar. Dia tetap bisa melakukannya, tetapi  selesaikan dulu kewajiban yang lain.

Kegiatan menulis sebenarnya memang tak bisa dipisahkan dari kegiatan membaca. Alby termasuk anak yang suka sekali membaca. Setiap ke toko buku, kami bisa menghabiskan uang lebih banyak untuk membeli buku daripada belanja hal lain. Kadang dia membeli buku sendiri dengan uang tabungannya. Nggak sayang uangnya buat beli buku? Dia pasti bilang nggaklah. Kan dia suka…hehe.

Jika tidak ada buku baru, buku lama baginya adalah buku baru juga. Dia bisa membaca bukunya sampai berkali-kali apalagi yang dia suka. Berawal dari suka membaca, saya percaya dia semakin mudah menuliskan kalimat demi kalimat dalam ceritanya.

Sebulan yang lalu kalau nggak salah, di sekolah ada tugas menulis cerita saat liburan. Masing-masing anak pasti ceritnya seru banget, ya. Sedangkan Alby waktu liburan nggak banyak pergi ke mana-mana karena Ayahnya juga sempat repot waktu itu. Qadarallah nggak nyangka juga, ternyata tugas ini dilombakan dan Alby dapat juara III.

Diam-diam dan tanpa sengaja sebenarnya saya sudah mengajarinya mencinta dunia literasi sejak kecil. Melihat saya suka beli buku dan membaca buku, pastilah menular juga. Begitu juga sekarang dengan adiknya yang masih tiga tahun. Setiap mau tidur harus dibacakan beberapa buku. Semua mengalir saja dengan sendirinya tanpa ada paksaan. Nyaman dan santai.

Menulis sebenarnya banyak sekali manfaatnya, termasuk mengutarakan perasaan yang tak bisa disampaikan kepada orang lain. Saya pun dulunya suka sekali menulis buku harian, hingga buku harian di rumah banyak bukan main. Karena saya terlalu pemalu untuk bicara dan mengungkapkan banyak hal. Dengan menulis semua menjadi lebih mudah.

Buat teman-teman yang ingin mengajarkan anaknya belajar mencintai dunia literasi, coba beberapa tips ini.

Jangan segan membeli buku untuk anak-anak sedini mungkin
Ngapain beli buku banyak-banyak padahal anaknya aja masih belum bisa membaca? Justru karena masih kecil, kita buat mereka akrab dengan buku. Apalagi zaman sekarang di mana gadget begitu mudah dijangkau. Gantikan dengan buku yang bisa mengisi hari-hari mereka tidak hanya dengan cerita, tetapi juga dengan pengatahuan.

Bacakan buku minimal sebelum tidur meski anak belum bisa membaca
Maka jadilah orang tua yang gemar membacakan buku untuk anaknya jika ingin anak-anak mencintai buku. Semua itu bisa dilakukan dengan kebiasaan kecil seperti rutinitas membacakan buku atau bercerita sebelum tidur. Sampai saya dan si bungsu punya cerita yang baginya sangat menarik, yakni kisah kelinci kecil yang tak lain adalah dirinya. Dia suka sekali dengan cerita yang saya buat. Sekali-kali jangan malu mendongeng dengan penuh ekspresi, ya!

Jangan melulu membelikan komik
Komik itu memang seru dibaca, tetapi jika ingin anak-anak benar-benar suka membaca, sebaiknya belikan buku sesuai usianya selain komik. Satu atau dua komik di lemarinya bolehlah, tapi jangan terlalu banyak karena nanti dia akan capek dengan buku yang jarang ada gambarnya seperti chapter book untuk anak usia lebih besar.

Berikan teladan bagi anak-anak
Jika ingin anak-anak suka membaca, ibu juga harus suka membaca meski itu sekadar buku resep masakan, ya...haha. Sebab satu teladan lebih baik daripada seribu nasihat. Jangan sampai emaknya banyak nonton drama Korea, kemudian mengharap anaknya suka buku. Kayaknya itu kurang tepat, ya!

Biarkan mereka menulis ceritanya sendiri!
Jangan banyak mengubah apa yang sudah mereka tulis. Sesekali saya hanya membenarkan huruf kapital setelah tanda titik atau menambahkan spasi pada penggunaan ‘di’ yang kurang tepat. Saya tidak ikut campur dengan alur cerita yang sudah dibuatnya, itu bukan hak saya sebagai pembaca. Biarkan mereka berimajinasi tanpa batas sesuai usianya.

Berikan pujian atas usahanya
Hargai mereka yang telah dengan susah payah membuat ceritanya sendiri, jangan merendahkannya meski tulisannya belum sempurna. Bahkan kita yang dewasa juga belum tentu bisa menulis seperti dia, lho. Jadi, jangan pernah lupa memuji usahanya itu!

Itulah beberapa tips yang bisa kamu coba untuk melatih anak mencintai dunia literasi dan buku sejak dini. Jangan lupa, belanja buku setiap main ke mall supaya mereka tahu bahwa membeli buku itu menyenangkan, lho. Berikan juga dia kesempatan untuk memilih buku yang disukai, jangan selalu memaksakan kehendak. Selamat bersenang-senang dengan anak dan tumpukan buku penuh imajinasi di dalamnya!

Salam,
3 comments on "Mengajarkan Anak Mencintai Dunia Literasi Sejak Dini"
  1. Setuju nih gegera saya dan suami suka baca buku, anak juga ikutan deh dan udah tau itu buku mami, itu buku papi hehe lucu banget. Membaca buku membuat sosmed jadi tidak menarikšŸ˜…

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi, benar sekali, Mbak. Apalagi kalau buku bagus yaa, pasti bakalan kita kejar sampai selesai..kalau nggak mana bisa tidur haha


      Delete
  2. saya masih kesulitan euy bacain anak buku sebelum tidur. dia maunya dikelonin. mungkin karena nggak dibiasakan dari bayi kalinya. ada rekomendasi buku bayi yang bagus nggak, mbak?

    ReplyDelete

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature